ompa dengan tujuan bersama, yaitu merebut kembali Yerusalem
dari tangan orang kafir. Dengan demikian, tidak salah bila di-
katakan bahwa pada sekitar tahun 1 187 kaum muslim telah
memperoleh keunggulan ideologis terhadap kaum Frank, ke-
unggulan yang telah lama tidak dimiliki kaum muslim. Pasukan
kaum muslim secara teratur kemudian ditemani oleh ulama yang
memberi semangat dan menasihati mereka, dan Saladin secara
terbuka dan pribadi ditampilkan sebagai orang yang mengabdi
untuk berjihad. Sekali lagi, Islam telah membuktikan dirinya
mampu bangkit dari dalam.
futi penting Yerusalem bagi Saladin diabadikan dalam sebuah
inslcipsi monumental yang bertanda tahun 587 H.ll191 M. atas
namanya di Kubah Yusuf (Dome of Joseph) di taman Haram:
"rqa yang jaya, ketulusan dunia ini dan agama [yang benar],
Sultan Islam dan kaum muslim, pelayan dua tempat suci dan
pelayan Yerusalem".6l
Selama berlangsung Perang Salib Ketiga, Saladin dan Richard
si Hati Singa berunding tentang Yerusalem. Richard bersumpah
tidak akan berdiam diri dan membiarkan Yerusalem tetap dikuasai
Saladin, yang dibalas Saladin dengan tegas:
Yerusalem bagi kami, sama seperti Yerusalem bagi Anda. Bahkan
bagi kami, Yerusalem jauh lebih penting, sebab Yerusalem
merupakan tempar Nabi kami melakukan perjalanan malam dan
tempat orang-orang berkumpul pada hari kiamat. Jadi jangan
bayangkan kami akan ragu-ragu dalam masalah ini.62
Pengabdian Saladin terhadap Yerusalem diringkas oleh sumber-
sumber ini lewat laporan-laporan renrang keterlibatan dirinya
dan pembangunan benteng-benreng pertahanannya (foto 4.94.10):
Selanjutnya (pada 589 H.lll93 M.), Saladin terlibat dalam
pembangunan benreng-benreng dan menggali parit pertahanan di
sekeliling Yerusalem. Ia sendiri bertanggung jawab atas pembangun-
an tersebur dan bahkan ikut memanggul batu-batu, sehingga semua
orang, kaya dan miskin, kuat dan lemah, mengikutinya, bahkan
termasuk penulis biografinya, 'imiduddin dan al-QAdhi al-Fidhil.63
NURUDDIN DAN SAIADIN: SEBUAH PERBANDINGAN
Para sejarawan muslim Abad Pertengahan menjadikan N0ruddin
dan Saladin sebagai teladan yang patut dicontoh.6a Akan namun ,
perbandingan antara Saladin dan pendahulunya yang rermasyhur,
Nirruddin, dibuat pada masa Saladin. Menurut 'lmXduddin al-
Ishfahini, Nfrruddin dan Saladin sama-sama layak dipuji dan ia
berpendapat bahwa Saladin merupakan penerus yang repar bagi
N0ruddin. Namun, dalam penilaiannya, Saladin lebih unggul
dibanding N0ruddin: "Dia memiliki semua sifat-sifat yang ada
pada Nfiruddin ... Dari Nfiruddtn, Saladin belajar prinsip-prinsip
kebajikan, dan kemudian saat berkuasa Saladin mengunggulinya
dalam hal ini ."65
Dalam karyanya yang disusun pada masa Ayyubiyah, Abfr
SyAmah (w. 665 H.ll258 M) merindukan kembalinya persatuan
keagamaan dan jihad. Karya sejarahnya diberi judul Kittb al-
Rautdhatayn (Kitab tentang Dua Taman). Judul yang bernada
romantis ini mengacu pada dua periode kekuasaan, yaitu masa
NCrruddin dan Saladin. Meski memuji keduanya sebagai orang-
orang hebat. AbO Syimah juga menyatakan: "Saladin lebih hebat
dalam hal jihad".66 Kata rawdhah, terutama dalam konteks yang
penuh dengan muatan religius ini, juga berarti 'surga', dan arti
ini mungkin dengan hati-hati disinggung di sini. AbCr Syimah
234 \ Cerole Hillenbrand
menggarisbawahi keunggulan Saladin atas N|rruddin dengan me-
negaskan bahwa Saladin menguasai wilayah yang lebih luas, dan
yang paling penting, Saladin yaitu yang menaklukkan Kota
Suci.67
Penelitian belakangan ini menunjukkan bahwa penulis biografi
Saladin lainnya, Ibn Syaddid, kemungkinan telah menulis biografi
Saladin sebagai reaksi karya Ibn al-Atsir yang berjudul al-Bahir f
Tirikh Atabahat al-Mawsil (Sejarah Para Atabeg di Mosul). Se-
tengah dari karya ini berisi pujian-pujian terhadap tindakan dan
perbuatan Saladin. Dalam karya ini N0ruddin digambarkan se-
bagai seorang penguasa dan mujahid teladan, enggan terhadap
hal-hal yang bersifat duniawi, alim, dan adil. Holt menyatakan
saat menulis biografi Saladin dengan penggambaran semacam
itu, Ibn Syaddid bukan hanya bermaksud memuaskan pemimpin-
nya, yaitu Dinasti Ayyubiyah, keluarga Saladin, namun juga untuk
melampaui apa yang telah dicapai Ibn al-Atsir. Selain itu, Ibn
Syaddid juga ingin melegitimasi tindakan pemimpinnya itu yang
merebut wilayah-wilayah keluarga N0ruddin dan memberikan
pembenaran pada keberlanjutan kekuasaan Ayyubiyah sesudah
kematian Saladin pada 1193.68
Terlepas dari segi persaingan dalam konteks penyusunan
biografi Nfrruddin dan Saladin, yang dianalisis dengan cerdas
oleh Holt, tidak dapat disangkal bahwa kedua pemimpin ini
merupakan pimpinan militer yang tidak memiliki hak untuk
memerintah berdasarkan ketentuan Islam. Mereka memperoleh
kekuasaan lewat kekuatan militer. Keduanya juga tidak memenuhi
persyaratan Syariat. Keduanya masih merasa harus memperoleh
legitimasi khalifah untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai
tokoh-tokoh muslim lainnya. Apalagi, ini yang penting, para
penulis biografi mereka saling bersaing dengan berlomba-lomba
menampilkan pemimpin mereka sebagai seorang pejuang jihad
yang saleh dan sebagai pemilik nilai-nilai sosok mujahid teladan,
bahkan meski bukti-bukti yang ada dengan jelas menunjukkan
kenyataan yang agak berbeda.
Secara umum, saat berhubungan dengan sumber-sumber
Islam, sulit untuk berbicara dengan pasti tentang modf para pelaku
utama kelompok muslim yang terlibat dalam Perang Salib. Sum-
ber-sumber ini kebanyakan ditulis sesudah peristiwa-peristiwa
yang digambarkannya terjadi dan dengan jelas menun.iukkan
keberpihakan. Hal ini terjadi pada N0ruddin, yang sering kali
dipuji di dalam sumber-sumber Islam, dan bahkan jauh berlebihan
pada Saladin. Seperti dikatakan oleh Richards, ambisi, baik ambisi
pribadi maupun keluarga, bisa hadir berdampingan dengan cita-
cita moral dan agama.6e Yang pasti yaitu pantas bila dikatakan
bahwa NCrruddin tidak memiliki keuntungan yang jelas dari
dua penulis yang membentuk citra tertentu pada masa itu untuk
membentuk kesan tentang kariernya dengan cara seperti yang
mereka inginkan. Ini berbeda dengan Saladin. Ibn al-Atsir, yang
menulis dua generasi atau lebih sesudahnya untuk kalangan istana
para penerus Nirruddin, yaitu penulis yang peranannya meng-
ingatkan kita pada peranan penulis biografi puji-pujian tentang
Nfiruddin. Meskipun demikian, dalam beberapa hal Ibn al-Atsir
tidak dalam posisi yang menguntungkan sebab adanya jarak
waktu antara dirinya dan subjek yang ditulisnya.
Sebaliknya, para penulis biografi Saladin, menjelaskan lewat
retorika mereka bahwa pemimpin mereka itu, setidaknya dalam
pandangan para penulis biografi ini , mampu membuat para
penasihat dan pasukannya menjadi sangat setia. Bahkan banyak
di antara mereka yang bersedia mengorbankan jiwa untuknya.
