Tampilkan postingan dengan label kisah para rasul 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah para rasul 3. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

kisah para rasul 3


Te ntang  Maria  yang  terlalu  cepat  mengandung.  sebab   itu  Yusuf  tidak  tega

membiarkan Maria di Nazaret,  dan membawanya pergi ke Betlehem. Ini mengajar

kita bahwa di dalam menghadapi problem, suami istri perlu ada kesatuan dan saling

mendukung! (c).Yusuf ingin ada bersama dengan Maria pada saat Yesus lahir. Ingat

bahwa Yusuf  juga  yaitu   orang  Yahudi  yang  pasti  menanti-nantikan  kedatangan

Mesias. (d).Mereka tahu tentang nubuat dalam Mikha 5:1 yang mengatakan bahwa

Mesias harus lahir di Betlehem, dan sebab  itu mereka sengaja pergi ke Betlehem

supaya  nubuat  itu  tergenapi.  Calvin  menolak  kemungkinan  ini  dengan  alasan:

kepergian mereka ke Betlehem disebutkan alasannya secara explicit  dalam ay 5:

‘supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria’.  sebab  itu Calvin berpendapat

bahwa mereka pergi ke Betlehem bukan dengan tujuan supaya Kristus lahir di sana,

namun  sebab  tangan / pengaturan Allah (Providence of God) membimbing mereka

seperti  orang  buta  ke  tempat  dimana  Kristus  harus  dilahirkan.  Calvin  lalu

menambahkan:  "Thus  we  see  that  the  holy  servants  of  God,  even  though  they

wander from their design, unconscious where they are going, still keep the right path,

because God directs their steps" (= Demikianlah kita lihat bahwa pelayan-pelayan

yang kudus dari Allah, sekalipun mereka menyimpang dari rencana mereka, tidak

sadar  kemana  mereka  pergi,  tetap  ada  di  jalan  yang  benar,  sebab   Allah

mengarahkan / memimpin langkah-langkah mereka). 

Penjelasan: Yusuf  dan  Maria  pasti  sudah  mempersiapkan  dan

merencanakan  banyak  hal  tentang  Yesus  yang  akan  dilahirkan  itu.  Mungkin

mempersiapkan  uangnya,  kamarnya,  tempat  tidurnya,  dsb.  namun   perintah  untuk

melakukan  sensus  itu  kelihatannya  membuyarkan  segala  persiapan  dan  rencana

mereka.  namun   toh  semua  ini  ada  dalam  pimpinan  Tuhan!  Penerapan:  kalau

everything goes wrong (= segala sesuatu berjalan salah) dengan rencana saudara

(baik rencana jasmani maupun rohani), maka itu tetap pimpinan Tuhan! Ini tentu tak

berarti bahwa kita boleh sembarangan dalam memilih jalan ataupun terlalu mudah

‘menyerah’ pada kehendak / Rencana Allah! Kita tetap punya tanggung jawab untuk

memilih jalan yang terbaik, dan berusaha secara maximal untuk mencapainya. Kalau

semua itu sudah kita lakukan dan ternyata semua hancur berantakan, barulah kita

harus berserah pada kehendak / Rencana Allah. 

4) Kelahiran Yesus (ay 6-7):

a) ’Anaknya yang sulung’ (ay 7a). Istilah ‘anak sulung’, ditambah dengan banyak

bagian Kitab Suci yang berbicara tentang adanya saudara-saudara Yesus (Mat

12:46,47 / Mark 3:31-32 / Luk 8:19-20 Mat 13:55-56 Yoh 2:12 Yoh 7:3,5,10 Kis

1:14),  menunjukkan bahwa Yusuf  dan Maria pasti  mempunyai  anak-anak lain

sesudah   kelahiran  Yesus.  Seorang  penafsir  (Pulpit  Commentary)  menganggap

Yusuf dan Maria tidak mempunyai anak lain selain Yesus, dengan alasan: istilah

‘anak sulung’ bisa diartikan ‘anak tunggal’ seperti dalam Ibr 1:6. Dalam arti yang

sebenarnya, memang Yesus yaitu  Anak Tunggal dari Allah (Yoh 3:16). namun 

dalam Ibr 1:6 Yesus disebut sebagai Anak Allah yang sulung, itu disebabkan

sebab  kita yang percaya kepada Yesus juga yaitu  anak-anak Allah (Yoh 1:12),

sekalipun kita yaitu  ‘anak-anak adopsi’. Bandingkan ini dengan Rom 8:29 yang

berbunyi:  ‘supaya  Ia,  AnakNya  itu,  menjadi  yang  sulung  di  antara  banyak

saudara’. Dengan demikian, istilah ‘anak sulung’ dalam Ibr 1:6 tidak bisa diartikan

sebagai ‘anak tunggal’! 

b)  ‘dibaringkannya di  dalam palungan, sebab  tidak ada tempat bagi mereka di

rumah  penginapan’  (ay  7b).  Bagi  Yusuf  dan  Maria  ini  yaitu   sesuatu  yang

kelihatannya kontradiksi dengan Firman Tuhan. Katanya Maria akan melahirkan

Anak Allah yang maha tinggi, lalu mengapa Anaknya lahir dalam palungan? Anak

Allah  yang  mahatinggi  mau  lahir  dalam palungan.  Yesus  mau  direndahkan  /

menjadi miskin, supaya kita bisa ditinggikan / menjadi kaya (secara rohani!). Bdk.

2Kor 8:9. Istilah ‘miskin menjadi kaya’ jelas harus sdiartikan secara rohani. Hal ini

terlihat jelas kalau saudara membaca seluruh kontex (2Kor 8:1-9). Calvin: "When

he was thrown into a stable, and placed in a manger, and a lodging refused him

among men,  it  was that  heaven might  be opened to us,  not  as a  temporary

lodging, but as our eternal country and inheritance, and that angels might receive

us  into  their  abode"  (=  Pada  saat  Ia  dilemparkan  ke  dalam  kandang,  dan

diletakkan dalam palungan,  dan penginapan menolak menerimaNya di  antara

manusia,  tujuannya  yaitu   supaya  surga  terbuka  bagi  kita,  bukan  sebagai

penginapan  sementara,  namun   sebagai  negeri  dan  warisan  yang  kekal,  dan

supaya malaikat-malaikat menerima kita dalam tempat tinggal mereka). 

c) Pemilik  penginapan  hanya  memberi   tempat  hewan  sebab :  ia  tidak  tahu

bahwa yang akan dilahirkan oleh Maria yaitu  Mesias /  Anak Allah. memang

semua kamar penuh sehingga tidak ada lagi tempat untuk mereka. sebab  itu

sebetulnya  ia  tidak  bisa  terlalu  disalahkan.  namun   kalau  sekarang  saudara

menolak  Kristus  untuk  tinggal  dalam  hati  saudara  sebagai  Juruselamat  dan

Tuhan saudara, saudara menolak dengan suatu pengetahuan / kesadaran bahwa

Ia yaitu  Anak Allah,  maka penolakan saudara harus disalahkan! sebab  itu,

terimalah Ia sebagai Juruselamat dan Tuhan dalam hidup saudara! 

f. Pasal 2:36-40.

Hana  yaitu   Janda.  Ia  telah  mengenal  kesedihan  namun  tidak  bersedih.

Kesediaan  dapat  membuat  kita  menjadi  keras,  sedih,  marah,  dll  tapi  kesediaan  juga

dapat  membuat  kita  baik.  Bagaimana  kita  menanggapinya.  Usia  84  tahun  yang  tua

namun  tidak  berhenti  berharap.  Umur  dapat  menggerogoti  kecantikan  dan  kekuatan

tubuh serta waktu dapat menggerogoti hidup sehingga harapan jadi mati dan hidup jadi

membosankan dan menerima hidup apa adanya. Bagaimana keadaan Hana pada saat

itu? a). Ia tidak pernah berhenti untuk beribadah Gereja yaitu  ibu kita dalam iman. Kita

merengutkan diri sendiri dan harta yang tak ternilai harganya bila kita lalai dalam ibadah.

b).Tidak hentinya untuk berdoa. 

g. Pasal 2:40-52.

