tif semacam ini sesungguhnya membantu mengumpulkan massa. Sesuatu
yang supranatural sedang berlangsung dalam gedung tua ini. William J. Seymour,
seorang pengkhotbah kesucian kulit hitam Gereja Baptis, baru tiba dari Houston,
memanggil orang-orang percaya untuk mengambil langkah ekstra. Dua langkah ekstra
ini sebenarnya yaitu : la ingin mereka "dikuduskan" dan "dibaptis dalam Roh
Kudus". Pembaptisan itu, katanya, akan diikuti dengan kemampuan berbahasa lidah.
Sebenarnya telah pernah ada beberapa orang berbahasa lidah yang muncul dengan
tibatiba di negeri itu dan di Eropa pada tahun-tahun silam, namun Azusa Street
merupakan ledakan terbesar. Pertemuan yang berlangsung di "pondok yang hampir
rubuh" ini berlanjut se-lama beberapa tahun lamanya. Banyak orang pergi ke sana hanya
untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.
Dunia ini sudah matang untuk kebangkitan. Akhir tahun 1800-an, terjadi Revolusi
Industri yang berat. Manusia menjadi gerigi dalam mesin-mesin warga . Celah
antara si kaya dan si miskin bertambah lebar. Malangnya, Gereja selalu berpaling
kepada orang kaya. Juga kelompok-kelompok yang secara tradisional bersifat "biasa",
seperti Baptis dan Methodis, lebih menekankan sopan-santun ketimbang kekuatan
205
rohani. Berkat para tokoh kebangkitan seperti Finney dan Moody, gereja-gereja menjadi
penuh. namun banyak yang menyatakan diri Kristen masih memiliki banyak
kekurangan.
Gerakan "kesucian" yaitu langkah awal menuju pembaruan. Gerakan ini – sebagian
besar dari Gereja Methodis – mencari "anugerah kedua" dari Allah, yaitu bahwa orang-
orang percaya akan "dikuduskan" untuk kehidupan Kris-ten yang suci. Ajaran Keswick
pun ada dampaknya di Eropa dan Amerika. Dalam Pertemuan tahunan Keswick di
Britania Raya, guru-guru Keswick meminta orang-orang Kristen: "Berjalan dalam kuasa
kebangkitan Kristus," "biarkan Kristus bertakhta dalam jiwamu." Tidak ada yang terlalu
radikal terjadi di sini, hanya dorongan untuk kepenuhan pengalaman Kristen, dengan
memakai bahasa yang kelak ditiru para pengikut Pentakosta.
Satu lagi aliran pemikiran yang menambah urgensi gerakan Pentakosta yang baru
muncul ini ialah pramillenialisme, yang dipopulerkan J. N. Darby dan Plymouth
Brethren. Pergantian abad membawa kedua-duanya, pra- dan pascamillenialisme, ke
depan. Banyak yang mewartakan berawalnya "abad Kristian", yaitu bahwa gereja (dan
teknologi) akan membawa ke kerajaan Allah. Namun, para pramillenialis berseru bahwa
akhir zaman sudah dekat, dengan menampilkan, seperti dinubuatkan, peluapan
kebangunan rohani.
Untuk mengetahui latar belakang gerakan Pentekosta ini kits harus mundur ke belakang
pada tahun 1896. William F. Bryant memimpin (gerakan) kebangkitan di Cherokee
County, Carolina Utara, yang menyertakan bahasa lidah. Sementara manifestasi ini
berlanjut, banyak orang yang telah dikeluarkan dari gereja, bangunan gereja dibakar dan
Bryant sendiri ditembak. Bahasa lidah tidak populer di Cherokee County.
Tentunya, kebangkitan Welsh tahun 1904 — 1906 memiliki dampak pada iklim
agama masa itu. Evan Roberts, seorang mantan penambang, yang mengadakan
perjalanan di seluruh Wales dan di lalu hari di dunia, memproklamasikan
pelayanan Roh Kudus. Bahasa lidah tidak ditekankan secara khusus, namun kekuatan
roh ditekankan. Sepasang pendeta wilayah Los Angeles telah mengunjungi Wales dan
berupaya membawa kebangkitan ini ke gereja-gereja mereka, dengan sedikit sukses.
Namun, benih pemulihan telah ditanam di Los Angeles.
Atau Anda ingin melihat Gerakan Pemulihan, yang mengajak kembali ke berkat dan
praktik-praktik gereja rasuli, khususnya penyembuhan. John Alexander Dowie mengaku
dirinya Elia Sang Pemulih dan memulai komunitas Kristen (yang di lalu hari
menjadi Zion, Illinois). Di Maine, Frank Sandford juga mengaku sebagai Elia Sang
Pemulih, dengan memulai sebuah komunitas di Shiloh.
Pada tahun 1900, Charles Fox Parham menghabiskan waktu selama lebih kurang enam
minggu di Shiloh. Seorang pengkhotbah kesucian Gereja Methodis, Kansas, sedang
mencari "iman rasuli". Ia bersama-sama istrinya telah memulai "rumah penyembuhan"
di Topeka. Di sana orang-orang dapat menginap dengan Cuma-cuma sementara mereka
berdoa untuk penyembuhan. Di Shiloh, Parham terkesan dengan Sekolah Alkitab "the
Holy Ghost and Us" (Roh Kudus dan Kita) Sandford. Sekolah ini dengan togas
anti-akademik. Satu-satunya teks yaitu Alkitab, gurunya hanya Roh Kudus. saat
Parham kembali, ia mendirikan sekolah serupa. Kira-kira empat puluh orang murid
mendaftarkan diri.
206
Pada bulan Desember tahun itu, Parham meminta murid-muridnya mencari dalam Kitab
Suci jika ada tanda-tanda yang mengisyaratkan pembaptisan Roh Kudus. saat mereka
berkumpul untuk kebaktian semalam suntuk pada Malam Tahun Baru, mereka
mendapatkan jawabannya: bahasa lidah. Agnes Ozman berdoa untuk menerima Roh
Kudus dan "kemuliaan turun ke atas dirinya", seperti diungkapkan Parham, "suatu
cahaya tampaknya mengelilingi kepala dan mukanya, dan ia mulai berbicara dalam
bahasa China dan tidak dapat berbahasa Inggris selama tiga hari". Pada bulan
berikutnya sebagian besar mahasiswa mengalami hal serupa.
Upaya Parham menyebarkan kebangkitan ini di Kansas City dan di Lawrence gagal.
Gereja-gereja menentangnya, harian-harian mengejeknya. Pada tahun 1903, seorang
wanita dari Texas sembuh setelah Parham mendoakannya, dan ia mengundang Parham
untuk memimpin suatu kebangkitan di Galena, Texas. Hal itu meraih sukses. Menjelang
tahun 1905, pertemuan-pertemuan "Pentekostal" atau "Full Gospel" semacam itu
diselenggarakan di Missouri, Kansas dan Texas dengan kira-kira 25.000 pengikut.
Setelah suatu kampanye di Houston pada tahun 1905, Parham mendirikan satu lagi
sekolah Alkitab di sana. Salah seorang mahasiswa yang lebih menjanjikan ialah:
William J. Seymour. Seorang wanita dari .Los Angeles mengunjungi sekolah Houston
dan mengalami baptisan Roh Kudus. Sekembalinya, ia mendesak gereja misi
Nazarenenya untuk memanggil Seymour sebagai pendeta pendamping.
Ironisnya, gereja yang telah membawa kebangkitan Pentekosta ke Los Angeles tidak
ingin berhubungan dengan hal itu. Penekanan Seymour tentang bahasa lidah
menyinggung beberapa anggota gereja dan selanjutnya ia ditolak gereja. Akhirnya, ia
memimpin kebaktian di rumah beberapa orang temannya. Kebaktian ini berlanjut
selama tiga hari tiga malam. Menariknya, makin banyak orang dan jumlahnya melebihi
jumlah yang dapat ditampung di rumah ini . Orang-orang ini mengadakan
persiapan untuk berpindah ke suatu bangunan di Azusa Street, yang dahulu yaitu
Gereja Methodis. Di sana duduk (dan berdiri) di alas bangku papan, di antara bahan-
bahan bangunan, orang-orang itu meneruskan kebaktian yang dipenuhi Roh Kudus.
