Kamis, 16 Juli 2026

teori gereja 3

 


Dari  sejak  lahirNya sampai  sekarang  pribadi Kristus  menimbulkan  berbagai  macam

kontroversi,  menjadi  daya tarik  yang mengagumkan bagi  banyak orang namun   sekaligus

menjadi tanda tanya yang membingungkan banyak orang. Isu-isu kontemporer dalam

Kristologi melibatkan beberapa masalah yang perlu dibahas, salah satunya yaitu 

permasalahan teologis. Mempelajari Kristologi dengan metode penelusuran historik

memicu  timbulnya pandangan-pandangan Kristologi yang bertentangan dengan

Kristologi tradisional (bahwa Yesus yaitu  Allah dan Manusia). Teologi Liberal

mengatakan bahwa Yesus dalam iman Kristiani berbeda dari Yesus dalam sejarah. Menurut

pandangan Liberal, Yesus bukanlah Allah dalam rupa manusia dan bukanlah pekerja

mujizat,  melainkan   ―seorang   yang   baik,   guru   kebenaran-   kebenaran   rohani   yang

mulia‖  -  Penelusuran  tentang  Yesus  dalam  sejarah  menghasilkan  pula  beberapa

pengamatan, antara lain: penyangkalan bahwa Yesus historik itu bukanlah Yesus yang kita

imani dan tidak ada mujizat-mujizat yang terjadi.

Selain pandangan Liberal, di dalam teologi dikenal dua macam pendekatan Kristologi,

kedua   metode   kristologis  ini    ialah: ―Christology from Above‖  (Kristologi dari

―Atas‖) dan ―Christology  from Below‖ (Kristologi  dari ―Bawah‖).

1. Kristologi dari Atas

Yang dimaksud dengan Kristologi  dari  atas  yaitu   melihat  siapa  Yesus  Kristus

Sebelum Dia  datang  ke  dalam dunia.  Pandangan ini  mengatakan  bahwa ke-Allahan

Yesus Kristus terselubung saat  Dia di dalam dunia. Supaya manusia dapat mengenal

Dia sebagai Allah yang sejati, maka harus melihat siapa Yesus sebelum Dia datang ke

dalam dunia.  Sebagai contoh yaitu  Yoh.1:1.  Teolog yang menganut pendekatan ini

yaitu  Rudolph Bultmann. Emil Brunner dalam bukunya, The Mediator, menguraikan

inti pandangan ini.

a. Dasar  untuk  memahami  Kristus  bukanlah  Yesus  historik, melainkan kérugma,

yaitu pemberitaan Gereja tentang Kristus.

b. Dalam merumuskan suatu Kristologi, Surat-Surat Paulus dan Injil Yohanes perlu

diutamakan  daripada  Injil  Sinopsis,  sebab Surat-Surat  Paulus  dan Injil  Yohanes

merupakan tafsiran teologis tentang Kristus, sedangkan Injil Sinopsis hanya

merupakan ―laporan‖  tentang pengalaman  dan pekerjaan Yesus.

c. Iman kepada Kristus tidak berdasar pada atau dibenarkan oleh bukti rasio sebab 

iman itu tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Pernyataan mengenai Yesus mengajar

murid-murid-Nya di tepi pantai masih bisa dipertanyakan, namun  pernyataan

mengenai Yesus sebagai Oknum kedua dalam Tritunggal tidak perlu dipertanyakan

lagi.

Kristologi  dari  Atas  ini  memang memiliki   segi  positif  yang bermanfaat  bagi

jemaat. Penganut-penganut pandangan Kristologi ini menekankan nilai dan tujuan

inkarnasi memiliki  dampak bagi orang percaya kepada Yesus. Kristologi ini  juga

memiliki  komitmen yang kuat terhadap kegaiban yang memberi kemungkinan

adanya Yesus ilahi yang mengerjakan mujizat. Kelemahan pandangan masalah

kesubjektifitasan juga menandai pandangan ini. Bagaimanakah kita yakin bahwa

Kristus yang kita  kenal melalui  kesaksian para rasul yaitu  Kristus yang sejati  dan

bukan Kristus dari perasaan kita saja?

2. Kristologi dari Bawah

Sedangkan Kristologi dari bawah, memiliki pendekatan yang justru kebalikan dari

pandangan ini  di atas. Pandangan ini justru memperhatikan secara sungguh-

sungguh siapa Yesus saat  Dia berada di dalam dunia. Pendekatan ini lebih

menekankan  keberadaan  Yesus  sebagai  manusia.  Bagaimana  hidup-Nya,  kuasa-Nya,

serta apa yang dikatakan-Nya, kemudian bertanya bagaimana caranya Ia menjadi Allah.

Semua itu menunjukkan siapa Dia sesungguhnya. Metode pendekatan ini disebut

Vonunten atau "The Christology from below". Teolog yang menganut pandangan ini

yaitu  W. Pannenberg.3 Pandangan ini menyatakan bahwa Kristologi yang sejati

sangat mungkin,  yaitu bahwa penelusuran historik dapat memicu  kepercayaan

pada keilahian Yesus Kristus. Kepercayaan ini  merupakan kesimpulan dan bukan

44

dugaan awal penelusurannya. Wolfhart Pannenberg dalam bukunya, Jesus - God and

Man memberi penjelasan tentang pandangan ini, selain mengkritik pandangan

Kristologi dari Atas.

a. Tugas  Kristologi  yaitu   memberi  bukti  yang  logis  kepada  kepercayaan  tentang

keilahian Yesus.

b. Kristologi dari Atas cenderung mengabaikan segi kehistorikan Yesus dari Nazaret

itu.

c. Kristologi dari Atas hanya mungkin bagi Allah sendiri dan bukan bagi kita. Kita

hanya manusia dengan segala keterbatasan dan kita harus memulai penelusuran

kita dari perspektif itu.

Pannenberg kemudian menguraikan pendekatannya yang dibedakan dengan jelas dari

Kristologi dari Atas.

a. Penelusuran historik di balik kerugma PB sangat mungkin dan merupakan

keharusan teologis. Memang biografi Yesus tidak dapat disusun secara kronologis,

namun  paling tidak kita dapat menemukan siapakah Yesus itu dari kesaksian para

rasul.  Ini  harus  dilakukan sebab   jikalau  tidak,  mungkin saja  kita  tidak percaya

kepada Yesus sejati, melainkan kepada Matius, Lukas, dan Paulus saja.

b. Sejarah itu merupakan satu kesatuan dan bukan dualistis. Hidup dan karya Yesus

bukan terpisah dari sejarah umum. Jadi, metode penyelidikan sejarah sekuler perlu

dipakai juga dalam penelusuran tentang Yesus.

c. Sangat jelas bahwa Kristologi dari  Bawah dapat membuktikan kemanusiaan dan

keilahian Yesus melalui pengesahan dari Allah. Pengesahan itu dapat dilihat pula

dalam kebangkitan Yesus. Kebangkitan itu berarti bahwa Allah menyetujui

pengakuan-pengakuan Yesus tentang diri-Nya.

Kelebihan pandangan ini yaitu  mengurangi kesubjektifitasan yang tidak

semestinya. Pandangan ini juga mendorong kita untuk jangan mendasarkan iman pada

perkataan orang-orang percaya yang lain. Kelemahannya terletak pada kenyataan

bahwa sukses Kristologi ini mencoba menetapkan bukti historiknya dengan keyakinan

objektif yang sebenarnya sulit dicapai.

3. Kristologi alternatif

Kristologi alternatif bagi orang-orang Injili yaitu  paduan dari unsur-unsur

Kristologi  Atas  dan  Kristologi  Bawah.  Tidak  hanya  iman  saja  ataukah  penelusuran

historik saja, melainkan kedua-duanya yang jalin-menjalin, saling bergantung dan

berkembang secara simultan. Dengan bertambahnya pengetahuan kita tentang Kristus

dalam kerugma maka kita juga lebih memahami dan mengintegrasikan data dari

penelitian  kepada  pengertian  kita.  Demikian  pula  sebaliknya.  Dengan bertambahnya

pengetahuan kita tentang Yesus historik, maka kita lebih diyakinkan bahwa kesaksian

para rasul tentang Kristus dalam iman itu benar. Iman kepada Kristus akan membawa

kita untuk mengenal Yesus dalam sejarah.

C. Dua Natur Kristus

Perdebatan tentang dua natur Kristus muncul sejak awal kekristenan dan menimbulkan

perdebatan yang  panjang  selama hampir 300 tahun  lebih. Perdebatan yang  munculpun

sekarang ini tentang dua natur Kristus merupakan pengulangan masalah-masalah yang dulu

pernah muncul. sebab  itu seharusnya orang Kristen mempelajari berbagai perdebatan dan

pandangan yang pernah muncul  ini  agar tidak mudah terkecoh dengan pandangan-

pandangan yang kembali muncul pada zaman ini.

