Tampilkan postingan dengan label kisah para rasul 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah para rasul 6. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

kisah para rasul 6


 hidup!.  Sebenarnya  orang  percaya  sangat

menekankan berita mereka tentang bahwa Yesus Hidup (Kisah Para Rasul 2:32; 3:15; 5:30-

32),  namun   Saulus menolak kesaksian mereka.  Jika Yesus memang hidup,  berarti  Saulus

harus mengubah pendapatnya tentang Yesus dan berita-Nya. Ia harus bertobat – padahal ini

yaitu  hal yang sangat sulit untuk dilakukan oleh orang Farisi yang merasa dirinya benar.


Pada ayat 5 Yesus menegor Saulus, supaya ia tahu bahwa dirinya orang berdosa dan yang

ada dalam bahaya penghukuman Allah. “Akulah Yesus yang kau aniaya itu”. Pada waktu-

waktu sebelumnya Saulus berpikir bahwa ia melayani Allah, padahal kenyataannya ia sedang

menganyiaya Mesias! Apabila diukur dengan kekudusan Yesus Kristus, pekerjaan baik yang

dilakukan Saulus dan pembenaran dirinya tampak seperti  kain kotor  (Filipi  3:6-8;  Yesaya

64:6). Nilai-nilainya berubah. Ia menjadi pribadi yang baru sebab  ia percaya kepada Yesus

Kristus.

Ayat  8-9  menceritakan  bahwa  teman-teman  seperjalanan  Saulus  menuntun  dia

masuk ke Damsyik. Jika kita lihat sebelumnya bahwa Saulus yaitu  seberti binatang buas

yang sedang mengamuk (Kisah Para Rasul 9:1) sekarang berubah menjadi seperti seekor

anak domba yang jinak! Pemimpin yang ganas itu harus dituntun sebab  penglihatan itu telah

membuatnya buta. Mata rohaninya menjadi celik, namun  mata jasmaninya menjadi buta. Allah

benar-benar membuat dia menjadi rendah hati dan mempersiapkan dia untuk dilayani oleh

Ananias. Ia berpuasa dan berdoa (ay. 9,11) selama tiga hari itu ia mulai menyelidiki kembali

apa yang ia percaya. Ia telah diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman kepada Kristus

yang hidup, dan bukan oleh hokum Taurat. Allah mulai mengajar Saulus dan menunjukkan

kepadanya hubungan antara Injil Kasih Karunia Allah dengan agama tradisi Musa yang telah

dijalaninnya selama ini.

Sekarang  kita  masuk  pada  pembahasan  yang  kedua:  Saulus  bertemu  dengan

Ananias  (Kisah  Para  Rasul  9:10-19).  Menurut  Kisah  Para  Rasul  22:12,  ananias  yaitu 

seorang Yahudi  yang saleh,  yang percaya kepada Kristus.  Dia  tahu reputasi  Saulus dan

bahwa  ia  datang  ke  Damsyik  untuk  menagkapi  orang-orang  percaya.  Pada  waktu  itu

perjalanan dari Yerusalem ke Damsyik memerlukan waktu sampai satu minggu. Pada ayat 10

Ananias disebut sebagai murid, kata murid dapat ditafsirkan sebagai pengikut. Selanjutnya

sebutan yang paling umum yaitu  kata Kristen yaitu  yang baru muncul mulai Kisah Para

Rasul  11:26.  Pada  ayat  11  dijelaskan  bahwa  Tuhan  menyuruh  Ananias  untuk  menemui

Saulus ke jalan lurus di rumah Yudas. Kemudian ayat 13 memberi  gamaran kepada kita,

dimana Ananias memang siap untuk melakukan kehendak Allah, namun  bukan berarti dia tidak

merasa cemas untuk mentaatinya. namun  seperti yang dikatakan Tuhan kepadanya, bahwa

Saulus  sekarang  sedang  berdoa,  bukan  mencari  mangsa  dan  itulah  yang  semakin

mendorong hatinya untuk menjumpai Saulus. Doa yaitu  tanda tangan Roh Kudus di hati

yang  diperbaharui.  Pada  ayat  14  menjelaskan  bahwa  Ananias  juga  tahu  bahwa  Saulus

datang  sebenarnya  yaitu   untuk  menganyiaya  orang  percaya,  bahkan  dia  diperlengkapi

dengan surat kuasa dari imam-imam kepala. namun  pada ayat 15 Tuhan malah mengatakan

bahwa dia  yaitu   pilihan  Tuhan untuk  memberitakan  Nama-Nya dan  bahkan di  ayat  16

dikatakan bahwa dia akan menderita demi nama-Nya. Lalu sesudah  Ananias merasa yakin (ay

17)  ia  segera  pergi  ke  rumah Yudas dan  menumpangtangani  Saulus.  Ananias  menyapa

Saulus sebagai saudara, tentu hal itu membuat sukacita yang besar bagi Saulus. Dalam ayat

18 dijelaskan bahwa Oleh kuasa Allah matanya terbuka dan ia dapat melihat. Lalu ia di baptis

dan sesudah  itu dia makan.

Ada beberapa pelajaran praktis dari ayat 10-19, yaitu (1).Dapat memakai  setiap

orang  percaya,  bahkan  yang  tidak  terkenal  sekalipun.  (2).Kita  tidak  boleh  takut  menaati

kehendak Allah.  (3).Pekerjaan Allah selalu  seimbang,  dimana Allah  mengimbangi  mujizat

besar di depan umum dengan pertemuan diam-diam di rumah Yudas. (4). Kita tidak boleh

meremehkan nilai dari satu orang yang akan dibawa kepada Kristus.

Peristiwa  yang  ketiga  yang  mengubah  kehidupan  Saulus  dimana  ia  menghadapi

perlawanan (Kisah Para Rasul 9:20-25). Ayat 20, memberi  penjelasan bagi kita bahwa

segera sesudah  pertobatan Saulus dia memberitakan Injil, dan dengan berani dia menyatakan

bahwa Yesus yaitu  Mesias. Ayat 21 menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi di Damsyik

merasa heran melihat peubahan yang begitu dramatis dalam kehidupan Saulus. Kemudian

pada ayat  22,  disebutkan bahwa pengaruhnya semakin melas dan banyak orang Yahudi

yang bingung, sebab  ia membuktikan bahwa Yesus yaitu  Mesias. Kemudian di ayat 23-25

menjelaskan  bahwa  orang-orang  Yahudi  berencana  membunuh  Saulus,  mereka  telah

menjaga pintu kota supaya Saulus tidak boleh lari dari kota itu. namun  murid-muridnya (orang-

orang ang sudah percaya lewat pelayananya) menurunkan dia dari atas tembok kota dalam

sebuah keranjang, anyaman yang besar, dan dengan demikian dia lolos dari usaha untuk

menangkapnya.

Peristiwa yang keempat yang mengubah hidup Saulus yaitu  ia bertemu dengan

orang-orng percaya di Yerusalem (Kisah Para Rasul 9:26-31). Ada dua tahap pengalaman

Saulus dengan Gereja Yerusalem. Yang pertama Saulus Ditolak (ay 26). Mula-mula orang


percaya di gereja Yerusalem takut terhadap dia. Mungkin orang-orang percaya di Yerusalem

berpikir bahwa keramahanya itu hanya siasat untuk masuk ke persekutuan mereka sehingga

ia dapat menangkap mereka. Mereka tidak percaya bahwa ia sudah menjadi murid Yesus,

apalagi menjadi rasul yang telah melihat Juruselamat yang bangkit itu. Kemudian tahap yang

kedua  yaitu   Saulus  diterima  (27-28),  dalam  hal  ini  yang  menolong  Gereja  Yerusalem

menerima Saulus yaitu  Barnabas, yang didalam Kisah Para Rasul 4:36-37 telah dijelaskan

bahwa dia yaitu  termasuk salah seorang yang suka membagi-bagikan hartanya kepada

jemaat yang lain yang membutuhkan. Barnabas menerima Saulus dan membawa dia kepada

para  pemimpin  gereja,  dan  menyakinkan  mereka  bahwa  Saulus  sudah  menjadi  orang

percaya dan juga sebagai  Rasul  yang terpilh.  Dengan melihat  arti  nama Barnabas (anak

penghiburan)  sepertinya  dia  layak  menyandang  nama  itu,  dia  juga  telah  memberi 

pengihiburan  saat  memberi  persembahan  yang  berasal  dari  hatinya  dan  dia  juga

menghiburkan  hati  Saulus  yang  sudah  ditolak  dalam  persekutan  gereja  Yerusalem.

Kemudian pada ayat 29-30 menjelaskan bahwa Saulus menyaksikan bahwa Yesus yaitu 

Kristus kemanapun ia pergi, dengan mempertaruhkan nyawanya. Belum lama berlalu bahwa

ia diancam mati di Damsyik sebab  pemberitaan Injil (22-23), sekarang ia juga mengalami

ancaman maut di Yerusalem. Hal ini dituliskan oleh Lukas untuk menegaskan bahwa betapa

kuatnya keyakinan Paulus sesudah  pertobatannya.

