Dari sejak lahirNya sampai sekarang pribadi Kristus menimbulkan berbagai macam
kontroversi, menjadi daya tarik yang mengagumkan bagi banyak orang namun sekaligus
menjadi tanda tanya yang membingungkan banyak orang. Isu-isu kontemporer dalam
Kristologi melibatkan beberapa masalah yang perlu dibahas, salah satunya yaitu
permasalahan teologis. Mempelajari Kristologi dengan metode penelusuran historik
memicu timbulnya pandangan-pandangan Kristologi yang bertentangan dengan
Kristologi tradisional (bahwa Yesus yaitu Allah dan Manusia). Teologi Liberal
mengatakan bahwa Yesus dalam iman Kristiani berbeda dari Yesus dalam sejarah. Menurut
pandangan Liberal, Yesus bukanlah Allah dalam rupa manusia dan bukanlah pekerja
mujizat, melainkan ―seorang yang baik, guru kebenaran- kebenaran rohani yang
mulia‖ - Penelusuran tentang Yesus dalam sejarah menghasilkan pula beberapa
pengamatan, antara lain: penyangkalan bahwa Yesus historik itu bukanlah Yesus yang kita
imani dan tidak ada mujizat-mujizat yang terjadi.
Selain pandangan Liberal, di dalam teologi dikenal dua macam pendekatan Kristologi,
kedua metode kristologis ini ialah: ―Christology from Above‖ (Kristologi dari
―Atas‖) dan ―Christology from Below‖ (Kristologi dari ―Bawah‖).
1. Kristologi dari Atas
Yang dimaksud dengan Kristologi dari atas yaitu melihat siapa Yesus Kristus
Sebelum Dia datang ke dalam dunia. Pandangan ini mengatakan bahwa ke-Allahan
Yesus Kristus terselubung saat Dia di dalam dunia. Supaya manusia dapat mengenal
Dia sebagai Allah yang sejati, maka harus melihat siapa Yesus sebelum Dia datang ke
dalam dunia. Sebagai contoh yaitu Yoh.1:1. Teolog yang menganut pendekatan ini
yaitu Rudolph Bultmann. Emil Brunner dalam bukunya, The Mediator, menguraikan
inti pandangan ini.
a. Dasar untuk memahami Kristus bukanlah Yesus historik, melainkan kérugma,
yaitu pemberitaan Gereja tentang Kristus.
b. Dalam merumuskan suatu Kristologi, Surat-Surat Paulus dan Injil Yohanes perlu
diutamakan daripada Injil Sinopsis, sebab Surat-Surat Paulus dan Injil Yohanes
merupakan tafsiran teologis tentang Kristus, sedangkan Injil Sinopsis hanya
merupakan ―laporan‖ tentang pengalaman dan pekerjaan Yesus.
c. Iman kepada Kristus tidak berdasar pada atau dibenarkan oleh bukti rasio sebab
iman itu tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Pernyataan mengenai Yesus mengajar
murid-murid-Nya di tepi pantai masih bisa dipertanyakan, namun pernyataan
mengenai Yesus sebagai Oknum kedua dalam Tritunggal tidak perlu dipertanyakan
lagi.
Kristologi dari Atas ini memang memiliki segi positif yang bermanfaat bagi
jemaat. Penganut-penganut pandangan Kristologi ini menekankan nilai dan tujuan
inkarnasi memiliki dampak bagi orang percaya kepada Yesus. Kristologi ini juga
memiliki komitmen yang kuat terhadap kegaiban yang memberi kemungkinan
adanya Yesus ilahi yang mengerjakan mujizat. Kelemahan pandangan masalah
kesubjektifitasan juga menandai pandangan ini. Bagaimanakah kita yakin bahwa
Kristus yang kita kenal melalui kesaksian para rasul yaitu Kristus yang sejati dan
bukan Kristus dari perasaan kita saja?
2. Kristologi dari Bawah
Sedangkan Kristologi dari bawah, memiliki pendekatan yang justru kebalikan dari
pandangan ini di atas. Pandangan ini justru memperhatikan secara sungguh-
sungguh siapa Yesus saat Dia berada di dalam dunia. Pendekatan ini lebih
menekankan keberadaan Yesus sebagai manusia. Bagaimana hidup-Nya, kuasa-Nya,
serta apa yang dikatakan-Nya, kemudian bertanya bagaimana caranya Ia menjadi Allah.
Semua itu menunjukkan siapa Dia sesungguhnya. Metode pendekatan ini disebut
Vonunten atau "The Christology from below". Teolog yang menganut pandangan ini
yaitu W. Pannenberg.3 Pandangan ini menyatakan bahwa Kristologi yang sejati
sangat mungkin, yaitu bahwa penelusuran historik dapat memicu kepercayaan
pada keilahian Yesus Kristus. Kepercayaan ini merupakan kesimpulan dan bukan
44
dugaan awal penelusurannya. Wolfhart Pannenberg dalam bukunya, Jesus - God and
Man memberi penjelasan tentang pandangan ini, selain mengkritik pandangan
Kristologi dari Atas.
a. Tugas Kristologi yaitu memberi bukti yang logis kepada kepercayaan tentang
keilahian Yesus.
b. Kristologi dari Atas cenderung mengabaikan segi kehistorikan Yesus dari Nazaret
itu.
c. Kristologi dari Atas hanya mungkin bagi Allah sendiri dan bukan bagi kita. Kita
hanya manusia dengan segala keterbatasan dan kita harus memulai penelusuran
kita dari perspektif itu.
Pannenberg kemudian menguraikan pendekatannya yang dibedakan dengan jelas dari
Kristologi dari Atas.
a. Penelusuran historik di balik kerugma PB sangat mungkin dan merupakan
keharusan teologis. Memang biografi Yesus tidak dapat disusun secara kronologis,
namun paling tidak kita dapat menemukan siapakah Yesus itu dari kesaksian para
rasul. Ini harus dilakukan sebab jikalau tidak, mungkin saja kita tidak percaya
kepada Yesus sejati, melainkan kepada Matius, Lukas, dan Paulus saja.
b. Sejarah itu merupakan satu kesatuan dan bukan dualistis. Hidup dan karya Yesus
bukan terpisah dari sejarah umum. Jadi, metode penyelidikan sejarah sekuler perlu
dipakai juga dalam penelusuran tentang Yesus.
c. Sangat jelas bahwa Kristologi dari Bawah dapat membuktikan kemanusiaan dan
keilahian Yesus melalui pengesahan dari Allah. Pengesahan itu dapat dilihat pula
dalam kebangkitan Yesus. Kebangkitan itu berarti bahwa Allah menyetujui
pengakuan-pengakuan Yesus tentang diri-Nya.
Kelebihan pandangan ini yaitu mengurangi kesubjektifitasan yang tidak
semestinya. Pandangan ini juga mendorong kita untuk jangan mendasarkan iman pada
perkataan orang-orang percaya yang lain. Kelemahannya terletak pada kenyataan
bahwa sukses Kristologi ini mencoba menetapkan bukti historiknya dengan keyakinan
objektif yang sebenarnya sulit dicapai.
3. Kristologi alternatif
Kristologi alternatif bagi orang-orang Injili yaitu paduan dari unsur-unsur
Kristologi Atas dan Kristologi Bawah. Tidak hanya iman saja ataukah penelusuran
historik saja, melainkan kedua-duanya yang jalin-menjalin, saling bergantung dan
berkembang secara simultan. Dengan bertambahnya pengetahuan kita tentang Kristus
dalam kerugma maka kita juga lebih memahami dan mengintegrasikan data dari
penelitian kepada pengertian kita. Demikian pula sebaliknya. Dengan bertambahnya
pengetahuan kita tentang Yesus historik, maka kita lebih diyakinkan bahwa kesaksian
para rasul tentang Kristus dalam iman itu benar. Iman kepada Kristus akan membawa
kita untuk mengenal Yesus dalam sejarah.
C. Dua Natur Kristus
Perdebatan tentang dua natur Kristus muncul sejak awal kekristenan dan menimbulkan
perdebatan yang panjang selama hampir 300 tahun lebih. Perdebatan yang munculpun
sekarang ini tentang dua natur Kristus merupakan pengulangan masalah-masalah yang dulu
pernah muncul. sebab itu seharusnya orang Kristen mempelajari berbagai perdebatan dan
pandangan yang pernah muncul ini agar tidak mudah terkecoh dengan pandangan-
pandangan yang kembali muncul pada zaman ini.
