Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 6

 


Masjid Nuri,es menyertakan kutipan ayat

Alquran Surah al-Baqarah: dalam konteks ini kata-kata penting

dari ayat itu yaitu  sebagai berikut: "Dan dari mana saja kamu

keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram."ee

Inskripsi yang tersimpan di dalam masjid yang didirikan oleh

N0ruddin di Mosul dipilih dengan sangat teliti. Inskripsi itu

merupakan pengibaratan bagi Yerusalem sebab  ayat-ayat sebelum-

nya di dalam Alquran merujuk pada Kiblat Perrama Islam-

Yerusalem. Mosul, di utara Irak, tentu saja jauh dari operasi

militer N0ruddin di Suriah. Sekalipun begitu, ia memanfaatkan

kesempatan untuk memasukkan poin-poin propaganda tentang

Yerusalem, yang merupakan ambisinya yang abadi.

Menurut sejarawan Ab0 SyXmah, pada 1173, tahun sebelum

kematiannya, N0ruddin, lewat suratnya kepada khalifah, me-

nyampaikan niatnya untuk merebut kembali Yerusalem. Cita-cita

yang disampaikannya yaitu  "mengusir para pemuja Salib dari

Masjid AqshA ... menaklukkan Yerusalem ... untuk memper-

tahankan kekuasaan atas pantai Suriah".loo

Bukti mimbar ini  dan inskripsi Mosul semakin me-

nambah keyakinan kita mengenai pernyataan ini, yang sekilas

tampaknya didukung oleh loyalitas generasi sejarawan muslim

berikutnya.

LITEMTUR JIHAD DARI MASA NURUDDIN

Literatur Suf dan "Literatur IstAna"

Konsep perjuangan spiritual, jihad besar, berkembang sangat pesat

pada masa Perang Salib. Setiap pembahasan tentang jihad pada

periode ini harus selalu menyertakan dimensi spiritual, sebab 

tanpa dimensi spiritual itu, perjuangan militer, jihad kecil, di-

anggap kosong dan tanpa dasar.rorSufi abad kedua belas 'Ammar

al-Bidlisi (w. antara tahun 590 H. dan 604 H.lll94 M. dan

1207 M.) menjelaskan tentang jihad besar, dengan menyatakan

bahwa jiwa rendah manusia (nafsu) merupakan musuh rerbesar

yang harus diperangi.ro2Ab0 SyXmah berbicara tentang N0ruddin

hanya dengan istilah berikut: "Ia melakukan jihad ganda melawan

musuh dan melawan jiwanya sendiri."ro3

Bahr al-Fawl'id (Lautan Kebajikan-Kebajikan yang Mulia)

merupakan risalah tak dikenal yang ditulis di Persia pada per-

tengahan abad kedua belas. Risalah ini yaitu  salah satu dari

berbagai karya yang ditulis di dunia Islam Abad Pertengahan

dalam genre yang disebut "Literatur Istana". Pengarangnya menga-

takan bahwa risalah ini  ditulis di Suriah untuk pelindungnya

yang dingin, penguasa Maragha, Aq Sunqur Ahmadili. Dan

penerjemahnya belakangan ini yang bernama Meisami mem-

persempitnya menjadi Aleppo.l0a Ia menunjukkan fakta bahwa

ulama-ulama dari Persia direkrut untuk mengelola lembaga-lembaga

aBama yang didirikan oleh Nirruddin.'ot Dengan berbagai alasan,

buku itu menarik, sebab  berisi sebuah bab panjang tentang jihad

dari masa paling awal saat  Nirruddin mempropagandakan ke-

bijakan-kebijakan jihadnya di wilayah yang sama di Suriah. De-

ngan demikian, ini merupakan gambaran yang jelas rentang

lingkungan pergaulan keagamaan yang menandai gerakan kontra

Perang Salib yang terus berkembang.

sesudah  memberikan pendahuluan, pengarang langsung mem-

bahas pelaksanaan Perang Suci. Lewat kutipan Alquran dan hadis

dan kisah-kisah orang-orang terdahulu, orang suci, dan sufi yang

saleh, ia memberikan perhatian pada jihad 'paling besar" melawan

musuh dalam diri manusia, jiwa yang lebih dasar. "Perang suci

berarti membunuh jiwa dengan pedang perlawanan, ia yang

menentang jiwanya untuk menyenangkan Allah berhak disebut

berani, sebab  menentang jiwa itu lebih berat daripada tusukan

sebilah pedang." Jiwa yang lebih dasar sulit untuk disiplin: "Ia

(Allah) menciptakannya dengan tergesa; Dia menciptakannya tidak

sabar dan lemah, tanpa kekuatan untuk menahan panas atau

dingin. Dia menciptakannya memiliki nafsu, mencintai kese-

nangan-kesenangan .iasmani dan membenci kesusahan, dan kerja

keras orang-orang kebanyakan."

Bab empat membahas "Perang Suci lahiriah". Di sini pe-

ngarang membuat analogi sederhana dan tidak rumit dengan

hewan-hewan untuk menggambarkan pejuang jihad ideal: ia harus

seperti seekor singa dalam hal keberaniannya, seekor macan tutul

dalam hal kebanggaan dan kesombongannya, seekor beruang dalam

hal kekuatannya, seekor babi hutan yang diserang, seekor serigala

yang berlari cepat melarikan diri. saat  mengambil barang

rampasan, ia harus seperti semut-yang mampu membawa beban

sepuluh kali lebih besar dari berat tubuhnya-seperti batu dalam

hal keteguhannya, seperti keledai dalam hal keuletannya, seperti

anjing dalam hal kesetiaannya dan seperti ayam jantan, yang

menunggu kesempatan untuk mencapai keinginannya.106

Literatur "Kemuliaan Wrusalem" (FadhA'il al-Quds)

Istilah fddhA'il ('kemuliaan') telah digunakan untuk judul berbagai

bentuk tulisan keagamaan, yang memuji kemuliaan-kemuliaan

menunaikan ibadah ha.ii ke Mekah, atau kemuliaan berjuang dalam

Perang Suci, atau kualitas sempurna Alquran. Karya-karya fadhA'il

juga dihasilkan sebagai akibat pertentangan antara kota-kota Islam

yang saling memperebutkan supremasi agama; kota-kota ini ter-

masuk Mekah, Madinah, Basrah, dan lainJain. Ibn Jubayr, pe-

tualang Spanyol yang hidup di masa Saladin, membaca sebuah

buku berjudtl Merits of Damascus (Kemuliaan Damaskus) dan

membuat kutipan dari buku ini .roT

Literatur tentang Fadhl'il al-Quds jarang dikenal di Barat.

Sesungguhnya, tidak ada satu pun karya dalam jenis ini yang

telah diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa dan sangat sedikit

yang telah disunting. Karya Kemuliaan Yerusalem paling awal

yang masih bertahan yaitu  karya al-VAshiti (pendakwah Syaf iyah

di Masjid Aqshi pada 410 H./1019 M.). Namun, sebelum tanggal

ini , bibit dari karya jenis Kemuliaan Yerusalem masa depan

telah hadir, yang tersebar dalam berbagai jenis tulisan Alquran,

seperti karya-karya tafsir Alquran-karya Muqitil (w 768) dan

al-Thabari (w. 923) membahas Yerusalem secara lengkap. Sumber

lain untuk bahan seperti itu yaitu  literatur ilmu bumi. Ahli

ilmu bumi muslim, al-Muqaddasi dan Ibn al-Faqih, menyajikan

ulasan yang cukup banyak tentang kota ini .

