Kamis, 16 Juli 2026

Sejarah kristen 2


Ti dak dapat menjalankan kehidupan Kristen 

melalui kontak langsung dengan Allah; ia membutuhkan Gereja. sebab  Kristus 

mendirikan Gereja di atas Petrus, si Batu Karang, Cyprianus berkata bahwa semua 

uskup dalam arti tertentu yaitu  penerus Petrus — dan oleh sebab nya harus dipatuhi. 

Meskipun ia tidak menyatakan bahwa uskup Roma berada di atas para uskup lainnya, 

namun Cyprianus memandang keuskupan itu sebagai sesuatu yang khusus sebab  

hubungan Petrus dengan kota ini .  

Pernyataan-pernyataan Cyprianus seperti "di luar gereja tidak ada keselamatan" dan 

"seseorang tidak dapat mengatakan Allah sebagai Bapanya tanpa mengakui Gereja 

sebagai ibunya", telah mendorong orang-orang memberi tempat yang amat panting bagi 

para uskup. Seorang uskup dapat menentukan keanggotaan gereja. Akibatnya, ia 

berkuasa mengatakan "engkau telah diselamatkan", "engkau belum diselamatkan". 

Bukannya meyakini bahwa Roh (Kudus) bekerja melalui gereja, Cyprianus justru 

mengisyaratkan bahwa Roh (Kudus) bekerja melalui para uskup.  

Dengan diterimanya ide ini, tentu saja, para uskup mendapat kuasa lebih besar. 

Cyprianus juga mencetuskan ide bahwa misa yaitu  pengorbanan tubuh dan darah 

Kristus. sebab  para imam menjalankan fungsinya dalam ibadah atas nama Kristus, 

maka hal ini pun meningkatkan kuasa mereka.  

Cyprianus meninggal sebab  penyiksaan Kaisar Valerianus. sebab  ia menolak 

melakukan persembahan korban bagi dewa-dewa kafir, maka kepala Uskup Kartago itu 

dipenggal pada tahun 258.  

sebab  terancam perpecahan, Gereja pada masa Cyprianus berpegang pada ide-idenya. 

Uskup ini  tentunya tidak menduga akibat dari cara-cara yang dirintisnya untuk 

mempersatukan gereja. Pada Abad Pertengahan, beberapa uskup yang rakus dan tidak 

bermoral memakai  kuasanya untuk kepentingan pribadi, ketimbang untuk hal-hal 

rohani. Struktur hierarki yang menciptakan "persatuan" juga telah memicu  

keretakan di antara rohaniwan dan kaum awam. 

 22

9) Tahun 270 Antonius Memulai Hidupnya sebagai Pertapa  

 

Santo Antonius Meninggalkan Biaranya. DiLukis oleh Sassetta.  

Salah seorang pendiri terpenting komunitas biara sebenarnya tidak punya ide untuk 

mendirikan apa pun. Ia hanya peduli pada kondisi spiritualnya sendiri dan 

menghabiskan sebagian besar waktunya seorang diri.  

Antonius lahir di Mesir sekitar tahun 250, dalam keluarga kaya. saat  ia berumur dua 

puluh tahun, orang tuanya wafat, meninggalkan seluruh harta untuknya. Sebuah teks 

khotbah yang merupakan perintah Yesus kepada pengusaha muda yang kaya, "Jika 

ingin memperoleh hidup yang kekal, pergi dan juallah segala yang kau miliki ...", telah 

mengubah hidup anak muda ini. Kata-kata ini  seolah-olah ditujukan kepadanya, 

dan Antonius pun mengartikannya secara harfiah. Ia membagikan tanah miliknya 

kepada orang-orang sekampung, menjual harta lainnya dan menyumbangkan uangnya 

kepada orang-orang miskin. Ia berguru pada seorang Kristen yang sudah berumur, dan 

belajar tentang sukacita penyangkalan diri. Antonius makan hanya satu kali sehari, yang 

terdiri dari roti dan air, serta tidur di atas lantai tidak beralas.  

Dengan pertobatan Kaisar Konstantinus pada tahun 312, situasi gereja berubah drastis. 

Kedudukan orang Kristen tidak lagi sebagai kaum minoritas yang buronan, namun  telah 

menjadi penganut suatu agama yang terhormat dengan dukungan resmi. sebab  

besarnya jumlah orang yang masuk gereja, maka tidak mudah lagi untuk mengenal 

orang-orang yang benar-benar memiliki komitmen pada Kristus dengan mereka yang 

datang hanya untuk dikenal sebagai bagian dari agama yang populer ini. Mudah 

percaya, namun belum tentu setia dalam penderitaan.  

Orang-orang Kristen sejati pada zaman ini lebih memilih melawan (arus) dibandingkan  

mengkompromikan keyakinan mereka, dengan meninggalkan (kehidupan) duniawi. 

Maka Antonius pun memilih sebuah kuburan sebagai tempat tinggalnya. Menurut 

penulis biografinya, Athanasius, Antonius selama lebih kurang dua belas tahun 

"ditawan" setan-setan yang mengambil bentuk bermacam-macam binatang buas dan 

terkadang menyerang dia serta meninggalkannya dalam keadaan hampir mati. Mereka 

mencoba menggoba Antonius untuk masuk ke dalam dunia maksiat, namun  Antonius 

selalu menang.  

 23

Untuk lebih menjauhkan diri dari dunia ini, Antonius pindah ke sebuah benteng yang 

telah ditinggalkan. Di sana ia tinggal selama dua puluh tahun tanpa menemui seorang 

manusia pun. Makanan untuknya dilemparkan melalui tembok. Namun orang-orang 

telah mendengar penyangkalan dirinya dan pergumulannya dengan setan. Beberapa 

pengagumnya mendirikan pondok-pondok sementara dekat benteng ini , dan ia pun 

dengan rasa segan menjadi penasihat spiritual mereka dengan memberi  petunjuk 

dalam hal berpuasa, berdoa dan kegiatan-kegiatan amal. Antonius, dengan sendirinya 

telah menjadi panutan dalam penyangkalan diri.  

Pertapa ini tidak pernah dapat melepaskan dirinya secara penuh dari dunia. Pada tahun 

311, Maximianus, salah seorang kaisar kafir terakhir, menganiaya orang-orang Kristen, 

dan Antonius pun meninggalkan kediamannya untuk mati bagi keyakinannya. namun  ia 

akhirnya malah melayani orang-orang Kristen terhukum yang dipekerjakan di tambang-

tambang kekaisaran. Pengalaman ini meyakinkannya bahwa hidup secara Kristen pun 

sama salehnya dengan mati untuknya (agama Kristen). Sekali lagi, pada tahun 350, ia 

meninggalkan kediamannya untuk membela ortodoksi melawan ajaran sesat Arius, yang 

dipicu Konsili Nicea (325). Orang-orang, termasuk Kaisar Konstantinus meminta 

nasihat spiritual dari sang pertapa ini.  

Antonius wafat pada usia 105 tahun dan sampai pada akhir hayatnya, ia berada dalam 

keadaan sehat pikiran dan jasmani. Untuk mencegah berkembangnya pemujaan di 

kuburannya, ia meminta agar ia dikubur secara diam-diam.  

Namun, pemujaan yang ditakutkannya tetap berkembang. Athanasius – teolog 

berpengaruh yang peranannya penting dalam Konsili Nicea telah menulis buku 

"Kehidupan Antonius" (Life of Anthony) yang sangat populer. Di dalamnya ia 

menggambarkan Antonius sebagai seorang rahib ideal, yang dapat melakukan keajaiban 

dan yang dapat mengenal roh jahat serta roh baik. Tidak lama lalu , kisah seorang 

pahlawan spiritual yang telah menjadi rahib dan telah menyangkali dirinya pun mulai 

mempengaruhi Gereja.  

Praktik komunitas rahib yang hidup bersama telah dirintis Pachomius, seorang teman 

Antonius. Seperti Antonius yang kuat dan ulet, sebagian besar pengikutnya memilih 

menjadi rahib. Antonius telah menyampaikan ide bahwa pribadi religius yang sejati 

akan mengundurkan diri dari kehidupan dunia dengan menjauhkan diri dari hidup 

berkeluarga dan kenikmatan duniawi.  

Hingga era Reformasi, ide ini tidak pernah mendapat tantangan serius. 

 24

10) Tahun 312 Pertobatan Konstantinus  

 

Patung Kaisar Konstantinus  

saat  itu bulan Oktober tahun 312. Seorang jenderal muda yang dipatuhi prajurit 

Roma yang ada di Inggris dan Perancis, berderap menuju Roma untuk menantang 

Maxentius, yang juga berupaya untuk naik takhta.  

