Ti dak dapat menjalankan kehidupan Kristen
melalui kontak langsung dengan Allah; ia membutuhkan Gereja. sebab Kristus
mendirikan Gereja di atas Petrus, si Batu Karang, Cyprianus berkata bahwa semua
uskup dalam arti tertentu yaitu penerus Petrus — dan oleh sebab nya harus dipatuhi.
Meskipun ia tidak menyatakan bahwa uskup Roma berada di atas para uskup lainnya,
namun Cyprianus memandang keuskupan itu sebagai sesuatu yang khusus sebab
hubungan Petrus dengan kota ini .
Pernyataan-pernyataan Cyprianus seperti "di luar gereja tidak ada keselamatan" dan
"seseorang tidak dapat mengatakan Allah sebagai Bapanya tanpa mengakui Gereja
sebagai ibunya", telah mendorong orang-orang memberi tempat yang amat panting bagi
para uskup. Seorang uskup dapat menentukan keanggotaan gereja. Akibatnya, ia
berkuasa mengatakan "engkau telah diselamatkan", "engkau belum diselamatkan".
Bukannya meyakini bahwa Roh (Kudus) bekerja melalui gereja, Cyprianus justru
mengisyaratkan bahwa Roh (Kudus) bekerja melalui para uskup.
Dengan diterimanya ide ini, tentu saja, para uskup mendapat kuasa lebih besar.
Cyprianus juga mencetuskan ide bahwa misa yaitu pengorbanan tubuh dan darah
Kristus. sebab para imam menjalankan fungsinya dalam ibadah atas nama Kristus,
maka hal ini pun meningkatkan kuasa mereka.
Cyprianus meninggal sebab penyiksaan Kaisar Valerianus. sebab ia menolak
melakukan persembahan korban bagi dewa-dewa kafir, maka kepala Uskup Kartago itu
dipenggal pada tahun 258.
sebab terancam perpecahan, Gereja pada masa Cyprianus berpegang pada ide-idenya.
Uskup ini tentunya tidak menduga akibat dari cara-cara yang dirintisnya untuk
mempersatukan gereja. Pada Abad Pertengahan, beberapa uskup yang rakus dan tidak
bermoral memakai kuasanya untuk kepentingan pribadi, ketimbang untuk hal-hal
rohani. Struktur hierarki yang menciptakan "persatuan" juga telah memicu
keretakan di antara rohaniwan dan kaum awam.
22
9) Tahun 270 Antonius Memulai Hidupnya sebagai Pertapa
Santo Antonius Meninggalkan Biaranya. DiLukis oleh Sassetta.
Salah seorang pendiri terpenting komunitas biara sebenarnya tidak punya ide untuk
mendirikan apa pun. Ia hanya peduli pada kondisi spiritualnya sendiri dan
menghabiskan sebagian besar waktunya seorang diri.
Antonius lahir di Mesir sekitar tahun 250, dalam keluarga kaya. saat ia berumur dua
puluh tahun, orang tuanya wafat, meninggalkan seluruh harta untuknya. Sebuah teks
khotbah yang merupakan perintah Yesus kepada pengusaha muda yang kaya, "Jika
ingin memperoleh hidup yang kekal, pergi dan juallah segala yang kau miliki ...", telah
mengubah hidup anak muda ini. Kata-kata ini seolah-olah ditujukan kepadanya,
dan Antonius pun mengartikannya secara harfiah. Ia membagikan tanah miliknya
kepada orang-orang sekampung, menjual harta lainnya dan menyumbangkan uangnya
kepada orang-orang miskin. Ia berguru pada seorang Kristen yang sudah berumur, dan
belajar tentang sukacita penyangkalan diri. Antonius makan hanya satu kali sehari, yang
terdiri dari roti dan air, serta tidur di atas lantai tidak beralas.
Dengan pertobatan Kaisar Konstantinus pada tahun 312, situasi gereja berubah drastis.
Kedudukan orang Kristen tidak lagi sebagai kaum minoritas yang buronan, namun telah
menjadi penganut suatu agama yang terhormat dengan dukungan resmi. sebab
besarnya jumlah orang yang masuk gereja, maka tidak mudah lagi untuk mengenal
orang-orang yang benar-benar memiliki komitmen pada Kristus dengan mereka yang
datang hanya untuk dikenal sebagai bagian dari agama yang populer ini. Mudah
percaya, namun belum tentu setia dalam penderitaan.
Orang-orang Kristen sejati pada zaman ini lebih memilih melawan (arus) dibandingkan
mengkompromikan keyakinan mereka, dengan meninggalkan (kehidupan) duniawi.
Maka Antonius pun memilih sebuah kuburan sebagai tempat tinggalnya. Menurut
penulis biografinya, Athanasius, Antonius selama lebih kurang dua belas tahun
"ditawan" setan-setan yang mengambil bentuk bermacam-macam binatang buas dan
terkadang menyerang dia serta meninggalkannya dalam keadaan hampir mati. Mereka
mencoba menggoba Antonius untuk masuk ke dalam dunia maksiat, namun Antonius
selalu menang.
23
Untuk lebih menjauhkan diri dari dunia ini, Antonius pindah ke sebuah benteng yang
telah ditinggalkan. Di sana ia tinggal selama dua puluh tahun tanpa menemui seorang
manusia pun. Makanan untuknya dilemparkan melalui tembok. Namun orang-orang
telah mendengar penyangkalan dirinya dan pergumulannya dengan setan. Beberapa
pengagumnya mendirikan pondok-pondok sementara dekat benteng ini , dan ia pun
dengan rasa segan menjadi penasihat spiritual mereka dengan memberi petunjuk
dalam hal berpuasa, berdoa dan kegiatan-kegiatan amal. Antonius, dengan sendirinya
telah menjadi panutan dalam penyangkalan diri.
Pertapa ini tidak pernah dapat melepaskan dirinya secara penuh dari dunia. Pada tahun
311, Maximianus, salah seorang kaisar kafir terakhir, menganiaya orang-orang Kristen,
dan Antonius pun meninggalkan kediamannya untuk mati bagi keyakinannya. namun ia
akhirnya malah melayani orang-orang Kristen terhukum yang dipekerjakan di tambang-
tambang kekaisaran. Pengalaman ini meyakinkannya bahwa hidup secara Kristen pun
sama salehnya dengan mati untuknya (agama Kristen). Sekali lagi, pada tahun 350, ia
meninggalkan kediamannya untuk membela ortodoksi melawan ajaran sesat Arius, yang
dipicu Konsili Nicea (325). Orang-orang, termasuk Kaisar Konstantinus meminta
nasihat spiritual dari sang pertapa ini.
Antonius wafat pada usia 105 tahun dan sampai pada akhir hayatnya, ia berada dalam
keadaan sehat pikiran dan jasmani. Untuk mencegah berkembangnya pemujaan di
kuburannya, ia meminta agar ia dikubur secara diam-diam.
Namun, pemujaan yang ditakutkannya tetap berkembang. Athanasius – teolog
berpengaruh yang peranannya penting dalam Konsili Nicea telah menulis buku
"Kehidupan Antonius" (Life of Anthony) yang sangat populer. Di dalamnya ia
menggambarkan Antonius sebagai seorang rahib ideal, yang dapat melakukan keajaiban
dan yang dapat mengenal roh jahat serta roh baik. Tidak lama lalu , kisah seorang
pahlawan spiritual yang telah menjadi rahib dan telah menyangkali dirinya pun mulai
mempengaruhi Gereja.
Praktik komunitas rahib yang hidup bersama telah dirintis Pachomius, seorang teman
Antonius. Seperti Antonius yang kuat dan ulet, sebagian besar pengikutnya memilih
menjadi rahib. Antonius telah menyampaikan ide bahwa pribadi religius yang sejati
akan mengundurkan diri dari kehidupan dunia dengan menjauhkan diri dari hidup
berkeluarga dan kenikmatan duniawi.
Hingga era Reformasi, ide ini tidak pernah mendapat tantangan serius.
24
10) Tahun 312 Pertobatan Konstantinus
Patung Kaisar Konstantinus
saat itu bulan Oktober tahun 312. Seorang jenderal muda yang dipatuhi prajurit
Roma yang ada di Inggris dan Perancis, berderap menuju Roma untuk menantang
Maxentius, yang juga berupaya untuk naik takhta.
