intus 2:6; II Tesalonika 3:6, 14,
15). (3) Jemaat bersama dengan para pejabatnya, menetapkan ke-
putusan-keputusan (Kisah 15:22), menerima utusan-utusan (Kisah
Dasar Gereja, Cara Pendirian Gereja, dan .. 495
15:4; 18:27), dan mereka juga dapat mengutus pengumpul
dana (II Korintus 8:9), maupun para misionaris (Kisah 13:3, 4;
14:26). Jemaat lokal terlibat secara aktif dalam semua urusan gereja.
Kepada siapa pun juga kekuasaan itu didelegasikan, mereka tidak
menganggap sepi kebutuhan jemaat atau tubuh Kristus.
XXXVII
Peraturan-Peraturan Gereja
Ada dua upacara gereja: baptisan dan Perjamuan Kudus. Kedua
upacara ini dikenal dengan nama sakramen. Di samping kedua sa
kramen ini yang diterima oleh gereja-gereja Protestan, Gereja
Katolik Roma mempunyai lima sakramen lagi: yaitu pentahbisan,
peneguhan, perkawinan, penebusan dosa, dan perminyakan suci
yang diberikan kepada orang Katolik pada saat kematian. Dalam
teologi Katolik Roma "setiap sakramen menganugerahkan atau
meningkatkan kasih karunia yang menguduskan. Kasih karunia
yang menguduskan ini dikenal sebagai kasih karunia sakramental
karena berkaitan dengan hak untuk memperoleh pertolongan
adikodrati yang perlu dan berguna untuk mencapai tujuan tiap-tiap
sakramen itu."149 Sekalipun gereja-gereja Calvinis hanya menerima
dua upacara gereja yaitu baptisan dan Perjamuan Kudus, keduanya
juga dianggap sebagai sarana untuk memperoleh kasih karunia.
Berkhof menulis, "Sebagai tanda dan meterai, kedua sakramen ini
merupakan sarana untuk memperoleh kasih karunia, maksudnya,
sarana untuk menguatkan kasih karunia batiniah yang dikerjakan di
dalam hati oleh Roh Kudus."149 150 Agar menghindari mistisisme dan
sakramentarianisme yang ditunjukkan oleh istilah "sakramen",
mungkin lebih baik untuk memakai istilah "peraturan" untuk kedua
upacara gereja itu. Sebuah peraturan gereja dapat dibatasi sebagai
suatu upacara lahiriah yang ditetapkan oleh Kristus untuk dilak
sanakan di dalam gereja sebagai suatu tanda yang kelihatan menge
nai kebenaran iman Kristen yang menyelamatkan. Baptisan atau
Perjamuan Kudus tidak memberikan kasih karunia khusus, mes-
149 Clarkson, et. al., The Church Teaches, hal. 257.
150 Berkhof, Systematic Theology, hal. 618.
497
498 Eklesiologi
kipun kita memang bertumbuh dalam kasih karunia Tuhan Yesus
saat kita menaati perintah Kristus dan mengingat Kristus serta
pengorbanan-Nya untuk kepentingan kita. Namun, pertumbuhan ini
tidak terjadi melalui peraturan gereja itu sendiri. Sekarang kita akan
membahas kedua peraturan gereja ini .
I. BAPTISAN
Mulai dari khotbah Yohanes Pembaptis dan sepanjang bagian-
bagian yang berhubungan dengan sejarah dan doktrin dalam Per
janjian Baru, seorang pembaca Alkitab secara terus-menerus di
hadapkan pada baptisan. Baptisan dapat dilihat dari berbagai segi.
A. PENETAPANNYA
Menjelang kenaikan-Nya Yesus memberi amanat berikut kepada
murid-murid-Nya, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa
murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan
Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu" (Matius 28:19, 20; band. Markus
16:15, 16). Amanat inilah yang ditaati oleh para rasul setelah
kedatangan Roh Kudus (Kisah 2:41; 8:12, 38; 9:18; 10:48; 16:15,
33; 18:8). Tantangan yang diucapkan oleh Petrus kepada sidang
pendengarnya berbunyi, "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-
masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk
pengampunan dosamu" (Kisah 2:38). Kelihatannya bahwa pada
waktu para rasul memberitakan Injil dan orang-orang menanggapi
khotbah mereka, maka mereka langsung dibaptis. Jadi, pertobatan,
iman, dan baptisan berkaitan erat sekali. Sekalipun demikian, jelas
lah bahwa baptisan tidak berperan apa-apa dalam penyelamatan
seseorang; sebaliknya, baptisan terjadi segera sesudah seseorang
diselamatkan. Kornelius dibaptis setelah ia menerima Roh Kudus
(Kisah 10:44-48). Bruce mengatakan, "Pikiran bahwa orang Kristen
bisa tidak dibaptis samasekali tidak terpikir dalam Perjanjian
Baru."151
151 Bruce, Commentary on the Book of Acts, hal. 77.
Peraturan-Peraturan Gereja 499
Baptisan Perjanjian Baru berbeda dengan baptisan Yohanes Pem
baptis (Kisah 10:37; 13:24; 18:25; 19:3). Baptisan Yohanes Pem
baptis merupakan baptisan pertobatan sebagai persiapan untuk me
masuki Kerajaan Allah yang telah dinubuatkan oleh para nabi
(Maleakhi 3:1; 4:5, 6; Matius 3:1-12; Markus 1:2-8; Lukas 3:2-17;
Yohanes 1:19-36). Baptisan Perjanjian Baru lebih dikaitkan dengan
penyatuan orang percaya dengan Kristus.
B. ARTINYA
Peraturan baptisan melambangkan penyatuan orang percaya dengan
Kristus dalam kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya (Roma
6:3, 4; Kolose 2:12; I Petrus 3:21). Dalam baptisan orang percaya
itu mengakui bahwa ia berada di dalam Kristus saat Kristus
dihukum mati karena dosa umat manusia, bahwa ia dikuburkan ber
sama-sama dengan Kristus, dan bahwa ia ikut bangkit kepada hidup
baru di dalam Kristus. Baptisan melambangkan bahwa orang per
caya disamakan dengan Kristus, karena orang percaya dibaptiskan
dalam (atau "ke dalam") nama Tuhan Yesus (Kisah 2:38; 8:16).
Hal ini dilakukan pada saat seseorang yang bertobat berseru kepada
nama Tuhan (Kisah 22:16). Baptisan merupakan pengakuan yang
terang-terangan di depan umum bahwa Kristus yaitu Tuhan (Roma
10:9, 10). Akan namun , sebelum dibaptis dengan air seseorang harus
mendapatkan ajaran (Matius 28:19), bertobat (Kisah 2:38), dan
memiliki iman (Kisah 2:41; 8:12; 18:8; Galatia 3:26, 27), karena
baptisan air tidak mengakibatkan penyatuan orang percaya itu de
ngan Kristus, namun mensyaratkan dan melambangkannya.
Bila membaca beberapa bagian Alkitab dengan sepintas lalu,
seakan-akan ayat-ayat itu mengajarkan bahwa baptisan dapat
menyelamatkan. Empat ayat utama semacam itu ialah, "Siapa yang
percaya dan dibaptis akan diselamatkan, namun siapa yang tidak per
caya akan dihukum" (Markus 16:16); "Bertobatlah dan hendaklah
kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus
Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima
karunia Roh Kudus" (Kisah 2:38); "Bangunlah, berilah dirimu
dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama
Tuhan" (Kisah 22:16); dan "Juga kamu sekarang diselamatkan oleh
kiasannya, yaitu baptisan" (I Petrus 3:21). namun dalam semua hai
500 Eklesiologi
ini, iman harus ada terlebih dulu. Urutannya menurut Alkitab ialah
pertobatan, kepercayaan, baptisan. Pernyataan Yohanes Pembaptis,
"Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan"