1) Merayakan Paskah di Yerusalem: 

a) Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah di

sana (ay 41). 

b) Di  sini  disebutkan ‘orang tua’  Yesus,  yang jelas menunjuk kepada Yusuf dan

Maria. Maria memang yaitu  ibu Yesus, namun  Yusuf sebetulnya bukanlah ayah

Yesus, namun  tetap disebut orang tua sebab  secara legal / hukum Yesus yaitu 

anak Yusuf. 

c) Paskah.  Ini  jelas  bukan  Paskahnya  orang  kristen  yang  menunjuk  pada

kebangkitan Yesus. Ini yaitu  Paskah Perjanjian Lama (Inggris: Passover), yaitu

merayakan  saat  orang  Israel  lepas  dari  tulah  ke  10  (kematian  anak  sulung)

sebab  adanya darah domba pada ambang pintu.  Paskah /  hari  raya roti  tak

beragi  yaitu   salah  satu  dari  3  hari  raya  dimana  orang  Yahudi  harus  pergi

berbakti  di  Yerusalem  (Kel  23:14-17).  Sebetulnya  yang  harus  berbakti  di

Yerusalem hanyalah orang laki-laki saja (Kel 23:17), namun  ternyata Maria juga

ikut. Ini menunjukkan kesalehannya dimana ia mau melakukan lebih banyak dari

yang  diperintahkan  oleh  Tuhan.  Penerapan:  Kalau  saudara  menuruti  Firman

Tuhan apakah saudara mau menurutinya sesedikit / seminim mungkin? Misalnya

apakah saudara rela memberi  persembahan lebih dari 10 %? 

d) Merayakan  Paskah  di  Yerusalem  merupakan  hal  yang  cukup  berat,  sebab 

mereka harus tinggal di Yerusalem selama 8 hari, yaitu 1 hari untuk Paskahnya

dimana mereka menyembelih domba Paskah, dan 7 hari untuk merayakan hari

raya roti  tak beragi (Kel 12:15 Im 23:5-6). sebab  itu dalam ay 43 digunakan

bentuk jamak ‘hari-hari perayaan’. namun  sekalipun ini cukup berat, mereka tetap

mau mentaati! Penerapan: Apakah saudara mau taat pada perintah yang berat,

atau hanya yang ringan saja? saat  Yesus berusia 12 tahun maka Ia diajak oleh

orang tuanya untuk pergi ke Yerusalem pada Paskah (ay 42). Mengapa pada

usia 12 tahun? William Barclay: "A Jewish boy became a man when he was 12

years of age" (= seorang anak laki-laki Yahudi menjadi seorang laki-laki pada

saat ia berusia 12 tahun). Pada saat usia 12 tahun seorang anak laki-laki menjadi

BAR MITSVAH [the son of the law / commandment (= anak hukum / perintah)].

Ini tentu tidak berarti bahwa sebelum usia 12 tahun Yesus tidak pernah berbakti.

Ia tentu juga berbakti namun  tidak di Yerusalem / Bait Allah. b) Yusuf dan Maria

mengajak Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Ini berarti: Orang

tua harus mengarahkan anaknya kepada Tuhan. Jangan membiarkan anak itu

tumbuh  bebas  dan  memilih  kepercayaannya  sendiri.  Kalau  saudara  percaya

bahwa Yesus yaitu  satu-satunya jalan kepada Bapa /  ke surga (Yoh 14:6),

maka saudara harus mengarahkan anak saudara kepada Yesus! 

2) Yesus tertinggal di Bait Allah : 

a) Pada saat  meninggalkan Yerusalem,  orang-orang Yahudi  itu  biasanya pulang

beramai-ramai (dalam rombongan besar). Ini memicu  Yusuf dan Maria bisa

tidak mengetahui kalau Yesus tidak ada di antara mereka (ay 43-44). sesudah 

tahu bahwa Yesus tidak ada bersama mereka, maka kembalilah Yusuf dan Maria

untuk mencari Yesus. Akhirnya mereka menemukan Yesus di Bait Allah (ay 45-

46a). Jadi, pada saat semua sudah meninggalkan Bait Allah, Yesusnya masih di

sana. Yesus merasa krasan di Bait Allah, dan ini kontras dengan banyak orang

kristen yang tidak krasan ada di gereja dan langsung meninggalkan gereja begitu

kebaktian selesai! 

b) Yesus berdiskusi  dengan ‘alim  ulama’  (ay  46b-47).  a)  Sesuatu yang menarik

dalam bagian ini yaitu : sesudah  Yusuf dan Maria menemukan Yesus (ay 46a),

yang diceritakan lebih dulu bukanlah reaksi / pertanyaan / teguran Maria, namun 

apa yang Yesus lakukan (ay 46b-47). Reaksi / teguran Maria baru diceritakan

dalam ay  48.  Ini  menunjukkan  bahwa Yesusnyalah  yang  dipentingkan  dalam

cerita  ini,  bukan  Yusuf  ataupun  Marianya!  Gereja  yang  lebih  mengutamakan

Maria dari pada Yesus, jelas sudah menyimpang dari Alkitab! Istilah ‘alim ulama’

diterjemahkan ‘teachers’ (= guru-guru) oleh NIV / NASB. Rupanya ini yaitu  ahli-

ahli Taurat pada saat itu. 

c) Mengapa Yesus sengaja tinggal di Yerusalem dan berdiskusi dengan para ahli

Taurat itu? Untuk belajar Firman Tuhan. Ini menunjukkan Ia rindu pada Firman

Tuhan. Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara rindu pada Firman Tuhan?

Dan apakah kerinduan itu saudara wujudkan dengan mencari  Firman Tuhan?

Jangan  merasa  aneh  kalau  Yesus  perlu  belajar  Firman  Tuhan.  Jangan  lupa

bahwa  Yesus  yaitu   Allah  dan  manusia  dalam  satu  pribadi  sehingga  Ia

mempunyai  2  pikiran,  yaitu  ilahi  dan manusia,  yang timbul  tenggelam secara

bergantian. Pikiran ilahiNya tentu saja mahatahu dan tidak perlu belajar, namun 

pikiran manusiaNya terbatas / tidak mahatahu sehingga perlu belajar dan bisa

mengalami  pertumbuhan  pengetahuan  (bdk.  ay  40,52  -  bertumbuh  dalam

hikmat). 

Ini  bertentangan  dengan  ajaran  Apolinarianism,  yang  mengatakan  bahwa

pikiran Yesus berasal dari LOGOS. Di sini  Ia belajar Firman Tuhan melalui suatu

diskusi  (ay  46b-47).  Kalau  saudara  yaitu   orang  kristen  yang  tidak  senang

berdiskusi tentang Firman Tuhan, ada sesuatu yang aneh / tidak beres dalam diri

saudara!  Mungkin ini juga untuk menyiapkan orang-orang Yahudi untuk melihat dan

mengakui  adanya  hikmat  ilahi  dalam diriNya.    Supaya  Yusuf  dan  Maria  sadar

bahwa Ia bukan anak biasa. 

3) Pertanyaan Maria dan jawaban Yesus (ay 48-49). 

Dalam  ay  48  Maria  bertanya  /  menegur  Yesus  dengan  berkata:  "Nak,

mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? BapaMu dan aku dengan

cemas  mencari  Engkau".  Dan  dalam  ay  49  Yesus  menjawab:  "Mengapa  kamu

mencari  Aku?  Tidak-kah  kamu  tahu,  bahwa  Aku  harus  berada  di  dalam  rumah

BapaKu?" 

a) Ini yaitu  kata-kata Yesus yang pertama yang dicatat dalam Kitab Suci. 

b)  ‘Rumah BapaKu’. RSV/NIV/NASB: my Father’s house (= rumah BapaKu). Dalam

bahasa Yunaninya kata ‘house / rumah’ itu sebetulnya tidak ada. Jadi terjemahan

hurufiahnya hanyalah: I must be in my Father’s (= Aku harus ada dalam milik

BapaKu). KJV menterjemahkan: my Father’s business (= kesibukan BapaKu). 

c) William Barclay memberi  komentar:  "See how gently but very definitely Jesus

takes  the  name father  from Joseph  and  gives  it  to  God"  (=  Lihatlah  betapa

dengan lembut namun  pasti Yesus mengambil nama / sebutan bapa dari Yusuf

dan memberi nya kepada Allah). Kalau kita membetulkan orang lain, seringkali

kita melakukannya dengan pasti / tegas, namun  tidak dengan lembut. Atau dengan

lembut, namun  tidak pasti / tegas. Kita perlu belajar dari Yesus dalam hal ini! 

d) Kata-kata  Yesus  ini  menunjukkan  bahwa  Ia  bukanlah  anak  biasa,  sebab 

sekalipun Ia yaitu  manusia, namun   Ia juga yaitu  Allah sendiri!  Dalam Kitab

Suci ada 4 kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, sebab  setiap

kitab Injil menyoroti Yesus dari sudut yang berbeda. 

   Matius menekankan Yesus sebagai Raja. 

   Markus menekankan Yesus sebagai Hamba.

   Lukas menekankan Yesus sebagai manusia.

   Yohanes menekankan Yesus sebagai Allah. Text yang kita bahas hari ini ada

dalam Injil Lukas yang menekankan kemanusiaan Yesus, namun  tidak berarti

bahwa Lukas mengabaikan keilahian Yesus! Text ini sendiri memang sangat

menekankan kemanusiaan Yesus dengan menceritakan pertumbuhan Yesus

secara fisik dan pertumbuhan hikmatNya dsb (ay 40,52), namun  disela-sela

text ini tetap terlihat keilahian Yesus! Ini mengajar kita untuk melihat doktrin-

doktrin dan juga ayat-ayat Kitab Suci secara seimbang. Kata-kata Yesus ini

juga menunjukkan bahwa kewajiban terhadap Allah lebih besar dan harus

lebih diutamakan dari pada kewajiban terhadap orang tua. 