Seperti dikisahkan, Jenderal Konstantinus menatap ke langit dan melihat cahaya
berbentuk salib. Di situ terdapat tulisan yang berbunyi "Bersama ini taklukkanlah".
Prajurit yang percaya takhayul ini sebenarnya sudah enggan memuja dewa-dewa Roma
dan memilih memuja dewa tunggal. Ayahnya yaitu pemuja dewa matahari.
Mungkinkah ini merupakan pertanda dari dewa ini pada malam sebelum
pertempuran itu?
Di lalu hari, Kristus muncul dalam mimpinya, dengan tanda yang sama, sebuah
salib yang agak lengkung di atasnya yang menyerupai huruf-huruf Yunani chi dan rho,
dua huruf pertama dari kata Christos. Jenderal ini diperintahkan untuk membuat
tanda ini pada perisai-perisai para prajuritnya. Ia melakukannya.
Seperti yang dijanjikan, Konstantinus pun memenangkan pertempuran ini . Ini
yaitu salah satu momentum menentukan bagi perubahan dahsyat dalam kurun waktu
seperempat abad. Jika Anda meninggalkan Roma pada tahun 305 M., tinggal di padang
pasir, dan dua puluh tahun lalu Anda kembali, Anda akan mengira bahwa
kekristenan telah punah sebab penganiayaan. namun ternyata sebaliknya, kekristenan
telah menjadi agama yang sangat digemari.
saat Diocletianus, salah seorang dari para kaisar yang amat brilian, mengambil
tampuk kekuasaan pada tahun 284, ia mulai menata kembali pengaturan kemiliteran,
ekonomi dan kepamongprajaan secara besar-besaran. Untuk sementara waktu ia tidak
menyinggung orang-orang Kristen.
Salah satu ide Diocletianus yang dahsyat ialah rnenata ulang struktur kekuasaan
kekaisaran. Ia membagi wilayah kekaisaran Roma dalam dua wilayah yaitu Timur dan
Barat, dan setiap wilayah berada di bawah kekuasaan seorang kaisar serta seorang wakil
kaisar. Setiap kaisar akan berkuasa selama dua puluh tahun, lalu para kaisar yang
akan mengambil-alih selama dua puluh tahun, dan seterusnya. Pada tahun 286,
25
Diocletianus mengangkat Maximianus sebagai kaisar wilayah Barat, sedang ia sendiri
memerintah wilayah Timur. Para kaisarnya ialah Konstantius Khlorus (ayah
Konstantinus) di Barat dan Galerius di Timur.
Galerius sangat anti-Kristen (menurut laporan, ia melempar kesalahan akan
kekalahannya pada suatu pertempuran sebab seorang prajurit Kristen membuat tanda
salib). Mungkin sebab hasutan Galerius juga, maka kaisar wilayah Timur mengambil
sikap anti-Kristen. Itu semua merupakan bagian dari penataan ulang kekaisaran
sehingga Roma memiliki mata uang yang seragam, sistem politik yang seragam dan
harus memiliki agama yang seragam pula. Untuk itu, orang-orang Kristen merupakan
penghalang.
Mulai tahun 298, orang-orang Kristen diberhentikan dari kemiliteran dan jabatan-
jabatan pamong praja. Pada tahun 303, pembantaian besar pun dimulai. Para penguasa
merencanakan untuk mulai dengan pembantaian orang-orang Kristen pada Hari Raya
Terminalia, tanggal 23 Februari. Gereja-gereja dihancurkan, Alkitab dirampas dan
kebaktian dilarang. Pada awalnya tidak ada pertumpahan darah, namun Galerius segera
mengubah keadaan. Sesuai jadwal, saat Diocletianus dan Maximianus turun takhta
pada tahun 305, Galerius mengadakan pembantaian yang lebih ganas. Konstantius, yang
memerintah wilayah Barat, umumnya lunak. namun cerita-cerita yang mengerikan dari
Timur amat banyak. Pembantaian ini berlanjut sampai tahun 310, dan banyak
orang Kristen menjadi martir pada peristiwa ini .
Namun, Galerius tidak berhasil menghancurkan Gereja. Anehnya, dalam keadaan
sekarat ia berubah pikiran. Pada tanggal 30 April 311, Galerius yang ganas itu
menyerah. Ia berhenti memerangi orang-orang Kristen dengan mengeluarkan
Edik/Maklumat Kebebasan Beragama (Edict of Toleration). Sebagai seorang politisi, ia
menekankan bahwa ia telah berbuat segala sesuatu untuk kekaisaran, namun, "sejumlah
besar" orang Kristen saat itu tetap "berpegang pada tekad mereka". Maka, sekarang
sudah waktunya memberi mereka kebebasan berkumpul, selama mereka melakukannya
dengan tertib. Selanjutnya ia menyerukan juga bahwa yaitu "kewajiban mereka untuk
berdoa kepada dewa mereka untuk kebaikan negara kita". Roma membutuhkan semua
bentuk pertolongan yang memungkinkan. Galerius wafat enam hari lalu .
Namun, skema Diocletianus menjadi berantakan. Setelah Konstantius wafat tahun 306,
putranya, Konstantinus dinyatakan sebagai penguasa oleh para prajurit yang setia
kepadanya. namun , Maximianus yang sudah pensiun berupaya kembali dan memerintah
lagi wilayah Barat bersama-sama dengan putranya, Maxentius (yang akhirnya melucuti
kekuasaan ayahnya sendiri). Sementara itu, Galerius telah menunjuk Licinius, jenderal
kesayangannya, sebagai penguasa wilayah Barat.. Masing-masing calon penguasa ini
menuntut hak atas sebagian wilayah Barat ini. Mereka harus berperang untuk itu.
Dengan cerdik, Konstantinus bergabung dengan Licinius dan bertempur melawan
Maxentius. Pada pertempuran Milvian Bridge, Konstantinus menang.
Di sana, Konstantinus dan Licinius menunjukkan kekuatan berimbang. Konstantinus
sangat berhasrat mengucapkan syukur pada Kristus, oleh sebab nya ia tergerak untuk
memberi kebebasan dan status bagi Gereja. Pada tahun 313, ia bersama-sama
Lucinius secara resmi mengeluarkan Edik Milano (Edict of Milan) yang menjamin
kebebasan beragama di seluruh kekaisaran. Instruksi ini berbunyi: "Tujuan kita
ialah untuk mengizinkan baik orang-orang Kristen maupun yang lain dengan bebas
beribadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing."
26
Segera Konstantinus menaruh perhatian pada Gereja, memulihkan harta,
menyumbangkan uang, mengendalikan kontroversi dengan kaum Donatis serta
mengadakan konsili-konsili Gereja di Arles dan Nicea. la juga berebut kekuasaan
dengan Licinius, yang ia gulingkan pada tahun 324.
Dengan demikian Gereja tidak lagi menjadi sasaran serangan, melainkan mendapat
perlakuan istimewa. Dalam waktu yang sangat singkat, prospeknya berubah sama
sekali. Setelah berabad-abad lamanya sebagai gerakan kebudayaan tandingan, Gereja
diharuskan belajar cara menangani kekuasaan. Namun, semuanya tidak dilakukan
dengan baik. Kehadiran Konstantinus yang dinamis membentuk Gereja pada abad
keempat dan seterusnya. Ia yaitu pakar kekuasaan dan politik, dan Gereja pun belajar
memakai alat-alat ini .
Apakah penglihatan Konstantinus itu autentik ataukah ia hanya seorang oportunis yang
memperalat kekristenan untuk kepentingannya sendiri? Hanya Allah yang tahu jiwanya.
Meskipun dalam beberapa hal ia telah gagal mencerminkan keyakinannya, penguasa itu
sesungguhnya telah mengambil perhatian aktif dalam kekristenan yang dianutnya, yang
terkadang membahayakan dirinya sendiri.
Allah sesungguhnya memakai Konstantinus untuk memberi kemudahan bagi Gereja;
sang kaisar itu menegaskan dan menjamin toleransi resmi bagi keyakinan ini. Namun, ia
hanya mengikuti jejak Galerius yang sudah hancur yang sebelumnya telah melakukan
hal itu. Dengan demikian, peperangan melawan penyiksaan Kekaisaran Romawi
dimenangkan bukan di Milvian Bridge namun di arena-arena, saat orang-orang Kristen
dengan berani menyongsong kematian.
