Tampilkan postingan dengan label Sejarah kristen 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah kristen 6. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Sejarah kristen 6

 


Sebagai Baptis Khusus bangkit pada 

tahun 1638-1640. Mereka yaitu  para Puritan yang menganut ajaran baptis orang 

percaya, namun tidak melepas teologi Calvin. Mereka juga mempraktikkan baptis 

selam, yang segera diikuti Baptis Umum. Sampai saat itu, para pengikut Smyth 

membaptis dengan menuang (air). Menjelang 1644, terdapat empat puluh tujuh jemaat 

Baptis Umum di Inggris dan tujuh Baptis Khusus.  

Dari awal, titik tolak kedua aliran Baptis terbesar itu telah nyata – baptis orang percaya 

dan kebebasan dari negara (ikrar yang mereka pegang bersama dengan Anabaptis). Hal 

ini berlanjut berabad-abad lamanya. Kebebasan itu telah mengakibatkan penganiayaan, 

perpecahan, namun telah membawa juga pencapaian individu yang besar.  

 127

58) Tahun 1611 Penerbitan Alkitab Versi Raja James  

 

"Kepada yang mahatinggi dan berkuasa Pangeran James dengan Anugerah Allah ..." 

Pangeran ini  yaitu  putra Mary, ratu Skotlandia, dan sumber ungkapan di atas 

yaitu  persembahan dalam Alkitab yang diterjemahkan atas petunjuknya.  

saat  Ratu Elisabeth, penguasa Inggris wafat tanpa meninggalkan keturunan, James VI 

dari Skotlandia juga menjadi James I dari Inggris. Pada peristiwa itu, para Calvinis 

mengharapkan bahwa latar belakang Presbiterian pada dirinya akan menguntungkan, 

sedang  gereja Inggris masih harus dikompromikan. Meskipun gereja (Inggris) telah 

membuang banyak ajaran Katolik yang tidak disukai gereja-gereja reformasi; ia tidak 

seprotestan gereja-gereja Lutheran dan Calvinis di Eropa. Sebagian orang Anglikan, 

dengan sandaran reformasi yang kuat, belum meninggalkan gereja negara, namun  mereka 

ingin "menyucikan" Gereja – sebab nya mereka disebut kaum Puritan.  

Bagi James, kekuasaan mutlak ada di tangan seorang raja – ia percaya bahwa ia 

memiliki  "hak ilahi" untuk memerintah, sementara hierarki Anglikan dan gelar 

penguasa, yaitu Pembela Iman, sangat menarik baginya. la meremehkan ajaran 

Presbiterian, yang mengajarkan kebebasan yang tidak sepaham dengan hak ilahi 

seorang raja.  

Bahkan sebelum James tiba di London, para Puritan sudah mengemukakan Petisi 

Millenary, yang diduga didukung oleh seribu orang. Mereka meminta perubahan 

moderat dalam Gereja Inggris. James tidak berniat menyerah pada tekanan para Puritan, 

namun sebab  jumlah mereka begitu besar, ia tidak bisa memandang sebelah mata. 

Maka pada Januari 1604, melalui sebuah konferensi, para uskup dan kaum Puritan 

bertemu di Hampton Court. Secara keseluruhan, pada pertemuan ini , di mana 

James telah mengancam akan "mengusir mereka ke luar negeri", merupakan kekalahan 

bagi kaum Puritan. Kemenangan tunggal mereka yaitu  bahwa James setuju dengan 

terjemahan baru Alkitab.  

Sang raja membayangkan dirinya sebagai seorang terpelajar dan mungkin berpikir 

bahwa karya ini  merupakan sesuatu yang berharga. namun  ia pun ingin melepaskan 

Alkitab Jenewa – versi populer, yang diterbitkan pada tahun 1560, yang cenderung 

 128

Calvinis. Alkitab Para Uskup versi 1568 yang dimaksudkan untuk menggantikan 

Alkitab Jenewa telah diterima untuk dipakai di gereja, namun orang awam tidak pernah 

memilikinya. Jelaslah, terjemahan yang mendukung hak seorang raja dan diterima 

sebagai Alkitab yang dibaca umum, akan menguntungkan James.  

Ia menunjuk lima puluh empat orang terpelajar, dibagi atas kelompok yang terdiri atas 

tujuh atau delapan orang, yang dapat bekerja sendiri-sendiri atau bersama-sama. Untuk 

mewujudkan Alkitab baru, mereka mengacu pada teks asli dan terjemahan-terjemahan 

sebelumnya. Alkitab Tyndale, misalnya, berdampak besar atas karya mereka.  

Terjemahan ini  berlangsung dari tahun 1607 sampai tahun 1611. Meskipun "versi 

yang berwibawa" atau Alkitab Versi Raja James tidak mendapat pengakuan resmi dari 

James, namun lambat-laun Alkitab ini  menggantikan Alkitab Jenewa. 

Terjemahannya yang terpelajar dan akurat bertahan berabad-abad lamanya. Bagi 

sekelompok orang, inilah Alkitabnya.  

 129

59) Tahun 1620 Para Peziarah Menandatangani Perjanjian Mayflower  

 

Para peziarah di atas kapal menandatangani Perjanjian Mayflower  

"Jika tidak ada uskup, tidak ada raja," demikian seru James I, memberitahukan kepada 

kaum Puritan bahwa mereka memiliki seorang raja, dengan sendirinya mereka juga 

memiliki  uskup gereja. Namun ia masih belum berhadapan dengan iman fanatik yang 

melekat pada para "pemurni" (purifiers) gereja ini . Di antara mereka ada yang 

masih ingin bertahan dalam gereja, namun  mereka tidak merasakan bahwa reformasi 

akan berhasil di bawah raja yang bersikap bermusuhan ini. sebab  keadaan ini, para 

Separatis mengundurkan diri dari jemaat Anglikan – dan akhirnya dari sang raja juga.  

Sebagai respons atas penolakan mereka terhadap Gereja Anglikan, pemerintah telah 

memenjarakan dan mengusik sejumlah kaum Separatis. Meskipun pemerintah tidak 

menekan mereka, gerombolan pengusik mengganggu pertemuan-pertemuan para 

Separatis.  

Robert Browne telah memimpin sejumlah kaum Separatis ke Negeri Belanda, yang 

menunjukkan toleransi kepada para pembangkang. Namun, mereka tetap merupakan 

orang asing di negeri itu. Bagaimanapun pluralisme Belanda ini tidak membantu dalam 

membangun komunitas mereka sendiri, dan banyak yang takut jika anak-anak mereka 

juga akan menjadi orang-orang yang tidak beragama.  

Keresahan ini membuat mereka beralih ke Dunia Baru (Amerika). Mungkin di sana 

mereka dapat membangun gereja murni yang bersih dari kerusakan Gereja Inggris. Di 

daerah yang tidak memiliki  pemerintahan yang kokoh, mereka dapat menciptakan 

pemerintahan yang akan mencerminkan idealisme Calvin. Bahkan daerah baru yang liar 

sekalipun tidak dapat membendung semangat mereka akan harapan kebebasan.  

Pemimpin Separatis, John Robinson, berkata, "Mereka tahu bahwa mereka yaitu  

peziarah." Negeri Belanda tidak merupakan tanah perjanjian, jadi mungkin Amerikalah 

tanah itu. Dengan sebuah kapal bernama Mayflower, 102 Separatis Inggris, yang 

kembali sejenak ke Inggris, berlayar dari pelabuhan Plymouth.  

Meskipun tujuan mereka ialah Virginia, namun badai mengubah arah mereka dan 

mendaratkan mereka di Massachusetts. Salah seorang Peziarah itu melukiskan daerah 

baru itu sebagai "rimba yang sunyi dan mengerikan".  

 130

Tidak kurang liarnya dengan tempat mereka mendarat, para peziarah takut pada anarki 

dan liarnya sifat manusia. Izin yang diberikan untuk mendarat di Virginia tidak 

memiliki  kekuatan hukum di sini. Mereka harus menciptakan pemerintahan yang 

tertata agar mereka dapat mendirikan kerajaan Allah.  

Berdesak-desakan dalam kapal yang mereka tumpangi, empat puluh satu orang 

menandatangani Perjanjian Mayflower. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa mereka 

akan mengolah koloni baru ini demi kemuliaan Allah dan demi kemajuan kekristenan. 

Mereka setuju memberlakukan undang-undang bagi kebaikan warga  umum dan 

berikrar untuk berpegang pada solidaritas kelompok serta menjauhkan kepentingan diri 

sendiri.  