Dan laporan-laporan mereka tentang karisma, keksatriaan, dan
kemurahan pribadi Saladin ditiru oleh para penulis sejarah Tentara
Salib dari kalangan Barat. Masalah ini tidak dibahas di dalam
buku ini. Bersama-sama, mereka membentuk dasar-dasar tentang
legenda Saladin di Eropa Abad Pertengahan berikutnya, yang
kemudian diklaim kembali oleh umat Islam pada abad kesembilan
belas dan kedua puluh sebagai karya mereka. Keunggulan moral
Saladin dibandingkan orang-orang sezamannya, baik dari kalangan
muslim maupun Firisten, juga diakui di masa itu oleh musuh-
musuhnya, Tentara Salib. Citra dirinya, bahkan di kalangan
kelompok penentang Islam Eropa Abad Pertengahan tetap tidak
memiliki cacat, bahkan cenderung diromantiskan, dan begitu juga
pada masa saat bangsa Eropa sangat memusuhi dan tidak
mengacuhkan Islam.
Sementara N0ruddin, ia tidak memperoleh hadiah yang paling
penting, Yerusalem. Thnpa Yerusalem, prestasinya tetap kalah
dramatis dibandingkan prestasi Saladin. Namun, pada masa
Nirruddin itulah dasar-dasar program propaganda jihad sepenuhnya
dibentuk. Saladin kemungkinan besar tidak akan berhasil kalau
saja NCrruddin tidak menyiapkan jalannya.
Menghadapi Tentara Salib, dan tantangan ideologis yang
mereka hadirkan, umat Islam di abad kedua belas secara perlahan-
lahan mampu membangkitkan gagasan jihad dari ketenggelaman-
nya hingga memungkinkannya untuk mengambil peran penuh
seperti yang digambarkan oleh para teoritikus hukum Islam di
dalam buku-buku mereka. Titik balik sebenarnya yaitu karier
N0ruddin dan Saladin. Mereka tidak bisa dipisahkan. Keduanya
membentuk rangkaian kesatuan dalam konteks masalah ini. Pada
saat mereka berkuasa, Suriah dan wilayah-wilayah yang semakin
bertambah di sekitarnya dipimpin oleh seorang penguasa yang
kuat selama hampir lima puluh tahun. Selama periode setengah
abad yang penting ini, kaum muslim menikmati rasa keterikatan
dan persatuan yang sangat besar dan bisa merebut kembali Yerusalem
dari kaum Frank, yang jelas-jelas tidak memiliki kelanjutan kualitas
kepemimpinan seperti itu.
Yang jelas, para pimpinan militer muslim dan pengikutnya
di masa penting ini telah belajar cara memakai perangkat
propaganda secara besar-besaran untuk mempersatukan kaum
muslim dan upaya kaum muslim secara bersama-sama untuk
melawan kaum Frank. Yerusalem pada dekade ini menjadi sasaran
utama upaya-upaya umat Islam dan identitas kaum muslim
ditunjukkan dan diapresiasikan sepenuhnya. Usai menaklukkan
Yerusalem, mungkin bisa dimengerti bila komitmen emosional
Saladin untuk berjihad mulai mengendur. lbn Zaki mendesak
umat Islam untuk terus berjihad, dan merebut kembali Thnah
Suci yang tersisa: "Teruskan Perang Suci; itulah cara terbaik yang
kalian miliki untuk mengabdi pada Allah, tugas yang paling mulia
dalam hidup kalian."7o Namun, bagi Saladin, sesudah Yerusalem,
tidak ada lagi sasaran yang nilainya sebanding dalam hal ke-
dalaman emosinya yang dapat dibangkitkan lewat propaganda
jihad.
PENGANTAR HISTORIS TENTANG PERIODE AYYIJBIYAH,
589*647 H.l rt93-t249 M.
Dalam sebuah ulasan yang paling akhir ditulis, seorang ilmuwan
Amerika, Humphreys, menggambarkan hubungan antara pata
penguasa muslim Mediterania timur dengan negara-negara Salib
sesudah kepergian Saladin sebagai 'tuatu teka-teki". Pastinya, Hum-
phreys dan ilmuwan lainnya telah berusaha keras untuk meme-
cahkan teka-teki ini,7r serta untuk menjelaskan "kebijakan-kebijakan
umat Islam yang sangat berubah-ubah dan tak pasti terhadap
negara-negara Salib sepanjang dekade antara tahun 1193 dan
1291".72
sesudah Saladin wafat pada 589 H.lll93 M., wilayah-wilayah-
nya diperintah oleh anggota-anggota keluarganya sendiri, yang
kemudian dikenal sebagai Dinasti Ayyubiyah. Selama kekuasaan
Ayyubiyah, yang berakhir sesudah dikudeta oleh Mamluk pada
647 H.11249 M., terjadi pertikaian sengit di dalam keluarga
Ayyubiyah dan periode damai dengan kaum Frank yang sering
terjadi dan berlangsung lama. "Negara" Ayyubiyah bisa digambar-
kan lebih sebagai "sebuah konfederasi wilayah-wilayah atau kerajaan-
kerajaan otonom".73
Secara internal, para penerus Saladin melanjutkan prinsip lama
berkaitan dengan pembagian wilayah-wilayah dan kekuasaan kon-
federasi yang telah bertahan hingga jauh ke timur lewat pen-
dahulunya, Dinasti Buwayhi dan Saljuk. Untuk sebagian besar
periode 1193 hingga 7250, ada enam kerajaan Ayyubiyah.
Tiga penguasa Ayyubiyah-al-'Adil, adik Saladin (596-615 H.l
1200-1218 M.), al-Kimil (615-635 H.l1218-1238 M.) dan al-
Shilih 637-647 H.l 1240-1249 M.)-terkenal berhasil memegang
kendali atas kerabat mereka sebagai anggota keluarga senior.
Sebaliknya, masing-masing penguasa Aynrbiyah ini menguasai
wilayah kecil di Suriah, yaitu Jazira (foto 4.17, 4.12) dan Mesir.
Mereka juga sering kali terlibat konflik di antara sesama mereka
mengenai kepemilikan wilayah-wilayah ini. Seperti dikatakan oleh
Holt, Saladin yaitu pengecualian dalam keluarga Ayprbiyah, yaitu
bahwa ia memiliki kemampuan untuk mempersatukan kerabatnya
dan menciptakan kesetiaan bersama di antara mereka.Ta
Dalam hubungannya dengan kaum Frank, masing-masing
anggota keluarga Ayyubiyah memilih berdamai dengan mereka.
Di periode Aynrbiyah inilah kaum Frank mencapai integrasi penuh
sebagai penguasa lokal di kawasan Mediterania timur. Para pe-
nguasa Ayyubiyah beraliansi dengan mereka, atau berperang baik
melawan mereka dan di pihak mereka.
Pada tahun 1240-an, penguasa Ayyubiyah, al-Shilih Ismi'il,
menyerahkan beberapa kastil di Galilee dan Lebanon selatan yang
telah ditaklukkan Saladin kepada kaum Frank: al-ShAlih Ismi'il
berinisiatif melakukan hal ini sebab ingin mendaPatkan bantuan
dari kaum Frank untuk melawan keponakannya, al-Shilih Ayyfrb.
Para penguasa Ayyubiyah berusaha keras membina hubungan
komersial dengan negara-negara maritim Italia untuk mendapatkan
uang-dan perdamaian. Para penguasa Ayyubiyah memperoleh
kekayaan berlimpah dari pelabuhan-pelabuhan di kawasan
Mediterania timur, seperti Jaffa, Acre, dan Tirus. Mereka khawatir
setiap gangguan serius terhadap kedamaian di kawasan Mediterania
timur dapat memprovokasi kaum Barat Eropa untuk kembali
melancarkan Perang Salib berikutnya. sebab itu, mereka lebih
memilih berdamai dengan kaum Frank daripada berkonfrontasi.
Contoh khusus pendekatan ini tampak saat al-Kimil lebih
kelompok mereka, mereka akan mengirimkan balatentara kaum
Frank secara besar-besaran untuk menyerang Mesir.75 Humphreys
dengan yakin menyatakan bahwa para penguasa Aynrbiyah takur
terhadap kaum Frank "yang terus berdatangan kembali".76
Dengan demikian, para penguasa Ayyubiyah membiarkan
semangat emosional yang mencapai puncaknya dengan penaklukan
Yerusalem mengendur melalui perjanjian dengan kaum Frank, dan
pada saat khotbah-khotbah keagamaan masih sangat giat mem-
bicarakan jihad, diskursus Islam ini menjadi kurang berhubungan
dengan realitas politik pada periode Ayyrbiyah itu.
Pada periode ini, Yerusalem bahkan diserahkan kembali kepada
kaum Frank untuk sementara sebelum kemudian direbut kaum
Khawirazmi dari Asia tengah, yang setidaknya berstatus muslim.
