gan kaum muslim dalam hal berpakai^n."2e3 Lebih
lanjut, al-Syirizi mengatakan bahwa kaum dzimmi pria harus
mengenakan cincin tembaga atau timah atau sebuah lonceng kecil
di leher saat mereka masuk ke pemandian.ze4 Sementara untuk
kaum dzimmt wanita "Dia harus mengenakan sebuah kalung di
lehernya saat datang ke tempat-tempat pemandian umum; sepatu-
nya satu berwarna hitam dan satunya lagi berwarna putih."zr:
Ketentuan serupa juga diberlakukan pada aktivitas-aktivitas
lainnya. Al-Syirizi mengatakan bahwa kaum dzimmi ddak boleh
mengendarai kuda. Mereka hanya boleh mengendarai keledai atau
bagal, dan mereka harus menahan diri dari setiap bentuk tampilan
di muka umum:
Mereka tidak boleh menduduki tempat pertama di suatu
majelis dan mereka tidak disalami lebih dahulu dan harus pindah
ke pinggir untuk memberi jalan [kepada kaum muslim]. Mereka
dilarang mendirikan bangunan yang lebih tinggi dari bangunan
milik kaum muslim, namun mereka tidak dilarang membangun
dengan tinggi yang sama... Mereka dilarang memakai benda-
benda yang dibenci Allah di muka umum, seperti anggur, daging
babi, lonceng seruan beribadah, dan membacakan Perjajian Lama
dan Baru,2e6
Demikianlah, kita telah melihat tidak ada kesempatan terjadi-
nya kontak sosial antara kaum muslim dan kaum dzimmi. Pemikir
besar Islam Abad Pertengahan, al-Ghazili, mengungkapkan nada
serupa, dan menasihati kaum muslim untuk tidak menjadikan
orang Fkisten sebagai teman. Kaum muslim tidak boleh memberi
jalan kepada kaum lGisten, menyapanya terlebih dahulu, meng-
ikuti budaya mereka atau terlibat usaha dengan mereka.2eT Satu
abad kemudian Nishiruddin Q0nawi, yar,g menulis tentang ajaran-
a,1arun dasar Islam, mendesak pencari kebenaran untuk mengingat
nabi-nabi dan orang-orang salih yang berjalan menuju Allah dan
mencari "tempat perlindungan agar terhindar dari pertemanan
dengan orang-orang luar yang telah dicabut keberkahannya...
seperti kaum Yahudi, umat Kristen, dan orang-orang yang me-
nutupi kebenaran lainnya".2e8
LaranganJarangan semacam itu merupakan hasil dari evolusi
Syariat, suatu hukum ideal yang bersumber pada teks-teks suci
Islam, Alquran dan Hadis, sebagaimana ditafsirkan oleh generasi-
generasi penerus ahli hukum Islam. Meskipun ahli-ahli hukum
Islam semacam itu mungkin mendesak kaum muslim untuk
menjauhi Ahlulkitab, namun penting untuk ditegaskan bahwa
tidak ada satu pun perintah agama yang mendorong atau bahkan
mengizinkan kaum muslim untuk mengganggu umat Kristen dan
kaum Yahudi. Sebaliknya, Alquran menetapkan bahwa saat
kelompok-kelompok semacam itu telah mengikatkan perjanjian
dengan kaum muslim, mereka harus diberikan status yang tegas
dan jelas di dalam komunitas Islam, yang disertai dengan keadilan
dan diberi perlindungan. Sementara ulama-ulama berikutnya mung-
kin punya keinginan untuk menempatkan kaum Yahudi dan
lftisten di posisi yang lebih lemah di dalam warga muslim,
sulit untuk menentukan sampai kapan dan di mana undang-
undang seperti itu diterapkan dalam kehidupan. Contoh per-
lakukan yang mengganggu agama lain, yang jarang terjadi, yang
dilakukan oleh para penguasa muslim, seperti khalifah Abbasiyah
al-Mutawakkil2ee di abad kesembilan, atau khalifah Fatimiyah al-
Hikim (yang berkuasa pada 996-1021), yang mengeluarkan
undang-undang yang sangat keras dan diskriminatif terhadap kaum
lkisten dan Yahudi, jelas-jelas melecehkan ajaran-qaran agama
Islam.3oo
Selanjutnya, secara umum, sumber-sumber muslim Abad
Pertengahan itu sendiri mengakui adanya kasus-kasus penindasan
keagamaan terhadap kaum dzimmi pada periode-periode tertentu
dalam sejarah Islam dan di berbagai wilayah dunia muslim-
namun itu jarang terjadi. Namun, secara keseluruhan bisa di-
tunjukkan bahwa kemungkinan besar telah ada sikap toleran yang
luas dipraktikkan dan undang-undang otonomi bagi komunitas
asli di Mesir, Suriah, dan Palestina. Memang, keberadaan ke-
lompok-kelompok semacam itu yang telah hidup sangat lama,
seperti kaum BGisten Koptik di Mesir, jelas menunjukkan bahwa
mereka dipastikan telah diberi kebebasan menjalankan ibadah di
bawah pemerintahan kaum muslim. Dengan kata lain, tidak salah
bila dikatakan bahwa sebelum kedatangan Tentara Salib, "'Wilayah
Islam" dalam batas-batas tertentu memperlakukan komunitas lkisten
dan Yahudi dengan baik.
Penulis modern yang memakai nama samaran berbahasa
Ibrani, "Putri Sungai Nil" (Bat Ye'or) lebih jauh menyatakan
bahwa warga Islam tidak bersikap toleran terhadap kaum
dzimmi-umat lGisten atau Yahudi-dalam setiap Periode sejarah-
nya.3ot Namun, ilmuwan Yahudi lainnya, Goitein, dengan ber-
sumber pada pengetahuannya yang luas mengenai dokumen Geniza
dan sejarah Islam, menyimpulkan bahwa di Timur Dekat pada
abad kesebelas dan pada sebagian besar abad kedua belas, "se-
mangat toleransi dan liberalisme tetap bertahan, terutama pada
kekaisaran Fatimiiah'.302
Apahah Kehadiran Tentara Salib Memicu Dishriminasi
Terhadap l{aum Kristen Timur?
Tidaklah mengejutkan bila pelajaran-pelajaran yang diambil dari
fanatisme Tentara Salib menimbulkan sikap yang lebih bersemangat
di kalangan kaum muslim yang mengalami kontak dan konflik
paling langsung dengan mereka, dan sehingga Perang Salib semakin
mempertajam perbedaan agama di antara Islam dan Kristen. Dari
pihak Kristen, Runciman, dengan retorikanya yang biasa, me-
nuturkan suatu laporan tentanB kejatuhan Yerusalem dan per-
tumpahan darah yang tiada henti antara penduduk muslim dan
Yahudi: "Ini yaitu bukti haus darah fanatisme Kristen yang
membangkitkan kembali fanatisme Islam.D303
Namun, seluruh masalah ini lebih kompleks dari kelihatannya
dan harus dibahas dengan sensitivitas sejarah dan tanpa tekanan
sejarah dari semua agenda agama atau politik modern.3M Secara
khusus, perlu dianalisis persoalan tentang bagaimana kaum Kristen
Timur di dalam \Tilayah Islam diperlakukan selama periode
pendudukan tntara Salib di wilayah-wilayah Timur Dekat dan
sesudah kepergian mereka.
Karya-karya modern telah menghasilkan spektrum pendapat
yang luas mengenai masalah ini. Claude Cahen, misalnya, me-
negaskan konsep jihad tak dipengaruhi oleh kontak dalam Perang
Salib dan dengan respons terhadapnya. Dia juga mengatakan
bahwa perlakuan terhadap kaum Kristen setempat yang hidup
dalam perlindungan kaum muslim tidak berubah.3o5 Edward Atiya,
sebaliknya, menyatakan bahwa nasib kebanyakan kaum IGisten
Timur semakin buruk sesudah kedatangan Tentara Salib: "Hasil
yang paling abadi dari Perang Salib yaitu reaksi yang sangat
bersemangat dari pemerintahan Islam terhadap agresi berkelanjutan
kaum IGisten Barat ke wilayah muslim selama tiga abad."36 Akan
sangat baik kiranya bila kita melihat masalah ini secara kronologis,
dan bukan memahaminya secara sama di seluruh periode.
Periode 492-583 H./1099-1187 M.
