a mendapatkan anugerah Allah dan
menemukan kekosongan.
Pada tahun 1735, John dan Charles pergi ke Georgia dalam suatu perjalanan misioner.
saat melintasi Samudra Atlantik, John terkesan dengan beberapa orang Moravian.
saat kapal mereka dihantam badai, John gemetar sebab takut, sementara para
Moravian dengan tenang menyanyikan pujian.
Charles hanya berdiam selama satu tahun di Georgia. Ia pulang sebab kesehatannya.
Meskipun John tinggal, namun pelayanannya tidak berjalan mulus. Ia mengikuti jejak
saudaranya kembali ke Inggris menjelang tahun 1738. Ia diundang pada pertemuan
Moravian di Aldersgate Street, London, dan pada tanggal 24 Mei ia menghadirinya
dengan "setengah hati". Pada pertemuan ini , saat seorang membacakan tafsiran
Luther tentang Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma, Wesley berkata, "Kira-kira
pukul sembilan kurang lima belas, saat ia sedang menggambarkan perubahan yang
diadakan Allah dalam hati melalui iman kepada Kristus, aku merasakan kehangatan
dalam hati. Aku merasakan bahwa aku benar-benar percaya kepada Kristus, hanya
Kristuslah keselamatan; dan suatu jaminan telah diberikan kepadaku bahwa Ia telah
menyingkirkan dosa-dosaku, dan telah menyelamatkan daku dari hukum dosa dan
maut."
154
Wesley dan saudaranya, Charles, yang telah bertobat tiga hari sebelumnya, membawa
berita anugerah baru ini dan mengajarkannya di mana saja. Seorang lagi anggota Holy
Club, George Whitefield, menerima Kristus pada waktu yang bersamaan. Bersama-
sama mereka akan menuntun Inggris dan Amerika menuju kebangkitan kembali.
saat Gereja-gereja Anglikan yang bermusuhan menutup pintu bagi berita ini, anak-
anak muda tadi berbicara di mana saja, tempat-tempat umum atau lapangan terbuka.
Tidak seperti Gereja Anglikan, yang hanya melayani kaum aristokrat, pendengar
mereka yaitu kaum miskin di Inggris, yang kelaparan akan harapan. Orang-orang
mengelilingi mereka saat mereka berkhotbah.
Meskipun Wesley berpendapatan besar melalui tulisan-tulisannya, ia hidup sederhana
dengan membagi-bagikan kelebihan uangnya. Ia bertekad menyambut mereka yang
berasal dari kelas rendah.
Wesley tanpa merasa letih mengadakan perjalanan sejauh 250.000 mil dengan
menunggang kuda, mengajar di seluruh Inggris dan Skotlandia. la membentuk
perkumpulan orang-orang percaya di setiap kawasan, dan saat gerakan ini
bertumbuh, ia menunjuk para pengajar lain dengan menempatkan seorang bagi satu
distrik. Perkumpulan-perkumpulan ini , lebih lanjut, dipecah menjadi kelas-kelas
rekanan dan kelompok-kelompok doa. Organisasi rumit yang dicap Methodis ini
membantu gerakan itu bertahan.
Wesley bersaudara tidak berniat berpisah dari Anglikanisme. Sesungguhnya mereka
ingin melihat pembaruan berlangsung dari dalam gereja. Perpecahan itu berlangsung
pelan. saat pada tahun 1784 John mempersiapkan kelanjutan Methodisme setelah
kematiannya, Charles tidak menyetujui perpecahan itu.
Meskipun berada di bawah bayang-bayang kakaknya, Charles pun punya andil yang
cukup besar dalam Methodisme. Ia sangat dikenal akan kidungnya, termasuk "O for a
Thousand Tongues", "And Can It Be?" dan "Hark the Herald Angels Sing". Tidak
seperti gereja Anglikan yang selalu terikat pada Mazmur, dari awal para Methodis
merupakan gerakan bernyanyi — sebagian besar sebab Charles yang berbakat dalam
menyusun kata-kata.
Methodisme telah mengubah warga Inggris dengan perlahan. Meskipun setia pada
status quo politik, Methodisme telah membangkitkan semangat liberal yang membawa
Inggris ke keadaan yang lebih baik. Banyak sejarawan memuji orang-orang Methodis
sebab tidak memicu revolusi berdarah seperti yang dialami orang Perancis pada akhir
abad kedelapan betas.
155
71) Tahun 1780 Robert Raikes Memulai Sekolah Minggu
Monumen Robert Raikes (1736 - 1811)
Ny. Meredith tidak sanggup menanganinya. Atas permintaan seorang editor Surat kabar
yang baik, Robert Raikes, ia menerima segerombolan anak jalanan ke dapur rumahnya
di Sooty Alley. Raikes bahkan membayar Ny. Meredith satu shilling setiap hari Minggu
untuk mengajar anak-anak berpakaian compang-camping ini membaca Alkitab dan
mengulanginya di luar kepala. namun anak-anak ini luar biasa bandel. Terkungkung di
sebuah pabrik yang basah dan gelap di Gloucester, Inggris, selama enam hari dalam satu
minggu, mereka hanya dapat kesempatan bergembira ria pada hari Minggu, dan pada
hari-hari Minggu itulah mereka menjadi liar. Setiap Minggu para petani dan pemilik
toko merasa takut pada kenakalan anak-anak ini. Robert Raikes berharap bahwa
"Sekolah Minggu" ini akan mengubah hidup mereka, namun mereka membawa
kebiasaan mereka yang menjijikkan dan mengerikan itu ke dapur Ny. Meredith.
Raikes tidak membiarkan niatnya pupus. Ia memindahkan sekolah Minggunya ke dapur
Ny. King tempat May Critchley mengajar mereka dari pukul sepuluh sampai pukul dua
belas siang dan dari pukul satu sampai dengan pukul lima pada petang hari. Ia
menghendaki anak-anak hadir setelah tangan dicuci dan rambut disisir. Dalam waktu
yang singkat anak-anak itu mau belajar. Tidak lama lalu terkumpul Sembilan
puluh anak menghadiri sekolah Minggu pada setiap hari Minggu. Perlahan-lahan
mereka belajar membaca.
Hal ini bukanlah upaya pertama Raikes bagi pembaruan warga . Sebagai seorang
editor Gloucester -Journal yang berpikiran liberal, ia sangat sadar akan roda kemiskinan
dan kriminalitas. Orang-orang yang tidak dapat membayar utang dipenjarakan, dan bila
mereka keluar, tidak ada kehidupan bagi mereka. Maka mereka terdorong berbuat
kejahatan. Selama bertahun-tahun Raikes berupaya bekerja bersama mantan napi, untuk
membantu mereka agar tidak berbuat kejahatan, namun sia-sia.
"Dunia bergerak maju di atas kaki anak-anak kecil." Kalimat yang berasal dari Raikes
itu mengungkapkan pemikiran sekolah Minggu ini. Para orang dewasa telah berjalan
terlalu jauh, namun anak-anak baru memulainya.
156
Masalah yang dihadapinya ialah ketidaktahuan. Anak-anak (dari keluarga) kurang
mampu tidak pernah mendapat kesempatan pergi ke sekolah — mereka harus bekerja
untuk membantu keluarga mereka. Akibatnya, mereka tidak dapat beranjak dari
kemiskinan. Namun, jika mereka dapat belajar pelajaran dasarnya — membaca,
menulis, berhitung dan moralitas alkitabiah — pada hari libur satu harinya, suatu saat
mereka mungkin mengubah semuanya itu.
Jadi, eksperimen itu berawal dari Sooty Alley. Lambat-laun ide ini bertumbuh. Pada
tahun 1783, dengan kepercayaan diri bahwa eksperimennya telah berhasil, Raikes mulai
mengumumkannya dalam hariannya. Dengan hati-hati ia melaporkan alasan dan
hasilnya. ide ini menjadi populer.
Orang-orang Kristen yang terpandang mendukung ide ini . John Wesley
menyukainya, dan kelompok Wesley pun mulai melakukannya. Penulis populer,
Hannah More, mengajar agama dan memintal pada gadis-gadis di Cheddar. Seorang
pedagang dari London, William Fox, pernah menyumbangkan ide serupa, namun
memutuskan menunjang proyek Raikes. Pada tahun 1785, Fox mendirikan perkumpulan
untuk menunjang dan mendukung banyak sekolah Minggu di berbagai kawasan di
Inggris.
