tkan (Lukas 23:34; Kisah 7:60), orang-orang yang
baru bertobat (II Tesalonika 1:11), semua orang kudus (Efesus 6:18;
I Timotius 2:1; Yakobus 5:16), orang-orang yang telah mundur dari
imannya (I Yohanes 5:16), para pekerja gereja (Efesus 6:19,
20; I Tesalonika 5:25), serta orang-orang yang memusuhi kita
(Matius 5:44).
466 Soteriologi
B. HUBUNGAN ANTARA DOA DENGAN PEMELIHARAAN
ALLAH
Kita menegaskan bahwa doa mengubah keadaan, namun bagaimana
pernyataan semacam itu dapat diselaraskan dengan rencana dan
tujuan Allah yang berdaulat. Adakah doa mengubah pikiran Allah,
dan bila demikian, tidakkah itu berarti bahwa ’rencana yang dibuat
Allah bergantung pada permintaan manusia? Bagaimana Allah da
pat menjawab doa terus-menerus mengingat ketatnya hukum-hukum
alam? Bila dipandang dari segi negatif, maka beberapa hal perlu
diperhatikan. (1) Dampak yang tidak diduga terhadap seseorang
yang berdoa bukanlah satu-satunya akibat doa. Beberapa orang
beranggapan bahwa doa hanya mempunyai nilai subjektif: sese
orang mempunyai persoalan, dan saat ia mengucapkan persoalan
itu kepada Tuhan, ia merasa lebih tenang. Namun doa mempunyai
nilai subjektif ini hanya bila orang yang berdoa percaya bahwa
Allah mendengar dan akan menjawab doanya. (2) Kita juga tidak
boleh beranggapan bahwa doa menangguhkan berlakunya hukum-
hukum alam. Allah tidak akan menangguhkan bekerjanya hukum-
hukum alam bila Ia mengabulkan doa sama halnya dengan sebuah
pesawat terbang yang naik ke angkasa tidak menangguhkan beker
janya hukum-hukum alam. Dan selanjutnya, (3) jangan berpikir
bahwa doa langsung mempengaruhi alam seakan-akan doa merupa
kan suatu kekuatan fisik. Doa mempengaruhi Allah untuk bertindak
terhadap alam; kalau tidak demikian tidak akan terjadi perbedaan
dalam jawaban-jawaban terhadap doa. Tak satu pun dari pandang
an-pandangan yang negatif ini menjelaskan pemahaman yang
benar tentang hubungan antara doa dengan jawaban terhadap doa
ini .
Jawaban yang positif terhadap soal ini meliput pandangan yang
benar tentang pengetahuan dan penentuan Allah dari semula.
Marilah kita ingat kembali bahwa Allah telah menetapkan batas-
batas umum tertentu dan alam semesta ciptaan-Nya itu bekerja da
lam lingkup batas-batas ini . Ia telah memberi kebebasan ke
pada manusia untuk bertindak dalam batas-batas ini. Misalnya,
orang percaya memiliki kuasa Roh dalam hidupnya sehingga ia da
pat bekerja sama secara luas ataupun sedikit dengan Roh dalam
melaksanakan karya Allah. Allah sudah tahu dari semula apa yang
Sarana-Sarana Kasih Karunia 467
akan dilakukan oleh setiap orang mengenai doa dan pengetahuan
itu telah termasuk penentuan-Nya dari semula. Jadi, saat sese
orang berdoa, ia hanya melaksanakan apa yang menurut pengeta
huan Allah akan dilakukannya dan apa yang telah ditetapkan oleh
Allah untuk dilakukan oleh orang itu. Bila manusia tidak bekerja
sama dengan Allah di dalam batas-batas kehendak-Nya yang sudah
ditentukan dari semula, maka Allah bekerja menurut kedaulatan-
Nya terlepas dari doa. Akan namun , dengan mengambil tindakan
semacam itu, Allah tidak mengesampingkan hukum alam yang
mana pun juga, namun malah menetralkan hukum alam itu dengan
hukum yang lebih tinggi dan lebih kuat. Kehendak-Nya merupakan
hukum alam, dan bila kehendak-Nya berubah dalam suatu kejadian
tertentu maka hukum alam yang tersangkut itu dikalahkan oleh
hukum-Nya yaitu kehendak-Nya.
C. METODE DAN CARA BERDOA
Jelas bahwa tidak semua yang disebut doa oleh manusia itu yaitu
doa yang sesungguhnya. Bahkan para murid menyadari kekurangan
mereka dalam hal itu sehingga mereka meminta kepada Yesus untuk
mengajar mereka berdoa (Lukas 11:1). Tuhan Yesus memenuhi per
mintaan mereka dan dengan demikian menunjukkan bahwa
keyakinan para murid itu benar. Paulus mengungkap perasaan yang
sama saat menyatakan bahwa "kita tidak tahu, bagaimana sebe
narnya harus berdoa," dan kemudian melanjutkan dengan menga
takan "namun Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan
keluhan-keluhan yang tidak terucapkan" (Roma 8:26). Bagaimana
kah metode dan cara berdoa yang alkitabiah?
J. Kepada siapa doa itu ditujukan. Alkitab mengajarkan bahwa
kita harus berdoa kepada Bapa (Nehemia 4:9; Yohanes 16:23; Kisah
12:5; I Tesalonika 5:23), dan kepada Anak (Kisah 7:59; I Korintus
1:2; II Korintus 12:8, 9; II Timotius 2:22), namun tidak ada petunjuk
yang jelas dalam Alkitab yang menyuruh kita berdoa kepada Roh
Kudus. Sekalipun tidak ada ayat yang menyuruh kita berdoa kepada
Roh Kudus, namun juga tidak ada larangan. Karena Roh Kudus
juga Allah, maka Ia dapat disembah juga sebagai Allah, dan doa
yaitu salah satu bentuk penyembahan. Alkitab berbicara mengenai
468 Soteriologi
"persekutuan Roh Kudus" (II Korintus 13:13); persekutuan yang
disebutkan di sini dapat berarti doa. Namun peranan Roh Kudus
yang terutama dalam doa kita ialah berdoa di dalam kita (Roma
8:26; Yudas 20) dan bukan menerima doa kita. Nampaknya cara
yang normal untuk berdoa ialah berdoa kepada Bapa, berdasarkan
jasa-jasa Anak-Nya di dalam atau melalui Roh Kudus.
2. Sikap tubuh di dalam doa. Alkitab tidak memberi tahu sikap
tubuh yang tertentu, namun menggambarkan dan mengajarkan ba
nyak sikap. Ada yang berdiri (Markus 11:25; Lukas 18:13; Yohanes
17:1), berlutut (I Raja-Raja 8:54; Lukas 22:41; Kisah 20:36; Efesus
3:14), sujud di lantai (Matius 26:39), berbaring di tempat tidur
(Mazmur 63:7), sambil berjalan di atas air (Matius 14:30), sambil
duduk (I Raja-Raja 18:42), dan tergantung di salib (Lukas 23:43).
Semua ini menunjukkan bahwa yang penting bukan sikap tubuh
saat berdoa, melainkan sikap hati. Akan namun , ada petunjuk
yang lebih banyak bahwa orang yang berdoa dalam Alkitab pada
umumnya berdiri atau berlutut dan bukan memperlihatkan sikap
tubuh yang lain saat berdoa.
3. Saat berdoa. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus senantiasa
berdoa (Lukas 18:1; Efesus 6:18), namun Alkitab juga mengajarkan
bahwa kita harus menyediakan waktu-waktu tertentu untuk berdoa
(Mazmur 55:18; Daniel 6:11; Kisah 3:1). Sekalipun semua ini me
rupakan contoh-contoh dari kebiasaan orang lain dan bukan perin
tah, namun setidak-tidaknya ayat-ayat ini menunjukkan bahwa
keteraturan dalam berdoa sangatlah baik. Di samping itu, Alkitab
mengajarkan kita untuk berdoa sebelum makan (Matius 14:19;
Kisah 27:35; I Timotius 4:4, 5), dan Alkitab mengajarkan bahwa
peristiwa khusus seharusnya mendorong kita untuk memanjatkan
doa yang khusus pula (Lukas 6:12, 13; 22:39-46; Yohanes 6:15).
Alkitab menasihati, "Sebab itu marilah kita dengan penuh kebe
ranian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima
rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan
kita pada waktunya" (Ibrani 4:16). Demikianlah, Tuhan bersedia
pada waktu apa pun siang atau malam untuk menerima doa anak-
anak-Nya.