Jenis Fadhl'il al-Quds bermula dengan sederhana pada periode

kekuasaan Fatimiyah di Yerusalem di awal abad kesebelas. Se-

benarnya, ada tiga risalah fadhA'il yang berasal dari masa ini:


yaitu risalah karya al-vishiti, al-Raba'i, dan Musyarraf ibn Murajja

al-Maqdisi.t08 Sudah jamak diketahui bahwa karya al-\Tishiti terah

dibacakan secara terbuka di Yerusalem pada 4lO H./1019 M.roe

Jenis ini  kemudian berkembang sangar cepat pada paruh

kedua abad kedua belas dan dengan sangat jelas terbukti berlanjut

dan semakin berkembang sampai abad ketiga belas dan abad

berikutnya. Penting dicatat bahwa manuskrip karya al-washiti

itu disalin pada September I 187, satu bulan sebelum yerusalem

kembali direbut oleh Saladin. Manuskrip itu juga mencatat bahwa

masjid di Acre pada tahun itu digunakan oleh para ulama dari

Damaskus untuk menyadarkan warga  rentang kesucian

Yerusalem dan untuk mempersiapkan diri menjelang perebutan

kembali Kota Suci itu.rro

Banyak karya fadhn'il yang disebutkan di dalam tulisan-tulisan

sejarah hilang atau hanya bertahan dalam bentuk kutipan-kutipan

para pengarang berikutnya. Ahli hadis terkemuka, al-Rumayli,

yang dibunuh oleh Tentara Salib pada 1099, seperti disebutkan

dalam bab dua, yaitu  murid Ibn al-Muralja dan ia sendiri

diceritakan telah menulis sebuah karya rentang Kemuliaan

Yerusalem.trr Namun, kehilangan ini kalah serius dibandingkan

dengan karya yang mungkin muncul perrama kali, sebab  isi

karya-karya fadhA'il tersebur sangat bisa diperkirakan dan kon-

servatif. Memang, banyak karyayang disebut fadhA'il "baru" pada

abad kedua belas dan ketiga belas berbentuk ringkasan, intisari,

atau karya ulang yang ditulis kata demi kara sesuai aslinya-dan

ini diakui sendiri oleh para penulisnya-dan mengacu kepada

dua risalah paling awal rentang rema ini , yaitu risalah al-

\Wishiti dan al-Raba'i. Tiadisi plagiarisme-atau lebih merupakan

penggunaan, penulisan kembali, dan penyusunan atas karya-karya

dari karya pendahulu yang termasyhur-tentu saja, telah terbukti

dengan jelas di dalam tulisan-tulisan keagamaan dan sejarah Islam.

Thpi hal itu tidak membawa cacat. Dengan demikian, sebagai

contoh, Ibn al-Firqah (w. 1329), di dalam karya fadhh'il yang

berjudul The Booh of Inciting Soub to Visit the Holy Pkce, Yerusalem

(Buku tentang Jiwa-Jiwa Pendorong untuk Mengunjungi Kota

Suci, Yerusalem) pada paragraf pertamanya secara terbuka me-

nyatakan bahwa bukunya sebagian merupakan ringkasan dari karya

al-Raba'i dan sebagian lagi kutipan dari dua penulis fadhh'il lain

yang risalahnya telah hilang.

Seperti halnya buku-buku tentang jihad, karya-karya tentang

Kemuliaan Yerusalem memuat bagian-bagian yang kadang meng-

alihkan tema pembicaraan tanpa arah yang jelas dan hanya ada

sedikit atau bahkan tidak ada komentar yang jelas dari "pengarang"

atau penyusunnya. Sebaliknya, karya-karya ini  berisi kum-

pulan hadis yang dikelompokkan dengan berbagai judul yang

bisa diduga sebelumnya. Karya al-'Wishiti yang berisi tiga puluh

empat bagian menyertakan pembahasan tentang kemuliaan me-

ngunjungi Yerusalem, keunggulan beribadah atau berziarah ke

Yerusalem, kemuliaan Kubah Batu, kemuliaan seseorang yang

meninggal di Yerusalem, kenaikan Rasul ke Langit dari Yerusalem,

hubungan kota ini  dengan hari kiamat, dan lainJain. Dengan

demikian, Hari Kebangkitan tidak bisa berlangsung, sebagaimana

ditulis al-Washiti, "sebelum Kakbah dijadikan seperti mempelai

wanita baru bagi [Kubah] Batu".lr2

Dengan kata lain, hadis-hadis itu dipilih dan dikelompokkan

dalam kategori-kategori tertentu, seperti sejarah, peribadatan, dan

wahyu. Muncul dari lingkungan teologi yang ketat, karya-karya

"Kemuliaan Yerusalem" sedikit berbeda dalam format dan isinya,

baik yang ditulis pada abad kedua belas atau ketiga belas. Meski-

pun karya-karya pertama dari jenis ini yang ada yaitu  relatif

awal, sangat banyak buku dalam jenis ini yang muncul bersamaan

dengan propaganda jihad. Apakah perkembangan literatur "Ke-

muliaan Yerusalem" merupakan akibat dari terlepasnya Yerusalem

dari kekuasaan umat Islam pada 1099 dan wujud keinginan umat

Islam untuk merebut kembali Kota Suci rersebur untuk Islam?

Jawaban atas pertanyaan seperri itu sangat mungkin yaitu  "ya"

sebab  butuh waktu lima puluh tahun sebelum akhirnya buku-

buku tentang Kemuliaan Yerusalem mulai bermunculan dalam

jumlah yang banyak. Antara 1099 dan 1150, karya jenis ini

tampaknya tidak ditulis, meskipun bisa diperkirakan bahwa di-

rebutnya Yerusalem oleh para Tentara Salib dan rasa cinra terhadap

kota itu mungkin telah memperbesar keinginan umat Islam untuk

memilikinya. Baru pada masa kekuasaan Nfiruddin, Yerusalem

mulai dianggap penring oleh umat Islam sebagai simbol yang

kuat untuk persatuan agama dan politik. Bagian dari program

propaganda agama paling efektif yang dilakukan Nfiruddin-

dengan menekankan pada penyatuan kaum muslim dan seruan

jihad-difokuskan pada kesucian Palestina, dan lebih khusus lagi

Yerusalem.

Pada masa kekuasaan N0ruddin-lah gagasan untuk mem-

bebaskan Yerusalem tampaknya diperkuat dengan kampanye propa-

ganda resmi atau setidaknya yang disetujui pemerintah dengan

memakai  karya-karya Kemuliaan Yerusalem sebagai senjata.

Dengan demikian, pada tahun 1160-an jenis karya semacam itu

muncul kembali sesudah  cukup lama terpendam, di bawah tun-

tunan sejarawan dan ahli hadis, Ibn AsXkir, pemimpin pusat

ilmu-ilmu hadis (Ddr al-Hadtts) di Damaskus sekaligus sahabat

NCrruddin. Ibn AsAkir yaitu  seorang penulis produktif. Ia me-

nyusun sebuah risalah tentang jihad dan risalah tentang kemuliaan

Mekah, Madinah, dan Yerusalem. Bahkan, dalam karyanya tentang

sejarah Damaskus, yang masih bertahan, ia membahas Yerusalem

dan Palestina dalam bab yang panjang. Bab ini disalin dari karya

al-Raba'i tentang Kemuliaan Yerusalem. sebab  itu, kita bisa

berpendapat bahwa bahan yang sama dapat kita temukan di dalam

bukunya sendiri tentang Kemuliaan Yerusalem (yang kini hilang).

Reproduksi literatur fadhA'il ini semakin memperbesar ke-

inginan umat Islam untuk merebut kembali Yerusalem. Sungguh

jelas karya Ibn i{sXkir yang memuji Yerusalem itu dibacakan secara

terbuka kepada khalayak ramai di Damaskus dari tahun 1160

dan seterusnya. Tidak diragukan lagi, pertemuan-pertemuan umum

seperti itu semakin memperbesar kesadaran umat Islam tentang

kesucian Yerusalem dan membangkitkan harapan agar Kota Suci

itu dapat direbut kembali.

Doa-Doa dan Seruan-Seruan Jihad

Teks tentang doa seruan berjihad yang kurang dikenal dan di-

lakukan sesudah  salat Jumat yang diperkirakan berasal dari abad

kesebelas telah bertahan setidaknya dalam dua karya berikutnya.

Doa yang ditulis oleh seorang ulama yang disebut Ibn al-Mawshiliyi

ini  sangat jelas mengungkapkan tentang jenis propaganda

yang digunakan untuk membangkitkan kaum beriman untuk

berjihad.t'3 Doa-doa berbahasa fuab itu memiliki gaya yang sangat

retorik, yang diselingi dengan kutipan-kutipan Alquran yang

berkaitan. Namun, doa itu tidak menggambarkan proses pemilihan

kata yang cermat dan tidak memiliki keindahan gaya bait-bait

sajak seperti yang digunakan di dalam doa-doa klasik karya Ibn

NubAta, pendakwah terkemuka pada abad kesepuluh yang telah

disebutkan. Penyusunan hiperbola, permainan kata, dan kata-kata

yang sulit dimengerti dari pendakwah ini  tidak beraturan.

Namun, bila dibacakan dengan keras, gaungnya yang menggugah

perasaan mengimbangi kekurangannya dalam hal bahasa. Doa itu

mencerminkan kepercayaan warga  Timur Dekat yang telah

berurat akar tentang efektivitas ucapan. Bait-bait berikut berasal

dari doa ini:

Ya Allah, angkatlah panii-panji Islam dan para rasulnya, dan

tunjukkan kesalahan orang-orang musyrik dengan mematahkan

kekuatan mereka dan menggagalkan upaya mereka. Bantulah mereka

yang berjihad untuk-Mu dan yang dengan kesetiaannya pada-Mu

telah mengorbankan diri mereka dan menjual jiwa mereka pada-

Mu.

