Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 7

 


ompa dengan tujuan bersama, yaitu merebut kembali Yerusalem

dari tangan orang kafir. Dengan demikian, tidak salah bila di-

katakan bahwa pada sekitar tahun 1 187 kaum muslim telah

memperoleh keunggulan ideologis terhadap kaum Frank, ke-

unggulan yang telah lama tidak dimiliki kaum muslim. Pasukan

kaum muslim secara teratur kemudian ditemani oleh ulama yang

memberi semangat dan menasihati mereka, dan Saladin secara

terbuka dan pribadi ditampilkan sebagai orang yang mengabdi

untuk berjihad. Sekali lagi, Islam telah membuktikan dirinya

mampu bangkit dari dalam.

futi penting Yerusalem bagi Saladin diabadikan dalam sebuah

inslcipsi monumental yang bertanda tahun 587 H.ll191 M. atas

namanya di Kubah Yusuf (Dome of Joseph) di taman Haram:

"rqa yang jaya, ketulusan dunia ini dan agama [yang benar],

Sultan Islam dan kaum muslim, pelayan dua tempat suci dan

pelayan Yerusalem".6l

Selama berlangsung Perang Salib Ketiga, Saladin dan Richard

si Hati Singa berunding tentang Yerusalem. Richard bersumpah

tidak akan berdiam diri dan membiarkan Yerusalem tetap dikuasai

Saladin, yang dibalas Saladin dengan tegas:

Yerusalem bagi kami, sama seperti Yerusalem bagi Anda. Bahkan

bagi kami, Yerusalem jauh lebih penting, sebab  Yerusalem

merupakan tempar Nabi kami melakukan perjalanan malam dan

tempat orang-orang berkumpul pada hari kiamat. Jadi jangan

bayangkan kami akan ragu-ragu dalam masalah ini.62

Pengabdian Saladin terhadap Yerusalem diringkas oleh sumber-

sumber ini  lewat laporan-laporan renrang keterlibatan dirinya

dan pembangunan benteng-benreng pertahanannya (foto 4.94.10):

Selanjutnya (pada 589 H.lll93 M.), Saladin terlibat dalam

pembangunan benreng-benreng dan menggali parit pertahanan di

sekeliling Yerusalem. Ia sendiri bertanggung jawab atas pembangun-

an tersebur dan bahkan ikut memanggul batu-batu, sehingga semua

orang, kaya dan miskin, kuat dan lemah, mengikutinya, bahkan

termasuk penulis biografinya, 'imiduddin dan al-QAdhi al-Fidhil.63

NURUDDIN DAN SAIADIN: SEBUAH PERBANDINGAN

Para sejarawan muslim Abad Pertengahan menjadikan N0ruddin

dan Saladin sebagai teladan yang patut dicontoh.6a Akan namun ,

perbandingan antara Saladin dan pendahulunya yang rermasyhur,

Nirruddin, dibuat pada masa Saladin. Menurut 'lmXduddin al-

Ishfahini, Nfrruddin dan Saladin sama-sama layak dipuji dan ia

berpendapat bahwa Saladin merupakan penerus yang repar bagi

N0ruddin. Namun, dalam penilaiannya, Saladin lebih unggul

dibanding N0ruddin: "Dia memiliki semua sifat-sifat yang ada

pada Nfiruddin ... Dari Nfiruddtn, Saladin belajar prinsip-prinsip

kebajikan, dan kemudian saat berkuasa Saladin mengunggulinya

dalam hal ini ."65

Dalam karyanya yang disusun pada masa Ayyubiyah, Abfr

SyAmah (w. 665 H.ll258 M) merindukan kembalinya persatuan

keagamaan dan jihad. Karya sejarahnya diberi judul Kittb al-

Rautdhatayn (Kitab tentang Dua Taman). Judul yang bernada

romantis ini mengacu pada dua periode kekuasaan, yaitu masa

NCrruddin dan Saladin. Meski memuji keduanya sebagai orang-

orang hebat. AbO Syimah juga menyatakan: "Saladin lebih hebat

dalam hal jihad".66 Kata rawdhah, terutama dalam konteks yang

penuh dengan muatan religius ini, juga berarti 'surga', dan arti

ini mungkin dengan hati-hati disinggung di sini. AbCr Syimah

234 \ Cerole Hillenbrand

menggarisbawahi keunggulan Saladin atas N|rruddin dengan me-

negaskan bahwa Saladin menguasai wilayah yang lebih luas, dan

yang paling penting, Saladin yaitu  yang menaklukkan Kota

Suci.67

Penelitian belakangan ini menunjukkan bahwa penulis biografi

Saladin lainnya, Ibn Syaddid, kemungkinan telah menulis biografi

Saladin sebagai reaksi karya Ibn al-Atsir yang berjudul al-Bahir f

Tirikh Atabahat al-Mawsil (Sejarah Para Atabeg di Mosul). Se-

tengah dari karya ini berisi pujian-pujian terhadap tindakan dan

perbuatan Saladin. Dalam karya ini N0ruddin digambarkan se-

bagai seorang penguasa dan mujahid teladan, enggan terhadap

hal-hal yang bersifat duniawi, alim, dan adil. Holt menyatakan

saat  menulis biografi Saladin dengan penggambaran semacam

itu, Ibn Syaddid bukan hanya bermaksud memuaskan pemimpin-

nya, yaitu Dinasti Ayyubiyah, keluarga Saladin, namun  juga untuk

melampaui apa yang telah dicapai Ibn al-Atsir. Selain itu, Ibn

Syaddid juga ingin melegitimasi tindakan pemimpinnya itu yang

merebut wilayah-wilayah keluarga N0ruddin dan memberikan

pembenaran pada keberlanjutan kekuasaan Ayyubiyah sesudah 

kematian Saladin pada 1193.68

Terlepas dari segi persaingan dalam konteks penyusunan

biografi Nfrruddin dan Saladin, yang dianalisis dengan cerdas

oleh Holt, tidak dapat disangkal bahwa kedua pemimpin ini

merupakan pimpinan militer yang tidak memiliki hak untuk

memerintah berdasarkan ketentuan Islam. Mereka memperoleh

kekuasaan lewat kekuatan militer. Keduanya juga tidak memenuhi

persyaratan Syariat. Keduanya masih merasa harus memperoleh

legitimasi khalifah untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai

tokoh-tokoh muslim lainnya. Apalagi, ini yang penting, para

penulis biografi mereka saling bersaing dengan berlomba-lomba

menampilkan pemimpin mereka sebagai seorang pejuang jihad

yang saleh dan sebagai pemilik nilai-nilai sosok mujahid teladan,

bahkan meski bukti-bukti yang ada dengan jelas menunjukkan

kenyataan yang agak berbeda.

Secara umum, saat  berhubungan dengan sumber-sumber

Islam, sulit untuk berbicara dengan pasti tentang modf para pelaku

utama kelompok muslim yang terlibat dalam Perang Salib. Sum-

ber-sumber ini  kebanyakan ditulis sesudah  peristiwa-peristiwa


yang digambarkannya terjadi dan dengan jelas menun.iukkan

keberpihakan. Hal ini terjadi pada N0ruddin, yang sering kali

dipuji di dalam sumber-sumber Islam, dan bahkan jauh berlebihan

pada Saladin. Seperti dikatakan oleh Richards, ambisi, baik ambisi

pribadi maupun keluarga, bisa hadir berdampingan dengan cita-

cita moral dan agama.6e Yang pasti yaitu  pantas bila dikatakan

bahwa NCrruddin tidak memiliki  keuntungan yang jelas dari

dua penulis yang membentuk citra tertentu pada masa itu untuk

membentuk kesan tentang kariernya dengan cara seperti yang

mereka inginkan. Ini berbeda dengan Saladin. Ibn al-Atsir, yang

menulis dua generasi atau lebih sesudahnya untuk kalangan istana

para penerus Nirruddin, yaitu  penulis yang peranannya meng-

ingatkan kita pada peranan penulis biografi puji-pujian tentang

Nfiruddin. Meskipun demikian, dalam beberapa hal Ibn al-Atsir

tidak dalam posisi yang menguntungkan sebab  adanya jarak

waktu antara dirinya dan subjek yang ditulisnya.

Sebaliknya, para penulis biografi Saladin, menjelaskan lewat

retorika mereka bahwa pemimpin mereka itu, setidaknya dalam

pandangan para penulis biografi ini , mampu membuat para

penasihat dan pasukannya menjadi sangat setia. Bahkan banyak

di antara mereka yang bersedia mengorbankan jiwa untuknya.

