Tampilkan postingan dengan label kisah para rasul 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah para rasul 2. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

kisah para rasul 2

 


rodes yaitu kelompok yang membenci serta ganas

terhadap  Yesus.  Didalam  kebencian  ada  ketakutan  bahwa  posisinya  terancam

sebagai raja orang Yahudi 

2) Kelompok dari Imam kepala dan ahli Taurat yaitu reaksi yang acuh tak acuh. Merasa

mereka tidak melihat perbedaan apapun dengan kelahiran bayi kecil itu. Mereka telah

terbelenggu dengan upacara-upacara keagamaan. Yesus tidak punya makna bagi

mereka. 

3) Kelompok orang-orang bijak yaitu pujian dan ibadah yang menggerakkan hati dan

hidup mereka untuk memberi yang berharga di kaki Yesus. Sungguh, kalau orang

mengetahui  kasih  Allah  yang  besar  maka  segala  sesuatu  menjadi  sukacita  dan

damai sejahtera. 

Orang-orang majus, memberi persembahan: 

1) Emas melambangkan:  persembahan terbaik.  Dalam konteks  Yahudi  yang  berhak

yaitu  Raja

2) Kemenyan  melambangkan:  sering  digunakan  oleh  para  imam  dalam  beribadah

kepada  Yahwe  dan  melayani  dalam upacara  seremonial  di  Bait  Allah.  Tugas  ini

dilakukan imam untuk membuka jalan bagi manusia untuk bertemu dengan Allah.

Bahasa  Latin  untuk  imam ialah  pontifek  yang berarti  membangun jembatan.  Jadi

imam menghubungkan manusia dengan Allah. 

3) Mur melambangkan: minyak yang khusus diberikan kepada orang yang meninggal,

dan pengharum. Yesus datang ke dunia ini  untuk hidup bagi  manusia,  dan pada

akhirnya  untuk  mati  juga  bagi  manusia.  Melalui  pemberian  ini ,  mereka

menunjukan pengakuan kepada-Nya sebagai Tuhan. 

c. Pasal  3. Dalam penggunaan kata  “Kerajaan  Allah,”  tidak  disebutkan  oleh  Matius,  ia

sering memakai  kataan: YOHANES PEMBAPTIS Munculnya Yohanes yang tiba-

tiba itu yaitu  seperti munculnya suara yang memperdengarkan suara Tuhan.selama



400  tahun  tidak  ada  nabi  yang  berkuasa.  Dalam  diri  Yohanes,  suara  kenabian  itu

muncul. Apakah yang menjadi cirri khas suara atau berita Yohanes itu? 

1) Tanpa gentar  Yohenes mengutuk kejahatan yang dilihatnya.  Ia  mencela  Herodes

yang kawin dengan jalan tidak sah dan dirinya penuh kejahatan.  Ia  tidak segan-

segan  mencela  para  pemimpin  Yahudi.  Para  Saduki,  Farisi,  dan  tokoh-tokoh

rohaniah  lainnya  yang  tenggelam di  dalam formalitas  ritual.  Upacara  keagamaan

hanya formalitas saja. Ia juga mencela masyarakat yang tanpa ingat Tuhan. Yohanes

laksana sebuah terang yang bersinar ditempat yang gelap. Ia yaitu  seperti angin

Tuhan yang bertiup ke segala penjuru negeri. Diogenes, berkata “kebenaran yaitu 

seperti  terang  yang  menyinari  mata  yang  sakit.”  Lebih  lanjut  ia  mengatakan:

“barangsiapa yang tidak pernah menyakiti  sesamanya,  maka ia  pun tidak pernah

berbuat baik kepada siapapun.” Mungkin di dalam pengalaman hidup kita ada waktu

atau saat-saat kita sangat berhati-hati didalam tindakan dan kata-kata, sebab  kita

tidak ingin menyakiti hati orang lain. namun  akan tiba waktunya saat  hal seperti itu

tidak bias diberlakukan lagi. Akan tiba waktunya Gereja mengeluarkan putusan dan

kata-kata  yang  tajam  dank  eras,  yang  menyakiti  hati  banyak  orang.  Akan  tiba

waktunya  pula  Gereja  menyatakan  kebenaran  sejati,  yang  menyakiti  hati  banyak

orang. 

2) Yohanes mengundang orang-orang untuk melakukan kebenaran. Ia membawa berita

posetif yang membangkitkan semangat kehidupan yang benar di hadapan Tuhan. Ia

memanggil setiap orang untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Ia bukan hanya

mencela  dan  mengutuk  kejahatan,  namun   juga  memperhadapkan  kebaikan  dan

kebenaran kepada setiap orang. 

3) Yohanes  datang  dari  Tuhan.  Ia  datang  dari  Padang  Gurun.  Ia  muncul  sesudah 

mengalami masa panjang yang penuh dengan kesepian dan kesunyian hidup.  Ia

dating dengan pemikiran Tuhan, bukan pikirannya sendiri. Pengkhotbah, guru, dan

siapapun yang hendak menyuarakan suara kenabian,  haruslah tampil  di  hadapan

manusia  pemikiran  Allah.  Ia  harus  menghdapkan  manusia  dengan  Tuhan  bukan

dengan dirinya. 

4) Yohanes menunjuk kepada sesuatu yang di luar dirinya sendiri.  Ia yaitu  sebuah

tanda yang menunjuk kepada Tuhan Allah. 

d. Pasal  4:1-11.  Satu  hal  yang  harus  kita  catat  secara  hati-hati  dan  benar  dalam

mempelajari pencobaan yang diterima Yesus. Dalam hal ini arti yang sebenarnya dari

kata kerja “mencoba.” Dalam bahasa Yunani peirazein. Dalam bahasa Indonesia kata

kerja “mencoba,” mempunyai arti  yang kurang menyenangkan. Kata itu selalu berarti

“menggoda, atau “mencobai  orang” untuk melakukan hal yang salah,  seperti  merayu

untuk melakukan dosa atau membujuk seseorang menempuh jalan yang salah. namun 

arti  Yunani mengandung unsure yang berbeda. Lebih berbobot jika berarti  “menguji”.

Contoh:  Abraham dalam PL yang nyaris  mempersembahkan anaknya Ishak sebagai

korban (Kej. 22:1). Pencobaan ada dua macam yaitu: 

1) Dari dalam diri seseorang yang dikuasai kejahatan, nafsu jahat.

2) Dari luar diri seseorang. Contoh: Ayub, Yesus, dll. Ada satu kebenaran besar yang

menarik di sini,  yaitu  pencobaan bukanlah dimaksudkan untuk melakukan dosa.

Pencobaan yaitu  memampuhkan kita  untuk menaklukan dosa.  Pencobaan akan

menjadikan  kita  orang  lebih  baik,  makin  kuat  dan  murni  serta  menang di  dalam

menghadapi kesengsaraan. Pencobaan bukan hukuman bagi manusia. Allah dapat

memakai ujian, pencobaan untuk mempertajam dan memurnikan orang percaya. Jadi

kita harus melihat  seluruh peristiwa Yesus bukan sebagai pencobaan saja,  namun 

lebih dari itu, sebagai ujian bagi Yesus. Selanjutnya, tempat terjadinya pencobaan

ini  yaitu  Padang Gurun. Terletak diantara Yerusalem dan Laut Mati. Di dalam

PL  disebut  Yeshimmon  yang  berarti  pembinasaan,  dan  nama  itu  cocok  dengan

keadaan  Padang  Gurun.  Ukuran  panjang  50  km,  dan  lebar  20  km.  tanahnya

bercampur coklat,  berlereng-lereng, memberi  kesan sangat menakutkan, bukit-

bukitnya Nampak berdebu tebal, dan tanah kapur, panas dan sering memicu 

adanya fatamorgana, dan membentuk lereng curam yang membentang dengan Laut

Mati dengan kedalaman 400 m lebih. 

3) Ada  beberapa  hal  yang  perlu  kita  catat  lebih  lanjut  sebelum  mempelajari  cerita

tentang pencobaan Yesus secara terperinci: 

a) Semua  penulis  Injil  nampaknya  menekankan  segeranya  terjadi  pencobaan

sesudah  pembaptisan Yesus. Markus menceritakannya sebagai berikut: “segera



sesudah  itu  Roh  memimpin  Dia  ke  Padang  Gurun  (Mark.  1:12).  Salah  satu

kebenaran hidup ialah,  sesudah   suatu  peristiwa besar  terjadi,  maka segeralah

muncul reaksi. Dan didalam reaksi itu seringkali terkandung bahaya-bahaya. Hal

itu pern////;ah dialami oleh Elia, pada waktu menaklukan para Baal (1Raj. 18:17-

40). sesudah  pembunuhan ini  Isebel marah dan Elia dikejar untuk dibunuh.

