Tampilkan postingan dengan label Allah sang tabib 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah sang tabib 1. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Allah sang tabib 1



MANUSIA MAKHLUK

YANG LUAR BIASAht


Anda Makhluk Istimewa

Allah Azza wa Jalla menciptakan makhluk-makhluk-Nya demikian

sempurna. Dan manusia yaitu  makhluk  ciptaan Allah yang paling

sempurna. Tidak hanya sempurna, tapi juga istimewa. Seper ti ter tulis

dalam Al-Qur’an, sesudah  Allah menciptakan Adam as., Allah

memerintahkan jin dan para malaikat agar sujud pada Adam as. “Dan

(ingatlah) saat  Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu

kepada Adam!’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis, dia enggan dan

takabur dan yaitu  dia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah

{2}: 34).

Perintah sujud itu, tentu saja, bukan perintah untuk menyembah

pada Adam as, tapi sebagai ungkapan rasa hormat pada makhluk ciptaan

Allah yang baru itu. Ini mengisyaratkan bahwa pada dasarnya manusia

memiliki  derajat yang lebih tinggi dari jin dan malaikat. Kendati dalam

perjalanan hidupnya banyak manusia yang --sebab  prilakunya yang

buruk-- terhempas derajatnya hingga jauh lebih rendah daripada

binatang.

Kenapa demikian? sebab  mereka keluar dari fitrahnya sebagai

manusia. Fitrah yaitu  sifat dasar yang pasti ada pada setiap manusia,

sebab  dia bawaan lahir. Sifat dasar manusia cenderung menuhankan

dan mengesakan Allah. Ini ter jadi sebab  mereka telah membuat

semacam gentlement agreement dengan Allah bahwa mereka hanya

akan menyembah satu Tuhan saja, yaitu Allah Azza wa Jalla. Walaupun

kemudian sebagian besar manusia mengingkari keberadaan Allah atau

malah mempersekutukan-Nya dengan tuhan-tuhan lain. Agar perjanjian

suci itu tidak dilupakan manusia, maka Allah mengingatkan mereka

sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Qur’an: “Dan (ingatlah) saat 

Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka

dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):

‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’, maka mereka menjawab: ‘Benar (Engkau

Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu)

agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani


Adam) yaitu  orang-orang yang lengah terhadap hal (keesaan Tuhan)

ini’. Atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang

tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini

anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah

Engkau akan membinasakan kami sebab  perbuatan orang-orang yang

sesat dahulu?’…” (QS. Al-A’raaf  {7}: 172).

Allah Maha Mengetahui, bahwa manusia juga memiliki 

kecenderungan untuk menuruti nafsunya, senang berkelit dari

permasalahan dan tidak malu-malu melemparkan kesalahan pada pihak

lain. Ayat di atas yaitu  piagam abadi yang harus selalu diingat manusia.

sebab  manusia tidak mungkin berkelit lagi saat  nanti, di Pengadilan

Akhirat, Allah memintai per tanggungjawaban mereka sehubungan

dengan perbuatan mereka mempersekutukan Allah atau mengingkari

eksistensi-Nya. Jadi, f itrah manusia yaitu  kecenderungan

keberagamaan manusia yang hanya mengakui satu Tuhan, yaitu Allah

Rabbul ‘Alamiin. Inilah yang disebut tauhid oleh para ulama.

Tapi sesudah  manusia tumbuh dewasa, akalnya mulai berfungsi

sempurna dan nafsunya juga terus minta dipuaskan, sebagian manusia

kemudian lupa pada fitrahnya. Mereka menciptakan tuhan-tuhan baru

dalam kehidupan mereka selain Allah. Mereka hidup tidak lagi sejalan

dengan aturan yang ditetapkan Allah. Mereka membuat peraturan sendiri

dan kemudian melanggarnya. Mereka berbuat semaunya, bahkan kadang

meniru prilaku binatang. Celakanya lagi, mereka ingkar secara terang-

terangan pada Tuhan yang telah menciptakannya. Allah Azza wa Jalla

menegur dan memperingatkan manusia dengan keras dalam beberapa

ayat Al-Qur’an. Salah satunya yaitu  dalam surat Al-A’raaf  (7) ayat

179: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam

kebanyakan dari jin dan manusia, mereka memiliki  hati, tetapi tidak

dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka

memiliki  mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-

tanda kekuasaan Allah), dan mereka memiliki  telinga (tetapi) tidak

dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai

binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-

orang yang lalai.”

Padahal manusia diciptakan tak lain yaitu  sebagai  “wakil Allah”

di muka bumi. Sebagai pemimpin dan pengatur alam untuk kepentingan

komunitasnya beserta mahluk-mahluk hidup lainnya. Hal ini termaktub

dalam firman-Nya sebelum penciptaan Adam as., Allah berfirman pada

para malaikat:“Sesungguhnya Aku (Allah) hendak menjadikan seorang

Khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah {2}: 30).

Mengingat predikatnya sebagai khalifah, pemimpin, maka

selayaknya manusia dikaruniai berbagai keistimewaan. Keistimewaan

itu mencakup semua hal. Mulai dari bentuk fisik, organ tubuh,

kemampuan, fasilitas hidup, hingga tempat kembali sesudah  manusia

mati kelak. Di samping dibekali nafsu,  manusia juga diberikan akal dan

hati nurani (kalbu), sebagai sarana untuk berpikir dan merasa.  Akal

dan kalbu tidak diberikan Allah kepada makhluk lain yang kasat mata.

Fasilitas hidup manusia yang diberikan Allah meliputi seluruh alam

ini. Semuanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah hanya

mengharamkan sebagian kecil saja dari begitu banyak hal yang

dibolehkan. Itu pun sekadar untuk menguji ketaatan manusia kepada-

Nya. Tapi seringkali —dan bahkan cenderung— manusia melanggarnya

dengan mengambil jalan yang dilarang oleh Allah. Sebagian manusia

ber laku rakus dan tamak, mengambil hak sesamanya atau

memanfaatkan sumber alam secara berlebihan. Ada juga yang bahkan

berambisi menguasai semuanya, tidak peduli yang lain tidak kebagian.

Binatang berakhir riwayatnya sesudah  mati. Iblis hanya punya satu

tempat untuk kembali, yaitu neraka. Malaikat tidak pernah kenal kata

“kembali” sebab  tempatnya memang di surga, dan malaikat tidak

pernah punya pilihan dan selamanya hanya mengabdi kepada Allah

tanpa reserve. Sedang manusia memiliki  dua pilihan untuk kembali,

yaitu surga atau neraka. Surga yaitu  tempat kembali yang paling baik,

sedang neraka yaitu  seburuk-buruknya tempat kembali. Untuk kembali

ke tempat yang baik, maka harus baik pula jalan hidup manusia. Sedang


orang-orang yang kehidupannya melenceng dari nilai-nilai kebaikan

yang digariskan Tuhan, maka tidak ada tempat kembali yang layak selain

neraka.

Allah Maha Bijaksana dan Maha Penyayang, agar manusia memilih

tempat kembali yang baik, mereka diberikan petunjuk, yaitu berupa

kitab suci dan diutusnya para rasul. Dan di akhir jaman, Allah mengutus

Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi Terakhir, yang tidak ada lagi nabi

sesudah  beliau. Baik nabi yang membawa syariat, seperti Musa as, atau

yang tidak membawa syariat seperti Isa as, yang hanya melanjutkan

syariat Musa as.

Nabi Muhammad Saw mewariskan kepada kita dua pusaka, yang

kalau kita berpegang teguh kepada keduanya, maka selamanya kita

tidak akan tersesat. Dua pusaka itu yaitu  Al-Qur’an dan Sunnah Rasul

Saw (Al-Hadits). Jadi, baik atau buruk kehidupan manusia yaitu  hasil

pilihannya sendiri. Demikian pula dalam masalah kesehatan. Kalau

manusia memilih jalan keburukan bagi prilaku kesehariannya, maka

dia bukan hanya akan mengundang penyakit bagi jasmani, jiwa, dan

ruhaninya, tapi kemungkinan tempat kembalinya kelak di akhirat juga

tempat yang buruk. Na’uzhubillahi mindzalik.

