Menerjemahkan kemenangan-kemenangan
ini dalam kaitannya dengan jihad. yaitu para ahli hukum muslim
yang berkhotbah dan menulis rentang jihad, dan kemungkinan
mereka juga yang merangkai kata-kata pada prasasti-prasasti ter-
sebut, yang kemudian menjadi acuan opini warga dan dikutip
di masjid dan pasar serta yang menjadi penghubung antara rakyat
kebanyakan dengan para pemimpin militer mereka. Awal paling
sederhana dari aliansi para panglima dan pangeran Thrki dengan
kelompok-kelompok agama bisa dilihat di dalam caratan-catatan
monumental tentang kemenangan-kemenangan umat Islam ini
pada tahun-tahun sebelum penaklukan Edessa.
Namun, umat Islam masih belum memiliki pemimpin yang
benar-benar karismatik, pemimpin yang bisa menyatukan faksi-
faksi yang bertikai dan memahami kekuatan-senjata-propaganda-
jihad yang sebenarnya dalam menyarukan wilayah-wilayah yang
berbatasan dengan wilayah kaum Frank.
ZENGI DAN PENAKLUKAN EDESSA
Penaklukan Edessa menjadi titik bdik yang menentukan bagi umat
Islam. Edessa merupakan negara Salib pertama yang berhasil
direbut kembali oleh umat Islam. Dan, sekalipun Perang Salib
Kedua segera dilancarkan sebagai akibat langsung dari kemenangan
Zengi ini , usaha bangsa Eropa ini tidak begitu berhasil.
Apakah 'Imiduddin Zengi yaitu pemimpin Islam yang lama
ditunggu-tunggu, pejuang Islam yang bisa menyatukan dunia Islam
dan mengusir kehadiran kaum Frank? Yang jelas, Ibn al-Atsir,
penulis sejarah dari lingkungan Dinasi Zengi pada abad ketiga
belas, yakin bahwa keberuntungan dunia Islam dalam perang
melawan kaum Frank dimulai dengan keberhasilan Zengi ter-
sebut.3e Ibn al-Atsir memuji keberhasilan Zengi tersebur dalam
membangkitkan Islam, dengan menyesali kelemahan wilayah-
wilayah Islam dan kekuasaan kaum Frank yang sangat luas sebelum
kedatangan Zengi:
saat Allah Yang Mahakuasa melihat para pangeran wilayah-
wilayah Islam dan para panglima bermazhab Hanafi dan ke-
tidakmampuan mereka untuk mendukung agama yang benar dan
membela orang-orang yang beriman kepada Allah Yang Esa dan
Dia melihat mereka ditaklukkan oleh musuh-musuh mereka dan
kezaliman musuh-musuh mereka ... kepada kaum Frank Dia ke-
mudian berkehendak mengirimkan seseorang yang bisa membalas
kejahatan mereka dan mengirimkan batu-batu dari-Nya kepada
seran-sean salib ini untuk menghancurkan dan membinasakan
mereka fkaum Kristen]. Ia melihat beberapa orang pemberani di
antara para pembantu-Nya dan beberapa pemegang keputusan,
dukungan dan kecerdasan di antara sahabat-sahabat-Nya, dan Dia
tidak melihat di dalamnya (jqaran ini ) seseorang yang lebih
mampu mengemban perintah itu, kecenderungan yang lebih kokoh,
cita-cita yang lebih kuat dan lebih tajam dibandingkan penguasa,
selain syahid'Imiduddin.ao
Pernyataan-pernyataan bombastis tentang Zengi yang disam-
paikan oleh Ibn al-Atsir sulit dihubungkan dengan fakta-fakta
terperinci tentang kariernya sebagai seorang panglima militer yang
oportunis dan kejam yang memerintah wilayahnya dengan tanBan
besi.
Kelas Zengi berbeda dengan para pemimpin militer kaum
muslim di awal abad kedua belas--seperti Il-Ghazi atau Tirghtegin-
yang hadir lebih dahulu dan memerangi kaum Frank secara tidak
menentu. Kematian Zengi pada 1 146-hanya berselang dua tahun
sesudah penaklukan nya yang terkenal terhadap Edessa-membuat
kita tidak bisa menilai apakah ia akan dihadirkan di dalam
sumber-sumber Islam sebagai pejuang ,iihad sejati. Namun, yang
pasti, ia diakui memiliki kualitas kepemimpinan yang brilian'
Sebagian besar sumber-sumber ini menggambarkan dirinya
sebagai raja lalim dengan kepribadian kasar dan kejam yang benar-
benar menghadirkan teror terhadap pasukannya dan juga rakyat-
nya. Kekejaman dan tangan besinya telah melegenda.
'Imiduddin al-IshfahAni menyampaikan pidato-pidato yang
berisikan penentangan terhadap kekejaman Zengi yang biasanya
tidak dilanjutkan dengan memaParkan kaum Frank:
Zengi yaitu tirani dan ia akan menyerang dengan membabi-
buta tanpa pandang bulu. Karakternya bagaikan seekor macan tutul,
seperti singa yang marah, tidak lepas dari kekerasan, tidak mengenal
kebaikan ... Ia ditakuti sebab suka menyerang secara dba-tiba,
dihindari sebab kekasarannya, agresifl, angkara, membunuh para
musuh dan rakyatnya.ar
Ketakutan yaitu kata yang paling sering dikaitkan dengan
Zengi di dalam sumber-sumber Islam. Sebagaimana Baybars yang
berkuasa sesudah nya, Zengi merupakan penegak moral warga
yang taat, terutama terhadap moral isteri-isteri pasukannya.42 Zengi
menerapkan disiplin yang ketat terhadap pasukannya, yang caranya
ini mengingatkan pada para panglima Mongol. Penulis sejarah
Aleppo, Ibn al-Adim, menulis sebagai berikut: "saat Zengi
berada di atas punggung kuda, para pasukan biasanya berjalan di
belakangnya seakan-akan mereka di antara dua helai benang,
sebab takut mereka akan menginjaknya ... Bila ada orang yang
memutuskannya, ia akan binasa."a3
Selain karakter yang menakutkan ini, Zengi memiliki keahlian
yang tidak diragukan dalam bidang militer dan politik. Zengr
berasal dari keluargay^ng telah lama terbiasa dengan tugas militer
dan pemerintahan. Oleh sumber-sumber rersebut Zengi dipuji
sebab kecakapannya dalam pemerintahan. Kariernya didapar-
kannya di saat umat Islam meraih kemenangan melawan kaum
Frank. Di mata para penerusnya, Zengi dikenang terutama sebab
keberhasilannya merebut Edessa. Bahkan, sumber-sumber yang
menegaskan sifatnya yang otoriter siap untuk melupakan hal
ini sebab kemenangannya di Edessa ini. Semua kelakuan
buruknya dilupakan sebab satu jasanya ini. Menjelang qalnya,
di dalam sumber-sumber Islam Trngr &gumbarkan sebagai pahlawan
Islam yang sesungguhnya. Ia umumnya dijuluki sebagai seorang
syahid di dalam sumber-sumber ini , meskipun ia dibunuh
oleh seorang budak dalam keadaan pingsan sebab mabuk di
dalam tendanya.
Zengi memperlakukan kelompok-kelompok agama dengan
penuh perhatian seperti yang dilakukan oleh Putranya, NCrruddin'
Dua tahun sebelum kematiannya, dan sesudah cukup lama mem-
peroleh karier gemilang dan terlibat dalam berbagai aktivitas
militer, keberhasilannya merebut Edessa tentu saja menjadi jalan
bagi ketenarannya. Ibn al-Atsir menguraikan kemenangannya itu
secara lengkap: "Ini benar-benar kemenangan di atas kemenangan
dan salah satu kemenangan yang sangat mirip dengan Perang
Badar. Mereka yang menyaksikannya siap berjihad dengan sepenuh
hati."