Pribadi Tuhan Yesus Kristus memang merupakan tokoh dan sosok sentral dalam seluruh
sistem keyakinan Kristiani. Kekristenan tidak dapat dipisahkan dari nama, pribadi, sifat-
sifat unik dan karya-karya-Nya. Seluruh eksistensi serta substansi iman Kristen tidak bisa
tidak harus berpusat, berdasar, bergantung, dan bertumbuh di dalam, oleh dan melalui
Tuhan sendiri. Tanpa Dia, Kekristenan hanyalah kulit tiada isi. Jadi Yesus, Sang Putra
Allah yang lahir dan hadir di bumi melalui peristiwa inkarnasi, menjadi berita pokok dari
Injil, Kabar Baik dari Allah bagi umat manusia.
1. Prinsip Dua Natur Kristus
Pada tahun 325 Masehi ada sidang gereja di kota Nicea yang melahirkan Nicene
Creed (= Pengakuan Iman Nicea), yang meneguhkan doktrin tentang Allah Tritunggal.
Sekalipun dalam Nicene Creed itu ditegaskan akan keilahi-an Kristus, dan bahwa Ia
telah menjadi manusia, namun Nicene Creed itu tidak menyatakan apa-apa tentang
hubungan antara keilahian dan kema-nusiaan Kristus, sehingga akhirnya muncul
banyak ajaran sesat dalam Kristologi. Pengakuan iman yang paling penting dalam
Kristologi yaitu Chalcedonian Creed (= Pengakuan Iman Chalcedon), yang diciptakan
dalam sidang gereja di kota Chalcedon pada tahun 451 Masehi. Chalcedonian Creed:
"We all with one accord teach men to acknowledge one and the same Son, our Lord
Jesus Christ, at once complete in Godhead and complete in manhood, truly God and
truly man ... one and the same Christ, Son, Lord, only begotten, recognized in two
natures, without confusion, without change, without division, without separation ... the
characteristics of each nature being preserved and coming together to form one person
..." (= Kami semua, dengan suara bulat, mengajar manusia untuk mengakui Anak yang
satu dan yang sama, Tuhan kita Yesus Kristus, pada saat yang sama sempurna / lengkap
dalam keilahian dan sempurna / lengkap dalam kemanu-siaan, sungguh-sungguh Allah
dan sungguh-sungguh manusia ... Kristus, Anak, Tuhan yang satu dan yang sama, satu-
satunya yang diperanakkan, dikenali dalam 2 hakekat, tanpa kekacauan / percampuran,
tanpa perubahan, tanpa perpecahan, tanpa perpisahan ... sifat-sifat setiap hakekat
dipertahankan dan bersatu membentuk 1 pribadi ...) Inti pengajaran:
a. Yesus pada saat yang sama yaitu sempurna dalam keilahian dan sempurna dalam
kemanusiaan. Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.
b. Dua hakekat/natur Yesus: tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa perpecahan,
tanpa perpisahan, karakteristik dari setiap natur tetap dipertahankan dan bersama-
sama membentuk satu pribadi.
Catatan penting tentang pernyataan kredo Chalcedon:
a. Meskipun keilahian dan kemanusiaan Yesus yaitu tanpa perpecahan dan tanpa
perpisahan, namun dua hakekat ini tetap bisa dibedakan.
b. Masing-masing hakekat tetap memiliki sifat-sifatnya sendiri.
c. Hakekat ilahi Yesus tidak berubah menjadi hakekat manusiawi Yesus selama di
dunia Yesus tetap Allah sejati.
d. Hakekat manusiawi Yesus tidak berubah menjadi hakekat ilahi Yesus setelah
kenaikan ke surga, Yesus tetap manusia sejati.
e. Dua hakekat Yesus tidak bercampur membentuk pribadi ketiga.
f. Yesus: dua hakekat namun satu pribadi (Logos), bdk. Tritunggal: satu hakekat namun
tiga pribadi.
2. Keilahian Kristus
Bukti-bukti keilahian Yesus:
a. Pernyataan Alkitab secara eksplisit (Yes 9:5; Yoh 1:1; Rom 9:5; Fil 2:5b-7; Tit 2:13;
Ibr 1:8; 2Pet 1:1; 1Yoh 5:20). Isu khusus: Saksi Yehowah menerjemahkan Yoh 1:1c
―The Word was a god‖, sebab dalam bahasa Yunani kata ―god‖ (theos) tidak
memiliki definite article. Jawaban:
1) Dalam PB, kata theos tanpa definite article yang merujuk pada Allah Bapa
muncul sebanyak 282 kali (e.g., Yoh 1:6, 12, 13, 18; 3:2, 21; 9:16).
2) Dalam konteks monotheisme Yahudi, kata theos sudah pasti merujuk pada satu
Allah, sehingga pemakaian definite article tidak bersifat mutlak.
3) Dalam pengakuan Thomas di Yoh 20:28, kata theos memakai definite article.
4) Struktur kalimat Yoh 1:1c disebut Predicate Nominative. Dalam susunan seperti
ini, definite article pada subjek (ho logos = Firman itu) juga membawahi kata
benda yang lain.
5) Seandainya kata theos memakai definite article, frase ini berkontradiksi dengan
Yoh 1:1b ―Firman itu bersama-sama dengan Allah‖ (Cat: ―Allah‖ di
sini memakai definite article). Ini yaitu ajaran sesat yang mengidentikkan Allah
Anak dengan Allah (Bapa).
6) Tujuan Yohanes menulis yaitu membuktikan Yesus sebagai Anak Allah
(=Allah), lihat Yoh 20:30-31 cf. Yoh 5:8; 10:30.
7) Dalam Tit 2:13 dan 2Pet 1:1 Yesus disebut sebagai Allah (theos) dengan definite
article.
b. Nama ilahi yang dikenakan pada Yesus.
1) Yes 9:5 ―Allah yang perkasa‖ (El Gibor, cf. gelar yang sama untuk
Yehowah di Yes 10:21).
2) Nama ―Yehowah‖ dikenakan pada Yesus, baik di PL (Yer 23:6 dan 33:16
―YHWH tsidqenu‖) maupun di PB (Yoh 1:3; Kol 1:16, cf. Yes 44:24;
Yer 10:11).
3) Ibr 1:8, 10 Allah menyebut Yesus dengan sebutan ―Allah‖.
c. Yesus memiliki sifat-sifat ilahi, misalnya kekal (Mik.5:1b; Yoh.1:1; 8:58; 17:5;
Wah.1:8; 22:13), mahakuasa (Yoh.5:21; 10:18; 15:24), mahatahu (Mat.9:4; 12:25;
Yoh.2:24-25; 6:64), mahaada (Mat.18:20; 28:20b), tidak berubah (Ibr.13:8).
d. Yesus melakukan perbuatan-perbuatan ilahi, misalnya penciptaan (Yoh.1:3;
Kol.1:16; Ibr.1:2, 10), pengampunan dosa (Mat.9:2-7), pembaruan segala sesuatu
(Fil.3:21; Wah.21:5), penghakiman (Mat.25:31-32; Yoh.5:22, 27)..
e. Kesetaraan dengan Allah Bapa (Yoh.10:30; 14:7-11).
f. Setan mengakui Yesus sebagai Allah (Mat.8:28-32).
g. Yesus menerima penyembahan (Mat.14:33; 28:9, 17; Yoh.9:38; 20:28, cf. Mat.4:10;
Kis.10:25-26; Kis.14:14-18; Wah.19:10; 22:8-9). h. Pada waktu Yesus membuat
klaim yang menunjukkan Ia yaitu Allah, jika Ia bukan Allah maka berarti Ia yaitu
seorang pembohong. Jika Ia berbohong, maka Ia juga seorang munafik, sebab Ia
menyuruh orang lain untuk jujur, dengan risiko apapun, sedangkan Ia sendiri
mengajarkan kebohongan besar. Terlebih lagi, jika Ia berbohong, maka Ia yaitu roh
jahat, sebab menyuruh orang mempercayakan nasib kekalnya pada diri-Nya
(sebagai Juruselamat mereka); suatu kekejian yang tak terkatakan. Terakhir, jika Ia
berbohong, Ia yaitu orang bodoh, sebab kebohongan itu membawa kematian-Nya
di kayu salib, tanpa keuntungan apa-apa.
3. Kemanusiaan Kristus
Bukti-bukti kemanusiaan Yesus:
a. Yesus datang sebagai manusia (Yoh 1:14; 1Tim 3:16; Fil 2:7-8; Ibr 2:14; 1Yoh 4:2).
b. Yesus memiliki tubuh (Mat 26:26, 28; Luk 24:39; Ibr 2:14) maupun psuche-jiwa/roh
(Mat 26:38; 27:50; Luk 23:46; Yoh 11:33; 12:27; 13:21; 1Yoh 3:16).
c. Yesus memiliki pikiran manusia (Mat 24:36; Luk 2:40, 52), perasaan manusia (Mat
8:10; 9:36; 26:37-38; Mar 3:5; 6:6; Luk 7:9; Yoh 11:33, 35; 12:27) dan kehendak
manusia (Mat 26:39).