4. Tempat berdoa. Yang berhubungan dekat sekali dengan saat
Sarana-Sarana Kasih Karunia 469
berdoa yaitu tempat berdoa. Alkitab menganjurkan kita mencari
tempat yang rahasia, kamar yang tertutup, terpisah dari semua hal
yang mengganggu di sekitar kita (Daniel 6:10; Matius 6:6). Melalui
teladan-Nya, Yesus mengajar kita untuk mencari tempat yang sunyi,
yaitu di tempat yang sepi (Markus 1:35) atau di puncak bukit
(Matius 14:23). Alkitab juga menganjurkan doa bersama, yaitu per
sekutuan doa dengan orang-orang yang seiman dengan kita (Matius
18:19, 20; Kisah 1:14; 12:5; 20:36). Ada juga contoh-contoh doa
di hadapan orang yang belum percaya. Paulus dan Barnabas pernah
berdoa di hadapan orang-orang hukuman lain yang ada di penjara
bersama mereka (Kisah 16:25). Paulus pernah berdoa di depan para
penumpang kapal pada pelayaran yang amat penting ke Roma
(Kisah 27:35). Sesungguhnya tidak ada tempat di mana kita tidak
boleh berdoa, karena Paulus mendorong kita untuk berdoa di mana-
mana (I Timotius 2:8).
5. Kesopanan saat berdoa. Pokok kesopanan dalam berdoa
sering kali tidak diperhatikan, namun Yesus menyebutnya. Yesus
mengajarkan bahwa orang-orang yang berdoa janganlah menam
pilkan wajah yang susah atau muram bahkan saat mereka ber
puasa (Matius 6:16-18). Maksudnya, Yesus berkeberatan terhadap
segala kepura-puraan. Demikian pula, Ia meminta kita jangan "ber
tele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Me
reka menyangka karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabul
kan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka" (Matius 6:7, 8). Keso
panan juga menuntut sikap yang tertib dalam kebaktian jemaat. Pau
lus menasihati, 'namun segala sesuatu harus berlangsung dengan
sopan dan teratur" (I Korintus 14:40). Nasihat ini berlaku bagi
penggunaan bahasa roh (I Korintus 14:27), dan pasti juga berlaku
untuk doa. Ketertiban dalam persekutuan doa yang tercatat dalam
Kisah Para Rasul dinyatakan secara tak langsung (Kisah 1:24-26;
4:24-31; 12:5, 12; 13:1-3).
6. Keadaan hati. Soal yang paling penting dalam cara berdoa
ialah keadaan hati orang yang berdoa. "Jikalau kamu tinggal di
dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu" (Yohanes 15:7)
merupakah syarat yang mutlak diperlukan agar doa kita dijawab.
Apa artinya ayat ini ? Tinggal di dalam Dia menyiratkan bahwa
470 Soteriologi
kita bebas dari dosa yang disadari (Mazmur 66:18; Amsal 28:9;
Yesaya 59:1, 2), kita tidak mementingkan diri dalam permohonan
doa kita (Yakobus 4:2, 3), meminta sesuai dengan kehendak-Nya
(I Yohanes 5:14), pengampunan bagi mereka yang telah bersalah
kepada kita (Matius 6:12; Markus 11:25), meminta dalam nama
Yesus (Yohanes 14:13, 14; 15:16; 16:23, 24), berdoa di dalam Roh
(Efesus 6:18; Yudas 20), meminta dengan iman (Matius 21:22;
Yakobus 1:6, 7), serta kesungguhan dan ketekunan dalam meman
jatkan permohonan kita (Lukas 18:1-8; Kolose 4:12; Yakobus 5:16).
BAGIAN VII
EKLESIOLOGI
(AJARAN TENTANG GEREJA)
Tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan adanya kehidupan ber
agama yang sudah teratur dalam kisah-kisah awal yang tercatat
dalam Alkitab. Bentuk yang paling mendekati bentuk kehidupan
beragama yang sudah teratur ialah keluarga. Sang ayah bertindak
sebagai imam dan memimpin ibadah kepada Allah. Nampaknya hal
inilah yang terjadi pada zaman Adam (Kejadian 4:24, 25), Nuh
(Kejadian 6:18), Ayub (Ayub 1:5), Abraham (Kejadian 12:1-3),
Ishak (Kejadian 26:2-5), dan Yakub (Kejadian 28:13-15).
Setelah suku-suku Israel diatur menjadi suatu bangsa di bawah
pimpinan Musa, terjadilah perubahan dalam kehidupan beragama
Israel. Kedua belas suku Israel ditata menjadi satu bangsa ber
negara, yaitu umat Allah (Keluaran 19:6). Teokrasi ini meliputi
seluruh kehidupan umat ini di bidang politik, sosial, dan
agama. Allah merupakan pimpinan tertinggi; para imam, raja, dan
nabi hanya merupakan pelaksana kehendak Allah. Ikatan perseku
tuan ini yaitu sunat, hukum taurat, kemah suci, dan bait Allah
sebagai tempat ibadah.
saat Kristus datang dan ditolak oleh bangsa Israel, Allah me
ngesampingkan Israel selama zaman ini dan membangun gereja Ye
sus Kristus sebagai gantinya. Pasal-pasal yang berikut akan mem
bahas pendirian, pengorganisasian, peraturan-peraturan, dan misi
atau tugas gereja.
471
XXXV
Definisi dan Pendirian Gereja
ada banyak keterangan dalam Perjanjian Baru yang menun
jukkan pentingnya ajaran tentang gereja. Sebagai contoh, Kristus
mengasihi gereja dan menyerahkan diri-Nya untuk gereja (Efesus
5:25); rencana utama Allah untuk masa kini ialah membangun
gereja (Matius 16:18; Kisah 15:14); penganiayaan gereja dianggap
oleh Paulus sebagai dosanya yang terbesar (I Korintus 15:9; Galatia
1:13,23; I Timotius 1:13); dan Rasul Paulus telah menderita banyak
hal demi gereja (Kolose 1:24). Sudahlah sewajarnya setelah mem
bahas ajaran tentang keselamatan, sebuah studi tentang bentuk
kehidupan terorganisasi yang direncanakan Allah bagi orang-orang
yang diselamatkan-Nya menjadi pusat perhatian kita selanjutnya.
I. DEFINISI GEREJA
Sangat diperlukan suatu pemahaman yang jelas tentang konsep
gereja dalam Perjanjian Baru. Dalam rangka itu, kita harus melihat
dahulu apa yang tidak dianggap gereja oleh Perjanjian Baru untuk
baru kemudian mempelajari apa yang dianggap gereja oleh Perjan
jian Baru.
A. GEREJA BUKAN KELANJUTAN TATANAN LAMA
Sekalipun ada hubungan di antara orang-orang yang diselamatkan
sepanjang zaman (Yohanes 10:16; Roma 11:16, 24; I Petrus 2:9),
dan ada sekelompok orang di dalam sejarah sepanjang berbagai
473
474 Eklesiologi
zaman yang merupakan umat Allah, kekristenan bukanlah
merupakan anggur baru yang dituangkan ke dalam kantong-kantong
anggur yang sudah tua. Lebih tepat kalau dikatakan bahwa kekris
tenan merupakan anggur baru yang dituangkan ke dalam kantong
anggur yang baru juga (Matius 9:17). Bahwa gereja bukan kelan
jutan sistem yang sudah kuno dapat dilihat dari berbagai penjelasan.
Pertama, Israel dan gereja dalam Alkitab tidak merupakan istilah
yang searti. Paulus membedakan antara orang Yahudi, orang
Yunani, dan jemaat atau gereja (I Korintus 10:32). Selanjutnya,
Paulus berbicara tentang gereja sebagai manusia yang baru (Efesus
2:15; band. Kolose 3:11), yang terdiri atas orang-orang Yahudi dan
orang-orang bukan Yahudi yang percaya. Dan akhirnya, Allah
masih menyediakan masa depan bagi Israel. Paulus, dalam Roma
11, membentangkan urutan tindakan-tindakan Allah bagi Israel di
masa depan. Israel merupakan ranting pohon zaitun yang sekarang
telah dipatahkan sedangkan ranting zaitun yang liar telah
dicangkokkan ke dalam batang zaitun itu. Sepanjang zaman ranting
zaitun liar itu, gereja yaitu alat Tuhan di bumi ini. Bahwa kerajaan
yang dinantikan orang Israel tidak datang pada zaman Yesus Kristus
terbukti dari pertanyaan para murid, "Tuhan, maukah Engkau pada
masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" (Kisah 1:6). Nasihat
Yakobus dalam sidang di Yerusalem (Kisah 15:13-21) menyiratkan
bahwa gereja mula-mula menganggap dirinya sebagai suatu
kesatuan yang berbeda samasekali dan bukan kelanjutan dari Israel.