Sivan mengatakan bahwa kebangkitan gerakan jihad yang terjadi
sebagai reaksi atas kehadiran kaum Frank pada abad kedua belas
tidak berdampak terhadap Ahlulkitab (yaitu kaum Kristen dan
Yahudi setempat) yang berada di bawah pemerintahan kaum
muslim.3oT
Yang pasti, kaum muslim butuh cukup waktu untuk mem-
bedakan dan membandingkan kaum Frank dan kaum Kristen
Timur dan untuk mengetahui sikap yang lebih fanatik dan cara-
cara asing para pendatang baru yang berbeda dengan komunitas
lGisten lokal yang telah hidup berdampingan di sepanjang hidup
mereka. Betapapun, situasi itu benar-benar jelas. Ibn al-QalAnisi
menyebutkan sebuah contoh saat orang-orang fumenia yang
berada di Puri Artah pada 498 H./1104-1105 M. menyerah
kepada kaum muslim di bawah pimpinan fudhwin "sebab tirani
yang tidak adil dan kejam yang mereka terima dari kaum Frank".308
Terkadang pasukan Kristen setempat berperang bersama-sama
dengan kaum Frank, seperti pada 510 H./1116-1117 M.3oe
namun , bahkan di awal-awal pendudukan kaum Frank, ada
kecenderungan, menurut para penulis sejarah, untuk memakai
kaum lGisten Timur sebagai kambing hitam atas kekalahan kaum
muslim. Mustahil untuk dijelaskan, apakah ini sekadar alat yang
digunakan oleh para penulis muslim yang hidup belakangan untuk
motif mereka sendiri atau memang ada suatu kerja sama yang
benar-benar terjadi antara kaum Frank dan Kristen Timur. Pada
dasarnya, sesudah beberapa lama, kaum lfuisten Timur mungkin
telah melihat adanya keuntungan yang sangat baik bagi mereka
untuk berkolaborasi dengan kaum Frank, rekan Kristen mereka.
Kejatuhan Antiokhia pada 491 H./1098 M. dipersalahkan, misal-
nya, pada "persenjataan yang dibuat oleh seorang Armenia ber-
nama Firuz".3lo
Sebuah peristiwa pada 518 H.l1l24-1125 M. layak kiranya
diceritakan di dalam konteks ini. Pemimpin kaum Frank, Joscelin,
telah melancarkan serangan-serangan yang ganas di Suriah utara.
Ahli geografi Ibn SyaddXd menulis bahwa:
saat kaum Frank mengepung Aleppo i"O" ,r, dan mereka
mengganggu kuburan yang berada di luar Aleppo dan membakar
apa saja yang ada di dalamnya, mereka [ralcyat Aleppo] menuju ke
empat gereja yang ada di sana dan mengubahnya menjadi masjid.3"
Ibn al-Adim, sejarawan Aleppo, bahkan lebih eksplisit:
Dengan kesepakatan para pemimpin Aleppo, kadi Ibn al-
Khasysyib memerintahkan agar altar-altar (mahirib) yang ada di
gereja-gereja milik kaum Kristen di Aleppo dihancurkan dan mem-
buat mihrab-mihrab untuk mereka dengan menghadap arah kiblat,
dan pintu-pintu gereja ini harus diubah, dan gereja-gereja itu
harus dijadikan masjid. Tindakan itu dilakukan di gereja besar
mereka dan masjid itu kemudian disebut masjid pembuat pelana
(masjid al-sarrljin) dan perguruan para penjual permen (madrasat
al-fi.akutiyyin) saat ini. Gereja pandai besi (hantsat al-baddadtn)
kemudian menjadi perguruan pandai besi (madrasat al-h.addadin)...
Dia hanya menyisakan dua gereja, tidak lebih, bagi umat Kristen
di Aleppo, dan itulah faktanya.3t2
Peristiwa ini mengungkapkan banyak hal. Pertama, kadi lokal
melakukannya sendiri, sekalipun jabatannya sebagai hakim Syariat,
untuk melanggar ketentuan-ketentuannya dan menyita empat dari
gerEa Kristen yang ada, dengan hanya menyisakan dua. Rupanya
dia melakukan hal ini atas persetujuan para pemimpin muslim
setempat. Yang kedua, ada hubungan langsungyang dibuat antara
aktivitas kaum Frank yang agresif dan kehidupan kaum Kristen
Aleppo setempat. Kaum Frank mengganggu kuburan-kuburan
kaum muslim yang berada di luar kota ini dan Ibn al-
KhasysyAb melakukan pembalasan dengan menghancurkan kaum
Kristen setempat. Pada dekade-dekade awal abad kedua belas,
saat kekuasaan didesentralisasi, seorang muslim yang memiliki
semangat berapi-api-salah seorang dari sedikit yang disebutkan
secara jelas di dalam sumber-sumber ini telah mencoba untuk
membakar semangat jihad ke kalangan pasukan muslim sebelum
pertempuran melawan kaum Frank-bisa saja melakukan tindakan
dengan inisiatif sendiri untuk menyerang kaum dzimmi. Tindakan-
nya itu menjadi pukulan yang hebat bagi umat Kristen di Suriah,
dan kehilangan katedral di Aleppo pastilah sangat menyakitkan.
Cahen dengan meyakinkan mengatakan insiden ini jarang
terjadi. Insiden ini dipicu oleh kemarahan akibat pengrusakan
terhadap kuburan-kuburan kaum muslim oleh kaum Frank.3r3
Namun, bila sumber-sumber ini tidak memberikan contoh-
nya, tidak berarti tidak ada lagi contoh-contoh lain insiden seperti
ini. Yang mengejutkan, barangkali, yaitu bahwa Ibn al-Adim
juga menyebutkan peristiwa Aleppo ini, sekalipun jika peristiwa
ini dicermati kembali maka akan kelihatan titik kesalahannya
dan walaupun dapat muncul antagonisme anti-Kristen di masa
berikutnya (Ibn al-Adim hidup di abad ketiga belas). Sementara,
di sisi yang lain, Ibn al-Adim juga menjalin persahabatan yang
erat dengan anggota keluarga Khasysyab yang terkemuka,
Bahi'uddin.3ra namun mungkin dia beranggapan bahwa aksi keras
yang dilakukan oleh nenek moyang Bahi'uddin yang termasyhur
itu harus diterjemahkan sebagai kredit yang jelek terhadap keluarga
ini .
Kemarahan publik dan penghinaan bertahan lama dalam
memori bersama. Kaum muslim di Aleppo pasti masih mengingat
saat-saat mundurnya kekuasaan fudhwin, saat pada 496 H.l
1102-1103 M.'kaum Frank yang memenangkan pertempuran
berhasil memaksanya untuk menggantungkan lonceng di salah
satu menara benteng di sebelah barat dan memasang sebuah salib
di kubah masjid agung di benteng ini . Dengan didorong
oleh kemarahan, Ibn al-Khasysyib menekan Ridhwin agar me-
negosiasikan kembali kesepakatan ini tlan salib ini
dipindahkan ke Gereja St. Helen. Gereja ini yaitu salah satu
gereja yang telah diubah menjadi masjid pada 518 H.lllz4 M.
Akhirnya salib itu pun diturunkan. Sementara mengenai lonceng
ini , hingga 589 H.lllgl M., lonceng itu berbunyi tiga kali
dalam semalam untuk menandakan pengawasan-pengawasan
militer.I5
Pada 1180-an'Ibn Jubayr sangat yakin dengan kaum FGisten
Damaskus. Dia menceritakan ada sebuah gereja yang sangat
dihormati, yaitu Gereja Maria:
sesudah kuil di Yerusalem, mereka ddak lagi punya sesuatu
yang lebih dihormati selain yang ini. Bangunannya sangat bagus
dengan gambar-gambar yang sangat indah, menakjubkan, dan enak
dipandang, dan pemandangannya benar-benar luar biasa. Gereja
itu milik bangsa Rum (Kristen), yang tidak pernah mendapat
gangguan di dalamnya.sr6
Ibn Jubayr melihat monumen-monumen yang dibangun oleh
kaum lftisten Koptik di Mesir Atas di Ikhmim: "Di kota ini
ada monumen-monumen dan bangunan-bangunan yang di-
bangun oleh kaum lGisten Koptik dan gereja-gereja yang dihadiri
hingga kini oleh mereka."3r7
Periode Ayyubiyah
Titik balik yang penting kemungkinan yaitu periode Ayyubiyah.
Selama periode i1u-lelsnx hubungan antara kaum Frank dan
kaum Kristen lokal, baik yang sesungguhnya maupun pura-
pura3ls-kaum lftisten setempat harus menanggung serangan
pembalasan sebagai akibat dari perbuatan buruk kaum Frank.
