Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 19

 


intus 2:6; II Tesalonika 3:6, 14, 

15). (3) Jemaat bersama dengan para pejabatnya, menetapkan ke- 

putusan-keputusan (Kisah 15:22), menerima utusan-utusan (Kisah

Dasar Gereja, Cara Pendirian Gereja, dan .. 495 

15:4; 18:27), dan mereka juga dapat mengutus pengumpul 

dana (II Korintus 8:9), maupun para misionaris (Kisah 13:3, 4; 

14:26). Jemaat lokal terlibat secara aktif dalam semua urusan gereja. 

Kepada siapa pun juga kekuasaan itu didelegasikan, mereka tidak 

menganggap sepi kebutuhan jemaat atau tubuh Kristus.


XXXVII

Peraturan-Peraturan Gereja

Ada dua upacara gereja: baptisan dan Perjamuan Kudus. Kedua 

upacara ini dikenal dengan nama sakramen. Di samping kedua sa­

kramen ini yang diterima oleh gereja-gereja Protestan, Gereja 

Katolik Roma mempunyai lima sakramen lagi: yaitu pentahbisan, 

peneguhan, perkawinan, penebusan dosa, dan perminyakan suci 

yang diberikan kepada orang Katolik pada saat kematian. Dalam 

teologi Katolik Roma "setiap sakramen menganugerahkan atau 

meningkatkan kasih karunia yang menguduskan. Kasih karunia 

yang menguduskan ini dikenal sebagai kasih karunia sakramental 

karena berkaitan dengan hak untuk memperoleh pertolongan 

adikodrati yang perlu dan berguna untuk mencapai tujuan tiap-tiap 

sakramen itu."149 Sekalipun gereja-gereja Calvinis hanya menerima 

dua upacara gereja yaitu baptisan dan Perjamuan Kudus, keduanya 

juga dianggap sebagai sarana untuk memperoleh kasih karunia. 

Berkhof menulis, "Sebagai tanda dan meterai, kedua sakramen ini 

merupakan sarana untuk memperoleh kasih karunia, maksudnya, 

sarana untuk menguatkan kasih karunia batiniah yang dikerjakan di 

dalam hati oleh Roh Kudus."149 150 Agar menghindari mistisisme dan 

sakramentarianisme yang ditunjukkan oleh istilah "sakramen", 

mungkin lebih baik untuk memakai istilah "peraturan" untuk kedua 

upacara gereja itu. Sebuah peraturan gereja dapat dibatasi sebagai 

suatu upacara lahiriah yang ditetapkan oleh Kristus untuk dilak­

sanakan di dalam gereja sebagai suatu tanda yang kelihatan menge­

nai kebenaran iman Kristen yang menyelamatkan. Baptisan atau 

Perjamuan Kudus tidak memberikan kasih karunia khusus, mes-

149 Clarkson, et. al., The Church Teaches, hal. 257.

150 Berkhof, Systematic Theology, hal. 618.

497

498 Eklesiologi

kipun kita memang bertumbuh dalam kasih karunia Tuhan Yesus 

saat  kita menaati perintah Kristus dan mengingat Kristus serta 

pengorbanan-Nya untuk kepentingan kita. Namun, pertumbuhan ini 

tidak terjadi melalui peraturan gereja itu sendiri. Sekarang kita akan 

membahas kedua peraturan gereja ini .

I. BAPTISAN

Mulai dari khotbah Yohanes Pembaptis dan sepanjang bagian- 

bagian yang berhubungan dengan sejarah dan doktrin dalam Per­

janjian Baru, seorang pembaca Alkitab secara terus-menerus di­

hadapkan pada baptisan. Baptisan dapat dilihat dari berbagai segi.

A. PENETAPANNYA

Menjelang kenaikan-Nya Yesus memberi amanat berikut kepada 

murid-murid-Nya, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa 

murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan 

Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang 

telah Kuperintahkan kepadamu" (Matius 28:19, 20; band. Markus 

16:15, 16). Amanat inilah yang ditaati oleh para rasul setelah 

kedatangan Roh Kudus (Kisah 2:41; 8:12, 38; 9:18; 10:48; 16:15, 

33; 18:8). Tantangan yang diucapkan oleh Petrus kepada sidang 

pendengarnya berbunyi, "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing- 

masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk 

pengampunan dosamu" (Kisah 2:38). Kelihatannya bahwa pada 

waktu para rasul memberitakan Injil dan orang-orang menanggapi 

khotbah mereka, maka mereka langsung dibaptis. Jadi, pertobatan, 

iman, dan baptisan berkaitan erat sekali. Sekalipun demikian, jelas­

lah bahwa baptisan tidak berperan apa-apa dalam penyelamatan 

seseorang; sebaliknya, baptisan terjadi segera sesudah seseorang 

diselamatkan. Kornelius dibaptis setelah ia menerima Roh Kudus 

(Kisah 10:44-48). Bruce mengatakan, "Pikiran bahwa orang Kristen 

bisa tidak dibaptis samasekali tidak terpikir dalam Perjanjian 

Baru."151

151 Bruce, Commentary on the Book of Acts, hal. 77.

Peraturan-Peraturan Gereja 499

Baptisan Perjanjian Baru berbeda dengan baptisan Yohanes Pem­

baptis (Kisah 10:37; 13:24; 18:25; 19:3). Baptisan Yohanes Pem­

baptis merupakan baptisan pertobatan sebagai persiapan untuk me­

masuki Kerajaan Allah yang telah dinubuatkan oleh para nabi 

(Maleakhi 3:1; 4:5, 6; Matius 3:1-12; Markus 1:2-8; Lukas 3:2-17; 

Yohanes 1:19-36). Baptisan Perjanjian Baru lebih dikaitkan dengan 

penyatuan orang percaya dengan Kristus.

B. ARTINYA

Peraturan baptisan melambangkan penyatuan orang percaya dengan 

Kristus dalam kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya (Roma 

6:3, 4; Kolose 2:12; I Petrus 3:21). Dalam baptisan orang percaya 

itu mengakui bahwa ia berada di dalam Kristus saat  Kristus 

dihukum mati karena dosa umat manusia, bahwa ia dikuburkan ber­

sama-sama dengan Kristus, dan bahwa ia ikut bangkit kepada hidup 

baru di dalam Kristus. Baptisan melambangkan bahwa orang per­

caya disamakan dengan Kristus, karena orang percaya dibaptiskan 

dalam (atau "ke dalam") nama Tuhan Yesus (Kisah 2:38; 8:16). 

Hal ini dilakukan pada saat seseorang yang bertobat berseru kepada 

nama Tuhan (Kisah 22:16). Baptisan merupakan pengakuan yang 

terang-terangan di depan umum bahwa Kristus yaitu  Tuhan (Roma 

10:9, 10). Akan namun , sebelum dibaptis dengan air seseorang harus 

mendapatkan ajaran (Matius 28:19), bertobat (Kisah 2:38), dan 

memiliki iman (Kisah 2:41; 8:12; 18:8; Galatia 3:26, 27), karena 

baptisan air tidak mengakibatkan penyatuan orang percaya itu de­

ngan Kristus, namun  mensyaratkan dan melambangkannya.

