r-Razi
Membincang kedokteran Islam tidak akan sempurna bila tidak
menyebutkan Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi, yang dalam
bahasa Latin namanya menjadi Rhazes atau Razes. Ar-Razi lahir di
Provinsi Rayy, Persia --Iran sekarang-- pada tahun 236 H/850 M dan
wafat tahun 313 H/925 M. Beliau yaitu Maha Guru dalam ilmu
kedokteran, bukan hanya bagi dunia Islam, tapi juga bagi benua Eropa.
Buku-buku buah pikirannya yang berbahasa Arab telah menghiasi
perpustakaan fakultas kedokteran universitas-universitas besar di
wilayah kekuasaan Islam dan di Eropa, dan menjadi rujukan wajib
setidaknya sampai awal abad kedelapan belas Masehi. Buku-buku Ar-
Razi diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Yunani juga ke dalam
bahasa-bahasa Eropa modern.
Ar-Razi yaitu dokter yang gelisah. Dia tidak puas hanya
mempelajari kedokteran Arab-Islam dan Yunani, tapi juga menggali
khazanah pengobatan ketabiban India. Sebelum para mahasiswa dan
dokter di jaman kita menjadikan hewan sebagai “kelinci percobaan”,
Ar-Razi sudah memakai nya dalam eksperimen-eksperimen yang
dilakukan dilaboratoriumnya. Dia menemukan dan juga memakai
usus dan selaput hewan sebagai benang untuk menjahit kulit pasien
pasca operasi.
Dialah yang pertama kali bicara tentang pengaruh psikologis pasien
terhadap penyembuhan. Pengalaman dan ketajaman pikirannya telah
membuat dia berkesimpulan - sesudah mengadakan penelitian secara
intens - bahwa penyakit ada yang diturunkan secara genetis. Dia dengan
berani menganjurkan agar para dokter tidak ragu-ragu memotong
tumor/kanker yang sangat berpontensi menyebar ke seluruh bagian
tubuh, yang akan sangat membahayakan si penderita.
Kecintaannya pada ilmu kedokteran membuat Ar-Razi
menghabiskan seluruh waktunya untuk berkhidmat kepada kemanusiaan
lewat praktik kedokteran. Dialah yang dengan jenial memisahkan antara
kedokteran umum dengan kedokteran anak. Dia dikenal sangat santun,
disiplin, dan taat terhadap ajaran agama. Dia selalu berpesan pada
mahasiswa-mahasiswanya tentang mulianya profesi dokter dan meminta
mereka agar tidak bertoleransi dengan segala bentuk penyimpangan.
Terutama penyimpangan moral. Dia yaitu dokter yang filosof.
Kejeniusan Ar-Razi bukan hanya dalam bidang atau ilmu kedokteran
saja. Dia juga merambah ke ilmu kimia dan banyak meramu obat-obatan
untuk membantu penyembuhan pasien-pasiennya. Di samping itu dia
juga mengembangkan ilmu kimia dengan berbagai rumusan ilmiah dan
menjabarkannya dalam banyak buku. Kalau Jabir bin Hayyan, dinobatkan
sebagai Bapak Kimia, maka Ar-Razi layak dinobatkan sebagai pelopor
ilmu kimia modern. Dia banyak mempengaruhi pikiran pakar-pakar kimia
Eropa, seperti Nicholas Flamel dan Paracelsus. Dia juga pakar dalam
pengobatan mata dan dia yang per tama kali memakai gypsum
dalam pengobatan patah tulang. Dia menulis buku tentang pengaruh
makanan, baik manfaat maupun bahayanya, bagi kesehatan manusia.
Ar-Razi juga menguasai ilmu astronomi, musik, dan teologi.
Buku-buku ilmiah karangan Ar-Razi banyak sekali (ada yang
menyebutnya lebih dari 200 judul), membahas masalah kedokteran,
kimia dan sebagainya, sayangnya hanya ada beberapa buku yang
berhasil terselamatkan. Di antara bukunya yang paling terkenal yaitu
Al-Hawi (Liber Continens), yang merupakan ensiklopedi paling lengkap
tentang ilmu kedokteran Arab, Yunani, dan India. Zigrid Hunke, seorang
orientalis asal Jerman, berkomentar tentang Al-Hawi, bahwa
perpustakaan di fakultas kedokteran di Universitas Paris selama ratusan
tahun tidak memiliki buku pegangan mahasiswa kecuali Al-Hawi.
Konon, Raja Prancis, Louis IX (1423-1483) memerintahkan para dokter
Perancis untuk menyalin buku itu dengan bayaran yang besar untuk
mengobati keluarga kerajaan, sebab buku itu juga membahas soal
penyakit, cara pengobatannya dan obat-obatan.
Fotonya terpampang di Fakultas Kedokteran Unirvesitas Paris. Nama
Ar-Razi juga menjadi salah satu nama tempat pertemuan termegah di
Universitas Brigshtone Amerika.
Ibnu Sina
Abu Ali Al-Husain bin Abdullah bin Sina atau yang lebih dikenal dengan
nama Ibnu Sina, atau orang Barat memanggilnya Avicenna, yaitu
ilmuwan yang dianggap sebagai Guru Ketiga, sesudah Aristoteles dan
Al-Farabi. Dia juga digelari Amir Ath-Thibba, Pemimpin Para Dokter.
Ibnu Sina dilahirkan pada tahun 370 H/980 M., di Bukhara, - sekarang
masuk wilayah Uzbekistan - Persia. Dia wafat juga di Persia, tepatnya
di wilayah Hamdzan - Iran sekarang - pada 428 H/1037 M. Penguasa
Hamdan dan Karmansyah, wilayah Irak sekarang, mengangkatnya
sebagai Perdana Mentri di masa kepemimpinan Syamsuddaulah Al-
Buhaini.
Ibnu Sina atau Avicenna (980-037M) yang menjadi Inspirasi Ilmu kedokteran Barat
Ibnu Sina yaitu pembelajar sejati dan memang dia hidup dalam
lingkungan keluarga yang sangat mengutamakan ilmu di samping juga
taat beribadah. Sejak usia sepuluh tahun dia sudah hafal Al-Qur’an 30
juz. Ibnu Sina sudah mulai “praktik” sebagai dokter di usia belia, yakni
kurang dari 20 tahun. Bukan itu saja, dia juga seorang faqih (ahli hukum
Islam), matematikus, saintis, dan filosof. Dia menghabiskan malam untuk
membaca banyak literatur dan menulis buku. Dalam praktiknya sebagai
dokter, Ibnu Sina tidak pernah mau menerima bayaran. sebab dia
merasa mendapat amanah dari Allah untuk membantu orang-orang
yang sakit bagaimanapun keadaan ekonomi mereka. Sebaliknya,
tangannya terulur memberikan sedekah untuk kaum dhuafa, termasuk
pasien-pasiennya.
Di samping sebagai dokter, Ibnu Sina juga dikenal sebagai filosof.
Bahkan karya-karya filsafatnya terus mempengaruhi para filosof dan
teologi di Timur dan Barat. Menurut pemikir Islam modern asal Pakistan,
Fazrul Rahman (1919-1988), teolog Kristen abad per tengahan, St.
Thomas Aquinas (wafat 1275) sangat dipengaruhi filsafat Ibnu Sina.
Ibnu Sina yaitu dokter pertama yang mengobati pasien dengan
cara menyuntikkan obat ke lapisan bawah kulit. Dia juga penemu alat
bantu pernapasan yang dimasukkan ke dalam kerongkongan. Dia
membuat gambar anatomi organ pernapasan dan menjelaskan semua
fungsinya sama persis dengan yang kita kenal sekarang ini. Mungkin
Ibnu Sina juga yang menguraikan anatomi otak dan mekanisme kerjanya,
syaraf-syarafnya, dan gangguan yang mungkin ter jadi. Dia juga
membahas jenis-jenis batuk, TBC dan cara pengobatan dengan detil.
Kepakaran Ibnu Sina dalam ilmu kedokteran sangat luar biasa.
Hampir tidak ada organ tubuh manusia yang tidak dibahasnya. Dia
membahas penyakit kepala, mata, mulut, ginjal, lambung, perut, saluran
kencing, paru-paru dan hati, kemandulan, bahkan bisul, dan borok. Juga
faktor-faktor psikologis yang bisa menyebabkan seseorang sakit, baik
sakit fisik maupun sakit jiwa. Dialah yang menemukan cacing lingkar
(Ancylostoma) dan penyakit kaki gajah (Elephantiasis). Dialah yang
per tama kali menyatakan dengan tegas bahwa jenis kelamin bayi
ditentukan oleh kromosom laki-laki (bapak). Ibnu Sina juga yang pertama
kali memakai obat bius dari bahan herbal terhadap pasien yang
mau dioperasi.
