Singkatan yang Digunakan dalam Teks
Abfr Syimah = Abt SyAmah, Kittb al-Rawdhatayn, editor: M.H.M. Ahmad,
Kairo, 1954.
Abfi Syimah, RHC = Abt Syimah, Kitilb al-Rawdhatayn, RHC,IY.
Al-Anshiri, penerjemah: Scanlon = Al-Anshiri, Tafrij al-Kurub f Tadbir al-
Harrtb, terjemahan G.T Scanlon yang diberi judul ,4 Muslim Marual of 'Var,
Kairo, 1961.
Al-'Azhimi = Al-'Azhimi, 'La chronique abr€gde d'al-'Azimi', editor: C.
Cahen, lA, 230 (1939), 353448.
Al-Harawi, editor: Sourdel-Thomine = Al-flarawi , al-Thdzhirah al-Harawiyah
fi'l-Hiyal al-Harbfiyab, penerjemah: J. Sourdel-Thomine, BEO, 17 (lg62), lO5-
268.
Al-Harawi, penerjemah: Sourdel-Thomine, Gaide = Al-IIarawi, Kitib al-
Ziylrfu, penerjemah: J. Sourdel-Thomine, dengan judul Guide des lieux de
pelerinage, Damaskus, 1957.
Al-Maqrizi, htiaz = Al-Maqrizi, Ixilz al-Hunaf?', II, editor: M. H. M.
Ahmad, Kairo, 1971.
Al-Maqrizt, penerjemah: Broadhurst = Al-Maqrizi, Kithb al-Suluh,
penerjemah: R J. C. Broadhurst, dengan judul History of Ayyubids and Mamluhs,
Boston, 1980.
Al-Nuwayri = Al-Nuwayri, Nihdyat alArab f Fun,irn al-Adab, )O(\ II, editor:
S. A. al-Nuri, Kairo, 1992.
Al-'[Jmari, Lundquist = Al-'lJmari, Masllih al-Abshilr, terjemahan terpisah
E. R Lundquist, dengan judul Sakdin and Richard. the Lionhearted, Lund,
1996.
Al-Yfrnini = Al-Y0nini, Dzaltl Mir'at al-Zamln, 4 jilid, Hyderabad, 1954-
196r.
Atabegs = Ibn al-Atsir, al-Ttrthh al-Bahir fi'l-Dawkt al-Atabaqiyyah, editor:
A. A. Tirlaymat, Kairo, 1963.
BEO = Bulletin drs Etuda Orientalis.
BIFAO = Bulletin de I'Institut Frangais dArchiologie Orientale du Caire.
BSOAS = Bulletin of the School of Oriental and Afican Studies.
lvlll
Bughyah = Ibn al-hdim, Buglryat al-Thahb, edisi terpisah A. Sevim, Ankara,
1976.
Bughyah, ZaWA, = Ibn al-Adim, Bughyat al-Thalab, editor: S. Zakkir,
Damaskus, 1988.
Elt = Encyclo?aedia of Islam, edisi pertama.
EI2 = Enrrloraedia of Islam, edisi kedua.
Gabrieli = F. Gabrieli, Arab Historians of the Crusades, London, 1969.
Ibn hbd al-zhahir, Rawd = Ibn Abd al-Zhihir, al-Rawd al-Zhahir, editor:
A. A. al-Khuwayrir, Riyadh, 1976.
Ibn Abd al-Zhihir, Toyif = Ibn Abd al-Zhahir, Thsyrtf al-Ayfim wa'l-
'Uhfrt editor: M. Kamil dan M. A. al-Najjar, Kairo, 1961.
Ibn al-Adim, Zubdah = Ibn al-Adlm, Zubdat al-Hahb min Tlrihh Halab,
editor: S. Zakkir, Damaskus, 1997.
Ibn al-Adim, Zubdah, Dahan = Ibn al-Adlm, Zubdat al-Hahb, editor: S.
Dahan, Damaskus, 1954.
Ibn al-Adim, Zubdah, RHC, III = Ibn al-Adim, Zubdat al-Hakb min
Ttrihh Halab, RHC,III.
Ibn al-Atsir, Atabegs, RHC = Ibn al-Atsir, al-Ttrihh al-Bahir fi'l-Dawkt al-
Atabaqlryah, RHC, Iil.
Ibn al-Atsir, IQmil = Ibn al-Atsir, al-I(lmil fi'l-TAihh, editor: C. J. Tornberg,
Leiden dan Uppsala, 1851-1876.
Ibn al-Atsir, RHC, Klrnil = lbn al-Atsir, Ktmil dalam Recueil des historiens
dts Croisades,l.
Ibn al-Diwadiri = Ibn al-Diwaddri, Kanz al-Durar, M, editor: S. al-
Munajjid, Cairo, 1961.
Ibn al-Furit, Lyons = Ibn al-Fur1t, Tnrihh al-Duwal wa'l-Muluh, editor dan
penerjemah: M. C. Lyons dengan judul Ayyubids. Mamluhes and Crusad.ers,
Cambridge, 1971.
Ibn al-Furit, Shayyal = Ibn al-Furit, Ttrihh al-Duwal uta'l-Muluh, edisi
terpisah M. F. El-Shayyal, tesis Ph.D. yang tak diterbitkan, Universiry of
Edinburgh, 1985.
Ibn al-Jawzt = Ibn al-Jaurzi, al-Muntazham fi Tnrihh al-Muluh wa'l-(Jmam,
X, Hyderabad, 1940.
Ibn al-Qalinisi, Gibb = Ibn al-Qalinist, Dayl Tdrihh Dimisyq, penerjemah:
H. A. R. Gibb, dengan judul the Damascus Chronicle of the Crusades, London,
1932.
lix
Ibn al-Qalinisi, Le Tourneau = Ibn al-Qalanisi, Dayl Tdrikh Dimisyq,
penerjemah: R Le Tourneau, dengan judul Damas det075 A 1154, Damaskus,
1952.
Ibn Jubayr, Broadhurst = Ibn Jubayr, The Tiauels of lbn Jubayr, penerjemah:
R.J. C. Broadhurst, London, 1952.
Ibn Khallikan, de Slane = Ibn Khallikin, wafayht al-A'yan, 4 jilid,
penerjemah: \( M. de slane, dengan ju&i lbn Khallihinls Biographical Dictionary,
Paris, 1843-1871.
Ibn Muyassar = Ibn Muyassar, Ahhbar Mishr, editor: H. Massae, Kairo,
r9r9.
Ibn Syaddid, RHC = Ibn Syaddid, al-Nawhdir al-Sulthilniyyah, RHC, l\.
Ibn SyaddAd, Eddd = Ibn Syaddid, 'lzz al-Din, al-A'laq al-Khatirah,
penerjemah: A.-M. Eddd, dengan judul Description de la Syrie du Nord,
Damaskus, 1984.
Ibn SyaddAd, Nauldir = Ibn Syaddid, al-Nawhdir al-Suhhtniyyah, editor:
J. El-Shayyal, Kairo, 1964.
Ibn Thghribirdi, Nuj,irm = Ibn Taghribirdi, Nujilm al-Zhahtrah, Kairo, 1939.
Ibn \(ishil = Ibn 'S7'ishil, Mufanij al-Kurub, editor: J. al-Shayyal, Kairo,
1953-1957.
lbn ZhA,fir = Ibn Zhdfir, Ahhbar al-Duwal al-Munqathi'ah, editor A. Ferre,
Kairo, 7972.
IJMES = Internatonal Journal of Middle Eastern Studies.
'ImXduddin, Kharidah = 'Imiduddin, Kharidat al-Qasha Kairo, 1951;
Baghdad, 1955; Tirnis, 1966.
'Imiduddin, Sana = 'ImAduddin al-Ishfahini, Sana al-Barq al-Shami, editor:
F. al-Nabarawi, Kairo, 1979.
IOS = Israel Oriental Studies.
IQ = Islamic Quarterly.
JA = Journal fuiatique.
JAOS = Journal of the American Oriental Sociery.
JESHO = Journal of the Economic and Social History of the Orient.
JRAS = Journal of the Royal Asiatic Sociery.
JSS = Journal of Semitic Studies.
Kohler = M. A. Kcihler, Allianzen und Wrtriige ntischen fankischen und
iskmischen Herrschern im Vorderen Orient, Berlin dan New York, 1991.
Lewis, Islam = B. Lewis, Iskm fom the Prophet Muhammad to the Capture
of Constantinople, New York, 1974.
lx
Mimoires = C. Cahen, 'Les Memoires de Sad al-Din Ibn Hamawiya
Djuwayni', dalam Les peuples musulmans dans I'histoire medieua/e, Damaskus,
1977,457482.
M\f = Muslim'Word.