B. GEREJA BUKAN KELANJUTAN SINAGOGE
Memang diakui bahwa antara gereja dengan sinagoge ada
banyak persamaan yang mencolok, namun perbedaan antara
keduanya juga tidak kalah mencolok. Yesus mengatakan, "Aku akan
mendirikan jemaat (gereja)-Ku" (Matius 16:18). Pernyataan ini tidak
mungkin merujuk kepada sinagoge karena sinagoge sudah ada pada
waktu itu. saat para rasul berkhotbah di dalam sinagoge, pesan
yang mereka sampaikan itu bersifat penginjilan serta mengajak
orang untuk bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus. Menurut
bukti-bukti yang ada dalam Perjanjian Baru, sekelompok
anggota sinagoge yang bertobat membentuk sebuah jemaat lokal
yang terlepas dari sinagoge. Selanjutnya, saat gereja mulai berdiri,
Definisi dan Pendirian Gereja 475
orang-orang beriman mula-mula berkumpul di kawasan bait Allah
dan bukan di sinagoge.
C. GEREJA TIDAK BERBATASAN DENGAN INTERREGNUM
(MASA PERALIHAN)
Interregnum bermula dan berakhir pada titik-titik sejarah yang ber
beda dengan awal gereja dan keangkatannya untuk berjumpa de
ngan Kristus saat Ia datang di antara orang-orang. Interregnum
mulai saat Tuhan Yesus ditolak oleh umat-Nya sendiri, dan pada
saat Ia mulai menyatakan maksud dan rencana Allah bagi masa
yang akan datang. Ini terjadi sekitar saat Yesus mulai menyam
paikan berbagai perumpamaan tentang rahasia-rahasia Kerajaan
Allah (Matius 13). Masa interregnum akan berakhir dengan
kedatangan Tuhan Yesus dalam kemuliaan untuk mendirikan kera-
jaan-Nya di atas bumi ini (Wahyu 19), yaitu saat lalang sudah
dikumpulkan dan kemudian dibakar, dan anak-anak kerajaan yang
sejati akan menikmati berkat-berkat Kerajaan Seribu Tahun (Matius
13:24-30; 36-43). Akan namun , gereja mulai pada hari Pentakosta,
yaitu beberapa waktu setelah masa interregnum sudah mulai, dan
Keangkatan Gereja akan terjadi sebelum masa kesengsaraan besar
dan pemerintahan Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun. Dengan
demikian kami berkesimpulan bahwa sekalipun gereja merupakan
bagian dari Kerajaan Allah, gereja tidak dapat disamakan dengan
Kerajaan Allah. Gereja bahkan tidak dapat dianggap sama persis
dengan bentuk rahasia Kerajaan Allah, karena Kerajaan Allah juga
mempunyai kawasan yang lebih luas.
D. GEREJA BUKAN SUATU DENOMINASI
Kita sering berbicara mengenai bermacam-macam denominasi yang
ada itu sebagai gereja-gereja, namun pemakaian istilah "gereja"
seperti itu tidak ada dalam Alkitab. Beberapa denominasi menegas
kan bahwa merekalah satu-satunya gereja yang benar, namun kita
harus selalu mengingat bahwa Finnan Allah tidak merestui per
pecahan semacam itu (I Korintus 1:11-17). Memang ada banyak
denominasi, namun hanya ada satu gereja sejati yang sifatnya univer
sal. Semua orang yang telah tertebus pada zaman ini yaitu
anggota dari tubuh rohani yang satu ini.
476 Eklesiologi
E. GEREJA DIPAHAMI DENGAN DUA ARTI
Jadi, kita dapat mengatakan secara positif apa gereja itu sebenarnya.
Istilah "gereja" dipakai dengan dua macam arti: arti yang universal
dan arti yang lokal.
1. Gereja yang universal. Dalam arti universal gereja terdiri atas
semua orang, yang pada zaman ini, telah dilahirkan kembali oleh
Roh Allah dan oleh Roh yang sama itu telah dibaptiskan menjadi
anggota tubuh Kristus (I Korintus 12:13; I Petrus 1:3, 22-25). Jelas
terlihat bahwa istilah gereja dipakai dalam arti universal ini karena
Kristus berbicara mengenai membangun jemaat (gereja)-Nya dan
bukan membangun jemaat-jemaat atau gereja-gereja (Matius 16:18);
Paulus sangat bersedih karena dahulu ia sudah menganiaya gereja
atau Jemaat Allah (I Korintus 15:9; Galatia 1:13; Filipi 3:6);
dikatakan bahwa Kristus sangat mengasihi gereja sehingga rela
menyerahkan diri baginya (Efesus 5:25); Tuhan kita sedang memur
nikan dan menguduskan gereja (Efesus 5:26, 27); Dialah kepala
gereja (Efesus 1:22; 5:23; Kolose 1:18); Kristus telah menempatkan
orang-orang yang dilengkapi dengan karunia-karunia dalam gereja
(I Korintus 12:28); gereja memberitahukan pelbagai ragam hikmat
Allah kepada para pemerintah dan penguasa di sorga (Efesus 3:10);
dan seluruh rombongan orang-orang percaya zaman ini disebut
sebagai gereja (jemaat) anak-anak sulung yang namanya terdaftar
di sorga (Ibrani 12:23). Dalam semua ayat ini dipakai istilah Yunani
ekklesia. Istilah ini sendiri hanya berarti sekelompok orang yang
terpanggil, sebagai suatu majelis warganegara dari suatu negara
yang mandiri; namun Perjanjian Baru telah memberinya suatu makna
rohani sehingga ekklesia menjadi berarti sekelompok orang yang
telah dipanggil keluar dari dunia dan dari hal-hal yang berdosa.
Sekalipun istilah ini muncul lebih dari seratus kali dalam Alkitab,
istilah ekklesia hanya dipakai untuk menunjuk kepada kelompok
yang sekular dalam Kisah 19:32, 39, 40, dan untuk menunjuk
kepada jemaat orang-orang Israel dalam Kisah 7:38 dan Ibrani 2:12.
Menarik untuk dicatat bahwa istilah church dalam bahasa Inggris
sebenarnya berasal dari istilah Yunani kuriakos yang artinya "men
jadi milik Allah." Kata sifat ini hanya muncul dua kali dalam Per
janjian Baru; pertama dipakai untuk Perjamuan Kudus (I Korintus
11:20) dan kedua untuk Hari Tuhan (Wahyu 1:10). Dengan
Definisi dan Pendirian Gereja 477
demikian, kita dapat memberikan definisi tambahan tentang istilah
"gereja" sebagai berikut: sekelompok orang yang telah dipanggil
keluar dari dunia dan yang menjadi milik Allah. Sekalipun demi
kian, definisi yang pertama dengan lebih jelas mengakui kenyataan
kelahiran kembali sebagai suatu syarat mutlak untuk menjadi ang
gota gereja yang benar. Bagaimanapun juga, keanggotaan dalam
gereja tidak ditentukan oleh faktor-faktor keturunan atau oleh pak
saan, namun oleh suatu keputusan pribadi berlandaskan iman kepada
Kristus.
Pemahaman tentang gereja yang bersifat universal ini dapat
dilihat dalam gambaran-gambaran yang dipakai untuk menerangkan
gereja ini . Gereja disebut sebagai bangunan Allah (I Korintus
3:9, 16, 17; II Korintus 6:16; Efesus 2:20-22; I Timotius 3:15).
Kristus merupakan batu penjuru bangunan ini (Matius 16:18; I Ko
rintus 3:11; I Petrus 2:6, 7) dan oleh Roh-Nya Kristus tinggal di
dalamnya (I Korintus 3:16; 6:19). Orang yang sudah percaya kepada
Kristus melaksanakan pelayanan sebagai iman dalam bait suci ini
(Ibrani 13:15, 16; I Petrus 2:9; Wahyu 1:6). Gereja juga disebut
sebagai tubuh Kristus (Roma 12:4; I Korintus 12:12-27; Efesus
1:22, 23; 3:6; 4:4, 12, 16; 5:23, 30; Kolose 1:18, 24; 2:19; 3:15).