Elia yang berani, namun melarikan diri dengan ketakutan untuk menyelamatkan

nyawanya.  Ini  reaksi  yang  penuh  bahaya.  Agaknya  sudah  menjadi  hokum

kehidupan bahaya  sesudah   berhasil  bertahan  dengan kekuatan  dan  mencapai

puncaknya. Yesus berhasil menaklukan si pencoba. Oleh sebab  itu, seyogyanya

kita berjaga-jaga meskipun kita sedang mengalami puncak sukses kehidupan.

Perlu waspada agar tidak jatuh ke dalam pencobaan, di mana ada  bahaya

besar yang mengancam.

b) Pengalaman  Yesus  bukan  pengalaman  kulit  luar  saja.  Pengalaman  batiniah,

sebab  pada waktu itu Yesus berjuang secara hebat di dalam hati, pikiran dan

jiwa-Nya. Buktinya iaiah bahwa tidak mungkin ada gunung dimana orang bisa

melihat seluruh kerajaan di seluruh muka bumi. Pencobaan itu datang kepada

kita lewat pikiran, angan-angan dan kehendak hati dan jiwa kita. 

c) Kita tidak boleh beranggapan bahwa Yesus mengalahkan si pencoba itu hanya

dengan satu tindakan saja, dan bahwa si pencoba itu tidak akan kembali lagi.

Kita mengetahui bahwa si pencoba itu datang dan berbicara kepada Yesus di

Kota  Kaisarea  Filipi,  saat   Petrus  berusaha  membujuk  Yesus  untuk  tidak

mengambil  jalan  ke  Kayu  Salib.  saat   itu  juga  Yesus mengatakan  kata-kata

yang pernah dikatakanNya “Enyahlah Iblis…”(Mat. 16:23). sesudah  semua berlalu

maka Yesus berkata kepada muridNya, demikian: Kamulah yang tetap tinggal

bersama dengan Aku di dalam segal pencobaan yang Aku alami (Luk. 22:28) dan

di dalam sejarah tidak pernah ada perjuangan hebat seperti yang dialami Yesus

(Luk. 22:42-44).

d) Pencobaan hanya datang kepada orang-orang tertentu, yaitu yang mempunyai

kekuatan-kekuatan khusus. Sanday, melukiskan pencobaan itu sebagai “masalah

tentang  tindakan  yang  harus  dilakukan  berhubung  dengan  adanya  kekuatan-

kekuatan supra natural.” Ingat, bahwa pencobaan itu datang melalui kecapakan

serta kepandaian yang kita miliki. 

e. Pasal 5: 1-2. Pendahuluan Matius terhadap khotbah di bukit Dalam Matius 5:1-2, Matius

menulis; “saat  Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan sesudah 

duduk, datanglah murid-murid kepadaNya, maka Yesus mulai berbicara dan mengajar

mereka.  Di  dalam  kalimat  pendahuluan  ada   tiga  pokok  yang  menunjukkan

pentingnya khotbah di Bukit. 

1) Yesus mulai mengajar sesudah  Ia duduk. 

2) Rabi  Yahudi  yang  secara  resmi  mengajar,  maka ia  dengan sikap  duduk,  hanya

kadang-kadang berdiri. namun  forrmalnya atau resminya ialah duduk di tempat yang

sudah disediakan.  Jadi  dalam konteks ini,  pengajaran yang hendak disampaikan

oleh Yesus sangat penting dan bersifat resmi. 

3) Yesus mulai berbicara dan mengajar mereka. 

4) Hal  ini  bukan  suatu  ungkapan  biasa  dan  juga  bukan  sekedar  kata-kata.  Dalam

bahasa  Yunani  kata  “Mulai  berbicara,”  yaitu   meliputi:  a.  Ucapan  yang  penuh

wibawa,  serius  dan  khidmat  b.  Membuka  isi  hati  dengan  tulus  dan  ikhlas  dan

melahirkan sesuatu hal yang ada dalam pikiran 

5) Mulai mengajar mereka. Dalam Yunani “mengajar,” bentuk lampau. Ada dua macam

lampau yaitu: aorist, dan imperfek. c.1. aorist yaitu  sudah terjadi dan selesai c.2.

imperfek yaitu  tindakan pada masa lampau yang berulang-ulang, terus-menerus

dan bahkan merupakan kebiasaan. Dalam teks ini, memakai  imperfek. 

f. Matius  5:3.  Berbahagialah  dalam  teks  Yunani  memakai   kata  “makarios,”  yang

berarti  diberkatilah.”  Artinya  kesukacitaan  yang  mengandung  rahasia  dalam  dirinya.

Orang yang diberkati pasti berbahagia. Miskin. Ada dua kata miskin dalam Yunani: 

1) Ptokhos  yaitu   kemiskinan  yang  mutlak  dan  yang  mengharuhkan.  Ptokos

mempunyai hubungan  dengan  asal  kata  “ptosein  yang  berarti  membungkuk,

berjongkok. 

2) Penes  yaitu   keadaan  miskin,  namun  masih  berkecukupan.  Artinya  masih  bisa

menikmati makan seadanya, hidup sangat sederhana. 



5. Injil Markus

Seluruh injil Markus dapat ditangkap dalam satu ayat yang berbunyi “sebab  Anak

manusia….Markus 10:45.” Pasal per pasal dalam dokumen ini tidak lepas dari ayat ini yaitu

pelayanan dan pengorbanan Yesus Kristus. Penulis Secara umum disetujui bahwa Markus

sebagai  penulisnya meskipun secara  teknik  Injil  Markus  sama sekali  tidak  menyebutkan

bahwa  Markus  yaitu   penulisnya.  Kata  Markus  diterjemahkan  dalam  bahasa  inggris

“according to Mark” yang boleh diterjemahkan “Karya Markus” kemudian ditambahkan oleh

para ahli kira-kira sebelum 125 AD. Bagaimanapun juga kita memiliki cukup bukti yang kuat

dari tradisi gereja mula-mula (bukti external) dan dari informasi dalam Injil itu sendiri (bukti

internal) bahwa Markus yaitu  penulisnya. 

a. Markus  yang  dimaksud  disini  yaitu   anak  Maria  yang  nama  lengkapnya  Yohanes

Markus  (Yohanes  nama  Ibrani  sedang  Markus  nama  Latin)  yang  rumahnya

berkedudukan di Yerusalem yang ddipakai untuk pertemuan-pertemuan ibadah gereja

mula-mula  (Kis.  12:12).  Anak  rohani  Petrus  (rupanya  dimenangkan  oleh  Petrus)

sehingga Petrus memanggilnya Markus anakku (1 Pet. 5:13 dalam kolose 4:10 disebut

sebagai saudara sepupu Barnabas. berdasar  pengakuan tradisi gereja mula-mula

tidak diragukan lagi kalau dia penulisnya. Seorang ahli sejarah bernama Papias, hidup

sekitar 110 AD mencatat bahwa Markus penulisnya. Bahkan ia menambahkan informasi

tentang Markus sebagai berikut: 

1) Dia bukanlah seorang saksi mata diantara murid-murid Tuhan Yesus yang pertama 

2) Dia  hanya  mengumpulkan  bahan-bahan  dari  Petrus  dan  mendengarkan  kotbah-

kotbah Petrus 

3) Dia  menulis  secara tepat  dan akurat  semua yang diterima dari  Petrus meskipun

tidak terorganisir dengan baik secara kronologis 

4) Dia  menafsirkan  secara  tepat  dan  akurat  dari  bahasa  Aramik  kedalam  bahasa

Yunani  atau Latin  Pengakuan Papias ini  diperkuat  oleh pengakuan bapak-bapak

gereja  mula-mula  lainnya  seperti  kesaksian  Justin  Martyr  (Dialogue  106  Anti

Marcionate,  Prologue  To  Mark  160-180  AD)  oleh  Irenius  (Againts  Elaucion  4.5

200AD), oleh tulisan Clement dari Alexandria 125 AD dan oleh Origen 230 AD yang

keduanya  dikutip  oleh  Eusebius  (Eclesiaslical  History  2.15.  2.6.  14.6,  6.25.5).

Meskipun  tidak  secara  eksplisit  Alkitab  juga  sarat  dengan  bukti  internal  bahwa

penulis Injil Markus yaitu  Yohanes Markus. 

Ada bukti-bukti dari dalam Alkitab bahwa Markus yang dimaksudkan oleh bapa-

bapa gereja mula-mula dalah Yohanes Markus yang 10x disebut dalam PB (Kis. 12:12-

25; 13:5,13; 15:37, 39; Kol. 4:10; 2 Tim. 4:11; Fi. 24; 1 Pet. 5:13). Secara historis cocok

kalau dia penulisnya sebab : 

1) Dia  paham betul  geografi  Palestina khususnya Yerusalam (5:1;  6:53;  8:10;  11:1;

13:3). 

2) Dia  paham  dengan  baik  bahasa  Aramik  yang  merupakan  bahasa  sehari-hari

Palestina (5:41; 7:11) 

3) Dia hidup ditengah-tengah hokum dan tradisi  Yahudi (1:21;  2:14,  18; 7:2-4).  Ada

juga cirri-ciri penulis yang menandai ada hubungan khusus dengan Petrus. Ceritera

yang  blak-blakan  dan  ungkapan  secara  antusias,  persis  gaya  petrus  seabagai

seorang saksi mata (1:16-20, 29-31, 35-38; 5: 21, 35-43; 6:39, 53; 9:14-15; 10:32).