Dengan demikian, penaklukan Edessa oleh Zengi disamakan
dengan kemenangan besar Nabi Muhammad dalam Perang Badar'
Ibn al-Atsir kemudian melanjutkan bahwa tempat-tempat lain di
sekitar wilayah tersebur ditaklukkan zengi saat perhatiannya
selalu rertuju pada Edessa. Seluruh peristiwa tentang Edessa
dijelaskan dalam nuansa pandangan keagamaan yang oPtimis,
meskipun Ibn al-Atsir menghabiskan berlembar-lembar halaman
untuk menuliskan aktivitas-aktivitas zengi lainnya yang tidak ada
hubungannya dengan jihad melawan Para Tentara Salib: "Islam
menjadi bagaikan purnama sesudah sebelumnya gulita [seperti di
akhir bulan] dan matahari keimanan bersinar sesudah cahayanya
raib."4a
Keberpihakan Ibn al-Atsir terhadap zengi dan penerus dinasti-
nya telah menutupi penilaianny^ yang jelas di sini'
Masih diragukan bahwa fondasi kebangkitan umat Islam yang
sebenarnya berhadapan dengan kaum Frank didapat selama karier
Zengi. Memang, sumber-sumber ini memandang Zengi se-
bagai mujahid hanya di beberapa tahun terakhir masa hidupnya'
Tentu saja sulit untuk menilai aktivitas militer zengi yang sebenar-
nya pada tulisan-tulisan bernada rnemuji dari para penulis yang
ingin mencitrakan dirinya sebagai pejuang jihad' Dua orang
penyair yang berhasil menyelamatkan diri saar kaum Frank menak-
lukkan pantai Suriah, Ibn al-QaysarAni (dari Kaisarea) dan Ibn
Munir (dari Tiipoli), pada akhirnya bergabung dengan rombongan
Zeng| Pengalaman pahit terusir dari rumah tinggal mereka pasti
menambahkan dimensi lain terhadap seruan jihad di dalam puisi
mereka yang ditujukan untuk pelindung mereka, Zengi.a5
Meskipun tidak diragukan bahwa mereka didorong oleh
keinginan untuk memperoleh upah (kehidupan para penyair istana
selalu sulit), Ibn al-Qaysarini dan Ibn Munir, sesudah Edessa jatuh,
menunjukkan bagaimana kaum muslim yang berhadapan dengan
Perang Salib dapat bertahan.a6 Mereka berusaha keras mendesak
Zengi mengikuti cara itu. Ibn al-QaysarAni menegaskan agar umar
Islam wajib menjadikan penaklukan kembali seluruh garis pantai
Suriah $Abil) sebagai tujuan urama jihad mereka: "Beritahu para
penguasa kafir untuk menyerahkan seluruh wilayah mereka sesudah
ditaklukkannya Edessa, sebab wilayah ini yaitu negerinya
lZengif ."47
Secara persuasif Sivan mengemukakan, kejatuhan Edessa telah
mengubah sikap umat Islam dari yang semula didominasi sikap
bertahan menjadi ofensif. Terlepas dari pandangan-pandangan al-
Sulami dan barangkali anggota-anggota elite hukum-agama di
Suriah, sebelum kejatuhan Edessa, jihad sebagai faktor pendorong
masih tidak menentu, rerpisah, dan kurang terfokus. sesudah Edessa
direbut kembali, kedua penyair ini membantu mengukuhkan jihad
di dalam konsep penaklukan kembali Yerusalem. Seperti ditulis
oleh Ibn Munir: "Ia [Zengi) esok akan berpaling kepada
Yerusalem."as Ibn al-Qaysarini ikut menegaskan tentang Yerusalem
ini: "Bila penaklukan Edessa yaitu samudera, Yerusalem dan
Snhi I yaitu pantainy a." ae
Diterima atau tidak gelar mujahid sejati ini oleh Zengi sendiri,
penting untuk ditegaskan bahwa memang demikian pandangan
penyair-penyair pada masa itu. Pasti bisa diterima bila dikatakan
bahwa kemenangannya di Edessa telah membangkitkan harapan
umat Islam mengenai diri mereka dan juga membentuk citra
tentang diri mereka sendiri berhadapan dengan kaum Frank.
Yang pasti, Zengi kemungkinan terus melaju untuk merebut
Damaskus dan mempersatukan kaum muslim Suriah di bawah
tangan besinya. Ini kemudian dilanjutkan dengan aliansi dengan
kelompok-kelompok keagamaan. Zengi kemungkinan dihadirkan
sebagai pemimpin jihad sejati umat Islam dalam kampanye ProPa-
ganda yang semakin intens dengan Yerusalem sebagai sasarannya.
Khalifah Baghdad telah memberinya jalan dengan memberi ucaPan
selamat kepada Zengi atas keberhasilannya merebut kembali Edessa.
Ucapan itu disertai dengan serangkaian gelar-gelar kehormatan
yang menekankan pada mandat keagamaan. Menurut Ibn'W'Xshil,
ia antara lain diberi gelar "Perhiasan Islam, raia yang ditolong
Allah, penolong orang-orang beriman".50
Namun, Zengi dibunuh pada Rabiulawal 541 H., bertepatan
dengan September 1146 M. Putranyalah, Nirruddtn, yang ke-
mudian disebut oleh sumber-sumber Islam sebagai arsitek-kaum-
muslim yang sesungguhnya menghadapi Perang Salib. Namun,
Zengi telah membuka jalan, dengan menghadirkan model pe-
merintahan militer yang tak kenal ampun yang berusaha disamai
oleh putranya.
Respons umat Islam terhadap kaum Frank, yang melibatkan
keahlian memakai senjata propaganda jihad, bisa dilihat
bertahap dan kumulatif. Masing-masing generasi membangun dan
mengembangkan pengalaman dari generasi sebelumnya. Namun,
penaklukan Edessa bisa dijadikan sebagai momen Penting dalam
mendorong gerakan iihad. Edessa merupakan wilayah kaum Frank
yang letaknya paling timur, satu-satunya yang di seberang Eufrat,
dan dengan demikian merupakan wilayah yang paling mengancam
kursi kekuasaan Zengi, Mosul. Selanjutnya, pata Tentara Salib
dikurung di wilayah Mediterania rimur. Putra Zengi, N0ruddin,
kemudian melanjutkan perjuangan melawan kaum Frank dan
bergerak tanpa henti untuk mengepung dan merebut kota Yerusalem.
Begitulah, selanjutnya, perkembangan gagasan dalam bidang
agama, politik, militer, dan ideologi, hingga kejatuhan Edessa
pada 1144 dan kedatangan Perang Salib Kedua. Bab ini selanjut-
nya akan berusaha menyoroti perkembangan jihad lebih jauh
dengan mempelajari peranan jihad dalam karier salah satu tokoh
utama Timur Dekat pada paruh kedua abad kedua belas, yaitu
N0ruddin.
PECAH}.IYA PEMNG SALIB KEDUA
PADA 543 H./1148 M.-TrTrK BALrK DATAM JIHAD
Pada bab dua kita telah melihat bahwa para penguasa muslim
Suriah di dekade-dekade awal abad kedua belas bekerja sama
dengan kaum Frank saat wilayah-wilayah mereka mendapat
ancaman dari luar, yaitu pasukan yang didukung oleh sultan-
sultan Saljuk atau para gubernur Mosul. Bantuan militer semacam
itu, yang diberikan untuk kaum Frank, tampaknya dipandang
sebagai intervensi para pangeran "dari timur" dan ditanggapi
dengan cara menutup pintu gerbang kota dalam menghadapi
kedatangan pasukan kaum muslim, seperti Aleppo di bawah
pimpinan Ridhwin pada 505 H./1111-1172 M., atau pasukan
koalisi kaum muslim setempat dengan kaum Frank. Sikap per-
musuhan terhadap kaum muslim rimur ini menjadi faktor penting
yang menjadi penyebab kegagalan Zengi untuk merebut Damaskus
pada beberapa kesempatan di 1130-an.
Sebagaimana telah diketahui, Perang Salib Kedua terbukti
gagal total, sebab kaum Frank memutuskan untuk melancarkan
serbuan besar-besaran terhadap Damaskus, dan bukan merebut
kembali Edessa atau menaklukkan Aleppo. Meskipun para Tentara
Salib yang dikirimkan ke Damaskus jumlahnya besar, mereka
berhasil dipukul mundur dan usaha ini kemudian gagal.
Akibat serangan pasukan kaum Frank ke Damaskus pada 543
H.11148 M., semangat orang-orang di Damaskus dan disusul
kemudian di semua tempat di Suriah rampak berubah. Bukan
sebab pengalaman memalukan Perang Salib Pertama dan, yang
paling penting, penaklukan Yerusalem oleh kaum Frank, yang
telah disaksikan dan dirasakan pertama kali oleh para penduduk
kota-kota urama umat Islam atas kehadiran kaum Frank di dalam
Iingkungan mereka, dengan penjarahan dan pembunuhan. Di
dalam sumber-sumber Islam tampak jelas bahwa rakyat Damaskus
tidak mengira akan kembali menjadi sasaran serangan para Tentara
Salib dari Eropa yang di Barat dikenal sebagai Perang Salib Kedua.
Hal ini pasti menimbulkan dampak yang jauh lebih besar.
