100 Peristiwa Penting dalam Sejarah
Kristen
Sumber :
A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel,
1999.
Tahun-tahun di bawah ini merupakan beberapa yang terpenting dalam sejarah gereja.
1) Tahun 64 Roma Terbakar
2) Tahun 70 Titus Menghancurkan Yerusalem
3) Tahun ±150 Yustinus Martir Menulis Apologynya
4) Tahun ±156 Kemartiran Polikarpus
5) Tahun 177 Irenaeus Menjadi Uskup Lyons
6) Tahun ±196 Tertullianus Mulai Menulis Buku-buku Kristen
7) Tahun ±205 Origenes Mulai Menulis
8) Tahun 251 Cyprianus Menulis On the Unity of the Church
9) Tahun 270 Antonius Memulai Hidupnya sebagai Pertapa
10) Tahun 312 Pertobatan Konstantinus
11) Tahun 325 Konsili Nicea
12) Tahun 367 Surat Athanasius Mengakui Kanon Perjanjian Baru
13) Tahun 385 Uskup Ambrosius Menentang Ratu
14) Tahun 387 Pertobatan Agustinus
15) Tahun 398 Yohanes Chrysostomus Menjadi Uskup Konstantinopel
16) Tahun 405 Hieronimus Menyelesaikan Vulgata
17) Tahun 432 Patrick Berangkat sebagai Misionaris ke Irlandia
18) Tahun 451 Konsili Chalcedon
19) Tahun 529 Benedictus dari Nursia Mendirikan Ordo Biaranya
20) Tahun 563 Columba Berangkat sebagai Misionaris ke Skotlandia
21) Tahun 590 Gregorius I menjadi Paus
22) Tahun 664 Sinode Whitby
23) Tahun 716 Bonifatius Berangkat sebagai Misionaris
24) Tahun 731 Bede yang Patut Dipuja Menyelesaikan Karyanya Sejarah Gereja
Bangsa Inggris
25) Tahun 732 Pertempuran Tours
26) Tahun 800 Karel Agung Dinobatkan Menjadi Kaisar
27) Tahun 863 Cyrillus dan Methodius Mengabarkan Injil kepada Orangorang
Slavia
28) Tahun 909 Biara Didirikan di Cluny
29) Tahun 988 Pertobatan Vladimir, Pangeran Rusia
30) Tahun 1054 Skisma Gereja Timur dan Barat
31) Tahun 1093 Anselmus Menjadi Uskup Agung Canterbury
32) Tahun 1095 Paus Urbanus II Melancarkan Perang Salib Pertama
33) Tahun 1115 Bernardus Mendirikan Biara di Clairvaux
34) Tahun ±1150 Universitas Paris dan Universitas Oxford Didirikan
35) Tahun 1173 Peter Waldo Memulai Gerakan Kaum Waldens
36) Tahun 1206 Fransiskus dari Asisi Meninggalkan Kekayaannya
37) Tahun 1215 Konsili Lateran Keempat
38) Tahun 1273 Thomas Aquinas Menyelesaikan Karyanya Summa Theologica
39) Tahun 1321 Dante Menyelesaikan The Divine Comedy
40) Tahun 1378 Catherina dari Siena Pergi ke Roma untuk Mendamaikan Skisma
Besar
41) Tahun ±1380 Wycliffe Mengawasi Penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa
Inggris
42) Tahun 1415 Yohanes Hus Dibakar pada Tiang Pancang
43) Tahun 1456 Johann Gutenberg Membuat Alkitab Cetak yang Pertama
44) Tahun 1478 Pendirian Inkuisisi Spanyol
45) Tahun 1498 Savonarola Dieksekusi
46) Tahun 1512 Michelangelo Menyelesaikan Langit-langit Kapel Sistina
47) Tahun 1517 Martin Luther Memampangkan Sembilan Puluh Lima Dalilnya
48) Tahun 1523 Zwingli Memimpin Reformasi Swiss
49) Tahun 1525 Gerakan Anabaptis Dimulai
50) Tahun 1534 Undang-undang Supremasi Henry VIII
51) Tahun 1536 Yohanes Calvin Menerbitkan Institutio: Pengajaran Agama Kristen
52) Tahun 1540 Paus Mengakui Kaum Yesuit
53) Tahun 1545 Pembukaan Konsili Trente
54) Tahun 1549 Cranmer Menciptakan Buku Doa Umum
55) Tahun 1559 John Knox Kembali ke Skotlandia untuk Memimpin Reformasi
56) Tahun 1572 Pembantaian pada Hari Santo Bartolomeus
57) Tahun 1608-1609 John Smyth Membaptis Orang-orang Baptis Pertama
58) Tahun 1611 Penerbitan Alkitab Versi Raja James
59) Tahun 1620 Para Peziarah Menandatangani Perjanjian Mayflower
60) Tahun 1628 Comenius Diusir dari Negerinya
61) Tahun 1646 Pengakuan Iman Westminster
62) Tahun 1648 George Fox Mendirikan Society of Friends
63) Tahun 1662 Rembrandt Menyelesaikan Lukisan Kembalinya Anak Hilang
64) Tahun 1675 Philip Jacob Spener Menerbitkan Pia Desideria
65) Tahun 1678 Karya John Bunyan The Pilgrim's Progress Diterbitkan
66) Tahun 1685 Kelahiran Johann Sebastian Bach dan George Frederic Handel
67) Tahun 1707 Penerbitan Hymns and Spritual Songs Karya Isaac Watts
68) Tahun 1727 Kebangunan Rohani di Herrnhut Mengawali Moravian Brethren
69) Tahun 1735 Kebangunan Rohani Besar di bawah Jonathan Edwards
70) Tahun 1738 Pertobatan John Wesley
71) Tahun 1780 Robert Raikes Memulai Sekolah Minggu
72) Tahun 1793 William Carey Berlayar Menuju India
73) Tahun 1807 Parlemen inggris Mengadakan Pemungutan Suara untuk
Menghapuskan Perdagangan Budak
74) Tahun 1811 Para Campbell Mengawali Gerakan Disciples of Christ
75) Tahun 1812 Adoniram dan Ann Judson Berlayar Menuju India
76) Tahun 1816 Richard Allen Mendirikan Gereja Episkopal Methodis Afrika
77) Tahun 1817 Elizabeth Fry Mengawali Pelayanan bagi Narapidana Perempuan di
Penjara
78) Tahun 1830 Mulainya Kebangunan Rohani Perkotaan oleh Charles G. Finney
79) Tahun ±1830 John Nelson Darby Membantu Mengawali Plymouth Brethren
80) Tahun 1833 Khotbah John Keble tentang "Murtad Nasional" Memicu Gerakan
Oxford
81) Tahun 1854 Hudson Taylor Tiba di China
82) Tahun 1854 Soren Kierkegaard Menerbitkan Serangan terhadap Kekristenan
83) Tahun 1854 Charles Haddon Spurgeon Menjadi Imam di London
84) Tahun 1855 Pertobatan Dwight L. Moody
85) Tahun 1857 David Livingstone Menerbitkan Missionary Travels
86) Tahun 1865 William Booth Mendirikan Bala Keselamatan
87) Tahun 1870 Paus Pius IX Memproklamasikan Doktrin Infalibilitas Paus
88) Tahun 1886 Gerakan Relawan Mahasiswa Dimulai
89) Tahun 1906 Kebangunan Rohani Azusa Street Memunculkan Aliran
Pentakostalisme
90) Tahun 1910-1915 Penerbitan Buku The Fundamentals Memunculkan Gerakan
Fundamentalis
91) Tahun 1919 Tafsiran Surat Roma oleh Karl Bath Diterbitkan
92) Tahun 1921 Radio Kristen Pertama Mengudara
93) Tahun 1934 Cameron Townsend Memulai Institut Linguistik Musim Panas
94) Tahun 1945 Dietrich Bonhoeffer Dieksekusi Nazi
95) Tahun 1948 Dewan Gereja-gereja se-Dunia Terbentuk
96) Tahun 1949 Kampanye Los Angeles Billy Graham
97) Tahun 1960 Berawalnya Pembaruan Karismatik Modern
98) Tahun 1962 Konsili Vatikan II Dimulai
99) Tahun 1963 Martin Luther King, Jr., Memimpin Pawai ke Washington
100) Tahun 1966-1976 Gereja China Bertumbuh tanpa Terusik Revolusi
Kebudayaan
Sepuluh peristiwa terpenting apa yang pernah terjadi dalam kehidupan Anda selama
kurun waktu lima tahun terakhir ini? Sekarang tanyakanlah kepada ayah, puteri, suami
atau istri, atau dua orang sahabat karib Anda untuk menjawab pertanyaan yang sama
tentang diri Anda. Segera Anda menyadari bahwa cara pandang kita terhadap suatu
peristiwa bisa berbeda dengan orang lain, termasuk mereka yang sangat dekat dengan
kita.