Penulis memakai istilah Petrus dan mendalam untuk segala penyajiannya (8:29, 32;

9:5-6; 10: 28-30; 14: 29-31). Termasuk penggunaan istilah “dan Petrus” dalam 16:7

juga kesamaan antara garis besar injil  ini dengan kotbah Petrus di Caesaria (Kis.

10:34-43). Jadi, berdasar  bukti-bukti eksternal maupun internal yang dipaparkan

diatas, maka tidak ada pilihan lain kecuali Markus yaitu  sebagai kandidat pertama

penulis kitab ini.

b. Tanggal dan Tempat Penulisan. 

Banyak sarjana yang percaya bahwa Injil Markus yaitu  Injil yang pertama kali

ditulis sebelum ketiga Injil lainnya, namun  tidak ada kepastian kapan ditulis secara tepat.

Meskipun demikian dengan mempertimbangan nubuatan Yesus tentang penghacuran

Bait Allah (13:2, 14-23), sudah barang tentu ditulis sebelum penggenapan pada tahun 70

AD.  Bapa-bapa  gereja  seperti  Irenaeus,  Clement  of  Alexandria,  Origen  memberi

penyataan secara tegas bahwa Injil ini ditulis sebelum kematian Petrus sebagai martyr

pada  tahun  64-68  AD.  Mungkin  ditulis  pada  tahun  55-60  AD.  Melihat  bahwa  injil

langsung ditujukkan kepada pembaca Roma dan tradisi  mula-mula memberi  indikasi

bahwa paling tidak ditujukan kepada pembaca yang berasal dari Roma maka bisa ditarik


kesimpulan bahwa ditulis  di  Roma. Apalagi  dalam injil  ini  menjelaskan adapt istiadat

Yahudi (7:3-4; 14:21; 15:42), menterjemahkan bahasa Aramik ke dalam Yunani (13:17;

5:41; 7:11; 9:43), memakai cara penghitungan waktu gaya Roma (6:48; 13:35). 

Tema dan tujuan tema Injil Markus terkandung dalam Markus 10:45 yaitu Yesus

berperan sebagai Hamba yang menderita. Markus menunjukkan kepada pembacanya

yang berlatar belakang non Yahudi bagaimana Anak Allah telah ditolak oleh umatNya

sendiri  dan mulai menjangkau bangsa-bangsa kafir. Dari  Kitab ini,  dapat menemukan

informasi  yang dekat ke masa hidup Yesus.  Tujuan Markus ialah untuk memberi 

gambaran  mengenai  Yesus  apa  adanya.  Westcott,  menyebutnya  “Markus  yaitu 

sebuah rekaman dari kehidupan Yesus. A. B. Bruce, mengatakan bahwa Kitab ini ditulis

dari  sudut  pandang  kenangan  yang  hidup  dan  penuh  kasih.  Lebih  lanjut  beliau

mengatakan cirinya yang utama ialah “realisme.”  Jika mau mengadakan pendekatan

terhadap sebuah biografi Yesus, maka haruslah didasarkan kepada Injil Markus, sebab 

pemaparannya sederhana dan dramatis.  Bagi  Markus, Yesus yaitu  Allah ditengah-

tengah manusia, bukan manusia biasa. 

c. Pasal 1:1-4. Markus mengawali cerita Yesus dengan menoleh jauh kebelakang. Ia tidak

memulainya dengan cerita kelahiran. Ia bahkan tidak mulai dengan Yohanes Pembaptis

di Padan Gurun. Injil Markus dimulai dengan nubuat para nabi pada masa silam. Dengan

kata lain, Kitab ini dimulai jauh pada masa lampau dalam pikiran Allah. Para pengikut

Stoa yaitu  orang-orang yang sangat percaya akan rencana Allah yang teratur. Markus

Aurelius,  berkata  “  segala  sesuatu  mengenai  Allah  sarat  dengan  nubuatan.  Segala

sesuatu mengalir dari Sorga.” Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari dalam konteks

ini: 

1) Allah  yaitu   yaitu   Allah  yang  secara  khas  mewujudkan  rencana-Nya.  Sejarah

bukanlah  sesuatu  yang  acak  dari  rangkaian  peristiwa  yang  tidak  saling

berhubungan. Sejarah yaitu  suatu proses yang diarahkan oleh Allah, yang melihat

tujuan akhir pada permulaan peristiwa.

2) Hidup ini akan menjadi lain, jika seseorang melakukan semua yang bisa dilakukan

untuk  mendekatkan  tujuan  akhir  dibandingkan   memimpikan  suatu  tujuan  yang  tak

terjangkau.  Menjadi  alat  Tuhan  dalam  pemberitaan  kabar  baik  yaitu   sangat

terhormat.  Membantu  dalam  proses  besar  yaitu   sesuatu  yang  sangat  terpuji.

Tujuan tidak akan pernah diraih, kecuali ada orang yang mengupayakannya. Petikan

dari  Kitab  nabi  yang  digunakan  oleh  Markus  sebetulnya  bersifat  sugestif.  “Aku

menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu.”

(kutipan  Maleakhi  3:1)  Dalam  konteks  Maleakhi,  pernyataan  ini  yaitu   suatu

ancaman. Para imam gagal dalam mengemban kewajiban mereka. Kurban-kurban

yang bercacat dan bukan yang terbaik, pelayanan Bait Allah mereka rasakan sebagi

suatu yang meletihkan. Jadi utusan itu datang untuk membersihkan dan menyucikan

ibadah di Bait Allah sebelum Dia yang diurapi Allah tampil di bumi. Dengan begitu,

kedatangan Kristus merupakan penyucian kehidupan.

Yohanes datang dan memberitakan baptisan pertobatan. Orang Yahudi terbiasa

dengan  ritus-ritus  pembersihan.  Imamat  11-15  menguraikannya.  Tertulianus,  berkata

“Orang  Yahudi  membersihkan  dirinya  setiap  hari,  sebab  setiap  hari  ia  cemar.”

Pembersihan  dan  penyucian  simbolik  telah  merasuk  ke  dalam struktur  ritus  Yahudi.

Seorang yang bukan Yahudi tentu saj  tidak bersih sebab  ia tidak pernah mematuhi

bagian-bagian hukum agama Yahudi. Oleh sebab  itu, bilamana seorang bukan Yahudi

menjadi  proselit,  yaitu  bertobat  dan  memeluk  iman  orang  Yahudi,  maka  ia  harus

menjalani tiga hal, yaitu: 

1) Sunat. Suatu keharusan sebab  merupakan tanda perjanjian 

2) Kurban. Harus dibuat untuknya sebab  ia perlu penebusan dan hanya darah yang

dapat menebus dosa. 

3) Baptisan. Yang melambangkan pembersihan  dari  semua kotorannya  pada masa

lalu. Oleh sebab  itu, baptisan bukan hanya sekedar pemercikan air, namun  mandi

agar seluruh badan terendam. Orang Yahudi mengenal baptisan, akan namun  yang

mengherankan sehubungan dengan baptisan Yohanes yaitu  bahwa ia,  seorang

Yahudi menuntut orang-orang Yahudi supaya melakukan sesuatu yang sebetulnya

hanya  diperlukan  untuk  non  Yahudi.  Yohanes  telah  melakukan  suatu  terobosan

yang luar biasa yakni,  bahwa “menjadi  seorang Yahudi secara ras bukan berarti

menjadi  anggota  umat  pilihan  Allah;  seorang  Yahudi  bisa  saja  berstatus  sama


dengan  non  Yahudi;  bukan  cara  hidup  Yahudi,  melainkan  kehidupan  yang

dibersihkan, itulah yang milik Allah.” Baptisan diiringi dengan pengakuan. 

4) Untuk berbalik kepada Allah, pengakuan harus dilakukan kepada tiga pihak yang

berbeda, yaitu: 

a) Confession in your self Memang manusiawi bila kita menutup mata terhadap apa

yang  tidak  ingin  dilihat,  dan  di  atas  semuanya  terhadap  dosa  pribadi  kita.

Contoh:   Tentang “anak yang hilang,”  Di  dunia ini  satu  hal  yang paling sulit

yaitu   diri  sendiri.  Langkah  pertama  untuk  bertobat  dan  untuk  menjalin

hubungan  yang  benar  dengan  Allah  yaitu   mengakui  dosa  kita  kepada  diri

sendiri. 

b) Confession to peaple’s because your error/evil for his Pengakuan kepada orang

yang  kepadanya  kita  bersalah  yaitu   penting.  Rintangan  manusiawi  harus

disingkirkan  sebelum rintangan  ilahi  dapat  berlalu.  Pengakuan  kepada  Allah

lebih mudah dibandingkan  pengakuan kepada sesama. Akan namun  tidak akan ada

pengampunan tanpa kerendahan hati. 

c) Confession to God. Akhir  pengakuan yaitu  awal  pengampunan. Hanya bila

seorang berkata “saya telah berdosa,” maka Allah berkesempatan bersabda, “

Aku mengampuni.” 

d. Pasal 1:5-8. Mengapa Yohanes sangat berpengaruh terhadap kaum sebangsanya? Ia

yaitu  orang yang mewujudkan beritanya di dalam kehidupannya. Bukan hanya kata-

kata,  namun   keseluruhan  hidupnya  merupakan  suatu  protes.  Ada  tiga  hal  yang

merupakan hal nyata bahwa ia memprotes kehidupan pada masa itu.

