hidup!. Sebenarnya orang percaya sangat
menekankan berita mereka tentang bahwa Yesus Hidup (Kisah Para Rasul 2:32; 3:15; 5:30-
32), namun Saulus menolak kesaksian mereka. Jika Yesus memang hidup, berarti Saulus
harus mengubah pendapatnya tentang Yesus dan berita-Nya. Ia harus bertobat – padahal ini
yaitu hal yang sangat sulit untuk dilakukan oleh orang Farisi yang merasa dirinya benar.
Pada ayat 5 Yesus menegor Saulus, supaya ia tahu bahwa dirinya orang berdosa dan yang
ada dalam bahaya penghukuman Allah. “Akulah Yesus yang kau aniaya itu”. Pada waktu-
waktu sebelumnya Saulus berpikir bahwa ia melayani Allah, padahal kenyataannya ia sedang
menganyiaya Mesias! Apabila diukur dengan kekudusan Yesus Kristus, pekerjaan baik yang
dilakukan Saulus dan pembenaran dirinya tampak seperti kain kotor (Filipi 3:6-8; Yesaya
64:6). Nilai-nilainya berubah. Ia menjadi pribadi yang baru sebab ia percaya kepada Yesus
Kristus.
Ayat 8-9 menceritakan bahwa teman-teman seperjalanan Saulus menuntun dia
masuk ke Damsyik. Jika kita lihat sebelumnya bahwa Saulus yaitu seberti binatang buas
yang sedang mengamuk (Kisah Para Rasul 9:1) sekarang berubah menjadi seperti seekor
anak domba yang jinak! Pemimpin yang ganas itu harus dituntun sebab penglihatan itu telah
membuatnya buta. Mata rohaninya menjadi celik, namun mata jasmaninya menjadi buta. Allah
benar-benar membuat dia menjadi rendah hati dan mempersiapkan dia untuk dilayani oleh
Ananias. Ia berpuasa dan berdoa (ay. 9,11) selama tiga hari itu ia mulai menyelidiki kembali
apa yang ia percaya. Ia telah diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman kepada Kristus
yang hidup, dan bukan oleh hokum Taurat. Allah mulai mengajar Saulus dan menunjukkan
kepadanya hubungan antara Injil Kasih Karunia Allah dengan agama tradisi Musa yang telah
dijalaninnya selama ini.
Sekarang kita masuk pada pembahasan yang kedua: Saulus bertemu dengan
Ananias (Kisah Para Rasul 9:10-19). Menurut Kisah Para Rasul 22:12, ananias yaitu
seorang Yahudi yang saleh, yang percaya kepada Kristus. Dia tahu reputasi Saulus dan
bahwa ia datang ke Damsyik untuk menagkapi orang-orang percaya. Pada waktu itu
perjalanan dari Yerusalem ke Damsyik memerlukan waktu sampai satu minggu. Pada ayat 10
Ananias disebut sebagai murid, kata murid dapat ditafsirkan sebagai pengikut. Selanjutnya
sebutan yang paling umum yaitu kata Kristen yaitu yang baru muncul mulai Kisah Para
Rasul 11:26. Pada ayat 11 dijelaskan bahwa Tuhan menyuruh Ananias untuk menemui
Saulus ke jalan lurus di rumah Yudas. Kemudian ayat 13 memberi gamaran kepada kita,
dimana Ananias memang siap untuk melakukan kehendak Allah, namun bukan berarti dia tidak
merasa cemas untuk mentaatinya. namun seperti yang dikatakan Tuhan kepadanya, bahwa
Saulus sekarang sedang berdoa, bukan mencari mangsa dan itulah yang semakin
mendorong hatinya untuk menjumpai Saulus. Doa yaitu tanda tangan Roh Kudus di hati
yang diperbaharui. Pada ayat 14 menjelaskan bahwa Ananias juga tahu bahwa Saulus
datang sebenarnya yaitu untuk menganyiaya orang percaya, bahkan dia diperlengkapi
dengan surat kuasa dari imam-imam kepala. namun pada ayat 15 Tuhan malah mengatakan
bahwa dia yaitu pilihan Tuhan untuk memberitakan Nama-Nya dan bahkan di ayat 16
dikatakan bahwa dia akan menderita demi nama-Nya. Lalu sesudah Ananias merasa yakin (ay
17) ia segera pergi ke rumah Yudas dan menumpangtangani Saulus. Ananias menyapa
Saulus sebagai saudara, tentu hal itu membuat sukacita yang besar bagi Saulus. Dalam ayat
18 dijelaskan bahwa Oleh kuasa Allah matanya terbuka dan ia dapat melihat. Lalu ia di baptis
dan sesudah itu dia makan.
Ada beberapa pelajaran praktis dari ayat 10-19, yaitu (1).Dapat memakai setiap
orang percaya, bahkan yang tidak terkenal sekalipun. (2).Kita tidak boleh takut menaati
kehendak Allah. (3).Pekerjaan Allah selalu seimbang, dimana Allah mengimbangi mujizat
besar di depan umum dengan pertemuan diam-diam di rumah Yudas. (4). Kita tidak boleh
meremehkan nilai dari satu orang yang akan dibawa kepada Kristus.
Peristiwa yang ketiga yang mengubah kehidupan Saulus dimana ia menghadapi
perlawanan (Kisah Para Rasul 9:20-25). Ayat 20, memberi penjelasan bagi kita bahwa
segera sesudah pertobatan Saulus dia memberitakan Injil, dan dengan berani dia menyatakan
bahwa Yesus yaitu Mesias. Ayat 21 menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi di Damsyik
merasa heran melihat peubahan yang begitu dramatis dalam kehidupan Saulus. Kemudian
pada ayat 22, disebutkan bahwa pengaruhnya semakin melas dan banyak orang Yahudi
yang bingung, sebab ia membuktikan bahwa Yesus yaitu Mesias. Kemudian di ayat 23-25
menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi berencana membunuh Saulus, mereka telah
menjaga pintu kota supaya Saulus tidak boleh lari dari kota itu. namun murid-muridnya (orang-
orang ang sudah percaya lewat pelayananya) menurunkan dia dari atas tembok kota dalam
sebuah keranjang, anyaman yang besar, dan dengan demikian dia lolos dari usaha untuk
menangkapnya.
Peristiwa yang keempat yang mengubah hidup Saulus yaitu ia bertemu dengan
orang-orng percaya di Yerusalem (Kisah Para Rasul 9:26-31). Ada dua tahap pengalaman
Saulus dengan Gereja Yerusalem. Yang pertama Saulus Ditolak (ay 26). Mula-mula orang
percaya di gereja Yerusalem takut terhadap dia. Mungkin orang-orang percaya di Yerusalem
berpikir bahwa keramahanya itu hanya siasat untuk masuk ke persekutuan mereka sehingga
ia dapat menangkap mereka. Mereka tidak percaya bahwa ia sudah menjadi murid Yesus,
apalagi menjadi rasul yang telah melihat Juruselamat yang bangkit itu. Kemudian tahap yang
kedua yaitu Saulus diterima (27-28), dalam hal ini yang menolong Gereja Yerusalem
menerima Saulus yaitu Barnabas, yang didalam Kisah Para Rasul 4:36-37 telah dijelaskan
bahwa dia yaitu termasuk salah seorang yang suka membagi-bagikan hartanya kepada
jemaat yang lain yang membutuhkan. Barnabas menerima Saulus dan membawa dia kepada
para pemimpin gereja, dan menyakinkan mereka bahwa Saulus sudah menjadi orang
percaya dan juga sebagai Rasul yang terpilh. Dengan melihat arti nama Barnabas (anak
penghiburan) sepertinya dia layak menyandang nama itu, dia juga telah memberi
pengihiburan saat memberi persembahan yang berasal dari hatinya dan dia juga
menghiburkan hati Saulus yang sudah ditolak dalam persekutan gereja Yerusalem.
Kemudian pada ayat 29-30 menjelaskan bahwa Saulus menyaksikan bahwa Yesus yaitu
Kristus kemanapun ia pergi, dengan mempertaruhkan nyawanya. Belum lama berlalu bahwa
ia diancam mati di Damsyik sebab pemberitaan Injil (22-23), sekarang ia juga mengalami
ancaman maut di Yerusalem. Hal ini dituliskan oleh Lukas untuk menegaskan bahwa betapa
kuatnya keyakinan Paulus sesudah pertobatannya.