(Matius 3:11) memiliki susunan kalimat Yunani yang sama dengan
pernyataan Petrus, ". . . memberi dirimu dibaptis . . . untuk peng
ampunan dosamu" (Kisah 2:38). Pastilah, Yohanes menganggap
bahwa pertobatan terjadi lebih dahulu; dan demikian juga, pengam
punan terjadi lebih dahulu sebelum baptisan. Alkitab sangat jelas
bahwa penyucian dari dosa bukanlah hasil baptisan (Kisah 15:9; I
Yohanes 1:9), namun bahwa tindakan baptisan itu berkaitan erat se
kali dengan tindakan iman sehingga sering kali keduanya diungkap
kan sebagai satu tindakan. Saucy mengatakan,
Bcrkat-berkat Injil diterima oleh iman. Sekalipun demikian, saat iman
yang menyelamatkan ini dilanjutkan secara objektif melalui baptisan,
maka Tuhan memakai tindakan ini untuk memperkuat kenyataan
keselamatan yang telah diterima oleh iman sebelumnya. Iman seseorang
dikuatkan pada saat itu diungkapkan secara terang-terangan, dan tindakan-
tindakan penyelamatan itu dimeteraikan dan disahkan secara lebih men
dalam lagi di dalam hati orang percaya itu.152
152 Saucy, The Church in God’s Program, hal. 198.
Baptisan bukan saja melambangkan penyatuan orang yang ber
tobat dengan Kristus, baptisan juga merupakan sarana lahiriah untuk
menyatakan bahwa orang yang bertobat itu sudah diterima menjadi
anggota jemaat lokal. Pada waktu ia menjadi anggota tubuh Kristus,
ia juga harus menghubungkan diri dengan jemaat lokal. Bila
seseorang menanggapi panggilan keselamatan, maka sama seperti
yang dilakukan oleh orang-orang percaya di Perjanjian Baru, ia
harus dibaptis dan secara resmi menjadi anggota masyarakat Kristen
(Kisah 2:41).
C. CARANYA
Dewasa ini ada tiga cara untuk membaptis orang: dipercik,
dituangkan, dan diselamkan. Di dalam ketiga bentuk baptisan ini
masih ada berbagai variasi, misalnya cara percik/tuang/selam
sebanyak tiga kali dan pembaptisan ke belakang atau ke depan.
Pada umumnya orang setuju bahwa istilah "dibaptis" berarti
Peraturan-Peraturan Gereja 501
"dicelupkan", sehingga baptisan dengan cara diselamkan puling
cocok dengan makna istilah itu. Selanjutnya, sejarah gereja men
dukung baptisan dengan cara diselamkan. Memercik dan menuang
kan air baru dipakai karena ada kekurangan air atau sebagai
penyesuaian terhadap orang-orang yang sakit, dan sudah lanjut usia.
Arti baptisan sebagai lambang penyatuan dengan kematian, pengu
buran, dan kebangkitan Kristus paling baik digambarkan dengan
cara selam. Juga, kejadian turun ke dalam air untuk kemudian keluar
kembali saat sida-sida dari Etiopia dibaptis oleh Filipus nampak
nya menyiratkan pembaptisan secara selam (Kisah 8:38-39; lihat
juga Markus 1:10; Yohanes 3:23). Kita harus selalu berhati-hati
untuk tidak menjadikan cara pembaptisan itu lebih penting daripada
kebenaran yang dilambangkannya; sehingga sekalipun cara pem
baptisan selam menggambarkan penyatuan kita dengan Kristus
secara paling baik, beberapa pertimbangan lahiriah mungkin mem
buat cara-cara baptisan yang lain itu perlu.
D. ORANG-ORANG YANG DIBAPTIS
Baptisan diperuntukkan bagi orang-orang yang secara pribadi dan
sukarela bersedia menanggapi panggilan keselamatan. Dalam Per
janjian Baru, calon baptisan yaitu orang yang akan diajar (Matius
18:20), yang telah menerima Firman Allah (Kisah 2:41), dan yang
telah menerima Roh Kudus (Kisah 10:47). Beberapa orang dibaptis
bersama-sama dengan seisi rumahnya (Kisah 10:48; 16:15, 33; 18:8;
I Korintus 1:16), sehingga ada yang menafsirkan bahwa berarti
bayi-bayi juga dibaptis. Telah dianjurkan bahwa baptisan bayi se
macam ini sama dengan upacara sunat dalam Perjanjian Lama. Un
tuk menanggapi pendapat semacam ini, kami mengatakan bahwa
"seisi rumah" seperti dipakai di atas belum tentu berarti bahwa bayi;
dan selanjutnya, dalam kasus-kasus ini maka mereka yang di
baptis itu yaitu orang-orang yang sudah mendengar pemberitaan
Firman Allah (Kisah 10:44) dan percaya (Kisah 16:31, 34). Tidak
pernah Alkitab mengajarkan bahwa bayi harus dibaptis. Penyerahan
anak kepada Tuhan oleh orang tuanya merupakan cara yang lebih
dapat dipertanggungjawabkan daripada baptisan bayi.
502 Eklesiologi
II. PERJAMUAN KUDUS
Peraturan yang kedua ini disebut dengan beberapa nama. (1) Dalam
surat I Korintus upacara ini disebut perjamuan Tuhan (11:20). (2)
Ini juga disebut "memecahkan roti" (Kisah 2:42), sebuah istilah
umum yang dipakai untuk hal makan bersama. (3) Perjamuan Kudus
juga disebut "komuni" (artinya: persekutuan) yang merupakan ter
jemahan dari istilah Yunani koinonia dalam I Korintus 10:16,
"Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan
syukur, yaitu persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti
yang kita pecah-pecahkan yaitu persekutuan dengan tubuh Kris
tus?" Dan akhirnya (4), Perjamuan Kudus disebut juga "Ekaristi"
yang merupakan istilah Yunani untuk pengucapan syukur, yang
diambil dari perbuatan mengucap syukur sebelum memakan roti
dan meminum anggur. Makan bersama yang dilakukan sebelum
Perjamuan Kudus disebut perjamuan agape atau perjamuan kasih
(Yudas 12).
A. PENETAPANNYA
Paulus menulis, "Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah
aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam
waktu Ia diserahkan, mengambil roti" (I Korintus 11:23), untuk
kemudian dilanjutkannya dengan suatu penjelasan terinci tentang
Perjamuan Kudus. Kisah tentang sejarah penetapan Perjamuan
Kudus dapat ditemukan dalam ketiga Injil Sinoptik (Matius 26:26-
28; Markus 14:22-24; dan Lukas 22:17-20). Sekalipun kita tidak
memperoleh keterangan banyak tentang pelaksanaan Perjamuan
Kudus sebagaimana halnya baptisan, upacara ini selalu dilaksanakan
dalam gereja mula-mula. Upacara ini merupakan bagian yang pen
ting dari gereja di Yerusalem yang masih sangat muda saat itu.
Jelas bahwa Perjamuan Kudus dihubungkan dengan tiga kegiatan
gerejani lainnya: pengajaran doktrin, persekutuan, dan doa (Kisah
2:42). Dalam ayat ini setiap kegiatan itu disertai kata sandang ter
tentu yang berarti bahwa setiap kegiatan itu merupakan bagian
khusus dan integral dari kebaktian umum gereja. Paulus menulis
bahwa apa yang diberitakannya kepada jemaat di Korintus telah
diterimanya dari Tuhan sendiri (I Korintus 11:23). Ini berarti bahwa
Peraturan-Peraturan Gereja 503
saat mendirikan gereja di Korintus ia langsung memperkenalkan
Perjamuan Kudus kepada mereka. Dalam surat I Korintus ini Rasul
Paulus sekadar mengingatkan mereka akan ajaran-ajaran kebaktian
Perjamuan Kudus yang telah diajarkan kepada mereka saat gereja
ini didirikan. Dari masukan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa
Paulus menetapkan upacara Perjamuan Kudus dalam semua jemaat
lokal yang didirikannya, sesuatu yang pasti dilakukan oleh rasul-
rasul lainnya juga.
B. ARTI
7. Perjamuan Kudus merupakan peringatan akan Kristus. Yesus
mengatakan, "... Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku"
(I Korintus 11:24). Maksud peringatan dalam ayat ini bukan sekadar
peringatan akan kematian seorang syahid, namun peringatan akan
Kristus sebagai Oknum yang hidup. Pentinglah bahwa orang-orang
percaya abad pertama berkumpul pada hari pertama setiap minggu,
yaitu hari kebangkitan, untuk memecahkan roti bersama (Kisah
20:7). Yesus harus diperingati sebagai Oknum yang hidup senan
tiasa dan yang senantiasa hadir di antara umat-Nya (Matius 28:20).
