Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 2


K aum

Frank dalam peta politik Timur Dekat. Mereka merupakan salah

satu dari banyak kelompok yang jelas-jelas memperebutkan ke-

kuasaan di kawasan ini  dan diperlakukan sedemikian rupa

oleh negara-negara Islam tetangga mereka. Kaum Frank mungkin

masih bergantung pada Eropa untuk mendapatkan pasukan dan

peralatan, namun  secara politis mereka merupakan bagian dari

permainan politik Timur Dekat. Kaum Frank di periode Ayf.-

biyah, yang terhimpit sebab  mereka berada di antara operasi

intensif di masa-masa terakhir kekuasaan Saladin dan upaya-upaya

tanpa kompromi untuk menghancurkan merek^ yang datang dari

Dinasti Mamluk di paruh kedua abad ketiga belas, menikmati

masa jeda singkat kedka dalam beberapa hal mereka dipandang

hanya sebagai faksi lain yang tengah bertikai dalam peta politik

Timur Tengah.

Mamluk: Pengusiran haum Frank

dari l{awasan Mediterania Timur

Dengan tergulingnya Dinasti Ayyubiyah dan naiknya dinasti baru,

yaitu Dinasti Mamluk yang militan dari Mesir, pada 1250,

perlawanan Perang Salib dikobarkan kembali dan langkahJangkah

yang diperlukan untuk mengusir para Tentara Salib selama-lamanya

dari Timur Dekat dapat dilaksanakan secara bersamaan. Sultan-

sultan Mamluk senang tampil dengan atribut keagamaan di muka


umum. Mereka bahkan bersedia mengenakan mantel seperti para

pemimpin di kalangan Sunni. Serangan-serangan dari musuh baru,

yaitu bangsa Mongol, dan kedatangan kaum Frank yang tanpa

henti telah menjadi fokus utama untuk menyalurkan kekuatan

dinasti baru ini . Meskipun pasukan Mongol yang dipimpin

Hi.ileg0 berangkat dengan tujuan-tujuan yang jelas, yaitu meng-

habisi Khalifah hbbasiyah, menghancurkan kaum Hasyasyin

Alam0t dan menuju ke Mesir, tujuan terakhir mereka tidak pernah

tercapai. Sekalipun ada perasaan cemas terhadap ancaman bangsa

Mongol, sultan-sultan Mamluk lebih mengutamakan untuk me-

ngusir para Tentara Salib, apalagi sesudah  mereka meraih ke-

menangan besar atas bangsa Mongol yang sebelumnya tak ter-

kalahkan dalam pertempuran Sumur Daud (Ayn Jil0$ pada 1260.

Sultan Mamluk Baybars (w. 1277), raja yang sangat tegas

dan keras, merupakan tokoh utama yang memulai proses pe-

ngusiran kaum Frank (foto 1.6) sesudah  ia berhasil menyatukan

Suriah dan Palestin^, para Tentara Salib hanya bisa memberikan

perlawanan kecil-kecilan. Baybars melancarkan tiga operasi militer

besar-besaran. Sepanjang tahun 1265-1271, Baybars menaklukkan


banyak wilayah-wilayah yang dikuasai kaum Frank, termasuk

Antiokhia pada 1258 dan Krak des Chevaliers pada 1271. Ke-

berhasilan-keberhasilan ini dilanjutkan oleh sultan-sultan Mamluk

berikutnya. Sultan QaliwCrn (w. 1290) merebut Marqab dan

Maraclea pada 1285 dan Tiipoli pada 1289. Sultan al-Asyraf (w.

1293) menaklukkan atau menghancurkan wilayah-wilayah ke-

kuasaan Tentara Salib yang tersisa dan operasi militer yang di-

lancarkannya mencapai puncaknya dengan jatuhnya Acre pada

18 Mei 1291, suatu peristiwa yang dianggap menandakan berakhir-


Ketiha kaunt Franh-semoga Allab mengbancurban 7ns76fr4-memperluas

hehuasaan mereka atas wikyah-wilayah kkm yang telah mereba takluhban,

dan mereha dengan jelas melihat bahwa para pasuhan dan raja-mja Islam

telah tahluh lebih dahulu ahibat ?eperangdn sesama mereka sendiri, pada

saat itu umat Islam saling bersilang pendapat, hehendah mereha terpecalt,

dan harta mereha habis sia*ia.t (lbn al-Atsir)


Bab ini membahas kondisi umat Islam di Timur Dekat pada

tahun 1090-an menjelang berlangsungnya Perang Salib Pertama

(foto warna 11). Selanjutnya bab ini akan menelaah bagaimana

sumber-sumber Islam menanggapi rangkaian peristiwa penting yang

akhirnya membawa para Tentara Salib ke wilayah kota Yerusalem

dan dilanjutkan dengan berdirinya negara-negara Tentara Salib di

kawasan Mediterania timur. Bagian berikutnya dari bab ini akan

menganalisis efek-efek politik akibat Perang Salib Pertama dan

pengaruh emosional atas invasi pasukan kaum Frank. Pengaruhnya

sangat besar, sebab  Perang Salib Pertama memukul dunia Islam

bagaikan petir dari langit. Terlebih lagi, waktu berlangsungnya

serangan yang menghancurkan ini, yang berasal dari tempat yang

sama sekali tidak diduga, memberikan suatu keuntungan tersendiri

bagi kaum Eropa.


Sebagai catatan, sumber-sumber Islam menyebut kaum lGisten

Eropa dengan istilah kaum Frank (al-rfan). Istilah bahasa Arab

yang sepadan untuk para Tentara Salib (al-shalibiyytrn, orang yang

mengangkat senjata demi Salib) baru digunakan kemudian pada

abad kesembilan belas dan kedua puluh. Yang cukup menarik,

etimologi kedua istilah ini , Crusader (dari bahasa Latin crux

yang berarti kayu salib) dan shalibiyyttn (dari bahasa Arab shalib

yang berarti kayu salib) menegaskan pusat simbolisme Crass (kayu

salib) yang mendasari operasi-operasi militer kaum Erope yang

kemudian dikenal dengan Crusade, yang berarti Perang Salib

(dalam bahasa Arab modern disebut al-burfrb al-shaltbiyyah).

Demikian juga bagi kaum Kristen Eropa barat, suatu perang

salib diyakini sebagai "usaha Yesus sendiri, yang dilegitimasi oleh

mandatnya sendiri".2 Di dalam buku ini, istilah-istilah "kaum

Frank" dan "Tentara Salib" akan digunakan secara bergantian.

SUMBER-SUMBER ISIAM TENTANG PEMNG SALIB PERTAMA

Mendengarkan suara autentik dalam berbagai laporan tentang

peristiwa-peristiwa penting dari para saksi di saat itu akan selalu

bermanfaat. Memang benar bila dikatakan bahwa karya-karya

sejarah yang berasal dari periode-periode berikutnya telah mem-

bentuk kembali sejarah dan menggambarkan perubahan lingkungan

dan situasi sejarah yang berbeda, yang bisa dipahami bila peristiwa

sejarah itu dilihat ke belakang. Tapi sering kali sumber-sumber

semacam itulah yang bisa bertahan.

Salah satu kesulitan utama dalam mempelajari periode awal

Perang Salib justru terjadi sebab  kurangnya sumber-sumber yang

menceritakan kejadian pada saat peristiwa itu berlangsung. Catatan

sejarah paling tua yang ada yaitu  karya penulis-penulis Suriah,

yaitu Ibn al-Qalinisi dan al-Azhimi,3 keduanya menulis sekitar

tahun 1160. Sangat disayangkan, sebuah karya dengan judul sangat

memikat History of the Franhs who Inuaded the Islamic Lands

(Sejarah Kaum Frank yang Menyerbu Vilayah Islam) kini tidak

ada lagi. Penulisnya, Hamdin ibn Abd al-Rahim, sebenarnya

bekerja untuk pasukan kaum Frank tidak lama sesudah  mereka

mendarat untuk pertama kalinya di Suriah.a


Karya-karya yang memang sesungguhnya berasal dari periode

Perang Salib Pertama atau tak lama sesudahnya jarung yang bisa

bertahan. Ada beberapa puisi yang dikutip dalam tulisan-tulisan

sejarah di masa berikutnyas dan dalam antologi prtisi (diuttn)

seperti karya al-Abiwardi, Ibn al-Khayyith, dan yang lain.6 Selain

itu, kesaksian yang luar biasa dan sangat berharga diberikan dalam

sebuah karya yang berjudul Kithb al-Jibnl (Buku tentang Jihad).