27
11) Tahun 325 Konsili Nicea
Konsili Nicea, A.D. 325
Meskipun Tertullianus telah merumuskan bagi Gereja bahwa Allah itu memiliki satu
hakikat: terdiri atas tiga pribadi, namun ia belum memberi pengertian lengkap tentang
Tritunggal. Sesungguhnya, doktrin ini telah membingungkan para teolog besar.
Pada awal abad keempat, seorang imam di Alexandria, Mesir – Arius – menyebut
dirinya Kristen. Namun Arius menerima juga teologi Yunani yang mengajarkan bahwa
Allah itu unik adanya dan tidak dapat dikenal. Menurut pemikiran itu, Allah begitu
beda, yaitu bahwa Dia tidak dapat membagi hakikat-Nya dengan apa pun. Hanya Allah
yang bisa menjadi Allah. Dalam bukunya yang berjudul Thalia, Arius menyatakan
bahwa Yesus memiliki sifat keilahian, Namun bukan Allah. Hanya Allah Bapa, kata
Arius, abadi adanya. Jadi, Putra-Nya itu merupakan manusia yang diciptakan. Ia seperti
Bapa, namun bukan Allah.
Banyak dari antara bekas kafir menyenangi pandangan Arius. sebab dengan
pandangan itu, mereka mendapat peluang mempertahankan ide yang telah mendarah
daging, yaitu Allah yang tidak dapat dikenal, dan memandang Yesus sebagai pahlawan
super yang bersifat ilahi, tidak berbeda dengan pahlawan-pahlawan yang ada dalam
mitologi Yunani.
Sebagai seorang pengajar yang pandai berbicara, Arius tahu cara membuat sebagian
besar pendapatnya menarik, bahkan menyusunnya menjadi lagu, yang dinyanyikan oleh
kaum jelata.
Banyak yang bertanya: mengapa orang-orang menghebohhan ide Arius? Namun
Alexander, uskup atasan Arius memandang bahwa, agar dapat menyelamatkan dosa
manusiawi, Yesus haruslah sungguh-sungguh Allah. Alexander memutuskan agar Arius
dihukum oleh sinode, namun imam yang populer itu memiliki banyak pendukung.
Maka timbullah kerusuhan di Alexandria sebab persaingan teologis yang sangat mudah
menyinggung perasaan ini, dan para rohaniwan lain pun mulai berpihak pada masing-
masing kubu.
Begitu kerusuhan timbul, Kaisar Konstantinus tidak dapat lagi memandang perdebatan
itu sebagai "persoalan agama belaka". "Persoalan agama" ini mengancam keamanan
negara. Untuk menangani masalah ini, Konstantinus mengadakan konsili di seluruh
kekaisaran di kota Nicea, Asia Kecil.
28
Dengan memakai jubah aneka warna yang dihiasi permata, Konstantinus membuka
konsili ini . la berseru kepada lebih dari tiga ratus uskup yang hadir agar mereka
menyelesaikan masalah ini. Perpecahan dalam Gereja, katanya, lebih buruk dibandingkan
peperangan, sebab melibatkan jiwa-jiwa abadi.
Penguasa itu membiarkan para uskup itu berdebat. saat Arius berhadapan dengan
mereka, ia dengan jelas menyatakan bahwa Anak Allah itu yaitu manusia yang
diciptakan dan tidak seperti Bapa, la dapat berubah.
Pertemuan itu menolak dan mengutuk pandangan Arius ini . Namun mereka perlu
bertindak lebih jauh. Untuk menjelaskan pandangan mereka sendiri dibutuhkan suatu
pengakuan iman.
Maka mereka merumuskan beberapa pernyataan tentang Allah Bapa dan Allah Anak.
Mereka menjelaskan bahwa Anak yaitu "Allah sejati dari Allah sejati, diperanakkan
bukan dijadikan dan sehakikat dengan Bapa".
Istilah "satu hakikat", menjadi sasaran kritik. Kata Yunani yang mereka pakai ialah
homoousios. Homo artinya "sama" ousios artinya "hakikat". Kubu Arius menambahkan
satu huruf dalam kata itu: Homoiousios yang artinya ialah "keserupaan hakikat".
Semua uskup, kecuali dua orang, menandatangani pernyataan iman. Mereka berdua dan
Arius diasingkan. Konstantinus agaknya puas akan hasil prakarsanya itu. Namun itu
tidak bertahan lama.
Meskipun Arius menghilang untuk sementara, teologinya bertahan beberapa dekade
lamanya. Seorang diaken dari Alexandria, Athanasius, menjadi salah seorang lawan
yang tangguh bagi Arianisme. Pada tahun 328, Athanasius menjadi uskup di Alexandria
dan melanjutkan "peperangan" dalam jemaatnya.
Akan namun "pertempuran" itu meluas ke seluruh Gereja wilayah Timur, sampai pada
Konsili lain yang diselenggarakan pada tahun 381, di Konstantinopel. Konsili ini
mensahkan ulang Konsili Nicea. Namun demikian, jejak-jejak pemikiran Arius tidak
hilang dari Gereja.
Konsili Nicea bukan saja mulai menyelesaikan masalah teologi, namun juga menjadi
teladan bagi Gereja dan negara. Pada tahun-tahun berikutnya, saat masalah rumit
muncul di Gereja, maka hal itu diselesaikan melalui kebijaksanaan kolektif para uskup.
Konstantinus mulai dengan praktik menyatukan negara dan Gereja dalam hal
mengambil keputusan. Namun, hal ini menimbulkan masalah pada abad-abad
berikutnya.
29
12) Tahun 367 Surat Athanasius Mengakui Kanon Perjanjian Baru
St. Athanasius. He was born around AD 298, and lived in Alexandria, Egypt, the chief
center of learning of the Roman Empire.
Bagaimana seorang Kristen dapat memastikan buku apa saja yang harus ada dalam
Perjanjian Baru?
saat Paulus mengutarakan tentang Kitab Suci kepada Timotius ("Segala tulisan yang
diilhamkan ..." [2 Tim. 3:16]), ia menunjuk pada Perjanjian Lama. Namun pada
halaman Perjanjian Baru pun sudah terdapat petunjuk bahwa orang-orang Kristen sudah
mulai menganggap Injil dan surat-surat Paulus sebagai sesuatu yang khusus. Petrus
pernah menulis bahwa surat-surat Paulus terkadang agak "sukar dipahami". Namun,
kebijakan Paulus yaitu pemberian Allah, dan Petrus marah kepada "orang-orang yang
tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya" yang memutarbalikkan kata-kata
Paulus seperti mereka memutarbalikkan tulisan-tulisan lainnya (2 Ptr. 3:16). Jelaslah
bahwa Petrus mulai sadar bahwa orang-orang Kristen memiliki tulisan-tulisan yang
berisikan moral di samping tulisan-tulisan Perjanjian Lama.
Orang-orang Yahudi telah membakukan bahwa beberapa buku yang kita sebut
Perjanjian Lama diilhami Allah, sedang yang lain tidak. saat orang-orang Kristen
berhadapan dengan berbagai ajaran sesat, mereka mulai merasakan pentingnya
membedakan tulisan-tulisan yang sesungguhnya diilhami Allah dan yang meragukan.
Dua kriteria penting yang dipakai Gereja untuk mengenal kanon (canon yaitu istilah
Yunani yang artinya "standar") yaitu yang berasal dari para rasul dan tulisan-tulisan
yang dipakai di Gereja-gereja.
Dalam mempertimbangkan tulisan rasuli, Gereja menganggap Paulus sebagai salah
seorang rasul. Meskipun Paulus tidak berjalan bersama-sama dengan Kristus, Paulus
bertemu dengan Kristus dalam perjalanannya ke Damaskus. Aktivitas penginjilannya
yang tersebar luas – yang dibenarkan dalam Kisah Para Rasul – menjadikannya model
seorang rasul.
Setiap Injil harus dihubungkan dengan seorang rasul. Dengan demikian, Injil Markus
yang dihubungkan dengan Petrus dan Injil Lukas yang dihubungkan dengan Paulus,
mendapat tempat dalam kanon. Setelah para rasul wafat, orang-orang Kristen sangat
menghargai kesaksian yang ada dalam Injil ini , meskipun Injil ini tidak
mengungkapkan nama rasul yang terkait.