47
d. Yesus mengalami pertumbuhan/perkembangan (Luk 2:40, 52).
e. Yesus mengalami semua pengalaman manusia, misalnya lahir (Luk 2:7), lapar (Mat
4:2), haus (Yoh 4:7; 19:28), letih (Yoh 4:6), tidur (Mat 8:24), menderita (Ibr 2:10,
18; 5:8) dan mati (Yoh 19:30).
4. Pentingnya Dua Natur Kristus
Pentingnya keilahian Kristus:
a. Supaya Yesus bisa taat sempurna kepada Bapa (tanpa dikuasai dosa asal/natur
manusia yang rusak – ―total depravity‖).
b. Supaya kematian-Nya memiliki nilai penebusan yang tidak terbatas (cf. Mzm 49:8-9
--- NIV ―..no man can redeem the life of another...‖).
c. Supaya Allah tetap adil saat Ia menghukum Yesus sebagai ganti manusia, sebab
yang dihukum pada dasarnya yaitu Allah sendiri.
Pentingnya kemanusiaan Kristus:
a. sebab yang berdosa yaitu manusia, maka yang menebus juga harus seorang
manusia yang dapat mati (Rom 8:3; Ibr 2:14-17). Jika Yesus hanyalah Allah saja,
maka Dia tidak bisa mati untuk menanggung dosa kita.
b. Supaya bisa menjadi pengantara antara Allah dan manusia (1Tim 2:5, bdk. imam
besar di PL).
c. Supaya Yesus dapat bersimpati terhadap manusia yang menderita atau dicobai (Ibr
2:17-18; 4:15).
d. Supaya Yesus bisa menjadi teladan bagi manusia (Mat 11:29; Yoh 13:14-15; Fil 2:5-
8; Ibr 12:2-4; 1Pet 2:21).
5. Persatuan Pribadi (Hypostatical/personal Union).
a. Arti Persatuan Pribadi
Persatuan Pribadi atau Hypostatical/personal Union/uni hiposatic) dapat dirumuskan
sebagai ―person kedua, Kristus pra-inkarnasi datang dan mengambil bagi diri-
Nya rupa manusia dan tetap menjadi Tuhan untuk selama-lamanya dan juga manusia
benar-benar, yang disatukan dalam satu person untuk selama-lamanya‖. saat
Kristus datang, satu Person datang, bukan saja satu rupa; Ia mengambil rupa
tambahan, rupa manusia - Ia tidak saja diam dalam person manusia. Hasil dari uni
dua rupa yaitu theanthropic Person (Manusia - Allah).
b. Keterangan tentang persatuan pribadi
Dua rupa Kristus disatukan tidak terpisahkan tanpa campuran atau hilangnya
identitas terpisah. Ia tetap untuk selama-lamanya Manusia - Allah, Allah penuh dan
manusia penuh, dua rupa yang berbeda dalam satu Person untuk selama-lamanya.
―Melalui Kristus kadang-kadang dimainkan melalui rupa manusia-Nya dan
dalam kasus lainnya melalui rupa Tuhan, dalam semua kasus apa yang Ia lakukan
dan apa yang Dia dapat diatributkan kepada satu Person-Nya. Meskipun jelas bahwa
ada dua rupa Kristus, Ia tidak pernah dipertimbangkan sebagai sebuah kepribadian
ganda. Dalam meringkas uni hipostatik, tiga fakta dicatat:
1) Kristus memiliki dua rupa berbeda: manusia dan Tuhan;
2) Tidak ada campuran atau campur tangan dari kedua rupa;
3) Meskipun Ia memiliki dua rupa, Kristus yaitu satu Person.
c. Masalah dari uni hipostatik
Kesulitan terbesar dalam doktrin ini ialah hubungan dari dua rupa dalam Tuhan
Yesus. Beberapa pendapat tentang masalah ini telah berkembang.
1) Pandangan Calvinistik – John Calvin berpikir bahwa kedua rupa disatukan tanpa
ada transfer atribut. Satu atribut tidak dapat diambil dari satu rupa tanpa
mengubah inti pokok dari rupa itu. Walvoord mengatakan, ―Kedua
rupa
disatukan tanpa ada kehilangan satu atribut pokok dan bahwa dua rupa
mempertahankan identitas terpisah mereka. Tidak dapat terjadi campuran dari
dua rupa; tidak terbatas tidak dapat ditransfer ke terbatas; akal tidak dapat
ditransfer ke masalah; Allah tidak dapat ditransfer ke manusia, atau sebaliknya.
Untuk merampas rupa keilahian Allah dari satu atribut tunggal pun akan
merusak ketuhanan-Nya, dan untuk merampas satu atribut manusia, dari
manusia akan merusak kemanusiaan murni. sebab alasan ini, maka kedua rupa
dari Kristus tidak dapat kehilangan atau mentransfer satu atribut tunggal pun.‖
2) Pandangan Lutheran – Pandangan Lutheran atas dua rupa mengajarkan bahwa
atribut dari dua rupa ilahi disampaikan ke rupa manusia dengan beberapa hasil
penting. Satu hasil doktrin yang penting ialah tubuh manusia dari Kristus ada di
mana-mana, Ia hadir di mana-mana dari rupa ilahi Kristus ditransfer ke tubuh
manusia Kristus. Akhirnya, rupa manusia Kristus berubah dalam keadaan hadir
di mana-mana pada saat kenaikan dan secara fisik hadir di elemen komuni
kudus. Meskipun elemen-elemen tidak berubah, person ikut serta Kristus yang
hadir ―dalam, dengan, di bawah dan dengan‖ roti dan cawan.
d. Akibat dari persatuan pribadi.
1) Communicatio Idiomatum (pemberian sifat-sifat).
Pengertian ―idiomatum‖ di sini yaitu sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh
semua manusia, misalnya terbatas, tidak mahatahu, bisa berdosa, bisa mati.
Pemarah, sombong, kikir, dll bukanlah sifat dasar manusia, sebab tidak semua
manusia memiliki sifat-sifat ini . Hal ini tidak berarti bahwa sifat dasar
hakekat ilahi diberikan kepada hakekat manusiawi maupun sebaliknya. Sifat
dasar hakekat ilahi dan hakekat manusiawi diberikan kepada pribadi AnakAllah.
Akibat persatuan ini tidak heran Yesus kadangkala digambarkan terbatas
pengetahuannya (Mat 24:36), namun Ia juga mahatahu (Mat 9:4;Mat 12:25; Yoh
2:24-25; 6:64).
2) Communicatio Operationum/Apostelesmatum (pemberian tindakan-tindakan).
Pengertian istilah ini yaitu ―semua tindakan Yesus yaitu tindakan
yang dilakukan oleh seluruh pribadi Yesus‖. Memang ada tindakan ilahi
(mencipta, memelihara), tindakan manusiawi (makan, minum) maupun
gabungan ilahi- manusiawi (menebus dari dosa), namun setiap tindakan yaitu
tindakan yang dilakukan oleh Kristus.
3) Communicatio Charismatum/Gratianum (pemberian karunia-karunia).
Persatuan dua natur ini memicu hakekat manusiawi ditinggikan melebihi
semua ciptaan, baik dalam hal intelek, kehendak dan kuasa, sehingga menjadi
menjadi objek penyembahan. Salah satu akibat dari proses ini yaitu
ketidakmampuan Kristus untuk berdosa.
Beberapa ayat yang menunjukkan persatuan dua natur ini antara lain:
Kisah 20:28 ―...jemaat Allah yang ia telah beli dengan darah-Nya
sendiri...‖ (Catatan: terjemahan TB1 ―darah Anak-Nya‖ tidak tepat,
sebab kata
―Anak‖ tidak ada dalam teks Yunaninya). Dalam teks ini terlihat ada
gelar ilahi (Nya=Allah), namun predikatnya merujuk pada kemanusiaan
Yesus (darah).
1Kor 2:8 ―...menyalibkan Tuhan yang mulia...‖. Sebutan ―Tuhan
yang mulia‖ menunjukkan keilahian Yesus, namun predikat
―menyalibkan‖ menunjukkan kemanusiaannya.
Perlu diperhatikan, seseorang tidak boleh memakai ayat-ayat yang
menunjuk pada kemanusiaan Yesus sebagai bukti bahwa Ia bukan Allah, begitu
juga sebaliknya.
