Yang meragukan dan tidak
mencukupi. Pasukan pembebas dari Suriah mengepung kaum
Frank sampai "mereka kehabisan bahan makanan mereka sehingga
mereka memakan daging bangkai". Penjelasannya kemudian di-
lanjutkan:
Selanjutnya kaum Frank, meski mereka sangat lemah, terus
maju melawan para prajurit Islam yang sangat kuat dan besar
jumlahnya, dan mereka memecah barisan dan kawanan umat
Islam.72
Kita tidak mendapat laporan yang sebenarnya mengenai
peristiwa pertempuran itu dan penjelasan mengapa para Tentara
Salib menang, meskipun Ibn al-Qaldnisi cukup jujur untuk me-
ngakui bahwa pasukan Islam menang dalam hal jumlah dan kaum
Frank lemah dan kelaparan.
Al-'Azhimi, yang sezaman dengan Ibn al-Q_alinisi, dengan
jujur menyalahkan umat Islam atas kekalahan di Antiokhia itu:
"Kaum Frank keluar ke arah mereka. Mereka [kaum Frank] sangat
lemah dan pasukan Islam sangat kuat. Umat Islam kalah akibat
niat buruk mereka."73
Kemudian, bagaimana penjelasan dari Ibn al-Atsir, y^ng
laporannya tentang Perang Salib Pertama oleh sarjana ltalia,
Gabrieli, digambarkan sebagai "yang paling lengkap dan me-
yakinkan, bila bukan yang paling faktual"?74 Penjelasan Ibn al-
Atsir lebih lengkap dibandingkan dengan uraian Ibn al-Qalinisi.?5
Ibn al-Atsir juga menegaskan bahwa kaum Frank lemah dan
kekurangan bahan makanan.T6 Mereka tidak punya apa-apa untuk
dimakan selama dua belas hari, sehingga anggota pasukan yang
kaya menyantap kuda-kuda mereka, sementare y^Dg miskin me-
makan daging bangkai dan daun-daunan. Sementara itu, pasukan
Kirbogha terdiri dari berbagai kesatuan yang bergabung dengannya
dari banyak tempat. Namun, menurut Ibn al-Atsir, ia tidak cukup
memiliki keahlian untuk memimpin pasukan, dan para pemimpin
pasukan lainnya tidak menyukainya sebab dia itu sombong dan
74 \ Ca-role Hillenbrand
buruk perilakunya.TT Memang, "mereka [panglima muslim lainnya]
dengan kemarahan diam-diam merencanakan pengkhianatan ter-
hadapnya dan meninggalkannya dalam PertemPuran'. saat kaum
Frank meminta perlindungan dari Kirbogha, ia tidak memberikan-
nya, dan malah menyuruh mereka untuk mencari jalan keluar
sendiri.
Ibn al-Atsir menyebutkan nama beberapa pemimpin Tentara
Salib--Baldwin, (Raymond dari) St' Gilles, Godfrey (dari Bouillon),
dan Bohemond, yang digambarkan sebagai pemimpin mereka' Ia
juga menyertakan kisah tombak Kristus yang akan dibahas nanti
di bab lima.
Mengenai pertempuran Antiokhia y^ng sebenarnya, laporan
Ibn al-Atsir sangat tidak jelas. Ia menjelaskan bahwa pasukan
kaum Frank keluar dari Antiokhia dalam kelompok-kelompok
kecil dan pasukan kaum muslim berniat menghabisi mereka begitu
mereka muncul. Kirbogha melarangnya' Sebaliknya' ia ma\ah ingrn
menunggu sampai semua pasukan kaum Frank keluar dari kota'
p.r,..r,prr"n diminimalisasi. Kekalahan umat Islam teriadi bukan
dalam pertemPuran.
saat pasukan kaum Frank telah banyak yang keluar dan
tidak seorang Pun yang tersisa di wilayah Antiokhia' mereka
menyerbu dengan ganas dan umat Islam kalah dan melarikan diri
... Mereka kalah total tanPa seorang Pun semPat mengayunkan
pedang mereka atau melemparkan sebilah tombak atau melepaskan
satu Pun anak panah ... Bahkan, tidak ada PertemPuran sama
sekali dari mereka yang melarikan diri'78
Satu kelompok pasukan pemberani dari Tanah Suci tetap
bertahan dan berperang. Kaum Frank yang berjumlah ribuan
menghabisi mereka.
irg"i*r.t" bisa pasukan muslim di Antiokhia memperoleh
k.*..,".rg"n di tengah perpecahan, desentralisasi' dan pertikaian
itu? Faktiny, "d"lah
tidak ada keinginan bersama yang sungguh-
sungguh untuk membentuk kesatuan yang efektif' bahkan dalam
satu PertemPuran menghadapi musuh bersama' pasukan kaum
Frank di luar Antiokhia. Beragam gabungan pasukan seperti Janah
al-DawladariHims,TirghtegindariDamaskus'ArtuqidSulayman
dari Mardin, dan yang lainnya, tidak berharap untuk bekerja
sama, terutama di bawah kepemimpinan Kirbogha, penguasa
Mosul yang terpencil, yang motifnya sangat dipertanyakan oleh
para panglima muslim lainnya. Perpecahan dan pertikaian internal
menjadi penyebab utama kekalahan umat Islam ini-tak seperti
yang diharapkan, dan tak menimbang ancaman yanB begitu jelas
di luar Antiokhia. Keanehan ini ditunjukkan secara implisit dalam
tulisan Ibn al-Atsir. Namun, pada bagian ini ia dengan jelas
berusaha untuk menutup-nutupi kekalahan umat Islam yang
memalukan itu. Sebaliknya, tulisan al-'Azhimi yang lebih awal
dan kurang lengkap tidak melupakan untuk menyalahkan umat
Islam atas niat jahat mereka, yang tak diragukan lagi merupakan
petunjuk atas sikap mereka yang saling membenci, curiga, rasa
permusuhan, dan tidak adanya komitmen mereka untuk berjihad.
Ahli geografi Suriah, Ibn SyaddAd (w. 684 H.ll285 M.) me-
nyebutkan perpecahan di jajaran pasukan Islam di Antiokhia,
dengan membicarakan sikap saling curiga di antara para panglima
dan permusuhan antara bangsa Arab dan Tirrki.Te
Ibn Thghribirdi (w. 874 H.11469-1470 M.) mengambing-
hitamkan Dinasti Fatimiyah atas kekalahan umat Islam di Antiokhia
dan terutama menyalahkan al-Afdhal, wazir Mesir, yang tidak
mengirimkan pasukan Fatimiyah untuk bergabung dengan pasukan
Suriah: "Saya tidak tahu alasannya, ia [al-Afdhal] tidak mengirim-
kan pasukan, [apalagi] dengan kekuatan dana dan pasukan yang
dimilikinya."80 Ia mengulangi pendapat ini di bagian akhir tulisan-
nya mengenai kekalahan di Antiokhia itu: "Pasukan-pasukan Mesir
itu masih saja tidak siap untuk berangkat."8r
Dengan demikian, ia mengenyampingkan penyebab utama
kekalahan umat Islam yang memalukan dan tak perlu terjadi itu.
futi penting sebenarnya dari pertempuran di Antiokhia bagi
dunia Islam harus dicari oleh para penulis sejarah. Ibn al-Atsir
mengabaikan arti penting pencarian tombak Kristus, yang menurut
sumber-sumber Tentara Salib telah memberikan dorongan moral
psikologis yang luar biasa bagi mereka. Bagi Ibn al-Atsir, ini
dipandang sebagai takhayul. Alasan sebenarnya kemenangan para
Tentara Salib di Antiokhia jauh lebih tidak menarik. Di balik
pernyataan menyenangkan bahwa para Tentara Salib kelaparan
dan lemah dan bahwa pasukan Islam sangat banyak jumlahnya,
namun ternyata para Tentara Salib memenangkan PertemPuran-
ini menjadi kenyataan yang tak menyenangkan yang mungkin
menjadi titik balik Perang Salib Pertama. Para panglima Islam
dari Suriah datang bersama-sama untuk membebaskan Antiokhia,
namun dengan suasana politik yang terpecah pada hari itu, mereka
bahkan tidak mampu bertahan cukup lama untuk mencapai
kemenangan. sesudah kemenangan Antiokhia itu, jalan menuju
Yerusalem terbuka bagi para Tentara Salib.
