Kamis, 16 Juli 2026

teori gereja 11

 


Yesus berdoa untuk kesatuan orang Kristen yang akan membawa dunia

kepada iman (Yoh. 17:23).

2. Kudus (Holiness)

Umat   Allah  yaitu   ―bangsa  yang  kudus‖  (1Ptr.   2:9).   Artinya  gereja  yaitu 

kudus, begitu juga setiap orang Kristen yaitu  kudus, berdasar  persekutuannya

dengan Kristus.  Kita  dipisahkan  untuk  menjadi  milik-Nya  dan  diberikan-Nya

kebenaran yang sempurna. Gereja berdiri di hadapan Allah ‗di dalam Kristus‘ tak

bernoda dan tak bercacat secara moral. Perbedaan antara gereja nyata dan tidak nyata

berlaku  di sini, sebab  kekudusan ini hanya menjadi milik anggota jemaat yang

menaruh kepercayaan kepada Kristus sebagai Juruselamat.

Persatuan dengan Kristus juga menyangkut kehidupan kudus secara nyata.

Hubungan gereja dengan Kristus sebagai kepalanya akan nyata dari sifat moralnya

dan kualitas kehidupannya sehari-hari. Gereja yang tidak mengenal kekudusan, tidak

mengenal Kristus. saat  Kristus berbicara kepada ketujuh jemaat di Asia kecil, Ia

dengan jelas mengharapkan perbedaan dalam sikap moral itu dan jika   hal ini

tidak didapatinya Ia sangat keras dalam penghakiman-Nya (Why. 2-3).

Kekudusan posisional ini juga harus diwujudkan dalam pengalaman kehidupan

secara nyata. Tentu saja belum ada gereja yang sempurna di dunia ini. Kehidupan di

gereja-gereja Perjanjian Baru ditandai kekhilafan, perpecahan, kegagalan moral dan

ketidakstabilan, dan masalah-masalah seperti itu tetap ada sampai sekarang. Namun

mau tidak mau gereja Tuhan yang sejati pastilah menunjukkan tanda kekudusan dan

kemajuan menuju kekudusan yang lebih sempurna.

3. Am (General)

Kata   ―am‖   (atau  ―katolik‖)  berarti:  menyangkut  keseluruhan,  universal.  Istilah

ini mula-mula menunjuk pada gereja universal untuk membedakannya dari  gereja

lokal. Kemudian  artinya  berubah  menunjuk  pada  gereja yang  mengaku  iman

ortodoks untuk membedakannya dari bidat-bidat. Dalam perkembangannya gereja

Roma mengambil  alih  istilah  ini  untuk  mengacu  pada  organisasi  gerejanya yang

sudah berkembang secara historis dan menyebar luas secara geografis dan berpusat

pada Paus. Para reformis abad ke-16 berusaha mengembalikan arti ini kepada arti

kata semula yakni pengakuan iman ortodoks, dan mereka menganggap diri sebagai

gereja katolik yang sebenarnya dan bukan gereja Roma.

Segi utama dari sifat Am dalam gereja mula-mula yaitu  keterbukaannya terhadap

semua orang. Berbeda dengan agama Yahudi dengan eksklusivisme rasialnya dan

aliran  Gnostik  dengan eksklusivisme intelektualnya,  maka  gereja  membuka  pintu

selebar-lebarnya  bagi  semua  yang ingin  masuk,  dari  tiap  ras,  warna  kulit,  status

sosial, kecakapan intelektual atau sejarah moralnya. Gereja masuk ke dalam dunia

dan membawa iman bagi semua (Mat. 28:19; Why. 7:9). Syarat satu- satunya untuk

masuk ialah iman kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan, dan

baptisan yang mengungkapkan Injil anugerah itu sebagai upacara masuk (Mat.

28:19; Kis. 2:38,41). Pada tingkat dasar inilah tanda ‗am‘ harus diterapkan. Gereja-

21

gereja yang menetapkan ujian-ujian lain harus diwaspadai. Gereja sejati tidak

memberi tempat pada diskriminasi ras, warna kulit, status sosial, kecakapan

intelektual atau moral, asal saja ada bukti pertobatan.

4. Rasuli (Apostolic)

Seorang rasul yaitu  saksi tentang pelayanan dan kebangkitan Yesus dan sebab  itu

yaitu  pembawa Injil yang berwenang (Luk. 6:12-13; Kis. 1:21-22; 1Kor. 15:8-10).

Dalam Perjanjian Baru yang disebut ‗rasul‘ ialah kedua belas murid Yesus, Paulus

dan beberapa orang lain. Para rasul menempati posisi antara Yesus dan semua

generasi  penganut iman Kristen berikutnya.  Kita mengenal  Kristus hanya melalui

kesaksian para Rasul tentang Dia, yang telah dicatat dalam Perjanjian Baru. Dalam

pengertian mendasar ini ‗gereja dibangun di atas dasar para rasul‘ (Ef. 2:20; Mat.

16:18; Why. 24:14). Sebab itu sifat rasuli dari gereja tergantung pada

penyesuaiannya dengan iman rasuli  yang telah disampaikan pada kita  (Kis.  2:42;

Yud. 1:3). Boleh dikatakan para rasul masih tetap memimpin dan mengatur gereja

sejauh gereja membiarkan kehidupan, pengertian dan pemberian firmannya

senantiasa disesuaikan dengan ajaran Alkitab.

Istilah ‗Rasul‘ (apostolos) secara harfiah berarti ‗utusan‘ dan Perjanjian Baru

kadang-kadang mengacu pada rasul-rasul dengan arti  yang lebih luas (Rm. 16:7).

Dalam pengertian umum ini, semua orang yang diutus oleh Tuhan sebagai penginjil,

pengkhotbah,  pendiri  gereja  dan sebagainya dapat  disebut ‗utusan‘  dan berfungsi

sebagai rasul. Namun ini tidak berarti bahwa mereka memiliki  status atau

wewenang khusus yang dapat menandingi kelompok rasul asli,  yang pimpinannya

terus melalui tulisan-tulisan rasuli.

Garis pengganti para rasul, tepatnya penurunan atau pewaris Injil, berarti kebenaran

rasuli  harus  diteruskan  dari  satu  generasi  kepada  generasi  yang  lain:  ―orang-

orang dapat dipercayai…mengajar orang lain‖ (2Tim. 2:2). Singkatnya, suatu gereja

bersifat  rasuli  kalau  dalam praktik  ia  mengakui  wewenang  tertinggi  dari  tulisan-

tulisan rasuli (Kis. 2:42), yakni Alkitab, dan meneruskan berita Injil dari satu

generasi ke generasi berikutnya.

5. Misi (Mission)

Dalam perintah Yesus mengenai kehidupan gereja (Yoh. 13-16; Luk. 10:1- 20; Kis.

1:1-8) ada unsur penting yang merupakan tanda dari gereja sejati, yakni misi:

―tanggung jawab   untuk membawa   kabar   baik tentang Yesus sampai ke ujung

bumi.‖  Tuhan  Yesus secara  tegas memerintahkan  para  murid-Nya  untuk

menyampaikan kabar  baik  kepada  semua  orang.  Ini  akan  menjadi  tugas  utama

mereka. Setiap murid Yesus memiliki tugas yang penting ini.

Dalam Kisah Para Rasul, tema pokok yaitu  penyebaran pekabaran Injil secara

berturut-turut  dari  Yerusalem ke  Yudea,  Samaria,  dan  kemudian  ke  dunia  orang

bukan Yahudi (1:8; 6:8-9; 7; 8; 10:34-48; 11:19-26; 13:1). Pekabaran Injil

merupakan tugas utama gereja menurut Alkitab. Jadi gereja yang tidak

memberitakan Injil, juga tidak mempedulikan kesejahteraan moral dan spiritual

masyarakat di sekelilingnya, serta tidak mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap

orang  miskin  di  mana saja  mereka  ditemukan,  telah  kehilangan  sifatnya  sebagai

gereja sejati dan menyangkal Tuhannya.

21

G. Gambaran Gereja

Gereja  itu  sungguh unik,  sebab  itu  dalam Alkitab  memakai   bermacam-  macam

gambaran  atau  ilustrasi  agar  umat  Kristus dapat memahami  dengan  jelas  hakekat  dan

fungsi gereja itu. Beberapa gambaran tentang gereja, di antaranya yaitu  sebagai berikut:

1. Gereja Sebagai Tubuh Kristus

Gereja digambarkan sebagai Tubuh Kristus (1Kor. 12:12-13; Ef. 1:22-23; Kol. 1:18,

24), khususnya dalam surat Efesus dan Kolose dengan maksud untuk menekankan

hubungan antara gereja dengan Kristus, seperti tubuh dan kepala. Paling sedikit ada

3 makna yang terkandung dalam gambaran ini , yakni:

a. Kristus sudah begitu menyatu dengan gereja-Nya, tidak mungkin memisahkan

Kristus dan Gereja-Nya. Menganiaya gereja berarti menganiaya Kristus sendiri;

menyambut gereja berarti menyambut Kristus (Mat. 10:40; Kis. 9:4).

b. Gereja  merupakan penjelmaan yang nampak dari  Yesus Kristus di  atas bumi.

