Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 17


B ertumbuh menjadi makin dewasa (Yohanes 1:12, 

13; I Yohanes 3:1). Paulus lebih menekankan kedudukan orang per­

caya; kita yaitu  anak-anak Allah, dan kita telah diangkat menjadi 

anak dalam keluarga Allah.

142 Evans, The Great Doctrines of the Bible, hal. 161.

Nampaknya bahwa Paulus menganggap orang percaya zaman 

Perjanjian Lama sebagai "anak-anak", namun  sebagai "anak yang 

belum dewasa"; sebaliknya, orang-orang percaya Perjanjian Baru 

dianggapnya sebagai "anak-anak" dan juga sebagai "anak yang su­

dah dewasa". Keuntungan utama seorang anak, menurut Paulus, 

ialah pembebasan dari hukum Taurat (Galatia 4:3-5) serta dapat 

memiliki Roh Kudus, Roh yang menjadikan anak (Galatia 4:6; 

band. Roma 8:15-16). Kita boleh merangkumnya seperti berikut: 

dalam pembaharuan atau kelahiran kembali kita menerima hidup 

baru; dalam pembenaran kita menerima status baru; sedangkan da­

lam pengangkatan sebagai anak kita menerima kedudukan yang 

baru.

B. SAAT KITA DIANGKAT MENJADI ANAK

Pengangkatan sebagai anak meliputi tiga hubungan waktu. (1) 

Persatuan Dengan Kristus dan Pengangkatan Anak 439

Dalam ketetapan Allah, pengangkatan anak merupakan tindakan 

dalam kekekalan yang silam (Efesus 1:5). Sebelum Allah memulai 

rencana penebusan dengan bangsa Ibrani, bahkan sebelum pencip­

taan, Allah telah menetapkan bahwa kita akan menjadi anak-anak- 

Nya. (2) Dalam pengalaman pribadi, orang percaya menjadikan 

anak Allah pada saat ia menerima Yesus Kristus. Alkitab 

menyatakan, "Kamu semua yaitu  anak-anak Allah karena iman di 

dalam Yesus Kristus" (Galatia 3:26), dan "Karena kamu yaitu  

anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati 

kita" (Galatia 4:6). Sebelum diselamatkan, orang bukan Yahudi 

yaitu  budak dan orang Yahudi yaitu  anak yang belum akil balig; 

melalui pengangkatan sebagai anak, keduanya secara sah yaitu  

anak-anak Allah (Galatia 4:1-7). (3) Akan namun , penyataan se­

penuhnya dari hak kita sebagai anak Tuhan masih menanti keda­

tangan Kristus yang kedua kalinya. Pada saat itulah pengangkatan 

sebagai anak Allah akan menjadi nyata secara sempurna (Roma 

8:23). saat  itu tubuh kita akan dibebaskan dari segala pencemaran 

dan kefanaan serta dijadikan tubuh kebangkitan yang mulia seperti 

tubuh kebangkitan Kristus (Filipi 3:20, 21).

C. HASIL-HASIL PENGANGKATAN SEBAGAI ANAK

Nampaknya tidak salah untuk mengatakan bahwa hasil pertama dari 

pengangkatan sebagai anak ialah pembebasan dari hukum Taurat 

(Roma 8:15; Galatia 4:4, 5). Orang percaya kini tidak lagi di bawah 

pengawasan wali dan pengurus, namun  sudah bebas dari perbudakan 

semacam itu. Hasil berikut ialah jaminan warisan, yaitu Roh Kudus 

sendiri (Galatia 4:6, 7; band. Efesus 1:11-14). Bapa di surga mem­

bantu anak-anak-Nya untuk mulai hidup bagi Dia dengan mem­

berikan Roh Kudus kepada mereka. Kehadiran Roh Kudus itu 

merupakan angsuran pertama dari warisan sepenuhnya yang akan 

diterimanya waktu Kristus datang kali kedua. Di samping itu ter­

dapat kesaksian Roh Kudus yang meyakinkan kita akan kese­

lamatan dan pengangkatan kita (Roma 8:15, 16; Galatia 4:6). Apa­

bila orang percaya menghargai karunia-karunia yang indah ini, 

secara spontan dia akan bersekutu dengan Allah Bapa (Roma 8:15; 

Galatia 4:6). Kenyataan ini dengan sendirinya akan diikuti dengan 

kehidupan yang dipimpin oleh Roh, karena orang percaya akan

440 Soteriologi

dipimpin oleh Roh (Roma 8:14; band. Galatia 5:18). Akibatnya 

ialah bahwa orang percaya makin lama makin serupa dengan gam­

baran Anak Allah (Roma 8:29). Dan pada masa yang akan datang, 

orang percaya mempunyai harapan akan dinyatakan sebagai anak 

Allah (Roma 8:19). Semuanya ini yaitu  hasil-hasil yang mulia dari 

keselamatan.

XXXII 

Pengudusan

Pentingnya doktrin pengudusan nampak dari ayat Alkitab yang ber­

bunyi, "Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah 

kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat 

Tuhan" (Ibrani 12:14). Ayat Alkitab ini lebih banyak menekankan 

usaha untuk mencapai kekudusan dalam kehidupan ini daripada 

menekankan realisasi kekudusan penuh dalam kehidupan. Petrus 

menulis, "Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidup­

mu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil 

kamu" (I Petrus 1:15). Perbedaan-perbedaan yang ada  dalam 

ajaran Kristen dewasa ini menuntut kita untuk mengkaji dengan 

teliti apa yang sebenarnya diajarkan oleh Alkitab tentang doktrin 

ini. Marilah kita membahas bersama definisi, saat, serta sarana 

pengudusan.

I. DEFINISI PENGUDUSAN

Kata pengudusan muncul beberapa kali dalam Perjanjian Baru 

(Roma 6:19, 22; I Tesalonika 4:3, 4, 7; I Timotius 2:15; Ibrani 

12:14; I Petrus 1:2). Ada beberapa kata lain yang berkaitan erat 

dengan kata ini : kekudusan (Roma 1:4; II Korintus 7:1), kudus 

(Kisah 7:33; I Korintus 3:17; II Korintus 13:12; I Tesalonika 3:13), 

orang kudus (I Korintus 16:1; Efesus 1:1; Filipi 4:21), tempat kudus 

(Ibrani 8:2), dan menguduskan atau dikuduskan (Matius 6:9; 

Yohanes 17:17; II Tesalonika 2:13; Ibrani 13:12). Kata kerja "me­

nguduskan" paling tidak memiliki tiga arti: membuat atau mengakui 

patut dimuliakan, menganggap suci (Lukas 11:2; I Petrus 3:15); 

memisahkan dari hal-hal yang duniawi dan mempersembahkan

441

442 Soteriologi

kepada Tuhan, menahbiskan (Matius 23:17; Yohanes 10:36; 17:19; 

II Timotius 2:21); serta menyucikan (Efesus 5:26; I Tesalonika 

5:23; Ibrani 9:13). Kata sifat "kudus" dipakai untuk mengungkap­

kan sifat benda atau hal tertentu (gunung, II Petrus 1:18; ciuman,

I Korintus 16:20), Roh (Roma 5:5), Bapa (Yohanes 17:11; I Petrus 

1:15), hukum Taurat (Roma 7:12; II Petrus 2:21), malaikat (Markus 

8:38), orang-orang percaya (Efesus 1:1; Ibrani 3:1), nabi-nabi Per­

janjian Lama (II Petrus 3:2), dan seterusnya. Sering kali kata sifat 

ini  diganti menjadi kata benda sehingga diterjemahkan menjadi 

"orang-orang kudus". Dengan cara ini kata "orang kudus" dipakai 

untuk menyebut malaikat (Yudas 14), orang-orang percaya (Yudas 

3; Wahyu 8:3), atau keduanya (I Tesalonika 3:13). Sekarang apa 

yang dimaksudkan dengan orang kudus atau orang yang telah di­

kuduskan?

Pada umumnya, kita dapat mendefinisikan pengudusan sebagai 

memisahkan diri untuk Allah, memperhitungkan Kristus sebagai ke­

kudusan kita, dibersihkan dari kejahatan moral, serta menjadi serupa 

dengan gambaran Kristus.