1) Tempat tinggalnya di padan gurun. Diantara pusat Yudea dan Laut Mati terletak di

padang gurun yang paling mengerikan di dunia. Padang gurun ini disebut dalam PL

“Yesimmon” dalam LAI disebut Padang belantara, yang berarti: penghancuran.

2) Pakaian yang ia pakai ialah dari jubah bulu unta yang melingkar di ikat pinggang dari

kulit. Demikian juga dengan Elia (2Raj2 1:8) 

3) Makanannya,  yakni  belalang  dan  madu  hutan.  Belalang  barangkali  merupakan

binatang yang diperbolehkan dalam hokum untuk dimakan (Im. 11:22,  23);  namun 

bisa jadi juga yaitu  buncis atau kacang, karop, yang merupakan makanan orang

paling miskin

6. Injil Lukas

Renan,  sebagaimana  yang  dikutip  oleh  Hugh  Martin,  mengatakan  Injil  Lukas

merupakan  “kitab  terindah”  Harus  diakui  bahwa  Lukas  dalam  penulisanya  sangat

memperhatikan unsure-unsur sastra dibanding dengan injil-injil yang lain. Lebih dari pada itu,

ia juga menampilkan potret Yesus secara mengagungkan yaitu dengan menyuguhkan cerita-

cerita yang meninggalkan kesan mendalam bagi para pembacanya. Masih banyak lagi cerita

tentang kitab ini, sehingga tidak heran menjadi kegemaran bagi banyak orang. 

a. Penulis Injil Lukas.  Tidak ada bukti hitam di atas putih bahwa Lukas yaitu  penulis Injil

ini. Ini berbeda dengan surat-surat Paulus, yang secara jelas mengatakan bahwa Paulus

yaitu  penulisnya.  namun   tradisi  (cerita  yang diturunkan turun temurun dari  mulut  ke

mulut) mengatakan bahwa Lukas yaitu  penulis Injil  ini.  Hal-hal yang dijadikan dasar

yaitu : 

1) Dari Luk 1:1-4 dan Kis 1:1-2 terlihat dengan jelas bahwa Injil Lukas dan Kitab Kisah

Para Rasul ditulis oleh orang yang sama (dan juga ditujukan kepada orang yang

sama). Selanjutnya dari istilah ‘kami’ yang digunakan dalam Kitab Kisah Para Rasul

(Kis 16:10 20:5 dsb), terlihat bahwa penulisnya yaitu  teman seperjalanan Paulus.

Ini  cocok  dengan  diri  Lukas  yang  memang  sering  menyertai  Paulus  dalam

perjalanannya. 

2) Adanya istilah-istilah /  bahasa kedokteran yang dipakai dalam Injil  Lukas maupun

kitab Kisah Para Rasul, dan juga fakta menunjukkan bahwa penulis Injil ini lebih teliti

dari Matius ataupun Markus pada waktu menggambarkan suatu penyakit. Misalnya:

istilah ‘kuatlah kaki dan mata kaki orang itu’ (Kis 3:7b). Istilah ‘demam keras’ (Luk

4:38 bdk. Mat 8:14 Mark 1:30). Istilah ‘penuh kusta’ (Luk 5:12 bdk. Mat 8:2 Mark

1:40). Istilah ‘seorang yang mati tangan kanannya’ (Luk 6:6 bdk. Mat 12:10 Mark 3:1).

Istilah putus telinga kanannya’ (Luk 22:50 bdk. Mat 26:51 Mark 14:47). Semua ini

cocok dengan diri Lukas yang yaitu  seorang tabib. 

19


a) Lukas yaitu  seorang tabib (Kol 4:14). Paulus tidak pernah mengecam Lukas

dalam hal ini, dan ini menunjukkan bahwa kekristenan tidak mengecam dokter

ataupun obat! 

b) Lukas bukanlah  orang  Yahudi. Ini  terlihat  dari  Kol  4:10-11,14  dimana Paulus

membedakan antara 3 teman Yahudinya (Kol 4:10-11 - ‘mereka yang bersunat’)

dan  Lukas  (Kol  4:14).  Dengan  demikian,  Lukas  yaitu   satu-satunya  penulis

Perjanjian Baru yang bukan Yahudi. Tradisi menyatakan bahwa Lukas berasal

dari Antiokhia. Ia yaitu  teman sekerja Paulus yang gigih, seorang dokter, dan

meninggal pada tahun 84 M. Dialah penulis injil ini (Kolose 4:14 ;  2 Timotius

4:11). Pada umumnya Lukas juga diakui sebagai penulis kitab Kisah Para Rasul.

Ia termasuk di dalam kelompok kisah para rasul yang memakai  kata ganti

“kami” (16:10-16; 20:5-15, 27:1-28, dll). Para bapa-bapa gereja misalnya Clement

dari Alexandria, Irenius dan Tertulianus ikut menegaskan bahwa Lukas yaitu 

penulisnya. b. Tahun Penulisan. sebab  buku ini sangat erat kaitan dengan kitab

Kisah Para Rasul, maka sangat mungkin ditulis sekitar tahun 60 M. saat  Paulus

ditahan di Kaisaria, yaitu pada tahun 60 M. Lukas rupanya berada disekitar itu.

Sambil menunggu perkara Paulus, ia menghabiskan waktunya untuk menyusun

Injil ini. 

b. Tempat  Penulisan  di  Kaisarea.  Penerima  Injil  Lukas: Theofilus:  Lukas  1:1-4.  Ia

bermaksud menguatkan iman Theofilus, yaitu seorang pejabat tinggi pemerintah Romawi

yang  bertobat.  Lukas  ingin  menunjukkan  bahwa  iman  Kristen  itu  patut  dianut.

Selanjutnya,  ia  menegaskan bahwa Injil  Allah  diperuntukkan  bagi  dunia/seluruh  umat

manusia, bukan hanya orang Yahudi saja. Injil yaitu  kebenaran yang universal. Lukas

ingin merubah paradigma pemerintah Romawi yang berpikir bahwa kekristenan yaitu 

sekte didalam agama Yahudi (Kis. 18:12-17) dan ia menunjukkan perbedaannya.

Sejalan dengan tujuan utamanya yaitu menunjukkan bahwa Injil itu merupakan

kebenaran yang patut dipercayai, maka Lukas, merasa perlu menjelaskan metode yang

dipakainya untuk menyusun kitabnya. Sebelum menulis, ia menegaskan bahwa ia telah

mengadakan riset yang menyeluruh dan cermat dalam kurun waktu tertentu. Untuk hal

itu, ia telah menghubungi beberapa saksi mata salah satu diantaranya yaitu  Maria ibu

Yesus. Dari wanita ini, ia berhasil mengumpulkan bahan-bahan berkenaan dengan masa

kecil dan masa kanak-kanak Yohanes maupun Yesus. Sekalipun Lukas tidak bermaksud

menyusun sebuah biografi, namun ia berusaha keras agar tulisannya disusun dengan

teratur dan lengkap. 

Dalam Kitab Suci Indonesia istilah ‘Theofilus yang mulia’ diletakkan dalam ay 1,

namun  sebetulnya yaitu  seperti dalam terjemahan Inggris, dimana istilah itu diletakkan

pada  akhir  ay  3.  2)  Siapakah  Theofilus  itu?  Ada  penafsir  yang  berpendapat  bahwa

‘Theofilus’  bukanlah nama seseorang,  namun   maksudnya yaitu  ‘orang-orang kristen’.

Alasannya: 

1) Tidak mungkin Lukas menuliskan Injilnya hanya untuk satu orang saja. 