Gereja yaitu  tubuh duniawi dari Tuhan yang surgawi itu. sebab  Kristus kini

tidak lagi berada di dunia dalam suatu bentuk yang kelihatan, maka tubuh-Nya

seharusnya dapat menyatakan siapakah Kristus itu (Kol. 1:27).

c. sebab  gereja yaitu  tubuh, ia tidak dapat hidup tanpa Kepala yang yaitu 

Kristus sendiri. Tubuh bergantung sepenuhnya kepada kepala ini . Ini

berarti gereja takluk dan diperintah oleh Kristus, Sang Kepala itu. Gereja tidak

boleh bertindak seolah-olah berdiri sendiri dan tidak boleh memerintah diri

sendiri. Gereja harus diperintah oleh Kristus.

namun  waktu Rasul Paulus menyebut gereja sebagai Tubuh Kristus dalam 1 Korintus

dan Roma, Paulus menekankan aspek lain dari Tubuh Kristus itu, yaitu persekutuan

dengan sesama umat yang ditebus  oleh Tuhan Yesus  Kristus.  Setiap bagian  atau

anggota tubuh Kristus memiliki  suatu fungsi dan kesanggupan yang  spesifik.

Setiap anggota yaitu  penting tidak peduli bagaimanapun kelihatannya dia. Setiap

orang yang telah menjadi bagian Tubuh Kristus pastilah berguna. Ia harus mengerti

apa panggilannya dan apa tujuan hidupnya. Tubuh yaitu  suatu kesatuan dimana

masing-masing bagian saling bergantung dan tidak dapat hidup sendiri. Sama seperti

mata tidak dapat berfungsi dengan tepat kalau terpisah dengan tangan atau dengan

bagian tubuh lainnya.  Tidak ada satu anggota pun dapat berfungsi dengan bebas

tanpa memerlukan anggota lain.

Seorang Kristen memerlukan saudara seiman untuk dapat bertumbuh dewasa dalam

Kristus. Ini berarti:

a. Semua bagian Tubuh Kristus hendaknya berfungsi pada posisinya masing-

masing.

b. Adanya keanekaragaman dalam Tubuh Kristus,  bukan untuk dipertentangkan

satu dengan yang lain, namun  justru untuk saling melengkapi. sebab  itu semua

bagian dari Tubuh Kristus hendaknya merasa saling membutuhkan dan saling

menolong untuk pembangunan Tubuh Kristus yang satu ini.

c. Semua bagian dari Tubuh Kristus perlu diorganisir secara rapi dan tertib dalam

segala kegiatannya sehingga tidak terjadi kekacauan.

Allah bermaksud untuk memakai seluruh Tubuh Kristus untuk melayani. Sekian

tahun lamanya pelayanan itu hanya dilakukan oleh pendeta itu sendiri,  sedangkan

jemaat  hanya  duduk  menonton.  Padahal  menurut  Alkitab  semua  anggota jemaat

harus melayani bersama. Kini sebagian umat Allah mulai menyadari kekeliruan ini.

Sayang mereka kemudian menempuh jalan lain yang akhirnya bahkan menimbulkan

lebih banyak kerugian  bagi  keutuhan gereja,  sebab  mereka  kurang mengerti  apa

yang sebenarnya hendak dilakukan Allah melalui gereja lokal. Lahirlah persekutuan-

21

persekutuan doa yang sama sekali tidak terikat kepada gereja mana pun, dan tidak

mau tunduk lagi kepada tata tertib dan pemerintahan gereja yang digariskan dalam

Alkitab.  Persekutuan-persekutuan itu  melayani  satu sama lain namun   mereka tidak

memiliki  tujuan dan visi yang jelas. Tidak ada pelayanan ke luar dan tidak ada

pengawasan. Cenderung banyak mengabaikan prinsip-prinsip Alkitab mengenai

kepemimpinan (leadership) dan ketundukan terhadap Tubuh Kristus setempat. Cara-

cara seperti ini juga tidak menghasilkan apa yang dikehendaki Allah untuk Tubuh-

Nya. Sering kelompok-kelompok demikian bubar sendiri. Jawaban Allah untuk

semua permasalahan ini yaitu  gereja lokal.

Di  dalam jemaat  lokal,  Allah  telah  menyediakan  jalan  supaya pelayanan  sebagai

suatu  tubuh  Kristus yang  utuh dapat  terlaksana.  sebab   pada  waktu  kita  tunduk

kepada garis komando yang ditetapkan Allah, tiap anggota tubuh Kristus akan

berfungsi dan melayani sedemikian rupa sehingga rencana Allah tercapai (Ef. 4:11-

12).

2. Gereja Sebagai Keluarga Allah

Gereja digambarkan sebagai keluarga Allah (Ef. 2:19), dengan maksud agar

dalam kehidupan jemaat hendaknya dapat dirasakan cinta kasih dan kehangatan

persaudaraan Kristen. Banyak orang Kristen yang kurang menyadari bahwa

hubungan antara sesama anggota tubuh bukanlah hubungan yang formal, namun 

hubungan keluarga, bukan orang asing. Kita telah dipersatukan oleh satu darah yaitu

Darah  Kristus.   Dari situlah  kita   kenal istilah ―sedarah‖  atau ―saudara‖. Setiap

warga jemaat menjadi saudara, bukan sebab  ras atau keturunan, namun  sebab  iman

kepada Kristus. Jadi semua orang-orang percaya telah menjadi satu keluarga di

dalam hubungan dengan Allah sebab :

a. Allah yaitu  Bapa kita (Mat. 6:9; 7:11; Gal. 4:6; 8:15)

b. Kita yaitu  anak-anak-Nya (Yoh. 1:12-13; Rm. 8:14, 16; Gal. 4:7)

c. Kita yaitu  keluarga Allah (Ef. 2:19)

Ada beberapa ciri dan gambaran gereja sebagai keluarga Allah:

a. Hubungan dalam keluarga Allah yaitu  hubungan yang bersifat khusus, tidak

hanya secara umum.

b. Hubungan yang terjadi menyangkut batin, tidak hanya bersifat lahiriah.

c. Hubungan dengan sesama bersifat pribadi.

d. Hubungan bukan sebab  hukum namun  sebab  hidup / hubungan darah.

Setiap orang Kristen sejati haruslah bersedia menolong saudara seimannya,

apapun yang terjadi (Gal. 6:2, 10). Kita menolong bukan hanya sekadar sebab  kita

―mau   menolong‖,   namun    sebab    kita   terikat   sebagai   sesama   anggota

keluarga. Seorang kakak wajib menolong adiknya, seorang ayah mengasihi anaknya,

bahkan memberikan nyawanya sekalipun untuk anak ini ! Mengapa? Sebab

mereka terikat sebagai sesama anggota keluarga! Demikian juga kita haruslah saling

mengasihi seperti Yesus telah mengasihi kita semua dengan kasih sempurna yaitu

kasih dari surga. Kristus mengatakan bahwa dunia akan dapat mempercayai Injil jika

kita semua saling mengasihi. Kita juga harus belajar menyediakan kebutuhan-

kebutuhan orang lain, menjangkau orang miskin, janda dan yatim piatu (Yak. 1:27).

Teladan hidup inilah yang diberikan oleh jemaat mula-mula (Kis. 4:23-37).

3. Gereja Sebagai Kawanan Domba Allah

Dalam 1 Petrus 5:2, Rasul Petrus melukiskan keterikatan antara orang Kristen dan

Kristus, seperti sekawanan domba dan gembala. Domba yaitu  binatang yang lemah

dan bodoh. Domba tidak memiliki taring, tanduk, cakar maupun senjata-senjata

lainnya untuk mempertahankan diri dari musuh- musuhnya. Domba juga tidak dapat

21

mengenal jalan bila tidak ada yang memimpinnya. Jadi, domba membutuhkan

gembala. Tanpa gembala, domba akan binasa. Seperti itulah gambaran diri kita. Kita

yaitu  domba-domba yang lemah dan bodoh. Kita tidak dapat hidup tanpa dipimpin

oleh pemimpin-pemimpin yang Tuhan sendiri tetapkan.

Untuk menjadi domba yang baik kita harus mematuhi 5 hal ini:

a. Domba harus diberi tujuan (visi).

Dalam Yesaya 53:6a,  manusia  digambarkan seperti  domba yang sesat  sebab 

mengambil jalan sendiri-sendiri. Jadi kita perlu digembalakan seperti domba

(Bil. 27:15-17), agar tidak tersesat dan binasa (Yer. 50:6-7) namun dapat

diarahkan kepada Tuhan (ay 5).

b. Domba ditempatkan di sebuah kandang  dan tetap dalam kawanannya (Yoh.

