nats dalam Alkitab
sehubungan dengan konsep ―pendamaian‖. Beberapa nats dalam Perjanjian
Lama. Misalnya dalam Imamat 16:6, Harun diminta untuk mempersembahkan
lembu jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan dengan
demikian mengadakan pendamaian bagi dirinya dan bagi keluarganya. Yes. 53:5
menubuatkan tentang penderitaan Tuhan Yesus yang akan mencurahkan darahNya
untuk menjadi pendamaian antara manusia berdosa dengan Bapa dan yang sekaligus
mendatangkan keselamatan bagi mereka yang beriman kepada kematian Yesus itu.
Dalam Perjanjian Baru, misalnya 2 Kor. 5:19 mengatakan: Sebab Allah
mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan
pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.
Nats-nats lain yang berbicara tentang pendamaian juga dapat dilihat dalam Ef. 2:16;
Kol. 1:20 dan Ibr. 2:17.
Istilah ―Pendamaian‖ diterjemahkan dari kata benda bahasa Yunani ―katallage‖
(kb) dan sebagai kata kerjanya ialah ―katallaso‖. Sebagai kata benda
(noun) arti harafiahnya ialah ―sesuatu penukaran dengan Allah yang sama dari
sesuatu itu‖ atau juga berarti ―pembuangan perseteruan‖. Istilah Alkitabiah
mengenai istilah
―perseteruan‖ yaitu satu hal yang sangat serius sebab Allah sangat
menentang segala jenis dosa dan kejahatan.95 Itu sebabnya Alkitab mengatakan
18
bahwa orang berdosa yaitu seteru Allah. Roma 5:10 mengatakan:
19
Sebab jikalau kita, saat masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian
AnakNya, lebih-lebih kita yang sekarang sudah diperdamaikan, pasti akan
diselamatkan oleh hidupNya.
Arti teologisnya ialah bahwa permusuhan antara manusia dengan Allah telah
dihancurkan. Kristus mati untuk menyelesaikan segala dosa yang menjadi pemicu
perseteruan itu. Pembaruan hubungan orang berdosa dengan Allah berlaku sebab
mereka telah bertobat dan mempercayakan diri kepada kematian Tuhan Yesus
Kristus sebagai alat pendamaian (Rom. 5:11; 2 Kor. 5:18-19). Pembaharuan terjadi
kepada manusia lantaran imannya kepada karya penebusan Yesus Kristus yang
memicu dia terangkat ke tingkat di mana ia bisa disesuaikan dengan karakter
Allah (Rom. 5:10-11).
Konsep ―Pendamaian‖ ini memiliki dua segi:
a. Segi yang sifatnya aktif dan obyektif, dimana kematian Kristus memindahkan
permusuhan yang ada antara Allah dan manusia. Permusuhan ini telah
menjadi dinding pemisah bagi persekutuan kedua pihak (Ef. 2:16; Kol. 1:20).
Keadaan permusuhan itu dapat dilihat dalam ayat-ayat seperti Ef. 2: 15; Rom.
8:7; Yak. 4:4. Tidak diingat oleh Allah lagi dosa-dosa manusia yang telah
diperdamaikan.
b. Segi yang sifatnya positif dan subyektif terjadi sebab adanya perubahan sikap
manusia terhadap Allah yang terjadi di dalam hatinya sebab salib Kristus.
Perubahan dari sikap permusuhan kepada sikap persahabatan (2. Kor. 5:20).
Perubahan sikap ini tidak terjadi kepada Allah. Manusialah yang harus
disesuaikan dengan Allah.
Perdamaian sebab karya Kristus di kayu salib disediakan bagi seluruh dunia (1
Yoh. 2:1-2). Dengan demikian dalam kegiatan pendamaian terdapat pemindahan
akibat dosa, adanya pembaruan sikap terjadi pada manusia, bukan pada Allah.
Pendamaian ini menimbulkan rasa damai dan hasilnya ialah pembenaran dan
pengangkatan. Pendamaian ini melahirkan hubungan baru antara Allah dengan
orang percaya. Tujuan atau sasaran akhir pendamaian yaitu bagi seisi dunia (Kol.
1:20) sebab semua manusia sudah menjadi hamba dosa yang bermusuhan kepada
Allah.
3. Kesimpulan
a. Kristus telah mendamaikan manusia berdosa dengan Allah. Dia telah
dikorbankan untuk menghapus tembok pemisah antara Allah dan manusia, yaitu
dosa.
b. sebab pendamaian ini manusia kembali menjadi satu dengan Allah.
Derajat manusia diangkat kepada harkat semula sehingga manusia dapat bergaul
langsung dengan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus.
c. sebab pendamaian itu manusia beriman tidak akan dihukum lagi sebab segala
dosa telah dihapus dan diselesaikan oleh Tuhan Yesus di kayu salib
M.Pembenaran
1. Pengertian Istilah
Istilah ―pembenaran‖ diterjemahkan di dalam bahasa Inggris dengan
―justification‖. Istilah ini yaitu istilah dalam pengadilan dimana seorang hakim
menangani masalah atau kasus. Istilah ini berasal dari kata ―just‖ (ks) artinya
―benar‖ (Ingg.:
―righteous‖) dan kata ―justify‖ (kk) artinya ―membenarkan‖. Istilah yang
dipakai dalam bahasa Ibrani ialah ―hitsdik‖ artinya ―to justify‖: ―menyatakan
secara hukum bahwa keadaan seseorang sesuai dengan tuntutan hukum‖.
19
Dalam bahasa Yunani kata yang dipakai ialah ―dikaio-o‖ artinya
―menyatakan seseorang benar‖, Ingg. ―to justify‖ (Mat. 12:37; Luk. 7:29) dan
―dikaiosis‖ (kb) diterjemahkan dengan ―justification‖ atau ―pembenaran‖
misalnya dalam Rom. 4:25 dan Rom. 5:18. Dalam Kitab Ulangan 25:1-2
dikatakan: jika ada perselisihan di antara beberapa orang, lalu mereka pergi ke
pengadilan, dan mereka diadili dengan dinyatakannya siapa yang benar dan siapa
yang salah, maka jikalau orang yang bersalah itu layak dipukul .
Dalam Perjanjian Baru, Roma 8:33 dikatakan bahwa Kristus yaitu Pembela bagi
orang-orang percaya. Kristus mengatakan orang beriman yaitu orang benar sebab
Ia sendiri sudah menyelesaikan segala hutang dosanya di bukit Golgota. Sehingga
kalau iblis mendakwa atau menuduh orang beriman di hadapan Allah Bapa maka
Kristus yang akan membela bahwa orang beriman tidak bersalah. Paulus berkata
kepada jemaat di Roma:
Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah yang
membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus
yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, dan juga duduk di sebelah
kanan Allah, yang telah menjadi Pembela bagi kita? (Roma 8: 33-34)
2. Pengertian Istilah ― Pembenaran‖ Secara Teologis
Pembenaran yaitu merupakan salah satu anugerah Allah yang diberikan kepada
orang yang percaya kepada pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Dalam Perjanjian
Baru kata ―membenarkan‖ (to justify) dipakai sebanyak 39 kali dan 29 kali
terdapat dalam tuliasan Rasul Paulus. Dia juga memakai kata ―pembenaran‖
(justification) sebanyak 2 kali yang terdapat dalam Rom. 4:25 dan Rom. 5:18.
Dalam perikop kedua ini Paulus mengatakan: Sebab itu, sama seperti oleh satu
pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan
kebenaran semua orang beroleh ―pembenaran‖ untuk hidup.
Begitu seringnya Rasul Paulus memakai istilah ini di dalam tulisan-tulisannya
sehingga banyak komentator yang tertarik untuk memnyelidikinya. Salah satu
diantaranya ialah J.I.Packer. Ia memberi penjelasan tentang konsep Rasul Paulus
tentang pembenaran sebagai berikut: God‖s act of remitting the sins of guilty men ,
and accounting them righteous, freely, by His grace, through faith in Christ, on the
ground, not of their own works, but of the representative law-keeping and
redemptive blood-shedding of the Lord Jesus on their behalf.
