Tampilkan postingan dengan label Sejarah kristen 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah kristen 4. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Sejarah kristen 4


 ra kedua gereja itu tidak begitu penting, namun sesungguhnya 

hal itu berkaitan dengan masalah kekuasaan. Pada zaman saat  wibawa para uskup 

merupakan kunci bagi stabilitas gereja, tidak ada dua orang yang dapat menuntut 

wibawa yang sama. saat  Timur dan Barat gagal sepakat, mereka berjalan masing-

masing dengan caranya sendiri.  

 70

31) Tahun 1093 Anselmus Menjadi Uskup Agung Canterbury  

 

Salah seorang teolog terbesar Inggris lahir di Italia dan pernah bertengkar dengan dua 

orang raja.  

Anselmus lahir di Alpen, Italia, sekitar tahun 1033. la menolak keinginan ayahnya agar 

ia meniti karir di bidang politik dan mengembara keliling Eropa untuk beberapa tahun 

lamanya. Seperti anak-anak muda lainnya yang cerdas dan bergejolak, ia bergabung 

dengan biara. Di biara Bec, Normandia, di bawah asuhan seorang guru yang hebat, 

Lanfranc, Anselmus memulai karir yang patut dicatat.  

Pada tahun 1066 William dari Normandia menaklukkan Inggris. Pada tahun-tahun 

berikutnya, raja baru ini membawa banyak guru-guru Normandia beserta biarawan ke 

Inggris. Di antara mereka terdapat Lanfranc, yang menjadi uskup agung Canterbury 

pada tahun 1070. Anselmus mengambil tempat penasihat sebagai kepala biara Bec.  

Pada tahun 1093, William II, putra sang penakluk, mengangkat Anselmus sebagai uskup 

agung Canterbury. Namun itu bukanlah langkah yang meningkatkan hubungan Gereja 

dan negara. Raja yang keras kepala dan agresif itu mengambil hak penempatan para 

pastor di kerajaannya. Anselmus, seorang yang sederhana yang ingin melindungi 

Gereja, tanah serta dananya dari cengkeraman para raja yang tamak, menolak hal itu. 

Untuk sementara waktu uskup agung ini  hidup dalam pengasingan di Italia. 

William menyita semua dana yang disalurkan ke Canterbury.  

saat  William mangkat, saudaranya Henry I menggantikannya. Meskipun ia meminta 

Anselmus kembali, "pertempuran" antara gereja dan negara tidak kunjung usai. Henry 

sama jahatnya dengan saudaranya, dan sekali lagi Anselmus hidup di pengasingan.  

Selama ia di Inggris, Anselmus telah membuktikan bahwa ia yaitu  gembala berhati 

lembut dan administrator mahir. saat  berada dalam pengasingan, ia telah 

membuktikan bahwa ia seorang teolog besar, sebab  pada saat itulah ia menulis karya-

karyanya yang hebat.  

Dalam Cur Deus Homo (Mengapa Allah Menjadi Manusia) Anselmus menampilkan 

teori tentang bagaimana kematian Kristus di kayu salib, yang mendamaikan manusia 

dengan Allah. Allah, kata Anselmus, yaitu  Tuhan alam semesta, Ada (Being) yang 

kehormatan-Nya tersinggung oleh dosa manusia. Meskipun Ia ingin mengampuni 

manusia, agar ketertiban moral pulih kembali di jagat raya, la tak dapat begitu saja 

"menutup mata" atas dosa. Harus diadakan pengorbanan, sesuatu yang setimpal dengan 

 71

pelanggaran itu. sebab  dosa itu berasal dari manusia, pengorbanan itu juga harus 

dilakukan oleh manusia. Namun manusia tidak dapat mempersembahkan pengorbanan 

setimpal. Maka Allah menjadi manusia, dan yang mempersembahkan pengorbanan itu 

yaitu  baik Allah dan manusia: Kristus.  

Ide Anselmus ini dikenal sebagai "Teori Pengorbanan" bagi penebusan. Sampai saat ini, 

teori ini  merupakan penjelasan teologi terkenal tentang karya penebusan Kristus. 

Ia memiliki sumber-sumber alkitabiah seperti: "Allah mendamaikan dunia dengan diri-

Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka ..." (2 Kor. 5:19).  

Anselmus yaitu  salah seorang "terpelajar", seorang ahli Kristen yang mencoba 

memasukkan logika dalam pelayanan iman. Meskipun Anselmus mengetahui Alkitab 

dengan baik, namun  ia ingin menguji kekuatan logika manusia dalam upayanya 

membuktikan doktrinnya. Namun selalu imanlah yang mendasari semua itu. Dalam 

karyanya Proslogium, yang pada awalnya berjudul Fides Quaerens Intellectum (Iman 

Mencari Pengertian), Anselmus membuat pernyataan terkenal, "Saya percaya agar dapat 

mengerti." Yang ia maksudkan dengan pernyataan itu yaitu  bahwa mereka yang 

mencari kebenaran harus beriman dahulu, tidak sebaliknya. la mengemukakan 

argumentasi ontologi (informasi yang dapat mengarah ke penemuan sesuatu yang 

penting) untuk percaya kepada Allah. Singkatnya, ia menyatakan bahwa rasio manusia 

membutuhkan ide mengenai Ada (Being) yang sempurna (Allah), oleh sebab itu Being 

ini  harus ada. Ide ini telah menawan hati banyak filsuf dan teolog sepanjang masa.  

 72

32) Tahun 1095 Paus Urbanus II Melancarkan Perang Salib Pertama  

 

Pertempuran antara pasukan perang salib dan pasukan Saracen (Islam),dari sebuah 

jendela yang dulu berada di Gereja St. Denis  

Meskipun menjelang abad kesebelas sebagian besar Eropa memeluk agama Kristen 

secara formal — setiap anak dipermandikan, hierarki gereja telah ada untuk 

menempatkan setiap orang percaya di bawah bimbingan pastoral, pernikahan 

dilangsungkan di Gereja, dan orang yang sekarat menerima ritual gereja terakhir — 

namun Eropa tidak memperlihatkan diri sebagai Kerajaan Allah. Pertikaian selalu 

bermunculan di antara pangeran-pangeran Kristen, dan peperangan antara para 

bangsawan yang haus tanah membuat rakyat menderita.  

Pada tahun 1088, seorang Perancis bernama Urbanus II menjadi Paus. Kepausannya itu 

ditandai dengan pertikaian raja Jerman, Henry IV — kelanjutan kebijakan pembaruan 

oleh Gregorius VIII yang tidak menghasilkan apa-apa. Paus yang baru ini tidak ingin 

meneruskan pertikaian ini. namun  ia ingin menyatukan semua kerajaan Kristen. saat  

Kaisar Alexis dari Konstantinopel meminta bantuan Paus melawan orang-orang Muslim 

Turki, Urbanus melihat bahwa adanya musuh bersama ini akan membantu mencapai 

tujuannya.  

Tidak masalah meskipun Paus telah mengucilkan patriarkh Konstantinopel, serta 

Katolik dan Kristen Ortodoks Timor tidak lagi merupakan satu gereja. Urbanus mencari 

jalan untuk menguasai Timur, sementara ia menemukan cara pengalihan bagi para 

pangeran Barat yang bertengkar terus.  

Pada tahun 1095 Urbanus mengadakan konsili Clermont. Di sana ia menyampaikan 

khotbahnya yang menggerakkan: "Telah tersebar sebuah cerita mengerikan ... sebuah 

golongan terkutuk yang sama sekali diasingkan Allah ... telah menyerang tanah (negara) 

orang Kristen dan memerangi penduduk setempat dengan pedang, menjarah dan 

membakar." la berseru: "Pisahkanlah daerah itu dari tangan bangsa yang jahat itu dan 

jadikanlah sebagai milikmu."  

"Deus vult! Deus vult! (Allah menghendakinya)," teriak para peserta. Ungkapan itu 

telah menjadi slogan perang pasukan Perang Salib. saat  para utusan Paus melintasi 

Eropa, merekrut para kesatria untuk pergi ke Palestina, mereka mendapatkan respons 

antusias dari pejuang-pejuang Perancis dan Italia. Banyak di antaranya tersentak sebab  

tujuan agamawi, namun  tidak diragukan juga bahwa yang lain berangkat untuk 

keuntungan ekonomi. Ada juga yang ingin berpetualang merampas kembali tanah 

peziarahan di Palestina, yang telah jatuh ke tangan Muslim.  

