Te ntang Maria yang terlalu cepat mengandung. sebab itu Yusuf tidak tega
membiarkan Maria di Nazaret, dan membawanya pergi ke Betlehem. Ini mengajar
kita bahwa di dalam menghadapi problem, suami istri perlu ada kesatuan dan saling
mendukung! (c).Yusuf ingin ada bersama dengan Maria pada saat Yesus lahir. Ingat
bahwa Yusuf juga yaitu orang Yahudi yang pasti menanti-nantikan kedatangan
Mesias. (d).Mereka tahu tentang nubuat dalam Mikha 5:1 yang mengatakan bahwa
Mesias harus lahir di Betlehem, dan sebab itu mereka sengaja pergi ke Betlehem
supaya nubuat itu tergenapi. Calvin menolak kemungkinan ini dengan alasan:
kepergian mereka ke Betlehem disebutkan alasannya secara explicit dalam ay 5:
‘supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria’. sebab itu Calvin berpendapat
bahwa mereka pergi ke Betlehem bukan dengan tujuan supaya Kristus lahir di sana,
namun sebab tangan / pengaturan Allah (Providence of God) membimbing mereka
seperti orang buta ke tempat dimana Kristus harus dilahirkan. Calvin lalu
menambahkan: "Thus we see that the holy servants of God, even though they
wander from their design, unconscious where they are going, still keep the right path,
because God directs their steps" (= Demikianlah kita lihat bahwa pelayan-pelayan
yang kudus dari Allah, sekalipun mereka menyimpang dari rencana mereka, tidak
sadar kemana mereka pergi, tetap ada di jalan yang benar, sebab Allah
mengarahkan / memimpin langkah-langkah mereka).
Penjelasan: Yusuf dan Maria pasti sudah mempersiapkan dan
merencanakan banyak hal tentang Yesus yang akan dilahirkan itu. Mungkin
mempersiapkan uangnya, kamarnya, tempat tidurnya, dsb. namun perintah untuk
melakukan sensus itu kelihatannya membuyarkan segala persiapan dan rencana
mereka. namun toh semua ini ada dalam pimpinan Tuhan! Penerapan: kalau
everything goes wrong (= segala sesuatu berjalan salah) dengan rencana saudara
(baik rencana jasmani maupun rohani), maka itu tetap pimpinan Tuhan! Ini tentu tak
berarti bahwa kita boleh sembarangan dalam memilih jalan ataupun terlalu mudah
‘menyerah’ pada kehendak / Rencana Allah! Kita tetap punya tanggung jawab untuk
memilih jalan yang terbaik, dan berusaha secara maximal untuk mencapainya. Kalau
semua itu sudah kita lakukan dan ternyata semua hancur berantakan, barulah kita
harus berserah pada kehendak / Rencana Allah.
4) Kelahiran Yesus (ay 6-7):
a) ’Anaknya yang sulung’ (ay 7a). Istilah ‘anak sulung’, ditambah dengan banyak
bagian Kitab Suci yang berbicara tentang adanya saudara-saudara Yesus (Mat
12:46,47 / Mark 3:31-32 / Luk 8:19-20 Mat 13:55-56 Yoh 2:12 Yoh 7:3,5,10 Kis
1:14), menunjukkan bahwa Yusuf dan Maria pasti mempunyai anak-anak lain
sesudah kelahiran Yesus. Seorang penafsir (Pulpit Commentary) menganggap
Yusuf dan Maria tidak mempunyai anak lain selain Yesus, dengan alasan: istilah
‘anak sulung’ bisa diartikan ‘anak tunggal’ seperti dalam Ibr 1:6. Dalam arti yang
sebenarnya, memang Yesus yaitu Anak Tunggal dari Allah (Yoh 3:16). namun
dalam Ibr 1:6 Yesus disebut sebagai Anak Allah yang sulung, itu disebabkan
sebab kita yang percaya kepada Yesus juga yaitu anak-anak Allah (Yoh 1:12),
sekalipun kita yaitu ‘anak-anak adopsi’. Bandingkan ini dengan Rom 8:29 yang
berbunyi: ‘supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak
saudara’. Dengan demikian, istilah ‘anak sulung’ dalam Ibr 1:6 tidak bisa diartikan
sebagai ‘anak tunggal’!
b) ‘dibaringkannya di dalam palungan, sebab tidak ada tempat bagi mereka di
rumah penginapan’ (ay 7b). Bagi Yusuf dan Maria ini yaitu sesuatu yang
kelihatannya kontradiksi dengan Firman Tuhan. Katanya Maria akan melahirkan
Anak Allah yang maha tinggi, lalu mengapa Anaknya lahir dalam palungan? Anak
Allah yang mahatinggi mau lahir dalam palungan. Yesus mau direndahkan /
menjadi miskin, supaya kita bisa ditinggikan / menjadi kaya (secara rohani!). Bdk.
2Kor 8:9. Istilah ‘miskin menjadi kaya’ jelas harus sdiartikan secara rohani. Hal ini
terlihat jelas kalau saudara membaca seluruh kontex (2Kor 8:1-9). Calvin: "When
he was thrown into a stable, and placed in a manger, and a lodging refused him
among men, it was that heaven might be opened to us, not as a temporary
lodging, but as our eternal country and inheritance, and that angels might receive
us into their abode" (= Pada saat Ia dilemparkan ke dalam kandang, dan
diletakkan dalam palungan, dan penginapan menolak menerimaNya di antara
manusia, tujuannya yaitu supaya surga terbuka bagi kita, bukan sebagai
penginapan sementara, namun sebagai negeri dan warisan yang kekal, dan
supaya malaikat-malaikat menerima kita dalam tempat tinggal mereka).
c) Pemilik penginapan hanya memberi tempat hewan sebab : ia tidak tahu
bahwa yang akan dilahirkan oleh Maria yaitu Mesias / Anak Allah. memang
semua kamar penuh sehingga tidak ada lagi tempat untuk mereka. sebab itu
sebetulnya ia tidak bisa terlalu disalahkan. namun kalau sekarang saudara
menolak Kristus untuk tinggal dalam hati saudara sebagai Juruselamat dan
Tuhan saudara, saudara menolak dengan suatu pengetahuan / kesadaran bahwa
Ia yaitu Anak Allah, maka penolakan saudara harus disalahkan! sebab itu,
terimalah Ia sebagai Juruselamat dan Tuhan dalam hidup saudara!
f. Pasal 2:36-40.
Hana yaitu Janda. Ia telah mengenal kesedihan namun tidak bersedih.
Kesediaan dapat membuat kita menjadi keras, sedih, marah, dll tapi kesediaan juga
dapat membuat kita baik. Bagaimana kita menanggapinya. Usia 84 tahun yang tua
namun tidak berhenti berharap. Umur dapat menggerogoti kecantikan dan kekuatan
tubuh serta waktu dapat menggerogoti hidup sehingga harapan jadi mati dan hidup jadi
membosankan dan menerima hidup apa adanya. Bagaimana keadaan Hana pada saat
itu? a). Ia tidak pernah berhenti untuk beribadah Gereja yaitu ibu kita dalam iman. Kita
merengutkan diri sendiri dan harta yang tak ternilai harganya bila kita lalai dalam ibadah.
b).Tidak hentinya untuk berdoa.
g. Pasal 2:40-52.
