Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 13

 


Termasuk seruan salat dan salat itu sendiri,

harus terus dilaksanakan di dalam wilayah suci ini .2ro

Penghancuran Monumen'Monumen Agama

Tentu saja bisa dimengerti bila kemudian kadang-kadang muncul

rasa marah dan dendam. Yang mungkin mengejutkan ternyata

banyak bangunan keagamaan yang tidak dihancurkan selama

berlangsung konflik antara kaum Frank dan kaum muslim yang

berkepanjangan itu. Namun, terkadang kedua pihak bersalah dalam

konflik ini .

Peristiwa pendorongnya yaitu  penghancuran Gereja Makam

Suci oleh al-HAkim. Ini merupakan suatu tindakan menyimpang

dan memalukan. Sementara penerus al-Hikim, yaitu al-Zhihil

setuju untuk memperbaikinya dengan membangun kembali gereja

itu. Meskipun kaum Frank membantai penduduk muslim dan

Yahudi di Yerusalem pada 492 H.11099 M., dan mereka juga

menghancurkan isi Kubah Batu dan Masjid AqshA yang bisa

diangkut, mereka tidak menghancurkan monumen-monumen ter-

sebut. Hal ini barangkali sebab  penghormatan mereka terhadap

Kota Suci itu dan tanah haram-nya dan sebab  mereka bisa

melihat nilai propaganda dengan mengambil monumen-monumen

ini untuk digunakan umat Kristen. Sekalipun begitu, beberapa

sumber Islam melaporkan tanpa memberikan penjelasan bahwa

kaum Frank membakar habis sinagog Yerusalem serta orang-orang

Yahudi di dalamnya, dan mereka juga membakar tempat-tempat

suci lainnya.2ll

Tindakan-tindakan penghancuran seperti itu dilaporkan juga

dilakukan oleh pihak Islam. Pada 517 H.l1l23-1124 M. panglima

futuqid yang berapi-api, Balak, menghancurkan gereja-gereja IGisten

di Khartpert sebagai pembalasan atas pemberontakan tahanan-

tahanan kaum Frank.2t2 Pada Jumadilawal 584 H.luli 1188 M.

Saladin menghancurkan gereja di Antarsus (Tortosa) yang me-

rupakan "salah satu gereja yang terbesar". Pada 587 H.11191 M.

Saladin menghancurkan gereja di Lydda.2t3 Para penulis biografi

Saladin memberikan keterangan yang hati-hati mengenai informasi

ini. Namun, al-Maqrizi, yang jelas hidup di masa yang lebih

"fanatili', tidak ragu-ragu untuk menceritakan dengan cara yang

sama seperti cara dia melaporkan aktivitas Baybars yang serupa.

Pada periode Ayyubiyah terjadi peristiwa penghancuran yang

menakutkan di Yerusalem. Kaum Khawirazmi--paling tidak identitas

mereka itu muslim-menyerang Yerusalem pada 642 H.11244-

1245 M., dengan menghancurkan bangunan Gereja Makam Suci

dan merusak makam-makam lkisten.zta Pada 661 H.11263 M.

Baybars memimpin langsung perintah penghancuran Gereja Pem-

beritaan di Nazareth.2rs Gereja ini  dihancurkan hingga rata

sehingga bangunan dasar aslinya hanya bisa dilihat melalui hasil-

hasil penggalian arkeologi. Lima tiang bergaya Eropa, kemung-

kinan patung-patung terbaik yang berasal dari Palestina di bawah


pendudukan kaum Frank, masih ada. Pahatan-pahatan berbentuk

manusia menggambarkan kejadian-kejadian dari kehiduPan Para

rasul.2r6 Mungkin sebab  gambar-gambar manusia itu, dalam konteks

agama, yang kemudian mendorong Baybars untuk menghancurkan

getEa ini . Baybars dilaporkan telah mengetahui peran Penting

gereja ini  bagi umat lGisten: "tempat-tempat suci mereka

yang paling terkenal, yang menurut pandangan mereka menjadi

tempat asal agama lGisten."2r7 Pada 566 H.ll267-1268 M. Baybars

juga menghancurkan gereja-gereja di al-Hadats.2t8

PERTUKAMN BUDAYA ANTAM KAUM MUSLIM DAN KAUM

FMNK_BUKTI-BUKII SENI DAN ARSITEKTUR ISIAM

Sangat sulit untuk menunjukkan pengaruh timbal balik antara

kaum muslim dan Tentara Salib dalam bidang seni. Begitu juga

untuk menetapkan apakah suatu motif atau gaya tertentu Pada

saat itu dipinjam atau kemudian digunakan kembali. Dengan

demikian, penting untuk ditegaskan sejak awal bahwa meskipun

buku ini berusaha mengambil fokus dengan menyajikan sumber-

sumber dari sejarawan muslim, tapi dalam bidang sejarah seni

yang dikupas dalam bagian ini tidak dapat sepenuhnya dilakukan'

Kenyataannya, tidak selalu mungkin untuk mengatakan dengan

tegas bahwa kaum muslim meminjam segi seni tertenru dari

Tentara Salib, atau juga sebaliknya. Sekalipun begitu, hal-hal

menarik tentang peminjaman budaya dan bagimana serta mengapa

hal-hal ini  terjadi dapat dilakukan dengan menganalisis

material arsitektur dan artistik yang masih tersisa dari periode

Perang Salib.

Seperti sudah disebutkan, puncak prestasi arsitektur Tentara

Salib ada  pada benteng-benteng dan gerqa-gereja, dan bukti-

bukti fisik kehadiran Tentara Salib di kawasan Mediterania timur

ini  tentulah sangat mengejutkan. Mereka membangun ben-

teng-benteng besar dan membentengi kota-kota yang ada. Mereka

membawa serta pengetahuan teknologi militer dan pengetahuan

bangunan yang mendalam. Mereka juga membangun banyak gereja

baik dari di dalam maupun di luar Yerusalem.

Arsitektur

Dampak kehadiran Tentara Salib terhadap aktivitas-aktivitas pem-

bangunan kaum muslim sulit untuk dinilai. Orang mungkin

beranggapan bahwa untuk menghadapi serangan Tentara Salib

yeng juga membangun gereja-gereja dan benteng-bentang per-

tahanan, kaum muslim membangun bangunan-bangunan serupa

untuk mempertahankan diri mereka sendiri. Masalah ini akan

dibahas dalam bab tujuh.

Namun, di sini, kita akan mencermati persoalan apakah

Tentara Salib dan kaum muslim "saling meminjam" seluruh

arsitektur bangunan-bangunan keagamaan (misalnya gambar 6.46).

Beberapa catatan peringatan juga harus dikemukakan lebih dahulu.

Barangkali akan menyesatkan bila kita mencoba melakukan penilaian

berkaitan dengan pengaruh lintas budaya dalam segi arsitektur

ini dengan mendasarkan pada bangunan-bangunan yang masih

bertahan hingga saat ini. Apalagi, pada abad kedua belas dan

ketiga belas terjadi perang berkepanjangan dan beberapa kali

gempa bumi yang dahsyat, terutama pada 1 157 dan 1170, dan

kota paling pentin& Yerusalem, dihancurkan oleh kaum Khawirazmi

pada 7244 dan banyak bukti-bukti penting ikut dihancurkan.

Juga penting untuk ditegaskan bahwa sering kali sulit menilai

arah dan kronologi peminjaman arsitektur di antara kedua tradisi

ini . Titik pertemuan yang jelas bagi pertemuan budaya dalam


bidang seni pada periode Perang Salib yaitu  kota Yerusalem itu

sendiri, yang dikuasai secara bergantian oleh kaum Frank dan

kaum muslim antara 1099 dan 1291. Bukti-bukti pengaruh artistik

dari kedua pihak jarang ditemukan sebab  pada sebagian besar

masa Ayyubiyah Yerusalem tidak terpelihara.

Pemakaian Kembali Bahan Bangunan Tentara Salib

pada Monumen-Monumen Iskm

Penggunaan kembali bagian-bagian bangunan Tentara Salib dalam

bangunan Islam merupakan hal yang biasa. Sering kali sulit untuk

membagi yang mana peninggalan Tentara Salib dan dan yang

mana peninggalan Islam, mana hasil kerajinan Tentara Salib di

tempat aslinya dan mana yang merupakan karya ulang. Namun,

yang jelas yaitu  tukang-tukang batu muslim tidak menolak untuk

memakai  kembali bagian-bagian bangunan Tentara Salib di

dalam monumen-monumen agama Islam. Dan mereka mungkin

punya banyak motif untuk melakukannya.