KEJATUHAN MA ARMT AL-NU'MAN
Pada Muharam 492 H./Desember 1098 M., kota Suriah Ma'arrar
al-Nu'min (foto 2.7-2.8, 2.9, 2.10, 2.11; bandingkan dengan
foto 5.2 dan 5.4), yang terletak di antara Aleppo dan Hama,
direbut para Tentara Salib. Kota ini tidak luas dan tidak
penting, tapi detail peristiwa ini mengguratkan efek psikologis
yang dalam. Sumber-sumber kaum muslim banyak mengisahkan
kejatuhan Ma'arrat al-Nu'min sebab dalam peristiwa itu terjadi
pembantaian mengerikan terhadap penduduk kota. Mereka men-
ceritakannya dengan cukup lengkap. Ibn al-Qalanisi menggambar-
kan apa adanya, bahwa pasukan kaum Frank telah menyampaikan
tawaran agar mereka menyerahkan kota itu secara damai. Mereka
menjamin keamanan atau keselamatan dan harta benda mereka.
Namun para penduduk tidak mencapai kata sepakat di antara
mereka sendiri untuk menerima syarat-syarat ini.82 Kembali, tema
perpecahan umat Islam tampak jelas. Lalu pasukan kaum Frank
merebut kota itu (dengan cara kekerasan) dan korban yang jatuh
dari kedua belah pihak sangat banyak.83 Mereka kemudian meng-
khianati para penduduk sesudah menjanjikan keamanan bagi mereka
dan merampas apa saja yang mereka temui.8a
Ibn al-Atsir, yang uraiannya biasanya sangat lengkap, hanya
menulis kejatuhan Ma'arrat al-Nu'min secara ringkas. Ia mengata-
kan: "selama tiga hari, kaum Frank menghujamkan pedang di
antara mereka: mereka membunuh lebih dari 100.000 pria dan
menawan banyak orang."
Penuturan Ibn al-Atsir mengenai peristiwa itu menegaskan
bahwa para penduduk tidak siap untuk menyerah secara damai.85
Akibatnya, kaum Frank menyerang dengan cara kekerasan, se-
bagaimana aturan perang yang biasa mereka terapkan terhadap
suatu kota yang memberikan perlawanan. Jumlah korban tewas
yang disebutkan oleh Ibn al-Atsir tentu saja terlalu dibesar-
besarkan-sebab , dengan jumlah itu, berarti Ma'arrat al-Nu'min
yaitu salah satu kota besar di Timur Dekat. Dibesar-besarkannya
jumlah korban ini-jumlah orang yang tewas ditulis sama dengan
jumlah korban di Yerusalem, seperti yang akan kita lihat-
merupakan akibat dari kemarahan yang meluap-luap dari generasi
penulis sejarah Islam di masa sesudahnya.
Laporan umat Islam yang paling lengkap tentang kejatuhan
Ma'arrat al-Nu'mAn yaitu laporan dari penulis yang tinggal di
sekitar Aleppo, Ibn al-Adim (w. 660 H.ll262 M.). Ia menekankan
peristiwa pembantaian ddn penghancuran besar-besaran yang terjadi
di kota ini :
Mereka [kaum Frank] membunuh sangat banyak penduduk
dengan cara menyilsanya. Mereka merampas harta benda pen-
duduk. Mereka melarang penduduk [mengambil] ait dan menjual-
nya kepada mereka. Sebagian besar penduduk mati kehausan ...
Tidak ada harta benda yang tersisa di sana yang luput dari
rampasan mereka. Mereka menghancurkan dinding-dinding kota,
membakar masjid-masjid dan rumah-rumah, dan menghancurkan
mimbar-mimbar.
PENAKLUKAN YERUSALEM
Seperti dapat diperkirakan, kejatuhan Yerusalem pada 492 H.l
1099 M. diulas secara lengkap oleh sumber-sumber muslim-
bahkan, karya paling awal yang bertahan ditulis oleh para pe-
ngarang yang telah punya waktu untuk menilai pentingnya peris-
tiwa ini, dan banyak penulis muslim yang datang kemudian
mengetahui dengan pasti arti penting dari kenyataan bahwa
Saladin telah bertekad untuk merebut kembali Kota Suci itu (foto
2.r2).
Mengenai peristiwa 492 H. 11099 M., penjelasan al-'Azhimi
sangat ringkas. "Lalu mereka beralih ke Yerusalem dan me-
naklukkannya dari tangan bangsa Mesir. Godfrey merebutnya.
Mereka membakar Gere.ia Yahudi (Kanisat al-Yahtrd)."87 "Gereji'
ini kemungkinan yaitu sinagog utama kaum Yahudi.
Ibn al-QalXnisi membuat laporan yang lebih panjang, apa
adanya, dan tenang. Mendengar kabar bahwa al-Afdhal tengah
dalam perjalanan dengan pasukan dalam jumlah besar untuk
melawan kaum Frank, mereka kembali berusaha merebut Yeru-
salem.
Kaum Frank menyerbu kota itu dan merebutnya. Banyak
penduduk Yerusalem yang melarikan diri ke tempat peribadatan
dan banyak lagi yang tewas dibunuh. Kaum Yahudi berkumpul di
sinagog dan kaum Frank membakarnya. Tempat peribadatan ter-
sebut menyerah kepada kaum Frank dengan jaminan keselamatan
pada tanggal 22 Syakban [14 Juli] tahun itu, dan mereka meng-
hancurkan kuburan-kuburan termasuk makam Ibrahim.ss
Namun, pada masa Ibn al-Jawzi (w. 597 H.11200 M.), kisah
kejatuhan Yerusalem telah dipenuhi dengan keterangan-keterangan
baru tentang pembunuhan dan penjarahan:
Peristiwa-peristiwa sepanjang tahun ini di antaranya yaitu
direbutnya Yerusalem oleh kaum Frank pada hari Jumat, 13 Syak-
ban [5 Juli]. Mereka membunuh lebih dari 70.000 kaum muslim
di sana. Mereka mengambil empat puluh tempatJilin-bercabang
yang antik, yang terbuat dari perak, dari Kubah Batu, yang masing-
masing berharga 360.000 dirham. Mereka mengambil lampu perak
yang beratnya empat puhth ratl Suriah. Mereka mengambil dua
puluh lentera emas antik, pakaian yang tidak terhitung jumlahnya,
dan barang-barang lain.8e
82 \ _______________
Laporan Ibn Muyassar (w. 677 H.ll27B M.) memberikan
sedikit keterangan tambahan, yaitu bahwa kaum Frank membakar
salinan-salinan Alquran. eo
Sementara itu, Ibn al-Atsir (w. 530 H.11233 M.) dalam
laporannya menyebutkan informasi yang sama tentang tempat
lilin bercabang dan lenteralentera. Namun, ia memasukkan infor-
masi baru, yang menegaskan pembunuhan terhadap orang-orang
suci dari kalangan muslim.
Pasukan kaum Frank membunuh lebih dari 70.000 orang di
dalam Masjid Aqshi, di antaranya banyak ada imam, ulama,
ahli ibadah, orang itikaf yang banyak di antara mereka telah
meninggalkan kampung halaman mereka dan tinggal di dekat
Tempat Suci itu.el
Pada masa Ibn Thghribirdi, kisah ini bahkan lebih leng-
kap lagi. Umat Islam dibantai di Masjid AqshA (foto 2.13) dan
Kubah Batu. Jumlah mereka yang tewas lebih banyak lagi, hingga
100.000 orang, termasuk orang tua dan orang yang sakit.e2
Bahkan, jumlah yang paling kecil pun, yaitu 70.000 orang yang
tewas, seperti disebutkan di atas, tidak disebut-sebut di dalam
sumber-sumber muslim yang pertam a ada dan dengan jelas di-
lebihJebihkan. Bagaimanapun juga, saat dikepung para Tentara
Salib, jumlah penduduk Yerusalem telah cukup banyak, sebab ,
selain penduduk aslinya, Yerusalem juga menampung para pe-
ngungsi dari kota-kota dan desa-desa lainnya yang mencari per-
lindungan di balik dinding kota itu.
Selain melakukan pembantaian di Yerusalem yang disebutkan
di semua sumber-sumber Islam, pasukan kaum Frank sesekali
juga mengincar tokoh-tokoh ulama tertentu. Kisah tentang al-
Rumayli, seorang ulama terkemuka, sangat menyedihkan. Ia di-
tangkap oleh pasukan tr<aum Frank. Tapi ia dijanjikan akan
dibebaskan dengan uang tebusan seribu dinar. sebab uang yang
diminta itu tidak berhasil diperoleh, mereka melemparinya dengan
batu hingga tewas pada tanggal 12 Syawal 492 H.ll Desember
10gg M.e3
Di semua tulisan-tulisan umat Islam tentang kejatuhan Yeru-
salem ini, tidak ada pengakuan terhadap motivasi kedatangan
pasukan kaum Frank-baik dari segi agama atau militer. Mereka
datang secara tiba-tiba dan menimbulkan kekacauan di kalangan
umat Islam. Penaklukan Yerusalem merupakan malapetaka yang
dicatat dengan kepiluan mendalam namun tanpa refleksi. Penak-
lukan ini merupakan peristiwa yang harus diderita umat
Islam, dan mestinya umat Islam dapat mengambil pelajaran
darinya.