6. Kenosis dan uni hipostatik
Termasuk dalam masalah kenosis ialah interpretasi Flp. 2:7, ―Ia mengosongkan
diri- Nya― (Yunani: εκενωρεν - ekenosen, dari kata κενωριζ - kenosis).
Pertanyaan yang berbahaya ialah: Dari apa Kristus mengosongkan diri-Nya? Ahli
Teologi Liberal mengatakan Kristus mengosongkan diri-Nya dari ketuhanan-Nya.
Akan namun , jelas dari kehidupan-Nya dan pelayanan-Nya bahwa Ia tidak menanggalkan
ketuhanan-Nya, sebab ketuhanan-Nya tampak dalam berbagai peristiwa. Ada dua hal
pokok:
a. (―Kristus hanya melepas praktik bebas dari beberapa atribut relatif atau
transitif. Ia tidak melepas atribut mutlak atau tetap dengan cara apa pun; Ia selalu
sempurna, kudus, tepat, belas kasihan, benar, dan setia.‖ Pernyataan ini berguna dan
memberikan pemecahan masalah dalam ayat-ayat seperti Mat. 24:36. Kata kunci
dalam definisi yaitu ―bebas‖ sebab Yesus dalam banyak peristiwa
membuka atribut relatif-Nya.
b. Kristus mengambil bagi diri-Nya suatu rupa tambahan. Konteks Flp. 2:7
memberikan pemecahan yang paling baik bagi masalah kenosis. Pengosongan bukan
suatu pengurangan, namun suatu penambahan. Empat hal berikut (Flp. 2:7-8)
menerangkan pengosongan:
1) Mengambil rupa hamba
2) Menjadi sama dengan manusia
3) Dalam keadaan sebagai manusia
4) Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati
―Pengosongan‖ Kristus mengambil rupa tambahan, Rupa manusia
dengan pembatasan- pembatasannya, Ketuhanan-Nya tidak pernah dilepas. John F
Walvoord menjelaskan definisi kenosis dalam dua pengertian:
1) Bahwa Yesus membatasi manifestasi keallahan-Nya – Hal ini bukan berarti bahwa
Yesus menanggalkan keAllahan- Nya, sebab saat ber-kenosis Yesus tetap Allah
sejati dan manusia sejati. Dengan demikian sifat-sifat keallahan Yesus tetap ada
pada saat inkarnasi-Nya di bumi, namun Yesus membatasi manifestasi-Nya dalam
rangka melaksanakan karya penyelamatan-Nya atas manusia.
2) Tanpa reputasi – Walaupun Yesus yaitu Allah yang Maha Kuasa dan Maha
Agung, namun Dia rela merendahkan diri, bahkan mengambil rupa seorang hamba.
Kedua hal itulah yang dimaksudkan dalam pernyataan ―mengosongkan diri-Nya‖.
7. Ajaran-ajaran yang salah mengenai dua natur Kristus
Persoalan tentang dua natur Kristus merupakan persoalan yang dari abad-abad awal
sampai dengan saat ini. Persoalan itu menimbulkan pengajaran-pengajaran yang
kemudian hari menjadi bidat yang ditentang oleh gereja pada umumnya, ajaran-ajaran
yang salah tentang dua natur Kristus diantaranya yaitu :
a. Gnostikisme
Istilah ―Gnostik‖ berasal dari kata Yunani ―Gnosis‖ yang memiliki pengertian
―pengetahuan‖, ―penerangan‖ dan adakalanya memiliki pengertian
―ilmu pengetahuan‖ ini berasal dari Yudea dan disebarluaskan oleh orang Yahudi ke
dunia non Yahudi. Ajaran ini menyatakan bahwa Allah yaitu mahasuci sehingga Ia
tidak mungkin menciptakan dunia yang jahat dan bergaul dengan manusia yang
jahat. Keilahian itu memiliki jenjang atau tingkatan, demikian pula makhluk lainnya.
Sehingga bagi kaum Gnostik, Yesus yaitu sosok yang berada di atas manusia,
namun berada di bawah Allah. Gnostik menentang kemanusiaan dan keilahian
kristus, Yesus itu bukan Allah. Ia hanya berada pada salah satu tingkatan dalam
keilahian, Ia bahkan berada di bawah tingkat malaikat.
b. Ebionisme
Istilah ebion diambil dari bahasa Ibrani yang berarti ―miskin‖. Golongan
ini mengaku sebagai murid Kristus sejati. Dalam pengajaran, mereka menekankan
perlunya melaksanakan hukum Taurat untuk mendapatkan keselamatan. Golongan
ini terbagi menjadi dua, yaitu golongan Parisi dan golongan Essene. Ajaran
Ebionisme menyatakan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang kemudian dipilih
Allah untuk menjadi Mesias, sebab Ia melakukan Taurat setepat-tepatnya. Mereka
juga menganggap dua sifat Yesus tidak mungkin berada dalam satu oknum. Aliran
ini sama dengan aliran Monarkhianisme, yang juga menyangkali natur keilahian
Kristus. Ia hanya manusia biasa yang menerima (mendapat kepenuhan) Roh Kudus
pada saat dibaptiskan. Pada umumnya golongan ini menganggap Yesus yaitu
makhluk ciptaan Allah.
c. Arianisme
Bidat ini dipelopori oleh seorang presbiter (penatua) dari Alexandria yang bernama
Arius. Ia yaitu gembala sidang gereja besar di Baucalis, Alexandria, murid pemikir
besar Lucian dari aliran Antiokus. Ajaran Arianisme menyatakan bahwa Yesus
yaitu makhluk ketiga, sebab Ia bukan Allah, dan juga bukan manusia. Ia memiliki
awal, Ia yaitu ciptaan yang sulung (bandingkan dengan saksi Yehova yang
mengakui bahwa Yesus yaitu ciptaan yang sulung dan tertinggi). Ia memiliki
pandangan yang sama dengan Origenes yang menganggap kedudukan Kristus
dianggap di bawah Bapa sedangkan Roh Kudus berada di bawah Kristus.
d. Nestorianisme
Ajaran ini decetuskan oleh Nestorius seorang uskup Konstantinopel, menjadi Uskup
pada abad ke 4. Ajaran ini menyangkali adanya persatuan antara natur keilahian dan
kemanusiaan dalam Kristus. Yesus dianggap memiliki dua natur dan pribadi, sama
seperti orang Kristen yang didalam dirinya terdapat pribadi Kristus (natur yang baru)
dan ada pribadinya sendiri (natur yang lama). Yesus seakan akan hanya menjadi
rumah kusus bagi Anak Allah sama seperti Allah tinggal dalam hati orang percaya
demikianlah Anak Allah mendiami Yesus, namun lebih sempurna.
e. Eutychianisme (Absorpsionisme).
Pada tahun 448, seorang sarjana teologia bernama Eutikianus, menjabat sebagai
pimpinan gereja di Konstantinopel, mengemukakan pendapat bahwa dua tabiat
Kristus itu bercampur menjadi satu, sehingga menjadi tabiat yang ketiga (third
nature). Di dalam tabiat yang bercampur ini, tabiat ilahi melampaui tabiat
kemanusiaan. Sebab itu tabiat kemanusiaan Yesus terhisap dalam tabiat ilahi-Nya.
sebab tabiat ilahi ini sudah bercampur dengan tabiat kemanusiaan, maka tabiat ilahi
ini sudah tidak sama lagi dengan tabiat ilahi yang dulu (sebelum kedua tabiat ini
bercampur).
f. Apolinariansme
Apolinarianisme atau Apolinarisme yaitu pandangan yang dikemukakan oleh
Uskup Apollinaris dari Laodikea (310—390 M).12 Paham ini dilatar belakangi
kebenciannya terhadap ajaran Arius yang merendahkan keilahian Kristus. sebab itu
dalam pengajarannya sangat menekankan keilahian Yesus Kristus. namun sebab
terlalu menekankan keilahian Yesus sehingga mengabaikan sifat Kemanusiaan
Yesus. Apolinarianisme merupakan suatu usaha untuk membela keilahian Kristus
namun mengorbankan sisi kemanusiaan Kristus. Dia berpendapat bahwa Yesus
memiliki tubuh dan jiwa, namun tidak memiliki roh. sebab roh atau ―aku‖
manusia
diganti dengan ―Logos‖. Sebab itu Yesus tidak dapat disebut sebagai manusia
sejati. Ia memiliki sebutan bertubuh, namun tidak memiliki tubuh yang sebenarnya.
