Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 4

 


Beberapa  pasukan untuk memerangi kaum Frank, ia tidak turun

ke lapangan dan mernimpin sendiri pasukan di Suriah, sebagai-

mana yang dilakukan Alp Arslin saat melawan kaisar Bizantium

pada pertempuran Manzikert pade 463 H.ll07l M. Muhammad

tidak berani meninggalkan pusat kekuasaannya di timur tanpa

penjagaan.

Dan, wilayah itulah yang dianggapnya berharga, bukan Suriah.

sebab nya, nasib Yerusalem dan pelabuhan-pelabuhan Suriah

terisolasi di Isfahan yang jauh. Realitas geopolitis ini sering kali

dilewatkan dalam tulisan-tulisan tentang Perang Salib Pertama

dan laporan yang ditulis segera sesudah peristiwa ini . Seperti

yang akan kita lihat pada bab tujuh, karakter pasukan Saljuk

yang berbeda-beda-yang terdiri dari pasukan profesional, utusan

dari provinsi di bawah para panglima setempat, dan kelompok-

kelompok kaurn Tirrki nomaden yang diatur menurut kelompok

5uku-rngrnbutuhkan model kepemimpinan militer yang kuat,

yang ditunjukkan dalam figur sang sultan. Sebaliknva-dan ini

menunjukkan kejadian yang sebenarnya di kawasan ini , dalam

periode penting konsolidasi Tentara Salib-relah terjadi Per-

musuhan, perpecahan, dan kekalahan di pihak umat Islam.

RESPONS PENGUASA LOKAL SURIAII TERHADAP KEHADIMN

KAUM FMNK

Selanjutnya, kalaupun ada perlawanan terhadap kaum Frank,

perlarvenan itu dilakukan oleh mereka yang tinggal berdekatan

dengan kaum Frank. Penguasa Turki futuqid di Mardin, ll-Ghizi,

yang berkuasa di Aleppo dalam waktu singkat, dalarn hal ini

dapat ditunjuk sebagai contoh. Ia mendapatkan kemenangan

gernilang pada 513 H.l1119 M. atas Roger dari Antiokhia dalam

pertempuran yang kenrudian dikenal sebagai pertempuran Balith

atau Ladang Darah. Roger telas.r5r Ini merrrpakan kemenangan

besar pertama yang diraih umat lsl'"rm atas kaum Fratrk dan,

yang terutama, kemenangan itu diraih tanpa bantuan pasukan

luar dari timur. Namun, kemenangan itu hanya sekali, dan Il-

106 \ Carole Hillenbrarrd

GhXzi tidak melanjutkan dengan melancarkan serangan ke Anti-

okhia. Ibn al-Q-alinisi, secara tidak biasa, memberi tanggapan

yang penjelasannya sungguh fasih mengenai peristiwa kemenangan

ini:

Pasukan-pasukan kaum Frank bergeletakan, sekumpulan massa

tak berdaya, termasuk prajurit berkuda dan pejalan kaki, dengan

kuda-kuda dan senjata-senjata mereka, sehingga tidak seorang Pun

dari mereka dapat meloloskan diri untuk mengabarkan hal itu.

Pemimpin mereka, Roger, ditemukan tergeletak di antara mayat-

mayat. Banyak saksi mata PertemPuran ini ... melihat banyak kuda

yang bergelimpangan di tempat itu seperti landak sebab  begitu

banyaknya anak panah yang menancap di tubuh kuda-kuda itu.

Kemenangan ini merupakan salah satu kemenangan luar biasa'

dan limpahan pertolongan Tuhan seperti itu tidak pernah diberikan

pada Islam di masa lalu.'52

sesudah  Perang Salib Pertama dan di tahun-tahun berikutnya,

kekuasaan para penguasa muslim di Suriah dan Palestina secara

perlahan terus memudar dan wilayah-wilayah mereka terlebih

dahulu dirampas dan selanjutnya dikuasai oleh kaum Frank'

Bukannya bersatu memerangi musuh bersama, umat Islam malah

membuat perjanjian unilateral dengan kaum Frank dan membayar

upeti kepada mereka. Tidak adanya pemimpin yang kuat, sePerti

yang dimiliki oleh sultan Saljuk di timur, dan pertikaian dalam

masalah perbedaan mazhab agama dari pemerintahan Fatimiyah

Syiah di Mesir, para Penguasa muslim Suriah dan Palestina dapat

dan memang telah membentuk aliansi sementara di antara sesama

mereka untuk melawan kaum Frank' Namun, aliansi ini sangat

rapuh dan mudah hancur hanya dengan sedikit provokasi'

Para penguasa setempat di Suriah, dengan kekuasaan yang

terpusat di satu kota seperti Aleppo dan Damaskus, sedikit pun

tidak memiliki niat untuk mengorbankan kepentingan politik

mereka sendiri demi membangun solidaritas Islam yang masih

berkabut. Sungguh aneh, mereka tidak bersatu padu melawan

musuh bersama mereka. Tepat pada periode pertama kehadiran

para Tentara Salib inilah, aliansi-aliansi politik dan militer sePerti

yang disebutkan di atas sering kali dibentuk anrara umat Islam

dan kaum Frank. Dalam hal ini, kepentingan untuk kelompok-

kelompok kecil mereka tampak mengemuka


Dua peristiwa menggambarkan hal ini dengan sangat jelas.

Aleppo dengan dipimpin Ridhwin dan Antiokhia di bawah

kendali Thncred membentuk aliansi unruk melawan apa yang

mereka anggap sebagai gangguan militer dalam hubungan mereka,

yang datang dari penguasa Mosul, Jawali Saqao, musuh politik

utama Ridhwin. sebab  itu, Ridhwin menulis surat kepada

tncred dengan mengatakan bahwa mereka berdua berhak untuk

bergabung melawan Jawali untuk mengusirnya dari wilayah-wilayah

mereka.r5a Aliansi-aliansi seperti ini, tentu saja, merupakan aliansi

oportunistik dan berumur pendek. sesudah  kematian Thncred pada

506 H.llll2 M., Ridhwin membentuk aliansi sendiri dengan

Tirghtegin dari Damaskus. Kesiapan untuk terlibat dalam politik

pragmatis agar tetap dapat bertahan dan hidup berdampingan

menjadi ciri dari periode ini.

Aliansi yang sama dilakukan antara Kerajaan Salib Yerusalem

dan Gubernur Fatimiyah di Ascalon. Menurut Ibn al-Q4lAnisi,

sang Gubernur, Syams al-Khilifah, menyepakati gencatan senjata

dengan Baldwin. Al-Afdhal, wazir Fatimiyah dari Mesir, sangar

tidak senang dengan aliansi ini  dan mengirimkan pasukan

ke fucalon pada tahun 504 H.lllll M. untuk menggulingkan

gubernurnya. Syams al-Khilifah menghubungi Baldwin, yang

setuju untuk mengirimkan bantuan pasukan dan peralatan militer.

Pasukan Fatimiyah diusir dari Ascalon, sebab  Syams al-Khilifah

mencurigai mereka berada di pihak Fatimiyah. Peristiwa ini 

berakhir dengan terbunuhnya Syams al-KhilXfah dan Ascalon

kembali ke dalam kekuasaan Fatimiyah.t'5 Dalam kasus Ascalon

ini, keinginan agar aktivitas perdagangan tidak terganggu berperan

penting dalam keputusan Syams al-Khilifah untuk bekerja sama

dengan kaum Frank: "Kini Syams al-Khilafah lebih tertarik untuk

berdagang daripada berperang, dan kembali pada hubungan yang

damai dan ramah dan jaminan keamanan bagi para musafir."r56

Demikianlah, pada periode ini kita banyak melihat pem-

bentukan kesepakatan damai antara kaum Frank dan kaum mus-

lim, meski dengan perbedaan aBama. Kenyataan ini bahkan dapat

membuat pertikaian dan serangan militer antara kedua belah pihak

tetap terjadi. Seperti dikatakan oleh Baldwin kepada Ttrghtegin

sesudah  Tirghtegin dikalahkan dalam pertempuran di Syakban 502

H./Maret 1108 M.: "Jangan kira saya telah melanggar kesepakatan

gencatan senjata yang telah saya buat dengan Anda sebab  ke-

kalahan yang Anda derita ini.Dr57

Di balik aliansi-aliansi oportunis yang dibuat antara kaum

muslim dan kaum Frank, ada  dua faktor utama: solidaritas

pan-suriah melawan pihak luar-"Kami tidak menginginkan se-

orang pun dari timur" menjadi teriakan para penguasa setemPat

di Suriah-dan ambisi khusus para penguasa lokal untuk mem-

pertahankan keutuhan kekuasaan mereka. Menurut penulis sejarah

kota itu, Ibn al-Adim, elite politik Aleppo mendukung keberadaan

kaum Frank di Suriah secara terus menerus, sebab  itu membantu

mereka untuk mempertahankan status kemerdekaan kota mereka.l5s

Begitu juga Ibn al-Qalinisi, sejarawan lokal dari Damaskus,

menggambarkan Tirghtegin bertindak lebih sebagai penguasa teri-

torial lokal ketimbang pejuang jihad yang bijaksana.r5e

GAMBAMN AKHIR

Sampai di sini, ada baiknya kita menyoroti beberapa tema yang

dibahas di halaman-halaman sebelumnya. Secara keseluruhan,

perpecahan umat Islam berarti dominasi berbagai kepentingan

daerah. Permusuhan di antara umat Islam yang telah ada sebelum

Perang Salib Pertama terus berlanjut sesudahnya' Negara-negara

Tentara Salib masuk ke dalam peta politik Suriah dan Palestina.