Jadi menurut Morris, Paulus memahami bahwa pembenaran itu yaitu tindakan
Allah. Tidakan pembenaran itu dilakukan Allah di dalam anugerahNya dengan cara
menghapus dosa-dosa manusia sebab iman kepada Kristus yang telah menebus
manusia dengan mencurahkan darahNya demi manusia berdosa. Bagaimanakah
manusia itu dibenarkan ?
Jawaban yang diberikan kepada pertanyaan ini biasanya berbeda-beda. Ada yang
mengatakan bahwa pembenaran yaitu anugerah semata-mata. Yang lain
menganggap bahwa pembenaran itu yaitu perbuatan manusia seperti faham agama
Islam. Faham berikutnya beranggapan bahwa pembenaran itu merupakan kerjasama
di antara anugerah Allah dan perbuatan baik manusia. Yang manakah yang benar?
Dalam hal ini Rasul Paulus menegaskan bahwa itu yaitu anugerah Allah yang
diterima orang percaya sebab iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Darah Tuhan
Yesus menghapus dosa manusia sehingga Allah melihat manusia berdosa itu benar.
Jadi Allah mengangkat dosa manusia melalui pembasuhan dengan darah Tuhan
Yesus.
19
Pembicaraan tentang konsep pembenaran menjadi penting dan sentral sebab doktrin
ini sendiri sangat bertautan erat dengan doktrin yang lain, misalnya doktrin
―pendamaian‖ atau ―reconsiliation‖. Selain itu dalam hubungannya dengan
doktrin- doktrin yang lain doktrin-doktrin ini sangat dipengaruhi oleh
kesimpulan terakhir tentang doktrin pembenaran ini, yaitu tentang bagaimana Allah
menerima kita sebagai orang yang sudah dibenarkan oleh Allah. Pertemuan menusia
dengan Allah yaitu sesuatu yang tidak mungkin sebab manusia tidak dapat
membenarkan dirinya sendiri (Rom. 3:9-18,23). Dengan dibenarkanNya manusia
maka manusia itu diperdamaikan kembali dengan Allah. Oleh pendamaian itu
manusia diterima menjadi anak-anak Allah. Harus diakui bahwa banyak definisi
tentang pembenaran yang sifatnya negatif. Yang diberikan disini tentang definisi
pembenaran ialah
―tindakan judisial Allah di-mana sebab adanya Yesus Kristus orang-orang
berdosa dibenarkan oleh sebab iman kepada Yesus Kristus. Allah mengatakan
orang-orang berdosa itu benar dan bebas dari hukuman Taurat, dan diperbaharui.
Allah dulu menghukum mereka. Allah kini menyatakan mereka tidak bersalah, tanpa
dosa. Pembenaran ini ada hubungannya dengan posisi (kedudukan) seseorang secara
legal di hadapan Allah. Sifatnya subyektif‖.
berdasar definisi di atas disimpulkan bahwa ada beberapa unsur yang
berhubungan dengan pembenaran:
a. Pengampunan dosa dan pemindahan ( pengangkatan ) kesalahan (rasa bersalah)
dan penghukuman sebab dosa. Allah membebaskan orang-orang berdosa yang
beriman atau mempercayakan dirinya kepada Kristus dan menyatakan
(menfonnis) mereka sebagai orang benar (Rom. 5: 1, 16). Ayat 1 mengatakan:
Sebab itu, kita yang dibenarkan sebab iman, kita hidup dalam damai sejahtera
dengan Allah oleh sebab Tuhan kita Yesus Kristus. Kutuk Tauratpun tidak lagi
berlaku atas orang ini sebagaimana dikatakan dalam (Rom. 7: 6) yang
berbunyi: namun kita sekarang telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita
telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani
dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut
huruf hukum Taurat.
b. Adanya penuangan/penempatan/pencangkokan akan kebenaran illahi dan
penempatan kepada posisi/kedudukan yang menyenangkan hati Allah dan
pengankatan sebagai anak sebagaimana yang dikatakan dalam Rom. 8: 15 yang
berbunyi: Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu
takut lagi, namun kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah.
Oleh Roh itu kita berseru: ‖ya Abba, ya Bapa.‖
Jadi yang memicu seseorang terlihat di dalam kedudukan sebagai orang
benar ialah adanya pengakuan dari pihak Allah tentang diberikanNya
pembebasan dan pengampunan dari dosa (Yoh. 8:36; Rom.6:18). Adanya
pengakuan sebagai anak dan pengangkatan remisi dan pemindahan hukuman
sebab dosa. Adanya restorasi atau pembaruan hubungan dengan Allah. Lukisan
yang paling tepat ialah Zakaria 3:4 yang menjelaskan bagaimana Yosua
disucikan dari dosa-dosanya.
c. Adanya pembebasan dari kutuk Taurat (Rom. 8:3-4) sebagaimana sudah disebut
di atas (Rom. 7:6). Hal ini terjadi bukan sebab orang yang bersangkutan sudah
melakukan semua hukum Taurat tanpa salah, melainkan pernyataan Allah
sebab iman kepada pengorbanan Kristus.
d. Pembenaran yaitu permulaan dari perubahan moral sebagaimana dikatakan
19
dalam Roma 8:14: Semua orang yang dipimpin Roh Allah yaitu anak Allah.
19
Namun pembenaran selalu didahului oleh kelahiran baru (regenerasi) dan
persekutuan di dalam Kristus.
e. Dan yang mengikutinya kemudian ialah proses penyucian (sanctification) sebab
Roh Kudus akan memimpin anak Allah dalam segala kebenaran sebagaimana
dikatakan dalam Yoh. 16:13 yang berbunyi:
namun jika Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam
seluruh kebenaran, sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, namun
segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan
memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
Perkataan Tuhan Yesus ini masih merupakan nubuatan. namun Roh Kudus sudah
diberikan kepada setiap anak Tuhan sehingga sekarang setiap orang percaya
dipimpin oleh Roh Kudus untuk mengetahui kebenaran agar setiap anak Tuhan
terhindar dari melaksanakan dosa namun sebaliknya memiliki hidup yang semakin
suci.
3. Kesimpulan
Ada tiga hasil sebagai akibat Pembenaran:
a. Adanya pembebasan dari hukuman (Rom. 8:1,33,34). Tidak ada satu
tuduhanpun yang patut ditimpakan kepada orang yang sudah dibenarkan. Tak
satupun hukuman yang patut diterimanya sebab pembenaran Kristus telah
memenuhi semua tuntutan Allah secara sempurna.
b. Pembebasan dari murka Allah yang menimpa manusia beriman sebaga akibat
dosanya (1 Petr. 2:24). Pengadilan orang beriman masih tetap ada (2 Kor. 5:10).
Dalam pengadilan orang-orang percaya itu pahala akan diberikan kepada
mereka yang berlayak, sedangkan mereka yang perbuatannya tidak patut
menerima pahala perbuatan ini akan dihanguskan oleh api dan orangnya
seperti ditarik dari dalam api ( 1 Kor. 3:11-15).
c. Adanya pemuliaan yang akan terjadi dikala orang-orang beriman dibangkitkan
untuk menyongsong kedatangan Yesus Kristus menjemput mempelaiNya (Rom.
8:30).
N. Pengangkatan Sebagai Anak
1. Pengertian Istilah
Kamus bahasa Indonesia memberi kata ―adopsi‖ untuk kata ―pengangkatan‖
yang artinya: ―pengambilan atau pengangkatan anak orang lain menjadi anak
sendiri yang disahkan menurut hukum yang berlaku‖. Kamus Bahasa Inggris
memakai kata
―adoption‖ yang artinya ―a taking as one‖s own‖. Kelihatannya Drs.
Yandianto memberi pengertian yang lebih komprehensif sebab dalam
pengangkatan anak harus dilakukan berdasar undang-undang yang berlaku kalau
anak itu akan sah menjadi anak yang mengangkat. Kemudian dalam pengangkatan
anak ada dua pihak yang terlibat yaitu orang yang memiliki anak dan orang yang
ingin untuk mengadopsi anak ini . R.P. Martin mengatakan bahwa
arti istilah
―pengangkatan‖ ialah ―the process of becoming sons of God‖.100
Martin menghubungkan pengertian ini dengan konsep Alkitab.