Ada dua alasan yang dikemukakan oleh Apollinaris mengenai mengapa ia tidak
menerima Yesus memiliki jiwa insani yang rasional. Pertama, hal semacam itu
berarti mengandaikan bahwa kodrat insani Kristus merupakan entitas tersendiri
Kedua, kegiatan intelektual yang insani itu mengandaikan pula kodrat insani pada
suatu saat dapat memutuskan kesatuannya dengan keilahian sehingga kesatuan antara
Ketuhanan dan kemanusiaan belum tentu kesatuan yang tetap. Dari kedua hal ini,
kemudian Apollinaris menarik kesimpulan bahwa sang Ilahi tidak menerima akal
budi insani namun mengisi tempat akal budi itu. Di dalam pemikirannya, Apollinaris
memakai istilah "Theos sarks ho foros" yang artinya Allah yang memikul
daging.
g. Doketisme
Ajaran ini menegaskan bahwa Yesus hanya kelihatannya saja seperti manusia.
Sebenarnya Ia tetap yaitu Allah. Ia hanya memakai jubah manusia, dan tidak
memiliki natur manusia sedikitpun. Kata ini berasal dari bahasa Yunani dokein yang
berarti tampak atau kelihatannya. Doktrin ini mempertahankan bahwa Yesus Kristus
hanya tampaknya saja memiliki tubuh. Maka dengan kata lain dapat dikatakan
bahwa Yesus Kristus hanya memiliki tubuh surgawi dan hanya berpura-pura saja
menderita dan mati. Doketisme bukanlah sebuah mazhab atau sekte, namun suatu
cara berpikir tentang Yesus Kristus yang sejak zaman para rasul muncul dalam
bentuk yang beraneka ragam.
Istilah ini pertama kali muncul dalam buku Sejarah Gereja oleh Eusebius.
Doketisme digunakan pada kekristenan perdana untuk menyangkal realitas inkarnasi
Yesus secara fisik. Titik tolak pemahaman ini yaitu pandangan bahwa materi itu
jahat, pemicu dosa dan tidak dapat dipersatukan dengan Putra Allah menjadi satu
pribadi. Segala sesuatu yang bersifat daging yaitu jahat dan dapat mati sedangkan
segala sesuatu yang bersifat ilahi yaitu baik dan tidak dapat mati. Bagi kaum
Doketis, Yesus Kristus yang merupakan Juruselamat berasal dari keberadaan ilahi
sehingga tidak mungkin benar-benar manusia. Bersama ajaran Gnostik, Doketisme
bermaksud untuk menjauhkan realitas penderitaan itu dari Sang Kristus. Keilahian
Kristus sangat ditekankan sehingga setiap aspek kehidupan-Nya di bumi hanya
dianggap semu mulai dari kelahiran-Nya sampai kematian-Nya. Pada awal abad
kedua pandangan ini secara eksplisit ditentang oleh Ignatius dari Antiokhia. Ia
menganggap bahwa pemahaman ini yaitu bidat. Pada dasarnya pandangan Doketis
ini dipengaruhi oleh ajaran filsafat Yunani yang mempertentangkan unsur materi dan
rohani.
D. Inkarnasi Dan Kenosis
1. Inkarnasi
a. Arti kata ‗inkarnasi‘.
Kata ini berasal dari kata bahasa Latin IN [= in (= dalam)] + CARO / CARNIS
[= flesh (= daging)]. Jadi, inkarnasi bisa diartikan ‗masuk ke dalam daging‘.
Tentu saja yang dimaksud dengan ‗daging‘ bukan hanya tubuh, namun seluruh
manusia. Kata inkarnasi berarti dalam daging dan menunjukkan tindakan di
mana Putra Allah kekal mengambil bagi Diri-Nya suatu rupa tambahan,
kemanusiaan, melalui kelahiran dari anak dara. Akibatnya ialah bahwa Kristus
tetap tinggal tidak bercela, yang telah Ia miliki dari asal mula kekal, namun Ia
55
juga memiliki kemanusiaan murni, tidak berdosa dalam satu Person selama-
lamanya (Yoh. 1:14; Flp. 2: 7-8; 1 Tim. 3:6).
Meskipun kata inkarnasi tidak terdapat dalam Alkitab, namun komponen kata
ini (―dalam‖ dan ―daging‖) ada di situ. Yohanes menulis bahwa
Firman telah menjadi daging (Yoh. 1:14, LAI: ―manusia‖, sedangkan
bahasa Yunani ραπξ, sarx - daging. Ia juga menulis tentang kedatangan Yesus
sebagai manusia (1 Yoh. 4:2, 2 Yoh. 7). Maksud pernyataan ini ialah bahwa
Pribadi kedua Tritunggal mengambil rupa manusia bagi Diri-Nya sendiri. Ia tak
memiliki kemanusiaan sampai saat kelahiran, sebab Tuhan menjadi manusia
εγενεηο, egeneto - menjadi, Yoh. 1:14 dibandingkan dengan adanya ke-4
―en‖ - hakikat - dalam ayat 1-2). Meskipun demikian, kemanusiaan-Nya yaitu
tanpa dosa. Suatu fakta yang dipertahankan oleh Paulus dengan menulis
bahwa Ia datang
―dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa sebab
dosa ‖ (Rm. 8:3).
b. Subyek dari inkarnasi.
Bukan Allah Tritunggal namun Allah Anaklah yang berinkarnasi dan mengambil
hakekat manusia. namun juga harus diingat bahwa setiap pribadi dalam Allah
Tritunggal ikut aktif dalam inkarnasi (Mat 1:20 Luk 1:35 Yoh 1:14 Kis 2:30 Ro
8:3 Gal 4:4 Fil 2:5-7).
c. Inkarnasi dan kelahiran.
Inkarnasi berbeda dengan kelahiran sebab :
1) Inkarnasi menunjukkan tindakan aktif, sedangkan kelahiran menunjukkan
pada tindakan pasif.
sebab itu Yesus selalu berkata ‗Aku datang‘ (misalnya: Luk 19:10 Yoh 9:39
Yoh 10:10 dsb) - yang menunjukkan tindakan aktif, bukannya ‗Aku
dilahirkan‘ - yang menunjukkan tindakan pasif. Ini menunjukkan bahwa
Yesus bukan sekedar manusia biasa, namun juga yaitu Allah sendiri, sebab
tidak ada orang biasa yang kelahirannya merupakan tindakan aktif.
2) Inkarnasi menunjukkan bahwa Yesus memiliki Pre-existence / keberadaan
sebelumnya (Yoh 1:1 6:38 8:58 2Kor 8:9 Fil 2:6-7).
Kalau sekedar dikatakan bahwa Yesus dilahirkan, maka itu menun-jukkan
bahwa sebelum Ia dilahirkan, Ia tidak ada. namun kalau dikata-kan bahwa
Yesus berinkarnasi, sebab inkarnasi merupakan tindakan aktif, maka itu
menunjukkan bahwa Ia sudah ada sebelum saat itu.
d. Perlunya inkarnasi.
Mengapa Allah mengutus Putra-Nya dalam bentuk yang serupa dengan manusia
berdosa? Alkitab memberitakan beberapa jawaban kepada pertanyaan ini.
1) Untuk menyingkapkan Allah kepada kita – Meskipun Allah menyatakan Diri-
Nya dengan berbagai cara, termasuk kebesaran di alam sekitar kita, namun
hanya inkarnasi sajalah yang telah menyatakan hakikat Allah, meskipun
terselubung (Yoh. 1: 18, 14:7-11). Jalan satu-satunya manusia dapat melihat
Bapa ialah mengenal Putra-Nya, dan jalan satu-satunya kita dapat
melakukannya sekarang ialah dengan mempelajari catatan tentang kehidupan-
Nya dalam Alkitab. sebab Ia menjadi manusia, maka penyataan Allah
yaitu sebagai Pribadi, sebab Ia Allah, maka penyataan ini sempurna
kebenarannya.
2) Untuk memberikan suatu teladan bagi kehidupan kita – Kehidupan Tuhan
56
kita di dunia ditegakkan bagi kita sebagai suatu pola untuk kehidupan kita
57
sekarang (1 Ptr. 2:21, 1 Yoh. 2:6). Tanpa inkarnasi kita tak akan dapat
memiliki contoh ini . Sebagai manusia, menjadi suatu contoh
pengalaman bagi kita.
3) Memberikan suatu pengorbanan yang efektif untuk dosa – Tanpa inkarnasi
ini , kita tak akan memiliki seorang Juruselamat. Dosa menuntut maut
untuk pembayarannya. Allah tak dapat mati. Jadi, Juruselamat itu harus
manusia agar dapat mati. Akan namun , kematian bagi seorang manusia biasa
tidak dapat melunasi dosa yang abadi sehingga Juruselamat ini juga
harus Allah. Kita harus memiliki seorang Juruselamat Manusia-Allah dan
kita memilikinya dalam Tuhan kita (Ibr. 10:1-10).