Baik Fatimiyah maupun Turki mamPu dan mau memakai 

kekuatan pasukan kaum Frank secara kreatif demi kepentingan-

kepentingan mereka sendiri. Kedua pihak ini tampak telah mem-

bantu kelangsungan wilayah Penyangga antara negara Fatimiyah

yang Syiah Ismailiyah dan penguasa Tirrki di Suriah yang Sunni

dan wilayah di sebelah timurnya.r60

Dengan meringkas catatan memilukan kekalahan-kekalahan

umat Islam ini, Ibn al-Atsir tidak ragu-ragu lagi menjelaskan

mengapa pasukan kaum Frank memperoleh keberhasilan yang

begitu gemilang pada Perang Salib Pertama: "Para sultan saling

bertikai, seperti akan kita ceritakan, dan pasukan kaum Frank

merebut wilayah-wilayah tersebul. " r6t p.-ipiran ini dikembangkan

oleh Abir Syimah (w. 665 H.11258 M.) yang, saat  mem-

bicarakan tentang pertikaian internal Saljuk pada periode 487-

498 H.l1094-1105 M., menulis:

[Dua] Putra Maliksyah, BarkyAruq dan Muhammad, saling

bertikai dan peperangan di antara mereka berlangsung selama sekirar

dua belas tahun sesudah  kematian BarkyAruq dan kesultanan itu

kemudian menjadi milik Muhammad. Pada periode peperangan

ini, kaum Frank tiba di pantai Suriah 6AhiA dan pertama kali

merebut Antiokhia dan selanjutnya wilayah-wilayah lain di negeri

itu.l62

Bab ini menyoroti dampak dan akibat Perang Salib Pertama

secara khusus. Jelas bahwa meskipun berlanjut, Perang Salib

berikutnya tidak menghasilkan penguasaan wilayah secara besar-

besaran ataupun pembentukan negara kaum Frank baru. Di mata

Barat, tidak ada Perang Salib yang gilang-gemilang kecuali Perang

Salib Pertama. Begitu juga, efeknya jauh lebih dirasakan oleh

dunia Islam dibandingkan serangan-serangan lanjutannya. Seiring

berjalannya waktu, suka atau tidak, umat Islam semakin terbiasa

dengan kehadiran para Tentara Salib di tengah-tengah mereka

dan dalam cara tertentu mereka mulai memperkirakan invasi

selanjutnya dari Barat. Rentang tahun 1099 hingga 1109 meru-

pakan periode saat  umar Islam di kawasan Mediterania timur

harus belajar untuk menghadapi para penyerbu yang kuat dan

tidak terduga ini. Para penyerbu ini tidak hengkang namun  tetap

tinggal, seolah-olah merasa bahwa memang di situlah rumah

tinggal mereka, di wilayah yang sebelumnya dihuni oleh umat

Islam.


Jihad pada Periode

493-569 H.ll 100-tr74 M.

Di antara para pmjurit, ada beberapa 

para sahabat Nabi berperang, dengan

buhan untuh memuashan keinginan

(Usimah)

orang lang berperang, seperti cara

harapan ahan masuh Surga dan

atau meln?eroleh hemasyhuran.l

PENDAHULUAN: TUJUAN DAN STRUKIUR BAB

Dalam sebuah buku yang terbit baru-baru ini, yang khusus

membahas tentang perang di Timur Tengah dan ditulis oleh

beberapa  pakar, ada yang sangat menarik untuk dicatat bahwa di

dalam buku itu tidak ada bab yang membahas tentang aspek-

aspek ideologis dari perang, yaitu jihad, Perang Suci dalam Islam.2

Selain itu, salah seorang kontributor buku ini , Rustow,

mengulangi pandangan umum warga  Barat bahwa "Islam

yaitu  agame besar dunia yang paling suka berperang".'

Perang Salib tampaknya menjadi lambang dari istilah "perang-

perang agama". Motif yang menggerakkan pasukan kaum Frank

menuju Thnah Suci tentu saja sangat beragam. Namun, karya'

karya kesarjanaan Barat telah menunjukkan bahwa motif agama

tidak diragukan lagi berperan besar dalam seluruh peristiwa

ini . Selain itu, perangkat-perangkat ProPaganda agama dan

simbol-simbol yang muncul dalam khotbah-khotbah dan per-

janjian-perjanjian kaum Frank tidak diragukan lagi merupakan


perangkat kepercayaan IGisten-terurama Salib, Yerusalem, dan

Perang Suci.

Bab ini dan selanjutnya akan membahas beberapa aspek agama

tentang konflik antara dunia Islam dan kaum Kristen Eropa dari

sudut pandang umat Islam. Pembahasan rersebur akan menitik-

beratkan pada evolusi konsep jihad (Perang Suci) dalam Islam

selama periode Perang Salib dan akan menyoroti peranan propa-

ganda agama-termasuk arsitektur agama (foto 3.1, 3.2, 3.3-5;

bandingkan dengan foto 3.6 dan 31)-.di dalam konflik ini .

DEFINISI JIFTAD: AKAR.AKARNYA DI DAIAM ALQUMN DAN HADIS

Perang agama merupakan konsep yang sangat dalam ditanamkan

dalam kepercayaan Islam. Bahkan, jihad sering kali dianggap

sebagai rukun Islam yang keenam. Jihad merupakan perjuangan

demi agama Islam. \7ahyu itu sendiri, Alquran, memuar banyak

tamsil perjuangan dan pertempuran, dan ini membentuk menjadi

landasan dari teori jihad. Meskipun beberapa  surat di dalam

Alquran menyebutkan konsep jihad (berasal dari kata Arab j-h-

d), surat yang paling penting dalam konteks ini yaitu  surar ke-


9, yaitu surat al-Tawbah. Secara kebetulan, suat ini yaitu  satu-

satunya surat di Alquran yang tidak diawali dengan kalimat

pembuka "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang", kalimat yang menegaskan rahmat Sang Pencipta yang

tiada henti dan tidak terbatas kepada ciptaan-Nya. Secara umum

diyakini kalimat basmalah ini dihilangkan sebab  di dalam surat

al-Tawbah itu ada  perintah-perintah tegas berkaitan dengan

orang-orang musyrik dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan

terhadap mereka. Ayat 14, misalnya, memerintahkan umat Islam


sebagai berikut: "Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa

mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan

menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta

melegakan hati orang-orang yang beriman." Ayat 36 menyatakan:

"Perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka

memerangi kamu semuanya." Pada ayat 88-89 surat ini juga

menjanjikan Surga bagi mereka yang berjuang (j-h-d) di jalan

Allah:

namun  Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia,

mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah

orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula)

orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka

surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di

dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.4

Sumber utama kedua di dalam Islam, hadis, kumpulan sabda

Nabi Muhammad saw., juga memuat banyak referensi tentang

jihad. Salah satu hadis tentang jihad berbunyi: "Perjalanan satu

pagi atau satu malam di jalan Allah yaitu  lebih baik daripada

seluruh dunia dan isinya, dan salah satu dari kalian yang bertahan

di jalan jihad yaitu  lebih baik daripada salat selama enam puluh

tahun."5

Hadis juga berulangkali menegaskan bahwa Allah menjanjikan

surga bagi orang-orang yang berjihad: "Pintu gerbang surga berada

di bawah bayang-bayang pedang."6

JIHAD DI PERIODE A\TAL ISTAM

Penaklukan-penaklukan awal yang dilakukan umat Islam di abad

ketujuh tidak diragukan lagi didorong oleh motivasi keagamaan,

terutama di kalangan elite komunitas Islam yang dekat dengan

Rasulullah Muhammad saw. dan mereka yang merasakan ke-

pribadian karismatiknya dan kekuatan wahyu Islam. Memang

motivasi agama berperan penting dalam proses pembentukan

kekaisaran oleh bangsa Arab yang pada awal abad kedelapan telah

membentang dari Spanyol di barat hingga ke wilayah utara India

dan Asia Tengah di timur.