Sivan menyebutkan tiga aksi pembalasan utama semacam ini.
Yang pertama pada 1219 di Mesir, saat berlangsung pengepungan
Damietta, yang kedua pada 1242, juga di Mesir, yaitu di Fustat,
dan yang ketiga pada 1250 di Damaskus.sre Kaum Kristen Koptik
di Mesir mendapat banyak keberuntungan pada masa kekuasaan
Saladin dan keluarganya. Memang, terkadang mereka dipecat dari
pekerjaan sebab dituduh bersekongkol dengan Tentara Salib, dan
gereja-gereja mereka dihancurkan. Namun anggota-anggota ko-
munitas mereka masih ditunjuk untuk menduduki jabatan-jabatan
tinggi-saladin punya sekretaris pribadi, Ibn Syarafi, yang yaitu
seorang Koptik, dan kakak lakilaki Saladin, al-'Adil, menunjuk
seorang Koptik bernama Ibn al-MiqAt untuk memimpin ke-
menterian angkatan bersenjata (diwin nl-jryty). Penunjukan seorang
lkisten untuk memegang jabatan yang berkuasa seperri itu pada
masa peperangan dan di bidang yang sangat sensitif secara militer
jelas bukan hal yang kebetulan. Memang loyalitas penganut Koptik
pada periode Aynrbiyah tampaknya lebih diberikan kepada kaum
muslim dan untuk kepentingan-kepentingan lokal mereka diban-
dingkan kepada Tentara Salib. Hal ini ditunjukkan dalam Perang
Salib Damietta pada 1218, kedka kaum Koptik membantu mem-
pertahankan kota ini . Sebagai akibatnya, mereka mengalami
penderitaan luar biasa di tangan para Tentara Salib.320
Bukti-bukti mengenai Ayyubiyah Suriah agak bermacam-
macam. Bias penulis sejarah Mamluk, al-Maqrizi, yang anti-
lGisten, harus selalu dipertimbangkan. Namun dia dengan jelas
menyebutkan tindakan-tindakan diskriminatif yang dilakukan ter-
hadap kaum Kristen oleh penguasa Aynrbiyah Damaskus, al-'Aziz,
pada 14 Syakban 592 H.l13 Juli 1196 M.: "Dia melarang orang-
orang yang disebutkan dalam perjanjian untuk bekerja pada Sultan,
dan mereka harus mengenakan pakaian yang menunjukkan bahwa
mereka itu nonmusll*.'rzt
Kelihatannya, kaum lGisten Timur telah diperlakukan dengan
baik pada masa Ayyubiyah di Suriah dengan cara yang sangat
mirip seperti yang selalu mereka alami. Bila dokter-dokter Kristen
(dan Yahudi) dijadikan sebagai contoh kelompok warga
terkemuka dalam warga muslim-dan terutama sekali bukti-
bukti yang ditunjukkan dalam kamus biografi dokter-dokter oleh
Ibn Abi Ushaybi'ah322-12ppx[ jelas bahwa mereka diperlakukan
dengan relatif toleran. Namun, dokter-dokter kemungkinan besar
termasuk kelompok yang dikecualikan.323
Barangkali memang harus dibedakan, antara Mesir dan
Suriah, sekalipun bukti-bukti yang ada terlalu sedikit untuk
membuat penilaian yang tegas.
Periode Mamluh
Kita telah melihat bahwa pada periode Mamluk dampak gabungan
intervensionisme dan fanatisme Tentara Salib, di satu pihak, dan
teror dan kebrutalan para penakluk Mongol yarlg kejam, di pihak
lain, membangkitkan keinginan yang kuat di pusat muslim Suriah,
Palestina, dan Mesir, untuk mempertahankan wilayah-wilayah
mereka, dan tekad yang keras untuk menerjemahkan konsep jihad
Islam agar sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka sendiri
yang sulit. Memang, sultan-sultan Mamluk di Mesir melaksanakan
jihad dengan keberhasilan dan kekuatan yang sangat besar'
Sejauh mana'bisa dinyatakan bahwa keadaan kaum Kristen
Timur memburuk selama dan sesudah periode Perang Salib?
Thmpaknya yang terjadi memang benar-benar memburuk, khusus-
nya sesudah 1291, dan dengan demikian, tidaklah salah bila
menganggap Perang Salib sebagai penyebab, baik secara langsung
maupun tidak, terjadinya penindasan terhadap kaum Kristen
Timur oleh para penguasa muslim.
Individu maupun kelompok mendapat tekanan berat untuk
pindah ag ma. Pemerintah Mamluk tidak memiliki kebijakan-
kebijakan yang konsisten terhadap pendudukny^ yang nonmuslim.
Kadang-kadang pemerintah Mamluk berusaha melindungi para
pejabatnya yang nonmuslim, yang sebab kekayaan dan pengaruh-
nya sering kali memancing kemarahan penduduk muslim. Namun,
pada kesempatan lain, pemerintah Mamluk terpaksa harus me-
nyerah kepada tekanan warga dan mengizinkan tindakan-
tindakan yang diskriminatif dan menindas, sebab warga
yaitu yang paling menakutkan bagi mereka. Desakan kuat berasal
dari kalangan ulama yang mendesak agar diberlakukan interpretasi
yang kaku mengenai posisi inferior kaum I(risten dan Yahudi di
dalam warga Islam.
Dalam soal ini, rujukan dilakukan pada Perjanjian 'Umar.
Dimunculkannya kembali referensi ini secara berulang-ulang
kelihatannya benar-benar menunjukkan bahwa poin-poin dalam
perjanjian itu sering kali direndahkan.32a beberapa bukti me-
nunjukkan bahwa kebijakan sultan-sultan Mamluk semakin keras.
Tindakan-tindakan diskriminatif diberlakukan terhadap kaum
Kristen Timur, begitu juga pada kaum Yahudi dan orang-orang
Samaria. Menurut al-Maqrizi, pada 1301 pemerintah Mamluk
memutuskan bahwa para Penganut agama minoritas harus me-
ngenakan turban dengan warna berlainan-umat Kristen harus
mengenakan warna biru, Yahudi kuning, dan orang Samaria
merah.32t Tindakan diskriminatif serupa kemudian diberlakukan
juga pada wanita-wanita Kristen dan Yahudi (pada 1354, l40l
dan 1491).326 Keputusan yang dikeluarkan pemerintah Mamluk
pada 1354 untuk kaum lGisten dan Yahudi sekali lagi menetapkan
bahwa mereka harus mengenakan sepatu, sebelah hitam dan
sebelah lagi putih.327
Menurut al-Nawawi (w. 1278),328 kaum muslim hanya boleh
berobat kepada dokter-dokter muslim. Pernyataan hukum ini
kemudian diberlakukan melalui keputusan pemerintah Mamluk
pada 1354, bahwa dokter-dokter Yahudi dan Kristen tidak boleh
lagi merawat kaum muslim.32e Menurut Atiya, yang telah meng-
analisis perlakuan terhadap kaum Koptik dengan sangat lengkap,
sekitar 44 gerqa Koptik dihancurkan antara tahun 1279 dan
1447.330
Syeikh Khadhir, rekan Baybars, yang kejam melakukan tindak-
an yang sangat keras terhadap kaum Yahudi dan Kristen di
wilayah-wilayah Mamluk. Bahkan kaum muslim pun sangat kha-
watir dengan tindakannya itu. Dia menghancurkan Gereja Makam
Suci di Yerusalem dan membunuh pendetanya dengan tangannya
sendiri. Dia menghancurkan gereja di Aleksandaria yang diduga
merupakan tempat kediaman Yohanes Pembaptis dan mengubah-
nya menjadi sekolah Alquran, dengan menamainya Perguruan
Hijau (al-madrasat al-hhadhrh'), yang sekaligus menyerupai nama-
nya sendiri. Pada 669 H.llz7l M., dia menghancurkan sinagog
besar di Damaskus.33r
Sentimen anti-Kristen pada periode Mamluk bisa menyulut
kerusuhan sipil besar, khususnya saat terjadi kemelut yang hebat.