Perjanjian ini  juga menyatakan bahwa mereka memerintah diri mereka sendiri. 

Tentunya William Bradford dan Bapa Peziarah lainnya, yang menandatangani 

perjanjian ini , percaya bahwa mereka memerintah tanpa berpisah dari Allah – 

penguasa segalanya – namun mereka tidak mengadakan persiapan bagi pemerintahan 

yang dipimpin oleh raja manusia.  

James I terkejut mendengar mereka menolak pemerintahan para uskup dan ia juga tidak 

bersimpati kepada mereka yang menolak pemerintahannya. namun , tanpa harus 

berurusan dengan kelompok kecil tanpa izin dan liar yang bermukim di seberang lautan 

ini pun, dia sudah punya cukup masalah.  

 131

60) Tahun 1628 Comenius Diusir dari Negerinya  

 

Orang-orang Katolik secara agresif sedang memaksakan otoritasnya di Bohemia. Kaum 

Protestan telah dibuang, meskipun untuk beberapa tahun lamanya mereka berupaya 

bersembunyi. saat  bahaya membesar pada tahun 1628, satu rombongan melintasi 

pegunungan dan masuk ke Polandia.  

Yang memimpin mereka dalam pembuangan itu ialah pastor, penulis sekaligus guru, 

Jan Amos Comenius. Ia berhenti menoleh ke belakang melihat negeri tercintanya, dan 

memimpin warganya dalam doa, meminta agar Allah memelihara "benih terpendam" 

dalam diri warganya, suatu kelompok yang akan tumbuh dan menghasilkan buah. 

Comenius tidak akan pernah melihat negerinya lagi.  

Perang tiga puluh tahun telah menyita pusat kehidupan Comenius. saat  perang 

dimulai pada tahun 1618, ia yaitu  seorang pastor baru dan kepala sekolah pada 

golongan Unity of Brethren (Unitas Fratrum), pewaris ajaran Protestan dari Yohanes 

Hus.  

saat  itu Eropa terdiri dari kawasan-kawasan Katolik, Lutheran dan Calvinis. 

Bohemia, kawasan Protestan, tidak senang menjadi bagian dari kekaisaran Romawi 

yang suci, maka mereka selalu memberontak. Pada tanggal 23 Mel 1618, sejumlah 

pemberontak Protestan menyerang istana kerajaan di Praha dan melemparkan para 

gubernurnya ke luar jendela. Menurut laporan, orang-orang yang terlempar itu mendarat 

di atas tumpukan kotoran hewan dan tidak terbunuh; namun dengan Defenestration of 

Prague, revolusi sedang berlangsung.  

Dengan bantuan pasukan Spanyol, Kaisar Ferdinand II menghadang para pemberontak 

pada pertempuran White Mountain tahun 1620, dan daerah ini  dengan resmi 

dinyatakan Katolik. Kaum Protestan terpaksa harus meninggalkan tempat itu. Comenius 

memulai persembunyian tujuh tahunnya. Dengan berpindah-pindah dari ladang ke 

ladang secara diam-diam, ia mencoba melayani kaum Brethren yang tersisa. Lima tahun 

sebelum kelahiran John Bunyan, Comenius menulis The Labyrinth of the World 

(Labirin Dunia), sebuah alegori berliku-liku mirip Pilgrim's Progress.  

 132

Comenius dan kumpulan Brethrennya bermukim di Leszno, Polandia. Di sana ia 

diangkat sebagai uskup bagi Unitas Fratrum dan menerbitkan buku tentang pendidikan 

anak-anak serta pelajaran bahasa. Teorinya sangat revolusioner. Semua anak laki-laki 

dan perempuan, kaya dan miskin harus dididik dengan kurikulum luas yang akan 

memberi  mereka akses di pelbagai bidang. Pendidikan harus dimulai dari kepedulian 

ibu, bahkan sejak sebelum lahir, katanya, meskipun hal itu harus melibatkan aspek-

aspek bermain dan bukan hanya hafalan. Ia mendukung sederetan periode enam tahun 

yang dapat dibandingkan dengan prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, 

sekolah menengah atas dan pendidikan universitas. Sementara itu, para pengajar harus 

belajar metode mengajar dari alam. Belajar yaitu  masalah perkembangan, bukan hanya 

masalah memperoleh informasi.  

Perang tiga puluh tahun merebak terus. Kaum Protestan Denmark menyerang kawasan 

Katolik, namun  terpukul balik. Raja Swedia, Gustavus Adolphus, memasuki pergolakan 

ini dengan berpihak pada Protestan. Ia memperoleh beberapa kemenangan, namun ia 

meninggal pada tahun 1632.  

Sementara itu, Comenius tetap meraih reputasi sebagai seorang terpelajar dan pendidik. 

Ia menulis The Way of Light (Jalan Terang) dengan harapan bahwa pendidikan yang 

benar akan meningkatkan perdamaian. Pada tahun 1641, Parlemen Inggris 

mengundangnya untuk mempraktikkan teorinya dengan mendirikan perguruan 

"pansophic" (aneka pengetahuan) di Inggris. Sekali lagi perang saudara merebak, yang 

memaksa Comenius lari. Untuk sementara waktu ia bermukim di Prusia. Dari sana ia 

pergi ke Swedia sebagai konsultan pendidikan bagi Perdana Menteri, Axel Oxenstierna. 

Ia juga meminta perdana menteri agar tidak melupakan perihal Brethren saat  perang 

hampir usai.  

Anehnya, Perancis mengubah arah dalam perang itu. Meskipun merupakan negara 

Katolik, Perancis melihat kesempatan melumpuhkan kekuatan dinasti Hapsburg dan 

memenangkan beberapa kawasan baginya sendiri. Pasukan Perancis memasuki kancah 

perang pada tahun 1635, dan perang terus berlanjut. Pada tahun 1648, Perdamaian 

Westphalia membagi-bagi rampasan perang yang telah menguras Eropa. Kekaisaran 

Roma porak-poranda dan ada yang menafsirkan bahwa Jerman telah kehilangan 

setengah penduduknya dalam peperangan itu. Perancis 'memenangkan kawasan-

kawasan baru. Kaum Calvinis dan Lutheran meraih keuntungan dengan pencapaian 

toleransi kaum Calvinis.  

Namun, kaum Brethren tidak menerima baik hak kembali ke Bohemia maupun daerah 

permukiman baru. Comenius melanjutkan pengembaraannya sepanjang sisa hidupnya. 

Selama dua puluh dua tahun ia berkelana, melayani kaum Brethren yang terbuang jauh. 

saat  rumahnya di Polandia dihakar, ia kehilangan sebagian besar ensiklopedi yang 

disusunnya. Namun, berkat perlindungan seorang Belanda, ia menerbitkan banyak buku 

tentang pendidikan – termasuk buku bergambar pertama untuk anak-anak, The World in 

Pictures (Dunia dalam Gambar).  

Comenius dihargai dan dihormati, namun ia jarang didengar. Pada usia tujuh puluh lima 

tahun ia muncul di sebuah persidangan untuk memohon perdamaian antara Inggris dan 

Negeri Belanda – namun  mereka meremehkan sarannya. la memiliki  visi pendidikan 

yang akan membawa kesempurnaan spiritual dan perdamaian dunia. Meski tujuan 

pertama menarik beberapa negara, tak satu pun ingin mencoba tujuan kedua.  

 133

Walaupun ia dengan tepat dapat dikatakan sebagai salah seorang Bapa Oikumene, 

Comenius sering tidak dihiraukan. Ia lehih dihargai dunia sekular dibandingkan  oleh Gereja, 

dan ia sering dielukan sebagai Bapa Pendidikan Modern.  

"Benih terpendam" yang didoakan Comenius muncul di lalu  hari. Serombongan 

Brethren bermigrasi ke Herrnhut, di Jerman, pada awal-awal abad kedelapan belas. Di 

sana terjadilah kebangkitan spiritual yang menyulut upaya misi besar yang merambat ke 

seluruh dunia.  

 134

61) Tahun 1646 Pengakuan Iman Westminster  

 

Pertemuan Westminster  

Tidak semua orang di Inggris menerima gereja negara. Dari awal, banyak yang telah 

melihat Anglikanisme sebagai sistem yang tidak menjangkau doktrin-doktrin 

Reformasi. Ratu Elisabeth I telah menyetujui Tiga Puluh Sembilan Pasal pada tahun 

1563, yang mendirikan Gereja Inggris episkopal. Dari awal, kaum Puritan telah 

mendesak terbentuknya pemerintahan Presbiterian dan kebaktian-kebaktian yang 

kurang ritual, namun permintaan mereka tidak diacuhkan.  