2) Theofilus berasal dari 2 kata Yunani, yaitu THEOS (= God / Allah) dan PHILIA (= love

/ kasih), sehingga ‘Theofilus’ = God-lover / God-beloved / a friend of God (= pecinta

Allah / orang yang dicintai Allah / sahabat Allah). Jawaban terhadap hal ini: 

a) Pauluspun  menuliskan  beberapa  suratnya  (seperti  Timotius,  Titus,  Filemon)

hanya untuk satu orang saja. sebab  itu apa anehnya kalau Lukas menuliskan

Injilnya untuk satu  orang saja? b).Kata ‘mu /  engkau’ (ay 3-4)  dalam bahasa

Yunaninya ada dalam bentuk singular / tunggal. Kalau ‘Theofilus’ menunjuk pada

‘orang-orang  kristen’  maka  pasti  Lukas  memakai   ‘mu  /  engkau’  dalam

bentuk plural / jamak. 

b) Adanya  sebutan  ‘yang  mulia’  (ay  1),  tidak  memungkinkan  bahwa  istilah

‘Theofilus’ menunjuk kepada orang-orang kristen. Tidak ada alasan bagi Lukas

untuk  menyebut  orang-orang  kristen  dengan  sebutan  ‘yang  mulia’.  Sebutan

‘Theofilus  yang  mulia’:  Dari  sebutan  ‘yang  mulia’  ini  kita  bisa  menyimpulkan

bahwa  Theofilus  yaitu   orang  yang  mempunyai  jabatan  tinggi.  Ini  bukanlah

sesuatu yang aneh pada jaman itu, dan sebab  itu istilah ini tidak menunjukkan

Lukas  sebagai  orang  yang  menjilat.  Bandingkan  dengan  Kis  26:25  dimana

Paulus menyebut Festus dengan istilah ‘Festus yang mulia’.  Ini memakai 

kata Yunani yang sama. Sebutan ini menunjukkan adanya sopan santun! Dan ini

menunjukkan bahwa orang kristen harus sopan (bdk. 1Kor 13:5 - ‘tak lakukan

yang tak sopan’). 



Ada  gereja-gereja  Liberal  yang  mengabaikan  Injil  dan  doktrin,  namun   hanya

menekankan  ajaran  moral  dan  etika.  Ini  tentu  salah.  namun   orang  kristen  yang  injili

seringkali  jatuh pada extrim satunya, yaitu hanya menekankan Injil  dan doktrin, namun 

mengabaikan moral dan etika, sehingga menjadi orang yang tak tahu sopan santun. Ini

tentu juga salah, sebab  akan menjadi batu sandungan bagi orang lain. namun  kalau kita

melihat pada Kis 1:1, maka pada waktu Lukas menuliskan Kisah Rasul kepada orang

yang sama, ia tidak lagi memakai  istilah ‘yang mulia’ ini. Ada orang yang berkata

bahwa ini disebabkan sebab  pada saat itu Theofilus telah bertobat dan menjadi orang

Kristen. 

c. Alasan dan tujuan penulisan Injil Lukas : 

1) Adanya orang-orang tertentu yang menuliskan ‘Injil’.  ‘Banyak orang telah berusaha

menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita,

seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula yaitu  saksi

mata dan pelayan Firman’ (ay 1-2). ‘Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara

kita’ (ay 1). Kata Yunani yang oleh Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘telah terjadi’,

diterjemahkan bermacam-macam: NASB/RSV: accomplished (= telah terjadi).  NIV:

fulfilled  (=  digenapi).  KJV:  surely  believed  (=  dipercaya  dengan  pasti).  Calvin

menerima terjemahan KJV dan mengatakan bahwa istilah ini menunjuk pada hal-hal

yang  diketahui  dengan  pasti  /  tanpa  keraguan.  Kata  Yunaninya  yaitu 

PEPLEROPHOREMENON,  suatu  participle  yang  berasal  dari  kata  dasar

PLEROPHOREO, yang berasal dari 2 kata Yunani, yaitu PLERES [= full (= penuh /

lengkap)]  + PHOREO / PHERO [= to bring (= membawa)].  Jadi artinya yaitu  to

bring to fulness / to fulfill (= menggenapi). Memang istilah ini bisa diartikan to be fully

convinced  (=  diyakinkan  sepenuhnya)  seperti  dalam Roma  14:5,  namun   itu  kalau

istilah  ini  ditujukan  kepada  manusia.  Di  sini  istilah  ini  ditujukan  pada  peristiwa,

sehingga  lebih  cocok  diterjemahkan  fulfilled  (=  digenapi).  Hendriksen  menerima

terjemahan fulfilled, dan lalu berkata: "It is clear from Luke’s entire Gospel that he

regards history not  as the sum total  of chance occurrences, or as the result  of a

series of fortuitous circumstances, but as the fulfilment of the divine plan; hence also

of prophecy" (= yaitu  jelas dari seluruh Injil Lukas bahwa ia menganggap sejarah

bukan sebagai jumlah dari kejadian-kejadian yang bersifat kebetulan, atau sebagai

hasil  dari  suatu  seri  keadaan-keadaan  yang  bersifat  kebetulan,  namun   sebagai

penggenapan rencana ilahi; sebab nya juga penggenapan nubuat). Bdk. Luk 1:45,54-

55,69-70 2:38 3:3-6 4:21,43 7:20 9:22,44 12:50 18:31-33 19:41-44 24:25-28,44-49.

Hendriksen berkata lagi: "It is comforting to know that history - including that of our

own lives - is the fulfilment of God’s plan. This does not cancel human responsibility"

(= yaitu  sesuatu yang menghibur kalau kita tahu bahwa sejarah - termasuk sejarah

hidup  kita  sendiri  -  yaitu   penggenapan  rencana  Allah.  Ini  tidak  membatalkan  /

membuang  tanggung  jawab  manusia).  Orang-orang  tertentu  lalu  menuliskan

peristiwa-peristiwa itu  dan menyebarkan  tulisan-tulisan  mereka  (ay  2).  Mereka ini

disebut sebagai ‘saksi  mata dan pelayan Firman’.  “Firman’  di  sini  tidak menunjuk

kepada  Yesus,  namun   pada  Injil.  mereka  disebut  ‘saksi  mata’  sebab   mereka

menerima Firman / Injil. sesudah  itu mereka menjadi ‘pelayan Firman’ dimana mereka

memberitakan  Firman  /  Injil  itu.  Ini  orang  kristen  yang  benar,  sesudah   menerima

Firman / Injil lalu memberitakan Firman / Injil! Bagaimana dengan saudara? Mereka

ini  bukanlah  Matius  atau  Markus,  dan  lebih-lebih  pasti  bukan  Yohanes,  yang

menuliskan Injil Yohanes sesudah  Lukas menuliskan Injilnya. 

2) Tulisan-tulisan  ini  bukannya  tulisan  yang  sesat,  dan  sebab   itu  Lukas  tidak

menyerang orang-orang ini  (misalnya dengan menyebut mereka nabi palsu /

pengajar sesat dsb). namun  rupa-rupanya tulisan-tulisan itu kurang akurat dan / atau

kurang lengkap, sehingga Lukas, yang tidak mau Injil diselewengkan sedikitpun, lalu

menyelidiki dengan seksama dan lalu membukukannya dengan teratur (ay 3). 

a) William Hendriksen: "The Christian religion is not a matter of ‘cunning devised

myths’ (2Pet 1:16), but rests on solid, historical fact" [= agama kristen bukanlah

persoalan  ‘dongeng-dongeng  yang  direncanakan  dengan  licik  /  cerdik’  (2Pet

1:16), namun  berlandaskan pada fakta historis yang kuat / kokoh]. Bandingkan ini

dengan  pandangan  Liberal,  teori  Demythologizing  dari  Bultmann,  yang

mengatakan bahwa ada banyak dongeng dalam Kitab Suci,  seperti  Kej  1-11,

cerita-cerita  tentang  mujijat-mujijat  dalam  ke-empat  Kitab  Injil,  dsb.  Kalau


memang ini benar, untuk apa Lukas susah-susah menyelidiki fakta sejarah yang

benar dan lalu membukukannya? 

b) “Lukas menyelidiki  dan lalu menuliskan” dan “Lukas diilhami Roh Kudus pada

waktu  menulis”  bukanlah  2  hal  yang  kontradiksi.  Banyak  orang  berpendapat

bahwa  kalau  pendeta  belajar  buku  theologia  /  tafsiran  dan  lalu  menyusun

khotbah, maka itu  yaitu  ‘firman dari  manusia’.  Kalau mau yang dari  Tuhan,

maka  kita  hanya  perlu  berdoa  untuk  meminta  pimpinan  Roh  Kudus.  namun 

ternyata  disini  pada  waktu  Lukas  menulis  Firman Tuhan /  Kitab  Suci  (bukan

sekedar khotbah!), ia menyelidikinya lebih dulu! William Barclay: "No one would

deny that the gospel of Luke is an inspired document; and yet Luke begins by

affirming  that  it  is  the  product  of  the  most  careful  historical  research.  God’s

inspiration does not come to the man who sits with folded hands and lazy mind

and only waits,  but  to the man who thinks and seeks and searches" (= tidak

seorangpun yang menyangkal  bahwa Injil  Lukas yaitu  suatu dokumen yang

diilhamkan;  dan  sekalipun  demikian  Lukas  memulainya  dengan  menegaskan

bahwa  Injil  ini  yaitu   hasil  dari  penyelidikan  sejarah  yang  paling  teliti.

