Masjid Nuri,es menyertakan kutipan ayat
Alquran Surah al-Baqarah: dalam konteks ini kata-kata penting
dari ayat itu yaitu sebagai berikut: "Dan dari mana saja kamu
keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram."ee
Inskripsi yang tersimpan di dalam masjid yang didirikan oleh
N0ruddin di Mosul dipilih dengan sangat teliti. Inskripsi itu
merupakan pengibaratan bagi Yerusalem sebab ayat-ayat sebelum-
nya di dalam Alquran merujuk pada Kiblat Perrama Islam-
Yerusalem. Mosul, di utara Irak, tentu saja jauh dari operasi
militer N0ruddin di Suriah. Sekalipun begitu, ia memanfaatkan
kesempatan untuk memasukkan poin-poin propaganda tentang
Yerusalem, yang merupakan ambisinya yang abadi.
Menurut sejarawan Ab0 SyXmah, pada 1173, tahun sebelum
kematiannya, N0ruddin, lewat suratnya kepada khalifah, me-
nyampaikan niatnya untuk merebut kembali Yerusalem. Cita-cita
yang disampaikannya yaitu "mengusir para pemuja Salib dari
Masjid AqshA ... menaklukkan Yerusalem ... untuk memper-
tahankan kekuasaan atas pantai Suriah".loo
Bukti mimbar ini dan inskripsi Mosul semakin me-
nambah keyakinan kita mengenai pernyataan ini, yang sekilas
tampaknya didukung oleh loyalitas generasi sejarawan muslim
berikutnya.
LITEMTUR JIHAD DARI MASA NURUDDIN
Literatur Suf dan "Literatur IstAna"
Konsep perjuangan spiritual, jihad besar, berkembang sangat pesat
pada masa Perang Salib. Setiap pembahasan tentang jihad pada
periode ini harus selalu menyertakan dimensi spiritual, sebab
tanpa dimensi spiritual itu, perjuangan militer, jihad kecil, di-
anggap kosong dan tanpa dasar.rorSufi abad kedua belas 'Ammar
al-Bidlisi (w. antara tahun 590 H. dan 604 H.lll94 M. dan
1207 M.) menjelaskan tentang jihad besar, dengan menyatakan
bahwa jiwa rendah manusia (nafsu) merupakan musuh rerbesar
yang harus diperangi.ro2Ab0 SyXmah berbicara tentang N0ruddin
hanya dengan istilah berikut: "Ia melakukan jihad ganda melawan
musuh dan melawan jiwanya sendiri."ro3
Bahr al-Fawl'id (Lautan Kebajikan-Kebajikan yang Mulia)
merupakan risalah tak dikenal yang ditulis di Persia pada per-
tengahan abad kedua belas. Risalah ini yaitu salah satu dari
berbagai karya yang ditulis di dunia Islam Abad Pertengahan
dalam genre yang disebut "Literatur Istana". Pengarangnya menga-
takan bahwa risalah ini ditulis di Suriah untuk pelindungnya
yang dingin, penguasa Maragha, Aq Sunqur Ahmadili. Dan
penerjemahnya belakangan ini yang bernama Meisami mem-
persempitnya menjadi Aleppo.l0a Ia menunjukkan fakta bahwa
ulama-ulama dari Persia direkrut untuk mengelola lembaga-lembaga
aBama yang didirikan oleh Nirruddin.'ot Dengan berbagai alasan,
buku itu menarik, sebab berisi sebuah bab panjang tentang jihad
dari masa paling awal saat Nirruddin mempropagandakan ke-
bijakan-kebijakan jihadnya di wilayah yang sama di Suriah. De-
ngan demikian, ini merupakan gambaran yang jelas rentang
lingkungan pergaulan keagamaan yang menandai gerakan kontra
Perang Salib yang terus berkembang.
sesudah memberikan pendahuluan, pengarang langsung mem-
bahas pelaksanaan Perang Suci. Lewat kutipan Alquran dan hadis
dan kisah-kisah orang-orang terdahulu, orang suci, dan sufi yang
saleh, ia memberikan perhatian pada jihad 'paling besar" melawan
musuh dalam diri manusia, jiwa yang lebih dasar. "Perang suci
berarti membunuh jiwa dengan pedang perlawanan, ia yang
menentang jiwanya untuk menyenangkan Allah berhak disebut
berani, sebab menentang jiwa itu lebih berat daripada tusukan
sebilah pedang." Jiwa yang lebih dasar sulit untuk disiplin: "Ia
(Allah) menciptakannya dengan tergesa; Dia menciptakannya tidak
sabar dan lemah, tanpa kekuatan untuk menahan panas atau
dingin. Dia menciptakannya memiliki nafsu, mencintai kese-
nangan-kesenangan .iasmani dan membenci kesusahan, dan kerja
keras orang-orang kebanyakan."
Bab empat membahas "Perang Suci lahiriah". Di sini pe-
ngarang membuat analogi sederhana dan tidak rumit dengan
hewan-hewan untuk menggambarkan pejuang jihad ideal: ia harus
seperti seekor singa dalam hal keberaniannya, seekor macan tutul
dalam hal kebanggaan dan kesombongannya, seekor beruang dalam
hal kekuatannya, seekor babi hutan yang diserang, seekor serigala
yang berlari cepat melarikan diri. saat mengambil barang
rampasan, ia harus seperti semut-yang mampu membawa beban
sepuluh kali lebih besar dari berat tubuhnya-seperti batu dalam
hal keteguhannya, seperti keledai dalam hal keuletannya, seperti
anjing dalam hal kesetiaannya dan seperti ayam jantan, yang
menunggu kesempatan untuk mencapai keinginannya.106
Literatur "Kemuliaan Wrusalem" (FadhA'il al-Quds)
Istilah fddhA'il ('kemuliaan') telah digunakan untuk judul berbagai
bentuk tulisan keagamaan, yang memuji kemuliaan-kemuliaan
menunaikan ibadah ha.ii ke Mekah, atau kemuliaan berjuang dalam
Perang Suci, atau kualitas sempurna Alquran. Karya-karya fadhA'il
juga dihasilkan sebagai akibat pertentangan antara kota-kota Islam
yang saling memperebutkan supremasi agama; kota-kota ini ter-
masuk Mekah, Madinah, Basrah, dan lainJain. Ibn Jubayr, pe-
tualang Spanyol yang hidup di masa Saladin, membaca sebuah
buku berjudtl Merits of Damascus (Kemuliaan Damaskus) dan
membuat kutipan dari buku ini .roT
Literatur tentang Fadhl'il al-Quds jarang dikenal di Barat.
Sesungguhnya, tidak ada satu pun karya dalam jenis ini yang
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa dan sangat sedikit
yang telah disunting. Karya Kemuliaan Yerusalem paling awal
yang masih bertahan yaitu karya al-VAshiti (pendakwah Syaf iyah
di Masjid Aqshi pada 410 H./1019 M.). Namun, sebelum tanggal
ini , bibit dari karya jenis Kemuliaan Yerusalem masa depan
telah hadir, yang tersebar dalam berbagai jenis tulisan Alquran,
seperti karya-karya tafsir Alquran-karya Muqitil (w 768) dan
al-Thabari (w. 923) membahas Yerusalem secara lengkap. Sumber
lain untuk bahan seperti itu yaitu literatur ilmu bumi. Ahli
ilmu bumi muslim, al-Muqaddasi dan Ibn al-Faqih, menyajikan
ulasan yang cukup banyak tentang kota ini .