Gereja itu dinamai Apostolic Faith Gospel Mission (Gereja Misi Iman Rasuli).
Seluruh jajaran pembaruan spiritual tampaknya menyatu di gedung. Gedung itu
merupakan "Mekah"-nya gerakan Pentekosta. Selama bertahun-tahun lamanya tempat
ini merupakan kiblat bagi gerakan Pentekosta. Orang-orang berkunjung dan
berupaya membawa kembali apa saja yang mereka temukan di sana.
Kendati di sini pusat geografisnya, gerakan Pentekostal sangat majemuk. Terdapat
sejumlah pemimpin yang berhaluan kharismatik, termasuk Seymour dan Parham, yang
mengumpulkan pengikut-pengikut dan bertengkar satu dengan yang lain untuk hal-hal
sepele. Gerakan ini memang secara sengaja bersifat antiorganisasi dan anti-
denominasi – berjalan terus ke mana Roh Kudus memimpin. Hal ini menjelaskan
mengapa dewasa ini aliran-aliran Pentekosta yang ada hanya dalam jumlah kecil.
Assemblies of God (Sidang Jemaat Allah), yang merupakan aliran Pentekosta terbesar
dewasa ini, dimulai sebagai upaya mendapatkan kohesi – dan beberapa peraturan –
dalam gerakan ini . Ada tuduhan mengenai penyelewengan keuangan dan seksual
di pihak para pengkhotbah terkemuka. Terdapat juga serangkaian pertikaian doktrin di
antara mereka.
207
Sekelompok Pentekostal Selatan, yang dipimpin Eudorus N. Bell, menamakan diri
mereka Iman Rasuli dan mengupayakan persatuan dalam gerakan ini . saat yang
lain bergabung, namanya pun diganti menjadi Church of God in Christ (Gereja Tuhan
dalam Kristus). Menjelang 1913, telah disertakan 352 pendeta dalam keanggotaan yang
tidak terikat. Pada bulan April 1914, kelompok ini memanggil para pengikut Pentekosta
untuk menghadiri pertemuan di Hot Springs, Arkansas. Tujuannya: kesatuan, stabilitas,
mendapat pengesahan bagi gerakan ini , dan mengukuhkan program misi serta
mendirikan sekolah Alkitab. Maka, lahirlah aliran Assemblies of God.
Sementara isu Pentekosta bersifat memecah-belah di kalangan gereja-gereja non-
Pentakosta, gerakan Pentakostal sendiri mungkin yaitu tangan kekristenan yang paling
berenergi di abad kedua puluh ini. Tekanannya akan misi dan periginjilan telah
menghasilkan pertumbuhan luar biasa bagi gerakan ini , baik di Amerika Serikat
maupun di dunia.
208
90) Tahun 1910-1915 Penerbitan Buku The Fundamentals
Memunculkan Gerakan Fundamentalis
Lyman Stewart (1840-1923)
Sampul depan buku The fundamentals jilid 1
Lyman Stewart memiliki sebuah mimpi. Ia pun memiliki uang banyak. Stewart,
presiden Union Oil Company, memperhatikan gelombang pasang modernisme di
gereja-gereja Amerika. Sesuatu harus dilakukan tentang ini; orang-orang harus
disiagakan; orang-orang Kristen harus disadarkan akan ancaman bagi iman
tradisionalnya. Mungkin sebuah buku, sederetan buku-buku, upaya informasi besar-
besaran. Namun Stewart sadar bahwa ia bukan seorang terpelajar.
saat ia sedang duduk di gereja, ia mendengar berita dari A.C. Dixon, pendeta
Chicago's Moody Church (Gereja Moody Chicago). Inilah orangnya yang ia butuhkan.
Usai kebaktian, Stewart membicarakan idenya dengan Dixon. "Ini dari Tuhan," kata
Dixon. "Mari kita berdoa."
Itulah awal upaya penerbitan yang membuat gerakan fundamentalis memperoleh
namanya dan mungkin juga fokusnya. Dixon membentuk suatu badan yang
mengesankan, terdiri dari para pemuka Kristen, dan membentuk Perusahaan Penerbitan
Testimony. Lyman Stewart mendapat bantuan dana dari saudaranya, Milton. Semuanya
terkumpul 300.000 dolar A.S bagi proyek ini . Guru-guru Alkitab terkemuka pada
waktu itu diminta menulis artikel untuk buklet berseri 125 halaman ini. Artikel-artikel
209
ini meliputi pokok-pokok doktrin dasar serta isu-isu penting waktu itu –
sosialisme, evolusi dan uang. Dixon mengedit lima artikel yang pertama lalu
berpindah ke London. Louis Meyer mengedit lima berikutnya sebelum ia meninggal. R.
A. Torrey mengedit dua yang terakhir. Nama Kakak-heradik Stewart tidak disebutkan
dalam kedua belas buklet ini , hanya disebutkan sebagai "Dua Orang Awam
Kristen". Telah tercetak kira-kira 3 juta eksemplar dalam kurun waktu enam tahun
berikutnya, untuk dibagikan kepada "setiap pendeta, penginjil. misionaris, mahasiswa
teologi, pembina sekolah Minggu, sekretaris YMCA atau YWCA" yang dapat ditemui.
Buku ini juga dikirim ke luar negeri, sebagian besar ke Inggris.
Kurang jelas dampak apa yang dihasilkan buku-buku ini. Seperti apologi-apologi para
Bapa Gereja awal, The Fundamentals mungkin telah berbuat lebih banyak untuk
menyatukan dan mendidik orang-orang yang telah setuju dengan mereka dibandingkan
meyakinkan dan menobatkan pembaca-pembaca yang menjadi sasaran mereka. Curtis
Lee Laws, seorang editor penganut Baptis, yang menemukan istilah fundamentalis pada
tahun 1920, merujuk ke para Baptis konservatif yang berpegang pada "fundamental-
fundamental iman".
Melihat ke belakang, tampaknya gerakan fundamentalis ini membaurkan beberapa tren
gereja Amerika yang ada sebelumnya, dan dengan keras menentang beberapa tren yang
ada dalam warga serta sarjana liberal. Sungguh sukar dimengerti. Gerakan ini
merupakan gerakan sosial dan teologis, yang gelisah dan evangelistik, triumfalis dan
putus asa.
Gerakan fundamentalis memulai dengan tradisi kebangunan rohani yang dicontohkan
Dwight L. Moody. Gerakan ini mengajarkan bahwa pokok-pokok teologi tidaklah
penting jika dibandingkan dengan pertobatan jiwa bagi Kerajaan Allah.
Gerakan ini ditambah juga oleh tradisi hesucian, dengan akar yang kukuh pada aliran
Methodis, dilanjutkan dengan konferensi-konferensi Keswick pada tahun-tahun terakhir
1800-an. Kebenaran pribadi dipandang sebagai pertumbuhan mutlak kehidupan yang
dekat dengan Yesus. Selain itu, digerakkan pula oleh sentimen Kerajaan Seribu Tahun
yang menjamur.
Mendekati abad kedua puluh, ada perasaan bahwa tidak lama lagi dunia ini akan
berakhir. Langkah-langkah Revolusi Industri yang pesat membuat banyak orang
bertanya-tanya di mana semuanya ini akan berakhir. Konferensi-konferensi nubuat
muncul dalam jumlah bestir pada tahun-tahun 1800-an akhir. Sejumlah orang Kristen
melihat sisi baik dari apa yang dicapai manusia, meramalkan bahwa tahun 1900-an akan
merupakan "abad Kristian". Para pascamillenialis meyakini bahwa kekristenan akan
membawa era keadilan dan kedamaian. namun gejolak sosial pada masa itu juga
menyuburkan anggapan pramillenialisme, khususnya ditinjau dari dispensasionalisme J.
N. Darby., Banyak yang beranggapan bahwa dunia akan memburuk hingga Kristus
datang untuk mengakhirinya.