Nishir-i Khusraw, Schefer = NAshir-i Khusraw, Safarnama, penerjemah: C.
Schefer, Paris, 1881.
Quatremere = Al-Maqrizi, Kitlb al-Suluh, penerjemah: E. Quatremere,
dengan judul Histoire dts Suhans Mamlouhs de I'Egtpte, Paris, 1837-1845.
RCEA = Rd?ertoire Chronologique d'Epigraphie Arabe, Kairo, l93l dan
seterusnya.
REI = Revue des Etudes Islamiques.
RHC = Recueil des Historiens des Croisades: Historiens Orientaux, I-V Paris,
1872-1906.
Runciman = S. Runciman, A History of the Cnaadzg Cambridge, 7951-1954.
Sibth = Sibth ibn al-Javn), Mir'at al-Zamhn, Hyderabad, 1951.
Sibth, Jewett = Sibth ibn al-Jawzi, Mir'at al-Zamhn, edisi faksimili oleh J.
R. Jewett, Chicago, 1907.
Sivan, L'Islam = E. Sivan, L'Islam et la Croisade, Paris, 1968.
Sivan, 'Modern fuab historiography' = E. Sivan, 'The Crusaders described
by modern Arab historiography', Asian and Afican Studies, 8 (1972), 104-149.
Usimah, Hitti = Usimah ibn Munqidz, Kitilb al-I'tibfir penerjemah: P. K.
Hitti, dengan judul Memoirs of an Arab- Syrian Gentlemen, Beirut, 1964.
\XTZKM ='S?'iener Zeitscluift ftir die Kunde des Morgenlandes.
lxi
BAB SATU
Tidah ada peristiuta yang lebih menentuhan dahm sejarah Abad per-
tengahan selain perang penahluhan Tanah Suci.l (Michaud)
GAMBAMN UMUM
Perang Salib, demikian menurur sudur pandang Barat, merupakan
serangkaian operasi militer-paling sedikit terdiri atas delapan
babak-yang didorong oleh keinginan kaum lGisten Eropa untuk
menjadikan tempat-rempat suci umat Kristen dan, rerutama,
Yerusalem masuk ke dalam wilayah perlindungan mereka. Bagi
pihak Barat, Perang Salib dimulai tahun 1095, saat Paus
Urbanus II menyerukan maklumat perang sucinya yang terkenal,
sampai abad kelima belas dan bahkan abad selanjutnya, meskipun
banyak yang berpendapat bahwa penaklukan Acre pada l29l
merupakan akhir usaha keras Tentara Salib melawan negara-negara
Islam di sepanjang kawasan Mediterania timur.
Sejak awal, Perang Salib membentuk babak penting dalam
dua sejarah yang berbeda namun saling berhubungan, yaitu Barat
dan Timur. Bagi Barat, Perang Salib merupakan bagian dari evolusi
Eropa barat Abad Pertengahan. Arti pentingnya telah lama diakui
dan dipelajari oleh banyak generasi para ilmuwan Barar. Tak
diragukan lagi bahwa Perang Salib merupakan bidang kajian yang
populer berkaitan dengan studi Barat Abad Pertengahan-ini tidak
terlalu mengejutkan, mengingat Perang Salib sebenarnya merupakan
sebuah fenomena masyarakar Barat.2 Bagi kaum muslim di Timur,
Perang Salib memainkan peranan sementara rapi tidak terlupakan.
Perang Salib telah memengaruhi kesadaran umar Islam hingga
kini. Namun, perlu ditegaskan bahwa gugus pengerahuan tenrang
Perang Salib yang dihasilkan di Timur Tengah sangatlah kurang.
Kaum muslim mendekati persoalan ini dengan kurang me-
nyeluruh dan lebih dengan cara pandang yang terpisah-pisah.
Sejarah Perang Salib yang lengkap dan utuh tentu saja mem-
butuhkan penjelasan bukti-bukti yang dihimpun bersama-sama
dari kedua belah pihak yang bertikai agar data yang terkumpul
dapat saling melengkapi. Tirgas ini perlu dilakukan kembali oleh
tiap generasi. Namun, tidak diragukan, pemahaman yang lebih
lengkap berkaitan dengan perspektif umar Islam akan sangat
membantu memenuhi tujuan ini.
Buku ini merupakan risalah panjang dan lengkap mengenai
Perang Salib yang pertama kali memakai sudut pandang umat
[5lxsn-5ux1u penelitian yang ditujukan bukan untuk menunjukkan
fakta-fakta kronologis yang bersifat seperlunya saja, betapapun
pentingnya fakta itu, tapi lebih untuk menunjukkan respons
terperinci umat Islam terhadap kejadian Perang Salib itu sendiri.
Sebagai vp^y^ awal, buku ini tak lebih hanya dapat diharapkan
bisa memberikan gambaran umum untuk penelitian lebih lanjut.
PENDEKATAN DALAM PENELITI,AN INI
Buku ini ditujukan terutama untuk para pelajar dan warga
umum, meskipun para ilmuwan juga diharapkan bisa menemu-
kan sesuatu yang menarik di dalam buku ini. Sesuai dengan
judulnya, buku ini hanya akan membahas Perang Salib dari
perspektif Islam. Dengan berbagai keterangan yang hanya berasal
dari sumber-sumber Islam, buku ini mencoba memasuki alam
pikiran umat Islam Abad Pertengahan yang merasakan penderitaan
akibat Perang Salib, dan berdasarkan sumber-sumber itu meng-
ungkapkan, setidaknya, perasaan dan reaksi umat Islam terhadap
intervensi Eropa Barat di wilayah dan dalam kehidupan mereka-
sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mencermati ke-
jadian Perang Salib hanya dari sudut pandang umat Islam mung-
kin akan terlihat sebagai sikap sepihak yang berlebihan dan
mengada-ada. Namun, sikap seperti itu memang sudah saarnya
dilakukan, sebab sangat banyak informasi renrang Perang Salib
yang tanpa rasa malu tersaji dalam aroma Eropasentris dan ditulis
oleh para ilmuwan Barat Abad Pertengahan. Kajian ini diharapkan
bisa mengimbangi kecenderungan ini. Dengan titik perhatian
hanya dari sudut pandang umar Islam, pembahasan ini akan
menghasilkan pengerrian-pengertian baru rentang peristiwa yang
meninggalkan jejak tak terhapuskan bagi kaum muslim Timur
Dekat, baik secara psikologis maupun ideologis, bahkan meskipun
pendudukan militer Tentara Salib hanya terjadi di wilayah kecil
dunia Islam.
Tidak ada sisi lain dalam sejarah Mediterania yang dipelajari
lebih mendalam selain Perang Salib. Dan sebab asalnya memang
dari Barat, yaitu wa.iar bila Perang Salib telah menghasilkan
sangat banyak pengetahuan di Barat. Begitu juga di pihak umat
Islam, meski para penulis Abad Pertengahan tidak memandang
Perang Salib sebagai sesuatu yang sangat penring-mereka hanya
menuturkan peristiwa ini berdampingan dengan peristiwa
penyerbuan bangsa Mongol sebagai serangan yang menggambarkan
kebencian terhadap dunia Islam yang dilakukan oleh orang-orang
kafir dari luar. Selain untuk menunjukkan kronologi dan peristiwa,
latar belakang dan konteks Suriah dan Mesir pada abad kedua
belas dan ketiga belas memerlukan penelitian lebih lanjut. Apalagi,
sekalipun telah banyak ada keterangan tenrang hubungan
lintas-budaya antara umat Islam dan Tentara Salib, masih banyak
hal lain yang bisa dipelajari dari bagian ini.
Kemudian, apakah dasar pembenaran dari langkah untuk
menyajikan, atau mencoba menyajikan, Perang Salib hanya dari
sudut pandang umat Islam? Kiranya harus ada sepatah kata untuk
menjelaskan latar belakang hal ini. Bagi pembaca nonmuslim yang
hidup di zaman yang disebut sekuler ini di berbagai belahan
dunia pada akhir abad kedua puluh-terutama pada malam
peringatan 900 tahun penaklukan Yerusalem oleh Tentara Salib-
akan sangat besar manfaatnya untuk menelaah bagaimana satu
ideologi keagamaan di Abad Pertengahan menciptakan sejarah
dengan cara mengonfrontasikan dengan ideologi agama lain yang
sarna-sama telah tertanam dengan mendalam. Para penerus tradisi
Prolog / 3
Yahudi-Kristen di Barat juga bisa memperoleh manfaat dari
melihat Perang Salib lewat kacamata umat Islam yang menjadi
korban pembantaian di wilayah mereka sendiri dari sekelompok
orang yang sama sekali tak diduga sebelumnya. Saat ini, saat
fanatisme lGisten biasanya dipandang sebagai pelestarian atas sekre
ekstrem yang aktivitasnya diberitakan secara sensasional oleh media,
sementara gerakan umat Islam yang mengumandangkan jihad dan
kembali kepada prinsip-prinsip mendasar Islam lebih sering men-
jadi berita utama dan dihadirkan secara negatif, sudah saatnya
kita kembali ke periode Perang Salib untuk menemukan pela.iaran
yang bisa diambil dan menghimpun berbagai pengertian yang
lebih mendalam.