Pengilhaman Allah tidak datang kepada orang yang duduk dengan tangan dilipat

dan pikiran yang malas dan hanya menunggu, namun  kepada orang yang berpikir

dan  mencari  dan  menyelidiki).  Catatan:  Kata-kata  Barclay  ini  tidak  bisa

diberlakukan  secara  mutlak.  Tentu  tidak  berarti  bahwa  semua  orang  yang

mencari dan menyelidiki lalu mendapatkan ilham. Juga tidak semua orang yang

mendapatkan  ilham mendapatkannya  sesudah  mencari  dan menyelidiki.  namun 

sekalipun demikian kita tetap bisa mendapatkan inti  dari kata-kata Barclay ini,

yaitu bahwa kalau kita ingin mendapatkan kebenaran dari  Tuhan, tidak cukup

bagi  kita  untuk hanya berdoa dan menunggu.  Kita  juga harus mau berusaha

dengan belajar, berpikir, merenungkan Firman Tuhan dsb. 

c) “Dengan teratur”. Jangan mengartikan ini sebagai ‘chronologis / sesuai dengan

urut-urutan  waktu’.  Tidak  ada  satu  buku  sejarahpun  yang  benar-benar

chronologis,  sebab   kalau  demikian,  justru  akan  terjadi  kekacauan.  Memang

secara umum, Injil Lukas ini cukup chronologis, namun  tidak mutlak. Jadi, yang

dimaksud  dengan  ‘dengan  teratur’  di  sini  yaitu   penyusunan  topik-topiknya.

Lukas  lalu  mengirimkan  Injil  Lukas  ini  kepada  Theofilus  supaya  Theofilus

mendapatkan pengertian yang pasti  /  tepat.  Ini  terlihat  dari  ay 4.  namun   ay 4

dalam versi Kitab Suci Indonesia ini salah terjemahan. Dalam ay 4 versi Kitab

Suci Indonesia kelihatannya bahwa semua yang diterima oleh Theofilus selama

ini sudah benar, dan Lukas menuliskan Injilnya ini supaya Theofilus makin yakin

akan hal itu. namun  bandingkan dengan terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris di

bawah ini: NIV: ‘so that you may know the certainty of the things you have been

taught’  (=  supaya  kamu  bisa  mengetahui  kepastian  dari  hal-hal  yang  telah

diajarkan kepadamu) - ini mirip dengan KJV. NASB: ‘so that you may know the

exact  truth  about  the  things  you  have  been  taught’  (=  supaya  kamu  bisa

mengetahui  kebenaran  yang  persis  tentang  hal-hal  yang  telah  diajarkan

kepadamu) - ini mirip dengan RSV.

d) ‘The things you have been taught’ (= hal-hal yang telah diajarkan kepadamu).

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘you have been taught’ yaitu  KATECHETHES,

dari  mana  kata  ‘Catechism’  (=  katekisasi  /  pelajaran  dasar)  diturunkan.  Kata

Yunani  itu  juga  digunakan  dalam  Kis  18:25  Ro  2:18  Gal  6:6a.  Katekisasi  /

pelajaran  dasar  yaitu   sesuatu  yang  penting!  Lukas  tidak  mau  membiarkan

dasar dari Theofilus itu miring sekalipun hanya sedikit. 

e) ‘So  that  you  may know the  certainty  /  the  exact  truth’  (=  supaya  kamu bisa

mengetahui kepastian / kebenaran yang persis). Ini menunjukkan bahwa ada hal-

hal yang kurang akurat dalam pengajaran yang diterima oleh Theofilus selama

ini, dan Lukas menuliskan Injilnya dan mengirimkannya kepada Theofilus untuk

mengoreksi  kesalahan-kesalahan  itu.  Dia  tahu  tentang  kebenaran  yaitu 

sesuatu  yang  vital!  sebab   itu  maulah  belajar  Firman  Tuhan,  datang  dalam

Pemahaman  Alkitab,  belajar  makalah  /  cassette  dsb.  Gereja  membutuhkan

ajaran yang sangat ketat / akurat! sebab  itu maulah belajar yang njlimet / sukar!

Jangan berkata: ‘Saya toh bukan pendeta, jadi tak perlu belajar terlalu akurat /

njlimet’!  Ingat  bahwa  Theofilus  juga  bukan  pendeta,  namun   toh  Lukas

menganggap  perlu  bahwa  ia  mempunyai  pengertian  yang  akurat.  Persiapan


Pelayanan Yesus (1:5-4:13) ada  10 perumpamaan dalam Injil Lukas yang

tidak ada  dalam injil  lain,  misalnya:  -  mengenai  anak yang hilang - kisah

Lazarus -  perempuan-perempuan yang melayani  Yesus -  uang mina -  Yesus

diurapi oleh perempuan berdosa Nyanyian pujian Maria Lukas 1:46-55 Alasan

memuji Tuhan: Nyanyian Zakaria : Sukacita (1:67-79). Zakaria yaitu  seorang

Imam  yang  termasuk  kelompok  Abia.  Setiap  keturunan  Harun  secara

otomatis/langsung  menjadi  Imam.  Itu  berarti  untuk  tugas  keimaman  terlalu

banyak  orang.  sebab   itu,  mereka  dibagi  dalam  24  rombongan.  Para  Imam

ini   bertugas  hanya  pada  waktu:  Paskah,  Pentakosta  dan  Tabernakel.

Selama satu tahun setiap rombongan melayani dua periode, tiap periode satu

minggu lamanya. Imam yang mencintai pekerjaannya menanti-nantikan hari itu.

Seorang  imam  hanya  boleh  menikah  dengan  wanita  garis  keturunan  yang

sungguh-sungguh  Yahudi.  Suatu  keberuntungan  besar  kalau  imam  dapat

menikah dengan wanita keturunan Harun, sebagaimana Elizabeth dan Zakaria.

2:1-7. 

Dalam  kekaisaran  Romawi  secara  periodik  diadakan  sensus  penduduk

dengan dua tujuan yaitu: untuk memungut pajak dan untuk memperoleh calon-calon

bagi wajib militer sebab  itu, penduduk orang Yahudi dikecualikan dari wajib militer

sebab  sensus  bagi  mereka  hanya  memungut  pajak.  2:21-24.  Yesus  menjalani

upacara kuno yang harus dilakukan oleh setiap anak laki-laki Yahudi, seperti: 

a) Sunat. Pada usia 8 hari, atau tepat hari sabat akan dilakukan sunat jasmani. Hal

ini dianggap suci dan saat itu anak diberi nama 

b) Penebusan Anak Sulung.  Menurut  hukum Keluaran 13:2,  semua anak sulung

manusia dan binatang yaitu  kudus bagi Allah. Hukum itu mungkin merupakan

pengakuan akan kuasa anugerah Allah yang memberi kehidupan atau juga bisa

merupakan  sisa-sisa  kepercayaan  kuno  dimana  anak-anak  dipersembahkan

kepada dewa-dewa. Jelas, apabila hal ini dilakukan secara harafiah, maka akan

kacau. sebab  itu, diadakan suatu upacara yang disebut penebusan anak sulung

(Bil. 18:16) ditetapkan korban sejumlah 5 sikal seolah-olah orangtuanya membeli

anak sulungnya itu dari Allah. Jumlah itu harus dibayar kepada Imam. Jumlah itu

tidak  boleh  dibayarkan  sebelum  31  hari  sesudah  kelahiran  dan  tidak  boleh

ditunda terlalu lama.

c) Penyucian  sesudah  kelahiran.  Apabila  seorang  wanita  melahirkan,  dan  jika

anaknya  laki-laki  mak  ia  tidak  suci  selama  40  hari  dan  jika  melahirkan

perempuan, maka masa cemarnya 80 hari. Selama itu wanita tidak boleh masuk

Bait Suci atau mengambil bagian dalam upacara keagamaan. Dalam Imamat 12,

pada akhir masa itu ia harus membawa domba untuk korban bakaran dan seekor

merpati  muda.  Apabila  tidak  sanggup  membawa  domba  maka  ia  juga  dapat

mengganti  dengan  burung  dara  yang  lain.  Persembahan  dua  ekor  merpati

sebagai pengganti domba dan merpati secara teknis disebut persembahan orang

miskin. (itulah persembahan Maria dan Yusuf). 

d. Pasal 1:67-80.

1) Zakharia bernubuat: 

a) Zakharia  penuh  dengan  Roh  Kudus,  dan  ia  lalu  bernubuat  (ay  67).  Kalau

peristiwa dalam Kis 2,  dimana rasul-rasul  penuh dengan Roh Kudus dan lalu

berbahasa Roh, dianggap oleh golongan Pentakosta dan Kharismatik sebagai

dasar untuk mengajar bahwa orang yang penuh Roh Kudus harus berbahasa

Roh, maka yaitu  sesuatu yang aneh kalau ay 67 ini tidak mereka jadikan dasar

untuk mengajar bahwa orang yang penuh Roh Kudus harus bernubuat! namun 

kita  tahu bahwa orang  yang penuh dengan Roh Kudus memang tidak  harus

berbicara dalam bahasa Roh, ataupun bernubuat. Hal-hal itu bisa terjadi, namun 

tidak harus terjadi!

b) Mulut  /  lidah  Zakharia  yang  tadinya  dibuat  bisu  oleh  Tuhan  sehingga  tidak

berguna, sekarang dipakai untuk bernubuat. Ini menunjukkan bahwa apakah kita

bisa berguna untuk Tuhan atau tidak, itu tergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

Kita cuma harus mau menyediakan diri kita untuk dipakai oleh Tuhan. 

c) Bernubuat  tidak  identik  dengan  meramal  masa  depan.  Bernubuat  berarti

berbicara sebagai mulut Allah, dimana ramalan masa depan bisa ada, namun  bisa

juga tidak. 



d) Orang bernubuat tidak berbicara seakan-akan Ia yaitu  Allah / Yesus sendiri.