Bentuk  Fisik

Bentuk fisik manusia yaitu  bentuk fisik yang paling cantik dan

proporsional di antara mahluk-mahluk lainnya di selebar jagad raya

ini. Secara kasat mata, kita bisa membandingkan diri kita dengan ikan,

cicak, burung, kambing, kuda, singa, gajah, atau yang lainnya. Bisa

dipastikan tak satu pun yang bisa melebihi kecantikan manusia. Ada

sebagian binatang dinobatkan sebagai mahluk yang cantik, yang lain

lagi disepakati sebagai mahluk yang gagah, sementara ada pula yang

dikatakan sebagai binatang paling perkasa, tapi tetap saja tak mampu

menyaingi keindahan bentuk fisik manusia.  Untuk itu semua tidak ada

kata yang patut terucap atas kehebatan penciptaan manusia kecuali

ungkapan rasa syukur kepada Allah Azza wa Jalla.


Setiap kita berdiri di depan cermin, sadar atau tidak sadar  kita

selalu mengagumi keindahan wujud kita, wajah kita, postur tubuh, kulit,

rambut, dan lain sebagainya. sebab  bercermin sudah menjadi kegiatan

rutin, maka seringkali kita lupa bahwa apa yang kita lihat itu semuanya

ada yang mencipta. Yang ter tinggal hanya sekadar kekaguman pada

diri sendiri, lebih parah lagi kalau hanya menyisakan dan menimbulkan

kesombongan. Maka Rasulullah, Muhammad Saw, mengingatkan dan

menyadarkan kita melalui doa setiap kali kita bercermin. “Segala puji

untuk Allah yang telah menyempurnakan kejadianku ser ta

membaguskan dan memuliakan bentuk wajahku serta mengindahkannya

dan menjadikan aku dari golongan Muslim.” (HR. Ibnu As-Sani).

Makna dari doa tersebut sangat luar biasa. Selain ucapan

kesyukuran, kita juga disadarkan betapa Allah telah menyempurnakan

kejadian manusia, membaguskan wujudnya, memuliakan sifatnya serta

mengindahkan wajahnya. Dan semua itu benar-benar berar ti saat 

manusia hidup sesuai dengan aturan Allah, Sang Pencipta manusia,

yang dituangkan di dalam kitab suci Al-Qur’an dan anjuran Rasulullah

Saw, atau dengan kata lain menjadi seorang Muslim sejati.

Organ Tubuh

Organ tubuh manusia yaitu  organ yang paling baik di antara semua

makluk hidup. Manusia ber tangan, berkaki dengan jari-jarinya yang

sempurna, sehingga bisa menggenggam, mencengkeram, memanjat,

berenang, menyelam, bergelantungan, berdiri dengan  kokoh, berlari,

dan lain sebagainya. Punya mata yang cukup awas sehingga bisa melihat

objek pada jarak yang cukup jauh, bisa melihat di siang hari dan dalam

gelap, juga mampu membedakan segala warna dan bentuk. Berlidah

lentur dan peka sehingga bisa membedakan segala rasa, mampu

mengolah kata dan suara yang tak terhingga bilangannya. Bertelinga

canggih, mampu mendeteksi suara apa pun, yang lembut berdesis,

yang keras nyaring, dan lain sebagainya.


Begitu pula dengan organ dalam manusia. Sangat spesial dan tak

ter tandingi kemampuannya. Kita ambil contoh salah satunya saja.

Pencernaan misalnya. Harimau yang perkasa biasa makan daging, tapi

pencernaannya tak cukup mampu mencerna biji-bijian atau dedaunan.

Sebaliknya binatang pemakan dedaunan, atau binatang pemakan biji-

bijian, pencernaan mereka tak cukup kuat mencerna selain makanan

pokok mereka. Tapi, manusia sanggup melahap semuanya. Daging,

dedaunan, biji-bijian, dan lain sebagainya. Sampai ada anekdot yang

memiriskan hati, bahwa manusia yaitu  binatang pemakan segala. Apa

saja sanggup dimakan oleh manusia,  mulai dari dedaunan, bebijian,

tanah, pasir, kayu, aspal, minyak, besi, hutan, pulau, dan sebagainya.

Kemampuan Manusia

Bentuk fisik dan organ tubuh manusia yang sempurna menjadikan

manusia penguasa. sebab  manusia memiliki  kemampuan untuk

melakukan apa saja. Bahkan yang tidak bisa dilakukan oleh mahluk

lain.

Sebagai contoh, ikan bisa berenang, manusia pun bisa berenang,

sedang ikan tidak bisa berjalan di darat sebagaimana manusia. Primata

pandai memanjat, manusia pun bisa memanjat, sedang  primata tak

memiliki kemampuan berdiri tegak, berbicara, dan lain sebagainya.

Burung bisa terbang, manusia juga bisa terbang meskipun harus

memakai  alat bantu, pesawat terbang misalnya.

Kemampuan manusia yang sangat hebat itu ditopang dengan

sebuah anugerah yang maha besar, yaitu kecerdasannya (akalnya).

Anugerah kecerdasan ini tidak diberikan pada makhluk lain, termasuk

malaikat dan jin. Sebagaimana dalam riwayat yang diabadikan dalam

Al-Qur’an, Allah mengadu kecerdasan Adam as dengan para malaikat.

Allah ber tanya pada malaikat tentang “nama-nama” yang ada di

sekitarnya. Para malaikat tidak mampu menjawab, tapi Adam as bisa

menyebutkannya satu-per satu dengan lancar dan benar. Para malaikat

pun mengakui eksistensi Adam as sebagai mahluk paling cerdas.


Pengakuan itu otomatis berlaku pula bagi seluruh keturunannya. sebab 

Adam as yaitu  prototipe penciptaan makhluk Allah yang paling

sempurna, yaitu manusia.

Di hadapan para malaikat, yang sempat “protes” terhadap

keputusan Allah yang mengangkat Adam as. sebagai Khalifah di bumi,

Allah meminta para malaikat menunjukkan nama-nama. Tapi para

malaikat tidak mampu. Kemudian Allah menyuruh Adam as. dengan

suruhan yang sama. Ternyata Adam as. mampu menyebutkan nama-

nama yang dikehendaki Allah. “Menunjukkan nama-nama” bukanlah

persoalan sederhana. Ini sama dengan sistem yang lazim dilakukan

oleh manusia modern dewasa ini, yakni melakukan uji kelayakan dan

kemampuan, fit and profer test, bagi calon pemimpin. Seolah-olah Adam

as. diminta oleh Allah agar mempresentasikan “program ker ja”,

memaparkan visi dan misi, menuangkan ide, gagasan, konsep, tujuan,

planning, dan lain-lain.

Tanpa kita sadari, sekarang ini kita juga melakukan apa yang

dilakukan oleh Allah di hadapan para malaikat sebelum Dia “melantik”

Nabi Adam as. sebagai Khalifah di muka bumi, yakni melakukan uji

kelayakan terhadap calon pemimpin kita. Baik untuk memimpin negara,

atau lembaga-lembaga pemerintahan di bawahnya. Bahkan hal ini juga

sudah dilakukan oleh perusahaan swasta besar. Jadi, fit and profer test

sesungguhnya bukanlah hal baru bagi umat Islam. Hanya saja kita sering

tidak cermat memperhatikan.

Pada riwayat yang lain, yaitu semasa hidup Nabi Sulaiman as.,

hebatnya kemampuan manusia kembali dibuktikan. Nabi Sulaiman as.

sendiri yaitu  seorang yang sangat hebat. saat  beliau dihadapkan

pada tiga pilihan yang disodorkan oleh Allah, yaitu tahta, har ta, dan

ilmu pengetahuan, Nabi Sulaiman as. memilih yang terakhir. sebab 

dengan ilmu semuanya bisa didapat dengan mudah. Dan memang

kemudian terbukti, selain sebagai nabi dan rasul, Nabi Sulaiman as.

juga seorang raja yang kaya-raya, sangat berkuasa dan mampu

berbicara dengan seluruh makhluk di alam ini. Bahkan menjadikan jin

dan binatang sebagai bagian dari bala tentaranya.