Penulisnya, Ali ibn Thnhir al-Sulami (w. 500 H./1106 M.), yaitu 

seorang ahli hukum yang hidup religius dari Damaskus, seorang

ahli yang mengajar filologi di Masjid Agrtg.' Dari dua manuskrip

karyanya, yang seluruhnya ada di Damaskus-kedua karya itu

sulit diakses dan tidak tersedia dalam edisi cetak-hanya beberapa

bagian yang bisa bertahan. Manuskrip-manuskrip ini  tam-

paknya telah dicatat sekitar tahun 1105, dan dengan demikian

dibuat pada periode paling awal dari ekspansi pasukan kaum

Frank di Suriah dan Palestina.

Sebaliknya, mengenai pandangan umat Islam terhadap peris-

tiwa-peristiwa Perang Salib Pertama dan akibatnya, kami mengan-

dalkan bukti-bukti dari para penulis di periode belakangan, sePerti

Ibn al-Atsir (w. 630 H.ll233 M.) dengan karyanya al-Khmil f

al-Thrikh\ dan Ibn al-Adim (w. 660 H.ll262 M.) dalam tulisan

sejarahnya tentang Aleppo.e Informasi tambahan bisa dimasukkan

dari sumber-sumber kaum muslim lainnya, berupa catatan sejarah,

kamus biografi, dan karya-karya geografis. Karya-karya ini akan

banyak digunakan dalam bab ini serta di buku ini'

Namun, sebagai permulaan, penting ditekankan bahwa sum-

ber-sumber Islam Abad Pertengahan sangatlah terbatas. Akan sia-

sia bila mencari catatan yang lengkap tentang Perang Salib Pertama

ataupun pemahaman yang mendalam tentang sebab-musabab

kedatangan pasukan kaum Frank. Keterbatasan ini bukan sebab 

umat Islam ingin melupakan kekalahan-kekalahan mereka yang

memalukan dari para Tentara Salib. Namun, ini terjadi lebih

sebab  karakteristik umum tulisan sejarah Islam Abad Pertengahan

yang cenderung menekankan pada tema-tema proPaganda, dengan

secara kabur melewatkan detail-detail hal yang berkaitan dengan

sisi militer. Harus diingat bahwa sebagian besar pencatat sejarah

Islam yaitu  para administratur dan ulama yang tengah belajar'

dan bukan ahli-ahli militer. Mereka membahas bagian yang

42 \ _______________

menarik perhatian mereka dan melihat sejarah lewat kaca mata

kepercayaan mereka. Bagi mereka, sejarah merupakan bentangan

kehendak Tirhan bagi dunia dan kemenangan Islam yang mudak.

KONDISI UMUM DUNIA ISLAM MENJEI.ANG PEMNG SALIB PERTAMA

Dalam paparan sejarah tentang Perang Salib, sudah umum diyakini

bahwa para Tentara Salib Pertama meraih kemenangan mereka

sebab  kaum muslim tengah mengalami perpecahan dan ke-

munduran. Kalau saja para Tentara Salib itu tiba sepuluh tahun

lebih awal, mereka akan mendapat perlawanan keras sebab 

bersatunya berbagai kelompok di negara yang diperintah oleh

Maliksyah, sultan terakhir dari tiga Sultan Besar Tirrki Saljuk.

\Wilayah kekuasaannya di wilayah Barat meliputi Irak, Suriah,

dan Palestina. Namun, pembahasan ilmiah sebelumnya tentang

keadaan kaum muslim pada umumnya pada 488 H./1095 M.

tidak terlalu jauh beranjak dari penekanan bahwa dunia Islam

mengalami perpecahan dan kemunduran akibat kehilangan pe-

mimpin yang benar-benar kuat dan sebab  terjadinya pertikaian

agama.

PERISTI\TA.PERISTMA YANG MENGHANCURKAN UMAT ISIAM

SEPANJANG 485-457 H.lto92-r094 M.

Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, yang dimulai sejak

485 H.llO92 M., terjadi rentetan pembersihan semua pemimpin

politik terkemuka dunia Islam dari Mesir hingga ke timur. Pada

485 H.l1O92 M., tokoh terbesar dalam sejarah Saljuk, menteri

(wazir) Nizhim al-Mulk, penguasa de facto kekaisaran Saljuk

selama lebih dari tiga puluh tahun, dibunuh. Sebulan kemudian,

Maliksyah, sultan ketiga Saljuk, wafat secara mencurigakan, sesudah 

selama dua puluh tahun berkuasa dengan gemilang. Thk lama

berselang, permaisurinya menyusul diikuti oleh cucunya dan

pemimpin-pemimpin politik berpengaruh lainnya. Sumber-sumber

Islam bahkan memandang tahun 487 H.ll094 M. sebagai tahun

penuh bencana, sebab  di tahun ini era lainnya turut berakhir,

yaitu dengan wafatnya Khalifah Fatimiyah di Mesir, al-Mustanshir,

musuh besar Saljuk, yang telah memerintah selama 58 tahun.

2.3, 2.4-2.6), kemudian menyusul. Pada 487 H.l1O94 M.,

Khalifah Abbasiyah al-Muqtadhi yang berpaham Sunni juga wafat.

Seperti diuraikan oleh sejarawan Mamluk, Ibn Thghribirdi: "Thhun

ini disebut tahun kematian para khalifah dan pemimpin."ro

Musibah kematian beruntun yang terjadi di dua pusat ke-

kuasaan utama dunia Islam ini, yaitu kekaisaran Saljuk dan

Fatimiyah, yang terjadi secara bersamaan, sama akibarnya seperti

perpecahan Tirai Besi sejak 1989 dan seterusnya: partai-partai

politik terkenal memberi jalan bagi munculnya disorientasi dan

anarki. 'Waktu kedatangan Perang Salib Pertama sungguh cukup

menguntungkan. Apakah kaum Eropa telah diberitaht bahwa saat

itu merupakan saat yang paling tepat untuk menyerang? Sayang-

nya, hanya ada sedikit bukti mengenai hal ini di dalam sumber-

sumber Islam. Thpi tentu para Tentara Salib itu tidak akan dapat

berhasil dengan hanya mengandalkan situasi kebetulan saja.

KEMUNDURAN AKIBAT PERPECAHAN AGAMA

Perpecahan lagama menyerang kehidupan umat Islam di semua

lapisan warga . Sebagai "penguasa Islam Sunni yang baik",

bangsa Saljuk telah melanjutkan kebijakan luar negeri yang penuh

semangat pada periode 1063-1092. Sasaran utama serangan me-

reka bukanlah kerajaan-ker$aan Bizantium ataupun lkisten Kaukasus,

meskipun mereka juga menyerang kerajaan-kerajaan ini , namun 

sesama kerajaan kaum muslim, yaitu Khalifah Syiah Fatimiyah

penganut bidah di Kairo. Peperangan berkepanjangan dilancarkan

di Suriah dan Palestina. Permusuhan ideologi dan politik antara

Dinasti Fatimiyah yang menganut paham Syiah Ismailiyah dan

Saljuk yang berhaluan Sunni sudah sangat tajam dan praktis

hampir tak terbayangkan bagi mereka untuk membentuk front

Islam bersatu dalam melawan musuh dari luar, yaitu para Tentara

Salib.


(Creswell Photogrophic Atchive, Ashmoleon Museum, Oxford, neg. C. 163).

SEMANGAI MASA ITU

Perginya para pemimpin yang berpengaruh sefta kebencian dan

permusuhan sektarian yang semakin meruncing di kalangan umat

Islam telah memicu keresahan dan hilangnya orientasi kaum

muslim. Umat Islam mengalami masa-masa yang sangat kacau.

Abad Islam yang baru-abad keenam-akan segera datang (di-

mulai pada 2 September 1106) dan banyak umat Islam yang

menantikan abad itu dengan ketakutan. Apalagi sesudah  pada tahun

492 H.ll099 M. mereka menyaksikan kejatuhan Yerusalem.

Banyak di antara mereka yang mungkin percaya bahwa saat itu

hari kiamat sudah dekat. Sementara umat Islam lainnya berharap

bahwa pada abad baru ini , seperti pada abad-abad sebelum-

nya, akan datang seorang pembaharu (mujaddid) bagi dunia Islam.

Memang, banyak yang menganggap al-GhazAli sebagai figur ter-

sebut. Sepanjang tahun-tahun menjelang kedatangan abad baru

ini , dunia Islam yang terpecah, yang dicabik-cabik oleh

kebencian, perang dan invasi bangsa nomaden, pasti telah merasa

kiamat. Meskipun demikian, hal terakhir yang telah diperkirakan


umat Islam yaitu  invasi dari kaum Eropa barat. sesudah  terpukul

oleh pembantaian pertama, umat Islam barangkali mengira akan

datang peristiwa yang jauh lebih mengerikan. Umat Islam Abad

Pertengahan telah mengenal fenomena astrologis-komet, meteor,

pergerakan bintang-bintang-dan telah biasa menafsirkan per-

tanda-pertanda dan meramalkan kejadian di masa mendatang dari

fenomena astrologis itu. Penulis sejarah Suriah al-'Azhimi, yang

hanya menggabungkan cuplikan-cuplikan ringkas informasi historis

di dalam karyanya, berusaha memberikan paparan tentang peris-

tiwa di tahun 489 H.ll096 M., bahwa saat  pasukan kaum

Frank pertama kali muncul "saturnus berada di Virgo".ll Para

pembacanya akan bisa menafsirkan bahwa paParan ini meng-

gambarkan sebuah peristiwa yang sangat tidak menguntungkan

dan mencemaskan. Sebagaimana diungkapkan oleh penulis ensi-

klopedi Islam, al-Qazwini: "para astrolog menyebut Saturnus

sebagai lambang bintang malapetaka paling besar ... dan bintang

itu membawa kehancuran, keruntuhan, kesusahan, dan kesedihan'.


