Tampilkan postingan dengan label Sejarah kristen 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah kristen 7. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Sejarah kristen 7


 a mendapatkan anugerah Allah dan 

menemukan kekosongan.  

Pada tahun 1735, John dan Charles pergi ke Georgia dalam suatu perjalanan misioner. 

saat  melintasi Samudra Atlantik, John terkesan dengan beberapa orang Moravian. 

saat  kapal mereka dihantam badai, John gemetar sebab  takut, sementara para 

Moravian dengan tenang menyanyikan pujian.  

Charles hanya berdiam selama satu tahun di Georgia. Ia pulang sebab  kesehatannya. 

Meskipun John tinggal, namun pelayanannya tidak berjalan mulus. Ia mengikuti jejak 

saudaranya kembali ke Inggris menjelang tahun 1738. Ia diundang pada pertemuan 

Moravian di Aldersgate Street, London, dan pada tanggal 24 Mei ia menghadirinya 

dengan "setengah hati". Pada pertemuan ini , saat  seorang membacakan tafsiran 

Luther tentang Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma, Wesley berkata, "Kira-kira 

pukul sembilan kurang lima belas, saat  ia sedang menggambarkan perubahan yang 

diadakan Allah dalam hati melalui iman kepada Kristus, aku merasakan kehangatan 

dalam hati. Aku merasakan bahwa aku benar-benar percaya kepada Kristus, hanya 

Kristuslah keselamatan; dan suatu jaminan telah diberikan kepadaku bahwa Ia telah 

menyingkirkan dosa-dosaku, dan telah menyelamatkan daku dari hukum dosa dan 

maut."  

 154

Wesley dan saudaranya, Charles, yang telah bertobat tiga hari sebelumnya, membawa 

berita anugerah baru ini dan mengajarkannya di mana saja. Seorang lagi anggota Holy 

Club, George Whitefield, menerima Kristus pada waktu yang bersamaan. Bersama-

sama mereka akan menuntun Inggris dan Amerika menuju kebangkitan kembali.  

saat  Gereja-gereja Anglikan yang bermusuhan menutup pintu bagi berita ini, anak-

anak muda tadi berbicara di mana saja, tempat-tempat umum atau lapangan terbuka. 

Tidak seperti Gereja Anglikan, yang hanya melayani kaum aristokrat, pendengar 

mereka yaitu  kaum miskin di Inggris, yang kelaparan akan harapan. Orang-orang 

mengelilingi mereka saat  mereka berkhotbah.  

Meskipun Wesley berpendapatan besar melalui tulisan-tulisannya, ia hidup sederhana 

dengan membagi-bagikan kelebihan uangnya. Ia bertekad menyambut mereka yang 

berasal dari kelas rendah.  

Wesley tanpa merasa letih mengadakan perjalanan sejauh 250.000 mil dengan 

menunggang kuda, mengajar di seluruh Inggris dan Skotlandia. la membentuk 

perkumpulan orang-orang percaya di setiap kawasan, dan saat  gerakan ini  

bertumbuh, ia menunjuk para pengajar lain dengan menempatkan seorang bagi satu 

distrik. Perkumpulan-perkumpulan ini , lebih lanjut, dipecah menjadi kelas-kelas 

rekanan dan kelompok-kelompok doa. Organisasi rumit yang dicap Methodis ini 

membantu gerakan itu bertahan.  

Wesley bersaudara tidak berniat berpisah dari Anglikanisme. Sesungguhnya mereka 

ingin melihat pembaruan berlangsung dari dalam gereja. Perpecahan itu berlangsung 

pelan. saat  pada tahun 1784 John mempersiapkan kelanjutan Methodisme setelah 

kematiannya, Charles tidak menyetujui perpecahan itu.  

Meskipun berada di bawah bayang-bayang kakaknya, Charles pun punya andil yang 

cukup besar dalam Methodisme. Ia sangat dikenal akan kidungnya, termasuk "O for a 

Thousand Tongues", "And Can It Be?" dan "Hark the Herald Angels Sing". Tidak 

seperti gereja Anglikan yang selalu terikat pada Mazmur, dari awal para Methodis 

merupakan gerakan bernyanyi — sebagian besar sebab  Charles yang berbakat dalam 

menyusun kata-kata.  

Methodisme telah mengubah warga  Inggris dengan perlahan. Meskipun setia pada 

status quo politik, Methodisme telah membangkitkan semangat liberal yang membawa 

Inggris ke keadaan yang lebih baik. Banyak sejarawan memuji orang-orang Methodis 

sebab  tidak memicu revolusi berdarah seperti yang dialami orang Perancis pada akhir 

abad kedelapan betas.  

 155

71) Tahun 1780 Robert Raikes Memulai Sekolah Minggu  

 

Monumen Robert Raikes (1736 - 1811)  

Ny. Meredith tidak sanggup menanganinya. Atas permintaan seorang editor Surat kabar 

yang baik, Robert Raikes, ia menerima segerombolan anak jalanan ke dapur rumahnya 

di Sooty Alley. Raikes bahkan membayar Ny. Meredith satu shilling setiap hari Minggu 

untuk mengajar anak-anak berpakaian compang-camping ini membaca Alkitab dan 

mengulanginya di luar kepala. namun  anak-anak ini luar biasa bandel. Terkungkung di 

sebuah pabrik yang basah dan gelap di Gloucester, Inggris, selama enam hari dalam satu 

minggu, mereka hanya dapat kesempatan bergembira ria pada hari Minggu, dan pada 

hari-hari Minggu itulah mereka menjadi liar. Setiap Minggu para petani dan pemilik 

toko merasa takut pada kenakalan anak-anak ini. Robert Raikes berharap bahwa 

"Sekolah Minggu" ini akan mengubah hidup mereka, namun mereka membawa 

kebiasaan mereka yang menjijikkan dan mengerikan itu ke dapur Ny. Meredith.  

Raikes tidak membiarkan niatnya pupus. Ia memindahkan sekolah Minggunya ke dapur 

Ny. King tempat May Critchley mengajar mereka dari pukul sepuluh sampai pukul dua 

belas siang dan dari pukul satu sampai dengan pukul lima pada petang hari. Ia 

menghendaki anak-anak hadir setelah tangan dicuci dan rambut disisir. Dalam waktu 

yang singkat anak-anak itu mau belajar. Tidak lama lalu  terkumpul Sembilan 

puluh anak menghadiri sekolah Minggu pada setiap hari Minggu. Perlahan-lahan 

mereka belajar membaca.  

Hal ini bukanlah upaya pertama Raikes bagi pembaruan warga . Sebagai seorang 

editor Gloucester -Journal yang berpikiran liberal, ia sangat sadar akan roda kemiskinan 

dan kriminalitas. Orang-orang yang tidak dapat membayar utang dipenjarakan, dan bila 

mereka keluar, tidak ada kehidupan bagi mereka. Maka mereka terdorong berbuat 

kejahatan. Selama bertahun-tahun Raikes berupaya bekerja bersama mantan napi, untuk 

membantu mereka agar tidak berbuat kejahatan, namun sia-sia.  

"Dunia bergerak maju di atas kaki anak-anak kecil." Kalimat yang berasal dari Raikes 

itu mengungkapkan pemikiran sekolah Minggu ini. Para orang dewasa telah berjalan 

terlalu jauh, namun  anak-anak baru memulainya.  

 156

Masalah yang dihadapinya ialah ketidaktahuan. Anak-anak (dari keluarga) kurang 

mampu tidak pernah mendapat kesempatan pergi ke sekolah — mereka harus bekerja 

untuk membantu keluarga mereka. Akibatnya, mereka tidak dapat beranjak dari 

kemiskinan. Namun, jika mereka dapat belajar pelajaran dasarnya — membaca, 

menulis, berhitung dan moralitas alkitabiah — pada hari libur satu harinya, suatu saat 

mereka mungkin mengubah semuanya itu.  

Jadi, eksperimen itu berawal dari Sooty Alley. Lambat-laun ide ini bertumbuh. Pada 

tahun 1783, dengan kepercayaan diri bahwa eksperimennya telah berhasil, Raikes mulai 

mengumumkannya dalam hariannya. Dengan hati-hati ia melaporkan alasan dan 

hasilnya. ide ini  menjadi populer.  

