31; Kisah 16:31;
19:4; Roma 10:9; I Yohanes 3:23).
C. SARANA-SARANA PANGGILAN
Allah memakai berbagai cara untuk memanggil manusia. (1) Ia
memanggil orang-orang melalui Firman Tuhan (Roma 10:16, 17; I
Tesalonika 2:13; II Tesalonika 2:14). (2) Ia juga memanggil orang
dengan perantaraan Roh-Nya (Yohanes 16:8; Ibrani 3:7, 8; band.
Kejadian 6:3). Roh Kudus mendorong orang berdosa untuk datang
dan menerima Kristus. (3) Allah memakai para hamba-Nya untuk
memanggil orang (II Tawarikh 36:15; Yeremia 25:4; Matius 22:2-9;
Roma 10:14, 15). Yunus merupakan contoh yang baik tentang
bagaimana Allah memakai hamba-Nya untuk membawa sebuah
408 Soteriologi
kota kepada pertobatan. Firman Allah harus diberitakan kepada
orang-orang yang belum diselamatkan oleh mereka yang sudah di
lahirkan kembali, yaitu orang-orang yang dapat bersaksi mengenai
kuasa Firman dan Roh dalam kehidupan mereka pribadi (I Tesa
lonika 1:5). Dan (4) Allah memanggil dengan tindakan-tindakan
pemeliharaan. Kebaikan-Nya bertujuan untuk membawa orang ke
pada pertobatan (Yeremia 31:3; Roma 2:4), namun bila cara ini tidak
berhasil, maka penghakiman-Nyalah yang akan melaksanakannya
(Mazmur 107:6, 13; Yesaya 26:9).
XXIX
Pertobatan
Bagaimanakah urutan logis dalam pengalaman keselamatan? Tentu
saja tidak ada urutan kronologis; pertobatan, pembenaran, pemba
haruan, penyatuan dengan Kristus, dan adopsi atau pengangkatan
sebagai anak, semuanya terjadi pada saat yang sama. Hanya pengu
dusan yang merupakan baik sebuah tindakan maupun sebuah proses.
Meskipun demikian, pengalaman keselamatan mempunyai urutan
logis, dan kita akan mengikuti urutan yang ada di atas. Hal
ini kami lakukan karena Alkitab memanggil orang untuk berbalik
kepada Allah (Amsal 1:23; Yesaya 31:6; 59:20; Yehezkiel 14:6;
18:32; 33:9-11; Yoel 2:12, 13; Matius 18:3; Kisah 3:19; Ibrani 6:1).
Pertobatan merupakan tindakan berbalik kepada Allah, dan tindakan
ini merupakan tanggapan manusia terhadap panggilan Allah.
Tindakan itu sendiri terdiri atas dua unsur: pertobatan dan iman.
Alkitab tidak pernah meminta orang untuk membenarkan dirinya
sendiri, memperbaharui diri sendiri, atau untuk mengadopsi dirinya
sendiri. Hanya Allah yang dapat melakukan hal-hal ini , namun
dengan kuasa yang diberikan oleh-Nya manusia dapat berbalik
kepada Allah. Gereja di Yerusalem mengakui, "Jadi kepada bangsa-
bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin
kepada hidup" (Kisah 11:18; band. II Timotius 2:25). Nampaknya
jelas bahwa pertobatan dan iman menghasilkan pembenaran, dan
pembenaran membawa kepada hidup, dan bukan sebaliknya (Roma
5:17, 18). Sekarang kita akan meneliti kedua unsur yang ada
dalam pertobatan.
409
410 Soteriologi
I. UNSUR PERTOBATAN
Sekalipun pertobatan dan iman berkaitan erat kita perlu mempelajari
kedua unsur ini secara tersendiri.
A. PENTINGNYA PERTOBATAN
Pentingnya pertobatan tidak selalu diindahkan sebagaimana seharus
nya. Ada orang yang mengajak orang yang belum diselamatkan
untuk menerima Kristus dan percaya, tanpa pernah menunjukkan
kepada orang berdosa itu bahwa ia tersesat dan membutuhkan se
orang Juruselamat. Alkitab sangat mementingkan pemberitaan per
tobatan. Pertobatan merupakan pesan yang disampaikan oleh para
nabi Perjanjian Lama (Ulangan 30:10; II Raja-Raja 17:13; Yeremia
8:6; Yehezkiel 14:6; 18:30). Pertobatan merupakan tema pemberi
taan Yohanes Pembaptis (Matius 3:2; Markus 1:15), Kristus (Matius
4:17; Lukas 13:3-5), kedua belas murid (Markus 6:12), dan secara
khusus tema khotbah Petrus pada hari Pentakosta (Kisah 2:38; band.
3:19). Pertobatan juga menjadi pokok khotbah Paulus (Kisah 20:21;
26:20). Meskipun kita sekarang hidup dalam zaman anugerah,
bukan berarti bahwa pertobatan tidak diperlukan lagi dewasa ini;
pertobatan jelas diperintahkan kepada semua orang (Kisah 17:30).
Inilah yang dikatakan Paulus di Atena, daerah yang secara budaya
paling jauh dari pengaruh Yahudi. Pertobatan merupakan tindakan
yang sangat menarik perhatian seisi surga (Lukas 15:7, 10; 24:46,
47). Pertobatan yaitu yang paling mendasar dari segala asas penga
jaran (Matius 21:32; Ibrani 6:1), karena pertobatan merupakan sya
rat mutlak untuk dapat diselamatkan (Lukas 13:2-5).
B. ARTI PERTOBATAN
Pada hakikatnya, pertobatan yaitu perubahan pikiran, bila kita
mengambil arti kata yang luas. Akan namun , pertobatan terdiri atas
tiga aspek: yang menyangkut pikiran, perasaan hati, dan kehendak.
Marilah kita melihat dan mempelajari masing-masing secara lebih
terinci.
1. Unsur yang menyangkut pikiran. Aspek ini menunjukkan ter
jadinya perubahan pandangan. Yaitu suatu perubahan pandangan
Pertobatan 411
terhadap dosa, Allah, dan diri sendiri. Dosa kini diakui sebagai
kesalahan pribadi, Allah diakui sebagai Dia yang secara sah menun
tut kebenaran, dan diri sendiri sebagai sudah tercemar dan tidak
berdaya. Alkitab menyebut aspek pertobatan ini sebagai pengenalan
akan dosa (Roma 3:20; band. Ayub 42:5, 6; Mazmur 51:5; Lukas
15:17, 18; Roma 1:32). Pertobatan juga meliputi perubahan pikiran
tentang Kristus. Petrus mengajak orang-orang Yahudi untuk tidak
melihat Kristus sebagai seorang manusia biasa, seorang penipu, atau
penghujat, namun sebagai Mesias dan Juruselamat yang dijanjikan
(Kisah 2:14-40).
2. Unsur yang menyangkut perasaan hati. Aspek ini menunjuk
kan suatu perubahan perasaan. Merasa sedih atas dosa dan men
dambakan pengampunan merupakan unsur-unsur pertobatan. Ter
dapat perasaan menyesal yang sangat dalam saat Daud berdoa,
"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah
pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!" (Mazmur 51:3).
Paulus menulis, "Sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu
telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu
bertobat. Sebab dukacitamu itu yaitu menurut kehendak Allah,
sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan oleh karena kami. Sebab
dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang
membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan" (II Korintus
7:9, 10). Ayat-ayat lain yang menunjukkan perasaan yang sangat
dalam sebagai bagian dari pertobatan ialah Matius 21:32; 27:3
(band. Mazmur 38:19).
3. Unsur yang menyangkut kehendak. Unsur ini menunjukkan
suatu perubahan kehendak, kecenderungan hati, dan tujuan. Ini me
rupakan tindakan batiniah untuk meninggalkan dosa. Terjadi peru
bahan kecenderungan hati sehingga orang berusaha mendapatkan
pengampunan dan penyucian. Petrus mengatakan, "Bertobatlah dan
hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam
nama Yesus Kristus untuk mengampunan dosamu" (Kisah 2:38),
sedangkan Paulus menulis, "Maukah engkau menganggap sepi ke
kayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya, dan kelapangan hati-Nya?
