Yesus berdoa untuk kesatuan orang Kristen yang akan membawa dunia
kepada iman (Yoh. 17:23).
2. Kudus (Holiness)
Umat Allah yaitu ―bangsa yang kudus‖ (1Ptr. 2:9). Artinya gereja yaitu
kudus, begitu juga setiap orang Kristen yaitu kudus, berdasar persekutuannya
dengan Kristus. Kita dipisahkan untuk menjadi milik-Nya dan diberikan-Nya
kebenaran yang sempurna. Gereja berdiri di hadapan Allah ‗di dalam Kristus‘ tak
bernoda dan tak bercacat secara moral. Perbedaan antara gereja nyata dan tidak nyata
berlaku di sini, sebab kekudusan ini hanya menjadi milik anggota jemaat yang
menaruh kepercayaan kepada Kristus sebagai Juruselamat.
Persatuan dengan Kristus juga menyangkut kehidupan kudus secara nyata.
Hubungan gereja dengan Kristus sebagai kepalanya akan nyata dari sifat moralnya
dan kualitas kehidupannya sehari-hari. Gereja yang tidak mengenal kekudusan, tidak
mengenal Kristus. saat Kristus berbicara kepada ketujuh jemaat di Asia kecil, Ia
dengan jelas mengharapkan perbedaan dalam sikap moral itu dan jika hal ini
tidak didapatinya Ia sangat keras dalam penghakiman-Nya (Why. 2-3).
Kekudusan posisional ini juga harus diwujudkan dalam pengalaman kehidupan
secara nyata. Tentu saja belum ada gereja yang sempurna di dunia ini. Kehidupan di
gereja-gereja Perjanjian Baru ditandai kekhilafan, perpecahan, kegagalan moral dan
ketidakstabilan, dan masalah-masalah seperti itu tetap ada sampai sekarang. Namun
mau tidak mau gereja Tuhan yang sejati pastilah menunjukkan tanda kekudusan dan
kemajuan menuju kekudusan yang lebih sempurna.
3. Am (General)
Kata ―am‖ (atau ―katolik‖) berarti: menyangkut keseluruhan, universal. Istilah
ini mula-mula menunjuk pada gereja universal untuk membedakannya dari gereja
lokal. Kemudian artinya berubah menunjuk pada gereja yang mengaku iman
ortodoks untuk membedakannya dari bidat-bidat. Dalam perkembangannya gereja
Roma mengambil alih istilah ini untuk mengacu pada organisasi gerejanya yang
sudah berkembang secara historis dan menyebar luas secara geografis dan berpusat
pada Paus. Para reformis abad ke-16 berusaha mengembalikan arti ini kepada arti
kata semula yakni pengakuan iman ortodoks, dan mereka menganggap diri sebagai
gereja katolik yang sebenarnya dan bukan gereja Roma.
Segi utama dari sifat Am dalam gereja mula-mula yaitu keterbukaannya terhadap
semua orang. Berbeda dengan agama Yahudi dengan eksklusivisme rasialnya dan
aliran Gnostik dengan eksklusivisme intelektualnya, maka gereja membuka pintu
selebar-lebarnya bagi semua yang ingin masuk, dari tiap ras, warna kulit, status
sosial, kecakapan intelektual atau sejarah moralnya. Gereja masuk ke dalam dunia
dan membawa iman bagi semua (Mat. 28:19; Why. 7:9). Syarat satu- satunya untuk
masuk ialah iman kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan, dan
baptisan yang mengungkapkan Injil anugerah itu sebagai upacara masuk (Mat.
28:19; Kis. 2:38,41). Pada tingkat dasar inilah tanda ‗am‘ harus diterapkan. Gereja-
21
gereja yang menetapkan ujian-ujian lain harus diwaspadai. Gereja sejati tidak
memberi tempat pada diskriminasi ras, warna kulit, status sosial, kecakapan
intelektual atau moral, asal saja ada bukti pertobatan.
4. Rasuli (Apostolic)
Seorang rasul yaitu saksi tentang pelayanan dan kebangkitan Yesus dan sebab itu
yaitu pembawa Injil yang berwenang (Luk. 6:12-13; Kis. 1:21-22; 1Kor. 15:8-10).
Dalam Perjanjian Baru yang disebut ‗rasul‘ ialah kedua belas murid Yesus, Paulus
dan beberapa orang lain. Para rasul menempati posisi antara Yesus dan semua
generasi penganut iman Kristen berikutnya. Kita mengenal Kristus hanya melalui
kesaksian para Rasul tentang Dia, yang telah dicatat dalam Perjanjian Baru. Dalam
pengertian mendasar ini ‗gereja dibangun di atas dasar para rasul‘ (Ef. 2:20; Mat.
16:18; Why. 24:14). Sebab itu sifat rasuli dari gereja tergantung pada
penyesuaiannya dengan iman rasuli yang telah disampaikan pada kita (Kis. 2:42;
Yud. 1:3). Boleh dikatakan para rasul masih tetap memimpin dan mengatur gereja
sejauh gereja membiarkan kehidupan, pengertian dan pemberian firmannya
senantiasa disesuaikan dengan ajaran Alkitab.
Istilah ‗Rasul‘ (apostolos) secara harfiah berarti ‗utusan‘ dan Perjanjian Baru
kadang-kadang mengacu pada rasul-rasul dengan arti yang lebih luas (Rm. 16:7).
Dalam pengertian umum ini, semua orang yang diutus oleh Tuhan sebagai penginjil,
pengkhotbah, pendiri gereja dan sebagainya dapat disebut ‗utusan‘ dan berfungsi
sebagai rasul. Namun ini tidak berarti bahwa mereka memiliki status atau
wewenang khusus yang dapat menandingi kelompok rasul asli, yang pimpinannya
terus melalui tulisan-tulisan rasuli.
Garis pengganti para rasul, tepatnya penurunan atau pewaris Injil, berarti kebenaran
rasuli harus diteruskan dari satu generasi kepada generasi yang lain: ―orang-
orang dapat dipercayai…mengajar orang lain‖ (2Tim. 2:2). Singkatnya, suatu gereja
bersifat rasuli kalau dalam praktik ia mengakui wewenang tertinggi dari tulisan-
tulisan rasuli (Kis. 2:42), yakni Alkitab, dan meneruskan berita Injil dari satu
generasi ke generasi berikutnya.
5. Misi (Mission)
Dalam perintah Yesus mengenai kehidupan gereja (Yoh. 13-16; Luk. 10:1- 20; Kis.
1:1-8) ada unsur penting yang merupakan tanda dari gereja sejati, yakni misi:
―tanggung jawab untuk membawa kabar baik tentang Yesus sampai ke ujung
bumi.‖ Tuhan Yesus secara tegas memerintahkan para murid-Nya untuk
menyampaikan kabar baik kepada semua orang. Ini akan menjadi tugas utama
mereka. Setiap murid Yesus memiliki tugas yang penting ini.
Dalam Kisah Para Rasul, tema pokok yaitu penyebaran pekabaran Injil secara
berturut-turut dari Yerusalem ke Yudea, Samaria, dan kemudian ke dunia orang
bukan Yahudi (1:8; 6:8-9; 7; 8; 10:34-48; 11:19-26; 13:1). Pekabaran Injil
merupakan tugas utama gereja menurut Alkitab. Jadi gereja yang tidak
memberitakan Injil, juga tidak mempedulikan kesejahteraan moral dan spiritual
masyarakat di sekelilingnya, serta tidak mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap
orang miskin di mana saja mereka ditemukan, telah kehilangan sifatnya sebagai
gereja sejati dan menyangkal Tuhannya.
21
G. Gambaran Gereja
Gereja itu sungguh unik, sebab itu dalam Alkitab memakai bermacam- macam
gambaran atau ilustrasi agar umat Kristus dapat memahami dengan jelas hakekat dan
fungsi gereja itu. Beberapa gambaran tentang gereja, di antaranya yaitu sebagai berikut:
1. Gereja Sebagai Tubuh Kristus
Gereja digambarkan sebagai Tubuh Kristus (1Kor. 12:12-13; Ef. 1:22-23; Kol. 1:18,
24), khususnya dalam surat Efesus dan Kolose dengan maksud untuk menekankan
hubungan antara gereja dengan Kristus, seperti tubuh dan kepala. Paling sedikit ada
3 makna yang terkandung dalam gambaran ini , yakni:
a. Kristus sudah begitu menyatu dengan gereja-Nya, tidak mungkin memisahkan
Kristus dan Gereja-Nya. Menganiaya gereja berarti menganiaya Kristus sendiri;
menyambut gereja berarti menyambut Kristus (Mat. 10:40; Kis. 9:4).
b. Gereja merupakan penjelmaan yang nampak dari Yesus Kristus di atas bumi.