Sumber-sumber umat Islam menuturkan dengan penuh ke-
sedihan bahwa selama pengepungan Damaskus, dua anggota
kelompok agama, yaitu seorang imam mazhab Maliki bernama
Y0suf al-Findilawi dan seorang sufi yang bernama Abd al-Rahmin
al-Halhfrli, keduanya berusia lanjut, rewas sebagai syahid saat
mempertahankan kota ini .5l Dengan demikian, kelompok-
kelompok agamawan di Damaskus bisa memanfaatkan pengaruh
emosional dari kehadiran para Tentara Salib di kota ini dan
mulai sepenuhnya mempergunakan makna penting berjihad me-
lawan para penyerang kafir yang dibenci ini. Beraliansi dengan
kaum Frank tidak lagi tepat untuk mempertahankan status kemer-
dekaan Damaskus sebagai negara-kota. Keterkejutan dan ketakutan
akibat penjarahan dan pembunuhan yang dilakukan kaum Frank
bisa diperkeras menjadi seruan baru untuk bersatu dalam jihad
melawan kaum Frank. Nfiruddin sangat beruntung sebab ia
memulai kariernya di titik balik sejarah Damaskus dan Suriah
ini.
KARIER NURUDDIN, 541-569 H.ILI4(C-II74 M.
Untuk menyoroti Nfrruddin dalam konteks pembahasan tentang
jihad, akan bermanfaat bila dibuat kesimpulan ringkas tentang
peristiwa-peristiwa utama di periode ini dan menyorori keber-
hasilan kariernya.
sesudah pembunuhan Zengi, N0ruddin, putra keduanya, segera
mengambil alih Edessa dan Aleppo. Dunia Islam kemudian meng-
hadapi serangan Perang Salib Kedua, yang dipicu oleh kejatuhan
Edessa. Nriruddin memperoleh kemenangan gemilang melawan
kaum Frank di Inab pada Safar 544 H.lJuni ll49 M. Sekitar
549 H.11754 M., Nfrruddin berhasil mempersatukan Suriah.
Seiring dengan berkuasanya pemimpin Tentara Salib, Amalric,
pada 558 H.l1163 M., tahap baru dalam karier Nfiruddin dimulai.
Amalric mengarahkan perhatiannya ke negara Fatimiyah di Mesir
yang tengah sekarat dan melemah akibat pembunuhan wazir Tala'i'
pada 556 H./1161 M., dan Nfrruddin dituntut untuk bersikap
lebih tegas menghadapi kaum Frank, saat ia juga mulai me-
lakukan intervensi dalam masalah internal Mesir. Pada 558 H./
1163 M., Nirruddin dikalahkan kaum Frank di kota al-Buqay'ah.
Pada tahun berikutnya, wazir Fatimiyah bernama SyiwAr datang
kepada Ntruddin untuk meminta bantuan militer guna melawan
musuh politiknya di Kairo, Dirgham, yang telah mengguling-
kannya. Pada 559 H.lll54 M., N0ruddin mengirimkan pasukan-
nya di bawah pimpinan seorang panglima Kurdi bernama SyirkCrh
(paman pemimpin masa depan Islam, Saladin) untuk mengem-
balikan kekuasaan Syiwir di Kairo. Sementara itu, Dirgham
mengundang kaum Frank yang dipimpin Amalric untuk datang
membantunya. Syiwir memperoleh kembali kekuasaannya di
Kairo, tapi ia mengingkari janjinya kepada NCrruddin.
Operasi militer kedua ke Mesir yang disponsori oleh Nfiruddin
pada 562 H./1168 M. memperoleh kemenangan kecil. Namun,
kaum Frank melancarkan serangan ke Kairo pada 564 H./1168
M. Syiwir terpaksa harus meminta bantuan N0ruddin sekali lagi.
Pada operasi militer yang ketiga ke Mesir, N0ruddin memer-
cayakan komando kepada Syirktrh. saat Syirkth tewas pada
564 H.l1169 M., keponakannya yang bernama Saladin mengambil
alih komando pasukan Suriah di Mesir dan terus maju mengen-
dalikan negara Fatimiyah dengan merencanakan penunjukannya
sebagai wazir oleh khalifah Fatimiyah al-Adid. saat khalifah
wafat pada 565 H.lll7l M., Saladin mengambil suatu langkah
paling penting, yaitu menghancurkan Dinasti Fatimiyah dan
mengembalikan Mesir kepada Dinasti hbbasiyah yang Sunni di
Baghdad.52 Sampai 567 H.lll7z M., Saladin melakukan semua
tindakannya ini masih atas nama pemimpinnya, N0ruddin, di
Suriah. Namun, sesudah itu, di antara keduanya mulai terlihat
tanda-tanda permusuhan yang kemungkinan bisa meletus menjadi
perseteruan terbuka kalau saja Nfiruddin tidak wafat pada 569
H.lll74 M. Di tahun sebelumnya, N0ruddin mendapat sebuah
dokumen dari khalifah yang secara resmi menghadiahinya semua
wilayah yang telah ditaklukkannya.
Di balik cataran peristiwa-peristiwa utama dalam karier militer
N0ruddin ini, ada suatu kenyataan yang cukup rumir, yaitu bahwa
di sepanjang kariernya ia harus berperang melawan semua musuh-
nya yang rersebar luas: rival politik kaum muslim sunni di suriah,
Syiah Ismailiyah dan faksi-faksi lain di Mesir, Bizantium-yang
turut campur rangan dalam hubungan dengan Suriah_dan yang
terakhir dan tidak kalah penting yaitu kaum Frank. para penga-
gumnya mengatakan bahwa penaklukan atas semua lawan-lawan
militer muslimnya di suriah dan pembentukan wilayah bersaru
di perbatasan dengan kaum Frank merupakan langkah awal yang
bermakna penting dalam mengatasi kaum Frank itu sendiri.
Dengan demikian, upaya Nirruddin dalam mempersatukan Suriah
dan Mesir di bawah penguasa Sunni untuk perrama kalinya sejak
abad kesepuluh merupakan suatu langkah yang tepar untuk
mengepung kaum Frank-sebagaimana yang didukung oleh al_
sulami. Namun, kritik atas Nfiruddin dikaitkan dengan masa
kariernya yang panjang--dua puluh delapan ,"1ru,1-yanj sebagian
besar upaya-upaya militernya ditujukan untuk memerangi sesama
muslim sendiri dan bukan kaum Frank. J'.,g, patut dicatat bahwa
beberapa kali di dalam kariernya Ntruddin berpandangan bahwa
kesepakatan perjanjian damai merupakan suatu tindakan yang
bijak, misalnya dengan Bizantium pada 554 H.llllg M. dan
dengan kaum Frank yang menguasai yerusalem pad,a 555 H.l
1161 M.
sungguh sulit untuk menguraikan dan memberi penilaian
tentang modvasi-agama, pribadi, keluarga_N0ruddin dalam
jejaring persereruannya dan perrempuran militernya yang rumit
yang kemudian membentuk citra kariernya. Demikian juga halnya
dengan Saladin. Namun, parut unruk ditekankan bahwa para
sejarawan muslim sangat berhati-hati dalam menggambarkannya
sebagai penguasa muslim Sunni yang alim dan pejuang jihad
yang berani melawan kaum Frank. Selain itu, pada abad-abad
selanjutnya di dunia Islam, yaitu Nirruddin, dan bukannya
saladin, yang memiliki reputasi paling gemilang sebagai sosok
mujahid sejati. Saladin, yang akan dijelaskan dalam bab delapan,
"ditemukan kembali" oleh umat Islam pada abad kesembilan belas
dan kedua puluh.
DIMENSI RELIGIUS KARIER NURUDDIN
Para penulis sejarah dari kalangan muslim menggambarkan pe-
mimpin-pemimpin militer sebelumnya yang memerangi kaum
Frank-misalnya, Il-GhA,zi dan terutama Zengi, ayah N0ruddin-
terutama mengacu pada prestasi militer mereka. Namun, terhadap
NCrruddin, mereka menunjukkan ungkapan kebanggaan pada
dimensi religius dalam karier NCrruddin. Meskipun kebanyakan
dari ungkapan-ungkapan mereka ini mungkin yaitu propaganda
atau pembentukan citra oleh mereka, fakta yang ada tetap yaitu
bahwa begitulah cata pata sejarawan mu5lirn-lsrutama mereka
yang hidup pada abad ketiga belas-menggambarkan Nirruddin.
Tak diragukan lagi, di antara para sejarawan Islam Abad Per-
tengahan, yang paling ternama yaitu Ibn al-Atsir (w. 630 H./
1233 M.), yang bekerja untuk Zengi, dinasti keluarga Zengi dan
NCrruddin. Ibn al-Atsir merupakan penasihat Nirruddin yang
paling berpengaruh, yang beberapa masukannya terkadang me-
rugikan Saladin.
Kini kita akan membahas berbagai unsur yang bersama-sama
membentuk citra N0ruddin sebagai penguasa Sunni dan pejuang
jihad yang ideal.