8. Pelayanan Petrus di Palestina dan Orang-orang yang bertobat pertama di luar bangsa

Yahudi (9:32 – 11:18)

Narasi Lukas pada titik ini berbalik kepada kisah tentang perluasan Injil ke seluruh

Yudea melalui pelayanan Petrus. Terakhir Petrus disebutkan dalam 8:25, saat  ia bersama

dengan Yohanes kembali ke Yerusalem dari Samaria. Sekarang diceritakan bahwa Petrus

telah terlihat dalam perjalanan pelayanan di seluruh Yudea. Berkotbah kepada orang-orang

Kristen yang telah terserak di berbagai kota. Akan sangat menarik kalau kita memiliki suatu

catatan yang lengkap tentang pelayanan Petrus. Di Lida dia menjumpai sekelompok orang

Kisten  yang  mungkin  telah  lari  kesana  pada  masa  perserakan  yang  disebabkan  oleh

penganyiayaan di Yerusalem. Filipus sudah memberitakan Injil  di wilayah ini (8:40). Disini

Petrus menyembuhkan Eneas yang lumpuh.

Pada ayat 32 disebutkan bahwa Petrus singgah di Lida. Kota Lida yaitu  suatu kota

yang mayoritas penduduknya non- Yahudi, kira-kira 40 km dari Yerusalem. Mungkin saja

daerah itu diinjili oleh orang-orang yang bertobat pada hari Pentakosta, atau mungkin oleh

orang percaya yang setia dan yang telah tersebar jauh luas selama masa penganyiayaan

besar. Tidak diragukan juga Filipus juga telah melayani disana (Kisah Para Rasul 8:40). Ayat

33-34 menceritakan tentang Mukjizat yang menyembuhkan Eneas. Kita tidak tahu banyak

tentang  Eneas,  selain  hanya  yang  diberitakan  oleh  ayat  yang  singkat  ini,  Alkitab  tidak

memberitahukan kepada kita  apakah dia  orang Yahudi  atau non-Yahudi?  Penjelasan Dr

Lukas tentang dia hanyalah bahwa ia telah lumpuh selama delapan tahun. Itu berarti ia sama

sekali lumpuh tak berpengharapan lagi. Ia menjadi beban bagi dirinya sendiri dan bagi orang

lain, dan ia tidak punya harapan untuk sembuh. Kristus yang dibangkitkan, dengan kuasa

nama-Nya memberi  kesembuhan yang sempurna kepada Eneas.  Kesembuhan itu terjadi

sesaat  itu juga, dan Eneas langsung dapat bangun dan membereskan tempat tidurnya.

Selanjutnya 9:35 memberi  informasi bahwa semua penduduk di Lida dan Saron melihat

dia lalu berbalik kepada Tuhan, namun ayat ini sebenarnya tidak mnyiratkan bahwa semua

penduduk Lida dan saron tanpa tekecuali diselamatkan. namun  hanya yang melihat Eneas

saja yang berjaln kesana kemari, mereka yng telah yakin bahwa Yesus itu hidup dan mereka

perlu percaya kepada-Nya.

sesudah  dari  Lida,  Petrus terus melanjutkan perjalananya untuk mengunjungi  kota

Yope (Yafo Modern), kota terletak di daerah pantai kira-kira 16 km dari Lida. Kota itu penting

dalam sejarah Alkitab, sebab  darisitulah Nabi Yunus berlayar, saat  ia berusaha melrikan

diri dari Allah (Yunus 1:1-3). Yunus pergi ke Yope sebab  tidak mau pergi ke orang-orang

non Yahudi, namun  di Yope Petrus menerima panggilanya untuk pergi kepada orang non-

Yahudi! sebab  Yunus tidak menaati Allah, maka Ia mengirimkan badai yang memicu 

para pelaut non-Yahudi itu ketakuan. sebab  Petrus ketakutan maka Ia mengirimkan “Roh

Kudus” kepada orang-orang non-Yahudi sehingga mereka mengalami sukacita dan damai

yang  luarbiasa,  hal-hal  itulah  yang  menjadi  perbedaan  kedua  kisah  ini .  Ayat  36,

menjelaskan tentang Tabita (Dorkas). Dorkas yaitu  nama sebutan dalam bahasa Yunani

kepada  Tabita,  dia  sangat  disayangi  oleh  orang-orang  banyak  sebab   perbuatan-

perbuatanya yang baik dan tindakan-tindakan kebajikannya. 


Selanjutnya ayat 37, menjelaskan bahwa ia (Tabita) sakit keras dan akhirnya mati.

Pada ayat 38, ada orang percaya mengetahui bahwa Petrus ada di Lida yang tidak seberapa

jauh dari Yope dan akhirnya mereka memanggil Petrus. Satu hal yang kita harus ingat disini

bahwa  tidak  pernah  ada  catatan  dalam  Kisah  Para  Rasul  bahwa  adanya  rasul  lain

membangkitkan orang mati, sehingga panggilan mereka kepada Petrus itu yaitu  bukti iman

mereka  kepada kuasa  Yesus Kristus  yang  telah  bangkit.  Lalu  pada ayat  39,  dijelaskan

bahwa  segera  Petrus  berkemas  dan  pergi  menuju  kesana  dan  kemudian  ayat  ini  juga

menceritakan bagaimana rasa sayangnya orang banyak (janda-janda) kepada Tabita ini. 

Kemudian pada ayat 40-41, Petrus menyuruh para janda yang sedang bersusah hati

itu untuk meninggalkan ruang atas, dimana mayat Tabita di baringkan dan saat itulah Petrus

berdoa dan sesudah  itu  dia  menyuruh Tabita  untuk bangkit.  Wiersbe mengatakan bahwa

supaya dapat mengerti lebih dalam tentang kisah ini maka kita harus membandingkannya

dengan kisah dimana Tuhan Yesus membangkitkan anak Yairus (Markus 5:35-43). Dalam

kedua kasus itu, orang yang berdukacita disuruh keluar dari dalam ruangan. Kecuali itu kata-

kata  yang  diucapkan  hampir  identik:  “Talita  kum:  Hai  anak,  Aku  berkata  kepadamu

bangunlah; Tabita, bangkitlah.” Yesus memegang tangan anak perempuan itu sebelum Ia

berbicara kepadannya, sedang  Petrus memegang tangan Dorkas sesudah perempuan

itu hidup kembali. Dalam kedua contoh ini kuasa Allahlah yang membangkitkan orang mati

itu, sebab orang yang sudah mati tidak mungkin dapat menerapkan imanya.

Ayat  42,  menjelaskan  bahwa  peristiwa  itu  tersiar  di  seluruh  Yope  dan  akhirnya

banyak orang yang menjadi  percaya.  Selanjutnya  (43)sesudah  peristiwa  itu  Petrus masih

tinggal beberapa hari di Yope, dia tinggal di rumah seorang penyamak kulit. Sebenarnya

penyamak kulit bagi rabi Yahudi yaitu  pekerjaan yang najis (lihat Imamat 11:35-40). Jadi

jika Petrus tinggal di rumah penyamak kulit itu berarti bawa dia sudah bergerak selangkah

dari legalisme Yahudi kedalam kemerdekaan kasih karunia-Nya yang menakjubkan itu.

Didalam  Kisah  Para  Rasul  10:1,  Lukas  mencatat  langkah  terakhir  yang  sangat

penting didalam perluasan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Pentingnya langkah itu

ditunjukkan  oleh  dua  kali  pencatatan  kunjungan  Petrus  kepada  Kornelius.  Langkah  ini

menimbulkan berbagai masalah yang sulit tentang syarat-syarat pergaulan sosial di antara

orang-orang Kristen Yahudi dan orang-orang Kristen yang bukan Yahudi dan syarat-syarat

penerimaan orang-orang bukan Yahudi itu kedalam Gereja.  Persoalan ini  menjadi  pokok

pembahasan dalam konferensi  di  Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15.  Kota Kaisarea

yaitu  kota yang terletak kira-kira 100 km di barat laut Yerusalem dan 50 km disebelah utara

Yope. Pada saat itu Kaisarea yaitu  ibu kota Romawi untuk daerah Yudea, dan terkenal

akan banyaknya bangunan-bangunan yang indah. Di kota ini tinggallah Kornelius, seorang

perwira pasukan Romawi yang hatinya telah bosan dengan mitologi kafir dan syariat agama

yang  kosong,  dan  ia  telah  berpaling  ke  Yudaisme  dengan  harapan  menemukan

keselamatan.  Kornelius  berusaha  sedekat  mungkin  dengan  Yudaisme  tanpa  menjadi

penganutnya. Banyak orang yang takut akan Tuhan seperti dia di dunia kuno (Kisah Para

Rasul 13:16) dan mereka seperti ladang yang sudah menguning dan siap dituai. Pada ayat 2

di  jelaskan bagaimana Kornelius dan keuarganya disebut sebagai orang yang saleh,  dia

suka memberi persembahan, dia juga suka beribadah, berdoa dan lain-lain. Ini memberi 

penjelasan bagi kita bahwa seseorang dapat begitu saleh namun tetap tidak diselamatkan.