PERI.AKUAN TERHADAP KAUM YAHUDI PADA PERANG SALIB PERTAMA
Bagi umat Islam Abad Pertengahan, kaum Yahudi yaitu "kaum
Ahlulkitab" dan sebab nya berhak mendapat toleransi dan per-
lindungan agama di dalam warga Islam di bawah perjanjian
(dzimmah). Menurut sumber-sumber muslim, banyak kaum Yahudi
yang tinggal di Yerusalem pada Perang Salib Pertama dan nasib
mereka sama buruknya dengan umat Islam saat kota itu jatuh
ke tangan kaum Frank. Seperti telah disebutkan sebelumnya, al-
Azhimi melaporkan bahwa kaum Frank membakar Gereja Yahudi.ea
Keterangan Ibn tghribirdi lebih lengkap lagi: "Mereka mengum-
pulkan kaum Yahudi di dalam 'gereji ini dan membakarnya.
Mereka menghancurkan kuburan-kuburan dan makam Ibrahim-
alaihissalam--dan mereka mengambil mihrab Daud secara damai."e5
Tidak mengherankan, bila para penulis sejarah dari kalangan
kaum muslim tidak memandang kaum Yahudi dengan rasa curiga,
seperti yang mereka lakukan sesekali terhadap kaum Kristen Timur
yang, baik salah ataupun benar, mungkin dianggap memihak rekan
seagama mereka, yakni para Tentara Salib. Kelanjutan nasib kaum
Yahudi di Palestina selama pendudukan pasukan kaum Frank tidak
dijelaskan di dalam sumber-sumber Islam ini .
KAUM KRISTEN TIMUR PADA PERANG SALIB PERTAMA
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, demografi Suriah dan
Palestina pada periode ini sangat kompleks baik dari segi etnik
maupun agama. Umat Kristen tinggal di kawasan ini dalam
jumlah besar. Ibn al-Atsir secara khusus memuji penguasa Anti-
okhia, YaghisiyAn, atas cara mereka memperlakukan penduduk
Kristen setempat saat Antiokhia tengah dikepung pada 491
H./1098 M.e6 Ibn al-Atsir mula-mula menceritakan bahwa Yag-
hisiyin takut terhadap kaum Kristen yang berada di Antiokhia.
sebab itu, ia memerintahkan umat Islam dan kemudian kaum
Firisten untuk membangun parit di luar kota ini . saat
kaum Kristen ingin pulang pada sore harinya, ia tidak meng-
izinkannya:
Katanya kepada mereka: "Antiokhia yaitu milik kalian. Tunjuk-
kan padaku sehingga aku bisa melihat
^pa
yang akan rerjadi antara
kami dan kaum Frank." Mereka menjawab: "Siapa yang akan
menjaga anak-anak dan isteri-isteri kami?" Jawabnya: "Aku berjanji
untuk mereka." Mereka kemudian menjauh dan tinggal di kamp
pasukan kaum Frank. Mereka [pasukan kaum Frank] mengepung
Antiokhia selama sembilan bulan.eT
Ibn al-Atsir menyimpulkan: "Yaghisiyin melindungi penduduk
kaum IGisten Antiokhia yang telah dikeluarkannya dari kota dan
mencegah tangan-tangan menjamah mereka."es
Uraian ini menarik. Dengan jelas, Yaghisiyin, sebagai penguasa
muslim Turki, mengkhawatirkan reaksi kaum Kristen setempat
atas kedatangan pasukan Kristen Barat-apakah mereka memihak
pendatang baru Kristen atau tetap setia dengan kaum muslim
setempat yang telah hidup berdampingan dengan mereka? Apa
yang ada di pikiran para kaum lelaki FGisten Antiokhia saat
pengepungan berlangsung tidaklah jelas. Namun, seperti telah
dikatakan sebelumnya, berdasarkan keterangan dari banyak sumbeg
yang menyerahkan Antiokhia kepada para Tentara Salib yaitu
seorang penduduk Kristen-dan ini berulang-ulang disebutkan di
bab-bab lain tentang Perang Salib seperti yang diceritakan umat
Islam. Seperti pada penjelasan sebelumnya, al-'Azhimi menyebut
orang itu yaitu Firuz. Dikatakannya, ia berasal dari Armenia,
dan beberapa sumber-sumber dari masa berikutnya melanjutkan
kisah ini.ee
PEMN KAISAR BIZANTIUM PADA PEMNG SALIB PERTAMA
DAN SESUDAHNYA_VERSI UMAT ISLAM
Peran penting namun tak terlihat yang dimainkan oleh kaisar
Bizantium Alexius comnenus dalam kisah Perang salib pertama
dipandang sebagai aspek penting yang sesekali disebutkan di dalam
sumber-sumber Islam. Ada petunjuk bahwa ia melakukan per-
mainan diplomatik yang pintar, yang melibatkan banyak pihak
dalam drama yang terjadi selanjutnya.roo
Sebagaimana telah kita ketahui, menurur al-'Azhimi, kaisar
Bizantium menulis surat kepada umar Islam pada 489 H.lIOg6
M. yang memberitahukan tentang kedatangan pasukan kaum
Frank.ror Thmpaknya, yang dimaksud dengan "umat Islam" dalam
keterangan al-'Azhimi itu yaitu Dinasti Fatimiyah sebab mereka
telah lama berhubungan dengan Bizantium. Namun, al-'Azhimi
tidak menjelaskan maksud Alexius menyampaikan informasi ter-
sebut, apakah untuk memberitahukan atau merupakan bentuk
ancaman. Seperti telah kita lihat sebelumnya, al-'Azhimi juga
menyebutkan keterlibatan Alexius dengan para pemimpin Tentara
Salib saat mereka tiba di Konstantinopel. Para pemimpin Tentara
Salib itu bersumpah kepada raja Bizantium itu untuk menyerahkan
benteng pertama yang mereka taklukkan, namun mereka tidak
memegang janji mereka itu.ro2
Al-'Azhimi juga menyebutkan raja Bizantium itu masih aktif
di Suriah utara pada 496 H.lll12-1103 M., dengan menyebutkan
bahwa ia merebut Lattakia pada tahun itu.ro3 Pada Jumadilakhir
504 H.lDesember 11l0-Januari llll M., kaisar Bizantium yang
dijuluki raja yang baru naik tahta (mutamallik) itu mengirimkan
seorang utusan kepada sultan Saljuk untuk meminta bantuan
melawan pasukan kaum Frank, dan mendesak sultan Saljuk untuk
melawan mereka dan mengusir mereka dari wilayah-wilayah kaum
muslim. Ibn al-QalXnisi melaporkan suatu pesan yang sangat
berbelit-belit, yang berupa gabungan anrara bujukan dan ancaman:
Ia [kaisar Bizantium] menyatakan bahwa ia telah mencegah
mereka [pasukan kaum Frank] melewati wilayahnya menuju wilayah-
wilayah muslim dan telah berperang melawan mereka. Akan namun ,
bila rencana ambisius mereka terhadap wilayah-wilayah Islam
membuat mereka terus menerus mendatangkan iring-iringan pasu-
kan dan balabantuan, ia dengan sangat terpaksa akan terdesak
untuk membuat kesepakatan dengan mereka dan mengizinkan
mereka lewat dan memberikan bantuan untuk mencapai tujuan
dan sasaran mereka.loa
REAKSI UMAT ISLAM TERHADAP PEMNG SATIB PERTAMA
DAN BERDIRII..IYA NEGAM TENTARA SALIB
DI KA\TASAN MEDITEMNI.A TIMUR
Hitti menyebut para Tentara Salib sebagai "musuh asing dan tak
terduga".r05 Sebutan yang diberikan Hitti ini merupakan deskripsi
yang baik tentang reaksi awal umat Islam yang kebanyakan berada
dalam posisi sebagai sasaran Perang Salib Pertama. Gelombang
keterkejutan, ketakutan, dan. kebingungan, menyebar dari wilayah-
wilayah yang paling menjadi sasaran gempuran hingga ke seluruh
dunia Islam. Namun, di tempat yang lebih jauh dari pusat
kejadian, akibat dari bencana ini semakin berkurang.
Pemahaman kita tentang reaksi awal umat Islam terhadap
akibat dari Perang Salib Pertama didasarkan pada dua sumber
masa itu, yaitu puisi berbahasa Arab dan laporan yang berjudul
Kitnb al-Jihld yang ditulis oleh al-Sulami. Beberapa puisi ber-
bahasa Arab yang ditulis oleh penyair-penyair px5s i1s-xl-
Abiwardi (w.507 H./1113 M.), Ibn al-Khayyith (w. sekitar tahun
1120-an), dan lainJain-masih tetap ada.