HUBUNGAN ANTARA NURUDDIN
DAN KELOMPOK-KELOMPOK AGAMA
Aspek penting dari citra Nfrruddin ini yaitu dukungan yang
diberikan Ntrruddin kepada kelompok-kelompok agama di Suriah
dan hubungannya yang semakin erat dengan mereka (foto 3.9,
3.10, 3.11, 3.t2). Hubungan ini merupakan hubungan yang turut
membantu membentuk citra N0ruddin yang lebih dari sekadar
seorang oportunis militer yang terlibat dalam kebijakan perluasan
wilayah. Semenrara kelompok-kelompok agama sendiri terlibat
secara erar dengan operasi-operasi militer Ncrruddin, baik sebelum
operasi militer itu dimulai mauPun saat tengah berlangsung'
Selama operasi militer ke Mesir yang disponsori oleh Nfrruddin
pada 1160-an, dua ahli fikih mazhab Hanbali, yaitu Muwaffaquddin
Ibn Qudimah dan sePuPunya Abd al-Ghini, menjadi ahli
propaganda yang Penting dan melakukan pembacaan buku The
Profession of Faith (Pengakuan Iman) karya Ibn Batta (w' 387
H.t997 M.)," sebuah traktat mengesankan yang mengkhotbahkan
suatu langkah kembali kepada ajaran Islam yang murni sepeni
yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Pasukan Nriruddin terdiri
dari para ulama-ahli hukum Islam dan misdkus-yang benar-
benar siap untuk bertempur dalam kelompok ini .5a Selain
itu, di dalam barisan itu juga ada tokoh-tokoh lain-para
imam, pembaca Alquran, khotib, hakim-yang semakin mem-
perkuat dimensi keagamaan dalam konflik militer rersebur.
Sebagai balasannya, NCrruddin memberikan dukungan yang
besar kepada kelompok-\elompok agama berupa perlindungan
pada monumen-monumen agama sebagai bagian dari cita-citanya,
yaitu membangkitkan Islam Sunni di wilayahnya dan merangsang
ketaatan dan jihad kepada warga . Monumen-monumen ter-
sebut, sebab sering kali diberi tanggal dengan tepat lewar inskrip-
sinya, memberikan bukd-bukri sejarah awal yang tidak ternilai.
beberapa teks berukuran sangar besar: inslcipsi atas nama Ntruddin
pada Jimi' al-N0rt di Hama, misalnya, memiliki panjang lebih
dari tujuh meter (foto 3.13, 3.14,3.I5 dan gambar 3.21). perlu
ditegaskan bahwa inskripsi-inskripsi ini, dengan penghormatan
yang agung kepada N0ruddin, semua berada di gedung-gedung
para penguasa menyadari akan kewajiban-kewajiban agamanya.
Dengan demikian, di Rumah Keadilan, Nffruddin, atau salah
satu deputi yang ditunjuknya, akan hadir dan mendengarkan
keluhan ralq,atnya dalam sesi-sesi yang sudah diatur sebelumnya.5T
Dikatakan oleh Ibn al-Atsir: "Ia lNfrruddin] biasa duduk idi
Rumah Keadilan] dua hari dalam seminggu, bersama dengan para
hakim dan anggota pembela."58
Sangat banyak monumen-monumen agama didirikan pada
pertengahan abad kedua belas di suriah-JAmi' al-N0ri di Hama,
pada 558 H.lll62-1163 M., perguruan pendidilan seperti Madrasah
al-Syu'aybiyyah yang didirikan pada 545 H.ltt59 M. di Aleppo
(empat puluh dua dibangun pada masa N0ruddin, setengahnya
disponsori oleh dirinya secara pribadi), biara-biara sufi, sebuah
rumah sakit (Bimaristan N0ruddin yang terkenal bertahun 549
H.lll54-fi 55 M.) (foto 3.16, 3.17, 3.18, 3.19, 3.zo dan foto
warna 14), Dlr al-Eadits (Rumah Ahli Hadis) (gambar 3.29)-
dan bersama-sama itu semua menyaksikan kebangkitan Islam Sunni
besar-besaran selama Nirruddin berkuasa. N0ruddin biasa meng-
ambil risiko dengan hadir pada pertemuan di Dir ar-Hadits
seorang diri. Gedung ini dibangun pada 566 H.lll7} M. untuk
memperbesar mandatnya sendiri sebagai seorang penguasa Sunni
yang alim.se Antara 560 H.ltt65 M. dan 566 H.lttTO M.,
Nirruddin mensponsori pembangunan beberapa menara di Suriah-
di Damaskus dan al-Raqqa selain rempat-rempat lain (bandingkan
dengan foto 3.21)-.dan di Irak (bandingkan dengan foto 5.1).
Monumen-monumen ini, yang menjulang di antara bangunan
kota dan benteng, memiliki pesan propaganda kuat yang menjadi
saksi kemenangan umat Islam. Gempa bumi kuat beberapa kali
terjadi di suriah dan telah merusak atau menghancurkan gedung-
gedungnya. N0ruddin menyadari bahwa mgasnyalah .r.r,,rk mem_
bangun kembali gedung-gedung itu. Ni,uddin menfkapi kewajib-
an publiknya sebagai penguasa untuk membangun atas nama Islam
dengan serius, sekalipun program pembangunan seperti itu me_
merlukan biaya yang sangar mahal.
Kita bisa melihat banyaknya monumen-monumen agama yang
dibangun di bawah perlindungan N0ruddin, dan melalui inskripsi
monumental yang diukir atas namanya oleh para ahli ukir se-
tempar di bawah bimbingan ulama, yang pada masa hidupnya
Ncrruddin telah dipandang (atau ingin dianggap) sebagai *",*ia
dan model ideal penguasa muslim sunni. Ibn al-Atsir m.rj.laskan
pembangunen yang dilakukan NCrruddin, dengan menyebutkan
bahwa dia membangun dinding "semua kota dan benteng-benteng
Suriah", masjid-masjid, rumah sakit, caraaansArai, menara-menara,
biara-biara sufi dan rumah penampungan anak yatim.6o N0ruddin
mengunjungi Madinah pada 556 H./1161
ibadah haji dan pada kesempatan itu ia
dinding-dinding kota ini .6r
Tidak seperri epigrafi monumental, gelar yang ada di
koin harus dibuat ringkas sebab ruang yang tersedia sangar kecil.
sebab itu, perlu dicatat bahwa banyak koin yang ada yang
memakai nama N0ruddin memberinya gelar "pangeran yang
adil" (al-malik al-'Adil) (gambar 3.27).6'Tidak seperri inskripsi-
inskripsi monumental yang tak dapat bergerak, koin-koin ini
sering mencapai rempat-tempat jauh, dengan membawa reputasi
Nirruddin sebagai penguasa yang terutama juga menyebarkan nilai
keadilan Islam.
yaitu pada masa Nfrruddin berkuasa, pemimpin muslim
besar pertama yang melawan kaum Frank, konsep jihad sebagai
seruan penggerak kaum muslim mendaparkan momentum yang
M. untuk menunaikan
membangun kembali
sebenarnya dan aliansi antara kelompok-kelompok agama dan
pemimpin militer menjadi begitu penting. Dan yaitu pada masa
Saladin berkuasa, unsur-unsur utama dalam propaganda jihad
kaum muslim bisa dikenali dengan jelas. Idealnya, jihad spiritual
dan jihad yang melibatkan warga luas menyatu dalam diri
penguasa ini , dan dalam sudut pandang semacam inilah
N0ruddin dihadirkan di dalam sumber-sumber Islam. Namun,
persoalan kejujuran sejarah tentang citra Nirruddin ini tidak bisa
dituntaskan dengan memuaskan.
CITM NURUDDIN DATAM SUMBER-SUMBER TERIULIS
Menurut Elisseeff, yang karya tiga jilidnya tentang Ntruddin
dikenal luas sebagai kontribusi ilmiah yang utama, pada tahun-
tahun pertama berkuasa, NCrruddin lebih mencurahkan perhatian-
nya untuk mempersatukan Suriah. sesudah berhasil mencapai
tujuannya itu, barulah ia kemudian mengalihkan sasarannya kepada
para Tentara Salib.63 Inilah yang membuat aktivitas-aktivitas militer
N0ruddin mendapat interpretasi yang baik dan juga menunjukkan
bahwa sejak awal NCrruddin memiliki strategi menyeluruh, yaitu
mempersatukan umat Islam yang dilanjutkan dengan jihad me-
lawan kaum Frank.