 73

Mungkin, para pejuang ini  merasa bahwa membunuh seorang musuh non-Kristen 

yaitu  kebajikan. Membabat orang-orang kafir yang telah merampas tanah suci orang 

Kristen tampaknya seperti tindakan melayani Allah.  

Untuk mendorong tentara Perang Salib, Urbanus dan para paus yang mengikutinya 

menekankan "keuntungan" spiritual dari perang melawan orang-orang Muslim itu. Dari 

sebuah halaman Alquran, Urbanus meyakinkan para pejuang itu bahwa dengan 

melakukan perbuatan ini, mereka akan langsung masuk surga, atau sekurang-kurangnya 

dapat memperpendek waktu di purgatory.  

Dalam perjalanannya menuju tanah suci, para tentara Perang Salib berhenti di 

Konstantinopel. Selama mereka ada di sana, hanya satu hal yang ditunjukkan: Persatuan 

antara Timor dan Barat masih mustahil. Sang kaisar melihat para prajurit yang 

berpakaian besi itu sebagai ancaman bagi takhtanya. saat  para tentara Perang Salib 

mengetahui bahwa Alexis telah membuat perjanjian dengan orang-orang Turki, mereka 

merasakan bahwa "pengkhianat" ini telah menggagalkan bagian pertama misi mereka: 

menghalau orang-orang Turki dari Konstantinopel.  

Dengan bekal dari sang kaisar, pasukan ini  melanjutkan perjalanannya ke selatan 

dan timur, menduduki kota-kota Antiokhia dan Yerusalem. Banjir darah mengikuti 

kemenangan mereka di Kota Suci itu. Taktik para tentara Perang Salib ialah "tidak 

membawa tawanan". Seorang pengamat yang merestui tindakan ini  menulis bahwa 

para prajurit "menunggang kuda mereka dalam darah yang tingginya mencapai tali 

kekang kuda".  

Setelah mendirikan kerajaan Latin di Yerusalem, dan dengan mengangkat Godfrey dari 

Bouillon sebagai penguasanya, mereka berubah sikap, dari penyerangan ke pertahanan. 

Mereka mulai membangun benteng-benteng baru, yang hingga kini, sebagian darinya 

masih terlihat.  

Pada tahun-tahun berikutnya, terbentuklah ordo-ordo baru yang bersifat setengah militer 

dan setengah keagamaan. Ordo paling terkenal yaitu  Ordo Bait Allah (Knights 

Templars) dan Ordo Rumah Sakit (Knights Hospitalers). Meski pun pada awalnya 

dibentuk untuk membantu para tentara Perang Salib, mereka menjadi organisasi militer 

yang tangguh dalam pendiriannya sendiri.  

Perang Salib pertama merupakan yang paling sukses. Meskipun agak dramatis dan 

bersemangat, berbagai upaya kemiliteran ini tidak menahan orang-orang Muslim secara 

efektif. Pada tahun 1291, pasukan Muslim menduduki kola Acre, yang secara efektif 

mengakhiri Perang Salib.  

Dalam banyak hal, Perang Salib telah meninggalkan warisan negatif. Hubungan yang 

rusak antara gereja-gereja Timur dan Barat, dan kekejaman para tentara Perang Salib 

hanya membuat musuh-musuh mereka lebih fanatik. Ditambah lagi, semua pelajaran 

yang diterima selama peperangan, telah menjadi bagian dari strategi mereka untuk 

diterapkan dalam pertempuran melawan orang-orang Kristen lain.  

Tanggapan yang ditujukan pada panggilan Urbanus, meningkatkan kuasa kepausan. Ia 

berhasil mengumpulkan sejumlah besar prajurit yang bersedia mati demi imannya, 

perbuatan yang tidak dapat diremehkan oleh pangeran mana pun.  

 74

Pergumulan kekuasaan antara Gereja dan negara belum usai.  

 75

33) Tahun 1115 Bernardus Mendirikan Biara di Clairvaux  

 

Patung Bernardus di gereja paroki di Fontaines-Les-Dijon, tempat kelahiran Bernardus.  

Kebiaraan telah menentukan cita-cita kesucian dan kesederhanaan untuk kalangannya 

sendiri. Untuk sementara waktu, setiap gerakan biara memenuhi secara efektif maksud-

maksud baik itu, namun  lambat-laun kelengahan dan keduniawian telah menguasainya. 

Maka, sebuah tatanan baru, dengan ketulusan dan kesederhanaan yang lebih keras, 

muncul.  

Lewat pertengahan abad kesepuluh, para Benediktin telah menjadi mangsa kuasa 

ini  dan membutuhkan pembaruan. Dari golongan mereka sendiri berkembanglah 

Cistercian (Ordo Biarawan Pulih), yang ingin kembali ke hidup sederhana dengan 

bekerja dan berdoa.  

Seorang Cistercian yang paling besar — seorang yang sangat mempengaruhi Gereja 

zaman pertengahan - yaitu  Bernardus. Ia meyakinkan tiga puluh biarawan dalam 

ordonya, untuk mengikutinya ke sebuah biara baru, yang akan ia bangun di Clairvaux. 

Dari biara itu, Bernardus membawa namanya ke dunia Kristen. Menjelang kematiannya 

pada tahun 1153, ia telah mendirikan enam puluh lima rumah Cistercian, mendorong 

orang-orang beriman teguh, menyulitkan para raja, menghasilkan para paus dan 

mengkhotbahkan Perang Salib.  

Sambil mencari reformasi moral dan kesucian pribadi, Bernardus menekankan 

keharusan pengalaman pribadi tentang Kristus dan mendorong penyangkalan diri serta 

mengubah cinta terhadap duniawi menjadi cinta terhadap Allah. Tekanannya itu 

membawa ke kesucian umum yang lebih Iuas.  

Sebagai seorang teolog dan penulis berinspirasi, Bernardus berkata bahwa teologi dan 

pemahaman Alkitab "harus menembus hati ketimbang penjelasan kata-kata". Tidak 

seperti para Skolastik yang menekankan akal budi, Bernardus berfokus pada perlunya 

perubahan hidup. Ia berupaya semampunya membungkam berbagai ajaran orang-orang 

seperti Petrus Abelardus, contoh sempurna dari orang yang selalu ragu-ragu pada Abad 

Pertengahan.  

Meskipun Bernardus berpegang teguh pada ortodoksi, ia membawa tekanan kuat pada 

Maria bagi kesalehan abad pertengahan. la menolak doktrin Immaculate Conception 

(Doktrin tentang Maria yang dikandung tanpa dosa). Baginya, hanya Kristus yang tidak 

 76

berdosa. Di lalu  hari, orang-orang Kristen mengembangkan ide-idenya dan 

menjadikannya sistem kepercayaan Gereja.  

Meskipun Bernardus menyukai kehidupan sederhana, kesohorannya sebagai santo, 

penulis dan pengkhotbah tersebar jauh melewati tembok-tembok biaranya. la terlibat 

dalam politik yang bergejolak saat  itu, hingga ke titik penentuan antara dua pesaing 

yang menuntut takhta paus. Ia juga yaitu  juru bicara yang gagah untuk Perang Salib 

Kedua – yang terbukti tidak efektif sama sekali.  

Terkadang, orang yang berpikiran tinggi ini keras kepala dan tidak bertenggang rasa. 

Keberadaannya sebagai campuran antara tokoh publik dan mistik sungguh 

mengherankan. Ia tetaplah pembela kebenaran, orang yang ikut campur tangan dalam 

urusan dunia, namun tetap tidak tercemari oleh urusan-urusan itu. Bernardus dari 

Clairvaux mewariskan kepada orang lain tujuan tunggalnya: penyerahan sepenuhnya 

kepada Allah.  

 77

34) Tahun ±1150 Universitas Paris dan Universitas Oxford Didirikan  

 

Oxford University  

Apa yang akan terjadi jika Anda berdebat dengan profesor teologi Anda – mungkinkah 

Anda menang? Kemungkinannya, pada Abad Pertengahan, Anda akan dicap sebagai 

seorang penganut ajaran sesat dan akan dikeluarkan dari sekolah. Hal itulah yang terjadi 

pada diri Petrus Abelardus yang cerdas. Inilah salah satu sebab berdirinya universitas.  

Pada awalnya, pendidikan lanjutan selalu diberikan di biara-biara atau di sekolah-

sekolah katedral. namun  sekolah-sekolah semacam ini mulai menarik guru-guru dari 

luar biara. Guru-guru seperti ini selalu mempertanyakan dogma gereja yang resmi.  