10:1). Kandang berbicara tentang perlindungan yang dibuat agar domba tidak

mengalami serangan dari musuh-musuhnya. Musuh domba dapat berupa

pencuri, perampok, serigala, orang asing maupun gembala upahan. Jadi jemaat

harus tergabung dalam sebuah gereja lokal agar mendapat perlindungan rohani

dari ajaran-ajaran yang menyesatkan (Kis. 20:28-30; Ef. 4:14). yaitu  sangat

berbahaya  bagi  orang  Kristen  untuk  meninggalkan  perhimpunan  orang-orang

kudus.

c. Domba harus dipimpin gembala. Yesus Kristus yaitu  Gembala Agung  kita

(Yoh. 10:11; 1Ptr. 5:4). Setelah Yesus naik ke surga tugas penggembalaan

diserahkan kepada para  hamba-Nya  (Kis.  20:28), yakni  para  penatua  sidang

jemaat. Gembala selalu berjalan di depan untuk ditaati dan diteladani oleh

domba-dombanya (Ibr. 13:7).

d. Domba harus patuh  kepada gembala (Ibr. 13:7). Kita harus taat dan tunduk

kepada pimpinan gembala, sebab  ia bertanggung jawab atas keselamatan jiwa

dombanya. Bila domba taat,  maka gembala akan melakukan tugasnya dengan

gembira. Bila gembala tidak  gembira  maka  domba  jugalah yang  mengalami

kerugian.

e. Domba harus memberi bulunya (Ul. 18:4). Guntingan bulu domba yang pertama

harus dipersembahkan kepada Tuhan melalui imam-imam Lewi. Sebagai domba

Tuhan kita harus berjanji untuk memberikan talenta, uang, waktu bahkan hidup

kita kepada Tuhan.

4. Gereja Sebagai Rumah Allah

Gereja digambarkan sebagai rumah Allah (1Kor. 3:9; Ef. 2:19-22; Ptr. 2:5). Rumah

itu dibangun dengan batu-batu, yang dulu terlepas dan tersebar di ladang tapi yang

dicari dan dikumpulkan lalu disusun dengan baik, batu di atas  batu secara rapi

tersusun, saling melekat dengan semen, sampai rumah itu berdiri dengan kuat. Batu-

batu yang sekadar ditumpuk menjadi sebuah timbunan batu tidak dapat disebut

sebuah rumah. Rumah merupakan suatu himpunan dari batu-batu yang disusun dan

terikat menjadi satu. Ini berarti: Jemaat harus menjadi seperti rumah yang kuat, yang

anggotanya saling terikat secara rapi, tersusun dengan kasih persaudaraan.

Ciri  yang bukan rumah Tuhan antara lain:  Lepas (bebas),  orang asing,  dibiarkan,

berantakan (kacau), hanya kebaktian. Sedangkan ciri jemaat sebagai rumah Tuhan

antara lain: Tertanam, keluarga, dibangun atas dasar pengajaran rasul dan nabi,

berfungsi (rapi tersusun), terlibat dalam kelompok kecil.

5. Gereja Sebagai Mempelai Wanita Kristus

Alkitab melukiskan bahwa Tuhan Yesus yaitu  mempelai laki-laki (Mat. 19:5; Yoh.

3:29) dan gereja-Nya yaitu  mempelai wanita (Ef. 5:31-33). Allah berjanji bahwa

21

akan ada ‗perkawinan‘ antara Tuhan Yesus dan gereja-Nya (Rm. 7:4; 2Kor. 11:2). 

Gambaran ini melukiskan beberapa aspek mengenai gereja:

a. Gereja yaitu  umat yang dikasihi Kristus. Untuk jemaat-Nya itulah Kristus rela

mengorbankan diri-Nya.

b. Jemaat yaitu  umat yang memperoleh anugerah, sebab  dipilih oleh Kristus 

sekalipun memiliki  banyak kekurangan dan cacat cela. Kristus telah 

melayakkan mereka menjadi pengantin-Nya.

c. Gereja Tuhan dituntut agar mengasihi Kristus dan memiliki  hubungan yang

akrab dengan Kristus (Mat. 22:37). Jemaat diwajibkan memelihara kesetiaannya

kepada Kristus.

d. Jemaat tidak diperkenankan untuk membagi kasihnya selain kepada Kristus.

e. Jemaat akan dijemput Kristus dengan sukacita dan akan disambut dalam

kerajaan Surga (Why. 19:7-8).

6. Gereja Sebagai Prajurit Kristus

Setiap orang percaya yaitu  prajurit Kristus yang harus mengenakan seluruh

perlengkapan senjata Allah untuk bergumul melawan si jahat (Ef. 6:10-18). Musuh

kita yaitu  hawa nafsu daging, perkara dunia, dan iblis (Ef. 2:1-3). Kita harus

menjadi prajurit Kristus yang baik (2Tim. 2:3-4). Prajurit yang baik yaitu  prajurit

yang militan, maksudnya memiliki komitmen untuk hidup sepenuhnya bagi Kristus.

Menjadikan Kristus sebagai Tuhan, Raja, Penguasa atas seluruh segi kehidupan

seseorang,  sehingga dapat  dipakai  sebagai  senjata  kebenaran  (Rm.  6:13).  Kristus

yaitu  panglima yang telah menang, sebab  itu walaupun peperangan rohani sangat

berat, kalau kita taat, Tuhan memberi kemenangan (Rm. 8:37).

H. Tugas Gereja

Yesus Kristus membangun sidang-Nya sebagai alat untuk melaksanakan pekerjaan-Nya

di  dunia.  Secara  garis  besar  gereja  dipanggil  untuk  melaksanakan  tiga  tugas  utamanya

yakni: tugas kepada Allah, tugas kepada dunia, dan tugas kepada anggota jemaat sendiri.

1. Tugas Kepada Allah

a. Liturgia (Penyembahan, Ibadah)

Tugas jemaat kepada Allah ialah memelihara hubungan erat dengan Allah,

memuliakan Dia di tengah dunia, dengan menyembah-Nya. Allah mencari

penyembah sejati yang menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23-24).

Faktor  terpenting  dalam ibadah  bukanlah  soal  tempat,  melainkan  soal sikap  hati

seseorang. Penyembahan yang benar ialah memusatkan hati kepada Allah dan

menyatakan kasih kita kepada Allah. Ini berati tidak memikirkan kebutuhan sendiri

maupun berkat-berkat yang Tuhan berikan, namun  memikirkan pribadi Allah sendiri.

Penyembahan   dalam   bahasa   Yunani ditulis  dengan   kata   ―proskuneo‖  arti

harfiahnya  yaitu   mencium  tangan.  Ini  berbicara  tentang  penghormatan  serta

kemesraan yang dalam kepada Allah.

Ibadah yaitu  cara yang paling jelas bagi gereja untuk memenuhi tujuannya yakni

menghormati Allah. Fungsi ini merupakan teladan dari Alkitab sendiri. Ungkapan

tentang ibadah yang terindah yaitu  di dalam kitab Mazmur, yang merupakan 

kumpulan nyanyian rohani Perjanjian Lama. Gereja berfungsi seperti kelompok 

imam yang mempersembahkan kurban syukur kepada Allah (Ibr. 13:15; 1Ptr. 2:5).

Ibadah meliputi  seluruh segi hidup kita, tidak terikat  oleh tempat  dan situasi  dan

kondisi. Penyembahan sejati mencakup: mempersembahkan diri dan tubuh kepada

Tuhan (Rm. 12:1). Kita harus mempersembahkan diri atau menyembah kepada

21

Tuhan dulu (2Kor. 8:5), baru  kemudian mempersembahkan harta kepada Tuhan

(1Kor. 16:2). Ingatlah Tuhan yaitu  pemilik mutlak atas hidup kita (2Kor. 9:7).

Unsur-unsur dalam ibadah meliputi: (1) Puji-pujian, yaitu pegagungan kepada Allah;

(2) Firman Allah merupakan unsur yang paling utama dalam ibadah yakni

memprioritaskan pembacaan dan penjelasan Firman Tuhan (Kol. 4:16; 1Tes. 5:27;

Kis. 2:42-43; 6:2); (3) Persembahan, unsur ini merupakan warisan dari Perjanjian

Lama dimana setiap ibadah diharuskan membawa persembahan kepada Tuhan (Kel.

14:20; Im. 27:30; 1Taw. 29:6-7) yang diterapkan juga dalam Perjanjian Baru (1Kor.

16:1-4); (4) Upacara Gereja yaitu Baptisan dan Perjamuan Kudus.

Ada tiga ciri utama yang mencirikan ibadah Kristen. Pertama, Kristus yang hidup

hadir  di  tengah-tengah  jemaat-Nya.  Ini  tidak  ada  padanannya  dalam agama  lain.