Menurut sumber-sumber muslim, sesudah kedatangan bangsa Mongol
pada 658 H.ll260 M., umat Kristen di Damaskus menjadi
semakin sombong. Mereka secara terang-terangan melakukan pro-
sesi di jalan-jalan, sambil membawa Salib dan mengumandangkan
kemenangan agama mereka dan kekalahan agama Islam. Sebagai
tindakan balasan, kaum muslim menjarah rumah-rumah umat
Kristen dan menghancurkan Gereja Yakobit dan Gereja Maria.332
Menurut al-Maqrizi, aksi-aksi ini merupakan pembalasan atas
pemberontakrn k"rl* Kristen melawan kaum muslim: "lJmat
Kristen telah menghancurkan masjid-masjid dan menara-menaranya
yang berada di dekat gereje mereka. Mereka dengan terang-
terangan membunyikan lonceng-lonceng gerej^ mereka, membawa
salib dalam arak-arakan, minum anggur di jalanan, dan mem-
banjiri kaum muslim dengannya.",ll
Al-hyni menunjuk pada hubungan harmonis antara umat
lGisten dan bangsa Mongol, yang kemungkinan menjadi pemicu
bagi dndakan-tindakan permusuhan di kedua pihak.
Para penulis sejarah Mamluk sering kali mempertunjukkan
purbasangka anti-Iftisten yang kuat dan kemarahan mereka khusus-
nya diarahkan pada para administratur lkisten Koptik yang punya
peranan penting di dalam birokrasi Mamluk. AI-'Umari meng-
gambarkan birokrat-birokrat Koptik yang berada di eselon tinggi
dinasti Mamluk sebagai pemilik "sorban putih dan rahasia gelap"
dan "musuh cabul yang menelan bangkai meraH'.334 Kecemburuan
pada keahlian kaum Koptik menjalankan administrasi dan jabatan
mereka yang tinggi di pemerintahan yaitu hal biasa. Hal itu
diabadikan dalam wasiat sultan Aynrbiyah, Najmuddin Ayycrb
(w. 1249), yang jatuh sakit parah pada saat Louis IX menyerang
Mesir. Naskah ini kemungkinan menyuarakan sentimen anti-
Kristen generasi Mamluk berikutnya. Sambil memberi nasihat
tentang cara memerintah kepada TtrAnsyih, Putranya yang sukanya
bersenang-senang, sultan menyatakan:
Lihadah departemen angkatan bersenjata (diwin al'jays), pur-
raku! Orang-orang yang paling menjelekkan negara dan bahkan
menyebabkan kehancurannya yaitu umat Kristen yang telah mem-
perlemah pasukan, seakan-akan pasukan yaitu milik mereka dan
mereka bisa menjualnye.3'5
Kaum Koptik bukan saja dituding sebagai penyebab melemah-
nya pemerintahan Mesir, namun mereka juga dituduh telah
bersekongkol dengan orang-orang seagama mereka, yakni para
Tentara Salib:
Saya telah mendengar bahwa mereka [kaum Kristen Mesir]
menulis surat kepada ra1a-ra1a kaum Frank Snbil lpesisir kawasan
Mediterania timur] dan pulau-pulau ini , dengan mengatakan
kepada mereka: 'Jangan memerangi kaum muslim. Kami sendiri
sedang memerangi mereka siang dan malam, kami mengambil harta
benda mereka dan menyerang wanita-wanita mereka, kami sedang
menghancurkan negara mereka dan memperlemah pasukan mereka.
Datang dan rebutlah! Tidak ada halangan apa pun yang tersisa
bagi kalian!"
Musuh ada di dekatmu, di negaramu itu; mereka yaitu umat
Kristen. Jangan percayai orang-orang yang telah masuk Islam...
Bahkan sekalipun mereka melakukannya, itu sebab alasan lain.
Iman mereka tersembunyi di dalam hati mereka seperti api di
dalam debu.336
Permusuhan ini ditegaskan dengan tuduhan yang dilayangkan
oleh al-Maqrizi, yang menyerang kaum Koptik sebab telah
menyabotase sistem kepemilikan tanah Mesir (iqthA) yang menjadi
andalan militer:
Kaum Koptik melakukan semua bentuk penipuan dan mereka
mulai memperlemah pasukan Mesir. Mereka menyebarkan iqthl'
tunggal di berbagai tempat sehingga beberapa pengumpulan ini
terjadi di Mesir, beberapa di provinsi al-Syarqiyyah dan beberapa
di provinsi al-Gharbiyyah, dengan tujuan untuk memperlemah
pasukan dan membengkakkan pengeluaran.33T
Al-Maqrizi juga bermusuhan dengan pendeta Kristen. Dia
bercerita tentang seorang uskup Yakobit yang "sangat senang
dengan kekuasaan dan penimbun harta... yang kecanduan mem-
beli benda-benda keramat, dengan meminta biaya pentahbisan
kepada orang yang telah ditahbiskannya".rs Sentimen anti-Kristen
ini diperkuat dan ditingkatkan di lingkungan para ahli agama
dan terutama sekali, pada periode Mamluk, dalam tulisan-tulisan
polemis dan farwa-fatwa Ibn Taymiyyah, yang ddak menyisakan
kelembutan terhadap kaum Iftisten baik yang ada di luar maupun
di dalam "Vilayah Islam".
Interuensi Eropa
Dengan demikian kita telah melihat bahwa di berbagai sumber
karya kaum muslim ada bukti-bukti tentang adanya reaksi
merugikan yang kuat terhadap kaum Kristen Timur. Namun
dampaknya jelas bermacam-macrrn, sesuai dengan keadaan geografis
dan politik.33e Reaksi semacam itu diarahkan pada kaum Kristen
Timur baik yang berada di dalam maupun di luar kekaisaran
Mamluk, dan sdring kali dipicu oleh alai-aksi agresi eksternal
yang dilakukan pihak Eropa, baik dalam bentuk aksi pembajakan
sendiri-sendiri maupun atau serangan militer besar-besaran. Ter-
kadang juga terjadi pembalasan oleh kaum lGisten barat terhadap
tindakan-tindakan anti-IGisten yang dilakukan Mamluk. Perebutan
dan penghancuran Aleksandria oleh Pierre I of Lusignan, penguasa
Tentara Salib dari Siprus, pada 1365, yaitu contoh yang baik
mengenai proses ini. Penulis muslim, al-Nuwayri (Muhammad
al-Iskandarani), berada di Aleksandria saat itu dan memberikan
laporan yang jelas sekali tentang bencana di Muharam 765 H.l
Oktober 1365 M.,340 saat Pierre dan pasukannya menghancurkan
Aleksandria selama seminggu. Aksi ini yaitu "bencana terbesar
dalam sejarah Aleksandria," katanya. Al-Nuwayri sendiri menyebut-
kan serangan ini, di antara alasan lainnya, sebagai akibat siksaan
yang dialami oleh kaum I(risten Timur yang dipecat dari pekerjaan
mereka dan dipaksa mengenakan pakaian berbeda.3at Para penulis
sejarah lainnya mengungkapkan bahwa kaum Koptik terus meng-
alami penyiksaan setiap saat sepanjang abad keempat belas dan
sesudahnya.3a2
Reflehsi Umum
Namun, sampai sejauh mana semua sikap kaum muslim yang
mengeras ini bisa dipersalahkan sebagai efek Perang Salib? Yang
jelas, menyalahkan semuanya pada fanatisme Tentara Salib dari
Eropa terlalu sederhana, sekalipun kemungkinan telah ada beberapa
penyebab dan efeknya. Sebaliknya, harus ditegaskan bahwa masya-
rakat Islam selalu memiliki kemampuan untuk mereformasi dirinya
dari dalam, memperbaharui dan mengubah kembali dirinya, untuk
membersihkan dirinya dari perubahan-perubahan yang tak diingin-
kan dan pengaruh-pengaruh yang merusak. Orang hanya perlu
mengingat kembali kebangkitan dua dinasti Berber yang militan
di Maghrib abad kesebelas dan kedua belas, yaitu Murabitun dan
Muwahhidun, yang tidak membutuhkan serangan-serangan Tentara
Salib untuk merasakan dorongan yang sangat kuat untuk men-
jalankan reformasi Islam mereka yang meluapJuap di kota-kota
Afrika Utara dan Spanyol. Gerakan-gerakan reformasi semacam
ini (ishhb) telah banyak dijelaskan dalam sejarah Islam di berbagai
belahan dunia sampai akhir abad kedua puluh. Dengan demikian,
dapat ditegaskan bahwa pembaharuan semangat agama kaum
muslim Sunni di Suriah, Palestina, dan Mesir, dari abad kedua
belas dan selanjutnya, pada dasarnya tidak muncul sebagai akibat
dari kesengsaraan yang mereka alami di tangan para Tentara Salib.