Itulah kasus Abelardus. Ia dan beberapa orang seperti dia menjalankan "praktik privat" 

dan hidup dari honor yang disumbangkan para murid di tempat mereka mengajar. 

Abelardus sendiri memiliki  bermacam-macam karir. Ia mendirikan sekolahnya 

sendiri di St. Denis, kembali mengajar di Katedral Notre Dame, lalu  mengajar di 

sekolahnya sendiri. Kesohorannya menarik murid-murid ke Paris, namun  Gereja tidak 

yakin apakah ia dapat dipercaya. Akhirnya, sekelompok guru semacam itu, yang dipecat 

dari biara-biara di Notre Dame, mendirikan usaha di tepi kiri Sungai Seine.  

Ada perdebatan: apakah Bologna atau Paris yang memiliki  "universitas" pertama. Di 

Bologna, guru Irnerius mendirikan sekolah hukum pada tahun 1088, yang diizinkan 

oleh Kaisar Frederick Barbarossa pada tahun 1159. namun  istilah "universitas" 

datangnya dari Paris. Pada zaman pertengahan, semua jenis usaha diorganisasi dengan 

rapi. Jadi, para guru dan murid sepanjang Seine mengorganisasi sejenis serikat sekerja, 

Universitas Societas Magistrorum et Scholarium (warga  Universal Pengajar dan 

Murid), di bawah kuasa seorang rektor. Rektor ini secara agak longgar bertanggung 

jawab pada uskup Paris, dan memiliki  wewenang memberi  surat izin mengajar.  

Pada tahun 1200, Philip II dari Perancis memberi  status resmi bagi "universitas" ini. 

Seperti di Bologna, para pengajar dan pelajar memiliki keistimewaan sosial dari 

rohaniwan, walaupun terpisah dari mereka. Paus Innocentius III (yang telah belajar di 

Paris) menguatkan status sekolah ini  pada tahun 1208. Pengurus universitas benar-

benar mogok pada tahun 1229 — 1231 sebab  pertikaian dengan uskup tentang 

pengawasan proses pendidikan. Paus Gregorius IX mengakhirinya dengan pengaturan 

sendiri bagi sekolah ini .  

 78

Universitas Paris menjadi poros pendidikan bagi sebagian besar Eropa, sekurang-

kurangnya di bagian utara pegunungan Alpen. Dengan demikian, berkembanglah empat 

"kebangsaan" dalam studi, dengan mengelompokkan guru dan murid dari latar belakang 

yang sama: Perancis, Inggris/Jerman, Normandia, Picardia (dari dataran rendah). Para 

pelajar asing membutuhkan pemondokan juga, yang telah disediakan negara. Hal inilah 

yang membentuk kerangka "colleges" (perguruan-perguruan tinggi) di bawah naungan 

universitas. Paris pun mengembangkan empat bidang studi: seni, kedokteran, hukum 

dan teologi.  

Pada tahun 1167, jauh sebelum universitas Paris menerima status resmi, Henry II 

melarang pelajar Inggris belajar di Paris. Sebuah Studium Generale pun didirikan di 

Oxford, yang diorganisasikan secara resmi di bawah seorang rektor, pada tahun 1215.  

Abad ketiga belas merupakan masa subur pendidikan. Paris, Oxford dan Bologna 

menjadi pusat-pusat teologi, filsafat dan ilmu pengetahuan. Berbagai peristiwa ini telah 

membentuk tradisi pendidikan yang terpelihara sampai hari ini.  

Universitas-universitas ini  merupakan inkubator (alat penetas telur) bagi Renaisans 

(masa kebangkitan kembali) masa Reformasi.  

 79

35) Tahun 1173 Peter Waldo Memulai Gerakan Kaum Waldens  

 

Sebelum Reformasi, beberapa kelompok orang Kristen merasa keberatan atas jalan yang 

ditempuh Gereja Katolik. Salah satunya ialah kaum Waldens, yang dimulai seorang 

saudagar Perancis, yang merasa kecewa terhadap gereja Abad Pertengahan.  

Pada suatu hari, Peter Waldo mendengar seorang penyanyi keliling bernyanyi tentang 

seorang muda yang kaya, yang meninggalkan keluarganya dan kembali setelah 

bertahun-tahun lamanya. Orang muda itu kembali dengan berpakaian seperti seorang 

pengemis dan menjadi begitu kurus sehingga sanak keluarganya sendiri tidak 

mengenalinya. Hanya saat ia menemui ajalnya ia menampakkan identitas 

sesungguhnya. Ia telah hidup di antara orang-orang miskin dan mati dengan gembira, 

gembira akan menemui Allah yang selalu tersenyum kepada orang miskin.  

Tergerak oleh cerita itu, Waldo segera bertindak, menyisihkan dana secukupnya untuk 

istrinya, dan menempatkan kedua putrinya di asrama. Sisa kekayaannya ia bagikan 

kepada orang miskin. Ia mempekerjakan dua orang imam untuk menerjemahkan Alkitab 

dalam bahasa Perancis dan mulai menghafal tulisan-tulisan panjang. lalu  ia mulai 

mengajar orang-orang biasa tentang Kristus.  

Meskipun para biarawan dan biarawati telah mengajar tentang kemiskinan dan 

penyangkalan diri — walaupun mereka sendiri sering gagal berpegang pada sumpah 

mereka — gereja melihat hal ini sebagai sesuatu yang perlu mereka praktikkan. Tidak 

banyak orang berharap bahwa orang-orang biasa dapat hidup suci.  

Waldo dan para pengikutnya — yang menamakan dirinya sebagai Orang-orang Miskin 

dari Lyons — yakin bahwa Yesus menginginkan ajaran-Nya dijalankan semua orang. 

Dengan berpasangan para Waldens mengunjungi tempat-tempat umum, mengajarkan 

Perjanjian Baru kepada orang-orang awam.  

Perbedaan antara Gereja dan para pengajar ini tampak jelas bagi uskup agung Lyons. Ia 

memerintahkan mereka menghentikannya. Waldo menyitir Rasul Petrus: "Kita harus 

lebih taat kepada Allah dibandingkan  kepada manusia" (Kis. 5:29). Meskipun uskup agung 

mengucilkan Waldo, hal itu tidak menghentikan dia ataupun gerakan yang menyandang 

namanya. Para Waldens mengajukan banding kepada Paus Alexander II. Meskipun ia 

 80

dapat dikejar sampai pada Persidangan Lateran Ketiga (1179), orang-orang Waldens 

yang sibuk "berpasangan, berjalan tanpa alas kaki, berpakaian wol, tanpa memiliki apa 

pun, dengan anggapan semua benda milik bersama seperti para rasul", mengesankan 

Paus. sebab  mereka hanyalah orang-orang awam belaka, walau bagaimanapun, ia tidak 

dapat mengizinkan mereka mengajar tanpa persetujuan seorang uskup — suatu hal yang 

tidak mungkin mereka capai.  

Mengingat perkataan dalam Kisah Para Rasul, Waldo dan pengikutnya melanjutkan 

pengajarannya. Ini mengakibatkan pengucilan mereka oleh Paus Lucius III pada tahun 

1184.  

Kaum Waldens tidak mengajarkan ajaran sesat, walaupun Gereja menuduh mereka 

demikian. Mereka bersifat ortodoks. Namun, sebab  mereka berada di luar struktur 

gereja, para pengikut Waldo ini tidak mendapat pengakuan hierarki Gereja. Bagi orang-

orang gerejawi Abad Pertengahan, apa pun yang ada di luar Gereja yaitu  ajaran sesat.  

Banyak orang Kristen Perancis dan Italia, yang telah kecewa dengan Gereja yang 

bersifat duniawi, berpaling ke Waldensian, yang mengajarkan imamat bagi setiap orang 

percaya. Mereka menolak relikwi, ziarah dan paraphernalia seperti air suci dan pakaian-

pakaian rohaniwan, hari-hari para santo dan perayaan lainnya, serta purgatory. Komuni 

bukanlah sesuatu untuk dilaksanakan setiap hari Minggu, dan para pengkhotbah 

Waldens berbicara serta membacakan Injil kepada orang-orang dalam bahasa mereka 

sendiri.  

