Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 5

 


Menerjemahkan kemenangan-kemenangan

ini dalam kaitannya dengan jihad. yaitu  para ahli hukum muslim

yang berkhotbah dan menulis rentang jihad, dan kemungkinan

mereka juga yang merangkai kata-kata pada prasasti-prasasti ter-

sebut, yang kemudian menjadi acuan opini warga  dan dikutip

di masjid dan pasar serta yang menjadi penghubung antara rakyat

kebanyakan dengan para pemimpin militer mereka. Awal paling

sederhana dari aliansi para panglima dan pangeran Thrki dengan

kelompok-kelompok agama bisa dilihat di dalam caratan-catatan

monumental tentang kemenangan-kemenangan umat Islam ini

pada tahun-tahun sebelum penaklukan Edessa.

Namun, umat Islam masih belum memiliki pemimpin yang

benar-benar karismatik, pemimpin yang bisa menyatukan faksi-

faksi yang bertikai dan memahami kekuatan-senjata-propaganda-

jihad yang sebenarnya dalam menyarukan wilayah-wilayah yang

berbatasan dengan wilayah kaum Frank.

ZENGI DAN PENAKLUKAN EDESSA

Penaklukan Edessa menjadi titik bdik yang menentukan bagi umat

Islam. Edessa merupakan negara Salib pertama yang berhasil

direbut kembali oleh umat Islam. Dan, sekalipun Perang Salib

Kedua segera dilancarkan sebagai akibat langsung dari kemenangan

Zengi ini , usaha bangsa Eropa ini tidak begitu berhasil.

Apakah 'Imiduddin Zengi yaitu  pemimpin Islam yang lama

ditunggu-tunggu, pejuang Islam yang bisa menyatukan dunia Islam

dan mengusir kehadiran kaum Frank? Yang jelas, Ibn al-Atsir,

penulis sejarah dari lingkungan Dinasi Zengi pada abad ketiga

belas, yakin bahwa keberuntungan dunia Islam dalam perang

melawan kaum Frank dimulai dengan keberhasilan Zengi ter-

sebut.3e Ibn al-Atsir memuji keberhasilan Zengi tersebur dalam

membangkitkan Islam, dengan menyesali kelemahan wilayah-

wilayah Islam dan kekuasaan kaum Frank yang sangat luas sebelum

kedatangan Zengi:

saat  Allah Yang Mahakuasa melihat para pangeran wilayah-

wilayah Islam dan para panglima bermazhab Hanafi dan ke-

tidakmampuan mereka untuk mendukung agama yang benar dan

membela orang-orang yang beriman kepada Allah Yang Esa dan

Dia melihat mereka ditaklukkan oleh musuh-musuh mereka dan

kezaliman musuh-musuh mereka ... kepada kaum Frank Dia ke-

mudian berkehendak mengirimkan seseorang yang bisa membalas

kejahatan mereka dan mengirimkan batu-batu dari-Nya kepada

seran-sean salib ini  untuk menghancurkan dan membinasakan

mereka fkaum Kristen]. Ia melihat beberapa  orang pemberani di

antara para pembantu-Nya dan beberapa  pemegang keputusan,

dukungan dan kecerdasan di antara sahabat-sahabat-Nya, dan Dia

tidak melihat di dalamnya (jqaran ini ) seseorang yang lebih

mampu mengemban perintah itu, kecenderungan yang lebih kokoh,

cita-cita yang lebih kuat dan lebih tajam dibandingkan penguasa,

selain syahid'Imiduddin.ao

Pernyataan-pernyataan bombastis tentang Zengi yang disam-

paikan oleh Ibn al-Atsir sulit dihubungkan dengan fakta-fakta

terperinci tentang kariernya sebagai seorang panglima militer yang

oportunis dan kejam yang memerintah wilayahnya dengan tanBan

besi.

Kelas Zengi berbeda dengan para pemimpin militer kaum

muslim di awal abad kedua belas--seperti Il-Ghazi atau Tirghtegin-

yang hadir lebih dahulu dan memerangi kaum Frank secara tidak

menentu. Kematian Zengi pada 1 146-hanya berselang dua tahun

sesudah  penaklukan nya yang terkenal terhadap Edessa-membuat

kita tidak bisa menilai apakah ia akan dihadirkan di dalam

sumber-sumber Islam sebagai pejuang ,iihad sejati. Namun, yang

pasti, ia diakui memiliki kualitas kepemimpinan yang brilian'

Sebagian besar sumber-sumber ini  menggambarkan dirinya

sebagai raja lalim dengan kepribadian kasar dan kejam yang benar-

benar menghadirkan teror terhadap pasukannya dan juga rakyat-

nya. Kekejaman dan tangan besinya telah melegenda.

'Imiduddin al-IshfahAni menyampaikan pidato-pidato yang

berisikan penentangan terhadap kekejaman Zengi yang biasanya

tidak dilanjutkan dengan memaParkan kaum Frank:

Zengi yaitu  tirani dan ia akan menyerang dengan membabi-

buta tanpa pandang bulu. Karakternya bagaikan seekor macan tutul,

seperti singa yang marah, tidak lepas dari kekerasan, tidak mengenal

kebaikan ... Ia ditakuti sebab  suka menyerang secara dba-tiba,

dihindari sebab  kekasarannya, agresifl, angkara, membunuh para

musuh dan rakyatnya.ar

Ketakutan yaitu  kata yang paling sering dikaitkan dengan

Zengi di dalam sumber-sumber Islam. Sebagaimana Baybars yang

berkuasa sesudah nya, Zengi merupakan penegak moral warga 

yang taat, terutama terhadap moral isteri-isteri pasukannya.42 Zengi

menerapkan disiplin yang ketat terhadap pasukannya, yang caranya

ini  mengingatkan pada para panglima Mongol. Penulis sejarah

Aleppo, Ibn al-Adim, menulis sebagai berikut: "saat  Zengi

berada di atas punggung kuda, para pasukan biasanya berjalan di

belakangnya seakan-akan mereka di antara dua helai benang,

sebab  takut mereka akan menginjaknya ... Bila ada orang yang

memutuskannya, ia akan binasa."a3

Selain karakter yang menakutkan ini, Zengi memiliki keahlian

yang tidak diragukan dalam bidang militer dan politik. Zengr

berasal dari keluargay^ng telah lama terbiasa dengan tugas militer

dan pemerintahan. Oleh sumber-sumber rersebut Zengi dipuji

sebab  kecakapannya dalam pemerintahan. Kariernya didapar-

kannya di saat umat Islam meraih kemenangan melawan kaum

Frank. Di mata para penerusnya, Zengi dikenang terutama sebab 

keberhasilannya merebut Edessa. Bahkan, sumber-sumber yang

menegaskan sifatnya yang otoriter siap untuk melupakan hal

ini  sebab  kemenangannya di Edessa ini. Semua kelakuan


buruknya dilupakan sebab  satu jasanya ini. Menjelang qalnya,

di dalam sumber-sumber Islam Trngr &gumbarkan sebagai pahlawan

Islam yang sesungguhnya. Ia umumnya dijuluki sebagai seorang

syahid di dalam sumber-sumber ini , meskipun ia dibunuh

oleh seorang budak dalam keadaan pingsan sebab  mabuk di

dalam tendanya.

Zengi memperlakukan kelompok-kelompok agama dengan

penuh perhatian seperti yang dilakukan oleh Putranya, NCrruddin'

Dua tahun sebelum kematiannya, dan sesudah  cukup lama mem-

peroleh karier gemilang dan terlibat dalam berbagai aktivitas

militer, keberhasilannya merebut Edessa tentu saja menjadi jalan

bagi ketenarannya. Ibn al-Atsir menguraikan kemenangannya itu

secara lengkap: "Ini benar-benar kemenangan di atas kemenangan

dan salah satu kemenangan yang sangat mirip dengan Perang

Badar. Mereka yang menyaksikannya siap berjihad dengan sepenuh

hati."