A. DIPISAHKAN UNTUK ALLAH

Dipisahkan untuk Allah mensyaratkan adanya pemisahan diri dari 

kecemaran. Hal ini berlaku untuk benda-benda yang mati. 

Demikianlah Raja Hizkia memerintahkan orang-orang Lewi untuk 

menyucikan rumah Yehova dengan mengeluarkan semua kotoran 

dari tempat kudus itu (II Tawarikh 29:5, 15-19). Pada umumnya, 

dipisahkan untuk Allah mengandung gagasan positif dipersembah­

kan atau dikhususkan untuk Allah. Dengan pengertian semacam ini, 

kemah sembahyang dan bait suci dikuduskan dengan semua 

perabotan yang ada di dalamnya (Keluaran 40:10,11; Bilangan 7:1;

II Tawarikh 7:16). Seseorang dapat menyucikan rumahnya atau 

sebagian dari ladangnya (Imamat 27:14-16). Allah menguduskan 

semua anak sulung bangsa Israel untuk diri-Nya sendiri (Keluaran 

13:2; Bilangan 3:13). Bapa menguduskan Anak (Yohanes 10:36), 

dan Anak menguduskan diri-Nya sendiri (Yohanes 17:19). Orang- 

orang Kristen dikuduskan saat  mereka bertobat (I Korintus 1:2; 

I Petrus 1:2; Ibrani 10:14). Yeremia dikuduskan sebelum ia lahir 

(Yeremia 1:5), dan Paulus berbicara soal dirinya yang sudah di­

Pengudusan 443

pisahkan untuk Allah saat  masih dalam kandungan ibunya 

(Galatia 1:15).

B. KRISTUS DIPERHITUNGKAN SEBAGAI KEKUDUSAN KITA

Penghitungan Kristus sebagai kekudusan kita berjalan bersamaan 

dengan penghitungan Kristus sebagai kebenaran kita. Ia dijadikan 

baik kebenaran maupun kekudusan bagi kita (I Korintus 1:30). 

Paulus mengatakan bahwa orang-orang percaya "telah dikuduskan 

dalam Kristus Yesus" (I Korintus 1:2). Kekudusan ini diperoleh 

karena iman kepada Kristus (Kisah 26:18). Peristiwa "memandikan 

dengan air dan Firman" mendahului pengudusan ini (Efesus 5:26). 

Dengan demikian orang percaya dianggap kudus dan benar, karena 

ia kini telah mengenakan kekudusan Kristus. Dalam pengertian ini, 

semua orang percaya disebut "orang-orang kudus", terlepas dari apa 

yang telah mereka capai secara rohani (Roma 1:7; I Korintus 1:2; 

Efesus 1:1; Filipi 1:1; Kolose 1:2). Dalam hal orang-orang Korintus, 

watak mereka yang tidak kudus sangat kentara (I Korintus 3:1-4; 

5:1, 2; 6:1; 11:17-22). Orang-orang percaya yang disebut dalam 

surat Ibrani yaitu  orang kudus sekalipun mereka belum dewasa 

imannya (Ibrani 2:11; 3:1; 5:11-14).

C. PENYUCIAN DARI KEJAHATAN MORAL

Penyucian dari kejahatan moral sebenarnya merupakan bentuk lain 

dari hal dipisahkan untuk Allah. Para imam zaman dahulu diminta 

untuk menyucikan diri mereka sebelum menghampiri kehadiran 

Allah (Keluaran 19:22), dan orang percaya masa kini dihimbau agar 

memisahkan dirinya dari orang-orang fasik pada umumnya (II Ko­

rintus 6:17, 18), dari para guru palsu dan ajaran sesat (II Timotius 

2:21; II Yohanes 9, 10), dan dari sifatnya sendiri yang jahat (Roma 

6:11, 12; Efesus 4:25-32; Kolose 3:5-9; I Tesalonika 4:3-7). Paulus 

menulis, "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang 

memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua 

pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempur­

nakan kita dalam takut akan Allah" (II Korintus 7:1). Patut dicam­

kan bahwa dalam ayat-ayat tertentu penyucian dianggap sebagai 

satu tindakan saja dan dalam ayat-ayat yang lain sebagai suatu 

proses yang berkesinambungan; dalam beberapa ayat penyucian ini 

444 Soteriologi

lebih bersifat jasmaniah, sedangkan dalam ayat-ayat' lainnya pada 

dasarnya bersifat batiniah. Dalam semua ayat ini penyucian dipan­

dang sebagai tindakan manusia dan bukan tindakan Allah. Allah 

telah memisahkan bagi diri-Nya sendiri setiap orang yang percaya 

kepada Kristus; kini orang percaya itu sendiri yang harus memisah­

kan dirinya bagi Allah agar ia dipakai oleh Allah.

D. MENJADI SERUPA DENGAN KRISTUS

Menjadi serupa dengan Kristus merupakan aspek positif dari pengu­

dusan, sedangkan penyucian merupakan aspek negatifnya, dan pe­

misahan serta penghitungan kekudusan Kristus merupakan aspek 

kedudukan. Beberapa ayat Alkitab membahas aspek positif dari 

pengudusan ini. Paulus menulis, "Sebab semua orang yang dipilih- 

Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk 

menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya 

itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara" (Roma 8:29); 

"Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya 

dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi 

serupa dengan Dia dalam kematian-Nya" (Filipi 3:10); "Dan kita 

semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak 

terselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang 

yaitu  Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya 

dalam kemuliaan yang semakin besar" (II Korintus 3:18; lihat juga 

Galatia 5:22, 23; Filipi 1:6). Dan Yohanes mengatakan, "Saudara- 

saudaraku yang kekasih, sekarang kita yaitu  anak-anak Allah, 

namun  belum nyata apa keadaan kita kelak; akan namun  kita tahu 

bahwa jika  Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi 

sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya 

yang sebenarnya" (I Yohanes 3:2). Jelas sekali, pengudusan me­

rupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hidup dan baru 

terwujud secara penuh saat  kita melihat Tuhan.

II. SAAT PENGUDUSAN

Pengudusan merupakan baik tindakan maupun proses. Dalam hal 

ini pengudusan berbeda dengan pembenaran, karena pembenaran 

merupakan satu tindakan yang terjadi sekali saja dan bukan suatu 

Pengudusan 445

proses. Marilah kita sekarang meneliti tiga unsur waktu dalam 

pengudusan.

A. TINDAKAN PENGUDUSAN YANG MULA-MULA

Pengudusan ini berhubungan dengan kedudukan. Alkitab mengajar­

kan bahwa saat  seseorang percaya kepada Kristus, pada saat itu 

pula ia sudah dikuduskan. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa di 

Perjanjian Baru orang-orang percaya disebut orang-orang kudus 

tanpa mempertimbangkan taraf kedewasaan rohaninya (I Korintus 

1:2; Efesus 1:1; Kolose 1:2; Ibrani 10:10; Yudas 3). Tentang orang- 

orang Korintus, Rasul Paulus dengan tegas dan jelas mengatakan 

bahwa mereka "telah dikuduskan" (I Korintus 6:11), sekalipun ia 

juga mengatakan bahwa mereka masih "manusia duniawi" (I Korin­

tus 3:3). Dalam surat II Korintus Paulus menghimbau mereka untuk 

"menyempurnakan kekudusan dalam takut akan Allah" (7:1). Dalam 

surat kepada jemaat di Efesus Paulus berbicara soal "memperleng­

kapi orang-orang kudus" (4:12) dan mendorong para pembaca surat­

nya untuk hidup "sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus" 

(5:3). Di surat Tesalonika Paulus menekankan kembali kepada 

jemaat yang membaca suratnya bahwa mereka telah dikudus­

kan (II Tesalonika 2:13), sekalipun ia juga berdoa agar mereka 

dikuduskan (I Tesalonika 5:23, 24).

Ibrani 10:10 menyatakan bahwa pengudusan dan persembahan 

tubuh Kristus sebagai kurban berdiri atau jatuh bersama-sama. Pen­

deritaan Kristus dialami-Nya di luar pintu gerbang "untuk mengu­

duskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri" (Ibrani 13:12). Jadi, 

kematian Kristus diperlukan bagi pengudusan umat-Nya. saat  

seseorang menerima Kristus, maka ia berada di dalam Kristus; ia 

tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kolose 3:3). 