Di dalam Masjid Aqshi, misalnya, beberapa material bekas

yang digunakan pada lengkunganJengkungan depan bangunan

merupakan ornamen pahatan yang berasal dari bangunan-ba-

ngunan Tentara Salib abad kedua belas (foto 6.41.2rt Salah satu

inskripsi di bagian beranda mencatat bahwa bagian depan serambi

ini  dibangun oleh Pangeran Ayyubiyah, al-Mu'azhzham 'isi,

pada sekitar 609 H.l12l7-1218 M.220

Pintu masuk monumen itu, yang dikenal sebagai Qubbat al-

Mi'rdj di tingkat atas yang disebut Bukit Kuil, bertanggal 592

H.l120O-1201 M., sangat mirip dengan Kapel Kenaikan di Bukit

Zaiutn dan monumen muslim ini  memiliki beberapa spolia

Tentara Salib.22t Contoh-contoh lain dari pemakaian kembali

pahatan-pahatan Tentara Salib pada monumen-monumen Islam

yaitu  bagian atas Blb al-Silsilah: salah satu lengkungan persegi

tiga yang menopang kubah-kubah ini  kemungkinan me-

rupakan rekonstruksi potongan-potongan bangunan Tentara Salib

oleh Aparbiyah (yang menurut Burgoyne berasal dari antara tahun

1187 dan dan 1199), dan Madrasah Nahwiyyah, yang didirikan

oleh penguasa Ayyubiyah, al-Mu'azhzham 'lsi, yang memiliki

gerbang dengan model campuran, dengan memakai  kembali


Apakah yang mendorong ahli-ahli pahat kaum muslim untuk

rnenggunakan kembali porongan-potongan arsitektur Tentara Salib

pada monumen-monumen Islam yang baru dan menggabungkan

s?olia Tentara Salib ke dalam monumen-monumen Islam yang

telah ada? Banyak alasan praktis unruk hal ini. para tahanan

Tentara Salib yang punya keahlian sebagai tukang batu akan

dipekerjakan dalam pembangunan monumen-monumen Islam yang

baru.223 Bahan-bahan bangunan yang dihancurkan bisa digunakan

untuk membangun bangunan-bangunan baru di sekirarnya se-

hingga menghemar biaya. Ini khususnya terjadi bila Eolia memiliki

dekorasi tanarnan atau paharan abstrak yang masih bisa diterima

oleh kaum muslim.

Pertimbangan seni juga ikut berperan dalam memilih spolia

atau motif yang akan digunakan kembali pada bangunan-bangunan

Islam (foto 6.5; bandingkan juga foto 2.9 dan 5.4). Dan tidak

diragukan lagi, khususnya, penakluk-penakluk muslim punya

keinginan untuk memperrunjukkan bagiari kemenangan mereka.

Momen urama terjadi pada 1291. Pintu masuk gereja yang

candk di St. Jean d'Acre dibawa dari Acre pada l29l dan dipasang

di Masjid al-Nashir di Kairo (foto 6.6). Tindakan ini tentu saja

bukan sekadar merupakan peminjaman bentuk arsitektur hanya

sebab  arsitek, tukang batu, dan si penguasa menyukainya. Pintu

ini  memiliki nilai propaganda yang sangat besar. Di sini

artefak yang sangat bagus namun dapat dipindahkan dibawa ke

pusat kekaisaran Mamluk untuk dipajang di sana yang dapat

berperan sebagai saksi abadi bagi sebuah kemenangan besar,

kekalahan telak Tentara Salib di kawasan Mediterania timur,

kemenangan pasti kaum muslim atas umat trGisten.


Patina-patina (meja berbentuk sigma) yang antik digunakan kem-

bali di masjid-masjid Suriah. Meja seperti itu sangat dikagumi di

Madrasah al-Halawiyyah yang bermazhab Hanafi di Aleppo (dulunya

yaitu  katedral Kristen).22a Ibn al-Syihnah, dengan mengutip Ibn

al-Adim, melaporkan:

Mereka mempertunjukkan di Madrasah al-Halawiyyah sebuah

altar yang digunakan umat Kristen untuk persembahan, yang

terbuat dari marmer besar transparan, sebuah batu yang luar biasa

indah. saat  sebuah lilin diletakkan di bawahnya, cahaya lilin itu

bisa terlihat. Kami diberitahu bahwa N0ruddin membawa batu

itu dari Apamea pada 544.225

Ibn al-syihnah juga menceritakan bahwa di meja persembahan

berbentuk sigma ini  juga ada  inskripsi Yunani yang

kemungkinan memuat nama Diocletian-nama kaisar Romawi

pada 284-305-(Herzfeld mengatakan bahwa'penilaian tentang

satu segi dari Abad Pertengahan yang baik ini" yaitu  benar).226

Bentuk patina yang mencolok di Madrasah al-Halawiyyah

menjadi alasan mengapa para penakluk dan para pemimpin agama

muslim, seperti N0ruddin, tertarik memakai  kembali benda-

benda yang sebelumnya menjadi bagian ibadah Kristen. Patina

itu juga jelas-jelas merupakan artefak yang luar biasa indah.

Kualitasnya yang istimewa sangat cocok dengan konteks ibadah

Islam di mana cahaya Allah yaitu  simbol yang sangat kuar,

yang dilambangkan dengan lampu-lampu masjid (gambar 6.50

dan 6.51) dan jendela-jendela (gambar 6.52). Alquran itu sendiri

menyatakan dalam surah al-NCrr (cahaya): "Allah cahaya langit

dan bumi!"227

Dengan demikian, patina bukan sekadar pengingat yang abadi

dan luar biasa tentang kemenangan Islam atas Kristen, namun

dalam konteksnya yang baru mendapat arti tambahan yang khusus.

Kemjinan Logam Ayyubiyah dengan Citra Kristen

Bukti-bukti penting masih ada untuk menunjukkan bahwa kelas-

kelas pedagang dan para Tentara Salib dapat memenuhi selera

mereka untuk barang-barang mewah Timur Dekat. Interior rumah

mereka pastilah mewah, yang bisa dinilai dari cangkir-cangkir

kaca dengan lapisan berwarna-warni dan -"h4 dan juga fragmen-

fragmen keramik berlapis kaca yang digali di bekas-bekas tempat

para Tentara Salib.228 Pada periode Ayyubiyah tercatat banyak


diproduksi berbagai artefak Islam yang sangat bagus-kuningan

dengan bagian dalam berlapis perak, ubin dan keramik berlapis

kaca warna-warni, dan kaca berlapis warna-warni. Perkembangan

seni yang disebut "minor" ini sangat berhutang pada selera tinggi

dan dukungan pafa penguasa Tirrki dan Kurdi yang memesan

karya seperti itu. Dan nama-nama mereka-seperti atabeg Tirrki

Badruddin Lulu dan sultan Ayyubiyah al-Malik al-Shalih Najmuddin

Ayytrb-terukir pada karya-karya ini . Contoh-contoh artefak

seperti itu yang masih bertahan hingga kini menunjukkan selera

kelas atas kaum muslim dan juga kaum Fkisten, baik Kristen

Timur maupun Tentara Salib.

Patut untuk dicatat bahwa sekalipun hal-hal yang berbau

Kristen bisa ditemukan sesekali di dalam seni Islam sebelum

Perang Salib, yaitu  pada abad ketiga belas hal semacam itu

tampak menonjol dalam karya-karya dekoratif Islam. Baer telah

meneliti delapan belas kuningan dekoratif yang berasal dari

Aynrbiyah dan masih bertahan hingga kini. Karya-karya itu dibuat

dengan sangat indah dan menunjukkan bagaimana tema-tema dan

motif-motif trGisten diadopsi dan diserap oleh ahli-ahli ukir Islam

secara luas di Suriah pada abad ketiga belas (gambar 6.53-6.56).