Barangkali al-Abiwardi,'06 yang menghabiskan sebagian besar
hidupnya di Baghdad, hadir saat salah satu atau beberapa
delegasi dari Suriah mengunjungi Baghdad untuk menceritakan
penderitaan yang telah mereka alami di bawah kekuasaan para
Tentara Salib dan memohon pimpinan Saljuk dan khalifah untuk
mengirimkan bantuan militer melawan mereka. Ia menulis be-
berapa bait yang sangat menyentuh dan menggugah emosi, yang
menggambarkan kejatuhan Yerusalem dan kurangnya perlawanan
umat Islam secara lebih luas terhadap peristiwa itu:
Bagaimana mungkin mata terpejam di tengah bencana yang akan
membangunkan setiap orang yang tertidur?
Sementara saudara-saudaramu dari Suriah hanya bisa terlelap di
atas punggung kuda-kuda perang mereka, atau di Perut-Perut
burung pemakan bangkai! ...
Ini yaitu perang, dan pedang-pedang kaum kafir terhunus di
tangan mereka, siap ditancapkan lagi di leher-leher dan teng-
korak-tengkorak manusia.
Ini yaitu perang, ia yang rerbaring di dalam makam di Madinah
[yaitu Rasulullah itu sendiri] tampak menguatkan suara mereka
dan berteriak: "Oh, purra-purra Bani Hasyim."r07
Penyair kedua, Ibn al-Khayyith, telah bekerja untuk penguasa
Tiipoli sebelum pecahnya Perang Salib Pertama dan terus ber-
hubungan dengan mereka sesudah ia pindah ke Damaskus.ro8
Barangkali kenangan hidupnya di Tiipoli membuatnya lebih was-
pada terhadap ancaman pasukan kaum Frank dibandingkan dengan
penyair-penyair seangkarannya. Beberapa bait yang ditulis untuk
pelindungnya, panglima militer di Damaskus yang bernama Adb
al-Dawla (w. 502-503 H.11109 M.), berhubungan dengan pen-
tingnya berjihad melawan pasukan kaum Frank.roe Ia mula-mula
menegaskan jumlah Tentara Salib yang begitu banyak yang terus
mengalir tiada henti:
Jumlah orang-orang musyrik terus membengkak menyemburkan
rasa takut
Sampai kapan ini akan berlangsung?
Para pasukan laksana gunung-gunung, yang datang lagi dan lagi,
bergerak maju dari wilayah-wilayah kaum Frank.
Mereka yang mencoba melawan kaum Frank telah dihancur-
kan atau disuap:
Dengan ganas, mereka [kaum Frank] menjungkalkan mereka yang
berani maju [melawan mereka] ke kubangan lumpur.
Dan mereka yang melawan akan dibuat lupa dengan uang.
Ia mengacu pada akibat buruk dari sikap saling iri hati di
:alangan para pangeran muslim. Sungguh sikap iri hati itu
nenjadi semakin parah dengan kehadiran kaum Frank:
Iri hati yang jahar [terus berlanjur], sementara iri hati telah menyala,
disulut oleh ketidakpercayaan.
Memasuki tema peristiwa utama, penuturan Ibn al-Khayyith
meningkat ke klimaks kepedihan yang mendalam dan kemarahan
akibat pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh kaum Frank
dan mendesak agar segera dilakukan tindakan terhadap mereka:
Para pemimpin orang musyrik telah tiba,
sebab nya, jangan abaikan mereka sebagai suatu hal yang datang
begitu saja!
Sisi tajam pada pedang mereka harus ditumpulkan
Dan tiang mereka harus dihancurkan.
Akhirnya, penyair ini menyebut nama sultan Saljuk yang
agung, Alp ArslAn, yang meraih kemenangan terkenal di Manzikert
melawan pasukan Bizantium pada 463 H./1071 M.
Penyair ketiga yang identitasnya masih belum diketahui me-
miliki kata-kata yang menyentuh, yang tersimpan di dalam catatan
sejarah Ibn Thghribirdi, seorang sejarawan Mamluk.rro Ia meng-
gunakan bentuk tradisional-ode (qasidah), yang biasanya di-
bacakan oleh penyair kepada pelindungnya-dan, tersengat oleh
bencana Perang Salib Pertama, mengubahnya menjadi pidato
penuh kemarahan terhadap umat Islam yang telah membiarkan
bencana-bencana ini terjadi:
Tidakkah kalian berhutang kepada Allah dan Islam, untuk membela
anak muda dan orang tua?
Jawablah kepada Tirhan! Terkutuklah kalian! Jawabllltrt
Para penyair lain juga mempertontonkan penderitaan dan
ketakutan yang disebabkan oleh pembantaian para Tentara Salib.
Salah seorang penyair itu, dengan menataP rumahnya sesudah
penaklukan Ma'arrat al-Nu'min, menyatakan:
Aku tidak tahu apakah tempat itu yaitu temPat menggembala
binatang-binatang liar atau rumahku, rumah kediamanku '..
Aku berpaling ke arahnya dan bertanya, suaraku tersedak oleh air
mata, hatiku robek oleh kepedihan dan cinta'
"Oh rumahku, mengapa nasib menjatuhkan hukuman tak adil
seperti ini kepada la[12)'rrz
Seorang saudagar dari Ma'arrat Misrin menyampaikan kisah rata-
pan dan kepedihan yang sama: "Sahabat, aku berasal dari sebuah
kota yang telah dikutuk Tirhan, yang telah dimusnahkan' Mereka
telah membunuh semua penduduknya, membunuh semua pria
dan anak-anak dengan pedang."r13
Selain puisi ini , kesaksian lainnya yang tersisa yang dibuat
segera sesudah pecahnya Perang Salib Pertama yaitu Kitib al-
JihAd, yang rupa-rupanya diselesaikan sekitar 498 H.fi105 M.
oleh al-Sulami, seorang ahli hukum Damaskus dan khatib di
Masjid Umayyah yang rerkenal. Bila kesaksian ini memang ditulis
pada tahun tersebur, maka berarti kita memiliki sebuah karya
yang sangat mendalam dan jelas, yang menunjukkan pemahaman,
mungkin juga unik, pada tahap awal Perang Salib ini, tenrang
apa yang direncanakan akan dilakukan oleh kaum Frank dan
bagaimana umat Islam bereaksi.rra
Al-Sulami memiliki gagasan yang jelas renrang perbedaan
antara kaum Frank dan Bizantium. Ia menyebut para pendatang
baru itu dengan kata lfanj, istilah yang sebelumnya digunakan,
misalnya oleh al-Mas'Crdi, untuk menunjukkan para penduduk
dari wilayah kekaisaran di kawasan Eropa. Dunia Islam telah
lama bertetengga dengan Bizantium, dan wilayah-wilayah Suriah
utara khususnya beberapa kali telah diperintah dari Konstantinopel
pada periode ddak lama sebelum Perang Salib (Antiokhia, misal-
nya, dalam kekuasaan Bizantium selama lebih dari satu abad
sampai tahun 1084). sebab itu, bisa dimengerti bahwa pada
awalnya setidaknya ada kebingungan mengenai identitas para
penyerbu (kaum Kristen) yang merebut Yerusalem. Al-Abiwardi,
misalnya, dalam ratapannya mengenai kejatuhan Yerusalem, me-
nyebut para penyerbu itu sebagai al-Rilm, istilah yang biasa
digunakan untuk Bizanrium,r'5 dan Ibn SyaddAd juga bingung
dengan istilah Bizantium dan kaum Frank dalam karyanya tenrang
geografi Suriah utara.rr6 Namun, al-sulami tidak bingung. Ia
melihat semua tujuan-tujuan kaum Frank dengan sangar jelas.