Dengan demikian, penaklukan Edessa oleh Zengi disamakan

dengan kemenangan besar Nabi Muhammad dalam Perang Badar'

Ibn al-Atsir kemudian melanjutkan bahwa tempat-tempat lain di

sekitar wilayah tersebur ditaklukkan zengi saat  perhatiannya

selalu rertuju pada Edessa. Seluruh peristiwa tentang Edessa

dijelaskan dalam nuansa pandangan keagamaan yang oPtimis,

meskipun Ibn al-Atsir menghabiskan berlembar-lembar halaman

untuk menuliskan aktivitas-aktivitas zengi lainnya yang tidak ada

hubungannya dengan jihad melawan Para Tentara Salib: "Islam

menjadi bagaikan purnama sesudah  sebelumnya gulita [seperti di

akhir bulan] dan matahari keimanan bersinar sesudah  cahayanya

raib."4a

Keberpihakan Ibn al-Atsir terhadap zengi dan penerus dinasti-

nya telah menutupi penilaianny^ yang jelas di sini'

Masih diragukan bahwa fondasi kebangkitan umat Islam yang

sebenarnya berhadapan dengan kaum Frank didapat selama karier

Zengi. Memang, sumber-sumber ini  memandang Zengi se-

bagai mujahid hanya di beberapa tahun terakhir masa hidupnya'

Tentu saja sulit untuk menilai aktivitas militer zengi yang sebenar-

nya pada tulisan-tulisan bernada rnemuji dari para penulis yang

ingin mencitrakan dirinya sebagai pejuang jihad' Dua orang

penyair yang berhasil menyelamatkan diri saar kaum Frank menak-


lukkan pantai Suriah, Ibn al-QaysarAni (dari Kaisarea) dan Ibn

Munir (dari Tiipoli), pada akhirnya bergabung dengan rombongan

Zeng| Pengalaman pahit terusir dari rumah tinggal mereka pasti

menambahkan dimensi lain terhadap seruan jihad di dalam puisi

mereka yang ditujukan untuk pelindung mereka, Zengi.a5

Meskipun tidak diragukan bahwa mereka didorong oleh

keinginan untuk memperoleh upah (kehidupan para penyair istana

selalu sulit), Ibn al-Qaysarini dan Ibn Munir, sesudah  Edessa jatuh,

menunjukkan bagaimana kaum muslim yang berhadapan dengan

Perang Salib dapat bertahan.a6 Mereka berusaha keras mendesak

Zengi mengikuti cara itu. Ibn al-QaysarAni menegaskan agar umar

Islam wajib menjadikan penaklukan kembali seluruh garis pantai

Suriah $Abil) sebagai tujuan urama jihad mereka: "Beritahu para

penguasa kafir untuk menyerahkan seluruh wilayah mereka sesudah 

ditaklukkannya Edessa, sebab  wilayah ini  yaitu  negerinya

lZengif ."47

Secara persuasif Sivan mengemukakan, kejatuhan Edessa telah

mengubah sikap umat Islam dari yang semula didominasi sikap

bertahan menjadi ofensif. Terlepas dari pandangan-pandangan al-

Sulami dan barangkali anggota-anggota elite hukum-agama di

Suriah, sebelum kejatuhan Edessa, jihad sebagai faktor pendorong

masih tidak menentu, rerpisah, dan kurang terfokus. sesudah  Edessa

direbut kembali, kedua penyair ini membantu mengukuhkan jihad

di dalam konsep penaklukan kembali Yerusalem. Seperti ditulis

oleh Ibn Munir: "Ia [Zengi) esok akan berpaling kepada

Yerusalem."as Ibn al-Qaysarini ikut menegaskan tentang Yerusalem

ini: "Bila penaklukan Edessa yaitu  samudera, Yerusalem dan

Snhi I yaitu  pantainy a." ae

Diterima atau tidak gelar mujahid sejati ini oleh Zengi sendiri,

penting untuk ditegaskan bahwa memang demikian pandangan

penyair-penyair pada masa itu. Pasti bisa diterima bila dikatakan

bahwa kemenangannya di Edessa telah membangkitkan harapan

umat Islam mengenai diri mereka dan juga membentuk citra

tentang diri mereka sendiri berhadapan dengan kaum Frank.

Yang pasti, Zengi kemungkinan terus melaju untuk merebut

Damaskus dan mempersatukan kaum muslim Suriah di bawah

tangan besinya. Ini kemudian dilanjutkan dengan aliansi dengan

kelompok-kelompok keagamaan. Zengi kemungkinan dihadirkan

sebagai pemimpin jihad sejati umat Islam dalam kampanye ProPa-

ganda yang semakin intens dengan Yerusalem sebagai sasarannya.

Khalifah Baghdad telah memberinya jalan dengan memberi ucaPan

selamat kepada Zengi atas keberhasilannya merebut kembali Edessa.

Ucapan itu disertai dengan serangkaian gelar-gelar kehormatan

yang menekankan pada mandat keagamaan. Menurut Ibn'W'Xshil,

ia antara lain diberi gelar "Perhiasan Islam, raia yang ditolong

Allah, penolong orang-orang beriman".50

Namun, Zengi dibunuh pada Rabiulawal 541 H., bertepatan

dengan September 1146 M. Putranyalah, Nirruddtn, yang ke-

mudian disebut oleh sumber-sumber Islam sebagai arsitek-kaum-

muslim yang sesungguhnya menghadapi Perang Salib. Namun,

Zengi telah membuka jalan, dengan menghadirkan model pe-

merintahan militer yang tak kenal ampun yang berusaha disamai

oleh putranya.

Respons umat Islam terhadap kaum Frank, yang melibatkan

keahlian memakai  senjata propaganda jihad, bisa dilihat

bertahap dan kumulatif. Masing-masing generasi membangun dan

mengembangkan pengalaman dari generasi sebelumnya. Namun,

penaklukan Edessa bisa dijadikan sebagai momen Penting dalam

mendorong gerakan iihad. Edessa merupakan wilayah kaum Frank

yang letaknya paling timur, satu-satunya yang di seberang Eufrat,

dan dengan demikian merupakan wilayah yang paling mengancam

kursi kekuasaan Zengi, Mosul. Selanjutnya, pata Tentara Salib

dikurung di wilayah Mediterania rimur. Putra Zengi, N0ruddin,

kemudian melanjutkan perjuangan melawan kaum Frank dan

bergerak tanpa henti untuk mengepung dan merebut kota Yerusalem.

Begitulah, selanjutnya, perkembangan gagasan dalam bidang

agama, politik, militer, dan ideologi, hingga kejatuhan Edessa

pada 1144 dan kedatangan Perang Salib Kedua. Bab ini selanjut-

nya akan berusaha menyoroti perkembangan jihad lebih jauh

dengan mempelajari peranan jihad dalam karier salah satu tokoh

utama Timur Dekat pada paruh kedua abad kedua belas, yaitu

N0ruddin.

PECAH}.IYA PEMNG SALIB KEDUA

PADA 543 H./1148 M.-TrTrK BALrK DATAM JIHAD

Pada bab dua kita telah melihat bahwa para penguasa muslim

Suriah di dekade-dekade awal abad kedua belas bekerja sama

dengan kaum Frank saat  wilayah-wilayah mereka mendapat

ancaman dari luar, yaitu pasukan yang didukung oleh sultan-

sultan Saljuk atau para gubernur Mosul. Bantuan militer semacam

itu, yang diberikan untuk kaum Frank, tampaknya dipandang

sebagai intervensi para pangeran "dari timur" dan ditanggapi

dengan cara menutup pintu gerbang kota dalam menghadapi

kedatangan pasukan kaum muslim, seperti Aleppo di bawah

pimpinan Ridhwin pada 505 H./1111-1172 M., atau pasukan

koalisi kaum muslim setempat dengan kaum Frank. Sikap per-

musuhan terhadap kaum muslim rimur ini menjadi faktor penting

yang menjadi penyebab kegagalan Zengi untuk merebut Damaskus

pada beberapa kesempatan di 1130-an.

Sebagaimana telah diketahui, Perang Salib Kedua terbukti

gagal total, sebab  kaum Frank memutuskan untuk melancarkan

serbuan besar-besaran terhadap Damaskus, dan bukan merebut

kembali Edessa atau menaklukkan Aleppo. Meskipun para Tentara

Salib yang dikirimkan ke Damaskus jumlahnya besar, mereka

berhasil dipukul mundur dan usaha ini  kemudian gagal.

Akibat serangan pasukan kaum Frank ke Damaskus pada 543

H.11148 M., semangat orang-orang di Damaskus dan disusul

kemudian di semua tempat di Suriah rampak berubah. Bukan

sebab  pengalaman memalukan Perang Salib Pertama dan, yang


paling penting, penaklukan Yerusalem oleh kaum Frank, yang

telah disaksikan dan dirasakan pertama kali oleh para penduduk

kota-kota urama umat Islam atas kehadiran kaum Frank di dalam

Iingkungan mereka, dengan penjarahan dan pembunuhan. Di

dalam sumber-sumber Islam tampak jelas bahwa rakyat Damaskus

tidak mengira akan kembali menjadi sasaran serangan para Tentara

Salib dari Eropa yang di Barat dikenal sebagai Perang Salib Kedua.

Hal ini pasti menimbulkan dampak yang jauh lebih besar.