Orang-orang Kristen yang terpandang mendukung ide ini . John Wesley 

menyukainya, dan kelompok Wesley pun mulai melakukannya. Penulis populer, 

Hannah More, mengajar agama dan memintal pada gadis-gadis di Cheddar. Seorang 

pedagang dari London, William Fox, pernah menyumbangkan ide serupa, namun 

memutuskan menunjang proyek Raikes. Pada tahun 1785, Fox mendirikan perkumpulan 

untuk menunjang dan mendukung banyak sekolah Minggu di berbagai kawasan di 

Inggris.  

Ratu Charlotte pun membenarkan sekolah Minggu ini . Ia memanggil Raikes untuk 

mendengarkan hal itu dan lalu  ia mengizinkan namanya dipakai untuk upaya 

pengumpulan dana yang dilaksanakan Fox.  

Kemasyhuran membawa pertentangan juga dari para konservatif yang takut akan 

terganggunya hari Sabat oleh para pedagang, yang khawatir akan kehilangan bisnis pada 

hari Minggu. Ada beberapa teman Raikes yang mengejeknya "Bobby Wild Goose 

(pengajar sesuatu yang tidak mungkin tercapai) dan Resimen Gembelnya".  

Namun, hingga tahun 1787, ada seperempat juta anak-anak menghadiri sekolah Minggu 

di Inggris. Lima puluh tahun lalu , ada 1,5 juta anak di seluruh dunia yang dididik 

oleh 160.000 tenaga pengajar. Yang menggembirakan ialah perkembangan Manchester 

pada tahun 1835. Sekolah Minggu ini  terdiri dari 120 tenaga pengajar, yang 117 di 

antara mereka yaitu  mantan murid-murid sekolah-sekolah Minggu itu sendiri.  

Dua perubahan besar telah terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Pada awalnya, guru-

guru di sana dibayar, namun  lambat-laun hal itu telah menjadi aktivitas sukarela. Pada 

awalnya, kurikulum terdiri dari membaca, menulis dan berhitung — dengan Alkitab 

dipakai sebagai teks yang tersedia. saat  sekolah Minggu mendapat dana yang 

lumayan, mereka dapat mengadakan buku-buku teks lain. namun , saat  pendidikan 

umum berkembang, sekolah-sekolah Minggu memusatkan perhatiannya pada pelajaran 

Alkitab saja.  

Gerakan sekolah Minggu merupakan fenomena besar di Inggris dan Amerika, dengan 

implikasi religius maupun sekular. Hal ini terjadi di tengah-tengah kebangkitan rohani 

yang membalikkan Gereja dari kelesuan dan mungkin juga dapat menyelamatkan 

Inggris dari bencana revolusi yang dahsyat. Perlahan-lahan, orang-orang Kristen yang 

kaya mulai sadar akan tanggung jawab mereka terhadap kaum miskin. Gerakan sekolah 

Minggu telah menanamkan benih pendidikan umum dan merevolusi pendidikan agama, 

khususnya saat  menghidupkan pencetakan materi-materi agama. Pada akhir tahun 

1800-an, gerakan sekolah Minggu memberi  Gereja puluhan kidung baru.  

 157

Hasil paling besar yaitu  anak-anak muda yang tak terhitung jumlahnya, yang telah 

tergerak oleh interaksi sederhana dan pendidikan sekolah Minggu.  

 158

72) Tahun 1793 William Carey Berlayar Menuju India  

 

William Carey di India  

Sebuah kapal menaikkan layarnya melawan angin bulan April dan bergerak di sungai 

Thames menuju Terusan Inggris. Kapal ini herlayar menuju India membawa William 

Carey (1761 - 1834), seorang tukang sepatu yang menjadi pengkhotbah gigih dan rekan 

misionarisnya dr. John Thomas.  

Kedua orang ini  telah mengumpulkan dana, telah mengepak barang-barang 

mereka, dan pamit. Sekarang kapal ini  menyusuri pantai Inggris sebelum menuju 

laut luas. Impian, doa dan persiapan bertahun-tahun tampaknya akan terkabul dalam 

kehidupan Carey.  

Namun, laut yang ganas dan peperangan yang berbahaya antara Inggris dan Perancis 

mengakhiri persiapan Carey – perjalanan dibatalkan. Tanpa dapat dihalangi, Carey – 

yang menyebut dirinya "orang yang lamban" namun  sesungguhnya yaitu  visioner yang 

tak kenal lelah maju dengan susah payah menembus segala kesulitan untuk 

menyelesaikan pekerjaannya.  

Renungkanlah caranya dibesarkan. Ayahnya seorang penenun yang mengajar di sekolah 

untuk menghidupi kelima orang anaknya. William yaitu  anak sulung, dan ia gigih 

belajar membaca dan menulis, membaca cerita-cerita petualangan seperti Robinson 

Crusoe dan Gulliver's Travels. Kesehatannya tidak pernah baik, namun  ia berhasil 

magang pada seorang pengrajin sepatu.  

Pada usia tujuh belas tahun, ia memasuki sebuah gereja pembangkang dengan seorang 

teman dan berjanji kepada Kristus. Ia tinggalkan Gereja Anglikan yang 

membesarkannya, dengan mengabaikan nasihat ayahnya, dan kian hari kian aktif 

dengan para pembangkang itu. Ia menikah dan mulai berkhotbah di gereja. Ia berjalan 

kaki sejauh delapan mil setiap hari Minggu untuk berkhotbah di gereja yang miskin di 

sebuah kota tetangga. Ia mempelajari Perjanjian Baru dan Bahasa Yunani dengan tekun, 

serta menyulap sekaligus tiga pekerjaan – tukang sepatu, guru sekolah dan pendeta.  

Kesehatannya semakin memburuk sebab  kesukaran keluarganya. Seorang bayi 

meninggal. Istrinya mengalami tekanan mental. Mereka sering kekurangan uang untuk 

makan yang layak. Di atas semua kesulitan ini, obsesi Carey membawa Injil keluar 

negeri, sebagai kewajiban orang Kristen, meningkat.  

 159

Pada rapat-rapat para pendeta di kawasan itu, ia menguraikan secara khusus bahwa 

orang-orang Kristen harus menyebarkan Injil ke negeri-negeri yang jauh. Ia senantiasa 

ditolak. "Jika Allah hendak menyelamatkan orang-orang kafir itu, Ia akan berbuat 

demikian tanpa kau dan saya," jawab mereka kepadanya. Ia meneruskan, dengan 

menerbitkan sebuah uraian, "An Enquiry into the Obligation of Chistians to Use Means 

for the Conversion of the Heathen" ("Sebuah Penyelidikan akan Kewajiban Orang-

orang Kristen untuk Memberdayakan Segala Upaya Pertobatan Orang-orang Kafir"), 

yang memicu  panggilan bagi misi-misi luar negeri. Suatu karya yang amat baik, 

namun  tidak ditanggapi dengan baik.  

Tiga Minggu setelah uraian itu diterbitkan, perkumpulan para pendeta mengundangnya 

untuk menjelaskan kepada mereka. Teks Carey: Yesaya 54:2, 3: "Lapangkanlah tempat 

kemahmu ...." Temanya: "Nantikanlah perkara-perkara yang agung dari Allah; 

upayakanlah hal-hal besar bagi Allah." Namun para pendeta ini  tidak memberi 

tanggapan. Menjelang berakhirnya pertemuan ini , dalam frustrasinya Carey 

berseru, "Apakah tidak ada lagi yang dapat dilakukan?" Mengapa ia tidak mencari 

orang lain saja yang mau mengambil bagian dan melakukan visinya?  

Sesuatu telah terjadi. Pada pertemuan berikutnya sebuah perkumpulan misi telah 

terbentuk. Seorang dokter Kristen, John Thomas, rela melayani di India dan ia 

membutuhkan seorang rekan. Carey merelakan diri untuk pergi bersamanya.  

Situasinya tampak agak janggal. Carey memiliki  tiga orang anak kecil dan istrinya 

sedang hamil. Dapatkah ia sendiri menanggung beban-beban ini ? namun  ini yaitu  

puncak impiannya. Carey terus maju melalui tur pengumpulan dana secara cepat, berita 

bahwa dr. Thomas dicari-cari para kreditor yang belum dibayar, penolakan istrinya 

untuk bergabung dengannya, dan terlambatnya pelayaran kapal. Penundaan itu memberi 

dia kesempatan pulang dan meyakinkan istrinya, Dorothy, untuk bergabung dengan dia.  