Bagaimanapun juga, interpretasi seperti itu sangat tepat.
yaitu jauh lebih mungkin jika NCrruddin memulai kariernya
(dan mungkin bahkan melanjutkannya) dengan memainkan per-
mainan politik kekuasaan yang sama di Timur Dekat sebagaimana
yang telah dilakukan ayahnya yang tak kenal ampun, Zeng|
Namun, sumber-sumber Islam memberikan nuansa-nuansa yang
jauh lebih islami pada aktivitas-aktivitas Nfrruddin ini di-
bandingkan dengan aktivitas-aktivitas ayahnya. Sangat sulit untuk
menentukan keabsahan interpretasi semacam ini. Apakah para
sejarawan Islam, yang tentu saja menulis dengan berdasarkan
peristiwa yang telah terjadi, tengah dipengaruhi oleh penyajian
peristiwa-peristiwa lewat pengetahuan mereka tentang peristiwa
yang telah terjadi?
Berbagai peristiwa penring dalam karier Nfiruddin di dalam
sumber-sumber yang ditulis oleh kaum muslim dibalut dengan
pesan-pesan moral yang luhur. Misalnya, ia ditampilkan tengah
mengalami perubahan dari seorang panglima militer menjadi
penguasa muslim Sunni yang alim. Seperti yang akan kita lihat,
citra yang sama juga diberikan kepada diri Saladin. Dari sini,
tampak bahwa proses ini mungkin sangat klise dan menjadi tema
umum dalam penulisan sejarah Islam.
Bagaimana sumber-sumber ini kemudian mengatasi ma-
salah ini? Menurut mereka, tanda-tanda pertolongan Allah telah
terlihat di tahap-tahap awal karier N0ruddin. Penulis sejarah
Damaskus pada masa itu, Ibn al-QalAnisi, memberikan pujian
pada motif-motif keagamaan yang mulia dalam diri NCrruddin
untuk tindakan-tindakannya:
Saya tidak mencari apa-^p^ kecuali kemuliaan umat Islam
dan berperang melawan kaum Frank ... Jika ... kita saling mem-
bantu dalam melancarkan Perang Suci, dan semuanya diatur secara
harmonis dan dengan satu tujuan untuk kebaikan, keinginan dan
cita-cita saya akatr benar-benar tercapai.6a
Tentu saja, Ibn al-QalXnisl mungkin bersalah sebab bersikap
memihak. Akan namun , di sini, beliau menulis dengan semangar
yang tidak terlihat dalam uraian-uraiannya tentang aktivitas Zengi.
Momen utamanya mungkin yaitu kemenangan Nfiruddin saat
melawan Raymond dari Antiokhia dalam pertempuran di Inab
pada Safar 544 H.lll49 M. Menurut Elisseeff, sesudah merebut
Damaskus pada 549 H.ll154 M., Nirruddin melakukan setiap
usahanya "atas nama jihad melawan para Tentara Salib dan
membantu kebangkitan Islam Sunni".6t Bentuk penulisan yang
menggambarkan penghormatan ini dilakukan langsung oleh para
penulis sejarah itu sendiri. Ibn al-Adim mengatakan, mungkin
dengan lebih didasarkan pada kesetiaannya dan bukan pada
keyakinannya, bahwa "mulai dari titik ini Nirruddin mengabdikan
dirinya untuk berjihad".66
Sayangnya, sulit dibuktikan bahwa dalam perjalanannya men-
jadi seorang alim dan akhirnya diterima oleh kelompok-kelompok
agama sebagai seorang penguasa Sunni yang baik, Nriruddin
memiliki seorang guru. N0ruddin mungkin terdorong untuk
mempertimbangkan dimensi religius dalam aktivitas politik dan
juga sekaligus sebagai jalan penyelamaran spiritualnya sesudah dua
kali ditimpa penyakit serius, yaitu pada Ramadan 552 H./Oktober
ll57 M. dan Zulhijah 553 H./1159 M. Nirruddin kemudian
menyempatkan dirinya untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah
pada 556 H./1161 M. Namun, titik balik paling penting dalam
perkembangan keagamaan N0ruddin tampaknya yaitu sesudah ia
mengalami kekalahan yang memalukan dari kaum Frank pada
558 H./1163 M. dalam Pertempuran di al-Buqay'ah. Menurur
sumber-sumber ini , kekalahan ini menimbulkan pengaruh
yang mendalam terhadap kehidupan pribadi dan kebijakan
N0ruddin. Sejak itu, Nfrruddin berperilaku saleh, alim, dan
asketis. Sikap inilah yang membuat Nirruddin kemudian mem-
peroleh penghormatan dari kelompok-kelompok agama di Suriah,
termasuk juga kesetiaan ralyatnya. Ibn al-hdim menyebutkan
sebuah kejadian yang tampaknya semakin mempertajam sikap
religius N0ruddin.67 Seseorang yang disebut Burhnnuddin Balkhi
berkata kepada N0ruddin: 'hpakah Anda ingin merayakan ke-
menangan, sementara di dalam kemah Anda tersimpan banyak
minuman memabukkan, tambur, dan alat musik tiup? Tidak,
demi Allah!"
Menurut kisah ini, NCrruddin sangar rersentuh dengan per-
ingatan ini dan beliau berjanji unruk bertobat. Ia mengganti
pakaian kebesarannya dengan pakaian kasar seperri yang dikenakan
para sufi, untuk menyatakan bahwa ia seterusnya akan menyatukan
keinginan untuk melakukan jihad agama baik sebagai pribadi
dan juga melakukan jihad kolektif melawan kaum Frank. Ia
menyeru pangeran-pangeran muslim lainnya untuk bergabung
bersamanya untuk berjihad. Kisah-kisah yang mengandung pe-
lapran moral semacam itu umum dijumpai dalam tulisan-tulisan
sejarah Islam Abad Pertengahan. Minuman-minuman memabukkan
dan alat-alat musik melambangkan kelalaian dalam menjalankan
perintah agama (gambar 6.31, 6.69). Namun, momentum muncul-
nya kisah ini dalam penuturan Ibn al-Adim mungkin memiliki
makna penting.
'Imiduddin al-Ishfahini, yang kemudian menjadi sahabat
sekaligus penasihat Saladin, tiba di Damaskus dan bergabung
dengan N0ruddin pada 562 H.11166-1167 M.Ia menggambarkan
tuannya yang baru itu sebagai "rajayang paling suci, saleh, cerdas,
di Mosul).6e Dengan tanpa ragu, tulisan ini memberikan puji-
pujian sebagai berikut:
Saya telah membaca sejarah rala-rqa terdahulu sebelum Islam,
dan pada zamar, Islam hingga zaman kita ini, dan saya belum
pernah melihat seorang raja sesudah KhulafA' al-Rtsyidin dan 'Umar
ibn Abd al-'Aziz yang sikapnya lebih baik selain raja Nfiruddin.To
Puji-pujian yang luar biasa seperti itu, yang menyamakan
Nirruddin dengan para khalifah yang di dalam Islam dikenal
sebagai orang yang paling saleh dan adil, dilanjutkan di dalam
obituari ini dengan menyebutkan satu persatu kebaikan-
kebaikan N0ruddin. Penting diingat juga, seperti halnya praktik
penulisan inskripsi pada saat itu, dari semua pilihan yang ada
Ibn al-Atsir memilih sebutan gelar "adil" ('odt) untuk meng-
gambarkan N0ruddin.
Puji-pujian terhadap Ntrruddin juga dilakukan oleh penulis
berikutnya, yaitu Abir Syimah (w. 665 H.11258 M.). Ia meng-
gambarkan N0ruddin sebagai orang yang paling bersemangat
memerangi para Tentara Salib.Tt Ia juga menegaskan ketaatan
NCrruddin pada ajaran agama, keadilannya, pengabdiannya untuk
berjihad, dan kesalehan pribadinya.
Ia menampilkan perilaku keagamaan yang ortodoks (sunnah)
di Aleppo dan mengganti bidah yang ada dalam seruan untuk
salat dan ia menaklukkan para pelaku bidah di sana dan mem-
bangun perguruan-perguruan tinggi agama, memberikan sumbangan
amal dan menyebarkan keadilan ... Dalam perang, ia selalu maju
paling depan, pandai memanah, dan tangguh dalam menyerang ...