Sumber-sumber umat Islam menuturkan dengan penuh ke-

sedihan bahwa selama pengepungan Damaskus, dua anggota

kelompok agama, yaitu seorang imam mazhab Maliki bernama

Y0suf al-Findilawi dan seorang sufi yang bernama Abd al-Rahmin

al-Halhfrli, keduanya berusia lanjut, rewas sebagai syahid saat 

mempertahankan kota ini .5l Dengan demikian, kelompok-

kelompok agamawan di Damaskus bisa memanfaatkan pengaruh

emosional dari kehadiran para Tentara Salib di kota ini  dan

mulai sepenuhnya mempergunakan makna penting berjihad me-

lawan para penyerang kafir yang dibenci ini. Beraliansi dengan

kaum Frank tidak lagi tepat untuk mempertahankan status kemer-

dekaan Damaskus sebagai negara-kota. Keterkejutan dan ketakutan

akibat penjarahan dan pembunuhan yang dilakukan kaum Frank

bisa diperkeras menjadi seruan baru untuk bersatu dalam jihad

melawan kaum Frank. Nfiruddin sangat beruntung sebab  ia

memulai kariernya di titik balik sejarah Damaskus dan Suriah

ini.

KARIER NURUDDIN, 541-569 H.ILI4(C-II74 M.

Untuk menyoroti Nfrruddin dalam konteks pembahasan tentang

jihad, akan bermanfaat bila dibuat kesimpulan ringkas tentang

peristiwa-peristiwa utama di periode ini dan menyorori keber-

hasilan kariernya.

sesudah  pembunuhan Zengi, N0ruddin, putra keduanya, segera

mengambil alih Edessa dan Aleppo. Dunia Islam kemudian meng-

hadapi serangan Perang Salib Kedua, yang dipicu oleh kejatuhan

Edessa. Nriruddin memperoleh kemenangan gemilang melawan

kaum Frank di Inab pada Safar 544 H.lJuni ll49 M. Sekitar

549 H.11754 M., Nfrruddin berhasil mempersatukan Suriah.

Seiring dengan berkuasanya pemimpin Tentara Salib, Amalric,


pada 558 H.l1163 M., tahap  baru dalam karier Nfiruddin dimulai.

Amalric mengarahkan perhatiannya ke negara Fatimiyah di Mesir

yang tengah sekarat dan melemah akibat pembunuhan wazir Tala'i'

pada 556 H./1161 M., dan Nfrruddin dituntut untuk bersikap

lebih tegas menghadapi kaum Frank, saat  ia juga mulai me-

lakukan intervensi dalam masalah internal Mesir. Pada 558 H./

1163 M., Nirruddin dikalahkan kaum Frank di kota al-Buqay'ah.

Pada tahun berikutnya, wazir Fatimiyah bernama SyiwAr datang

kepada Ntruddin untuk meminta bantuan militer guna melawan

musuh politiknya di Kairo, Dirgham, yang telah mengguling-

kannya. Pada 559 H.lll54 M., N0ruddin mengirimkan pasukan-

nya di bawah pimpinan seorang panglima Kurdi bernama SyirkCrh

(paman pemimpin masa depan Islam, Saladin) untuk mengem-

balikan kekuasaan Syiwir di Kairo. Sementara itu, Dirgham

mengundang kaum Frank yang dipimpin Amalric untuk datang

membantunya. Syiwir memperoleh kembali kekuasaannya di

Kairo, tapi ia mengingkari janjinya kepada NCrruddin.

Operasi militer kedua ke Mesir yang disponsori oleh Nfiruddin

pada 562 H./1168 M. memperoleh kemenangan kecil. Namun,

kaum Frank melancarkan serangan ke Kairo pada 564 H./1168

M. Syiwir terpaksa harus meminta bantuan N0ruddin sekali lagi.

Pada operasi militer yang ketiga ke Mesir, N0ruddin memer-

cayakan komando kepada Syirktrh. saat  Syirkth tewas pada

564 H.l1169 M., keponakannya yang bernama Saladin mengambil

alih komando pasukan Suriah di Mesir dan terus maju mengen-

dalikan negara Fatimiyah dengan merencanakan penunjukannya

sebagai wazir oleh khalifah Fatimiyah al-Adid. saat  khalifah

wafat pada 565 H.lll7l M., Saladin mengambil suatu langkah

paling penting, yaitu menghancurkan Dinasti Fatimiyah dan

mengembalikan Mesir kepada Dinasti hbbasiyah yang Sunni di

Baghdad.52 Sampai 567 H.lll7z M., Saladin melakukan semua

tindakannya ini masih atas nama pemimpinnya, N0ruddin, di

Suriah. Namun, sesudah  itu, di antara keduanya mulai terlihat

tanda-tanda permusuhan yang kemungkinan bisa meletus menjadi

perseteruan terbuka kalau saja Nfiruddin tidak wafat pada 569

H.lll74 M. Di tahun sebelumnya, N0ruddin mendapat sebuah

dokumen dari khalifah yang secara resmi menghadiahinya semua

wilayah yang telah ditaklukkannya.

Di balik cataran peristiwa-peristiwa utama dalam karier militer

N0ruddin ini, ada suatu kenyataan yang cukup rumir, yaitu bahwa

di sepanjang kariernya ia harus berperang melawan semua musuh-

nya yang rersebar luas: rival politik kaum muslim sunni di suriah,

Syiah Ismailiyah dan faksi-faksi lain di Mesir, Bizantium-yang

turut campur rangan dalam hubungan dengan Suriah_dan yang

terakhir dan tidak kalah penting yaitu  kaum Frank. para penga-

gumnya mengatakan bahwa penaklukan atas semua lawan-lawan

militer muslimnya di suriah dan pembentukan wilayah bersaru

di perbatasan dengan kaum Frank merupakan langkah awal yang

bermakna penting dalam mengatasi kaum Frank itu sendiri.

Dengan demikian, upaya Nirruddin dalam mempersatukan Suriah

dan Mesir di bawah penguasa Sunni untuk perrama kalinya sejak

abad kesepuluh merupakan suatu langkah yang tepar untuk

mengepung kaum Frank-sebagaimana yang didukung oleh al_

sulami. Namun, kritik atas Nfiruddin dikaitkan dengan masa

kariernya yang panjang--dua puluh delapan ,"1ru,1-yanj sebagian

besar upaya-upaya militernya ditujukan untuk memerangi sesama

muslim sendiri dan bukan kaum Frank. J'.,g, patut dicatat bahwa

beberapa kali di dalam kariernya Ntruddin berpandangan bahwa

kesepakatan perjanjian damai merupakan suatu tindakan yang

bijak, misalnya dengan Bizantium pada 554 H.llllg M. dan

dengan kaum Frank yang menguasai yerusalem pad,a 555 H.l

1161 M.

sungguh sulit untuk menguraikan dan memberi penilaian

tentang modvasi-agama, pribadi, keluarga_N0ruddin dalam

jejaring persereruannya dan perrempuran militernya yang rumit

yang kemudian membentuk citra kariernya. Demikian juga halnya

dengan Saladin. Namun, parut unruk ditekankan bahwa para

sejarawan muslim sangat berhati-hati dalam menggambarkannya

sebagai penguasa muslim Sunni yang alim dan pejuang jihad

yang berani melawan kaum Frank. Selain itu, pada abad-abad

selanjutnya di dunia Islam, yaitu  Nirruddin, dan bukannya

saladin, yang memiliki reputasi paling gemilang sebagai sosok

mujahid sejati. Saladin, yang akan dijelaskan dalam bab delapan,

"ditemukan kembali" oleh umat Islam pada abad kesembilan belas

dan kedua puluh.


DIMENSI RELIGIUS KARIER NURUDDIN

Para penulis sejarah dari kalangan muslim menggambarkan pe-

mimpin-pemimpin militer sebelumnya yang memerangi kaum

Frank-misalnya, Il-GhA,zi dan terutama Zengi, ayah N0ruddin-

terutama mengacu pada prestasi militer mereka. Namun, terhadap

NCrruddin, mereka menunjukkan ungkapan kebanggaan pada

dimensi religius dalam karier NCrruddin. Meskipun kebanyakan

dari ungkapan-ungkapan mereka ini mungkin yaitu  propaganda

atau pembentukan citra oleh mereka, fakta yang ada tetap yaitu 

bahwa begitulah cata pata sejarawan mu5lirn-lsrutama mereka

yang hidup pada abad ketiga belas-menggambarkan Nirruddin.

Tak diragukan lagi, di antara para sejarawan Islam Abad Per-

tengahan, yang paling ternama yaitu  Ibn al-Atsir (w. 630 H./

1233 M.), yang bekerja untuk Zengi, dinasti keluarga Zengi dan

NCrruddin. Ibn al-Atsir merupakan penasihat Nirruddin yang

paling berpengaruh, yang beberapa masukannya terkadang me-

rugikan Saladin.

Kini kita akan membahas berbagai unsur yang bersama-sama

membentuk citra N0ruddin sebagai penguasa Sunni dan pejuang

jihad yang ideal.