8. Pelayanan Petrus di Palestina dan Orang-orang yang bertobat pertama di luar bangsa
Yahudi (9:32 – 11:18)
Narasi Lukas pada titik ini berbalik kepada kisah tentang perluasan Injil ke seluruh
Yudea melalui pelayanan Petrus. Terakhir Petrus disebutkan dalam 8:25, saat ia bersama
dengan Yohanes kembali ke Yerusalem dari Samaria. Sekarang diceritakan bahwa Petrus
telah terlihat dalam perjalanan pelayanan di seluruh Yudea. Berkotbah kepada orang-orang
Kristen yang telah terserak di berbagai kota. Akan sangat menarik kalau kita memiliki suatu
catatan yang lengkap tentang pelayanan Petrus. Di Lida dia menjumpai sekelompok orang
Kisten yang mungkin telah lari kesana pada masa perserakan yang disebabkan oleh
penganyiayaan di Yerusalem. Filipus sudah memberitakan Injil di wilayah ini (8:40). Disini
Petrus menyembuhkan Eneas yang lumpuh.
Pada ayat 32 disebutkan bahwa Petrus singgah di Lida. Kota Lida yaitu suatu kota
yang mayoritas penduduknya non- Yahudi, kira-kira 40 km dari Yerusalem. Mungkin saja
daerah itu diinjili oleh orang-orang yang bertobat pada hari Pentakosta, atau mungkin oleh
orang percaya yang setia dan yang telah tersebar jauh luas selama masa penganyiayaan
besar. Tidak diragukan juga Filipus juga telah melayani disana (Kisah Para Rasul 8:40). Ayat
33-34 menceritakan tentang Mukjizat yang menyembuhkan Eneas. Kita tidak tahu banyak
tentang Eneas, selain hanya yang diberitakan oleh ayat yang singkat ini, Alkitab tidak
memberitahukan kepada kita apakah dia orang Yahudi atau non-Yahudi? Penjelasan Dr
Lukas tentang dia hanyalah bahwa ia telah lumpuh selama delapan tahun. Itu berarti ia sama
sekali lumpuh tak berpengharapan lagi. Ia menjadi beban bagi dirinya sendiri dan bagi orang
lain, dan ia tidak punya harapan untuk sembuh. Kristus yang dibangkitkan, dengan kuasa
nama-Nya memberi kesembuhan yang sempurna kepada Eneas. Kesembuhan itu terjadi
sesaat itu juga, dan Eneas langsung dapat bangun dan membereskan tempat tidurnya.
Selanjutnya 9:35 memberi informasi bahwa semua penduduk di Lida dan Saron melihat
dia lalu berbalik kepada Tuhan, namun ayat ini sebenarnya tidak mnyiratkan bahwa semua
penduduk Lida dan saron tanpa tekecuali diselamatkan. namun hanya yang melihat Eneas
saja yang berjaln kesana kemari, mereka yng telah yakin bahwa Yesus itu hidup dan mereka
perlu percaya kepada-Nya.
sesudah dari Lida, Petrus terus melanjutkan perjalananya untuk mengunjungi kota
Yope (Yafo Modern), kota terletak di daerah pantai kira-kira 16 km dari Lida. Kota itu penting
dalam sejarah Alkitab, sebab darisitulah Nabi Yunus berlayar, saat ia berusaha melrikan
diri dari Allah (Yunus 1:1-3). Yunus pergi ke Yope sebab tidak mau pergi ke orang-orang
non Yahudi, namun di Yope Petrus menerima panggilanya untuk pergi kepada orang non-
Yahudi! sebab Yunus tidak menaati Allah, maka Ia mengirimkan badai yang memicu
para pelaut non-Yahudi itu ketakuan. sebab Petrus ketakutan maka Ia mengirimkan “Roh
Kudus” kepada orang-orang non-Yahudi sehingga mereka mengalami sukacita dan damai
yang luarbiasa, hal-hal itulah yang menjadi perbedaan kedua kisah ini . Ayat 36,
menjelaskan tentang Tabita (Dorkas). Dorkas yaitu nama sebutan dalam bahasa Yunani
kepada Tabita, dia sangat disayangi oleh orang-orang banyak sebab perbuatan-
perbuatanya yang baik dan tindakan-tindakan kebajikannya.
Selanjutnya ayat 37, menjelaskan bahwa ia (Tabita) sakit keras dan akhirnya mati.
Pada ayat 38, ada orang percaya mengetahui bahwa Petrus ada di Lida yang tidak seberapa
jauh dari Yope dan akhirnya mereka memanggil Petrus. Satu hal yang kita harus ingat disini
bahwa tidak pernah ada catatan dalam Kisah Para Rasul bahwa adanya rasul lain
membangkitkan orang mati, sehingga panggilan mereka kepada Petrus itu yaitu bukti iman
mereka kepada kuasa Yesus Kristus yang telah bangkit. Lalu pada ayat 39, dijelaskan
bahwa segera Petrus berkemas dan pergi menuju kesana dan kemudian ayat ini juga
menceritakan bagaimana rasa sayangnya orang banyak (janda-janda) kepada Tabita ini.
Kemudian pada ayat 40-41, Petrus menyuruh para janda yang sedang bersusah hati
itu untuk meninggalkan ruang atas, dimana mayat Tabita di baringkan dan saat itulah Petrus
berdoa dan sesudah itu dia menyuruh Tabita untuk bangkit. Wiersbe mengatakan bahwa
supaya dapat mengerti lebih dalam tentang kisah ini maka kita harus membandingkannya
dengan kisah dimana Tuhan Yesus membangkitkan anak Yairus (Markus 5:35-43). Dalam
kedua kasus itu, orang yang berdukacita disuruh keluar dari dalam ruangan. Kecuali itu kata-
kata yang diucapkan hampir identik: “Talita kum: Hai anak, Aku berkata kepadamu
bangunlah; Tabita, bangkitlah.” Yesus memegang tangan anak perempuan itu sebelum Ia
berbicara kepadannya, sedang Petrus memegang tangan Dorkas sesudah perempuan
itu hidup kembali. Dalam kedua contoh ini kuasa Allahlah yang membangkitkan orang mati
itu, sebab orang yang sudah mati tidak mungkin dapat menerapkan imanya.
Ayat 42, menjelaskan bahwa peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan akhirnya
banyak orang yang menjadi percaya. Selanjutnya (43)sesudah peristiwa itu Petrus masih
tinggal beberapa hari di Yope, dia tinggal di rumah seorang penyamak kulit. Sebenarnya
penyamak kulit bagi rabi Yahudi yaitu pekerjaan yang najis (lihat Imamat 11:35-40). Jadi
jika Petrus tinggal di rumah penyamak kulit itu berarti bawa dia sudah bergerak selangkah
dari legalisme Yahudi kedalam kemerdekaan kasih karunia-Nya yang menakjubkan itu.
Didalam Kisah Para Rasul 10:1, Lukas mencatat langkah terakhir yang sangat
penting didalam perluasan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Pentingnya langkah itu
ditunjukkan oleh dua kali pencatatan kunjungan Petrus kepada Kornelius. Langkah ini
menimbulkan berbagai masalah yang sulit tentang syarat-syarat pergaulan sosial di antara
orang-orang Kristen Yahudi dan orang-orang Kristen yang bukan Yahudi dan syarat-syarat
penerimaan orang-orang bukan Yahudi itu kedalam Gereja. Persoalan ini menjadi pokok
pembahasan dalam konferensi di Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15. Kota Kaisarea
yaitu kota yang terletak kira-kira 100 km di barat laut Yerusalem dan 50 km disebelah utara
Yope. Pada saat itu Kaisarea yaitu ibu kota Romawi untuk daerah Yudea, dan terkenal
akan banyaknya bangunan-bangunan yang indah. Di kota ini tinggallah Kornelius, seorang
perwira pasukan Romawi yang hatinya telah bosan dengan mitologi kafir dan syariat agama
yang kosong, dan ia telah berpaling ke Yudaisme dengan harapan menemukan
keselamatan. Kornelius berusaha sedekat mungkin dengan Yudaisme tanpa menjadi
penganutnya. Banyak orang yang takut akan Tuhan seperti dia di dunia kuno (Kisah Para
Rasul 13:16) dan mereka seperti ladang yang sudah menguning dan siap dituai. Pada ayat 2
di jelaskan bagaimana Kornelius dan keuarganya disebut sebagai orang yang saleh, dia
suka memberi persembahan, dia juga suka beribadah, berdoa dan lain-lain. Ini memberi
penjelasan bagi kita bahwa seseorang dapat begitu saleh namun tetap tidak diselamatkan.