Mungkin Revolusi Industri telah mengaduk campuran-campuran ini menjadi satu,
namun katalis yang sebenarnya yaitu "modernisme". Komponen utamanya yaitu teori
evolusi Charles Darwin. Sepanjang sejarah ilmu pengetahuan (sekurang-kurangnya
sejak Inkuisisi), telah ada semacam gentleman's agreement antara Gereja dan
laboratorium: Telah diasumsikan bahwa kebenaran ilmu pengetahuan akan sesuai
dengan kebenaran agama. Sekarang, dengan tiba-tiba saja Darwin menerbitkan
210
gambaran tentang evolusi spesies dan akhirnya asalusul manusia yang tidak sepaham
dengan ajaran gereja. Lebih-lebih lagi, ide-ide ini mulai mendapat pengakuan dari dunia
akademis.
Sementara itu, di antara para filsuf dan para teolog (khususnya di Jerman) ada ide-ide
baru tentang Allah dan Alkitab yang sedang beredar. Teori-teori ini merugikan
absolutisme yang telah diterima gereja selama berabad-abad Wibawa Alkitab serta
identitas Kristus yang telah diakui, dipertanyakan. Lebih-Iebih lagi, ide-ide ini dibahas
di seminari-seminari yang jumlahnya sangat banyak.
Orang-orang biasa diberitahu para akademisi dan rohaniwan ini bahwa yaitu bodoh
mempercayai Alkitab, bahwa yaitu terhormat mempercayai evolusi. Orang-orang
konservatif Kristen melawan hal ini. Pada tahun 1895, Konferensi Alkitab Niagara
menentukan lima iman Kristen "yang pokok": (1) ketidakkeliruan Kitab Suci; (2)
kelahiran (dari) perawan dan keilahian Kristus; (3) penanggungan dosa-dosa manusia
oleh Kristus; (4) kebangkitan fisik Kristus; (5) kembalinya Kristus. Hal-hal ini telah
diakui secara luas di gereja-gereja konservatif.
Namun, hal ini hampir tidak ada hubungannya dengan fundamentalisme. Anda dapat
berbondong-bondong mengadakan oposisi terhadap teori Darwin, namun jika Anda
mulai menggembor-gemborkan Immanuel Kant dan Friedrich Schleiermacher, Anda
akan kehilangan beberapa simpatisan. Ada yang berpendapat bahwa teori-teori ini akan
lenyap begitu saja; yang lain berpendapat lebih baik berkonsentrasi pada penginjilan
dan misi (gereja saat itu masih berada di tengah-tengah puncaknya kesadaran akan
misi).
Perang Dunia I telah memicu para fundamentalis beraksi. Sebelum Amerika masuk
dalam kancah peperangan, banyak orang Kristen (seperti juga banyak orang Amerika)
menentang hal itu. Sesungguhnya, pada taraf-taraf awal, orang-orang Kristen
konservatif diserang orangorang Kristen liberal dengan tuduhan tidak patriotik dan tidak
mendukung usaha-usaha perang. (Beberapa oposisi kaum konservatif terhadap perang
ini berasal dari paham kedamaian yang ada di Alkitab, sebagian sebab ingin "terpisah"
dari dunia.)
Namun, setelah kekejaman orang-orang Jerman disiarkan (dan mungkin terlampau
dibesar-besarkan), langsung saja para pengkhotbah menyimpulkan kaitannya: Jerman
yaitu tempat kelahiran falsafah orang-orang modern! Jadi inilah akibatnya –
kebrutalan, kebiadaban dan kehancuran.
Tiba-tiba saja masa depan dunia dalam keadaan bahaya. Gerakan fundamentalis
sesungguhnya mulai bergerak setelah perang dunia. Asosiasi Fundamental Kristen se-
Dunia, yang dipimpin William B. Riley, yang dibentuk pada tahun 1919,
memperingatkan betapa bahayanya modernisme bagi warga Amerika. Para
pengkhotbah seperti Billy Sunday dan John Roach Straton mulai mengkritik keburukan-
keburukan yang berjangkit dalam warga pascaperang. sebab bekerja sebagai
revivalis, mereka mengarahkan tradisi kesucian ke luar. Bangsa yang besar ini akan
terjerumus ke dalam kebiadaban, seru mereka, kecuali mereka kembali ke kebenaran
Allah.
Selama lima tahun berikutnya dan seterusnya, kaum fundamentalis mendapat dukungan.
Pada denominasi-denominasi Protestan utama, khususnya di antara kaum Northern
211
Baptist dan Presbiterian di utara, kekuatan-kekuatan fundamentalis mencoba
memaksakan kembali ke hal-hal dasar. Serangkaian berbagai keyakinan dasar,
pernyataan ajaran, kebutuhan penginjilan, dan penelitian pada seminari-seminari,
semuanya ini telah disusun dalam agenda. Mereka kurang meraih sukses. Dalam banyak
hal, hasil akhirnya yaitu perpecahan aliran.
Perang epik ini berlangsung bukan dalam konvensi gereja, namun di ruang pengadilan di
Dayton, Tennessee, pada sidang pengadilan Scopes yang terkenal itu. Mata seluruh
bangsa tertuju pada pengacara-pengacara selebriti – William Jennings Bryan di pihak
fundamentalis, Clarence Darrow di pihak guru sekolah yang evolusionis. Bryan
memenangkan pertempuran, namun kalah dalam peperangan. Scopes dinyatakan
bersalah (keputusannya lalu dibatalkan), namun Darrow membuat Bryan tampak
buruk. Opini publik mungkin sudah tidak mendukung para fundamentalis, namun
pengadilan telah mengesahkannya. Mereka telah dikenal dan diejek sebagai rimba
terpencil dan orang-orang yang fanatik, namun tidak berpengetahuan.
Setelah tahun 1925, fundamentalisme mundur, terpisah dari dunia ini, menunggu
kedatangan Kristus dan mempelajari firman Allah yang tidak mungkin salah. Kelompok
ini tetap merupakan kelompok yang memiliki subkebudayaan yang tertutup, yang
membangkitkan gerakan evangelikal tahun 1940-an dan seterusnya, serta melahirkan
kebangkitan neofundamentalis sekitar tahun 1980.
212
91) Tahun 1919 Tafsiran Surat Roma oleh Karl Bath Diterbitkan
Karl Barth (1886-1968)
Dr. Karl Barth sedang santai di antara sesi-sesi Sidang Raya I
Dewan Gereja-gereja se-Dunia bersama Dr. Emil Brunner
Pada abad kesembilan belas, liberalisme telah menekankan kemajuan manusia dan
perubahan dalam dunia.
Namun jika manusia telah maju sebegitu jauh, mengapa ia harus terlibat dalam perang
dunia? Jika penemuan-penemuannya dalam teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi
begitu efektif, mengapa ia mengarahkan penemuan-penemuan itu kepada yang lain?
Manusia telah tersanjung dengan kemampuannya sendiri. Langkah-langkah panjang
yang dicapai ilmu pengetahuan tampaknya membuat dunia menjadi tempat yang tidak
misterius lagi. dibandingkan mencari Allah yang supranatural, banyak orang mencoba
mewujudkan surga di atas bumi.
Darwin dan para ahli ilmu pengetahuan lainnya mempertanyakan unsur-unsur
supranatural yang dikandung Alkitab. Apakah manusia sesungguhnya ciptaan khusus?
Apakah mujizat benar-benar dapat terjadi? Apabila kita dapat mengatur sendiri alam ini,
mengapa kita harus membutuhkan Allah? Teologi liberal pada zaman ini
menggambarkan Allah tanpa murka, Kristus yang hanya mengajarkan etika, dan
kerajaan dunia ini.
Akan namun , Perang Dunia I mempertanyakan semuanya itu. Dengan kemajuan Eropa
Kristen yang masih meragukan, banyak orang melihat sifat kemerosotan pemikiran
liberal. Salah satunya yaitu seorang pendeta, Karl Barth. sebab berhadapan dengan
kekejainan peperangan, pendeta liberal ini berpaling pada Surat Paulus untuk Jemaat
213
Roma. Apa yang ia temukan di situ mengubah imannya dan mewujudkan gejolak dalam
teologi yang mengingatkannya pada Agustinus, Luther dan Wesley.