Karya Ibnu Sina yang popular dan sangat monumental yaitu Al-
Qanun fith Thib (Canon of Medicine), yaitu sebuah ensiklopedi kedokteran.
Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Latin dan menjadi rujukan
di Eropa selama ratusan tahun. Ibnu Sina menulis 276 buku, menurut
sejarawan Dr. Abdul Halim Muntashir. Buku lainnya yang sangat terkenal
yaitu Asy-Syifa’ (Kitab Penyembuhan). Inilah ensiklopedi yang luar
biasa tentang filsafat, logika, dan sains. Dalam buku ini Ibnu Sina
membahas soal fenomena alam, mulai masalah astronomi, jatuhnya
meteor, terbentuknya awan, kabut, hujan, pelangi dan salju, juga
terbentuknya gunung dan terjadinya gempa bumi. Ibnu Sina melangkah
lebih jauh, dengan membahas kecepatan suara dan cahaya. Dia juga
memaparkan ilmu biologi, tentang tumbuham dan hewan. Juga masalah
hasil tambang dan cara pengolahannya. Penghormatan ter tinggi bagi
dokter-dokter Eropa disebut Spirit of Avicennae, Semangat –Roh— Ibnu
Sina. Dan Ibnu Sina dinobatkan sebagai “Bapak Kedokteran Modern”,
sebab dialah yang meletakkan pondasi bagi ilmu kedokteran modern.
Abu Al-Qasim Az-Zahrawi
Satu lagi tokoh kedokteran Islam yang telah mengukir prestasi puncak
di dunia ilmu yaitu Abu Al-Qasim Khalaf bin Abbas Az-Zahrawi Al-
Anshari, yang di Barat dikenal dengan nama Al-Zahravius atau Abulcasis.
Az-Zahrawi hidup antara tahun 325 – 404 H (937 – 1013 M). Dia lahir di
kota Zahra, dekat Qordova, Spanyol. Sebagaimana Ibnu Sina dan Ar-
Razi, Az-Zahrawi juga mengabdikan dirinya sebagai dokter kepada
masyarakat luas dengan tanpa pamrih. Siapa pun orang sakit yang
datang kepadanya, dilayani dengan tulus ikhlas, sebab Allah, tanpa
mengutip bayaran sesen pun. Bahkan untuk penanganan operasi yang
agak besarpun, Az-Zahrawi juga tak mau memungut upah. Baginya,
mengobati orang sakit yaitu bagian dari ibadahnya kepada Allah, yang
telah memberinya - atau tepatnya mengamanahkan - ilmu dan
pengetahuan tentang obat dan pengobatan.
Dr. Zigrid Hunke, dokter asal Jerman, secara jujur mengatakan,
bahwa orang yang per tama kali menemukan cara untuk menghentikan
darah yang keluar dari pembuluh nadi yaitu Az-Zahrawi. Sayangnya
semua mahasiswa kedokteran di Eropa selalu menjawab: “Amperoz
Barry, dokter bedah dari Prancis”, setiap kali ditanya siapa orang yang
per tama kali menemukan cara menghentikan darah yang keluar dari
pembuluh nadi.
Dr. La Frank, dokter asal Prancis, terkagum-kagum sesudah
membaca buku karya Az-Zahrawi tentang ilmu bedah dan operasi.
Padahal pada jamannya gereja belum mencabut larangan bagi para
dokter mengoperasi pasien. Az-Zahrawi bahkan menemukan atau
membuat sendiri alat-alat untuk operasi. Dia selalu menganjurkan
kepada murid-muridnya agar tidak berhenti berlatih sebelum terjun
langsung mengobati pasien. Dan --mungkin-- dialah dokter per tama
yang mengenakan baju khusus yang terbuat dari besi saat sedang
bertugas mengoperasi pasien. Dan dia juga yang pertama kali menjahit
bekas operasi dengan dua jarum dan satu benang.
Buku karya Az-Zahrawi yang menjadi rujukan para mahasiswa
kedokteran di Arab dan di Eropa yaitu At-Tashrif. Di dalamnya dia
menjelaskan berbagai macam penyakit dan cara penanganannya. Juga
dia melengkapinya dengan gambar alat-alat bedah. Buku ini
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul “Chirugia” (Ilmu
Bedah), pada abad ketiga belas Masehi. Juga diterjemahkan ke dalam
bahasa Italia pada abad ketiga belas, dalam bahasa Inggris (tahun 1778),
dan dalam bahasa Prancis (tahun 1861).
Az-Zahrawi yaitu orang yang pertama kali mengoperasi saluran
kencing dan mengeluarkan batu yang ada di dalamnya. Dia juga yang
per tama kali melakukan operasi Caesar sebab letak janin yang tidak
normal. Pada masanya, Az-Zahrawi juga dikenal sebagai pakar farmasi
dan ahli bedah tulang. Dia berhasil mengobati orang yang terkena
keropos tulang belakang. Tapi Presval Boot, dokter ahli bedah asal
Inggris, yang diklaim sebagai penemu cara mengobatinya. Sebuah
pengakuan yang tidak jujur di dunia ilmu.
Masih banyak dokter-dokter Islam dan Arab yang menghiasi
lembaran sejarah ilmu kedokteran dan menyumbangkan karya-karyanya
bagi kemajuan ilmu kedokteran dan pengobatan. Tapi dalam buku ini,
cukuplah kita mengenal 3 orang tokoh yang berada di puncak sejarah
itu. Bagian ini saya tutup dengan pernyataan Imam Asy-Syafi’i: “Sesudah
ilmu untuk membedakan sesuatu yang halal dan haram, saya tidak
mengetahui ilmu yang lebih mulia ketimbang ilmu kedokteran.”
Tahukah anda, bahwa di samping seorang fuqaha (ahli dalam ilmu
fiqih atau hukum syari’at), pendiri mazhab Syafi’i dan pakar bahasa
Arab, Imam Asy-Syafi’i, ternyata juga seorang dokter?
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman
di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat. (QS. Al-Mujayaitu {58}: 11 )
Rumah Sakit dalam Sejarah Islam
Peradaban Islam terus membumbung tinggi, benar-benar laksana
mercusuar yang menerangi jalan para pemburu pengetahuan. Profesi
dokter sangat dimuliakan, sebab dokter dianggap sebagai satu-satunya
sarjana yang ilmunya sangat nyata dan bisa dirasakan secara langsung
oleh masyarakat luas. Para penguasa di negeri-negeri Muslim juga
sangat menyokong perkembang ilmu. Mereka juga membiayai dan
memfasilitasi penelitian-penelitian untuk penemuan-penemuan baru di
bidang medis. Dan salah satu ide paling brilian dari para penguasa
Islam pada abad per tengahan yaitu mendirikan rumah sakit bagi
orang-orang sakit.
Rumah sakit per tama - diyakini - didirikan pada masa Dinasti
Ummayyah, oleh Khalifah Al-Walid (705-715). Tapi rumah sakit ini hanya
khusus untuk merawat orang-orang berpenyakit kusta dan tuna netra
saja. Mirip sebuah karantina bagi para penderita kusta dan tunanetra,
agar mereka tidak berkeliaran di jalan dan para dokter bisa lebih fokus
menangani mereka. Dan pada akhir abad 8 juga berdiri rumah sakit
jiwa (RSJ) di Damaskus. Baru pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, salah
seorang Khalifah dari Dinasti Abbasiyyah, rumah sakit umum didirikan
di akhir abad 9 M di Baghdad. Istilah yang digunakan untuk rumah sakit
yaitu “Bimaristan”, yang artinya tempat orang sakit.