Sekarang marilah kita mengakui bahwa tidak seorang pun dapat dengan pasti menunjuk
tanggal-tanggal terpenting dalam sejarah gereja. Tentunya, daftar yang ada pada Tuhan
tentang hal itu mungkin akan sangat berbeda dengan daftar yang kita buat. Kami tidak
bermaksud menjadi wasit resmi untuk menentukan peristiwa apa yang terpenting dalam
kehidupan gereja pada abad-abad lampau. Namun kami berupaya menampilkan selintas
berbagai peristiwa dalam sejarah umat Tuhan yang rumit. Peristiwa ini diharapkan
akan memberi garis-garis besar serta para pelaku yang telah membentuk kekristenan
kepada yang bukan sejarawan dan bukan pengamat.
Banyak orang Kristen dewasa ini ingin mengetahui lebih banyak tentang asal-usul
keyakinan mereka serta berapa banyak ajaran dan praktik gereja mereka yang telah
terwujud. Namun mereka tidak memiliki waktu atau kecenderungan membaca karya
akademis yang berjilid-jilid banyaknya. Hanya buku semacam inilah yang dapat
memberi kepuasan bagi kehausan mereka. Bagi orang-orang non-Kristen, buku ini
merupakan buku acuan andal untuk lebih mengenal para tokoh terkemuka, berbagai
gerakan, makna dan peristiwa-peristiwa dalam sejarah kekristenan yang panjang.
Kami memulai sejarah gereja setelah (atau setidak-tidaknya yang di luar) peristiwa-
peristiwa yang tercatat dalam Perjanjian Baru. Jelas bahwa kebangkitan, pertobatan
Paulus, Konsili Yerusalem dan sebagainya yaitu peristiwa-peristiwa penting dalam
sejarah gereja. Namun di mana kita harus berhenti? Oleh sebab nya, kami memilih
hanya peristiwa-peristiwa yang tidak tercatat dalam Perjanjian Baru.
Kami tidak menyusun beragam peristiwa ini menurut urutan pentingnya, namun
secara kronologis agar dapat menelusuri abad demi abad.
Beberapa pilihan yang bernilai tinggi telah kami lewatkan sebab kami merasa bahwa
hal itu dapat digabungkan dengan peristiwa lain. Misalnya, sebab survei telah
membuktikan bahwa Ninety-Five Theses Luther dan Diet of Worms ada kaitan satu
sama lain, maka kami hanya menyertakan judul pertama yang meliputi keduanya.
Peristiwa-peristiwa lainnya telah disertakan bukan saja sebab pentingnya namun
bagaimana dampak peristiwa-peristiwa itu, atau betapa keadaan akan berbeda, jika
peristiwa-peristiwa ini tidak terjadi. Misalnya Sidang Sinode Whitby tidak
mungkin tercatat sebagai salah satu persidangan gereja besar, namun sangatlah penting
bahwa Gereja Inggris memilih untuk bersatu dengan Roma pada waktu itu. Sejarah
mungkin akan berbeda jika mereka memilih alternatif lain.
Kami juga rnenyertakan beberapa hal yang mungkin terkesan direkayasa dan mengada-
ada. Dunia tidak berubah, begitu gereja, pada saat kelahiran Bach dan Handel. Namun,
tidak menyertakan sumbangsih musik mereka bagi kehidupan ibadah sungguh akan
merupakan suatu cacat. Oleh sebab itu, beberapa peristiwa disertakan di sini khususnya
sebab nilai simbolisnya.
Meskipun demikian, terdapat beberapa alternatif menarik yang kami tidak sertakan
dalam kurun waktu dua dasawarsa terakhir, sebab kita masih sangat dekat dengan
peristiwa-peristiwa itu untuk perspektif yang dibutuhkan.
Mungkin ada cemoohan atas pilihan-pilihan kami yang lebih banyak berbicara tentang
dunia Barat, kaum lelaki, Protestan dan kaum evangelikal. Di satu pihak, memang hal
ini tak terelakkan, dan di lain pihak hal ini mencerminkan bias kami.
namun kami tidak bersikukuh bahwa pilihan kami inilah yang final. Sebenarnya dari
awal kami menghiraukan tanggapan para pembaca yang ingin menyodorkan
kemungkinan adanya peristiwa-peristiwa lain yang dapat disertakan atau yang dapat
dilewatkan. Untuk itu kami mengundang para pembaca agar menulis pendapatnya
kepada kami, disertai dengan alasan-alasan rinci. Jika tanggapan ini cukup
meyakinkan, maka kami akan menerbitkan jilid kedua dengan judul "Kejadian-kejadian
Penting Lain dalam Sejarah Gereja" (More Important Events in Church History). Kami
mengundang mereka yang ingin memberi komentar mengenai jilid kedua untuk
menulis. Kirimkan kepada: Ken Curtis, Christian History Institute, Box 540, Worcester,
PA 19490, atau Fax ke 215-584. 4610.
saat saya menjabat sebagai editor majalah Christian History, kami menulis kepada
para pelanggan dan meminta mereka mengirimkan peristiwa-peristiwa yang mereka
anggap layak dibukukan. lalu , setelah memilah-milah dan menyusun daftar ini,
kami mengirimnya kembali kepada mereka 'dengan catatan agar mereka dapat
menandai pilihan-pilihan yang mereka setujui dan yang tidak disetujui; serta
menambahkan, bila perlu, hal-hal yang tidak tercantum. Jawaban mereka mewujudkan
daftar baru. Sebuah survei juga telah dilayangkan kepada para anggota American
Society of Church History, sebuah kelompok sejarawan gereja profesional. Dalam
memilih judul-judul peristiwa yang terdapat dalam buku ini, hasil survei ini
mendapat perhatian cukup, meskipun saya yang bertanggung jawab dalam pemilihan
final.
Sejak semula, dengan melakukan pemilihan, kami sepenuhnya sadar bahwa beberapa
hal terpenting sungguh sukar dikenali dan diukur. Kami seperti bendaharawan di Bait
Allah yang mungkin tidak menghiraukan pentingnya "uang keping yang
dipersembahkan seorang janda". Yesus telah menjelaskan bahwa cinta kasih merupakan
tanda istimewa para pengikut-Nya. Ia juga berbicara tegas akan hal-hal sederhana
seperti memberi secangkir air atas nama-Nya. Banyak isi buku ini yang
merefleksikan kualitas dasar kekristenan. Namun, apa saja sesungguhnya yang
terpenting tidak akan kita ketahui hingga hari penghakiman umat manusia, yang
memperlihatkan mana gandum dan mana debu jerami.
1) Tahun 64 Roma Terbakar
Nero playing while Rome burns, lukisan dari seniman Giulio Romano (c.1499-1546),
lukisan ini dibuat antara tahun 1536-1539.
Tanpa kekaisaran Romawi, kekristenan mustahil berkembang dengan sukses.
Kekaisaran itu dapat dikatakan sebagai born waktu yang menanti pemicuan iman
Kristen. Unsur-unsur pemersatu kekaisaran itu membantu penyebaran berita Injil: jalan
raya yang dibangun orang Romawi membuat perjalanan dari situ tempat ke tempat lain
lebih mudah; di seluruh kekaisaran orang-orang dapat berkomunikasi dalam bahasa
Yunani; dan pasukan Romawi yang tangguh itu menjaga kedamaian. Sebagai akibat
mobilitas yang meningkat, kelompok-kelompok pengrajin pun bermigrasi mencari
permukiman sementara di kota-kota besar — Roma, Korintus, Athena atau Alexandria -
- lalu berlanjut ke kota-kota lainnya.