Kristus telah dijadikan pengudusan bagi orang Kristen (I Korintus 

1:30). Yang dimaksudkan bukanlah Kristus ditambah pengudusan, 

melainkan Kristus ialah pengudusan orang percaya. Orang percaya 

kini disempurnakan di dalam Dia (Kolose 2:10, Terj. Lama). Ia 

yaitu  ahli waris dari kebenaran dan kekudusan Kristus, karena 

kebenaran dan kekudusan itu diperhitungkan kepadanya sebagai 

akibat dari hubungannya dengan Kristus, dan bukan sebagai akibat 

dari suatu perbuatan yang dilakukannya atau suatu kebaikan di 

446 Soteriologi

dalam dirinya. Orang percaya ini  berdiri di hadapan Allah, 

serupa dengan Kristus (Roma 8:29; I Korintus 1:30). Dalam pengu­

dusan yang berhubungan dengan kedudukan tidak ada karya anu­

gerah kedua, tidak ada perkembangan, dan tidak ada pertumbuhan. 

Karena hubungan ini dengan Kristus, orang percaya diwajibkan un­

tuk hidup "sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus" 

(Efesus 5:3).

B. PROSES PENGUDUSAN

Sebagai suatu proses, pengudusan berlangsung sepanjang hidup. 

Berlandaskan apa yang telah dilakukan orang percaya saat  ber­

tobat, ia dianjurkan untuk melakukannya terus dalam pengalaman 

hidupnya setelah itu. Karena ia telah "menanggalkan" dan "me­

ngenakan", kini ia harus "menanggalkan" dan "mengenakan" juga 

(Kolose 3:8-13). jika  penyerahan yang mula-mula tidak diikuti 

dengan setia, maka terlebih dahulu perlulah hidup ini dipersembah­

kan dengan pasti kepada Allah sebelum kesucian praktis 

dimungkinkan (Roma 6:13; 12:1, 2); namun  jika  orang percaya 

itu telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah maka perkem­

bangan pengudusan sudahlah pasti. Roh Kudus akan mematikan 

perbuatan-perbuatan daging (Roma 8:13), mengerjakan di dalam 

diri orang percaya ini  ketaatan kepada Firman Allah (I Petrus 

1:22), menghasilkan buah Roh (Galatia 5:22,23), serta memakainya 

dalam pelayanan kepada Allah. Lalu orang percaya ini akan "ber­

tumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan 

Juruselamat kita, Yesus Kristus" (II Petrus 3:18), "bertambah-tam­

bah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan 

terhadap semua orang" (I Tesalonika 3:12), menyucikan dirinya 

"dari semua pencemaran jasmani dan rohani" (II Korintus 7:1), serta 

diubah menjadi serupa dengan gambar Kristus (II Korintus 3:18; 

Efesus 4:11-16). Paulus menyatakan, "Aku mengejarnya, kalau- 

kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditang­

kap oleh Kristus Yesus" (Filipi 3:12).

Semuanya ini tidak berarti adanya sejenis kesempurnaan tanpa 

dosa. Kata sempurna atau tidak bercela dipakai untuk menjelaskan 

keadaan beberapa orang dalam Alkitab; namun kata itu tidak pernah 

berarti tanpa dosa. Kata ini dipakai untuk Nuh (Kejadian 6:9); 

Pengudusan 447

namun jelaslah bahwa Nuh tidaklah sempurna tanpa dosa karena ia 

pernah mabuk secara memalukan (Kejadian 9:20-27). Demikian 

pula Ayub disebut "saleh" (1:1), namun dalam banyak hal ia tidak 

sempurna. saat  ia lebih mengenal Allah, ia menyesali dirinya 

sendiri dan bertobat dalam abu dan debu (Ayub 42:6). Allah me­

nyuruh Abraham hidup tanpa cela di hadapan-Nya (Kejadian 17:1). 

Yesus memerintahkan kita, "Karena itu haruslah kamu sempurna, 

sama seperti Bapamu di sorga yaitu  sempurna" (Matius 5:48). Bila 

ayat-ayat ini menunjuk kepada keadaan tanpa dosa semata-mata dan 

menjadi serupa dengan Allah dalam segala hal, maka tidak ada 

orang Kristen yang telah mencapai tingkatan ini . Jelas dari 

konteks bahwa Yesus menyuruh para pengikut-Nya untuk menjadi 

seperti Bapa-Nya di sorga dalam hal menunjukkan kasih kepada 

orang jahat dan orang baik. Paulus menandaskan bahwa dirinya 

belum sempurna namun pada saat yang sama mengakui dirinya 

telah sempurna (Filipi 3:12, 15). Jelas bahwa yang dimaksudkan 

yaitu  dua jenis kesempurnaan, yang satu berhubungan dengan ke­

dudukan dan yang lain berhubungan dengan pengalaman hidupnya. 

Dari segi kedudukan, Paulus sudah sempurna sejak saat ia percaya 

kepada Kristus sedangkan dari segi pengalaman hidup, Paulus 

hanya sempurna dalam arti kata yang terbatas. Kata Yunani yang 

sama dipakai dalam kedua ayat ini  yaitu  sama, dengan per­

kecualian dalam ayat 12 kata itu berbentuk kata kerja dan dalam 

ayat 15 kata itu berbentuk kata sifat. Kolose 1:28; 4:12; dan Ibrani 

12:23 menyebutkan kesempurnaan sebagai sasaran yang harus di­

capai pada akhirnya, namun bukan selama kehidupan di dunia. Jelas 

sekali dari ayat ini dan ayat-ayat lainnya dalam Alkitab bahwa ke­

sempurnaan penuh tidak dapat diharapkan dalam hidup sekarang 

ini.

Kita dapat sampai pada kesimpulan yang sama dengan memakai 

alur argumentasi yang berbeda. Beberapa pihak memakai I Yohanes 

3:8,9 untuk mendukung pandangan kesempurnaan tanpa dosa. Ayat 

ini  berbunyi sebagai berikut, "Barangsiapa yang tetap berbuat 

dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari 

mulanya. .. . Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa 

lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat 

berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah." Bila kita memperhatikan 

bentuk kata kerja dalam bahasa Yunani jelaslah bahwa yang dimak­

448 Soteriologi

sudkan bukan kesempurnaan tanpa dosa, karena semua kata kerja 

itu memakai bentuk masa kini. Jadi, yang dimaksudkan ialah bahwa 

orang yang sudah biasa berbuat dosa itu berasal dari Iblis, 

sedangkan orang yang dari Allah tidaklah berulang-ulang berbuat 

dosa. Bila bukan ini yang dimaksudkan Yohanes, maka ia mem­

bantah perkataannya sendiri dalam suratnya ini sebab ia menasihat­

kan apa yang harus dilakukan oleh orang percaya jika  ia berbuat 

dosa, "Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya 

kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita 

mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus 

yang adil. Dan Ia yaitu  pendamaian untuk segala dosa kita, dan 

bukan untuk dosa kita saja, namun  juga untuk dosa seluruh dunia" 

(I Yohanes 2:1, 2). Orang percaya diperintahkan agar tidak berbuat 

dosa, namun  jika ia berdosa ia memiliki jalan keluar. Yohanes juga 

mengatakan bahwa bila kita hidup di dalam terang maka "darah 

Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita daripada segala dosa" (I 

Yohanes 1:7). Dan selanjutnya ia juga mengatakan, "Jika kita 

berkata bahwa kita tidak berdosa maka kita menipu diri kita sendiri 

dan kebenaran tidak ada dalam kita" (I Yohanes 1:8). Jadi jelas 

sekali, kita harus menarik kesimpulan bahwa Yohanes tidak meng­

ajarkan kesempurnaan tanpa dosa.

Hal yang sama dapat dikatakan tentang ajaran bahwa kita telah 

mati terhadap dosa (Roma 6:1-10). Jelaslah bahwa ayat-ayat ini 

mengajarkan suatu pengalaman objektif di mana orang percaya di­

samakan dengan Kristus. jika  ayat-ayat ini menjelaskan kema­

tian terhadap dosa yang sudah dialami maka buat apa lagi Paulus 

mengatakan dalam ayat 11 bahwa kita harus "memandang" diri kita 

telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah? Orang yang betul-betul 

sudah mati tidak perlu memandang dirinya seakan-akan mati.