Bila membaca beberapa bagian Alkitab dengan sepintas lalu, 

seakan-akan ayat-ayat itu mengajarkan bahwa baptisan dapat 

menyelamatkan. Empat ayat utama semacam itu ialah, "Siapa yang 

percaya dan dibaptis akan diselamatkan, namun  siapa yang tidak per­

caya akan dihukum" (Markus 16:16); "Bertobatlah dan hendaklah 

kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus 

Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima 

karunia Roh Kudus" (Kisah 2:38); "Bangunlah, berilah dirimu 

dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama 

Tuhan" (Kisah 22:16); dan "Juga kamu sekarang diselamatkan oleh 

kiasannya, yaitu baptisan" (I Petrus 3:21). namun  dalam semua hai 

500 Eklesiologi

ini, iman harus ada terlebih dulu. Urutannya menurut Alkitab ialah 

pertobatan, kepercayaan, baptisan. Pernyataan Yohanes Pembaptis, 

"Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan" 

(Matius 3:11) memiliki susunan kalimat Yunani yang sama dengan 

pernyataan Petrus, ". . . memberi dirimu dibaptis . . . untuk peng­

ampunan dosamu" (Kisah 2:38). Pastilah, Yohanes menganggap 

bahwa pertobatan terjadi lebih dahulu; dan demikian juga, pengam­

punan terjadi lebih dahulu sebelum baptisan. Alkitab sangat jelas 

bahwa penyucian dari dosa bukanlah hasil baptisan (Kisah 15:9; I 

Yohanes 1:9), namun  bahwa tindakan baptisan itu berkaitan erat se­

kali dengan tindakan iman sehingga sering kali keduanya diungkap­

kan sebagai satu tindakan. Saucy mengatakan,

Bcrkat-berkat Injil diterima oleh iman. Sekalipun demikian, saat  iman 

yang menyelamatkan ini  dilanjutkan secara objektif melalui baptisan, 

maka Tuhan memakai tindakan ini  untuk memperkuat kenyataan 

keselamatan yang telah diterima oleh iman sebelumnya. Iman seseorang 

dikuatkan pada saat itu diungkapkan secara terang-terangan, dan tindakan- 

tindakan penyelamatan itu dimeteraikan dan disahkan secara lebih men­

dalam lagi di dalam hati orang percaya itu.152

152 Saucy, The Church in God’s Program, hal. 198.

Baptisan bukan saja melambangkan penyatuan orang yang ber­

tobat dengan Kristus, baptisan juga merupakan sarana lahiriah untuk 

menyatakan bahwa orang yang bertobat itu sudah diterima menjadi 

anggota jemaat lokal. Pada waktu ia menjadi anggota tubuh Kristus, 

ia juga harus menghubungkan diri dengan jemaat lokal. Bila 

seseorang menanggapi panggilan keselamatan, maka sama seperti 

yang dilakukan oleh orang-orang percaya di Perjanjian Baru, ia 

harus dibaptis dan secara resmi menjadi anggota masyarakat Kristen 

(Kisah 2:41).

C. CARANYA

Dewasa ini ada  tiga cara untuk membaptis orang: dipercik, 

dituangkan, dan diselamkan. Di dalam ketiga bentuk baptisan ini 

masih ada  berbagai variasi, misalnya cara percik/tuang/selam 

sebanyak tiga kali dan pembaptisan ke belakang atau ke depan. 

Pada umumnya orang setuju bahwa istilah "dibaptis" berarti 

Peraturan-Peraturan Gereja 501

"dicelupkan", sehingga baptisan dengan cara diselamkan puling 

cocok dengan makna istilah itu. Selanjutnya, sejarah gereja men 

dukung baptisan dengan cara diselamkan. Memercik dan menuang 

kan air baru dipakai karena ada kekurangan air atau sebagai 

penyesuaian terhadap orang-orang yang sakit, dan sudah lanjut usia. 

Arti baptisan sebagai lambang penyatuan dengan kematian, pengu­

buran, dan kebangkitan Kristus paling baik digambarkan dengan 

cara selam. Juga, kejadian turun ke dalam air untuk kemudian keluar 

kembali saat  sida-sida dari Etiopia dibaptis oleh Filipus nampak 

nya menyiratkan pembaptisan secara selam (Kisah 8:38-39; lihat 

juga Markus 1:10; Yohanes 3:23). Kita harus selalu berhati-hati 

untuk tidak menjadikan cara pembaptisan itu lebih penting daripada 

kebenaran yang dilambangkannya; sehingga sekalipun cara pem­

baptisan selam menggambarkan penyatuan kita dengan Kristus 

secara paling baik, beberapa pertimbangan lahiriah mungkin mem­

buat cara-cara baptisan yang lain itu perlu.

D. ORANG-ORANG YANG DIBAPTIS

Baptisan diperuntukkan bagi orang-orang yang secara pribadi dan 

sukarela bersedia menanggapi panggilan keselamatan. Dalam Per­

janjian Baru, calon baptisan yaitu  orang yang akan diajar (Matius 

18:20), yang telah menerima Firman Allah (Kisah 2:41), dan yang 

telah menerima Roh Kudus (Kisah 10:47). Beberapa orang dibaptis 

bersama-sama dengan seisi rumahnya (Kisah 10:48; 16:15, 33; 18:8; 

I Korintus 1:16), sehingga ada yang menafsirkan bahwa berarti 

bayi-bayi juga dibaptis. Telah dianjurkan bahwa baptisan bayi se­

macam ini sama dengan upacara sunat dalam Perjanjian Lama. Un­

tuk menanggapi pendapat semacam ini, kami mengatakan bahwa 

"seisi rumah" seperti dipakai di atas belum tentu berarti bahwa bayi; 

dan selanjutnya, dalam kasus-kasus ini  maka mereka yang di­

baptis itu yaitu  orang-orang yang sudah mendengar pemberitaan 

Firman Allah (Kisah 10:44) dan percaya (Kisah 16:31, 34). Tidak 

pernah Alkitab mengajarkan bahwa bayi harus dibaptis. Penyerahan 

anak kepada Tuhan oleh orang tuanya merupakan cara yang lebih 

dapat dipertanggungjawabkan daripada baptisan bayi.

502 Eklesiologi

II. PERJAMUAN KUDUS

Peraturan yang kedua ini disebut dengan beberapa nama. (1) Dalam 

surat I Korintus upacara ini disebut perjamuan Tuhan (11:20). (2) 

Ini juga disebut "memecahkan roti" (Kisah 2:42), sebuah istilah 

umum yang dipakai untuk hal makan bersama. (3) Perjamuan Kudus 

juga disebut "komuni" (artinya: persekutuan) yang merupakan ter­

jemahan dari istilah Yunani koinonia dalam I Korintus 10:16, 

"Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan 

syukur, yaitu  persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti 

yang kita pecah-pecahkan yaitu  persekutuan dengan tubuh Kris­

tus?" Dan akhirnya (4), Perjamuan Kudus disebut juga "Ekaristi" 

yang merupakan istilah Yunani untuk pengucapan syukur, yang 

diambil dari perbuatan mengucap syukur sebelum memakan roti 

dan meminum anggur. Makan bersama yang dilakukan sebelum 

Perjamuan Kudus disebut perjamuan agape atau perjamuan kasih 

(Yudas 12).

A. PENETAPANNYA

Paulus menulis, "Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah 

aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam 

waktu Ia diserahkan, mengambil roti" (I Korintus 11:23), untuk 

kemudian dilanjutkannya dengan suatu penjelasan terinci tentang 

Perjamuan Kudus. Kisah tentang sejarah penetapan Perjamuan 

Kudus dapat ditemukan dalam ketiga Injil Sinoptik (Matius 26:26- 

28; Markus 14:22-24; dan Lukas 22:17-20). Sekalipun kita tidak 

memperoleh keterangan banyak tentang pelaksanaan Perjamuan 

Kudus sebagaimana halnya baptisan, upacara ini selalu dilaksanakan 

dalam gereja mula-mula. Upacara ini merupakan bagian yang pen­

ting dari gereja di Yerusalem yang masih sangat muda saat  itu. 

Jelas bahwa Perjamuan Kudus dihubungkan dengan tiga kegiatan 

gerejani lainnya: pengajaran doktrin, persekutuan, dan doa (Kisah 

2:42). Dalam ayat ini setiap kegiatan itu disertai kata sandang ter­

tentu yang berarti bahwa setiap kegiatan itu merupakan bagian 

khusus dan integral dari kebaktian umum gereja. Paulus menulis 

bahwa apa yang diberitakannya kepada jemaat di Korintus telah 

diterimanya dari Tuhan sendiri (I Korintus 11:23). Ini berarti bahwa 

Peraturan-Peraturan Gereja 503

saat  mendirikan gereja di Korintus ia langsung memperkenalkan 

Perjamuan Kudus kepada mereka. Dalam surat I Korintus ini Rasul 

Paulus sekadar mengingatkan mereka akan ajaran-ajaran kebaktian 

Perjamuan Kudus yang telah diajarkan kepada mereka saat  gereja 

ini  didirikan. Dari masukan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa 

Paulus menetapkan upacara Perjamuan Kudus dalam semua jemaat 

lokal yang didirikannya, sesuatu yang pasti dilakukan oleh rasul- 

rasul lainnya juga.