1) Merayakan Paskah di Yerusalem:
a) Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah di
sana (ay 41).
b) Di sini disebutkan ‘orang tua’ Yesus, yang jelas menunjuk kepada Yusuf dan
Maria. Maria memang yaitu ibu Yesus, namun Yusuf sebetulnya bukanlah ayah
Yesus, namun tetap disebut orang tua sebab secara legal / hukum Yesus yaitu
anak Yusuf.
c) Paskah. Ini jelas bukan Paskahnya orang kristen yang menunjuk pada
kebangkitan Yesus. Ini yaitu Paskah Perjanjian Lama (Inggris: Passover), yaitu
merayakan saat orang Israel lepas dari tulah ke 10 (kematian anak sulung)
sebab adanya darah domba pada ambang pintu. Paskah / hari raya roti tak
beragi yaitu salah satu dari 3 hari raya dimana orang Yahudi harus pergi
berbakti di Yerusalem (Kel 23:14-17). Sebetulnya yang harus berbakti di
Yerusalem hanyalah orang laki-laki saja (Kel 23:17), namun ternyata Maria juga
ikut. Ini menunjukkan kesalehannya dimana ia mau melakukan lebih banyak dari
yang diperintahkan oleh Tuhan. Penerapan: Kalau saudara menuruti Firman
Tuhan apakah saudara mau menurutinya sesedikit / seminim mungkin? Misalnya
apakah saudara rela memberi persembahan lebih dari 10 %?
d) Merayakan Paskah di Yerusalem merupakan hal yang cukup berat, sebab
mereka harus tinggal di Yerusalem selama 8 hari, yaitu 1 hari untuk Paskahnya
dimana mereka menyembelih domba Paskah, dan 7 hari untuk merayakan hari
raya roti tak beragi (Kel 12:15 Im 23:5-6). sebab itu dalam ay 43 digunakan
bentuk jamak ‘hari-hari perayaan’. namun sekalipun ini cukup berat, mereka tetap
mau mentaati! Penerapan: Apakah saudara mau taat pada perintah yang berat,
atau hanya yang ringan saja? saat Yesus berusia 12 tahun maka Ia diajak oleh
orang tuanya untuk pergi ke Yerusalem pada Paskah (ay 42). Mengapa pada
usia 12 tahun? William Barclay: "A Jewish boy became a man when he was 12
years of age" (= seorang anak laki-laki Yahudi menjadi seorang laki-laki pada
saat ia berusia 12 tahun). Pada saat usia 12 tahun seorang anak laki-laki menjadi
BAR MITSVAH [the son of the law / commandment (= anak hukum / perintah)].
Ini tentu tidak berarti bahwa sebelum usia 12 tahun Yesus tidak pernah berbakti.
Ia tentu juga berbakti namun tidak di Yerusalem / Bait Allah. b) Yusuf dan Maria
mengajak Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Ini berarti: Orang
tua harus mengarahkan anaknya kepada Tuhan. Jangan membiarkan anak itu
tumbuh bebas dan memilih kepercayaannya sendiri. Kalau saudara percaya
bahwa Yesus yaitu satu-satunya jalan kepada Bapa / ke surga (Yoh 14:6),
maka saudara harus mengarahkan anak saudara kepada Yesus!
2) Yesus tertinggal di Bait Allah :
a) Pada saat meninggalkan Yerusalem, orang-orang Yahudi itu biasanya pulang
beramai-ramai (dalam rombongan besar). Ini memicu Yusuf dan Maria bisa
tidak mengetahui kalau Yesus tidak ada di antara mereka (ay 43-44). sesudah
tahu bahwa Yesus tidak ada bersama mereka, maka kembalilah Yusuf dan Maria
untuk mencari Yesus. Akhirnya mereka menemukan Yesus di Bait Allah (ay 45-
46a). Jadi, pada saat semua sudah meninggalkan Bait Allah, Yesusnya masih di
sana. Yesus merasa krasan di Bait Allah, dan ini kontras dengan banyak orang
kristen yang tidak krasan ada di gereja dan langsung meninggalkan gereja begitu
kebaktian selesai!
b) Yesus berdiskusi dengan ‘alim ulama’ (ay 46b-47). a) Sesuatu yang menarik
dalam bagian ini yaitu : sesudah Yusuf dan Maria menemukan Yesus (ay 46a),
yang diceritakan lebih dulu bukanlah reaksi / pertanyaan / teguran Maria, namun
apa yang Yesus lakukan (ay 46b-47). Reaksi / teguran Maria baru diceritakan
dalam ay 48. Ini menunjukkan bahwa Yesusnyalah yang dipentingkan dalam
cerita ini, bukan Yusuf ataupun Marianya! Gereja yang lebih mengutamakan
Maria dari pada Yesus, jelas sudah menyimpang dari Alkitab! Istilah ‘alim ulama’
diterjemahkan ‘teachers’ (= guru-guru) oleh NIV / NASB. Rupanya ini yaitu ahli-
ahli Taurat pada saat itu.
c) Mengapa Yesus sengaja tinggal di Yerusalem dan berdiskusi dengan para ahli
Taurat itu? Untuk belajar Firman Tuhan. Ini menunjukkan Ia rindu pada Firman
Tuhan. Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara rindu pada Firman Tuhan?
Dan apakah kerinduan itu saudara wujudkan dengan mencari Firman Tuhan?
Jangan merasa aneh kalau Yesus perlu belajar Firman Tuhan. Jangan lupa
bahwa Yesus yaitu Allah dan manusia dalam satu pribadi sehingga Ia
mempunyai 2 pikiran, yaitu ilahi dan manusia, yang timbul tenggelam secara
bergantian. Pikiran ilahiNya tentu saja mahatahu dan tidak perlu belajar, namun
pikiran manusiaNya terbatas / tidak mahatahu sehingga perlu belajar dan bisa
mengalami pertumbuhan pengetahuan (bdk. ay 40,52 - bertumbuh dalam
hikmat).
Ini bertentangan dengan ajaran Apolinarianism, yang mengatakan bahwa
pikiran Yesus berasal dari LOGOS. Di sini Ia belajar Firman Tuhan melalui suatu
diskusi (ay 46b-47). Kalau saudara yaitu orang kristen yang tidak senang
berdiskusi tentang Firman Tuhan, ada sesuatu yang aneh / tidak beres dalam diri
saudara! Mungkin ini juga untuk menyiapkan orang-orang Yahudi untuk melihat dan
mengakui adanya hikmat ilahi dalam diriNya. Supaya Yusuf dan Maria sadar
bahwa Ia bukan anak biasa.
3) Pertanyaan Maria dan jawaban Yesus (ay 48-49).
Dalam ay 48 Maria bertanya / menegur Yesus dengan berkata: "Nak,
mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? BapaMu dan aku dengan
cemas mencari Engkau". Dan dalam ay 49 Yesus menjawab: "Mengapa kamu
mencari Aku? Tidak-kah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah
BapaKu?"
a) Ini yaitu kata-kata Yesus yang pertama yang dicatat dalam Kitab Suci.
b) ‘Rumah BapaKu’. RSV/NIV/NASB: my Father’s house (= rumah BapaKu). Dalam
bahasa Yunaninya kata ‘house / rumah’ itu sebetulnya tidak ada. Jadi terjemahan
hurufiahnya hanyalah: I must be in my Father’s (= Aku harus ada dalam milik
BapaKu). KJV menterjemahkan: my Father’s business (= kesibukan BapaKu).
c) William Barclay memberi komentar: "See how gently but very definitely Jesus
takes the name father from Joseph and gives it to God" (= Lihatlah betapa
dengan lembut namun pasti Yesus mengambil nama / sebutan bapa dari Yusuf
dan memberi nya kepada Allah). Kalau kita membetulkan orang lain, seringkali
kita melakukannya dengan pasti / tegas, namun tidak dengan lembut. Atau dengan
lembut, namun tidak pasti / tegas. Kita perlu belajar dari Yesus dalam hal ini!
d) Kata-kata Yesus ini menunjukkan bahwa Ia bukanlah anak biasa, sebab
sekalipun Ia yaitu manusia, namun Ia juga yaitu Allah sendiri! Dalam Kitab
Suci ada 4 kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, sebab setiap
kitab Injil menyoroti Yesus dari sudut yang berbeda.
Matius menekankan Yesus sebagai Raja.
Markus menekankan Yesus sebagai Hamba.
Lukas menekankan Yesus sebagai manusia.
Yohanes menekankan Yesus sebagai Allah. Text yang kita bahas hari ini ada
dalam Injil Lukas yang menekankan kemanusiaan Yesus, namun tidak berarti
bahwa Lukas mengabaikan keilahian Yesus! Text ini sendiri memang sangat
menekankan kemanusiaan Yesus dengan menceritakan pertumbuhan Yesus
secara fisik dan pertumbuhan hikmatNya dsb (ay 40,52), namun disela-sela
text ini tetap terlihat keilahian Yesus! Ini mengajar kita untuk melihat doktrin-
doktrin dan juga ayat-ayat Kitab Suci secara seimbang. Kata-kata Yesus ini
juga menunjukkan bahwa kewajiban terhadap Allah lebih besar dan harus
lebih diutamakan dari pada kewajiban terhadap orang tua.