Pada abad kedelapan, upaya-vpaya bangsa fuab untuk merebut

Konstantinopel lewat darat dan laut menemui kegagalan. Ke-

gagalan itu menjadi titik balik yang menentukan. Berikutnya,


gelombang penaklukan besar-besaran di wilayah-wilayah yang

membatasi wilayah Kristen mereda: kekaisaran Bizantium di satu

pihak dan kerajaan-kerajaan Spanyol utara di pihak lainnya. Para

penguasa muslim lebih memilih melakukan konsolidasi daripada

ekspansi. Di perbatasan-perbatasan Bizantium-Islam, umat Kristen

dan Islam terus aktif,, dan mereka membangun atau memperkuat

benteng-benteng pertahanan untuk melindungi wilayah perbatasan.

Kedua kekaisaran itu setiap tahunnya melakukan operasi-operasi

militer, yang digambarkan di dalam sumber-sumber Islam sebagai

jihad. Namun, secara perlahan, operasi-operasi militer ini berubah

menjadi ritual, yang' bermakna penting bagi citra khalifah dan

kaisar, dan bukan lagi dimotivasi oleh hasrat yang kuat untuk

menaklukkan wilayah-wilayah baru demi'keimanan mereka masing-

masing. Perbatasan antara dunia Islam dan Kristen kurang lebih

tetap stabil. Dari abad kedelapan hingga selanjutnya, memPer-

tahankan perbatasan-perbatasan yang telah ada dianggap lebih

penting daripada upaya-upaya untuk ekspansi.

Apalagi, pada abad kesepuluh kemudian muncul rival ideologis

khalifah Abbasiyah di Baghdad, yaitu imam-imam Fatimiyah

penganut Syiah Ismailiyah yang bergerak dari Afrika Utara ke

Mesir. Di sana mereka mendirikan negara Mediterania baru yang

dinamis. Baik Sunni maupun Syiah kemudian terjebak dalam

Surioh.

pertikaian internal untuk meraih supremasi di dunia Islam dan

upaya untuk melanjutkan jihad melawan orang-orang kafir semakin

berkurang.

PENJELASAN TEORI JIHAD ISIAM KIASIK

Hukum Islam dengan pasti dibakukan pada periode hbbasiyah

(dari tahun 750 dan seterusnya) meskipun praktiknya telah terjadi

sejak masa-masa awal kekaisaran muslim. Penting untuk ditegaskan

bahwa teori klasik tentang jihad seluruhnya merupakan fenomena

keislaman. Jihad merupakan tradisi yang tertutup rapat dan

muncul bukan sebab  dipengaruhi oleh pandangan umat Kristen

tentang Perang Suci, meskipun kedua agema itu sama-sama meng-

gunakan rangkaian pencitraan tentang berjuang di jalan Tirhan

dan menegaskan aspek pembaharuan spiritual dan perjuangan diri

di jalan Tirhan. Para ulama yang sangat menaruh perhatian pada

masalah keagamaan terdorong untuk menyediakan dan mem-

berikan landasan kerangka kerja ideal untuk membuat negara

Islam bisa berkembang. Melalui buku-buku hukum Islam yang

mereka tulis, teori klasik tentang jihad dikembangkan.

Karya-karya hukum Islam klasik seperti karya al-Syif i (w.

204 H.1820 M.), biasanya memuat sau bab tentang jihad.

Susunannya cukup mudah untuk kita duga. Pertama, keterangan-

keterangan tentang jihad di dalam Alquran dan Hadis dihadirkan

dan ditafsirkan. Seperti yang telah kita lihat, teori tentang jihad

memiliki landasan kuat dalam Alquran dan banyak ayat Alquran

dikutip di dalam buku-buku hukum yang mendukung jihad. Bab

tentang jihad di dalam buku-buku hukum Islam juga menyajikan

hadis dengan sangat lengkap. Dari bukti-bukti yang disediakan

Alquran dan hadis, penjelasan klasik mengenai topik jihad ke-

mudian berlanjut dengan menggambarkan peraturan-peraturan

berikutnya secara lebih detail. Jihad merupakan kewajiban bagi

semua muslim yang mampu, sama seperti kewajiban mereka untuk

salat, melaksanakan ibadah haji, dan menunaikan zakat. Al-Syif i

menulis:

Jihad, dan terutama mengangkat senjata, merupakan kewajiban

bagi semua (orang-orang beriman) yang mampu, tidak terkecuali,

seperti halnya salat, ibadah haji, dan (membayar) zakat, dan tidak


seorang pun boleh meiakukan tugas ini  untuk orang lain,

sebab  pelaksanaan oleh seseorang tidak akan menutupi kewajiban

orang lain.7

Secara umum, jihad dipandang sebagai kewajiban kolektif,

bukan individu, bagi semua kaum muslim. Kewajiban ini bersifat

terus menerus. Bagi orang-orang yang tinggal di wilayah yang

berbatasan dengan wilayah nonmuslim, jihad merupakan kewajiban

bagi setiap muslim. Para ahli hukum Islam juga menetapkan

peraturan-peraturan tentang bagaimana bergaul dengan kaum

nonmuslim yang tinggal di dalam wilayah negara Islam. Umat

Islam harus melindungi kaum nonmuslim yang ada di wilayah

mereka, asalkan mereka bukan orang musyrik dan mereka meng-

anut salah satu agama yang diizinkan (IGisten dan Yahudi secara

eksplisit disebutkan di dalam konteks ini). Kaum nonmuslim yang

tinggal di wilayah Islam ini sebaliknya harus mengakui status

mereka sebagai bawahan dan membayar pajak (jizyah).

Sistem perlindungan bagi kalangan nonmuslim yang tinggal

di dalam komunitas Islam, "'STilayah Islam" (Dtr al-Iskm), seperti

yang ditetapkan oleh para ahli hukum Islam, didudukkan dengan

sangat bertentangan dalam berhadapan dengan wilayah dunia

lainnya, yang ditetapkan sebagai "'Wilayah Perang" (Ddr al-Harb).

Teori Islam klasik tidak mengakui pemerintahan di luar "'W.ilayah

Islam". Pada suatu titik, semua orang harus menerima Islam saat 

diminta, atau tunduk kepada pemerintahan kaum muslim. Se-

mentara, umat Islam wajib untuk terus berjuang di jalan Allah,

atau dengan kata lain mengobarkan jihad. Menurur hukum Islam,

sikap bermusuhan antara "\Wilayah Islam" dan "'Wilayah Perang"

hukumnya wajib, sampai semua manusia telah masuk atau tunduk

kepada Islam. Menurut hukum, perjanjian perdamaian anrara

kaum muslim dan nonmuslim yaitu  tidak mungkin. Jihad tidak

boleh dihapuskan. Jihad hanya boleh ditunda lewat perjanjian

yang waktunya tidak boleh lebih dari sepuluh tahun. Pelaksanaan

jihad seluruhnya ada di tangan khalifah (atau perwakilannya).

JIHAD SPIRITUAT ('JIHAD AKBAR")

Perlu ditegaskan di sini bahwa sejak periode awal konsep jihad

sebagai konsep spiritual bagi setiap muslim bermakna sangat

penting. Jihad digolongkan menjadi dua jenis: jihad besar (al-

jihAd al-ahbar) dan jihad kecil (al-jihhd al-ashghar). Jihad besar

yaitu  jihad yang wajib dilakukan setiap orang melawan dirinya

sendiri dan, sebenarnya, lebih bernilai dibandingkan dengan perang

militer melawan orang-orang kafir. Hubungan antara jihad besar

dan jihad kecil akan dibahas kemudian di dalam bab ini.


PERUBAHAN DAI.AM TEORI KLASIK JIHAD

Secara umum, karya-karya hukum Islam dari berbagai periode

sejarah Islam mengenai topik jihad sangat seragam. Namun, seiring

berjalannya waktu, teori ini  mengalami beberapa  perubahan.