B. ARTI

7. Perjamuan Kudus merupakan peringatan akan Kristus. Yesus 

mengatakan, "... Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku" 

(I Korintus 11:24). Maksud peringatan dalam ayat ini bukan sekadar 

peringatan akan kematian seorang syahid, namun  peringatan akan 

Kristus sebagai Oknum yang hidup. Pentinglah bahwa orang-orang 

percaya abad pertama berkumpul pada hari pertama setiap minggu, 

yaitu hari kebangkitan, untuk memecahkan roti bersama (Kisah 

20:7). Yesus harus diperingati sebagai Oknum yang hidup senan­

tiasa dan yang senantiasa hadir di antara umat-Nya (Matius 28:20).

2. Perjamuan Kudus yaitu  tanda perjanjian baru. Tanda per­

janjian baru ini  yaitu  cawan. Cawan melambangkan darah 

yang dicurahkan oleh Tuhan kita untuk mengesahkan perjanjian 

baru itu. Yesus mengatakan, "Cawan ini yaitu  perjanjian baru 

oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu" (Lukas 22:20; band. 

I Korintus 11:25). Injil Matius mengungkapkannya sebagai berikut, 

"Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi 

banyak orang untuk pengampunan dosa" (Matius 26:28). Perjanjian 

baru ini dengan demikian menyediakan pengampunan dosa bagi 

orang percaya (Ibrani 10:16-18). Perjanjian baru ini lebih baik 

daripada perjanjian dengan Musa (II Korintus 3:6-18; Ibrani 7:22; 

12:24). Jadi, dengan makan dan minum unsur-unsur Perjamuan 

Kudus kita diingatkan kembali akan pengampunan sempurna yang 

disediakan Kristus bagi kita.

3. Perjamuan Kudus mengumumkan kematian Kristus. Paulus 

menulis, "Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan 

ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang" 

504 Eklesiologi

(I Korintus 11:26). Pada saat orang-orang percaya berkumpul se­

bagai peringatan akan Kristus, mereka secara aktif mengumumkan 

kematian Kristus kepada dunia. Baik fakta kematian Kristus mau­

pun maknanya diumumkan oleh anggota-anggota tubuh-Nya pada 

saat Perjamuan Kudus.

4. Perjamuan Kudus yaitu  nubuat mengenai kedatangan Kris­

tus yang kedua kalinya. Upacara ini harus dilaksanakan sampai 

Kristus datang kembali (I Korintus 11:26). Upacara ini bukan saja 

melihat ke belakang kepada kematian-Nya, namun  juga ke depan 

kepada kedatangan-Nya kembali untuk menjemput umat-Nya. Pada 

perjamuan terakhir itu Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, 

"... Mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok 

anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, 

bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku" (Matius 

26:29). Hendriksen mengatakan tentang pernyataan Tuhan Yesus 

ini, "Karena itu, kita melihat bahwa Perjamuan Kudus tidak sekadar 

menunjuk ke belakang kepada apa yang telah dilakukan Yesus Kris­

tus bagi kita, namun  juga ke depan kepada apa yang masih akan 

dilakukan-Nya bagi kita sekalian."  Makan dan minum Perjamuan 

Kudus bersama-sama mengingatkan orang percaya akan perjumpa­

an kembali yang penuh sukacita serta kebahagiaan yang tak henti- 

hentinya yang menanti kita semua saat  bertemu dengan Tuhan.

153

5. Perjamuan Kudus yaitu  persekutuan dengan Kristus dan 

dengan umat-Nya. Ini merupakan saat-saat pribadi saat  orang- 

orang yang telah ditebus berkumpul sekeliling Yesus Kristus untuk 

bersekutu. Meja perjamuan ini mengingatkan orang-orang yang ber­

bakti akan semua persediaan yang telah disediakan oleh Kristus bagi 

anak-anak-Nya. Kita duduk pada perjamuan Tuhan, bukannya pada 

perjamuan roh-roh jahat (I Korintus 10:21). Kristus yaitu  penjamu 

yang tidak kelihatan pada perjamuan itu. Selanjutnya, orang percaya 

diingatkan akan kerendahan hati Kristus dan tanggung jawab kita 

untuk saling melayani. Pada Perjamuan Tuhan inilah Yesus mem­

basuh kaki para murid, suatu perbuatan yang menunjukkan keren­

dahan hati, kesetiaan, dan kasih. Yesus berkata, "Jadi jikalau Aku 

membasuh kakimu, Aku yang yaitu  Tuhan dan Gurumu, maka 

153 Hendriksen, Exposition of the Gospel According to Matthew, hal. 911.

Peraturan-Peraturan Gereja 505

kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah mem­

berikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama 

seperti yang telah Kuperbuat kepadamu" (Yohanes 13:14, 15).

jika  Kristus hadir di tengah-tengah persekutuan orang-orang 

percaya pada kebaktian Perjamuan Kudus, apakah sifat kehadiran- 

Nya itu? Beberapa pandangan telah diajukan. Gereja Katolik Roma 

mengajarkan bahwa tubuh dan darah Kristus yang sesungguhnya 

ada di dalam roti dan anggur itu. saat  unsur-unsur itu didoakan, 

maka unsur-unsur ini  benar-benar menjadi tubuh dan darah 

Kristus. Tafsiran ini, yang disebut "transubstansiasi", harus ditolak 

berdasarkan beberapa pertimbangan. (1) Kristus hadir saat  Ia 

mengatakan bahwa unsur-unsur itu yaitu  tubuh-Nya dan darah- 

Nya. Jelaslah, Ia sedang memakai kata-kata kiasan. (2) Kata-kata 

"Inilah tubuh-Ku" (I Korintus 11:24) bersifat kiasan, artinya "ini 

mewakili tubuh-Ku." (3) Yesus sendiri berkata bahwa memakan 

tubuh-Nya dan meminum darah-Nya itu berarti datang kepada-Nya 

dan percaya (Yohanes 6:35; band. ayat 53-58). Ide untuk benar- 

benar makan daging manusia dan minum darah manusia akan 

merupakan sesuatu yang menjijikkan bagi pikiran orang Yahudi. 

Tentu saja, orang-orang Yahudi pada masa hidup Yesus akan mem­

beri reaksi yang hebat sekali terhadap pikiran seperti itu. Meminum 

darah yaitu  perbuatan yang dilarang keras (Kejadian 9:4; Imamat 

3:17; Kisah 15:29). Dan (5) upacara Paskah sendiri merupakan 

perayaan simbolis yang memperingati kelepasan Israel dari perham­

baan di Mesir (Keluaran 12). Karena unsur-unsur Perjamuan 

Kudus telah diambil dari Perjamuan Paskah maka simbolisme 

unsur-unsur dalam kebaktian Perjamuan Kudus itu akan sesuai de­

ngan simbolisme yang dipakai dalam Perjamuan Paskah.

Suatu pandangan lain mengenai kehadiran Kristus disebut se­

bagai "konsubstansiasi". Menurut pandangan ini, yang merupakan 

pendapat gereja Lutheran, maka orang yang mengambil bagian da­

lam Perjamuan Kudus, akan makan dan minum tubuh dan darah 

Kristus yang sesungguhnya di dalam, bersama-sama dan di bawah 

unsur roti dan anggur itu. Unsur-unsur itu sendiri tetap tidak 

berubah, namun  hal memakan dan meminumnya setelah doa peng­

ucapan syukur itu menyampaikan Kristus kepada orang yang ma­

kan, bersama-sama dengan unsur-unsur itu. Hal ini dianggap se­

bagai benar-benar makan dan minum dari Kristus. Akan namun , 

506 Eklesiologi

pandangan ini juga mempunyai masalah-masalah yang sama seperti 

ajaran transubstansiasi. Yesus menetapkan prinsip yang benar, 

"Rohlah yang memberi hidup, daging samasekali tidak berguna. 

Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu yaitu  roh dan 

hidup" (Yohanes 6:63).

Orang lain, yang berusaha untuk menghindari makna sakramental 

dan mistik dari kehadiran Kristus di dalam unsur-unsur Perjamuan 

Kudus, telah menganggap bahwa Perjamuan Kudus itu tidak lebih 

daripada upacara yang memperingati kematian Kristus. Walaupun 

Kristus hadir secara rohani, perbuatan makan dan minum unsur- 

unsur itu menandakan iman para peserta kepada-Nya dan kepada 

karya penebusan-Nya. Pandangan ini menolak kehadiran jasmani 

Kristus di dalam unsur-unsur itu.

Pandangan aliran Calvinis yaitu  di antara konsubstansiasi dan 

peringatan. Entah bagaimana, kehadiran dinamis Kristus di dalam 

unsur-unsur Perjamuan Kudus diberlakukan di dalam diri orang per­

caya pada waktu ia makan dan minum unsur-unsur itu. Menurut 

Paulus, cawan itu yaitu  "persekutuan dengan darah Kristus" dan 

roti yaitu  "persekutuan dengan tubuh Kristus" (I Korintus 10:16). 

