Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 21

  


SEJARAH PERANG SALIB 

Pengertian Perang Salib 

 

 Perang salib (The Crusades) 

merupakan perang keagamaan 

selama dua abad yang terjadi 

sebagai reaksi umat Kristen di Eropa 

terhadap umat Islam di Asia yang 

dianggap sebagai pihak penyerang.  

Latar Belakang Terjadinya 

Perang Salib 

 

Agama: 

  pihak kristen merasa tidak 

bebas menunaikan ibadah 

kebaitulmakdis, sejak dinasti 

seljuk merebutnya dari 

dinasti fatimiyah 

Latar Belakang Terjadinya 

Perang Salib 

 

  politik: 

 Kekalahan Bizantiumtahun 

1071 M di Manzikart 

(Malazkird atau Malasyird, 

Armenia) dan Asia Kecil jatuh 

ke bawah kekuasaan Seljuk 

 

 

Latar Belakang Terjadinya 

Perang Salib 

 Faktor Sosial Ekonomi 

 Apabila Kristen Eropa menang 

maka pedagang-pedagang besar 

di pantai timur Laut Tengah 

terutama yang berada di kota 

Venezia, Genoa dan Pisa akan 

menjadikan kawasan itu sbg 

pusat perdagangan 

Latar Belakang Terjadinya 

Perang Salib 

 Faktor Sosial Ekonomi 

 Rakyat jelata dimobilisasi 

untuk ikut perang salib 

dijanjikan kebebasan dan 

kesejahteraan yang lebih baik 

bila menang perang. 

Pengaruh Perang Salib 

 

 

  Walaupun umat Islam menang, 

tetapi umat Islam menderita 

kerugian yang luar biasa karena 

peperangan itu berlangsung di 

dunia Islam. 

 

 

Pengaruh Perang Salib 

 

Hubungan Perang Salib dengan 

Orientalisme  

Hubungan Perang Salib dengan 

Kolonialisme 

Hubungan Perang Salib dengan 

Kristenisasi 


 
Perang salib yaitu  gabungan koperatif pertama barat baru ketika bangkit dari 
zaman kegelapan. Semua kelas yang diwakili para pendeta dan wali gereja serta 
bangsawan dan rakyat jelata terbakar oleh kecintaan terhadap yerussalem. Dinamakan 
perang salib sebab  dalam peperangan ini  tentara Kristen memakai salib sebagai 
symbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa perang ini  yaitu  perang suci. 
Tidak hanya faktor keimanan kekristenan dan mencari kekayaan yang mendorong 
tentara salib untuk mengikuti perang, tetapi juga faktor yang mendukunh mereka yang 
terlibat dalam peperangan, di antaranya faktor sejarah, faktor agama, faktor politik, 
serta faktor sosial-ekonomi. 
Perang yang terjadi selama kurang lebih dua abad itu banyak memicu  
perbedaan catatan sejarah mengenai terjadinya.  
 

A. pemicu  Terjadinya Perang Salib 
 
Perang Salib (1096-1291) terjadi sebagai reaksi umat Kristen di Eropa terhadap 
umat Islam di Asia, yang menganggap umat Islam sebagai penyerang di Siria dan Asia 
Kecil juga di Spanyol dan Sisilia sejak tahun 632 M. Disebut Perang Salib, sebab  
ekspedisi militer Kristen menggunakan salib sebagai simbol pemersatu untuk 
menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan yaitu  perang suci yang 
bertujuan untuk membebaskan kota suci Yerussalem (Baitul Maqdis) dari tangan 
orang-orang Islam. 
pemicu  langsung terjadinya Perang Salib yaitu  permintaan Kaisar Alexius 
Connenus kepada Paus Urbanus II pada tahun 1095. Kaisar dari Bizantium meminta 
bantuan dari Romawi sebab  daerah-daerah kekuasaanya yang tersebar sampai ke 
pesisir Laut Marmora dibinasakan oleh Bani Saljuk. Bahkan, kota Konstantinopel 
diancamnya pula. Adanya permintaan ini, Paus melihat kemungkinan untuk 
mempersatukan kembali gereja Yunani dengan gereja Romawi yang telah terpecah 
tahun 1009-1054. 
Isi pidato yang menyulut Perang Salib terjadi pada 26 November  1095 Paus 
Urban menyampaikan pidatonya di Clermont, Perancis dan memerintahkan orang-
orang Kristen agar “Memasuki lingkungan Makam Suci, merebutnya dari orang-orang 
jahat dan menyerahkanya kembali kepada mereka”. Mungkin, inilah pidato paling 
berpengaruh sepanjang catatan sejarah. Orang-rang yang hadir disana meneriakan 
slogan Deus Vult (Tuhan menghendaki) sambil mengacungkan tangan. Pada tahun 
1097, 150.000 manusia, yang terdiri dari sebagian orang Franka, Norman, dan sebagian 
lagi rakyat biasa menyambut seruan untuk berkumpul di Konstantinopel.1 
pemicu  lain Perang Salib yaitu  faktor agama, politik, dan sosial ekonomi. 
Fakto-faktor ini  merupakan faktor utama yang menyebabkan Perang Salib, yang 
dapat diuraikan sebagai berikut. 
1. Faktor Agama 
                                                        
Sejak Dinasti Saljuk merebut Bait al-Maqdis dari tangan Dinasti Fatimiyah 
pada tahun 1070, pihak Kristen merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah ke 
sana. Hal ini terjadi sebab  penguasa Saljuk menetapkan sejumlah peraturan yang 
dianggap mempersulit orang Kristen yang akan menjalankan ibadah di Bait al-
Maqdis. Bahkan mereka yang pulang berziarah sering mengeluh sebab  
mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang Saljuk yang fanatik. Umat Kristen 
mersa diperlakukan para penguasa Dinasti Saljuk sangat berbeda dari penguasa 
Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya. 
2. Faktor Politik 
Jatuhnya wilayah kekuasaan Bizantium di Asia Kecil ke tangan Saljuk telah 
mendorong Kaisar Alexius I meminta bantuan kepada Paus Urbanus II untuk 
mengembalikan wilyah kekuasaanya dari tangan Saljuk. Adanya janji Kaisar 
Alexius I untuk tunduk di bawah kekuasaan Paus di Roma dan harapan untuk 
mempersatukan gereja Yunani dan Roma membuat Paus Urbanus II bersedia 
membantu Bizantium. 
Di sisi lain, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah. Ketika 
itu Dinasti Saljuk di Asia Kecil mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiyah di Mesir 
sedang dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin 
goyah. Terjadinya pertentangan antara Khalifah Fatimiyah di Mesir, Khalifah 
Abbasiyah di Baghdad, dan Amir Umayyah di Cordoba yang memproklamasikan 
dirinya sebagai khalifah semakin memperburuk keadaan.2 
3. Faktor Sosial Ekonomi 
Para pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Mediterania, terutama 
yang berada di kota Venezia, Genoa, dan Pisa, berambisi untuk menguasai 
sejumlah kota dagang di sepanjang pantai timur dan selatan Laut Mediterania 
untuk memperluas jaringan perdagangan mereka. Untuk itu, mereka perlu 
menanggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu 
sebagai pusat perdagangan mereka bila Kristen Eropa memperoleh kemenangan.  
 
B. Periodesasi Perang Salib 
Perang Salib ini berlangsung selama dua ratus tahun dan terbagi dalam tujuh 
ekspedisi. Terdapat banyak versi mengenai periodesasi Perang Salib, ada yang 

mengatakan periode Perang Salib memiliki tiga, tujuh, delapan, maupun sembilan 
periode. Berikut pemakalah akan menjelaskan tujuh periodesasi Perang Salib dan 
sekilas menjelaskan tiga periode Perang Salib. 
1. Perang Salib Pertama 
Perang Salib pertama ini dilancarkan pada tahun 1095 M oleh Paus Urbanus 
II untuk menguasai kota suci Yerussalem. Di daerah Anadhul pasukan Salib 
bertemu dengan Dinasti Saljuk dan berhasil memusnahkan mayoritas Saljuk dan 
kemudian melanjutkan perjalanannya ke perbatasan Anadhul Timur dan Suriah. 
Setelah pasukan Salib dipecah menjadi tiga bagian. Bagian pertama, menuju Timur 
dan menduduki kota Raha (Edessa) pada tahun 1098 M dan mendirikan Dinasti 
Salib di bawah pimpinan Baldwin I. Bagian kedua menuju ke Selatan dan 
memasuki Suriah kemudian menduduki Antakia pada tahun 1098 M serta 
mendirikan Dinasti Salib di bawah pimpinan Bohemond II. Pasukan Salib 
kemudian bergerak menuju Yerussalem, mengepungnya dengan rapat dan 
mendudukinya pada tanggal 15 Juli 1099 M. Mereka melakukan pembantaian 
terhadap warga  kota suci itu, kemudian pasukan salib mendirikan kerajaan salib 
yang dipimpin oleh Laoren Godfrey.  
2. Perang Salib Kedua 
Penguasa Mosul, Imaduddin Zanki, melakukan penyerangan untuk merebut 
kota Raha dari tangan kekuasaan kaum salib pada tahun 1144. Untuk itulah, kaum 
nasrani lalu melakuan ekspedisi kedua dan penyerangan kembali terhadap 
kekuasaan umat Islam dibawah pimpinan Raja Jerman Condrad II dan Raja 
Perancis Louis VII. Namun kaum salib kalah dan kembali pulang, mereka gagal 
mereut Damaskus setelah mengepungnya.3 
3. Perang Salib Ketiga 
Setelah perang Hittin berlangsung, Salahuddin al-Ayyubi menyerang Bait al-
Maqdis dengan maksud merebutnya dari tangan kaum salib pada tahun 1188 M. 
Selanjutnya muncullah ekspedisi perang salib ketiga yang dipimpin oleh Frederick 
Barbarosa I Raja Jerman, Philip August Raja Perancis, dan Richard Raja Inggris. 
Raja Jerman melewati jalur Konstantinopel sampai Anadhul, akan tetapi dia  
tenggelam saat menyebrangi sungai Kilikia sehingga pasukanya kocar-kacir. 
Sementara, Philip August jatuh sakit sehingga ia kembali pulang ke Perancis. 
                                                          
Akhirnya, Raja Richard yang sendirian melakukan perjanjian damai dengan 
Salahuddin al-Ayyubi.4 
4. Perang Salib Keempat 
Pasukan Salib kembali melancarkan penyerangan dengan tujuan untuk 
menguasai Mesir pada tahun 598 H/ 1202 M. Penyerangan ini dipimpin oleh 
beberapa gubernur Perancis, antara lain: Tabu II(Gubernur Sambani), Baldwin IX 
(Gubernur Flanders), Louis (Gubernur Balo) dan masih banyak lagi yang lainnya. 
Para Gubernur itu melakukan perjanjian dengan para pemilik senapan, bahwa 
mereka akan dipindahkan ke Iskandariyah. Ketika itu Salahudin mengetahui 
perjanjian ini , kemudian memberikan fasilitas lebih kepada para pemilik 
senapan itu sehingga para pemimpin salib berpindah ke Konstantinopel. Akhirnya 
mereka menguasai kota itu dengan mendirikan dinati Latiniyah dan memilih 
Baldwin IX sebagai raja.  
5. Perang Salib Kelima 
Perang salib kelima ini terjadi pada tahun 615 H/ 1219 M dengan dibawah 
komando Raja Baitul Maqdis, Jan De Barman. Mereka kemudian mengarahkan 
pasukannya ke wilayah Mesir, dan menguasai kota Dimyat. Akan tetapi, pasukan 
salib ini dapat dikalahkan oleh warga  oleh Mesir dan Dimyat kembali ke 
tangannya, dan akhirnya kaum salib diusir untuk meninggalkan Mesir. 
6. Perang Salib Keenam 
Pada tahap keenam, pasukan salib menuju ke Suriah melalui jalur laut yang 
dipimpin oleh Raja Frederick II dari Jerman pada tahun 625 H/ 1228 M. Al-Kamil 
Raja Mesir kemudian meminta bantuan kepada Frederick II agar merebut 
Damaskus dari kekuasaan saudaranya, Raja Isa. Syaratnya yaitu  al-Kamil 
menyerahkan Baitul Maqdis kepada Frederick. Pasukan salib sampai di Akka 
ketika Raja Isa telah meninggal dunia dan digantikan anaknya, Raja al-Manshur 
Dawud. Ia kemudian berdamai dengan pamannya, al-Kamil dan  menyerahkan 
Damaskus kepadanya. Akhirnya al-Kamil menduduki Damaskus, Sharkhad, 
Syaubik, dan Karak. Kemudian al-Kamil menyerahkan Baitul Maqdis kepada 
Frederick II sehingga pasukan salib pun memasuki kota suci al-Quds dan berhasil 
menguasainya. 
7. Perang Salib Ketujuh 
                                                         
 
Pada perang salib ketujuh, ekspedisi salib dipimpin oleh Louis IX raja 
Perancis bersama-sama dengan orang-orang suci. Dia membawa pasukanya ke arah 
Mesir untuk merebut Baitul Maqdis. Melalui pasukan laut yang dikerahkannya ke 
Mesir, Louis IX berhasil menguasai Dimyat pada tahun 646 H/ 1249 M. Tetapi 
ketika ia berperang melawan Mesir pada masa akhir pemerintahan Raja Saleh 
Najmuddin Ayyub dan isterinya Syajar al-Durr, ia malah tertawan bersama dengan 
beberapa panglimanya dan warga  Mesir menang dalam pertempuran itu. Lalu 
terjadi negosiasi dan disepakati Louis IX dilepas dengan tebusan harga yang sangat 
mahal.
Para sejarawan memang saling berbeda pendapat dalam menentukan periodesasi 
Perang Salib. Philip K. Hitti memandang Perang Salib berlangsung terus-menerus 
dengan kelompok yang bervariasi, kadang berskala besar dan terkadang berskala kecil. 
Menurut Hitti yang membagi periodesasi Perang Salib dengan menyederhanakan 
pembagianya dalam tiga periode. 
Periode pertama, disebut periode penaklukan (1096-1144 M.). Adanya hubungan 
kerja sama antara Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II berhasil membangkitkan 
semangat umat Kristen, terutama akibat pidato Paus Urbanus II di Clermont tanggal 26 
November 1095. 
Periode kedua,  disebut periode reaksi umat Islam (1144-1192 M.). jatuhnya 
wilayah kekuasaan Islam ke tangan kaum Salib membangkitkan kesadaran kaum 
Muslimin untuk menghimpun kekuatan dalam menghadapi mereka. Di bawah komando 
Imaduddin Zanki, Gubernur Mosul, kaum Muslimin bergerak maju membendung 
serangan pasukan Salib. Bahkan, mereka berhasil merebut kembali Allepo dan Edessa 
pada 1144 M. 
Periode ketiga (1193-1291) lebih dikenal dengan periode perang saudara kecil-
kecilan atau periode kehancuran di dalam pasukan Salib. Hal ini disebabkan sebab  
periode ini lebih disemangati oleh ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan 
sesuatu yang bersifat material daripada motivasi agama. Dalam periode ini, muncul 
pahlawan wanita dari kalangan kaum Muslimin terkenal pemberani, yaitu Syajar al-
Durr. Ia behasil menghancurkan pasukan Raja Louis IX dari Perancis sekaligus 
menangkapnya dan kemudian membebaskan dan mengizinkannya kembali ke Perancis. 