Tafsiran Surat Roma, yang disebut "bom di tempat bermain para teolog liberal",
menerangkan Allah sebagai yang berdaulat dan transenden. Kejatuhan manusia seperti
yang ada dalam Kitab Kejadian 3 yaitu benar, ujar Barth. Di situ, seluruh keberadaan
manusia telah rusak sebab dosa dan ia tak lagi dapat menemukan kebenaran Allah
dengan usahanya sendiri. Allah harus menampakkan diri-Nya pada manusia, dan la
melakukannya melalui Yesus Kristus.
Pernyataan ulang doktrin Barth ini, yang memakai istilah-istilah Protestan klasik,
mengundang diskusi. Menjelang tahun 1930, pendeta ini telah menjadi profesor
teologi di Jerman.
Bersama-sama dengan yang lain di Confessing Church (Gereja yang Mengaku), Barth
menentang para Nazi dan menulis sebagian besar "Barmen Declaration" (Deklarasi
Barmen), yang mengajak orang-orang Kristen menentang tipu muslihat Hitler yang
dipakai untuk melawan Gereja. Satu tahun lalu , pada tahun 1935, Barth diusir dari
Jerman dan ia pergi ke Basel, Swiss, untuk mengajar teologi. Selama berada di sana ia
banyak menulis, termasuk karya utamanya Church Dogmatics (Dogmatika Gereja),
suatu mahakarya Protestan.
Ide-ide Barth menjadi dasar bagi neo-orthodoksi. Teologi abad kedua puluh ini
antiliberal, dalam tekanannya pada studi Alkitab, dosa, dan dalam sikapnya terhadap
kedaulatan Allah. Namun, teologi ini bersifat ambivalen terhadap historisitas Alkitab,
khususnya pada Perjanjian Lama. Sambil menegaskan sebagian besar ajar-an Alkitab,
teologi ini tidak perlu menerima bahwa setiap peristiwa dalam Alkitab terjadi dalam
ruang dan waktu. Para pengkritiknya telah mengatakan bahwa neo-orthodoksi berupaya
juga "menikmati hasilnya dari kedua sisi yang berbeda", dengan menegaskan doktrin
tradisional, sementara memberi juga peluang bagi para skeptik yang meragukan sifat
historis Kristen.
Para teolog seperti Emil Brunner, Gustaf Aulen, Reinhold, Richard Niebuhr dan
Friedrich Gogarten sepaham dengan kepercayaan Barth tentang kedaulatan Allah dan
dosa manusia, serta menekankan bahwa iman berarti lebih dari sekadar mengatakan ya
terhadap beberapa proposisi teologis. sebab ne-oorthodoksi menerima perlunya
"lompatan iman" untuk mengatasi kebenaran yang tampaknya sulit dan berkontradiksi,
maka paham itu disebut teologi krisis.
Di dunia yang telah mengalami dua peperangan berat, ide-ide Barth membawa kembali
gereja-gereja pada tema-tema dosa dan kedaulatan Allah. Banyak orang Kristen
menganggap bahwa tulisan-tulisannya yang berjilid-jilid itu merangsang dan
membingungkan. Barth bermain-main dengan universalisme, ide bahwa akhirnya Allah
akan menyelamatkan semua orang, meskipun ia tidak pernah berbenturan dengan
pertanyaan itu. Dalam teologinya yang berpusat pada Kristus, ia sering kali
menempatkan Kristus dalam Perjanjian Lama di tempat-tempat yang mustahil. Ia juga
tidak setuju bahwa Kitab Suci tidak dapat salah atau tidak dapat keliru.
Dari sisi positif, Barth mendorong pemahaman Alkitab yang serius, menekankan
khotbah-khotbah yang dinamis dan mengembalikan manusia pada pengertian
214
kebutuhannya akan Allah Yang Mahakuasa. saat banyak orang berpaling pada dunia
untuk berharap, ia panggil mereka kembali untuk menatap kepada Kristus.
215
92) Tahun 1921 Radio Kristen Pertama Mengudara
Paul Rader (1879 - 1938) , pelopor penyiar radio Kristen
Radio itu baru berumur dua bulan. Westing-house Company yang memulainya di
Pittsburgh, dengan siaran pemilihan umum pada tahun 1920, memakai kode
panggilan KDKA. Para pendengar pertama memakai pesawat buatan sendiri,
namun sekarang Westinghouse dengan pesat menjual pesawat-pesawat radio yang
sudah dibuat sebelumnya, dan para pembeli membutuhkan acara untuk didengarkan.
Dalam upaya menyusun acara, stasiun siaran memutuskan menyertakan pelayanan
gereja dalam siarannya.
Seorang insinyur di Westinghouse yaitu anggota Gereja Episkopal Calvary di
Pittsburgh. lalu diadakanlah persiapan untuk menyiarkan kebaktian dari sana
pada hari Minggu pertama, petang, pada tahun 1921. Pendeta senior yang skeptis
membiarkan rekannya, Lewis B. Whittemore, melayani kebaktian ini . Dua orang
insinyur KDKA – seorang Katolik, yang lain seorang Yahudi – menangani peralatan itu.
Mereka mengenakan jubah koor agar kehadiran mereka tidak menarik perhatian para
jemaat. Tanggapan terhadap siaran itu begitu positif hingga kebaktian itu menjadi acara
tetap dalam KDKA.
Di daerah Chicago, pengkhotbah Paul Rader memboyong kwartet bass ke "studio" di
atap sebuah gedung, di mana tersedia sebuah peti dengan sebuah lubang pada satu sisi.
"Anda bersiap-siap saja dengan instrumen Anda terarah ke lubang itu," kata teknisi itu.
"Bila saya katakan main, Anda pun main."
Ia masukkan mikrofon telepon tua ke dalam lubang itu dan berkata, "Main." Kwartet
ini pun main. lalu Rader berkhotbah. Tanggapan baik yang mereka terima
membuat Rader mencari stasiun-stasiun lain di daerah Chicago. Melihat WBBM tutup
pada hari Minggu, ia mengatur untuk memakai studio ini . Rader menjalankan
stasiun seminggu sekali, setiap hari Minggu, selama empat belas jam sehari – WJBT,
"Where Jesus Blesses Thousands".
Seperti pada kemajuan teknologi lain, orang Kristen Evangelikal khawatir dengan
pengenalan pada radio ini. Sesungguhnya bukankah iblis yaitu "pangeran penguasa
udara"? Sebagian besar pelopor pengkhotbah radio justru dihadapkan dengan lebih
banyak penentang dari gereja ketimbang dari warga luar.
Di Omaha, Nebraska, WOAW (lalu menjadi WOW) memulai siarannya pada
bulan April 1923. Tawaran stasiun itu ditolak beberapa pengkhotbah, sebelum mereka
216
meminta R.R. Brown, seorang pendeta dari Persekutuan Kris-ten dan Misionaris
(Christian and Missionary Alliance) yang merupakan orang baru di kota itu. Brown
berusaha meminta saran seorang teman yang mengatakan bahwa ia telah berdoa agar
Allah "mendapat keuntungan" dengan stasiun radio baru (dan yang berpotensial) ini.
Mungkinkah keuntungan itu ada pada diri Brown?
Brown setuju melakukan acara pertama, namun saat ia meninggalkan studio itu seusai
siaran, seseorang datang menemuinya dengan pernyataan bahwa pikirannya telah
diubah Roh Kudus dan ia bertobat sebab siaran itu. Brown meneriakkan: "Halleluya!
Pengurapan dapat dilakukan melalui transmisi!"
Di Chicago, WGES sedang mempersiapkan siaran jarak jauh untuk meliput Illinois
Product Exposition pada tahun 1925. Siaran hampir mulai namun para musisi belum juga
tiba. Secara kebetulan, seorang pejabat stasiun mendengar dua orang bocah sedang
memainkan alat musik terompet di tenda Moody Bible Institute, ia berlari untuk
"meminjam" jasa anak-anak ini. Beberapa hari lalu , stasiun ini mengundang
Moody Bible Institute untuk mengadakan program satu jam setiap hari Minggu. Hal ini
akhirnya membuat Moody memiliki stasiun sendiri, WMBI.