Gereja yaitu tubuh duniawi dari Tuhan yang surgawi itu. sebab Kristus kini
tidak lagi berada di dunia dalam suatu bentuk yang kelihatan, maka tubuh-Nya
seharusnya dapat menyatakan siapakah Kristus itu (Kol. 1:27).
c. sebab gereja yaitu tubuh, ia tidak dapat hidup tanpa Kepala yang yaitu
Kristus sendiri. Tubuh bergantung sepenuhnya kepada kepala ini . Ini
berarti gereja takluk dan diperintah oleh Kristus, Sang Kepala itu. Gereja tidak
boleh bertindak seolah-olah berdiri sendiri dan tidak boleh memerintah diri
sendiri. Gereja harus diperintah oleh Kristus.
namun waktu Rasul Paulus menyebut gereja sebagai Tubuh Kristus dalam 1 Korintus
dan Roma, Paulus menekankan aspek lain dari Tubuh Kristus itu, yaitu persekutuan
dengan sesama umat yang ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus. Setiap bagian atau
anggota tubuh Kristus memiliki suatu fungsi dan kesanggupan yang spesifik.
Setiap anggota yaitu penting tidak peduli bagaimanapun kelihatannya dia. Setiap
orang yang telah menjadi bagian Tubuh Kristus pastilah berguna. Ia harus mengerti
apa panggilannya dan apa tujuan hidupnya. Tubuh yaitu suatu kesatuan dimana
masing-masing bagian saling bergantung dan tidak dapat hidup sendiri. Sama seperti
mata tidak dapat berfungsi dengan tepat kalau terpisah dengan tangan atau dengan
bagian tubuh lainnya. Tidak ada satu anggota pun dapat berfungsi dengan bebas
tanpa memerlukan anggota lain.
Seorang Kristen memerlukan saudara seiman untuk dapat bertumbuh dewasa dalam
Kristus. Ini berarti:
a. Semua bagian Tubuh Kristus hendaknya berfungsi pada posisinya masing-
masing.
b. Adanya keanekaragaman dalam Tubuh Kristus, bukan untuk dipertentangkan
satu dengan yang lain, namun justru untuk saling melengkapi. sebab itu semua
bagian dari Tubuh Kristus hendaknya merasa saling membutuhkan dan saling
menolong untuk pembangunan Tubuh Kristus yang satu ini.
c. Semua bagian dari Tubuh Kristus perlu diorganisir secara rapi dan tertib dalam
segala kegiatannya sehingga tidak terjadi kekacauan.
Allah bermaksud untuk memakai seluruh Tubuh Kristus untuk melayani. Sekian
tahun lamanya pelayanan itu hanya dilakukan oleh pendeta itu sendiri, sedangkan
jemaat hanya duduk menonton. Padahal menurut Alkitab semua anggota jemaat
harus melayani bersama. Kini sebagian umat Allah mulai menyadari kekeliruan ini.
Sayang mereka kemudian menempuh jalan lain yang akhirnya bahkan menimbulkan
lebih banyak kerugian bagi keutuhan gereja, sebab mereka kurang mengerti apa
yang sebenarnya hendak dilakukan Allah melalui gereja lokal. Lahirlah persekutuan-
21
persekutuan doa yang sama sekali tidak terikat kepada gereja mana pun, dan tidak
mau tunduk lagi kepada tata tertib dan pemerintahan gereja yang digariskan dalam
Alkitab. Persekutuan-persekutuan itu melayani satu sama lain namun mereka tidak
memiliki tujuan dan visi yang jelas. Tidak ada pelayanan ke luar dan tidak ada
pengawasan. Cenderung banyak mengabaikan prinsip-prinsip Alkitab mengenai
kepemimpinan (leadership) dan ketundukan terhadap Tubuh Kristus setempat. Cara-
cara seperti ini juga tidak menghasilkan apa yang dikehendaki Allah untuk Tubuh-
Nya. Sering kelompok-kelompok demikian bubar sendiri. Jawaban Allah untuk
semua permasalahan ini yaitu gereja lokal.
Di dalam jemaat lokal, Allah telah menyediakan jalan supaya pelayanan sebagai
suatu tubuh Kristus yang utuh dapat terlaksana. sebab pada waktu kita tunduk
kepada garis komando yang ditetapkan Allah, tiap anggota tubuh Kristus akan
berfungsi dan melayani sedemikian rupa sehingga rencana Allah tercapai (Ef. 4:11-
12).
2. Gereja Sebagai Keluarga Allah
Gereja digambarkan sebagai keluarga Allah (Ef. 2:19), dengan maksud agar
dalam kehidupan jemaat hendaknya dapat dirasakan cinta kasih dan kehangatan
persaudaraan Kristen. Banyak orang Kristen yang kurang menyadari bahwa
hubungan antara sesama anggota tubuh bukanlah hubungan yang formal, namun
hubungan keluarga, bukan orang asing. Kita telah dipersatukan oleh satu darah yaitu
Darah Kristus. Dari situlah kita kenal istilah ―sedarah‖ atau ―saudara‖. Setiap
warga jemaat menjadi saudara, bukan sebab ras atau keturunan, namun sebab iman
kepada Kristus. Jadi semua orang-orang percaya telah menjadi satu keluarga di
dalam hubungan dengan Allah sebab :
a. Allah yaitu Bapa kita (Mat. 6:9; 7:11; Gal. 4:6; 8:15)
b. Kita yaitu anak-anak-Nya (Yoh. 1:12-13; Rm. 8:14, 16; Gal. 4:7)
c. Kita yaitu keluarga Allah (Ef. 2:19)
Ada beberapa ciri dan gambaran gereja sebagai keluarga Allah:
a. Hubungan dalam keluarga Allah yaitu hubungan yang bersifat khusus, tidak
hanya secara umum.
b. Hubungan yang terjadi menyangkut batin, tidak hanya bersifat lahiriah.
c. Hubungan dengan sesama bersifat pribadi.
d. Hubungan bukan sebab hukum namun sebab hidup / hubungan darah.
Setiap orang Kristen sejati haruslah bersedia menolong saudara seimannya,
apapun yang terjadi (Gal. 6:2, 10). Kita menolong bukan hanya sekadar sebab kita
―mau menolong‖, namun sebab kita terikat sebagai sesama anggota
keluarga. Seorang kakak wajib menolong adiknya, seorang ayah mengasihi anaknya,
bahkan memberikan nyawanya sekalipun untuk anak ini ! Mengapa? Sebab
mereka terikat sebagai sesama anggota keluarga! Demikian juga kita haruslah saling
mengasihi seperti Yesus telah mengasihi kita semua dengan kasih sempurna yaitu
kasih dari surga. Kristus mengatakan bahwa dunia akan dapat mempercayai Injil jika
kita semua saling mengasihi. Kita juga harus belajar menyediakan kebutuhan-
kebutuhan orang lain, menjangkau orang miskin, janda dan yatim piatu (Yak. 1:27).
Teladan hidup inilah yang diberikan oleh jemaat mula-mula (Kis. 4:23-37).
3. Gereja Sebagai Kawanan Domba Allah
Dalam 1 Petrus 5:2, Rasul Petrus melukiskan keterikatan antara orang Kristen dan
Kristus, seperti sekawanan domba dan gembala. Domba yaitu binatang yang lemah
dan bodoh. Domba tidak memiliki taring, tanduk, cakar maupun senjata-senjata
lainnya untuk mempertahankan diri dari musuh- musuhnya. Domba juga tidak dapat
21
mengenal jalan bila tidak ada yang memimpinnya. Jadi, domba membutuhkan
gembala. Tanpa gembala, domba akan binasa. Seperti itulah gambaran diri kita. Kita
yaitu domba-domba yang lemah dan bodoh. Kita tidak dapat hidup tanpa dipimpin
oleh pemimpin-pemimpin yang Tuhan sendiri tetapkan.
Untuk menjadi domba yang baik kita harus mematuhi 5 hal ini:
a. Domba harus diberi tujuan (visi).
Dalam Yesaya 53:6a, manusia digambarkan seperti domba yang sesat sebab
mengambil jalan sendiri-sendiri. Jadi kita perlu digembalakan seperti domba
(Bil. 27:15-17), agar tidak tersesat dan binasa (Yer. 50:6-7) namun dapat
diarahkan kepada Tuhan (ay 5).
b. Domba ditempatkan di sebuah kandang dan tetap dalam kawanannya (Yoh.