Tidak lama lalu  mereka berangkat lagi dan mendarat di Calcutta pada bulan 

November 1793. Namun kesulitan berlanjut. Keadaan sangat memprihatinkan, 

kesehatan mereka sangat buruk, Thomas berutang lagi, dan tak seorang pun bertobat. 

Anak mereka yang paling kecil meninggal, dan dua lainnya menjadi liar.  

Pada tahun 1800, keluarga Carey pindah ke Serampore, bergabung dengan sekelompok 

misionaris dari Denmark. Di sana mereka menyaksikan pertobatan yang pertama, 

sebagian sebab  hasil usaha anak tertua Carey, Felix, yang sekarang menjadi seorang 

Kristen. lalu  sebuah gereja terbentuk dan terjemahan Perjanjian Baru dalam 

bahasa Bengali pun telah diselesaikan.  

Kesuksesan misi selama tiga dekade baru berawal. Menjelang kematiannya pada tahun 

1834, Carey menerjemahkan Alkitab dalam empat puluh empat bahasa atau dialek dan 

membuka beberapa sekolah. Berbagai pusat misi dengan aktif menginjili India dan 

sekitarnya, Burma dan Bhutan. namun  jauh di atas statistik itu, Carey telah 

mengembangkan filsafat misi yang hidup dan mempraktikkannya.  

Ia mendahului waktunya. Carey sangat menghormati kebudayaan India dan melihat 

kebutuhan akan sebuah gereja (dengan adat istiadat setempat) India. dibandingkan  mencela 

agama Hindu, ia menegaskan kematian dan kebangkitan Kristus.  

 160

Di samping semua pencapaiannya, ia juga yaitu  pemain tim yang hebat. Dari 

pengalaman, ia telah belajar bahwa tim misi lebih kuat dibandingkan  keterlibatan secara 

perorangan. Carey juga cepat mengakui peranan para wanita sebagai bagian dari tim ini. 

Seringkali kita mendapatkan ide yang keliru bahwa ia seorang diri membawa gereja ke 

era misi, namun ia sebenarnya salah seorang dari sejumlah orang Kristen di Barat yang 

meminta dukungan bagi misi luar negeri. Suaranya merupakan salah satu dari yang 

paling nyaring, dan ia menunjang kata-katanya dengan hidupnya sendiri.  

 161

73) Tahun 1807 Parlemen inggris Mengadakan Pemungutan Suara 

untuk Menghapuskan Perdagangan Budak  

 

Dalam Film "Amazing Grace", William Wilberforce menyajikan daftar Panjang Petisi 

Anti Perbudakan di Parlemen Inggris.  

Eropa menjelang akhir abad kedelapan belas yaitu  sebuah warga  yang tidak 

normal, yang kaya menjadi lebih kaya, sedang  yang miskin kelaparan. Orang-orang 

yang berutang membusuk di penjara yang basah. Anak-anak yatim piatu menjadi budak 

di pabrik-pabrik. Kristen menjadi agama tata krama kalangan atas.  

Di Perancis, orang-orang miskin meluapkan frustrasi mereka dalam Revolusi Perancis 

tahun 1789.  

Namun, pada awal 1800-an, perasaan lega menandai Gereja Inggris sebab  Britania 

telah mengelakkan revolusi. Methodisme telah merangkul kelas bawah, namun 

warga  kelas atas masih belum tersentuh – kecuali segelintir pembaru sosial utama. 

Orang-orang Kristen ini – William Wilberforce, Elizabeth Fry, George Mueller, 

Thomas Buxton, John Venn, dan lain-lainnya – percaya bahwa dedikasi mereka pada 

Kristus berarti melayani warga , bagi yang miskin dan yang membutuhkan.  

Suara lantang yang melawan perbudakan di Kerajaan Inggris yaitu  suara William 

Wilberforce, seorang Anglikan Evangelikal dan anggota parlemen. Ia bukanlah orang 

yang digemari dalam segala hal, namun pikirannya yang tajam dan bicaranya yang 

efektif membuat baik teman maupun musuhnya hormat kepadanya.  

Wilberforce lahir pada tahun 1759 dan bertumbuh sebagai seorang muda yang bebas, 

yang mengabdi pada. politik dan kesenangan. Pada usia dua puluh lima tahun, ia 

bertobat kembali, mengabdi kembali kepada Kristus yang ia kenal selagi ia masih 

kanak-kanak. Namun, waktunya kurang memadai. Ia baru saja dipilih untuk menduduki 

sebuah kursi yang berpengaruh di parlemen. Apakah devosi baru kepada Kristus ini 

akan mengakhiri ambisi politiknya?  

Ia meminta saran seorang pendeta, John Newton. Guru yang terkenal ini, yang pada 

waktu lalu yaitu  pedagang budak, dan pencipta kidung klasik "Amazing Grace", 

menyarankan Wilberforce berpegang pada politik. Allah menghendaki orang-orang 

 162

seperti Anda di Parlemen, kata Newton – mungkin kita dapat juga menghapus 

perbudakan.  

Hal itu menjadi pergolakan dalam diri Wilberforce. Ia mengemukakan usul ini kepada 

parlemen pada tahun 1787, namun  perlawanan ternyata lebih kuat dibandingkan  yang 

diduganya. Para pedagang budak itu tahu cara memainkan politik. Mereka menantang 

para pendukung penghapusan perbudakan dari segala sudut. Wilberforce mengharapkan 

dukungan kuat dari teman lama seperguruannya, William Pitt, yang sekarang menjadi 

perdana menteri. namun  Pitt yaitu  seorang moderat. Ia menginginkan perubahan secara 

perlahan-lahan, bukan penghapusan perbudakan secara total dan segera.  

Bagaimanapun, Wilberforce telah mendapatkan sekutu dari kalangan aktivis Kristen, 

yang dikenal sebagai Clapham Sect. Nama itu dikutip dari sebuah desa di selatan 

London, tempat Welberforce tinggal.  

Orang-orang ini  menjadi pemimpin-pemimpin gerakan Evangelikal di Gereja 

Inggris. Beberapa di antara mereka, termasuk Welberforce, terlibat dalam mendirikan 

Church Missionary Society (Perkumpulan Misioner Gereja) dan Britisth and Foreign 

Bible Society (Perkumpulan Alkitab Inggris dan Luar Negeri).  

Pada tahun 1806, Pitt meninggal. Para pendukung penghapusan perbudakan berhasil 

menyertakan tambahan pada RW yang berkenaan dengan perang melawan Perancis. Hal 

ini yang merintis jalan bagi RUU tahun 1807 yang menghentikan perdagangan budak di 

Inggris. (Amerika Serikat memberlakukan peraturan serupa pada tahun itu juga.)  

Wilberforce menjadi pahlawan dan memanfaatkan kesohoran yang baru diraihnya untuk 

mendorong pembaruan sosial lainnya. Ia melanjutkan pekerjaan pemberantasan 

perbudakan secara internasional dan membantu mendirikan Sierra Leone sebagai tempat 

permukiman para budak yang dibebaskan.  

Pembaru ini  berharap agar lembaga-lembaga perbudakan menghilang, segera 

setelah jual-beli budak menjadi ilegal. Ternyata ia salah. Pada tahun 1823, Wilberforce 

berusaha untuk terakhir kalinya menghapus tuntas perbudakan. Ia berhenti dari 

parlemen pada tahun 1825, namun melanjutkan perjuangannya memberantas 

perbudakan. Thomas Buxton mengambil alih pimpinan pendukung penghapusan 

perbudakan di parlemen. Akhirnya pada bulan Agustus tahun 1833, sebulan setelah 

kematian Wilberforce, parlemen menetapkan untuk membebaskan para budak dan 

memberantas semua perbudakan.  

 163

74) Tahun 1811 Para Campbell Mengawali Gerakan Disciples of 

Christ  

 

Thomas Campbell (1763-1854)  

Thomas Campbell benar-benar menyambut orang-orang yang datang dan beribadah di 

gerejanya. la menggembalakan sebuah jemaat di barat Pennsylvania, yang merupakan 

milik Seceder Presbyterian Church, denominasi pecahan yang berakar pada orang 

Skotlandia. Namun, sebab  terganggu oleh perpecahan se-pale yang disebabkan oleh 

doktrin-doktrin buatan manusia, Campbell membiarkan warga Presbiterian mana pun 

untuk datang ke gerejanya dan mengambil komuni, apakah mereka Seceder ataupun 

tidak.  

Namun, klasis ini  tidak menyukainya. Peraturan-peraturan mereka melarangnya. 