Ia berani mengambil risiko menjadi syuhada ... Ia memiliki tulisan
tangan yang bagus [dan] sering mempelajari buku-buku agama.T'
"Demitologisasi" sosok Nfiruddin yaitu suatu hal yang sangat
mungkin. Ini telah dilakukan baru-baru ini oleh seorang ilmuwan
Jerman bernama K<ihler. Menurutnya, upaya-upaya yang dilakukan
Nfrruddin dalam berjihad pada paruh pertama kariernya tidaklah
mengesankan. Sebagai bukti, Kohler menyebutkan kecaman sangat
keras terhadap Nirruddin yang dilontarkan oleh wazir Fatimiyah
TalX'i' ibn Ruzzik, beberapa lama sesudah 549 H.l1154 M. sebab
Nirruddin tidak memerangi kaum Frank dan membiarkan kaum
Frank terus berkuasa di Palestina: "Katakan padanya: berapa lama
kau akan menunda [menghancurkan para jahanam] berkaitan
dengan orang-orang kafir itu? ... Pergilah ke Yerusalem! ... Tinggal-
kan kegemaranmu demi mengenyahkan kaum Frank itu!"73
Peringatan ini jelas menunjukkan, setidaknya menurur Abil
Syimah, yang bukan penganut Ismailiyah dan sebab itu tidak
memiliki kepentingan untuk mendukung Fatimiyah, bahwa bukan-
Iah Nfrruddin, tapi Dinasti Fatimiyah "yang dibenci", yang men-
dorong jihad melawan kaum Frank. Berbeda dengan semangar
yang disuarakan oleh penyair-penyairnya, KOhler berpendapat
bahwa N0ruddin tidak memulai seruan jihadnya untuk melawan
kaum Frank hingga ia merebut Damaskus. Sebaliknya, Nfrruddin
lebih memilih untuk memperkuat kekuasaannya di Suriah. Kohler
menetapkan titik balik bagi Nfiruddin dan penggunaan propa-
ganda jihad pada 553 H.lll57 M.
Akan namun , bahkan dalam pertempuran perebutan kekuasaan
di Mesir antara Nfiruddin dan kaum Frank (553-569 H.11157-
1174 M.), Ktihler mengatakanTa bahwa NCrruddin memakai
propaganda jihad hanya sekadar sebagai alat untuk kepentingan
politik kekuasaannya. Sekalipun banyak inskripsi jihad yang meng-
gunakan namanya dari 553 H.ll157 M., N0ruddin tidak me-
lakukan apa-apa--demikian menurur K<jhler-sehingga ddak panras
memperoleh gelar terhormat itu. Sebenarnya, ia hanya bertindak
seperti yang dilakukan ayahnya, Zengi. Propaganda jihad baginya
hanyalah alat untuk memperoleh legitimasi sebagai khalifah dan
pengakuan kekuasannya atas negara-negara Islam di sekitarnya.T5
Motif sebenarnya yang menggerakkan N0ruddin pada berbagai
tahap kariernya masih menjadi spekulasi. Yang bisa diketahui dan
diperkirakan yaitu hasil yang telah dicapainya, suasana religius
di Suriah tempat ia berkiprah dan gedung-gedung serta inskripsi-
inskripsi religius yang didirikan atas namanya (misalnya forc 3.22,
3.23-24; bandingkan dengan forc 3.25). Dengan jelas, ini semua
mengarahkan pandangan kita bahwa di mata orang-orang se-
zamennya, N0ruddin dianggap sebagai seorang pejuang jihad
dalam gerakan propaganda yang lambat laun semakin meyakinkan
dan meraih keberhasilan.
Kini saatnya beralih ke Yerusalem yang tampaknya telah
memainkan peranan utama dalam gerakan propaganda ini.
STATUS YERUSALEM DI DUNI,A ISLAM ABAD PERTENGAHAN
Harus diakui bahwa status Yerusalem dalam dunia Islam Abad
Pertengahan berubah-ubah. Perang penring religiusnya sebagai
pusat dua agama monoteis, Yahudi dan Kristen, menjadikan
Yerusalem rentan di mata beberapa pemikir Islam, terutama Ibn
Thymiyah dan para ulama mazhab Hanbali lainnya, terhadap kritik
bahwa kesucian Yerusalam dari sudut pandang keislaman telah
dinodai oleh pengaruh tradisi dan "inovasi" Yahudi-l3isten. Mekah
dan Madinah, sebaliknya, merupakan tempat sebenarnya bagi
kesucian Islam (gambar 3.32, 3.33).
Di sini bukan temparnya untuk membahas status ambivalen
Yerusalem dari permulaan Islam. Yang penting di sini dalam
konteks Perang Salib (dan tentu saja, di akhir tahun 1990-an,
saat Yerusalem berada di bawah kekuasaan Israel) yaitu me-
nekankan bahwa Yerusalem dapat menjadi sasaran utama kerinduan
agama yang sangat kuat bagi umat Islam. Islam memiliki landasan
yang lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa ia juga punya
andil dalam soal kesucian kota itu. Umat Islam di abad kedua
belas semakin menginginkan untuk memiliki kembdi kota Yerusalem,
dan kota ini menjadi titik pusat kampanye propaganda jihad
yang sangat berhasil, yang mencapai puncaknya dengan penaklukan
kembali kota itu oleh Saladin pada 583 H./1187 M.
Dinasti Fatimiyah telah memberi jalan bagi peran utama
Yerusalem di abad kedua belas. Jelaslah bahwa demi motif politik
dan keagamaan mereka sendiri, Dinasti Fatimiyah berkeinginan
untuk memperbesar nilai kesucian kota itu di abad kesebelas.
Barangkali, penghancuran Gereja Makam Suci yang dilakukan
oleh al-HAkim pada 1009 harus dibaca dalam konteks ini, meski-
pun masih bisa diperdebatkan apakah tindakan ini memang
sangat diniatkan demikian pada masa itu atau untuk membantu
menyulut kesadaran baru, khususnya bagi kaum muslim, ber-
kenaan dengan kesucian Yerusalem. Namun, bersamaan dengan
tindakan al-Hikim yang sangat singkat itu, kebijakan Fatimiyah
terhadap Yerusalem telah begitu jelas. Mereka membangun kembali
Masjid Aqshi pada masa pemerintahan al-Zhil-tir (w. 427 H.l
1036 M.) (foto 3.26). Inskripsi mosaik kerajaan yaitu yang
pertama di Yerusalem yang dimulai dengan ayat Alquran, yang
oleh umat Islam diyakini mengacu pada peristiwa Mikraj Nabi
Muhammad ke Langit (Q.S. al-IsrX' ltTl: t). N-Zhahir juga
memperbaiki Kubah Batu pada 413 H.ltO22-1023 M. dan
mosaiknya pada 478 H.11027-1028 M.76 Ilmuwan dan musafir
Persia bernama NXshir-i Khusraw yang mengunjungi Yerusalem
pada 439 H.11047 M. mencatat bahwa orang-orang di Palestina
yang tidak dapat menunaikan ibadah haji berkumpul di Yerusalem
dan melakukan upacara rerrentu di kota itu:
Penduduk daerah ini, bila tidak mampu menunaikan ibadah
haji, akan berbondong-bondong ke Yerusalem pada musim yang
ditentukan, dan di sana mereka melakukan ritual tertentu dan
pada hari besar memotong korban sebagaimana yang biasa di-
lakukan (di Mekah). Pada tahun-tahun tertentu orang yang hadir
di Yerusalem saat hari pertama Zulhijah bisa mencapai 20.000
orang.77
Mistikus (sufi) Islam seperti Sufrin al-Tsawri dan IbrAhim
ibn Adham juga sangat memuliakan Yerusalem dan kelompok-
kelompok mereka semakin banyak yang berdatangan pada abad
kesebelas. Ulama besar al-Ghazilt bermeditasi di sana di akhir
tahun 1090-an, sesudah krisis spiritual memaksanya meninggalkan
Baghdad.
Dengan demikian, terlihat bahwa di akhir abad kesebelas,
yaitu pada detik-detik menjelang pecahnya Perang Salib, unsur-
unsur utama kesucian Yerusalem telah ditempatkan dengan semesti-
nya. sebab itu, hal ini bisa dimanfaatkan sepenuhnya dalam
pertempuran berikutnya melawan kaum Frank dan digunakan
dengan sangat efekdf dalam propaganda jihad. Se.iarawan Arab
modern, Duri, tidak ragu-ragu lagi dalam hal ini:
Perang Salib mungkin menambahkan dimensi baru terhadap
arti penting Baitul Muqaddis [Yerusalem]. Namun, kemuliaan tinggi
yang diperolehnya pada abad kesebelas telah membuatnya menjadi
simbol jihad melawan para penyerbu itu.
Seperti halnya kehadiran fisik Kubah Batu dan Masjid Aqshi
di Yerusalem, dan posisi rerhormat yang diberikan pada orang
yang beribadah dan haji di sana, umat Islam yakin bahwa Nabi
Muhammad telah melakukan Perjalanan Malam (Israk) ke Langit
dari Yerusalem, dan Yerusalem akan menjadi tempat Kebangkitan
pada hari kiamat.