Menurut gambaran ini, gereja dianggap sebagai sebuah organisme,
yang memiliki hubungan yang sangat penting dengan Kristus; gereja
berada di bawah pengawasan Kristus, serta merupakan sebuah ke
satuan, sekalipun terdiri atas orang-orang Yahudi dan orang-orang
bukan Yahudi, dan memiliki aneka ragam karunia di antara
anggota-anggotanya, dan dalam teori bekerja sama dalam melak
sanakan satu tugas bersama. Selain itu, gereja juga disebut sebagai
mempelai perempuan Kristus (II Korintus 11:2, 3; Efesus 5:24, 25,
32). Sebagai mempelai perempuan Kristus, gereja berkedudukan
sebagai pasangan Kristus, dan dengan demikian diharapkan gereja
senantiasa setia kepada Dia (Yakobus 4:4), harus bersiap-siap untuk
upacara pernikahan (Wahyu 19:7, 8), untuk kelak dinikahkan
kepada Kristus (Yohanes 3:29), dan memerintah bersama dengan
Dia (Wahyu 19:6-20:6). Gambaran lain yang dipakai untuk me
nerangkan gereja ialah pokok anggur dengan carang-carangnya
(Yohanes 15:1-8) dan kawanan domba yang digembalakan oleh-
Nya (Yohanes 10:1-18; Ibrani 13:20; I Petrus 2:25).
478 Eklesiologi
2. Gereja yang lokal. Dalam arti yang lokal istilah "gereja"
dipakai untuk menunjuk kepada sekelompok orang-orang percaya
yang terkumpul di satu tempat. Dengan demikian kita membaca
dalam Alkitab tentang adanya gereja di Yerusalem (Kisah 8:1;
11:22), Efesus (Kisah 20:17), Kengkrea (Roma 16:1), Korin
tus (I Korintus 1:2 dan II Korintus 1:1). Kita membaca dalam
Alkitab tentang gereja atau jemaat orang-orang Laodikia (Kolose
4:16) dan jemaat orang-orang Tesalonika (I Tesalonika 1:T, II
Tesalonika 1:1). Kadang-kadang istilah gereja lokal ini ditulis da
lam bentuk jamak, misalnya jemaat-jemaat atau gereja-gereja di
Galatia (Galatia 1:2), jemaat-jemaat di Yudea (I Tesalonika 2:14),
dan di Asia (Wahyu 1:4). Semua gereja lokal ini bersama-sama
hams merupakan replika yang tepat dari gereja yang universal.
Menarik sekali untuk dicatat bahwa gambaran-gambaran yang
dipakai untuk menerangkan gereja juga dipakai untuk menerangkan
orang percaya secara individual, gereja lokal dan gereja yang uni
versal. Gambaran-gambaran berupa mempelai perempuan, tubuh,
bangunan, dan kawanan domba dipakai untuk gereja universal
(Efesus 5:25; 1:23; II Korintus 6:16; Ibrani 13:20), gereja lokal
(II Korintus 11:2; I Korintus 12:12-27; I Korintus 3:16; Kisah
20:28), dan juga untuk masing-masing orang percaya (Roma 7:4;
6:12; I Korintus 6:19; Lukas 15:4-10).
II. PENDIRIAN GEREJA
Karena saat pendirian gereja universal dan gereja lokal terjadi ber
tepatan, maka saat pendirian keduanya akan dibahas secara ber
samaan dalam bagian ini. Hal-hal yang khas dan unik dari masing-
masing akan dibahas dalam hubungannya yang semestinya. Kon
sepsi alkitabiah tentang sifat gereja ada hubungannya dengan waktu
serta cara gereja itu didirikan. Kita hams memiliki pengertian yang
jelas mengenai kedua unsur kebenaran ini agar dapat memiliki pan
dangan alkitabiah yang benar terhadap gereja. Mari kita memperha
tikan beberapa hal yang berkaitan dengan pokok-pokok ini .
A. SAAT PENDIRIAN GEREJA
ada sedikit kebingungan dalam menetapkan saat pendirian
Definisi dan Pendirian Gereja 479
gereja ini. Mereka yang beranggapan bahwa gereja hanya merupa
kan Israel rohani dari Perjanjian Baru, dengan kata lain, gereja
yaitu kelanjutan dari Israel Perjanjian Lama, mau tidak mau per
caya bahwa gereja sudah didirikan dalam zaman Perjanjian Lama.
Pihak lain beranggapan bahwa gereja mulai didirikan pada saat
Kristus mulai berkhotbah. Namun, pandangan-pandangan ini ter
nyata tidak alkitabiah berdasarkan pernyataan Kristus sendiri. Kris
tus menyatakan di Kaisarea Filipi bahwa pada saat itu gereja masih
belum berdiri, karena Ia mengatakan, "Di atas batu karang ini Aku
akan membangun jemaat-Ku" (Matius 16:18). Orang-orang yang
menganggap bahwa Petrus yaitu batu karang ini mau tidak
mau harus mengakui bahwa gereja belum ada pada zaman Perjan
jian Lama, dan demikian pula mereka yang menganggap batu
karang ini yaitu pengakuan Petrus bahwa Yesus itu Kristus,
Anak Allah yang hidup. Nampaknya sulit untuk percaya bahwa
Yesus hanya bermaksud mengatakan akan mengadakan awal baru
dalam perkembangan gereja, karena yang dibicarakan-Nya yaitu
mendirikan gereja dan bukan membangunnya kembali. Ada pihak
lain lagi yang beranggapan bahwa ada gereja untuk zaman Kisah
Para Rasul yang bukan gereja dewasa ini. Beberapa tokoh dalam
aliran ini menganjurkan bahwa gereja Kristen dewasa ini dimulai
pada waktu kitab Kisah Para Rasul berakhir, dan beberapa tokoh
lainnya mengajarkan bahwa gereja mulai pada saat Paulus berkata
di Antiokhia Pisidia, "Kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain"
(Kisah 13:46). namun apa yang sebenarnya diajarkan oleh Alkitab?
Bahwa gereja, baik yang universal maupun yang lokal, mulai
pada hari Pentakosta (Kisah 2) sudah jelas berdasarkan beberapa
hal. Kita hams kembali kepada pernyataan mengenai cara gereja
didirikan. Paulus dengan singkat mengungkapkannya saat ia
menulis, "Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi,
maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah
dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu
Roh" (I Korintus 12:13). Yang dimaksud dengan istilah tubuh oleh
Paulus ialah gereja (lihat ayat 28, dan Efesus 1:22, 23). Baptisan
Roh ini menempatkan orang percaya di dalam gereja, yaitu tubuh
Kristus. Baptisan Roh ini disebutkan dalam keempat kitab Injil dan
juga dalam Kisah Para Rasul. Keempat ayat dalam kitab-kitab Injil
(Matius 3:11; Markus 1:8; Lukas 3:16; Yohanes 1:33) secara praktis
480 Eklesiologi
artinya sama, yaitu janji mengenai baptisan yang akan datang.
Dalam Kisah 1:5 Yesus mengulang janji ini serta menambah
kan bahwa dalam beberapa hari lagi janji itu akan digenapi; dan
dalam Kisah 11:15-17 Petrus merujuk kembali kepada hari Pen
takosta sebagai penggenapan janji itu. Pertama Korintus 12:13
merujuk kepada peristiwa baptisan Roh sebagai peristiwa yang
sudah lampau. Jadi, jelaslah bahwa baptisan Roh itu terjadi pada
hari Pentakosta dan bahwa gereja didirikan pada hari ini . Ke
simpulan ini makin diperkuat oleh kenyataan bahwa gereja tidak
mungkin didirikan sebelum kenaikan dan pemuliaan Kristus (Efesus
1:19-23).
Gereja lokal didirikan pada saat yang sama. Kita membaca dalam
Alkitab bahwa ada seratus dua puluh orang yang sedang menantikan
Roh yang dijanjikan saat hari Pentakosta tiba. Seratus dua puluh
orang inilah yang pertama-tama dibaptis oleh Roh, dan mereka
merupakan anggota-anggota inti dari gereja di Yerusalem. Sebagai
tanggapan terhadap khotbah Petrus dan rasul-rasul lainnya, 3.000
orang menerima perkataan mereka, dibaptiskan, dan ditambahkan
sebagai anggota gereja (Kisah 2:14, 41). Tidak beberapa lama
kemudian gereja lokal ini telah bertumbuh dan beranggotakan 5.000
orang (Kisah 4:4). Jelaslah, orang-orang percaya itu bertindak
selaku sebuah kesatuan. Mereka mempunyai pedoman doktrin yang
tegas yaitu ajaran para rasul; mereka bersekutu satu dengan yang
lain sebagai orang-orang percaya; mereka melaksanakan sakramen
baptisan dan Perjanjian Kudus; mereka berkumpul untuk beribadah
bersama; dan mereka memberikan sumbangan untuk membantu
penghidupan orang-orang yang kekurangan (Kisah 2:42-47). Je
laslah, semua ini merupakan tanda-tanda sebuah gereja lokal yang
sudah terorganisasi, sekalipun organisasinya belum begitu ketat.