Pribadi Tuhan Yesus Kristus memang merupakan tokoh dan sosok sentral dalam seluruh

sistem keyakinan Kristiani. Kekristenan tidak dapat dipisahkan dari nama, pribadi, sifat-

sifat unik dan karya-karya-Nya. Seluruh eksistensi serta substansi iman Kristen tidak bisa

tidak  harus  berpusat,  berdasar,  bergantung,  dan  bertumbuh  di  dalam,  oleh  dan  melalui

Tuhan sendiri.  Tanpa Dia,  Kekristenan hanyalah kulit  tiada isi. Jadi Yesus,  Sang Putra

Allah yang lahir dan hadir di bumi melalui peristiwa inkarnasi, menjadi berita pokok dari

Injil, Kabar Baik dari Allah bagi umat manusia.

1. Prinsip Dua Natur Kristus

Pada tahun 325 Masehi ada sidang gereja di kota Nicea yang melahirkan Nicene

Creed (= Pengakuan Iman Nicea), yang meneguhkan doktrin tentang Allah Tritunggal.

Sekalipun dalam Nicene Creed itu ditegaskan akan keilahi-an Kristus, dan bahwa Ia

telah menjadi manusia, namun  Nicene Creed itu tidak menyatakan apa-apa tentang

hubungan antara keilahian dan kema-nusiaan Kristus, sehingga akhirnya muncul

banyak ajaran sesat dalam Kristologi. Pengakuan iman yang paling penting dalam

Kristologi yaitu  Chalcedonian Creed (= Pengakuan Iman Chalcedon), yang diciptakan

dalam sidang gereja di kota Chalcedon pada tahun 451 Masehi. Chalcedonian Creed:

"We all with one accord teach men to acknowledge one and the same Son, our Lord

Jesus Christ, at once complete in Godhead and complete in manhood, truly God and

truly man ...  one and the same Christ,  Son, Lord,  only begotten,  recognized in  two

natures, without confusion, without change, without division, without separation ... the

characteristics of each nature being preserved and coming together to form one person

..." (= Kami semua, dengan suara bulat, mengajar manusia untuk mengakui Anak yang

satu dan yang sama, Tuhan kita Yesus Kristus, pada saat yang sama sempurna / lengkap

dalam keilahian dan sempurna / lengkap dalam kemanu-siaan, sungguh-sungguh Allah

dan sungguh-sungguh manusia ... Kristus, Anak, Tuhan yang satu dan yang sama, satu-

satunya yang diperanakkan, dikenali dalam 2 hakekat, tanpa kekacauan / percampuran,

tanpa perubahan, tanpa perpecahan, tanpa perpisahan ... sifat-sifat setiap hakekat

dipertahankan dan bersatu membentuk 1 pribadi ...) Inti pengajaran:

a. Yesus pada saat yang sama yaitu  sempurna dalam keilahian dan sempurna dalam

kemanusiaan. Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.

b. Dua hakekat/natur Yesus: tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa perpecahan,

tanpa perpisahan, karakteristik dari setiap natur tetap dipertahankan dan bersama-

sama membentuk satu pribadi.

Catatan penting tentang pernyataan kredo Chalcedon:

a. Meskipun keilahian dan kemanusiaan Yesus yaitu  tanpa perpecahan dan tanpa

perpisahan, namun  dua hakekat ini  tetap bisa dibedakan.

b. Masing-masing hakekat tetap memiliki sifat-sifatnya sendiri.

c. Hakekat ilahi Yesus tidak berubah menjadi hakekat manusiawi Yesus selama di

dunia Yesus tetap Allah sejati.

d. Hakekat manusiawi Yesus tidak berubah menjadi hakekat ilahi Yesus setelah 

kenaikan ke surga, Yesus tetap manusia sejati.

e. Dua hakekat Yesus tidak bercampur membentuk pribadi ketiga.

f. Yesus: dua hakekat namun  satu pribadi (Logos), bdk. Tritunggal: satu hakekat namun 

tiga pribadi.

2. Keilahian Kristus

Bukti-bukti keilahian Yesus:

a. Pernyataan Alkitab secara eksplisit (Yes 9:5; Yoh 1:1; Rom 9:5; Fil 2:5b-7; Tit 2:13;

Ibr 1:8; 2Pet 1:1; 1Yoh 5:20). Isu khusus: Saksi Yehowah menerjemahkan Yoh 1:1c

―The  Word  was  a   god‖,  sebab   dalam  bahasa  Yunani  kata  ―god‖  (theos)  tidak 

memiliki definite article. Jawaban:

1) Dalam PB, kata theos tanpa definite article yang merujuk pada Allah Bapa

muncul sebanyak 282 kali (e.g., Yoh 1:6, 12, 13, 18; 3:2, 21; 9:16).

2) Dalam konteks monotheisme Yahudi, kata theos sudah pasti merujuk pada satu

Allah, sehingga pemakaian  definite article tidak bersifat mutlak.

3) Dalam pengakuan Thomas di Yoh 20:28, kata theos memakai definite article.

4) Struktur kalimat Yoh 1:1c disebut Predicate Nominative. Dalam susunan seperti

ini, definite article pada subjek (ho logos = Firman itu) juga membawahi kata

benda yang lain.

5) Seandainya kata theos memakai definite article, frase ini berkontradiksi dengan

Yoh   1:1b   ―Firman   itu   bersama-sama   dengan   Allah‖   (Cat:  ―Allah‖   di

sini memakai definite article). Ini yaitu  ajaran sesat yang mengidentikkan Allah

Anak dengan Allah (Bapa).

6) Tujuan Yohanes menulis yaitu  membuktikan Yesus sebagai Anak Allah

(=Allah), lihat Yoh 20:30-31 cf. Yoh 5:8; 10:30.

7) Dalam Tit 2:13 dan 2Pet 1:1 Yesus disebut sebagai Allah (theos) dengan definite

article.

b. Nama ilahi yang dikenakan pada Yesus.

1) Yes  9:5  ―Allah   yang perkasa‖  (El Gibor, cf.   gelar   yang sama untuk

Yehowah di Yes 10:21).

2) Nama   ―Yehowah‖  dikenakan  pada  Yesus,  baik  di  PL  (Yer  23:6  dan  33:16

―YHWH  tsidqenu‖)  maupun  di  PB  (Yoh  1:3;  Kol  1:16,  cf.  Yes  44:24;

Yer 10:11).

3) Ibr 1:8,  10 Allah menyebut  Yesus dengan sebutan ―Allah‖.

c. Yesus memiliki  sifat-sifat ilahi, misalnya kekal (Mik.5:1b; Yoh.1:1; 8:58; 17:5;

Wah.1:8; 22:13), mahakuasa (Yoh.5:21; 10:18; 15:24), mahatahu (Mat.9:4; 12:25;

Yoh.2:24-25; 6:64), mahaada (Mat.18:20; 28:20b), tidak berubah (Ibr.13:8).

d. Yesus melakukan perbuatan-perbuatan ilahi, misalnya penciptaan (Yoh.1:3;

Kol.1:16;  Ibr.1:2,  10),  pengampunan dosa (Mat.9:2-7),  pembaruan  segala  sesuatu

(Fil.3:21; Wah.21:5), penghakiman (Mat.25:31-32; Yoh.5:22, 27)..

e. Kesetaraan dengan Allah Bapa (Yoh.10:30; 14:7-11).

f. Setan mengakui Yesus sebagai Allah (Mat.8:28-32).

g. Yesus menerima penyembahan (Mat.14:33; 28:9, 17; Yoh.9:38; 20:28, cf. Mat.4:10;

Kis.10:25-26; Kis.14:14-18; Wah.19:10; 22:8-9).  h. Pada  waktu Yesus membuat

klaim yang menunjukkan Ia yaitu  Allah, jika Ia bukan Allah maka berarti Ia yaitu 

seorang pembohong. Jika Ia berbohong, maka Ia juga seorang munafik, sebab  Ia

menyuruh orang lain untuk jujur, dengan risiko apapun, sedangkan Ia sendiri

mengajarkan kebohongan besar. Terlebih lagi, jika Ia berbohong, maka Ia yaitu  roh

jahat, sebab  menyuruh orang mempercayakan nasib kekalnya pada diri-Nya

(sebagai Juruselamat mereka); suatu kekejian yang tak terkatakan. Terakhir, jika Ia

berbohong, Ia yaitu  orang bodoh, sebab  kebohongan itu membawa kematian-Nya

di kayu salib, tanpa keuntungan apa-apa.