Kekristenan memasuki iklim yang terbuka secara religius. Dalam gerakan "zaman baru"
itu, banyak orang mulai menganut agama-agama Timur – seperti menyembah Isis (dewi
alam), Dionisus (dewa anggur), Mithras (dewa cahaya), Kibele (dewi alam), dan
sebagainya. Para pemuja mencari keyakinan baru, namun beberapa agama ini
dilarang, sebab dicurigai melakukan upacara-upacara penghinaan. Keyakinan lain
secara resmi diakui, seperti Yudaisme, yang dilindungi sejak zaman Julius Caesar,
meskipun monoteismenya dan penyataan alkitabiahnya telah memisahkannya dari Cara
pemujaan lain.
Melihat kesempatan baik ini, para pekabar Injil mulai menelusuri seantero kekaisaran.
Di sinagoge (rumah ibadah) orang Yahudi, di tempat-tempat penampungan para
pengrajin, di pondok-pondok kumuh, mereka menyebarkan berita Injil dan
memenangkan jiwa-jiwa baru. Tidak lama lalu berdirilah gereja di kota-kota
besar, termasuk ibu kota kekaisaran.
Kota Roma, pusat kekaisaran, menarik orang-orang seperti magnet. Paulus sendiri
pernah menginginkan kunjungan ke kota ini (Rm. 1:10-12); dan pada akhir
suratnya kepada jemaat di Roma, ia sudah mengenal banyak orang Kristen di sana (Rm.
16:13-15). Mungkin ia pernah bertemu mereka dalam perjalanannya. saat Paulus tiba
di Roma, ia dalam keadaan dirantai. Kisah Para Rasul pada bagian penutupannya
menyatakan bahwa akhirnya Paulus mendapat kelonggaran untuk menjadi tahanan
rumah di sebuah rumah sewaan. Di sana ia dapat menerima tamu dan mengajar mereka.
Menurut tradisi, Petrus pun pernah bergabung dengan Gereja Roma. Meskipun kita
tidak memiliki kurun waktu yang pasti, namun kita dapat menduga bahwa dengan
pimpinan kedua tokoh ini, jemaat ini bertumbuh kuat, termasuk para bangsawan
dan prajurit serta para pengrajin dan pelayan.
Selama tiga dekade, para pejabat Romawi beranggapan bahwa kekristenan yaitu
cabang agama Yahudi - agama yang sah - dan tidak bermaksud membuat "sekte" baru
agama Yahudi. Namun banyak orang Yahudi yang tersinggung sebab kepercayaan
baru ini mulai menyerangnya. Ini juga merupakan ancaman bagi Roma. Kelalaian Roma
atas keadaan ini ditunjukkan oleh laporan sejarawan Tacitus. Dari salah satu rumah
petak di Roma, ia melaporkan adanya gangguan di kalangan orang-orang Yahudi sebab
"chrestus". Tacitus mungkin salah dengar; orang-orang mungkin memperdebatkan
tentang Christos, yang yaitu Kristus.
Menjelang tahun 64 Masehi, beberapa pejabat Romawi mulai sadar bahwa kekristenan
sama sekali berbeda dengan Agama Yahudi. Orang-orang Yahudi menolak orang-orang
Kristen dan lebih banyak melihat kekristenan sebagai agama yang tidak sah. Jauh
sebelum kebakaran kota Roma, warga telah mulai memusuhi keyakinan yang
masih muda ini. Meskipun sifat orang Romawi ingin menerima dewa-dewa baru, namun
kekristenan tidak mau mengakui kepercayaan-kepercayaan lain. sebab kekristenan
menentang politeisme kekaisaran Romawi yang telah berakar, maka kekaisaran itu pun
mulai membalas.
Pada tanggal 19 Juli, kebakaran berkobar di sebuah sektor kumuh di Roma. Selama
tujuh hari api yang tak kunjung padam itu memusnahkan perumahan yang padat.
Sepuluh dari empat belas blok perumahan musnah, dan banyak penduduk yang tewas.
Menurut legenda, Kaisar Nero sedang bermain biola saat Roma terbakar. Banyak
orang sezamannya menduga bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kebakaran
ini . saat kota itu dibangun kembali dengan dana dari warga , Nero
mengambil sebidang tanah yang cukup luas untuk membangun Istana Emasnya.
Kebakaran itu merupakan jalan pintas bagi pembaruan perkotaan.
Untuk mengelakkan tuduhan atas dirinya, Kaisar itu mengkambinghitamkan orang-
orang Kristen. Ia menuduh bahwa merekalah yang memicu kebakaran ini .
Akibatnya Nero bersumpah untuk memburu dan membunuh mereka.
Gelombang pertama penganiayaan orang Romawi terhadap orang Kristen dimulai tidak
lama setelah kebakaran itu dan berakhir sampai tahun kematian Nero, tahun 68. Dengan
haus darah dan biadab, orang-orang Kristen disalibkan dan dibakar. Jasad-jasad mereka
berjejer di jalan-jalan Roma, disediakan bagi pencahayaan obor. Orang-orang Kristen
lainnya dikenakan pakaian hewan dan dimasukkan ke dalam kandang untuk dicabik-
cabik anjing-anjing. Menurut cerita, Petrus dan Paulus menjadi martir akibat penyiksaan
Nero. Paulus dipenggal kepalanya sedang Petrus disalibkan terbalik.
Penganiayaan berlangsung secara sporadis, dan tetap terlokalisasi. Seorang kaisar
mungkin telah memicunya dan berlanjut selama lebih kurang sepuluh tahun. Namun,
3
masa damai akan menyusul sampai ada seorang gubernur yang memulai penganiayaan
terhadap orang Kristen di wilayahnya — tentu dengan restu dari Roma. Hal semacam
ini berlangsung dua setengah abad lamanya.
Tertullianus, seorang penulis Kristen abad kedua pernah berkata, "Darah para martir
yaitu benih Gereja." Anehnya, setiap kali penganiayaan merebak, orang Kristen yang
menjadi korban makin bertambah. Dalam suratnya yang pertama Petrus menguatkan
orang-orang Kristen untuk bertahan, percaya diri akan kemenangan dan kuasa Kristus
yang akan diteguhkan (1 Ptr. 5:8-11). Kata-katanya ini telah terbukti dengan
pertumbuhan Gereja di tengah-tengah penekanan.
2) Tahun 70 Titus Menghancurkan Yerusalem
Monumen memperingati kemenangan Titus di Yerusalem.
Gessius Florus mencintai uang dan membenci orang-orang Yahudi. Sebagai wakil
Roma, ia memerintah Yudea, dengan tidak memandang kepekaan mereka akan agama.
saat pemasukan pajak menurun, ia pun mulai merampas benda-benda perak dari Bait
Allah. Pada tahun 66, saat kerusuhan menentang dia merebak, ia mengirim pasukan
ke Yerusalem untuk menyalib dan membantai sejumlah orang Yahudi. Tindakan Florus
ini memicu meledaknya pemberontakan yang selama ini merupakan api dalam sekam.
Pada abad sebelumnya, Roma tidak pernah menangani orang-orang Yahudi dengan
baik. Pertama, Roma telah mendukung Herodes Agung, perampas kekuasaan yang
dibenci. Dengan semua bangunan unik yang indah, ia tidak dapat meraih hati rakyat.
Arkhelaus, putra dan penerus Herodes, yaitu pemimpin yang keji sehingga rakyat
meminta pertolongan Roma untuk menggantinya. Roma pun menolong mereka dengan
mengirimkan sejumlah Gubernur secara bergilir – Pontius Pilatus, Feliks, Festus dan
Florus. Tugas mereka menjaga ketenteraman di daerah yang tidak stabil itu.
Ketegangan dalam diri masing-masing orang Yahudi tidak mereda. Mereka masih
terbuai kenangan masa-masa Makabe, saat mereka terbebas dari penindasan orang-
orang Siria. Sekarang, jumlah mereka yang kecil ditambah kebangkitan Roma membuat
mereka kembali di bawah kekuasaan orang-orang asing.
Sejak pemerintahan Herodes, denyut jantung revolusi mereka senantiasa berdetak.
Orang-orang Zelot dan Farisi, masing-masing dengan caranya sendiri, menantikan
perubahan. Mereka menantikan dengan semangat datangnya seorang Mesias. saat
Yesus memperingatkan bahwa orang-orang akan berkata, "Lihat, Mesias ada di sini,
atau Mesias ada di sana!" Ia tidak main-main. Sesungguhnya, seperti itulah semangat
masa itu.