Kedua peristiwa ini, yang kejadiannya relatif saling berdekatan
dalam masa setengah abad sesudah Yerusalem kembali direbut oleh
Saladin, menjadi komentar bisu tentang sifat-semangat-ekstrem-
keagamaan yang sementara.
Ibn al-Atsir dengan pilu meratap bahwa jihad telah lenyap di
masa hidupnya:
Di antara para penguasa Islam kami tidak lagi melihat seorang
pun yang berniat mengobarkan jihad atau membantu ... agama.
Masing-masing terbuai dengan masa lalu dan kesenangan-kesenangan
mereka dan saling menyakiti sesama mereka. Buat saya, ini lebih
menakutkan dibandingkan dengan musuh .77
, Secara pasti, bukti-bukti ini mengarah pada semangat
di era pasca-Saladin yang menggambarkan adanya suasana yang
lebih bersifat damai, dan bukan lagi semangat jihad. Memang,
sumber-sumber Islam yang mencatat peristiwa-peristiwa pada
periode ini lebih banyak membahas tentang pertikaian di kalangan
keluarga Ayyubiyah dibandingkan konflik dengan kaum Frank.
Ini menunjukkan kurangnya perhatian terhadap jihad, yang bahkan
mungkin telah menjalar pada beberapa kelompok-kelompok ter-
pelajar.
Aliansi antara kelompok-kelompok agama dan pimpinan militer
yang dengan sangat berhasil dibentuk oleh Ntruddin dan Saladin
sebenarnya masih tersisa di kota-kota tertentu di Suriah pada
periode Ayyubiyah (lihat, foto 4.13, 4.14, 4.15, 4.1,6). Namun
demikian, aliansi itu telah kehilangan kekuatannya. Meski para
ahli propaganda dan penyair Ayyubiyah menghadiahi mereka
dengan gelar-gelar jihad, komitmen mereka untuk berjihad me-
lawan kaum Frank umumnya tidak kuat. Penguasa Ayyubiyah,
seperti juga tokoh-tokoh Islam lainnya saat itu (foto 4.77 dan
4.18) memperoleh berbagai gelar yang digambarkan oleh Balog
sebagai "protokol yang panjang, merdu, dan mementingkan diri
sendiri".78 Perbedaan antara gelar ini dan gelar-gelar lainnya pada
masa itu ada pada penegasan tentang jihad. Meski demikian,
beberapa dari gelar-gelar yang memuji perjuangan jihad Ayy,ubiyah
terdengar klise dan dibuat-buat dan sering kali hanya sedikit
hubungannya dengan aktivitas mereka yang sebenarnya dalam
melawan kaum Frank. Gelar-gelar ini membentuk bagian
dari diskursus proses legitimasi para pemimpin militer yang telah
merebut kekuasaan dan meminta fatwa-fatwa agama.Te Gelar-gelar
seperti itu, yang digunakan dalam historiografi istana dan karya
puisi, bertujuan unruk mengangkar presrise tokoh-tokoh Ayyrbiyah
di mata penduduk yang mereka perintah dan di mara pesaing-
pesaing politik mereka.
Dua tokoh AJyubiyah, adik Saladin, al-Malik al-'Adil (w.
596 H.ll200 M.) dan putra Saladin, al-Malik al:Aziz'lJtsmXn
(w. 595 H./1198 M.) disebut-sebut dalam sebuah doa, ya.,g
teksnya masih bertahan dari periode rersebur. Doa itu memohon
kepada Allah untuk: "Membanru pasukan kaum muslim dan
mereka yang beriman kepada Allah Yang Esa dan para penduduk
di perbatasan timur dan barat wilayah tersebur". Kedua tokoh
Aryubiyah ini mendapat gelar jihad yang sangat berlebihan:
"Mujahid, pejuang di perbatasan, penakluk orang-orang kafir dan
musyrik, penakluk para pemberontak dan para pelaku bidah".8o
Contoh khas gelar jihad yaitu gelar yang diberikan kepada
panglima Aybak (w. 646 H.ll24B-1249 M.), kepala pengawal
tokoh Ayyubiyah, al-Malik al-Mu'azhzham, dalam sebuah inskripsi
yang bertanda tahun 610 H.ll213-1214 M.: "lGatria jihad,
pejuang di garis perbatasan,s'orang yang dibela [oleh Allah], sang
pemenang, orang yang berperang [di jalan Allah], pembela per-
batasan atas nama agama [yang benar], pilar Islam ..."82 Aybak
dan pemimpinnya, al-Malik al-Mu'azhzham, yaitu ,83 seperti yang
terjadi, penentang utama kaum Frank. Namun, sering kali di
periode Ayyubiyah ada kesenjangan antara gelar dan penam-
pilan yang sebenarnya dalam medan pertempuran melawan kaum
Frank.
Namun, jihad dapat dan telah diterjemahkan lebih luas, tidak
hanya memerangi orang kafir di perbatasan-perbatasan Islam
(gambar 4.15).Kita telah menegaskan dimensi spiritual jihad bagi
setiap muslim dan terutama para pemimpin militer. Juga ada
aktivitas lain yang membentuk bagian dari seluruh gerak jihad
dari periode N0ruddin dan selanjutnya. Bisa dimengerti bahwa
penguasa yang berjihad melakukannya di dalam dunia mereka
dan juga di luar dunia mereka: yaitu tugas mulia mereka untuk
memerangi orang-orang musyrik dan orang-orang yang lalai men-
jalankan agama, dan mengkampanyekan a3ama yang teguh dan
keadilan Islam. Dalam hal ini, catatan tokoh-tokoh Ayyubiyah
lebih impresif. Di Damaskus saja, mereka berperan mendirikan
perguruan-perguruan agama (madrasah) (
Yf,RUSALEM PADA PERJODE AYYIJBIYAH
Berbagai peristiwa di Yerusalem pada periode Ayyubiyah menjadi
gambaran yang jelas tentang sikap pragmatis dinasti ini
terhadap kaum Frank, dan kelompok-kelompok agama tidak bisa
berbuat apa-apa sekalipun mereka telah memprotes keras.
Seperti halnya Saladin, beberapa penguasa Apmbiyah tampak-
nya juga sama-sama merasakan kecintaan terhadap Yerusalem dan
tempat-tempat suci di sana serta keinginan untuk mendukung
terciptanya kehidupan religius di Yerusalem dengan mendanai
pengelolaan monumen-monumen Islam. Putra Saladin, al-Afdhal
(w. 622 H.|1225 M.), membangun dan mendanai sebuah sekolah
agama (al-Madrasah al-Afdhaliyah) bagi penganut mazhab Maliki
di Yerusalem pada sekitar tahun 590 H.ll794 M.85 Adik Saladin,
al-'Adil (w. 615 H.tl2l7 M.), membangun pancuran-pancuran
untuk berwudu dan juga untuk tempat minum di dalam kawasan
Haram. Tokoh Ayyubiyah lainnya, al-Mu'azhzham (w. 524 H.l
1226 M.), menyeponsori pembangunan kembali jalan-jalan beratap
di Haram al-Syarif (tempat suci di Yerusalem), bagian-bagian
Masjid Aqshi dan monumen-monumen lainnya, sementara banyak
juga inskripsi lainnya yang dapat ditemukan di sana. Aktivitas
pembangunan yang dilakukan di tanah suci ini benar-benar
menunjukkan adanya kesadaran tentang arti penting tempat ter-
sebut khususnya bagi agama (lihat foto 4.26). Al-Mu'azhzham
membangun dua madrasah, satu untuk penganut mazhab Hanafi
yang disebut al-Mu'azhzhamiyyah pada 606 H.ll209 M. dan
satunya lagi madrasah yang mengajarkan bahasa Arab yang disebut
al-Madrasah al-Nahwiyab ("Sekolah Thta Bahasa") pada 604 H.l
1207 M.86
Namun, sekalipun mereka mempercantik dan menprcikan
Yerusalem, para penerus Saladin tampak tidak memiliki keinginan
untuk tinggal di kota itu dan menjadikannya sebagai ibukota
negara mereka. Dalam masalah ini mereka mengikuti jejak para
penguasa dinasti itu sebelumnya. Tidak satu pun di antara mereka,
sejak kebangkitan Islam, menjadikan Yerusalem sebagai pusat
kegiatan politik mereka. Bahkan Saladin sendiri sesudah secara
gemilang merebut kota itu tidak menunjukkan keinginannya untuk
tinggal di sana. Ia tetap berada di Damaskus bila sedang tidak
melangsungkan operasi militer, yang secara tidak langsung me-
rupakan pengakuan terhadap realitas geofisik, politik, dan demografi
saat itu. Meski memiliki nilai kesucian dan propaganda, Yerusalem,
dengan meminjam bahasa modern, bukanlah ibukota yang cocok
bagi Ayyubiyah. Maka saat semangat agama mulai padam pada
akhir tahun 1180-an, peranan politik Yerusalem kembali menjadi
lebih tidak penting dan sempit.