30
Tentang penggunaan tulisan di Gereja, petunjuknya ialah, "Jika banyak Gereja memakai
tulisan ini dan jika tulisan ini dapat terus-menerus meningkatkan moral
mereka, maka tulisan ini diilhami". Meskipun standar ini menunjukkan pendekatan
yang agak pragmatis, namun ada juga logikanya di balik itu. Sesuatu yang diilhami
Allah akan mengilhami juga para penyembah-Nya: Tulisan yang tidak diilhami pada
akhirnya akan lenyap juga.
Malangnya, standar-standar ini saja tidak cukup untuk menentukan sebuah kitab
sebagai kanon. Banyak tulisan ajaran sesat membawa-bawa nama rasul. Di samping itu,
ada Gereja-gereja yang memakai tulisan ini sedang yang lainnya tidak.
Menjelang akhir abad kedua, keempat Injil, Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus
sangat dihargai hampir di semua pelosok. Meskipun tidak pernah ada daftar "resmi",
Gereja-gereja cenderung berpaling pada tulisan-tulisan ini sebab dianggap memiliki
otoritas spiritual. Para uskup yang berpengaruh seperti Ignasius, Clemens dari Roma
dan Polikarpus telah menjadikan tulisan-tulisan ini mendapat pengakuan yang luas.
Namun perdebatan masih berlangsung terhadap Kitab Ibrani, Yakobus, 2 Petrus, 2 dan 3
Yohanes, Yudas serta Wahyu.
Ajaran sesat memiliki cara tersendiri untuk membuat orang-orang Kristen ortodoks
menjernihkan posisi mereka. Sejauh pengetahuan kita, upaya pertama membuat kanon
ini dilakukan Marcion (penganut ajaran sesat), yang mengikutsertakan hanya sepuluh
dari tiga belas surat-surat Paulus dan Injil Lukas yang telah diubah secara besar-besaran.
Di lalu hari, kelompok ajaran sesat ini menghargai buku "rahasia" mereka sendiri
yang biasanya mencantumkan nama-nama para rasul.
Daftar ortodoks mula-mula, yang disusun sekitar tahun 200, yaitu Kanon Muratori
Gereja Roma. Daftar ini meliputi sebagian besar Perjanjian Baru seperti pada masa kini,
dan menambahkan Wahyu Petrus dan Kebijaksanaan Salomo. Kumpulan yang muncul
di lalu hari telah menghapuskan satu buku dan membiarkan yang lain, namun
semuanya itu tetap mirip. Karya-karya seperti Gembala Hermas, Didache dan Surat
Barnabas sangat disanjung, meskipun banyak orang enggan mengakui buku itu sebagai
tulisan yang diiihami.
Pada tahun 367, Athanasius, uskup Alexandria yang ortodoks dan berpengaruh itu,
menulis Surat Paskah (Easter Letter) yang beredar cukup luas. Di dalarnnya ia
menyebut kedua puluh tujuh buku yang ada dalam Perjanjian Baru. Dengan harapan
mencegah jemaatnya dari kesalahan, Athanasius menyatakan bahwa tiada buku lain
dapat dianggap sebagai Injil Kristen, meskipun ia longgarkan beberapa, seperti Didache,
yang menurutnya, akan berguna bagi ibadah pribadi.
Kanon yang dibuat Athanasius tidak menyelesaikan masalah. Pada tahun 397, Konsili
Kartago mensahkan daftar kanon ini , namun Gereja-gereja wilayah Barat agak
lamban menyelesaikan kanon. Pergumulan berlanjut atas kitab-kitab yang
dipertanyakan, meskipun pada akhirnya semua pihak menerima Kitab Wahyu.
Pada akhirnya, daftar kanon yang dibuat Athanasius mendapat pengakuan umum, dan
sejak itu Gereja-gereja di seluruh dunia tidak pernah menyimpang dari kebijakannya.
31
13) Tahun 385 Uskup Ambrosius Menentang Ratu
Ambrosius, uskup Milan, tidak mengizinkan Kaisar Theodosius masuk gereja sebab
pelanggarannya memuja dewa-dewa di Konstantinopel.
Di Milan, prajurit-prajurit mengepung katedral. Uskup Ambrosius diperintahkan Ratu
Justina untuk melepaskan kendali atas gedung ini , namun ia menolak. Para
pengawal kaisar, orang Jerman, melaksanakan perintah itu dengan paksa. Orang-orang
Jerman ini bukan saja menunjukkan kesetiaannya yang lain, namun mereka juga
yaitu pengikut Arius, sedang sang uskup berpegang teguh pada ajaran Ortodoks
dari Konsili Nicea.
Banyak orang mengira bahwa akan ada suatu pembantaian umat yang berada di gedung
katedral itu, namun orang-orang yang menonton di luar gereja mendengar mazmur yang
berkumandang lewat udara. Kekuatan kekaisaran disambut dengan iman yang tenang.
Orang yang menjadi pusat pertikaian ini yaitu Uskup Ambrosius, salah satu pemimpin
Gereja yang tangguh, yang pernah dimiliki oleh Gereja, anak seorang pejabat tinggi
dalam pemerintahan Konstantinus. Pemuda Ambrosius sebenarnya dipersiapkan untuk
mengikuti jejak ayahnya. Setelah ia menyelesaikan studinya di bidang hukum, ia
ditunjuk sebagai Gubernur Milan dan daerah sekitarnya. Banyak orang menganggapnya
sebagai orang yang adil dan mampu menjadi pemimpin yang hebat.
saat Ambrosius memangku jabatan gubernur, orang yang menjadi uskup Milan
yaitu Auxentius, seorang pengikut Arius. Ia meninggal tahun 374, dan meledaklah
kerusuhan saat Gereja ingin memilih penggantinya. Sebagai seorang pejabat
pemerintah, Ambrosius pergi untuk melerai pertikaian ini .
Dari kerumunan massa, seseorang berteriak "Ambrosius saja uskupnya!" Yang lain
mendukung suara ini dengan gemuruh.
Masalahnya ialah, Ambrosius belum dibaptis. Meskipun ia telah lama percaya kepada
Kristus, ia masih seorang katekumen. Tidak masalah. Kehendak massa menyeretnya
untuk dibaptis dan melewati beberapa jenjang perantara. Delapan hari lalu ia
diangkat sebagai uskup Milan.
Arianisme kehilangan kekuasaan. Kaisar Timur terakhir, Valens, yang menjagoi aliran
itu, wafat pada tahun 378. Gratianus, Kaisar wilayah Barat, menunjuk Jenderal
Theodosius untuk memerintah belahan Timur kekaisaran ini dari Konstantinopel.
Pada tahun 380, kedua kaisar itu mengeluarkan perintah yang menyatakan kekristenan
Nicean sebagai agama resmi kekaisaran. Hal ini menjatuhkan sekte Aria secara efektif,
kecuali di daerah pesisir, di antara orang-orang Goth dan di antara anggota keluarga
kekaisaran. Ambrosius memangku jabatan barunya sebagai uskup dengan serius. Ia
mempelajari Kitab Suci dan para Bapa gereja dengan tidak henti-hentinya, dan ia pun
mulai berkhotbah setiap hari Minggu. Sesungguhnya ia seorang orator yang baik, dan
sekarang kata-katanya menyentuh lebih dalam lagi. Seseorang yang hidup pada
zamannya, Basilius dari Kaesarea, menggambarkan Ambrosius sebagai "seorang
terpelajar yang istimewa, keturunan tersohor, mulia dalam hidupnya dan memiliki
kemampuan berpidato yang cukup mengagumkan semua orang di dunia ini".
32
Salah seorang pengagumnya yaitu Augustinus, seorang penulis pidato. Orang muda
Kartago ini pernah mencoba-coba ajaran Manichaeisme dan dimanja oleh kaum kafir
Roma. la dikirim ke Milan sebagai seorang guru dan ahli pidato bagi kaisar remaja
Valentinianus II. Pada zaman dulu, kekuasaan kaisar berpusat di Milan, sementara senat
memegang tampuk pemerintahan di Roma. Para senator umumnya masih berpegang
pada cara-cara kafir Romawi, sedang para kaisar yaitu Kristen. Besar kemungkinan
Augustinus telah dikirim oleh para senator kafir untuk mempengaruhi kaisar muda itu.