Tentu saja Kornelius sungguh-sungguh dalam ketaatanya kepada hukum Allah, doanya,
kemurahannya kepada orang-orang Yahudi. Ia yaitu orang yang saleh dan terhormat –
namun ia belum diselamatkan. Perbedaan antara Kornelius dengan orang-orang yang
beragama pada masa kini yaitu dimana bahwa Kornelius tahu bahwa ketaatanya tidak
cukup untuk menyelamatkan dia. Banyak orang beragama masa kini merasa puas dengan
sifat perbuatan baik yang mereka anggap akan membawa mereka ke surga, dan mereka
tidak mempunyai konsep tentang dosa-dosa mereka maupun tentang kasih karunia Allah.
Kisah Para Rasul 11:13-14, di dalam doanya dia meminta supaya Allah menunjukkan
jalan keselamatan kepadanya. Ayat 3 sampai 5, menjelaskan bahwa Allah menyuruh
malaikat untuk memberitahu Kornelius, dan sesuai dengan tatacara militer yang benar, dan
pada saat itu juga Kornelius menaatinya. Yang menjadi pertayaan disini yaitu mengapa
malaikat itu menyuruh memanggil Petrus yang berada 50 km jauhnya di Yope, padahal
waktu itu Filipus, si penginjil ada di Kaisarea (Kisah Para Rasul 8:40)? sebab Petruslah,
bukan Filipus yang telah di beri “kunci.” Allah bekerja pada saat yang tepat, dan ia juga
bekerja melalui hamba yang tepat. Dan kedua-duanya penting. Pada ayat 6, disebutkan
bahwa malaikat itu memberitahukan bahwa Petrus sedang menumpang di rumah seorang
penyamak kulit. (tentang ini kita sudah bahas pada Kisah Para rasul 9:43). Ayat 7 dan 8,
65
menjelaskan bahwa Kornelius menyuruh dua orang hambanya dan seorang prajurit untuk
pergi ke Yope menjemput Petrus.
Ayat 9-22 Sebelum ketiga orang itu bertemu dengan Petrus, Tuan harus
mempersiapkan Petrus untuk rencana-Nya, sebab ia yaitu orang Yahudi Ortodoks seumur
hidupnya (Kisah Para Rasul 10:14). Hukum Musa bagaikan tembok yang memisahkan
antara Yahudi dengan non Yahudi, dan tembok ini sudah dirobohkan oleh salib (Efesus 2:14-
18). Allah menyatakan bahwa tidak ada perbedaan lagi antara orang Yahudi dan non-
Yahudi, dalam penghukuman (Roma 3:22-23) maupun dalam keselamatan (Roma 10:12-
13). Mengapa Allah mempersiapkan Petrus dengan cara dimana Allah memberi
penglihatan tentang makanan kepadanya. Pertama-tama ialah sebab Petrus sedang lapar,
dan penglihatan tentang makanan pasti lebih mengena dalam kondisinya. Kedua perbedaan
antara makanan yang halal dan yang haram yaitu problema utama antara orang Yahudi
dan Non Yahudi (Kisah Para Rasul 11:1-3). Allah memakai peraturan yang sudah
berabad-abad ini (Imamat 11) untuk memberi pelajaran rohani yang penting kepada Petrus.
Ketiga kembali kepada apa yang diajarkan Kristus kepada Petrus dan murid-murid lain saat
ia melayani di bumi (Markus 7:1-23). Barangkali pada saat itu Petrus tidak memahami
sepenuhnya apa yang dikatakan Yesus, namun sekarang semuanya itu berhubungan satu
sama lain. Allah tidak hanya mengubah diet Petrus, namun sebenarnya Allah ingin
memberitahukan bahwa dihadapan Allah, baik orang Yahudi maupun non Yahudi sama-
sama tidak tahir. Ini berarti bahwa orang-orang non-Yahudi tidak harus menjadi orang
Yahudi supaya dapat menjadi orang Kristen. Petrus berusaha menolak apa yang Tuhan
tunjukkan kepadanya, namun pada akhirnya dia tidak dapat menolak apa yang Tuhan suruh
kepadanya. sesudah waktunya sudah tepat, maka ketiga orang utusan tiba di rumah dimana
Petrus menginap. Ketiga orang dari Kaisarea itu sampai di depan pintu tepat pada saat
Petrus sedang memikirkan makna penglihatan itu. Roh menyuruh Petrus menemui ketiga
orang itu dan berangkat mengikuti mereka. Frasa “Jangan Bimbang” (Kisah Para Rasul
10:20) itu berarti “Jangan membeda-bedakan” nanti kita akan menemui lagi frasa itu dalam
KIsah Para rasul 11:12. sekarang Petrus tidak lagi membeda-bedakan antara orang Yahudi
dengan non-Yahudi. Ayat 22 yaitu berisikan tentang berita dari sipengutus ketiga orang
ini .
Ayat 23-33, menunjukkan suatu kenyataan bahwa tembok pmisah antara orang
Yahudi dan Non Yahudi telah diruntuhkan. Kenyataan bahwa Petrus mengijinkan orang-
orang non-Yahudi tinggal bersama dengan dia. Petrus memilih enam orang Yahudi yang
percaya untuk mnyertai dia sebagai saksi (Kisah Para Rasul 11:12), tiga kali lebih banyak
dari tuntutan resmi. Perjalanan dari Yope ke Kaisarea yang berjarak 50 km itu paling tidak
memakan waktu dua hari. saat Petrus sampai ia mendapati bahwa Kornelius telah
mengumpulkan sanak saudara dan teman-temanya untuk mendengarkan pesan kehidupan
itu (24) ia (Kornelius) menjadi berkat sebelu ia diselamatkan. Pada (ay 25) menunjukkan
bahwa jika Petrus mau meninggikan dirinya maka pada saat itu dia sangat mudh sekali
untuk melakukannya; namun Petrus menyadari bahwa dirinya yaitu hamba bukan selebriti,
sehingga di ayat 26, Petrus menegakkan Kornelius yang sedang menyembah itu dengan
berkata “bangunlah aku hanya manusia saja” kemudian di ayat 28 Petrus menyatakan
bahwa ia tidak menganggap orang non-yahudi itu tidak tahir, hal itu pasti mengejutkan dan
menggembirakan hati para pendengarnya. Sebab selama berabad-abad orang yahudi,
berdasar hukum Perjanjian Lama menganggap bahwa orang non-Yahudi itu njis dan
tidak tahir, bahkan beberapa orang Yahudi menyebut orang non-Yahudi itu sebagai anjing.
Pada ayat 29, Petrus memberi pertayaan “sekarang aku ingin tahu, apa sebabnya kamu
memanggil aku.” Kita mungkin mempunyai pertayaan untuk bagian ini, apakah Petrus tidak
tahu bahwa ia diundang ke sana untuk memberitakan Injil? Apakah ia lupa amanat dalam
Kisah Para Rasul 1:8 untuk pergi “sampai ke ujung bumi”? Sekarang ini kita dapat melihat
kembali pada peristiwa-peristiwa yang berkembang dalam gereja dan memahami apa yang
sedang dilakukan Allah, namun mungkin tidak semudah itu seandainya kita hidup di tengah-
tengah peristiwa itu. Bahkan gereja Yerusalem mempertanyakan tindakan-tindakan Petrus
itu (Kisah Para Rasul 11:1-18), dan kemudian mengadakan konferensi untuk membicarakan
posisi orang-orang non-Yahudi di dalam Gereja (Kisah Para Rasul 15).