Pada tahun 1928, Donald Grey Barnhouse menjadi pengkhotbah pertama yang
menyewa jaringan nasional dengan mengudara di CBS dari Philadelphia's Tenth
Presbyterian Church (Gereja Presbiterian Philadelphia Kesepuluh). Pada tahun 1930,
Clarence Jones dan Reuben Larson meluncurkan stasiun radio penginjilan pertama,
HCJB, di Quito, Ekuador – stasiun radio pertama di negeri itu. Dalam masa demam
radio pada pertengahan tahun 1920-an, banyak gereja dan lembaga-lembaga pelayanan
mulai mengadakan siaran. Menjelang tahun 1928, terdapat enam puluh stasiun radio
keagamaan. lalu Komisi Radio Federal. melembagakan peraturan-peraturan baru
dengan menstandarkan gelombang dan menghilangkan kekacauan. Peraturan-peraturan
ini mematikan stasiun-stasiun kecil, namun membantu yang telah kokoh. Menjelang
tahun 1932, hanya tiga puluh stasiun keagamaan yang tinggal. Namun, pada setengah
abad berikutnya, kekuatan media Kristen bertumbuh. Para pemimpin seperti Billy
Graham, Rex Humbard, Oral Roberts dan Pat Robertson, dengan tidak melupakan
Uskup Fulton Sheen, yaitu orang-orang pertama yang melakukan siaran melalui
televisi pada tahun 1950-an dan 1960-an. Radio dan TV memainkan peran penting
dalam kebangkitan kembali fundamentalis pada tahun 1970-an.
Awal mula gerakan dalam radio Kristen, kembali pada tahun dua puluhan,
menunjukkan sedikit skizofrenia kaum fundamentalisme Amerika. Istilah umum untuk
hal itu yaitu Pemisahan. Para pengkhotbah fundamentalis seperti Billy Sunday
meminta para pendengar agar menjauhi "keduniawian" dalam segala bentuknya.
Namun, para fundamentalis juga merupakan pengurus bagi Injil yang keluar. Agar setia
padanya, mereka harus memberitakannya ke luar. Hal ini membutuhkan segala cara
yang memungkinkan – termasuk gelombang radio – untuk mengajarkan tentang Yesus.
Dengan demikian, bangkitnya radio Kristen merupakan pendahulu gerakan evangelikal
pada tahun 1930-an dan 1940-an, di mana dorongan untuk penginjilan mulai
melunakkan garis-garis keras kaum separatis.
saat siaran televisi Kristen lebih meluas dari radio Kristen, siaran keagamaan menjadi
bisnis besar. Televisi telah menawan publik Amerika sebegitu rupa sehingga menjadi
sumber utama bagi kegiatan waktu senggang, ataupun kala tidak beraktivitas. Orang-
orang Kris-ten pun telah tertarik pada televisi. Para pengkhotbah yang berjiwa usaha
217
membangun organisasi-organisasi dan institusi-institusi (tamantaman untuk bersantai,
perguruan tinggi-perguruan tinggi, katedral-katedral kristal) atas dasar pelayanan
televisi mereka. Mereka pun berupaya meniti karir dalam kancah politik pada tahun
delapan puluhan, dan salah seorang dari mereka yang berupaya menjadi presiden
mereka yaitu Pat Robertson.
Pelayanan televisi keagamaan ini menjangkau hanya sebagian kecil publik Amerika
Utara. Para analis rating audiens siaran duniawi mengetahui hal itu, dan tidak melihat
bahwa program keagamaan sebagai ancaman besar untuk merebut para audiens. namun
orang-orang Kris-ten yang telah terpikat oleh siaran itu memikirkan bahwa sekurang-
kurangnya mereka telah menghadirkan diri dalam dunia televisi yang kuat dan
mensubsidikan uang sebesar dua miliar dolar Amerika per tahun untuk siaran
keagamaan menjelang akhir tahun 1980-an.
Sedihnya, skandal moral yang melibatkan dua dari antara pelayan-pelayan besar
mengumpulkan lebih banyak "angka rating rata-rata" pada perhitungan pendengar
dibandingkan program-program televisi keagamaan yang telah dicapai selama ini. Seperti
televisi mengubah cara Amerika memilih para politisinya pada tahun tujuh puluhan dan
delapan puluhan, maka siaran keagamaan di televisi membawa dampak bagi persepsi
umum tentang hakikat dan arti kekristenan. Terlampau dini untuk mengetahui
bagaimana televisi keagamaan berdampak pada gereja masa kini, namun penting untuk
menyelidikinya.
218
93) Tahun 1934 Cameron Townsend Memulai Institut Linguistik
Musim Panas
William Cameron Townsend (1896 – 1982) dan istrinya Elvira Townsend bersama 2
orang Indian Tzeltal di Mexico
Cameron Townsend bernyanyi bersama Indian Tzeltal di Mexico
Cameron Townsend mendapatkan pelajaran awal dalam hubungan antara linguistik dan
penginjilan. Sebagai seorang misionaris muda di Guatemala, ia bekerja keras mendekati
orang-orang jalanan dan menanyakan hubungan mereka dengan Kristus. Ia menghafal
kalimat perkenalannya dalam bahasa Spanyol: "Tahukah Anda tentang Tuhan Yesus
itu?" la tidak tahu bahwa Yesus itu yaitu nama pertama yang umum di antara orang
Spanyol, dan istilah "Tuhan" (Lord) – Senor – juga artinya "Tuan" (Mister). Ia
mengharapkan tanggapan yang akan memberi dia kesempatan berbicara tentang hal-hal
spiritual. Namun, yang ia dapat yaitu suatu kenyataan, "Maaf, tidak kenal. Saya pun
orang asing di sini."
Itu terjadi pada tahun 1917. Sebagian besar pemuda Amerika seusianya sedang
berperang di Eropa. Mungkin, melihat tubuh Townsend yang lemah, pejabat yang
merekrutnya menawarkan dia menjual Alkitab di Guatemala.
Pada awalnya, mungkin terlihat bahwa Townsend terlibat dalam pekerjaan berat.
Namun akhirnya ia mempelajari bahasa Spanyol dan mulai bekerja di antara orang-
orang Indian yang beriman. Terbeban bekerja untuk Indian Cakchiquel di dataran
tinggi, Townsend mengetahui bahwa di antara mereka hampir tidak ada yang
219
mengetahui bahasa Spanyol. Agar berdampak terhadap mereka, ia harus mempelajari
bahasa mereka.
Hal ini tidaklah mudah. Istrinya, Elvira, dalam surat doanya menulis, "Berdoalah agar
kami dengan cepat dapat mempelajari bahasa yang mengerikan ini. Tanpa tata bahasa
atau buku-buku apa pun untuk dipelajari, keadaan sungguh menyulitkan. Kami memiliki
sebuah buku kecil, di situlah kami mencatat istilahistilah dan kalimat-kalimat yang
diucapkan orang-orang Indian bila kami mengunjungi mereka. Namun, beberapa istilah
ini bunyinya begitu aneh sehingga sulit dicatat. namun , tentunya bahasa Cakchiquel ini
datangnya dari Tuhan, sama seperti bahasa Inggris, Spanyol atau Swedia, dan kami tahu
bahwa Ia akan membuat kami mengerti bahasa Indian ini agar kami secepatnya dapat
menjelaskan Injil kepada mereka dalam bahasa mereka sendiri."
Doa ini terkabul. Menjelang tahun 1931, pasangan Townsend telah menghasilkan
Perjanjian Baru lengkap dalam bahasa Cakchiquel. Tidak lama lalu ,
memburuknya kesehatan mereka memaksa mereka kembali ke Amerika Serikat. Cam
berharap pindah ke sebuah pelayanan di Amerika Selatan setelah kesehatan mereka
pulih. L. L. Legters, seorang rekan dan pendukung karya Townsend di Guatemala,
meminta dia bekerja di Mexico, lebih dekat ke rumah. Townsend dan Legters bersama-
sama mengembangkan suatu ide Baru.
"Saya menganjurkan supaya kita mendirikan institut musim panas tempat misionaris
dapat dididik bagaimana mempelajari suatu bahasa untuk menulis dan menerjemahkan
Injil," tulis Townsend di lalu hari. sebab hanya dua universitas di Amerika
Serikat yang memberi kursus dalam linguistic descriptive (bagaimana suatu bahasa inti
lazimnya dipakai), dan program empat tahun ini memakan waktu terlampau lama bagi
para misionaris, maka sesuatu yang khusus dibutuhkan. Legters dan Townsend
meneruskan dengan dua jalur. Mereka memutuskan memulai sekolah bahasa bagi para
misionaris di Amerika Serikat, dan mereka berencana meminta pemerintah Mexico
mengizinkan mereka mengirim para penerjemah Alkitab untuk mempelajari bahasa-
bahasa Indian yang belum ditulis.