B. PENDIRIAN GEREJA-GEREJA LOKAL LAINNYA
Jelaslah bahwa gereja-gereja lokal semacam itu kemudian bermun
culan di Yudea (Galatia 1:22; I Tesalonika 2:14), sekalipun tidak
disebutkan secara khusus dalam kitab Kisah Para Rasul. Sebuah
gereja lokal juga terbentuk di kota Samaria (Kisah 8:1-24), dan
mungkin sekali di banyak kampung di daerah Samaria (Kisah 8:25).
Tidak lama kemudian sebuah jemaat dimulai di Antiokhia Siria
Definisi dan Pendirian Gereja 481
(Kisah 11:20-30; 13:1). Gereja ini kemudian menjadi pangkalan Rasul Paulus saat mengadakan perjalanan pengabaran Injilnya
(Kisah 13:1-3; 14:26-28; 15:36-41; 18:22, 23). Sejumlah nabi dan
guru ada di gereja ini, namun mereka mengakui perlunya berembuk
dengan gereja di Yerusalem tentang syarat-syarat penerimaan
orang-orang bukan Yahudi dalam persekutuan gereja (Kisah 15:1-
35). Akhirnya, sebagai akibat perjalanan penginjilan Rasul Paulus
dan rasul-rasul lainnya, serta juga orang-orang Kristen yang mula-
mula pada umumnya, gereja-gereja lokal bermunculan di Asia
Kecil, Makedonia, Yunani, Italia, Spanyol serta daerah-daerah lain
di sekitar Laut Tengah. Nampaknya gereja yang mula-mula itu telah
berhasil menginjili generasi mereka.
XXXVI
Dasar Gereja, Cara Pendirian
Gereja, dan Pengaturan Gereja
Beberapa pokok akan dibahas dalam pasal ini yaitu dasar gereja,
cara pendirian gereja, dan pengaturan gereja-gereja Perjanjian Baru.
L DASAR GEREJA
Dalam bagian ini kita akan membahas pendirian gereja yang univer
sal dan yang lokal.
A. GEREJA UNIVERSAL
Yesus berkata kepada Petrus, "Dan Aku pun berkata kepadamu:
Engkau yaitu Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan men
dirikan jemaat-Ku" (Matius 16:18). Jelaslah dari ayat ini bahwa
gereja yaitu milik Tuhan, karena Ia menyebutnya "jemaat (gereja)-
Ku". Inilah "jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-
Nya sendiri" (Kisah 20:28). Gereja disebut gereja Yesus Kristus,
dan Ia merupakan kepalanya (Efesus 5:23; Kolose 1:18). Dalam
kitab Wahyu, Kristus digambarkan sebagai Tuhan atas gereja-
gereja, sedang berjalan di antara ketujuh kaki dian emas (Wahyu
1:12-20), dengan kuasa untuk menyingkirkan gereja lokal (2:5), atau
menghukum orang-orang yang ada di dalamnya (2:16). Jelaslah,
"gereja sebagai ciptaan baru Allah bertumpu pada pribadi dan karya
Kristus Yesus."1 7 Kristus berkata bahwa la akan membangun
gereja-Nya di atas batu karang "ini". Pendapat para ahli berbeda
483
484 Eklesiologi
mengenai apa atau siapa batu karang ini. Kemungkinan-kemung
kinan berikut telah dianjurkan: (1) Istilah "batu karang" menunjuk
kepada Petrus. Kristus merupakan dasar dan pendiri utama gereja,
namun Petrus merupakan tokoh yang ditugaskan Kristus untuk men
dirikan gereja itu. (2) Sarjana yang lain menganjurkan bahwa istilah
"batu karang" menunjuk kepada para rasul yang diwakili oleh
Petrus. (3) Sarjana lainnya lagi merasa bahwa mengingat ayat-ayat
seperti Roma 9:33; I Korintus 10:4; dan I Petrus 2:8 istilah ini
hanya dapat menunjuk kepada Yesus Kristus sendiri sebagai batu
karang itu (lihat juga Matius 7:24-27). (4) Kemudian ada yang ber
anggapan bahwa istilah batu karang itu menunjuk kepada penga
kuan Petrus akan keallahan Yesus Kristus. Jadi, menurut pendapat
ini gereja Perjanjian Baru dibangun atas pengakuan bahwa Yesus
yaitu Kristus.
Pendapat yang mengatakan bahwa batu karang itu menunjuk ke
pada Petrus nampaknya mendapatkan dukungan yang terkuat.
Beberapa alasan dapat dikemukakan. (1) Nama "Petrus" itu sendiri
berarti "batu karang". Tuhan Yesus sendiri memberikan julukan
"Kefas" (bahasa Aram) kepada Petrus yang juga berarti "batu
karang", sedangkan bahasa Yunaninya ialah "Petrus". Mengatakan
bahwa ada ayat-ayat lain di Alkitab yang menyebut Kristus batu
karang dan karena itu istilah "batu karang" dalam Matius 16:18
pasti menunjuk kepada Kristus, berarti mengesampingkan kemung
kinan bahwa istilah "batu karang" dapat dipakai untuk menunjuk
kepada bermacam-macam orang, sebagaimana istilah "terang"
dipakai untuk orang-orang percaya (Matius 5:14) dan juga untuk
Kristus (Yohanes 9:5). (2) Sejarah gereja menunjukkan bahwa Pe
trus dipakai oleh Tuhan untuk mendirikan gereja. Petrus membuka
pintu Injil bagi orang-orang Yahudi (Kisah 2:14-41), bagi orang-
orang Samaria (Kisah 8:14-17), bagi orang-orang bukan Yahudi
(Kisah 10:24-48). (3) Kristus memakai bentuk maskulin saat me
nyebut Petrus "batu karang”, dan bentuk feminin saat berbicara
mengenai dasar gereja. Kenyataan ini telah membuat beberapa ahli
beranggapan bahwa batu karang yang merupakan dasar gereja dan
Petrus tidak mungkin sama. Namun, dari segi ilmu bahasa hal ini
perlu dilakukan karena bentuk feminin dari batu karang menunjuk
kepada lapisan tanah yang keras atau batu yang besar; sedangkan
147 Saucy, The Church in God’s Program, hal. 60.
Dasar Gereja, Cara Pendirian Gereja, dan ... 485
saat memberi nama kepada seorang laki-laki Kristus mau tidak
mau harus memakai bentuk maskulin. Dan akhirnya, (4) para rasul
disebut sebagai dasar gereja (Efesus 2:20), dengan Yesus sendiri
sebagai batu penjurunya. Berdasarkan keempat alasan ini kami me
nyimpulkan bahwa "’batu karang’ yang di atasnya Kristus akan
membangun jemaat-Nya menunjuk kepada Petrus sebagai pemim
pin dan wakil para rasul."148 Dengan beranggapan bahwa Petrus
yaitu batu karang tidaklah berarti bahwa kita mengabaikan Kristus
sebagai dasar yang hakiki dan akhir, dasar yang paling utama. Ba
gaimanapun juga, Kristus memakai orang-orang untuk mendirikan
gereja. Selanjutnya, kami tidak mengabaikan pentingnya penga
kuan sebagaimana yang diungkapkan oleh Petrus. Orang yang
tidak mempunyai pengakuan ini tidak mungkin menjadi anggota
tubuh Kristus. Setiap orang yang ingin menjadi batu yang hidup
(I Petrus 2:5) di dalam rumah rohani yang hidup ini haruslah meng
akui keallahan Kristus sebagaimana yang dilakukan oleh Petrus.