Doa itu berakhir dengan ungkapan lantang: "sebab  perilaku

mereka tetap tidak berubah, semoga mata orang-orang musyrik

itu dibutakan dari jalan kebenaran.""4

Pasti ada banyak seruan berjihad yang tak diragukan meng-

ikuti model seruan Ibn Nubita yang mengekspresikan emosi yang

menggugah, tapi teks-teks mereka tidak bertahan.


Buhu-Buku Khusus tentang Jihad

Kita telah membahas Kitnb al-Jihnd yang ditulis oleh al-sulami

di awal abad kedua belas. Buku ini memakai  jenis tulisan

yang berasal dari abad kedelapan. Karya sejenis pertama kali ditulis

oleh Ibn al-Mubirak (w. 181 H.1797 M.).,,t Buku-buku sejenis

berkembang terutama pada paruh kedua abad kedua belas, tepat-

nya pada masa Nfiruddin dan Saladin. Karya-tr<arya ini berfungsi

sebagai senjata untuk propaganda jihad, bersama-sama dengan

seruan-seruan pembangkit semangat, syair-syair penggugah pe-

rasaan, dan literatur Fadhi'il al-Quds. Buku jihad berisi kompilasi

dari hadis terpilih yang membangkitkan kenangan renrang perang-

perang di awal Islam dan janji Surga bagi mereka yang berjihad.

Para penulis sejarah berpendapat bahwa ada hubungan yang

bersifat langsung antara literatur semacam ini dengan aksi militer.

Memang, seorang kerabat penulis muslim terkemuka bernama

Usimah, yaitu 'Ali ibn Munqidz, dialarkan 6uku Kithb al-Jihnd

oleh Ibn AsXkir. sesudah  mendapat semangat, 'Ali berangkat

menuju fucalon pada 546 H./1151 M. untuk mempertahankan

kota itu melawan para Tentara Salib dan gugur dalam pertempuran

itu.tt6 Salah seorang penyusun buku-buku rentang jihad yaitu 

Ibn Syaddid, penulis biografi Saladin (w. 623 H.lt234 M.), yang

mempersembahkan sebuah karya, yang kini tidak ada lagi, yang

berjudul The Merits of Jihad (Keutamaan Jihad), untuk Saladin

saat  beliau tengah mengepung biara Krac des Chevaliers pada

580 H./1184 M. Buku ini diperkirakan memuar seluruh hadis

Rasulullah tentang Perang Suci.

Puisi yang Memuji Kebajihan-Kebajihan Jihad

Media kesusasteraan yang paling berkembang untuk jihad barang-

kali yaitu  puisi yang ditulis oleh para penyair di zamannya

untuk penguasa mereka, para pangeran, dan pemimpin militer

saat itu, dan khususnya untuk Nfrruddin. Puisi-puisi ini 

dibacakan secara terbuka di lapangan, dan sangat berpengaruh

pada orang-orang yang mendengarkannya. Seperti telah disebutkan

sebelumnya, para penyair seperti Ibn Munir dan Ibn al-QaysarXni

menyusun pernyataan-pernyataan puitis yang bersemangat untuk

Zengi serclah penaklukan Edessa.rrT sesudah  'Imiduddin al-Ishfahin

bergabung dengan Nirruddin, ia juga menulis puisi yang memuji

tuannya yang telah melakukan jihad itu. 'lmAduddin menulis:

Nfiruddin meminta saya untuk menulis dua baris puisi yang

siap diucapkannya tentang arti jihad, jadi saya katakan:

"Semangat saya yaitu  untuk berperang dan kesukaan saya ada di

dalamnya. Saya tidak punya keinginan lain dalam hidup

kecuali berperang.

Hasil pencarian yang baik yaitu  dengan kerja keras dan jihad.

Merdeka dari kecemasan tergantung pada usaha keras [di jalan

Allahl"'tts

Pada kutipan puisi lainnya, 'Imiduddin men)'usun bait berikut

untuk menggambarkan Nirruddin:

Saya tidak punya keinginan lain kecuali jihad

Berhenti dari apa saja selain jihad merupakan desakan bagi saya.

Mencari keberhasilan tidak dengan apa-apa selain kerja keras.

Hidup tanpa usaha jihad yaitu  [sikap bermalas-malas] di masa

lalu.r'e

Bisa diduga, pernyataan-pernyataan retoris yang sempurna

dibuat untuk Ntruddin pada elegi pemakamannya, juga ditulis

oleh 'Imiduddin:

Agama sedang dalam kegelapan sebab  cahayanya tiada [ini yaitu 

permainan kata-kata dari makna nama N|truddin-cahaya

agama]

Masa berada dalam kesedihan sebab  kehilangan pemimpinnya.

Biarkan Islam meratapi pembela para penganutnya

Dan Suriah [meratapi] pelindung Kerajaannya dan

perbatasannya.l2o

Pernyataan-pernyataan ini  telah memberikan pembenaran

dengan baik untuk pemimpin karismatik ini , sementara karier

kekuasaannya kurang begitu diperhatikan di Barat.U


semangat jihad pada titih muknya sebenarnya hanyakh sebuah fihsi militer

sebuab sumber energi dan antusiasme, dan suatu mobilisasi reflehs

pertahanan yang ideal pada periode hedua Iskm.t (Djait)

Bab ini pertama-rama membahas peranan jihad pada masa Saladin

dan para penerusnya, Dinasti Ayyubiyah. Selanjutnya, bab ini

akan membahas konteks jihad negara Mamluk yang akhirnya

menumbangkan para Tentara Salib di kawasan Mediterania timur

pada akhir abad ketiga belas.

KARIER SAIADIN: KEMNGKA DASAR

Seperti halnya karier N0ruddin, kegemilangan penerusnya yang

lebih terkenal, ShalXhuddin (Saladin), dicatat dengan kekaguman

dan kesalehan oleh para penulis sejarah Islam. Sebelum menilai

konteks jihad karier Saladin, penting untuk memberikan penjelasan

ringkas tentang keberhasilan-keberhasilannya yang utama. Tidak

seperti biasanya, sumber-sumber tentang karier Saladin sangat

banyak sebab  dua penasihat dekatnya, 'Imiduddin al-IshfahAni

(w. 597 H.lr201 M.) dan Bahi'uddin Ibn Syaddid (w. 632 H.l

1234 M.), sebenarnya menulis laporan biografi tenrangnya-

peristiwa historiografis paling langka hingga periode ini. Penulis

sejarah lainnya, seperti Ibn al-Atsir (w. 630 H.ll233 M.) dan

Abfi Syimah (w. 665 H.11258 M.), menjelaskan karier Saladin

dengan sangat lengkap. Penasihat dekat Saladin lainnya, al-Qadhi

al-Fadhil, meninggalkan banyak surat yang juga merupakan sumber

berharga bagi pengetahuan kita tentang aktivitas Saladin dan yang

dikutip cukup panjar.g oleh Lyons dan Jackson di dalam buku

Saladin: The Politics of the Hofu War.

Babak pertama kenaikan Saladin menuju ketenarannya, sePerti

telah disebutkan, terjadi saat  NCrruddin berkuasa, saat Saladin

harus menjalani perjuangan sulit untuk mendapatkan kekuasaan

di Mesir, sebagai pembantu Nirruddin. Kematian N0ruddin pada

569 H.lL174 M. kemungkinan mencegah pecahnya pertikaian

serius di antara mereka.2

sesudah  569 H.lll74 M., fokus utama Saladin yaitu  men-

dapatkan kredibilitas bahwa dirinya yaitu  penerus Nirruddin,

untuk menghadapi permusuhan dari kalangan keluarga N0ruddin

yang berusaha mengudsai wilayah-wilayahnya. Seperti halnya

Nirruddin, dekade Pertama kekuasaannya dihabiskan untuk me-

merangi sesama muslim dengan tujuan untuk mempersatukan

mereka. Ia hanya sesekali menyerang kaum Frank. Seperti juga

Nfiruddin, selama bertahun-tahun saladin juga memerangi rivalnya

sesama muslim dan membuat kesepakatan damai dengan kaum

Frank. Pada 579 H./1183 M., dengan direbutnya Aleppo, Saladin

telah menyatukan suriah dan Mesir dalam kekuasaannya. Pada

masa inilah saladin memberi perhatian secara serius kepada kaum

Frank. Dipicu oleh aksi Reynald dari chatillon di Laut Merah,

yang mengancam Kota-kota Suci, Saladin terdorong untuk me-


nyerang benteng al-Karak milik Reynald pada 579 H.11183 M.

dan 580 H.lll}4 M. Usaha Saladin ini terbukti tidak berhasil.3

Setahun kemudian (5St H./1185-1186 M.) Saladin sakit

keras dan penyembuhannya membutuhkan waktu yang cukup

lama.a Begitu sembuh, Saladin mengumpulkan sekutu-sekutunya

di wilayah-wilayah sekitarnya dan pada 583 H./1187 M. Saladin

melancarkan operasi militer besar-besaran melawan kaum Frank.