Unsur-unsur itu melambangkan kehadiran-Nya. Saucy menulis, 

"Oleh karena itu, mengambil bagian dalam kehadiran-Nya bukanlah 

makan dan minum secara jasmani, melainkan suatu hubungan 

batiniah yang erat dengan diri Kristus yang memakai perbuatan 

yang lahiriah untuk mengungkapkan iman rohani di dalam 

batin."154 Kehadiran-Nya di dalam Perjamuan Kudus sama saja de­

ngan kehadiran-Nya di dalam Finnan Allah. Mungkin sebaiknya 

upacara Perjamuan Kudus itu terutama kita pandang sebagai suatu 

peringatan, sementara pada saat yang sama kita mengakui kehadiran 

Kristus di tengah-tengah kita saat  kita makan dan minum unsur- 

unsur yang melambangkan tubuh dan darah-Nya. Sudah tentu, per­

buatan menerima unsur-unsur itu dapat melambangkan hal mene­

rima Kristus secara rohani dan hubungan yang erat dengan Dia.

154 Saucy, The Church in God’s Program, hal. 224.

C. ORANG-ORANG YANG MENGAMBIL BAGIAN

Syarat-syarat untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus 

yaitu  kelahiran kembali dan hidup taat kepada Kristus. Bahwa 

Peraturan-Peraturan Gereja 507

kelahiran kembali merupakan suatu syarat sudahlah jelas dari 

kenyataan bahwa Tuhan memberi peraturan ini kepada para murid- 

Nya (Matius 26:26-28), para murid melakukannya di antara kalang­

an mereka sendiri (Kisah 2:42, 46; 20:7; I Korintus 11:18-22), dan 

tiap peserta diminta untuk menyelidiki dirinya sendiri untuk me­

ngetahui apakah ia layak atau tidak layak mengambil bagian dari 

unsur-unsur Perjamuan Kudus (I Korintus 11:27-29). Bahwa hidup 

taat kepada Kristus merupakan suatu syarat sudahlah jelas dari 

kenyataan bahwa orang-orang yang jatuh ke dalam dosa harus 

dikucilkan dari gereja (I Korintus 5:11-13; II Tesalonika 3:6, 11- 

15), sama seperti mereka yang mengajarkan ajaran sesat (Titus 3:10; 

II Yohanes 10 dan 11) serta menimbulkan perpecahan dan pertikai­

an (Roma 16:17). Sepanjang pengetahuan kami, baptisan air men­

dahului hal mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus di dalam 

kehidupan gereja yang mula-mula, namun  tidak ada perintah me­

ngenai hal itu, juga tidak ada bukti bahwa orang percaya dilarang 

mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus sebelum mereka dibap­

tis. Juga tidak ada bukti bahwa menjadi anggota gereja setempat 

merupakan suatu syarat untuk mengambil bagian. Upacara ini 

yaitu  "perjamuan Tuhan" bukan perjamuan gereja. Hal ini jelas 

dari kenyataan bahwa masing-masing orang diminta untuk meme­

riksa diri sendiri mengenai kelayakannya untuk datang ke perjamu­

an itu; jemaat tidak diberi wewenang untuk menghakimi orang- 

orang percaya, kecuali dalam kasus perilaku yang melanggar 

peraturan, ajaran sesat, atau ikut serta dalam perbuatan-perbuatan 

yang menyimpang dari ajaran Alkitab.


XXXVIII

Misi dan Sasaran Gereja

Setelah membahas dasar, organisasi, dan peraturan-peraturan gereja, 

sangatlah cocok untuk juga membahas sejenak misi dan sasaran 

gereja.

I. MISI GEREJA

Sewaktu kita sedang bertugas di gereja serta merencanakan pro­

gram-program gereja lokal, pertanyaan utama yang harus kita tanya­

kan ialah, Apakah yang menjadi misi gereja? Dengan kata lain, 

apakah yang seharusnya dilakukan oleh gereja? Bagaimanakah 

bunyi mandat alkitabiah bagi gereja? Beberapa jawaban dapat di­

kemukakan.

A. MEMULIAKAN ALLAH

Tujuan utama hidup manusia ialah memuliakan Allah. Hal ini sama 

benarnya bagi orang percaya secara pribadi maupun bagi gereja 

secara keseluruhan. Alkitab berkali-kali menunjukkan hal ini 

sebagai maksud utama gereja (Roma 15:6, 9; Efesus 1:5-6, 12, 14, 

18; 3:21; II Tesalonika 1:12; I Petrus 4:11). Tugas ini begitu men­

dasar sehingga bila dilaksanakan dengan setia, maka tugas-tugas 

gereja lainnya dengan sendirinya juga akan terlaksana. Bagaimana­

kah Allah dimuliakan lewat gereja? (1) Kita memuliakan Allah de­

ngan menyembah Dia (Yohanes 4:23, 24; band. Filipi 3:3; Wahyu 

22:9). (2) Kita memuliakan Allah dengan doa dan puji-pujian. 

Pemazmur mengatakan, "Siapa yang mempersembahkan syukur se­

bagai korban, ia memuliakan Aku" (Mazmur 50:23). (3) Selanjut-

509

510 Eklesiologi

nya, kita juga memuliakan Dia dengan menjalani kehidupan yang 

saleh. Yesus mengatakan, "Dalam hal inilah Bapa-Ku diper­

muliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian 

kamu yaitu  murid-murid-Ku" (Yohanes 15:8). Petrus menyatakan 

bahwa kita harus "memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar 

dari Dia, yang telah memanggil [kita] dari kegelapan kepada terang- 

Nya yang ajaib" (I Petrus 2:9; band. Titus 2:10).

B. MEMBANGUN DIRINYA

Paulus mengatakan bahwa Allah memberikan kepada gereja rasul- 

rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala, dan 

pengajar-pengajar "untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi 

pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita 

semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar 

tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan 

yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi 

anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin peng­

ajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang 

menyesatkan, namun  dengan teguh berpegang kepada kebenaran di 

dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus 

yang yaitu  Kepala. Daripada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapih 

tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, 

sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertum­

buhannya dan membangun dirinya dalam kasih" (Efesus 4:12-16). 

Jelaslah, ini berarti indoktrinasi para anggota jemaat, supaya mereka 

dapat menjadi dewasa dan sanggup berdiri tegak menghadapi 

ajaran-ajaran sesat di sekitar mereka. Inilah yang dinamakan mem­

bangun tubuh Kristus (Kolose 2:7). Kebaktian umum di gereja ber­

tujuan melaksanakan hal ini (I Korintus 14:26), namun setiap orang 

percaya juga harus membangun diri mereka sendiri dalam iman 

yang teramat kudus ini (Yudas 20) dan "bertumbuh dalam kasih 

karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, 

Yesus Kristus" (II Petrus 3:18). Paulus menantang kita untuk me­

makai bahan-bahan yang baik dalam mendirikan bait rohani Allah 

(I Korintus 3:10-15) dan memperingatkan kita agar tidak memakai 

bahan-bahan yang tidak baik. Jadi, gereja harus mengindoktrinasi 

warganya, mengembangkan sifat-sifat baik kehidupan Kristen di 

Misi dan Sasaran Gereja 511

dalam diri mereka, serta mengajar mereka untuk bekerja sama satu 

dengan yang lain dalam pelayanan Kristus.

C. MENYUCIKAN DIRINYA

Kristus mengorbankan diri-Nya untuk gereja "untuk menguduskan 

nya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air 

dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di 

hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau 

yang serupa itu, namun  supaya jemaat kudus dan tidak bercela" 

(Efesus 5:26-27). Ada penyucian yang dilakukan oleh Allah Bapa 

(Yohanes 15:2), terutama dengan jalan menghukum kita (I Korintus 

11:32; Ibrani 12:10). Ada penyucian yang harus dilaksanakan oleh 

orang percaya itu (I Korintus 11:28-31; II Korintus 7:1; I Yohanes 

3:2), namun  ada juga penyucian yang harus dilakukan oleh gereja 

setempat (Matius 18:17). Gereja mula-mula memberikan teladan 

dalam pelaksanaan disiplin gereja, dan gereja masa kini tidak di­

bebaskan dari tugas melaksanakan disiplin gereja (Kisah 5:11; 

Roma 16:17; I Korintus 5:6-8, 13; II Korintus 2:6; II Tesalonika 

3:6, 14; Titus 3:10-11; II Yohanes 10). Berbagai perpecahan, ajaran 

sesat, dan lain sebagainya disebutkan sebagai alasan untuk mem­

berlakukan disiplin. Disiplin merupakan bagian persiapan mem­

pelai perempuan (Wahyu 19:7).

