Sebagai Baptis Khusus bangkit pada
tahun 1638-1640. Mereka yaitu para Puritan yang menganut ajaran baptis orang
percaya, namun tidak melepas teologi Calvin. Mereka juga mempraktikkan baptis
selam, yang segera diikuti Baptis Umum. Sampai saat itu, para pengikut Smyth
membaptis dengan menuang (air). Menjelang 1644, terdapat empat puluh tujuh jemaat
Baptis Umum di Inggris dan tujuh Baptis Khusus.
Dari awal, titik tolak kedua aliran Baptis terbesar itu telah nyata – baptis orang percaya
dan kebebasan dari negara (ikrar yang mereka pegang bersama dengan Anabaptis). Hal
ini berlanjut berabad-abad lamanya. Kebebasan itu telah mengakibatkan penganiayaan,
perpecahan, namun telah membawa juga pencapaian individu yang besar.
127
58) Tahun 1611 Penerbitan Alkitab Versi Raja James
"Kepada yang mahatinggi dan berkuasa Pangeran James dengan Anugerah Allah ..."
Pangeran ini yaitu putra Mary, ratu Skotlandia, dan sumber ungkapan di atas
yaitu persembahan dalam Alkitab yang diterjemahkan atas petunjuknya.
saat Ratu Elisabeth, penguasa Inggris wafat tanpa meninggalkan keturunan, James VI
dari Skotlandia juga menjadi James I dari Inggris. Pada peristiwa itu, para Calvinis
mengharapkan bahwa latar belakang Presbiterian pada dirinya akan menguntungkan,
sedang gereja Inggris masih harus dikompromikan. Meskipun gereja (Inggris) telah
membuang banyak ajaran Katolik yang tidak disukai gereja-gereja reformasi; ia tidak
seprotestan gereja-gereja Lutheran dan Calvinis di Eropa. Sebagian orang Anglikan,
dengan sandaran reformasi yang kuat, belum meninggalkan gereja negara, namun mereka
ingin "menyucikan" Gereja – sebab nya mereka disebut kaum Puritan.
Bagi James, kekuasaan mutlak ada di tangan seorang raja – ia percaya bahwa ia
memiliki "hak ilahi" untuk memerintah, sementara hierarki Anglikan dan gelar
penguasa, yaitu Pembela Iman, sangat menarik baginya. la meremehkan ajaran
Presbiterian, yang mengajarkan kebebasan yang tidak sepaham dengan hak ilahi
seorang raja.
Bahkan sebelum James tiba di London, para Puritan sudah mengemukakan Petisi
Millenary, yang diduga didukung oleh seribu orang. Mereka meminta perubahan
moderat dalam Gereja Inggris. James tidak berniat menyerah pada tekanan para Puritan,
namun sebab jumlah mereka begitu besar, ia tidak bisa memandang sebelah mata.
Maka pada Januari 1604, melalui sebuah konferensi, para uskup dan kaum Puritan
bertemu di Hampton Court. Secara keseluruhan, pada pertemuan ini , di mana
James telah mengancam akan "mengusir mereka ke luar negeri", merupakan kekalahan
bagi kaum Puritan. Kemenangan tunggal mereka yaitu bahwa James setuju dengan
terjemahan baru Alkitab.
Sang raja membayangkan dirinya sebagai seorang terpelajar dan mungkin berpikir
bahwa karya ini merupakan sesuatu yang berharga. namun ia pun ingin melepaskan
Alkitab Jenewa – versi populer, yang diterbitkan pada tahun 1560, yang cenderung
128
Calvinis. Alkitab Para Uskup versi 1568 yang dimaksudkan untuk menggantikan
Alkitab Jenewa telah diterima untuk dipakai di gereja, namun orang awam tidak pernah
memilikinya. Jelaslah, terjemahan yang mendukung hak seorang raja dan diterima
sebagai Alkitab yang dibaca umum, akan menguntungkan James.
Ia menunjuk lima puluh empat orang terpelajar, dibagi atas kelompok yang terdiri atas
tujuh atau delapan orang, yang dapat bekerja sendiri-sendiri atau bersama-sama. Untuk
mewujudkan Alkitab baru, mereka mengacu pada teks asli dan terjemahan-terjemahan
sebelumnya. Alkitab Tyndale, misalnya, berdampak besar atas karya mereka.
Terjemahan ini berlangsung dari tahun 1607 sampai tahun 1611. Meskipun "versi
yang berwibawa" atau Alkitab Versi Raja James tidak mendapat pengakuan resmi dari
James, namun lambat-laun Alkitab ini menggantikan Alkitab Jenewa.
Terjemahannya yang terpelajar dan akurat bertahan berabad-abad lamanya. Bagi
sekelompok orang, inilah Alkitabnya.
129
59) Tahun 1620 Para Peziarah Menandatangani Perjanjian Mayflower
Para peziarah di atas kapal menandatangani Perjanjian Mayflower
"Jika tidak ada uskup, tidak ada raja," demikian seru James I, memberitahukan kepada
kaum Puritan bahwa mereka memiliki seorang raja, dengan sendirinya mereka juga
memiliki uskup gereja. Namun ia masih belum berhadapan dengan iman fanatik yang
melekat pada para "pemurni" (purifiers) gereja ini . Di antara mereka ada yang
masih ingin bertahan dalam gereja, namun mereka tidak merasakan bahwa reformasi
akan berhasil di bawah raja yang bersikap bermusuhan ini. sebab keadaan ini, para
Separatis mengundurkan diri dari jemaat Anglikan – dan akhirnya dari sang raja juga.
Sebagai respons atas penolakan mereka terhadap Gereja Anglikan, pemerintah telah
memenjarakan dan mengusik sejumlah kaum Separatis. Meskipun pemerintah tidak
menekan mereka, gerombolan pengusik mengganggu pertemuan-pertemuan para
Separatis.
Robert Browne telah memimpin sejumlah kaum Separatis ke Negeri Belanda, yang
menunjukkan toleransi kepada para pembangkang. Namun, mereka tetap merupakan
orang asing di negeri itu. Bagaimanapun pluralisme Belanda ini tidak membantu dalam
membangun komunitas mereka sendiri, dan banyak yang takut jika anak-anak mereka
juga akan menjadi orang-orang yang tidak beragama.
Keresahan ini membuat mereka beralih ke Dunia Baru (Amerika). Mungkin di sana
mereka dapat membangun gereja murni yang bersih dari kerusakan Gereja Inggris. Di
daerah yang tidak memiliki pemerintahan yang kokoh, mereka dapat menciptakan
pemerintahan yang akan mencerminkan idealisme Calvin. Bahkan daerah baru yang liar
sekalipun tidak dapat membendung semangat mereka akan harapan kebebasan.
Pemimpin Separatis, John Robinson, berkata, "Mereka tahu bahwa mereka yaitu
peziarah." Negeri Belanda tidak merupakan tanah perjanjian, jadi mungkin Amerikalah
tanah itu. Dengan sebuah kapal bernama Mayflower, 102 Separatis Inggris, yang
kembali sejenak ke Inggris, berlayar dari pelabuhan Plymouth.
Meskipun tujuan mereka ialah Virginia, namun badai mengubah arah mereka dan
mendaratkan mereka di Massachusetts. Salah seorang Peziarah itu melukiskan daerah
baru itu sebagai "rimba yang sunyi dan mengerikan".
130
Tidak kurang liarnya dengan tempat mereka mendarat, para peziarah takut pada anarki
dan liarnya sifat manusia. Izin yang diberikan untuk mendarat di Virginia tidak
memiliki kekuatan hukum di sini. Mereka harus menciptakan pemerintahan yang
tertata agar mereka dapat mendirikan kerajaan Allah.
Berdesak-desakan dalam kapal yang mereka tumpangi, empat puluh satu orang
menandatangani Perjanjian Mayflower. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa mereka
akan mengolah koloni baru ini demi kemuliaan Allah dan demi kemajuan kekristenan.
Mereka setuju memberlakukan undang-undang bagi kebaikan warga umum dan
berikrar untuk berpegang pada solidaritas kelompok serta menjauhkan kepentingan diri
sendiri.
Perjanjian ini juga menyatakan bahwa mereka memerintah diri mereka sendiri.
