Kamis, 16 Juli 2026

Sejarah kristen 9

 


tif semacam ini sesungguhnya membantu mengumpulkan massa. Sesuatu 

yang supranatural sedang berlangsung dalam gedung tua ini. William J. Seymour, 

seorang pengkhotbah kesucian kulit hitam Gereja Baptis, baru tiba dari Houston, 

memanggil orang-orang percaya untuk mengambil langkah ekstra. Dua langkah ekstra 

ini  sebenarnya yaitu : la ingin mereka "dikuduskan" dan "dibaptis dalam Roh 

Kudus". Pembaptisan itu, katanya, akan diikuti dengan kemampuan berbahasa lidah.  

Sebenarnya telah pernah ada beberapa orang berbahasa lidah yang muncul dengan 

tibatiba di negeri itu dan di Eropa pada tahun-tahun silam, namun  Azusa Street 

merupakan ledakan terbesar. Pertemuan yang berlangsung di "pondok yang hampir 

rubuh" ini berlanjut se-lama beberapa tahun lamanya. Banyak orang pergi ke sana hanya 

untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.  

Dunia ini sudah matang untuk kebangkitan. Akhir tahun 1800-an, terjadi Revolusi 

Industri yang berat. Manusia menjadi gerigi dalam mesin-mesin warga . Celah 

antara si kaya dan si miskin bertambah lebar. Malangnya, Gereja selalu berpaling 

kepada orang kaya. Juga kelompok-kelompok yang secara tradisional bersifat "biasa", 

seperti Baptis dan Methodis, lebih menekankan sopan-santun ketimbang kekuatan 

 205

rohani. Berkat para tokoh kebangkitan seperti Finney dan Moody, gereja-gereja menjadi 

penuh. namun  banyak yang menyatakan diri Kristen masih memiliki banyak 

kekurangan.  

Gerakan "kesucian" yaitu  langkah awal menuju pembaruan. Gerakan ini – sebagian 

besar dari Gereja Methodis – mencari "anugerah kedua" dari Allah, yaitu bahwa orang-

orang percaya akan "dikuduskan" untuk kehidupan Kris-ten yang suci. Ajaran Keswick 

pun ada dampaknya di Eropa dan Amerika. Dalam Pertemuan tahunan Keswick di 

Britania Raya, guru-guru Keswick meminta orang-orang Kristen: "Berjalan dalam kuasa 

kebangkitan Kristus," "biarkan Kristus bertakhta dalam jiwamu." Tidak ada yang terlalu 

radikal terjadi di sini, hanya dorongan untuk kepenuhan pengalaman Kristen, dengan 

memakai  bahasa yang kelak ditiru para pengikut Pentakosta.  

Satu lagi aliran pemikiran yang menambah urgensi gerakan Pentakosta yang baru 

muncul ini ialah pramillenialisme, yang dipopulerkan J. N. Darby dan Plymouth 

Brethren. Pergantian abad membawa kedua-duanya, pra- dan pascamillenialisme, ke 

depan. Banyak yang mewartakan berawalnya "abad Kristian", yaitu bahwa gereja (dan 

teknologi) akan membawa ke kerajaan Allah. Namun, para pramillenialis berseru bahwa 

akhir zaman sudah dekat, dengan menampilkan, seperti dinubuatkan, peluapan 

kebangunan rohani.  

Untuk mengetahui latar belakang gerakan Pentekosta ini kits harus mundur ke belakang 

pada tahun 1896. William F. Bryant memimpin (gerakan) kebangkitan di Cherokee 

County, Carolina Utara, yang menyertakan bahasa lidah. Sementara manifestasi ini 

berlanjut, banyak orang yang telah dikeluarkan dari gereja, bangunan gereja dibakar dan 

Bryant sendiri ditembak. Bahasa lidah tidak populer di Cherokee County.  

Tentunya, kebangkitan Welsh tahun 1904 — 1906 memiliki  dampak pada iklim 

agama masa itu. Evan Roberts, seorang mantan penambang, yang mengadakan 

perjalanan di seluruh Wales dan di lalu  hari di dunia, memproklamasikan 

pelayanan Roh Kudus. Bahasa lidah tidak ditekankan secara khusus, namun kekuatan 

roh ditekankan. Sepasang pendeta wilayah Los Angeles telah mengunjungi Wales dan 

berupaya membawa kebangkitan ini ke gereja-gereja mereka, dengan sedikit sukses. 

Namun, benih pemulihan telah ditanam di Los Angeles.  

Atau Anda ingin melihat Gerakan Pemulihan, yang mengajak kembali ke berkat dan 

praktik-praktik gereja rasuli, khususnya penyembuhan. John Alexander Dowie mengaku 

dirinya Elia Sang Pemulih dan memulai komunitas Kristen (yang di lalu  hari 

menjadi Zion, Illinois). Di Maine, Frank Sandford juga mengaku sebagai Elia Sang 

Pemulih, dengan memulai sebuah komunitas di Shiloh.  

Pada tahun 1900, Charles Fox Parham menghabiskan waktu selama lebih kurang enam 

minggu di Shiloh. Seorang pengkhotbah kesucian Gereja Methodis, Kansas, sedang 

mencari "iman rasuli". Ia bersama-sama istrinya telah memulai "rumah penyembuhan" 

di Topeka. Di sana orang-orang dapat menginap dengan Cuma-cuma sementara mereka 

berdoa untuk penyembuhan. Di Shiloh, Parham terkesan dengan Sekolah Alkitab "the 

Holy Ghost and Us" (Roh Kudus dan Kita) Sandford. Sekolah ini  dengan togas 

anti-akademik. Satu-satunya teks yaitu  Alkitab, gurunya hanya Roh Kudus. saat  

Parham kembali, ia mendirikan sekolah serupa. Kira-kira empat puluh orang murid 

mendaftarkan diri.  

 206

Pada bulan Desember tahun itu, Parham meminta murid-muridnya mencari dalam Kitab 

Suci jika ada tanda-tanda yang mengisyaratkan pembaptisan Roh Kudus. saat  mereka 

berkumpul untuk kebaktian semalam suntuk pada Malam Tahun Baru, mereka 

mendapatkan jawabannya: bahasa lidah. Agnes Ozman berdoa untuk menerima Roh 

Kudus dan "kemuliaan turun ke atas dirinya", seperti diungkapkan Parham, "suatu 

cahaya tampaknya mengelilingi kepala dan mukanya, dan ia mulai berbicara dalam 

bahasa China dan tidak dapat berbahasa Inggris selama tiga hari". Pada bulan 

berikutnya sebagian besar mahasiswa mengalami hal serupa.  

Upaya Parham menyebarkan kebangkitan ini di Kansas City dan di Lawrence gagal. 

Gereja-gereja menentangnya, harian-harian mengejeknya. Pada tahun 1903, seorang 

wanita dari Texas sembuh setelah Parham mendoakannya, dan ia mengundang Parham 

untuk memimpin suatu kebangkitan di Galena, Texas. Hal itu meraih sukses. Menjelang 

tahun 1905, pertemuan-pertemuan "Pentekostal" atau "Full Gospel" semacam itu 

diselenggarakan di Missouri, Kansas dan Texas dengan kira-kira 25.000 pengikut.  

Setelah suatu kampanye di Houston pada tahun 1905, Parham mendirikan satu lagi 

sekolah Alkitab di sana. Salah seorang mahasiswa yang lebih menjanjikan ialah: 

William J. Seymour. Seorang wanita dari .Los Angeles mengunjungi sekolah Houston 

dan mengalami baptisan Roh Kudus. Sekembalinya, ia mendesak gereja misi 

Nazarenenya untuk memanggil Seymour sebagai pendeta pendamping.  

Ironisnya, gereja yang telah membawa kebangkitan Pentekosta ke Los Angeles tidak 

ingin berhubungan dengan hal itu. Penekanan Seymour tentang bahasa lidah 

menyinggung beberapa anggota gereja dan selanjutnya ia ditolak gereja. Akhirnya, ia 

memimpin kebaktian di rumah beberapa orang temannya. Kebaktian ini berlanjut 

selama tiga hari tiga malam. Menariknya, makin banyak orang dan jumlahnya melebihi 

jumlah yang dapat ditampung di rumah ini . Orang-orang ini  mengadakan 

persiapan untuk berpindah ke suatu bangunan di Azusa Street, yang dahulu yaitu  

Gereja Methodis. Di sana duduk (dan berdiri) di alas bangku papan, di antara bahan-

bahan bangunan, orang-orang itu meneruskan kebaktian yang dipenuhi Roh Kudus. 

Gereja itu dinamai Apostolic Faith Gospel Mission (Gereja Misi Iman Rasuli).  

Seluruh jajaran pembaruan spiritual tampaknya menyatu di gedung. Gedung itu 

merupakan "Mekah"-nya gerakan Pentekosta. Selama bertahun-tahun lamanya tempat 

ini  merupakan kiblat bagi gerakan Pentekosta. Orang-orang berkunjung dan 

berupaya membawa kembali apa saja yang mereka temukan di sana.  

Kendati di sini pusat geografisnya, gerakan Pentekostal sangat majemuk. Terdapat 

sejumlah pemimpin yang berhaluan kharismatik, termasuk Seymour dan Parham, yang 

mengumpulkan pengikut-pengikut dan bertengkar satu dengan yang lain untuk hal-hal 

sepele. Gerakan ini  memang secara sengaja bersifat antiorganisasi dan anti-

denominasi – berjalan terus ke mana Roh Kudus memimpin. Hal ini menjelaskan 

mengapa dewasa ini aliran-aliran Pentekosta yang ada hanya dalam jumlah kecil.  

Assemblies of God (Sidang Jemaat Allah), yang merupakan aliran Pentekosta terbesar 

dewasa ini, dimulai sebagai upaya mendapatkan kohesi – dan beberapa peraturan – 

dalam gerakan ini . Ada tuduhan mengenai penyelewengan keuangan dan seksual 

di pihak para pengkhotbah terkemuka. Terdapat juga serangkaian pertikaian doktrin di 

antara mereka.  

 207

Sekelompok Pentekostal Selatan, yang dipimpin Eudorus N. Bell, menamakan diri 

mereka Iman Rasuli dan mengupayakan persatuan dalam gerakan ini . saat  yang 

lain bergabung, namanya pun diganti menjadi Church of God in Christ (Gereja Tuhan 

dalam Kristus). Menjelang 1913, telah disertakan 352 pendeta dalam keanggotaan yang 

tidak terikat. Pada bulan April 1914, kelompok ini memanggil para pengikut Pentekosta 

untuk menghadiri pertemuan di Hot Springs, Arkansas. Tujuannya: kesatuan, stabilitas, 

mendapat pengesahan bagi gerakan ini , dan mengukuhkan program misi serta 

mendirikan sekolah Alkitab. Maka, lahirlah aliran Assemblies of God.  

Sementara isu Pentekosta bersifat memecah-belah di kalangan gereja-gereja non-

Pentakosta, gerakan Pentakostal sendiri mungkin yaitu  tangan kekristenan yang paling 

berenergi di abad kedua puluh ini. Tekanannya akan misi dan periginjilan telah 

menghasilkan pertumbuhan luar biasa bagi gerakan ini , baik di Amerika Serikat 

maupun di dunia.  