Tentu  saja  Kornelius  sungguh-sungguh dalam ketaatanya  kepada hukum Allah,  doanya,

kemurahannya kepada orang-orang Yahudi. Ia yaitu  orang yang saleh dan terhormat –

namun  ia  belum  diselamatkan.  Perbedaan  antara  Kornelius  dengan  orang-orang  yang

beragama pada masa kini  yaitu  dimana bahwa Kornelius tahu bahwa ketaatanya tidak

cukup untuk menyelamatkan dia. Banyak orang beragama masa kini merasa puas dengan

sifat perbuatan baik yang mereka anggap akan membawa mereka ke surga, dan mereka

tidak mempunyai konsep tentang dosa-dosa mereka maupun tentang kasih karunia Allah. 

Kisah Para Rasul 11:13-14, di dalam doanya dia meminta supaya Allah menunjukkan

jalan  keselamatan  kepadanya.  Ayat  3  sampai  5,  menjelaskan  bahwa  Allah  menyuruh

malaikat untuk memberitahu Kornelius, dan sesuai dengan tatacara militer yang benar, dan

pada saat itu juga Kornelius menaatinya. Yang menjadi pertayaan disini yaitu  mengapa

malaikat  itu  menyuruh memanggil  Petrus yang berada 50 km jauhnya di  Yope,  padahal

waktu itu Filipus, si penginjil ada di Kaisarea (Kisah Para Rasul 8:40)? sebab  Petruslah,

bukan Filipus yang telah di beri “kunci.” Allah bekerja pada saat yang tepat, dan ia juga

bekerja  melalui  hamba yang tepat.  Dan kedua-duanya penting.  Pada ayat  6,  disebutkan

bahwa malaikat itu memberitahukan bahwa Petrus sedang menumpang di rumah seorang

penyamak kulit. (tentang ini kita sudah bahas pada Kisah Para rasul 9:43). Ayat 7 dan 8,

65


menjelaskan bahwa Kornelius menyuruh dua orang hambanya dan seorang prajurit untuk

pergi ke Yope menjemput Petrus.

Ayat  9-22  Sebelum  ketiga  orang  itu  bertemu  dengan  Petrus,  Tuan  harus

mempersiapkan Petrus untuk rencana-Nya, sebab  ia yaitu  orang Yahudi Ortodoks seumur

hidupnya  (Kisah  Para  Rasul  10:14).  Hukum  Musa  bagaikan  tembok  yang  memisahkan

antara Yahudi dengan non Yahudi, dan tembok ini sudah dirobohkan oleh salib (Efesus 2:14-

18).  Allah  menyatakan  bahwa  tidak  ada  perbedaan  lagi  antara  orang  Yahudi  dan  non-

Yahudi,  dalam penghukuman (Roma 3:22-23) maupun dalam keselamatan (Roma 10:12-

13).  Mengapa  Allah  mempersiapkan  Petrus  dengan  cara  dimana  Allah  memberi 

penglihatan tentang makanan kepadanya. Pertama-tama ialah sebab  Petrus sedang lapar,

dan penglihatan tentang makanan pasti lebih mengena dalam kondisinya. Kedua perbedaan

antara makanan yang halal dan yang haram yaitu  problema utama antara orang Yahudi

dan  Non  Yahudi  (Kisah  Para  Rasul  11:1-3).  Allah  memakai   peraturan  yang  sudah

berabad-abad ini (Imamat 11) untuk memberi pelajaran rohani yang penting kepada Petrus.

Ketiga kembali kepada apa yang diajarkan Kristus kepada Petrus dan murid-murid lain saat 

ia  melayani  di  bumi  (Markus  7:1-23).  Barangkali  pada  saat  itu  Petrus  tidak  memahami

sepenuhnya apa yang dikatakan Yesus, namun  sekarang semuanya itu berhubungan satu

sama  lain.  Allah  tidak  hanya  mengubah  diet  Petrus,  namun   sebenarnya  Allah  ingin

memberitahukan bahwa dihadapan Allah,  baik orang Yahudi  maupun non Yahudi  sama-

sama  tidak  tahir.  Ini  berarti  bahwa  orang-orang  non-Yahudi  tidak  harus  menjadi  orang

Yahudi  supaya dapat  menjadi  orang Kristen.  Petrus berusaha menolak apa yang Tuhan

tunjukkan kepadanya, namun pada akhirnya dia tidak dapat menolak apa yang Tuhan suruh

kepadanya. sesudah  waktunya sudah tepat, maka ketiga orang utusan tiba di rumah dimana

Petrus menginap. Ketiga orang dari  Kaisarea itu sampai di  depan pintu tepat  pada saat

Petrus sedang memikirkan makna penglihatan itu. Roh menyuruh Petrus menemui ketiga

orang itu  dan berangkat  mengikuti  mereka.  Frasa  “Jangan Bimbang”  (Kisah  Para Rasul

10:20) itu berarti “Jangan membeda-bedakan” nanti kita akan menemui lagi frasa itu dalam

KIsah Para rasul 11:12. sekarang Petrus tidak lagi membeda-bedakan antara orang Yahudi

dengan non-Yahudi. Ayat 22 yaitu  berisikan tentang berita dari sipengutus ketiga orang

ini .

Ayat  23-33,  menunjukkan  suatu  kenyataan  bahwa  tembok  pmisah  antara  orang

Yahudi  dan Non Yahudi  telah diruntuhkan.  Kenyataan bahwa Petrus mengijinkan orang-

orang non-Yahudi tinggal bersama dengan dia. Petrus memilih enam orang Yahudi yang

percaya untuk mnyertai dia sebagai saksi (Kisah Para Rasul 11:12), tiga kali lebih banyak

dari tuntutan resmi. Perjalanan dari Yope ke Kaisarea yang berjarak 50 km itu paling tidak

memakan  waktu  dua  hari.  saat   Petrus  sampai  ia  mendapati  bahwa  Kornelius  telah

mengumpulkan sanak saudara dan teman-temanya untuk mendengarkan pesan kehidupan

itu (24) ia (Kornelius) menjadi berkat sebelu ia diselamatkan. Pada (ay 25) menunjukkan

bahwa jika Petrus mau meninggikan dirinya maka pada saat itu dia sangat mudh sekali

untuk melakukannya; namun  Petrus menyadari bahwa dirinya yaitu  hamba bukan selebriti,

sehingga di ayat 26, Petrus menegakkan Kornelius yang sedang menyembah itu dengan

berkata  “bangunlah  aku  hanya  manusia  saja”  kemudian  di  ayat  28  Petrus  menyatakan

bahwa ia tidak menganggap orang non-yahudi itu tidak tahir, hal itu pasti mengejutkan dan

menggembirakan  hati  para  pendengarnya.  Sebab  selama  berabad-abad  orang  yahudi,

berdasar  hukum Perjanjian Lama menganggap bahwa orang non-Yahudi  itu  njis  dan

tidak tahir, bahkan beberapa orang Yahudi menyebut orang non-Yahudi itu sebagai anjing.

Pada ayat 29, Petrus memberi  pertayaan “sekarang aku ingin tahu, apa sebabnya kamu

memanggil aku.” Kita mungkin mempunyai pertayaan untuk bagian ini, apakah Petrus tidak

tahu bahwa ia diundang ke sana untuk memberitakan Injil? Apakah ia lupa amanat dalam

Kisah Para Rasul 1:8 untuk pergi “sampai ke ujung bumi”? Sekarang ini kita dapat melihat

kembali pada peristiwa-peristiwa yang berkembang dalam gereja dan memahami apa yang

sedang dilakukan Allah, namun  mungkin tidak semudah itu seandainya kita hidup di tengah-

tengah peristiwa itu. Bahkan gereja Yerusalem mempertanyakan tindakan-tindakan Petrus

itu (Kisah Para Rasul 11:1-18), dan kemudian mengadakan konferensi untuk membicarakan

posisi orang-orang non-Yahudi di dalam Gereja (Kisah Para Rasul 15). 

Isi ayat 30-33 yaitu  dimana Kornelius menjelaskan tentang apa yang di telah alami,

kemudian ia memberitahu Petrus mengapa ia mengundangnya, dimana ia ingin mendengar

apa yang dipesankan Allah (Injil) kepada Petrus untuk disampaikan kepada Kornelius. Jadi

Kornelius mengundang Petrus bukan untuk memberi  kuliah agama Yahudi, namun  supaya

Petrus  mau menjelaskan  bagaimana  supaya  mereka  (Kornelius  dan  semua  orang  yang

bersama dia pada saat itu) dapat diselamatkan. Mereka bukan orang-orang Yahudi yang

ingin  meminta  kuliah  agama.  Mereka  yaitu   orang-orang  berdosa  yang  terhilang,  yang

memohon di beritahu bagaimana supaya dapat diselamatkan.