Dan laporan-laporan mereka tentang karisma, keksatriaan, dan

kemurahan pribadi Saladin ditiru oleh para penulis sejarah Tentara

Salib dari kalangan Barat. Masalah ini  tidak dibahas di dalam

buku ini. Bersama-sama, mereka membentuk dasar-dasar tentang

legenda Saladin di Eropa Abad Pertengahan berikutnya, yang

kemudian diklaim kembali oleh umat Islam pada abad kesembilan

belas dan kedua puluh sebagai karya mereka. Keunggulan moral

Saladin dibandingkan orang-orang sezamannya, baik dari kalangan

muslim maupun Firisten, juga diakui di masa itu oleh musuh-

musuhnya, Tentara Salib. Citra dirinya, bahkan di kalangan

kelompok penentang Islam Eropa Abad Pertengahan tetap tidak

memiliki cacat, bahkan cenderung diromantiskan, dan begitu juga

pada masa saat  bangsa Eropa sangat memusuhi dan tidak

mengacuhkan Islam.

Sementara N0ruddin, ia tidak memperoleh hadiah yang paling

penting, Yerusalem. Thnpa Yerusalem, prestasinya tetap kalah

dramatis dibandingkan prestasi Saladin. Namun, pada masa

Nirruddin itulah dasar-dasar program propaganda jihad sepenuhnya

dibentuk. Saladin kemungkinan besar tidak akan berhasil kalau

saja NCrruddin tidak menyiapkan jalannya.

Menghadapi Tentara Salib, dan tantangan ideologis yang

mereka hadirkan, umat Islam di abad kedua belas secara perlahan-

lahan mampu membangkitkan gagasan jihad dari ketenggelaman-

nya hingga memungkinkannya untuk mengambil peran penuh

seperti yang digambarkan oleh para teoritikus hukum Islam di

dalam buku-buku mereka. Titik balik sebenarnya yaitu  karier

N0ruddin dan Saladin. Mereka tidak bisa dipisahkan. Keduanya

membentuk rangkaian kesatuan dalam konteks masalah ini. Pada

saat mereka berkuasa, Suriah dan wilayah-wilayah yang semakin

bertambah di sekitarnya dipimpin oleh seorang penguasa yang

kuat selama hampir lima puluh tahun. Selama periode setengah

abad yang penting ini, kaum muslim menikmati rasa keterikatan

dan persatuan yang sangat besar dan bisa merebut kembali Yerusalem

dari kaum Frank, yang jelas-jelas tidak memiliki kelanjutan kualitas

kepemimpinan seperti itu.

Yang jelas, para pimpinan militer muslim dan pengikutnya

di masa penting ini telah belajar cara memakai  perangkat

propaganda secara besar-besaran untuk mempersatukan kaum

muslim dan upaya kaum muslim secara bersama-sama untuk

melawan kaum Frank. Yerusalem pada dekade ini menjadi sasaran

utama upaya-upaya umat Islam dan identitas kaum muslim

ditunjukkan dan diapresiasikan sepenuhnya. Usai menaklukkan

Yerusalem, mungkin bisa dimengerti bila komitmen emosional

Saladin untuk berjihad mulai mengendur. lbn Zaki mendesak

umat Islam untuk terus berjihad, dan merebut kembali Thnah

Suci yang tersisa: "Teruskan Perang Suci; itulah cara terbaik yang

kalian miliki untuk mengabdi pada Allah, tugas yang paling mulia

dalam hidup kalian."7o Namun, bagi Saladin, sesudah  Yerusalem,

tidak ada lagi sasaran yang nilainya sebanding dalam hal ke-

dalaman emosinya yang dapat dibangkitkan lewat propaganda

jihad.


PENGANTAR HISTORIS TENTANG PERIODE AYYIJBIYAH,

589*647 H.l rt93-t249 M.

Dalam sebuah ulasan yang paling akhir ditulis, seorang ilmuwan

Amerika, Humphreys, menggambarkan hubungan antara pata

penguasa muslim Mediterania timur dengan negara-negara Salib

sesudah  kepergian Saladin sebagai 'tuatu teka-teki". Pastinya, Hum-

phreys dan ilmuwan lainnya telah berusaha keras untuk meme-

cahkan teka-teki ini,7r serta untuk menjelaskan "kebijakan-kebijakan

umat Islam yang sangat berubah-ubah dan tak pasti terhadap

negara-negara Salib sepanjang dekade antara tahun 1193 dan

1291".72

sesudah  Saladin wafat pada 589 H.lll93 M., wilayah-wilayah-

nya diperintah oleh anggota-anggota keluarganya sendiri, yang

kemudian dikenal sebagai Dinasti Ayyubiyah. Selama kekuasaan

Ayyubiyah, yang berakhir sesudah  dikudeta oleh Mamluk pada

647 H.11249 M., terjadi pertikaian sengit di dalam keluarga

Ayyubiyah dan periode damai dengan kaum Frank yang sering

terjadi dan berlangsung lama. "Negara" Ayyubiyah bisa digambar-

kan lebih sebagai "sebuah konfederasi wilayah-wilayah atau kerajaan-

kerajaan otonom".73

Secara internal, para penerus Saladin melanjutkan prinsip lama

berkaitan dengan pembagian wilayah-wilayah dan kekuasaan kon-

federasi yang telah bertahan hingga jauh ke timur lewat pen-

dahulunya, Dinasti Buwayhi dan Saljuk. Untuk sebagian besar

periode 1193 hingga 7250, ada  enam kerajaan Ayyubiyah.

Tiga penguasa Ayyubiyah-al-'Adil, adik Saladin (596-615 H.l

1200-1218 M.), al-Kimil (615-635 H.l1218-1238 M.) dan al-

Shilih 637-647 H.l 1240-1249 M.)-terkenal berhasil memegang

kendali atas kerabat mereka sebagai anggota keluarga senior.

Sebaliknya, masing-masing penguasa Aynrbiyah ini  menguasai

wilayah kecil di Suriah, yaitu Jazira (foto 4.17, 4.12) dan Mesir.

Mereka juga sering kali terlibat konflik di antara sesama mereka

mengenai kepemilikan wilayah-wilayah ini. Seperti dikatakan oleh

Holt, Saladin yaitu  pengecualian dalam keluarga Ayprbiyah, yaitu

bahwa ia memiliki kemampuan untuk mempersatukan kerabatnya

dan menciptakan kesetiaan bersama di antara mereka.Ta

Dalam hubungannya dengan kaum Frank, masing-masing

anggota keluarga Ayyubiyah memilih berdamai dengan mereka.


Di periode Aynrbiyah inilah kaum Frank mencapai integrasi penuh

sebagai penguasa lokal di kawasan Mediterania timur. Para pe-

nguasa Ayyubiyah beraliansi dengan mereka, atau berperang baik

melawan mereka dan di pihak mereka.

Pada tahun 1240-an, penguasa Ayyubiyah, al-Shilih Ismi'il,

menyerahkan beberapa  kastil di Galilee dan Lebanon selatan yang

telah ditaklukkan Saladin kepada kaum Frank: al-ShAlih Ismi'il

berinisiatif melakukan hal ini sebab  ingin mendaPatkan bantuan

dari kaum Frank untuk melawan keponakannya, al-Shilih Ayyfrb.

Para penguasa Ayyubiyah berusaha keras membina hubungan

komersial dengan negara-negara maritim Italia untuk mendapatkan

uang-dan perdamaian. Para penguasa Ayyubiyah memperoleh

kekayaan berlimpah dari pelabuhan-pelabuhan di kawasan

Mediterania timur, seperti Jaffa, Acre, dan Tirus. Mereka khawatir

setiap gangguan serius terhadap kedamaian di kawasan Mediterania

timur dapat memprovokasi kaum Barat Eropa untuk kembali

melancarkan Perang Salib berikutnya. sebab  itu, mereka lebih

memilih berdamai dengan kaum Frank daripada berkonfrontasi.

Contoh khusus pendekatan ini tampak saat  al-Kimil lebih


kelompok mereka, mereka akan mengirimkan balatentara kaum

Frank secara besar-besaran untuk menyerang Mesir.75 Humphreys

dengan yakin menyatakan bahwa para penguasa Aynrbiyah takur

terhadap kaum Frank "yang terus berdatangan kembali".76

Dengan demikian, para penguasa Ayyubiyah membiarkan

semangat emosional yang mencapai puncaknya dengan penaklukan

Yerusalem mengendur melalui perjanjian dengan kaum Frank, dan

pada saat khotbah-khotbah keagamaan masih sangat giat mem-

bicarakan jihad, diskursus Islam ini menjadi kurang berhubungan

dengan realitas politik pada periode Ayyrbiyah itu.

Pada periode ini, Yerusalem bahkan diserahkan kembali kepada

kaum Frank untuk sementara sebelum kemudian direbut kaum

Khawirazmi dari Asia tengah, yang setidaknya berstatus muslim.