Untuk kepentingan politik, Augustinus menjadi katekumen di Gereja Kristen. Dalam
proses itu ia berkenalan dengan Ambrosius dan terkesan akan kesederhanaan serta
wibawa uskup ini . Di lalu hari, dengan disaksikan seorang pembantu
Ambrosius, Augustinus dibaptis (bab selanjutnya menceritakan lebih banyak tentang
Augustinus).
Ambrosius juga dikenal sebagai seorang penulis lagu. Bahkan pada abad keempat,
musik dalam kebaktian menimbulkan kontroversi. Para kritikus khawatir eksperimen
musik Ambrosius akan membuat orang tergila-gila menyanyikan pujian saja.
sebab nya, tidaklah mengherankan bahwa saat Katedral Milan dikepung pada tahun
385, yang terdengar ialah puji-pujian. Besar kemungkinan salah seorang penyanyinya
yaitu Monica, ibunda Augustinus yang saleh.
Namun, ada wanita lain yang memicu konflik pada hari itu. Justina yaitu ibunda
Kaisar Valentinianus, yang juga merupakan penerus Gratianus sebagai penguasa
kekaisaran Romawi bagian Barat. Ia merupakan kekuasaan di belakang takhta
Valentinianus. la, sebagai seorang penganut ajaran Arius, ingin menuntut Katedral
Ambrosius dan gedung gereja lainnya di Milan untuk digunakan oleh jemaat Arian.
Ambrosius menolak. lalu kaisar mengirim pasukan. Maka banjir darah pun
hampir terjadi.
Namun lalu pasukan pun bubar. Tak seorang pun tahu sebabnya. Ada yang
berspekulasi bahwa mungkin Ambrosius berhasil mengirim berita itu kepada
Theodosius, seorang non-Arian yang gigih, yang memerintah bagian Timur. Mungkin,
pesan yang mengancam Valentinianus, tentang murka Theodosius, membuat bocah itu
menekan rencana ibunya, atau Justina mungkin hanya menggertak saja. Walau
bagaimanapun, Ambrosius berani menghadapi sidang kerajaan itu dan menang.
Di lalu hari, Ambrosius berani menghadapi seorang kaisar — kali ini Theodosius
sendiri. Kaisar ini telah bertindak berlebihan pada kerusuhan di Tesalonika,
dengan mengirim pasukan untuk membantai warganya. Ambrosius menganggap hal itu
yaitu perbuatan yang mengerikan. Ia mengucilkan Theodosius sampai ia menyesali
perbuatannya. Ini yaitu kesaksian akan keberanian Ambrosius dan kerendahan hati
Theodosius, bahwa ia kembali ke katedral dengan berpakaian goni dan berlutut di
hadapan sang uskup untuk minta pengampunan.
Pada suatu masa, Gereja berhadapan dengan penyiksaan para kaisar. Dengan
Ambrosius, pola yang berbeda antara gereja dan negara mulai berkembang.
33
14) Tahun 387 Pertobatan Agustinus
Aurelius Augustinus, Augustine of Hippo,
atau Saint Augustine (November 13, 354 – August 28, 430)
bersama ibunya Monica
"Tuhan, jadikan aku kudus, tapi jangan sekarang", doa seorang cendekia yang sedang
menjajaki agama Kristen dan juga banyak hal lain. Setelah menyerahkan dirinya kepada
Allah, ia tidak menghadapi masalah untuk hidup kudus dan menjadi salah seorang
penulis paling berpengaruh yang pernah dimiliki Gereja.
Orang yang rumit ini yaitu Aurelius Augustinus, yang lebih dikenal sebagai
Augustinus. Lahir pada tahun 354, di Tagaste, ibunya bernama Monica yaitu seorang
Kristen yang saleh. Ayahnya bernama Patricius, seorang kafir, pejabat Romawi.
Mengamati kecerdasan anak mereka, Monica dan Patricius menyekolahkan Augustinus
ke sekolah terbaik. Dia belajar ilmu retorika di Kartago dan diimbangi dengan membaca
karya para penulis Latin seperti Cicero. Berpegang pada keyakinan atas apa yang
dipelajarinya, bahwa kebenaran yaitu tujuan kehidupan, mulanya ia menolak
kekristenan sebab menurutnya itu yaitu agama bagi orang-orang bodoh.
Selama masa remajanya, Augustinus memiliki kekasih, seorang wanita yang lalu
memberinya seorang anak. Augustinus tidak suka mengenang masa-masa ia di Kartago.
Ia mengomentari hal itu dalam bukunya Confessions (Pengakuan), sebagai berikut,
"Aku datang ke Kartago, tempat aku tercebur ke dalam kancah nafsu yang membara."
Pemuda yang bergejolak ini pernah mencoba Manichaeisme, yang mengajarkan bahwa
dunia ini merupakan ajang pertempuran antara terang dan gelap, daging dan roh. Tapi
Manicheisme gagal memuaskan hasratnya akan kebenaran sejati. Begitu pula halnya
dengan Neoplatonisme.
Diburu oleh ketidakpuasan jiwanya sendiri, Augustinus berpindah-pindah dari Kartago
ke Roma lalu ke Milan untuk mengajar ilmu retorika. Perkenalannya dengan Uskup
34
Ambrosius di Milan menyadarkannya bahwa tidak semua orang Kristen berpikiran
bodoh; orang ini cerdas.
saat sedang duduk-duduk di sebuah taman di Milan pada tahun 387, ia mendengar
nyanyian anak kecil berkata, "Ambil dan bacalah; ambil dan bacalah." Augustinus
membaca yang ada di dekatnya: Surat Paulus kepada Jemaat Roma. Saat ia membaca
Roma 13:13-14, perkataan Paulus tentang mengenakan Tuhan Yesus sebagai
perlengkapan senjata terang dan tidak merawat tubuh untuk memuaskan nafsu, ia
percaya. Ia lalu menuliskan, "Seakan cahaya iman mnemenuhi hatiku dan segala
kabut keragu-raguan dilenyapkan."
Walau Augustinus merasa cukup dalam menjalani hidupnya sebagai biarawan, namun,
reputasinya sebagai seorang Kristen yang cerdas menyebar. Pada tahun 391 ia didesak
untuk ditahbiskan menjadi imam. Ia menjadi uskup di sebuah kota bernama Hippo di
Afrika Utara pada tahun 395.
Setiap kontroversi pada masa itu melibatkan Uskup Augustinus. Sekelompok orang
yang dikenal sebagai kaum Donatis merasa sangat prihatin dengan para rohaniwan yang
tak bermoral. Di bawah tekanan Kaisar Diocletianus, beberapa rohaniwan menyerahkan
kitab-kitab kepada pemerintah untuk dibakar. Beberapa dari para "penyerah" —
begitulah sebutan untuk mereka — ini diteguhkan kembali sebagai rohaniwan. Kaum
Donatis menolak para "pengkhianat" ini dan membuat Gereja tandingan. Ribuan orang
Donatis hidup di daerah kekuasaan Augustinus.
Augustinus menolak adanya Gereja tandingan. Meski hanya ada sedikit orang kudus
dalam gereja, katanya, Gereja yaitu satu. Sakramen, yang oleh Augustinus dikatakan
sebagai tanda kelihatan dari rahmat yang tak kelihatan, tidaklah efektif sebab kebajikan
sang imam, tapi sebab anugerah Allah bekerja melalui sakramen-sakramen. Pandangan
Augustinus unggul, dan Donatisme punah.
yaitu Pelagius, seorang guru kebangsaan Inggris, yang menyebarkan ajaran sesat
bahwa karya pencarian manusia dalam memilih dan mencari Allah sangat penting.
Meski rahmat Allah memegang peranan, tapi itu hukanlah semuanya. Pelagius tidak
mengatakan bahwa manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri, tapi dia menyangkal
bahwa dosa diturunkan dari Adam.
Augustinus membantah bahwa tidak ada yang dapat memilih kebaikan kecuali Allah
yang menuntunnya. Bahkan, Allah telah menetapkan pemilihan itu, orang tebusan-Nya,
dan tidak ada yang dapat dilakukan manusia untuk mengubah keputusan kekal ini .
Pada tahun 431, setahun setelah kematian Augustinus, Konsili Efesus secara resmi
mengutuk Pelagianisme.