Perang Salib telah membentuk persepsi kaum Barat Eropa
tentang dunia Islam sebagaimana perang itu juga membentuk
pandangan umat Islam tentang Barat. Gambaran-gambaran
stereotip mengenai "musuh" lama ini telah terpatri kuat dan harus
disuarakan dan diteliti dengan cermat supaya bisa dipahami dan
diubah. Tidak diragukan lagi bahwa sudah saarnya pandangan
kaum Eropa barat dan perspektif Islam perlu diseimbangkan.
fuley-Smith dengan tepat menjelaskan masalah ini. Dalam tulisan-
nya dia menyatakan bahwa sejarah Timur Latin akan berubah
bila penelitian-penelitian tentang Islam diberikan tempat se-
bagaimana mestinya: 'yaitu sangat menarik untuk diketahui
betapa mereka sejauh ini terbukti memiliki keterbatasan-berapa
banyak sejarawan Perang Salib yang bersedia belajar bahasa Arab?"3
fuley-Smith kemudian juga mengkritik sikap ilmuwan Islam
sendiri, "sebab sebagian besar mereka menganggap Perang Salib
dan pendudukan Latin tidak begitu penting".
Jadi, kedua belah pihak perlu menghimpun pengetahuan yang
lebih memadai. Dengan mempelajari periode Perang Salib, sung-
guh sangat besar manfaatyang akan diperoleh para sarjana modern
yang menelaah kaum muslim Abad Pertengahan. Penelitian-pene-
litian ini menyoroti berbagai masalah dan tema sejarah-
sejarah militer, ideologi politik-agama, dan evolusi warga
perbatasan. Selain itu, dan yang paling penting, mempelajari
Perang Salib merupakan proses pembentukan sikap sosial-budaya
antara Timur Tengah dan Barat yang tetap bertahan hingga kini.
Buku ini diharapkan tidak hanya menarik bagi kalangan
nonmuslim namun juga bagi umat Islam yang banyak tidak bisa
membaca bahasa Arab. Mereka bisa mengetahui bahwa konsepsi
awal mereka tentang Perang Salib akan berubah dengan bukti-
bukti yang dihadirkan dalam buku ini. Umat Islam mungkin
terkejut saat mengetahui bagaimana saudara mereka di Abad
Pertengahan hidup berdampingan, terutama pada peristiwa saat
kaum muslim bekerja sama dengan kaum Frank yang datang
menyerbu, sementara kalangan nonmuslim akan punya alasan
untuk mempertimbangkan dengan cermat warisan ideologi yang
ditinggalkan Perang Salib di Timur Dekat. Buku ini tidak secara
khusus dimaksudkan untuk menjadi kajian yang menyentuh ke
akar persoalan, orisinal, atau komprehensif. Sebaliknya, buku ini
berusaha untuk menghadirkan beberapa gagasan dan tema untuk
mereka yang ingin mencari topik yang menarik ini dengan lebih
mendalam, sesudah semakin jelas memahami bahwa ada pihak
yang diabaikan dalam pembahasan tentang peristiwa ini .
Dalam satu hal, buku ini tidak memerlukan pembenaran.
Telah banyak buku populer tentang Perang Salib yang ditulis
dari sudut pandang Barat sehingga karya baru yang menyoroti
Perang Salib dari sudut pandang umat Islam, yang jumlahnya
sangat sedikit, akan menjadi pelengkap yang baik bagi pengetahuan
kita mengenai masalah ini . Di Inggris, popularitas serial
televisi Crusades karya Terry Jones (awal tahun 1990-an) dan
bukunya tentang Perang Salib (yang di dalamnya dia menekankan
kepada khalayak ramai bahwa betapa tingginya peradaban Islam
saat Perang Salib berlangsung) menunjukkan minat yang sangat
besar mengenai masalah ini.a
Banyak perspektif berbeda tapi saling melengkapi yang sama-
sama memberikan sorotan baru mengenai kejadian Perang Salib.
Pada tingkat yang mendasar, kisah politik dan militer perlu
diceritakan. Ideologi dan motivasi kedua pihak harus dipelajari.
Interaksi sosial dan ekonomi antara Tentara Salib dan umat Islam
juga memberikan lebih banyak nuansa pengetahuan tentang realitas
kehidupan di kawasan Mediterania timur pada abad kedua belas
dan ketiga belas. Yang tidak kalah pentingnya-tentu mungkin
menjadi tema yang paling penting dari semuanya-yaitu bentuk
peperangan pada periode itu, sebab kedatangan Tentara Salib ke
wilayah umat Islam melibatkan perang yang mula-mula mereka
menangkan-namun kemudian mereka kalah.
Ini tentu saja penting agar seiarah Islam, atau dalam konteks
ini semua bentuk sejarah lainnya, tidak dilihat hanya dari pers-
pektif Barat. Bahkan para Orientalis yang menguasai bahasa Arab
dan memiliki pengetahuan tentang agama Islam sering kali dilaitik
di masa lalu sebab memiliki agenda kolonialisasi dan sebab
tidak mampu menghadirkan pandangan-pandangan warga asli
Timur Gngah dengan jujur. Dengan demikian, mungkin sebaiknya
penulisan tentang Perang Salib dari sudut pandang Islam harus
seluruhnya dilakukan oleh sarjana muslim sendiri. Ini tentu saja
merupakan pandangan yang wa1ar. Fakta bahwa buku ini merupa-
kan karya sarjana Barat secara langsung tidak menunjukkan adanya
pertentangan dengan pandangan ini . Namun, tidak banyak
buku tentang Perang Salib yang ditulis dari sudut pandang Islam
oleh sarjana muslim kontemporer sendiri yang mendapat pe-
ngakuan secara internasional. Yang menyedihkan, sejarawan terbaik
muslim sekalipun, bila ada, mengambil spesialisasi di bidang lain.
Namun, seperti halnya sejarah Barat lGisten sangat penring
untuk dipelajari dan ditulis oleh sejarawan non-Barat, juga akan
sangat bermanfaat bila sejarawan Barat menulis aspek-aspek sejarah
Islam Abad Pertengahan. Yang menjadi persoalan yaitu metodo-
logi yang digunakan: pembacaan yang teliti dari berbagai sumber
yang mencakup wilayah yang luas dan kecermatan dalam menilai
bukti-bukti penulisan sejarah berdasarkan sudut pandang penelitian
yang dilakukan belakangan ini tentang sejarah Abad Pertengahan,
baik Barat dan Timur.
PENDEKATAN ILMTAH TERBARU YANG DILAKUKAN KAUM ARAB
TERHADAP PEMNG SALIB
Tidak mengherankan, sebab serangan Tentara Salib dari Eropa
melanda wilayah yang kini dianggap sebagai bagian dari dunia
Arab-Suriah, Mesir, Palestina-Perang Salib dalam karya-karya
kaum muslim abad kedua puluh telah dipandang sebagai sebuah
fenomena Arab, seperti akan dijelaskan secara lebih lengkap di
bab terakhir buku ini. Pelajaran tentang Perang Salib telah diterima
dengan sanBat antusias oleh bangsa fuab. Beberapa sarjana Arab
dan sarjana muslim kontemporer menilai dan menafsir-ulang
fenomena Perang Salib dengan sudut pandang beberapa pe-
ngalaman yang terjadi belakangan ini, seperti kolonialisme, nasio-
nalisme Arab, pembentukan negara Israel, kemerdekaan Palestina'
dan kebangkitan "fundamentalisme Islam".