Jenis Fadhl'il al-Quds bermula dengan sederhana pada periode
kekuasaan Fatimiyah di Yerusalem di awal abad kesebelas. Se-
benarnya, ada tiga risalah fadhA'il yang berasal dari masa ini:
yaitu risalah karya al-vishiti, al-Raba'i, dan Musyarraf ibn Murajja
al-Maqdisi.t08 Sudah jamak diketahui bahwa karya al-\Tishiti terah
dibacakan secara terbuka di Yerusalem pada 4lO H./1019 M.roe
Jenis ini kemudian berkembang sangar cepat pada paruh
kedua abad kedua belas dan dengan sangat jelas terbukti berlanjut
dan semakin berkembang sampai abad ketiga belas dan abad
berikutnya. Penting dicatat bahwa manuskrip karya al-washiti
itu disalin pada September I 187, satu bulan sebelum yerusalem
kembali direbut oleh Saladin. Manuskrip itu juga mencatat bahwa
masjid di Acre pada tahun itu digunakan oleh para ulama dari
Damaskus untuk menyadarkan warga rentang kesucian
Yerusalem dan untuk mempersiapkan diri menjelang perebutan
kembali Kota Suci itu.rro
Banyak karya fadhn'il yang disebutkan di dalam tulisan-tulisan
sejarah hilang atau hanya bertahan dalam bentuk kutipan-kutipan
para pengarang berikutnya. Ahli hadis terkemuka, al-Rumayli,
yang dibunuh oleh Tentara Salib pada 1099, seperti disebutkan
dalam bab dua, yaitu murid Ibn al-Muralja dan ia sendiri
diceritakan telah menulis sebuah karya rentang Kemuliaan
Yerusalem.trr Namun, kehilangan ini kalah serius dibandingkan
dengan karya yang mungkin muncul perrama kali, sebab isi
karya-karya fadhA'il tersebur sangat bisa diperkirakan dan kon-
servatif. Memang, banyak karyayang disebut fadhA'il "baru" pada
abad kedua belas dan ketiga belas berbentuk ringkasan, intisari,
atau karya ulang yang ditulis kata demi kara sesuai aslinya-dan
ini diakui sendiri oleh para penulisnya-dan mengacu kepada
dua risalah paling awal rentang rema ini , yaitu risalah al-
\Wishiti dan al-Raba'i. Tiadisi plagiarisme-atau lebih merupakan
penggunaan, penulisan kembali, dan penyusunan atas karya-karya
dari karya pendahulu yang termasyhur-tentu saja, telah terbukti
dengan jelas di dalam tulisan-tulisan keagamaan dan sejarah Islam.
Thpi hal itu tidak membawa cacat. Dengan demikian, sebagai
contoh, Ibn al-Firqah (w. 1329), di dalam karya fadhh'il yang
berjudul The Booh of Inciting Soub to Visit the Holy Pkce, Yerusalem
(Buku tentang Jiwa-Jiwa Pendorong untuk Mengunjungi Kota
Suci, Yerusalem) pada paragraf pertamanya secara terbuka me-
nyatakan bahwa bukunya sebagian merupakan ringkasan dari karya
al-Raba'i dan sebagian lagi kutipan dari dua penulis fadhh'il lain
yang risalahnya telah hilang.
Seperti halnya buku-buku tentang jihad, karya-karya tentang
Kemuliaan Yerusalem memuat bagian-bagian yang kadang meng-
alihkan tema pembicaraan tanpa arah yang jelas dan hanya ada
sedikit atau bahkan tidak ada komentar yang jelas dari "pengarang"
atau penyusunnya. Sebaliknya, karya-karya ini berisi kum-
pulan hadis yang dikelompokkan dengan berbagai judul yang
bisa diduga sebelumnya. Karya al-'Wishiti yang berisi tiga puluh
empat bagian menyertakan pembahasan tentang kemuliaan me-
ngunjungi Yerusalem, keunggulan beribadah atau berziarah ke
Yerusalem, kemuliaan Kubah Batu, kemuliaan seseorang yang
meninggal di Yerusalem, kenaikan Rasul ke Langit dari Yerusalem,
hubungan kota ini dengan hari kiamat, dan lainJain. Dengan
demikian, Hari Kebangkitan tidak bisa berlangsung, sebagaimana
ditulis al-Washiti, "sebelum Kakbah dijadikan seperti mempelai
wanita baru bagi [Kubah] Batu".lr2
Dengan kata lain, hadis-hadis itu dipilih dan dikelompokkan
dalam kategori-kategori tertentu, seperti sejarah, peribadatan, dan
wahyu. Muncul dari lingkungan teologi yang ketat, karya-karya
"Kemuliaan Yerusalem" sedikit berbeda dalam format dan isinya,
baik yang ditulis pada abad kedua belas atau ketiga belas. Meski-
pun karya-karya pertama dari jenis ini yang ada yaitu relatif
awal, sangat banyak buku dalam jenis ini yang muncul bersamaan
dengan propaganda jihad. Apakah perkembangan literatur "Ke-
muliaan Yerusalem" merupakan akibat dari terlepasnya Yerusalem
dari kekuasaan umat Islam pada 1099 dan wujud keinginan umat
Islam untuk merebut kembali Kota Suci rersebur untuk Islam?
Jawaban atas pertanyaan seperri itu sangat mungkin yaitu "ya"
sebab butuh waktu lima puluh tahun sebelum akhirnya buku-
buku tentang Kemuliaan Yerusalem mulai bermunculan dalam
jumlah yang banyak. Antara 1099 dan 1150, karya jenis ini
tampaknya tidak ditulis, meskipun bisa diperkirakan bahwa di-
rebutnya Yerusalem oleh para Tentara Salib dan rasa cinra terhadap
kota itu mungkin telah memperbesar keinginan umat Islam untuk
memilikinya. Baru pada masa kekuasaan Nfiruddin, Yerusalem
mulai dianggap penring oleh umat Islam sebagai simbol yang
kuat untuk persatuan agama dan politik. Bagian dari program
propaganda agama paling efektif yang dilakukan Nfiruddin-
dengan menekankan pada penyatuan kaum muslim dan seruan
jihad-difokuskan pada kesucian Palestina, dan lebih khusus lagi
Yerusalem.
Pada masa kekuasaan N0ruddin-lah gagasan untuk mem-
bebaskan Yerusalem tampaknya diperkuat dengan kampanye propa-
ganda resmi atau setidaknya yang disetujui pemerintah dengan
memakai karya-karya Kemuliaan Yerusalem sebagai senjata.
Dengan demikian, pada tahun 1160-an jenis karya semacam itu
muncul kembali sesudah cukup lama terpendam, di bawah tun-
tunan sejarawan dan ahli hadis, Ibn AsXkir, pemimpin pusat
ilmu-ilmu hadis (Ddr al-Hadtts) di Damaskus sekaligus sahabat
NCrruddin. Ibn AsAkir yaitu seorang penulis produktif. Ia me-
nyusun sebuah risalah tentang jihad dan risalah tentang kemuliaan
Mekah, Madinah, dan Yerusalem. Bahkan, dalam karyanya tentang
sejarah Damaskus, yang masih bertahan, ia membahas Yerusalem
dan Palestina dalam bab yang panjang. Bab ini disalin dari karya
al-Raba'i tentang Kemuliaan Yerusalem. sebab itu, kita bisa
berpendapat bahwa bahan yang sama dapat kita temukan di dalam
bukunya sendiri tentang Kemuliaan Yerusalem (yang kini hilang).
Reproduksi literatur fadhA'il ini semakin memperbesar ke-
inginan umat Islam untuk merebut kembali Yerusalem. Sungguh
jelas karya Ibn i{sXkir yang memuji Yerusalem itu dibacakan secara
terbuka kepada khalayak ramai di Damaskus dari tahun 1160
dan seterusnya. Tidak diragukan lagi, pertemuan-pertemuan umum
seperti itu semakin memperbesar kesadaran umat Islam tentang
kesucian Yerusalem dan membangkitkan harapan agar Kota Suci
itu dapat direbut kembali.
Doa-Doa dan Seruan-Seruan Jihad
Teks tentang doa seruan berjihad yang kurang dikenal dan di-
lakukan sesudah salat Jumat yang diperkirakan berasal dari abad
kesebelas telah bertahan setidaknya dalam dua karya berikutnya.
Doa yang ditulis oleh seorang ulama yang disebut Ibn al-Mawshiliyi
ini sangat jelas mengungkapkan tentang jenis propaganda
yang digunakan untuk membangkitkan kaum beriman untuk
berjihad.t'3 Doa-doa berbahasa fuab itu memiliki gaya yang sangat
retorik, yang diselingi dengan kutipan-kutipan Alquran yang
berkaitan. Namun, doa itu tidak menggambarkan proses pemilihan
kata yang cermat dan tidak memiliki keindahan gaya bait-bait
sajak seperti yang digunakan di dalam doa-doa klasik karya Ibn
NubAta, pendakwah terkemuka pada abad kesepuluh yang telah
disebutkan. Penyusunan hiperbola, permainan kata, dan kata-kata
yang sulit dimengerti dari pendakwah ini tidak beraturan.
Namun, bila dibacakan dengan keras, gaungnya yang menggugah
perasaan mengimbangi kekurangannya dalam hal bahasa. Doa itu
mencerminkan kepercayaan warga Timur Dekat yang telah
berurat akar tentang efektivitas ucapan. Bait-bait berikut berasal
dari doa ini:
Ya Allah, angkatlah panii-panji Islam dan para rasulnya, dan
tunjukkan kesalahan orang-orang musyrik dengan mematahkan
kekuatan mereka dan menggagalkan upaya mereka. Bantulah mereka
yang berjihad untuk-Mu dan yang dengan kesetiaannya pada-Mu
telah mengorbankan diri mereka dan menjual jiwa mereka pada-
Mu.