4) Agar mampu menggenapi perjanjian kepada Daud – Gabriel memberitakan
kepada Maria bahwa Putranya akan diberi tahta Daud (Luk. 1:31-33). Hal ini
tidak digenapi oleh pemerintahan Allah yang tidak terlihat atas urusan-urusan
manusia (yang pasti Dia penuhi). Untuk mengisi tahta Daud diperlukan
seorang manusia. sebab itu, Mesias harus seorang manusia. Akan namun
menduduki tahta itu untuk selama-lamanya, menuntut yang menempatinya
tak dapat mati. Dan hanya Allah yang memenuhi syarat. Jadi, orang yang
akhimya menggenapi janji kepada Daud harus seorang Manusia-Allah.
5) Untuk memusnahkan pekerjaan Iblis (1 Yoh. 3:8) – Perhatikan bahwa
pemusnahan ini terlaksana dengan munculnya Kristus. Fokusnya yaitu pada
kedatangan-Nya dan tidak pada kebangkitan-Nya seperti yang mungkin
diharapkan. Mengapa inkarnasi ini perlu untuk mengalahkan setan? sebab
setan harus dikalahkan di arena di mana ia berkuasa, yaitu dunia ini. Jadi,
Kristus diutus ke dunia ini untuk memusnahkan pekerjaan-pekerjaan setan.
6) Agar mampu menjadi seorang Imam Besar yang penuh rasa simpati (Ibr.
4:14-16) – Imam Besar kita mampu merasakan kelemahan kita sebab Ia
diuji seperti kita. Namun, Allah tak pemah diuji sehingga perlulah bagi Allah
menjadi manusia untuk dapat diuji supaya dapat menjadi seorang Imam yang
penuh rasa simpati.
7) Agar mampu menjadi seorang Hakim yang memenuhi syarat – Meskipun
orang kebanyakan berpendapat bahwa Allah sebagai Hakim, kepada siapa
semuanya akan menghadap, sebenarnya Yesuslah yang akan menjadi Hakim
ini (Yoh. 5:22,27). Semua penghakiman akan dilakukan oleh Tuhan kita
―sebab Ialah Anak Manusia‖. Inilah gelar yang menghubungkan-
Nya dengan dunia dan dengan misi-Nya di dunia. Mengapa Hakim itu harus
menjadi dan pernah hidup di dunia? Agar Ia bisa menggugurkan semua
alasan yang mungkin akan dibuat oleh manusia. Mengapa Hakim ini
harus juga Allah? Agar penghakiman-Nya benar-benar jujur dan adil.
sebab itu, inkarnasi ini amat berpengaruh dalam hubungannya dengan
pengetahuan kita tentang Allah, dengan keselamatan kita, dengan kehidupan
kita sehari-hari, dengan kebutuhan-kebutuhan kita yang mendesak, dan
dengan masa depan. Hal ini sesungguhnya yaitu pusat fakta sejarah.
e. Apa yang terjadi pada saat inkarnasi.
1) ‗Firman / LOGOS menjadi manusia‘ (Yoh 1:14) tidak berarti bahwa:
aLOGOS kehilangan seluruh atau sebagian keilahianNya. b) LOGOS
setelah inkarnasi berbeda dengan LOGOS sebelum inkarnasi. Jadi
inkarnasi tidak berarti bahwa LOGOS itu berhenti menjadi apa adanya
Dia sebelum saat itu. Kalau kita berbicara tentang ‗Firman / Allah yang
menjadi manusia‘, maka kita harus memiliki pengertian bahwa keilahian
58
Yesus tidak hilang / tidak berkurang sedikitpun, namun Ia justru
ketambahan hakekat manusia pada diriNya.
2) ‗Firman / LOGOS menjadi manusia‘ berarti bahwa LOGOS mengambil
hakekat manusia (tubuh & jiwa):
Tanpa mengalami perubahan dalam hakekatNya.
Tanpa kehilangan sifat-sifatNya.
Tanpa menghentikan / mengurangi kegiatanNya.
Mengenai ketidak-berubahan LOGOS pada saat inkarnasi Jhon Calvin berkata: "
sebab bahkan saat Firman dalam hakekatNya yang tak terbatas, bersatu dengan
hakekat manusia dalam satu pribadi, kami tidak membayangkan bahwa Ia dibatasi di
dalamnya. Ini yaitu sesuatu yang menakjubkan: Anak Allah turun dari surga dengan
cara sedemikian rupa, sehingga tanpa meninggalkan surga, Ia mau dikandung dalam
kandungan perawan, berjalan-jalan di bumi, dan tergantung di kayu salib, namun Ia
secara terus-menerus meme-nuhi alam semesta seperti yang Ia sudah lakukan dari
semula‖25 Kata-kata Calvin ini didasarkan atas Yoh 1:18. Kalau kita melihat kontex
Yoh 1 itu maka akan terlihat bahwa mula-mula (pada mulanya) digambarkan bahwa
LOGOS itu bersama-sama dengan Allah (ay 1). Setelah itu digambarkan bahwa LOGOS
itu berin-karnasi dan diam di antara manusia (ay 14). namun dalam ay 18 tetap
digambarkan bahwa LOGOS itu ada di pangkuan Bapa di surga!
2. Kenosis
Selanjutnya, dalam membahas ketidakberubahan LOGOS baik dalam hakekat, sifat,
maupun kegiatanNya pada saat berinkarnasi ini, kita perlu membahas suatu ajaran
yang disebut Teori Kenosis (= teori pengosongan diri). Κένωριζ (Kénōsis) dalam
Bahasa Yunani berarti "mengosongkan", dari kata κενόζ (Kenós) "kosong"26.
Padanan kata Kenos dalam Bahasa Yunani yaitu Mataios. Kata ini lebih bersifat
kemanusiaan secara personal. Mataios dihubungkan dengan perasaan, esensi, dan
juga usaha yang sia-sia.27 Kenosis dalam bentuk kata kerja yaitu κενόω (kenóō)
berarti "menjadi kosong".28 Kenosis yang dihubungkan dengan kata benda berarti
hilang (keadaan atau efek yang ditimbulkan). Dalam Teologi Kristen, kata ini
seringkali dihubungkan dengan peristiwa penyaliban Yesus.29 Salah satunya
diungkapkan dalam Filipi 2:7 melalui akar kata ἐκένωρεν (ekénōsen), "Yesus
membuat diri-Nya tidak ada..." (NIV) atau "... Dia mengosongkan diri-Nya sendiri
..." (NRSV). Teori Kenosis ini merupakan suatu ajaran yang sangat populer, namun
salah / sesat! Teori Kenosis ini, berdasar Fil 2:6-7, mengatakan bahwa Anak
Allah mengesampingkan sebagian / seluruh sifat-sifat ilahiNya supaya Ia bisa
menjadi manusia yang terbatas (Contoh: Mat 24:36 menunjukkan Yesus tidak maha
tahu). Kesalahan dari Teori Kenosis ini:
a. Yesus yaitu Allah dan sebab itu Ia tidak bisa berubah (bdk. Maz 102:26-28
Mal 3:6 Yak 1:17). Allah tidak bisa berhenti men-jadi Allah, sekalipun hanya
untuk sementara!
b. Kalau Teori Kenosis itu benar, maka pada saat Yesus menjadi manusia, Allah
Tritunggal bubar!
c. Kalau Teori Kenosis itu benar, maka Kristus bukanlah sungguh-sungguh Allah
dan sungguh-sungguh manusia! Ia hanya manusia biasa, tanpa keilahian! Dan
kalau ini benar, maka Ia tak bisa menjadi Pengantara antara Allah dan manusia
dan penebusanNya tidak bisa memiliki nilai yang tidak terbatas.
Dalam tafsirannya tentang Fil 2:7, Calvin mengatakan bahwa istilah
‗mengosongkan diri‘ itu tidak berarti bahwa Kristus melepaskan ke-ilahianNya,
namun menyembunyikannya dari pandangan manusia. Kristus tidak bisa melepaskan
59
dirinya sendiri dari ke-ilahianNya; namun menyembunyikannya untuk sementara
waktu, supaya tak kelihatan, di bawah kelemahan daging. Jadi, Ia
mengesampingkan kemuliaanNya dalam pandangan manusia, bukan dengan
mengurangi-nya, namun dengan menyembunyikannya. Herman Hoeksema
menambahkan bahwa sekalipun pada saat inkarnasi itu kemuliaan Kristus
disembunyikan, namun kadang-kadang tetap bisa terlihat sekilas, misalnya pada
waktu Ia melakukan mujijat. ―Ini tidak berarti bahwa Anak Allah untuk
sementara waktu mengesampingkan hakekat ilahi, untuk menukarnya dengan
hakekat manusia. Ini mustahil, sebab hakekat ilahi tidak bisa berubah. namun itu
berarti
bahwa Ia masuk ke dalam keadaan manusia sedemikian rupa sehingga di depan
manusia kemuliaan dan keagungan ilahiNya tersembunyi, sekalipun bahkan dalam
saat perendahanpun itu kadang-kadang memancar keluar, seperti misalnya dalam
pelaksanaan / pertunjukan keajaibanNya‖.