Sebaliknya, pembaharuan semangat jihad ini dan pengerasan di
dalam bagaimanapun juga akan tetap terjadi, sebagai bagian yang
tidak terpisahkan dari sifat warga Islam.
Sultan-sultan Mesir Mamluk, yang kekuasaannya rerus ber-
lanjut hingga lama sesudah Tentara Salib meninggalkan kawasan
Mediterania timur, dan sungguh-sungguh berlangsung sampai awal
abad keenam belas, merupakan kasus khusus. Mereka merupakan
etnik luar, yang baru belakangan memeluk Islam Sunni, prajurit-
prajurit keras kepala dengan keyakinan sederhana yang ranpa
kompromi, yang memasukkan kehidupan baru ke dalam ko-
munitas kaum muslim. Dengan demikian, dapat dinyatakan-
secara teoretis-bahwa para penguasa Mamluk tidak memerlukan
contoh Tentara Salib untuk melanjutkan kebijakan fanatik terhadap
kelompok minoritas agama lain di dalam wilayah mereka. Mamluk,
sebagai pendatang baru di Timur Dekat, tidak memahami atau
melihat perlunya kesepakatan dengan kaum Kristen yang telah
Iama hadir di kawasan Mediterania timur dan tidak tertarik untuk
menarik perbedaan di antara kelompok-kelompok lGisten yang
berbeda. Atau untuk masalah itu, mereka juga tidak menoleransi
keberadaan kelompok-kelompok bidah kaum muslim, seperti
Ismailiyah, pengikut aliran keagamaan yan1 dipimpin oleh
Muhammad ibn Ismail al-Darazi (w. 1019) di pegunungan kbanon
dan Suriah, atau bentuk-bentuk kepercayaan Syiah lainnya di
Timur Dekat. Komunitas Islam harus membersihkan dirinya dari
dalam terhadap semua pencemaran, inovasi dan bidah, dan Mamluk
merupakan prajurit-prajurit ideal untuk membela Islam Sunni.
Mereka membentuk aliansi dengan para ulama yang hanya terlalu
bersemangat untuk memerintahkan dan memperkuat para penguasa
mereka dalam mengukuhkan Keimanan yang Benar.
Penjehsan (Jmum tentdng Hubungan Antara l{aum Muslim
dan Kristen Setehh 690 H./1291 M.
Pembahasan sebelumnya telah mencoba menyoroti masalah penting
yang belum terj4wab dari efek Perang Salib pada sikap kaum
muslim di masa Mamluk terhadap umat Kristen, dan khususnya
terhadap kaum IGisten Timur Dekat. Meski telah jelas bahwa
warga muslim selalu memiliki kemampuan dari dalam untuk
mengubah kembali dan memperbaharui agamanya, momentum
kebangkitan semangat agama kaum muslim pada periode Mamluk,
sesudah berabad-abad bersikap toleran terhadap "Ahlulkitab" di
dalam "'W'ilayah Islam", jika kita mencermati semua fakta yang
ada, tampak berhubungan dengan pengalaman kaum muslim dalam
Perang Salib. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kedatangan
para Tentara Salib dengan "cap baru" mereka sebagai kaum lftisten
fanatik berfungsi sebagai katalis, atau bahkan agen langsung, dalam
proses pengerasan sikap kaum muslim Sunni terhadap orang-orang
dari agama lain, dan bahkan terhadap semua bentuk penyimpangan
agama di dalam jalaran kaum muslim itu sendiri.
Fanatisme Tentara Salib yang tiba belakangan mengguncang
dunia muslim pada tahun 1099 dan berlanjut hingga seterusnya'
Reaksi atas Perang Salib itu tidak bermula pada abad ketiga belas
dengan keberhasilan Mamluk. Reaksi kaum muslim telah muncul
pada abad kedua belas bersama dengan Zengi atau bahkan se-
belumnya dan terus berkembang semakin mengeras pertama kali-
nya di bawah Nirruddin dan Saladin, dan selanjutnya di bawah
penguasa baru Mamluk. sesudah 1291, respons kaum muslim tidak
padam saat wilayah mereka dibersihkan dari kehadiran para
Tentara Salib. Di samping mempertahankan wilayah-wilayah mereka
sendiri, mereka kini bisa juga melancarkan serangan balik terhadap
negara-negara Kristen tetangga mereka di timur-orang-orang
Cilicia Armenia, yang ditaklukkan oleh sultan Mamluk, al-Asyraf
Sya'bin, pada 1375; Kerajaan Latin Siprus, yang dijadikan upeti
untuk Mesir Mamluk di bawah sultan Barsbay pada 1427;
Konstantinopel, yang jatuh ke tangan Dinasti 'tJtsmani pada 1453;
dan ksatria-ksatria ordo Hospitaler di Rhodes, yang terus bertahan
sampai Dinasti 'L]rsmani akhirnya merebut pulau itu pada 1522.
Peristiwa-peristiwa ini terjadi secara bersamaan.
524 \ _______________
Memang, Dinasti 'LJtsmani juga menyimpan niat untuk me-
merangi kaum Kristen Eropa, dan di awal abad keempat belas
Sultan Murid I (w. 1389) telah mengumumkan bahwa "dia akan
datang ke Prancis bila telah menaklukkan Austria".3a3 Reaksi yang
semakin meningkat terhadap Perang Salib di pihak Dinasti '(Jtsmani
mencapai klimaksnya pada abad keenam belas. Mereka menakluk-
kan Balkan, kemudian Hongaria, dan bergerak jauh lebih dalam
ke jantung Eropa hingga ke gerbang '!7ina. Memang, bayang-
bayang ancaman Tirrki menggantung bagaikan awan hitam di
atas sebagian besar benua Eropa di sepanjang abad keenam belas.
Demikianlah aksi pembalasan kaum muslim berlangsung dalam
kurun waktu yang sangat lama.
Tidaklah mengejutkan bila interaksi budaya antara kaum muslim
dan kaum Frank hampir seluruhnya terjadi satu arah. Banyak
faktor yang turut berperan. Seperti yang telah disebutkan, kaum
muslim merasa sedikit yang bisa dipelajari dari Eropa di bidang
agarna, sosial, dan budaya. Kaum Frank, sebaliknya, dapat belajar
banyak hal dari gaya hidup kaum muslim yang telah tinggal di
Timur Dekat selama berabad-abad dan benar-benar telah menye-
suaikan diri dengan iklim dan wilayah ini . Bisa diperkirakan
bila dalam kehidupan sehari-hari kaum Frank kemungkinan sangat
terpengaruh dengan adat-istiadat kaum muslim, seperti dalam hal
mandi dan makanan, dan mereka berusaha menunjukkan diri
mereka sendiri selama beberapa generasi sebagai orang yang
memang berasal dari kawasan Mediterania timur.