2. Pengertian Istilah ―Pengangkatan‖ Secara Teologis
Istilah ―Pengangkatan atau ―adopsi‖ (Ingg.: ―adoption)‖ terdapat 5 kali
dalam Perjanjian Baru dan semuanya terdapat dalam tulisan Paulus (Rom. 8:15, 23;
Rom. 9:4; Gal. 4:5; Ef. 1:5). Dalam perikop terakhir ini Paulus mengatakan: Dalam
19
kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-
anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya.
19
Untuk memahami maknanya dengan jelas latar belakang pemakaian istilah ini
harus diselidiki. Ada 2 istilah yang dipakai untuk ―pengankatan‖ dalam
Perjanjian Baru: Istilah ini ialah ―teknon‖ yang menyatakan seorang
bayi yang lahir kepada satu keluarga melalui kelahiran biasa. Istilah yang
kedua ialah ―huio‖ yang menjelaskan tentang anak yang sama yang pada suatu
waktu tertentu secara legal, menurut hukum dinyatakan sebagai anak yang resmi
yang berhak berada dalam lingkungan bapanya. Istilah yang kedua inilah yang
dimaksud Alkitab dengan kata
―pengangkatan‖ atau ―adopsi‖. Istilah ―adopsi‖ menunjukkan pada
peristiwa pengangkatan melalui suatu upacara resmi di mana seorang anak
dinyatakan resmi sebagai anak melalui hukum yang berlaku.
Arti teologisnya ialah ―orang percaya menjadi anak dalam keluarga Allah
waktu terjadi kelahiran baru. Orang beriman resmi diangkat menjadi anak melalui
adopsi rohani (Luk. 15:7,10). R.P. Martin mengatakan prinsip yang sama. Ia
mengatakan: Sonship as a term in later theology is best viewed as an aspect of
regeneration. As God brings new life to those who formerly were dead in sins (Eph.
2:1), so he is described as their Father who regards them as adopted children in
the family of grace.
Jadi menurut beliau kalau kelahiran baru belum menjadi pengalaman seseorang tidak
mungkin ia mengalami pengangkatan menjadi anak oleh Allah. namun dengan
pengangkatan seorang pemercaya akan dilayakkan menyebut Allah sebagai Bapa.
Dengan demikian dilihat dari sudut pandang manusia bahwa sebagai anak ora ng
beriman memiliki nama keluaraga (Ef. 3:14,15; Wah. 2:17; 3:12). Sebagai anak
orang beriman juga memiliki persamaan-persamaan dalam keluarga (Kol. 3:10;
Rom. 8:29). Selain itu sebagai anak orang beriman juga menerima kasih keluarga ( 1
Yoh. 2:9-11; 3:13-18; 4:7-8). Yang terakhir sebagai seorang anak orang beriman
memiliki sifat orang tuanya (2 Petr. 1:4; Yoh. 1:12).
Dari sudut pandang Allah sebagai anak orang beriman menjadi obyek kasihNya
yang istimewa (Yoh. 17:22-23; 16:17). Selain itu sebagai anak orang berimanpun
berhak menerima pemeliharaan bapanya (Mat. 6:32; 8:32). Disamping itu kitapun
sebagai anak berhak menerima penghiburanNya ( 2 Kor. 1: 4). Selanjutnya sebagai
anak orang beriman berhak menerima disiplin ke Bapa-anNya (Ibr. 12:6-11). Yang
sangat menarik yaitu sebagai anak orang beriman yaitu pewaris harta warisanNya
( 1 Petr. 1:3-5; Rom. 8:17).
3. Akibat dari adopsi ini ada 3 jenis hasil yang terjadi:
a. Berdiamnya Roh Kudus di dalam diri orang percaya (Gal. 4: 6). Buah Roh yang
disebut dalam Gal. 5: 22-23 yang dinyatakan di dalam hidup orang beriman
yaitu merupakan bukti berdiamnya Roh Kudus dalam orang ini .
b. Orang beriman dilepaskan dari ketakutan (Rom. 8:15).
1) Berdiamnya Roh Kudus sebab pengangkatan sebagai anak menimbulkan
kesadaran akan kasih Allah.
2) Kasih itu menghilangkan ketakutan (1 Yoh. 4:18). Penerimaan akan Allah
juga menyadarkan orang beriman bahwa Allah lebih berkuasa dari segala
kuasa dan sebab itu tidak ada suatu kuasa apapun yang dapat memisahkan
orang percaya dari tangan Allah dalam Kristus Yesus (Yoh. 10: 8; Rom.
8:37-39).
3) Keyakinan akan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus membuktikan kekalahan
kuasa iblis dan kuasa dunia yang tertinggi sekalipun. sebab itu orang
beriman tidak takut lagi menghadapi cobaan yang datang dari iblis (1 Kor.
19
15:55-57) sebab ia tahu bahwa di dalam Kristus ia pasti menang.
19
c. Dijadikan menjadi ahli waris Allah dan menjadi pewaris bersama-sama dengan
Yesus Kristus (Rom. 8:17). Hal inilah yang merupakan salah satu bukti bahwa
hidup kekal di surga yaitu merupakan sesuatu yang pasti yang akan dimiliki
orang percaya sebab ia yaitu ahli waris kerajaan Allah. Pemeliharaan Allah
akan orang percaya di bumi yaitu juga merupakan bukti akan warisan
keanakan yang dimiliki orang beriman.
4. Kesimpulan
Salah satu anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada orang percaya ialah
―pengangkatan menjadi anak‖. Hal ini berarti bahwa orang percaya yaitu ahli
waris Allah. Sebagai anak Allah dan ahli waris ia pasti bersama dengan Bapa di
surga setelah ia meninggalkan dunia ini. Allah juga yang bertanggung jawab untuk
segala sesuatu yang diperlukan dalam hidup ini. Sebagai anak, ia berada dalam
pemeliharaan Allah. Ia tidak akan pernah ditinggalkan atau dilupakan Bapa.
Sebagai anak, Bapa juga memberi tanggung jawab dan menyerahkan segala sesuatu
untuk dikelola, dipelihara dan dikuasai. Anak Tuhan melakukan segala sesuatu
dengan motivasi yang benar, melakukannya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk
manusia. Ia juga diberikan kuasa untuk mendiamkan setan yang selalu mau merusak
pekerjaan Tuhan. Sebagai anak ia bangga memiliki Allah sebagai Bapa. Kebanggaan
itu mempengaruhi seantero hidupnya sehingga ia selalu menceriterakan kebaikan,
kasih dan kemahakuasaan Bapa itu. Titik tolak untuk memandang dunia tidak lagi
tertumpu kepada dirinya namun berangkat dari sudut pandang Allah. Hal ini
memicu dia memiliki penilaian baru akan dunia dan isinya, memandang
manusia sebagai obyek kasih Allah sehingga ia berusaha agar setiap orang dapat
mengenal Bapa yang baik itu dan diselamatkan.
O. Penyucian
1. Pengertian Istilah
Istilah ―penyucian‖ (Ingg.: ―sanctification‖) berasal dari kata ―suci‖. Drs.
Yandianto memberi arti: bersih dalam arti keagamaan, tidak berdosa, murni tentang
hati atau batin.102 Beliau menekankan mengenai kualitas moral. Nave
mengatakan bahwa
―sanctification‖ artinya ialah ―the state of being set apart from the sacular and
sinful, unto a sacret purpose. It si not only of people, but of days, places and
things.‖103 Nave menghubungkan pengertian istilah ini dengan apa yang dikatakan
dalam Alkitab, yaitu mengenai posisi ―keterpisahan‖.
Istilah Ibrani yang dipakai dalam Perjanjian lama untuk kata ‖penyucian‖ ialah
―qadas‖ (kk) dan ―qodesh‖ (kb) dan ―qadosh‖ (ks). Sebagai kata kerja artinya
―bercahaya‖ yang ada hubungannya dengan kata ―suci‖. Pengertian yang kedua ialah
―memotong atau memisah‖ (Ingg.: ―to cut‖). Jadi dalam bahasa Ibrani istilah ini
memiliki makna yang sifatnya moral dan juga posisi keterpisahan.