Dikisahkan, suatu saat  Nabi Sulaiman as. hendak menaklukkan

Ratu Balqis. Penaklukan itu bukan semata sebab  ambisi untuk

memperluas daerah kekuasaan, atau menambah perbendaharaan

kekayaan istana, tapi Nabi Sulaiman as. ingin mengajak Sang Ratu

berserah diri kepada Allah dengan memeluk agama Islam. Nabi Sulaiman

as. menghendaki penaklukan itu tidak diwarnai dengan per tumpahan

darah setetes pun, melainkan melalui sensasi yang sangat

mencengangkan dan spektakuler. Nabi Sulaiman as. lalu bertanya pada

semua bawahannya: “Siapa di antara kalian yang bisa membawa istana

Ratu Balqis ke hadapanku dengan cepat?”.

Salah satu bawahannya dari bangsa jin mengatakan, bahwa dia

sanggup memindahkan istana Ratu Balqis sebelum Sulaiman as. berdiri

dari singgasananya. Nabi Sulaiman as. kagum dengan kemampuan jin

itu. Tapi sebelum dia memerintahkan jin itu untuk melaksanakan tugas,

bawahannya yang lain, dari bangsa manusia, mengatakan bahwa dia

sanggup menghadirkan istana Ratu Balqis sebelum Nabi Sulaiman as.

mengedipkan mata. Orang itu, Ahnaf namanya,  benar-benar

membuktikan ucapannya. Dalam waktu sekejap saja istana Ratu Balqis

sudah berdiri berdampingan dengan istana Nabi Sulaiman as.

Subhanallah….

Bagi Nabi Sulaiman as. ilmu merupakan salah satu dari tiga pilihan.

Tapi, pada masa Rasulullah, Muhammad Saw, ilmu pengetahuan

merupakan sebuah keharusan. Maka mukjizat Nabi Muhammad Saw

bukanlah pada kemampuannya dapat berbicara dengan binatang dan

memerintah bangsa jin seper ti Nabi Sulaiman as. Bukan juga sebab 

bisa mengeluarkan unta dari dalam batu seperti Nabi Shaleh as., atau

mengubah tongkat menjadi ular seper ti Nabi Musa as., atau

menghidupkan orang yang telah mati seper ti Nabi Isa as.

Mukjizat Nabi Muhammad Saw yaitu  Kitab Suci Al-Qur’an. Mukjizat

yang abadi, canggih, dan sangat spektakuler. Kita, seiring dengan

berjalannya waktu, mengetahui bahwa Kitab Suci kaum Muslimin ini

merupakan gudang  ilmu pengetahuan. sebab  banyak informasi ilmu

pengetahuan yang baru terbukti sesudah  berkembangnya ilmu dan


teknologi. Wajarlah kalau ayat pertama yang diterima Nabi Muhammad

Saw yaitu  perintah untuk membaca atau belajar.  “Bacalah dengan

(menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq {96}: 1).

Kemudian ditekankan lagi dengan hadits-hadits yang menganjurkan

pentingnya menuntut ilmu, meskipun beliau sendiri yaitu  seorang yang

ummi, ‘buta huruf’ dan tidak pernah membaca kitab-kitab apa pun

sebelumnya. Sabda beliau: “Menuntut ilmu itu wajib bagi Muslim laki-

laki maupun Muslim perempuan.”

Maka dengan ilmu dan kecerdasan akalnya manusia menjadi raja

dan penguasa dunia. Manusia mampu menciptakan sarana-sarana yang

memungkinkan dia bisa terbang lebih tinggi dari burung, menyelam

lebih dalam dari ikan, mampu bergerak lebih cepat dari citah, dapat

memindahkan beban berat melebihi kemampuan gajah Afrika, bahkan

bisa menjelajah angkasa luar yang tidak bisa dilakukan makhluk kasat

mata lainnya.

Selama berabad-abad manusia memikirkan tentang asal kejadian

alam semesta ini. Berkontemplasi, merenungkan siapa sebenarnya

pencipta jagat raya ini. Dan siapakah yang menciptakan sang pencipta.

Manusia terus memikirkan makrokosmos yang melingkupi hidupnya

dan sebagian dari mereka berhasil menguak misteri alam raya ini. Tapi

saat  mereka menengok dirinya sendiri, mereka terperangah. Mereka

bingung, sebab  tidak mengerti siapa sesungguhnya dirinya. Manusia

yang selama ini dianggap sebagai mikrokosmos ternyata lebih sulit

dipahami daripada benda atau makhluk-makhluk di luar dirinya.

Dr. Alexis Carrel dalam buku Man The Unknown, menulis tentang

manusia: “… Tapi kita (manusia) hanya mampu mengetahui beberapa

segi tertentu dari diri kita. Kita tidak mengetahui manusia secara utuh.

Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian

ter tentu, dan ini pun pada hakekatnya dibagi lagi menurut tata cara

kita sendiri. Pada hakekatnya, kebanyakan pertanyaan manusia –kepada

diri mereka— hingga kini masih tetap tanpa jawaban.”


Dr. M. Quraish Shihab mengutip tulisan tersebut dalam buku beliau

Wawasan Al-Qur’an yang diterbitkan Mizan.  Ya, apa boleh buat. Manusia

memang tidak akan bisa sepenuhnya mengerti hakekat dirinya. Oleh

sebab  itulah, Allah mengutus para rasul agar manusia mengenal dirinya,

dan lebih-lebih lagi mengenal siapa yang telah menciptakannya. sebab 

itu Socrates, salah seorang filosof  Yunani kuno, mengatakan bahwa siapa

saja yang mengenali dirinya, maka dia akan mengenali penciptanya.

Kemampuan Berbahasa

Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku,

berlainan warna kulit, dan bahasanya. Adanya semua perbedaan itu

menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allah kepada manusia.

Allah mendorong manusia untuk bersosialisasi dengan sesamanya

meskipun ada perbedaan di antara mereka. Seolah-olah Allah ingin

mengatakan, bahwa perbedaan itu tidak boleh menghalangi manusia

mengenal sesamanya. Bahkan itu bisa menjadi sarana pendorong bagi

mereka untuk mempelajari kebudayaan, adat istiadat, prilaku, dan

kesenian bangsa lain.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya yaitu  (Dia) menciptakan

langit dan bumi dan ber lain-lainan bahasa dan warna kulitmu.

Sesungguhnya pada yang demikian itu ada  tanda-tanda bagi orang-

orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Ruum {30}: 22).

Bahwa adanya perbedaan bahasa dan warna kulit itu yaitu 

sunnatullah, sesuatu yang niscaya, juga sebagian dari tanda-tanda

kekuasaan-Nya. Oleh sebab  itu, tidak boleh ada diskriminasi gara-gara

perbedaan warna kulit. Tidak boleh ada yang mengklaim sebagai bangsa

yang paling mulia dan digdaya  hanya sebab  merasa kulitnya lebih

bagus daripada kulit manusia atau bangsa lain. Yang harus ditumbuhkan

justru perasaan saling menghormati dan menghargai sebagai sesama

makhluk Tuhan. Ingatlah bagaimana Rasulullah Saw memuliakan Bilal

bin Rabah ra, seorang sahabat yang berkulit hitam dan mantan budak,


dengan mengangkatnya sebagai muadzin, orang yang menguman-

dangkan adzan.

Dan di antara kehebatan lain manusia yaitu  kemampuannya dalam

berkomunikasi dengan sesamanya. Sebuah komunitas manusia di suatu

wilayah memiliki  bahasa yang khas. Itulah sebabnya mengapa begitu

banyak bahasa di planet bumi ini. Ambil contoh di negara kita, khususnya

di Pulau Jawa. Beberapa ragam bahasa tumbuh dan berkembang sampai

sekarang ini. Belum lagi dialeknya (langgam bahasanya), antara bahasa

Sunda dialek Bogor dengan bahasa Sunda dialek Bandung berbeda,

padahal sama-sama di Tanah Pasundan. Begitu juga bahasa Jawa. Dialek

Surabaya dengan dialek Jogjakarta berbeda jauh. Belum lagi di Sumatra,

bahasa Aceh dengan Tapanuli, Padang dan Palembang jauh berbeda,

padahal wilayah mereka berdekatan. Kendati demikian, manusia dibekali

dengan kemampuan untuk menguasai bahasa-bahasa lain yang bukan

menjadi Bahasa Ibu mereka. Rasulullah Saw sendiri, konon, pernah

memerintahkan salah seorang sekretaris pribadi beliau untuk

mempelajari bahasa Ibrani dan Persia untuk tujuan dakwah dan

membuka hubungan diplomatik.