Seperti yang telah disebutkan, selama berabad-abad para
ilmuwan muslim saling berbeda pendapat mengenai kehormatan
relatif Kota Suci Mekah dan Madinah terhadap Yerusalem. Akan
namun , penulis Palestina bernama al-Muqaddasi (w. 387 H.l9g7
M.), dengan bangga membicarakan kota asalnya, mengungkapkan
pandangannya yang membela Yerusalem: "Daerah Suriah berada
di peringkat pertama, Tanah para Nabi, tempat berdiam orang-
orang suci, kiblat pertama; tempat Pertemuan Perjalanan Malam."7e
Lalu ia berpaling ke Yerusalem sendiri: "Mekah dan Madinah
mendapat posisi tinggi dari Kakbah dan Nabi, tapi pada hari
kiamat keduanya akan dibawa ke Yerusalem."8o
Hubungan antara Yerusalem dengan Perjalanan Malam Nabi
ditemukan dalam karya ulama abad kesebelas, al-\WAshiti, yang
menulis, dalam suatu bagian yang harum, dengan gema Alquran:
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqshi yang telah
Kami berkahi sekeliling.rya.""
Maka, sampai di sini kita dapat memahami adanya landasan
yang cukup yang dengannya para ulama abad kedua belas dapat
membangun kampanye propaganda yang memuji kemuliaan jihad
dan memusatkan perhatian pada Yerusalem.
PEMNAN YERUSALEM DATAM PROPAGANDA
MENGHADAPI PEMNG SALIB
Sulit untuk menunjukkan dengan tepat sejak kapan para Pe'
mimpin militer Islam mulai terfokus untuk menaklukkan Yerusalem
sebagai bagian tak terpisahkan atau sebagai tujuan utama cita-cita
mereka. Seperti yang telah disebutkan, terlepas dari tindakan yang
dilakukan Dinasti Fatimiyah segera sesudah para Tentara Salib
menaklukkan Yerusalem pada 492 H./i099 M., terlepasnya Yerusalem
tidak mendorong kaum muslim untuk melakukan upaya lain yang
lebih jauh untuk merebutnya kembali. Realai yang terlihat, sebalik-
nya, hanya sedikit, sampai Edessa takluk pada 539 H.l1l44 M.
Kemenangan yang dirarh Zengi ini tampaknya menjadi titik balik,
suatu momentum saat moral umat Islam mulai bangkit' Yang
pasti, seperti yang telah kita lihat, telah ada tanda-tanda ke arah
ini dalam puisi puji-pujian untuk memperingati penaklukan Edessa
oleh Zengi.
Sivan berpendapat bahwa Yerusalem mulai menjadi fokus
perhatian umat Islam untuk berjihad melawan kaum Frank di
tahun-tahun terakhir dari usia Zengi. Namun, dorongan untuk
merebut kota ini semakin membesar pada saat putra Zengi,
Nfiruddin, berkuasa, saat Yerusalem menjadi titik utama program
propaganda jihad yang muncul dari kota-kota Suriah dan terutama
Damaskus.
Dengan demikian, Yerusalem menjadi pusat kampanye ideologi
yang dirancang dengan pintar yang memanfaatkan direbutnya kota
itu oleh para Tentara Salib. Kerinduan terhadap yerusalem bisa
dimanfaatkan habis-habisan oleh para ahli propaganda dari kaum
muslim, yang merasakan kepedihan dan penghinaan menyaksikan
Yerusalem berubah menjadi kota Kristen, dengan masjid-masjid
dan tempat-tempar suci umat Islam yang diubah menjadi gereja
atau gedung-gedung sekuler.
Pada beberapa ritik di dalam kekuasaannya, ambisi Nirruddin
mungkin tampak terfokus ke Yerusalem, meskipun tidak jelas
kapan tepatnya ini terjadi. Kemenangan militer yang berturut-
turut diraihnya, kesalehan dan hubungannya yang semakin dekat
dengan kelompok-kelompok agama di Suriah (pusat kekuasaan-
nya)-bandingkan dengan foto 3.27 dan foto warna 16-mem-
buat N0ruddin bisa mengembangkan prograrn propaganda agama
yang paling efektif. Program itu menitikberatkan pada penyatuan
kaum muslim dan seruan berjihad, dan difokuskan pada kesucian
Palestina dan lebih khusus lagi Yerusalem. Proses ini bisa ditelusuri
di dalam cataran-catatan sejarah berbahasa fuab dan disinggung
di dalam puisi-puisi religius yang digubah pada masa itu. Penyair
Ibn Munir mendesak N0ruddin untuk memerangi para Tentara
Salib, "sampai kau menyaksikan Yesus melarikan diri dari
Yerusalem".82
Ibn al-QaysarAni menegaskan kembali senrraliras Yerusalem
dan terutama Masjid Aqshi di dalam cita-cita Nfiruddin:
Mungkinkah, kota Yerusalem, disucikan dengan tumpahan
darah
Keputusan N0ruddin sama kuat dengan sebelumnya dan
lembing besinya diarahkan ke AqshA.83
Yerusalem mungkin telah terpatri kuat di dalam pikiran para
penyair ini sebelum kota itu tertanam di dalam hati
N0ruddin.8a
Sejarawan Arab Abir Syimah mengutip teks dari sepucuk
surat yang dikirimkan Nfiruddin kepada khalifah. Di dalam surat
ini , Nfiruddin menegaskan bahwa merebut kembali Yerusalem
yaitu sangat penting. Ia menyatakan bahwa tujuan utamanya
yaitu "untuk mengusir para penyembah Salib dari Masjid Aqsh1."85
Semua ini mungkin menunjukkan upaya-upaya suci para
penulis sejarah dari kalangan kaum muslim untuk melahirkan
kembali Nfrruddin sesudah peristiwa ini menjadi seorang
pejuang jihad dan pemimpin Sunni sejati, dan bukan orang yang
memerangi dan memenangkan permainan politik kekuasaan kaum
muslim di Suriah saat itu. Namun, citra mereka tentang Nirruddin
telah kuat, seperti yang telah kita lihat, dengan adanya kesaksian
yang dapat kita lihat saat ini berupa inskripsi-inskripsi pada
monumen-monumen yang ia dirikan dan terutama dibuktikan
lewat mimbar besar yang dipesan oleh N0ruddin dan dimaksudkan
untuk dipasang di Masjid AqshA sesudah ia menaklukkan Yerusalem.
Banyak karya ilmiah yang telah dibuat mengenai topik ini.
Penelitian penting yang dilakukan oleh Max van Berchem telah
dilengkapi dengan penelitian-penelitian mutakhir yang dilakukan
Yasser tbbaa dan Sylvia Auld. Tidak ada salahnya kita mencermati
hal ini dengan lebih teliti (foto 3.28-3.29, 3.30; bandingkan
dengan foto 3.31 dan foto warna 10).
Salah satu inskripsi yang ada di mimbar ini menyatakan
bahwa mimbar itu secara resmi diperintahkan pembuatannya oleh
N0ruddin pada 564 H./1158-1169 M. Mimbar itu pertama kali
digunakan di Masjid Agurg di Aleppo. Mimbar itu akhirnya
dibawa ke Yerusalem-sesudah N0ruddin mangkat-atas permin-
taan Saladin. Mimbar ini tetap berada di dalam Masjid Aqshi
sampai kemudian dihancurkan oleh seorang fanatik asal Australia
pada 1969. Dalam konteks peranan Yerusalem dalam Perang Salib,
mimbar ini memainkan peranan penting.
Mimbar Nfiruddin merupakan pernyataan mengesankan ten-
tang jihad, seperti yang pernah ditunjukkan oleh inskripsi utama.
Menurut tbbaa, mimbar itu yaitu 'yang paling kaya dengan
pernyataan-pernyataan kemenangan Islam dan kekalahan pasukan-
pasukan kafir, dari semua inskripsi N0ruddin'.86 Permulaan inskripsi
ini , yang tertulis tahun 564 H (bertepatan dengan tahun
1168-1169 M), berbunyi sebagai berikut:
Pembangunannya telah diperintahkan oleh budak ini ,sT
orang yang sangat membutuhkan kemurahan-Nya, orang yang
sangat berterima kasih atas kebaikan-Nya, pejuang jihad di jalan-
Nya, orang yang mempertahankan lperbatasan] melawan musuh-
musuh agama-Nya, raja yang adil, N0ruddin, tiang agama Islam
dan umat Islam, pembawa keadilan bagi orang-orang tertindas
dalam menghadapi para penindas, Abu'l-QAsim Mahm0d ibn Zengi
ibn Aqsunqur, penolong Panglima Orang-Orang Beriman.s8
Selanjutnya, teks inskripsi ini bahkan tampak tengah
memohon kepada Allah untuk memberinya pertolongan untuk
menaklukkan Yerusalem: "Semoga Dia menganugerahkan penak-
lukan baginya [Ntruddtn] dan di tangannya sendiri."8e Thbbaa
menemukan, dengan cukup tepat, bahwa inskripsi mimbar ini
sangat tidak biasa, baik dalam panjang maupun doa emosionalnya
kepada Allah.eo
Bukti-bukti pendukung adanya penyiapan mimbar ini oleh
N0ruddin untuk Yerusalem, meskipun kota ini masih berada
dalam genggaman kekuasaan para Tentara Salib, terlihat di dalam
tulisan-tulisan para penulis sejarah dari kalangan kaum muslim.
