Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 14


 gan kaum muslim dalam hal berpakai^n."2e3 Lebih

lanjut, al-Syirizi mengatakan bahwa kaum dzimmi pria harus

mengenakan cincin tembaga atau timah atau sebuah lonceng kecil

di leher saat  mereka masuk ke pemandian.ze4 Sementara untuk

kaum dzimmt wanita "Dia harus mengenakan sebuah kalung di

lehernya saat datang ke tempat-tempat pemandian umum; sepatu-

nya satu berwarna hitam dan satunya lagi berwarna putih."zr:

Ketentuan serupa juga diberlakukan pada aktivitas-aktivitas

lainnya. Al-Syirizi mengatakan bahwa kaum dzimmi ddak boleh

mengendarai kuda. Mereka hanya boleh mengendarai keledai atau

bagal, dan mereka harus menahan diri dari setiap bentuk tampilan

di muka umum:

Mereka tidak boleh menduduki tempat pertama di suatu

majelis dan mereka tidak disalami lebih dahulu dan harus pindah

ke pinggir untuk memberi jalan [kepada kaum muslim]. Mereka

dilarang mendirikan bangunan yang lebih tinggi dari bangunan

milik kaum muslim, namun  mereka tidak dilarang membangun

dengan tinggi yang sama... Mereka dilarang memakai  benda-

benda yang dibenci Allah di muka umum, seperti anggur, daging

babi, lonceng seruan beribadah, dan membacakan Perjajian Lama

dan Baru,2e6

Demikianlah, kita telah melihat tidak ada kesempatan terjadi-

nya kontak sosial antara kaum muslim dan kaum dzimmi. Pemikir

besar Islam Abad Pertengahan, al-Ghazili, mengungkapkan nada

serupa, dan menasihati kaum muslim untuk tidak menjadikan

orang Fkisten sebagai teman. Kaum muslim tidak boleh memberi

jalan kepada kaum lGisten, menyapanya terlebih dahulu, meng-

ikuti budaya mereka atau terlibat usaha dengan mereka.2eT Satu

abad kemudian Nishiruddin Q0nawi, yar,g menulis tentang ajaran-

a,1arun dasar Islam, mendesak pencari kebenaran untuk mengingat

nabi-nabi dan orang-orang salih yang berjalan menuju Allah dan

mencari "tempat perlindungan agar terhindar dari pertemanan

dengan orang-orang luar yang telah dicabut keberkahannya...

seperti kaum Yahudi, umat Kristen, dan orang-orang yang me-

nutupi kebenaran lainnya".2e8

LaranganJarangan semacam itu merupakan hasil dari evolusi

Syariat, suatu hukum ideal yang bersumber pada teks-teks suci

Islam, Alquran dan Hadis, sebagaimana ditafsirkan oleh generasi-

generasi penerus ahli hukum Islam. Meskipun ahli-ahli hukum

Islam semacam itu mungkin mendesak kaum muslim untuk

menjauhi Ahlulkitab, namun penting untuk ditegaskan bahwa

tidak ada satu pun perintah agama yang mendorong atau bahkan

mengizinkan kaum muslim untuk mengganggu umat Kristen dan

kaum Yahudi. Sebaliknya, Alquran menetapkan bahwa saat 

kelompok-kelompok semacam itu telah mengikatkan perjanjian

dengan kaum muslim, mereka harus diberikan status yang tegas

dan jelas di dalam komunitas Islam, yang disertai dengan keadilan

dan diberi perlindungan. Sementara ulama-ulama berikutnya mung-

kin punya keinginan untuk menempatkan kaum Yahudi dan

lftisten di posisi yang lebih lemah di dalam warga  muslim,

sulit untuk menentukan sampai kapan dan di mana undang-

undang seperti itu diterapkan dalam kehidupan. Contoh per-

lakukan yang mengganggu agama lain, yang jarang terjadi, yang

dilakukan oleh para penguasa muslim, seperti khalifah Abbasiyah

al-Mutawakkil2ee di abad kesembilan, atau khalifah Fatimiyah al-

Hikim (yang berkuasa pada 996-1021), yang mengeluarkan

undang-undang yang sangat keras dan diskriminatif terhadap kaum

lkisten dan Yahudi, jelas-jelas melecehkan ajaran-qaran agama

Islam.3oo

Selanjutnya, secara umum, sumber-sumber muslim Abad

Pertengahan itu sendiri mengakui adanya kasus-kasus penindasan

keagamaan terhadap kaum dzimmi pada periode-periode tertentu

dalam sejarah Islam dan di berbagai wilayah dunia muslim-

namun itu jarang terjadi. Namun, secara keseluruhan bisa di-

tunjukkan bahwa kemungkinan besar telah ada sikap toleran yang

luas dipraktikkan dan undang-undang otonomi bagi komunitas

asli di Mesir, Suriah, dan Palestina. Memang, keberadaan ke-

lompok-kelompok semacam itu yang telah hidup sangat lama,

seperti kaum BGisten Koptik di Mesir, jelas menunjukkan bahwa

mereka dipastikan telah diberi kebebasan menjalankan ibadah di

bawah pemerintahan kaum muslim. Dengan kata lain, tidak salah

bila dikatakan bahwa sebelum kedatangan Tentara Salib, "'Wilayah

Islam" dalam batas-batas tertentu memperlakukan komunitas lkisten

dan Yahudi dengan baik.

Penulis modern yang memakai  nama samaran berbahasa

Ibrani, "Putri Sungai Nil" (Bat Ye'or) lebih jauh menyatakan

bahwa warga  Islam tidak bersikap toleran terhadap kaum

dzimmi-umat lGisten atau Yahudi-dalam setiap Periode sejarah-

nya.3ot Namun, ilmuwan Yahudi lainnya, Goitein, dengan ber-

sumber pada pengetahuannya yang luas mengenai dokumen Geniza

dan sejarah Islam, menyimpulkan bahwa di Timur Dekat pada

abad kesebelas dan pada sebagian besar abad kedua belas, "se-

mangat toleransi dan liberalisme tetap bertahan, terutama pada

kekaisaran Fatimiiah'.302

Apahah Kehadiran Tentara Salib Memicu Dishriminasi

Terhadap l{aum Kristen Timur?

Tidaklah mengejutkan bila pelajaran-pelajaran yang diambil dari

fanatisme Tentara Salib menimbulkan sikap yang lebih bersemangat

di kalangan kaum muslim yang mengalami kontak dan konflik

paling langsung dengan mereka, dan sehingga Perang Salib semakin

mempertajam perbedaan agama di antara Islam dan Kristen. Dari

pihak Kristen, Runciman, dengan retorikanya yang biasa, me-

nuturkan suatu laporan tentanB kejatuhan Yerusalem dan per-

tumpahan darah yang tiada henti antara penduduk muslim dan

Yahudi: "Ini yaitu  bukti haus darah fanatisme Kristen yang

membangkitkan kembali fanatisme Islam.D303

Namun, seluruh masalah ini lebih kompleks dari kelihatannya

dan harus dibahas dengan sensitivitas sejarah dan tanpa tekanan

sejarah dari semua agenda agama atau politik modern.3M Secara

khusus, perlu dianalisis persoalan tentang bagaimana kaum Kristen

Timur di dalam \Tilayah Islam diperlakukan selama periode

pendudukan tntara Salib di wilayah-wilayah Timur Dekat dan

sesudah  kepergian mereka.

Karya-karya modern telah menghasilkan spektrum pendapat

yang luas mengenai masalah ini. Claude Cahen, misalnya, me-

negaskan konsep jihad tak dipengaruhi oleh kontak dalam Perang

Salib dan dengan respons terhadapnya. Dia juga mengatakan

bahwa perlakuan terhadap kaum Kristen setempat yang hidup

dalam perlindungan kaum muslim tidak berubah.3o5 Edward Atiya,

sebaliknya, menyatakan bahwa nasib kebanyakan kaum IGisten

Timur semakin buruk sesudah  kedatangan Tentara Salib: "Hasil

yang paling abadi dari Perang Salib yaitu  reaksi yang sangat

bersemangat dari pemerintahan Islam terhadap agresi berkelanjutan

kaum IGisten Barat ke wilayah muslim selama tiga abad."36 Akan

sangat baik kiranya bila kita melihat masalah ini secara kronologis,

dan bukan memahaminya secara sama di seluruh periode.

Periode 492-583 H./1099-1187 M.