Kemampuan manusia berbahasa membuat apa yang mereka

rasakan dan pikirkan bisa mereka abadikan dalam bentuk tulisan atau

sekarang dengan teknologi rekam audio visual. Sehingga orang-orang

yang datang kemudian bisa membaca, mendengar, melihat, dan

memahami masa lalu dalam bentuk gambar gerak. Dengan kemampuan

berbahasa pula ilmu pengetahuan tersebar luas dan banyak orang yang

mendapatkan manfaat darinya.

Perbedaan bahasa ternyata tidak menghalangi manusia menjalin

kerjasama. Mereka bahkan bisa saling belajar mengerti  dan memahami.

Adanya perbedaan bahasa juga salah satu yang membuat langkah kaki

manusia semakin panjang. Mereka menjelajah negeri-negeri yang jauh

untuk mencari penghidupan atau membuat negeri baru dan membangun

peradaban di sana. Mereka menjalin komunikasi dengan banyak manusia

dari negeri yang berbeda-beda.


Dalam buku Teman-Teman Mesra, yang diterbitkan Penerbit Al-

Mawardi Prima, Dwi Bagus MB, menulis sebagai berikut: “Bagaimana

mungkin kita keliling dunia mencari penghidupan kalau tidak menjalin

komunikasi dengan warga dunia. Berkomunikasi berar ti menemukan

teman bicara. Ada sosok yang mendengar dan merespons pikiran dan

perasaan yang kita utarakan lewat ucapan. Mendengar dan merespons

akan mendatangkan empati. Empati inilah yang bila menjadi simpati

akan melahirkan solidaritas. Itu sebabnya mengapa kita cepat jatuh

hati apabila ada teman yang sedang terkena musibah atau tertimpa

kemalangan. Kita ikut merasakan sakitnya. Kita seolah menjadi bagian

dari teman yang sedang terkena musibah itu.”

Di ayat yang lain, Allah berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya

Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan

dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya

kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujuraat {49}: 13).

Allah Azza wa Jalla menegaskan, bahwa nenek moyang manusia

yaitu  sama. Dan sebab  Kasih Sayang Allah manusia berkembang

biak, kemudian menyebar ke berbagai pelosok bumi dan bekerjasama

sesudah  saling kenal-mengenal.

Otak Manusia

Bentuk fisik dan organ tubuh manusia yang sempurna menjadikan

manusia penguasa atas  dirinya dan  lingkungan sekitarnya, bahkan

atas alam ini. Agar manusia mengenali hakekat dirinya dan tahu Tuhan

yang telah menciptakannya, maka Allah Azza wa Jalla telah

membenamkan sebuah alat canggih di dalam kepala manusia. Alat

canggih itu bernama otak. Otak sangat ringan, sebagian besar terdiri

dari air dan sangat rentan. Oleh sebab nya, dia dilindungi oleh tempurung

(batok) kepala yang keras. Volume otak manusia kurang lebih 1.350 cc.

Otak tersusun dari dua jenis sel, yaitu glia dan neuron. Glia berfungsi

menunjang dan melindungi neuron. Sedangkan neuron membawa

informasi dalam bentuk pulsa listrik. Neuron saling “berkomunikasi”


satu sama lain dengan cara mengirimkan berbagai macam bahan kimia

yang disebut neurotransmitter ke seluruh bagian tubuh. Otak manusia

mengandung seratus milyar neuron atau sel syaraf otak. Sedangkan

bayi yang baru dilahirkan diperkirakan memiliki  satu triliun neuron.

Ini artinya di dalam kepala bayi ada  neuron lebih banyak 166 kali

daripada penduduk bumi saat ini yang hanya ber jumlah 6 milyar!

Subhanallah….

Setiap sel otak (neuron) memiliki  ratusan bahkan ribuan cabang

atau tentakel  berukuran mikro, setiap tentakel berisi jamur yang disebut

spina dendrite yang mengandung ribuan zat kimia. Zat kimia inilah yang

membawa pesan dan informasi di antara sel otak melalui gelombang

elektromagnetik yang bergerak cepat di cabang-cabang sel otak yang

ber liku-liku. Panjang gerak gelombang elektromagnetik ini kalau

dibentangkan akan mencapai angka 10,5 km! Konon sekiranya otak

manusia dimasukkan 10 data setiap detiknya, maka otak itu belum akan

terisi separohnya sampai manusia itu mati.  Itu ar tinya otak manusia

lebih canggih daripada

komputer yang paling

canggih sekalipun. Manusia

rata-rata memakai  3 %

kapasitas otaknya, sedang-

kan mereka yang  masuk

kategori jenius mengguna-

kan 4 % saja dari kapasitas

otaknya. Berarti masih ada

“ruang kosong” yang

sangat luar biasa di otak

kita yang tidak terman-

faatkan.

Otak yaitu  computer

canggih, dengan RAM jutaan

gigabytes yang ada di kepala

manusia


Otak yaitu  pengatur dan pengendali

seluruh gerak kehidupan manusia. Otak

juga yang mengkoordinasi prilaku dan

fungsi tubuh osmeostasis, seperti detak

jantung,  tekanan darah, keseimbangan

cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak juga

ber tanggung jawab atas fungsi

pengenalan, emosi, penginderaan,

pembelajaran motorik, dan lain-lain.

Yang sangat ajaib yaitu  zat-zat kimia

(hormon) yang dihasilkan otak sangat

tergantung pada kondisi psikologis atau

suasana hati kita. Kalau kita sedang

senang, maka otak akan memproduksi zat endorfin yang sangat berguna

bagi tubuh. Kalau bila kita sedang suntuk, cemas, stres atau marah,

maka zat yang dihasilkan otak yaitu  dopamine, cortisol, dan adrenalin,

yang bisa mengganggu keseimbangan sistem tubuh. Zat-zat ini jika

dalam jumlah yang ber le-bihan akan menyebabkan tubuh mudah

diserang penyakit.

Begitu pula bila di dalam hati kita bersemayam perasaan iri, dengki,

dendam, sombong atau angkuh, maka otak akan terganggu melalui

Aksis HHA (Hipotalamus Hipofisis Adrenal) yang menyebabkan otak

menjadi “blank” atau “hang”. Aksis HHA menurut hasil penelitian pakar

neuroscience yaitu  interface atau penghubung antara tubuh atau jasad

dengan kondisi mental dan spiritual seseorang.

Tanpa otak manusia tidak dapat berpikir. Kita bisa melihat sesuatu

sebab  ada persepsi dari otak yang kemudian persepsi ini dibawa oleh

neuron lain ke syaraf-syaraf mata sesudah  diubah menjadi objek. Begitu

juga dengan aktivitas  mendengar. Bunyi yang disebabkan  oleh getaran

yang bergerak dalam bentuk gelombang masuk ke gendang telinga.

Gendang telinga mengirimkan getaran itu ke telinga bagian tengah,

yang lalu meneruskannya ke telinga bagian dalam. Cairan yang ada

dalam telinga bagian dalam menerima getaran, sel-selnya ikut


merasakan getaran itu dan segera mengirimkan sinyal berupa denyut

ke syaraf  otak. Oleh otak denyut ini diubah menjadi bunyi seperti yang

kita dengar. Semua keajaiban itu tidak berlangsung lama, hanya terjadi

sepersekian detik saja. Sebuah proses yang sesungguhnya sangat rumit

dan tidak sederhana seper ti yang mungkin kita duga selama ini.

Begitupun  saat kita  membaui atau meraba sesuatu, otaklah yang

membuat persepsi. (Bentuk penampang otak kalau diperhatikan dengan

seksama mirip orang yang sedang sujud). Apakah ini berar ti bahwa

manusia memang selayaknya selalu sujud kepada penciptanya? Wallahu

a’lam)

Bentuk otak memang “biasa-biasa saja” kalau kita lihat gambar

penampang  luarnya, tapi dia terdiri dari bagian-bagian yang sangat

rumit dengan fungsi yang berbeda-beda. Otak terdiri dari tiga bagian

utama. Bagian yang paling besar disebut cerebrum  yang berfungsi

untuk berpikir. Di bawah cerebrum ada bagian yang berfungsi membantu

mengendalikan gerakan tubuh manusia, itulah yang disebut cerebellum.