Karyanya merupakan buku resmi tentang Perang Suci (jihad),
dan akan dibahas dalam konteks ini di bab tiga. Namun,
selain memberikan peraturan-peraruran untuk melaksanakan jihad,
al-Sulami juga menambahkan komenrar-komentar pribadinya di
dalam buku ini , yang menghubungkan apa yang disebutnya
di dalam bagian teks utamanya dengan apay^ng sebenarnya terjadi
pada masanya. Secara khusus, di bagian pendahuluan pada bagian
kedua dari karyanya, al-Sulami menjelaskan alasan tulisan yang
dibuatnya, dan ia memberikan penjelasan lengkap tentang situasi
politik di Suriah sesudah invasi kaum Frank. Al-Sulami memiliki
pandangan yang luas tentang upaya-upaya para Tentara Salib,
dengan melihat seluruh rentang laju kaum F3isten Eropa ke arah
selatan: "Sekelompok [kaum Frank] merampas pulau Sisilia pada
saat terjadi perpecahan dan sikap saling bermusuhan, dan mereka
menaklukkan satu persatu kota di Spanyol."rrT Ia tidak ragu bahwa
penyebab keberhasilan para Tentara Salib di masanya di berbagai
belahan dunia yaitu sebab umat Islam tidak taat dalam men-
jalankan agama mereka:
Gangguan ini [dalam mengumandangkan jihad] ditambah lagi
ketidaktaatan umat Islam dalam melaksanakan ajaran-ajaran [Islam]
... tidak diragukan lagi bahwa ini berarti Tuhan telah menghukum
umat Islam yang saling berperang dengan sesamanya, menciptakan
kebencian dan permusuhan di antara mereka, dan mendorong
musuh-musuh mereka untuk merebut wilayah-wilayah mereka."t
Beralih ke wilayahnya sendiri, al-Sulami juga menyalahkan ke-
berhasilan kaum Frank yang menciptakan situasi politik yang
kacau-balau yang mengakibatkan "para penguasa saling membenci
dan berperang". Yang pasti, kaum Frank telah mengetahui situasi
ini terlebih dahulu:
saat mengamati negeri Suriah, mereka [kaum Frank] yakin
bahwa negeri itu tengah berperang di antara sesama mereka, saling
bersilang pendapat, dan pola hubungan mereka memuat keinginan-
keinginan untuk saling membalas dendam, meski terpendam. Ke-
tamakan mereka [kaum Frank] dengan demikian menjadi mem-
besar, sehingga mendorong mereka untuk melakukan sendiri [se-
rangan].
Umat Islam bisa menyalahkan diri mereka sendiri sebab "telah
menunjukkan tidak adanya kekuatan dan persatuan dalam perang,
masing-masing berusaha menyerahkan tugas itu kepada yang lain'.r2o
Penting untuk ditegaskan bahwa al-Sulami memahami dengan
pasti siapa kaum Frank itu sebenarnya sesudah : "Yerusalem menjadi
tujuan dari hasrat-hasrat mereka."r2r Dalam tulisannya yang dibuat
hanya beberapa tahun sesudah kejatuhan Kota Suci itu, al-sulami
melihat semuanya dengan sangat jelas bahwa kaum Frank memiliki
maksud-maksud ekspansionis lebih lanjut yang harus dihentikan
oleh umat Islam secara bersama-sama dengan cara apa saja:
Bahkan sekarang mereka melanjutkan upaya untuk memperluas
wilayah mereka. Mereka semakin tamak saat melihat kekecutan
musuh-musuh mereka yang senang hidup menjauh dari bahaya.
Lebihlebih lagi, mereka kini berharap dengan pasti agar mereka
dapat menjadi penguasa seluruh negeri dan dapat menangkapi para
penduduknya. Semoga Allah, dalam kebaikan-Nya, akan membuat
mereka purus asa dengan cira-cita mereka itu dengan memper-
satukan kembali umat Islam.r22
Perlu diingat di sini bahwa pada 498 H./1105 M., beberapa
pelabuhan di Suriah-Ascalon, Tirus, Tiipoli, dan lainlain-masih
berada dalam kekuasaan umat Islam. Yang luar biasa, ratapan al-
Sulami telah ada lebih dahulu. Namun, seperri orang-orang yang
telah memberi peringatan akan datangnya malapetaka lainnya, al-
Sulami tidak dihargai di negerinya sendiri. Ia dilahirkan paling
sedikit satu generasi lebih awal.
Dalam kata-kata ramalannya, al-Sulami meramalkan apa yang
akan terjadi kemudian di abad itu, saat N0ruddin dan Saladin
bersama-sama mengepung negara Salib Yerusalem dan terutama
penyatuan Suriah dan Mesir, yang terpecah secara politik dan
ideologi sejak abad kesepuluh:
Kedaulatan ... harus mengabdikan dirinya pada keterkaitannya
dengan kedaulatan negara-negara lain, Suriah, Jazira, Mesir dan
wilayah-wilayah sekitar, sebab teror [dari kaum Frank] dapat
mempersatukan kebencian-kebenciazn dan rasa permusuhan yang
mendalam di kalangan para penduduk yang telah berlangsung lama
di negara-negara ini, dan juga menghapuskan persaingan dan
kecemburuan di antara mereka
Al-Sulami menekankan agar umat Islam secepatnya bertindak
untuk mempertahankan garis pantai Suriah sebelum terlambat.
Meskipun seorang ahli hukum yang taat beragama, al-Sulami
tampaknya memiliki pandangan-pandangan mendalam terhadap
kerapuhan militer dan politik kaum Frank: "Orang dengan pasti
mengetahui kelemahan mereka, jumlah kavaleri dan peralatan yang
mereka miliki sedikit dan jarak yang harus ditempuh oleh para
pasukan bantuan mereka sangat jauh ... Itu merupakan kesempatan
yang harus dimanfaatkan secepatnye."t24
Secara menyedihkan, peringatan-peringatan ini tetap tidak
didengar selama lebih dari setengah abad. Sebaliknya, kaum Frank,
seperti yang sudah diperkirakan, merebut wilayah pantai Suriah
dan membentengi pelabuhan-pelabuhan ini , sekaligus me-
mfasilitasi kedatangan pasukan, senjata dan peralatan dari Eropa.
Seperti yang ditulis apa adanya oleh al-Azhimi mengenai peristiwa
ahun 497 H.lll}4 M.: "Kaum Frank membangun kota-kota
pantai sebab mereka semua kalah.Dr2s
TINJAUAN TENTANG PERISTIWA TAHLIN 492-504 H./1099-1110 M.
Pada sekitar tahun 1110, kaum Frank telah mendirikan emPat
negara di Timur Dekat-Yerusalem, Edessa, Antiokhia, dan Tiipoli.
Mereka juga menahan Dinasti Fatimiyah Mesir di pantai, mes-
kipun Fatimiyah masih mempertahankan pelabuhan fucalon de-
ngan para pasukannya. 'Dengan sangat cepat, kaum Frank telah
membangun pangkalan pantai yang kuat, yang menjamin ke-
mudahan dan kebebasan akses untuk bahan persediaan dan para
pasukan yang dikirimkan dari Eropa barat. Selain Edessa di utara
dan Yerusalem di selatan, pasukan kaum Frank menguasi seluruh
pantai. Dengan begitu, langkah pengamanan untuk melindungi
mereka menjadi terkurangi. Namun demikian, mereka tidak me-
nguasai Aleppo dan Damaskus yang memiliki sumber daya ke-
uangan yang jauh lebih besar, sehingga membuat kedua kota ini
tetap menjadi pusat pertumbuhan dan kebangkitan umat Islam.
Mereka juga tidak memiliki pangkalan sendiri di Mesir. Mereka
masih tetap kelompok minoritas yang sangat rapuh' Serangan
gencar umat Islam lewat laut dan darat bisa menghabisi mereka
di mana-mana. Namun, tentu saja ini merupakan gagasan yang
mustahil terjadi. Di wilayah daratan, umat Islam terpecah, terpisah
dan kecil hati, semenrara dalam hal kelautan, umat Islam tidak
memiliki kemampuan. Mereka juga termotivasi oleh kondisi politik
yang sebenarnya di wilayah itu, seperti yang akan kita lihat
kemudian di dalam bab ini. Kaum Frank sendiri sesekari me-
nunjukkan bahwa diri mereka itu diplomat yang lihai, sebagaimana
dijelaskan oleh sumber-sumber kaum muslim. Namun, mereka
juga dipengaruhi-juga sebagaimana diungkapkan oleh sumber-
sumber muslim, meskipun mereka baru menyadarinya sesudah
beberapa lama-oleh semangat keagamaan seperti yang nantinya
akan dimiliki umat Islam. Apalagi, mereka sepenuhnya menyadari,
mereka jauh dari kampung halaman, dan mereka tidak memiliki
bantuan militer yang cepar-ini merupakan implikasi dari pe-
ringatan al-sulami kepada umat Islam untuk mengendalikan
pelabuhan-pelabuhan di kawasan Mediterania timur-yang pasti
telah memberikan batas kepurusasaan bagi keberanian mereka.
Dan kemudian terjadi, bahwa kaum Frank, meskipun dengan
keterbatasan wilayah mereka dan minimnya jumlah pasukan,
mampu membentengi diri mereka dan terus mendapatkan bala-
bantuan dari kaum Eropa barat. Meskipun untuk tiba memerlukan
waktu lama, perjalanan mereka ke Timur Dekat relatif aman dari
gangguan.
