Beberapa pasukan untuk memerangi kaum Frank, ia tidak turun
ke lapangan dan mernimpin sendiri pasukan di Suriah, sebagai-
mana yang dilakukan Alp Arslin saat melawan kaisar Bizantium
pada pertempuran Manzikert pade 463 H.ll07l M. Muhammad
tidak berani meninggalkan pusat kekuasaannya di timur tanpa
penjagaan.
Dan, wilayah itulah yang dianggapnya berharga, bukan Suriah.
sebab nya, nasib Yerusalem dan pelabuhan-pelabuhan Suriah
terisolasi di Isfahan yang jauh. Realitas geopolitis ini sering kali
dilewatkan dalam tulisan-tulisan tentang Perang Salib Pertama
dan laporan yang ditulis segera sesudah peristiwa ini . Seperti
yang akan kita lihat pada bab tujuh, karakter pasukan Saljuk
yang berbeda-beda-yang terdiri dari pasukan profesional, utusan
dari provinsi di bawah para panglima setempat, dan kelompok-
kelompok kaurn Tirrki nomaden yang diatur menurut kelompok
5uku-rngrnbutuhkan model kepemimpinan militer yang kuat,
yang ditunjukkan dalam figur sang sultan. Sebaliknva-dan ini
menunjukkan kejadian yang sebenarnya di kawasan ini , dalam
periode penting konsolidasi Tentara Salib-relah terjadi Per-
musuhan, perpecahan, dan kekalahan di pihak umat Islam.
RESPONS PENGUASA LOKAL SURIAII TERHADAP KEHADIMN
KAUM FMNK
Selanjutnya, kalaupun ada perlawanan terhadap kaum Frank,
perlarvenan itu dilakukan oleh mereka yang tinggal berdekatan
dengan kaum Frank. Penguasa Turki futuqid di Mardin, ll-Ghizi,
yang berkuasa di Aleppo dalam waktu singkat, dalarn hal ini
dapat ditunjuk sebagai contoh. Ia mendapatkan kemenangan
gernilang pada 513 H.l1119 M. atas Roger dari Antiokhia dalam
pertempuran yang kenrudian dikenal sebagai pertempuran Balith
atau Ladang Darah. Roger telas.r5r Ini merrrpakan kemenangan
besar pertama yang diraih umat lsl'"rm atas kaum Fratrk dan,
yang terutama, kemenangan itu diraih tanpa bantuan pasukan
luar dari timur. Namun, kemenangan itu hanya sekali, dan Il-
106 \ Carole Hillenbrarrd
GhXzi tidak melanjutkan dengan melancarkan serangan ke Anti-
okhia. Ibn al-Q-alinisi, secara tidak biasa, memberi tanggapan
yang penjelasannya sungguh fasih mengenai peristiwa kemenangan
ini:
Pasukan-pasukan kaum Frank bergeletakan, sekumpulan massa
tak berdaya, termasuk prajurit berkuda dan pejalan kaki, dengan
kuda-kuda dan senjata-senjata mereka, sehingga tidak seorang Pun
dari mereka dapat meloloskan diri untuk mengabarkan hal itu.
Pemimpin mereka, Roger, ditemukan tergeletak di antara mayat-
mayat. Banyak saksi mata PertemPuran ini ... melihat banyak kuda
yang bergelimpangan di tempat itu seperti landak sebab begitu
banyaknya anak panah yang menancap di tubuh kuda-kuda itu.
Kemenangan ini merupakan salah satu kemenangan luar biasa'
dan limpahan pertolongan Tuhan seperti itu tidak pernah diberikan
pada Islam di masa lalu.'52
sesudah Perang Salib Pertama dan di tahun-tahun berikutnya,
kekuasaan para penguasa muslim di Suriah dan Palestina secara
perlahan terus memudar dan wilayah-wilayah mereka terlebih
dahulu dirampas dan selanjutnya dikuasai oleh kaum Frank'
Bukannya bersatu memerangi musuh bersama, umat Islam malah
membuat perjanjian unilateral dengan kaum Frank dan membayar
upeti kepada mereka. Tidak adanya pemimpin yang kuat, sePerti
yang dimiliki oleh sultan Saljuk di timur, dan pertikaian dalam
masalah perbedaan mazhab agama dari pemerintahan Fatimiyah
Syiah di Mesir, para Penguasa muslim Suriah dan Palestina dapat
dan memang telah membentuk aliansi sementara di antara sesama
mereka untuk melawan kaum Frank' Namun, aliansi ini sangat
rapuh dan mudah hancur hanya dengan sedikit provokasi'
Para penguasa setempat di Suriah, dengan kekuasaan yang
terpusat di satu kota seperti Aleppo dan Damaskus, sedikit pun
tidak memiliki niat untuk mengorbankan kepentingan politik
mereka sendiri demi membangun solidaritas Islam yang masih
berkabut. Sungguh aneh, mereka tidak bersatu padu melawan
musuh bersama mereka. Tepat pada periode pertama kehadiran
para Tentara Salib inilah, aliansi-aliansi politik dan militer sePerti
yang disebutkan di atas sering kali dibentuk anrara umat Islam
dan kaum Frank. Dalam hal ini, kepentingan untuk kelompok-
kelompok kecil mereka tampak mengemuka
Dua peristiwa menggambarkan hal ini dengan sangat jelas.
Aleppo dengan dipimpin Ridhwin dan Antiokhia di bawah
kendali Thncred membentuk aliansi unruk melawan apa yang
mereka anggap sebagai gangguan militer dalam hubungan mereka,
yang datang dari penguasa Mosul, Jawali Saqao, musuh politik
utama Ridhwin. sebab itu, Ridhwin menulis surat kepada
tncred dengan mengatakan bahwa mereka berdua berhak untuk
bergabung melawan Jawali untuk mengusirnya dari wilayah-wilayah
mereka.r5a Aliansi-aliansi seperti ini, tentu saja, merupakan aliansi
oportunistik dan berumur pendek. sesudah kematian Thncred pada
506 H.llll2 M., Ridhwin membentuk aliansi sendiri dengan
Tirghtegin dari Damaskus. Kesiapan untuk terlibat dalam politik
pragmatis agar tetap dapat bertahan dan hidup berdampingan
menjadi ciri dari periode ini.
Aliansi yang sama dilakukan antara Kerajaan Salib Yerusalem
dan Gubernur Fatimiyah di Ascalon. Menurut Ibn al-Q4lAnisi,
sang Gubernur, Syams al-Khilifah, menyepakati gencatan senjata
dengan Baldwin. Al-Afdhal, wazir Fatimiyah dari Mesir, sangar
tidak senang dengan aliansi ini dan mengirimkan pasukan
ke fucalon pada tahun 504 H.lllll M. untuk menggulingkan
gubernurnya. Syams al-Khilifah menghubungi Baldwin, yang
setuju untuk mengirimkan bantuan pasukan dan peralatan militer.
Pasukan Fatimiyah diusir dari Ascalon, sebab Syams al-Khilifah
mencurigai mereka berada di pihak Fatimiyah. Peristiwa ini
berakhir dengan terbunuhnya Syams al-KhilXfah dan Ascalon
kembali ke dalam kekuasaan Fatimiyah.t'5 Dalam kasus Ascalon
ini, keinginan agar aktivitas perdagangan tidak terganggu berperan
penting dalam keputusan Syams al-Khilifah untuk bekerja sama
dengan kaum Frank: "Kini Syams al-Khilafah lebih tertarik untuk
berdagang daripada berperang, dan kembali pada hubungan yang
damai dan ramah dan jaminan keamanan bagi para musafir."r56
Demikianlah, pada periode ini kita banyak melihat pem-
bentukan kesepakatan damai antara kaum Frank dan kaum mus-
lim, meski dengan perbedaan aBama. Kenyataan ini bahkan dapat
membuat pertikaian dan serangan militer antara kedua belah pihak
tetap terjadi. Seperti dikatakan oleh Baldwin kepada Ttrghtegin
sesudah Tirghtegin dikalahkan dalam pertempuran di Syakban 502
H./Maret 1108 M.: "Jangan kira saya telah melanggar kesepakatan
gencatan senjata yang telah saya buat dengan Anda sebab ke-
kalahan yang Anda derita ini.Dr57
Di balik aliansi-aliansi oportunis yang dibuat antara kaum
muslim dan kaum Frank, ada dua faktor utama: solidaritas
pan-suriah melawan pihak luar-"Kami tidak menginginkan se-
orang pun dari timur" menjadi teriakan para penguasa setemPat
di Suriah-dan ambisi khusus para penguasa lokal untuk mem-
pertahankan keutuhan kekuasaan mereka. Menurut penulis sejarah
kota itu, Ibn al-Adim, elite politik Aleppo mendukung keberadaan
kaum Frank di Suriah secara terus menerus, sebab itu membantu
mereka untuk mempertahankan status kemerdekaan kota mereka.l5s
Begitu juga Ibn al-Qalinisi, sejarawan lokal dari Damaskus,
menggambarkan Tirghtegin bertindak lebih sebagai penguasa teri-
torial lokal ketimbang pejuang jihad yang bijaksana.r5e
GAMBAMN AKHIR
Sampai di sini, ada baiknya kita menyoroti beberapa tema yang
dibahas di halaman-halaman sebelumnya. Secara keseluruhan,
perpecahan umat Islam berarti dominasi berbagai kepentingan
daerah. Permusuhan di antara umat Islam yang telah ada sebelum
Perang Salib Pertama terus berlanjut sesudahnya' Negara-negara
Tentara Salib masuk ke dalam peta politik Suriah dan Palestina.