C. Dampak Perang Salib 
 
Pada saat perang salib berlangsung, bangsa eropa mengambil begitu banyak 
manfaat dari khazanah kekayaan timur, khusunya pada sisi pemikiran dan keilmuan. 
Sebab, pada saat itu dalam bidang keilmuan dan peradaban, bangsa-bangsa timur jauh 
lebih unggul disbanding bangsa eropa. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor 
terjadinya renaisans. Berikut ini yaitu  beberapa bidang yang mengalami kemajuan 
disebabkan persentuhan eropa dengan peradaban islam, 
1. Kedoktertan. Pada saat itu, gereja melarang praktik medis sebab  keyakinan 
mereka bahwa penyakit yaitu  sanksi dari tuhan yang tidak boleh dihindari 
manusia dan seseorang yang sakit memang layak menerimanya. Di tengah 
kebodohan itu, kaum muslim melakukan berbagai terobosan medis, yaitu dengan 
menerjemahkan berbagai macam buku induk dalam bidang kedokteran yang 
berasal dari Persia, yunani, Hindustan ke dalam bahasa arab. Bukan hanya itu 
mereka juga menyusun buku induk sendiri yang tidak pernah tertandingi keluasan 
cakupannya dan kerincian kandungannya.  
2. Bidang matematika. Jauh sebelum terjadinya renaisans di eropa, kaum muslim 
sudah menguasai ilmu matematika, astronomi, kimia, botani, biologi, metalurgi, 
dan farmasi dengan sangat baik. Kaum muslim sudah menguasai sangat baik dan 
melakukan penerjemahan besar-besaran hamper semua literature ilmiah dari 
yunani, romawi, Persia, dan Hindustan dalam bahasa arab.  
3. Pertanian dan perdagangan. Eropa mengalami kemajuan yang sangat signifikan. 
Kemudian, beberapa penemuan dari orang islam, seperti kompas pelaut dan kincir 
angin terus mereka kembangkan. Dalam bidang perdagangan, orang-orang eropa 
mendirikan pasar khusus tiruan dari orang islam yang mereka adopsi.
Perang Salib ini  merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan, sebab  
kekuatan non muslim yang di wilayah Eropa bersatu-padu untuk menghancurkan dan 
meluluhlantakan kerajaan-kerajaan Islam pada masa itu. Sementara umat Islam sendiri 
sedang mengalami konflik internal, memperebutkan kekuasaan dan bahkan saling 
membunuh antar sesamanya. Baitul Maqdis di Yerussalem menjadi sasaran utama dalam 
perang salib ini. Mengingat keduanya yakni kaum Muslimin dan nasrani sama-sama 
mengklaim sebagai kota suci mereka. 
Dalam peristiwa Perang Salib ini , masing-masing yang telibat kaum 
Muslimin dan nasrani mengalami pasang-surut dan saling bergantian dalam hal 
kemenangannya. 
  
Abad pertengahan menunjuk pada periode dalam sejarah Eropa, antara zaman Eropa kuno dan 
zaman modern. Keruntuhan Kekaisaran Romawi pada tahun 470 M. Dianggap sebagai awal 
periode sejarah ini, sedang masa renaisans dianggap sebagai akhirnya. 
Abad pertengahan sendiri dibagi menjadi tiga tahap: tahap awal atau sering disebut abad 
kegelapan, tahap perkembangan, dan tahap akhir. Istilah abad pertengahan awalnya digunakan 
oleh kaum humanis pada akhir abad ke-15 M untuk menyebut periode antara zaman kebudayaan 
klasik hellenis/Yunani dan zaman kebangkitan kembali kebudayaan itu. 
Kondisi Eropa pada Abad Pertengahan 
ilustrasi warga  Eropa abad pertengahan  
Sejak Kekaisaran Romawi mengalami kemunduran dan keruntuhan, tidak ada imperium Eropa 
yang dapat mengisi kekosongan kekuasaan politik tersebut. Raja dan dinasti silih berganti berkuasa 
antara lain dinasti Meroving, Frankia, Kapet, Otto dan Hohenstaufen. Namun, kekuasaan mereka 
pada umumnya tidak berlangsung lama. Di antara para penguasa itu, hanya Karel Agung atau 
Charlemagne dari Frankia yang memerintah cukup lama dan baik. Ia berhasil melebur daerah-
daerah yang luas di Eropa menjadi satu imperium yang kokoh. 
Meskipun demikian, tidak dapat dinafikan pada abad pertengahan kota-kota Eropa mengalami 
kehancuran. Kota-kota itu menjadi tidak aman sebab  menjadi sasaran penyerbuan, perampokan, 
pemerkosaan, dan pembunuhan. Akibatnya, warga kota terpaksa meninggalkan rumah dan 
memencar ke  wilayah pedalaman. 
Di pedalaman mereka bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kota Roma, kota terbesar di 
Barat dengan warga hampir satu juta jiwa, bahkan berubah menjadi kota sepi yang 
berwarga hanya beberapa ribu jiwa. Sementara kehidupan mereka cukup memprihatinkan. 
Pada masa itu berkembang sistem feodalisme dengan pertanian sebagai pusat kehidupan. 
warga  hidup dalam berbagai kelompok, yakni bangsawan sebagai tuan tanah, orang bebas 
yang menjadi golongan  ksatria pengabdi bangsawan, dan petani yang hidup memprihatinkan dan 
bergantung pada bangsawan. 
warga  zaman pertengahan pada umumnya tidak mengenal pemerintah pusat. Mereka hanya 
bertanggung jawab kepada bangsawan tuan tanah. Dunia mereka sempit dan terbatas. Mereka 
hanya memahami dialek mereka sendiri. Jarang sekali mereka merasa perlu berhubungan dengan 
orang lain di luar daerah mereka. 
Sampai akhir abad ke-10 M, tidak ada selusin kota di seluruh Eropa yang benar-benar memiliki 
kehidupan. Selain itu tidak ada satu kota pun yang berwarga lebih dari 20.00 jiwa. Kondisi 
menyedihkan ini berbanding terbalik dengan kehidupan dunia Islam di timur yang sedang 
mengalami masa keemasannya. 
Baru pada abad ke-11, terjadi pertumbuhan kota dengan kehidupan perdangan yang berkembang. 
Kota-kota utama abad ke11 antara lain Paris di Prancis, Hamburg dan Koln di Jerman, venesia, 
Genoa, Pisa dan Amalfi di Italia. 
Pengaruh Gereja Pada Abad Pertengahan 
Dasar-dasar peradaban abad pertengahan dibangun melalui suatu revolusi politik uni. Hal ini 
berlangsung dari abad ke-5 sampai akhir abad ke-8. warga  Barat yang tidak mampu lagi 
memelihara kerangka pemerintahan yang berpusat di Roma menata diri kembali atas dasar geraja 
Kristen. 
Gereja Roma berkembang menjadi daerah otonom sejak agama Kristen menjadi agama resmi 
kekaisaran Romawi pada tahun 380M. Agama ini merupakan satu lembaga yang kaya serta 
mempunyai pemimpin kharismatik. Organisasi kegerejaan disusun menurut sistem kekaisaran. 
Paus menjadi pemimpin dunia Kristen. Sementara Uskup Agung mengatur daerah semacam 
provinsi dan harus tanggap terhadap situasi. 
Ketika Kekaisaran Romawi runtuh, gereja tidak ikut hancur. Sebaliknya, berkat pengalamannya 
mengatur organisasi, gereja menjadi cakap, mahir dan siap melanjutkan kepemimpinan Eropa. 
Dengan sikap konstruktifnya terhadap warga , gereja akhirnya berhasil membangun 
warga  baru, warga  Kristen. 
Di seluruh Eropa pada masa itu hanya ada satu lembaga gereja. Gereja inilah yang menjadi pusat 
pelayanan sosial, pusat pemberian jaminan bagi orang terancam, dan pengembangan ajaran-ajaran 
Kristen. Jika sesorang tidak dibaptis menjadi warga gereja, maka ia bukan lah anggota warga . 
Apabila seseorang dikucilkan gereja, ia akan kehilangan haknua baik di bidang politik atau hukum. 
Gereja waktu itu sangat kuat pengaruhnya baik dalam kehidupan sosai agama atau kehidupan 
politik. Banyak raja pada abad pertengahan didampingi pejabat tinggi gereja. Seperti Karel Agung 
didampingi Alcuin dan Edward dari Inggris yang didampingi Dunstan. 
Karel Agung raja agung pada Abad Pertengahan Eropa  
Kehidupan pada abad pertengahan diwarnai pengaruh kuat gereja di warga . Oleh sebab  
pengaruh ini, gereja dapat mengikat Eropa menjadi satu kesatuan. warga  abad pertengahan, 
meskipun secara geografis dan politis terpisah satu sama lain dapat dipersatukan oleh satu ikatan 
kuat, yakni iman Kristen. 
Gereja berhasil menciptakan dunia Kristen melampaui batas-batas kerajaan dengan Paus di Roma 
sebagai pusatnya. Kebudayaan dengan segala unsurnya selalu bercirikan agama, termasuk 
kehidupan bernegara, sosial, seni, ilmu pengetahuan , moral dan filsafatnya. Situasi seperti ini 
mencapai puncaknya pada abad ke-13 dengan bersatunya umat Kristen Eropa di Perang Salib. 
Akhir Abad Pertengahan Eropa 
Pembaruan kebudayaan pada abad pertengahan dimulai dengan renaisans dan reformasi yang 
menjadi dasar kebudayaan modern. Pada waktu itu individualitas manusia mulai muncul kembali 
bersamaan dengan bangkitnya gairah terhadap kebudayaan Romawi dan Yunani yang diperoleh 
dari dunia Islam pasca Perang Salib. 
Dengan renaisans kebudayaan mulai diduniakan dan dengan reformasi gereja mulai diawamkan. 
Keduanya melepaskan diri dari ikatan gereja. Mereka pada waktu itu menganggap perubahan tadi 
terjadi sebab  manusia sendiri yang melakukannya, tidak seperti anggapan umum abad 
pertengahan di mana setiap perubahan terjadi sebab  kehendak Tuhan. 
Setelah timbulnya kesadaran akan kemampuan manusia sendiri yaitu akal, maka timbul keraguan 
atas apa yang dinamakan wahyu tuhan. Mereka pun mulai mengkritik kekuasaan tradisi. 
Golongan  humanis ini menganggap abad pertengahan sebagai zaman kebodohan dan kegelapan. 
Ada perbedaan mencolok antara kebudayaan abad pertengahan dan zaman setelahnya. Ini 
membuat para ahli sejarah pada umumnya melihat abad pertengahan bertolak belakang dengan 
abad sesudahnya. Abad pertengahan dinilai sebaga abad keagmaan, sedang abad sesudahnya 
sebagai abad ilmu pengetahuan di mana rasionalitas di atas segalanya. Itulah sebabnya sejak tahun 
1700M, pembagian zaman sejarah Eropa selalu menggunakan triak yang terkenal: zaman kuno, 
abad pertengahan, dan zaman modern. 
 



Arianisme

 


ARIANISME

Arianisme yaitu  sebuah pandangan kristologis yang dianut oleh para pengikut 

Arius, seorang presbiter Kristen yang hidup dan mengajar di Alexandria, Mesir, 

pada awal abad ke-4. Arius mengajarkan bahwa berbeda dengan Allah Bapa, 

Allah Anak tidak sama-sama kekal dengan Sang Bapa. Ia mengajarkan bahwa 

Yesus sebelum menjelma yaitu  makhluk ilahi, namun ia diciptakan oleh Sang 

Bapa pada suatu saat tertentu --  dan oleh sebab nya statusnya lebih rendah 

daripada Sang Bapa. Sebelum penciptaan-Nya itu, Sang Putra tidak ada. Dalam 

bahasa  yang  lebih  sederhana,  kadang-kadang  dikatakan  bahwa  kaum  Arian 

percaya bahwa Yesus, dalam konteks ini, yaitu  suatu "makhluk". Kata yang 

digunakan dalam pengertian aslinya yaitu  "makhluk ciptaan."

Konflik antara Arianisme dan keyakinan Trinitarian yaitu  konfrontasi doktriner 

besar pertama dalam Gereja sesudah  agama Kristen dilegalisasikan oleh Kaisar 

Konstantin I.  Kontroversi tentang Arianisme ini meluas hingga sebagian besar 

dari abad ke-4 dan melibatkan sebagian terbesar anggota gereja, orang-orang 

percaya  yang  sederhana  dan  para  biarawan,  serta  para  uskup  dan  kaisar. 

Sementara  Arianisme  memang selama beberapa  dasawarsa  mendominasi  di 

kalangan keluarga Kaisar,  kaum bangsawan Kekaisaran dan para  rohaniwan 

yang lebih tinggi kedudukannya, pada akhirnya Trinitarianismelah yang menang 

secara teologis dan politik pada akhir abad ke-4. dan sejak saat itu telah menjadi 

doktrin yang praktis tidak tertandingi di semua cabang utama Gereja Timur dan 

Barat. Arianisme, yang diajarkan oleh misionaris Arian Ulfilas kepada suku-suku 

Jermanik,  memang bertahan selama beberapa abad di  antara sejumlah suku 

Jermanik di Eropa barat, khususnya suku-suku Goth dan Longobard tetapi sejak 

itu tidak memainkan peranan teologis yang penting lagi.

sebab  kebanyakan bahan tertulis tentang Arianisme pada masa itu ditulis oleh 

lawan-lawannya, terdapat kesulitan untuk menetapkan sifat ajaran-ajaran Arius 

dengan persis sekarang. Surat Auxentius[1], seorang uskup Milano Arianis pada 

abad ke-4, mengenai misionaris Ulfilas, memberikan gambaran yang paling jelas 

tentang  keyakinan  Arianis  tentang  sifat  Tritunggal:  Allah  Bapa  ("yang  tidak 

dilahirkan"),  selamanya  ada,  terpisah  dari  Yesus  Kristus  yang  lebih  rendah 

("anak tunggal"), yang dilahirkan untuk memberitakan kuasa Bapa. Sang Bapa, 

yang  bekerja  melalui  Sang  Anak.  Bapa  dianggap  sebagai  "Allah  sejati  satu-

satunya." 1 Korintus 8:5-6 dikutip sebagai ayat buktinya:

"Sebab sungguhpun ada apa yang disebut "allah", baik di sorga, maupun di bumi 

— dan memang benar ada banyak "allah" dan banyak "tuhan" yang demikian — 

namun bagi kita hanya ada satu Allah (theos) saja, yaitu Bapa, yang dari pada-

Nya berasal  segala sesuatu  dan yang untuk  Dia kita  hidup,  dan satu  Tuhan 

(kurios) saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan 

dan yang sebab  Dia kita hidup." (TB)

Konsili Nicea dan sesudahnya

Pada  321  Arius  ditolak  oleh  sebuah  sinode  di  Alexandria  dengan  tuduhan 

mengajarkan  sebuah  pandangan  yang  heterodoks  tentang  hubungan  antara 

Yesus  dengan  Allah  Bapa.  sebab   Arius  dan  para  pengikutna  mempunyai 

pengaruh  yang  besar  di  kalangan  sekolah-sekolah  di  Alexandria  —  yang 

sebanding  dengan  universitas-universitas  atau  seminari-seminari  modern  — 

pandangan-pandangan  teologis  mereka  pun  berkembang  luas,  khususnya  di 

daerah  Mediterania  bagian  timur.  Pada  325  pertikaian  ini  telah  berkembang 

menjadi cukup penting sehingga Kaisar Konstantin mengumpulkan para uskup 

dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Konsili Nicea Pertama di Nicea (kini 

Iznik,  Turki),  yang mengutuk doktrin Arius dan merumuskan Pengakuan Iman 

Nicea, yang hingga kini masih diucapkan dalam kebaktian-kebaktian di Gereja-

gereja  Katolik,  Ortodoks,  dan  sebagian  Protestan.  Tema  sentral  Pengakuan 

Iman  Nicea,  yang  digunakan  untuk  menggambarkan  hubungan  antara  Allah 

Bapa  dan  Allah  Anak,  yaitu   homoousios,  yang  berarti"sehakikat"  atau 

"mempunyai  zat  yang  sama".  (  Pengakuan  Iman  Athanasius  lebih  jarang 

digunakan  namun  lebih  jelas  merupakan  pernyataan  anti-Arianis  tentang 

Tritunggal.)