Yerusalem masih dalam genggaman umat Islam sampai ke-
datangan Perang Salib Kelima pada 616 H.ll219 M., yang
bertujuan menyerang pusat kekuasaan Islam di Mesir sebagai
pembuka jalan untuk merebut kembali kota suci ini . saat
mendengar bahwa kaum Frank sungguh-sungguh berencana untuk
merebut Yerusalem, al-Mu'azhzham, sultan Ayyubiyah yang juga
telah berperan dalam proyek-proyek pembangunan di kota ter-
sebut, dengan terpaksa harus membongkar benteng-benteng per-
tahanannya, setidaknya sebab khawatir Yerusalem akan jatuh ke
tangan kaum Frank. Menurut Sibth ibn al-Jawzi (w. 654 H.l
1257 M.), al-Mu'azhzham memberikan pembenaran atas tindakan-
nya yang tidak populer ini dengan mengatakan: "Kalau mereka
[kaum Frank] akan merebutnya [Yerusalem], mereka akan mem-
bunuh orang-orang di dalamnya dan menguasai Damaskus dan
negara-negara Islam. Keadaan darurat membuatnya harus dihan-
curkan."87
Penghancuran benteng-benteng Yerusalem ini memunculkan
perasaan sedih yang amat mendalam di kalangan penduduk
muslim setemPat:
Mereka mulai menghancurkan dinding-dinding ini di hari
pertama bulan Muharam. Ledakan tangis di kota itu pecah sePerti
saat Hari Kebangkitan. Para perempuan dan gadis-gadis, pria dan
wanita, tua dan muda, semua keluar menuju ke lKubah] Batu dan
Aqshi dan mereka memotong rambut mereka dan menyobek-nyobek
pakaian mereka sedemikian rupa sampai Batu dan mihrab AqshA
dipenuhi dengan rambut.88
Kejadian selanjutnya, penduduk muslim secara berbondong-
bondong meninggalkan kota ini .
Keadaan yang lebih buruk terjadi sepuluh tahun kemudian.
OIeh sultan Ayyubiyah, al-KAmil, Yerusalem diserahkan kepada
Kaisar Frederick II pada 626 H.ll229 M.8e Dalam perjanjian
yang ditandatangani keduanya, al-Kimil setuju untuk menyerahkan
Yerusalem selama 10 tahun. Umat Islam (dan kaum Yahudi) tidak
boleh masuk ke kota itu kecuali ke tempat suci (al-Hardm dl-
SyariJ), yang masih dalam genggaman umat Islam. Perjanjian itu
juga menyebutkan bahwa umat Islam yang akan menjalankan
ibadahnya di sana tidak boleh dihalang-halangi.
Salah seorang dari dua penulis sejarah yang hidup di sekitar
peristiwa itu, Ibn \7Ashil, berusaha membenarkan tindakan al-
KAmil itu:
Sultan al-KAmil mengatakan: "Kami hanya mengizinkan re-
runtuhan gereja dan biara. -Wilayah haram dan apa yang ada di
dalamnya termasuk Batu suci dan tempat suci lainnya tetap dalam
kekuasaan umat Islam sebagaimana sebelumnya dan simbol Islam
ada pada apa yang ada di sana ldi haram)."eo
Dalam pandangan al-Kimil, kota yang tanpa benteng per-
tahanan seperti Yerusalem itu bisa direbut kembali untuk Islam
di kemudian hari. Pusat kekuasaan al-KAmil terletak di Mesir,
dan hilangnya pertahanan Yerusalem tidak menjadi ancaman
baginya: Yerusalem bisa diserahkan kepada kaum Frank yang
menginginkannya sebagai bagian dari perjanjian, untuk memasdkan
bahwa mereka tidak akan mengganggu Mesir. Sebenarnya tindakan
al-Kimil ini diambil demi keuntungan politik, kerena dia takut
dimusuhi para kerabatnya di Suriah, terutama saudaranya, al-
Mu'azhzham, dan dia membutuhkan dukungan militer dari
Frederick. Yerusalem menjadi bagian dari kesepakatan itu. Status
religiusnya sama sekali bukanlah sesuatu yang paling penting dalam
pertimbangannya.er Dengan demikian, keturunan Saladin sendiri
menyerahkan Yerusalem kembali kepada kaum Frank.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa secara straregis Yerusalem
tidak bermakna penting bagi para penguasa Ayyubiyah yang pusar
kekuasaannya berada di Mesir atau Suriah. Yerusalem selalu
memiliki nilai politis sebab kaum Frank masih tetap ingin
memilikinya. Sekalipun masing-masing penguasa Ayyubiyah telah
menghiasi kota Yerusalem dengan monumen-monumen baru dan
fondasi kesalehan, pada akhirnya semua itu nilainya lebih kecil
dibandingkan dengan keuntungan politik.
Bisa diperkirakan bahwa tindakan al-Kimil menyerahkan
Yerusalem kepada Frederick membangkitkan kecaman dan ke-
marahan umat Islam. Sepanjang tahun 626 H.llZ29 M., penulis
sejarah Sibth ibn Jawzi menulis: "Di masa itu ftahun ini] al-
Kemil menyerahkan Yerusalem kepada kaisar rersebut ... Berita
penyerahan Yerusalem kepada kaum Frank sampai dan menimbul-
kan kepanikan besar-besaran di wilayah-wilayah Islam."e2
Sibth ibn al-Jawi, yang jvga seorang pendakwah terkemuka
saat itu, lalu menceritakan bahwa penguasa Ayyubiyah dari
Damaskus, al-Malik Da'ud, memintanya untuk berkhotbah di
Masjid Agr.g tentang peristiwa yang menimpa Yerusalem dan
secara emosional ia membesar-besarkan penghinaan yang menimpa
kota itu.e3 Selain Ibn al-Jawzi dan Ibn 'S7lshil, saksi mata lainnya
di saat itu, sumber-sumber Islam yang lain (kemungkinan sebab
perasaan malu) cenderung menutupi babak peristiwa yang agak
memalukan ini.ea
Nasib Yerusalem menjadi semakin buruk. Kota ini terap
dalam kekuasaan kaum Frank sampai sesudah al-Klmil wafat pada
635 H.ll238 M. Yerusalem sempat dikembalikan beberapa lama
kepada Ayyubiyah pada 636 H.11239 M. di bawah al-Nashir
Da'ud, penguasa Kerak. namun , lagi-lagi sebab pertikaian internal
di antara para penguasa Ayyubiyah, Yerusalem diserahkan kembali
kepada kaum Frank pada 641 H.11243-1244 M. sebagai imbalan
janji kaum Frank yang akan membanru al-Nashir Ddud dan
sekutu-sekutunya melawan penguasa Aynrbiyah di Mesir, al-Malik
al-ShAlih Ayyub.e5 Dengan demikian, dunia Islam lagi-lagi meng-
alami penghinaan sebab Kubah Batu kembali menjadi milik kaum
Frank.e6 Saladin dan para ahli propagandanya sungguh meratap
di dalam kubur mereka atas pengkhianatan ini.
Nasib buruk Yerusalem mencapai puncaknya pada 642 H.l
1244 M. Untuk menghancurkan musuh-musuhnya, Sultan
Ayyubiyyah Najmuddin Ayy0b memanggil kaum Khawirazmi,
pasukan nomaden yang terusir (dulunya Suku Kipchak Tirrki)
yang telah terusir ke arah barat dari kampung halaman mereka
di fuia Tengah oleh invansi bangsa Mongol. Kaum Khawirazmi
menaklukkan Suriah dan Palestina dan menjarah Yerusalem pada
Rabiulawal 642 H.lfugustus 1244 M.e7 Mereka membunuhi dan
membantai orang-orang Bkisten dan merusak Gereja Makam Suci
dan gereja-gereja lainnya. Selanjutnya, dalam suatu aliansi yang
khas saat itu, pada Jumadilawal 642 H.loktober 1244 M., kaum
KhawArazmi dan Ayyubiyah Mesir bertempur di Harbiyyah me-
lawan Apmbiyah Suriah yang telah bergabung dengan Tentara
Salib. Pertempuran itu kemudian dimenangkan oleh koalisi
KhawArazmi-Ayyub iyah.