 208

90) Tahun 1910-1915 Penerbitan Buku The Fundamentals 

Memunculkan Gerakan Fundamentalis  

 

Lyman Stewart (1840-1923)  

 

Sampul depan buku The fundamentals jilid 1 

Lyman Stewart memiliki sebuah mimpi. Ia pun memiliki uang banyak. Stewart, 

presiden Union Oil Company, memperhatikan gelombang pasang modernisme di 

gereja-gereja Amerika. Sesuatu harus dilakukan tentang ini; orang-orang harus 

disiagakan; orang-orang Kristen harus disadarkan akan ancaman bagi iman 

tradisionalnya. Mungkin sebuah buku, sederetan buku-buku, upaya informasi besar-

besaran. Namun Stewart sadar bahwa ia bukan seorang terpelajar.  

saat  ia sedang duduk di gereja, ia mendengar berita dari A.C. Dixon, pendeta 

Chicago's Moody Church (Gereja Moody Chicago). Inilah orangnya yang ia butuhkan. 

Usai kebaktian, Stewart membicarakan idenya dengan Dixon. "Ini dari Tuhan," kata 

Dixon. "Mari kita berdoa."  

Itulah awal upaya penerbitan yang membuat gerakan fundamentalis memperoleh 

namanya dan mungkin juga fokusnya. Dixon membentuk suatu badan yang 

mengesankan, terdiri dari para pemuka Kristen, dan membentuk Perusahaan Penerbitan 

Testimony. Lyman Stewart mendapat bantuan dana dari saudaranya, Milton. Semuanya 

terkumpul 300.000 dolar A.S bagi proyek ini . Guru-guru Alkitab terkemuka pada 

waktu itu diminta menulis artikel untuk buklet berseri 125 halaman ini. Artikel-artikel 

 209

ini  meliputi pokok-pokok doktrin dasar serta isu-isu penting waktu itu – 

sosialisme, evolusi dan uang. Dixon mengedit lima artikel yang pertama lalu  

berpindah ke London. Louis Meyer mengedit lima berikutnya sebelum ia meninggal. R. 

A. Torrey mengedit dua yang terakhir. Nama Kakak-heradik Stewart tidak disebutkan 

dalam kedua belas buklet ini , hanya disebutkan sebagai "Dua Orang Awam 

Kristen". Telah tercetak kira-kira 3 juta eksemplar dalam kurun waktu enam tahun 

berikutnya, untuk dibagikan kepada "setiap pendeta, penginjil. misionaris, mahasiswa 

teologi, pembina sekolah Minggu, sekretaris YMCA atau YWCA" yang dapat ditemui. 

Buku ini juga dikirim ke luar negeri, sebagian besar ke Inggris.  

Kurang jelas dampak apa yang dihasilkan buku-buku ini. Seperti apologi-apologi para 

Bapa Gereja awal, The Fundamentals mungkin telah berbuat lebih banyak untuk 

menyatukan dan mendidik orang-orang yang telah setuju dengan mereka dibandingkan  

meyakinkan dan menobatkan pembaca-pembaca yang menjadi sasaran mereka. Curtis 

Lee Laws, seorang editor penganut Baptis, yang menemukan istilah fundamentalis pada 

tahun 1920, merujuk ke para Baptis konservatif yang berpegang pada "fundamental-

fundamental iman".  

Melihat ke belakang, tampaknya gerakan fundamentalis ini membaurkan beberapa tren 

gereja Amerika yang ada sebelumnya, dan dengan keras menentang beberapa tren yang 

ada dalam warga  serta sarjana liberal. Sungguh sukar dimengerti. Gerakan ini  

merupakan gerakan sosial dan teologis, yang gelisah dan evangelistik, triumfalis dan 

putus asa.  

Gerakan fundamentalis memulai dengan tradisi kebangunan rohani yang dicontohkan 

Dwight L. Moody. Gerakan ini  mengajarkan bahwa pokok-pokok teologi tidaklah 

penting jika dibandingkan dengan pertobatan jiwa bagi Kerajaan Allah.  

Gerakan ini ditambah juga oleh tradisi hesucian, dengan akar yang kukuh pada aliran 

Methodis, dilanjutkan dengan konferensi-konferensi Keswick pada tahun-tahun terakhir 

1800-an. Kebenaran pribadi dipandang sebagai pertumbuhan mutlak kehidupan yang 

dekat dengan Yesus. Selain itu, digerakkan pula oleh sentimen Kerajaan Seribu Tahun 

yang menjamur.  

Mendekati abad kedua puluh, ada perasaan bahwa tidak lama lagi dunia ini akan 

berakhir. Langkah-langkah Revolusi Industri yang pesat membuat banyak orang 

bertanya-tanya di mana semuanya ini akan berakhir. Konferensi-konferensi nubuat 

muncul dalam jumlah bestir pada tahun-tahun 1800-an akhir. Sejumlah orang Kristen 

melihat sisi baik dari apa yang dicapai manusia, meramalkan bahwa tahun 1900-an akan 

merupakan "abad Kristian". Para pascamillenialis meyakini bahwa kekristenan akan 

membawa era keadilan dan kedamaian. namun  gejolak sosial pada masa itu juga 

menyuburkan anggapan pramillenialisme, khususnya ditinjau dari dispensasionalisme J. 

N. Darby., Banyak yang beranggapan bahwa dunia akan memburuk hingga Kristus 

datang untuk mengakhirinya.  

Mungkin Revolusi Industri telah mengaduk campuran-campuran ini menjadi satu, 

namun katalis yang sebenarnya yaitu  "modernisme". Komponen utamanya yaitu  teori 

evolusi Charles Darwin. Sepanjang sejarah ilmu pengetahuan (sekurang-kurangnya 

sejak Inkuisisi), telah ada semacam gentleman's agreement antara Gereja dan 

laboratorium: Telah diasumsikan bahwa kebenaran ilmu pengetahuan akan sesuai 

dengan kebenaran agama. Sekarang, dengan tiba-tiba saja Darwin menerbitkan 

 210

gambaran tentang evolusi spesies dan akhirnya asalusul manusia yang tidak sepaham 

dengan ajaran gereja. Lebih-lebih lagi, ide-ide ini mulai mendapat pengakuan dari dunia 

akademis.  

Sementara itu, di antara para filsuf dan para teolog (khususnya di Jerman) ada ide-ide 

baru tentang Allah dan Alkitab yang sedang beredar. Teori-teori ini merugikan 

absolutisme yang telah diterima gereja selama berabad-abad Wibawa Alkitab serta 

identitas Kristus yang telah diakui, dipertanyakan. Lebih-Iebih lagi, ide-ide ini dibahas 

di seminari-seminari yang jumlahnya sangat banyak.  

Orang-orang biasa diberitahu para akademisi dan rohaniwan ini bahwa yaitu  bodoh 

mempercayai Alkitab, bahwa yaitu  terhormat mempercayai evolusi. Orang-orang 

konservatif Kristen melawan hal ini. Pada tahun 1895, Konferensi Alkitab Niagara 

menentukan lima iman Kristen "yang pokok": (1) ketidakkeliruan Kitab Suci; (2) 

kelahiran (dari) perawan dan keilahian Kristus; (3) penanggungan dosa-dosa manusia 

oleh Kristus; (4) kebangkitan fisik Kristus; (5) kembalinya Kristus. Hal-hal ini telah 

diakui secara luas di gereja-gereja konservatif.  

Namun, hal ini hampir tidak ada hubungannya dengan fundamentalisme. Anda dapat 

berbondong-bondong mengadakan oposisi terhadap teori Darwin, namun jika Anda 

mulai menggembor-gemborkan Immanuel Kant dan Friedrich Schleiermacher, Anda 

akan kehilangan beberapa simpatisan. Ada yang berpendapat bahwa teori-teori ini akan 

lenyap begitu saja; yang lain berpendapat lebih baik berkonsentrasi pada penginjilan 

dan misi (gereja saat  itu masih berada di tengah-tengah puncaknya kesadaran akan 

misi).  

Perang Dunia I telah memicu para fundamentalis beraksi. Sebelum Amerika masuk 

dalam kancah peperangan, banyak orang Kristen (seperti juga banyak orang Amerika) 

menentang hal itu. Sesungguhnya, pada taraf-taraf awal, orang-orang Kristen 

konservatif diserang orangorang Kristen liberal dengan tuduhan tidak patriotik dan tidak 

mendukung usaha-usaha perang. (Beberapa oposisi kaum konservatif terhadap perang 

ini berasal dari paham kedamaian yang ada di Alkitab, sebagian sebab  ingin "terpisah" 

dari dunia.)  

Namun, setelah kekejaman orang-orang Jerman disiarkan (dan mungkin terlampau 

dibesar-besarkan), langsung saja para pengkhotbah menyimpulkan kaitannya: Jerman 

yaitu  tempat kelahiran falsafah orang-orang modern! Jadi inilah akibatnya – 

kebrutalan, kebiadaban dan kehancuran.  

Tiba-tiba saja masa depan dunia dalam keadaan bahaya. Gerakan fundamentalis 

sesungguhnya mulai bergerak setelah perang dunia. Asosiasi Fundamental Kristen se-

Dunia, yang dipimpin William B. Riley, yang dibentuk pada tahun 1919, 

memperingatkan betapa bahayanya modernisme bagi warga  Amerika. Para 

pengkhotbah seperti Billy Sunday dan John Roach Straton mulai mengkritik keburukan-

keburukan yang berjangkit dalam warga  pascaperang. sebab  bekerja sebagai 

revivalis, mereka mengarahkan tradisi kesucian ke luar. Bangsa yang besar ini akan 

terjerumus ke dalam kebiadaban, seru mereka, kecuali mereka kembali ke kebenaran 

Allah.  

Selama lima tahun berikutnya dan seterusnya, kaum fundamentalis mendapat dukungan. 

Pada denominasi-denominasi Protestan utama, khususnya di antara kaum Northern 

 211

Baptist dan Presbiterian di utara, kekuatan-kekuatan fundamentalis mencoba 

memaksakan kembali ke hal-hal dasar. Serangkaian berbagai keyakinan dasar, 

pernyataan ajaran, kebutuhan penginjilan, dan penelitian pada seminari-seminari, 

semuanya ini telah disusun dalam agenda. Mereka kurang meraih sukses. Dalam banyak 

hal, hasil akhirnya yaitu  perpecahan aliran.  

Perang epik ini berlangsung bukan dalam konvensi gereja, namun  di ruang pengadilan di 

Dayton, Tennessee, pada sidang pengadilan Scopes yang terkenal itu. Mata seluruh 

bangsa tertuju pada pengacara-pengacara selebriti – William Jennings Bryan di pihak 

fundamentalis, Clarence Darrow di pihak guru sekolah yang evolusionis. Bryan 

memenangkan pertempuran, namun kalah dalam peperangan. Scopes dinyatakan 

bersalah (keputusannya lalu  dibatalkan), namun  Darrow membuat Bryan tampak 

buruk. Opini publik mungkin sudah tidak mendukung para fundamentalis, namun  

pengadilan telah mengesahkannya. Mereka telah dikenal dan diejek sebagai rimba 

terpencil dan orang-orang yang fanatik, namun tidak berpengetahuan.  

Setelah tahun 1925, fundamentalisme mundur, terpisah dari dunia ini, menunggu 

kedatangan Kristus dan mempelajari firman Allah yang tidak mungkin salah. Kelompok 

ini tetap merupakan kelompok yang memiliki  subkebudayaan yang tertutup, yang 

membangkitkan gerakan evangelikal tahun 1940-an dan seterusnya, serta melahirkan 

kebangkitan neofundamentalis sekitar tahun 1980.  