2. Perjamuan Kudus yaitu tanda perjanjian baru. Tanda per
janjian baru ini yaitu cawan. Cawan melambangkan darah
yang dicurahkan oleh Tuhan kita untuk mengesahkan perjanjian
baru itu. Yesus mengatakan, "Cawan ini yaitu perjanjian baru
oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu" (Lukas 22:20; band.
I Korintus 11:25). Injil Matius mengungkapkannya sebagai berikut,
"Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi
banyak orang untuk pengampunan dosa" (Matius 26:28). Perjanjian
baru ini dengan demikian menyediakan pengampunan dosa bagi
orang percaya (Ibrani 10:16-18). Perjanjian baru ini lebih baik
daripada perjanjian dengan Musa (II Korintus 3:6-18; Ibrani 7:22;
12:24). Jadi, dengan makan dan minum unsur-unsur Perjamuan
Kudus kita diingatkan kembali akan pengampunan sempurna yang
disediakan Kristus bagi kita.
3. Perjamuan Kudus mengumumkan kematian Kristus. Paulus
menulis, "Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan
ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang"
504 Eklesiologi
(I Korintus 11:26). Pada saat orang-orang percaya berkumpul se
bagai peringatan akan Kristus, mereka secara aktif mengumumkan
kematian Kristus kepada dunia. Baik fakta kematian Kristus mau
pun maknanya diumumkan oleh anggota-anggota tubuh-Nya pada
saat Perjamuan Kudus.
4. Perjamuan Kudus yaitu nubuat mengenai kedatangan Kris
tus yang kedua kalinya. Upacara ini harus dilaksanakan sampai
Kristus datang kembali (I Korintus 11:26). Upacara ini bukan saja
melihat ke belakang kepada kematian-Nya, namun juga ke depan
kepada kedatangan-Nya kembali untuk menjemput umat-Nya. Pada
perjamuan terakhir itu Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya,
"... Mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok
anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru,
bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku" (Matius
26:29). Hendriksen mengatakan tentang pernyataan Tuhan Yesus
ini, "Karena itu, kita melihat bahwa Perjamuan Kudus tidak sekadar
menunjuk ke belakang kepada apa yang telah dilakukan Yesus Kris
tus bagi kita, namun juga ke depan kepada apa yang masih akan
dilakukan-Nya bagi kita sekalian." Makan dan minum Perjamuan
Kudus bersama-sama mengingatkan orang percaya akan perjumpa
an kembali yang penuh sukacita serta kebahagiaan yang tak henti-
hentinya yang menanti kita semua saat bertemu dengan Tuhan.
153
5. Perjamuan Kudus yaitu persekutuan dengan Kristus dan
dengan umat-Nya. Ini merupakan saat-saat pribadi saat orang-
orang yang telah ditebus berkumpul sekeliling Yesus Kristus untuk
bersekutu. Meja perjamuan ini mengingatkan orang-orang yang ber
bakti akan semua persediaan yang telah disediakan oleh Kristus bagi
anak-anak-Nya. Kita duduk pada perjamuan Tuhan, bukannya pada
perjamuan roh-roh jahat (I Korintus 10:21). Kristus yaitu penjamu
yang tidak kelihatan pada perjamuan itu. Selanjutnya, orang percaya
diingatkan akan kerendahan hati Kristus dan tanggung jawab kita
untuk saling melayani. Pada Perjamuan Tuhan inilah Yesus mem
basuh kaki para murid, suatu perbuatan yang menunjukkan keren
dahan hati, kesetiaan, dan kasih. Yesus berkata, "Jadi jikalau Aku
membasuh kakimu, Aku yang yaitu Tuhan dan Gurumu, maka
153 Hendriksen, Exposition of the Gospel According to Matthew, hal. 911.
Peraturan-Peraturan Gereja 505
kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah mem
berikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama
seperti yang telah Kuperbuat kepadamu" (Yohanes 13:14, 15).
jika Kristus hadir di tengah-tengah persekutuan orang-orang
percaya pada kebaktian Perjamuan Kudus, apakah sifat kehadiran-
Nya itu? Beberapa pandangan telah diajukan. Gereja Katolik Roma
mengajarkan bahwa tubuh dan darah Kristus yang sesungguhnya
ada di dalam roti dan anggur itu. saat unsur-unsur itu didoakan,
maka unsur-unsur ini benar-benar menjadi tubuh dan darah
Kristus. Tafsiran ini, yang disebut "transubstansiasi", harus ditolak
berdasarkan beberapa pertimbangan. (1) Kristus hadir saat Ia
mengatakan bahwa unsur-unsur itu yaitu tubuh-Nya dan darah-
Nya. Jelaslah, Ia sedang memakai kata-kata kiasan. (2) Kata-kata
"Inilah tubuh-Ku" (I Korintus 11:24) bersifat kiasan, artinya "ini
mewakili tubuh-Ku." (3) Yesus sendiri berkata bahwa memakan
tubuh-Nya dan meminum darah-Nya itu berarti datang kepada-Nya
dan percaya (Yohanes 6:35; band. ayat 53-58). Ide untuk benar-
benar makan daging manusia dan minum darah manusia akan
merupakan sesuatu yang menjijikkan bagi pikiran orang Yahudi.
Tentu saja, orang-orang Yahudi pada masa hidup Yesus akan mem
beri reaksi yang hebat sekali terhadap pikiran seperti itu. Meminum
darah yaitu perbuatan yang dilarang keras (Kejadian 9:4; Imamat
3:17; Kisah 15:29). Dan (5) upacara Paskah sendiri merupakan
perayaan simbolis yang memperingati kelepasan Israel dari perham
baan di Mesir (Keluaran 12). Karena unsur-unsur Perjamuan
Kudus telah diambil dari Perjamuan Paskah maka simbolisme
unsur-unsur dalam kebaktian Perjamuan Kudus itu akan sesuai de
ngan simbolisme yang dipakai dalam Perjamuan Paskah.
Suatu pandangan lain mengenai kehadiran Kristus disebut se
bagai "konsubstansiasi". Menurut pandangan ini, yang merupakan
pendapat gereja Lutheran, maka orang yang mengambil bagian da
lam Perjamuan Kudus, akan makan dan minum tubuh dan darah
Kristus yang sesungguhnya di dalam, bersama-sama dan di bawah
unsur roti dan anggur itu. Unsur-unsur itu sendiri tetap tidak
berubah, namun hal memakan dan meminumnya setelah doa peng
ucapan syukur itu menyampaikan Kristus kepada orang yang ma
kan, bersama-sama dengan unsur-unsur itu. Hal ini dianggap se
bagai benar-benar makan dan minum dari Kristus. Akan namun ,
506 Eklesiologi
pandangan ini juga mempunyai masalah-masalah yang sama seperti
ajaran transubstansiasi. Yesus menetapkan prinsip yang benar,
"Rohlah yang memberi hidup, daging samasekali tidak berguna.
Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu yaitu roh dan
hidup" (Yohanes 6:63).
Orang lain, yang berusaha untuk menghindari makna sakramental
dan mistik dari kehadiran Kristus di dalam unsur-unsur Perjamuan
Kudus, telah menganggap bahwa Perjamuan Kudus itu tidak lebih
daripada upacara yang memperingati kematian Kristus. Walaupun
Kristus hadir secara rohani, perbuatan makan dan minum unsur-
unsur itu menandakan iman para peserta kepada-Nya dan kepada
karya penebusan-Nya. Pandangan ini menolak kehadiran jasmani
Kristus di dalam unsur-unsur itu.
Pandangan aliran Calvinis yaitu di antara konsubstansiasi dan
peringatan. Entah bagaimana, kehadiran dinamis Kristus di dalam
unsur-unsur Perjamuan Kudus diberlakukan di dalam diri orang per
caya pada waktu ia makan dan minum unsur-unsur itu. Menurut
Paulus, cawan itu yaitu "persekutuan dengan darah Kristus" dan
roti yaitu "persekutuan dengan tubuh Kristus" (I Korintus 10:16).