Sibth ibn al-Jawzi murka melihat kerja sama kaum muslim
dengan kaum Frank itu dan merindukan hari-hari damai saat
umat Islam bersatu. Sambil meratapi pasukan muslim yang ber-
tarung di bawah bendera kaum Frank dengan salib di atas kepala
mereka dan diperintah oleh para pendeta, Ibn al-Jawzi me-
lanjtrtkan: "Hari itu yaitu malapetaka, hari yang tidak pernah
terjadi di [awal] Islam maupun pada masa N0ruddin dan Saladin."e8
Yerusalem kemudian diperintah dari Mesir.ee Sikap kepala
batu para penerus Ayyubiyah terhadap Yerusalem dan lebih me-
milih Mesir sebagai pusat kekuasaan terus berlanjut sampai mas,r
akhir dinasti ini . Bahkan al-Shilih Ayyfib menasihati putra-
nya, TirrAnsyih, sultan terakhir Ayyrbiyah Mesir: "Bila, mereka
[kaum Frank] menuntut pantai dan Yerusalem darimu, segera
berikan tempat-tempat itu dengan syarat mereka tidak meng-
injakkan kaki di Mesir."roo
Gambaran suram tentang kondisi politik yang sebenarnya
pada masa Aynrbiyah diperparah dengan ketidakpedulian terhadap
jihad, dan nasib Yerusalem kadangkala diubah oleh para penguasa
Ayynbiyah di Suriah. Aliansi antara kelompok-kelompok agam^
pada periode Ayyubiyah dan kepemimpinan militer masih lebih
kuat di Suriah dibanding di Palestina. Ilmuwan modern, Sivan
dan Pouzet, mengatakan bahwa dua tokoh Ayyubiyah, al'
Mu'azhzham 'lsX, dan putranya, al-Nashir Da'ud, menunjukkan
semangat jihad yang sesungguhnya, sekaligus menyelamatkan reputasi
dinasti ini , setidaknya hingga tingkat tertentu.rol Kota Damaskus
dan khususnya komunitas Hanbali, al-Shalihiyyah, masih tetap
menjadi lingkungan yang subur dengan semangat jihad. Di kota
ini setidaknya dihasilkan dua perjanjian jihad pada periode
Aynrbiyah, satu oleh Ibn Qudimah (w. 620 H.ll223 M.) dan
satunya lagi oleh Dhiyi'uddin al-Maqdisi (w. 643 H.11245 M.).
Secara umum, seruan kelompok-kelompok agama terhadap
perkembangan jihad melawan kaum Frank-yang telah melang-
gengkan dan memperkuat aktivitas Saladin, terutama pada tahun-
tahun sebelum penaklukan Yerusalem-bagi sultan-sultan ini lebih
dianggap sebagai hal yang memalukan daripada sebagai pendorong.
Mereka lebih memilih sikap Pragmatis daripada bersikap saleh
dan berusaha menyesuaikan diri dengan kaum Frank. Kadangkala
sumber-sumber ini menunjukkan tekanan tegas kelompok-
kelompok agama agar penguasa berjihad. Salah saru contohnya
yaitu suatu peristiwa yang terjadi pada awal tahun 601 H.l
7204 M., saat Ibn Qudimah secara rerang-terangan menuduh
Sultan Ayyubiyah al-'Adil mengabdikan dirinya untuk memerangi
sesama muslim dan mengabaikan jihad melawan orang kafir.ro2
KEKUATAN PARA PENDAKWAH DAIJ"M MENDORONG MASYAMMI
UNTUK BERJIHAD
Penulis sejarah Sibth ibn al-Jawzi menjelaskan peristiwa yang
terjadi sebelum kampanye militer tokoh Ayyubiyah al-Mu'azhzham
'isi pada 607 H.tl210-1211 M. Sibth ibn al-Jawzi sendiri
merupakan salah satu pendakwah rerbesar pada saat itu dan dia
memakai kemampuannya untuk memobilisasi penduduk atas
nama penguasa:
Saya duduk di masjid jamik pada hari Sabtu, 5 Rabiulawal,
dan orang-orang berbondong-bondong berbaris dari gerbang makam
Zainul Abidin hingga gerbang al-Natifanin dan gerbang lonceng.
[Banyaknya orang] yang berdiri di halamanro3 jauh lebih banyak
daripada orang yang memenuhi Masjid Damaskus [untuk salat
Jumat]. Mereka diperkirakan sekitar 30.000 [orangJ dan peman-
dangan di hari seperti itu belum pernah terlihat di Damaskus atau
di tempat lain.
Begitulah kemasyhuran Sibth ibn al-Jawzi sebagai seorang
pendakwah sehingga mampu menarik orang jauh lebih banyak
daripada orang yang datang salat Jumat: yang pasti, Masjid Agung
di Damaskus bisa menampung jamaah yang jauh lebih banyak.'oa
Sibth ibn al-Jawzi mengatakan untaian-untaian rambut ber-
datangan menjadi miliknya dan dia menceritakan sebuah kisah
tentang seorang wanita yang memotong rambutnya dan mengirim-
kan rambut itu padanya, dengan mengatakan: "Jadikanlah rambut
ini sebagai tali kekang kudamu di jalan Allah."
Contoh kesalehan agama yang menggambarkan rasa peng-
abdian ini menunjukkan adanya peranan kaum perempuan dalam
aktivitas jihad bersama dalam komunitas ini dan digunakan
untuk memberi efek yang sangat kuat dalam kisah seterusnya
yang diceritakan oleh Sibth ibn al-Jawzi:
Jadi saya kemudian membuat ikatan dan kekang bagi kuda-
kuda ksatria jihad (mujahidin) dari rambut-rambur yang saya
peroleh. saat saya naik mimbar, saya perintahkan agar ikaran
dan kekang itu dibawa dan dipasang di leher para pria. Jumlahnya
ada 300 kekang. saat orang-orang mengikatnya, tangisan pecah
dan mereka ikut memotong [rambut mereka].t05
Pemandangan-pemandangan seperti ini menunjukkan kekuatan
persuasif para pendakwah untuk menggerakkan penduduk agar
ikut berjihad.
Pada periode Ayyubiyah itu, terkadang krisis eksternal yang
serius bisa mendorong para penguasa bertindak bersama-sama
melawan kaum Frank. Kejatuhan Damietta pada 516 H.ll219
M. yaitu satu contoh peristiwa yang jarang terjadi itu, yaitu
saat para penguasa Aynrbiyah menunjukkan solidaritas mereka.
Pada kesempatan itu Sibth ibn al-Jawzi membacakan sepucuk
surat yang dikirimkan al-Mu'azhzham 'isi di Masjid Agung
Damaskus dengan maksud membangkitkan semangat warga
untuk berjihad.'06
TINJAUAN TENTANG _______________AYYI.JBIYAH
Dilema antara tekanan keuntungan politik dan jihad melawan
kaum Frank, yang tampak jelas pada periode Ayyubiyah, tentu
saja, telah tampak pada mereka sejak awal Perang Salib. Namun,
perilaku keluarga Ayyubiyah-keengganan mereka untuk berjihad
dan penyerahan Yerusalem kepada kaum Frank-telah dikritik
pada masa itu dan dikecam sebagai pengkhianatan terhadap cita-
cita dan usaha pendahulu mereka yang terkenal, Saladin.
Penilaian ini kiranya layak untuk diperiksa kembali apakah
telah benar-benar adil. Perhatian terhadap jihad yang menandai
tahun-tahun terakhir masa kekuasaan Saladin sampai ia merebut
Yerusalem mungkin harus dilihat sebagai pengecualian, puncak
emosi yang jarang dialami kaum muslim, sekalipun itu berkaitan
dengan karier Saladin sendiri. Sebagian besar masa dewasa Saladin
digunakan dalam kerangka yang lazim di zaman itu, yaitu aliansi
yang berubah-ubah, gencatan senjata, dan perebutan wilayah yang
picik, sama seperti yang dilakukan oleh para penguasa dan pim-
pinan militer lainnya. Cara-cara seperti ini menjadi model tetap
para penguasa Ayyubiyah berikutnya. Seperti yang telah kita lihat,
yaitu pada masa kepemimpinan Saladin, dan barangkali juga
sebab pribadinya yang karismatik, kelompok-kelompok agama
berusaha menyertakan pimpinan militer dan penduduk secara
besar-besaran dalam kampanye terfokus yang jarang terjadi, yaitu
melawan kaum Frank. Untuk sementara, jihad mengungguli retorika
para ahli propaganda dan jihad juga memperlihatkan kekuatan
umat Islam yang sesungguhnya di Suriah dan Palestina untuk
menaklukkan Yerusalem. Bagi para penguasa Aynrbiyah berikutnya,
Yerusalem merupakan hal yang tidak begitu penring: terkadang
Yerusalem bisa menjadi sasaran utama mereka untuk menampilkan
kesalehan di muka rakyat, namun Yerusalem lebih sering menjadi
korban realisme-militer-mereka yang keras kepala.
Ada berbagai faktor yang menyebabkan para penguasa Ayyrrbiyah
tidak memiliki ketulusan dalam berjihad melawan kaum Frank.