E. Tiga Jabatan Kristus
Sudah umum dalam lingkaran-lingkaran Protestan sejak reformasi untuk membicarakan
karya Kristus di bawah tiga jabatan umum: nabi, imam dan raja.31 Jabatan Kristus
merupakan salah satu tema besar dari Perjanjian Lama sebab hubungan dengan Kristus.
Musa menubuatkan jabatan Kristus sebagai seorang Nabi dalam Ulangan 18:18. Jabatan
keimaman Kritus dinubuatkan dalam Mazmur 110:4, dan jabatanNya sebagai raja
digenapkan dan janji kepada Daud (2 Samuel 7:16) bandingkan Lukas 1:31-33. Jabatan-
jabatan ini merujuk kepada peran-peran-Nya sebagai guru, Juruselamat, dan penguasa alam
semesta dan gereja.
1. Jabatan Sebagai Nabi
Yesus yaitu seorang Nabi Allah yang sempurna, Yesus yaitu objek dan subjek dari
nubuat. Sekalipun Yesus yaitu inti dari nubuat Perjanjian Lama, namun Dia sendiri
yaitu Nabi. Pelayanan Kristus sebagai nabi, walau kebanyakan digenapi di bumi
sebelum kematianNya, memerlukan pengesahan dan kebangkitanNya untuk
memberikan otoritas kepada apa yang telah dikatakanNya maupun kepada pelayanan
selanjutnya melalui Roh Kudus yang akan diutusNya (Yohanes 16:12-14). Jika Kristus
tidak bangkit dari antara orang mati, Ia akan merupakan seorang nabi palsu belaka dan
semua pelayananNya yang dicatat dalam kitab Injil akan diragukan. Dengan cara yang
serupa, pelayanan sesudah yang membawa ke puncaknya apa yang diajarkanNya
sebelumnya, akan mustahil tanpa kebangkitanNya secara badaniah. sebab itu
kebangkitan ini menciptakan sebuah bukti tentang sah dan otoritasNya Kristus
sebagai nabi. Kegiatan seorang nabi yaitu menyatakan Firman Allah namun Dia sendiri
yaitu Firman Allah. Yesus merupakan Nabi Allah yang tertinggi, yaitu Firman Allah
yang menjadi daging. Para nabi di Perjanjian Lama semacam pengantara antara Allah
dengan bangsa Israel. Dia berbicara atas nama Allah.
2. Jabatan Sebagai Imam
Fungsi imam yaitu berbicara kepada Allah atas nama umat. Yesus sebagai imam
sudah dinubuatkan dalam Mazmur 110 di mana Kristus dinyatakan sebagai Imam
kekal. ―TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal Engkau yaitu
imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek‖ (ayat 4). Konsep Kristus sebagai
Imam yang hidup terus selama-lamanNya dikuatkan dalam Ibrani 7:25, ―Ia
(Kristus) hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.‖ Pertentangan dengan
imam-imam biasa yang jabatannNya berhenti bila mereka meninggat atau pensiun
menurut peraturan Imamat, maka kebangkitan Knistus menjadikanNya mungkin untuk
60
menjadi Imam selama lamanNya. Inilah ajaran Perjanjian Baru maupun nubuatan
Perjanjian Lama.
61
Ibrani 7:24 menyatakannya dengan tegas, ―namun , sebab Ia tetap selama-
lamanNYa, ImamatNya tidak dapat beralih kepada orang lain.‖ Yesus juga menggenapi
peran sebagai Imam Besar. Di Perjanjian lama, imam besar mempersembahkan korban
secara teratur, namun Yesus mempersembahkan korban yang bernilai kekal, yaitu satu
kali dan berkhasiat untuk selamanya. Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada
Allah Bapa. Dia yaitu yang mempersembahkan dan persembahan itu sendiri.36
Sebagai seorang imam juga, Ia telah memasuki ruang maha kudus, yang bukan
merupakan tiruan kuil yang ada di dunia ini namun suatu tempat surgawi. Oleh sebab
itu, ia tentu sanggup menuntun kita tiba disana, di hadapan Allah, suatu pernan
keimaman yang sungguh berbeda. Ia bukan hanya memasuki ruang Mahasuci sekali
setahun, namun Ia berdiam disana selamanya.
3. Jabatan Sebagai Raja
Jabatan ketiga, sebagai Raja, terutama menggenapkan nubuatan Perjanjian Lama
tentang seorang Anak laki-laki yang akan memerintah. Kristus tidak hanya akan
memerintah Israel sebagai penggenapan janji kepada Daud tentang keturunannya yang
akan memerintah selama-lamanya, namun akan juga memerintah seluruh dunia sebagai
Seorang kepada siapa Allah telah memberikan hak untuk memerintah atas bangsa-
bangsa (Mazmur 2:8-9). Pemerintahan Kristus yang akan berlangsung selama-
lamanya.38 Yesus yaitu Raja yang telah diurapi dari segala raja, dan Tuan dari segala
tuan. Pemerintahan Yesus sebagai Raja sangat berbeda dari pemerintahan raja pada
umumnya. KerajaanNya bersifat rohani, yang tidak Nampak secara kasat mata (Mat.
8:11,12; Yoh 18:36) dan hanya dapat kita masuki melalui kelahiran kembali
F. Pra Eksistensi Kristus
Kristus yaitu kekal. Ia sudah ada sebelum dunia ini diciptakan. Meskipun ungkapan
yang menyatakan bahwa Kristus telah ada lebih dahulu, yaitu sebelum kelahiran-Nya di
Betlehem, tidak persis sama dengan yang mengatakan bahwa Ia kekal namun secara praktis
bukti tentang pra-eksistensi-Nya telah diterima oleh para ahli theologia sebagai bukti
kekekalan-Nya. Sejak perselisihan Arian pada abad keempat, belum pernah orang berhasil
menyangkal secara total kekekalan-Nya dengan tidak juga menyangkal pra-eksistensi-Nya.
Bukti bahwa Kristus sudah ada sejak Perjanjian Lama yaitu mendukung bukti tentang
kekekalan-Nya.
1. Nubuatan Kristus dalam Perjanjian Lama
Seluruh kitab Perjanjian Lama dipenuhi pengharapan akan datangnya Mesias Israel,
berbagai nubuat mengenai kedatanganNya dari kelahiran sampai kebangkitanNya
digenapi dalam Perjanjian Baru. Begitu banyaknya nubuatan tentang Kristus sebelum
Ia lahir merupakan hal yang sangat penting, sebab tidak ada seorang pun yang pernah
diramalkan di dunia ini secara demikian. Nubuat ini sudah merupakan suatu mujizat
dan memberikan kesaksian mengenai Seorang yang luar biasa yang tuntutan-
tuntutanNya mengharuskan kita menyembah dan menaati Dia. Ralph O. Muncaster
dalam bukunya menyatakan bahwa terdapat 322 nubuat mengenai sang Mesias dalam
Perjanjian Lama. Berikut ini yaitu deskripsi sang Mesias hanya dari nubuat Perjanjian
Lama.42 Sang Mesias akan diturunkan dari Sem (Kejadian 9,10), Abraham (Kejadian
22:18), Ishak (Kejadian 26:2-4), Yakub (Kejadian 28:14), Yehuda (Kejadian 49:10),
Isai (Yesaya 11:1-5), dan Raja Daud (Samuel 7:11-16). Sebuah bintang cemerlang
(Bilangan 24:17) akan muncul saat Ia dilahirkan di kota Betlehem di tanah Efrata
(Mikha 5:2). Itu akan merupakan kelahiran mukjizat oleh seorang perawan. (Yesaya
7:14)
62
Sang Mesias unik, Ia sudah ada sebelum kelahiran-Nya (Mikha 5:2). Ia akan
mengadakan banyak mukjizat: meneduhkan laut (Mazmur 107:29), dan membuat yang
buta melihat, yang tuli mendengar, yang lumpuh berjalan, dan yang bisu berbicara.