490 H./1097 M. dan 493H.l1099-1100 M., semakin menambah

suram masa-masa ini .r3 Bencana ini sendiri ikut berperan

dalam menghalangi Dinasti Fatimiyah untuk terlibat lebih jauh

dalam Perang Salib Pertama dan mempertahankan kendali mereka

atas Yerusalem dan Palestina yang baru mereka rebut.

PERSPEKTIF TIMUR_PERPECAHAN DINASTI SALJUK,

485492 H./1092-1099 M.

sesudah  Nizhim al-Mulk dan Maliksyah wafat pada 485 H.11092

M., Dinasti Saljuk, dan terutama dua putra Maliksyah, Barkyiruq

dan M'rhammad, terlibat dalam konflik militer berkepanjangan

yang berakhir dengan kematian Barlcyiruq pada 498 H./1105 M.

Akibat perang ini, hampir seluruh sumber daya militer yang

tersedia habis. Peperangan berlangsung di Iran barat, namun

akibatnya terasa hingga ke Irak, wilayah tradisional khalifah Sunni,

di Iran timur dan Asia Tengah, dan, dengan sendirinya, juga

terjadi di Suriah dan Palestina yang jauh, yang merupakan pusat


semula gerakan Dinasti Saljuk. Para pangeran Saljuk di Timur

tidak punya waktu dan motivasi untuk melibatkan diri mereka di

kawasan Mediterania timur dan menyerahkan Yerusalem begitu saja.

ANATOLI-A DI AKHIR ABAD KESEBELAS

Perpecahan yang sama juga terjadi di wilayah-wilayah dunia Islam

lainnya. Kaum Tirrki nomaden Anatolia merupakan musuh per-

tama dari dunia Islam yang harus dihadapi para Tentara Salib

sesudah  mereka meninggalkan Konstantinopel. Seperti telah di-

jelaskan sebelumnya, pertempuran Manzikert pada 463 H.lll7l

M. biasanya dijadikan saat yang tepat untuk melambangkan proses

penyerbuan berbagai kelompok Tirrki Nomaden ke kerajaan Bizan-

tium yang berlangsung secara bertahap namun terus menerus,

melanjutkan gaya hidup mengembara dan kegemaran berperang

yang telah lama lekat pada mereka. Kita tidak mengetahui dengan

pasti jumlah kelompok-kelompok ini: sebagian diberi izin oleh

sultan-sultan Saljuk untuk menyerang, sementara yang lainnya

melaju tanpa diketahui demi kesetiaan mereka kepada otoritas

kesukuan-meski jumlah mereka ini sedikit. Penguasa Saljuk di


Asia Kecil barat, Qilij fuslin (memerintah pada 485-500 H.l

1092-1107 M.), yang disebut sultan di setiap sumber-sumber

ini , berasal dari kelompok pemberontak keluarga besar Saljuk,

dan meskipun ia jauh dari Iran, secara emosional ia masih terikat

dengan warisan kesukuannya di timur. Saat terjadi ketidakstabilan

politik sesudah  485 H.ll092 M., setiap ada kesempatan Qilij

Arslin ikut campur dalam urusan-urusan sultan Saljuk di timur,

untuk memanfaatkan kelemahannya dan untuk mendapatkan

wilayah bagi dirinya sendiri. Ini jauh lebih menyenangkan baginya

daripada harus melakukan operasi militer melintasi bukit-bukit

menuiu ke Suriah dan Palestina untuk memerangi Tentara Salib.

Bahkan di Anatolia sendiri tidak ada kemenyatuan politik yang

menyeluruh di antara kelompok-kelompok Tirrki nomaden yang

berlainan yang saling memperebutkan wilayah di sana sesudah 

pertempuran Manzikert.ra Orang-orang Skandinavia yang meme-

gang kekuasaan di Anatolia tengah antara Sivas dan Malarya,

sungguh, bahkan, membentuk aliansi sementara dengan sultan-

sultan Saljuk di Anatolia barat untuk menghadapi pertempuran

Dorylaeum (Juli 1097). Akan namun , aliansi-aliansi semacam itu

selalu tidak bertahan lama. Tak dapat dibayangkan bangsa Turki

dengan cermat dan bersama-sama mengambil inisiatif untuk ke

Palestina atau Suriah.rs

Bangsa Tirrki di Anatolia, meskipun merupakan prajurit-

prajurit yang cakap dan tangguh, jumlahnya sangar sedikit. Mereka

tidak bisa bertahan dalam perrempuran yang berlangsung lama,

sementara mereka berhadapan dengan pasukan yang jumlahnya

jauh lebih banyak dan bertekad untuk menang. Namun, mereka

mampu menyerang musuh-musuh mereka dengan melepaskan

anak-anak panah mereka sambil berkuda dan sungguh dapat

menyulitkan para Tentara Salib yang datang. Meski begitu, mereka

tidak mampu menghentikan laju pasukan kaum Frank yang

jumlahnya sangat besar yang menyeberangi Asia Kecil. Sayangnya,

sebab  mereka itu bangsa nomaden, mereka tidak meninggalkan

catatan apa pun tentang hasil yang telah mereka capal Terutama

sekali, tidak ada laporan tentang Perang Salib Pertama dari sudur

pandang bangsa nomaden Anatolia ini.

PERSPEKTIF MESIR 487-492 H./I094_I099 M.

Penguasa-penguasa Fatimiyah di Mesir digambarkan dengan sangat

buruk oleh para sejarawan besar Islam Sunni Abad Pertengahan,

sebab  mereka menganut sekte Syiah Ismailiyah yang rertutup,


sulit dipahami, dan ekstrem, dan pada paruh kedua abad kesebelas,

mereka menjadi musuh utama bangsa Saljuk yang menyatakan

diri mereka sebagai pembela Islam Sunni. Menjelang terjadinya

Perang Salib Pertama, Dinasti Fatimiyah tengah mengalami ke-

sulitan. Kepercayaan agama mereka yang menyimpang dari ke-

biasaan telah memutuskan seluruh aliansi mereka dengan kerajaan-

kerajaan Islam Sunni tetangga mereka di Suriah dan Palestina.

Penguasa de facto mereka, wazir Badr al-JamAli (w. 4BB H.ll095

M.) yang diteruskan oleh putranya, al-Afdhal (w. 515 H.lll2l

M.) memilih untuk memerintah lewat khalifah-khalifah muda

yang dijadikan sebagai boneka politik. Penulis biografi Islam Abad

Pertengahan yang terkemuka, Ibn KhallikAn (w. 68l H.l12B2

M.), yakin bahwa kemunduran Fatimiyah telah berlangsung sejak

awal 466 H.ll074 M.: "penguasa al-Mustanshir mengalami ke-

munduran besar-besaran dan berbagai urusan dinasti ini 

menjadi kacau-balau".16


Berbagai kejadian di kekaisaran Dinasti Fatimiyah dan usaha-

usaha yang dilancarkan para pemimpin mereka ke Palestina dan

Suriah sangat berperan atas pecahnya Perang Salib Pertama. Perlu

pula ditegaskan bahwa berbagai aktivitas Fatimiyah pada periode

ini secara menyedihkan telah sangat sering diabaikan.

Perpecahan Nizari

Pada 487 H.11094 M., kematian Khalifah Fatimiyah al-Mustanshir

memicu munculnya kemelut pergantian kekuasaan: putra tertuanya,

NizAr, dilangkahi oleh putranya yang lain, al-Musta'li. Nizir

melarikan diri ke Aleksandria. Di sana, ia tewas dibunuh dan al-

Musta'li kemudian naik tahta. Peristiwa yang disebut sebagai

perpecahan Niziri ini kembali memecah Ismailiyah. Kasih sayang

lenyap dari ideologi Fatimiyah di Kairo. Pada sekitar masa itu,

pada 483 H./1090 M., kaum Ismailiyah Persia yang berada di

bawah pemimpin karismatik Hasan-i Shabbih menjadikan Benteng

Alamirt yang terpencil di barat laut Iran sebagai markas mereka,

mendukung tuntutan Nizir dan memisahkan diri dari Kairo.