Baik Al-Walid maupun Harun Ar-Rasyid membiayai seluruh biaya
operasional rumah sakit. Dokter dan tenaga medis lainnya mendapat
gaji yang besar, yang membuat mereka tidak perlu lagi bekerja di tempat
lain, kecuali untuk mengadakan penelitian ilmiah. Rumah sakit makin
banyak didirikan di daerah-daerah kekuasaan Islam. Bahkan ada rumah
sakit khusus untuk para penderita gangguan jiwa. (Di Indonesia RSJ
pertama didirikan di Bogor tahun 1882, oleh Pemerintah Kolonial Hindia
Belanda)
Para penguasa Muslim sangat memperhatikan persoalan kesehatan
ini. Sehingga hampir di setiap masjid raya selalu didirikan klinik
sederhana untuk melayani jamaah dan masyarakat. Begitu juga rumah
sakit khusus untuk tentara, didirikan dengan fasilitas lengkap dan bisa
berpindah-pindah. Bahkan ada semacam puskesmas keliling untuk
memberikan pelayanan kepada rakyat yang tinggal jauh dari pusat kota,
di gunung atau di desa terpencil.
Seluruh biaya operasional rumah sakit diambil dari baitul maal
(kas negara) dan hasil wakaf kaum Muslimin. Sehingga semua orang
bisa menikmati pelayanan kesehatan tanpa mengeluarkan biaya
sedikitpun. Dokter dan Ilmuwan Muslim terkenal, Abu Bakar Ar-Razi si
penulis buku monumental Al-Hawi, pernah diangkat menjadi Menteri
Kesehatan di masa pemerintahan ‘Adhud Al-Daulah, yang pada tahun
982 mendirikan rumah sakit paling lengkap di Baghdad, dengan beberapa
puluh orang dokter spesialis. Rumah sakit ini direkturnya dirangkap
oleh Ar-Razi. Saat itu para dokter Muslim sudah mengenal yang namanya
medical record, catatan medis pasien. Dan mereka selalu berkumpul
untuk membicarakan kasus-kasus yang unik dan sulit ditangani.
Di Mesir, tepatnya di Kota Kairo, Dinasti Mamluk juga mendirikan
rumah sakit, dan yang terbesar yaitu yang dirikan oleh Manshur
Qala’un pada tahun 1284. Rumah sakit Al-Manshuri yaitu rumah sakit
yang paling modern, di samping luas dan mewah, peralatannya sangat
lengkap, ada apotek, laboratorium, perpustakaan, taman dan ruang
terbuka hijau untuk pasien, ruang untuk para penunggu pasien, masjid
raya dan gereja. (Perhatikan, betapa penguasa Muslim sangat toleran
terhadap pemeluk agama lain!). Pasien laki-laki dan perempuan dirawat
secara terpisah.
Di dalam Akte Wakaf rumah sakit Al-Manshuri disebutkan bahwa
seluruh pelayanan di rumah sakit ini yaitu bukti Kebesaran Allah Yang
Maha Penyayang. Sehingga semua pasien diperlakukan sama, apakah
dia orang kaya atau orang miskin, tua maupun muda, laki-laki dan
perempuan, budak atau orang merdeka, penduduk asli atau orang asing
yang tak dikenal, orang terpandang atau rakyat jelata. Mereka wajib
dirawat sampai sembuh dengan biaya ditanggung sepenuhnya oleh pihak
rumah sakit.
Beberapa negara di dunia juga menerapkan sistem seperti yang
diterapkan oleh penguasa Muslim dalam melayani orang sakit atau
pasien di rumah sakit, yakni membebaskan pasien dari kewajiban
membayar biaya perobatan. Sebaliknya, di sebagian negara kata “rumah
sakit” yaitu sebuah mimpi buruk warga negara kelas bawah. Suatu
tempat untuk mempertahankan kehidupan yang dingin dan kaku. Tidak
ada interaksi kemanusiaan yang tidak dihargai dengan uang, seperti
yang dikatakan Michael Moore dalam filmnya, Sicko. Rumah sakit yaitu
penguras tabungan yang efektif, yang tidak kenal kompromi.
Di Indonesia sendiri rumah sakit tidak terlalu berbeda dengan mal,
dalam ar tian sama-sama tempat transaksi bisnis. Prinsip ada uang
ada barang sama dengan ada uang ada pelayanan. Kalau tidak ada
uang silahkan lihat-lihat saja, tidak perlu masuk. Setiap warga negara
belum mendapatkan jaminan kesehatan dan pelayanan kesehatan
sebagai bagian dari hak azasinya yang paling mendasar. Yang lebih
ironis yaitu kaum dhuafa harus mengukuhkan identitas sosialnya melalui
secarik kertas yang berisi keterangan miskin. Dengan surat atau kartu
keterangan miskin itu, disadari atau tidak, diam-diam kita sedang
melecehkan harga diri seseorang. Kita hinakan dan kita permalukan
dia lebih dahsyat dari kenyataan yang sesungguhnya dia alami. Dia
miskin itu sebuah realitas yang menyakitkan, seharusnya jangan lagi
ditambah dengan “pengukuhan” atas kemiskinannya itu melalui surat
atau keterangan miskin.
Maaf kalau saya memaksa anda mengingat kembali kritik pedas
penyanyi Iwan Fals tentang pelayanan rumah sakit dalam sebuah lagunya.
Dalam lagu berjudul “Ambulance Zig-Zag” itu dikisahkan: Ada seorang
nyonya kaya dibawa memakai ambulance, masuk ke rumah sakit. Para
medis tanpa banyak bertanya langsung menangani si nyonya. Indikasi
status sosial si nyonya tampak dari perhiasan yang dikenakannya.
Makanya dia berhak mendapatkan keistimewaan pelayanan…. Tak lama
berselang, datang lagi pasien. Kali ini diantar helicak, kendaran roda
tiga sejenis bajaj, yang bodi depannya mirip helikopter dengan sopirnya
berada di luar bagian belakang. Sekujur tubuh pasien ini melepuh sebab
pangkalan bensin ecerannya meledak. Sayang, sebab dia tidak bawa
uang, maka suster cantik yang menyambutnya “terpaksa”
mempersilahkan si pasien menunggu di muka. Si pasien menjerit
kesakitan dan merasa diremehkan, “Hai modar aku, hai modar aku…!”
Tragis sekali. Kondisi sosial itu dikritik Iwan Fals di awal-awal
kemunculan di blantika musik Indonesia. Tapi sesudah hampir 30 tahun
berlalu, keadaan seperti itu masih tidak berubah. Masih banyak rumah
sakit yang menolak pasien miskin dengan berbagai alasan….
Pelayanan rumah sakit masih menjadi barang mahal di Indonesia,
yaitu kenyataan yang sulit dibantah. Apalagi rumah sakit swasta,
mungkin saja sejak awal pendiriannya memang sudah dimaksudkan
sebagai investasi yang bernilai ekonomi. Walaupun di sisi lain bisa jadi
sangat membantu Pemerintah dalam upaya menyebar luaskan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Mahalnya pelayanan rumah
sakit itu terjadi sebab belum ada kemauan politik dari Pemerintah
untuk menjadikan kesehatan –dan juga pendidikan - sebagai prioritas
utama yang harus ditangani. Pemerintah kita, juga sebagian kecil “tokoh”
politik, saat ini masih senang-senangnya bermain dengan jargon
demokrasi dan HAM. sebab keasyikan menata sistem politik, sehingga
lupa mengurus rakyat dan negara. Kecuali menjelang pemilihan umum,
di mana rakyat menjadi primadona yang disanjung, diperhatikan dan
“dibela” banyak tokoh politik yang ingin meraih kekuasaan.
Kita kembali ke para penguasa Muslim abad kejayaan Peradaban
Islam. Begitu besarnya perhatian para penguasa Muslim terhadap
kesehatan, sehingga mereka sering mengunjungi rumah sakit,
berbincang dengan pasien untuk memberikan motivasi dan
menyabarkan para pasien dalam menerima cobaan dan musibah. Dan
hampir setiap rumah sakit besar memiliki sekolah tinggi kedokteran,
yang disebut Kulliyyat Ath-Thibb. (Kata “kulliyyat” diserap oleh bahasa
Latin menjadi “culigat”, dan diinggriskan menjadi “college”). Lembaga
pendidikan tinggi kedokteran sangat ketat dalam memberikan lisensi
kepada calon-calon dokter. Mereka harus menempuh ujian berat sebelum
akhirnya dinyatakan lulus sebagai dokter. Kemudian dokter-dokter muda
ini mengemban tugas melayani masyarakat luas. Mereka digaji oleh
negara, tugas mereka hanya melayani saja. Kalau mereka hendak
mengambil spesialisasi, mereka boleh minta bantuan dana kepada
negara, dalam hal ini khalifah.