Sivan mengatakan bahwa kebangkitan gerakan jihad yang terjadi

sebagai reaksi atas kehadiran kaum Frank pada abad kedua belas

tidak berdampak terhadap Ahlulkitab (yaitu kaum Kristen dan

Yahudi setempat) yang berada di bawah pemerintahan kaum

muslim.3oT

Yang pasti, kaum muslim butuh cukup waktu untuk mem-

bedakan dan membandingkan kaum Frank dan kaum Kristen

Timur dan untuk mengetahui sikap yang lebih fanatik dan cara-

cara asing para pendatang baru yang berbeda dengan komunitas

lGisten lokal yang telah hidup berdampingan di sepanjang hidup

mereka. Betapapun, situasi itu benar-benar jelas. Ibn al-QalAnisi

menyebutkan sebuah contoh saat  orang-orang fumenia yang

berada di Puri Artah pada 498 H./1104-1105 M. menyerah

kepada kaum muslim di bawah pimpinan fudhwin "sebab  tirani

yang tidak adil dan kejam yang mereka terima dari kaum Frank".308

Terkadang pasukan Kristen setempat berperang bersama-sama

dengan kaum Frank, seperti pada 510 H./1116-1117 M.3oe

namun , bahkan di awal-awal pendudukan kaum Frank, ada

kecenderungan, menurut para penulis sejarah, untuk memakai 

kaum lGisten Timur sebagai kambing hitam atas kekalahan kaum

muslim. Mustahil untuk dijelaskan, apakah ini sekadar alat yang

digunakan oleh para penulis muslim yang hidup belakangan untuk

motif mereka sendiri atau memang ada suatu kerja sama yang

benar-benar terjadi antara kaum Frank dan Kristen Timur. Pada

dasarnya, sesudah  beberapa lama, kaum lfuisten Timur mungkin

telah melihat adanya keuntungan yang sangat baik bagi mereka

untuk berkolaborasi dengan kaum Frank, rekan Kristen mereka.

Kejatuhan Antiokhia pada 491 H./1098 M. dipersalahkan, misal-

nya, pada "persenjataan yang dibuat oleh seorang Armenia ber-

nama Firuz".3lo

Sebuah peristiwa pada 518 H.l1l24-1125 M. layak kiranya

diceritakan di dalam konteks ini. Pemimpin kaum Frank, Joscelin,

telah melancarkan serangan-serangan yang ganas di Suriah utara.

Ahli geografi Ibn SyaddXd menulis bahwa:

saat  kaum Frank mengepung Aleppo i"O" ,r, dan mereka

mengganggu kuburan yang berada di luar Aleppo dan membakar

apa saja yang ada di dalamnya, mereka [ralcyat Aleppo] menuju ke

empat gereja yang ada di sana dan mengubahnya menjadi masjid.3"

Ibn al-Adim, sejarawan Aleppo, bahkan lebih eksplisit:

Dengan kesepakatan para pemimpin Aleppo, kadi Ibn al-

Khasysyib memerintahkan agar altar-altar (mahirib) yang ada di

gereja-gereja milik kaum Kristen di Aleppo dihancurkan dan mem-

buat mihrab-mihrab untuk mereka dengan menghadap arah kiblat,

dan pintu-pintu gereja ini  harus diubah, dan gereja-gereja itu

harus dijadikan masjid. Tindakan itu dilakukan di gereja besar

mereka dan masjid itu kemudian disebut masjid pembuat pelana

(masjid al-sarrljin) dan perguruan para penjual permen (madrasat

al-fi.akutiyyin) saat ini. Gereja pandai besi (hantsat al-baddadtn)

kemudian menjadi perguruan pandai besi (madrasat al-h.addadin)...

Dia hanya menyisakan dua gereja, tidak lebih, bagi umat Kristen

di Aleppo, dan itulah faktanya.3t2

Peristiwa ini mengungkapkan banyak hal. Pertama, kadi lokal

melakukannya sendiri, sekalipun jabatannya sebagai hakim Syariat,

untuk melanggar ketentuan-ketentuannya dan menyita empat dari

gerEa Kristen yang ada, dengan hanya menyisakan dua. Rupanya

dia melakukan hal ini atas persetujuan para pemimpin muslim

setempat. Yang kedua, ada hubungan langsungyang dibuat antara

aktivitas kaum Frank yang agresif dan kehidupan kaum Kristen

Aleppo setempat. Kaum Frank mengganggu kuburan-kuburan

kaum muslim yang berada di luar kota ini  dan Ibn al-

KhasysyAb melakukan pembalasan dengan menghancurkan kaum

Kristen setempat. Pada dekade-dekade awal abad kedua belas,

saat  kekuasaan didesentralisasi, seorang muslim yang memiliki

semangat berapi-api-salah seorang dari sedikit yang disebutkan

secara jelas di dalam sumber-sumber ini  telah mencoba untuk

membakar semangat jihad ke kalangan pasukan muslim sebelum

pertempuran melawan kaum Frank-bisa saja melakukan tindakan

dengan inisiatif sendiri untuk menyerang kaum dzimmi. Tindakan-

nya itu menjadi pukulan yang hebat bagi umat Kristen di Suriah,

dan kehilangan katedral di Aleppo pastilah sangat menyakitkan.

Cahen dengan meyakinkan mengatakan insiden ini jarang

terjadi. Insiden ini dipicu oleh kemarahan akibat pengrusakan

terhadap kuburan-kuburan kaum muslim oleh kaum Frank.3r3

Namun, bila sumber-sumber ini  tidak memberikan contoh-

nya, tidak berarti tidak ada lagi contoh-contoh lain insiden seperti

ini. Yang mengejutkan, barangkali, yaitu  bahwa Ibn al-Adim

juga menyebutkan peristiwa Aleppo ini, sekalipun jika peristiwa

ini  dicermati kembali maka akan kelihatan titik kesalahannya

dan walaupun dapat muncul antagonisme anti-Kristen di masa

berikutnya (Ibn al-Adim hidup di abad ketiga belas). Sementara,

di sisi yang lain, Ibn al-Adim juga menjalin persahabatan yang

erat dengan anggota keluarga Khasysyab yang terkemuka,

Bahi'uddin.3ra namun  mungkin dia beranggapan bahwa aksi keras

yang dilakukan oleh nenek moyang Bahi'uddin yang termasyhur

itu harus diterjemahkan sebagai kredit yang jelek terhadap keluarga

ini .

Kemarahan publik dan penghinaan bertahan lama dalam

memori bersama. Kaum muslim di Aleppo pasti masih mengingat

saat-saat mundurnya kekuasaan fudhwin, saat  pada 496 H.l

1102-1103 M.'kaum Frank yang memenangkan pertempuran

berhasil memaksanya untuk menggantungkan lonceng di salah

satu menara benteng di sebelah barat dan memasang sebuah salib

di kubah masjid agung di benteng ini . Dengan didorong

oleh kemarahan, Ibn al-Khasysyib menekan Ridhwin agar me-

negosiasikan kembali kesepakatan ini  tlan salib ini 

dipindahkan ke Gereja St. Helen. Gereja ini yaitu  salah satu

gereja yang telah diubah menjadi masjid pada 518 H.lllz4 M.


Akhirnya salib itu pun diturunkan. Sementara mengenai lonceng

ini , hingga 589 H.lllgl M., lonceng itu berbunyi tiga kali

dalam semalam untuk menandakan pengawasan-pengawasan

militer.I5

Pada 1180-an'Ibn Jubayr sangat yakin dengan kaum FGisten

Damaskus. Dia menceritakan ada sebuah gereja yang sangat

dihormati, yaitu Gereja Maria:

sesudah  kuil di Yerusalem, mereka ddak lagi punya sesuatu

yang lebih dihormati selain yang ini. Bangunannya sangat bagus

dengan gambar-gambar yang sangat indah, menakjubkan, dan enak

dipandang, dan pemandangannya benar-benar luar biasa. Gereja

itu milik bangsa Rum (Kristen), yang tidak pernah mendapat

gangguan di dalamnya.sr6

Ibn Jubayr melihat monumen-monumen yang dibangun oleh

kaum lftisten Koptik di Mesir Atas di Ikhmim: "Di kota ini

ada  monumen-monumen dan bangunan-bangunan yang di-

bangun oleh kaum lGisten Koptik dan gereja-gereja yang dihadiri

hingga kini oleh mereka."3r7

Periode Ayyubiyah

Titik balik yang penting kemungkinan yaitu  periode Ayyubiyah.

Selama periode i1u-lelsnx hubungan antara kaum Frank dan

kaum Kristen lokal, baik yang sesungguhnya maupun pura-

pura3ls-kaum lftisten setempat harus menanggung serangan

pembalasan sebagai akibat dari perbuatan buruk kaum Frank.