Tidakkah engkau tahu bahwa maksud kemurahan Allah ialah me
nuntun engkau kepada pertobatan?" (Roma 2:4). Unsur kehendak
412 Soteriologi
dalam pertobatan terkandung dalam kedua ayat ini.
Pengakuan dosa (Mazmur 32:5; 51:5, 6; Lukas 15:21; 18:13; I
Yohanes 1:9) dan penggantian rugi karena kesalahan yang dilaku
kan terhadap orang lain (Lukas 19:8) merupakan buah pertobatan
namun bukanlah pertobatan itu sendiri. Kita tidak diselamatkan
karena bertobat namun jika kita bertobat. Pertobatan bukanlah
tindakan yang memenuhi tuntutan Allah, melainkan suatu keadaan
hati yang diperlukan sebelum kita dapat percaya untuk menerima
keselamatan. Lagi pula, pertobatan yang sungguh-sungguh tidak
pernah terlepas dari iman. Maksudnya, seseorang tidak dapat ber
balik meninggalkan dosa tanpa pada saat yang sama berbalik kepada
Allah. Sebaliknya, kita dapat mengatakan bahwa iman yang sejati
tidak pernah ada tanpa pertobatan. Keduanya tidak dapat dipisah
kan.
C. SARANA-SARANA PERTOBATAN
Sepatah kata perlu diucapkan mengenai sarana-sarana pertobatan.
Pada pihak Allah, pertobatan dikaruniakan oleh Allah. Paulus me
nulis, "Sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada
mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka me
ngenal kebenaran" (II Timotius 2:25; band. Kisah 5:31; 11:18). Pada
pihak manusia, pertobatan disebabkan oleh berbagai hal. Yesus
mengajarkan bahwa mukjizat-mukjizat (Matius 11:20, 21), bahkan
kebangkitan orang dari kematian (Lukas 16:30, 31), tidak cukup
untuk menghasilkan pertobatan. Akan namun , Firman Allah (Lukas
16:30, 31), pemberitaan Injil (Matius 12:41; Lukas 24:47; Kisah
2:37, 38; II Timotius 2:25), kebaikan Allah kepada makhluk-
makhluk ciptaan-Nya (Roma 2:4; II Petrus 3:9), ajaran dari Tuhan
(Ibrani 12:10, 11; Wahyu 3:19), percaya akan kebenaran (Yunus
3:5-10), dan suatu visi baru tentang Allah (Ayub 42:5, 6) merupakan
sarana-sarana yang dipakai Allah untuk menghasilkan pertobatan.
II. UNSUR IMAN
Sebagaimana halnya dengan pertobatan, demikian pula halnya de
ngan iman, kurang mendapatkan perhatian yang semestinya. Ke
hidupan seseorang diatur oleh apa yang diyakini dan dipercayainya,
Pertobatan 413
serta agamanya ditentukan oleh tokoh yang dipercayainya. Evans
mengatakan, "Wanita Siro-Fenisia [Matius 15] memiliki ketekunan;
perwira Romawi [Matius 8] memiliki kerendahan hati; orang buta
[Markus 10] memiliki kesungguhan. Akan namun , apa yang dilihat
dan diganjari oleh Kristus dalam ketiga kasus ini yaitu iman orang-
orang itu."138 Hal ini benar, sehingga seharusnya kita terdorong
untuk merenungkan peranan iman dalam kehidupan kita. Dalam
kesempatan ini kita akan mengkajinya sebagai suatu unsur per
tobatan.
138 Evans, The Great Doctrines of the Bible, hal, 144.
A. PENTINGNYA IMAN
Alkitab menyatakan bahwa kita diselamatkan oleh iman (Kisah
16:31; Roma 5:1; 9:30-32; Efesus 2:8), dikaruniakan Roh Kudus
oleh iman (Galatia 3:5, 14), disucikan oleh iman (Kisah 15:9;
26:18), dipelihara karena iman (Roma 11:20; II Korintus 1:24; I
Petrus 1:5; I Yohanes 5:4), diteguhkan oleh iman (Yesaya 7:9), dan
disembuhkan oleh iman (Kisah 14:9; Yakobus 5:15). Kita hidup
oleh iman (II Korintus 5:7) dan mengatasi kesulitan dengan iman
(Markus 9:23; Roma 4:18-21; Ibrani 11:32-40). Allah menegaskan
bahwa iman itu perlu agar dapat berkenan kepada-Nya (Ibrani 11:6)
dan Ia menganggap ketidakpercayaan sebagai suatu dosa yang besar
(Yohanes 16:9; Roma 14:23) dan sebagai membatasi penyataan
kuasa-Nya (Markus 6:5, 6). Iman membuat kita terus-menerus men
jadi berkat bagi orang lain (Yohanes 7:38); iman menuntun kita
untuk berusaha melakukan sesuatu yang menguntungkan orang lain
(Markus 2:3-5); iman menghasilkan ketekunan dalam melayani
Tuhan (Matius 15:28); dan iman mendapatkan pertolongan untuk
orang lain (Kisah 27:24, 25). Jelaslah, keuntungan-keuntungan
menyatakan bahwa iman penting sekali.
B. ARTI IMAN
Marilah kita pertama-tama membedakan antara beberapa istilah
yang kadang-kadang dibaurkan. Ada istilah-istilah seperti "per
caya", "harapan", dan "iman". Istilah "percaya" sering kali dipakai
dalam arti yang sama dengan "iman"; namun sering kali istilah "per
414 Soteriologi
caya" hanya menunjukkan satu unsur saja dari iman, yaitu unsur
intelektual. Maka dari itu kita harus hati-hati agar jangan memakai
istilah itu secara tidak tepat. Kata "harapan" semata-mata dipakai
berkaitan dengan masa depan, sedangkan iman berkaitan dengan
masa lalu, masa kini, dan masa depan. Harapan telah ditetapkan
sebagai keinginan ditambah pengharapan, namun pengharapan da
lam pengertian alkitabiah juga memiliki unsur-unsur pengetahuan
dan kepastian. Pengharapan alkitabiah bertumpu pada kebenaran
yang telah dinyatakan dalam Alkitab. Iman juga bisa berarti semua
ajaran Kristen yang ada dalam Alkitab (Lukas 18:8; Kisah 6:7;
I Timotius 4:1; 6:10; Yudas 3).
Kalau begitu apakah yang kita maksudkan dengan iman? Tidak
lah mudah untuk membuat definisi yang sederhana namun memadai.
saat seorang bertobat, iman menunjuk kepada jiwa manusia yang
berbalik kepada Allah, sebagaimana bertobat berarti jiwa berbalik
meninggalkan dosa. Namun kita perlu mengkaji dengan lebih teliti
apa yang kita maksudkan dengan berbalik kepada Allah. Kita dapat
mengatakan bahwa Alkitab menggambarkan iman sebagai tindakan
hati manusia. Oleh karena itu, iman mencakup perubahan pikiran,
perasaan hati, dan kehendak. Manusia percaya dengan hatinya agar
ia diselamatkan (Roma 10:9, 10). Alkitab menekankan segi intelek
tual (pikiran) dari iman dalam ayat-ayat seperti Mazmur 9:11; Yo
hanes 2:23, 24; dan Roma 10:14. Nikodemus memiliki iman in
telektual saat ia datang kepada Yesus (Yohanes 3:2), dan diberi
tahu bahwa setan-setan memiliki juga percaya karena mereka me
ngetahui berbagai fakta mengenai Allah (Yakobus 2:19). Sudahlah
pasti bahwa Simon Magus (Kisah 8:13) juga mempunyai iman se
macam ini karena tidak ada petunjuk-petunjuk bahwa ia bertobat
dan menerima Kristus. Oleh karena itu, kita menyimpulkan bahwa
iman bukanlah sekadar persetujuan intelektual saja. Sekarang,
marilah kita mempelajari ketiga unsur dari iman yang sejati.