Dalam pada itu kita harus hati-hati untuk tidak beranggapan bah­

wa kehidupan yang tidak sempurna dan penuh kelemahan itu yaitu  

kehidupan yang normal. Bila ajaran kesempurnaan tanpa dosa itu 

tidak alkitabiah, maka ajaran ketidaksempurnaan penuh dosa juga 

merupakan ajaran yang tidak alkitabiah. Alkitab samasekali tidak 

menoleransi dosa dalam kehidupan orang percaya, melainkan secara 

tegas melarangnya dan bahkan menuntut agar kita hidup dengan 

penuh kemenangan atas dosa. Pertanyaan Paulus, "Bolehkah kita 

bertekun dalam dosa?" (Roma 6:1) dijawab dengan sangat tegas, 

Pengudusan 449

"Sekali-sekali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagai­

manakah kita masih dapat hidup di dalamnya?" (Roma 6:2). Rasul 

Paulus mengingatkan jemaat di Korintus bahwa orang yang terus 

hidup di dalam dosa "tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan 

Allah" (I Korintus 6:10).

C. PENGUDUSAN YANG AKHIR DAN LENGKAP

Pengudusan yang akhir dan lengkap baru dapat terjadi pada saat 

kita melihat Kristus. Bagaimanapun gigihnya kita berusaha dan 

bagaimanapun jauhnya kita telah maju dalam hidup suci, persesuai­

an sepenuhnya dengan Kristus baru dapat terwujud saat  "yang 

sempurna tiba" dan "yang tidak sempurna itu lenyap" (I Korintus 

13:10). Kita telah diselamatkan dari kesalahan dan hukuman dosa, 

kita sedang diselamatkan dari kuasa dosa, dan pada akhirnya kita 

akan diselamatkan dari kehadiran dosa. Keselamatan kita dari ke­

hadiran dosa baru akan terjadi pada saat kita melihat Tuhan, saat  

kita mati (Ibrani 12:23), atau saat  Tuhan datang untuk kedua kali­

nya (I Tesalonika 3:13; Ibrani 9:28; I Yohanes 3:2; Yudas 21). 

Tidak mungkin berbuat dosa lagi setelah Tuhan datang kedua kali­

nya (Wahyu 22:11). Pada saat itu tubuh orang percaya akan diper- 

muliakan (Roma 8:23; Filipi 3:20, 21) dan akan taat sepenuhnya 

kepada Allah. Harapan akan menjadi serupa secara sempurna de­

ngan Kristus seharusnya mendorong kita untuk mulai sekarang ini 

membuang segala kecemaran dari kehidupan kita (I Yohanes 3:2, 

3).

III. SARANA PENGUDUSAN

Hal ini akan dibahas secara lebih luas kemudian, namun  di sini kita 

hanya akan membahasnya sekilas saja. Ada dua pihak yang terlibat 

dalam pengudusan manusia: Allah dan manusia. Namun, yang ter­

libat bukan Allah Bapa saja, namun  ketiga oknum Tritunggal Allah. 

Allah Bapa menguduskan orang percaya dengan cara memper­

hitungkan kekudusan Kristus kepada orang percaya itu (I Korintus 

1:30), mengerjakan di dalam dirinya segala sesuatu yang berkenan 

kepada-Nya (Ibrani 13:21), serta mendisiplinkan orang percaya itu 

450 Soteriologi

(Ibrani 12:9, 10; I Petrus 4:17, 18; 5:10). Kristus menguduskan 

orang percaya dengan cara menyerahkan nyawa-Nya baginya 

(Ibrani 10:10; 13:12), dan dengan menghasilkan kesucian di dalam 

diri orang percaya melalui Roh Kudus (Roma 8:13; Ibrani 2:11). 

Roh Kudus menguduskan orang percaya dengan cara membebas­

kannya dari sifat kedagingan (Roma 8:2), berjuang melawan per­

wujudan sifat itu (Galatia 5:17), mematikan perangai lama saat  

orang percaya menyerahkannya kepada-Nya untuk disalibkan 

(Roma 8:13), serta menghasilkan buah Roh (Galatia 5:22, 23). Jadi, 

masing-masing oknum Trinitas ilahi itu memiliki tugas tertentu da­

lam pengudusan kita.

Manusia sendiri tidak mungkin melakukan sesuatu untuk men­

capai pengudusan. Bahkan dalam hal ini, Allah yang harus mem­

prakarsainya. Paulus mengatakan, "Allahlah yang mengerjakan di 

dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya" 

(Filipi 2:13). Namun ada sarana-sarana tertentu yang dapat dipakai 

oleh orang percaya dalam proses pengudusannya. Dalam hal ini 

pula, iman kepada Kristus merupakan langkah pertama yang harus 

diambilnya (Kisah 26:18). Orang yang percaya kepada Kristus 

langsung dikuduskan dalam kedudukannya di hadapan Allah karena 

pada saat itu Kristus telah menjadi pengudusannya (I Korintus 

1:30). Setelah itu orang percaya harus mengejar kekudusan. Orang 

yang tidak mengejar kekudusan tidak akan melihat Allah (II Korin­

tus 7:1; Ibrani 12:14). Kesadaran ini pastilah mengakibatkan dia 

mempelajari Alkitab, karena dari Alkitab orang percaya mengetahui 

keadaan hatinya sendiri serta bagaimana ia dapat menghindari ke­

gagalan (Yohanes 17:17, 19; Efesus 5:26; I Timotius 4:5; Yakobus 

1:25). Pelayanan kependetaan yang ditahbiskan oleh Allah juga ber­

peranan dalam menunjukkan pentingnya kekudusan serta men­

dorong orang mengejar kekudusan itu (Efesus 4:11-13; I Tesalonika 

3:10). Penyerahan hidup kepada Allah yang dilakukan secara tegas 

merupakan syarat utama untuk pengalaman pengudusan yang prak­

tis (Roma 6:13, 19-21; 12:1, 2; II Timotius 2:21). Karena Allah 

yang harus menjadikan manusia suci, bila manusia akan menjadi 

kudus, maka manusia harus berserah sepenuhnya kepada Allah se­

hingga Allah dapat mengerjakan pengudusan itu di dalam diri orang 

percaya.

XXXIII 

Ketekunan

Bila dipahami dengan benar, maka doktrin ini amat menguatkan, 

namun doktrin ini tidak boleh disalahartikan atau disalahgunakan. 

Alkitab mengajarkan bahwa semua orang yang oleh iman telah 

dipersatukan dengan Kristus, yang telah dibenarkan oleh kasih 

karunia Allah dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus, takkan per­

nah berbalik samasekali dari lingkup kasih karunia, melainkan pasti 

akan bertahan terus sampai pada kesudahannya. Ini tidak berarti 

bahwa semua orang yang mengaku percaya dan diselamatkan itu 

akan selamat untuk selama-lamanya. Hal ini juga tidak berarti 

bahwa setiap orang yang menyatakan karunia-karunia tertentu 

dalam pelayanan Kristen pasti diselamatkan untuk selama-lamanya. 

Doktrin yang mengajarkan konsep sekali selamat tetap selamat 

(eternal security) hanya dapat diterapkan kepada orang-orang per­

caya yang telah memiliki pengalaman keselamatan yang hidup. 

Dengan mempertimbangkan keadaan ini  di atas ini, doktrin 

sekali selamat tetap selamat ini menguatkan bahwa orang-orang ter­

sebut takkan pernah berbalik samasekali dari lingkup kasih karunia. 

Mengatakan hal ini tidaklah sama dengan mengatakan bahwa 

mereka takkan pernah mundur dari imannya, takkan pernah jatuh 

ke dalam dosa, tidak pernah gagal untuk memberitakan perbuatan- 

perbuatan besar dari Dia yang telah memanggilnya keluar dari 

kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Doktrin ini hanyalah ber­

arti bahwa mereka tidak akan pernah berbalik samasekali dari 

lingkup kasih karunia yang telah mereka terima, dan jikalau mereka 

mundur dari iman maka mereka pada akhirnya pasti kembali kepada 

Tuhan.