Sivan menyebutkan tiga aksi pembalasan utama semacam ini.

Yang pertama pada 1219 di Mesir, saat berlangsung pengepungan

Damietta, yang kedua pada 1242, juga di Mesir, yaitu di Fustat,

dan yang ketiga pada 1250 di Damaskus.sre Kaum Kristen Koptik

di Mesir mendapat banyak keberuntungan pada masa kekuasaan

Saladin dan keluarganya. Memang, terkadang mereka dipecat dari

pekerjaan sebab  dituduh bersekongkol dengan Tentara Salib, dan

gereja-gereja mereka dihancurkan. Namun anggota-anggota ko-

munitas mereka masih ditunjuk untuk menduduki jabatan-jabatan

tinggi-saladin punya sekretaris pribadi, Ibn Syarafi, yang yaitu 

seorang Koptik, dan kakak lakilaki Saladin, al-'Adil, menunjuk

seorang Koptik bernama Ibn al-MiqAt untuk memimpin ke-

menterian angkatan bersenjata (diwin nl-jryty). Penunjukan seorang

lkisten untuk memegang jabatan yang berkuasa seperri itu pada

masa peperangan dan di bidang yang sangat sensitif secara militer

jelas bukan hal yang kebetulan. Memang loyalitas penganut Koptik

pada periode Aynrbiyah tampaknya lebih diberikan kepada kaum

muslim dan untuk kepentingan-kepentingan lokal mereka diban-

dingkan kepada Tentara Salib. Hal ini ditunjukkan dalam Perang

Salib Damietta pada 1218, kedka kaum Koptik membantu mem-

pertahankan kota ini . Sebagai akibatnya, mereka mengalami

penderitaan luar biasa di tangan para Tentara Salib.320

Bukti-bukti mengenai Ayyubiyah Suriah agak bermacam-

macam. Bias penulis sejarah Mamluk, al-Maqrizi, yang anti-

lGisten, harus selalu dipertimbangkan. Namun dia dengan jelas

menyebutkan tindakan-tindakan diskriminatif yang dilakukan ter-

hadap kaum Kristen oleh penguasa Aynrbiyah Damaskus, al-'Aziz,

pada 14 Syakban 592 H.l13 Juli 1196 M.: "Dia melarang orang-

orang yang disebutkan dalam perjanjian untuk bekerja pada Sultan,

dan mereka harus mengenakan pakaian yang menunjukkan bahwa

mereka itu nonmusll*.'rzt

Kelihatannya, kaum lGisten Timur telah diperlakukan dengan

baik pada masa Ayyubiyah di Suriah dengan cara yang sangat

mirip seperti yang selalu mereka alami. Bila dokter-dokter Kristen

(dan Yahudi) dijadikan sebagai contoh kelompok warga 

terkemuka dalam warga  muslim-dan terutama sekali bukti-

bukti yang ditunjukkan dalam kamus biografi dokter-dokter oleh

Ibn Abi Ushaybi'ah322-12ppx[ jelas bahwa mereka diperlakukan

dengan relatif toleran. Namun, dokter-dokter kemungkinan besar

termasuk kelompok yang dikecualikan.323

Barangkali memang harus dibedakan, antara Mesir dan

Suriah, sekalipun bukti-bukti yang ada terlalu sedikit untuk

membuat penilaian yang tegas.

Periode Mamluh

Kita telah melihat bahwa pada periode Mamluk dampak gabungan

intervensionisme dan fanatisme Tentara Salib, di satu pihak, dan

teror dan kebrutalan para penakluk Mongol yarlg kejam, di pihak

lain, membangkitkan keinginan yang kuat di pusat muslim Suriah,

Palestina, dan Mesir, untuk mempertahankan wilayah-wilayah

mereka, dan tekad yang keras untuk menerjemahkan konsep jihad

Islam agar sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka sendiri

yang sulit. Memang, sultan-sultan Mamluk di Mesir melaksanakan

jihad dengan keberhasilan dan kekuatan yang sangat besar'

Sejauh mana'bisa dinyatakan bahwa keadaan kaum Kristen

Timur memburuk selama dan sesudah periode Perang Salib?

Thmpaknya yang terjadi memang benar-benar memburuk, khusus-

nya sesudah  1291, dan dengan demikian, tidaklah salah bila

menganggap Perang Salib sebagai penyebab, baik secara langsung

maupun tidak, terjadinya penindasan terhadap kaum Kristen

Timur oleh para penguasa muslim.

Individu maupun kelompok mendapat tekanan berat untuk

pindah ag ma. Pemerintah Mamluk tidak memiliki kebijakan-

kebijakan yang konsisten terhadap pendudukny^ yang nonmuslim.

Kadang-kadang pemerintah Mamluk berusaha melindungi para

pejabatnya yang nonmuslim, yang sebab  kekayaan dan pengaruh-

nya sering kali memancing kemarahan penduduk muslim. Namun,

pada kesempatan lain, pemerintah Mamluk terpaksa harus me-

nyerah kepada tekanan warga  dan mengizinkan tindakan-

tindakan yang diskriminatif dan menindas, sebab  warga 

yaitu  yang paling menakutkan bagi mereka. Desakan kuat berasal

dari kalangan ulama yang mendesak agar diberlakukan interpretasi

yang kaku mengenai posisi inferior kaum I(risten dan Yahudi di

dalam warga  Islam.

Dalam soal ini, rujukan dilakukan pada Perjanjian 'Umar.

Dimunculkannya kembali referensi ini  secara berulang-ulang

kelihatannya benar-benar menunjukkan bahwa poin-poin dalam

perjanjian itu sering kali direndahkan.32a beberapa  bukti me-

nunjukkan bahwa kebijakan sultan-sultan Mamluk semakin keras.

Tindakan-tindakan diskriminatif diberlakukan terhadap kaum

Kristen Timur, begitu juga pada kaum Yahudi dan orang-orang

Samaria. Menurut al-Maqrizi, pada 1301 pemerintah Mamluk

memutuskan bahwa para Penganut agama minoritas harus me-

ngenakan turban dengan warna berlainan-umat Kristen harus

mengenakan warna biru, Yahudi kuning, dan orang Samaria

merah.32t Tindakan diskriminatif serupa kemudian diberlakukan

juga pada wanita-wanita Kristen dan Yahudi (pada 1354, l40l

dan 1491).326 Keputusan yang dikeluarkan pemerintah Mamluk

pada 1354 untuk kaum lGisten dan Yahudi sekali lagi menetapkan

bahwa mereka harus mengenakan sepatu, sebelah hitam dan

sebelah lagi putih.327

Menurut al-Nawawi (w. 1278),328 kaum muslim hanya boleh

berobat kepada dokter-dokter muslim. Pernyataan hukum ini

kemudian diberlakukan melalui keputusan pemerintah Mamluk

pada 1354, bahwa dokter-dokter Yahudi dan Kristen tidak boleh

lagi merawat kaum muslim.32e Menurut Atiya, yang telah meng-

analisis perlakuan terhadap kaum Koptik dengan sangat lengkap,

sekitar 44 gerqa Koptik dihancurkan antara tahun 1279 dan

1447.330

Syeikh Khadhir, rekan Baybars, yang kejam melakukan tindak-

an yang sangat keras terhadap kaum Yahudi dan Kristen di

wilayah-wilayah Mamluk. Bahkan kaum muslim pun sangat kha-

watir dengan tindakannya itu. Dia menghancurkan Gereja Makam

Suci di Yerusalem dan membunuh pendetanya dengan tangannya

sendiri. Dia menghancurkan gereja di Aleksandaria yang diduga

merupakan tempat kediaman Yohanes Pembaptis dan mengubah-

nya menjadi sekolah Alquran, dengan menamainya Perguruan

Hijau (al-madrasat al-hhadhrh'), yang sekaligus menyerupai nama-

nya sendiri. Pada 669 H.llz7l M., dia menghancurkan sinagog

besar di Damaskus.33r

Sentimen anti-Kristen pada periode Mamluk bisa menyulut

kerusuhan sipil besar, khususnya saat terjadi kemelut yang hebat.