Mereka sangat tertarik dengan keuntungan-keuntungan yang me-
reka peroleh dari perdagangan dengan kaum Frank dan dunia
yang lebih luas, dengan memakai pelabuhan-pelabuhan kaum
Frank. Kepentingan bersama terhadap pertahanan lokal Suriah
dan Palestina tidak diragukan lagi memotivasi Ayyubiyah dan
kaum Frank untuk sesekali bersatu melawan agresor dari luar,
kelompok KhawS.razmi, kaum Frank dari Eropa, arau bahkan
pesaing Ayyubiyah dari Mesir. Yang pasti, pada awal periode
Aynrbiyah, di tahun-tahun pertama sesudah Saladin wafat, tak
terhindarkan lagi telah terjadi anti-klimaks emosi sesudah Yerusalem
direbut kembali. saat Saladin, sang pimpinan militer karismatik,
telah pergi, dan sasaran utama untuk berjihad di masa Saladin,
yaitu jihad untuk merebut kembali Yerusalem, telah hilang, para
elite Ayyubiyah tidak lagi memiliki keinginan bersama untuk
menyelesaikan tugas ini dan mengusir kaum Frank secara
total. Masing-masing penguasa Alyubiyah di dalam konfederasi
ini bisa mengambil sikap sendiri dalam bernegosiasi dengan
kaum Frank.ro7 Dengan cara yang sejak dulu telah dipraktikkan
oleh para leluhur mereka, masing-masing penguasa Ayyubiyah
mempertahankan wilayah mereka dari semua pendatang, kaum
muslim ataupun kaum Frank, dan bersatu dengan penguasa
setempat lainnya untuk melawan orang-orang luar pada saat terjadi
krisis eksternal.ros
PERIODE MAMLUK SAMPAI PENAKLUKAN ACRE,
648490 H.lt250-r29r M.
Saladin tentu saja tidak mengusir para Tentara Salib dari Timur
Dekat secara total. Acre dan sebagai besar pantai Suriah masih
tetap dikuasai para Tentara Salib hingga abad berikutnya. 'STilayah
itu disisakan bagi Dinasti Mamluk dari Mesir, yang melanjutkan
tradisi keluarga Saladin, untuk merebut Acre pada 590 H.ll29l
M. dan sekaligus mengusir para Tentara Salib dari wilayah muslim
untuk selama-lamanya. Jihad berperan penting dalam mendorong
dan memberikan semangat bagi tercapainya kegemilangan militer
Mamluk.
Naik tahtanya Mamluk pada 648 H.ll250 M. menjadi awal
berdirinya dinasti baru yang bertahan sampai Mesir ditaklukkan
oleh Dinasti 'lJtsmani pada 922 H.ll516-1517 M. Para penguasa
baru ini , para panglima resimen Mamluk, benar-benar di-
siapkan untuk menghadapi masa-masa sulit di kemudian hari.
Memang, di periode awal berdirinya Dinasti Mamluk terjadi
serangan besar-besaran terakhir bangsa Mongol di Timur Tengah
serta aktivitas dan pendudukan Perang Salib yang tiada henti.
Pasukan Mongol yang dipimpin Hi.ilegi.i menyerang lewat Suriah
dan mengancam Mesir. Pasukan Mamluk di bawah komando
Baybars yang kemudian menjadi Sultan menghadapi pasukan
Mongol yang kelelahan di bawah pimpinan Kitbogha Noyan dan
mengalahkan mereka pada pertempuran Ayn Jilfrt di bulan
Ramadan 658 H./September 1260 M. Tidak lama sesudah itu,
terjadi kudeta berdarah yang mengakhiri ketidakstabilan Pertama
Gambar 4.20
lnskripsi menorik podo
tempot lilin Ktbugho, logam
hias, awal tohun 1290-on,
kemungkinon Mesir.
di jantung negara Mamluk. Baybars mengangkat dirinya menjadi
Sultan. Di bawah pimpinan Baybars yang tegas, Mamluk meng-
habisi Ayyubiyah di Mesir, memperluas kekuasaannya sampai ke
Suriah, dan dilanjutkan dengan menyerang bangsa Mongol dari
timur. Tidak seperti pendahulunya, Dinasti Ayyubiyah, sultan-
sultan Mamluk harus menghadapi bangsa Mongol sejak awal
dinasti itu berdiri. Kondisi ini membentuk kebijakan-kebijakan
internasional mereka dalam waktu sangat singkat. Seperti di-
ungkapkan oleh Bargue:
Tentara Salib Eropa dalam beberapa hal merupakan masalah
paling kecil yang dihadapi kaum muslim saar itu: yang lebih
mengancam terhadap kehidupan sosial dan politik yaitu gelombang
serangan dan pendudukan yang tiada henti dari Tirrki dan Mongol,
yang mencapai puncaknya dengan terjadinya gelombang imigrasi
Mamluk sendiri.roe
Laporan yang bersemangat dan diromantisasi tentang Mamluk
diberikan oleh sejarawan muslim Afrika Utara terkemuka, Ibn
Khaldirn (w. 808 H./1406 M.) yang menggambarkan bahwa
Mamluk memiliki:
keteguhan hati orang beriman yang sesungguhnya dan juga
dengan kebajikan-kebajikan nomaden yang tak dinodai oleh sifat
rendah, tidak bercampur dengan kotoran kesenangan, bersih melalui
cara-cara- kehidupan beradab, dan dengan keinginan mereka yang
tidak lebur oleh gelimang kemewahan.rr0
Meskipun "orang-orang nomaden" ini diromantisasi, yang
menjadi tanda dari model orang-orang tak terdidik tapi memiliki
sifat yang baik, pujian Ibn KhaldCrn atas cara Mamluk mem-
bangkitkan Islam Timur Dekat dalam banyak hal dibenarkan.
Dengan pusat pemerintahan di Kairo dan bukan di Suriah, dan
tetap menjauhkan diri secara formal dari orang-orang pribumi
yang mereka perintah, Mamluk membentuk negara yang sangat
terpusat, yang dalam sumber-sumber fuab biasanya disebut sebagai
"negara Tirrki" (Dawlat al-Atrah), yang menunjukkan ikatan yang
luar biasa dan bisa menjadi front bersatu melawan para Tentara
Salib. Meskipun mereka telah merebut kekuasaan, kemenangan
mereka atas bangsa Mongol dan kaum Frank mengangkat Prestise
mereka menjadi lebih tinggi.
272 \ Catole Hillenbrand
Di bawah pimpinan Baybars, negara Mamluk memulai era
agresi yang semakin meningkat melawan kaum Frank.rrr Ke-
lompok-kelompok agama yang menulis sejarah mereka menampil-
kan gambaran yang aneh dan sulit dimengerti, seragam, dan secara
umum menguntungkan bagi dinasti ini. Namun, gambaran yang
menguntungkan ini tampaknya benar-benar bertahan. Di luar,
sultan-sultan Mamluk dilihat sebagai ksatria jihad paling agung,
sementara di dalam negaranya mereka menerapkan keadilan sejati
dan menumpas kaum pemberontak dan kaum bidah. Mereka
tertarik dengan tampilan-tampilan keagamaan di muka umum
dan bersedia mengenakan jubah para pemimpin dunia Sunni.
Mereka melindungi kelompok agama-agama, menunaikan ibadah
haji, dan banyak membangun monumen yang dipersembahkan
untuk Islam, bukan hanya atas alasan politik, tapi juga sebab
keinginan dan kesalehan yang sebenarnya (foto 4.27). Banyak
anggota kader militer Mamluk itu sendiri sebenarnya yaitu ahli-
ahli agama. Dengan meyakinkan, Barkey berpendapat bahwa Islam
tidak pernah menjadi kesatuan yang monolitik dan statis, dan
Mamluk telah membantu membentuk Islam dari dalam tanpa
keterlibatan orang luarrr2-agama, peradaban, dan warga -
lebih dari yang dikenal sebelumnya.
Mamluk sangat berhati-hati agar aktivitasnya dilegitimasi dan
mereka melaksanakan jihad dengan menunjukkan kekuatan dan
keyakinan kepada orang-orang. beberapa warisan spiritual dari
, khalifah 'Abbasiyah di Baghdad yang telah dihancurkan oleh bangsa
Mongol pada 656 H.ll258 M. dibangkitkan kembali, yaitu dengan
pembentukan pemerintahan boneka Abbasiyah di Kairo pada 659
H.ll262 M. Langkah ini merupakan ciri khas dinasti baru ini
yang suka menampilkan kesalehannya, seperti halnya teladan pem-
baharuan jihad, dengan lebih menekankan pada aspek-aspek militer
dari konsep ini -perang melawan orang kafir.