Khusus untuk kota Antiokhia yang dikuasai kaum Frank, Saladin

tidak menyerangnya sebab  ia telah membuat perjanjian damai

dengan penguasa di sana. Ia menyerang kaum Frank di Hattin

pada hari Sabtu 24 Rabiulakhir 583 H. bertepatan dengan 4 Juli

1187 M. dan memperoleh kemenangan. Acre menyerah lima hari

kemudian, dan pada pertengahan Jumadilakhirlawal September,

wilayah selatan pantai Mediterania timur dari Gaza hingga Jubayl

(kecuali Tirus) telah dikuasai Saladin. Ia selanjutnya menuju

Yerusalem yang ditaklukkannya pada tanggal 27 Ralabl2 Oktober.

Yerusalem sangat mungkin menjadi klimaks psikologis bagi

karier Saladin. Namun, kaum Frank masih menguasai pantai

Suriah sepanjang 350 mil dan se,iumlah pelabuhan utama. Saladin

melanjutkan vpayeny^ untuk merebut kembali Yerusalem dengan

merebut benteng-benteng di utara Suriah pada 584 H./1188 M.

Akan namun , Saladin gagal merebut Tirus. Pada Perang Salib

Ketiga, Tentara Salib mengepung Acre yang akhirnya takluk

seluruhnya kepada mereka pada Jumadilakhir/Juli 1191, yang

dilanjutkan dengan perjanjian damai antara Saladin dan kaum

Frank pada Syakban 588 H./September 1192 M. Saladin wafat

pada hari Rabu, 27 Shafar 589 H. bertepatan dengan 3 Maret

1r93 M.

\TARISAN NURUDDIN

Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang oleh Lyons dan Jackson

di dalam biografi Saladin yang mereka susun, dinasti-dinasti

keluarga seperti dinasti keluarga panglima militer Ttrrki di Suriah

pada abad kedua belas merasa bahwa kekuasaan yang telah mereka

rebut harus mendapat pengesahan. Untuk itu mereka mem-

butuhkan dukungan kelompok-kelompok agama serta pengesahan

atas aktivitas-aktivitas militer mereka oleh khalifah secara terbuka.5

Propaganda agama mereka, termasuk arsitektur (foto 4.24.5, 4.6;


bandingkan dengan foto 5.7,3.36, dan 5.8; gambar 4.3), memiliki

tujuan yang sama, yaitu membenarkan otoriras mereka. Kita telah

melihat bagaimana para pendukung Nfiruddin memperregas tu-

juan-tujuannya dalam istilah-istilah ekspansi pribadi dan keluarga

ke dalam konsep Perang Suci dan bagaimana Nfrruddin sendiri

digambarkan di dalam sumber-sumber tersebur-tenru saja pada

bagian selanjutnya dalam kariernya-sebagai gabungan antara jihad

pribadi dan kolektif. Saladin bisa mengembangkan dasar-dasar

kesatuan moral yang diwariskan oleh Nirruddin, dan sebagaimana

pendahulunya yang termasyhur itu, yang kerajaannya telah ia

ambil alih, Saladin bisa menampilkan dirinya sebagai sosok pem-

bela Islam Sunni dan penggerak jihad melawan kaum Frank.

PROPAGANDA JIHAD PADA MASA SATADIN

saat  Saladin menggandkan Nfiruddin sebagai panglima besar

jihad dan arsitek persatuan Islam, ia terus memanfaatkan berbagai

propaganda yang dipergunakan di masa Nfiruddin yang telah

terbukti sangat berhasil. Karya awal al-Rabai tentang Kemuliaan

Kota Yerusalem dibacakan di depan umum pada April 1187,6

bersamaan dengan saat  pasukan Saladin tengah menyiapkan

serangan yang mencapai puncaknya pada penaklukan Yerusalem.

Ini merupakan petunjuk yang jelas tentang dampak emosional

dari karya-karya tentang Kemuliaan Kota Yerusalem itu terhadap

para pendengarnya.

Di Palestina dan Suriah sendiri, keberhasilan Saladin merebut

Yerusalem, yang menjadi puncak kariernya, tidak digembar-gem-

borkan dengan sorak-sorai. Sekali lagi, seorang penulis yang tidak


berada di sekitar Palestina rerdorong unruk menulis sebuah karya

tentang Kemuliaan Kota Yerusalem. Pendakwah, ahli hukum dan

sejarawan Baghdad terkenal, Ibn al-Jawzi (w. 597 H./1200 M.),

menulis karya semacam itu, yang menggarisbawahi perasaan malu

yang didera akibat penaklukan Yerusalem oleh para Tentara Salib

dan keagungan dari puncak keberhasilan Saladin dalam merebur

kembali Yerusalem dipuji-puji.'Z

Dalam melakukan kampanyenya, Saladin disertai oleh per-

wakilan kelompok ulama terkemuka. Ulama aliran Hanbali, Ibn

Qudimah (w. 620 H.ll223 M.), misalnya, menyertai Saladin

saat  ia memasuki Yerusalem dengan penuh kemenangan. Ibn

QudXmah dan keponakannya, Abd al-Ghini, telah berada dalam

pasukan Saladin sejak kampanye penyerangan digelar pada 1180-

an. Karya seorang ulama Hanbali, Ibn Batta, yang berjudul The

Profession of Faith dibacakan di depan umum oleh Ibn Qudimah

pada 582 H./1186 M. menjelang Saladin melancarkan serangan

menentukan terhadap kaum Frank.s Pada masa Saladin, Abd al-

GhAni menulis sebuah karya-yang-memuji-jihad yang dibacakan

di lingkungan agama Damaskus.e

Seperti pada masa N0ruddin, para penyair di masa Saladin

juga menekankan aspek-xpek religius dalam karier Saladin, dengan

menekankan pelaksanaan jihad dan peranannya sebagai penguasa

Sunni yang ideal. Penyair Ibn Sana' al-Mulk (w. 608 H.ll2ll

M.) menyampaikan pidato puji-pujian yang menggambarkan keter-

pesonaan untuk Saladin usai kemenangan besar Saladin di Hattin

pada 583 H./1187 M.'o


Kau merebut kepemilikan Surga (iinan) istana demi istana, saat 

kau menaklukkan Suriah, benteng demi benteng.

Sungguh, agama Islam telah menyebarkan rahmatnya atas

seluruh makhluk.

namun , kaulah yang memuliakannya ...

Kau telah bangkit dari gulira perjuangan, laksana bulan

yang perlahan mendaki di malam hari

Kau selalu hadir dalam perrempuran

oh Yusufi, bagaikan keindahan Yusuf [di dalam Alquran].

Mereka menyerang bersama-sama bak gunung-gunung, tapi serangan

dari pasukanmu telah mengubah mereka menjadi benang wol

S,rrirh b,rk"r, satu-sarunya tujuan ucapan selamat yang disampaikan

kepadamu, namun  juga setiap wilayah dan negara.

Kau telah memiliki wilayah dari timur hingga ke barat.

Kau telah merengkuh kaki langir, daratan dan padang rumpur

luas ...

Allah relah berkata: Patuhi dia;

Kami telah mendengar Tiran Kami dan memaruhinya.rr

Bait-bait ini telah disisipi dengan pernyaraan-pernyaraan Alquran,

bukan hanya dari Surah ke-12 yang menceritakan tentang kisah

Nabi Yusufl, (permainan kata-kata dari salah satu nama Saladin),

namun  juga Surah al-Ma'i,rij ayat kesembilan ("Dan gunung-gunung

menjadi seperti gumpalan benang wol";.tz Yang terpenting, bait-

bait ini menunjukkan bagaimana Saladin dipandang sebagai se-

orang kekasih Allah yang melaksanakan tujuan kehendak ilahiah-

Ny".

Latar belakang keislaman Saladin diakui secara penuh pada

koin emas yang masih tersisa, diukir atas namanya di Suriah dan

bertanda tahun 583 H.ll187 M. Di koin ini, yang mungkin

dibuat untuk merayakan kemenangan Saladin di Hattin dan

Yerusalem, ia disebut "sultan Islam dan kaum muslim". Ini yaitu 

bagian dari bukti tak terbantah yang berasal dari masa itu: koin

kecil namun mahal. Pada ruang terbatas di koin itu, gelar yang

dipilihkan untuk menggambarkan Saladin yaitu  gelar kejayaan

Islam.13 Dengan nilai emas yang tinggi, koin itu digunakan untuk

pencetakan koin-koin mengenai peringatan peristiwa-peristiwa

penting: puncak karier Saladin dalam istilah-istilah agama dengan

demikian dicatat di saat paling awal kejadiannya pada logam

paling mulia yang ada.ta

JIHAD SALADIN: BUKII.BUKTI PARA PENUTIS SEJARAH MUSLIM

ABAD PERTENGAHAN

Sumber-sumber Islam telah berusaha keras untuk menghadirkan

Saladin sebagai sesosok muslim teladan, orang yang paling taat.