Isi ayat 30-33 yaitu dimana Kornelius menjelaskan tentang apa yang di telah alami,
kemudian ia memberitahu Petrus mengapa ia mengundangnya, dimana ia ingin mendengar
apa yang dipesankan Allah (Injil) kepada Petrus untuk disampaikan kepada Kornelius. Jadi
Kornelius mengundang Petrus bukan untuk memberi kuliah agama Yahudi, namun supaya
Petrus mau menjelaskan bagaimana supaya mereka (Kornelius dan semua orang yang
bersama dia pada saat itu) dapat diselamatkan. Mereka bukan orang-orang Yahudi yang
ingin meminta kuliah agama. Mereka yaitu orang-orang berdosa yang terhilang, yang
memohon di beritahu bagaimana supaya dapat diselamatkan.
Selanjutnya ayat 34-35, Petrus mengatakan bahwa dia tahu bahwa Allah tidak
membeda-bedakan orang. Dia sadar bahwa perbedaan antara makanan haram dan halal
merupakan penerapan manusia, dan bahwa tidak ada bangsa yang dianggap najis di
hadapan Allah. Allah tidak membedakan orang, keselamatan yaitu untuk semua orang dn
semua orang yang percaya kepada Kristus akan diselamatkan, tidak pedui apakah dia
bangsa Yahudia atau no-Yahudi. dalam ayat. Dalam ayat 36, Petrus memberitakan Injil
kepada Kornelius, dengan menunjukkan bahwa sekalipun Allah mengirimkan sabda-Nya
terhadap Israel terlebih dahulu, namun Yesus yaitu benar-benar Tuhan untuk semua
manusia. Ayat 37,38, yaitu merupakan ringkasan singkat dari apa yang di beritakan Petrus
tentang pelayanan Yesus di Yudea dan Galilea, pengurapan-Nya sebagai Mesias saat ia di
baptis, perbuatan-perbuatan baik-Nya, tindakan-tindakan-Nya menyembuhkan penyakit dan
mengusir setan. 39-43, Petrus menyimpulkan kisah kehidupan, kematian dan kebangkitan
Yesus Kristus. Kornelius dan teman-temanya sudah tahu mengenai kehidupan dan kematian
Kristus, sebab perkara ini tidak terjadi di tempat terpencil (Kisah Para Rasul 26:26). Pada
umumnya, orang sudah banyak yang tahu tentang kehidupan dan pelayanan, dan kematian
Kristus, namun hanya para rasul dan orang-orang percayalah yang menyaksikan kebangkitan-
Nya. Seperti dalam kotbah-kotbah sebelumnya, Petrus mnumpahkan kesalahan penyaliban
itu kepada para pemimpin yahudi (Kisah Para rasul 3:15; 4:10;5:30), demikian pula Stefanus
(Kisah Para rasul 7:52). Paulus juga memberi penekanan yang sama (1 Tesalonika 2:14-16).
sesudah selesai dengan pengulangan landasan sejarah dari berita Injil, kematian dan
kebangkitan Kristus, Petrus kemudian mengemukakan kabar baiknya: “Barangsiapa percaya
kepada-Nya” (Kisah Para Rasul 10:43, dan lihat 2:21). Para pendengarnya berpegang pada
kata “barangsiapa” dan mereka menerapkannya pada diri mereka sendiri. percaya kepada
Kristus saja untuk diselamatkan sehingga mereka mendapat anugerah keselamatan.
Selanjutnya ayat 44-48 yaitu menceritakan dimana Allah Roh Kudus menyertai atau
menguatkan pelayanan Petrus ini . Roh Kudus memberi kesaksian kepada keenam
orang Yahudi yang hadir disitu, bahwa orang-orang non-Yahudi itu benar-benar telah lahir
baru. Bagaimanapun juga keenam orang itu tidak tahu penglihatan yang dilihat Petrus dan
mereka baru mengerti bahwa sekarang orang-orang non-Yahudi mepunyai tempat berpijak
yang sama dengan orang Yahudi. Ini bukan berarti bahwa setiap orang yang baru percaya
memberi bukti keselamatannya dengan berbicara dalam bahasa roh, meskipun setiap orang
percaya pasti akan memakai lidahnya untuk memuliakan Allah (Roma 10:9-10).
Peristiwa yang terjadi di rumah Kornelius ini yaitu peristiwa yang sejajar dengan peristiwa
Pentakosta: Roh yang sama turun kepada orang-orang Yahudi yang percaya itu, sekarang
turun ke atas orang-orang non Yahudi (Kisah Para Rasul 11:15-17;15:7-9). Tidak heran
kalau orang-orang Yahudi itu tercengang-cengang!. Dengan terjadinya peristiwa ini, maka
transisi dari gereja mula-mula berakhirlah. Orang-orang percaya diantara orang Yahudi,
Samaria, dan non-Yahudi, semuanya telah menerima Roh Allah dan dipersatukan di dalam
tubuh Kristus (Galatia 3:27, 1Korintus 12:13). Orang-orang non-Yahudi ini bukan
diselamatkan sebab di baptis; namun mereka di baptis sebab mereka telah menunjukkan
bahwa mereka telah diselamatkan. Jika orang memakai Kisah Para Rasul 2:38 untuk
mengajarkan keselamatan sebab baptisan, atau memakai Kisah Para Rasul 8:14-16
untuk mengajarkan keselamatan sebab penumpangan tangan, itu berarti ia mengabaikan
sifat transisi dari program Allah. Oran-orang berdosa diselamatkan oleh iman; yaitu prinsip
Allah yang tidak pernah berubah. Pengalaman Kornelius dan seisi rumahnya bahwa
baptisan itu bukanlah hal utama di dalam keselamatan. Terjadinya keselamatan yaitu jika
seseorang percaya kepada Kristus, dan sesudah seseorang diselamatkan barulah dia di
baptis diatas pengakuan imannya kepada Kristus dan sesudah itu dia dipersatukan dengan
sesama orang percaya di dalam gereja untuk melayani dan menyembah Allah.
Pasal 11, yaitu fasal yang singkat, namun Dr. Lukas juga menuliskan tentang
Kornelius disini, hal ini membuktikan betapa pentingnya berita pertobatan Kornelius dalam
kehidupan gereja mula-mula. Ayat 1-3, menceritakan tentang diterimanya Injil oleh orang-
orang bukan Yahudi, dan akhirnya sapai terdengar oleh para rasul dan orang-orang Kristen
Yahudi di Yudea. Tampaknya Petrus di panggil ke Yerusalem, dan beberapa orang Kristen
Yahudi berdebat dengan dia tentang kelayakan untuk memasuki persekutuan orang bukan
Yahudi untuk makan bersama mereka. Mungkin ungkapan, orang-orang yang tidak bersunat,
memiliki arti yang agak berbeda dengan ungkapan yang sama dalam Kisah Para Rasul
10:45. saat orang-orang Kristen Yahudi yang berada di Yerusalem sedang membahas
makna dari keselamatan orang-orang bukan Yahudi, muncullah golongan yang kemudian
berpendapat bahwa orang-orang bukan Yahudi harus menaati hukum Yahudi dahulu
sebelum dapat diselamatkan (15:1). Golongan konservatif ini mengecam Petrus sebab
mereka beranggapan bahwa seorang Yahudi yang makan bersama dengan orang bukan
Yahudi sebenarnya sedang mengesampingkan kebiasaan orang Yahudi, dan dengan
demikian dia bukan orang Yahudi lagi. Mereka beranggapan jika seseorang yang percaya
harus mengikuti kebiasaan Yahudi.
Ayat 4-15, yaitu tanggapan Petrus atas orang-orang yang berselisih pendapat
dengannya. Petrus mengisahkan kepada Gereja di Yerusalem pengalaman penglihatannya
tentang kain besar yang turun dari langit, kunjungannya ke Kaisarea, dan turunya Roh
Kudus atas orang-orang bukan Yahudi seperti halnya atas orang-orang Yahudi pada hari
pentakosta (ay 15). Disinggungnya apa yang dikatakan Tuhan Yesus: “Yohanes membaptis
dengan air, namun kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” mempunyai arti bahwa peristiwa
yang terjadi di rumah Kornelius itu yaitu merupakan karunia Roh Kudus yang ketiga. Yang
pertama yaitu kepada Gereja Yahudi yang ada di Yerusalem pada hari pentakosta (psl 2),
yang kedua yaitu kepada orang-orang Samaria yang percaya (8:17); dan sekarang yang
ketiga yaitu kepada orang-orang bukan Yahudi. Tidak diragukan lagi bahwa pengalaman
Petrus di Samaria mempersiapkan dirinya untuk pelayanan kepada orang bukan Yahudi ini.