4) Ketidakmengertian Yusuf dan Maria (ay 50,51b). Sesuatu yang baik dari Maria di sini
yaitu : sekalipun ia tidak mengerti kata-kata Yesus, namun ia menyimpannya dalam
hati! Bandingkan dengan banyak orang kristen yang sekalipun mengerti Firman
Tuhan, namun tidak menyimpannya dalam hati! 5) Mereka lalu kembali ke Nazaret dan
Yesus hidup dalam ketundukan kepada ‘orang tua’nya (ay 51). Kata-kata ‘tetap hidup
dalam asuhan mereka’ (ay 51) salah terjemahan. Seharusnya yaitu ‘tunduk / taat
kepada mereka’. KJV: and was subject unto them (= dan tunduk kepada mereka).
NIV/RSV: and was obedient to them (= dan taat kepada mereka). NASB: and He
continued in subjection to them (= dan Ia tetap tunduk kepada mereka). Ini
merupakan sesuatu yang harus kita teladani: tunduk pada otoritas di atas kita. Anak
kepada orang tua. Istri kepada suami. Murid terhadap guru. Rakyat kepada
pemerintah. Pegawai kepada boss.
h. Pasal 4:14-9:50.
Pelayanan di Galilea. Konsisten dengan penolakan terhadap kuasa dunia dan
penyangkalan diri, maka Yesus kembali ke Galilea, dan bukan ke Yerusalem tempat
kekuasaan bagi Israel. Galilea menunjukkan tujuan akhir dari misi penebusan Allah. Pola
ini pada tahun-tahun berikutnya menemukan wujud yang utuh dalam pelayanan Paulus.
Setia terhadap asal-usul-Nya sebagai anak Israel sejati, Yesus memulai pelayanan di
dalam rumah-rumah sembahyang.namun segera dipaksa keluar dari sana, sebab orang
Yahudi tidak bersedia menerima dan mengakui Dia sebagai Mesias yang dinubuatkan
PL. Pasal 4:14-6:11 Pelayanan Awal. Dalam waktu singkat Yesus segera popular. Lukas
melaporkan “namun kabar tentang Yesus makin tersiar…(4:15).
Pasal 5:33-39 Pengkritik dan kritikannya. Siapa para pengkritik ini? Dalam
Matius, yang datang kepada Yesus yaitu ‘murid-murid Yohanes’ (Yohanes Pembaptis)
(Mat 9:14). Dalam Markus, yang datang kepada Yesus yaitu ‘orang-orang’ (Mark 2:18).
Dalam Lukas, yang datang kepada Yesus yaitu ‘orang-orang Farisi’ (ay 33). namun ini
sebetulnya salah terjemahan. NIV/NASB: ‘they’ (= mereka). Kalau kata ‘they’ / ‘mereka’
ini dihubungkan dengan kontex sebelumnya, yaitu Luk 5:30-32, maka kata ‘they’ /
‘mereka’ ini menunjuk kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Cara
mengharmoniskan bagian-bagian ini yaitu dengan menafsirkan bahwa ‘orang-orang’
dalam Mark 2:18 yaitu gabungan dari ‘murid-murid Yohanes’ dan ‘orang-orang Farisi
dan ahli-ahli Taurat’. Sekarang ada 2 kemungkinan: a).Kedua grup itu datang kepada
Yesus, namun Matius dan Lukas hanya menceritakan salah satu. b).Orang-orang Farisi
menghasut murid-murid Yohanes untuk melancarkan kritik kepada Yesus tentang murid-
muridNya. Matius hanya menyoroti grup orang yang betul-betul datang kepada Yesus
yaitu murid-murid Yohanes. Lukas menyoroti grup yang menjadi sumber terjadinya
persoalan itu, yaitu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. sedang Markus menyoroti
keduanya. Murid-murid Yohanes Pembaptis mengkritik Yesus. Yohanes Pembaptis
yaitu orang yang diutus Allah untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus (Luk 1:16-17,76).
Jadi sebetulnya pada waktu Yesus mulai pelayanan, maka murid-murid Yohanes ini
seharusnya lalu mengikuti Yesus, dan beberapa dari mereka memang melakukan hal ini
atas pengarahan Yohanes (Yoh 1:35-37). namun sebagian lain dari murid-murid Yohanes
ini menganggap Yesus justru sebagai saingan (Yoh 3:26). Mereka ini tidak mengikut
Yesus dan terus membentuk kelompok sendiri. Penerapan: Kesalahan seperti ini perlu
diwaspadai. Jangan sampai saudara hanya mengikut pendeta atau gereja atau aliran
tertentu. Saudara harus mengikut Yesus! Dan perlu diperhatikan bahwa kesalahan
seperti ini bisa terjadi pada murid dari Yohanes Pembaptis, yang yaitu seorang hamba
Tuhan / nabi yang betul-betul ingin membawa murid-muridnya kepada Tuhan. Ini tentu
akan lebih mudah lagi terjadi pada murid-murid dari ‘hamba Tuhan’ yang memang ingin
mengarahkan orang kepada dirinya sendiri dan bukan kepada Tuhan. Kritikan mereka
(ay 33).
a) Mereka berkata: ‘Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian
juga murid-murid orang Farisi, namun murid-muridMu makan dan minum’ (ay 33).
Penerapan: Dalam hidup orang kristen / gereja ada hal-hal yang remeh, seperti: Cara
memuji Tuhan dengan / tanpa band, dengan / tanpa tepuk tangan; Bolehkah makan
dideh / darah?; Bolehkah orang mati diperabukan?
b) Hal-hal yang cukup penting, seperti: predestinasi atau Providence of God. Bisakah
keselamatan hilang? Haruskah orang kristen berbahasa roh / lidah?
c) Hal-hal yang sangat penting / essential, seperti: Kitab Suci yaitu Firman Allah.
Yesus dan Roh Kudus yaitu Allah sendiri. Yesus yaitu satu-satunya jalan ke
surga. Adanya surga dan neraka. Kita diselamatkan sebab iman kepada Yesus dan
bukan sebab perbuatan baik / ketaatan. Membicarakan, mengetahui / mengerti
tentang perbedaan yang remeh dan perbedaan yang cukup penting yaitu hal yang
harus dilakukan. namun jangan terus menerus menyoroti hal-hal itu sehingga
melupakan persamaan dalam hal-hal yang essential / sangat penting. Sebagai
contoh, kalau kita sebagai orang Reformed bertemu dengan orang Arminian dan lalu
berdebat tentang predestinasi dan melupakan bahwa kita dan mereka sama-sama
percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat, maka kita tidak bisa
bersatu / saling mengasihi dengan mereka. Kita lupa bahwa dia yaitu saudara
seiman kita dan kita akan menganggapnya sebagai musuh kita! Boleh saja kita
membicarakan / memperdebatkan tentang predestinasi dengan mereka, namun kalau
tidak mendapat titik temu, maka ingatlah persamaan yang mendasar yang ada antara
kita dengan mereka.
d) Tentang puasa, dalam Kitab Suci / Perjanjian Lama sebetulnya keharusan puasa
bagi seluruh bangsa Israel hanyalah 1 tahun 1 x, yaitu pada hari raya Pendamaian
(Im 16:29-34 Im 23:26-32 Bil 29:7-11). namun orang-orang Farisi berpuasa 2 x
seminggu (Luk 18:12), yaitu pada hari Senin dan Jum’at (menurut tradisi ini yaitu
hari dimana Musa naik ke Gunung Sinai). Sedang murid-murid Yohanes berpuasa,
mungkin sebab : sedih sebab penangkapan terhadap Yohanes. ikut-ikutan
orang Farisi. ajaran / teladan Yohanes Pembaptis (bdk. Mat 11:18). Jadi, mereka
berpuasa bukan sebab diharuskan oleh Firman Tuhan (kalau memang itu yaitu
puasa yang diharuskan oleh Firman Tuhan, pasti Yesus juga menyuruh murid-
muridNya berpuasa), namun sebab keinginan mereka sendiri atau sekedar sebagai
tradisi. namun mereka lalu memaksa orang lain (murid-murid Yesus) untuk juga
berpuasa mengikuti mereka. Ini jelas salah. Mereka tidak berhak melakukan hal itu.