10:1). Kandang berbicara tentang perlindungan yang dibuat agar domba tidak
mengalami serangan dari musuh-musuhnya. Musuh domba dapat berupa
pencuri, perampok, serigala, orang asing maupun gembala upahan. Jadi jemaat
harus tergabung dalam sebuah gereja lokal agar mendapat perlindungan rohani
dari ajaran-ajaran yang menyesatkan (Kis. 20:28-30; Ef. 4:14). yaitu sangat
berbahaya bagi orang Kristen untuk meninggalkan perhimpunan orang-orang
kudus.
c. Domba harus dipimpin gembala. Yesus Kristus yaitu Gembala Agung kita
(Yoh. 10:11; 1Ptr. 5:4). Setelah Yesus naik ke surga tugas penggembalaan
diserahkan kepada para hamba-Nya (Kis. 20:28), yakni para penatua sidang
jemaat. Gembala selalu berjalan di depan untuk ditaati dan diteladani oleh
domba-dombanya (Ibr. 13:7).
d. Domba harus patuh kepada gembala (Ibr. 13:7). Kita harus taat dan tunduk
kepada pimpinan gembala, sebab ia bertanggung jawab atas keselamatan jiwa
dombanya. Bila domba taat, maka gembala akan melakukan tugasnya dengan
gembira. Bila gembala tidak gembira maka domba jugalah yang mengalami
kerugian.
e. Domba harus memberi bulunya (Ul. 18:4). Guntingan bulu domba yang pertama
harus dipersembahkan kepada Tuhan melalui imam-imam Lewi. Sebagai domba
Tuhan kita harus berjanji untuk memberikan talenta, uang, waktu bahkan hidup
kita kepada Tuhan.
4. Gereja Sebagai Rumah Allah
Gereja digambarkan sebagai rumah Allah (1Kor. 3:9; Ef. 2:19-22; Ptr. 2:5). Rumah
itu dibangun dengan batu-batu, yang dulu terlepas dan tersebar di ladang tapi yang
dicari dan dikumpulkan lalu disusun dengan baik, batu di atas batu secara rapi
tersusun, saling melekat dengan semen, sampai rumah itu berdiri dengan kuat. Batu-
batu yang sekadar ditumpuk menjadi sebuah timbunan batu tidak dapat disebut
sebuah rumah. Rumah merupakan suatu himpunan dari batu-batu yang disusun dan
terikat menjadi satu. Ini berarti: Jemaat harus menjadi seperti rumah yang kuat, yang
anggotanya saling terikat secara rapi, tersusun dengan kasih persaudaraan.
Ciri yang bukan rumah Tuhan antara lain: Lepas (bebas), orang asing, dibiarkan,
berantakan (kacau), hanya kebaktian. Sedangkan ciri jemaat sebagai rumah Tuhan
antara lain: Tertanam, keluarga, dibangun atas dasar pengajaran rasul dan nabi,
berfungsi (rapi tersusun), terlibat dalam kelompok kecil.
5. Gereja Sebagai Mempelai Wanita Kristus
Alkitab melukiskan bahwa Tuhan Yesus yaitu mempelai laki-laki (Mat. 19:5; Yoh.
3:29) dan gereja-Nya yaitu mempelai wanita (Ef. 5:31-33). Allah berjanji bahwa
21
akan ada ‗perkawinan‘ antara Tuhan Yesus dan gereja-Nya (Rm. 7:4; 2Kor. 11:2).
Gambaran ini melukiskan beberapa aspek mengenai gereja:
a. Gereja yaitu umat yang dikasihi Kristus. Untuk jemaat-Nya itulah Kristus rela
mengorbankan diri-Nya.
b. Jemaat yaitu umat yang memperoleh anugerah, sebab dipilih oleh Kristus
sekalipun memiliki banyak kekurangan dan cacat cela. Kristus telah
melayakkan mereka menjadi pengantin-Nya.
c. Gereja Tuhan dituntut agar mengasihi Kristus dan memiliki hubungan yang
akrab dengan Kristus (Mat. 22:37). Jemaat diwajibkan memelihara kesetiaannya
kepada Kristus.
d. Jemaat tidak diperkenankan untuk membagi kasihnya selain kepada Kristus.
e. Jemaat akan dijemput Kristus dengan sukacita dan akan disambut dalam
kerajaan Surga (Why. 19:7-8).
6. Gereja Sebagai Prajurit Kristus
Setiap orang percaya yaitu prajurit Kristus yang harus mengenakan seluruh
perlengkapan senjata Allah untuk bergumul melawan si jahat (Ef. 6:10-18). Musuh
kita yaitu hawa nafsu daging, perkara dunia, dan iblis (Ef. 2:1-3). Kita harus
menjadi prajurit Kristus yang baik (2Tim. 2:3-4). Prajurit yang baik yaitu prajurit
yang militan, maksudnya memiliki komitmen untuk hidup sepenuhnya bagi Kristus.
Menjadikan Kristus sebagai Tuhan, Raja, Penguasa atas seluruh segi kehidupan
seseorang, sehingga dapat dipakai sebagai senjata kebenaran (Rm. 6:13). Kristus
yaitu panglima yang telah menang, sebab itu walaupun peperangan rohani sangat
berat, kalau kita taat, Tuhan memberi kemenangan (Rm. 8:37).
H. Tugas Gereja
Yesus Kristus membangun sidang-Nya sebagai alat untuk melaksanakan pekerjaan-Nya
di dunia. Secara garis besar gereja dipanggil untuk melaksanakan tiga tugas utamanya
yakni: tugas kepada Allah, tugas kepada dunia, dan tugas kepada anggota jemaat sendiri.
1. Tugas Kepada Allah
a. Liturgia (Penyembahan, Ibadah)
Tugas jemaat kepada Allah ialah memelihara hubungan erat dengan Allah,
memuliakan Dia di tengah dunia, dengan menyembah-Nya. Allah mencari
penyembah sejati yang menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23-24).
Faktor terpenting dalam ibadah bukanlah soal tempat, melainkan soal sikap hati
seseorang. Penyembahan yang benar ialah memusatkan hati kepada Allah dan
menyatakan kasih kita kepada Allah. Ini berati tidak memikirkan kebutuhan sendiri
maupun berkat-berkat yang Tuhan berikan, namun memikirkan pribadi Allah sendiri.
Penyembahan dalam bahasa Yunani ditulis dengan kata ―proskuneo‖ arti
harfiahnya yaitu mencium tangan. Ini berbicara tentang penghormatan serta
kemesraan yang dalam kepada Allah.
Ibadah yaitu cara yang paling jelas bagi gereja untuk memenuhi tujuannya yakni
menghormati Allah. Fungsi ini merupakan teladan dari Alkitab sendiri. Ungkapan
tentang ibadah yang terindah yaitu di dalam kitab Mazmur, yang merupakan
kumpulan nyanyian rohani Perjanjian Lama. Gereja berfungsi seperti kelompok
imam yang mempersembahkan kurban syukur kepada Allah (Ibr. 13:15; 1Ptr. 2:5).
Ibadah meliputi seluruh segi hidup kita, tidak terikat oleh tempat dan situasi dan
kondisi. Penyembahan sejati mencakup: mempersembahkan diri dan tubuh kepada
Tuhan (Rm. 12:1). Kita harus mempersembahkan diri atau menyembah kepada
21
Tuhan dulu (2Kor. 8:5), baru kemudian mempersembahkan harta kepada Tuhan
(1Kor. 16:2). Ingatlah Tuhan yaitu pemilik mutlak atas hidup kita (2Kor. 9:7).
Unsur-unsur dalam ibadah meliputi: (1) Puji-pujian, yaitu pegagungan kepada Allah;
(2) Firman Allah merupakan unsur yang paling utama dalam ibadah yakni
memprioritaskan pembacaan dan penjelasan Firman Tuhan (Kol. 4:16; 1Tes. 5:27;
Kis. 2:42-43; 6:2); (3) Persembahan, unsur ini merupakan warisan dari Perjanjian
Lama dimana setiap ibadah diharuskan membawa persembahan kepada Tuhan (Kel.
14:20; Im. 27:30; 1Taw. 29:6-7) yang diterapkan juga dalam Perjanjian Baru (1Kor.
16:1-4); (4) Upacara Gereja yaitu Baptisan dan Perjamuan Kudus.
Ada tiga ciri utama yang mencirikan ibadah Kristen. Pertama, Kristus yang hidup
hadir di tengah-tengah jemaat-Nya. Ini tidak ada padanannya dalam agama lain.