7. Unsur yang menyangkut pikiran. Unsur ini meliputi percaya
kepada penyataan Allah dalam alam, pada fakta-fakta sejarah yang
ada di Alkitab, dan pada doktrin-doktrin yang diajarkan dalam
Alkitab yang berkaitan dengan keadaan manusia yang penuh dosa,
penebusan yang disediakan dalam Kristus, syarat-syarat untuk mem
peroleh keselamatan dan menerima semua berkat yang dijanjikan
Pertobatan 415
kepada anak-anak Tuhan. Sekalipun unsur iman ini sekarang sangat
diremehkan, unsur ini menjadi dasar bagi unsur-unsur pokok yang
lain dari iman. Paulus mengatakan, "Jadi, iman timbul dari pende
ngaran, dan pendengaran akan firman Kristus" (Roma 10:17). Kita
mengetahui bahwa Allah itu ada; oleh karena itu, kita percaya
bahwa Dia ada (Roma 1:19, 20); kita perlu mengetahui Injil agar
dapat percaya kepada Kristus (Roma 10:14). Oleh karena itu, iman
yang alkitabiah bukanlah hal menerima suatu hipotesis yang
dirumuskan untuk agama, melainkan merupakan kepercayaan yang
berlandaskan bukti-bukti yang terbaik. Pemazmur menulis, "Orang
yang mengenal nama-Mu, percaya kepada-Mu, sebab tidak
Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya Tuhan" (Mazmur
9:11).
2. Unsur yang menyangkut perasaan hati. Unsur ini ditekankan
dalam ayat-ayat seperti Mazmur 106:12, 13, "saat itu percayalah
mereka kepada segala firman-Nya, mereka menyanyikan puji-pujian
kepada-Nya. namun segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-
Nya dan tidak menantikan nasihat-Nya"; Matius 13:20, 21, "Benih
yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang men
dengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. namun
ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. jika datang penindasan
atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad";
dan Yohanes 8:30, 31 di mana Yohanes membedakan antara orang
banyak yang percaya kepada Yesus dan orang-orang lain yang
sekadar mempercayai Dia. Bandingkanlah juga sikap ahli Taurat
yang menyetujui pernyataan Yesus tentang hukum yang terutama,
namun yang tidak menerima Dia sebagai Juruselamat (Markus 12:32-
34); dan Yohanes 5:35, "Ia yaitu pelita yang menyala dan yang
bercahaya dan kamu hanya mau menikmati sesaat saja cahayanya
itu." Semua ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang itu hanya
sementara saja menerima sebagian kebenaran Allah, berbeda de
ngan mereka yang sepenuhnya menerima pesan Firman Allah dan
Kristus yang diberitakannya.
Kita dapat memperjelas unsur emosional dari iman sebagai jiwa
yang mulai menyadari kebutuhan-kebutuhan pribadinya serta ke
mungkinan diterapkannya penebusan yang tersedia di dalam Kristus
pada dirinya sendiri, dan pada saat yang sama menerima kebenaran-
416 Soteriologi
kebenaran itu. Akan namun , ia tidak boleh berhenti di situ saja, sebab
sekalipun unsur emosional harus diperhitungkan juga sebagai suatu
unsur penting dari iman sejati, namun unsur ini tidak boleh dianggap
sebagai satu-satunya unsur iman.
3. Unsur yang menyangkut kehendak. Unsur iman ini merupakan
akibat logis dari unsur yang menyangkut pikiran dan perasaan hati.
jika seseorang menerima sebagai benar penyataan Allah dan
keselamatan yang ditawarkan-Nya serta menyetujui bahwa
semuanya itu bermanfaat bagi dirinya, maka logislah jika orang ter
sebut akan mengambil, keselamatan itu bagi dirinya sendiri. Setiap
istilah yang dibahas sebelumnya akan membawa kepada istilah yang
berikutnya; seseorang belum diselamatkan jika ketiga unsur ini tidak
ada dalam imannya. Sekalipun demikian, unsur yang
menyangkut kehendak ini begitu luas sehingga mencakup kedua
unsur lainnya. Pastilah, tidak ada orang yang diselamatkan jikalau
ia tidak ingin menerima Kristus, dan tidak ada orang yang akan
memperoleh jawaban atas doa jika ia tidak dengan sepenuh hati
percaya janji-janji Allah.
Unsur yang menyangkut kehendak ini meliputi juga penyerahan
hati kepada Allah dan penerimaan Kristus sebagai Juruselamat.
Penyerahan hati kepada Allah ditunjukkan dalam ayat-ayat seperti
"Hai anak-Ku, berikanlah hatimu kepada-Ku, biarlah matamu
senang dengan jalan-jalan-Ku" (Amsal 23:26); "Marilah kepada-Ku,
semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi
kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah
pada-Ku" (Matius 11:28, 29); dan "Jikalau seorang datang kepada-
Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya,
saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya
sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (Lukas 14:26). Istilah
Yunani pisteuo (percaya atau mempercayai) dipakai juga dalam arti
penyerahan dan pengabdian. Hal ini dapat dilihat dalam pernyataan-
pernyataan seperti berikut, 'namun Yesus sendiri tidak mempercaya
kan diri-Nya [pisteuo] kepada mereka, karena Ia mengenal mereka
semua" (Yohanes 2:24); "Kepada merekalah dipercayakan firman
Allah" (Roma 3:2); dan "Kepadaku telah dipercayakan pemberitaan
Injil" (Galatia 2:7). Alkitab sering kali menekankan bahwa sese
orang harus menghitung dulu harganya sebelum memutuskan untuk
Pertobatan 417
ikut Yesus (Matius 8:19-22; Lukas 14:26-33). Gagasan penyerahan
juga tersirat dalam perintah untuk menerima Yesus sebagai Tuhan.
Perintahnya ialah 'Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus" (Kisah
16:31), dan kita harus mengaku "bahwa Yesus yaitu Tuhan"
(Roma 10:9) sebelum dapat menerima keselamatan. Percaya kepada
Yesus sebagai Tuhan berarti mengakui Dia sebagai Tuhan, dan kita
tidak dapat mengakui Dia sebagai Tuhan jikalau kita belum
menyerahkan kepada-Nya pimpinan atas kehidupan kita. Unsur
iman ini sering kali diabaikan atau bahkan dihubungkan dengan
waktu yang datang kemudian dalam pengalaman penyerahan kepada
Tuhan, namun Alkitab dengan jelas sekali menghubungkannya de
ngan pengalaman keselamatan yang mula-mula.
Perlunya menerima Kristus sebagai Juruselamat untuk diri kita
sendiri diajarkan dalam banyak ayat Alkitab, 'namun semua orang
yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak
Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya" (Yohanes 1:12;
"Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak
akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Ku
berikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang
terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal"
(Yohanes 4:14); "Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia
dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam
dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia
mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia
pada akhir zaman" (Yohanes 6:53, 54); dan "Lihatlah, Aku berdiri
di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar
suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkan
nya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-
sama dengan Aku" (Wahyu 3:20).
C. SUMBER IMAN
Sebagaimana halnya pertobatan, demikian pula iman memiliki sisi
ilahi dan sisi manusiawi.
7. Sisi ilahi. Penulis surat Ibrani mengatakan tentang Yesus
sebagai yang "memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman
kita itu kepada kesempurnaan" (Ibrani 12:2). Jelaslah, iman yaitu
pemberian dari Allah (Roma 12:3, II Petrus 1:1), yang diberikan
418 Soteriologi
oleh Roh Kudus menurut kehendak-Nya (I Korintus 12:9; band.
Galatia 5:22). Paulus berbicara tentang seluruh keselamatan sebagai
suatu pemberian Allah (Efesus 2:8), dan pastilah itu mencakup juga
iman.
2. Sisi manusiawi. Sabda Allah yang diucapkan dan yang tertulis
menghasilkan iman. Alkitab mengatakan, "Iman timbul dari pen
dengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Roma 10:17), dan
"Di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi
percaya" (Kisah 4:4). Bukan saja Firman Tuhan yang menjadi
sarana iman, namun doa juga (Markus 9:24; Lukas 22:32). Para
murid minta kepada Tuhan, 'Tambahkanlah iman kami" (Lukas
17:5). Selanjutnya, hal memakai iman yang kita miliki akan
merupakan suatu sarana yang membantu pertumbuhan iman kita
(Matius 25:29; band. Hakim-Hakim 6:14).