Doa itu berakhir dengan ungkapan lantang: "sebab perilaku
mereka tetap tidak berubah, semoga mata orang-orang musyrik
itu dibutakan dari jalan kebenaran.""4
Pasti ada banyak seruan berjihad yang tak diragukan meng-
ikuti model seruan Ibn Nubita yang mengekspresikan emosi yang
menggugah, tapi teks-teks mereka tidak bertahan.
Buhu-Buku Khusus tentang Jihad
Kita telah membahas Kitnb al-Jihnd yang ditulis oleh al-sulami
di awal abad kedua belas. Buku ini memakai jenis tulisan
yang berasal dari abad kedelapan. Karya sejenis pertama kali ditulis
oleh Ibn al-Mubirak (w. 181 H.1797 M.).,,t Buku-buku sejenis
berkembang terutama pada paruh kedua abad kedua belas, tepat-
nya pada masa Nfiruddin dan Saladin. Karya-tr<arya ini berfungsi
sebagai senjata untuk propaganda jihad, bersama-sama dengan
seruan-seruan pembangkit semangat, syair-syair penggugah pe-
rasaan, dan literatur Fadhi'il al-Quds. Buku jihad berisi kompilasi
dari hadis terpilih yang membangkitkan kenangan renrang perang-
perang di awal Islam dan janji Surga bagi mereka yang berjihad.
Para penulis sejarah berpendapat bahwa ada hubungan yang
bersifat langsung antara literatur semacam ini dengan aksi militer.
Memang, seorang kerabat penulis muslim terkemuka bernama
Usimah, yaitu 'Ali ibn Munqidz, dialarkan 6uku Kithb al-Jihnd
oleh Ibn AsXkir. sesudah mendapat semangat, 'Ali berangkat
menuju fucalon pada 546 H./1151 M. untuk mempertahankan
kota itu melawan para Tentara Salib dan gugur dalam pertempuran
itu.tt6 Salah seorang penyusun buku-buku rentang jihad yaitu
Ibn Syaddid, penulis biografi Saladin (w. 623 H.lt234 M.), yang
mempersembahkan sebuah karya, yang kini tidak ada lagi, yang
berjudul The Merits of Jihad (Keutamaan Jihad), untuk Saladin
saat beliau tengah mengepung biara Krac des Chevaliers pada
580 H./1184 M. Buku ini diperkirakan memuar seluruh hadis
Rasulullah tentang Perang Suci.
Puisi yang Memuji Kebajihan-Kebajihan Jihad
Media kesusasteraan yang paling berkembang untuk jihad barang-
kali yaitu puisi yang ditulis oleh para penyair di zamannya
untuk penguasa mereka, para pangeran, dan pemimpin militer
saat itu, dan khususnya untuk Nfrruddin. Puisi-puisi ini
dibacakan secara terbuka di lapangan, dan sangat berpengaruh
pada orang-orang yang mendengarkannya. Seperti telah disebutkan
sebelumnya, para penyair seperti Ibn Munir dan Ibn al-QaysarXni
menyusun pernyataan-pernyataan puitis yang bersemangat untuk
Zengi serclah penaklukan Edessa.rrT sesudah 'Imiduddin al-Ishfahin
bergabung dengan Nirruddin, ia juga menulis puisi yang memuji
tuannya yang telah melakukan jihad itu. 'lmAduddin menulis:
Nfiruddin meminta saya untuk menulis dua baris puisi yang
siap diucapkannya tentang arti jihad, jadi saya katakan:
"Semangat saya yaitu untuk berperang dan kesukaan saya ada di
dalamnya. Saya tidak punya keinginan lain dalam hidup
kecuali berperang.
Hasil pencarian yang baik yaitu dengan kerja keras dan jihad.
Merdeka dari kecemasan tergantung pada usaha keras [di jalan
Allahl"'tts
Pada kutipan puisi lainnya, 'Imiduddin men)'usun bait berikut
untuk menggambarkan Nirruddin:
Saya tidak punya keinginan lain kecuali jihad
Berhenti dari apa saja selain jihad merupakan desakan bagi saya.
Mencari keberhasilan tidak dengan apa-apa selain kerja keras.
Hidup tanpa usaha jihad yaitu [sikap bermalas-malas] di masa
lalu.r'e
Bisa diduga, pernyataan-pernyataan retoris yang sempurna
dibuat untuk Ntruddin pada elegi pemakamannya, juga ditulis
oleh 'Imiduddin:
Agama sedang dalam kegelapan sebab cahayanya tiada [ini yaitu
permainan kata-kata dari makna nama N|truddin-cahaya
agama]
Masa berada dalam kesedihan sebab kehilangan pemimpinnya.
Biarkan Islam meratapi pembela para penganutnya
Dan Suriah [meratapi] pelindung Kerajaannya dan
perbatasannya.l2o
Pernyataan-pernyataan ini telah memberikan pembenaran
dengan baik untuk pemimpin karismatik ini , sementara karier
kekuasaannya kurang begitu diperhatikan di Barat.U
semangat jihad pada titih muknya sebenarnya hanyakh sebuah fihsi militer
sebuab sumber energi dan antusiasme, dan suatu mobilisasi reflehs
pertahanan yang ideal pada periode hedua Iskm.t (Djait)
Bab ini pertama-rama membahas peranan jihad pada masa Saladin
dan para penerusnya, Dinasti Ayyubiyah. Selanjutnya, bab ini
akan membahas konteks jihad negara Mamluk yang akhirnya
menumbangkan para Tentara Salib di kawasan Mediterania timur
pada akhir abad ketiga belas.
KARIER SAIADIN: KEMNGKA DASAR
Seperti halnya karier N0ruddin, kegemilangan penerusnya yang
lebih terkenal, ShalXhuddin (Saladin), dicatat dengan kekaguman
dan kesalehan oleh para penulis sejarah Islam. Sebelum menilai
konteks jihad karier Saladin, penting untuk memberikan penjelasan
ringkas tentang keberhasilan-keberhasilannya yang utama. Tidak
seperti biasanya, sumber-sumber tentang karier Saladin sangat
banyak sebab dua penasihat dekatnya, 'Imiduddin al-IshfahAni
(w. 597 H.lr201 M.) dan Bahi'uddin Ibn Syaddid (w. 632 H.l
1234 M.), sebenarnya menulis laporan biografi tenrangnya-
peristiwa historiografis paling langka hingga periode ini. Penulis
sejarah lainnya, seperti Ibn al-Atsir (w. 630 H.ll233 M.) dan
Abfi Syimah (w. 665 H.11258 M.), menjelaskan karier Saladin
dengan sangat lengkap. Penasihat dekat Saladin lainnya, al-Qadhi
al-Fadhil, meninggalkan banyak surat yang juga merupakan sumber
berharga bagi pengetahuan kita tentang aktivitas Saladin dan yang
dikutip cukup panjar.g oleh Lyons dan Jackson di dalam buku
Saladin: The Politics of the Hofu War.
Babak pertama kenaikan Saladin menuju ketenarannya, sePerti
telah disebutkan, terjadi saat NCrruddin berkuasa, saat Saladin
harus menjalani perjuangan sulit untuk mendapatkan kekuasaan
di Mesir, sebagai pembantu Nirruddin. Kematian N0ruddin pada
569 H.lL174 M. kemungkinan mencegah pecahnya pertikaian
serius di antara mereka.2
sesudah 569 H.lll74 M., fokus utama Saladin yaitu men-
dapatkan kredibilitas bahwa dirinya yaitu penerus Nirruddin,
untuk menghadapi permusuhan dari kalangan keluarga N0ruddin
yang berusaha mengudsai wilayah-wilayahnya. Seperti halnya
Nirruddin, dekade Pertama kekuasaannya dihabiskan untuk me-
merangi sesama muslim dengan tujuan untuk mempersatukan
mereka. Ia hanya sesekali menyerang kaum Frank. Seperti juga
Nfiruddin, selama bertahun-tahun saladin juga memerangi rivalnya
sesama muslim dan membuat kesepakatan damai dengan kaum
Frank. Pada 579 H./1183 M., dengan direbutnya Aleppo, Saladin
telah menyatukan suriah dan Mesir dalam kekuasaannya. Pada
masa inilah saladin memberi perhatian secara serius kepada kaum
Frank. Dipicu oleh aksi Reynald dari chatillon di Laut Merah,
yang mengancam Kota-kota Suci, Saladin terdorong untuk me-
nyerang benteng al-Karak milik Reynald pada 579 H.11183 M.
dan 580 H.lll}4 M. Usaha Saladin ini terbukti tidak berhasil.3
Setahun kemudian (5St H./1185-1186 M.) Saladin sakit
keras dan penyembuhannya membutuhkan waktu yang cukup
lama.a Begitu sembuh, Saladin mengumpulkan sekutu-sekutunya
di wilayah-wilayah sekitarnya dan pada 583 H./1187 M. Saladin
melancarkan operasi militer besar-besaran melawan kaum Frank.