451

452 Soteriologi

I. BUKTI DOKTRIN INI

Kebenaran ini bukanlah menyangkut spekulasi, namun  menyangkut 

penyataan. Pendapat manusia hampir tidak memiliki bobot apa pun 

dalam menentukan benar atau salahnya doktrin ini, kecuali bila pen­

dapat ini  dipenuhi dengan pernyataan dan prinsip Alkitab. 

Dengan demikian beberapa bukti utama yang ada  dalam 

Alkitab tentang kebenaran doktrin ini dapat disebutkan di sini.

A. TUJUAN ALLAH

Yesaya mengatakan, 'Tuhan semesta alam telah bersumpah, firman- 

Nya, ’Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan ter­

jadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana’" 

(Yesaya 14:24; lihat juga Ayub 23:13). Alkitab mengajarkan bahwa 

Allah telah bermaksud untuk menyelamatkan orang-orang yang 

telah dibenarkan-Nya. saat  menjawab pertanyaan, "Siapakah 

yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?" Paulus mengata­

kan, "Aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat- 

malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, 

maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, 

maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan 

dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus 

Yesus, Tuhan kita" (Roma 8:35, 38, 39). Sebelumnya Paulus telah 

mengungkapkan maksud Allah bagi orang-orang yang diselamat­

kan, yaitu "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, me­

reka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan 

gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung 

di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari 

semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipang­

gil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang di­

benarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya" (Roma 8:29, 30). 

Maksudnya, dalam ketetapan Allah ada  suatu urutan yang tidak 

mungkin gagal dalam kaitannya dengan orang-orang yang telah 

dipilih-Nya dari semula. Penyataan fakta ini telah menyebabkan 

rasul itu mengungkapkan pandangannya dengan penuh keyakinan, 

sebagaimana telah kami katakan tadi. Paulus selanjutnya menya­

takan, "Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan­

Ketekunan 453

Nya" (Roma 11:29). Yesus pernah mengutarakan hal yang sama, 

saat  Ia berkata, "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan 

Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku mem­

berikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak 

akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan 

merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan me­

reka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun 

tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa yaitu  

satu" (Yohanes 10:27-30). Morris memberi komentar, "Salah satu 

hal yang sangat indah dari iman Kristen ialah bahwa kelangsungan 

kita dalam hidup kekal itu tidak bergantung pada pegangan kita 

yang lemah pada Kristus, namun  pada genggaman-Nya yang kuat 

pada kita."143

B. PERANTARAAN KRISTUS

Perantaraan Kristus itu berkesinambungan dan efektif. Ada ke­

mungkinan bahwa Allah memang bertujuan untuk memelihara sese­

orang sampai selama-lamanya, namun  bisa saja syarat-syarat jaminan 

keselamatannya itu gagal. Kita diselamatkan oleh darah Kristus 

dan kebangkitan Tuhan kita membuktikan bahwa pengorbanan-Nya 

diterima oleh Bapa di sorga (Roma 1:4; 4:25). Akan namun , adakah 

karya-Nya ini senantiasa berlaku? Paulus mengatakan, "Akan 

namun , Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kris­

tus telah mati untuk kita, saat  kita masih berdosa. Lebih- 

lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita 

pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, saat  

masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak- 

Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan 

diselamatkan oleh hidup-Nya!" (Roma 5:8-10). Pelayanan Kristus 

sekarang ini membantu agar kita tetap selamat, sebagaimana pela­

yanan-Nya dahulu membantu agar kita diselamatkan. Penulis surat 

Ibrani mengatakan, "Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan 

dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. 

Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka" 

(Ibrani 7:25). Dalam Yohanes 17 Yesus berdoa, antara lain, agar 

Bapa senantiasa menjaga mereka yang telah percaya dan supaya 

143 Morris, The Gospel According to John, hal. 521.

454 Soteriologi

mereka dapat menikmati berkat-berkat persekutuan kekal dengan 

diri-Nya. Pastilah doa Kristus dikabulkan oleh Bapa. Saat ini Kristus 

ada di sebelah kanan Allah Bapa sambil berdoa bagi kita (Roma 

8:34).

C. KEMAMPUAN ALLAH UNTUK MEMELIHARA

Keinginan untuk memelihara sesuatu yaitu  berbeda dengan 

kemampuan untuk melakukannya. Dikatakan bahwa Allah sanggup 

melakukan kedua hal ini . Paulus menegaskan, "Akan hal ini 

aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik 

di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada 

hari Kristus Yesus" (Filipi 1:6; lihat juga II Timotius 1:12). Alkitab 

selanjutnya berbicara tentang orang-orang percaya yang "dipelihara 

dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan 

keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman 

akhir" (I Petrus 1:5; lihat juga Roma 16:25; Yudas 24). Jadi, dalam 

Alkitab, kehendak Allah serta kemampuan-Nya untuk memelihara 

kita yang telah diselamatkan-Nya ditegaskan dengan pasti.

D. SIFAT PERUBAHAN DALAM DIRI ORANG PERCAYA

Alkitab memberi tahu bahwa orang yang percaya telah dilahirkan 

kembali, dan bahwa pada saat kelahiran kembali itu ia menjadi cip­

taan baru dan menerima hidup baru. Paulus mengatakan, "Jadi siapa 

yang ada di dalam Kristus, ia yaitu  ciptaan baru; yang lama sudah 

berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (II Korintus 5:17). 

Setelah percaya pada Tuhan Yesus Kristus, Allah memandang kita 

seakan-akan kita telah disalibkan bersama-sama dengan Tuhan 

Yesus (Roma 6:6), dan juga seakan-akan kita telah bangkit dari 

antara orang mati bersama Dia kepada hidup baru. Orang percaya 

bukan saja telah menerima hidup yang baru, melainkan hidup yang 

kekal. Yesus berkata, "Aku memberikan hidup yang kekal kepada 

mereka" (Yohanes 10:28). Ia juga mengatakan, "Dan sama seperti 

Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak 

Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya 

kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:14, 15; ban­

dingkan dengan ayat 16), dan selanjutnya, "Barangsiapa percaya 

kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, namun  barangsiapa tidak 

Ketekunan 455

taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka 

Allah tetap ada di atasnya" (Yohanes 3:36). Boettner mengatakan:

Sifat dari perubahan yang terjadi pada saat kelahiran kembali merupakan 

jaminan yang memadai bahwa hidup yang diberikan pada saat itu bersifat 

kekal. Kelahiran kembali atau pembaharuan itu merupakan perubahan yang 

radikal dan adikodrati dalam batin, dan melaluinya jiwa dihidupkan secara 

rohani, dan hidup baru yang diterima bersifat abadi. Dan karena perubahan 

itu terjadi dalam batin, perubahan ini  terjadi dalam kawasan yang ber­

ada di luar pengawasan manusia. Tidak ada makhluk yang dengan leluasa 

dapat mengubah prinsip-prinsip asasi dari sifat dasarnya, karena hal itu me­

rupakan hak istimewa Allah sebagai Pencipta. Jadi, hanyalah suatu tindakan 

adikodrati lain dari Allah yang dapat membalikkan perubahan ini serta me­

nyebabkan hidup baru itu hilang. Orang Kristen yang telah dilahirkan kem­

bali tidak mungkin kehilangan statusnya sebagai anak Allah sama seperti 

seorang anak manusia tidak mungkin kehilangan statusnya sebagai anak 

ayahnya.144

II. BERBAGAI KEBERATAN TERHADAP 

DOKTRIN INI

Ada beberapa keberatan terhadap doktrin ini yang perlu kita per­

hatikan.

A. DOKTRIN INI MENYEBABKAN KELALAIAN DAN 

KEMALASAN

Dikatakan bahwa doktrin sekali selamat tetap selamat ini menyebab­

kan kelalaian dalam perilaku dan kemalasan dalam pelayanan.

1. Kelalaian Dalam Perilaku. Ada orang yang menandaskan, bila 

setiap orang percaya yakin bahwa ia sekali selamat tetap selamat, 

mengapa ia perlu memiliki kelakuan yang kudus; mengapa tidak 

menikmati saja sepuas-puasnya segala kesenangan dunia? Akan 

namun , mereka yang mengajukan keberatan ini menunjukkan bahwa 

mereka tidak mengerti sifat sesungguhnya dari pembaharuan serta 

arti yang tepat dari doktrin ketekunan ini. Pembaharuan atau kela­

hiran kembali merupakan suatu perubahan dalam batin, dan hidup 

144 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 184.