Dalam Perjanjian Baru ialah ―hagiazein‖ yang berarti ―dipisahkan dari‖,
misalnya dari hal-hal yang sifatnya kurang. Bersih.
2. Pengertian Istilah ― Penyucian‖ Secara Teologis
Berkhof mengatakan bahwa istilah ―penyucian‖, terutama dalam Perjanjian Baru
dipakai untuk menyatakan 4 hal:104
a. arti mental seseorang atau sesuatu. Jadi seseorang atau sesuatu dianggap suci,
misalnya: nama Tuhan suci (Mat.6:9), Kristus yang kudus (1 Petr. 3:15); hari
perhentian Allah (Kej. 2:3); anak sulung yang dikuduskan (Kel. 13:2).
b. dipakai dalam pengertian ritual: memisahkan sesuatu atau seseorang untuk
19
tujuan yang suci: Mat. 23:17,19; Yoh. 10:36; 2 Tim. 2:21
20
c. pekerjaan Roh Kudus yang beroperasi dalam hidup seseorang untuk
mengadakan peningkatan mental (Yoh. 17:17; KPR 20:32; 1 Tes. 5:23).
d. sesuatu yang akan memuaskan hati Allah (Ibr. 9:13; 10:10,29; 13:12).
Dalam Perjanjian Lama. istilah ―pengudusan‖ misalnya dihubungkan
dengan pemilihan para imam, nabi dan bait Allah. Dalam hal ini
―dikuduskan‖ berarti
―mereka dipisahkan dari masyarakat umum atau tempat lain untuk dipakai
dalam pelayanan Allah.‖ Secara implisit pengertian ―penyerahan diri‖ juga
termasuk di dalamnya. Hal inilah yang memicu setiap imam atau nabi
diurapi, korban yang akan dipersembahkan dan bait Allah diurapi untuk tanda
penyucian.
Di dalam hubungannya dengan kehidupan dan pengalaman orang Kristen
―penyucian atau sanctification‖ meliputi 3 aspek:
a. Posisional/Status Sanctification. Hal ini bermakna bahwa setelah seseorang
dilahirkan baru menjadi anggota keluarga Allah maka orang percaya itu telah
dipisahkan dari dunia ini. Ia disebut sebagai ―orang kudus‖ sebab
kedudukan/ posisinya atau statusnya sebagai anggota keluarga Allah. Hal ini
memicu Paulus selalu menyebut jemaat sebagai orang-orang kudus (1
Kor. 1:2; Ef. 1:1; Fil. 1:1). Mereka dipisahkan dari dunia untuk memperoleh
kedudukan sebagai anggota kerajaan Allah. Mereka ini masih hidup sebagai
manusia dunia (1 Kor. 6: 11) yang kadang kala masih memiliki kelemahan dan
dosa. Namun mereka disebut ―orang kudus‖ (Rom. 1:7; 1 Kor. 1:2).
b. Jenis kekudusan atau kesucian yang kedua ialah ―experiential
sanctification‖, atau penyucian lewat pengalaman hidup. Kadangkala istilah
yang dipakai untuk jenis ini ialah ―progressive sanctification‖ (1 Petr.
1:16). Pengudusan dalam pengalaman ini terjadi terus menerus selama orang
percaya masih hidup di dunia ini. Alkitab juga mengatakan bahwa hal ini
yaitu merupakan proses untuk mematikan manusia lama, yaitu tubuh berdosa,
sebab tubuh berdosa itu sudah turut disalibkan bersama dengan Kristus (Rom.
6:6). Kepada jemaat Galatia ia mengatakan bahwa manusia milik Kristus telah
menyalibkan daging dengan segala keinginannya (Gal. 5:24) Proses pengudusan
ini mempengaruhi semua aspek hidup manusia, tubuh, jiwa, intelek, perhatian
dan kemauan. Hal ini terjadi sebab proses penyucian itu terjadi dalam
kehidupan manusia batiniah seseorang. Kalau manusia batiniah seseorang telah
dibaharui maka seluruh aspek kehidupannya juga akan mengalami pengaruh
pembaharuan (1 Tes. 5:23; 2 Kor. 5:17)
Jenis penyucian yang kedua inilah yang membedakan kedewasaan orang
Kristen orang per orang. Seorang yang membiarkan Roh Kudus menguasai
hidupnya akan lebih cepat dewasa dari mereka yang masih dikuasai oleh
keinginan daging. Kadang kala kita menjadi bingung saat melihat bahwa
orang yang sudah lahir baru masih hidup secara duniawi. Hal ini terjadi sebab
free will orang percaya tidak ditundukkan kepada wibawa dan pimpinan Roh
Kudus yang sudah diam di dalam dia. Tubuh jasmaniahnya masih direlakan
untuk memiliki kecenderungan untuk tunduk kepada nafsu daging.
Dalam jenis ―progressive sanctification‖ tidak ada ―instant holiness‖
dalam pengertian bahwa seseorang dalam sesaat menjadi orang yang tidak
akan pernah memiliki kecenderungan untuk dipengaruhi oleh nafsu daging.
Agar orang percaya terus-menerus mengalami pengudusan maka dari pihak
Allah, Ia memakai:
20
a. Roh Kudus (Yoh. 14:26; 16:8). Roh Kududs menyadarkan manusia akan
dosa dan kebenaran sehingga orang percaya semakin mengerti apa yang
dikehendaki Tuhan untuk dilakukan dalam hidup.
b. Firman Tuhan (2 Tim. 3:16-17). Orang percaya saat membaca firman
Tuhan ditolong Roh Kudus untuk mengerti sehingga ia akan memiliki
hidup yang dikuduskan sebab menaati firman itu.
c. Persekutuan orang percaya (Gal. 5:19-21). Dalam persekutuan orang
percaya dikuatkan oleh saudara-saudaranya saat ia lemah dan
mengalami pergumulan hidup. Ia ditegur ataui diingatkan saat ia lalai
atau melakukan kesalahan. Ia didoakan oleh saudara satu iman agar tetap
setia berjalan mengikut Tuhan.
d. Pengalaman hidup orang percaya. Tuhan mengizinkan seseorang masuk
ke dalam pengalaman tertentu untuk melihat apakah ia memuliakan Tuhan
dengan pengalaman itu. Tuhan mengizinkan Maria dan Marta mengalami
kematian saudara untuk melihat apakah mereka memiliki iman yang benar
bahwa Yesus dapat membangkitkan orang mati (Yoh. 11:1-45). Ia
meredakan angin ribut untuk menolong para murid untuk lebih beriman
kepadaNya (Mat. 8:23-27). Ia membiarkan Daud untuk menjalani proses
hidupnya untuk melihat apakah benar ia menjaga kasih dan kekudusan.
Ternyata ia jatuh misalnya, saat ia dengan licik mengambil Bersheba
menjadi isterinya (2 Sam. 11:1-27).
Dari pihak manusia dibutuhkan penyerahan diri dan kerelaan untuk menaati
Tuhan dan firmanNya. Yakobus mengatakan: namun barang siapa meneliti
hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia
bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya
namun sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh
perbuatannya. (Yak. 1:25). Kadang-kadang Tuhan melakukan pukulan atau
cemeti (dalam proses penyiangan): Dalam Yoh. 15: 1-3 dikatakan bahwa
ranting yang berbuah dibersihkan supaya lebih lebat daunnya. Orang percaya
juga mengalami proses peneguran untuk menguji imannya apakah sungguh
murni. Petrus mengatakan: Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan
kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya dari emas yang fana,
yang diuji kemurniannya dengan api – sehingga kamu memperoleh puji-
pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan
diriNya. (1 Petr. 1:7).
Di samping itu perlu mengembangkan pengetahuan akan Kristus (2 Petr.
3:18), mengembangkan potensi melayani dan membina hubungan yang
semakin mesra dengan Tuhan Yesus melalui doa (1 Tes. 3:12; 4:1,10).
Berjalanlah di dalam Roh (Gal. 5:16), jangan mendukakan Roh Kudus (Ef.