Kuningan-kuningan ini menggambarkan kejadian-kejadian dalam

Injil, gambar-gambar Maria dan Yesus kecil, dan ukiran-ukiran

tentang orang-orang suci dan pendeta-pendeta lGisten bersama-

sama dengan tema-tema Islam tradisional, seperti gambar tentang

kemewahan-kemewahan di lingkungan kerajaan. Gambar-gambar

bermotif IGisten ini dalam seni Islam sebelumnya belum pernah

ditemukan. Di antara masalah yang dimunculkan oleh artefak-

artefak ini-yang termasuk pendupaan, baki, peti untuk barang

berharga, kendi besar, dan tempat-tempat lilin-yang paling

relevan dalam konteks bab ini yaitu  mengapa artefak-artefak itu

diproduksi dalam warga  muslim abad ketiga belas.22e

Sebuah contoh khusus yang menarik yaitu  guci besar yang

merupakan karya yang sangat bagus dan berbagai citra visual

yang didominasi oleh tema-tema kristiani.23o Permukaan guci itu

menggambarkan Perawan Maria dan Anak yang diberkahi dengan

dikelilingi oleh tiga dekorasi dengan gambar-gambar dari ke-

hidupan Yesus (foto 6.7). Baer menyebutnya sebagai gambar-

gambar yang sangat tidak islami dan diinspirasi oleh model-model

Bizantium.23t Mengikuti ketentuan-ketentuan dekoratif dalam Islam,

gambar-gambar Kristen dipisahkan dengan hiasan bundar ber-

gambar burung-burung dan makhluk-makhluk rekaan di dalamnya.

Dua inskripsi yang memakai  huruf Kufi memuat doa-doa

tradisional. Sekalipun hiasan pada kuningan-kuningan ini juga

banyak memakai  hal-hal yang berkaitan dengan Kristen

Suriah, Koptik, dan Bizantium, unsur-unsur visual lainnya-seperti

gambar-gambar Islam tentang penguasa sekuler-juBa turut ber-

peran pada beberapa kasus.232 Baer menyatakan bahwa beberapa

kuningan yang dilapisi dengan gambar-gambar lftisten melambang-

kan kekuatan politik.233 Namun, kuningan-kuningan lain, yang

hampir secara eksklusif didekorasi dengan motif-motif dan gambar-

gambar yang tidak terlalu penting bagi kaum muslim, dengan

jelas menggambarkan kebangsawanan para Tentara Salib yang telah

menetap di Palestina dan Suriah dan yang-seperti bangsa Norman

di Sisilia-mungkin sangat menyukai seni Islam yang mereka


lihat di sekeliling mereka. Kuningan-kuningan ini termasuk tempat

minum Freer dan baki Leningrad' Kedua benda itu sangat mewah

dan dirancang khusus untuk kalangan Tentara Salib yang kaya

yang lebih ,ienyukai memakai  Pengrajin setempat untuk

merighiasi rumah-rumah mereka dan berusaha menyamai rekan-

rekai muslim mereka dengan beberapa perlengkapan sehari-hari

yang mewah. Persoalan aPakah Para Tentara Salib ini  mungkin

tidak bisa membaca inskripsi-inskripsi berbahasa fuab yang meng-

hiasi benda-benda logam mereka yang dibuat dan diperoleh di

kawasan Mediterania timur, itu bukan sesuatu yang Penting'

Sebuah temPat lilin yang kini di berada Paris' yang diukir dengan

nama pembrr",rry", Da'ud ibn Salama al-Mawsili' dan dihiasi

dengan gambar-gambar kristiani dan artefak-artefak sejenis lainnya,

,"-!rkrry, dibuat oleh ahli-ahli ukir muslim untuk kepentingan

T.rrt"r" Salib.23a Benda-benda sePerti itu kemungkinan dihargai

sangat tinggi sebab  nilai "eksotisnyd', sama halnya dengan karpet-

k"rf,.. ori*t"l yang kini dihargai oleh para pemiliknya yang

berasal dari kaum Barat.

Para penguasa muslim dan Tentara Salib saling bertukar

hadiah-hadiah mewah sebagai bagian dari kehidupan politik dan

sedikit diragukan bila kuningan-kuningan yang diberikan atau

dibeli oleh para aristokrat Tentara Salib telah menyenangkan

mereka, sebagaimana hadiah-hadiah yang berupa hewan-hewan

eksotis (seperti jerapah dan gajah), alat-alat teknik dan tekstil-

tekstil oriental y"nj bir" memenuhi selera mereka'235 Dalam hal

kuningan *is"l.ya, benda-benda ini  bisa dibawa-bawa dan

dip..tJntorrkan di rumah-rumah ksauia Salib yang penuh perabotan

di kawasan Mediterania timur, atau bahkan dibawa pulang ke Eropa


sebagai kenang-kenangan-bahwa mereka pernah tinggal di Thnah

Suci. Semakin eksotis suatu artefak akan semakin baik nilainya,

sebab  terlepas dari acuan-acuan Kristen yang terlihat jelas' karya-

karya ini telah memuaskan selera Barat Abad Pertengahan yang

cukup apresiatif terhadap hal-hal yang berbau Timur yang menga

g.r-krrr. Para pembaca naskah berbahasa fuab yang membahas

f,"ry, ,.rri Eropa Abad Pertengahan sering kali tidak mengetahui

pesan-pesan politik Islam yang termuat di dalamnya'

D.ng"r, ringkas bisa dijelaskan mengenai arti penting ku-

nirrgan-kurringan ini, bahwa kuningan-kuningan ini  jelas

dibuat baik untuk kaum muslim maupun para Tentara Salib pada

suatu waktu di abad ketiga belas' Baer menyimpulkan bahwa

bagi kaum muslim yang memiliki benda-benda ini ' gambar-

g"Ilb", dan kisah-kisah Kristen yang ada  pada benda-benda

it., -.rrgi.rgatkan mereka pada kekuasaan mereka atas umat

lkisten.231 Sebaliknya, bangsawan-bangsawan Tentara Salib me-

ngagumi dan memiliki kuningan-kuningan ini sebab  dekorasinya

yr'r[ .".rgrt bagus dan eksotis, termasuk inskripsi-inskripsi ber-

bahasa Arab yang termuat di dalamnya'

pembahasan rentang sekelompok kecil artefak-artefak kuningan

ini, terlepas dari kesulitan untuk memahaminya dan kemisterius-

annya, memberikan sedikit penielasan tambahan yang ddak terduga

mengenai adanya Proses saling memengaruhi antara Tentara Salib

d"n k",r* muslim dalam kehidupan sehari-hari di Suriah pada

masa Ayyubiyah. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya t para

Tentara Salib sangat terlindungi di kawasan Mediterania timur

pada periode saat  mereka datang untuk membentuk bagian

i"ri k..rngka politik dalam kehidupan di Timur Dekat' Ada

bukti-bukti jelas yang menunjukkan Para Tentara Salib juga

menyukai ,.Lr, "rtirtil 

k"ut" muslim dan ahli-ahli ukir muslim

menyesuaikan artefak-artefak mereka untuk menyenangkan Tentara

Salib pelanggan mereka.

EFEKJANGKAPANJANGHUBUNGANPARATENTARASALIBDENGAN

KAUM MUSLIM

Para ilmuwan menyatakan bahwa Perang Salib menimbulkan dua

efek utama bagi dunia muslim: yang pertama' terbukanya atau

meningkatn ya perdagangan antara Timur dan Barat' dan yang

kedua berkembangnya diskriminasi terhadap kaum Kristen Timur

oleh kaum muslim. Kita akan membahas kedua hal ini  secara

panjang lebar pada bagian berikut ini.

Diplomasi dan Perdagangan dntdrd l{aum Muslim

dan l(aum Franh

Sejalan dengan perbedaan ideologi yang memisahkan kaum muslim

dan Tentara Salib dan meningkatnya akdvitas jihad yang menandai

tahun 1099-1291, kedua pelaku utama melihat perlunya jeda

perang untuk melindungi properti dan tanah mereka dan-bahkan

yang lebih penting-memfasilitasi aktivitas perjalanan dan per-

dagangan. Buku Kohler, yang bersumber pada pembacaan yang

teliti atas sumber-sumber ini  memberikan konstribusi penting

bagi pengetahuan kita tentang kesepakatan sementara yang ber-

kembang antara kaum Frank dan kaum muslim.237 Dengan ber-

konsentrasi pada peristiwa kerja sama antara kedua pihak, khusus-

nya pada paruh pertama abad kedua belas, Kohler menyatakan

bahwa banyak kontrak dan perjanjian yang ditandatangani, yang

menunjukkan bahwa perdamaian dan kompromi sering dianggap

lebih disukai dibandingkan dengan konfrontasi dan perang. Per-

janjian-perjanjian seperti itu sering kali berupa lintas-pengakuan-

kaum muslim dan kaum Frank bekerja sama melawan kaum

muslim dan kaum Frank lainnya-dan didorong, seperti yang

kita lihat pada bab dua, oleh kepentingan wilayah lokal bersama

dan kebutuhan bantuan militer untuk melawan pesaing-pesaing

politik. Bagi kaum muslim sendiri, perjanjian-perjanjian itu juga

dibutuhkan untuk mendapatkan akses ke pelabuhan-pelabuhan di

kawasan Mediterania timur, yang banyak di antaranya masih tetap

dalam genggaman kaum Frank untuk waktu yang sangat lama.