HUBUNGAN ANTARA NURUDDIN

DAN KELOMPOK-KELOMPOK AGAMA

Aspek penting dari citra Nfrruddin ini yaitu  dukungan yang

diberikan Ntrruddin kepada kelompok-kelompok agama di Suriah

dan hubungannya yang semakin erat dengan mereka (foto 3.9,

3.10, 3.11, 3.t2). Hubungan ini merupakan hubungan yang turut

membantu membentuk citra N0ruddin yang lebih dari sekadar

seorang oportunis militer yang terlibat dalam kebijakan perluasan

wilayah. Semenrara kelompok-kelompok agama sendiri terlibat

secara erar dengan operasi-operasi militer Ncrruddin, baik sebelum

operasi militer itu dimulai mauPun saat  tengah berlangsung'

Selama operasi militer ke Mesir yang disponsori oleh Nfrruddin

pada 1160-an, dua ahli fikih mazhab Hanbali, yaitu Muwaffaquddin

Ibn Qudimah dan sePuPunya Abd al-Ghini, menjadi ahli

propaganda yang Penting dan melakukan pembacaan buku The

Profession of Faith (Pengakuan Iman) karya Ibn Batta (w' 387

H.t997 M.)," sebuah traktat mengesankan yang mengkhotbahkan

suatu langkah kembali kepada ajaran Islam yang murni sepeni

yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Pasukan Nriruddin terdiri

dari para ulama-ahli hukum Islam dan misdkus-yang benar-

benar siap untuk bertempur dalam kelompok ini .5a Selain

itu, di dalam barisan itu juga ada  tokoh-tokoh lain-para

imam, pembaca Alquran, khotib, hakim-yang semakin mem-

perkuat dimensi keagamaan dalam konflik militer rersebur.

Sebagai balasannya, NCrruddin memberikan dukungan yang

besar kepada kelompok-\elompok agama berupa perlindungan

pada monumen-monumen agama sebagai bagian dari cita-citanya,

yaitu membangkitkan Islam Sunni di wilayahnya dan merangsang

ketaatan dan jihad kepada warga . Monumen-monumen ter-

sebut, sebab  sering kali diberi tanggal dengan tepat lewar inskrip-

sinya, memberikan bukd-bukri sejarah awal yang tidak ternilai.

beberapa  teks berukuran sangar besar: inslcipsi atas nama Ntruddin

pada Jimi' al-N0rt di Hama, misalnya, memiliki panjang lebih

dari tujuh meter (foto 3.13, 3.14,3.I5 dan gambar 3.21). perlu

ditegaskan bahwa inskripsi-inskripsi ini, dengan penghormatan

yang agung kepada N0ruddin, semua berada di gedung-gedung


para penguasa menyadari akan kewajiban-kewajiban agamanya.

Dengan demikian, di Rumah Keadilan, Nffruddin, atau salah

satu deputi yang ditunjuknya, akan hadir dan mendengarkan

keluhan ralq,atnya dalam sesi-sesi yang sudah diatur sebelumnya.5T

Dikatakan oleh Ibn al-Atsir: "Ia lNfrruddin] biasa duduk idi

Rumah Keadilan] dua hari dalam seminggu, bersama dengan para

hakim dan anggota pembela."58

Sangat banyak monumen-monumen agama didirikan pada

pertengahan abad kedua belas di suriah-JAmi' al-N0ri di Hama,

pada 558 H.lll62-1163 M., perguruan pendidilan seperti Madrasah

al-Syu'aybiyyah yang didirikan pada 545 H.ltt59 M. di Aleppo

(empat puluh dua dibangun pada masa N0ruddin, setengahnya

disponsori oleh dirinya secara pribadi), biara-biara sufi, sebuah

rumah sakit (Bimaristan N0ruddin yang terkenal bertahun 549

H.lll54-fi 55 M.) (foto 3.16, 3.17, 3.18, 3.19, 3.zo dan foto

warna 14), Dlr al-Eadits (Rumah Ahli Hadis) (gambar 3.29)-

dan bersama-sama itu semua menyaksikan kebangkitan Islam Sunni

besar-besaran selama Nirruddin berkuasa. N0ruddin biasa meng-

ambil risiko dengan hadir pada pertemuan di Dir ar-Hadits

seorang diri. Gedung ini dibangun pada 566 H.lll7} M. untuk

memperbesar mandatnya sendiri sebagai seorang penguasa Sunni

yang alim.se Antara 560 H.ltt65 M. dan 566 H.lttTO M.,

Nirruddin mensponsori pembangunan beberapa  menara di Suriah-

di Damaskus dan al-Raqqa selain rempat-rempat lain (bandingkan

dengan foto 3.21)-.dan di Irak (bandingkan dengan foto 5.1).

Monumen-monumen ini, yang menjulang di antara bangunan

kota dan benteng, memiliki pesan propaganda kuat yang menjadi

saksi kemenangan umat Islam. Gempa bumi kuat beberapa kali


terjadi di suriah dan telah merusak atau menghancurkan gedung-

gedungnya. N0ruddin menyadari bahwa mgasnyalah .r.r,,rk mem_

bangun kembali gedung-gedung itu. Ni,uddin menfkapi kewajib-

an publiknya sebagai penguasa untuk membangun atas nama Islam

dengan serius, sekalipun program pembangunan seperti itu me_

merlukan biaya yang sangar mahal.

Kita bisa melihat banyaknya monumen-monumen agama yang

dibangun di bawah perlindungan N0ruddin, dan melalui inskripsi

monumental yang diukir atas namanya oleh para ahli ukir se-

tempar di bawah bimbingan ulama, yang pada masa hidupnya

Ncrruddin telah dipandang (atau ingin dianggap) sebagai *",*ia

dan model ideal penguasa muslim sunni. Ibn al-Atsir m.rj.laskan

pembangunen yang dilakukan NCrruddin, dengan menyebutkan

bahwa dia membangun dinding "semua kota dan benteng-benteng

Suriah", masjid-masjid, rumah sakit, caraaansArai, menara-menara,

biara-biara sufi dan rumah penampungan anak yatim.6o N0ruddin


mengunjungi Madinah pada 556 H./1161

ibadah haji dan pada kesempatan itu ia

dinding-dinding kota ini .6r

Tidak seperri epigrafi monumental, gelar yang ada  di

koin harus dibuat ringkas sebab  ruang yang tersedia sangar kecil.

sebab  itu, perlu dicatat bahwa banyak koin yang ada yang

memakai  nama N0ruddin memberinya gelar "pangeran yang

adil" (al-malik al-'Adil) (gambar 3.27).6'Tidak seperri inskripsi-

inskripsi monumental yang tak dapat bergerak, koin-koin ini 

sering mencapai rempat-tempat jauh, dengan membawa reputasi

Nirruddin sebagai penguasa yang terutama juga menyebarkan nilai

keadilan Islam.

yaitu  pada masa Nfrruddin berkuasa, pemimpin muslim

besar pertama yang melawan kaum Frank, konsep jihad sebagai

seruan penggerak kaum muslim mendaparkan momentum yang

M. untuk menunaikan

membangun kembali


sebenarnya dan aliansi antara kelompok-kelompok agama dan

pemimpin militer menjadi begitu penting. Dan yaitu  pada masa

Saladin berkuasa, unsur-unsur utama dalam propaganda jihad

kaum muslim bisa dikenali dengan jelas. Idealnya, jihad spiritual

dan jihad yang melibatkan warga  luas menyatu dalam diri

penguasa ini , dan dalam sudut pandang semacam inilah

N0ruddin dihadirkan di dalam sumber-sumber Islam. Namun,

persoalan kejujuran sejarah tentang citra Nirruddin ini tidak bisa

dituntaskan dengan memuaskan.

CITM NURUDDIN DATAM SUMBER-SUMBER TERIULIS

Menurut Elisseeff, yang karya tiga jilidnya tentang Ntruddin

dikenal luas sebagai kontribusi ilmiah yang utama, pada tahun-

tahun pertama berkuasa, NCrruddin lebih mencurahkan perhatian-

nya untuk mempersatukan Suriah. sesudah  berhasil mencapai

tujuannya itu, barulah ia kemudian mengalihkan sasarannya kepada

para Tentara Salib.63 Inilah yang membuat aktivitas-aktivitas militer

N0ruddin mendapat interpretasi yang baik dan juga menunjukkan


bahwa sejak awal NCrruddin memiliki strategi menyeluruh, yaitu

mempersatukan umat Islam yang dilanjutkan dengan jihad me-

lawan kaum Frank.