Perhatikan  bahwa dalam nubuat  ini  Zakharia  memakai  kata  ganti  orang

ketiga (He / Ia) untuk Allah. 

2) Nubuat Zakharia:

a) Zakharia  memulai  nubuatnya  dengan memuji  Tuhan (ay  68a).  Dan pujian  itu

didasarkan atas lawatan Allah. Dalam ay 68b dikatakan bahwa lawatan Allah itu

membawa  kelepasan  kepada  umatNya,  dan  dalam  ay  78b-79  menerangi  /

mengarahkan orang yang dalam gelap / bayang-bayang maut. Penerapan: Kalau

Tuhan melawat umatNya pasti ada gunanya, misalnya menyelamatkan, memberi

janji,  menegur  dosa,  menghibur  dsb.  Tidak  mungkin  seperti  dalam  Toronto

Blessing (atau lebih tepat Toronto Curse!) dimana ‘Tuhan melawat’ hanya untuk

membuat  orang  tertawa  terbahak-bahak,  nggeblak,  jerking,  dsb,  tanpa  ada

gunanya, bahkan membuat orang kristen kelihatan seperti orang gila (bdk. 1Kor

14:23).  Dari  ay  71  kelihatannya  kelepasan  dalam  ay  68  ini  merupakan

keselamatan  secara  jasmani  /  politis,  yaitu  dari  penjajahan  Roma,  namun 

sebetulnya tidak demikian. Alasannya: a) Bagian pertama dari nubuat ini (ay 68-

75) harus dihubungkan dengan bagian kedua (ay 76-79) yang jelas menunjukkan

keselamatan secara rohani. 

b) Disamping itu, bagian pertama nubuat ini menghubungkan keselamatan dengan

tanduk keselamatan dari keturunan Daud (yaitu Yesus), sehingga jelas ini tidak

berbicara  tentang  keselamatan  politis  /  jasmani,  namun   rohani.  Tujuan  Tuhan

melepaskan  umatNya:  Untuk  menunjukkan  rahmat  /  belas  kasihanNya  (ay

72a ;78) dan untuk menggenapi janjiNya kepada Abraham (ay 72b-73). 

c) Supaya umatNya bisa beribadah kepada Allah tanpa takut, dalam kebenaran dan

kekudusan (ay 74-75). 

   Beribadah  kepada  Allah.  KJV/RSV/NIV/NASB:  serve  (=  melayani).  Kita

memang diselamatkan  untuk  melayani  (Ef  2:10  2Kor 5:15).  Tanpa takut.

sebab  sudah bebas dari  musuh /  sudah selamat,  maka kita tidak boleh

takut (bdk. Maz 27:1-dst Maz 56:12 Ro 8:31-39 2Tim 1:7 1Yoh 4:17-18). 

   Dalam kebenaran dan kekudusan. Ini perlu kita tekankan dalam hidup, studi,

pekerjaan, maupun pelayanan kita! 

   Seumur  hidup  kita.  Ini  menunjukkan  bahwa  pelayanan  dan  pengudusan

harus kita lakukan seumur hidup kita, dan tidak boleh ada saat dimana kita

berhenti melayani / menguduskan diri! Apakah saudara yaitu  orang yang

sudah  pensiun  dari  pelayanan?  Atau  sudah  bosan  dengan  usaha  untuk

membuang  dosa  tertentu  sehingga  saudara  menyerah  terus  pada  dosa

ini ? Kalau ya, bertobatlah! 

   Cara Tuhan memberi keselamatan / kelepasan yaitu  dengan:

 Menumbuhkan  tanduk  keselamatan  (ay  69-70).  Tanduk  keselamatan

dalam  keturunan  Daud’.  Ini  jelas  menunjuk  kepada  Yesus,  bukan

Yohanes Pembaptis, sebab  Yohanes Pembaptis bukan dari keturunan

Daud  /  Yehuda,  namun   Lewi  (Ingat  Zakharia  yaitu   seorang  imam).

Sejak  jaman  Perjanjian  Lama,  Tuhan  sudah  menjanjikan  akan

munculnya Mesias dari keturunan Daud (ay 70 bdk. Yer 23:5). namun ,

sejak pembuangan ke Babilonia, keturunan Daud praktis hancur. namun 

janji  Allah ini  tetap berlaku dan akhirnya tergenapi!  Penerapan: pada

saat  semua  harapan  rasanya  musnah,  tetaplah  percaya  pada  janji

Tuhan.  namun   awas,  jangan  beriman  seperti  orang-orang  Faith

Movement,  yang  tetap  ‘beriman’  sekalipun  tidak  punya  dasar  Firman

Tuhan apapun.

 memberi  Surya pagi (ay 78b). ‘Surya pagi’ ini jelas menunjuk kepada

Yesus  (ay  78b  bdk.  Yes  9:1-2  Yes 40:1-2  dan  khususnya  Mal  4:2).

Yesus menyinari mereka yang ada dalam gelap dan dalam naungan /

bayang-bayang maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai

sejahtera (ay 79).  Tanpa Kristus,  semua orang ada dalam gelap dan

dalam bayang-bayang maut! Dengan Kristus atau ikut Kristus, maka kita

ada  di  jalan  damai  sejahtera.  Kelepasan  dalam  ay  68  berhubungan

dengan  tindakan  Tuhan  menum-buhkan  tanduk  keselamatan  dalam

keturunan Daud, yang menunjuk kepada Yesus (ay 69). Demikian juga

orang bisa lepas dari kegelapan dan bayang-bayang maut dan pindah



ke jalan damai sejahtera hanyalah sebab  Surya pagi, yang menunjuk

kepada Yesus (ay 78b-79). Semua ini menunjukkan bahwa keselamatan

yang  sejati  tidak  bisa  terlepas  dari  Yesus!  sebab   itu  renungkan:

sudahkah saudara ada di dalam Yesus? 

3) Fungsi Yohanes Pembaptis

a) Baru mulai ay 76 Zakharia berbicara tentang anaknya (Yohanes Pembaptis). Dari

tadi ia berbicara meninggikan Tuhan, Yesus, dan Kerajaan Allah. Sekarang ia

berbicara  tentang  anaknya,  itupun  untuk  menunjukkan  pelayanan  Yohanes

Pembaptis sebagai orang yang mendahului Yesus untuk menyiapkan jalan bagi

Yesus (ay  76b).  Sesuatu  yang  menarik  yaitu  bahwa pada waktu menyebut

anaknya, ia tidak berkata ‘anakku’ namun  ‘anak’. KS Indonesia: ‘hai anakku’. Ini

salah terjemahan. NIV: my child (= anakku). Ini juga salah. NASB: child (= anak).

Ini  menunjukkan ia  tidak  mempersoalkan anak itu  sebagai  anaknya,  namun   ia

mempersoalkan  bagaimana  anak  itu  bisa  berguna  untuk  Tuhan.  Orang  yang

penuh  Roh  Kudus  tidak  mempersoalkan  diriku,  anakku,  uangku,  rumahku,

mobilku dsb, namun  akan mempersoalkan Tuhan, Kerajaan Allah, Yesus, dsb, dan

mempersoalkan bagaimana segala sesuatu bisa berguna untuk Tuhan. 

b) Ay  77-78a:  Yohanes  Pembaptis  mempersiapkan  jalan  bagi  Yesus  (ay  76b)

dengan cara memberi pengertian tentang keselamatan (ay 77a). Saat itu orang

Yahudi mempunyai konsep yang salah tentang Mesias Mereka percaya Mesias

yaitu   raja  duniawi  yang  akan melepaskan mereka dari  penjajahan  Romawi.