Orang berkumpul bukan hanya untuk mengingat saja, namun  untuk merayakan

kehadiran Tuhan, untuk bersukacita sebab Tuhan sudah menang dan untuk berjumpa

dengan  dia dalam Roh melalui  Firman (Mat. 18:20;  28:20).  Kedua,  Roh  Kudus

memberi kuasa untuk beribadah (Yoh. 4:24; Flp. 3:3). Ia menciptakan realitas (1Kor.

12:3), membatasi dan mengatur (1Kor. 14:32-33, 40), mengilhamkan doa (Rm.

8:26), menggerakkan puji-pujian dan syukur (Ef. 5:18-19), mengantar kepada

kebenaran (1Kor. 2:10-13), memberikan karunia-karunia-Nya (Rm. 12:4-8) dan

menginsyafkan orang tak  percaya (Yoh.  16:8; 1Kor.  14:24-25). Ketiga,  suasana

kasih dalam persekutuan meliputi  jemaat.  Ibadah Kristen mula-mula ditandai oleh

perhatian mendalam terhadap sesama dan partisipasi sungguh-sungguh dalam

pertemuan jemaat (Kis. 2:42-47). Hal ini khusus dinyatakan dalam bentuk perhatian

untuk saling memberi semangat dan bertumbuh dalam Kristus (Ef. 4:12- 16).

2. Tugas Terhadap Dunia

a. Marturia (Penginjilan atau Kesaksian)

Ada banyak tugas panggilan gereja, namun yang terutama sekali yaitu 

memproklamasikan Injil ke seluruh dunia sesuai dengan Amanat Agung Kristus:

―Pergilah…   jadikanlah…‖   (Mat   28:19).   Kristus   telah   memberikan   teladan

yang harus diikuti (Luk 19:10) kesaksian yaitu  tugas seluruh jemaat Kristus.

Jemaat yang melalaikan tugasnya untuk menginjil  akan segera kering, tandus dan

mati. Sebaliknya yang menginjil dan bersaksi akan sehat dan hidup.

Penginjilan ini yaitu  tugas seluruh anggota jemaat, bukan tugas khusus bagi

gembala atau penginjil saja (Kis 8:1, 4). Menginjil yaitu  bercerita kepada orang

lain tentang kasih Tuhan yang menyelamatkan. Bersaksi yaitu  menceritakan apa

yang telah dialami oleh pribadi orang Kristen dalam hubungannya dengan kehidupan

yang telah diubahkan oleh Kristus. Hal ini merupakan iklan atau promosi

penginjilan, tanpa kata kepada dunia yang terhilang ini. Jika orang Kristen ingin agar

orang berdosa  datang  kepada  Kristus,  maka orang  Kristen  harus datang  kepada

orang berdosa dan bercerita tentang Kristus. Jadilah  gereja  yang misioner,  yang

tidak dibatasi oleh tembok gereja. Kita tidak dapat membawa segenap dunia kepada

Kristus, namun  kita harus membawa Kristus kepada Dunia! Ini tidak mudah, namun 

bagaimanapun juga, ini tugas jemaat Kristus kepada dunia.

3. Tugas Ke Dalam Gereja Itu Sendiri

a. Koinonia (Persekutuan, Kis. 2:42; 4:23; Ibr. 10:24-25)

Persekutuan   berhubungan   erat   dengan   gereja    yang   memuliakan   Allah:

―terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk

kemuliaan Allah‖ (Rm. 15:7). Kalau orang Kristen hidup bersama dalam persekutuan

sejati, Allah dimegahkan. Koinonia pada dasarnya berarti bersama- sama menerima

bagian dalam sesuatu: penekanannya agak berbeda dengan pengertian persekutuan

21

akhir-

21

akhir ini, yakni saling bersahabat. Namun kedua hal ini pada akhirnya tidak terpisah

artinya, sebab  saling berpartisipasi yang meliputi saling bersahabat.

Persekutuan umat Allah dialaskan pada partisipasi bersama dalam kehidupan Allah

(1Yoh. 1:3,7). Ini yaitu  ciri khas gereja sejak semula (2Tes. 1:3). Namun

persekutuan Perjanjian Baru tidaklah tanpa diskriminasi; persekutuan dapat ditarik

kembali  dalam kelakuan yang sangat tidak pantas (1Kor. 5:4-5; 2Tes. 3:14) dan

tidak meliputi mereka yang menyangkal ajaran para Rasul (Kis. 2:42; Gal. 1:8-9).

Ungkapan mendasarnya yaitu  agape, kasih yang memberikan diri untuk sesamanya

(1Kor.  13;  1Yoh.  3:16),  yang oleh Yesus disebut  sebagai  ciri  yang membedakan

persekutuan baru (Yoh. 13:34-35) dan akan membawa dunia kepada iman oleh

beritanya (Yoh. 17:23).

Gereja harus memelihara persekutuan yang sudah dikaruniakan oleh Tuhan.

Persekutuan mencakup kebaktian di gereja maupun di rumah tangga, dalam

kunjungan, doa, saling menasihati dan melayani. Persekutuan diperlukan untuk

dapat  menjadi  satu dalam pengakuan iman,  menjadi  satu gerak dalam pelayanan.

Untuk pemeliharaan hidup persekutuan iman, gereja melaksanakan pelayanan

sakramen yakni Baptisan Air dan Perjamuan Kudus.

b. Didaskalia (Pengajaran Firman, Kis. 2:42; Ef. 4:12-16)

Para  anggota  jemaat  harus  bertumbuh  mengenai  firman  Allah  secara  mendalam.

Gereja  setempat  harus berfungsi  sebagai  sekolah Alkitab praktis,  yang membawa

orang  percaya kepada  kedewasaan rohani.  Pengajaran firman ini  bertujuan  agar

orang Kristen bertingkah laku seperti orang layaknya orang Kristen, yang

melakukan kehendak Allah (Mat. 28:19-20).

c. Diakonia (Pelayanan kasih, Yoh. 21:17)

Orang-orang Kristen yaitu  orang-orang yang telah menerima berkat dan belas

kasihan Tuhan. Oleh sebab  itu gereja wajib mendidik warganya untuk tahu

berterima kasih. Rasa terima kasih ini diwujudkan dengan melakukan perbuatan baik

(Ef.   2:10;   Gal.  6:2,  10).  ―.   .  .  mengunjungi  yatim  piatu  dan  janda-janda

dalam  kesusahan  mereka‖  (Yak.  1:27).  Jemaat  harus  memperhatikan  kebutuhan

orang yang berkekurangan (Mat. 25:31-46; Kis. 6:1-6; 2Kor. 8:1-15; 1Tim. 5:3-6).

Pelayanan kasih atau diakonia dilaksanakan untuk mewujudkan kasih Allah secara

nyata bagi dunia atau jemaat yang miskin. Inilah tugas dan panggilan gereja untuk

dilaksanakan. Kasih yang bertindak (love in action) didasari oleh iman Kristen yang

dihayati, akan merupakan bukti ketaatan Kristen terhadap Tuhan yang telah

mengutus-Nya.

Pelayanan kasih yaitu  cara untuk memuliakan Allah (1Ptr. 2:12). Melayani sendiri

yaitu  bentuk teladan dari Tuhan Yesus dimana Dia datang bukan sebagai

pemerintah   namun    sebagai   pelayan:   ―Anak   manusia   juga   datang   bukan

untuk dilayani, melainkan untuk melayani‖ (Mrk. 10:45). Pelayanan gereja pertama-

tama ditujukan  kepada  mereka yang  tercakup  dalam  persaudaraan  seiman  (Gal.

6:10). Namun pelayanan Yesus yang paling utama yaitu  melayani musuh-musuh-

Nya (Rm.  5:6-8).  sebab   itu  gereja  harus  memuliakan  Tuhan  dengan  bertindak

sebagai garam dan terang dalam masyarakat (Mat. 5:16), dengan cara menunjukkan

kepedulian dan pelayanan kasih kepada mereka.

Gereja tidak bisa bertumbuh hanya sebab  satu faktor. Misalnya doa, meskipun ini

sangat penting, namun bukanlah satu-satunya kunci untuk pelayanan yang berhasil.

Demikian juga halnya dengan kelompok sel, pujian dsb. Gereja akan berkembang

kalau  kita melakukan semua aspek  dari  tugas gereja secara  seimbang. Bila  kita

perhatikan, ada gereja yang menekankan pentingnya doa, pujian dan penyembahan

21

(aspek liturgia).  Itu baik,  tapi  belum lengkap.  Ada juga yang hanya menekankan

pelayanan    sosial,    ―social    gospel‖    (aspek    diakonia),    yang    lain

menekankan penginjilan dan memenangkan jiwa (aspek marturia).  Yang lain lagi

menekankan pentingnya  kelompok  sel  dan  persekutuan  dengan  saudara  seiman

(aspek koinonia), ada pula yang sangat menekankan pengajaran (pemuridan):  ada

berbagai program PA, SOM yang diadakan di jemaat itu (aspek didaskalia). Namun

gereja yang sehat yaitu  gereja yang menekanakan kelima hal itu secara seimbang.