Para raja Stuart – James I dan putranya, Charles I – telah berupaya meningkatkan 

kekuatan sistem episkopal. Charles yang menginginkan keselarasan di Skotlandia dan 

Inggris, berupaya memaksakan Anglikanisme kepada orang-orang Presbiterian 

Skotlandia. Situasi yang mudah berubah ini ditangani dengan ceroboh sehingga 

mengakibatkan Perang Saudara di Inggris.  

Charles I memiliki  sejarah pertikaian panjang dengan parlemen. Pada musim semi 

tahun 1640, ia membentuk parlemen yang menentangnya dengan keras. Serta-merta ia 

membubarkannya dan membentuk parlemen lain pada musim gugur tahun yang sama. 

Parlemen berunsurkan Puritan yang bertahan lama inilah yang menjadi penyebab 

kejatuhannya.  

Dua tahun lalu , pada parlemen yang sama, raja mencoba menangkap sejumlah 

anggota dewan yang menentangnya. Tuduhannya bahwa orang-orang ini  telah 

berkhianat, memicu perang yang membawa Inggris menganut Puritanisme untuk 

beberapa waktu lamanya.  

Pada awal tahun 1643, parlemen telah menghilangkan sistem episkopal. Untuk 

mendirikan sebuah Gereja Presbiterian sebagai gantinya, mereka mengadakan 

pertemuan di Westminster Abbey. Seratus dua puluh satu pendeta dan tiga puluh orang 

awam — beberapa dari mereka yaitu  orang-orang Skotlandia — berhimpun untuk 

membangun kembali gereja Inggris.  

Selama enam tahun Pertemuan Westminster ini , Oliver Cromwell, pemimpin 

pasukan parlemen itu, membawa para Puritan berkuasa. Sang raja dipenggal kepalanya 

pada tahun 1649.  

Pertemuan Westminster ini  mewujudkan Pengakuan Iman Westminster (1646), 

suatu karya yang akan menjadi klasik dalam pemikiran presbterian, dan Katekismus 

 135

Kecil Westminster (1647) serta Katekismus Besar (1648). Kepercayaan yang mereka 

gariskan sepenuhnya Calvanistik.  

Pengakuan Iman ini  mengajarkan inspirasi kitab suci dengan menyatakan Alkitab 

sebagai otoritas tunggal dalam kepercayaan Kristen.  

Dalam bahasa aslinya, kitab suci "diinspirasikan (diilhami) Tuhan, dan ... dipelihara 

kesuciannya sepanjang masa". Namun, jaminan akan otoritas ilahi berasal "dari karya 

Roh Kudus dari dalam".  

Pengakuan Iman Westminster menyertakan juga doktrin takdir – sebuah topik yang 

tidak digubris Tiga Puluh Sembilan Pasal. Pengakuan Iman itu menyatakan, "Sebagian 

manusia dan malaikat ditakdirkan untuk hidup abadi, dan yang lain ditetapkan untuk 

kematian abadi." Namun, "Allah bukan pencipta dosa, dan bukan juga kekerasan yang 

ditawarkan bagi kehendak makhluk".  

Lebih lanjut, Pengakuan Iman itu menekankan hubungan Allah dengan ciptaan-Nya 

melalui perjanjian. Penebusan umat manusia merupakan perimbangan antara kedaulatan 

Allah dan pertanggungjawaban manusia.  

Pengakuan Iman ditetapkan oleh para penatua, bukan oleh pastor dan uskup, serta tidak 

memberi tempat (seperti yang dilakukan oleh Tiga Puluh Sembilan Pasal) bagi 

transsubstansiasi. Pengakuan Iman itu juga mengikat orang percaya pada hari Sabat, 

hari yang dikhususkan untuk berdoa secara pribadi dan ibadah umum.  

Namun Puritanisme di Inggris tidak bertahan lama. Pada tahun 1658, dengan kematian 

Oliver Cromwell, tidak ada pemimpin kuat yang muncul dari pihak Puritan. Meskipun 

putra Cromwell, Richard, telah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Pelindung 

Inggris, ia tidak memiliki kemampuan memimpin seperti ayahnya. Richard 

mengundurkan diri secara terhormat, dan Inggris kembali menjadi kerajaan di bawah 

Charles II, putra Charles I.  

Di Inggris, raja baru ini dengan sukses memulihkan sistem episkopal. Namun orang-

orang Skotlandia berpegang erat pada Pengakuan Iman Westminster, dengan 

mengikatnya pada gereja Skotlandia. Melalui Skotlandia, Pengakuan Iman Westminster 

telah menjadi julukan bagi "Calvinisme yang bersejarah".  

 136

62) Tahun 1648 George Fox Mendirikan Society of Friends  

 

George Fox pendiri Quaker  

Abad ketujuh belas yaitu  masa perubahan agama dan kebebasan yang sedikit demi 

sedikit meningkat. Dalam satu gereja "universal", bertumbuh banyak aliran. Reformasi 

telah mengajarkan bahwa hanya Alkitab yang mendasari iman. Namun pertanyaannya, 

interpretasi apa yang harus diterima orang Kristen? Perbedaan pun merebak – semuanya 

atas nama Kitab Suci.  

Kaum Puritan menentang Gereja Inggris yang tidak sepaham dengan mereka tentang 

Kitab Suci. namun , meskipun mereka tidak menyukai sistem imamat Anglikan, mereka 

tidak memutuskan hubungan sama sekali dengan kaum rohaniwan.  

George Fox, yang mendirikan Society of Friends – atau Quakers – melakukan hal itu.  

Seperti yang lainnya, George Fox tidak me-rasa nyaman dengan agama-agama formal 

pada zamannya. Juga kelompok-kelompok pembangkang seperti Presbiterian dan 

Independen, bagi Fox, memiliki  amat banyak formalitas. Ia percaya bahwa mereka 

menyerah pada berbagai tekanan pemerintah. Gereja telah menjadi pelayan umum dan 

telah menjauhkan diri dari Allah.  

Dalam usahanya mencari kedamaian spiritual, Fox mengunjungi banyak penasihat, 

namun  tak ada seorang pun yang dapat membantunya. Pada suatu hari, tahun 1647, ada 

suara yang mengatakan, "Ada satu, yaitu Yesus Kristus, yang dapat berbicara tentang 

kondisimu." Hal itu membawa perubahan pada Fox, yang sejak itu mendedikasikan 

dirinya untuk mengikuti terang yang ada pada dirinya (Inner Light) yang telah diberikan 

Allah – dan pada setiap orang yang menerima-Nya. Semua orang Kristen – semua 

sahabat Yesus – memiliki  akses langsung kepada Allah. Fox mengajarkan bahwa 

dengan mengikuti terang yang telah dianugerahkan Allah, siapa pun dapat 

melumpuhkan kekuatan setan dan cengkeraman dosa.  

Ajaran-ajaran Fox yang sederhana namun  juga keras menarik banyak peminat. Para 

sahabat (Friends), sebutan bagi mereka, meninggalkan tradisi bersumpah, berpakaian 

sederhana, makan hati-hati dan bicara dengan jujur. Mereka menentang keterlibatan 

dalam peperangan. Meskipun ditentang pemerintah, mereka memprotes segala 

 137

formalitas kebaktian, mereka menolak mengangkat topi bagi siapa pun, mereka tidak 

membayar persepuluhan (merupakan pajak penghasilan, di Inggris) pada gereja negara.  

Banyak Society of Friends bermunculan di Inggris, selama George Fox yang berani itu 

berkhotbah. Di rumah-rumah tempat mereka mengadakan berbagai pertemuan, para 

aristokrat dan orang biasa bersama-sama mengikuti kebaktian. Tidak ada rohaniwan 

yang istimewa. Pria dan wanita dapat berbicara sebab  mereka merasa bahwa mereka 

dituntun Rob.  

Dalam sebuah kelompok yang bergantung pada dorongan Roh secara pribadi, terdapat 

juga penyimpangan – dan ini membuat banyak orang yang sebenarnya toleran berhalik 

menentang Friends. Penekanan Friends pada kebebasan juga mengundang oposisi 

pemerintah.  

Fox dipenjarakan sebab  ajarannya. saat  ia berhadapan dengan seorang hakim yang 

mencela kepercayaan kelompoknya, Fox memperingatkannya untuk "gentar pada 

firman Allah".  