456 Soteriologi

baru itu yaitu  hidup yang kekal. Inilah pandangan yang benar me­

ngenai pembaharuan. Selanjutnya, doktrin sekali selamat tetap 

selamat tidak berarti bahwa manusia bisa berbuat kesalahan tanpa 

dihukum. Akan namun , doktrin ini menandaskan bahwa orang yang 

telah dilahirkan kembali akan berusaha untuk menjalani hidup baru. 

Yohanes menulis, "Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat 

dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak 

dapat berbuat dosa karena ia lahir dari Allah" (I Yohanes 3:9). Hal 

ini berarti bahwa orang itu tidak biasa berbuat dosa; dan pastilah 

pengalaman lahir baru itu digambarkan di sini sebagai menghasilkan 

hidup yang berkemenangan atas dosa. jika  seseorang biasa ber­

buat dosa, kita menarik kesimpulan bahwa ia belum pernah di­

selamatkan (bandingkan Roma 6:1, 2; II Timotius 2:19; II Petrus 

1:10, 11; I Yohanes 2:3, 4, 29; 3:14; 5:4).

2. Kemalasan Dalam Pelayanan. Kepastian akan hubungan yang 

beres dengan Allah akan menghasilkan sukacita dan pujian yang 

berusaha mengungkapkan diri di dalam pelayanan yang memuliakan 

Allah. Jiwa yang tidak pernah pasti tentang keselamatannya itu ber­

sikap malu-malu dan ragu-ragu, sedangkan orang percaya yang 

yakin bahwa ia selama-lamanya aman dalam pemeliharaan Allah 

senantiasa merasa terdorong untuk melakukan sesuatu bagi orang 

lain. Dalam pelayanan maupun dalam moralitas, "Domba-domba- 

Ku mendengar suara-Ku, dan Aku mengenal mereka, dan mereka 

mengikut Aku" (Yohanes 10:27). Ayat ini bukan merupakan suatu 

nasihat, melainkan pernyataan suatu fakta. Semua kata kerja ini 

ditulis dalam bentuk waktu sekarang; domba-domba-Nya sudah 

biasa mendengar suara-Nya, Ia terus-menerus kenal mereka, dan 

mereka sudah biasa ikut Dia. Bukan dari pekerjaan atau pengakuan 

seseorang kita mengenal orang itu, namun  dari buah-buah hidupnya 

(Matius 7:16).

B. DOKTRIN INI MERAMPAS KEBEBASAN MANUSIA

Dikatakan bahwa ajaran sekali selamat tetap selamat ini menjadikan 

manusia makhluk yang bergerak secara otomatis, bahwa ia tidak 

lagi dianggap sebagai mempunyai kemampuan untuk memilih. 

Namun pandangan semacam itu menunjukkan konsepsi yang keliru 

Ketekunan 457

tentang kebebasan. Kebebasan tidaklah harus selalu dipahami 

sebagai kemampuan untuk memilih antara yang baik dengan yang 

jahat, namun  kebebasan sebenarnya dapat diartikan sebagai kemam­

puan untuk memilih yang baik. Allah itu bebas secara sempurna, 

dan Ia tidak dapat memilih atau melakukan yang salah. Hidup baru 

di dalam diri orang percaya mendorongnya untuk memilih yang 

benar serta menolak yang salah. Paulus menghimbau jemaat di 

Filipi untuk mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan 

gentar, namun ia melandaskan himbauannya itu pada kenyataan 

bahwa "Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan 

maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya" (Filipi 2:13). Doktrin 

ketekunan atau berusaha sampai akhir tidak merampas kebebasan 

seseorang; doktrin ini malah mengakui bahwa orang sudah disela­

matkan memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang harus 

dilakukannya. Kebebasan itu tidak dimiliki oleh orang yang belum 

diselamatkan.

C. ALKITAB MENGAJARKAN YANG SEBALIKNYA

Dikatakan bahwa Alkitab menunjukkan bahwa orang-orang tertentu 

telah diselamatkan, namun mereka itu binasa pada akhirnya. Saul 

dalam Perjanjian Lama dan Yudas Iskariot dalam Perjanjian Baru 

merupakan contoh-contoh yang amat disenangi untuk mendukung 

keberatan ini. Akan namun , hal ini hanya menegaskan bahwa kita 

harus berhati-hati saat  menilai seseorang dari keadaan yang 

lahiriah. Benih di tanah yang berbatu dalam perumpamaan penabur 

dengan cepat bertumbuh, namun  tumbuhan itu hanya bertahan 

beberapa waktu saja. saat  datang penganiayaan dan penindasan, 

tumbuhan itu langsung mati (Markus 4:16, 17). Hal yang sama ter­

jadi pada benih yang jatuh di antara semak duri; nampaknya 

sungguh-sungguh ada hidup, namun saat  terjadi berbagai 

kekuatiran hidup, tipu daya kekayaan, dan keinginan akan hal-hal 

lain mulai masuk, benih firman itu terhimpit lalu mati (ayat 18, 19). 

Yesus menyatakan bahwa tidak semua orang yang berseru kepada- 

Nya 'Tuhan, Tuhan" akan masuk dalam Kerajaan Sorga, bahkan 

sekalipun orang itu membanggakan diri telah bernubuat dalam 

nama-Nya, dan mengusir setan dalam nama-Nya, atau mengadakan 

banyak mukjizat dalam nama-Nya. Demikianlah orang-orang yang 

458 Soteriologi

nampaknya hanya memiliki karunia Allah (Lukas 8:18). Hanya 

mereka yang memiliki hubungan pribadi dengan Kristus yang akan 

memasuki Kerajaan Sorga (Matius 7:21-23). Yohanes memakai 

alasan ketekunan dengan umat Allah sebagai bukti pembaharuan, 

dan kegagalan untuk terus bertahan sebagai umat Allah sebagai 

bukti bahwa mereka yang memisahkan diri ini  tidak pernah 

dibaharui. "Memang mereka berasal dari antara kita, namun  mereka 

tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka 

sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap ber­

sama-sama dengan kita. namun  hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, 

bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita" 

(I Yohanes 2:19; lihat juga Yohanes 6:66, 67; II Petrus 2:20-22). 

Sesungguhnya, Yudas Iskariot tidak pernah selamat. Yesus pernah 

berkata saat  sedang mencuci kaki murid-murid-Nya, "’Barang­

siapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain mem­

basuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah 

bersih, hanya tidak semua.’ Sebab Ia tahu, siapa yang akan me­

nyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata, ’Tidak semua kamu bersih’" 

(Yohanes 13:10, 11). Murid-murid yang telah mandi sudah bersih; 

mereka semuanya sudah bersih kecuali Yudas; jadi jelas, Yudas 

belum mandi. Yudas tidak pernah dilahirkan kembali. Kita tidak 

mungkin mengetahui mengapa Kristus memilih dan membiarkan 

Yudas yang belum diselamatkan berada dalam kelompok-Nya. 

Dalam kasus Raja Saul tidak ada keterangan yang memadai dalam 

Alkitab untuk menetapkan hubungannya dengan Tuhan, sehingga 

mengatakan bahwa ia kehilangan keselamatan yaitu  melampaui 

apa yang dikatakan Alkitab kepada kita.