Konstantin  mengasingkan mereka yang menolak untuk  menerima Pengakuan 

Iman Nicea — Arius sendiri, diaken Euzoios, dan para uskup Libya Theonas dari 

Ptolemais  dan  Secundus  dari  Mamarica  —  dan  juga  para  uskup  yang 

menandatangani pengakuan iman itu namun menolak untuk bergabung dalam 

pengutukan terhadap Arius, Eusebius dari Nikomedia dan Theognis dari Nicea. 

Kaisar juga memerintahkan semua salinan dari Thalia, buku yang ditulis Arius 

untuk  menguraikan  ajaran-ajarannya  dibakar.  Hal  ini  mengakhiri  perdebatan 

teologis  terbuka  selama  beberapa  tahun,  meskipun  di  bawah  permukaan 

perlawanan terhadap Pengakuan Iman Nicea tetap berlanjut.

Keyakinan-keyakinan agama berikut yang telah dibandingkan atau pernah dicap 

-- sebagian mungkin keliru -- sebagai Arianisme, termasuk:

Unitarian,  yang  percaya  bahwa  Allah  itu  satu  dalam  pengertian  berlawanan 

dengan Tritunggal, dan banyak dari mereka yang percaya akan otoritas moral 

Yesus, namun bukan keilahiannya.

Saksi Yehuwa, yang percaya bahwa Yesus memiliki  pra-eksistensi manusiawi 

sebagai Logos.

Christadelphia, yang percaya bahwa keberadaan Yesus sebelum kelahirannya 

harus  dipahami  dalam  pengertian  konseptual,  sebagai  "Logos",  dan  bukan 

secara harafiah.

Gereja  Yesus Kristus  dari  Orang-orang Suci  Zaman Akhir  dan kelompoknya, 

yang percaya akan "keesaan maksud" atau "kehendak" Ilahi tetapi Yesus yaitu  

suatu makhluk ilahi yang terpisah dan lebih rendah kedudukannya daripada Allah 

Bapa.

Islam, yang percaya bahwa Yesus (Isa), yaitu  seorang nabi dari Allah yang 

tunggal, namun tidak bersifat ilahi.

Isaac  Newton,  seorang  Arianis  tersembunyi;  hal  ini  ironis  sebab   ia  yaitu  

seorang fellow dari Trinity College di Cambridge, Inggris.


GNOSTIK

Gnostik  (Yunani.  gnosis,  harfiah  :  pengetahuan).  Secara  tradisional 

mengacu pada ajaran sesat yang aktif bergerak pada abad 2 sM, yang tegas 

ditolak oleh gereja. Tapi sejak abad 20 ini istilah Gnostik digunakan secara luas 

terhadap  bentuk-bentuk  kepercayaan agama apa saja,  dimana  dualisme dan 

penguasaan pengetahuan yaitu  penting; sebab itu agama Soroaster,  ajaran 

Mandae,  sastra  Hermes,  Gulungan  Laut  Mati  dan  PB  pun  dicap  sebagai 

‘gnostis’. 

Penggunaan istilah itu sedemikian rupa menyebabkab cakupannya terlalu 

luas  dan  terlalu  berubah-ubah  sehingga  sukar  dinalar.  Tetapi  sebab   istilah 

gnostik – oleh persetujuan bersama – dapat digunakan bagi bidat-bidat Kristen 

tertentu,  penggunaannya itu dapat dijadikan patokan dalam menentukan segi-

seginya yang khas.  Meskipun terdapat  perbedaan-perbedaan besar  dalam isi 

intelektual dan moral, dan dalam hal dekatnya dengan pusat Kekristenan, yaitu  

mungkin menemukan di dalam ajaran bidat ini beberapa gagasan yang umum. 

Bapa-bapa gereja,  lawan-lawan Gnostik  itu,  dengan leluasa mengutip  tulisan-

tulisan Gnostik, dan penemuan-penemuan yang baru misalnya di Chenoboskion 

memberi kesan bahwa bapa-bapa Gereja itu, disamping tajam terhadap ajaran-

ajaran Gnostik, mereka juga memahami ajaran tentang Gnostik itu. 

I. SIFAT-SIFATNYA 

Dasar pikiran Gnostik yaitu  pengetahuan; yaitu memiliki rahasia-rahasia yang 

akhirnya  dapat  menjamin  kesatuan  jiwa  dengan  Tuhan.  Jadi,  tujuan 

pengetahuan yaitu  keselamatan, meliputi penyucian dan kekekalan, dan dibuat 

dalam kerangka yang bertalian dengan konsepsi filsafat, mitologi, atau astrologi 

yang kontemporer; Unsur-unsur yang berbeda itu berlaku dalam sistem-sistem 

yang berbeda. Dalam hal ini pemisahal Allah mutlak dari zat (menurut dogma 

Yunani,  zat  mempunyai  pembawaan  anasir  jahat)  diterima,  dan  drama 

penyelamatan diperankan oleh banyak makhluk perantara. 

Jiwa dari manusia yang dapat diselamatkan yaitu  suatu percikan dari keilahian 

yang  terkurung  dalam  tubuh;  penyelamatan  berarti  kelepasan  jiwa  dari 

kecemaran badaniah, dan penyerapannya ke dalam Sumbernya. 

Hampir  setiap  doktrin  utama  Kristen  menentang  pemikiran  seperti  itu. 

Pandangan mitologis tentang penyelamatan tidak mempunyai kaitan hubungan 

dengan PL (yang ditolak atau diabaikan), dan mengurangi pengertian dari fakta-

fakta  historis  tentang  jabatan  pelayanan,  kematian  dan  kebangkitan  Tuhan 

Yesus  Kristus.  Dan  pandangan  tentang  Allah  dan  manusia  yang  dinyatakan 

Gnostik sering menuntun pada penyangkalan terhadap kenyataan penderitaan 

kristus, dan kadang-kadang juga terhadap inkarnasi. Penciptaan yaitu  sesuatu 

yang  kebetulan,  suatu  kesalahan,  bahkan  suatu  tindakan  kedengkian  dari 

sesuatu yang anti-allah. 

Kebangkitan dan pengadilan diartikan kembali untuk memperhalus 'kekasaran' 

mereka.  Dosa  menjadi  suatu  pencemaran  yang  dapat  ditanggalkan;  Gereja 

diganti  dengan  suatu  perkumpulan  orang-orang  yang  memiliki  kelimpahan 

intelektual dan spiritual  khusus (illuminati)  yang memiliki  rahasia-rahasia yang 

tersembunyi dari orang-orang yang belum 'diterangi' yang menyatakan mengakui 

Penyelamat yang sama. Etika dipusatkan pada ihwal mempertahankan kesucian 

atau kemurnian; hal itu sering berarti penolakan nafsu seksual dan keinginan-

keinginan badaniah lainnya, tetapi sering juga berarti (atas alasan yang sama) 

kegemaran yang tidak terkendalikan. 

II. PERKEMBANGANNYA 

Sinkretisme  dan  penyesuaian  diri  yaitu   ini  Gnostik.  Utang  –  sangat  tidak 

langsung – kepada filsafat  Yunani  yaitu  nyata,  namun Gnostik yaitu  lebih 

daripada  ’pen-yunani-an  (helenisasi)  penuh  dari  Kekristenan’.  Sebelum 

kedatangan Kristus, kebatinan dari Timur, asketisme, dan astrologi telah masuk 

ke dalam dunia Yunani-Romawi yang dirasuki oleh ketakutan terhadap kematian. 

Dan pada waktu itu terjadilah 'Kegagalan Semangat' ('The failure of nerve', Reff : 

Gilbert Murray, Five Stages of Greek Raligion, c. 4) . 

Rasionalisme yang begitu berani menyerah pada usaha mencari keselamatan. 

Bentuk-bentuk pemikiran yang memberi ciri kepada banyak bidat Kristen dapat 

dilihat dalam beberapa agama Yunani (helenistik) sebelum Kristen. 

Dikemukakanbahwa pemikiran keagamaan Gnostik timbul dan dipengaruhi oleh 

unsur-unsur  Yunani  dan  Timur,  sebagai  perangsang  atau  pemancar,  dari 

diaspora (penyebaran Yudaisme). Dukungan terhadap gagasan ini telah diambil 

dari  dokumen-dokumen  Chenoboskion.  Walaupun  hal  ini  tidak  pasti,  namun 

perlu diperhatikan bahwa bagian terbesar ajaran-ajaran berbentuk Gnostik yang 

disebut dalam PB (lihat dibawah ini) mempunyai unsur-unsur Yudaisme, bahwa 

jemaat-jemaat Kristen purba seringkali yaitu  orang-orang yang mewarisi rumah 

ibadah (sinagoge) Penyebaran, dan bahwa para Bapa Gereja melihat bidat-bidat 

itu hampir sebagai turunan dari Simon Magus. 

Ada pula ahli yang memandang Kekristenan sebagai sudah menafsirkan kembali 

suatu bualan Penyelamatan Gnostik  (misalnya R Bultmann,  dalam bukunya : 

Primitive  Christianity  in  its  Contemporary  Setting,  p  167  ),  tapi  belum 

diperlihatkan  bualan  sedemikian  itu  yaitu   bagian  yang  integral  dari 

pemandangan Gnostik sebelum Kristus; juga dokumen Mandean (anggota sekte 

Gnostik purba) atau sekte-sekte ’babtis’ Palestina yang primitif, sebab  mereka 

telah memperoleh pengaruh-pengaruh kemudian yang lebih kuat. 

III. GNOSTIK DALAM PERJANJIAN BARU (PB) 

"Bidat  Kolose"  menggabungkan  spekulasi-spekulasi  filosofis,  kuasa 

perbintangan,  ketakutan  pada  malaikat-malaikat  perantara,  tabu  terhadap 

makanan, dan praktik-praktik bertapa, dengan unsur-unsur yang dipinjam dari 

Yudaisme  (Kolose  2:8-23).  Surat-surat  penggembalaan  mencela  pengajaran 

yang dicampurkan dengan mitologi dan silsilah ,1 Timotius 4:3 dab ; ’Dongeng-

dongeng Yahudi’ Titus 1:14; Spiritualisasi dari kebangkitan, 2 Timotius 2:18; dan 

disertai  dengan  moral  yang  rusak,  2  Timotius  3:5-;  7.Semuanya  apa  yang 

disebut pengetahuan (Gnosis) dalam 1 Timotius 6:20. 

Bidat yang berbahaya yang ditentang dalam surat-surat Yohanes ( 1 Yohanes 

4:3; 2 Yohanes 1:7), mengenai guru-guru palsu di Asia, ungkapan yang berbunyi 

Gnostik 'seluk beluk Iblis' digunakan dalam Wahyu 2:24. 

Beberapa diantara ciri kehidupan gereja di Korintus yang kurang memuaskan, 

memantulkan istilah-istilah dan gagasan yang lain mempersoalkan pernikahan (1 

Korintus 6:13 dst sampai pasal 7) dan menyangkal kenyataan kebangkitan ( 1 

Korintus 15:12). 

Hal  hal ini  hanyalah berupa gejala-gejala;  tidak merupakan suatu sistem; tapi 

memperlihatkan  sarata  tempat  sistem-sistem  Gnostik  bertumbuh  subur.  Dan 

Paulus dalam menjawab mereka memakai perbendaharaan kata yang digunakan 

dalam Gnostik  dan  'membersihkan'-nya  (  1  Korintus  2:6  dst);  Demikian  juga 

Paulus merombak gagasan Gnostik tentang suatu pleroma (penuh/kepenuhan) 

makhluk-makhluk perantara dengan menyatakan bahwa seluruh pleroma yaitu  

dalam Kristus (Kolose 1:19). 

Hal memakai istilah-istilah keagamaan saman itu, yanga dalah khas dalam PB, 

terkait dengan mereka yang mengertinya tanpa menyerahkan sesuatu apapun 

kepada pemikiran yang non-alkitabiah. Kerangka pemikiran PB nbaik tentang hal 

pemilihan, atau pengetahuan tentang Allah, atau tentang Firman, atau tentang 

penyelamat – diberikan oleh pernyataan PL, darimana istilah-istilah itu berasal. 

Gnostik  dengan  unsur-unsur  Yunani,  unsur-unsur  Timur,  dan  unsur-unsur 

Yahudi, apakah itu dilihat sebagai agama dunia ataupun hanya kecenderungan 

terhadapnya, yaitu  tetap agama kafir.  Ia melekat  bagaikan parasit  terhadap 

kekristenan, dan mengambil bentuk-bentuk tertentu dengan menyedot makanan 

daripadanya. Ia ingin mencapai sasaran Kristen dengan cara kafir.  Dan pada 

akhirnya Kekristenan harus memilih  antara  Injil  atau  terpengaruh Gnosis  dan 

menjadi Gnostik. 


Montanisme

Montanisme  yaitu   sebuah  gerakan  sektarian  Kristen  perdana  pada 

pertengahan  abad  ke-2  Masehi,  yang  dinamai  seturut  pendirinya  Montanus. 

Gerakan  ini  berkembang  umumnya  di  daerah  Frigia  dan  sekitarnya;  di  sini 

sebelumnya pengikutnya disebut Katafrigia. Namun gerakan ini merebak cepat 

ke wilayah-wilayah lain di Kekaisaran Romawi, dan pada suatu masa sebelum 

agama Kristen ditolerir atau dianggap legal. Meskipun Gereja Kristen arus utama 

menang atas Montanisme dalam beberapa generasi,  dan mencapnya sebagai 

sebuah ajaran sesat, sekte ini bertahan di beberapa tempat terisolir hingga abad 

ke-8. Sebagian orang membuat paralel antara Montanisme dan Pentakostalisme 

(yang disebut sebagian orang Neo-Montanisme). Montanis yang paling terkenal 

jelas yaitu  Tertulianus, yang merupakan penulis gereja Latin paling terkemuka 

sebelum  ia  beralih  ke  Montanisme.  Penganut  paham  Montanisme  disebut 

dengan Montanis.