Kedua peristiwa ini, yang kejadiannya relatif saling berdekatan

dalam masa setengah abad sesudah  Yerusalem kembali direbut oleh

Saladin, menjadi komentar bisu tentang sifat-semangat-ekstrem-

keagamaan yang sementara.

Ibn al-Atsir dengan pilu meratap bahwa jihad telah lenyap di

masa hidupnya:

Di antara para penguasa Islam kami tidak lagi melihat seorang

pun yang berniat mengobarkan jihad atau membantu ... agama.

Masing-masing terbuai dengan masa lalu dan kesenangan-kesenangan

mereka dan saling menyakiti sesama mereka. Buat saya, ini lebih

menakutkan dibandingkan dengan musuh .77

, Secara pasti, bukti-bukti ini  mengarah pada semangat

di era pasca-Saladin yang menggambarkan adanya suasana yang

lebih bersifat damai, dan bukan lagi semangat jihad. Memang,

sumber-sumber Islam yang mencatat peristiwa-peristiwa pada

periode ini lebih banyak membahas tentang pertikaian di kalangan

keluarga Ayyubiyah dibandingkan konflik dengan kaum Frank.

Ini menunjukkan kurangnya perhatian terhadap jihad, yang bahkan

mungkin telah menjalar pada beberapa  kelompok-kelompok ter-

pelajar.

Aliansi antara kelompok-kelompok agama dan pimpinan militer

yang dengan sangat berhasil dibentuk oleh Ntruddin dan Saladin

sebenarnya masih tersisa di kota-kota tertentu di Suriah pada

periode Ayyubiyah (lihat, foto 4.13, 4.14, 4.15, 4.1,6). Namun

demikian, aliansi itu telah kehilangan kekuatannya. Meski para

ahli propaganda dan penyair Ayyubiyah menghadiahi mereka

dengan gelar-gelar jihad, komitmen mereka untuk berjihad me-

lawan kaum Frank umumnya tidak kuat. Penguasa Ayyubiyah,

seperti juga tokoh-tokoh Islam lainnya saat itu (foto 4.77 dan

4.18) memperoleh berbagai gelar yang digambarkan oleh Balog

sebagai "protokol yang panjang, merdu, dan mementingkan diri

sendiri".78 Perbedaan antara gelar ini dan gelar-gelar lainnya pada

masa itu ada pada penegasan tentang jihad. Meski demikian,

beberapa dari gelar-gelar yang memuji perjuangan jihad Ayy,ubiyah

terdengar klise dan dibuat-buat dan sering kali hanya sedikit

hubungannya dengan aktivitas mereka yang sebenarnya dalam

melawan kaum Frank. Gelar-gelar ini  membentuk bagian

dari diskursus proses legitimasi para pemimpin militer yang telah


merebut kekuasaan dan meminta fatwa-fatwa agama.Te Gelar-gelar

seperti itu, yang digunakan dalam historiografi istana dan karya

puisi, bertujuan unruk mengangkar presrise tokoh-tokoh Ayyrbiyah

di mata penduduk yang mereka perintah dan di mara pesaing-

pesaing politik mereka.

Dua tokoh AJyubiyah, adik Saladin, al-Malik al-'Adil (w.

596 H.ll200 M.) dan putra Saladin, al-Malik al:Aziz'lJtsmXn

(w. 595 H./1198 M.) disebut-sebut dalam sebuah doa, ya.,g

teksnya masih bertahan dari periode rersebur. Doa itu memohon

kepada Allah untuk: "Membanru pasukan kaum muslim dan

mereka yang beriman kepada Allah Yang Esa dan para penduduk

di perbatasan timur dan barat wilayah tersebur". Kedua tokoh

Aryubiyah ini mendapat gelar jihad yang sangat berlebihan:

"Mujahid, pejuang di perbatasan, penakluk orang-orang kafir dan

musyrik, penakluk para pemberontak dan para pelaku bidah".8o

Contoh khas gelar jihad yaitu  gelar yang diberikan kepada

panglima Aybak (w. 646 H.ll24B-1249 M.), kepala pengawal


tokoh Ayyubiyah, al-Malik al-Mu'azhzham, dalam sebuah inskripsi

yang bertanda tahun 610 H.ll213-1214 M.: "lGatria jihad,

pejuang di garis perbatasan,s'orang yang dibela [oleh Allah], sang

pemenang, orang yang berperang [di jalan Allah], pembela per-

batasan atas nama agama [yang benar], pilar Islam ..."82 Aybak

dan pemimpinnya, al-Malik al-Mu'azhzham, yaitu ,83 seperti yang

terjadi, penentang utama kaum Frank. Namun, sering kali di

periode Ayyubiyah ada  kesenjangan antara gelar dan penam-

pilan yang sebenarnya dalam medan pertempuran melawan kaum

Frank.

Namun, jihad dapat dan telah diterjemahkan lebih luas, tidak

hanya memerangi orang kafir di perbatasan-perbatasan Islam

(gambar 4.15).Kita telah menegaskan dimensi spiritual jihad bagi

setiap muslim dan terutama para pemimpin militer. Juga ada

aktivitas lain yang membentuk bagian dari seluruh gerak jihad

dari periode N0ruddin dan selanjutnya. Bisa dimengerti bahwa

penguasa yang berjihad melakukannya di dalam dunia mereka

dan juga di luar dunia mereka: yaitu  tugas mulia mereka untuk

memerangi orang-orang musyrik dan orang-orang yang lalai men-

jalankan agama, dan mengkampanyekan a3ama yang teguh dan

keadilan Islam. Dalam hal ini, catatan tokoh-tokoh Ayyubiyah

lebih impresif. Di Damaskus saja, mereka berperan mendirikan

perguruan-perguruan agama (madrasah) (

Yf,RUSALEM PADA PERJODE AYYIJBIYAH

Berbagai peristiwa di Yerusalem pada periode Ayyubiyah menjadi

gambaran yang jelas tentang sikap pragmatis dinasti ini 

terhadap kaum Frank, dan kelompok-kelompok agama tidak bisa

berbuat apa-apa sekalipun mereka telah memprotes keras.

Seperti halnya Saladin, beberapa penguasa Apmbiyah tampak-

nya juga sama-sama merasakan kecintaan terhadap Yerusalem dan

tempat-tempat suci di sana serta keinginan untuk mendukung

terciptanya kehidupan religius di Yerusalem dengan mendanai

pengelolaan monumen-monumen Islam. Putra Saladin, al-Afdhal

(w. 622 H.|1225 M.), membangun dan mendanai sebuah sekolah

agama (al-Madrasah al-Afdhaliyah) bagi penganut mazhab Maliki

di Yerusalem pada sekitar tahun 590 H.ll794 M.85 Adik Saladin,

al-'Adil (w. 615 H.tl2l7 M.), membangun pancuran-pancuran

untuk berwudu dan juga untuk tempat minum di dalam kawasan

Haram. Tokoh Ayyubiyah lainnya, al-Mu'azhzham (w. 524 H.l

1226 M.), menyeponsori pembangunan kembali jalan-jalan beratap

di Haram al-Syarif (tempat suci di Yerusalem), bagian-bagian

Masjid Aqshi dan monumen-monumen lainnya, sementara banyak

juga inskripsi lainnya yang dapat ditemukan di sana. Aktivitas

pembangunan yang dilakukan di tanah suci ini  benar-benar

menunjukkan adanya kesadaran tentang arti penting tempat ter-

sebut khususnya bagi agama (lihat foto 4.26). Al-Mu'azhzham

membangun dua madrasah, satu untuk penganut mazhab Hanafi

yang disebut al-Mu'azhzhamiyyah pada 606 H.ll209 M. dan

satunya lagi madrasah yang mengajarkan bahasa Arab yang disebut

al-Madrasah al-Nahwiyab ("Sekolah Thta Bahasa") pada 604 H.l

1207 M.86

Namun, sekalipun mereka mempercantik dan menprcikan

Yerusalem, para penerus Saladin tampak tidak memiliki keinginan

untuk tinggal di kota itu dan menjadikannya sebagai ibukota

negara mereka. Dalam masalah ini mereka mengikuti jejak para

penguasa dinasti itu sebelumnya. Tidak satu pun di antara mereka,

sejak kebangkitan Islam, menjadikan Yerusalem sebagai pusat

kegiatan politik mereka. Bahkan Saladin sendiri sesudah  secara

gemilang merebut kota itu tidak menunjukkan keinginannya untuk

tinggal di sana. Ia tetap berada di Damaskus bila sedang tidak

melangsungkan operasi militer, yang secara tidak langsung me-

rupakan pengakuan terhadap realitas geofisik, politik, dan demografi

saat itu. Meski memiliki nilai kesucian dan propaganda, Yerusalem,

dengan meminjam bahasa modern, bukanlah ibukota yang cocok

bagi Ayyubiyah. Maka saat  semangat agama mulai padam pada

akhir tahun 1180-an, peranan politik Yerusalem kembali menjadi

lebih tidak penting dan sempit.