PERPINDAHAN PENDUDUK MUSLIM
Seperti halnya peperangan yang tiada henti, pendudukan oleh
bangsa asing, kelaparan, dan penyakit,r26 mereka yang cukup
beruntung selamat dari serangan awal para Tentara Salib memilih
melarikan diri. Tampaknya banyak yang memilih jalan ini. Ibn
Muyassar menulis tentang peristiwa di tahun 493 H.ll100 M.:
"Banyak orang dari wilayah-wilayah Suriah berdatangan ke Mesir
untuk melarikan diri dari kaum Frank dan ancaman kelaparan."r2T
beberapa tokoh-tokoh terkenal diketahui telah pindah sebab
Perang Salib Pertama-seperti penyair Ibn al-QaysarAni ("Lelaki
dari Kaisarea") yang terpaksa melarikan diri dari kota ini
sesudah kaum Frank merebut pantai-pantai di kawasan Mediterania
timur.l28
Kepanikan dan ketakutan pasti telah menyebar sebab banyak
penduduk yang pindah ke tempat pengungsian yang lebih aman.
Sementara kaum Frank melanjutkan gelombang operasi perang
mereka yang selalu berakhir dengan kemenangan. Penduduk men-
cemaskan harta benda dan barang-barang berharga mereka. Barang-
barang yang bisa dibawa dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
Ibn al-DiwadAri (pada awal abad keempat belas) mencatat bahwa
sesudah Ma'arrat al-Nu'mi.n ditaklukkan, umat Islam membawa
mushaf 'lJtsmani dari sana ke Damaskus.r2e Tindakan pencegahan
seperti itu tidak akan terjadi bila pertikaian terjadi di antara
sesama kaum muslim. Ini menegaskan betapa asingnya sang
musuh, yakni kaum Frank, bagi umat Islam di Timur Dekat.
Juga ada beberapa bukti gerakan pengungsian dalam skala
yang lebih luas di Suriah dan Palestina saat terjadi pembantaian
oleh para Tentara Salib.t3o Eksodus demografis umat Islam dari
wilayah-wilayah yang diduduki oleh para Tentara Salib dimulai
pada 491 H./1098 M., bersamaan dengan penaklukan Antiokhia
dan berlanjut saat terjadi pembentukan negara Tentara Salib
selanjutnya, yang mencapai puncaknya dengan ditaklukkannya
Tirus pada 518 H./1I24 M.
Umat Islam melarikan diri dari pembantaian yang dilakukan
oleh para Tentara Salib saat mereka menyerbu masuk kota-kota,
atau bahkan juga kota-kota yang telah menyerah dan dijanjikan
syarat-syarat gencatan senjata namun para panglima tidak mampu
mengendalikan para pasukannya. Menurut sumber-sumber itu, para
pengungsi melarikan diri dari pembantaian mengerikan, misalnya
di Saruj pada 494 H./1101 M. Dikatakan oleh Ibn al-Qalinisi:
"Kaum Frank kemudian maju ke Saruj, merebutnya, membunuh
dan membantai para penduduknya, hecuali mereha yng lari
m eny e lamath an diri." | 3l
Mengenai Ars0f,, yang juga direbut pada tahun itu, sumber
yang sama menyebutkan bahwa pasukan kaum Frank mengusir
para penduduknya.t32 Proses ini pasti terjadi berulang kali sebab
kaum Frank melanjutkan ekspansinya pada periode tahun 493-
518 H./1099-1124 M. Sesudah iru, situasi berubah saat sering
kali dibuat kesepakatan perjanjian sementara antara penguasa kaum
Frank dan pihak kaum muslim.
Kadang para penduduk kota yang telah direbut atau ke-
Iompok-kelompok tertentu dalam suatu kota bisa menyelamatkan
diri sebab para Tentara Salib menghormati janji untuk menjamin
keselamatan mereka. Hal seperti itulah yang terjadi pada Gubernur
'Arqa dan beberapa pasukan yang diizinkan untuk pergi sesudah
kota ini ditaklukkan pada tahun 502 H.11109 M.'33
Pada kesempatan yang lain, para penduduk kota yang putus
asa meninggalkan kota-kota mereka iecara berkelompok, seperti
yang terjadi di Ramla pada 492 H.ll099 M. saat "orang-orang
melarikan diri dengan panik meninggalkan rumah-rumah me-
reka",r34 sebab khawatir terjadi serangan pasukan kaum Frank
dan mengungsi ke kota-kota yang dianggap aman. Menurut
sejarawan Suriah, Ibn Abi Thayyi', banyak penduduk Aleppo
melarikan diri ke Jazira dan Irak begitu mendengar Tiipoli jatuh
pada 502 H./1109 M.'35
sebab dokumentasi tentang gelombang pengungsian itu tidak
lengkap, yaitu tidak mungkin untuk memasrikan apakah per-
pindahan demografi sejenis memengaruhi daerah-daerah pinggiran
Suriah-Palestina. Thpi tampaknya eksodus penduduk dari kota-
kota itu kemungkinan pasti terus berlanjut-meskipun tidak lagi
terlalu dramatis-di sepanjang abad kedua belas, dan perpindahan
itu juga kemungkinan memengaruhi daerah-daerah pedesaan.
EKSPANSI TENTAM SALIB DAN PERPECAHAN UMAI ISIAM,
49 r-5 t8 H. I 1099-r r24 M.
Para sejarawan Islam mengetahui dengan pasd daftar suram
penaklukan para Tentara Salib yang terus berlanjut dan yang
diikuti dengan kegagalan umat Islam menyusul kejatuhan Yeru-
salem. Dari kemenangan para Tentara Salib di beberapa wilayah
ini , Tiipoli pada akhirnya menyerah menjadi negara Tentara
Salib keempat di kawasan Mediterania timur. Sumber-sumber
ini memberikan keterangan lengkap tentang pengepungan
tipoli yang berkepanjangan oleh pasukan kaum Frank. Faktor-
faktor geografis memengaruhi meluasnya wilayah taklukan mereka.
Mereka berhasil menduduki garis pantai Suriah, namun mereka
kurang berhasil saat mereka mencoba menuju ke timur. Meski
demikian, apa y^ng mereka peroleh itu mengesankan, apalagi
mengingat jumlah mereka sedikit dan mereka tidak mengenal
wilayah ini . Seperti yang telah kita lihat, sumber-sumber
Islam tidak menunjukkan hal ini dan lebih menekankan pada
perpecahan umat Islam dan kurang tanggapnya umat Islam meres-
pons kedatangan pasukan kaum Frank.dg
Kasus Hasyasyin menunjukkan segi perpecahan ini. Seperti
telah dijelaskan, Hasyasyin telah membentuk satu kelompok ter-
pisah, yakni Ismailiyah di lran, sesudah kematian al-Mustanshir
pada 487 H.l1094 M. Mereka segera mengambil kebijakan mem-
bunuhi tokoh-tokoh agama dan politik terkemuka di lran dan
mulai mengeksploitasi kelemahan dan keddakstabilan di Suriah.
Hasan-i Shabbih, pimpinan Hasyasyin yang berbasis di Alamtt,
barat laut Iran, pada sekitar awal abad kedua belas memutuskan
untuk mengirimkan para misionaris untuk menyebarkan doktrin-
doktrin rahasia mereka di Suriah. Hal ini tentu saja mengganggu
umat Islam yang sedang berperang melawan kaum Frank. Mes-
kipun jumlah mereka sangat kecil, Hasyasyin akhirnya berhasil
merebut beberapa benteng bukit dan melindungi diri mereka di
tempat itu. Namun, pada dekade-dekade awal abad kedua belas,
mereka beroperasi dari Aleppo dan Damaskus. Mereka menambah
kerumitan peta politik yang terpecah dan muncul untuk digunakan
oleh kedua belah pihak, kaum muslim dan kaum Frank, sementara
waktu terus berlanjut.
Tentu saja ada juga beberapa upaya serius yang dilakukan
umat Islam untuk menghentikan ancaman kaum Frank itu dan
kini tibalah saatnya untuk membahas masalah ini. Ada tiga wilayah
yang mungkin telah menyiapkan pasukan-pasukan yang digunakan
untuk memutus gelombang ekspansi para Tentara Salib yang terus
meluas di periode ini-Fatimiyah di Mesir, Saljuk di timur, dan
para penguasa lokal di Suriah. Bahkan mestinya di antara mereka
membentuk koalisi agar dapat lebih kuat. Namun begitu, semua
upaya umat Islam untuk menghentikan kaum Frank telah gagal.