Kelima tugas gereja ini selaras dengan perkataan Yesus sendiri yang dikenal sebagai

Hukum Agung dan Amanat Agung. Hukum Agung (Mat. 22:37-39) berbunyi:

Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu (liturgia), . . . Kasihilah

sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (diakonia). Amanat Agung (Mat. 28:19-

20) berbunyi: Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku (marturia), dan baptislah

mereka (koinonia), . . . dan ajarlah mereka (didaskalia). Dengan demikian Komitmen

Agung terhadap Hukum Agung dan Amanat Agung akan menghasilkan Gereja yang

Agung‖.

I. Hidup Berjemaat

1. Komitmen Kepada Sebuah Gereja Lokal

Gereja  yaitu  persekutuan orang yang percaya kepada Kristus,  yakni  umat yang

telah dipanggil keluar dari gelap menuju terang (1Ptr. 2:9). Orang yang telah

menerima  Kristus  sebagai  Juruselamat  dan  Tuhannya,  memiliki  pola  hidup  yang

berbeda dengan pola  lama  (Ef.  4:17:32).  Kekristenan bukanlah  agama individual

sebab  lingkup karya Allah tidak hanya bisa dialami secara perseorangan (misalnya

pengampunan dosa), namun  juga secara kelompok (misalnya kerukunan, pemulihan).

Jadi  Allah  telah  menempatkan  gereja  di  dalam dunia  sebagai  arena pertumbuhan

masyarakat Kristen.

Untuk maksud pertumbuhan rohani inilah maka sangat penting bagi kita untuk

membuat komitmen (ikatan perjanjian) di dalam satu gereja lokal dimana kita

menjadi jemaat yang setia dan bertanggung jawab serta tidak berpindah-pindah

tempat. Komitmen kepada sebuah gereja lokal penting agar kita dapat digembalakan

dan dilindungi,  agar  kita  tetap  berjalan  di  jalan  yang benar,  sebab  gereja  lokal

yaitu  alat dari Allah untuk memperlengkapi dan menguatkan umat- Nya. Bila kita

menolak gereja lokal berarti kita menolak rencana Allah. Kita perlu Tuhan, namun 

kita perlu satu sama lain jikalau kita mau menjadi apa yang Allah inginkan untuk

kita.

Dalam area apa saja Allah menghajar  kita  untuk mengikat  diri  pada suatu ikatan

perjanjian (commitment)?

a. Allah mau supaya kita memiliki  komitmen yang sangat erat dengan Allah

sendiri (1Kor. 6:17).

b. Allah mau supaya kita memiliki  komitmen dengan firman Allah sebagai

sumber kehidupan kita (Mzm. 119:1-2, 105, 160).

c. Allah mau suami dan istri memiliki  suatu komitmen yang kuat (Kej. 2:24; Ef.

5:31).

d. Allah mau setiap orang percaya memiliki  komitmen satu sama lain di dalam

Tubuh Kristus atau Gereja Tuhan (Ef. 2:19).

Tidak ada perkawinan ataupun gereja yang  kuat tanpa komitmen dan covenant

(ikatan janji).  Orang yang ―kumpul kebo‖  (hidup serumah tanpa  ada  ikatan apa-

apa) tidak akan pernah memiliki  rumah tangga yang kuat. Demikian juga tidak

adanya komitmen dan ikat janji yang jelas dalam gereja membuat gereja menjadi

22

tempat

22

―kumpul  kebo  rohani‖.  Ke  gereja  hanya  dibuat  cocok-cocokan,  kalau  bosan,

tidak diperhatikan, tersinggung, ditegur atau tidak dapat jabatan/ posisi maka pindah

ke gereja lain.

2. Wujud Komitmen Kepada Gereja Lokal

Allah  menginginkan  bukan saja  kita  memiliki   hubungan dengan gereja  Tuhan

sedunia, namun  Allah mau supaya kita mendemonstrasikan ikatan perjanjian dengan

gereja  Tuhan lokal  atau setempat. Kalau seseorang memiliki   ikatan  perjanjian

pada satu gereja lokal atau keluarga Allah setempat itu berarti:

a. Ia mengikat perjanjian secara khusus pada satu gereja lokal (Ef. 2:19). Ada

status keanggotaan yang jelas.

b. Ia menjadi jemaat yang aktif dan bertanggung jawab, serta tidak berpindah- 

pindah gereja.

c. Ia mau menyokong dengan sepenuh hati dan tenaga untuk visi dan tujuan gereja

lokal ini .

d. Ia berbicara yang baik tentang gereja lokal. Tidak membiarkan roh kritik 

berkembang walaupun ada kekurangan dalam gereja, sebab  gereja yaitu 

―keluarga‖  yang harus didukung  bersama oleh anggota keluarga.

e. Ia hadir dengan setia dalam acara bersama seperti: Ibadah Minggu, kelompok

sel, doa, pemuridan, dll (Ibr. 10:25).

f. Ia mau tunduk di bawah otoritas dari gereja lokal atau keluarga Allah itu (Ibr.

13:17).

g. Ia mau memberi waktu dan tenaga untuk gereja lokal itu.

h. Ia mau menyokong dengan keuangan pada gereja lokal itu.

i. Ia mau menanggung beban dengan sesama anggota gereja lokal itu.

3. Mengapa ada yang tidak mau menjadi anggota gereja lokal?

Ada beberapa alasan mengapa beberapa orang menolak untuk menjadi anggota 

gereja lokal, antara lain:

a. sebab  takut untuk dilukai sebab  mungkin telah dilukai sebelumnya atau

banyak penyalahgunaan sebelumnya dan sekarang sangat hati-hati  untuk mau

membuat ikatan perjanjian lagi.

b. sebab   memang tidak  mau terikat  dengan orang lain,  ingin  bergerak  dengan

kemauannya tanpa adanya pertanggungjawaban.

c. sebab  tidak mau tunduk pada otoritas dan harus menurut kemauannya sendiri.

d. sebab   tidak  percaya  bahwa keanggotaan  gereja  lokal  terdapat  dalam firman

Tuhan,  berpendapat  bahwa keanggotaan  gereja tidak  diperintahkan  langsung

oleh Tuhan dan merasa Tuhan tidak berkenan dengan keanggotaan secara resmi.

4. Keuntungan Menjadi Anggota Gereja Lokal Secara Resmi

a. Persekutuan (fellowship): menghasilkan hubungan yang sangat dalam di antara 

anggota dalam kekeluargaan dan persekutuan (Kol. 2:2-3).

b. Pemenuhan (fulfilment): merasa dihargai dan diikutsertakan di antara sesama 

anggota (1Kor. 12:12, 27).

c. Berbuah (fruitfullness): sebagai anggota satu gereja lokal berarti kita memiliki 

pengaruh dan daya produksi pada kehidupan anggota yang lain (Ef. 4:16).

d. Tanggung jawab (accountabillity): ada rasa tanggung jawab yang besar terhadap

sesama anggota (Gal. 6:1-2).

e. Pertumbuhan (growth): memiliki  kesempatan yang besar untuk bertumbuh

sebab  menerima penggembalaan dan perlindungan (1Tes. 5:12; Ef. 4:13, 16).

f. Kuasa (power): ada suatu kelepasan kuasa yang besar jikalau orang-orang

percaya bersatu untuk satu sasaran yang sama (Ul. 32:30).

22

g. Hadirat Allah (presence of God): Allah berjani untuk hadir pada perkumpulan

orang-orang percaya yang berkumpul dalam nama-Nya (Mat. 18:19-20).

5. Mempraktikkan Ikatan Perjanjian Dalam Gereja

Ada banyak hal yang harus dilakukan orang Kristen terhadap orang percaya yang

lain oleh sebab  telah memiliki  ikatan perjanjian,  antara lain:

a. Saling mengasihi Yoh. 13:35; 1Ptr. 1:22

b. Saling menghibur 1Tes. 4:18

c. Saling membangun Ibr. 10:25

d. Saling melayani 1Ptr. 4:10

e. Saling mengampuni Ef. 4:32, Kol. 3:13

f. Saling merendahkan diri Ef. 5:21

g. Saling mendoakan Yoh. 5:16

h. Saling menanggung beban Gal. 6:12

i. Saling menerima Rm. 15:7

j. Saling sabar Kol. 3:13

k. Sabar menanggung penderitaan 1Ptr. 5:9

l. Saling menghormati 1Ptr. 5:15

m. Saling bersekutu 1Yoh. 1:7

n. Saling mengajar Kol. 3:16

o. Saling menegur Kol. 3:16

Saling . . . dan lain-lain Alkitab

Ada banyak hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang-orang percaya yang telah 

memiliki  ikatan perjanjian:

a. Jangan saling menghakimi Rm. 14:13

b. Jangan saling berperkara 1Kor. 6:7

c. Jangan saling memfitnah Yak. 4:11

d. Jangan saling menantang Gal. 5:26

e. Jangan saling mendengki Gal. 5:26

f. Jangan saling membinasakan Gal. 5:15

g. Jangan saling . . . dll. Alkitab

Keterikatan satu sama lain dalam bentuk saling . . . ini dapat lebih terwujud melalui 

persekutuan kelompok kecil dalam gereja lokal.