1 Sejarah

2 Perbedaan antara Montanisme dan Kekristenan ortodoks

3 Lihat pula

4 Pranala luar

5 Sumber

6 Rujukan

7 Bacaan lebih lanjut

Sejarah

Montanus mengunjungi pemukiman-pemukiman pedesaan di Asia Kecil sesudah  

pertobatannya,  dan mengajar  serta  memberikan kesaksian  tentang apa yang 

dikatakannya sebagai  Firman Allah.  Namun, ajaran-ajarannya dianggap sesat 

oleh Gereja yang ortodoks sebab  sejumlah alasan. Ia mengklaim bukan saja 

telah menerima serangkaian wahyu langsung dari Roh Kudus, tetapi juga secara 

pribadi merupakan penjelmaan dari roh penghibur yang disebutkan dalam Injil 

Yohanes 14:16. Montanus disertai oleh dua orang perempuan, Priska, kadang-

kadang  disebut  Priskila,  dan  Maksimila,  yang  juga  mengklaim  sebagai 

penjelmaan dari  Roh Kudus yang menggerakkan dan mengilhami mereka. Ke 

manapun mereka pergi, "Ketiganya" demikian mereka disebut, berbicara dengan 

penglihatan ekstatis dan mendesak pengikut-pengikut mereka untuk berpuasa 

dan berdoa, sehingga mereka pun akan dapat memperoleh wahyu pribadi ini. 

Pemberitaan Montanus menyebar dari tempat kelahirannya Frigia (dan di sini ia 

menyatakan bahwa desa Pepuza yaitu  tempat untuk Yerusalem Baru) hingga 

ke dunia Kristen saat itu, ke Afrika dan Gaul.

Pada  umumnya  disepakati  bahwa  gerakan  ini  diilhami  oleh  pembacaan  Injil 

Yohanes oleh Montanus— "Aku akan mengutus kepadamu seorang advocate 

parakletos, roh kebenaran" (Heine 1987, 1989; Groh 1985). Tanggapan terhadap 

wahyu  yang  berlanjut  ini  memecah  komunitas-komunitas  Kristen,  dan  para 

rohaniwan yang lebih ortodoks umumnya berjuang untuk menekannya. Uskup 

Apolinarius  menemukan  gereja  di  Ancyra  terpecah  menjadi  dua,  dan  ia 

menentang "nubuat palsu" (dikutip oleh Eusebius 5.16.5).  Tetapi  ada keragu-

raguan yang sungguh-sungguh di Roma, dan Paus Eleuterus bahkan menulis 

surat-surat untuk mendukung Montanisme, meskipun ia belakangan menariknya 

kembali (Tertulianus, "Adversus Praxean" c.1, Trevett 58-59).

Priska  mengaku  bahwa  Kristus  menampakkan  diri  kepadanya  dalam  rupa 

seorang perempuan. Ketika ia dikucilkan, ia berseru, "Aku diusir seperti serigala 

dari antara domba-domba. Aku bukan serigala: Aku yaitu  firman dan roh dan 

kuasa."

Pembela kaum Montanis yang paling terkenal jelas yaitu  Tertulianus, seorang 

bekas pembela keyakinan ortodoks, yang percaya bahwa nubuat yang baru itu 

memang tulen dan mulai  meninggalkan apa yang disebutnya sebagai  “gereja 

dengan banyak uskup" (On Modesty).

Meskipun  gereja  Kristen  yang  ortodoks  menang  atas  Montanisme  dalam 

beberapa  generasi  saja,  prasasti-prasasti  di  lembah  Tembris  di  Frigiia  utara, 

yang  bertanggal  antara  249  dan  279,  secara  terbuka  menyatakan  kesetiaan 

mereka kepada Montanisme.

Sepucuk  surat  dari  Hieronimus  kepada  Marsela,  yang  ditulis  pada  385, 

menyangkal klaim kaum Montanis yang telah mengganggunya (surat 41) [1].

Sebuah kelompok "Tertulianis" terus hadir di Kartago. Pengarang Praedestinatus 

yang anonim mencatat bahwa seorang pengkhotbah datang ke Roma pada 388 

ketika  ia  menghasilkan  banyak  pengikut  dan  memperoleh  izin  penggunaan 

sebuah  gereja  bagi  jemaatnya  dengan  alasan  bahwa  para  martir  yang 

kepadanya gereja itu dipersembahkan yaitu  Montanis.[1] Ia terpaksa melarikan 

diri  sesudah   kemenangan  Teodosius  I.  Augustinus  mencatat  bahwa kelompok 

Tertullianis  melorot  hingga  hampir  tidak  tersisa  pada  masanya  sendiri,  dan 

akhirnya didamaikan dengan gereja dan menyerahkan basilika mereka.[2] Tidak 

jelas apakah para Tertulianis itu Montanis atau bukan.

Pada  abad  ke-6,  atas  perintah  Kaisar  Yustinianus,  Yohanes  dari  Efesus 

memimpin  ekspedisi  ke  Pepuza  untuk  menghancurkan  tempat-temapt  suci 

Montanis  di  sana,  yang  berbasis  di  sekitar  makam  Montanus,  Priskila  dan 

Maksimilia.

Sekte ini bertahan hingga abad ke-8. Columbia Encyclopedia mengklaim bahwa 

“di  tempat-tempat  terpencil  dari  Frigiia,  di  mana [Montanisme] terus  bertahan 

hingga abad ke-7.”

Beberapa penulis modern mengusulkan bahwa sebagian dari penekanan pada 

pengalaman pribadi yang langsung dan ekstatis dengan Roh Kudus mempunyai 

kemiripan dengan semua bentuk Pentakostalisme. “Ia [Montanisme] mengklaim 

dirinya sebagai agama Roh Kudus dan ditandai oleh ledakan-ledakan ekstatis 

yang  dianggapnya  sebagai  satu-satunya  bentuk  Kekristenan  yang  sejati.”  [3] 

Sementara  memang  ada  banyak  kesamaan  antara  Montanisme  dengan 

Pentakostalisme  modern,  tampaknya  tidak  ada  hubungan  histories  antara 

keduanya,  sebab   kebanyakan  kaum  Pentakostal  mengklaim  otoritasnya 

berdasarkan Kisah para Rasul (pasal 2).

[sunting]

Perbedaan antara Montanisme dan Kekristenan ortodoks

Keyakinan-keyakinan Montanisme berbeda dengan Kekristenan ortodoks dalam 

hal-hal berikut:

Keyakinan bahwa nubuat-nubuat kaum Montanis mengalahkan dan menggenapi 

doktrin-doktrin yang diberitakan oleh para Rasul.

Dorongan  untuk  bernubuat  secara  ekstatis,  membedakannya  dengan 

pendekatan  teologi  yang  dominan  yang  lebih  berdisiplin  dan  penuh 

pertimbangan  di  kalangan  Kekristenan  yang  ortodoks  pada  saat  itu  hingga 

sekarang.

Pandangan bahwa orang-orang Kristen  yang jatuh dari  anugerah tidak dapat 

ditebus,  juga  bertentangan  dengan  pandangan  Kristen  yang  ortodoks  bahwa 

penyesalan dapat mengembalikan orang berdosa ke dalam gereja.

Nabi-nabi  Montanisme  tidak  berbicara  sebagai  utusan-utusan  Allah: 

"Demikianlah firman Tuhan," melainkan lebih menggambarkan dirinya dikuasai 

oleh  Allah,  dan  berbicara  atas  namanya.  "Akulah  Bapa,  Firman,  dan  Sang 

Penghibur,"  kata Montanus (Didymus, De Trinitate,  III,  xli);  Kerasukan roh ini, 

yang berbicara sementara nabi itu tidak mampu menolaknya, digambarkan oleh 

roh  Montanus:  "Lihatlah  manusia  itu  bagaikan sebuah lyre,  dan aku melesat 

seperti plectrum. Orang itu tidur, dan aku terjaga" (Epifanius, "Panarion", xlviii, 4).

Penekanan yang lebih kuat untuk menghindari dosa dan disiplin gereja daripada 

di kalangan Kekristenan ortodoks. Mereka lebih menekankan upaya menghindari 

dosa  dan  disiplin  gereja  daripada  di  kalangan  Kekristenan  ortodoks.  Mereka 

menekankan kesucian seksual, termasuk melarang pernikahan kembali..

Sebagian Montanis juga "Quartodesiman" ("yang 14"), artinya mereka lebih suka 

merayakan Paskah pada tanggal 14 bulan Nisan menurut kalender Ibrani, tak 

peduli  hari  apapun  dalam  suatu  minggu  tanggal  itu  jatuh.  Ajaran  ortodok 

berpendapat bahwa Paskah harus dirayakan pada hari Minggu sesudah  tanggal 

14 Nisan. (Trevett 1996:202)

Hieronimus dan para pemimpin gereja lainnya mengklaim bahwa kaum Montanis 

di masa mereka menganut keyakinan bahwa Tritunggal terdiri atas satu pribadi 

saja, serupa dengan Sabelianisme, jadi berlawanan dengan pandangan ortodoks 

bahwa Tritunggal yaitu  satu Allah dengan tiga pribadi, yang juga dianut oleh 

Tertulianus.  Ada  beberapa  orang  yang  memang  yaitu   pemeluk  monarkian 

modalistik  (Sabelian)  dan  beberapa  lainnya  yang  lebih  dekat  dengan  doktrin 

Tritunggal.  Dilaporkan  bahwa  para  modalis  ini  membaptiskan  dengan 

meyebutkan  nama  Yesus  Kristus,  bukannya  menyebutkan  nama  Tritunggal. 

Kebanyakan dari kaum Montanis di kemudian hari berasal dari kubu modalistik.


Sejarah kristen 1

 


100 Peristiwa Penting dalam Sejarah 

Kristen  

Sumber :  

A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, 

1999.  

 

Tahun-tahun di bawah ini merupakan beberapa yang terpenting dalam sejarah gereja.  

1) Tahun 64 Roma Terbakar 

2) Tahun 70 Titus Menghancurkan Yerusalem 

3) Tahun ±150 Yustinus Martir Menulis Apologynya 

4) Tahun ±156 Kemartiran Polikarpus 

5) Tahun 177 Irenaeus Menjadi Uskup Lyons 

6) Tahun ±196 Tertullianus Mulai Menulis Buku-buku Kristen 

7) Tahun ±205 Origenes Mulai Menulis 

8) Tahun 251 Cyprianus Menulis On the Unity of the Church 

9) Tahun 270 Antonius Memulai Hidupnya sebagai Pertapa 

10) Tahun 312 Pertobatan Konstantinus 

11) Tahun 325 Konsili Nicea 

12) Tahun 367 Surat Athanasius Mengakui Kanon Perjanjian Baru 

13) Tahun 385 Uskup Ambrosius Menentang Ratu 

14) Tahun 387 Pertobatan Agustinus 

15) Tahun 398 Yohanes Chrysostomus Menjadi Uskup Konstantinopel 

16) Tahun 405 Hieronimus Menyelesaikan Vulgata 

17) Tahun 432 Patrick Berangkat sebagai Misionaris ke Irlandia 

18) Tahun 451 Konsili Chalcedon 

19) Tahun 529 Benedictus dari Nursia Mendirikan Ordo Biaranya 

20) Tahun 563 Columba Berangkat sebagai Misionaris ke Skotlandia 

21) Tahun 590 Gregorius I menjadi Paus 

22) Tahun 664 Sinode Whitby 

23) Tahun 716 Bonifatius Berangkat sebagai Misionaris 

24) Tahun 731 Bede yang Patut Dipuja Menyelesaikan Karyanya Sejarah Gereja 

Bangsa Inggris 

25) Tahun 732 Pertempuran Tours 

26) Tahun 800 Karel Agung Dinobatkan Menjadi Kaisar 

27) Tahun 863 Cyrillus dan Methodius Mengabarkan Injil kepada Orangorang 

Slavia 

28) Tahun 909 Biara Didirikan di Cluny 

29) Tahun 988 Pertobatan Vladimir, Pangeran Rusia 

30) Tahun 1054 Skisma Gereja Timur dan Barat 

31) Tahun 1093 Anselmus Menjadi Uskup Agung Canterbury 

32) Tahun 1095 Paus Urbanus II Melancarkan Perang Salib Pertama 

33) Tahun 1115 Bernardus Mendirikan Biara di Clairvaux 

34) Tahun ±1150 Universitas Paris dan Universitas Oxford Didirikan 

35) Tahun 1173 Peter Waldo Memulai Gerakan Kaum Waldens 

36) Tahun 1206 Fransiskus dari Asisi Meninggalkan Kekayaannya 

37) Tahun 1215 Konsili Lateran Keempat 

38) Tahun 1273 Thomas Aquinas Menyelesaikan Karyanya Summa Theologica 

39) Tahun 1321 Dante Menyelesaikan The Divine Comedy 

40) Tahun 1378 Catherina dari Siena Pergi ke Roma untuk Mendamaikan Skisma 

Besar 

41) Tahun ±1380 Wycliffe Mengawasi Penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa 

Inggris 

42) Tahun 1415 Yohanes Hus Dibakar pada Tiang Pancang 

43) Tahun 1456 Johann Gutenberg Membuat Alkitab Cetak yang Pertama 

44) Tahun 1478 Pendirian Inkuisisi Spanyol 

45) Tahun 1498 Savonarola Dieksekusi 

46) Tahun 1512 Michelangelo Menyelesaikan Langit-langit Kapel Sistina 

47) Tahun 1517 Martin Luther Memampangkan Sembilan Puluh Lima Dalilnya 

48) Tahun 1523 Zwingli Memimpin Reformasi Swiss 

49) Tahun 1525 Gerakan Anabaptis Dimulai 

50) Tahun 1534 Undang-undang Supremasi Henry VIII 

51) Tahun 1536 Yohanes Calvin Menerbitkan Institutio: Pengajaran Agama Kristen 

52) Tahun 1540 Paus Mengakui Kaum Yesuit 

53) Tahun 1545 Pembukaan Konsili Trente 

54) Tahun 1549 Cranmer Menciptakan Buku Doa Umum 

55) Tahun 1559 John Knox Kembali ke Skotlandia untuk Memimpin Reformasi 

56) Tahun 1572 Pembantaian pada Hari Santo Bartolomeus 

57) Tahun 1608-1609 John Smyth Membaptis Orang-orang Baptis Pertama 

58) Tahun 1611 Penerbitan Alkitab Versi Raja James 

59) Tahun 1620 Para Peziarah Menandatangani Perjanjian Mayflower 

60) Tahun 1628 Comenius Diusir dari Negerinya 

61) Tahun 1646 Pengakuan Iman Westminster 

62) Tahun 1648 George Fox Mendirikan Society of Friends 

63) Tahun 1662 Rembrandt Menyelesaikan Lukisan Kembalinya Anak Hilang 

64) Tahun 1675 Philip Jacob Spener Menerbitkan Pia Desideria 

65) Tahun 1678 Karya John Bunyan The Pilgrim's Progress Diterbitkan 

66) Tahun 1685 Kelahiran Johann Sebastian Bach dan George Frederic Handel 

67) Tahun 1707 Penerbitan Hymns and Spritual Songs Karya Isaac Watts 

68) Tahun 1727 Kebangunan Rohani di Herrnhut Mengawali Moravian Brethren 

69) Tahun 1735 Kebangunan Rohani Besar di bawah Jonathan Edwards 

70) Tahun 1738 Pertobatan John Wesley 

71) Tahun 1780 Robert Raikes Memulai Sekolah Minggu 

72) Tahun 1793 William Carey Berlayar Menuju India 

73) Tahun 1807 Parlemen inggris Mengadakan Pemungutan Suara untuk 

Menghapuskan Perdagangan Budak 

74) Tahun 1811 Para Campbell Mengawali Gerakan Disciples of Christ 

75) Tahun 1812 Adoniram dan Ann Judson Berlayar Menuju India 

76) Tahun 1816 Richard Allen Mendirikan Gereja Episkopal Methodis Afrika 

77) Tahun 1817 Elizabeth Fry Mengawali Pelayanan bagi Narapidana Perempuan di 

Penjara 

78) Tahun 1830 Mulainya Kebangunan Rohani Perkotaan oleh Charles G. Finney 

79) Tahun ±1830 John Nelson Darby Membantu Mengawali Plymouth Brethren 

80) Tahun 1833 Khotbah John Keble tentang "Murtad Nasional" Memicu Gerakan 

Oxford 

81) Tahun 1854 Hudson Taylor Tiba di China 

82) Tahun 1854 Soren Kierkegaard Menerbitkan Serangan terhadap Kekristenan 

83) Tahun 1854 Charles Haddon Spurgeon Menjadi Imam di London 

84) Tahun 1855 Pertobatan Dwight L. Moody 

85) Tahun 1857 David Livingstone Menerbitkan Missionary Travels 

86) Tahun 1865 William Booth Mendirikan Bala Keselamatan 

87) Tahun 1870 Paus Pius IX Memproklamasikan Doktrin Infalibilitas Paus 

88) Tahun 1886 Gerakan Relawan Mahasiswa Dimulai 

89) Tahun 1906 Kebangunan Rohani Azusa Street Memunculkan Aliran 

Pentakostalisme 

90) Tahun 1910-1915 Penerbitan Buku The Fundamentals Memunculkan Gerakan 

Fundamentalis 

91) Tahun 1919 Tafsiran Surat Roma oleh Karl Bath Diterbitkan 

92) Tahun 1921 Radio Kristen Pertama Mengudara 

93) Tahun 1934 Cameron Townsend Memulai Institut Linguistik Musim Panas 

94) Tahun 1945 Dietrich Bonhoeffer Dieksekusi Nazi 

95) Tahun 1948 Dewan Gereja-gereja se-Dunia Terbentuk 

96) Tahun 1949 Kampanye Los Angeles Billy Graham 

97) Tahun 1960 Berawalnya Pembaruan Karismatik Modern 

98) Tahun 1962 Konsili Vatikan II Dimulai 

99) Tahun 1963 Martin Luther King, Jr., Memimpin Pawai ke Washington 

100) Tahun 1966-1976 Gereja China Bertumbuh tanpa Terusik Revolusi 

Kebudayaan 


  