Unsur-unsur itu melambangkan kehadiran-Nya. Saucy menulis,
"Oleh karena itu, mengambil bagian dalam kehadiran-Nya bukanlah
makan dan minum secara jasmani, melainkan suatu hubungan
batiniah yang erat dengan diri Kristus yang memakai perbuatan
yang lahiriah untuk mengungkapkan iman rohani di dalam
batin."154 Kehadiran-Nya di dalam Perjamuan Kudus sama saja de
ngan kehadiran-Nya di dalam Finnan Allah. Mungkin sebaiknya
upacara Perjamuan Kudus itu terutama kita pandang sebagai suatu
peringatan, sementara pada saat yang sama kita mengakui kehadiran
Kristus di tengah-tengah kita saat kita makan dan minum unsur-
unsur yang melambangkan tubuh dan darah-Nya. Sudah tentu, per
buatan menerima unsur-unsur itu dapat melambangkan hal mene
rima Kristus secara rohani dan hubungan yang erat dengan Dia.
154 Saucy, The Church in God’s Program, hal. 224.
C. ORANG-ORANG YANG MENGAMBIL BAGIAN
Syarat-syarat untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus
yaitu kelahiran kembali dan hidup taat kepada Kristus. Bahwa
Peraturan-Peraturan Gereja 507
kelahiran kembali merupakan suatu syarat sudahlah jelas dari
kenyataan bahwa Tuhan memberi peraturan ini kepada para murid-
Nya (Matius 26:26-28), para murid melakukannya di antara kalang
an mereka sendiri (Kisah 2:42, 46; 20:7; I Korintus 11:18-22), dan
tiap peserta diminta untuk menyelidiki dirinya sendiri untuk me
ngetahui apakah ia layak atau tidak layak mengambil bagian dari
unsur-unsur Perjamuan Kudus (I Korintus 11:27-29). Bahwa hidup
taat kepada Kristus merupakan suatu syarat sudahlah jelas dari
kenyataan bahwa orang-orang yang jatuh ke dalam dosa harus
dikucilkan dari gereja (I Korintus 5:11-13; II Tesalonika 3:6, 11-
15), sama seperti mereka yang mengajarkan ajaran sesat (Titus 3:10;
II Yohanes 10 dan 11) serta menimbulkan perpecahan dan pertikai
an (Roma 16:17). Sepanjang pengetahuan kami, baptisan air men
dahului hal mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus di dalam
kehidupan gereja yang mula-mula, namun tidak ada perintah me
ngenai hal itu, juga tidak ada bukti bahwa orang percaya dilarang
mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus sebelum mereka dibap
tis. Juga tidak ada bukti bahwa menjadi anggota gereja setempat
merupakan suatu syarat untuk mengambil bagian. Upacara ini
yaitu "perjamuan Tuhan" bukan perjamuan gereja. Hal ini jelas
dari kenyataan bahwa masing-masing orang diminta untuk meme
riksa diri sendiri mengenai kelayakannya untuk datang ke perjamu
an itu; jemaat tidak diberi wewenang untuk menghakimi orang-
orang percaya, kecuali dalam kasus perilaku yang melanggar
peraturan, ajaran sesat, atau ikut serta dalam perbuatan-perbuatan
yang menyimpang dari ajaran Alkitab.
XXXVIII
Misi dan Sasaran Gereja
Setelah membahas dasar, organisasi, dan peraturan-peraturan gereja,
sangatlah cocok untuk juga membahas sejenak misi dan sasaran
gereja.
I. MISI GEREJA
Sewaktu kita sedang bertugas di gereja serta merencanakan pro
gram-program gereja lokal, pertanyaan utama yang harus kita tanya
kan ialah, Apakah yang menjadi misi gereja? Dengan kata lain,
apakah yang seharusnya dilakukan oleh gereja? Bagaimanakah
bunyi mandat alkitabiah bagi gereja? Beberapa jawaban dapat di
kemukakan.
A. MEMULIAKAN ALLAH
Tujuan utama hidup manusia ialah memuliakan Allah. Hal ini sama
benarnya bagi orang percaya secara pribadi maupun bagi gereja
secara keseluruhan. Alkitab berkali-kali menunjukkan hal ini
sebagai maksud utama gereja (Roma 15:6, 9; Efesus 1:5-6, 12, 14,
18; 3:21; II Tesalonika 1:12; I Petrus 4:11). Tugas ini begitu men
dasar sehingga bila dilaksanakan dengan setia, maka tugas-tugas
gereja lainnya dengan sendirinya juga akan terlaksana. Bagaimana
kah Allah dimuliakan lewat gereja? (1) Kita memuliakan Allah de
ngan menyembah Dia (Yohanes 4:23, 24; band. Filipi 3:3; Wahyu
22:9). (2) Kita memuliakan Allah dengan doa dan puji-pujian.
Pemazmur mengatakan, "Siapa yang mempersembahkan syukur se
bagai korban, ia memuliakan Aku" (Mazmur 50:23). (3) Selanjut-
509
510 Eklesiologi
nya, kita juga memuliakan Dia dengan menjalani kehidupan yang
saleh. Yesus mengatakan, "Dalam hal inilah Bapa-Ku diper
muliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian
kamu yaitu murid-murid-Ku" (Yohanes 15:8). Petrus menyatakan
bahwa kita harus "memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar
dari Dia, yang telah memanggil [kita] dari kegelapan kepada terang-
Nya yang ajaib" (I Petrus 2:9; band. Titus 2:10).
B. MEMBANGUN DIRINYA
Paulus mengatakan bahwa Allah memberikan kepada gereja rasul-
rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala, dan
pengajar-pengajar "untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi
pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita
semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar
tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan
yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi
anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin peng
ajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang
menyesatkan, namun dengan teguh berpegang kepada kebenaran di
dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus
yang yaitu Kepala. Daripada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapih
tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya,
sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertum
buhannya dan membangun dirinya dalam kasih" (Efesus 4:12-16).
Jelaslah, ini berarti indoktrinasi para anggota jemaat, supaya mereka
dapat menjadi dewasa dan sanggup berdiri tegak menghadapi
ajaran-ajaran sesat di sekitar mereka. Inilah yang dinamakan mem
bangun tubuh Kristus (Kolose 2:7). Kebaktian umum di gereja ber
tujuan melaksanakan hal ini (I Korintus 14:26), namun setiap orang
percaya juga harus membangun diri mereka sendiri dalam iman
yang teramat kudus ini (Yudas 20) dan "bertumbuh dalam kasih
karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita,
Yesus Kristus" (II Petrus 3:18). Paulus menantang kita untuk me
makai bahan-bahan yang baik dalam mendirikan bait rohani Allah
(I Korintus 3:10-15) dan memperingatkan kita agar tidak memakai
bahan-bahan yang tidak baik. Jadi, gereja harus mengindoktrinasi
warganya, mengembangkan sifat-sifat baik kehidupan Kristen di
Misi dan Sasaran Gereja 511
dalam diri mereka, serta mengajar mereka untuk bekerja sama satu
dengan yang lain dalam pelayanan Kristus.
C. MENYUCIKAN DIRINYA
Kristus mengorbankan diri-Nya untuk gereja "untuk menguduskan
nya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air
dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di
hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau
yang serupa itu, namun supaya jemaat kudus dan tidak bercela"
(Efesus 5:26-27). Ada penyucian yang dilakukan oleh Allah Bapa
(Yohanes 15:2), terutama dengan jalan menghukum kita (I Korintus
11:32; Ibrani 12:10). Ada penyucian yang harus dilaksanakan oleh
orang percaya itu (I Korintus 11:28-31; II Korintus 7:1; I Yohanes
3:2), namun ada juga penyucian yang harus dilakukan oleh gereja
setempat (Matius 18:17). Gereja mula-mula memberikan teladan
dalam pelaksanaan disiplin gereja, dan gereja masa kini tidak di
bebaskan dari tugas melaksanakan disiplin gereja (Kisah 5:11;
Roma 16:17; I Korintus 5:6-8, 13; II Korintus 2:6; II Tesalonika
3:6, 14; Titus 3:10-11; II Yohanes 10). Berbagai perpecahan, ajaran
sesat, dan lain sebagainya disebutkan sebagai alasan untuk mem
berlakukan disiplin. Disiplin merupakan bagian persiapan mem
pelai perempuan (Wahyu 19:7).