Selanjutnya pada ayat 17 Petrus mengatakan bahwa Allah memberi karunia-Nya kepada
mereka yaitu sama dengan karunia-Nya yang diberikan kepada Rasul-rasul. Jadi menolak
untuk membaptis orang bukan Yahudi akan berarti menolak karya Allah yang terjadi atas
mereka. Selanjutnya ayat 18, tampaknya bahwa penjelasan Petrus telah memuaskan Partai
Sunat untuk saat itu. namun masalah status orang Kristen bukan Yahudi di dalam gereja
akan segera diperdebatkan yang juga menimbulkan persoalan yang besar.
9. Pendirian Gereja Orang Bukan Yahudi di Antiokia (11:19-30)
Bagian ini menandai suatu tahap baru di dalam perluasan gereja dari suatu
persekutuan Yahudi di Yerusalem menjadi suatu masyarakat yang universal. Sebelumnya
Lukas, mengisahkan orang-orang Samaria di dalam gereja, serta pertobatan satu keluarga
Kornelius yang bukan Yahudi. Disini dia melukiskan permulaan dari satu jemaat pertama
bukan Yahudi yang independen di Antiokia, yang akan menjadi “gereja pusat” bagi seluruh
misi untuk orang bukan Yahudi di Asia dan Eropa. Narasi ini merangkum rangkaian peristiwa
dalam 8:4 dan penganyiayaan Saulus.
Ayat 19, daerah Fenesia, terletak di sekitar Laut Tengah dan kota Tirus dan Sidon
ada di wilayah ini. Siprus yaitu sebuah pulau tengah laut tengah, banyak orang Yahudi
tinggal di tempat itu. Antiokia yaitu kota Antiokia di daerah Siria yang terletak dio bagian
utara Palestina (jadi bukan Antiokia Psidia). Kota Antiokia ini yaitu kota yang ketiga dari
seluruh pemerintahan Romawi, berpenduduk kurang lebih 500.000 orang, kota ini juga
tergolong sebagai kota terbesar di seluruh kekaisaran Romawi, sesudah Roma dan
Aleksandria. Kemegahan gedung-gedungnya membuat kota itu dijuluki sebagai “Kota Emas,
Ratu Timur.” Jalan utamanya membentang lebih dari 6 km, dilapisi batu pualam, dan di
kedua pinggirnya berjejer tiang-tiang batu pualam. Antiokia yaitu satu-satunya kota di
dunia purba yang pada waktu malam diterangi oleh lampu-lampu. Sebagai kota pelabuhan
yang sibuk dan pusat kemewahan dan budaya, Antiokia menjadi daya tarik bagi segala
macam manusia, termasuk kepada para pensiunan pejabat Romawi yang kaya yang
menghabiskan waktunya dengan mengobrol di kolam-kolam pemandian atau bertaruh di
arena perlombaan. Dengan besarnya jumlah penduduk cosmopolitan dan besarnya
kekuasaan perdagangan dan politik, Antiokia memberi kesempatan yang luar biasa kepada
gereja untuk kegiatan penginjilan. saat orang-orang percaya yang teranyiaya itu tiba di
Antiokia, mereka tidak terintimidasi oleh kemegahan gedung-gedungnya atau kesombongan
penduduknya. Firman Allah ada di bibir mereka dan tangan Allah menyertai kesaksian
mereka, dan “sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.” Itu yaitu
pekerjaan kasih karunia Allah yang menggetarkan hati. Namun diakhir ayat 19 ini
memberitahukan bahwa mereka memberitakan Injil masih hanya kepada orang-orang
Yahudi saja.
Ayat 20, mengatakan bahwa beberapa orang percaya datang dari pulau Siprus dan
Kirene di Afrika Utara pergi ke Antiokia dan melancarkan Injil kea rah yang baru. Orang-
orang Yunani dalam konteks ini mengacu kepada orang Yunani asli dan bukan kepada
orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Hal ini sangat jelas sekali dimana bahwa Injil yang
diberitakan kepada mereka yaitu dimana Yesus disebut sebagai Tuhan. Bukan seperti
kepada orang Yahudi, dimana Yesus disebut sebagai Mesias. Konsep bahwa Yesus yaitu
Mesias merupakan sebuah konsep Yahudi yang tidak akan dipahami oleh orang bukan
Yahudi yang tidak memiliki latar belakang Yahudi. Ayat 21, disebutkan bahwa Tangan Tuhan
menyertai mereka dan banyak orang menjadi percaya, perkataan ini yaitu merupakan
ekspresi kuasa Allah yang sering dipakai dalam PL (Kel 9:3; 1Sam 5:6; Maz80:18; Luk 1:66).
Ayat 22-23, menceritakan sesudah gereja Yerusalem mengetahui apa yang sudah
terjadi di Antiokia, dimana banyak orang yang sudah menerima Injil dan diselamatkan, maka
gereja Yerusalem mengirimkan Barnabas untuk mengawasi dan meresmikan gereja baru itu.
Barnabas tampak seprti namanya mempunyai karunia untuk memberi semangat seperti
namanya kepada orang-orang Kristen baru, dan dia menasehati orang-orang itu agar
mereka tetap setia dan tekun beriman kepada Tuhan. Kata tetap setia kepada Tuhan artinya
tetap tinggal di dalam Tuhan, itu berarti bukan hanya sementara saja namun tetap terus
menerus tinggal bersama Tuhan. Hal semaca ini hanya dapat dialami oleh orang-orang yang
percaya kepada-Nya. Ayat 24-26, menunjukkan profil kerohanian Barnabas, dia yaitu
orang Kristen yang pantas diteladani. Ia penuh Roh Kudus dan hal ini menjelaskan
keefektifan pelayanannya. Bahwa ia yaitu orang yang beriman terbukti dari caranya
memberi dorongan kepada gereja dan juga membesarkan hati Saulus. Orang-orang
Kristen baru dan gereja-gereja baru memerlukan orang-orang seperti Barnabas untuk
memberi dorongan kepada mereka dalam pertumbuhan dan pelayanan mereka.
Bagaimana cara Barnabas memberi dorongan kepada orang-orang non-Yahudi yang
baru percaya ini?. Pertama-tama, Ia bersukacita atas apa yang dilihatnya. Berbakti bersama-
sama orang-orang non-Yahudi yaitu pengalaman baru baginya, namun ia menerima hal itu
secara positif dan tidak mencari-cari kesalahan untuk di kritik. Itu yaitu pekerjaan Allah,
dan Barnabas bersyukur atas kasih karunia Allah. Pada waktu ia mengajarkan Firman Allah
kepada orang-orang itu, ia menekankan penyerahan hati secara total. Sehingga ada dua
hasil pelayanan Barnabas di Antiokia. Pertama kesaksian gereja memberi dmpak begitu
besar kepada kota itu, sehingga “sejumlah orang dibaa kepada Tuhan” (11:24). Apabila
orang kudus berpijak kepada Firman Allah, mereka akan memiliki kesaksian yang kuat
kepada orang-orang terhilang, dan akan terjadi keseimbangan di dalam gereja antara
pemuridan dan pemberitaan Injil, dan penyembahan dan kesaksian. Kedua untuk
pertumbuhan gereja Barnabas memerlukan pertolongan; jadi ia pergi ke Tarsus dan
memanggil Saulus. namun mengapa ia pergi begitu jauh hanya untuk mencari seorng
asisten? Mengapa ia tidak pergi ke Yerusalem untuk mengajak Nikolaus, diaken yng berasal
dari Antiokia (Kisah Para Rasul 6:5)? sebab Barnabas tahu bahwa Allah telah menetapkan
Saulus untuk melayani orang-orang non-Yahudi (9:15;22:21;26:17). Kita ingat kembali
bahwa Barnabas berteman dengan Saulus di Yerusalem (9:26-27), dan kemungkinan besar
kedua orang itu sering membicarakan tentang panggilan khusus Allah terhadap Saulus. Apa
yang dilakukan oleh Barnabas kepada Saulus perlu di praktekkan di gereja-gereja kita
sekarang. Orang-orang percaya yang sudah dewasa rohani harus memberi dorongan
kepada orang-orang lain di dalam pelayanan mereka kepada Tuhan. Salah satu kebijakan
D.L. Moody ialah bahwa setiap orang Kristen baru di beri tugas segera sesudah
pertobatannya. Mula-mula tugas itu hanya membagikan buku nyanyian atau menyambut
tamu, atau hal yang lain, yang jelas setiap petobat baru harus di beri suatu kesibukan.