Tentunya William Bradford dan Bapa Peziarah lainnya, yang menandatangani
perjanjian ini , percaya bahwa mereka memerintah tanpa berpisah dari Allah –
penguasa segalanya – namun mereka tidak mengadakan persiapan bagi pemerintahan
yang dipimpin oleh raja manusia.
James I terkejut mendengar mereka menolak pemerintahan para uskup dan ia juga tidak
bersimpati kepada mereka yang menolak pemerintahannya. namun , tanpa harus
berurusan dengan kelompok kecil tanpa izin dan liar yang bermukim di seberang lautan
ini pun, dia sudah punya cukup masalah.
131
60) Tahun 1628 Comenius Diusir dari Negerinya
Orang-orang Katolik secara agresif sedang memaksakan otoritasnya di Bohemia. Kaum
Protestan telah dibuang, meskipun untuk beberapa tahun lamanya mereka berupaya
bersembunyi. saat bahaya membesar pada tahun 1628, satu rombongan melintasi
pegunungan dan masuk ke Polandia.
Yang memimpin mereka dalam pembuangan itu ialah pastor, penulis sekaligus guru,
Jan Amos Comenius. Ia berhenti menoleh ke belakang melihat negeri tercintanya, dan
memimpin warganya dalam doa, meminta agar Allah memelihara "benih terpendam"
dalam diri warganya, suatu kelompok yang akan tumbuh dan menghasilkan buah.
Comenius tidak akan pernah melihat negerinya lagi.
Perang tiga puluh tahun telah menyita pusat kehidupan Comenius. saat perang
dimulai pada tahun 1618, ia yaitu seorang pastor baru dan kepala sekolah pada
golongan Unity of Brethren (Unitas Fratrum), pewaris ajaran Protestan dari Yohanes
Hus.
saat itu Eropa terdiri dari kawasan-kawasan Katolik, Lutheran dan Calvinis.
Bohemia, kawasan Protestan, tidak senang menjadi bagian dari kekaisaran Romawi
yang suci, maka mereka selalu memberontak. Pada tanggal 23 Mel 1618, sejumlah
pemberontak Protestan menyerang istana kerajaan di Praha dan melemparkan para
gubernurnya ke luar jendela. Menurut laporan, orang-orang yang terlempar itu mendarat
di atas tumpukan kotoran hewan dan tidak terbunuh; namun dengan Defenestration of
Prague, revolusi sedang berlangsung.
Dengan bantuan pasukan Spanyol, Kaisar Ferdinand II menghadang para pemberontak
pada pertempuran White Mountain tahun 1620, dan daerah ini dengan resmi
dinyatakan Katolik. Kaum Protestan terpaksa harus meninggalkan tempat itu. Comenius
memulai persembunyian tujuh tahunnya. Dengan berpindah-pindah dari ladang ke
ladang secara diam-diam, ia mencoba melayani kaum Brethren yang tersisa. Lima tahun
sebelum kelahiran John Bunyan, Comenius menulis The Labyrinth of the World
(Labirin Dunia), sebuah alegori berliku-liku mirip Pilgrim's Progress.
132
Comenius dan kumpulan Brethrennya bermukim di Leszno, Polandia. Di sana ia
diangkat sebagai uskup bagi Unitas Fratrum dan menerbitkan buku tentang pendidikan
anak-anak serta pelajaran bahasa. Teorinya sangat revolusioner. Semua anak laki-laki
dan perempuan, kaya dan miskin harus dididik dengan kurikulum luas yang akan
memberi mereka akses di pelbagai bidang. Pendidikan harus dimulai dari kepedulian
ibu, bahkan sejak sebelum lahir, katanya, meskipun hal itu harus melibatkan aspek-
aspek bermain dan bukan hanya hafalan. Ia mendukung sederetan periode enam tahun
yang dapat dibandingkan dengan prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama,
sekolah menengah atas dan pendidikan universitas. Sementara itu, para pengajar harus
belajar metode mengajar dari alam. Belajar yaitu masalah perkembangan, bukan hanya
masalah memperoleh informasi.
Perang tiga puluh tahun merebak terus. Kaum Protestan Denmark menyerang kawasan
Katolik, namun terpukul balik. Raja Swedia, Gustavus Adolphus, memasuki pergolakan
ini dengan berpihak pada Protestan. Ia memperoleh beberapa kemenangan, namun ia
meninggal pada tahun 1632.
Sementara itu, Comenius tetap meraih reputasi sebagai seorang terpelajar dan pendidik.
Ia menulis The Way of Light (Jalan Terang) dengan harapan bahwa pendidikan yang
benar akan meningkatkan perdamaian. Pada tahun 1641, Parlemen Inggris
mengundangnya untuk mempraktikkan teorinya dengan mendirikan perguruan
"pansophic" (aneka pengetahuan) di Inggris. Sekali lagi perang saudara merebak, yang
memaksa Comenius lari. Untuk sementara waktu ia bermukim di Prusia. Dari sana ia
pergi ke Swedia sebagai konsultan pendidikan bagi Perdana Menteri, Axel Oxenstierna.
Ia juga meminta perdana menteri agar tidak melupakan perihal Brethren saat perang
hampir usai.
Anehnya, Perancis mengubah arah dalam perang itu. Meskipun merupakan negara
Katolik, Perancis melihat kesempatan melumpuhkan kekuatan dinasti Hapsburg dan
memenangkan beberapa kawasan baginya sendiri. Pasukan Perancis memasuki kancah
perang pada tahun 1635, dan perang terus berlanjut. Pada tahun 1648, Perdamaian
Westphalia membagi-bagi rampasan perang yang telah menguras Eropa. Kekaisaran
Roma porak-poranda dan ada yang menafsirkan bahwa Jerman telah kehilangan
setengah penduduknya dalam peperangan itu. Perancis 'memenangkan kawasan-
kawasan baru. Kaum Calvinis dan Lutheran meraih keuntungan dengan pencapaian
toleransi kaum Calvinis.
Namun, kaum Brethren tidak menerima baik hak kembali ke Bohemia maupun daerah
permukiman baru. Comenius melanjutkan pengembaraannya sepanjang sisa hidupnya.
Selama dua puluh dua tahun ia berkelana, melayani kaum Brethren yang terbuang jauh.
saat rumahnya di Polandia dihakar, ia kehilangan sebagian besar ensiklopedi yang
disusunnya. Namun, berkat perlindungan seorang Belanda, ia menerbitkan banyak buku
tentang pendidikan – termasuk buku bergambar pertama untuk anak-anak, The World in
Pictures (Dunia dalam Gambar).
Comenius dihargai dan dihormati, namun ia jarang didengar. Pada usia tujuh puluh lima
tahun ia muncul di sebuah persidangan untuk memohon perdamaian antara Inggris dan
Negeri Belanda – namun mereka meremehkan sarannya. la memiliki visi pendidikan
yang akan membawa kesempurnaan spiritual dan perdamaian dunia. Meski tujuan
pertama menarik beberapa negara, tak satu pun ingin mencoba tujuan kedua.
133
Walaupun ia dengan tepat dapat dikatakan sebagai salah seorang Bapa Oikumene,
Comenius sering tidak dihiraukan. Ia lehih dihargai dunia sekular dibandingkan oleh Gereja,
dan ia sering dielukan sebagai Bapa Pendidikan Modern.
"Benih terpendam" yang didoakan Comenius muncul di lalu hari. Serombongan
Brethren bermigrasi ke Herrnhut, di Jerman, pada awal-awal abad kedelapan belas. Di
sana terjadilah kebangkitan spiritual yang menyulut upaya misi besar yang merambat ke
seluruh dunia.
134
61) Tahun 1646 Pengakuan Iman Westminster
Pertemuan Westminster
Tidak semua orang di Inggris menerima gereja negara. Dari awal, banyak yang telah
melihat Anglikanisme sebagai sistem yang tidak menjangkau doktrin-doktrin
Reformasi. Ratu Elisabeth I telah menyetujui Tiga Puluh Sembilan Pasal pada tahun
1563, yang mendirikan Gereja Inggris episkopal. Dari awal, kaum Puritan telah
mendesak terbentuknya pemerintahan Presbiterian dan kebaktian-kebaktian yang
kurang ritual, namun permintaan mereka tidak diacuhkan.