Yerusalem masih dalam genggaman umat Islam sampai ke-

datangan Perang Salib Kelima pada 616 H.ll219 M., yang

bertujuan menyerang pusat kekuasaan Islam di Mesir sebagai

pembuka jalan untuk merebut kembali kota suci ini . saat 

mendengar bahwa kaum Frank sungguh-sungguh berencana untuk

merebut Yerusalem, al-Mu'azhzham, sultan Ayyubiyah yang juga

telah berperan dalam proyek-proyek pembangunan di kota ter-

sebut, dengan terpaksa harus membongkar benteng-benteng per-

tahanannya, setidaknya sebab  khawatir Yerusalem akan jatuh ke

tangan kaum Frank. Menurut Sibth ibn al-Jawzi (w. 654 H.l

1257 M.), al-Mu'azhzham memberikan pembenaran atas tindakan-


nya yang tidak populer ini dengan mengatakan: "Kalau mereka

[kaum Frank] akan merebutnya [Yerusalem], mereka akan mem-

bunuh orang-orang di dalamnya dan menguasai Damaskus dan

negara-negara Islam. Keadaan darurat membuatnya harus dihan-

curkan."87

Penghancuran benteng-benteng Yerusalem ini memunculkan

perasaan sedih yang amat mendalam di kalangan penduduk

muslim setemPat:

Mereka mulai menghancurkan dinding-dinding ini  di hari

pertama bulan Muharam. Ledakan tangis di kota itu pecah sePerti

saat  Hari Kebangkitan. Para perempuan dan gadis-gadis, pria dan

wanita, tua dan muda, semua keluar menuju ke lKubah] Batu dan

Aqshi dan mereka memotong rambut mereka dan menyobek-nyobek

pakaian mereka sedemikian rupa sampai Batu dan mihrab AqshA

dipenuhi dengan rambut.88

Kejadian selanjutnya, penduduk muslim secara berbondong-

bondong meninggalkan kota ini .

Keadaan yang lebih buruk terjadi sepuluh tahun kemudian.

OIeh sultan Ayyubiyah, al-KAmil, Yerusalem diserahkan kepada

Kaisar Frederick II pada 626 H.ll229 M.8e Dalam perjanjian

yang ditandatangani keduanya, al-Kimil setuju untuk menyerahkan

Yerusalem selama 10 tahun. Umat Islam (dan kaum Yahudi) tidak

boleh masuk ke kota itu kecuali ke tempat suci (al-Hardm dl-

SyariJ), yang masih dalam genggaman umat Islam. Perjanjian itu

juga menyebutkan bahwa umat Islam yang akan menjalankan

ibadahnya di sana tidak boleh dihalang-halangi.

Salah seorang dari dua penulis sejarah yang hidup di sekitar

peristiwa itu, Ibn \7Ashil, berusaha membenarkan tindakan al-

KAmil itu:

Sultan al-KAmil mengatakan: "Kami hanya mengizinkan re-

runtuhan gereja dan biara. -Wilayah haram dan apa yang ada di

dalamnya termasuk Batu suci dan tempat suci lainnya tetap dalam

kekuasaan umat Islam sebagaimana sebelumnya dan simbol Islam

ada pada apa yang ada  di sana ldi haram)."eo

Dalam pandangan al-Kimil, kota yang tanpa benteng per-

tahanan seperti Yerusalem itu bisa direbut kembali untuk Islam

di kemudian hari. Pusat kekuasaan al-KAmil terletak di Mesir,

dan hilangnya pertahanan Yerusalem tidak menjadi ancaman

baginya: Yerusalem bisa diserahkan kepada kaum Frank yang

menginginkannya sebagai bagian dari perjanjian, untuk memasdkan

bahwa mereka tidak akan mengganggu Mesir. Sebenarnya tindakan

al-Kimil ini diambil demi keuntungan politik, kerena dia takut

dimusuhi para kerabatnya di Suriah, terutama saudaranya, al-

Mu'azhzham, dan dia membutuhkan dukungan militer dari

Frederick. Yerusalem menjadi bagian dari kesepakatan itu. Status

religiusnya sama sekali bukanlah sesuatu yang paling penting dalam


pertimbangannya.er Dengan demikian, keturunan Saladin sendiri

menyerahkan Yerusalem kembali kepada kaum Frank.

Peristiwa ini  menunjukkan bahwa secara straregis Yerusalem

tidak bermakna penting bagi para penguasa Ayyubiyah yang pusar

kekuasaannya berada di Mesir atau Suriah. Yerusalem selalu

memiliki nilai politis sebab  kaum Frank masih tetap ingin

memilikinya. Sekalipun masing-masing penguasa Ayyubiyah telah

menghiasi kota Yerusalem dengan monumen-monumen baru dan

fondasi kesalehan, pada akhirnya semua itu nilainya lebih kecil

dibandingkan dengan keuntungan politik.

Bisa diperkirakan bahwa tindakan al-Kimil menyerahkan

Yerusalem kepada Frederick membangkitkan kecaman dan ke-

marahan umat Islam. Sepanjang tahun 626 H.llZ29 M., penulis

sejarah Sibth ibn Jawzi menulis: "Di masa itu ftahun ini] al-

Kemil menyerahkan Yerusalem kepada kaisar rersebut ... Berita


penyerahan Yerusalem kepada kaum Frank sampai dan menimbul-

kan kepanikan besar-besaran di wilayah-wilayah Islam."e2

Sibth ibn al-Jawi, yang jvga seorang pendakwah terkemuka

saat itu, lalu menceritakan bahwa penguasa Ayyubiyah dari

Damaskus, al-Malik Da'ud, memintanya untuk berkhotbah di

Masjid Agr.g tentang peristiwa yang menimpa Yerusalem dan

secara emosional ia membesar-besarkan penghinaan yang menimpa

kota itu.e3 Selain Ibn al-Jawzi dan Ibn 'S7lshil, saksi mata lainnya

di saat itu, sumber-sumber Islam yang lain (kemungkinan sebab 

perasaan malu) cenderung menutupi babak peristiwa yang agak

memalukan ini.ea

Nasib Yerusalem menjadi semakin buruk. Kota ini  terap

dalam kekuasaan kaum Frank sampai sesudah  al-Klmil wafat pada

635 H.ll238 M. Yerusalem sempat dikembalikan beberapa lama

kepada Ayyubiyah pada 636 H.11239 M. di bawah al-Nashir

Da'ud, penguasa Kerak. namun , lagi-lagi sebab  pertikaian internal

di antara para penguasa Ayyubiyah, Yerusalem diserahkan kembali

kepada kaum Frank pada 641 H.11243-1244 M. sebagai imbalan

janji kaum Frank yang akan membanru al-Nashir Ddud dan

sekutu-sekutunya melawan penguasa Aynrbiyah di Mesir, al-Malik

al-ShAlih Ayyub.e5 Dengan demikian, dunia Islam lagi-lagi meng-

alami penghinaan sebab  Kubah Batu kembali menjadi milik kaum

Frank.e6 Saladin dan para ahli propagandanya sungguh meratap

di dalam kubur mereka atas pengkhianatan ini.

Nasib buruk Yerusalem mencapai puncaknya pada 642 H.l

1244 M. Untuk menghancurkan musuh-musuhnya, Sultan

Ayyubiyyah Najmuddin Ayy0b memanggil kaum Khawirazmi,

pasukan nomaden yang terusir (dulunya Suku Kipchak Tirrki)

yang telah terusir ke arah barat dari kampung halaman mereka

di fuia Tengah oleh invansi bangsa Mongol. Kaum Khawirazmi

menaklukkan Suriah dan Palestina dan menjarah Yerusalem pada

Rabiulawal 642 H.lfugustus 1244 M.e7 Mereka membunuhi dan

membantai orang-orang Bkisten dan merusak Gereja Makam Suci

dan gereja-gereja lainnya. Selanjutnya, dalam suatu aliansi yang

khas saat itu, pada Jumadilawal 642 H.loktober 1244 M., kaum

KhawArazmi dan Ayyubiyah Mesir bertempur di Harbiyyah me-

lawan Apmbiyah Suriah yang telah bergabung dengan Tentara

Salib. Pertempuran itu kemudian dimenangkan oleh koalisi

KhawArazmi-Ayyub iyah.