4) Ketidakmengertian Yusuf dan Maria (ay 50,51b). Sesuatu yang baik dari Maria di sini

yaitu : sekalipun ia tidak mengerti kata-kata Yesus, namun  ia menyimpannya dalam

hati!  Bandingkan  dengan  banyak  orang  kristen  yang  sekalipun  mengerti  Firman

Tuhan, namun  tidak menyimpannya dalam hati! 5) Mereka lalu kembali ke Nazaret dan

Yesus hidup dalam ketundukan kepada ‘orang tua’nya (ay 51). Kata-kata ‘tetap hidup

dalam asuhan mereka’ (ay 51) salah terjemahan. Seharusnya yaitu  ‘tunduk / taat

kepada mereka’. KJV: and was subject unto them (= dan tunduk kepada mereka).

NIV/RSV: and was obedient to them (= dan taat kepada mereka). NASB: and He

continued  in  subjection  to  them  (=  dan  Ia  tetap  tunduk  kepada  mereka).  Ini

merupakan sesuatu yang harus kita teladani: tunduk pada otoritas di atas kita. Anak

kepada  orang  tua.  Istri  kepada  suami.  Murid  terhadap  guru.  Rakyat  kepada

pemerintah. Pegawai kepada boss. 

h. Pasal 4:14-9:50.

Pelayanan di Galilea. Konsisten dengan penolakan terhadap kuasa dunia dan

penyangkalan diri,  maka Yesus kembali  ke Galilea,  dan bukan ke Yerusalem tempat

kekuasaan bagi Israel. Galilea menunjukkan tujuan akhir dari misi penebusan Allah. Pola

ini pada tahun-tahun berikutnya menemukan wujud yang utuh dalam pelayanan Paulus.

Setia terhadap asal-usul-Nya sebagai anak Israel  sejati,  Yesus memulai  pelayanan di

dalam rumah-rumah sembahyang.namun  segera dipaksa keluar dari sana, sebab orang

Yahudi tidak bersedia menerima dan mengakui Dia sebagai Mesias yang dinubuatkan

PL. Pasal 4:14-6:11 Pelayanan Awal. Dalam waktu singkat Yesus segera popular. Lukas

melaporkan “namun  kabar tentang Yesus makin tersiar…(4:15). 

Pasal  5:33-39  Pengkritik  dan  kritikannya.  Siapa  para  pengkritik  ini?  Dalam

Matius, yang datang kepada Yesus yaitu  ‘murid-murid Yohanes’ (Yohanes Pembaptis)

(Mat 9:14). Dalam Markus, yang datang kepada Yesus yaitu  ‘orang-orang’ (Mark 2:18).

Dalam Lukas, yang datang kepada Yesus yaitu  ‘orang-orang Farisi’ (ay 33). namun  ini

sebetulnya salah terjemahan. NIV/NASB: ‘they’ (= mereka). Kalau kata ‘they’ / ‘mereka’

ini  dihubungkan  dengan  kontex  sebelumnya,  yaitu  Luk  5:30-32,  maka  kata  ‘they’  /

‘mereka’  ini  menunjuk  kepada  orang-orang  Farisi  dan  ahli-ahli  Taurat.  Cara

mengharmoniskan bagian-bagian  ini  yaitu  dengan menafsirkan bahwa ‘orang-orang’

dalam Mark 2:18 yaitu  gabungan dari ‘murid-murid Yohanes’ dan ‘orang-orang Farisi

dan ahli-ahli  Taurat’.  Sekarang ada 2 kemungkinan: a).Kedua grup itu datang kepada

Yesus, namun  Matius dan Lukas hanya menceritakan salah satu. b).Orang-orang Farisi

menghasut murid-murid Yohanes untuk melancarkan kritik kepada Yesus tentang murid-

muridNya. Matius hanya menyoroti grup orang yang betul-betul datang kepada Yesus

yaitu  murid-murid  Yohanes.  Lukas  menyoroti  grup  yang  menjadi  sumber  terjadinya

persoalan itu, yaitu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. sedang  Markus menyoroti

keduanya.  Murid-murid  Yohanes  Pembaptis  mengkritik  Yesus.  Yohanes  Pembaptis

yaitu  orang yang diutus Allah untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus (Luk 1:16-17,76).

Jadi  sebetulnya  pada  waktu  Yesus  mulai  pelayanan,  maka  murid-murid  Yohanes  ini

seharusnya lalu mengikuti Yesus, dan beberapa dari mereka memang melakukan hal ini

atas pengarahan Yohanes (Yoh 1:35-37). namun  sebagian lain dari murid-murid Yohanes

ini  menganggap Yesus justru  sebagai  saingan (Yoh 3:26).  Mereka ini  tidak mengikut

Yesus dan terus membentuk kelompok sendiri. Penerapan: Kesalahan seperti ini perlu

diwaspadai.  Jangan sampai saudara hanya mengikut  pendeta atau gereja atau aliran

tertentu.  Saudara  harus  mengikut  Yesus!  Dan  perlu  diperhatikan  bahwa  kesalahan

seperti ini bisa terjadi pada murid dari Yohanes Pembaptis, yang yaitu  seorang hamba

Tuhan / nabi yang betul-betul ingin membawa murid-muridnya kepada Tuhan. Ini tentu

akan lebih mudah lagi terjadi pada murid-murid dari ‘hamba Tuhan’ yang memang ingin

mengarahkan orang kepada dirinya sendiri dan bukan kepada Tuhan. Kritikan mereka

(ay 33). 

a) Mereka berkata: ‘Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian

juga  murid-murid  orang  Farisi,  namun   murid-muridMu makan dan  minum’  (ay  33).

Penerapan: Dalam hidup orang kristen / gereja ada hal-hal yang remeh, seperti: Cara

memuji Tuhan dengan / tanpa band, dengan / tanpa tepuk tangan; Bolehkah makan

dideh / darah?; Bolehkah orang mati diperabukan? 

b) Hal-hal yang cukup penting, seperti: predestinasi atau Providence of God. Bisakah

keselamatan hilang? Haruskah orang kristen berbahasa roh / lidah?

c) Hal-hal  yang  sangat  penting  /  essential,  seperti:  Kitab  Suci  yaitu   Firman Allah.

Yesus dan  Roh Kudus yaitu   Allah  sendiri.  Yesus  yaitu   satu-satunya  jalan  ke

surga. Adanya surga dan neraka. Kita diselamatkan sebab  iman kepada Yesus dan

bukan  sebab   perbuatan  baik  /  ketaatan.  Membicarakan,  mengetahui  /  mengerti

tentang perbedaan yang remeh dan perbedaan yang cukup penting yaitu  hal yang

harus  dilakukan.  namun   jangan  terus  menerus  menyoroti  hal-hal  itu  sehingga

melupakan  persamaan  dalam  hal-hal  yang  essential  /  sangat  penting.  Sebagai

contoh, kalau kita sebagai orang Reformed bertemu dengan orang Arminian dan lalu

berdebat tentang predestinasi dan melupakan bahwa kita dan mereka sama-sama

percaya  kepada  Yesus  sebagai  satu-satunya  Juruselamat,  maka  kita  tidak  bisa

bersatu  /  saling  mengasihi  dengan mereka.  Kita  lupa  bahwa dia  yaitu   saudara

seiman  kita  dan  kita  akan  menganggapnya  sebagai  musuh  kita!  Boleh  saja  kita

membicarakan / memperdebatkan tentang predestinasi dengan mereka, namun  kalau

tidak mendapat titik temu, maka ingatlah persamaan yang mendasar yang ada antara

kita dengan mereka. 

d) Tentang puasa, dalam Kitab Suci /  Perjanjian Lama sebetulnya keharusan puasa

bagi seluruh bangsa Israel hanyalah 1 tahun 1 x, yaitu pada hari raya Pendamaian

(Im  16:29-34  Im  23:26-32  Bil  29:7-11).  namun   orang-orang  Farisi  berpuasa  2  x

seminggu (Luk 18:12), yaitu pada hari Senin dan Jum’at (menurut tradisi ini yaitu 

hari dimana Musa naik ke Gunung Sinai). Sedang murid-murid Yohanes berpuasa,

mungkin  sebab :    sedih  sebab   penangkapan  terhadap  Yohanes.    ikut-ikutan

orang Farisi.  ajaran / teladan Yohanes Pembaptis (bdk. Mat 11:18). Jadi, mereka

berpuasa bukan sebab  diharuskan oleh Firman Tuhan (kalau memang itu yaitu 

puasa  yang  diharuskan  oleh  Firman  Tuhan,  pasti  Yesus  juga  menyuruh  murid-

muridNya berpuasa), namun  sebab  keinginan mereka sendiri atau sekedar sebagai

tradisi.  namun   mereka  lalu  memaksa  orang  lain  (murid-murid  Yesus)  untuk  juga

berpuasa mengikuti mereka. Ini jelas salah. Mereka tidak berhak melakukan hal itu.