Pada tahun 1934, Summer Institute of Linguistics (Institut Linguistik Musim Panas)
dimulai di sebuah ladang di Sulphur Springs, Arkansas, dengan kurikulum yang
mengesankan. Apabila para profesornya tidak dapat datang ke institut, maka siswa
institut itulah yang mendatangi para profesor (hanya ada dua orang siswa pada tahun
pertama dan beberapa lagi pada tahun kedua).
Pada awalnya, para penerjemah ini hampir tidak mendapat kerja sama dari pemerintah
Mexico. namun , Townsend memiliki beberapa orang terpelajar tingkat tinggi di
pihaknya. llia yaitu salah seorang pembuat eksperimen yang sangat terkemuka dalam
ilmu bahasa yang sedang mencuat. Akhirnya, para pemimpin Mexico melihat
pentingnya mempelajari bahasa-bahasa Indian ini dan memberi dukungan penuh
bagi karya Townsend.
Townsend tidak pernah seorang diri dalam organisasi. Para misionarislah yang
melakukan pekerjaan misi, bukan pejabat-pejabat di rumah (Amerika Serikat). Namun,
menjelang awal 1940-an, pekerjaan penerjemahan ini menjadi beban berat untuk
dikerjakan dalam basis free-lance. Institut Musim Panas pindah ke Universitas
Oklahoma, dan di situ terdapat 130 mahasiswa. Ada empat puluh empat penerjemah
yang sudah bekerja di Mexico, dan Townsend telah meminta lima puluh lagi. Untuk ini
220
dibutuhkan semacam organisasi pendukung. Maka, pada tahun 1942, dengan resmi
dibentuklah Wycliffe Bible Translators, dinamakan demikian untuk menghormati
penerjemah Inggris yang agung pada Abad Pertengahan. Institut Linguistik Musim
Panas melanjutkan hubungan dengan pemerintah-pemerintah mancanegara, namun
Wycliffe Bible Translators mengorganisasikan dukungan dari Amerika Serikat.
Karya penerjemahan meluas dari sana: Guatemala, Peru, Columbia dan Ekuador.
Sebuah korps penerbangan, Jungle Aviation and Radio Service (Pelayanan Radio dan
Penerbangan Hutan), didirikan untuk membawa para penerjemah misionaris dengan
selamat ke dan dari daerah-daerah jauh.
Sampai sekarang ketiga organisasi ini memiliki lebih dari 6.000 pekerja di lebih
dari lima puluh negara. Mereka menghasilkan bagian-bagian Alkitab dalam lebih dari
300 bahasa dan sedang bekerja untuk lebih dari 800 yang lain.
Karya Wycliffe Translators ini membuat ratusan kelompok manusia terjangkau
Injil. Ini merupakan langkah besar ke depan dalam gerakan misi modern untuk
menjangkau orangorang yang tidak terjangkau – mereka yang tidak punya akses
terhadap kekristenan.
Namun organisasi Townsend juga menggambarkan pergeseran halus dalam
Protestanisme Amerika. Pada tahun 1930-an dan 1940-an, fundamentalisme muncul lagi
dengan tiba-tiba. Separatisme yang ketat memberi jalan bagi penginjilan yang agresif.
Sementara memelihara kesempurnaan doktrinnya, organisasi Wycliffe ini dengan
tidak merasa malu bersekutu dengan universitas-universitas sekular, para ahli bahasa,
pemerintah, ataupun dengan para antropolog dalam rangka menyelesaikan urusannya.
Gerakan "evangelikal" ini melihat banyak misi dan organisasi pendidikan Kristen
yang timbul, serta ingin mencoba metode-metode Baru membawa Injil ke seberang.
221
94) Tahun 1945 Dietrich Bonhoeffer Dieksekusi Nazi
Dietrich Bonhoeffer (1906-1945). di halaman penjara Tegel di Berlin (summer 1944).
Source: Christian Kaiser Verlag
Orang-orang Kristen boleh tidak setuju dengan teologinya, namun hampir tidak ada yang
tidak mengagumi keteguhan sikap Dietrich Bonhoeffer menentang Third Reich (Jerman
di bawah kekuasaan Hitler) – meskipun ia harus mengorbankan nyawanya.
Bonhoeffer, seorang mahasiswa Karl Barth, menerima gelar doktoral di bidang teologi
dari Universitas Berlin saat ia berumur dua puluh satu tahun. Ia yaitu seorang
pendeta utusan gereja Lutheran dan dosen saat Hitler berkuasa pada tahun 1933.
Sadar akan pengaruhnya terhadap orang banyak, Hitler membujuk dan menipu Gereja
dengan mendapatkan dukungan besar dari kaum rohaniwan Lutheran dan Katolik. Ide
Gereja Jerman sendiri telah menyentuh "orang-orang Kristen Jerman". Ide-ide Nazi
sudah mulai menyusup ke dalam gereja.
Namun, yang lain takut serta mencurigai Hitler dan idenya tentang keunggulan ras Aria.
Kira-kira sepertiga kelompok rohaniwan Protestan, yang memimpin apa yang
dinamakan Confessing Church (Gereja yang Mengaku), menentang pemimpin Jerman
ini. Mereka menganggap ide-ide ini berasal dari Barmen Declaration (Deklarasi
Barmen), yang sebagian besar ditulis Karl Barth, yang menunjukkan kesalahan doktrin
orang-orang Kristen Jerman.
Pada tahun 1935, Bonhoeffer menjadi Ketua Confessing Church Seminary. namun ,
seminari itu ditutup pada tahun 1937, dan Bonhoeffer dilarang menerbitkan ataupun
berbicara di muka umum. Dua tahun lalu , saat ditawarkan kemungkinan untuk
pindah mengajar di Amerika, Bonhoeffer menolaknya dengan alasan ingin melayani
orang-orang bangsanya, yakni bangsa Jerman.
Iparnya menarik dia dalam gerakan perlawanan, dan Bonhoeffer pun telah menjadi
bagian dari rencana pembunuhan Hitler. la dan yang lain merasa bahwa Hitlerlah
anti-Kristus itu. Jadi rohaniwan ini menjadi agen ganda di kantor intel tentara
Jerman. Dia gagal berupaya mendapatkan dukungan dari Inggris bagi rencana itu.
Rencana ini akhirnya gagal.
222
saat Bonhoeffer ditangkap pada tahun 1943, hal itu bukan sebab dia bekerja sebagai
agen ganda, melainkan sebab ia membantu menyelundupkan empat belas orang Yahudi
ke Swiss. Di dalam penjara dia menulis, yang lalu diterbitkan setelah
kematiannya, dengan judul Letters and Papers From Prison (Surat-surat dan Tulisan-
tulisan dari Penjara).
Hanya saja jika Bonhoeffer hidup lebih lama lagi mungkin dia dapat menjelaskan lebih
jauh beberapa ide yang menantang namun membingungkan itu, yang dikemukakannya
selama di dalam penjara. Para teolog mengadakan argumentasi tentang ungkapan
"religionless Christianity" (kekristenan tanpa agama); "death of God" (kematian Allah)
yang dipahami secara berbeda oleh para teolog dan para penginjil. saat dia berkata
"the world has come of age" (dunia sudah dewasa), apa yang dimaksudkan Bonhoeffer?
Apa dia ingin mensekulerkan Injil atau dia pun melihat – seperti juga orang lain pada
masa kini – bahwa orang-orang tidak lagi mengerti konsep tradisional Kristen?
"Bagaimana kita dapat berbicara secara 'sekular' tentang Allah?" tanya Bonhoeffer. Kita
tahu bahwa dia tidak sepaham dengan para teolog lainnya seperti Rudolf Bultmann dan
Paul Tillich, yang ingin "mendemitologisasikan" Injil, namun dia tidak pernah memulai
suatu program seorang diri.