Baik Fatimiyah maupun Turki mamPu dan mau memakai
kekuatan pasukan kaum Frank secara kreatif demi kepentingan-
kepentingan mereka sendiri. Kedua pihak ini tampak telah mem-
bantu kelangsungan wilayah Penyangga antara negara Fatimiyah
yang Syiah Ismailiyah dan penguasa Tirrki di Suriah yang Sunni
dan wilayah di sebelah timurnya.r60
Dengan meringkas catatan memilukan kekalahan-kekalahan
umat Islam ini, Ibn al-Atsir tidak ragu-ragu lagi menjelaskan
mengapa pasukan kaum Frank memperoleh keberhasilan yang
begitu gemilang pada Perang Salib Pertama: "Para sultan saling
bertikai, seperti akan kita ceritakan, dan pasukan kaum Frank
merebut wilayah-wilayah tersebul. " r6t p.-ipiran ini dikembangkan
oleh Abir Syimah (w. 665 H.11258 M.) yang, saat mem-
bicarakan tentang pertikaian internal Saljuk pada periode 487-
498 H.l1094-1105 M., menulis:
[Dua] Putra Maliksyah, BarkyAruq dan Muhammad, saling
bertikai dan peperangan di antara mereka berlangsung selama sekirar
dua belas tahun sesudah kematian BarkyAruq dan kesultanan itu
kemudian menjadi milik Muhammad. Pada periode peperangan
ini, kaum Frank tiba di pantai Suriah 6AhiA dan pertama kali
merebut Antiokhia dan selanjutnya wilayah-wilayah lain di negeri
itu.l62
Bab ini menyoroti dampak dan akibat Perang Salib Pertama
secara khusus. Jelas bahwa meskipun berlanjut, Perang Salib
berikutnya tidak menghasilkan penguasaan wilayah secara besar-
besaran ataupun pembentukan negara kaum Frank baru. Di mata
Barat, tidak ada Perang Salib yang gilang-gemilang kecuali Perang
Salib Pertama. Begitu juga, efeknya jauh lebih dirasakan oleh
dunia Islam dibandingkan serangan-serangan lanjutannya. Seiring
berjalannya waktu, suka atau tidak, umat Islam semakin terbiasa
dengan kehadiran para Tentara Salib di tengah-tengah mereka
dan dalam cara tertentu mereka mulai memperkirakan invasi
selanjutnya dari Barat. Rentang tahun 1099 hingga 1109 meru-
pakan periode saat umar Islam di kawasan Mediterania timur
harus belajar untuk menghadapi para penyerbu yang kuat dan
tidak terduga ini. Para penyerbu ini tidak hengkang namun tetap
tinggal, seolah-olah merasa bahwa memang di situlah rumah
tinggal mereka, di wilayah yang sebelumnya dihuni oleh umat
Islam.
Jihad pada Periode
493-569 H.ll 100-tr74 M.
Di antara para pmjurit, ada beberapa
para sahabat Nabi berperang, dengan
buhan untuh memuashan keinginan
(Usimah)
orang lang berperang, seperti cara
harapan ahan masuh Surga dan
atau meln?eroleh hemasyhuran.l
PENDAHULUAN: TUJUAN DAN STRUKIUR BAB
Dalam sebuah buku yang terbit baru-baru ini, yang khusus
membahas tentang perang di Timur Tengah dan ditulis oleh
beberapa pakar, ada yang sangat menarik untuk dicatat bahwa di
dalam buku itu tidak ada bab yang membahas tentang aspek-
aspek ideologis dari perang, yaitu jihad, Perang Suci dalam Islam.2
Selain itu, salah seorang kontributor buku ini , Rustow,
mengulangi pandangan umum warga Barat bahwa "Islam
yaitu agame besar dunia yang paling suka berperang".'
Perang Salib tampaknya menjadi lambang dari istilah "perang-
perang agama". Motif yang menggerakkan pasukan kaum Frank
menuju Thnah Suci tentu saja sangat beragam. Namun, karya'
karya kesarjanaan Barat telah menunjukkan bahwa motif agama
tidak diragukan lagi berperan besar dalam seluruh peristiwa
ini . Selain itu, perangkat-perangkat ProPaganda agama dan
simbol-simbol yang muncul dalam khotbah-khotbah dan per-
janjian-perjanjian kaum Frank tidak diragukan lagi merupakan
perangkat kepercayaan IGisten-terurama Salib, Yerusalem, dan
Perang Suci.
Bab ini dan selanjutnya akan membahas beberapa aspek agama
tentang konflik antara dunia Islam dan kaum Kristen Eropa dari
sudut pandang umat Islam. Pembahasan rersebur akan menitik-
beratkan pada evolusi konsep jihad (Perang Suci) dalam Islam
selama periode Perang Salib dan akan menyoroti peranan propa-
ganda agama-termasuk arsitektur agama (foto 3.1, 3.2, 3.3-5;
bandingkan dengan foto 3.6 dan 31)-.di dalam konflik ini .
DEFINISI JIFTAD: AKAR.AKARNYA DI DAIAM ALQUMN DAN HADIS
Perang agama merupakan konsep yang sangat dalam ditanamkan
dalam kepercayaan Islam. Bahkan, jihad sering kali dianggap
sebagai rukun Islam yang keenam. Jihad merupakan perjuangan
demi agama Islam. \7ahyu itu sendiri, Alquran, memuar banyak
tamsil perjuangan dan pertempuran, dan ini membentuk menjadi
landasan dari teori jihad. Meskipun beberapa surat di dalam
Alquran menyebutkan konsep jihad (berasal dari kata Arab j-h-
d), surat yang paling penting dalam konteks ini yaitu surar ke-
9, yaitu surat al-Tawbah. Secara kebetulan, suat ini yaitu satu-
satunya surat di Alquran yang tidak diawali dengan kalimat
pembuka "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang", kalimat yang menegaskan rahmat Sang Pencipta yang
tiada henti dan tidak terbatas kepada ciptaan-Nya. Secara umum
diyakini kalimat basmalah ini dihilangkan sebab di dalam surat
al-Tawbah itu ada perintah-perintah tegas berkaitan dengan
orang-orang musyrik dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan
terhadap mereka. Ayat 14, misalnya, memerintahkan umat Islam
sebagai berikut: "Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa
mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan
menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta
melegakan hati orang-orang yang beriman." Ayat 36 menyatakan:
"Perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka
memerangi kamu semuanya." Pada ayat 88-89 surat ini juga
menjanjikan Surga bagi mereka yang berjuang (j-h-d) di jalan
Allah:
namun Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia,
mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah
orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula)
orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.4
Sumber utama kedua di dalam Islam, hadis, kumpulan sabda
Nabi Muhammad saw., juga memuat banyak referensi tentang
jihad. Salah satu hadis tentang jihad berbunyi: "Perjalanan satu
pagi atau satu malam di jalan Allah yaitu lebih baik daripada
seluruh dunia dan isinya, dan salah satu dari kalian yang bertahan
di jalan jihad yaitu lebih baik daripada salat selama enam puluh
tahun."5
Hadis juga berulangkali menegaskan bahwa Allah menjanjikan
surga bagi orang-orang yang berjihad: "Pintu gerbang surga berada
di bawah bayang-bayang pedang."6
JIHAD DI PERIODE A\TAL ISTAM
Penaklukan-penaklukan awal yang dilakukan umat Islam di abad
ketujuh tidak diragukan lagi didorong oleh motivasi keagamaan,
terutama di kalangan elite komunitas Islam yang dekat dengan
Rasulullah Muhammad saw. dan mereka yang merasakan ke-
pribadian karismatiknya dan kekuatan wahyu Islam. Memang
motivasi agama berperan penting dalam proses pembentukan
kekaisaran oleh bangsa Arab yang pada awal abad kedelapan telah
membentang dari Spanyol di barat hingga ke wilayah utara India
dan Asia Tengah di timur.