Ratu Charlotte pun membenarkan sekolah Minggu ini . Ia memanggil Raikes untuk
mendengarkan hal itu dan lalu ia mengizinkan namanya dipakai untuk upaya
pengumpulan dana yang dilaksanakan Fox.
Kemasyhuran membawa pertentangan juga dari para konservatif yang takut akan
terganggunya hari Sabat oleh para pedagang, yang khawatir akan kehilangan bisnis pada
hari Minggu. Ada beberapa teman Raikes yang mengejeknya "Bobby Wild Goose
(pengajar sesuatu yang tidak mungkin tercapai) dan Resimen Gembelnya".
Namun, hingga tahun 1787, ada seperempat juta anak-anak menghadiri sekolah Minggu
di Inggris. Lima puluh tahun lalu , ada 1,5 juta anak di seluruh dunia yang dididik
oleh 160.000 tenaga pengajar. Yang menggembirakan ialah perkembangan Manchester
pada tahun 1835. Sekolah Minggu ini terdiri dari 120 tenaga pengajar, yang 117 di
antara mereka yaitu mantan murid-murid sekolah-sekolah Minggu itu sendiri.
Dua perubahan besar telah terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Pada awalnya, guru-
guru di sana dibayar, namun lambat-laun hal itu telah menjadi aktivitas sukarela. Pada
awalnya, kurikulum terdiri dari membaca, menulis dan berhitung — dengan Alkitab
dipakai sebagai teks yang tersedia. saat sekolah Minggu mendapat dana yang
lumayan, mereka dapat mengadakan buku-buku teks lain. namun , saat pendidikan
umum berkembang, sekolah-sekolah Minggu memusatkan perhatiannya pada pelajaran
Alkitab saja.
Gerakan sekolah Minggu merupakan fenomena besar di Inggris dan Amerika, dengan
implikasi religius maupun sekular. Hal ini terjadi di tengah-tengah kebangkitan rohani
yang membalikkan Gereja dari kelesuan dan mungkin juga dapat menyelamatkan
Inggris dari bencana revolusi yang dahsyat. Perlahan-lahan, orang-orang Kristen yang
kaya mulai sadar akan tanggung jawab mereka terhadap kaum miskin. Gerakan sekolah
Minggu telah menanamkan benih pendidikan umum dan merevolusi pendidikan agama,
khususnya saat menghidupkan pencetakan materi-materi agama. Pada akhir tahun
1800-an, gerakan sekolah Minggu memberi Gereja puluhan kidung baru.
157
Hasil paling besar yaitu anak-anak muda yang tak terhitung jumlahnya, yang telah
tergerak oleh interaksi sederhana dan pendidikan sekolah Minggu.
158
72) Tahun 1793 William Carey Berlayar Menuju India
William Carey di India
Sebuah kapal menaikkan layarnya melawan angin bulan April dan bergerak di sungai
Thames menuju Terusan Inggris. Kapal ini herlayar menuju India membawa William
Carey (1761 - 1834), seorang tukang sepatu yang menjadi pengkhotbah gigih dan rekan
misionarisnya dr. John Thomas.
Kedua orang ini telah mengumpulkan dana, telah mengepak barang-barang
mereka, dan pamit. Sekarang kapal ini menyusuri pantai Inggris sebelum menuju
laut luas. Impian, doa dan persiapan bertahun-tahun tampaknya akan terkabul dalam
kehidupan Carey.
Namun, laut yang ganas dan peperangan yang berbahaya antara Inggris dan Perancis
mengakhiri persiapan Carey – perjalanan dibatalkan. Tanpa dapat dihalangi, Carey –
yang menyebut dirinya "orang yang lamban" namun sesungguhnya yaitu visioner yang
tak kenal lelah maju dengan susah payah menembus segala kesulitan untuk
menyelesaikan pekerjaannya.
Renungkanlah caranya dibesarkan. Ayahnya seorang penenun yang mengajar di sekolah
untuk menghidupi kelima orang anaknya. William yaitu anak sulung, dan ia gigih
belajar membaca dan menulis, membaca cerita-cerita petualangan seperti Robinson
Crusoe dan Gulliver's Travels. Kesehatannya tidak pernah baik, namun ia berhasil
magang pada seorang pengrajin sepatu.
Pada usia tujuh belas tahun, ia memasuki sebuah gereja pembangkang dengan seorang
teman dan berjanji kepada Kristus. Ia tinggalkan Gereja Anglikan yang
membesarkannya, dengan mengabaikan nasihat ayahnya, dan kian hari kian aktif
dengan para pembangkang itu. Ia menikah dan mulai berkhotbah di gereja. Ia berjalan
kaki sejauh delapan mil setiap hari Minggu untuk berkhotbah di gereja yang miskin di
sebuah kota tetangga. Ia mempelajari Perjanjian Baru dan Bahasa Yunani dengan tekun,
serta menyulap sekaligus tiga pekerjaan – tukang sepatu, guru sekolah dan pendeta.
Kesehatannya semakin memburuk sebab kesukaran keluarganya. Seorang bayi
meninggal. Istrinya mengalami tekanan mental. Mereka sering kekurangan uang untuk
makan yang layak. Di atas semua kesulitan ini, obsesi Carey membawa Injil keluar
negeri, sebagai kewajiban orang Kristen, meningkat.
159
Pada rapat-rapat para pendeta di kawasan itu, ia menguraikan secara khusus bahwa
orang-orang Kristen harus menyebarkan Injil ke negeri-negeri yang jauh. Ia senantiasa
ditolak. "Jika Allah hendak menyelamatkan orang-orang kafir itu, Ia akan berbuat
demikian tanpa kau dan saya," jawab mereka kepadanya. Ia meneruskan, dengan
menerbitkan sebuah uraian, "An Enquiry into the Obligation of Chistians to Use Means
for the Conversion of the Heathen" ("Sebuah Penyelidikan akan Kewajiban Orang-
orang Kristen untuk Memberdayakan Segala Upaya Pertobatan Orang-orang Kafir"),
yang memicu panggilan bagi misi-misi luar negeri. Suatu karya yang amat baik,
namun tidak ditanggapi dengan baik.
Tiga Minggu setelah uraian itu diterbitkan, perkumpulan para pendeta mengundangnya
untuk menjelaskan kepada mereka. Teks Carey: Yesaya 54:2, 3: "Lapangkanlah tempat
kemahmu ...." Temanya: "Nantikanlah perkara-perkara yang agung dari Allah;
upayakanlah hal-hal besar bagi Allah." Namun para pendeta ini tidak memberi
tanggapan. Menjelang berakhirnya pertemuan ini , dalam frustrasinya Carey
berseru, "Apakah tidak ada lagi yang dapat dilakukan?" Mengapa ia tidak mencari
orang lain saja yang mau mengambil bagian dan melakukan visinya?
Sesuatu telah terjadi. Pada pertemuan berikutnya sebuah perkumpulan misi telah
terbentuk. Seorang dokter Kristen, John Thomas, rela melayani di India dan ia
membutuhkan seorang rekan. Carey merelakan diri untuk pergi bersamanya.
Situasinya tampak agak janggal. Carey memiliki tiga orang anak kecil dan istrinya
sedang hamil. Dapatkah ia sendiri menanggung beban-beban ini ? namun ini yaitu
puncak impiannya. Carey terus maju melalui tur pengumpulan dana secara cepat, berita
bahwa dr. Thomas dicari-cari para kreditor yang belum dibayar, penolakan istrinya
untuk bergabung dengannya, dan terlambatnya pelayaran kapal. Penundaan itu memberi
dia kesempatan pulang dan meyakinkan istrinya, Dorothy, untuk bergabung dengan dia.
Tidak lama lalu mereka berangkat lagi dan mendarat di Calcutta pada bulan
November 1793. Namun kesulitan berlanjut. Keadaan sangat memprihatinkan,
kesehatan mereka sangat buruk, Thomas berutang lagi, dan tak seorang pun bertobat.