Sibth ibn al-Jawzi murka melihat kerja sama kaum muslim

dengan kaum Frank itu dan merindukan hari-hari damai saat 

umat Islam bersatu. Sambil meratapi pasukan muslim yang ber-

tarung di bawah bendera kaum Frank dengan salib di atas kepala

mereka dan diperintah oleh para pendeta, Ibn al-Jawzi me-

lanjtrtkan: "Hari itu yaitu  malapetaka, hari yang tidak pernah

terjadi di [awal] Islam maupun pada masa N0ruddin dan Saladin."e8

Yerusalem kemudian diperintah dari Mesir.ee Sikap kepala

batu para penerus Ayyubiyah terhadap Yerusalem dan lebih me-

milih Mesir sebagai pusat kekuasaan terus berlanjut sampai mas,r

akhir dinasti ini . Bahkan al-Shilih Ayyfib menasihati putra-

nya, TirrAnsyih, sultan terakhir Ayyrbiyah Mesir: "Bila, mereka

[kaum Frank] menuntut pantai dan Yerusalem darimu, segera

berikan tempat-tempat itu dengan syarat mereka tidak meng-

injakkan kaki di Mesir."roo

Gambaran suram tentang kondisi politik yang sebenarnya

pada masa Aynrbiyah diperparah dengan ketidakpedulian terhadap

jihad, dan nasib Yerusalem kadangkala diubah oleh para penguasa

Ayynbiyah di Suriah. Aliansi antara kelompok-kelompok agam^

pada periode Ayyubiyah dan kepemimpinan militer masih lebih

kuat di Suriah dibanding di Palestina. Ilmuwan modern, Sivan

dan Pouzet, mengatakan bahwa dua tokoh Ayyubiyah, al'

Mu'azhzham 'lsX, dan putranya, al-Nashir Da'ud, menunjukkan

semangat jihad yang sesungguhnya, sekaligus menyelamatkan reputasi

dinasti ini , setidaknya hingga tingkat tertentu.rol Kota Damaskus

dan khususnya komunitas Hanbali, al-Shalihiyyah, masih tetap

menjadi lingkungan yang subur dengan semangat jihad. Di kota

ini setidaknya dihasilkan dua perjanjian jihad pada periode

Aynrbiyah, satu oleh Ibn Qudimah (w. 620 H.ll223 M.) dan

satunya lagi oleh Dhiyi'uddin al-Maqdisi (w. 643 H.11245 M.).

Secara umum, seruan kelompok-kelompok agama terhadap

perkembangan jihad melawan kaum Frank-yang telah melang-

gengkan dan memperkuat aktivitas Saladin, terutama pada tahun-

tahun sebelum penaklukan Yerusalem-bagi sultan-sultan ini lebih

dianggap sebagai hal yang memalukan daripada sebagai pendorong.

Mereka lebih memilih sikap Pragmatis daripada bersikap saleh

dan berusaha menyesuaikan diri dengan kaum Frank. Kadangkala

sumber-sumber ini  menunjukkan tekanan tegas kelompok-

kelompok agama agar penguasa berjihad. Salah saru contohnya

yaitu  suatu peristiwa yang terjadi pada awal tahun 601 H.l

7204 M., saat  Ibn Qudimah secara rerang-terangan menuduh

Sultan Ayyubiyah al-'Adil mengabdikan dirinya untuk memerangi

sesama muslim dan mengabaikan jihad melawan orang kafir.ro2

KEKUATAN PARA PENDAKWAH DAIJ"M MENDORONG MASYAMMI

UNTUK BERJIHAD

Penulis sejarah Sibth ibn al-Jawzi menjelaskan peristiwa yang

terjadi sebelum kampanye militer tokoh Ayyubiyah al-Mu'azhzham

'isi pada 607 H.tl210-1211 M. Sibth ibn al-Jawzi sendiri

merupakan salah satu pendakwah rerbesar pada saat itu dan dia

memakai  kemampuannya untuk memobilisasi penduduk atas

nama penguasa:

Saya duduk di masjid jamik pada hari Sabtu, 5 Rabiulawal,

dan orang-orang berbondong-bondong berbaris dari gerbang makam

Zainul Abidin hingga gerbang al-Natifanin dan gerbang lonceng.

[Banyaknya orang] yang berdiri di halamanro3 jauh lebih banyak

daripada orang yang memenuhi Masjid Damaskus [untuk salat

Jumat]. Mereka diperkirakan sekitar 30.000 [orangJ dan peman-

dangan di hari seperti itu belum pernah terlihat di Damaskus atau

di tempat lain.

Begitulah kemasyhuran Sibth ibn al-Jawzi sebagai seorang

pendakwah sehingga mampu menarik orang jauh lebih banyak

daripada orang yang datang salat Jumat: yang pasti, Masjid Agung

di Damaskus bisa menampung jamaah yang jauh lebih banyak.'oa

Sibth ibn al-Jawzi mengatakan untaian-untaian rambut ber-

datangan menjadi miliknya dan dia menceritakan sebuah kisah

tentang seorang wanita yang memotong rambutnya dan mengirim-

kan rambut itu padanya, dengan mengatakan: "Jadikanlah rambut

ini sebagai tali kekang kudamu di jalan Allah."

Contoh kesalehan agama yang menggambarkan rasa peng-

abdian ini menunjukkan adanya peranan kaum perempuan dalam

aktivitas jihad bersama dalam komunitas ini  dan digunakan

untuk memberi efek yang sangat kuat dalam kisah seterusnya

yang diceritakan oleh Sibth ibn al-Jawzi:

Jadi saya kemudian membuat ikatan dan kekang bagi kuda-

kuda ksatria jihad (mujahidin) dari rambut-rambur yang saya

peroleh. saat  saya naik mimbar, saya perintahkan agar ikaran

dan kekang itu dibawa dan dipasang di leher para pria. Jumlahnya

ada 300 kekang. saat  orang-orang mengikatnya, tangisan pecah

dan mereka ikut memotong [rambut mereka].t05

Pemandangan-pemandangan seperti ini menunjukkan kekuatan

persuasif para pendakwah untuk menggerakkan penduduk agar

ikut berjihad.

Pada periode Ayyubiyah itu, terkadang krisis eksternal yang

serius bisa mendorong para penguasa bertindak bersama-sama

melawan kaum Frank. Kejatuhan Damietta pada 516 H.ll219

M. yaitu  satu contoh peristiwa yang jarang terjadi itu, yaitu

saat  para penguasa Aynrbiyah menunjukkan solidaritas mereka.

Pada kesempatan itu Sibth ibn al-Jawzi membacakan sepucuk

surat yang dikirimkan al-Mu'azhzham 'isi di Masjid Agung

Damaskus dengan maksud membangkitkan semangat warga 

untuk berjihad.'06

TINJAUAN TENTANG _______________AYYI.JBIYAH

Dilema antara tekanan keuntungan politik dan jihad melawan

kaum Frank, yang tampak jelas pada periode Ayyubiyah, tentu

saja, telah tampak pada mereka sejak awal Perang Salib. Namun,

perilaku keluarga Ayyubiyah-keengganan mereka untuk berjihad

dan penyerahan Yerusalem kepada kaum Frank-telah dikritik

pada masa itu dan dikecam sebagai pengkhianatan terhadap cita-

cita dan usaha pendahulu mereka yang terkenal, Saladin.

Penilaian ini kiranya layak untuk diperiksa kembali apakah

telah benar-benar adil. Perhatian terhadap jihad yang menandai

tahun-tahun terakhir masa kekuasaan Saladin sampai ia merebut

Yerusalem mungkin harus dilihat sebagai pengecualian, puncak

emosi yang jarang dialami kaum muslim, sekalipun itu berkaitan

dengan karier Saladin sendiri. Sebagian besar masa dewasa Saladin

digunakan dalam kerangka yang lazim di zaman itu, yaitu aliansi

yang berubah-ubah, gencatan senjata, dan perebutan wilayah yang

picik, sama seperti yang dilakukan oleh para penguasa dan pim-

pinan militer lainnya. Cara-cara seperti ini menjadi model tetap

para penguasa Ayyubiyah berikutnya. Seperti yang telah kita lihat,

yaitu  pada masa kepemimpinan Saladin, dan barangkali juga

sebab  pribadinya yang karismatik, kelompok-kelompok agama

berusaha menyertakan pimpinan militer dan penduduk secara

besar-besaran dalam kampanye terfokus yang jarang terjadi, yaitu

melawan kaum Frank. Untuk sementara, jihad mengungguli retorika

para ahli propaganda dan jihad juga memperlihatkan kekuatan

umat Islam yang sesungguhnya di Suriah dan Palestina untuk

menaklukkan Yerusalem. Bagi para penguasa Aynrbiyah berikutnya,

Yerusalem merupakan hal yang tidak begitu penring: terkadang

Yerusalem bisa menjadi sasaran utama mereka untuk menampilkan

kesalehan di muka rakyat, namun Yerusalem lebih sering menjadi

korban realisme-militer-mereka yang keras kepala.

Ada berbagai faktor yang menyebabkan para penguasa Ayyrrbiyah

tidak memiliki ketulusan dalam berjihad melawan kaum Frank.