Pada abad kedelapan, upaya-vpaya bangsa fuab untuk merebut
Konstantinopel lewat darat dan laut menemui kegagalan. Ke-
gagalan itu menjadi titik balik yang menentukan. Berikutnya,
gelombang penaklukan besar-besaran di wilayah-wilayah yang
membatasi wilayah Kristen mereda: kekaisaran Bizantium di satu
pihak dan kerajaan-kerajaan Spanyol utara di pihak lainnya. Para
penguasa muslim lebih memilih melakukan konsolidasi daripada
ekspansi. Di perbatasan-perbatasan Bizantium-Islam, umat Kristen
dan Islam terus aktif,, dan mereka membangun atau memperkuat
benteng-benteng pertahanan untuk melindungi wilayah perbatasan.
Kedua kekaisaran itu setiap tahunnya melakukan operasi-operasi
militer, yang digambarkan di dalam sumber-sumber Islam sebagai
jihad. Namun, secara perlahan, operasi-operasi militer ini berubah
menjadi ritual, yang' bermakna penting bagi citra khalifah dan
kaisar, dan bukan lagi dimotivasi oleh hasrat yang kuat untuk
menaklukkan wilayah-wilayah baru demi'keimanan mereka masing-
masing. Perbatasan antara dunia Islam dan Kristen kurang lebih
tetap stabil. Dari abad kedelapan hingga selanjutnya, memPer-
tahankan perbatasan-perbatasan yang telah ada dianggap lebih
penting daripada upaya-upaya untuk ekspansi.
Apalagi, pada abad kesepuluh kemudian muncul rival ideologis
khalifah Abbasiyah di Baghdad, yaitu imam-imam Fatimiyah
penganut Syiah Ismailiyah yang bergerak dari Afrika Utara ke
Mesir. Di sana mereka mendirikan negara Mediterania baru yang
dinamis. Baik Sunni maupun Syiah kemudian terjebak dalam
Surioh.
pertikaian internal untuk meraih supremasi di dunia Islam dan
upaya untuk melanjutkan jihad melawan orang-orang kafir semakin
berkurang.
PENJELASAN TEORI JIHAD ISIAM KIASIK
Hukum Islam dengan pasti dibakukan pada periode hbbasiyah
(dari tahun 750 dan seterusnya) meskipun praktiknya telah terjadi
sejak masa-masa awal kekaisaran muslim. Penting untuk ditegaskan
bahwa teori klasik tentang jihad seluruhnya merupakan fenomena
keislaman. Jihad merupakan tradisi yang tertutup rapat dan
muncul bukan sebab dipengaruhi oleh pandangan umat Kristen
tentang Perang Suci, meskipun kedua agema itu sama-sama meng-
gunakan rangkaian pencitraan tentang berjuang di jalan Tirhan
dan menegaskan aspek pembaharuan spiritual dan perjuangan diri
di jalan Tirhan. Para ulama yang sangat menaruh perhatian pada
masalah keagamaan terdorong untuk menyediakan dan mem-
berikan landasan kerangka kerja ideal untuk membuat negara
Islam bisa berkembang. Melalui buku-buku hukum Islam yang
mereka tulis, teori klasik tentang jihad dikembangkan.
Karya-karya hukum Islam klasik seperti karya al-Syif i (w.
204 H.1820 M.), biasanya memuat sau bab tentang jihad.
Susunannya cukup mudah untuk kita duga. Pertama, keterangan-
keterangan tentang jihad di dalam Alquran dan Hadis dihadirkan
dan ditafsirkan. Seperti yang telah kita lihat, teori tentang jihad
memiliki landasan kuat dalam Alquran dan banyak ayat Alquran
dikutip di dalam buku-buku hukum yang mendukung jihad. Bab
tentang jihad di dalam buku-buku hukum Islam juga menyajikan
hadis dengan sangat lengkap. Dari bukti-bukti yang disediakan
Alquran dan hadis, penjelasan klasik mengenai topik jihad ke-
mudian berlanjut dengan menggambarkan peraturan-peraturan
berikutnya secara lebih detail. Jihad merupakan kewajiban bagi
semua muslim yang mampu, sama seperti kewajiban mereka untuk
salat, melaksanakan ibadah haji, dan menunaikan zakat. Al-Syif i
menulis:
Jihad, dan terutama mengangkat senjata, merupakan kewajiban
bagi semua (orang-orang beriman) yang mampu, tidak terkecuali,
seperti halnya salat, ibadah haji, dan (membayar) zakat, dan tidak
seorang pun boleh meiakukan tugas ini untuk orang lain,
sebab pelaksanaan oleh seseorang tidak akan menutupi kewajiban
orang lain.7
Secara umum, jihad dipandang sebagai kewajiban kolektif,
bukan individu, bagi semua kaum muslim. Kewajiban ini bersifat
terus menerus. Bagi orang-orang yang tinggal di wilayah yang
berbatasan dengan wilayah nonmuslim, jihad merupakan kewajiban
bagi setiap muslim. Para ahli hukum Islam juga menetapkan
peraturan-peraturan tentang bagaimana bergaul dengan kaum
nonmuslim yang tinggal di dalam wilayah negara Islam. Umat
Islam harus melindungi kaum nonmuslim yang ada di wilayah
mereka, asalkan mereka bukan orang musyrik dan mereka meng-
anut salah satu agama yang diizinkan (IGisten dan Yahudi secara
eksplisit disebutkan di dalam konteks ini). Kaum nonmuslim yang
tinggal di wilayah Islam ini sebaliknya harus mengakui status
mereka sebagai bawahan dan membayar pajak (jizyah).
Sistem perlindungan bagi kalangan nonmuslim yang tinggal
di dalam komunitas Islam, "'STilayah Islam" (Dtr al-Iskm), seperti
yang ditetapkan oleh para ahli hukum Islam, didudukkan dengan
sangat bertentangan dalam berhadapan dengan wilayah dunia
lainnya, yang ditetapkan sebagai "'Wilayah Perang" (Ddr al-Harb).
Teori Islam klasik tidak mengakui pemerintahan di luar "'W.ilayah
Islam". Pada suatu titik, semua orang harus menerima Islam saat
diminta, atau tunduk kepada pemerintahan kaum muslim. Se-
mentara, umat Islam wajib untuk terus berjuang di jalan Allah,
atau dengan kata lain mengobarkan jihad. Menurur hukum Islam,
sikap bermusuhan antara "\Wilayah Islam" dan "'Wilayah Perang"
hukumnya wajib, sampai semua manusia telah masuk atau tunduk
kepada Islam. Menurut hukum, perjanjian perdamaian anrara
kaum muslim dan nonmuslim yaitu tidak mungkin. Jihad tidak
boleh dihapuskan. Jihad hanya boleh ditunda lewat perjanjian
yang waktunya tidak boleh lebih dari sepuluh tahun. Pelaksanaan
jihad seluruhnya ada di tangan khalifah (atau perwakilannya).
JIHAD SPIRITUAT ('JIHAD AKBAR")
Perlu ditegaskan di sini bahwa sejak periode awal konsep jihad
sebagai konsep spiritual bagi setiap muslim bermakna sangat
penting. Jihad digolongkan menjadi dua jenis: jihad besar (al-
jihAd al-ahbar) dan jihad kecil (al-jihhd al-ashghar). Jihad besar
yaitu jihad yang wajib dilakukan setiap orang melawan dirinya
sendiri dan, sebenarnya, lebih bernilai dibandingkan dengan perang
militer melawan orang-orang kafir. Hubungan antara jihad besar
dan jihad kecil akan dibahas kemudian di dalam bab ini.
PERUBAHAN DAI.AM TEORI KLASIK JIHAD
Secara umum, karya-karya hukum Islam dari berbagai periode
sejarah Islam mengenai topik jihad sangat seragam. Namun, seiring
berjalannya waktu, teori ini mengalami beberapa perubahan.