Para raja Stuart – James I dan putranya, Charles I – telah berupaya meningkatkan
kekuatan sistem episkopal. Charles yang menginginkan keselarasan di Skotlandia dan
Inggris, berupaya memaksakan Anglikanisme kepada orang-orang Presbiterian
Skotlandia. Situasi yang mudah berubah ini ditangani dengan ceroboh sehingga
mengakibatkan Perang Saudara di Inggris.
Charles I memiliki sejarah pertikaian panjang dengan parlemen. Pada musim semi
tahun 1640, ia membentuk parlemen yang menentangnya dengan keras. Serta-merta ia
membubarkannya dan membentuk parlemen lain pada musim gugur tahun yang sama.
Parlemen berunsurkan Puritan yang bertahan lama inilah yang menjadi penyebab
kejatuhannya.
Dua tahun lalu , pada parlemen yang sama, raja mencoba menangkap sejumlah
anggota dewan yang menentangnya. Tuduhannya bahwa orang-orang ini telah
berkhianat, memicu perang yang membawa Inggris menganut Puritanisme untuk
beberapa waktu lamanya.
Pada awal tahun 1643, parlemen telah menghilangkan sistem episkopal. Untuk
mendirikan sebuah Gereja Presbiterian sebagai gantinya, mereka mengadakan
pertemuan di Westminster Abbey. Seratus dua puluh satu pendeta dan tiga puluh orang
awam — beberapa dari mereka yaitu orang-orang Skotlandia — berhimpun untuk
membangun kembali gereja Inggris.
Selama enam tahun Pertemuan Westminster ini , Oliver Cromwell, pemimpin
pasukan parlemen itu, membawa para Puritan berkuasa. Sang raja dipenggal kepalanya
pada tahun 1649.
Pertemuan Westminster ini mewujudkan Pengakuan Iman Westminster (1646),
suatu karya yang akan menjadi klasik dalam pemikiran presbterian, dan Katekismus
135
Kecil Westminster (1647) serta Katekismus Besar (1648). Kepercayaan yang mereka
gariskan sepenuhnya Calvanistik.
Pengakuan Iman ini mengajarkan inspirasi kitab suci dengan menyatakan Alkitab
sebagai otoritas tunggal dalam kepercayaan Kristen.
Dalam bahasa aslinya, kitab suci "diinspirasikan (diilhami) Tuhan, dan ... dipelihara
kesuciannya sepanjang masa". Namun, jaminan akan otoritas ilahi berasal "dari karya
Roh Kudus dari dalam".
Pengakuan Iman Westminster menyertakan juga doktrin takdir – sebuah topik yang
tidak digubris Tiga Puluh Sembilan Pasal. Pengakuan Iman itu menyatakan, "Sebagian
manusia dan malaikat ditakdirkan untuk hidup abadi, dan yang lain ditetapkan untuk
kematian abadi." Namun, "Allah bukan pencipta dosa, dan bukan juga kekerasan yang
ditawarkan bagi kehendak makhluk".
Lebih lanjut, Pengakuan Iman itu menekankan hubungan Allah dengan ciptaan-Nya
melalui perjanjian. Penebusan umat manusia merupakan perimbangan antara kedaulatan
Allah dan pertanggungjawaban manusia.
Pengakuan Iman ditetapkan oleh para penatua, bukan oleh pastor dan uskup, serta tidak
memberi tempat (seperti yang dilakukan oleh Tiga Puluh Sembilan Pasal) bagi
transsubstansiasi. Pengakuan Iman itu juga mengikat orang percaya pada hari Sabat,
hari yang dikhususkan untuk berdoa secara pribadi dan ibadah umum.
Namun Puritanisme di Inggris tidak bertahan lama. Pada tahun 1658, dengan kematian
Oliver Cromwell, tidak ada pemimpin kuat yang muncul dari pihak Puritan. Meskipun
putra Cromwell, Richard, telah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Pelindung
Inggris, ia tidak memiliki kemampuan memimpin seperti ayahnya. Richard
mengundurkan diri secara terhormat, dan Inggris kembali menjadi kerajaan di bawah
Charles II, putra Charles I.
Di Inggris, raja baru ini dengan sukses memulihkan sistem episkopal. Namun orang-
orang Skotlandia berpegang erat pada Pengakuan Iman Westminster, dengan
mengikatnya pada gereja Skotlandia. Melalui Skotlandia, Pengakuan Iman Westminster
telah menjadi julukan bagi "Calvinisme yang bersejarah".
136
62) Tahun 1648 George Fox Mendirikan Society of Friends
George Fox pendiri Quaker
Abad ketujuh belas yaitu masa perubahan agama dan kebebasan yang sedikit demi
sedikit meningkat. Dalam satu gereja "universal", bertumbuh banyak aliran. Reformasi
telah mengajarkan bahwa hanya Alkitab yang mendasari iman. Namun pertanyaannya,
interpretasi apa yang harus diterima orang Kristen? Perbedaan pun merebak – semuanya
atas nama Kitab Suci.
Kaum Puritan menentang Gereja Inggris yang tidak sepaham dengan mereka tentang
Kitab Suci. namun , meskipun mereka tidak menyukai sistem imamat Anglikan, mereka
tidak memutuskan hubungan sama sekali dengan kaum rohaniwan.
George Fox, yang mendirikan Society of Friends – atau Quakers – melakukan hal itu.
Seperti yang lainnya, George Fox tidak me-rasa nyaman dengan agama-agama formal
pada zamannya. Juga kelompok-kelompok pembangkang seperti Presbiterian dan
Independen, bagi Fox, memiliki amat banyak formalitas. Ia percaya bahwa mereka
menyerah pada berbagai tekanan pemerintah. Gereja telah menjadi pelayan umum dan
telah menjauhkan diri dari Allah.
Dalam usahanya mencari kedamaian spiritual, Fox mengunjungi banyak penasihat,
namun tak ada seorang pun yang dapat membantunya. Pada suatu hari, tahun 1647, ada
suara yang mengatakan, "Ada satu, yaitu Yesus Kristus, yang dapat berbicara tentang
kondisimu." Hal itu membawa perubahan pada Fox, yang sejak itu mendedikasikan
dirinya untuk mengikuti terang yang ada pada dirinya (Inner Light) yang telah diberikan
Allah – dan pada setiap orang yang menerima-Nya. Semua orang Kristen – semua
sahabat Yesus – memiliki akses langsung kepada Allah. Fox mengajarkan bahwa
dengan mengikuti terang yang telah dianugerahkan Allah, siapa pun dapat
melumpuhkan kekuatan setan dan cengkeraman dosa.
Ajaran-ajaran Fox yang sederhana namun juga keras menarik banyak peminat. Para
sahabat (Friends), sebutan bagi mereka, meninggalkan tradisi bersumpah, berpakaian
sederhana, makan hati-hati dan bicara dengan jujur. Mereka menentang keterlibatan
dalam peperangan. Meskipun ditentang pemerintah, mereka memprotes segala
137
formalitas kebaktian, mereka menolak mengangkat topi bagi siapa pun, mereka tidak
membayar persepuluhan (merupakan pajak penghasilan, di Inggris) pada gereja negara.
Banyak Society of Friends bermunculan di Inggris, selama George Fox yang berani itu
berkhotbah. Di rumah-rumah tempat mereka mengadakan berbagai pertemuan, para
aristokrat dan orang biasa bersama-sama mengikuti kebaktian. Tidak ada rohaniwan
yang istimewa. Pria dan wanita dapat berbicara sebab mereka merasa bahwa mereka
dituntun Rob.
Dalam sebuah kelompok yang bergantung pada dorongan Roh secara pribadi, terdapat
juga penyimpangan – dan ini membuat banyak orang yang sebenarnya toleran berhalik
menentang Friends. Penekanan Friends pada kebebasan juga mengundang oposisi
pemerintah.
Fox dipenjarakan sebab ajarannya. saat ia berhadapan dengan seorang hakim yang
mencela kepercayaan kelompoknya, Fox memperingatkannya untuk "gentar pada
firman Allah".