Khusus untuk kota Antiokhia yang dikuasai kaum Frank, Saladin
tidak menyerangnya sebab ia telah membuat perjanjian damai
dengan penguasa di sana. Ia menyerang kaum Frank di Hattin
pada hari Sabtu 24 Rabiulakhir 583 H. bertepatan dengan 4 Juli
1187 M. dan memperoleh kemenangan. Acre menyerah lima hari
kemudian, dan pada pertengahan Jumadilakhirlawal September,
wilayah selatan pantai Mediterania timur dari Gaza hingga Jubayl
(kecuali Tirus) telah dikuasai Saladin. Ia selanjutnya menuju
Yerusalem yang ditaklukkannya pada tanggal 27 Ralabl2 Oktober.
Yerusalem sangat mungkin menjadi klimaks psikologis bagi
karier Saladin. Namun, kaum Frank masih menguasai pantai
Suriah sepanjang 350 mil dan se,iumlah pelabuhan utama. Saladin
melanjutkan vpayeny^ untuk merebut kembali Yerusalem dengan
merebut benteng-benteng di utara Suriah pada 584 H./1188 M.
Akan namun , Saladin gagal merebut Tirus. Pada Perang Salib
Ketiga, Tentara Salib mengepung Acre yang akhirnya takluk
seluruhnya kepada mereka pada Jumadilakhir/Juli 1191, yang
dilanjutkan dengan perjanjian damai antara Saladin dan kaum
Frank pada Syakban 588 H./September 1192 M. Saladin wafat
pada hari Rabu, 27 Shafar 589 H. bertepatan dengan 3 Maret
1r93 M.
\TARISAN NURUDDIN
Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang oleh Lyons dan Jackson
di dalam biografi Saladin yang mereka susun, dinasti-dinasti
keluarga seperti dinasti keluarga panglima militer Ttrrki di Suriah
pada abad kedua belas merasa bahwa kekuasaan yang telah mereka
rebut harus mendapat pengesahan. Untuk itu mereka mem-
butuhkan dukungan kelompok-kelompok agama serta pengesahan
atas aktivitas-aktivitas militer mereka oleh khalifah secara terbuka.5
Propaganda agama mereka, termasuk arsitektur (foto 4.24.5, 4.6;
bandingkan dengan foto 5.7,3.36, dan 5.8; gambar 4.3), memiliki
tujuan yang sama, yaitu membenarkan otoriras mereka. Kita telah
melihat bagaimana para pendukung Nfiruddin memperregas tu-
juan-tujuannya dalam istilah-istilah ekspansi pribadi dan keluarga
ke dalam konsep Perang Suci dan bagaimana Nfrruddin sendiri
digambarkan di dalam sumber-sumber tersebur-tenru saja pada
bagian selanjutnya dalam kariernya-sebagai gabungan antara jihad
pribadi dan kolektif. Saladin bisa mengembangkan dasar-dasar
kesatuan moral yang diwariskan oleh Nirruddin, dan sebagaimana
pendahulunya yang termasyhur itu, yang kerajaannya telah ia
ambil alih, Saladin bisa menampilkan dirinya sebagai sosok pem-
bela Islam Sunni dan penggerak jihad melawan kaum Frank.
PROPAGANDA JIHAD PADA MASA SATADIN
saat Saladin menggandkan Nfiruddin sebagai panglima besar
jihad dan arsitek persatuan Islam, ia terus memanfaatkan berbagai
propaganda yang dipergunakan di masa Nfiruddin yang telah
terbukti sangat berhasil. Karya awal al-Rabai tentang Kemuliaan
Kota Yerusalem dibacakan di depan umum pada April 1187,6
bersamaan dengan saat pasukan Saladin tengah menyiapkan
serangan yang mencapai puncaknya pada penaklukan Yerusalem.
Ini merupakan petunjuk yang jelas tentang dampak emosional
dari karya-karya tentang Kemuliaan Kota Yerusalem itu terhadap
para pendengarnya.
Di Palestina dan Suriah sendiri, keberhasilan Saladin merebut
Yerusalem, yang menjadi puncak kariernya, tidak digembar-gem-
borkan dengan sorak-sorai. Sekali lagi, seorang penulis yang tidak
berada di sekitar Palestina rerdorong unruk menulis sebuah karya
tentang Kemuliaan Kota Yerusalem. Pendakwah, ahli hukum dan
sejarawan Baghdad terkenal, Ibn al-Jawzi (w. 597 H./1200 M.),
menulis karya semacam itu, yang menggarisbawahi perasaan malu
yang didera akibat penaklukan Yerusalem oleh para Tentara Salib
dan keagungan dari puncak keberhasilan Saladin dalam merebur
kembali Yerusalem dipuji-puji.'Z
Dalam melakukan kampanyenya, Saladin disertai oleh per-
wakilan kelompok ulama terkemuka. Ulama aliran Hanbali, Ibn
Qudimah (w. 620 H.ll223 M.), misalnya, menyertai Saladin
saat ia memasuki Yerusalem dengan penuh kemenangan. Ibn
QudXmah dan keponakannya, Abd al-Ghini, telah berada dalam
pasukan Saladin sejak kampanye penyerangan digelar pada 1180-
an. Karya seorang ulama Hanbali, Ibn Batta, yang berjudul The
Profession of Faith dibacakan di depan umum oleh Ibn Qudimah
pada 582 H./1186 M. menjelang Saladin melancarkan serangan
menentukan terhadap kaum Frank.s Pada masa Saladin, Abd al-
GhAni menulis sebuah karya-yang-memuji-jihad yang dibacakan
di lingkungan agama Damaskus.e
Seperti pada masa N0ruddin, para penyair di masa Saladin
juga menekankan aspek-xpek religius dalam karier Saladin, dengan
menekankan pelaksanaan jihad dan peranannya sebagai penguasa
Sunni yang ideal. Penyair Ibn Sana' al-Mulk (w. 608 H.ll2ll
M.) menyampaikan pidato puji-pujian yang menggambarkan keter-
pesonaan untuk Saladin usai kemenangan besar Saladin di Hattin
pada 583 H./1187 M.'o
Kau merebut kepemilikan Surga (iinan) istana demi istana, saat
kau menaklukkan Suriah, benteng demi benteng.
Sungguh, agama Islam telah menyebarkan rahmatnya atas
seluruh makhluk.
namun , kaulah yang memuliakannya ...
Kau telah bangkit dari gulira perjuangan, laksana bulan
yang perlahan mendaki di malam hari
Kau selalu hadir dalam perrempuran
oh Yusufi, bagaikan keindahan Yusuf [di dalam Alquran].
Mereka menyerang bersama-sama bak gunung-gunung, tapi serangan
dari pasukanmu telah mengubah mereka menjadi benang wol
S,rrirh b,rk"r, satu-sarunya tujuan ucapan selamat yang disampaikan
kepadamu, namun juga setiap wilayah dan negara.
Kau telah memiliki wilayah dari timur hingga ke barat.
Kau telah merengkuh kaki langir, daratan dan padang rumpur
luas ...
Allah relah berkata: Patuhi dia;
Kami telah mendengar Tiran Kami dan memaruhinya.rr
Bait-bait ini telah disisipi dengan pernyaraan-pernyaraan Alquran,
bukan hanya dari Surah ke-12 yang menceritakan tentang kisah
Nabi Yusufl, (permainan kata-kata dari salah satu nama Saladin),
namun juga Surah al-Ma'i,rij ayat kesembilan ("Dan gunung-gunung
menjadi seperti gumpalan benang wol";.tz Yang terpenting, bait-
bait ini menunjukkan bagaimana Saladin dipandang sebagai se-
orang kekasih Allah yang melaksanakan tujuan kehendak ilahiah-
Ny".
Latar belakang keislaman Saladin diakui secara penuh pada
koin emas yang masih tersisa, diukir atas namanya di Suriah dan
bertanda tahun 583 H.ll187 M. Di koin ini, yang mungkin
dibuat untuk merayakan kemenangan Saladin di Hattin dan
Yerusalem, ia disebut "sultan Islam dan kaum muslim". Ini yaitu
bagian dari bukti tak terbantah yang berasal dari masa itu: koin
kecil namun mahal. Pada ruang terbatas di koin itu, gelar yang
dipilihkan untuk menggambarkan Saladin yaitu gelar kejayaan
Islam.13 Dengan nilai emas yang tinggi, koin itu digunakan untuk
pencetakan koin-koin mengenai peringatan peristiwa-peristiwa
penting: puncak karier Saladin dalam istilah-istilah agama dengan
demikian dicatat di saat paling awal kejadiannya pada logam
paling mulia yang ada.ta
JIHAD SALADIN: BUKII.BUKTI PARA PENUTIS SEJARAH MUSLIM
ABAD PERTENGAHAN
Sumber-sumber Islam telah berusaha keras untuk menghadirkan
Saladin sebagai sesosok muslim teladan, orang yang paling taat.