Sepuluh peristiwa terpenting apa yang pernah terjadi dalam kehidupan Anda selama 

kurun waktu lima tahun terakhir ini? Sekarang tanyakanlah kepada ayah, puteri, suami 

atau istri, atau dua orang sahabat karib Anda untuk menjawab pertanyaan yang sama 

tentang diri Anda. Segera Anda menyadari bahwa cara pandang kita terhadap suatu 

peristiwa bisa berbeda dengan orang lain, termasuk mereka yang sangat dekat dengan 

kita.  

Sekarang marilah kita mengakui bahwa tidak seorang pun dapat dengan pasti menunjuk 

tanggal-tanggal terpenting dalam sejarah gereja. Tentunya, daftar yang ada pada Tuhan 

tentang hal itu mungkin akan sangat berbeda dengan daftar yang kita buat. Kami tidak 

bermaksud menjadi wasit resmi untuk menentukan peristiwa apa yang terpenting dalam 

kehidupan gereja pada abad-abad lampau. Namun kami berupaya menampilkan selintas 

berbagai peristiwa dalam sejarah umat Tuhan yang rumit. Peristiwa ini  diharapkan 

akan memberi garis-garis besar serta para pelaku yang telah membentuk kekristenan 

kepada yang bukan sejarawan dan bukan pengamat.  

Banyak orang Kristen dewasa ini ingin mengetahui lebih banyak tentang asal-usul 

keyakinan mereka serta berapa banyak ajaran dan praktik gereja mereka yang telah 

terwujud. Namun mereka tidak memiliki  waktu atau kecenderungan membaca karya 

akademis yang berjilid-jilid banyaknya. Hanya buku semacam inilah yang dapat 

memberi  kepuasan bagi kehausan mereka. Bagi orang-orang non-Kristen, buku ini 

merupakan buku acuan andal untuk lebih mengenal para tokoh terkemuka, berbagai 

gerakan, makna dan peristiwa-peristiwa dalam sejarah kekristenan yang panjang.  

Kami memulai sejarah gereja setelah (atau setidak-tidaknya yang di luar) peristiwa-

peristiwa yang tercatat dalam Perjanjian Baru. Jelas bahwa kebangkitan, pertobatan 

Paulus, Konsili Yerusalem dan sebagainya yaitu  peristiwa-peristiwa penting dalam 

sejarah gereja. Namun di mana kita harus berhenti? Oleh sebab nya, kami memilih 

hanya peristiwa-peristiwa yang tidak tercatat dalam Perjanjian Baru.  

Kami tidak menyusun beragam peristiwa ini  menurut urutan pentingnya, namun  

secara kronologis agar dapat menelusuri abad demi abad.  

Beberapa pilihan yang bernilai tinggi telah kami lewatkan sebab  kami merasa bahwa 

hal itu dapat digabungkan dengan peristiwa lain. Misalnya, sebab  survei telah 

membuktikan bahwa Ninety-Five Theses Luther dan Diet of Worms ada kaitan satu 

sama lain, maka kami hanya menyertakan judul pertama yang meliputi keduanya.  

Peristiwa-peristiwa lainnya telah disertakan bukan saja sebab  pentingnya namun  

bagaimana dampak peristiwa-peristiwa itu, atau betapa keadaan akan berbeda, jika 

peristiwa-peristiwa ini  tidak terjadi. Misalnya Sidang Sinode Whitby tidak 

mungkin tercatat sebagai salah satu persidangan gereja besar, namun  sangatlah penting 

bahwa Gereja Inggris memilih untuk bersatu dengan Roma pada waktu itu. Sejarah 

mungkin akan berbeda jika mereka memilih alternatif lain.  

Kami juga rnenyertakan beberapa hal yang mungkin terkesan direkayasa dan mengada-

ada. Dunia tidak berubah, begitu gereja, pada saat kelahiran Bach dan Handel. Namun, 

tidak menyertakan sumbangsih musik mereka bagi kehidupan ibadah sungguh akan 

merupakan suatu cacat. Oleh sebab  itu, beberapa peristiwa disertakan di sini khususnya 

sebab  nilai simbolisnya.  

Meskipun demikian, terdapat beberapa alternatif menarik yang kami tidak sertakan 

dalam kurun waktu dua dasawarsa terakhir, sebab  kita masih sangat dekat dengan 

peristiwa-peristiwa itu untuk perspektif yang dibutuhkan.  

Mungkin ada cemoohan atas pilihan-pilihan kami yang lebih banyak berbicara tentang 

dunia Barat, kaum lelaki, Protestan dan kaum evangelikal. Di satu pihak, memang hal 

ini tak terelakkan, dan di lain pihak hal ini mencerminkan bias kami.  

namun  kami tidak bersikukuh bahwa pilihan kami inilah yang final. Sebenarnya dari 

awal kami menghiraukan tanggapan para pembaca yang ingin menyodorkan 

kemungkinan adanya peristiwa-peristiwa lain yang dapat disertakan atau yang dapat 

dilewatkan. Untuk itu kami mengundang para pembaca agar menulis pendapatnya 

kepada kami, disertai dengan alasan-alasan rinci. Jika tanggapan ini  cukup 

meyakinkan, maka kami akan menerbitkan jilid kedua dengan judul "Kejadian-kejadian 

Penting Lain dalam Sejarah Gereja" (More Important Events in Church History). Kami 

mengundang mereka yang ingin memberi komentar mengenai jilid kedua untuk 

menulis. Kirimkan kepada: Ken Curtis, Christian History Institute, Box 540, Worcester, 

PA 19490, atau Fax ke 215-584. 4610.  

saat  saya menjabat sebagai editor majalah Christian History, kami menulis kepada 

para pelanggan dan meminta mereka mengirimkan peristiwa-peristiwa yang mereka 

anggap layak dibukukan. lalu , setelah memilah-milah dan menyusun daftar ini, 

kami mengirimnya kembali kepada mereka 'dengan catatan agar mereka dapat 

menandai pilihan-pilihan yang mereka setujui dan yang tidak disetujui; serta 

menambahkan, bila perlu, hal-hal yang tidak tercantum. Jawaban mereka mewujudkan 

daftar baru. Sebuah survei juga telah dilayangkan kepada para anggota American 

Society of Church History, sebuah kelompok sejarawan gereja profesional. Dalam 

memilih judul-judul peristiwa yang terdapat dalam buku ini, hasil survei ini  

mendapat perhatian cukup, meskipun saya yang bertanggung jawab dalam pemilihan 

final.  

Sejak semula, dengan melakukan pemilihan, kami sepenuhnya sadar bahwa beberapa 

hal terpenting sungguh sukar dikenali dan diukur. Kami seperti bendaharawan di Bait 

Allah yang mungkin tidak menghiraukan pentingnya "uang keping yang 

dipersembahkan seorang janda". Yesus telah menjelaskan bahwa cinta kasih merupakan 

tanda istimewa para pengikut-Nya. Ia juga berbicara tegas akan hal-hal sederhana 

seperti memberi  secangkir air atas nama-Nya. Banyak isi buku ini yang 

merefleksikan kualitas dasar kekristenan. Namun, apa saja sesungguhnya yang 

terpenting tidak akan kita ketahui hingga hari penghakiman umat manusia, yang 

memperlihatkan mana gandum dan mana debu jerami.  


1) Tahun 64 Roma Terbakar  

 

Nero playing while Rome burns, lukisan dari seniman Giulio Romano (c.1499-1546), 

lukisan ini dibuat antara tahun 1536-1539.  

Tanpa kekaisaran Romawi, kekristenan mustahil berkembang dengan sukses. 

Kekaisaran itu dapat dikatakan sebagai born waktu yang menanti pemicuan iman 

Kristen. Unsur-unsur pemersatu kekaisaran itu membantu penyebaran berita Injil: jalan 

raya yang dibangun orang Romawi membuat perjalanan dari situ tempat ke tempat lain 

lebih mudah; di seluruh kekaisaran orang-orang dapat berkomunikasi dalam bahasa 

Yunani; dan pasukan Romawi yang tangguh itu menjaga kedamaian. Sebagai akibat 

mobilitas yang meningkat, kelompok-kelompok pengrajin pun bermigrasi mencari 

permukiman sementara di kota-kota besar — Roma, Korintus, Athena atau Alexandria -

- lalu  berlanjut ke kota-kota lainnya.  

Kekristenan memasuki iklim yang terbuka secara religius. Dalam gerakan "zaman baru" 

itu, banyak orang mulai menganut agama-agama Timur – seperti menyembah Isis (dewi 

alam), Dionisus (dewa anggur), Mithras (dewa cahaya), Kibele (dewi alam), dan 

sebagainya. Para pemuja mencari keyakinan baru, namun beberapa agama ini  

dilarang, sebab  dicurigai melakukan upacara-upacara penghinaan. Keyakinan lain 

secara resmi diakui, seperti Yudaisme, yang dilindungi sejak zaman Julius Caesar, 

meskipun monoteismenya dan penyataan alkitabiahnya telah memisahkannya dari Cara 

pemujaan lain.  

Melihat kesempatan baik ini, para pekabar Injil mulai menelusuri seantero kekaisaran. 

Di sinagoge (rumah ibadah) orang Yahudi, di tempat-tempat penampungan para 

pengrajin, di pondok-pondok kumuh, mereka menyebarkan berita Injil dan 

memenangkan jiwa-jiwa baru. Tidak lama lalu  berdirilah gereja di kota-kota 

besar, termasuk ibu kota kekaisaran.  

Kota Roma, pusat kekaisaran, menarik orang-orang seperti magnet. Paulus sendiri 

pernah menginginkan kunjungan ke kota ini  (Rm. 1:10-12); dan pada akhir 

suratnya kepada jemaat di Roma, ia sudah mengenal banyak orang Kristen di sana (Rm. 

16:13-15). Mungkin ia pernah bertemu mereka dalam perjalanannya. saat  Paulus tiba 

di Roma, ia dalam keadaan dirantai. Kisah Para Rasul pada bagian penutupannya 

menyatakan bahwa akhirnya Paulus mendapat kelonggaran untuk menjadi tahanan 

rumah di sebuah rumah sewaan. Di sana ia dapat menerima tamu dan mengajar mereka.  

Menurut tradisi, Petrus pun pernah bergabung dengan Gereja Roma. Meskipun kita 

tidak memiliki  kurun waktu yang pasti, namun kita dapat menduga bahwa dengan 

pimpinan kedua tokoh ini, jemaat ini  bertumbuh kuat, termasuk para bangsawan 

dan prajurit serta para pengrajin dan pelayan.  

Selama tiga dekade, para pejabat Romawi beranggapan bahwa kekristenan yaitu  

cabang agama Yahudi - agama yang sah - dan tidak bermaksud membuat "sekte" baru 

agama Yahudi. Namun banyak orang Yahudi yang tersinggung sebab  kepercayaan 

baru ini mulai menyerangnya. Ini juga merupakan ancaman bagi Roma. Kelalaian Roma 

atas keadaan ini  ditunjukkan oleh laporan sejarawan Tacitus. Dari salah satu rumah 

petak di Roma, ia melaporkan adanya gangguan di kalangan orang-orang Yahudi sebab  

"chrestus". Tacitus mungkin salah dengar; orang-orang mungkin memperdebatkan 

tentang Christos, yang yaitu  Kristus.  

Menjelang tahun 64 Masehi, beberapa pejabat Romawi mulai sadar bahwa kekristenan 

sama sekali berbeda dengan Agama Yahudi. Orang-orang Yahudi menolak orang-orang 

Kristen dan lebih banyak melihat kekristenan sebagai agama yang tidak sah. Jauh 

sebelum kebakaran kota Roma, warga  telah mulai memusuhi keyakinan yang 

masih muda ini. Meskipun sifat orang Romawi ingin menerima dewa-dewa baru, namun 

kekristenan tidak mau mengakui kepercayaan-kepercayaan lain. sebab  kekristenan 

menentang politeisme kekaisaran Romawi yang telah berakar, maka kekaisaran itu pun 

mulai membalas.  

Pada tanggal 19 Juli, kebakaran berkobar di sebuah sektor kumuh di Roma. Selama 

tujuh hari api yang tak kunjung padam itu memusnahkan perumahan yang padat. 

Sepuluh dari empat belas blok perumahan musnah, dan banyak penduduk yang tewas.  

Menurut legenda, Kaisar Nero sedang bermain biola saat  Roma terbakar. Banyak 

orang sezamannya menduga bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kebakaran 

ini . saat  kota itu dibangun kembali dengan dana dari warga , Nero 

mengambil sebidang tanah yang cukup luas untuk membangun Istana Emasnya. 

Kebakaran itu merupakan jalan pintas bagi pembaruan perkotaan.  

Untuk mengelakkan tuduhan atas dirinya, Kaisar itu mengkambinghitamkan orang-

orang Kristen. Ia menuduh bahwa merekalah yang memicu kebakaran ini . 

Akibatnya Nero bersumpah untuk memburu dan membunuh mereka.  

Gelombang pertama penganiayaan orang Romawi terhadap orang Kristen dimulai tidak 

lama setelah kebakaran itu dan berakhir sampai tahun kematian Nero, tahun 68. Dengan 

haus darah dan biadab, orang-orang Kristen disalibkan dan dibakar. Jasad-jasad mereka 

berjejer di jalan-jalan Roma, disediakan bagi pencahayaan obor. Orang-orang Kristen 

lainnya dikenakan pakaian hewan dan dimasukkan ke dalam kandang untuk dicabik-

cabik anjing-anjing. Menurut cerita, Petrus dan Paulus menjadi martir akibat penyiksaan 

Nero. Paulus dipenggal kepalanya sedang  Petrus disalibkan terbalik.  