Orang berkumpul bukan hanya untuk mengingat saja, namun untuk merayakan
kehadiran Tuhan, untuk bersukacita sebab Tuhan sudah menang dan untuk berjumpa
dengan dia dalam Roh melalui Firman (Mat. 18:20; 28:20). Kedua, Roh Kudus
memberi kuasa untuk beribadah (Yoh. 4:24; Flp. 3:3). Ia menciptakan realitas (1Kor.
12:3), membatasi dan mengatur (1Kor. 14:32-33, 40), mengilhamkan doa (Rm.
8:26), menggerakkan puji-pujian dan syukur (Ef. 5:18-19), mengantar kepada
kebenaran (1Kor. 2:10-13), memberikan karunia-karunia-Nya (Rm. 12:4-8) dan
menginsyafkan orang tak percaya (Yoh. 16:8; 1Kor. 14:24-25). Ketiga, suasana
kasih dalam persekutuan meliputi jemaat. Ibadah Kristen mula-mula ditandai oleh
perhatian mendalam terhadap sesama dan partisipasi sungguh-sungguh dalam
pertemuan jemaat (Kis. 2:42-47). Hal ini khusus dinyatakan dalam bentuk perhatian
untuk saling memberi semangat dan bertumbuh dalam Kristus (Ef. 4:12- 16).
2. Tugas Terhadap Dunia
a. Marturia (Penginjilan atau Kesaksian)
Ada banyak tugas panggilan gereja, namun yang terutama sekali yaitu
memproklamasikan Injil ke seluruh dunia sesuai dengan Amanat Agung Kristus:
―Pergilah… jadikanlah…‖ (Mat 28:19). Kristus telah memberikan teladan
yang harus diikuti (Luk 19:10) kesaksian yaitu tugas seluruh jemaat Kristus.
Jemaat yang melalaikan tugasnya untuk menginjil akan segera kering, tandus dan
mati. Sebaliknya yang menginjil dan bersaksi akan sehat dan hidup.
Penginjilan ini yaitu tugas seluruh anggota jemaat, bukan tugas khusus bagi
gembala atau penginjil saja (Kis 8:1, 4). Menginjil yaitu bercerita kepada orang
lain tentang kasih Tuhan yang menyelamatkan. Bersaksi yaitu menceritakan apa
yang telah dialami oleh pribadi orang Kristen dalam hubungannya dengan kehidupan
yang telah diubahkan oleh Kristus. Hal ini merupakan iklan atau promosi
penginjilan, tanpa kata kepada dunia yang terhilang ini. Jika orang Kristen ingin agar
orang berdosa datang kepada Kristus, maka orang Kristen harus datang kepada
orang berdosa dan bercerita tentang Kristus. Jadilah gereja yang misioner, yang
tidak dibatasi oleh tembok gereja. Kita tidak dapat membawa segenap dunia kepada
Kristus, namun kita harus membawa Kristus kepada Dunia! Ini tidak mudah, namun
bagaimanapun juga, ini tugas jemaat Kristus kepada dunia.
3. Tugas Ke Dalam Gereja Itu Sendiri
a. Koinonia (Persekutuan, Kis. 2:42; 4:23; Ibr. 10:24-25)
Persekutuan berhubungan erat dengan gereja yang memuliakan Allah:
―terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk
kemuliaan Allah‖ (Rm. 15:7). Kalau orang Kristen hidup bersama dalam persekutuan
sejati, Allah dimegahkan. Koinonia pada dasarnya berarti bersama- sama menerima
bagian dalam sesuatu: penekanannya agak berbeda dengan pengertian persekutuan
21
akhir-
21
akhir ini, yakni saling bersahabat. Namun kedua hal ini pada akhirnya tidak terpisah
artinya, sebab saling berpartisipasi yang meliputi saling bersahabat.
Persekutuan umat Allah dialaskan pada partisipasi bersama dalam kehidupan Allah
(1Yoh. 1:3,7). Ini yaitu ciri khas gereja sejak semula (2Tes. 1:3). Namun
persekutuan Perjanjian Baru tidaklah tanpa diskriminasi; persekutuan dapat ditarik
kembali dalam kelakuan yang sangat tidak pantas (1Kor. 5:4-5; 2Tes. 3:14) dan
tidak meliputi mereka yang menyangkal ajaran para Rasul (Kis. 2:42; Gal. 1:8-9).
Ungkapan mendasarnya yaitu agape, kasih yang memberikan diri untuk sesamanya
(1Kor. 13; 1Yoh. 3:16), yang oleh Yesus disebut sebagai ciri yang membedakan
persekutuan baru (Yoh. 13:34-35) dan akan membawa dunia kepada iman oleh
beritanya (Yoh. 17:23).
Gereja harus memelihara persekutuan yang sudah dikaruniakan oleh Tuhan.
Persekutuan mencakup kebaktian di gereja maupun di rumah tangga, dalam
kunjungan, doa, saling menasihati dan melayani. Persekutuan diperlukan untuk
dapat menjadi satu dalam pengakuan iman, menjadi satu gerak dalam pelayanan.
Untuk pemeliharaan hidup persekutuan iman, gereja melaksanakan pelayanan
sakramen yakni Baptisan Air dan Perjamuan Kudus.
b. Didaskalia (Pengajaran Firman, Kis. 2:42; Ef. 4:12-16)
Para anggota jemaat harus bertumbuh mengenai firman Allah secara mendalam.
Gereja setempat harus berfungsi sebagai sekolah Alkitab praktis, yang membawa
orang percaya kepada kedewasaan rohani. Pengajaran firman ini bertujuan agar
orang Kristen bertingkah laku seperti orang layaknya orang Kristen, yang
melakukan kehendak Allah (Mat. 28:19-20).
c. Diakonia (Pelayanan kasih, Yoh. 21:17)
Orang-orang Kristen yaitu orang-orang yang telah menerima berkat dan belas
kasihan Tuhan. Oleh sebab itu gereja wajib mendidik warganya untuk tahu
berterima kasih. Rasa terima kasih ini diwujudkan dengan melakukan perbuatan baik
(Ef. 2:10; Gal. 6:2, 10). ―. . . mengunjungi yatim piatu dan janda-janda
dalam kesusahan mereka‖ (Yak. 1:27). Jemaat harus memperhatikan kebutuhan
orang yang berkekurangan (Mat. 25:31-46; Kis. 6:1-6; 2Kor. 8:1-15; 1Tim. 5:3-6).
Pelayanan kasih atau diakonia dilaksanakan untuk mewujudkan kasih Allah secara
nyata bagi dunia atau jemaat yang miskin. Inilah tugas dan panggilan gereja untuk
dilaksanakan. Kasih yang bertindak (love in action) didasari oleh iman Kristen yang
dihayati, akan merupakan bukti ketaatan Kristen terhadap Tuhan yang telah
mengutus-Nya.
Pelayanan kasih yaitu cara untuk memuliakan Allah (1Ptr. 2:12). Melayani sendiri
yaitu bentuk teladan dari Tuhan Yesus dimana Dia datang bukan sebagai
pemerintah namun sebagai pelayan: ―Anak manusia juga datang bukan
untuk dilayani, melainkan untuk melayani‖ (Mrk. 10:45). Pelayanan gereja pertama-
tama ditujukan kepada mereka yang tercakup dalam persaudaraan seiman (Gal.
6:10). Namun pelayanan Yesus yang paling utama yaitu melayani musuh-musuh-
Nya (Rm. 5:6-8). sebab itu gereja harus memuliakan Tuhan dengan bertindak
sebagai garam dan terang dalam masyarakat (Mat. 5:16), dengan cara menunjukkan
kepedulian dan pelayanan kasih kepada mereka.
Gereja tidak bisa bertumbuh hanya sebab satu faktor. Misalnya doa, meskipun ini
sangat penting, namun bukanlah satu-satunya kunci untuk pelayanan yang berhasil.
Demikian juga halnya dengan kelompok sel, pujian dsb. Gereja akan berkembang
kalau kita melakukan semua aspek dari tugas gereja secara seimbang. Bila kita
perhatikan, ada gereja yang menekankan pentingnya doa, pujian dan penyembahan
21
(aspek liturgia). Itu baik, tapi belum lengkap. Ada juga yang hanya menekankan
pelayanan sosial, ―social gospel‖ (aspek diakonia), yang lain
menekankan penginjilan dan memenangkan jiwa (aspek marturia). Yang lain lagi
menekankan pentingnya kelompok sel dan persekutuan dengan saudara seiman
(aspek koinonia), ada pula yang sangat menekankan pengajaran (pemuridan): ada
berbagai program PA, SOM yang diadakan di jemaat itu (aspek didaskalia). Namun
gereja yang sehat yaitu gereja yang menekanakan kelima hal itu secara seimbang.