3:30) dan jangan memadamkan Roh (1 Tes. 5:19).
c. Glorifying Sanctification. Jenis penyucian ini terjadi di surga setelah kita
bertemu dengan Tuhan Yesus pada tahta pengadilanNya. Semua yang
dikerjakan orang percaya akan diuji oleh Tuhan dan yang tidak merupakan
emas dan perak murni akan dibakar habis. Yang tinggal hanyalah ibadah yang
dilakukan dengan motivasi yang benar. Paulus mengatakan kepada jemaat
Korintus: sebab tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari
pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahlah orang
membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput
kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan orang akan nampak. sebab hari
20
Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api, dan
bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. (1 Kor.
3:11-13) Pengujian akan perbuatan orang percaya terjadi dalam hubungannya
dengan pemberian mahkota atau pahala pada akhir zaman. Pahala akan
diberikan Allah kepada setiap orang percaya berdasar kualitas perbuatan
mereka. Kualitas ini ditentukan oleh kemurnian motivasi seserorang di
dalam hidupnya melayani Tuhan. Kemurnian motivasi ini menunjukkan
kesungguhan seseorang mengasihi Tuhan dan melakukan kehendakNya.
3. Kesimpulan
Salah satu karakter Allah yang sangat menonjol ialah kekudusan. Sebagai Allah
yang maha kudus segala sesuatu tidak dapat mendekat kepadaNya tanpa kekudusan.
Itulah sebabnya segala sesuatu harus dikuduskan lebih dahulu untuk dapat dipakai
oleh Tuhan. Kesucian atau kekudusan Allah mengharuskan manusia berdosa harus
disucikan. Salah satu tujuan Allah mengutus Yesus Kristus ke dunia ialah untuk
mengampuni manusia dari segala dosa dan menyucikan mereka dari segala
kejahatan (1 Yoh. 1:9). Dengan demikian setiap orang beriman kepada Yesus
Kristus dan karyaNya yaitu orang kudus. sebab itu orang percaya harus
menyadari bahwa mereka tidak sama lagi dengan manusia yang lain yang masih
bergelimang dosa. Paulus mengatakan bahwa ―barang siapa yang ada dalam
Kristus yaitu ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu dan sesungguhnya yang baru
sudah datang.‖
Orang percaya juga harus sadar bahwa ia sudah dipisahkan oleh Allah dari dunia ini
untuk dipakai oleh Allah sebagai alatNya. Dengan kata lain bahwa Allah tidak
pernah mengharapkan untuk memakai orang yng belum disucikanNya sebagai
alatNya untuk menerangi dan menggarami dunia. Tanggung jawab besar dan mulia
ini hanya dikhususkan untuk dilakukan orang beriman.
Penyucian akan mengalami proses yang berkelanjutan dalam hidup orang percaya.
Sifat manusia lama yaitu keinginan daging dan daya tarik dunia ini masih mau
mempengaruhi hidup orang beriman. Tapi syukur, sebab Roh Kudus dan firman
Tuhan mengingatkan orang percaya agar tidak jatuh dalam dosa. Kadang kala Tuhan
juga memakai saudara satu iman untuk mendoakan dan memperingatkan kita agar
proses pengudusan itu tetap berlangsung dalam hidup orang percaya. Kadang kala
Tuhan memakai peristiwa-peristiwa dalam kehidupan orang beriman untuk
mengingatkan dia agar sadar bahwa Tuhan menghendaki kekudusan hidup itu tetap
terjaga.
P. Jaminan Keselamatan
1. Pengantar
Orang-orang Kristen yang baru percaya maupun yang telah lama percaya
memerlukan kepastian mengenai hidup baru yang mereka telah terima di dalam
Kristus. Akibat munculnya berbagai angin pengajaran, orang-orang Kristen sering
dilanda keraguan dan kekuatiran mengenai keputusan yang mereka telah ambil
untuk percaya kepada Kristus. Mereka sering mempertanyakan apa sebenarnya
makna keputusan untuk percaya kepada Kristus di dalam kehidupan mereka. Apakah
pengaruh dan akibat-akibatnya? Dapatkah keselamatan itu hilang atau menjadi
batal? jika saya berbuat sesuatu dosa, apakah itu berarti bahwa saya belum
selamat?
Ada dua pandangan yang berbeda tentang Jaminan Kekal orang percaya. Kaum
Arminian berkata bahwa manusia telah menerima keselamatannya sebagai tindakan
20
dari kehendaknya dan ia bisa memandang keselamatannya sebagai karya kehendak
atau melalui dosa-dosa khusus. Kaum Calvinis berkata bahwa orang percaya yang
sejati akan tekun pada imannya. Doktrin ini juga disebut ―Ketekunan Orang-
orang Kudus‖, yang bukan merupakan tema yang seharusnya, sebab menekankan
ketekunan dari pada kemampuan Allah melindungi orang percaya. Tema yang lebih
baik yaitu ―Ketekunan Tuhan‖.
2. Ketekunan Orang-Orang Kudus
Sekali diselamatkan, selamanya diselamatkan. Ini merupakan penjelasan yang paling
sederhana dan singkat mengenai ketekunan orang kudus.105 Ketekunan orang kudus
yaitu pekerjaan Roh Kudus di dalam diri orang percaya, yang oleh anugerah Allah
bekerja di dalam hati orang percaya sejak awal dan terus menerus bekerja sampai
proses keselamatan selesai dengan sempurna.106 Dengan demikian, seseorang yang
telah mendapatkan anugerah keselamatan tidak akan pernah kehilangan
keselamatannya. Sebab Roh Kuduslah yang bekerja sejak awalnya, dan terus
menerus bekerja memelihara hatinya hingga keselamatannya sempurna.
Pengajaran mengenai kenyataan ―sekali diselamatkan, tetap
diselamatkan‖ merupakan salah satu pengajaran Alkitab yang paling agung.
Pengajaran ini memberi sukacita sebab kita mengetahui bahwa kita diselamatkan
untuk selama- lamanya.
Namun doktrin ketekunan orang kudus jangan disalah mengerti bahwa setiap orang
yang mengaku beriman di dalam Kristus dan menerima-Nya sebagai orang percaya
di dalam persekutuan orang kudus, dijamin di dalam kekekalan mendapatkan
jaminan keselamatan yang kekal. Sebab Alkitab sendiri telah memberikan
peringatan akan bahaya kemurtadan. ―Sebab mereka yang pernah diterangi
hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian
dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-
karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui
sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi
Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.‖ (Ibrani 6:4-6)
Mereka dapat dipersamakan seperti perumpamaan benih yang jatuh di tanah yang
berbatu- batu, yaitu orang yang menerima firman dengan sukacita dan masih terus
bersukacita untuk waktu tertentu. Namun sesungguhnya imannya tidak pernah
berakar di dalam Kristus. Imannya hanya sampai pada taraf persetujuan pemikiran.
Ia setuju pada fakta bahwa Yesus yaitu Tuhan dan Juruselamat, namun imannya
tidak sampai bersandar sepenuhnya kepada Kristus.
Doktrin ini tidak mengatakan bahwa orang percaya tidak akan pernah murtad atau
berdosa. Namun maksudnya, yaitu bahwa saat seseorang percaya kepada Kristus
secara asali sebagai Juruselamatnya dari dosa, ia sepenuhnya dijamin oleh Allah
oleh kekuatan pemeliharaan-Nya.
Dasar Jaminan Kekal keselamatan ini tidak terletak pada manusia, melainkan pada
Allah. Jaminan orang percaya didasarkan pada karya Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Karya Jaminan Bapa - Orang-orang percaya terjamin sebab Bapa telah memilih
mereka kepada keselamatan dari kekekalan masa lalu (Efs. 1:4). Bapa menetapkan
sejak semula orang-orang percaya untuk memiliki status ke-anak-an dalam Kristus
(Efs. 1:5). Bapa memiliki kuasa untuk menjaga orang percaya terjamin dalam
keselamatannya (Roma 8:28-30). Mereka yang dikenal Bapa, ditetapkan, dipanggil,
dan dibenarkan, yaitu mereka yang sama yang Ia muliakan di masa depan. Tidak
satu pun hilang dalam proses ini. Kasih Bapa bagi orang percaya juga menjamin
keamanan mereka (Roma 5:7-10).