3. Kemanusiaan Kristus

Bukti-bukti kemanusiaan Yesus:

a. Yesus datang sebagai manusia (Yoh 1:14; 1Tim 3:16; Fil 2:7-8; Ibr 2:14; 1Yoh 4:2).

b. Yesus memiliki tubuh (Mat 26:26, 28; Luk 24:39; Ibr 2:14) maupun psuche-jiwa/roh

(Mat 26:38; 27:50; Luk 23:46; Yoh 11:33; 12:27; 13:21; 1Yoh 3:16).

c. Yesus memiliki pikiran manusia (Mat 24:36; Luk 2:40, 52), perasaan manusia (Mat

8:10; 9:36; 26:37-38; Mar 3:5; 6:6; Luk 7:9; Yoh 11:33, 35; 12:27) dan kehendak

manusia (Mat 26:39).

47

d. Yesus mengalami pertumbuhan/perkembangan (Luk 2:40, 52).

e. Yesus mengalami semua pengalaman manusia, misalnya lahir (Luk 2:7), lapar (Mat

4:2), haus (Yoh 4:7; 19:28), letih (Yoh 4:6), tidur (Mat 8:24), menderita (Ibr 2:10,

18; 5:8) dan mati (Yoh 19:30).

4. Pentingnya Dua Natur Kristus

Pentingnya keilahian Kristus:

a. Supaya Yesus bisa taat sempurna kepada Bapa (tanpa dikuasai dosa asal/natur

manusia  yang rusak – ―total depravity‖).

b. Supaya kematian-Nya memiliki nilai penebusan yang tidak terbatas (cf. Mzm 49:8-9

--- NIV ―..no man can redeem the life of another...‖).

c. Supaya Allah tetap adil saat  Ia menghukum Yesus sebagai ganti manusia, sebab 

yang dihukum pada dasarnya yaitu  Allah sendiri.

Pentingnya kemanusiaan Kristus:

a. sebab  yang berdosa yaitu  manusia, maka yang menebus juga harus seorang

manusia yang dapat mati (Rom 8:3; Ibr 2:14-17). Jika Yesus hanyalah Allah saja,

maka Dia tidak bisa mati untuk menanggung dosa kita.

b. Supaya bisa menjadi pengantara antara Allah dan manusia (1Tim 2:5, bdk. imam

besar di PL).

c. Supaya Yesus dapat bersimpati terhadap manusia yang menderita atau dicobai (Ibr

2:17-18; 4:15).

d. Supaya Yesus bisa menjadi teladan bagi manusia (Mat 11:29; Yoh 13:14-15; Fil 2:5-

8; Ibr 12:2-4; 1Pet 2:21).

5. Persatuan Pribadi (Hypostatical/personal Union).

a. Arti Persatuan Pribadi

Persatuan Pribadi atau Hypostatical/personal Union/uni hiposatic) dapat dirumuskan

sebagai  ―person  kedua,  Kristus  pra-inkarnasi  datang  dan  mengambil  bagi  diri-

Nya rupa manusia dan tetap menjadi Tuhan untuk selama-lamanya dan juga manusia

benar-benar, yang disatukan dalam satu person untuk selama-lamanya‖. saat 

Kristus datang, satu Person datang, bukan saja satu rupa; Ia mengambil rupa

tambahan, rupa manusia - Ia tidak saja diam dalam person manusia. Hasil dari uni

dua rupa yaitu  theanthropic Person (Manusia - Allah).

b. Keterangan tentang persatuan pribadi

Dua rupa Kristus disatukan tidak terpisahkan tanpa campuran atau hilangnya

identitas terpisah. Ia tetap untuk selama-lamanya Manusia - Allah, Allah penuh dan

manusia penuh, dua rupa yang berbeda dalam satu Person untuk selama-lamanya.

―Melalui   Kristus  kadang-kadang  dimainkan  melalui   rupa   manusia-Nya   dan

dalam kasus lainnya melalui rupa Tuhan, dalam semua kasus apa yang Ia lakukan

dan apa yang Dia dapat diatributkan kepada satu Person-Nya. Meskipun jelas bahwa

ada dua rupa Kristus, Ia tidak pernah dipertimbangkan sebagai sebuah kepribadian

ganda. Dalam meringkas uni hipostatik, tiga fakta dicatat:

1) Kristus memiliki  dua rupa berbeda: manusia dan Tuhan;

2) Tidak ada campuran atau campur tangan dari kedua rupa;

3) Meskipun Ia memiliki  dua rupa, Kristus yaitu  satu Person.

c. Masalah dari uni hipostatik

Kesulitan terbesar dalam doktrin ini ialah hubungan dari dua rupa dalam Tuhan 

Yesus. Beberapa pendapat tentang masalah ini telah berkembang.

1) Pandangan Calvinistik – John Calvin berpikir bahwa kedua rupa disatukan tanpa

ada transfer atribut. Satu atribut tidak dapat diambil dari satu rupa tanpa

mengubah   inti   pokok   dari   rupa   itu.   Walvoord   mengatakan,   ―Kedua

rupa

disatukan tanpa ada kehilangan satu atribut pokok dan bahwa dua rupa

mempertahankan identitas terpisah mereka.  Tidak dapat terjadi campuran dari

dua rupa; tidak terbatas tidak dapat ditransfer ke terbatas; akal tidak dapat

ditransfer ke masalah; Allah tidak dapat ditransfer ke manusia, atau sebaliknya.

Untuk merampas rupa keilahian Allah dari satu atribut tunggal pun akan

merusak ketuhanan-Nya, dan untuk merampas satu atribut manusia, dari

manusia akan merusak kemanusiaan murni. sebab  alasan ini, maka kedua rupa

dari Kristus tidak dapat kehilangan atau mentransfer satu atribut tunggal pun.‖

2) Pandangan Lutheran – Pandangan Lutheran atas dua rupa mengajarkan bahwa

atribut dari dua rupa ilahi disampaikan ke rupa manusia dengan beberapa hasil

penting. Satu hasil doktrin yang penting ialah tubuh manusia dari Kristus ada di

mana-mana, Ia hadir di mana-mana dari rupa ilahi Kristus ditransfer ke tubuh

manusia Kristus. Akhirnya, rupa manusia Kristus berubah dalam keadaan hadir

di  mana-mana  pada  saat  kenaikan  dan  secara fisik  hadir  di  elemen  komuni

kudus. Meskipun elemen-elemen tidak berubah, person ikut serta Kristus yang

hadir  ―dalam, dengan, di bawah dan dengan‖ roti dan cawan.

d. Akibat dari persatuan pribadi.

1) Communicatio Idiomatum (pemberian sifat-sifat).

Pengertian  ―idiomatum‖  di  sini  yaitu   sifat-sifat  dasar  yang dimiliki oleh

semua  manusia,  misalnya  terbatas,  tidak  mahatahu,  bisa  berdosa,  bisa  mati.

Pemarah, sombong, kikir, dll bukanlah sifat dasar manusia, sebab  tidak semua

manusia memiliki  sifat-sifat  ini .  Hal  ini  tidak  berarti  bahwa sifat  dasar

hakekat  ilahi diberikan  kepada  hakekat  manusiawi  maupun  sebaliknya.  Sifat

dasar hakekat ilahi dan hakekat manusiawi diberikan kepada pribadi AnakAllah.

Akibat persatuan ini tidak heran Yesus kadangkala digambarkan terbatas

pengetahuannya (Mat 24:36), namun  Ia juga mahatahu (Mat 9:4;Mat 12:25; Yoh

2:24-25; 6:64).

2) Communicatio Operationum/Apostelesmatum (pemberian tindakan-tindakan).

Pengertian   istilah   ini   yaitu    ―semua   tindakan   Yesus   yaitu    tindakan

yang  dilakukan  oleh  seluruh  pribadi  Yesus‖.  Memang  ada  tindakan  ilahi

(mencipta, memelihara), tindakan manusiawi (makan, minum) maupun

gabungan ilahi- manusiawi (menebus dari dosa), namun  setiap tindakan yaitu 

tindakan yang dilakukan oleh Kristus.

3) Communicatio Charismatum/Gratianum (pemberian karunia-karunia).

Persatuan dua natur ini memicu  hakekat manusiawi ditinggikan melebihi

semua ciptaan, baik dalam hal intelek, kehendak dan kuasa, sehingga menjadi

menjadi objek penyembahan. Salah satu akibat dari proses ini yaitu 

ketidakmampuan Kristus untuk berdosa.

Beberapa ayat yang menunjukkan persatuan dua natur ini antara lain:

   Kisah 20:28   ―...jemaat   Allah   yang ia   telah beli dengan darah-Nya

sendiri...‖ (Catatan:  terjemahan   TB1   ―darah   Anak-Nya‖   tidak   tepat,

sebab    kata

―Anak‖  tidak ada  dalam teks  Yunaninya).  Dalam teks  ini terlihat  ada

gelar  ilahi (Nya=Allah), namun  predikatnya merujuk pada kemanusiaan

Yesus (darah).