Bagaimanapun juga, interpretasi seperti itu sangat tepat.

yaitu  jauh lebih mungkin jika NCrruddin memulai kariernya

(dan mungkin bahkan melanjutkannya) dengan memainkan per-

mainan politik kekuasaan yang sama di Timur Dekat sebagaimana

yang telah dilakukan ayahnya yang tak kenal ampun, Zeng|

Namun, sumber-sumber Islam memberikan nuansa-nuansa yang

jauh lebih islami pada aktivitas-aktivitas Nfrruddin ini  di-

bandingkan dengan aktivitas-aktivitas ayahnya. Sangat sulit untuk

menentukan keabsahan interpretasi semacam ini. Apakah para

sejarawan Islam, yang tentu saja menulis dengan berdasarkan

peristiwa yang telah terjadi, tengah dipengaruhi oleh penyajian

peristiwa-peristiwa lewat pengetahuan mereka tentang peristiwa

yang telah terjadi?

Berbagai peristiwa penring dalam karier Nfiruddin di dalam

sumber-sumber yang ditulis oleh kaum muslim dibalut dengan

pesan-pesan moral yang luhur. Misalnya, ia ditampilkan tengah

mengalami perubahan dari seorang panglima militer menjadi


penguasa muslim Sunni yang alim. Seperti yang akan kita lihat,

citra yang sama juga diberikan kepada diri Saladin. Dari sini,

tampak bahwa proses ini mungkin sangat klise dan menjadi tema

umum dalam penulisan sejarah Islam.

Bagaimana sumber-sumber ini  kemudian mengatasi ma-

salah ini? Menurut mereka, tanda-tanda pertolongan Allah telah

terlihat di tahap-tahap awal karier N0ruddin. Penulis sejarah

Damaskus pada masa itu, Ibn al-QalAnisi, memberikan pujian

pada motif-motif keagamaan yang mulia dalam diri NCrruddin

untuk tindakan-tindakannya:

Saya tidak mencari apa-^p^ kecuali kemuliaan umat Islam

dan berperang melawan kaum Frank ... Jika ... kita saling mem-

bantu dalam melancarkan Perang Suci, dan semuanya diatur secara

harmonis dan dengan satu tujuan untuk kebaikan, keinginan dan

cita-cita saya akatr benar-benar tercapai.6a

Tentu saja, Ibn al-QalXnisl mungkin bersalah sebab  bersikap

memihak. Akan namun , di sini, beliau menulis dengan semangar

yang tidak terlihat dalam uraian-uraiannya tentang aktivitas Zengi.

Momen utamanya mungkin yaitu  kemenangan Nfiruddin saat

melawan Raymond dari Antiokhia dalam pertempuran di Inab

pada Safar 544 H.lll49 M. Menurut Elisseeff, sesudah  merebut

Damaskus pada 549 H.ll154 M., Nirruddin melakukan setiap

usahanya "atas nama jihad melawan para Tentara Salib dan

membantu kebangkitan Islam Sunni".6t Bentuk penulisan yang

menggambarkan penghormatan ini dilakukan langsung oleh para

penulis sejarah itu sendiri. Ibn al-Adim mengatakan, mungkin

dengan lebih didasarkan pada kesetiaannya dan bukan pada

keyakinannya, bahwa "mulai dari titik ini Nirruddin mengabdikan

dirinya untuk berjihad".66

Sayangnya, sulit dibuktikan bahwa dalam perjalanannya men-

jadi seorang alim dan akhirnya diterima oleh kelompok-kelompok

agama sebagai seorang penguasa Sunni yang baik, Nriruddin

memiliki seorang guru. N0ruddin mungkin terdorong untuk

mempertimbangkan dimensi religius dalam aktivitas politik dan


juga sekaligus sebagai jalan penyelamaran spiritualnya sesudah  dua

kali ditimpa penyakit serius, yaitu pada Ramadan 552 H./Oktober

ll57 M. dan Zulhijah 553 H./1159 M. Nirruddin kemudian

menyempatkan dirinya untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah

pada 556 H./1161 M. Namun, titik balik paling penting dalam

perkembangan keagamaan N0ruddin tampaknya yaitu  sesudah  ia

mengalami kekalahan yang memalukan dari kaum Frank pada

558 H./1163 M. dalam Pertempuran di al-Buqay'ah. Menurur

sumber-sumber ini , kekalahan ini menimbulkan pengaruh

yang mendalam terhadap kehidupan pribadi dan kebijakan

N0ruddin. Sejak itu, Nfrruddin berperilaku saleh, alim, dan

asketis. Sikap inilah yang membuat Nirruddin kemudian mem-

peroleh penghormatan dari kelompok-kelompok agama di Suriah,

termasuk juga kesetiaan ralyatnya. Ibn al-hdim menyebutkan

sebuah kejadian yang tampaknya semakin mempertajam sikap

religius N0ruddin.67 Seseorang yang disebut Burhnnuddin Balkhi

berkata kepada N0ruddin: 'hpakah Anda ingin merayakan ke-

menangan, sementara di dalam kemah Anda tersimpan banyak

minuman memabukkan, tambur, dan alat musik tiup? Tidak,

demi Allah!" 

Menurut kisah ini, NCrruddin sangar rersentuh dengan per-

ingatan ini  dan beliau berjanji unruk bertobat. Ia mengganti

pakaian kebesarannya dengan pakaian kasar seperri yang dikenakan

para sufi, untuk menyatakan bahwa ia seterusnya akan menyatukan

keinginan untuk melakukan jihad agama baik sebagai pribadi

dan juga melakukan jihad kolektif melawan kaum Frank. Ia

menyeru pangeran-pangeran muslim lainnya untuk bergabung

bersamanya untuk berjihad. Kisah-kisah yang mengandung pe-

lapran moral semacam itu umum dijumpai dalam tulisan-tulisan

sejarah Islam Abad Pertengahan. Minuman-minuman memabukkan

dan alat-alat musik melambangkan kelalaian dalam menjalankan

perintah agama (gambar 6.31, 6.69). Namun, momentum muncul-

nya kisah ini dalam penuturan Ibn al-Adim mungkin memiliki

makna penting.

'Imiduddin al-Ishfahini, yang kemudian menjadi sahabat

sekaligus penasihat Saladin, tiba di Damaskus dan bergabung

dengan N0ruddin pada 562 H.11166-1167 M.Ia menggambarkan

tuannya yang baru itu sebagai "rajayang paling suci, saleh, cerdas,


di Mosul).6e Dengan tanpa ragu, tulisan ini memberikan puji-

pujian sebagai berikut:

Saya telah membaca sejarah rala-rqa terdahulu sebelum Islam,

dan pada zamar, Islam hingga zaman kita ini, dan saya belum

pernah melihat seorang raja sesudah  KhulafA' al-Rtsyidin dan 'Umar

ibn Abd al-'Aziz yang sikapnya lebih baik selain raja Nfiruddin.To

Puji-pujian yang luar biasa seperti itu, yang menyamakan

Nirruddin dengan para khalifah yang di dalam Islam dikenal

sebagai orang yang paling saleh dan adil, dilanjutkan di dalam

obituari ini  dengan menyebutkan satu persatu kebaikan-

kebaikan N0ruddin. Penting diingat juga, seperti halnya praktik

penulisan inskripsi pada saat itu, dari semua pilihan yang ada

Ibn al-Atsir memilih sebutan gelar "adil" ('odt) untuk meng-

gambarkan N0ruddin.

Puji-pujian terhadap Ntrruddin juga dilakukan oleh penulis

berikutnya, yaitu Abir Syimah (w. 665 H.11258 M.). Ia meng-

gambarkan N0ruddin sebagai orang yang paling bersemangat

memerangi para Tentara Salib.Tt Ia juga menegaskan ketaatan

NCrruddin pada ajaran agama, keadilannya, pengabdiannya untuk

berjihad, dan kesalehan pribadinya.

Ia menampilkan perilaku keagamaan yang ortodoks (sunnah)

di Aleppo dan mengganti bidah yang ada  dalam seruan untuk

salat dan ia menaklukkan para pelaku bidah di sana dan mem-

bangun perguruan-perguruan tinggi agama, memberikan sumbangan

amal dan menyebarkan keadilan ... Dalam perang, ia selalu maju

paling depan, pandai memanah, dan tangguh dalam menyerang ...