REAKSI MESIR
Meskipun dinilai secara negatif di dalam sumber-sumber Islam,
Dinasti Fatimiyah Mesir merespons, dan merespons dengan cepat,
ancaman para Tentara Salib. Segera sesudah Yerusalem jatuh pada
492 H.ll099 M., seperti telah kita ketahui, al-Afdhal, wazir
Fatimiyah, datang sendiri ke Palestina-di sana pasukannya meng-
alami kekalahan besar-besaran dari kaum Frank. Ia kemudian
mundur ke Kairo.r36 Ibn Zhifir mencatat dengan penuh celaan:
"Ia telah memupus harapan pantai timur Suriah yang masih dalam
kekuasaan umat Islam, dan sesudah itu al-Afclhal tidak memimpin
perang secara pribadi melawan mereka."r37
Bagaimanapun juga, aktivitas Fatimiyah di Suriah utara dan
Palestina tidak berhenti bersamaan, meskipun, seperri disebutkan
oleh Ibn Zh?rfir: "sebagian besar kota-kota Suriah dan negara
ini terpecah di antara bangsa Tirrki dan kaum Frank (semoga
Tuhan mengutuknya)."taa
Sebenarnya Mesir juga telah melancarkan serangan-serangan
lain terhadap kaum Frank lewat darat dan laut. Misalnya, pada
503 H.ll109 M., sesudah kaum Frank akhirnya merebut Tiipoli,
armada Mesir tiba. Mereka terlambat delapan hari untuk mem-
pertahankan kom ini . Al-Afdhal juga telah mencoba dua
kali meminta bantuan dari Damaskus untuk melawan kaum Frank.
Pada 498 H./1104-1105 M., gabungan pasukan Mesir dan Damas-
kus bertempur dengan kaum Frank di antara Jaffa dan Ascalon,
namun hasil pertempuran ini tidak jelas.t3e Operasi-operasi perang
selanjutnya dilancarkan dari Ascalon oleh Fatimiyah, pada 499
H./1105-1106 M., 505 H.11111-1112 M' dan 506 H.lllt2-
1113 M., namun upaya mereka itu semakin jarang sebab semakin
banyak garis pantai yang jatuh ke tangan kaum Frank.
Sebagai akibat dari kemenangan yang diraih dengan mudah
ini, kaum Frank bahkan merasa kuat untuk menyerang Mesir
sendiri. Baldwin, raja Yerusalem, riba di al-Farama dan Tinnis
pada 511 H./1117 M. Ibn Zhifir mencarar operasi militer Baldwin
ini, dengan menyebutkan bahwa ia membakar masjid urama dan
masjid-masjid lain di al-Farama, dan juga gerbang kota itu.
Baldwin meninggal saat dalam perjalanan kembali ke Palestina.
Sesudah itu, Fatimiyah mundur ke dalam perbatasan mereka dan
sesekali terlibat dalam serangan kecil-kecilan di kawasan Medi-
terania timur.
Sumber-sumber modern, seperti halnya pada periode Abad
Pertengahan, biasanya menyalahkan pihak Fatimiyah Mesir sebab
kurangnya upaya mereka untuk melawan kaum Frank. thun-
tahun yang dibahas di bab ini-dan juga argumen-argumen yang
diberikan-selama periode vital ekspansi kaum Frank ini, terurama
di pantai, telah menawarkan kesempatan besar bagi pihak Fatimiyah
(yang masih memiliki akses ke pelabuhan-pelabuhan mereka
sendiri) untuk menghentikan ancaman pasukan kaum Frank itu.
Apalagi, pada periode ini pihak Fatimiyah berhasil merebut ke-
mbali beberapa wilayahnya yang dikuasai Saljuk pada paruh kedua
abad kesebelas. Namun, dorongan semangat negara Fatimiyah
yaitu masa lalu dan, seperti ditunjukkan oleh Brett, pembentukan
Kerajaan Kaum Frank di Yerusalem telah mengakhiri semua ambisi
perebutan wilayah di Suriah yang mungkin dimiliki Fatimiyah
dan telah mengantarkan pada periode isolasi Mesir yang ber-
langsung lama.rao Namun, interpretasi lainnya tentang aktivitas
Fatimiyah diberikan baru-baru ini oleh ilmuwan Jerman, Kohler.
Menyusul penjelasan yang diberikan pada beberapa sumber Islam,
ia berpendapat bahwa Fatimiyah tidak ingin para penguasa Tirrki
di Suriah menjadi tetangga dekat mereka dan mereka lebih suka
mempertahankan sebuah daerah penyangga antara mereka dan
Tirrki. sebab itu, serangan Fatimiyah terhadap kaum Frank
diarahkan terutama untuk mempertahankan pelabuhan-pelabuhan
Suriah. Dengan begitu, kepentingan-kepentingan mereka yang
bersifat langsung sebagai penguasa maritim menjadi dipertaruhkan.
Selain itu, perlawanan mereka terhadap kaum Frank mungkin
sangat tidak sungguh-sungguh. Apa pun faktanya, pasukan darat
dan laut pihak Fatimiyah bisa memberikan sedikit perlawanan
terhadap kaum Frank.
RIAKSI SALJUK
Sangat berbeda dengan laporan tentang Fatimiyah yang menganut
Syiah di dalam sumber-sumber sejarah Sunni, perlawanan Saljuk
terhadap para Tentara Salib di periode ini dibesar-besarkan oleh
para pengarang muslim dan laporan ketidakberhasilan Saljuk yang
dikenal banyak kalangan diperkecil. Secara khusus, Sultan
Muhammad (w. 511 H./1118 M.) dipuji-puji di dalam sumber-
sumber ini sebagai sesosok mujahid besar, sekalipun bukti-
bukti tentang gambaran dirinya sangat tidak lengkap. Meskipun
Saljuk dipuji telah melakukan perlawanan terhadap kaum Frank,
tampak jelas dari sumber-sumber itu bahwa banyaknya jeritan
permohonan bantuan dari para penguasa di kawasan Mediterania
timur yang terusir dan para penduduk yang ketakutan tidak
membangkitkan perasaan yang sangat responsif di Baghdad yang
jauh dan wilayah di sekitarnya. Secara keseluruhan bisa dipahami
bahwa permohonan itu seharusnya disampaikan kepada para
penguasa Sunni di timur oleh kaum Sunni Suriah. Dalam kar-
yenya yang ditulis di Baghdad, sejarawan Ibn al-Jawzi (w. 597
H.l1200 M.) mencatat dalam laporannya renrang peristiwa tahun
491 H.ll097-1098 M., yaitu sebelum kejatuhan Yerusalem: "Banyak
seruan untuk keluar dan memerangi kaum Frank dan pengaduan
semakin banyak dari berbagai tempat."rar Ia menyebutkan, atas
perintah sultan Saljuk Barlcyiruq, para panglima bergabung: "Tapi
kemudian keputusan ini berakhir dengan kegagalan."ra2
Barkyiruq sendiri, yang terjebak dalam perebutan kekuasaan
dengan saudaranya, Muhammad, tentu saja memiliki rencana sen-
diri. yaitu tidak mungkin bahwa ia memakai otoritas
pribadinya untuk mengirimkan bantuan ke Suriah. Di tahun
berikutnya, sesudah Yerusalem jatuh, Ibn al-Jawi mencatat dengan
sangat memilukan:
Mereka yang datang dari Suriah untuk mencari bantuan tiba
[dari Baghdad] dan menceritakan nasib yang menimpa umat Islam.
Kadi Abfr Sa'id al-!{arawi, kadi Damasbus, berdiri di dtwin lcetak
miring dari penulis] dan menyampaikan pidato yang membuat
semua orang yang hadir bercucuran air mata. Seseorang di-
delegasikan dari dtwLn ini untuk datang ke para pasukan dan
menceritakan bencana ini . Orang-orang itu tetap menyendiri.ra3
Jadi, kita bisa melihat bahwa tak seorang pun yang bersedia
membantu rakyat Suriah yang tengah dikepung itu.
Pada tahun-tahun berikutnya, ekspansi para Tentara Salib yang
semakin meluas, dan terutama aktivitas Thncred di Suriah utara,
mendorong pihak Saljuk untuk kembali memohon bantuan ke
Baghdad. Beberapa penduduk terkemuka dari Aleppo melakukan
perjalanan panjang menyeberangi padang pasir pada 504 H.lllll
M. untuk memohon bantuan secara pribadi melawan ancaman
dan serbuan pasukan kaum Frank yang tak terputus. Pada hari
Jumat pertama dari kunjungan mereka di Syakban 504 H./Februari
1111 M., mereka secara terbuka memohon bantuan di masjid
sultan. Menurut Ibn al-Adim (dan sumber-sumber lain), mereka
sangat mengganggu kegiatan pa:,a jamaah Jumat: "Mereka men-
cegah khotib menyampaikan khotbah, menyeru pasukan Islam
untuk melawan kaum Frank, dan mereka merusak beberapa
mimbar."r44 Ibn al-Qalinisi menulis dengan cara yang sama:
"Mereka mengusir khotib dari mimbar dan menghancurkannya
berkeping-keping, menjerit dan menangisi kemalangan yang me-
nimpa umat Islam di tangan kaum Frank, pembunuhan atas para
pria dan perbudakan atas kaum perempuan."r45
Mengingat dekatnya keterkaitan antara mimbar dan otoritas
politik yang berkuasa dalam ritual Islam, pengrusakan mimbar
ini bukan hanya merupakan tindakan vandalisme, namun juga
merupakan tantangan yang nyata terhadap sultan sendiri.