Selanjutnya  ayat  34-35,  Petrus  mengatakan  bahwa  dia  tahu  bahwa  Allah  tidak

membeda-bedakan orang. Dia sadar bahwa perbedaan antara makanan haram dan halal

merupakan  penerapan  manusia,  dan  bahwa  tidak  ada  bangsa  yang  dianggap  najis  di

hadapan Allah. Allah tidak membedakan orang, keselamatan yaitu  untuk semua orang dn

semua  orang  yang  percaya  kepada  Kristus  akan  diselamatkan,  tidak  pedui  apakah  dia

bangsa  Yahudia  atau  no-Yahudi.  dalam ayat.  Dalam ayat  36,  Petrus  memberitakan  Injil

kepada  Kornelius,  dengan menunjukkan  bahwa sekalipun  Allah  mengirimkan sabda-Nya

terhadap  Israel  terlebih  dahulu,  namun   Yesus  yaitu   benar-benar  Tuhan  untuk  semua

manusia. Ayat 37,38, yaitu  merupakan ringkasan singkat dari apa yang di beritakan Petrus

tentang pelayanan Yesus di Yudea dan Galilea, pengurapan-Nya sebagai Mesias saat  ia di

baptis, perbuatan-perbuatan baik-Nya, tindakan-tindakan-Nya menyembuhkan penyakit dan

mengusir setan. 39-43, Petrus menyimpulkan kisah kehidupan, kematian dan kebangkitan

Yesus Kristus. Kornelius dan teman-temanya sudah tahu mengenai kehidupan dan kematian

Kristus, sebab  perkara ini tidak terjadi di tempat terpencil (Kisah Para Rasul 26:26). Pada

umumnya, orang sudah banyak yang tahu tentang kehidupan dan pelayanan, dan kematian

Kristus, namun  hanya para rasul dan orang-orang percayalah yang menyaksikan kebangkitan-

Nya. Seperti dalam kotbah-kotbah sebelumnya, Petrus mnumpahkan kesalahan penyaliban

itu kepada para pemimpin yahudi (Kisah Para rasul 3:15; 4:10;5:30), demikian pula Stefanus

(Kisah Para rasul 7:52). Paulus juga memberi penekanan yang sama (1 Tesalonika 2:14-16).

sesudah   selesai  dengan  pengulangan  landasan  sejarah  dari  berita  Injil,  kematian  dan

kebangkitan Kristus, Petrus kemudian mengemukakan kabar baiknya: “Barangsiapa percaya

kepada-Nya” (Kisah Para Rasul 10:43, dan lihat 2:21). Para pendengarnya berpegang pada

kata “barangsiapa” dan mereka menerapkannya pada diri mereka sendiri. percaya kepada

Kristus  saja  untuk  diselamatkan  sehingga  mereka  mendapat  anugerah  keselamatan.

Selanjutnya  ayat  44-48  yaitu   menceritakan  dimana  Allah  Roh  Kudus  menyertai  atau

menguatkan pelayanan Petrus ini .  Roh Kudus memberi  kesaksian kepada keenam

orang Yahudi yang hadir disitu, bahwa orang-orang non-Yahudi itu benar-benar telah lahir

baru. Bagaimanapun juga keenam orang itu tidak tahu penglihatan yang dilihat Petrus dan

mereka baru mengerti bahwa sekarang orang-orang non-Yahudi mepunyai tempat berpijak

yang sama dengan orang Yahudi. Ini bukan berarti bahwa setiap orang yang baru percaya

memberi bukti keselamatannya dengan berbicara dalam bahasa roh, meskipun setiap orang

percaya  pasti  akan  memakai   lidahnya  untuk  memuliakan  Allah  (Roma  10:9-10).

Peristiwa yang terjadi di rumah Kornelius ini yaitu  peristiwa yang sejajar dengan peristiwa

Pentakosta: Roh yang sama turun kepada orang-orang Yahudi yang percaya itu, sekarang

turun  ke  atas  orang-orang non  Yahudi  (Kisah  Para  Rasul  11:15-17;15:7-9).  Tidak  heran

kalau orang-orang Yahudi itu tercengang-cengang!. Dengan terjadinya peristiwa ini, maka

transisi  dari  gereja  mula-mula  berakhirlah.  Orang-orang  percaya  diantara  orang  Yahudi,

Samaria, dan non-Yahudi, semuanya telah menerima Roh Allah dan dipersatukan di dalam

tubuh  Kristus  (Galatia  3:27,  1Korintus  12:13).  Orang-orang  non-Yahudi  ini  bukan

diselamatkan sebab  di baptis; namun  mereka di baptis sebab  mereka telah menunjukkan

bahwa mereka telah diselamatkan. Jika orang memakai  Kisah Para Rasul 2:38 untuk

mengajarkan keselamatan sebab  baptisan, atau memakai  Kisah Para Rasul 8:14-16

untuk mengajarkan keselamatan sebab  penumpangan tangan, itu berarti ia mengabaikan

sifat transisi dari program Allah. Oran-orang berdosa diselamatkan oleh iman; yaitu  prinsip

Allah  yang  tidak  pernah  berubah.  Pengalaman  Kornelius  dan  seisi  rumahnya  bahwa

baptisan itu bukanlah hal utama di dalam keselamatan. Terjadinya keselamatan yaitu  jika

seseorang  percaya  kepada  Kristus,  dan  sesudah   seseorang  diselamatkan  barulah  dia  di

baptis diatas pengakuan imannya kepada Kristus dan sesudah  itu dia dipersatukan dengan

sesama orang percaya di dalam gereja untuk melayani dan menyembah Allah.

Pasal  11,  yaitu  fasal  yang  singkat,  namun  Dr.  Lukas  juga  menuliskan  tentang

Kornelius disini, hal ini membuktikan betapa pentingnya berita pertobatan Kornelius dalam

kehidupan gereja mula-mula. Ayat 1-3, menceritakan tentang diterimanya Injil oleh orang-

orang bukan Yahudi, dan akhirnya sapai terdengar oleh para rasul dan orang-orang Kristen

Yahudi di Yudea. Tampaknya Petrus di panggil ke Yerusalem, dan beberapa orang Kristen

Yahudi berdebat dengan dia tentang kelayakan untuk memasuki persekutuan orang bukan

Yahudi untuk makan bersama mereka. Mungkin ungkapan, orang-orang yang tidak bersunat,

memiliki  arti  yang agak berbeda dengan ungkapan yang sama dalam Kisah Para Rasul


10:45.  saat   orang-orang  Kristen  Yahudi  yang berada di  Yerusalem sedang membahas

makna dari keselamatan orang-orang bukan Yahudi,  muncullah golongan yang kemudian

berpendapat  bahwa  orang-orang  bukan  Yahudi  harus  menaati  hukum  Yahudi  dahulu

sebelum  dapat  diselamatkan  (15:1).  Golongan  konservatif  ini  mengecam  Petrus  sebab

mereka beranggapan bahwa seorang Yahudi yang makan bersama dengan orang bukan

Yahudi  sebenarnya  sedang  mengesampingkan  kebiasaan  orang  Yahudi,  dan  dengan

demikian dia bukan orang Yahudi lagi. Mereka beranggapan jika seseorang yang percaya

harus mengikuti kebiasaan Yahudi. 

Ayat  4-15,  yaitu   tanggapan  Petrus  atas  orang-orang  yang  berselisih  pendapat

dengannya. Petrus mengisahkan kepada Gereja di Yerusalem pengalaman penglihatannya

tentang  kain  besar  yang  turun  dari  langit,  kunjungannya  ke  Kaisarea,  dan  turunya  Roh

Kudus atas orang-orang bukan Yahudi seperti halnya atas orang-orang Yahudi pada hari

pentakosta (ay 15). Disinggungnya apa yang dikatakan Tuhan Yesus: “Yohanes membaptis

dengan air, namun  kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” mempunyai arti bahwa peristiwa

yang terjadi di rumah Kornelius itu yaitu  merupakan karunia Roh Kudus yang ketiga. Yang

pertama yaitu  kepada Gereja Yahudi yang ada di Yerusalem pada hari pentakosta (psl 2),

yang kedua yaitu  kepada orang-orang Samaria yang percaya (8:17); dan sekarang yang

ketiga yaitu  kepada orang-orang bukan Yahudi. Tidak diragukan lagi bahwa pengalaman

Petrus di Samaria mempersiapkan dirinya untuk pelayanan kepada orang bukan Yahudi ini.