Di samping ulama, dokter yaitu profesi yang sangat dimuliakan
oleh para penguasa Muslim. Mereka menempati kedudukan yang tinggi
di mata penguasa maupun masyarakat. Rasulullah Saw sendiri
menyatakan bahwa profesi terbaik yaitu juru bekam (tabib, atau
dokter). sebab merekalah para pendekar yang berusaha menghalau
dan menghilangkan penyakit dari tubuh pasien. Merekalah orang-orang
yang siap ditemui dan diganggu waktu-waktu istirahatnya demi
kesembuhan pasien. Konon Ibnu Sina menyediakan waktunya 24 jam
untuk mengobati orang sakit. Makanya dia menghabiskan dengan belajar,
membaca buku-buku kedokteran dan bersiap-siap kalau-kalau ada
orang yang memerlukan keahliannya.
Kesadaran para penguasa Muslim terhadap kesehatan sebab
mereka menerjemahkan hadits Nabi Muhammad Saw, bahwa kebersihan
yaitu sebagian dari iman dalam bentuk tindakan nyata. Dalam Islam,
kebersihan selalu diser takan dalam ritual ibadah, bahkan sebelum
ibadah itu dilakukan. Misalnya wudhu yang mendahului shalat. Mandi
mendahului pemakaian pakaian ihram, dan sebagainya. Dan yang juga
harus diingat, ayat Al-Qur’an menyatakan dengan tegas bahwa Allah
mencintai orang-orang yang bertaubat dan selalu membersihkan diri.
Di samping itu banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Saw yang
memotivasi umat Islam untuk menguasai ilmu pengetahuan, termasuk
ilmu kedokteran. Mereka ber lomba-lomba mencari kebaikan dan
kemaslahatan ilmu bagi kemanusiaan. Tidak pelak lagi, umat Islamlah
yang telah meninggikan kedudukan ilmu, khususnya ilmu kedokteran.
Dan itu diakui oleh sejarah. Sampai-sampai George Sar ton dalam
bukunya History of Science, menyatakan bahwa sebelum datangnya
Islam, pengobatan lebih bersifat magis ketimbang medis. Tugas umat
(manusia dalam hal pengobatan) telah dipenuhi oleh umat Islam.
Memang harus diakui, sebelum para dokter-dokter Muslim muncul,
dunia pengobatan dikuasai oleh “orang-orang pinter” yang mengobati
pasien dengan mantra dan jampi-jampi. Hanya sebagian kecil tabib
yang mengobati pasien berdasarkan ilmu pengobatan. Proses
pengobatan yaitu juga sebuah ritual magis. Pasien diletakkan di tengah
satu tempat, disaksikan dan melibatkan orang banyak. “Orang pinter”
menari, mengucapkan mantra dan membuat gerak-gerakan aneh. Lalu
menyemburkan air atau bunga-bungaan ke tubuh si pasien.
Sungguh proses pengobatan yang tidak sederhana. Berbeda
dengan dokter Muslim yang menyandarkan pengobatan pada analisis
penyakit, tindakan medis, obat-obatan, baru sesudah itu menyerahkan
semua urusan kepada Allah. “Makhluk ghaib” yang merasuki orang
sakit dipahami oleh para dokter Muslim sebagai mikroorganisma (virus,
kuman). Seper ti yang dikatakan oleh Ibnu Sina dalam Al-Qanun, juga
oleh Ibnu Khatim pada abad 14 M.
Kiranya patut kita renungkan apa yang dikatakan oleh De Boire
dalam buku Islamic Thought: “Umat Islam telah membuat sains (ilmu
kedokteran) terbebas dari dogma (agama).”
Sebuah pengakuan yang jujur….
Mohonlah kepada Allah ampunan dan kesehatan,
sesudah iman yang kuat, tak ada yang lebih baik bagi seseorang
kecuali kesehatan
(Nabi Muhammad Saw).
Kisah Hikmah
Rida menangis. Hatinya pilu melihat anak pertamanya, Alif yang baru
berusia 7 bulan, tergolek tak berdaya. Alif tak bisa menelan, panas
badannya tinggi. Rida panik. Dia ingin membawa anaknya ke rumah
sakit, tapi tidak punya uang, sebab Suaminya tidak punya penghasilan
tetap. Atas inisiatif Ayahnya, akhirnya Rida dan Suaminya membawa Alif
ke rumah sakit. Sayangnya sesudah dirawat selama 3 hari di rumah
sakit, kondisi Alif makin memburuk.
Ayah Rida menyarankan agar Alif, cucunya, dibawa pulang kembali.
Biarlah mereka akan mencari pengobatan alternatif saja. Dengan berat
hati, Rida dan Suaminya membawa pulang Alif. Hati mereka bagaikan
hancur melihat buah hati terkasih mereka kondisinya semakin lemah.
Kebetulan mereka bertetangga dengan seorang dokter. Dokter inilah
yang dimintai tolong menangani Alif. Tapi sebab kondisi Alif yang sudah
masuk fase kritis, dokter menyarankan agar Alif dirawat di rumah sakit.
rupanya Alif menderita radang tenggorokan, sehingga dia tidak bisa
minum atau menyusu. Di samping itu, suhu badannya juga tidak turun-
turun.
Sekali lagi Alif dibawa ke rumah sakit. Kali ini rumah sakit yang
tidak terlalu jauh dari tempat mereka tinggal. Sayangnya sebelum Alif
ditangani, Rida diharuskan membayar uang muka, 10 juta. Jumlah yang
sangat besar bagi keluarga seperti Rida dan Suaminya. Tapi Ayah Rida
tidak kehabisan akal. Demi cucu dia pinjam sana-sini, sampai
terkumpullah uang sebesar 10 juta Rupiah. Maka Alif bisa “masuk” rumah
sakit dan segera dibawa ke ruang ICU. Beberapa jam kemudian, pihak
rumah sakit minta lagi uang 3 juta, untuk membeli obat.
Suasana tegang, emosi tinggi dan perasaan tak berdaya bercampur
menjadi satu melingkupi keluarga Rida. Sementara itu kondisi Alif tidak
semakin membaik. Wajahnya membiru, detak jantungnya semakin
lemah, harapan semakin tipis…. Sebuah keputusan dramatis diambil,
Alif harus dibawa pulang! Pihak rumah sakit tidak mengijinkan Alif pulang,
apalagi bayi mungil itu masih memakai selang sebagai alat bantu
pernapasan. Akan sangat berisiko bila bayi itu dibawa pulang, yang
berarti selang itu harus dicabut. Tapi keputusan telah ditetapkan. Apa
pun risikonya, Alif harus dibawa pulang. Pihak rumah sakit meminta
keluarga Rida menandatangani lembar pernyataan bahwa mereka akan
menanggung semua risiko yang timbul atas keputusan mereka.
Dalam perjalanan pulang, tidak ada tanda-tanda kehidupan pada
diri Alif. Selesai sudah upaya mereka mempertahankan “hidup” Alif.
Maka kabarpun disampaikan oleh Ayah Rida kepada keluarga dan
kerabatnya di rumah agar mempersiapkan segala sesuatu berkenaan
dengan meninggalnya Alif. Tapi entah mengapa, Rida yakin buah hatinya
masih hidup. Rida menangis, menjeritkan kegalauan hatinya kepada
Allah. Memohon pertolongan dan belas kasih-Nya.
Bendera kuning telah dipasang di beberapa sudut gang, bahkan
lubang makam juga sudah digali di pemakaman keluarga Ayah Rida
buat jasad Alif. “Jenazah” Alif disambut dengan isak tangis. Sampai ada
seseorang datang dan memeriksa keadaan Alif. Orang itu bilang, Alif
masih hidup. Itu juga yang diyakini oleh Rida. Orang itu minta segelas
air putih, kemudian dia bacakan doa. Kemudian diusapkan air itu sedikit
ke mata Alif dan diminumkan. Tidak lama kemudian, tangan Alif
bergerak… Sesaat kemudian, datang 2 orang Kyai dan membacakan
doa bagi Alif. Keajaiban terjadi atas ijin Allah.…
Alhamdulillah, sekarang Alif semakin sehat.
Bagaimana Islam
Memandang Sakit dan Penyakit?