D. HASIL-HASIL IMAN
Ada beberapa hasil iman.
1. Keselamatan. Seluruh keselamatan kita bergantung pada iman.
Dari awal sampai akhir kita diselamatkan oleh iman, apakah itu
pembenaran (Roma 5:1), pengangkatan sebagai anak atau adopsi
(Galatia 3:5, 14; 4:5, 6), atau pengudusan (Kisah 26:18). Petrus
memberi tahu bahwa kita "dipelihara dalam kekuatan Allah karena
iman" (I Petrus 1:5).
2. Kepastian. Memang benar bahwa kepastian keselamatan
datangnya dari kesaksian Roh Kudus (Roma 8:16; I Yohanes 3:24;
4:13), namun Allah menunjukkan janji-janji dalam Firman Tuhan
kepada jiwa kita, dan kepastian datang pada saat kita percaya pada
janji-janji itu. Yang berkaitan erat sekali dengan kepastian ialah
damai sejahtera (Yesaya 26:3; Roma 5:1), dan perhentian (Ibrani
4:3), beserta dengan sukacita yang dihasilkannya (I Petrus 1:8).
3. Perbuatan baik. Iman dengan sendirinya menghasilkan per
buatan baik. Kita memang telah diselamatkan terlepas dari per
buatan baik (Roma 3:20; Efesus 2:9), namun kita telah diselamatkan
"untuk melakukan pekerjaan baik" (Efesus 2:10). Yesus menga-
Pertobatan 419
takan, "Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya
mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu
yang di sorga" (Matius 5:16). Yakobus menekankan bahwa iman
diwujudkan dalam "perbuatan" (Yakobus 2:17-26). Paulus me
nekankan bahwa melakukan hukum Taurat saja tidaklah cukup
(Galatia 2:16; 3:10); namun ia juga menekankan bahwa "perbuatan"
yaitu hasil dari iman (Titus 1:16; 2:14; 3:14; 3:8). Perbuatan baik
ini yaitu buah Roh (Galatia 5:22, 23; Efesus 5:9).
XXX
Pembenaran dan Pembaharuan
Doktrin-doktrin yang akan kita pertimbangkan selanjutnya ialah
pembenaran dan pembaharuan
I. DOKTRIN PEMBENARAN
Pertobatan diikuti oleh pembenaran. Sekalipun Alkitab sangat me
nekankan doktrin pembenaran ini, dalam kurun sejarah gereja
doktrin ini telah diputarbalikkan dan hampir dibuang. Reformasi
Protestan sangat berjasa karena telah mengembalikannya pada tem
patnya yang layak. Kita sedikit banyak kecewa bila mencari
masukan-masukan tentang doktrin-doktrin pembaharuan dan pengu
dusan dalam karya-karya para Reformator; doktrin-doktrin ini
belumlah menerima perhatian yang semestinya sampai zaman
Kebangkitan Rohani golongan Wesleyan. Akan namun , kita dapat
bersukacita karena gerakan Reformasi telah mengembalikan doktrin
pembenaran kepada gereja. Beberapa aspek dari doktrin ini perlu
dibicarakan.
A. DEFINISI PEMBENARAN
Dari pembawaannya, setiap orang bukan saja merupakan anak si
jahat, namun juga seorang yang melakukan pelanggaran dan
kejahatan (Roma 3:23; 5:6-10; Efesus 2:1-3; Kolose 1:21; Titus
3:3). saat dilahirkan kembali maka seseorang menerima hidup
dan perangai yang baru; saat mengalami pembenaran, ia
menerima kedudukan yang baru. Pembenaran dapat dijelaskan
sebagai tindakan Allah yang menyatakan sebagai benar orang yang
percaya kepada Kristus. Ladd menganjurkan, 'Pokok gagasan pem-
421
422 Soteriologi
benaran ialah pernyataan Allah, hakim yang adil, bahwa orang yang
percaya kepada Kristus, sekalipun penuh dengan dosa, dinyatakan
benar-dipandang sebagai benar, karena di dalam Kristus orang ter
sebut telah memasuki suatu hubungan yang benar dengan Allah."139
139 Ladd, A Theology of the New Testament, hal. 437.
140 Ladd, A Theology of the New Testament, hal. 437.
Pembenaran merupakan suatu tindakan deklaratif. Pembenaran
bukanlah sesuatu yang dikerjakan di dalam manusia, namun sesuatu
yang dinyatakan tentang manusia. Pembenaran tidak menjadikan
seseorang benar, namun hanya menyatakan dia benar. Beberapa hal
tercakup di dalamnya.
1. Penghapusan hukuman. Upah dosa ialah kematian: kematian
rohani, kematian fisik, dan kematian abadi (Kejadian 2:17; Roma
5:12-14; 6:23). Bila seseorang akan diselamatkan, maka hukuman
atas dosa itu harus ditiadakan terlebih dahulu. Hukuman ini
telah ditiadakan oleh dan di dalam kematian Kristus, yang
menanggung hukuman dosa-dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu
salib (Yesaya 53:5, 6; I Petrus 2:24). Karena Kristus telah me
nanggung segala hukuman dosa manusia, maka kini Allah telah
menghapus hukuman itu dalam hal orang yang percaya kepada Kris
tus (Kisah 13:38, 39; Roma 8:1, 33, 34; II Korintus 5:21). Inilah
yang dinamakan pengampunan dosa (Roma 4:7; Efesus 1:7; 4:32;
Kolose 2:13).
Kematian Kristus telah memungkinkan pengampunan dosa, namun
tidak mewajibkannya, karena Kristus mati secara sukarela dan
bukan karena terpaksa. Allah tetap berhak untuk menentukan atas
syarat-syarat apakah manusia boleh menerima pengampunan dosa.
Hal itu telah dilakukan-Nya dengan menyatakan bahwa Ia mengam
puni orang yang bertobat dan percaya kepada Anak-Nya. Daud
mengatakan, "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya,
yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia yang kesalahannya
tidak diperhitungkan Tuhan!" (Mazmur 32:1, 2). "Doktrin pem
benaran berarti bahwa sekarang ini Allah telah menyatakan pem
bebasan orang beriman dari penghukuman pada akhir zaman, bah
kan sebelum penghukuman akhir itu terjadi."140
2. Pemulihan hubungan baik. Orang berdosa bukan saja telah
mendatangkan hukuman atas dirinya, namun Allah juga tidak lagi
Pembenaran dan Pembaharuan 423
berkenan kepadanya (Yohanes 3:36; Roma 1:18; 5:9; Galatia 2:16,
17). Pembenaran bukan sekadar pembebasan dari hukuman; peng
hapusan hukuman yaitu berbeda dengan dikembalikan kepada
hubungan baik dengan Allah. Orang yang telah dibenarkan kini
menjadi sahabat Allah (II Tawarikh 20:7; Yakobus 2:23). Ia
dijadikan pewaris Allah dan pewaris bersama-sama dengan Kristus
(Roma 8:16, 17; Galatia 3:26; Ibrani 2:11).
3. Penghitungan kebenaran. Karena pembenaran yaitu
menempatkan seseorang sebagai benar di depan hukum yang ber
laku, maka orang berdosa tidak hanya harus menerima pengam
punan atas dosa-dosa yang telah lalu, namun ia juga harus diberikan
kebenaran yang positif sebelum ia dapat bersekutu dengan Allah.
Kebutuhan ini disediakan dalam penghitungan kebenaran Kristus
pada orang yang percaya. Dihitung artinya dianggap sebagai atau
dimasukkan dalam bilangan. Paulus meminta agar Filemon
menanggungkan utang Onesimus kepadanya (Filemon 18). Daud
mengatakan seseorang berbahagia jika "kesalahannya tidak
diperhitungkan Tuhan" (Mazmur 32:2). Paulus berkata tentang per
nyataan ini bahwa Daud "menyebut berbahagia orang yang
dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya" (Roma 4:6).