Hanya Kitab Suci yang boleh dijadikan standard hidup. Penerapan: Dalam gereja
ada: Hal-hal yang dilakukan sebab diperintahkan oleh Tuhan dalam Kitab Suci.
Misalnya: Perjamuan Kudus, Baptisan, pemberitaan Firman Tuhan, Pemberitaan Injil,
doa, adanya tua-tua / diaken, dsb. Hal-hal yang dilakukan sebab tradisi /
kebijaksanaan manusia. Misalnya: adanya katekisasi sebelum baptisan, pendeta
memakai toga dalam kebaktian, adanya doa Bapa Kami dan 12 Pengakuan Iman
Rasuli dalam kebaktian, penggunaan organ / band dalam kebaktian, tepuk tangan
dalam kebaktian, dsb. Hal-hal seperti ini tidak mutlak, dan kita tidak boleh memaksa
siapapun untuk melakukan hal-hal ini .
e) Jawaban Yesus terhadap kritikan itu (ay 34-39): Jawaban Yesus ini terdiri dari 3
bagian:
Untuk bisa mengerti jawaban Yesus ini, kita perlu mengerti tradisi orang Yahudi
pada jaman itu dalam pernikahan. Mereka berbulan madu di rumah. 1 minggu
sesudah pernikahan, rumah terus dibuka. Teman-teman dekat mempelai
bersama-sama dengan mempelai berdua dan mempelai berdua diperlakukan
sebagai raja dan ratu. Dalam keadaan seperti ini tentu tidak mungkin ada
seorang sahabat yang lalu berpuasa. Tradisi inilah yang menjadi latar belakang
jawaban Yesus. Saat dimana Yesus (mempelai pria) bersama-sama dengan
murid-muridNya (sahabat-sahabat mempelai pria) yaitu saat bersukacita,
bukan saat susah, sehingga tidak cocok untuk berpuasa. Penerapan: Saat
bersama / dekat dengan Yesus yaitu saat sukacita. Apakah saudara
bersukacita kalau saudara dekat dengan Yesus? Atau ada hal-hal lain yang
membuat saudara lebih bersukacita, seperti dapat uang / gangthao, bersama
teman-teman, piknik, dsb.
Yesus berkata bahwa pada saat mempelai pria ‘diambil dari mereka’, maka
mereka akan berpuasa. Sukar untuk menafsirkan dengan pasti apa maksud ayat
31
ini. (1).Saat Yesus mati disalib. Ini yaitu pandangan dari hampir semua
penafsir. Ini berarti bahwa sesudah kematian Yesus barulah murid-murid
berpuasa. namun problem dengan pandangan ini yaitu : Kitab Suci tidak pernah
menceritakan bahwa murid-murid Yesus berpuasa antara kematian dan
kebangkitan Yesus! (2).Saat Yesus naik ke surga. Problem dengan pandangan
ini yaitu : saat Yesus naik ke surga, bukan merupakan saat dukacita bagi murid-
murid Yesus. Padahal Mat 9:15 jelas menunjukkan bahwa itu yaitu saat
dukacita. Hal-hal lain yang memicu bagian ini makin sukar ditafsirkan
dengan pasti yaitu : Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun sehingga Yesus
hadir / ada lagi bersama murid-muridNya. namun bagaimanapun, ini bukanlah
kehadiran jasmani, namun kehadiran secara rohani. Apakah kita harus
menganggap Yesus ada atau tidak ada bersama murid-muridNya? Puasa-
puasa yang dilakukan dalam Kisah Rasul semua terjadi sesudah Pentakosta.
namun dilakukan bukan sebab dukacita namun biasanya berhubungan dengan
pelayanan (Kis 13:2-3 Kis 14:23). Semua ini memicu saya tidak bisa
mengambil kesimpulan yang pasti tentang arti ayat ini.
Puasa dilakukan pada saat sedih (Bdk ay 34 dengan Mark 2:19 dan Mat 9:15).
Ay 34: ‘Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa sedang mempelai
itu bersama mereka?’. Mark 2:19 - ‘Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki
berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka?'. Mat 9:15 - ‘Dapatkah
sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama
mereka?’. Kata ‘berdukacita’ ini dalam bahasa Yunaninya yaitu PENTHEIN,
yang artinya ’to mourn’ (= berkabung). Dari sini jelas bahwa Yesus mengatakan
bahwa saat yang tepat untuk berpuasa yaitu pada waktu kita sedih /
berkabung. Jadi tidak sepatutnya kita berpuasa sekedar sebagai tradisi, tanpa
tujuan / sebab apa-apa, atau sekedar melaksanakan kewajiban. Banyak gereja /
orang kristen berpuasa pada Jum’at Agung dan sekitarnya. Apa alasannya?
sedih sebab penderitaan dan kematian Kristus? Ini lucu, sebab seharusnya kita
bersukacita bukan sedih. Mengapa? sebab tanpa penderitaan dan kematian
Kristus, kita tidak ada harapan. untuk ikut merasakan penderitaan Kristus? Ini
juga lucu, sebab Kristus rela menderita supaya kita bebas dari penderitaan /
hukuman. Kita bisa berpuasa pada saat kita merasa sedih sebab ada dosa yang
memicu kita lalu tidak merasakan kehadiran Kristus dalam hidup kita.
Tentu saja puasa pada saat seperti ini harus disertai dengan pertobatan dari
dosa ini .
Satu hal perlu ditekankan yaitu : ay 34-35 tidak berarti bahwa sesudah kematian
Kristus, gereja harus berpuasa terus menerus. J. A. Alexander: "But this would
be equivalent to saying that the Saviour’s exaltation would consign his people to
perpetual sorrow. For he evidently speaks of grief and fasting as inseparable, and
in Matthew’s narrative of his reply, the former term is substituted for the latter
(Matt 9:15)" [= namun ini sama dengan berkata bahwa pemuliaan Juruselamat itu
akan menandai umatNya dengan kesedihan kekal / terus menerus. sebab Ia
dengan jelas berbicara tentang kesedihan dan puasa sebagai 2 hal yang tak
terpisahkan, dan dalam cerita Matius tentang jawabanNya, istilah yang pertama
menggantikan istilah yang terakhir (Mat 9:15)].
Calvin: Baju / kantong tua mudah pecah / sobek. Ini menggambarkan
kelemahan murid-murid Yesus. Kain yang belum susut / anggur baru
menggambarkan disiplin yang terlalu keras. Jadi, artinya: belum waktunya
menyuruh murid-murid yang lemah itu melakukan disiplin yang begitu keras
seperti puasa.
William Barclay: Arti ay 36: kadang-kadang ‘menambal’ yaitu suatu
ketololan. Kita harus memulai dengan sesuatu yang baru. Arti ay 37-38:
pikiran kita harus lentur / elastis, dalam arti kita harus mau menerima ide-ide
baru. Keberatan saya: kelihatannya ay 36-38 merupakan 2 perumpamaan
yang menunjuk pada satu arti yang sama. Yesus sering memberi
beberapa perumpamaan berturut-turut untuk menekankan suatu kebenaran
tertentu. Contoh: Luk 15 memberi 3 cerita berturut-turut yang mempunyai
penekanan / arti / fokus yang sama.
William Hendriksen: Kain yang belum susut / anggur baru menunjuk pada
keselamatan / kekayaan rohani dalam Kristus. Baju baru / kantong baru
menunjuk pada rasa syukur dan sukacita. Inilah sikap yang tepat untuk
menerima berkat-berkat rohani di dalam Kristus.
Anggur baru / kain yang belum susut menunjuk pada keselamatan sebab
iman. Baju / kantong tua menunjuk pada keselamatan sebab perbuatan
baik. 2 ajaran ini tidak cocok untuk digabungkan.
Kain yang belum susut / anggur baru menunjuk pada kekristenan. Baju /
kantong tua menunjuk pada Yudaisme / agama Yahudi. Dua ajaran ini tidak
bisa digabungkan. Yesus anti pada syncretisme (= penggabungan 2 agama
atau lebih).