Perubahan-perubahan ini menunjukkan adanya pengakuan atas
realitas-realitas politik yang terjadi oleh para ahli hukum Islam.
sesudah abad kesepuluh, saat perpecahan politik dalam khalifah
Abbasiyah tampak sangat jelas dan beberapa dinasti kecil me-
merdekakan diri mereka sendiri, ada tanda-tanda bahw^ cara
pandang yang mengasumsikan adanya perdamaian, dan bukannya
perang, menjadi landasan dalam melihat persoalan ini. Situasi ini
ditunjukkan dalam definisi jihad yang ditemukan di dalam karya-
karya hukum Islam waktu itu. Selain dikotomi kaku antara
"Vilayah Perang' dan "'Wilayah Islam", beberapa ahli menyebut-
kan wilayah yang disebut "'Wilayah Perdamaian" (Dlr al-Shulb)
atau "'Wilayah Perjanjiai' (Dir al-Ahd).8 Maksud dari konsep ini
yaitu bahwa negara-negara nonmuslim boleh mempertahankan
otonomi mereka dan bebas dari serangan asalkan mereka mengakui
pemerintahan kaum muslim dan membayar upeti. Selain itu, orang
yang berasal dari wilayah kafir, "'Wilayah Perang", boleh mengun-
jungi "\Wilayah Islam' asalkan berjanji akan berperilaku baik.
Perangkat hukum ini membuat hubungan-hubungan niaga, misal-
nya antara dunia Islam dan kekaisaran Bizantium Kristen, ber-
kembang pesat.
Perubahan lainnya dalam teori klasik jihad merupakan kon-
sekuensi logis dari perpecahan wilayah kekaisaran Abbasiyah dan
perebutan kekuasaan oleh para panglima militer di tempat-tempat
yang berbeda. Khdifah dan para penguasa lainnya mengabaikan
tugas mereka untuk melaksanakan jihad, namun para panglima
mengambil inisiatif sendiri dan berkumpul bersama di perbatasan-
perbatasan wilayah Islam untuk tinggal di dalam ribith (bangunan
yang berfungsi sebagai benteng dan tempat tinggal pemuka agama)
dan berjihad sendiri. Legitimasi terhadap jenis jihad individu ini,
yang tidak diakui oleh khalifah, mendapat pengakuan secara
umum. Teori hukum, sekalipun dijunjung tinggi oleh tradisi, bisa
ditafsirkan oleh masing-masing ahli, untuk memenuhi kepentingan
situasi historis yang ada. Keputusan-keputusan hukum (fatwa)
mereka berkaitan dengan praktik aktual syariat. Farwa-fanva seperti
itu telah dipelihara sejak periode Ayyubiyah dan Mamluk, ter-
utama fatwa-fatwa ulama Hanbali yang terkenal, yaitu Ibn
Taymiyyah. Sayangnya, sangat sedikit bukti-bukti tentang fatwa-
fawayang dibuat pada periode-periode awal sejarah Islam ini .
Sebagian besar panglima militer Tirrki pada periode Perang
Salib menganut mazhab Hanafi atau Syaf i. Namun, ini tidak
berarti mereka bebas dari pengaruh dua mazhab Sunni lainnya,
yaitu Maliki dan Hanbali. Mazhab Hanbali, secara khusus, sangat
kuat di Damaskus, terutama sejak keluarga Palestina yang terkenal,
Banfr QudAmah, menetap di sana pada awal abad kedua belas
dan bahkan mendirikan cabang baru, yaitu Shalihiyyah. Salah
satu anggota dari kelompok ini, Ibn Qudimah, merupakan pe-
nasihat dekat Saladin. Dalam karyanya tentang hukum, Ibn
Qudimah mungkin menggambarkan suasana hidup yang diliputi
keadaan darurat pada periode Perang Salib saat ia menyebutkan
konsep maslahat ("kepentingan umum"). Konsep ini, menurut
Ibn QudXmah, harus fleksibel dalam berhadapan dengan orang
kafir. Beliau menulis: "Pimpinan negara berhak untuk membuat
kesepakatan gencatan sen;'ata dengan orang-orang kafir bila ia
melihat ada manfaat di dalamnya."e
Penjelasan terperinci mengenai jihad diberikan oleh ulama
'lJtsmani Hanafiyah Ebus Su'ud (w. 1574).to Pandangan-pan-
dangannya menunjukkan bentuk konservatif dari tradisi hukum
Islam dan juga memperlihatkan betapa sedikit perubahan dalam
teori jihad selama berabad-abad. Dengan demikian, hanya ada
sangat sedikit perbedaan antara buku-buku hukum Islam yang
disusun pada abad kesepuluh dengan buku-buku yang disusun
pada abad kesembilan belas. Menurut Ebu's Su'ud, jihad bukanlah
kewajiban bagi setiap muslim, namun dipandang sebagai kewajiban
warga Islam secara keseluruhan. Peperangan harus terus
berlanjut dan harus berlangsung sampai akhir hayat. sebab itu,
Ebut Su'ud berpendapat bahwa perdamaian dengan orang-orang
kafir yaitu mushhil, meskipun seorang Penguase atau panglima
muslim boleh membuat perjanjian damai sementara, bila hal itu
dilakukan demi kepentingan umat Islam. Namun, perdamaian
ini tidak mengikat secara hukum.rrMereka yang tinggal di
dalam Dl.r al-Earb yaitu musuh dan tidak berhak mendapat
perlindungan hukum. Namun, seorang nonmuslim yang bebas
berhak tinggal di dalam Dlr al'Islilrn dan harus mendapat per-
lindungan hukum. Ia bisa menerima Islam atau membayar upeti
(iirtnh) dan selanjutnya mendapat status pembayar tpeti (dzimmfi'
(Selanjutnya, nyawa dan hartanya berhak mendapat perlindungan).
Penguasa juga boleh memberikan izin sementara kepada musuh
ini , dengan memberinya status sebagai warga terlindungi
(mustamin).tz
Mazhab lainnya yang lazim dianut oleh para pemimpin militer
Tirrki dan Kurdi di suriah dan Palestina selama Perang Salib
yaitu Syaf i. Kelompok ini menganggap jihad sebagai kewajiban
bersama. Namun, bila orang-orang kafir mengancam suatu wilayah
muslim, mereka berpendapat bahwa ,iihad menjadi tugas tiap
individu, sehingga semua penduduk yang mampu di kawasan
ini wajib untuk mengangkat senjata.
Pada periode awal Islam, berkembang keyakinan bahwa ada satu
Tuhan di surga dan di dunia hanya ada satu penguasa dan hukum
(yakni khalifah). Keyakinan seperti itu barangkali dipandang benar
sampai cita-cita untuk merebut Konstatinopel telah ditinggalkan
pada awal abad kedelapan. Tidak ada alasan untuk meragukan
keyakinan umar Islam bahwa kemenangan umat Islam di seluruh
dunia akan teriadi. Namun, pada abad ini , saat wilayah-
wilayah perbatasan keamanannya terlindungi dari ancaman dunia
luar dan berhentinya upaya penaklukan oleh kaum muslim, jarak
antara teori hukum dan realitas politik mulai semakin melebar.
Bernard Lewis menyarakan bahwa rerbangun suaru jalinan hu-
bungan yang penuh toleransi antara kaum muslim dan dunia di
luar mereka, dan bahwa pada abad kesembilan dan kesepuluh
wilayah perbatasan menjadi cukup srabil.r4 Ini ditunjukkan oleh
para ahli hukum yang menyatakan bahwa kesepakatan gencaran
senjata dapat kerap kali diperbarui selama dipandang perlu dan,
dalam beberapa karya rentang hukum, sebagaimana telah di-
singgung sebelumnya, disebut dengan istilah "Wilayah Damai".
Meskipun ada suasana yang secara umum cukup damai
antara dunia Islam dan wilayah di sekitarnya, penting untuk
ditekankan bahwa pada periode pertengahan ada sedikit
suasana yang tiba pada tingkatan saat tak ada wujud aksi jihad
pada salah satu wilayah dari beberapa perbatasan "\Wilayah Islam".
Jelasnya, baras-batas individual mengendurkan semangat jihad
hingga titik tertentu, tapi di tempat lainnya selalu ada wilayah
perbatasan lain, yang bersemangat dan milit an, yeng terus mem-
pertahankan konsep jihad. Pada abad kesepuluh dan kesebelas,
misalnya, di perbatasan Islam di wilayah timur di Asia Tengah,
yang berbatasan dengan wilayah kaum pagan Tirrki yang hidup
nomaden, tampak muncul sebuah contoh klasik dari gerakan jihad,
yang menggabungkan aktivitas militer dengan gerakan islamisasi,
sesuatu yang sepertinya paling mendekati pada teori hukum.