Pada tahun 1207, Paus Innocentius III menawarkan bahwa para Waldens akan diterima 

jika mereka mau tunduk pada para pejabat Gereja Katolik. Banyak yang kembali — 

namun  yang lain tidak. Pada tahun 1214 Paus mengutuk mereka sebagai orang-orang 

berhaluan ajaran sesat dan menyerukan agar mereka ditindas. Inkuisisi (penyelidikan 

dan pengadilan Gereja Katolik) melaksanakan tugasnya dengan melenyapkan mereka.  

Kendati mengalami semua penindasan ini, namun kaum Waldens tidak jera, dan tetap 

meneruskannya. Mereka menyebar di seluruh Eropa, dan saat  Reformasi muncul, 

mereka disambut hangat oleh sebagian kaum Protestan. Sekarang mereka menganggap 

dirinya sebagai orang-orang Protestan. Kaum Waldens yaitu  saksi hidup bahwa pada 

masa-masa suram sejarah Gereja, gerakan perbaikan bate selalu akan muncul dari dalam 

Gereja.  

 81

36) Tahun 1206 Fransiskus dari Asisi Meninggalkan Kekayaannya  

 

Memasuki abad ketiga belas, masa depan bagi pemuda Fransiskus Bernardone tampak 

cerah. Sebagai seorang putra pedagang kain di Asisi, Italia, Fransiskus tentunya dapat 

mengharapkan kehidupan seorang kesatria dan kaya.  

Asisi sedang berperang dengan tetangganya Perugia, jadi Fransiskus pun berangkat ke 

medan perang. Dengan pakaian besi, helm berjambul dan tombak di sisinya, ia tampak 

bersinar. sebab  tertangkap dalam suatu pertempuran, ia menjadi tawanan perang 

selama satu tahun di Perugia. Tidak berapa lama setelah dibebaskan, ia sakit parah. 

Semua pengalaman ini membuatnya bertanya-tanya apa arti harta yang diwarisinya.  

Suatu hari, saat  ia sedang berkuda, ia melihat seorang penderita lepra di jalanan. 

Fransiskus sebelumnya pernah merasa mual melihat pengemis seperti ini dan mulai 

melarikan kudanya dengan cepat melewati dia, namun  orang ini beda adanya. Penderita 

lepra ini berparaskan wajah Kristus. Diliputi dengan perasaan devosi spiritual, 

Fransiskus turun dari kudanya dan mencium pengemis ini . Ia memberi uang 

kepada pengemis itu, dan membawanya ke tujuannya dengan duduk di atas kuda di 

belakangnya.  

Dorongan untuk mempedulikan orang-orang yang sedang membutuhkan bertumbuh 

dalam diri Fransiskus, meskipun ayahnya mengejeknya. Pada tahun 1206 Fransiskus 

meninggalkan rumahnya, melepaskan harta ayahnya, lalu  ayahnya memutuskan 

hubungan dengan dia. Orang muda ini mengabdikan dirinya pada kehidupan miskin. 

Makanan atau pakaian sekecil apa pun akan diberikannya kepada mereka yang 

membutuhkannya. Ia sendiri menjadi seorang pengemis, tanpa malu-malu meminta-

minta dari orang "berada", agar ia dapat membagikannya kepada orang yang "tidak 

berada".  

Fransiskus mulai berkhotbah di kapel-kapel dekat Asisi yang telah ditinggalkan. Pesan 

Injil yang sederhana tentang kasih dan pelayanan telah menghasilkan banyak pengikut 

setia. Bagi mereka yang ingin bergabung dengannya dengan meninggalkan harta 

mereka, ia menggariskan sekumpulan peraturan untuk hidup; peraturan-peraturan dasar 

Ordo Fransiskan (Fransiscan Order). Ia bersama-sama tujuh orang rekannya pergi ke 

Roma untuk mendapatkan persetujuan Paus bagi ordonya.  

Menjelang tahun 1218, sudah ada sekurang-kurangnya 3.000 pengikut Fransiskus. Ia 

telah mengobarkan semangat mereka. Gereja telah menimbun harta dan kuasa. Dalam 

warga  Italia, yang kaya bertambah kaya, dengan restu Gereja, sementara si miskin 

 82

mati kelaparan. Namun, Fransiskus menawarkan cara kesederhanaan baru, yang tidak 

dinodai oleh ketamakan. Banyak yang taat beragama mengikuti teladannya. Banyak 

lagi, yang tidak ingin mengorbankan hartanya, mengagumi para pengkhotbah miskin ini 

dan mendukung mereka dengan pemberian sedekah.  

Berabad-abad lalu , Martin Luther mengkritik dengan tajam tradisi Fransiskan ini 

sebab  penekanannya pada perbuatan baik – menurutnya hanya iman yang akan 

memberi keselamatan. Namun, dalam banyak hal, kedua reformis ini bertempur 

melawan musuh yang sama: gereja yang hanya mempedulikan kelestarian statusnya 

sendiri, dan melupakan ajaran-ajaran Kitab Suci yang sederhana.  

Pada puncak kemasyhurannya, pada bulan Oktober tahun 1226, Fransiskus wafat. Dua 

tahun lalu  ia diangkat menjadi santo. Kata-kata terakhirnya ialah, "Saya telah 

menunaikan tugas saya, semoga Kristus sekarang mengajar Saudara tugas-tugas 

Saudara."  

 83

37) Tahun 1215 Konsili Lateran Keempat  

 

Paus Innocentius III memanggil 

Konsili Lateran Keempat  

Paus yang berkuasa antara tahun 1198 dan 1216, Innocentius III, mewujudkan kepausan 

yang sangat berkuasa dalam sejarah Abad Pertengahan. Orang yang susah diajak 

kompromi dan yang berbakat ini berupaya membawa ketertiban dan disiplin pada 

Gereja. Ia mengadakan perubahan dan memusatkan administrasi Gereja serta terlibat 

juga dalam urusan-urusan politik pada zamannya.  

Innocentius menginginkan kepausan yang mengontrol berbagai urusan gerejawi dan 

negara. Apabila para Paus yang terdahulu menjuluki diri mereka sebagai "wakil Petrus", 

Innocentius menuntut hak sebagai "wakil Kristus". Dengan menyatakan bahwa ia 

yaitu  duta Kristus di bumi, ia berkata bahwa Paus yaitu  "perantara antara Allah dan 

manusia, di bawah Allah namun  di atas manusia". Dengan tegas ia menjalankan 

tugasnya, seperti mengasingkan para pangeran yang susah diatur ataupun mengusir 

orang-orang sesat.  

Pada tahun 1215, pada Konsili Lateran Keempat, Gereja menyerap banyak ide-ide 

innocentius. Dalam sidang yang panjang selama tiga hari, mereka menghasilkan ratusan 

dekrit.  

sebab  Innocentius merasa peduli, bahwa setiap orang Kristen yang telah dibaptis harus 

menampilkan citra kekristenan, sidang ini  mewajibkan setiap orang mengaku dosa 

kepada seorang pastor dan mengambil komuni setiap tahun.  

Melalui Konsili Lateran Keempat ini, doktrin "Transubstansiasi" (doktrin bahwa 

substansi roti dan anggur berubah menjadi substansi tubuh dan darah Kristus) dengan 

resmi menjadi bagian dari gereja. Secara tidak resmi, ide bahwa roti dan anggur yaitu  

tubuh dan darah Kristus telah beredar selama bertahun-tahun. Gereja memandang 

pengambilan komuni sebagai bagian penting untuk mendapatkan keselamatan; 

penyangkalan, seperti halnya dengan pengucilan, berbahaya bagi jiwa. Dengan 

kesempatan berhubungan langsung dengan tubuh dan darah Kristus, para imam 

memegang peranan penting dalam otoritas Gereja. Pengucilan berkekuatan besar sebab  

hal itu menyangkal hubungan seseorang dengan Kristus.  

 84

Menyadari ketidaktahuan banyak imam, Innocentius mendorong persidangan itu untuk 

memberlakukan peraturan bahwa setiap katedral harus memiliki seorang guru teologi. 

Dengan demikian akan ada orang yang memberi penjelasan kepada para imam.  

Seirama dengan pandangan tinggi Innocent tentang otoritas paus, kepercayaannya 

bahwa hanya ada satu Gereja yang benar, tempat kebenaran spiritual tersimpan, telah 

mewujudkan kepausan yang lebih kokoh. Setuju atau tidak dengan Gereja bukan lagi 

suatu pilihan. Para pengikut ajaran sesat membahayakan bukan saja jiwa mereka 

sendiri, namun  jiwa orang lain juga. Konsili mengatur langkah agar negara menghukum 

orang-orang sesat dan menyita harta mereka. Para pejabat yang enggan melepaskan 

orang sesat akan dikucilkan, dan mereka yang bekerja sama dengan Gereja akan 

menerima pengampunan penuh.  