   1Kor   2:8   ―...menyalibkan   Tuhan   yang   mulia...‖.   Sebutan   ―Tuhan

yang  mulia‖    menunjukkan    keilahian    Yesus,    namun    predikat

―menyalibkan‖ menunjukkan kemanusiaannya.

Perlu diperhatikan, seseorang tidak boleh memakai  ayat-ayat yang

menunjuk pada kemanusiaan Yesus sebagai bukti bahwa Ia bukan Allah, begitu

juga sebaliknya.

6. Kenosis dan uni hipostatik

Termasuk  dalam  masalah  kenosis  ialah interpretasi Flp.  2:7, ―Ia  mengosongkan

diri-  Nya―  (Yunani:   εκενωρεν   -   ekenosen,   dari   kata   κενωριζ  -   kenosis).

Pertanyaan   yang  berbahaya ialah: Dari apa Kristus mengosongkan diri-Nya? Ahli

Teologi Liberal mengatakan  Kristus  mengosongkan  diri-Nya dari  ketuhanan-Nya.

Akan namun , jelas dari kehidupan-Nya dan pelayanan-Nya bahwa Ia tidak menanggalkan

ketuhanan-Nya, sebab  ketuhanan-Nya tampak dalam berbagai peristiwa. Ada dua hal

pokok:

a. (―Kristus  hanya   melepas  praktik bebas  dari beberapa   atribut   relatif   atau

transitif.   Ia tidak melepas atribut mutlak atau tetap dengan cara apa pun; Ia selalu

sempurna, kudus, tepat, belas kasihan, benar, dan setia.‖ Pernyataan ini berguna dan

memberikan  pemecahan  masalah  dalam ayat-ayat  seperti  Mat.  24:36.  Kata  kunci

dalam   definisi   yaitu    ―bebas‖   sebab    Yesus   dalam   banyak   peristiwa

membuka atribut relatif-Nya.

b. Kristus mengambil bagi diri-Nya suatu rupa tambahan. Konteks Flp. 2:7

memberikan pemecahan yang paling baik bagi masalah kenosis. Pengosongan bukan

suatu pengurangan, namun  suatu penambahan. Empat hal berikut (Flp. 2:7-8)

menerangkan pengosongan:

1) Mengambil rupa hamba

2) Menjadi sama dengan manusia

3) Dalam keadaan sebagai manusia

4) Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati

―Pengosongan‖    Kristus    mengambil    rupa    tambahan,    Rupa    manusia

dengan  pembatasan-  pembatasannya,  Ketuhanan-Nya  tidak  pernah  dilepas.  John  F

Walvoord menjelaskan definisi kenosis dalam dua pengertian:

1) Bahwa Yesus membatasi manifestasi keallahan-Nya – Hal ini bukan berarti bahwa

Yesus menanggalkan keAllahan- Nya, sebab  saat  ber-kenosis Yesus tetap Allah

sejati  dan manusia sejati.  Dengan demikian sifat-sifat  keallahan Yesus tetap ada

pada saat inkarnasi-Nya di bumi, namun  Yesus membatasi manifestasi-Nya dalam

rangka melaksanakan karya penyelamatan-Nya atas manusia.

2) Tanpa reputasi – Walaupun Yesus yaitu  Allah yang Maha Kuasa dan Maha

Agung, namun  Dia rela merendahkan diri, bahkan mengambil rupa seorang hamba.

Kedua hal itulah  yang dimaksudkan  dalam pernyataan ―mengosongkan  diri-Nya‖.

7. Ajaran-ajaran yang salah mengenai dua natur Kristus

Persoalan  tentang dua natur  Kristus merupakan persoalan yang dari  abad-abad awal

sampai dengan saat ini. Persoalan itu menimbulkan pengajaran-pengajaran yang

kemudian hari menjadi bidat yang ditentang oleh gereja pada umumnya, ajaran-ajaran

yang salah tentang dua natur Kristus diantaranya yaitu :

a. Gnostikisme

Istilah  ―Gnostik‖   berasal  dari  kata  Yunani  ―Gnosis‖   yang  memiliki   pengertian

―pengetahuan‖,    ―penerangan‖     dan    adakalanya     memiliki     pengertian

―ilmu pengetahuan‖ ini berasal dari Yudea dan disebarluaskan oleh orang Yahudi ke

dunia non Yahudi. Ajaran ini menyatakan bahwa Allah yaitu  mahasuci sehingga Ia

tidak mungkin  menciptakan  dunia  yang  jahat  dan  bergaul  dengan  manusia  yang

jahat. Keilahian itu memiliki jenjang atau tingkatan, demikian pula makhluk lainnya.

Sehingga  bagi  kaum Gnostik,  Yesus  yaitu   sosok  yang berada  di  atas  manusia,

namun berada di bawah Allah. Gnostik menentang kemanusiaan dan keilahian

kristus,  Yesus itu  bukan Allah.  Ia hanya berada pada salah satu tingkatan dalam

keilahian, Ia bahkan berada di bawah tingkat malaikat.

b. Ebionisme

Istilah   ebion   diambil   dari   bahasa   Ibrani   yang   berarti   ―miskin‖.   Golongan

ini mengaku sebagai murid Kristus sejati. Dalam pengajaran, mereka menekankan

perlunya melaksanakan hukum Taurat untuk mendapatkan keselamatan. Golongan

ini terbagi menjadi dua, yaitu golongan Parisi dan golongan Essene. Ajaran

Ebionisme menyatakan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang kemudian dipilih

Allah untuk menjadi Mesias, sebab  Ia melakukan Taurat setepat-tepatnya. Mereka

juga menganggap dua sifat Yesus tidak mungkin berada dalam satu oknum. Aliran

ini  sama dengan  aliran  Monarkhianisme, yang  juga  menyangkali  natur  keilahian

Kristus. Ia hanya manusia biasa yang menerima (mendapat kepenuhan) Roh Kudus

pada saat dibaptiskan. Pada umumnya golongan ini menganggap Yesus yaitu 

makhluk ciptaan Allah.

c. Arianisme

Bidat ini dipelopori oleh seorang presbiter (penatua) dari Alexandria yang bernama

Arius. Ia yaitu  gembala sidang gereja besar di Baucalis, Alexandria, murid pemikir

besar Lucian dari aliran Antiokus. Ajaran Arianisme menyatakan bahwa Yesus

yaitu  makhluk ketiga, sebab  Ia bukan Allah, dan juga bukan manusia. Ia memiliki

awal, Ia yaitu  ciptaan yang sulung (bandingkan dengan saksi Yehova yang

mengakui bahwa Yesus yaitu  ciptaan yang sulung dan tertinggi).  Ia memiliki 

pandangan yang sama dengan Origenes yang menganggap kedudukan Kristus

dianggap di bawah Bapa sedangkan Roh Kudus berada di bawah Kristus.

d. Nestorianisme

Ajaran ini decetuskan oleh Nestorius seorang uskup Konstantinopel, menjadi Uskup

pada abad ke 4. Ajaran ini menyangkali adanya persatuan antara natur keilahian dan

kemanusiaan dalam Kristus. Yesus dianggap memiliki dua natur dan pribadi, sama

seperti orang Kristen yang didalam dirinya terdapat pribadi Kristus (natur yang baru)

dan ada pribadinya sendiri  (natur  yang lama).  Yesus  seakan akan hanya menjadi

rumah kusus bagi Anak Allah sama seperti Allah tinggal dalam hati orang percaya

demikianlah Anak Allah mendiami Yesus, namun  lebih sempurna.

e. Eutychianisme (Absorpsionisme).

Pada tahun 448, seorang sarjana teologia bernama Eutikianus, menjabat sebagai

pimpinan gereja di Konstantinopel, mengemukakan pendapat bahwa dua tabiat

Kristus itu bercampur menjadi satu, sehingga menjadi tabiat yang ketiga (third

nature). Di dalam tabiat yang bercampur ini, tabiat ilahi melampaui tabiat

kemanusiaan. Sebab itu tabiat kemanusiaan Yesus terhisap dalam tabiat ilahi-Nya.

sebab  tabiat ilahi ini sudah bercampur dengan tabiat kemanusiaan, maka tabiat ilahi

ini sudah tidak sama lagi dengan tabiat  ilahi yang dulu (sebelum kedua tabiat  ini

bercampur).

f. Apolinariansme

Apolinarianisme atau Apolinarisme yaitu  pandangan yang dikemukakan oleh

Uskup Apollinaris dari Laodikea (310—390 M).12 Paham ini dilatar belakangi

kebenciannya terhadap ajaran Arius yang merendahkan keilahian Kristus. sebab  itu

dalam pengajarannya  sangat  menekankan  keilahian  Yesus  Kristus.  namun   sebab 

terlalu menekankan keilahian Yesus sehingga mengabaikan sifat Kemanusiaan

Yesus.  Apolinarianisme merupakan suatu usaha untuk membela  keilahian  Kristus

namun  mengorbankan sisi kemanusiaan Kristus. Dia berpendapat bahwa Yesus

memiliki   tubuh  dan  jiwa,  namun    tidak  memiliki   roh.   sebab   roh  atau  ―aku‖

manusia

diganti dengan  ―Logos‖.  Sebab  itu  Yesus  tidak  dapat  disebut  sebagai manusia

sejati. Ia memiliki sebutan bertubuh, namun  tidak memiliki tubuh yang sebenarnya.