Selanjutnya, semangat dakwah dan dinamisme revolusioner kaum

Ismailiyah menjadi ciri kelompok pemberontak ini. Ini begitu

populer dikenal, di antara julukan-julukan lain yang bernada

menghina, seperti sebutan Para Pembunuh (Hasyisyiyyah). Pada

abad kedua belas, mereka berperan penting atas berbagai per-

sekongkolan dan kehidupan politik para Tentara Salib dan kawasan

Mediterania timur.

Keterlibatan Fatimiyah di Suriah dan Palestina

Sepanjang tahun 491 H.11097-1098 M., di masa-masa awal

Perang Salib, pasukan Fatimiyah di bawah pimpinan al-Afdhal,

wazir dan penguasa dr facto kekaisaran ini , melakukan se-

rangan ke Palestina dan merebut Yerusalem. Kedua kota itu jatuh

ke tangan dua budak Saljuk, pimpinan kaum Turki dari keluarga

Artuqid: Sukman dan saudaranya, Il-Ghizi.17 Setahun kemudian,

Tentara Salib merebut Yerusalem dan mengalahkan pasukan yang

dipimpin al-Afdhal di fucalon.18 Serangan tiba-tiba yang dilakukan

al-Afdhal ke Yerusalem, dengan waktu yang sangat tepat, memer-

lukan penjelasan yang belum diberikan oleh para sarjana Islam.

Mengapa al-Afdhal melakukan serangan ini? Apakah sebab  ia

telah mengetahui lebih dahulu tentang rencana para Tentara Salib?

Bila demikian, apakah ia merebut Yerusalem untuh hepentingan

para Tentara Salib, yang sebelumnya relah menjalin aliansi dengan-

nya, ataukah ia melakukan hal itu untuk menghentihan Tentara

Salib merebut Yerusalem? Ini semua merupakan pertanyaan-per-

tanyaan historis yang bernilai penting, yang mungkin diharapkan

bisa ditemukan jawabannya di dalam sumber-sumber Islam. Bukti-

bukti itu memang sangat tidak mencukupi namun layak dikaji

di sini,re sebab , seperti yang diamati oleh sarjana Jerman, Kohler,

pembahasan ilmiah tentang pertanyaan ini  cenderung meng-

abaikan bukti-bukti yang berasal dari Islam.

Apakah yang dikatakan oleh para penulis sejarah dari kalang-

an Islam mengenai ini semua? Penulis sejarah dari Aleppo, al-

'Azhimi, menjelaskan tentang peristiwa di tahun 489 H.llO95-

1096 M., bahwa kekaisaran Bizantium "mengirim surat kepada

kaum muslim untuk memberitahukan mereka tentang kehadiran

pasukan kaum Frank ini ".2o Ini merupakan saat paling awal

bagi kaum muslim untuk mengetahui rencana kaum Frank ter-

sebut. Tidak jelas kaum muslim yanB mana yang dimaksud di

sini, tapi kemungkinan yaitu  Fatimiyah. Dan informasi ini ,

yang dari sisi lain dapat ditafsirkan memberikan citra buruk bagi

kaisar Bizantium, mungkin telah mendorong al-Afdhal membuat

keputusan untuk merebut Yerusalem. Kalau tidak, petikan-petikan

informasi ini mungkin saja sengaja dimasukkan untuk memberi

kesan bahwa kekaisaran Bizantium telah membuat perjanjian baik

dengan para Tentara Salib dan "kaum muslim", dan kaisar Bizan-

tium hanya memberitahu kaum muslim ini  saat  para

Tentara Salib itu akan datang. Atau, kaisar Bizantium mungkin

tengah mengancam kaum muslim. Tidak adanya sumber lain

yang menyinggung tentang surat ini bisa berarti bahwa surat itu

tidak benar atau para penulis sejarah dari kalangan muslim lainnya

menghilangkan keterangan ini sebab  bisa merusak citra rekan-

rekan seiman mereka (siapapun mereka).

Semua interpretasi ini menunjukkan bahwa satu kelompok

kaum muslim mengetahui tentang kedatangan Perang Salib de-

ngan tepat namun mungkin mereka punya alasan tersendiri untuk

tidak menyebarkan informasi ini  dan mencoba memper-

tahankan wilayah Islam dengan lebih efektif.

Bukti kedua dari penulis sejarah lain akan dipaparkan berikut

ini. Tirlisan sejarah lbn Zhifir (w. 613 H.ltll6 M.) merupakan

laporan paling awal yang masih bertahan renrang masa-masa

terakhir pemerintahan Fatimiyah. saat  membicarakan pengambil-

alihan Yerusalem oleh kaum Frank dari tangan Fatimiyah, Ibn

ZhA,fir menulis: "tidak seorang pun di sana memiliki kekuatan

untuk melawan kaum Frank. Akan lebih baik bagi umat Islam

seandainya kota itu [Yerusalem] diberikan kepada penguasa Artuqid

lyaitu Sukman dan Il-Ghizi]." Mengenai al-Afdhal, Ibn Zhifir

melanjutkan keterangannya, yaitu  lebih baik kaum Frank men-

duduki pelabuhan-pelabuhan Suriah, "sehingga mereka bisa men-

cegah penyebaran pengaruh bangsa Turki ke wilayah-wilayah

Mesir".2l

Ini sangat jelas menunjukkan bahwa setidaknya al-Afdhal pada

mulanya menerapkan kebijakan mendukung kelompok Tentara

Salib dan bukan Tirrki Saljuk, yang mereka anggap sebagai musuh

besar, dan al-Afclhal berharap para Tentara Salib akan mendirikan

sebuah wilayah penyangga antara Mesir dan Turki yang saat iru

sedang bertikai. Invasi orang-orang Tirrki ke Suriah pada 1070-an

di bawah pimpinan Atsiz masih menyisakan trauma bagi Fati-

miyah.22

Mengapa kemudian kita membaca bahwa pasukan kaum

Frank mengalahkan al-Afdhal dan pasukan Fatimiyah yang me-

nyerang kaum Frank saat mereka tengah mengepung Yerusalem?

yaitu  sangat mungkin bila al-Afdhal menganggap kaum Frank

akan membiarkannya menguasai Yerusalem sebagai bagian dari

kesepakatan yang diatur sebelumnya, dan ia selanjutnya sangat

terlambat mengetahui bahwa pasukan kaum Frank sebenarnya

bermaksud menguasai kota itu sendiri. Jadi ia kemudian meng-

akhiri kesepakatan yang dibuat dengan para Tentara Salib itu.

Yang pasti, pengepungan Yerusalem oleh kaum Frank tampaknya

telah mendorong al-Afdhal untuk bergerak menyerang kaum Frank,

seperti diungkapkan oleh Ibn Muyassar: "Pada Rajab [492] kaum

Frank mengepung Yerusalem ... al-Afdhal menemui mereka ber-

sama dengan pasukannya. saat  kaum Frank mendengar ke-

datangan al-Afdhal [dari Kairo] mereka retap mengepung Yeru-

salem sampai kota itu berhasil dikuasai pada Jumat, 22 Syakban."23

sesudah  kota itu berhasil direbut, menurut Ibn Muyassar: "Al-

Afdhal datang ke Ascalon pada 14 Ramadan. Ia mengirimkan

utusan kepada kaum Frank untuk menyatakan kutukan kepada

mereka atas tindakan yanB telah mereka perbuat."24

Kaum Frank balik mengancam dengan menimbang bahwa

jumlah pasukan mereka sangat besar. Mereka kemudian menyerang

pasukan al-Afdhal. Al-Afdhal kemudian melarikan diri ke Ascalon,

dan di sana al-Afdhal kemudian dikepung oleh kaum Frank.

Mereka berangkat, dan al-Afdhal bertolak ke Kairo melalui jalur

laut. 25

Alasan waktu yang dipilih al-Afdhal untuk menyerang Yeru-

salem barangkali juga ditunjukkan oleh penulis sejarah Damaskus,

Ibn al-Q_alanisi. Tidak lama sesudah  ia membuat laporan tentang

kejatuhan Antiokhia ke tangan para Tentara Salib pada Jumadil-

awal 491 H. yang bertepatan dengan Juni 1098, Ibn al-Q4linisi

tiba-tiba mulai menuturkan kisah tentang penaklukan Yerusalem

oleh al-Afdhal di bulan berikutnya.'6 Dengan memerhatikan pe-

milihan waktu ini , kita mungkin bisa menyimpulkan bahwa

bagi al-Afdhal kejatuhan Antiokhia ini  barangkali merupakan

titik balik, dan ia tidak percaya bahwa kaum Frank tidak akan

bergerak ke selatan. Bila memang pernah ada perjanjian antara

kaum Frank dan Fatimiyah untuk membagi kawasan Mediterania

timur, per,ianjian itu pastinya telah batal sesudah  kejatuhan Antiokhia.