Contoh khas tulisan tentang Perang Salib oleh ilmuwan
muslim yang terbaru yaitu karya berbahasa Arab dari 'AsyCrr,
yang diterbitkan pada 1995, dengan judul al-Jihild al-Iskmt Dhidd
al-Shalibiyin wa'l-Mugh'ttl f.'l-Ashr al-Mamltlh (Jihad Islam Me-
lawan Tentara Salib dan Bangsa Mongol pada Masa Mamluk).5
Penulis tidak menekankan pada aspek penjelasan sejarah secara
ilmiah mengenai persoalan ini dan lebih ingin memakai
sejarah Mamluk sebagai seruan bersama untuk ber.iihad menentang
pemerintahan saat ini di Timur Tengah, terutama di Mesir. Ini
merupakan sebuah gambaran dari "sejarah yang ditulis oleh
seorang muslim abad kedua puluh yang paling mutakhir" yang
dicirikan dengan muatan agenda politik yang eksplisit dengan
menga;'ukan sebuah saran moral tentang suatu kejadian tertentu.6
Meski interpretasi ini memiliki validitas yang jelas pada abad
kesembilan belas dan kedua puluh, tapi ini sama sekali bukanlah
gambaran lengkap tentang hal ini . Yang terpenting, meskipun
memiliki daya tarik yang luar biasa dalam konteks politik dan
sosiologis modern, interpretasi itu tidak bisa mengklaim telah
menggambarkan realitas Abad Pertengahan, dan karya-karya ter-
sebut sering kali dinodai dengan retorika emosional. Para penulis
lainnya menulis sejarah Perang Salib lebih banyak dalam model
Barat. Mereka sangat tergantung pada pengetahuan bangsa Eropa
dalam penulisan Perang Salib, terutama Runciman, untuk meng-
hadirkan pengetahuan yang kemudian secara mengecewakan lagi-
lagi hanya berupa narasi kronologis tentang Perang Salib, bukannya
secara khusus diperkaya dengan penggunaan sumber-sumber Arab
yang hingga kini masih belum digali. Contoh khas digunakannya
pendekatan model Barat semacam ini yaitu karya dua-jilid
seorang sarjana Suriah, Zakir, berjudul al-Hurhb al'shalibiyyah
(Perang Salib).'/ Buku ini mengecewakan. Lembaran-lembarannya
hanyalah berisi narasi yang panjang dan sedikit interpretasi tentang
peristiwa-peristiwa Perang Salib. Tulisan karya sejenis yang disusun
oleh al-Marwi dengan judul yang sama dan diterbitkan di Tirnisia
pada 1954 hanya memberikan sedikit manfaat. Harus dikatakan
bahwa yang pasri para sejarawan yang bahasa ibunya yaitu bahasa
Arab sangat sedikit melakukan langkah perimbangan terdokumen-
tasi yang bernilai baik, yang didasarkan pada sumber-sumber
berbahasa Arab, mengenai Perang Salib, dibandingkan dengan yang
dihasilkan oleh para sejarawan modern Barat Abad pertengahan.
Sementara labelJabel nasionalis yang ketinggalan zaman harus
dihindari dalam penelitian sejarah Abad pertengahan, tidak di-
ragukan lagi bahwa tulisan kaum muslim belakangan ini telah
mengabaikan peranan bangsa Tirrki dalam periode perang Sarib.
Penelitian tenrang respons kaum muslim atas kedatangan perang
Salib harus dilakukan di dalam konteks yang lebih luas mengenai
peran yang dimainkan oleh dunia Islam timur secara umum, dan
khususnya memperhitungkan peran kemiliteran dan ideologis
bangsa Tirrki yang baru mengalami proses islamisasi dan bentangan
warisan kekaisaran Saljuk di Suriah dan palestina. Meskipun di
dalam pandangan kaum muslim Arab saat ini tidak diragukan
lagi bahwa hampir semua para pejuang besar jihad yang akhirnya
mengalahkan Tentara SaliL-Zengi, Ntr al-Din, dan Baybars-
berasal dari rirrki, pengakuan ini belum diberikan secara memadai,
barangkali sebab kekuasaan pemerintahan Tirrki 'LJtsmani selama
berabad-abad yang menyusul berakhirnya Perang Salib. Secara
umum, bangsa fuab di kawasan Mediterania timur memandang
periode ini secara menjijikkan, dan barangkali inilah penyebabnya
kalau saat ini mereka mengabaikan prestasi bangsa Turki dalam
konteks Abad Pertengahan. Kiranya penting untuk dicatat bahwa
ilmuwan non-Arab dari dunia muslim-Tirrki, Kurdi, persia,
Pakistan, dan lainJain-belum mempelajari secara serius mengenai
reaksi umat Islam Abad Pertengahan terhadap Perang'Salib. Minat
kaum muslim modern selanjutnya yaitu tentang Arab semata
Banyak sumber-sumber berbahasa Arab tentang Abad Pertengahan
yang masih dalam bentuk manuskrip. Semoga para sarjana Timur
Tengah di Damaskus, Kairo, Istanbul, dan pusat-pusat kesarjanaan
lainnya akan meneruskan tugas yang terlambat namun bernilai
penting ini, yaitu menerbitkannya dalam bentuk yang telah
tersusun rapi.
Di pihak Barat sendiri, banyak sarjana yang menulis tentang
Perang Salib dan yang tidak bisa berbahasa fuab (kebanyakan
para sarjana Barat memang demikian adanya) mendasarkan penge-
tahuan mereka tentang sumber-sumber muslim pada karya-karya
terjemahan yang hasilnya tidak sempurna dan tidak memuaskan.
Masih banyak karya-karya penting yang tidak bisa mereka pelajari.
Akibatnya, gambaran mereka tentang perspektif umat Islam tidak-
lah utuh dan terdistorsi oleh sumber-sumber yang sebenarnya
telah diterjemahkan. Demikian juga, patut disayangkan bahwa
para ahli Islam ini , untuk kepentingan mereka sendiri, sering
kali lebih memilih jalan aman, yaitu dengan menerjemahkan
kembali suatu karya tertentu dan bukannya berusaha mengem-
bangkan sesuatu yang belum diketahui atau menerjemahkan sum-
ber baru, sehingga tidak heran bila kita bisa menemukan dua
ter.iemahan sejarah karya Ibn al-QalAnisie dan beberaPa memoar
Usimah dalam berbagai bahasa Eropa,ro sementara karya-karya'
penting lainnya seperti sebagian besar karya Ibn al-Atsir, al-Kimil
fi al-Thrthl (Sejarah Lengkap),rr tetap tidak bisa dipelajari oleh
mereka yang tidak menguasai bahasa fuab. Seandainya saja ter-
dapat lebih banyak lagi sejarawan Islam Abad Pertengahan yang
menyediakan waktu lebih banyak untuk menerjemahkan sumber-
sumber ini ke dalam bahasa Inggris atau bahasa-bahasa Eropa
lainnya, perbedaan besar antara persepsi Barat dan Islam mengenai
Perang Salib banyak sekali yang akan dipersempit dengan manfaat
pengetahuan mendalam pada kedua belah pihak.t2
BUKU.BUKU BERBAHASA EROPA TENTANG UMAI ISIAM
DAIAM PEMNG SALIB
Pembahasan dalam buku ini akan dibatasi pada buku-buku yang
berguna tentang sisi umat Islam dalam Perang Salib. Bagi mereka
yang ingin mempelajari lebih dalam mengenai masalah ini sebagai
titik awal, sebaiknya melihat daftar pustaka yang disediakan oleh
penulis di bagian akhir buku ini, termasuk juga karya'karya yang
dibahas di beberapa bab di dalam buku ini dan terdaftar di
dalam bibliografi.
Banyak buku umum dan monografi ilmiah mengenai aspek-
aspek sisi umat Islam dalam Perang Salib yang telah ditulis.
the Crusades: The Near East fiom the Eleuenth Centuryt to l5l7
(London dan New York, 1986), suatu tiniauan sejarah yang ringkas
namun sangat jelas mengenai persoalan ini . Karya ilmiah
yang jauh lebih dahulu hadir, \MB. Stevenson, The Crusaders in
the East (Cambridge, 1907), masih sangat menarik dan mem-
berikan narasi terperinci yang mengacu pada sumber-sumber
berbahasa Arab Abad Pemengahan yang dapat dipelajari penulis
buku ini pada saat itu. Namun, meski menekankan pada
sisi Arab, Stevenson bisa dikatakan tidak mencoba untuk meng-
hadirkan peristiwa-peristiwa semata-mata dari sudut pandang
ini , sebab ia juga memakai sumber-sumber Barat. Ia
juga tidak mencoba menggambarkan secara panjang lebar bagai-
mana umat Islam dan Tentara Salib hidup bersama di kawasan
Mediterania timur. Juga ada beberapa bab yang sangar berguna
mengenai aspek-aspek umat Islam dalam Perang Salib pada karya
K.M Setton dan M.\W Baldwin (ed.), A History of the Crusadet 6
jilid (Madison,, \(/isconsin, 1969-1989). Akhirnya, dua monografi
sejarah yang sangat bermanfaat mengenai dinasti-dinasti utama bisa
disebutkan di sini: satu mengenai Dinasti Aynrbiyah (S. Humphreys,
From Saladin to the Mongok: The Ayyubids of Damascus 119i-
1260, Nbany, 1977) dan satunya lagi mengenai Dinasti Mamluk
Buku karya A. Maalouf, The Crusades through Arab Eyes
(l,ondon, 1984), hadir brgaikan hembusan angin segar dalam bidang
ini. Buku ini sangat hidup dan populer di kalangan mahasiswa.