"Kalianlah para pembuat gentar, quakers," jawab hakim ini . Nama itu menjadi 

abadi. Di bawah pemerintahan Oliver Cromwell, toleransi menjadi peraturan umum 

bagi berbagai aliran yang berbeda, yang menyusun bala tentara dan kesatuan politiknya. 

Meskipun Cromwell kagum pada kejujuran dan integritas para Quaker, ia tidak 

memperluas toleransi terhadap mereka. Meskipun penganiayaan sudah berkurang 

dibanding pada masa pemerintahan raja-raja, iman yang mencari kebebasan individual 

seperti itu tidak dapat diterima oleh seorang pemimpin sekaliber Cromwell.  

Meskipun menghadapi penganiayaan, Quaker bertumbuh, sebab  banyak yang 

merasakan sentuhan iman yang menekankan bahwa setiap individu harus mengalami 

Kristus di dalam dirinya.  

 138

63) Tahun 1662 Rembrandt Menyelesaikan Lukisan Kembalinya Anak 

Hilang  

 

REMBRANDT, The Return of the Prodigal Son, The Hermitage, Leningrad.  

Karya seni yang sempurna, Kembalinya Anak Hilang diciptakan oleh seorang yang 

paham tentang apa artinya menjadi seorang pemboros. Melalui karya seninya, ia 

menunjukkan betapa dalamnya dunia ini membutuhkan keselamatan. Rembrandt 

Harmenszoon van Rijn menjadi pelukis Protestan terbesar – seorang yang dalam 

dirinya, iman dan seni terpadu dengan selaras.  

Ia dilahirkan dalam keluarga gereja Reformasi yang amat saleh. Meskipun orangtuanya 

menginginkan ia menjadi orang terpelajar, jelaslah bahwa ia dianugerahi bakat seni 

lukis. Mengikuti kebiasaan pada waktu itu, Rembrandt magang pada pelukis yang 

mapan dan belajar melukis cerita-cerita Alkitab, peristiwa-peristiwa dalam sejarah, serta 

mitologi Romawi dan Yunani. Namun, seni lukis yang ia kembangkan yaitu  gayanya 

sendiri yang agak berbeda. Para pelukis Protestan lain membatasi lukisan religiusnya 

pada gambar-gambar yang ada di Alkitab, dan para pelukis Katolik menggambarkan 

para santo; namun  Rembrandt membuat setiap lukisannya sebagai suatu pernyataan iman. 

saat  orang-orang Protestan menyatakan bahwa Alkitab sajalah norma agama bagi 

manusia, Rembrandt memperlihatkan bahwa Kitab Suci dapat juga menjadi norma bagi 

seni lukis agamawi.  

Pada zaman Rembrandt, orang-orang dalam lukisan-lukisan Alkitab tampak seperti 

pahlawan luar biasa, hanya sedikit berbeda dari para dewa dan manusia setengah dewa 

seperti yang digambarkan dalam lukisan-lukisan mitologis. Tidak demikian halnya pada 

gambaran-gambaran Rembrandt. Ia menunjukkan kemanusiaan sebagaimana adanya: 

cacat, berdosa dan membutuhkan keselamatan. Lelaki dan perempuan "sesungguhnya" 

mengisi karyanya, termasuk istri dan anaknya – dan juga orang-orang jalanan. Dengan 

berpakaian seorang pengemis lesu yang mengenakan sorban, Rembrandt menjadikan 

dirinya potret raja Israel yang menakjubkan. Seorang Yahudi tua digambarkan sebagai 

Rasul Paulus.  

Rembrandt juga menjadikan dirinya sebagai model. Dalam The Raising of the Cross, 

yang menggambarkan dosa manusia, ia membantu menyalib kristus. Meskipun ia 

 139

menciptakan gambar ini , pelukis ini  tak luput dari kebutuhan keselamatan 

pribadi.  

Kepiawaiannya memakai  chiaroscuro – suatu teknik yang mengkontraskan latar 

belakang gelap dengan cahaya yang menyoroti figur dalam gambar – yaitu  ciri khas 

karya Rembrandt yang terbaik. Pekatnya warna gelap seringkali dengan jelas 

memperlihatkan cahaya spiritual yang timbul dari dalam modelnya.  

Namun, tujuan utama Rembrandt bukanlah untuk menginjili. Ia mencari nafkah dengan 

melukis dan karyanya terdiri dari baik yang "spiritual" maupun "duniawi". Ada 

karyanya yang meskipun tidak dimaksudkan menggambarkan suasana keagamaan, 

namun mengandung perspektif sang pelukis tentang dunia dan kemanusiaan. Ia melihat 

keindahan pada alam ciptaan Allah – dan ia melihat dengan baik keindahan dan dosa 

pada wajah-wajah manusia di hadapannya.  

Meskipun seni lukisnya menunjukkan ketulusan Kristen, kehidupan pribadi Rembrandt 

tidaklah tanpa cacat. Ia menikahi Saskia, seorang wanita muda dan kaya, yang 

meninggal pada tahun 1642. Surat wasiatnya mengatakan bahwa: jika Rembrandt 

menikah lagi, seluruh kekayaannya akan diwarisi anak mereka, Titus. Terhimpit 

kesukaran keuangan, sang pelukis tentunya merasa bahwa is tidak dapat mengorbankan 

uang warisan. sebab nya, ia menjadikan wanita pengurus rumah tangganya Hendrickje 

sebagai istrinya di luar nikah.  

Rembrandt menurunkan pada generasi-generasi berikutnya gambaran unik Protestan 

ten-tang dunia ciptaan Allah. Calvin pernah menyerukan, "Hanya benda-benda yang 

sanggup dilihat mats yang harus dilukis." Mata Rembrandt menciptakan gambar yang 

memberitakan kebenaran. Kembalinya Anak Hilang menunjukkan kemanusiaan 

Rembrandt, cinta akan uraian mendalam dan persepsi yang tajam akan hati manusia. 

Ayah pemaaf, anak yang menyesal dan anak sulung, dalam pakaian abad ketujuh belas, 

semuanya sangat cocok dengan perumpamaan Yesus. Hal ini mengingatkan kita akan 

keabadian dan ketepatan waktu Kitab Suci.  

 140

64) Tahun 1675 Philip Jacob Spener Menerbitkan Pia Desideria  

 

Menjelang akhir abad ketujuh belas, Gereja Lutheran telah menjauh dari pandangannya 

sendiri akan iman pribadi dan dalam keinginan mencari doktrin yang benar. Seorang 

pastor menentang keadaan demikian dengan sebuah buku kecil yang mengubah 

Protestanisme.  

saat  belajar di Universitas Strasbourg, Philip Jacob Spener telah mempelajari bahasa-

bahasa, doktrin dan sejarah Alkitab yang umumnya yaitu  bagian dari pelajaran 

pelayanan. namun  para profesornya juga mengingatkan dia tentang perlunya kelahiran 

kembali secara spiritual dan etika Kristen. Spener menemukan kebutuhan penerapan 

kesarjanaannya pada pengalaman pribadinya. Jika seseorang tidak lahir baru maka 

semua agama formal tidak akan berpengaruh.  

saat  pendeta baru ini berkhotbah menentang kemalasan dan perilaku amoral, dan 

berupaya agar jemaatnya mempraktikkan iman Kristen secara pribadi, ia berhadapan 

dengan kontroversi. Kaum rohaniwan Gereja Lutheran yang menganggap diri mereka 

sebagai pusat gereja merasa terancam dengan pembalikan yang bersifat individualistis 

seperti yang dikhotbahkannya.  

Spener mengadakan berbagai persekutuan doa, yang dikenal sebagai collegia pietatis, 

yang lalu  menjadi dasar gerakan Pietisme.  

Tidak puas dengan berkhotbah dari mimbarnya sendiri di Frankfurt dan pembentukan 

kelompok-kelompok lokal, pastor Lutheran ini  menuliskan ide-idenya untuk suatu 

pembaruan. Pada tahun 1675 ia menerbitkan Pia Desideria, "Hasrat Kesalehan", yang 

menampilkan enam butir rencana.  

Pertama, ia ingin melihat orang-orang Kristen memiliki  pemahaman tentang Kitab 

Suci yang lebih mendalam dan lebih berpengaruh pada kehidupan. Untuk mencapai 

tujuan ini, ia menyarankan pertemuan-pertemuan kecil di rumah-rumah. Kalangan 

Gereja abad ketujuh belas melihat hal ini sebagai sesuatu yang baru dan mungkin 

merupakan ide yang mengancam.  