Seminggu kemudian, gangguan yang sama juga terjadi di
masjid khalifah, yang memperlihatkan orkestrasi suatu kampanye
yang sengaja dirancang untuk mempermalukan gelar dan penguasa
dz facto negara Islam. Khalifah sendiri, al-Mustazhhir, merasa tidak
senang. Vaktu datangnya utusan Aleppo itu bertepatan dengan
kedatangan menantunya dari Isfahan yang masuk ke Baghdad
dengan perayaan dan upacara meriah. Al-Mustazhhir ditahan oleh
sultan saat akan menghukum utusan yang telah membuat ke-
kacauan ini dan sultan setuju untuk mengirimkan pasukan
ke Suriah.ta6
Sebenarnya ada hasil-hasil yang nyata dari kunjungan ini dan
kunjungan-kunjungan protes sebelumnya ke Baghdad. Dalam
beberapa tahun kemudian, beberapa pasukan disiapkan untuk
menuju ke Suriah dengan secara terbuka diumumkan bahwa
tujuannya yaitu memerangi kaum Frank. Pasukan-pasukan ini
dipimpin oleh para gubernur Mosul yang bekerja di bawah
pengawasan Sultan Jv{r'hxmmad. Perlawanan mereka sangat ddak
mengesankan. Mawdtd, Gubernur Mosul, memimpin serangan
pertama, dengan didukung oleh Sultan Saljuk Muhammad me-
lawan kaum Frank pada 503 H./1110 M. Serangan itu diarahkan
secara khusus ke Edessa. Mawd0d dibantu oleh dua pemimpin
Tirrki yang berkuasa di wilayah yang kini dikenal sebagai Tirrki
timur, yaitu Sukman al-Qutbi dari Akhlat dan Najmuddin Il-
Ghizi dari Mardin. Serangan ini gagal. |v{"hammad kemudian
membiayai satu pasukan pada 505 H.11111-1112 M. untuk
kembali ke Suriah, sekali lagi dengan komando Mawdtd, bersama
dengan kontingen dari beberapa panglima dari wilayah-wilayah
Saljuk lainnya.raT Serangan ini juga gagal total. Pangeran Saljuk,
Ridhwin, mengundang pasukan ini untuk datang ke Aleppo.
Akan namun , saat pasukan ini telah benar-benar sampai di
tembok kota ini , mereka curiga sebab Ridhwin menutup
gerbangnya di depan mereka.r4s Kecurigaan mereka segera berubah
menjadi kemarahan sebab gerbang-gerbang itu tetap ditutup
selama 17 malam. Akibatnya kemudian terjadi penghancuran dan
perampasan di wilayah sekitar Aleppo. Dengan demikian, kam-
panye besar-besaran umat Islam, yang disponsori sultan Saljuk,
secara memalukan terhenti dan tanpa keberhasilan yang ny^ta,
dengan hanya menghambur-hamburkan sumber daya dan waktu.
Ini nyata-nyata telah melemahkan posisi Suriah.
Jelas sangat mudah untuk memandang Ridhwin, yang sering
kali dikritik di dalam sumber-sumber ini sebab telah con-
dong ke Syiah, sebagai kambing hitam dan menuduhnya telah
bimbang dan tidak setia pada pihak muslim. Serangan sangat
tajam terhadapnya dilontarkan oleh Ibn al-Adim, yang menulis
biografi tentangnya, dalam tulisannya:
Keadaan Ridhwin semakin lemah dan ia mulai memohon
bantuan Batiniyyah [Ismailiyah] dan sekte mereka muncul di
Aleppo. Ridhwin mengikuti mereka dan mereka mendirikan rumah
dakwah (d)r al-dawah) di Aleppo. Raja-raja Islam telah mem-
beritahukan tentang sekte ini kepadanya, tapi ia tidak memer-
hatikannya.rae
Namun, bukti dari sumber-sumber ini ddak menunjuk-
kan bahwa hanya RidhwAn yang harus dipersalahkan atas bencana
militer ini. Para panglima di kalangan pasukan sultan tidak bekerja
cukup keras untuk membujuk Ridhwin. Barangkali, pada saat-
saat terakhir ia takut tujuan pasukan yang dikirimkan oleh
keluarganya dari timur itu yaitu untuk menghancurkan otoritas
pribadinya di Aleppo.
Sultan M'rhammad kembali melancarkan serangan ke Suriah
pada 509 H./1115 M. Pada pertempuran kali ini, para penguasa
Aleppo dan Damaskus sebenarnya bergabung dengan pemimpin
Tentara Salib, Roger dari Antiokhia, dan pasukan sultan dengan
mudah dikalahkan pada Rabiulakhir 509 H./September 1115 M.
oleh Roger dalam pertempuran Danith.r5o Kekalahan ini menandai
berakhirnya serangan Saljuk dari timur terhadap kaum Frank.
Saljuk tenggelam sebab faktor politik internal di lingkungan
kekuasaan Saljuk. Motivasi Saljuk selalu dicurigai oleh para pe-
nguasa muslim di Suriah yang khawatir dengan campur tangan
Baghdad dan Isfahan di dalam urusan mereka, dan para penguasa
ini umumnya tidak memberikan dukungan kepada pasukan-
pasukan Saljuk. Dan ini mungkin sekali memang benar-benar
terjadi sebab apa yeng ditunjukkan oleh sumber-sumber pro-
Saljuk sebagai rangkaian operasi militer melawan kaum Frank di
Suriah memang merupakan upaya-upaya Saljuk dari timur untuk
memaksakan kembali otoritas yang lebih terpusar seperri pernah
terjadi pada masa kejayaan Saljuk sebelum 485 H.ll092 M. Apa
pun motivasi dari operasi militer ini (Saljuk)-yang menyebar
dari Mosul dan setidaknya di bawah dukungan Sultan Muhammad-
itu merupakan pertanda kegagalan. Juga harus diperhitungkan
kemungkinan bahwa misi yang disebarkan dari Suriah ke Baghdad
untuk meminta bantuan melawan kaum Frank telah umum
dikenal dan tidak selalu mendapat dukungan dari para penguasa
itu sendiri. Dengan demikian, saat bantuan dikirimkan, bantuan
itu tidak diterima dan rencana penyelamatan Suriah berubah
menjadi penyerangan terhadap umat Islam sendiri yang mereka
datangi dengan pura-pura untuk membantu.
Seperti telah dijelaskan, sebagian besar sumber-sumber Islam
dari kalangan Sunni mencoba untuk menutupi ketidakpedulian
pihak Saljuk atas kejatuhan Yerusalem dan pelabuhan-pelabuhan
Suriah dan mereka menunjuk kepada operasi-operasi militer ini
yang sebenarnya dikirimkan atas dukungan sultan Saljuk untuk
melancarkan jihad melawan para Tentara Salib. Namun, meski
sumber-sumber itu sangat condong memihak Saljuk, laporan-
laporan ini tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa tujuan-tujuan
ekspansi para Tentara Salib tidak berhenti oleh perlawanan-
perlawanan militer ini. Kaum Frank dengan mudah masuk ke
dalam lingkungan unit-unit wilayah kecil dengan membentuk
aliansi sementara dan mengubah prioritas yang ada di Suriah
pada dekade pertama kehadiran mereka di kawasan ini , dan
mereka memanfaatkan situasi labil ini demi keuntungan mereka.
Kalau saja pihak Saljuk di timur fokus pada kaum Frank dan
mengirimkan pasukan bersatu di bawah pimpinan sultan sendiri,
kemungkinan hasilnya akan berbeda. Sering kali disebutkan bahwa
ancarnan militer yang ny^ta terhadap para Tentara Salib berasal
dari para prajurit Tirrki, dan bukan dari pasukan Fatimiyah. Hanya
pasukan Saljuk yang dengan serius telah menghentikan ekspansi
kaum Latin Kristen di kawasan Mediterania timur. Meskipun
sultan Saljuk bersikap pura-pura pada hal itu, dan mengirimkan
bebe