Yang terakhir yaitu  batang otak atau pons dan medulla  yang kebagian

tugas mengatur detak jantung, tekanan darah, pernafasan, dan

sebagainya. Ada lagi bagian kecil-kecil yang luar biasa rumit dengan

fungsi yang sangat vital. Mungkin itulah sebabnya Nabi Muhammad Saw

melarang manusia memukul kepala sesamanya. sebab  memang apa

yang ada di dalam batok kepala itu yaitu  organ penting yang menjadi

pusat kehidupan manusia.

Dengan bekal otak manusia bisa berpikir mana yang baik dan mana

yang buruk, bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar,

bisa merasakan mana yang indah dan mana yang jelek. Dengan

kemampuan otaknya manusia mampu mewujudkan mimpi menjadi

kenyataan. Hewan dan tumbuhan yaitu  makhluk-makhluk Allah juga,

mereka juga memiliki  otak, tapi mereka tidak diberi kemampuan

berpikir sehingga tidak mampu membangun peradaban seperti halnya

manusia.


Jantung

Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan.

Allah sangat memuliakannya sehingga Dia memerintahkan malaikat dan

jin, juga iblis, untuk memberikan penghormatan kepada manusia dengan

bersujud. Sedangkan kita tahu, disujudi  makhluk yaitu  hak Allah

semata-mata sebagai Tuhan alam semesta. Tapi Allah seolah-olah “rela”

membagi hak-Nya kepada manusia.

Jasad manusia dibentuk demikian seimbang dan indah. Organ-

organnya disusun dengan serasi dan harmonis sehingga sedap

dipandang mata. Di antara organ vital yang ada dalam jasad atau tubuh

manusia yaitu  jantung. Jantung laksana pompa mesin yang bekerja

siang-malam secara otomatis tanpa kenal berhenti, terus berdetak.

Sebab kalau  jantung berhenti berdetak, itu alamat kematian. Jantung

memompa oksigen dan nutrisi melalui darah ke seluruh tubuh.

Pembuluh-pembuluh darah ini sangat elastis, sehingga bisa membawa

darah ke setiap ujung organ tubuh kita. Darah juga yang membawa

bahan-bahan sisa kembali ke jantung melalui pembuluh vena untuk

diurai dan dikeluarkan dari dalam tubuh. Panjang pembuluh darah

sangat fantastis, bisa mencapai 60 ribu mil bila dibentangkan. Ini artinya

bisa mengelilingi bumi sebanyak dua kali! Maha Suci Allah….

Detak jantung yang normal yaitu  60 sampai 100 kali per menit

atau kurang lebih 100 ribu kali per hari setara dengan memompa 2000

galon. Detak jantung yang tidak normal disebut arrhythmia. Jantung

berada di belakang tulang dada, sebelah kiri sedikit dari tengah dada

dan diselimuti pericardium. Jantung di bagi menjadi dua bagian, yaitu

kanan dan kiri yang dipisahkan oleh dinding otot yang disebut septum.

Bagian dalamnya terdiri dari empat ruang utama, dua atrium di atas

dan dua ventrikel di bawah. Ventrikel inilah yang memompa darah ke

seluruh tubuh, termasuk ke paru-paru, melalui pembuluh ar teri.

ada  empat buah katup di dalam jantung, yaitu mitral, tricupid,

aor tic, dan pulmonic . Darah yang akan keluar dari jantung melalui

empat katup ini. Katup-katup ini berfungsi untuk mengatur jalannya


aliran darah ke arah yang benar. Berat jantung orang dewasa kira-kira

300-350 gr.

Seperti inilah jantung kita. Pompa otomatis yang tak pernah berhenti bekerja

Struktur jantung sangat rumit, otot-ototnya berkerja secara otomatis

dan sistematis. Kendati begitu, detak jantung terkadang dipengaruhi

juga oleh kondisi psikologis seseorang. Sudah lama para dokter tertarik

menyelidiki organ vital ini. Ilmu kedokteran yang khusus mempelajari

jantung disebut kardiologi (dari bahasa Yunani, kardia yang ar tinya

jantung).

Penyakit jantung merupakan satu dari lima penyakit “pembunuh”

manusia dan merupakan penyakit yang sangat menakutkan. Di

Indonesia sendiri, penyakit jantung sekarang menempati urutan pertama

sebagai penyebab kematian. Penyakit jantung yaitu  penyakit yang

mengganggu sistem pembuluh darah atau tepatnya menyerang jantung

dan urat-urat darah. Dulu penyakit jantung biasa menyerang orang tua

yang berusia di atas 60 tahun, tapi sekarang mereka yang berusia

produktif  di bawah 40 tahun juga memiliki  kecenderungan terserang

penyakit ini. Bahkan juga bayi! Data terakhir mengabarkan bahwa setiap

tahun di Indonesia lahir 40.000 bayi dengan penyakit jantung bawaan,

dan hanya 1000 bayi per tahun yang bisa ditangani dengan jalan operasi.


Mengapa penyakit jantung juga menyerang mereka yang berusia

di bawah 40 tahun? Jawabnya simpel saja: perubahan gaya hidup.

Dampak negatif  dari era globalisasi yaitu  adanya perubahan gaya

dan pola hidup anak-anak muda, utamanya di kota-kota besar atau di

perkotaan. Pola dan gaya hidup penduduk negara-negara

berkembangan, seper ti Indonesia, memang cenderung meng-copy

habis gaya dan pola hidup masyarakat di Barat. Bagi mereka, hidup

belum terasa “afdhal” kalau belum menjadikan Barat sebagai rujukan

utama gaya hidup. Maka sejumlah kebiasaan dan prilaku buruk orang-

orang “bule” dengan senang hati kita adopsi, seper ti mengkonsumsi

makanan cepat saji (fast food) yang memiliki  kadar lemak jenuh

tinggi, meminum minuman beralkohol, merokok, kerja tak kenal waktu,

dan sebagainya. Prilaku buruk itulah antara lain yang menjadi sebab

meningkatnya orang-orang muda terkena serangan jantung.

Manusia menurut filosof

Sampai sejauh ini, belum ada satupun filosof  yang secara sempurna

mendefiniskan “apa itu manusia”? atau kalau tidak menjawab pertanyaan

“Siapa sebenarnya manusia?”. Telah berlalu para filosof  besar mulai

jaman Yunani kuno, sampai jaman kita sekarang, tapi manusia tetap

belum berhasil “diterjemahkan”. Apa yang dikatakan oleh para filosof

tentang manusia, selalu menimbulkan keraguan, kontroversi, bahkan

kekurangpercayaan. Pendapat mereka tentang manusia saling

bertentangan dan tidak pernah memuaskan rasa ingin tahu manusia

tentang dirinya sendiri.

Plato dan Plotinus, menganggap bahwa manusia yaitu  makhluk

Ilahiah. Ar tinya di dalam diri manusia, ada  unsur-unsur keilahian

yang membuat manusia berbeda dari makhluk hidup yang lain. Yang

menjadi persoalan bagi para filosof  seperti Plato yaitu  masalah “jiwa”.

Apakah jiwa itu? Plato –juga beberapa filosof lain— mengatakan bahwa

jiwa yaitu  dinamisme primordial makhluk hidup, dan merupakan unsur

pokok per tama manusia. Jiwa tidak bisa disamakan dengan organisme


apa pun, termasuk jasad. Eksistensi jiwa mendahului tubuh kasar

manusia. Jadi, tubuh dan jiwa merupakan dua substansi yang berbeda

yang saling melengkapi.

Tapi pendapat ini ditolak oleh Epicura dan Lukretius. Dua filosof  ini

mengatakan bahwa manusia yaitu  makhluk yang lahir secara

kebetulan, tidak sengaja, berumur pendek, dan sama sekali bukan apa-

apa dan tidak berisi apa-apa. Dia datang, lalu pergi begitu saja (mati),

maka selesailah sudah eksistensinya. Tidak ada yang bisa dibicarakan

lagi tentang manusia.  Pandangan skeptis tentang manusia terus

berkembang, di samping ada juga yang lebih santun dan optimis.