Islam yaitu agama yang syamil , komprehensif, lengkap, dan
menyeluruh. Tidak ada aspek atau bidang kehidupan yang tidak disentuh
oleh Islam, tidak hanya dalam aspek spiritual saja. Sosial, politik, ekonomi,
budaya dan sains, semua dirangkul oleh Islam. Setidak-tidaknya Islam
meletakkan dasar-dasar pijakan bagi semua bidang kehidupan. Sehingga
tidak heran kalau umat Islam selalu bisa menemukan dalil untuk semua
urusan dunia, baik dari teks-teks Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi
Muhammad Saw.
Begitu juga dalam persoalan sakit atau penyakit. Islam memiliki
pandangan yang khas dalam masalah ini. Secara umum, menurut Ibnu
Qayyim –semoga Allah merahmatinya— penyakit itu terbagi dua, yaitu
penyakit batin (hati, jiwa) dan penyakit jasmani. Dengan demikian cara
pengobatannya juga dengan dua cara, pengobatan batin dan pengobatan
jasmani. Berikut ini saya coba uraikan sedikit, bagaimana Islam
memandang sakit dan penyakit.
Sakit Dan Penyakit
Sebagai Akibat Gaya Dan Pola Hidup
Sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, yakni dengan
adanya akal untuk berpikir, manusia diberikan kebebasan memilih.
sebab akal sangat bisa diandalkan untuk menjadi alat ukur, apakah
pilihan hidup seseorang itu baik atau buruk. Sayangnya manusia sering
berani mengambil risiko. Meskipun sudah tahu sesuatu itu tidak baik
dan akan mendatangkan celaka, tapi tetap disentuh juga. Contoh yang
paling mudah misalnya, kita tahu narkoba itu --apa pun jenisnya--
sangat membahayakan, tapi sebagian dari kita malah menjadikan
narkoba sebagai “makanan” sehari-hari. Demikin juga untuk kasus-
kasus yang lain.
Bagi mereka yang tinggal dan bekerja di kota-kota besar, seperti
Jakar ta, Surabaya, Bandung dan sebagainya, memang banyak sekali
menerima tawaran kesenangan. Ini berbanding lurus dengan tingkat
kesibukan dan tekanan yang mereka hadapi. Persaingan hidup yang
begitu dahsyat dan ketat membuat mereka harus siap terlempar dari
orbit hidup yang “normal”. Mereka nyaris menjadi mesin pencetak uang
yang tak berjiwa, yang bekerja atau memburu karir tanpa kenal waktu.
Akhirnya untuk menghilangkan kepenatan, kesuntukan dan keluar dari
rutinitas keseharian, mereka mencari berbagai kesenangan. Aktivitas
mereka di luar jam kerja inilah yang melahirkan pola dan gaya hidup
ser ta menjadi tren di kalangan kelas menengah-atas perkotaan.
Gaya atau pola hidup yang tidak normal ini biasanya berkenaan
dengan soal makanan dan penggunaan waktu. saat kita –merasa—
sehat, terkadang kita makan dan minum apa saja, tidak peduli itu
makanan dan minuman yang membahayakan bagi kesehatan. Kita juga
seenaknya saja “mengatur” waktu. Sehingga kita bisa menghabiskan
waktu di kantor atau di tempat kerja lebih banyak daripada di rumah.
Pergi pagi, pulang hampir pagi lagi. Terkadang sesudah lelah bekerja,
kita tidak langsung pulang ke rumah, melainkan mengusir kelelahan
dengan dugem, clubbing di lantai-lantai diskotek atau sekedar kencan
di pub. Yang lain asyik begadang untuk melakukan aktivitas yang tidak
berar ti dan sia-sia, main karambol atau membanting kar tu gaplek,
misalnya. Lain halnya kalau kita begadang, menghabiskan malam,
dengan aktivitas yang positif. Atau bersimpuh di atas sajadah, taqarub,
mendekatkan diri kepada Allah, dalam kesunyian malam di saat orang
terlelap dalam buaian mimpi.
Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu
sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah {2}: 195).
Jadi, kalau gaya dan pola hidup kita setiap hari seper ti itu,
sesungguhnya kita sedang mengundang penyakit ke dalam tubuh kita.
Kita sedang menjerumuskan diri sendiri ke dalam “kebinasaan”. Dengan
kata lain, wajar saja kita sakit sebab gaya hidup kita amburadul dan
semaunya. Wajar kalau kita menderita suatu penyakit sebab pola hidup
kita memang tidak sehat. Yang tidak wajar yaitu saat kita menisbatkan
derita sakit kita itu sebagai “takdir” dari Allah. Padahal ada begitu banyak
pilihan kebaikan yang Allah berikan, sayangnya kita memilih yang tidak
baik.
Sakit Dan Penyakit
Sebagai Musibah
Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mengharapkan sakit atau
terkena suatu penyakit. Sebisa mungkin penyakit harus dihindari jauh-
jauh. Untuk itu, Pemerintah Republik Indonesia mencanangkan program
imunisasi dini untuk balita. Tentu saja ini yaitu bagian dari upaya
untuk mencegah kemungkinan seorang bayi terkena suatu penyakit
(Walaupun ada juga yang mengatakan bayi itu tidak perlu diimunisasi
sebab sudah memiliki sistem imun sendiri). Dan sebagian dari kita
juga berusaha menjaga kesehatan tubuh dan menghindari penyakit
dengan selalu berolah raga. Bagi mereka yang memiliki uang lebih,
menjadi anggota klub-klub fitness, yang sekarang banyak menjamur,
yaitu pilihan tepat. Sedang yang lain merasa cukup puas hanya dengan
mengkonsumsi suplement agar selalu tampil bugar.
Orang-orang yang dengan sadar menjaga pola dan gaya hidup,
aktivitas dan makanannya, agar tetap bisa tampil prima, yaitu mereka
yang mengerti betul arti penting kesehatan. Mereka rela menghabiskan
banyak uang untuk menjaga kesehatan. Juga selalu meluangkan waktu
untuk berolah raga. Tapi kalau semua upaya pencegahan telah dilakukan,
ternyata penyakit datang juga, itu musibah namanya. Atau bisa juga
seseorang yang hari ini sehat dan segar-bugar, besok pagi menderita
luka parah sebab mengalami kecelakaan. Kalau sudah begitu, tidak
ada yang bisa kita lakukan kecuali tawakal, berserah diri kepada Allah
sesudah semua upaya pengobatan dan penyembuhan dilakukan.
Musibah terkadang datang tanpa “salam”. Dia muncul begitu saja,
tiba-tiba dan tanpa diundang. Musibah juga sering hadir tanpa bisa kita
prediksi sebelumnya. Sangat wajar kalau kita sering tidak siap
menyambutnya. Bagi kita, kaum Muslimin, dalam menerima musibah
harus selalu dengan pikiran positif. Kita menganggap bahwa musibah
yaitu bentuk lain dari “Kasih Sayang” Allah Azza wa Jalla. Hanya saja
perlu kearifan dalam memahaminya. (Insya Allah akan saya uraikan
sesudah ini).
Sakit dan Penyakit
Sebagai Cobaan Atau Ujian
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’an: “… Kami akan menguji
kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-
benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiyaa
{21}: 35).
Mungkin kita masih ingat kisah Nabi Allah, Ayub as. Bagaimana
Nabi, yang juga pengusaha itu, diberi cobaan dan ujian dengan penyakit
yang sangat memalukan sekaligus menjijikan, yaitu penyakit kulit. Seluruh
tubuh Nabi Ayub as., kecuali wajah, konon tiba-tiba “korengan”,
mengeluarkan nanah dan berbau busuk, padahal sebelumnya beliau
yaitu seorang laki-laki tampan yang sehat dan gagah. Tapi tak sekalipun
Nabi Ayub as. mengeluh atas semua yang menimpanya. Tentu saja
saya tidak bermaksud membandingkan “kualitas ruhani” seorang nabi
dengan kita yang hanya manusia biasa. Saya hanya ingin mengatakan,
bahwa menghadapi sakit atau penyakit memang seharusnya tidak
dengan mengeluh. sebab keluhan sangat berpotensi melemahkan
semangat kita untuk sembuh.
Di sekitar kita juga banyak orang yang, meskipun didera oleh
penyakit, tapi mereka tetap bersabar. Mereka meyakini bahwa kalau
Allah menguji hamba-Nya, pastilah yaitu maksud yang baik di sana.