Contoh tipikal dari karya semacam ini yaitu biografi karya Ibn
Syaddid, yang layak untuk dianalisis dengan lebih lengkap. Seperti
ditunjukkan oleh Holt, karya ini terbagi menjadi tiga bagian
berbeda, dengan bagian yang terbesar (sekitar 83 persen) disediakan
untuk menyebutkan kebajikan-kebajikan Saladin dan penuturan
tentang enam rahun terakhir masa hidupnya.rt Dengan demikian
ini jelas-jelas merupakan usaha yang disengaja dari bukti-bukti
ini berkaitan dengan tahap terakhir karier Saladin untuk
menghadirkan Saladin di puncak pencapaiannya sebagai seorang
mujahid teladan. Sebaliknya, karya itu juga menyembunyikan
proses kenaikannya ke kursi kekuasaan sesudah terjadi apa yang
oleh komentator-yang-kurang-memujinya mungkin dianggap se-
bagai rangkaian kematian yang sangat kebetulan-rerutama ke-
matian pamannya, Syirk0h, kematian khalifah Fatimiyah, dan
bahkan kematian N0ruddin sendiri, dan putranya, al-Malik al-
shelih.
Ibn Syaddid menulis biografi Saladin sesudah kemenangan
gemilang Saladin di Hattin dan Yerusalem. Memang, ia mulai
mengabdi pada Saladin pada 584 H.l1188 M. dan tetap bersama-
nya hingga Saladin wafat lima tahun kemudian. Bisa dimengerti,
karyanya didorong oleh perasaan bangga atas keberhasilan-ke-
berhasilan Saladin. Ia tidak hanya ingin memuji pelindungnya-
yang tentu saja adaiah tugas setiap penulis biografi istana-namun
ia juga bermaksud menjelaskan dengan panjang lebar penaklukan
kembali Yerusalem dan kemenangan Islam atas Kristen.
Ada berbagai peristiwa dalam karier Saladin yang oleh Ibn
SyaddAd dijadikan sebagai tonggak penting dalam evolusi spiritual
Saladin menjadi seorang mujahid teladan. Tidak lama sesudah ia
memegang kekuasaan di Mesir, menyusul kematian Syirk0h pada
564 H.ll168 M., Saladin "berhenti minum anggur dan menolak
bersenang-senang, dan memulai dengan upaya-upaya yang sung-
guh-sungguh'.'6 Saladin membentuk kembali Islam Sunni di Mesir
dan kini siap memerangi kaum Frank. Ibn Syaddid tidak me-
nyebutkan kesepakatan damai Saladin dengan kaum Frank dan ia
menerjemahkan upaya-upaya Saladin untuk merebut wilayah-
wilayah NCrruddin dari keluarg nya sebagai bagian dari peng-
abdiannya pada jihad. Dengan demikian, Ibn Syaddid menetapkan
konstruksi yang paling mungkin pada manuver-manuver yang oleh
para sejarawan yang netral bisa digambarkan sebagai tindakan
oportunis.
Ibn Syaddid juga memberikan laporan yang hangat dan
penuh pujian-pujian terhadap kemuliaan religius pelindungnya
itu: "saladin yaitu pria dengan iman yang kukuh, orang yang
sering menyebut asma Allah."17
Ketaatan Saladin menjalani agama ditegaskan dan kita yakin
bahwa "spekulasi tidak akan bisa membuatnya melakukan ke-
salahan atau bidah agama".l8 Fakta bahwa ia tidak meninggalkan
harta saat wafat dijelaskan oleh Ibn SyaddXd bahwa ia telah
membuang semua kekayaannya, sehingga saat wafat Saladin
hanya memiliki empat puluh sen dirham Nashiriyah dan sepotong
uang emas yang biasa digunakan warga Tirus.re Dengan
demikian, ketidakpedulian Saladin terhadap uang, yang menjadi
sasaran kritik oleh yang lain, diubah menjadi sebuah nilai ke-
salehan oleh pengagumnya, Ibn SyaddXd. Mereka berdua, Saladin
dan Ibn Syaddid, salat bersama saat mereka mendengar kaum
Frank berniat mengepung Yerusalem dan tidak lama kemudian
"datang berita menggembirakan bahwa kaum Frank itu telah
mundur dan kembali ke wilayah al-Ramla".2o
Doa Saladin telah dikabulkan. Dalam kehidupan pribadinya,
yang hanya dilihat oleh segelintir pengikutnya, Saladin ditunjukkan
sebagai orang yang alim dan takut pada Allah. Nilai-nilai ini
kemudian diperluas oleh Ibn Syaddid ke dalam perannya sebagai
penguasa, penyebar keadilan: "Ia tidak pernah menolak untuk
membantu orang yang mendapat perlakuan tidak adil."2r
Peran Saladin sebagai seorang panglima dan mujahid agung
tentu saja mendapat rempat yang membanggakan. Ia begitu
dikenal oleh para prajurit biasa di pasukannya, menciptakan
ikatan-ikatan kesetiaan dan solidaritas, dan memperbaiki moral
hukum. "Dia berjalan melintas di antara seluruh pasukan dari
sayap kanan hingga kiri, dengan menciptakan rasa persaruan dan
mendorong mereka untuk maju dan berdiri kokoh pada saat
yang tepat.."22
Hadis-hadis dibacakan oleh ulama kepada para pasukan "saat
kami semua di atas pelana".23 Tidak diragukan lagi, hadis-hadis
yang dibacakan ini merupakan hadis yang khusus berhubungan
dengan jihad dan pahala untuk para syahid di jalan Allah.2a
Ibn SyaddXd juga menyatakan bahwa ia sendiri yaitu salah
seorang yang menulis sebuah karya tentang jihad bagi Saladin,
yang dihadiahkannya pada 584 H./1188-1189: "Saya telah mengum-
pulkan untuknya sebuah buku tentang jihad di Damaskus saat
saya tinggal di sana, dengan semua perintah dan tatakrama [jihad].
Saya menghadiahkan buku itu untuknya. Saladin menyukainya
dan biasa mempelajarinya secara rutin."25 Mengenai semangat
Saladin dalam melakukan Perang Suci, ia, menurut Ibn Syaddid,
"lebih penuh perhatian dan bersemangat dalam soal ini di-
bandingkan dengan hal apa pun lainnya".26 Dalam penjelasannya
tentang kualitas Saladin sebagai seorang mujahid, Ibn Syaddid
menurutkan kata hatinya untuk membuat penjelasan secara ber-
lebihan: "Demi cinta kepada Perang Suci dan jalan Allah, ia
meninggalkan keluarga dan putranya, tanah airnya, rumahnya,
dan semua wilayahnya, dan memilih meninggalkan semua dunia
untuk tinggal di dalam bayang-bayang tendanya."27
Penulis biografi Saladin lainnya, 'lmAduddin al-Ishfahlni, juga
menulis tentang Saladin dengan kata-kata pujian dalam karyanya
yang berjudul al-Syarh al-Qussi f'l-Fatfi al-Qudsi (Pemaparan yang
Penuh Perasaan tentang Penaklukan Kota Suci). Penelitian be-
lakangan ini menunjukkan bahwa karya ini disusun pada
masa Saladin dan sebagian karya itu sebenarnya telah dibacakan
kepadanya pada 588 H.lll9z M.28 sebab itu, tidaklah terlalu
mengejutkan bila karya ini memiliki nada retorika yang
sangat tinggi. Dalam pengantarnya disebutkan bahwa penaklukan
Yerusalem oleh Saladin disamakan dengan hijrah Rasulullah ke
Madinah pada 622 M.2e
Pada keadaan ini, bukti-bukti Ibn al-Atsir, yang memihak
Dinasti Zengi dan sering mengkritik Saladin dengan keras, me-
miliki nilai khusus sebagai bahan koreksi bagi tingginya puji-
pujian yang disampaikan oleh dua penulis biografi Saladin ter-
sebut. Sekalipun begitu, Ibn al-Atsir pun melihat Saladin sangat
bersemangat untuk melakukan jihad. saat menggambarkan
kematian Saladin, Ibn al-Atstr memujinya: "Ia banyak melakukan
perbuatan baik dan tindakan-tindakan baik, seorang pejuang jihad
yang hebat dalam melawan orang-orang kafir."3o
Penulis Spanyol, Ibn Jubayr, juga menyampaikan kebaikan
lainnya yang dimiliki Saladin dalam tulisannya tentang Saladin:
Ia menggambarkan lembaga-lembaga amal yang didirikan Saladin
di Aleksandria-sekolah-sekolah, tempat-tempat penginapan, tem-
pat-tempat pemandian, dan sebuah rumah sakit.3'Ia juga memuji
Saladin yang dipandang telah melakukan pengelolaan pajak yang
adil. Ibn Jubayr membuat ringkasan prestasi Saladin dalam ung-
kapan berikut: "Tindakan-tindakan Sultan yang dikenang, uPaya-
upayanya untuk keadilan, sikapnya dalam mempertahankan wilayah-
wilayah Islam tak terhitung jumlahnya."32 Ibn Jubayr tidak ke-
tinggalan membuat eulogi tenrang Saladin, dengan mengatakan
"perbuatan-perbuatannya yang parut dikenang dalam bidang agama
dan dunia, dan semangatnya dalam mengumandangkan jihad
melawan musuh-musuh Allati'.33
Meskipun Ibn Jubayr tidak lama menetap di kawasan
Mediterania timur, ia pasti telah mendengar pandangan-pandangan
yang baik tentang Saladin dari orang-orang yang ditemuinya di
sana. Dengan demikian, kesaksian-orangJuar yang memuaskan
memperkuat pernyaraan-pernyataan orang-orang dekat Saladin.