D. MENDIDIK ANGGOTA-ANGGOTANYA
Sebagaimana sudah kita lihat di atas, Tuhan mengaruniakan kepada
gereja rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-
gembala, dan pengajar-pengajar untuk "memperlengkapi orang-
orang kudus bagi pekerjaan pelayanan" (Efesus 4:12). Yesus juga
telah memberikan Amanat Agung-Nya, yang berisi perintah bukan
saja untuk menjadikan orang-orang murid dan membaptiskan
mereka, namun setelah itu juga mengajarkan mereka "melakukan
segala sesuatu" yang telah diperintahkan-Nya (Matius 28:20). Oleh
karena itu, tidak dapat disangkal lagi bahwa gereja harus menjalan
kan program pendidikan dan pelatihan bagi anggota-anggota
jemaatnya, baik muda maupun tua. Gereja harus mengajarkan
kebenaran-kebenaran Tuhan kepada jemaatnya. Gereja harus de
ngan setia mengajarkan ajaran para rasul. Paulus mengarahkan
512 Eklesiologi
jemaat Filipi untuk memperhatikan semua jenis pengetahuan yang
berharga. Paulus berkata, "Jadi akhirnya, Saudara-saudara, semua
yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci,
semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut
kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu" (Filipi 4:8;
band. II Timotius 2:2).
E. MENGINJILI DUNIA
Amanat Agung menugaskan gereja untuk pergi ke seluruh dunia
serta menjadikan sekalian bangsa murid Tuhan (Matius 28:19;
Lukas 24:46-48; Kisah 1:8). Alkitab tidak menyuruh gereja me
nobatkan dunia, namun untuk menginjili dunia. Artinya, gereja
berutang kepada seluruh dunia, yaitu gereja bertanggung jawab
untuk memberikan kesempatan kepada dunia untuk mendengarkan
Injil serta menerima Kristus. Kita tahu bahwa tidak mungkin seluruh
dunia akan menanggapi Injil, namun gereja berkewajiban memberi
kesempatan kepada seluruh dunia untuk mengenal Kristus dan
menerima keselamatan yang disediakan-Nya. Dewasa ini Tuhan
sedang memanggil dari antara bangsa-bangsa bukan Yahudi suatu
umat bagi nama-Nya (Kisah 15:14), dan tindakan ini
dilakukan-Nya dengan perantaraan gereja dan Roh Kudus-Nya. Hal
ini akan berlangsung terus sampai "jumlah yang penuh dari bangsa-
bangsa lain telah masuk" Roma 11:25). Tidak seorang pun yang
tahu kapan jumlah yang penuh itu tercapai, namun itu merupakan
sasaran Kristus yang tegas dan yang melibatkan gereja. Penginjilan
dimulai dengan menyelidiki kebutuhan-kebutuhan yang ada (Yo
hanes 4:28-38; band. Matius 9:36-38), jadi setiap gereja harus
belajar misi. Sikap ini terungkap dalam doa syafaat untuk pela
yanan gereja (Matius 9:38), penyediaan dana untuk misi (Filipi
4:15-18), pengutusan para misionaris (Kisah 13:1-3; 14:26; Roma
10:15), dan ikut terlibat di ladang-ladang misi (Roma 1:13-15;
15:20).
F. BERTINDAK SELAKU KEKUATAN PENAHAN DAN PENE
RANG DI DALAM DUNIA
Yesus mengatakan bahwa orang-orang percaya merupakan garam
dunia dan terang dunia (Matius 5:13-14). Oleh pengaruh dan ke
Misi dan Sasaran Gereja 513
saksian hidup, orang-orang Kristen menahan perkembangan
pelanggaran hukum (lihat II Tesalonika 2:6-7). Tuhan masih me
nahan penghukuman karena kehadiran orang-orang saleh di tengah-
tengah orang fasik (Kejadian 18:22-23). Orang-orang percaya harus
berani menyatakan tuntutan-tuntutan Tuhan yang adil dari manusia
serta memberitahukan perlunya pertobatan dan kelahiran kembali.
Untuk mencapai tujuan ini, Tuhan telah menjadikan umat-Nya pe
melihara kebenaran Allah (II Korintus 5:19; Galatia 2:7; I Timotius
1:11; 3:15). Dalam Alkitab, umat manusia senantiasa diharapkan
menemukan kebenaran mengenai Allah serta hal-hal rohani, jika
mereka ingin mengetahuinya. Akan namun lebih daripada itu, gereja
bertugas untuk menawarkan Firman kehidupan kepada dunia (Filipi
2:16), dan berjuang untuk mempertahankan kebenaran itu (Yudas
3). Hanya sedikit sekali masyarakat dunia yang menyadari betapa
untungnya mereka dengan adanya umat Allah di tengah-tengah
mereka. Memang tidak banyak pula orang-orang dunia ini yang
ingin hidup di dalam dunia yang tidak ada pengaruh Kristennya.
G. MEMAJUKAN SEGALA SESUATU YANG LUHUR
Sekalipun orang percaya harus memisahkan diri dari segala ikatan-
ikatan duniawi (II Korintus 6:14-18), ia masih harus mendukung
semua usaha yang jelas-jelas berusaha memajukan kesejahteraan
sosial, ekonomi, politik, dan pendidikan masyarakat luas. Paulus
mengatakan, "Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita,
marilah kita berbuat baik kepada semua orang, namun terutama
kepada kawan-kawan kita seiman" (Galatia 6:10). Dalam ayat ini
dikatakan bahwa kita mempunyai tugas utama yaitu memperhatikan
kesejahteraan kawan-kawan seiman, namun kita juga harus memper
hatikan kesejahteraan sesama manusia lainnya. Perlu sekali kita
mengetahui dengan jelas tempat pelayanan ini terhadap dunia. Per
buatan Yesus Kristus merupakan teladan terbaik untuk ditiru. Yesus
Kristus selalu lebih mengutamakan pertolongan rohani dari
pada pertolongan fisik dan materiel. Yesus berkeliling sambil ber
buat baik dan menyembuhkan semua orang yang ditindas oleh Iblis,
meskipun Ia tidak pernah lupa tugas-Nya yang terutama (Kisah
10:38-43). Tindakan-tindakan reformasi masyarakat, termasuk ban
tuan-bantuan sosial, harus selalu secara tegas datang kemudian dari
514 Eklesiologi
tugas penginjilan. Orang Kristen harus menjadikan semua per
buatan amal dan kebajikannya suatu kesaksian bagi Kristus. Yesus
mungkin saja telah memberi makan kepada lima ribu orang laki-laki
sebagai tindakan berperikemanusiaan, namun tindakan ini
pastilah dilakukan-Nya terutama sebagai suatu kesaksian terhadap
kuasa dan keallahan-Nya sendiri. saat mengubah air menjadi air
anggur, pastilah Yesus menunjukkan kebaikan hati kepada keluarga
yang mengadakan pesta, namun pada saat yang sama Ia juga
"menyatakan kemuliaan-Nya" (Yohanes 2:11). Agaknya Yesus me
nyembuhkan orang yang buta sejak lahir itu agar dapat meme
nangkan jiwa orang itu (Yohanes 9:35-38). Dengan kata lain, orang
Kristen harus menjadikan semua perbuatan baiknya itu sebagai
sarana untuk bersaksi bagi Kristus.
II. SASARAN GEREJA
Pembahasan yang terinci tentang sasaran gereja akan diuraikan
saat kita belajar eskatologi, namun dalam kesempatan ini kita akan
menyebut harapan-harapan gereja secara umum.