Meskipun hal “yang baik” itu tersembunyi dan tidak bisa langsung
diketahui. Pasti ada hikmah yang luar biasa di balik semua yang Allah
tetapkan. Dan tidak mungkin Allah menguji seorang hamba kalau hamba
itu tidak kuat menanggungnya. Lalu bagaimana dengan orang-orang
yang bunuh diri sebab “tak kuat” menanggung beratnya beban hidup?
Sesungguhnya mereka bukan tidak kuat, melainkan tidak sabar
dan putus asa dalam menerima dan menyikapi penderitaan. Tidak sedikit
orang yang didera dengan penderitaan dan kesusahan hidup yang terus-
menerus dan tak putus-putus, tapi mereka tetap tegar dan akhirnya
keluar sebagai pemenang. Dan banyak pula orang-orang yang kembali
sehat padahal sebelumnya mereka divonis “mati” oleh dokter.
Orang yang Allah uji mereka dengan sakit atau penyakit, dan mereka
tetap tabah seraya terus melakukan berbagai upaya penyembuhan,
akan diangkat derajatnya oleh Allah. Mereka yakin, cobaan atau ujian
pasti ada batas akhirnya. Mereka juga senantiasa berbaik sangka kepada
Allah, dan hanya mengatakan: “Sesungguhnya kami yaitu milik Allah,
dan kepada-Nya pula kami akan kembali.”
Mereka mengembalikan semua kepada Allah, sebab hanya Allah
yang Maha Mengetahui. Mereka inilah yang akan mendapatkan
kehormatan dan rahmat dari Allah. Mereka yakin Allah sedang menguji
kesabaran mereka dengan penyakit itu.
Sakit dan Penyakit
Sebagai Teguran Allah
saat sedang sehat, terkadang kita sering berbuat semaunya. Kita forsir
tenaga, bekerja tak kenal lelah, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Kita
habis-habisan mengejar dunia, yang sesungguhnya akan kita tinggalkan.
Waktu yang 24 jam sehari seperti tidak cukup untuk mengakomodasi
semua aktivitas harian kita. Padahal Nabi Muhammad Saw mengatakan
bahwa tubuh kita juga memiliki hak untuk beristirahat. Mata kita,
misalnya tidak boleh dipaksa “bekerja” seharian tanpa berhenti. Padahal
dia juga memiliki hak untuk tidur barang sejenak. Tulang-tulang
kita, perlu juga diluruskan di tempat tidur agar bisa bertugas lagi dengan
baik. Begitu indah tuntunan Nabi Saw. Beliau menginginkan agar
umatnya hidup seimbang. Sehingga tidak ada bagian kecilpun dari tubuh
kita yang “dizalimi” sebab tidak ditunaikan hak-haknya. saat akhirnya
kita tumbang dan tergolek sakit, barulah terasa betapa mahal dan
berharganya sehat.
Kalau kita mengalami keadaan seperti itu, hal pertama yang harus
kita lakukan yaitu bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla. Bisa jadi
sakit yang kita derita merupakan “teguran” halus dari Allah agar kita
kembali menjalani aktivitas keseharian secara wajar dan tidak
berlebihan. Dengan diberi teguran berupa sakit, kita jadi sadar bahwa
ada hak-hak tubuh kita yang tidak kita tunaikan sebagaimana mestinya.
Sekiranya Allah tidak memberi sakit, tentu kita akan terus bekerja tak
kenal waktu. Dan tentu saja kemungkinan kita mengidap penyakit yang
lebih parah akan sangat besar.
Oleh sebab itu, yang paling baik yaitu hidup seperti yang dijalani
Rasulullah Saw. Beliau berpuasa, tapi beliau juga berbuka, makan dan
minum untuk menjaga kesehatan tubuh. Beliau beribadah, berdakwah,
dan bekerja, tapi beliau juga tidur untuk beristirahat agar tubuh beliau
bisa segar kembali. Beliau sibuk luar biasa, tapi beliau masih
meluangkan waktu untuk bercengkrama dan bercanda dengan istri-
istri, anak-menantu, dan cucu beliau.
Sakit dan Penyakit
Sebagai Azab atau Hukuman Allah
Salah satu nama Allah dalam al-asma al-husna yaitu “Adh-Dhaarr”,
Yang Maha Memberi Penderitaan. Apakah ini ar tinya Allah kejam dan
jahat? Jawabannya bisa saja “ya”, bagi mereka yang berpikiran sempit.
Yang hanya melihat “hasil akhir” sebuah kejadian tanpa merunut pada
prosesnya, juga latar belakangnya.
Tapi bagi orang-orang yang beriman, asma Allah “Adh-Dhaarr”
diyakini sebagai sifat Maha Kuasa Mutlak Allah, dan Allah juga Maha
Berkehendak. Apa saja yang Allah inginkan terjadi, pasti terjadi. Sebab
bila Allah menghendaki sesuatu cukup hanya dengan mengatakan,
“Jadilah!”, maka terjadilah apa yang diinginkan Allah itu. sebab Allah
yaitu Pembuat Peraturan, maka Allah juga berhak menghukum hamba-
hamba yang melanggar peraturan yang dibuat-Nya.
Sebuah negara membuat undang-undang dan peraturan untuk
warganya, segenap aparatur negara itu difungsikan sebagai pelaksana
atau pengawasnya. Kalau ada seorang warga negara yang melanggar
peraturan, maka aparat negara berhak memberinya sanksi dan
hukuman. Dijatuhinya hukuman kepada seorang warga negara bukanlah
bentuk kekejaman dari negara itu, melainkan demi kebaikan warga
negara yang terhukum itu sendiri. Demikian juga Allah. Bukankah Allah
Tuhan alam semesta? Dia berhak berbuat apa saja sekehendak-Nya,
termasuk memberikan hukuman kepada hamba-hamba-Nya yang
melampaui batas dalam berprilaku.
Seorang hamba yang sudah terlalu jauh atau melampaui batas
dalam berbuat kerusakan pada tubuhnya, misalnya pecandu narkoba
kelas berat, maka wajar saja kalau Allah menghukumnya. Sebab
sesungguhnya tubuh kita ini hakekatnya yaitu pinjaman dari Allah.
Status tubuh kita hanya, HGP atau “Hak Guna Pakai” saja. Kita bukan
pemilik sebenarnya. Allah-lah pemiliknya. Sudah pada tempatnya kalau
kita menjaga apa yang kita pinjam dari pemiliknya. Bahkan hidup kita
pun sebenarnya titipan juga. Manusia diberi amanah untuk menjaga
hidupnya, agar hidupnya berjalan harmonis bersama makhluk Allah
yang lain. Oleh sebab itu, nanti –di yaumil mahsyar— Allah meminta
pertanggungjawaban kita atas apa yang telah kita lakukan semasa hidup
di dunia.
Kalau kita mengabaikan tubuh dan hidup kita atau
memperlakukannya dengan semena-mena, bisa saja Allah menghukum
kita dengan sakit atau penyakit. Tujuannya bukan lain agar kita sadar
dan kembali merawat serta menjaga tubuh kita.
Sakit dan Penyakit
Sebagai Penghapus Dosa
Nabi Saw bersabda: “Tidak ada seorang Muslim pun yang ditimpa
gangguan semacam ter tusuk duri atau yang lebih berat darinya,
melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya
ser ta digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan
daun-daunnya.” (HR. Muttafuq ‘alaih).
Jadi, seseorang yang menderita suatu penyakit, sesungguhnya dia
“dihibur” dengan kabar gembira bahwa penyakit yang dideritanya itu
yaitu kafarat atas dosa-dosa yang telah dilakukannya. Penyakitnya
yaitu penebus –dan bahkan penghapus— dosa-dosanya. Betapa
banyak maksiat yang telah kita lakukan, baik yang sengaja, yang khilaf
maupun yang tidak sengaja. Setiap saat kita, mungkin saja tanpa kita
sadari, melakukan apa yang dilarang oleh Allah yang masuk kategori
maksiat.
Rasulullah Saw mengatakan, bila seorang Muslim kakinya tertusuk
duri, bisa saja itu sebab kaki si Muslim tadi sering melangkah ke tempat-
tempat yang diharamkan agama. Atau kakinya pernah melakukan
gerakan tidak terpuji, misalnya menendang orang miskin. Bila Allah
berkehendak menghapuskan dosa si Muslim itu, maka Allah
“mengganggunya” dengan tusukan duri di kakinya. Ini dimaksudkan
agar si Muslim itu segera introspeksi diri. Dengan begitu dia akan segera
menyadari kekeliruannya dan kembali ke jalan yang benar. Jalan yang
Allah ridhai.