Mereka secara resmi menyelidiki hal itu dan mengutuk Campbell.  

Sebagai tanggapan, Campbell menulis surat kepada sinode. Ia menjelaskan prinsipnya 

— ideide yang tidak lama lalu  menjurus ke pembentukan denominasi baru. Gereja 

membutuhkan persatuan dan harus menghentikan formulasi-formulasi teologis 

manusiawi serta mengikuti ajaran Kitab Suci yang jelas. Ia memenangkan masalah ini. 

Sinode membatalkan kutukan klasis ini , namun terdapat perasaan kurang senang 

dari pendeta rekan Campbell. la memutuskan membuat cabang tersendiri dan memulai 

gerejanya sendiri.  

Bertahun-tahun Campbell menjadi pendeta di Irlandia Utara, namun  pindah ke Amerika 

sebab  alasan kesehatannya. Ia meninggalkan gereja dan sekolah yang dikelolanya di 

Irlandia kepada anaknya yang andal, Alexander.  

Amerika masih merupakan Dunia Baru. Perbatasannya bermula di Appalachian dan 

meluas ke arah barat. Secara religius, Amerika masih berada pada lereng rendah 

Kebangunan Rohani Besar. "Kebangkitan itu diawali Whitefield dan Edwards di pantai 

timur dan bergerak ke barat. Kebangkitan "pertemuan-pertemuan di tenda" berawal di 

Kentucky sekitar tahun 1800 dan masih berlangsung sepanjang perbatasan.  

Ironisnya, kebangkitan itu berakibat juga pada perpecahan, dan kebangunan di barat 

sama sekali berbeda dengan yang di timur. Di timur umpamanya, ada Jonathan Edwards 

 164

yang terpelajar, yang dengan saksama mengulas amarah Allah dan perlunya berdamai. 

Di barat, hanya ada sekelompok pengkhotbah dengan sedikit pendidikan seminari, yang 

berdiri di atas kereta dan membujuk orang-orang berdosa berbaikan dengan Tuhan. Ini 

yaitu  suatu perbedaan gaya, namun  sebenarnya juga perbedaan teologi. Kebangkitan di 

timur lebih Presbiterian, di barat lebih Methodis. Timur lebih condong ke Calvinis, 

barat lebih condong ke Arminian. Timur berpaling pada gereja, barat lebih individual.  

Maka, pada tahun-tahun 1800-an terjadi banyak perpecahan: Cumberland Presbytery, 

Shakers, New Light Movement dari Barton Stone, dan sekarang kelompok Thomas 

Campbell.  

Campbell mengadakan pertemuan-pertemuan di mana pun yang memungkinkan – di 

lumbung-lumbung, di perumahan dan di ladang-ladang. la juga menarik para pengikut 

dalam jumlah yang cukup lumayan. Ia menyebut kelompok itu sebagai Chrien 

Association of Washington (Asosiasi Orang-orang Kristen di Washington) untuk daerah 

Washington dan Pennsylvania. Ia juga menulis "Declaration and Address" yang menjadi 

dokumen dasar gerakan itu. Seperti halnya para pendiri gereja lainnya, ia tidak 

berkeinginan memisahkan diri dari gereja yang sudah mapan, namun ia terpaksa 

bergerak ke arah tertentu. Dan tidak satu pun gereja yang tampaknya bergerak ke arah 

itu. Bagi Campbell, arah itu bersifat alkitabiah dan sederhana. Mottonya ialah "Di mana 

Kitab Suci berbicara, kita berbicara, di mana Kitab Suci bungkam, kita pun bungkam".  

Putra Thomas, Alexander Campbell, yang tiba dari Irlandia pada tahun 1809, segera 

bergabung dengan ayahnya dalam proyek baru ini. la baru berumur dua puluh tiga 

tahun, namun  dianugerahi bakat berbicara yang bail( dan merupakan pendebat yang 

tangkas. Mereka berdua rnendirikan Gereja Brush Run pada tahun 1811 (setelah 

dilarang masuk oleh kaum Presbiterian). Setelah mempelajari Kitab Suci, kedua 

Campbell ini  menentukan bahwa membaptis orang percaya dengan cara selamlah 

yang benar, bukan membaptis anak seperti yang selama ini mereka lakukan. Jadi, 

mereka mulai membaptis ulang anggota gerejanya.  

Dalam hal ini, mereka pada dasarnya termasuk kaum Baptis, maka mereka berafiliasi 

dengan Redstone Baptist Association pada tahun 1812. Alexander Campbell menjadi 

frgur terkemuka di Gereja Baptis itu dengan mengadakan pernbicaraan secara luas dan 

menerbitkan majalah berkala, The Christian Baptist. Ia juga mendirikan sebuah seminari 

di Bethany, di barat Virginia. Campbell menulis serentetan artikel bagi majalahnya: "A 

Restoration of the Ancient Order of Things" ("Suatu Pemulihan Hal-hal Tatanan 

Kuno").  

Tidak semua anggota Baptis menyukai hal Campbell berpikir bahwa banyak ajaran 

Baptis masih terlampau Calvinistik, dan ia selalu menyerang mereka. la juga tidak 

setuju dengan pengertian kaum Baptis tentang pembaptisan. Kaum Baptis melihatnya 

sebagai peraturan yang menggambarkan keselamatan yang pernah terjadi sebelumnya. 

namun , Campbell mengambil dari berbagai kutipan mengenai "bertobat dan dibaptislah" 

di Perjanjian Baru untuk menegaskan bahwa hal itu yaitu  syarat mutlak bagi 

pengampunan. Campbell juga menolak upaya-upaya penjelasan tentang Tritunggal di 

luar Kitab Suci.  

Menjelang akhir tahun 1820-an, ketegangan mulai marak. Para pengikut Campbell 

menarik diri dari asosiasi Baptis dan bergabung pada tahun 1832 dengan Christian 

Church of Barton Stone. (Campbell dan Stone menginginkan nama alkitabiah sederhana 

 165

bagi kelompok mereka, untuk menghindari aliran denominasional. Sejak itu, istilah-

istilah Christian dan Disciples of Christ dipakai secara bergantian bagi gerakan yang 

telah bergabung itu.) Sampai di situ, telah ada 25.000 anggota.  

Gerakan ini  bertumbuh terus, sebagian sebab  kemasyhuran Campbell. Ia 

bertindak sebagai utusan pada konvensi konstitusional Virginia pada tahun 1829. 

Seorang rekan utusan, James Madison, berkata, "Saya menganggap dia seorang 

pengulas Kitab Suci yang paling orisinil dan paling mampu, sejauh yang pernah saya 

dengar."  

Pertumbuhan gerakan itu juga disebabkan oleh perluasan perbatasan bagian barat. Para 

Disciples memiliki  Injil yang sederhana, untuk waktu yang sederhana. Alexander 

Campbell juga dari semula anti-perbudakan, namun bukanlah pendukung penghapusan 

perbudakan yang keras. Jadi, gereja tidak terpecah oleh perang saudara. Menjelang 

pergantian abad kedua puluhan, terdapat lebih dari satu juta Disciples of Christ.  

Pentingnya Campbell bukan raja terletak pada didirikannya denominasi yang kuat, 

namun  juga pada dukungan mereka akan iman alkitabiah yang sederhana.  

Sejarah Gereja dipenuhi dengan ketegangan antara agama formal dan iman yang 

sederhana. Para Campbell membawa banyak orang dari tekanan formalitas ke dalam 

iman yang lebih pribadi. Menetas dan dipupuk di perbatasan suatu negeri yang sedang 

bertumbuh, para Disciples telah menjadi contoh utama kekristenan Amerika pada 

zaman itu. Mereka membantu menyediakan medan bagi gerakan-gerakan kebangunan 

rohani dan fundamentalis.  

 166

75) Tahun 1812 Adoniram dan Ann Judson Berlayar Menuju India  

 

Adoniram Judson (1788 - 1850) dan Ann Haseltine Judson (1789 - 1826)  

Hari itu merupakan bulan madu! Adoniram Judson menikahi Ann Hasseltine pada 

tanggal 5 Februari 1812, dan dalam waktu dua minggu mereka berlayar ke India, sebab  

ditunjuk sebagai misionaris oleh American Board of Commissioners for Foreign 

Missions (Badan Komisaris Amerika untuk Misi Luar Negeri) yang baru dibentuk. 

Tampaknya, sebagian besar waktu mereka di atas kapal mereka habiskan untuk bermain 

tali, berdansa, mempelajari dan membahas Alkitab.  