20
Karya Jaminan Anak - Anak telah menebus orang percaya (Efs. 1:7), memindahkan
murka Allah dari orang percaya (Roma 3:25), membenarkan orang percaya (Roma
5:1), memberikan pengampunan (Kol. 2:13), dan menguduskan orang percaya (1
Kor. 1:2). Selanjutnya, Kristus berdoa bagi orang percaya untuk tinggal bersama-
Nya (Yoh. 17:24); Ia. terus menjadi Pengantara mereka di sebelah kanan Bapa (1
Yoh. 2:1); dan Ia terus menaikkan doa syafaat sebagai Imam Besar orang percaya
(Ibr. 7:25). Jika seorang percaya dapat hilang itu berarti Kristus tidak efektif dalam.
karya-Nya sebagai Pengantara orang percaya.
Karya Jaminan Roh Kudus - Roh Kudus meregenerasi orang percaya, memberinya
kehidupan (Titus 3:5); Roh Kudus tinggal di dalam hati orang percaya selamanya
(Yoh. 14:17); Ia telah memeteraikan orang percaya pada hari penebusan (Efs. 4:30),
meterai sebagai pembayaran awal, memberikan jaminan warisan masa depan kita;
orang percaya dibaptis ke dalam. kesatuan dengan Kristus dan ke dalam Tubuh
Kristus (1 Kor. 12:13).
Bagi orang percaya kehilangan keselamatan menuntut suatu pembalikan dan
pembatalan semua karya Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Hal kunci dalam pembahasan
jaminan orang percaya berkaitan dengan hal siapa yang menyelamatkan. Jika
seseorang bertanggung jawab untuk menjamin keselamatannya, maka ia bisa
terhilang; jika Allah menjamin keselamatan orang percaya, maka orang itu akan
selamanya terjamin.
Jaminan kekal orang percaya oleh anugerah Allah yaitu rencana keselamatan Allah
yang lengkap dan penuh kemuliaan.
20
XIII. EKLESIOLOGI : Pengajaran Tentang Gereja
Gereja yaitu suatu organisasi yang unik di dunia ini. Tidak ada satu organisasi pun di
dunia ini yang dapat dipersamakan dengan gereja. Allah mengasihi gereja-Nya, dan bagi
gereja-Nya Dia melakukan banyak perkara sebagai bukti kasih dan perhatian-Nya.
Keunikan gereja ini disebabkan sebab bentuk, sifat dan tujuan gereja yang sangat
berbeda dari organisasi lain yang pernah ada. Pada saat ini Allah berkenan kepada gereja
sebagai organisasi yang dijaga, dihidupkan dan diberkati oleh Tuhan. Dalam istilah teologi
pengajaran ini disebut Eklesiologi.
A. Arti Gereja
Kata ‗gereja‘ berhubungan dengan sebuah kelompok perhimpunan. Kata ini merupakan
suatu istilah teknis yang berhubungan dengan kata Yunani ‗ekklesia‘ dan kata Ibrani
‗qahal‘. Baik ‗qahal‘ maupun ‗ekklesia‘ kedua-duanya berarti suatu per- kumpulan atau
perhimpunan. Akan namun kedua kata ini tidak secara langsung mengacu kepada
gereja yang rohani, sebab istilah perkumpulan itu dapat juga berupa perkumpulan politik,
atau perkumpulan lain yang bukan keagamaan. Dalam PL, kata qahal menunjuk kepada:
1. Perkumpulan, sejumlah orang yang berhimpun (Ul. 9:10, 10:4, 18:16).
2. Jemaah Israel (Kel. 12:3).
3. Jemaah (Mzm. 22:23).
4. Umat Israel (Yer. 16:14-16).
Dalam PB, ekklesia dimengerti sebagai berikut:
1. Sidang jemaah orang-orang Israel (Kis. 7:38; Ibr. 2:12).
2. Kumpulan orang-orang kafir (Kis. 19:32, 39, 41).
3. Sidang jemaat lokal (1Kor. 1:2).
4. Tubuh Kristus (1Kor. 12:28; Kol. 1:10, 24).
pemakaian kata Yunani ‗ekklesia‘ dalam Perjanjian Baru, lebih kaya makna bila
dibandingkan dengan makna dasarnya yang sekular. Akan namun kata yang digunakan dalam
Perjanjian Baru itu masih berkaitan erat dengan arti perhimpunan dan bukan dengan arti
teologis seperti yang diperkirakan (yang berdasar pemecahan kata ini menjadi dua
bagian, yaitu ‗ek‘: keluar dan ‗kaleo‘: memanggil) sebagai orang-orang ‗yang dipanggil
keluar‘. Gereja yaitu persekutuan orang-orang yang dipanggil keluar dari kehidupan yang
gelap dan masuk ke dalam ―terang-Nya yang ajaib‖ (1Ptr. 2:9). Gereja mula-mula
tidaklah menunjuk kepada gedung tempat ibadah, suatu organisasi, atau suatu aliran gereja,
melainkan kepada persekutuan orang yang percaya Yesus yaitu Tuhan.
Selain berhubungan dengan kata ekklesia, istilah gereja (Inggris: church; Jerman:
kirche; Belanda: kerk; Portugis: igreya) berasal dari bahasa Yunani: kuriakos yang berarti
―milik Tuhan‖. Kata ini hanya digunakan dua kali dalam Perjanjian Baru, yaitu
pada 1 Korintus 11:20 dan Wahyu 1:10. Istilah ini dipakai oleh orang-orang Kristen Yunani
untuk menunjuk pada tempat ibadah, atau tempat yang dikhususkan bagi Tuhan. Kata itu
kemudian mulai biasa digunakan untuk menunjukkan hal-hal lainnya seperti tempat atau
orang-orang atau denominasi atau tanah air yang bertalian dengan kelompok orang yang
menjadi milik Tuhan. Pada masa sekarang, istilah gereja umumnya mengacu pada:
1. Gereja lokal, yaitu perhimpunan orang percaya di suatu tempat;
2. Gereja universal;
3. Tempat ibadah orang Kristen atau ―rumah Tuhan‖;
4. Suatu badan, denominasi, atau organisasi Kristen yang memiliki doktrin, organisasi
dan sejarah yang sama.
Secara teknis gereja didefinisikan sebagai perhimpunan orang-orang yang dipanggil oleh
Allah keluar dari dosa dan masuk ke dalam wilayah anugerah.
20
B. Dasar Gereja
Gereja tidak sama dengan Israel. Gereja belum dimulai pada masa Per- janjian Lama,
Gereja baru dimulai pada masa Perjanjian Baru. Gereja dimulai dan ditetapkan pada Hari
Pentakosta, hal ini dapat dibuktikan:
1. Tuhan Yesus berkata: ―Aku akan mendirikan jemaat-Ku‖ (Mat. 16:18). Kata ‗Aku
akan‘ berarti sesuatu yang belum ada dan akan dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dia akan
mendirikan Jemaat-Nya pada saat tertentu. Tuhan tidak mengatakan bahwa Ia akan terus
menambahkan pada sesuatu yang sudah ada, namun bahwa Ia akan melakukan sesuatu
yang belum pernah dimulai.
2. Gereja haruslah memiliki kepala. Kepala Gereja yaitu Kristus. Gereja baru dapat
memiliki Kepala yang berfungsi setelah kebangkitan Kristus. sebab itu gereja tidak
mungkin ada sebelum Ia bangkit dari antara orang mati.
3. Gereja baru dapat sungguh-sungguh beroperasi dengan berfungsinya karunia- karunia
rohani setelah kenaikan Kristus ke surga. Karunia diberikan kepada orang percaya mulai
Hari Pentakosta, yaitu pada saat pencurahan Roh Kudus kepada semua orang percaya
(Ef. 4:7-12).