Bagaimanapun pendapat yang dianut tentang masalah arti batu
karang ini, tiga hal sudah sangat jelas: Kristus sedang mendirikan
gereja-Nya, Ia memakai orang-orang dalam melaksanakan hal ter
sebut, dan orang-orang yang dipakai ini harus mengakui keallahan
Yesus Kristus. Wewenang untuk mengikat dan melepaskan tidak
diberikan kepada Petrus saja, namun juga kepada rasul-rasul lainnya
(Matius 16:19; 18:18; Yohanes 20:23). Rupanya kekuasaan itu de
klaratif seperti yang diberikan Tuhan kepada Yeremia (Yeremia
1:10).
B. GEREJA LOKAL
Tidak dapat disangkal bahwa pada hari Pentakosta baik gereja uni
versal maupun gereja lokal di Yerusalem didirikan, dan pada waktu
itu gereja universal dan gereja lokal merupakan satu kesatuan. Pada
waktu para rasul bergerak ke daerah-daerah lain di sekitarnya,
mulailah didirikan gereja-gereja lokal yang lain. Waktu orang-orang
bertobat dan berbalik kepada Tuhan di berbagai daerah, mereka
berkumpul dan membentuk jemaat-jemaat lokal. Gereja-gereja lokal
itu dimulai oleh orang-orang percaya yang mengabarkan Injil, dan
didirikan atas dasar Kristus. Paulus menulis kepada jemaat di
148 Saucy, The Church in God's Program, hal. 63.
486 Eklesiologi
Korintus sebagai berikut, "Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang
dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang
cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di
atasnya. namun tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia
harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang
dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan,
yaitu Yesus Kristus" (I Korintus 3:10-11). Dengan demikian Paulus
menegaskan bahwa dasar yang diletakkannya yaitu Yesus Kristus.
Yesus Kristus harus menjadi dasar gereja, Firman Allah harus men
jadi tolok ukur iman dan kegiatan gereja, serta Roh Allah harus
menjadi pelaksana. Hanya mereka yang secara terang-terangan
mengakui bahwa Yesus yaitu Kristus berhak menjadi anggota
jemaat setempat. Hanya mereka yang jelas menunjukkan bahwa me
reka anggota jemaat universal yang boleh diterima dalam sebuah
jemaat lokal.
II. CARA BERDIRINYA GEREJA
Gereja yang universal atau yang sejati bukanlah merupakan hasil
usaha manusia semata. Gereja bukanlah hasil suatu pengaturan
manusia, gereja lahir. Dalam Ibrani 12:23 gereja disebut sebagai
"jemaat anak-anak sulung". Maksudnya, kelahiran baru merupakan
syarat pertama dalam mendirikan gereja ini. Syarat yang kedua ialah
baptisan Roh. Alkitab mengatakan, "Sebab dalam satu Roh kita
semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak,
maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita
semua diberi minum dari satu Roh" (I Korintus 12:13). Pada
mulanya baptisan Roh ini terjadi pada hari Pentakosta (Kisah 1:4,
5; 2:1-4; 11:15-17). Hanya Tuhan yang dapat membaptis dengan
Roh Kudus (Markus 1:8), dan hanya Ia yang dapat menambah jum
lah anggota gereja (Kisah 2:47; bandingkan dengan 5:14; 11:24).
Kristus mengatakan bahwa Ia akan membangun gereja-Nya (Matius
16:18). Semua orang percaya pada zaman ini dibaptiskan menjadi
anggota gereja, yaitu tubuh Kristus.
Gereja lokal muncul secara sangat sederhana. Pada mulanya tidak
ada organisasi, namun hanya ada ikatan kasih, persekutuan, ajaran,
Dasar Gereja, Cara Pendirian Gereja, dan ... 487
dan kerja sama dalam bentuk yang sederhana. Akan namun , lambat-
laun pengaturan yang longgar oleh pimpinan para rasul digantikan
organisasi yang lebih ketat. Karena anggota-anggotanya sudah
merupakan anggota gereja yang sejati, maka mereka merasa ter
dorong untuk mengorganisasi jemaat-jemaat lokal agar perubahan-
perubahan batin yang terjadi sebagai akibat iman kepada Kristus
dapat diwujudkan untuk kepentingan bersama dan penyelamatan se
tiap orang yang belum percaya.
Pada mulanya hanya ada satu jemaat lokal yaitu gereja di Yeru
salem. Nampaknya pertemuan-pertemuan diadakan di berbagai
rumah tangga, namun tetap ada satu gereja lokal saja di Yerusalem.
Keanggotaannya bertumbuh menjadi tiga ribu orang dan terus ber
tambah sampai mencapai lima ribu orang; sementara itu tiap-tiap
hari Tuhan menambah jumlah mereka (Kisah 2:41, 47; 4:4; 5:14).
Para rasul sendirilah yang memimpin jemaat lokal di Yerusalem.
Beberapa waktu kemudian, gereja-gereja lokal lainnya mulai ber
munculan di tempat-tempat yang baru pada waktu Injil diberitakan
dan dipercayai, seperti yang terjadi di Yudea dan Samaria (Kisah
pasal 8), yang bentuk organisasinya pasti mencontoh gereja lokal
di Yerusalem. Cara gereja-gereja lokal baru ini berdiri tidak dirinci.
Paulus memberikan pengarahan kepada Titus untuk "menetapkan
penatua-penatua di setiap kita" (Titus 1:5). Hal ini nampaknya me
nunjukkan bahwa di mana sudah terbentuk sekelompok orang-orang
percaya, di situ pula penatua-penatua diangkat sebagai pemimpin
(lihat Kisah 14:23). Dalam gereja yang mula-mula, bila seseorang
menanggapi Injil Yesus Kristus, orang ini langsung diterima
sebagai anggota gereja. Tidak diragukan lagi apakah ia boleh atau
tidak boleh menjadi anggota jemaat lokal, hal itu sudah dianggap
semestinya begitu.
III. PENGATURAN GEREJA-GEREJA
Sedikit sekali yang dikatakan dalam Alkitab tentang pengaturan hu
bungan antara gereja-gereja, namun ada cukup banyak keterangan
tentang pengaturan gereja lokal.
488 Eklesiologi
A. PENGATURAN GEREJA MERUPAKAN FAKTA
Ada tanda-tanda bahwa sudah sejak awal di gereja Yerusalem ter
dapat pengaturan yang sangat lunak dalam pelaksanaannya, dan ada
cukup banyak bukti yang meyakinkan bahwa tidak lama kemudian
gereja-gereja lokal yang terbentuk memiliki sistem pengaturan yang
jelas. Adanya suatu sistem pengaturan di gereja di Yerusalem, mes
kipun sederhana, dapat dilihat dari beberapa hal. Orang-orang per
caya memegang teguh suatu standar doktrin yang pasti (Kisah 2:42),
berkumpul untuk mengadakan persekutuan rohani, bersatu dalam
doa, melakukan sakramen baptisan, melaksanakan sakramen Per
jamuan Kudus, mencatat anggota-anggota mereka, berhimpun untuk
mengadakan kebaktian umum, serta menyediakan bantuan materiel
bagi saudara-saudara seiman yang membutuhkannya (Kisah 2:41-
46). Para rasul merupakan pemimpin-pemimpin dalam gereja ini,
namun tidak lama kemudian mereka menambahkan tujuh orang
untuk melayani orang-orang yang miskin (Kisah 6:1-7). Pada hari
Pentakosta mereka berkumpul di ruang atas (Kisah 1:13; 2:1), entah
di mana lokasi ruang atas ini . Namun lebih sering lagi mereka
berkumpul di rumah seorang Kristen (Kisah 2:46; 12:12), sekalipun
untuk kebaktian-kebaktian tertentu mereka masih pergi ke bait suci
(Kisah 2:46; 3:1). Semua faktor ini menunjukkan awal pengaturan
dalam gereja di Yerusalem.