Ia berani mengambil risiko menjadi syuhada ... Ia memiliki tulisan

tangan yang bagus [dan] sering mempelajari buku-buku agama.T'

"Demitologisasi" sosok Nfiruddin yaitu  suatu hal yang sangat

mungkin. Ini telah dilakukan baru-baru ini oleh seorang ilmuwan

Jerman bernama K<ihler. Menurutnya, upaya-upaya yang dilakukan

Nfrruddin dalam berjihad pada paruh pertama kariernya tidaklah

mengesankan. Sebagai bukti, Kohler menyebutkan kecaman sangat

keras terhadap Nirruddin yang dilontarkan oleh wazir Fatimiyah

TalX'i' ibn Ruzzik, beberapa lama sesudah  549 H.l1154 M. sebab 

Nirruddin tidak memerangi kaum Frank dan membiarkan kaum

Frank terus berkuasa di Palestina: "Katakan padanya: berapa lama

kau akan menunda [menghancurkan para jahanam] berkaitan

dengan orang-orang kafir itu? ... Pergilah ke Yerusalem! ... Tinggal-

kan kegemaranmu demi mengenyahkan kaum Frank itu!"73

Peringatan ini jelas menunjukkan, setidaknya menurur Abil

Syimah, yang bukan penganut Ismailiyah dan sebab  itu tidak

memiliki kepentingan untuk mendukung Fatimiyah, bahwa bukan-

Iah Nfrruddin, tapi Dinasti Fatimiyah "yang dibenci", yang men-

dorong jihad melawan kaum Frank. Berbeda dengan semangar

yang disuarakan oleh penyair-penyairnya, KOhler berpendapat

bahwa N0ruddin tidak memulai seruan jihadnya untuk melawan

kaum Frank hingga ia merebut Damaskus. Sebaliknya, Nfrruddin

lebih memilih untuk memperkuat kekuasaannya di Suriah. Kohler

menetapkan titik balik bagi Nfiruddin dan penggunaan propa-

ganda jihad pada 553 H.lll57 M.

Akan namun , bahkan dalam pertempuran perebutan kekuasaan

di Mesir antara Nfiruddin dan kaum Frank (553-569 H.11157-

1174 M.), Ktihler mengatakanTa bahwa NCrruddin memakai 

propaganda jihad hanya sekadar sebagai alat untuk kepentingan

politik kekuasaannya. Sekalipun banyak inskripsi jihad yang meng-

gunakan namanya dari 553 H.ll157 M., N0ruddin tidak me-

lakukan apa-apa--demikian menurur K<jhler-sehingga ddak panras

memperoleh gelar terhormat itu. Sebenarnya, ia hanya bertindak

seperti yang dilakukan ayahnya, Zengi. Propaganda jihad baginya

hanyalah alat untuk memperoleh legitimasi sebagai khalifah dan

pengakuan kekuasannya atas negara-negara Islam di sekitarnya.T5

Motif sebenarnya yang menggerakkan N0ruddin pada berbagai

tahap kariernya masih menjadi spekulasi. Yang bisa diketahui dan

diperkirakan yaitu  hasil yang telah dicapainya, suasana religius

di Suriah tempat ia berkiprah dan gedung-gedung serta inskripsi-

inskripsi religius yang didirikan atas namanya (misalnya forc 3.22,

3.23-24; bandingkan dengan forc 3.25). Dengan jelas, ini semua

mengarahkan pandangan kita bahwa di mata orang-orang se-

zamennya, N0ruddin dianggap sebagai seorang pejuang jihad

dalam gerakan propaganda yang lambat laun semakin meyakinkan

dan meraih keberhasilan.

Kini saatnya beralih ke Yerusalem yang tampaknya telah

memainkan peranan utama dalam gerakan propaganda ini.



STATUS YERUSALEM DI DUNI,A ISLAM ABAD PERTENGAHAN

Harus diakui bahwa status Yerusalem dalam dunia Islam Abad

Pertengahan berubah-ubah. Perang penring religiusnya sebagai

pusat dua agama monoteis, Yahudi dan Kristen, menjadikan

Yerusalem rentan di mata beberapa  pemikir Islam, terutama Ibn

Thymiyah dan para ulama mazhab Hanbali lainnya, terhadap kritik

bahwa kesucian Yerusalam dari sudut pandang keislaman telah

dinodai oleh pengaruh tradisi dan "inovasi" Yahudi-l3isten. Mekah

dan Madinah, sebaliknya, merupakan tempat sebenarnya bagi

kesucian Islam (gambar 3.32, 3.33).

Di sini bukan temparnya untuk membahas status ambivalen

Yerusalem dari permulaan Islam. Yang penting di sini dalam

konteks Perang Salib (dan tentu saja, di akhir tahun 1990-an,

saat  Yerusalem berada di bawah kekuasaan Israel) yaitu  me-

nekankan bahwa Yerusalem dapat menjadi sasaran utama kerinduan

agama yang sangat kuat bagi umat Islam. Islam memiliki landasan

yang lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa ia juga punya

andil dalam soal kesucian kota itu. Umat Islam di abad kedua

belas semakin menginginkan untuk memiliki kembdi kota Yerusalem,

dan kota ini  menjadi titik pusat kampanye propaganda jihad

yang sangat berhasil, yang mencapai puncaknya dengan penaklukan

kembali kota itu oleh Saladin pada 583 H./1187 M.

Dinasti Fatimiyah telah memberi jalan bagi peran utama

Yerusalem di abad kedua belas. Jelaslah bahwa demi motif politik

dan keagamaan mereka sendiri, Dinasti Fatimiyah berkeinginan

untuk memperbesar nilai kesucian kota itu di abad kesebelas.

Barangkali, penghancuran Gereja Makam Suci yang dilakukan

oleh al-HAkim pada 1009 harus dibaca dalam konteks ini, meski-

pun masih bisa diperdebatkan apakah tindakan ini  memang

sangat diniatkan demikian pada masa itu atau untuk membantu

menyulut kesadaran baru, khususnya bagi kaum muslim, ber-

kenaan dengan kesucian Yerusalem. Namun, bersamaan dengan

tindakan al-Hikim yang sangat singkat itu, kebijakan Fatimiyah

terhadap Yerusalem telah begitu jelas. Mereka membangun kembali

Masjid Aqshi pada masa pemerintahan al-Zhil-tir (w. 427 H.l

1036 M.) (foto 3.26). Inskripsi mosaik kerajaan yaitu  yang

pertama di Yerusalem yang dimulai dengan ayat Alquran, yang

oleh umat Islam diyakini mengacu pada peristiwa Mikraj Nabi

Muhammad ke Langit (Q.S. al-IsrX' ltTl: t). N-Zhahir juga

memperbaiki Kubah Batu pada 413 H.ltO22-1023 M. dan

mosaiknya pada 478 H.11027-1028 M.76 Ilmuwan dan musafir

Persia bernama NXshir-i Khusraw yang mengunjungi Yerusalem

pada 439 H.11047 M. mencatat bahwa orang-orang di Palestina

yang tidak dapat menunaikan ibadah haji berkumpul di Yerusalem

dan melakukan upacara rerrentu di kota itu:

Penduduk daerah ini, bila tidak mampu menunaikan ibadah

haji, akan berbondong-bondong ke Yerusalem pada musim yang

ditentukan, dan di sana mereka melakukan ritual tertentu dan

pada hari besar memotong korban sebagaimana yang biasa di-

lakukan (di Mekah). Pada tahun-tahun tertentu orang yang hadir

di Yerusalem saat hari pertama Zulhijah bisa mencapai 20.000

orang.77

Mistikus (sufi) Islam seperti Sufrin al-Tsawri dan IbrAhim

ibn Adham juga sangat memuliakan Yerusalem dan kelompok-

kelompok mereka semakin banyak yang berdatangan pada abad

kesebelas. Ulama besar al-Ghazilt bermeditasi di sana di akhir

tahun 1090-an, sesudah  krisis spiritual memaksanya meninggalkan

Baghdad.

Dengan demikian, terlihat bahwa di akhir abad kesebelas,

yaitu pada detik-detik menjelang pecahnya Perang Salib, unsur-

unsur utama kesucian Yerusalem telah ditempatkan dengan semesti-

nya. sebab  itu, hal ini  bisa dimanfaatkan sepenuhnya dalam

pertempuran berikutnya melawan kaum Frank dan digunakan

dengan sangat efekdf dalam propaganda jihad. Se.iarawan Arab

modern, Duri, tidak ragu-ragu lagi dalam hal ini:

Perang Salib mungkin menambahkan dimensi baru terhadap

arti penting Baitul Muqaddis [Yerusalem]. Namun, kemuliaan tinggi

yang diperolehnya pada abad kesebelas telah membuatnya menjadi

simbol jihad melawan para penyerbu itu. 

Seperti halnya kehadiran fisik Kubah Batu dan Masjid Aqshi

di Yerusalem, dan posisi rerhormat yang diberikan pada orang

yang beribadah dan haji di sana, umat Islam yakin bahwa Nabi

Muhammad telah melakukan Perjalanan Malam (Israk) ke Langit

dari Yerusalem, dan Yerusalem akan menjadi tempat Kebangkitan

pada hari kiamat.