Bagaimana Allah dapat melakukan hal itu? Dengan memper
hitungkan kebenaran Kristus pada orang percaya. "Dia yang tidak
mengenal dosa, telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya
dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (II Korintus 5:21). Kristus
"yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan
dan menguduskan dan menebus kita" (I Korintus 1:30). Kebenaran
Allah ini dinyatakan dalam Injil, serta bertolak dari iman dan
memimpin kepada iman (Roma 1:17). Kita harus memperhatikan
bahwa yang dimaksudkan di sini bukanlah kebenaran sebagai sifat
Allah, karena kebenaran itu tidak ada hubungannya dengan iman
kita, namun yang diperhitungkan ialah kebenaran yang telah disedia
kan Allah bagi mereka yang percaya kepada Kristus. Demikianlah,
Allah memulihkan hubungan baik dengan kita dengan memperhi
tungkan kebenaran Kristus kepada kita. Inilah pakaian perkawinan
yang dipersiapkan bagi setiap orang yang menerima undangan ke
pesta itu (Matius 22:11, 12; band. Lukas 15:22-24).
Oleh karena itu, orang yang telah dibenarkan itu telah diampuni
424 Soteriologi
dosanya dan telah dihapus hukumannya; ia juga telah memperoleh
kembali hubungan baik dengan Allah melalui penghitungan
kebenaran Kristus. Dirinya sendiri belum benar, sekalipun kata sifat
dikaios kadang-kadang dipakai untuk menunjuk kepada kelakuan
yang benar, namun orang ini yaitu benar dalam arti forensik,
yaitu secara hukum. Gereja Roma Katolik menjelaskan pembenaran
sebagai penghapusan dosa serta pemasukan sifat-sifat anugerah
yang baru. Berdasarkan pandangan ini, pembenaran diperlakukan
sebagai suatu pengalaman yang subjektif dan bukan suatu hubungan
yang objektif. Ajaran inilah yang dilawan oleh kaum Reformasi.
Mereka dengan gigih mengatakan bahwa pembenaran itu berbeda
dari pengudusan, bahwa pembenaran merupakan suatu tindakan
deklaratif, yaitu menguraikan hubungan seorang berdosa dengan
hukum dan keadilan Allah, sedangkan pengudusan merupakan tin
dakan efisien yang mengubah perangai batiniah orang berdosa. Ini
lah pandangan yang tepat sebagaimana jelas dari banyak bagian
Alkitab.
B. METODE PEMBENARAN
Bahkan pada zaman purbakala, yaitu pada zaman Ayub, sudah ada
orang yang bertanya, "Bagaimana manusia benar di hadapan Allah,
dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?" (Ayub
25:4). Pemazmur memohon kepada Tuhan dengan sungguh-sung
guh sambil berkata, "Janganlah beperkara dengan hamba-Mu ini,
sebab di antara yang hidup tidak seorang pun yang benar di
hadapan-Nya" (Mazmur 143:2). Untunglah, orang-orang yang men
cari Allah pada zaman Perjanjian Lama tidak perlu menunggu sam
pai Paulus lahir untuk menemukan jawaban atas pertanyaan mereka.
Paulus mengingatkan kita bahwa Abraham dibenarkan oleh iman
empat belas tahun sebelum ia disunat (Roma 4:1-5, 9-12; band.
Kejadian 15:6; 16:15, 16; 17:23-26) dan bahwa Daud bersukacita
atas kenyataan kebenaran yang diperhitungkan (Roma 4:6-8).
Ajaran Perjanjian Baru tentang pembenaran bukanlah suatu
penemuan baru; kebenaran ini telah diketahui pada zaman Perjan
jian Lama, dan pada waktu itu kebenaran diperoleh dengan cara
yang sama seperti pada zaman Perjanjian Baru. Jadi, apakah metode
pembenaran yang dipakai oleh Tuhan?
Pembenaran dan Pembaharuan 425
1. Kita dibenarkan bukan dengan melakukan hukum Taurat.
Secara negatif, pembenaran bukanlah diperoleh karena melakukan
hukum Taurat. Memang benar bahwa Yesus menyuruh pemuda
yang kaya itu untuk taat kepada hukum Taurat saat ia bertanya
apa yang harus dilakukannya untuk memperoleh hidup yang kekal
(Markus 10:17-22), namun jelaslah bahwa Kristus melakukan hal
ini sekadar untuk menunjukkan kepada pemuda kaya itu bahwa
keselamatan tidak mungkin diperoleh berdasarkan hal itu. Orang
yang ingin dibenarkan oleh pekerjaan hukum Taurat harus terus-
menerus melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam hukum
(Galatia 3:10; Yakobus 2:10). Tak seorang pun yang bisa
melakukannya. Paulus mengatakan bahwa dengan melakukan
hukum Taurat tidak seorang pun dibenarkan di hadapan Allah
(Roma 3:20; Galatia 2:16). Hukum Taurat hanya sekadar bertugas
untuk menyatakan dosa (Roma 3:20; 7:7) dan mendorong orang
yang sudah insaf untuk lari kepada Kristus (Galatia 3:24). Yesus
sendiri pada suatu kesempatan lain, pernah mengajarkan bahwa
"pekerjaan yang dikehendaki Allah" ialah "percaya kepada Dia yang
telah diutus Allah" (Yohanes 6:29). Manusia tidak diselamatkan
dengan cara berusaha sekuat tenaga untuk melakukan perbuatan
baik, selain perbuatan itu ialah percaya kepada Tuhan Yesus.
2. Kita dibenarkan oleh kasih karunia Allah. Dua ayat Alkitab
dapat dikutip untuk menerangkan kebenaran ini, "Oleh kasih
karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan
dalam Kristus Yesus" (Roma 3:24) dan "Sebagai orang yang
dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang
kekal, sesuai dengan pengharapan kita" (Titus 3:7). Kedua ayat ini
menunjukkan sumber pembenaran kita. Kita diselamatkan bukanlah
oleh perbuatan-perbuatan baik yang telah kita lakukan, namun oleh
kemurahan-Nya (Titus 3:5; band. Efesus 2:4, 5, 8). Dengan demi
kian, pembenaran itu bermula dalam hati Allah sendiri. Karena
menyadari bahwa kita bukan hanya tidak mempunyai kebenaran,
namun juga tidak mampu untuk memperolehnya, maka dengan
murah hati Allah memutuskan untuk memberikan kebenaran itu
kepada kita. Kemurahan Allah itulah yang mendorong Dia untuk
menganugerahkan kebenaran itu kepada kita; Ia tidak berkewajiban
untuk memberikannya. Dalam kasih karunia-Nya Ia memperhatikan
426 Soteriologi
kesalahan kita, dan dalam kemurahan-Nya Ia memperhatikan pen
deritaan kita.
3. Kita dibenarkan oleh darah Kristus. Orang percaya itu tidak
saja dibenarkan oleh kasih karunia Allah, namun ia juga dibenarkan
oleh darah Kristus. Paulus menulis, "Lebih-lebih, karena kita se
karang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamat
kan dari murka Allah" (Roma 5:9). Alkitab selanjutnya menga
takan, "Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat
dengan darah, dan tanpa pertumpahan darah tidak ada pengam
punan" (Ibrani 9:22). Ayat-ayat ini memberi tahu landasan pem
benaran kita. Karena Kristus telah menanggung hukuman untuk
dosa-dosa kita, maka Allah kini dapat menghapuskan hukuman itu
serta mempunyai hubungan yang baik kembali dengan kita. Dalam
pembenaran, dosa-dosa kita tidak dimaafkan, namun dihukum di
dalam diri Yesus Kristus, yang menjadi pengganti kita. Kebangkitan
Kristus merupakan bukti bahwa kematian-Nya di kayu salib telah
memenuhi semua tuntutan Allah terhadap diri kita (Roma
4:25; I Yohanes 2:2). Pemberian Roh Kudus merupakan suatu
bukti yang lain. "Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita
bahwa kita yaitu anak-anak Allah" (Roma 8:16; band. Galatia 4:5,
6).
4. Kita dibenarkan karena iman. Alkitab mengatakan, "Sebab
itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai
sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus"
(Roma 5:1), dan "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan,
dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan" (Roma 10:10).