Namun, sekalipun ada bukti-bukti bahwa kedua pihak, Ten-
tara Salib dan kaum muslim, bisa dipersatukan bersama, proses
rekonsiliasi ini tidak boleh dibesar-besarkan. Sekalipun ada
aliansi-aliansi dagang dan politik antara Tentara Salib dan kaum
muslim, perpecahan ideologi tetap ada. Tentu saja sangat jauh
lebih mudah untuk memahami kerangka kronologis suatu periode
daripada semangat zamannya.. Bagaimana bisa kita mengetahui
apakah yang sesungguhnya dirasakan kaum muslim kebanyakan
berkenaan dengan Perang Salib:rll
Pembahasan sebelumnya telah menunjukkan bahwa ada sangat
banyak tidk kontak dan pengaruh antara kaum muslim dan kaum
Sisi-Sisi Kehidupan ... I 525
Frank di berbagai tingkatan selama lebih dari dua abad. Namun
tetap saja sulic untuk membuat generalisasi tentang perasaan kaum
muslim yang sesungguhnya terhadap kaum Frank. Adanya per-
janjian-perjanjian dan realitas kontak reguler bagaimanapun juga
tidak menunjukkan bahwa kaum muslim menghormati atau me-
nyukai mereka, baik secara individu maupun sebagai sebuah
kelompok.[]
Pasukan, Senjata, Baju Besi,
dan Benteng-Benteng
Dan siapkankh unruk menghadapi rnneha hekuatan apa nja yang hama
sangupi dan dai huda-huda yang ditambat untuh berperang (yang dzngan
persiapan in) hamu menggetarkan musuh Alkh, rnusuhmu dan orang-
orang sekin mereha hamu tidah mengetahuinya.' (Q.S. al-Anftl [8]: 60)
Pada zaman modern, orang-orang fuab mulai menyebut fenomena
Perang Salib sebagai "Perang Salili' (al- hurrtb al-s hali b iyya h). Istilah
ini mencerminkan kenyataan bahwa Perang Salib terutama dan
pada dasarnya yaitu berkaitan dengan perang. Sekalipun ada
gencatan senjata dalam waktu yang panjang dan hubungan damai
antara kaum muslim dan kaum Frank, yang selama periode itu
kedua pihak saling berdagang dan membentuk aliansi, kenyataan
bahwa kaum Frank menduduki wilayah-wilayah muslim sejak
1099 hingga l29l menuntut kedua pihak untuk selalu siap
berperang. Demikian pula, sering ada seruan untuk meng-
angkat senjata. Di masa-masa awal kehadiran kaum Frank, kaum
muslim harus mempertahankan diri mereka sendiri terhadap
serangan-serangan kaum Frank y*g sering terjadi ke benteng-
benteng dan kota mereka, dan juga untuk mencegah ekspansi
kaum Frank lebih jauh. Pada masa-masa berikritnya, saat per-
imbangan kekuatan telah berubah, sultan-sultan Mamluk selalu
dalam keadaan siap untuk berperang, siap untuk mengusir kaum
Frank dari 'Wilayah Islam. Juga penting untuk ditegaskan bahwa
sekalipun buku ini menekankan pada aspek-aspek ideologis dalam
konfrontasi kaum muslim dan kaum Frank, perang antara kedua-
nya juga merupakan masalah praktik yang Penting, menyangkut
pertempuran militer yang berlangsung tiada henti selama hampir
dua abad dan disertai dengan hilangnya nyawa, musnahnya harta
benda dan benteng-benteng, dan rusaknya daerah pertanian'
KETEMNGAN TERDAHULU TENTANG PERTEMPUMN
DALAM PEMNG SALIB
pertempuran dalam Perang Salib telah menjadi subjek kaiian dalam
banyak tradisi keilmuan Barat. Benteng-benteng kaum Frank
memperoleh perhacian mendalam dari sejarawan yang tertarik pada
sod arsitektur dan Tenrara Salib, dan aspek-aspek militer Perang
salib telah menjadi bagian dari sejarah umum tenrang perang di
sepanjang zaman. Dua karya yang secara khusus Penting dalam
konteks peperangan Tentara salib dengan kaum muslim yaitu
karya R.C. Smail, Crusader'Varfare 1097-1193'2 dan C' Marshall'
Warfare in the Latin East, 1192-1291.3 Dengan memakai
kekayaan material sumber Abad Pertengahan Barat dan sumber-
sumber Islam yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa
Eropa, kedua buku ini membahas berbagai aspek dalam masalah
ini dengan sangat jelas dan lengkap. Secara khusus, kedua buku
ini membahas peran Penting benteng-benteng dan tempat-temPat
berpengaruh dalam seiarah militer abad kedua belas dan ketiga
belas.a Penelitian arkeologi dan arsitektur yang dilakukan oleh D.
Pringle menyoroti masdah ini dengan sangat baik'5
Para ahli juga telah menyusun karya penting mengenai senjata
dan baju besi, yang dalam hal ini juga memakai sumber-
sumber Islam untuk menguraikan aspek-aspek tertentu dalam
peperangan Islam, dan hasilnya telah muncul dalam monografi
dan artikel-artikel ilmiah.6 Namun interpretasi yang lebih luas
tentang peperangan Islam dalam konteks Perang Salib tertentu
secara umum belum dilakukan oleh para ahli dalam sejarah Islam
baik di Timur Tengah atau di Barat.
Sesuai dengan fokus yang dinyatakan buku ini, bab ini hanya
akan menyoroti tema-tema militer ini yang muncul dari
sumber-sumber Islam, dan akan menunjukkan bagaimana para
penulis Abad Pertengahan itu sendiri memandang konflik Tentara
Salib dengan kaum muslim. Tirjuan yang kedua yaitu menguji
bukti-bukti yang disajikan ini dengan dihadapkan pada teori-
teori sejarawan militer modern.
PERSOAIAN DAIAM SUMBER-SUMBER ISTAM ABAD PERTENGAHAN
Informasi yang diberikan oleh sejarawan muslim Abad Pertengahan
tidak memuat gambaran yang jelas atau sistematis tentang taktik
militer kaum muslim atau kaum Frank dalam pertempuran, atau
bagian-bagian menyangkut pertempuran dan serangan yang di-
lakukan secara perorangan selama periode Perang Salib, atau senjata
yang digunakan saat itu. Kutipan-kutipan terpisah yang menarik
bagi para sejarawan perang tertentu dapat ditemukan di antara
beratus-ratus halaman tulisan sejarah Abad Pertengahan-itu pun
dengan upaya yang sulit. Namun demikian, bahkan meskipun
kutipan-kutipan itu disatukan, tetap saja itu tidak akan dapat
menjadi sumber yang cukup memuaskan.
Beberapa masalah ini ada pada bentuk tulisan sejarah
kaum muslim itu sendiri dan dalam lingkungan orang-orang yang
menyusun tulisan-tulisan sejarah Abad Pertengahan. Para penulis
sejarah muslim pada Abad Pertengahan sama sekali bukan sejara-
wan militer profesional. sebab itu, tidak layak kiranya berharap
mereka akan memberikan pandangan militer yang khusus dalam
karya mereka. Kadang-kadang dan khususnya pada periode Mamluk,
para penulis sejarah itu sebenarnya yaitu para administratur.
Sering sekali mereka itu sebagian besar yaitu para ahli agama
yang beralih menulis sejarah sesudah mempelajari Alquran, hadis,
dan syariat secara mendalam. Semacam inilah latar kehidupan
sejarawan muslim terbesar pada periode Perang Salib, Ibn al-
Atsir,8 dan banyak yang lainnya.
Ilmuwan seperti itu menyusun historiografi dengan sebuah
tujuan yang jelas: mencatat kemenangan kaum muslim sebagai
cerminan kehendak Allah bagi dunia, dan untuk menunjukkan
rencana Tirhan yang tak bisa diubah, bahwa Islam sebagai wahyu
Allah yang terakhir dan lengkap akan meraih kemenangan. UsAmah,
sekalipun dirinya seorang prajurit dan sangat luas pergaulannya,
juga memiliki pandangan seperti ini, dengan menyatakan: "Ke-
menangan dalarfr perang yaitu dari Allah dan bukan sebab
organisasi dan perencanaan, atau bukan juga sebab jumlah pa-
sukan dan pendukung."e Miripnya Pernyataan semaciun ini dengan
ungkapan "Deus vulC' (Tirhan menghendaki demikian) yang populer
pada Perang Salib Pertama membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Dengan seluruh tujuan agama yang sedemikian, yang tertanam
kuat di pikiran mereka, para penulis sejarah muslim cenderung
menekankan aspek-aspek propaganda dari berbagai peristiwa yang
mereka catat. Mereka melewatkan praktik-praktik perang-ke-
terangan-keterangan tentang rangkaian PertemPuran dan Penge-
pungan, karakter medan perang, dan senjata-senjata-dan sebalik-
nya, malah menekankan pada kemenangan (atau terkadang peng-
hinaan) yang terjadi sebagai akibat dari konflik militer dengan
kaum Frank. Jumlah pasukan yang terlibat pada pertempuran
tertentu kadang-kadang disebutkan di dalam tulisan sejarah muslim,
namun "fakta-fakta" ini samar-samar dan tidak bisa diandalkan.
Lebih jauh lagi, serangan-serangan yang berhasil terhadap kaum
Frank bisa diubah dengan dinyatakan sebagai kemenangan besar.
Caranya sederhana, yaitu dengan menggelembungkan .iumlah
pasukan musuh dan menekankan pada taktik Perang yang cerdik
di medan tempur oleh pasukan muslim yang sangat banyak
jumlahnya dan berani, dengan dibantu oleh Allah.
Masalah lain yang ditemui pada berbagai laporan Pertempuran
antara kaum muslim dan Kristen yaitu bahwa para penulis
sejarah ini tidak hadir pada kejadian ini dan sering
kali mencatatnya sesudah lewar saru generasi atau lebih. Mereka
tidak memahami praktik Perang dan lebih memilih menjelaskan
penumpukan kekuatan dan hasil konflik militer ini daripada
menggambarkan kejadian dalam PertemPuran. Mereka jarang
mengungkapkan detail peristiwa yang terjadi dan juga tentang
pengaruh medan PertemPuran temPat berlangsungnya PertemPuran'
BUKII.BUKTI KARYA SENI
Para sejarawan militer yang ingin memakai bukti-bukti dari
karya seni yang masih bertahan menghadapi kesulitan tertentu.