Di Masada (sebuah bukit karang yang menghadap Laut Mati, tempat Herodes
membangun istananya dan orang-orang Romawi mendirikan benteng), bermulalah
pemberontakan orang Yahudi yang berakhir dengan pahit.
5
Terinspirasi kekejaman-kekejaman Florus, beberapa orang Zelot memutuskan
menyerang benteng itu. Yang mengherankan, mereka menang dan membantai tentara
Romawi yang berkemah di sana.
Di Yerusalem, kepala Bait Allah menyatakan pemberontakan terbuka melawan Roma
dengan menghentikan persembahan harian untuk Kaisar. Tidak lama lalu seluruh
Yerusalem menjadi rusuh; pasukan Romawi diusir dan dibunuh. Yudea memberontak,
lalu Galilea. Untuk sementara waktu tampaknya orang-orang Yahudi unggul.
Cestius Gallus, Gubernur Romawi untuk daerah itu berangkat dari Siria dengan 20.000
tentara. Ia menguasai Yerusalem selama enam bulan namun gagal dan kembali. Ia
meninggalkan 6.000 tentara Romawi yang tewas dan sejumlah besar persenjataan yang
dipungut dan dipakai orang-orang Yahudi.
Kaisar Nero mengirim Vespasianus, seorang jenderal yang dianugerahi banyak bintang
jasa, untuk meredam pemberontakan. Vespasianus pun melumpuhkan kelompok
pemberontak ini secara bergilir. Ia memulainya di Galilea, lalu di
Transyordania, dan berikutnya di Idumea. Setelah itu, dia mengepung Yerusalem.
Akan namun sebelum menjatuhkan Yerusalem, Vespasianus dipanggil pulang ke Roma.
Nero wafat. Pergumulan untuk mencari pengganti Nero berakhir dengan keputusan
Vespasianus sebagai Kaisar. Titah kekaisaran pertamanya ialah penunjukan anaknya,
Titus, untuk memimpin Perang Yahudi.
Maka Yerusalem pun menjadi sasaran empuk setelah terpisah dari daerah-daerah lain.
Beberapa faksi (kelompok) dalam kota itu sendiri berebut mengatur strategi pertahanan.
saat pengepungan sedang berlangsung, penduduk kota pun satu demi satu mati
sebab kelaparan dan wabah penyakit. Istri imam kepala yang biasanya menikmati
kemewahan, turun ke jalan untuk memungut sisa makanan.
Sementara itu, pasukan Romawi menggelar mesin-mesin perang baru, yaitu mesin
pelontar batu untuk meruntuhkan tembok-tembok yang melindungi kota. Balok
pendobrak pintu gerbang merobohkan benteng pertahanan. Orang-orang Yahudi
berperang sepanjang hari, dan pada malam hari mereka berjuang untuk membangun
kembali tembok-tembok yang runtuh.
Akhirnya, orang-orang Romawi merobohkan tembok lapisan luar, lalu lapisan
kedua dan akhirnya yang ketiga. Namun orang-orang Yahudi masih berperang sambil
merangkak menuju Bait Allah sebagai garis pertahanan terakhir.
Itulah akhir bagi para pejuang Yahudi yang gagah berani dan Bait Allah mereka.
Sejarawan Yahudi, Josephus menjelaskan bahwa Titus ingin melindungi Bait Allah
ini , namun prajurit-prajuritnya begitu marah terhadap musuh mereka sehingga
mendorong mereka membakar Bait Allah.
Jatuhnya Yerusalem mengakhiri pemberontakan. Orang-orang Yahudi dibantai atau
ditangkap serta dijual sebagai budak. Gerombolan orang Zelot yang menduduki Masada
bertahan di situ selama tiga tahun. saat orang-orang Romawi membangun lereng
pengepungan dan menyerbu benteng pegunungannya, mereka menemukan orang-orang
Zelot mati bunuh diri sebagai penolakan menjadi tawanan orang asing.
6
Pemberontakan orang-orang Yahudi ini menandai berakhirnya negara Yahudi sampai
zaman modern.
Penghancuran Bait Allah (yang dipugar Herodes) mengubah tata cara peribadahan
orang-orang Yahudi. Mereka tidak lagi mempersembahkan korban sembelihan, namun
memilih dan mengutamakan sinagoge yang didirikan pendahulu mereka saat Bait
Allah (yang didirikan Salomo) dihancurkan orang-orang Babel pada tahun 586 sM.
Kemanakah perginya orang-orang Kristen saat pemberontakan orang Yahudi itu
berlangsung? Sesuai peringatan Kristus (Luk. 21:20-24), mereka lari saat melihat
Yerusalem dikepung pasukan Romawi. Mereka menolak mengangkat senjata dan
melawan orang-orang Romawi. Mereka melarikan diri ke Pella di Transyordania.
Setelah bangsa Yahudi serta Bait Allah mereka hancur, orang-orang Kristen pun tidak
dapat lagi bergantung pada perlindungan terhadap Yudaisme yang pernah diberikan
kekaisaran. sebab nya, tidak ada tempat lagi bagi orang-orang Kristen untuk berlindung
dari penyiksaan orang-orang Romawi.
7
3) Tahun ±150 Yustinus Martir Menulis Apologynya
Filsuf muda itu berjalan-jalan sepanjang pantai, dengan pikirannya yang aktif, selalu
aktif mencari kebenaran baru. Ia telah mempelajari ajaran-ajaran Stoa, Aristoteles dan
Phythagoras namun sekarang ia menganut sistem Plato. Plato pernah menguraikan bahwa
penglihatan akan Tuhan dikaruniakan kepada mereka yang mencari kebenaran dengan
sungguh-sungguh. Itulah yang dihendaki Yustinus, sang filsuf.
saat berjalan-jalan, ia bertemu dengan seorang Kristen. Yustinus tersentak melihat
wibawa dan kerendahan hati orang ini . Orang itu mengutip nubuat Yahudi yang
menunjukkan bahwa cara-cara orang Kristen itulah yang benar, dan Yesus yaitu
pernyataan Allah yang sesungguhnya.
Peristiwa itulah yang menjadi titik balik Yustinus. Dengan merenungkan tulisan-tulisan
Taurat, membaca Injil dan surat-surat Paulus, maka ia pun menjadi orang Kristen sejati.
Selama sisa hidupnya, lebih kurang tiga puluh tahun lamanya, ia mengadakan
perjalanan, melakukan pekabaran Injil dan menulis. Ia telah memainkan peranan
penting dalam perkembangan teologi gereja, dalam memahami dirinya sendiri dan
dalam citranya yang ditampilkan kepada dunia.
Sejak awal, Gereja berperan di dua dunia yang berbeda, dunia orang Yahudi dan dunia
bukan Yahudi. Kisah Para Rasul menggambarkan lambannya dan terkadang sakitnya
perkembangan kekristenan di kalangan orang-orang bukan Yahudi. Petrus dan Stefanus
mengadakan pekabaran Injil kepada orang-orang Yahudi, sedang Paulus kepada
filsuf-filsuf Athena dan para penguasa Romawi.
Dalam banyak hal, kehidupan Yustinus mirip dengan kehidupan Paulus. Rasul ini
yaitu orang Yahudi yang lahir di daerah bukan Yahudi (Tarsus), sedang Yustinus
yaitu orang bukan Yahudi yang lahir di daerah Yahudi (Sikhem kuno). Keduanya
terpelajar dan tangguh berargumentasi untuk meyakinkan orang-orang Yahudi dan
bukan Yahudi akan kebenaran Kristus. Keduanya mati syahid di Roma sebab
keyakinan mereka.
8
Pada pemerintahan para kaisar abad pertama, seperti Nero dan Domitianus, tujuan
gereja hanya untuk dapat bertahan hidup dengan meneruskan tradisi mereka, yaitu
menampilkan cinta kasih yang menyerupai kasih Kristus sendiri. sedang bagi orang
luar, kekristenan merupakan sekte primitif agama Yahudi dengan berbagai ajaran dan
praktiknya yang aneh.
Menjelang pertengahan abad kedua, di bawah pemerintahan yang adil oleh para kaisar
seperti Trajanus, Antoninus Pius dan Marcus Aurelius, gereja mulai membuka diri pada
dunia luar untuk meyakinkan keberadaannya. Yustinus menjadi salah seorang apologist
(orang yang mempertahankan pendiriannya dalam argumentasi) Kristen pertama, yang
menjelaskan imannya sebagai sistem yang masuk akal. Bersama-sama penulis lain,
seperti Origenes dan Tertullianus, ia menafsirkan kekristenan dalam istilah-istilah yang
mudah dikenal orang-orang Yunani dan Romawi terpelajar pada masa itu.