"Kalianlah para pembuat gentar, quakers," jawab hakim ini . Nama itu menjadi
abadi. Di bawah pemerintahan Oliver Cromwell, toleransi menjadi peraturan umum
bagi berbagai aliran yang berbeda, yang menyusun bala tentara dan kesatuan politiknya.
Meskipun Cromwell kagum pada kejujuran dan integritas para Quaker, ia tidak
memperluas toleransi terhadap mereka. Meskipun penganiayaan sudah berkurang
dibanding pada masa pemerintahan raja-raja, iman yang mencari kebebasan individual
seperti itu tidak dapat diterima oleh seorang pemimpin sekaliber Cromwell.
Meskipun menghadapi penganiayaan, Quaker bertumbuh, sebab banyak yang
merasakan sentuhan iman yang menekankan bahwa setiap individu harus mengalami
Kristus di dalam dirinya.
138
63) Tahun 1662 Rembrandt Menyelesaikan Lukisan Kembalinya Anak
Hilang
REMBRANDT, The Return of the Prodigal Son, The Hermitage, Leningrad.
Karya seni yang sempurna, Kembalinya Anak Hilang diciptakan oleh seorang yang
paham tentang apa artinya menjadi seorang pemboros. Melalui karya seninya, ia
menunjukkan betapa dalamnya dunia ini membutuhkan keselamatan. Rembrandt
Harmenszoon van Rijn menjadi pelukis Protestan terbesar – seorang yang dalam
dirinya, iman dan seni terpadu dengan selaras.
Ia dilahirkan dalam keluarga gereja Reformasi yang amat saleh. Meskipun orangtuanya
menginginkan ia menjadi orang terpelajar, jelaslah bahwa ia dianugerahi bakat seni
lukis. Mengikuti kebiasaan pada waktu itu, Rembrandt magang pada pelukis yang
mapan dan belajar melukis cerita-cerita Alkitab, peristiwa-peristiwa dalam sejarah, serta
mitologi Romawi dan Yunani. Namun, seni lukis yang ia kembangkan yaitu gayanya
sendiri yang agak berbeda. Para pelukis Protestan lain membatasi lukisan religiusnya
pada gambar-gambar yang ada di Alkitab, dan para pelukis Katolik menggambarkan
para santo; namun Rembrandt membuat setiap lukisannya sebagai suatu pernyataan iman.
saat orang-orang Protestan menyatakan bahwa Alkitab sajalah norma agama bagi
manusia, Rembrandt memperlihatkan bahwa Kitab Suci dapat juga menjadi norma bagi
seni lukis agamawi.
Pada zaman Rembrandt, orang-orang dalam lukisan-lukisan Alkitab tampak seperti
pahlawan luar biasa, hanya sedikit berbeda dari para dewa dan manusia setengah dewa
seperti yang digambarkan dalam lukisan-lukisan mitologis. Tidak demikian halnya pada
gambaran-gambaran Rembrandt. Ia menunjukkan kemanusiaan sebagaimana adanya:
cacat, berdosa dan membutuhkan keselamatan. Lelaki dan perempuan "sesungguhnya"
mengisi karyanya, termasuk istri dan anaknya – dan juga orang-orang jalanan. Dengan
berpakaian seorang pengemis lesu yang mengenakan sorban, Rembrandt menjadikan
dirinya potret raja Israel yang menakjubkan. Seorang Yahudi tua digambarkan sebagai
Rasul Paulus.
Rembrandt juga menjadikan dirinya sebagai model. Dalam The Raising of the Cross,
yang menggambarkan dosa manusia, ia membantu menyalib kristus. Meskipun ia
139
menciptakan gambar ini , pelukis ini tak luput dari kebutuhan keselamatan
pribadi.
Kepiawaiannya memakai chiaroscuro – suatu teknik yang mengkontraskan latar
belakang gelap dengan cahaya yang menyoroti figur dalam gambar – yaitu ciri khas
karya Rembrandt yang terbaik. Pekatnya warna gelap seringkali dengan jelas
memperlihatkan cahaya spiritual yang timbul dari dalam modelnya.
Namun, tujuan utama Rembrandt bukanlah untuk menginjili. Ia mencari nafkah dengan
melukis dan karyanya terdiri dari baik yang "spiritual" maupun "duniawi". Ada
karyanya yang meskipun tidak dimaksudkan menggambarkan suasana keagamaan,
namun mengandung perspektif sang pelukis tentang dunia dan kemanusiaan. Ia melihat
keindahan pada alam ciptaan Allah – dan ia melihat dengan baik keindahan dan dosa
pada wajah-wajah manusia di hadapannya.
Meskipun seni lukisnya menunjukkan ketulusan Kristen, kehidupan pribadi Rembrandt
tidaklah tanpa cacat. Ia menikahi Saskia, seorang wanita muda dan kaya, yang
meninggal pada tahun 1642. Surat wasiatnya mengatakan bahwa: jika Rembrandt
menikah lagi, seluruh kekayaannya akan diwarisi anak mereka, Titus. Terhimpit
kesukaran keuangan, sang pelukis tentunya merasa bahwa is tidak dapat mengorbankan
uang warisan. sebab nya, ia menjadikan wanita pengurus rumah tangganya Hendrickje
sebagai istrinya di luar nikah.
Rembrandt menurunkan pada generasi-generasi berikutnya gambaran unik Protestan
ten-tang dunia ciptaan Allah. Calvin pernah menyerukan, "Hanya benda-benda yang
sanggup dilihat mats yang harus dilukis." Mata Rembrandt menciptakan gambar yang
memberitakan kebenaran. Kembalinya Anak Hilang menunjukkan kemanusiaan
Rembrandt, cinta akan uraian mendalam dan persepsi yang tajam akan hati manusia.
Ayah pemaaf, anak yang menyesal dan anak sulung, dalam pakaian abad ketujuh belas,
semuanya sangat cocok dengan perumpamaan Yesus. Hal ini mengingatkan kita akan
keabadian dan ketepatan waktu Kitab Suci.
140
64) Tahun 1675 Philip Jacob Spener Menerbitkan Pia Desideria
Menjelang akhir abad ketujuh belas, Gereja Lutheran telah menjauh dari pandangannya
sendiri akan iman pribadi dan dalam keinginan mencari doktrin yang benar. Seorang
pastor menentang keadaan demikian dengan sebuah buku kecil yang mengubah
Protestanisme.
saat belajar di Universitas Strasbourg, Philip Jacob Spener telah mempelajari bahasa-
bahasa, doktrin dan sejarah Alkitab yang umumnya yaitu bagian dari pelajaran
pelayanan. namun para profesornya juga mengingatkan dia tentang perlunya kelahiran
kembali secara spiritual dan etika Kristen. Spener menemukan kebutuhan penerapan
kesarjanaannya pada pengalaman pribadinya. Jika seseorang tidak lahir baru maka
semua agama formal tidak akan berpengaruh.
saat pendeta baru ini berkhotbah menentang kemalasan dan perilaku amoral, dan
berupaya agar jemaatnya mempraktikkan iman Kristen secara pribadi, ia berhadapan
dengan kontroversi. Kaum rohaniwan Gereja Lutheran yang menganggap diri mereka
sebagai pusat gereja merasa terancam dengan pembalikan yang bersifat individualistis
seperti yang dikhotbahkannya.
Spener mengadakan berbagai persekutuan doa, yang dikenal sebagai collegia pietatis,
yang lalu menjadi dasar gerakan Pietisme.
Tidak puas dengan berkhotbah dari mimbarnya sendiri di Frankfurt dan pembentukan
kelompok-kelompok lokal, pastor Lutheran ini menuliskan ide-idenya untuk suatu
pembaruan. Pada tahun 1675 ia menerbitkan Pia Desideria, "Hasrat Kesalehan", yang
menampilkan enam butir rencana.
Pertama, ia ingin melihat orang-orang Kristen memiliki pemahaman tentang Kitab
Suci yang lebih mendalam dan lebih berpengaruh pada kehidupan. Untuk mencapai
tujuan ini, ia menyarankan pertemuan-pertemuan kecil di rumah-rumah. Kalangan
Gereja abad ketujuh belas melihat hal ini sebagai sesuatu yang baru dan mungkin
merupakan ide yang mengancam.