 212

91) Tahun 1919 Tafsiran Surat Roma oleh Karl Bath Diterbitkan  

 

Karl Barth (1886-1968)  

 

Dr. Karl Barth sedang santai di antara sesi-sesi Sidang Raya I 

Dewan Gereja-gereja se-Dunia bersama Dr. Emil Brunner  

Pada abad kesembilan belas, liberalisme telah menekankan kemajuan manusia dan 

perubahan dalam dunia.  

Namun jika manusia telah maju sebegitu jauh, mengapa ia harus terlibat dalam perang 

dunia? Jika penemuan-penemuannya dalam teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi 

begitu efektif, mengapa ia mengarahkan penemuan-penemuan itu kepada yang lain?  

Manusia telah tersanjung dengan kemampuannya sendiri. Langkah-langkah panjang 

yang dicapai ilmu pengetahuan tampaknya membuat dunia menjadi tempat yang tidak 

misterius lagi. dibandingkan  mencari Allah yang supranatural, banyak orang mencoba 

mewujudkan surga di atas bumi.  

Darwin dan para ahli ilmu pengetahuan lainnya mempertanyakan unsur-unsur 

supranatural yang dikandung Alkitab. Apakah manusia sesungguhnya ciptaan khusus? 

Apakah mujizat benar-benar dapat terjadi? Apabila kita dapat mengatur sendiri alam ini, 

mengapa kita harus membutuhkan Allah? Teologi liberal pada zaman ini 

menggambarkan Allah tanpa murka, Kristus yang hanya mengajarkan etika, dan 

kerajaan dunia ini.  

Akan namun , Perang Dunia I mempertanyakan semuanya itu. Dengan kemajuan Eropa 

Kristen yang masih meragukan, banyak orang melihat sifat kemerosotan pemikiran 

liberal. Salah satunya yaitu  seorang pendeta, Karl Barth. sebab  berhadapan dengan 

kekejainan peperangan, pendeta liberal ini berpaling pada Surat Paulus untuk Jemaat 

 213

Roma. Apa yang ia temukan di situ mengubah imannya dan mewujudkan gejolak dalam 

teologi yang mengingatkannya pada Agustinus, Luther dan Wesley.  

Tafsiran Surat Roma, yang disebut "bom di tempat bermain para teolog liberal", 

menerangkan Allah sebagai yang berdaulat dan transenden. Kejatuhan manusia seperti 

yang ada dalam Kitab Kejadian 3 yaitu  benar, ujar Barth. Di situ, seluruh keberadaan 

manusia telah rusak sebab  dosa dan ia tak lagi dapat menemukan kebenaran Allah 

dengan usahanya sendiri. Allah harus menampakkan diri-Nya pada manusia, dan la 

melakukannya melalui Yesus Kristus.  

Pernyataan ulang doktrin Barth ini, yang memakai  istilah-istilah Protestan klasik, 

mengundang diskusi. Menjelang tahun 1930, pendeta ini  telah menjadi profesor 

teologi di Jerman.  

Bersama-sama dengan yang lain di Confessing Church (Gereja yang Mengaku), Barth 

menentang para Nazi dan menulis sebagian besar "Barmen Declaration" (Deklarasi 

Barmen), yang mengajak orang-orang Kristen menentang tipu muslihat Hitler yang 

dipakai untuk melawan Gereja. Satu tahun lalu , pada tahun 1935, Barth diusir dari 

Jerman dan ia pergi ke Basel, Swiss, untuk mengajar teologi. Selama berada di sana ia 

banyak menulis, termasuk karya utamanya Church Dogmatics (Dogmatika Gereja), 

suatu mahakarya Protestan.  

Ide-ide Barth menjadi dasar bagi neo-orthodoksi. Teologi abad kedua puluh ini 

antiliberal, dalam tekanannya pada studi Alkitab, dosa, dan dalam sikapnya terhadap 

kedaulatan Allah. Namun, teologi ini bersifat ambivalen terhadap historisitas Alkitab, 

khususnya pada Perjanjian Lama. Sambil menegaskan sebagian besar ajar-an Alkitab, 

teologi ini tidak perlu menerima bahwa setiap peristiwa dalam Alkitab terjadi dalam 

ruang dan waktu. Para pengkritiknya telah mengatakan bahwa neo-orthodoksi berupaya 

juga "menikmati hasilnya dari kedua sisi yang berbeda", dengan menegaskan doktrin 

tradisional, sementara memberi juga peluang bagi para skeptik yang meragukan sifat 

historis Kristen.  

Para teolog seperti Emil Brunner, Gustaf Aulen, Reinhold, Richard Niebuhr dan 

Friedrich Gogarten sepaham dengan kepercayaan Barth tentang kedaulatan Allah dan 

dosa manusia, serta menekankan bahwa iman berarti lebih dari sekadar mengatakan ya 

terhadap beberapa proposisi teologis. sebab  ne-oorthodoksi menerima perlunya 

"lompatan iman" untuk mengatasi kebenaran yang tampaknya sulit dan berkontradiksi, 

maka paham itu disebut teologi krisis.  

Di dunia yang telah mengalami dua peperangan berat, ide-ide Barth membawa kembali 

gereja-gereja pada tema-tema dosa dan kedaulatan Allah. Banyak orang Kristen 

menganggap bahwa tulisan-tulisannya yang berjilid-jilid itu merangsang dan 

membingungkan. Barth bermain-main dengan universalisme, ide bahwa akhirnya Allah 

akan menyelamatkan semua orang, meskipun ia tidak pernah berbenturan dengan 

pertanyaan itu. Dalam teologinya yang berpusat pada Kristus, ia sering kali 

menempatkan Kristus dalam Perjanjian Lama di tempat-tempat yang mustahil. Ia juga 

tidak setuju bahwa Kitab Suci tidak dapat salah atau tidak dapat keliru.  

Dari sisi positif, Barth mendorong pemahaman Alkitab yang serius, menekankan 

khotbah-khotbah yang dinamis dan mengembalikan manusia pada pengertian 

 214

kebutuhannya akan Allah Yang Mahakuasa. saat  banyak orang berpaling pada dunia 

untuk berharap, ia panggil mereka kembali untuk menatap kepada Kristus.  

 215

92) Tahun 1921 Radio Kristen Pertama Mengudara  

  

Paul Rader (1879 - 1938) , pelopor penyiar radio Kristen  

Radio itu baru berumur dua bulan. Westing-house Company yang memulainya di 

Pittsburgh, dengan siaran pemilihan umum pada tahun 1920, memakai  kode 

panggilan KDKA. Para pendengar pertama memakai  pesawat buatan sendiri, 

namun sekarang Westinghouse dengan pesat menjual pesawat-pesawat radio yang 

sudah dibuat sebelumnya, dan para pembeli membutuhkan acara untuk didengarkan. 

Dalam upaya menyusun acara, stasiun siaran memutuskan menyertakan pelayanan 

gereja dalam siarannya.  

Seorang insinyur di Westinghouse yaitu  anggota Gereja Episkopal Calvary di 

Pittsburgh. lalu  diadakanlah persiapan untuk menyiarkan kebaktian dari sana 

pada hari Minggu pertama, petang, pada tahun 1921. Pendeta senior yang skeptis 

membiarkan rekannya, Lewis B. Whittemore, melayani kebaktian ini . Dua orang 

insinyur KDKA – seorang Katolik, yang lain seorang Yahudi – menangani peralatan itu. 

Mereka mengenakan jubah koor agar kehadiran mereka tidak menarik perhatian para 

jemaat. Tanggapan terhadap siaran itu begitu positif hingga kebaktian itu menjadi acara 

tetap dalam KDKA.  

Di daerah Chicago, pengkhotbah Paul Rader memboyong kwartet bass ke "studio" di 

atap sebuah gedung, di mana tersedia sebuah peti dengan sebuah lubang pada satu sisi. 

"Anda bersiap-siap saja dengan instrumen Anda terarah ke lubang itu," kata teknisi itu. 

"Bila saya katakan main, Anda pun main."  

Ia masukkan mikrofon telepon tua ke dalam lubang itu dan berkata, "Main." Kwartet 

ini  pun main. lalu  Rader berkhotbah. Tanggapan baik yang mereka terima 

membuat Rader mencari stasiun-stasiun lain di daerah Chicago. Melihat WBBM tutup 

pada hari Minggu, ia mengatur untuk memakai studio ini . Rader menjalankan 

stasiun seminggu sekali, setiap hari Minggu, selama empat belas jam sehari – WJBT, 

"Where Jesus Blesses Thousands".  

Seperti pada kemajuan teknologi lain, orang Kristen Evangelikal khawatir dengan 

pengenalan pada radio ini. Sesungguhnya bukankah iblis yaitu  "pangeran penguasa 

udara"? Sebagian besar pelopor pengkhotbah radio justru dihadapkan dengan lebih 

banyak penentang dari gereja ketimbang dari warga  luar.  

Di Omaha, Nebraska, WOAW (lalu  menjadi WOW) memulai siarannya pada 

bulan April 1923. Tawaran stasiun itu ditolak beberapa pengkhotbah, sebelum mereka 

 216

meminta R.R. Brown, seorang pendeta dari Persekutuan Kris-ten dan Misionaris 

(Christian and Missionary Alliance) yang merupakan orang baru di kota itu. Brown 

berusaha meminta saran seorang teman yang mengatakan bahwa ia telah berdoa agar 

Allah "mendapat keuntungan" dengan stasiun radio baru (dan yang berpotensial) ini. 

Mungkinkah keuntungan itu ada pada diri Brown?  

Brown setuju melakukan acara pertama, namun saat  ia meninggalkan studio itu seusai 

siaran, seseorang datang menemuinya dengan pernyataan bahwa pikirannya telah 

diubah Roh Kudus dan ia bertobat sebab  siaran itu. Brown meneriakkan: "Halleluya! 

Pengurapan dapat dilakukan melalui transmisi!"  

Di Chicago, WGES sedang mempersiapkan siaran jarak jauh untuk meliput Illinois 

Product Exposition pada tahun 1925. Siaran hampir mulai namun  para musisi belum juga 

tiba. Secara kebetulan, seorang pejabat stasiun mendengar dua orang bocah sedang 

memainkan alat musik terompet di tenda Moody Bible Institute, ia berlari untuk 

"meminjam" jasa anak-anak ini. Beberapa hari lalu , stasiun ini  mengundang 

Moody Bible Institute untuk mengadakan program satu jam setiap hari Minggu. Hal ini 

akhirnya membuat Moody memiliki stasiun sendiri, WMBI.  

Pada tahun 1928, Donald Grey Barnhouse menjadi pengkhotbah pertama yang 

menyewa jaringan nasional dengan mengudara di CBS dari Philadelphia's Tenth 

Presbyterian Church (Gereja Presbiterian Philadelphia Kesepuluh). Pada tahun 1930, 

Clarence Jones dan Reuben Larson meluncurkan stasiun radio penginjilan pertama, 

HCJB, di Quito, Ekuador – stasiun radio pertama di negeri itu. Dalam masa demam 

radio pada pertengahan tahun 1920-an, banyak gereja dan lembaga-lembaga pelayanan 

mulai mengadakan siaran. Menjelang tahun 1928, terdapat enam puluh stasiun radio 

keagamaan. lalu  Komisi Radio Federal. melembagakan peraturan-peraturan baru 

dengan menstandarkan gelombang dan menghilangkan kekacauan. Peraturan-peraturan 

ini mematikan stasiun-stasiun kecil, namun membantu yang telah kokoh. Menjelang 

tahun 1932, hanya tiga puluh stasiun keagamaan yang tinggal. Namun, pada setengah 

abad berikutnya, kekuatan media Kristen bertumbuh. Para pemimpin seperti Billy 

Graham, Rex Humbard, Oral Roberts dan Pat Robertson, dengan tidak melupakan 

Uskup Fulton Sheen, yaitu  orang-orang pertama yang melakukan siaran melalui 

televisi pada tahun 1950-an dan 1960-an. Radio dan TV memainkan peran penting 

dalam kebangkitan kembali fundamentalis pada tahun 1970-an.  