Menurut sumber-sumber muslim, sesudah  kedatangan bangsa Mongol

pada 658 H.ll260 M., umat Kristen di Damaskus menjadi

semakin sombong. Mereka secara terang-terangan melakukan pro-

sesi di jalan-jalan, sambil membawa Salib dan mengumandangkan


kemenangan agama mereka dan kekalahan agama Islam. Sebagai

tindakan balasan, kaum muslim menjarah rumah-rumah umat

Kristen dan menghancurkan Gereja Yakobit dan Gereja Maria.332

Menurut al-Maqrizi, aksi-aksi ini  merupakan pembalasan atas

pemberontakrn k"rl* Kristen melawan kaum muslim: "lJmat

Kristen telah menghancurkan masjid-masjid dan menara-menaranya

yang berada di dekat gereje mereka. Mereka dengan terang-

terangan membunyikan lonceng-lonceng gerej^ mereka, membawa

salib dalam arak-arakan, minum anggur di jalanan, dan mem-

banjiri kaum muslim dengannya.",ll

Al-hyni menunjuk pada hubungan harmonis antara umat

lGisten dan bangsa Mongol, yang kemungkinan menjadi pemicu

bagi dndakan-tindakan permusuhan di kedua pihak.

Para penulis sejarah Mamluk sering kali mempertunjukkan

purbasangka anti-Iftisten yang kuat dan kemarahan mereka khusus-

nya diarahkan pada para administratur lkisten Koptik yang punya

peranan penting di dalam birokrasi Mamluk. AI-'Umari meng-

gambarkan birokrat-birokrat Koptik yang berada di eselon tinggi

dinasti Mamluk sebagai pemilik "sorban putih dan rahasia gelap"

dan "musuh cabul yang menelan bangkai meraH'.334 Kecemburuan

pada keahlian kaum Koptik menjalankan administrasi dan jabatan

mereka yang tinggi di pemerintahan yaitu  hal biasa. Hal itu

diabadikan dalam wasiat sultan Aynrbiyah, Najmuddin Ayycrb

(w. 1249), yang jatuh sakit parah pada saat Louis IX menyerang

Mesir. Naskah ini  kemungkinan menyuarakan sentimen anti-

Kristen generasi Mamluk berikutnya. Sambil memberi nasihat

tentang cara memerintah kepada TtrAnsyih, Putranya yang sukanya

bersenang-senang, sultan menyatakan:

Lihadah departemen angkatan bersenjata (diwin al'jays), pur-

raku! Orang-orang yang paling menjelekkan negara dan bahkan

menyebabkan kehancurannya yaitu  umat Kristen yang telah mem-

perlemah pasukan, seakan-akan pasukan yaitu  milik mereka dan

mereka bisa menjualnye.3'5

Kaum Koptik bukan saja dituding sebagai penyebab melemah-

nya pemerintahan Mesir, namun mereka juga dituduh telah

bersekongkol dengan orang-orang seagama mereka, yakni para

Tentara Salib:


Saya telah mendengar bahwa mereka [kaum Kristen Mesir]

menulis surat kepada ra1a-ra1a kaum Frank Snbil lpesisir kawasan

Mediterania timur] dan pulau-pulau ini , dengan mengatakan

kepada mereka: 'Jangan memerangi kaum muslim. Kami sendiri

sedang memerangi mereka siang dan malam, kami mengambil harta

benda mereka dan menyerang wanita-wanita mereka, kami sedang

menghancurkan negara mereka dan memperlemah pasukan mereka.

Datang dan rebutlah! Tidak ada halangan apa pun yang tersisa

bagi kalian!"

Musuh ada di dekatmu, di negaramu itu; mereka yaitu  umat

Kristen. Jangan percayai orang-orang yang telah masuk Islam...

Bahkan sekalipun mereka melakukannya, itu sebab  alasan lain.

Iman mereka tersembunyi di dalam hati mereka seperti api di

dalam debu.336

Permusuhan ini ditegaskan dengan tuduhan yang dilayangkan

oleh al-Maqrizi, yang menyerang kaum Koptik sebab  telah

menyabotase sistem kepemilikan tanah Mesir (iqthA) yang menjadi

andalan militer:

Kaum Koptik melakukan semua bentuk penipuan dan mereka

mulai memperlemah pasukan Mesir. Mereka menyebarkan iqthl'

tunggal di berbagai tempat sehingga beberapa  pengumpulan ini 

terjadi di Mesir, beberapa di provinsi al-Syarqiyyah dan beberapa

di provinsi al-Gharbiyyah, dengan tujuan untuk memperlemah

pasukan dan membengkakkan pengeluaran.33T

Al-Maqrizi juga bermusuhan dengan pendeta Kristen. Dia

bercerita tentang seorang uskup Yakobit yang "sangat senang

dengan kekuasaan dan penimbun harta... yang kecanduan mem-

beli benda-benda keramat, dengan meminta biaya pentahbisan

kepada orang yang telah ditahbiskannya".rs Sentimen anti-Kristen

ini diperkuat dan ditingkatkan di lingkungan para ahli agama

dan terutama sekali, pada periode Mamluk, dalam tulisan-tulisan

polemis dan farwa-fatwa Ibn Taymiyyah, yang ddak menyisakan

kelembutan terhadap kaum Iftisten baik yang ada di luar maupun

di dalam "Vilayah Islam".

Interuensi Eropa

Dengan demikian kita telah melihat bahwa di berbagai sumber

karya kaum muslim ada  bukti-bukti tentang adanya reaksi

merugikan yang kuat terhadap kaum Kristen Timur. Namun

dampaknya jelas bermacam-macrrn, sesuai dengan keadaan geografis

dan politik.33e Reaksi semacam itu diarahkan pada kaum Kristen

Timur baik yang berada di dalam maupun di luar kekaisaran

Mamluk, dan sdring kali dipicu oleh alai-aksi agresi eksternal

yang dilakukan pihak Eropa, baik dalam bentuk aksi pembajakan

sendiri-sendiri maupun atau serangan militer besar-besaran. Ter-

kadang juga terjadi pembalasan oleh kaum lGisten barat terhadap

tindakan-tindakan anti-IGisten yang dilakukan Mamluk. Perebutan

dan penghancuran Aleksandria oleh Pierre I of Lusignan, penguasa

Tentara Salib dari Siprus, pada 1365, yaitu  contoh yang baik

mengenai proses ini. Penulis muslim, al-Nuwayri (Muhammad

al-Iskandarani), berada di Aleksandria saat  itu dan memberikan

laporan yang jelas sekali tentang bencana di Muharam 765 H.l

Oktober 1365 M.,340 saat  Pierre dan pasukannya menghancurkan

Aleksandria selama seminggu. Aksi ini yaitu  "bencana terbesar

dalam sejarah Aleksandria," katanya. Al-Nuwayri sendiri menyebut-

kan serangan ini, di antara alasan lainnya, sebagai akibat siksaan

yang dialami oleh kaum I(risten Timur yang dipecat dari pekerjaan

mereka dan dipaksa mengenakan pakaian berbeda.3at Para penulis

sejarah lainnya mengungkapkan bahwa kaum Koptik terus meng-

alami penyiksaan setiap saat sepanjang abad keempat belas dan

sesudahnya.3a2

Reflehsi Umum

Namun, sampai sejauh mana semua sikap kaum muslim yang

mengeras ini bisa dipersalahkan sebagai efek Perang Salib? Yang

jelas, menyalahkan semuanya pada fanatisme Tentara Salib dari

Eropa terlalu sederhana, sekalipun kemungkinan telah ada beberapa 

penyebab dan efeknya. Sebaliknya, harus ditegaskan bahwa masya-

rakat Islam selalu memiliki kemampuan untuk mereformasi dirinya

dari dalam, memperbaharui dan mengubah kembali dirinya, untuk

membersihkan dirinya dari perubahan-perubahan yang tak diingin-

kan dan pengaruh-pengaruh yang merusak. Orang hanya perlu

mengingat kembali kebangkitan dua dinasti Berber yang militan

di Maghrib abad kesebelas dan kedua belas, yaitu Murabitun dan

Muwahhidun, yang tidak membutuhkan serangan-serangan Tentara

Salib untuk merasakan dorongan yang sangat kuat untuk men-


jalankan reformasi Islam mereka yang meluapJuap di kota-kota

Afrika Utara dan Spanyol. Gerakan-gerakan reformasi semacam

ini (ishhb) telah banyak dijelaskan dalam sejarah Islam di berbagai

belahan dunia sampai akhir abad kedua puluh. Dengan demikian,

dapat ditegaskan bahwa pembaharuan semangat agama kaum

muslim Sunni di Suriah, Palestina, dan Mesir, dari abad kedua

belas dan selanjutnya, pada dasarnya tidak muncul sebagai akibat

dari kesengsaraan yang mereka alami di tangan para Tentara Salib.