Selanjutnya pada ayat 17 Petrus mengatakan bahwa Allah memberi  karunia-Nya kepada

mereka yaitu  sama dengan karunia-Nya yang diberikan kepada Rasul-rasul. Jadi menolak

untuk membaptis orang bukan Yahudi akan berarti  menolak karya Allah yang terjadi atas

mereka. Selanjutnya ayat 18, tampaknya bahwa penjelasan Petrus telah memuaskan Partai

Sunat untuk saat itu. namun  masalah status orang Kristen bukan Yahudi di dalam gereja

akan segera diperdebatkan yang juga menimbulkan persoalan yang besar. 

9. Pendirian Gereja Orang Bukan Yahudi di Antiokia (11:19-30)

Bagian  ini  menandai  suatu  tahap  baru  di  dalam  perluasan  gereja  dari  suatu

persekutuan Yahudi di  Yerusalem menjadi  suatu masyarakat  yang universal.  Sebelumnya

Lukas, mengisahkan orang-orang Samaria di dalam gereja, serta pertobatan satu keluarga

Kornelius yang bukan Yahudi.  Disini  dia melukiskan permulaan dari  satu jemaat pertama

bukan Yahudi yang independen di Antiokia, yang akan menjadi “gereja pusat” bagi seluruh

misi untuk orang bukan Yahudi di Asia dan Eropa. Narasi ini merangkum rangkaian peristiwa

dalam 8:4 dan penganyiayaan Saulus.

Ayat 19, daerah Fenesia, terletak di sekitar Laut Tengah dan kota Tirus dan Sidon

ada di wilayah ini. Siprus yaitu  sebuah pulau tengah laut tengah, banyak orang Yahudi

tinggal di tempat itu. Antiokia yaitu  kota Antiokia di daerah Siria yang terletak dio bagian

utara Palestina (jadi bukan Antiokia Psidia). Kota Antiokia ini yaitu  kota yang ketiga dari

seluruh  pemerintahan  Romawi,  berpenduduk  kurang  lebih  500.000  orang,  kota  ini  juga

tergolong  sebagai  kota  terbesar  di  seluruh  kekaisaran  Romawi,  sesudah  Roma  dan

Aleksandria. Kemegahan gedung-gedungnya membuat kota itu dijuluki sebagai “Kota Emas,

Ratu Timur.”  Jalan utamanya membentang lebih dari  6 km,  dilapisi  batu  pualam,  dan di

kedua  pinggirnya  berjejer  tiang-tiang  batu  pualam.  Antiokia  yaitu   satu-satunya  kota  di

dunia purba yang pada waktu malam diterangi oleh lampu-lampu. Sebagai kota pelabuhan

yang sibuk dan pusat  kemewahan dan budaya,  Antiokia  menjadi  daya tarik  bagi  segala

macam  manusia,  termasuk  kepada  para  pensiunan  pejabat  Romawi  yang  kaya  yang

menghabiskan waktunya dengan mengobrol  di  kolam-kolam pemandian atau bertaruh di

arena  perlombaan.  Dengan  besarnya  jumlah  penduduk  cosmopolitan  dan  besarnya

kekuasaan perdagangan dan politik, Antiokia memberi kesempatan yang luar biasa kepada

gereja untuk kegiatan penginjilan. saat  orang-orang percaya yang teranyiaya itu tiba di

Antiokia, mereka tidak terintimidasi oleh kemegahan gedung-gedungnya atau kesombongan

penduduknya.  Firman  Allah  ada  di  bibir  mereka  dan  tangan  Allah  menyertai  kesaksian

mereka, dan “sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.” Itu yaitu 

pekerjaan  kasih  karunia  Allah  yang  menggetarkan  hati.  Namun  diakhir  ayat  19  ini

memberitahukan  bahwa  mereka  memberitakan  Injil  masih  hanya  kepada  orang-orang

Yahudi saja. 

Ayat 20, mengatakan bahwa beberapa orang percaya datang dari pulau Siprus dan

Kirene di Afrika Utara pergi ke Antiokia dan melancarkan Injil kea rah yang baru. Orang-

orang Yunani  dalam konteks  ini  mengacu  kepada orang  Yunani  asli  dan bukan kepada

orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Hal ini sangat jelas sekali dimana bahwa Injil yang


diberitakan kepada mereka yaitu  dimana Yesus disebut  sebagai Tuhan.  Bukan seperti

kepada orang Yahudi, dimana Yesus disebut sebagai Mesias. Konsep bahwa Yesus yaitu 

Mesias  merupakan sebuah konsep Yahudi  yang  tidak  akan  dipahami  oleh  orang  bukan

Yahudi yang tidak memiliki latar belakang Yahudi. Ayat 21, disebutkan bahwa Tangan Tuhan

menyertai  mereka  dan  banyak orang  menjadi  percaya,  perkataan  ini  yaitu   merupakan

ekspresi kuasa Allah yang sering dipakai dalam PL (Kel 9:3; 1Sam 5:6; Maz80:18; Luk 1:66).

Ayat  22-23,  menceritakan  sesudah  gereja  Yerusalem mengetahui  apa yang sudah

terjadi di Antiokia, dimana banyak orang yang sudah menerima Injil dan diselamatkan, maka

gereja Yerusalem mengirimkan Barnabas untuk mengawasi dan meresmikan gereja baru itu.

Barnabas tampak seprti namanya mempunyai karunia untuk memberi  semangat seperti

namanya  kepada  orang-orang  Kristen  baru,  dan  dia  menasehati  orang-orang  itu  agar

mereka tetap setia dan tekun beriman kepada Tuhan. Kata tetap setia kepada Tuhan artinya

tetap tinggal  di  dalam Tuhan,  itu  berarti  bukan  hanya  sementara  saja  namun   tetap terus

menerus tinggal bersama Tuhan. Hal semaca ini hanya dapat dialami oleh orang-orang yang

percaya  kepada-Nya.  Ayat  24-26,  menunjukkan  profil  kerohanian  Barnabas,  dia  yaitu 

orang  Kristen  yang  pantas  diteladani.  Ia  penuh  Roh  Kudus  dan  hal  ini  menjelaskan

keefektifan  pelayanannya.  Bahwa  ia  yaitu   orang  yang  beriman  terbukti  dari  caranya

memberi   dorongan  kepada  gereja  dan  juga  membesarkan  hati  Saulus.  Orang-orang

Kristen  baru  dan  gereja-gereja  baru  memerlukan  orang-orang  seperti  Barnabas  untuk

memberi   dorongan  kepada  mereka  dalam  pertumbuhan  dan  pelayanan  mereka.

Bagaimana cara  Barnabas memberi   dorongan kepada orang-orang  non-Yahudi  yang

baru percaya ini?. Pertama-tama, Ia bersukacita atas apa yang dilihatnya. Berbakti bersama-

sama orang-orang non-Yahudi yaitu  pengalaman baru baginya, namun  ia menerima hal itu

secara positif dan tidak mencari-cari kesalahan untuk di kritik. Itu yaitu  pekerjaan Allah,

dan Barnabas bersyukur atas kasih karunia Allah. Pada waktu ia mengajarkan Firman Allah

kepada orang-orang itu, ia menekankan penyerahan hati secara total.  Sehingga ada dua

hasil  pelayanan Barnabas di  Antiokia.  Pertama kesaksian gereja  memberi  dmpak begitu

besar  kepada kota  itu,  sehingga “sejumlah orang dibaa  kepada Tuhan”  (11:24).  Apabila

orang  kudus  berpijak  kepada  Firman  Allah,  mereka  akan  memiliki  kesaksian  yang  kuat

kepada  orang-orang  terhilang,  dan  akan  terjadi  keseimbangan  di  dalam  gereja  antara

pemuridan  dan  pemberitaan  Injil,  dan  penyembahan  dan  kesaksian.  Kedua  untuk

pertumbuhan  gereja  Barnabas  memerlukan  pertolongan;  jadi  ia  pergi  ke  Tarsus  dan

memanggil  Saulus.  namun   mengapa  ia  pergi  begitu  jauh  hanya  untuk  mencari  seorng

asisten? Mengapa ia tidak pergi ke Yerusalem untuk mengajak Nikolaus, diaken yng berasal

dari Antiokia (Kisah Para Rasul 6:5)? sebab  Barnabas tahu bahwa Allah telah menetapkan

Saulus  untuk  melayani  orang-orang  non-Yahudi  (9:15;22:21;26:17).  Kita  ingat  kembali

bahwa Barnabas berteman dengan Saulus di Yerusalem (9:26-27), dan kemungkinan besar

kedua orang itu sering membicarakan tentang panggilan khusus Allah terhadap Saulus. Apa

yang  dilakukan  oleh  Barnabas  kepada  Saulus  perlu  di  praktekkan  di  gereja-gereja  kita

sekarang. Orang-orang percaya yang sudah dewasa rohani harus memberi  dorongan

kepada orang-orang lain di dalam pelayanan mereka kepada Tuhan. Salah satu kebijakan

D.L.  Moody  ialah  bahwa  setiap  orang  Kristen  baru  di  beri  tugas  segera  sesudah

pertobatannya.  Mula-mula tugas itu  hanya  membagikan buku  nyanyian atau  menyambut

tamu,  atau hal  yang lain,  yang jelas setiap petobat  baru harus di  beri  suatu kesibukan.