 141

Spener menghendaki Gereja memandang imamat am semua orang percaya dengan 

serius, maka ia menyarankan memberi tanggung jawab kepada orang-orang awam yang 

ada di lingkungan collegia pietatis. Meskipun pastor itu penting adanya, ia tidak harus 

memikul seluruh beban untuk memberi  santapan rohani.  

Untuk menentang ketakutan pada masanya, bahwa individualisme menjurus pada 

keonaran, Spener menyarankan agar Gereja menekankan pengalaman pribadi. Ia 

melihat bahwa doktrin yang benar saja akan menjurus ke iman yang mati.  

Memetik pelajaran dari Perang Tiga Puluh Tabun yang telah membuktikan bahaya 

kontroversi agama, Spener berupaya mengelakkan konflik teologis. Jika tidak 

terelakkan, maka perdebatan harus dilakukan dengan semangat cinta kasih. Namun, ia 

mendesak orang-orang agar berpegang pada butir-butir iman yang penting saja dan 

tidak bertele-tele dengan hal-hal remeh. Lebih baik, ia katakan pada mereka, berdoa 

bagi orang yang melakukan kesalahan dibandingkan  memarahi dia.  

Para pastor bukan saja harus mempelajari Alkitab dan teologi, mereka juga harus tabu 

menangani kaum awam, ujar Spener. Imam yang tidak dapat menunjukkan hidup devosi 

tidak dapat menuntun jemaatnya ke arah itu.  

Ia juga mendorong para pastor menyampaikan khotbah yang menerapkan Kitab Suci 

dalam kehidupan. Mereka harus mengilhami dan memberi pengetahuan yang dapat 

dimengerti dan membangkitkan. dibandingkan  hanya berceramah, para pastor diharuskan 

memberi inspirasi kepada umat Tuhan.  

Rangsangan yang dibangkitkan oleh ide-ide Spener memicu  ia berpindah dari 

Frankfurt ke Dresden dan lalu  ke Berlin. Di Berlin, pada tahun 1694, ia dan 

August Francke membentuk Universitas Halle. Di bawah Francke, universitas itu 

menjadi pusat penginjilan dan misi. Bertahun-tahun setelah Gereja Katolik membawa 

misinya ke Asia dan Amerika, misi Protestan bermula di Halle, sebagai pusat untuk 

studi bahasa-bahasa Timur dan penerjemahan Alkitab.  

Meskipun kaum rohaniwan melihat ancaman besar pada program reformasi Spener, pro-

gram itu membawa kegembiraan bagi kaum awam. Di gereja-gereja yang telah 

menganut ajarannya, kehidupan keluarga meningkat, standar-standar moral 

dibangkitkan, dan orangorang memahami bahwa kekristenan lebih dibandingkan  sekadar 

menyetujui suatu katekimus saja. Berbagai pertemuan kelompok-kelompok kecil 

mewujudkan semangat kekeluargaan dalam jemaat, dan Alkitab menjadi hidup bagi 

orangorang percaya.  

Luther pernah menekankan pentingnya jemaat menyanyikan puji-pujian, namun 

kebiasaan itu telah melemah. Pietisme memberi dorongan besar bagi puji-pujian, dan 

penulis seperti Paul Gerhardt, Joachim Neander dan Gerhardt Tersteegen, menciptakan 

puji-pujian yang di lalu  hari diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai buku-

buku kidung Methodis.  

Banyak gereja yang terpengaruh Pietisme mengembangkan pemahaman Alkitab, doa 

kelompok, dan mencapai lebih dibandingkan  yang diidealkan pendirinya. Aspek pragmatis 

Pietisme – yang menekankan perasaan dan penyebaran Kekristenan – akan berdampak 

jauh dan khususnya berpengaruh dalam perkembangan kekristenan di Amerika.  

 142

65) Tahun 1678 Karya John Bunyan The Pilgrim's Progress 

Diterbitkan  

 

Salah satu karya klasik Kristen terbesar muncul bukan dari aula-aula universitas, namun  

dari sebuah sel penjara. Orang yang menulis itu bukanlah orang terpelajar, namun  

seorang guru agama berpendidikan rendah.  

John Bunyan dilahirkan di Elston, Bedfordshire, pada tahun 1628. Rumahnya yaitu  

gubuk kecil, dan ayahnya seorang tukang solder, yang setiap hari mendorong keretanya 

di sepanjang jalan, berhenti di rumah-rumah untuk menambal panci-panci.  

John mendapat pendidikan di sebuah sekolah grammar (yang mengutamakan bahasa 

Latin). namun  seperti anak-anak lain pada zamannya, ia melanjutkan pekerjaan ayahnya. 

Pada Perang Saudara Inggris, ia menjadi tentara – besar kemungkinan di pihak Puritan. 

Pada umur sembilan belas tahun ia menikah, dan istrinya yang Kristen membimbingnya 

untuk mencoha mengubah hidupnya. Namun, ia seringkali tergelincir pada kebiasaan 

lamanya. Meskipun hidupnya cukup memberi kesan yang baik pada tetangga-

tetangganya, ia menggambarkan dirinya sebagai "seorang yang berpura-pura secara 

berlebihan".  

Pada tahun 1651, Bunyan mulai menghadiri pertemuan Independen di Bedford, dan 

telah tergerak oleh khotbah alkitabiah yang dibawakan seorang pastor. la mulai 

merenungkan Kitab Suci, hingga konflik dalam dirinya berakhir dengan jaminan 

anugerah. Keselamatan telah datang kepadanya. la bergabung dengan jemaat Bedford 

dan mulai berkhotbah. Di sana ia membuat orang kagum akan kebolehan seorang 

tukang solder itu.  

Meskipun Raja Charles II pada mulanya menjanjikan kebebasan beragama, sebab  

pertumbuhannya (jumlahnya), Gereja Anglikanlah satu-satunya Gereja yang diakui. 

Pertentangan atau perbedaan pendapat tidak diperbolehkan, dan pada tahun 1661 John 

dipenjarakan di penjara Bedford sebab  ajarannya. Ia mendekam di sana hingga tahun 

1672, saat  Charles mengeluarkan Declaration of Indulgence, yang memberi 

kelonggaran bagi kaum non-Anglikan.  

 143

Setelah ia dibebaskan, rumah pertemuan kaum Independen memanggilnya untuk 

menjadi pastor mereka. la menerima surat izin berkhotbah dan dikenal sebagai Uskup 

Bunyan – mungkin sebab  merupakan tokoh jenius penyatu kaum Independen di 

kawasannya. Namun, toleransi ini  tidak bertahan lama.  

Pada tahun 1675 Bunyan sekali lagi dipenjarakan, dan ia memulai karya agungnya: The 

Pilgrim's Progress (Perjalanan Seorang Safir). Alegori tentang keselamatan dan 

perjalanan Kristen ini telah menghasilkan ungkapan-ungkapan indah seperti "Vanity 

Fair", "The Slough of Despond", "House Beautiful", "Muckraking" dan "Hanging is too 

good for him". Menyimpulkan hanya dari pengalamannya sendiri dan Alkitab, pengajar 

agama yang tidak terpelajar ini menciptakan sastra yang mempesona bagi mereka yang 

mengadakan perjalanan atau yang akan mengadakan perjalanan – ziarah dari Kota 

Kehancuran ke Kota Surgawi.  

Mungkin, sebab  begitu banyak pembaca yang mengalami perjalanan ziarah yang sama 

dalam hidup mereka, The Pilgrim's Progress menjadi buku devosional Kristen terlaris di 

dunia. Bunyan menggambarkan keadaan paling intim jiwa-jiwa Kristen. Kesadarannya 

akan anugerah Allah yang mendalam kepada dirinya sendiri memberi  Bunyan 

kesanggupan berbicara kepada banyak orang, bahkan berbagai generasi, tentang 

keadaan spiritual mereka sendiri.  

Karya-karya Bunyan lain seperti Grace Abounding to the Chief of Sinners, The Life and 

Death of Mr. Badman dan The Holy War tidak mencapai popularitas seperti The 

Pilgrim's Progress. Namun, buku yang ditulis secara sederhana ini telah menyentuh 

ribuan orang dan telah menjadi buku yang klasik.  