D. ADA BANYAK PERINGATAN

Ada yang menandaskan bahwa Alkitab berisi banyak peringatan 

dan nasihat kepada orang-orang percaya. Masakan orang-orang 

yang sudah pasti selamat untuk selama-lamanya harus diperingatkan 

lagi? Apakah pengaruh peringatan-peringatan ini? Yang paling 

menonjol dari ayat-ayat peringatan ini yaitu  Ibrani 6:4-6 dan 

10:26-31. Nampaknya orang-orang yang disebutkan dalam ayat-ayat 

ini sedang dibujuk untuk kembali ke agama Yahudi. Mereka 

kehilangan iman dan keyakinan akan janji-janji Injil dan sedang 

Ketekunan 459

menoleh kembali kepada apa yang sudah mereka tinggalkan. Ber­

bahaya sekali bagi seseorang untuk secara aktif melibatkan diri 

dalam hal-hal kekristenan dan bersekutu dengan orang-orang Kris­

ten tanpa benar-benar berbalik dari kegelapan dan kerajaan Iblis 

kepada terang dan Kerajaan Kristus. jika  orang yang belum 

dilahirkan kembali seperti itu akan berpaling dari Tuhan, maka 

kesempatannya untuk kembali kepada Tuhan lagi sangat kecil (lihat 

II Petrus 2:20-22). Ayat lain yang dikemukakan dalam hubungannya 

dengan hal ini ialah Matius 24:13 yang berbunyi, "namun  orang 

yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat." Terhadap 

hal ini kita mengatakan bahwa semua itu tidak ada hubungannya 

dengan masalah utama. Bila seseorang telah diselamatkan, ia akan 

berusaha mengikut Tuhan sampai pada akhirnya; jika ia belum 

selamat, maka ia juga tidak akan berusaha untuk bertekun sampai 

ke akhir. Bila seseorang bertahan sampai pada kesudahannya, maka 

pada akhirnya ia akan diselamatkan. Dengan kata lain, Matius 

24:13, menunjuk kepada pahala ketekunan, ayat ini samasekali tidak 

membahas apakah orang yang betul-betul sudah diselamatkan akan 

bertahan sampai kesudahannya atau tidak.

Ayat lain yang dianggap menunjukkan kemungkinan orang yang 

diselamatkan mundur dari iman ialah Yehezkiel 18:24, "Jikalau 

orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan 

seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik—apakah ia 

akan hidup?" Jelaslah dari seluruh konteks dalam pasal ini bahwa 

Nabi Yehezkiel sedang berbicara mengenai kebenaran dari segi hu­

kum Taurat dan ketaatan lahiriah dalam melaksanakan kewajiban 

(bandingkan dengan Yehezkiel 33:12-20). jika  pernyataan ini 

diartikan secara harfiah, maka itu berarti keselamatan diperoleh 

sebagai hasil perbuatan baik dan bukan oleh kasih karunia Allah. 

Dari semuanya ini jelas bahwa kehidupan yang sedang dibicarakan 

di sini bukanlah hidup yang kekal, melainkan hidup di atas muka 

bumi, yang diperpanjang atau diperpendek sebagai akibat ketaatan 

atau ketidaktaatan. Ayat terakhir yang perlu disebut ialah Yohanes 

15:1-6, khususnya ayat 6, yang menyatakan bahwa semua cabang 

atau ranting yang tidak berbuah akan dicampakkan ke dalam api. 

Dapatkah hal ini terjadi pada orang percaya yang sejati? Jawaban­

nya yaitu  bahwa dalam ayat-ayat ini Tuhan ingin mengajarkan 

satu ajaran utama saja, dan kita tidak boleh mendesakkan kias-kias 

460 Soteriologi

lain dari perumpamaan ini. Yesus hanya mengajarkan bahwa setiap 

ranting yang sejati menghasilkan buah; jika  ada ranting yang 

tidak menghasilkan buah, jelaslah tidak ada hubungan hidup antara 

ranting itu dengan pokok anggur. Maksudnya, orang yang digam­

barkan dengan ranting yang tidak berbuah ini tidak diselamatkan. 

Tentu saja ranting semacam itu dibuang. Orang ini  dipersatu­

kan dengan Kristus, namun persatuan itu tidak menjadikan persatu­

an yang hidup; oleh karena itu ia akan dipisahkan dan pada akhirnya 

akan dihukum.

XXXIV

Sarana-Sarana Kasih Karunia

Allah memakai banyak cara dan sarana untuk mengantarkan orang- 

orang kepada diri-Nya untuk persekutuan dan keselamatan, dan se­

mua ini dapat dianggap dalam arti kata yang lebih luas sebagai 

sarana-sarana kasih karunia. Namun kita setuju dengan Berkhof 

yang telah menulis:

Manusia yang telah jatuh di dalam dosa menerima segala berkat keselamatan 

dari sumber kasih karunia Allah yang abadi, karena jasa-jasa Yesus Kristus 

dan melalui pekerjaan Roh Kudus. Sekalipun Roh Kudus dapat dan dalam 

beberapa hal langsung bekerja di dalam jiwa orang berdosa, Ia telah memilih 

untuk membatasi diri dengan memakai sarana-sarana tertentu dalam hal me­

nyampaikan kasih karunia ilahi. Istilah "sarana-sarana kasih karunia" me­

mang tidak ada dalam Alkitab, namun istilah ini merupakan nama yang 

tepat untuk sarana-sarana yang disebut di dalam Alkitab.145

145 Berkhof, Systematic Theology, hal. 604.

146 Hoeksema, Reformed Dogmatics, hal. 631-726.

Teologi aliran Calvinis telah mempersempit istilah "sarana-sarana 

kasih karunia" sehingga mencakup dua sarana saja yaitu Firman 

Allah dan sakramen-sakramen.146 Dalam teologi Calvinis sakra- 

men-sakramen ini  ialah baptisan air dan Perjamuan Kudus. 

Sekalipun dalam arti kata tertentu hal-hal yang termasuk dalam peri­

ngatan kematian Kristus pada Perjamuan Kudus memang merupa­

kan sumber berkat rohani, namun Perjamuan Kudus harus dianggap 

lebih sebagai suatu peraturan gereja daripada sebagai sakramen. Hal 

yang sama dapat dikatakan tentang baptisan. Dalam pembicaraan 

kita ini kita akan membatasi istilah "sarana-sarana kasih karunia" 

kepada Firman Allah dan doa saja.

461

462 Soteriologi

I. FIRMAN ALLAH

Yang kami maksudkan dengan Firman Allah yaitu  Alkitab, yang 

terdiri atas kitab-kitab kanonik dalam Perjanjian Lama dan Perjan­

jian Baru. Kitab-kitab yang diilhamkan Allah ini "bermanfaat untuk 

mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki 

kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (II Timotius 

3:16). Dalam berbagai cara dan berbagai lambang Firman Allah 

menjadi suatu sarana kasih karunia bagi kita. Alkitab yaitu  "palu 

yang menghancurkan bukit batu" (Yeremia 23:29), hakim yang 

sanggup menilai "pertimbangan dan pikiran hati kita" (Ibrani 4:12), 

cermin yang menyatakan keadaan sebenarnya dari seseorang 

(Yakobus 1:25), bejana tempat orang-orang yang cemar membasuh 

dirinya (Yohanes 15:3; Efesus 5:26), benih (Lukas 8:11; I Petrus 

1:23), makanan untuk yang lapar (Ayub 23:12), pelita bagi pejalan 

kaki (Mazmur 119:105), dan pedang bagi tentara (Efesus 6:17; 

Ibrani 4:12).

A. ALKITAB yaitu  SARANA KESELAMATAN

Bagaimana Alkitab menjadi sarana keselamatan? Paulus mengata­

kan bahwa Injil yaitu  "kekuatan Allah yang menyelamatkan" 

(Roma 1:16) dan bahwa Allah telah berkenan untuk "menyelamat­

kan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil" (I Ko­

rintus 1:21). Paulus menjelaskan bahwa yang harus diberitakan ialah 

"Kristus yang disalibkan" (ayat 23). Paulus berkata kepada Timo­

tius, "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab 

Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau 

kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus" (II Timotius 

3:15). Petrus pernah mengatakan bahwa orang percaya telah di­

lahirkan kembali "bukan dari benih yang fana, namun  dari benih 

yang tidak fana, oleh Firman Allah, yang hidup dan yang 

kekal" (I Petrus 1:23). Pemazmur mengatakan, 'Taurat Tuhan itu 

sempurna, menyegarkan jiwa" (Mazmur 19:8).

Menurut Alkitab, Injil yaitu  kematian, penguburan, dan kebang­

kitan Kristus (I Korintus 15:3, 4), sedangkan pemberitaan para rasul 

dipenuhi ayat-ayat Alkitab (Kisah 2:16-21, 25-28, 34-35; 3:12-16; 

13:16-41; 17:2, 3). Sesungguhnya, pengalaman membenarkan 

Sarana-Sarana Kasih Karunia 463

bahwa Alkitab merupakan sarana untuk menarik orang datang 

kepada Kristus. Allah menghormati Firman-Nya, dan lewat Firman 

itu orang memperoleh pengetahuan tentang Kristus yang menye­

lamatkan dirinya.