Ribuan mil jauhnya, di perbatasan Islam dengan Bizantium, di
utara Suriah dan yang sekarang menjadi wilayah timur Tirrki,
Dinasti Hamdani yang menganur Syiah pada abad kesepuluh
menjadi terkenal sebab semangar jihadnya yang begitu tinggi
dalam menghadapi agresi kaum kafir dari luar. Kiranya akan
cukup berguna untuk mengulas secara lebih detail berbagai aktivitas
militer di dua wilayah perbatasan ini.
PERBATASAN KAUM MUSLIM DENGAN KAUM TURKI NOMADEN
DI ASI,A TENGAH
Pada abad kesepuluh dan kesebelas, operasi militer berkala di-
lancarkan melawan kaum pagan Tirrki. Ini rerutama terjadi di
wilayah yang membatasi padang rumpur Asia Tengah yang dalam
sumber-sumber sejarah disebut dengan istilah ghlzi, pejuang garis
depan yang didorong oleh semangat keagamaan untuk berjihad
di jalan Tirhan. Di wilayah perbatasan ini berkumpul banyak
relawan. Memang, pengakuan para ahli geografi abad pertengahan
bahkan mengandung nada yang dilebihJebihkan, menggambarkan
dengan jelas keterkenalan bangunan yang biasa disebut ribfuh.
Sebuah ribith yaitu sebuah benteng pertahanan di wilayah
perbatasan yang ditempati oleh para pejuang jihad dengan dasar
peraturan-peraturan keagamaan dan militer yang ketat dan dalam
suasana yang selalu siap tempur. Para pejuang jihad inilah yang
melakukan penyerangan secara teratur terhadap kaum Tirrki noma-
den dan mengislamkan banyak anggota suku di sana.
PERBATASAN KAUM MUSLIM DENGAN BIZANTIUM
Cetak biru awal dari aktivitas jihad lainnya, sePerti disebutkan di
atas, berasal dari Dinasti Hamdani yang menganut Syiah pada
abad kesepuluh. Di bawah pimpinan raianya yang terkenal, Sayf
al-Dawlah (memerintah pada periode 333-356 H.1944'967 M.),
dinasti ini termasyhur ke seluruh dunia Islam sebab setiaP tahun
mereka menggelar operasi jihad melawan kaum Kristen Bizantium.
Perlu ditegaskan bahwa operasi itu merupakan reaksi sesudah pihak
Bizantium kembali melakukan ekspansi. Operasi-operasi yang
dilakukan Dinasti Hamdani ini sangat terkenal sehingga ribuan
sukarelawan mujahidin atau ghlzi dari Asia Tengah rela menempuh
jarak yang sangat jauh untuk bergabung dalam Perang-Perang
ini. Di sini, langkah islamisasi tidak perlu dipertanyakan lagi.
Jihad ini digelar sebagai respons atas agresi eksternal yang di-
lakukan pihak Kristen.
Menurut penulis abad kesepuluh, al-Thars0si, seorang hakim
di Ma'arrat al-Nu'm6.n dan Kafartab yang menulis sebuah karya
(kini tidak ada lagi) yang berjudul Siyar al-Tiaghfrr (Sejarah
Vilayah-\Tilayah Perbatasan), pada 290 H.1903 M. di kota trsus
di perbatasan kaum muslim-Bizanrium ada banyak rumah
untuk menampung prajurit-prajurit Islam (ghtz) yang datang dari
seluruh kawasan Islam. Para prajurit ini didukung dengan
dana amal dari para dermawan dan penguasa.r5
Propaganda jihad yang dikembangkan oleh Dinasti Hamdani
menunjukkan dimulainya pendekatan-pendekatan yang jauh lebih
maju. Dari periode Dinasti Hamdani itulah, bila sedikit dipelajari,
muncul pidato-pidato jihad dari Ibn Nubita al-FXriqi (w. 374
H.1984-985 M.) dari Mayyafariqin yang sekarang ini rermasuk
ke dalam wilayah Turki. Pidato-pidato ini dirulis dalam bentuk
prosa bersajak yang penuh dengan detail dan menggetarkan.
Pidato-pidato itu dimaksudkan untuk mendesak ral{Fat Mayyafariqin
dan Aleppo agar berjihad melawan Bizantium. Pidato-pidato itu
menampilkan simetri bait-bait yang sangat seimbang dan peng-
gunaan tradisi lama dengan cerdas dan tradisi pidato bangsa fuab
yang mengagumkan. Prosa itu menerapkan aliterasi, asonansi,
repetisi, dan perangkat sejenis, dengan cara yang mengingatkan
telinga-telinga kaum Barat pada Perjanjian Lama atau prosa karya
Cicero. Di telinga umat Islam sendiri, bahasa yang digunakan
dalam pidato-pidato ini diperkaya dengan gema-gema dan kiasan
Alquran dan akan membuat mereka berlinangan 2i1 621x-dxn
untuk mengambil tindakan tertentu (bandingkan dengan foto
warna 2). Memang, geye pidato Nubita yang tinggi merupakan
bagian dari upaya sungguh-sungguh untuk meningkarkan ke-
imanan. Ia dikenal selalu berpidato baik sebelum maupun sesudah
operasi militer untuk merayakan kemenangan di dalam per-
tempuran. Di dalam pidato-pidato seperti itu, Ibn NubAta memuji
Sayf al-Dawlah yang telah menaklukkan kaum bidah dan menye-
mangati pejuang-pejuang jihad.r6 Dalam pidato lainnya yang
disampaikan pada 352 H.1963 M. kepada sukarelawan jihad yang
berdatangan ke Mayyafariqin dari Khurasan yang jauh, Ibn Nubita
mendorong orang-orang ini untuk membangkitkan diri mereka
sendiri dari tempat-tempat tidur mereka yang nyaman dan agar
berperang seperti singa di jalan jihad.rT Pidato itu mencapai
puncaknya saat Ibn Nubita secara eksplisit menyebutkan ke-
menangan Islam atas lGisten: "Allah dengan kasih sayang telah
menganugerahkan kemenangan-Nya yang segera datang untuk kita
dan Anda sekalian dan Dia telah memberikan kemenangan kepada
para penyembah Tirhan-Yang-Esa atas Pelayan-pelayan Salib."rB
Pidato yang secara khusus membangkitkan yaitu pidato yang
disampaikan pada peristiwa penaklukan Aleppo pada 351 H.1962
M. sesudah memuji Allah dan berbagai pendukungnya, pidato
Ibn Nublta semakin meninggi:
Apakah Anda mengira Dia akan mengabaikan Anda sekalian
sementara Anda membantu-Nya, atau apakah Anda berpikir Dia
akan meninggalkan Anda sekalian sementara Anda tetap setia di
jalan-Nya? Sama sekali tidak! Sungguh, tidak satu Pun kezaliman
dibiarkan oleh-Nya tanpa hukuman dan tidak ada serangan sekecil
apa pun tanpa balasan dari-Nya ... sebab itu kenakan-semoga
Tuhan memberkahi Anda sekalian-pakaian jihad Anda dan leng-
kapi diri Anda dengan senjata dari mereka'mereka yang beriman
[kepada Allah].'e
Tidak mengherankan bila khotbah-khotbah seperti ini menjadi
model dalam pidato Arab. Khotbah-khotbah itu juga yang menjadi
dasar bagi pidato-pidato para pengkhotbah di dalam pasukan
N0ruddin dan Saladin, saat berperang melawan kaum Frank.
Pidato puji-pujian tentang keberanian Sayf al-Dawlah disusun
oleh penyair Arab klasik yang paling dihormati, al-Mutanabbi.
Puisi-puisi ini menjadi media untuk menyatakan kebanggaan
atas keberhasilan jihad. Al-Mutanabbi menghasilkan pidato pujian
terkenal sesudah Sayf al-Dawlah menaklukkan benteng perbatasan,
al-Hadats. Potongan bait-bait puisi ini termasuk bait-bait
berikut:
Anda bukan seorang rala yang mengalahkan orang sederajat, namun
orang beriman lang mengakhhan orang musyrik.