Baybars yaitu tokoh utama yang memulai proses pengusiran
pasukan kaum Frank dari Timur Dekat secara tuntas. Ia memulai
serangkaian operasi militer yang berhasil pada tahun 1260-an.
Tekanan dari musuh baru, yaitu bangsa Mongol, dan kehadiran
kaum Frank yang tiada henti membentuk dorongan yang sangat
kuat untuk menyalurkan kekuatan dinasti baru ini .
.
Selain keahlian militer Baybars yang sangat luar biasa, bersamaan
dengan kenaikannya, Baybars juga diuntungkan oleh nasib baik-
dan ini jarang terjadi. Bangsa Mongol tengah tercerai-berai sesudah
mereka mundur dari Suriah pada 1260 dan dalam perang melawan
kaum Frank, Baybars mampu memanfaatkan pengungsi muslim
Irak, yang masih dikuasai bangsa Mongol, yang sangat besar
jumlahnya dan tumpah-ruah di Suriah dan Mesir. Meskipun
begitu, Baybars merupakan sultan yang brilian dan tak kenal
ampun dan seorang pemimpin militer yang penuh semangat,
dengan masa kekuasaan yang sangat lama. Operasi-operasi militer-
nya direncanakan dengan sangat baik. Sebelum menyerang kaum
Frank, Baybars membungkam semua penentang otoritas penuhnya
di pihak tokoh-tokoh Ayyubiyah. Dengan kata lain, dalam pola
yang biasa, ia ingin mempersatukan kaum muslim di Mesir dan
Suriah dan mengamankan pusat kekuasaannya.
Pada 663 H.ll256 M., Baybars memulai serangkaian serangan
terhadap kaum Frank yang berlanjut hingga tahun 670 H.l127l
M. Sepanjang tahun ini , benteng-benteng penting kaum
Frank jatuh ke tangan kaum muslim. Antiokhia yang dikuasai
kaum Frank tanpa gangguan sejak 1097 juga ditaklukkan. Pada
saat yang sama, Baybars memerangi bangsa Mongol yang menyem-
bah berhala,rr3 umat lGisten di Armenia Kecil, sesama muslim di
Anatolia, dan kaum "bidah" Ismailiyah. Dari total tiga puluh
delapan operasi militer yang dilancarkannya ke Suriah, dua puluh
satu di antaranya dilancarkan terhadap kaum Frank. saat wafat
pada 676 H.ll277 M., Baybars telah berhasil membuat ke-
hancuran besar-besaran di pihak kaum Frank. Tujuan utama
operasi militer Baybars itu bisa dianggap defensif-untuk meng-
amankan perbatasan-perbatasan negara Mamluk dari orang-orang
kafir timur dan barat. Aktivitasnya melawan kaum Frank menjadi
bagian utama dari citra Baybars yang diciptakan oleh ahli-ahli
propagandanya, yaitu bahwa ia yaitu seorang pejuang jihad yang
hebat dan pembela dunia Islam. Legenda perjuangannya tetaP
hidup dalam kisah rakyat yang populer, Sirat Baybars.
GELAR JIHAD BAGI DINASTI MAMLUK-BUKTI INS KRIPSI-INSKRIPSI
MONUMENTAL DAN DOKUMEN-DOKUMEN RESMI
Bisa diperkirakan, dengan prestasi-prestasi militernya melawan
orang-orang kafir, kaum Frank penganut Kristen, dan bangsa
Mongol penyembah berhala, sultan-sultan Mamluk dihadiahi gelar-
gelar jihad yang hebat oleh para penulis sejarah dan prasasti
mereka.
Pada tiga inskripsi yang bertangal Zulhlah 664 H.lseptember
1266 M. yang ada di mosoleum di Hims, Suriah, Baybars
digambarkan dengan kata-kata yang sangar menyala sebagai seorang
pejuang jihad agung. Salah satu inskripsi itu menjuluki dirinya:
Sultan, tokoh pemenang, tiang dunia dan agama, sultan agama
Islam dan umat Islam, pembunuh orang-orang kafir dan musyrik,
penumpas pemberontak dan bidah, penegak keadilan di dua dunia,
pemilik dua lautan, penguasa dua kiblat, pelayan dua tempat mulia,
pewaris kerajaan, sultan bangsa Arab, Persia dan Tirrki, Aleksander
masa kini, penguasa tempat penghubung yang beruntung, Baybars
yang Saleh, sahabat Panglima orang Beriman.rra
Di inskripsi itu juga rercatat bahwa inskripsi itu diukir "pada
saat perjalanannya [Baybars] melewati [Hims] untuk berperang
khaz\ di tanah Sis [fumenia]."rts
Inskripsi ini merupakan dokumen historis yang bernil ai yang
berasal dari masa itu. Peristiwa itu berlangsung pada saat yang
tepat: Baybars sedang dalam perjalanan untuk melaksanakan jihad
melawan kaum Kristen Armenia. Gelar itu merupakan penjelasan-
nya. Di dalam inskripsi itu Baybars dicatat sebagai pembela Islam,
penguasa yang adil dan pejuang melawan orang kafir. Pola pe-
nyusunan kata-kata yang terdiri dari makna-makna yang ber-
lawanan yang ditempatkan dengan tepat dan hati-hati, dan peng-
gunaan perangkat-perangkat seperti itu, seperti pasangan kata-
kata yang saling bersahutan, atau akhiran bersajak, memberikan
nada yang lantang dan formal pada ungkapan yang memberi
pernyataan dan penegasan semacam ini. Baybars ditampilkan
sebagai pembela tempat paling suci bagi Islam di Hijaz. Seperti
halnya Timur Lenk yang datang kemudian, Baybars dijuluki
sebagai Aleksander zaman itu, orang yang dibantu dengan tanda-
tanda pernujuman menguntungkan untuk memimpin seluruh
dunia Islam-Arab, Persia, dan Tirrki. Retorika aneh seperti itu
(Mamluk tidak dan tidak pernah akan berkuasa di Timur) disertai
dengan pandangan yang jelas terhadap nilai publisitas lokasi
inskripsi ini . Ini bukan monumen biasa untuk tempar me-
mahat inskripsi pada saat Baybars dan pasukannya melalui Hims.
Akhirnya, monumen ini merupakan mosoleum bagi jenderal Arab
muslim paling terkenal, "Pedang Islam, Sahabat Rasulullah, Khalid
ibn \7alid," arsitek agung penaklukan Islam pertama di abad
ketujuh. Dengan demikian, di mata para ahli propagandanya,
Baybars dilihat sebagai pembentuk rantai abadi antara masa
kejayaan Islam dan prestasi-prestasinya sendiri atas nama iman.
Hubungan yang lebih eksplisit dengan kaum Frank ditunjuk-
kan dalam inskripsi yang masih tersisa atas nama Baybars pada
Benteng Safad yang bertanda tahun 666 H.ll267-1268 M;
Dia memerintahkan untuk merenovasi benteng dan kubu
pertahanan ini. Dia juga memerinrahkan agar pembangunan gedung
iru diselesaikan dan dihias sesudah dia membebaskannya dari ke-
kuasaan kaum Frank yang terkutuk dan mengembalikan ke tangan
kaum muslim, sesudah merebutnya dari kekuasaan para Ksatria Kuil
kepada kekuasaan kaum muslim.
Inskripsi ini memuji usaha-usaha Baybars dalam jihad: "Dia
telah berusaha dan berjuang (jahada) sampai dia mengubah orang
kafir menjadi beriman, lonceng gereja menjadi seruan salat, dan
Injil dengan Alquran."r16Inskripsi ini merayakan direbutnya Safad
oleh Baybars, yang digambarkan oleh Ibn al-FurAt dengan jelas
sebagai "penghalang di tenggorokan Suriah dan penyumbat di
dada kaum muslimD.rrT
Praktik pencararan prestasi-prestasi gemilang sultan-sultan
Mamluk dalam inskripsi-inskripsi monumenral terus berlanjut
dengan cepat selama mereka berkuasa. Lima puluh tahun pertama
dalam perjalanan dinasti ini ditandai dengan penekanan
terhadap jihad dan rema-tema yang berkaitan. Contoh jelas gelar
Mamluk ini yaitu inskripsi yang ada di benteng Aleppo
yang bertanda tahun 691 H.ll292 M. atas nama Khalil ibn
Qaliwfin, yang disebut :
penakluk penyembah salib, Alelsander zaman ini, ... penguasa
pasukan kaum Frank, Armenia dan Thrtar, penghancur Acre dan
wilayah-wilayah pantai, yang membangkitkan kembali negara
Abbasiyah yang termasyhur.r18
Ini merupakan rangkaian gelar yang lebih jelas dan ambisius
dari gelar yang pernah diperoleh N&ruddin pada periode sebelum-
nya. Inskripsi ini memuat pernyataan renrang kemenangan
gemilang Mamluk melawan kaum Frank. Secara khusus, inskripsi
ini menyoroti kaum Frank dengan istilah yang lebih buruk: "para
penyembah salib" (yang merupakan ungkapan yang tak lazim
pada suatu monumen), dan mengacu dengan jelas pada kebijakan
Mamluk untuk meratakan pelabuhan-pelabuhan di kawasan
Mediterania timur dengan tanah lewat ungkapan "penghancur
Acre dan wilayah-wilayah pantai". Inskripsi itu selanjutnya me-
nempatkan Kerajaan Mamluk secara tegas di bawah bendera Islam
Sunni, dengan mengingatkan bahwa merekalah yang telah mem-
bangkitkan kembali nasib baik kekuasaan Khalifah Abbasiyah.