Hanya Kitab Suci yang boleh dijadikan standard hidup. Penerapan: Dalam gereja

ada:  Hal-hal yang dilakukan sebab  diperintahkan oleh Tuhan dalam Kitab Suci.

Misalnya: Perjamuan Kudus, Baptisan, pemberitaan Firman Tuhan, Pemberitaan Injil,

doa,  adanya  tua-tua  /  diaken,  dsb.    Hal-hal  yang  dilakukan  sebab   tradisi  /

kebijaksanaan  manusia.  Misalnya:  adanya  katekisasi  sebelum  baptisan,  pendeta

memakai toga dalam kebaktian, adanya doa Bapa Kami dan 12 Pengakuan Iman

Rasuli dalam kebaktian, penggunaan organ / band dalam kebaktian, tepuk tangan

dalam kebaktian, dsb. Hal-hal seperti ini tidak mutlak, dan kita tidak boleh memaksa

siapapun untuk melakukan hal-hal ini . 

e) Jawaban Yesus terhadap kritikan itu  (ay 34-39):  Jawaban Yesus ini  terdiri  dari  3

bagian: 

   Untuk bisa mengerti jawaban Yesus ini, kita perlu mengerti tradisi orang Yahudi

pada jaman itu dalam pernikahan. Mereka berbulan madu di rumah. 1 minggu

sesudah   pernikahan,  rumah  terus  dibuka.  Teman-teman  dekat  mempelai

bersama-sama  dengan  mempelai  berdua  dan  mempelai  berdua  diperlakukan

sebagai  raja  dan  ratu.  Dalam  keadaan  seperti  ini  tentu  tidak  mungkin  ada

seorang sahabat yang lalu berpuasa. Tradisi inilah yang menjadi latar belakang

jawaban  Yesus.  Saat  dimana  Yesus  (mempelai  pria)  bersama-sama  dengan

murid-muridNya  (sahabat-sahabat  mempelai  pria)  yaitu   saat  bersukacita,

bukan  saat  susah,  sehingga  tidak  cocok  untuk  berpuasa.  Penerapan:  Saat

bersama  /  dekat  dengan  Yesus  yaitu   saat  sukacita.  Apakah  saudara

bersukacita  kalau  saudara  dekat  dengan  Yesus?  Atau  ada  hal-hal  lain  yang

membuat  saudara lebih  bersukacita,  seperti  dapat  uang /  gangthao,  bersama

teman-teman, piknik, dsb. 

   Yesus  berkata  bahwa  pada  saat  mempelai  pria  ‘diambil  dari  mereka’,  maka

mereka akan berpuasa. Sukar untuk menafsirkan dengan pasti apa maksud ayat

31


ini.  (1).Saat  Yesus  mati  disalib.  Ini  yaitu   pandangan  dari  hampir  semua

penafsir.  Ini  berarti  bahwa  sesudah   kematian  Yesus  barulah  murid-murid

berpuasa. namun  problem dengan pandangan ini yaitu : Kitab Suci tidak pernah

menceritakan  bahwa  murid-murid  Yesus  berpuasa  antara  kematian  dan

kebangkitan Yesus! (2).Saat Yesus naik ke surga. Problem dengan pandangan

ini yaitu : saat Yesus naik ke surga, bukan merupakan saat dukacita bagi murid-

murid  Yesus.  Padahal  Mat  9:15  jelas  menunjukkan  bahwa  itu  yaitu   saat

dukacita.  Hal-hal  lain  yang  memicu   bagian  ini  makin  sukar  ditafsirkan

dengan pasti yaitu : Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun sehingga Yesus

hadir  /  ada lagi  bersama murid-muridNya. namun   bagaimanapun,  ini  bukanlah

kehadiran  jasmani,  namun   kehadiran  secara  rohani.  Apakah  kita  harus

menganggap Yesus ada atau tidak  ada  bersama murid-muridNya?  Puasa-

puasa  yang  dilakukan  dalam Kisah  Rasul  semua  terjadi  sesudah   Pentakosta.

namun   dilakukan bukan sebab  dukacita namun   biasanya berhubungan dengan

pelayanan  (Kis  13:2-3  Kis  14:23).  Semua  ini  memicu   saya  tidak  bisa

mengambil kesimpulan yang pasti tentang arti ayat ini. 

   Puasa dilakukan pada saat sedih (Bdk ay 34 dengan Mark 2:19 dan Mat 9:15).

Ay 34: ‘Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa sedang mempelai

itu bersama mereka?’. Mark 2:19 - ‘Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki

berpuasa  sedang  mempelai  itu  bersama  mereka?'.  Mat  9:15  -  ‘Dapatkah

sahabat-sahabat mempelai  laki-laki  berdukacita selama mempelai  itu bersama

mereka?’.  Kata ‘berdukacita’  ini  dalam bahasa Yunaninya yaitu  PENTHEIN,

yang artinya ’to mourn’ (= berkabung). Dari sini jelas bahwa Yesus mengatakan

bahwa  saat  yang  tepat  untuk  berpuasa  yaitu   pada  waktu  kita  sedih  /

berkabung. Jadi tidak sepatutnya kita berpuasa sekedar sebagai tradisi, tanpa

tujuan / sebab apa-apa, atau sekedar melaksanakan kewajiban. Banyak gereja /

orang kristen berpuasa pada Jum’at Agung dan sekitarnya. Apa alasannya? 

sedih sebab  penderitaan dan kematian Kristus? Ini lucu, sebab  seharusnya kita

bersukacita  bukan  sedih.  Mengapa? sebab   tanpa  penderitaan  dan  kematian

Kristus, kita tidak ada harapan.  untuk ikut merasakan penderitaan Kristus? Ini

juga lucu,  sebab  Kristus rela menderita supaya kita bebas dari penderitaan /

hukuman. Kita bisa berpuasa pada saat kita merasa sedih sebab  ada dosa yang

memicu   kita  lalu  tidak  merasakan  kehadiran  Kristus  dalam  hidup  kita.

Tentu saja  puasa pada saat seperti  ini  harus disertai  dengan pertobatan dari

dosa ini . 

   Satu hal perlu ditekankan yaitu : ay 34-35 tidak berarti bahwa sesudah  kematian

Kristus, gereja harus berpuasa terus menerus. J. A. Alexander: "But this would

be equivalent to saying that the Saviour’s exaltation would consign his people to

perpetual sorrow. For he evidently speaks of grief and fasting as inseparable, and

in Matthew’s narrative of his reply, the former term is substituted for the latter

(Matt 9:15)" [= namun  ini sama dengan berkata bahwa pemuliaan Juruselamat itu

akan menandai umatNya dengan kesedihan kekal /  terus menerus. sebab  Ia

dengan jelas berbicara tentang kesedihan dan puasa sebagai 2 hal  yang tak

terpisahkan, dan dalam cerita Matius tentang jawabanNya, istilah yang pertama

menggantikan istilah yang terakhir (Mat 9:15)].

 Calvin:  Baju  /  kantong  tua  mudah  pecah  /  sobek.  Ini  menggambarkan

kelemahan  murid-murid  Yesus.  Kain  yang  belum  susut  /  anggur  baru

menggambarkan disiplin yang terlalu keras.  Jadi,  artinya:  belum waktunya

menyuruh murid-murid yang lemah itu melakukan disiplin yang begitu keras

seperti puasa.

 William  Barclay:  Arti  ay  36:  kadang-kadang  ‘menambal’  yaitu   suatu

ketololan.  Kita  harus  memulai  dengan  sesuatu  yang  baru.  Arti  ay  37-38:

pikiran kita harus lentur / elastis, dalam arti kita harus mau menerima ide-ide

baru.  Keberatan saya:  kelihatannya ay 36-38 merupakan 2 perumpamaan

yang  menunjuk  pada  satu  arti  yang  sama.  Yesus  sering  memberi 

beberapa perumpamaan berturut-turut untuk menekankan suatu kebenaran

tertentu. Contoh: Luk 15 memberi  3 cerita berturut-turut yang mempunyai

penekanan / arti / fokus yang sama. 

 William Hendriksen: Kain yang belum susut / anggur baru menunjuk pada

keselamatan  /  kekayaan  rohani  dalam Kristus.  Baju  baru  /  kantong  baru


menunjuk  pada  rasa  syukur  dan  sukacita.  Inilah  sikap  yang  tepat  untuk

menerima berkat-berkat rohani di dalam Kristus. 

 Anggur baru / kain yang belum susut menunjuk pada keselamatan sebab 

iman.  Baju  /  kantong  tua  menunjuk  pada  keselamatan  sebab   perbuatan

baik. 2 ajaran ini tidak cocok untuk digabungkan. 