 144

66) Tahun 1685 Kelahiran Johann Sebastian Bach dan George 

Frederic Handel  

 

J. S. Bach   

Pada tahun yang sama, telah lahir dua komposer Jerman di dua tempat yang berjarak 

kurang dari dua ratus mil. Meskipun mereka berdua tidak pernah bertemu, namun  

keduanya menciptakan karya terbaik musik abadi yang merupakan karya teragung yang 

dikenal gereja.  

Dengan kelahiran seorang lagi anggota keluarga Bach di Eisenach, tidak seorang pun 

me-rasa kaget jika pada satu hari ia akan menjadi seorang komposer, sebab  keluarga 

Bach sendiri terdiri dari banyak musisi.  

Setelah mendapatkan pelajaran musik dari ayah dan kakaknya pada tahun 1703, Johann 

Sebastian Bach yang berumur delapan belas tahun itu menjadi seorang violis pada 

orkestra kapel kerajaan di Weimar. namun  ia segera meninggalkan posisi ini dan 

berganti posisi menjadi organis gereja. Lalu ia menikahi sepupunya, Maria Barbara 

Bach, seorang penyanyi yang sudah matang. Mereka dianugerahi tujuh orang anak. 

Setelah istrinya meninggal, ia menikah lagi dengan Anna Magdalena Wiilken. Empat 

orang putranya juga menjadi komposer terkenal.  

Bach menciptakan komposisi dalam jumlah yang menakjubkan. Sementara menghidupi 

dua puluh orang anaknya, ia juga menggubah, memainkan dan mengajar musik. Bagi 

Bach, menggubah kantata dan musik kebaktian lainnya "yaitu  pekerjaan satu hari 

penuh", sebab  posisi yang diemban menuntutnya menyediakan musik. Ia telah 

menciptakan 198 kantata, di samping musik-musik umum. Karyanya yang terkenal 

antara lain St. Matthew Passion, Brandenburg Concerto Christmas Oratorio dan Well-

Tempered Clavier.  

Bach yaitu  Lutheran sejati dan pada setiap karyanya – sekular dan rohani – ia 

mencantumkan "In Praise of the Almighty's Will" ("Dengan Pujian Kehendak Yang 

Mahakuasa") dan "To God Alone Be the Glory" ("Kemuliaan Hanyalah Bagi Allah"). 

Sang musikus ini juga temperamental orangnya. Ini yang selalu membawanya dalam 

 145

kesulitan saat  berhubungan dengan atasannya. Ia juga sangat membanggakan 

kebolehannya sendiri.  

Bach pernah tinggal di pelbagai tempat di Jerman. Bach tidak pernah mencapai 

kemajuan di belahan dunia lainnya, hingga Felix Mendelssohn menemukan dan 

mempopulerkan kembali karya-karyanya.  

Handel dalam beberapa hal mirip dengan orang sezamannya – dan dalam beberapa hal 

sangat beda. Ia berasal dari kota Halle, tempat ayahnya menjadi dokter. saat  ayahnya 

melarang George belajar musik, legenda mengatakan, pada malam hari ia diam-diam 

pergi ke kamar di bawah atap untuk berlatih dengan organ kecil. Meskipun ayahnya 

menginginkan George menjadi seorang pengacara, pada akhirnya ia membiarkan 

putranya belajar dengan seorang organis lokal. Istana Berlin memberi kesempatan 

kepada George untuk meneruskan pendidikan musiknya, namun ditolak ayahnya. namun  

pada akhirnya ia tidak dapat menghentikan putranya. Setelah setahun belajar hukum, 

George meninggalkan studinya dan menjadi seorang violis pada orkestra istana. la juga 

mulai menulis opera dalam bahasa Italia.  

 

GF HANDEL   

Seperti Bach, Handel pun merupakan seorang komposer yang kreatif, namun karya 

musiknya paling awal bersifat sekular. Oratorium suci bukanlah minat utamanya – 

seperti opera dan karya instrumentalnya. Untuk membuat perusahaan-perusahaan opera 

selalu gembira, ia harus senantiasa menyuguhkan bahan-bahan baru. Para pengunjung 

menginginkan hiburan baru setiap musim, dan komposer yang sukses harus senantiasa 

mengadakan pertunjukan.  

Bagaimana instrumentalis pencinta opera ini sampai menulis Messiah? saat  diundang 

ke London untuk menulis sebuah opera, komposer Jerman ini memutuskan untuk 

berdiam di sana. Opera Itali mulai menurun. Perusahaanperusahaan opera 

membangkitkan amarahnya, dan tidak lama lalu  Handel mulai menulis oratorium: 

Messiah, yang pertama dinyanyikan pada tahun 1742 di Dublin, Israel in Egypt, 

Deborah, Saul, Judas Maccabaeus, Solomon, Samson dan yang lainnya.  

saat  penguasa Hanover, negara bagian Jerman menjadi raja Inggris, keadaannya agak 

merisaukan Handel. Penjelasan apa yang dapat diberikan kepada majikan lamanya 

tentang mengapa ia pindah ke negeri orang? Menurut legenda, ia menulis Water Music 

untuk menenangkan raja ini . Hal itu merupakan manuver yang sukses.  

Handel berasal dari keluarga Pietis Jerman yang mengingatkan dia tentang pentingnya 

kehidupan Kristen yang praktis, seperti halnya perasaan iman. Banyak orang yang telah 

mendengar Messiah mengalami iman serupa.  

 146

67) Tahun 1707 Penerbitan Hymns and Spritual Songs Karya Isaac 

Watts  

 

Isaac Watts  

Kidung tidak memiliki  sejarah panjang dalam gereja-gereja berbahasa Inggris. 

Meskipun Martin Luther, orang yang senang dengan musik dan nyanyian, mendesak 

agar kidung menjadi bagian dari ibadah para Lutheran, dan ia sendiri menulis beberapa 

kidung, namun orang-orang Inggris agak lamban memakai nya.  

Para Anglikan memiliki Buku Doa Umum, namun  liturginya tidak menyertakan musik. 

Pada tahun 1562, jemaat-jemaat dapat memakai  koleksi Mazmur berirama, yang 

lambatlaun disebut Versi Lama dan pada tahun 1696, Nahum Tate dan Nicholas Brady 

menampilkan Versi Baru yang dapat dinyanyikan. Namun, apa pun yang ada di luar 

Mazmur dicurigai. Seorang uskup mungkin menulis sebuah kidung yang kadang-kadang 

dipakai di kapel perguruan tinggi. Para pujangga seperti John Milton dan George 

Herbert menulis karangan-karangan suci, namun tidaklah untuk dinyanyikan. George 

Wither mericoba menciptakan buku kidung yang luas pada tahun 1623, namun karyanya 

tidak begitu sukses.  

Sementara kaum Anglikan menentang kidung, kaum Baptis menerimanya – dan pastor 

dari aliran Independen, Isaac Watts, mengambil keputusan bahwa orang-orangnya 

membutuhkan nyanyian Baru. Meskipun Mazmur mengekspresikan iman, namun tidak 

dengan jelas menunjukkan unsur-unsur Kristen seperti kelahiran, ajaran-ajaran, 

penyaliban dan kenaikan Kristus. Para jemaat tidak dapat bernyanyi tentang Tritunggal, 

Roh Kudus ataupun gereja.  

Pada tahun 1709 Watts menerbitkan Hymns and Spiritual Songs. Koleksi-koleksi 

lainnya menyusul lalu , termasuk Psalms of David Imitated in the Language of the 

New Testament (Mazmur Daud Ditirukan dalam Bahasa Perjanjian Baru). Dalam karya 

ini Watts mengatakan bahwa ia membuat Daud "berbicara seperti seorang Kristen". 

Semuanya ia kutip hanya dari Mazmur – "Jesus Shall Reign Where'er the Sun" 

berdasarkan Mazmur 72, dan "Joy to the World" dari Mazmur 98.  

I.ebih dari 600 kidung ciptaan Watts – di antaranya "When I Survey the Wondrous 

Cross", "O God Our Help in Ages Past", "I Sing the Mighty Power of God" dan "There 

Is a Land of Pure Delight" – telah membuatnya mendapatkan gelar Bapa Kidung di 

Inggris. Rohaniwan ini dengan cermat merefleksikan pujian, keheranan dan 

 147

penyembahan orang-orang Kris-ten terhadap Tuhan. Meskipun ia mungkin telah 

menyinggung perasaan gerejawan konservatif pada masanya, kidung agungnya 

meninggalkan kesadaran akan akhirat.  