Pentingnya perdagangan jalur laut pada periode ini menjadi

jaminan bahwa kaum muslim akan berusaha mencapai beberapa 

kompromi dengan kaum Frank untuk melindungi dan menjaga

kepentingan-kepentingan dagang mereka.

Sikap pragmatis serupa menjadi inti kebijakan kerja sama

yang diperkenalkan oleh para pangeran Ayyubiyah. Sekalipun

mendapat tentangan keras dari sultan-sultan Matrluk, mereka juga

mengejar tujuan ekonomi dan komersial yang realistis yang me-

libatkan kerja sama dengan kaum Frank. Perjanjian-perjanjian


ditandatangani, dengan membentuk periode-periode gencatan senjata

dan sering kali dengan menetaPkan perjanjian-perjanjian yang tePat

untuk perdagangan dan niaga serta perjalanan haji'

Banyak perjanjian ditandatangani oleh sultan-sultan Mamluk

dengan negara-negara Eropa barat, seperti Genoa dan Aragon'238

K.sepak"tarr-kesepakatan sebenarnya didahului dengan rangkaian

misi diplomatik secara bergantian ke Eropa dan kawasan Mediterania

timur. Perjanjian yang ditandatangani oleh Sultan Mamluk QaliwCrn

dengan Genoa pzrda l29O yaitu  contohnya' Perjanjian ini me-

.,.r"j,rkk"r, beberapa  motif praktis dari pihak kaum muslim untuk

membuat per.ianjian dagang dengan pihak musuh: "Pada akhirnya'

demi kemakmuran pelabuhan-pelabuhan ini ' dan sebab 

kekayaan yang dihasilkan oleh bangsa ini, dan tambahan pajak

yang sangat besar dari mereka, sebuah kesepakatan damai diajukan

kepada mereka."23e

Perjanjian itu menjamin keselamatan pedagang-pedagang Genoa

dan harta benda mereka di seluruh kekaisaran Mamluk. Perjanjian

itu juga memberikan hak untuk menjual tanpa paksaan kepada

pedagang-pedagang Genoa yang membawa barang dagangan' emas

atau perak ke Aleksandria atau tempat lain, sekaligus menetapkan

prosedur untuk administrasi cukai. Berbeda dengan retorika anti-

kafir yang sangat gencar dalam tulisan-tulisan para ulama dan

sikap permusuhan yang ditunjukkan dalam surat-menyurat antara

sultan-sultan Mamluk dan penguasa-penguasa Eropa.

Menurut Holt, ada tujuh perjanjian yang dibuat antara sultan-

sultan Mamluk dan negara-negara kaum Frank yang naskahnya

termuat dalam karya-karya sejarah periode ini . Perjanjian-

perjanjian ini bersifat bilateral dan ketentuan-ketentuannya saling

timbal balik. Salah satu contohnya yaitu  perjanjian yang dibuat

oleh Baybars dan Isabella dari Ibelin, penguasa Beirut pada 667

H.ll269 M. Perjanjian itu dibuka dengan kata-kata berikut:

Perjanjian gencatan senjata yang diberkahi telah dibuat antara

Sultan al-Malik al-Zh6'hir Rukn al-Din Baybars dan Lady N yang

agung, mulia, dan berbudi luhur, putri N, Penguasa Beirut dan

semua gunung-gunung dan dataran rendahnya, selama sepuluh

tahun berturut-turut yang dimulai pada hari Selasa, 6 Ramadan

667.240

Dalam perjanjian ini tercantum tanggal yang jelas dan juga

disebutkan jangka waktu perjanjian genjatan senjata ini  serta

nama-nama pihak yang terikat perjanjian. Perjanjian ini menjamin

keselamatan para pelancong yang datang dan pergi ke dan dari

wilayah-wilayah 'sultan. Perjanjian ini juga memberikan jaminan

keselamatan yang sama kepada kekuasaan Isabella. Juga ada pen-

jelasan-penjelasan mengenai kompensasi yang diberikan untuk

pembunuhan. Kompensasi ini bisa berupa pembebasan tersangka

yang statusnya sederajat, dengan membagi orang-orang ke dalam

empat kelompok-ksatria, Tfurcopole, prajurit pejalan kaki, dan

petani. Seperti halnya dengan perjanjian-perjanjian lain, ketentuan

akhir menyebutkan Isabella tidak boleh memberikan bantuan apa

pun kepada musuh-musuh sultan dan lebih khusus lagi "semua

kaum Frank dari segala jenisnya". Seperti dikatakan Holt dalam

analisisnya mengenai perjanjian ini, bahwa perjanjian ini bisa jadi

berupa genjatan senjata, namun tujuan sesungguhnya yaitu 

kesepakatan untuk memelihara hubungan politik dan diplomatik

yang normal.2al

Buku ini tidak akan berpanjang lebar membahas topik penting

perdagangan antara Eropa dan Timur Tengah selama periode

Perang Salib. Banyak karya yang telah dihasilkan dalam masalah

ini, terutama oleh Heyd, Ashtor, Abulafia, Udovitch, dan lain-

lain.2a2 Para ilmuwan ini , dengan memakai  dokumentasi

yang sangat luas dari sumber-sumber Eropa Barat, memberikan

laporan yang sangat lengkap mengenai perdagangan yang ber-

langsung antara dunia Eropa dan kawasan Mediterania timur pada

abad kedua belas, ketiga belas, dan sesudahnya. Tentu saja, ada

bukti-bukti dari pihak Islam, yang juga digunakan para ilmuwan

ini untuk menyusun kumpulan informasi mereka mengenai ke-

terangan-keterangan perdagangan-kapal-kapal, barang dagangan,

pungutan pajak, perjanjian-perjanjian niaga-dan teori mereka

yang luas mengenai bentuk dan peran penting perdagangan ini.

Pembaca yang ingin memperdalam pengetahuan mereka mengenai

tahap  fenomena Perang Salib dan sejarah ekonomi Islam dan Eropa

Barat Abad Pertengahan umumnya harus mengacu pada karya'

karya ini dan berbagai kumpulan artikel ilmiah yang mencatat

aspek-aspek individu persoalan ini secara lebih lengkap.2a3

Sampai awal abad kedua belas pusar niaga utama dunia Islam

yaitu  Baghdad. Kemudian, seiring dengan ekspansi perdagangan

Eropa Barat dan jalur perdagangannya yang baru dengan wilayah-

wilayah Islam yang berbatasan di Mediterania, pusar gravitasi

komersial kaum muslim beralih ke Mesir.

Pada awal abad kesebelas, sebuah kelompok kecil kota-kota

dagang seperti Naples, Marseilles, Venesia, dan Amalfi berdagang

langsung dengan kawasan Mediterania timur.24a Menjelang akhir

abad ini , pembuatan kapal-kapal yang lebih besar membuar

orang-orang dari berbagai negeri yang lebih jauh seperti Spanyol

atau Prancis bisa be rlayar langsung ke Mesir atau kawasan

Mediterania timur.245

Merekonstruksi perkembangan hubungan dagang antara kaum

muslim dan kaum Frank, baik yang bersifat lokal maupun

internasional, bukanlah tugas yang mudah. Ilmuwan Prancis,

Claude Cahen, menuliskan: "sejarah ekonomi dan sosial ditulis

terutama sekali dengan bantuan dokumen-dokumen berbentuk

arsip. Bagi dunia muslim, selain Mesir, kita tidak memiliki satu


Para ahli sejarah ekonomi Islam Abad Pertengahan telah

memanfaatk"., ,..rr" luas bahan-bahan dokumen yang disebut

sebagai Geniza (bahasa Ibrani: 'tempat penyimpanan ) yang di-

temukan pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas di

sebuah Sinagog di Fustat (Kairo Lama). Thnggal dokumen-dokumen

itu sebagian besar berasal dari abad kesepuluh hingga abad ke-

empat belas dan termasuk bukti-bukti dokumentasi langsung yang

bernilai penting yang berisi sekitar 10.000 surat-surat bisnis, surat

pribadi, dan akta-akta penjualan. Ditulis sebagian besar dengan

bahasa Arab namun  memakai  huruf Ibrani, dokumen-dokumen

Geniza memberikan penjelasan penting mengenai kehidupan se-

hari-hari kaum Yahudi (dan kaum muslim) di dunia Islam pada

Abad Pertengahan, dan khususnya mengenai realitas perdagangan

Mediterania.2aT Sintesis-sintesis brilian yang dilakukan oleh ilmuwan

Yahudi, Goitein, mengungkapkan bahwa sebelum Perang Salib,

orang-orang Italia telah punya peranan besar dalam perdagangan

di Mediterania. Dokumen-dokumen Geniza menunjukkan bahwa

telah ada interaksi yang hidup sebelum Perang Salib antara Timur

dan Barat di Mediterania dan bahwa para pedagang dari Pisa

dan Genoa telah aktif berdagang di Afrika Utara sebelum tahun

1100, dan kadang-kadang hingga ke Aleksandria.2a8

Khusus mengenai perdagangan di Suriah dan Palestina, tidak

ada keterangan yang lengkap dari sumber-sumber berbahasa Arab.