'Imiduddin al-Ishfahini mencatat bahwa sesudah penaklukan
Yerusalem, saat Saladin meminta mimbar yang lebih megah
untuk Masjid Aqshi, 'Imiduddin mengingatkan bahwa Nfiruddin
telah mempersiapkan mimbar untuk Yerusalem lebih dari dua
puluh tahun sebelum penaklukan kota itu. sebab itu, Saladin
menulis surat ke Aleppo agar mimbar ini dibawa dan ditem-
patkan di Yerusalem. 'Imiduddin, yang barangkali memutarbalik-
kan kisah kejadian ini untuk menyenangkan Saladin, lalu
mengklaim lebih dahulu bahwa N0ruddin tahu bahwa Allah tidak
akan memberinya hadiah berupa penaklukan Yerusalem. Bagai-
manapun juga, pernyataan ini terikat kuat pada fakta bahwa
mimbar ini dibuat oleh seorang ahli ukir terkemuka, al-
Akhari.ri, yang namanya benar-benar ada pada inskripsi
mimbar ini bersama dengan empat tanda tangan lain'er
Dalam ringkasannya terhadap karya 'Imiduddin lainnya, Sana
al-Barq al-Syami, penulis sejarah berikutnya bernama al-Bundiri
memberikan laporan yang sedikit berbeda tentang mimbar ini .
Dengan sinar kearifannya, pangeran yang adil, Nirruddin
Mahm0d rbn Zengi di masa hidupnya telah mengetahui akan
terjadinya penaklukan Yerusalem di kemudian hari. sebab itu, ia
memesan pembuatan mimbar di Aleppo untuk Yerusalem; tukang-
tukang kayu, para pemahat dan para arsitek mengerjakannya selama
bertahun-tahun dan mereka membuat mimbar yang sangat kuat
dengan hiasan yang sangat indah. Mimbar ini terus dipasang
di dalam Masjid Aleppo, dengan dibungkus seperti pedang di dalam
sarung pelindungnya sampai sultan [Saladin] di zamannya me-
merintahkan untuk mewujudkan janji N0ruddin dan mimbar
ini dibawa ke tempatnya di Yerusalem.e2
Di sini, kita juga melihat 'ImAduddin mengklaim bahwa
N0ruddin mengetahui bahwa akan terjadi penaklukan Yerusalem,
tapi itu bukan pada masa kekuasaan Nirruddin. Anehnya, mimbar
ini diibaratkan sebuah pedang yang masih tersimpan di dalam
sarungnya dan tengah menungBu untuk dihunus sebagai senjata
propaganda agama di perhentian terakhirnya, Yerusalem.
Laporan Ibn al-Atsir mengenai mimbar rersebut lebih biasa-
biasa saja. Ia menjelaskan pembuatan dan pengiriman mimbar
ini sebagai berikut:
Beliau [Saladin] memerintahkan untuk membuat sebuah mimbar
untuknya. Kemudian, beliau diberitahu bahwa Ntruddin MahmCrd
telah membuat sebuah mimbar di Aleppo. Ia memerintahkan para
ahli ukir agar bekerja keras untuk mempercanrik dan menyem-
purnakan mimbar ini dan ia mengatakan "Kami telah mem-
buatnya untuk dipasang di Yerusalem". Para ahli ukir telah mem-
buatnya dalam beberapa tahun; tidak ada saru pun mimbar seperti
itu yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam.
Jadi, beliau [Saladin] memerintahkan agar mimbar itu dibawa.
Mimbar itu kemudian dibawa dari Aleppo dan dipasang di Yerusalem.
Antara pembuatan mimbar dan pengirimannya [ke Yerusalem]
berlangsung lebih dari dua puluh tahun. Ini merupakan salah satu
berkah dan niat baik N0ruddin, semoga Allah memberkatinya.e3
Yang jelas, ada alasan yang tepat untuk menyatakan bahwa
menjelang akhir kekuasaannya, Ntrruddin telah mengarahkan
pandangannya ke Yerusalem dan mimbar yang telah dipesannya
itu dimaksudkan sebagai catatan bagi keturunannya tentang peran-
nya dalam upaya ini . Pada tingkat yang lebih tinggi, mimbar
ini bisa dilihat sebagai pelopor bagi pembangunan monumen
pedang lengkung bersilangan yang sangat besar oleh Saddam
Hussein pada 1985 untuk merayakan kemenangannya dalam
perang Irak-Iran-kemenangan yang tidak pernah dilihatnya.
Mimbar Aqshi merupakan lambang nyata dan abadi dari kaum
muslim menghadapi Perang Salib. Mimbar itu benar-benar bagian
dari gaya tarik simpatik. Inskripsi-inskripsi yang dipilih Nirruddin
untuk mimbarnya berkaitan dengan Hari Kebangkitan (Q.S. al-
Nahl [15]: 92-95), pemenuhan janji yang sungguh-sungguh di-
lakukan, dan Surah al-Ntr (barangkali digunakan juga-seperti
dalam mimbarnya di Jimi' al-Nfiri di Hama lfoto 3.32-3.33
dan gambar 3.36; bandingkan dengan foto 3.34)-sebagai sebuah
permainan kata-kata dengan namanya sendiri, yang berarti'cahaya
agama').
Dalam beberapa sumber, setidaknya bisa dirasakan bahwa para
penulis sejarah dari kalangan kaum muslim lebih menyukai
N0ruddin, dan bukan Saladin, yang akan memenangkan Yerusalem.
Sebagaimana dinyatakan oleh Ibn al-Jawzi (w. 597 H./1200 M.):
"Ia bertekad untuk menaklukkan Yerusalem, tapi ajal menjemput-
nya' (foto 3.35).e4 Yang pasti, sampai tiba era modern, yaitu
N0ruddin, dan bukan Saladin, yang dijadikan sebagai prototipe
mujahid, model pejuang jihad, oleh para penulis muslim berikut-
nya. Saladin, seperti yang akan kita lihat di bab delapan, menjadi
populer di dunia Islam pada awalnya-dan secara paradoksal-
sebab reputasinya yang cemerlang di kalangan kaum Kristen
Eropa.
Ab0 SyAmah (w. 665 H.11258 M.) menceritakan bagaimana
mimbar ini dikirimkan ke Yerusalem. Ia juga menegaskan
peranan Nfiruddin dalam puncak penaklukan kota ini dan
juga sumpahnya untuk melihat mimbar ini dibawa ke tempat
yang semestinya:
Saat itu terjadi, berkah yang beliau [Ntrruddin] terima dari
Allah dilanjutkan kepada Islam sesudah masa hidupnya dan ditutup
dengan penaklukan oleh Saladin ... Mimbar ini terpasang di
tempatnya di Masjid Agung Aleppo ... sampai saat ini, saat
Saladin memerintahkan untuk memenuhi sumpah N0ruddin dan
memerintahkan agar mimbar ini dikirimkan ke tempat semesti-
nya di Yerusalem.e5
Ibn Jubayr melihat mimbar ini pada 1 182, saat mimbar
itu berada di Aleppo dan menulis: "Saya belum pernah melihat
di negara lain mimbar yang bentuk dan keunikan buatannya
menyerupai yang ini ... Mimbar itu tinggi seperri mahkota besar
di atas mihrab sampai menyentuh langit-langit."e6
Bagian mengesankan lainnya dari bukti-bukti yang memberi
kesaksian tentang N0ruddin yang begitu memikirkan Yerusalem
yaitu inskripsi dari Masjid Nuri di Mosul. Monumen ini
didirikan oleh Nirruddin saat ia merebut kota itu pada 1l7l,e7
yang berarti tidak lama sebelum kematiannya. Bukti-bukti itu
menunjukkan bahwa gagasan untuk merebut kembali Yerusalem
masih berada dari pikirannya dan ia ingin mengumumkan pesan
jihad di Mosul yang terpencil. Pesan itu berhasil dimanfaatkannya
dengan sangat baik di Suriah. Inskripsi yang hancur (foto 3.36),
yang kini tersimpan di Museum di Baghdad, tapi dahulu me-
rupakan bagian dari