Kekristenan bukanlah Yudaisme yang ditambal-tambal. Harus buang sama
sekali dan mulai dengan suatu yang baru. Saya paling condong pada arti ke
5.
Ay 39: Ayat ini tidak ada dalam Matius maupun Markus. a) Ini juga yaitu
ayat sukar yang mempunyai 2 macam penafsiran: (a).Anggur tua menunjuk
pada ajaran Yesus, sebab anggur tua tidak mempunyai kemegahan seperti
anggur baru. namun toh anggur tua lebih enak / lebih baik dari anggur baru
(ajaran orang Farisi). Jadi, maksud Yesus dengan ay 39 ini ialah: murid-
muridKu sudah mengecap ajaranKu yang lebih enak sehingga mereka pasti
tidak akan mau kembali pada ajaran orang Farisi / Yudaisme (anggur baru).
Keberatan: • ajaran orang Farisi ada lebih dulu dari ajaran Yesus, sehingga
aneh kalau digambarkan dengan anggur baru. Jawab: perumpamaan ini
hanya menunjukkan bahwa ajaran Yesus lebih baik dari ajaran orang Farisi,
dan tidak mempersoalkan yang mana yang lebih baru atau lebih lama. •
dalam ay 37-38, anggur baru menunjuk pada kekristenan / ajaran Yesus.
Jawab: ay 37-38 dan ay 39 yaitu 2 perumpamaan yang berbeda / terpisah.
(b).Anggur tua menunjuk pada ajaran orang Farisi; anggur baru menunjuk
pada ajaran Yesus. Ayat ini menyerang kekolotan orang Farisi yang tidak
mau berubah / tidak mau menerima ajaran baru. Keberatan terhadap
penafsiran ini: mengapa anggur tua yang lebih enak ditujukan pada ajaran
orang Farisi? Bukankah ajaran Yesus yang lebih enak? Jawabnya: ini yaitu
suatu perumpamaan. Tujuannya hanya menyerang kekolotan orang Farisi
tanpa mempersoalkan ajaran siapa yang lebih enak. Bandingkan dengan Luk
18:1-8 dimana Allah digambarkan sebagai hakim yang lalim. Saya condong
pada penafsiran ini.
i. Pasal 8:26-39. Kasus kerasukan setan.
1) Tempat terjadinya kasus ini. Ay 26: “Lalu mendaratlah Yesus dan murid-muridNya di
tanah orang Gerasa yang terletak di seberang Galilea”. Mat 8:28 - ‘Gadara’. Mark 5:1
- ‘Gerasa’. Ada 2 cara pengharmonisan: a) Ada yang mengatakan bahwa Gerasa
terletak 12 mil sebelah tenggara Gadara dan mungkin peristiwa itu terjadi di antara
dua tempat itu sehingga Matius menyebut Gadara dan Markus menyebut Gerasa. A.
T. Robertson: “Dr. Thomson discovered by the lake the ruins of Khersa (Gerasa).
This village is in the district of the city of Gadara some miles southeastward so that it
can be called after Gerasa or Gadara” [= Dr. Thomson menemukan dekat danau
reruntuhan dari Khersa (Gerasa). Desa ini ada di daerah kota Gadara beberapa mil di
sebelah tenggaranya sehingga tempat itu bisa disebut Gerasa atau Gadara] bahwa
ada yang mengatakan ‘Gergesa’, dan ini berbeda dengan Gadara maupun Gerasa.
Gadara dan Gerasa yaitu kota yang lebih besar / penting, sedang Gergesa
yaitu tempat / kota yang sama sekali tidak penting. Pulpit Commentary lalu berkata
bahwa mungkin di kota kecil itulah terjadi peristiwa ini, dan sebab itu Markus dan
Lukas tidak mau memakai nama kota kecil yang tidak dikenal itu, namun
memakai kota yang lebih besar di dekatnya, yang lebih dikenal. Leon Morris
(Tyndale) mengatakan bahwa nama ‘Gergesa’ itu ‘diciptakan’ oleh Origen.A T.
Robertson mengatakan bahwa Matius memakai ‘Gadara’; sedang Markus
dan Lukas memakai ‘Gerasa’. Jadi, tidak ada ‘Gergesa’.
2) Jumlah orang yang kerasukan setan. Ay 27: “sesudah Yesus naik ke darat, datanglah
seorang laki-laki dari kota itu menemui Dia; orang itu dirasuki oleh setan-setan dan
sudah lama ia tidak berpakaian dan tidak tinggal dalam rumah, namun dalam
pekuburan”. Mark 5:2 juga mengatakan ‘seorang’. Bdk. Mat 8:28 - “Setibanya di
seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang
kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak
seorangpun yang berani melalui jalan itu”. Jadi, Matius mengatakan ‘dua orang’,
namun Markus dan Lukas mengatakan ‘seorang’. Pengharmonisan: Perhatikan bahwa
Markus dan Lukas tidak berkata ‘hanya seorang’. Mereka hanya menceritakan salah
satu saja, mungkin sebab orang itu lebih dikenal, dan / atau sebab orang itu lebih
parah keadaannya. Pulpit Commentary memberi kemungkinan lain, yaitu sebab
hanya satu yang berdialog dengan Yesus, maka yang satu itulah yang diceritakan
oleh Markus dan Lukas (hal 206).
3) Apa yang dilakukan Setan terhadap orang yang ia rasuk. a).Memberinya kekuatan
yang luar biasa. Ay 29b: “sebab sering roh itu menyeret-nyeret dia, maka untuk
menjaganya, ia dirantai dan dibelenggu, namun ia memutuskan segala pengikat itu ...”.
Calvin: “Naturally, he was not able to break the chains; and hence we infer that Satan
is sometimes permitted to make extraordinary movements, the effect of which goes
beyond our comprehension and beyond ordinary means” (= Secara wajar ia tidak
bisa memutuskan rantai; dan sebab itu kami menyimpulkan bahwa Setan kadang-
kadang diijinkan untuk membuat gerakan-gerakan yang luar biasa, yang akibatnya
melampaui pengertian kita dan melampaui cara-cara biasa) - hal 429-430.
b).Menyiksanya secara fisik. Mark 5:5 - “Siang malam ia berkeliaran di pekuburan
dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu”.
c).Menyiksanya secara batin. Ini dilakukan oleh setan, antara lain dengan
membawanya ke tempat sunyi / kuburan / bukit-bukit. Ay 27b: “orang itu dirasuki oleh
setan-setan dan sudah lama ia tidak berpakaian dan tidak tinggal dalam rumah,
namun dalam pekuburan”. Ay 29c: “ia dihalau oleh setan itu ke tempat-tempat yang
sunyi”. Mark 5:5 - “Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil
berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu”. Orang yang kerasukan setan itu
menyembah Yesus. Ay 28a: “saat ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di
hadapanNya”. Mark 5:6 - “saat ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia
mendapatkanNya lalu menyembahNya”. Mengapa orang itu menyembah Yesus?
William Hendriksen: “This ‘homage,’ however, is an act of fear rather than humble
reverence” (= namun , ‘penghormatan / penyembahan’ ini merupakan tindakan dari
ketakutan dari pada rasa hormat yang rendah hati). Yesus menyuruh setan-setan itu
keluar dari orang itu. Ay 28-29a: “(28) saat ia melihat Yesus, ia berteriak lalu
tersungkur di hadapanNya dan berkata dengan suara keras: ‘Apa urusanMu dengan
aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepadaMu, supaya
Engkau jangan menyiksa aku.’ (29) Ia berkata demikian sebab Yesus memerintahkan
roh jahat itu keluar dari orang itu”. Jawaban / tanggapan setan. Ay 28: “saat ia
melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapanNya dan berkata dengan suara
keras: ‘Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku
memohon kepadaMu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.’. Bdk. Mat 8:29 - “Dan
mereka itupun berteriak, katanya: ‘Apa urusanMu dengan kami, hai Anak Allah?
Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?’”. Mark 5:7 - “dan
dengan keras ia berteriak: ‘Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang
Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!’”. a) ‘Apa urusanMu dengan aku, hai
Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi?’.
j. Asal dan Tujuan Injil Lukas disebut tulisan Lukas yang pertama dialamatkan pada
Theofilus (Luk. 1:1), sedang Kisah Para Rasul yaitu tulisan yang kedua, yang juga
dialamatkan kepada Theofilus (Kis. 1:1). Kisah Para Rasul dialamatkan kepada seorang
pejabat yang berlatar belakang non Yahudi. Kisah Para Rasul dialamatkan pada semua
orang yang dipimpin oleh Theofilus dan semua orang yang berkondisi seperti Theofilus
atau non Yahudi/kafir, agar beroleh keselamatan. Theofilus mewakili orang-orang yang
diperintahkan dan orang-orang yang tidak atau yang belum percaya pada Kristus.
Seluruh karya dikerjakan agar seorang Teofilus, dapat memperoleh laporan yang teratur
dan dapat dipercaya mengenai perkembangnya agama Kristen walaupun ia sudah
memiliki beberapa informasi mengenai ke Antiokhia dan dari sana ke Roma. Tanggal
Penulisan Tanggalnya tidak dinyatakan dengan tepat; Kis memang tidak ditulis lebih dulu
dibandingkan peristiwa-peristiwa terakhir yang dicatatnya, yakni penahanan Paulus selama 2
tahundi Roma (Kis. 28:30), yang mungkin meliputi tahun 60 M, tapi berapa tahun
sesudah itu Kis ditulis. Dugaan paling kuat sekitar tahun 61-62M. Lukas atas inspirasi
Roh Kudus mengakhiri tulisannya dalam Kisah Para Rasul pada pokok : rasul Paulus
berada di Roma menantikan masa kesengsaraannya, namun tetap dalam kondisi
melayani dan membimbing banyak orang kepada Tuhan Yesus. Paulus mengontrak
sebuah rumah yang dijaga prajurit (Kis. 28:16), selama dua tahun (Kis. 28:30). Paulus
naik banding pada Kaisar oleh sebab itu, ia berada di Roma. Namun saat itu Lukas
belum sempat menulis bahwa Paulus berdiridihadapan Kaisar untuk naik banding. Lukas
tidak menulis tentang penyiksaan dibawah Kaisar Nero (64 AD) atau kematian Paulus (68
AD), maupun pengrusakan Yerusalem (70 AD). Bukan dilatarbelakangi bahwa Lukas
segan menulis atau ingin menyembuyikan peristiwa-peristiwa penting ini , melainkan
peristiwa ini belum terjadi saat menyelesaikan dokumennya. Inti Berita Inti berita
yang paling kuat dalam dokumen ini yaitu : Kristus Yang Telah Bangkit. Kitab PL,
sejarah kebangkitan, kesaksian-kesaksian para Rasul dan demontrasi pekerjaan Roh
Kudus yaitu saksi bahwa Yesus yaitu Tuhan dan yang diurapi (Mesias).
TAFSIRAN PERJANJIAN BARU
(KISAH PARA RASUL)
Penulis Kisah Para Rasul sama dengan penulis Injil Lukas, keduanya merupakan satu
buku dua jilid dan ditujukan kepada seseorang yang bernama Teofilus. Pendapat yang umum
tentang siapa penulis Kisah Para Rasul dan Injil Lukas yaitu Lukas, seorang dokter medis,
sebab sering memakai istilah medis. Menurut beberapa ahli bahwa kunci untuk mengetahui
sang penulis diberikan oleh tiga bagian yang memakai sebutan “kami” dimana narasi disajikan
memakai bentuk orang pertama jamak (Kis 16:10-17; 20:5 – 21:18; 27:1 – 28:16), dengan
demikian menunjukkan bahwa penulisnya yaitu rekan seperjalanan Paulus dan ia
mempergunakan buku harian perjalananya sebagai sumber penulisan. Maka orang yang lebih
tepat yang memenuhi criteria ini diatas yaitu Lukas. Seorang dokter medis yang
mengikuti perjalanan pemberitaan Injil Paulus hanyalah Lukas (Kolose 4:14; 2Tim 4:11; Filemon
1:24). Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa penulis Kisah Para Rasul yaitu Lukas. Tradisi
gereja juga secara seragam menyebut bahwa penulis Kisah Para Rasul yaitu Lukas rekan
seperjalanan Paulus
B. Tempat dan Waktu Penulisan
Dalam kitab ini tidak ada ditemukan tentang dimana tempat kitab ini ditulis. Oleh sebab
itu sampai hari ini tidak ada penafsir yang dapat memastikan suatu tempat sebagai tempat
penulisan kitab ini. Menurut tradisi sesudah Yerome kitab ini di tulis di Roma, namun banyak juga
penafsir yang mengatakan bahwa tempat penulisan kitab ini kemungkinan besar yaitu di
Makedonia, Alexandria. Disamping perkiraan-perkiraan diatas ada juga beberapa penafsir lebih
setuju dengan pendapat bahwa tempat penulisannya tidak diketahui. Mengenai waktu penulisan
kitab ini Charles F. Feiffer mengatakan bahwa waktu penulisan kitab ini sangat terkait dengan
masalah endingnya yang mendadak, oleh sebab itu menurut beliau penulisan kitab ini
kemungkinan besar yaitu pada suatu tanggal yang tidak lama sesudah akhir narasi dan jika
demikian maka Kisah Para Rasul ditulis kira-kira tahun 62 M. Pendapat ini juga didukung oleh
Yune Sune Park dalam bukunya Tafsiran Kisah Para Rasul dimana beliau mengatakan bahwa
kemungkinan besar kitab ini ditulis pada waktu Paulus di penjara Roma; Oleh sebab peristiwa
pengadilan Paulus di Roma tidak tertulis dalam kita ini, dan jikalau demikian maka kemungkinan
besar penulisan kitab ini yaitu kira-kira tahun 62 M.
C. Tujuan Penulisan
Dalam Kisah Para Rasul 1 terlihat tujuan utama penulisan Kisah Para Rasul yaitu
untuk menyakinkan Teofilus bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadannya yaitu sungguh
benar (Kisah Para Rasul 1:4). Penerima pertama dari surat (kitab Kisah Para Rasul) yaitu
Teofilus dan jika kita membandingkan antara Injil Lukas 1:1 dengan Kisah Para Rasul 1:1 dapat
disimpulkan bahwa penerima Injil Lukas dan Kisah Para Rasul yaitu orang yang sama. namun
ada yang sangat indah dalam penyelidikan ini, dimana dalam Lukas 1:1 Teofilus di beri gelar
sebagai Yang Mulia, gelar ini biasa dipakai kepada orang-orang besar (pegawai pemerintahan
yang terpandang) Paulus sering memakai gelar ini kepada pegawai-pegawai
pemerintahan Romawi, seperti kepada Feliks dan Festus (Kisah Para Rasul 23:26; 24:2; 26:25)
namun dalam Kisah Para Rasul 1:1 gelar yang mulia tidak lagi mengikuti nama Teofilus. Hal
ini sangat mungkin diakibatkan sebab sebelum Teofilus membaca Injil Lukas dia yaitu
orang yang belum percaya, namun sesudah ia membaca Injil Lukas dia akhirnya bertobat dan oleh
sebab itu Lukas menyapa dia bukan lagi sebagai seorang yang mulia yang harus ditakuti, namun
Teofilus yang telah dianggap sebagai sahabat.