Mereka sangat tertarik dengan keuntungan-keuntungan yang me-

reka peroleh dari perdagangan dengan kaum Frank dan dunia

yang lebih luas, dengan memakai  pelabuhan-pelabuhan kaum

Frank. Kepentingan bersama terhadap pertahanan lokal Suriah

dan Palestina tidak diragukan lagi memotivasi Ayyubiyah dan

kaum Frank untuk sesekali bersatu melawan agresor dari luar,

kelompok KhawS.razmi, kaum Frank dari Eropa, arau bahkan

pesaing Ayyubiyah dari Mesir. Yang pasti, pada awal periode

Aynrbiyah, di tahun-tahun pertama sesudah  Saladin wafat, tak

terhindarkan lagi telah terjadi anti-klimaks emosi sesudah  Yerusalem

direbut kembali. saat  Saladin, sang pimpinan militer karismatik,

telah pergi, dan sasaran utama untuk berjihad di masa Saladin,

yaitu jihad untuk merebut kembali Yerusalem, telah hilang, para

elite Ayyubiyah tidak lagi memiliki keinginan bersama untuk

menyelesaikan tugas ini  dan mengusir kaum Frank secara

total. Masing-masing penguasa Alyubiyah di dalam konfederasi

ini  bisa mengambil sikap sendiri dalam bernegosiasi dengan

kaum Frank.ro7 Dengan cara yang sejak dulu telah dipraktikkan

oleh para leluhur mereka, masing-masing penguasa Ayyubiyah

mempertahankan wilayah mereka dari semua pendatang, kaum

muslim ataupun kaum Frank, dan bersatu dengan penguasa

setempat lainnya untuk melawan orang-orang luar pada saat terjadi

krisis eksternal.ros

PERIODE MAMLUK SAMPAI PENAKLUKAN ACRE,

648490 H.lt250-r29r M.

Saladin tentu saja tidak mengusir para Tentara Salib dari Timur

Dekat secara total. Acre dan sebagai besar pantai Suriah masih

tetap dikuasai para Tentara Salib hingga abad berikutnya. 'STilayah

itu disisakan bagi Dinasti Mamluk dari Mesir, yang melanjutkan

tradisi keluarga Saladin, untuk merebut Acre pada 590 H.ll29l

M. dan sekaligus mengusir para Tentara Salib dari wilayah muslim

untuk selama-lamanya. Jihad berperan penting dalam mendorong

dan memberikan semangat bagi tercapainya kegemilangan militer

Mamluk.

Naik tahtanya Mamluk pada 648 H.ll250 M. menjadi awal

berdirinya dinasti baru yang bertahan sampai Mesir ditaklukkan

oleh Dinasti 'lJtsmani pada 922 H.ll516-1517 M. Para penguasa

baru ini , para panglima resimen Mamluk, benar-benar di-

siapkan untuk menghadapi masa-masa sulit di kemudian hari.

Memang, di periode awal berdirinya Dinasti Mamluk terjadi

serangan besar-besaran terakhir bangsa Mongol di Timur Tengah

serta aktivitas dan pendudukan Perang Salib yang tiada henti.

Pasukan Mongol yang dipimpin Hi.ilegi.i menyerang lewat Suriah

dan mengancam Mesir. Pasukan Mamluk di bawah komando

Baybars yang kemudian menjadi Sultan menghadapi pasukan

Mongol yang kelelahan di bawah pimpinan Kitbogha Noyan dan

mengalahkan mereka pada pertempuran Ayn Jilfrt di bulan

Ramadan 658 H./September 1260 M. Tidak lama sesudah  itu,

terjadi kudeta berdarah yang mengakhiri ketidakstabilan Pertama

Gambar 4.20

lnskripsi menorik podo

tempot lilin Ktbugho, logam

hias, awal tohun 1290-on,

kemungkinon Mesir.


di jantung negara Mamluk. Baybars mengangkat dirinya menjadi

Sultan. Di bawah pimpinan Baybars yang tegas, Mamluk meng-

habisi Ayyubiyah di Mesir, memperluas kekuasaannya sampai ke

Suriah, dan dilanjutkan dengan menyerang bangsa Mongol dari

timur. Tidak seperti pendahulunya, Dinasti Ayyubiyah, sultan-

sultan Mamluk harus menghadapi bangsa Mongol sejak awal

dinasti itu berdiri. Kondisi ini membentuk kebijakan-kebijakan

internasional mereka dalam waktu sangat singkat. Seperti di-

ungkapkan oleh Bargue:

Tentara Salib Eropa dalam beberapa hal merupakan masalah

paling kecil yang dihadapi kaum muslim saar itu: yang lebih

mengancam terhadap kehidupan sosial dan politik yaitu  gelombang

serangan dan pendudukan yang tiada henti dari Tirrki dan Mongol,

yang mencapai puncaknya dengan terjadinya gelombang imigrasi

Mamluk sendiri.roe

Laporan yang bersemangat dan diromantisasi tentang Mamluk

diberikan oleh sejarawan muslim Afrika Utara terkemuka, Ibn

Khaldirn (w. 808 H./1406 M.) yang menggambarkan bahwa

Mamluk memiliki:

keteguhan hati orang beriman yang sesungguhnya dan juga

dengan kebajikan-kebajikan nomaden yang tak dinodai oleh sifat

rendah, tidak bercampur dengan kotoran kesenangan, bersih melalui

cara-cara- kehidupan beradab, dan dengan keinginan mereka yang

tidak lebur oleh gelimang kemewahan.rr0

Meskipun "orang-orang nomaden" ini diromantisasi, yang

menjadi tanda dari model orang-orang tak terdidik tapi memiliki

sifat yang baik, pujian Ibn KhaldCrn atas cara Mamluk mem-

bangkitkan Islam Timur Dekat dalam banyak hal dibenarkan.

Dengan pusat pemerintahan di Kairo dan bukan di Suriah, dan

tetap menjauhkan diri secara formal dari orang-orang pribumi

yang mereka perintah, Mamluk membentuk negara yang sangat

terpusat, yang dalam sumber-sumber fuab biasanya disebut sebagai

"negara Tirrki" (Dawlat al-Atrah), yang menunjukkan ikatan yang

luar biasa dan bisa menjadi front bersatu melawan para Tentara

Salib. Meskipun mereka telah merebut kekuasaan, kemenangan

mereka atas bangsa Mongol dan kaum Frank mengangkat Prestise

mereka menjadi lebih tinggi.

272 \ Catole Hillenbrand

Di bawah pimpinan Baybars, negara Mamluk memulai era

agresi yang semakin meningkat melawan kaum Frank.rrr Ke-

lompok-kelompok agama yang menulis sejarah mereka menampil-

kan gambaran yang aneh dan sulit dimengerti, seragam, dan secara

umum menguntungkan bagi dinasti ini. Namun, gambaran yang

menguntungkan ini tampaknya benar-benar bertahan. Di luar,

sultan-sultan Mamluk dilihat sebagai ksatria jihad paling agung,

sementara di dalam negaranya mereka menerapkan keadilan sejati

dan menumpas kaum pemberontak dan kaum bidah. Mereka

tertarik dengan tampilan-tampilan keagamaan di muka umum

dan bersedia mengenakan jubah para pemimpin dunia Sunni.

Mereka melindungi kelompok agama-agama, menunaikan ibadah

haji, dan banyak membangun monumen yang dipersembahkan

untuk Islam, bukan hanya atas alasan politik, tapi juga sebab 

keinginan dan kesalehan yang sebenarnya (foto 4.27). Banyak

anggota kader militer Mamluk itu sendiri sebenarnya yaitu  ahli-

ahli agama. Dengan meyakinkan, Barkey berpendapat bahwa Islam

tidak pernah menjadi kesatuan yang monolitik dan statis, dan

Mamluk telah membantu membentuk Islam dari dalam tanpa

keterlibatan orang luarrr2-agama, peradaban, dan warga -

lebih dari yang dikenal sebelumnya.

Mamluk sangat berhati-hati agar aktivitasnya dilegitimasi dan

mereka melaksanakan jihad dengan menunjukkan kekuatan dan

keyakinan kepada orang-orang. beberapa  warisan spiritual dari

, khalifah 'Abbasiyah di Baghdad yang telah dihancurkan oleh bangsa

Mongol pada 656 H.ll258 M. dibangkitkan kembali, yaitu dengan

pembentukan pemerintahan boneka Abbasiyah di Kairo pada 659

H.ll262 M. Langkah ini merupakan ciri khas dinasti baru ini

yang suka menampilkan kesalehannya, seperti halnya teladan pem-

baharuan jihad, dengan lebih menekankan pada aspek-aspek militer

dari konsep ini -perang melawan orang kafir.