Dengan mengutip karya terdahulu yang ditulis oleh al-'Umari
(w.749 H.ll349 M.), buku pedoman resmi karya al-Qalqasyandi
(w. 821 H.ll418 M.), yang di dalamnya peru pencarar sejarah
digambarkan dengan ungkapan gelar yang panras, menyebutkan
gelar-gelar terhormat yang harus diberikan kepada sultan Mamluk:
lsatria jihad, orang-orang yang tinggal di ribAth, pembela garis
perbatasan, ... sultan Islam dan umat Islam, penegak keadilan di
dua dunia, pemberi keadilan kepada orang-orang yang telah dizalimi
oleh para penindas, sultan bangsa Arab, Persia, dan Turki ...
Alelsander zaman ini ... tokoh dua lautan, ... pelayan dua tempat
mulia ... orang yang dekat dengan Panglima Orang-Orang Ber-
iman.lle
Gelar-gelar ini sungguh sangar mirip dengan gelar-gelar yang
dipersembahkan kepada Baybars di mosoleum Khilid ibn \falid.
Thk pelak lagi, bersamaan dengan al-'umari, gelar-gelar ini telah
diabadikan dalam praktik pemerintahan sebagai gelar-gelar resmi
bagi sultan Mamluk yang akan digunakan pada dokumen-dokumen
resmi. Ini semua merupakan protokol-protokol yang muluk-muluk,
deretan gelar yang lagi dan lagi menekankan mandat keagamaan
pada sosok seorang sultan, yang digunakan dalam monumen-
monumen terpilih di dalam inskripsi-inskripsi yang dituliskan pada
momen-momen penting pada saat Mamluk memperoleh ke-
menangan atas kaum Frank, Armenia, atau Mongol. Tidak di-
ragukan lagi bahwa para juru tulis istana yang memberikan
instruksi-instruksi yang tepat kepada para penulis mengenai apa
yang harus dicantumkan di monumen-monumen ini .
sesudah penaklukan fus0f pada 663 H.ll265 M., Baybars
membuat keputusan untuk memberikan kekuasaan kepada para
panglimanya untuk memiliki beberapa wilayah yang telah ditakluk-
kan. Masing-masing panglima ini mendapat sertifikat ke-
pemilikan, yang teksnya dikutip oleh penulis sejarah Ibn al-Furit.
Kutipan itu merupakan contoh prosa puji-pujian resmi yang
menyanjung keberhasilan Baybars. Pemerintahan Baybars, ber-
dasarkan teks-teks ini, sama-sama sangat menyenangkan, sebagaimana
pemerintahan Dinasti Ayyubiyah:
Pertolongan paling baik yaitu yang diberikan sesudah keputus-
asaan, datang saat raja-raja telah lemah dan orang-orang diabai-
kan. Sungguh pertolongan yang luar biasa bagi agama Muhar-nmad
yang kemudian mempersatukannya, dengan membuka pintu bagi
penaklukan saat dua musuh, kaum Frank dan Tartar, ditakluk-
kan.l20
Ungkapan dalam dokumen itu selanjutnya terus meninggi
dan mencapai klimaksnya dalam memuji Baybars, menggambar-
kannya dengan pernyataan-pernyataan berikut:
Semua ini telah dicapai oleh orang yang ditunjuk oleh Allah,
yang dianugerahi sebilah pedang terhunus yang digunakan untuk
menyerang. Angin bantuan keramat telah didatangkan untuk me-
layaninya dan menahan pijakan kakinya saat dia berangkat menuju
rumah Kemenangan, dengan mengadakan per.jalanan siang dan
malam. sesudah melihatnya berada di dalam istananya, Keber-
untungan menjadikannya seorang raja: dengan memujinya, ia ber-
seru: "Ini tidak abadi".r2r
Dengan demikian, kita melihat bahwa para penulis istana
menggambarkan Baybars sebagai orang pilihan Allah, penakluk
bangsa Mongol dan kaum Frank, sultan pemurah hati yang
membagi wilayah-wilayah taklukkannya dengan orang-orang yang
telah membantunya menuju kemenangan yang ditakdirkan Allah.
Al-Maqrizi (w. 845 H.ll442 M.) mengutip sebuah dokumen
resmi yang ditulis oleh pemimpin sekretariat kerajaan, Ibn Luqmin,
yang memperingati perayaan pelantikan Baybars sebagai sultan
oleh khalifah boneka yang dibentuk sendiri oleh Baybars. Di
sepanjang teks yang sangat dibesar-besarkan ini, yang ditampilkan
di depan kerumunan anggota istana, Baybars digambarkan sebagai
orang yang telah menunjukkan semangat yang tidak tertandingi
dalam membela agama (foto 4.28-4.29 dan gambar 4.264.27).122
Beralih secara khusus ke soal jihad, Ibn LuqmAn menyatakan :
Berkenaan dengan Perang Suci, Anda telah membedakan diri
Anda sendiri lewat perbuatan-perbuatan yang luar biasa... Melalui
Anda, Allah telah melindungi benteng Islam dan memeliharanya
dari perbuatan para musuh yang tidak senonoh; keberanian Anda
telah melindungi keutuhan kera1aan kaum muslim.r23
BAYBARS DAN JIFIAD: BUKTI-BUKTI DARI PARA PENULIS SEJAMH
Karier Baybars yang sangat sukses dicatat oleh banyak penulis
biografi pada saat itu dan tak lama sesudahnya. Ibn Abd al-
Zhb,hir (w. 629 H.ll292 M.), yang menyatakan bahwa ia benar-
benar telah menemani Sultan dalam berbagai operasi militernya,r2a
menampilkan Baybars sebagai pewaris spiritual sultan Ayyubiyah
terakhir (meskipun Baybars yaitu generasi pertama yang masuk
Islam, yang bergabung dari Suku Kipchak Turki), dan tindakan
pembunuhan dan perampasan kekuasaan yang dilakukannya di-
tutup-tutupi.t25 Prajurit dari padang rumput dengan lumuran darah
di tangannya diubah menjadi seorang mujahid teladan lewat pena
para penulis yang memujanya, dengan dinyatakan bahwa ia
memukul mundur bangsa Mongol penyembah berhala dan me-
lanjutkan pengabdiannya pada jihad melawan kaum Frank: "Dia
berjihad dengan semangat yang paling tinggi dan memerangi
orang-orang kafir, yang sebab usahanya itu Allah kemudian
mem beri ny a ganjar an." | 26
Ibn Abd al-Zhihir berusaha keras menggambarkan pemimpin-
nya sebagai penerus Saladin yang pantas: dengan demikian, dalam
pandangannya, Baybars lebih unggul daripada Saladin. Sebagai-
mana dinyatakan oleh Holt dalam bukunya tentang Perang Salib,
Baybars yaitu prajurit yang lebih baik dibanding Saladin dan
tujuan-tujuan militernya lebih jelas-127 Dengan demikian, ada
landasan yang bagus untuk membentuk gambaran tentang Baybars
sebagai seorang mujahid teladan. Keponakan Ibn Abd al-Zhi,hil
Syif ibn 'Ali al-'fuqalini (w. 730 H.ll330 M.), menulis sebuah
biografi yang agak bersifat revisionis tentang Baybars sesudah sultan
itu dan pamannya wafat.r28 Meskipun begitu, seperti dikatakan
oleh Holt, Baybars yang menganut mazhab Syaf i masih menjadi
tokoh yang impresif dengan prestasi-prestasi yang hebat.r2e Penulis
biografi Baybars lainnya yang hidup di masa itu, Ibn Syaddid
(w. 684 H.ll285 M.), juga melihat Baybars sebagai seorang
pahlawan Islam sejati yang menaklukkan kembali wilayah-wilayah
kaum Frank.r3o
Pada awal 663 H.11265 M., Syif ibn 'Ali menyatakan bahwa
pemimpinnya, Baybars, akan berperang "sampai tidak ad