Sekali lagi Gereja menghadapi masalah penunjukan pejabat Gereja yang kafir. Para 

penguasa yang tidak beragama ditolak untuk menetapkan para uskup di kawasannya. 

Hanya paus yang dapat menetapkan atau mencopot uskup-uskup menurut Konsili. 

lnnocentius menolak menerima uskup agung Canterbury yang ditetapkan raja Inggris, 

John. Untuk memaksa John patuh, paus mengucilkannya. sebab  takut akan kehilangan 

takhtanya, raja yang keras kepala itu akhirnya mengalah.  

Konsili itu juga menyerukan agar orang-orang Yahudi diharuskan mengenakan identitas 

khusus. Orang-orang Kristen dilarang mengadakan transaksi dagang dengan mereka. 

Lambat laun hal ini mewujudkan perkampungan Yahudi tersendiri (Jewish ghettos).  

Dalam dekrit ini dan yang lainnya, Innocentius telah menciptakan lembaga yang sampai 

Reformasi memiliki  pengaruh dominan di Eropa.  

 85

38) Tahun 1273 Thomas Aquinas Menyelesaikan Karyanya Summa 

Theologica  

 

Thomas Aquinas, Lahir di Rocca Secca dekat Aquino di Naples, Italy, c. 1225; 

meninggal di Fossanuova (dekat Roma), 1274.  

 

Thomas Aquinas menyerahkan jabatannya kepada Paus (oleh Taddeo di Bartolo).  

Orang yang sistem teologinya di lalu  hari menjadi panduan bagi gerejanya, 

dulunya dijuluki sebagai 'Dumb Ox" (sapi bisu) oleh rekan-rekan sekolahnya di 

Cologne. Meskipun julukan ini mungkin cocok mengingat tubuhnya yang besar, lamban 

dan sikapnya yang serius, nama ini tentunya tidak mencerminkan kecerdasan otaknya.  

Teolog terbesar Abad Pertengahan, Thomas Aquinas, dilahirkan pada tahun 1225 dalam 

keluarga bangsawan yang kaya. Menjelang usia lima tahun ia terkenal akan 

kesalehannya, dan orangtuanya pun mengirim dia ke sekolah biara.  

Pada usia empat belas tahun, ia pergi ke Universitas Naples. Di sana Thomas begitu 

terkesan dengan guru Dominikannya. Ia memutuskan untuk menjadi seorang biarawan 

Dominikan juga.  

Keluarga Thomas berupaya keras mengubah pikirannya. Mereka mencoba menculiknya, 

membujuknya dan menyekap dia selama satu tahun, namun akhirnya mereka mengalah. 

Thomas pergi ke Paris untuk belajar pada Albertus Magnus, yang lalu  

mempekerjakannya ke Paris.  

Pada zaman ini, filsuf-filsuf bukan Kristen mengusik otak para pemikir Kristen. Karya-

karya Aristoteles, Averroes yang Muslim dan Maimonides yang Yahudi telah 

 86

diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Para sarjana tertarik kepada para filsuf yang 

menjelaskan seluruh jagat raya tanpa mengacu pada Kitab Suci Perjanjian Baru.  

Melanjutkan tradisi kesarjanaan, Thomas berupaya menyatukan rangkaian filsafat dan 

teologi yang agak terpisah. Ia membedakan keduanya, yang ia sebut akal dan wahyu, 

namun ia menekankan bahwa keduanya itu tidak perlu dipertentangkan. Keduanya 

yaitu  sumber pengetahuan la mengatakan bahwa keduanya berasal dari Allah, namun, 

"Dalam teologi suci, segala sesuatu diperlakukan dari sudut pandang Allah."  

Thomas memahami keterbatasan rasio, yang hanya didasari pengetahuan melalui indra. 

Sementara kita dibawa rasio untuk percaya kepada Allah, menurutnya, hanya wahyulah 

yang akan menunjukkan Allah Tritunggal yang ada di Alkitab. Wahyu sendiri dapat 

dengan sempurna menunjukkan asal-usul dan nasib manusia. Dengan memakai  

wahyu dan logika sebagai dasarnya, manusia dapat membangun teologi yang akan 

menjelaskan dirinya dan alam semesta ini.  

Argumentasi Summa Theologica yang berliku-liku itu menunjukkan kesanggupan 

Thomas Aquinas untuk melakukan penalaran yang rumit. Pada awalnya ia ditentang. Di 

Gereja, banyak yang tidak menerima penekanan kaum Skolastik pada akal. namun  tidak 

lama lalu , karya ini dan karya-karya lainnya, seperti Summa Contra Gentiles, 

yang pada satu masa mengundang perbantahan, telah menjadi bagian terkemuka doktrin 

Gereja. saat  Gereja Katolik mengatur kekuatan melawan kebangkitan Protestan pada 

Konsili Trente, mereka memakai  karya-karya Aquinas.  

Meskipun ia telah menjadi salah seorang teolog, guru dan pengkhotbah terkemuka 

gereja, keberadaan Aquinas tetap sederhana. Tiga bulan menjelang kematiannya, pada 

tahun 1274, ia mengumumkan bahwa penglihatan dari surga dengan jelas menunjukkan 

bahwa teologinya hanyalah "tumpukan jerami". Ia membuang tulisan-tulisan teologis, 

dan Summa Theologica tidak pernah benar-benar diselesaikan.  

 87

39) Tahun 1321 Dante Menyelesaikan The Divine Comedy  

 

Pada salah satu epik terindah yang pernah ditulis, seseorang mengadakan perjalanan ke 

neraka, purgatory dan surga — suatu peziarahan dari dosa menuju keselamatan. Kisah 

perjalanan itu memiliki  pengaruh yang tak terhingga pada bahasanya sendiri — 

bahasa Italia — dan pada pembaca abad-abad berikutnya.  

Karya Dante Alighieri The Divine Comedy (Komedi Ilahi), yaitu  sajak alegoris yang 

diperpanjang, yang dibagi atas tiga bagian: Bagian "Inferno" (neraka) mengikuti Dante 

melewati sembilan lingkaran neraka yang berpusat tunggal dengan pemandunya seorang 

pujangga Romawi, Virgil; "Purgatory" menggambarkan sebuah gunung dengan 

sembilan jenjang, di mana jiwa-jiwa yang telah diselamatkan mengikis dosa mereka 

sebelum masuk surga, dan buku terakhir, 'Paradise" (Surga), menceritakan 

perjalanannya bersama-sama Beatrice (wanita yang dipuja-puja sepanjang hidupnya) 

dan Bernardus dari Clairvaux melalui kesembilan lingkaran yang berpusat tunggal di 

surga, tempat ia menemui orang-orang kudus Allah.  

Sajak ini  benar-benar ortodoks secara teologi — meskipun Dante menempatkan 

paus sebagai yang berkuasa di neraka pada waktu itu. Dengan jelas juga dicerminkan 

dalam sajak itu keyakinan pada zamannya. Di sini kita melihat contoh keyakinan pada 

Abad Pertengahan secara konkret.  

Dante sangat mengagumi karya klasik Latin dan Yunani, dan sangat dipengaruhi oleh 

Thomas Aquinas. Seperti Aquinas, ia percaya akan nilai akal, namun ia mengakui pula 

bahwa tujuan akhir yaitu  hidup bersama Allah. Tokoh Virgil mewakili upaya terbaik 

manusia untuk hidup suci dan berbudaya. Meskipun ia mendapatkan tempat khusus di 

sana, namun ia masih di neraka. Beatrice dan Bernhard mewakili kehidupan yang 

berkasih-karunia.  

The Divine Comedy dengan jelas menggambarkan ganjaran abadi bagi yang sesat dan 

orang-orang kudus, bagi raja-raja dan rakyat biasa. Walaupun berbeda dengan teologi 

modern, namun arti mendalam yang terkandung di bawah figur-figur ini  dapat 

berbicara dengan jelas pada jiwa seperti halnya pada imajinasi.  

Akhirnya Dante melihat kerumunan yang ada di surga tersusun seperti kelopak 

sekuntum mawar. Imajinasinya terbentang melampaui kapasitasnya, dan ia 

mengakhirinya dengan penyembahan dan penghormatan pada "Kasih yang 

menggerakkan sang surya dan bintang-bintang lainnya".  