Bagi umat Islam, tak ada lagi informasi yang lain yang dapat

diketahui selain bukti-bukti yang telah disebutkan terdahulu. Akan

namun , itu cukup untuk menyimpulkan bahwa pihak Fatimiyah

dan Tentara Salib telah mulai menjalin kerja sama, yang berakhir

dengan kekecewaan Fatimiyah. Sulit untuk menilai seberapa jauh

sebenarnya keterangan ini dapat dipandang sebagai propaganda

anti-Fatimiyah yang ditiupkan oleh sejarawan Sunni, namun

sebagai pertimbangan-dan terurama mengingat kesaksian al-

'Azhimi-bukti-bukti itu sangat berpengaruh.2T

Penulis sejarah Ibn al-Atsir (w. 630 H.ll233 M.), yang

membahas permulaan Perang Salib Pertama, menyertakan laporan

yang secara terus terang menyalahkan Fatimiyah:

Dikatakan bahwa penguasa Alid dari Mesir, saat  menyaksi-

kan kekuasaan negara Saljuk, kekuatan mereka, penaklukan mereka

atas wilayah Suriah hingga Gaza, dan menyadari bahwa di antara

mereka dan Mesir tidak ada provinsi untuk menahan mereka, dan

lsaat  mereka juga melihat] Atsiz lpanglima Saljuk] memasuki

Mesir dan memblokadenya, mereka ketakutan dan mengirimkan

pesan kepada kaum Frank dan meminta mereka datang ke Suriah

dan menaklukkannya sehingga mereka [kaum Frank] akan berada

di antara mereka [pihak Fatimiyah] dan negara-negara Islam.28

Thnpa disengaja, prasangka penulis terhadap pihak Fatimiyah

menjadi jelas di sini, saat  penulis membicarakan dua kelompok

berbeda ini , yakni Fatimiyah dan negara-negara Islam.

Dari laporan di atas, kita bisa melihat bahwa berbeda dengan

sumber-sumber Islam Abad Pertengahan lainnya yang mengabaikan

aktivitas-aktivitas Fatimiyah pada periode tidak lama sebelum dan

sesudah  kedatangan kaum Frank, ada beberapa  petunjuk di sini

bahwa Fatimiyah lebih tertarik mempertahankan wilayah-wilayah

mereka dari musuh lama mereka, yaitu bangsa Tirrki, dibandingkan

menghindari ancaman dari kaum Eropa barat. Keakraban yang

telah terjalin lama dengan kekaisaran Bizantium lGisten bahkan

mungkin telah mendorong terjadinya kesepakatan dengan Bizan-

tium untuk bekerja sama dengan Tentara Salib saat  mereka

datang. Kemungkinan juga, al-Afdhal menganggap Tentara Salib

bekerja untuk Bizantium, yang menjalin persahabatan dengannya.

Terlepas dari keterangan mana yang paling benar,2e Fatimiyah

jelas-jelas meremehkan tujuan kaum Frank dan sangat terlambat

mengetahuinya. Di sini kita juga melihat kemungkinan yang cukup

besar bahwa bahkan sebelum Yerusalem jatuh dan negara-negara


Tentara Salib dibenruk di kawasan Mediterania timur, politisi-

politisi muslim siap bekerja sama dengan "musuh" baru untuk

melawan musuh lama mereka, meskipun musuh lama itu sama-

sama muslim. Kecenderungan seperri ini semakin meningkat di

dekade-dekade awal abad kedua belas dan bertahan sebagai sebuah

bentuk hubungan anrara kaum muslim dan Tentara Salib, hingga

para Tentara Salib itu tidak lagi berada di Timur Dekat.

RINGKASAN KONDISI MIAYAH.MIAYAH ISIAM MENJEIANG

PERANG SALIB PERTAMA

Sudah sering dikatakan bahwa keberhasilan awal para Tentara

Salib yaitu  sebab  mereka begitu bersaru sedang kaum muslim

terpecah-belah. Perpecahan ini telah dianalisis dan ditegaskan

kembali. Dunia Islam-bisa dikatakan dengan ringkas-kehilangan

pemimpin-pemimpin utama di semua daerah, tak lama menjelang

invasi kaum Frank. Kaum muslim juga tidak memiliki suatu

sistem kepemimpinan yang kuat di negara-negara sekitarnya.

Penelitian sebelumnya tenrang dunia muslim juga tidak begitu

memberi perhatian pada soal perpecahan agama yang akibatnya

cukup melumpuhkan itu. Pada abad kesepuluh, Khalifah Fatimiyah

Syiah Ismailiyah yang bidah memosisikan diri mereka sebagai

oposisi langsung Khalifah Sunni hbbasiyah yang berpusat di

Baghdad. Pada abad kesebelas, pertentangan itu berujung dengan

pecahnya konfrontasi militer antara Fatimiyah dan Saljuk. Me-

mang, bangsa Saljuk, yang terkenal sebab  kemenangan mereka

pada 463 H.ll}7l M. di bawah pimpinan Alp ArslAn atas

pasukan Bizantium di bawah pimpinan Kaisar Romanus Diogenes

IV dalam pertempuran Manzikert, sebenarnya jauh lebih fanatik

dalam menyerukan jihad melawan Dinasti Fatimiyah yang bidah

dibandingkan melanjutkan keberhasilan mereka di Asia Kecil.

Dalam menentukan pilihan prioritas ini, bangsa Saljuk hanya

memilih untuk mementingkan diri mereka sendiri. Ini merupakan

pola yang telah berakar dan menjadi karakteristik sebagian besar

dunia Islam pada Abad Pertengahan. Tercurahnya perhatian utama

pada konflik-konflik di dalam \Vilayah Islam (Dhr al-Islim)

menyebabkan dunia Islam sama-sama mengabaikan ancaman dari

pihak luar. Cerita yang sama juga terjadi dalam perlawanan awal

terhadap invasi bangsa Mongol beberapa abad kemudian.

Para pangeran dan panglima militer Saljuk yang menguasai

beberapa  negara kota yang dipusatkan di tempat-tempat seperti

Aleppo, Damaskus, dan Mosul pada peralihan abad kesebelas

mungkin saling bermusuhan dan hampir selalu terlibat dalam

peperangan satu sama lain. Namun, peperangan ini bisa disebut

sebagai pertikaian keluarga. Sebagian besar para pemimpin ini

mewarisi keengganan yang telah berurat akar untuk membentuk

aliansi dengan Dinasti Fatimiyah Mesir, negara adidaya Syiah

yang menjadi musuh besar mereka. Pada titik inilah ada 

kehancuran mereka. sebab  sebenarnya aliansi kaum muslim yang

melibatkan berbagai kelompok yang berbeda-yang mempersatu-

kan Fatimiyah, yang masih memiliki akses ke laut di sepanjang

pantai Mesir, dengan pasukan Tirrki dari kota-kota muslim Suriah

dan Palestina-dapat menahan dan bahkan melenyapkan ancaman

para Tentara Salib, sebelum sangat terlambat dan sebelum kaum

Frank merebut dan membenrengi pelabuhan-pelabuhan Suriah,

dan berlanjut dengan membentuk empat negara Salib di wilayah

1s1ss[u1-{6rusalem, Edessa, Antiokhia, Tiipoli.

SURIAH DAN PALESTINA MENJETANG PEMNG SALIB PERTAMA

Identitas keagamaan umat Islam di Suriah dan Palestina, wilayah

yang paling awal merasakan akibat Perang Salib Pertama, tidaklah

seragam. '!7.ilayah-wilayah ini mungkin sebagian besar yaitu 

Sunni, tapi ada juga beberapa  kecil komunitas Syiah, seperti di

Thipoli dan kota-kota lain seperti di Aleppo dan Damaskus. Di

wilayah itu juga telah lama ada  komunitas-komuniras Kristen

dan Yahudi. Umat Iftisten memiliki afiliasi yang sangat beragam-

Maronit, Armenia, Yakobit, kaum Nestor, dan Malkit, semua

punya perwakilan-sementara di Mesir kaum Kristen Koptik

merupakan kelompok minoritas yang berpengaruh, terutama di

bidang pemerintahan.

beberapa  bukti tentang sikap umat Islam terhadap kaum

IGisten pada abad kesebelas bisa ditemukan di dalam karya penulis

muslim, al-'S7'ishiti, dai bermazhab Syaf i di Masjid Aqshi di

Yerusalem. Al-VAshiti menulis tentang Kemuliaan-Kemuliaan

Yerusalem (Fadhh'il al-Qudl tidak lebih dari 410 H./1019-1020

M. Dan penting untuk dicatat bahwa di dalam karya itu ada 

nada permusuhan yang amat sangat terhadap kaum Kristen.