Kelima tugas gereja ini selaras dengan perkataan Yesus sendiri yang dikenal sebagai
Hukum Agung dan Amanat Agung. Hukum Agung (Mat. 22:37-39) berbunyi:
Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu (liturgia), . . . Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (diakonia). Amanat Agung (Mat. 28:19-
20) berbunyi: Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku (marturia), dan baptislah
mereka (koinonia), . . . dan ajarlah mereka (didaskalia). Dengan demikian Komitmen
Agung terhadap Hukum Agung dan Amanat Agung akan menghasilkan Gereja yang
Agung‖.
I. Hidup Berjemaat
1. Komitmen Kepada Sebuah Gereja Lokal
Gereja yaitu persekutuan orang yang percaya kepada Kristus, yakni umat yang
telah dipanggil keluar dari gelap menuju terang (1Ptr. 2:9). Orang yang telah
menerima Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhannya, memiliki pola hidup yang
berbeda dengan pola lama (Ef. 4:17:32). Kekristenan bukanlah agama individual
sebab lingkup karya Allah tidak hanya bisa dialami secara perseorangan (misalnya
pengampunan dosa), namun juga secara kelompok (misalnya kerukunan, pemulihan).
Jadi Allah telah menempatkan gereja di dalam dunia sebagai arena pertumbuhan
masyarakat Kristen.
Untuk maksud pertumbuhan rohani inilah maka sangat penting bagi kita untuk
membuat komitmen (ikatan perjanjian) di dalam satu gereja lokal dimana kita
menjadi jemaat yang setia dan bertanggung jawab serta tidak berpindah-pindah
tempat. Komitmen kepada sebuah gereja lokal penting agar kita dapat digembalakan
dan dilindungi, agar kita tetap berjalan di jalan yang benar, sebab gereja lokal
yaitu alat dari Allah untuk memperlengkapi dan menguatkan umat- Nya. Bila kita
menolak gereja lokal berarti kita menolak rencana Allah. Kita perlu Tuhan, namun
kita perlu satu sama lain jikalau kita mau menjadi apa yang Allah inginkan untuk
kita.
Dalam area apa saja Allah menghajar kita untuk mengikat diri pada suatu ikatan
perjanjian (commitment)?
a. Allah mau supaya kita memiliki komitmen yang sangat erat dengan Allah
sendiri (1Kor. 6:17).
b. Allah mau supaya kita memiliki komitmen dengan firman Allah sebagai
sumber kehidupan kita (Mzm. 119:1-2, 105, 160).
c. Allah mau suami dan istri memiliki suatu komitmen yang kuat (Kej. 2:24; Ef.
5:31).
d. Allah mau setiap orang percaya memiliki komitmen satu sama lain di dalam
Tubuh Kristus atau Gereja Tuhan (Ef. 2:19).
Tidak ada perkawinan ataupun gereja yang kuat tanpa komitmen dan covenant
(ikatan janji). Orang yang ―kumpul kebo‖ (hidup serumah tanpa ada ikatan apa-
apa) tidak akan pernah memiliki rumah tangga yang kuat. Demikian juga tidak
adanya komitmen dan ikat janji yang jelas dalam gereja membuat gereja menjadi
22
tempat
22
―kumpul kebo rohani‖. Ke gereja hanya dibuat cocok-cocokan, kalau bosan,
tidak diperhatikan, tersinggung, ditegur atau tidak dapat jabatan/ posisi maka pindah
ke gereja lain.
2. Wujud Komitmen Kepada Gereja Lokal
Allah menginginkan bukan saja kita memiliki hubungan dengan gereja Tuhan
sedunia, namun Allah mau supaya kita mendemonstrasikan ikatan perjanjian dengan
gereja Tuhan lokal atau setempat. Kalau seseorang memiliki ikatan perjanjian
pada satu gereja lokal atau keluarga Allah setempat itu berarti:
a. Ia mengikat perjanjian secara khusus pada satu gereja lokal (Ef. 2:19). Ada
status keanggotaan yang jelas.
b. Ia menjadi jemaat yang aktif dan bertanggung jawab, serta tidak berpindah-
pindah gereja.
c. Ia mau menyokong dengan sepenuh hati dan tenaga untuk visi dan tujuan gereja
lokal ini .
d. Ia berbicara yang baik tentang gereja lokal. Tidak membiarkan roh kritik
berkembang walaupun ada kekurangan dalam gereja, sebab gereja yaitu
―keluarga‖ yang harus didukung bersama oleh anggota keluarga.
e. Ia hadir dengan setia dalam acara bersama seperti: Ibadah Minggu, kelompok
sel, doa, pemuridan, dll (Ibr. 10:25).
f. Ia mau tunduk di bawah otoritas dari gereja lokal atau keluarga Allah itu (Ibr.
13:17).
g. Ia mau memberi waktu dan tenaga untuk gereja lokal itu.
h. Ia mau menyokong dengan keuangan pada gereja lokal itu.
i. Ia mau menanggung beban dengan sesama anggota gereja lokal itu.
3. Mengapa ada yang tidak mau menjadi anggota gereja lokal?
Ada beberapa alasan mengapa beberapa orang menolak untuk menjadi anggota
gereja lokal, antara lain:
a. sebab takut untuk dilukai sebab mungkin telah dilukai sebelumnya atau
banyak penyalahgunaan sebelumnya dan sekarang sangat hati-hati untuk mau
membuat ikatan perjanjian lagi.
b. sebab memang tidak mau terikat dengan orang lain, ingin bergerak dengan
kemauannya tanpa adanya pertanggungjawaban.
c. sebab tidak mau tunduk pada otoritas dan harus menurut kemauannya sendiri.
d. sebab tidak percaya bahwa keanggotaan gereja lokal terdapat dalam firman
Tuhan, berpendapat bahwa keanggotaan gereja tidak diperintahkan langsung
oleh Tuhan dan merasa Tuhan tidak berkenan dengan keanggotaan secara resmi.
4. Keuntungan Menjadi Anggota Gereja Lokal Secara Resmi
a. Persekutuan (fellowship): menghasilkan hubungan yang sangat dalam di antara
anggota dalam kekeluargaan dan persekutuan (Kol. 2:2-3).
b. Pemenuhan (fulfilment): merasa dihargai dan diikutsertakan di antara sesama
anggota (1Kor. 12:12, 27).
c. Berbuah (fruitfullness): sebagai anggota satu gereja lokal berarti kita memiliki
pengaruh dan daya produksi pada kehidupan anggota yang lain (Ef. 4:16).
d. Tanggung jawab (accountabillity): ada rasa tanggung jawab yang besar terhadap
sesama anggota (Gal. 6:1-2).
e. Pertumbuhan (growth): memiliki kesempatan yang besar untuk bertumbuh
sebab menerima penggembalaan dan perlindungan (1Tes. 5:12; Ef. 4:13, 16).
f. Kuasa (power): ada suatu kelepasan kuasa yang besar jikalau orang-orang
percaya bersatu untuk satu sasaran yang sama (Ul. 32:30).
22
g. Hadirat Allah (presence of God): Allah berjani untuk hadir pada perkumpulan
orang-orang percaya yang berkumpul dalam nama-Nya (Mat. 18:19-20).
5. Mempraktikkan Ikatan Perjanjian Dalam Gereja
Ada banyak hal yang harus dilakukan orang Kristen terhadap orang percaya yang
lain oleh sebab telah memiliki ikatan perjanjian, antara lain:
a. Saling mengasihi Yoh. 13:35; 1Ptr. 1:22
b. Saling menghibur 1Tes. 4:18
c. Saling membangun Ibr. 10:25
d. Saling melayani 1Ptr. 4:10
e. Saling mengampuni Ef. 4:32, Kol. 3:13
f. Saling merendahkan diri Ef. 5:21
g. Saling mendoakan Yoh. 5:16
h. Saling menanggung beban Gal. 6:12
i. Saling menerima Rm. 15:7
j. Saling sabar Kol. 3:13
k. Sabar menanggung penderitaan 1Ptr. 5:9
l. Saling menghormati 1Ptr. 5:15
m. Saling bersekutu 1Yoh. 1:7
n. Saling mengajar Kol. 3:16
o. Saling menegur Kol. 3:16
Saling . . . dan lain-lain Alkitab
Ada banyak hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang-orang percaya yang telah
memiliki ikatan perjanjian:
a. Jangan saling menghakimi Rm. 14:13
b. Jangan saling berperkara 1Kor. 6:7
c. Jangan saling memfitnah Yak. 4:11
d. Jangan saling menantang Gal. 5:26
e. Jangan saling mendengki Gal. 5:26
f. Jangan saling membinasakan Gal. 5:15
g. Jangan saling . . . dll. Alkitab
Keterikatan satu sama lain dalam bentuk saling . . . ini dapat lebih terwujud melalui
persekutuan kelompok kecil dalam gereja lokal.