Ashtor menegaskan bahwa pada paruh kedua abad kesebelas, para

pedagang kaya di pelabuhan-pelabuhan Suriah, seperti Tiipoli dan

Tirus, ingin memanfaatkan kesempatan berdagang dengan ko-

munitas bisnis Italia. Pelabuhan-pelabuhan ini melepaskan diri

dari penindasan kendali penguasa Fatimiyah dari tahun l}7}-an

hingga selanjutnya dan mendirikan negara-negara kota yang mer-

deka.zae Apa pun situasinya sebelum tahun 7099, yangjelas yaitu 

bila kaum Frank telah merebut pelabuhan-pelabuhan di daerah

pesisir Suriah-Palestina, kaum muslim di daratan harus me-

nyesuaikan diri dengan mereka dalam konteks perdagangan.25o

Kesepakatan timbal balik juga dibutuhkan untuk pengiriman

barang-barang lewat daratan melalui wilayah masing-masing. Dengan

adanya kapal-kapal milik kaum Frank di perairan lepas pantai

kawasan Mediterania timur dan pelabuhan-pelabuhan Suriah yang

dikuasai mereka, para pedagang muslim setempat khawatir dengan

terancamnya mata pencarian mereka.

sebab  itu, tidaklah mengejutkan bila akibat langsung dari

situasi baru ini yaitu  beberapa penguasa muslim di sepanjang

pantai kawasan Mediterania timur berusaha melindungi kepen-

tingan-kepentingan bisnis kaum muslim ini. Berbicara tentang

Syams al-Khilifah, Gubernur Ascalon pada 504 H./1111 M.,

Ibn al-QalAnisi menyebutkan Syams melakukan genjatan senjata

dengan Baldwin, sebab  dia lebih memilih berdapng dibandingkan

berperang. "Kini Syams al-KhilXfah lebih menginginkan berdagang

daripada berperang, dan lebih cenderung pada hubungan yang

damai dan bersahabat demi teriaminnya keselamatan Para Pe-

lancong."25r Tekanan akibat terhentinya perniagaan bisa membuat

para pedagang bermata gelap.

Ibn al-Qalinisi melaporkan pada 504 H./1110-1111 M'

bahwa "satu kefompok pedagang keliling merasa kesal dengan

terhentinya perdagangan mereka untuk waktu yang lama. Mereka

kehilangan kesabaran dan berangkat dari Tinnis, Damietta dan

Misr [=Fustat] dengan membawa barang dagangan dan uang

sangat banyak". Namun, mereka dan barang-barang mereka segera

ditahan oleh kapal-kapal kaum Frank.2t2

Para pedagang, sePerti halnya para pemimpin agama, tampil

secara mencolok dalam berbegai delegasi yang dilakukan ke Baghdad

pada dekade pertama abad kedua belas memprotes dan meminta

bantuan khalifah dan sultan untuk melawan kaum Frank-ke-

nyataan ini cukup bermakna signifikan.2t3 Usimah menulis di

salah satu ceritanya bahwa kata burjasl berarti 'pedagang dan

bahwa orang seperti mereka itu tidak berperang.2sa Namun mata

pencarian mereka tergantung pada kelompok militer untuk men-

ciptakan kondisi yang sehat untuk berdagang.

Dasar terbentuknya perdagangan internasional antara Eropa

dan kawasan Mediterania timur yaitu  kebutuhan bersama, dan

kontak yang semakin sering pada awal Perang Salib memperluas

wilayah perdagangan di antara mereka. Bangsa-bangsa Eropa, yang

datang ke Timur Dekat lewat jalur laut dan darat, menginginkan

rempah-rempah yang berasal dari Timur, khususnya lada dan jahe,

dan tawas (obat perekar), yang dibutuhkan oleh produsen-produsen

pakaian Barat.255 Mereka juga mengimpor parfum, kain, dan emas'

Sebaliknya, dunia muslim membutuhkan kayu dan besi untuk

membuat kapal-kapal dan senjata-seniata Perang' seperti alat

pelantak, mesin-mesin Penyerang lainnya, dan persenjataan' Selain

itu, dunia muslim juga mencari linen, sutera dan bahan wol dari

Eropa,256 khususnya pada abad ketiga belas dan sesudahnya'

Bukti-bukti terakhir hubungan dagang antara dunia muslim

dan Eropa ditemukan dalam kata-kata asli bahasa fuab (atau

persia) yang telah melekat dalam bahasa-bahasa Eropa-istilah-

istilah seperti c he que (sy ih,' ceE), tariff (ta'rtfah,'tarif '), dan nama-

nama tekstil seperti dnmash (dimaqs, 'damas'), fustian (fustiyhn,

'kain kasar dan berat terbuat dari kapas dan rami'), taf'ta (taftah,

494 \ _______________

'kain tafeta'), cashmere (hasymir, 'kain wol yang halus'), samite

(sdmtt,'bahan sutera berbenang emas'), organdy (ilrghandi,'bahan

katun tipis dan kaku untuk membuat baju ), dan muslin (m,hshlin,

'katun halus, terutama untuk seprei, sarung bantal, dan se-

macamnya'). Banyaknya nama-nama ini menunjukkan dengan jelas

peran penting perdagangan tekstil.2\7 Kata fondaco (dari bahasa

luab fund,Aq yang berarti penginapan ) menunjuk pada sebuah

penginapan dengan ruang penyimpanan besar yang boleh dimiliki

oleh para pedagang berkebangsaan Italia di kota-kota muslim

tertentu.258 Angka-angka yeng disebut angka Arab pertama kali

digunakan di Eropa sekitar tahun 1200 oleh para notaris yang

bertanggung jawab menyusun kontrak-kontrak komersial yang

berhubungan dengan dunia Islam.25e Istilah-istilah penting terrentu

dalam navigasi, seperti zenith (samt, 'titik puncak, zenit'), azimuth

(samt,'anmut') dan astrokbe (asthrahb,'astrolab, perangkat astronomi

kuno untuk mengukur ketinggian benda langit'), juga menunjuk-

kan bahwa Eropa berhutang pada teknologi Arab di bidang ini.

Perdagangan pada Periode 492-690 H./1099-1291 M.

-Buhti-Buhti 

dari Sumber-Sumber Ishm

Untunglah salinan teks-teks perjanjian diplomatik atau perjanjian

komersial yang disusun antara kaum muslim dan kaum Frank

masih bertahan hingga kini. Salinan-salinan ini memberikan

keterangan yang tepat tentang hal yang sebenarnya terjadi dalam

hubungan-hubungan semacam itu. Dari detail salinan itu pula

terungkap hal-hal yang menunjukkan adanya kebutuhan dan

pertimbangan yang bersifat praktis. Sebaliknya, tulisan-tulisan

sejarah yang disusun umat Islam, sayangnya, tidak secara lengkap

memuat informasi-informasi mengenai topik ini. Bahkan, dalam

batas-batas yang kaku dalam historiografi Islam, para penulis

sejarah hanya sedikit mengungkapkan hal tentang perdagangan.