Awal mula gerakan dalam radio Kristen, kembali pada tahun dua puluhan, 

menunjukkan sedikit skizofrenia kaum fundamentalisme Amerika. Istilah umum untuk 

hal itu yaitu  Pemisahan. Para pengkhotbah fundamentalis seperti Billy Sunday 

meminta para pendengar agar menjauhi "keduniawian" dalam segala bentuknya. 

Namun, para fundamentalis juga merupakan pengurus bagi Injil yang keluar. Agar setia 

padanya, mereka harus memberitakannya ke luar. Hal ini membutuhkan segala cara 

yang memungkinkan – termasuk gelombang radio – untuk mengajarkan tentang Yesus. 

Dengan demikian, bangkitnya radio Kristen merupakan pendahulu gerakan evangelikal 

pada tahun 1930-an dan 1940-an, di mana dorongan untuk penginjilan mulai 

melunakkan garis-garis keras kaum separatis.  

saat  siaran televisi Kristen lebih meluas dari radio Kristen, siaran keagamaan menjadi 

bisnis besar. Televisi telah menawan publik Amerika sebegitu rupa sehingga menjadi 

sumber utama bagi kegiatan waktu senggang, ataupun kala tidak beraktivitas. Orang-

orang Kris-ten pun telah tertarik pada televisi. Para pengkhotbah yang berjiwa usaha 

 217

membangun organisasi-organisasi dan institusi-institusi (tamantaman untuk bersantai, 

perguruan tinggi-perguruan tinggi, katedral-katedral kristal) atas dasar pelayanan 

televisi mereka. Mereka pun berupaya meniti karir dalam kancah politik pada tahun 

delapan puluhan, dan salah seorang dari mereka yang berupaya menjadi presiden 

mereka yaitu  Pat Robertson.  

Pelayanan televisi keagamaan ini menjangkau hanya sebagian kecil publik Amerika 

Utara. Para analis rating audiens siaran duniawi mengetahui hal itu, dan tidak melihat 

bahwa program keagamaan sebagai ancaman besar untuk merebut para audiens. namun  

orang-orang Kris-ten yang telah terpikat oleh siaran itu memikirkan bahwa sekurang-

kurangnya mereka telah menghadirkan diri dalam dunia televisi yang kuat dan 

mensubsidikan uang sebesar dua miliar dolar Amerika per tahun untuk siaran 

keagamaan menjelang akhir tahun 1980-an.  

Sedihnya, skandal moral yang melibatkan dua dari antara pelayan-pelayan besar 

mengumpulkan lebih banyak "angka rating rata-rata" pada perhitungan pendengar 

dibandingkan  program-program televisi keagamaan yang telah dicapai selama ini. Seperti 

televisi mengubah cara Amerika memilih para politisinya pada tahun tujuh puluhan dan 

delapan puluhan, maka siaran keagamaan di televisi membawa dampak bagi persepsi 

umum tentang hakikat dan arti kekristenan. Terlampau dini untuk mengetahui 

bagaimana televisi keagamaan berdampak pada gereja masa kini, namun penting untuk 

menyelidikinya.  

 218

93) Tahun 1934 Cameron Townsend Memulai Institut Linguistik 

Musim Panas  

 

William Cameron Townsend (1896 – 1982) dan istrinya Elvira Townsend bersama 2 

orang Indian Tzeltal di Mexico  

 

Cameron Townsend bernyanyi bersama Indian Tzeltal di Mexico 

Cameron Townsend mendapatkan pelajaran awal dalam hubungan antara linguistik dan 

penginjilan. Sebagai seorang misionaris muda di Guatemala, ia bekerja keras mendekati 

orang-orang jalanan dan menanyakan hubungan mereka dengan Kristus. Ia menghafal 

kalimat perkenalannya dalam bahasa Spanyol: "Tahukah Anda tentang Tuhan Yesus 

itu?" la tidak tahu bahwa Yesus itu yaitu  nama pertama yang umum di antara orang 

Spanyol, dan istilah "Tuhan" (Lord) – Senor – juga artinya "Tuan" (Mister). Ia 

mengharapkan tanggapan yang akan memberi dia kesempatan berbicara tentang hal-hal 

spiritual. Namun, yang ia dapat yaitu  suatu kenyataan, "Maaf, tidak kenal. Saya pun 

orang asing di sini."  

Itu terjadi pada tahun 1917. Sebagian besar pemuda Amerika seusianya sedang 

berperang di Eropa. Mungkin, melihat tubuh Townsend yang lemah, pejabat yang 

merekrutnya menawarkan dia menjual Alkitab di Guatemala.  

Pada awalnya, mungkin terlihat bahwa Townsend terlibat dalam pekerjaan berat. 

Namun akhirnya ia mempelajari bahasa Spanyol dan mulai bekerja di antara orang-

orang Indian yang beriman. Terbeban bekerja untuk Indian Cakchiquel di dataran 

tinggi, Townsend mengetahui bahwa di antara mereka hampir tidak ada yang 

 219

mengetahui bahasa Spanyol. Agar berdampak terhadap mereka, ia harus mempelajari 

bahasa mereka.  

Hal ini tidaklah mudah. Istrinya, Elvira, dalam surat doanya menulis, "Berdoalah agar 

kami dengan cepat dapat mempelajari bahasa yang mengerikan ini. Tanpa tata bahasa 

atau buku-buku apa pun untuk dipelajari, keadaan sungguh menyulitkan. Kami memiliki 

sebuah buku kecil, di situlah kami mencatat istilahistilah dan kalimat-kalimat yang 

diucapkan orang-orang Indian bila kami mengunjungi mereka. Namun, beberapa istilah 

ini bunyinya begitu aneh sehingga sulit dicatat. namun , tentunya bahasa Cakchiquel ini 

datangnya dari Tuhan, sama seperti bahasa Inggris, Spanyol atau Swedia, dan kami tahu 

bahwa Ia akan membuat kami mengerti bahasa Indian ini agar kami secepatnya dapat 

menjelaskan Injil kepada mereka dalam bahasa mereka sendiri."  

Doa ini  terkabul. Menjelang tahun 1931, pasangan Townsend telah menghasilkan 

Perjanjian Baru lengkap dalam bahasa Cakchiquel. Tidak lama lalu , 

memburuknya kesehatan mereka memaksa mereka kembali ke Amerika Serikat. Cam 

berharap pindah ke sebuah pelayanan di Amerika Selatan setelah kesehatan mereka 

pulih. L. L. Legters, seorang rekan dan pendukung karya Townsend di Guatemala, 

meminta dia bekerja di Mexico, lebih dekat ke rumah. Townsend dan Legters bersama-

sama mengembangkan suatu ide Baru.  

"Saya menganjurkan supaya kita mendirikan institut musim panas tempat misionaris 

dapat dididik bagaimana mempelajari suatu bahasa untuk menulis dan menerjemahkan 

Injil," tulis Townsend di lalu  hari. sebab  hanya dua universitas di Amerika 

Serikat yang memberi kursus dalam linguistic descriptive (bagaimana suatu bahasa inti 

lazimnya dipakai), dan program empat tahun ini memakan waktu terlampau lama bagi 

para misionaris, maka sesuatu yang khusus dibutuhkan. Legters dan Townsend 

meneruskan dengan dua jalur. Mereka memutuskan memulai sekolah bahasa bagi para 

misionaris di Amerika Serikat, dan mereka berencana meminta pemerintah Mexico 

mengizinkan mereka mengirim para penerjemah Alkitab untuk mempelajari bahasa-

bahasa Indian yang belum ditulis.  

Pada tahun 1934, Summer Institute of Linguistics (Institut Linguistik Musim Panas) 

dimulai di sebuah ladang di Sulphur Springs, Arkansas, dengan kurikulum yang 

mengesankan. Apabila para profesornya tidak dapat datang ke institut, maka siswa 

institut itulah yang mendatangi para profesor (hanya ada dua orang siswa pada tahun 

pertama dan beberapa lagi pada tahun kedua).  

Pada awalnya, para penerjemah ini hampir tidak mendapat kerja sama dari pemerintah 

Mexico. namun , Townsend memiliki beberapa orang terpelajar tingkat tinggi di 

pihaknya. llia yaitu  salah seorang pembuat eksperimen yang sangat terkemuka dalam 

ilmu bahasa yang sedang mencuat. Akhirnya, para pemimpin Mexico melihat 

pentingnya mempelajari bahasa-bahasa Indian ini  dan memberi dukungan penuh 

bagi karya Townsend.  

Townsend tidak pernah seorang diri dalam organisasi. Para misionarislah yang 

melakukan pekerjaan misi, bukan pejabat-pejabat di rumah (Amerika Serikat). Namun, 

menjelang awal 1940-an, pekerjaan penerjemahan ini menjadi beban berat untuk 

dikerjakan dalam basis free-lance. Institut Musim Panas pindah ke Universitas 

Oklahoma, dan di situ terdapat 130 mahasiswa. Ada empat puluh empat penerjemah 

yang sudah bekerja di Mexico, dan Townsend telah meminta lima puluh lagi. Untuk ini 

 220

dibutuhkan semacam organisasi pendukung. Maka, pada tahun 1942, dengan resmi 

dibentuklah Wycliffe Bible Translators, dinamakan demikian untuk menghormati 

penerjemah Inggris yang agung pada Abad Pertengahan. Institut Linguistik Musim 

Panas melanjutkan hubungan dengan pemerintah-pemerintah mancanegara, namun  

Wycliffe Bible Translators mengorganisasikan dukungan dari Amerika Serikat.  

Karya penerjemahan meluas dari sana: Guatemala, Peru, Columbia dan Ekuador. 

Sebuah korps penerbangan, Jungle Aviation and Radio Service (Pelayanan Radio dan 

Penerbangan Hutan), didirikan untuk membawa para penerjemah misionaris dengan 

selamat ke dan dari daerah-daerah jauh.  

Sampai sekarang ketiga organisasi ini  memiliki  lebih dari 6.000 pekerja di lebih 

dari lima puluh negara. Mereka menghasilkan bagian-bagian Alkitab dalam lebih dari 

300 bahasa dan sedang bekerja untuk lebih dari 800 yang lain.  

Karya Wycliffe Translators ini  membuat ratusan kelompok manusia terjangkau 

Injil. Ini merupakan langkah besar ke depan dalam gerakan misi modern untuk 

menjangkau orangorang yang tidak terjangkau – mereka yang tidak punya akses 

terhadap kekristenan.  

Namun organisasi Townsend juga menggambarkan pergeseran halus dalam 

Protestanisme Amerika. Pada tahun 1930-an dan 1940-an, fundamentalisme muncul lagi 

dengan tiba-tiba. Separatisme yang ketat memberi jalan bagi penginjilan yang agresif. 

Sementara memelihara kesempurnaan doktrinnya, organisasi Wycliffe ini  dengan 

tidak merasa malu bersekutu dengan universitas-universitas sekular, para ahli bahasa, 

pemerintah, ataupun dengan para antropolog dalam rangka menyelesaikan urusannya. 