6. Saling Melayani Dalam Kelompok Kecil
Setiap anggota gereja harus menjalankan fungsinya sebagai anggota Tubuh Kristus
yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Tidak seorang Kristen pun yang
dapat berfungsi secara efektif seorang diri. Keterikatan satu dengan yang lain itu
diwujudkan dengan saling . . . , yakni saling mengasihi (Yoh. 13:34-35), saling
menasihati (Ibr. 10:25), saling menanggung beban (Gal. 6:1-2), saling mengampuni
(Ef. 4:32), dll. Ini dapat diwujudkan secara nyata dalam gereja lokal, yakni
kelompok orang percaya dalam jemaat setempat yang saling mengenal dengan baik
dan dengan demikian dapat saling melayani.
Manusia yaitu makhluk individu sekaligus makhluk sosial, yang memerlukan
―social support‖ dan ―social identity‖. Nampaknya keperluan ini
terpenuhi dalam gereja mula-mula. Dalam Kisah Para Rasul 3:46 disebutkan bahwa
mereka bersekutu dalam Bait Allah (skala besar) dan di rumah masing-masing (skala
kecil). Gereja yang berkembang menjadi besar sering kali menghadapi beberapa
masalah seperti: kurangnya keintiman dalam hubungan antar anggota, kurangnya
perhatian terhadap kebutuhan jemaat secara pribadi. Akibatnya jemaat menjadi
pasif dan
22
kurang terlibat dalam hal-hal rohani. Selain itu pembinaan bagi pertumbuhan rohani
tidaklah memadai bila hanya dilakukan secara umum seminggu sekali di gereja.
Dalam Keluaran 18:13-27 Yitro menasihati Musa untuk mengangkat pimpinan 1000
orang, 100 orang, 50 orang dan 10 orang. Pembagian umat Israel ini merupakan
pendelegasian tugas kepemimpinan agar setiap orang dapat menerima perhatian
lebih baik dalam menghadapi masalahnya dan agar Musa dapat mengerjakan hal-hal
lain yang lebih penting.
C. Peter Wagner, seorang pakar pertumbuhan gereja dari USA, menyatakan bahwa
gereja yang ingin bertumbuh harus mengikuti pola: C = C + C + C (Church =
Celebration + Congregation + Cell). Menurut Wagner, dalam sebuah gereja perlu
ada kebaktian bersama untuk seluruh jemaat (= Celebration), pembinaan dalam kelas
Sekolah Minggu untuk tingkatan usia: anak-anak hingga dewasa (= Congregation),
dan pembinaan jemaat dalam kelompok kecil di mana setiap orang dapat saling
mengenal secara mendalam (= Cell). Jadi dalam kelompok inilah interaksi saling . . .
yang merupakan perwujudan dari ikatan perjanjian kepada gereja lokal dapat
dinyatakan.
Prinsip kelompok kecil inilah yang diterapkan oleh Yoido Full Gospel Church yang
digembalakan Pdt. Yonggi Cho yang beranggotakan sekitar 750.000 orang. Jemaat
dibagi dalam kelompok persekutuan rumah tangga menurut wilayahnya masing-
masing, dengan sasaran untuk pekabaran Injil dengan cara ―memasang telinga‖
bila ada tetangga yang sakit, susah dan perlu ditolong. Lalu mereka menceritakan
tentang Yesus dan mengundangnya mengikuti persekutuan wilayah itu baru
kemudian mengajaknya ke gereja. Ini bukan hanya merupakan salah satu dari
banyak program gereja yang telah ada namun merupakan kunci penginjilan dan
pertumbuhan gereja tanpa banyak ―gembar-gembor‖.
Kelompok harus dibentuk dengan sasaran
penginjilan dan bukan hanya untuk persekutuan secara eksklusif, bila tidak maka
kelompok itu bukan hanya tidak berkembang namun juga ―berbahaya‖ secara
rohani, sebab hanya hidup bagi dirinya sendiri. Dengan cara ini maka gereja
tidak akan musnah, sebab bila tiba masa aniaya, jemaat telah terbiasa bersekutu
dalam kelompok kecil dan bisa berkembang ―di bawah tanah‖ seperti di negara
terali besi.
Adapun faedah yang dapat dirasakan dengan adanya persekutuan kelompok kecil di
rumah-rumah, antara lain:
a. Tercipta persekutuan yang erat, bukan saja waktu jam kebaktian namun setiap saat
ada suasana saling memperhatikan, saling menasehati, mendoakan, menolong
orang yang mengalami kesulitan dalam pekerjaan/sekolah/ keuangan, saling
mengunjungi yang sakit/lemah, menolong keluarga yang mengalami kematian,
dll.
b. Penelaahan Alkitab yang sistematis di rumah. namun orang dapat makin
mengenal Firman Allah, mendiskusikannya, saling berbagi berkat dan
pengalaman. Pembahasan selalu terarah sebab semua bahan untuk tidap
kelompok sama.
c. Kesempatan untuk melibatkan diri dalam penginjilan secara langsung. Jemaat
dapat saling mengundang tetangganya yang belum menerima Kristus untuk
mengikut persekutuan ini sehingga kelompok kecil merupakan kunci penginjilan
yang efektif.
d. Doa khusus untuk keperluan anggota dan mengijinkan karunia Roh bekerja.
Sering kali orang merasa malu atau ragu-ragu untuk mengungkapkan isi hatinya
22
dalam pertemuan umum. Tapi di antara teman-teman dalam suasana
22
kekeluargaan yang akrab, akan lebih mudah untuk berdoa dan berserah kepada
Roh Kudus.
e. Jemaat diberi kesempatan untuk mengembangkan talenta dan karunia rohani
dalam pelayanan sehingga terciptalah pertumbuhan dan kedewasaan rohani.
J. Kepemimpinan Dalam Gereja
1. Prinsip Alkitab Tentang Kepemimpinan
Kita sudah mempelajari bahwa jemaat Tuhan merupakan suatu keluarga. Artinya
hubungan antara anggota dalam jemaat seperti hubungan dalam suatu keluarga. Di
dalam keluarga terdapat dua unsur utama yang mempersatukan dan membuat
keluarga itu bertumbuh dengan sehat, yaitu: kasih dan ketertiban. Tanpa adanya
keseimbangan dalam dua hal ini, akan terjadi ketimpangan dalam keluarga.
Ketertiban bukan suatu kata yang mengerikan, sebab di dalam ketertiban itu sendiri
terkandung unsur kasih. Ketertiban tanpa kasih di dalamnya yaitu legalisme,
sebaliknya kasih tanpa ketertiban yaitu liar. Itulah sebabnya Tuhan menempatkan
kepemimpinan di antara jemaat untuk menjaga ketertiban di dalamnya. Jadi Tuhan
menetapkan kita di bawah kepemimpinan demi kebaikan kita sendiri. Sebab kalau
kita berada di bawah kepemimpinan kita akan ada di bawah kepemimpinan ilahi.
Sebaliknya bila tidak ada pemerintahan, order dan struktur atau susunan, maka pasti
akan terjadi kekacauan, pemberontakan, dll. (Hak. 17:6. 21:25; 1Kor. 14:33, 40;
2Tes. 2:4; 2Ptr. 2:10). Setiap pemberontakan akan merugikan diri sendiri.
Paling tidak ada 4 (empat) area pemerintahan di dalam kehidupan setiap orang
percaya, yakni:
a. Pemerintahan di dalam setiap negara (Rm. 13:1-7; 1Ptr. 2:13-17). Rakyat tunduk
di bawah kepemimpinan pemerintahan yang ada.
b. Pemerintahan di dalam rumah tangga / keluarga (1Kor. 11:1-3, Ef. 5:22, 6:1-3).
Anak berada dalam kepemimpinan orang tua, istri di bawah kepemimpinan
suami dan suami di bawah Kristus.
c. Pemerintahan di dalam pekerjaan (Ef. 6:5-8). Para pegawai di bawah
kepemimpinan majikan.
d. Pemerintahan di dalam gereja Tuhan (Rm. 12:8; Ibr. 13:7, 17). Jemaat tunduk di
bawah kepemimpinan para penatua jemaat.