1. Mereka memiliki pejabat-pejabat gereja. Di samping teladan
gereja yang mula-mula di Yerusalem, ada banyak petunjuk lain
bahwa Alkitab mengajarkan bahwa mengorganisasi kelompok-
kelompok orang percaya setempat menjadi gereja yaitu tindakan
yang tepat dan perlu. Paulus dan Barnabas, dalam perjalanan kem
bali dari Derbe, "di tiap-tiap jemaat. . . menetapkan penatua-pena-
tua bagi jemaat itu" (Kisah 14:23). Naskah aslinya menyiratkan
bahwa hal ini dilakukan di bawah pimpinan rasul-rasul yang menga
rahkan anggota-anggota jemaat untuk memberi suara dengan meng
acungkan tangan. Titus ditugaskan untuk menetapkan penatua-
penatua jemaat (Titus 1:5). Selanjutnya, gereja Yerusalem menugas
kan tujuh orang pengurus untuk menyediakan kebutuhan anggota-
anggota yang miskin (Kisah 6:1-7). Pastilah para pemimpin gereja
di Yerusalem saat itu memiliki cara tertentu untuk mengetahui
dengan pasti perasaan jemaat dan ada peraturan yang menetapkan
Dasar Gereja, Cara Pendirian Gereja, dan ... 489
siapa yang berwenang memberikan suara dalam hal menyelesaikan
masalah tertentu. Di gereja Efesus ada penatua-penatua (Kisah
20:17), di gereja Antiokhia ada guru-guru dan nabi-nabi (Kisah
13:1), dan di gereja Filipi ada para penilik jemaat dan diaken
(Filipi 1:1). Beberapa waktu kemudian, gereja Efesus juga memiliki
penilik jemaat dan diaken (I Timotius 3:1, 8).
2. Saat-saat pertemuan mereka telah ditetapkan. Para rasul
berkumpul pada hari pertama setiap minggu tidak lama sesudah
peristiwa kebangkitan Yesus Kristus (Yohanes 20:19, 26). Dalam
suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus mem
beritahukan mereka untuk menyisihkan sesuatu sesuai dengan apa
yang mereka peroleh, dan menyimpannya di rumah, pada hari per
tama dari tiap-tiap minggu (I Korintus 16:2), maksudnya, pada hari
pertama tiap-tiap minggu itu akan dipungut kolekte atau persem
bahan. Dalam perjalanan terakhir ke Yerusalem, Paulus berhenti di
Troas serta berkumpul dengan para murid di sana pada hari pertama
dalam minggu itu (Kisah 20:7). Dan dalam kitab Wahyu, Yohanes
menyatakan bahwa ia dikuasai oleh Roh pada hari Tuhan (Wahyu
1:10).
3. Mereka mengatur sopan santun dalam kebaktian gereja.
Mereka mengatur sopan santun dalam kebaktian gereja (I Korintus
14:26-40) serta menjalankan disiplin gereja. Yesus telah memerin
tahkan bahwa jika seorang percaya tidak mau tunduk dan
menaati nasihat secara pribadi maka masalah itu harus diserahkan
kepada gereja untuk didisiplin (Matius 18:17). Paulus secara tegas
sekali meminta agar jemaat di Korintus menjalankan disiplin gereja
(I Korintus 5:13). Petunjuk-petunjuk yang sama diberikannya juga
kepada gereja di Roma (Roma 16:17; lihat juga II Tesalonika 3:6-
15). Dalam III Yohanes 9, 10 dikatakan bahwa Diotrefes bertindak
sewenang-wenang dalam melaksanakan disiplin gereja. Kembali
nampak di sini ada petunjuk-petunjuk tentang adanya sistem
pengaturan karena di dalam perkara-perkara seperti itu perlu sekali
diberi batas antara orang-orang yang berhak memberi suara dan
mereka yang tidak berhak. Nampaknya bahwa suara mayoritas yang
memutuskan masalah-masalah disiplin (II Korintus 2:6).
490 Eklesiologi
4. Mereka mengumpulkan uang untuk pekerjaan Tuhan. saat
menulis kepada jemaat di Korintus dari Efesus, Paulus mengatakan
bahwa ia sudah memberi petunjuk kepada jemaat-jemaat lokal di
daerah Galatia tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus.
Lalu ia memberikan petunjuk yang sama juga kepada jemaat di
Korintus (I Korintus 16:1, 2). Mereka harus memberi secara teratur,
sesuai dengan kemampuan, dan dengan tujuan yang jelas. Uang
bagi orang yang kudus itu harus mereka berikan pada hari pertama
dari setiap minggu, sesuai dengan pendapatan mereka. Dalam surat
II Korintus Paulus mendorong jemaat untuk memberi dengan rela
dan ikhlas (II Korintus 8:7-9; 9:6) dan dengan penuh sukacita (II
Korintus 9:7). Di II Korintus 8:1-5 Paulus memuji jemaat-jemaat
di Makedonia karena mereka memberi dengan sangat murah hati,
dan mendorong jemaat di Korintus untuk mengikuti teladan mereka
(II Korintus 8:6-9:5). Dalam surat kepada jemaat di Roma Paulus
berbicara mengenai bantuan uang yang diantarkannya ke Yerusalem
(Roma 15:25-28). Di hadapan Feliks Paulus menyebut bantuan uang
ini (Kisah 24:17). Jadi, jemaat-jemaat di Galatia, Makedonia, dan
Akhaya, mengadakan usaha yang terarah untuk mengumpulkan
dana bagi saudara-saudara seiman yang miskin di Yudea.
5. Mereka mengirim surat rekomendasi kepada gereja-gereja
lain. Hal ini dilakukan saat Apolos meninggalkan Efesus untuk
pergi ke Korintus (Kisah 18:24-28). Hal semacam ini juga tersirat
dalam pertanyaan Paulus yang tajam kepada jemaat di Korintus (II
Korintus 3:1). Roma 16:1 mungkin merupakan contoh surat se
macam itu mengenai Febe. Sejauh kebiasaan ini berkembang, sudah
pasti kemudian dirasa perlu untuk menetapkan siapa yang layak
memperoleh surat semacam itu. Jelas bahwa prosedur demikian
mensyaratkan adanya suatu sistem pengaturan. Musyawarah di
Yerusalem mengeluarkan sebuah ketetapan tentang syarat-syarat
yang harus dipenuhi oleh orang-orang bukan Yahudi sebelum dapat
diterima di dalam persekutuan Kristen dan ketetapan itu dituangkan
dalam sebuah surat (Kisah 15:22-29). Peristiwa ini juga mensyarat
kan adanya suatu sistem pengaturan.
B. PEJABAT-PEJABAT GEREJA
Suatu organisasi memerlukan pejabat-pejabat. Pada mulanya segala
Dasar Gereja, Cara Pendirian Gereja, dan ... 491
sesuatu diatur dengan sangat sederhana, namun sudah ada dua atau
tiga jabatan yang berbeda dalam gereja-gereja saat itu. Bukti ten
tang hal ini kita terima sebagian dari keterangan yang menyebut
pejabat-pejabat gereja itu dan sebagian lagi melalui ajaran tentang
pengangkatan dan kewajiban para pejabat gereja.
1. Gembala, penatua, penilik jemaat. Ketiga istilah ini menunjuk
kepada satu jabatan dalam Perjanjian Baru. Dalam Kisah 20:17, 28
dikatakan bahwa para penatua gereja di Efesus telah dijadikan
penilik atas kawanan itu, dengan tujuan agar mereka memberi
makan atau menggembalakan jemaat Allah di Efesus. Di sini kita
menemukan istilah penatua, penilik jemaat, dan gembala dipakai
untuk menunjuk orang-orang yang sama. Dalam I Petrus 5:1, 2,
tugas-tugas seorang gembala diberikan kepada "para penatua di an
tara kamu". Maksudnya, penatua dan gembala saat itu orang
yang sama. Dalam II Yohanes 1, III Yohanes 1, dan I Petrus 5:1,
baik Yohanes maupun Petrus yang yaitu rasul menyebut diri
mereka sendiri sebagai penatua. Sudah pasti, jabatan penatua ini
bukanlah sebuah jabatan yang lebih rendah daripada gembala atau
penilik jemaat. Dalam Titus 1:5-9 istilah "penatua" dan "penilik
jemaat" kerap dipertukartempatkan. Istilah Yunani untuk "gembala"
muncul beberapa kali dalam Perjanjian Baru, namun hanya dalam
Efesus 4:11 istilah ini diterjemahkan sebagai "gembala"
sidang. Arti yang sebenarnya yaitu gembala domba (lihat Matius
9:36; 26:31; Lukas 2:8; Yohanes 10:2; Ibrani 13:20; dan I Petrus
2:25). Sebagaimana sudah dikatakan di atas, para penatua dan para
penilik jemaat di gereja Efesus telah diberi tugas untuk menggem
balakan kawanan domba Allah, maksudnya, mereka telah dijadikan
gembala sidang dalam gereja di Efesus. saat Paulus membuka
salam dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, ia menulis, " . . .
kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan
para penilik jemaat dan diaken" (Filipi 1:1). Bila saat itu para
penatua dan para gembala sidang mempunyai tugas yang berbeda
dengan para penilik jemaat, pastilah Paulus tidak hanya menyebut
kan penilik dan diaken saja.