D. MENDIDIK ANGGOTA-ANGGOTANYA

Sebagaimana sudah kita lihat di atas, Tuhan mengaruniakan kepada 

gereja rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala- 

gembala, dan pengajar-pengajar untuk "memperlengkapi orang- 

orang kudus bagi pekerjaan pelayanan" (Efesus 4:12). Yesus juga 

telah memberikan Amanat Agung-Nya, yang berisi perintah bukan 

saja untuk menjadikan orang-orang murid dan membaptiskan 

mereka, namun  setelah itu juga mengajarkan mereka "melakukan 

segala sesuatu" yang telah diperintahkan-Nya (Matius 28:20). Oleh 

karena itu, tidak dapat disangkal lagi bahwa gereja harus menjalan­

kan program pendidikan dan pelatihan bagi anggota-anggota 

jemaatnya, baik muda maupun tua. Gereja harus mengajarkan 

kebenaran-kebenaran Tuhan kepada jemaatnya. Gereja harus de­

ngan setia mengajarkan ajaran para rasul. Paulus mengarahkan 

512 Eklesiologi

jemaat Filipi untuk memperhatikan semua jenis pengetahuan yang 

berharga. Paulus berkata, "Jadi akhirnya, Saudara-saudara, semua 

yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, 

semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut 

kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu" (Filipi 4:8; 

band. II Timotius 2:2).

E. MENGINJILI DUNIA

Amanat Agung menugaskan gereja untuk pergi ke seluruh dunia 

serta menjadikan sekalian bangsa murid Tuhan (Matius 28:19; 

Lukas 24:46-48; Kisah 1:8). Alkitab tidak menyuruh gereja me­

nobatkan dunia, namun  untuk menginjili dunia. Artinya, gereja 

berutang kepada seluruh dunia, yaitu gereja bertanggung jawab 

untuk memberikan kesempatan kepada dunia untuk mendengarkan 

Injil serta menerima Kristus. Kita tahu bahwa tidak mungkin seluruh 

dunia akan menanggapi Injil, namun gereja berkewajiban memberi 

kesempatan kepada seluruh dunia untuk mengenal Kristus dan 

menerima keselamatan yang disediakan-Nya. Dewasa ini Tuhan 

sedang memanggil dari antara bangsa-bangsa bukan Yahudi suatu 

umat bagi nama-Nya (Kisah 15:14), dan tindakan ini  

dilakukan-Nya dengan perantaraan gereja dan Roh Kudus-Nya. Hal 

ini akan berlangsung terus sampai "jumlah yang penuh dari bangsa- 

bangsa lain telah masuk" Roma 11:25). Tidak seorang pun yang 

tahu kapan jumlah yang penuh itu tercapai, namun  itu merupakan 

sasaran Kristus yang tegas dan yang melibatkan gereja. Penginjilan 

dimulai dengan menyelidiki kebutuhan-kebutuhan yang ada (Yo­

hanes 4:28-38; band. Matius 9:36-38), jadi setiap gereja harus 

belajar misi. Sikap ini terungkap dalam doa syafaat untuk pela­

yanan gereja (Matius 9:38), penyediaan dana untuk misi (Filipi 

4:15-18), pengutusan para misionaris (Kisah 13:1-3; 14:26; Roma 

10:15), dan ikut terlibat di ladang-ladang misi (Roma 1:13-15; 

15:20).

F. BERTINDAK SELAKU KEKUATAN PENAHAN DAN PENE­

RANG DI DALAM DUNIA

Yesus mengatakan bahwa orang-orang percaya merupakan garam 

dunia dan terang dunia (Matius 5:13-14). Oleh pengaruh dan ke­

Misi dan Sasaran Gereja 513

saksian hidup, orang-orang Kristen menahan perkembangan 

pelanggaran hukum (lihat II Tesalonika 2:6-7). Tuhan masih me­

nahan penghukuman karena kehadiran orang-orang saleh di tengah- 

tengah orang fasik (Kejadian 18:22-23). Orang-orang percaya harus 

berani menyatakan tuntutan-tuntutan Tuhan yang adil dari manusia 

serta memberitahukan perlunya pertobatan dan kelahiran kembali. 

Untuk mencapai tujuan ini, Tuhan telah menjadikan umat-Nya pe­

melihara kebenaran Allah (II Korintus 5:19; Galatia 2:7; I Timotius 

1:11; 3:15). Dalam Alkitab, umat manusia senantiasa diharapkan 

menemukan kebenaran mengenai Allah serta hal-hal rohani, jika  

mereka ingin mengetahuinya. Akan namun  lebih daripada itu, gereja 

bertugas untuk menawarkan Firman kehidupan kepada dunia (Filipi 

2:16), dan berjuang untuk mempertahankan kebenaran itu (Yudas 

3). Hanya sedikit sekali masyarakat dunia yang menyadari betapa 

untungnya mereka dengan adanya umat Allah di tengah-tengah 

mereka. Memang tidak banyak pula orang-orang dunia ini yang 

ingin hidup di dalam dunia yang tidak ada pengaruh Kristennya.

G. MEMAJUKAN SEGALA SESUATU YANG LUHUR

Sekalipun orang percaya harus memisahkan diri dari segala ikatan- 

ikatan duniawi (II Korintus 6:14-18), ia masih harus mendukung 

semua usaha yang jelas-jelas berusaha memajukan kesejahteraan 

sosial, ekonomi, politik, dan pendidikan masyarakat luas. Paulus 

mengatakan, "Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, 

marilah kita berbuat baik kepada semua orang, namun  terutama 

kepada kawan-kawan kita seiman" (Galatia 6:10). Dalam ayat ini 

dikatakan bahwa kita mempunyai tugas utama yaitu memperhatikan 

kesejahteraan kawan-kawan seiman, namun  kita juga harus memper­

hatikan kesejahteraan sesama manusia lainnya. Perlu sekali kita 

mengetahui dengan jelas tempat pelayanan ini terhadap dunia. Per­

buatan Yesus Kristus merupakan teladan terbaik untuk ditiru. Yesus 

Kristus selalu lebih mengutamakan pertolongan rohani dari­

pada pertolongan fisik dan materiel. Yesus berkeliling sambil ber­

buat baik dan menyembuhkan semua orang yang ditindas oleh Iblis, 

meskipun Ia tidak pernah lupa tugas-Nya yang terutama (Kisah 

10:38-43). Tindakan-tindakan reformasi masyarakat, termasuk ban­

tuan-bantuan sosial, harus selalu secara tegas datang kemudian dari 

514 Eklesiologi

tugas penginjilan. Orang Kristen harus menjadikan semua per­

buatan amal dan kebajikannya suatu kesaksian bagi Kristus. Yesus 

mungkin saja telah memberi makan kepada lima ribu orang laki-laki 

sebagai tindakan berperikemanusiaan, namun  tindakan ini  

pastilah dilakukan-Nya terutama sebagai suatu kesaksian terhadap 

kuasa dan keallahan-Nya sendiri. saat  mengubah air menjadi air 

anggur, pastilah Yesus menunjukkan kebaikan hati kepada keluarga 

yang mengadakan pesta, namun  pada saat yang sama Ia juga 

"menyatakan kemuliaan-Nya" (Yohanes 2:11). Agaknya Yesus me­

nyembuhkan orang yang buta sejak lahir itu agar dapat meme­

nangkan jiwa orang itu (Yohanes 9:35-38). Dengan kata lain, orang 

Kristen harus menjadikan semua perbuatan baiknya itu sebagai 

sarana untuk bersaksi bagi Kristus.

II. SASARAN GEREJA

Pembahasan yang terinci tentang sasaran gereja akan diuraikan 

saat  kita belajar eskatologi, namun  dalam kesempatan ini kita akan 

menyebut harapan-harapan gereja secara umum.