6. Saling Melayani Dalam Kelompok Kecil

Setiap anggota gereja harus menjalankan fungsinya sebagai anggota Tubuh Kristus

yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Tidak seorang Kristen pun yang

dapat  berfungsi secara efektif  seorang diri.  Keterikatan satu dengan yang lain itu

diwujudkan dengan saling  .  .  .  ,  yakni  saling  mengasihi  (Yoh.  13:34-35),  saling

menasihati (Ibr. 10:25), saling menanggung beban (Gal. 6:1-2), saling mengampuni

(Ef. 4:32), dll. Ini dapat diwujudkan secara nyata dalam gereja lokal, yakni

kelompok orang percaya dalam jemaat setempat yang saling mengenal dengan baik

dan dengan demikian dapat saling melayani.

Manusia yaitu  makhluk individu sekaligus makhluk sosial, yang memerlukan

―social   support‖   dan   ―social   identity‖.   Nampaknya   keperluan   ini 

terpenuhi dalam gereja mula-mula. Dalam Kisah Para Rasul 3:46 disebutkan bahwa

mereka bersekutu dalam Bait Allah (skala besar) dan di rumah masing-masing (skala

kecil). Gereja  yang  berkembang  menjadi  besar  sering  kali  menghadapi  beberapa

masalah seperti:  kurangnya  keintiman  dalam hubungan  antar  anggota,  kurangnya

perhatian terhadap kebutuhan jemaat secara pribadi. Akibatnya jemaat menjadi

pasif dan

22

kurang terlibat dalam hal-hal rohani. Selain itu pembinaan bagi pertumbuhan rohani

tidaklah memadai bila hanya dilakukan secara umum seminggu sekali di gereja.

Dalam Keluaran 18:13-27 Yitro menasihati Musa untuk mengangkat pimpinan 1000

orang,  100 orang,  50 orang dan 10 orang.  Pembagian  umat  Israel  ini  merupakan

pendelegasian  tugas  kepemimpinan  agar  setiap  orang dapat menerima perhatian

lebih baik dalam menghadapi masalahnya dan agar Musa dapat mengerjakan hal-hal

lain yang lebih penting.

C. Peter Wagner, seorang pakar pertumbuhan gereja dari USA, menyatakan bahwa

gereja yang ingin  bertumbuh  harus  mengikuti  pola:  C = C +  C +  C (Church =

Celebration + Congregation + Cell). Menurut Wagner, dalam sebuah gereja perlu

ada kebaktian bersama untuk seluruh jemaat (= Celebration), pembinaan dalam kelas

Sekolah Minggu untuk tingkatan usia: anak-anak hingga dewasa (= Congregation),

dan  pembinaan  jemaat dalam kelompok  kecil  di  mana  setiap  orang dapat  saling

mengenal secara mendalam (= Cell). Jadi dalam kelompok inilah interaksi saling . . .

yang merupakan perwujudan dari ikatan perjanjian kepada gereja lokal dapat

dinyatakan.

Prinsip kelompok kecil inilah yang diterapkan oleh Yoido Full Gospel Church yang

digembalakan Pdt. Yonggi Cho yang beranggotakan sekitar 750.000 orang. Jemaat

dibagi dalam kelompok persekutuan rumah tangga menurut wilayahnya masing- 

masing,  dengan  sasaran  untuk  pekabaran Injil dengan cara  ―memasang telinga‖  

bila ada tetangga yang sakit, susah dan perlu ditolong. Lalu mereka menceritakan 

tentang Yesus dan mengundangnya mengikuti persekutuan wilayah itu baru 

kemudian mengajaknya ke gereja. Ini bukan hanya merupakan salah satu dari 

banyak program gereja yang telah ada namun  merupakan kunci penginjilan dan 

pertumbuhan gereja tanpa banyak ―gembar-gembor‖.

Kelompok harus dibentuk dengan sasaran

penginjilan dan bukan hanya untuk persekutuan secara eksklusif, bila tidak maka

kelompok  itu  bukan  hanya  tidak berkembang namun  juga  ―berbahaya‖  secara  

rohani, sebab  hanya hidup bagi dirinya sendiri. Dengan cara ini maka gereja 

tidak akan musnah, sebab  bila tiba masa aniaya, jemaat telah terbiasa bersekutu 

dalam kelompok  kecil dan bisa berkembang ―di bawah tanah‖ seperti di negara 

terali besi.

Adapun faedah yang dapat dirasakan dengan adanya persekutuan kelompok kecil di 

rumah-rumah, antara lain:

a. Tercipta persekutuan yang erat, bukan saja waktu jam kebaktian namun  setiap saat

ada suasana saling memperhatikan, saling menasehati, mendoakan, menolong

orang yang mengalami kesulitan dalam pekerjaan/sekolah/ keuangan, saling

mengunjungi yang sakit/lemah, menolong keluarga yang mengalami kematian,

dll.

b. Penelaahan Alkitab yang sistematis di rumah. namun  orang dapat makin

mengenal Firman Allah, mendiskusikannya, saling berbagi berkat dan

pengalaman. Pembahasan selalu terarah sebab  semua bahan untuk tidap

kelompok sama.

c. Kesempatan  untuk  melibatkan  diri  dalam penginjilan  secara langsung. Jemaat

dapat saling mengundang tetangganya yang belum menerima Kristus untuk

mengikut persekutuan ini sehingga kelompok kecil merupakan kunci penginjilan

yang efektif.

d. Doa khusus untuk keperluan anggota dan mengijinkan karunia Roh bekerja.

Sering kali orang merasa malu atau ragu-ragu untuk mengungkapkan isi hatinya

22

dalam pertemuan umum. Tapi di antara teman-teman dalam suasana

22

kekeluargaan yang akrab, akan lebih mudah untuk berdoa dan berserah kepada

Roh Kudus.

e. Jemaat diberi kesempatan untuk mengembangkan talenta dan karunia rohani

dalam pelayanan sehingga terciptalah pertumbuhan dan kedewasaan rohani.

J. Kepemimpinan Dalam Gereja

1. Prinsip Alkitab Tentang Kepemimpinan

Kita  sudah mempelajari  bahwa jemaat  Tuhan merupakan  suatu  keluarga.  Artinya

hubungan antara anggota dalam jemaat seperti hubungan dalam suatu keluarga. Di

dalam keluarga terdapat dua unsur utama yang mempersatukan dan membuat

keluarga  itu  bertumbuh  dengan  sehat,  yaitu:  kasih  dan  ketertiban.  Tanpa  adanya

keseimbangan dalam dua hal ini, akan terjadi ketimpangan dalam keluarga.

Ketertiban bukan suatu kata yang mengerikan, sebab di dalam ketertiban itu sendiri

terkandung unsur kasih. Ketertiban tanpa kasih di dalamnya yaitu  legalisme,

sebaliknya kasih tanpa ketertiban yaitu  liar. Itulah sebabnya Tuhan menempatkan

kepemimpinan di antara jemaat untuk menjaga ketertiban di dalamnya. Jadi Tuhan

menetapkan kita di bawah kepemimpinan demi kebaikan kita sendiri. Sebab kalau

kita berada di bawah kepemimpinan kita akan ada di bawah kepemimpinan ilahi.

Sebaliknya bila tidak ada pemerintahan, order dan struktur atau susunan, maka pasti

akan terjadi  kekacauan,  pemberontakan,  dll.  (Hak.  17:6.  21:25;  1Kor.  14:33,  40;

2Tes. 2:4; 2Ptr. 2:10). Setiap pemberontakan akan merugikan diri sendiri.

Paling tidak ada 4 (empat) area pemerintahan di dalam kehidupan setiap orang

percaya, yakni:

a. Pemerintahan di dalam setiap negara (Rm. 13:1-7; 1Ptr. 2:13-17). Rakyat tunduk

di bawah kepemimpinan pemerintahan yang ada.

b. Pemerintahan di dalam rumah tangga / keluarga (1Kor. 11:1-3, Ef. 5:22, 6:1-3).

Anak berada dalam kepemimpinan orang tua, istri di bawah kepemimpinan

suami dan suami di bawah Kristus.

c. Pemerintahan di dalam pekerjaan (Ef. 6:5-8). Para pegawai di bawah

kepemimpinan majikan.

d. Pemerintahan di dalam gereja Tuhan (Rm. 12:8; Ibr. 13:7, 17). Jemaat tunduk di

bawah kepemimpinan para penatua jemaat.