Memang, al-'$Tishiti memperingatkan umat Islam yang berziarah

ke Yerusalem untuk tidak memasuki gereja di sana.3o Barangkali

ini merupakan cerminan dari keadaan yang dengan jelas muncul

sesudah  terjadi penganiayaan yang dilakukan al-Hikim. Berbagai

tindakan penganiayaan ini  tentu saja mencapai puncaknya

saat  pada 4 Safar 400 H. yang bertepatan dengan 28 September

1009 M. Gereja Makam Suci dihancurkan.3r

Bagaimanapun juga, setidaknya di mata beberapa  pengamat,

situasi ini  membaik pada pertengahan abad ini . Misal-

nya, pengembara Ismailiyah dari Persia, Nishir-i Khusraw, yang

mengunjungi Thnah Suci dan Yerusalem pada 438 H.llO46 M.

menyampaikan penuturan yang lebih netral. Ia menceritakan

bahwa Yerusalem menjadi pusat ziarah bagi mereka yang ddak

mampu melanjutkan perjalanan ke Mekah. Dalam beberapa tahun,

lebih dari 20.000 orang berkumpul di sana.32Ia juga menyebutkan

kehadiran umat Icisten dan Yahudi: "LJmat Kristen dan Yahudi

juga datang ke sana dalam rombongan besar dari provinsi-provinsi

kekaisaran Bizantium dan negara-negara lain untuk mengunjungi

Gereja dan Kuil."33

Seperti juga penjelasannya yang sangat lengkap tentang Yeru-

salem dan monumen-monumen Islamnya, Nishir-i Khusraw mem-

buat gambaran tentang Gereja Makam Suci: "Di Yerusalem, umat

lGisten memiliki sebuah gereja besar yang diberi nama Gereja

Sampah (Biat al-Qumlmah) dan mereka sangar memujanya. Setiap

tahun sangat banyak orang yang berdatangan dari wilayah-wilayah

Bizantium untuk berirarah."la Permainan kata-kata yang menghina,

yang sangat terkenal di masa Perang Salib, tentang nama Gereja

Makam Suci, yang bagi kaum lkisten timur dikenal sebagai Bi'at

(atau l{anis at) a l- Qiy nmah-G ereja Kebangkitan-digunakan de-

ngan jelas pada tahun 1040-an.

NXshir-i Khusraw sangat mengagumi gereja ini , yang

digambarkannya mampu menampung hingga 8.000 orang. Pen-

jelasannya sangat lengkap, jelas, dan bebas dari retorika keagamaan,

dan, tidak seperti para penulis muslim sesudahnya, ia tidak

memberikan penilaian terhadap gambar-gambar yang dilihatnya

dipasang di tempat ibadah umat lftisten ini: "Di beberapa tempat

di sana, orang akan melihat gambar-gambar yang menunjukkan

bagaimana Yesus disalib di atas sebuah dang, orang juga melihat

gambar Nabi Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan putra-putranya."35

Gambar-gambar ini dipernis dan mengkilap serta dibersihkan

setiap hari. Ia mengakhirinya dengan kata-kata bernada kagum:

"Orang tidak akan dapat melihat gereja lain yang bisa menyamai

gereja ini di tempat mana pun di dunia."36

Bagaimana kehidupan di Thnah Suci itu sendiri dan terutama

di kota suci Yerusalem, pada 1090-an? Hanya ada  satu sumber

yang berasal dari kaum muslim yang tersisa dari periode tidak

lama sebelum Perang Salib Pertama, dan sumber ini menerangkan

aspek-aspek kehidupan tertentu di Thnah Suci pada dekade terakhir

abad kesebelas. Sumber ini  yaitu  laporan perjalanan dari

Spanyol ke wilayah timur yang ditulis oleh seorang ahli hadis,

Ibn al-Arabi (bukan tokoh sufi yang terkenal). Ia memulai

perjalanannya itu bersama dengan ayahnya pada Rabiulawal 485

H., bertepatan dengan April 1092 M.37 Tirjuan perjalanan ini

kemungkinan yaitu  untuk menghindari penyiksaan politik. Namun,

seperti halnya para sarjana muslim di Andalusia sebelum dan

sesudahnya, Ibn al-'fuabi mengatakan bahwa maksud perjalanannya

itu yaitu  untuk menimba ilmu: "Saya sangat ingin mencari

ilmu di pelosok paling jauh [di timur]."re Ayah dan anak itu

selamat dari kecelakaan di pantai Afrika lJtara, saat  kapal yang

mereka tumpangi hancur berkeping-keping di dekat Barqa.

Sementara ayahnya terus melanjutkan perjalanan ke Mekah

untuk menunaikan ibadah haji, Ibn al-'fuabi memilih tinggal di

Thnah Suci dan memperdalam pengetahuan agama yang dilihatnya

ada di sekelilingnya. Laporannya tentang lingkungan kehidupan

keagamaan di Palestina menunjukkan bahwa kehidupan di kota

itu dipenuhi para ulama,3e baik penduduk wilayah itu sendiri

maupun mereka yang datang dari seluruh penjuru dunia Islam.

Melihat kesempatan seperti itu, Ibn al-'fuabi terpaksa menunda

niatnya untuk menunaikan ibadah haji.ao Di Yerusalem, Ibn al-

'fuabi menemukan madrasah-madrasah Syaf iyah dan Hanafiyah

yang terkenal, dan ia membuat daftar nama-nama ulama terkenal

yang akan ditemuinya untuk belajar dan berdiskusi tentang masalah-

masalah keilmuan di sana.ar Tokoh paling masyhur yang ditemui

Ibn al-'Arabi di Yerusalem kemungkinan yaitu  al-trtusyi, yang

juga berasal dari Spanyol dan menetap di satu bagian Masiid

Aqshl. Di masjid ini juga tinggal ulama-ulama dari Khurasan,

Iran timur.a2 Ibn al-'Arabi sangat antusias dengan apa yang dilihat-

nya di sana: "Kami memasuki Thnah suci dan tiba di Masjid

Aqshi. Purnama ilmu menyinari saya dan saya tercerahkan olehnya

selama lebih dari tiga tahun."a3

Secara kebetulan, di masa-masa akhir keberadaan Ibn al-'Arabi

di Yerusalem, ulama Islam paling terkemuka pada Abad Per-

tengahan, al-Ghazilt, mengalami krisis spiritual di Baghdad pada

488 H./1095 M. Al-GhazAli untuk sementara berdiam di Yeru-

salem dan setiap hari beritikaf di Kubah Batu.aa Ibn al-'Arabi

menegaskan bahwa saat itu Yerusalam menjadi tempat perremuan

para ahli agama dari tiga kepercayaan-Islam, IGisten, dan Yahudi.at

Ibn al-'fuabi tidak menceritakan bahwa umat trGisten setempat

mengalami tekanan dari penguasa muslim mereka. Begitu juga

dengan kaum Yahudi. Mengenai Yerusalem secara keseluruhan, ia

menyatakan bahwa umat lGistiani menanami lahan-lahan mereka

dan merawat gereja-gere.ia mereka.a6 saat  pindah ke Ascalon,

Ibn al-'Arabi juga menemui atmosfer keilmuwan yang meriah di

tempat itu sehingga ia menjulukinya sebagai "lautan budayi'.47

Tentu saja akan berbahaya bila kita membuat generalisasi

dengan hanya bersumber pada laporan seorang pengembara, Ibn

al-'Arabi, yang berkunjung ke Thnah Suci, menetap tidak lama di

sana, dan menuliskan pengalamannya puluhan tahun kemudian

saat  ia tiba kembali di Spanyol. Meskipun begitu, kesaksian

Ibn al-'Arabi, yang dibuat hanya beberapa saat menjelang Perang

Salib Pertama, benar-benar telah memberikan informasi tentang

kehidupan agama Islam di Yerusalem dan Tanah Suci tidak lama

sebelum pasukan kaum Frank tiba. Setidaknya menurut Ibn al-

'Arabi, Yerusalem merupakan pusat kegiatan para penganut tiga

agama monoteistik, yakni kaum muslim, umat FGisten, dan umat

Yahudi. Tidak ada petunjuk di sini bahwa para peziarah Kristen,

baik dari Bizantium ataupun kaum Eropa barat, dihalang-halangi

untuk mengunjungi Thnah Suci Yerusalem.

Namun, gambaran bagus yang disampaikan oleh Ibn al-'Arabi

harus dibandingkan dengan ulasan menarik yang dibuat oleh al-

'Azhimi pada 4BG H./1093-1094 M.: "Orang-orang di pelabuhan-

pelabuhan Suriah (al-Sawahil) menghalang-halangi para peziaruh

dari Bizantium dan kaum Frank untuk menyeberang ke Yerusalem.