Kidung Watts berpengaruh besar terhadap gereja-gereja non-Anglikan. Tidak ada yang 

dapat menandinginya hingga Charles Wesley mulai menulis kidung. namun , untuk 

waktu lama, karya-karya Watts tidak meluas ke Gereja Inggris. Meskipun gereja-gereja 

lain di Inggris, Amerika dan di tempat-tempat lain memakai  kidung Watts, tidak 

ada buku kidung Anglikan yang muncul hingga tahun 1861, yaitu saat  Hymns 

Ancient and Modern, yang memuat beberapa kidung Watts diterbitkan.  

 148

68) Tahun 1727 Kebangunan Rohani di Herrnhut Mengawali 

Moravian Brethren  

 

Zinzendorf berkhotbah kepada orang-orang dari berbagai bangsa 

Ini hanyalah kebaktian pengukuhan bagi dua orang gadis. Para Moravian Brethren yang 

tinggal di pertanahan Pangeran Nicolaus von Zinzendorf mengadakan pertemuan seperti 

biasa pada tanggal 13 Agustus 1727. Namun, gelora spiritual telah berkobar sejak 

beberapa minggu sebelumnya. Selama itu Pula telah berlangsung doa semalam suntuk, 

pengakuan dosa, pemahaman Alkitab dengan sungguh-sungguh dan pengharapan.  

Semuanya meledak pada hari itu. Setelah berkat pengukuhan dinyatakan kepada kedua 

gadis ini , gereja itu pun dilanda keharuan yang dahsyat. Ada yang menangis, ada 

yang menyanyi, banyak yang berdoa. Tidak ada keraguan di benak mereka tentang apa 

yang sedang terjadi. Mereka sedang dilawat Roh Allah. Mereka telah mendirikan 

sebuah "badan" di sini, di Herrnhut, namun saat itu mereka yaitu  satu dalam roh.  

Keadaan tidak selalu menyenangkan bagi orang-orang Moravian. Sebagian besar yang 

ada di sana ialah orang-orang pelarian dari tempat lain sebab  penganiayaan. Mereka 

yaitu  keturunan spiritual Yohanes Hus – bukan Katolik, bukan Lutheran, bukan 

Calvinis. Tak ada tempat lagi bagi mereka di dunia ini; bahkan pemimpin besarnya yang 

terkenal sebab  keilmuwannya, Jan Amos Comenius, tidak dapat mencarikan tempat 

bagi mereka. Maka mereka pun bubar.  

Pengumpulan kembali berawal pada tahun 1722, saat  Christian David muncul di 

depan pintu tempat kediaman Pangeran Zinzendorf di Dresden. Zinzendorf yaitu  

Lutheran yang saleh dari keluarga kaya, dan ia sangat berminat melayani Tuhan dengan 

kemampuannya. Sebenarnya ia pernah berpikir untuk mewujudkan sebuah komunitas 

yang akan mempraktikkan kesucian kristiani. Sekarang, berdiri pula seorang Moravian 

di ambang pintunya, dengan permintaan agar kelompok tertindasnya itu dapat tinggal di 

pertanahan Zinzendorf. Pangeran ini  mengizinkannya.  

saat  Zinzendorf berkenalan dengan para tamunya,. is merasakan persaudaraan 

spiritual. la mengundang para Moravian lain ke komunitas baru ini dan mulai 

 149

mendirikan sekolah serta kedai. Tempat itu dinamakan Herrnhut yang artinya, 

"penjagaan Tuhan". Apakah mereka berjaga-jaga akan Tuhan atau mereka dijagai 

Tuhan? Kedua-duanya.  

Sekitar tahun 1725, ada sembilan puluh Moravian di Herrnhut. Menjelang tahun 

berikutnya, ada 300. namun  bersamaan dengan pertumbuhannya datang juga masalah. 

Para pengungsi datang dari berbagai tempat dan berbicara dengan bahasa yang berbeda. 

Tentunya kesulitan ekonomi tak terelakkan sebab  para penghuni baru itu mulai 

melanjutkan pekerjaan lama mereka. Komunitas itu mencakup juga para Lutheran dan 

Moravian. Jadi, pertengkaran tentang liturgi gereja pun muncul. Seorang guru yang 

bermukim di sana yaitu  orang yang telah diusir dari Gereja Lutheran sebab  ajaran 

sesatnya, dan sebab nya ia sangat marah. Tentu saja kemarahannya ditujukan kepada 

Lutheran terkemuka di komunitas ini , Zinzendorf. Guru itu berjalan mengelilingi 

kota dengan berteriak bahwa pangeran ini  yaitu  "binatang" yang ada dalam 

Wahyu. Akhirnya orang ini  menjadi gila.  

Khawatir bahwa komunitas ini  akan berantakan, Zinzendorf memutuskan untuk 

menerapkan kepemimpinan. Ia berpindah dari istananya ke komunitas itu sendiri dan 

mulai mengunjungi anggota-anggotanya. Ia menetapkan berbagai peraturan bagi 

kehidupan komunitas, yang semuanya disetujui. Komunitas ini  memilih para 

penatua untuk memimpin mereka. Karya sosial ditetapkan, dan kelompokkelompok 

kecil dibentuk bagi pertumbuhan rohani.  

Pada musim panas tahun 1727, perbedaanperbedaan sepele mulai memudar. Komunitas 

ini  telah bersatu, terfokus, dan kebaktian pada tanggal 13 Agustus itulah yang 

membuktikannya.  

Dalam gelora spiritual ini, berdoa dua puluh empat jam sehari telah ditetapkan. Hal ini 

berlanjut lebih dari satu abad. Kebaktian-kebaktian Kristen di tempat-tempat lain 

dijelajahi. Hubungan dengan para Moravian di seluruh dunia diadakan, dan mereka 

mengembangkan sistem yang melibatkan kebersamaan dan korespondensi. Para 

pemimpin dilatih mengunjungi kelompok-kelompok lain, dan mengadakan sharing 

dengan mereka tentang apa yang sedang berlangsung di Herrnhut.  

Pada tahun 1732, para Moravian berkembang ke dalam misi-misi di luar negeri dengan 

mengirimkan Leonard Dober dan David Nitschmann ke Hindia Barat. Pada tahun 

berikutnya, tiga misionaris Moravian pergi ke Greenland. Pada tahun 1734, beberapa 

yang lainnya pergi ke Lapland dan Georgia, dan 17 relawan bergabung dengan Dober di 

St. Thomas. Menjelang 1742, lebih dari 70 Moravian meninggalkan komunitas 

Herrnhut yang terdiri dari 600 orang, untuk pelayanan misi. Ladang misi ini  

mencakup Suriname, Afrika Selatan, Guyana, Aljazair, Sri Langka dan Rumania.  

Zinzendorf, sementara itu, berupaya mendirikan basis yang sah bagi Gereja Moravian di 

Saxony. Dalam penyelidikannya, ia menemukan konstitusi kuno bagi Unitas Fratrum, 

asal Gereja Moravian. Ini menunjukkan bahwa para Moravian memiliki  pendahulu 

historis sama seperti kaum Lutheran, dan itu harus diberi pengakuan. namun , musuh-

musuh Zinzendorf memicu  dia terbuang dari Saxony pada tahun 1736. Ini 

mengawali kurun waktu perjalanan bagi sang pangeran dan pemimpin Moravian 

lainnya. Perjalanan ini  membawanya ke Amerika tempat ia mendirikan Bethlehem, 

Pennsylvania, sebagai basis karya misinya di antara para Indian. Di lalu  hari, ia 

menjadikan London sebagai pusat kegiatan Moravian.  

 150

Menjelang kematiannya pada tahun 1760, 226 misionaris dikirim keluar oleh para 

Moravian. Mereka telah membaptis lebih dari 3.000 orang yang bertobat. saat  ia 

sekarat, Zinzendorf berkomentar kepada rekannya, "Sungguh suatu khafilah hebat dari 

gereja kita yang mengelilingi Anak Domba itu!" Hal itu memang benar sampai hari ini.  

Gereja Brethren berlanjut hingga hari ini, namun warisannya dapat juga dilihat pada 

denominasi lain. John Wesley sangat dipengaruhi kaum Moravian dan menggabungkan 

beberapa perhatian mereka pada gerakan Methodis. William Carey, yang dihormati 

sebagai orang yang merintis gerakan misi Protestan modern, sesungguhnya mengikuti 

jejak para misionaris Moravian. "Lihatlah apa yang telah dilakukan para Moravian ini," 

tuturnya pada suatu kesempatan. "Apakah kita tidak dapat mengikuti contoh mereka 

dalam kepatuhan kepada Guru Surgawi kita, pergi ke tengah-tengah dunia dan 

mengabarkan Injil kepada orang-orang kafir?"  