Seperti dikisahkan, Jenderal Konstantinus menatap ke langit dan melihat cahaya 

berbentuk salib. Di situ terdapat tulisan yang berbunyi "Bersama ini taklukkanlah". 

Prajurit yang percaya takhayul ini sebenarnya sudah enggan memuja dewa-dewa Roma 

dan memilih memuja dewa tunggal. Ayahnya yaitu  pemuja dewa matahari. 

Mungkinkah ini merupakan pertanda dari dewa ini  pada malam sebelum 

pertempuran itu?  

Di lalu  hari, Kristus muncul dalam mimpinya, dengan tanda yang sama, sebuah 

salib yang agak lengkung di atasnya yang menyerupai huruf-huruf Yunani chi dan rho, 

dua huruf pertama dari kata Christos. Jenderal ini  diperintahkan untuk membuat 

tanda ini pada perisai-perisai para prajuritnya. Ia melakukannya.  

Seperti yang dijanjikan, Konstantinus pun memenangkan pertempuran ini . Ini 

yaitu  salah satu momentum menentukan bagi perubahan dahsyat dalam kurun waktu 

seperempat abad. Jika Anda meninggalkan Roma pada tahun 305 M., tinggal di padang 

pasir, dan dua puluh tahun lalu  Anda kembali, Anda akan mengira bahwa 

kekristenan telah punah sebab  penganiayaan. namun  ternyata sebaliknya, kekristenan 

telah menjadi agama yang sangat digemari.  

saat  Diocletianus, salah seorang dari para kaisar yang amat brilian, mengambil 

tampuk kekuasaan pada tahun 284, ia mulai menata kembali pengaturan kemiliteran, 

ekonomi dan kepamongprajaan secara besar-besaran. Untuk sementara waktu ia tidak 

menyinggung orang-orang Kristen.  

Salah satu ide Diocletianus yang dahsyat ialah rnenata ulang struktur kekuasaan 

kekaisaran. Ia membagi wilayah kekaisaran Roma dalam dua wilayah yaitu Timur dan 

Barat, dan setiap wilayah berada di bawah kekuasaan seorang kaisar serta seorang wakil 

kaisar. Setiap kaisar akan berkuasa selama dua puluh tahun, lalu  para kaisar yang 

akan mengambil-alih selama dua puluh tahun, dan seterusnya. Pada tahun 286, 

 25

Diocletianus mengangkat Maximianus sebagai kaisar wilayah Barat, sedang ia sendiri 

memerintah wilayah Timur. Para kaisarnya ialah Konstantius Khlorus (ayah 

Konstantinus) di Barat dan Galerius di Timur.  

Galerius sangat anti-Kristen (menurut laporan, ia melempar kesalahan akan 

kekalahannya pada suatu pertempuran sebab  seorang prajurit Kristen membuat tanda 

salib). Mungkin sebab  hasutan Galerius juga, maka kaisar wilayah Timur mengambil 

sikap anti-Kristen. Itu semua merupakan bagian dari penataan ulang kekaisaran 

sehingga Roma memiliki  mata uang yang seragam, sistem politik yang seragam dan 

harus memiliki  agama yang seragam pula. Untuk itu, orang-orang Kristen merupakan 

penghalang.  

Mulai tahun 298, orang-orang Kristen diberhentikan dari kemiliteran dan jabatan-

jabatan pamong praja. Pada tahun 303, pembantaian besar pun dimulai. Para penguasa 

merencanakan untuk mulai dengan pembantaian orang-orang Kristen pada Hari Raya 

Terminalia, tanggal 23 Februari. Gereja-gereja dihancurkan, Alkitab dirampas dan 

kebaktian dilarang. Pada awalnya tidak ada pertumpahan darah, namun Galerius segera 

mengubah keadaan. Sesuai jadwal, saat  Diocletianus dan Maximianus turun takhta 

pada tahun 305, Galerius mengadakan pembantaian yang lebih ganas. Konstantius, yang 

memerintah wilayah Barat, umumnya lunak. namun  cerita-cerita yang mengerikan dari 

Timur amat banyak. Pembantaian ini  berlanjut sampai tahun 310, dan banyak 

orang Kristen menjadi martir pada peristiwa ini .  

Namun, Galerius tidak berhasil menghancurkan Gereja. Anehnya, dalam keadaan 

sekarat ia berubah pikiran. Pada tanggal 30 April 311, Galerius yang ganas itu 

menyerah. Ia berhenti memerangi orang-orang Kristen dengan mengeluarkan 

Edik/Maklumat Kebebasan Beragama (Edict of Toleration). Sebagai seorang politisi, ia 

menekankan bahwa ia telah berbuat segala sesuatu untuk kekaisaran, namun, "sejumlah 

besar" orang Kristen saat  itu tetap "berpegang pada tekad mereka". Maka, sekarang 

sudah waktunya memberi mereka kebebasan berkumpul, selama mereka melakukannya 

dengan tertib. Selanjutnya ia menyerukan juga bahwa yaitu  "kewajiban mereka untuk 

berdoa kepada dewa mereka untuk kebaikan negara kita". Roma membutuhkan semua 

bentuk pertolongan yang memungkinkan. Galerius wafat enam hari lalu .  

Namun, skema Diocletianus menjadi berantakan. Setelah Konstantius wafat tahun 306, 

putranya, Konstantinus dinyatakan sebagai penguasa oleh para prajurit yang setia 

kepadanya. namun , Maximianus yang sudah pensiun berupaya kembali dan memerintah 

lagi wilayah Barat bersama-sama dengan putranya, Maxentius (yang akhirnya melucuti 

kekuasaan ayahnya sendiri). Sementara itu, Galerius telah menunjuk Licinius, jenderal 

kesayangannya, sebagai penguasa wilayah Barat.. Masing-masing calon penguasa ini 

menuntut hak atas sebagian wilayah Barat ini. Mereka harus berperang untuk itu. 

Dengan cerdik, Konstantinus bergabung dengan Licinius dan bertempur melawan 

Maxentius. Pada pertempuran Milvian Bridge, Konstantinus menang.  

Di sana, Konstantinus dan Licinius menunjukkan kekuatan berimbang. Konstantinus 

sangat berhasrat mengucapkan syukur pada Kristus, oleh sebab nya ia tergerak untuk 

memberi  kebebasan dan status bagi Gereja. Pada tahun 313, ia bersama-sama 

Lucinius secara resmi mengeluarkan Edik Milano (Edict of Milan) yang menjamin 

kebebasan beragama di seluruh kekaisaran. Instruksi ini  berbunyi: "Tujuan kita 

ialah untuk mengizinkan baik orang-orang Kristen maupun yang lain dengan bebas 

beribadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing."  

 26

Segera Konstantinus menaruh perhatian pada Gereja, memulihkan harta, 

menyumbangkan uang, mengendalikan kontroversi dengan kaum Donatis serta 

mengadakan konsili-konsili Gereja di Arles dan Nicea. la juga berebut kekuasaan 

dengan Licinius, yang ia gulingkan pada tahun 324.  

Dengan demikian Gereja tidak lagi menjadi sasaran serangan, melainkan mendapat 

perlakuan istimewa. Dalam waktu yang sangat singkat, prospeknya berubah sama 

sekali. Setelah berabad-abad lamanya sebagai gerakan kebudayaan tandingan, Gereja 

diharuskan belajar cara menangani kekuasaan. Namun, semuanya tidak dilakukan 

dengan baik. Kehadiran Konstantinus yang dinamis membentuk Gereja pada abad 

keempat dan seterusnya. Ia yaitu  pakar kekuasaan dan politik, dan Gereja pun belajar 

memakai  alat-alat ini .  

Apakah penglihatan Konstantinus itu autentik ataukah ia hanya seorang oportunis yang 

memperalat kekristenan untuk kepentingannya sendiri? Hanya Allah yang tahu jiwanya. 

Meskipun dalam beberapa hal ia telah gagal mencerminkan keyakinannya, penguasa itu 

sesungguhnya telah mengambil perhatian aktif dalam kekristenan yang dianutnya, yang 

terkadang membahayakan dirinya sendiri.  

Allah sesungguhnya memakai Konstantinus untuk memberi kemudahan bagi Gereja; 

sang kaisar itu menegaskan dan menjamin toleransi resmi bagi keyakinan ini. Namun, ia 

hanya mengikuti jejak Galerius yang sudah hancur yang sebelumnya telah melakukan 

hal itu. Dengan demikian, peperangan melawan penyiksaan Kekaisaran Romawi 

dimenangkan bukan di Milvian Bridge namun  di arena-arena, saat  orang-orang Kristen 

dengan berani menyongsong kematian. 