Contoh tipikal dari karya semacam ini yaitu  biografi karya Ibn

Syaddid, yang layak untuk dianalisis dengan lebih lengkap. Seperti

ditunjukkan oleh Holt, karya ini terbagi menjadi tiga bagian

berbeda, dengan bagian yang terbesar (sekitar 83 persen) disediakan

untuk menyebutkan kebajikan-kebajikan Saladin dan penuturan

tentang enam rahun terakhir masa hidupnya.rt Dengan demikian

ini jelas-jelas merupakan usaha yang disengaja dari bukti-bukti

ini  berkaitan dengan tahap  terakhir karier Saladin untuk

menghadirkan Saladin di puncak pencapaiannya sebagai seorang

mujahid teladan. Sebaliknya, karya itu juga menyembunyikan

proses kenaikannya ke kursi kekuasaan sesudah  terjadi apa yang

oleh komentator-yang-kurang-memujinya mungkin dianggap se-

bagai rangkaian kematian yang sangat kebetulan-rerutama ke-

matian pamannya, Syirk0h, kematian khalifah Fatimiyah, dan

bahkan kematian N0ruddin sendiri, dan putranya, al-Malik al-

shelih.


Ibn Syaddid menulis biografi Saladin sesudah  kemenangan

gemilang Saladin di Hattin dan Yerusalem. Memang, ia mulai

mengabdi pada Saladin pada 584 H.l1188 M. dan tetap bersama-

nya hingga Saladin wafat lima tahun kemudian. Bisa dimengerti,

karyanya didorong oleh perasaan bangga atas keberhasilan-ke-

berhasilan Saladin. Ia tidak hanya ingin memuji pelindungnya-

yang tentu saja adaiah tugas setiap penulis biografi istana-namun 

ia juga bermaksud menjelaskan dengan panjang lebar penaklukan

kembali Yerusalem dan kemenangan Islam atas Kristen.

Ada berbagai peristiwa dalam karier Saladin yang oleh Ibn

SyaddAd dijadikan sebagai tonggak penting dalam evolusi spiritual

Saladin menjadi seorang mujahid teladan. Tidak lama sesudah  ia

memegang kekuasaan di Mesir, menyusul kematian Syirk0h pada

564 H.ll168 M., Saladin "berhenti minum anggur dan menolak

bersenang-senang, dan memulai dengan upaya-upaya yang sung-

guh-sungguh'.'6 Saladin membentuk kembali Islam Sunni di Mesir

dan kini siap memerangi kaum Frank. Ibn Syaddid tidak me-

nyebutkan kesepakatan damai Saladin dengan kaum Frank dan ia

menerjemahkan upaya-upaya Saladin untuk merebut wilayah-

wilayah NCrruddin dari keluarg nya sebagai bagian dari peng-

abdiannya pada jihad. Dengan demikian, Ibn Syaddid menetapkan

konstruksi yang paling mungkin pada manuver-manuver yang oleh

para sejarawan yang netral bisa digambarkan sebagai tindakan

oportunis.

Ibn Syaddid juga memberikan laporan yang hangat dan

penuh pujian-pujian terhadap kemuliaan religius pelindungnya

itu: "saladin yaitu  pria dengan iman yang kukuh, orang yang

sering menyebut asma Allah."17

Ketaatan Saladin menjalani agama ditegaskan dan kita yakin

bahwa "spekulasi tidak akan bisa membuatnya melakukan ke-

salahan atau bidah agama".l8 Fakta bahwa ia tidak meninggalkan

harta saat  wafat dijelaskan oleh Ibn SyaddXd bahwa ia telah

membuang semua kekayaannya, sehingga saat  wafat Saladin

hanya memiliki empat puluh sen dirham Nashiriyah dan sepotong

uang emas yang biasa digunakan warga  Tirus.re Dengan

demikian, ketidakpedulian Saladin terhadap uang, yang menjadi

sasaran kritik oleh yang lain, diubah menjadi sebuah nilai ke-

salehan oleh pengagumnya, Ibn SyaddXd. Mereka berdua, Saladin

dan Ibn Syaddid, salat bersama saat  mereka mendengar kaum

Frank berniat mengepung Yerusalem dan tidak lama kemudian

"datang berita menggembirakan bahwa kaum Frank itu telah

mundur dan kembali ke wilayah al-Ramla".2o

Doa Saladin telah dikabulkan. Dalam kehidupan pribadinya,

yang hanya dilihat oleh segelintir pengikutnya, Saladin ditunjukkan

sebagai orang yang alim dan takut pada Allah. Nilai-nilai ini

kemudian diperluas oleh Ibn Syaddid ke dalam perannya sebagai

penguasa, penyebar keadilan: "Ia tidak pernah menolak untuk

membantu orang yang mendapat perlakuan tidak adil."2r

Peran Saladin sebagai seorang panglima dan mujahid agung

tentu saja mendapat rempat yang membanggakan. Ia begitu

dikenal oleh para prajurit biasa di pasukannya, menciptakan

ikatan-ikatan kesetiaan dan solidaritas, dan memperbaiki moral

hukum. "Dia berjalan melintas di antara seluruh pasukan dari

sayap kanan hingga kiri, dengan menciptakan rasa persaruan dan

mendorong mereka untuk maju dan berdiri kokoh pada saat

yang tepat.."22

Hadis-hadis dibacakan oleh ulama kepada para pasukan "saat

kami semua di atas pelana".23 Tidak diragukan lagi, hadis-hadis

yang dibacakan ini merupakan hadis yang khusus berhubungan

dengan jihad dan pahala untuk para syahid di jalan Allah.2a

Ibn SyaddXd juga menyatakan bahwa ia sendiri yaitu  salah

seorang yang menulis sebuah karya tentang jihad bagi Saladin,

yang dihadiahkannya pada 584 H./1188-1189: "Saya telah mengum-

pulkan untuknya sebuah buku tentang jihad di Damaskus saat

saya tinggal di sana, dengan semua perintah dan tatakrama [jihad].

Saya menghadiahkan buku itu untuknya. Saladin menyukainya

dan biasa mempelajarinya secara rutin."25 Mengenai semangat

Saladin dalam melakukan Perang Suci, ia, menurut Ibn Syaddid,

"lebih penuh perhatian dan bersemangat dalam soal ini di-

bandingkan dengan hal apa pun lainnya".26 Dalam penjelasannya

tentang kualitas Saladin sebagai seorang mujahid, Ibn Syaddid

menurutkan kata hatinya untuk membuat penjelasan secara ber-

lebihan: "Demi cinta kepada Perang Suci dan jalan Allah, ia

meninggalkan keluarga dan putranya, tanah airnya, rumahnya,

dan semua wilayahnya, dan memilih meninggalkan semua dunia

untuk tinggal di dalam bayang-bayang tendanya."27


Penulis biografi Saladin lainnya, 'lmAduddin al-Ishfahlni, juga

menulis tentang Saladin dengan kata-kata pujian dalam karyanya

yang berjudul al-Syarh al-Qussi f'l-Fatfi al-Qudsi (Pemaparan yang

Penuh Perasaan tentang Penaklukan Kota Suci). Penelitian be-

lakangan ini menunjukkan bahwa karya ini  disusun pada

masa Saladin dan sebagian karya itu sebenarnya telah dibacakan

kepadanya pada 588 H.lll9z M.28 sebab  itu, tidaklah terlalu

mengejutkan bila karya ini  memiliki nada retorika yang

sangat tinggi. Dalam pengantarnya disebutkan bahwa penaklukan

Yerusalem oleh Saladin disamakan dengan hijrah Rasulullah ke

Madinah pada 622 M.2e

Pada keadaan ini, bukti-bukti Ibn al-Atsir, yang memihak

Dinasti Zengi dan sering mengkritik Saladin dengan keras, me-

miliki nilai khusus sebagai bahan koreksi bagi tingginya puji-

pujian yang disampaikan oleh dua penulis biografi Saladin ter-

sebut. Sekalipun begitu, Ibn al-Atsir pun melihat Saladin sangat

bersemangat untuk melakukan jihad. saat  menggambarkan

kematian Saladin, Ibn al-Atstr memujinya: "Ia banyak melakukan

perbuatan baik dan tindakan-tindakan baik, seorang pejuang jihad

yang hebat dalam melawan orang-orang kafir."3o

Penulis Spanyol, Ibn Jubayr, juga menyampaikan kebaikan

lainnya yang dimiliki Saladin dalam tulisannya tentang Saladin:

Ia menggambarkan lembaga-lembaga amal yang didirikan Saladin

di Aleksandria-sekolah-sekolah, tempat-tempat penginapan, tem-

pat-tempat pemandian, dan sebuah rumah sakit.3'Ia juga memuji

Saladin yang dipandang telah melakukan pengelolaan pajak yang

adil. Ibn Jubayr membuat ringkasan prestasi Saladin dalam ung-

kapan berikut: "Tindakan-tindakan Sultan yang dikenang, uPaya-

upayanya untuk keadilan, sikapnya dalam mempertahankan wilayah-

wilayah Islam tak terhitung jumlahnya."32 Ibn Jubayr tidak ke-



tinggalan membuat eulogi tenrang Saladin, dengan mengatakan

"perbuatan-perbuatannya yang parut dikenang dalam bidang agama

dan dunia, dan semangatnya dalam mengumandangkan jihad

melawan musuh-musuh Allati'.33

Meskipun Ibn Jubayr tidak lama menetap di kawasan

Mediterania timur, ia pasti telah mendengar pandangan-pandangan

yang baik tentang Saladin dari orang-orang yang ditemuinya di

sana. Dengan demikian, kesaksian-orangJuar yang memuaskan

memperkuat pernyaraan-pernyataan orang-orang dekat Saladin.

JIHAD PRIBADI SALADIN

Sebagaimana halnya Nfiruddin, di dalam sumber-sumber itu

Saladin digambarkan telah mengalami momen kebangkitan religius,

baru sesudah  itu ia melaksanakan jihad dengan tujuan yang tulus,

baik secara pribadi maupun kolektif. Namun, seperti telah di-

sebutkan, penyajian-penyajian semacam itu dalam menggambarkan

para penguasa muslim yaitu  sesuatu yang klise dalam tulisan-

tulisan para penulis sejarah. Putra Saladin, al-Afclhal, juga di-

gambarkan mengalami perubahan sesudah  Saladin wafat.sa

Namun, keyakinan bahwa Saladin sungguh-sungguh meng-

alami perubahan religius memiliki beberapa  pembenaran. beberapa 

pengalaman tidak menyenangkan yang dialami Saladin mungkin

memang telah menimbulkan pengaruh yang dalam bagi sikap

keagamaan Saladin sendiri. Pertama, beberapa tahun tidak lama

sesudah  N0ruddin wafat, Saladin selamar dari dua serangan yang

dilakukan kelompok Hasyasyin,3t y^ng pertama pada tahun 571

H.l1l75 M., dan kedua pada 581 H./1185 M. Ia juga sakit

keras dan sebab nya punya cukup waktu untuk berefleksi perihal

kerapuhan status kemanusiaannya. Penasihat yang juga penulis

biografinya,'Imiduddin al-Ishfahini, begitu yakin memandang

sakitnya Saladin itu sebagai momen penting dalam perkembangan

kesadaran keagamaannya. Penafsiran semacam ini tampak jauh

lebih masuk akal dibandingkan pandangan yang mengatakan

bahwa Saladin mengalami transformasi moral saat  berada di

Mesir pada awal tahun 1170-an. Saat sedang sakit keras, Saladin

diceritakan telah bersumpah akan mengabdikan dirinya untuk

merebut Yerusalem, apa pun taruhannya. Menurut 'Imiduddin,

penyakit yang diderita Saladin itu sengaja dikirim Allah "untuk

menyadarkannya dari tidur kelalaiannyi'.36

Saat Saladin sedang dalam masa penyembuhan, 'Imiduddin

memanfaatkan kesempatan itu dengan mengirimkan para pen-

dalnvah dan ahli agama untuk berbicara kepada Saladin sepanjang

bulan Ramadan.sT Salah seorang penasihat dekat Saladin, al-QAdhi

al-Fidhil, juga berusaha membuat Saladin berjanji untuk tidak

lagi memerangi sesama muslim dan mengabdikan dirinya untuk

berjihad.38 Saladin jatuh sakit tidak lama sesudah  Reynald me-

lakukan operasi militer yang ofensif dan berani di Laut Merah,

yang tampaknya sangat berpengaruh pada pribadi Saladin, dan

tidak seperti perang konvensional saat melawan kaum Frank di

Palestina dan Suriah. Jadi, di balik retorika dan puji-pujian para

penulis biografinya, orang bisa mendeteksi kejadian-kejadian penting

dalam kehidupan Saladin yang mungkin telah sangat memengaruhi

dirinya secara spiritual dan dengan demikian telah membuat

jihadnya menjadi lebih berarti secara pribadi.

Sekalipun dengan bukti-bukti yang telah disebutkan sejauh

ini, sumber-sumber ini  menyisakan sedikit keraguan sebab 

bahkan pada saat masih berkuasa dan tidak lama sesudahnya,

Saladin tidak lepas dari kritik. Menurut beberapa  sumber, ke-

bijakan ekspansionisnya (1174-1186), yang disebut jihad di dalam

sumber-sumber ini  ditujukan untuk menciptakan basis ke-

kuasaan pribadi yang cukup kuat untuk menyerang kaum Frank.

Untuk tujuan inilah, Saladin memerangi sesama muslim di Suriah

dan Mesopotamia (bukan hanya penganut Syiah "yang bidah",

namun  juga para tokoh dan panglima pesaingnya yang tidak mau

menyerahkan kekuasaannya) dan dalam jangka waktu yang cukup

lama, ia tidak melakukan penyerangan terhadap kaum Frank.

Bahkan penulis biografinya, al-QAdhi al-Fidhil, menyalah-

kannya, dengan mengatakan: "Bagaimana kita akan berpaling dari

memerangi kaum muslim, yang dilarang, bila kita diseru untuk

memerangi orang-orang yang patut diperangi?"3e

Ambisi-ambisi Saladin, dengan pandangan yang lebih kritis,

bisa dianggap sebagai ambisi seorang pembangun kerajaan dengan

cita-cita yang sangat jauh, tidak hanya terbatas pada Yerusalem,

Thnah Suci, dan Suriah. Yerusalem bukanlah sasaran khusus dari

upaya-upaya Saladin pada 1170-an dan awal tahun 1180-an.

sesudah  putra N0ruddin, al-Malik al-ShAlih, wafat pada 1181,

Saladin dikatakan telah memiliki rencana besar untuk memperluas

wilayah kekuasaannya yang mencakup-seperti dikatakan dalam

suratnya untuk khalifah Baghdad-Mosul, Yerusalem, Konstan-

tinopel, Georgia, dan wilayah-wilayah kekuasaan Dinasti Muwah-

hidun di barat. Rencana ini dilihat sebagai kemenangan puncak

Islam dan terutama khalifah Abbasiyah yang dikatakan menjadi

tempat Saladin mengabdi. Bahkan, meski retorika tak terbantahkan

itu diabaikan, rencana militer besar yang terrurup itu tampak

jelas. Rencana itu sangat kontras dengan rencana Nfrruddin yang

lebih sederhana dan terfokus.

Rencana ekspansi Saladin ke timur, yang hanya dituturkan

oleh Ibn al-Atsir, juga menggambarkan ambisi-ambisi wilayah

pribadi dan keluarga dan tidak bisa dinilai sebagai jihad. Dalam

sebuah percakapan antara Saladin, putranya al-Afdhal dan kakak-

nya al-'Adil, tidak lama sebelum Saladin wafat, Saladin dikisahkan

mengatakan: "Kita kini telah selesai dengan kaum Frank dan

tidak ada lagi yang bisa kita lakukan di negeri ini. Ke arah mana

lagi kita harus berpaling?"no sesudah  berdiskusi cukup lama, Saladin

kemudian melanjutkan sebagai berikut:

Kau [al-'Adil] "j* beberapa putera saya dan sebagian pasukan

saya, dan seranglah Akhlat [sekarang Turki timur], dan bila saya

telah menaklukkan wilayah Rum [Bizantium], saya akan datang

padamu dan kita akan melanjutkan dari sana menuju Azerbaijan.