 151

69) Tahun 1735 Kebangunan Rohani Besar di bawah Jonathan 

Edwards  

 

Jonathan Edwards  

Pada tahun 1630, sepuluh tahun setelah serombongan kecil kaum Peziarah mendirikan 

permukiman di Plymouth, sebuah migrasi kaum Puritan yang besar mulai mendirikan 

persemakmuran Kristen di Massachusetts. Lebih makmur dalam harta duniawi dibandingkan  

Pilgrim Fathers (kaum Puritan pertama di Amerika), kaum Puritan ini juga berbeda 

dalam tujuannya mendatangi rimba Amerika. Mereka berharap mendirikan warga  

berdasarkan Alkitab, yang akan menjadi contoh bagi Inggris untuk mengikuti reformasi 

dan pembaruan. Seperti yang ditulis gubernur mereka, John Winthrop, "Kita harus 

beranggapan bahwa kita merupakan sebuah kota di atas bukit, dan semua mata menatap 

kita." saat  koloni Puritan ini  bertumbuh dan menjadi makmur, niat keagarnaan 

mula-mula pemukim ini  menurun; generasi kedua dan ketiga lebih mempedulikan 

benda-benda duniawi ketimbang mendirikan kerajaan Allah di Amerika.  

Mereka yang setia hanya memperhatikan, dan ada yang meratapi perkembangan-

perkembangan ini . Ide kaum Puritan bahwa negeri baru akan merupakan tempat 

yang cocok untuk mengembangkan persemakmuran suci lambat-laun memudar. Mereka 

yang setia tidak meragukan bahwa meskipun Inggris secara spiritual sakit — ataupun 

coati — koloni-koloni dapat atau harus memperlihatkan spiritualitas yang mendalam.  

Jonathan Edwards — jiwa yang sejati dan berharga, yang masuk ke Perguruan Yale 

pada usia tiga belas tahun — yakin akan hal ini. Untuk sementara waktu, di bawah 

kakeknya, orang yang berkuasa dan berpengaruh, Solomon Stoddard, Edwards menjadi 

pastor pendamping di sebuah gereja di Northampton, Massachusetts. saat  Stoddard 

meninggal pada tahun 1729, Edwards bertugas sebagai pastor tunggal.  

Tidak lama setelah ia datang ke Northampton, Jonathan menikahi Sarah Pierpont yang 

bijaksana, cantik dan Lulus. Sementara Edwards memiliki  banyak anak dan juga 

melayani gereja sebagai pastor, ia juga mengambil waktu untuk menciptakan tulisan-

tulisan teologis yang termasyhur di dunia. Bacaan yang luas dan berbagai perubahan 

dramatis yang terjadi di gereja-gereja tempat ia berkhotbah mempengaruhi teologinya.  

 152

Dengan menggali dari kedala man Calvinisme, Edwards percaya pada doktrin 

pemilihan. Meskipun ia mengakui bahwa Allah memilih siapa yang akan diselamatkan-

Nya dan siapa yang tidak, Edwards menginginkan setiap orang menjadi yang terpilih. Ia 

tahu hal ini tidak mungkin, namun ia mendesak bahwa para pastor harus mengajar 

tentang beratnya dosa dan perlunya hati untuk berpaling kepada Tuhan. Jika tidak, 

katanya, para pastor gagal dalam tugasnya, dan ia cukup melihat kaum rohaniwan di 

New England yang tidak memiliki  semangat hidup sebagai contohnya. saat  ia 

mengkhotbahkan "God Glorified in Man's Dependence" (Allah Dimuliakan dalam 

Ketergantungan Manusia) pada tahun 1731, kepada pengunjung di Boston, ia tahu 

bahwa banyak pendengarnya tertawa sinis sebab  tekanannya akan dosa yang berakar 

dan pentingnya perubahan dari dalam.  

Selama enam puluh tahun pelayanannya, Solomon Stoddard telah melihat lima "panen", 

masa-masa peningkatan tekad spiritual, yang menghasilkan kehidupan yang berubah 

dan peningkatan ketakwaan. Pada tahun 1730-an, Jonathan Edwards berdoa untuk 

panen. Ia melihat moral yang bejat dan merasakan bahwa penerimaan Arminianisme 

yang semakin meningkat akan memicu  suatu masa ketergantungan spiritual. Ia 

mulai mengkhotbahkan hal itu.  

Pada musim dingin tahun 1734 dan sepanjang tahun berikutnya, perubahan dialami 

Northampton. Edwards berkata, "Roh Allah dengan luar biasa mulai bekerja." 

Gerejanya penuh dengan pendengar, banyak di antaranya mencari kepastian 

keselamatan. "Kota ini tampaknya penuh dengan kehadiran Allah. Tidak pernah ia 

begitu penuh dengan kasih ataupun kegembiraan, namun ia penuh dengan kecemasan 

seperti dulu." Pertengkaran dan gosip lenyap sebab  hampir seluruh kota mengunjungi 

gereja.  

Namun, orang yang telah mendoakan dan berkhotbah untuk kehidupan kotanya tidak 

memiliki teknik berkhotbah yang penuh dengan kata-kata indah. Khotbahnya berfokus 

pada pembenaran oleh iman saja dan menunjukkan kegemaran intelektualnya. 

Meskipun ia tidak memakai  metode-metode yang akan membangkitkan emosi, 

namun ia menerima responsrespons beremosi. Para kritikus mengolok-olok saat-saat 

ratapan pembungkukan badan yang kadang-kadang mengikuti khotbah kebangunan 

rohani. Di lalu  hari, saat  ia menulis tentang Kebangunan Rohani Besar, 

Edwards mengakui bahwa tulisan itu membawa ekses-ekses emosional. namun  secara 

keseluruhan, hal itu yaitu  bukti bahwa Roh Allah bekerja dalam hati manusia.  

Edwards tidak seorang diri dalam berkhotbah yang membawa ke kebangunan rohani. 

Seorang pastor Jerman di New Jersey, Theodore Freylinghuysen, telah bekerja dengan 

Jemaat Reformasi Belanda sejak tahun 1720. Berita Injilnya yang berkobar-kobar telah 

membawa basil — dan juga perselisihan. Ia juga membantu Gilbert Tennant, seorang 

pastor Presbiterian, yang datang ke New Jersey dari gereja dan sekolah ayahnya di 

Pennsylvania. Gilbert dan saudara-saudaranya — William, Jr., John dan Charles — 

semuanya telah menjadi pastor-pastor pekabar Injil yang ampuh di New Jersey.  

Orang yang mengikat kedua masa kebangkitan ialah George Whitefield seorang pendeta 

Anglikan — dan temannya John Wesley — yang mulai mengajar di Amerika pada 

tahun 1738. Dengan tidak menghiraukan ikatan denominasi, dan sebab  semuanya 

untuk Kristus, dengan tidak mengenal rasa lelah ia melintasi berbagai negara bagian, 

mengajarkan berita pertobatan. Di bawah pengaruhnya, seluruh bangsa itu mengalami 

kebangunan rohani.  

 153

70) Tahun 1738 Pertobatan John Wesley  

 

Wesley berhadapan dengan perusuh Wednesbury  

Sebagai anak berumur lima tahun, John Wesley hampir saja menemui ajalnya dalam 

kebakaran yang telah menyapu pastoran ayahnya. Sungguh ia yaitu  "api yang dipetik 

dari kebakaran itu", seorang yang akan dipakai Allah untuk menyulut iman pada ribuan 

orang.  

Akan namun  saat  John pergi ke Oxford untuk belajar menjadi pendeta dan lalu  

membantu jemaat Anglikan ayahnya selama beberapa tahun, keresahan pun mulai 

meliputi dia. Meskipun ia tahu doktrin-doktrin keselamatan, namun semuanya itu belum 

menyenangkan hatinya.  

Pada tahun 1729 John kembali ke Oxford. Adiknya, Charles telah memulai "Holy Club" 

(Klub Suci), yang tidak lama lalu  dipimpin John. Mereka dijuluki Methodis oleh 

orangorang yang ingin mencemarkan mereka, sebab  mereka memakai  metode-

metode keras dalam pencarian kesucian. Anak-anak muda itu mencari keselamatan, 

namun latihan-latihan devosional yang amat keras pun tidak memberi kedamaian 

kepada John. Seperti Luther, Wesley berupay