Sebaliknya, pembaharuan semangat jihad ini dan pengerasan di

dalam bagaimanapun juga akan tetap terjadi, sebagai bagian yang

tidak terpisahkan dari sifat warga  Islam.

Sultan-sultan Mesir Mamluk, yang kekuasaannya rerus ber-

lanjut hingga lama sesudah  Tentara Salib meninggalkan kawasan

Mediterania timur, dan sungguh-sungguh berlangsung sampai awal

abad keenam belas, merupakan kasus khusus. Mereka merupakan

etnik luar, yang baru belakangan memeluk Islam Sunni, prajurit-

prajurit keras kepala dengan keyakinan sederhana yang ranpa

kompromi, yang memasukkan kehidupan baru ke dalam ko-

munitas kaum muslim. Dengan demikian, dapat dinyatakan-

secara teoretis-bahwa para penguasa Mamluk tidak memerlukan

contoh Tentara Salib untuk melanjutkan kebijakan fanatik terhadap

kelompok minoritas agama lain di dalam wilayah mereka. Mamluk,

sebagai pendatang baru di Timur Dekat, tidak memahami atau

melihat perlunya kesepakatan dengan kaum Kristen yang telah

Iama hadir di kawasan Mediterania timur dan tidak tertarik untuk

menarik perbedaan di antara kelompok-kelompok lGisten yang

berbeda. Atau untuk masalah itu, mereka juga tidak menoleransi

keberadaan kelompok-kelompok bidah kaum muslim, seperti

Ismailiyah, pengikut aliran keagamaan yan1 dipimpin oleh

Muhammad ibn Ismail al-Darazi (w. 1019) di pegunungan kbanon

dan Suriah, atau bentuk-bentuk kepercayaan Syiah lainnya di

Timur Dekat. Komunitas Islam harus membersihkan dirinya dari

dalam terhadap semua pencemaran, inovasi dan bidah, dan Mamluk

merupakan prajurit-prajurit ideal untuk membela Islam Sunni.

Mereka membentuk aliansi dengan para ulama yang hanya terlalu

bersemangat untuk memerintahkan dan memperkuat para penguasa

mereka dalam mengukuhkan Keimanan yang Benar.

Penjehsan (Jmum tentdng Hubungan Antara l{aum Muslim

dan Kristen Setehh 690 H./1291 M.

Pembahasan sebelumnya telah mencoba menyoroti masalah penting

yang belum terj4wab dari efek Perang Salib pada sikap kaum

muslim di masa Mamluk terhadap umat Kristen, dan khususnya

terhadap kaum IGisten Timur Dekat. Meski telah jelas bahwa

warga  muslim selalu memiliki kemampuan dari dalam untuk

mengubah kembali dan memperbaharui agamanya, momentum

kebangkitan semangat agama kaum muslim pada periode Mamluk,

sesudah  berabad-abad bersikap toleran terhadap "Ahlulkitab" di

dalam "'W'ilayah Islam", jika kita mencermati semua fakta yang

ada, tampak berhubungan dengan pengalaman kaum muslim dalam

Perang Salib. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kedatangan

para Tentara Salib dengan "cap baru" mereka sebagai kaum lftisten

fanatik berfungsi sebagai katalis, atau bahkan agen langsung, dalam

proses pengerasan sikap kaum muslim Sunni terhadap orang-orang

dari agama lain, dan bahkan terhadap semua bentuk penyimpangan

agama di dalam jalaran kaum muslim itu sendiri.

Fanatisme Tentara Salib yang tiba belakangan mengguncang

dunia muslim pada tahun 1099 dan berlanjut hingga seterusnya'

Reaksi atas Perang Salib itu tidak bermula pada abad ketiga belas

dengan keberhasilan Mamluk. Reaksi kaum muslim telah muncul

pada abad kedua belas bersama dengan Zengi atau bahkan se-

belumnya dan terus berkembang semakin mengeras pertama kali-

nya di bawah Nirruddin dan Saladin, dan selanjutnya di bawah

penguasa baru Mamluk. sesudah  1291, respons kaum muslim tidak

padam saat  wilayah mereka dibersihkan dari kehadiran para

Tentara Salib. Di samping mempertahankan wilayah-wilayah mereka

sendiri, mereka kini bisa juga melancarkan serangan balik terhadap

negara-negara Kristen tetangga mereka di timur-orang-orang

Cilicia Armenia, yang ditaklukkan oleh sultan Mamluk, al-Asyraf

Sya'bin, pada 1375; Kerajaan Latin Siprus, yang dijadikan upeti

untuk Mesir Mamluk di bawah sultan Barsbay pada 1427;

Konstantinopel, yang jatuh ke tangan Dinasti 'tJtsmani pada 1453;

dan ksatria-ksatria ordo Hospitaler di Rhodes, yang terus bertahan

sampai Dinasti 'L]rsmani akhirnya merebut pulau itu pada 1522.

Peristiwa-peristiwa ini terjadi secara bersamaan.

524 \ _______________

Memang, Dinasti 'LJtsmani juga menyimpan niat untuk me-

merangi kaum Kristen Eropa, dan di awal abad keempat belas

Sultan Murid I (w. 1389) telah mengumumkan bahwa "dia akan

datang ke Prancis bila telah menaklukkan Austria".3a3 Reaksi yang

semakin meningkat terhadap Perang Salib di pihak Dinasti '(Jtsmani

mencapai klimaksnya pada abad keenam belas. Mereka menakluk-

kan Balkan, kemudian Hongaria, dan bergerak jauh lebih dalam

ke jantung Eropa hingga ke gerbang '!7ina. Memang, bayang-

bayang ancaman Tirrki menggantung bagaikan awan hitam di

atas sebagian besar benua Eropa di sepanjang abad keenam belas.

Demikianlah aksi pembalasan kaum muslim berlangsung dalam

kurun waktu yang sangat lama.


Tidaklah mengejutkan bila interaksi budaya antara kaum muslim

dan kaum Frank hampir seluruhnya terjadi satu arah. Banyak

faktor yang turut berperan. Seperti yang telah disebutkan, kaum

muslim merasa sedikit yang bisa dipelajari dari Eropa di bidang

agarna, sosial, dan budaya. Kaum Frank, sebaliknya, dapat belajar

banyak hal dari gaya hidup kaum muslim yang telah tinggal di

Timur Dekat selama berabad-abad dan benar-benar telah menye-

suaikan diri dengan iklim dan wilayah ini . Bisa diperkirakan

bila dalam kehidupan sehari-hari kaum Frank kemungkinan sangat

terpengaruh dengan adat-istiadat kaum muslim, seperti dalam hal

mandi dan makanan, dan mereka berusaha menunjukkan diri

mereka sendiri selama beberapa generasi sebagai orang yang

memang berasal dari kawasan Mediterania timur.

Namun, sekalipun ada bukti-bukti bahwa kedua pihak, Ten-

tara Salib dan kaum muslim, bisa dipersatukan bersama, proses

rekonsiliasi ini tidak boleh dibesar-besarkan. Sekalipun ada 

aliansi-aliansi dagang dan politik antara Tentara Salib dan kaum

muslim, perpecahan ideologi tetap ada. Tentu saja sangat jauh

lebih mudah untuk memahami kerangka kronologis suatu periode

daripada semangat zamannya.. Bagaimana bisa kita mengetahui

apakah yang sesungguhnya dirasakan kaum muslim kebanyakan

berkenaan dengan Perang Salib:rll

Pembahasan sebelumnya telah menunjukkan bahwa ada sangat

banyak tidk kontak dan pengaruh antara kaum muslim dan kaum

Sisi-Sisi Kehidupan ... I 525

Frank di berbagai tingkatan selama lebih dari dua abad. Namun

tetap saja sulic untuk membuat generalisasi tentang perasaan kaum

muslim yang sesungguhnya terhadap kaum Frank. Adanya per-

janjian-perjanjian dan realitas kontak reguler bagaimanapun juga

tidak menunjukkan bahwa kaum muslim menghormati atau me-

nyukai mereka, baik secara individu maupun sebagai sebuah

kelompok.[]


Pasukan, Senjata, Baju Besi,

dan Benteng-Benteng

Dan siapkankh unruk menghadapi rnneha hekuatan apa nja yang hama

sangupi dan dai huda-huda yang ditambat untuh berperang (yang dzngan

persiapan in) hamu menggetarkan musuh Alkh, rnusuhmu dan orang-

orang sekin mereha hamu tidah mengetahuinya.' (Q.S. al-Anftl [8]: 60)