Perubahan-perubahan ini menunjukkan adanya pengakuan atas

realitas-realitas politik yang terjadi oleh para ahli hukum Islam.

sesudah  abad kesepuluh, saat  perpecahan politik dalam khalifah

Abbasiyah tampak sangat jelas dan beberapa  dinasti kecil me-

merdekakan diri mereka sendiri, ada tanda-tanda bahw^ cara

pandang yang mengasumsikan adanya perdamaian, dan bukannya

perang, menjadi landasan dalam melihat persoalan ini. Situasi ini

ditunjukkan dalam definisi jihad yang ditemukan di dalam karya-

karya hukum Islam waktu itu. Selain dikotomi kaku antara

"Vilayah Perang' dan "'Wilayah Islam", beberapa  ahli menyebut-

kan wilayah yang disebut "'Wilayah Perdamaian" (Dlr al-Shulb)

atau "'Wilayah Perjanjiai' (Dir al-Ahd).8 Maksud dari konsep ini

yaitu  bahwa negara-negara nonmuslim boleh mempertahankan

otonomi mereka dan bebas dari serangan asalkan mereka mengakui

pemerintahan kaum muslim dan membayar upeti. Selain itu, orang

yang berasal dari wilayah kafir, "'Wilayah Perang", boleh mengun-

jungi "\Wilayah Islam' asalkan berjanji akan berperilaku baik.

Perangkat hukum ini membuat hubungan-hubungan niaga, misal-

nya antara dunia Islam dan kekaisaran Bizantium Kristen, ber-

kembang pesat.



Perubahan lainnya dalam teori klasik jihad merupakan kon-

sekuensi logis dari perpecahan wilayah kekaisaran Abbasiyah dan

perebutan kekuasaan oleh para panglima militer di tempat-tempat

yang berbeda. Khdifah dan para penguasa lainnya mengabaikan

tugas mereka untuk melaksanakan jihad, namun para panglima

mengambil inisiatif sendiri dan berkumpul bersama di perbatasan-

perbatasan wilayah Islam untuk tinggal di dalam ribith (bangunan

yang berfungsi sebagai benteng dan tempat tinggal pemuka agama)

dan berjihad sendiri. Legitimasi terhadap jenis jihad individu ini,

yang tidak diakui oleh khalifah, mendapat pengakuan secara

umum. Teori hukum, sekalipun dijunjung tinggi oleh tradisi, bisa

ditafsirkan oleh masing-masing ahli, untuk memenuhi kepentingan

situasi historis yang ada. Keputusan-keputusan hukum (fatwa)

mereka berkaitan dengan praktik aktual syariat. Farwa-fanva seperti

itu telah dipelihara sejak periode Ayyubiyah dan Mamluk, ter-

utama fatwa-fatwa ulama Hanbali yang terkenal, yaitu Ibn

Taymiyyah. Sayangnya, sangat sedikit bukti-bukti tentang fatwa-

fawayang dibuat pada periode-periode awal sejarah Islam ini .

Sebagian besar panglima militer Tirrki pada periode Perang

Salib menganut mazhab Hanafi atau Syaf i. Namun, ini tidak

berarti mereka bebas dari pengaruh dua mazhab Sunni lainnya,

yaitu Maliki dan Hanbali. Mazhab Hanbali, secara khusus, sangat

kuat di Damaskus, terutama sejak keluarga Palestina yang terkenal,

Banfr QudAmah, menetap di sana pada awal abad kedua belas

dan bahkan mendirikan cabang baru, yaitu Shalihiyyah. Salah

satu anggota dari kelompok ini, Ibn Qudimah, merupakan pe-

nasihat dekat Saladin. Dalam karyanya tentang hukum, Ibn

Qudimah mungkin menggambarkan suasana hidup yang diliputi

keadaan darurat pada periode Perang Salib saat  ia menyebutkan

konsep maslahat ("kepentingan umum"). Konsep ini, menurut

Ibn QudXmah, harus fleksibel dalam berhadapan dengan orang

kafir. Beliau menulis: "Pimpinan negara berhak untuk membuat

kesepakatan gencatan sen;'ata dengan orang-orang kafir bila ia

melihat ada manfaat di dalamnya."e

Penjelasan terperinci mengenai jihad diberikan oleh ulama

'lJtsmani Hanafiyah Ebus Su'ud (w. 1574).to Pandangan-pan-

dangannya menunjukkan bentuk konservatif dari tradisi hukum

Islam dan juga memperlihatkan betapa sedikit perubahan dalam


teori jihad selama berabad-abad. Dengan demikian, hanya ada

sangat sedikit perbedaan antara buku-buku hukum Islam yang

disusun pada abad kesepuluh dengan buku-buku yang disusun

pada abad kesembilan belas. Menurut Ebu's Su'ud, jihad bukanlah

kewajiban bagi setiap muslim, namun  dipandang sebagai kewajiban

warga  Islam secara keseluruhan. Peperangan harus terus

berlanjut dan harus berlangsung sampai akhir hayat. sebab  itu,

Ebut Su'ud berpendapat bahwa perdamaian dengan orang-orang

kafir yaitu  mushhil, meskipun seorang Penguase atau panglima

muslim boleh membuat perjanjian damai sementara, bila hal itu

dilakukan demi kepentingan umat Islam. Namun, perdamaian

ini  tidak mengikat secara hukum.rrMereka yang tinggal di

dalam Dl.r al-Earb yaitu  musuh dan tidak berhak mendapat

perlindungan hukum. Namun, seorang nonmuslim yang bebas

berhak tinggal di dalam Dlr al'Islilrn dan harus mendapat per-

lindungan hukum. Ia bisa menerima Islam atau membayar upeti

(iirtnh) dan selanjutnya mendapat status pembayar tpeti (dzimmfi'

(Selanjutnya, nyawa dan hartanya berhak mendapat perlindungan).

Penguasa juga boleh memberikan izin sementara kepada musuh

ini , dengan memberinya status sebagai warga terlindungi

(mustamin).tz

Mazhab lainnya yang lazim dianut oleh para pemimpin militer

Tirrki dan Kurdi di suriah dan Palestina selama Perang Salib

yaitu  Syaf i. Kelompok ini menganggap jihad sebagai kewajiban

bersama. Namun, bila orang-orang kafir mengancam suatu wilayah

muslim, mereka berpendapat bahwa ,iihad menjadi tugas tiap

individu, sehingga semua penduduk yang mampu di kawasan

ini  wajib untuk mengangkat senjata.


Pada periode awal Islam, berkembang keyakinan bahwa ada satu

Tuhan di surga dan di dunia hanya ada satu penguasa dan hukum

(yakni khalifah). Keyakinan seperti itu barangkali dipandang benar

sampai cita-cita untuk merebut Konstatinopel telah ditinggalkan

pada awal abad kedelapan. Tidak ada alasan untuk meragukan

keyakinan umar Islam bahwa kemenangan umat Islam di seluruh

dunia akan teriadi. Namun, pada abad ini , saat  wilayah-

wilayah perbatasan keamanannya terlindungi dari ancaman dunia


luar dan berhentinya upaya penaklukan oleh kaum muslim, jarak

antara teori hukum dan realitas politik mulai semakin melebar.

Bernard Lewis menyarakan bahwa rerbangun suaru jalinan hu-

bungan yang penuh toleransi antara kaum muslim dan dunia di

luar mereka, dan bahwa pada abad kesembilan dan kesepuluh

wilayah perbatasan menjadi cukup srabil.r4 Ini ditunjukkan oleh

para ahli hukum yang menyatakan bahwa kesepakatan gencaran

senjata dapat kerap kali diperbarui selama dipandang perlu dan,

dalam beberapa karya rentang hukum, sebagaimana telah di-

singgung sebelumnya, disebut dengan istilah "Wilayah Damai".

Meskipun ada  suasana yang secara umum cukup damai

antara dunia Islam dan wilayah di sekitarnya, penting untuk

ditekankan bahwa pada periode pertengahan ada  sedikit

suasana yang tiba pada tingkatan saat  tak ada wujud aksi jihad

pada salah satu wilayah dari beberapa perbatasan "\Wilayah Islam".

Jelasnya, baras-batas individual mengendurkan semangat jihad

hingga titik tertentu, tapi di tempat lainnya selalu ada wilayah

perbatasan lain, yang bersemangat dan milit an, yeng terus mem-

pertahankan konsep jihad. Pada abad kesepuluh dan kesebelas,

misalnya, di perbatasan Islam di wilayah timur di Asia Tengah,

yang berbatasan dengan wilayah kaum pagan Tirrki yang hidup

nomaden, tampak muncul sebuah contoh klasik dari gerakan jihad,

yang menggabungkan aktivitas militer dengan gerakan islamisasi,

sesuatu yang sepertinya paling mendekati pada teori hukum.