JIHAD PRIBADI SALADIN
Sebagaimana halnya Nfiruddin, di dalam sumber-sumber itu
Saladin digambarkan telah mengalami momen kebangkitan religius,
baru sesudah itu ia melaksanakan jihad dengan tujuan yang tulus,
baik secara pribadi maupun kolektif. Namun, seperti telah di-
sebutkan, penyajian-penyajian semacam itu dalam menggambarkan
para penguasa muslim yaitu sesuatu yang klise dalam tulisan-
tulisan para penulis sejarah. Putra Saladin, al-Afclhal, juga di-
gambarkan mengalami perubahan sesudah Saladin wafat.sa
Namun, keyakinan bahwa Saladin sungguh-sungguh meng-
alami perubahan religius memiliki beberapa pembenaran. beberapa
pengalaman tidak menyenangkan yang dialami Saladin mungkin
memang telah menimbulkan pengaruh yang dalam bagi sikap
keagamaan Saladin sendiri. Pertama, beberapa tahun tidak lama
sesudah N0ruddin wafat, Saladin selamar dari dua serangan yang
dilakukan kelompok Hasyasyin,3t y^ng pertama pada tahun 571
H.l1l75 M., dan kedua pada 581 H./1185 M. Ia juga sakit
keras dan sebab nya punya cukup waktu untuk berefleksi perihal
kerapuhan status kemanusiaannya. Penasihat yang juga penulis
biografinya,'Imiduddin al-Ishfahini, begitu yakin memandang
sakitnya Saladin itu sebagai momen penting dalam perkembangan
kesadaran keagamaannya. Penafsiran semacam ini tampak jauh
lebih masuk akal dibandingkan pandangan yang mengatakan
bahwa Saladin mengalami transformasi moral saat berada di
Mesir pada awal tahun 1170-an. Saat sedang sakit keras, Saladin
diceritakan telah bersumpah akan mengabdikan dirinya untuk
merebut Yerusalem, apa pun taruhannya. Menurut 'Imiduddin,
penyakit yang diderita Saladin itu sengaja dikirim Allah "untuk
menyadarkannya dari tidur kelalaiannyi'.36
Saat Saladin sedang dalam masa penyembuhan, 'Imiduddin
memanfaatkan kesempatan itu dengan mengirimkan para pen-
dalnvah dan ahli agama untuk berbicara kepada Saladin sepanjang
bulan Ramadan.sT Salah seorang penasihat dekat Saladin, al-QAdhi
al-Fidhil, juga berusaha membuat Saladin berjanji untuk tidak
lagi memerangi sesama muslim dan mengabdikan dirinya untuk
berjihad.38 Saladin jatuh sakit tidak lama sesudah Reynald me-
lakukan operasi militer yang ofensif dan berani di Laut Merah,
yang tampaknya sangat berpengaruh pada pribadi Saladin, dan
tidak seperti perang konvensional saat melawan kaum Frank di
Palestina dan Suriah. Jadi, di balik retorika dan puji-pujian para
penulis biografinya, orang bisa mendeteksi kejadian-kejadian penting
dalam kehidupan Saladin yang mungkin telah sangat memengaruhi
dirinya secara spiritual dan dengan demikian telah membuat
jihadnya menjadi lebih berarti secara pribadi.
Sekalipun dengan bukti-bukti yang telah disebutkan sejauh
ini, sumber-sumber ini menyisakan sedikit keraguan sebab
bahkan pada saat masih berkuasa dan tidak lama sesudahnya,
Saladin tidak lepas dari kritik. Menurut beberapa sumber, ke-
bijakan ekspansionisnya (1174-1186), yang disebut jihad di dalam
sumber-sumber ini ditujukan untuk menciptakan basis ke-
kuasaan pribadi yang cukup kuat untuk menyerang kaum Frank.
Untuk tujuan inilah, Saladin memerangi sesama muslim di Suriah
dan Mesopotamia (bukan hanya penganut Syiah "yang bidah",
namun juga para tokoh dan panglima pesaingnya yang tidak mau
menyerahkan kekuasaannya) dan dalam jangka waktu yang cukup
lama, ia tidak melakukan penyerangan terhadap kaum Frank.
Bahkan penulis biografinya, al-QAdhi al-Fidhil, menyalah-
kannya, dengan mengatakan: "Bagaimana kita akan berpaling dari
memerangi kaum muslim, yang dilarang, bila kita diseru untuk
memerangi orang-orang yang patut diperangi?"3e
Ambisi-ambisi Saladin, dengan pandangan yang lebih kritis,
bisa dianggap sebagai ambisi seorang pembangun kerajaan dengan
cita-cita yang sangat jauh, tidak hanya terbatas pada Yerusalem,
Thnah Suci, dan Suriah. Yerusalem bukanlah sasaran khusus dari
upaya-upaya Saladin pada 1170-an dan awal tahun 1180-an.
sesudah putra N0ruddin, al-Malik al-ShAlih, wafat pada 1181,
Saladin dikatakan telah memiliki rencana besar untuk memperluas
wilayah kekuasaannya yang mencakup-seperti dikatakan dalam
suratnya untuk khalifah Baghdad-Mosul, Yerusalem, Konstan-
tinopel, Georgia, dan wilayah-wilayah kekuasaan Dinasti Muwah-
hidun di barat. Rencana ini dilihat sebagai kemenangan puncak
Islam dan terutama khalifah Abbasiyah yang dikatakan menjadi
tempat Saladin mengabdi. Bahkan, meski retorika tak terbantahkan
itu diabaikan, rencana militer besar yang terrurup itu tampak
jelas. Rencana itu sangat kontras dengan rencana Nfrruddin yang
lebih sederhana dan terfokus.
Rencana ekspansi Saladin ke timur, yang hanya dituturkan
oleh Ibn al-Atsir, juga menggambarkan ambisi-ambisi wilayah
pribadi dan keluarga dan tidak bisa dinilai sebagai jihad. Dalam
sebuah percakapan antara Saladin, putranya al-Afdhal dan kakak-
nya al-'Adil, tidak lama sebelum Saladin wafat, Saladin dikisahkan
mengatakan: "Kita kini telah selesai dengan kaum Frank dan
tidak ada lagi yang bisa kita lakukan di negeri ini. Ke arah mana
lagi kita harus berpaling?"no sesudah berdiskusi cukup lama, Saladin
kemudian melanjutkan sebagai berikut:
Kau [al-'Adil] "j* beberapa putera saya dan sebagian pasukan
saya, dan seranglah Akhlat [sekarang Turki timur], dan bila saya
telah menaklukkan wilayah Rum [Bizantium], saya akan datang
padamu dan kita akan melanjutkan dari sana menuju Azerbaijan.