Alkitab selanjutnya mengatakan bahwa "tidak seorang pun yang
dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, namun hanya oleh
karena iman dalam Kristus Yesus" (Galatia 2:16; band. Kisah 13:38,
39; Roma 3:28; Galatia 3:8,24). Inilah syarat bagi pembenaran kita,
bukan landasannya. "Bila iman merupakan landasan bagi pem
benaran kita, maka iman harus dianggap sebagai perbuatan baik
manusia." Rasul Paulus terus-menerus menentang pandangan
bahwa manusia dapat dibenarkan oleh karena perbuatan baik (Roma
3:27, 28; Galatia 2:16). Bukan karena memiliki iman kita
141
141 Berkhof, Systematic Theology, hal. 521.
Pembenaran dan Pembaharuan 427
dibenarkan, namun oleh iman. Iman bukanlah harga pembenaran,
melainkan merupakan sarana untuk memperoleh pembenaran. Jelas
lah bahwa baik orang saleh zaman Perjanjian Lama maupun orang
saleh zaman Perjanjian Baru (Kisah 13:38, 39; Roma 4:5-12;
Galatia 3:8) dibenarkan.
C. HASIL-HASIL PEMBENARAN
Hasil-hasil pembenaran dapat diringkaskan sebagai berikut. (1)
Hukuman dihapus (Roma 4:7, 8; II Korintus 5:19). Penghukuman
telah ditiadakan (Roma 8:1, 33, 34), dan kini kita berdamai dengan
Tuhan (Roma 5:1; Efesus 2:14-17). (2) Kita mempunyai hubungan
yang baik kembali dengan Allah (Roma 4:6; I Korintus 1:30; II
Korintus 5:21). (3) Kebenaran Kristus diperhitungkan pada kita
(Roma 4:5). Orang percaya kini memakai kebenaran yang bukan
kebenarannya sendiri, namun yang diberikan kepadanya oleh Kristus,
dan karena itu ia kini dapat bersekutu dengan Allah. (4) Orang
percaya menjadi ahli waris. Paulus mengatakan, "Supaya kita,
sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak
menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita" (Titus
3:7). (5) Juga ada akibat langsung dalam kehidupan praktis. Pem
benaran menghasilkan kehidupan yang benar. Alkitab mengatakan
bahwa kini kita "penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan
oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah" (Filipi
1:11). Yohanes menulis, "Anak-anakku, janganlah membiarkan se
orang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat
kebenaran yaitu benar, sama seperti Kristus yaitu benar" (I
Yohanes 3:7). Hal inilah yang ditekankan oleh Yakobus; ia ingin
sekali agar orang percaya memiliki iman yang akan menghasilkan
perbuatan-perbuatan yang nyata, yaitu iman yang hidup (Yakobus
2:14-26). (6) Orang yang dibenarkan memiliki kepastian bahwa ia
akan selamat dari murka Allah yang akan datang (Roma 5:9; I Tesa
lonika 1:10). Dan (7) ia memiliki keyakinan bahwa suatu saat ia
akan dipermuliakan (Matius 13:43; Roma 8:30; Galatia 5:5). Se
muanya ini secara langsung berhubungan dengan pembenaran.
II. DOKTRIN PEMBAHARUAN
Secara logis doktrin pembaharuan mengikuti doktrin pembenaran.
428 Soteriologi
A. ARTI PEMBAHARUAN
Pembenaran diberikan agar orang percaya dapat memerintah dalam
hidup ini dan dalam Alkitab hal ini disebutkan sebagai "pembenaran
untuk hidup" (Roma 5:18). Dari sisi ilahi, pembahan hati itu disebut
pembaharuan, kelahiran kembali; dari sisi manusia, itu dinamakan
pertobatan. Dalam pembaharuan, jiwa itu pasif; dalam pertobatan,
jiwa itu aktif. Pembaharuan dapat diperjelas sebagai pemberian
hidup ilahi kepada jiwa (Yohanes 3:5; 10:10, 28; I Yohanes 5:11,
12), sebagai pemberian sifat yang baru (II Petrus 1:4) atau hati yang
baru (Yeremia 24:7; Yehezkiel 11:19; 36:26), serta menghasilkan
ciptaan yang baru (II Korintus 5:17; Efesus 2:10; 4:24). Hidup
rohani yang baru ini mempengaruhi kemampuan berpikir (I Korin
tus 2:14; Efesus 1:18; Kolose 3:10), kemauan (Filipi 2:13; II Tesa
lonika 3:5; Ibrani 13:21), perasaan orang percaya (Matius 5:4;
I Petrus 1:8).
B. PERLUNYA PEMBAHARUAN
Alkitab berkali-kali menyatakan bahwa seseorang hams diperba
harui atau dilahirkan kembali sebelum ia dapat melihat Allah. Tun
tutan-tuntutan Firman Allah ini didukung oleh akal dan hati nurani
manusia.
Kesucian merupakan syarat mutlak yang hams dipenuhi sebelum
seseorang dapat diterima dalam persekutuan dengan Allah. Alkitab
memerintahkan, "Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan
kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan
melihat Tuhan" (Ibrani 12:14). Akan namun , seluruh umat manusia
pada dasarnya telah rusak akhlaknya, dan bila secara moral ia mulai
menyadari keadaannya, maka ia menjadi bersalah karena telah
melanggar hukum Allah. Oleh karena keadaan ini yang menjadi
sifat dasarnya, maka manusia tidak dapat bersekutu dengan Allah.
Perubahan moral di dalam manusia ini hanya dapat terjadi oleh
suatu tindakan Roh Allah. Roh Kudus memperbaharui hati manusia
serta memberinya kepadanya hidup dan sifat Allah. Alkitab me
nyebut pengalaman ini sebagai kelahiran kembali, yang menyebab
kan seseorang menjadi anak Allah. Yesus mengatakan, "Aku ber
kata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kem
bali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yohanes 3:3; band.
Pembenaran dan Pembaharuan 429
1:12; I Yohanes 3:1). Pada dasarnya semua orang yaitu "orang-
orang durhaka" (Efesus 2:2), "orang-orang yang harus dimurkai"
(Efesus 2:3), "anak-anak dunia ini" (Lukas 16:8), dan "anak-anak
Iblis" (I Yohanes 3:10; band. Matius 13:38; 23:15; Kisah 13:10).
Istilah "anak-anak Iblis" secara khusus dipakai di Yohanes 8:44
untuk orang-orang yang menolak Kristus. Hanya kelahiran baru
dapat menghasilkan perangai yang kudus di dalam diri orang-orang
berdosa yang memungkinkan mereka bersekutu dengan Allah.
C. SARANA-SARANA PEMBAHARUAN
Alkitab mengatakan bahwa pembaharuan merupakan perbuatan
Allah. Namun ada berbagai sarana dan perantara yang ikut terlibat
dalam mewujudkan pengalaman ini.
1. Kehendak Allah. Kita dilahirkan kembali berdasarkan kehen
dak Allah (Yohanes 1:13). Yakobus menulis, "Atas kehendak-Nya
sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran" (Yakobus
1:18).
2. Kematian dan kebangkitan Kristus. Kelahiran baru itu di
berikan dengan syarat bahwa kita beriman kepada Kristus yang ter
salib (Yohanes 3:14-16). Kebangkitan Kristus juga terlibat dalam
pembaharuan kita (I Petrus 1:3).
3. Firman Allah. Yakobus mengajarkan bahwa kita dijadikan
"oleh firman kebenaran" (1:18; band. I Petrus 1:23). Paulus pernah
berbicara tentang hal "memandikan dengan air dan firman" (Efesus
5:26; band. Titus 3:5). Beberapa orang menganggap baptisan air
sebagai suatu syarat yang perlu untuk menerima pembaharuan,
namun pendapat ini menjadikan pembaharuan bergantung pada per
buatan. Nyatalah, Kornelius telah lahir baru sebelum ia dibaptis
(Kisah 10:27). Kisah 2:38 hendaknya diartikan bahwa orang dibap
tis karena dosa-dosanya telah diampuni, dan bukan supaya dosa-
dosa itu akan diampuni; sama seperti Yohanes membaptis orang
karena mereka telah bertobat, dan bukan supaya orang yang dibaptis
itu akan bertobat (Matius 3:11).