Sekalipun karya arsitektur, lukisan miniatur, karya seni logam
dan keramik yang berasal dari periode Perang Salib bisa diketahui
tanggalnya dengan akurat-ini pun tentu bukan selalu tugas yang
mudah-, bukti-bukti semacam ini tidak selalu seluruhnya bisa
diandalkan sebagai petunjuk tentang praktik militer yang sebenar-
nya. Sebuah kecenderungan dalam periode kesenian tertentu
ddaklah mesti sejalan dengan masa kronologis tertentu. Para
seniman berkreasi dengan imajinasi mereka secara lebih longgar
dan leluasa. Seperti apa pasukan muslim dan kaum Frank? Cara
paling sederhana untuk menggambarkan penampilan mereka pada
masa perang Salib-baju besi, kuda-kuda, senapan, formasi tempur-
yaitu melihat dengan lebih dekat pada gambaran dalam lukisan
miniatur, gading, keramik, karya logam, patung, dan artefak-artefak
lain yang dibuat di kawasan Mediterania timur sepanjang abad
kedua belas dan ketiga belas. Sayangnya, di kawasan Palestina,
tidak terlihat adanya bukti-bukti dengan tanggal yang pasti dari
jenis ini, dan tidak banyak bukti yang tersedia di Suriah. sebab
itu, menarik untuk memakai karya-karya seni dari wilayah-
wilayah di sekitarny2-5sps11i Mesir, Anatolia, Irak, dan bahkan
hxn-x12u yang berasal tepat sebelum dan sesudah periode Perang
Salib. Dengan memakai cara ini, informasi penting dalam
jumlah yang besar bisa disusun. Persisnya, ini merupakan tujuan
dari ilustrasi-ilustrasi (khususnya gambar-gambar) di dalam buku
ini, yang dimaksudkan untuk menjelaskan secara umum lingkung-
an kehidupan di Timur Gngah antara abad kesebelas dan keempat
belas. Pada saat yang sama, memasukkan bahan-bahan visual
semacam ini tidak dimaksudkan untuk mengisi temPat kosong
dalam karya ini. Ada batas yang jelas bagi keandalannya. Khusus
mengenai baju besi dan senjata, misalnya, yaitu menarik untuk
memilih karya yang berasal dari periode sebelum dan sesudah
Perang Salib dan dengan karya-karya itu menunjukkan bahwa,
dengan mengingat laju perubahan yang lambat dalam praktik
militer dan teknologi pada periode Abad Pertehgahan, pada abad
kedua belas dan ketiga belas, pasukan muslim memiliki ka-
rakteristik yang sama dengan karakteristik pasukan yang hidup
tak lama sebelum dan sesudah nya. Memang kita tidak boleh
langsung menerima informasi ini begitu saja. Bukti-bukti senjata
kaum muslim di Palestina dan Suriah sePanjang abad kedua belas
dan ketiga belas harus diambil, baik dari keterangan yang ter-
perinci dan khusi.rs di dalam sumber-sum[s1 sas112-sebagaimana
telah disebutkan di atas, dan sumber-sumber ini sangat iarang-
atau dari peninggalan karya seni yang tak banyak jumlahnya yang
dihasilkan di kawasan itu dalam periode ini . Karya'karya
seni ini sering kali terbukti memberikan gambaran yang
terlalu umum mengenai keterangan-keterangan yang berkaitan
untuk digunakan secara luas. Namun karya-karya itu cukup untuk
memberikan karakter zaman dan kebudayaan saat itu.
Juga ada beberapa masalah penting dalam mengaitkan bukti-
bukti karya seni pada informasi yang ditemukan di dalam sumber-
sumber tertulis. Para ilmuwan yang Punya minat khusus pada
adat-istiadat, seniata, baju besi, dan sejenisnya, akan sangat tertarik
untuk memakai sumber-sumber ini dalam membuat
kategori benda-benda ini dan untuk memberikan penjelasan ten-
tang detail perkembangan beberapa di antara benda-benda ini ,
atau untuk menguraikan pola-pola perubahan dalam tipologi atau
penggunaannya. Kesulitan yang ditemukan bila memakai cara
semacam ini yaitu bahwa cara-cara ini memang akan sangat
mudah untuk menafsirkan sumber-sumber itu, namun sebenarnya
akan cukup sulit untuk dapat mengungkapkan
^payang
sebenar-
nya terkandung di dalamnya. Demikian juga akan cukup sulit
untuk memberikan nama-nama yang
ini , yang dalam beberapa hal
padanannya dalam bahasa fuab.
tepat pada berbagai benda
memang tidak ditemukan
Maka-dengan mengambil satu contoh-prosa yang disusun
dengan hati-hati oleh 'Imiduddin al-Ishfahini dengan repetisi dan
antitesisnya yang seimbang, dan dengan klimaks yang disusun
hati-hati, tidak bisa digunakan sebagai sumber konkret bagi
teknologi militer. Dengan lebih ringkas bisa dikatakan, jika
'Imiduddin al-Isfahani memberikan kita beberapa kata yang ber-
beda untuk "pedang", itu tidak harus berarti bahwa semua kata-
kata ini merujuk pada berbagai jenis pedang yang digunakan
dalam konflik Tentara Salib dengan kaum muslim. Memang,
cukup sering'Imiduddin menuturkan pada kita berbagai kosakata
bahasa Arab yang beragam. Tidak ada gunanya bagi ilmuwan
modern yang memakai kutipan-kutipan semacam itu untuk
menyusun suatu teori konsepsi awal tentang bagaimana senjata-
senjata dari jenis khusus digunakan [atau dikembangkan] di tempat
atau periode rertentu.
Kesimpulan yang jelas yaitu bahwa tulisan-tulisan sejarah
berbahasa Arab merupakan sumber yang tidak memuaskan bagi
informasi semacam itu. Sementarakarya-karya seni, bila ditafsirkan
dengan bijaksana, merupakan tambang informasi yang belum
tergali untuk memperluas pengetahuan kita mengenai aspek-aspek
militer dalam Perang Salib. Tentu saja sumber berupa karya-karya
seni ini akan bernilai bila ia digunakan dengan hati-hati sesuai
dengan bukti-bukti dari sumber-sumber tertulis. Artefak-artefak
yang dimaksud di dalamnya termasuk koin, karya logam dan
keramik, serta senjata dan baju besi.
Bukti-bukti arsitektur dan arkeologi, khususnya benteng-
benteng dan kubu-kubu pertahanan, yaitu penting, namun sekali
lagi harus dinilai dengan menggabungkan penelitian yang men-
dalam tentang topografi wilayah dan memakai teks-teks yang
berkaitan. Juga harus terus diwaspadai masalah-masalah yang
muncul dari pembangunan-pembangunan kembali dan restorasi
yang dilakukan, yang sulit terungkap, bahkan meskipun kita
membacanya dengan perangkat disiplin epigrafi.
MANUAL.MANUAL MILITER KAUM MUSLIM
Pendahuluan
Sejak awal, kaum muslim sudah menulis karya-karya mengenai
seni perang. Seperti halnya genre buku-buku tentang ;'ihad yang
telah disebutkan, yar,g memiliki judul seperti The Booh of
Horsemansltip in the Conduct of Jihad in the Path of God (Buku
tentang Keterampilan Berkuda dalam Pelaksanaan Jihad di Jalan
Tuhan), buku-buku lainnya membahas tentang kepandaian me-
nunggang kuda dengan cara yang lebih praktis, dengan panahan
atau dengan taktik militer. Dalam bukunya yang penti ng The
Catalogue (at-Fihris), Ibn al-Nadim (w. ,rrtr., tahun 380-388
H./990-988 M.), seorang penjual dan kolektor buku dari Baghdad
menyusun daftar semua buku berbahasa fuab yang di ketahuinya.