2. Diaken. Istilah "diaken" berasal dari istilah Yunani diakonos
(Filipi 1:1; I Timotius 3:8). Istilah ini umumnya dipakai dengan
492 Eklesiologi
arti seorang pelayan (Markus 10:43; Yohanes 2:5; 12:26). Bentuk
kata kerjanya diterjemahkan sebagai "melayani" atau "mengantar
kan bantuan" (Matius 4:11; 20:28; Roma 15:25). Istilah ini juga
dipakai secara tidak teknis untuk menunjuk kepada semua pelayan
Injil (I Korintus 3:5; II Korintus 6:4; Efesus 6:21; Kolose 1:7;
I Timotius 4:6). Namun istilah ini juga dipakai secara teknis dan
biasanya dalam Alkitab bahasa Indonesia padanannya ialah
"diaken". Arti yang khusus ini ditemukan dalam Filipi 1:1; I Timo
tius 3:8-13; dan kemungkinan dalam Roma 16:1. Mungkin ketujuh
orang yang dipilih untuk mengawasi bantuan bagi janda-janda mis
kin dari gereja mula-mula di Yerusalem (Kisah 6:1-6) dapat
dianggap sebagai diaken-diaken yang pertama, namun hal ini tidak
pasti. Penting untuk dicamkan bahwa para diaken harus memenuhi
syarat-syarat rohani yang sama tingginya dengan para penilik jemaat
(I Timotius 3:8-13). Karena itu, nampaknya para diaken ikut mem
bantu baik dalam pelayanan rohani di gereja maupun dalam pela
yanan materiel yang ditugaskan kepada mereka.
Fungsi jabatan diaken dalam Alkitab tidak jelas, namun rupanya
pelayanan mereka berkaitan dengan penyaluran dana bantuan. Para
penatua bertanggung jawab bagi kebutuhan rohani masyarakat
orang beriman sedangkan para diaken terutama mengurus
kebutuhan-kebutuhan jasmani mereka. Syarat-syarat bagi diaken
sama dengan syarat-syarat bagi penatua, kecuali syarat mengenai
kemampuan mengajar dan memberi tumpangan tidak dituntut dari
seorang diaken walaupun diharuskan bagi seorang penatua. Kenya
taan ini nampaknya menunjukkan bahwa kedua hal ini tidak ter
masuk tanggung jawab seorang diaken. Syarat "jangan serakah"
rupanya menunjukkan bahwa diaken terlibat dalam urusan keuangan
gereja. Tidaklah salah bila kita mengatakan bahwa syarat-syarat
untuk diaken sangat cocok bagi orang-orang yang bertugas meng
urus kebutuhan materiel dan keuangan gereja.
3. Diaken wanita. Rupanya jelas bahwa ada beberapa orang
wanita yang menyandang jabatan dalam gereja yang mula-mula.
Febe disebut sebagai seorang pelayan, maksudnya seorang diaken
wanita (Roma 16:1), dan saat Paulus membahas soal pejabat-
pejabat gereja (I Timotius 3:1-13) Paulus juga menyebut wanita
(ayat 11). Agaknya memang patut bila ada beberapa wanita yang
Dasar Gereja, Cara Pendirian Gereja, dan ... 493
secara khusus merawat orang-orang yang sakit, mengatur jamuan
bersama, membantu penyaluran hasil pengumpulan derma, dan
secara umum, membantu melaksanakan tugas-tugas yang paling
baik dapat dilaksanakan oleh wanita.
Tafsiran kata "wanita" dalam I Timotius 3:11 telah menghasilkan
berbagai pendapat. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud
dengan istilah ini yaitu istri para diaken. Bila memang
demikian, rasanya aneh bahwa istri para penatua tidak disebutkan.
Karena istilah ini muncul saat Paulus membahas tentang diaken,
tidaklah mustahil untuk mengatakan bahwa istilah ini menun
juk kepada suatu bagian kecil dalam kelompok diaken. Selanjutnya
menarik untuk dicatat bahwa Paulus memakai istilah "demikian
pula" seperti yang dilakukannya saat mulai berbicara tentang para
diaken (ayat 8; lihat juga ayat 2), yang menunjukkan bahwa wanita-
wanita ini (Alkitab Indonesia, "istri-istri") mempunyai kedudukan
istimewa dalam gereja. Selain itu, syarat-syarat jabatannya hampir
serupa dengan syarat-syarat untuk diaken.
Oleh karena itu kami berkesimpulan bahwa para diaken terutama
bertanggung jawab untuk mengurusi kebutuhan materiel dan ke
uangan dari gereja, dan bahwa beberapa orang wanita yang disebut
diaken wanita bekerja sama dengan para diaken, khususnya dalam
bidang-bidang di mana mereka dapat berfungsi secara lebih baik
daripada kaum lelaki. Karena dewan diaken bukan sebuah badan
yang menentukan haluan gereja maka para wanita dapat menjadi
anggota dewan ini .
C. PEMERINTAHAN GEREJA
Ada tiga bentuk pemerintahan gereja: episkopal, presbiterial, dan
cara kongregasional. Bentuk pemerintahan yang episkopal ialah
pemerintahan gereja yang dipimpin oleh para uskup atau penilik
jemaat yang dalam kenyataannya terdiri atas tiga golongan hamba
Tuhan: uskup atau penilik jemaat, para imam, dan para diaken.
Pemerintahan yang presbiterial yaitu pemerintahan gereja yang di
pimpin oleh para presbiter atau penatua. Umumnya cara pemerin
tahan presbiterial ini memiliki empat dewan: himpunan jemaat,
dewan majelis, dewan klasis, dan dewan sinode. Dalam sistem pres
biterial ini ada satu golongan saja dalam kependetaan
494 Eklesiologi
yaitu para pendeta, penatua yang memerintah atau penatua dan
diaken. Baik pendeta/gembala sidang maupun penatua yang
memerintah berperan serta mengambil bagian dalam pertemuan-per
temuan presbiteri, klasis, dan sinode. Cara pemerintahan yang
kongregasional memberikan semua wewenang legislatif kepada
gereja lokal. Badan pemerintahan di daerah atau di pusat hanya
berfungsi sebagai penasihat dan hanya bertugas mengoordinasikan
pelayanan penginjilan bersama, pendidikan, dan hal-hal lainnya se
macam itu.
Setiap bentuk pemerintahan gereja ini berusaha memperoleh
dukungan dari Alkitab sendiri. Bentuk episkopal memperoleh
dukungan dalam ayat-ayat yang membahas kekuasaan para rasul
serta utusan mereka (Kisah 14:23; 20:17,28; Titus 1:5). Akan namun ,
dewasa ini tidak ada rasul lagi ataupun utusan yang mereka tetap
kan. Yang masih ada sampai sekarang ialah petunjuk-petunjuk
mereka tentang pemerintahan gereja seperti yang tercantum dalam
Alkitab. Bentuk presbiterial menemukan dukungan dalam hal-hal
seperti pengaturan musyawarah di Yerusalem (Kisah 15:6) dan pen
tahbisan Timotius (I Timotius 4:14). Namun dalam kasus-kasus ini
pun, ada petunjuk akan keterlibatan jemaat. Pemerintahan ge
reja yang mula-mula merupakan perpaduan bentuk pemerintahan
presbiterial dan kongregasional. Jemaat memilih pemimpin-pemim
pin mereka, dan para pemimpin yang terpilih itu melaksanakan
ketetapan jemaat. Kisah 6 memberikan keterangan tentang pemi
lihan pejabat-pejabat gereja (ayat 1-6). Istilah yang diterjemahkan
dengan "menetapkan" dalam Kisah 14:23 berarti "mengangkat ta
ngan". Jelas bahwa Paulus dan Barnabas sedang mengadakan se
macam pemungutan suara di antara jemaat saat hendak memilih
penatua-penatua. Bahkan saat berlangsung musyawarah di
Yerusalem, para rasul, penatua, dan jemaat semuanya terlibat dalam
proses pengambilan keputusan. Beberapa hal dapat disebut yang
menunjuk pemerintahan kongregasional dalam gereja yang mula-
mula. (1) Setiap gereja memilih pejabat-pejabat dan utusan-utusan-
nya sendiri (Kisah 6:1-6; 15:2-3). (2) Setiap gereja memiliki
wewenang untuk menjalankan disiplin gerejanya sendiri (Matius
18:17-18; I Korintus 5:13; II Kor