141
Spener menghendaki Gereja memandang imamat am semua orang percaya dengan
serius, maka ia menyarankan memberi tanggung jawab kepada orang-orang awam yang
ada di lingkungan collegia pietatis. Meskipun pastor itu penting adanya, ia tidak harus
memikul seluruh beban untuk memberi santapan rohani.
Untuk menentang ketakutan pada masanya, bahwa individualisme menjurus pada
keonaran, Spener menyarankan agar Gereja menekankan pengalaman pribadi. Ia
melihat bahwa doktrin yang benar saja akan menjurus ke iman yang mati.
Memetik pelajaran dari Perang Tiga Puluh Tabun yang telah membuktikan bahaya
kontroversi agama, Spener berupaya mengelakkan konflik teologis. Jika tidak
terelakkan, maka perdebatan harus dilakukan dengan semangat cinta kasih. Namun, ia
mendesak orang-orang agar berpegang pada butir-butir iman yang penting saja dan
tidak bertele-tele dengan hal-hal remeh. Lebih baik, ia katakan pada mereka, berdoa
bagi orang yang melakukan kesalahan dibandingkan memarahi dia.
Para pastor bukan saja harus mempelajari Alkitab dan teologi, mereka juga harus tabu
menangani kaum awam, ujar Spener. Imam yang tidak dapat menunjukkan hidup devosi
tidak dapat menuntun jemaatnya ke arah itu.
Ia juga mendorong para pastor menyampaikan khotbah yang menerapkan Kitab Suci
dalam kehidupan. Mereka harus mengilhami dan memberi pengetahuan yang dapat
dimengerti dan membangkitkan. dibandingkan hanya berceramah, para pastor diharuskan
memberi inspirasi kepada umat Tuhan.
Rangsangan yang dibangkitkan oleh ide-ide Spener memicu ia berpindah dari
Frankfurt ke Dresden dan lalu ke Berlin. Di Berlin, pada tahun 1694, ia dan
August Francke membentuk Universitas Halle. Di bawah Francke, universitas itu
menjadi pusat penginjilan dan misi. Bertahun-tahun setelah Gereja Katolik membawa
misinya ke Asia dan Amerika, misi Protestan bermula di Halle, sebagai pusat untuk
studi bahasa-bahasa Timur dan penerjemahan Alkitab.
Meskipun kaum rohaniwan melihat ancaman besar pada program reformasi Spener, pro-
gram itu membawa kegembiraan bagi kaum awam. Di gereja-gereja yang telah
menganut ajarannya, kehidupan keluarga meningkat, standar-standar moral
dibangkitkan, dan orangorang memahami bahwa kekristenan lebih dibandingkan sekadar
menyetujui suatu katekimus saja. Berbagai pertemuan kelompok-kelompok kecil
mewujudkan semangat kekeluargaan dalam jemaat, dan Alkitab menjadi hidup bagi
orangorang percaya.
Luther pernah menekankan pentingnya jemaat menyanyikan puji-pujian, namun
kebiasaan itu telah melemah. Pietisme memberi dorongan besar bagi puji-pujian, dan
penulis seperti Paul Gerhardt, Joachim Neander dan Gerhardt Tersteegen, menciptakan
puji-pujian yang di lalu hari diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai buku-
buku kidung Methodis.
Banyak gereja yang terpengaruh Pietisme mengembangkan pemahaman Alkitab, doa
kelompok, dan mencapai lebih dibandingkan yang diidealkan pendirinya. Aspek pragmatis
Pietisme – yang menekankan perasaan dan penyebaran Kekristenan – akan berdampak
jauh dan khususnya berpengaruh dalam perkembangan kekristenan di Amerika.
142
65) Tahun 1678 Karya John Bunyan The Pilgrim's Progress
Diterbitkan
Salah satu karya klasik Kristen terbesar muncul bukan dari aula-aula universitas, namun
dari sebuah sel penjara. Orang yang menulis itu bukanlah orang terpelajar, namun
seorang guru agama berpendidikan rendah.
John Bunyan dilahirkan di Elston, Bedfordshire, pada tahun 1628. Rumahnya yaitu
gubuk kecil, dan ayahnya seorang tukang solder, yang setiap hari mendorong keretanya
di sepanjang jalan, berhenti di rumah-rumah untuk menambal panci-panci.
John mendapat pendidikan di sebuah sekolah grammar (yang mengutamakan bahasa
Latin). namun seperti anak-anak lain pada zamannya, ia melanjutkan pekerjaan ayahnya.
Pada Perang Saudara Inggris, ia menjadi tentara – besar kemungkinan di pihak Puritan.
Pada umur sembilan belas tahun ia menikah, dan istrinya yang Kristen membimbingnya
untuk mencoha mengubah hidupnya. Namun, ia seringkali tergelincir pada kebiasaan
lamanya. Meskipun hidupnya cukup memberi kesan yang baik pada tetangga-
tetangganya, ia menggambarkan dirinya sebagai "seorang yang berpura-pura secara
berlebihan".
Pada tahun 1651, Bunyan mulai menghadiri pertemuan Independen di Bedford, dan
telah tergerak oleh khotbah alkitabiah yang dibawakan seorang pastor. la mulai
merenungkan Kitab Suci, hingga konflik dalam dirinya berakhir dengan jaminan
anugerah. Keselamatan telah datang kepadanya. la bergabung dengan jemaat Bedford
dan mulai berkhotbah. Di sana ia membuat orang kagum akan kebolehan seorang
tukang solder itu.
Meskipun Raja Charles II pada mulanya menjanjikan kebebasan beragama, sebab
pertumbuhannya (jumlahnya), Gereja Anglikanlah satu-satunya Gereja yang diakui.
Pertentangan atau perbedaan pendapat tidak diperbolehkan, dan pada tahun 1661 John
dipenjarakan di penjara Bedford sebab ajarannya. Ia mendekam di sana hingga tahun
1672, saat Charles mengeluarkan Declaration of Indulgence, yang memberi
kelonggaran bagi kaum non-Anglikan.
143
Setelah ia dibebaskan, rumah pertemuan kaum Independen memanggilnya untuk
menjadi pastor mereka. la menerima surat izin berkhotbah dan dikenal sebagai Uskup
Bunyan – mungkin sebab merupakan tokoh jenius penyatu kaum Independen di
kawasannya. Namun, toleransi ini tidak bertahan lama.
Pada tahun 1675 Bunyan sekali lagi dipenjarakan, dan ia memulai karya agungnya: The
Pilgrim's Progress (Perjalanan Seorang Safir). Alegori tentang keselamatan dan
perjalanan Kristen ini telah menghasilkan ungkapan-ungkapan indah seperti "Vanity
Fair", "The Slough of Despond", "House Beautiful", "Muckraking" dan "Hanging is too
good for him". Menyimpulkan hanya dari pengalamannya sendiri dan Alkitab, pengajar
agama yang tidak terpelajar ini menciptakan sastra yang mempesona bagi mereka yang
mengadakan perjalanan atau yang akan mengadakan perjalanan – ziarah dari Kota
Kehancuran ke Kota Surgawi.
Mungkin, sebab begitu banyak pembaca yang mengalami perjalanan ziarah yang sama
dalam hidup mereka, The Pilgrim's Progress menjadi buku devosional Kristen terlaris di
dunia. Bunyan menggambarkan keadaan paling intim jiwa-jiwa Kristen. Kesadarannya
akan anugerah Allah yang mendalam kepada dirinya sendiri memberi Bunyan
kesanggupan berbicara kepada banyak orang, bahkan berbagai generasi, tentang
keadaan spiritual mereka sendiri.
Karya-karya Bunyan lain seperti Grace Abounding to the Chief of Sinners, The Life and
Death of Mr. Badman dan The Holy War tidak mencapai popularitas seperti The
Pilgrim's Progress. Namun, buku yang ditulis secara sederhana ini telah menyentuh
ribuan orang dan telah menjadi buku yang klasik.