Mereka membahas baptisan. Dalam studi Kitab Sucinya, Adoniram memutuskan bahwa 

para Konggregasionalis salah tentang baptisan, dan bahwa para Baptislah yang benar. 

Ann tentunya menghormati keputusan pribadinya, namun mengingatkan dia bahwa 

mereka dikirim dan didanai bagi misi mereka sebagai Kongregasionalis. Ada baiknya 

hal ini dipikirkan matang-matang sebelum terlanjur membuat keputusan.  

Adoniram yang agak keras menang dalam pertengkaran itu. Ann pun menjadi seorang 

Baptis seperti rekan misionaris seperjalanan mereka, Luther Rice. saat  mereka tiba di 

Kalkutta, pasangan Judson itu mengirim Rice kembali dengan surat pengunduran diri 

dan dengan tugas yang amat berat: mencari dukungan dari gerejagereja Baptis; sebab 

para Baptis di Amerika belum memiliki  perkumpulan misi.  

Rice melakukan tugasnya dengan sangat baik, dan pasangan Judson dapat tinggal di 

Asia, serta mengukir sejarah sebagai misionaris asing pertama dari Amerika Serikat.  

Enam tahun sebelumnya, tak seorang pun menduga bahwa baik Ann maupun Adoniram 

akan terjun ke dalam tugas-tugas misi. Ann yaitu  seorang yang berkemauan keras, 

berinisiatif sendiri dan seorang remaja yang riang. Adoniram seorang yang agak 

pemarah namun  pemuda yang cerdas, yang dibesarkan secara religius, namun terhanyut 

ke dunia panggung di New York. Tulisan-tulisan Hannah More dan John Bunyan telah 

membawa Ann lebih dekat kepada Allah. Bagi Adoniram, yang membuatnya semakin 

dekat kepada Allah ialah kematian mendadak seorang teman kuliahnya yang pernah 

 167

membujuknya menolak kekristenan. Pada tahun 1808, Adoniram pulang ke Boston dan 

mengabdikan dirinya kepada Kristus.  

Membaca tentang negara-negara Asia seperti India dan Myanmar, mereka terpanggil 

untuk menjadi misionaris di sana. Hal itu tidak mudah sebab  belum ada badan 

penginjilan di Amerika yang akan mengirim dia.  

The Haystack Prayer Meeting (Persekutuan Doa Penimbunan Jerami) membawa 

perubahan itu. Sekelompok mahasiswa dari Williams College dan Andover Seminary 

lari menuju sebuah lumbung untuk berteduh dari hujan. Di situ, dekat setumpuk jerami, 

mereka mulai mendoakan kebutuhan dunia ini. Setiap yang hadir, termasuk Adoniram 

Judson, merasa terpanggil untuk pelayanan misioner. Di bawah pimpinan Samuel J. 

Mills, mereka menghadap Gereja Kongregasional untuk penugasan. American Board of 

Commissioner for Foreign Missions telah didirikan pada tahun 1810, namun  perlu waktu 

untuk mendapatkan dukungan bagi orang-orang yang baru ditunjuk. sebab  tidak sabar, 

Adoniram berlayar ke London, mencoba mencari dukungan dari London Missionary 

Society (Perkumpulan Misioner London), saat  itu perang sedang berkecamuk antara 

Perancis dan Inggris dan pihak Perancis menangkap kapalnya. Judson menghabiskan 

waktu yang kurang menyenangkan untuk beberapa lama sebagai tawanan perang, 

hingga ia dapat meyakinkan bahwa ia yaitu  orang Amerika, bukan orang Inggris. Ia 

kembali ke Boston dengan selamat, dan badan ini  bersedia mengirimnya bersama 

empat orang lainnya pada tahun 1812.  

Sementara itu, Adoniram bertemu Ann dan menjalin hubungan kasih. Ia menjanjikan 

Ann kehidupan keras, pelayanan misionaris di ternpat-tempat prirnitif, kerja keras dan 

tanpa fasilitas. Wanita mana yang dapat bertahan? Namun, dari awal Ann bertindak 

sebagai seorang rekan setia Adoniram, dengan melibatkan diri sepenuhnya dalam 

upaya-upaya misi. saat  ia diteguhkan untuk tugas misi, Ann turut berlutut dengannya, 

sehari setelah pernikahan mereka. lalu  mereka berangkat.  

Namun, lebih banyak lagi kesulitan yang menanti mereka di India. Para penguasa 

Inggris di India tidak mengizinkan orang-orang Amerika ini tinggal di India. William 

Carey menganjurkan mereka pindah ke Myanmar. Putranya, Felix, yaitu  duta besar di 

sana dan dapat memberi  pondokan bagi mereka untuk sementara. Banyak lagi 

kesulitan yang dihadapi untuk masuk ke Myanmar, namun pasangan Judson akhirnya 

sampai juga dan segera mereka memulai pekerjaannya, belajar bahasa setempat,- 

mengawali dengan sekolah untuk anak-anak perempuan dan menerjemahkan Perjanjian 

Baru. Ann belajar bahasa Myanmar seperti Adoniram, dan membantu penerjemahan.  

Setelah enam tahun, baru mereka memenangkan jiwa baru yang pertama. Kesukaran 

berlanjut, Ann memiliki  masalah kesehatan dan harus kembali ke Amerika Serikat 

untuk sementara. Tidak lama setelah ia kembali ke Myanmar, Perang Inggris – 

Myanmar pecah. Adoniram ditawan dan dipenjarakan selama dua tahun. Ann pindah ke 

tempat yang berdekatan dan mengunjunginya secara teratur. Cobaan ini merusak 

kesehatan Ann dan Adoniram.  

Tentara Inggris membebaskan Adoniram, namun tidak lama lalu  Ann meninggal, 

pada usia tiga puluh enam tahun. Adoniram bekerja dua puluh empat tahun lagi di 

Myanmar dan sekarang hasilnya lebih banyak lagi. Perjanjian Baru terjemahan bahasa 

Myanmar oleh pasangan Judson diterbitkan, juga katekisasi yang ditulis oleh Ann. (Ann 

juga telah menerjemahkan ke dalam bahasa Siam beberapa bagian Kitab Suci.) Judson 

 168

telah mendirikan enam puluh tiga gereja, sebagian besar di tengah-tengah suku Karen, 

warga  pegunungan antara Myanmar dan Siam. yaitu  kepercayaan tradisi Karen 

bahwa akan ada orang asing yang mengunjungi mereka dan memulihkan pengetahuan 

tentang Allah yang sesungguhnya, yang telah hilang dari mereka. Sampai sekarang, 

sudah lebih dari 100.000 orang Karen yang telah dibaptis sebagai orang-orang Kristen. 

American Baptist Foreign Missioner Society (Perkumpulan Misi Luar Negeri Baptis 

Amerika) turunan perkumpulan misi Baptis yang dibentuk Luther Rice – mendukung 

perluasan pekerjaan di tengah-tengah suku Karen.  

Suami istri Judson memulai dua misi kewarga an yang berbeda. Hal ini, pada 

gilirannya, memicu pembentukan beberapa organisasi Kristen dan dewan misi di 

Amerika. Mereka memelopori suatu pelayanan Kristen di Asia Tenggara. Mereka juga 

berfungsi sebagai inspirasi bagi para pasangan misionaris yang tak terhitung jumlahnya 

dalam melakukan misi-misi lapangan yang berat secara bersama-sama.  

 169

76) Tahun 1816 Richard Allen Mendirikan Gereja Episkopal Methodis 

Afrika  

 

Richard Allen (1760-1831), uskup pertama Gereja Episkopal Methodis Afrika di 

Amerika Serikat  

Kejadian ini terjadi pada tahun 1787 di Gereja Methodis St. George, di Philadelphia. 

Richard Allen, seorang kulit hitam, telah berkhotbah di sana beberapa kali, namun  pada 

hari Minggu ini ia duduk di serambi. sebab  sesuatu dan lain hal, bagian yang biasanya 

dipisahkan untuk orang berkulit hitam pada hari ini tidak tersedia, dan para penjaga 

pintu telah mengalihkan para pengunjung berkulit hitam ke bagian lain. Namun, 

tampaknya ada kesalahpahaman, dan mereka duduk di tempat yang salah.  

saat  mereka berlutut untuk berdoa, seorang wali melihat orang-orang kulit hitam 

yang ada di bagian kulit putih; serta-merta saja ia mendatangi orang-orang kulit hitam 

itu untuk menyeret keluar salah seorang di antara mereka. Dia yaitu  Pdt. Absolom 

Jones, seorang pemimpin Methodis kulit hitam terkemuka. "Kau harus berdiri," seru 

sang wali ini , "Kau tidak boleh berlutut di sini."  