2. Kepemimpinan Di Dalam Jemaat
Banyak orang Kristen yang kurang mengerti akan prinsip penting ini. Mereka
mengerti ketaatan dalam pejabat-pejabat pemerintah. Mereka mengakui perlunya
ketaatan di dalam rumah tangga. namun di dalam gereja, mereka segan untuk
mengakui wewenang orang yang memimpinnya. Padahal semua ini telah diatur
Allah untuk kebaikan kita. Allah yaitu kepala dari semua, yang telah memberi
kepada anak-Nya Kristus, kedudukan sebagai pemimpin (headship) atas gereja (Ef.
1:20-23).
Dewasa ini Kristus bekerja di dalam tubuh-Nya melalui Roh Kudus (Yoh. 14:18-
26). Allah telah menetapkan lima jawatan dalam tubuh Kristus, yakni rasul, nabi,
gembala, penginjil dan guru, untuk memperlengkapi jemaat melayani Tuhan sampai
jemaat mencapai kedewasaan rohani (Ef. 4:11-15). Dalam jemaat lokal, Allah telah
memberikan wewenang (otoritas) kepada para penatua setempat untuk menjalankan
kepemimpinan (Kis. 14:21-23; 1Tim. 5:17). Penatua (Inggris: Elder, Yunani:
Presbuteros – Presbiter) yaitu orang yang matang rohaninya yang memliliki
kedudukan atau jabatan sebagai pengawas jemaat (overseer, uskup/ bishop – Kis.
1:20). Sedangkan tugas sehari-hari yang dilakukannya sebagai pastor atau
22
menggembalakan dan memberi makan domba-domba Allah, yakni jemaat (Kis.
2:17, 28; Tit. 1:5-7; 1Ptr. 5:1-2)
Para penatua yang memipin jemaat biasanya lebih dari satu orang (jamak/ plural) –
Kis. 20:17, 14:23; Yak. 5:14. Salah satu dari para penatua itu diangkat sebagai
pimpinannya (―senior-pastor‖). Lihat: Kis. 12:17; 21:18 – ―Yakobus dan
para penatua‖. Para penatua (jamak / plural) tidak pernah ditunjuk oleh jemaat
setempat melalui sistem pemilihan; yang menunjuk mereka yaitu para pengawas
gereja. Di dalam gereja Perjanjian Baru para penatua selalu diangkat dan ditahbiskan
oleh kelompok pelayanan inti dan para penatua lain (Kis. 14:23; 20:28; Tit. 1:5).
Setiap penatua harus memenuhi syarat dalam Alkitab yang terdapat pada 1Tim. 3:1-9
dan Tit. 1:5-9.
Adapun tanggung jawab para penatua terhadap orang-orang percaya
yaitu :
a. Memimpin secara umum pertumbuhan dan jalannya gereja. memimpin artinya
memperhatikan, mengarahkan, mengawasi seperti orang tua dalam satu keluarga
terhadap anak-anaknya (1Tes. 5:12-14; Ibr. 13:17; 1Ptr. 5:2-3).
b. Menggembalakan, yang berarti memberi makan domba dengan rumput yang
hijau (firman Tuhan), menjaga dari serigala (pengajar sesat), menolong yang
lemah, melayani yang sakit dan menjadi teladan bagi domba-domba (Kis.
20:28- 35).
c. Mengajar supaya semua anggota tubuh menjadi dewasa dan berfungsi juga
supaya pelayanan dan karunia-karunia berkembang (1Tim. 3:2; Tit. 1:9).
Sedangkan tanggung jawab orang-orang percaya terhadap penatua- penatua:
a. Menghormati (1Tes. 5:12-13).
b. Tunduk/ taat (Ibr. 13:17)
c. Menyokong dengan keuangan (1Kor. 9:11-14; 1Tim. 5:17-18)
d. Jangan sembarangan menuduh (1Tim. 5:1, 18-19)
e. Mendoakan (1Tes. 5:25).
Penatua yaitu penilik jemaat yang mengawasi pekerjaan gereja dalam segala
aspeknya. Namun dalam pelaksanaannya penatua dibantu oleh para diaken (Yunani:
diakonos = pelayan). Jadi para diaken yaitu orang-orang yang dipilih untuk
melaksanakan apa saja yang didelegasikan kepada mereka oleh para penatua.
Memang dalam Kis 6:1-7 tampaknya para diaken hanya terlibat dalam pelayanan
membagikan derma (diakonia), tapi kemudian mereka juga terlibat dalam pelayanan
lain seperti yang dilakukan Stefanus (Kis. 6:8-10). Fakta bahwa para diaken tidak
boleh bercabang lidah dan isteri mereka hendaknya tidak menjadi pemfitnah (1Tim.
3:8, 11) bisa menunjukkan bahwa mereka melakukan semacam pelayanan konseling
pribadi dengan anggota jemaat sehingga mereka harus menjaga kepercayaan atau
rahasia yang diberikan kepada mereka dalam pelayanan ini . Wanita pun dapat
menjadi diaken, contoh Febe dan Priska (Rm. 16:1-5). Seorang diaken harus
memenuhi persyaratan yang terdapat dalam Kis. 6:3 dan 1Tim. 3:8-10.
3. Ketertiban Dalam Jemaat
Allah menetapkan kepemimpinan dalam gereja-Nya untuk menertibkan kehidupan
jemaat, agar jemaat hidup kudus dan tidak membiarkan dosa di dalam gereja-Nya
yang akan mencemarkan banyak orang.
Tujuan penertiban (disiplin gereja) ini yaitu untuk membawa kembali orang
ini ke jalan benar (Gal. 6:1) sehingga kita tidak dihukum bersama-sama dengan
dunia (1Kor. 11:32). Dalam Matius 18:15-17, Yesus mengajarkan tentang prosedur
22
dalam melakukan penertiban bagi orang yang suka memberontak dan tidak mau
diatur dalam jemaat, yakni:
a. Ditegur secara pribadi (empat mata).
b. Ditegur di hadapan dua atau tiga saksi.
c. Menyampaikan hal ini kepada jemaat.
d. Anggapan sebagai orang kafir.
sebab jemaat yaitu Tubuh Kristus, sedangkan ada salah satu anggota tubuh yang
sebab tidak mau bertobat dapat menyeret seluruh tubuh dalam kebinasaan, maka
yang harus kita lakukan yaitu menanggalkan bagian tubuh itu (Mat. 5:29-30). Dosa
dalam jemaat yaitu ibarat sedikit ragi yang mengkhamiri seluruh adonan. Ragi (=
kejahatan) itu harus dibuang! (1Kor. 5:6-8). Inilah yang harus dilakukan terhadap
―saudara seiman‖ yang menolak untuk bertobat dari kejahatannya (1Kor. 5:13,
11). Penatua jemaat memiliki wewenang ilahi untuk menertibkan tiap anggota dalam
jemaat, sedangkan orang di luar jemaat akan dihakimi Allah (1Kor. 10:12-13).
Adapun dosa dalam jemaat yang perlu ditertibkan antara lain:
a. Dosa moral (1Kor. 5:1-5).
b. Pengajaran sesat (Tit. 1:13-14; 3:10-11).
c. Pemecah belah jemaat (Rm. 16:17-18; 3Yoh. 1: 9-10).
Namun perlu diingat bahwa tujuan dari penertiban bukanlah semata-mata sebagai
suatu hukuman atau pembalasan, namun untuk mendidik, mengoreksi dan pada
akhirnya menolong orang ini keluar dari ikatan dosanya. Pada saat yang sama
juga untuk melindungi seluruh tubuh (jemaat) dari penularan/ pencemaran. Bila kita
didisiplin / ditertibkan hal ini menunjukkan bahwa kita yaitu anak Allah yang
dikasihi-Nya (Ibr. 12:5-8). Memang pada waktu kita ditertibkan kita merasa
berduka, namun yang dihasilkan yaitu kebenaran, damai dan kekudusan (Ibr.
12:10-11).
4. Bentuk Organisasi (Pemerintahan) Gereja
a. Episkopal
Kata ―Episkopal‖ berarti dipimpin oleh uskup (episkopos = penilik).