144
66) Tahun 1685 Kelahiran Johann Sebastian Bach dan George
Frederic Handel
J. S. Bach
Pada tahun yang sama, telah lahir dua komposer Jerman di dua tempat yang berjarak
kurang dari dua ratus mil. Meskipun mereka berdua tidak pernah bertemu, namun
keduanya menciptakan karya terbaik musik abadi yang merupakan karya teragung yang
dikenal gereja.
Dengan kelahiran seorang lagi anggota keluarga Bach di Eisenach, tidak seorang pun
me-rasa kaget jika pada satu hari ia akan menjadi seorang komposer, sebab keluarga
Bach sendiri terdiri dari banyak musisi.
Setelah mendapatkan pelajaran musik dari ayah dan kakaknya pada tahun 1703, Johann
Sebastian Bach yang berumur delapan belas tahun itu menjadi seorang violis pada
orkestra kapel kerajaan di Weimar. namun ia segera meninggalkan posisi ini dan
berganti posisi menjadi organis gereja. Lalu ia menikahi sepupunya, Maria Barbara
Bach, seorang penyanyi yang sudah matang. Mereka dianugerahi tujuh orang anak.
Setelah istrinya meninggal, ia menikah lagi dengan Anna Magdalena Wiilken. Empat
orang putranya juga menjadi komposer terkenal.
Bach menciptakan komposisi dalam jumlah yang menakjubkan. Sementara menghidupi
dua puluh orang anaknya, ia juga menggubah, memainkan dan mengajar musik. Bagi
Bach, menggubah kantata dan musik kebaktian lainnya "yaitu pekerjaan satu hari
penuh", sebab posisi yang diemban menuntutnya menyediakan musik. Ia telah
menciptakan 198 kantata, di samping musik-musik umum. Karyanya yang terkenal
antara lain St. Matthew Passion, Brandenburg Concerto Christmas Oratorio dan Well-
Tempered Clavier.
Bach yaitu Lutheran sejati dan pada setiap karyanya – sekular dan rohani – ia
mencantumkan "In Praise of the Almighty's Will" ("Dengan Pujian Kehendak Yang
Mahakuasa") dan "To God Alone Be the Glory" ("Kemuliaan Hanyalah Bagi Allah").
Sang musikus ini juga temperamental orangnya. Ini yang selalu membawanya dalam
145
kesulitan saat berhubungan dengan atasannya. Ia juga sangat membanggakan
kebolehannya sendiri.
Bach pernah tinggal di pelbagai tempat di Jerman. Bach tidak pernah mencapai
kemajuan di belahan dunia lainnya, hingga Felix Mendelssohn menemukan dan
mempopulerkan kembali karya-karyanya.
Handel dalam beberapa hal mirip dengan orang sezamannya – dan dalam beberapa hal
sangat beda. Ia berasal dari kota Halle, tempat ayahnya menjadi dokter. saat ayahnya
melarang George belajar musik, legenda mengatakan, pada malam hari ia diam-diam
pergi ke kamar di bawah atap untuk berlatih dengan organ kecil. Meskipun ayahnya
menginginkan George menjadi seorang pengacara, pada akhirnya ia membiarkan
putranya belajar dengan seorang organis lokal. Istana Berlin memberi kesempatan
kepada George untuk meneruskan pendidikan musiknya, namun ditolak ayahnya. namun
pada akhirnya ia tidak dapat menghentikan putranya. Setelah setahun belajar hukum,
George meninggalkan studinya dan menjadi seorang violis pada orkestra istana. la juga
mulai menulis opera dalam bahasa Italia.
GF HANDEL
Seperti Bach, Handel pun merupakan seorang komposer yang kreatif, namun karya
musiknya paling awal bersifat sekular. Oratorium suci bukanlah minat utamanya –
seperti opera dan karya instrumentalnya. Untuk membuat perusahaan-perusahaan opera
selalu gembira, ia harus senantiasa menyuguhkan bahan-bahan baru. Para pengunjung
menginginkan hiburan baru setiap musim, dan komposer yang sukses harus senantiasa
mengadakan pertunjukan.
Bagaimana instrumentalis pencinta opera ini sampai menulis Messiah? saat diundang
ke London untuk menulis sebuah opera, komposer Jerman ini memutuskan untuk
berdiam di sana. Opera Itali mulai menurun. Perusahaanperusahaan opera
membangkitkan amarahnya, dan tidak lama lalu Handel mulai menulis oratorium:
Messiah, yang pertama dinyanyikan pada tahun 1742 di Dublin, Israel in Egypt,
Deborah, Saul, Judas Maccabaeus, Solomon, Samson dan yang lainnya.
saat penguasa Hanover, negara bagian Jerman menjadi raja Inggris, keadaannya agak
merisaukan Handel. Penjelasan apa yang dapat diberikan kepada majikan lamanya
tentang mengapa ia pindah ke negeri orang? Menurut legenda, ia menulis Water Music
untuk menenangkan raja ini . Hal itu merupakan manuver yang sukses.
Handel berasal dari keluarga Pietis Jerman yang mengingatkan dia tentang pentingnya
kehidupan Kristen yang praktis, seperti halnya perasaan iman. Banyak orang yang telah
mendengar Messiah mengalami iman serupa.
146
67) Tahun 1707 Penerbitan Hymns and Spritual Songs Karya Isaac
Watts
Isaac Watts
Kidung tidak memiliki sejarah panjang dalam gereja-gereja berbahasa Inggris.
Meskipun Martin Luther, orang yang senang dengan musik dan nyanyian, mendesak
agar kidung menjadi bagian dari ibadah para Lutheran, dan ia sendiri menulis beberapa
kidung, namun orang-orang Inggris agak lamban memakai nya.
Para Anglikan memiliki Buku Doa Umum, namun liturginya tidak menyertakan musik.
Pada tahun 1562, jemaat-jemaat dapat memakai koleksi Mazmur berirama, yang
lambatlaun disebut Versi Lama dan pada tahun 1696, Nahum Tate dan Nicholas Brady
menampilkan Versi Baru yang dapat dinyanyikan. Namun, apa pun yang ada di luar
Mazmur dicurigai. Seorang uskup mungkin menulis sebuah kidung yang kadang-kadang
dipakai di kapel perguruan tinggi. Para pujangga seperti John Milton dan George
Herbert menulis karangan-karangan suci, namun tidaklah untuk dinyanyikan. George
Wither mericoba menciptakan buku kidung yang luas pada tahun 1623, namun karyanya
tidak begitu sukses.
Sementara kaum Anglikan menentang kidung, kaum Baptis menerimanya – dan pastor
dari aliran Independen, Isaac Watts, mengambil keputusan bahwa orang-orangnya
membutuhkan nyanyian Baru. Meskipun Mazmur mengekspresikan iman, namun tidak
dengan jelas menunjukkan unsur-unsur Kristen seperti kelahiran, ajaran-ajaran,
penyaliban dan kenaikan Kristus. Para jemaat tidak dapat bernyanyi tentang Tritunggal,
Roh Kudus ataupun gereja.
Pada tahun 1709 Watts menerbitkan Hymns and Spiritual Songs. Koleksi-koleksi
lainnya menyusul lalu , termasuk Psalms of David Imitated in the Language of the
New Testament (Mazmur Daud Ditirukan dalam Bahasa Perjanjian Baru). Dalam karya
ini Watts mengatakan bahwa ia membuat Daud "berbicara seperti seorang Kristen".
Semuanya ia kutip hanya dari Mazmur – "Jesus Shall Reign Where'er the Sun"
berdasarkan Mazmur 72, dan "Joy to the World" dari Mazmur 98.
I.ebih dari 600 kidung ciptaan Watts – di antaranya "When I Survey the Wondrous
Cross", "O God Our Help in Ages Past", "I Sing the Mighty Power of God" dan "There
Is a Land of Pure Delight" – telah membuatnya mendapatkan gelar Bapa Kidung di
Inggris. Rohaniwan ini dengan cermat merefleksikan pujian, keheranan dan
147
penyembahan orang-orang Kris-ten terhadap Tuhan. Meskipun ia mungkin telah
menyinggung perasaan gerejawan konservatif pada masanya, kidung agungnya
meninggalkan kesadaran akan akhirat.