Selanjutnya kita akan punya akses menuju wilayah Persia. Tak ada
seorang pun di sana yang bisa mencegah kita.ar
Penuturan ini sangat mungkin, tentu saja, merupakan upaya
Ibn al-Atsir (yang dikenal condong kepada N0ruddin) untuk
menodai reputasi Saladin sebagai seorang peiuang jihad di Palestina
dan Suriah. Apalagi sebab ia memasukkan percakapan ini dalam
ulasan obituari tentang Saladin. namun laporan ini juga bisa
menjadi cerminan yang sebenarnya mengenai arti penting dari
perasaan Saladin dan orang-orang sezamannya untuk menjadi pusat
kekuatan kaum muslim yang sebenarnya, Irak dan Iran, dan
pengaruh wilayah ini yang masih tertanam di negara-negara
penerus Saljuk di Suriah dan Palestina. Yang jelas, setidaknya
menurut Ibn al-Atsir, kaum Frank hanyalah satu bagian dari
rencana besar Saladin bagi dirinya dan keluarganya. Dalam konteks
ini, harus diingat bahwa Saladin berasal dari Kurdi, bukan Suriah
ataupun Palestina, dan ia memulai kehidupannya jauh di timur.
Secara alamiah itu akan membuatnya cenderung berpikir terfokus
pada Jazirah Arab, Anatolia timur, dan lran.
SALADIN DAN JIHAD DAIAM KARYA.KARYA MODERN
Perilaku Saladin yang sangat baik, berdasarkan laporan 'Imiduddin,
sekretaris pribadinya, dan Ibn SyaddXd, hakim militernya, diadopsi
oleh para ahli Orientalis Barat, Lane-Poole dan Gibb. Keduanya
memandang Saladin dikarunia dengan standar moral yang tinggi
dan didorong oleh keinginan untuk menegakkan hukum Islam
(Syariat) dan bersikap patuh kepada khalifah.a2
Gibb menulis: "Dalam masa yang singkat, namun menentu-
kan, dengan kebaikannya dan keteguhan sifatnya, ia mengangkat
Islam keluar dari kebiasaan demoralisasi politik."a3
beberapa ilmuwan modern juga bersikap sangat kritis terhadap
jihad yang dilakukan Saladin. Mereka juga menunjuk kenyataan
pada banyaknya aktivitas militer Saladin yang diarahkan pada
pesaingnya yang sesama muslim, yang tidak semuanya merupakan
pelaku "bidah", meskipun para ahli propaganda Saladin mencap
mereka seperti itu. Ehrenkreutz, misalnya, secara retoris me-
nanyakan adakah hal lain yang diingat dari Saladin selain "catatan
rencana-rencana dan kampanye-kampanye jahat demi kebesaran
pribadi dan keluarga", seandainya ia meninggal sebab sakit keras
pada 581 H./1185 M.?44
Pandangan ini juga dikemukakan oleh Lyon dan Jackson.
Mereka mengatakan bahwa seandainya Saladin wafat saat sakit
keras, ia akan dikenang sebagai "seorang dinasti yang memanfaat-
kan Islam untuk kepentingannya pribadi".a5
Kohler juga melanjutkan membahas tuntas masalah ini dari
sudut pandang pancaran ketulusan ideologis pada aktivitas-aktivitas
Saladin. Ia menegaskan bahwa Saladin membuat beberapa per-
janjian dengan negara-negara lGisten Eropa dan kawasan Mediterania
timur.a6 Saladin dan para penasihat resminya memanfaatkan ProPa-
ganda jihad untuk melegitimasi kekuasaannya dan menggambarkan
musuh-musuhnya sebagai sekutu orang-orang kafir. Sebenarnya
Saladin keberatan, seperti halnya Zengi atau N0ruddin, untuk
menjalin aliansi dengan kaum Frank. Ini sangar bertentangan
terutama dengan klaim-klaim jihad Saladin yang disampaikan
secara panjang lebar dalam surat-surat yang ditulis para pe-
nasihamya yang ditujukan kepada khalifah, dan juga di inskripsi-
inskripsi monumental.aT Berbagai julukan yang sangar meng-
gambarkan citra penyalahgunaan agama ditujukan kepada musuh-
musuh politik Saladin (meskipun mereka itu sesama muslim).
AI-Qadhi al-Fadhil, penulis Saladin, mencap mereka sebagai pem-
berontak dan pelaku bidah.a8 Kcihler menyimpulkannya dengan
ungkapan retoris, bahwa semakin lama Saladin ridak melakukan
sesuatu yang penting terhadap kaum Frank, semakin sering ia
menggambarkan peperangannya melawan sesama muslim sebagai
jihad. Pada tahap tertentu, interpretasi K<;hler rentang karier
Saladin memiliki kesamaan, setidaknya dengan ilmuwan Jerman
lainnya, M6hring. Menurut Mdhring, jihad bukanlah kekuatan
penggerak dalam karier Saladin dan tujuan utamanya bukanlah
merebut kembali Yerusalem, tapi kebangkitan seluruh kerajaan
Islam di bawah kepemimpinannya.4e
. Mungkin orang terlalu jauh dalam menghapuskan mitos
Saladin sebagai pejuang Islam sejati. Di tahun-tahun menjelang
penaklukan kembali Hattin dan Yerusalem, upaya jihad yang
dirancang dengan strategi yang kurang menarik perhatian orang-
orang, yang dilakukan Saladin melawan kaum Frank, bisa dipan-
dang sebagai kebijakan yang lebih hati-hati, dibandingkan upaya
habis-habisan untuk menghancurkannya, sebab penghancuran
besar-besaran bisa memicu kembali gelombang serangan Perang
Salib berkekuatan besar yang sangat berbahaya dari Eropa. Lebih
jauh lagi, barangkali tidak adil bila mengkritik Saladin bahwa ia
tidak melakukan upaya habis-habisan untuk mengusir kaum Frank
sesudah merebut kembali Hattin dan Yerusalem. Saladin bukan
hanya akan mengalami anti-klimaks yang tak bisa dihindari,
menyusul keberhasilan cita-citanya yang telah lama terpendam-
dalam hal ini, penaklukan f61u52lsrn-namun juga harus meng-
hadapi Perang Salib Ketiga. Dengan demikian, keberhasilannya
merebut Kota Suci, sebaliknya, telah membawanya meraih ke-
menangan terbesar serta berbagai kesulitan di tahun-tahun terakhir
yang mengecewakan dalam hidupnya.
Apa pun yang terjadi, yang rerpenting dalam konteks ke-
bangkitan tokoh jihad di kawasan Mediterania timur yaitu sikap
ralcyat terhadap penguasa ini . Di sini Saladin membangun
dasar-dasar yang telah diletakkan Ntruddin. Setiap langkah Saladin
menuju cita-cita merebut kembali Yerusalem direstui secara pribadi
oleh khalifah Sunni di Baghdad. Ini merupakah "kisah rekaan
yang dibenarkan", tapi Saladin dengan hati-hati meminta "tanda
pengakuan" dari khalifah setiap kali berhasil melakukan pe-
naklukan. sesudah merebut Hims di Suriah dari tangan kaum
muslim Sunni, Saladin mencoba membenarkan tindakannya ini
sebagai bagian dari upayanya dengan tujuan keadilan. "Tindakan
kami bukan dilakukan untuk merebut sebuah kerajaan untuk diri
kami sendiri, tapi untuk menetapkan standar jihad. Orang-orang
ini telah menjadi musuh, yang menghalang-halangi tujuan kami
dalam perang ini."5o
Dengan demikian, apa pun morif pribadinya, dan motif
ini hampir pasti menyertai kebesaran diri dan keluarganya,
peran penting Saladin dalam pembahasan propaganda jihad yaitu
bahwa setiap jengkal langkahnya ditunjukkan sebagai pembenaran
atas tindakan-tindakannya dalam konteks jihad. Motivasi Saladin
yang sesungguhnya tidak pernah bisa dinilai dan bagaimanapun
juga ini mungkin merupakan pertimbangan yang tidak relevan.
Tidak menjadi soal bagaimanapun pandangan dan reaksi orang-
orang sezamannya-para panglima militernya, penasihat pribadi-
nya, dan kelompok-kelompok agama. Saladin punya kesempatan
untuk berkembang menjadi seorang pemimpin jihad yang sangat
berhasil dan karismatik dan melakukan kampanye propaganda
yang mendukung dua keberhasilan besar yang diraihnya, di Hattin
dan Yerusalem. Salah seorang rekan sezamannya, Abd al-Lathif,
menceritakan dengan sangat mengesankan tentang karisma yang
dimiliki Saladin: "Orang-orang meratap untuknya sebagaimana
mereka meratap untuk nabi-nabi. Saya tidak pernah melihat pe-
mimpin yang diratapi kematiannya oleh orang-orang, sebab ia
dicintai sepenuhnya dengan kekurangan maupun kebaikannya, oleh
orang-orang muslim maupun musyrik." (foto 4.7 dan gambar 4.7)51
SAIADIN DAN YERUSALEM
I3eberapa sumber dengan jelas menunjuk penaklukan kembali
'/erusalem sebagai puncak karier Saladin. Penaklukan ini digambar-
l<an sebagai realiasi ambisi pribadi Saladin yang menggelora. saat
Saladin telah benar-benar merebut Yerusalem, ia secara kilas balik
menggambarkan semua tindakannya yang berakhir dengan pe-
naklukan Yerusalem ini dengan diarahkan ke peristiwa di-
rebutnya Yerusalem itu. Pendapat publik tampaknya juga telah
berhasil digiring dengan baik sekali ke titik ini, yaitu bahwa
penaklukan Yerusalem akan menjadi bukti paling tinggi bagi
keberhasilan dan kesungguhannya. Secara strategis Yerusalem ddak-
lah penting. Akan namun , kota ini telah menjadi fokus operasi
jihad Saladin yang dilancarkan agak lambat, dan Kota Suci itu
harus benar-benar direbut.