4. Sifat rahasia dari satu tubuh belum dikenal dalam masa Perjanjian Lama (Ef. 3:5-6; Kol.
1:26). Dalam bahasa Yunani digunakan kata ‗mysterion‘, yang berarti sesuatu yang
tersembunyi atau rahasia. Rahasianya yaitu orang-orang bukan Yahudi akan menjadi
teman pewaris kasih karunia, sesama anggota dari satu tubuh, sesama penerima janji di
dalam Kristus yang diberitakan oleh Injil.
Gereja Kristen mulai terbentuk pada hari Pentakosta, saat Roh Kudus turun ke atas
120 orang percaya di kamar loteng Yerusalem (Kis. 2:1-4). Pada peristiwa itu setelah Petrus
berkhotbah, ―Orang-orang yang menerima perkataan itu memberi diri dibaptis dan pada
hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam
pengajaran rasul-rasul dan dalampersekutuan. Dan mereka berkumpul untuk memecahkan
roti dan berdoa… dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang yang
diselamatkan‖ (Kis. 2:41-42, 47).
Pada mulanya jemaat terdiri dari orang-orang Yahudi yang mengaku Yesus Kristus
sebagai Mesias. namun kemudian terbentuk jemaat yang anggotanya merupakan campuran
antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi (Kis. 13:11). Di kota Anthiokia-lah orang-
orang percaya ini untuk pertama lalinya disebut Kristen atau ―orang-orang
Kristus‖ (Kis. 11:26).
Yesus Kristus yaitu pendiri, batu penjuru dan dasar gereja (Mat. 16:16; 1Kor. 3:10-11;
Ef. 2:20). Gereja dibangun bukan atas dasar ajaran manusia, namun Kristus (1Ptr. 2:6).
Tanpa Kristus sunguh-sungguh dimuliakan sebagai Anak Allah, maka gereja berubah
menjadi hanya perkumpulan manusia.
Dalam Mat. 16:18, Yesus berkata, ―Engkau yaitu Petrus dan di atas batu karang
ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.‖ Apa yang
dimaksud dengan batu karang yang menjadi dasar gereja? Ada tiga pendapat:
1. Petrus (Diyakini oleh Gereja Katolik Roma)
Namun Yesus memakai kata Yunani petra dalam bentuk feminin, yang artinya
batu karang yang amat besar dan teguh; bukan kata petros (Petrus artinya: batu) dalam
bentuk maskulin.
2. Kristus
3. Pengakuan tentang Kristus sebagai Anak Allah (Mat. 16:16).
Sebaiknya kita memandang bahwa Kristus yaitu dasar/ fondasi gereja, namun Ia telah
memilih para rasul (termasuk Petrus) dan nabi untuk memberikan pengajaran dasar
tentang berbagai hubungan dalam gereja. Dibangun atas dasar Kristus yaitu jika
20
gereja sepenuhnya berdiri atas dasar firman Tuhan, yaitu 66 kitab dalam PL dan PB
(Gal. 1:8-9, 12; 2Tim. 3:15-16; Why. 22:6, 18-19).
C. Wujud Gereja
Gereja dapat dipahami dengan dua macam arti: arti universal dan arti lokal.
Pemahaman ini juga berkaitan dengan dua wujud gereja.
1. Gereja Universal
Dalam arti universal gereja terdiri atas semua orang, yang pada zaman ini, telah
dilahirkan kembali oleh Roh Allah dan oleh Roh yang sama itu telah dibaptiskan
menjadi anggota tubuh Kristus (1Kor. 12:13; 1Ptr. 1:3, 22-25). Jemaat ini bersifat
universal dalam arti bahwa anggotanya yaitu semua orang percaya, yang benar di
segala tempat, baik mereka yang sudah meninggal maupun mereka yang masih
hidup (Mat. 16:18; Ef. 5:24-25; Ibr. 12:23). Ini yaitu jemaat yang universal yang
tidak kelihatan (invisible church), disebut gereja yang tidak kelihatan sebab tidak
nampak jelas berkelompok di suatu tempat tertentu pada waktu yang tertentu pula.
Dalam Matius 16:18 jelas terlihat bahwa istilah gereja dipakai dalam arti universal
sebab Kristus berbicara mengenai membangun jemaat (gereja)-Nya dan bukan
membangun jemaat-jemaat atau gereja-gereja. Pemahaman tentang gereja yang
bersifat universal ini dapat dilihat dari gambaran-gambaran yang dipakai untuk
menerangkan gereja tesebut. Gereja disebut sebagai bangunan Allah (1Kor. 3:9),
Kristus merupakan batu penjuru bangunan itu (1Kor. 3:11) dan oleh RohNya
Kristus tinggal di dalamnya (1Kor. 3:16; 6:19). Menurut gambaran ini gereja
dianggap sebagai suatu organisme, yang memiliki hubungan yang sangat penting
dengan Kristus; gereja berada di bawah penguasaan Kristus, serta merupakan suatu
kesatuan, sekalipun terdiri atas orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi
dan memiliki aneka ragam karunia diantara anggota-anggotanya dan dalam teori
bekerja sama dalam melaksanakan suatu tugas bersama. yaitu sangat penting
bagi kita untuk megetahui adanya suatu gereja sedunia (universal) yang tidak
kelihatan, yakni:
a. Supaya kita mengetahui adanya hubungan kita dengan orang-orang percaya
dari segala zaman ―yang telah berlari sebelum kita, yang menunggu
kita menyelesaikan perlombaan‖ (Ibr. 12:1-21; 11:39-40). Mereka yaitu
―gereja yang menang‖, sedangkan kita yang masih ada di sini yaitu
―gereja yang berjuang/ militan‖.
b. Supaya kita mengetahui bahwa semua orang percaya yaitu benar-benar satu
dalam Kristus; jikalau satu menderita semua menderita, namun jika satu
bersukacita semua bersukacita (Kis. 11:27-30; 1Kor. 12:26).
c. Supaya kita mengetahui bahwa Allah mengerjakan pekerjaan yang besar
bukan hanya pada satu gereja lokal, denominasi, sekte, namun meliputi setiap
bangsa, suku, kaum, bahasa dan generasi (2Ptr. 3:9; Why. 5:9-10; 14:6-7).
2. Gereja Lokal
Dalam arti yang lokal istilah gereja dipakai untuk menunjuk kepada sekelompok
orang-orang percaya yang terkumpul di suatu tempat. Dengan demikian kita
membaca dalam Alkitab tentang adanya gereja di Yerusalem (Kis. 8:1; 11:22), di
Efesus (Kis. 20:17), di Kengkrea (Rm. 16:1), di Korintus (1Kor. 1:2) dan lain-lain.
Gereja lokal yaitu gereja yang kelihatan (visible church), yaitu kelompok yang
terdiri atas orang-orang percaya di satu lokasi atau tempat yang sama. Gereja lokal
(setempat) dapat didefinisikan sebagai kelompok yang lebih kecil yang terdiri atas
orang-orang yang sudah dilahirkan kembali, yang berkumpul bersama-sama sesuai
20
dengan hukum Kristus. Gereja lokal yaitu satu unit tersendiri yang komplit, namun
memiliki persekutuan dengan gereja lokal lainnya (Kis. 13:1-5; 1Kor. 1:2).
Gereja lokal itu merupakan replika dari gereja universal. Ciri Gereja lokal antara
lain: memiliki pengakuan iman yang sama, tunduk pada otoritas Tubuh Kristus,
melakukan sakramen Baptisan Air dan Perjamuan Kudus, memiliki karunia-
karunia pelayanan dari Yesus Kristus, memiliki kehidupan rohani yang disiplin dan
tertib. yaitu sangat penting bagi kita untuk mengetahui tentang adanya gereja
lokal yang nyata sebab :
a. Di dalam gereja lokal kita dapat mempraktikkan ikatan perjanjian kita, dengan
cara menjadi anggota jemaat yang bertanggung jawab (Mat. 18:15-20).
b. Di dalam gereja lokal fungsi pelayanan kita ketahui dan dipraktikkan (Rm.
12:3- 8; 1Kor. 12:18-28).
c. Di dalam gereja lokal kita mendapat perlindungan rohani dari ajaran-ajaran
yang meyesatkan (Kis. 20:28-30; Ef. 4:14).