Kidung Watts berpengaruh besar terhadap gereja-gereja non-Anglikan. Tidak ada yang
dapat menandinginya hingga Charles Wesley mulai menulis kidung. namun , untuk
waktu lama, karya-karya Watts tidak meluas ke Gereja Inggris. Meskipun gereja-gereja
lain di Inggris, Amerika dan di tempat-tempat lain memakai kidung Watts, tidak
ada buku kidung Anglikan yang muncul hingga tahun 1861, yaitu saat Hymns
Ancient and Modern, yang memuat beberapa kidung Watts diterbitkan.
148
68) Tahun 1727 Kebangunan Rohani di Herrnhut Mengawali
Moravian Brethren
Zinzendorf berkhotbah kepada orang-orang dari berbagai bangsa
Ini hanyalah kebaktian pengukuhan bagi dua orang gadis. Para Moravian Brethren yang
tinggal di pertanahan Pangeran Nicolaus von Zinzendorf mengadakan pertemuan seperti
biasa pada tanggal 13 Agustus 1727. Namun, gelora spiritual telah berkobar sejak
beberapa minggu sebelumnya. Selama itu Pula telah berlangsung doa semalam suntuk,
pengakuan dosa, pemahaman Alkitab dengan sungguh-sungguh dan pengharapan.
Semuanya meledak pada hari itu. Setelah berkat pengukuhan dinyatakan kepada kedua
gadis ini , gereja itu pun dilanda keharuan yang dahsyat. Ada yang menangis, ada
yang menyanyi, banyak yang berdoa. Tidak ada keraguan di benak mereka tentang apa
yang sedang terjadi. Mereka sedang dilawat Roh Allah. Mereka telah mendirikan
sebuah "badan" di sini, di Herrnhut, namun saat itu mereka yaitu satu dalam roh.
Keadaan tidak selalu menyenangkan bagi orang-orang Moravian. Sebagian besar yang
ada di sana ialah orang-orang pelarian dari tempat lain sebab penganiayaan. Mereka
yaitu keturunan spiritual Yohanes Hus – bukan Katolik, bukan Lutheran, bukan
Calvinis. Tak ada tempat lagi bagi mereka di dunia ini; bahkan pemimpin besarnya yang
terkenal sebab keilmuwannya, Jan Amos Comenius, tidak dapat mencarikan tempat
bagi mereka. Maka mereka pun bubar.
Pengumpulan kembali berawal pada tahun 1722, saat Christian David muncul di
depan pintu tempat kediaman Pangeran Zinzendorf di Dresden. Zinzendorf yaitu
Lutheran yang saleh dari keluarga kaya, dan ia sangat berminat melayani Tuhan dengan
kemampuannya. Sebenarnya ia pernah berpikir untuk mewujudkan sebuah komunitas
yang akan mempraktikkan kesucian kristiani. Sekarang, berdiri pula seorang Moravian
di ambang pintunya, dengan permintaan agar kelompok tertindasnya itu dapat tinggal di
pertanahan Zinzendorf. Pangeran ini mengizinkannya.
saat Zinzendorf berkenalan dengan para tamunya,. is merasakan persaudaraan
spiritual. la mengundang para Moravian lain ke komunitas baru ini dan mulai
149
mendirikan sekolah serta kedai. Tempat itu dinamakan Herrnhut yang artinya,
"penjagaan Tuhan". Apakah mereka berjaga-jaga akan Tuhan atau mereka dijagai
Tuhan? Kedua-duanya.
Sekitar tahun 1725, ada sembilan puluh Moravian di Herrnhut. Menjelang tahun
berikutnya, ada 300. namun bersamaan dengan pertumbuhannya datang juga masalah.
Para pengungsi datang dari berbagai tempat dan berbicara dengan bahasa yang berbeda.
Tentunya kesulitan ekonomi tak terelakkan sebab para penghuni baru itu mulai
melanjutkan pekerjaan lama mereka. Komunitas itu mencakup juga para Lutheran dan
Moravian. Jadi, pertengkaran tentang liturgi gereja pun muncul. Seorang guru yang
bermukim di sana yaitu orang yang telah diusir dari Gereja Lutheran sebab ajaran
sesatnya, dan sebab nya ia sangat marah. Tentu saja kemarahannya ditujukan kepada
Lutheran terkemuka di komunitas ini , Zinzendorf. Guru itu berjalan mengelilingi
kota dengan berteriak bahwa pangeran ini yaitu "binatang" yang ada dalam
Wahyu. Akhirnya orang ini menjadi gila.
Khawatir bahwa komunitas ini akan berantakan, Zinzendorf memutuskan untuk
menerapkan kepemimpinan. Ia berpindah dari istananya ke komunitas itu sendiri dan
mulai mengunjungi anggota-anggotanya. Ia menetapkan berbagai peraturan bagi
kehidupan komunitas, yang semuanya disetujui. Komunitas ini memilih para
penatua untuk memimpin mereka. Karya sosial ditetapkan, dan kelompokkelompok
kecil dibentuk bagi pertumbuhan rohani.
Pada musim panas tahun 1727, perbedaanperbedaan sepele mulai memudar. Komunitas
ini telah bersatu, terfokus, dan kebaktian pada tanggal 13 Agustus itulah yang
membuktikannya.
Dalam gelora spiritual ini, berdoa dua puluh empat jam sehari telah ditetapkan. Hal ini
berlanjut lebih dari satu abad. Kebaktian-kebaktian Kristen di tempat-tempat lain
dijelajahi. Hubungan dengan para Moravian di seluruh dunia diadakan, dan mereka
mengembangkan sistem yang melibatkan kebersamaan dan korespondensi. Para
pemimpin dilatih mengunjungi kelompok-kelompok lain, dan mengadakan sharing
dengan mereka tentang apa yang sedang berlangsung di Herrnhut.
Pada tahun 1732, para Moravian berkembang ke dalam misi-misi di luar negeri dengan
mengirimkan Leonard Dober dan David Nitschmann ke Hindia Barat. Pada tahun
berikutnya, tiga misionaris Moravian pergi ke Greenland. Pada tahun 1734, beberapa
yang lainnya pergi ke Lapland dan Georgia, dan 17 relawan bergabung dengan Dober di
St. Thomas. Menjelang 1742, lebih dari 70 Moravian meninggalkan komunitas
Herrnhut yang terdiri dari 600 orang, untuk pelayanan misi. Ladang misi ini
mencakup Suriname, Afrika Selatan, Guyana, Aljazair, Sri Langka dan Rumania.
Zinzendorf, sementara itu, berupaya mendirikan basis yang sah bagi Gereja Moravian di
Saxony. Dalam penyelidikannya, ia menemukan konstitusi kuno bagi Unitas Fratrum,
asal Gereja Moravian. Ini menunjukkan bahwa para Moravian memiliki pendahulu
historis sama seperti kaum Lutheran, dan itu harus diberi pengakuan. namun , musuh-
musuh Zinzendorf memicu dia terbuang dari Saxony pada tahun 1736. Ini
mengawali kurun waktu perjalanan bagi sang pangeran dan pemimpin Moravian
lainnya. Perjalanan ini membawanya ke Amerika tempat ia mendirikan Bethlehem,
Pennsylvania, sebagai basis karya misinya di antara para Indian. Di lalu hari, ia
menjadikan London sebagai pusat kegiatan Moravian.
150
Menjelang kematiannya pada tahun 1760, 226 misionaris dikirim keluar oleh para
Moravian. Mereka telah membaptis lebih dari 3.000 orang yang bertobat. saat ia
sekarat, Zinzendorf berkomentar kepada rekannya, "Sungguh suatu khafilah hebat dari
gereja kita yang mengelilingi Anak Domba itu!" Hal itu memang benar sampai hari ini.
Gereja Brethren berlanjut hingga hari ini, namun warisannya dapat juga dilihat pada
denominasi lain. John Wesley sangat dipengaruhi kaum Moravian dan menggabungkan
beberapa perhatian mereka pada gerakan Methodis. William Carey, yang dihormati
sebagai orang yang merintis gerakan misi Protestan modern, sesungguhnya mengikuti
jejak para misionaris Moravian. "Lihatlah apa yang telah dilakukan para Moravian ini,"
tuturnya pada suatu kesempatan. "Apakah kita tidak dapat mengikuti contoh mereka
dalam kepatuhan kepada Guru Surgawi kita, pergi ke tengah-tengah dunia dan
mengabarkan Injil kepada orang-orang kafir?"