Penganiayaan berlangsung secara sporadis, dan tetap terlokalisasi. Seorang kaisar 

mungkin telah memicunya dan berlanjut selama lebih kurang sepuluh tahun. Namun, 

 3

masa damai akan menyusul sampai ada seorang gubernur yang memulai penganiayaan 

terhadap orang Kristen di wilayahnya — tentu dengan restu dari Roma. Hal semacam 

ini berlangsung dua setengah abad lamanya.  

Tertullianus, seorang penulis Kristen abad kedua pernah berkata, "Darah para martir 

yaitu  benih Gereja." Anehnya, setiap kali penganiayaan merebak, orang Kristen yang 

menjadi korban makin bertambah. Dalam suratnya yang pertama Petrus menguatkan 

orang-orang Kristen untuk bertahan, percaya diri akan kemenangan dan kuasa Kristus 

yang akan diteguhkan (1 Ptr. 5:8-11). Kata-katanya ini telah terbukti dengan 

pertumbuhan Gereja di tengah-tengah penekanan. 


2) Tahun 70 Titus Menghancurkan Yerusalem  

 

Monumen memperingati kemenangan Titus di Yerusalem.  

Gessius Florus mencintai uang dan membenci orang-orang Yahudi. Sebagai wakil 

Roma, ia memerintah Yudea, dengan tidak memandang kepekaan mereka akan agama. 

saat  pemasukan pajak menurun, ia pun mulai merampas benda-benda perak dari Bait 

Allah. Pada tahun 66, saat  kerusuhan menentang dia merebak, ia mengirim pasukan 

ke Yerusalem untuk menyalib dan membantai sejumlah orang Yahudi. Tindakan Florus 

ini memicu meledaknya pemberontakan yang selama ini merupakan api dalam sekam.  

Pada abad sebelumnya, Roma tidak pernah menangani orang-orang Yahudi dengan 

baik. Pertama, Roma telah mendukung Herodes Agung, perampas kekuasaan yang 

dibenci. Dengan semua bangunan unik yang indah, ia tidak dapat meraih hati rakyat. 

Arkhelaus, putra dan penerus Herodes, yaitu  pemimpin yang keji sehingga rakyat 

meminta pertolongan Roma untuk menggantinya. Roma pun menolong mereka dengan 

mengirimkan sejumlah Gubernur secara bergilir – Pontius Pilatus, Feliks, Festus dan 

Florus. Tugas mereka menjaga ketenteraman di daerah yang tidak stabil itu.  

Ketegangan dalam diri masing-masing orang Yahudi tidak mereda. Mereka masih 

terbuai kenangan masa-masa Makabe, saat mereka terbebas dari penindasan orang-

orang Siria. Sekarang, jumlah mereka yang kecil ditambah kebangkitan Roma membuat 

mereka kembali di bawah kekuasaan orang-orang asing.  

Sejak pemerintahan Herodes, denyut jantung revolusi mereka senantiasa berdetak. 

Orang-orang Zelot dan Farisi, masing-masing dengan caranya sendiri, menantikan 

perubahan. Mereka menantikan dengan semangat datangnya seorang Mesias. saat  

Yesus memperingatkan bahwa orang-orang akan berkata, "Lihat, Mesias ada di sini, 

atau Mesias ada di sana!" Ia tidak main-main. Sesungguhnya, seperti itulah semangat 

masa itu.  

Di Masada (sebuah bukit karang yang menghadap Laut Mati, tempat Herodes 

membangun istananya dan orang-orang Romawi mendirikan benteng), bermulalah 

pemberontakan orang Yahudi yang berakhir dengan pahit.  

 5

Terinspirasi kekejaman-kekejaman Florus, beberapa orang Zelot memutuskan 

menyerang benteng itu. Yang mengherankan, mereka menang dan membantai tentara 

Romawi yang berkemah di sana.  

Di Yerusalem, kepala Bait Allah menyatakan pemberontakan terbuka melawan Roma 

dengan menghentikan persembahan harian untuk Kaisar. Tidak lama lalu  seluruh 

Yerusalem menjadi rusuh; pasukan Romawi diusir dan dibunuh. Yudea memberontak, 

lalu  Galilea. Untuk sementara waktu tampaknya orang-orang Yahudi unggul.  

Cestius Gallus, Gubernur Romawi untuk daerah itu berangkat dari Siria dengan 20.000 

tentara. Ia menguasai Yerusalem selama enam bulan namun gagal dan kembali. Ia 

meninggalkan 6.000 tentara Romawi yang tewas dan sejumlah besar persenjataan yang 

dipungut dan dipakai orang-orang Yahudi.  

Kaisar Nero mengirim Vespasianus, seorang jenderal yang dianugerahi banyak bintang 

jasa, untuk meredam pemberontakan. Vespasianus pun melumpuhkan kelompok 

pemberontak ini  secara bergilir. Ia memulainya di Galilea, lalu  di 

Transyordania, dan berikutnya di Idumea. Setelah itu, dia mengepung Yerusalem.  

Akan namun  sebelum menjatuhkan Yerusalem, Vespasianus dipanggil pulang ke Roma. 

Nero wafat. Pergumulan untuk mencari pengganti Nero berakhir dengan keputusan 

Vespasianus sebagai Kaisar. Titah kekaisaran pertamanya ialah penunjukan anaknya, 

Titus, untuk memimpin Perang Yahudi.  

Maka Yerusalem pun menjadi sasaran empuk setelah terpisah dari daerah-daerah lain. 

Beberapa faksi (kelompok) dalam kota itu sendiri berebut mengatur strategi pertahanan. 

saat  pengepungan sedang berlangsung, penduduk kota pun satu demi satu mati 

sebab  kelaparan dan wabah penyakit. Istri imam kepala yang biasanya menikmati 

kemewahan, turun ke jalan untuk memungut sisa makanan.  

Sementara itu, pasukan Romawi menggelar mesin-mesin perang baru, yaitu mesin 

pelontar batu untuk meruntuhkan tembok-tembok yang melindungi kota. Balok 

pendobrak pintu gerbang merobohkan benteng pertahanan. Orang-orang Yahudi 

berperang sepanjang hari, dan pada malam hari mereka berjuang untuk membangun 

kembali tembok-tembok yang runtuh.  

Akhirnya, orang-orang Romawi merobohkan tembok lapisan luar, lalu  lapisan 

kedua dan akhirnya yang ketiga. Namun orang-orang Yahudi masih berperang sambil 

merangkak menuju Bait Allah sebagai garis pertahanan terakhir.  

Itulah akhir bagi para pejuang Yahudi yang gagah berani dan Bait Allah mereka. 

Sejarawan Yahudi, Josephus menjelaskan bahwa Titus ingin melindungi Bait Allah 

ini , namun  prajurit-prajuritnya begitu marah terhadap musuh mereka sehingga 

mendorong mereka membakar Bait Allah.  

Jatuhnya Yerusalem mengakhiri pemberontakan. Orang-orang Yahudi dibantai atau 

ditangkap serta dijual sebagai budak. Gerombolan orang Zelot yang menduduki Masada 

bertahan di situ selama tiga tahun. saat  orang-orang Romawi membangun lereng 

pengepungan dan menyerbu benteng pegunungannya, mereka menemukan orang-orang 

Zelot mati bunuh diri sebagai penolakan menjadi tawanan orang asing.  

 6

Pemberontakan orang-orang Yahudi ini menandai berakhirnya negara Yahudi sampai 

zaman modern.  

Penghancuran Bait Allah (yang dipugar Herodes) mengubah tata cara peribadahan 

orang-orang Yahudi. Mereka tidak lagi mempersembahkan korban sembelihan, namun  

memilih dan mengutamakan sinagoge yang didirikan pendahulu mereka saat  Bait 

Allah (yang didirikan Salomo) dihancurkan orang-orang Babel pada tahun 586 sM.  

Kemanakah perginya orang-orang Kristen saat  pemberontakan orang Yahudi itu 

berlangsung? Sesuai peringatan Kristus (Luk. 21:20-24), mereka lari saat  melihat 

Yerusalem dikepung pasukan Romawi. Mereka menolak mengangkat senjata dan 

melawan orang-orang Romawi. Mereka melarikan diri ke Pella di Transyordania.  

Setelah bangsa Yahudi serta Bait Allah mereka hancur, orang-orang Kristen pun tidak 

dapat lagi bergantung pada perlindungan terhadap Yudaisme yang pernah diberikan 

kekaisaran. sebab nya, tidak ada tempat lagi bagi orang-orang Kristen untuk berlindung 

dari penyiksaan orang-orang Romawi. 

 7

3) Tahun ±150 Yustinus Martir Menulis Apologynya  

 

Filsuf muda itu berjalan-jalan sepanjang pantai, dengan pikirannya yang aktif, selalu 

aktif mencari kebenaran baru. Ia telah mempelajari ajaran-ajaran Stoa, Aristoteles dan 

Phythagoras namun  sekarang ia menganut sistem Plato. Plato pernah menguraikan bahwa 

penglihatan akan Tuhan dikaruniakan kepada mereka yang mencari kebenaran dengan 

sungguh-sungguh. Itulah yang dihendaki Yustinus, sang filsuf.  

saat  berjalan-jalan, ia bertemu dengan seorang Kristen. Yustinus tersentak melihat 

wibawa dan kerendahan hati orang ini . Orang itu mengutip nubuat Yahudi yang 

menunjukkan bahwa cara-cara orang Kristen itulah yang benar, dan Yesus yaitu  

pernyataan Allah yang sesungguhnya.  

Peristiwa itulah yang menjadi titik balik Yustinus. Dengan merenungkan tulisan-tulisan 

Taurat, membaca Injil dan surat-surat Paulus, maka ia pun menjadi orang Kristen sejati. 

Selama sisa hidupnya, lebih kurang tiga puluh tahun lamanya, ia mengadakan 

perjalanan, melakukan pekabaran Injil dan menulis. Ia telah memainkan peranan 

penting dalam perkembangan teologi gereja, dalam memahami dirinya sendiri dan 

dalam citranya yang ditampilkan kepada dunia.  

Sejak awal, Gereja berperan di dua dunia yang berbeda, dunia orang Yahudi dan dunia 

bukan Yahudi. Kisah Para Rasul menggambarkan lambannya dan terkadang sakitnya 

perkembangan kekristenan di kalangan orang-orang bukan Yahudi. Petrus dan Stefanus 

mengadakan pekabaran Injil kepada orang-orang Yahudi, sedang  Paulus kepada 

filsuf-filsuf Athena dan para penguasa Romawi.  

Dalam banyak hal, kehidupan Yustinus mirip dengan kehidupan Paulus. Rasul ini 

yaitu  orang Yahudi yang lahir di daerah bukan Yahudi (Tarsus), sedang  Yustinus 

yaitu  orang bukan Yahudi yang lahir di daerah Yahudi (Sikhem kuno). Keduanya 

terpelajar dan tangguh berargumentasi untuk meyakinkan orang-orang Yahudi dan 

bukan Yahudi akan kebenaran Kristus. Keduanya mati syahid di Roma sebab  

keyakinan mereka.  

 8

Pada pemerintahan para kaisar abad pertama, seperti Nero dan Domitianus, tujuan 

gereja hanya untuk dapat bertahan hidup dengan meneruskan tradisi mereka, yaitu 

menampilkan cinta kasih yang menyerupai kasih Kristus sendiri. sedang  bagi orang 

luar, kekristenan merupakan sekte primitif agama Yahudi dengan berbagai ajaran dan 

praktiknya yang aneh.  

Menjelang pertengahan abad kedua, di bawah pemerintahan yang adil oleh para kaisar 

seperti Trajanus, Antoninus Pius dan Marcus Aurelius, gereja mulai membuka diri pada 

dunia luar untuk meyakinkan keberadaannya. Yustinus menjadi salah seorang apologist 

(orang yang mempertahankan pendiriannya dalam argumentasi) Kristen pertama, yang 

menjelaskan imannya sebagai sistem yang masuk akal. Bersama-sama penulis lain, 

seperti Origenes dan Tertullianus, ia menafsirkan kekristenan dalam istilah-istilah yang 

mudah dikenal orang-orang Yunani dan Romawi terpelajar pada masa itu.  

Karya tulis Yustinus, The Apology, ditujukan pada Kaisar Antoninus Pius (dalam 

bahasa Yunani berjudul Apologia, yaitu suatu kata yang mengacu pada logika yang 

menjadi dasar kepercayaan seseorang). saat  Yustinus menjelaskan dan 

mempertahankan keyakinannya, ia juga menyinggung bahwa penyiksaan yang 

dilakukan penguasa Romawi terhadap orang-orang Kristen yaitu  salah. Sebaliknya, 

mereka seharusnya bergabung dengan orang Kristen untuk menunjukkan kepalsuan 

sistem penyembahan dewa-dewa.  

Bagi Yustinus, seluruh kebenaran yaitu  kebenaran Allah. Para filsuf Yunani yang 

tersohor sedikit banyak telah diilhami Allah, namun mata mereka belum dibukakan bagi 

keutuhan kebenaran Kristus. Oleh sebab nya, Yustinus menyitir pemikiran Yunani 

dengan bebas dan lalu  menjelaskan kepada mereka bahwa kesempurnaan itulah 

Kristus. la mengutip prinsip Yohanes tentang Kristus sebagai Logos, Firman. Allah 

Bapa yaitu  kudus adanya dan terpisah dari manusia yang jahat — tentang hal ini 

Yustinus setuju dengan Plato. Namun melalui Kristus, Logos-Nya, Allah dapat 

berhubungan dengan manusia. Sebagai Logos Allah, Kristus yaitu  bagian dari hakikat 

Allah, meskipun terpisah, seperti api dinyalakan dari api juga (demikianlah pemikiran 

Yustinus telah menjadi alat bagi kesadaran akan Tritunggal dan Inkarnasi yang 

berkembang di Gereja.).  

Meskipun Yustinus bersandar pada pemikiran Yunani, namun aliran pemikiran Yahudi 

ada padanya. Ia kagum pada nubuat yang digenapi. Mungkin ia terpengaruh orang tua 

yang ia temui di pantai. namun  ia pun melihat bahwa nubuat Ibrani telah meyakinkan 

identitas Yesus Kristus yang unik. Seperti Paulus, Yustinus tidak meninggalkan orang-

orang Yahudi saat  ia berpaling kepada orang-orang Yunani. Dalam karya besar 

Yustinus lainnya, Dialog dengan Tryfo (Dialogues with Trypho), ia menulis kepada 

seorang Yahudi kenalannya, bahwa Kristus yaitu  penggenapan tradisi Ibrani.  

Di samping menulis, Yustinus mengadakan perjalanan yang cukup jauh. Dalam 

perjalanannya ia selalu berargumentasi tentang iman yang diyakininya. Di Efesus, ia 

bertemu dengan Tryfo. Di Roma, ia bertemu Marcion, pemimpin Gnostik. Pada suatu 

perjalanannya ke Roma, ia pernah bersikap tidak ramah terhadap seseorang yang 

bernama Crescens, seorang Cynic. saat  Yustinus kembali ke Roma pada tahun 165, 

Crescens mengadukannya kepada penguasa atas tuduhan memfitnah. Yustinus pun 

ditangkap, disiksa dan akhirnya dipenggal kepalanya bersama-sama enam orang percaya 

lainnya.  