Ibn al-Nadim memasukkan semua yang termasuk ke dalam kategori
"buku-buku yang disusun tentang menunggang kuda, meng-
gunakan seniata, tentang berperang, tentang menata dan meng-
gunakan alat-alat ini, yang dipraktikkan oleh semua bangsa".ro
Menurutnya, gerfre ini berasal dari Persia Pra-Islam, dan banyak
karya semacam ini disusun unruk khalifah Abbasiyah, misalnya
al-Mansh0r dan al-Ma'm0n. Karya-karya sePerti itu bukan hanya
mencerminkan pengaruh Persia pra-Islam, namun juga pengaruh
teori Bizantium (dan bahkan Yunani kuno), dan seluruh unsur-
unsur ini memperkaya tradisi militer Islam.rr
Manual-manual militer kaum muslim sangat banyak yang
berasal dari periode Aynrbiyah dan produksinya meningkat tajam
di bawah kekuasaan Mamluk.r2 Minat yang lebih besar untuk
menulis buku-buku jenis ini dan mempersembahkannya kepada
sultan-sultan dan para panglima menjadi karakter warga
Suriah dan Mesir yang semakin siap berperang dan banyak
berkaitan dengan serangan bangsa Mongol dan kaum Frank ke
dunia Islam.
Sebuah catatan penting perlu diberikan di sini. Sekalipun
memiliki keterangan yang lengkap, bukti-bukti dari karya-karya
ini (bandingkan gambar 7.lO dan 8.8) harus diperlakukan dengan
hati-hati, sebab tak dapat dipastikan apakah bukti-bukti itu
memang mencerminkan praktik militer yang sebenarnya atau
sekadar sebuah model saja. Sekalipun begitu, karya-karya itu akan
menjadi referensi pada beberapa bagian di dalam bab ini dan
bukti-bukti dari karya itu akan dievaluasi bersama dengan apa
yang disebutkan dalam tulisan-tulisan seiarah.
Tinjauan tentdng Manual-Manual Militer Muslirn
dari Periode Perang Salib
Al-Thars,fist
Ada sebuah manual militer yang bertahan dari zarnan Saladin'r3
Manual itu disusun oleh d-Thars0si sekitar tahun 570 F{-lll74
M. khususnya bagi Saladin, sebab "keberhasilannya dalam jihad
melawan orang-orang kafir".ra K"ry, ini punya nilai khusus ter-
utama sebab berasal dari zaman Saladin. Al-TharsCrsi, yang secara
secara kebetulan addah keturunan fumenia nalnun menulis dalam
bahasa Arab, dengan berhati-hati di dalam bukunya menegaskan
bahwa untuk sebagian besar informasinya dia mengandalkan pada
keahlian seorang pembuat senjata dari Aleksandria yang bernama
Ibn al-Abraqi. Manualnya secara khusus menekankan tenrang
panah namun iuga memberikan pembahasan menyeluruh tentang
berbagai jenis senjata, cara pembuatannya, bentuk dan cara peng-
gunaannya. Al-Thars0si juga membahas mesin-mesin perang-
mangonel (pelempar batu), alat pendobrak, menara-menara-dan
penggunaan seniata Yunani (nof), penempatan pasukan di medan
tempur, dan cara membuat baju besi. Tentu saja, sangat sulit
untuk mengetahui seberapa tingkat akurasi senjata-seniata dan
taktik-taktik yang digambarkan al-Tharstsi dalam manualnya
dalam hubungannya dengan praktik militer yang sebenarnya di
masa Saladin. Namun yang pasti, ada nuansa praktis dalam
penjelasannya, juga beberapa keterangan yang bersifat teknis,
sehingga membuat karya ini menjadi cukup berharga.
Sebuah karya yang ditulis oleh 'Ali ibn Abi Bakr al-IIarawi (w.
611 H.llzl4 M.) membahasa secara luas tentang taktik dan
organisasi militer dan membahas topik-topik seperti tata cara
pengepungan dan formasi tempur.r5 Scanlon menyebut karya itu
sebagai "penelitian yang sangat lengkap tentang pasukan muslim
di medan tempur dan dalam pengepungan".r6
Manual-Manual Militer pada Periode Mamluk
Lingkungan militer Mamluk menghasilkan banyak karya farisiyyah
("keahlian menunggang kuda"). Arti istilah furnsiyyah lebih dari
sekadar keahlian menunggang kuda. Istilah ini mencakup berbagai
macam keahlian, termasuk melatih kuda dan penunggangnya, cata
memakai senjata, dan bagaimana pasukan kavaleri diatur.rT
Seorang ilmuwan terkemuka tentang Mamluk, David Ayalon,
bahkan memberikan definisi furtujyah lebih jauh, dengan me-
nyebutkan bahwa itu mencakup "semua yang harus dikuasai oleh
penunggang kuda melalui pelatihan sistematis untuk menjadi
seorang ksatria sempurnt'.18
Beberapa manual furrtsiyyah ini masih ada dalam bentuk
manuskrip, yang diilustrasikan secara berlebihan dengan sketsa
kehidupan kuda dan pengendaranya, bersama dengan seragam
militer dan senjata di masa itu.re Manual-manual praktik seperti
ini harus dinilai dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya
dalam konteks militer, yaitu pengembangan dari apa yang disebut
"keksatriaan Islam". Karya-karya, semacam ini banyak ditemukan
terutama dalam pemerintahan khalifah 'Abbasiyah yang hebat, al-
Nashir (1175-1225). Konsep futuwwah (secara kasar bisa di-
terjemahkan sebagai "sifat jantan dalam sosok pemuda") yang
didorong oleh d-Nashir tampaknya ada dalam peray^an-
perayaan formal yang dipandang penting dilakukan untuk mem-
perkuat kesetiaan kepada khalifah, dan ritual penobatan seperti
mengenakan celana panjang. Ini sama dengan upacara-upacara
keksatriaan di Eropa. Dalam dunia Islam, ada dimensi yang lebih
jauh dalam bentuk jaringan dengan serikat dagang, persaudaraan
sufi, dan keempat mazhab hukum Sunni. Dengan demikian,
sebagaimana dalam keksatriaan Eropa, unsur agarna benar-benar
dikedepankan. Peran yang sebenarnya dari konsep dan upacara-
upacara menyangkut futuuttuah di antara kaum muslim Suriah
dan Palestina hingga 1291 harus digali dengan lebih mendalam.
AlAqsarh't
Contoh khusus manual furttsiyyah yaitu karya al-Aqsari'i, (w.
749 H.ll348 M.) yang berjudul An End to Questioning and
Desiring fFurther l{nowbdge} Concerning the Science of Horsemanship.zo
Sekalipun karya dengan judul yang dibesar-besarkan ini berasal
dari periode tak lama sesudah pengusiran kaum Frank dari Timur
Dekat, isi karya ini bisa dijadikan sebagai model dari manual-
manual lain sejenis yang berasal dari tahun yang lebih awal, baik
yang telah punah atau yang belum dipublikasikan.
Karya tersebirt mencakup topik-topik berikut: sebuah pen-
dahuluan yang memuji nilai-nilai jihad dan pengorbanan di jalan
Allah, yang dilanjutkan dengan bab tentang panahan, lembing,
perisai, tongkat kebesaran, "seni pasukan dan kavaleri", senjata,
wajib militer dan pengaturan pasukan, barisan tempur (lihat
gambar 8.8), peralatan asap dan pembakar, pembagian rampasan
perang, dan pembahasan akhir disertai petunjuk-petunjuk berguna
bagi para prajurit.
Al-Aqsari'i menyatakan bahwa ia memaparkan beberapa pe-
ngetahuan menyangkut seni militer yang berasal dari zamannya
sendiri. Karya itu merupakan karya model furitslyah, yang meng-
gambarkan kualitas dan keahlian yang harus dimiliki oleh seorang
kavaleri ulung. Namun, seperti dikatakan oleh Thntum,2r me-
ngatakan bahwa manual ini menggambarkan metode pertempuran
yang sebenarnya di masa si penulis itu yaitu membahayakan.
Al-Aqsari'i meminjam bahan-bahan dan mengutip secara harfiah
dari manual-manual militer yang lebih awal, termasuk karya al-
Kindi (w. sekitar tahun 235 H./850 M.) tentang perang dan
sebuah karya tentang tombak oleh Najmuddin al-Rammah (w.
694 H.ll294 M.), yang namanya sendiri memiliki arti "pembuat
tombak". Sebenarnya al-Aqsari'i memakai bahan-bahan dari
sumber yang bahkan berasal dari periode yang lebih jauh ke
belakang. Dia memakai sekitar sepertiga dari karya Thcticus
Aelian, sebuah karya yang ditulis di Yunani saat kaisar Romawi
Hadrian berkuasa, sekitar tahun 106 M.22
"LITEMIUR ISThNA'
Genre ini menyebar luas di dunia Islam Abad Pertengahan. Krry"-
karya semacam ini memberi nasihat kepada raja, pangeran dan
gubernu