"Tunggu sampai doa selesai," jawab Jones.  

"Tidak, kau harus berdiri sekarang juga, atau saya akan memanggil bantuan untuk 

menyeretmu keluar."  

"Tunggu sampai doa selesai," Jones mengulangi, "dan saya akan berdiri dan tidak akan 

menyusahkan Anda lagi."  

Akan namun  tampaknya tidak dapat ditunggu lagi. Sang wali dan seorang penjaga pintu 

mulai menyeret Jones dan jemaat kulit hitarn lainnya keluar. Sementara itu doa pun 

telah usai. Allen dan para kulit hitam lainnya keluar. "Mereka tidak lagi kita ganggu," 

 170

tulis Allen, dan menambahkan bahwa mereka telah mendanai perlengkapan gereja 

ini  dengan murah hati. Mereka telah mendanai pemasangan lantai yang di atasnya 

mereka berlutut.  

Allen dan Jones menuntun orang-orangnya mengadakan kebaktian tersendiri di sebuah 

gudang yang disewa. Lambat-laun mereka membeli sebidang tanah dan membangun 

sebuah gereja. Namun mereka melanjutkan perjuangan mereka dengan Methodis kulit 

putih, khususnya mereka yang ada di St. George.  

Kejadian-kejadian seperti itu bukannya tidak umum pada masa itu. namun  sungguh 

ironis bahwa kejadian berlutut itu terjadi justru di sebuah Gereja Methodis, sebab  para 

Methodis di Amerikalah yang dengan cepat menyikapi bahwa seorang budak pun 

yaitu  manusia juga, dan punya kebutuhan untuk mengenal Yesus seperti orang kulit 

putih mana pun. Misionaris-misionaris Methodis telah ditunjuk untuk membimbing para 

budak dan mereka yang telah dibebaskan. Dan para pemimpin Methodis mengetahui 

betul bahwa misionaris kulit hitam lebih efektif untuk saudara-saudaranya yang berkulit 

hitam.  

Richard Allen lahir sebagai seorang budak pada tahun 1760, di rumah Benyamin Chew, 

seorang pengacara terkemuka di Philadelphia. Keluarganya telah dijual kepada seorang 

petani di dekat Dover Delaware. Di sana Allen menjadi Kristen pada usia remaja. Ia 

mulai bergaul dengan kelompok Methodis. Pada suatu kesempatan ia mengatur agar 

sang pengkhotbah dapat berkhotbah di rumah tuannya. Tuannya, meskipun bukan 

seorang Kristen, terkesan oleh teks sang pengkhotbah ("Engkau ditimbang di sebuah 

timbangan dan ditemukan masih kurang"). Akibatnya, Allen dan saudaranya diberi 

kesempatan membeli kebebasan mereka.  

Sebagai orang bebas, Allen bekerja sebagai pembelah kayu dan tukang batu. la tetap 

sebagai seorang gerejawan aktif. Selama masa Revolusi ia menjadi kusir kereta 

pengantar garam. Di sepanjang perjalanannya ia juga berkhotbah. Keahliannya 

berbicara membuatnya populer, baik di kalangan kulit hitam maupun kulit putih. 

Sepanjang perjalanannya di Delaware, New Jersey dan Pennsylvania, dengan 

mengambil pekerjaan sambilan, ia juga berkhotbah pada ma-lam hari dan pada akhir 

pekan.  

Pada tahun 1784, Gereja Episkopal Methodis dengan resmi didirikan di Amerika 

Serikat. John Wesley menunjuk Thomas Coke dan Francis Asbury sebagai 

"pembantu"nya untuk mengarnati gereja Amerika, dengan Richard Whatcoat dan 

Thomas Vassey sebagai pemimpin-pemimpin yang diangkat. Selama Perang Revolusi 

khususnya, gerakan Methodis di Amerika telah terpecah-pecah – sebagian sebab  masih 

merupakan gerakan dalam lingkungan Gereja Anglikan, dan perang ini  justru 

menekan kesetiaan semacam itu. Tindakan-tindakan Wesley pada tahun 1784 

menyatukan perpecahan ini , dan untuk pertama kalinya mengukuhkan Methodis 

sebagai gereja tersendiri.  

Richard Allen menarik perhatian Richard Whatcoat, yang ditempatkan di lingkungan 

Baltimore. Whatcoat mengundang Allen untuk ikut bersamanya tatkala ia mengunjungi 

gereja. lalu  Allen dalam perjalanannya diundang untuk bergabung dengan 

Asbury.  

 171

saat  Allen mendarat di Philadelphia, ia berkhotbah di Gereja St. George jika 

memiliki  kesempatan, namun pada waktu-waktu itulah akhirnya ia meninggalkan 

tempat itu, seperti apa yang telah kita lihat. Salah seorang yang berlutut yang ikut 

tersinggung, Absolom Jones, memisahkan diri dari Methodis pada tahun 1793, dan 

membentuk Gereja Episkopal Protestan Kulit Hitam, namun Allen menolaknya. "Saya 

tidak dapat menjadi apa pun kecuali seorang Methodis," tulisnya, "sebab  saya 

dilahirkan dan dibangkitkan di bawah mereka, dan saya dapat berjalan terus dengan 

mereka. "  

Ia pun berjalan terus bersama dengan mereka, dengan mengawali Gereja Bethel 

Episkopal Methodis Afrika di Philadelphia pada tahun 1794. Francis Asbury yang 

menyampaikan khotbah peresmian. Namun demikian, para pemimpin St. George 

mencoba menguasai gereja Allen. Sesungguhnya orang-orang kulit hitam tidak 

memiliki  hak yang leluasa pada masa itu, namun Gereja Bethel berusaha 

memenangkan kasus pengadilan melawan St. George.  

Bintang Allen mulai bersinar lebih terang dalam denominasi Methodis, meskipun 

tekanan-tekanan dari gereja saingan di seberang kota berlanjut marak. Allen diteguhkan 

sebagai diaken pada tahun 1799 dan sebagai penatua pada tahun 1816 – dua posisi yang 

tidak pernah terdengar dicapai oleh seorang kulit hitam. Namun, pada tahun 1816, ia 

mernutuskan meninggalkan Methodis dan memulai denominasi baru, Gereja Episkopal 

Methodis Afrika (African Methodist Episcopal [AME] Church). Gereja Allen 

bergabung dengan beberapa gereja kulit hitam independen lainnya, dan Allen menjadi 

uskup kelompok baru ini. Baltimore dan Philadelphia menjadi titik-titik fokus 

denominasi baru ini.  

Allen membuat administrasi yang hebat bagi gereja baru ini, dengan corak garis 

Methodis. Ia terus mengadakan perjalanan, berkhotbah dan mendirikan gereja-gereja 

baru hingga akhir hayatnya pada tahun 1831. Jumlah gereja AME bertumbuh terus 

segera setelah masa Perang Saudara, sebab  budak-budak yang dibebaskan mencari 

tempat-tempat kebaktian yang sungguh-sungguh bebas.  

Denominasi baru ini merupakan inspirasi bagi orang-orang Kristen yang tertekan. Pada 

saat itu, hal ini merupakan deklarasi kemerdekaan yang hebat. Orang percaya kulit 

hitam akan melayani Kristus dengan senang hati, namun  mereka tidak bisa diperlakukan 

melewati batas oleh saudara-saudara kulit putih mereka. Kepemimpinan Allen yang 

berani telah berbuat banyak untuk memelihara spiritualitas kulit hitam yang kuat di 

Amerika, yang sampai sekarang masih hidup.  

 172

77) Tahun 1817 Elizabeth Fry Mengawali Pelayanan bagi Narapidana 

Perempuan di Penjara  

 

Elizabeth Fry (1780 - 1845)  

"Jauh di mata, jauh di hati", begitulah perumpamaan bagi para narapidana Inggris pada 

awal-awal tahun 1800-an. Keadaan penjara-penjara gelap, tidak bersih, berdesak-

desakan dan tanpa harapan. Para tersangka bermacammacam kriminalitas — baik 

dengan kekerasan ataupun tidak — dimasukkan ke dalam penjara tanpa perbedaan 

antara terpidana dan terdakwa yang menunggu peradilan. Para wanita yang menjanda 

ataupun yang ditinggalkan suaminya, sering terlilit utang dan dipenjarakan, dengan 

membawa anak-anak mereka.  