Hebatnya pengaruh jemaat Antiokia ini, sampai akhirnya yang tadinya orng-orang di Antiokia

yang tergolong sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak memperhatikan orang lain

akhirnya menyoroti  kehidupan jemaat Tuhan disana, dan oleh sebab  itu disanalah yang

pertama kalinya sebutan Kristen diterapkan kepada murid-murid Kristus. Dalam bahasa latin

akhiran “en” berarti “anggota kelompok.” Sebagai ejekan beberapa orang penduduk Antiokia

yang kafir menghubungkan akhiran latin ini dengan nama Ibrani “Kristus” dan lahirlah kata

baru Kristen. Kata ini hanya ditemukan sebanyak lima kali dalam seluruh Perjanjian Baru

Bahasa Indonesia: Kisah Para Rasul 11:26 dan 26:28, 1Korintus 9:5; 2Korintus 12:2; serta

1Petrus 4:16. sayangnya sesudah berabad-abad, kata Kristen ini telah kehilangan maknanya

yang agun, dan tidak lagi berarti “menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan” (Kisah Para

Rasul  11:21-23).  Banyak  orang  yang  tidak  pernah  dilahirkan  kembali  mengaku  sebagai

orang “Kristen”  hanya sebab  mereka merasa bahwa mereka bukan orang kafir.  Namun

demikian  mungkin  mereka  menjadi  anggota  suatu  gereja,  menghadiri  kebaktian  secara

teratur,  bahkan  menyumbang  untuk  pelayanan  gereja!  namun   untuk  berubah  dari  orang

berdosa menjadi anak Allah di butuhkan pertobatan, bukan masalah uang, atau kerajinan

atau melakukan yang lain-lain. 

69


Ayat 27 menunjukkan betapa pentingnya gereja di Antiokia, hal itu dilukiskan oleh

pelayanan  yang  dilakukan  gereja  pusat  di  Yerusalem saat   terjadi  bencana  kelaparan.

Dalam ayat ini disebutkan ada beberapa nabi datang untuk dari Yerusalem ke Antiokia. Kita

harus mengingat bahwa Fondasi bagi gereja yaitu  diletakkan oleh para rasul dan para nabi

(Efesus  2:20),  dan  akhirnya  keduanya menghilang  dari  panggung,  mengapa sebab  kita

tidak akan terus menerus membuat pondasi! Para nabi Perjanjian Baru menerima berita dari

Tuhan, melalui perantaraan Roh Kudus, dan menyampaikan berita itu kepada orang banyak.

Para nabi Perjanjian Baru menerima pesan langsung dari Tuhan, namun  pada masa kini para

hamba Tuhan dan guru menerima pesan melalui kitab suci. Sekarang kita memiliki Firman

Tuhan yang lengkap yang digunakan oleh Roh Kudus untuk memimpin dan mengajar kita.

1Korintus  12:10  menghubungkan  bersama  karunia  bernubuat,  membedakan  bermacam-

macam roh, berkata-kata dengan bahasa roh, dan menafsirkan bahasa roh. Tentu saja Roh

Kudus  berdaulat  dan  Ia  memberi   tiap-tiap  orang  secara  khusus,  seperti  yang

dikehendaki-Nya (1Korintus 12:11), namun  dengan mundurnya para rasul dan para nabi dari

panggung,  dan  dengan  tuntasnya  pewahuan  Firman  itu  oleh  Allah  dalam  Alkitab,

menyiratkan bahwa telah terjadi perubahan.

Kemudian ayat 28, menceritakan bahwa salah seorang dari nabi yang datang dari

Yerusalem itu yaitu  bernama Agabus, dia mengatakan pesan Tuhan bahwa seluruh dunia

akan di timpa bahaya kelaparan besar dan hal itu benar-benar terjadi pada pemerintahan

Kaisar  Klaudius  (tahun  41-54).  Agabus  menyampaikan  pesan  itu  kepada  orang-orang

percaya di Antiokia, dan kemudian Dr. Lukas mencatat pada ayat 29 bahwa murid-murid

memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan dan menolong orang-orang Kristen di

Yudea. Tujuan dari  nubuat yang benar bukanlah untuk memuaskan keingin tahuan para

pendengarnya  melainkan  untuk  menggerakkan  hati  kita  untuk  melakukan  keinginan  hati

Tuhan.

Selanjutnya pada ayat 30, dijelaskan bahwa hal itu (memberi sumbangan), mereka

lakukan  juga  kepada  para  penatua  dengan  perantaraan  Barnabas  dan  Saulus.  Kata

“penatua-penatua” di Kisah Para Rasul 11:30 ini,  tidak pernah digunakan sebelumnya di

dalam kitab ini, kecuali yang berkenaan dengan para pemuka Yahudi (tua-tua – Kisah Para

Rasul 4:5, 23; 6:12). Di dalam gereja, penatua-penatua ini yaitu  orng-orang percaya yang

sudah dewasa yang memiliki wawasan mengenai pelayanan (1 Petrus 5:1 ; 2Yohanes 1).

Apabila kita membandingkan Kisah Para Rasul 20:17 dan 28 dengan Titus 1:5 dan 7, kita

akan melihat bahwa penatua dan penilik yaitu  jabatan yang sama. Penatua dan penilik

adalh gembala-gembala jemaat yang di Bantu oleh para diaken, dan persyaratan dari kedua

jabatan itu di paparkan di dalam 1Timotius 3.

10. Penganyiayaan Oleh Herodes Agripa (12:1-25)

Masyarakat Kristen di Yerusalem sejak semula sudah menghadapi permusuhan dari

para  pemimpin  religius  Yahudi,  namun   orang-orang  Kristen  ini  di  senangi  oleh  sebagian

masyarakat. Penganyiayaan hebat telah muncul menimpa Stefanus dan golongan Helenistis

di  bawah  kepemimpinan  Saulus,  sekarang  untuk  pertama  kalinya  Lukas  mencatat

penganyiayaan yang dilakukan oleh para pejabat di Palestina. Bukan oleh para pemimpin

Romawi, melainkan oleh seorang raja Yahudi. Raja Herodes, yang dalam 12:1 ini yaitu 

Herodes Agripa I, cucu dari Herodes Agung yang memerintahkan untuk membantai anak-

anak di Betlehem. Ia juga keponakan Herodes Antipas, yang menyuruh memenggal kepala

Yohanes Pembaptis. Jadi keluarga Herodes ini yaitu  keluarga yang jahat dan pembunuh,

keluarga Herodes di  benci oleh orang Yahudi,  yang merasa marah sebab  di jajah orang

Edom.  Tentu  saja  Herodes  tahu  hal  ini;  itu  sebabnya  ia  menganyiaya  gereja  untuk

menyakinkan  orang  Yahudi  akan  kesetiaannya  kepada  tradisi  leluhur.  Sekarang  sesudah 

orang-orang non-Yahudi secara terbuka menjadi bagian dari gereja, maka rencana Herodes

itu  makin  disetujui  oleh  orang-orang  Yahudi  Nasionalis,  yang  tidak  bersedia  menerima

“orang-orang kafir”.

Kemudian  pada  ayat  2,  dikatakan  bahwa  Herodes  menyuruh  untuk  membunuh

Yakobus saudara Yohanes,  yang kemudian di penggal kepalannya. Peristiwa ini  menjadi

peristiwa  yang  pertama  dimana  seorang  Rasul  mati  sebagai  martir.  Apabila  anda

merenungkan kematian  Yakobus dari  Matius  20:22-28,  ada  beberapa  hal  yang  penting.

Yakobus dan Yohanes bersama ibu mereka, telah meminta kedudukan (tahkta), namun  Yesus

menjelaskan bahwa tidak akan ada kemuliaan tanpa penderitaan. Yesus bertanya kepada

mereka, “dapatkah kamu meminum cawan yang harus kuminum dan dibptis dengan yang

harus ku terima?” (Matius 20:22; lihat juga Markus 10:38). Dengan berani mereka menjawab,


“Kami  dapat.”  Tentu  saja  mereka  tidak  tahu  apa  yang mereka  ucapkan,  namun   akhirnya

mereka  mengetahui  harga  mahal  yang  harus  mereka  bayar  untuk  mendapatkan  takhta

kemuliaan. 