 27

11) Tahun 325 Konsili Nicea  

 

Konsili Nicea, A.D. 325  

Meskipun Tertullianus telah merumuskan bagi Gereja bahwa Allah itu memiliki satu 

hakikat: terdiri atas tiga pribadi, namun ia belum memberi pengertian lengkap tentang 

Tritunggal. Sesungguhnya, doktrin ini telah membingungkan para teolog besar.  

Pada awal abad keempat, seorang imam di Alexandria, Mesir – Arius – menyebut 

dirinya Kristen. Namun Arius menerima juga teologi Yunani yang mengajarkan bahwa 

Allah itu unik adanya dan tidak dapat dikenal. Menurut pemikiran itu, Allah begitu 

beda, yaitu bahwa Dia tidak dapat membagi hakikat-Nya dengan apa pun. Hanya Allah 

yang bisa menjadi Allah. Dalam bukunya yang berjudul Thalia, Arius menyatakan 

bahwa Yesus memiliki sifat keilahian, Namun bukan Allah. Hanya Allah Bapa, kata 

Arius, abadi adanya. Jadi, Putra-Nya itu merupakan manusia yang diciptakan. Ia seperti 

Bapa, namun  bukan Allah.  

Banyak dari antara bekas kafir menyenangi pandangan Arius. sebab  dengan 

pandangan itu, mereka mendapat peluang mempertahankan ide yang telah mendarah 

daging, yaitu Allah yang tidak dapat dikenal, dan memandang Yesus sebagai pahlawan 

super yang bersifat ilahi, tidak berbeda dengan pahlawan-pahlawan yang ada dalam 

mitologi Yunani.  

Sebagai seorang pengajar yang pandai berbicara, Arius tahu cara membuat sebagian 

besar pendapatnya menarik, bahkan menyusunnya menjadi lagu, yang dinyanyikan oleh 

kaum jelata.  

Banyak yang bertanya: mengapa orang-orang menghebohhan ide Arius? Namun 

Alexander, uskup atasan Arius memandang bahwa, agar dapat menyelamatkan dosa 

manusiawi, Yesus haruslah sungguh-sungguh Allah. Alexander memutuskan agar Arius 

dihukum oleh sinode, namun imam yang populer itu memiliki  banyak pendukung. 

Maka timbullah kerusuhan di Alexandria sebab  persaingan teologis yang sangat mudah 

menyinggung perasaan ini, dan para rohaniwan lain pun mulai berpihak pada masing-

masing kubu.  

Begitu kerusuhan timbul, Kaisar Konstantinus tidak dapat lagi memandang perdebatan 

itu sebagai "persoalan agama belaka". "Persoalan agama" ini mengancam keamanan 

negara. Untuk menangani masalah ini, Konstantinus mengadakan konsili di seluruh 

kekaisaran di kota Nicea, Asia Kecil.  

 28

Dengan memakai jubah aneka warna yang dihiasi permata, Konstantinus membuka 

konsili ini . la berseru kepada lebih dari tiga ratus uskup yang hadir agar mereka 

menyelesaikan masalah ini. Perpecahan dalam Gereja, katanya, lebih buruk dibandingkan  

peperangan, sebab  melibatkan jiwa-jiwa abadi.  

Penguasa itu membiarkan para uskup itu berdebat. saat  Arius berhadapan dengan 

mereka, ia dengan jelas menyatakan bahwa Anak Allah itu yaitu  manusia yang 

diciptakan dan tidak seperti Bapa, la dapat berubah.  

Pertemuan itu menolak dan mengutuk pandangan Arius ini . Namun mereka perlu 

bertindak lebih jauh. Untuk menjelaskan pandangan mereka sendiri dibutuhkan suatu 

pengakuan iman.  

Maka mereka merumuskan beberapa pernyataan tentang Allah Bapa dan Allah Anak. 

Mereka menjelaskan bahwa Anak yaitu  "Allah sejati dari Allah sejati, diperanakkan 

bukan dijadikan dan sehakikat dengan Bapa".  

Istilah "satu hakikat", menjadi sasaran kritik. Kata Yunani yang mereka pakai ialah 

homoousios. Homo artinya "sama" ousios artinya "hakikat". Kubu Arius menambahkan 

satu huruf dalam kata itu: Homoiousios yang artinya ialah "keserupaan hakikat".  

Semua uskup, kecuali dua orang, menandatangani pernyataan iman. Mereka berdua dan 

Arius diasingkan. Konstantinus agaknya puas akan hasil prakarsanya itu. Namun itu 

tidak bertahan lama.  

Meskipun Arius menghilang untuk sementara, teologinya bertahan beberapa dekade 

lamanya. Seorang diaken dari Alexandria, Athanasius, menjadi salah seorang lawan 

yang tangguh bagi Arianisme. Pada tahun 328, Athanasius menjadi uskup di Alexandria 

dan melanjutkan "peperangan" dalam jemaatnya.  

Akan namun  "pertempuran" itu meluas ke seluruh Gereja wilayah Timur, sampai pada 

Konsili lain yang diselenggarakan pada tahun 381, di Konstantinopel. Konsili ini  

mensahkan ulang Konsili Nicea. Namun demikian, jejak-jejak pemikiran Arius tidak 

hilang dari Gereja.  

Konsili Nicea bukan saja mulai menyelesaikan masalah teologi, namun  juga menjadi 

teladan bagi Gereja dan negara. Pada tahun-tahun berikutnya, saat  masalah rumit 

muncul di Gereja, maka hal itu diselesaikan melalui kebijaksanaan kolektif para uskup. 

Konstantinus mulai dengan praktik menyatukan negara dan Gereja dalam hal 

mengambil keputusan. Namun, hal ini menimbulkan masalah pada abad-abad 

berikutnya.  

 29

12) Tahun 367 Surat Athanasius Mengakui Kanon Perjanjian Baru  

 

St. Athanasius. He was born around AD 298, and lived in Alexandria, Egypt, the chief 

center of learning of the Roman Empire.  

Bagaimana seorang Kristen dapat memastikan buku apa saja yang harus ada dalam 

Perjanjian Baru?  

saat  Paulus mengutarakan tentang Kitab Suci kepada Timotius ("Segala tulisan yang 

diilhamkan ..." [2 Tim. 3:16]), ia menunjuk pada Perjanjian Lama. Namun pada 

halaman Perjanjian Baru pun sudah terdapat petunjuk bahwa orang-orang Kristen sudah 

mulai menganggap Injil dan surat-surat Paulus sebagai sesuatu yang khusus. Petrus 

pernah menulis bahwa surat-surat Paulus terkadang agak "sukar dipahami". Namun, 

kebijakan Paulus yaitu  pemberian Allah, dan Petrus marah kepada "orang-orang yang 

tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya" yang memutarbalikkan kata-kata 

Paulus seperti mereka memutarbalikkan tulisan-tulisan lainnya (2 Ptr. 3:16). Jelaslah 

bahwa Petrus mulai sadar bahwa orang-orang Kristen memiliki tulisan-tulisan yang 

berisikan moral di samping tulisan-tulisan Perjanjian Lama.  

Orang-orang Yahudi telah membakukan bahwa beberapa buku yang kita sebut 

Perjanjian Lama diilhami Allah, sedang  yang lain tidak. saat  orang-orang Kristen 

berhadapan dengan berbagai ajaran sesat, mereka mulai merasakan pentingnya 

membedakan tulisan-tulisan yang sesungguhnya diilhami Allah dan yang meragukan.  

Dua kriteria penting yang dipakai Gereja untuk mengenal kanon (canon yaitu  istilah 

Yunani yang artinya "standar") yaitu  yang berasal dari para rasul dan tulisan-tulisan 

yang dipakai di Gereja-gereja.  

Dalam mempertimbangkan tulisan rasuli, Gereja menganggap Paulus sebagai salah 

seorang rasul. Meskipun Paulus tidak berjalan bersama-sama dengan Kristus, Paulus 

bertemu dengan Kristus dalam perjalanannya ke Damaskus. Aktivitas penginjilannya 

yang tersebar luas – yang dibenarkan dalam Kisah Para Rasul – menjadikannya model 

seorang rasul.  

Setiap Injil harus dihubungkan dengan seorang rasul. Dengan demikian, Injil Markus 

yang dihubungkan dengan Petrus dan Injil Lukas yang dihubungkan dengan Paulus, 

mendapat tempat dalam kanon. Setelah para rasul wafat, orang-orang Kristen sangat 

menghargai kesaksian yang ada dalam Injil ini , meskipun Injil ini  tidak 

mengungkapkan nama rasul yang terkait.  