Gerakan "evangelikal" ini  melihat banyak misi dan organisasi pendidikan Kristen 

yang timbul, serta ingin mencoba metode-metode Baru membawa Injil ke seberang.  

 221

94) Tahun 1945 Dietrich Bonhoeffer Dieksekusi Nazi  

  

Dietrich Bonhoeffer (1906-1945). di halaman penjara Tegel di Berlin (summer 1944). 

Source: Christian Kaiser Verlag  

Orang-orang Kristen boleh tidak setuju dengan teologinya, namun  hampir tidak ada yang 

tidak mengagumi keteguhan sikap Dietrich Bonhoeffer menentang Third Reich (Jerman 

di bawah kekuasaan Hitler) – meskipun ia harus mengorbankan nyawanya.  

Bonhoeffer, seorang mahasiswa Karl Barth, menerima gelar doktoral di bidang teologi 

dari Universitas Berlin saat  ia berumur dua puluh satu tahun. Ia yaitu  seorang 

pendeta utusan gereja Lutheran dan dosen saat  Hitler berkuasa pada tahun 1933.  

Sadar akan pengaruhnya terhadap orang banyak, Hitler membujuk dan menipu Gereja 

dengan mendapatkan dukungan besar dari kaum rohaniwan Lutheran dan Katolik. Ide 

Gereja Jerman sendiri telah menyentuh "orang-orang Kristen Jerman". Ide-ide Nazi 

sudah mulai menyusup ke dalam gereja.  

Namun, yang lain takut serta mencurigai Hitler dan idenya tentang keunggulan ras Aria. 

Kira-kira sepertiga kelompok rohaniwan Protestan, yang memimpin apa yang 

dinamakan Confessing Church (Gereja yang Mengaku), menentang pemimpin Jerman 

ini. Mereka menganggap ide-ide ini  berasal dari Barmen Declaration (Deklarasi 

Barmen), yang sebagian besar ditulis Karl Barth, yang menunjukkan kesalahan doktrin 

orang-orang Kristen Jerman.  

Pada tahun 1935, Bonhoeffer menjadi Ketua Confessing Church Seminary. namun , 

seminari itu ditutup pada tahun 1937, dan Bonhoeffer dilarang menerbitkan ataupun 

berbicara di muka umum. Dua tahun lalu , saat  ditawarkan kemungkinan untuk 

pindah mengajar di Amerika, Bonhoeffer menolaknya dengan alasan ingin melayani 

orang-orang bangsanya, yakni bangsa Jerman.  

Iparnya menarik dia dalam gerakan perlawanan, dan Bonhoeffer pun telah menjadi 

bagian dari rencana pembunuhan Hitler. la dan yang lain merasa bahwa Hitlerlah 

anti-Kristus itu. Jadi rohaniwan ini  menjadi agen ganda di kantor intel tentara 

Jerman. Dia gagal berupaya mendapatkan dukungan dari Inggris bagi rencana itu. 

Rencana ini  akhirnya gagal.  

 222

saat  Bonhoeffer ditangkap pada tahun 1943, hal itu bukan sebab  dia bekerja sebagai 

agen ganda, melainkan sebab  ia membantu menyelundupkan empat belas orang Yahudi 

ke Swiss. Di dalam penjara dia menulis, yang lalu  diterbitkan setelah 

kematiannya, dengan judul Letters and Papers From Prison (Surat-surat dan Tulisan-

tulisan dari Penjara).  

Hanya saja jika Bonhoeffer hidup lebih lama lagi mungkin dia dapat menjelaskan lebih 

jauh beberapa ide yang menantang namun  membingungkan itu, yang dikemukakannya 

selama di dalam penjara. Para teolog mengadakan argumentasi tentang ungkapan 

"religionless Christianity" (kekristenan tanpa agama); "death of God" (kematian Allah) 

yang dipahami secara berbeda oleh para teolog dan para penginjil. saat  dia berkata 

"the world has come of age" (dunia sudah dewasa), apa yang dimaksudkan Bonhoeffer? 

Apa dia ingin mensekulerkan Injil atau dia pun melihat – seperti juga orang lain pada 

masa kini – bahwa orang-orang tidak lagi mengerti konsep tradisional Kristen?  

"Bagaimana kita dapat berbicara secara 'sekular' tentang Allah?" tanya Bonhoeffer. Kita 

tahu bahwa dia tidak sepaham dengan para teolog lainnya seperti Rudolf Bultmann dan 

Paul Tillich, yang ingin "mendemitologisasikan" Injil, namun  dia tidak pernah memulai 

suatu program seorang diri.  

Meskipun banyak pertanyaan tentang dia yang belum terjawab, satu-satunya elemen 

utama kepercayaan Bonhoeffer tidak dapat diragukan: Iman itu mahal. Bukunya, The 

Cost of Discipleship (Harga Mengikut Yesus), mengajak orang-orang Kristen agar 

beriman kuat dan menyangkal diri. Banyak orang yang telah menerima "anugerah 

murah" Kristen, yang mendorong mereka beriman lemah, kata Bonhoeffer. dibandingkan  

memperlakukan bagian-bagian etika Perjanjian Baru sebagai gagasan yang tak 

mungkin, orang-orang Kristen harus mengusahakan hal itu. Agama yang sejati lebih 

dibandingkan  hanya memiliki ide-ide yang benar tentang Allah; itu berarti mengikuti Dia – 

sampai mati, jika perlu.  

Bonhoeffer mematuhi fatwanya sendiri. saat  berada dalam penjara, dia berupaya 

melayani orang lain. Pada tanggal 9 April 1945, saat  tentara sekutu mengadakan 

serangan terakhir atas Jerman, dia dihukum gantung dengan tuduhan mengkhianati 

negara. Meskipun orang-orang Kristen sering kali mengalami problem etis dengan 

terlibatnya Bonhoeffer dalam rencana membunuh Hitler, pendiriannya melawan 

berbagai upaya Hitler menjadikan Gereja bagian dari rezim Nazi dan kesediaannya mati 

bagi Kristus, juga memberi setiap generasi tantangan akan iman yang siap berkorban.  

 223

95) Tahun 1948 Dewan Gereja-gereja se-Dunia Terbentuk  

 

World Council of Churches (WCC), Amsterdam, 22 August - 4 September 1948  

Apabila orang-orang terdorong memikirkan dirinya sendiri, di situ ada pemisahan 

gereja. Di mana dua atau tiga orang berkumpul bersama, kemungkinan akan timbul 

empat atau lima pendapat.  

Alkitab berbicara tentang kesatuan orang-orang percaya, namun berbicara juga tentang 

keharusan berpegang pada kebenaran. Banyak reformis, seperti yang telah kita lihat, 

berpegang pada kebenaran – dan akibatnya, melepaskan diri dari gereja yang dianggap 

salah. Yang lain seperti Alexander Campbell dan John Nelson Darby, menentang 

perpecahan Gereja atas nama kesatuan gereja. namun  malangnya, ide mereka tentang 

kebenaran ditentang juga, dan kesatuan yang mereka upayakan tidak pernah terwujud. 

"Berbicara tentang kebenaran dalam kasih" tidak pernah mudah dilakukan.  

Namun, John R. Mott dan rekan-rekannya sadar bahwa karya misi yang efektif 

membutuhkan kerja sama dan kesatuan gereja – dan mungkin kesatuan gereja 

membutuhkan pekerjaan misi. Sekelompok angsa akan berkumpul bersama selama 

semuanya bergerak menuju arah yang sama. Jika orang-orang Kristen hanya duduk dan 

berpikir saja, mereka tidak akan sepaham dengan nilai-nilai teologi yang indah. namun , 

bila mereka dikaryakan dengan menyebarkan Injil Kristus, mungkin saat  itulah kita 

akan merupakan suatu badan yang menyatu seperti yang diinginkan Kristus.  

Gerakan Relawan Mahasiswa yang dipimpin Mott menghasilkan aktivitas misi seperti 

pusaran angin. Misi ini  beroperasi melintasi garis-garis denominasi. Organisasi-

organisasi lain menyebarkan aktivitasnya di luar perguruan tinggi pada kaum awam 

yang lebih tua. Pada tahun 1910, International Missionary Conference (Konferensi 

Pekabaran Injil lnternasional), bertemu di Edinburgh untuk merencanakan strategi-

strategi bagi penginjilan dunia. Hal ini umumnya dianggap sebagai awal gerakan 

oikumene. Dengan John R. Mott sebagai penggerak utama, keseribu delegasi ini  

menggerakkan dua organisasi – Faith and Order Movement (Gerakan Iman dan Tata 

Ibadah) [untuk isu-isu doktrinal] dan Life and Work Movement (Gerakan Kehidupan 

dan Karya) [bagi misi dan pelayanan].  

Kemajuan umumnya bergerak lamban – dan telah terhambat perang dunia. Setiap 

sepuluh tahun, "gerakan-gerakan" ini bertemu untuk membicarakan kebutuhan-

kebutuhan dunia dan status gereja-gereja. Life and Work Movement bertemu di 

Stockholm pada tahun 1925 untuk mendiskusikan hubungan kekristenan dengan 

warga , politik dan ekonomi. Dua tahun lalu  Faith and Order Movement 

bertemu di Lausanne, mengupayakan tugas sulit dalam merencanakan kesatuan ajaran.  

 224

Pada tahun 1937, dengan pertemuan secara terpisah di Oxford dan Edinburgh, kedua 

organisasi ini memilih untuk bergabung. Para pemimpin gereja bertemu di Utrecht, pada 

tahun 1938, untuk menyusun sebuah konstitusi. Namun, Perang Dunia II mencegah 

langkah maju gereja-gereja dengan rencananya ini .  

Setelah perang usai, bagaimanapun juga ada rasa kesatuan yang lebih besar saat  

gereja-gereja di seluruh dunia berupaya memulihkan keadaan. Pertemuan di Amsterdam 

pada tahun 1948 akhirnya menyatukan kedua badan terdahulu itu menjadi World 

Council of Churches (WCC) [Dewan Gereja-gereja se-Dunia]. Terdapat 135 badan-

badan gereja yang terwakili dari empat puluh negara. Setelah seumur hidup 

mengupayakan oikumene, Mott, dalam usianya yang delapan puluhan, terpilih sebagai 

ketua kehormatan.  

Menggambarkan dirinya sebagai "persekutuan gereja-gereja yang menerima Yesus 

Kristus Tuhan kita sebagai Allah dan Juruselamat", WCC mengajak gereja-gereja 

bekerja sama, belajar bersama, bersekutu bersama, berbakti bersama dan bertemu 

bersama dalam konferensi khusus dari waktu ke waktu. WCC menolak rencana apa pun 

untuk membentuk "gereja dunia" baru. WCC tidak akan memiliki kekuasaan yang 

terpusat. WCC hanya bertujuan memberi gereja-gereja di seluruh dunia kesempatan dan 

sumber untuk bekerja sama satu dengan yang lain.  

Dari awal, beberapa kelompok Protestan Amerika Serikat utama menolak bergabung – 

yang paling menonjol yaitu  Southern Baptist dan Missouri Synod Lutherans. Gereja 

Katolik Roma memandang dirinya sebagai suatu kesatuan sehingga tidak akan 

bergabung, meskipun Vatikan II telah membuka pintu diskusi. Namun, WCC tetap 

merupakan organisasi dunia yang aktif dan berpengaruh. Kenneth Scott Latourette 

menyebutnya "badan paling inklusif yang pernah dimiliki agama Kristen".  