Seperti yang telah disebutkan, selama berabad-abad para

ilmuwan muslim saling berbeda pendapat mengenai kehormatan

relatif Kota Suci Mekah dan Madinah terhadap Yerusalem. Akan

namun , penulis Palestina bernama al-Muqaddasi (w. 387 H.l9g7

M.), dengan bangga membicarakan kota asalnya, mengungkapkan

pandangannya yang membela Yerusalem: "Daerah Suriah berada

di peringkat pertama, Tanah para Nabi, tempat berdiam orang-

orang suci, kiblat pertama; tempat Pertemuan Perjalanan Malam."7e

Lalu ia berpaling ke Yerusalem sendiri: "Mekah dan Madinah

mendapat posisi tinggi dari Kakbah dan Nabi, tapi pada hari

kiamat keduanya akan dibawa ke Yerusalem."8o

Hubungan antara Yerusalem dengan Perjalanan Malam Nabi

ditemukan dalam karya ulama abad kesebelas, al-\WAshiti, yang

menulis, dalam suatu bagian yang harum, dengan gema Alquran:

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada

suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqshi yang telah

Kami berkahi sekeliling.rya.""

Maka, sampai di sini kita dapat memahami adanya landasan

yang cukup yang dengannya para ulama abad kedua belas dapat

membangun kampanye propaganda yang memuji kemuliaan jihad

dan memusatkan perhatian pada Yerusalem.

PEMNAN YERUSALEM DATAM PROPAGANDA

MENGHADAPI PEMNG SALIB

Sulit untuk menunjukkan dengan tepat sejak kapan para Pe'

mimpin militer Islam mulai terfokus untuk menaklukkan Yerusalem

sebagai bagian tak terpisahkan atau sebagai tujuan utama cita-cita

mereka. Seperti yang telah disebutkan, terlepas dari tindakan yang

dilakukan Dinasti Fatimiyah segera sesudah  para Tentara Salib

menaklukkan Yerusalem pada 492 H./i099 M., terlepasnya Yerusalem

tidak mendorong kaum muslim untuk melakukan upaya lain yang

lebih jauh untuk merebutnya kembali. Realai yang terlihat, sebalik-

nya, hanya sedikit, sampai Edessa takluk pada 539 H.l1l44 M.

Kemenangan yang dirarh Zengi ini tampaknya menjadi titik balik,

suatu momentum saat  moral umat Islam mulai bangkit' Yang

pasti, seperti yang telah kita lihat, telah ada tanda-tanda ke arah

ini dalam puisi puji-pujian untuk memperingati penaklukan Edessa

oleh Zengi.

Sivan berpendapat bahwa Yerusalem mulai menjadi fokus

perhatian umat Islam untuk berjihad melawan kaum Frank di

tahun-tahun terakhir dari usia Zengi. Namun, dorongan untuk

merebut kota ini  semakin membesar pada saat putra Zengi,

Nfiruddin, berkuasa, saat  Yerusalem menjadi titik utama program

propaganda jihad yang muncul dari kota-kota Suriah dan terutama

Damaskus.

Dengan demikian, Yerusalem menjadi pusat kampanye ideologi

yang dirancang dengan pintar yang memanfaatkan direbutnya kota

itu oleh para Tentara Salib. Kerinduan terhadap yerusalem bisa

dimanfaatkan habis-habisan oleh para ahli propaganda dari kaum

muslim, yang merasakan kepedihan dan penghinaan menyaksikan

Yerusalem berubah menjadi kota Kristen, dengan masjid-masjid

dan tempat-tempar suci umat Islam yang diubah menjadi gereja

atau gedung-gedung sekuler.

Pada beberapa ritik di dalam kekuasaannya, ambisi Nirruddin

mungkin tampak terfokus ke Yerusalem, meskipun tidak jelas

kapan tepatnya ini terjadi. Kemenangan militer yang berturut-

turut diraihnya, kesalehan dan hubungannya yang semakin dekat

dengan kelompok-kelompok agama di Suriah (pusat kekuasaan-

nya)-bandingkan dengan foto 3.27 dan foto warna 16-mem-

buat N0ruddin bisa mengembangkan prograrn propaganda agama

yang paling efektif. Program itu menitikberatkan pada penyatuan

kaum muslim dan seruan berjihad, dan difokuskan pada kesucian

Palestina dan lebih khusus lagi Yerusalem. Proses ini bisa ditelusuri

di dalam cataran-catatan sejarah berbahasa fuab dan disinggung


di dalam puisi-puisi religius yang digubah pada masa itu. Penyair

Ibn Munir mendesak N0ruddin untuk memerangi para Tentara

Salib, "sampai kau menyaksikan Yesus melarikan diri dari

Yerusalem".82

Ibn al-QaysarAni menegaskan kembali senrraliras Yerusalem

dan terutama Masjid Aqshi di dalam cita-cita Nfiruddin:

Mungkinkah, kota Yerusalem, disucikan dengan tumpahan

darah

Keputusan N0ruddin sama kuat dengan sebelumnya dan

lembing besinya diarahkan ke AqshA.83

Yerusalem mungkin telah terpatri kuat di dalam pikiran para

penyair ini  sebelum kota itu tertanam di dalam hati

N0ruddin.8a

Sejarawan Arab Abir Syimah mengutip teks dari sepucuk

surat yang dikirimkan Nfiruddin kepada khalifah. Di dalam surat

ini , Nfiruddin menegaskan bahwa merebut kembali Yerusalem

yaitu  sangat penting. Ia menyatakan bahwa tujuan utamanya

yaitu  "untuk mengusir para penyembah Salib dari Masjid Aqsh1."85

Semua ini mungkin menunjukkan upaya-upaya suci para

penulis sejarah dari kalangan kaum muslim untuk melahirkan

kembali Nfrruddin sesudah  peristiwa ini  menjadi seorang

pejuang jihad dan pemimpin Sunni sejati, dan bukan orang yang

memerangi dan memenangkan permainan politik kekuasaan kaum

muslim di Suriah saat  itu. Namun, citra mereka tentang Nirruddin

telah kuat, seperti yang telah kita lihat, dengan adanya kesaksian

yang dapat kita lihat saat ini berupa inskripsi-inskripsi pada

monumen-monumen yang ia dirikan dan terutama dibuktikan

lewat mimbar besar yang dipesan oleh N0ruddin dan dimaksudkan

untuk dipasang di Masjid AqshA sesudah  ia menaklukkan Yerusalem.

Banyak karya ilmiah yang telah dibuat mengenai topik ini.

Penelitian penting yang dilakukan oleh Max van Berchem telah


dilengkapi dengan penelitian-penelitian mutakhir yang dilakukan

Yasser tbbaa dan Sylvia Auld. Tidak ada salahnya kita mencermati

hal ini dengan lebih teliti (foto 3.28-3.29, 3.30; bandingkan

dengan foto 3.31 dan foto warna 10).

Salah satu inskripsi yang ada di mimbar ini  menyatakan

bahwa mimbar itu secara resmi diperintahkan pembuatannya oleh

N0ruddin pada 564 H./1158-1169 M. Mimbar itu pertama kali

digunakan di Masjid Agurg di Aleppo. Mimbar itu akhirnya

dibawa ke Yerusalem-sesudah  N0ruddin mangkat-atas permin-

taan Saladin. Mimbar ini  tetap berada di dalam Masjid Aqshi

sampai kemudian dihancurkan oleh seorang fanatik asal Australia

pada 1969. Dalam konteks peranan Yerusalem dalam Perang Salib,

mimbar ini  memainkan peranan penting.

Mimbar Nfiruddin merupakan pernyataan mengesankan ten-

tang jihad, seperti yang pernah ditunjukkan oleh inskripsi utama.

Menurut tbbaa, mimbar itu yaitu  'yang paling kaya dengan

pernyataan-pernyataan kemenangan Islam dan kekalahan pasukan-

pasukan kafir, dari semua inskripsi N0ruddin'.86 Permulaan inskripsi

ini , yang tertulis tahun 564 H (bertepatan dengan tahun

1168-1169 M), berbunyi sebagai berikut:

Pembangunannya telah diperintahkan oleh budak ini ,sT

orang yang sangat membutuhkan kemurahan-Nya, orang yang

sangat berterima kasih atas kebaikan-Nya, pejuang jihad di jalan-

Nya, orang yang mempertahankan lperbatasan] melawan musuh-

musuh agama-Nya, raja yang adil, N0ruddin, tiang agama Islam

dan umat Islam, pembawa keadilan bagi orang-orang tertindas

dalam menghadapi para penindas, Abu'l-QAsim Mahm0d ibn Zengi

ibn Aqsunqur, penolong Panglima Orang-Orang Beriman.s8

Selanjutnya, teks inskripsi ini  bahkan tampak tengah

memohon kepada Allah untuk memberinya pertolongan untuk

menaklukkan Yerusalem: "Semoga Dia menganugerahkan penak-

lukan baginya [Ntruddtn] dan di tangannya sendiri."8e Thbbaa

menemukan, dengan cukup tepat, bahwa inskripsi mimbar ini 

sangat tidak biasa, baik dalam panjang maupun doa emosionalnya

kepada Allah.eo

Bukti-bukti pendukung adanya penyiapan mimbar ini oleh

N0ruddin untuk Yerusalem, meskipun kota ini  masih berada

dalam genggaman kekuasaan para Tentara Salib, terlihat di dalam

tulisan-tulisan para penulis sejarah dari kalangan kaum muslim.