D. Garis Besar Isi
36
1. Gereja Mula-Mula dan Perluasannya (1:1-2:4)
a. Persiapan: Pelayanan Pasca Kebangkitan dan Kenaikan Yesus (1:1-14)
b. Pemilihan Matias (1:15-26)
c. Kedatangan Roh Kudus (2:1-4)
d. Kehidupan Gereja Mula-Mula (2:42-47)
2. Gereja Di Yerusalem (3:1 – 5:42)
a. Mujizat dan khotbah Petrus (3:1-26)
b. Perlawanan pertama dari para pemimpin Yahudi (4:1-37)
c. Kematian Ananias dan Safira (5:1-16)
d. Perlawanan Kedua dari para pemimpin Yahudi (5:17-42)
3. Perluasan Gereja di Palestina melalui perserakan (6:1-12:25)
a. Pemilihan tujuh diaken (6:1-7)
b. Peristiwa perserakan: Pelayanan dan kematian Stefanus sebagai Martir (6:8-8:3)
c. Injil Di Samaria (8:4-25)
d. Pertobatan Sida-sida Etopia (8:26-40)
e. Pertobatan Saulus (9:1-31)
f. Pelayanan Petrus di Palestina dan Orang-orang yang bertobat pertama di luar bangsa
Yahudi (9:32 – 11:18)
g. Pendirian Gereja Orang Bukan Yahudi di Antiokia (11:19-30)
h. Penganyiayaan oleh Herodes Agripa (12:1-25)
4. Perluasan Gereja di Asia Kecil dan Eropa (13:1-21:17)
a. Misi Pertama Galatia (13:1-14:28)
b. Persoalan di Gereja yang bukan Yahudi dan Sidang di Yerusalem (15:1-35)
c. Misi kedua, Asia kecil dan Eropa (15:36 – 18:22)
d. Misi ketiga Asia kecil dan Eropa (18:23 – 21:17)
5. Perluasan Gereja ke Roma (21:18-28:31)
a. Injil di tolak oleh orang-orang Yerusalem (21:18-26:32)
b. Injil di terima di Roma (27:1-28:31)
E. Tafsiran
1. Gereja Mula-Mula dan Perluasannya (1:1-2:4)
a. Persiapan: Pelayanan Pasca Kebangkitan dan Kenaikan Yesus (1:1-14)
Kisah 1 ayat 1 dan 2 merupakan pengantar singkat yang menghubungkan Kisah
Para Rasul dengan Injil Lukas. Ayat pengantar Injil Lukas ini (1:1-4) dimaksudkan
untuk membantu memahami Kisah Para Rasul 1:1,2 yang merupakan kilas balik ke
belakang atau kepada buku jilid yang pertama. Oleh sebab itu Lukas menulis “…dalam
bukuku yang pertama,” hal ini menunjukkan bahwa Injil Lukas dan Kisah Para
Rasul yaitu satu karya yang terdiri dari dua jilid. Penerima kitab ini yaitu Teofilus.
sebagian teolog mengatakn bahwa Teofilus bukanlah nama pribadi tetap sebagai
sebutan kepada orang yang percaya pada masa itu. Namun pendapat diatas yaitu
pendapat yang tidak tepat, mengingat bahwa dalam Injil Lukas di belakang nama Teofilus
ada nama sebutan yaitu yang mulia, jadi sangat tidak mungkin bahwa Teofilus sebagai
nama sebutan. Jadi yang tepat yaitu bahwa nama Teofilus yaitu nama pribadi.
Namun kita tidak tahu secara pasti siapa Teofilus, namun nama sebutan yang mulia dalam
Injil Lukas membawa kita kepada suatu pemikiran bahwa Teofilus kemungkinan besar
yaitu seorang pejabat dalam pemerintahan Romawi yang baru bertobat sebab
membaca Injil Lukas. Alas an ini dimungkinkan mengingat bahwa sebutan yang mulia
sering dipakai dalam kisah Para Rasul kepada orang-orang terpandang yang duduk
dalam pemerintahan Romawi. Keempat Injil berisi tentang segala sesuatu yang telah di
kerjakan Yesus; Kisah Para Rasul mencatat pelayanan yang selanjutnya dari Kristus
yang naik ke Sorga, yaitu pelayanan-Nya melalui Roh Kudus yang bekerja dalam diri
para rasul.
Kisah Para Rasul 1: 3, menjelaskan bahwa sesudah Yesus bangkit, Dia secara
berulang-ulang menampakkan diri, membuktikan bahwa Dia hidup sehingga murid-murid
yang semula masih meragukan hal ini akhirnya tidak dapat untuk tidak percaya.
Kata selama empat puluh hari berulang-ulang Yesus menampakkan diri, lebih tepatnya
ditafsirkan bahwa hal ini benar sebanyak empat puluh hari dan secara berturut-
berturut, sebab jika kadang Yesus menampakkan diri namun kadang tidak kelihatan itu
akan membingungkan sekali dimana orang-orang akan menyangka Yesus
37
menampakkan diri yang dimaksud disitu hanya seperti penampakan dalam PL, pada hal
yang dimaksudkan bahwa Yesus berulang-ulang menampakkan diri berarti bahwa Yesus
menunjukkan bahwa Dia benar-benar telah bangkit dan hidup dan juga memiliki tubuh
yang nyata. Lagi pula ada beberapa kali Alkitab memakai kata empat puluh hari yang
mengacu kepada empat puluh hari yang berturut-turut, misalnya dalam Kel 34 Musa
berpuasa 40 hari, Elia berjalan di gunung horeb selama 40 hari dengan kekuatan
makanan yang dikirim oleh Allah (1 Raja-raja 19:4-8), Yesus berpuasa empat puluh hari
(Matius 4:2), penggunaan kata empat puluh hari dengan ayat-ayat diatas memiliki
persamaan dengan Kisah Para Rasul 1:3 ini.
Ayat 4 merupakan pengulangan dari perintah yang ada di dalam Lukas 24:29,
para rasul di perintahkan untuk tetap enunggu janji Bapa di Yerusalem. Dewasa ini ada
banyak pertayaan tentang mengapa harus di Yerusalem, kita dapat menjawabnya
dengan satu jawaban yang singkat, dimana hal itu telah dinubuatkan dalam Yesaya 2:3
“…sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan Firman Tuhan dari Yerusalem,” hal ini
merupakan nubuatan bahwa dari Yerusalem akan dimula pekerjaan Perjanjian Baru.
Murid-murid disuruh untuk menantikan janji Bapa, sebab sebentar lagi mereka akan
berjuang dalam pemberitaan Injil. Sama seperti prajurit yang harus diperlengkapi dengan
senjata dan latihan perang yang handal, demikian juga para murid diperlengkapi dengan
kuasa Roh Kudus.
Pada ayat 5 berbicara tentang baptisan Yohanes dan baptisan Roh Kudus,
dalam nats yang berbeda Yohanes pembaptis telah memberitahukan tentang baptisan
Roh Kudus yang akan terjadi kelak (Matius 3:11; Markus 1:8; Lukas 3:16; Yohanes 1:33)
dan dalam Kisah Para Rasul ini nubuatan Yohanes itu digenapi. Yesus juga sudah
menjanjikan kedatangan Roh Kudus (Yoh 14:16 – 18,26-27; 15:26-27; 16:7-15) hal itu
akan merupakan pencurahan kuasa kepada murid sehingga mereka mampu melayani
Tuhan dan melaksanakan kehendakNya (Lukas 24:49). Jika kita membaca kitab Injil
maka kita akan mendapati bahwa para rasul memiliki pandangan politik yang kuat atas
kerajaan dan mereka sangat menginginkan kedudukan dan hak-hak mereka sebagai
orang Yahudi yang loyal kepada Tuhan, mereka ingin mengalahkan musuh-musuh
mereka dan membangun suatu kerajaan yang kokoh di bawah pemerintahan Mesias
sebagai raja mereka.
Kisah Para Rasul 1:6 hal yang sama juga terulang kembali, namun Tuhan tidak
marah, Dia memberi jawaban dalam ayat 7-8, dengan berkata: “Engkau tidak perlu
mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa menurut kuasa-Nya. namun kamu
akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun keatas kamu dan kamu akan menjadi
saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan sampai keujung bumi” secara implisit
pernyataan Tuhan Yesus ini memberi gambaran bahwa murid-murid di harapkan
lebih baik mengerjakan tugasnya untuk memberitakan Injil dibandingkan banyak bertanya
tentang apa yang harus dikerjakan Bapa sehubungan dengan kerajaan secara Politis,
dimana Kristus memerintah sebagai Raja. Dari ayat delapan ini, ada yang sering kurang
diperhatikan oleh para penafsir yaitu tentang urutan nama kota, mulai dari Yerusalem
dimana murid-murid menerima baptisan Roh Kudus lalu keluar ke Seluruh Yudea,
Samaria dan Sampai ujung bumi. Urut-urutan nama kota ini bukan tidak ada
artinya, namun hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa Pemberitaan Injil tidak dibatasi
hanya pada daerah-daerah tertentu, namun lebih dimulai dari tempat kita masing-masing,
dan berakhir sampai dimana Tuhan mau kita memberitakan-Nya. Kata ujung bumi sering
ditafsirkan mengacu ke pada kota Roma yang sangat terkenal pada masa itu, namun jika
kita menafsirkannya sekarang ini kata ujung bumi dapat diterjemahkan bahwa
pemberitaan Injil itu akan sampai keseluruh pelosok bumi ini, sampai tidak ada yang tidak
pernah mendengarkan Injil. Kata saksi sering sekali muncul dalam Kisah Para Rasul.