Apalagi judul buku ini sangat menjanjikan. Kekurangannya yaitu
buku ini memakai pendekatan umum, tidak komprehensif atau
akademis, dan memberikan sedikit informasi baru.
Di antara para pemimpin kaum muslim yang terlibat dalam
Perang Salib, Saladin menempati posisi yang terhormat di dalam
biografi ilmiah modern. Ada beragam pandangan ilmiah mengenai
dirinya, mulai dari puji-pujian Gibb dan yang lainnya hingga
penilaian yang lebih realistis dari Ehrenkreutz. Pandangan yang
sangat berimbang dan terdokumentasi dengan baik mengenai
Saladin diberikan oleh M.C. Lyons dan D.E.P. Jackson lewat
bukunya Saladin: The Politics of the Holy lVar (Cambridge, 1982).
Sayangnya, para pemimpin besar kaum muslim lainnya di masa
Perang Salib tidak mendapat catatan yang sama mendalamnya
sebagaimana Saladin. Zengi, penakluk Edessa misalnya, masih tetap
diabaikan, dan juga tokoh-tokoh penting Islam lainnya dalam
Perang Salib. Namun, mengenai Nirruddin, N. Elisseff menulis
sebuah monografi berbahasa Prancis yang terdiri dari tiga jilid,
Nur al-Din: un grand prince musulman de Syrie au temps des
Croisades, 3 jilid (Damaskus, 1967). Meski karya ini tidak di-
ragukan lagi dapat dilihat sebagai karya ilmiah, anehnya buku ini
tidak memberikan ulasan yang lengkap tentang tokoh Penting
Perang Salib ini. Tirgas ini terus diupayakan. Periode selanjut-
nya ditampilkan dengan baik oleh P. Thorau, yang menyajikan
telaah biografis yang menawan mengenai Baybars lewat The Lion
of Egypt: Sultan Baybars I and the Near East in the Thirteenth
Century (penerjemah: PM. Holt, London dan New York, 1992).
Yang masih cukup layak untuk disebutkan secara khusus yaitu
karya E. Sivan yang ditulis dalam bahasa Prancis, L'Islam et la
Croisade: Iddologie et ?ro?agande dans les reactions musulmanes aux
Croisades (Paris, 1968). Buku penting ini dengan tegas meng-
gunakan sumber-sumber Islam dan analisis evolusi fenomena jihad
selama Perang Salib.
Semua karyrkarya ini, tentu saja, harus diperbandingkan
dengan bacaan yang menyeluruh atas karya-k^rya yang jauh lebih
luas yang ditulis dengan sudut pandang pihak Barat dalam Perang
Salib. Titik awal yang sangat bagus masih karya S. Runciman,
A History of Crusades (3 iilid, Cambridge, t95t-1954). Namun,
karya ini kini dilengkapi dengan karya-ka rya yang lebih baru
dari J.S.C. Riley-Smith yang ditulis untuk pembaca umum, seperti
The Crusades: A Short History (London dan New Haven, lggT),
dan What \Vere the Crusades? (London, 1992), dan oleh buku
kompilasi rhe oxford lllustrated History of the crusades, editor: J.
Riley-Smith (Oxford, 1995).
TERJEMAHAN SUMBER-SUMBER UTAMA BERBAHASA ARAB
Seperti telah diseburkan, masalah utama yang dihadapi para
sejarawan tentang Tentara Salib di periode modern yaitu kurang-
nya terjemahan sumber-sumber Islam ke dalam bahasa-bahasa
Eropa. Karya-karya yang diterjemahkan ini memang di-
gunakan, namun karya-karya lainnya masih tetap tidak bisa
diakses, dan masih ada sangat banyak gambaran historiografis
yang bersifat utuh mengenai suatu peristiwa atau pemerintahan
dari pihak umat Islam yang tidak bisa dipahami. Selain itu,
terjemahan yang telah dibuat kadang-kadang keliru, meskipun
tentu saja bisa dikatakan bahwa "sekerat roti lebih baik daripada
tidak ada sama sekali". yaitu bijak untuk mencermati seberapa
sering buku-buku tenrang Perang Salib dari sudut pandang kaum
muslim yang tersisa yang jumlahnya sedikit itu, yang sama
sedikitnya dengan sumber-sumber Islam, telah digunakan lagi dan
lagi. Dengan demikian, mempertimbangkan kembali sumber-
sumber utama itu maknanya akan jauh lebih penring.
sebab itu, yaitu tugas mereka yang bisa membaca sumber-
sumber Islam, dan khususnya para sejarawan modern di Timur
Gngah itu sendiri, untuk menghasilkan karya, terjemahan dan
analisis yang mendalam serta teliti mengenai teks-teks ini ,
dan dengan demikian dapat memberikan kesempatan kepada
warga yang lebih luas untuk memahami perspektif umat
Islam secara lebih mendalam mengenai peristiwa Perang Salib.
Periode Mamluk sangar kaya dengan bahan-bahan historiografis
yang sering kali memuat petikan-petikan dari cararan sebelumnya
yang telah hilang.
Titik awal yang berguna untuk contoh mengenai cararan-
catatan peristiwa yang berbahasa Arab yaitu karya F. Gabrieli,
Arab Historians of the Crusades (London, 1969). Namun, petikan
karya ini diterjemahkan dari bahasa fuab ke dalam bahasa
Italia dan baru kemudian ke dalam bahasa Inggris. Dengan
demikian, petikan ini sedikit menyimpang dari aslinya. Apa-
lagi petikan ini sering kali terlihat lebih sebagai sebuah
ringkasan dari teks aslinya daripada sebuah karya terjemahan yang
Prolog / l9
sebenarnya. Dengan dasar pertimbangan bahwa terjemahan yaitu
lebih baik daripada tidak ada sama sekali, Recueil des historiens des
Croisadts: H'istoriens orientaux I-V (Paris, 1872-1906) (petikan dalam
bahasa fuab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis) yang
banyak dikritik masih berguna bagi mereka yang tidak bisa ber-
bahasa fuab tapi bisa berbahasa Prancis, sekalipun banyak ada
kesalahan penyuntingan dan kesalahan penerjemahan. Pada daftar
pustaka di akhir buku ini, pembaca bisa melihat daftar yang lebih
lengkap tentang sumber-sumber berbahasa fuab penting lainnya
yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa.
PEMNG SALIB: SEIflIAS SEJAMH RINGKAS
Tinjauan ringkas berikut ini dimaksudkan untuk memberikan
kerangka kronologis yang luas yang dari situ memuat bagian-
bagian pokok yang membentuk pokok pembahasan buku ini.
Pembahasan yang jauh lebih lengkap mengenai peristiwa-peristiwa
Perang Salib akan diberikan pada bab-bab yang berkaitan di dalam
buku ini.
Pendahuluzn: Periodc Sebelum Perang Salib
Pertemuan pertama bangsa Eropa dengan Islam terjadi akibat
kebijakan-kebijakan ekspansi negara muslim baru, yang terbentuk
sesudah wafatnya Nabi Muhammad saw. pada 632 M. Satu abad
kemudian, orang-orang Islam telah menyeberangi barisan pe-
gunungan di antara Prancis dan Spanyol dan menaklukkan wi-
layah-wilayah yang membentang dari India utara hingga Prancis
selatan. Dua ratus tahun berikutnya, perimbangan kekuasaan antara
Eropa dan dunia Islam secara meyakinkan masih berada di tangan
kaum muslim, yang menikmati pertumbuhan ekonomi besar-
besaran dan mengalami perkembangan kebudayaan yang luar biasa.
Dari tahun 750 dan seterusnya, wilayah Dinasti Abbasiyah di-
bentuk oleh pemerintahan dan kebudayaan Persia-Islam dan se-
makin bertambah dengan dukungan militer dari budak-budak
Ttrrki yang menjadi tentara.
Namun, pada abad kesepuluh dan kesebelas, perpecahan
politik yang menimpa Dinasti Abbasiyah yang hebat dengan
pusatnya di Baghdad terus berlangsung. Kondisi ini mem-
bantu munculnya kembali bangsa-bangsa Eropa di Mediterania
timur dan menjadi awal kebangkitan kekuasaan Kristen di Spanyol.
Jalur-jalur perdagangan diikuti dengan keberhasilan di bidang
kelautan berhadapan dengan kaum muslim. Bangsa Norman
merebut Sisilia dari tangan kaum muslim dan kaum Kristen di
utara Spanyol merebut kembali Toledo dan tidak tertahankan
lagi bergerak ke arah selaran. Tetangga dekat dunia Islam, Bizan-
tium, berhasil melakukan penyerbuan ke utara Suriah pada akhir
abad kesepuluh dan dalam waktu yang tidak lama menguasai
kota-kota di negeri itu.