Ribuan mil jauhnya, di perbatasan Islam dengan Bizantium, di

utara Suriah dan yang sekarang menjadi wilayah timur Tirrki,

Dinasti Hamdani yang menganur Syiah pada abad kesepuluh

menjadi terkenal sebab  semangar jihadnya yang begitu tinggi

dalam menghadapi agresi kaum kafir dari luar. Kiranya akan

cukup berguna untuk mengulas secara lebih detail berbagai aktivitas

militer di dua wilayah perbatasan ini.

PERBATASAN KAUM MUSLIM DENGAN KAUM TURKI NOMADEN

DI ASI,A TENGAH

Pada abad kesepuluh dan kesebelas, operasi militer berkala di-

lancarkan melawan kaum pagan Tirrki. Ini rerutama terjadi di

wilayah yang membatasi padang rumpur Asia Tengah yang dalam

sumber-sumber sejarah disebut dengan istilah ghlzi, pejuang garis


depan yang didorong oleh semangat keagamaan untuk berjihad

di jalan Tirhan. Di wilayah perbatasan ini berkumpul banyak

relawan. Memang, pengakuan para ahli geografi abad pertengahan

bahkan mengandung nada yang dilebihJebihkan, menggambarkan

dengan jelas keterkenalan bangunan yang biasa disebut ribfuh.

Sebuah ribith yaitu  sebuah benteng pertahanan di wilayah

perbatasan yang ditempati oleh para pejuang jihad dengan dasar

peraturan-peraturan keagamaan dan militer yang ketat dan dalam

suasana yang selalu siap tempur. Para pejuang jihad inilah yang

melakukan penyerangan secara teratur terhadap kaum Tirrki noma-

den dan mengislamkan banyak anggota suku di sana.

PERBATASAN KAUM MUSLIM DENGAN BIZANTIUM

Cetak biru awal dari aktivitas jihad lainnya, sePerti disebutkan di

atas, berasal dari Dinasti Hamdani yang menganut Syiah pada

abad kesepuluh. Di bawah pimpinan raianya yang terkenal, Sayf

al-Dawlah (memerintah pada periode 333-356 H.1944'967 M.),

dinasti ini termasyhur ke seluruh dunia Islam sebab  setiaP tahun

mereka menggelar operasi jihad melawan kaum Kristen Bizantium.

Perlu ditegaskan bahwa operasi itu merupakan reaksi sesudah  pihak

Bizantium kembali melakukan ekspansi. Operasi-operasi yang

dilakukan Dinasti Hamdani ini sangat terkenal sehingga ribuan

sukarelawan mujahidin atau ghlzi dari Asia Tengah rela menempuh

jarak yang sangat jauh untuk bergabung dalam Perang-Perang

ini. Di sini, langkah islamisasi tidak perlu dipertanyakan lagi.

Jihad ini digelar sebagai respons atas agresi eksternal yang di-

lakukan pihak Kristen.

Menurut penulis abad kesepuluh, al-Thars0si, seorang hakim

di Ma'arrat al-Nu'm6.n dan Kafartab yang menulis sebuah karya

(kini tidak ada lagi) yang berjudul Siyar al-Tiaghfrr (Sejarah

Vilayah-\Tilayah Perbatasan), pada 290 H.1903 M. di kota trsus


di perbatasan kaum muslim-Bizanrium ada  banyak rumah

untuk menampung prajurit-prajurit Islam (ghtz) yang datang dari

seluruh kawasan Islam. Para prajurit ini  didukung dengan

dana amal dari para dermawan dan penguasa.r5

Propaganda jihad yang dikembangkan oleh Dinasti Hamdani

menunjukkan dimulainya pendekatan-pendekatan yang jauh lebih

maju. Dari periode Dinasti Hamdani itulah, bila sedikit dipelajari,

muncul pidato-pidato jihad dari Ibn Nubita al-FXriqi (w. 374

H.1984-985 M.) dari Mayyafariqin yang sekarang ini rermasuk

ke dalam wilayah Turki. Pidato-pidato ini dirulis dalam bentuk

prosa bersajak yang penuh dengan detail dan menggetarkan.

Pidato-pidato itu dimaksudkan untuk mendesak ral{Fat Mayyafariqin

dan Aleppo agar berjihad melawan Bizantium. Pidato-pidato itu

menampilkan simetri bait-bait yang sangat seimbang dan peng-

gunaan tradisi lama dengan cerdas dan tradisi pidato bangsa fuab

yang mengagumkan. Prosa itu menerapkan aliterasi, asonansi,

repetisi, dan perangkat sejenis, dengan cara yang mengingatkan

telinga-telinga kaum Barat pada Perjanjian Lama atau prosa karya

Cicero. Di telinga umat Islam sendiri, bahasa yang digunakan

dalam pidato-pidato ini diperkaya dengan gema-gema dan kiasan

Alquran dan akan membuat mereka berlinangan 2i1 621x-dxn

untuk mengambil tindakan tertentu (bandingkan dengan foto

warna 2). Memang, geye pidato Nubita yang tinggi merupakan

bagian dari upaya sungguh-sungguh untuk meningkarkan ke-

imanan. Ia dikenal selalu berpidato baik sebelum maupun sesudah 

operasi militer untuk merayakan kemenangan di dalam per-

tempuran. Di dalam pidato-pidato seperti itu, Ibn NubAta memuji

Sayf al-Dawlah yang telah menaklukkan kaum bidah dan menye-

mangati pejuang-pejuang jihad.r6 Dalam pidato lainnya yang

disampaikan pada 352 H.1963 M. kepada sukarelawan jihad yang

berdatangan ke Mayyafariqin dari Khurasan yang jauh, Ibn Nubita

mendorong orang-orang ini  untuk membangkitkan diri mereka

sendiri dari tempat-tempat tidur mereka yang nyaman dan agar

berperang seperti singa di jalan jihad.rT Pidato itu mencapai

puncaknya saat  Ibn Nubita secara eksplisit menyebutkan ke-

menangan Islam atas lGisten: "Allah dengan kasih sayang telah

menganugerahkan kemenangan-Nya yang segera datang untuk kita

dan Anda sekalian dan Dia telah memberikan kemenangan kepada

para penyembah Tirhan-Yang-Esa atas Pelayan-pelayan Salib."rB

Pidato yang secara khusus membangkitkan yaitu  pidato yang

disampaikan pada peristiwa penaklukan Aleppo pada 351 H.1962

M. sesudah  memuji Allah dan berbagai pendukungnya, pidato

Ibn Nublta semakin meninggi:

Apakah Anda mengira Dia akan mengabaikan Anda sekalian

sementara Anda membantu-Nya, atau apakah Anda berpikir Dia

akan meninggalkan Anda sekalian sementara Anda tetap setia di

jalan-Nya? Sama sekali tidak! Sungguh, tidak satu Pun kezaliman

dibiarkan oleh-Nya tanpa hukuman dan tidak ada serangan sekecil

apa pun tanpa balasan dari-Nya ... sebab  itu kenakan-semoga

Tuhan memberkahi Anda sekalian-pakaian jihad Anda dan leng-

kapi diri Anda dengan senjata dari mereka'mereka yang beriman

[kepada Allah].'e

Tidak mengherankan bila khotbah-khotbah seperti ini menjadi

model dalam pidato Arab. Khotbah-khotbah itu juga yang menjadi

dasar bagi pidato-pidato para pengkhotbah di dalam pasukan

N0ruddin dan Saladin, saat  berperang melawan kaum Frank.

Pidato puji-pujian tentang keberanian Sayf al-Dawlah disusun

oleh penyair Arab klasik yang paling dihormati, al-Mutanabbi.

Puisi-puisi ini  menjadi media untuk menyatakan kebanggaan

atas keberhasilan jihad. Al-Mutanabbi menghasilkan pidato pujian

terkenal sesudah  Sayf al-Dawlah menaklukkan benteng perbatasan,

al-Hadats. Potongan bait-bait puisi ini  termasuk bait-bait

berikut:

Anda bukan seorang rala yang mengalahkan orang sederajat, namun 

orang beriman lang mengakhhan orang musyrik.