 88

40) Tahun 1378 Catherina dari Siena Pergi ke Roma untuk 

Mendamaikan Skisma Besar  

 

Saint Catherine of Siena (1347–1380)  

Siapa sangka, seorang gadis kelahiran tahun 1347, si bungsu dari dua puluh tiga 

bersaudara, dalam keluarga yang taat pada agama di Siena, akan menjadi pemandu dan 

pendukung para paus?  

Meskipun masih berusia muda, Catherina telah menunjukkan pengabdian yang tinggi, 

dan ia berikrar akan menjadi mempelai wanita Kristus. Selama tiga tahun ia hidup 

terpisah dari dunia luar, namun  saat  Black Death (wabah pes yang berjangkit dan 

mematikan di Eropa pada abad keempat belas) menyapu Eropa, Catherina memasuki 

lagi dunia ini dan melayani mereka yang sekarat; ada yang mengaku bahwa ia juga 

menyembuhkan para penderita. la juga mengunjungi para narapidana, membuat 

beberapa di antara mereka yang dijatuhi hukuman mati jadi bertobat.  

Sementara itu, Catherina juga banyak menulis surat, memberi  konseling spiritual 

kepada setiap orang, dari orang awam sampai paus. Surat-surat semacam itu telah 

memberinya reputasi sebagai juru damai, sebab  ia menunjukkan kemampuan yang luar 

biasa dalam mendamaikan orang.  

Salah satu kebutuhan besar untuk perdamaian abad ini ada pada kepausan. Selama 

bertahun-tahun Perancis telah mendominasi takhta paus - sedemikian rupa sehingga 

paus pindah ke Avignon, di Perancis. Meskipun hal ini menyenangkan orang-orang 

Perancis, tidak ada orang lain yang menyukai ide ini, dan selama bertahun-tahun pula 

para paus berpikir untuk kembali ke Roma.  

Seperti banyak orang saleh pada zamannya, Catherina percaya bahwa paus harus berada 

di Roma agar ia tidak berhadapan dengan dominasi Perancis. la mendorong Paus 

Gregorius XI kembali saat  ia mengunjunginya di Avignon pada tahun 1376. Paus 

pindah ke sana namun meninggal tidak berapa lama lalu .  

Para Kardinal memilih Urbanus VI sebagai paus. saat  mereka mulai tidak puas atas 

dirinya, mereka memilih Clement VII, yang kernbali ke Avignon. Skisma (perpecahan) 

Besar pun berawal - keadaan yang berlanjut selama tiga puluh sembilan tahun. Hal ini 

 89

sungguh suatu skandal, ada dua orang paus yang masing-masing menuntut gelar "Wakil 

Kristus" ("Vicar of Christ")! Mereka berdua masing-masing memiliki  kelompok 

kardinal, dan apabila paus masing-masing meninggal, setiap kelompok akan 

menggantikannya dengan seseorang yang mereka sukai.  

Ada beberapa negara yang mendukung paus yang satu, ada juga yang mendukung yang 

lainnya. Tampaknya hal ini telah menjadi permusuhan. Catherina berpihak kepada paus 

Roma, dan menulis surat yang menyengat para kardinal Perancis tentang pemilihan 

mereka. Pada tahuri 1378 ia pergi ke Roma, dengan berharap dapat memperbaiki 

perpecahan ini. la mengumpulkan orang-orang sekeliling Urbanus, namun  juga 

mengecamnya atas beberapa tindakannya yang kurang bijaksana. Urbanus tidak 

tersinggung, sebaliknya ia mengagumi wanita saleh ini dan meminta petunjuk darinya.  

Untuk sementara waktu kota yang bergejolak itu menjadi tenang. Namun saat  

Catherina meninggal, dua tahun lalu , Skisma Besar itu tetap bercokol.  

Meskipun misi terakhir Catherina ini gagal, ia sendiri bukanlah kegagalan. Pada zaman 

saat  para paus telah menjadi luar biasa kaya dan berkuasa, ia membuktikan bahwa 

seorang wanita sederhana dapat mewujudkan sesuatu yang berbeda. Jenis kelaminnya 

atau awal ketakterkenalannya itu pun bukan hambatan baginya.  

Pengaruhnya berlanjut sepanjang masa. Dialoguenya, yang menekankan perlunya setiap 

orang merespons panggilan Tuhan "dari dalam", sangat terkenal.  

Perpaduan antara devosi mistik dan pelayanan Kristen yang aktif oleh Catherina telah 

menyentuh, baik orang-orang Katolik maupun Protestan.  

 90

41) Tahun ±1380 Wycliffe Mengawasi Penerjemahan Alkitab ke dalam 

Bahasa Inggris  

 

John Wycliffe (c. 1330 -1384) mengutus "pengkhotbah bagi orang miskin" dari Gereja 

Lutterworth  

"Seorang tokoh berperawakan tinggi dan kurus, ditutupi jubah hitam panjang dan ringan 

... kepalanya dihiasi jenggot yang bertumhuh lebat menampilkan ketampanan yang 

berpandangan tajam; matanya yang jernih dan menembus, bibir tertutup rapat sebagai 

tanda berpendirian teguh."  

Begitulah John Wycliffe berdiri di depan uskup London pada tahun 1377, menjawab 

semua pertanyaan tentang ajaran sesat yang dituduhkan kepadanya. Temannya sekaligus 

pendukungnya, John Gaunt, pangeran Lancaster, melangkah dengan arogan ke dalam 

gereja. Pembicaraan apakah Wycliffe harus berdiri atau duduk berubah menjadi 

pertengkaran. Hal itu lalu  berubah menjadi pertikaian. John Gaunt pun lari 

menyelamatkan diri. Bayangkan saja, Wycliffe yaitu  seorang pemberani dan 

pembicara blak-blakan baik dalam teologi maupun pengetahuan. namun  dalam politik ia 

selalu terjebak dalam pertempuran antara dua pihak.  

John Wycliffe yaitu  orang terpelajar yang terkemuka pada zamannya. Seluruh Inggris 

menghormati kebijakannya. Pendidikan di universitas masih merupakan fenomena baru 

saat  itu, dan peranan Wycliffe sungguhlah besar bagi reputasi Oxford, tempat ia 

belajar dan mengajar.  

Namun, kehidupannya penuh dengan kontroversi. Ia memiliki  kebiasaan berbahaya, 

yaitu mengatakan apa yang dipikirkannya. Jika apa yang dipelajarinya membuatnya 

mempertanyakan tentang ajaran Katolik resmi, ia langsung menyuarakannya. Ia 

mempertanyakan hak gereja atas kuasa duniawi dan kekayaannya. Ia mempertanyakan 

juga penjualan surat-surat pengampunan dan jabatan-jabatan gerejawi, penyembahan 

para santo dan relikwi yang berbau takhayul, serta kuasa paus. la mempertanyakan juga 

pandangan resmi tentang Ekaristi (doktrin transubstansiasi) yang dikeluarkan oleh 

Konsili Lateran Keempat. Untuk pandangan-pandangan semacam ini dan lainnya, ia 

selalu harus membela diri di hadapan para uskup dan konsili-konsili.  

 91

Inggris penuh sentimen terhadap Gereja Roma, bahkan pada tahun-tahun 1300-an. 

Kepemimpinan sekuler sangat kuat di Inggris. Para pangeran — dan banyak orang 

awam — menyesaalkan cara Gereja merampas kekuasaan dan harta. John Gaunt sering 

memakai ide-ide dan kesohoran Wycliffe dalam berargumentasi dengan Gereja. Sebagai 

imbalannya, ia memberi Wycliffe semacam perlindungan dari hierarki.  

Untuk sementara, Wycliffe merupakan pahlawan yang populer. Para pengikutnya, yakni 

Lollard, para imam yang menganut kemiskinan para rasul dan mengajarkan Kitab Suci 

kepada kalangan umum, mengembara di Inggris dengan Injil. namun  tatkala 

pengaruhnya. menurun, Wycliffe menjadi kurang berguna bagi para sponsornya, 

termasuk Lancaster. Peristiwa tahun 1377 mengakibatkan tulisannya dilarang.  

Oposisi pun semakin intensif. Sementara ia sendiri diamankan dari kekerasan, tulisan-

tulisannya dibakar dan ia dicopot dari kedudukannya di Oxford serta dilarang 

menyebarluaskan pandangannya.  