 9

Ia pernah menulis, "Anda dapat membunuh kami, namun  sesungguhnya tidak dapat 

mencelakakan kami." Keyakinan ini ia pegang sampai mati. Dengan demikian ia telah 

meraih nama yang disandangnya sepanjang masa: Yustinus Martir. 

 10

4) Tahun ±156 Kemartiran Polikarpus  

 

Polikarpus  

Keadaan sangat memanas. Polisi Smyrna sedang memburu Polikarpus, uskup yang 

disegani di kota itu. Para polisi itu sudah mengirim orang-orang Kristen lainnya untuk 

dibunuh di arena, kini mereka menghendaki sang pemimpin.  

Polikarpus telah meninggalkan kota itu dan bersembunyi di sebuah ladang milik teman-

temannya. Bila pasukan mulai menyergap, ia pun melarikan diri ke ladang lain. 

Meskipun hamba Tuhan ini tidak takut mati, dan memilih berdiam di kota, teman-

temannya mendorongnya bersembunyi. Mungkin sebab  mereka takut kalau-kalau 

kematiannya akan mempengaruhi ketegaran gereja. Jika itu alasannya, maka mereka 

salah tafsir.  

saat  polisi mendatangi ladang pertama, mereka menyiksa seorang budak untuk 

mencari tahu tentang Polikarpus. lalu  mereka menyerbu dengan senjata lengkap 

untuk menangkap uskup itu. Meskipun ada kesempatan lari, Polikarpus memilih tinggal 

di tempat, dengan tekad, "Kehendak Allah pasti terjadi." Di luar dugaan, ia menerima 

mereka seperti tamu, memberi mereka makan dan meminta izin selama satu jam untuk 

berdoa. Ia berdoa dua jam lamanya.  

Beberapa penangkap merasa sedih menangkap orang tua yang begitu baik. Dalam 

perjalanannya kembali ke Smyrna, kepala polisi yang memimpin pasukan itu berkata, 

"Apa salahnya menyebut 'Lord Caesar' (Tuhan Kaisar) dan mempersembahkan bakaran 

kemenyan?"  

Dengan tenang Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak akan melakukannya.  

Para pejabat Romawi yakin bahwa roh kaisar, ilahi adanya. Bagi orang Romawi pada 

umumnya, dengan sejumlah dewa, menyembah kaisar bukanlah masalah. Mereka 

melihat hal itu sebagai loyalitas kebangsaan. Namun orang-orang Kristen tahu bahwa 

itu yaitu  penyembahan berhala.  

 11

sebab  orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi, 

namun  memuja Kristus secara sembunyi-sembunyi di rumah masing-masing, mereka 

dianggap orang kafir. Orang-orang Smyrna memburu orang-orang Kristen dengan 

pekikan, "Enyahkan orang-orang kafir." sebab  mereka tahu bahwa orang-orang 

Kristen tidak pernah berperan serta dalam berbagai perayaan mereka yang memuja 

bermacam-macam dewa dan sebab  tidak pernah mempersembahkan korban, maka 

mereka menyerang kelompok yang mereka anggap tidak patriotik serta tidak beragama 

ini.  

Maka, Polikarpus pun masuk dalam arena yang penuh dengan kumpulan orang 

beringas. Tampaknya, gubernur Romawi di sana menghormati usia uskup ini . 

Seperti Pilatus, tidak ingin dianggap keji, jika mungkin. Hanya jika Polikarpus mau 

melakukan persembahan korban, maka semuanya dapat pulang kembali dengan selamat.  

"Hormatilah usiamu, Pak Tua," seru gubernur Romawi itu. "Bersumpahlah demi berkat 

Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, "Enyahkan orang-orang kafir!"  

Sebenarnya, gubernur Romawi itu ingin Polikarpus menyelamatkan dirinya sendiri 

dengan melepaskan dirinya dari orang-orang Kristen yang dianggap "kafir" itu. Namun, 

Polikarpus hanya memandang kerumunan orang yang sedang mencemoohkannya. 

Sambil mengisyaratkan ke arah mereka, ia berseru, "Enyahkan orang-orang kafir!"  

Gubernur Romawi itu berusaha lagi: "Angkatlah sumpah dan saya akan 

membebaskanmu. Hujatlah Kristus!"  

Uskup itu pun berdiri dengan tegar. Ia berkata, "Selama delapan puluh enam tahun aku 

telah mengabdi kepada-Nya dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat 

mencaci Raja yang telah menyelamatkanku?"  

Menurut kisah, Polikarpus pernah menjadi murid Rasul Yohanes. Jika demikian, 

mungkin ialah orang terakhir yang berhubungan dengan gereja para rasul. Kira-kira 

empat puluh tahun sebelumnya, saat  Polikarpus memulai pelayanannya sebagai 

uskup, Bapa Gereja Ignatius telah menulis surat khusus untuknya. Polikarpus sendiri 

telah menulis suratnya untuk orang-orang Filipi. Meskipun surat ini  tidak begitu 

cemerlang ataupun merupakan pendapatnya sendiri, namun mengandung unsur-unsur 

kebenaran yang ia pelajari dari para gurunya. Polikarpus tidak mengulas Perjanjian 

Lama, seperti orang-orang Kristen yang muncul lalu , namun  ia menyitir para rasul 

dan pemuka gereja lainnya untuk meyakinkan orang-orang Filipi.  

Kira-kira satu tahun sebelum kemartirannya, Polikarpus berkunjung ke Roma untuk 

menyelesaikan perbedaan pendapat tentang tanggal Hari Raya Paskah dengan uskup 

Roma. Ada cerita yang mengisahkan bahwa ia terlibat dalam perdebatan dengan 

Marcion, yang ia juluki "Anak sulung setan". Ajaran-ajaran para rasul yang 

ditampilkannya telah membuat beberapa pengikut Marcion bertobat.  

Itulah peranan Polikarpus: saksi yang setia. Para pemimpin yang muncul lalu  hari 

mengadakan pendekatan-pendekatan kreatif untuk mengubah keadaan, namun pada 

zaman Polikarpus, yang dibutuhkan hanyalah kesetiaan. Ia setia sampai mati.  

Di arena perdebatan, pertukaran pendapat antara sang uskup dan gubernur Romawi 

berlanjut. Pada suatu saat, Polikarpus menghardik lawan bicaranya: "Jika kamu... 

 12

berpura-pura tidak mengenal saya, dengarlah baik-baik: Saya yaitu  seorang Kristen. 

Jika Anda ingin mengetahui ajaran Kristen, luangkanlah satu hari khusus untuk 

mendengarkan saya."  

Gubernur Romawi itu pun mengancam akan melemparkan dia ke binatang-binatang 

buas. "Panggil binatang-binatang itu!" seru Polikarpus. "Jika hal itu akan mengubah 

keadaan buruk menjadi baik, namun  bukan keadaan yang lebih baik menjadi lebih 

buruk."  

saat  ia diancam akan dibakar, Polikarpus menjawab, "Apimu akan membakar hanya 

satu jam lamanya, lalu  akan padam, namun api penghakiman yang akan datang 

yaitu  abadi."  

Akhirnya Polikarpus dinyatakan sebagai orang yang tidak akan menarik kembali 

pernyataan-pernyataannya. Rakyat Smyrna pun berteriak: "Inilah guru dari Asia, bapa 

orang-orang Kristen, pemusnah dewa-dewa kita, yang mengajar orang-orang untuk 

tidak menyembah (dewa-dewa) dan mempersembahkan korban sembelihan."  

Gubernur Romawi menitahkan agar ia dibakar hidup-hidup. la diikat pada sebuah tiang 

dan dibakar. Namun, menurut seorang saksi mata, badannya tidak termakan api. "la 

berada di tengah, tidak seperti daging yang terbakar, namun  seperti roti di tempat 

pemanggangan, atau seperti emas atau perak dimurnikan di atas tungku perapian. Kami 

mencium aroma yang harus, seperti wangi kemenyan atau rempah mahal." saat  

seorang algojo menikamnya, darah yang mengalir memadamkan api itu.  

Kisah ini tersebar ke jemaat-jemaat di seluruh kekaisaran. Gereja menyimpan laporan-

laporan semacam itu dan mulai memperingati hari-hari kelahiran serta kematian para 

martir. Bahkan mereka juga mengumpulkan tulang-tulangnya serta peninggalan lainnya. 

Setiap tanggal 23 Februari, diperingati hari "kelahiran Polikarpus" masuk ke surga.  

Dalam kurun waktu satu setengah abad berikutnya, ratusan martir menuju kematian 

mereka dengan setia, dan banyak di antara mereka maju dengan semangat. Ini 

didasarkan pada laporan saksi mata uskup Smyrna itu. 

 13

5) Tahun 177 Irenaeus Menjadi Uskup Lyons  

 

"Tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari" bunyi Pengkhotbah 1:9. Namun ajaran-

ajaran sesat yang bermunculan di dalam dan di sekitar gereja tetap saja berjalan. 

Bukannya berpaling pada karya penebusan Kristus, banyak yang mencari ilmu mistik 

bagi keselamatan pribadi. Dalam gereja abad-abad permulaan, paham ini muncul dalam 

sekelompok pengikut yang menamakan dirinya Gnostik (gnosis dalam bahasa Yunani 

artinya "pengetahuan" ).  

Sebelum Gereja didirikan, aliran semacam Gnostisisme memang sudah pernah ada. 

saat  Yohanes menulis suratnya yang pertama, ia mengecam ajaran sesat ini. Namun, 

ajaran ini  masih berlanjut pada abad kedua.  

Kita tidak banyak mengenal Irenaeus, seorang penentang Gnostisisme pada akhir abad 

kedua. Mungkin ia dilahirkan di Asia Kecil lebih kurang pada tahun 125. Perdagangan 

yang lancar antara Asia Kecil dan Gaul (Perancis) memberi peluang bagi orang-orang 

Kristen untuk membawa agamanya ke Perancis, tempat mereka mendirikan sebuah 

gereja yang tangguh di kota Lyons.  

Sebagai imam di Lyons, Irenaeus hidup sesuai namanya, yang artinya 'damai', dengan 

berkunjung ke Roma untuk meminta kepada uskup kelonggaran bagi kaum Montanis di 

Asia Kecil. saat  itulah pembantaian orang-orang Kristen sedang marak di Lyons, dan 

dalam peristiwa ini uskup Lyons terbunuh.  

Irenaeus diangkat menjadi uskup untuk menggantikan uskup yang terbunuh. saat  itu 

terdapat banyak orang yang telah menganut Gnostisisme di Perancis. Penyebaran aliran 

ini sangat pesat sebab  kaum Gnostis memakai  istilah orang-orang Kristen — 

meskipun mereka memberi  interpretasi yang berbeda secara radikal. Penyerapan 

istilah-istilah Kristen dengan berbagai konsep dari filsafat Yunani dan agama orang-

orang Asia, sangat menggiurkan orang-orang yang "mau" percaya bahwa mereka dapat 

memperoleh keselamatan tanpa bergantung pada anugerah Bapa Yang Mahakuasa.  

Irenaeus pun mempelajari bentuk-bentuk ajaran Gnostik. Meskipun sangat berbeda, 

secara umum mereka mengajarkan bahwa dunia fana ini jahat; bahwa dunia ini 

diciptakan dan diperintah oleh kuasa malaikat, bukan Tuhan; bahwa Tuhan berada jauh 

dan tidak ada hubungannya dengan dunia ini; bahwa keselamatan dapat diraih dengan 

 14

mempelajari ajaran-ajaran rahasia khusus; bahwa kaum Gnostik itulah orang-orang 

rohani (pneumatikoi) yang lebih unggul dibandingkan  orang-orang Kristen (psychikoi) biasa. 

Para guru aliran Gnostik sangat mendukung pendapat ini dengan Injil Gnostiknya – 

buku yang biasanya membawa-bawa nama para rasul dan menggambarkan Yesus yang 

mengajarkan doktrin-doktrin Gnostik.  

Setelah uskup Lyons itu mempelajari ajaran sesat itu, ia menulis Against Heresies, suatu 

karya besar yang membeberkan kebodohan "ajaran yang secara keliru disebut Gnostik". 

Dengan menyitir gambaran dari Perjanjian Lama dan Baru, ia membuktikan bahwa 

dunia diciptakan Allah yang penuh cinta kasih, yang lalu  ternoda oleh dosa-dosa 

manusia. Adam, manusia pertama yang tak berdosa, menjadi orang yang berdosa sebab  

menyerah pada godaan. namun  kejatuhannya telah ditanggulangi oleh karya manusia tak 

berdosa yang kedua, yaitu Kristus, Adam baru. Tubuh tidaklah jahat. Pada hari 

penghakiman, tubuh dan jiwa orang-orang percaya akan diangkat, mereka akan tinggal 

bersama-sama Allah untuk selamanya.  

Irenaeus paham bahwa ajaran Gnostik memikat kecenderungan manusiawi yang ingin 

mengetahui hal-hal yang belum diketahui orang lain. Tentang orang-orang Gnostik ia 

menulis, "Segera setelah seseorang dimenangkan, orang ini  menjadi sombong dan 

merasa dirinya begitu penting, ia pun berjalan mengangkat dada dengan gaya seekor 

ayam jantan." namun  orang-orang Kristen seharusnya menerima anugerah Allah dengan 

rendah hati, dan tidak mengandalkan kegiatan-kegiatan intelektualnya yang akan 

membuat ia sombong.  

Sepanjang hidupnya, Irenaeus dengan gembira mengenang perkenalannya dengan 

Polikarpus, yang pernah akrab dengan Rasul Yohanes. Jadi, tidaklah mengherankan 

bahwa ia berpegang pada keabsahan para rasul saat  ia menolak paham Gnostik. Sang 

uskup menegaskan bahwa para rasul mengajar di tempat-tempat umum dan tidak ada 

satu pun yang dirahasiakan. Di seluruh kekaisaran, Gereja-gereja berpegang pada 

ajaran-ajaran yang hanya disampaikan para rasul Kristus, dan hanya inilah satu-satunya 

dasar keyakinan. Irenaeus menyatakan bahwa para uskup yang merupakan pelindung 

iman (Kristen) yaitu  penerus para rasul. Dengan demikian, ia telah mengangkat 

martabat para uskup. Dalam bukunya Against Heresies, Irenaeus menetapkan standar 

bagi teologi gereja. Semua kebenaran yang kita butuhkan sudah tercantum dalam 

Alkitab. Ia juga membuktikan bahwa dirinya yaitu  seorang teolog terbesar semenjak 

Rasul Paulus. Argumentasinya yang tersebar luas merupakan pukulan besar bagi aliran 

Gnostik pada masanya. 

 15

6) Tahun ±196 Tertullianus Mulai Menulis Buku-buku Kristen  

 

Lukisan Tertullianus  

"Darah para martir menjadi benih gereja."  

"Hal itu pasti sebab  tidak mungkin."  

"Apa urusan orang-orang Athena dengan Yerusalem?"  

Kata-kata kiasan yang tajam seperti ini yaitu  ciri khas karya Quintus Septimius 

Florens Tertullianus – atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tertullianus. Ia lahir di 

Kartago, dibesarkan dalam keluarga berkebudayaan kafir serta terlatih dalam 

kesusasteraan klasik, penulisan orasi, dan hukum. Pada tahun 196 saat  ia mengalihkan 

kemampuan intelektualnya pada pokok-pokok Kristen, ia mengubah pola pikir dan 

kesusasteraan Gereja di wilayah Barat.  