Penyebabnya barangkali sebab  perdagangan merupakan bagian

yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, sehingga ke-

mudian komentar yang disajikan tidaklah banyak, seperti iuga

menyangkut aspek-aspek lain dalam hubungan sosial kaum muslim

dengan kaum Frank yang tetap tidak diungkapkan di dalam

Bagaimanapun juga, beberapa penulis sejarah telah mengetahui

bahwa kedatangan kaum Frank bukan hanya sebab  dorongan

agama dan keinginan untuk melakukan Penaklukan militer. Ibn

al-Furit, misalnya, di dalam laporannya tentang kedatangan kaum

Frank pada I 120-an menceritakan tentang orang-orang yang

datang melalui laut "untuk berdagang dan melanco.rg".'uo sesudah 

menguasai pelabuhan-pelabuhan Suriah, kaum Frank terus me-

nyerang dan mengedarkan koin-koin (bezant) yang merupakan

tiruan dinar muslim. Penulis biografi muslim, Ibn Khallikin,

mencatat bahwa saat  kaum Frank merebut Tirus pada 518 H./

ll24 M., selama tiga tahun mereka terus menerus mencetak

koin-koin atas nama Khalifah Fatimiyah, al-Amir.26r Cara'cara

semacam ini tidak diragukan lagi bersumber pada praktik-praktik

perdagangan; sehingga dengan mata uang mereka yang disebut

"dinar Tirus", para Tentara Salib meniru koin muslim dari per-

tengahan abad kedua belas selama lebih dari seratus tahun.262

Perdagangan selalu menjadi aktivitas terhormat di dalam

konteks Islam. Apalagi, Rasulullah sendiri terlibat dalam aktivitas

perdagangan. Para pedagang merupakan anggota komunitas yang

terhormat. Status terhormat mereka ditegaskan lagi pada periode

Perang Salib oleh ilmuwan 'Ali al-Harawi yang menasihati putra

Saladin, al-Malik al-Zhlthir, agar memberikan perhatian khusus

kepada para pedagang yang merupakan "penyedia semua yang

berguna dan pemandu dunia".263

Jelaslah bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kaum muslim

dan kaum Frank saling terlibat dalam perdagangan selama periode

pendudukan Tentara Salib dan sesudahnya. Perdagangan ini 

bersifat lokal maupun internasional. Musafir muslim asal Spanyol,

Ibn Jubayr, menceritakan pada 5S0 H./1184 M.:

Salah satu hal paling mengejutkan yang dibicarakan yaitu 

bahwa sekalipun api perselisihan membakar kedua pihak, kaum

muslim dan Kristen, pasukan keduanya mungkin bertemu dan

saling mengalahkan dalam beberapa  pertempuran, namun para

musafir muslim dan Kristen akan datang dan pergi di antara mereka

tanpa gangguan.264

Yang jelas, kemudian, peperangan tidak meluas ke dalam

kehidupan sipil saat itu. Ada banyak alasan untuk hal ini. Per-

dagangan antara kaum muslim dan kaum Barat Kristen memberi-

kan keuntungan yarLg sangat besar bagi kedua belah pihak, bahkan

saat  permusuhan militer di antara keduanya tengah panas-

panasnya. Sikap Saladin terhadap komunitas pedagang Tentara

Salib, seperti yang dinyatakan dalam sepucuk surat yang ditulis

kepada khalifah di Baghdad pada 1174, dengan jelas menunjukkan

adanya keuntungan ekonomi yang diperoleh dari perdagangan

dengan musuh:

Orang-orang Venesia, Pisa, dan Genoa semuanya biasa datang,

kadang-kadang sebagai perampok, yang kebuasan serangannya ridak

bisa dibendung..., kadang-kadang sebagai para pelancong yang

berusaha menaklukkan Islam dengan barang-barang yang mereka

bawa, dan perintah kami yang menakutkan tidak bisa mengatasi

mereka... dan kini tidak satu pun dari mereka yang tidak mem-

bawa senjata-senjata perang ke tanah-tanah kami, dan pertempuran-

nya, dan memberikan kami yang terbaik dari apa yang dia buat

dan warisi.265

Keterangan ini lebih jauh menunjukkan bahwa ternyata tidak

ada kontrol politik atau militer yang efektif yang diterapkan oleh

penguasa-penguasa Barat mengenai barang yang boleh dan tidak

boleh diperdagangkan dengan pihak lain. Dengan demikian, kaum

muslim dan kaum Frank saling berdagang, saling menyeberangi

wilayah masing-masing, dan memungut pajak dari tiap kelompok

pedagang lainnya. saat  Saladin tengah mengepung Karak pada

580 H./1184 M., karavan-karavan masih tetap'Iewat dari Mesir

ke Damaskus, "dengan melalui wilayah-wilayah kaum Frank tanpa

gangguan dari mereka".266 Bahkan saat  Saladin tengah gencar-

gencarnya mengepung Karak, yang patut dicatat, menurut Ibn

Jubayr, perdagangan terus berlangsung seperti biasanya: "Salah

satu hal yang paling aneh di dunia yaitu  karavan-karavan muslim

berangkat menuju ke wilayah-wilayah kaum Frank, sementara

tahanan-tahanan kaum Frank masuk ke wilayah-wilayah muslim."267

Menurut Ibn Jubayr, para pedagang muslim melakukan per-

jalanan dari Damaskus ke Acre (juga melalui wilayah-wilayah kaum

Frank), dan begitu juga para pedagang Kristen tidak diganggu di

wilayah muslim. Kedua belah pihak saling mengeruk pajak pada

barang-barang pihak satunya sebagai imbalan bagi "keamanan

penuh".'6t Ibn Jubayr lebih jauh mengatakan bahwa rakyat biasa

dan para pedagang tidak terlibat dalam pertikaian para rala:

"Keamanan selalu mereka dapatkan, dalam keadaan bagaimanapun,

baik dalam damai maupun perang. sebab  itu, keadaan negara

ini benar-benar jauh lebih mengejutkan dibandingkan dengan yang

bisa sepenuhnya kami tuturkan melalui kisah-kisah kami.D26e

Sekalipun Ibn Jubayr memberikan bukti-bukti positif, ada

beberapa pelanggaran kesepakatan yang terjadi, dengan mem-

berikan izin kepada para pedagang melalui wilayah musuh. Para

penulis Saladin membahas masalah yang dijumpai para pedagang

muslim yang melalui wilayah kaum Frank. Dalam suratnya ke

Baghdad pada 1177, dia mengatakan:

Surat-surat kami yang meminta untuk menghentikan arus

karavan-karavan muslim tidak mendapat balasan... Para pedagang

ini mempertaruhkan nyawa, reputasi, dan barang-barang mereka,

dan mereka juga berisiko memperkuat musuh.270

Namun demikian, yang tidak dikatakan Ibn Jubayr yaitu 

bahwa para pedagang ini mengambil risiko ini  sebab  ber-

harap akan mendapatkan keuntungan besar. Sepucuk surat dari

Saladin kepada Adududdin, wazir khalifah, yang berasal dari tahun

yang sama, mencatat bahwa Saladin mengawal sebuah rombongan

besar pedagang muslim, sehingga mereka tidak membayar palak-

pajak besar yang dibebankan untuk barang-barang mereka bila

mereka meldui wilayah kaum Frank.27r

Seberapa besar perhatian sumber-sumber. muslim terhadap

fenomena ini , yang oleh Held disebut sebagai perdagangan

Eropa dengan kawasan Mediterania timur yang semakin me-

ningkat?272 Apa yang dibawa dalam kapal-kapal kaum Frank?

Dalam biografi Usimah rerdapar sebuah kisah yang menceritakan

bagaimana Baldwin III telah mengirimkan orang-orangnya untuk

menghentikan dan menjarah sebuah kapal kaum Frank di dekat

Acre yang membawa keluarga UsAmah. Kapal ini  Penuh

dengan "perhiasan-perhiasan wanita, pakaian, Permata, pedang dan

senjata-senjata lain, emas, dan perak yang nilainya sekitar 30'000

dinar".273

Kejatuhan Acre ke tangan kaum muslim yang dipimpin

Saladin pada 583 H.l1187 M. memberikan peluang kepada para

penulis sejarah muslim untuk merefleksikan peranannya sebagai

pusat penyaluran barang-barang dagangan di bawah kekuasaan

Tenrara Salib. Ibn syaddid melaporkan bahwa Saladin di Acre

"mengambil barang-barang yang ada di dalamnya yang berupa

kekayaan, harta benda, dan barang-barang dagangan, sebab  Acre

merupakan tempat perdagangan" .274 lbn al-Atsir memberikan ke-

terangan yang lebih lengkap:

Kaum muslim menjarah sisa-sisa barang yang tidak bisa dibawa

oleh kaum Frank. Jumlahnya tidak terhitung sebab  sangat banyak'

Mereka melihat begitu banyak emas, perhiasan, sutra yang disulam

dengan benang emas (siqlat), perhiasan Venesia (al-bunduq), gula,

senjata-senjata, dan jenis-jenis barang komoditas lainnya, sebab 

tempat itu merupakan tujuan bagi para pedagang kaum Frank

dan Bizantium dan pedagang-pedagang lain dari wilayah-wilayah

yang dekat dan jauh.275

Laporan ini merupakan petunjuk yang sangat berguna me-

ngenai berbagai .ienis barang yang telah diperdagangkan oleh kaum

Frank di Acre-Ibn al-Atsir dengan jelas menyebutkan al-bunduqi.