Anak mereka yang paling kecil meninggal, dan dua lainnya menjadi liar.
Pada tahun 1800, keluarga Carey pindah ke Serampore, bergabung dengan sekelompok
misionaris dari Denmark. Di sana mereka menyaksikan pertobatan yang pertama,
sebagian sebab hasil usaha anak tertua Carey, Felix, yang sekarang menjadi seorang
Kristen. lalu sebuah gereja terbentuk dan terjemahan Perjanjian Baru dalam
bahasa Bengali pun telah diselesaikan.
Kesuksesan misi selama tiga dekade baru berawal. Menjelang kematiannya pada tahun
1834, Carey menerjemahkan Alkitab dalam empat puluh empat bahasa atau dialek dan
membuka beberapa sekolah. Berbagai pusat misi dengan aktif menginjili India dan
sekitarnya, Burma dan Bhutan. namun jauh di atas statistik itu, Carey telah
mengembangkan filsafat misi yang hidup dan mempraktikkannya.
Ia mendahului waktunya. Carey sangat menghormati kebudayaan India dan melihat
kebutuhan akan sebuah gereja (dengan adat istiadat setempat) India. dibandingkan mencela
agama Hindu, ia menegaskan kematian dan kebangkitan Kristus.
160
Di samping semua pencapaiannya, ia juga yaitu pemain tim yang hebat. Dari
pengalaman, ia telah belajar bahwa tim misi lebih kuat dibandingkan keterlibatan secara
perorangan. Carey juga cepat mengakui peranan para wanita sebagai bagian dari tim ini.
Seringkali kita mendapatkan ide yang keliru bahwa ia seorang diri membawa gereja ke
era misi, namun ia sebenarnya salah seorang dari sejumlah orang Kristen di Barat yang
meminta dukungan bagi misi luar negeri. Suaranya merupakan salah satu dari yang
paling nyaring, dan ia menunjang kata-katanya dengan hidupnya sendiri.
161
73) Tahun 1807 Parlemen inggris Mengadakan Pemungutan Suara
untuk Menghapuskan Perdagangan Budak
Dalam Film "Amazing Grace", William Wilberforce menyajikan daftar Panjang Petisi
Anti Perbudakan di Parlemen Inggris.
Eropa menjelang akhir abad kedelapan belas yaitu sebuah warga yang tidak
normal, yang kaya menjadi lebih kaya, sedang yang miskin kelaparan. Orang-orang
yang berutang membusuk di penjara yang basah. Anak-anak yatim piatu menjadi budak
di pabrik-pabrik. Kristen menjadi agama tata krama kalangan atas.
Di Perancis, orang-orang miskin meluapkan frustrasi mereka dalam Revolusi Perancis
tahun 1789.
Namun, pada awal 1800-an, perasaan lega menandai Gereja Inggris sebab Britania
telah mengelakkan revolusi. Methodisme telah merangkul kelas bawah, namun
warga kelas atas masih belum tersentuh – kecuali segelintir pembaru sosial utama.
Orang-orang Kristen ini – William Wilberforce, Elizabeth Fry, George Mueller,
Thomas Buxton, John Venn, dan lain-lainnya – percaya bahwa dedikasi mereka pada
Kristus berarti melayani warga , bagi yang miskin dan yang membutuhkan.
Suara lantang yang melawan perbudakan di Kerajaan Inggris yaitu suara William
Wilberforce, seorang Anglikan Evangelikal dan anggota parlemen. Ia bukanlah orang
yang digemari dalam segala hal, namun pikirannya yang tajam dan bicaranya yang
efektif membuat baik teman maupun musuhnya hormat kepadanya.
Wilberforce lahir pada tahun 1759 dan bertumbuh sebagai seorang muda yang bebas,
yang mengabdi pada. politik dan kesenangan. Pada usia dua puluh lima tahun, ia
bertobat kembali, mengabdi kembali kepada Kristus yang ia kenal selagi ia masih
kanak-kanak. Namun, waktunya kurang memadai. Ia baru saja dipilih untuk menduduki
sebuah kursi yang berpengaruh di parlemen. Apakah devosi baru kepada Kristus ini
akan mengakhiri ambisi politiknya?
Ia meminta saran seorang pendeta, John Newton. Guru yang terkenal ini, yang pada
waktu lalu yaitu pedagang budak, dan pencipta kidung klasik "Amazing Grace",
menyarankan Wilberforce berpegang pada politik. Allah menghendaki orang-orang
162
seperti Anda di Parlemen, kata Newton – mungkin kita dapat juga menghapus
perbudakan.
Hal itu menjadi pergolakan dalam diri Wilberforce. Ia mengemukakan usul ini kepada
parlemen pada tahun 1787, namun perlawanan ternyata lebih kuat dibandingkan yang
diduganya. Para pedagang budak itu tahu cara memainkan politik. Mereka menantang
para pendukung penghapusan perbudakan dari segala sudut. Wilberforce mengharapkan
dukungan kuat dari teman lama seperguruannya, William Pitt, yang sekarang menjadi
perdana menteri. namun Pitt yaitu seorang moderat. Ia menginginkan perubahan secara
perlahan-lahan, bukan penghapusan perbudakan secara total dan segera.
Bagaimanapun, Wilberforce telah mendapatkan sekutu dari kalangan aktivis Kristen,
yang dikenal sebagai Clapham Sect. Nama itu dikutip dari sebuah desa di selatan
London, tempat Welberforce tinggal.
Orang-orang ini menjadi pemimpin-pemimpin gerakan Evangelikal di Gereja
Inggris. Beberapa di antara mereka, termasuk Welberforce, terlibat dalam mendirikan
Church Missionary Society (Perkumpulan Misioner Gereja) dan Britisth and Foreign
Bible Society (Perkumpulan Alkitab Inggris dan Luar Negeri).
Pada tahun 1806, Pitt meninggal. Para pendukung penghapusan perbudakan berhasil
menyertakan tambahan pada RW yang berkenaan dengan perang melawan Perancis. Hal
ini yang merintis jalan bagi RUU tahun 1807 yang menghentikan perdagangan budak di
Inggris. (Amerika Serikat memberlakukan peraturan serupa pada tahun itu juga.)
Wilberforce menjadi pahlawan dan memanfaatkan kesohoran yang baru diraihnya untuk
mendorong pembaruan sosial lainnya. Ia melanjutkan pekerjaan pemberantasan
perbudakan secara internasional dan membantu mendirikan Sierra Leone sebagai tempat
permukiman para budak yang dibebaskan.
Pembaru ini berharap agar lembaga-lembaga perbudakan menghilang, segera
setelah jual-beli budak menjadi ilegal. Ternyata ia salah. Pada tahun 1823, Wilberforce
berusaha untuk terakhir kalinya menghapus tuntas perbudakan. Ia berhenti dari
parlemen pada tahun 1825, namun melanjutkan perjuangannya memberantas
perbudakan. Thomas Buxton mengambil alih pimpinan pendukung penghapusan
perbudakan di parlemen. Akhirnya pada bulan Agustus tahun 1833, sebulan setelah
kematian Wilberforce, parlemen menetapkan untuk membebaskan para budak dan
memberantas semua perbudakan.
163
74) Tahun 1811 Para Campbell Mengawali Gerakan Disciples of
Christ
Thomas Campbell (1763-1854)
Thomas Campbell benar-benar menyambut orang-orang yang datang dan beribadah di
gerejanya. la menggembalakan sebuah jemaat di barat Pennsylvania, yang merupakan
milik Seceder Presbyterian Church, denominasi pecahan yang berakar pada orang
Skotlandia. Namun, sebab terganggu oleh perpecahan se-pale yang disebabkan oleh
doktrin-doktrin buatan manusia, Campbell membiarkan warga Presbiterian mana pun
untuk datang ke gerejanya dan mengambil komuni, apakah mereka Seceder ataupun
tidak.
Namun, klasis ini tidak menyukainya. Peraturan-peraturan mereka melarangnya.
Mereka secara resmi menyelidiki hal itu dan mengutuk Campbell.