Ada  dua alasan  yang  dikemukakan  oleh  Apollinaris  mengenai  mengapa  ia  tidak

menerima Yesus memiliki  jiwa insani yang rasional. Pertama, hal semacam itu

berarti mengandaikan bahwa kodrat insani Kristus merupakan entitas tersendiri

Kedua, kegiatan intelektual yang insani itu mengandaikan pula kodrat insani pada

suatu saat dapat memutuskan kesatuannya dengan keilahian sehingga kesatuan antara

Ketuhanan dan kemanusiaan belum tentu kesatuan yang tetap.  Dari kedua hal ini,

kemudian Apollinaris  menarik  kesimpulan  bahwa sang Ilahi  tidak  menerima akal

budi insani namun  mengisi tempat akal budi itu. Di dalam pemikirannya, Apollinaris

memakai  istilah "Theos sarks ho foros" yang artinya Allah yang memikul

daging.

g. Doketisme

Ajaran ini menegaskan bahwa Yesus hanya kelihatannya saja seperti manusia.

Sebenarnya Ia tetap yaitu  Allah. Ia hanya memakai jubah manusia, dan tidak

memiliki natur manusia sedikitpun. Kata ini berasal dari bahasa Yunani dokein yang

berarti tampak atau kelihatannya. Doktrin ini mempertahankan bahwa Yesus Kristus

hanya tampaknya saja memiliki   tubuh. Maka dengan kata  lain dapat dikatakan

bahwa Yesus Kristus hanya memiliki  tubuh surgawi dan hanya berpura-pura saja

menderita dan mati. Doketisme bukanlah sebuah mazhab atau sekte, namun  suatu

cara  berpikir tentang Yesus Kristus yang  sejak zaman  para rasul muncul dalam

bentuk yang beraneka ragam.

Istilah ini pertama kali muncul dalam buku Sejarah Gereja oleh Eusebius.

Doketisme digunakan pada kekristenan perdana untuk menyangkal realitas inkarnasi

Yesus secara fisik. Titik tolak pemahaman ini yaitu  pandangan bahwa materi itu

jahat, pemicu  dosa dan tidak dapat dipersatukan dengan Putra Allah menjadi satu

pribadi. Segala sesuatu yang bersifat daging yaitu  jahat dan dapat mati sedangkan

segala sesuatu yang bersifat ilahi yaitu  baik dan tidak dapat mati. Bagi kaum

Doketis,  Yesus Kristus yang merupakan Juruselamat berasal dari keberadaan ilahi

sehingga tidak mungkin benar-benar manusia. Bersama ajaran Gnostik, Doketisme

bermaksud untuk menjauhkan realitas penderitaan itu dari Sang Kristus. Keilahian

Kristus sangat ditekankan sehingga setiap aspek kehidupan-Nya di bumi hanya

dianggap semu mulai  dari  kelahiran-Nya sampai  kematian-Nya.  Pada awal  abad

kedua pandangan ini secara eksplisit ditentang oleh Ignatius dari Antiokhia. Ia

menganggap bahwa pemahaman ini yaitu  bidat. Pada dasarnya pandangan Doketis

ini dipengaruhi oleh ajaran filsafat Yunani yang mempertentangkan unsur materi dan

rohani.

D. Inkarnasi Dan Kenosis

1. Inkarnasi

a. Arti kata ‗inkarnasi‘.

Kata ini berasal dari kata bahasa Latin IN [= in (= dalam)] + CARO / CARNIS

[= flesh (= daging)].  Jadi,  inkarnasi bisa diartikan ‗masuk ke dalam daging‘.

Tentu saja yang dimaksud dengan ‗daging‘ bukan hanya tubuh, namun  seluruh

manusia.  Kata  inkarnasi berarti  dalam daging  dan menunjukkan  tindakan  di

mana Putra Allah kekal mengambil bagi Diri-Nya suatu rupa tambahan,

kemanusiaan, melalui kelahiran dari anak dara. Akibatnya ialah bahwa Kristus

tetap tinggal tidak bercela, yang telah Ia miliki dari asal mula kekal, namun  Ia

55

juga  memiliki  kemanusiaan  murni,  tidak  berdosa  dalam satu  Person  selama-

lamanya (Yoh. 1:14; Flp. 2: 7-8; 1 Tim. 3:6).

Meskipun kata inkarnasi tidak terdapat dalam Alkitab,  namun komponen kata

ini    (―dalam‖  dan   ―daging‖)   ada   di   situ.   Yohanes  menulis  bahwa

Firman  telah   menjadi   daging   (Yoh.   1:14,  LAI:   ―manusia‖,  sedangkan

bahasa  Yunani ραπξ, sarx - daging. Ia juga menulis tentang kedatangan Yesus

sebagai manusia (1 Yoh. 4:2, 2 Yoh. 7). Maksud pernyataan ini ialah bahwa

Pribadi kedua Tritunggal mengambil rupa manusia bagi Diri-Nya sendiri. Ia tak

memiliki kemanusiaan  sampai  saat  kelahiran,  sebab  Tuhan menjadi  manusia

εγενεηο, egeneto   -   menjadi, Yoh.   1:14 dibandingkan dengan adanya   ke-4

―en‖  - hakikat - dalam ayat 1-2). Meskipun demikian, kemanusiaan-Nya yaitu 

tanpa dosa. Suatu fakta yang dipertahankan oleh Paulus dengan menulis

bahwa Ia datang

―dalam  daging,   yang  serupa   dengan  daging  yang  dikuasai   dosa   sebab 

dosa  ‖ (Rm. 8:3).

b. Subyek dari inkarnasi.

Bukan Allah Tritunggal namun  Allah Anaklah yang berinkarnasi dan mengambil

hakekat manusia.  namun  juga harus diingat bahwa setiap pribadi dalam Allah

Tritunggal ikut aktif dalam inkarnasi (Mat 1:20 Luk 1:35 Yoh 1:14 Kis 2:30 Ro

8:3 Gal 4:4 Fil 2:5-7).

c. Inkarnasi dan kelahiran.

Inkarnasi berbeda dengan kelahiran sebab :

1) Inkarnasi menunjukkan tindakan aktif, sedangkan kelahiran menunjukkan

pada tindakan pasif.

sebab  itu Yesus selalu berkata ‗Aku datang‘ (misalnya: Luk 19:10 Yoh 9:39

Yoh 10:10 dsb) - yang menunjukkan tindakan aktif, bukannya ‗Aku

dilahirkan‘ - yang menunjukkan tindakan pasif. Ini menunjukkan bahwa

Yesus bukan sekedar manusia biasa, namun  juga yaitu  Allah sendiri, sebab 

tidak ada orang biasa yang kelahirannya merupakan tindakan aktif.

2) Inkarnasi menunjukkan bahwa Yesus memiliki  Pre-existence / keberadaan

sebelumnya (Yoh 1:1 6:38 8:58 2Kor 8:9 Fil 2:6-7).

Kalau  sekedar  dikatakan  bahwa Yesus dilahirkan,  maka itu  menun-jukkan

bahwa sebelum Ia dilahirkan,  Ia tidak ada.  namun   kalau dikata-kan bahwa

Yesus berinkarnasi, sebab  inkarnasi merupakan tindakan aktif, maka itu

menunjukkan bahwa Ia sudah ada sebelum saat itu.

d. Perlunya inkarnasi.

Mengapa Allah mengutus Putra-Nya dalam bentuk yang serupa dengan manusia

berdosa? Alkitab memberitakan beberapa jawaban kepada pertanyaan ini.

1) Untuk menyingkapkan Allah kepada kita – Meskipun Allah menyatakan Diri-

Nya dengan berbagai cara, termasuk kebesaran di alam sekitar kita, namun

hanya inkarnasi sajalah yang telah menyatakan hakikat Allah, meskipun

terselubung (Yoh. 1: 18, 14:7-11). Jalan satu-satunya manusia dapat melihat

Bapa ialah mengenal Putra-Nya, dan jalan satu-satunya kita dapat

melakukannya sekarang ialah dengan mempelajari catatan tentang kehidupan-

Nya  dalam  Alkitab.  sebab   Ia  menjadi  manusia,  maka  penyataan Allah

yaitu  sebagai Pribadi, sebab  Ia Allah, maka penyataan ini  sempurna

kebenarannya.