Kami menaruh harapan pada Anda dan perlindungan Anda untuk
Islam,
Mengapa Allah Yang Maha Pemurah tidak menjaganya saat
melalui perantara Anda
Dia membuat orang-orang kafir bercerai-berai?
Epik-epik populer menggemakan semangat jihad dari sastra
tinggi yang ditulis untuk istana Hamdani. Epik yang biasanya
dikenal sebagai Sirat Dzlt al'Himmah itu juga memiliki judul
lain, Sirat al-Mujthidtn (Sejarah Para Mujahid). Epik ini men-
cerminkan konflik antara kaum muslim dan kaum Bizantium
dari periode Umayyah dan sererusnya dan penuh dengan per-
nyataan semangat jihad. Di bagian awal, sang pengarang yang
tak dikenal menyarakan: "Jihad yaitu jalinan kokoh Allah dan
para mujahidin menempati kedudukan yang tinggi di dekat-Nya
di Surga ketujuh."2o
Operasi militer Sayf al-Dawlah dilakukan di wilayah geografis
dunia muslim yang terbatas dan tidak dilanjutkan oleh para
penerusnya. Propaganda jihadnya yang sangat efektif lenyap ber-
sama kematiannya, meskipun, seperti yang akan kita lihar, pe-
lilarannya tidak hilang, pada mereka yang bertanggung jawab
atas pertemuan kaum muslim berhadapan dengan Perang Salib
dua ratus tahun kemudian. Dengan demikian, peleburan ke-
hidupan asketis para ghlzt di fuia Tengah, Spanyol, Anatolia
dengan pertempuran melawan orang-orang kafir menjadi sebuah
paradigma bagi kaum muslim Suriah dan Palestina yang kemudian
diingat dan ditiru dalam perang mereka melawan kaum Frank.
KETI.ADAAN SEMANGAT JIHAD DI SURJAH DAN PALESTINA
Melalui karya yang ditulis pada paruh kedua abad kesepuluh,
ahli geografi Arab Ibn Hawqal, menyesalkan fakta akan padamnya
jihad ini .2r Keprihatinannya semakin mendalam sebab ia
berasal dari Spanyol. Kritik ini kemudian dilontarkan kembali
oleh penulis Arab yang lebih terkenal, al-Muqaddasi, yang, saat
membicarakan tentang provinsi Suriah, mengatakan: "Para pen-
duduk tidak punya antusiasme untuk berjihad dan tidak memiliki
energi untuk memerangi musuh."22
saat para Tentara Salib mendekati Tanah Suci pada 1099,
dunia Islam yang terpecah dan bermusuhan akibat perebutan
kekuasaan, tampaknya, telah menguburkan gagasan jihad jauh-
jauh ke dalam pikirannya. Dengan demikian, para Tentara Saliblah
yang memiliki keunggulan ideologis atas umat Islam.
EVOLUSI FENOMENA JIHAD PADA MASA PEMNG SALIB
Pengetahuan modern tentang perkembangan rema jihad di dunia
Islam pada masa Perang Salib berkembang pesat dengan kehadiran
sebuah buku pionir yang sangat penting pada tahun 1968 dan
ditulis dalam bahasa Prancis karya Emmanuel Sivan: L'Islam. Di
dalam buku itu, Sivan menganalisis evolusi jihad sebagai sebuah
ideologi dan kampanye propaganda, dan juga perannya dalam
respons umat Islam terhadap Perang Salib. Dalam membuat
analisisnya, Sivan memakai referensi yang sangat dekat dengan
berbagai sumber-sumber kesusasteraan berbahasa Arab dari Abad
Pertengahan. Banyak dari argumen Sivan yang masih dipercayai
beberapa kalangan, meskipun banyak ahli dengan pasti ber-
seberangan pendapat dengannya mengenai beberapa hal dan de-
ngan demikian, seperti yang akan kita lihat kemudian, me-
nekankan jurang perbedaan antara propaganda dan realitas politik.
Seperti dikatakan Humphreys tentang jihad: "Konsep jihad yaitu
konsep yang fleksibel yang bisa diterapkan dalam cara-cara yan1
sangat berbeda untuk berbagai tujuan."23
Sivan berpendapat, mobilisasi jihad yang serius sebagai instru-
men dalam perang melawan para Tentara Salib dimulai pada
masa Zengi (w. 539 H.lll44 M.). Argumen ini tidak diragukan
kebenarannya.2a Sekalipun begitu, respons paling awal dari go-
longan-golongan keagamaan di Suriah dan Palestina terhadap
ancaman para Tentara Salib yang datang harus dilihat lebih dekat,
sebab salah bila menganggap bahwa tidak ada campur aduk
perasaan _______________antara kejatuhan Yerusalem pada 482
H./1099 M. dan saat umat Islam merebut kembali Edessa pada
539 H.ll144 M. Mungkin memang benar bila dikatakan bahwa
di tengah-tengah golongan-golongan keagamaan, semangat untuk
melawan kaum Frank dan keinginan untuk mengkampanyekan
jihad selalu muncul meninggi. Masalahnya yaitu mencari jalan
untuk memompa semangat Islam kepada para pimpinan militer
saat itu. Situasi politik di Suriah dan Palestina pada dekade-
dekade awal abad kedua belas tidak mendukung bagi solidaritas
kaum muslim dan persatuan militer secara keseluruhan. Sebaliknya,
periode ini yaitu periode desentralisasi kekuasaan, saat para
panglima Tirrki dan para penguasa kaum Frank sama-sama ber-
usaha membentuk benteng mereka di pusat-pusat kota. Secara
berkala, mereka bersama-sama akan menemui perpecahan ke-
agamaan saat wilayah-wilayah Palestina dan Suriah mendapat
ancaman dari luar. Ideologi agama tidak memiliki peranan dalam
aliansi-aliansi yang bersifat sementara dan pragmatis ini untuk
mempertahankan kepentingan-kepentingan wilayah setempat.
Pada masa Perang Salib Pertama, fokus pertama unruk seruan
jihad yaitu khalifah Sunni di Baghdad, sebab khalifah Baghdad-
lah yang pasti diharapkan terlibat dalam jihad dan memiliki hak
legitimasi untuk mengobarkan semangat jihad melawan kaum
Frank.25 Implikasinya jelas terlihat dengan datangnya berbagai
delegasi menuju ke Baghdad saat Perang Salib Pertama meletus.
Hal ini telah kami sebutkan di bab pertama. Meskipun sultan-
sultan Saljuk membatasi pergerakan khalifah-khalifah, dan lebih
menginginkan mereka hanya menjadi kepala negara dan tidak
terlibat di dalam politik saat itu, para pemuka agama di Suriah
yang melakukan perjalanan ke Baghdad untuk meminta bantuan
-.1"*"r, para Tentara Salib tampaknya yakin bahwa para khalifah
rersebur yaitu penolong urama mereka. 'walaupun ada ha-
rapan-harapan semacam ini, tidak ada upaya-upaya militer inde-
p..rd.., yang digerakkan oleh khalifah-khalifah ini , meski
sumber-sumber itu menegaskan bahwa beberapa khalifah ini ,
seperti al-Mustarsyid dan al-Rasyid, menyerang dengan mengerah-
kan pasukan mereka sendiri.26
Dengan demikian, siapa lagi yang bisa mengobarkan jihad
melawan para Tentara Salib? Yang pasti, dengan interpretasi hukum
Islam yang kaku, para penguasa militer yang memerintah Suriah
pada abad kedua belas tidak Punya kewajiban untuk berjihad'
Mereka semua bukan Penguasa yang sah' Mereka telah merebut
kekuasaan. Sederhananya, mereka bisa melakukan jihad' namun
mereka tidak harus melakukannya.zT Penekanan utama jihad tam-
paknya telah menjadi sebuah uPaya pribadi dan balasan yang
akan diterima seriap orang Islam dari Allah atas jasa perjuangan-
perjuangan mereka yang mulia.28 Kemungkinan, saat sumber-
sumber itu menyebutkan istilah-istilah seperti mutathawwi'ah
("sukarelawan'), istilah itu ditujukan untuk para pejuang yang di
masa-masa sebelumnya sering mengunjungi ribtth-ribtth di wilayah
perbatasan Islam dan yang mengobarkan jihad melawan orang-
o.r.rg kafir dengan biaya mereka sendiri' Pastinya' kehadiran para
,.rkarel"w"n seperti itu disebutkan saat Antiokhia iauh pada 491
H./1098 M. saat itu mereka berperang untuk mendapatkan
"pahala Tuhan dan mencari status syahid"'2e
Kita telah melihat bahwa hanya ada sedikit suara dari daerah
terpencil yang mengekspresikan ketakutan atas direbutnya Yerusalem'
H"rry" sedikit yang mengambil pesan moral dari direbutnya
Yerusalem ini. Yang tidak termasuk dalam kelompok ini yaitu
seorang ulama Suriah bernama al-Sulami' Di Masjid Umayyah di
Dr-"rk,r, pada tahun-tahun awal kejatuhan Yerusalem' al-Sulami
berkhotbah bahwa umat Islam harus bergerak melawan musuh
mereka, yaitu para Tentara Salib' Kekalahan umat Islam' jelas al-
Sulami, merupakan hukuman Allah sebab umat Islam telah
mengabaikan kewajiban-kewajiban agama dan, terutama' mereka
tidak peduli pada jihad.