Augustinus tidak hanya menentang ajaran sesat, ia juga menulis perjalanan rohaninya
sendiri dalam bukunya Confessions, yang boleh jadi merupakan autobiografi rohani
pertama. Kalimat terkenal "Hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam-Mu" berasal
dari paragraf pembukaannya.
sebab ajaran Augustinus sudah sebegitu mendasar bagi kekristenan, kita tidak
menyadari betapa orisinilnya ia pada masanya. Pemikirannya telah meresap sampai
pada para teolog Katolik dan Protestan. Luther dan Calvin acapkali menyitirnya; mereka
35
menyukai tekanannya pada rahmat Allah dan ketidakmampuan manusia untuk
menyelamatkan dirinya sendiri.
Augustinus telah menulis ratusan risalah, surat dan ulasan. Karya klasiknya On the
Trinity (Tentang Trinitas) mungkin merupakan karya terbaik berkenaan dengan hal itu.
Namun, karya terpentingnya ialah City of God (Kota Allah), sebuah karya monumental
berkenaan dengan jatuhnya Roma ke tangan orang-orang Visigoth. Banyak orang
menyalahkan orang-orang Kristen dengan mengatakan bahwa Roma jatuh sebab
rakyatnya telah mengabaikan para dewa asli mereka. Lalu Augustinus menjawab
dengan mempertahankan dan menjelaskan rencana serta karya Allah dalam sejarah.
Sejak Kain dan Habel, katanya, telah ada dua kota di dunia: Kota Allah (kaum beriman)
dan Kota Manusia (kaum kafir). Meski mereka saling berimpitan, Allah akan
memastikan bahwa Kota Allah, Gereja, akan bertahan selamanya.
Meski Augustinus menulis pada akhir zaman kuno, buah pikirannya mendominasi para
sarjana pada Abad Pertengahan sampai masa Reformasi.
36
15) Tahun 398 Yohanes Chrysostomus Menjadi Uskup Konstantinopel
Sebuah pergolakan tentang pajak membuat Yohanes Chrysostomus pertama kali
menjadi perhatian khalayak. Ia yaitu seorang imam di Antiokhia, saat Kaisar
Theodosius mengeluarkan peraturan pajak baru, tahun 387. Rakyat Antiokhia marah.
Mereka membuat kerusuhan, menyerang para pegawai kekaisaran dan merusak patung
Theodosius serta keluarganya, sebagai protes. Namun ketertiban dapat segera
dipulihkan, dan rakyat menunggu hukuman.
Flavianus, uskup di Antiokhia, bergegas menuju ibu kota, Konstantinopel, untuk
memohon belas kasihan kepada kaisar. Terdengar kabar bahwa Theodosius telah
mengirim tentara untuk membantai warga yang telah menyusahkannya. Sementara
uskup dan sekelompok biarawan memohon kepada kaisar, Yohanes mencoba
menenangkan massa. Dalam rangkaian dua puluh khotbah Homilies on the Statues
(Khotbah di Depan Patung), ia mengilhami, berkhotbah dan mengendalikan massa. Itu
yaitu khotbah profetik terbaik. Uskup kembali dengan berita pengampunan, dan
Yohanes mendesak rakyat mengubah hidup mereka agar menjadi lebih baik.
Ini bukanlah situasi politik panas terakhir yang dihadapi Yohanes. Dia menghadapinya
dengan keberanian, kesetiaan dan mungkin dengan sedikit kesombongan.
Mungkin ia mempelajari hal itu dari ibunya. Ayahnya yaitu seorang perwira militer
yang tewas tak lama setelah Yohanes lahir. Anthusa baru dua puluh tahun dan cantik,
tapi ia menolak semua lamaran yang ditujukan kepadanya agar ia dapat membesarkan
Yohanes dan kakak perempuannya sebaik mungkin. Dia berasal dari keluarga berada
dan mampu memberi pendidikan yang sangat bagus bagi Yohanes, termasuk belajar
ilmu retorika pada seorang guru kafir terkenal, Libanius. Yohanes juga mempelajari
hukum, tapi lebih tertarik menjalani kehidupan sederhana. Ia masuk biara tak lama
setelah kematian ibunya.
Yohanes kembali ke kota kelahirannya, Antiokhia, tahun 381 dan ditahbiskan menjadi
diaken. Uskup waktu itu rnenyadari kemampuan komunikasinya dan menjadikannya
imam serta pengkhotbah utama pada salah satu jemaat Antiokhia. Dalam kedudukannya
inilah ia menghadapi pergolakan mengenai pajak. Pada tahun-tahun berikutnya ia
semakin dikenali sebab kemampuannya berkhotbah. Begitulah ia mendapatkan julukan
Chrysostomus, dari Bahasa Yunani yang berarti "mulut emas".
Setelah mengikuti sekolah teologi Antiokhia, Yohanes melakukan pendekatan harfiah
terhadap Alkitab (bertentangan dengan interpretasi secara alegoris yang dilakukan
sekolah Alexandria). Dia juga menekankan sisi kemanusiaan Yesus pada saat orang lain
mengacuhkan hal itu. Chrysostomus mengkhotbahkan rangkaian panjang tentang pesan-
pesan Kitab Kejadian, Injil Matius, Yohanes dan Surat Roma, yang kebanyakan masih
kita miliki. la juga menulis tafsiran-tafsiran.
Tahun 397, keuskupan Konstantinopel kosong. Itu merupakan kedudukan terhormat di
ibu kota. Kaisar Arcadius memilih Yohanes si Mulut Emas itu, keputusan yang
lalu disesalinya.
Begitu populernya Yohanes di Antiokhia sehingga ia harus diculik untuk bisa sampai di
Konstantinopel. Namun ia baru dikukuhkan menjadi uskup di ibu kota tahun 398.
37
Pengukuhan dilakukan Uskup Theophilus dari Alexandria. Demi alasan politik,
Theophilus memicu masalah besar bagi Yohanes. Ia ingin Yohanes tunduk
kepadanya dan ia merasa iri sebab memperoleh kedudukan uskup hanya sebab
keahliannya berkhotbah. Theophilus juga menentang ajaran teologi Origenes yang
dianut Yohanes. Yohanes tidak melakukan apa-apa untuk menenangkan Theophilus.
Yohanes mencoba melayani lingkungan kaum Gothic di kota, menerima mereka namun
tetap menolak aliran sesat Arius yang mereka anut. Ia juga berkhotbah menentang keras
segala perbuatan dosa yang dilihatnya – dan ia melihatnya terjadi di antara para
rohaniwan. Imam-imam terlibat dalam hal-hal amoral, dan dia berniat
menghentikannya. Melalui khotbahnya, dia juga menentang cara berpakaian para wanita
di Konstantinopel yang tidak senonoh. Entah sengaja atau tidak, Ratu Eudoxia merasa
tersinggung mendengar kata-katanya.
Theophilus mendapat kesempatan saat Yohanes menerima empat biarawan yang
belajar di Alexandria (mereka yaitu penganut teologi Origenes). Uskup dari
Alexandria berkunjung ke Konstantinopel dan mengumpulkan musuh-musuh Yohanes.
Mereka mengadakan pertemuan pada tahun 403 di sebuah tempat bernama Oak, serta
mengutuk ajaran-ajaran Yohanes dan mengusirnya dari gereja.
Akan namun Eudoxia yang percaya takhayul, ketakutan setelah terjadi beberapa bencana,
seperti gempa yang melanda istana selang beberapa waktu setelah pertemuan itu.
Dengan segera dia meminta kaisar membatalkan keputusan pertemuan ini . Setahun
lalu Yohanes dibawa kembali. Tanpa takut, ia terus mengemukakan pendapatnya
– terutama saat patung Eudoxia didirikan di sebelah katedral.
Ratu marah. Bala tentara kekaisaran menghentikan sebuah ibadah Paskah, dan beberapa
pengikut Yohanes dibunuh. Yohanes diusir dalam pengasingan, di suatu tempat yang
suram dekat Armenia, yang disebut Cucusus. Paus Innocentius I memprotes perlakuan
ini namun sia-sia. Kaisar bagian Timur memperoleh kemauannya sendiri. Dalam
pengasingannya pun Yohanes terus mengadakan hubungan dengan para pengikutnya,
memberi petunjuk tentang hal-hal gerejawi. Maka sang kaisar memutuskan untuk
membuangnya lebih jauh lagi.