D. Beda Gereja Dengan Kerajaan Allah
Gereja yaitu kelompok yang memiliki keunikan tertentu yang membedakannya dengan
yang lain. Pertama, walaupun memiliki hubungan erat dengan kerajaan Allah, gereja
memiliki otoritas mutlak di muka bumi kini. Kerajaan yaitu suatu komunitas yang
terorganisasi secara politis. Dalam kerajaan pasti ada penguasa, yang diperintah, dan
wilayah kerajaan.
Gagasan tentang kerajaan Allah sebetulnya sudah ada sejak Perjanjian Lama. Allah
yaitu Allah yang berdaulat atas segala sesuatu (Kel. 15:8; Mzm. 93). namun pemerintahan
Allah ditolak dan tidak diindahkan oleh dunia. Bahkan bangsa Israel pun menolak,
meskipun Allah telah memilih mereka sebagai ―wilayah kekuasaan- Nya‖ (Mzm.
114:2), kehendak-Nya ditentang. namun orang-orang yang menerima dan mengikuti
Kristus, mereka masuk Kerajaan Allah (Luk. 17:20-21; 18:28-30), namun klimaks
penggenapan Kerajaan Allah ialah pada akhir sejarah (Luk. 21; 22:29-30). Jadi Kerajaan
Allah sudah tiba, namun masih akan datang. Meskipun salah menyamakan gereja dengan
Kerajaan Allah, namun gereja menjadi alat pemerintahan Allah kalau benar-benar
menyerahkan diri kepada Kristus dengan mematuhi firman-Nya. Ada beberapa macam
konsep tentang kerajaan dalam Alkitab:
1. Kerajaan Universal (Kerajaan dari kekal sampai kekal)
Allah yaitu penguasa atas seluruh dunia (1Taw. 29:11; Mzm. 145:13), Ia berkuasa
atas segala sesuatu (termasuk atas malaikat-malaikat); dan kekuasaan Allah ada dalam
segala waktu dan kekekalan. Gereja termasuk dalam kerajaan ini.
2. Kerajaan Mesianik (Kerajaan Daud)
Menurut penganut paham premilenium, kerajaan ini akan berlangsung selama 1000
tahun, saat Kristus (Mesias) datang kembali untuk menjadi raja atas seluruh bumi
sesuai dengan perjanjian Allah kepada Daud (2Sam. 7:12-16). Gereja akan diangkat
terlebih dahulu sebelum nantinya akan memerintah bersama Kristus dalam Kerajaan
1000 tahun.
3. Kerajaan Misteri
Inilah yang dimaksud Yesus sebagai rahasia Kerajaan Allah, menunjuk kepada zaman
ini (Mat. 13:11, 39-40). Penguasanya ialah Allah. Yang diperintah ialah seluruh
manusia di bumi baik yang percaya Yesus maupun tidak. Waktunya yaitu masa di
antara kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua kalinya. Gereja termasuk
dalam kerajaan ini. Waktunya dimulai saat Yesus Kristus ditolak.
20
4. Kerajaan Rohani
Penguasanya ialah Kristus. Yang diperintah yaitu orang percaya yang telah lahir baru.
Kerajaan rohani sama dengan gereja atau tubuh Kristus (Kol. 1:13). Waktunya dimulai
sejak Pentakosta sampai pengangkatan gereja.
E. Beda Gereja Dengan Israel
Kita haruslah membedakan antara Israel dan Gereja, walaupun kedua- duanya yaitu
umat Allah akan namun secara prinsip keduanya menunjukkan perbedaan. Dalam Perjanjian
Baru, dengan jelas dibedakan antara gereja dan Israel (1Kor. 10:32), juga bangsa Israel dan
bukan Israel dibedakan setelah gereja ditetapkan (Kis. 3:12; 4:8, 10). Gereja bukanlah
kelanjutan ataupun pembangunan kembali Israel. Memang Kitab Perjanjian Lama sudah
menyatakan bahwa orang-orang bukan Israel akan ikut menerima bagian dalam rencana
karya penebusan Allah (Kej. 12:3; Yes. 42:6-7), namun Perjanjian Baru menyatakan bahwa
akan ada suatu penggabungan di dalam satu tubuh, di mana orang-orang Yahudi dan orang-
orang bukan Yahudi akan bersama-sama menjadi teman pewaris kasih karunia, sesama
anggota dari satu tubuh. Sesama penerima janji di dalam Kristus yang diberitakan oleh Injil
(Ef. 2:15-16).
Umat pilihan Allah, yakni bangsa Israel gagal dalam ujian ‗siapa Aku‘ (Mat. 12:22-
37), malah mereka menentang Yesus dengan mengatakan bahwa Ia menyembuhkan orang
dengan kuasa Belzebul (penghulu setan). Kemudian Yesus Kristus berbicara mengenai
perumpamaan-perumpamaan, tentang rahasia-rahasia Kerajaan Allah (Mat. 13 dst). Gereja
lulus dalam ujian tentang ‗siapa Aku‘; Gereja (dalam hal ini diwakili oleh Petrus)
mengakui bahwa Yesus yaitu Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:13-20).
Gereja bukan merupakan kelanjutan dari Israel, sekalipun ada hubungan di antara
orang-orang yang diselamatkan sepanjang zaman (Yoh. 10:16; Rm. 11:16, 24; 1Ptr. 2:3),
dan ada sekelompok orang di dalam sejarah sepanjang zaman yang merupakan umat Allah.
Kekristenan bukanlah merupakan anggur baru yang dituangkan ke dalam kantong-kantong
anggur yang sudah tua (Mat. 9:17). Gereja bukanlah kelanjutan dari sistem kuno Israel. Hal
ini dapat dibuktikan: Israel dan Gereja dalam Alkitab tidak merupakan istilah yang searti.
Paulus membedakan antara orang Yahudi, orang Yunani dan jemaat atau gereja (1Kor.
10:32). Selanjutnya, Paulus berbicara tentang gereja sebagai manusia baru (Ef. 2:15), yang
terdiri atas orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi yang percaya. Pada
akhirnya Allah masih menyediakan masa depan bagi Israel. Paulus dalam Roma 11
membentangkan urutan tindakan Allah bagi Israel di masa depan.
F. Ciri Gereja Yang Sejati
Diakui bahwa tidak ada organisasi gereja yang sempurna di dunia ini, akan namun sifat-
sifat gereja sejati di bawah ini merupakan ciri mendasar bagi suatu gereja yang sejati.
1. Esa (Unity)
Keesaan gereja tercipta sebab didasarkan pada satu Allah atau keesaan Allah (Ef.
4:1-6). Semua orang yang benar-benar termasuk dalam gereja merupakan satu umat
dan sebab itu gereja yang benar nyata dari kesatuannya. Namun keesaan ini tidak
perlu berarti keseragaman total. Terdapat keseragaman di dalam hal keyakinan-
keyakinan teologi yang mendasar (1Kor. 15:11; Yud. 1:3), namun keyakinan itu
memberi penekanan berbeda-beda menurut masalah yang dihadapi para Rasul (Rm.
3:20; Yak. 2:24; Flp. 2:5-7).
Ada pula perbedaan pandangan mengenai hal-hal yang kurang prinsip (Rm. 14:1-
15:13), sebab keesaan tidak perlu berarti keragaman secara total. Dalam gereja
Perjanjian Baru terdapat berbagai macam pelayanan (1Kor. 12:4-6). Ada juga
21
keanekaragaman dalam bentuk ibadah. Bentuk ibadah di Korintus (1Kor. 14:26)
mungkin sekali tidak biasa di gereja-gereja Palestina yang memiliki bentuk
ibadah yang berkembang menurut pola dari sinagoge. Ada juga variasi dalam bentuk
kepengurusan gereja.
Kesatuan sejati dalam Roh Kudus dari semua orang yang lahir kembali yaitu
kenyataan, sekalipun ada perbedaan denominasi yang lahiriah. Perjanjian Baru
menunjukkan ajaran mengenai kesatuan kepada kelompok-kelompok Kristen
tertentu dengan dampak langsung terhadap hubungan nyata mereka (Ef. 2:15; 4:4;
Kol. 3:15).