Ayat  3,  memberitahukan  dimana  saat   Herodes  Agripa  I,  melihat  bahwa  hal  itu

menyenangkan hati  orang Yahudi,  sehingga ia  melanjutkan perbuatanya untuk menahan

Petrus. Ayat 4 yaitu  berbicara tentang pemenjaraan Petrus yang di jaga oleh empat regu,

masing-masing empat orang. saat  terakhir pemenjaraan Petrus yang sebelum ini (5:19)

Petrus keluar dari penjara secara misterius dan mungkin Herodes suah tahu akan hal itu,

oleh  sebab   itu,  Herodes  tidak  mau  hal  itu  terulang  kembali.  Selanjutnya  ayat  5,

memberitahukan bahwa ternyata jemaat senantiasa bertekun untuk mendoakan Petrus. Ini

memberitahukan pentingnya  doa.  Seorang  pengkotbah  Puritan,  Thomas Watson  berkata

bahwa “Doalah yang menjemput malaikat itu” (malaikat yang melepaskan Petrus). 

Ayat 6-11, menjelaskan bagaimana Petrus dilepaskan oleh malaikat itu dari penjara.

Dalam kisah ini terlihat bagaimana ketenangan Petrus menghadai pemenjaraan itu, dia bisa

tidur dengan nyenyaknya, padahal harinya sudah dekt dimana dia akan dihakimi dan akan di

eksekusi. sebab  nyenyaknya Petrus tidur di alam penjara maka malakat yang dating itupun

harus  menepuk  dia  untuk  membangunkannya.  Mengapa  Petrus  dapat  mengalami

pemenjaraanya  dengan tenang,  jawabannya  yaitu   sebab   banyak orang  percaya  yang

mendoakannya.  Dalam  ketentraman  Petrus,  tiba-tiba  malaikat  dating  kepadanya,  ini

menunjukkan  cara  kerja  malaikat  yang  sangat  cepat.  Malaikat  itu  membawa  terang  dn

kebebasan di dalam ruang penjara, namun  para penjaga itu sama sekali tidak menyadari apa

yang  terjadi.  Petrus  menuruti  apa  yang  dikatakan  oleh  malaikat  itu,  namun   bagi  Petrus

peristiwa itu seolah-olah bukan peristiwa yang benar-benar terjadi. Dia berpikir bahwa hal itu

hanya  seperti  penglihatan  saja.  Malaikat  itu  menyuruh  Petrus  untuk  mengenakan  ikat

pinggangnya dan mengenakan sepatunya. Ini yaitu  hal biasa yang harus dilakukan pada

saat mukjizat sedang berlangsung! namun  Allah sering mengaitkan mukjizat dengan hal-hal

yang biasa untuk membuat kita tetap seimbang. Yesus melipat gandakan roti dan ikan, namun 

kemudian  menyruh  murid-murid-Nya  mengumpulkan  sisa-sisa  makanan  itu.  Yesus

membangkitkan anak Yaitus dari kematian, dan menyuruh orangtuanya memberinya makan.

Bahkan di dalam mukjizatpun Allah selalu praktis. Hanya Allah yang dapat melakukan hal-

hal yang luar biasa. Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian, namun  orang-orang harus

menggulingkan batu penutup kubur. Malaikat yang melepaskan rantai Petrus itu tentu saja

dapat memakaikan sepatu di kaki Petrus, namun  ia menyuruh Petrus melakukannya sendiri.

Allah tidak pernah melakukan mukjizat yang tidak perlu. Petrus harus membungkuk sebelum

ia dapat  berjalan.  Ini  satu  pelajaran yang baik  mengenai  kerendahan hati  dan ketaatan,

bahkan  sejak  saat  itu  setiap  kali  Petrus  mengenakan  sepatu  memungkinkan  dia  untuk

mengingat  akan mukjizat  yang terjadi  di  penjara itu.  Pembebasan itu  terjadi  pada masa

Perayaan Paskah, dimana pada masa itu orang Yahudi memperingati pembebasan mereka

dari  Mesir.  Kata menyelamatkan dalam ayat 11,  yaitu  kata yang sama digunakan oleh

Stefanus saat  ia berbicara mengenai pembebasan orang Yahudi (Kisah Para Rasul 7:34).

Sekali lagi Petrus mengalami pembebasan sebagai jawaban atas doa-doa umat Allah. 

Ayat 12-16, mnceritakan dimana sesudah  tugas malaikat itu selesai (membawa Petrus

keluar  dari  penjara)  maka sekarang Petrus harus memakai  pikirannya sendiri  untuk

mengambil langkah selanjutnya. Dia mengetahui bahwa sebab  doa-doa umat Allahlah maka

dia dibebaskan maka dia memutuskan untuk pergi memberitahukan kepada umat Allah yang

berdoa itu bahwa dia telah di besakan Tuhan lewat perantaraan malaikat-Nya. Petrus pergi

ke persekutuan doa di rumah Maria. Lebih dari itu ia ingin melaporkan kabar baik bahwa

Allah telah menjawab doa-doa mereka.  Jadi  Petrus pergi  ke rumah Maria,  ibu Yohanes

Markus.

Jika kita mengingat bahwa jemaat itu berdoa dengan sungguh-sunguh, mereka berdoa siang

malam dan  topik  doa  mereka  khusus  kepada  pembebasan  Petrus,  maka  adegan  yang

digambarkan disini agak menggelikan. Jawaban atas doa-doa mereka berdiri di depan pintu,

namun  mereka tidak mempunyai iman yang cukup untuk membuka pintu dan mempersilahkan

dia  masuk.  Hal  itu  mungkin  terjadi  sebab   ketakutan  mereka  kepada  prajurit  Herodes.

Mereka takut jangan-jangan yang mengetuk itu sebenarnya yaitu  prajurit  Herodes yang

mau menangkapi mereka. Perlu keberanian bagi Rode (Mawar) untuk pergi ke pintu; namun 

betapa  terkejutnya  dia  saat   mengenali  bahwa  suara  yang  mengetuk  itu  yaitu   suara

Petrus! Ia begitu terpesona sehingga lupa membuka pintu! Jadi Petrus terus mengetuk pintu,

sementara orang-orang percaya di dalam persekutuan doa itu berunding untuk mengambil

keputusan tentang apa yang harus mereka lakukan! Dan semakin lama Petrus berdiri  di

depan pintu,  semakin berbahaya pula  situasinya.  Pernyataan,  “itu malaikatnya !”  (ay 15)

menunjukkan kepercayaan mereka terhadap malaikat-malaikat penjaga (Matius 18:10; Ibrani

1:14).  namun   mungkin  sebab   kebingungan  mereka  sehingga  mereka  lupa,  bahwa

seandainya  itu  malaikat  maka  malaikat  itu  tak  perlu  mengetuk  pintu,  dia  bisa  langsung

masuk tanpa mengetuk pintu berkali-kali. Di ayat 16, di sebutkan bahwa mereka akhirnya

membuka pinta dan akhirnya mereka tercengang-cengang. Kata mereka disini mempunyai

pengertian  secara  bersama.  Jadi  akhirnya  mereka  memutuskan  untuk  membuka  pintu

secara bersama-sama, yang siap menghadapi apapun yang akan terjadi di balik pintu itu.

namun   ternyata  apa  yang  dikatakan  Rode  itu  yaitu   sungguh  benar.  sesudah   mereka

membuka  pintu  rupanya  mereka  semua  orang  berbicara  secara  bersama-sama  (17)

sehingga  Petrus  harus  memberi  isyarat  supaya  mereka  diam.  Dan  dengan  cepat  ia

menceritakan tentang mukjizat yang baru saja dialaminya, dan tentu saja ia sangat berterima

kasih atas dukungan doa mereka. Ia menyuruh mereka memberi  tahu Yakobus saudara

Tuhan, yang menjadi pimpinan jemaat Yerusalem (Kisah Para Rasul 15:13; Matius 13:55;

Galatia 1:19). Yakobus ini juga yang menulis surat Yakobus. sesudah  Petrus menjelaskan

apa  yang  telah  dia  alami  dia  pergi  meninggalkan  persekutuan  itu,  namun   kita  tidk  tahu

kemana ia pergi. 1Korintus 9:5 memberitahu kita bahwa Petrus dan istrinya mengadakan

perjalanan  pelayanan,  dan  1  Korintus  1:12  menyiratkan  bahwa  ia  mengunjungi  jemaat

Korintus.  Tidak  ada  bukti  di  dalam  Alkitab  bahwa  Petrus  mengunjungi  Roma.  Bahkan

mendirikan gereja Roma. Jika seandainya Petrus sudah melayani disana maka Paulus tidak

akan pergi kesana, sebab  kebijkannya ialah bahwa ia tidak akan melayani di tempat yang

sudah  di  layani  oleh  rasul  lain  (Roma  15:  18-22).  Lagi  pula  Paulus  tidak  pernah

menyinggung mengenai Petrus dalam suratnya kepada jemaat Roma.