Karya tulis Yustinus, The Apology, ditujukan pada Kaisar Antoninus Pius (dalam
bahasa Yunani berjudul Apologia, yaitu suatu kata yang mengacu pada logika yang
menjadi dasar kepercayaan seseorang). saat Yustinus menjelaskan dan
mempertahankan keyakinannya, ia juga menyinggung bahwa penyiksaan yang
dilakukan penguasa Romawi terhadap orang-orang Kristen yaitu salah. Sebaliknya,
mereka seharusnya bergabung dengan orang Kristen untuk menunjukkan kepalsuan
sistem penyembahan dewa-dewa.
Bagi Yustinus, seluruh kebenaran yaitu kebenaran Allah. Para filsuf Yunani yang
tersohor sedikit banyak telah diilhami Allah, namun mata mereka belum dibukakan bagi
keutuhan kebenaran Kristus. Oleh sebab nya, Yustinus menyitir pemikiran Yunani
dengan bebas dan lalu menjelaskan kepada mereka bahwa kesempurnaan itulah
Kristus. la mengutip prinsip Yohanes tentang Kristus sebagai Logos, Firman. Allah
Bapa yaitu kudus adanya dan terpisah dari manusia yang jahat — tentang hal ini
Yustinus setuju dengan Plato. Namun melalui Kristus, Logos-Nya, Allah dapat
berhubungan dengan manusia. Sebagai Logos Allah, Kristus yaitu bagian dari hakikat
Allah, meskipun terpisah, seperti api dinyalakan dari api juga (demikianlah pemikiran
Yustinus telah menjadi alat bagi kesadaran akan Tritunggal dan Inkarnasi yang
berkembang di Gereja.).
Meskipun Yustinus bersandar pada pemikiran Yunani, namun aliran pemikiran Yahudi
ada padanya. Ia kagum pada nubuat yang digenapi. Mungkin ia terpengaruh orang tua
yang ia temui di pantai. namun ia pun melihat bahwa nubuat Ibrani telah meyakinkan
identitas Yesus Kristus yang unik. Seperti Paulus, Yustinus tidak meninggalkan orang-
orang Yahudi saat ia berpaling kepada orang-orang Yunani. Dalam karya besar
Yustinus lainnya, Dialog dengan Tryfo (Dialogues with Trypho), ia menulis kepada
seorang Yahudi kenalannya, bahwa Kristus yaitu penggenapan tradisi Ibrani.
Di samping menulis, Yustinus mengadakan perjalanan yang cukup jauh. Dalam
perjalanannya ia selalu berargumentasi tentang iman yang diyakininya. Di Efesus, ia
bertemu dengan Tryfo. Di Roma, ia bertemu Marcion, pemimpin Gnostik. Pada suatu
perjalanannya ke Roma, ia pernah bersikap tidak ramah terhadap seseorang yang
bernama Crescens, seorang Cynic. saat Yustinus kembali ke Roma pada tahun 165,
Crescens mengadukannya kepada penguasa atas tuduhan memfitnah. Yustinus pun
ditangkap, disiksa dan akhirnya dipenggal kepalanya bersama-sama enam orang percaya
lainnya.
9
Ia pernah menulis, "Anda dapat membunuh kami, namun sesungguhnya tidak dapat
mencelakakan kami." Keyakinan ini ia pegang sampai mati. Dengan demikian ia telah
meraih nama yang disandangnya sepanjang masa: Yustinus Martir.
10
4) Tahun ±156 Kemartiran Polikarpus
Polikarpus
Keadaan sangat memanas. Polisi Smyrna sedang memburu Polikarpus, uskup yang
disegani di kota itu. Para polisi itu sudah mengirim orang-orang Kristen lainnya untuk
dibunuh di arena, kini mereka menghendaki sang pemimpin.
Polikarpus telah meninggalkan kota itu dan bersembunyi di sebuah ladang milik teman-
temannya. Bila pasukan mulai menyergap, ia pun melarikan diri ke ladang lain.
Meskipun hamba Tuhan ini tidak takut mati, dan memilih berdiam di kota, teman-
temannya mendorongnya bersembunyi. Mungkin sebab mereka takut kalau-kalau
kematiannya akan mempengaruhi ketegaran gereja. Jika itu alasannya, maka mereka
salah tafsir.
saat polisi mendatangi ladang pertama, mereka menyiksa seorang budak untuk
mencari tahu tentang Polikarpus. lalu mereka menyerbu dengan senjata lengkap
untuk menangkap uskup itu. Meskipun ada kesempatan lari, Polikarpus memilih tinggal
di tempat, dengan tekad, "Kehendak Allah pasti terjadi." Di luar dugaan, ia menerima
mereka seperti tamu, memberi mereka makan dan meminta izin selama satu jam untuk
berdoa. Ia berdoa dua jam lamanya.
Beberapa penangkap merasa sedih menangkap orang tua yang begitu baik. Dalam
perjalanannya kembali ke Smyrna, kepala polisi yang memimpin pasukan itu berkata,
"Apa salahnya menyebut 'Lord Caesar' (Tuhan Kaisar) dan mempersembahkan bakaran
kemenyan?"
Dengan tenang Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak akan melakukannya.
Para pejabat Romawi yakin bahwa roh kaisar, ilahi adanya. Bagi orang Romawi pada
umumnya, dengan sejumlah dewa, menyembah kaisar bukanlah masalah. Mereka
melihat hal itu sebagai loyalitas kebangsaan. Namun orang-orang Kristen tahu bahwa
itu yaitu penyembahan berhala.
11
sebab orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi,
namun memuja Kristus secara sembunyi-sembunyi di rumah masing-masing, mereka
dianggap orang kafir. Orang-orang Smyrna memburu orang-orang Kristen dengan
pekikan, "Enyahkan orang-orang kafir." sebab mereka tahu bahwa orang-orang
Kristen tidak pernah berperan serta dalam berbagai perayaan mereka yang memuja
bermacam-macam dewa dan sebab tidak pernah mempersembahkan korban, maka
mereka menyerang kelompok yang mereka anggap tidak patriotik serta tidak beragama
ini.
Maka, Polikarpus pun masuk dalam arena yang penuh dengan kumpulan orang
beringas. Tampaknya, gubernur Romawi di sana menghormati usia uskup ini .
Seperti Pilatus, tidak ingin dianggap keji, jika mungkin. Hanya jika Polikarpus mau
melakukan persembahan korban, maka semuanya dapat pulang kembali dengan selamat.
"Hormatilah usiamu, Pak Tua," seru gubernur Romawi itu. "Bersumpahlah demi berkat
Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, "Enyahkan orang-orang kafir!"
Sebenarnya, gubernur Romawi itu ingin Polikarpus menyelamatkan dirinya sendiri
dengan melepaskan dirinya dari orang-orang Kristen yang dianggap "kafir" itu. Namun,
Polikarpus hanya memandang kerumunan orang yang sedang mencemoohkannya.
Sambil mengisyaratkan ke arah mereka, ia berseru, "Enyahkan orang-orang kafir!"
Gubernur Romawi itu berusaha lagi: "Angkatlah sumpah dan saya akan
membebaskanmu. Hujatlah Kristus!"
Uskup itu pun berdiri dengan tegar. Ia berkata, "Selama delapan puluh enam tahun aku
telah mengabdi kepada-Nya dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat
mencaci Raja yang telah menyelamatkanku?"
Menurut kisah, Polikarpus pernah menjadi murid Rasul Yohanes. Jika demikian,
mungkin ialah orang terakhir yang berhubungan dengan gereja para rasul. Kira-kira
empat puluh tahun sebelumnya, saat Polikarpus memulai pelayanannya sebagai
uskup, Bapa Gereja Ignatius telah menulis surat khusus untuknya. Polikarpus sendiri
telah menulis suratnya untuk orang-orang Filipi. Meskipun surat ini tidak begitu
cemerlang ataupun merupakan pendapatnya sendiri, namun mengandung unsur-unsur
kebenaran yang ia pelajari dari para gurunya. Polikarpus tidak mengulas Perjanjian
Lama, seperti orang-orang Kristen yang muncul lalu , namun ia menyitir para rasul
dan pemuka gereja lainnya untuk meyakinkan orang-orang Filipi.