Banyak orang Kristen konservatif menyerang sikap "revolusioner" WCC. Baru sekarang 

terlihat bahwa persatuan organisasi gereja secara organisasional tak dapat dicapai pada 

milenium ini — dan mungkin tidak akan pernah. Cara-cara baru untuk bekerja sama dan 

bersatu sebagai orang-orang Kristen sedang ditemukan dan diimplementasikan. Namun, 

doa Yesus "agar mereka menjadi satu" (Yoh. 17:21) masih harus dijawab sepenuhnya.  

 225

96) Tahun 1949 Kampanye Los Angeles Billy Graham  

 

Billy Graham (1918 - )  

 

Tenda di Los Angeles, tempat kampanye Billy Graham diselenggarakan, 1949  

"Anda mungkin terharu bila melihat tenda besar itu kemarin siang penuh sesak dengan 

6.100 orang dan beberapa ratus lagi yang tidak dapat masuk, serta melihat puluhan 

manusia berjalan-jalan di celah-celah barisan bangku dari segala penjuru dan menerima 

Kristus sebagai Juruselamat pribadi saat  diundang."  

Seorang pengkhotbah berumur tiga puluh tahun menulis dari Los Angeles kepada para 

staf perguruan Alkitab di Minneapolis, tempat ia memangku jabatan presiden. Ia 

menyebutnya "kampanye penginjilan terbesar dari seluruh pelayanan saya". Namun hal 

itu hanya suatu awal bagi Billy Graham.  

Orang banyak datang berduyun-duyun ke tenda hesar yang didirikan di Washington 

Boulevard dan Hill Street — "Katedral yang terbuat dari Terpal". Kampanye yang 

direncanakan selama tiga minggu berlanjut sampai delapan minggu sebab  orang-orang 

berdatangan terus. Para selebriti bertobat di muka umum, saat  Graham menyampaikan 

Injil yang sederhana. Dikatakan bahwa seorang wartawan William Randolph Hearst 

memutuskan "mereklamekan" Graham — dengan publisitas luar biasa. Apa pun yang 

terjadi, pertemuan-pertemuan Los Angeles menjadi buah bibir bangsa, yang 

memasyhurkan Graham.  

Mungkin itu kejutan bagi bocah berambut pirang dari Carolina Utara ini. Graham, anak 

sulung seorang Kristen peternak hewan, bertobat pada suatu pertemuan yang dipimpin 

oleh revivalis Selatan, Mordecai Ham. Seleranya berubah dari baseball ke penyelatnatan 

jiwajiwa. Menginjak usia kedua puluh dua, dia ditahbiskan sebagai seorang pendeta 

Southern Baptist.  

 226

Pada tahun 1943, ia lulus dari Wheaton College dan menikahi Ruth Bell, putri seorang 

misionaris medis terkenal yang bertugas ke China. Ia mendirikan sebuah pastorat di 

daerah Chicago, namun  tidak lama lalu  terlibat dengan Torrey Johnson, pertama 

dengan berbicara pada acara Johnson "Songs in the Night" pada siaran radio dan 

lalu  melayani sebagai penginjil penuh waktu pada pelayanan baru Johnson, Youth 

for Christ. Dalam kapasitasnya ini ia mengadakan beberapa kampanye di seputar kota 

menjelang akhir tahun 1940-an, termasuk tur ke Britania Raya pada tahun 1946-1947.  

Dari semula ia telah punya gaya penginjilan yang kooperatif. Kampanyenya tidak 

terbatas pada gereja tertentu. Semua pemimpin Kristen dalam warga  akan 

diundang untuk merencanakan kampanye. Keputusan ini mengundang kritik banyak 

orang konservatif, namun juga banyak menyumbang bagi jamahan Graham secara luas.  

Pada awal tahun 1950-an, ia melanjutkan kesuksesan kampanye Los Angeles dengan 

kampanye-kampanye yang patut dicatat di Boston dan di tempat lain. Pada tahun 1954, 

perjalanan khotbah ke London membuat dia menjadi seorang selebriti internasional. Ia 

berteman dengan Presiden Eisenhower dan figur-figur kaliber dunia lainnya.  

Dengan cepat Graham menguasai media massa. la menulis Peace With God (Damai 

Bersama Allah) yang laris terjual pada tahun 1950-an dan beberapa yang lain sejak itu. 

Siaran radionya "Hour of Decision" berlanjut puluhan tahun lamanya. Bersama-sama 

dengan mertuanya ia mengawali majalah Christianity Today untuk membantu para 

pemimpin Kristen agar selalu bersiaga secara teologis. Di lalu  hari, organisasinya 

meluncurkan majalah Decision untuk warga  umum. Kampanye-kampanye Graham 

dengan teratur disiarkan di televisi secara nasional, dan World Wide Pictures, suatu 

badan yang tumbuh dari Billy Graham Evangelistic Association, telah menghasilkan 

lusinan film-film istimewa.  

Sebagai pemain utama dalam misi-misi dunia, Graham mensponsori Kongres Lausanne 

pada tahun 1974 yang merevolusi kebijakan misi-misi evangelikal dengan lebih 

melibatkan penduduk setempat. Pada tahun 1983 dan 1986, organisasinya membawa 

para penginjil berkeliling dari seluruh dunia ke Amsterdam untuk pertemuan besar bagi 

pendidikan dan penguatan. Billy Graham Center di Wheaton College memberi latihan 

komunikasi dan pelayanan, serta arsip dan Museum Penginjilan abad kedua puluh.  

Akhir-akhir ini, Billy Graham dapat juga menjangkau negara-negara komunis meskipun 

kebijakan resmi mereka atheis. Beberapa orang mengkritik mengapa ia tidak 

memakai  kepopulerannya untuk memprotes penganiayaan orang-orang percaya di 

negeri itu, namun fokus Graham selalu pada penginjilan, bukan pada komentar sosial.  

Pemain baseball yang tinggi dan tampan dari Carolina Utara ini telah menjadi figur 

religius besar dari paroan terakhir abad kedua puluh yang silam. Stafnya 

memperkirakan bahwa dua juta orang telah "maju ke depan" dalam pertemuan-

pertemuannya untuk menyatakan pertobatan mereka. Lebih dari 100 juta orang hadir 

untuk mendengarkannya, dengan jutaan yang tak terhitung tersentuh pelayanan 

medianya. Ia telah melakukan semuanya ini dengan tetap berpegang pada yang terbaik 

yang dilakukannya – mengkhotbahkan Injil yang sederhana.  

 227

97) Tahun 1960 Berawalnya Pembaruan Karismatik Modern  

 

Dennis J. Bennett (1917-1991)  

Pendeta sebuah gereja yang berdekatan meminta Dennis Bennett, pendeta jemaat Gereja 

Episkopal St. Mark di Van Nuys, California, untuk membantunya. Pendeta ini  

memiliki  beberapa orang teman yang telah "menerima baptisan Roh Kudus" dan 

memakai  bahasa lidah.  

Meskipun Bennett tidak tahu banyak tentang hal itu, ia setuju menemui pasangan itu. 

lalu  ia pun mengalami baptisan serupa.  

Baptisan ini  tersebar di lingkungan itu, dan gereja pasangan ini  memulai 

kelompok doa. Pertemuan mereka sangat antusias namun  tertib dan sering berlangsung 

sampai pukul 1:30 pagi. Menjelang tanggal 3 April 1960, kira-kira tujuh puluh anggota 

gereja Bennett "dibaptis dengan Roh".  

Meskipun kegiatan karismatik tidak diizinkan dalam kebaktian-kebaktian formal 

Bennett, berita tentang hal itu telah tersebar, dan banyak orang bertanya-tanya. 

Akhirnya terjadilah perpecahan. Bennett mengundurkan diri dari gereja ini , dan 

sukar ditebak berapa banyak orang yang akan bertahan di gereja itu.  

Tidak seperti orang lain yang pecah dari gereja sebab  tidak sepaham, Bennett 

memutuskan tetap berada dalam imamat Episkopal. Ia berpindah ke Seattle, dan gereja 

yang sedang berjuang yang ia layani di sana memiliki  kehidupan baru. Gerakan 

karismatik tersebar, dan Bennett pun menjadi figur nasional.  

Pusat gerakan ini  tetap berada di Van Nuys. Jean Stone, seorang anggota St. Mark, 

mendirikan Blessed Trinity Society pada tahun 1961 untuk memberi persekutuan dan 

informasi bagi gerakan karismatik yang sedang bertumbuh itu. Pada tahun 1962 

perkumpulan ini  meluncurkan seminar-seminar "Christian Advance". Semuanya 

ini dirancang untuk denominasi-denominasi tradisional, untuk memperkenalkan kepada 

mereka pelayanannya serta anugerah Roh Kudus. Meskipun para karismatik ini kadang-

kadang dicaci-maki atau disalahpahami, mereka selalu mendapat tempat sebagai 

kelompok minoritas di gereja-gereja non-karismatik, tempat mereka kadang-kadang 

tumbuh menjadi berstatus mayoritas.  

Dengan pesat gerakan ini  menyebar ke seluruh daerah Los Angeles, dan saat  

pars nasional memberitakannya, gerakan ini  menyebar ke seantero negeri. Akhir 

 228

tahun 1966, sekelompok sarjana Katolik di Universitas Duquesne, Pittsburgh, mulai 

memperhatikan pengalaman karismatik. Awal tahun berikutnya, beberapa dari antara 

mereka mengalaminya sendiri. Setelah retret akhir pekan, tiga puluh orang lagi menjadi 

pengikutnya, baik para mahasiswa maupun para profesor, dan lahirlah komunitas 

karismatik.  

Sebagian besar gerakan karismatik ini bermula di kalangan atas dan menengah. Hal itu 

bermula di gereja-gereja California yang mewah dan mempengaruhi denominasi-

denominasi tradisional Presbiterian dan Episkopal kelas atas. Di Gereja Katolik, 

gerakan ini bermula tidak dari tingkat paroki, namun  di uni

versitas-universitas. Berawal 
dari sini lalu  meluas ke semua tingkat warga .  
Sungguh janggal, gerakan karismatik hampir tidak ada hubungan dengan Gereja-gereja 
Pentakosta. Berdirinya gerakan mereka tidak sebagai perpanjangan tangan dari Gereja 
Pentakosta dan terselenggara di dalam aliran-aliran tradisional non-Pentakosta. Namun, 
pernah ada hubungan. Pasangan yang telah berkonsultasi dengan Bennett menerima 
baptisan sebab  pengaruh teman-temannya dari Pentakosta. Pola ini  dilanjutkan di 
mana-mana.  
Mengapa gerakan karismatik meraih popularitas pesat seperti itu? Orang-orang 
terpelajar mengemukakan beberapa alasan.  
Pada kebangkitan kampanye Oral Roberts, tahun 1951, peternak hewan Demos 
Shakarian mendirikan Full Gospel Business Men's Fellow-ship International yang 
menarik orang-orang awam Pentakosta ke dalam persekutuan terse-but. Organisasi ini 
segera membuka peluang agar dunia non-Pentakosta dapat menghargai aliran 
Pentakosta.  
Menurunnya "gerakan penyembuhan" pada akhir tahun 1950-an membuat para 
penganut Pentakosta kembali berfokus pada penginjilan, dan pada tahun 1968 
pengkhotbah Pentakosta populer, Oral Roberts, menjadi seorang Methodis. Namun, 
pemimpin Pentakosta yang lama berkecimpung, David du Plessis, mungkin 
mempengaruhi pengenalan karismatik ke dalam gereja-gereja utama lebih dibandingkan  
semuanya ini. Bertahun-tahun lamanya ia bekerja sebagai duta tidak resmi bagi gerakan 
Pentakosta, dengan berbicara kepada orang-orang terpelajar dan para pemimpin non-
Pentakosta – termasuk beberapa yang ada di Dewan Gereja-gereja se-Dunia – tentang 
keyakinannya. Sifat ramah dan martabat pribadi Du Plessis membuat banyak orang 
mendengarkannya.  
Jalan bagi gerakan karismatik telah dipersiapkan, dan saat  ketakutan orang-orang 
pada aliran-aliran utama telah hilang, dengan cepat mereka menerima ajaran-ajaran di 
dalam gerakan karismatik.  
Karismatik telah menjadi salah satu ekspresi Kristen paling dinamis pada abad kedua 
puluh, yang efektif menjangkau mereka yang tidak tersentuh gereja-gereja lebih 
tradisional. Mereka memiliki ekspresi-ekspresi ibadah yang lebih bersemangat, terbaur 
dengan optimisme bahwa mereka ada di mana Rob Allah telah menempatkan mereka. 
Keterbukaan pada metode-metode penginjilan baru, ditambah dengan aset-aset lain, 
membuat mereka menjadi fenomena di seluruh dunia, serta merupakan salah satu 
gerakan yang meraih sukses luar biasa di negara-negara dunia ketiga.  
 229
98) Tahun 1962 Konsili Vatikan II Dimulai  
 