Selanjutnya kita akan punya akses menuju wilayah Persia. Tak ada

seorang pun di sana yang bisa mencegah kita.ar

Penuturan ini sangat mungkin, tentu saja, merupakan upaya

Ibn al-Atsir (yang dikenal condong kepada N0ruddin) untuk

menodai reputasi Saladin sebagai seorang peiuang jihad di Palestina

dan Suriah. Apalagi sebab  ia memasukkan percakapan ini dalam

ulasan obituari tentang Saladin. namun  laporan ini juga bisa

menjadi cerminan yang sebenarnya mengenai arti penting dari

perasaan Saladin dan orang-orang sezamannya untuk menjadi pusat

kekuatan kaum muslim yang sebenarnya, Irak dan Iran, dan

pengaruh wilayah ini  yang masih tertanam di negara-negara

penerus Saljuk di Suriah dan Palestina. Yang jelas, setidaknya

menurut Ibn al-Atsir, kaum Frank hanyalah satu bagian dari


rencana besar Saladin bagi dirinya dan keluarganya. Dalam konteks

ini, harus diingat bahwa Saladin berasal dari Kurdi, bukan Suriah

ataupun Palestina, dan ia memulai kehidupannya jauh di timur.

Secara alamiah itu akan membuatnya cenderung berpikir terfokus

pada Jazirah Arab, Anatolia timur, dan lran.

SALADIN DAN JIHAD DAIAM KARYA.KARYA MODERN

Perilaku Saladin yang sangat baik, berdasarkan laporan 'Imiduddin,

sekretaris pribadinya, dan Ibn SyaddXd, hakim militernya, diadopsi

oleh para ahli Orientalis Barat, Lane-Poole dan Gibb. Keduanya

memandang Saladin dikarunia dengan standar moral yang tinggi

dan didorong oleh keinginan untuk menegakkan hukum Islam

(Syariat) dan bersikap patuh kepada khalifah.a2

Gibb menulis: "Dalam masa yang singkat, namun menentu-

kan, dengan kebaikannya dan keteguhan sifatnya, ia mengangkat

Islam keluar dari kebiasaan demoralisasi politik."a3

beberapa  ilmuwan modern juga bersikap sangat kritis terhadap

jihad yang dilakukan Saladin. Mereka juga menunjuk kenyataan

pada banyaknya aktivitas militer Saladin yang diarahkan pada

pesaingnya yang sesama muslim, yang tidak semuanya merupakan

pelaku "bidah", meskipun para ahli propaganda Saladin mencap

mereka seperti itu. Ehrenkreutz, misalnya, secara retoris me-

nanyakan adakah hal lain yang diingat dari Saladin selain "catatan

rencana-rencana dan kampanye-kampanye jahat demi kebesaran

pribadi dan keluarga", seandainya ia meninggal sebab  sakit keras

pada 581 H./1185 M.?44

Pandangan ini juga dikemukakan oleh Lyon dan Jackson.

Mereka mengatakan bahwa seandainya Saladin wafat saat  sakit

keras, ia akan dikenang sebagai "seorang dinasti yang memanfaat-

kan Islam untuk kepentingannya pribadi".a5

Kohler juga melanjutkan membahas tuntas masalah ini dari

sudut pandang pancaran ketulusan ideologis pada aktivitas-aktivitas

Saladin. Ia menegaskan bahwa Saladin membuat beberapa  per-

janjian dengan negara-negara lGisten Eropa dan kawasan Mediterania

timur.a6 Saladin dan para penasihat resminya memanfaatkan ProPa-

ganda jihad untuk melegitimasi kekuasaannya dan menggambarkan

musuh-musuhnya sebagai sekutu orang-orang kafir. Sebenarnya

Saladin keberatan, seperti halnya Zengi atau N0ruddin, untuk


menjalin aliansi dengan kaum Frank. Ini sangar bertentangan

terutama dengan klaim-klaim jihad Saladin yang disampaikan

secara panjang lebar dalam surat-surat yang ditulis para pe-

nasihamya yang ditujukan kepada khalifah, dan juga di inskripsi-

inskripsi monumental.aT Berbagai julukan yang sangar meng-

gambarkan citra penyalahgunaan agama ditujukan kepada musuh-

musuh politik Saladin (meskipun mereka itu sesama muslim).

AI-Qadhi al-Fadhil, penulis Saladin, mencap mereka sebagai pem-

berontak dan pelaku bidah.a8 Kcihler menyimpulkannya dengan

ungkapan retoris, bahwa semakin lama Saladin ridak melakukan

sesuatu yang penting terhadap kaum Frank, semakin sering ia

menggambarkan peperangannya melawan sesama muslim sebagai

jihad. Pada tahap tertentu, interpretasi K<;hler rentang karier

Saladin memiliki kesamaan, setidaknya dengan ilmuwan Jerman

lainnya, M6hring. Menurut Mdhring, jihad bukanlah kekuatan

penggerak dalam karier Saladin dan tujuan utamanya bukanlah

merebut kembali Yerusalem, tapi kebangkitan seluruh kerajaan

Islam di bawah kepemimpinannya.4e

. Mungkin orang terlalu jauh dalam menghapuskan mitos

Saladin sebagai pejuang Islam sejati. Di tahun-tahun menjelang

penaklukan kembali Hattin dan Yerusalem, upaya jihad yang

dirancang dengan strategi yang kurang menarik perhatian orang-

orang, yang dilakukan Saladin melawan kaum Frank, bisa dipan-

dang sebagai kebijakan yang lebih hati-hati, dibandingkan upaya

habis-habisan untuk menghancurkannya, sebab  penghancuran

besar-besaran bisa memicu kembali gelombang serangan Perang

Salib berkekuatan besar yang sangat berbahaya dari Eropa. Lebih

jauh lagi, barangkali tidak adil bila mengkritik Saladin bahwa ia

tidak melakukan upaya habis-habisan untuk mengusir kaum Frank

sesudah  merebut kembali Hattin dan Yerusalem. Saladin bukan

hanya akan mengalami anti-klimaks yang tak bisa dihindari,

menyusul keberhasilan cita-citanya yang telah lama terpendam-

dalam hal ini, penaklukan f61u52lsrn-namun  juga harus meng-

hadapi Perang Salib Ketiga. Dengan demikian, keberhasilannya

merebut Kota Suci, sebaliknya, telah membawanya meraih ke-

menangan terbesar serta berbagai kesulitan di tahun-tahun terakhir

yang mengecewakan dalam hidupnya.


Apa pun yang terjadi, yang rerpenting dalam konteks ke-

bangkitan tokoh jihad di kawasan Mediterania timur yaitu  sikap

ralcyat terhadap penguasa ini . Di sini Saladin membangun

dasar-dasar yang telah diletakkan Ntruddin. Setiap langkah Saladin

menuju cita-cita merebut kembali Yerusalem direstui secara pribadi

oleh khalifah Sunni di Baghdad. Ini merupakah "kisah rekaan

yang dibenarkan", tapi Saladin dengan hati-hati meminta "tanda

pengakuan" dari khalifah setiap kali berhasil melakukan pe-

naklukan. sesudah  merebut Hims di Suriah dari tangan kaum

muslim Sunni, Saladin mencoba membenarkan tindakannya ini

sebagai bagian dari upayanya dengan tujuan keadilan. "Tindakan

kami bukan dilakukan untuk merebut sebuah kerajaan untuk diri

kami sendiri, tapi untuk menetapkan standar jihad. Orang-orang

ini telah menjadi musuh, yang menghalang-halangi tujuan kami

dalam perang ini."5o

Dengan demikian, apa pun morif pribadinya, dan motif

ini  hampir pasti menyertai kebesaran diri dan keluarganya,

peran penting Saladin dalam pembahasan propaganda jihad yaitu 

bahwa setiap jengkal langkahnya ditunjukkan sebagai pembenaran

atas tindakan-tindakannya dalam konteks jihad. Motivasi Saladin

yang sesungguhnya tidak pernah bisa dinilai dan bagaimanapun

juga ini mungkin merupakan pertimbangan yang tidak relevan.

Tidak menjadi soal bagaimanapun pandangan dan reaksi orang-

orang sezamannya-para panglima militernya, penasihat pribadi-

nya, dan kelompok-kelompok agama. Saladin punya kesempatan

untuk berkembang menjadi seorang pemimpin jihad yang sangat

berhasil dan karismatik dan melakukan kampanye propaganda

yang mendukung dua keberhasilan besar yang diraihnya, di Hattin

dan Yerusalem. Salah seorang rekan sezamannya, Abd al-Lathif,

menceritakan dengan sangat mengesankan tentang karisma yang

dimiliki Saladin: "Orang-orang meratap untuknya sebagaimana

mereka meratap untuk nabi-nabi. Saya tidak pernah melihat pe-

mimpin yang diratapi kematiannya oleh orang-orang, sebab  ia

dicintai sepenuhnya dengan kekurangan maupun kebaikannya, oleh

orang-orang muslim maupun musyrik." (foto 4.7 dan gambar 4.7)51

SAIADIN DAN YERUSALEM

I3eberapa sumber dengan jelas menunjuk penaklukan kembali

'/erusalem sebagai puncak karier Saladin. Penaklukan ini digambar-

l<an sebagai realiasi ambisi pribadi Saladin yang menggelora. saat 

Saladin telah benar-benar merebut Yerusalem, ia secara kilas balik

menggambarkan semua tindakannya yang berakhir dengan pe-

naklukan Yerusalem ini  dengan diarahkan ke peristiwa di-

rebutnya Yerusalem itu. Pendapat publik tampaknya juga telah

berhasil digiring dengan baik sekali ke titik ini, yaitu bahwa

penaklukan Yerusalem akan menjadi bukti paling tinggi bagi

keberhasilan dan kesungguhannya. Secara strategis Yerusalem ddak-

lah penting. Akan namun , kota ini telah menjadi fokus operasi

jihad Saladin yang dilancarkan agak lambat, dan Kota Suci itu

harus benar-benar direbut.