Kami menaruh harapan pada Anda dan perlindungan Anda untuk

Islam,

Mengapa Allah Yang Maha Pemurah tidak menjaganya saat 

melalui perantara Anda

Dia membuat orang-orang kafir bercerai-berai?

Epik-epik populer menggemakan semangat jihad dari sastra

tinggi yang ditulis untuk istana Hamdani. Epik yang biasanya

dikenal sebagai Sirat Dzlt al'Himmah itu juga memiliki judul

lain, Sirat al-Mujthidtn (Sejarah Para Mujahid). Epik ini men-



cerminkan konflik antara kaum muslim dan kaum Bizantium

dari periode Umayyah dan sererusnya dan penuh dengan per-

nyataan semangat jihad. Di bagian awal, sang pengarang yang

tak dikenal menyarakan: "Jihad yaitu  jalinan kokoh Allah dan

para mujahidin menempati kedudukan yang tinggi di dekat-Nya

di Surga ketujuh."2o

Operasi militer Sayf al-Dawlah dilakukan di wilayah geografis

dunia muslim yang terbatas dan tidak dilanjutkan oleh para

penerusnya. Propaganda jihadnya yang sangat efektif lenyap ber-

sama kematiannya, meskipun, seperti yang akan kita lihar, pe-

lilarannya tidak hilang, pada mereka yang bertanggung jawab

atas pertemuan kaum muslim berhadapan dengan Perang Salib

dua ratus tahun kemudian. Dengan demikian, peleburan ke-

hidupan asketis para ghlzt di fuia Tengah, Spanyol, Anatolia

dengan pertempuran melawan orang-orang kafir menjadi sebuah

paradigma bagi kaum muslim Suriah dan Palestina yang kemudian

diingat dan ditiru dalam perang mereka melawan kaum Frank.

KETI.ADAAN SEMANGAT JIHAD DI SURJAH DAN PALESTINA

Melalui karya yang ditulis pada paruh kedua abad kesepuluh,

ahli geografi Arab Ibn Hawqal, menyesalkan fakta akan padamnya

jihad ini .2r Keprihatinannya semakin mendalam sebab  ia

berasal dari Spanyol. Kritik ini kemudian dilontarkan kembali

oleh penulis Arab yang lebih terkenal, al-Muqaddasi, yang, saat 

membicarakan tentang provinsi Suriah, mengatakan: "Para pen-

duduk tidak punya antusiasme untuk berjihad dan tidak memiliki

energi untuk memerangi musuh."22

saat  para Tentara Salib mendekati Tanah Suci pada 1099,

dunia Islam yang terpecah dan bermusuhan akibat perebutan

kekuasaan, tampaknya, telah menguburkan gagasan jihad jauh-

jauh ke dalam pikirannya. Dengan demikian, para Tentara Saliblah

yang memiliki keunggulan ideologis atas umat Islam.

EVOLUSI FENOMENA JIHAD PADA MASA PEMNG SALIB

Pengetahuan modern tentang perkembangan rema jihad di dunia

Islam pada masa Perang Salib berkembang pesat dengan kehadiran

sebuah buku pionir yang sangat penting pada tahun 1968 dan

ditulis dalam bahasa Prancis karya Emmanuel Sivan: L'Islam. Di

dalam buku itu, Sivan menganalisis evolusi jihad sebagai sebuah

ideologi dan kampanye propaganda, dan juga perannya dalam

respons umat Islam terhadap Perang Salib. Dalam membuat

analisisnya, Sivan memakai  referensi yang sangat dekat dengan

berbagai sumber-sumber kesusasteraan berbahasa Arab dari Abad

Pertengahan. Banyak dari argumen Sivan yang masih dipercayai

beberapa kalangan, meskipun banyak ahli dengan pasti ber-

seberangan pendapat dengannya mengenai beberapa hal dan de-

ngan demikian, seperti yang akan kita lihat kemudian, me-

nekankan jurang perbedaan antara propaganda dan realitas politik.

Seperti dikatakan Humphreys tentang jihad: "Konsep jihad yaitu 

konsep yang fleksibel yang bisa diterapkan dalam cara-cara yan1

sangat berbeda untuk berbagai tujuan."23

Sivan berpendapat, mobilisasi jihad yang serius sebagai instru-

men dalam perang melawan para Tentara Salib dimulai pada

masa Zengi (w. 539 H.lll44 M.). Argumen ini tidak diragukan

kebenarannya.2a Sekalipun begitu, respons paling awal dari go-

longan-golongan keagamaan di Suriah dan Palestina terhadap

ancaman para Tentara Salib yang datang harus dilihat lebih dekat,

sebab  salah bila menganggap bahwa tidak ada campur aduk

perasaan _______________antara kejatuhan Yerusalem pada 482

H./1099 M. dan saat  umat Islam merebut kembali Edessa pada

539 H.ll144 M. Mungkin memang benar bila dikatakan bahwa

di tengah-tengah golongan-golongan keagamaan, semangat untuk

melawan kaum Frank dan keinginan untuk mengkampanyekan

jihad selalu muncul meninggi. Masalahnya yaitu  mencari jalan

untuk memompa semangat Islam kepada para pimpinan militer

saat itu. Situasi politik di Suriah dan Palestina pada dekade-

dekade awal abad kedua belas tidak mendukung bagi solidaritas

kaum muslim dan persatuan militer secara keseluruhan. Sebaliknya,

periode ini yaitu  periode desentralisasi kekuasaan, saat  para

panglima Tirrki dan para penguasa kaum Frank sama-sama ber-

usaha membentuk benteng mereka di pusat-pusat kota. Secara

berkala, mereka bersama-sama akan menemui perpecahan ke-

agamaan saat  wilayah-wilayah Palestina dan Suriah mendapat

ancaman dari luar. Ideologi agama tidak memiliki peranan dalam



aliansi-aliansi yang bersifat sementara dan pragmatis ini untuk

mempertahankan kepentingan-kepentingan wilayah setempat.

Pada masa Perang Salib Pertama, fokus pertama unruk seruan

jihad yaitu  khalifah Sunni di Baghdad, sebab  khalifah Baghdad-

lah yang pasti diharapkan terlibat dalam jihad dan memiliki hak

legitimasi untuk mengobarkan semangat jihad melawan kaum

Frank.25 Implikasinya jelas terlihat dengan datangnya berbagai

delegasi menuju ke Baghdad saat  Perang Salib Pertama meletus.

Hal ini telah kami sebutkan di bab pertama. Meskipun sultan-

sultan Saljuk membatasi pergerakan khalifah-khalifah, dan lebih

menginginkan mereka hanya menjadi kepala negara dan tidak

terlibat di dalam politik saat  itu, para pemuka agama di Suriah


yang melakukan perjalanan ke Baghdad untuk meminta bantuan

-.1"*"r, para Tentara Salib tampaknya yakin bahwa para khalifah

rersebur yaitu  penolong urama mereka. 'walaupun ada  ha-

rapan-harapan semacam ini, tidak ada upaya-upaya militer inde-

p..rd.., yang digerakkan oleh khalifah-khalifah ini , meski

sumber-sumber itu menegaskan bahwa beberapa khalifah ini ,

seperti al-Mustarsyid dan al-Rasyid, menyerang dengan mengerah-

kan pasukan mereka sendiri.26

Dengan demikian, siapa lagi yang bisa mengobarkan jihad

melawan para Tentara Salib? Yang pasti, dengan interpretasi hukum

Islam yang kaku, para penguasa militer yang memerintah Suriah

pada abad kedua belas tidak Punya kewajiban untuk berjihad'

Mereka semua bukan Penguasa yang sah' Mereka telah merebut

kekuasaan. Sederhananya, mereka bisa melakukan jihad' namun

mereka tidak harus melakukannya.zT Penekanan utama jihad tam-

paknya telah menjadi sebuah uPaya pribadi dan balasan yang

akan diterima seriap orang Islam dari Allah atas jasa perjuangan-

perjuangan mereka yang mulia.28 Kemungkinan, saat  sumber-

sumber itu menyebutkan istilah-istilah seperti mutathawwi'ah

("sukarelawan'), istilah itu ditujukan untuk para pejuang yang di

masa-masa sebelumnya sering mengunjungi ribtth-ribtth di wilayah

perbatasan Islam dan yang mengobarkan jihad melawan orang-

o.r.rg kafir dengan biaya mereka sendiri' Pastinya' kehadiran para

,.rkarel"w"n seperti itu disebutkan saat Antiokhia iauh pada 491

H./1098 M. saat  itu mereka berperang untuk mendapatkan

"pahala Tuhan dan mencari status syahid"'2e

Kita telah melihat bahwa hanya ada sedikit suara dari daerah

terpencil yang mengekspresikan ketakutan atas direbutnya Yerusalem'

H"rry" sedikit yang mengambil pesan moral dari direbutnya

Yerusalem ini. Yang tidak termasuk dalam kelompok ini yaitu 

seorang ulama Suriah bernama al-Sulami' Di Masjid Umayyah di

Dr-"rk,r, pada tahun-tahun awal kejatuhan Yerusalem' al-Sulami

berkhotbah bahwa umat Islam harus bergerak melawan musuh

mereka, yaitu para Tentara Salib' Kekalahan umat Islam' jelas al-

Sulami, merupakan hukuman Allah sebab  umat Islam telah

mengabaikan kewajiban-kewajiban agama dan, terutama' mereka

tidak peduli pada jihad.