Mereka yang selamat menyebarkan berita itu ke negeri mereka,

.sehingga mereka menyiapkan diri untuk melakukan invasi militer

(ghazL1."+s

Ini merupakan pernyataan yang jelas-tapi hanya dari satu

5urn[s1-$xhwa umat Islam telah mengganggu para peziarah

lkisten dan tidak semua dari mereka selamat sehingga dapat

menyampaikan berita itu.ae

MENGAPA TERJADI PEMNG SALIB PERTAMA?-INTERPRETASI

UMAT ISTAM

Kini kita akan melihat secara kronologis tentang apa yang

dikatakan oleh beberapa penulis sejarah dari kalangan kaum

muslim itu sendiri ddak lama sesudah  Perang Salib Pertama dan

sejauh mana mereka memahami invasi tak terduga ini ke \Tilayah

Islam. Sudah menjadi kebiasaan bahwa para penulis sejarah di

generasi berikutnya menyalin bahan-bahan penulisan sejarah dari

para pendahulu merekx-1xft ada kritik atas plagiarisme mereka

itu, yang dianggap tengah menjaga keberlanjutan tradisi lama.

Dengan demikian, ada banyak kesamaan antara berbagai laporan

umat Islam tentang Perang Salib Pertamayang berasal dari periode

berbeda. Banyak di antara mereka yang menulis laporan-laporan

ini  tanpa komentar atau interpretasi. Kutipan-kutipan yang

ditampilkan di sini merupakan kutipan terpilih sebab  menyampai-

kan sesuatu yang khusus sehingga membuatnya berbeda dari

pemaparan yang sudah biasa ditemukan. Para penulis sejarah Islam

tidak tampak menghubungkan kedatangan kaum Barat Eropa

dengan peristiwa penghancuran Gereja Makam Suci sebelumnya

oleh al-Hikim ataupun permohonan bantuan Bizantium kepada

Eropa untuk menghadapi ancaman bangsa Tirrki di perbatasan

sebelah timur. Sumber-sumber Islam juga tidak menyajikan analisis-

analisis yang cerdas tentang peristiwa-peristiwa sejarah-pandangan

mereka hanya terbatas tentang Islam-namun beberapa di antara

sumber-sumber itu setidaknya memberikan petunjuk-petunjuk

pembuka.

Sumber-sumber paling awal yang m25ih ss15l52-Ibn al-Qalinisi

dan al-'Azhimi-menulis tentang pecahnya Perang Salib Pertama,

namun Ibn al-Qalinisi tidak mengatakan penyebab kedatangan

kaum Frank ini . Ia, sebaliknya, langsung mulai menyampai-

kan kisah tentang Perang Salib Pertama.5o Selain itu, al-'Azhimi,l

seperti dijelaskan sebelumnya, yaitu  satu-satunya penulis yang

menyebutkan bahwa hal yang memicu pecahnya Perang Salib

Pertama yaitu  bahwa para peziarah Kristen dihalang-halangi

untuk mengunjungi Yerusalem pada 486 H./1093-1094 M. dan

ia menghubungkan peristiwa ini dengan kedatangan para Tentara

Salib ke kawasan Mediterania timur.

Tirlisan sejarah al-'Azhimi tersisa dalam bentuk catatan yang

terpisah. Karyanya sering kali mirip catatan-catatan kasar untuk

(atau dari) sejarah yang lebih panjang. Meskipun laporannya

ringkas, ia menunjukkan adanya pola gerakan Tentara Salib me-

nuju selatan yang terbentang dari Spanyol sampai Afrika utara

hingga ke kawasan Mediterania timur. Ia melihat adanya kaitan

antara kejatuhan Toledo ke tangan umat Kristen dari kaum

muslim Spanyol pada 461 H./1058 M.,5rpengambilalihan al-

Mahdiyya di Afrika Utara oleh bangsa Norman dari Sisilia pada

479 H.ll086 M.,5'dan kedatangan para Tentara Salib ke kawasan

Mediterania timur.

Petunjuk-petunjuk dasar dari al-'Azhimi ini-yang, meskipun

ringkas, menunjukkan pemahaman yang luar biasa tentang situasi

geopolitik-dilanjutkan oleh seorang sejarawan besar muslim ke-

mudian, Ibn al-Atsir (w. 630 H.ll233 M.) dalam karyanya, al-

Knmil fi al-Ttrihh. Mengenai tahun 491 H.l1097-1098 M., Ibn

al-Atsir menulis:

Awal mula kehadiran negara (dawkh) kaum Frank dan me-

ningkatnya aktivitas mereka dan kedatangan mereka ke wilayah-

wilayah Islam dan penaklukan mereka atas beberapa wilayah Islam

ini  ter.iadi pada 478 H. (1085-1086 M.). Mereka merebut

kota Toledo dan wilayah-wilayah Andalusia [kaum muslim Spanyol]

lainnya, seperti yang telah disebutkan. Mereka lalu menyerang kota

Sisilia pada 484 dan menaklukkannya, dan hal ini juga telah saya

sebutkan, dan mereka beralih ke pantai-pantai Afrika Utara dan

menaklukkan wilayah ini  ...t3

Selanjutnya, Ibn al-Atsir memulai laporannya tentang kaum

Frank di Suriah dan Palestina. Dengan demikian, kita melihat

Ibn al-Atsir juga memahami arti penting keseluruhan jalur penak-

lukan yang dilakukan umat lGisten ke arah selatan di kawasan

Mediterania yang lebih luas. Namun, ia sepertinya tidak melihat

adanya motivasi keagamaan di balik kedatangan para Tentara Salib

itu di Thnah Suci, atau tidak juga dalam penaklukan Spanyol,

Sisilia, atau Afrika lJtara.

Dalam laporannya pada 490 H.11097 M. tentang kores-

pondensi imajiner antara Baldwin dan Roger dari Sisilia, Ibn al-

Atsir menyatakan bahwa Roger sangat enggan untuk bergabung

dengan pasukan Baldwin untuk menaklukkan pantai Afrika (ia


saat itu telah memiliki perjanjian dan rencana sendiri untuk

menaklukkannya). Sementara, Roger mengubah serangan Eropa

itu ke arah timur, dengan memberitahu utusan Baldwin: "Bila

kalian telah memutuskan untuk berperang dengan umar Islam,

tindakan yang paling bagus yaitu  menaklukkan Yerusalem dan

membebaskannya dari tangan umat Islam. Dan kemenangan akan

menjadi milik kalian."sa

Kita telah mencatat bahwa satu perspektif pemikiran dalam

sejarah Islam menyalahkan Dinasti Fatimiyah yang telah mengun-

dang Tentara Salib untuk datang dan menyerang Suriah dan

Palestina untuk melindungi Mesir dari bangsa Saljuk. Seperti biasa,

dengan keluasan pandangannya, Ibn al-Atsir memberikan kedua

interpretasi itu berkaitan dengan pecahnya Perang Salib Pertama,

yang diakhiri dengan pernyataan yang hati-hati, sebagaimana biasa,

yakni dengan ungkapan: "Allah lebih mengetahui" Qaa Allhhu

a'lam bi al-shautib).55 Ia tidak merasa bahwa ia harus menyatakan

mana yang lebih benar di antara berbagai versi sejarah yang

bertentangan ini.

Laporan berikutnya yang disusun oleh sejarawan Mamluk al-

Nuwayri (w.733 H.|1333 M.) juga menggambarkan aspek yang

lebih luas tentang pecahnya Perang Salib Pertama. Dengan judul

rYhat the Franks took of tlte coasts of Syria in 491 and afierwards,

(Pantai-Pantai Suriah yang Direbut oleh Kaum Frank pada 491

dan Sesudahnya), al-Nuwayri membahas cukup panjang, dan

dengan keluasan pandangannya yan1 luar biasa, tentang Spanyol:

Permulaan kemunculan, ekspansi, dan penetrasi mereka ke

wilayah-wilayah Islam terjadi pada 478. Peristiwa ini terjadi dengan

cara berikut. saat  raja-raja wilayah Spanyol terpecah sesudah 

Dinasti Umayyah dan masing-masing wilayah jatuh ke tangan

seorang raja dan masing-masing merasa direndahkan bila dipimpin

oleh raja yang lain dan patuh kepada yang lainnya, mereka seperti

Raja-raja Pesta di masa Persia.t6

Al-Nuwayri menulis bahwa perpecahan kaum muslim Spanyol

ini "telah menimbulkan gangguan kondisi dan penaklukan negara-

negara Islam oleh para musuh. Wilayah pertama yang ditaklukkan

oleh musuh yaitu  kota Toledo di Andalusia, seperti yang telah

kami ceritakan, pada 478."57 Ia selanjutnya, seperti pendahulunya,

Ibn al-Atsir, menyebutkan penaklukan kota Sisilia oleh bangsa


Norman pada 484 H./1091 M. dan masuknya mereka ke wilayah-

wilayah pantai Afrika utara.58

JAIANNYA PERANG SALIB PERTAMA: IAPOMN UMAT ISLAM

Dokumentasi yang dibuat umat Islam tentang Perang Salib Per-

tama sangat buruk bila dibandingkan dengan dokumentasi sumber-

sumber para Tentara Salib yang relatif banyak. Meskipun begitu,

sumber-sumber dari kaum muslim ini , dengan sama buruk-

nya, memberikan beberapa pandangan menarik tentang operasi

perang ini .5e Para penulis sejarah dari kalangan kaum muslim

memiliki gagasan yang jelas tentang urutan peristiwa, pertempuran,

dan penaklukan pada Perang Salib Pertama, dan mereka menge-

tahui peristiwa-peristiwa utamanya. Mereka menyadari akan ba-

nyaknya para Tentara Salib yang terlebih dahulu berkumpul di

Konstantinopel dan kemudian bergerak melalui Anatolia menuju

Suriah. Aliansi antara para Tentara Salib dan kaisar Bizantium,

dan pertikaian berkepanjangan antara keduanya, sangat dipahami.