A. GEREJA TIDAK AKAN MENOBATKAN DUNIA
Menurut Alkitab, gereja tidak akan memenangkan seluruh dunia
bagi Kristus, juga tidak akan naik kepada kedudukan politik, sosial,
ekonomi yang tinggi di dunia. Alkitab menubuatkan bahwa
pelanggaran hukum akan meningkat dan "kasih kebanyakan orang
akan menjadi dingin" (Matius 24:12). Paulus menulis, 'namun Roh
dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada
orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran
setan-setan" (I Timotius 4:1; band. II Timotius 3:1-9). Tidak akan
ada orang-orang yang berbondong-bondong berbalik kepada Allah,
namun hidup akan berlangsung sebagaimana biasanya. Kenyataan ini
ditunjukkan dalam pernyataan Kristus, "Dan sama seperti terjadi
pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari
Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan
dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu
datanglah air bah dan membinasakan mereka semua" (Lukas 17:26-
Misi dan Sasaran Gereja 515
27). Perumpamaan lalang di antara gandum mengajarkan bahwa
dunia tidak akan bertobat (Matius 13:24-30, 36-43). Demikian pula
diajarkan oleh perumpamaan tentang pukat (Matius 13:47-50). Baik
dan jahat akan hidup terus bersama-sama sampai kesudahan zaman.
B. GEREJA AKAN MENDUDUKI TEMPAT YANG PENUH BER
KAT DAN HORMAT
Alkitab menyediakan ajaran yang tegas tentang hal ini .
1. Gereja akan dipersatukan dengan Kristus. Gereja disebut
sebagai mempelai wanita Kristus (II Korintus 11:2; Efesus 5:27),
dan kitab Wahyu menubuatkan persekutuannya dengan Kristus pada
saat pernikahan Anak Domba Allah (19:7). Semua ini hanya bisa
berarti bahwa gereja akan mengalami hubungan yang sangat dekat
dengan Tuhan. Gagasan persekutuan dan milik-bersama tersirat
dalam konsepsi ini (Roma 8:16-17).
2. Gereja akan memerintah bersama Kristus. Sebagai mempelai
wanita-Nya, gereja akan berada di samping Kristus serta mengambil
bagian dalam wewenang-Nya dalam Kerajaan Allah di muka bumi
ini (I Korintus 6:2; Wahyu 1:6; 2:26-27; 3:21; 20:4, 6; 22:5). Gereja
bahkan akan ikut berperan dalam menghakimi para malaikat (I Ko
rintus 6:3). Setelah menderita bersama-sama dengan Kristus pada
masa penolakan-Nya, gereja akan memerintah bersama dengan-Nya
saat Ia dimuliakan (II Timotius 2:11-13). Mereka yang menderita
bersama-sama dengan Dia akan dimuliakan bersama-sama dengan
Dia (Roma 8:17). Lamanya pemerintahan Kristus pertama kali di
sebutkan sebagai seribu tahun (Wahyu 20:4-6), namun kemudian
dikatakan bahwa hamba-hamba-Nya akan memerintah untuk
selama-lamanya (Wahyu 22:5). Maksudnya, mereka akan memerin
tah bersama-sama dengan Dia selama seribu tahun, dan ini me
rupakan sekadar permulaan pemerintahan yang akan berlangsung
selama-lamanya.
3. Gereja akan merupakan saksi abadi. Gereja akan bersaksi ten
tang kebaikan dan hikmat Allah selama kekekalan (Efesus 3:10,
21). Kehadiran gereja sendiri bersama Kristus merupakan suatu
kesaksian tentang kasih karunia dan kuasa-Nya dalam menyelamat
516 Eklesiologi
kan serta memelihara gereja di tengah-tengah angkatan yang jahat.
Demikianlah, Kristus akan dimuliakan selama-lamanya di dalam
gereja.
BAGIAN VIII
ESKATOLOGI
(AJARAN TENTANG HAL-HAL TERAKHIR)
Setiap sistem teologi memiliki eskatologinya sendiri. Bila ada per
mulaan pasti pula ada akhirnya, bukan dalam arti bahwa alam
semesta tidak akan ada lagi seperti sebelum diciptakan, namun
dalam arti adanya pergantian dari yang bersifat sementara kepada
yang bersifat kekal. Dalam bagian ini, akan kita bahas bersama
ajaran Alkitab tentang hal-hal terakhir. Termasuk di dalamnya
ajaran tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya, tentang
kebangkitan-kebangkitan, tentang penghakiman, tentang kerajaan
seribu tahun, dan tentang keadaan terakhir.
517
XXXIX
Eskatologi Pribadi dan Pentingnya
Kedatangan Kristus yang Kedua
Kali
Eskatologi dapat dibagi menjadi dua bagian yang luas: eskatologi
pribadi dan eskatologi umum. Eskatologi umum membahas peris
tiwa-peristiwa yang akan terjadi, mulai dari kedatangan Kristus
yang kedua kali sampai penciptaan langit baru dan bumi
baru. Eskatologi pribadi membahas apa yang dialami oleh seorang
percaya sejak ia mengalami kematian jasmani sampai ia menerima
tubuh kebangkitannya. Dalam pelajaran ini kami hanya akan mem
bahas eskatologi pribadi secara singkat; perhatian yang lebih besar
akan kami curahkan kepada pembahasan eskatologi umum. Pasal
ini akan memberi perhatian utama kepada eskatologi pribadi dan
pentingnya kedatangan Kristus yang kedua.
L ESKATOLOGI PRIBADI
Eskatologi pribadi dapat dibahas menurut dua pokok bahasan: ke-
matian jasmaniah dan keadaan antara saat kematian dan saat ke
bangkitan.
A. KEMATIAN JASMANIAH
Kematian jasmaniah tidak boleh dikacaukan dengan kematian ro
hani atau kematian kekal. Kematian rohani artinya keadaan
519
520 Eskatologi
seseorang sebelum ia diselamatkan. Keadaan ini disebut "mati"
dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa (Efesus 2:1, 5). Ye
sus mengatakan, "Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba,
bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan
mereka yang mendengarnya, akan hidup" (Yohanes 5:25). Jadi,
seseorang dianggap mati secara rohani sebelum ia hidup di dalam
Kristus saat ia diselamatkan. Kematian abadi ialah penghukuman
kekal yang terjadi pada saat kematian orang-orang yang tidak per
nah dihidupkan secara rohani. Kematian kekal merupakan penghu
kuman kekal yang menimpa orang-orang, yang selama hidupnya di
dunia tidak pernah "pindah dari dalam maut ke dalam hidup"
(Yohanes 5:24; lihat juga Wahyu 20:10). Inilah yang disebut "ke-
matian yang kedua: lautan api" (Wahyu 20:14).
Kematian rohani dan kematian kekal berhubungan dengan jiwa;
kematian jasmaniah berhubungan dengan tubuh. Kematian jasma
niah yaitu terpisahnya jiwa dari tubuh dan merupakan berakhirnya
kehidupan jasmaniah. Kematian ini digambarkan dengan berbagai
cara dalam Alkitab: perpisahan dari tubuh dengan jiwa (Pengkhot
bah 12:7; Kisah 7:59; Yakobus 2:26), kehilangan jiwa atau nyawa
(Matius 2:20; Markus 3:4; Yohanes 13:37), serta kepergian (Lukas
9:31; II Petrus 1:15). Bagaimanapun juga, kematian jasmaniah ini
tidak boleh dianggap sebagai pemusnahan, berhentinya keberadaan
seseorang; lebih tepat jika dikatakan bahwa kematian jasmaniah me
rupakan perubahan hubungan. Hubungan alamiah antara jiwa de
ngan tubuh terputus. Tubuh jasmaniah menjadi rusak di dalam
kubur dan menjadi debu kembali (Kejadian 3:19) sedangkan jiwa
terus hidup.
Kematian jasmaniah ada hubungannya dengan dosa karena se
belum Kejatuhan, Adam tidak dapat mengalami kematian jasma
niah. Kematian jasmaniah merupakan akibat dari kematian roha
niah manusia (Roma 5:21; 6:23; I Korintus 15:56). Kematian jas
maniah bukanlah sesuatu yang wajar dalam jalan hidup manusia,
melainkan yaitu penghukuman (Roma 1:32; 5:16) dan suatu
kutukan. Kristus telah membebaskan orang percaya dari kuasa ke-
matian. Di dalam Alkitab tersurat bahwa Kristus mengambil bagian
dalam daging dan darah "supaya oleh kematian-Nya Ia memusnah
kan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan
jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya
Eskatologi Pribadi dan Pentingnya Kedatangan ... 521
berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut"
(Ibrani 2:14, 15).