Yang patut diingat yaitu  bahwa karya al_Sulami yang masih

tersisa berjudul Kitnb al-Jihhd (gambar 3.r2), dan memang,

katanya, konsep jihad terletak di hati semua orang. Al-sulami

memprotes keras bahwa kemenangan yang diraih para Tentara

Salib yaitu  sebab  umar Islam terpecah dalam menanggapi

kedatangan mereka dan mengabaikan kewajiban agama untuk

berjihad. Menurut al-Sulami, mengabaikan jihad, yang sangar

disesalkannya, bukan fenomena yang aneh di zamannya 

"ta,, 

b,rkan

hanya terjadi di suriah. Fenomena ini telah terjadi sejak para

khalifah mulai mengabaikan kewajiban utama mereka untuk

melakukan operasi militer ke wilayah kaum kafir sedikitnya sekali

dalam serahun. Menurut pandangannya, ditinggarkannya kewajiban

ini  telah menimbulkan kemunduran morar dan keagamaan

yang luas di kalangan umat Islam, yang, menurutnya, meng_

akibatkan umat Islam terpecah belah dan mendorong musuh_

musuh Islam untuk menyerang dan merebut wilayah-wilayah

Islam.

Jalan keluar b"g, situasi yang mengerikan ini, menurut al_

Sulami, perrama yaitu  dengan memperkuat kembali dimensi

moral untuk mengakhiri proses kemunduran spiritual umat Islam.

serangan-serangan para Tentara salib merupakan hukuman sekali-

gus peringatan Allah kepada umat Islam untuk kembali ke "jalan

yang benar". Menurur al-Sulami, berjihad melawan orang_orang

kafir yaitu  kepura-puraan bila tidak didahului dengan jihad yang

lebih besar (al-jihad al-ahbar) atas diri sendiri. Ar-Surami me-

negaskan bahwa jihad yang lebih besar ini harus diselesaikan bila

ingin meraih kemenangan dalam jihad melawan orang-orang kafir.

Al-Sulami menyeru para penguasa muslim untuk memimpin jalan

ini . Dengan demikian, perjuangan spiritual seseorang me-

rupakan persyararan mutlak sebelum berperang melawan para

Tentara Salib.30

Kata-kata al-Sulami ini  yang disampaikannya di mimbar

masjid (bandingkan dengan foto 3.8) dan disimpan di dalam

Kitnb al'Jihdd tidak terlihat berpengaruh luas di kalangan umat

Islam, atau tidak juga menggugah perasaan para penguasa dan

panglima muslim pada saat terjadi ekspansi besar-besaran yang

dilancarkan para Tentara Salib di awal abad kedua belas. Konsep

jihad tetap hidup di masa itu di kalangan lingkungan tersebur


yang dihembuskan oleh para ulama. Namun, konsep itu harus

dipertegas dengan aktivitas militer besar-besaran di bawah pe-

mimpin muslim yang hebar: aliansi antara kelas-kelas agama dan

militer harus dibentuk.

Mungkin benar bila ranrangan al-Sulami itu tidak mendapat

perhatian sepenuhnya. sesudah  al-Sulami, pendakwah-pendakwah

lainnya terus giat mengumandangkan pesan jihad dari mimbar-

mimbar. Sumber-sumber ini  tidak berguna bagi perkem-

bangan sepanjang periode 1100-1130. Namun, meski kelompok-

kelompok agama bereaksi keras, reaksi mereka tidak didukung

dengan keinginan politik araupun militer untuk bertindak bersama-

sama dari pihak para penguasa saar itu. Bahkan, meskipun ka-

langan ulama di masa al-Sulami menyebarkan gagasan dasar

tentang jihad, tidak berarti kata-kata dan tulisan-tulisan mereka

mendapat perhatian dari para pemimpin militer saar iru. Begitu

juga puisi-puisi pendorong semangat jihad yang bermunculan

sesudah  pukulan Perang Salib Pertama tidak diiringi dengan ke-

bangkitan dan sikap patuh terhadap seruan-seruan para penyair

ini . Agar propaganda jihad benar-benar menjadi senjata yang

efektif, harus dibentuk aliansi yang kuat dan berarti di antara

kelompok-kelompok agama dan para pemimpin militer. Ini baru

benar-benar terbukti kemudian di abad kedua belas.

Namun, serangkaian operasi militer (seperti, misalnya, operasi

yang digelar oleh Mawd0d dari Mosul sepanjang tahun 503-507

H./1110-1113 M.) yang digelar dari timur Saljuk di bawah

pimpinan para panglima Tirrki ke Suriah pada dua dekade awal

abad kedua belas, ataupun aktivitas-aktivitas pan-Islam ini tidak

layak diberi sebutan jihad. operasi-operasi rersebut merupakan

aliansi-aliansi beragam, sementara, dan disertai dengan maksud

jahat dari para pangeran dan Penguasa militer yang saling ber-

5s161u-bukan pasukan koalisi yang sesungguhnya-dan dengan

demikian, secara keseluruhan, ditakdirkan gagal dan terpecah'

Membebaskan Yerusalem ddak menjadi rugas penting bagi para

penguasa di periode ini.

UPAYA A\TAL MENUJU KEBANGKITAN JIHAD

Seperti sudah disebutkan, sivan yakin bahwa jatuhnya Edessa

pada 53g H.ll144 M. menjadi titik balik perubahan sikap umat

Islam. Namun, gelombang ini  kemungkinan mulai terjadi

pada dekade-dekade sebelumnya. Memang, proses kebangkitan

kembali jihad pasti berjalan lambat dan bertahap. Di beberapa

wilayah, kebangkitan itu terjadi sebagai respons langsung kelompok

tertentu terhadap fanatisme para Tentara Salib, yang pertama kali

menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri'

tnda-tanda awal kebangkitan awal umat Islam ini telah

terlihat secara tersembunyi. Pertempuran Balith mungkin bisa

dilihat sebagai titik balik sementara. Model awal bagi Partisipasi

aktif kelompok-kelompok agama dalam PertemPuran melawan

kaum Frank tampaknya ada pada sosok kadi Abu I Fadhl Ibn al-

Khasysyib dari Aleppo. Ibn al-Khasysyab tidak puas hanya duduk

di dalam masjid atau madrasah dan berkhotbah atau mengajarkan

pengetahuan tentang jihad. Ia juga terlibat jauh di Aleppo saat 

kot" t.rr.but sedang dalam suasana sangat rentan terhadap se-

rangan-serangan dari luar. Sebenarnya, pada awal abad kedua belas'

p"r, brngrawan Aleppo telah meminta bantuan militer dari

Baghdad untuk melawan kaum Frank, sebelum kemudian putus

,r, d"r, menyerah kepada penguasa kaum Turki dari Mardin' Il-


Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa al-sulami secara

pribadi terlibat dalam pertempuran yang sesungguhnya, sekalipun

beliau dikenal luas sebagai seorang pendahvah. Sebaliknya, Ibn

al-Khasysyab (w. 528 H.ltt33-1r34 M.) diketahui berada ber-

sama-sama para prajurit beberapa saat sebelum pertempuran Balith

meletus pada 513 H./1119 M. Beliau menyampaikan khotbah

kepada mereka. Namun, pada tingkat ini, kehadirannya dengan

ielas tidak diterima oleh semua orang. Ibn al-hdim menggambar-

kannya sebagai berikut:

Kadi Abu'l Fadhl Ibn al-KhasysyAb datang, menyemangati

orang-orang untuk berrempur, sambil menunggang kuda betina

dan dengan tombak di tangannya. Salah seorang anggota pasukan

melihatnya dan mengejeknya sambil mengatakan: ,.[Jadi] 

kami

datang dari kampung halaman kami hanya untuk mengikuti pria

bersorban ini?" Ia [Ibn al-Khasysyib] maju ke arah orang-orang

iru dan di antara para prajurit ia dengan fasih berpidato untuk

membangkitkan keteguhan hati mereka. Ia membuat para prajurit

bercucuran air mata dan di mata mereka terlihat kesedihan.32

Dengan demikian, kita melihat seorang ahli agama, yang bisa

dikenali dengan jelas dari sorban yang dikenakannya, dengan

memilih menunggang kuda, dan mengangkat tombak dan senjata

retorikanya. Ia jelas-jelas menggugah emosi dan berhasil di hari

itu.