Sebagai tanggapan, Campbell menulis surat kepada sinode. Ia menjelaskan prinsipnya
— ideide yang tidak lama lalu menjurus ke pembentukan denominasi baru. Gereja
membutuhkan persatuan dan harus menghentikan formulasi-formulasi teologis
manusiawi serta mengikuti ajaran Kitab Suci yang jelas. Ia memenangkan masalah ini.
Sinode membatalkan kutukan klasis ini , namun terdapat perasaan kurang senang
dari pendeta rekan Campbell. la memutuskan membuat cabang tersendiri dan memulai
gerejanya sendiri.
Bertahun-tahun Campbell menjadi pendeta di Irlandia Utara, namun pindah ke Amerika
sebab alasan kesehatannya. Ia meninggalkan gereja dan sekolah yang dikelolanya di
Irlandia kepada anaknya yang andal, Alexander.
Amerika masih merupakan Dunia Baru. Perbatasannya bermula di Appalachian dan
meluas ke arah barat. Secara religius, Amerika masih berada pada lereng rendah
Kebangunan Rohani Besar. "Kebangkitan itu diawali Whitefield dan Edwards di pantai
timur dan bergerak ke barat. Kebangkitan "pertemuan-pertemuan di tenda" berawal di
Kentucky sekitar tahun 1800 dan masih berlangsung sepanjang perbatasan.
Ironisnya, kebangkitan itu berakibat juga pada perpecahan, dan kebangunan di barat
sama sekali berbeda dengan yang di timur. Di timur umpamanya, ada Jonathan Edwards
164
yang terpelajar, yang dengan saksama mengulas amarah Allah dan perlunya berdamai.
Di barat, hanya ada sekelompok pengkhotbah dengan sedikit pendidikan seminari, yang
berdiri di atas kereta dan membujuk orang-orang berdosa berbaikan dengan Tuhan. Ini
yaitu suatu perbedaan gaya, namun sebenarnya juga perbedaan teologi. Kebangkitan di
timur lebih Presbiterian, di barat lebih Methodis. Timur lebih condong ke Calvinis,
barat lebih condong ke Arminian. Timur berpaling pada gereja, barat lebih individual.
Maka, pada tahun-tahun 1800-an terjadi banyak perpecahan: Cumberland Presbytery,
Shakers, New Light Movement dari Barton Stone, dan sekarang kelompok Thomas
Campbell.
Campbell mengadakan pertemuan-pertemuan di mana pun yang memungkinkan – di
lumbung-lumbung, di perumahan dan di ladang-ladang. la juga menarik para pengikut
dalam jumlah yang cukup lumayan. Ia menyebut kelompok itu sebagai Chrien
Association of Washington (Asosiasi Orang-orang Kristen di Washington) untuk daerah
Washington dan Pennsylvania. Ia juga menulis "Declaration and Address" yang menjadi
dokumen dasar gerakan itu. Seperti halnya para pendiri gereja lainnya, ia tidak
berkeinginan memisahkan diri dari gereja yang sudah mapan, namun ia terpaksa
bergerak ke arah tertentu. Dan tidak satu pun gereja yang tampaknya bergerak ke arah
itu. Bagi Campbell, arah itu bersifat alkitabiah dan sederhana. Mottonya ialah "Di mana
Kitab Suci berbicara, kita berbicara, di mana Kitab Suci bungkam, kita pun bungkam".
Putra Thomas, Alexander Campbell, yang tiba dari Irlandia pada tahun 1809, segera
bergabung dengan ayahnya dalam proyek baru ini. la baru berumur dua puluh tiga
tahun, namun dianugerahi bakat berbicara yang bail( dan merupakan pendebat yang
tangkas. Mereka berdua rnendirikan Gereja Brush Run pada tahun 1811 (setelah
dilarang masuk oleh kaum Presbiterian). Setelah mempelajari Kitab Suci, kedua
Campbell ini menentukan bahwa membaptis orang percaya dengan cara selamlah
yang benar, bukan membaptis anak seperti yang selama ini mereka lakukan. Jadi,
mereka mulai membaptis ulang anggota gerejanya.
Dalam hal ini, mereka pada dasarnya termasuk kaum Baptis, maka mereka berafiliasi
dengan Redstone Baptist Association pada tahun 1812. Alexander Campbell menjadi
frgur terkemuka di Gereja Baptis itu dengan mengadakan pernbicaraan secara luas dan
menerbitkan majalah berkala, The Christian Baptist. Ia juga mendirikan sebuah seminari
di Bethany, di barat Virginia. Campbell menulis serentetan artikel bagi majalahnya: "A
Restoration of the Ancient Order of Things" ("Suatu Pemulihan Hal-hal Tatanan
Kuno").
Tidak semua anggota Baptis menyukai hal Campbell berpikir bahwa banyak ajaran
Baptis masih terlampau Calvinistik, dan ia selalu menyerang mereka. la juga tidak
setuju dengan pengertian kaum Baptis tentang pembaptisan. Kaum Baptis melihatnya
sebagai peraturan yang menggambarkan keselamatan yang pernah terjadi sebelumnya.
namun , Campbell mengambil dari berbagai kutipan mengenai "bertobat dan dibaptislah"
di Perjanjian Baru untuk menegaskan bahwa hal itu yaitu syarat mutlak bagi
pengampunan. Campbell juga menolak upaya-upaya penjelasan tentang Tritunggal di
luar Kitab Suci.
Menjelang akhir tahun 1820-an, ketegangan mulai marak. Para pengikut Campbell
menarik diri dari asosiasi Baptis dan bergabung pada tahun 1832 dengan Christian
Church of Barton Stone. (Campbell dan Stone menginginkan nama alkitabiah sederhana
165
bagi kelompok mereka, untuk menghindari aliran denominasional. Sejak itu, istilah-
istilah Christian dan Disciples of Christ dipakai secara bergantian bagi gerakan yang
telah bergabung itu.) Sampai di situ, telah ada 25.000 anggota.
Gerakan ini bertumbuh terus, sebagian sebab kemasyhuran Campbell. Ia
bertindak sebagai utusan pada konvensi konstitusional Virginia pada tahun 1829.
Seorang rekan utusan, James Madison, berkata, "Saya menganggap dia seorang
pengulas Kitab Suci yang paling orisinil dan paling mampu, sejauh yang pernah saya
dengar."
Pertumbuhan gerakan itu juga disebabkan oleh perluasan perbatasan bagian barat. Para
Disciples memiliki Injil yang sederhana, untuk waktu yang sederhana. Alexander
Campbell juga dari semula anti-perbudakan, namun bukanlah pendukung penghapusan
perbudakan yang keras. Jadi, gereja tidak terpecah oleh perang saudara. Menjelang
pergantian abad kedua puluhan, terdapat lebih dari satu juta Disciples of Christ.
Pentingnya Campbell bukan raja terletak pada didirikannya denominasi yang kuat,
namun juga pada dukungan mereka akan iman alkitabiah yang sederhana.
Sejarah Gereja dipenuhi dengan ketegangan antara agama formal dan iman yang
sederhana. Para Campbell membawa banyak orang dari tekanan formalitas ke dalam
iman yang lebih pribadi. Menetas dan dipupuk di perbatasan suatu negeri yang sedang
bertumbuh, para Disciples telah menjadi contoh utama kekristenan Amerika pada
zaman itu. Mereka membantu menyediakan medan bagi gerakan-gerakan kebangunan
rohani dan fundamentalis.
166
75) Tahun 1812 Adoniram dan Ann Judson Berlayar Menuju India
Adoniram Judson (1788 - 1850) dan Ann Haseltine Judson (1789 - 1826)
Hari itu merupakan bulan madu! Adoniram Judson menikahi Ann Hasseltine pada
tanggal 5 Februari 1812, dan dalam waktu dua minggu mereka berlayar ke India, sebab
ditunjuk sebagai misionaris oleh American Board of Commissioners for Foreign
Missions (Badan Komisaris Amerika untuk Misi Luar Negeri) yang baru dibentuk.
Tampaknya, sebagian besar waktu mereka di atas kapal mereka habiskan untuk bermain
tali, berdansa, mempelajari dan membahas Alkitab.