Sekalipun kematian merupakan musuh kita bersama, di dalam
Kristus orang percaya tidak perlu lagi takut kepada kematian. Bagi
orang percaya kematian merupakan pintu masuk ke hadapan Kris
tus. Ia absen dari tubuhnya namun ia tinggal bersama Tuhan
(II Korintus 5:8). Kematian jasmaniah bagi orang Kristen artinya
"pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus" (Filipi 1:23). Sengat
kematian kini telah ditiadakan (I Korintus 15:55-57) dan orang Kris
ten tertidur di dalam Yesus (I Tesalonika 4:14). Bertentangan sekali
dengan keadaan orang percaya, maka orang yang tidak percaya
tidak memiliki pengharapan yang demikian menggembirakan dan
menghibur. Ia menghadapi kutukan dan hukuman kekal dijauhkan
untuk selamanya dari hadirat Tuhan (Yohanes 3:36; II Tesalonika
1:9; Wahyu 20:10).
B. KEADAAN ANTARA SAAT KEMATIAN DAN SAAT KEBANG
KITAN
Kematian jasmaniah berhubungan dengan tubuh jasmaniah; akan
namun jiwa bersifat abadi dan oleh karena itu jiwa tidak mati.
Sekalipun Alkitab mengatakan bahwa Allah saja yang tidak takluk
kepada maut (I Timotius 6:16; lihat juga 1:17), manusia juga dapat
dikatakan tidak takluk kepada maut dalam arti jiwanya tidak pernah
mati. Bahwa jiwa itu kekal, bahkan setelah tubuhnya mati, dikuat
kan oleh Alkitab. saat menjawab seorang Saduki yang bertanya
kepada Yesus tentang kebangkitan, Yesus mengutip apa yang di
katakan Allah kepada Musa dalam Keluaran 3:6, "Akulah Allah
Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub" (Matius 22:32). Selanjut
nya Tuhan kita berkata, "Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan
Allah orang hidup" (ayat 32b), yang dimaksudkan ialah jika Allah
yaitu Allah Abraham pada zaman Musa, maka Musa masih hidup
sampai sekarang. Kisah Lazarus yang miskin dengan orang kaya
juga merupakan petunjuk tentang kekekalan jiwa (Lukas 16:19-31),
demikian pula jiwa-jiwa di bawah mezbah yang disebut dalam kitab
Wahyu (6:9, 10).
namun apa yang terjadi pada jiwa setelah kematian jasmani na
mun sebelum kebangkitan? Kita akan melihat keterangan
522 Eskatologi
alkitabiah dahulu, baru setelah itu akan kita bahas empat pandangan
yang tidak alkitabiah.
1. Keterangan alkitabiah. Sekalipun Alkitab tidak memberi
banyak informasi mengenai pokok ini, namun masukannya cukup
memadai untuk menarik berbagai kesimpulan. Pertama, orang per
caya ada bersama dengan Kristus. Paulus mengatakan bahwa ia
akan "terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada
Tuhan" (II Korintus 5:8; band. ayat 6). Selanjutnya, Paulus "ingin
pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus" (Filipi 1:23). Inilah
perkataan yang membesarkan hati yang diucapkan oleh Yesus ke
pada orang yang bertobat saat disalibkan bersama-Nya, "Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada ber-
sama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Lukas 23:43). Jelaslah
dari II Korintus 12:3, 4 bahwa Firdaus yaitu sorga. Orang percaya
itu bukan saja bersama Kristus dan di sorga, namun ia juga sedang
bersekutu dengan orang-orang percaya lainnya. Surat Ibrani ber
bicara mengenai "jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar
di sorga" (12:23). Orang-orang percaya yang telah mati jasmaniah
ini berada dalam keadaan hidup, sadar, dan berbahagia (Lukas
16:19-31; Wahyu 14:13). Keadaan di antara saat kematian jas
maniah dengan saat kebangkitan lebih disukai daripada keadaan
sebelum kematian jasmaniah. Paulus menyebut keadaan ini "jauh
lebih baik" (Filipi 1:23). Ia menandaskan bahwa ia terlebih suka
. . . beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan" (II Korintus
5:8). Suatu penelaahan yang cermat terhadap II Korintus 5:1-9
memberikan kesan bahwa orang-orang percaya lebih senang di
angkat ke sorga dan diubah daripada mati dan mengalami keadaan
antara saat kematian dan saat kebangkitan. Ia lebih suka memakai
tubuh kebangkitan daripada tidak memakai apa-apa. Namun ke
adaan tanpa tubuh kebangkitan itu tetap lebih baik daripada
keadaan jasmaniah saat ini, sebab sekalipun masih belum menge
nakan tubuh kebangkitan, orang percaya itu ada bersama-sama de
ngan Tuhan.
Dalam kisah Lazarus dan orang kaya, Lazarus berada di pang
kuan Abraham, dan mendapat hiburan; sedangkan orang kaya itu
menderita sengsara (Lukas 16:19-31). Dari ayat-ayat ini kami me
nyimpulkan bahwa orang yang tidak diselamatkan juga berada
Eskatologi Pribadi dan Pentingnya Kedatangan... 523
dalam keadaan sementara sambil mengalami siksaan secara sadar,
sambil menantikan penghakiman di takhta putih yang besar (Wahyu
20:11-15).
2. Purgatori (api penyucian). Dalam teologi Katolik Roma, jiwa-
jiwa yang pada saat kematian sudah kudus sepenuhnya diizinkan
langsung masuk sorga, yaitu memasuki hadirat Allah. Jiwa-jiwa
yang belum mumi sepenuhnya, oleh karena itu masih memerlukan
pembersihan selanjutnya, memasuki tempat penyucian. Tempat ini
dinamakan "purgatori" atau api penyucian. Api penyucian ini bu
kanlah suatu tempat percobaan, melainkan tempat untuk menyuci
kan jiwa-jiwa dari dosa-dosa yang dapat diampuni. Orang-orang
percaya menderita karena untuk sementara waktu mereka tidak
menikmati sukacita sorgawi serta jiwa-jiwa mereka itu menderita.
Beberapa ayat dipakai untuk mendukung pandangan ini (Zakharia
9:11; Matius 12:32; I Korintus 3:13-15). Ada fakta-fakta yang me
nyatakan bahwa tidak ada dukungan kuat dari Alkitab untuk pen
dapat ini dan bahwa Kristus telah menanggung seluruh hukuman
kita. Kita tidak dapat menambahkan apa-apa pada jasa-jasa Kristus
(Ibrani 1:3). Harus diakui bahwa dalam kehidupan ini kadang-
kadang dihukum karena dosa yang kita lakukan, namun Alkitab
tidak pernah mengajarkan secara jelas ataupun tersirat bahwa
penderitaan itu dilanjutkan sesudah kematian jasmaniah. Dukungan
utama terhadap api penyucian ditemukan dalam kitab yang tidak
termasuk kanon Alkitab yaitu II Makabe (12:42-45).
3. Jiwa-tidur. Orang-orang yang menerima pandangan ini ber
anggapan bahwa saat seseorang mengalami kematian jasmaniah
jiwanya memasuki suatu keadaan tidur atau menjadi tidak sadar.
Pandangan ini diketengahkan dengan berbagai cara. Alkitab sering
kali berbicara mengenai kematian sebagai tidur (Matius 9:24;
Yohanes 11:11). Selanjutnya, beberapa ayat agaknya menunjukkan
bahwa orang mati berada dalam keadaan tidak sadar (Mazmur
146:4; Pengkhotbah 9:5-6, 10; Yesaya 38:18). Dan akhirnya, tak
seorang pun yang telah kembali dari kematian yang melaporkan
tentang keadaan sementara ini. Namun untuk menjawab keberatan
ini, pertama, istilah "tidur" dipakai untuk orang yang sudah percaya.