A. GEREJA TIDAK AKAN MENOBATKAN DUNIA

Menurut Alkitab, gereja tidak akan memenangkan seluruh dunia 

bagi Kristus, juga tidak akan naik kepada kedudukan politik, sosial, 

ekonomi yang tinggi di dunia. Alkitab menubuatkan bahwa 

pelanggaran hukum akan meningkat dan "kasih kebanyakan orang 

akan menjadi dingin" (Matius 24:12). Paulus menulis, 'namun  Roh 

dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada 

orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran 

setan-setan" (I Timotius 4:1; band. II Timotius 3:1-9). Tidak akan 

ada orang-orang yang berbondong-bondong berbalik kepada Allah, 

namun  hidup akan berlangsung sebagaimana biasanya. Kenyataan ini 

ditunjukkan dalam pernyataan Kristus, "Dan sama seperti terjadi 

pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari 

Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan 

dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu 

datanglah air bah dan membinasakan mereka semua" (Lukas 17:26- 

Misi dan Sasaran Gereja 515

27). Perumpamaan lalang di antara gandum mengajarkan bahwa 

dunia tidak akan bertobat (Matius 13:24-30, 36-43). Demikian pula 

diajarkan oleh perumpamaan tentang pukat (Matius 13:47-50). Baik 

dan jahat akan hidup terus bersama-sama sampai kesudahan zaman.

B. GEREJA AKAN MENDUDUKI TEMPAT YANG PENUH BER­

KAT DAN HORMAT

Alkitab menyediakan ajaran yang tegas tentang hal ini .

1. Gereja akan dipersatukan dengan Kristus. Gereja disebut 

sebagai mempelai wanita Kristus (II Korintus 11:2; Efesus 5:27), 

dan kitab Wahyu menubuatkan persekutuannya dengan Kristus pada 

saat pernikahan Anak Domba Allah (19:7). Semua ini hanya bisa 

berarti bahwa gereja akan mengalami hubungan yang sangat dekat 

dengan Tuhan. Gagasan persekutuan dan milik-bersama tersirat 

dalam konsepsi ini  (Roma 8:16-17).

2. Gereja akan memerintah bersama Kristus. Sebagai mempelai 

wanita-Nya, gereja akan berada di samping Kristus serta mengambil 

bagian dalam wewenang-Nya dalam Kerajaan Allah di muka bumi 

ini (I Korintus 6:2; Wahyu 1:6; 2:26-27; 3:21; 20:4, 6; 22:5). Gereja 

bahkan akan ikut berperan dalam menghakimi para malaikat (I Ko­

rintus 6:3). Setelah menderita bersama-sama dengan Kristus pada 

masa penolakan-Nya, gereja akan memerintah bersama dengan-Nya 

saat  Ia dimuliakan (II Timotius 2:11-13). Mereka yang menderita 

bersama-sama dengan Dia akan dimuliakan bersama-sama dengan 

Dia (Roma 8:17). Lamanya pemerintahan Kristus pertama kali di­

sebutkan sebagai seribu tahun (Wahyu 20:4-6), namun  kemudian 

dikatakan bahwa hamba-hamba-Nya akan memerintah untuk 

selama-lamanya (Wahyu 22:5). Maksudnya, mereka akan memerin­

tah bersama-sama dengan Dia selama seribu tahun, dan ini me­

rupakan sekadar permulaan pemerintahan yang akan berlangsung 

selama-lamanya.

3. Gereja akan merupakan saksi abadi. Gereja akan bersaksi ten­

tang kebaikan dan hikmat Allah selama kekekalan (Efesus 3:10, 

21). Kehadiran gereja sendiri bersama Kristus merupakan suatu 

kesaksian tentang kasih karunia dan kuasa-Nya dalam menyelamat­

516 Eklesiologi

kan serta memelihara gereja di tengah-tengah angkatan yang jahat. 

Demikianlah, Kristus akan dimuliakan selama-lamanya di dalam 

gereja.

BAGIAN VIII 

ESKATOLOGI

(AJARAN TENTANG HAL-HAL TERAKHIR)

Setiap sistem teologi memiliki eskatologinya sendiri. Bila ada per­

mulaan pasti pula ada akhirnya, bukan dalam arti bahwa alam 

semesta tidak akan ada lagi seperti sebelum diciptakan, namun 

dalam arti adanya pergantian dari yang bersifat sementara kepada 

yang bersifat kekal. Dalam bagian ini, akan kita bahas bersama 

ajaran Alkitab tentang hal-hal terakhir. Termasuk di dalamnya 

ajaran tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya, tentang 

kebangkitan-kebangkitan, tentang penghakiman, tentang kerajaan 

seribu tahun, dan tentang keadaan terakhir.

517


XXXIX

Eskatologi Pribadi dan Pentingnya 

Kedatangan Kristus yang Kedua

Kali

Eskatologi dapat dibagi menjadi dua bagian yang luas: eskatologi 

pribadi dan eskatologi umum. Eskatologi umum membahas peris­

tiwa-peristiwa yang akan terjadi, mulai dari kedatangan Kristus 

yang kedua kali sampai penciptaan langit baru dan bumi 

baru. Eskatologi pribadi membahas apa yang dialami oleh seorang 

percaya sejak ia mengalami kematian jasmani sampai ia menerima 

tubuh kebangkitannya. Dalam pelajaran ini kami hanya akan mem­

bahas eskatologi pribadi secara singkat; perhatian yang lebih besar 

akan kami curahkan kepada pembahasan eskatologi umum. Pasal 

ini akan memberi perhatian utama kepada eskatologi pribadi dan 

pentingnya kedatangan Kristus yang kedua.

L ESKATOLOGI PRIBADI

Eskatologi pribadi dapat dibahas menurut dua pokok bahasan: ke- 

matian jasmaniah dan keadaan antara saat kematian dan saat ke­

bangkitan.

A. KEMATIAN JASMANIAH

Kematian jasmaniah tidak boleh dikacaukan dengan kematian ro­

hani atau kematian kekal. Kematian rohani artinya keadaan 

519

520 Eskatologi

seseorang sebelum ia diselamatkan. Keadaan ini  disebut "mati" 

dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa (Efesus 2:1, 5). Ye­

sus mengatakan, "Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, 

bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan 

mereka yang mendengarnya, akan hidup" (Yohanes 5:25). Jadi, 

seseorang dianggap mati secara rohani sebelum ia hidup di dalam 

Kristus saat  ia diselamatkan. Kematian abadi ialah penghukuman 

kekal yang terjadi pada saat kematian orang-orang yang tidak per­

nah dihidupkan secara rohani. Kematian kekal merupakan penghu­

kuman kekal yang menimpa orang-orang, yang selama hidupnya di 

dunia tidak pernah "pindah dari dalam maut ke dalam hidup" 

(Yohanes 5:24; lihat juga Wahyu 20:10). Inilah yang disebut "ke- 

matian yang kedua: lautan api" (Wahyu 20:14).

Kematian rohani dan kematian kekal berhubungan dengan jiwa; 

kematian jasmaniah berhubungan dengan tubuh. Kematian jasma­

niah yaitu  terpisahnya jiwa dari tubuh dan merupakan berakhirnya 

kehidupan jasmaniah. Kematian ini digambarkan dengan berbagai 

cara dalam Alkitab: perpisahan dari tubuh dengan jiwa (Pengkhot­

bah 12:7; Kisah 7:59; Yakobus 2:26), kehilangan jiwa atau nyawa 

(Matius 2:20; Markus 3:4; Yohanes 13:37), serta kepergian (Lukas 

9:31; II Petrus 1:15). Bagaimanapun juga, kematian jasmaniah ini 

tidak boleh dianggap sebagai pemusnahan, berhentinya keberadaan 

seseorang; lebih tepat jika dikatakan bahwa kematian jasmaniah me­

rupakan perubahan hubungan. Hubungan alamiah antara jiwa de­

ngan tubuh terputus. Tubuh jasmaniah menjadi rusak di dalam 

kubur dan menjadi debu kembali (Kejadian 3:19) sedangkan jiwa 

terus hidup.

Kematian jasmaniah ada hubungannya dengan dosa karena se­

belum Kejatuhan, Adam tidak dapat mengalami kematian jasma­

niah. Kematian jasmaniah merupakan akibat dari kematian roha­

niah manusia (Roma 5:21; 6:23; I Korintus 15:56). Kematian jas­

maniah bukanlah sesuatu yang wajar dalam jalan hidup manusia, 

melainkan yaitu  penghukuman (Roma 1:32; 5:16) dan suatu 

kutukan. Kristus telah membebaskan orang percaya dari kuasa ke- 

matian. Di dalam Alkitab tersurat bahwa Kristus mengambil bagian 

dalam daging dan darah "supaya oleh kematian-Nya Ia memusnah­

kan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan 

jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya

Eskatologi Pribadi dan Pentingnya Kedatangan ... 521

berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut" 

(Ibrani 2:14, 15).