 Kain yang belum susut  /  anggur baru menunjuk pada kekristenan. Baju /

kantong tua menunjuk pada Yudaisme / agama Yahudi. Dua ajaran ini tidak

bisa digabungkan. Yesus anti pada syncretisme (= penggabungan 2 agama

atau lebih). 

 Kekristenan bukanlah Yudaisme yang ditambal-tambal. Harus buang sama

sekali dan mulai dengan suatu yang baru. Saya paling condong pada arti ke

5. 

 Ay 39: Ayat ini tidak ada dalam Matius maupun Markus. a) Ini juga yaitu 

ayat sukar yang mempunyai 2 macam penafsiran: (a).Anggur tua menunjuk

pada ajaran Yesus, sebab  anggur tua tidak mempunyai kemegahan seperti

anggur baru. namun  toh anggur tua lebih enak / lebih baik dari anggur baru

(ajaran orang Farisi).  Jadi,  maksud Yesus dengan ay 39 ini  ialah:  murid-

muridKu sudah mengecap ajaranKu yang lebih enak sehingga mereka pasti

tidak akan mau kembali pada ajaran orang Farisi / Yudaisme (anggur baru).

Keberatan: • ajaran orang Farisi ada lebih dulu dari ajaran Yesus, sehingga

aneh  kalau  digambarkan  dengan  anggur  baru.  Jawab:  perumpamaan  ini

hanya menunjukkan bahwa ajaran Yesus lebih baik dari ajaran orang Farisi,

dan  tidak  mempersoalkan  yang  mana yang lebih  baru  atau lebih  lama.  •

dalam ay 37-38,  anggur baru menunjuk pada kekristenan /  ajaran Yesus.

Jawab: ay 37-38 dan ay 39 yaitu  2 perumpamaan yang berbeda / terpisah.

(b).Anggur tua menunjuk pada ajaran orang Farisi;  anggur baru menunjuk

pada ajaran Yesus. Ayat  ini  menyerang kekolotan orang Farisi  yang tidak

mau  berubah  /  tidak  mau  menerima  ajaran  baru.  Keberatan  terhadap

penafsiran ini: mengapa anggur tua yang lebih enak ditujukan pada ajaran

orang Farisi? Bukankah ajaran Yesus yang lebih enak? Jawabnya: ini yaitu 

suatu perumpamaan.  Tujuannya hanya menyerang kekolotan orang Farisi

tanpa mempersoalkan ajaran siapa yang lebih enak. Bandingkan dengan Luk

18:1-8 dimana Allah digambarkan sebagai hakim yang lalim. Saya condong

pada penafsiran ini. 

i. Pasal 8:26-39. Kasus kerasukan setan. 

1) Tempat terjadinya kasus ini. Ay 26: “Lalu mendaratlah Yesus dan murid-muridNya di

tanah orang Gerasa yang terletak di seberang Galilea”. Mat 8:28 - ‘Gadara’. Mark 5:1

- ‘Gerasa’.  Ada 2 cara pengharmonisan: a) Ada yang mengatakan bahwa Gerasa

terletak 12 mil sebelah tenggara Gadara dan mungkin peristiwa itu terjadi di antara

dua tempat itu sehingga Matius menyebut Gadara dan Markus menyebut Gerasa. A.

T. Robertson: “Dr. Thomson discovered by the lake the ruins of Khersa (Gerasa).

This village is in the district of the city of Gadara some miles southeastward so that it

can be called after Gerasa or Gadara” [= Dr. Thomson menemukan dekat danau

reruntuhan dari Khersa (Gerasa). Desa ini ada di daerah kota Gadara beberapa mil di

sebelah tenggaranya sehingga tempat itu bisa disebut Gerasa atau Gadara] bahwa

ada yang mengatakan ‘Gergesa’, dan ini berbeda dengan Gadara maupun Gerasa.

Gadara dan Gerasa yaitu  kota  yang lebih besar /  penting,  sedang  Gergesa

yaitu  tempat / kota yang sama sekali tidak penting. Pulpit Commentary lalu berkata

bahwa mungkin di kota kecil itulah terjadi peristiwa ini, dan sebab  itu Markus dan

Lukas  tidak  mau  memakai   nama  kota  kecil  yang  tidak  dikenal  itu,  namun 

memakai  kota yang lebih besar di dekatnya, yang lebih dikenal.  Leon Morris

(Tyndale)  mengatakan  bahwa  nama  ‘Gergesa’  itu  ‘diciptakan’  oleh  Origen.A  T.

Robertson mengatakan bahwa Matius memakai  ‘Gadara’;  sedang  Markus

dan Lukas memakai  ‘Gerasa’. Jadi, tidak ada ‘Gergesa’. 

2) Jumlah orang yang kerasukan setan. Ay 27: “sesudah  Yesus naik ke darat, datanglah

seorang laki-laki dari kota itu menemui Dia; orang itu dirasuki oleh setan-setan dan

sudah  lama  ia  tidak  berpakaian  dan  tidak  tinggal  dalam  rumah,  namun   dalam

pekuburan”.  Mark  5:2  juga  mengatakan  ‘seorang’.  Bdk.  Mat  8:28  -  “Setibanya  di

seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang

kerasukan  setan  menemui  Yesus.  Mereka  sangat  berbahaya,  sehingga  tidak

seorangpun yang berani  melalui  jalan  itu”.  Jadi,  Matius  mengatakan  ‘dua  orang’,

namun  Markus dan Lukas mengatakan ‘seorang’. Pengharmonisan: Perhatikan bahwa

Markus dan Lukas tidak berkata ‘hanya seorang’. Mereka hanya menceritakan salah

satu saja, mungkin sebab  orang itu lebih dikenal, dan / atau sebab  orang itu lebih

parah keadaannya. Pulpit Commentary memberi  kemungkinan lain, yaitu sebab 

hanya satu yang berdialog dengan Yesus, maka yang satu itulah yang diceritakan

oleh Markus dan Lukas (hal 206). 

3) Apa yang dilakukan Setan terhadap orang yang ia rasuk. a).Memberinya kekuatan

yang luar  biasa.  Ay 29b: “sebab  sering roh itu menyeret-nyeret  dia,  maka untuk

menjaganya, ia dirantai dan dibelenggu, namun  ia memutuskan segala pengikat itu ...”.

Calvin: “Naturally, he was not able to break the chains; and hence we infer that Satan

is sometimes permitted to make extraordinary movements, the effect of which goes

beyond our comprehension and beyond ordinary means” (= Secara wajar ia tidak

bisa memutuskan rantai; dan sebab  itu kami menyimpulkan bahwa Setan kadang-

kadang diijinkan untuk membuat gerakan-gerakan yang luar biasa, yang akibatnya

melampaui  pengertian  kita  dan  melampaui  cara-cara  biasa)  -  hal  429-430.

b).Menyiksanya secara fisik. Mark 5:5 - “Siang malam ia berkeliaran di pekuburan

dan  di  bukit-bukit  sambil  berteriak-teriak  dan  memukuli  dirinya  dengan  batu”.

c).Menyiksanya  secara  batin.  Ini  dilakukan  oleh  setan,  antara  lain  dengan

membawanya ke tempat sunyi / kuburan / bukit-bukit. Ay 27b: “orang itu dirasuki oleh

setan-setan  dan  sudah lama ia  tidak  berpakaian  dan  tidak  tinggal  dalam rumah,

namun  dalam pekuburan”. Ay 29c: “ia dihalau oleh setan itu ke tempat-tempat yang

sunyi”. Mark 5:5 - “Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil

berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu”. Orang yang kerasukan setan itu

menyembah Yesus. Ay 28a: “saat  ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di

hadapanNya”.  Mark  5:6  -  “saat   ia  melihat  Yesus  dari  jauh,  berlarilah  ia

mendapatkanNya  lalu  menyembahNya”.  Mengapa  orang  itu  menyembah  Yesus?

William Hendriksen: “This ‘homage,’ however, is an act of fear rather than humble

reverence” (= namun ,  ‘penghormatan /  penyembahan’ ini  merupakan tindakan dari

ketakutan dari pada rasa hormat yang rendah hati). Yesus menyuruh setan-setan itu

keluar  dari  orang  itu.  Ay  28-29a:  “(28)  saat   ia  melihat  Yesus,  ia  berteriak  lalu

tersungkur di hadapanNya dan berkata dengan suara keras: ‘Apa urusanMu dengan

aku,  hai  Yesus Anak Allah  Yang Mahatinggi?  Aku  memohon kepadaMu,  supaya

Engkau jangan menyiksa aku.’ (29) Ia berkata demikian sebab Yesus memerintahkan

roh jahat itu keluar dari orang itu”.  Jawaban / tanggapan setan. Ay 28: “saat  ia

melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapanNya dan berkata dengan suara

keras:  ‘Apa urusanMu dengan aku,  hai  Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku

memohon kepadaMu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.’. Bdk. Mat 8:29 - “Dan

mereka  itupun  berteriak,  katanya:  ‘Apa  urusanMu dengan  kami,  hai  Anak  Allah?

Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?’”. Mark 5:7 - “dan

dengan keras ia berteriak: ‘Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang

Mahatinggi?  Demi  Allah,  jangan siksa  aku!’”.  a)  ‘Apa  urusanMu dengan aku,  hai

Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi?’. 

j. Asal  dan  Tujuan  Injil  Lukas disebut  tulisan  Lukas  yang  pertama  dialamatkan  pada

Theofilus (Luk. 1:1), sedang  Kisah Para Rasul yaitu  tulisan yang kedua, yang juga

dialamatkan kepada Theofilus (Kis. 1:1). Kisah Para Rasul dialamatkan kepada seorang

pejabat yang berlatar belakang non Yahudi. Kisah Para Rasul dialamatkan pada semua

orang yang dipimpin oleh Theofilus dan semua orang yang berkondisi seperti Theofilus

atau non Yahudi/kafir, agar beroleh keselamatan. Theofilus mewakili orang-orang yang

diperintahkan  dan  orang-orang  yang  tidak  atau  yang  belum  percaya  pada  Kristus.

Seluruh karya dikerjakan agar seorang Teofilus, dapat memperoleh laporan yang teratur

dan  dapat  dipercaya  mengenai  perkembangnya  agama  Kristen  walaupun  ia  sudah

memiliki  beberapa informasi mengenai ke Antiokhia dan dari  sana ke Roma. Tanggal

Penulisan Tanggalnya tidak dinyatakan dengan tepat; Kis memang tidak ditulis lebih dulu

dibandingkan  peristiwa-peristiwa terakhir yang dicatatnya, yakni penahanan Paulus selama 2

tahundi  Roma  (Kis.  28:30),  yang  mungkin  meliputi  tahun  60  M,  tapi  berapa  tahun

sesudah itu Kis ditulis. Dugaan paling kuat sekitar tahun 61-62M. Lukas atas inspirasi

Roh Kudus mengakhiri  tulisannya dalam Kisah Para Rasul pada pokok : rasul Paulus

berada  di  Roma  menantikan  masa  kesengsaraannya,  namun  tetap  dalam  kondisi

melayani  dan  membimbing  banyak  orang  kepada  Tuhan  Yesus.  Paulus  mengontrak


sebuah rumah yang dijaga prajurit (Kis. 28:16), selama dua tahun (Kis. 28:30). Paulus

naik banding pada Kaisar oleh sebab  itu, ia berada di Roma. Namun saat itu Lukas

belum sempat menulis bahwa Paulus berdiridihadapan Kaisar untuk naik banding. Lukas

tidak menulis tentang penyiksaan dibawah Kaisar Nero (64 AD) atau kematian Paulus (68

AD),  maupun pengrusakan Yerusalem (70  AD).  Bukan dilatarbelakangi  bahwa Lukas

segan menulis atau ingin menyembuyikan peristiwa-peristiwa penting ini , melainkan

peristiwa ini  belum terjadi saat menyelesaikan dokumennya. Inti Berita Inti berita

yang  paling  kuat  dalam dokumen  ini  yaitu :  Kristus  Yang  Telah  Bangkit.  Kitab  PL,

sejarah  kebangkitan,  kesaksian-kesaksian  para  Rasul  dan  demontrasi  pekerjaan  Roh

Kudus yaitu  saksi bahwa Yesus yaitu  Tuhan dan yang diurapi (Mesias).



TAFSIRAN PERJANJIAN BARU

(KISAH PARA RASUL)




Penulis Kisah Para Rasul sama dengan penulis Injil Lukas, keduanya merupakan satu

buku dua jilid dan ditujukan kepada seseorang yang bernama Teofilus. Pendapat yang umum

tentang siapa penulis Kisah Para Rasul dan Injil  Lukas yaitu  Lukas, seorang dokter medis,

sebab  sering memakai istilah medis.  Menurut beberapa ahli bahwa kunci untuk mengetahui

sang penulis diberikan oleh tiga bagian yang memakai sebutan “kami” dimana narasi disajikan

memakai  bentuk  orang  pertama jamak  (Kis  16:10-17;  20:5  –  21:18;  27:1  –  28:16),  dengan

demikian  menunjukkan  bahwa  penulisnya  yaitu   rekan  seperjalanan  Paulus  dan  ia

mempergunakan buku harian perjalananya sebagai sumber penulisan. Maka orang yang lebih

tepat  yang  memenuhi  criteria  ini   diatas  yaitu   Lukas.  Seorang  dokter  medis  yang

mengikuti perjalanan pemberitaan Injil Paulus hanyalah Lukas (Kolose 4:14; 2Tim 4:11; Filemon

1:24). Oleh sebab  itu dapat disimpulkan bahwa penulis Kisah Para Rasul yaitu  Lukas. Tradisi

gereja juga secara seragam menyebut bahwa penulis Kisah Para Rasul yaitu  Lukas rekan

seperjalanan Paulus

B. Tempat dan Waktu Penulisan

Dalam kitab ini tidak ada ditemukan tentang dimana tempat kitab ini ditulis. Oleh sebab 

itu  sampai  hari  ini  tidak  ada penafsir  yang dapat  memastikan  suatu  tempat  sebagai  tempat

penulisan kitab ini. Menurut tradisi sesudah Yerome kitab ini di tulis di Roma, namun  banyak juga

penafsir  yang  mengatakan  bahwa  tempat  penulisan  kitab  ini  kemungkinan  besar  yaitu   di

Makedonia, Alexandria. Disamping perkiraan-perkiraan diatas ada juga beberapa penafsir lebih

setuju dengan pendapat bahwa tempat penulisannya tidak diketahui. Mengenai waktu penulisan

kitab ini  Charles F. Feiffer  mengatakan bahwa waktu penulisan kitab ini sangat terkait dengan

masalah  endingnya  yang  mendadak,  oleh  sebab   itu  menurut  beliau  penulisan  kitab  ini

kemungkinan besar yaitu  pada suatu tanggal yang tidak lama sesudah akhir narasi dan jika

demikian maka Kisah Para Rasul ditulis kira-kira tahun 62 M. Pendapat ini juga didukung oleh

Yune Sune Park dalam bukunya Tafsiran Kisah Para Rasul dimana beliau mengatakan bahwa

kemungkinan besar kitab ini ditulis pada waktu Paulus di penjara Roma; Oleh sebab  peristiwa

pengadilan Paulus di Roma tidak tertulis dalam kita ini, dan jikalau demikian maka kemungkinan

besar penulisan kitab ini yaitu  kira-kira tahun 62 M.

C. Tujuan Penulisan

Dalam Kisah Para Rasul 1 terlihat  tujuan utama penulisan Kisah Para Rasul  yaitu 

untuk menyakinkan Teofilus bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadannya yaitu  sungguh

benar (Kisah Para Rasul 1:4).  Penerima pertama dari  surat (kitab Kisah Para Rasul)  yaitu 

Teofilus dan jika kita membandingkan antara Injil Lukas 1:1 dengan Kisah Para Rasul 1:1 dapat

disimpulkan bahwa penerima Injil Lukas dan Kisah Para Rasul yaitu  orang yang sama. namun 

ada yang sangat indah dalam penyelidikan ini, dimana dalam Lukas 1:1 Teofilus di beri gelar

sebagai Yang Mulia, gelar ini biasa dipakai kepada orang-orang besar (pegawai pemerintahan

yang  terpandang)  Paulus  sering  memakai   gelar  ini   kepada  pegawai-pegawai

pemerintahan Romawi, seperti kepada Feliks dan Festus (Kisah Para Rasul 23:26; 24:2; 26:25)

namun   dalam Kisah Para Rasul 1:1 gelar  yang mulia tidak lagi  mengikuti  nama Teofilus.  Hal

ini  sangat mungkin diakibatkan sebab  sebelum Teofilus membaca Injil Lukas dia yaitu 

orang yang belum percaya, namun  sesudah  ia membaca Injil Lukas dia akhirnya bertobat dan oleh

sebab  itu Lukas menyapa dia bukan lagi sebagai seorang yang mulia yang harus ditakuti, namun 

Teofilus yang telah dianggap sebagai sahabat.