Kira-kira satu tahun sebelum kemartirannya, Polikarpus berkunjung ke Roma untuk
menyelesaikan perbedaan pendapat tentang tanggal Hari Raya Paskah dengan uskup
Roma. Ada cerita yang mengisahkan bahwa ia terlibat dalam perdebatan dengan
Marcion, yang ia juluki "Anak sulung setan". Ajaran-ajaran para rasul yang
ditampilkannya telah membuat beberapa pengikut Marcion bertobat.
Itulah peranan Polikarpus: saksi yang setia. Para pemimpin yang muncul lalu hari
mengadakan pendekatan-pendekatan kreatif untuk mengubah keadaan, namun pada
zaman Polikarpus, yang dibutuhkan hanyalah kesetiaan. Ia setia sampai mati.
Di arena perdebatan, pertukaran pendapat antara sang uskup dan gubernur Romawi
berlanjut. Pada suatu saat, Polikarpus menghardik lawan bicaranya: "Jika kamu...
12
berpura-pura tidak mengenal saya, dengarlah baik-baik: Saya yaitu seorang Kristen.
Jika Anda ingin mengetahui ajaran Kristen, luangkanlah satu hari khusus untuk
mendengarkan saya."
Gubernur Romawi itu pun mengancam akan melemparkan dia ke binatang-binatang
buas. "Panggil binatang-binatang itu!" seru Polikarpus. "Jika hal itu akan mengubah
keadaan buruk menjadi baik, namun bukan keadaan yang lebih baik menjadi lebih
buruk."
saat ia diancam akan dibakar, Polikarpus menjawab, "Apimu akan membakar hanya
satu jam lamanya, lalu akan padam, namun api penghakiman yang akan datang
yaitu abadi."
Akhirnya Polikarpus dinyatakan sebagai orang yang tidak akan menarik kembali
pernyataan-pernyataannya. Rakyat Smyrna pun berteriak: "Inilah guru dari Asia, bapa
orang-orang Kristen, pemusnah dewa-dewa kita, yang mengajar orang-orang untuk
tidak menyembah (dewa-dewa) dan mempersembahkan korban sembelihan."
Gubernur Romawi menitahkan agar ia dibakar hidup-hidup. la diikat pada sebuah tiang
dan dibakar. Namun, menurut seorang saksi mata, badannya tidak termakan api. "la
berada di tengah, tidak seperti daging yang terbakar, namun seperti roti di tempat
pemanggangan, atau seperti emas atau perak dimurnikan di atas tungku perapian. Kami
mencium aroma yang harus, seperti wangi kemenyan atau rempah mahal." saat
seorang algojo menikamnya, darah yang mengalir memadamkan api itu.
Kisah ini tersebar ke jemaat-jemaat di seluruh kekaisaran. Gereja menyimpan laporan-
laporan semacam itu dan mulai memperingati hari-hari kelahiran serta kematian para
martir. Bahkan mereka juga mengumpulkan tulang-tulangnya serta peninggalan lainnya.
Setiap tanggal 23 Februari, diperingati hari "kelahiran Polikarpus" masuk ke surga.
Dalam kurun waktu satu setengah abad berikutnya, ratusan martir menuju kematian
mereka dengan setia, dan banyak di antara mereka maju dengan semangat. Ini
didasarkan pada laporan saksi mata uskup Smyrna itu.
13
5) Tahun 177 Irenaeus Menjadi Uskup Lyons
"Tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari" bunyi Pengkhotbah 1:9. Namun ajaran-
ajaran sesat yang bermunculan di dalam dan di sekitar gereja tetap saja berjalan.
Bukannya berpaling pada karya penebusan Kristus, banyak yang mencari ilmu mistik
bagi keselamatan pribadi. Dalam gereja abad-abad permulaan, paham ini muncul dalam
sekelompok pengikut yang menamakan dirinya Gnostik (gnosis dalam bahasa Yunani
artinya "pengetahuan" ).
Sebelum Gereja didirikan, aliran semacam Gnostisisme memang sudah pernah ada.
saat Yohanes menulis suratnya yang pertama, ia mengecam ajaran sesat ini. Namun,
ajaran ini masih berlanjut pada abad kedua.
Kita tidak banyak mengenal Irenaeus, seorang penentang Gnostisisme pada akhir abad
kedua. Mungkin ia dilahirkan di Asia Kecil lebih kurang pada tahun 125. Perdagangan
yang lancar antara Asia Kecil dan Gaul (Perancis) memberi peluang bagi orang-orang
Kristen untuk membawa agamanya ke Perancis, tempat mereka mendirikan sebuah
gereja yang tangguh di kota Lyons.
Sebagai imam di Lyons, Irenaeus hidup sesuai namanya, yang artinya 'damai', dengan
berkunjung ke Roma untuk meminta kepada uskup kelonggaran bagi kaum Montanis di
Asia Kecil. saat itulah pembantaian orang-orang Kristen sedang marak di Lyons, dan
dalam peristiwa ini uskup Lyons terbunuh.
Irenaeus diangkat menjadi uskup untuk menggantikan uskup yang terbunuh. saat itu
terdapat banyak orang yang telah menganut Gnostisisme di Perancis. Penyebaran aliran
ini sangat pesat sebab kaum Gnostis memakai istilah orang-orang Kristen —
meskipun mereka memberi interpretasi yang berbeda secara radikal. Penyerapan
istilah-istilah Kristen dengan berbagai konsep dari filsafat Yunani dan agama orang-
orang Asia, sangat menggiurkan orang-orang yang "mau" percaya bahwa mereka dapat
memperoleh keselamatan tanpa bergantung pada anugerah Bapa Yang Mahakuasa.
Irenaeus pun mempelajari bentuk-bentuk ajaran Gnostik. Meskipun sangat berbeda,
secara umum mereka mengajarkan bahwa dunia fana ini jahat; bahwa dunia ini
diciptakan dan diperintah oleh kuasa malaikat, bukan Tuhan; bahwa Tuhan berada jauh
dan tidak ada hubungannya dengan dunia ini; bahwa keselamatan dapat diraih dengan
14
mempelajari ajaran-ajaran rahasia khusus; bahwa kaum Gnostik itulah orang-orang
rohani (pneumatikoi) yang lebih unggul dibandingkan orang-orang Kristen (psychikoi) biasa.
Para guru aliran Gnostik sangat mendukung pendapat ini dengan Injil Gnostiknya –
buku yang biasanya membawa-bawa nama para rasul dan menggambarkan Yesus yang
mengajarkan doktrin-doktrin Gnostik.
Setelah uskup Lyons itu mempelajari ajaran sesat itu, ia menulis Against Heresies, suatu
karya besar yang membeberkan kebodohan "ajaran yang secara keliru disebut Gnostik".
Dengan menyitir gambaran dari Perjanjian Lama dan Baru, ia membuktikan bahwa
dunia diciptakan Allah yang penuh cinta kasih, yang lalu ternoda oleh dosa-dosa
manusia. Adam, manusia pertama yang tak berdosa, menjadi orang yang berdosa sebab
menyerah pada godaan. namun kejatuhannya telah ditanggulangi oleh karya manusia tak
berdosa yang kedua, yaitu Kristus, Adam baru. Tubuh tidaklah jahat. Pada hari
penghakiman, tubuh dan jiwa orang-orang percaya akan diangkat, mereka akan tinggal
bersama-sama Allah untuk selamanya.
Irenaeus paham bahwa ajaran Gnostik memikat kecenderungan manusiawi yang ingin
mengetahui hal-hal yang belum diketahui orang lain. Tentang orang-orang Gnostik ia
menulis, "Segera setelah seseorang dimenangkan, orang ini menjadi sombong dan
merasa dirinya begitu penting, ia pun berjalan mengangkat dada dengan gaya seekor
ayam jantan." namun orang-orang Kristen seharusnya menerima anugerah Allah dengan
rendah hati, dan tidak mengandalkan kegiatan-kegiatan intelektualnya yang akan
membuat ia sombong.