Pada zaman modern, orang-orang fuab mulai menyebut fenomena

Perang Salib sebagai "Perang Salili' (al- hurrtb al-s hali b iyya h). Istilah

ini mencerminkan kenyataan bahwa Perang Salib terutama dan

pada dasarnya yaitu  berkaitan dengan perang. Sekalipun ada 

gencatan senjata dalam waktu yang panjang dan hubungan damai

antara kaum muslim dan kaum Frank, yang selama periode itu

kedua pihak saling berdagang dan membentuk aliansi, kenyataan

bahwa kaum Frank menduduki wilayah-wilayah muslim sejak

1099 hingga l29l menuntut kedua pihak untuk selalu siap

berperang. Demikian pula, sering ada  seruan untuk meng-

angkat senjata. Di masa-masa awal kehadiran kaum Frank, kaum

muslim harus mempertahankan diri mereka sendiri terhadap

serangan-serangan kaum Frank y*g sering terjadi ke benteng-

benteng dan kota mereka, dan juga untuk mencegah ekspansi

kaum Frank lebih jauh. Pada masa-masa berikritnya, saat  per-

imbangan kekuatan telah berubah, sultan-sultan Mamluk selalu

dalam keadaan siap untuk berperang, siap untuk mengusir kaum


Frank dari 'Wilayah Islam. Juga penting untuk ditegaskan bahwa

sekalipun buku ini menekankan pada aspek-aspek ideologis dalam

konfrontasi kaum muslim dan kaum Frank, perang antara kedua-

nya juga merupakan masalah praktik yang Penting, menyangkut

pertempuran militer yang berlangsung tiada henti selama hampir

dua abad dan disertai dengan hilangnya nyawa, musnahnya harta

benda dan benteng-benteng, dan rusaknya daerah pertanian'

KETEMNGAN TERDAHULU TENTANG PERTEMPUMN

DALAM PEMNG SALIB

pertempuran dalam Perang Salib telah menjadi subjek kaiian dalam

banyak tradisi keilmuan Barat. Benteng-benteng kaum Frank

memperoleh perhacian mendalam dari sejarawan yang tertarik pada

sod arsitektur dan Tenrara Salib, dan aspek-aspek militer Perang

salib telah menjadi bagian dari sejarah umum tenrang perang di

sepanjang zaman. Dua karya yang secara khusus Penting dalam

konteks peperangan Tentara salib dengan kaum muslim yaitu 

karya R.C. Smail, Crusader'Varfare 1097-1193'2 dan C' Marshall'

Warfare in the Latin East, 1192-1291.3 Dengan memakai 

kekayaan material sumber Abad Pertengahan Barat dan sumber-

sumber Islam yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa

Eropa, kedua buku ini membahas berbagai aspek dalam masalah

ini dengan sangat jelas dan lengkap. Secara khusus, kedua buku

ini membahas peran Penting benteng-benteng dan tempat-temPat

berpengaruh dalam seiarah militer abad kedua belas dan ketiga

belas.a Penelitian arkeologi dan arsitektur yang dilakukan oleh D.

Pringle menyoroti masdah ini dengan sangat baik'5

Para ahli juga telah menyusun karya penting mengenai senjata

dan baju besi, yang dalam hal ini juga memakai  sumber-

sumber Islam untuk menguraikan aspek-aspek tertentu dalam

peperangan Islam, dan hasilnya telah muncul dalam monografi

dan artikel-artikel ilmiah.6 Namun interpretasi yang lebih luas

tentang peperangan Islam dalam konteks Perang Salib tertentu

secara umum belum dilakukan oleh para ahli dalam sejarah Islam

baik di Timur Tengah atau di Barat.

Sesuai dengan fokus yang dinyatakan buku ini, bab ini hanya

akan menyoroti tema-tema militer ini  yang muncul dari

sumber-sumber Islam, dan akan menunjukkan bagaimana para

penulis Abad Pertengahan itu sendiri memandang konflik Tentara

Salib dengan kaum muslim. Tirjuan yang kedua yaitu  menguji

bukti-bukti yang disajikan ini dengan dihadapkan pada teori-

teori sejarawan militer modern.

PERSOAIAN DAIAM SUMBER-SUMBER ISTAM ABAD PERTENGAHAN

Informasi yang diberikan oleh sejarawan muslim Abad Pertengahan

tidak memuat gambaran yang jelas atau sistematis tentang taktik

militer kaum muslim atau kaum Frank dalam pertempuran, atau

bagian-bagian menyangkut pertempuran dan serangan yang di-

lakukan secara perorangan selama periode Perang Salib, atau senjata

yang digunakan saat itu. Kutipan-kutipan terpisah yang menarik

bagi para sejarawan perang tertentu dapat ditemukan di antara

beratus-ratus halaman tulisan sejarah Abad Pertengahan-itu pun

dengan upaya yang sulit. Namun demikian, bahkan meskipun

kutipan-kutipan itu disatukan, tetap saja itu tidak akan dapat

menjadi sumber yang cukup memuaskan.

Beberapa masalah ini  ada  pada bentuk tulisan sejarah

kaum muslim itu sendiri dan dalam lingkungan orang-orang yang

menyusun tulisan-tulisan sejarah Abad Pertengahan. Para penulis

sejarah muslim pada Abad Pertengahan sama sekali bukan sejara-

wan militer profesional. sebab  itu, tidak layak kiranya berharap

mereka akan memberikan pandangan militer yang khusus dalam

karya mereka. Kadang-kadang dan khususnya pada periode Mamluk,

para penulis sejarah itu sebenarnya yaitu  para administratur.

Sering sekali mereka itu sebagian besar yaitu  para ahli agama

yang beralih menulis sejarah sesudah  mempelajari Alquran, hadis,

dan syariat secara mendalam. Semacam inilah latar kehidupan

sejarawan muslim terbesar pada periode Perang Salib, Ibn al-

Atsir,8 dan banyak yang lainnya.

Ilmuwan seperti itu menyusun historiografi dengan sebuah

tujuan yang jelas: mencatat kemenangan kaum muslim sebagai

cerminan kehendak Allah bagi dunia, dan untuk menunjukkan


rencana Tirhan yang tak bisa diubah, bahwa Islam sebagai wahyu

Allah yang terakhir dan lengkap akan meraih kemenangan. UsAmah,

sekalipun dirinya seorang prajurit dan sangat luas pergaulannya,

juga memiliki pandangan seperti ini, dengan menyatakan: "Ke-

menangan dalarfr perang yaitu  dari Allah dan bukan sebab 

organisasi dan perencanaan, atau bukan juga sebab  jumlah pa-

sukan dan pendukung."e Miripnya Pernyataan semaciun ini dengan

ungkapan "Deus vulC' (Tirhan menghendaki demikian) yang populer

pada Perang Salib Pertama membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Dengan seluruh tujuan agama yang sedemikian, yang tertanam

kuat di pikiran mereka, para penulis sejarah muslim cenderung

menekankan aspek-aspek propaganda dari berbagai peristiwa yang

mereka catat. Mereka melewatkan praktik-praktik perang-ke-

terangan-keterangan tentang rangkaian PertemPuran dan Penge-

pungan, karakter medan perang, dan senjata-senjata-dan sebalik-

nya, malah menekankan pada kemenangan (atau terkadang peng-

hinaan) yang terjadi sebagai akibat dari konflik militer dengan

kaum Frank. Jumlah pasukan yang terlibat pada pertempuran

tertentu kadang-kadang disebutkan di dalam tulisan sejarah muslim,

namun "fakta-fakta" ini samar-samar dan tidak bisa diandalkan.

Lebih jauh lagi, serangan-serangan yang berhasil terhadap kaum

Frank bisa diubah dengan dinyatakan sebagai kemenangan besar.

Caranya sederhana, yaitu dengan menggelembungkan .iumlah

pasukan musuh dan menekankan pada taktik Perang yang cerdik

di medan tempur oleh pasukan muslim yang sangat banyak

jumlahnya dan berani, dengan dibantu oleh Allah.

Masalah lain yang ditemui pada berbagai laporan Pertempuran

antara kaum muslim dan Kristen yaitu  bahwa para penulis

sejarah ini  tidak hadir pada kejadian ini  dan sering

kali mencatatnya sesudah  lewar saru generasi atau lebih. Mereka

tidak memahami praktik Perang dan lebih memilih menjelaskan

penumpukan kekuatan dan hasil konflik militer ini  daripada

menggambarkan kejadian dalam PertemPuran. Mereka jarang

mengungkapkan detail peristiwa yang terjadi dan juga tentang

pengaruh medan PertemPuran temPat berlangsungnya PertemPuran'


BUKII.BUKTI KARYA SENI

Para sejarawan militer yang ingin memakai  bukti-bukti dari

karya seni yang masih bertahan menghadapi kesulitan tertentu.