Baybars yaitu  tokoh utama yang memulai proses pengusiran

pasukan kaum Frank dari Timur Dekat secara tuntas. Ia memulai

serangkaian operasi militer yang berhasil pada tahun 1260-an.

Tekanan dari musuh baru, yaitu bangsa Mongol, dan kehadiran

kaum Frank yang tiada henti membentuk dorongan yang sangat

kuat untuk menyalurkan kekuatan dinasti baru ini .

.

Selain keahlian militer Baybars yang sangat luar biasa, bersamaan

dengan kenaikannya, Baybars juga diuntungkan oleh nasib baik-

dan ini jarang terjadi. Bangsa Mongol tengah tercerai-berai sesudah 

mereka mundur dari Suriah pada 1260 dan dalam perang melawan

kaum Frank, Baybars mampu memanfaatkan pengungsi muslim

Irak, yang masih dikuasai bangsa Mongol, yang sangat besar

jumlahnya dan tumpah-ruah di Suriah dan Mesir. Meskipun

begitu, Baybars merupakan sultan yang brilian dan tak kenal

ampun dan seorang pemimpin militer yang penuh semangat,

dengan masa kekuasaan yang sangat lama. Operasi-operasi militer-

nya direncanakan dengan sangat baik. Sebelum menyerang kaum

Frank, Baybars membungkam semua penentang otoritas penuhnya

di pihak tokoh-tokoh Ayyubiyah. Dengan kata lain, dalam pola

yang biasa, ia ingin mempersatukan kaum muslim di Mesir dan

Suriah dan mengamankan pusat kekuasaannya.

Pada 663 H.ll256 M., Baybars memulai serangkaian serangan

terhadap kaum Frank yang berlanjut hingga tahun 670 H.l127l

M. Sepanjang tahun ini , benteng-benteng penting kaum

Frank jatuh ke tangan kaum muslim. Antiokhia yang dikuasai

kaum Frank tanpa gangguan sejak 1097 juga ditaklukkan. Pada

saat yang sama, Baybars memerangi bangsa Mongol yang menyem-

bah berhala,rr3 umat lGisten di Armenia Kecil, sesama muslim di

Anatolia, dan kaum "bidah" Ismailiyah. Dari total tiga puluh

delapan operasi militer yang dilancarkannya ke Suriah, dua puluh

satu di antaranya dilancarkan terhadap kaum Frank. saat  wafat

pada 676 H.ll277 M., Baybars telah berhasil membuat ke-

hancuran besar-besaran di pihak kaum Frank. Tujuan utama

operasi militer Baybars itu bisa dianggap defensif-untuk meng-

amankan perbatasan-perbatasan negara Mamluk dari orang-orang

kafir timur dan barat. Aktivitasnya melawan kaum Frank menjadi

bagian utama dari citra Baybars yang diciptakan oleh ahli-ahli

propagandanya, yaitu bahwa ia yaitu  seorang pejuang jihad yang

hebat dan pembela dunia Islam. Legenda perjuangannya tetaP

hidup dalam kisah rakyat yang populer, Sirat Baybars.


GELAR JIHAD BAGI DINASTI MAMLUK-BUKTI INS KRIPSI-INSKRIPSI

MONUMENTAL DAN DOKUMEN-DOKUMEN RESMI

Bisa diperkirakan, dengan prestasi-prestasi militernya melawan

orang-orang kafir, kaum Frank penganut Kristen, dan bangsa

Mongol penyembah berhala, sultan-sultan Mamluk dihadiahi gelar-

gelar jihad yang hebat oleh para penulis sejarah dan prasasti

mereka.

Pada tiga inskripsi yang bertangal Zulhlah 664 H.lseptember

1266 M. yang ada  di mosoleum di Hims, Suriah, Baybars

digambarkan dengan kata-kata yang sangar menyala sebagai seorang

pejuang jihad agung. Salah satu inskripsi itu menjuluki dirinya:

Sultan, tokoh pemenang, tiang dunia dan agama, sultan agama

Islam dan umat Islam, pembunuh orang-orang kafir dan musyrik,

penumpas pemberontak dan bidah, penegak keadilan di dua dunia,

pemilik dua lautan, penguasa dua kiblat, pelayan dua tempat mulia,

pewaris kerajaan, sultan bangsa Arab, Persia dan Tirrki, Aleksander

masa kini, penguasa tempat penghubung yang beruntung, Baybars

yang Saleh, sahabat Panglima orang Beriman.rra

Di inskripsi itu juga rercatat bahwa inskripsi itu diukir "pada

saat perjalanannya [Baybars] melewati [Hims] untuk berperang

khaz\ di tanah Sis [fumenia]."rts

Inskripsi ini merupakan dokumen historis yang bernil ai yang

berasal dari masa itu. Peristiwa itu berlangsung pada saat yang

tepat: Baybars sedang dalam perjalanan untuk melaksanakan jihad

melawan kaum Kristen Armenia. Gelar itu merupakan penjelasan-

nya. Di dalam inskripsi itu Baybars dicatat sebagai pembela Islam,

penguasa yang adil dan pejuang melawan orang kafir. Pola pe-

nyusunan kata-kata yang terdiri dari makna-makna yang ber-

lawanan yang ditempatkan dengan tepat dan hati-hati, dan peng-

gunaan perangkat-perangkat seperti itu, seperti pasangan kata-

kata yang saling bersahutan, atau akhiran bersajak, memberikan

nada yang lantang dan formal pada ungkapan yang memberi

pernyataan dan penegasan semacam ini. Baybars ditampilkan

sebagai pembela tempat paling suci bagi Islam di Hijaz. Seperti

halnya Timur Lenk yang datang kemudian, Baybars dijuluki

sebagai Aleksander zaman itu, orang yang dibantu dengan tanda-

tanda pernujuman menguntungkan untuk memimpin seluruh


dunia Islam-Arab, Persia, dan Tirrki. Retorika aneh seperti itu

(Mamluk tidak dan tidak pernah akan berkuasa di Timur) disertai

dengan pandangan yang jelas terhadap nilai publisitas lokasi

inskripsi ini . Ini bukan monumen biasa untuk tempar me-

mahat inskripsi pada saat Baybars dan pasukannya melalui Hims.

Akhirnya, monumen ini merupakan mosoleum bagi jenderal Arab

muslim paling terkenal, "Pedang Islam, Sahabat Rasulullah, Khalid

ibn \7alid," arsitek agung penaklukan Islam pertama di abad

ketujuh. Dengan demikian, di mata para ahli propagandanya,

Baybars dilihat sebagai pembentuk rantai abadi antara masa

kejayaan Islam dan prestasi-prestasinya sendiri atas nama iman.

Hubungan yang lebih eksplisit dengan kaum Frank ditunjuk-

kan dalam inskripsi yang masih tersisa atas nama Baybars pada

Benteng Safad yang bertanda tahun 666 H.ll267-1268 M;

Dia memerintahkan untuk merenovasi benteng dan kubu

pertahanan ini. Dia juga memerinrahkan agar pembangunan gedung

iru diselesaikan dan dihias sesudah  dia membebaskannya dari ke-

kuasaan kaum Frank yang terkutuk dan mengembalikan ke tangan

kaum muslim, sesudah  merebutnya dari kekuasaan para Ksatria Kuil

kepada kekuasaan kaum muslim.

Inskripsi ini memuji usaha-usaha Baybars dalam jihad: "Dia

telah berusaha dan berjuang (jahada) sampai dia mengubah orang

kafir menjadi beriman, lonceng gereja menjadi seruan salat, dan

Injil dengan Alquran."r16Inskripsi ini merayakan direbutnya Safad

oleh Baybars, yang digambarkan oleh Ibn al-FurAt dengan jelas


sebagai "penghalang di tenggorokan Suriah dan penyumbat di

dada kaum muslimD.rrT

Praktik pencararan prestasi-prestasi gemilang sultan-sultan

Mamluk dalam inskripsi-inskripsi monumenral terus berlanjut

dengan cepat selama mereka berkuasa. Lima puluh tahun pertama

dalam perjalanan dinasti ini  ditandai dengan penekanan

terhadap jihad dan rema-tema yang berkaitan. Contoh jelas gelar

Mamluk ini  yaitu  inskripsi yang ada  di benteng Aleppo

yang bertanda tahun 691 H.ll292 M. atas nama Khalil ibn

Qaliwfin, yang disebut :

penakluk penyembah salib, Alelsander zaman ini, ... penguasa

pasukan kaum Frank, Armenia dan Thrtar, penghancur Acre dan

wilayah-wilayah pantai, yang membangkitkan kembali negara

Abbasiyah yang termasyhur.r18

Ini merupakan rangkaian gelar yang lebih jelas dan ambisius

dari gelar yang pernah diperoleh N&ruddin pada periode sebelum-

nya. Inskripsi ini  memuat pernyataan renrang kemenangan

gemilang Mamluk melawan kaum Frank. Secara khusus, inskripsi

ini menyoroti kaum Frank dengan istilah yang lebih buruk: "para

penyembah salib" (yang merupakan ungkapan yang tak lazim

pada suatu monumen), dan mengacu dengan jelas pada kebijakan

Mamluk untuk meratakan pelabuhan-pelabuhan di kawasan

Mediterania timur dengan tanah lewat ungkapan "penghancur

Acre dan wilayah-wilayah pantai". Inskripsi itu selanjutnya me-

nempatkan Kerajaan Mamluk secara tegas di bawah bendera Islam

Sunni, dengan mengingatkan bahwa merekalah yang telah mem-

bangkitkan kembali nasib baik kekuasaan Khalifah Abbasiyah.