Sepanjang hidupnya, Irenaeus dengan gembira mengenang perkenalannya dengan
Polikarpus, yang pernah akrab dengan Rasul Yohanes. Jadi, tidaklah mengherankan
bahwa ia berpegang pada keabsahan para rasul saat ia menolak paham Gnostik. Sang
uskup menegaskan bahwa para rasul mengajar di tempat-tempat umum dan tidak ada
satu pun yang dirahasiakan. Di seluruh kekaisaran, Gereja-gereja berpegang pada
ajaran-ajaran yang hanya disampaikan para rasul Kristus, dan hanya inilah satu-satunya
dasar keyakinan. Irenaeus menyatakan bahwa para uskup yang merupakan pelindung
iman (Kristen) yaitu penerus para rasul. Dengan demikian, ia telah mengangkat
martabat para uskup. Dalam bukunya Against Heresies, Irenaeus menetapkan standar
bagi teologi gereja. Semua kebenaran yang kita butuhkan sudah tercantum dalam
Alkitab. Ia juga membuktikan bahwa dirinya yaitu seorang teolog terbesar semenjak
Rasul Paulus. Argumentasinya yang tersebar luas merupakan pukulan besar bagi aliran
Gnostik pada masanya.
15
6) Tahun ±196 Tertullianus Mulai Menulis Buku-buku Kristen
Lukisan Tertullianus
"Darah para martir menjadi benih gereja."
"Hal itu pasti sebab tidak mungkin."
"Apa urusan orang-orang Athena dengan Yerusalem?"
Kata-kata kiasan yang tajam seperti ini yaitu ciri khas karya Quintus Septimius
Florens Tertullianus – atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tertullianus. Ia lahir di
Kartago, dibesarkan dalam keluarga berkebudayaan kafir serta terlatih dalam
kesusasteraan klasik, penulisan orasi, dan hukum. Pada tahun 196 saat ia mengalihkan
kemampuan intelektualnya pada pokok-pokok Kristen, ia mengubah pola pikir dan
kesusasteraan Gereja di wilayah Barat.
Sebelumnya, para penulis Kristen umumnya memakai bahasa Yunani – bahasa
yang agak fleksibel dan halus, yang cocok digunakan untuk berfilsafat dan berdebat
tentang hal-hal sederhana. Acap kali, orang-orang Kristen yang berbahasa Yunani
memakai cara berfilsafat seperti ini terhadap keyakinan mereka.
Meskipun Tertullianus, pengacara kelahiran Afrika itu, dapat berbahasa Yunani, ia
memilih menulis dalam bahasa Latin, dan karya-karyanya mencerminkan unsur-unsur
moral dan praktis orang Romawi yang berbahasa Latin. Pengacara yang berpengaruh ini
telah menarik banyak penulis untuk mengikuti gayanya.
saat orang-orang Kristen Yunani masih bertengkar tentang keilahian Kristus serta
hubungan-Nya dengan Bapa, Tertullianus sudah berupaya menyatukan kepercayaan itu
dan menjelaskan posisi ortodoks. Maka, ia pun merintis formula yang sampai hari ini
masih kita pegang: Allah yaitu satu hakikat yang terdiri dari tiga pribadi.
saat dia menyiapkan apa yang menjadi doktrin Trinitas, Tertullianus tidak mengambil
terminologinya dari para filsuf, namun dari Pengadilan Roma. Kata Latin substantia
bukan berarti "bahan" namun "hak milik". Arti kata persona bukanlah "pribadi" (person),
seperti yang lazim kita gunakan, namun merupakan suatu pihak dalam suatu perkara (di
pengadilan). Dengan demikian, jelaslah bahwa tiga personae dapat berbagi satu
substantia. Tiga pribadi (Bapa, Putra dan Roh Kudus) dapat berbagi satu hakikat
(kedaulatan ilahi).
16
Meskipun Tertullianus mempersoalkan "Apa urusan Athena (filsafat) dengan
Yerusalem (gereja)?" namun, filsafat Stoa yang populer pada masa itu turut
mempengaruhinya. Ada yang berkata bahwa ide dosa asal bermula dari Stoisisme,
lalu diambil alih Tertullianus dan selanjutnya merambat ke Gereja Barat.
Agaknya ia berpendapat bahwa roh (jiwa) itu yaitu sebentuk benda: seperti tubuh
dibentuk saat pembuahan, maka roh pun demikian. Dosa Adam diwariskan seperti
rangkaian genetik.
Gereja-gereja Barat menyimak ide ini, namun ide ini tidak dialihkan ke Timur (yang
memiliki pandangan yang lebih optimistik tentang sifat manusia).
Kira-kira pada tahun 206, Tertullianus meninggalkan Gereja untuk bergabung dengan
sekte Montanis, sekelompok orang puritan yang bereaksi melawan apa yang mereka
anggap sebagai kelonggaran moral di antara orang-orang Kristen. Mereka berharap
kedatangan Kristus kedua kali itu segera terjadi. Mereka juga menekankan
kepemimpinan Roh Kudus secara langsung, bukan kepemimpinan para rohaniwan yang
ditahbiskan.
Meskipun Tertullianus pernah menekankan ide suksesi para rasul – pengalihan kuasa
dan wibawa para rasul kepada para uskup – namun ia tidak dapat menerima bahwa para
uskup memiliki kuasa mengampuni dosa. Ia berpendapat bahwa ini akan menjurus pada
terpuruknya moral. Sementara itu para uskup terlampau yakin akan kuasa ini .
Bukankah semua orang percaya yaitu imam? Apakah ini Gereja para orang kudus
yang dikelola mereka sendiri, ataukah sekumpulan orang kudus dan orang-orang
berdosa yang dikelola "kelas" profesional yang dikenal sebagai rohaniwan?
Tertullianus sebenarnya berenang melawan arus. Selama lebih kurang dua belas abad
kaum rohaniwan mendapat tempat khusus. saat Martin Luther menantang gereja,
maka penekanan pada 'imamat semua orang percaya' kembali terangkat.
17
7) Tahun ±205 Origenes Mulai Menulis
Profil di dinding : Gambar Origenes bersama muridnya
Pada awalnya, kekristenan dicemooh sebagai agama orang-orang miskin dan tidak
terpelajar, dan memang sesungguhnya banyak penganutnya datang dari kalangan
rendah. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Rasul Paulus, bahwa di gereja "untuk
ukuran manusia, tidak banyak orang bijak, tidak banyak orang berpengaruh, tidak
banyak orang terpandang" (1 Kor. 1:26).
Namun menjelang abad ketiga, cendekiawan terhebat pada masa itu yaitu seorang
Kristen. Baik kafir, penganut ajaran sesat maupun orang Kristen, semuanya mengagumi
Origenes. Ia memiliki pengetahuan luas dan ilmu yang tinggi, yang berpengaruh
penting bagi pemikiran Kristen di lalu hari.
Origenes lahir di Alexandria pada tahun 185. Ia berasal dari keluarga Kristen yang
saleh.
Kira-kira pada tahun 201, ayahnya - Leonidas - dipenjarakan dalam satu gelombang
penyiksaan oleh Septimus Severus. Origenes pun menulis surat kepada ayahnya di
penjara agar tidak memungkiri Kristus demi keluarganya. Meskipun Origenes ingin
menyerahkan diri kepada penguasa agar dapat menjadi martir bersama-sama dengan
ayahnya, namun ibunya mencegahnya dengan menyembunyikan pakaiannya.
Setelah Leonidas mati sebagai martir, hartanya disita, dan jandanya terlantar dengan
tujuh orang anak. Origenes pun mulai menanggulangi keadaan dengan bekerja sebagai
guru sastra Yunani dan penyalin naskah. sebab banyak di antara cendekiawan senior
telah meninggalkan Alexandria dalam gelombang penyiksaan, maka sekolah kateketik
Kristen sangat membutuhkan tenaga pengajar. Pada usianya yang kedelapan belas,
Origenes pun memangku jabatan kepala sekolah ini dan memulai karir
mengajarnya yang panjang, termasuk belajar dan menulis.
la menjalani kehidupan asketis, menghabiskan waktunya pada malam hari dengan
belajar dan berdoa, serta tidur di lantai tanpa alas. Mengikuti titah Yesus, ia memiliki
hanya satu jubah dan tidak memiliki alas kaki. Ia bahkan mengikuti Matius 19:12
secara harfiah; mengebiri dirinya untuk mencegah godaan jasmani. Origenes berhasrat
setia pada gereja dan membawa kehormatan bagi nama Kristus.