Sebagian filosof  besar Yunani kuno beranggapan bahwa jiwa yaitu 

sebuah prinsip vital manusia. Suatu elemen yang tercerap pancaindra,

tetapi halus dan dinamis. Seperti napas dan darah yang ada  dalam

organisme, yang dapat menggerakkan organisme selama dia tidak

meninggalkannya secara total.

Mereka memberi ilustrasi sederhana dengan alat musik kecapi.

Badan yaitu  kecapi, dan jiwa yaitu  nyanyian yang membuat kecapi

itu bermakna. Jiwa menggetarkan dawai, kecapi menciptakan nada, tempo

dan irama.

Aristoteles mengatakan, bahwa manusia  tidak bisa secara langsung

melihat inti jiwa. Tapi manusia dapat mengerti apakah jiwa itu dengan

mempelajari objek-objek ser ta kegiatan-kegiatan dari pelbagai

kemampuannya. Mahkluk hidup, kata Aristoteles, yaitu  sesuatu yang

padu dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Manusia yaitu  totalitas sebuah

substansi, tapi dia bukan substansi tersendiri. sebab  dia tidak bisa

bereksistensi secara terpisah dari badan. Jiwa juga bukan makhluk hidup

yang lengkap. Dia hanya suatu prinsip konstitutif makhluk hidup, tapi

konstitutif yang esensial. Sedangkan badan yaitu  penerima aktivitas

jiwa.

Betapa lelahnya kita membaca penjelasan tentang manusia dari

para filosof. Mereka berkutat di salah satu unsur yang ada di dalam dan

membentuk manusia, yaitu jiwa, dengan membolak-balik logika tapi


tidak kunjung sampai ke substansi yang sebenarnya dari manusia. Kendati

begitu, kita menjadi mengerti, bahwa sejak jaman dahulu kala manusia

mencoba memahami dirinya sendiri. Walaupun mereka tidak berhasil

merumuskan secara lengkap, apa sebenarnya manusia.

Para filosof  abad per tengahan juga mencoba urun rembug,

membahas soal yang sulit ini. Descartes, pemikir Katholik yang terkenal

dengan kredonya, “Aku berpikir, maka aku ada”,  beranggapan bahwa

kebebasan manusia itu dalam beberapa segi sama dengan kebebasan

yang dimiliki Tuhan. Tuhan bebas berbuat apa saja, begitu juga manusia.

Keduanya, Tuhan dan manusia, sama-sama memiliki  kehendak bebas.

Manusia, menurut Descar tes, terbentuk dari campuran antara dua

macam bahan yang dapat terpisah, yakni badan dan jiwa.

Corak pemikiran para filosof  biasa dipengaruhi juga oleh keadaan

lingkungannya atau oleh jaman di mana dia hidup. Tidak heran kalau

kemudian pemikir sekelas Hobbes berpikir skeptis. Dia berpendapat

bahwa manusia itu secara daya geraknya bersifat agresif  dan jahat. Ini

sebab  dia melihat dan mengalami pergolakan politik yang sengit dan

terus-menerus. Sehingga yang tersisa di benaknya yaitu  semua gerak

negatif  manusia yang bergolak, bukan yang berpikir dan merasa seperti

dirinya. Lain lagi dengan Spinoza, filosof  berdarah Yahudi yang pernah

menolak diangkat sebagai Guru Besar di Universitas Heidelberg pada

tahun 1673 sebab  takut kehilangan kebebasan berpikir. Dia beranggapan

bahwa manusia sesungguhnya  hanya suatu bayangan saja, tanpa

konsistensi pribadi dari substansi Ilahi.

Memasuki akhir abad 19 dan masuk awal abad 20, corak pemikiran

filsafat bergerak ke arahnya yang lebih eksistensial. Mungkin mereka

lelah memikirkan manusia dengan semua totalitasnya yang sempurna,

yang di dalamnya ada  jiwa dan ruh. Dua elemen manusia yang

sulit sekali diberikan definisi. Para pemikir jaman ini memahami manusia

sebagai sebuah eksistensi. Manusia yang tanpa eksistensi yaitu  benda

mati. Kierkegaard (1813-1855), pemikir melankolis asal Denmark,

disebut-sebut sebagai peletak dasar filsafat Eksistensialisme. Tokoh

lainnya yaitu  Alber t Camus, Friedrich Wilhelm Nietzsche, Jean-Paul


Sartre, dan sebagainya.  Masih banyak lagi hasil olah pikir para filosof

yang tidak mungkin diuraikan dalam buku, sebab  memang bukan itu

tujuan penulisan buku ini.

Lalu apa kabar dengan para filosof Muslim?

Para filosof  Muslim juga tidak kalah gelisah. Mereka juga berusaha

mencari “rumusan” yang paling pas tentang manusia. Tapi para filosof

Muslim memiliki  bingkai pikir yang lebih jelas, sebab  mereka  dibatasi

oleh keyakinan religiusitasnya. Mereka tidak dilarang berpikir sebebas-

bebasnya, tanpa batas. Tapi mereka tahu diri, mereka tidak akan bisa

merumuskan konsep tentang manusia lebih indah daripada yang telah

termaktub di dalam kitab suci mereka, Al-Qur’an.

Para filosof, juga para penyair sufi, banyak yang membicarakan

tentang manusia. Bahkan syair-syair sufi wanita legendaris dan paling

fenomenal, Rabi’ah Al-Adawiyah, yang sangat personal itu, mendahului

pemikiran para filosof  eksistensial. Rabi’ah memperkenalkan filsafat cinta

(mahabbah), sebuah corak pemikiran tentang eksistensi manusia, tapi

bukan dalam hubungannya dengan “aku” yang nisbi. Melainkan dengan

“Aku” yang kekal dan Maha Indah, itulah Tuhan Semesta Alam. Manusia

di mata Rabi’ah yaitu  “ketiadaan yang kreatif”. Itulah sesungguhnya

yang membuat manusia menemukan nilai-nilai keunikan dirinya. Dia

tidak memusingkan “siapa manusia”, tapi dia sibuk dengan “bagaimana

sebagai manusia, dia bisa mendaki puncak spiritual yang paling tinggi”,

yaitu mencintai dan cintai oleh “Aku” Universal dan Kekal. Boleh dibilang

Rabi’ah Al-Adawiyah yaitu  pelopor dan penuntun kehidupan sufistik,

yang di belakangnya mengekor para sufi besar Islam.

Dalam sebuah syairnya, Rabi’ah Al-Adawiyah merintih:

Oh Pelipur yang membakar jiwa,

Gairah menyatu denganMu merantai jiwaku

Engkau napas kehidupanku, selamanya

Wahai Cahaya Kebahagiaanku


DariMu semburat bahagiaku

Hingga kutanggalkan yang fana

Meski indah bagi pandang mata

Menyatu denganMu yaitu  puncak harapanku

Yang kerna itu hidup kutempuh

Juga karya-karya Al-Junaid, Hasan Al-Bashri, Jami’, Hafiz, Ar-Razi,

Ibnu Sina, Abdul Qadir Al-Jilani, Rumi, Attar, Ibnu Arabi, Al-Farabi,

Suhrawardi, Omar Khayyam, dan sebagainya, yaitu  karya-karya

kontemplatif yang bicara tentang manusia dan hubungannya dengan

Tuhan, di samping ada juga yang membahas manusia sebagai sebuah

eksistensi. Al-Ghazali, misalnya, membahas panjang lebar tentang

manusia dalam karya-karyanya.

Bagi Al-Ghazali, esensi manusia yaitu  al-nafs. Sebuah substansi

yang kekal, immaterial dan tidak bisa dibagi-bagi. Al-nafs memiliki 

kemampuan untuk memahami, merenung dan berpikir aktif. “Aku”, lanjut

Al-Ghazali, yaitu  pusat kesadaran yang disebut al-nafs al-insaniyyat.