Hebatnya pengaruh jemaat Antiokia ini, sampai akhirnya yang tadinya orng-orang di Antiokia
yang tergolong sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak memperhatikan orang lain
akhirnya menyoroti kehidupan jemaat Tuhan disana, dan oleh sebab itu disanalah yang
pertama kalinya sebutan Kristen diterapkan kepada murid-murid Kristus. Dalam bahasa latin
akhiran “en” berarti “anggota kelompok.” Sebagai ejekan beberapa orang penduduk Antiokia
yang kafir menghubungkan akhiran latin ini dengan nama Ibrani “Kristus” dan lahirlah kata
baru Kristen. Kata ini hanya ditemukan sebanyak lima kali dalam seluruh Perjanjian Baru
Bahasa Indonesia: Kisah Para Rasul 11:26 dan 26:28, 1Korintus 9:5; 2Korintus 12:2; serta
1Petrus 4:16. sayangnya sesudah berabad-abad, kata Kristen ini telah kehilangan maknanya
yang agun, dan tidak lagi berarti “menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan” (Kisah Para
Rasul 11:21-23). Banyak orang yang tidak pernah dilahirkan kembali mengaku sebagai
orang “Kristen” hanya sebab mereka merasa bahwa mereka bukan orang kafir. Namun
demikian mungkin mereka menjadi anggota suatu gereja, menghadiri kebaktian secara
teratur, bahkan menyumbang untuk pelayanan gereja! namun untuk berubah dari orang
berdosa menjadi anak Allah di butuhkan pertobatan, bukan masalah uang, atau kerajinan
atau melakukan yang lain-lain.
69
Ayat 27 menunjukkan betapa pentingnya gereja di Antiokia, hal itu dilukiskan oleh
pelayanan yang dilakukan gereja pusat di Yerusalem saat terjadi bencana kelaparan.
Dalam ayat ini disebutkan ada beberapa nabi datang untuk dari Yerusalem ke Antiokia. Kita
harus mengingat bahwa Fondasi bagi gereja yaitu diletakkan oleh para rasul dan para nabi
(Efesus 2:20), dan akhirnya keduanya menghilang dari panggung, mengapa sebab kita
tidak akan terus menerus membuat pondasi! Para nabi Perjanjian Baru menerima berita dari
Tuhan, melalui perantaraan Roh Kudus, dan menyampaikan berita itu kepada orang banyak.
Para nabi Perjanjian Baru menerima pesan langsung dari Tuhan, namun pada masa kini para
hamba Tuhan dan guru menerima pesan melalui kitab suci. Sekarang kita memiliki Firman
Tuhan yang lengkap yang digunakan oleh Roh Kudus untuk memimpin dan mengajar kita.
1Korintus 12:10 menghubungkan bersama karunia bernubuat, membedakan bermacam-
macam roh, berkata-kata dengan bahasa roh, dan menafsirkan bahasa roh. Tentu saja Roh
Kudus berdaulat dan Ia memberi tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang
dikehendaki-Nya (1Korintus 12:11), namun dengan mundurnya para rasul dan para nabi dari
panggung, dan dengan tuntasnya pewahuan Firman itu oleh Allah dalam Alkitab,
menyiratkan bahwa telah terjadi perubahan.
Kemudian ayat 28, menceritakan bahwa salah seorang dari nabi yang datang dari
Yerusalem itu yaitu bernama Agabus, dia mengatakan pesan Tuhan bahwa seluruh dunia
akan di timpa bahaya kelaparan besar dan hal itu benar-benar terjadi pada pemerintahan
Kaisar Klaudius (tahun 41-54). Agabus menyampaikan pesan itu kepada orang-orang
percaya di Antiokia, dan kemudian Dr. Lukas mencatat pada ayat 29 bahwa murid-murid
memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan dan menolong orang-orang Kristen di
Yudea. Tujuan dari nubuat yang benar bukanlah untuk memuaskan keingin tahuan para
pendengarnya melainkan untuk menggerakkan hati kita untuk melakukan keinginan hati
Tuhan.
Selanjutnya pada ayat 30, dijelaskan bahwa hal itu (memberi sumbangan), mereka
lakukan juga kepada para penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus. Kata
“penatua-penatua” di Kisah Para Rasul 11:30 ini, tidak pernah digunakan sebelumnya di
dalam kitab ini, kecuali yang berkenaan dengan para pemuka Yahudi (tua-tua – Kisah Para
Rasul 4:5, 23; 6:12). Di dalam gereja, penatua-penatua ini yaitu orng-orang percaya yang
sudah dewasa yang memiliki wawasan mengenai pelayanan (1 Petrus 5:1 ; 2Yohanes 1).
Apabila kita membandingkan Kisah Para Rasul 20:17 dan 28 dengan Titus 1:5 dan 7, kita
akan melihat bahwa penatua dan penilik yaitu jabatan yang sama. Penatua dan penilik
adalh gembala-gembala jemaat yang di Bantu oleh para diaken, dan persyaratan dari kedua
jabatan itu di paparkan di dalam 1Timotius 3.
10. Penganyiayaan Oleh Herodes Agripa (12:1-25)
Masyarakat Kristen di Yerusalem sejak semula sudah menghadapi permusuhan dari
para pemimpin religius Yahudi, namun orang-orang Kristen ini di senangi oleh sebagian
masyarakat. Penganyiayaan hebat telah muncul menimpa Stefanus dan golongan Helenistis
di bawah kepemimpinan Saulus, sekarang untuk pertama kalinya Lukas mencatat
penganyiayaan yang dilakukan oleh para pejabat di Palestina. Bukan oleh para pemimpin
Romawi, melainkan oleh seorang raja Yahudi. Raja Herodes, yang dalam 12:1 ini yaitu
Herodes Agripa I, cucu dari Herodes Agung yang memerintahkan untuk membantai anak-
anak di Betlehem. Ia juga keponakan Herodes Antipas, yang menyuruh memenggal kepala
Yohanes Pembaptis. Jadi keluarga Herodes ini yaitu keluarga yang jahat dan pembunuh,
keluarga Herodes di benci oleh orang Yahudi, yang merasa marah sebab di jajah orang
Edom. Tentu saja Herodes tahu hal ini; itu sebabnya ia menganyiaya gereja untuk
menyakinkan orang Yahudi akan kesetiaannya kepada tradisi leluhur. Sekarang sesudah
orang-orang non-Yahudi secara terbuka menjadi bagian dari gereja, maka rencana Herodes
itu makin disetujui oleh orang-orang Yahudi Nasionalis, yang tidak bersedia menerima
“orang-orang kafir”.
Kemudian pada ayat 2, dikatakan bahwa Herodes menyuruh untuk membunuh
Yakobus saudara Yohanes, yang kemudian di penggal kepalannya. Peristiwa ini menjadi
peristiwa yang pertama dimana seorang Rasul mati sebagai martir. Apabila anda
merenungkan kematian Yakobus dari Matius 20:22-28, ada beberapa hal yang penting.
Yakobus dan Yohanes bersama ibu mereka, telah meminta kedudukan (tahkta), namun Yesus
menjelaskan bahwa tidak akan ada kemuliaan tanpa penderitaan. Yesus bertanya kepada
mereka, “dapatkah kamu meminum cawan yang harus kuminum dan dibptis dengan yang
harus ku terima?” (Matius 20:22; lihat juga Markus 10:38). Dengan berani mereka menjawab,
“Kami dapat.” Tentu saja mereka tidak tahu apa yang mereka ucapkan, namun akhirnya
mereka mengetahui harga mahal yang harus mereka bayar untuk mendapatkan takhta
kemuliaan.