Mereka membahas baptisan. Dalam studi Kitab Sucinya, Adoniram memutuskan bahwa
para Konggregasionalis salah tentang baptisan, dan bahwa para Baptislah yang benar.
Ann tentunya menghormati keputusan pribadinya, namun mengingatkan dia bahwa
mereka dikirim dan didanai bagi misi mereka sebagai Kongregasionalis. Ada baiknya
hal ini dipikirkan matang-matang sebelum terlanjur membuat keputusan.
Adoniram yang agak keras menang dalam pertengkaran itu. Ann pun menjadi seorang
Baptis seperti rekan misionaris seperjalanan mereka, Luther Rice. saat mereka tiba di
Kalkutta, pasangan Judson itu mengirim Rice kembali dengan surat pengunduran diri
dan dengan tugas yang amat berat: mencari dukungan dari gerejagereja Baptis; sebab
para Baptis di Amerika belum memiliki perkumpulan misi.
Rice melakukan tugasnya dengan sangat baik, dan pasangan Judson dapat tinggal di
Asia, serta mengukir sejarah sebagai misionaris asing pertama dari Amerika Serikat.
Enam tahun sebelumnya, tak seorang pun menduga bahwa baik Ann maupun Adoniram
akan terjun ke dalam tugas-tugas misi. Ann yaitu seorang yang berkemauan keras,
berinisiatif sendiri dan seorang remaja yang riang. Adoniram seorang yang agak
pemarah namun pemuda yang cerdas, yang dibesarkan secara religius, namun terhanyut
ke dunia panggung di New York. Tulisan-tulisan Hannah More dan John Bunyan telah
membawa Ann lebih dekat kepada Allah. Bagi Adoniram, yang membuatnya semakin
dekat kepada Allah ialah kematian mendadak seorang teman kuliahnya yang pernah
167
membujuknya menolak kekristenan. Pada tahun 1808, Adoniram pulang ke Boston dan
mengabdikan dirinya kepada Kristus.
Membaca tentang negara-negara Asia seperti India dan Myanmar, mereka terpanggil
untuk menjadi misionaris di sana. Hal itu tidak mudah sebab belum ada badan
penginjilan di Amerika yang akan mengirim dia.
The Haystack Prayer Meeting (Persekutuan Doa Penimbunan Jerami) membawa
perubahan itu. Sekelompok mahasiswa dari Williams College dan Andover Seminary
lari menuju sebuah lumbung untuk berteduh dari hujan. Di situ, dekat setumpuk jerami,
mereka mulai mendoakan kebutuhan dunia ini. Setiap yang hadir, termasuk Adoniram
Judson, merasa terpanggil untuk pelayanan misioner. Di bawah pimpinan Samuel J.
Mills, mereka menghadap Gereja Kongregasional untuk penugasan. American Board of
Commissioner for Foreign Missions telah didirikan pada tahun 1810, namun perlu waktu
untuk mendapatkan dukungan bagi orang-orang yang baru ditunjuk. sebab tidak sabar,
Adoniram berlayar ke London, mencoba mencari dukungan dari London Missionary
Society (Perkumpulan Misioner London), saat itu perang sedang berkecamuk antara
Perancis dan Inggris dan pihak Perancis menangkap kapalnya. Judson menghabiskan
waktu yang kurang menyenangkan untuk beberapa lama sebagai tawanan perang,
hingga ia dapat meyakinkan bahwa ia yaitu orang Amerika, bukan orang Inggris. Ia
kembali ke Boston dengan selamat, dan badan ini bersedia mengirimnya bersama
empat orang lainnya pada tahun 1812.
Sementara itu, Adoniram bertemu Ann dan menjalin hubungan kasih. Ia menjanjikan
Ann kehidupan keras, pelayanan misionaris di ternpat-tempat prirnitif, kerja keras dan
tanpa fasilitas. Wanita mana yang dapat bertahan? Namun, dari awal Ann bertindak
sebagai seorang rekan setia Adoniram, dengan melibatkan diri sepenuhnya dalam
upaya-upaya misi. saat ia diteguhkan untuk tugas misi, Ann turut berlutut dengannya,
sehari setelah pernikahan mereka. lalu mereka berangkat.
Namun, lebih banyak lagi kesulitan yang menanti mereka di India. Para penguasa
Inggris di India tidak mengizinkan orang-orang Amerika ini tinggal di India. William
Carey menganjurkan mereka pindah ke Myanmar. Putranya, Felix, yaitu duta besar di
sana dan dapat memberi pondokan bagi mereka untuk sementara. Banyak lagi
kesulitan yang dihadapi untuk masuk ke Myanmar, namun pasangan Judson akhirnya
sampai juga dan segera mereka memulai pekerjaannya, belajar bahasa setempat,-
mengawali dengan sekolah untuk anak-anak perempuan dan menerjemahkan Perjanjian
Baru. Ann belajar bahasa Myanmar seperti Adoniram, dan membantu penerjemahan.
Setelah enam tahun, baru mereka memenangkan jiwa baru yang pertama. Kesukaran
berlanjut, Ann memiliki masalah kesehatan dan harus kembali ke Amerika Serikat
untuk sementara. Tidak lama setelah ia kembali ke Myanmar, Perang Inggris –
Myanmar pecah. Adoniram ditawan dan dipenjarakan selama dua tahun. Ann pindah ke
tempat yang berdekatan dan mengunjunginya secara teratur. Cobaan ini merusak
kesehatan Ann dan Adoniram.
Tentara Inggris membebaskan Adoniram, namun tidak lama lalu Ann meninggal,
pada usia tiga puluh enam tahun. Adoniram bekerja dua puluh empat tahun lagi di
Myanmar dan sekarang hasilnya lebih banyak lagi. Perjanjian Baru terjemahan bahasa
Myanmar oleh pasangan Judson diterbitkan, juga katekisasi yang ditulis oleh Ann. (Ann
juga telah menerjemahkan ke dalam bahasa Siam beberapa bagian Kitab Suci.) Judson
168
telah mendirikan enam puluh tiga gereja, sebagian besar di tengah-tengah suku Karen,
warga pegunungan antara Myanmar dan Siam. yaitu kepercayaan tradisi Karen
bahwa akan ada orang asing yang mengunjungi mereka dan memulihkan pengetahuan
tentang Allah yang sesungguhnya, yang telah hilang dari mereka. Sampai sekarang,
sudah lebih dari 100.000 orang Karen yang telah dibaptis sebagai orang-orang Kristen.
American Baptist Foreign Missioner Society (Perkumpulan Misi Luar Negeri Baptis
Amerika) turunan perkumpulan misi Baptis yang dibentuk Luther Rice – mendukung
perluasan pekerjaan di tengah-tengah suku Karen.
Suami istri Judson memulai dua misi kewarga an yang berbeda. Hal ini, pada
gilirannya, memicu pembentukan beberapa organisasi Kristen dan dewan misi di
Amerika. Mereka memelopori suatu pelayanan Kristen di Asia Tenggara. Mereka juga
berfungsi sebagai inspirasi bagi para pasangan misionaris yang tak terhitung jumlahnya
dalam melakukan misi-misi lapangan yang berat secara bersama-sama.
169
76) Tahun 1816 Richard Allen Mendirikan Gereja Episkopal Methodis
Afrika
Richard Allen (1760-1831), uskup pertama Gereja Episkopal Methodis Afrika di
Amerika Serikat
Kejadian ini terjadi pada tahun 1787 di Gereja Methodis St. George, di Philadelphia.
Richard Allen, seorang kulit hitam, telah berkhotbah di sana beberapa kali, namun pada
hari Minggu ini ia duduk di serambi. sebab sesuatu dan lain hal, bagian yang biasanya
dipisahkan untuk orang berkulit hitam pada hari ini tidak tersedia, dan para penjaga
pintu telah mengalihkan para pengunjung berkulit hitam ke bagian lain. Namun,
tampaknya ada kesalahpahaman, dan mereka duduk di tempat yang salah.
saat mereka berlutut untuk berdoa, seorang wali melihat orang-orang kulit hitam
yang ada di bagian kulit putih; serta-merta saja ia mendatangi orang-orang kulit hitam
itu untuk menyeret keluar salah seorang di antara mereka. Dia yaitu Pdt. Absolom
Jones, seorang pemimpin Methodis kulit hitam terkemuka. "Kau harus berdiri," seru
sang wali ini , "Kau tidak boleh berlutut di sini."