Meskipun banyak pertanyaan tentang dia yang belum terjawab, satu-satunya elemen
utama kepercayaan Bonhoeffer tidak dapat diragukan: Iman itu mahal. Bukunya, The
Cost of Discipleship (Harga Mengikut Yesus), mengajak orang-orang Kristen agar
beriman kuat dan menyangkal diri. Banyak orang yang telah menerima "anugerah
murah" Kristen, yang mendorong mereka beriman lemah, kata Bonhoeffer. dibandingkan
memperlakukan bagian-bagian etika Perjanjian Baru sebagai gagasan yang tak
mungkin, orang-orang Kristen harus mengusahakan hal itu. Agama yang sejati lebih
dibandingkan hanya memiliki ide-ide yang benar tentang Allah; itu berarti mengikuti Dia –
sampai mati, jika perlu.
Bonhoeffer mematuhi fatwanya sendiri. saat berada dalam penjara, dia berupaya
melayani orang lain. Pada tanggal 9 April 1945, saat tentara sekutu mengadakan
serangan terakhir atas Jerman, dia dihukum gantung dengan tuduhan mengkhianati
negara. Meskipun orang-orang Kristen sering kali mengalami problem etis dengan
terlibatnya Bonhoeffer dalam rencana membunuh Hitler, pendiriannya melawan
berbagai upaya Hitler menjadikan Gereja bagian dari rezim Nazi dan kesediaannya mati
bagi Kristus, juga memberi setiap generasi tantangan akan iman yang siap berkorban.
223
95) Tahun 1948 Dewan Gereja-gereja se-Dunia Terbentuk
World Council of Churches (WCC), Amsterdam, 22 August - 4 September 1948
Apabila orang-orang terdorong memikirkan dirinya sendiri, di situ ada pemisahan
gereja. Di mana dua atau tiga orang berkumpul bersama, kemungkinan akan timbul
empat atau lima pendapat.
Alkitab berbicara tentang kesatuan orang-orang percaya, namun berbicara juga tentang
keharusan berpegang pada kebenaran. Banyak reformis, seperti yang telah kita lihat,
berpegang pada kebenaran – dan akibatnya, melepaskan diri dari gereja yang dianggap
salah. Yang lain seperti Alexander Campbell dan John Nelson Darby, menentang
perpecahan Gereja atas nama kesatuan gereja. namun malangnya, ide mereka tentang
kebenaran ditentang juga, dan kesatuan yang mereka upayakan tidak pernah terwujud.
"Berbicara tentang kebenaran dalam kasih" tidak pernah mudah dilakukan.
Namun, John R. Mott dan rekan-rekannya sadar bahwa karya misi yang efektif
membutuhkan kerja sama dan kesatuan gereja – dan mungkin kesatuan gereja
membutuhkan pekerjaan misi. Sekelompok angsa akan berkumpul bersama selama
semuanya bergerak menuju arah yang sama. Jika orang-orang Kristen hanya duduk dan
berpikir saja, mereka tidak akan sepaham dengan nilai-nilai teologi yang indah. namun ,
bila mereka dikaryakan dengan menyebarkan Injil Kristus, mungkin saat itulah kita
akan merupakan suatu badan yang menyatu seperti yang diinginkan Kristus.
Gerakan Relawan Mahasiswa yang dipimpin Mott menghasilkan aktivitas misi seperti
pusaran angin. Misi ini beroperasi melintasi garis-garis denominasi. Organisasi-
organisasi lain menyebarkan aktivitasnya di luar perguruan tinggi pada kaum awam
yang lebih tua. Pada tahun 1910, International Missionary Conference (Konferensi
Pekabaran Injil lnternasional), bertemu di Edinburgh untuk merencanakan strategi-
strategi bagi penginjilan dunia. Hal ini umumnya dianggap sebagai awal gerakan
oikumene. Dengan John R. Mott sebagai penggerak utama, keseribu delegasi ini
menggerakkan dua organisasi – Faith and Order Movement (Gerakan Iman dan Tata
Ibadah) [untuk isu-isu doktrinal] dan Life and Work Movement (Gerakan Kehidupan
dan Karya) [bagi misi dan pelayanan].
Kemajuan umumnya bergerak lamban – dan telah terhambat perang dunia. Setiap
sepuluh tahun, "gerakan-gerakan" ini bertemu untuk membicarakan kebutuhan-
kebutuhan dunia dan status gereja-gereja. Life and Work Movement bertemu di
Stockholm pada tahun 1925 untuk mendiskusikan hubungan kekristenan dengan
warga , politik dan ekonomi. Dua tahun lalu Faith and Order Movement
bertemu di Lausanne, mengupayakan tugas sulit dalam merencanakan kesatuan ajaran.
224
Pada tahun 1937, dengan pertemuan secara terpisah di Oxford dan Edinburgh, kedua
organisasi ini memilih untuk bergabung. Para pemimpin gereja bertemu di Utrecht, pada
tahun 1938, untuk menyusun sebuah konstitusi. Namun, Perang Dunia II mencegah
langkah maju gereja-gereja dengan rencananya ini .
Setelah perang usai, bagaimanapun juga ada rasa kesatuan yang lebih besar saat
gereja-gereja di seluruh dunia berupaya memulihkan keadaan. Pertemuan di Amsterdam
pada tahun 1948 akhirnya menyatukan kedua badan terdahulu itu menjadi World
Council of Churches (WCC) [Dewan Gereja-gereja se-Dunia]. Terdapat 135 badan-
badan gereja yang terwakili dari empat puluh negara. Setelah seumur hidup
mengupayakan oikumene, Mott, dalam usianya yang delapan puluhan, terpilih sebagai
ketua kehormatan.
Menggambarkan dirinya sebagai "persekutuan gereja-gereja yang menerima Yesus
Kristus Tuhan kita sebagai Allah dan Juruselamat", WCC mengajak gereja-gereja
bekerja sama, belajar bersama, bersekutu bersama, berbakti bersama dan bertemu
bersama dalam konferensi khusus dari waktu ke waktu. WCC menolak rencana apa pun
untuk membentuk "gereja dunia" baru. WCC tidak akan memiliki kekuasaan yang
terpusat. WCC hanya bertujuan memberi gereja-gereja di seluruh dunia kesempatan dan
sumber untuk bekerja sama satu dengan yang lain.
Dari awal, beberapa kelompok Protestan Amerika Serikat utama menolak bergabung –
yang paling menonjol yaitu Southern Baptist dan Missouri Synod Lutherans. Gereja
Katolik Roma memandang dirinya sebagai suatu kesatuan sehingga tidak akan
bergabung, meskipun Vatikan II telah membuka pintu diskusi. Namun, WCC tetap
merupakan organisasi dunia yang aktif dan berpengaruh. Kenneth Scott Latourette
menyebutnya "badan paling inklusif yang pernah dimiliki agama Kristen".
Banyak orang Kristen konservatif menyerang sikap "revolusioner" WCC. Baru sekarang
terlihat bahwa persatuan organisasi gereja secara organisasional tak dapat dicapai pada
milenium ini — dan mungkin tidak akan pernah. Cara-cara baru untuk bekerja sama dan
bersatu sebagai orang-orang Kristen sedang ditemukan dan diimplementasikan. Namun,
doa Yesus "agar mereka menjadi satu" (Yoh. 17:21) masih harus dijawab sepenuhnya.
225
96) Tahun 1949 Kampanye Los Angeles Billy Graham
Billy Graham (1918 - )
Tenda di Los Angeles, tempat kampanye Billy Graham diselenggarakan, 1949
"Anda mungkin terharu bila melihat tenda besar itu kemarin siang penuh sesak dengan
6.100 orang dan beberapa ratus lagi yang tidak dapat masuk, serta melihat puluhan
manusia berjalan-jalan di celah-celah barisan bangku dari segala penjuru dan menerima
Kristus sebagai Juruselamat pribadi saat diundang."
Seorang pengkhotbah berumur tiga puluh tahun menulis dari Los Angeles kepada para
staf perguruan Alkitab di Minneapolis, tempat ia memangku jabatan presiden. Ia
menyebutnya "kampanye penginjilan terbesar dari seluruh pelayanan saya". Namun hal
itu hanya suatu awal bagi Billy Graham.