Hal ini memberinya waktu untuk menerjemahkan Alkitab. Menurut Wycliffe, setiap 

orang harus diberi keleluasaan membaca Kitab Suci dalam bahasanya sendiri. "Oleh 

sebab  Alkitab berisikan Kristus, yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan, 

Alkitab sangat diperlukan bagi semua orang, bukan bagi para imam saja," tulisnya. 

Maka meskipun Gereja tidak setuju, ia bekerja bersama sarjana lain untuk 

menerjemahkan Alkitab Inggris pertama yang lengkap. memakai  salinan tulisan 

tangan Vulgata (Alkitab terjemahan Bahasa Latin), Wycliffe berusaha keras membuat 

Kitab Suci agar dapat dimengerti oleh orang-orang sebangsanya. Edisi pertama 

diterbitkan. Penerbitan kedua yang diselesaikan setelah Wycliffe meninggal, mengalami 

perbaikan. Namun edisi itu dikenal sebagai "Alkitab Wycliffe", dan dibagi-bagikan 

secara ilegal oleh para Lollard.  

Wycliffe terkena stroke di gereja dan meninggal pada tanggal 31 Desember 1384. Tiga 

puluh satu tahun lalu , Konsili Konstanz mengucilkan dia, dan pada tahun 1428 

kuburannya digali dan tulang-tulangnya dibakar, abunya disebarkan di sungai Swift.  

Tidak ada yang tahu secepat apa idenya akan tersebar di seluruh Eropa. Dampak 

ajarannya pada para pemimpin di lalu  hari, seperti Yohanes Hus, memberi  

Wycliffe julukan "Bintang Fajar Reformasi". Ia sendiri berusaha tetap bertahan di 

Gereja Roma sepanjang hidupnya, namun  dalam hati dan benak para pendengarnya, 

Reformasi sudah bergerak secara diam-diam.  

   

 92

42) Tahun 1415 Yohanes Hus Dibakar pada Tiang Pancang  

 

John Huss (1380-1415).  

 

Burning of John Huss on July 6, 1415.  

"Kita akan memberinya kesulitan." "We'll cook his goose." Orang yang dimaksud kata-

kata ini  ialah Yohanes Hus, yang arti nama belakangnya yaitu  goose (angsa) 

dalam bahasanya, Ceko. Orang yang mengucapkan kata-kata di atas mengacu pada 

fakta bahwa Hus dibakar di tiang pancang. Namun saat  para penguasa negara dan 

gereja menghukum Hus, mereka sesungguhnya menyulut api nasionalisme dan 

reformasi Gereja.  

Pada tahun 1401, Yohanes ditahbiskan menjadi imam. Sebagian besar karirnya 

dihabiskan dengan mengajar di Universitas Charles, di Praha dan berkhotbah di Kapel 

Betlehem yang berpengaruh, yang letaknya tidak jauh dari universitas itu.  

Meskipun negara John Wycliffe letaknya jauh dari Bohemia, pengaruhnya telah tersebar 

di sana setelah Raja Richard II menikah dengan Anne, saudara perempuan raja 

Bohemia. Anne telah membuka jalan bagi orang Bohemia belajar di Inggris, dengan 

demikian tulisan-tulisan Wycliffe yang berbau reformasi telah menyusup ke Bohemia.  

Pada dinding-dinding Kapel Betlehem terdapat lukisan-lukisan paus dan Kristus dengan 

perilaku yang berlawanan. saat  paus berkuda, Kristus berjalan kaki tanpa alas, saat  

Yesus membasuh kaki para murid-Nya, kaki paus diciumi. Hus tersinggung dengan 

 93

keduniawian para agamawan seperti itu, dan ia pun berkhotbah dan mengajar melawan 

hal itu, sambil menekankan kesucian pribadi serta kemurnian hidup. Dengan 

menekankan peranan Alkitab dalam otoritas Gereja, ia mengangkat pengajaran yang 

bersifat alkitabiah ke kedudukan penting dalam pelayanan di gereja.  

Ajaran Hus menjadi populer di kalangan umum dan beberapa dari kalangan aristokrat, 

termasuk sang ratu. saat  pengaruhnya di universitas bertumbuh pada proporsi yang 

besar, popularitas tulisan Wycliffe pun bertambah.  

Uskup Agung Praha menolak ajaran Hus. la memerintahkan Hus untuk berhenti 

berkhotbah dan meminta universitas membakar tulisan-tulisan Wycliffe. saat  Hus 

menolak perintahnya, uskup agung ini  menghukumnya. Paus Yohanes XXIII 

(salah seorang dari tiga orang paus dalam Skisma Besar) menempatkan Praha di bawah 

interdict – suatu tindakan yang secara efektif mengucilkan seluruh kota itu, sebab nya 

tidak seorang pun yang dapat menerima sakramen gereja. Hus setuju meninggalkan 

Praha, untuk membantu kota itu, namun  ia senantiasa menarik massa, seperti saat  ia 

berkhotbah di gereja dan mengadakan persekutuan-persekutuan di clam terbuka.  

Hus mengembangkan perlawanan terhadap kaum rohaniwan bukan saja dengan 

meninggalkan gaya hidup rohaniwan yang amoral dan mewah – termasuk paus – namun  

menegaskan bahwa hanya Kristus sajalah Kepala Gereja. Dalam bukunya On the 

Church (Tentang Gereja), ia membela otoritas kaum rohaniwan, namun menekankan 

bahwa hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Paus ataupun uskup, tambahnya, 

tidak dapat menciptakan doktrin yang berlawanan dengan Alkitab, tidak juga seorang 

Kristen sejati yang dapat patuh pada perintah rohaniwan, jika ternyata hal itu jelas-jelas 

salah.  

Pada tahun 1414, Hus dipanggil ke Konsili Konstanz untuk mempertanggungjawabkan 

ajarannya. Kaisar Romawi yang saleh, Sigismund, menjanjikan keamanannya.  

Konsili telah mengambil sikap bagi Hus. Setibanya di sana, Hus langsung ditangkap. 

Konsili mengutuk baik ajaran Wycliffe maupun Hus.  

saat  ia diserang, ia menolak menyangkal pernah menyatakan bahwa apabila seorang 

paus atau uskup berada dalam dosa, maka ia bukan lagi paus atau uskup. Secara lisan 

Hus telah menyertakan juga sang raja dalam daftar ini .  

Sigismund memanggil Konsili itu untuk memperbaiki Skisma Besar, dan mereka telah 

melakukannya. namun  tentunya tidak ada konsili yang mernulihkan otoritas seorang 

paus akan membebaskan seorang pemberontak yang mempertanyakan hak ini .  

Walau terkuras sebab  masa penjara yang panjang, penyakit dan kurang tidur, ia tetap 

menyatakan bahwa ia tidak bersalah dan menolak melepaskan "kesalahannya". Pada 

Konsili ia berseru, "Meskipun ditawarkan sebuah kapel penuh dengan emas, saya tidak 

akan mundur dari kebenaran."  

Pada tanggal 6 Juli 1415, Gereja dengan resmi mengutuk Hus dan menyerahkannya 

kepada para otoritas sekuler untuk segera dihukum. Dalam perjalanan menuju tempat ia 

dieksekusi, Hus melewati halaman sebuah gereja. Di sana berkobar api unggun yang 

dibuat dari buku-bukunya. Sambil tertawa ia mengatakan kepada orang-orang di jalan 

agar tidak mempercayai kebohongan yang beredar tentang dia. saat  ia tiba di tempat 

 94

ia akan dibakar di atas tiang pancang, pejabat pemerintah yang bertugas menyarankan 

Hus menarik kembali pandangannya. "Allah yaitu  saksi saya," jawab gerejawan 

ini , "bukti yang mereka kemukakan salah. Saya tidak pernah mengajar atau 

berkhotbah kecuali dengan maksud memenangkan manusia, jika mungkin, dari dosa 

mereka. Hari ini saya akan mati dengan gembira."  

Setelah ia meninggal, abu jasad Yohanes Hus ditaburkan di sebuah sungai. 

Kematiannya, yang dihadapinya dengan berani, meningkatkan rnartabatnya. Dipicu 

semangat kebangsaan dan keagamaan, para pengikutnya memberontak melawan Gereja 

Katolik dan kekaisaran yang didominasi oleh Jerman. Mereka menggulingkan keduanya 

secara efektif. Walaupun Paus mencoba segala upaya menindas gerakan ini, gerakan itu 

tetap bertahan sebagai gereja independen, yaitu Unitas Fratrum ("Persatuan 

Persaudaraan").  