 30

Tentang penggunaan tulisan di Gereja, petunjuknya ialah, "Jika banyak Gereja memakai 

tulisan ini  dan jika tulisan ini  dapat terus-menerus meningkatkan moral 

mereka, maka tulisan ini  diilhami". Meskipun standar ini menunjukkan pendekatan 

yang agak pragmatis, namun ada juga logikanya di balik itu. Sesuatu yang diilhami 

Allah akan mengilhami juga para penyembah-Nya: Tulisan yang tidak diilhami pada 

akhirnya akan lenyap juga.  

Malangnya, standar-standar ini  saja tidak cukup untuk menentukan sebuah kitab 

sebagai kanon. Banyak tulisan ajaran sesat membawa-bawa nama rasul. Di samping itu, 

ada Gereja-gereja yang memakai tulisan ini  sedang  yang lainnya tidak. 

Menjelang akhir abad kedua, keempat Injil, Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus 

sangat dihargai hampir di semua pelosok. Meskipun tidak pernah ada daftar "resmi", 

Gereja-gereja cenderung berpaling pada tulisan-tulisan ini sebab  dianggap memiliki 

otoritas spiritual. Para uskup yang berpengaruh seperti Ignasius, Clemens dari Roma 

dan Polikarpus telah menjadikan tulisan-tulisan ini mendapat pengakuan yang luas. 

Namun perdebatan masih berlangsung terhadap Kitab Ibrani, Yakobus, 2 Petrus, 2 dan 3 

Yohanes, Yudas serta Wahyu.  

Ajaran sesat memiliki  cara tersendiri untuk membuat orang-orang Kristen ortodoks 

menjernihkan posisi mereka. Sejauh pengetahuan kita, upaya pertama membuat kanon 

ini dilakukan Marcion (penganut ajaran sesat), yang mengikutsertakan hanya sepuluh 

dari tiga belas surat-surat Paulus dan Injil Lukas yang telah diubah secara besar-besaran. 

Di lalu  hari, kelompok ajaran sesat ini menghargai buku "rahasia" mereka sendiri 

yang biasanya mencantumkan nama-nama para rasul.  

Daftar ortodoks mula-mula, yang disusun sekitar tahun 200, yaitu  Kanon Muratori 

Gereja Roma. Daftar ini meliputi sebagian besar Perjanjian Baru seperti pada masa kini, 

dan menambahkan Wahyu Petrus dan Kebijaksanaan Salomo. Kumpulan yang muncul 

di lalu  hari telah menghapuskan satu buku dan membiarkan yang lain, namun 

semuanya itu tetap mirip. Karya-karya seperti Gembala Hermas, Didache dan Surat 

Barnabas sangat disanjung, meskipun banyak orang enggan mengakui buku itu sebagai 

tulisan yang diiihami.  

Pada tahun 367, Athanasius, uskup Alexandria yang ortodoks dan berpengaruh itu, 

menulis Surat Paskah (Easter Letter) yang beredar cukup luas. Di dalarnnya ia 

menyebut kedua puluh tujuh buku yang ada dalam Perjanjian Baru. Dengan harapan 

mencegah jemaatnya dari kesalahan, Athanasius menyatakan bahwa tiada buku lain 

dapat dianggap sebagai Injil Kristen, meskipun ia longgarkan beberapa, seperti Didache, 

yang menurutnya, akan berguna bagi ibadah pribadi.  

Kanon yang dibuat Athanasius tidak menyelesaikan masalah. Pada tahun 397, Konsili 

Kartago mensahkan daftar kanon ini , namun  Gereja-gereja wilayah Barat agak 

lamban menyelesaikan kanon. Pergumulan berlanjut atas kitab-kitab yang 

dipertanyakan, meskipun pada akhirnya semua pihak menerima Kitab Wahyu.  

Pada akhirnya, daftar kanon yang dibuat Athanasius mendapat pengakuan umum, dan 

sejak itu Gereja-gereja di seluruh dunia tidak pernah menyimpang dari kebijakannya. 

 31

13) Tahun 385 Uskup Ambrosius Menentang Ratu  

 

Ambrosius, uskup Milan, tidak mengizinkan Kaisar Theodosius masuk gereja sebab  

pelanggarannya memuja dewa-dewa di Konstantinopel.  

Di Milan, prajurit-prajurit mengepung katedral. Uskup Ambrosius diperintahkan Ratu 

Justina untuk melepaskan kendali atas gedung ini , namun ia menolak. Para 

pengawal kaisar, orang Jerman, melaksanakan perintah itu dengan paksa. Orang-orang 

Jerman ini  bukan saja menunjukkan kesetiaannya yang lain, namun  mereka juga 

yaitu  pengikut Arius, sedang  sang uskup berpegang teguh pada ajaran Ortodoks 

dari Konsili Nicea.  

Banyak orang mengira bahwa akan ada suatu pembantaian umat yang berada di gedung 

katedral itu, namun orang-orang yang menonton di luar gereja mendengar mazmur yang 

berkumandang lewat udara. Kekuatan kekaisaran disambut dengan iman yang tenang.  

Orang yang menjadi pusat pertikaian ini yaitu  Uskup Ambrosius, salah satu pemimpin 

Gereja yang tangguh, yang pernah dimiliki oleh Gereja, anak seorang pejabat tinggi 

dalam pemerintahan Konstantinus. Pemuda Ambrosius sebenarnya dipersiapkan untuk 

mengikuti jejak ayahnya. Setelah ia menyelesaikan studinya di bidang hukum, ia 

ditunjuk sebagai Gubernur Milan dan daerah sekitarnya. Banyak orang menganggapnya 

sebagai orang yang adil dan mampu menjadi pemimpin yang hebat.  

saat  Ambrosius memangku jabatan gubernur, orang yang menjadi uskup Milan 

yaitu  Auxentius, seorang pengikut Arius. Ia meninggal tahun 374, dan meledaklah 

kerusuhan saat  Gereja ingin memilih penggantinya. Sebagai seorang pejabat 

pemerintah, Ambrosius pergi untuk melerai pertikaian ini .  

Dari kerumunan massa, seseorang berteriak "Ambrosius saja uskupnya!" Yang lain 

mendukung suara ini  dengan gemuruh.  

Masalahnya ialah, Ambrosius belum dibaptis. Meskipun ia telah lama percaya kepada 

Kristus, ia masih seorang katekumen. Tidak masalah. Kehendak massa menyeretnya 

untuk dibaptis dan melewati beberapa jenjang perantara. Delapan hari lalu  ia 

diangkat sebagai uskup Milan.  

Arianisme kehilangan kekuasaan. Kaisar Timur terakhir, Valens, yang menjagoi aliran 

itu, wafat pada tahun 378. Gratianus, Kaisar wilayah Barat, menunjuk Jenderal 

Theodosius untuk memerintah belahan Timur kekaisaran ini  dari Konstantinopel. 

Pada tahun 380, kedua kaisar itu mengeluarkan perintah yang menyatakan kekristenan 

Nicean sebagai agama resmi kekaisaran. Hal ini menjatuhkan sekte Aria secara efektif, 

kecuali di daerah pesisir, di antara orang-orang Goth dan di antara anggota keluarga 

kekaisaran. Ambrosius memangku jabatan barunya sebagai uskup dengan serius. Ia 

mempelajari Kitab Suci dan para Bapa gereja dengan tidak henti-hentinya, dan ia pun 

mulai berkhotbah setiap hari Minggu. Sesungguhnya ia seorang orator yang baik, dan 

sekarang kata-katanya menyentuh lebih dalam lagi. Seseorang yang hidup pada 

zamannya, Basilius dari Kaesarea, menggambarkan Ambrosius sebagai "seorang 

terpelajar yang istimewa, keturunan tersohor, mulia dalam hidupnya dan memiliki  

kemampuan berpidato yang cukup mengagumkan semua orang di dunia ini".  

 32

Salah seorang pengagumnya yaitu  Augustinus, seorang penulis pidato. Orang muda 

Kartago ini pernah mencoba-coba ajaran Manichaeisme dan dimanja oleh kaum kafir 

Roma. la dikirim ke Milan sebagai seorang guru dan ahli pidato bagi kaisar remaja 

Valentinianus II. Pada zaman dulu, kekuasaan kaisar berpusat di Milan, sementara senat 

memegang tampuk pemerintahan di Roma. Para senator umumnya masih berpegang 

pada cara-cara kafir Romawi, sedang  para kaisar yaitu  Kristen. Besar kemungkinan 

Augustinus telah dikirim oleh para senator kafir untuk mempengaruhi kaisar muda itu.  