2) Untuk memberikan suatu teladan bagi kehidupan kita – Kehidupan Tuhan

56

kita di dunia ditegakkan bagi kita sebagai suatu pola untuk kehidupan kita

57

sekarang (1 Ptr. 2:21, 1 Yoh. 2:6). Tanpa inkarnasi kita tak akan dapat

memiliki contoh ini . Sebagai manusia, menjadi suatu contoh

pengalaman bagi kita.

3) Memberikan suatu pengorbanan yang efektif untuk dosa – Tanpa inkarnasi

ini ,  kita tak akan memiliki seorang Juruselamat.  Dosa menuntut maut

untuk pembayarannya. Allah tak dapat mati. Jadi, Juruselamat itu harus

manusia agar dapat mati. Akan namun , kematian bagi seorang manusia biasa

tidak  dapat  melunasi  dosa yang  abadi  sehingga  Juruselamat  ini   juga

harus Allah. Kita harus memiliki seorang Juruselamat  Manusia-Allah dan

kita memilikinya dalam Tuhan kita (Ibr. 10:1-10).

4) Agar mampu menggenapi perjanjian kepada Daud – Gabriel memberitakan

kepada Maria bahwa Putranya akan diberi tahta Daud (Luk. 1:31-33). Hal ini

tidak digenapi oleh pemerintahan Allah yang tidak terlihat atas urusan-urusan

manusia (yang pasti Dia penuhi). Untuk mengisi tahta Daud diperlukan

seorang  manusia. sebab   itu,  Mesias  harus  seorang  manusia. Akan  namun 

menduduki tahta itu untuk selama-lamanya,  menuntut  yang menempatinya

tak dapat  mati.  Dan hanya Allah yang memenuhi  syarat.  Jadi,  orang yang

akhimya menggenapi janji kepada Daud harus seorang Manusia-Allah.

5) Untuk memusnahkan pekerjaan Iblis (1 Yoh. 3:8) – Perhatikan bahwa

pemusnahan ini terlaksana dengan munculnya Kristus. Fokusnya yaitu  pada

kedatangan-Nya dan tidak pada kebangkitan-Nya seperti yang mungkin

diharapkan. Mengapa inkarnasi ini perlu untuk mengalahkan setan? sebab 

setan harus dikalahkan di arena di mana ia berkuasa, yaitu dunia ini.  Jadi,

Kristus diutus ke dunia ini untuk memusnahkan pekerjaan-pekerjaan setan.

6) Agar  mampu menjadi  seorang Imam Besar  yang penuh rasa  simpati  (Ibr.

4:14-16) – Imam Besar kita mampu merasakan kelemahan kita sebab  Ia

diuji seperti kita. Namun, Allah tak pemah diuji sehingga perlulah bagi Allah

menjadi manusia untuk dapat diuji supaya dapat menjadi seorang Imam yang

penuh rasa simpati.

7) Agar  mampu menjadi  seorang Hakim yang memenuhi  syarat  –  Meskipun

orang kebanyakan berpendapat  bahwa Allah  sebagai  Hakim,  kepada siapa

semuanya akan menghadap, sebenarnya Yesuslah yang akan menjadi Hakim

ini  (Yoh. 5:22,27). Semua penghakiman akan dilakukan oleh Tuhan kita

―sebab     Ialah   Anak   Manusia‖.   Inilah   gelar   yang   menghubungkan-

Nya dengan dunia dan dengan misi-Nya di dunia. Mengapa Hakim itu harus

menjadi dan  pernah  hidup  di  dunia? Agar Ia bisa menggugurkan  semua

alasan yang mungkin akan dibuat  oleh manusia.  Mengapa Hakim ini 

harus juga Allah? Agar penghakiman-Nya benar-benar jujur dan adil.

sebab  itu, inkarnasi ini  amat berpengaruh dalam hubungannya dengan

pengetahuan kita tentang Allah, dengan keselamatan kita, dengan kehidupan

kita sehari-hari, dengan kebutuhan-kebutuhan kita yang mendesak, dan

dengan masa depan. Hal ini sesungguhnya yaitu  pusat fakta sejarah.

e. Apa yang terjadi pada saat inkarnasi.

1) ‗Firman / LOGOS menjadi manusia‘ (Yoh 1:14) tidak berarti bahwa:

   aLOGOS kehilangan seluruh atau sebagian keilahianNya. b) LOGOS

setelah inkarnasi berbeda dengan LOGOS sebelum inkarnasi. Jadi

inkarnasi tidak berarti bahwa LOGOS itu berhenti menjadi apa adanya

Dia sebelum saat itu. Kalau kita berbicara tentang ‗Firman / Allah yang

menjadi manusia‘, maka kita harus memiliki pengertian bahwa keilahian

58

Yesus tidak hilang / tidak berkurang sedikitpun, namun  Ia justru 

ketambahan hakekat manusia pada diriNya.

2) ‗Firman / LOGOS menjadi manusia‘ berarti bahwa LOGOS mengambil

hakekat manusia (tubuh & jiwa):

   Tanpa mengalami perubahan dalam hakekatNya.

   Tanpa kehilangan sifat-sifatNya.

   Tanpa menghentikan / mengurangi kegiatanNya.

Mengenai ketidak-berubahan LOGOS pada saat inkarnasi Jhon Calvin berkata: "

sebab  bahkan saat  Firman dalam hakekatNya yang tak terbatas, bersatu dengan

hakekat manusia dalam satu pribadi, kami tidak membayangkan bahwa Ia dibatasi  di

dalamnya. Ini yaitu  sesuatu yang menakjubkan: Anak Allah turun dari surga dengan

cara  sedemikian  rupa,  sehingga tanpa  meninggalkan  surga,  Ia  mau dikandung dalam

kandungan perawan,  berjalan-jalan di bumi,  dan  tergantung  di  kayu salib,  namun   Ia

secara terus-menerus meme-nuhi alam semesta seperti yang Ia sudah lakukan dari

semula‖25 Kata-kata Calvin ini didasarkan atas Yoh 1:18. Kalau kita melihat kontex

Yoh 1 itu  maka akan terlihat  bahwa mula-mula (pada mulanya)  digambarkan bahwa

LOGOS itu bersama-sama dengan Allah (ay 1). Setelah itu digambarkan bahwa LOGOS

itu berin-karnasi dan diam di antara manusia (ay 14). namun  dalam ay 18 tetap

digambarkan bahwa LOGOS itu ada di pangkuan Bapa di surga!

2. Kenosis

Selanjutnya, dalam membahas ketidakberubahan LOGOS baik dalam hakekat, sifat,

maupun kegiatanNya pada saat berinkarnasi ini, kita perlu membahas suatu ajaran

yang disebut Teori  Kenosis (= teori  pengosongan diri).  Κένωριζ (Kénōsis) dalam

Bahasa Yunani berarti "mengosongkan", dari kata κενόζ (Kenós) "kosong"26.

Padanan kata Kenos dalam Bahasa Yunani yaitu  Mataios. Kata ini lebih bersifat

kemanusiaan  secara  personal.  Mataios  dihubungkan dengan perasaan,  esensi,  dan

juga usaha yang sia-sia.27 Kenosis dalam bentuk kata  kerja  yaitu  κενόω (kenóō)

berarti "menjadi kosong".28 Kenosis yang dihubungkan dengan kata benda berarti

hilang (keadaan atau efek yang ditimbulkan). Dalam Teologi Kristen, kata ini

seringkali dihubungkan dengan peristiwa penyaliban Yesus.29 Salah satunya

diungkapkan dalam Filipi 2:7 melalui akar kata ἐκένωρεν (ekénōsen), "Yesus

membuat diri-Nya tidak ada..." (NIV) atau "... Dia mengosongkan diri-Nya sendiri

..." (NRSV). Teori Kenosis ini merupakan suatu ajaran yang sangat populer, namun 

salah /  sesat!  Teori  Kenosis ini,  berdasar  Fil  2:6-7,  mengatakan bahwa Anak

Allah mengesampingkan sebagian / seluruh sifat-sifat ilahiNya supaya Ia bisa

menjadi manusia yang terbatas (Contoh: Mat 24:36 menunjukkan Yesus tidak maha

tahu). Kesalahan dari Teori Kenosis ini:

a. Yesus yaitu  Allah dan sebab  itu Ia tidak bisa berubah (bdk. Maz 102:26-28

Mal 3:6 Yak 1:17). Allah tidak bisa berhenti men-jadi Allah, sekalipun hanya

untuk sementara!

b. Kalau Teori Kenosis itu benar, maka pada saat Yesus menjadi manusia, Allah

Tritunggal bubar!

c. Kalau Teori Kenosis itu benar, maka Kristus bukanlah sungguh-sungguh Allah

dan sungguh-sungguh manusia! Ia hanya manusia biasa, tanpa keilahian! Dan

kalau ini benar, maka Ia tak bisa menjadi Pengantara antara Allah dan manusia

dan penebusanNya tidak bisa memiliki  nilai yang tidak terbatas.