Ayat 3, memberitahukan dimana saat Herodes Agripa I, melihat bahwa hal itu
menyenangkan hati orang Yahudi, sehingga ia melanjutkan perbuatanya untuk menahan
Petrus. Ayat 4 yaitu berbicara tentang pemenjaraan Petrus yang di jaga oleh empat regu,
masing-masing empat orang. saat terakhir pemenjaraan Petrus yang sebelum ini (5:19)
Petrus keluar dari penjara secara misterius dan mungkin Herodes suah tahu akan hal itu,
oleh sebab itu, Herodes tidak mau hal itu terulang kembali. Selanjutnya ayat 5,
memberitahukan bahwa ternyata jemaat senantiasa bertekun untuk mendoakan Petrus. Ini
memberitahukan pentingnya doa. Seorang pengkotbah Puritan, Thomas Watson berkata
bahwa “Doalah yang menjemput malaikat itu” (malaikat yang melepaskan Petrus).
Ayat 6-11, menjelaskan bagaimana Petrus dilepaskan oleh malaikat itu dari penjara.
Dalam kisah ini terlihat bagaimana ketenangan Petrus menghadai pemenjaraan itu, dia bisa
tidur dengan nyenyaknya, padahal harinya sudah dekt dimana dia akan dihakimi dan akan di
eksekusi. sebab nyenyaknya Petrus tidur di alam penjara maka malakat yang dating itupun
harus menepuk dia untuk membangunkannya. Mengapa Petrus dapat mengalami
pemenjaraanya dengan tenang, jawabannya yaitu sebab banyak orang percaya yang
mendoakannya. Dalam ketentraman Petrus, tiba-tiba malaikat dating kepadanya, ini
menunjukkan cara kerja malaikat yang sangat cepat. Malaikat itu membawa terang dn
kebebasan di dalam ruang penjara, namun para penjaga itu sama sekali tidak menyadari apa
yang terjadi. Petrus menuruti apa yang dikatakan oleh malaikat itu, namun bagi Petrus
peristiwa itu seolah-olah bukan peristiwa yang benar-benar terjadi. Dia berpikir bahwa hal itu
hanya seperti penglihatan saja. Malaikat itu menyuruh Petrus untuk mengenakan ikat
pinggangnya dan mengenakan sepatunya. Ini yaitu hal biasa yang harus dilakukan pada
saat mukjizat sedang berlangsung! namun Allah sering mengaitkan mukjizat dengan hal-hal
yang biasa untuk membuat kita tetap seimbang. Yesus melipat gandakan roti dan ikan, namun
kemudian menyruh murid-murid-Nya mengumpulkan sisa-sisa makanan itu. Yesus
membangkitkan anak Yaitus dari kematian, dan menyuruh orangtuanya memberinya makan.
Bahkan di dalam mukjizatpun Allah selalu praktis. Hanya Allah yang dapat melakukan hal-
hal yang luar biasa. Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian, namun orang-orang harus
menggulingkan batu penutup kubur. Malaikat yang melepaskan rantai Petrus itu tentu saja
dapat memakaikan sepatu di kaki Petrus, namun ia menyuruh Petrus melakukannya sendiri.
Allah tidak pernah melakukan mukjizat yang tidak perlu. Petrus harus membungkuk sebelum
ia dapat berjalan. Ini satu pelajaran yang baik mengenai kerendahan hati dan ketaatan,
bahkan sejak saat itu setiap kali Petrus mengenakan sepatu memungkinkan dia untuk
mengingat akan mukjizat yang terjadi di penjara itu. Pembebasan itu terjadi pada masa
Perayaan Paskah, dimana pada masa itu orang Yahudi memperingati pembebasan mereka
dari Mesir. Kata menyelamatkan dalam ayat 11, yaitu kata yang sama digunakan oleh
Stefanus saat ia berbicara mengenai pembebasan orang Yahudi (Kisah Para Rasul 7:34).
Sekali lagi Petrus mengalami pembebasan sebagai jawaban atas doa-doa umat Allah.
Ayat 12-16, mnceritakan dimana sesudah tugas malaikat itu selesai (membawa Petrus
keluar dari penjara) maka sekarang Petrus harus memakai pikirannya sendiri untuk
mengambil langkah selanjutnya. Dia mengetahui bahwa sebab doa-doa umat Allahlah maka
dia dibebaskan maka dia memutuskan untuk pergi memberitahukan kepada umat Allah yang
berdoa itu bahwa dia telah di besakan Tuhan lewat perantaraan malaikat-Nya. Petrus pergi
ke persekutuan doa di rumah Maria. Lebih dari itu ia ingin melaporkan kabar baik bahwa
Allah telah menjawab doa-doa mereka. Jadi Petrus pergi ke rumah Maria, ibu Yohanes
Markus.
Jika kita mengingat bahwa jemaat itu berdoa dengan sungguh-sunguh, mereka berdoa siang
malam dan topik doa mereka khusus kepada pembebasan Petrus, maka adegan yang
digambarkan disini agak menggelikan. Jawaban atas doa-doa mereka berdiri di depan pintu,
namun mereka tidak mempunyai iman yang cukup untuk membuka pintu dan mempersilahkan
dia masuk. Hal itu mungkin terjadi sebab ketakutan mereka kepada prajurit Herodes.
Mereka takut jangan-jangan yang mengetuk itu sebenarnya yaitu prajurit Herodes yang
mau menangkapi mereka. Perlu keberanian bagi Rode (Mawar) untuk pergi ke pintu; namun
betapa terkejutnya dia saat mengenali bahwa suara yang mengetuk itu yaitu suara
Petrus! Ia begitu terpesona sehingga lupa membuka pintu! Jadi Petrus terus mengetuk pintu,
sementara orang-orang percaya di dalam persekutuan doa itu berunding untuk mengambil
keputusan tentang apa yang harus mereka lakukan! Dan semakin lama Petrus berdiri di
depan pintu, semakin berbahaya pula situasinya. Pernyataan, “itu malaikatnya !” (ay 15)
menunjukkan kepercayaan mereka terhadap malaikat-malaikat penjaga (Matius 18:10; Ibrani
1:14). namun mungkin sebab kebingungan mereka sehingga mereka lupa, bahwa
seandainya itu malaikat maka malaikat itu tak perlu mengetuk pintu, dia bisa langsung
masuk tanpa mengetuk pintu berkali-kali. Di ayat 16, di sebutkan bahwa mereka akhirnya
membuka pinta dan akhirnya mereka tercengang-cengang. Kata mereka disini mempunyai
pengertian secara bersama. Jadi akhirnya mereka memutuskan untuk membuka pintu
secara bersama-sama, yang siap menghadapi apapun yang akan terjadi di balik pintu itu.
namun ternyata apa yang dikatakan Rode itu yaitu sungguh benar. sesudah mereka
membuka pintu rupanya mereka semua orang berbicara secara bersama-sama (17)
sehingga Petrus harus memberi isyarat supaya mereka diam. Dan dengan cepat ia
menceritakan tentang mukjizat yang baru saja dialaminya, dan tentu saja ia sangat berterima
kasih atas dukungan doa mereka. Ia menyuruh mereka memberi tahu Yakobus saudara
Tuhan, yang menjadi pimpinan jemaat Yerusalem (Kisah Para Rasul 15:13; Matius 13:55;
Galatia 1:19). Yakobus ini juga yang menulis surat Yakobus. sesudah Petrus menjelaskan
apa yang telah dia alami dia pergi meninggalkan persekutuan itu, namun kita tidk tahu
kemana ia pergi. 1Korintus 9:5 memberitahu kita bahwa Petrus dan istrinya mengadakan
perjalanan pelayanan, dan 1 Korintus 1:12 menyiratkan bahwa ia mengunjungi jemaat
Korintus. Tidak ada bukti di dalam Alkitab bahwa Petrus mengunjungi Roma. Bahkan
mendirikan gereja Roma. Jika seandainya Petrus sudah melayani disana maka Paulus tidak
akan pergi kesana, sebab kebijkannya ialah bahwa ia tidak akan melayani di tempat yang
sudah di layani oleh rasul lain (Roma 15: 18-22). Lagi pula Paulus tidak pernah
menyinggung mengenai Petrus dalam suratnya kepada jemaat Roma.