430 Soteriologi
4. Para pelayan Firman. Tuhan memakai orang-orang dalam
proses penebusan. Akan namun , sumbangan tenaga manusia hanya
lah terdiri atas pemberitaan kebenaran serta mengajak orang untuk
menerima Kristus (Roma 10:14, 15; I Korintus 4:15; Filemon 10;
band. Galatia 4:19).
5. Roh Kudus. Pelaksana pembaharuan yang betul-betul efisien
ialah Roh Kudus (Yohanes 3:5, 6; Titus 3:5; band. Kisah 16:14;
Roma 9:16; Filipi 2:13). Kebenaran sendiri tidaklah dapat mengu
bah kehendak; di samping itu, sebelum Roh Kudus bekerja di dalam
hati seseorang maka hatinya yang belum diperbaharui benci akan
kebenaran.
D. AKIBAT-AKIBAT PEMBAHARUAN
Alkitab menyatakan adanya beberapa hal yang diakibatkan oleh
pembaharuan. Akibat-akibat ini sifatnya sedemikian rupa se
hingga dapat dipakai untuk menguji apakah seseorang telah
dilahirkan kembali atau belum. (1) Orang yang lahir dari Allah
mengatasi pencobaan (I Yohanes 3:9; 5:4, 18). Semua kata kerja
dalam ayat-ayat ini ditulis dalam bentuk waktu sekarang dan dengan
demikian menunjukkan kehidupan yang terus-menerus penuh
kemenangan. Karena itu, orang yang telah lahir kembali melakukan
hal-hal yang benar. Akan namun , kami tidak bermaksud mengatakan
bahwa kehidupan orang itu sudah sempurna tanpa dosa. (2) Sikap
orang yang telah dibaharui berbeda. Ia membiasakan diri mengasihi
saudara-saudara yang seiman (I Yohanes 5:1), Allah (I Yohanes
4:19; 5:2), Firman Allah (Mazmur 119:97; I Petrus 2:2), musuh-
musuhnya (Matius 5:44), serta jiwa-jiwa yang terhilang (II Korintus
5:14). (3) Orang yang telah dibaharui juga menikmati beberapa hak
istimewa sebagai seorang anak, seperti tersedianya semua
kebutuhannya (Matius 7:11; band. Lukas 11:13), penyataan kehen
dak Allah (I Korintus 2:10-12; Efesus 1:9), serta perlindungan
Tuhan (I Yohanes 5:18). (4) Orang yang telah lahir dari Allah juga
merupakan pewaris Allah dan pewaris bersama-sama dengan Yesus
Kristus (Roma 8:17). Sekalipun warisan ini baru dapat di
terima sepenuhnya pada masa yang akan datang, anak Tuhan
sekarang ini sudah memperoleh sebagian warisannya dalam wujud
Pembenaran dan Pembaharuan 431
karunia Roh Kudus (Efesus 1:13, 14). Tentu saja, hasil-hasil pem
baharuan ini tidaklah kelihatan pada dunia, namun hal-hal ini
nyata sekali bagi orang yang telah lahir ke dalam keluarga Allah.
XXXI
Persatuan Dengan Kristus dan
Pengangkatan Anak
Inilah pokok yang terakhir dalam membahas penerapan keselamatan
pada awal mulanya. Persatuan orang percaya dengan Kristus dan
kedudukannya karena diangkat menjadi anak Tuhan harus di
uraikan.
L PERSATUAN ORANG PERCAYA DENGAN
KRISTUS
Jiwa yang telah dilahirkan kembali kini memiliki persatuan yang
hidup dengan Kristus. Kami tidak hendak menyangkal bahwa per
tama-tama terjadi suatu persatuan yang representatif dengan Kristus.
Melalui persatuan yang sah ini Kristus, sebagai Adam yang kedua
(I Korintus 15:22), mengerjakan semua kewajiban yang tidak sang
gup dilaksanakan oleh Adam yang pertama, dan menunaikan se
muanya untuk kepentingan umat manusia. Hasil dari persatuan de
ngan Kristus ini ialah bahwa dosa-dosa kita diperhitungkan kepada
Kristus dan kebenaran Kristus diperhitungkan kepada kita, beserta
dengan segala hak hukum yang ada di dalamnya. Akan namun ,
sekarang ini, kita hanya akan membahas persatuan yang hidup dari
orang percaya dengan Kristus.
A. SIFAT PERSATUAN INI
Alkitab menggambarkan persatuan orang percaya dengan Kristus
dengan berbagai cara. Pertama-tama dipakai berbagai kias dari
hubungan-hubungan duniawi. Misalnya, persatuan antara sebuah
433
434 Soteriologi
bangunan dengan dasarnya (Efesus 2:20-22; Kolose 2:7; I Petrus
2:4, 5), persatuan antara suami dengan istri (Roma 7:4; Efesus 5:31,
32; Wahyu 19:7-9), persatuan antara carang dengan pokok anggur
(Yohanes 15:1-6), persatuan antara kepala dengan tubuh (I Korintus
6:15, 19; 12:12; Efesus 1:22, 23; 4:15, 16), serta persatuan antara
Adam dengan keturunannya (Roma 5:12, 21; I Korintus 15:22, 49;
band, persatuan antara gembala dengan domba-dombanya, Yohanes
10:1-18; Ibrani 13:20; I Petrus 2:25).
7. Berbagai pernyataan dalam Alkitab. Ada juga' banyak per
nyataan langsung tentang persatuan orang percaya dengan Kristus.
Sering kali dikatakan bahwa orang percaya ada "di dalam Kristus."
Yesus berbicara tentang orang-orang percaya sebagai berada di
dalam Dia (Yohanes 14:20), dan dalam Surat-Surat Kirimannya,
Paulus berkali-kali berbicara soal orang-orang percaya yang berada
di dalam Kristus (Roma 6:11; 8:1; II Korintus 5:17; Efesus 2:13;
Kolose 2:11, 12). Pernyataan-pernyataan ini juga ada dalam
Surat-Surat Kiriman Yohanes (I Yohanes 2:6; 4:13; band. II Yo
hanes 9). Sering kali juga dikatakan bahwa Kristus ada di dalam
orang percaya (Yohanes 14:20; Roma 8:10; Galatia 2:20; Kolose
1:27). Memang, Yesus sendiri mengatakan bahwa Bapa dan Dia
tinggal di dalam diri orang percaya (Yohanes 14:23). Selanjutnya,
dikatakan bahwa orang percaya itu mengambil bagian dalam Kristus
(Yohanes 6:53, 56, 57; I Korintus 10:16, 17) dan dalam kodrat ilahi
(II Petrus 1:4), serta menjadi satu roh dengan Tuhan (I Korintus
6:17). Benih Allah tinggal di dalam dirinya (I Yohanes 3:9).
2. Sisi yang negatif. Kita harus membuang beberapa pengertian
tertentu agar dapat memahami apa yang tidak termasuk dalam per
satuan orang percaya dengan Kristus. Pertama, persatuan ini bukan
lah merupakan persatuan mistik menurut pengertian kaum panteis.
Alkitab tidak mengenal adanya persatuan antara Allah atau Kristus
dengan orang yang belum dilahirkan kembali. Persatuan ini juga
bukan persatuan moral, persatuan kasih dan simpati, seperti yang
ada antara dua sahabat. Jiwa Yonatan telah berpadu dengan
jiwa Daud (I Samuel 18:1), namun persatuan orang percaya dengan
Kristus jauh melebihi persatuan karena mempunyai kepentingan dan
tujuan bersama. Persatuan orang percaya dengan Kristus juga bukan
Persatuan Dengan Kristus dan Pengangkatan Anak 435
persatuan hakikat yang membuat kepribadian manusia hancur atau
terserap samasekali ke dalam Kristus atau Allah. Pandangan ini
telah dianut oleh beberapa golongan mistik, namun Alkitab meng
gambarkan hubungan antara Kristus dengan orang percaya sebagai
hubungan "aku" dan "kamu" yang bahkan berlaku bagi orang per
caya yang sudah sangat maju dalam kehidupan kristiani (Filipi 3:7-
14). Akhirnya, persatuan itu bukan merupakan suatu persatuan fisik
dan materiel, yang oleh kalangan tertentu dianggap dapat diperoleh
dengan cara mengambil bagian dalam upacara-upacara gereja. Me
nurut Alkitab, upacara-upacara gereja tidak menjamin terjadinya
persatuan itu, sebaliknya upacara ini dapat dilaksanakan
karena sudah ada persatuan.