"Tunggu sampai doa selesai," jawab Jones.
"Tidak, kau harus berdiri sekarang juga, atau saya akan memanggil bantuan untuk
menyeretmu keluar."
"Tunggu sampai doa selesai," Jones mengulangi, "dan saya akan berdiri dan tidak akan
menyusahkan Anda lagi."
Akan namun tampaknya tidak dapat ditunggu lagi. Sang wali dan seorang penjaga pintu
mulai menyeret Jones dan jemaat kulit hitarn lainnya keluar. Sementara itu doa pun
telah usai. Allen dan para kulit hitam lainnya keluar. "Mereka tidak lagi kita ganggu,"
170
tulis Allen, dan menambahkan bahwa mereka telah mendanai perlengkapan gereja
ini dengan murah hati. Mereka telah mendanai pemasangan lantai yang di atasnya
mereka berlutut.
Allen dan Jones menuntun orang-orangnya mengadakan kebaktian tersendiri di sebuah
gudang yang disewa. Lambat-laun mereka membeli sebidang tanah dan membangun
sebuah gereja. Namun mereka melanjutkan perjuangan mereka dengan Methodis kulit
putih, khususnya mereka yang ada di St. George.
Kejadian-kejadian seperti itu bukannya tidak umum pada masa itu. namun sungguh
ironis bahwa kejadian berlutut itu terjadi justru di sebuah Gereja Methodis, sebab para
Methodis di Amerikalah yang dengan cepat menyikapi bahwa seorang budak pun
yaitu manusia juga, dan punya kebutuhan untuk mengenal Yesus seperti orang kulit
putih mana pun. Misionaris-misionaris Methodis telah ditunjuk untuk membimbing para
budak dan mereka yang telah dibebaskan. Dan para pemimpin Methodis mengetahui
betul bahwa misionaris kulit hitam lebih efektif untuk saudara-saudaranya yang berkulit
hitam.
Richard Allen lahir sebagai seorang budak pada tahun 1760, di rumah Benyamin Chew,
seorang pengacara terkemuka di Philadelphia. Keluarganya telah dijual kepada seorang
petani di dekat Dover Delaware. Di sana Allen menjadi Kristen pada usia remaja. Ia
mulai bergaul dengan kelompok Methodis. Pada suatu kesempatan ia mengatur agar
sang pengkhotbah dapat berkhotbah di rumah tuannya. Tuannya, meskipun bukan
seorang Kristen, terkesan oleh teks sang pengkhotbah ("Engkau ditimbang di sebuah
timbangan dan ditemukan masih kurang"). Akibatnya, Allen dan saudaranya diberi
kesempatan membeli kebebasan mereka.
Sebagai orang bebas, Allen bekerja sebagai pembelah kayu dan tukang batu. la tetap
sebagai seorang gerejawan aktif. Selama masa Revolusi ia menjadi kusir kereta
pengantar garam. Di sepanjang perjalanannya ia juga berkhotbah. Keahliannya
berbicara membuatnya populer, baik di kalangan kulit hitam maupun kulit putih.
Sepanjang perjalanannya di Delaware, New Jersey dan Pennsylvania, dengan
mengambil pekerjaan sambilan, ia juga berkhotbah pada ma-lam hari dan pada akhir
pekan.
Pada tahun 1784, Gereja Episkopal Methodis dengan resmi didirikan di Amerika
Serikat. John Wesley menunjuk Thomas Coke dan Francis Asbury sebagai
"pembantu"nya untuk mengarnati gereja Amerika, dengan Richard Whatcoat dan
Thomas Vassey sebagai pemimpin-pemimpin yang diangkat. Selama Perang Revolusi
khususnya, gerakan Methodis di Amerika telah terpecah-pecah – sebagian sebab masih
merupakan gerakan dalam lingkungan Gereja Anglikan, dan perang ini justru
menekan kesetiaan semacam itu. Tindakan-tindakan Wesley pada tahun 1784
menyatukan perpecahan ini , dan untuk pertama kalinya mengukuhkan Methodis
sebagai gereja tersendiri.
Richard Allen menarik perhatian Richard Whatcoat, yang ditempatkan di lingkungan
Baltimore. Whatcoat mengundang Allen untuk ikut bersamanya tatkala ia mengunjungi
gereja. lalu Allen dalam perjalanannya diundang untuk bergabung dengan
Asbury.
171
saat Allen mendarat di Philadelphia, ia berkhotbah di Gereja St. George jika
memiliki kesempatan, namun pada waktu-waktu itulah akhirnya ia meninggalkan
tempat itu, seperti apa yang telah kita lihat. Salah seorang yang berlutut yang ikut
tersinggung, Absolom Jones, memisahkan diri dari Methodis pada tahun 1793, dan
membentuk Gereja Episkopal Protestan Kulit Hitam, namun Allen menolaknya. "Saya
tidak dapat menjadi apa pun kecuali seorang Methodis," tulisnya, "sebab saya
dilahirkan dan dibangkitkan di bawah mereka, dan saya dapat berjalan terus dengan
mereka. "
Ia pun berjalan terus bersama dengan mereka, dengan mengawali Gereja Bethel
Episkopal Methodis Afrika di Philadelphia pada tahun 1794. Francis Asbury yang
menyampaikan khotbah peresmian. Namun demikian, para pemimpin St. George
mencoba menguasai gereja Allen. Sesungguhnya orang-orang kulit hitam tidak
memiliki hak yang leluasa pada masa itu, namun Gereja Bethel berusaha
memenangkan kasus pengadilan melawan St. George.
Bintang Allen mulai bersinar lebih terang dalam denominasi Methodis, meskipun
tekanan-tekanan dari gereja saingan di seberang kota berlanjut marak. Allen diteguhkan
sebagai diaken pada tahun 1799 dan sebagai penatua pada tahun 1816 – dua posisi yang
tidak pernah terdengar dicapai oleh seorang kulit hitam. Namun, pada tahun 1816, ia
mernutuskan meninggalkan Methodis dan memulai denominasi baru, Gereja Episkopal
Methodis Afrika (African Methodist Episcopal [AME] Church). Gereja Allen
bergabung dengan beberapa gereja kulit hitam independen lainnya, dan Allen menjadi
uskup kelompok baru ini. Baltimore dan Philadelphia menjadi titik-titik fokus
denominasi baru ini.
Allen membuat administrasi yang hebat bagi gereja baru ini, dengan corak garis
Methodis. Ia terus mengadakan perjalanan, berkhotbah dan mendirikan gereja-gereja
baru hingga akhir hayatnya pada tahun 1831. Jumlah gereja AME bertumbuh terus
segera setelah masa Perang Saudara, sebab budak-budak yang dibebaskan mencari
tempat-tempat kebaktian yang sungguh-sungguh bebas.
Denominasi baru ini merupakan inspirasi bagi orang-orang Kristen yang tertekan. Pada
saat itu, hal ini merupakan deklarasi kemerdekaan yang hebat. Orang percaya kulit
hitam akan melayani Kristus dengan senang hati, namun mereka tidak bisa diperlakukan
melewati batas oleh saudara-saudara kulit putih mereka. Kepemimpinan Allen yang
berani telah berbuat banyak untuk memelihara spiritualitas kulit hitam yang kuat di
Amerika, yang sampai sekarang masih hidup.
172
77) Tahun 1817 Elizabeth Fry Mengawali Pelayanan bagi Narapidana
Perempuan di Penjara
Elizabeth Fry (1780 - 1845)
"Jauh di mata, jauh di hati", begitulah perumpamaan bagi para narapidana Inggris pada
awal-awal tahun 1800-an. Keadaan penjara-penjara gelap, tidak bersih, berdesak-
desakan dan tanpa harapan. Para tersangka bermacammacam kriminalitas — baik
dengan kekerasan ataupun tidak — dimasukkan ke dalam penjara tanpa perbedaan
antara terpidana dan terdakwa yang menunggu peradilan. Para wanita yang menjanda
ataupun yang ditinggalkan suaminya, sering terlilit utang dan dipenjarakan, dengan
membawa anak-anak mereka.