D. Garis Besar Isi

36


1. Gereja Mula-Mula dan Perluasannya (1:1-2:4)

a.    Persiapan: Pelayanan Pasca Kebangkitan dan Kenaikan Yesus (1:1-14)

b. Pemilihan Matias (1:15-26)

c. Kedatangan Roh Kudus (2:1-4)

d. Kehidupan Gereja Mula-Mula (2:42-47)

2. Gereja Di Yerusalem (3:1 – 5:42)

a.     Mujizat dan khotbah Petrus (3:1-26)

b. Perlawanan pertama dari para pemimpin Yahudi (4:1-37)

c. Kematian Ananias dan Safira (5:1-16)

d. Perlawanan Kedua dari para pemimpin Yahudi (5:17-42)

3. Perluasan Gereja di Palestina melalui perserakan (6:1-12:25)

a.   Pemilihan tujuh diaken (6:1-7)

b. Peristiwa perserakan: Pelayanan dan kematian Stefanus sebagai Martir (6:8-8:3)

c. Injil Di Samaria (8:4-25)

d. Pertobatan Sida-sida Etopia (8:26-40)

e. Pertobatan Saulus (9:1-31)

f. Pelayanan Petrus di Palestina dan Orang-orang yang bertobat pertama di luar bangsa

Yahudi (9:32 – 11:18)

g. Pendirian Gereja Orang Bukan Yahudi di Antiokia (11:19-30)

h. Penganyiayaan oleh Herodes Agripa (12:1-25)

4. Perluasan Gereja di Asia Kecil dan Eropa (13:1-21:17)

a.   Misi Pertama Galatia (13:1-14:28)

b. Persoalan di Gereja yang bukan Yahudi dan Sidang di Yerusalem (15:1-35)

c. Misi kedua, Asia kecil dan Eropa (15:36 – 18:22)

d. Misi ketiga Asia kecil dan Eropa (18:23 – 21:17)

5. Perluasan Gereja ke Roma (21:18-28:31)

a.    Injil di tolak oleh orang-orang Yerusalem (21:18-26:32)

b. Injil di terima di Roma (27:1-28:31)

E. Tafsiran

1. Gereja Mula-Mula dan Perluasannya (1:1-2:4)

a. Persiapan: Pelayanan Pasca Kebangkitan dan Kenaikan Yesus (1:1-14)

Kisah 1 ayat 1 dan 2 merupakan pengantar singkat yang menghubungkan Kisah

Para Rasul dengan Injil Lukas. Ayat pengantar Injil Lukas ini  (1:1-4) dimaksudkan

untuk  membantu  memahami  Kisah  Para  Rasul  1:1,2  yang  merupakan  kilas  balik  ke

belakang atau kepada buku jilid yang pertama. Oleh sebab  itu Lukas menulis “…dalam

bukuku  yang pertama,”  hal  ini   menunjukkan  bahwa Injil  Lukas  dan  Kisah  Para

Rasul yaitu  satu karya yang terdiri  dari dua jilid.  Penerima kitab ini yaitu  Teofilus.

sebagian  teolog  mengatakn  bahwa  Teofilus  bukanlah  nama  pribadi  tetap  sebagai

sebutan kepada orang yang percaya pada masa itu.  Namun pendapat  diatas yaitu 

pendapat yang tidak tepat, mengingat bahwa dalam Injil Lukas di belakang nama Teofilus

ada nama sebutan yaitu yang mulia, jadi sangat tidak mungkin bahwa Teofilus sebagai

nama  sebutan.  Jadi  yang  tepat  yaitu   bahwa  nama  Teofilus  yaitu   nama  pribadi.

Namun kita tidak tahu secara pasti siapa Teofilus, namun  nama sebutan yang mulia dalam

Injil Lukas membawa kita kepada suatu pemikiran bahwa Teofilus kemungkinan besar

yaitu   seorang  pejabat  dalam  pemerintahan  Romawi  yang  baru  bertobat  sebab 

membaca Injil  Lukas. Alas an ini dimungkinkan mengingat bahwa sebutan yang mulia

sering  dipakai  dalam kisah  Para  Rasul  kepada  orang-orang  terpandang  yang  duduk

dalam pemerintahan Romawi. Keempat Injil berisi tentang segala sesuatu yang telah di

kerjakan Yesus;  Kisah Para Rasul  mencatat  pelayanan yang selanjutnya dari  Kristus

yang naik ke Sorga, yaitu pelayanan-Nya melalui  Roh Kudus yang bekerja dalam diri

para rasul.

Kisah Para Rasul 1: 3, menjelaskan bahwa sesudah  Yesus bangkit, Dia secara

berulang-ulang menampakkan diri, membuktikan bahwa Dia hidup sehingga murid-murid

yang semula masih meragukan hal ini  akhirnya tidak dapat untuk tidak percaya.

Kata selama empat puluh hari berulang-ulang Yesus menampakkan diri, lebih tepatnya

ditafsirkan bahwa hal ini  benar sebanyak empat puluh hari dan secara berturut-

berturut, sebab  jika kadang Yesus menampakkan diri namun  kadang tidak kelihatan itu

akan  membingungkan  sekali  dimana  orang-orang  akan  menyangka  Yesus

37


menampakkan diri yang dimaksud disitu hanya seperti penampakan dalam PL, pada hal

yang dimaksudkan bahwa Yesus berulang-ulang menampakkan diri berarti bahwa Yesus

menunjukkan bahwa Dia benar-benar telah bangkit dan hidup dan juga memiliki tubuh

yang nyata. Lagi pula ada beberapa kali Alkitab memakai kata empat puluh hari yang

mengacu kepada empat  puluh hari  yang berturut-turut,  misalnya dalam Kel  34 Musa

berpuasa  40  hari,  Elia  berjalan  di  gunung  horeb  selama  40  hari  dengan  kekuatan

makanan yang dikirim oleh Allah (1 Raja-raja 19:4-8), Yesus berpuasa empat puluh hari

(Matius  4:2),  penggunaan  kata  empat  puluh  hari  dengan  ayat-ayat  diatas  memiliki

persamaan dengan Kisah Para Rasul 1:3 ini.

Ayat 4 merupakan pengulangan dari perintah yang ada di dalam Lukas 24:29,

para rasul di perintahkan untuk tetap enunggu janji Bapa di Yerusalem. Dewasa ini ada

banyak  pertayaan  tentang  mengapa  harus  di  Yerusalem,  kita  dapat  menjawabnya

dengan satu jawaban yang singkat, dimana hal itu telah dinubuatkan dalam Yesaya 2:3

“…sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan Firman Tuhan dari Yerusalem,” hal ini

merupakan  nubuatan  bahwa  dari  Yerusalem akan dimula  pekerjaan  Perjanjian  Baru.

Murid-murid  disuruh  untuk  menantikan  janji  Bapa,  sebab  sebentar  lagi  mereka  akan

berjuang dalam pemberitaan Injil. Sama seperti prajurit yang harus diperlengkapi dengan

senjata dan latihan perang yang handal, demikian juga para murid diperlengkapi dengan

kuasa Roh Kudus.

Pada  ayat  5  berbicara  tentang  baptisan  Yohanes  dan  baptisan  Roh  Kudus,

dalam nats yang berbeda Yohanes pembaptis telah memberitahukan tentang baptisan

Roh Kudus yang akan terjadi kelak (Matius 3:11; Markus 1:8; Lukas 3:16; Yohanes 1:33)

dan  dalam Kisah  Para  Rasul  ini  nubuatan  Yohanes  itu  digenapi.  Yesus  juga  sudah

menjanjikan kedatangan Roh Kudus (Yoh 14:16 – 18,26-27; 15:26-27; 16:7-15) hal itu

akan merupakan pencurahan kuasa kepada murid sehingga mereka mampu melayani

Tuhan dan  melaksanakan kehendakNya (Lukas  24:49).  Jika  kita  membaca kitab  Injil

maka kita akan mendapati bahwa para rasul memiliki pandangan politik yang kuat atas

kerajaan  dan  mereka  sangat  menginginkan  kedudukan dan  hak-hak  mereka  sebagai

orang  Yahudi  yang  loyal  kepada  Tuhan,  mereka  ingin  mengalahkan  musuh-musuh

mereka dan membangun suatu kerajaan yang kokoh di  bawah pemerintahan Mesias

sebagai raja mereka. 

Kisah Para Rasul 1:6 hal yang sama juga terulang kembali, namun  Tuhan tidak

marah,  Dia  memberi  jawaban  dalam ayat  7-8,  dengan  berkata:  “Engkau  tidak  perlu

mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa menurut  kuasa-Nya. namun   kamu

akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun keatas kamu dan kamu akan menjadi

saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan sampai keujung bumi” secara implisit

pernyataan Tuhan Yesus ini  memberi gambaran bahwa murid-murid di harapkan

lebih  baik  mengerjakan  tugasnya  untuk  memberitakan  Injil  dibandingkan   banyak bertanya

tentang apa yang harus dikerjakan Bapa sehubungan dengan kerajaan secara Politis,

dimana Kristus memerintah sebagai Raja. Dari ayat delapan ini, ada yang sering kurang

diperhatikan oleh para penafsir  yaitu tentang urutan nama kota, mulai dari  Yerusalem

dimana  murid-murid  menerima  baptisan  Roh  Kudus  lalu  keluar  ke  Seluruh  Yudea,

Samaria  dan  Sampai  ujung  bumi.  Urut-urutan  nama  kota  ini   bukan  tidak  ada

artinya,  namun   hal  itu sebenarnya menunjukkan bahwa Pemberitaan Injil  tidak dibatasi

hanya pada daerah-daerah tertentu, namun  lebih dimulai dari tempat kita masing-masing,

dan berakhir sampai dimana Tuhan mau kita memberitakan-Nya. Kata ujung bumi sering

ditafsirkan mengacu ke pada kota Roma yang sangat terkenal pada masa itu, namun  jika

kita  menafsirkannya  sekarang  ini  kata  ujung  bumi  dapat  diterjemahkan  bahwa

pemberitaan Injil itu akan sampai keseluruh pelosok bumi ini, sampai tidak ada yang tidak

pernah mendengarkan Injil.  Kata saksi  sering sekali  muncul dalam Kisah Para Rasul.