Dalam   tafsirannya   tentang   Fil   2:7,   Calvin   mengatakan   bahwa   istilah

‗mengosongkan  diri‘  itu  tidak  berarti  bahwa Kristus  melepaskan  ke-ilahianNya,

namun  menyembunyikannya dari pandangan manusia. Kristus tidak bisa melepaskan

59

dirinya sendiri dari ke-ilahianNya; namun  menyembunyikannya untuk sementara

waktu, supaya tak kelihatan, di bawah kelemahan daging. Jadi, Ia

mengesampingkan kemuliaanNya dalam pandangan manusia, bukan dengan

mengurangi-nya, namun  dengan menyembunyikannya. Herman Hoeksema

menambahkan bahwa sekalipun pada saat inkarnasi itu kemuliaan Kristus

disembunyikan, namun  kadang-kadang tetap bisa terlihat sekilas, misalnya pada

waktu   Ia   melakukan   mujijat.   ―Ini   tidak   berarti bahwa   Anak Allah untuk

sementara  waktu mengesampingkan hakekat ilahi, untuk menukarnya dengan

hakekat manusia. Ini mustahil, sebab  hakekat ilahi tidak bisa berubah. namun  itu

berarti

bahwa Ia  masuk ke dalam keadaan manusia  sedemikian  rupa sehingga di  depan

manusia kemuliaan dan keagungan ilahiNya tersembunyi, sekalipun bahkan dalam

saat perendahanpun itu  kadang-kadang memancar  keluar,  seperti  misalnya dalam

pelaksanaan / pertunjukan keajaibanNya‖.

E. Tiga Jabatan Kristus

Sudah umum dalam lingkaran-lingkaran Protestan sejak reformasi untuk membicarakan

karya Kristus di bawah tiga jabatan umum: nabi, imam dan raja.31 Jabatan Kristus

merupakan salah satu tema besar dari Perjanjian Lama sebab  hubungan dengan Kristus.

Musa menubuatkan jabatan Kristus sebagai seorang Nabi dalam Ulangan 18:18. Jabatan

keimaman Kritus dinubuatkan dalam Mazmur 110:4, dan jabatanNya sebagai raja

digenapkan dan janji kepada Daud (2 Samuel 7:16) bandingkan Lukas 1:31-33. Jabatan-

jabatan ini merujuk kepada peran-peran-Nya sebagai guru, Juruselamat, dan penguasa alam

semesta dan gereja.

1. Jabatan Sebagai Nabi

Yesus yaitu  seorang Nabi Allah yang sempurna, Yesus yaitu  objek dan subjek dari

nubuat. Sekalipun Yesus yaitu  inti dari nubuat Perjanjian Lama, namun Dia sendiri

yaitu  Nabi. Pelayanan Kristus sebagai nabi, walau kebanyakan digenapi di bumi

sebelum kematianNya, memerlukan pengesahan dan kebangkitanNya untuk

memberikan otoritas kepada apa yang telah dikatakanNya maupun kepada pelayanan

selanjutnya melalui Roh Kudus yang akan diutusNya (Yohanes 16:12-14). Jika Kristus

tidak bangkit dari antara orang mati, Ia akan merupakan seorang nabi palsu belaka dan

semua pelayananNya yang dicatat dalam kitab Injil akan diragukan. Dengan cara yang

serupa, pelayanan sesudah yang membawa ke puncaknya apa yang diajarkanNya

sebelumnya, akan mustahil tanpa kebangkitanNya secara badaniah. sebab  itu

kebangkitan  ini   menciptakan  sebuah bukti  tentang  sah  dan otoritasNya  Kristus

sebagai nabi. Kegiatan seorang nabi yaitu  menyatakan Firman Allah namun  Dia sendiri

yaitu  Firman Allah. Yesus merupakan Nabi Allah yang tertinggi, yaitu Firman Allah

yang menjadi daging. Para nabi di Perjanjian Lama semacam pengantara antara Allah

dengan bangsa Israel. Dia berbicara atas nama Allah.

2. Jabatan Sebagai Imam

Fungsi  imam yaitu  berbicara  kepada Allah  atas  nama umat.  Yesus  sebagai  imam

sudah  dinubuatkan  dalam Mazmur  110 di  mana Kristus dinyatakan  sebagai  Imam

kekal.  ―TUHAN  telah  bersumpah,  dan  Ia  tidak  akan  menyesal  Engkau  yaitu 

imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek‖ (ayat 4). Konsep Kristus sebagai

Imam yang   hidup   terus  selama-lamanNya   dikuatkan   dalam   Ibrani   7:25,   ―Ia

(Kristus)   hidup  senantiasa untuk menjadi  Pengantara mereka.‖  Pertentangan dengan

imam-imam  biasa yang jabatannNya berhenti bila mereka meninggat atau pensiun

menurut peraturan Imamat, maka kebangkitan Knistus menjadikanNya mungkin untuk

60

menjadi Imam selama lamanNya. Inilah ajaran Perjanjian Baru maupun nubuatan

Perjanjian Lama.

61

Ibrani   7:24   menyatakannya   dengan   tegas,   ―namun ,   sebab    Ia   tetap   selama-

lamanNYa, ImamatNya tidak dapat beralih kepada orang lain.‖ Yesus juga menggenapi

peran sebagai Imam Besar. Di Perjanjian lama, imam besar mempersembahkan korban

secara teratur, namun  Yesus mempersembahkan korban yang bernilai kekal, yaitu satu

kali dan berkhasiat untuk selamanya. Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada

Allah Bapa. Dia  yaitu  yang  mempersembahkan  dan persembahan  itu  sendiri.36

Sebagai seorang  imam juga, Ia telah memasuki ruang maha  kudus, yang  bukan

merupakan tiruan kuil yang ada di dunia ini namun  suatu tempat surgawi. Oleh sebab 

itu,  ia  tentu sanggup  menuntun  kita  tiba  disana,  di  hadapan  Allah,  suatu  pernan

keimaman yang sungguh berbeda.  Ia bukan hanya memasuki  ruang Mahasuci  sekali

setahun, namun  Ia berdiam disana selamanya.

3. Jabatan Sebagai Raja

Jabatan ketiga, sebagai Raja, terutama menggenapkan nubuatan Perjanjian Lama

tentang seorang Anak laki-laki yang akan memerintah. Kristus tidak hanya akan

memerintah Israel sebagai penggenapan janji kepada Daud tentang keturunannya yang

akan memerintah selama-lamanya, namun  akan juga memerintah seluruh dunia sebagai

Seorang  kepada siapa Allah telah memberikan hak untuk memerintah atas bangsa-

bangsa (Mazmur 2:8-9). Pemerintahan Kristus yang akan berlangsung selama-

lamanya.38 Yesus yaitu  Raja yang telah diurapi dari segala raja, dan Tuan dari segala

tuan.  Pemerintahan  Yesus  sebagai  Raja  sangat  berbeda  dari  pemerintahan  raja  pada

umumnya. KerajaanNya bersifat rohani,  yang tidak Nampak secara kasat mata (Mat.

8:11,12; Yoh 18:36) dan hanya dapat kita masuki melalui kelahiran kembali

F. Pra Eksistensi Kristus

Kristus yaitu  kekal. Ia sudah ada sebelum dunia ini diciptakan. Meskipun ungkapan

yang menyatakan bahwa Kristus telah ada lebih dahulu, yaitu sebelum kelahiran-Nya di

Betlehem, tidak persis sama dengan yang mengatakan bahwa Ia kekal namun secara praktis

bukti tentang pra-eksistensi-Nya telah diterima oleh para ahli theologia sebagai bukti

kekekalan-Nya. Sejak perselisihan Arian pada abad keempat, belum pernah orang berhasil

menyangkal secara total kekekalan-Nya dengan tidak juga menyangkal pra-eksistensi-Nya.

Bukti  bahwa Kristus sudah ada sejak Perjanjian Lama yaitu  mendukung bukti  tentang

kekekalan-Nya.