Sekalipun kematian merupakan musuh kita bersama, di dalam 

Kristus orang percaya tidak perlu lagi takut kepada kematian. Bagi 

orang percaya kematian merupakan pintu masuk ke hadapan Kris­

tus. Ia absen dari tubuhnya namun ia tinggal bersama Tuhan 

(II Korintus 5:8). Kematian jasmaniah bagi orang Kristen artinya 

"pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus" (Filipi 1:23). Sengat 

kematian kini telah ditiadakan (I Korintus 15:55-57) dan orang Kris­

ten tertidur di dalam Yesus (I Tesalonika 4:14). Bertentangan sekali 

dengan keadaan orang percaya, maka orang yang tidak percaya 

tidak memiliki pengharapan yang demikian menggembirakan dan 

menghibur. Ia menghadapi kutukan dan hukuman kekal dijauhkan 

untuk selamanya dari hadirat Tuhan (Yohanes 3:36; II Tesalonika 

1:9; Wahyu 20:10).

B. KEADAAN ANTARA SAAT KEMATIAN DAN SAAT KEBANG­

KITAN

Kematian jasmaniah berhubungan dengan tubuh jasmaniah; akan 

namun  jiwa bersifat abadi dan oleh karena itu jiwa tidak mati. 

Sekalipun Alkitab mengatakan bahwa Allah saja yang tidak takluk 

kepada maut (I Timotius 6:16; lihat juga 1:17), manusia juga dapat 

dikatakan tidak takluk kepada maut dalam arti jiwanya tidak pernah 

mati. Bahwa jiwa itu kekal, bahkan setelah tubuhnya mati, dikuat­

kan oleh Alkitab. saat  menjawab seorang Saduki yang bertanya 

kepada Yesus tentang kebangkitan, Yesus mengutip apa yang di­

katakan Allah kepada Musa dalam Keluaran 3:6, "Akulah Allah 

Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub" (Matius 22:32). Selanjut­

nya Tuhan kita berkata, "Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan 

Allah orang hidup" (ayat 32b), yang dimaksudkan ialah jika Allah 

yaitu  Allah Abraham pada zaman Musa, maka Musa masih hidup 

sampai sekarang. Kisah Lazarus yang miskin dengan orang kaya 

juga merupakan petunjuk tentang kekekalan jiwa (Lukas 16:19-31), 

demikian pula jiwa-jiwa di bawah mezbah yang disebut dalam kitab 

Wahyu (6:9, 10).

namun  apa yang terjadi pada jiwa setelah kematian jasmani na­

mun sebelum kebangkitan? Kita akan melihat keterangan 

522 Eskatologi

alkitabiah dahulu, baru setelah itu akan kita bahas empat pandangan 

yang tidak alkitabiah.

1. Keterangan alkitabiah. Sekalipun Alkitab tidak memberi 

banyak informasi mengenai pokok ini, namun masukannya cukup 

memadai untuk menarik berbagai kesimpulan. Pertama, orang per­

caya ada bersama dengan Kristus. Paulus mengatakan bahwa ia 

akan "terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada 

Tuhan" (II Korintus 5:8; band. ayat 6). Selanjutnya, Paulus "ingin 

pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus" (Filipi 1:23). Inilah 

perkataan yang membesarkan hati yang diucapkan oleh Yesus ke­

pada orang yang bertobat saat  disalibkan bersama-Nya, "Aku 

berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada ber- 

sama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Lukas 23:43). Jelaslah 

dari II Korintus 12:3, 4 bahwa Firdaus yaitu  sorga. Orang percaya 

itu bukan saja bersama Kristus dan di sorga, namun  ia juga sedang 

bersekutu dengan orang-orang percaya lainnya. Surat Ibrani ber­

bicara mengenai "jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar 

di sorga" (12:23). Orang-orang percaya yang telah mati jasmaniah 

ini  berada dalam keadaan hidup, sadar, dan berbahagia (Lukas 

16:19-31; Wahyu 14:13). Keadaan di antara saat kematian jas­

maniah dengan saat kebangkitan lebih disukai daripada keadaan 

sebelum kematian jasmaniah. Paulus menyebut keadaan ini "jauh 

lebih baik" (Filipi 1:23). Ia menandaskan bahwa ia terlebih suka 

. . . beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan" (II Korintus 

5:8). Suatu penelaahan yang cermat terhadap II Korintus 5:1-9 

memberikan kesan bahwa orang-orang percaya lebih senang di­

angkat ke sorga dan diubah daripada mati dan mengalami keadaan 

antara saat kematian dan saat kebangkitan. Ia lebih suka memakai 

tubuh kebangkitan daripada tidak memakai apa-apa. Namun ke­

adaan tanpa tubuh kebangkitan itu tetap lebih baik daripada 

keadaan jasmaniah saat ini, sebab sekalipun masih belum menge­

nakan tubuh kebangkitan, orang percaya itu ada bersama-sama de­

ngan Tuhan.

Dalam kisah Lazarus dan orang kaya, Lazarus berada di pang­

kuan Abraham, dan mendapat hiburan; sedangkan orang kaya itu 

menderita sengsara (Lukas 16:19-31). Dari ayat-ayat ini kami me­

nyimpulkan bahwa orang yang tidak diselamatkan juga berada 

Eskatologi Pribadi dan Pentingnya Kedatangan... 523

dalam keadaan sementara sambil mengalami siksaan secara sadar, 

sambil menantikan penghakiman di takhta putih yang besar (Wahyu 

20:11-15).

2. Purgatori (api penyucian). Dalam teologi Katolik Roma, jiwa- 

jiwa yang pada saat kematian sudah kudus sepenuhnya diizinkan 

langsung masuk sorga, yaitu memasuki hadirat Allah. Jiwa-jiwa 

yang belum mumi sepenuhnya, oleh karena itu masih memerlukan 

pembersihan selanjutnya, memasuki tempat penyucian. Tempat ini 

dinamakan "purgatori" atau api penyucian. Api penyucian ini bu­

kanlah suatu tempat percobaan, melainkan tempat untuk menyuci­

kan jiwa-jiwa dari dosa-dosa yang dapat diampuni. Orang-orang 

percaya menderita karena untuk sementara waktu mereka tidak 

menikmati sukacita sorgawi serta jiwa-jiwa mereka itu menderita. 

Beberapa ayat dipakai untuk mendukung pandangan ini (Zakharia 

9:11; Matius 12:32; I Korintus 3:13-15). Ada fakta-fakta yang me­

nyatakan bahwa tidak ada dukungan kuat dari Alkitab untuk pen­

dapat ini dan bahwa Kristus telah menanggung seluruh hukuman 

kita. Kita tidak dapat menambahkan apa-apa pada jasa-jasa Kristus 

(Ibrani 1:3). Harus diakui bahwa dalam kehidupan ini kadang- 

kadang dihukum karena dosa yang kita lakukan, namun Alkitab 

tidak pernah mengajarkan secara jelas ataupun tersirat bahwa 

penderitaan itu dilanjutkan sesudah kematian jasmaniah. Dukungan 

utama terhadap api penyucian ditemukan dalam kitab yang tidak 

termasuk kanon Alkitab yaitu II Makabe (12:42-45).

3. Jiwa-tidur. Orang-orang yang menerima pandangan ini ber­

anggapan bahwa saat  seseorang mengalami kematian jasmaniah 

jiwanya memasuki suatu keadaan tidur atau menjadi tidak sadar. 

Pandangan ini diketengahkan dengan berbagai cara. Alkitab sering 

kali berbicara mengenai kematian sebagai tidur (Matius 9:24; 

Yohanes 11:11). Selanjutnya, beberapa ayat agaknya menunjukkan 

bahwa orang mati berada dalam keadaan tidak sadar (Mazmur 

146:4; Pengkhotbah 9:5-6, 10; Yesaya 38:18). Dan akhirnya, tak 

seorang pun yang telah kembali dari kematian yang melaporkan 

tentang keadaan sementara ini. Namun untuk menjawab keberatan 

ini, pertama, istilah "tidur" dipakai untuk orang yang sudah percaya. 