Dia juga menjelaskan bahwa Acre merupakan ialur untuk distribusi

internasional.

Ibn Jubayr sangat yakin mengenai peran Penting Acre dalam

perdagangan saat  dia mengunjunginya pada 1184' Dengan

memulai uraiannya dengan kutukan agama- "semoga Allah

menghancurkan (umat lGisten di dalamnya) dan mengembalikan-

nya (kepada kaum muslim)"276-Ibn Jubayr melanjutkan sebagai

berikut:

Acre yaitu  ibukota bagi kota-kota kaum Frank di Suriah,

tempat pembongkaran bagi "kapal-kapal yang muncul di lautan

bagaikan gunung-gunung"221 dar. tempat persinggahan bagi semua

kapal. Dalam kebesarannya, kota itu mengingatkan pada

Konstantinopel. Kota itu menjadi tujuan para pedagang dan ka-

ravan-karavan, dan tempat pertemuan para pedagang muslim dan

Kristen dari semua wilayah.278

Ibn Jubayr terkesan oleh kantor pajak Tentara Salib di Acre

dan cara para pejabat kantor itu melakukan rugasnya:

Kami dibawa ke kantor pajak ini  yang berupa hhln yang

disiapkan untuk menampung karavan. Di samping pintu, ada 

bangku-bangku batu, yang ditutup dengan karpet, yang menjadi

tempat para petugas pembukuan pajak Kristen dengan stempel

tinta dari kayu eboni yang dihiasi dengan emas. Mereka menulis

dan berbicara dalam bahasa Arab.27e

Pemeriksaan terhadap barang dagangan dan kopor sangat teliti

dan hanya barang-barang para pedagang yang tidak digeledah:

Kopor milik orang yang tidak punya barang dagangan juga

digeledah kalau-kalau kopor itu berisi barang dagangan terlarang

[dan harus dikenai paiak], yang selanjutnya pemiliknya diizinkan

melanjutkan perjalanannya dan mencari tempat penginapan. Semua

pemeriksaan ini dilakukan dengan sopan dan hormat, dan tanpa

kekerasan dan kecurang"n."'

Ini merupakan pujian yang tinggi bagi administrasi pelabuhan

Tentara Salib.

Gambaran ini  sangat bertolak belakang dengan gambaran

Ibn Jubayr tentang adminstrasi pajak di kota muslim Aleksandria

yang kacau dan korup yang dialaminya sendiri pada musim semi

1183. Ibn Jubayr menceritakan perlakuan yang diterima para

musafir dan para pedagang muslim sebagai berikut:

Petugas pajak menumpuk hingga susah bernapas. Semua barang

mereka, besar maupun kecil, digeledah dan dilemparkan sem-

barangan secara berbarengan, sementara tangan-tangan masuk ke

dalam ikat-ikat pinggang mereka untuk memerilaa isi di dalam-

nya... Selama proses ini, sebab  ,"rrg"rr-,"rrg"r, yang sembarangan

dan kerumunan orang banyak, banyak barang-baranByan1 hilang.2sr

Dengan hati-hati Ibn Jubayr mengatakan bahwa tindakan yang

memalukan ini yaitu  noda yang satu-satunya ditemuinya di Mesir

pada masa Saladin dan dia dengan terang-terangan menyalahkan

pa;.a pelabat pajak ini .282

Bukti-bukti tbntang adanya perdagangan rempah-rempah di-

berikan oleh Ibn Jubayr, yang berjumpa dengan karavan-karavan

yang membawa barang dagangan dari India melalui Yaman hingga

'Aydzab di pantai-pantai Laut Merah: "Karavan ini sebagian besar

membawa lada, yang jumlahnya sangat banyak, sehingga kami

bayangkan jumlahnya sama dengan debu."28l

Perdagangan padd Periode Ayyubiyah dan Marnluk

Menurut Cahen, Acre tidak menandingi Konstantinopel ataupun

Aleksandria pada sebagian besar abad kedua belas. Kebangkitan

perdagangan yang sebenarnya di kawasan Mediterania timur tam-

paknya telah dimulai pada masa 1180-an dan berlanjut sampai

akhir 1250-^n.284 Pangeran-pangeran Aynrbiyah memajukan jalur

perdagangan dengan kota-kota maritim Italia dan memelihara

hubungan damai sebanyak mungkin dengan negara-negara Tentara

Salib Suriah. Sekalipun sikap ideologis mereka yang militan, sultan-

sultan Mamluk mendorong perdagangan dengan Para Penguasa

Eropa Kristen dan perdagangan ini merupakan bagian yang tak

terpisahkan dari keberhasilan Mamluk. Referensi telah dibuat pada

perj anjian-perjanjian yang ditandatangani oleh sultan-sultan Mamluk

dan kerajaan-kerajaan Eropa. Pada tingkat prakds, kebutuhan

perdagangan melampaui halangan-halangan ideologis. Pada masa

Baybars, misalnya, mayoritas marnlir.h berasal dari padang rumPut

Qipchaq. Bagian terbesar dari perdagangan budak ini antara

Crimea dan Mesir dilakukan oleh kapal-kapal Genoa.285

Jalur-jalur perdagangan penting yang terbentuk selama periode

konfrontasi militer antara Eropa dan dunia muslim bertahan

hingga kejatuhan Acre dan menimbulkan dampak Penting di Mesir

Mamluk pada abad keempat belas dan kelima belas. Sulit untuk

mengatakan apakah hubungan-hubungan dagang sePerti itu bisa

berkembang tanpa adanya dorongan dari Tentara Salib. Yang pasti

yaitu  bahwa gelombang-gelombang Tentara Salib dibawa menuju

kawasan Mediterania timur dengan memakai  kapal-kapal

republik maritim Italia dan koloni-koloni dagang yang dibangun

di pelabuhan-pelabuhan Tentara Salib kawasan Mediterania timur

bertahan lama hingga sesudah  1291. sebab  hingga masa itu

seluruh kawasan Mediterania timur berada di bawah kekuasaan

politik sultan-sultan Mamluk Mesir, yang ibu kotanya berada di

Kairo, tidaklah mengejutkan bila Mesir sendiri, yang merupakan

pintu gerbang menuju perdagangan Samudera India yang me-

nguntungkan, terlibat dalam upaya ini. Juga tidak mengejutkan

bila sesudah  kejatuhan Acre pada 1291, sultan-sultan Mamluk

memutuskan untuk tidak menghancurkan komunitas perdagangan

Eropa di kawasan Mediterania timur, dan sebaliknya, malah

mendorong perdagangan dengan Eropa.

Dari pihak Eropa sendiri, tentu saja ada  hambatan

ideologis dan permusuhan yang kuat di beberapa tempat terhadap

kelanjutan hubungan-hubungan dagang dengan kelompok musuh

ini. Para paus penerus bahkan berusaha keras menghancurkan

perdagangan antara republik-republik maritim Italia dan kaum

muslim di kawasan Mediterania timur. Namun, pengumuman-

pengumuman paus tidak berdaya untuk mencegah kelangsungan

perdagangan yang sama-sama menguntungkan itu.a6 Di Aleksandria,

misalnya, tempat-tempat penginapan komunitas perdagangan Eropa

tetap dibuka dan perjanjian-perjanjian perdagangan baru dibuat

antara Timur dan Barat.

Abad pertama kekuasaan Mamluk di Mesir (1250-1350)-

dengan pemerintahannye yang tegas dan perlindungan resmi untuk

kelas-kelas pedagang-mencapai kemakmuran yang luar biasa.