Orang banyak datang berduyun-duyun ke tenda hesar yang didirikan di Washington
Boulevard dan Hill Street — "Katedral yang terbuat dari Terpal". Kampanye yang
direncanakan selama tiga minggu berlanjut sampai delapan minggu sebab orang-orang
berdatangan terus. Para selebriti bertobat di muka umum, saat Graham menyampaikan
Injil yang sederhana. Dikatakan bahwa seorang wartawan William Randolph Hearst
memutuskan "mereklamekan" Graham — dengan publisitas luar biasa. Apa pun yang
terjadi, pertemuan-pertemuan Los Angeles menjadi buah bibir bangsa, yang
memasyhurkan Graham.
Mungkin itu kejutan bagi bocah berambut pirang dari Carolina Utara ini. Graham, anak
sulung seorang Kristen peternak hewan, bertobat pada suatu pertemuan yang dipimpin
oleh revivalis Selatan, Mordecai Ham. Seleranya berubah dari baseball ke penyelatnatan
jiwajiwa. Menginjak usia kedua puluh dua, dia ditahbiskan sebagai seorang pendeta
Southern Baptist.
226
Pada tahun 1943, ia lulus dari Wheaton College dan menikahi Ruth Bell, putri seorang
misionaris medis terkenal yang bertugas ke China. Ia mendirikan sebuah pastorat di
daerah Chicago, namun tidak lama lalu terlibat dengan Torrey Johnson, pertama
dengan berbicara pada acara Johnson "Songs in the Night" pada siaran radio dan
lalu melayani sebagai penginjil penuh waktu pada pelayanan baru Johnson, Youth
for Christ. Dalam kapasitasnya ini ia mengadakan beberapa kampanye di seputar kota
menjelang akhir tahun 1940-an, termasuk tur ke Britania Raya pada tahun 1946-1947.
Dari semula ia telah punya gaya penginjilan yang kooperatif. Kampanyenya tidak
terbatas pada gereja tertentu. Semua pemimpin Kristen dalam warga akan
diundang untuk merencanakan kampanye. Keputusan ini mengundang kritik banyak
orang konservatif, namun juga banyak menyumbang bagi jamahan Graham secara luas.
Pada awal tahun 1950-an, ia melanjutkan kesuksesan kampanye Los Angeles dengan
kampanye-kampanye yang patut dicatat di Boston dan di tempat lain. Pada tahun 1954,
perjalanan khotbah ke London membuat dia menjadi seorang selebriti internasional. Ia
berteman dengan Presiden Eisenhower dan figur-figur kaliber dunia lainnya.
Dengan cepat Graham menguasai media massa. la menulis Peace With God (Damai
Bersama Allah) yang laris terjual pada tahun 1950-an dan beberapa yang lain sejak itu.
Siaran radionya "Hour of Decision" berlanjut puluhan tahun lamanya. Bersama-sama
dengan mertuanya ia mengawali majalah Christianity Today untuk membantu para
pemimpin Kristen agar selalu bersiaga secara teologis. Di lalu hari, organisasinya
meluncurkan majalah Decision untuk warga umum. Kampanye-kampanye Graham
dengan teratur disiarkan di televisi secara nasional, dan World Wide Pictures, suatu
badan yang tumbuh dari Billy Graham Evangelistic Association, telah menghasilkan
lusinan film-film istimewa.
Sebagai pemain utama dalam misi-misi dunia, Graham mensponsori Kongres Lausanne
pada tahun 1974 yang merevolusi kebijakan misi-misi evangelikal dengan lebih
melibatkan penduduk setempat. Pada tahun 1983 dan 1986, organisasinya membawa
para penginjil berkeliling dari seluruh dunia ke Amsterdam untuk pertemuan besar bagi
pendidikan dan penguatan. Billy Graham Center di Wheaton College memberi latihan
komunikasi dan pelayanan, serta arsip dan Museum Penginjilan abad kedua puluh.
Akhir-akhir ini, Billy Graham dapat juga menjangkau negara-negara komunis meskipun
kebijakan resmi mereka atheis. Beberapa orang mengkritik mengapa ia tidak
memakai kepopulerannya untuk memprotes penganiayaan orang-orang percaya di
negeri itu, namun fokus Graham selalu pada penginjilan, bukan pada komentar sosial.
Pemain baseball yang tinggi dan tampan dari Carolina Utara ini telah menjadi figur
religius besar dari paroan terakhir abad kedua puluh yang silam. Stafnya
memperkirakan bahwa dua juta orang telah "maju ke depan" dalam pertemuan-
pertemuannya untuk menyatakan pertobatan mereka. Lebih dari 100 juta orang hadir
untuk mendengarkannya, dengan jutaan yang tak terhitung tersentuh pelayanan
medianya. Ia telah melakukan semuanya ini dengan tetap berpegang pada yang terbaik
yang dilakukannya – mengkhotbahkan Injil yang sederhana.
227
97) Tahun 1960 Berawalnya Pembaruan Karismatik Modern
Dennis J. Bennett (1917-1991)
Pendeta sebuah gereja yang berdekatan meminta Dennis Bennett, pendeta jemaat Gereja
Episkopal St. Mark di Van Nuys, California, untuk membantunya. Pendeta ini
memiliki beberapa orang teman yang telah "menerima baptisan Roh Kudus" dan
memakai bahasa lidah.
Meskipun Bennett tidak tahu banyak tentang hal itu, ia setuju menemui pasangan itu.
lalu ia pun mengalami baptisan serupa.
Baptisan ini tersebar di lingkungan itu, dan gereja pasangan ini memulai
kelompok doa. Pertemuan mereka sangat antusias namun tertib dan sering berlangsung
sampai pukul 1:30 pagi. Menjelang tanggal 3 April 1960, kira-kira tujuh puluh anggota
gereja Bennett "dibaptis dengan Roh".
Meskipun kegiatan karismatik tidak diizinkan dalam kebaktian-kebaktian formal
Bennett, berita tentang hal itu telah tersebar, dan banyak orang bertanya-tanya.
Akhirnya terjadilah perpecahan. Bennett mengundurkan diri dari gereja ini , dan
sukar ditebak berapa banyak orang yang akan bertahan di gereja itu.
Tidak seperti orang lain yang pecah dari gereja sebab tidak sepaham, Bennett
memutuskan tetap berada dalam imamat Episkopal. Ia berpindah ke Seattle, dan gereja
yang sedang berjuang yang ia layani di sana memiliki kehidupan baru. Gerakan
karismatik tersebar, dan Bennett pun menjadi figur nasional.
Pusat gerakan ini tetap berada di Van Nuys. Jean Stone, seorang anggota St. Mark,
mendirikan Blessed Trinity Society pada tahun 1961 untuk memberi persekutuan dan
informasi bagi gerakan karismatik yang sedang bertumbuh itu. Pada tahun 1962
perkumpulan ini meluncurkan seminar-seminar "Christian Advance". Semuanya
ini dirancang untuk denominasi-denominasi tradisional, untuk memperkenalkan kepada
mereka pelayanannya serta anugerah Roh Kudus. Meskipun para karismatik ini kadang-
kadang dicaci-maki atau disalahpahami, mereka selalu mendapat tempat sebagai
kelompok minoritas di gereja-gereja non-karismatik, tempat mereka kadang-kadang
tumbuh menjadi berstatus mayoritas.
Dengan pesat gerakan ini menyebar ke seluruh daerah Los Angeles, dan saat
pars nasional memberitakannya, gerakan ini menyebar ke seantero negeri. Akhir
228
tahun 1966, sekelompok sarjana Katolik di Universitas Duquesne, Pittsburgh, mulai
memperhatikan pengalaman karismatik. Awal tahun berikutnya, beberapa dari antara
mereka mengalaminya sendiri. Setelah retret akhir pekan, tiga puluh orang lagi menjadi
pengikutnya, baik para mahasiswa maupun para profesor, dan lahirlah komunitas
karismatik.
Sebagian besar gerakan karismatik ini bermula di kalangan atas dan menengah. Hal itu
bermula di gereja-gereja California yang mewah dan mempengaruhi denominasi-
denominasi tradisional Presbiterian dan Episkopal kelas atas. Di Gereja Katolik,
gerakan ini bermula tidak dari tingkat paroki, namun di uni