Seperti dituliskan oleh al-'Azhimi mengenai peristiwa di tahun

490 H.11097 M. (seperti biasanya, dengan jumlah yang dilebih-

lebihkan):

Armada-armada kaum Frank muncul di pelabuhan Konstan-

dnopel dengan membawa 300.000 pasukan. Pemimpin mereka ada

enam. Mereka berjanji kepada raja Bizantium bahwa mereka akan

menyerahkan benteng pertama yang mereka taklukkan kepadanya,

namun  mereka tidak menepati janji ini .60

Sumber-sumber dari kaum muslim menyebutkan bahwa para

Tentara Salib itu diganggu bangsa Tirrki saat mereka menyeberangi

Anatolia. Ibn al-QalXnisi menyebutkan percobaan-percobaan yang

dilakukan oleh Qilij fuslin I untuk menghadang laju para Tentara

Salib itu: "Ia maju menuju terowongan, jalur dan jalan yang

harus dilalui kaum Frank, dan sama sekali tidak menun.iukkan

rasa belas kasihan kepada mereka yang tertangkap di tangannya"'61

At-'Azhimi melaporkan bahwa pasukan Tirrki rnembakar ar-

mada-armada Tentara Salib dan menghadang jalur-jalur perairan,

dan ia menerangkan kejatuhan Nicaea (Iznik) secara ringkas.62

Pada Juli 1097, para Tentara Salib mengalahkan Sultan Saljuk

Qilij Arslan I dalam pertempuran Dorylaeum di pinggiran dataran


tinggi Anatolia. Dokumentasi sejarah awal kaum Tirrki nomaden

di Anatolia, seperti yang telah disebutkan di atas, sanBar buruk.

sebab  itu, barangkali kita bisa memahami mengapa peristiwa

pertempuran ini diabaikan dalam sumber-sumber Islam. Ibn al-

Qalinisi memang menyebutkan pertempuran ini, yang terjadi pada

tanggal 20 Rajab 490 H. bertepatan dengan tanggal 4 Juli 1097

M. dan menyatakan dengan jelas bahwa pasukan Tirrki kalah

total.63 Ibn al-Atsir, yang biasanya tulisannya sangar komprehen-

sif hanya menyinggung pertempuran ini dalam satu ungkapan:

"mereka [kaum Frank] memeranginya [Qilij Arslin] dan mereka

mengalahkannya pada Rajab [4]90".64

Kejadian-kejadian di Anatolia yang jauh dan terpencil barang-

kali hanya pantas mendapat sedikit perhatian di mata para penulis

sejarah dari kalangan kaum muslim. Namun, saat  ancaman

para Tentara Salib semakin mendekat ke Suriah dan Palestina,

dan selanjutnya ke wilayah-wilayah yang jauh lebih menarik

perhatian mereka, catatan-catatan sejarah menjadi lebih lengkap

dalam menuturkannya. Para penulis sejarah dari kalangan kaum

muslim tidak berusaha melaporkan malapetaka yang terjadi di

wilayah ini -dan terutama di Antiokhia, Ma'arrat al-Nu'mAn

dan, yang terakhir, di Yerusalem. Edessa (al-Ruha), negara Tentara

Salib pertama di Timur Dekat, yang dipimpin oleh penguasa

Armenia yang bernama Toros, jatuh ke tangan Baldwin dari

Boulogne pada Maret 1098. Peristiwa ini hampir sama sekali

diabaikan oleh para penulis sejarah dari kalangan kaum muslim

yang di tahun-tahun berikutnya hanya membahas "kaum Frank

dari Edessa" tanpa penjelasan lebih jauh.65 Ibn al-Atsir, seperti

biasanya, yaitu  perkecualian. Ia tidak menempatkan kisah pe-

naklukan Edessa itu di dalam petak kronologinya yang tepat,

namun sebaliknya, pada 494 H./1100-1101 M., Ibn al-Atsir

menulis: "Kaum Frank telah merebut kota Edessa dengan me-

manfaatkan fakta bahwa mayoritas penduduknya yaitu  bangsa

Armenia dan hanya ada sedikit kaum muslim di sana."66

Kurangnya perhatian terhadap Edessa-tidak diragukan lagi

sebab  kota itu telah jatuh ke tangan kaum Kristen pada Perang

Salib Pertama-sangat berlainan dengan gencarnya tulisan sejarah

yang keras yang dengan jelas menyambut penaklukan kembali Edessa

ke dalam kekuasaan Islam oleh Zeng pada 539 H.lll44 M.

KEJATUHAN ANTIOKHI-A

Kejatuhan Antiokhia, sebaliknya, mendapat perhatian cukup besar

dari para penulis se;'arah dari kalangan muslim. Antiokhia me-

rupakan kota yang jauh lebih besar dan memiliki arti yang jauh

lebih strategis dibandingkan Edessa. Kota ini dikepung dalam

waktu yang cukup lama (dari Oktober 1097 hingga Juni 1098).

Gubernurnya, YaghisiyAn, terbunuh dalam pertempuran itu. Pasu-

kan pembebas yang berada di bawah komando penguasa Mosul,

Kirbogha, terlibat pertempuran dengan Tentara Salib, namun

mereka kalah. Benteng ini  kemudian menyerah dan menjadi

pusat negara Salib kedua, Kerajaan Antiokhia, di bawah penguasa

Bohemond. Ibn al-QalXnisi membuat laporan yang lengkap tentang

peristiwa-peristiwa di Antiokhia. Ia menjelaskan bahwa saat tersiar

kabar bahwa kaum Frank semakin mendekat, Yaghisiyin mem-

bentengi kota itu dan mengusir penduduk Kristen. Ia juga me-

ngajukan permohonan bantuan militer kepada para penguasa

Suriah.67 Ibn al-Qalinisi hanya memberikan sedikit keterangan

tentang pengepungan ini , kecuali menyebutkan bahwa minyak,

garam, dan kebutuhan lainnya menjadi sulit ditemukan. Namun,

bahan-bahan kebutuhan ini  kemudian banyak yang diselun-

dupkan ke dalam kota itu sehingga harganya kembali murah.68 Ia

juga menyebutkan bahwa kaum Frank menggali parit di antara

mereka dan kota itu sebab  pasukan Antiokhia sering melancarkan

serangan terhadap mereka (laporan yang lain, lihat halaman 85-87).

Kejatuhan Antiokhia, menurut Ibn al-Qalenisi, dipercepat oleh

pengkhianatan kelompok pasukan baju baja yang menaruh dendam

terhadap Yaghisiyin. Mereka bersekongkol dengan kaum Frank

dan setuju menyerahkan kota itu kepada kaum Frank. Para

pengkhianat ini  merampas salah satu benteng kota itu,

menjualnya kepada kaum Frank, dan membawa masuk mereka

ke dalam kota pada malam hari.6e Dalam penjelasan berikutnya,

Ibn al-Q_denisi hanya menyalahkan seoranB prajurit baju baja,

seorang Armenia yang bernama Firuz, sebab  telah menyerahkan

kota itu kepada kaum Frank.7o Yaghisiyin rnelarikan diri. sesudah 

jatuh berkali-kali dari kudanya, Yaghisiyin akhirnya tewas. Namun,

kepergian gubernur kota itu tidak mengakhiri pengePungan ter-

sebut. Meskipun banyak penduduk yang terbunuh atau dijadikan


tahanan, sekitar 3.000 penduduk membentengi diri mereka di

dalam Benteng Antiokhia dan menolak untuk pergi.Tt

Laporan Ibn al-Qalanisi mengenai pertempuran yang terjadi

di Antiokhia (26 Rajab 491 H.129 Juni 1098 M.), saat  umat

Islam merebut kembali kota itu, dipand