The opening session of the Second Vatican Council in 1962.  
Dalam upaya membendung pemikiran liberal yang telah menggoyahkan banyak orang 
yang ada dalam persekutuaneya, Gereja Katolik menolak bertoleransi dengan ide-ide 
seperti itu pada Konsili Vatikan I. Namun, pada pertengahan abad kedua puluh, ada isu-
isu penting yang tabirnya belum dibuka. Meskipun gereja berpegang teguh akan tradisi, 
apakah belum waktunya mengadakan sedikit perubahan?  
Uskup Agung Venesia, Angelo Roncalli, telah dipilih menjadi Paus pada tahun 1958 
dan menyandang nama Yohanes XXIII. Dalam waktu tiga bulan setelah pemilihan ia 
mengadakan Konsili Oikumenis Katolik. Paus yang baru ini dapat melihat bahwa dunia 
telah berubah, dan tanggapan Katolik dibutuhkan untuk menyapa perubahan-perubahan 
ini . Tujuan persidangan itu ialah aggiornamento, "membawa gereja sesuai dengan 
zaman".  
Tekanan baru yang ingin diwujudkan Paus ialah pelayanan pastoral. Yohanes XXIII 
ingin agar para pastor lebih peduli pada kawanan dombanya (jemaat) dibandingkan  politik.  
Pada bulan Oktober 1962, lebih dari 2.000 kardinal, uskup dan kepala biara tiba di 
Roma – menjadikan konsili itu konsili gereja terbesar. Mereka terdiri dari 230 orang 
Amerika, lebih dari 200 orang Afrika dan lebih dari 300 orang Asia.  
Paus menyampaikan pidatonya pada para rohaniwan di Basilica Santo Petrus. Ia 
menunjukkan pertumbuhan materialisme dan ateisme serta menegaskan bahwa dalam 
dunia yang sedang mengalami krisis spiritual, Gereja tidak boleh menyikapinya dengan 
menarik diri atau mengutuk orang lain. Gereja harus "memerintah dengan obat 
pengampunan ketimbang kekerasan".  
Tidak seperti para paus terdahulu, Paus Yohanes XXIII tidak berupaya mendikte 
Konsili Vatikan II ini. Banyak perombakan luas telah terjadi dalam peranan pastoral 
gereja.  
Selama berabad-abad, semua orang Katolik beribadah dalam bahasa Latin, namun 
hanya sedikit yang mengerti bahasa itu. Meskipun keagungan dan misterinya mungkin 
 230
telah menyentuh beberapa orang, namun  banyak yang tidak dapat memahaminya. Konsili 
Vatikan II membuat bahasa-bahasa daerah setempat untuk bahasa misa.  
Meskipun hierarki tidak diubah, beberapa sikap terhadapnya berubah dalam Konsili 
Vatikan II. Bail{ kaum rohaniwan maupun kaum awam diterima sebagai umat Allah, 
dan semua dapat mengambil bagian dalam fungsi pelayanan. Semua orang Kristen – 
bukan saja imam, biarawan dan biarawati – memiliki  panggilan Kristen, seru konsili 
dan orang awam memenuhi panggilan itu di tengah-tengah pekerjaan seharihari mereka.  
Meskipun Konsili Vatikan I melihat paus sebagai suksesi para rasul, Konsili Vatikan II 
memperluas hal itu kepada seluruh para uskup. Bersama-sama dengan paus mereka 
berbagi otoritas rasuli.  
Dokumen konsili "On Divine Revelation" (Tentang Wahyu Ilahi) menekankan bahwa 
Kitab Suci – bukan tradisi – yaitu  basis utama kebenaran ilahi. Meskipun konsili tidak 
mengabaikan tradisi yang telah dipegang lama, konsili menganggap Alkitab lebih 
penting dan mendorong semua orang Katolik – orang awam dan yang terpelajar – 
mempelajari Alkitab.  
Dalam dekrit "Tentang Oikumene", terjadi perubahan dramatis yang yang berkenaan 
dengan sikap terhadap non-Katolik. Mereka yang menganut denominasi lain dinyatakan 
sebagai orang Kristen, "separated brethren" (saudara-saudara yang terpisah), 
menyimpulkan ide bahwa Kristen sama dengan Katolik. Orang-orang percaya lainnya 
tidak harus "kembali" ke Roma.  
Pada sesi terakhir, tahun 1965, Konsili Vatikan II bergumul dengan berbagai pertanyaan 
tentang politik. Meskipun gereja memiliki  tradisi panjang dalam bidang itu, kuasa 
atas politik sekarang telah ditanggalkan.  
Tanggapan terhadap Konsili Vatikan II beragam. Beberapa aliran yang ada dalam 
hierarki menolak berbagai perubahan itu dan berdebat dengan sengit. Beberapa orang 
Katolik konservatif menolak haluan baru gereja, namun  banyak pula orang Katolik – dan 
non-Katolik – melihat adanya harapan besar bagi gereja. Vatikan II membuka pintu bagi 
denominasi lain dan mendorong pemahaman Alkitab yang serius, tanpa terikat pada 
kebiasaan terdahulu.  
Sistem hierarkis Katolik tidak berubah, jalan tidak terbuka bagi individualisme yang 
berlebihan dalam Gereja Katolik, namun Konsili Vatikan II ini telah menciptakan 
peningkatan keterbukaan dan pertimbangan bagi orang awam yang telah mempengaruhi 
badan gereja terbesar sedunia ini.  
 231
99) Tahun 1963 Martin Luther King, Jr., Memimpin Pawai ke 
Washington  
  
"Saya memiliki  impian ..."  
Orang yang memiliki impian itu akan menghabiskan seluruh hidupnya mengejar 
impiannya dan menyerahkan nyawanya bagi impian ini .  
Namanya ialah Martin Luther King, Jr., dan impiannya yaitu  bahwa "keempat anak 
saya yang masih kecil pada satu hari akan hidup di dalam suatu bangsa, di mana mereka 
tidak akan dinilai dari warna kulit mereka namun  dari kandungan karakternya ... " Kata-
kata ini  mengguncang Amerika.  
Pendeta muda ini dilahirkan dalam keluarga pendeta Baptis dan dididik di Morehouse 
College dan Crozer Theological Seminary. Dia meraih gelar Ph.D dari Boston 
University. Pada tahun 1954 ia menjadi pendeta Gereja Baptis Dexter Avenue di 
Montgomery, Alabama.  
Satu tahun lalu , seorang wanita berkulit hitam, Ny. Rosa Parks, mengambil 
sebuah langkah yang mengubah hidup King. Meskipun orang-orang kulit hitam 
diharuskan menumpang hanya di bagian belakang bus umum, ia duduk di depan – 
semua tempat duduk di belakang telah terisi, dan ia mengambil tempat duduk pertama 
di bagian depan. Ia ditangkap sebab  melanggar undang-undang pemisahan (segregation 
law).  
Martin Luther King, Jr. mendukungnya dengan memimpin boikot pada sistem bus 
Montgomery. Sebenarnya orang-orang hitamlah penumpang terbanyak sistem bus 
ini , dan mereka diperlakukan dengan tidak adil. Maka orang-orang kulit hitam pun 
menolak naik bus selama diskriminasi masih berlanjut. Mereka merasa "lebih terhormat 
berjalan kaki dibandingkan  menumpang bus dengan kehinaan".  
Boikot mereka berlangsung sampai satu tahun lamanya, namun akhirnya orang kulit 
hitam menang, dan dengan kemenangan itu Martin Luther King, Jr. terdorong untuk 
terlibat dalam perjuangan hak-hak sipil bagi orang-orang Amerika.  
 232
Terpengaruh dengan cara-cara tanpa kekerasannya Gandhi, King dan yang lain 
memprotes. "Kami akan mengimbangi kapasitas Anda yang memicu  kesengsaraan 
... Perbuatlah kepada kami apa yang Anda inginkan dan kami akan terus-menerus 
mengasihi Anda," kata King merespons penyerang-penyerangnya. Mengikuti jejak 
Yesus, ia menyerukan, "Yesus menegaskan dari kayu salib sebuah hukum yang lebih 
tinggi. Ia tahu bahwa filsafat kuno – mata ganti mata – akan membuat semua orang 
buta. Ia tidak berupaya mengatasi kejahatan dengan kejahatan. Ia mengatasi kejahatan 
dengan kebaikan. Meskipun disalibkan sebab  kebencian, Ia menanggapinya dengan 
kasih yang agresif."  
Dengan diorganisasikannya Southern Christian Leadership Conference (Konferensi 
Kepemimpinan Kristen Selatan) yang diketuainya, King berkampanye di kota-kota 
bagian selatan: Jackson, Selma, Meridian dan Birmingham. Namun, pengaruhnya 
meluas lebih jauh saat  ia memimpin serangan-serangan terhadap ketidakadilan sosial 
di kota-kota bagian utara.  
Sekelompok pendeta Protestan kulit hitam terdekat, termasuk Jesse Jackson, 
mendukung King, dan orang-orang kulit putih, Katolik serta Yahudi tidak lama 
lalu  bergabung dalam barisannya. Metode-metode tanpa kekerasan menghadapi 
serangan selang, pentungan, anjing dan pemukulan. Meskipun banyak orang Kristen 
mendukungnya, beberapa lawan King yang paling vokal pun menyebut nama Kristus. 
Pada musim semi 1963, King ditangkap sebab  memimpin gerakan protes di 
Birmingham, Alabama. Para rohaniwan di Atlanta mengkritiknya sebab  meninggalkan 
gerejanya di Montgomery. "Apa haknya terlibat di tempat lain, di mana dia bukan 
warganya?" tanya mereka.  
Dalam "Surat dari Penjara Birmingham", King memberi  tanggapan bahwa 
"ketidakadilan di mana pun mengancam keadilan". Bagi mereka yang ada di luar "panah 
pemisah yang menyengat" dan yang menasihati dia untuk menunggu, ia menjawab: "... 
Bila Anda disiksa pada siang hari dan dihantui pada malam hari sebab  Anda seorang 
Negro, senantiasa hidup dalam kecemasan, tanpa sepenuhnya mengetahui apa yang 
harus diharapkan berikutnya, dan jika digerogoti ketakutan di dalam hati dan amarah di 
luar; jika Anda senantiasa bergumul dengan perasaan yang terus memburuk bahwa 
Anda "bukan apa-apa" – barulah Anda akan mengerti mengapa kami tidak sabar 
menunggu."  
Gerakan protes atas Washington pada tahun 1963 merupakan salah satu peristiwa pa-
ling penting dalam sejarah perjuangan hak sipil sebab  pengaruhnya telah berjasa bagi 
lahirnya Undang-undang Hak Sipil pada tahun 1964 dan Undang-undang Hak Pilih 
pada tahun 1965. Pada gerakan protes ini , Martin Luther King Jr. menampilkan 
impiannya: "Saya memiliki  impian bahwa keempat anak saya yang masih kecil pada 
satu hari akan hidup di dalam suatu bangsa, di mana mereka tidak akan dinilai dari 
warna kulit mereka namun  dari kandungan karakternya ... Dengan iman ini kami dapat 
menetak sebuah batu harapan dari gunung keputusasaan. Dengan iman ini kami dapat 
mengubah suara-suara tidak barmonis di negeri kita menjadi simponi persaudaraan yang 
indah. Dengan keyakinan ini kita dapat bekerja sama, berdoa bersama dengan kesadaran 
bahwa kita akan bebas pada suatu hari kelak."  
Pada tahun 1964, King menerima hadiah Nobel Perdamaian, suatu penghargaan yang 
mewujudkan sebagian impian itu.  
 233
King pergi ke Memphis, Tennessee, untuk mendukung pemogokan para pekerja 
pengangkut sampah pada tahun 1968. Pada tanggal 4 April, saat  ia sedang berdiri di 
lorong lantai dua di motelnya di Mulberry Street, bercakap-cakap dengan rekan-
rekannya, ia ditembak seorang pembunuh. Peluru itu merenggut nyawanya, namun  tidak 
mengakhiri impian yang sedang berlanjut.  
Sebagai tanggapan atas keberanian dan kesaksian yang merupakan tekad rohaniwan ini, 
hari Senin ketiga bulan Januari ditetapkan sebagai Hari Martin Luther King. Dialah 
satu-satunya rohaniwan Amerika yang namanya dicantumkan pada kalender sebagai 
penghormatan.  
 234
100) Tahun 1966-1976 Gereja China Bertumbuh tanpa Terusik 
Revolusi Kebudayaan  
 