Desakan emosi dan kerinduan yang begitu mendalam terhadap
Yerusalem dimanfaatkan sepenuhnya oleh Saladin dan rombongan-
nya dan golongan-golongan agama yang memberikan dukungan
sepenuh hati baginya. Motif untuk menguasai Yerusalem mencapai
puncaknya dengan keberhasilan Saladin merebut kota itu pada
583 H.ll187 M. Sekitar enam puluh surat, puluhan puisi dan
beberapa khotbah didedikasikan untuk kemenangan ini. Lirik
perayaan (qasidah) yang dikirimkan untuk Saladin di Yerusalem
dari Kairo sesudah ia berhasil merebut Kota Suci itu menyatakan:
Engkau telah membangkitkan agama Muhammad dan
jalannya ...
Engkau telah menjaga ketenteraman Kota Suci (diuLn al-jihtd).5'1
Di sini, kita melihat, penaklukan militer ini dinobatkan penuh
dengan kepentingan agama. Kehendak Allah telah dilaksanakan
dan agama yang benar telah ditegakkan di Kota Suci-Nya.
Pengaruh yang mendalam atas direbutnya kembali Yerusalem
terhadap umat Islam di kawasan Mediterania timur dicatat dengan
penuh kegembiraan oleh para penulis sejarah saar itu. Menurur
'lmiduddin dan Ibn Syaddid, umat Islam berkumpul untuk
menyaksikan perayaan Saladin memasuki Yerusalem, untuk ikut
serta dalam perayaan itu dan memulai berangkat haji dari kota
itu. Momen saat rrremasuki kota itu telah dipilih untuk dijadikan
propaganda besar-besaran. Mengetahui dan menyadari akan pe-
ngaruh besar yang ditimbulkan dengan masuknya Saladin ke
Yerusalem, ia menunggu untuk merebut kota itu sampai hari
Jumat, 27 Rajab 583 H.lz Oktober 1187 M., yaitu bertepatan
dengan peringatan Israk Mikraj Nabi Muhammad. Ibn Syaddid
merayakan pemilihan waktu yang sangat tepat ini: "Sungguh suatu
kebetulan! Allah mengizinkan kaum muslim merebut kota itu
sebagai perayaan peringatan Perjalanan Malam Rasulullah ke
Langit."53 Peristiwa ini menjadi puncak karier Saladin. Pada
akhirnya, tujuan utama jihadnya tercapai.
Peranan Yerusalem dalam perlawanan kaum muslim meng-
hadapi Perang Salib, dan beragam gambaran yang telah dimiliki
kaum muslim tentang Kota Suci ini , disampaikan secara
ringkas dalam khotbah lbn Zal<3. (w. 588 H.l1l92 M.), seorang
ulama Syaf i dari Damaskus, pada saat Saladin memasuki Yerusalem.
Ibn Zaki dipilih sesudah melalui kompetisi yang ketat, muncul
sebagai khotib terbaik di antara khotib lainnya untuk menyampai-
kan khotbah kemenangan.5a Kutipan khotbah yang cukup panjang
diberikan oleh penulis biografi Abad Pertengahan, Ibn Khallikin,
dalam maklumat obituari lbn Zaki: "Terpujilah Allah yang dengan
bantuannya, Islam telah ditinggikan, dan dengan bantuannya pula
orang-orang musyrik dikalahkan ... "55
Ibn Zaki mengingatkan para pendengarnya rentang arti pen-
ting Yerusalem bagi kaum muslim, yang telah kembali ke pang-
kuan Islam sesudah "disalahgunakan oleh orang-orang musyrik
selama lebih dari seratus tahun".56
Di dalam khotbah ini, kita melihat ringkasan pandangan
umat Islam tentang Yerusalem pada abad kedua belas. Di sini,
kita juga bisa mengenali unsur-unsur penyusun bermacam-macam
kesucian bernuansa islami dari Kota Suti ini dan yang telah
ditemukan di dalam berbagai literatur tentang Kemuliaan Yerusalem:
Kota itu yaitu tempat tinggal ayahmu Ibrahim; dari situlah
Nabi Muhammad saw. diangkat ke Langit; kiblatmu saat salat
pada permulaan Islam, rempar kediaman para nabi; rempat yang
dikunjungi orang-orang suci; makam para rasul ... Kota itu yaitu
negeri tempat manusia berkumpul di hari kiamat; tanah yang akan
menjadi tempat berlangsungnya kebangkitan ...,7
Selanjutnya, menurut lbn Zali, Yerusalem yaitu rumah
Ibrahim, tempat kenaikan (mikraj) Nabi Muhammad dari Kubah
Batu (foto 4.8) menuju Langit, kiblat perrama umat Islam.
Dengan demikian, kota ini memiliki arti penting yang
berkaitan dengan dasar-dasar Islam. Yerusalem juga akan menjadi
tempat manusia berkumpul untuk diadili di hari kiamat.
Kemenangan Saladin, secara berlebihan, dibandingkan oleh
lbn Zallj dengan kemenangan Nabi Muhammad dalam Perang
Badar dan hari-hari gemilang penaklukan-penaklukan awal oleh
Islam. Di antara gelar-gelar yang dibesar-besarkan lainnya, Saladin
diberi gelar sebagai "pembela dan pelindung tanah suci-Mu [Allah]"
dan orang "yang menaklukkan para penyembah Salib".58 Dengan
demikian, Saladin ditempatkan di tingkat yang sama dengan para
khalifah pertama Islam yang telah mendirikan kerajaan yang
membentang mulai dari Spanyol ke India. Berbicara tentang
Saladin, lbn Zaki mengatakan:
Kau telah mengembalikan untuk Islam hari-hari gemilang al-
Qadisiyyah, pertempuran Yarmuk, pengepungan Khaybar, dan se-
rangan besar-besaran Khalid ibn Valid. Semoga Allah memberkahi-
mu atas pengabdian yang kau berikan demi Nabi Muhammad
yang dimuliakan-Nya.5e
Surat-surat resmi, yang dikirimkan kepada khalifah dan para
penguasa lainnya, merayakan kemenangan gemilang di Yerusalem.
'Imiduddin mengutip bagian dari sepucuk surat tentang peray^an
masuknya Saladin ke kota ini , yang menjelaskan arti penting
Yerusalem:
Yerusalem (Baytul Muqaddi), yang telah ditinggikan dan
dimuliakan Allah, dan yang telah disucikan saat Dia membuat
tempat perlindungan-Nya keramat dan suci (di Mekah), yaitu
tempat tinggal para nabi yang telah diutus, tempat bermukim
orang-orang suci dan saleh, dan tempat kenaikan (mikraj) penghulu
para nabi dan rasul ke Langit.6o
Tentu saja surat-surat dan khotbah-khotbah dari periode ini
bersffat sangat retoris; berisi pernyataan-pernyataan yang tinggi
dan penuh dengan kata-kata klise dan permainan kata. Kebenaran
macam apa yan1 terkandung di dalamnya? Yang jelas, Saladin
harus dinilai berdasarkan perbuatannya. Secara strategis Yerusalem
kalah penting dibandingkan dengan wilayah pesisir. Akan namun ,
secara emosi Yerusalem sangat penting. Yerusalem harus direbut
untuk Islam dan Saladin semakin bertekad untuk merebutnya'
Para penulis biografi Saladin menampilkannya sebagai orang yang
betul-betul mengabdikan diri untuk jihad. Propaganda jihad
berperan penting sebagai seruan penggerak, sebagai kekuatan untuk
menyatukan dan komitmen agama, baik untuk warga umum
maupun di jqaran pasukan dan pemimpin militer. Yerusalem
menjadi sasaran ideal bagi cita-cita bersama yang menggerakkan
penguasa, pasukan, ulama, dan terutama penduduk, kesemuanya
dip