Begitulah cara Yohanes menemui ajalnya pada tahun 407, yaitu saat mengadakan
perjalanan ke pengasingan yang lebih jauh. Beberapa dekade berikutnya, Paus
Innocentius berupaya menjernihkan nama Yohanes dengan mendesak Uskup
Theophilus dan yang lainnya untuk menyertakan Yohanes dalam daftar orang-orang
yang didoakan Gereja.
Warisan yang ditinggalkan Yohanes ialah khotbahnya yang baik. Ia memajukan
eksposisi harfiah Alkitab gaya Antiokhia, dan ia merupakan salah satu pemimpin Gereja
(bersama dengan Ambrosius) yang dengan berani menghadap para penguasa dan
menyerukan, "Demikianlah firman Tuhan ..." Pada masa-masa kritis dalam sejarah
Gereja, orang lain pun akan menyerukan hal yang sama.
38
16) Tahun 405 Hieronimus Menyelesaikan Vulgata
'St. Hieronymus' dalam lukisan Caravaggio, circa 1601
St. Jerome (Eusebius Hieronymus), c.347-420 yaitu seorang penerjemah Alkitab ke
dalam bahasa Latin yang dikenal dengan VULGATA. Sejak awal, Gereja telah
menyetujui pentingnya penerjemahan Alkitab. Meskipun Perjanjian Baru dalam bahasa
Yunani yang umum telah dimengerti secara luas di Kekaisaran Roma, tidak setiap orang
mengetahui bahasa ini . Gereja juga memiliki tujuan agar setiap insan dapat
dijangkau Injil.
Penerjemahan awal telah muncul dalam berbagai bahasa, terutama bahasa Latin (yang
lambat-laun menjadi bahasa kekaisaran), Siria dan Koptik. Kita dapat mengagumi
semangat para penerjemah terdahulu, meskipun sayang, mereka tidak selalu fasih dalam
bahasa Yunani.
Dari tahun 366 sampai dengan 385, Damasus menjadi uskup Roma. Meskipun
keuskupan Roma sangat dihormati, keuskupan itu tidak pernah meraih kekuasaan
melampaui keuskupan-keuskupan lain, dan Damasus senang kekuasaan. Ia ingin
membebaskan kekristenan Barat dari dominasi Timur. Sejak lama bahasa Yunani telah
menjadi bahasa yang telah diterima di gereja, namun Damasus ingin bahasa Latin yang
menjadi bahasa gereja Barat. Satu-satunya jalan untuk mencapai hal ini ialah
menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Latin.
Nama sekretaris Damasus ialah Eusebius Hieronimus Sophronius (di gereja yang
berbahasa Inggris ia lebih dikenal dengan nama Jerome). Ia terdidik dalam kesusastraan
Latin dan Yunani klasik, dan Hieronimus marah pada dirinya sendiri sebab
kegemarannya terhadap penulis-penulis sekular. Untuk menghukum dirinya ia
menjalani kehidupan yang menolak hal-hal duniawi dan menyendiri ke Siria untuk
mempelajari bahasa Ibrani. saat ia menjadi sekretaris Damasus. Hieronimus telah
menjadi salah seorang terpelajar yang terhebat.
Maka Damasus pun menyarankan agar sekretarisnya mempersiapkan terjemahan
Alkitab dalam bahasa Latin untuk menggantikan ketidaktepatan terjemahan-terjemahan
lama. Damasus menginginkan keseragaman. Sama seperti kebaktian di gereja-gereja
yang dibakukan di bawah kekuasaannya, ia menginginkan kumpulan baku Kitab Suci.
Hieronimus mengawali karyanya pada tahun 382. saat Damasus meninggal pada
tahun 384, Hieronimus agaknya memupuk keinginan untuk menjadi uskup di Roma.
39
sebab ia kecewa tidak dipilih menjadi uskup Roma, dan sebab ia sendiri ingin
menjauhkan diri dari gangguan masalah ini, maka ia pindah dari Roma ke Tanah Suci,
dan berdiam di Bethlehem. Pada tahun 405 ia menyelesaikan terjemahan ini. Namun,
bukan itu raja tugasnya. Selama dua puluh tiga tahun itu, ia juga membuat berbagai
ulasan dan tulisan lainnya serta bertindak sebagai penasihat spiritual bagi para janda
kaya dan sangat saleh. Ia terlibat dalam setiap pertikaian teologi pada zamannya,
menulis surat-surat dengan bahasa indah – dan acap kali pedas – yang hingga saat ini
merupakan bacaan yang mengesankan.
Hieronimus memulai penerjemahannya dari Septuaginta, versi Perjanjian Lama Yunani.
Namun, ia segera menjadi teladan bagi semua para penerjemah Perjanjian Lana yang
baik: menerjemahkannya dari bahasa lbrani asli. Untuk ketepatan terjemahan, ia
berkonsultasi dengan banyak rabi Yahudi.
Hieronimus sungguh terperanjat dengan fakta bahwa Kitab Suci bahasa Ibrani tidak
mencakup kitab-kitab apa yang kita sebut Apokrif. sebab kitab-kitab ini telah
disertakan dalam Septuaginta, Hieronimus terpaksa menyertakannya dalam
terjemahannya. Namun, ia memperjelas maksudnya: Ini yaitu liber ecclesiastici
('kitab-kitab Gereja"), bukan liber Canonici ("kitab-kitab kanon"); meskipun kitab-kitab
Apokrif dapat dipakai untuk pembinaan, namun tidak dapat mengukuhkan doktrin.
Ratusan tahun lalu , para pemimpin reformasi bertindak selangkah lebih maju
dengan tidak menyertakannya sama sekali dalam Alkitab Protestan.
Perpustakaan ilahi, begitulah Hieronimus menjuluki Alkitab, akhirnya tampil dengan
penulisan yang baik, versi yang akurat dan dalam bahasa yang umumnya dipakai di
gereja-gereja Barat. Kitab ini dikenal dengan narna Vulgata (dari istilah Latin
vulgus, "umum"). Pengaruh Hieronimus yang sangat besar itu membuat para ahli Abad
Pertengahan menyanjung tinggi terjemahannya. Martin Luther, yang tahu bahasa Ibrani
dan Yunani, mengutip dari Vulgata sepanjang hidupnya.
sebab karya Hieronimus memiliki meterai tanda sah dari Gereja, para penerjemah
lainnya tidak berpeluang mengikuti jejaknya. Sampai pada Reformasi, hanya beberapa
terjemahan saja yang terdapat dalam bahasa-bahasa Eropa pada umumnya. Bahkan
lalu , para penerjemah berpaling pada Vulgata dibandingkan memakai Perjanjian
Baru yang ada dalam bahasa Yunani.
Ironisnya, terjemahan Alkitab dalam bahasa yang dapat digunakan di setiap gereja Barat
inilah yang mungkin memicu baik kebaktian maupun Alkitab itu sendiri tidak
dapat dimengerti orang awam. Terjemahan Hieronimus telah rnernberi bahasa Latin
dorongan yang diinginkan Damasus, namun Vulgata dikeramatkan sedemikian rupa
sehingga penerjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa umum dilarang.
40
17) Tahun 432 Patrick Berangkat sebagai Misionaris ke Irlandia
Pendaratan Patrick dalam kunjungan misionernya yang pertama di Irlandia pada tahun
432
Seorang bekas budak yang bahkan tidak lahir di Irlandia bisa menjadi saksi Kristen
yang sangat berhasil di negeri itu.
Sekitar tahun 390, Patrick lahir di Britania Romawi, sebagai putra keluarga Kristen.
Meskipun saat masih bocah Patrick tidak begitu serius dengan imannya, namun pada
umur enam belas tahun, saat dia ditangkap, dijadikan budak dan dikirim ke sebuah
ladang di Irlandia Utara sebagai gembala babi, dia mulai bedoa dengan tekun. saat
melarikan diri dari perbudakannya, Patrick berjalan kaki sejauh dua ratus mil menuju
pantai. Di sana ia menumpang sebuah kapal yang membawa muatan anjing. Ia berlayar
ke Perancis dan ke biara Mediterania.
saat ia kembali ke negeri asalnya, Patrick bermimpi anak-anak Irlandia memintanya
membawakan Injil kepada mereka, "Kami memohon kepada Anda agar datang kemari
dan berjalan bersama-sama kami sekali lagi." sebab ia merasa bahwa ia tidak
memiliki pengertian memadai tentang iman, ia kembali ke Perancis untuk belajar di
sebuah biara. Sekitar tahun 432 ia kembali ke Irlandia.