2. Kepemimpinan Di Dalam Jemaat

Banyak orang Kristen yang kurang mengerti akan prinsip penting ini. Mereka

mengerti ketaatan dalam pejabat-pejabat pemerintah. Mereka mengakui perlunya

ketaatan di dalam rumah tangga. namun  di dalam gereja, mereka segan untuk

mengakui wewenang  orang yang  memimpinnya.  Padahal  semua ini  telah  diatur

Allah  untuk kebaikan kita.  Allah  yaitu   kepala  dari  semua,  yang telah  memberi

kepada anak-Nya Kristus, kedudukan sebagai pemimpin (headship) atas gereja (Ef.

1:20-23).

Dewasa ini Kristus bekerja di dalam tubuh-Nya melalui Roh Kudus (Yoh. 14:18-

26). Allah telah menetapkan lima jawatan dalam tubuh Kristus, yakni rasul, nabi,

gembala, penginjil dan guru, untuk memperlengkapi jemaat melayani Tuhan sampai

jemaat mencapai kedewasaan rohani (Ef. 4:11-15). Dalam jemaat lokal, Allah telah

memberikan wewenang (otoritas) kepada para penatua setempat untuk menjalankan

kepemimpinan (Kis. 14:21-23; 1Tim. 5:17). Penatua (Inggris: Elder, Yunani:

Presbuteros – Presbiter) yaitu  orang yang matang rohaninya yang memliliki

kedudukan atau jabatan sebagai pengawas jemaat  (overseer,  uskup/ bishop – Kis.

1:20). Sedangkan tugas sehari-hari yang dilakukannya sebagai pastor atau

22

menggembalakan dan memberi makan domba-domba Allah, yakni jemaat (Kis.

2:17, 28; Tit. 1:5-7; 1Ptr. 5:1-2)

Para penatua yang memipin jemaat biasanya lebih dari satu orang (jamak/ plural) –

Kis. 20:17, 14:23; Yak. 5:14. Salah  satu dari  para  penatua  itu diangkat sebagai

pimpinannya   (―senior-pastor‖).   Lihat:   Kis.   12:17;   21:18   –   ―Yakobus   dan

para  penatua‖.  Para  penatua  (jamak  /  plural)  tidak  pernah  ditunjuk  oleh  jemaat

setempat melalui  sistem pemilihan; yang menunjuk mereka yaitu  para pengawas

gereja. Di dalam gereja Perjanjian Baru para penatua selalu diangkat dan ditahbiskan

oleh kelompok pelayanan inti  dan para penatua lain (Kis. 14:23; 20:28; Tit.  1:5).

Setiap penatua harus memenuhi syarat dalam Alkitab yang terdapat pada 1Tim. 3:1-9

dan Tit. 1:5-9.

Adapun tanggung jawab para penatua terhadap orang-orang percaya

yaitu :

a. Memimpin secara umum pertumbuhan dan jalannya gereja. memimpin artinya

memperhatikan, mengarahkan, mengawasi seperti orang tua dalam satu keluarga

terhadap anak-anaknya (1Tes. 5:12-14; Ibr. 13:17; 1Ptr. 5:2-3).

b. Menggembalakan, yang berarti memberi makan domba dengan rumput yang

hijau  (firman Tuhan),  menjaga  dari  serigala  (pengajar  sesat),  menolong yang

lemah, melayani yang sakit dan menjadi teladan bagi domba-domba (Kis.

20:28- 35).

c. Mengajar supaya semua anggota tubuh menjadi dewasa dan berfungsi juga

supaya pelayanan dan karunia-karunia berkembang (1Tim. 3:2; Tit. 1:9).

Sedangkan tanggung jawab orang-orang percaya terhadap penatua- penatua:

a. Menghormati (1Tes. 5:12-13).

b. Tunduk/ taat (Ibr. 13:17)

c. Menyokong dengan keuangan (1Kor. 9:11-14; 1Tim. 5:17-18)

d. Jangan sembarangan menuduh (1Tim. 5:1, 18-19)

e. Mendoakan (1Tes. 5:25).

Penatua yaitu  penilik jemaat yang mengawasi pekerjaan gereja dalam segala

aspeknya. Namun dalam pelaksanaannya penatua dibantu oleh para diaken (Yunani:

diakonos = pelayan). Jadi para diaken yaitu  orang-orang yang dipilih untuk

melaksanakan apa saja yang didelegasikan kepada mereka oleh para penatua.

Memang dalam Kis 6:1-7 tampaknya para diaken hanya terlibat  dalam pelayanan

membagikan derma (diakonia), tapi kemudian mereka juga terlibat dalam pelayanan

lain seperti yang dilakukan Stefanus (Kis. 6:8-10). Fakta bahwa para diaken tidak

boleh bercabang lidah dan isteri mereka hendaknya tidak menjadi pemfitnah (1Tim.

3:8, 11) bisa menunjukkan bahwa mereka melakukan semacam pelayanan konseling

pribadi  dengan anggota  jemaat  sehingga mereka harus  menjaga  kepercayaan atau

rahasia yang diberikan kepada mereka dalam pelayanan ini . Wanita pun dapat

menjadi diaken, contoh Febe dan Priska (Rm. 16:1-5). Seorang diaken harus

memenuhi persyaratan yang terdapat dalam Kis. 6:3 dan 1Tim. 3:8-10.

3. Ketertiban Dalam Jemaat

Allah menetapkan kepemimpinan dalam gereja-Nya untuk menertibkan kehidupan

jemaat, agar jemaat hidup kudus dan tidak membiarkan dosa di dalam gereja-Nya

yang akan mencemarkan banyak orang.

Tujuan penertiban (disiplin gereja) ini yaitu  untuk membawa kembali orang

ini  ke jalan benar (Gal. 6:1) sehingga kita tidak dihukum bersama-sama dengan

dunia (1Kor. 11:32). Dalam Matius 18:15-17, Yesus mengajarkan tentang prosedur

22

dalam melakukan penertiban bagi orang yang suka memberontak dan tidak mau 

diatur dalam jemaat, yakni:

a. Ditegur secara pribadi (empat mata).

b. Ditegur di hadapan dua atau tiga saksi.

c. Menyampaikan hal ini kepada jemaat.

d. Anggapan sebagai orang kafir.

sebab  jemaat yaitu  Tubuh Kristus, sedangkan ada salah satu anggota tubuh yang

sebab  tidak mau bertobat dapat menyeret seluruh tubuh dalam kebinasaan, maka

yang harus kita lakukan yaitu  menanggalkan bagian tubuh itu (Mat. 5:29-30). Dosa

dalam jemaat yaitu  ibarat sedikit ragi yang mengkhamiri seluruh adonan. Ragi (=

kejahatan) itu harus dibuang! (1Kor. 5:6-8). Inilah yang harus dilakukan terhadap

―saudara  seiman‖  yang  menolak  untuk  bertobat  dari kejahatannya  (1Kor.  5:13,

11). Penatua jemaat memiliki wewenang ilahi untuk menertibkan tiap anggota dalam

jemaat, sedangkan orang di luar jemaat akan dihakimi Allah (1Kor. 10:12-13).

Adapun dosa dalam jemaat yang perlu ditertibkan antara lain:

a. Dosa moral (1Kor. 5:1-5).

b. Pengajaran sesat (Tit. 1:13-14; 3:10-11).

c. Pemecah belah jemaat (Rm. 16:17-18; 3Yoh. 1: 9-10).

Namun perlu diingat  bahwa tujuan dari  penertiban bukanlah semata-mata sebagai

suatu hukuman atau pembalasan, namun untuk mendidik, mengoreksi dan pada

akhirnya menolong orang ini  keluar dari ikatan dosanya. Pada saat yang sama

juga untuk melindungi seluruh tubuh (jemaat) dari penularan/ pencemaran. Bila kita

didisiplin  /  ditertibkan hal  ini  menunjukkan  bahwa kita yaitu   anak Allah  yang

dikasihi-Nya (Ibr. 12:5-8). Memang pada waktu kita ditertibkan kita merasa

berduka, namun yang dihasilkan yaitu  kebenaran, damai dan kekudusan (Ibr.

12:10-11).

4. Bentuk Organisasi (Pemerintahan) Gereja

a. Episkopal

Kata   ―Episkopal‖   berarti   dipimpin   oleh   uskup   (episkopos  =   penilik).