18
Sebagai seorang penulis yang sangat produktif Origenes dapat membuat tujuh
sekretarisnya sibuk dengan dikteannya. Ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya,
termasuk tafsiran-tafsiran atas setiap buku dalam Alkitab serta ratusan khotbah.
Karyanya Hexapla merupakan prestasi dalam bidang kritik teks. Di dalamnya, ia
mencoba menemukan terjemahan Yunani yang terbaik bagi Perjanjian Lama, dan dalam
enam kolom sejajar ia membentangkan Perjanjian Lama Ibrani, sebuah transliterasi
Yunani, tiga terjemahan Yunani dan Septuaginta. Against Celsus yaitu karya besar
yang merupakan pertahanan bagi kekristenan terhadap serangan kafir. On First
Principles merupakan upaya pertamanya dalam teologi sistematis; di sini Origenes
dengan seksama meneliti keyakinan Kristen tentang Allah, Kristus, Roh Kudus,
Penciptaan, jiwa, kemauan bebas, keselamatan dan Kitab Suci.
Origenes bertanggung jawab atas peletakan dasar-dasar penafsiran alegoris terhadap
Kitab Suci yang berpengaruh pada Abad-abad Pertengahan. Pada setiap teks, ia percaya
ada tiga tingkat pengertian: pengertian harfiah, pengertian moral, yaitu untuk
memperbaiki jiwa, dan pengertian alegoris atau pengertian rohani, yakni pengertian
tersirat yang penting untuk iman Kristen. Origenes sendiri mengabaikan makna harfiah
atau gramatikal-historis teks dan lebih menekankan makna alegoris.
Origenes berupaya menghubungkan kekristenan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat
pada masanya. Ia percaya bahwa filsafat Yunani merupakan persiapan untuk memahami
Kitab Suci, dan secara analogi, yang lalu dianut Augustinus, bahwa khazanah
pengetahuan orang kafir digunakan oleh orang Kristen, seperti orang Israel "merampasi
orang Mesir itu" (Kel. 12:35-36).
Dalam mempelajari filsafat Yunani, Origenes telah mengambil banyak gagasan Plato
yang sangat asing dengan kekristenan Ortodoks. Dari kesalahan-kesalahannya, yang
paling mencolok yaitu paham Yunani bahwa benda dan dunia ini jahat. Ia percaya
akan eksistensi roh sebelum lahir dan mengajarkan bahwa keberadaan manusia di atas
bumi ini ditentukan oleh perilakunya saat dalam keadaan praeksistensi (sebelum
lahir). Ia menolak paham kebangkitan daging dan mempertimbangkan gagasannya
bahwa akhirnya Allah akan menyediakan keselamatan bagi semua manusia dan
malaikat. sebab Allah tidak mungkin menciptakan bumi ini tanpa berhubungan
langsung dengan zat awal, maka Sang Bapa memperanakkan Putra-Nya untuk
menciptakan bumi yang abadi ini. saat Sang Putra mati di kayu salib, maka itu hanya
kemanusiaan Yesus yang mati sebagai tebusan bagi iblis atas kejahatan dunia.
sebab kesalahan-kesalahan semacam ini, maka Uskup Demetrius dari Alexandria
mengadakan sidang yang mengekskomunikasi Origenes dari Gereja. Meskipun Gereja
Roma dan Barat menerima ekskomunikasi ini, namun Gereja di Palestina dan sebagian
besar Gereja Timur tidak menerimanya. Mereka masih mencari Origenes sebab
pengetahuan, kebijaksanaan dan kecendekiawanannya.
Dalam gelombang penyiksaan pada masa Decius, Origenes dipenjarakan, disiksa dan
diputuskan untuk dihukum mati pada tiang. namun hukuman itu tidak terlaksana sebab
kaisar telah meninggal dunia. sebab penderitaan (batin) inilah Origenes jatuh sakit,
lalu meninggal sekitar tahun 251. la telah berbuat banyak, lebih dibandingkan yang
orang lain pernah lakukan untuk meningkatkan pemikiran Kristen dan membuat Gereja
dihormati di mata dunia. Di lalu hari, Bapa Gereja di Barat maupun di Timur
19
merasakan pengaruhnya. Keanekaragaman pikiran dan tulisannya telah membawa
reputasi baginya sebagai bapa ortodoksi dan bapa ajaran sesat.
20
8) Tahun 251 Cyprianus Menulis On the Unity of the Church
Saint Cyprian (Thascius Caecilius Cyprianus)
Hubungan apa yang terjalin antara warga Gereja dan pemimpinnya? Dengan jalan apa
Gereja dapat mendisiplinkan warganya? Hal-hal inilah yang harus digumuli gereja pada
zaman apa pun.
Pada pertengahan abad ketiga, jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan di atas
dikemukakan oleh Cyprianus, seorang kaya dan berbudaya, yang lahir, sekitar tahun
200 dalam keluarga kafir. saat ia menjadi Kristen, ia menanggalkan pola hidup
lamanya, membagi-bagikan uang dan hartanya kepada orang miskin, serta bersumpah
akan hidup suci. Tentang perubahan ini ia menulis: "Kelahiran kedua ini telah
menciptakan manusia baru dalam diri saya, dengan hembusan Roh dari surga."
Sebagai seorang mantan guru retorika dan orator terkenal, Cyprianus yang fasih
berbicara dan saleh ini menanjak melalui jenjang karir di Gereja sampai menjadi Uskup
Kartago sekitar tahun 248.
Meskipun ia terlatih dalam sastra Yunani dan Romawi klasik, Cyprianus bukanlah
seorang teolog. Tidak seperti Tertullianus, orang yang dia kagumi, Cyprianus yaitu
orang pragmatic, yang tidak menghiraukan pertengkaran tentang teologi pada masanya.
Yang diinginkannya hanyalah persatuan di gereja. Di gereja yang tidak ada kesatuan, ia
mencoba menyatukan orang-orang Kristen melalui kuasa para uskup.
Kaisar Romawi, Decius, telah menganiaya orang-orang Kristen dan memicu
beberapa orang menyangkal iman mereka. Decius tidak berniat menjadikan mereka
martir, sebab hal itu akan menarik perhatian yang lebih besar bagi kekristenan. namun ,
ia menyiksa orang-orang Kristen dengan harapan mereka akan mengakui bahwa
"Kaisarlah Tuhan". Mereka yang berbuat demikian dikenal sebagai orang-orang yang
telah "murtad". Orang-orang Kristen yang bertahan, yang disebut 'pengikut setia' itu
seringkali memandang rendah orang-orang murtad ini . Maka sebuah konsili para
uskup dibentuk untuk membuat peraturan-peraturan ketat dalam hal penerimaan
kembali para orang murtad ini . Akibat ketatnya peraturan ini, seorang imam
bernama Novatus memulai sebuah gereja saingan yang memberi kesempatan bagi
orang-orang murtad itu menjadi anggotanya.
21
Meskipun Cyprianus tidak mengalami penyiksaan sebab imannya, ia tidak setuju
dengan perpisahan ini. Ia yakin bahwa orang percaya sejati harus menjalani hukuman
untuk menebus dosa, untuk membuktikan imannya.
Hukuman untuk penebusan dosa itu terdiri dari penyesalan selama suatu masa tertentu
dan setelah itu, orang ini dapat diterima kembali dalam Perjamuan Kudus. Begitu
ia menyelesaikan "masa penyesalannya", ia akan tampil di hadapan jemaat dengan
berpakaian goni serta melumuri badan dengan abu, dan di situlah sang uskup akan
menyatakan pengampunan baginya. Cyprianus merumuskan ini sebagai sistem berskala
— semakin besar dosanya, maka semakin lama pula masa penyesalannya. Idenya
mendapat sambutan dan menjadi disiplin Gereja paling kuat — yang terkadang
disalahgunakan.
Pada tahun 251 Cyprianus mengadakan konsili di Kartago dan di situlah ia membacakan
On the Unity of the Church (Persatuan di dalam Gereja), karyanya yang terkenal dan
yang sangat berpengaruh dalam sejarah gereja. Gereja, katanya, yaitu lembaga ilahi,
yaitu mempelai Kristus, dan hanya ada satu mempelai. Hanya di dalam gereja manusia
akan mendapatkan keselamatan, di luar itu yang ada hanyalah kegelapan dan
kebingungan. Di luar Gereja, sakramen dan para rohaniwan — bahkan Alkitab — tidak
ada artinya. Seseorang, secara pribadi, ti