John Howard, seorang awam Kristen yang menjadi sherif Bedfordshire pada tahun 

1773, telah meminta perhatian warga  tentang kondisi penjara-penjara Eropa yang 

kotor. Ia mengadakan perjalanan sejauh 50.000 mil dan menghabiskan uangnya sendiri 

sebanyak 30.000 pound untuk memperjuangkan pembaruan penjara. Malangnya, 

mereka tergerak namun  tidak termotivasi untuk mengubah keadaan. saat  Howard 

kembali dari sebuah perjalanan yang menyiksa untuk mencari fakta di Italia, ia 

menyaksikan pengumpulan dana bagi sebuah patung untuk menghormati dia. Satu-

satunya wujud peringatan yang diinginkannya, ia berkata pada mereka, yaitu  

melanjutkan pembaruan penjara. Namun sampai awal tahun 1850-an keadaannya tetap 

sama.  

Penerus John Howard yang hampir tidak dapat dipercaya ialah seorang wanita, 

Elizabeth Fry. Putri seorang pedagang wol dan bankir yang kaya, Elizabeth Gurney 

dibesarkan di keluarga Quaker yang liberal. saat  la menjadi seorang gadis kecil, - ia 

membaca buku-buku Voltaire, Rousseau dan Thomas Paine. Pada usia tujuh belas 

tahun, dalam buku hariannya ia menulis bahwa ia tidak punya agama.  

Akan namun  tahun berikutnya ia bertemu dengan seorang Quaker dari Amerika, William 

Savery, yang mengajarkan dia tentang kehadiran Allah. Ia mulai menghadiri pertemuan 

Quaker yang lebih terbatas dan menjadi lebih serius akan imannya.  

Pada usia kedua puluh, Elizabeth menikahi Joseph Fry, juga dari keluarga bankir yang 

kaya. Ia melahirkan sebelas orang anak. Namun, keterlibatannya dengan pertemuan 

 173

Quaker bertumbuh, dan pada tahun 1811, pada usia tiga puluh tahun ia diakui sebagai 

seorang "pendeta".  

Tiga tahun lalu  ia mengunjungi Newgate, sebuah penjara dekat London. Terkejut 

akan kondisinya, ia melakukan apa yang ia dapat, dengan membawa pakaian bagi anak-

anak para narapidana wanita. Meskipun John Howard telah berusaha, namun sistem 

hukuman Inggris bertambah buruk. Antara tahun 1800 dan 1817, angka narapidana 

bertambah dua kali lipat, dan menimbulkan kepadatan luar biasa. Sesuatu harus 

dilakukan, khususnya bagi para wanita dan anak-anak, yang dalam banyak hal, satu-

satunya kesalahan mereka yaitu  kemiskinan.  

Pada tahun 1817, Fry mengorganisasi sebuah tim wanita untuk menjenguk narapidana 

wanita secara teratur, membacakan Alkitab kepada mereka, dan mengajar mereka 

menjahit. Pekerjaan berguna ini mengubah prilaku kehidupan para penghuni penjara itu. 

Banyak perusahaan di London mulai mendukung upayaupaya Fry dan ia pun dielu-

elukan di seluruh Inggris.  

Oleh sebab  perang melawan Napoleon usai, orang-orang Inggris mengalihkan 

perhatian mereka ke masalah-masalah lain. Satu di antaranya yaitu  reformasi penjara. 

Fry memperluas komite-komite wanita pelawat penjaranya ke kawasan-kawasan baru, 

dan pada tahun 1821 mendirikan British Society for Promoting Reformation of Female 

Prisoners (Perkumpulan Inggris untuk Meningkatkan Reformasi bagi Narapidana 

Wanita). Thomas Buxton, yang di lalu  hari akan membantu Wilberforce 

memenangkan perjuangan untuk memberantas perbudakan, menerbitkan suatu studi 

tentang penjara Newgate pada tahun 1818, yaitu saat  ia mempertanyakan apakah 

sistem hukuman sebenarnya membantu atau menyiksa warga . Tidak lama 

lalu , reformator ini mendapat perhatian dari Menteri Dalam Negeri Robert Peel 

yang berkuasa, yang mendesak melalui parlemen agar Undang-undang Penjara tahun 

1823 dibatalkan.  

Hal ini membarui penjara-penjara Inggris secara radikal dan membatasi jumlah 

pelanggaran yang digolongkan ke dalam hukuman mati (sampai 500). Robert Peel juga 

memprakarsai pasukan polisi tetap, yang anggotanya dikenal sebagai "bobbies", dari 

julukan Peel.  

Sampai ajalnya pada tahun 1845, Fry terus meningkatkan perbaikan-perbaikan kondisi 

penjara. Meskipun negara Eropa lainnya mengikuti jejak Inggris, Inggris sendiri 

tampaknya kembali dengan sikap yang lebih keras. Namun upaya Fry abadi hasilnya. 

Bersama-sama dengan tokoh sezamannya, seperti William Wilberforce dan Goerge 

Mueller, ia mengajak generasi-generasi orang Kristen untuk memangku tanggung jawab 

sosial mereka secara serius. Ia juga melanjutkan tradisi turun-temurun, yaitu wanita 

yaitu  penunjuk jalan bagi usaha-usaha karitatif.  

 174

78) Tahun 1830 Mulainya Kebangunan Rohani Perkotaan oleh 

Charles G. Finney  

 

Charles G. Finney (1792-1875)  

Kebangunan rohani telah melanda selatan dan timur New England, sampai ke 

perbatasan barat Tennesee dan Kentucky menjelang tahun 1800. Sementara bergerak ke 

barat, kebangkitan itu semakin dikenal sebab  emosionalitas mereka yang bertobat.  

Seperti kebanyakan Calvinis, para Presbiterian meragukan pertobatan yang beremosi 

tinggi itu, namun dari jajaran mereka sendiri muncul seorang revivalis abad kesembilan 

belas yang menarik dan efektif.  

Charles Grandison Finney dilahirkan pada tahun 1792 di Connecticut. Seperti 

kebanyakan orang pada masanya, ia pindah ke barat – pada tahun 1794 orangtuanya 

pindah ke bagian barat New York. Finney muda belajar di sebuah biro hukum di 

Adams, New York dan telah diterima sebagai pengacara negara.  

Ia tertarik pada Alkitab sebab  menemui banyak acuan ke Alkitab dalam buku-buku 

hukum. Finney mulai membaca firman Allah dan menghadiri kebaktian. Setelah 

pergumulan keras beberapa waktu lamanya, pada tahun 1821 ia bertobat. "Aku telah," 

katanya, "dibayar Tuhan Yesus Kristus untuk membela perkaraNya." Segera pula ia 

mulai berkhotbah.  

Finney bergabung dengan Gereja Presbiterian dan ditahbiskan pada tahun 1824, setelah 

ia belajar dari pendetanya. Dengan menunggang kuda ia keluar masuk kampung, sambil 

mengumpulkan massa. Pengkhotbah yang berperawakan tinggi mempesona dan lantang 

ini berbicara kepada mereka dengan gaya langsung dan sederhana, seperti ia berhadapan 

dengan para juri.  

Para pengkhotbah pertemuan kebangunan rohani terkenal dalam hal membangkitkan 

emosi. Meskipun Finney menghindari gaya teater di podium, namun ia berupaya 

mendapatkan perhatian para pendengarnya. la berkata, "Umat manusia tidak akan 

bertindak sebelum mereka tertarik." Dengan bekerja soma dengan Roh Kudus, ia 

berupaya menyampaikan firman Tuhan kepada orang banyak.  

 175

Pada tahun 1830, Finney memimpin kebangunan rohani yang meraih sukses hebat di 

Rochester, New York. Sejak itu, kebangunan rohani menjadi ciri kehidupan perkotaan 

Amerika.  

Pada tahun 1832, Finney pindah ke Gereja Presbiterian Kedua di New York City. namun  

ia selalu keberatan dengan Presbiterian bermuatan Calvinisme yang tinggi, dan pada 

tahun 1834 pindah lagi ke Gereja Kongregasional, Broadway Tabernacle, yang 

dibangun khusus untuknya.  