Pola   ini  diikuti oleh gereja Anglikan. Rohaniwan terdiri dari uskup (yang

berhak menahbiskan dan menempatkan pendeta-pendeta di wilayahnya), pendeta

(yang boleh melakukan pelayanan  rohani kepada jemaat), diaken (calon

pendeta).

b. Presbiterial

Dipimpin para penatua. Ini merupakan ciri gereja Calvinis. Di Indonesia

misalnya: GKI, GPIB, dll. Walaupun para penatua dianggap sederajat, biasanya

dibedakan   antar   ―penatua   yang   mengajar‖,   yang   berfungsi   memberi

makanan  rohani dan melakukan sakramen, dan   ―penatua   yang memimpin‖

yang mengatur masalah organisasi, administrasi, keuangan, dll.

c. Kongregasional / Independen

Cirinya: Otonomi (artinya setiap jemaat setempat independen dan memiliki 

pemerintahan sendiri) dan demokrasi (artinya setiap anggota jemaat memiliki 

hak/ suara yang sama dengan yang lain dalam urusan gereja). Konsep ini

menunjuk pada doktrin keimaman setiap orang percaya. Pelayanannya biasanya

terdiri  dari pendeta dan diaken. Dalam praktiknya pola ini  mengakui manfaat

persekutuan dan kerjasama antar gereja, asalkan tidak membatasi kebebasan dan

tanggung jawab jemaat setempat untuk mencari dan melakukan kehendak

Tuhan dalam urusan jemaat  itu. Pola ini  diikuti  oleh gereja Baptis,  sebagian

besar gereja Pentakosta, dan beberapa gereja independen lain

d. Monarkial

Kuasa atau wibawa tertinggi dalam gereja ini hanya ada pada satu orang saja.

Sistem ini  dapat  terlihat  dalam bidat-bidat yang biasanya dikuasai  oleh satu

orang pemimpin saja.

e. Minimal/ Bebas

Kelompok ini menekankan pekerjaan Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya

dalam setiap anggota jemaat dalam membimbing dan menolongnya tanpa

melalui organisasi atau kepemimpinan yang resmi. Gereja yang memakai sistem

ini yaitu  Quakers (Friends) dan Plymouth Brethren. Dalam uraian di atas, kita

melihat tidak ada pola tunggal yang dapat dikatakan didukung Alkitab secara

gamblang.  Pada  umumnya  banyak gereja  yang menggabungkan  pola-pola di

atas.  Namun kita  harus  sedapat  mungkin  berusaha  mengikuti  pola-pola  yang

paling cocok dengan Alkitab.

K. Sakramen Gereja

Sakramen  (Latin:  Sacramentum)  yaitu   ―ungkapan  lahir  dan  nyata  dari anugerah

batin dan tidak nyata‖ (Katekimus gereja Anglikan). Sacramentum merupakan kata yang

dipilih untuk menerjemahkan kata Yunani ‗mysterion‘ yang bisa diartikan seseuatu yang

misteri atau magis.  Kebanyakan gereja Protestan mengakui dua sakramen:  Baptisan dan

Perjamuan Kudus.    Kristen   Mennonit   mengenal   satu   sakramen   tambahan   yaitu

―pembasuhan  kaki‖.  Gereja   Roma   Katolik   (melalui   Konsili   Trent)   mendefinisikan

sakramen   sebagai   ―sesuatu  yang  dilakukan  dengan  keyakinan,  yang  memiliki  kuasa,

melalui  lembaga  (institusi  ilahi) bukan  hanya  sebagai  tanda  atau  lambang,  tapi  juga

merupakan  pemberian  anugerah  yang berdaya guna‖.  mengakui  tujuh  sakramen  yaitu:

hukuman  penebusan  dosa,  pentahbisan iman,  pernikahan,  peneguhan  sebagai  anggota

jemaat,  pemberian  minyak  kepada  orang pada saat meninggal, baptisan dan ekaristi

(perjamuan kudus). Banyak gereja memakai  istilah sakramen untuk upacara gereja

yang diyakini menyalurkan anugerah Allah yang nyata. Namun ada pula gereja yang lebih

menyukai  istilah  ordonansi,  yang tidak  mengandung  tentang pemberian  anugerah  namun 

hanya merupakan suatu lambang. Gereja yang memakai  istilah ordonansi bermaksud

agar  terhindar  dari  mistisisme  dan sakramentarianisme yang ditunjukkan oleh istilah

‗sakramen‘.

1. Baptisan

a. Makna Baptisan

Baptisan melambangkan penyatuan orang percaya dengan Kristus dalam kematian,

penguburan dan kebangkitan-Nya (Rm. 6:3-4; Kol. 2:12; 1Ptr. 3:21). Dalam

baptisan orang percaya itu mengakui bahwa ia berada di dalam Kristus saat 

Kristus dihukum mati  sebab  dosa umat manusia,  bahwa ia  dikuburkan bersama-

sama Kristus dan bahwa ia ikut bangkit menuju hidup baru di dalam Kristus.

Baptisan  melambangkan  bahwa orang percaya  disamakan  dengan Kristus,  sebab 

orang percaya  dibaptiskan dalam (atau  ke dalam)  nama Tuhan Yesus  (Kis.  2:38;

8:16). Hal ini dilakukan pada saat seseorang bertobat berseru kepada nama Tuhan

(Kis. 22:16). Baptisan merupakan pengakuan yang terang-terangan di depan umum

bahwa Kristus yaitu  Tuhan (Rm. 10:9-10). Akan namun  sebelum mendapatkan

baptisan seseorang harus bertobat (Kis. 2:38), dan memiliki iman (Kis. 2:41; 8:12,

37; 18:8; Gal. 3:26-27; Rm. 6:3-4, 1Ptr. 3:21), sebab  baptisan air tidak

memicu  penyatuan orang percaya itu  dengan Kristus,  namun   mensyaratkan

atau melambangkan.

22

b. Pentingnya Baptisan

1) Kristus dibaptis (Mat. 3:16)

2) Tuhan menyetujui murid-murid-Nya untuk membaptiskan (Yoh. 4:1-2)

3) Kristus memerintahkan supaya orang percaya dibaptiskan (Mat. 28:19)

4) Gereja mula-mula sangat mementingkan baptisan (Kis. 2:38, 41)

5) PB memakai  baptisan untuk melambangkan kebenaran teologis.

c. Cara Pembaptisan

Dewasa  ini  terdapat  tiga  cara  untuk  membaptis  orang:  dipercik,  dituangkan,  dan

diselamkan.  Di dalam ketiga  bentuk baptisan ini  masih terdapat  berbagai  variasi,

misalnya cara percik/tuang/selam sebanyak satu atau tiga kali, dan cara baptis selam

ke belakang atau tegak ke bawah.

1) Dipercik

Kelompok yang menyetujui dilakukannya baptisan percik mengemukakan

argumen-argumen berikut:

   Upacara pengudusan dalam PL biasanya dilakukan dengan cara pemercikan

(Kel. 24:6, 7; Im. 14:7; Bil. 19:4, 8).

   Pemercikan melambangkan penyucian (Yeh. 36:25).

   Cara selam tidak mungkin dapat dilakukan dalam keadaan tertentu (Kis.

2:41), terlalu banyak orang (Kis. 8:38), terlalu sedikit air di padang gurun

(Kis. 16:33), terlalu sedikit air di rumah.

   Mayoritas gereja di dunia mempraktikkan baptisan percik.

2) Dituangkan/ dicurahkan

Kelompok yang menyetujui dilakukannya baptisan tuang mengemukakan

argumen-argumen berikut:

   Penuangan menggambarkan dengan baik sekali tentang pelayanan Roh 

Kudus yang masuk ke dalam hidup orang percaya (Yl. 2:28; Kis. 27:17-

18).

   Ungkapan  ―ke  dalam  air‖.  Jadi  orang  yang  dibaptis  bisa  saja  masuk ke

air, tapi tidak di bawah permukaan air seluruhnya.

   Lukisan di Katakombe menunjukkan baptisan dengan cara penuangan air ke 

atas kepala orang dari sebuah bejana dipegang.

3) Selam

Kelompok yang berpegang pada baptisan selam mengemukakan argumen- 

argumen berikut:

   Penyelaman memang merupakan arti utama dari baptizo.

   Penyelaman menggambarkan dengan tepat sekali arti baptisan dalam Roma

6:1-4, yaitu mati terhadap hidup lama, dan bangkit dalam kehidupan baru.

   Penyelaman mungkin dilakukan dalam segala keadaan. Banyak kolam di

Yerusalem sehingga mungkin saja 3000 orang dibaptis pada hari Pentakosta.

Jalan  ke  Gaza  itu  sepi  dan  gersang,  namun bukan berarti  tidak  ada air.

Rumah sering memiliki kolam di luar rumah, dimana misalnya keluarga

kepala penjara Filipi sangat mungkin telah dibaptis selam.

   Baptisan proselit dilakukan dengan cara menyelamkan diri sendiri ke dalam

air. Cara baptisan seperti ini yang mungkin dilakukan oleh gereja Kristen.

   Penuangan air, bukan pemercikan, merupakan pengecualian terhadap

penyelaman dan diizinkan dalam kasus penderita sakit. Hal ini disebut

―baptisan klinis‖.

   Bahkan banyak teolog yang sekalipun tidak menganut baptisan dengan cara

selam, menyatakan bahwa penyelaman merupakan praktik universal dalam

23

gereja pada zaman rasul.

23

Istilah ‗dibaptis‘ berarti ‗dicelupkan‘ yang merupakan arti utama