Yang patut diingat yaitu bahwa karya al_Sulami yang masih
tersisa berjudul Kitnb al-Jihhd (gambar 3.r2), dan memang,
katanya, konsep jihad terletak di hati semua orang. Al-sulami
memprotes keras bahwa kemenangan yang diraih para Tentara
Salib yaitu sebab umar Islam terpecah dalam menanggapi
kedatangan mereka dan mengabaikan kewajiban agama untuk
berjihad. Menurut al-Sulami, mengabaikan jihad, yang sangar
disesalkannya, bukan fenomena yang aneh di zamannya
"ta,,
b,rkan
hanya terjadi di suriah. Fenomena ini telah terjadi sejak para
khalifah mulai mengabaikan kewajiban utama mereka untuk
melakukan operasi militer ke wilayah kaum kafir sedikitnya sekali
dalam serahun. Menurut pandangannya, ditinggarkannya kewajiban
ini telah menimbulkan kemunduran morar dan keagamaan
yang luas di kalangan umat Islam, yang, menurutnya, meng_
akibatkan umat Islam terpecah belah dan mendorong musuh_
musuh Islam untuk menyerang dan merebut wilayah-wilayah
Islam.
Jalan keluar b"g, situasi yang mengerikan ini, menurut al_
Sulami, perrama yaitu dengan memperkuat kembali dimensi
moral untuk mengakhiri proses kemunduran spiritual umat Islam.
serangan-serangan para Tentara salib merupakan hukuman sekali-
gus peringatan Allah kepada umat Islam untuk kembali ke "jalan
yang benar". Menurur al-Sulami, berjihad melawan orang_orang
kafir yaitu kepura-puraan bila tidak didahului dengan jihad yang
lebih besar (al-jihad al-ahbar) atas diri sendiri. Ar-Surami me-
negaskan bahwa jihad yang lebih besar ini harus diselesaikan bila
ingin meraih kemenangan dalam jihad melawan orang-orang kafir.
Al-Sulami menyeru para penguasa muslim untuk memimpin jalan
ini . Dengan demikian, perjuangan spiritual seseorang me-
rupakan persyararan mutlak sebelum berperang melawan para
Tentara Salib.30
Kata-kata al-Sulami ini yang disampaikannya di mimbar
masjid (bandingkan dengan foto 3.8) dan disimpan di dalam
Kitnb al'Jihdd tidak terlihat berpengaruh luas di kalangan umat
Islam, atau tidak juga menggugah perasaan para penguasa dan
panglima muslim pada saat terjadi ekspansi besar-besaran yang
dilancarkan para Tentara Salib di awal abad kedua belas. Konsep
jihad tetap hidup di masa itu di kalangan lingkungan tersebur
yang dihembuskan oleh para ulama. Namun, konsep itu harus
dipertegas dengan aktivitas militer besar-besaran di bawah pe-
mimpin muslim yang hebar: aliansi antara kelas-kelas agama dan
militer harus dibentuk.
Mungkin benar bila ranrangan al-Sulami itu tidak mendapat
perhatian sepenuhnya. sesudah al-Sulami, pendakwah-pendakwah
lainnya terus giat mengumandangkan pesan jihad dari mimbar-
mimbar. Sumber-sumber ini tidak berguna bagi perkem-
bangan sepanjang periode 1100-1130. Namun, meski kelompok-
kelompok agama bereaksi keras, reaksi mereka tidak didukung
dengan keinginan politik araupun militer untuk bertindak bersama-
sama dari pihak para penguasa saar itu. Bahkan, meskipun ka-
langan ulama di masa al-Sulami menyebarkan gagasan dasar
tentang jihad, tidak berarti kata-kata dan tulisan-tulisan mereka
mendapat perhatian dari para pemimpin militer saar iru. Begitu
juga puisi-puisi pendorong semangat jihad yang bermunculan
sesudah pukulan Perang Salib Pertama tidak diiringi dengan ke-
bangkitan dan sikap patuh terhadap seruan-seruan para penyair
ini . Agar propaganda jihad benar-benar menjadi senjata yang
efektif, harus dibentuk aliansi yang kuat dan berarti di antara
kelompok-kelompok agama dan para pemimpin militer. Ini baru
benar-benar terbukti kemudian di abad kedua belas.
Namun, serangkaian operasi militer (seperti, misalnya, operasi
yang digelar oleh Mawd0d dari Mosul sepanjang tahun 503-507
H./1110-1113 M.) yang digelar dari timur Saljuk di bawah
pimpinan para panglima Tirrki ke Suriah pada dua dekade awal
abad kedua belas, ataupun aktivitas-aktivitas pan-Islam ini tidak
layak diberi sebutan jihad. operasi-operasi rersebut merupakan
aliansi-aliansi beragam, sementara, dan disertai dengan maksud
jahat dari para pangeran dan Penguasa militer yang saling ber-
5s161u-bukan pasukan koalisi yang sesungguhnya-dan dengan
demikian, secara keseluruhan, ditakdirkan gagal dan terpecah'
Membebaskan Yerusalem ddak menjadi rugas penting bagi para
penguasa di periode ini.
UPAYA A\TAL MENUJU KEBANGKITAN JIHAD
Seperti sudah disebutkan, sivan yakin bahwa jatuhnya Edessa
pada 53g H.ll144 M. menjadi titik balik perubahan sikap umat
Islam. Namun, gelombang ini kemungkinan mulai terjadi
pada dekade-dekade sebelumnya. Memang, proses kebangkitan
kembali jihad pasti berjalan lambat dan bertahap. Di beberapa
wilayah, kebangkitan itu terjadi sebagai respons langsung kelompok
tertentu terhadap fanatisme para Tentara Salib, yang pertama kali
menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri'
tnda-tanda awal kebangkitan awal umat Islam ini telah
terlihat secara tersembunyi. Pertempuran Balith mungkin bisa
dilihat sebagai titik balik sementara. Model awal bagi Partisipasi
aktif kelompok-kelompok agama dalam PertemPuran melawan
kaum Frank tampaknya ada pada sosok kadi Abu I Fadhl Ibn al-
Khasysyib dari Aleppo. Ibn al-Khasysyab tidak puas hanya duduk
di dalam masjid atau madrasah dan berkhotbah atau mengajarkan
pengetahuan tentang jihad. Ia juga terlibat jauh di Aleppo saat
kot" t.rr.but sedang dalam suasana sangat rentan terhadap se-
rangan-serangan dari luar. Sebenarnya, pada awal abad kedua belas'
p"r, brngrawan Aleppo telah meminta bantuan militer dari
Baghdad untuk melawan kaum Frank, sebelum kemudian putus
,r, d"r, menyerah kepada penguasa kaum Turki dari Mardin' Il-
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa al-sulami secara
pribadi terlibat dalam pertempuran yang sesungguhnya, sekalipun
beliau dikenal luas sebagai seorang pendahvah. Sebaliknya, Ibn
al-Khasysyab (w. 528 H.ltt33-1r34 M.) diketahui berada ber-
sama-sama para prajurit beberapa saat sebelum pertempuran Balith
meletus pada 513 H./1119 M. Beliau menyampaikan khotbah
kepada mereka. Namun, pada tingkat ini, kehadirannya dengan
ielas tidak diterima oleh semua orang. Ibn al-hdim menggambar-
kannya sebagai berikut:
Kadi Abu'l Fadhl Ibn al-KhasysyAb datang, menyemangati
orang-orang untuk berrempur, sambil menunggang kuda betina
dan dengan tombak di tangannya. Salah seorang anggota pasukan
melihatnya dan mengejeknya sambil mengatakan: ,.[Jadi]
kami
datang dari kampung halaman kami hanya untuk mengikuti pria
bersorban ini?" Ia [Ibn al-Khasysyib] maju ke arah orang-orang
iru dan di antara para prajurit ia dengan fasih berpidato untuk
membangkitkan keteguhan hati mereka. Ia membuat para prajurit
bercucuran air mata dan di mata mereka terlihat kesedihan.32
Dengan demikian, kita melihat seorang ahli agama, yang bisa
dikenali dengan jelas dari sorban yang dikenakannya, dengan
memilih menunggang kuda, dan mengangkat tombak dan senjata
retorikanya. Ia jelas-jelas menggugah emosi dan berhasil di hari
itu.