3. Sisi yang positif. Kalau begitu apakah sebenarnya persatuan
orang percaya dengan Kristus? (1) Secara positif dapat dikatakan
bahwa persatuan ini bersifat rohani. 'namun siapa yang mengikatkan
dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia" (I Korintus 6:17;
band. 12:13; Roma 8:9, 10; Efesus 3:16, 17). Roh Kuduslah yang
mengadakan persatuan ini. (2) Persatuan ini hidup. Paulus menulis,
"Aku hidup, namun bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan
Kristus yang hidup di dalam aku" (Galatia 2:20), dan "Sebab kamu
telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di
dalam Allah. jika Kristus, yang yaitu hidup kita, menyatakan
diri kelak, maka kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan
Dia dalam kemuliaan" (Kolose 3:3, 4). Kehidupan Kristus yaitu
kehidupan orang percaya. (3) Persatuan ini utuh. Kembali Paulus
menulis, "Kamu semua yaitu tubuh Kristus, dan kamu masing-
masing yaitu anggotanya" (I Korintus 12:27), dan "Karena kita
yaitu anggota tubuh-Nya" (Efesus 5:30; band. I Korintus 6:15).
Setiap bagian dari tubuh merupakan sarana dan tujuan. Tangan itu
ada untuk mata dan mata itu ada untuk tangan. Setiap bagian ada
untuk kepala dan kepala ada untuk setiap bagian. (4) Persatuan ini
tidak dapat dipahami sepenuhnya. Alkitab mengatakan, "Rahasia ini
besar, namun yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan
jemaat" (Efesus 5:32), dan "Betapa kaya dan mulianya rahasia itu
di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah
kamu, Kristus yang yaitu pengharapan akan kemuliaan" (Kolose
1:27). Bahwa orang-orang bukan Yahudi diterima dan dijadikan
436 Soteriologi
anggota dalam Tubuh Kristus merupakan sebuah rahasia yang besar.
(5) Dan akhirnya, persatuan ini tidak dapat dibatalkan. Yesus
berkata, "Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan
mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang
pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku" (Yohanes 10:28).
Paulus bertanya, "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih
Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau
kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?"; lalu ia
sendiri menjawab, 'namun dalam semuanya itu kita lebih daripada
orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita"
(Roma 8:35, 37; band. ayat 38, 39). Kristus memberikan hidup yang
kekal kepada kita, yang berarti bahwa kita tidak akan pernah binasa;
lagi pula, kita berada di dalam tangan-Nya, dan kenyataan inilah
yang meyakinkan kita bahwa tidak ada yang dapat merampas kita
dari tangan-Nya.
B. METODE PERSATUAN INI
Bagaimana persatuan antara Kristus dengan orang Kristen ini
diadakan? Alkitab tidak mengatakannya dengan terus terang. Se
kalipun demikian ada beberapa hal yang dapat kita lihat. Persatuan
ini bersumber dalam tujuan dan rencana Allah. Alkitab mengatakan,
"Di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan"
(Efesus 1:4), dan "Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-
Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan mem
berikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan
kepada-Nya" (Yohanes 17:2). Persatuan ini dimulai pada saat se
orang Kristen dihidupkan bersama-sama dengan Kristus (Efesus
2:5). Paulus pernah mengatakan bahwa kita "menjadi satu dengan
apa yang sama dengan kematian-Nya" (Roma 6:5). Dan I Korintus
12:13 menyatakan bahwa kita dibaptis menjadi satu tubuh oleh Roh
Kudus. Pertama Korintus 6:17 menunjuk kepada kenyataan bahwa
kita telah diikatkan dan menjadi satu dengan Tuhan, namun ayat
ini tidak menerangkan bagaimana kita dipersatukan. Pastilah, hanya
Allah yang dapat mengambil seorang dan menanamnya di dalam
Kristus. Sebagai orang-orang yang telah dihidupkan, kita dapat
mengambil bagian dalam persatuan hidup ini dengan Kristus.
Persatuan Dengan Kristus dan Pengangkatan Anak 437
C. AKIBAT-AKIBAT PERSATUAN INI
Ada empat akibat dari persatuan orang percaya dengan Kristus. (1)
Persatuan dengan Kristus berarti memiliki jaminan yang kekal
(Yohanes 10:28-30). Tidak ada yang dapat memisahkan orang per
caya dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan
kita (Roma 8:38, 39). saat Yesus berbicara tentang pemotongan
carang yang tidak tinggal di dalam Dia, pastilah yang dimaksud
ialah orang yang hanya ikut Dia secara nama saja (Yohanes 15:6),
karena "jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan
kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama
dengan kebangkitan-Nya" (Roma 6:5). (2) Persatuan dengan Kristus
juga berarti berbuah lebat (Yohanes 15:5). Inilah buah Roh (Galatia
5:22, 23; band. Roma 6:22; 7:4; Efesus 5:9). Memangkas ranting-
ranting yang tidak berguna merupakan salah satu cara yang dipakai
oleh Tuhan untuk meningkatkan kesuburan carang yang tinggal di
dalam Dia (Yohanes 15:1, 2). (3) Persatuan dengan Kristus berarti
dibekali untuk melayani. Orang-orang percaya yaitu anggota tubuh
Kristus, dan sebagai anggota, mereka mempunyai berbagai jabatan
dan bakat (I Korintus 12:4-30). Kepala yang menentukan pelayanan
anggota-anggotanya. Persatuan dengan Kristus secara logis mem
bawa kerja sama antara anggota-anggotanya. Keadaan ini mengha
silkan persatuan dalam tubuh Kristus di tengah-tengah keanekara
gaman. (4) Yang terakhir, persatuan dengan Kristus berarti berse
kutu dengan Kristus. Ini berarti bahwa Kristus mempercayai kita
dan memberi tahu maksud dan rencana-Nya kepada kita (Efesus
1:8, 9).
II. PENGANGKATAN ORANG PERCAYA MENJADI
ANAK TUHAN
Doktrin pengangkatan anak diajarkan semata-mata oleh Paulus, dan
ajaran ini kita bahas terakhir. Para penulis yang lain di Per
janjian Baru menghubungkan berkat-berkat tertentu dengan doktrin
pembaharuan dan pembenaran, padahal berkat-berkat yang sama itu
dikaitkan oleh Paulus dengan pengangkatan anak. Kata Yunani yang
diterjemahkan sebagai "pengangkatan anak" muncul lima kali saja
dalam Alkitab, dan semuanya dalam surat-surat Paulus (Roma 8:15,
438 Soteriologi
23; 9:4; Galatia 4:5; Efesus 1:5). Satu kali istilah ini digunakan oleh
Paulus untuk Israel sebagai suatu bangsa (Roma 9:4); satu kali ia
menunjuk bahwa perwujudan pengangkatan anak ini baru sepenuh
nya terlaksana saat Kristus datang kembali (Roma 8:23); dan tiga
kali kata ini dipakai untuk menerangkan bahwa pengangkatan anak
ini merupakan sebuah fakta dalam kehidupan orang Kristen saat ini.
A. DEFINISI PENGANGKATAN ANAK
Sebagaimana ditunjukkan oleh kata Yunani, pengangkatan anak
secara harfiah berarti "ditempatkan sebagai anak sendiri". Evans
telah menyimpulkannya dengan tepat, 'Pembaharuan berkaitan de
ngan perubahan sifat kita; pembenaran berkaitan dengan perubahan
status; pengudusan berkaitan dengan perubahan watak; sedangkan
pengangkatan sebagai anak berkaitan dengan kedudukan."142 Istilah
ini dipakai untuk orang-orang percaya dalam hal-hal yang menyang
kut hak, kedudukan, dan hak istimewa. Yohanes menekankan hu
bungan orang percaya sebagai anak-anak Tuhan; kita dilahirkan dari
Allah dan b