Pola ini diikuti oleh gereja Anglikan. Rohaniwan terdiri dari uskup (yang
berhak menahbiskan dan menempatkan pendeta-pendeta di wilayahnya), pendeta
(yang boleh melakukan pelayanan rohani kepada jemaat), diaken (calon
pendeta).
b. Presbiterial
Dipimpin para penatua. Ini merupakan ciri gereja Calvinis. Di Indonesia
misalnya: GKI, GPIB, dll. Walaupun para penatua dianggap sederajat, biasanya
dibedakan antar ―penatua yang mengajar‖, yang berfungsi memberi
makanan rohani dan melakukan sakramen, dan ―penatua yang memimpin‖
yang mengatur masalah organisasi, administrasi, keuangan, dll.
c. Kongregasional / Independen
Cirinya: Otonomi (artinya setiap jemaat setempat independen dan memiliki
pemerintahan sendiri) dan demokrasi (artinya setiap anggota jemaat memiliki
hak/ suara yang sama dengan yang lain dalam urusan gereja). Konsep ini
menunjuk pada doktrin keimaman setiap orang percaya. Pelayanannya biasanya
terdiri dari pendeta dan diaken. Dalam praktiknya pola ini mengakui manfaat
persekutuan dan kerjasama antar gereja, asalkan tidak membatasi kebebasan dan
tanggung jawab jemaat setempat untuk mencari dan melakukan kehendak
Tuhan dalam urusan jemaat itu. Pola ini diikuti oleh gereja Baptis, sebagian
besar gereja Pentakosta, dan beberapa gereja independen lain
d. Monarkial
Kuasa atau wibawa tertinggi dalam gereja ini hanya ada pada satu orang saja.
Sistem ini dapat terlihat dalam bidat-bidat yang biasanya dikuasai oleh satu
orang pemimpin saja.
e. Minimal/ Bebas
Kelompok ini menekankan pekerjaan Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya
dalam setiap anggota jemaat dalam membimbing dan menolongnya tanpa
melalui organisasi atau kepemimpinan yang resmi. Gereja yang memakai sistem
ini yaitu Quakers (Friends) dan Plymouth Brethren. Dalam uraian di atas, kita
melihat tidak ada pola tunggal yang dapat dikatakan didukung Alkitab secara
gamblang. Pada umumnya banyak gereja yang menggabungkan pola-pola di
atas. Namun kita harus sedapat mungkin berusaha mengikuti pola-pola yang
paling cocok dengan Alkitab.
K. Sakramen Gereja
Sakramen (Latin: Sacramentum) yaitu ―ungkapan lahir dan nyata dari anugerah
batin dan tidak nyata‖ (Katekimus gereja Anglikan). Sacramentum merupakan kata yang
dipilih untuk menerjemahkan kata Yunani ‗mysterion‘ yang bisa diartikan seseuatu yang
misteri atau magis. Kebanyakan gereja Protestan mengakui dua sakramen: Baptisan dan
Perjamuan Kudus. Kristen Mennonit mengenal satu sakramen tambahan yaitu
―pembasuhan kaki‖. Gereja Roma Katolik (melalui Konsili Trent) mendefinisikan
sakramen sebagai ―sesuatu yang dilakukan dengan keyakinan, yang memiliki kuasa,
melalui lembaga (institusi ilahi) bukan hanya sebagai tanda atau lambang, tapi juga
merupakan pemberian anugerah yang berdaya guna‖. mengakui tujuh sakramen yaitu:
hukuman penebusan dosa, pentahbisan iman, pernikahan, peneguhan sebagai anggota
jemaat, pemberian minyak kepada orang pada saat meninggal, baptisan dan ekaristi
(perjamuan kudus). Banyak gereja memakai istilah sakramen untuk upacara gereja
yang diyakini menyalurkan anugerah Allah yang nyata. Namun ada pula gereja yang lebih
menyukai istilah ordonansi, yang tidak mengandung tentang pemberian anugerah namun
hanya merupakan suatu lambang. Gereja yang memakai istilah ordonansi bermaksud
agar terhindar dari mistisisme dan sakramentarianisme yang ditunjukkan oleh istilah
‗sakramen‘.
1. Baptisan
a. Makna Baptisan
Baptisan melambangkan penyatuan orang percaya dengan Kristus dalam kematian,
penguburan dan kebangkitan-Nya (Rm. 6:3-4; Kol. 2:12; 1Ptr. 3:21). Dalam
baptisan orang percaya itu mengakui bahwa ia berada di dalam Kristus saat
Kristus dihukum mati sebab dosa umat manusia, bahwa ia dikuburkan bersama-
sama Kristus dan bahwa ia ikut bangkit menuju hidup baru di dalam Kristus.
Baptisan melambangkan bahwa orang percaya disamakan dengan Kristus, sebab
orang percaya dibaptiskan dalam (atau ke dalam) nama Tuhan Yesus (Kis. 2:38;
8:16). Hal ini dilakukan pada saat seseorang bertobat berseru kepada nama Tuhan
(Kis. 22:16). Baptisan merupakan pengakuan yang terang-terangan di depan umum
bahwa Kristus yaitu Tuhan (Rm. 10:9-10). Akan namun sebelum mendapatkan
baptisan seseorang harus bertobat (Kis. 2:38), dan memiliki iman (Kis. 2:41; 8:12,
37; 18:8; Gal. 3:26-27; Rm. 6:3-4, 1Ptr. 3:21), sebab baptisan air tidak
memicu penyatuan orang percaya itu dengan Kristus, namun mensyaratkan
atau melambangkan.
22
b. Pentingnya Baptisan
1) Kristus dibaptis (Mat. 3:16)
2) Tuhan menyetujui murid-murid-Nya untuk membaptiskan (Yoh. 4:1-2)
3) Kristus memerintahkan supaya orang percaya dibaptiskan (Mat. 28:19)
4) Gereja mula-mula sangat mementingkan baptisan (Kis. 2:38, 41)
5) PB memakai baptisan untuk melambangkan kebenaran teologis.
c. Cara Pembaptisan
Dewasa ini terdapat tiga cara untuk membaptis orang: dipercik, dituangkan, dan
diselamkan. Di dalam ketiga bentuk baptisan ini masih terdapat berbagai variasi,
misalnya cara percik/tuang/selam sebanyak satu atau tiga kali, dan cara baptis selam
ke belakang atau tegak ke bawah.
1) Dipercik
Kelompok yang menyetujui dilakukannya baptisan percik mengemukakan
argumen-argumen berikut:
Upacara pengudusan dalam PL biasanya dilakukan dengan cara pemercikan
(Kel. 24:6, 7; Im. 14:7; Bil. 19:4, 8).
Pemercikan melambangkan penyucian (Yeh. 36:25).
Cara selam tidak mungkin dapat dilakukan dalam keadaan tertentu (Kis.
2:41), terlalu banyak orang (Kis. 8:38), terlalu sedikit air di padang gurun
(Kis. 16:33), terlalu sedikit air di rumah.
Mayoritas gereja di dunia mempraktikkan baptisan percik.
2) Dituangkan/ dicurahkan
Kelompok yang menyetujui dilakukannya baptisan tuang mengemukakan
argumen-argumen berikut:
Penuangan menggambarkan dengan baik sekali tentang pelayanan Roh
Kudus yang masuk ke dalam hidup orang percaya (Yl. 2:28; Kis. 27:17-
18).
Ungkapan ―ke dalam air‖. Jadi orang yang dibaptis bisa saja masuk ke
air, tapi tidak di bawah permukaan air seluruhnya.
Lukisan di Katakombe menunjukkan baptisan dengan cara penuangan air ke
atas kepala orang dari sebuah bejana dipegang.
3) Selam
Kelompok yang berpegang pada baptisan selam mengemukakan argumen-
argumen berikut:
Penyelaman memang merupakan arti utama dari baptizo.
Penyelaman menggambarkan dengan tepat sekali arti baptisan dalam Roma
6:1-4, yaitu mati terhadap hidup lama, dan bangkit dalam kehidupan baru.
Penyelaman mungkin dilakukan dalam segala keadaan. Banyak kolam di
Yerusalem sehingga mungkin saja 3000 orang dibaptis pada hari Pentakosta.
Jalan ke Gaza itu sepi dan gersang, namun bukan berarti tidak ada air.
Rumah sering memiliki kolam di luar rumah, dimana misalnya keluarga
kepala penjara Filipi sangat mungkin telah dibaptis selam.
Baptisan proselit dilakukan dengan cara menyelamkan diri sendiri ke dalam
air. Cara baptisan seperti ini yang mungkin dilakukan oleh gereja Kristen.
Penuangan air, bukan pemercikan, merupakan pengecualian terhadap
penyelaman dan diizinkan dalam kasus penderita sakit. Hal ini disebut
―baptisan klinis‖.
Bahkan banyak teolog yang sekalipun tidak menganut baptisan dengan cara
selam, menyatakan bahwa penyelaman merupakan praktik universal dalam
23
gereja pada zaman rasul.
23
Istilah ‗dibaptis‘ berarti ‗dicelupkan‘ yang merupakan arti utama