'Imiduddin al-Ishfahini mencatat bahwa sesudah  penaklukan

Yerusalem, saat  Saladin meminta mimbar yang lebih megah

untuk Masjid Aqshi, 'Imiduddin mengingatkan bahwa Nfiruddin

telah mempersiapkan mimbar untuk Yerusalem lebih dari dua

puluh tahun sebelum penaklukan kota itu. sebab  itu, Saladin

menulis surat ke Aleppo agar mimbar ini  dibawa dan ditem-

patkan di Yerusalem. 'Imiduddin, yang barangkali memutarbalik-

kan kisah kejadian ini  untuk menyenangkan Saladin, lalu

mengklaim lebih dahulu bahwa N0ruddin tahu bahwa Allah tidak

akan memberinya hadiah berupa penaklukan Yerusalem. Bagai-


manapun juga, pernyataan ini  terikat kuat pada fakta bahwa

mimbar ini  dibuat oleh seorang ahli ukir terkemuka, al-

Akhari.ri, yang namanya benar-benar ada  pada inskripsi

mimbar ini  bersama dengan empat tanda tangan lain'er


Dalam ringkasannya terhadap karya 'Imiduddin lainnya, Sana

al-Barq al-Syami, penulis sejarah berikutnya bernama al-Bundiri

memberikan laporan yang sedikit berbeda tentang mimbar ini .

Dengan sinar kearifannya, pangeran yang adil, Nirruddin

Mahm0d rbn Zengi di masa hidupnya telah mengetahui akan

terjadinya penaklukan Yerusalem di kemudian hari. sebab  itu, ia

memesan pembuatan mimbar di Aleppo untuk Yerusalem; tukang-

tukang kayu, para pemahat dan para arsitek mengerjakannya selama

bertahun-tahun dan mereka membuat mimbar yang sangat kuat

dengan hiasan yang sangat indah. Mimbar ini  terus dipasang

di dalam Masjid Aleppo, dengan dibungkus seperti pedang di dalam

sarung pelindungnya sampai sultan [Saladin] di zamannya me-

merintahkan untuk mewujudkan janji N0ruddin dan mimbar

ini  dibawa ke tempatnya di Yerusalem.e2

Di sini, kita juga melihat 'ImAduddin mengklaim bahwa

N0ruddin mengetahui bahwa akan terjadi penaklukan Yerusalem,

tapi itu bukan pada masa kekuasaan Nirruddin. Anehnya, mimbar

ini  diibaratkan sebuah pedang yang masih tersimpan di dalam

sarungnya dan tengah menungBu untuk dihunus sebagai senjata

propaganda agama di perhentian terakhirnya, Yerusalem.


Laporan Ibn al-Atsir mengenai mimbar rersebut lebih biasa-

biasa saja. Ia menjelaskan pembuatan dan pengiriman mimbar

ini  sebagai berikut:

Beliau [Saladin] memerintahkan untuk membuat sebuah mimbar

untuknya. Kemudian, beliau diberitahu bahwa Ntruddin MahmCrd

telah membuat sebuah mimbar di Aleppo. Ia memerintahkan para

ahli ukir agar bekerja keras untuk mempercanrik dan menyem-

purnakan mimbar ini  dan ia mengatakan "Kami telah mem-

buatnya untuk dipasang di Yerusalem". Para ahli ukir telah mem-

buatnya dalam beberapa tahun; tidak ada saru pun mimbar seperti

itu yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam.

Jadi, beliau [Saladin] memerintahkan agar mimbar itu dibawa.

Mimbar itu kemudian dibawa dari Aleppo dan dipasang di Yerusalem.

Antara pembuatan mimbar dan pengirimannya [ke Yerusalem]

berlangsung lebih dari dua puluh tahun. Ini merupakan salah satu

berkah dan niat baik N0ruddin, semoga Allah memberkatinya.e3

Yang jelas, ada alasan yang tepat untuk menyatakan bahwa

menjelang akhir kekuasaannya, Ntrruddin telah mengarahkan

pandangannya ke Yerusalem dan mimbar yang telah dipesannya

itu dimaksudkan sebagai catatan bagi keturunannya tentang peran-

nya dalam upaya ini . Pada tingkat yang lebih tinggi, mimbar

ini  bisa dilihat sebagai pelopor bagi pembangunan monumen

pedang lengkung bersilangan yang sangat besar oleh Saddam

Hussein pada 1985 untuk merayakan kemenangannya dalam

perang Irak-Iran-kemenangan yang tidak pernah dilihatnya.

Mimbar Aqshi merupakan lambang nyata dan abadi dari kaum

muslim menghadapi Perang Salib. Mimbar itu benar-benar bagian

dari gaya tarik simpatik. Inskripsi-inskripsi yang dipilih Nirruddin

untuk mimbarnya berkaitan dengan Hari Kebangkitan (Q.S. al-

Nahl [15]: 92-95), pemenuhan janji yang sungguh-sungguh di-

lakukan, dan Surah al-Ntr (barangkali digunakan juga-seperti

dalam mimbarnya di Jimi' al-Nfiri di Hama lfoto 3.32-3.33

dan gambar 3.36; bandingkan dengan foto 3.34)-sebagai sebuah

permainan kata-kata dengan namanya sendiri, yang berarti'cahaya

agama').

Dalam beberapa sumber, setidaknya bisa dirasakan bahwa para

penulis sejarah dari kalangan kaum muslim lebih menyukai

N0ruddin, dan bukan Saladin, yang akan memenangkan Yerusalem.

Sebagaimana dinyatakan oleh Ibn al-Jawzi (w. 597 H./1200 M.):

"Ia bertekad untuk menaklukkan Yerusalem, tapi ajal menjemput-

nya' (foto 3.35).e4 Yang pasti, sampai tiba era modern, yaitu 

N0ruddin, dan bukan Saladin, yang dijadikan sebagai prototipe

mujahid, model pejuang jihad, oleh para penulis muslim berikut-

nya. Saladin, seperti yang akan kita lihat di bab delapan, menjadi

populer di dunia Islam pada awalnya-dan secara paradoksal-

sebab  reputasinya yang cemerlang di kalangan kaum Kristen

Eropa.

Ab0 SyAmah (w. 665 H.11258 M.) menceritakan bagaimana

mimbar ini  dikirimkan ke Yerusalem. Ia juga menegaskan

peranan Nfiruddin dalam puncak penaklukan kota ini  dan

juga sumpahnya untuk melihat mimbar ini  dibawa ke tempat

yang semestinya:

Saat itu terjadi, berkah yang beliau [Ntrruddin] terima dari

Allah dilanjutkan kepada Islam sesudah  masa hidupnya dan ditutup

dengan penaklukan oleh Saladin ... Mimbar ini  terpasang di

tempatnya di Masjid Agung Aleppo ... sampai saat ini, saat 

Saladin memerintahkan untuk memenuhi sumpah N0ruddin dan

memerintahkan agar mimbar ini  dikirimkan ke tempat semesti-

nya di Yerusalem.e5

Ibn Jubayr melihat mimbar ini  pada 1 182, saat  mimbar

itu berada di Aleppo dan menulis: "Saya belum pernah melihat

di negara lain mimbar yang bentuk dan keunikan buatannya

menyerupai yang ini ... Mimbar itu tinggi seperri mahkota besar

di atas mihrab sampai menyentuh langit-langit."e6

Bagian mengesankan lainnya dari bukti-bukti yang memberi

kesaksian tentang N0ruddin yang begitu memikirkan Yerusalem

yaitu  inskripsi dari Masjid Nuri di Mosul. Monumen ini 

didirikan oleh Nirruddin saat ia merebut kota itu pada 1l7l,e7

yang berarti tidak lama sebelum kematiannya. Bukti-bukti itu

menunjukkan bahwa gagasan untuk merebut kembali Yerusalem

masih berada dari pikirannya dan ia ingin mengumumkan pesan

jihad di Mosul yang terpencil. Pesan itu berhasil dimanfaatkannya

dengan sangat baik di Suriah. Inskripsi yang hancur (foto 3.36),

yang kini tersimpan di Museum di Baghdad, tapi dahulu me-

rupakan bagian dari