Untuk kepentingan politik, Augustinus menjadi katekumen di Gereja Kristen. Dalam 

proses itu ia berkenalan dengan Ambrosius dan terkesan akan kesederhanaan serta 

wibawa uskup ini . Di lalu  hari, dengan disaksikan seorang pembantu 

Ambrosius, Augustinus dibaptis (bab selanjutnya menceritakan lebih banyak tentang 

Augustinus).  

Ambrosius juga dikenal sebagai seorang penulis lagu. Bahkan pada abad keempat, 

musik dalam kebaktian menimbulkan kontroversi. Para kritikus khawatir eksperimen 

musik Ambrosius akan membuat orang tergila-gila menyanyikan pujian saja. 

sebab nya, tidaklah mengherankan bahwa saat Katedral Milan dikepung pada tahun 

385, yang terdengar ialah puji-pujian. Besar kemungkinan salah seorang penyanyinya 

yaitu  Monica, ibunda Augustinus yang saleh.  

Namun, ada wanita lain yang memicu konflik pada hari itu. Justina yaitu  ibunda 

Kaisar Valentinianus, yang juga merupakan penerus Gratianus sebagai penguasa 

kekaisaran Romawi bagian Barat. Ia merupakan kekuasaan di belakang takhta 

Valentinianus. la, sebagai seorang penganut ajaran Arius, ingin menuntut Katedral 

Ambrosius dan gedung gereja lainnya di Milan untuk digunakan oleh jemaat Arian. 

Ambrosius menolak. lalu  kaisar mengirim pasukan. Maka banjir darah pun 

hampir terjadi.  

Namun lalu  pasukan pun bubar. Tak seorang pun tahu sebabnya. Ada yang 

berspekulasi bahwa mungkin Ambrosius berhasil mengirim berita itu kepada 

Theodosius, seorang non-Arian yang gigih, yang memerintah bagian Timur. Mungkin, 

pesan yang mengancam Valentinianus, tentang murka Theodosius, membuat bocah itu 

menekan rencana ibunya, atau Justina mungkin hanya menggertak saja. Walau 

bagaimanapun, Ambrosius berani menghadapi sidang kerajaan itu dan menang.  

Di lalu  hari, Ambrosius berani menghadapi seorang kaisar — kali ini Theodosius 

sendiri. Kaisar ini  telah bertindak berlebihan pada kerusuhan di Tesalonika, 

dengan mengirim pasukan untuk membantai warganya. Ambrosius menganggap hal itu 

yaitu  perbuatan yang mengerikan. Ia mengucilkan Theodosius sampai ia menyesali 

perbuatannya. Ini yaitu  kesaksian akan keberanian Ambrosius dan kerendahan hati 

Theodosius, bahwa ia kembali ke katedral dengan berpakaian goni dan berlutut di 

hadapan sang uskup untuk minta pengampunan.  

Pada suatu masa, Gereja berhadapan dengan penyiksaan para kaisar. Dengan 

Ambrosius, pola yang berbeda antara gereja dan negara mulai berkembang. 

 33

14) Tahun 387 Pertobatan Agustinus  

 

Aurelius Augustinus, Augustine of Hippo,  

atau Saint Augustine (November 13, 354 – August 28, 430)  

bersama ibunya Monica  

"Tuhan, jadikan aku kudus, tapi jangan sekarang", doa seorang cendekia yang sedang 

menjajaki agama Kristen dan juga banyak hal lain. Setelah menyerahkan dirinya kepada 

Allah, ia tidak menghadapi masalah untuk hidup kudus dan menjadi salah seorang 

penulis paling berpengaruh yang pernah dimiliki Gereja.  

Orang yang rumit ini yaitu  Aurelius Augustinus, yang lebih dikenal sebagai 

Augustinus. Lahir pada tahun 354, di Tagaste, ibunya bernama Monica yaitu  seorang 

Kristen yang saleh. Ayahnya bernama Patricius, seorang kafir, pejabat Romawi.  

Mengamati kecerdasan anak mereka, Monica dan Patricius menyekolahkan Augustinus 

ke sekolah terbaik. Dia belajar ilmu retorika di Kartago dan diimbangi dengan membaca 

karya para penulis Latin seperti Cicero. Berpegang pada keyakinan atas apa yang 

dipelajarinya, bahwa kebenaran yaitu  tujuan kehidupan, mulanya ia menolak 

kekristenan sebab  menurutnya itu yaitu  agama bagi orang-orang bodoh.  

Selama masa remajanya, Augustinus memiliki kekasih, seorang wanita yang lalu  

memberinya seorang anak. Augustinus tidak suka mengenang masa-masa ia di Kartago. 

Ia mengomentari hal itu dalam bukunya Confessions (Pengakuan), sebagai berikut, 

"Aku datang ke Kartago, tempat aku tercebur ke dalam kancah nafsu yang membara." 

Pemuda yang bergejolak ini pernah mencoba Manichaeisme, yang mengajarkan bahwa 

dunia ini merupakan ajang pertempuran antara terang dan gelap, daging dan roh. Tapi 

Manicheisme gagal memuaskan hasratnya akan kebenaran sejati. Begitu pula halnya 

dengan Neoplatonisme.  

Diburu oleh ketidakpuasan jiwanya sendiri, Augustinus berpindah-pindah dari Kartago 

ke Roma lalu ke Milan untuk mengajar ilmu retorika. Perkenalannya dengan Uskup 

 34

Ambrosius di Milan menyadarkannya bahwa tidak semua orang Kristen berpikiran 

bodoh; orang ini cerdas.  

saat  sedang duduk-duduk di sebuah taman di Milan pada tahun 387, ia mendengar 

nyanyian anak kecil berkata, "Ambil dan bacalah; ambil dan bacalah." Augustinus 

membaca yang ada di dekatnya: Surat Paulus kepada Jemaat Roma. Saat ia membaca 

Roma 13:13-14, perkataan Paulus tentang mengenakan Tuhan Yesus sebagai 

perlengkapan senjata terang dan tidak merawat tubuh untuk memuaskan nafsu, ia 

percaya. Ia lalu  menuliskan, "Seakan cahaya iman mnemenuhi hatiku dan segala 

kabut keragu-raguan dilenyapkan."  

Walau Augustinus merasa cukup dalam menjalani hidupnya sebagai biarawan, namun, 

reputasinya sebagai seorang Kristen yang cerdas menyebar. Pada tahun 391 ia didesak 

untuk ditahbiskan menjadi imam. Ia menjadi uskup di sebuah kota bernama Hippo di 

Afrika Utara pada tahun 395.  

Setiap kontroversi pada masa itu melibatkan Uskup Augustinus. Sekelompok orang 

yang dikenal sebagai kaum Donatis merasa sangat prihatin dengan para rohaniwan yang 

tak bermoral. Di bawah tekanan Kaisar Diocletianus, beberapa rohaniwan menyerahkan 

kitab-kitab kepada pemerintah untuk dibakar. Beberapa dari para "penyerah" — 

begitulah sebutan untuk mereka — ini diteguhkan kembali sebagai rohaniwan. Kaum 

Donatis menolak para "pengkhianat" ini dan membuat Gereja tandingan. Ribuan orang 

Donatis hidup di daerah kekuasaan Augustinus.  

Augustinus menolak adanya Gereja tandingan. Meski hanya ada sedikit orang kudus 

dalam gereja, katanya, Gereja yaitu  satu. Sakramen, yang oleh Augustinus dikatakan 

sebagai tanda kelihatan dari rahmat yang tak kelihatan, tidaklah efektif sebab  kebajikan 

sang imam, tapi sebab  anugerah Allah bekerja melalui sakramen-sakramen. Pandangan 

Augustinus unggul, dan Donatisme punah.  

yaitu  Pelagius, seorang guru kebangsaan Inggris, yang menyebarkan ajaran sesat 

bahwa karya pencarian manusia dalam memilih dan mencari Allah sangat penting. 

Meski rahmat Allah memegang peranan, tapi itu hukanlah semuanya. Pelagius tidak 

mengatakan bahwa manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri, tapi dia menyangkal 

bahwa dosa diturunkan dari Adam.  

Augustinus membantah bahwa tidak ada yang dapat memilih kebaikan kecuali Allah 

yang menuntunnya. Bahkan, Allah telah menetapkan pemilihan itu, orang tebusan-Nya, 

dan tidak ada yang dapat dilakukan manusia untuk mengubah keputusan kekal ini . 