Selama abad-abad perrama kekuasaan kaum muslim, para
peziarah Kristen dari Eropa biasanya bisa mengunjungi rempar-
tempat suci agama mereka di Yerusalem dan Thnah Suci. Mereka
melakukan perjalanan lewat jalan darat melalui Balkan, Anatolia,
dan Suriah, atau lewat jalur laut menuju Mesir atau Palestina.
Dengan demikian, berita rentar,g gaya hidup yang luar biasa dan
tingginya kemajuan peradaban dunia Islam sampai ke Eropa. pada
abad kesebelas, Paus dan kerajaan-kerajaan Eropa juga mendapat
kabar tentang kemunduran dan desentralisasi kekuasaan militer
dan politik umar Islam. Namun, kabar tentang reputasi buruk
seorang penguasa Islam tertentu-yakni khalifah keenam Dinasti
Fatimiyah, al-Hikim-juga sampai ke Eropa (gambar 1.1 I dan
1.12). Penyiksaan terhadap umat lGisten yang tinggal di wilayah
kerajaannya, ymg membentang hingga Suriah dan Palestina, men-
capai puncaknya dengan penghancuran Gereja Makam Suci di
Yerusalem pada I 009-1 0 1 0.'3 Tindakan-tindakan al-HAkim tersebur
biasanya dianggap sebagai faktor pendorong meningkatnya keinginan
kaum lGisten Eropa untuk melancarkan Perang Salib Pertama dan
menyelamatkan apa yang mereka anggap sebagai rempat-tempat
suci umat l3isten yang sedang berada dalam bahaya.
Pada paruh kedua abad kesebelas, Suriah dan Palestina men-
jadi \ang pertarungan yang sengit antara bangsa Tirrki Saljuk
yang menguasai dunia Islam timur dan Dinasti Fatimiyah yang
berpusat di Mesir. Dinasti Fatimiyah yang menganut Syiah Ismailiyah,
menganut paham yang dicap haram oleh kaum muslim Sunni,
terutama sebab ideologi Fatimiyah-yang bertujuan dinamis dan
ekspansionis-pada satu titik mengancam untuk menggulingkan
Khalifah Abbasiyah yang bermazhab Sunni di Baghdad. Tirrki
Saljuk, yang belakangan memeluk agama Islam, menempatkan
diri mereka sebagai pendukung Khalifah Abbasiyah dan Islam
Sunni, dan melancarkan perang berkepanjangan melawan Dinasti
Fatimiyah.
Pimpinan Saljuk masih mengandalkan dukungan militer dari
kerabat mereka yang hidup mengembara. Kaum Tirrki nomaden
ini memiliki hubungan yang tidak baik dengan kota-kota di Timur
Dekat. Para pemimpin mereka memungut pajak di kota-kota
ini , dan lewat kontak ini mereka sering kali mengharapkan
sedikitnya perhiasan-perhiasan dari para penguasa setempat. Thrg-
gapan warga kota-kota ini terhadap kaum nomaden itu me-
nunjukkan sikap yang bertentangan. Mereka membutuhkan kaum
nomaden ini untuk perlindungan militer bagi mereka, namun
mereka mendapati orang-orang asing itu memiliki kebiasaan yang
mengganggu dan menjengkelkan. sesudah mempertimbangkan hal
ini , gelombang kaum Tirrki nomaden yang baru terjadi dalam
jumlah yang besar itu kemungkinan dianggap sebagai hal buruk
yang diperlukan di dalam politik warga Islam, sebab keahlian
militer dan semangat keagamaan mereka yang tak tertandingi.
Intelektual Islam terkemuka al-Ghazili (w. 1111) menyatakan:
Saat ini, dari [berbagai] jenis manusia, orang-orang Turkilah
yang memiliki kekuatan... Bila terjadi suaru pemberontakan di
wilayah mana pun di muka bumi melawan negara gemilang ini
[Saljuk], tidak ada seorang pun di anrara mereka [orang Tilrki]
yang begitu melihar perselisihan di luar perbarasannya yang ddak
akan bertempur dalam perang jihad di jalan Tirhan melawan para
kaum kafir.ra
Namun, realitas kehadiran kaum Tirrki nomaden sering kali
sukar ditahan dan kota-kota serra wilayah pinggiran Suriah dan
Palestina, yang segera menanggung akibat serangan dari Tentara
Salib, banyak y-g telah menyerah di tangan bangsa Tirrki (yaitu
kaum Tirrki nomaden) dan juga menjadi arena pertempuran militer
berkepanjangan antara pasukan Saljuk dan Fatimiyah.
Situasi politik di sekitar Anatolia (kini Tirrki) juga mengalami
destabilisasi di masa ini, sesudah Bizantium kehilangan wilayah
penyangganya ke timur, yang dulunya berada di bawah kekuasaan
Armenia, yang direbut oleh Tirrki Saljuk. Pamor kekaisaran Bizan-
tium mengalami pukulan hebat. Mereka dikalahkan oleh bangsa
Turki Saljuk yang dipimpin oleh Sultan Alp fuslin dalam per-
tempuran di Manzikert (kadang dikenal juga sebagai Malazgird)
pada 1071. Pertempuran terkenal ini biasanya dijadikan patokan
oleh para sejarawan. sesudah itu, gelombang kaum Tirrki nomaden,
yang semakin ke Timur semakin longgar ikatannya dengan ke-
kaisaran Saljuk atau terkadang sama sekali terlepas dari kekaisaran
itu, kemudian bergerak semakin cepat melanjutkan proses yang
telah dimulai abad sebelumnya dengan masuk dan menduduki
wilayah Armenia dan Bizantium (foto 1.4). Satu kelompok bangsa
Tirrki di bawah pimpinan Sulaymin bin Qutlumush, yang ke-
turunan keluarga Saljuk, mendirikan negara kecil, pertama di
Nicaea (Iznik) dan kemudian di Iconium (Konya), yang kemudian
berkembang menjadi kesultanan Saljuk Rum (isdlah kaum muslim
untuk Bizantium). Negara ini memerintah wilayah-wilayah Anatolia
sampai kedatangan bangsa Mongol dan masa-masa selanjutnya.
Kelompok-kelompok bangsa Tirrki lainnya, yang paling utama
DXnishmendids, bersaing dengan Saljuk Rum di Anatolia dan
terkadang mempersulit jalur darat dari Konstantinopel ke Suriah
dan Tanah Suci, yang melewati wilayah mereka.
Seperti yang dijelaskan secara lebih lengkap pada bab berikut,
dekade terakhir abad kesebelas menunjukkan terjadinya kelemahan,
ketidakstabilan dan perpecahan politik umat Islam paling besar
yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kematian beruntun dan
dalam waktu singkat menteri utama Saljuk (wazir) Nizhim al-
Mulk dan Sultan Saljuk Maliksyah pada 1092, yang disusul oleh
Khalifah Abbasiyah al-Muqtadht dan Khalifah Fatimiyah al-
Mustanshir pada 1094, menimbulkan kekosongan kekuasaan yang
sangat besar. Pertikaian internal dan perebutan kekuasaan di dunia
Islam Timur dan Mesir terjadi. Perebutan kekuasaan di antara
bangsa Saljuk telah menghilangkan efektivitas kepemimpinan
muslim Sunni dan mendorong desentralisasi berikutnya di Suriah
dan kemunculan negara-negara kota kecil yang sering kali saling
bermusuhan. Terus ke barat di Mesir, Dinasti Fatimiyah tidak
pernah lagi memiliki supremasi seperti yang rcrjadi pada paruh
pertama abad kesebelas. Mereka lebih memikirkan diri sendiri
dan sibuk bertikai. Dengan demikian, dunia Islam tidak siap
menangkis serangan yang sama sekali tak diduga dan benar-benar
tidak diperkirakan dari kaum Eropa barat yang akan terjadi.
Permohonan banruan kepada Eropa dari Bizantium telah dimulai
sesudah peperangan Manzikert pada 1071, saat kekaisaran Bizan-
tium memohon bantuan militer di perbatasan sebelah timur untuk
melawan Tirrki Saljuk. Pada 1090, kaisar Bizantium Alexius
Comnenus sekali lagi memohon kepada Eropa sesudah ia men-
dengar tekanan Saljuk terhadap kaum Kristen Timur Dekat.
Kepausan sendiri memiliki alasan sendiri yang mendorongnya
untuk menyerang umat Islam. Paus Urbanus II mengeluarkan
maklumat penting pada 17 November 1095 di Clermont, dengan
menyerukan umat lGisten agar berangkat membebaskan kota suci
Yerusalem dari penindasan umar Islam. Pada 1097, pasukan
lGisten gabungan di bawah beberapa pimpinan berbagai kelompok
kaum Eropa Barar telah tiba di Konstantinopel dan melakukan
perjalanan darat menyeberangi Anatolia menuju ke Yerusalem.