Gereja Mo En, di Shanghai (foto diambil pada tahun 2003)  
Lebih dari seribu orang memenuhi gereja itu, sebagian besar orang-orang berumur, 
namun ada juga beberapa pasangan muda dan tentunya para remaja juga ada di balkon. 
Beberapa jendela berarsitektur gotik telah dipecahkan dengan batu, namun  tampaknya 
tidak ada orang yang mempedulikannya. Mereka sedang menyanyikan puji-pujian, 
diiringi alunan piano. Seorang pendeta Methodis menyambut orangorang yang datang 
beribadah, seorang Presbiterian membacakan Kitab Suci, seorang Baptis berkhotbah.  
Hal itu terjadi pada tanggal 2 September 1979. Tempatnya yaitu  Gereja Mo En, di 
Shanghai (dahulu Gereja Methodis Moore). Ini yaitu  pelayanan kebaktian umum bagi 
orangorang China yang pertama setelah tiga belas tahun, yang diadakan bagi orang-
orang China.  
Revolusi Kebudayan yang berawal pada tahun 1966 telah menutup gereja-gereja dan 
menyiksa orang-orang Kristen. Apa saja yang berbau asing dikutuk – dan kekristen'an 
sebagai basil misi asing khususnya, dibenci. Gereja harus bergerak di bawah tanah 
selama lebih satu dekade. saat  muncul kembali ke permukaan, dengan menakjubkan 
Gereja menjadi lebih kuat dibandingkan  sebelumnya.  
Kekristenan membuat terobosan pertamanya di negeri China pada tahun 635 Masehi, 
dengan orang-orang Kristen Nestorian, namun gagal berakar di antara penduduk di 
sana. Upaya-upaya misionaris Fransiskan pada abad ketiga belas dan keempat belas 
serta oleh para Yesuit pada abad keenam belas dan ketujuh belas gagal menghasilkan 
penyebarluasan yang berlangsung lama. China yaitu  peradaban tertutup, yang 
menentang ide-ide asing.  
Perdagangan memaksa China terbuka, dan para misionaris Protestan pada tahun 1800-
an datang bergandengan tangan dengan para pedagang. Hudson Taylor berbuat banyak 
untuk melepaskan diri dari pola-pola misi kolonial, dengan mengadopsi pakaian dan 
kebiasaan China, serta memberanikan diri mendatangi daerahdaerah yang 
 235
membutuhkan. namun  tahun 1800-an yaitu  masa-masa sulit bagi China. Dinasti 
Manchu luput dari beberapa pemberontakan. Dan dunia sekelilingnya, khususnya 
Britania Raya, sedang berupaya menarik China yang tidur ke zaman modern, meskipun 
China tidak menginginkannya. Akibatnya, orang-orang China mengalami penghinaan 
oleh orang-orang asing.  
Keadaan berubah dengan pesat pada tahun 1900-an. Sun Yat-sen memimpin 
pemberontakan yang sukses dan mendirikan republik, meskipun didominasi oleh para 
panglima pasukan di daerah. Chiang Kai-shek menyatukan negeri itu pada tahun 1920-
an dan 1930-an, namun  is digulingkan oleh Mao Zedong pada tahun 1949. Mao 
mendirikan pemerintahan komunis yang secara resmi ateis. Gereja-gereja dibiarkan 
namun diawasi. Mao bertekad bahwa orang-orang asing tidak akan menghina China 
lagi, komunis memaksa Gereja-gereja mengambil sikap antiasing ("Christian 
Manifesto" tahun 1950), dan semua misionaris diusir keluar.  
Three-Self Reform Movement (lalu  disebut Three-Self Patriotic Movement) 
berupaya membawa Gereja-gereja segaris dengan tujuantujuan komunis – pemerintahan 
sendiri, pendanaan sendiri dan penyebarluasan ide-ide sendiri. Namun, gereja bertahan 
di bawah tekanan-tekanan semacam itu. Terusirnya para misionaris melemahkan 
Gereja, namun  juga memaksa Gereja China berdikari. Itu dilakukannya dengan sangat 
baik.  
Keadaan menjadi lebih parah pada tahun 1966. Mao, revolusioner yang menua itu, 
mungkin merasakan bahwa revolusinya mulai menghilang. Program L ncatan Besar ke 
Depan (Great Leap Forward Program) pada tahun 1958 – 1960 gagal, dan kaum 
modernis dalam partainya mulai resah. Ia lalu  meluncurkan Revolusi Kebudayaan 
yang tidak beradab, yang menimbulkan histeria, khususnya di antara orang-orang muda, 
melawan apa pun yang berbau pengaruh asing. Para pemimpin komunis sekalipun tidak 
luput dari pengaduan ataupun penangkapan. Terjadilah huru-hara massal. Kegiatan di 
bidang seni dan akademis dibatasi, termasuk juga aktivitas-aktivitas gereja. Semua 
tempat ibadah ditutup dan orang-orang Kristen dilarang niengadakan pertemuan. Mao 
sendiri dianggap sebagai dewa. "Buku merah kecil" (little red book) yang memuat 
fatwa-fatwa Mao sajalah yang dibaca dan dihafal, sedang  Alkitab dibakar.  
Meskipun' huru-hara itu redam, kebijakan-kebijakan tetap bertahan sampai tahun 1976. 
Keduanya, Mao dan orang tangan kanannya, Zhou Enlai, meninggal pada tahun itu. 
Deng Xiaoping, seorang moderat yang pernah disingkirkan, kembali berkuasa dan mulai 
memperkenalkan modernisasi. Yang paling menarik perhatian yaitu  "Gang of Four" 
(empat sekawan) yang memimpin Revolusi Kebudayaan ditangkap dan diadili.  
China masih menentang kekristenan, namun histeria telah redam. Menjelang tahun 
1979, gereja-gereja diizinkan dibuka kembali. (Sebenarnya, dua gereja di Beijing telah 
dibuka pada tahun 1972 atas permintaan para diplomat dari Afrika dan Indonesia, 
namun gereja-gereja ini sebagian besar dihadiri oleh orang-orang asing.) Pada tahun 
1979, Three-Self Patriotic Movement dibuka juga dengan seorang juru bicara berbakat, 
Uskup K.H. Ting. Ia meminta semua Gereja Protestan bersatu kembali. Pemerintah 
menyatakan toleransi resmi pada gereja-gereja yang bergabung dengan gerakan ini, 
namun gereja-gereja bawah tanah masih takut dengan kontrol pemerintah.  
Akan namun , setelah ketegangan reda, banyak orang Kristen mulai membicarakan 
cobaan-cobaan yang mereka alami. saat  gereja-gereja ditutup, mereka terpaksa 
 236
bertemu dalam kelompok-kelompok kecil di rumah-rumah pribadi. Hal ini malah 
menumbuhkan, dan tidak mematahkan semangat. Keluarga-keluarga Kris-ten mendapat 
kekuatan dari persekutuan semacam ini dan mempengaruhi mereka yang ada di 
sekelilingnya. Tidak ada organisasi tingkat nasional, namun  satu jemaat rumah kadang-
kadang bertemu dengan lainnya yang berdekatan. Para guru, termasuk banyak wanita, 
mengadakan perjalanan rahasia dari satu kelompok ke kelompok lain. Ada penyiksaan 
dan penangkapan, namun  ada juga saat-saat di mana para pejabat setempat menutup 
sebelah mats pada pertemuan-pertemuan Kristen — sebab  mereka tahu bahwa orang-
orang Kristen merupakan pekerja keras dan warga yang berharga.  
Sejak abad keempat, tidak pernah ada gerakan gereja rumah setegar ini. Keadaan dan 
tekanan dari pemerintah sama – begitu juga dampaknya. Jumlahnya juga mengejutkan: 
satu wilayah memiliki  4.000 orang Kristen sebelum pengambilalihan komunis; 
sekarang satu wilayah memiliki  90.000 orang Kristen. Di kota utama, hanya 1% 
warganya Kristen pada tahun 1949; kini telah menjadi 10%. Sebuah desa memiliki  
10 orang percaya pada tahun 1945, sekarang memiliki 250.  
Apa yang memicu  pertumbuhan ini? Para pakar telah mempelajarinya. 
Kesederhanaan, kata mereka. Kesukaran telah menghasilkan kemurnian iman, semangat 
kepedulian, kepemimpinan awam yang kuat, kesungguhan berdoa dan kepercayaan 
akan ketuhanan Kristus. Betapa pun langkah-langkah kebencian Revolusi Kebudayaan, 
hal itu telah menghasilkan iman Kristen yang menanggalkan pakaian kebudayaan Barat. 
Orang-orang China telah mengembangkan gereja pribumi sejati. Tak ada orang yang 
mengetahui jumlah orang-orang Kristen di China. Sebagai perkiraan berbeda jauh satu 
sama lain. Namun, semua sependapat bahwa pertumbuhan orang-orang Kristen di 
bawah pemerintahan komunis sungguh menakjubkan. Hal ini mungkin mewakili salah 
satu perkembangan iman paling dramatis dalam sejarah gereja.