Pada tahun 431, setahun setelah kematian Augustinus, Konsili Efesus secara resmi 

mengutuk Pelagianisme.  

Augustinus tidak hanya menentang ajaran sesat, ia juga menulis perjalanan rohaninya 

sendiri dalam bukunya Confessions, yang boleh jadi merupakan autobiografi rohani 

pertama. Kalimat terkenal "Hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam-Mu" berasal 

dari paragraf pembukaannya.  

sebab  ajaran Augustinus sudah sebegitu mendasar bagi kekristenan, kita tidak 

menyadari betapa orisinilnya ia pada masanya. Pemikirannya telah meresap sampai 

pada para teolog Katolik dan Protestan. Luther dan Calvin acapkali menyitirnya; mereka 

 35

menyukai tekanannya pada rahmat Allah dan ketidakmampuan manusia untuk 

menyelamatkan dirinya sendiri.  

Augustinus telah menulis ratusan risalah, surat dan ulasan. Karya klasiknya On the 

Trinity (Tentang Trinitas) mungkin merupakan karya terbaik berkenaan dengan hal itu. 

Namun, karya terpentingnya ialah City of God (Kota Allah), sebuah karya monumental 

berkenaan dengan jatuhnya Roma ke tangan orang-orang Visigoth. Banyak orang 

menyalahkan orang-orang Kristen dengan mengatakan bahwa Roma jatuh sebab  

rakyatnya telah mengabaikan para dewa asli mereka. Lalu Augustinus menjawab 

dengan mempertahankan dan menjelaskan rencana serta karya Allah dalam sejarah. 

Sejak Kain dan Habel, katanya, telah ada dua kota di dunia: Kota Allah (kaum beriman) 

dan Kota Manusia (kaum kafir). Meski mereka saling berimpitan, Allah akan 

memastikan bahwa Kota Allah, Gereja, akan bertahan selamanya.  

Meski Augustinus menulis pada akhir zaman kuno, buah pikirannya mendominasi para 

sarjana pada Abad Pertengahan sampai masa Reformasi. 

 36

15) Tahun 398 Yohanes Chrysostomus Menjadi Uskup Konstantinopel  

Sebuah pergolakan tentang pajak membuat Yohanes Chrysostomus pertama kali 

menjadi perhatian khalayak. Ia yaitu  seorang imam di Antiokhia, saat  Kaisar 

Theodosius mengeluarkan peraturan pajak baru, tahun 387. Rakyat Antiokhia marah. 

Mereka membuat kerusuhan, menyerang para pegawai kekaisaran dan merusak patung 

Theodosius serta keluarganya, sebagai protes. Namun ketertiban dapat segera 

dipulihkan, dan rakyat menunggu hukuman.  

Flavianus, uskup di Antiokhia, bergegas menuju ibu kota, Konstantinopel, untuk 

memohon belas kasihan kepada kaisar. Terdengar kabar bahwa Theodosius telah 

mengirim tentara untuk membantai warga yang telah menyusahkannya. Sementara 

uskup dan sekelompok biarawan memohon kepada kaisar, Yohanes mencoba 

menenangkan massa. Dalam rangkaian dua puluh khotbah Homilies on the Statues 

(Khotbah di Depan Patung), ia mengilhami, berkhotbah dan mengendalikan massa. Itu 

yaitu  khotbah profetik terbaik. Uskup kembali dengan berita pengampunan, dan 

Yohanes mendesak rakyat mengubah hidup mereka agar menjadi lebih baik.  

Ini bukanlah situasi politik panas terakhir yang dihadapi Yohanes. Dia menghadapinya 

dengan keberanian, kesetiaan dan mungkin dengan sedikit kesombongan.  

Mungkin ia mempelajari hal itu dari ibunya. Ayahnya yaitu  seorang perwira militer 

yang tewas tak lama setelah Yohanes lahir. Anthusa baru dua puluh tahun dan cantik, 

tapi ia menolak semua lamaran yang ditujukan kepadanya agar ia dapat membesarkan 

Yohanes dan kakak perempuannya sebaik mungkin. Dia berasal dari keluarga berada 

dan mampu memberi  pendidikan yang sangat bagus bagi Yohanes, termasuk belajar 

ilmu retorika pada seorang guru kafir terkenal, Libanius. Yohanes juga mempelajari 

hukum, tapi lebih tertarik menjalani kehidupan sederhana. Ia masuk biara tak lama 

setelah kematian ibunya.  

Yohanes kembali ke kota kelahirannya, Antiokhia, tahun 381 dan ditahbiskan menjadi 

diaken. Uskup waktu itu rnenyadari kemampuan komunikasinya dan menjadikannya 

imam serta pengkhotbah utama pada salah satu jemaat Antiokhia. Dalam kedudukannya 

inilah ia menghadapi pergolakan mengenai pajak. Pada tahun-tahun berikutnya ia 

semakin dikenali sebab  kemampuannya berkhotbah. Begitulah ia mendapatkan julukan 

Chrysostomus, dari Bahasa Yunani yang berarti "mulut emas".  

Setelah mengikuti sekolah teologi Antiokhia, Yohanes melakukan pendekatan harfiah 

terhadap Alkitab (bertentangan dengan interpretasi secara alegoris yang dilakukan 

sekolah Alexandria). Dia juga menekankan sisi kemanusiaan Yesus pada saat orang lain 

mengacuhkan hal itu. Chrysostomus mengkhotbahkan rangkaian panjang tentang pesan-

pesan Kitab Kejadian, Injil Matius, Yohanes dan Surat Roma, yang kebanyakan masih 

kita miliki. la juga menulis tafsiran-tafsiran.  

Tahun 397, keuskupan Konstantinopel kosong. Itu merupakan kedudukan terhormat di 

ibu kota. Kaisar Arcadius memilih Yohanes si Mulut Emas itu, keputusan yang 

lalu  disesalinya.  

Begitu populernya Yohanes di Antiokhia sehingga ia harus diculik untuk bisa sampai di 

Konstantinopel. Namun ia baru dikukuhkan menjadi uskup di ibu kota tahun 398. 

 37

Pengukuhan dilakukan Uskup Theophilus dari Alexandria. Demi alasan politik, 

Theophilus memicu  masalah besar bagi Yohanes. Ia ingin Yohanes tunduk 

kepadanya dan ia merasa iri sebab  memperoleh kedudukan uskup hanya sebab  

keahliannya berkhotbah. Theophilus juga menentang ajaran teologi Origenes yang 

dianut Yohanes. Yohanes tidak melakukan apa-apa untuk menenangkan Theophilus.  

Yohanes mencoba melayani lingkungan kaum Gothic di kota, menerima mereka namun  

tetap menolak aliran sesat Arius yang mereka anut. Ia juga berkhotbah menentang keras 

segala perbuatan dosa yang dilihatnya – dan ia melihatnya terjadi di antara para 

rohaniwan. Imam-imam terlibat dalam hal-hal amoral, dan dia berniat 

menghentikannya. Melalui khotbahnya, dia juga menentang cara berpakaian para wanita 

di Konstantinopel yang tidak senonoh. Entah sengaja atau tidak, Ratu Eudoxia merasa 

tersinggung mendengar kata-katanya.  

Theophilus mendapat kesempatan saat  Yohanes menerima empat biarawan yang 

belajar di Alexandria (mereka yaitu  penganut teologi Origenes). Uskup dari 

Alexandria berkunjung ke Konstantinopel dan mengumpulkan musuh-musuh Yohanes. 

Mereka mengadakan pertemuan pada tahun 403 di sebuah tempat bernama Oak, serta 

mengutuk ajaran-ajaran Yohanes dan mengusirnya dari gereja.  

Akan namun  Eudoxia yang percaya takhayul, ketakutan setelah terjadi beberapa bencana, 

seperti gempa yang melanda istana selang beberapa waktu setelah pertemuan itu. 

Dengan segera dia meminta kaisar membatalkan keputusan pertemuan ini . Setahun 

lalu  Yohanes dibawa kembali. Tanpa takut, ia terus mengemukakan pendapatnya 

– terutama saat  patung Eudoxia didirikan di sebelah katedral.  

Ratu marah. Bala tentara kekaisaran menghentikan sebuah ibadah Paskah, dan beberapa 

pengikut Yohanes dibunuh. Yohanes diusir dalam pengasingan, di suatu tempat yang 

suram dekat Armenia, yang disebut Cucusus. Paus Innocentius I memprotes perlakuan 

ini namun  sia-sia. Kaisar bagian Timur memperoleh kemauannya sendiri. Dalam 

pengasingannya pun Yohanes terus mengadakan hubungan dengan para pengikutnya, 

memberi petunjuk tentang hal-hal gerejawi. Maka sang kaisar memutuskan untuk 

membuangnya lebih jauh lagi.  