Beberapa tahun sebelumnya, biarawan Inggris Palladius, telah berupaya membuat
orang-orang Irlandia bertobat namun tanpa hasil yang berarti. Tahun-tahun perbudakan
Patrick di antara orang-orang Irlandia agaknya telah mempersiapkannya menjadi orang
yang berani, memahami orang-orang ini dan bagaimana berkhotbah kepada mereka.
Sebagian besar legenda menutupi kehidupan Patrick ini , dan banyak desa
menceritakan pelayanannya di sana. Kita tahu bahwa misionaris ini telah
menobatkan sebagian besar orang-orang Irlandia menjadi Kristen, mendirikan kira-kira
300 buah gedung gereja dan membaptis sekitar 120.000 orang. Meskipun Patrick
bertikai dengan para kepala suku yang kurang ramah dan para Druid – mereka yang
memelihara paganisme kuno – "rakyat jelata mendengarkan dia dengan senang hati".
Dalam pertobatan, tidak seorang pun dari suku yang senang bertikai ini menjadi martir.
Dengan memakai alam yang pernah disembah mereka, Patrick membandingkan
Trinitas dengan shamrock (daun bercabang tiga – lambang Irlandia) sebagai contoh.
Orang-orang Irlandia memahami Patrick sebagai orang yang bertindak untuk Tuhan
saat ia "mengusir agama palsu dan mendirikan kebenaran". Dapat ditemui di dalam
legenda bahwa ia telah mengusir ular-ular dari Irlandia.
41
Setelah melayani selama tiga puluh tahun tanpa mementingkan diri sendiri, Patrick
wafat sekitar tahun 460. la telah meninggalkan bagi kita beberapa tulisan pendek,
termasuk kidung "I bind unto myself today" (dikenal sebagai Patrick's Breastplate).
Bertahun-tahun lalu , saat para misionaris dari gereja Barat datang ke Irlandia,
mereka menemukan keyakinan Irlandia yang bertumbuh subur. Para pastor dan
biarawan Irlandia yaitu orang-orang terpelajar dan misionaris hebat, dan Gereja
memiliki dampak mendalam atas rakyat jelata. Para biarawan hidup sederhana,
mengabdikan hidupnya acapkali dalam keadaan-keadaan kurang ramah. Meskipun biara
mereka merupakan bangunan batu yang tidak mencolok, penuntutan ilmu dan seni lukis
(sebagai contoh, Book of Kells yang indah) menunjukkan kesalehan para biarawan yang
menakjubkan. Sesungguhnya, kesalehan itu menjangkau seluruh Eropa saat mereka
membawa Firman itu keluar.
Gereja di Irlandia telah berkembang di luar sistem hierarki Roma, sebab Patrick
menginjili negeri itu tanpa bergantung pada gereja yang sudah mapan. Gereja Irlandia
diorganisasikan di sekitar biara-biara, yang mencerminkan sistem kesukuan negeri itu.
sebab tidak berhasrat mengokohkan birokrasi Gereja, para kepala biara Irlandia
mendorong para biarawan untuk "benar-benar menekuni urusan Gereja" – berkhotbah,
belajar dan melayani orang miskin.
Irlandia sesungguhnya tidak menjadi Katolik hingga tahun 1100-an, saat paus
memberi Raja Inggris, Henry II, kedaulatan atas Irlandia. Gereja Katolik, yang
mengagumi cara Patrick menobatkan orang orang Irlandia, menjadikan dia sebagai
seorang santo.
42
18) Tahun 451 Konsili Chalcedon
Meskipun Konsili Nicea telah menyatakan bahwa Yesus yaitu sepenuhnya Allah,
namun Gereja masih harus mengerti kodrat manusiawi-Nya. Bagaimana pula
kemanusiaan dan ke-Allah-an berpadu dalam diri Sang Putra?
Jawabannya muncul melalui salah satu permainan kekuasaan yang paling panas di
Gereja. saat Gereja mulai berkuasa, kota-kota utama kekaisaran memiliki pengaruh
teologis yang besar. (Akibatnya, para uskup agung disebut patriarkh.) Alexandria dan
Roma umumnya cenderung berada di pihak yang sama dalam berbagai masalah,
berseberangan dengan Antiokhia dan Konstantinopel. Perpaduan politik dan teologi
menjadi kuat.
Mazhab filsafat Alexandria menunjukkan pengaruh Yunaninya. Banyak orang di
Alexandria memiliki Tatar belakang filsafat Yunani. Secara teologis mereka percaya
bahwa Yesus yaitu manusia sepenuhnya, namun mereka cenderung menekankan
Kristus sebagai Firman (Logos) Ilahi, melebihi Yesus manusia. Hal ini cenderung
meniadakan kemanusiaan Yesus dalam keilahian-Nya. Salah seorang pendukung utama
Alexandria, Apolinarius, bertikai dengan sengit melawan ajaran sesat seperti Arianisme
dan Manichaeisme. namun saat ia bersikeras bahwa pada inkarnasi, Logos llahi
menggantikan jiwa (roh) manusia-Nya, dengan demikian kemanusiaan Kristus hanyalah
sebatas badan, maka ia pun tergelincir dalam kekeliruan. Pada tahun 381 konsili
oikumenis kedua mengutuk ajarannya. Mazhab Antiokhia cenderung memfokuskan diri
pada Yesus sebagai manusia. Meskipun Yesus itu ilahi adanya, kata mereka,
kemanusiaan-Nya sempurna dan normal.
saat Nestorius, patriarkh Konstantinopel, terlibat dalam perdebatan atas pemujaan
Maria, ia menyerang kedudukan Apollinarius. Baginya, ide bahwa Maria telah
"melahirkan Allah" mencampakkan pandangan Apollinarius. Cyrillus, patriarkh
Alexandria yang menginginkan kuasa Konstantinopel goyah, menuduh patriarkh
ini pernah mengatakan Yesus yaitu dua hakikat yang terpisah dalam satu tubuh.
Pada tahun 431, dalam konsili oikumenis ketiga di Efesus, Cyrillus berencana membuat
Nestorius dipecat sebelum dia dan pendukungnya tiba. saat gerejawan yang hilang itu
tiba, di bawah pimpinan Yohanes, patriarkh Antiokhia, mereka mengutuk Cyrillus dan
43
para pengikutnya. Kaisar Theodosius, yang mengadakan konsili itu, atas desakan
mereka mengasingkan Nestorius.
Pada situasi yang berubah-ubah ini, bergabunglah seorang biarawan yang menekankan
ajaran Aleksandria yang mengarah pada aliran sesat. Eutyches, kepala sebuah biara
dekat Konstantinopel mengajarkan ajaran yang dikenal sebagai Monophysitisme (mono
artinya "satu" dan physis artinya "kodrat"). Ajaran ini berkata bahwa kodrat Kristus
telah hilang dalam keilahian, "seperti setetes madu yang jatuh dalam Taut, larut di
dalamnya".
Patriarkh Flavianus dari Konstantinopel mengutuk Eutyches sebagai seorang pengajar
sesat, namun Patriarkh Dioscurus dari Alexandria mengangkatnya. Atas permintaan
Dioscurus, Theodosius mengadakan satu konsili lagi, yang berlangsung di Efesus pada
tahun 449. Dalam persidangan itu dinyatakan bahwa Eutyches tidak sesat, namun
banyak Gereja menyatakan konsili ini tidak sah. Paus Leo mencapnya sebagai
"sinode perampok" dan konsili ini tidak dianggap sebagai konsili oikumenis yang
sah.
Leo meminta kepada kaisar agar diadakan satu konsili lagi, yang mewakili Gereja
secara menyeluruh. Konsili itu mengambil tempat di Chalcedon, dekat Konstantinopel,
pada tahun 451. Konsili itu mengundang lebih dari empat ratus uskup, melebihi konsili-
konsili sebelumnya.
Dioscurus tampak muram. Sekarang ia dikucilkan sebab kelakuannya pada