Seperti halnya khotbah jihad yang disampaikan oleh Ibn

Nubita pada periode yang lebih awal di perbatasan Bizanrium,

di sini kita juga melihat conroh, meskipun jarang, tentang ke-

kuatan jihad sebagai penyemangat sebelum perrempuran dan

dampak emosional akibat kehadiran kelompok agama di tengah-

tengah pasukan mereka sendiri. Penulis laporan ini, Ibn al-Adim,

mungkin melihat penempuran ini dengan baik dengan sudut

pandang situasi Suriah pada abad ketiga belas, saat  orang-orang


telah lama terbiasa dengan jihad melawan kaum Frank. Namun,

dalam hal ini Ibn al-hdim tidak menulis tentang PertemPuran-

pertempuran lain antara kaum muslim dan para Tentara Salib di

awal abad kedua belas. sebab  itu, wajar bila kita yakin bahwa

peristiwa ini tampak tidak biasa untuk saat itu. Ibn al-hdim

tidak memberikan penjelasan secara mendetail. Namun, tentu saja

penting bahwa pertemPuran ini, PertemPuran Ladang Darah,

merupakan kemenangan besar umat Islam di bawah pimpinan

militer futuqid Il-Ghazi. Apdagi, dalam PertemPuran itu pimpinan

Tentara Salib, Roger dari Antiokhia, terbunuh. Dari sumber-

sumber ini , Il-Ghizi muncul sebagai petualang yang ber-

pindah-pindah dan aneh. Ia tak mampu melanjutkan kemenangan

ini sebab  ia merayakannya secara berkepanjangan, hingga se-

minggu. Il-Ghizi bukanlah seorang pria yang memiliki daya tahan

dan visi politik. Sebagai seorang Tirrki yang hidup nomaden,

sikapnya terhadap Islam mungkin juga Pragmatis. Sementara ia

juga mungkin digoyang oleh kefasihan pidato Ibn al-KhasysyAb,

ia juga tidak memiliki kepribadian yang dapat menyatukan para

panglima militer kaum muslim untuk berkumpul di bawah ben-

dera jihad. Dengan demikian, kemenangannya di Balith mungkin

hanya dapat terjadi sekali. Namun, Ibn al-Khasysyib telah me-

nunjukkan jalan ini .s3

Aktivis hukum lainnya yaitu  pendakwah bermazhab Hanbali,

Abd al-'Wahhib al-SytrAzi, yang dikirimkan ke Baghdad bersama

dengan kelompok-kelompok pedagang pada 523 H.lll29 M'

untuk meminta bantuan, sesudah  kaum Frank telah tampak di

luar pintu gerbang Damaskus. Delegasi ini  bermaksud meng-

hancurkan mimbar saat  orang-orang di Baghdad berjanji akan

memberitahu sultan tentang pengiriman bantuan militer bagi

Suriah untuk melawan para Tentara Salib.3a

Keponakan Il-Ghizi, Balak, juga patut disebutkan dalam

konteks jihad. Ia menjadi Penentang Tentara Salib yang sangat

ditakuti. Ia menuniukkan kekuatan luar biasa dalam PertemPuran-

pertempuran kecil melawan mereka. Ia terbunuh di luar Manbij

pada 518 H.lll24 M. dan dimakamkan di Aleppo' Prasasti di

makamnya menjadi bukti penting dalam setiap pembahasan ten-

tang evolusi konsep jihad di Suriah pada periode awal Perang

Salib. Hal ini  kiranya patut sedikit dijelaskan di sini. Dalam

periode tahun 482-541 H./1099-1746 M., di seluruh dunia Islam

mulai dari Spanyol hingga Asia Tengah, tidak ada prasasti yang

menyebutkan renrang jihad yang rersisa kecuali prasasri yang ada

di Suriah. Bahkan, di Spanyol, medan perang lainnya rempar

kaum muslim melawan para Tentara Salib, tidak ada satu pun

prasasti yang tersisa. Hal ini membuat conroh-contoh yang ada

di Suriah menjadi sangar penting. Ini juga menunjukkan bahwa

prasasti-prasasti rersebut memiliki hubungan dengan kedekatan

para Tentara Salib dan invasi-invasi mereka ke wilayah-wilayah

penting umat Islam.35

Pada prasasti pemakamannya, Balak dijuluki sebagai "pedang

para pejuang Perang Suci, pemimpin pasukan muslim, penakluk

orang-orang kafir dan orang musyrik".36 Selanjutnya, di prasasti

ini kita menemukan seluruh rangkaian gelar yang menggetarkan

yang mencerminkan perhatian serius terhadap jihad melawan para

Tentara Salib. Balak dipuji sebagai pemimpin kaum muslim dalam

perang melawan orang-orang kafir. Selain itu, ia juga disebut

"syahid". Juga ada dua kutipan ayar Alquran yang sangar penting

di makam Balak. Yang pertama Surah Alu 'Imrin ayat 169:

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan

Allah itu mati: bahkan mereka itu hidup di sisi Tirhannya dengan

mendapat rezeki." Dan yang kedua, Surah al-Thwbah ayat 21,

yang berbunyi: "Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan

memberikan rahmat dari-Nya, keridaan dan surga, di dalamnya

mereka memperoleh kesenangan yang kekal'"

Kedua ayat Alquran ini menunjukkan bahwa Balak benar-

benar seorang pejuang jihad yang telah syahid di jalan Allah dan

bahwa ia akan masuk surga.37 Seandainya ia masih hidup, Balak

mungkin telah dapat menjadi inspirator umat Islam untuk me-

lawan kaum Frank jauh lebih awal.

Kemenangan Zengi di Edessa pada 539 H'11144 M' men-

jadikannya sebagai satu-satunya tokoh utama yang Pertama ber-

peran dalam kebangkitan umat Islam melawan para Tentara Salib.

Namun, zengi yaitu  seorang ksatria dengan ambisi-ambisi yang

aneh, baik dalam arena perrempuran melawan para Tentara Salib

di Suriah dan Palestina maupun juga dalam ajang politik ke-

kuasaan Sal.iuk yang jauh di timur, yaitu di Baghdad dan Mosul'

Namun, yang jelas keberhasilannya dalam menaklukkan Edessa

menjadi titik balik bagi umat Islam. Kemenangannya itu men-

dorong melerusnya Perang Salib Kedua. zengi juga telah digam-

barkan dalam prasasti-prasasti tentang jihad di masa itu, bahkan

sebelum kemenangannya di Edessa. Misalnya, dalam prasasti di

Aleppo yang bertanggal Muharam 537 H./Agustus 1142 M', Zengi

dijuluki sebagai "penakluk orang-orang kafir dan oranS musyrik,

pemimpin para pejuang jihad, penolong para pasukan, dan pe-

lindung wilayah-wilayah muslim".38

Mengapa pembahasan ini menyoroti prasasti-prasasti mo-

numental Islam? Prasasti-prasasti itu bernilai sebab  sangat ber-

dekatan waktunya. Prasasti-prasasri ini  dibuat di periode awal

kehadiran para Tentara Salib di Timur Dekat dan menunjukkan

bahwa, tidak seperti tempat-tempat lain di dunia Islam saat ini,

monumen-monumen yang berada di wilayah-wilayah yang ber-

dekatan dengan para Tentara Salib itu menyatakan kemuliaan

orang-orang yang berjihad' Ini pasti bukan suatu kebetulan' namun 

lebih merupakan awal kebangkitan semangat jihad, setidaknya di

antara beberapa pemimpin Islam di Suriah yang saat itu terpecah

dan bermusuhan. Momen kemunculan sebutan iihad untuk per-

tama kalinya di gedung-gedung umum bersamaan dengan ke-

menangan militer awal umat Islam melawan Para Tentara Salib.

Bukti-bukti dari prasasti-prasasti ini menunjukkan bahwa umat

Islam setidaknya mulai me