Begitulah cara Yohanes menemui ajalnya pada tahun 407, yaitu saat  mengadakan 

perjalanan ke pengasingan yang lebih jauh. Beberapa dekade berikutnya, Paus 

Innocentius berupaya menjernihkan nama Yohanes dengan mendesak Uskup 

Theophilus dan yang lainnya untuk menyertakan Yohanes dalam daftar orang-orang 

yang didoakan Gereja.  

Warisan yang ditinggalkan Yohanes ialah khotbahnya yang baik. Ia memajukan 

eksposisi harfiah Alkitab gaya Antiokhia, dan ia merupakan salah satu pemimpin Gereja 

(bersama dengan Ambrosius) yang dengan berani menghadap para penguasa dan 

menyerukan, "Demikianlah firman Tuhan ..." Pada masa-masa kritis dalam sejarah 

Gereja, orang lain pun akan menyerukan hal yang sama. 

 38

16) Tahun 405 Hieronimus Menyelesaikan Vulgata  

 

'St. Hieronymus' dalam lukisan Caravaggio, circa 1601  

St. Jerome (Eusebius Hieronymus), c.347-420 yaitu  seorang penerjemah Alkitab ke 

dalam bahasa Latin yang dikenal dengan VULGATA. Sejak awal, Gereja telah 

menyetujui pentingnya penerjemahan Alkitab. Meskipun Perjanjian Baru dalam bahasa 

Yunani yang umum telah dimengerti secara luas di Kekaisaran Roma, tidak setiap orang 

mengetahui bahasa ini . Gereja juga memiliki  tujuan agar setiap insan dapat 

dijangkau Injil.  

Penerjemahan awal telah muncul dalam berbagai bahasa, terutama bahasa Latin (yang 

lambat-laun menjadi bahasa kekaisaran), Siria dan Koptik. Kita dapat mengagumi 

semangat para penerjemah terdahulu, meskipun sayang, mereka tidak selalu fasih dalam 

bahasa Yunani.  

Dari tahun 366 sampai dengan 385, Damasus menjadi uskup Roma. Meskipun 

keuskupan Roma sangat dihormati, keuskupan itu tidak pernah meraih kekuasaan 

melampaui keuskupan-keuskupan lain, dan Damasus senang kekuasaan. Ia ingin 

membebaskan kekristenan Barat dari dominasi Timur. Sejak lama bahasa Yunani telah 

menjadi bahasa yang telah diterima di gereja, namun  Damasus ingin bahasa Latin yang 

menjadi bahasa gereja Barat. Satu-satunya jalan untuk mencapai hal ini ialah 

menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Latin.  

Nama sekretaris Damasus ialah Eusebius Hieronimus Sophronius (di gereja yang 

berbahasa Inggris ia lebih dikenal dengan nama Jerome). Ia terdidik dalam kesusastraan 

Latin dan Yunani klasik, dan Hieronimus marah pada dirinya sendiri sebab  

kegemarannya terhadap penulis-penulis sekular. Untuk menghukum dirinya ia 

menjalani kehidupan yang menolak hal-hal duniawi dan menyendiri ke Siria untuk 

mempelajari bahasa Ibrani. saat  ia menjadi sekretaris Damasus. Hieronimus telah 

menjadi salah seorang terpelajar yang terhebat.  

Maka Damasus pun menyarankan agar sekretarisnya mempersiapkan terjemahan 

Alkitab dalam bahasa Latin untuk menggantikan ketidaktepatan terjemahan-terjemahan 

lama. Damasus menginginkan keseragaman. Sama seperti kebaktian di gereja-gereja 

yang dibakukan di bawah kekuasaannya, ia menginginkan kumpulan baku Kitab Suci. 

Hieronimus mengawali karyanya pada tahun 382. saat  Damasus meninggal pada 

tahun 384, Hieronimus agaknya memupuk keinginan untuk menjadi uskup di Roma. 

 39

sebab  ia kecewa tidak dipilih menjadi uskup Roma, dan sebab  ia sendiri ingin 

menjauhkan diri dari gangguan masalah ini, maka ia pindah dari Roma ke Tanah Suci, 

dan berdiam di Bethlehem. Pada tahun 405 ia menyelesaikan terjemahan ini. Namun, 

bukan itu raja tugasnya. Selama dua puluh tiga tahun itu, ia juga membuat berbagai 

ulasan dan tulisan lainnya serta bertindak sebagai penasihat spiritual bagi para janda 

kaya dan sangat saleh. Ia terlibat dalam setiap pertikaian teologi pada zamannya, 

menulis surat-surat dengan bahasa indah – dan acap kali pedas – yang hingga saat ini 

merupakan bacaan yang mengesankan.  

Hieronimus memulai penerjemahannya dari Septuaginta, versi Perjanjian Lama Yunani. 

Namun, ia segera menjadi teladan bagi semua para penerjemah Perjanjian Lana yang 

baik: menerjemahkannya dari bahasa lbrani asli. Untuk ketepatan terjemahan, ia 

berkonsultasi dengan banyak rabi Yahudi.  

Hieronimus sungguh terperanjat dengan fakta bahwa Kitab Suci bahasa Ibrani tidak 

mencakup kitab-kitab apa yang kita sebut Apokrif. sebab  kitab-kitab ini  telah 

disertakan dalam Septuaginta, Hieronimus terpaksa menyertakannya dalam 

terjemahannya. Namun, ia memperjelas maksudnya: Ini yaitu  liber ecclesiastici 

('kitab-kitab Gereja"), bukan liber Canonici ("kitab-kitab kanon"); meskipun kitab-kitab 

Apokrif dapat dipakai untuk pembinaan, namun tidak dapat mengukuhkan doktrin. 

Ratusan tahun lalu , para pemimpin reformasi bertindak selangkah lebih maju 

dengan tidak menyertakannya sama sekali dalam Alkitab Protestan.  

Perpustakaan ilahi, begitulah Hieronimus menjuluki Alkitab, akhirnya tampil dengan 

penulisan yang baik, versi yang akurat dan dalam bahasa yang umumnya dipakai di 

gereja-gereja Barat. Kitab ini  dikenal dengan narna Vulgata (dari istilah Latin 

vulgus, "umum"). Pengaruh Hieronimus yang sangat besar itu membuat para ahli Abad 

Pertengahan menyanjung tinggi terjemahannya. Martin Luther, yang tahu bahasa Ibrani 

dan Yunani, mengutip dari Vulgata sepanjang hidupnya.  

sebab  karya Hieronimus memiliki  meterai tanda sah dari Gereja, para penerjemah 

lainnya tidak berpeluang mengikuti jejaknya. Sampai pada Reformasi, hanya beberapa 

terjemahan saja yang terdapat dalam bahasa-bahasa Eropa pada umumnya. Bahkan 

lalu , para penerjemah berpaling pada Vulgata dibandingkan  memakai  Perjanjian 

Baru yang ada dalam bahasa Yunani.  

Ironisnya, terjemahan Alkitab dalam bahasa yang dapat digunakan di setiap gereja Barat 

inilah yang mungkin memicu  baik kebaktian maupun Alkitab itu sendiri tidak 

dapat dimengerti orang awam. Terjemahan Hieronimus telah rnernberi bahasa Latin 

dorongan yang diinginkan Damasus, namun  Vulgata dikeramatkan sedemikian rupa 

sehingga penerjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa umum dilarang. 

 40

17) Tahun 432 Patrick Berangkat sebagai Misionaris ke Irlandia  

 

Pendaratan Patrick dalam kunjungan misionernya yang pertama di Irlandia pada tahun 

432  

Seorang bekas budak yang bahkan tidak lahir di Irlandia bisa menjadi saksi Kristen 

yang sangat berhasil di negeri itu.  

Sekitar tahun 390, Patrick lahir di Britania Romawi, sebagai putra keluarga Kristen. 

Meskipun saat  masih bocah Patrick tidak begitu serius dengan imannya, namun pada 

umur enam belas tahun, saat  dia ditangkap, dijadikan budak dan dikirim ke sebuah 

ladang di Irlandia Utara sebagai gembala babi, dia mulai bedoa dengan tekun. saat  

melarikan diri dari perbudakannya, Patrick berjalan kaki sejauh dua ratus mil menuju 

pantai. Di sana ia menumpang sebuah kapal yang membawa muatan anjing. Ia berlayar 

ke Perancis dan ke biara Mediterania.  

saat  ia kembali ke negeri asalnya, Patrick bermimpi anak-anak Irlandia memintanya 

membawakan Injil kepada mereka, "Kami memohon kepada Anda agar datang kemari 

dan berjalan bersama-sama kami sekali lagi." sebab  ia merasa bahwa ia tidak 

memiliki  pengertian memadai tentang iman, ia kembali ke Perancis untuk belajar di 

sebuah biara. Sekitar tahun 432 ia kembali ke Irlandia.  