Beberapa metode kebangunan rohani Finney — yang disebut langkah-langkah baru 

berasal dari para pengkhotbah di perbatasan yang menekankan emosionalisme. Ia 

memakai  "bangku kerinduan", yang ditempatkan di depan, agar orang-orang 

berdosa dapat minta didoakan. Finney mengadakan pertemuan-pertemuan semalam 

suntuk untuk mendoakan orang-orang berdosa dengan menyebutkan nama yang 

bersangkutan, dan para wanita dapat berdoa di muka umum. Meskipun ia tidak 

mendorong mereka, para revivalis diperkenankan berteriak, meratap dan menunjukkan 

tanda-tanda emosi lainnya. Langkah-langkah baru ini merupakan standar karya 

kebangunan rohani. Gereja-gereja yang menganutnya bertumbuh, sekalipun banyak 

kritikan akan cara-cara ini.  

Sebelum Finney mengunjungi sebuah kota, ia merekrut para pendeta dan orang-orang 

awam dari gereja-gereja setempat. XIereka mengorganisasi pertemuan-pertemuan doa, 

dan setelah pertemuan kebangunan rohani, mereka dapat bekerja dengan para petobat 

baru dengan mengunjungi dan mengundang tnereka ke gereja. Jika gereja-gereja 

setempat tidak bersedia terlibat dalam tindak lanjutnya, Finney tidak akan berkhotbah di 

tempat ini . Itu merupakan peraturan penting.  

Selain itu, para pendukung setempat menyebarkan brosur, menempelkan poster-poster 

dan memasang iklan pada berbagai surat kabar. Promosi telah menjadi bagian dari 

pekabaran Injil.  

Meskipun harus berhadapan dengan oposisi, namun tenaga, tekad dan kecerdasan 

Finney – dan sukses langkah-langkah barunya – menjadikan ide-idenya populer. 

Kebangunan rohani modern telah dimulai.  

Dalam tulisannya Lectures on Revivals of Religion (Kuliah tentang Kebangkitan 

Agama) yang dipublikasikan pada tahun 1835, Finney menjelaskan, "Kebangunan 

rohani bukanlah mujizat atau bergantung pada mujizat dalam hal apa pun, namun  

merupakan hasil tepat guna dari cara-cara yang sudah ada."  

Metode Finney diterima dengan baik oleh sebuah negara yang telah mengembangkan 

pandangan yang tinggi akan nilai manusia biasa di bawah demokrasi model Jackson. 

Para revivalis telah membuat orang biasa sebagai partisipan dalam drama religius yang 

agung, dan mengajak mereka agar yakin bahwa tiap pribadi dapat membuat pilihan 

yang tepat bagi Tuhan. Dengan berfokus pada kemampuan tiap orang untuk menilai 

dirinya sendiri, ia sependapat dengan ide orang Amerika bahwa seorang pegawai atau 

bocah peladang memiliki  rasio yang sama nilainya dengan pemilik perkebunan.  

Pada tahun 1835, Finney pergi ke Oberlin College untuk mengajar teologi. Enam tahun 

lalu  ia menjadi ketua perguruan ini . Ia mengadakan kebangunan rohani 

terus-menerus sampai is wafat pada tahun 1875.  

 176

79) Tahun ±1830 John Nelson Darby Membantu Mengawali Plymouth 

Brethren  

 

John Nelson Darby. 1800 - 1882  

Lima pria berkumpul untuk kebaktian di sebuah rumah di Dublin, Fitzwilliam Square 

pada bulan November, 1829. Tuan rumah, Francis Hutchinson, menggelar kebaktian 

sederhana dan mengundang mereka bertemu di sana secara teratur pada waktu-waktu 

yang tidak mengganggu aktivitas gereja mereka yang lain.  

Bagi yang berpikiran modern, pertemuan seperti itu kelihatannya tidak luar biasa. 

namun  pada waktu itu hal ini  yaitu  sesuatu yang tidak umum. Gereja Inggris yang 

telah dikukuhkan mendominasi kehidupan dan praktik religius. Persekutuan dan 

kebaktian di luar gereja dianggap tidak benar. Mengadakan komuni tanpa seorang imam 

yaitu  skandal.  

John Nelson Darby hadir pada pertemuan ini , namun agak kurang tepat jika ia 

dikatakan sebagai pendiri Plymouth Brethren (Persaudaraan Plymouth). Dia hanyalah 

salah seorang dari antaranya yang bertindak sebagai pemimpin pada hari-hari awalnya, 

meskipun ia menjadi juru bicara yang patut dikagumi.  

Pada tiga dekade pertama abad kesembilan belas, semangat spiritual sedang bekerja di 

Irlandia. Beberapa orang Katolik berpindah ke Gereja Anglikan atau ke gereja-gereja 

lain, gerakan independen juga sedang bangkit. Orang-orang Kristen secara berkelompok 

mulai mengadakan pertemuan di luar gereja mapan – dengan hanya Alkitab sebagai 

pedoman mereka.  

Gerakan Plymouth Brethren mungkin berpaling kembali ke Anthony Norris Groves, 

seorang dokter gigi Kristen sejati. Ia bersedia meninggalkan praktiknya untuk pelayanan 

misi di Persia. Dengan patuh ia memasuki Trinity College, di Dublin pada tahun 1826, 

menyiapkan diri untuk pentahbisan. Namun, di sana ia berhubungan dengan sejumlah 

orang Dublin yang berpikiran independen. Teman ini telah mengguncang pandangannya 

mengenai high church. Namun ia pernah bertanya-tanya, apa perlunya semua kelas dan 

ujian-ujian ini bagi saya untuk menjadi seorang misionaris? Akhirnya ia memutuskan 

bahwa ia tidak membutuhkan pentahbisan ataupun perkumpulan misi resmi. la cukup 

melangkah dalam iman.  

 177

Groves mengumpulkan teman dari Dublin dan Plymouth serta berangkat ke Bagdad 

pada tahun 1829. Dukungan terhadap Groves telah menjadi faktor pemersatu sebab  

kelompok-kelompok bertemu untuk mendoakan dia dan mengumpulkan dana untuk 

mendukung dia.  

Sementara itu, John Nelson Darby sedang bertugas sebagai kurator di County Wicklow. 

la telah belajar hukum di Trinity College, namun segera menanti penahbisan. Ia pun 

seorang gerejawan sejati, namun  ia menjadi kecewa sebab  kebijakan "pintu tertutup" 

gerejanya. Tampaknya, atasannya lebih mempedulikan keanggotaan gereja ketimbang 

Kristus.  

Setelah terluka dalam kecelakaan pada tahun 1827, Darby mengambil cuti dari 

gerejanya untuk memulihkan kesehatannya di Dublin. Di sana ia bertemu dengan 

sejumlah orang yang berpikiran sama, beberapa dari lingkungan pendukung Groves. 

Kelompok ini mendukung ide-ide yang sudah terbentuk dalam benak Darby. Tidak lama 

lalu  ia meninggalkan kedudukannya, namun  ia belum memisahkan diri dari 

gerejanya. Ia menjadi pendukung terang-terangan bagi keterbukaan dan kesatuan gereja 

dengan menerbitkan selebaran yang menganjurkan perubahan kebijakan dalam gereja. 

Ia menyerukan spiritualitas yang benar di antara orang Kristen dan kembali ke Kitab 

Suci. Satu aspek Kitab Suci yang telah diabaikan ialah nubuat. la terpesona akan teori-

teori akhir zaman dan meminta agar para pemimpin Kristen memperhatikan hal ini. 

Serentetan konferensi nubuat diadakan pada awal-awal tahun 1830-an untuk 

memikirkan hal ini.  

Pandangan dominan yang terdapat di gereja yang mapan bersifat "pascamillenium", 

yaitu gereja akan membawa era perdamaian, setelah itu Baru Kristus akan kembali. 

namun  Darby berpegang pada ajaran Manuel de Lacunza, biarawan Chile abad 

kedelapan belas. Lacunza berpegang pada kedatangan kembali pramillenial – dunia 

akan menuju kehancuran hingga Kristus datang dan memulai dengan pemerintahan 

seribu tahun-Nya. (Lacunza juga mengemukakan bahwa Kristus pertama akan tampil 

untuk memisahkan orang-orang yang setia kepada-Nya dari bencana-bencana yang 

teramat buruk, sebelum Ia kembali untuk mendirikan pemerintahan-Nya.)  

Pada tahun 1831, fokus gerakan ini  mulai berpindah ke Plymouth, Inggris. Pada 

tahun-tahun berikutnya terdapa