(Yesaya 35:4-6) Ia akan dirujuk dengan banyak cara termasuk: Allah menyertai kita,
penasihat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal dan raja damai. (Yesaya 9:6)
Suatu hari Ia akan memerintah atas segalanya-semua bangsa akan sujud bertelut
kepada-Nya. (Yesaya 45:23; Mazmur 22) Sang Mesias, bagaimanapun juga, akan
datang untuk menyelamatkan umat manusia. (Yesaya 53) Ia akan menjadi korban dosa
manusia (Yesaya 53) dan memberikan diri-Nya kepada Yerusalem sebagai raja yang
diurapi sekaligus anak domba Paskah (Yesaya 53). Ini akan terjadi tepat 173.880 hari
setelah dekrit yang dikeluarkan oleh Artahsasta untuk membangun kembali baik
Yerusalem maupun Bait Suci (Daneil 9:20-27). Jadi, empat hari sebelum paskah, sang
Mesias akan menghadirkan diri-Nya kepada Yerusalem yang bersukaria dengan
menunggang seekor keledai. (Zakharia 9:9) Namun kemudian Ia akan sangat menderita
(Yesaya 53). Ia akan ditolak oleh banyak orang termasuk sahabat-sahabat-Nya (Yesaya
53). Ia akan dikhianati oleh seorang sahabat (Mazmur 41:9) untuk 30 uang perak.
(Zakharia 11:12,13) Belakangan uang itu akan dilemparkan ke lantai bait suci
(Zakharia 11:12,13) dan akhirnya akan diberikan kepada penuang logam.18 saat
diadili Ia tidak akan membela diri (Yesaya 53). Ia tidak akan mengatakan apa-apa
kecuali yang diharuskan oleh hukum. Israel akan menolak Dia (Yesaya 8:14).
Sang Mesias akan dibawa ke sebuah puncak bukit yang diidentifikasi Abraham sebagai
"Tuhan menyediakan." (Kejadian 22) Di sana Ia akan disalibkan dengan tangan dan
kaki tertusuk. (Mazmur 22) Musuh-musuh- Nya akan mengelilingi Dia, (Mazmur 22)
mengolok-olok Dia, dan akan membuang undi untuk pakaian-Nya (Mazmur 22) Ia akan
berseru kepada Tuhan bertanya mengapa Ia "ditinggalkan." (Mazmur 22) Ia akan diberi
cuka dan anggur. (Mazmur 69:20-22) Ia akan mati bersama para pencuri. (Yesaya 53)
Namun tidak seperti pencuri-pencuri itu, tak satu pun tulang-Nya akan dipatahkan.
(Mazmur 22) Jantung-Nya akan gagal (Mazmur 22)... seperti yang diindikasikan oleh
darah dan air yang memancar ke luar (Mazmur 22) saat Ia ditikam dengan sebatang
tombak. (Zakharia 12:10) Ia akan dikuburkan di kuburan seorang kaya. (Yesaya 53)
Dalam tiga hari Ia akan bangkit dari kematian. (Yesaya 53; Mazmur 22).
2. Kristus dalam Typologi Perjanjian Lama
Salah satu ajaran asasi dalam Perjanjian Baru ialah bahwa Yesus Kristus (sang Mesias)
yaitu penggenapan Perjanjian Lama. Penulis Surat Ibrani mengemukakan bahwa
Yesus yaitu pewaris dari semua yang telah dikatakan Allah melalui para nabi (Ibrani
1:1-2). Yesus sendiri menandaskan bahwa Ia datang untuk menggenapi Taurat dan
kitab nabi-nabi (Matius 5:17). Setelah kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan, Ia
menunjukkan kepada para pengikut-Nya dari Taurat Musa, kitab nabi-nabi, dan kitab
Mazmur (yaitu, ketiga bagian utama Perjanjian Lama Ibrani) bahwa Allah sudah sejak
lama menubuatkan segala sesuatu yang terjadi pada diri-Nya (Lukas 24:25-27, 44-46).
Untuk memahami dengan lebih jelas nubuat-nubuat Perjanjian Lama tentang Yesus
Kristus, kita harus membahas tipologi.
Tipologi atau typology, kadang ditulis dengan typologi dari kata Yunani, "ηςποζ -
tupos" (kadang ditrasliterasikan "typos" kata darimana kata Inggris"type" berasal) dan
"λογοζ- logos". Istilah tipologi atau typology dalam kekristenan yaitu studi tentang
tipe-tipe atau prafigur dalam Kitab Suci. Yaitu suatu penelaahan Perjanjian Lama yang
cermat menyatakan unsur-unsur (disebut "tipe" atau "lambang", Yunani, "ηςποζ -
tupos") yang digenapi di dalam kedatangan Mesias (yang merupakan "antitype"-nya);
Typologi yaitu studi tentang peristiwa pada perjanjian Lama yang memiliki arti
63
rohani, dengan kata lain, terdapat persesuaian di antara berbagai oknum, peristiwa, atau
hal dalam Perjanjian Lama dan Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru.
Typologi Alkitab merupakan salah satu bagian yang paling diabaikan dalam
pengetahuan theologis. Typologi tidak pernah sama sekali bebas dari sasaran keragu-
raguan dan ketidak pastian. Sebagian ahli berpandangan bahwa typologi -- sebab
sifatnya -- yaitu suatu lapangan yang tak dapat memuaskan untuk diselidiki atau
dikembangkan guna memberikan hasil yang pasti dan dapat dihargai." Kesulitan
dengan typologi ialah bahwasanya sifatnya lebih banyak tunduk pada pandangan
pribadi seseorang yang menyelidikinya dari pada kepada cara-cara penafsiran yang
biasa. Sering typologi dikacaukan dengan penafsiran allegoris. Typologi yaitu contoh
dari sesuatu, sedangkan allegori yaitu lambang, ibarat, kiasan tentang sesuatu.
Keduanya berbeda. Maka penafsiran typologi yang dikacaukan dengan allegori
menghasilkan ajaran yang tidak sejalan dengan ajaran-ajaran dalam bagian-bagian
Alkitab yang lain. Webster menjelaskan dalam kamusnya, sebuah tipe yaitu "suatu
gambar atau gambaran dari sesuatu yang akan datang."
Oleh sebab itu sifatnya meramalkan, dan dari ini kita dapat mengharapkan bantuan
yang memadai bagi ajaran tentang Kristus. Suatu studi mengenai typologi yang bersifat
Kristologis mencakup kira-kira lima puluh tipe-tipe penting tentang Kristus -- ini
merupakan separuh dari seluruh tipe yang diakui dalam typologi Orang-orang yang
menjadi tipology Kristus dalam Perjanjian Lama, yaitu sebagai berikut:
a. Harun, kitab Ibrani memberikan dasar yang kokoh untuk mempercayai bahwa
Harun yaitu suatu tipe dari Kristus. Sebagai seorang imam, Harun dipanggil
untuk memangku jabatan yang suci itu (Ibrani 5:4) sebagaimana Kristus sebagai
Imam (Ibrani 5:5-6). Harun dipanggil untuk pelayanan di bumi, sedangkan Kristus
untuk palayanan di sorga (Ibrani 8: 1-5). Harun melayani perjanjian yang lama
sedangkan Kristus perjanjian yang baru (Ibrani 8:6). Harun dipanggil untuk
mempersembahkan korban setiap hari sedangkan Kristus mempersembahkan
diriNya sendiri sekali untuk selamanya (Ibrani 7:27). Type Harun ini menyatakan
Kristus di dalam kemanusiaanNya yang sejati dan di dalam pekerjaanNya sebagai
Imam. Sebagaimana Harun tetap merupakan bagian dari Israel, bahkan saat ia
sedang melayani sebagai pengantara, demikian pula Kristus tetap manusia sejati,
sewaktu di bumi Ia mengenal kelemahan, batas-batas tertentu, penderitaan dan
pergumulan, dan bahkan sesudah naik ke sorga Ia terus di dalam kemanusianNya
yang sebenarnya. Walaupun kitab Ibrani menyatakan kontras antara Harun dan
Kristus, namun jelas terdapat bayang-bayang yang menggambarkan Kristus di
dalam keimaman Harun sebagai manusia. Harun sebagai imam yaitu gambaran
Kristus sebagai Imam.
b. Habel, Dalam tipe ini kita melihat Kristus disajikan sebagai Gembala yang sejati
yang mempersembahkan korban berdarah yang diterima oleh Allah sebagai
ketaatan terhadap perintah Allah. Sebagaimana Habel dibunuh oleh Kain, yang
melambangkan dunia, demikian pula Kristus dibunuh. Sebagaimana persembahan
Habel diterima oleh Allah, demikian pula persembahan Kristus diterima.
Kenyataan bahwa persembahan Habel diterima sebab dipersembahkan dengan
iman (Ibrani 11 :4) tidaklah membuang sifatnya yang penting. sebab Hab