Kemudian, dimulailah rangkaian
pelopori kaum Eropa barat melawan
kemudian dikenal sebagai Perang Salib.
Perang Salib Pertama
operasi militer yang di-
Islam Timur Dekat yang
Perang Salib Pertama, meskipun dilancarkan dengan beberapa
pemimpin di lapangan, termasuk Raymond dari Toulouse,
Bohemond dari Sisilia, dan Godfrey dari Bouillon, mencapai
keberhasilan militer yang bernilai penting pada saat masih berada
dalam perjalanan melalui Anatolia. Kaum Frank itu menaklukkan
ibu kota Saljuk di Iznik pada Juni 1097, dan membuat pasukan
Saljuk yang berada di bawah pimpinan Sultan eilij Arslin me-
ngalami kekalahan besar-besaran dalam pertempuran Dorylaeum
pada Juli di tahun yang sama. Setibanya di Antiokhia, Suriah
utara, Tentara Salib mengepung kota itu pada Oktober 1097.
Sekelompok Tentara Salib yang memisahkan diri di bawah pim-
pinan Baldwin dari Boulogne menyeberang ke kota Edessa yang
dikuasai kaum Kristen Armenia. Kota itu takluk pada l0 Maret
1098. Selanjutnya, mereka mendirikan negara Tentara Salib per-
tama di Timur Dekat ini (biasanya dikenal dengan \Tilayah
Edessa).
Antiokhia jatuh ke tangan Tentara Salib pada Juni 1098.
Dan pada Januari di tahun berikutnya Kerajaan Antiokhia di-
resmikan di bawah pimpinan penguasa Norman, Bohemond dari
Sisilia. Sasaran u13rn2-{61usalem-direbut pada l5 Juli l}gg
dan Godfrey dari Bouillon menjadi penguasa pertama di sana.
Negara Tentara Salib terakhir, lVilayah tipoli, didirikan sesudah
kota itu direbut pasukan kaum Frank pada 1109. Dengan de-
mikian, empat kerajaan Tenrara Salib telah didirikan di Timur
Dekat, yaitu Yerusalem, Edessa, Antiokhia, dan Tiipoli. Namun,
perlu diingat bahwa meski mendapatkan kemenangan gemilang
pada Perang Salib perrama, Tentara Salib tidak mampu me-
naklukkan salah satu dari dua kota urama di kawasan itu, yaitu
Aleppo atau Damaskus.
Resporu Umat Iskm terhadap Perang Salib: tahap Pertama
Respons umat Islam atas peristiwa Perang Salib itu pada awalnya
apatis, kompromi, dan tetap sibuk dengan masalah internal.
Dekade-dekade awal abad kedua belas merupakan periode per-
pecahan umat Islam yang terjadi besar-besaran. Hanya sedikit
reaksi militer yang dilakukan atas ekspansi kaum Frank ini, yang
sebenarnya merupakan tekanan yang sangat berbahaya. Tidak ada
pencapaian berarti yang diraih kaum muslim di kawasan itu.
Bukannya menangkis ancaman Tentara Salib, para Penguasa mus-
lim Suriah yang picik dan terpecah malah melakukan gencatan
senjata dengan kaum Frank dan selama bertahun-tahun terlibat
dalam perebutan-perebutan wilayah kecil, sering kali dalam bentuk
aliansi antara kaum muslim dan Tentara Salib. Melawan dunia
Islam yang terpecah dan melemah, kaum Frank, sebaliknya,
sepanjang tahun-tahun ini menjadi bertambah kuat dan
berkuasa, bergelora dengan fanatisme dan motivasi tinggi untuk
membangun struktur pertahanan yang akan memastikan keber-
adaan mereka di kawasan Mediterania timur secara terus menerus.
Dekade pertama abad kedua belas merupakan dekade Pengam-
bilalihan sebagian besar pelabuhan di kawasan Mediterania timur
oleh kaum Frank. Ini dapat menjamin mereka untuk bisa me-
nerima bantuan pasukan dan perdatan lewat jalur laut. 'sfilayah
yang kemudian diduduki oleh para Tentara Salib yaitu wilayah
daratan yang panjang dan sempit di sepanjang Mediterania. saat
mereka mencoba melakukan ekspansi ke arah timur, mereka kurang
berhasil. Hanya Edessa yang berhasil masuk ke lembah Eufrat dan
Tigris. Yang juga penting yaitu Edessa merupakan negara Tentara
Salib pertama yang dihancurkan. Seperti dijelaskan sebelumnya,
Tentara salib tidak pernah berhasil merebut kota-kota urama Aleppo
dan Damaskus dan tidak pernah menguasai Suriah.
Pihak muslim sendiri sesekali berusaha memerangi rentara
Salib di awal abad kedua belas, namun ranpa koordinasi. Beberapa
kali ekspedisi dilancarkan dari timur di bawah komando penguasa
Mosul, Mawdird, dan dukungan sultan Saljuk Muhammad (pada
1108, 1111, 1113). Ekspedisi-ekspedisi mereka hanya sedikir
mendapat dukungan dari para penguasa Aleppo dan Damaskus,
yang kurang suka dengan campur rangan pihak Saljuk. Memang,
pasukan ekspedisi berikutnya yang dikirimkan oleh \z{r,hammad
menuju Suriah pada 1115 dikalahkan secara total oleh gabungan
antara Tentara Salib dan kaum muslim pada perrempuran Danith.
Penguasa futuqid Tirrki dari Mardin yang rerpencil, yang dipanggil
oleh rakyat Aleppo untuk membantu mereka melawan kaum
Frank, mengalahkan Roger dari Antiokhia pada perrempuran
Ballth (juga dikenal sebagai Ladang Darah) pada Juni 1119. Ini
merupakan kemenangan besar bagi kaum muslim, namun hanya
sekali itu, dan tidak ada kelanjurannya. tnda-tanda penting yang
mula-mula terlihat renrang kebangkitan kaum muslim bisa di-
temukan pada riwayar Zengi (w. l 146) yang mengagumkan yang
upayz.ny^ diarahkan, paling tidak sebagian, untuk memerangi
kaum Frank. yaitu Zengi yang berhasil menaklukkan negara
pertama dari negara-negara Tentara Salib bagi Islam, saat ia
merebut Edessa pada 1144. Ta(uknya Edessa bisa dilihat sebagai
tonggak awal kebangkitan kaum muslim. Zengi dibunuh oleh
seorang budak pada 1146. Mungkin agak sedikit diragukan bahwa
kematian Zengr merupakan penangguhan hukuman mati bagi
para Tentara Salib.
Selama tahap kebangkitan kaum muslim berikutnya, pvlua Zengi,
N0ruddin (w. ll74) menggabungkan politik senjata yang kuat
dengan propaganda agama yang sangat lihai. Dalam konteks
ambisi pribadi dan keluarganya, N0ruddin secara perlahan me-
nyatukan Mesir dan Suriah dan mengepung negara-negara kaum
Frank yang tersisa, yang dimulai dengan Antiokhia.
Takluknya Edessa dan rentannya Antiokhia terhadap serangan
telah memicu seruan dan pengiriman Perang Salib Kedua pada
1147-1148 di bawah komando Conrad III, kaisar Jerman, dan
Louis MI, raja Prancis. Perang Salib kedua ini menemui kegagalan.
Perang diarahkan ke Damaskus, yang waktu itu berada di bawah
pimpinan gubernur kota Uniir, dan gagal menyerang kota itu
(yang saat itu bergabung dengan Tentara Salib Yerusalem). Perang
Salib ini gagal, tidak berhasil merebut kembali Edessa atau
menghentikan meluasnya wilayah kekuasaan Nfrruddin.
NCrruddin menaklukkan Damaskus pada ll54 dan meng-
angkat dirinya sendiri sebagai penguasa kaum muslim tertinggi
di Suriah. Baik NCrruddin dan Tentara Salib kemudian menga-
lihkan perhatian mereka ke Mesir dan Dinasti Fatimiyah yang
tengah menderita dan lemah akibat perpecahan internal. Ascalon
ditaklukkan kaum Frank pada ll53 dan beberapa faksi di istana
30 \ _______________
Fatimiyah memberikan bantuan akomodasi untuk mereka. Semen-
ta;,ayang lain meminta bantuan Nfiruddin. Pasukan kaum muslim
yang dikirimkan di bawah komando prajurit Kurdi Syirk0h pada
1168-1169 mencegah para Tentara Salib untuk menaklukkan Mesir.