Istilah ini dipakai untuk menekankan bahwa ada persamaan dalam

524 Eskatologi

penampilan orang yang tertidur dengan nyenyak dengan orang yang 

mati jasmaniah (lihat Yakobus 2:26). Selanjutnya, keterangan dalam 

Alkitab menunjukkan bahwa orang-orang percaya yang telah mati 

menikmati suatu hubungan yang sadar dengan Kristus. Ayat-ayat 

yang menganjurkan keadaan tidak sadar dari jiwa dipandang dari 

sudut orang yang hidup. Dari sudut orang yang hidup maka orang 

mati memang seakan-akan sedang tidur.

4. Pemusnahan. Ajaran ini terutama berkaitan dengan orang- 

orang yang tidak diselamatkan. Menurut ajaran ini, samasekali tidak 

ada keberadaan yang sadar bagi orang-orang fasik setelah mereka 

meninggal dunia. Sebagian besar orang yang menerima pandangan 

ini mengajarkan bahwa saat  mereka mati maka keberadaan orang 

yang tidak diselamatkan itu berhenti. Istilah-istilah Alkitab, misal­

nya maut dan kebinasaan, ditafsirkan oleh mereka sebagai berarti 

"tidak ada lagi" atau "dijadikan tidak ada" (Yohanes 3:16; 8:51; 

Roma 9:22). Namun, sebagai tanggapan terhadap pandangan ini, 

kita mengatakan bahwa Allah tidak pernah memusnahkan atau 

menghapuskan sesuatu yang telah diciptakan-Nya. Hidup yaitu  

kebalikan dari kematian; jika  kematian dianggap sebagai ber­

akhirnya keberadaan, maka hidup hanya berarti keberadaan yang 

diperpanjang. Akan namun , hidup kekal yaitu  suatu kualitas hidup, 

bukan sekadar suatu kuantitas. Selanjutnya, kematian dan kebinasa­

an merupakan hukuman; sulit untuk mengerti bagaimana pemus­

nahan dapat menjadi hukuman atas dosa. Alkitab dengan jelas me­

ngatakan bahwa orang-orang yang tidak diselamatkan akan tetap 

ada sampai selama-lamanya (Pengkhotbah 12:7; Matius 25:46; 

Roma 2:5-10; Wahyu 14:11). Dikatakan bahwa ada berbagai ting­

kat hukuman, dan hal ini tidak mungkin terjadi bila mereka dimus­

nahkan (Lukas 12:47, 48; Roma 2:12; Wahyu 20:12).

5. Kekekalan bersyarat. Menurut ajaran ini, jiwa tidak diciptakan 

atau dilahirkan dengan sifat kekal, namun  menjadi kekal ke­

tika mengaku percaya pada Yesus Kristus. Sifat kekal merupakan 

pemberian Allah. Orang yang mati tanpa menerima Kristus akan 

tidak ada lagi karena ia belum menerima karunia kekekalan. Mereka 

yang menganut pandangan ini menandaskan bahwa hanya Allah 

yang memiliki sifat kekal (I Timotius 6:16), dan kekekalan itu 

Eskatologi Pribadi dan Pentingnya Kedatangan... 525

diberikan oleh-Nya kepada mereka yang menanggapi panggilan- 

Nya. Mereka selanjutnya mengajarkan bahwa Alkitab samasekali 

tidak berbicara tentang kekekalan jiwa. Jawaban kita terhadap pan­

dangan ini yaitu  bahwa ajaran ini mengacaukan sifat kekal dengan 

hidup kekal. Hidup kekal yang diterima saat  kita diselamatkan 

bukanlah sekadar keberadaan yang kekal, melainkan merupakan 

suatu kualitas hidup, suatu kesempurnaan hidup di hadirat Kristus. 

Memang benar bahwa hanya Allah yang memiliki sifat kekal yang 

hakiki; sekalipun demikian, saat  manusia diciptakan ia menerima 

sifat kekal yang berasal dari Allah. Manusia lahir sebagai makhluk 

yang bersifat kekal.

Kami menyimpulkan bahwa pada saat kematian jasmaniahnya, 

orang percaya memasuki hadirat Kristus. Ia tetap tinggal bersama 

Tuhan dalam keadaan berbahagia yang dialaminya secara sadar 

hingga saat kebangkitan, saat  ia akan menerima tubuh ke­

bangkitan yang mulia. Sebaliknya, pada saat kematian jasmaniah 

orang yang tidak percaya akan memasuki masa penyiksaan yang 

dialaminya secara sadar pula sampai saatnya terjadi kebangkitan, 

saat  ia akan dicampakkan ke dalam lautan api. Doktrin api 

penyucian, jiwa yang tidur, pemusnahan, serta kekekalan yang ber­

syarat tidak dapat dianggap sebagai ajaran yang alkitabiah.

II. PENTINGNYA KEDATANGAN KRISTUS YANG 

KEDUA KALI

Gereja mula-mula sangat tertarik pada doktrin kedatangan kembali 

Kristus. Para rasul telah mengemukakan bahwa Kristus mungkin 

akan kembali pada zaman mereka, dan generasi-generasi sesudah 

mereka tetap beranggapan bahwa kedatangan Kristus yang kedua 

kalinya merupakan suatu peristiwa yang segera akan terjadi. Baru 

pada abad ketiga ada pihak yang tidak menyetujui pandangan ini, 

dan sejak masa pemerintahan Konstantinus dan seterusnya, doktrin 

ini mulai ditolak sampai-sampai nyaris tidak diperhatikan 

samasekali. Baru sekitar seratus tahun yang terakhir inilah doktrin 

ini dihidupkan kembali dalam gereja. Sekalipun masih ada pihak- 

pihak yang kurang memperhatikan atau bahkan menentang doktrin 

ini, perhatian kepada kebenaran Alkitab ini makin meluas. Semen­

526 Eskatologi

tara orang-orang Kristen yang beriman mengatakan, "Amin, 

datanglah, Tuhan Yesus!" (Wahyu 22:20), orang-orang yang tidak 

percaya dan para pencemooh tetap mengatakan, "Di manakah janji 

tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita 

meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia 

diciptakan" (II Petrus 3:4). Ketidakpercayaan para pencemooh tidak 

mengurangi pentingnya ajaran ini; justru sebaliknya, banyak hal 

menunjukkan betapa pentingnya ajaran ini.

A. KEDUDUKANNYA YANG PENTING DALAM ALKITAB

Sepanjang Alkitab peristiwa kedatangan Kristus yang kedua kali 

memperoleh kedudukan yang penting. Sekalipun kedatangan yang 

pertama dan kedua sering digabungkan dengan begitu erat dalam 

nubuat Perjanjian Lama sehingga sulit untuk mengemukakan ayat- 

ayat yang secara khusus membahas kedatangan Kristus yang kedua 

kali, namun ada beberapa ayat yang dengan jelas berbuat demikian 

(Ayub 19:25, 26; Daniel 7:13, 14; Zakharia 14:4; Maleakhi 3:1, 2). 

Perjanjian Baru menyebut doktrin ini lebih dari tiga ratus kali. Bah­

kan ada pasal-pasal yang seluruhnya dipakai untuk memberitahukan 

kedatangan Kristus yang kedua kali ini (Matius 24, 25; Markus 13; 

Lukas 21; band. I Korintus 15). Bahkan ada kitab-kitab tertentu 

yang secara khusus ditulis untuk membahas pokok ini (I Tesalonika; 

II Tesalonika; dan kitab Wahyu). Jelaslah, doktrin ini dianggap 

sama pentingnya dengan doktrin-doktrin utama lainnya dari iman 

Kristen.

B. DOKTRIN INI MERUPAKAN KUNCI UNTUK MEMAHAMI 

ALKITAB

Kita berbicara tentang doa dan sikap dapat diajarkan sebagai kunci 

untuk memahami Firman Allah, namun  di samping itu, pengakuan 

akan sifat azasi doktrin kedatangan Kristus yang kedua kali juga 

merupakan kunci untuk memahami Alkitab. Banyak sekali doktrin, 

peraturan, janji, dan lambang dalam Alkitab tidak dapat dipahami 

sepenuhnya tanpa memandangnya dari segi doktrin kedatangan 

Kristus yang kedua kali. Misalnya doktrin Alkitab. Kristus yaitu  

nabi, imam, dan raja