Ayat  18-23,  menceritakan  apa  yang  terjadi  kepada  para  penjaga  penjara,  yang

menjaga  Petrus  itu,  kemudian  dianjutkan  dengan  tindakan  dan  Herodes  Agripa  kepada

mereka.  Dan  diakhiri  tentang  berita  kematian  Herodes  Agripa  I.  Berkenaan  dengan

hilangnya Petrus dari penjara mungkin kita akan bertanya-tanya “apa yang terjadi dengan

para pengawal penjara dan Herodes” Kita tidak tahu jam berapa malaikat itu membebaskan

Petrus,  namun   pada  waktu  penjaga  berikutnya  datang  ke  dalam  penjara  itu,  coba  kita

bayangkan bagaimana pikiran mereka saat  mendapati bahwa para penjaga itu (penjaga

sebelumnya)  masih  ada  disana  namun   narapidanya  sendiri  sudah hilang!  saat   penjaga

berikutnya membangunkan penjaga sebelumnya, pasti hal itu sangat mengejutkan mereka!

Jika penjaga sebelumnya sudah bangun dan menyadari apa yang terjadi, pastilah mereka

mendapat kesulitan untuk menjelaskan situasi itu kepada penjaga yang baru. Bagaimana

mungkin seorang narapidana yang dirantai dapat melarikan diri pada hal ada empat orang

penjaga  dan  semua  pintu  terkunci?

Apabila seorang penjaga membiarkan narapidana melarikan diri,  undang-undang Romawi

menuntut penjaga itu menerima hukuman yang sama dengan narapidana yang melarikan diri

itu,  sekalipun itu  hukuman mati  (Kisah Para Rasul  16:27 dan 27:42).  Dalam pengadilan

Herodes, hokum ini tidak di berlakukan dengan ketat, sehingga raja tidak harus membunuh

para penjaga; namun  dasar Herodes, ia melakukannya juga. Akhirnya ia membunuh empat

orang penjga itu dan dengan harapan agar orang Yahudi merasa lebih senang.

Selanjutnya kita melihat dan akan sampai kepada kesimpulan bahwa orang benar

akhirnya selamat, lalu orang fasik yang menjadi binasa, hal ini terlihat jelas dalam peristiwa

kematian  Herodes  Agripa  I  ini.  sejarawan  Yahudi  yang  paling  terkenal  yang  bernama

Yosephus mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi dalam suatu festival untuk menghormati

kaisar  Klaudius,  dan  pada  saat  itu  raja  memakai   busana  perak  yang  indh  untuk

menghormati peristiwa. Kita tidak tahu apa yang dikatakan oleh Herodes dalam pidatonya,

namun   kita  tahu  alasan  dari  pidatonya;  ia  ingin  membuat  rakyatnya  terkagum-kagum

kepadanya. Dan itulah yang terjadi! Mereka mempermainkan ego Herodes, dan mengatakan

kepadannya bahwa ia yaitu  allah, dan ia sangat senang disebut demikian. namun  ia tidak

memberi   kemuliaan  kepada  Tuhan,  jadi  seluruh  peristiwa  ini  semata-mata  yaitu 

penyembahan berhala. Jadi bukanya Petrus yang akhirnya dibunuh oleh Herodes Agripa I,

namun   malah  Herodeslah  yang  dibunuh oleh  Allahnya  Petrus.  Menurut  Yosefus  Herodes

mengalami kejang perut dan meninggal lima hari kemudian. Hal itu terjadi pada tahun 44.

Kemudian ayat 24, menjelaskan dimana sesudah  salah satu musuh Allah itu (Herodes) telah

di  lenyapkan  maka  Firman  Allah  semakin  meluas.  Kemudian  ayat  25,  memberitahukan

bahwa Barnabas dan Saulus pergi ke Yerusalem untuk mengantar persembahan kasih yang

di titipkan jemaat Antiokia (11:30) bagi jemaat Yerusalem. Selama berada di Yerusalem,

mungkin mereka menginap di rumah Markus dan kembali ke Antiokia sesudah  menyelesaikan

tugasnya. Mereka dapat membawa Markus sebagai teman sekerja dalam perjalanan misi

pertama yang dimulai dari Antiokia, sebab  Markus ada pada saat itu.

11. Perluasan Gereja di Asia Kecil dan Eropa (13:1-21:17)

Pasal 13 membawa kita kebagian separuh kedua dari kitab Kisah Para Rasul. Di bagian separuh

pertama, Yerusalem merupakan pust cerita, dan tema utamanya yaitu  perluasan gereja dari

Yerusalem  ke  seluruh  Palestina.  Sekarang  Yerusalem  terdesak  ke  belakang  dan  Antiokia

menjadi pusat cerita, sebab  Antiokia menyokong perluasan gereja di Asia dan Eropa. Perluasan

ini  dilaksanakan dengan tig perjalanan misi  oleh Paulus,  masing-masing dimulai dn iakhiri  di

Antiokia.

a. Misi Pertama: Galatia (Kisah Para Rasul 13:1-14:28)

Perjalanan misi yang pertama mengantarkan Injil  dari Antiokia ke Siprus dan kota-kota di

bagian selatan Propinsi Romawi yang bernama Galatia. Ayat 1 memberitahukan, bahwa di

gereja Antiokia ada banyak orang Kristen yang terkemuka mereka disebut sebagai Nabi dan

ada juga yang menjadi pengajar. Kata Nabi (προφηται) yaitu  orang yang memiliki karunia

untuk  mengetahui  kehendak  Allah  melalui  hubungan  supernatural.  sedang   Pengajar

yaitu  orang-orang yang mempunyai karunia untuk menafsirkan Alkitab dan mengajarkan

kepada orang lain. Di dalam ayat 1 ini juga kita menemukan beberapa nama yang menjdi

tokoh terkemuka dalam jemaat  Antiokia antara lain:  Niger,  adalh sebuah kata  latin  yang

berarti hitam, disini dipakai sebagai suatu nama panggilan. Tampaknya itu melukiskan warna

kulit Simeon yang agak gelap dan menunjukkan bahwa ia berasal dari Afrika. Dia mungkin

yaitu  Simon orang kirene yang disebutkan dalam Markus 15:21 sebagai orang yang ikut

memikul salib Yesus. Menahem yaitu  seorang yang anak angkat pada keluarga Antipas

(jadi dia hampir seusia dengan Herodes Antipas yang memerintah Galilea dan Perea dari

tahun 4 M-39 M.

Kemudian ayat 2, dijelaskan bahwa di satu saat , dimana jemaat Antiokia sedang

beribadah dan brpuasa kepada Tuhan. Roh Kudus berkata “Khususkanlah Barnabas dan

Saulus  bagi-Ku  untuk  tugas  yng  telah  ku  tentukan  bagi  mereka.”  Ayat  ini  menunjukkan

bahwa bukan hanya nabi-nabi dan para pengajar  yang berpuasa namun   jemaat  juga ikut

berpuasa. Kata beribadh yang dipaki  dalam ayat ini  mempunyai  arti  persekutuan pribadi

dengan Allah, atau juga penyembahan kelompok kepada Allah. Puasa mereka tidk sama

dengan  Asketikisme  (  yang  ingin  melepaskan  roh  dari  materi  yang  jahat,  dengan  cara

menyiksa diri). Mereka berpuasa bukan untuk hal itu, namun  hanya untuk menerima berkat

kuasa Allah. Dengan tujuan demikianlah mereka berpuasa untuk berdoa dan dengan segenp

hti dn jiwa. Perkataan Roh Kudus kepada jemaat itu mungkin di dengar oleh seorangn nabi

yang ada disana pada waktu itu. Dan perkataan Roh tentang tugas yang Ku tentukan yang

dikatakan oleh Roh itu yaitu  menunjuk kepada pemberitaan Injil keluar dari tempat itu (Misi

keluar negeri)

Ayat 3 berbicara tentang doa pengutusan oleh gereja Antiokia kepada Saulus dan

Barnabas. Dan sesudah  itu mereka membiarkan keduanya pergi mempunyi arti melepaskan.

Jadi jemaat Antiokia menyerahkan Barnabs dan Saulus untuk menjdi Missionaris sebab  taat

kepada  perintah  Roh  Kudus,  padahal  kedua  orang  itu  yaitu   orang  yang  mempunyai

peranan penting untuk pertumbuhan jemaat itu sendiri.

Ayat 4-5. kata yang penting kita ingat dalam ayat ini yaitu  Disuruh Roh Kudus, pada

ayat sebelumnya di sebutkan bahwa Roh Kudus menyuruh jemaat Antiokia mengkhususkn

Barnabas dan Saulus, dn pada ayat ini  Roh Kudus melanjutkan apa yang Ia kehendaki,

pertma-tama mereka harus berangkat ke Seleukia dn selnjutnya. Dlam hl ini kita melihat

bahwa maksud Tuhan hrus tergenapi, dan segal rencana-Nya tidak akan gaga