Sebelumnya, para penulis Kristen umumnya memakai  bahasa Yunani – bahasa 

yang agak fleksibel dan halus, yang cocok digunakan untuk berfilsafat dan berdebat 

tentang hal-hal sederhana. Acap kali, orang-orang Kristen yang berbahasa Yunani 

memakai  cara berfilsafat seperti ini terhadap keyakinan mereka.  

Meskipun Tertullianus, pengacara kelahiran Afrika itu, dapat berbahasa Yunani, ia 

memilih menulis dalam bahasa Latin, dan karya-karyanya mencerminkan unsur-unsur 

moral dan praktis orang Romawi yang berbahasa Latin. Pengacara yang berpengaruh ini 

telah menarik banyak penulis untuk mengikuti gayanya.  

saat  orang-orang Kristen Yunani masih bertengkar tentang keilahian Kristus serta 

hubungan-Nya dengan Bapa, Tertullianus sudah berupaya menyatukan kepercayaan itu 

dan menjelaskan posisi ortodoks. Maka, ia pun merintis formula yang sampai hari ini 

masih kita pegang: Allah yaitu  satu hakikat yang terdiri dari tiga pribadi.  

saat  dia menyiapkan apa yang menjadi doktrin Trinitas, Tertullianus tidak mengambil 

terminologinya dari para filsuf, namun  dari Pengadilan Roma. Kata Latin substantia 

bukan berarti "bahan" namun  "hak milik". Arti kata persona bukanlah "pribadi" (person), 

seperti yang lazim kita gunakan, namun  merupakan suatu pihak dalam suatu perkara (di 

pengadilan). Dengan demikian, jelaslah bahwa tiga personae dapat berbagi satu 

substantia. Tiga pribadi (Bapa, Putra dan Roh Kudus) dapat berbagi satu hakikat 

(kedaulatan ilahi).  

 16

Meskipun Tertullianus mempersoalkan "Apa urusan Athena (filsafat) dengan 

Yerusalem (gereja)?" namun, filsafat Stoa yang populer pada masa itu turut 

mempengaruhinya. Ada yang berkata bahwa ide dosa asal bermula dari Stoisisme, 

lalu  diambil alih Tertullianus dan selanjutnya merambat ke Gereja Barat. 

Agaknya ia berpendapat bahwa roh (jiwa) itu yaitu  sebentuk benda: seperti tubuh 

dibentuk saat  pembuahan, maka roh pun demikian. Dosa Adam diwariskan seperti 

rangkaian genetik.  

Gereja-gereja Barat menyimak ide ini, namun  ide ini tidak dialihkan ke Timur (yang 

memiliki  pandangan yang lebih optimistik tentang sifat manusia).  

Kira-kira pada tahun 206, Tertullianus meninggalkan Gereja untuk bergabung dengan 

sekte Montanis, sekelompok orang puritan yang bereaksi melawan apa yang mereka 

anggap sebagai kelonggaran moral di antara orang-orang Kristen. Mereka berharap 

kedatangan Kristus kedua kali itu segera terjadi. Mereka juga menekankan 

kepemimpinan Roh Kudus secara langsung, bukan kepemimpinan para rohaniwan yang 

ditahbiskan.  

Meskipun Tertullianus pernah menekankan ide suksesi para rasul – pengalihan kuasa 

dan wibawa para rasul kepada para uskup – namun ia tidak dapat menerima bahwa para 

uskup memiliki kuasa mengampuni dosa. Ia berpendapat bahwa ini akan menjurus pada 

terpuruknya moral. Sementara itu para uskup terlampau yakin akan kuasa ini . 

Bukankah semua orang percaya yaitu  imam? Apakah ini Gereja para orang kudus 

yang dikelola mereka sendiri, ataukah sekumpulan orang kudus dan orang-orang 

berdosa yang dikelola "kelas" profesional yang dikenal sebagai rohaniwan?  

Tertullianus sebenarnya berenang melawan arus. Selama lebih kurang dua belas abad 

kaum rohaniwan mendapat tempat khusus. saat  Martin Luther menantang gereja, 

maka penekanan pada 'imamat semua orang percaya' kembali terangkat. 

 17

7) Tahun ±205 Origenes Mulai Menulis  

 

Profil di dinding : Gambar Origenes bersama muridnya  

Pada awalnya, kekristenan dicemooh sebagai agama orang-orang miskin dan tidak 

terpelajar, dan memang sesungguhnya banyak penganutnya datang dari kalangan 

rendah. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Rasul Paulus, bahwa di gereja "untuk 

ukuran manusia, tidak banyak orang bijak, tidak banyak orang berpengaruh, tidak 

banyak orang terpandang" (1 Kor. 1:26).  

Namun menjelang abad ketiga, cendekiawan terhebat pada masa itu yaitu  seorang 

Kristen. Baik kafir, penganut ajaran sesat maupun orang Kristen, semuanya mengagumi 

Origenes. Ia memiliki  pengetahuan luas dan ilmu yang tinggi, yang berpengaruh 

penting bagi pemikiran Kristen di lalu  hari.  

Origenes lahir di Alexandria pada tahun 185. Ia berasal dari keluarga Kristen yang 

saleh.  

Kira-kira pada tahun 201, ayahnya - Leonidas - dipenjarakan dalam satu gelombang 

penyiksaan oleh Septimus Severus. Origenes pun menulis surat kepada ayahnya di 

penjara agar tidak memungkiri Kristus demi keluarganya. Meskipun Origenes ingin 

menyerahkan diri kepada penguasa agar dapat menjadi martir bersama-sama dengan 

ayahnya, namun ibunya mencegahnya dengan menyembunyikan pakaiannya.  

Setelah Leonidas mati sebagai martir, hartanya disita, dan jandanya terlantar dengan 

tujuh orang anak. Origenes pun mulai menanggulangi keadaan dengan bekerja sebagai 

guru sastra Yunani dan penyalin naskah. sebab  banyak di antara cendekiawan senior 

telah meninggalkan Alexandria dalam gelombang penyiksaan, maka sekolah kateketik 

Kristen sangat membutuhkan tenaga pengajar. Pada usianya yang kedelapan belas, 

Origenes pun memangku jabatan kepala sekolah ini  dan memulai karir 

mengajarnya yang panjang, termasuk belajar dan menulis.  

la menjalani kehidupan asketis, menghabiskan waktunya pada malam hari dengan 

belajar dan berdoa, serta tidur di lantai tanpa alas. Mengikuti titah Yesus, ia memiliki 

hanya satu jubah dan tidak memiliki  alas kaki. Ia bahkan mengikuti Matius 19:12 

secara harfiah; mengebiri dirinya untuk mencegah godaan jasmani. Origenes berhasrat 

setia pada gereja dan membawa kehormatan bagi nama Kristus.  

 18

Sebagai seorang penulis yang sangat produktif Origenes dapat membuat tujuh 

sekretarisnya sibuk dengan dikteannya. Ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya, 

termasuk tafsiran-tafsiran atas setiap buku dalam Alkitab serta ratusan khotbah.  

Karyanya Hexapla merupakan prestasi dalam bidang kritik teks. Di dalamnya, ia 

mencoba menemukan terjemahan Yunani yang terbaik bagi Perjanjian Lama, dan dalam 

enam kolom sejajar ia membentangkan Perjanjian Lama Ibrani, sebuah transliterasi 

Yunani, tiga terjemahan Yunani dan Septuaginta. Against Celsus yaitu  karya besar 

yang merupakan pertahanan bagi kekristenan terhadap serangan kafir. On First 

Principles merupakan upaya pertamanya dalam teologi sistematis; di sini Origenes 

dengan seksama meneliti keyakinan Kristen tentang Allah, Kristus, Roh Kudus, 

Penciptaan, jiwa, kemauan bebas, keselamatan dan Kitab Suci.  

Origenes bertanggung jawab atas peletakan dasar-dasar penafsiran alegoris terhadap 

Kitab Suci yang berpengaruh pada Abad-abad Pertengahan. Pada setiap teks, ia percaya 

ada tiga tingkat pengertian: pengertian harfiah, pengertian moral, yaitu untuk 

memperbaiki jiwa, dan pengertian alegoris atau pengertian rohani, yakni pengertian 

tersirat yang penting untuk iman Kristen. Origenes sendiri mengabaikan makna harfiah 

atau gramatikal-historis teks dan lebih menekankan makna alegoris.  

Origenes berupaya menghubungkan kekristenan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat 

pada masanya. Ia percaya bahwa filsafat Yunani merupakan persiapan untuk memahami 

Kitab Suci, dan secara analogi, yang lalu  dianut Augustinus, bahwa khazanah 

pengetahuan orang kafir digunakan oleh orang Kristen, seperti orang Israel "merampasi 

orang Mesir itu" (Kel. 12:35-36).  

Dalam mempelajari filsafat Yunani, Origenes telah mengambil banyak gagasan Plato 

yang sangat asing dengan kekristenan Ortodoks. Dari kesalahan-kesalahannya, yang 

paling mencolok yaitu  paham Yunani bahwa benda dan dunia ini jahat. Ia percaya 

akan eksistensi roh sebelum lahir dan mengajarkan bahwa keberadaan manusia di atas 

bumi ini ditentukan oleh perilakunya saat  dalam keadaan praeksistensi (sebelum 

lahir). Ia menolak paham kebangkitan daging dan mempertimbangkan gagasannya 

bahwa akhirnya Allah akan menyediakan keselamatan bagi semua manusia dan 

malaikat. sebab  Allah tidak mungkin menciptakan bumi ini tanpa berhubungan 

langsung dengan zat awal, maka Sang Bapa memperanakkan Putra-Nya untuk 

menciptakan bumi yang abadi ini. saat  Sang Putra mati di kayu salib, maka itu hanya 

kemanusiaan Yesus yang mati sebagai tebusan bagi iblis atas kejahatan dunia.  

sebab  kesalahan-kesalahan semacam ini, maka Uskup Demetrius dari Alexandria 

mengadakan sidang yang mengekskomunikasi Origenes dari Gereja. Meskipun Gereja 

Roma dan Barat menerima ekskomunikasi ini, namun Gereja di Palestina dan sebagian 

besar Gereja Timur tidak menerimanya. Mereka masih mencari Origenes sebab  

pengetahuan, kebijaksanaan dan kecendekiawanannya.  

Dalam gelombang penyiksaan pada masa Decius, Origenes dipenjarakan, disiksa dan 

diputuskan untuk dihukum mati pada tiang. namun  hukuman itu tidak terlaksana sebab  

kaisar telah meninggal dunia. sebab  penderitaan (batin) inilah Origenes jatuh sakit, 

lalu  meninggal sekitar tahun 251. la telah berbuat banyak, lebih dibandingkan  yang 

orang lain pernah lakukan untuk meningkatkan pemikiran Kristen dan membuat Gereja 

dihormati di mata dunia. Di lalu  hari, Bapa Gereja di Barat maupun di Timur 

 19

merasakan pengaruhnya. Keanekaragaman pikiran dan tulisannya telah membawa 

reputasi baginya sebagai bapa ortodoksi dan bapa ajaran sesat. 

 20

8) Tahun 251 Cyprianus Menulis On the Unity of the Church  

 

Saint Cyprian (Thascius Caecilius Cyprianus)  

Hubungan apa yang terjalin antara warga Gereja dan pemimpinnya? Dengan jalan apa 

Gereja dapat mendisiplinkan warganya? Hal-hal inilah yang harus digumuli gereja pada 

zaman apa pun.  

Pada pertengahan abad ketiga, jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan di atas 

dikemukakan oleh Cyprianus, seorang kaya dan berbudaya, yang lahir, sekitar tahun 

200 dalam keluarga kafir. saat  ia menjadi Kristen, ia menanggalkan pola hidup 

lamanya, membagi-bagikan uang dan hartanya kepada orang miskin, serta bersumpah 

akan hidup suci. Tentang perubahan ini ia menulis: "Kelahiran kedua ini telah 

menciptakan manusia baru dalam diri saya, dengan hembusan Roh dari surga."  

Sebagai seorang mantan guru retorika dan orator terkenal, Cyprianus yang fasih 

berbicara dan saleh ini menanjak melalui jenjang karir di Gereja sampai menjadi Uskup 

Kartago sekitar tahun 248.  

Meskipun ia terlatih dalam sastra Yunani dan Romawi klasik, Cyprianus bukanlah 

seorang teolog. Tidak seperti Tertullianus, orang yang dia kagumi, Cyprianus yaitu  

orang pragmatic, yang tidak menghiraukan pertengkaran tentang teologi pada masanya. 

Yang diinginkannya hanyalah persatuan di gereja. Di gereja yang tidak ada kesatuan, ia 

mencoba menyatukan orang-orang Kristen melalui kuasa para uskup.  

Kaisar Romawi, Decius, telah menganiaya orang-orang Kristen dan memicu  

beberapa orang menyangkal iman mereka. Decius tidak berniat menjadikan mereka 

martir, sebab  hal itu akan menarik perhatian yang lebih besar bagi kekristenan. namun , 

ia menyiksa orang-orang Kristen dengan harapan mereka akan mengakui bahwa 

"Kaisarlah Tuhan". Mereka yang berbuat demikian dikenal sebagai orang-orang yang 

telah "murtad". Orang-orang Kristen yang bertahan, yang disebut 'pengikut setia' itu 

seringkali memandang rendah orang-orang murtad ini . Maka sebuah konsili para 

uskup dibentuk untuk membuat peraturan-peraturan ketat dalam hal penerimaan 

kembali para orang murtad ini . Akibat ketatnya peraturan ini, seorang imam 

bernama Novatus memulai sebuah gereja saingan yang memberi kesempatan bagi 

orang-orang murtad itu menjadi anggotanya.  

 21

Meskipun Cyprianus tidak mengalami penyiksaan sebab  imannya, ia tidak setuju 

dengan perpisahan ini. Ia yakin bahwa orang percaya sejati harus menjalani hukuman 

untuk menebus dosa, untuk membuktikan imannya.  

Hukuman untuk penebusan dosa itu terdiri dari penyesalan selama suatu masa tertentu 

dan setelah itu, orang ini  dapat diterima kembali dalam Perjamuan Kudus. Begitu 

ia menyelesaikan "masa penyesalannya", ia akan tampil di hadapan jemaat dengan 

berpakaian goni serta melumuri badan dengan abu, dan di situlah sang uskup akan 

menyatakan pengampunan baginya. Cyprianus merumuskan ini sebagai sistem berskala 

— semakin besar dosanya, maka semakin lama pula masa penyesalannya. Idenya 

mendapat sambutan dan menjadi disiplin Gereja paling kuat — yang terkadang 

disalahgunakan.  

Pada tahun 251 Cyprianus mengadakan konsili di Kartago dan di situlah ia membacakan 

On the Unity of the Church (Persatuan di dalam Gereja), karyanya yang terkenal dan 

yang sangat berpengaruh dalam sejarah gereja. Gereja, katanya, yaitu  lembaga ilahi, 

yaitu mempelai Kristus, dan hanya ada satu mempelai. Hanya di dalam gereja manusia 

akan mendapatkan keselamatan, di luar itu yang ada hanyalah kegelapan dan 

kebingungan. Di luar Gereja, sakramen dan para rohaniwan — bahkan Alkitab — tidak 

ada artinya. Seseorang, secara pribadi, ti