John Howard, seorang awam Kristen yang menjadi sherif Bedfordshire pada tahun
1773, telah meminta perhatian warga tentang kondisi penjara-penjara Eropa yang
kotor. Ia mengadakan perjalanan sejauh 50.000 mil dan menghabiskan uangnya sendiri
sebanyak 30.000 pound untuk memperjuangkan pembaruan penjara. Malangnya,
mereka tergerak namun tidak termotivasi untuk mengubah keadaan. saat Howard
kembali dari sebuah perjalanan yang menyiksa untuk mencari fakta di Italia, ia
menyaksikan pengumpulan dana bagi sebuah patung untuk menghormati dia. Satu-
satunya wujud peringatan yang diinginkannya, ia berkata pada mereka, yaitu
melanjutkan pembaruan penjara. Namun sampai awal tahun 1850-an keadaannya tetap
sama.
Penerus John Howard yang hampir tidak dapat dipercaya ialah seorang wanita,
Elizabeth Fry. Putri seorang pedagang wol dan bankir yang kaya, Elizabeth Gurney
dibesarkan di keluarga Quaker yang liberal. saat la menjadi seorang gadis kecil, - ia
membaca buku-buku Voltaire, Rousseau dan Thomas Paine. Pada usia tujuh belas
tahun, dalam buku hariannya ia menulis bahwa ia tidak punya agama.
Akan namun tahun berikutnya ia bertemu dengan seorang Quaker dari Amerika, William
Savery, yang mengajarkan dia tentang kehadiran Allah. Ia mulai menghadiri pertemuan
Quaker yang lebih terbatas dan menjadi lebih serius akan imannya.
Pada usia kedua puluh, Elizabeth menikahi Joseph Fry, juga dari keluarga bankir yang
kaya. Ia melahirkan sebelas orang anak. Namun, keterlibatannya dengan pertemuan
173
Quaker bertumbuh, dan pada tahun 1811, pada usia tiga puluh tahun ia diakui sebagai
seorang "pendeta".
Tiga tahun lalu ia mengunjungi Newgate, sebuah penjara dekat London. Terkejut
akan kondisinya, ia melakukan apa yang ia dapat, dengan membawa pakaian bagi anak-
anak para narapidana wanita. Meskipun John Howard telah berusaha, namun sistem
hukuman Inggris bertambah buruk. Antara tahun 1800 dan 1817, angka narapidana
bertambah dua kali lipat, dan menimbulkan kepadatan luar biasa. Sesuatu harus
dilakukan, khususnya bagi para wanita dan anak-anak, yang dalam banyak hal, satu-
satunya kesalahan mereka yaitu kemiskinan.
Pada tahun 1817, Fry mengorganisasi sebuah tim wanita untuk menjenguk narapidana
wanita secara teratur, membacakan Alkitab kepada mereka, dan mengajar mereka
menjahit. Pekerjaan berguna ini mengubah prilaku kehidupan para penghuni penjara itu.
Banyak perusahaan di London mulai mendukung upayaupaya Fry dan ia pun dielu-
elukan di seluruh Inggris.
Oleh sebab perang melawan Napoleon usai, orang-orang Inggris mengalihkan
perhatian mereka ke masalah-masalah lain. Satu di antaranya yaitu reformasi penjara.
Fry memperluas komite-komite wanita pelawat penjaranya ke kawasan-kawasan baru,
dan pada tahun 1821 mendirikan British Society for Promoting Reformation of Female
Prisoners (Perkumpulan Inggris untuk Meningkatkan Reformasi bagi Narapidana
Wanita). Thomas Buxton, yang di lalu hari akan membantu Wilberforce
memenangkan perjuangan untuk memberantas perbudakan, menerbitkan suatu studi
tentang penjara Newgate pada tahun 1818, yaitu saat ia mempertanyakan apakah
sistem hukuman sebenarnya membantu atau menyiksa warga . Tidak lama
lalu , reformator ini mendapat perhatian dari Menteri Dalam Negeri Robert Peel
yang berkuasa, yang mendesak melalui parlemen agar Undang-undang Penjara tahun
1823 dibatalkan.
Hal ini membarui penjara-penjara Inggris secara radikal dan membatasi jumlah
pelanggaran yang digolongkan ke dalam hukuman mati (sampai 500). Robert Peel juga
memprakarsai pasukan polisi tetap, yang anggotanya dikenal sebagai "bobbies", dari
julukan Peel.
Sampai ajalnya pada tahun 1845, Fry terus meningkatkan perbaikan-perbaikan kondisi
penjara. Meskipun negara Eropa lainnya mengikuti jejak Inggris, Inggris sendiri
tampaknya kembali dengan sikap yang lebih keras. Namun upaya Fry abadi hasilnya.
Bersama-sama dengan tokoh sezamannya, seperti William Wilberforce dan Goerge
Mueller, ia mengajak generasi-generasi orang Kristen untuk memangku tanggung jawab
sosial mereka secara serius. Ia juga melanjutkan tradisi turun-temurun, yaitu wanita
yaitu penunjuk jalan bagi usaha-usaha karitatif.
174
78) Tahun 1830 Mulainya Kebangunan Rohani Perkotaan oleh
Charles G. Finney
Charles G. Finney (1792-1875)
Kebangunan rohani telah melanda selatan dan timur New England, sampai ke
perbatasan barat Tennesee dan Kentucky menjelang tahun 1800. Sementara bergerak ke
barat, kebangkitan itu semakin dikenal sebab emosionalitas mereka yang bertobat.
Seperti kebanyakan Calvinis, para Presbiterian meragukan pertobatan yang beremosi
tinggi itu, namun dari jajaran mereka sendiri muncul seorang revivalis abad kesembilan
belas yang menarik dan efektif.
Charles Grandison Finney dilahirkan pada tahun 1792 di Connecticut. Seperti
kebanyakan orang pada masanya, ia pindah ke barat – pada tahun 1794 orangtuanya
pindah ke bagian barat New York. Finney muda belajar di sebuah biro hukum di
Adams, New York dan telah diterima sebagai pengacara negara.
Ia tertarik pada Alkitab sebab menemui banyak acuan ke Alkitab dalam buku-buku
hukum. Finney mulai membaca firman Allah dan menghadiri kebaktian. Setelah
pergumulan keras beberapa waktu lamanya, pada tahun 1821 ia bertobat. "Aku telah,"
katanya, "dibayar Tuhan Yesus Kristus untuk membela perkaraNya." Segera pula ia
mulai berkhotbah.
Finney bergabung dengan Gereja Presbiterian dan ditahbiskan pada tahun 1824, setelah
ia belajar dari pendetanya. Dengan menunggang kuda ia keluar masuk kampung, sambil
mengumpulkan massa. Pengkhotbah yang berperawakan tinggi mempesona dan lantang
ini berbicara kepada mereka dengan gaya langsung dan sederhana, seperti ia berhadapan
dengan para juri.
Para pengkhotbah pertemuan kebangunan rohani terkenal dalam hal membangkitkan
emosi. Meskipun Finney menghindari gaya teater di podium, namun ia berupaya
mendapatkan perhatian para pendengarnya. la berkata, "Umat manusia tidak akan
bertindak sebelum mereka tertarik." Dengan bekerja soma dengan Roh Kudus, ia
berupaya menyampaikan firman Tuhan kepada orang banyak.
175
Pada tahun 1830, Finney memimpin kebangunan rohani yang meraih sukses hebat di
Rochester, New York. Sejak itu, kebangunan rohani menjadi ciri kehidupan perkotaan
Amerika.
Pada tahun 1832, Finney pindah ke Gereja Presbiterian Kedua di New York City. namun
ia selalu keberatan dengan Presbiterian bermuatan Calvinisme yang tinggi, dan pada
tahun 1834 pindah lagi ke Gereja Kongregasional, Broadway Tabernacle, yang
dibangun khusus untuknya.