   

 95

43) Tahun 1456 Johann Gutenberg Membuat Alkitab Cetak yang 

Pertama  

 

The statue honoring Johann Gutenberg (1397 - 1468) is located in the heart of 

Strasbourg. Gutenberg is the father of printing, and the Bible was his first printed book.  

 

Mesin cetak Johann Gutenberg, From Appleton's Cyclopaedia of Applied Mechanics, 

1892  

Selama Abad Pertengahan, tidak banyak orang memiliki Alkitab atau buku-buku apa 

pun. Para biarawan menyalin teks dengan tangan di atas lembaran-lembaran papyrus 

atau kertas kulit hewan. Biaya bagi bahan maupun waktu penyalinannya yaitu  sesuatu 

yang tidak dapat dicapai orang-orang biasa, bahkan mengharapkan buku yang mungkin 

dia butuhkan tersedia.  

Tidak banyak orang yang dapat membaca dalam bahasanya sendiri, dan buku-buku 

umumnya – termasuk Alkitab – hanya tersedia dalam bahasa Latin, bahasa yang 

dimengerti hanya oleh segelintir orang. Orang-orang awam bergantung pada imam 

setempat dan lukisan-lukisan atau patung-patung di gereja untuk informasi mengenai 

Alkitab. Acap kali imam setempat kurang atau sama sekali tidak terlatih dalam bahasa 

Latin, dan pengetahuannya tentang Alkitab sangat minim. Meskipun para sarjana 

 96

berdebat tentang Alkitab dan menulis ulasan-ulasan, namun pemikiran mereka agak 

sukar ditelaah oleh orang-orang Kristen awam pada umumnya.  

Salah satu perubahan besar pada abad kelima belas memiliki  dampak besar pada 

keadaan ini. Pada tahun 1440-an, Johann Gutenberg bereksperimen dengan keping-

keping cetakan logam yang dapat dipindah-pindahkan. Dengan menyusun buku dalam 

cetakan timah, ia dapat menghasilkan salinan dalam jumlah yang besar, dengan jumlah 

dana yang jauh lebih kecil dibandingkan  salinan tangan.  

Pada tahun 1456 Gutenberg — atau sekelompok orang termasuk dia — mencetak 200 

salinan Alkitab Hieronimus, Vulgata. Orang biasa masih belum dapat memahami firman 

Allah, namun  ini yaitu  langkah pertama suatu revolusi besar.  

Untuk sementara para pakar percetakan Mainz ini merahasiakan teknik Gutenberg 

sebagai rahasia perusahaan. Namun menjelang tahun 1483, tatkala Martin Luther lahir, 

setiap negara di Eropa memiliki sekurang-kurangnya satu percetakan. Dalam tempo 

lima puluh tahun sejak pencetakan Alkitab pertama oleh Gutenberg, percetakan-

percetakan telah mencetak jauh melebihi salinan-salinan yang dihasilkan para biarawan 

berabad-abad lamanya. Buku-buku bermunculan dalam sejumlah bahasa, dan orang 

yang melek huruf bertambah.  

Tanpa penemuan Gutenberg, mungkin tujuan Reformasi memakan waktu lebih lama 

untuk dicapai. Selama hanya para rohaniwan yang dapat membaca firman Allah dan 

membandingkannya dengan ajaran gereja, maka dampaknya terbatas sekali bagi orang-

orang Kristen awam.  

Dengan penemuan percetakan ini, Luther dan para reformator lainnya dapat 

menyampaikan firman Allah kepada "setiap bocah pembajak (ladang) dan gadis 

pelayan". Luther menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman yang baik dan 

mudah dibaca, yang digunakan berabad-abad lamanya. Tidak lagi seorang imam, paus 

atau konsili yang menjadi perantara bagi orang percaya dan pemahaman Alkitabnya. 

Meski banyak yang menyatakan bahwa tidak semua orang dapat mengerti firman Allah 

tanpa dijelaskan oleh para gerejawan, orang-orang Jerman itu mulai melakukan hal itu.  

saat  mereka membaca, orang-orang biasa ini mulai meresapi dunia Alkitab yang 

dramatis. Kegiatan-kegiatan iman di rumah-rumah tangga sudah dimungkinkan. 

Perlahan-lahan tembok antara pastor dan jemaat mulai runtuh. dibandingkan  cemas akan 

"Apa yang harus saya akui kepada seorang imam?," orang percaya dapat bertanya, 

"Apakah hidup saya sesuai dengan ajaran Alkitab?"  

Dengan penemuan alat cetak yang rumit ini, maka tersulutlah api di seluruh Eropa, yaitu 

api yang menyebarkan Injil dan yang membuat orang melek huruf.  

 97

44) Tahun 1478 Pendirian Inkuisisi Spanyol  

 

Pada mulanya, Gereja merasa amat prihatin terhadap adanya kepercayaan sesat — bidat 

— dan telah mencari cara menanganinya. Acap kali langkah ini  merupakan sikap 

tawar-menawar pendapat teologis dan pengucilan badan-badan ajaran sesat dari gereja. 

Namun, gereja yang baru mulai tumbuh, tidak mampu memberlakukan sistem 

keyakinan apa pun pada mereka yang bersalah.  

Pada tahun 1184, Paus Lucius III, yang mempedulikan iman setiap pengunjung gereja, 

meminta para uskup "menyelidiki" iman dombanya masing-masing. Seseorang yang 

tertangkap sebagai penganut ajaran sesat dikucilkan — dikeluarkan dari Gereja. Namun, 

tak ada yang melukainya secara fisik, dan jika ia melepaskan paham sesatnya itu, maka 

ia diterima kembali di Gereja. Secara teoretis Gereja menerapkan sarana ini untuk 

memperbaiki dengan penuh kasih seorang saudara yang tersesat dan melindungi yang 

lain dari kesalahan yang sama.  

saat  ajaran sesat populer — khususnya Gerakan Albigens di Perancis — bertumbuh, 

Gereja mengambil tindakan yang lebih tegas. Pada Konsili Lateran Keempat, Paus 

Innocentius III mendukung negara yang menghukum para penganut ajaran sesat dan 

menyita harta mereka. Para pejabat sekular yang tidak mendukung Gereja juga terancam 

pengucilan.  

Namun, Inkuisisi ini  tidak sepenuhnya terorganisasi hingga pada Sinode Toulouse, 

pada tahun 1229. Sebagai respons atas pembacaan Alkitab Cathari — sebuah kelompok 

bidat yang telah menyertakan banyak kesalahan Manichaean — dan Waldens, sinode 

ini  melarang kaum awam memiliki Kitab Suci dan memulai serangan sistematis 

melawan berbagai kepercayaan yang tidak dapat diterima. Paus Gregorius IX memberi 

kuasa menyiksa para pengikut ajaran sesat kepada para biarawan Dominikan yang 

diwajibkan mengontrol ortodoksi. sebab  bertanggung jawab hanya pada otoritas paus, 

maka para Dominikan menjadi senjata ampuh dalam kelompok hierarki.  

Pada tahun 1252, Paus Innocentius IV mengizinkan penyiksaan sebagai cara 

mendapatkan informasi dan pengakuan dalam kasus ajaran sesat. la percaya bahwa 

pengikut ajaran sesat merupakan "kaki yang membusuk" yang harus diamputasi, jika 

 98

tidak, mereka akan menginfeksi seluruh tubuh. Kekejaman yang diberlakukan melawan 

ajaran sesat tampaknya yaitu  harga yang relatif kecil bagi ortodoksi Gereja.  

Gereja masih tidak dapat memicu  pertumpahan darah, sehingga semua pengajar 

sesat diserahkan kepada negara untuk dieksekusi — biasanya dengan cara dibakar 

hidup-hidup.  

Para penguasa Spanyol pada paroh kedua abad kelima belas, Raja Ferdinand dan Ratu 

Isabella, meyakini bahwa negaranya akan makmur hanya jika ia benar-benar Kristen. 

sebab  mereka menunjukkan pengabdian mendalam pada ajaran Katolik, mereka 

menerima gelar Catholic Kings (Raja-raja Katolik) dari paus. Pada tahun 1478 mereka 

meminta paus mendirikan Inkuisisi di Spanyol dengan mereka sendiri sebagai 

inkuisitornya.  

Banyak orang Yahudi dan Muslim di Spanyol yang menjadi Kristen dengan setengah 

hati, namun ketakutan masih menyelimuti mereka, sebab  mereka secara diam-diam 

masih mempraktikkan keyakinan lama mereka. Pada tahun 1492, raja-raja Katolik 

meng