Saksi yaitu  seseorang yang memberitahukan apa yang telah dilihat dan di dengarnya

(Kisah  Para  Rasul  4:19,20).  Setiap  kata  saksi  yang  ada  di  Kisah  Para  Rasul  dalam

pengertian Yunaninya (Marturia), selalu mengandung pengertian martir atau Syahid.

Kisah Para Rasul 1:9-11 yaitu  menekankan tentang jaminan kedatangan Yesus

yang kedua kali, lebih lanjut beliau mengatakan bahwa kenakan Tuhan Yesus Ke Sorga

yaitu  suatu bagian penting dari pelayanan-Nya, sebab  kalau Dia tidak kembali kepada

Bapa-Nya, maka Dia tidak dapat memenuhi janji-Nya untuk mengutus Roh Kudus (Yoh

16:5-15). Lagi pula sekarang ini Yesus di Sorga menjadi Imam Besa yang berdoa untuk

kita (Ibrani 4:14-16). Yesus juga menjadi pembela kita dihadapan Bapa dan mengampuni

kita bila kita mengakui dosa-dosa kita (1 Yohanes 1:9-2:2). Pernyataan Wiersbe tentang

ayat  ini,  dimana beliau mengatakan bahwa Kisah  Para Rasul  1:9-11  yaitu  jaminan

kedatangan  Yesus  yang  Kedua  kali  dapat  diterima,  sebab   pada  ayat  ini   ada

perkataan  malaikat  yang  mengatakan:  “…Yesus  ini  yang  terangkat  ke  sorga

meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang samaseperti kamu melihat

Dia naik Ke Sorga.” Jadi setiap orang yang percaya bahwa Yesus telah naik ke sorga

dengan wujud dan yang dapat dilihat manusia secara nyata seharusnya percaya juga

bahwa Dia akan datang kedua kali  dengan meiliki  tubuh atau wujud yang nyata dan

dapat  dilihat  oleh  manusia.  Oleh  sebab   itu  kedatangan-Nya kembali  yang  dimaksud

disini  yaitu  kedatangan-Nya di  awan-awan di  hadapan semua orang (Matius 24:30;

26:64; Wahyu 1:7) bukan kedatangan-Nya yang sekejap mata bagi gereja (1Kor15:51-52;

1 Tesalonika 4:13-18).

Kisah Para Rasul 1:12-14, menjelaskan bahwa murid-murid itu menuruti perintah

Guru mereka (Yesus), mereka kembali ke Yerusalem dari bukit Zaitun, mereka naik ke

ruang atas yang kemungkinan besar yaitu  milik Yohanes Markus (Kis 12:12). Disana

mereka bertekun dan bersehati untuk berbhakti sambil menantikan Roh Kudus turun. Jika

dikaitkan dengan berdoa, maka dapat dipastikan bahwa mereka berdoa dengan tekun

dan  dengan  sehati.  Cara  seperti  ini  sangat  kita  butuhkan dalam gereja  kita  masing-

masing,  sebab jika  ada sungut-sungut  dan perselisihan dalam hati  orang-orang yang

berdoa  maka  mereka  tidak  dapat  berdoa  dengan  sungguh-sungguh.  Mereka  berdoa

dengan bertekun dapat dijelaskan bahwa mereka sabar sampai doanya terkabul.  Dan

selalu memberi  waktu untuk berdoa.

b. Pemilihan Matias (Kisah Para Rasul 1: 15-26)

Bagian ini yaitu  bagian yang sangat penting untuk dibahas dengan baik sebab 

dalam bagian ini ada beberapa hal yang sering diperdebatkan. Seperti: Petrus dianggap

sebagai orang yang mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin, kemudian pemilihan

Matias  yang  dianggap  gagal  sebab   menurut  mereka  bahwa  Pauluslah  yang  layak

sebagai pengganti jabatan Rasul yang ditinggalkan Yudas,  mereka yang berpendapat

demikian ber argument dimana sesudah  Matias dipilih namanya tidak disebut-sebut lagi

dalam Kisah Para Rasul, dan justru Pauluslah banyak menempati dalam pembahasan

selanjutnya  Kisah  Para  Rasul.  Persoalan-persoalan  ini  yaitu   merupakan  persoalan

yang sangat penting dijelaskan. 

Mengenai  Petrus  (ay  15)  yang  berdiri  sebagai  pemimpin,  bukan  berarti  dia

mengangkat  diri  sendiri  namun   sebenarnya  sebelumnya  Tuhan  Yesus  telah  pernah

menubuatkan  bahwa dia  akan  menjadi  pemimpin,  namun  pemimpin  yang  kita  aksud

disini  berbeda dengan yang dipahami oleh Roma Katholik.  Yesus telah menubuatkan

tentang Petrus dalam Matius 16:19; Lukas 22:31-32; Yohanes 21:15-17. dan memang

jika mempelajari kitab Injil, maka kita akan melihat bahwa Petrus dianggap sebagai murid

yang cukup terpandang, namanya selalu menempati urutan yang pertama dalam setiap

daftar  nama  para  rasul  termasuk  juga  dalam  Kisah  Para  Rasul  1:13.  Supaya  kita

mendapat kejelasan tentang kepemimpinan Petrus maka kita akan kembali membahas

kitab Injil,  secara khusus Matius 16:16-18,  dimana sesudah Pertrus mengakui bahwa

Yesus yaitu  Mesias, seperti berikut ini “Engkau yaitu  Mesias, Anak Allah yang hidup,”

ia  di  puji  oleh  Yesus  “Engkau  yaitu   Petrus  dan  diatas  batu  karang  ini  Aku  akan

mendirikan  jemaat-Ku  dan  alam  maut  tidak  akan  menguasainya.  Kepadamu  akan

kuberikan kunci kerajaan sorga.” Dari ayat ini kita akan membahas dua hal yang penting,

yang  pertama  ungkapan  Batu  karang,  yang  kedua  yaitu   kalimat  yang  mengatakan

Kepadamu akan kuberikan kunci kerajaan Sorga. 

Kita  akan  mulai  dengan  yang  pertama:  Batu  Karang, dalam  bahasa  Yunani

πετρα yaitu  kata benda feminism dan Petrus πετροσ yaitu  kata benda Maskulin yang

berarti “batu.” Oleh sebab  itu batu karang dalam bentuk feminim tidak menunjuk kepada

Petrus  sendiri,  namun   kepada  Firman  Allah  yang  diucapkan  oleh  Iman  Petrus,  yaitu

pengakuan Iman Petrus (Engkau yaitu  Mesias Anak Allah yang hidup).  Bandingkan

dengan Efesus 2:20, Wahyu 21:14. Dalam Alkitab tertulis bahwa Firman Allah yaitu 

batu karang (Matius 7:24).  Hal  ini  berbeda dengan pandangan Katolik  bahwa Petrus

dianggap sebagai batu karang. Padahal jika membaca kitab Injil, kita akan menemukan

bahwa  Petrus  bukanlah  batu  karang  jemaat;  Ia  pernah  bersalah  sesudah  menerima

Firman  Yesus  (Matius  16:22,23;  26:69-75)  dan  juga  pernah  ditegur  Paulus  sebab 

tindakan munafik (Galatia 2:11-14).

39


Kemudian  hal  yang  kedua,  yaitu  tentang  kalimat  “Kepadamu akan  Kuberikan

kunci Kerajaan Sorga”,  kuasa yang di berikan oleh Tuhan Yesus tidak hanya kepada

Petrus. Kunci kerajaan sorga yaitu  hak khusus untuk memberitakan Injil dengan kuasa

rasuli. Semua rasul menerima hak itu dan dapat memakainya dengan kuasa ini .

Petrus yaitu  salah satu diantara mereka. Ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi juga

memiliki hak yang sama (Matius 23:13); hanya mereka menyalahgunakan hak itu. 

Mengenai  pemilihan  Matias  yang  dianggap merupakan kesalahan  para  rasul.

Untuk  menjawab  hal  ini   kita  harus  menafsirkan  nats  ini  (Kis  1:15-26)  dengan

melihat bahwa para rasul ada dalam pimpinan All