Ayat 18-23, menceritakan apa yang terjadi kepada para penjaga penjara, yang
menjaga Petrus itu, kemudian dianjutkan dengan tindakan dan Herodes Agripa kepada
mereka. Dan diakhiri tentang berita kematian Herodes Agripa I. Berkenaan dengan
hilangnya Petrus dari penjara mungkin kita akan bertanya-tanya “apa yang terjadi dengan
para pengawal penjara dan Herodes” Kita tidak tahu jam berapa malaikat itu membebaskan
Petrus, namun pada waktu penjaga berikutnya datang ke dalam penjara itu, coba kita
bayangkan bagaimana pikiran mereka saat mendapati bahwa para penjaga itu (penjaga
sebelumnya) masih ada disana namun narapidanya sendiri sudah hilang! saat penjaga
berikutnya membangunkan penjaga sebelumnya, pasti hal itu sangat mengejutkan mereka!
Jika penjaga sebelumnya sudah bangun dan menyadari apa yang terjadi, pastilah mereka
mendapat kesulitan untuk menjelaskan situasi itu kepada penjaga yang baru. Bagaimana
mungkin seorang narapidana yang dirantai dapat melarikan diri pada hal ada empat orang
penjaga dan semua pintu terkunci?
Apabila seorang penjaga membiarkan narapidana melarikan diri, undang-undang Romawi
menuntut penjaga itu menerima hukuman yang sama dengan narapidana yang melarikan diri
itu, sekalipun itu hukuman mati (Kisah Para Rasul 16:27 dan 27:42). Dalam pengadilan
Herodes, hokum ini tidak di berlakukan dengan ketat, sehingga raja tidak harus membunuh
para penjaga; namun dasar Herodes, ia melakukannya juga. Akhirnya ia membunuh empat
orang penjga itu dan dengan harapan agar orang Yahudi merasa lebih senang.
Selanjutnya kita melihat dan akan sampai kepada kesimpulan bahwa orang benar
akhirnya selamat, lalu orang fasik yang menjadi binasa, hal ini terlihat jelas dalam peristiwa
kematian Herodes Agripa I ini. sejarawan Yahudi yang paling terkenal yang bernama
Yosephus mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi dalam suatu festival untuk menghormati
kaisar Klaudius, dan pada saat itu raja memakai busana perak yang indh untuk
menghormati peristiwa. Kita tidak tahu apa yang dikatakan oleh Herodes dalam pidatonya,
namun kita tahu alasan dari pidatonya; ia ingin membuat rakyatnya terkagum-kagum
kepadanya. Dan itulah yang terjadi! Mereka mempermainkan ego Herodes, dan mengatakan
kepadannya bahwa ia yaitu allah, dan ia sangat senang disebut demikian. namun ia tidak
memberi kemuliaan kepada Tuhan, jadi seluruh peristiwa ini semata-mata yaitu
penyembahan berhala. Jadi bukanya Petrus yang akhirnya dibunuh oleh Herodes Agripa I,
namun malah Herodeslah yang dibunuh oleh Allahnya Petrus. Menurut Yosefus Herodes
mengalami kejang perut dan meninggal lima hari kemudian. Hal itu terjadi pada tahun 44.
Kemudian ayat 24, menjelaskan dimana sesudah salah satu musuh Allah itu (Herodes) telah
di lenyapkan maka Firman Allah semakin meluas. Kemudian ayat 25, memberitahukan
bahwa Barnabas dan Saulus pergi ke Yerusalem untuk mengantar persembahan kasih yang
di titipkan jemaat Antiokia (11:30) bagi jemaat Yerusalem. Selama berada di Yerusalem,
mungkin mereka menginap di rumah Markus dan kembali ke Antiokia sesudah menyelesaikan
tugasnya. Mereka dapat membawa Markus sebagai teman sekerja dalam perjalanan misi
pertama yang dimulai dari Antiokia, sebab Markus ada pada saat itu.
11. Perluasan Gereja di Asia Kecil dan Eropa (13:1-21:17)
Pasal 13 membawa kita kebagian separuh kedua dari kitab Kisah Para Rasul. Di bagian separuh
pertama, Yerusalem merupakan pust cerita, dan tema utamanya yaitu perluasan gereja dari
Yerusalem ke seluruh Palestina. Sekarang Yerusalem terdesak ke belakang dan Antiokia
menjadi pusat cerita, sebab Antiokia menyokong perluasan gereja di Asia dan Eropa. Perluasan
ini dilaksanakan dengan tig perjalanan misi oleh Paulus, masing-masing dimulai dn iakhiri di
Antiokia.
a. Misi Pertama: Galatia (Kisah Para Rasul 13:1-14:28)
Perjalanan misi yang pertama mengantarkan Injil dari Antiokia ke Siprus dan kota-kota di
bagian selatan Propinsi Romawi yang bernama Galatia. Ayat 1 memberitahukan, bahwa di
gereja Antiokia ada banyak orang Kristen yang terkemuka mereka disebut sebagai Nabi dan
ada juga yang menjadi pengajar. Kata Nabi (προφηται) yaitu orang yang memiliki karunia
untuk mengetahui kehendak Allah melalui hubungan supernatural. sedang Pengajar
yaitu orang-orang yang mempunyai karunia untuk menafsirkan Alkitab dan mengajarkan
kepada orang lain. Di dalam ayat 1 ini juga kita menemukan beberapa nama yang menjdi
tokoh terkemuka dalam jemaat Antiokia antara lain: Niger, adalh sebuah kata latin yang
berarti hitam, disini dipakai sebagai suatu nama panggilan. Tampaknya itu melukiskan warna
kulit Simeon yang agak gelap dan menunjukkan bahwa ia berasal dari Afrika. Dia mungkin
yaitu Simon orang kirene yang disebutkan dalam Markus 15:21 sebagai orang yang ikut
memikul salib Yesus. Menahem yaitu seorang yang anak angkat pada keluarga Antipas
(jadi dia hampir seusia dengan Herodes Antipas yang memerintah Galilea dan Perea dari
tahun 4 M-39 M.
Kemudian ayat 2, dijelaskan bahwa di satu saat , dimana jemaat Antiokia sedang
beribadah dan brpuasa kepada Tuhan. Roh Kudus berkata “Khususkanlah Barnabas dan
Saulus bagi-Ku untuk tugas yng telah ku tentukan bagi mereka.” Ayat ini menunjukkan
bahwa bukan hanya nabi-nabi dan para pengajar yang berpuasa namun jemaat juga ikut
berpuasa. Kata beribadh yang dipaki dalam ayat ini mempunyai arti persekutuan pribadi
dengan Allah, atau juga penyembahan kelompok kepada Allah. Puasa mereka tidk sama
dengan Asketikisme ( yang ingin melepaskan roh dari materi yang jahat, dengan cara
menyiksa diri). Mereka berpuasa bukan untuk hal itu, namun hanya untuk menerima berkat
kuasa Allah. Dengan tujuan demikianlah mereka berpuasa untuk berdoa dan dengan segenp
hti dn jiwa. Perkataan Roh Kudus kepada jemaat itu mungkin di dengar oleh seorangn nabi
yang ada disana pada waktu itu. Dan perkataan Roh tentang tugas yang Ku tentukan yang
dikatakan oleh Roh itu yaitu menunjuk kepada pemberitaan Injil keluar dari tempat itu (Misi
keluar negeri)
Ayat 3 berbicara tentang doa pengutusan oleh gereja Antiokia kepada Saulus dan
Barnabas. Dan sesudah itu mereka membiarkan keduanya pergi mempunyi arti melepaskan.
Jadi jemaat Antiokia menyerahkan Barnabs dan Saulus untuk menjdi Missionaris sebab taat
kepada perintah Roh Kudus, padahal kedua orang itu yaitu orang yang mempunyai
peranan penting untuk pertumbuhan jemaat itu sendiri.
Ayat 4-5. kata yang penting kita ingat dalam ayat ini yaitu Disuruh Roh Kudus, pada
ayat sebelumnya di sebutkan bahwa Roh Kudus menyuruh jemaat Antiokia mengkhususkn
Barnabas dan Saulus, dn pada ayat ini Roh Kudus melanjutkan apa yang Ia kehendaki,
pertma-tama mereka harus berangkat ke Seleukia dn selnjutnya. Dlam hl ini kita melihat
bahwa maksud Tuhan hrus tergenapi, dan segal rencana-Nya tidak akan gaga