Beberapa metode kebangunan rohani Finney — yang disebut langkah-langkah baru
berasal dari para pengkhotbah di perbatasan yang menekankan emosionalisme. Ia
memakai "bangku kerinduan", yang ditempatkan di depan, agar orang-orang
berdosa dapat minta didoakan. Finney mengadakan pertemuan-pertemuan semalam
suntuk untuk mendoakan orang-orang berdosa dengan menyebutkan nama yang
bersangkutan, dan para wanita dapat berdoa di muka umum. Meskipun ia tidak
mendorong mereka, para revivalis diperkenankan berteriak, meratap dan menunjukkan
tanda-tanda emosi lainnya. Langkah-langkah baru ini merupakan standar karya
kebangunan rohani. Gereja-gereja yang menganutnya bertumbuh, sekalipun banyak
kritikan akan cara-cara ini.
Sebelum Finney mengunjungi sebuah kota, ia merekrut para pendeta dan orang-orang
awam dari gereja-gereja setempat. XIereka mengorganisasi pertemuan-pertemuan doa,
dan setelah pertemuan kebangunan rohani, mereka dapat bekerja dengan para petobat
baru dengan mengunjungi dan mengundang tnereka ke gereja. Jika gereja-gereja
setempat tidak bersedia terlibat dalam tindak lanjutnya, Finney tidak akan berkhotbah di
tempat ini . Itu merupakan peraturan penting.
Selain itu, para pendukung setempat menyebarkan brosur, menempelkan poster-poster
dan memasang iklan pada berbagai surat kabar. Promosi telah menjadi bagian dari
pekabaran Injil.
Meskipun harus berhadapan dengan oposisi, namun tenaga, tekad dan kecerdasan
Finney – dan sukses langkah-langkah barunya – menjadikan ide-idenya populer.
Kebangunan rohani modern telah dimulai.
Dalam tulisannya Lectures on Revivals of Religion (Kuliah tentang Kebangkitan
Agama) yang dipublikasikan pada tahun 1835, Finney menjelaskan, "Kebangunan
rohani bukanlah mujizat atau bergantung pada mujizat dalam hal apa pun, namun
merupakan hasil tepat guna dari cara-cara yang sudah ada."
Metode Finney diterima dengan baik oleh sebuah negara yang telah mengembangkan
pandangan yang tinggi akan nilai manusia biasa di bawah demokrasi model Jackson.
Para revivalis telah membuat orang biasa sebagai partisipan dalam drama religius yang
agung, dan mengajak mereka agar yakin bahwa tiap pribadi dapat membuat pilihan
yang tepat bagi Tuhan. Dengan berfokus pada kemampuan tiap orang untuk menilai
dirinya sendiri, ia sependapat dengan ide orang Amerika bahwa seorang pegawai atau
bocah peladang memiliki rasio yang sama nilainya dengan pemilik perkebunan.
Pada tahun 1835, Finney pergi ke Oberlin College untuk mengajar teologi. Enam tahun
lalu ia menjadi ketua perguruan ini . Ia mengadakan kebangunan rohani
terus-menerus sampai is wafat pada tahun 1875.
176
79) Tahun ±1830 John Nelson Darby Membantu Mengawali Plymouth
Brethren
John Nelson Darby. 1800 - 1882
Lima pria berkumpul untuk kebaktian di sebuah rumah di Dublin, Fitzwilliam Square
pada bulan November, 1829. Tuan rumah, Francis Hutchinson, menggelar kebaktian
sederhana dan mengundang mereka bertemu di sana secara teratur pada waktu-waktu
yang tidak mengganggu aktivitas gereja mereka yang lain.
Bagi yang berpikiran modern, pertemuan seperti itu kelihatannya tidak luar biasa.
namun pada waktu itu hal ini yaitu sesuatu yang tidak umum. Gereja Inggris yang
telah dikukuhkan mendominasi kehidupan dan praktik religius. Persekutuan dan
kebaktian di luar gereja dianggap tidak benar. Mengadakan komuni tanpa seorang imam
yaitu skandal.
John Nelson Darby hadir pada pertemuan ini , namun agak kurang tepat jika ia
dikatakan sebagai pendiri Plymouth Brethren (Persaudaraan Plymouth). Dia hanyalah
salah seorang dari antaranya yang bertindak sebagai pemimpin pada hari-hari awalnya,
meskipun ia menjadi juru bicara yang patut dikagumi.
Pada tiga dekade pertama abad kesembilan belas, semangat spiritual sedang bekerja di
Irlandia. Beberapa orang Katolik berpindah ke Gereja Anglikan atau ke gereja-gereja
lain, gerakan independen juga sedang bangkit. Orang-orang Kristen secara berkelompok
mulai mengadakan pertemuan di luar gereja mapan – dengan hanya Alkitab sebagai
pedoman mereka.
Gerakan Plymouth Brethren mungkin berpaling kembali ke Anthony Norris Groves,
seorang dokter gigi Kristen sejati. Ia bersedia meninggalkan praktiknya untuk pelayanan
misi di Persia. Dengan patuh ia memasuki Trinity College, di Dublin pada tahun 1826,
menyiapkan diri untuk pentahbisan. Namun, di sana ia berhubungan dengan sejumlah
orang Dublin yang berpikiran independen. Teman ini telah mengguncang pandangannya
mengenai high church. Namun ia pernah bertanya-tanya, apa perlunya semua kelas dan
ujian-ujian ini bagi saya untuk menjadi seorang misionaris? Akhirnya ia memutuskan
bahwa ia tidak membutuhkan pentahbisan ataupun perkumpulan misi resmi. la cukup
melangkah dalam iman.
177
Groves mengumpulkan teman dari Dublin dan Plymouth serta berangkat ke Bagdad
pada tahun 1829. Dukungan terhadap Groves telah menjadi faktor pemersatu sebab
kelompok-kelompok bertemu untuk mendoakan dia dan mengumpulkan dana untuk
mendukung dia.
Sementara itu, John Nelson Darby sedang bertugas sebagai kurator di County Wicklow.
la telah belajar hukum di Trinity College, namun segera menanti penahbisan. Ia pun
seorang gerejawan sejati, namun ia menjadi kecewa sebab kebijakan "pintu tertutup"
gerejanya. Tampaknya, atasannya lebih mempedulikan keanggotaan gereja ketimbang
Kristus.
Setelah terluka dalam kecelakaan pada tahun 1827, Darby mengambil cuti dari
gerejanya untuk memulihkan kesehatannya di Dublin. Di sana ia bertemu dengan
sejumlah orang yang berpikiran sama, beberapa dari lingkungan pendukung Groves.
Kelompok ini mendukung ide-ide yang sudah terbentuk dalam benak Darby. Tidak lama
lalu ia meninggalkan kedudukannya, namun ia belum memisahkan diri dari
gerejanya. Ia menjadi pendukung terang-terangan bagi keterbukaan dan kesatuan gereja
dengan menerbitkan selebaran yang menganjurkan perubahan kebijakan dalam gereja.
Ia menyerukan spiritualitas yang benar di antara orang Kristen dan kembali ke Kitab
Suci. Satu aspek Kitab Suci yang telah diabaikan ialah nubuat. la terpesona akan teori-
teori akhir zaman dan meminta agar para pemimpin Kristen memperhatikan hal ini.
Serentetan konferensi nubuat diadakan pada awal-awal tahun 1830-an untuk
memikirkan hal ini.
Pandangan dominan yang terdapat di gereja yang mapan bersifat "pascamillenium",
yaitu gereja akan membawa era perdamaian, setelah itu Baru Kristus akan kembali.
namun Darby berpegang pada ajaran Manuel de Lacunza, biarawan Chile abad
kedelapan belas. Lacunza berpegang pada kedatangan kembali pramillenial – dunia
akan menuju kehancuran hingga Kristus datang dan memulai dengan pemerintahan
seribu tahun-Nya. (Lacunza juga mengemukakan bahwa Kristus pertama akan tampil
untuk memisahkan orang-orang yang setia kepada-Nya dari bencana-bencana yang
teramat buruk, sebelum Ia kembali untuk mendirikan pemerintahan-Nya.)
Pada tahun 1831, fokus gerakan ini mulai berpindah ke Plymouth, Inggris. Pada
tahun-tahun berikutnya terdapa