Istilah ini dipakai untuk menekankan bahwa ada persamaan dalam
524 Eskatologi
penampilan orang yang tertidur dengan nyenyak dengan orang yang
mati jasmaniah (lihat Yakobus 2:26). Selanjutnya, keterangan dalam
Alkitab menunjukkan bahwa orang-orang percaya yang telah mati
menikmati suatu hubungan yang sadar dengan Kristus. Ayat-ayat
yang menganjurkan keadaan tidak sadar dari jiwa dipandang dari
sudut orang yang hidup. Dari sudut orang yang hidup maka orang
mati memang seakan-akan sedang tidur.
4. Pemusnahan. Ajaran ini terutama berkaitan dengan orang-
orang yang tidak diselamatkan. Menurut ajaran ini, samasekali tidak
ada keberadaan yang sadar bagi orang-orang fasik setelah mereka
meninggal dunia. Sebagian besar orang yang menerima pandangan
ini mengajarkan bahwa saat mereka mati maka keberadaan orang
yang tidak diselamatkan itu berhenti. Istilah-istilah Alkitab, misal
nya maut dan kebinasaan, ditafsirkan oleh mereka sebagai berarti
"tidak ada lagi" atau "dijadikan tidak ada" (Yohanes 3:16; 8:51;
Roma 9:22). Namun, sebagai tanggapan terhadap pandangan ini,
kita mengatakan bahwa Allah tidak pernah memusnahkan atau
menghapuskan sesuatu yang telah diciptakan-Nya. Hidup yaitu
kebalikan dari kematian; jika kematian dianggap sebagai ber
akhirnya keberadaan, maka hidup hanya berarti keberadaan yang
diperpanjang. Akan namun , hidup kekal yaitu suatu kualitas hidup,
bukan sekadar suatu kuantitas. Selanjutnya, kematian dan kebinasa
an merupakan hukuman; sulit untuk mengerti bagaimana pemus
nahan dapat menjadi hukuman atas dosa. Alkitab dengan jelas me
ngatakan bahwa orang-orang yang tidak diselamatkan akan tetap
ada sampai selama-lamanya (Pengkhotbah 12:7; Matius 25:46;
Roma 2:5-10; Wahyu 14:11). Dikatakan bahwa ada berbagai ting
kat hukuman, dan hal ini tidak mungkin terjadi bila mereka dimus
nahkan (Lukas 12:47, 48; Roma 2:12; Wahyu 20:12).
5. Kekekalan bersyarat. Menurut ajaran ini, jiwa tidak diciptakan
atau dilahirkan dengan sifat kekal, namun menjadi kekal ke
tika mengaku percaya pada Yesus Kristus. Sifat kekal merupakan
pemberian Allah. Orang yang mati tanpa menerima Kristus akan
tidak ada lagi karena ia belum menerima karunia kekekalan. Mereka
yang menganut pandangan ini menandaskan bahwa hanya Allah
yang memiliki sifat kekal (I Timotius 6:16), dan kekekalan itu
Eskatologi Pribadi dan Pentingnya Kedatangan... 525
diberikan oleh-Nya kepada mereka yang menanggapi panggilan-
Nya. Mereka selanjutnya mengajarkan bahwa Alkitab samasekali
tidak berbicara tentang kekekalan jiwa. Jawaban kita terhadap pan
dangan ini yaitu bahwa ajaran ini mengacaukan sifat kekal dengan
hidup kekal. Hidup kekal yang diterima saat kita diselamatkan
bukanlah sekadar keberadaan yang kekal, melainkan merupakan
suatu kualitas hidup, suatu kesempurnaan hidup di hadirat Kristus.
Memang benar bahwa hanya Allah yang memiliki sifat kekal yang
hakiki; sekalipun demikian, saat manusia diciptakan ia menerima
sifat kekal yang berasal dari Allah. Manusia lahir sebagai makhluk
yang bersifat kekal.
Kami menyimpulkan bahwa pada saat kematian jasmaniahnya,
orang percaya memasuki hadirat Kristus. Ia tetap tinggal bersama
Tuhan dalam keadaan berbahagia yang dialaminya secara sadar
hingga saat kebangkitan, saat ia akan menerima tubuh ke
bangkitan yang mulia. Sebaliknya, pada saat kematian jasmaniah
orang yang tidak percaya akan memasuki masa penyiksaan yang
dialaminya secara sadar pula sampai saatnya terjadi kebangkitan,
saat ia akan dicampakkan ke dalam lautan api. Doktrin api
penyucian, jiwa yang tidur, pemusnahan, serta kekekalan yang ber
syarat tidak dapat dianggap sebagai ajaran yang alkitabiah.
II. PENTINGNYA KEDATANGAN KRISTUS YANG
KEDUA KALI
Gereja mula-mula sangat tertarik pada doktrin kedatangan kembali
Kristus. Para rasul telah mengemukakan bahwa Kristus mungkin
akan kembali pada zaman mereka, dan generasi-generasi sesudah
mereka tetap beranggapan bahwa kedatangan Kristus yang kedua
kalinya merupakan suatu peristiwa yang segera akan terjadi. Baru
pada abad ketiga ada pihak yang tidak menyetujui pandangan ini,
dan sejak masa pemerintahan Konstantinus dan seterusnya, doktrin
ini mulai ditolak sampai-sampai nyaris tidak diperhatikan
samasekali. Baru sekitar seratus tahun yang terakhir inilah doktrin
ini dihidupkan kembali dalam gereja. Sekalipun masih ada pihak-
pihak yang kurang memperhatikan atau bahkan menentang doktrin
ini, perhatian kepada kebenaran Alkitab ini makin meluas. Semen
526 Eskatologi
tara orang-orang Kristen yang beriman mengatakan, "Amin,
datanglah, Tuhan Yesus!" (Wahyu 22:20), orang-orang yang tidak
percaya dan para pencemooh tetap mengatakan, "Di manakah janji
tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita
meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia
diciptakan" (II Petrus 3:4). Ketidakpercayaan para pencemooh tidak
mengurangi pentingnya ajaran ini; justru sebaliknya, banyak hal
menunjukkan betapa pentingnya ajaran ini.
A. KEDUDUKANNYA YANG PENTING DALAM ALKITAB
Sepanjang Alkitab peristiwa kedatangan Kristus yang kedua kali
memperoleh kedudukan yang penting. Sekalipun kedatangan yang
pertama dan kedua sering digabungkan dengan begitu erat dalam
nubuat Perjanjian Lama sehingga sulit untuk mengemukakan ayat-
ayat yang secara khusus membahas kedatangan Kristus yang kedua
kali, namun ada beberapa ayat yang dengan jelas berbuat demikian
(Ayub 19:25, 26; Daniel 7:13, 14; Zakharia 14:4; Maleakhi 3:1, 2).
Perjanjian Baru menyebut doktrin ini lebih dari tiga ratus kali. Bah
kan ada pasal-pasal yang seluruhnya dipakai untuk memberitahukan
kedatangan Kristus yang kedua kali ini (Matius 24, 25; Markus 13;
Lukas 21; band. I Korintus 15). Bahkan ada kitab-kitab tertentu
yang secara khusus ditulis untuk membahas pokok ini (I Tesalonika;
II Tesalonika; dan kitab Wahyu). Jelaslah, doktrin ini dianggap
sama pentingnya dengan doktrin-doktrin utama lainnya dari iman
Kristen.
B. DOKTRIN INI MERUPAKAN KUNCI UNTUK MEMAHAMI
ALKITAB
Kita berbicara tentang doa dan sikap dapat diajarkan sebagai kunci
untuk memahami Firman Allah, namun di samping itu, pengakuan
akan sifat azasi doktrin kedatangan Kristus yang kedua kali juga
merupakan kunci untuk memahami Alkitab. Banyak sekali doktrin,
peraturan, janji, dan lambang dalam Alkitab tidak dapat dipahami
sepenuhnya tanpa memandangnya dari segi doktrin kedatangan
Kristus yang kedua kali. Misalnya doktrin Alkitab. Kristus yaitu
nabi, imam, dan raja