Sekalipun karya arsitektur, lukisan miniatur, karya seni logam

dan keramik yang berasal dari periode Perang Salib bisa diketahui

tanggalnya dengan akurat-ini pun tentu bukan selalu tugas yang

mudah-, bukti-bukti semacam ini tidak selalu seluruhnya bisa

diandalkan sebagai petunjuk tentang praktik militer yang sebenar-

nya. Sebuah kecenderungan dalam periode kesenian tertentu

ddaklah mesti sejalan dengan masa kronologis tertentu. Para

seniman berkreasi dengan imajinasi mereka secara lebih longgar

dan leluasa. Seperti apa pasukan muslim dan kaum Frank? Cara

paling sederhana untuk menggambarkan penampilan mereka pada

masa perang Salib-baju besi, kuda-kuda, senapan, formasi tempur-

yaitu  melihat dengan lebih dekat pada gambaran dalam lukisan

miniatur, gading, keramik, karya logam, patung, dan artefak-artefak

lain yang dibuat di kawasan Mediterania timur sepanjang abad

kedua belas dan ketiga belas. Sayangnya, di kawasan Palestina,

tidak terlihat adanya bukti-bukti dengan tanggal yang pasti dari

jenis ini, dan tidak banyak bukti yang tersedia di Suriah. sebab 

itu, menarik untuk memakai  karya-karya seni dari wilayah-

wilayah di sekitarny2-5sps11i Mesir, Anatolia, Irak, dan bahkan

hxn-x12u yang berasal tepat sebelum dan sesudah periode Perang

Salib. Dengan memakai  cara ini, informasi penting dalam

jumlah yang besar bisa disusun. Persisnya, ini merupakan tujuan

dari ilustrasi-ilustrasi (khususnya gambar-gambar) di dalam buku

ini, yang dimaksudkan untuk menjelaskan secara umum lingkung-

an kehidupan di Timur Gngah antara abad kesebelas dan keempat

belas. Pada saat yang sama, memasukkan bahan-bahan visual

semacam ini tidak dimaksudkan untuk mengisi temPat kosong

dalam karya ini. Ada batas yang jelas bagi keandalannya. Khusus

mengenai baju besi dan senjata, misalnya, yaitu  menarik untuk

memilih karya yang berasal dari periode sebelum dan sesudah 

Perang Salib dan dengan karya-karya itu menunjukkan bahwa,

dengan mengingat laju perubahan yang lambat dalam praktik

militer dan teknologi pada periode Abad Pertehgahan, pada abad

kedua belas dan ketiga belas, pasukan muslim memiliki ka-

rakteristik yang sama dengan karakteristik pasukan yang hidup

tak lama sebelum dan sesudah nya. Memang kita tidak boleh

langsung menerima informasi ini begitu saja. Bukti-bukti senjata

kaum muslim di Palestina dan Suriah sePanjang abad kedua belas

dan ketiga belas harus diambil, baik dari keterangan yang ter-

perinci dan khusi.rs di dalam sumber-sum[s1 sas112-sebagaimana

telah disebutkan di atas, dan sumber-sumber ini sangat iarang-

atau dari peninggalan karya seni yang tak banyak jumlahnya yang

dihasilkan di kawasan itu dalam periode ini . Karya'karya

seni ini  sering kali terbukti memberikan gambaran yang

terlalu umum mengenai keterangan-keterangan yang berkaitan

untuk digunakan secara luas. Namun karya-karya itu cukup untuk

memberikan karakter zaman dan kebudayaan saat  itu.

Juga ada beberapa masalah penting dalam mengaitkan bukti-

bukti karya seni pada informasi yang ditemukan di dalam sumber-

sumber tertulis. Para ilmuwan yang Punya minat khusus pada

adat-istiadat, seniata, baju besi, dan sejenisnya, akan sangat tertarik

untuk memakai  sumber-sumber ini  dalam membuat

kategori benda-benda ini dan untuk memberikan penjelasan ten-

tang detail perkembangan beberapa di antara benda-benda ini ,

atau untuk menguraikan pola-pola perubahan dalam tipologi atau

penggunaannya. Kesulitan yang ditemukan bila memakai  cara

semacam ini yaitu  bahwa cara-cara ini  memang akan sangat

mudah untuk menafsirkan sumber-sumber itu, namun  sebenarnya

akan cukup sulit untuk dapat mengungkapkan 

^payang 

sebenar-

nya terkandung di dalamnya. Demikian juga akan cukup sulit

untuk memberikan nama-nama yang

ini , yang dalam beberapa hal

padanannya dalam bahasa fuab.

tepat pada berbagai benda

memang tidak ditemukan

Maka-dengan mengambil satu contoh-prosa yang disusun

dengan hati-hati oleh 'Imiduddin al-Ishfahini dengan repetisi dan

antitesisnya yang seimbang, dan dengan klimaks yang disusun

hati-hati, tidak bisa digunakan sebagai sumber konkret bagi

teknologi militer. Dengan lebih ringkas bisa dikatakan, jika

'Imiduddin al-Isfahani memberikan kita beberapa  kata yang ber-

beda untuk "pedang", itu tidak harus berarti bahwa semua kata-

kata ini merujuk pada berbagai jenis pedang yang digunakan

dalam konflik Tentara Salib dengan kaum muslim. Memang,

cukup sering'Imiduddin menuturkan pada kita berbagai kosakata

bahasa Arab yang beragam. Tidak ada gunanya bagi ilmuwan

modern yang memakai  kutipan-kutipan semacam itu untuk

menyusun suatu teori konsepsi awal tentang bagaimana senjata-

senjata dari jenis khusus digunakan [atau dikembangkan] di tempat

atau periode rertentu.

Kesimpulan yang jelas yaitu  bahwa tulisan-tulisan sejarah

berbahasa Arab merupakan sumber yang tidak memuaskan bagi

informasi semacam itu. Sementarakarya-karya seni, bila ditafsirkan

dengan bijaksana, merupakan tambang informasi yang belum

tergali untuk memperluas pengetahuan kita mengenai aspek-aspek

militer dalam Perang Salib. Tentu saja sumber berupa karya-karya

seni ini akan bernilai bila ia digunakan dengan hati-hati sesuai

dengan bukti-bukti dari sumber-sumber tertulis. Artefak-artefak

yang dimaksud di dalamnya termasuk koin, karya logam dan

keramik, serta senjata dan baju besi.

Bukti-bukti arsitektur dan arkeologi, khususnya benteng-

benteng dan kubu-kubu pertahanan, yaitu  penting, namun sekali

lagi harus dinilai dengan menggabungkan penelitian yang men-

dalam tentang topografi wilayah dan memakai  teks-teks yang

berkaitan. Juga harus terus diwaspadai masalah-masalah yang

muncul dari pembangunan-pembangunan kembali dan restorasi

yang dilakukan, yang sulit terungkap, bahkan meskipun kita

membacanya dengan perangkat disiplin epigrafi.

MANUAL.MANUAL MILITER KAUM MUSLIM

Pendahuluan

Sejak awal, kaum muslim sudah menulis karya-karya mengenai

seni perang. Seperti halnya genre buku-buku tentang ;'ihad yang

telah disebutkan, yar,g memiliki judul seperti The Booh of

Horsemansltip in the Conduct of Jihad in the Path of God (Buku

tentang Keterampilan Berkuda dalam Pelaksanaan Jihad di Jalan

Tuhan), buku-buku lainnya membahas tentang kepandaian me-

nunggang kuda dengan cara yang lebih praktis, dengan panahan

atau dengan taktik militer. Dalam bukunya yang penti ng The

Catalogue (at-Fihris), Ibn al-Nadim (w. ,rrtr., tahun 380-388

H./990-988 M.), seorang penjual dan kolektor buku dari Baghdad

menyusun daftar semua buku berbahasa fuab yang di ketahuinya.