Betapa seorang Muslim diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw untuk
senantiasa berbaik sangka kepada Allah Azza wa Jalla dalam segala
keadaan. sebab kita tidak pernah mengetahui, apa sebenarnya yang
ingin “dikatakan” Allah kepada kita lewat sakit itu. Tapi kita harus yakin
bahwa setiap yang dipilihkan Allah kepada kita, maka itulah yang terbaik.
Sebab Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Bisa saja Allah “rindu”
pada rintihan batin kita, sebab kita telah lama melupakan-Nya. Kita
tidak pernah lagi menyebut-nyebut asma-Nya, sebab dilalaikan dan
ditenggelamkan oleh kenikmatan dunia. Kita sibuk mencari har ta
kekayaan yang tidak mungkin kita bawa ke liang kubur kalau tak
diamalkan.
Pada saat kita sudah ter lalu asyik dengan urusan kita dan
melupakan Allah, maka Allah menegur kita dengan penyakit. Allah ingin
mengembalikan kita pada fitrah kita yang suci sebagai hamba Allah.
Bukan hamba dunia. Bukan hamba har ta, pangkat, jabatan, dan
sebagainya.
Sakit dan Penyakit Sebagai
Sarana Menaikkan Derajat Kemuliaan
Seringkali kita menyikapi sakit atau suatu penyakit yang kita derita
dengan sikap pesimis dan fatalis. Pikiran kita hanya terfokus pada
penyakit itu saja, sehingga tidak bisa “berimprovisasi” ke sudut yang
lain. Kalau kita menderita sakit, itu memang takdir dari Allah. Tapi siapa
tahu dengan sakit itu Allah berkehendak memuliakan kita. Allah ingin
kualitas atau maqam kita naik ke tingkat yang lebih tinggi. Bukankah
waktu sekolah dulu, kita selalu menghadapi ujian sebelum kenaikan
kelas? Seorang karateka harus mengikuti ujian berkali-kali sebelum
akhirnya dia berhak mengenakan sabuk berwarna hitam. Begitu juga
Allah. Bila Allah menghendaki derajat kita naik, maka Dia menguji kita
dengan berbagai musibah, termasuk dengan penyakit. “Barangsiapa
yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya, maka ia akan diberi cobaan
(oleh Allah Azza wa Jalla).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi, bila kita menderita suatu penyakit, selain berusaha
menyembuhkannya, kita juga wajib berbaik sangka kepada Allah. Kita
wajib terus bersyukur dan mengingat-Nya. Juga berdoa memohon yang
terbaik dari-Nya. Mudah-mudahan dengan penyakit itu Allah berkenan
memberikan kebaikan kepada kita dan memuliakan kita. Adapun apa
bentuk kebaikan dan kemuliaan itu, biarlah Allah sendiri yang tahu, tapi
pastilah kita bisa merasakannya.
Orang yang senantiasa bersabar terhadap penyakit yang dideritanya
sehingga dia tidak bisa melakukan aktivitas rutinnya yang baik, maka
Allah Azza wa Jalla tetap akan mencatat pahalanya seper ti kalau dia
melakukannya di kala sehat, meskipun dia hanya tergolek di tempat
tidur.
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Azza wa Jalla memberi “instruksi”
kepada para malaikat pencatat amal kebaikan: “Bila Aku menguji salah
seorang hamba-Ku yang beriman, lalu dia memuji-Ku atas ujian itu,
maka berilah dia pahala sebagaimana pahala yang biasa kalian berikan
kepadanya (saat dikerjakannya saat dia sehat).” (HR. Ahmad dan
Thabrani).
Subhanallah…. Betapa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Dalam
setiap keadaan orang-orang beriman mendapatkan limpahan kebaikan
dari Allah Azza wa Jalla. Sungguh, tidak ada akhlak yang lebih terpuji
dari seorang hamba kepada Tuhannya, kecuali bersyukur atas semua
nikmat yang telah diterimanya.
Sakit dan Penyakit
Sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah
Sifat Allah yang paling sering diucapkan oleh Kaum Muslimin yaitu Ar-
Rahman dan Ar-Rahim, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Kedua sifat itu selalu diucapkan setiap kali seorang Muslim memulai
aktivitas positif, juga dalam shalat dan ritual lainnya. sebab memang
demikianlah yang dicontohkan Nabi Saw. Segala kemampuan yang kita
miliki dan segala sesuatu yang terjadi, yang tanpa kita sadari yaitu
bentuk kasih sayang Allah. Namun, sering kali Allah memiliki “bahasa”
sendiri untuk menampilkan kasih sayang-Nya itu. Tidak semua orang
bisa memahami hal ini, kecuali dengan iman. Itulah sebabnya akhlak
dan perilaku orang-orang yang beriman mendapat pujian dari Nabi
Muhammad Saw, beliau bersabda: “Sikap seorang mukmin itu sangat
mengagumkan, bila mendapat kesusahan hidup mereka bersabar, dan
bila menerima kenikmatan maka mereka bersyukur.”
Seorang mukmin selalu yakin bahwa setiap apa pun yang dia rasa
dan alami yaitu atas kehendak Allah. Dan tentu saja ada hikmah yang
tersembunyi di baliknya. Kalau dia ditimpa oleh suatu kemalangan, maka
dia bersabar dan terus meningkatkan kesabarannya. Dia tidak mengeluh
kecuali dia memohon pertolongan yang paling baik kepada Allah. Dia
tidak “mengumumkan” kesusahan hidupnya kepada khalayak dan tidak
meminta-minta. Dia hanya menghiba-hiba kepada Allah, sehingga tidak
ada orang yang tahu kalau dia sedang susah. Tapi sebaliknya, bila dia
dianugerahi kenikmatan atau kebahagiaan, maka dia bersyukur dan
terus meningkatkan kualitas syukurnya dengan mendistribusikan
kenikmatan itu kepada orang lain melalui, zakat, infaq atau sedekah.
Agar orang lain juga bisa ikut merasakan kenikmatan seperti yang dia
rasakan.
Seorang mukmin dapat merasakan kasih sayang Allah Azza wa
Jalla bahkan saat dia menderita suatu penyakit dan tak berdaya di
tempat tidur atau di rumah sakit. Dia sangat legowo dan besar jiwa
dalam menerima cobaan berupa penyakit. Cintanya kepada Allah,
Tuhannya, semakin meningkat justru pada saat-saat dia sakit. sebab
dia yakin, Allah sangat mencintainya. “Sesungguhnya bila Allah mencintai
suatu kaum, maka Allah menimpakan cobaan kepada kaum itu.” (HR.
Bukhari).
Sebuah analogi sederhana, seorang karyawan akan sangat senang
bisa dekat dengan pimpinannya, atau pemilik perusahaan. Kedekatannya
dengan pimpinan tentu akan membuahkan banyak keuntungan : gaji,
pangkat, fasilitas, dan kemudahan-kemudahan lainnya. Dan semua
karyawan pasti berusaha bisa dekat dengan sang pimpinan, tidak jarang
ada yang rela bersusah-susah melayani dan menyenangkan sang
majikan demi mendapat perhatiannya. Tapi, tidak demikian dengan Allah
Azza wa Jalla, Zat Yang Maha segalanya ini justru memaksa manusia
untuk dekat dengan-Nya. Dia tidak kehilangan apa-apa seandainya
seluruh umat manusia di dunia ini tidak mengakui dan tidak menyembah-
Nya. Salah satu bentuk pemaksaan-Nya itu yaitu dengan menurunkan
musibah, misalnya melalui sakit. Dengan musibah orang yang lalai akan
ingat kembali pada Allah dan berusaha mendekat, sedang mereka yang
taat akan semakin dekat.
Konon, satu-satunya manusia yang tidak pernah menderita atau
mengalami sakit yaitu Fir’aun, Raja Mesir. Tapi itu juga yang membuat
dia sombong, takabur, dan bangga diri. Hatinya menjadi keras melebihi
batu. Dia tidak saja ingkar pada Allah, Tuhan yang telah menciptakannya,
tapi juga berkonfrontasi dengan-Nya secara terang-terangan dengan
cara mengangkat dirinya sebagai tuhan. Tapi lihatlah… bagaimana
kesudahan orang-orang yang ingkar kepada Allah!