Yang disadari bukanlah fisik, yang sadar juga bukan Fisik. Al-nafs berdiri

sendiri, terlepas dari fisik dan tidak bertempat, baik di dalam maupun

di luar badan. Oleh sebab  itu al-nafs (jiwa) tidak akan hancur seiring

dengan hancurnya

badan. Al-nafs atau

jiwa tidak hancur

sebab  dia bukan

komposisi yang bisa

dipisah bagian demi

bagian. Dia mempu-

nyai natur kekekalan.

Dengan kekuatan ilmunya,

manusia menjelajahi jagad

raya


Di sisi lain Al-Ghazali mengatakan, bahwa al-nafs lebih tepat

dikatakan ada bersama badan, bukan dalam badan. Tampaknya dia

kesulitan menjelaskan bagaimana jiwa bisa bersama badan, sementara

itu dia tidak bertempat dan terlepas dari badan. Apalagi dia menyatakan

bahwa walaupun jiwa terlepas dari fisik, jiwa tetap punya hubungan

dengan fisik, tapi bukan sebagai satu substansi, melainkan dua substansi

yang berbeda. Al-Ghazali juga mengatakan, bahwa jiwa bisa hancur kalau

Allah menghendaki, akan tetap Allah tidak menghendaki. Ini berarti jiwa

sesungguhnya tidak kekal.

Tapi Al-Ghazali sempat berkata: “Kesempurnaan manusia ada

dalam cinta Tuhan, cinta ini menaklukkan hati manusia dan menguasainya

secara penuh. Dan kalaupun dia tidak menguasainya secara penuh, dia

pasti mengatasi segala jenis cinta lain yang ada di dalam hati.”

Tampaknya dia tidak ingin jauh-jauh melangkah. Dia mengembalikan

semua pengembaraan intelektual dan spiritualnya tentang manusia pada

Allah. Pada “cinta” Allah. Beberapa filosof Muslim yang lain juga

memiliki  pikiran yang tidak kalah njelimetnya dengan Al-Ghazali. Tapi,

sekali lagi, para pemikir itu telah membuka wawasan bagi kita yang

datang kemudian, bahwa memahami manusia yaitu  sebuah pekerjaan

yang luar biasa sulit, walaupun itu bukanlah upaya yang sia-sia.

Manusia menjelajah seluruh angkasa raya. Menciptakan perangkat

canggih berkecepatan sama dengan kecepatan cahaya.  Mencari

informasi tentang alam semesta, galaksi, bintang-bintang dan planet-

planet yang jauh, yang jaraknya ribuah tahun cahaya dari bumi. Tapi

ternyata semua kemajuan itu itu tidaklah membuat mereka menjadi

hebat dari penciptaan diri mereka. Mereka justru gagap saat 

berhadapan dengan diri mereka sendiri. Mereka seperti melihat sosok

asing yang tidak mereka kenali.

Manusia akan terus berusaha memahami dirinya. Mereka akan

terus mencoba mengerti tujuan keberadaannya di muka bumi, dan ke

mana dia pergi sesudah  hidupnya berakhir dengan kematian. Manusia

yaitu  makhluk yang gelisah. Gelisah mencari asal-usul sejatinya, bukan

sekedar mengenali ayah dan ibunya.


Pada akhirnya manusia menemukan makrokosmos dalam dirinya.

Sebuah jagad raya yang maha luas dan kekal dalam wadah yang kecil

dan wadah itu terbatas oleh waktu.

Kisah Hikmah

Dr. Fidelma, seorang Doktor Neurologi di sebuah rumah sakit di Amerika

Serikat, terpukau saat  melakukan kajian terhadap syaraf-syaraf  di

otak manusia. Yang membuat dia terpukau yaitu  ada  beberapa

urat syaraf di otak manusia yang tidak dimasuki darah. Padahal setiap

inci otak manusia memerlukan suplai darah agar bisa berfungsi secara

normal. sesudah  mengadakan penelitian dengan seksama dan memakan

waktu yang lama, Dr. Fidelma akhirnya mendapati kenyataan bahwa

urat-urat syaraf di otak itu tidak dimasuki darah kecuali bila seseorang

sedang shalat, yakni saat  dalam posisi sujud!  Subhanallah…. Ternyata

urat syaraf  itu memerlukan darah hanya beberapa saat saja, yakni

saat  seseorang shalat.

sesudah  penelitian itu, Dr. Fidelma mencari tahu tentang Islam, lewat

buku-buku keislaman dan diskusi dengan rekan-rekannya yang Muslim.

Dan akhirnya, dengan kesadaran penuh, Dr. Fidelma mengikrarkan

keislamannya. Allah Azza wa Jalla berkenan memberinya hidayah atau

petunjuk pada iman. Keyakinannya pada agama yang baru dianutnya

itu demikian besar. Sekarang Dr. Fidelma membuka klinik, “Pengobatan

Dengan Al-Qur’an”. Dia terus mengkaji pengobatan Islami dan

memberikan pengobatan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan apa saja yang

dianjurkan Al-Qur’an dan Hadits Nabi Saw, misalnya dengan berpuasa,

madu, habatussauda (jinten hitam), minyak zaitun, dan sebagainya.

Sesungguhnya dalam diri manusia ada  ayat-ayat (tanda-tanda

Kekuasaan) Allah Azza wa Jalla. Hanya saja kita sering mengabaikannya,

sehingga kita tidak pernah bisa menarik pelajaran darinya. Padahal

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan di bumi itu ada -tanda

(Kekuasaan Allah)  bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu


sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzaariyaat

{51}:  21).

Allah Azza wa Jalla menegaskan, bahwa pada diri manusia

sesungguhnya juga ada  tanda-tanda Kekuasaan-Nya, bagi mereka

yang mau dengan sungguh-sungguh mencari kebenaran, jalan Cahaya.

Hanya saja manusia sering mengabaikan hal itu.

Manusia dalam Al-Qur’an

Mengapa manusia sulit sekali mengetahui hakekat dirinya sendiri?

sebab  manusia yaitu  sebuah totalitas yang sempurna, yang terdiri

dari jasmani, jiwa, dan ruhani. Bukan sekadar tubuh kasar yang berdarah,

berdaging. Kemuliaan manusia atas makhluk-makhluk lainnya yaitu 

sebab  di dalam diri manusia ada  ruh Ilahi yang Allah tiupkan

langsung kepadanya. “(Ingatlah) saat  Tuhanmu berfirman kepada para

malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan kemudian

Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, hendaklah kalian tersungkur

dengan bersujud kepadanya’….” (QS. Shaad {38}: 71-72).

Adanya “ruh Tuhan” itulah yang menjadikan manusia berbeda

dengan makhluk-makhluk lain yang telah Allah ciptakan. Adanya ruh

Ilahi  inilah yang membuat manusia dimuliakan oleh Allah.  Ruh Ilahi ini

juga yang membuat manusia “kesulitan” mengenali dirinya secara utuh

bila hanya mengandalkan kemampuan berpikirnya meskipun dibantu

dengan kemajuan sains dan teknologi.  “Dan sesungguhnya telah Kami

muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan,

Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka

dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah

Kami ciptakan.”  (QS. Al-Israa {17}: 70).

Allah memuliakan manusia dengan memberinya kelebihan

dibanding makhluk yang lain, tapi berbarengan dengan itu Dia juga

seolah-olah sengaja “menyembunyikan” hakekat manusia yang

sebenarnya agar manusia tidak menjadi sombong, sebab  manusia


memiliki  banyak sekali kekurangan. Kekurangan yang paling utama

yaitu  manusia tidak pernah bisa mengenali dirinya sendiri secara

utuh.

Ilmu pengetahuan modern tidak akan sampai pada hakekat

manusia, selama landasan berpikirnya yaitu  matrialisme, empirisme,

dan rasionalisme. Pengetahuan modern hanya mau menerima sesuatu

sebagai pengetahuan atau ilmu bila sesuatu itu bisa dilihat, diteliti, dan

diobservasi di laboratorium saja. Sesuatu yang  transenden dan metafisis

di luar ruang lingkupnya. Mengapa kita malu mengakui kalau pikiran

kita memang  terbatas untuk memikirkan “yang tak terbatas” dan “yang

ghaib”? Masalah ruh, misalnya. Manusia  akan terus kesulitan

mendefinisikan atau memahaminya. sebab  memang Allah tidak

memberi pengetahuan tentang masalah ini kepada manusia. Atau

kalaupun manusia diberi pengetahuan tentang ruh, itu hanyalah sedikit

sekali. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, ‘Ruh

itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan

melainkan sedikit’….” (QS. Al-Isra {17}: 85).