Seperti halnya khotbah jihad yang disampaikan oleh Ibn
Nubita pada periode yang lebih awal di perbatasan Bizanrium,
di sini kita juga melihat conroh, meskipun jarang, tentang ke-
kuatan jihad sebagai penyemangat sebelum perrempuran dan
dampak emosional akibat kehadiran kelompok agama di tengah-
tengah pasukan mereka sendiri. Penulis laporan ini, Ibn al-Adim,
mungkin melihat penempuran ini dengan baik dengan sudut
pandang situasi Suriah pada abad ketiga belas, saat orang-orang
telah lama terbiasa dengan jihad melawan kaum Frank. Namun,
dalam hal ini Ibn al-hdim tidak menulis tentang PertemPuran-
pertempuran lain antara kaum muslim dan para Tentara Salib di
awal abad kedua belas. sebab itu, wajar bila kita yakin bahwa
peristiwa ini tampak tidak biasa untuk saat itu. Ibn al-hdim
tidak memberikan penjelasan secara mendetail. Namun, tentu saja
penting bahwa pertemPuran ini, PertemPuran Ladang Darah,
merupakan kemenangan besar umat Islam di bawah pimpinan
militer futuqid Il-Ghazi. Apdagi, dalam PertemPuran itu pimpinan
Tentara Salib, Roger dari Antiokhia, terbunuh. Dari sumber-
sumber ini , Il-Ghizi muncul sebagai petualang yang ber-
pindah-pindah dan aneh. Ia tak mampu melanjutkan kemenangan
ini sebab ia merayakannya secara berkepanjangan, hingga se-
minggu. Il-Ghizi bukanlah seorang pria yang memiliki daya tahan
dan visi politik. Sebagai seorang Tirrki yang hidup nomaden,
sikapnya terhadap Islam mungkin juga Pragmatis. Sementara ia
juga mungkin digoyang oleh kefasihan pidato Ibn al-KhasysyAb,
ia juga tidak memiliki kepribadian yang dapat menyatukan para
panglima militer kaum muslim untuk berkumpul di bawah ben-
dera jihad. Dengan demikian, kemenangannya di Balith mungkin
hanya dapat terjadi sekali. Namun, Ibn al-Khasysyib telah me-
nunjukkan jalan ini .s3
Aktivis hukum lainnya yaitu pendakwah bermazhab Hanbali,
Abd al-'Wahhib al-SytrAzi, yang dikirimkan ke Baghdad bersama
dengan kelompok-kelompok pedagang pada 523 H.lll29 M'
untuk meminta bantuan, sesudah kaum Frank telah tampak di
luar pintu gerbang Damaskus. Delegasi ini bermaksud meng-
hancurkan mimbar saat orang-orang di Baghdad berjanji akan
memberitahu sultan tentang pengiriman bantuan militer bagi
Suriah untuk melawan para Tentara Salib.3a
Keponakan Il-Ghizi, Balak, juga patut disebutkan dalam
konteks jihad. Ia menjadi Penentang Tentara Salib yang sangat
ditakuti. Ia menuniukkan kekuatan luar biasa dalam PertemPuran-
pertempuran kecil melawan mereka. Ia terbunuh di luar Manbij
pada 518 H.lll24 M. dan dimakamkan di Aleppo' Prasasti di
makamnya menjadi bukti penting dalam setiap pembahasan ten-
tang evolusi konsep jihad di Suriah pada periode awal Perang
Salib. Hal ini kiranya patut sedikit dijelaskan di sini. Dalam
periode tahun 482-541 H./1099-1746 M., di seluruh dunia Islam
mulai dari Spanyol hingga Asia Tengah, tidak ada prasasti yang
menyebutkan renrang jihad yang rersisa kecuali prasasri yang ada
di Suriah. Bahkan, di Spanyol, medan perang lainnya rempar
kaum muslim melawan para Tentara Salib, tidak ada satu pun
prasasti yang tersisa. Hal ini membuat conroh-contoh yang ada
di Suriah menjadi sangar penting. Ini juga menunjukkan bahwa
prasasti-prasasti rersebut memiliki hubungan dengan kedekatan
para Tentara Salib dan invasi-invasi mereka ke wilayah-wilayah
penting umat Islam.35
Pada prasasti pemakamannya, Balak dijuluki sebagai "pedang
para pejuang Perang Suci, pemimpin pasukan muslim, penakluk
orang-orang kafir dan orang musyrik".36 Selanjutnya, di prasasti
ini kita menemukan seluruh rangkaian gelar yang menggetarkan
yang mencerminkan perhatian serius terhadap jihad melawan para
Tentara Salib. Balak dipuji sebagai pemimpin kaum muslim dalam
perang melawan orang-orang kafir. Selain itu, ia juga disebut
"syahid". Juga ada dua kutipan ayar Alquran yang sangar penting
di makam Balak. Yang pertama Surah Alu 'Imrin ayat 169:
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan
Allah itu mati: bahkan mereka itu hidup di sisi Tirhannya dengan
mendapat rezeki." Dan yang kedua, Surah al-Thwbah ayat 21,
yang berbunyi: "Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan
memberikan rahmat dari-Nya, keridaan dan surga, di dalamnya
mereka memperoleh kesenangan yang kekal'"
Kedua ayat Alquran ini menunjukkan bahwa Balak benar-
benar seorang pejuang jihad yang telah syahid di jalan Allah dan
bahwa ia akan masuk surga.37 Seandainya ia masih hidup, Balak
mungkin telah dapat menjadi inspirator umat Islam untuk me-
lawan kaum Frank jauh lebih awal.
Kemenangan Zengi di Edessa pada 539 H'11144 M' men-
jadikannya sebagai satu-satunya tokoh utama yang Pertama ber-
peran dalam kebangkitan umat Islam melawan para Tentara Salib.
Namun, zengi yaitu seorang ksatria dengan ambisi-ambisi yang
aneh, baik dalam arena perrempuran melawan para Tentara Salib
di Suriah dan Palestina maupun juga dalam ajang politik ke-
kuasaan Sal.iuk yang jauh di timur, yaitu di Baghdad dan Mosul'
Namun, yang jelas keberhasilannya dalam menaklukkan Edessa
menjadi titik balik bagi umat Islam. Kemenangannya itu men-
dorong melerusnya Perang Salib Kedua. zengi juga telah digam-
barkan dalam prasasti-prasasti tentang jihad di masa itu, bahkan
sebelum kemenangannya di Edessa. Misalnya, dalam prasasti di
Aleppo yang bertanggal Muharam 537 H./Agustus 1142 M', Zengi
dijuluki sebagai "penakluk orang-orang kafir dan oranS musyrik,
pemimpin para pejuang jihad, penolong para pasukan, dan pe-
lindung wilayah-wilayah muslim".38
Mengapa pembahasan ini menyoroti prasasti-prasasti mo-
numental Islam? Prasasti-prasasti itu bernilai sebab sangat ber-
dekatan waktunya. Prasasti-prasasri ini dibuat di periode awal
kehadiran para Tentara Salib di Timur Dekat dan menunjukkan
bahwa, tidak seperti tempat-tempat lain di dunia Islam saat ini,
monumen-monumen yang berada di wilayah-wilayah yang ber-
dekatan dengan para Tentara Salib itu menyatakan kemuliaan
orang-orang yang berjihad' Ini pasti bukan suatu kebetulan' namun
lebih merupakan awal kebangkitan semangat jihad, setidaknya di
antara beberapa pemimpin Islam di Suriah yang saat itu terpecah
dan bermusuhan. Momen kemunculan sebutan iihad untuk per-
tama kalinya di gedung-gedung umum bersamaan dengan ke-
menangan militer awal umat Islam melawan Para Tentara Salib.
Bukti-bukti dari prasasti-prasasti ini menunjukkan bahwa umat
Islam setidaknya mulai me