Saksi yaitu seseorang yang memberitahukan apa yang telah dilihat dan di dengarnya
(Kisah Para Rasul 4:19,20). Setiap kata saksi yang ada di Kisah Para Rasul dalam
pengertian Yunaninya (Marturia), selalu mengandung pengertian martir atau Syahid.
Kisah Para Rasul 1:9-11 yaitu menekankan tentang jaminan kedatangan Yesus
yang kedua kali, lebih lanjut beliau mengatakan bahwa kenakan Tuhan Yesus Ke Sorga
yaitu suatu bagian penting dari pelayanan-Nya, sebab kalau Dia tidak kembali kepada
Bapa-Nya, maka Dia tidak dapat memenuhi janji-Nya untuk mengutus Roh Kudus (Yoh
16:5-15). Lagi pula sekarang ini Yesus di Sorga menjadi Imam Besa yang berdoa untuk
kita (Ibrani 4:14-16). Yesus juga menjadi pembela kita dihadapan Bapa dan mengampuni
kita bila kita mengakui dosa-dosa kita (1 Yohanes 1:9-2:2). Pernyataan Wiersbe tentang
ayat ini, dimana beliau mengatakan bahwa Kisah Para Rasul 1:9-11 yaitu jaminan
kedatangan Yesus yang Kedua kali dapat diterima, sebab pada ayat ini ada
perkataan malaikat yang mengatakan: “…Yesus ini yang terangkat ke sorga
meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang samaseperti kamu melihat
Dia naik Ke Sorga.” Jadi setiap orang yang percaya bahwa Yesus telah naik ke sorga
dengan wujud dan yang dapat dilihat manusia secara nyata seharusnya percaya juga
bahwa Dia akan datang kedua kali dengan meiliki tubuh atau wujud yang nyata dan
dapat dilihat oleh manusia. Oleh sebab itu kedatangan-Nya kembali yang dimaksud
disini yaitu kedatangan-Nya di awan-awan di hadapan semua orang (Matius 24:30;
26:64; Wahyu 1:7) bukan kedatangan-Nya yang sekejap mata bagi gereja (1Kor15:51-52;
1 Tesalonika 4:13-18).
Kisah Para Rasul 1:12-14, menjelaskan bahwa murid-murid itu menuruti perintah
Guru mereka (Yesus), mereka kembali ke Yerusalem dari bukit Zaitun, mereka naik ke
ruang atas yang kemungkinan besar yaitu milik Yohanes Markus (Kis 12:12). Disana
mereka bertekun dan bersehati untuk berbhakti sambil menantikan Roh Kudus turun. Jika
dikaitkan dengan berdoa, maka dapat dipastikan bahwa mereka berdoa dengan tekun
dan dengan sehati. Cara seperti ini sangat kita butuhkan dalam gereja kita masing-
masing, sebab jika ada sungut-sungut dan perselisihan dalam hati orang-orang yang
berdoa maka mereka tidak dapat berdoa dengan sungguh-sungguh. Mereka berdoa
dengan bertekun dapat dijelaskan bahwa mereka sabar sampai doanya terkabul. Dan
selalu memberi waktu untuk berdoa.
b. Pemilihan Matias (Kisah Para Rasul 1: 15-26)
Bagian ini yaitu bagian yang sangat penting untuk dibahas dengan baik sebab
dalam bagian ini ada beberapa hal yang sering diperdebatkan. Seperti: Petrus dianggap
sebagai orang yang mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin, kemudian pemilihan
Matias yang dianggap gagal sebab menurut mereka bahwa Pauluslah yang layak
sebagai pengganti jabatan Rasul yang ditinggalkan Yudas, mereka yang berpendapat
demikian ber argument dimana sesudah Matias dipilih namanya tidak disebut-sebut lagi
dalam Kisah Para Rasul, dan justru Pauluslah banyak menempati dalam pembahasan
selanjutnya Kisah Para Rasul. Persoalan-persoalan ini yaitu merupakan persoalan
yang sangat penting dijelaskan.
Mengenai Petrus (ay 15) yang berdiri sebagai pemimpin, bukan berarti dia
mengangkat diri sendiri namun sebenarnya sebelumnya Tuhan Yesus telah pernah
menubuatkan bahwa dia akan menjadi pemimpin, namun pemimpin yang kita aksud
disini berbeda dengan yang dipahami oleh Roma Katholik. Yesus telah menubuatkan
tentang Petrus dalam Matius 16:19; Lukas 22:31-32; Yohanes 21:15-17. dan memang
jika mempelajari kitab Injil, maka kita akan melihat bahwa Petrus dianggap sebagai murid
yang cukup terpandang, namanya selalu menempati urutan yang pertama dalam setiap
daftar nama para rasul termasuk juga dalam Kisah Para Rasul 1:13. Supaya kita
mendapat kejelasan tentang kepemimpinan Petrus maka kita akan kembali membahas
kitab Injil, secara khusus Matius 16:16-18, dimana sesudah Pertrus mengakui bahwa
Yesus yaitu Mesias, seperti berikut ini “Engkau yaitu Mesias, Anak Allah yang hidup,”
ia di puji oleh Yesus “Engkau yaitu Petrus dan diatas batu karang ini Aku akan
mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan
kuberikan kunci kerajaan sorga.” Dari ayat ini kita akan membahas dua hal yang penting,
yang pertama ungkapan Batu karang, yang kedua yaitu kalimat yang mengatakan
Kepadamu akan kuberikan kunci kerajaan Sorga.
Kita akan mulai dengan yang pertama: Batu Karang, dalam bahasa Yunani
πετρα yaitu kata benda feminism dan Petrus πετροσ yaitu kata benda Maskulin yang
berarti “batu.” Oleh sebab itu batu karang dalam bentuk feminim tidak menunjuk kepada
Petrus sendiri, namun kepada Firman Allah yang diucapkan oleh Iman Petrus, yaitu
pengakuan Iman Petrus (Engkau yaitu Mesias Anak Allah yang hidup). Bandingkan
dengan Efesus 2:20, Wahyu 21:14. Dalam Alkitab tertulis bahwa Firman Allah yaitu
batu karang (Matius 7:24). Hal ini berbeda dengan pandangan Katolik bahwa Petrus
dianggap sebagai batu karang. Padahal jika membaca kitab Injil, kita akan menemukan
bahwa Petrus bukanlah batu karang jemaat; Ia pernah bersalah sesudah menerima
Firman Yesus (Matius 16:22,23; 26:69-75) dan juga pernah ditegur Paulus sebab
tindakan munafik (Galatia 2:11-14).
39
Kemudian hal yang kedua, yaitu tentang kalimat “Kepadamu akan Kuberikan
kunci Kerajaan Sorga”, kuasa yang di berikan oleh Tuhan Yesus tidak hanya kepada
Petrus. Kunci kerajaan sorga yaitu hak khusus untuk memberitakan Injil dengan kuasa
rasuli. Semua rasul menerima hak itu dan dapat memakainya dengan kuasa ini .
Petrus yaitu salah satu diantara mereka. Ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi juga
memiliki hak yang sama (Matius 23:13); hanya mereka menyalahgunakan hak itu.
Mengenai pemilihan Matias yang dianggap merupakan kesalahan para rasul.
Untuk menjawab hal ini kita harus menafsirkan nats ini (Kis 1:15-26) dengan
melihat bahwa para rasul ada dalam pimpinan All