Shal&uddin (Saladin) al-Ayycrbi, keponakan Syirk0h, mengambil
alih kepemimpinan pasukan kaum muslim di Mesir pada Marer
1169 sesudah pamannya itu meninggal. Dengan bertindak secara
resmi sebagai pembantu Nfiruddin, Saladin menguasai Dinasti
Fatimiyah yang diakhirinya pada 1171. N0ruddin telah meletakkan
fondasi penyatuan kaum muslim dan menegaskan kembali legitimasi
satu-satunya khalifah 'Abbasiyah yang bermazhab Sunni. Pertikaian
antara Saladin dan Nfiruddin, yang tampak jelas terlihat saat iru,
terhenti dengan wafatnya Nfiruddin pada 1174.
Sahdin, 569-589 H./1174-1193 M.
Saladin selanjutnya menjadi pemimpin kaum muslim dalam Perang
Salib. Ia juga menjadi pemimpin Perang Salib yang paling terkenal
(foto 1.5). Ia membuktikan bahwa dirinya pantas menjadi penerus
Nirruddin. Sepanjang 1174-1778, upaya Saladin banyak dilakukan
untuk menundukkan musuh-musuhnya dari kalangan kaum muslim
sendiri dan menciptakan front bersama di Mesir dan Suriah
melawan para Tentara Salib. Akhirnya, pada 1 187, Saladin me-
merangi Tentara Salib yang dipimpin oleh Raja Guy dari Lusignan
dalam pertempuran besar Hattin pada 4 Juli dan meraih ke-
menangan besar atas mereka. Penaklukan kembali wilayah-wilayah
Tentara Salib yang penting seperti Acre rerus berlanjut. Ke-
menangan Saladin mencapai puncaknya saat dia berhasil me-
rebut kembali Yerusalem pada2 Oktober 1187. Pada akhir 1187,
hanya beberapa bagian kecil kerajaan Latin Yerusalem yang masih
dikuasai Tentara Salib, terutama Tirus. Saladin telah menciptakan
sistem penguasa keluarga kolektifl yaitu dengan menempatkan
kerabat-kerabatnya unruk mengawasi kota-kota dan wilayah-wilayah
utama yang ditaklukkannya, sehingga tercipta konfederasi negara-
negara yang bersifat longgar dengan dirinya sebagai pemimpin.
Sistem ini diikuti oleh para penerusnya, Aparbiyah, yang me-
rupakan dinasti keluarganya sendiri.
Perang Salib Ketiga dan Keemltat
Kekalahan pada pertempuran Hattin dan penaklukan Yerusalem
menyulut Perang Salib berikumya. Tiga rqa paling kuat dari
kaum Barat Eropa, Frederick Barbarossa dari Kekaisaran Romawi
Suci, Philip dari Prancis, dan fuchard si Hati Singa dari Inggris,
melancarkan Perang Salib Ketiga. Perang ini dimulai dengan
sungguh-sungguh lewat serangan Tentara Salib ke Acre yang
akhirnya berhasil dikuasai Tentara Salib pada 1191. Meskipun
Tentara Salib meraih kemenangan ini, juga beberapa kemenangan
lainnya atas Saladin, Perang Salib Ketiga berakhir dengan gencatan
senjata pada 1 192, dengan kesepakatan bahwa kaum Frank akan
menguasai sebagian besar wilayah laut, sementara Yerusalem tetap
berada dalam kekuasaan kaum muslim. Setahun kemudian, Saladin
wafat. Meskipun ia meraih kemenangan di Hattin, merebut
kembali Yerusalem unruk Islam, dan memperrahankan Mesir tetap
bersatu bersama dengan kaum muslim di kawasan Mediterania
timur lainnya, ia, gagal merebut Tirus dan membersihkan kawasan
Mediterania timur dari para Tentara Salib. Keberhasilannya meng-
hancurkan khalifah Syiah Fatimiyah di Kairo menghapuskan
permusuhan Sunni-Syiah yang berlarut-larut, antara pemerintah
Mesir di satu sisi dan para penguasa Suriah yang beraliran Sunni
di sisi lain-pertikaian yang telah dimanfaatkan oleh para Tentara
Salib.
Dari 1193 seterusnya, para Tentara Salib lebih banyak men-
curahkan perhatian mereka untuk menyerang Mesir, dengan ke-
yakinan bahwa negeri itu merupakan kunci unruk merebut kem-
bali Yerusalem. Mesir merupakan targer nyara Perang Salib Ke-
empat pada 1202, yang dipimpin oleh Boniface de Montferrat
dan Baldwin IX dari Flanders. Namun, Perang Salib yang terkenal
ini tidak memerangi umar Islam, dan sebaliknya, berakhir dengan
penaklukan Konstantinopel pada April 1204 dan pendirian ke-
rajaan Latin Konstantinopel (1204-1261).
Ayyubiyah, Dinasti Keluarga Sakdin,
589-648 H./1 I 93-1250 M.
Pada saat Saladin wafat, kaum muslim masih unggul dan negara-
negara Tentara Salib sangat lemah. Negara-negara Tentara Salib
hanya menguasai sedikit pelabuhan dan beberapa kecil daerah
pedalaman. Namun, dengan keunggulan-keunggulannya itu, kaum
muslim tidak melakukan pengusiran terhadap para Tentara Salib.t5
Kaum muslim malah memperlakukan mereka sebagai penguasa
dengan membuat aliansi politik dan perjanjian-perjanjian dagang
dengan mereka. Dinasti Ayyubiyah dari suku Kurdi, anggota
keluarga Saladin, mewarisi wilayah-wilayah di Mesiq Suriah, dan
Mesopotamia. Tladisi-tradisi pemerintahan mereka didasarkan pada
tradisi pemerintahan Tirrki Saljuk dan mereka juga mewarisi
pemerintahan Fatimiyah di Mesir. Masing-masing penguasa Ayyu-
biyah itu memerintah sebagai konfederasi, bukannya pemerintahan
yang terpusat, sehingga negara-negara Tentara Salib ini dapat
tetap berdiri. Para pangeran Ayyubiyah menghabiskan energi
mereka untuk saling bersaing memperebutkan kota-kota dan
benteng-benteng, dan bukannya meneruskan jihad melawan kaum
Frank. Mereka selalu sibuk menjalin hubungan yang cukup baik
dengan pemukiman Tentara Salib di pantai Suriah, bukannya
menunjukkan sikap permusuhan yang jelas, sehingga mereka bisa
memperoleh keuntungan-keuntungan ekonomis dengan mem-
pertahankan rute-rute perdagangan yang melewati wilayah kaum
Frank ke laut. Pada pertengahan kedua periode Aparbiyah, konflik-
konflik keluarga meluas dan situasi politik sering kali bergolak.16
Perang Salib berikutnya pada periode Ayyubiyah dilancarkan
untuk menyerang Mesir. Bersamaan dengan kedatangan bangsa
Mongol dari timur yang menghadirkan ancaman yang lebih besar
terhadap dunia Islam, beberapa kerajaan-kerajaan lGisten menjalin
aliansi dengan bangsa Mongol ini untuk menyerang negara-
negara Islam (bandingkan foto warna 4). Saudara Saladin, al-'4dil,
masih menjadi sultan Mesir saat Perang Salib Kelima mulai terjadi
di Delta Nil pada 1218 dan merebut Damietta di tahun berikutnya.
Al-'Adil meninggal pada tahun itu dan putranya, al-Kimil, yang
menggantikannya, merebut kembali Damietta pada 1221.
Pada 1228, Frederick II dari Sisilia tiba di Palestina untuk
melancarkan Perang Salib. Sultan Aynrbiyah al-Kimil, yang ter-
ancam oleh pertikaian internal keluarga, lebih memilih berunding
daripada berperang dan membuat perianjian dengan Frederick
setahun kemudian, dengan menyerahkan Yerusalem, Bethlehem,
Nazareth, dan distrik-distrik lain ke tangan Tenrara Salib. Penyerahan
Yerusalem membuat al-KXmil dikritik keras oleh berbagai kalangan
kaum muslim. Yerusalem diserang secara besar-besaran pada 1244
saat pasukan Khawi.razmt y*g jauh di Asia Gngah, yang terusir
oleh invasi Mongol dan bergerak ke arah Barat dengan kemarahan,
memanfaatkan situasi lemah di Yerusalem. Mereka menaklukkan
dan merebutnya. Sesudah itu, Yerusalem kembali dalam kekuasaan
Islam. Kemunduran kaum Frank terus berlanjut, meskipun Tentara
Salib di bawah pimpinan Louis [V dari Prancis merebut Damietta
pada 1249 dan selanjutnya bergerak menuju Kairo. Mereka ter-
kepung di al-Mansura dan dipaksa untuk menyerah.
Pada masa Ayyubiyah, terutama pada 1240-an, kaum Frank
mencapai ekspansi wilayah terbesar mereka di abad ketiga belas.
Pada tahap ini, sangat jelas terlihat betapa sangat bersatunya k