Beberapa tahun sebelumnya, biarawan Inggris Palladius, telah berupaya membuat 

orang-orang Irlandia bertobat namun tanpa hasil yang berarti. Tahun-tahun perbudakan 

Patrick di antara orang-orang Irlandia agaknya telah mempersiapkannya menjadi orang 

yang berani, memahami orang-orang ini dan bagaimana berkhotbah kepada mereka.  

Sebagian besar legenda menutupi kehidupan Patrick ini , dan banyak desa 

menceritakan pelayanannya di sana. Kita tahu bahwa misionaris ini  telah 

menobatkan sebagian besar orang-orang Irlandia menjadi Kristen, mendirikan kira-kira 

300 buah gedung gereja dan membaptis sekitar 120.000 orang. Meskipun Patrick 

bertikai dengan para kepala suku yang kurang ramah dan para Druid – mereka yang 

memelihara paganisme kuno – "rakyat jelata mendengarkan dia dengan senang hati". 

Dalam pertobatan, tidak seorang pun dari suku yang senang bertikai ini menjadi martir.  

Dengan memakai  alam yang pernah disembah mereka, Patrick membandingkan 

Trinitas dengan shamrock (daun bercabang tiga – lambang Irlandia) sebagai contoh. 

Orang-orang Irlandia memahami Patrick sebagai orang yang bertindak untuk Tuhan 

saat  ia "mengusir agama palsu dan mendirikan kebenaran". Dapat ditemui di dalam 

legenda bahwa ia telah mengusir ular-ular dari Irlandia.  

 41

Setelah melayani selama tiga puluh tahun tanpa mementingkan diri sendiri, Patrick 

wafat sekitar tahun 460. la telah meninggalkan bagi kita beberapa tulisan pendek, 

termasuk kidung "I bind unto myself today" (dikenal sebagai Patrick's Breastplate).  

Bertahun-tahun lalu , saat  para misionaris dari gereja Barat datang ke Irlandia, 

mereka menemukan keyakinan Irlandia yang bertumbuh subur. Para pastor dan 

biarawan Irlandia yaitu  orang-orang terpelajar dan misionaris hebat, dan Gereja 

memiliki  dampak mendalam atas rakyat jelata. Para biarawan hidup sederhana, 

mengabdikan hidupnya acapkali dalam keadaan-keadaan kurang ramah. Meskipun biara 

mereka merupakan bangunan batu yang tidak mencolok, penuntutan ilmu dan seni lukis 

(sebagai contoh, Book of Kells yang indah) menunjukkan kesalehan para biarawan yang 

menakjubkan. Sesungguhnya, kesalehan itu menjangkau seluruh Eropa saat  mereka 

membawa Firman itu keluar.  

Gereja di Irlandia telah berkembang di luar sistem hierarki Roma, sebab  Patrick 

menginjili negeri itu tanpa bergantung pada gereja yang sudah mapan. Gereja Irlandia 

diorganisasikan di sekitar biara-biara, yang mencerminkan sistem kesukuan negeri itu. 

sebab  tidak berhasrat mengokohkan birokrasi Gereja, para kepala biara Irlandia 

mendorong para biarawan untuk "benar-benar menekuni urusan Gereja" – berkhotbah, 

belajar dan melayani orang miskin.  

Irlandia sesungguhnya tidak menjadi Katolik hingga tahun 1100-an, saat  paus 

memberi Raja Inggris, Henry II, kedaulatan atas Irlandia. Gereja Katolik, yang 

mengagumi cara Patrick menobatkan orang orang Irlandia, menjadikan dia sebagai 

seorang santo.  

 42

18) Tahun 451 Konsili Chalcedon  

 

Meskipun Konsili Nicea telah menyatakan bahwa Yesus yaitu  sepenuhnya Allah, 

namun Gereja masih harus mengerti kodrat manusiawi-Nya. Bagaimana pula 

kemanusiaan dan ke-Allah-an berpadu dalam diri Sang Putra?  

Jawabannya muncul melalui salah satu permainan kekuasaan yang paling panas di 

Gereja. saat  Gereja mulai berkuasa, kota-kota utama kekaisaran memiliki pengaruh 

teologis yang besar. (Akibatnya, para uskup agung disebut patriarkh.) Alexandria dan 

Roma umumnya cenderung berada di pihak yang sama dalam berbagai masalah, 

berseberangan dengan Antiokhia dan Konstantinopel. Perpaduan politik dan teologi 

menjadi kuat.  

Mazhab filsafat Alexandria menunjukkan pengaruh Yunaninya. Banyak orang di 

Alexandria memiliki  Tatar belakang filsafat Yunani. Secara teologis mereka percaya 

bahwa Yesus yaitu  manusia sepenuhnya, namun mereka cenderung menekankan 

Kristus sebagai Firman (Logos) Ilahi, melebihi Yesus manusia. Hal ini cenderung 

meniadakan kemanusiaan Yesus dalam keilahian-Nya. Salah seorang pendukung utama 

Alexandria, Apolinarius, bertikai dengan sengit melawan ajaran sesat seperti Arianisme 

dan Manichaeisme. namun  saat  ia bersikeras bahwa pada inkarnasi, Logos llahi 

menggantikan jiwa (roh) manusia-Nya, dengan demikian kemanusiaan Kristus hanyalah 

sebatas badan, maka ia pun tergelincir dalam kekeliruan. Pada tahun 381 konsili 

oikumenis kedua mengutuk ajarannya. Mazhab Antiokhia cenderung memfokuskan diri 

pada Yesus sebagai manusia. Meskipun Yesus itu ilahi adanya, kata mereka, 

kemanusiaan-Nya sempurna dan normal.  

saat  Nestorius, patriarkh Konstantinopel, terlibat dalam perdebatan atas pemujaan 

Maria, ia menyerang kedudukan Apollinarius. Baginya, ide bahwa Maria telah 

"melahirkan Allah" mencampakkan pandangan Apollinarius. Cyrillus, patriarkh 

Alexandria yang menginginkan kuasa Konstantinopel goyah, menuduh patriarkh 

ini  pernah mengatakan Yesus yaitu  dua hakikat yang terpisah dalam satu tubuh.  

Pada tahun 431, dalam konsili oikumenis ketiga di Efesus, Cyrillus berencana membuat 

Nestorius dipecat sebelum dia dan pendukungnya tiba. saat  gerejawan yang hilang itu 

tiba, di bawah pimpinan Yohanes, patriarkh Antiokhia, mereka mengutuk Cyrillus dan 

 43

para pengikutnya. Kaisar Theodosius, yang mengadakan konsili itu, atas desakan 

mereka mengasingkan Nestorius.  

Pada situasi yang berubah-ubah ini, bergabunglah seorang biarawan yang menekankan 

ajaran Aleksandria yang mengarah pada aliran sesat. Eutyches, kepala sebuah biara 

dekat Konstantinopel mengajarkan ajaran yang dikenal sebagai Monophysitisme (mono 

artinya "satu" dan physis artinya "kodrat"). Ajaran ini berkata bahwa kodrat Kristus 

telah hilang dalam keilahian, "seperti setetes madu yang jatuh dalam Taut, larut di 

dalamnya".  

Patriarkh Flavianus dari Konstantinopel mengutuk Eutyches sebagai seorang pengajar 

sesat, namun  Patriarkh Dioscurus dari Alexandria mengangkatnya. Atas permintaan 

Dioscurus, Theodosius mengadakan satu konsili lagi, yang berlangsung di Efesus pada 

tahun 449. Dalam persidangan itu dinyatakan bahwa Eutyches tidak sesat, namun 

banyak Gereja menyatakan konsili ini  tidak sah. Paus Leo mencapnya sebagai 

"sinode perampok" dan konsili ini  tidak dianggap sebagai konsili oikumenis yang 

sah.  

Leo meminta kepada kaisar agar diadakan satu konsili lagi, yang mewakili Gereja 

secara menyeluruh. Konsili itu mengambil tempat di Chalcedon, dekat Konstantinopel, 

pada tahun 451. Konsili itu mengundang lebih dari empat ratus uskup, melebihi konsili-

konsili sebelumnya.  

Dioscurus tampak muram. Sekarang ia dikucilkan sebab  kelakuannya pada