Desakan emosi dan kerinduan yang begitu mendalam terhadap

Yerusalem dimanfaatkan sepenuhnya oleh Saladin dan rombongan-

nya dan golongan-golongan agama yang memberikan dukungan

sepenuh hati baginya. Motif untuk menguasai Yerusalem mencapai

puncaknya dengan keberhasilan Saladin merebut kota itu pada

583 H.ll187 M. Sekitar enam puluh surat, puluhan puisi dan

beberapa  khotbah didedikasikan untuk kemenangan ini. Lirik

perayaan (qasidah) yang dikirimkan untuk Saladin di Yerusalem

dari Kairo sesudah  ia berhasil merebut Kota Suci itu menyatakan:

Engkau telah membangkitkan agama Muhammad dan

jalannya ...

Engkau telah menjaga ketenteraman Kota Suci (diuLn al-jihtd).5'1

Di sini, kita melihat, penaklukan militer ini dinobatkan penuh

dengan kepentingan agama. Kehendak Allah telah dilaksanakan

dan agama yang benar telah ditegakkan di Kota Suci-Nya.

Pengaruh yang mendalam atas direbutnya kembali Yerusalem

terhadap umat Islam di kawasan Mediterania timur dicatat dengan

penuh kegembiraan oleh para penulis sejarah saar itu. Menurur

'lmiduddin dan Ibn Syaddid, umat Islam berkumpul untuk

menyaksikan perayaan Saladin memasuki Yerusalem, untuk ikut

serta dalam perayaan itu dan memulai berangkat haji dari kota

itu. Momen saat rrremasuki kota itu telah dipilih untuk dijadikan

propaganda besar-besaran. Mengetahui dan menyadari akan pe-

ngaruh besar yang ditimbulkan dengan masuknya Saladin ke

Yerusalem, ia menunggu untuk merebut kota itu sampai hari

Jumat, 27 Rajab 583 H.lz Oktober 1187 M., yaitu bertepatan

dengan peringatan Israk Mikraj Nabi Muhammad. Ibn Syaddid

merayakan pemilihan waktu yang sangat tepat ini: "Sungguh suatu

kebetulan! Allah mengizinkan kaum muslim merebut kota itu

sebagai perayaan peringatan Perjalanan Malam Rasulullah ke

Langit."53 Peristiwa ini menjadi puncak karier Saladin. Pada

akhirnya, tujuan utama jihadnya tercapai.

Peranan Yerusalem dalam perlawanan kaum muslim meng-

hadapi Perang Salib, dan beragam gambaran yang telah dimiliki

kaum muslim tentang Kota Suci ini , disampaikan secara

ringkas dalam khotbah lbn Zal<3. (w. 588 H.l1l92 M.), seorang

ulama Syaf i dari Damaskus, pada saat Saladin memasuki Yerusalem.

Ibn Zaki dipilih sesudah  melalui kompetisi yang ketat, muncul

sebagai khotib terbaik di antara khotib lainnya untuk menyampai-


kan khotbah kemenangan.5a Kutipan khotbah yang cukup panjang

diberikan oleh penulis biografi Abad Pertengahan, Ibn Khallikin,

dalam maklumat obituari lbn Zaki: "Terpujilah Allah yang dengan

bantuannya, Islam telah ditinggikan, dan dengan bantuannya pula

orang-orang musyrik dikalahkan ... "55

Ibn Zaki mengingatkan para pendengarnya rentang arti pen-

ting Yerusalem bagi kaum muslim, yang telah kembali ke pang-

kuan Islam sesudah  "disalahgunakan oleh orang-orang musyrik

selama lebih dari seratus tahun".56

Di dalam khotbah ini, kita melihat ringkasan pandangan

umat Islam tentang Yerusalem pada abad kedua belas. Di sini,

kita juga bisa mengenali unsur-unsur penyusun bermacam-macam

kesucian bernuansa islami dari Kota Suti ini  dan yang telah

ditemukan di dalam berbagai literatur tentang Kemuliaan Yerusalem:

Kota itu yaitu  tempat tinggal ayahmu Ibrahim; dari situlah

Nabi Muhammad saw. diangkat ke Langit; kiblatmu saat salat

pada permulaan Islam, rempar kediaman para nabi; rempat yang

dikunjungi orang-orang suci; makam para rasul ... Kota itu yaitu 

negeri tempat manusia berkumpul di hari kiamat; tanah yang akan

menjadi tempat berlangsungnya kebangkitan ...,7

Selanjutnya, menurut lbn Zali, Yerusalem yaitu  rumah

Ibrahim, tempat kenaikan (mikraj) Nabi Muhammad dari Kubah

Batu (foto 4.8) menuju Langit, kiblat perrama umat Islam.

Dengan demikian, kota ini  memiliki arti penting yang

berkaitan dengan dasar-dasar Islam. Yerusalem juga akan menjadi

tempat manusia berkumpul untuk diadili di hari kiamat.

Kemenangan Saladin, secara berlebihan, dibandingkan oleh

lbn Zallj dengan kemenangan Nabi Muhammad dalam Perang

Badar dan hari-hari gemilang penaklukan-penaklukan awal oleh

Islam. Di antara gelar-gelar yang dibesar-besarkan lainnya, Saladin

diberi gelar sebagai "pembela dan pelindung tanah suci-Mu [Allah]"

dan orang "yang menaklukkan para penyembah Salib".58 Dengan

demikian, Saladin ditempatkan di tingkat yang sama dengan para

khalifah pertama Islam yang telah mendirikan kerajaan yang

membentang mulai dari Spanyol ke India. Berbicara tentang

Saladin, lbn Zaki mengatakan:

Kau telah mengembalikan untuk Islam hari-hari gemilang al-

Qadisiyyah, pertempuran Yarmuk, pengepungan Khaybar, dan se-

rangan besar-besaran Khalid ibn Valid. Semoga Allah memberkahi-

mu atas pengabdian yang kau berikan demi Nabi Muhammad

yang dimuliakan-Nya.5e

Surat-surat resmi, yang dikirimkan kepada khalifah dan para

penguasa lainnya, merayakan kemenangan gemilang di Yerusalem.

'Imiduddin mengutip bagian dari sepucuk surat tentang peray^an

masuknya Saladin ke kota ini , yang menjelaskan arti penting

Yerusalem:

Yerusalem (Baytul Muqaddi), yang telah ditinggikan dan

dimuliakan Allah, dan yang telah disucikan saat  Dia membuat

tempat perlindungan-Nya keramat dan suci (di Mekah), yaitu 

tempat tinggal para nabi yang telah diutus, tempat bermukim

orang-orang suci dan saleh, dan tempat kenaikan (mikraj) penghulu

para nabi dan rasul ke Langit.6o

Tentu saja surat-surat dan khotbah-khotbah dari periode ini

bersffat sangat retoris; berisi pernyataan-pernyataan yang tinggi

dan penuh dengan kata-kata klise dan permainan kata. Kebenaran

macam apa yan1 terkandung di dalamnya? Yang jelas, Saladin

harus dinilai berdasarkan perbuatannya. Secara strategis Yerusalem

kalah penting dibandingkan dengan wilayah pesisir. Akan namun ,

secara emosi Yerusalem sangat penting. Yerusalem harus direbut

untuk Islam dan Saladin semakin bertekad untuk merebutnya'

Para penulis biografi Saladin menampilkannya sebagai orang yang

betul-betul mengabdikan diri untuk jihad. Propaganda jihad

berperan penting sebagai seruan penggerak, sebagai kekuatan untuk

menyatukan dan komitmen agama, baik untuk warga  umum

maupun di jqaran pasukan dan pemimpin militer. Yerusalem

menjadi sasaran ideal bagi cita-cita bersama yang menggerakkan

penguasa, pasukan, ulama, dan terutama penduduk, kesemuanya

dip