151
69) Tahun 1735 Kebangunan Rohani Besar di bawah Jonathan
Edwards
Jonathan Edwards
Pada tahun 1630, sepuluh tahun setelah serombongan kecil kaum Peziarah mendirikan
permukiman di Plymouth, sebuah migrasi kaum Puritan yang besar mulai mendirikan
persemakmuran Kristen di Massachusetts. Lebih makmur dalam harta duniawi dibandingkan
Pilgrim Fathers (kaum Puritan pertama di Amerika), kaum Puritan ini juga berbeda
dalam tujuannya mendatangi rimba Amerika. Mereka berharap mendirikan warga
berdasarkan Alkitab, yang akan menjadi contoh bagi Inggris untuk mengikuti reformasi
dan pembaruan. Seperti yang ditulis gubernur mereka, John Winthrop, "Kita harus
beranggapan bahwa kita merupakan sebuah kota di atas bukit, dan semua mata menatap
kita." saat koloni Puritan ini bertumbuh dan menjadi makmur, niat keagarnaan
mula-mula pemukim ini menurun; generasi kedua dan ketiga lebih mempedulikan
benda-benda duniawi ketimbang mendirikan kerajaan Allah di Amerika.
Mereka yang setia hanya memperhatikan, dan ada yang meratapi perkembangan-
perkembangan ini . Ide kaum Puritan bahwa negeri baru akan merupakan tempat
yang cocok untuk mengembangkan persemakmuran suci lambat-laun memudar. Mereka
yang setia tidak meragukan bahwa meskipun Inggris secara spiritual sakit — ataupun
coati — koloni-koloni dapat atau harus memperlihatkan spiritualitas yang mendalam.
Jonathan Edwards — jiwa yang sejati dan berharga, yang masuk ke Perguruan Yale
pada usia tiga belas tahun — yakin akan hal ini. Untuk sementara waktu, di bawah
kakeknya, orang yang berkuasa dan berpengaruh, Solomon Stoddard, Edwards menjadi
pastor pendamping di sebuah gereja di Northampton, Massachusetts. saat Stoddard
meninggal pada tahun 1729, Edwards bertugas sebagai pastor tunggal.
Tidak lama setelah ia datang ke Northampton, Jonathan menikahi Sarah Pierpont yang
bijaksana, cantik dan Lulus. Sementara Edwards memiliki banyak anak dan juga
melayani gereja sebagai pastor, ia juga mengambil waktu untuk menciptakan tulisan-
tulisan teologis yang termasyhur di dunia. Bacaan yang luas dan berbagai perubahan
dramatis yang terjadi di gereja-gereja tempat ia berkhotbah mempengaruhi teologinya.
152
Dengan menggali dari kedala man Calvinisme, Edwards percaya pada doktrin
pemilihan. Meskipun ia mengakui bahwa Allah memilih siapa yang akan diselamatkan-
Nya dan siapa yang tidak, Edwards menginginkan setiap orang menjadi yang terpilih. Ia
tahu hal ini tidak mungkin, namun ia mendesak bahwa para pastor harus mengajar
tentang beratnya dosa dan perlunya hati untuk berpaling kepada Tuhan. Jika tidak,
katanya, para pastor gagal dalam tugasnya, dan ia cukup melihat kaum rohaniwan di
New England yang tidak memiliki semangat hidup sebagai contohnya. saat ia
mengkhotbahkan "God Glorified in Man's Dependence" (Allah Dimuliakan dalam
Ketergantungan Manusia) pada tahun 1731, kepada pengunjung di Boston, ia tahu
bahwa banyak pendengarnya tertawa sinis sebab tekanannya akan dosa yang berakar
dan pentingnya perubahan dari dalam.
Selama enam puluh tahun pelayanannya, Solomon Stoddard telah melihat lima "panen",
masa-masa peningkatan tekad spiritual, yang menghasilkan kehidupan yang berubah
dan peningkatan ketakwaan. Pada tahun 1730-an, Jonathan Edwards berdoa untuk
panen. Ia melihat moral yang bejat dan merasakan bahwa penerimaan Arminianisme
yang semakin meningkat akan memicu suatu masa ketergantungan spiritual. Ia
mulai mengkhotbahkan hal itu.
Pada musim dingin tahun 1734 dan sepanjang tahun berikutnya, perubahan dialami
Northampton. Edwards berkata, "Roh Allah dengan luar biasa mulai bekerja."
Gerejanya penuh dengan pendengar, banyak di antaranya mencari kepastian
keselamatan. "Kota ini tampaknya penuh dengan kehadiran Allah. Tidak pernah ia
begitu penuh dengan kasih ataupun kegembiraan, namun ia penuh dengan kecemasan
seperti dulu." Pertengkaran dan gosip lenyap sebab hampir seluruh kota mengunjungi
gereja.
Namun, orang yang telah mendoakan dan berkhotbah untuk kehidupan kotanya tidak
memiliki teknik berkhotbah yang penuh dengan kata-kata indah. Khotbahnya berfokus
pada pembenaran oleh iman saja dan menunjukkan kegemaran intelektualnya.
Meskipun ia tidak memakai metode-metode yang akan membangkitkan emosi,
namun ia menerima responsrespons beremosi. Para kritikus mengolok-olok saat-saat
ratapan pembungkukan badan yang kadang-kadang mengikuti khotbah kebangunan
rohani. Di lalu hari, saat ia menulis tentang Kebangunan Rohani Besar,
Edwards mengakui bahwa tulisan itu membawa ekses-ekses emosional. namun secara
keseluruhan, hal itu yaitu bukti bahwa Roh Allah bekerja dalam hati manusia.
Edwards tidak seorang diri dalam berkhotbah yang membawa ke kebangunan rohani.
Seorang pastor Jerman di New Jersey, Theodore Freylinghuysen, telah bekerja dengan
Jemaat Reformasi Belanda sejak tahun 1720. Berita Injilnya yang berkobar-kobar telah
membawa basil — dan juga perselisihan. Ia juga membantu Gilbert Tennant, seorang
pastor Presbiterian, yang datang ke New Jersey dari gereja dan sekolah ayahnya di
Pennsylvania. Gilbert dan saudara-saudaranya — William, Jr., John dan Charles —
semuanya telah menjadi pastor-pastor pekabar Injil yang ampuh di New Jersey.
Orang yang mengikat kedua masa kebangkitan ialah George Whitefield seorang pendeta
Anglikan — dan temannya John Wesley — yang mulai mengajar di Amerika pada
tahun 1738. Dengan tidak menghiraukan ikatan denominasi, dan sebab semuanya
untuk Kristus, dengan tidak mengenal rasa lelah ia melintasi berbagai negara bagian,
mengajarkan berita pertobatan. Di bawah pengaruhnya, seluruh bangsa itu mengalami
kebangunan rohani.
153
70) Tahun 1738 Pertobatan John Wesley
Wesley berhadapan dengan perusuh Wednesbury
Sebagai anak berumur lima tahun, John Wesley hampir saja menemui ajalnya dalam
kebakaran yang telah menyapu pastoran ayahnya. Sungguh ia yaitu "api yang dipetik
dari kebakaran itu", seorang yang akan dipakai Allah untuk menyulut iman pada ribuan
orang.
Akan namun saat John pergi ke Oxford untuk belajar menjadi pendeta dan lalu
membantu jemaat Anglikan ayahnya selama beberapa tahun, keresahan pun mulai
meliputi dia. Meskipun ia tahu doktrin-doktrin keselamatan, namun semuanya itu belum
menyenangkan hatinya.
Pada tahun 1729 John kembali ke Oxford. Adiknya, Charles telah memulai "Holy Club"
(Klub Suci), yang tidak lama lalu dipimpin John. Mereka dijuluki Methodis oleh
orangorang yang ingin mencemarkan mereka, sebab mereka memakai metode-
metode keras dalam pencarian kesucian. Anak-anak muda itu mencari keselamatan,
namun latihan-latihan devosional yang amat keras pun tidak memberi kedamaian
kepada John. Seperti Luther, Wesley berupay