Sesuatu yang aneh dan perlu direnungkan yaitu : sudah tahu orang Yahudinya

mempunyai pemikiran begitu, mengapa Tuhan memberi  nubuat yang seolah-

olah  mendukung  pandangan  ini  (ay  71,74)?  Ini  menunjukkan  bahwa  Tuhan

memang  sering  sengaja  memberi   hal-hal  yang  sukar  dalam  Kitab  Suci,

sehingga  orang  yang  tidak  mau  belajar  dengan  sungguh-sungguh  akan

mendapatkan arti yang salah sehingga tersesat dan binasa. Bacalah Mat 13:10-

17 dan 2Pet 3:16 yang jelas mengajarkan hal ini. 2Pet. 3:16 berbunyi: "Hal itu

dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara

ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-

orang  yang  tidak  memahaminya  dan  yang  tidak  teguh  imannya,

memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga

mereka  buat  dengan  tulisan-tulisan  yang  lain".  Mereka  percaya  keselamatan

sebab  perbuatan baik, dan keselamatan sebab  mereka bangsa pilihan. Tugas

Yohanes Pembaptis yaitu  meluruskan pengertian mereka dalam hal-hal yang

salah ini. Ini menunjukkan pentingnya pengertian. Tanpa pengertian yang benar

tentang  keselamatan,  kita  tidak  mungkin  bisa  selamat.  Penerapan:  Orang

Kharismatik  sering  menganggap  bahwa  orang  Protestan,  khususnya  yang

menekankan belajar Firman Tuhan, sebagai ahli-ahli Taurat. Memang bisa saja

ada orang Protestan yang seperti ahli Taurat, yaitu kalau mereka cuma belajar

tapi tidak melakukan. namun  penekanan pengetahuan / belajar Firman Tuhan itu

sendiri  yaitu   sesuatu  yang  benar!  Keselamatan  itu  didapatkan  melalui

pengampunan  dosa  (ay  77b).  Jadi,  keselamatan  bukan  didapatkan  melalui

perbuatan baik, namun  melalui pengampunan dosa. Bdk. Maz 32:1-2 Maz 130:3-4

Daniel 9:9. Dan tentu saja pengampunan dosa itu hanya kita dapatkan kalau kita

percaya  kepada  Yesus  (Ef  1:7  Ef  4:32  Kis  10:43).  Kalau  saudara  salah

pengertian  tentang  keselamatan  dalam  hal  ini,  jangan  harap  saudara  bisa

selamat! Ay 78a yaitu  sambungan ay 77. Jadi, bisa adanya pengampunan dosa

disebabkan sebab  adanya belas kasihan Allah. 

e. Pasal 2:1-7.

1) Sensus (ay 1-2): 

a) Sensus  ini  diperintahkan  oleh  kaisar  Agustus  (ay  1),  dan  semua  penafsir

berpendapat  bahwa  sensus  ini  dilakukan  untuk  kepentingan  pajak.  Dengan

adanya sensus ini Yusuf dan Maria terpaksa pergi ke Betlehem (ay 3-5) sehingga

akhirnya Yesus lahir di Betlehem (ay 6-7), menggenapi nubuat nabi Mikha dalam

Mikha 5:1 yang berbunyi: "namun  engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil

di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang

akan  memerintah  Israel,  yang  permulaannya  sudah  sejak  purbakala,  sejak

dahulu  kala".  Tanpa  ia  sadari,  kaisar  kafir  ini  melakukan  sesuatu  yang

memicu  tergenapinya nubuat Firman Tuhan. Ini bukan sekedar merupakan


suatu kebetulan, namun  Tuhan menguasai dan mengarahkan kaisar kafir ini 

untuk  melaksanakan  RencanaNya!  Bandingkan  dengan  Amsal  21:1  yang

berbunyi:  "Hati  raja  seperti  batang  air  dalam tangan TUHAN, dialirkannya ke

mana Ia ingini" 

b) William  Barclay  mengatakan  bahwa  ada  actual  documents  (=  dokumen

sebenarnya) dari setiap sensus yang dilakukan mulai tahun 20 Masehi sampai

tahun 270 Masehi,  dan dari  data-data ini  terlihat  bahwa sensus ini  dilakukan

setiap 14 tahun. Sensus yang paling awal yang ada dokumennya, dilakukan pada

tahun 20 Masehi. namun  ini tidak mungkin menunjuk pada sensus dalam Luk 2:1-

2 ini.  sebab  sensus itu diadakan setiap 14 tahun, maka sensus sebelumnya

seharusnya  terjadi  pada  tahun  6  Masehi.  namun   sensus  yang  inipun  masih

kurang pagi untuk bisa dihubungkan dengan sensus dalam Luk 2:1-2 ini. Para

penafsir menganggap bahwa sensus pada tahun 6 Masehi inilah yang dimaksud

dengan sensus dalam Kis 5:37. Kalau tahun 6 Masehi ini dikurangi lagi dengan

14  tahun,  maka  bisa  didapatkan  tahun  8  Sebelum  Masehi  sebagai  tahun

pelaksanaan sensus dalam Luk 2:1-2 ini. Ini menimbulkan problem sebab  tahun

8 SM tidak cocok dengan saat kelahiran Kristus. Kalau Yesus lahir pada tahun 8

SM,  maka  itu  berarti  Ia  memulai  pelayananNya  pada  tahun  22  Masehi,  dan

penyucian Bait Allah dalam Yoh 2 terjadi pada tahun 23 Masehi. Dalam Yoh 2:20

dikatakan bahwa Bait Allah itu dibangun selama 46 tahun (dan saat itu belum

selesai  pembangunannya),  dan  ini  menunjukkan  bahwa  Bait  Allah  itu  mulai

dibangun pada  23  SM.  Ini  tidak  cocok,  sebab   dari  sejarah  diketahui  bahwa

pembangunan Bait Allah itu dimulai pada tahun 19 SM (dan baru selesai secara

total pada tahun 64 Masehi). Pemecahan problem ini: Mungkin sensus di wilayah

Herodes  dimulai  terlambat,  sebab   Herodes  takut  melakukannya  mengingat

orang Yahudi ‘alergi’ terha-dap sensus gara-gara peristiwa sensus dalam 2Sam

24 / 1Taw 21. o Mungkin saat itu periodenya bukan 14 tahun, namun  kurang dari

itu. 

2) Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem (ay 3-5):

Sensus ini mengharuskan setiap orang untuk mendaftarkan diri di kotanya

sendiri (ay 3). Yusuf yaitu  keturunan Daud (1:27; 2:4), dan demikian juga dengan

Maria (1:32,69). Yesus memang harus muncul / lahir dari keturunan Daud (bdk. Yes

11:1 Yer 23:5-6 Mat 1:1,6 Luk 3:31 Ro 1:1-3 2Tim 2:8). Dalam 1Sam 20:6 dikatakan

bahwa Betlehem yaitu  kota Daud. sebab  itu Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem

(ay 4-5). Ada beberapa hal yang bisa dipelajari tentang bagian ini: (a).Jarak Nazaret

ke Betlehem sekitar 80-90 mil.  Ini  jelas merupakan penderitaan,  khususnya untuk

Maria yang sudah hamil tua. Mereka berserah dan tunduk pada kehendak Tuhan,

namun   yang  mereka  dapatkan  justru  bukanlah  jalan  yang  mulus  namun   jalan  yang

penuh  penderitaan!  Penerapan:  kalau  saudara  beriman  dan  taat  kepada  Tuhan,

jangan terlalu heran kalau jalan saudara justru menjadi sukar. Juga jangan menjadi

takut, kecewa dan lalu meninggalkan jalan itu, sebab  jalan yang sempit itulah yang

menuju pada kehidupan (bdk. Mat 7:13-14). (b).Mereka taat kepada pemerintah. 

Pengadaan sensus tidak bertentangan dengan Firman Tuhan (bdk.  Bil  1:1-dst  Bil

26:1-dst).  Dalam 2Sam 24 / 1Taw 21 Daud melakukan sensus dan dihukum oleh

Tuhan,  sebab   ia  melakukan  sensus  itu  untuk  memuaskan  kesombongannya.  

sebab  sensus itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, sekalipun sensus itu

menyukarkan  hidup  mereka,  Yusuf  dan  Maria  tetap  tunduk!  Kita  memang  harus

tunduk pada pemerintah, selama pemerintah tidak menyuruh kita melakukan sesuatu

yang bertentangan dengan Firman Tuhan (Ro 13:1-7 bdk.  Kis  5:29).  Penerapan:

apakah saudara mau tunduk pada peraturan peme-rintah yang menyukarkan hidup

saudara namun   tidak bertentangan dengan Firman Tuhan? (c).  Luk 2:1-7 ini  pasti

terjadi sesudah  Mat 1:18-25, sehingga saat itu Maria sudah menjadi istri Yusuf. namun 

mengapa dalam ay 5 Maria tetap disebut sebagai ‘tunangan Yusuf’? Rupanya sebab 

sekalipun mereka sudah menjadi suami istri, mereka tidak melakukan hubungan sex

(bdk. Mat 1:24-25). 

3) Mengapa  Maria  ikut  pergi  ke  Betlehem?  Ada  beberapa  kemungkinan  jawaban:

(a).Kebanyakan penafsir mengatakan bahwa sebetulnya hanya laki-laki (yaitu Yusuf)

saja yang harus pergi untuk mendaftar, namun  ada juga penafsir yang beranggapan

bahwa laki-laki maupun perempuan harus mendaftar. sebab  itulah Maria harus ikut.

(b).Maria sebetulnya tidak harus ikut, namun  saat itu ada banyak gosip yang beredar

te