Dengan mengutip karya terdahulu yang ditulis oleh al-'Umari

(w.749 H.ll349 M.), buku pedoman resmi karya al-Qalqasyandi

(w. 821 H.ll418 M.), yang di dalamnya peru pencarar sejarah

digambarkan dengan ungkapan gelar yang panras, menyebutkan

gelar-gelar terhormat yang harus diberikan kepada sultan Mamluk:

lsatria jihad, orang-orang yang tinggal di ribAth, pembela garis

perbatasan, ... sultan Islam dan umat Islam, penegak keadilan di

dua dunia, pemberi keadilan kepada orang-orang yang telah dizalimi

oleh para penindas, sultan bangsa Arab, Persia, dan Turki ...

Alelsander zaman ini ... tokoh dua lautan, ... pelayan dua tempat

mulia ... orang yang dekat dengan Panglima Orang-Orang Ber-

iman.lle

Gelar-gelar ini sungguh sangar mirip dengan gelar-gelar yang

dipersembahkan kepada Baybars di mosoleum Khilid ibn \falid.

Thk pelak lagi, bersamaan dengan al-'umari, gelar-gelar ini telah

diabadikan dalam praktik pemerintahan sebagai gelar-gelar resmi

bagi sultan Mamluk yang akan digunakan pada dokumen-dokumen

resmi. Ini semua merupakan protokol-protokol yang muluk-muluk,

deretan gelar yang lagi dan lagi menekankan mandat keagamaan

pada sosok seorang sultan, yang digunakan dalam monumen-

monumen terpilih di dalam inskripsi-inskripsi yang dituliskan pada

momen-momen penting pada saat Mamluk memperoleh ke-

menangan atas kaum Frank, Armenia, atau Mongol. Tidak di-

ragukan lagi bahwa para juru tulis istana yang memberikan

instruksi-instruksi yang tepat kepada para penulis mengenai apa

yang harus dicantumkan di monumen-monumen ini .


sesudah  penaklukan fus0f pada 663 H.ll265 M., Baybars

membuat keputusan untuk memberikan kekuasaan kepada para

panglimanya untuk memiliki beberapa  wilayah yang telah ditakluk-

kan. Masing-masing panglima ini  mendapat sertifikat ke-

pemilikan, yang teksnya dikutip oleh penulis sejarah Ibn al-Furit.

Kutipan itu merupakan contoh prosa puji-pujian resmi yang

menyanjung keberhasilan Baybars. Pemerintahan Baybars, ber-

dasarkan teks-teks ini, sama-sama sangat menyenangkan, sebagaimana

pemerintahan Dinasti Ayyubiyah:

Pertolongan paling baik yaitu  yang diberikan sesudah  keputus-

asaan, datang saat  raja-raja telah lemah dan orang-orang diabai-

kan. Sungguh pertolongan yang luar biasa bagi agama Muhar-nmad

yang kemudian mempersatukannya, dengan membuka pintu bagi

penaklukan saat  dua musuh, kaum Frank dan Tartar, ditakluk-

kan.l20

Ungkapan dalam dokumen itu selanjutnya terus meninggi

dan mencapai klimaksnya dalam memuji Baybars, menggambar-

kannya dengan pernyataan-pernyataan berikut:

Semua ini telah dicapai oleh orang yang ditunjuk oleh Allah,

yang dianugerahi sebilah pedang terhunus yang digunakan untuk

menyerang. Angin bantuan keramat telah didatangkan untuk me-

layaninya dan menahan pijakan kakinya saat dia berangkat menuju

rumah Kemenangan, dengan mengadakan per.jalanan siang dan

malam. sesudah  melihatnya berada di dalam istananya, Keber-

untungan menjadikannya seorang raja: dengan memujinya, ia ber-

seru: "Ini tidak abadi".r2r

Dengan demikian, kita melihat bahwa para penulis istana

menggambarkan Baybars sebagai orang pilihan Allah, penakluk

bangsa Mongol dan kaum Frank, sultan pemurah hati yang

membagi wilayah-wilayah taklukkannya dengan orang-orang yang

telah membantunya menuju kemenangan yang ditakdirkan Allah.

Al-Maqrizi (w. 845 H.ll442 M.) mengutip sebuah dokumen

resmi yang ditulis oleh pemimpin sekretariat kerajaan, Ibn Luqmin,

yang memperingati perayaan pelantikan Baybars sebagai sultan

oleh khalifah boneka yang dibentuk sendiri oleh Baybars. Di

sepanjang teks yang sangat dibesar-besarkan ini, yang ditampilkan

di depan kerumunan anggota istana, Baybars digambarkan sebagai

orang yang telah menunjukkan semangat yang tidak tertandingi

dalam membela agama (foto 4.28-4.29 dan gambar 4.264.27).122

Beralih secara khusus ke soal jihad, Ibn LuqmAn menyatakan :

Berkenaan dengan Perang Suci, Anda telah membedakan diri

Anda sendiri lewat perbuatan-perbuatan yang luar biasa... Melalui

Anda, Allah telah melindungi benteng Islam dan memeliharanya

dari perbuatan para musuh yang tidak senonoh; keberanian Anda

telah melindungi keutuhan kera1aan kaum muslim.r23

BAYBARS DAN JIFIAD: BUKTI-BUKTI DARI PARA PENULIS SEJAMH

Karier Baybars yang sangat sukses dicatat oleh banyak penulis

biografi pada saat itu dan tak lama sesudahnya. Ibn Abd al-

Zhb,hir (w. 629 H.ll292 M.), yang menyatakan bahwa ia benar-

benar telah menemani Sultan dalam berbagai operasi militernya,r2a


menampilkan Baybars sebagai pewaris spiritual sultan Ayyubiyah

terakhir (meskipun Baybars yaitu  generasi pertama yang masuk

Islam, yang bergabung dari Suku Kipchak Turki), dan tindakan

pembunuhan dan perampasan kekuasaan yang dilakukannya di-

tutup-tutupi.t25 Prajurit dari padang rumput dengan lumuran darah

di tangannya diubah menjadi seorang mujahid teladan lewat pena

para penulis yang memujanya, dengan dinyatakan bahwa ia

memukul mundur bangsa Mongol penyembah berhala dan me-

lanjutkan pengabdiannya pada jihad melawan kaum Frank: "Dia

berjihad dengan semangat yang paling tinggi dan memerangi

orang-orang kafir, yang sebab  usahanya itu Allah kemudian

mem beri ny a ganjar an." | 26

Ibn Abd al-Zhihir berusaha keras menggambarkan pemimpin-

nya sebagai penerus Saladin yang pantas: dengan demikian, dalam

pandangannya, Baybars lebih unggul daripada Saladin. Sebagai-

mana dinyatakan oleh Holt dalam bukunya tentang Perang Salib,

Baybars yaitu  prajurit yang lebih baik dibanding Saladin dan

tujuan-tujuan militernya lebih jelas-127 Dengan demikian, ada

landasan yang bagus untuk membentuk gambaran tentang Baybars

sebagai seorang mujahid teladan. Keponakan Ibn Abd al-Zhi,hil

Syif ibn 'Ali al-'fuqalini (w. 730 H.ll330 M.), menulis sebuah

biografi yang agak bersifat revisionis tentang Baybars sesudah  sultan

itu dan pamannya wafat.r28 Meskipun begitu, seperti dikatakan

oleh Holt, Baybars yang menganut mazhab Syaf i masih menjadi

tokoh yang impresif dengan prestasi-prestasi yang hebat.r2e Penulis

biografi Baybars lainnya yang hidup di masa itu, Ibn Syaddid

(w. 684 H.ll285 M.), juga melihat Baybars sebagai seorang

pahlawan Islam sejati yang menaklukkan kembali wilayah-wilayah

kaum Frank.r3o

Pada awal 663 H.11265 M., Syif ibn 'Ali menyatakan bahwa

pemimpinnya, Baybars, akan berperang "sampai tidak ad