Kemakmuran seperti itu sangat mustahil terjadi bila tidak ada

kelanjutan hubungan dagang dengan Eropa. Hubungan ini 

merupakan salah satu kebutuhan bersama. Perdagangan dengan

Eropa membuat Mamluk bisa mempertahankan pasukan dan

armadanya yang kuat. Pedagang-pedagang Eropa mensuplai kayu-

kayu untuk membuat kapal dan logam-logam yang dibutuhkan

untuk membuat senjata dan mesin Perang untuk kaum muslim

di kawasan Mediterania timur. Mamluk Mesir juga mengimpor

sutera dari Spanyol dan Sisilia. Sementara di pihak Eropa, pe-

dagang-pedagang mereka tertarik mengunjungi pusat-pusat Per-

dagangan Timur Dekat untuk mendapatkan rempah-rempah

fimul-1s1utama lada dan jahe-yang sangat dibutuhkan Eropa

barat dan yang dibawa dari Timur-dari India dan seterusnya-

melalui Mediterania timur. Eropa juga mengimpor bahan-bahan

makanan, khususnya biji-bijian.'z87

Namun, barang yang diperdagangkan kemudian meluas jauh

melampaui rempah-rempah dan peralatan perang. Perdagangan

itu mencakup semua jenis barang mewah. Industri tekstil Italia,

yang berkembang di kota-kota seperti Lucca, didorong oleh

membanjirnya bahan-bahan berharga dengan motif-motif Islam

dan bahkan yang berasal dari Cina. Barang-barang yang disebut

panni Tartarici dalam teks-teks Eropa Abad Pertengahan ini 

memuat desain-desain naga dan burung phoruiex yang eksotis dan

menakjubkan ke dalam modf lokal. Gambar-gambar religius Abad

Pertengahan dan Renaisans Awal yang tak ternilai tampil dengan

mencolok pada permadani-permadani berpola Timur Dekat yang

kaya warna seperti permadani untuk penutup meja dan lantai.

Selain harganya yang dengan jelas membuatnya menjadi simbol

status, permadani-permadani itu juga mengandung nuansa misteri

khas Timur dan kemewahan hal yang asing. Inskripsi-inskripsi

berbahasa Arab sengaja dimasukkan ke dalam keliman .iubah-

jubah Perawan Maria dan tokoh-tokoh suci di dalam lukisan-

lukisan religius dari para seniman seperti Gentile da Fabriano (w.

1427) agar memberikan efek yang sama. Piring-piring impor

Mamluk dengan inskripsi-inskripsi berbahasa Arab di sekililing

bagian pinggirnya ("Kemuliaanlah bagi Penguasa kami sang Sultan")

juga memberikan aura kemuliaan bagi tokoh-tokoh suci di dalam

lukisanlukisan seperri itu. Bahkan ada  sebuah bengkel muslim

di Venesia yang memproduksi karya logam Mamluk yang telah

disesuaikan dengan selera Italia.2ss Selama berabad-abad Italia

memiliki koleksi karya seni Islam terbesar di Eropa, sebuah warisan

dari perdagangan Mamluk Mesir yang berkembang pada akhir

Abad Pertengahan dan warisan insting-insring tamak keluarga-

keluarga aristokrat Italia yang besar. Koleksi benda-benda Islam

yang dimiliki keluarga Medici (sebuah keluarga bankir kaya dan

berpengaruh di Florensia, Italia, dari abad kelima belas hingga

kedelapan belas-peny.) menjadi aser urama dari Museum Bargello

di Florensia. Dimasukkannya motif-motif dan benda-benda Islam

ini ke Eropa barat merupakan efek samping abadi dari per-

dagangan gemilang yang berlangsung antara Timur dan Barat.

Komunitas perdagangan Eropa, selanjutnya, terus berlangsung

dan menjadi bagian penting dari ekonomi kaum muslim. Apalagi

mereka diizinkan melakukan bisnis secara terbuka, meskipun dalam

praktik keseharian pergerakan mereka kadang-kadang dihalang-

halangi seperti halnya yang ter,iadi pada Kristen Timur. Hubungan

mereka dengan kaum muslim setempat juga benar-benar terbatas.

Sekalipun begitu, bahkan pada saat perang tengah berkobar di

antara kaum muslim kawasan Mediterania timur dan kaum FGisten

Eropa, perdagangan internasional terus berlangsung di Mediterania

timur.28e Sekalipun perdagangan kemudian mengalami penurunan,

penyebabnya bukan sebab  pelarangan-pelarangan yang ditetapkan

oleh kaum muslim, namun  lebih sebagai akibat penemuan-pe-

nemuan maritim abad kelima belas yang memberikan akses lang-

sung kepada Eropa ke pasar-pasar di kawasan Timur.

Apakah Kehadiran Kaum Franh Memengaruhi Perkkuan

I{aum Muslim terhadap Umat Kristen Timur?

Alquran dengan tegas menyatakan: "'Wahai orang-orang yang

beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu

orang-orang di luar kalanganmu (sebab ) mereka tidak henti-

hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu."2eo Namun hu-

bungan antara kaum muslim dengan para penganut agama lain,

rerutama Kristen dan Yahudi, di abad-abad sebelum kedatangan

kaum Frank, jauh lebih kompleks dibandingkan orang-orang yang

benar-benar bertahan dan hidup hanya di wilayah muslim.

Telah sangat sering dikatakan bahwa warisan langsung dari

Perang Salib yaitu  bangkitnya fanatisme agama dan penyiksaan.

Juga sering dikatakan bahwa Tentara Saliblah yang bertanggung

jawab langsung atas hilangnya semangat toleransi agama yang

secara umum terjadi di dunia Islam sebelum 1099. Seluruh

hipotesis ini memerlukan penelitian yang lebih mendalam dan

menimbulkan banyak pertanyaan. Pertama, benarkah kaum muslim

sebelum Perang Salib bersikap toleran terhadap penganut-penganut

agama lain yang diizinkan hidup di dalam komunitas Islam?

Kedua, apakah ada  hubungan langsung antara datang dan

bermukimnya para Tentara Salib di wilayah-wilayah Islam dan

penindasan agam oleh kaum muslim kepada kalangan nonmuslim

selama dan sesudah  periode Perang Salib? Apa yang dikatakan

oleh sumber-sumber muslim itu sendiri tentang perlakuan terhadap

kaum Kristen Timur oleh para penguasa muslim pada periode

1099-1191? Apakah gagasan Perang Salib, dengan hubungan-

hubungan luar negerinya yang kuat, memiliki dampak pada

perilaku kaum muslim terhadap kaum Kristen Timur setempat

yang telah lama ada? Ini merupakan pertanyaan yang sangat luas

dan memerlukan jawaban yang tepat.

Perkkuan terhadap Ahlulkitab Sebelum Perang Salib

Sejak wahyu Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.,

Islam telah mengajarkan toleransi dan perlindungan kepada

"Ahlulkitab" y^ng masuk ke dalam perjanjian (dzimmah) dengan

komunitas lslam (ummah). Selain itu, tampaknya bisa dikatakan

bahwa pada periode sebelum Perang Salib, kaum muslim umum-

nya mengikuti ajaran-ajaran Alquran dan di dalam "'Wilayah

Islam" toleransi yang mengagumkan dipraktikkan terhadap umat

Kristen dan kaum Yahudi asli di Timur Dekat. Sumber-sumber

Islam sangat banyak menyebutkan tokoh-tokoh lGisten dan Yahudi

yang menduduki jabatan tinggi dalam pemerintahan kaum muslim,

sementara banyak yang lainnya juga memiliki jabatan penting

dalam warga , seperti menjadi duta besar, pedagang, pegawai

bank, dokter, dan ilmuwan. Sebaliknya, toleransi semacam itu

ada batas-batasnya dan para ahli hukum Islam, yang menyusun

hukum Islam (Syariat) dan menulis penjelasan yang luas tentang

hal itu, bisa mengeluarkan peringatan keras kepada orang-orang

beriman tentang kerugian berhubungan terlalu dekat dengan umat

IGisten dan kaum Yahudi.

Instruksi-instruksi contoh tentang bagaimana kaum muslim

seharusnya memperlakukan penduduk dzimmi tercantum di dalam

Perjanjian 'LJmar, yang bersumber pada qaran-alaran Alquran dan

Sunnah. Berbagai bentuk perjanjian mengalami perubahan dari

waktu ke waktu, namun perjanjian-perjajian itu menunjukkan

kewajiban-kewajiban dan hak-hak umat Kristen dan kaum Yahudi

di bawah kekuasan kaum muslim. Kelompok-kelompok ini di-

wajibkan membayar pajak pribadi (jizyah) dan mematuhi larangan-

larangan tertentu dalam berpakaian dan kehidupan sosial.2er

Tindakan-tindakan diskriminasi terhadap umat Kristen dan

kaum Yahudi dengan jelas tercantum di dalam buku-buku hukum

pada abad kesebelas. Hal itu tampak jelas dari karya yang berjudul

Kitib al-Tanbih yang disusun di Baghdad antara tahun 452 H.l

1050 M. dan 453 H./1061 M. oleh ahli fikih mazhab Syaf ie,

al-St'riu,i.2e2

Al-Syirizi menulis: "Kaum dzimmt harus membedakan diri

mereka den