Ibn al-Nadim memasukkan semua yang termasuk ke dalam kategori

"buku-buku yang disusun tentang menunggang kuda, meng-

gunakan seniata, tentang berperang, tentang menata dan meng-

gunakan alat-alat ini, yang dipraktikkan oleh semua bangsa".ro

Menurutnya, gerfre ini berasal dari Persia Pra-Islam, dan banyak

karya semacam ini disusun unruk khalifah Abbasiyah, misalnya

al-Mansh0r dan al-Ma'm0n. Karya-karya sePerti itu bukan hanya

mencerminkan pengaruh Persia pra-Islam, namun  juga pengaruh

teori Bizantium (dan bahkan Yunani kuno), dan seluruh unsur-

unsur ini memperkaya tradisi militer Islam.rr

Manual-manual militer kaum muslim sangat banyak yang

berasal dari periode Aynrbiyah dan produksinya meningkat tajam

di bawah kekuasaan Mamluk.r2 Minat yang lebih besar untuk

menulis buku-buku jenis ini dan mempersembahkannya kepada

sultan-sultan dan para panglima menjadi karakter warga 

Suriah dan Mesir yang semakin siap berperang dan banyak

berkaitan dengan serangan bangsa Mongol dan kaum Frank ke

dunia Islam.

Sebuah catatan penting perlu diberikan di sini. Sekalipun

memiliki keterangan yang lengkap, bukti-bukti dari karya-karya

ini (bandingkan gambar 7.lO dan 8.8) harus diperlakukan dengan

hati-hati, sebab  tak dapat dipastikan apakah bukti-bukti itu

memang mencerminkan praktik militer yang sebenarnya atau

sekadar sebuah model saja. Sekalipun begitu, karya-karya itu akan

menjadi referensi pada beberapa bagian di dalam bab ini dan

bukti-bukti dari karya itu akan dievaluasi bersama dengan apa

yang disebutkan dalam tulisan-tulisan seiarah.

Tinjauan tentdng Manual-Manual Militer Muslirn

dari Periode Perang Salib

Al-Thars,fist

Ada sebuah manual militer yang bertahan dari zarnan Saladin'r3

Manual itu disusun oleh d-Thars0si sekitar tahun 570 F{-lll74

M. khususnya bagi Saladin, sebab  "keberhasilannya dalam jihad

melawan orang-orang kafir".ra K"ry, ini punya nilai khusus ter-

utama sebab  berasal dari zaman Saladin. Al-TharsCrsi, yang secara

secara kebetulan addah keturunan fumenia nalnun menulis dalam


bahasa Arab, dengan berhati-hati di dalam bukunya menegaskan

bahwa untuk sebagian besar informasinya dia mengandalkan pada

keahlian seorang pembuat senjata dari Aleksandria yang bernama

Ibn al-Abraqi. Manualnya secara khusus menekankan tenrang

panah namun  iuga memberikan pembahasan menyeluruh tentang

berbagai jenis senjata, cara pembuatannya, bentuk dan cara peng-

gunaannya. Al-Thars0si juga membahas mesin-mesin perang-

mangonel (pelempar batu), alat pendobrak, menara-menara-dan

penggunaan seniata Yunani (nof), penempatan pasukan di medan

tempur, dan cara membuat baju besi. Tentu saja, sangat sulit

untuk mengetahui seberapa tingkat akurasi senjata-seniata dan

taktik-taktik yang digambarkan al-Tharstsi dalam manualnya

dalam hubungannya dengan praktik militer yang sebenarnya di

masa Saladin. Namun yang pasti, ada nuansa praktis dalam

penjelasannya, juga beberapa  keterangan yang bersifat teknis,

sehingga membuat karya ini menjadi cukup berharga.

Sebuah karya yang ditulis oleh 'Ali ibn Abi Bakr al-IIarawi (w.

611 H.llzl4 M.) membahasa secara luas tentang taktik dan

organisasi militer dan membahas topik-topik seperti tata cara

pengepungan dan formasi tempur.r5 Scanlon menyebut karya itu

sebagai "penelitian yang sangat lengkap tentang pasukan muslim

di medan tempur dan dalam pengepungan".r6

Manual-Manual Militer pada Periode Mamluk

Lingkungan militer Mamluk menghasilkan banyak karya farisiyyah

("keahlian menunggang kuda"). Arti istilah furnsiyyah lebih dari

sekadar keahlian menunggang kuda. Istilah ini mencakup berbagai

macam keahlian, termasuk melatih kuda dan penunggangnya, cata

memakai  senjata, dan bagaimana pasukan kavaleri diatur.rT

Seorang ilmuwan terkemuka tentang Mamluk, David Ayalon,

bahkan memberikan definisi furtujyah lebih jauh, dengan me-

nyebutkan bahwa itu mencakup "semua yang harus dikuasai oleh

penunggang kuda melalui pelatihan sistematis untuk menjadi

seorang ksatria sempurnt'.18

Beberapa manual furrtsiyyah ini masih ada dalam bentuk

manuskrip, yang diilustrasikan secara berlebihan dengan sketsa

kehidupan kuda dan pengendaranya, bersama dengan seragam

militer dan senjata di masa itu.re Manual-manual praktik seperti

ini harus dinilai dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya

dalam konteks militer, yaitu pengembangan dari apa yang disebut

"keksatriaan Islam". Karya-karya, semacam ini banyak ditemukan

terutama dalam pemerintahan khalifah 'Abbasiyah yang hebat, al-

Nashir (1175-1225). Konsep futuwwah (secara kasar bisa di-

terjemahkan sebagai "sifat jantan dalam sosok pemuda") yang

didorong oleh d-Nashir tampaknya ada  dalam peray^an-

perayaan formal yang dipandang penting dilakukan untuk mem-

perkuat kesetiaan kepada khalifah, dan ritual penobatan seperti

mengenakan celana panjang. Ini sama dengan upacara-upacara

keksatriaan di Eropa. Dalam dunia Islam, ada dimensi yang lebih

jauh dalam bentuk jaringan dengan serikat dagang, persaudaraan

sufi, dan keempat mazhab hukum Sunni. Dengan demikian,

sebagaimana dalam keksatriaan Eropa, unsur agarna benar-benar

dikedepankan. Peran yang sebenarnya dari konsep dan upacara-

upacara menyangkut futuuttuah di antara kaum muslim Suriah

dan Palestina hingga 1291 harus digali dengan lebih mendalam.

AlAqsarh't

Contoh khusus manual furttsiyyah yaitu  karya al-Aqsari'i, (w.

749 H.ll348 M.) yang berjudul An End to Questioning and

Desiring fFurther l{nowbdge} Concerning the Science of Horsemanship.zo

Sekalipun karya dengan judul yang dibesar-besarkan ini berasal


dari periode tak lama sesudah  pengusiran kaum Frank dari Timur

Dekat, isi karya ini bisa dijadikan sebagai model dari manual-

manual lain sejenis yang berasal dari tahun yang lebih awal, baik

yang telah punah atau yang belum dipublikasikan.

Karya tersebirt mencakup topik-topik berikut: sebuah pen-

dahuluan yang memuji nilai-nilai jihad dan pengorbanan di jalan

Allah, yang dilanjutkan dengan bab tentang panahan, lembing,

perisai, tongkat kebesaran, "seni pasukan dan kavaleri", senjata,

wajib militer dan pengaturan pasukan, barisan tempur (lihat

gambar 8.8), peralatan asap dan pembakar, pembagian rampasan

perang, dan pembahasan akhir disertai petunjuk-petunjuk berguna

bagi para prajurit.

Al-Aqsari'i menyatakan bahwa ia memaparkan beberapa  pe-

ngetahuan menyangkut seni militer yang berasal dari zamannya

sendiri. Karya itu merupakan karya model furitslyah, yang meng-

gambarkan kualitas dan keahlian yang harus dimiliki oleh seorang

kavaleri ulung. Namun, seperti dikatakan oleh Thntum,2r me-

ngatakan bahwa manual ini menggambarkan metode pertempuran

yang sebenarnya di masa si penulis itu yaitu  membahayakan.

Al-Aqsari'i meminjam bahan-bahan dan mengutip secara harfiah

dari manual-manual militer yang lebih awal, termasuk karya al-

Kindi (w. sekitar tahun 235 H./850 M.) tentang perang dan

sebuah karya tentang tombak oleh Najmuddin al-Rammah (w.

694 H.ll294 M.), yang namanya sendiri memiliki arti "pembuat

tombak". Sebenarnya al-Aqsari'i memakai  bahan-bahan dari

sumber yang bahkan berasal dari periode yang lebih jauh ke

belakang. Dia memakai  sekitar sepertiga dari karya Thcticus

Aelian, sebuah karya yang ditulis di Yunani saat kaisar Romawi

Hadrian berkuasa, sekitar tahun 106 M.22

"LITEMIUR ISThNA'

Genre ini menyebar luas di dunia Islam Abad Pertengahan. Krry"-

karya semacam ini memberi nasihat kepada raja, pangeran dan

gubernu