Mudah saja bagi Allah untuk menghancurkan hamba-Nya, meskipun
si hamba mengaku sebagai raja diraja dan penguasa jagad raya, yang
memberi makan dan minum, yang menghidupkan dan mematikan, yang
membuat peraturan dan undang-undang. Orang sedigdaya Fir’aun, Allah
hinakan dengan mati tenggelam bersama bala tentaranya di lautan.
Kemudian Allah berkenan melemparkan jasadnya ke daratan untuk
menjadi pelajaran berharga bagi generasi yang datang kemudian.
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat
menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan
sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan
Kami.” (QS. Yunus {10}: 92).
Mumi Ramses II, diyakini Fir’aun
yang melawan Musa as.
Fir’aun bukan satu-satunya orang sakit jiwa yang Allah hinakan.
Ada Raja Namruz (Nimrod), yang mengaku sebagai Tuhan tapi dihinakan
kematiannya hanya dengan seekor nyamuk. Qarun, konglomerat di
jaman Nabi Musa as., yang ditimbun ke dalam tanah bersama seluruh
hartanya, sehingga menjadi legenda harta karun. Ada Abu Lahab, Paman
Rasulullah Saw yang sombong dan angkuh, yang menolak dengan keras
dakwah Kemenakannya. Dialah orang yang jelas-jelas oleh Allah diancam
dengan api neraka bahkan saat dia masih hidup…. Jadi, wajarlah
bila Nabi Muhammad Saw memuji akhlak orang-orang beriman, sebab
memang akhlak mereka sangat luar biasa. Sekali lagi, Rasulullah Saw
bersabda: “Sikap seorang mukmin itu sangat mengagumkan, bila
mendapat kesusahan hidup mereka bersabar, dan bila menerima
kenikmatan maka mereka bersyukur.”
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka
dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami sudah beriman’,
sedang mereka tidak diuji lagi?
(QS. Al-Ankabuut {29}: 2).
Sebuah Renungan
Pada hari Kiamat atau di Pengadilan Mahsyar, terjadi dialog yang
menarik antara Allah dengan manusia, keturunan anak-cucu Adam.
Dialog yang diabadikan dalam sebuah hadits Qudsi ini saya susun
sedemikian rupa hanya untuk memudahkan pemahaman saja, tanpa
maksud yang lain. Semoga pembaca tidak salah paham. Begini dialog
itu:
Allah: “Wahai anak Adam, Aku sakit, mengapa engkau tidak menjenguk-
Ku?”. Anak Adam: “Bagaimana kami menjenguk Engkau, ya Allah,
padahal Engkau yaitu Rabb (Tuhan) semesta alam?”. Allah: “Apakah
engkau tidak menger ti bahwa si Fulan, hamba-Ku, sakit dan engkau
tidak menjenguknya? Apakah engkau tidak mengerti, bahwa seandainya
engkau menjenguknya, niscaya engkau akan mendapati Aku padanya?”.
Bagaimana mungkin Allah Azza wa Jalla, Tuhan alam semesta,
menderita sakit? Ini tentu saja sangat mustahil terjadi. Tapi begitulah
Allah. Membuat ilustrasi yang menohok kesadaran kemanusiaan kita.
Sesungguhnya Allah ingin mengatakan: “Wahai manusia, janganlah kalian
tidak peduli pada tetangga atau saudara kalian! Ulurkan tangan kalian,
dan tolonglah saudara-saudara kalian yang sedang sakit!”
Tapi terkadang kita tidak menger ti juga dengan kenyataan yang
sangat jelas di hadapan kita. Kalau mendengar tetangga atau saudara
sakit, kita merasa tidak memiliki kewajiban untuk menjenguk, apalagi
menolong. sebab toh mereka memiliki keluarga. Kita sering lupa,
jangan-jangan Allah menitipkan kekayaan kepada kita dan memberi
kesempatan memiliki rumah di suatu tempat, sebenarnya agar kita
mendistribusikan rejeki yang Allah titipkan untuk masyarakat sekitar
kita. Agar kita menjadi manfaat bagi orang-orang di lingkungan kita,
bukan untuk kita nikmati sendiri.
Sayangnya seringkali kita mengulurkan tangan sesudah orang-orang
yang membutuhkan berteriak minta tolong. Padahal mungkin saja ada
orang-orang miskin yang sangat menjaga kehormatan dan harga dirinya,
sehingga mereka malu meminta tolong.
Apakah hati kita tidak juga terbuka dengan ilustrasi dialog di atas?
Catatan:
Hadits Qudsi di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Shahih-
nya. Hadits Qudsi yaitu firman Allah yang “redaksinya”, atau susunan
kata-katanya berasal dari Nabi Muhammad Saw. Sehingga hadits Qudsi
tidak dianggap sebagai ayat Al-Qur’an, tapi juga tidak dimasukkan ke
dalam kumpulan hadits Nabi Saw, yang memang berisi kata-kata atau
perbuatan Nabi Saw. Hadits Qudsi biasanya dikumpulkan dalam sebuah
kitab khusus, yaitu kitab kumpulan hadits Qudsi.
Hikmah Sakit
Kita meyakini bahwa setiap peristiwa yang kita alami, pasti ada hikmah
yang bisa kita petik di baliknya. Apakah hikmah itu kasat mata, sehingga
kita langsung bisa menangkap maknanya. Atau dia tersembunyi dan
harus digali dengan potensi kejernihan ruhiah kita. Apalagi seorang
Muslim, selalu menyikapi apa saja yang terjadi pada dirinya dengan
sikap positif. Dia juga lapang hati dan berusaha berpikiran jernih. Ini
sebab dia selalu dituntut untuk berbaik sangka pada Allah Azza wa
Jalla. Bukankah seorang Muslim selalu berkomitmen bahwa seluruh
aspek kehidupannya (aktivitas duniawi dan ibadah ukhrawinya), juga
matinya hanya sebab Allah semata? Ikrar itu dia ucapkan saat membaca
doa iftitah sesudah takbiratul ihram dalam shalat.
Sakit, di atas segalanya, yaitu juga takdir Allah, di samping --bisa
jadi-- sebab ulah kita sendiri. Kendati demikian, kita tetap bisa
mengambil manfaat atau hikmah dari sakit itu. Setidaknya ada tiga
hikmah sakit bagi orang-orang yang beriman, yakni:
a . Kesempatan istirahat bagi tubuh
saat sakit yaitu saat yang paling tepat untuk mengistirahatkan
tubuh. Selama sehat, barangkali kita ter lalu abai terhadap
“permintaan” tubuh kita agar memberinya waktu barang sejenak
untuk beristirahat. Kalau tidak sakit, kita akan terus bekerja tak
kenal waktu tak kenal lelah. Pergi kerja sebelum matahari terbit
dan pulang sesudah matahari tenggelam. Rumah hanya jadi tempat
tidur dan ganti pakaian saja. Sabda Nabi Muhammad Saw, “Tubuhmu
memiliki hak atas dirimu.”sebab kita tidak memberikan hak
kepada tubuh untuk istirahat, maka wajarlah kalau dia kemudian
bermasalah. Tubuh seolah “memaksa” kita memberinya tempo
untuk beristirahat dengan sakit. “Mungkin” sebab Allah kasihan
pada tubuh kita, sehingga diberi-Nya kita sakit agar tubuh kita bisa
beristirahat total dari aktivitas rutin harian. Sehingga sesudah sembuh
dari sakit nanti, tubuh kita benar-benar bisa fresh kembali.
b. Menyambung si latur rahim
Terkadang kesibukan ker ja membuat kita jarang sekali bisa
meluangkan waktu untuk bertemu orang tua, saudara atau teman.
Tiap detik harus bernilai ekonomis, sehingga kegiatan berkunjung
kita anggap tidak produktif, hanya basa-basi sosial dan menghalangi
kita meraup Rupiah. sebab segala aktivitas kita ukur dengan uang,
akibatnya kita selalu tidak punya kesempatan untuk bersilaturrahim.
Bahkan untuk sekedar “say hallo” melalui telepon atau SMS saja
kita tidak sempat. Aktivitas kerja benar-benar telah memenjarakan
kita dalam situasi yang tidak menyenangkan. Kita tidak lagi bebas
berkunjung ke rumah orangtua, saudara atau teman. Kita seperti
budak pekerjaan. Nah, saat sakit biasanya orangtua, saudara,
teman, dan handai taulan datang menjenguk. Terjalinlah kembali
komunikasi yang semp