Sebagian orang menganggap ruh sama dengan nyawa. Tapi

sebagian ulama menolak anggapan ini. sebab  ruh merupakan sebuah

potensi aktif yang selalu mengajak manusia kepada kebaikan, tunduk

kepada Tuhan yang  telah menciptakannya. Konon ruh merasa tidak

nyaman dan gelisah bila jasad yang ditumpanginya atau menjadi

wadahnya bersemayam berbuat maksiat. Sedangkan nyawa juga dimiliki

oleh binatang.  Tapi apakah binatang merasa gelisah bila telah

melakukan kesalahan atau kemaksiatan?

Mengutip M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an, Nabi

Muhammad Saw dalam sebuah hadits menyatakan: “Ruh-ruh yaitu 

himpunan yang terorganisasi, yang saling mengenal akan bergabung

dan yang tidak saling mengenal akan berselisih.” Dalam hadits lain

yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut

ibumu selama 40 hari. sesudah  genap 40 hari kedua, terbentuklah

segumpal darah beku. Manakala genap 40 hari ketiga, berubahlah (darah



beku itu) menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus malaikat

untuk meniupkan ruh serta memerintahkan supaya menulis 4 perkara,

yaitu ditentukan rejeki, waktu kematian, amalnya dan nasib baik atau

nasib buruknya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Banyak juga hadits yang menjelaskan seputar ruh, tapi tidak

membicarakan substansinya atau bahan dasarnya. Kendati demikian,

setidaknya agak lebih jelas bagi kita, bahwa yang disebut “manusia” itu

yaitu  janin (fetus) yang telah ditiupkan ruh oleh Allah melalui malaikat-

Nya. Janin itu baru disebut sebagai manusia bila sudah menyandang

sifat-sifat kemanusiaan dan sudah dituliskan takdirnya. (Persoalan takdir

ini juga masih terus menjadi misteri yang tak terpecahkan oleh manusia).

saat  masih dalam fase janin, manusia seperti tumbuhan yang hanya

berkembang dan bergerak tanpa kehendak. Tapi sesudah  ruh ditiupkan

kepadanya, maka karakteristiknya sebagai manusia terbentuk. sebab 

itu, sebagian ulama berkesimpulan, bahwa yang mengatur seluruh gerak

kehidupan manusia –termasuk aktivitas berpikir dan merasa—  yaitu 

ruh, bukan otak. Tapi saya tidak ingin ter jebak membicarakan dan

berpolemik tentang masalah ini. Biarlah dua pendapat itu ber jalan

beriringan, sebab  hanya Allah Yang Maha Mengetahui keadaan atau

hakekat yang sebenarnya.

Hikmah ketidaktahuan kita tentang masalah ruh yaitu  kita

seharusnya rendah hati dan tahu diri. Pantaskah kita menyombongkan

diri –apalagi di hadapan Allah— sementara kita tidak mengetahui

dengan sebenar-benarnya hakekat diri kita sendiri? Lagi pula sombong

itu yaitu  Hak Allah, “Selendang” Kebesaran-Nya. sebab  memang Dia

yang paling pantas menyombongkan diri. Bukankah seluruh jagad raya

ini yaitu  milik-Nya? Kita, manusia, hanyalah sebutir debu yang dibelah

triliunan  kali sehingga tidak ada ar tinya dibandingkan dengan

Kekuasaan Allah. Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib ra, dengan tegas

mengatakan, bahwa manusia awalnya yaitu  air yang hina (sperma)

dan akhirnya yaitu  seonggok bangkai.



Janin (calon manusia) saat berada di dalam rahim seorang wanita

Jika manusia ingin mengetahui hakekat dirinya, tidak bisa tidak

mereka harus menoleh ke sumber rujukan yang paling valid dan

terpercaya,  yaitu Kitabullah Al-Qur’an dan Al-Hadits Rasulullah Saw. Al-

Qur’an banyak membincangkan seluk-beluk manusia lebih daripada

kitab-kitab suci agama lain, demikian juga hadits Nabi Saw. Hanya Al-

Qur’an yang memberitakan dari mana manusia berasal, awal

kejadiannya, tujuan hidupnya, potensi dan sifat baik-buruknya,

kecenderungan nafsunya, kematian dan tempat kembalinya sesudah 

mengalami peristiwa kematian. “Bukankah telah datang atas manusia

satu waktu dari masa, sedang dia saat  itu belum merupakan sesuatu

yang bisa disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia

dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya

(dengan perintah dan larangan), sebab  itu Kami jadikan dia mendengar

dan melihat ….” (QS. Al-Insaan {76}: 1-2).

Manusia memang pernah mengalami satu masa di mana dia belum

bisa disebut apa-apa, sebab  belum diciptakan Allah. Lalu Allah ciptakan

manusia dari percampuran sperma laki-laki dengan ovum (sel telur

wanita).  Dalam ayat lain Allah menginformasikan kepada manusia: “Hai

manusia! Jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur

sesudah  kematian), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah

menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian

dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna

kejadiannya….” (QS. Al-Hajj {22}: 5).



Masih banyak informasi tentang asal kejadian manusia yang

semuanya dibenarkan oleh ilmu pengetahuan modern.  Allah

menginformasikan semua itu agar manusia terbuka mata hatinya dan

mau tunduk kepada Penciptanya, sebab…. “… Aku tidak menciptakan

jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzaariyaat {51}: 56).

Demikian Allah tegaskan dalam Al-Qur’an. Manusia –juga bangsa

jin— diciptakan Allah semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Tentu

saja pengertian ibadah di sini sangat luas, tidak hanya terbatas pada

ritual saja. Semua aspek kehidupan kita yaitu  ibadah, asal diniatkan

sebab  Allah dan diawali dengan basmalah. Apalagi bagi kaum Muslimin,

komitmen hidupnya sekurang-kurangnya lima kali sehari mereka

perbarui dalam shalat. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku (aktivitasku),

hidupku, dan matiku, lillahi Rabbil ‘alamiin (hanya sebab  dan untuk

Allah, Tuhan semesta alam.”  (QS. Al-An’aam {6}: 162).

Ini yaitu  pengakuan yang sangat transparan dari seorang Muslim.

Bahwa seluruh aspek kehidupannya dan sepak terjangnya hanya sebab 

Allah semata. Orientasi hidupnya hanya diarahkan untuk memburu ridha

dan rahmat Allah. Dan dia berserah diri sepenuhnya kepada Allah sesudah 

itu.

Qalb atau Hati (Kalbu)

Dalam pergaulan sehari-hari, kita sering mendengar orang mengucapkan

kata “kalbu” untuk menaikkan citra rasa bahasa bagi “hati”. Kalbu sendiri

merupakan kata serapan dari bahasa Arab, qalb. Menurut pakar bahasa

Arab, kata “qalb” terambil dari akar kata yang memiliki  makna

membalik atau bolak-balik. Itulah sebabnya kita bisa mengerti, mengapa

hati kita sering merasa bimbang, ragu, dan mudah berubah pendirian.

sebab  memang qalb cenderung berubah-ubah. Makanya Rasulullah

Saw. mengajarkan kita sebuah doa: “Wahai (Tuhan) yang membolak-

balik qalb (hati), condongkanlah hatiku pada agama-Mu, dan selalu ingin

taat kepada-Mu.”



Sesungguhnya Rasulullah Saw yaitu  manusia yang paling dekat

dengan Allah dan dijamin pula masuk surga, tapi beliau tetap memohon

agar Allah mencondongkan hatinya pada agama Allah yang beliau bawa

sendiri. Ini janganlah diartikan bahwa manusia sekaliber Nabi juga bisa

saja melakukan kesalahan yang mengakibatkan dosa. Bukan begitu

maksudnya. Doa yang Rasulullah Saw ajarkan yaitu  bentuk

kerendahhatian seorang hamba di