B. ALKITAB yaitu  SARANA PENGUDUSAN

Firman Allah juga merupakan sarana pengudusan. Konsep ini di­

uraikan dalam Alkitab dengan memakai lambang-lambang seperti 

cermin, bejana tempat membasuh, lampu, dan pedang. Alkitab me­

nyatakan keadaan hati kita dan bahwa hati itu perlu dibersihkan (II 

Korintus 3:18; Yakobus 1:23-25); Alkitab yaitu  air yang menyuci­

kan (Mazmur 119:9, 11; Yohanes 15:3; Efesus 5:26); Alkitab me­

rupakan pelita yang menuntun kaki yang mengembara kepada jalan 

kebenaran (Mazmur 119:105; Amsal 6:23; II Petrus 1:19); Alkitab 

merupakan pedang untuk mengalahkan musuh (Efesus 6:17; Ibrani 

4:12). Yesus berdoa kepada Bapa di sorga, "Kuduskanlah mereka 

dalam kebenaran; firman-Mu yaitu  kebenaran" (Yohanes 17:17). 

Ada hubungan yang langsung antara membaca dan mempelajari Fir­

man Allah dengan pertumbuhan dalam kasih karunia. Suatu pene­

litian yang cermat terhadap pengalaman hidup orang Kristen me­

nunjukkan bahwa hamba-hamba Allah yang besar dengan rajin dan 

setia membaca Alkitab. Kata-kata yang diucapkan Tuhan kepada 

Yosua memiliki manfaat abadi, "Janganlah engkau lupa memper- 

katakan kitab Taurat ini, namun  renungkanlah itu siang dan malam, 

supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis 

di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil 

dan engkau akan beruntung" (Yosua 1:8; lihat juga Ulangan 17:18- 

20).

Dapat ditambahkan Sepatah dua kata untuk menjelaskan kuasa 

Firman Allah. Sekalipun dikatakan bahwa Firman Allah itu "hidup 

dan kuat" (Ibrani 4:12), serta merupakan hikmat dan kekuatan 

Allah, dan mampu menginsafkan, menobatkan, dan menyucikan 

jiwa, Firman itu hanya dapat menghasilkan hasil-hasil rohani bila 

disertai oleh Roh Kudus. Petrus menyatakan bahwa para nabi "me­

nyampaikan berita Injil. . . oleh Roh Kudus yang diutus dari sorga" 

(I Petrus 1:12). Paulus berdoa agar "Allah Tuhan kita Yesus Kristus, 

yaitu Bapa yang mulia itu, . . . memberikan kepadamu Roh hikmat 

464 Soteriologi

dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar" (Efesus 1:17). Nam­

paknya jelas bahwa sekalipun Firman Allah memiliki kemanjuran 

yang diperlukan untuk melakukan pekerjaannya, namun jiwa ma­

nusia tidak dapat menerima semua pengaruh Firman Allah itu tanpa 

dikuasai oleh Roh Kudus (I Korintus 2:14-16).

II. DOA

Tak seorang pun yang dapat membaca Alkitab tanpa mendapat 

kesan bahwa doa merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam­

nya. Bermula dari percakapan antara Allah dengan Adam, sepanjang 

Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru Alkitab ada  contoh-con­

toh dari orang-orang yang berdoa. Namun, doa dalam Alkitab bu­

kan sekadar dikemukakan sebagai suatu hak istimewa, namun  juga 

merupakan suatu perintah (Kejadian 18:22, 23; I Samuel 

12:23; II Raja-Raja 19:15; Mazmur 5:3; 32:6; Yeremia 29:7; Matius 

5:44; 26:41; Lukas 18:1; 21:36; Efesus 6:18; I Tesalonika 

5:17, 25; I Timotius 2:8; Yakobus 5:13-16). Ezra menganggap doa 

lebih penting dan berkuasa daripada sekelompok tentara dan orang- 

orang berkuda (Ezra 8:21-23); Kristus menganggap doa lebih pent­

ing daripada makanan dan istirahat (Markus 1:35; Lukas 6:12); 

sedangkan para rasul mendahulukan doa dari khotbah (Kisah 6:4). 

Marilah kita sekarang meneliti sifat, masalah-masalah, dan cara-cara 

berdoa.

A. SIFAT DOA

Doa dapat dipahami sebagai komunikasi antara seseorang dengan 

Allah. Komunikasi itu dapat terwujud dalam berbagai bentuk. Doa 

yang benar berisikan pengakuan. Ada banyak contoh mengenai hal 

ini dalam Perjanjian Lama (I Raja-Raja 8:47; Ezra 9:5-10:1; 

Nehemia 1:2-11; 9:5-38; Daniel 9:3-19). Doa juga merupakan 

penyembahan (Mazmur 45:2-9; Yesaya 6:1-4; Matius 14:33; 28:9; 

Wahyu 4:11). Ini merupakan hal pertama dalam doa Bapa Kami 

(Matius 6:9). Yang mirip dengan penyembahan ialah hubungan 

yang erat. Doa Abraham untuk Sodom dan Gomora merupakan 

suatu contoh (Kejadian 18:33). Allah berkenan untuk berbicara 

dengan imam besar yang berasal dari suku Lewi dari atas tutup 

Sarana-Sarana Kasih Karunia 465

pendamaian dari tabut perjanjian (Keluaran 25:22), dan Alkitab 

menceritakan bahwa Musa bercakap-cakap dengan Allah di Gunung 

Sinai (Keluaran 31:18). Bentuk doa yang lain ialah pengucapan syu­

kur. Nyanyian Musa (Keluaran 15:1-18), nyanyian Debora (Hakim- 

Hakim 5), dan nyanyian Daud (II Samuel 23:1-7) pada hakikatnya 

merupakan nyanyian-nyanyian pengucapan syukur. Alkitab penuh 

dengan nasihat untuk memanjatkan ucapan syukur kepada Allah 

(Mazmur 95:2; 100:4; Efesus 5:20; Filipi 4:6; Kolose 4:2).

Setelah kita memuliakan Allah dalam doa barulah kita dapat me­

mikirkan diri kita sendiri. Yang pertama-tama ialah permintaan, 

yaitu memberitahukan permintaan kita. Baik melalui teladan orang 

maupun melalui ajaran, kita didorong untuk meminta berbagai hal 

kepada Allah (Daniel 2:17, 18; 9:16-19; Matius 7:7-11; Yohanes 

14:13, 14; 15:16; 16:23, 24; Kisah 4:29, 30; dan Filipi 4:6). Per­

mohonan ialah memohon dengan sangat akan sesuatu hal. Daniel 

menaikkan permintaan dan permohonan kepada Allah (Daniel 

6:11); roh permohonan akan dicurahkan ke atas Israel (Zakharia 

12:10); wanita Kanaan terus mendesak agar permohonannya diper­

hatikan dan akhirnya ia didengar (Matius 15:22-28); dan orang- 

orang terpilih yang berseru kepada Tuhan siang dan malam akan 

segera didengar (Lukas 18:1-8). Paulus menasihatkan kita bukan 

hanya untuk berdoa, namun  untuk bertekun di dalam doa (Efesus 

6:18; I Timotius 2:1). Akhirnya doa yaitu  syafaat. Allah mencari 

orang-orang yang bersedia memanjatkan doa-doa syafaat (Yesaya 

59:16); Samuel menganggapnya dosa bila ia berhenti mendoakan 

Israel yang tidak taat (I Samuel 12:23); Ayub diminta untuk berdoa 

bagi para "penghiburnya" (Ayub 42:8); Paulus menasihati supaya 

doa syafaat dinaikkan bagi semua orang (I Timotius 2:1); dan gereja 

yang mula-mula berkumpul untuk menaikkan doa syafaat (Kisah 

12:5). Beberapa golongan orang secara khusus disebutkan dalam 

Alkitab sebagai orang-orang yang memerlukan doa syafaat; para 

penguasa (I Timotius 2:2), Israel (Mazmur 122:6), orang yang 

belum diselama