1. Nubuatan Kristus dalam Perjanjian Lama

Seluruh kitab  Perjanjian  Lama dipenuhi  pengharapan akan datangnya Mesias  Israel,

berbagai nubuat mengenai kedatanganNya dari kelahiran sampai kebangkitanNya

digenapi dalam Perjanjian Baru. Begitu banyaknya nubuatan tentang Kristus sebelum

Ia lahir merupakan hal yang sangat penting, sebab  tidak ada seorang pun yang pernah

diramalkan di dunia ini secara demikian. Nubuat ini sudah merupakan suatu mujizat

dan memberikan kesaksian mengenai Seorang yang luar biasa yang tuntutan-

tuntutanNya  mengharuskan  kita  menyembah  dan  menaati  Dia.  Ralph  O.  Muncaster

dalam bukunya menyatakan bahwa terdapat 322 nubuat mengenai sang Mesias dalam

Perjanjian Lama. Berikut ini yaitu  deskripsi sang Mesias hanya dari nubuat Perjanjian

Lama.42 Sang Mesias akan diturunkan dari Sem (Kejadian 9,10), Abraham (Kejadian

22:18), Ishak (Kejadian 26:2-4), Yakub (Kejadian 28:14), Yehuda (Kejadian 49:10),

Isai  (Yesaya 11:1-5),  dan Raja  Daud (Samuel 7:11-16).  Sebuah  bintang  cemerlang

(Bilangan 24:17) akan muncul saat  Ia dilahirkan di kota Betlehem di tanah Efrata

(Mikha 5:2). Itu akan merupakan kelahiran mukjizat  oleh seorang perawan. (Yesaya

7:14)

62

Sang Mesias unik, Ia sudah ada sebelum kelahiran-Nya (Mikha 5:2). Ia akan

mengadakan banyak mukjizat: meneduhkan laut (Mazmur 107:29), dan membuat yang

buta melihat,  yang tuli  mendengar,  yang lumpuh berjalan,  dan yang bisu berbicara.

(Yesaya 35:4-6) Ia akan dirujuk dengan banyak cara termasuk: Allah menyertai kita,

penasihat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal dan raja damai. (Yesaya 9:6)

Suatu hari Ia akan memerintah atas segalanya-semua bangsa akan sujud bertelut

kepada-Nya. (Yesaya 45:23; Mazmur 22) Sang Mesias, bagaimanapun juga, akan

datang untuk menyelamatkan umat manusia. (Yesaya 53) Ia akan menjadi korban dosa

manusia (Yesaya 53) dan memberikan diri-Nya kepada Yerusalem sebagai raja yang

diurapi sekaligus anak domba Paskah (Yesaya 53). Ini akan terjadi tepat 173.880 hari

setelah dekrit yang dikeluarkan oleh Artahsasta untuk membangun kembali baik

Yerusalem maupun Bait Suci (Daneil 9:20-27). Jadi, empat hari sebelum paskah, sang

Mesias akan menghadirkan diri-Nya kepada Yerusalem yang bersukaria dengan

menunggang seekor keledai. (Zakharia 9:9) Namun kemudian Ia akan sangat menderita

(Yesaya 53). Ia akan ditolak oleh banyak orang termasuk sahabat-sahabat-Nya (Yesaya

53).  Ia  akan  dikhianati oleh  seorang  sahabat  (Mazmur  41:9)  untuk  30  uang  perak.

(Zakharia 11:12,13) Belakangan uang itu akan dilemparkan ke lantai bait suci

(Zakharia 11:12,13) dan akhirnya  akan diberikan kepada  penuang  logam.18 saat 

diadili  Ia  tidak  akan  membela  diri  (Yesaya  53).  Ia  tidak  akan  mengatakan  apa-apa

kecuali yang diharuskan oleh hukum. Israel akan menolak Dia (Yesaya 8:14).

Sang Mesias akan dibawa ke sebuah puncak bukit yang diidentifikasi Abraham sebagai

"Tuhan menyediakan." (Kejadian 22) Di sana Ia akan disalibkan dengan tangan dan

kaki tertusuk. (Mazmur 22) Musuh-musuh- Nya akan mengelilingi Dia, (Mazmur 22)

mengolok-olok Dia, dan akan membuang undi untuk pakaian-Nya (Mazmur 22) Ia akan

berseru kepada Tuhan bertanya mengapa Ia "ditinggalkan." (Mazmur 22) Ia akan diberi

cuka dan anggur. (Mazmur 69:20-22) Ia akan mati bersama para pencuri. (Yesaya 53)

Namun tidak  seperti  pencuri-pencuri  itu,  tak  satu  pun  tulang-Nya  akan dipatahkan.

(Mazmur 22) Jantung-Nya akan gagal (Mazmur 22)... seperti yang diindikasikan oleh

darah dan air yang memancar ke luar (Mazmur 22) saat  Ia ditikam dengan sebatang

tombak. (Zakharia 12:10) Ia akan dikuburkan di kuburan seorang kaya. (Yesaya 53)

Dalam tiga hari Ia akan bangkit dari kematian. (Yesaya 53; Mazmur 22).

2. Kristus dalam Typologi Perjanjian Lama

Salah satu ajaran asasi dalam Perjanjian Baru ialah bahwa Yesus Kristus (sang Mesias)

yaitu  penggenapan Perjanjian Lama. Penulis Surat Ibrani mengemukakan bahwa

Yesus yaitu  pewaris dari semua yang telah dikatakan Allah melalui para nabi (Ibrani

1:1-2).  Yesus sendiri  menandaskan bahwa Ia  datang untuk menggenapi  Taurat  dan

kitab nabi-nabi (Matius 5:17). Setelah kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan, Ia

menunjukkan kepada para pengikut-Nya dari Taurat Musa, kitab nabi-nabi, dan kitab

Mazmur (yaitu, ketiga bagian utama Perjanjian Lama Ibrani) bahwa Allah sudah sejak

lama menubuatkan segala sesuatu yang terjadi pada diri-Nya (Lukas 24:25-27, 44-46).

Untuk  memahami  dengan  lebih  jelas  nubuat-nubuat  Perjanjian  Lama  tentang  Yesus

Kristus, kita harus membahas tipologi.

Tipologi  atau  typology,  kadang ditulis  dengan  typologi  dari  kata  Yunani,  "ηςποζ -

tupos" (kadang ditrasliterasikan "typos" kata darimana kata Inggris"type" berasal) dan

"λογοζ- logos". Istilah tipologi atau typology dalam kekristenan yaitu  studi tentang

tipe-tipe atau prafigur dalam Kitab Suci. Yaitu suatu penelaahan Perjanjian Lama yang

cermat menyatakan unsur-unsur (disebut "tipe" atau "lambang", Yunani, "ηςποζ -

tupos") yang digenapi di dalam kedatangan Mesias (yang merupakan "antitype"-nya);

Typologi yaitu  studi tentang peristiwa pada perjanjian Lama yang memiliki  arti

63

rohani, dengan kata lain, terdapat persesuaian di antara berbagai oknum, peristiwa, atau

hal dalam Perjanjian Lama dan Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru.

Typologi Alkitab merupakan salah satu bagian yang paling diabaikan dalam

pengetahuan theologis. Typologi tidak pernah sama sekali bebas dari sasaran keragu-

raguan dan ketidak pastian. Sebagian ahli berpandangan bahwa typologi -- sebab 

sifatnya -- yaitu  suatu lapangan yang  tak dapat memuaskan untuk diselidiki atau

dikembangkan guna memberikan hasil yang pasti dan dapat dihargai." Kesulitan

dengan typologi ialah bahwasanya sifatnya lebih banyak tunduk pada pandangan

pribadi  seseorang yang  menyelidikinya dari  pada  kepada cara-cara  penafsiran yang

biasa. Sering typologi dikacaukan dengan penafsiran allegoris. Typologi yaitu  contoh

dari sesuatu, sedangkan allegori yaitu  lambang, ibarat, kiasan tentang sesuatu.

Keduanya berbeda. Maka penafsiran typologi yang dikacaukan dengan allegori

menghasilkan ajaran yang tidak sejalan dengan ajaran-ajaran dalam bagian-bagian

Alkitab yang lain.  Webster  menjelaskan dalam kamusnya, sebuah tipe yaitu  "suatu

gambar atau gambaran dari sesuatu yang akan datang."

Oleh sebab  itu sifatnya meramalkan,  dan dari  ini  kita dapat mengharapkan bantuan

yang memadai bagi ajaran tentang Kristus. Suatu studi mengenai typologi yang bersifat

Kristologis mencakup kira-kira lima puluh tipe-tipe penting tentang Kristus -- ini

merupakan separuh dari  seluruh tipe  yang diakui  dalam typologi  Orang-orang yang

menjadi tipology Kristus dalam Perjanjian Lama, yaitu  sebagai berikut:

a. Harun, kitab Ibrani memberikan dasar yang kokoh untuk mempercayai bahwa

Harun yaitu   suatu  tipe  dari  Kristus.  Sebagai  seorang imam,  Harun dipanggil

untuk memangku jabatan yang suci itu (Ibrani 5:4) sebagaimana Kristus sebagai

Imam (Ibrani 5:5-6). Harun dipanggil untuk pelayanan di bumi, sedangkan Kristus

untuk palayanan di  sorga  (Ibrani  8:  1-5).  Harun melayani  perjanjian  yang lama

sedangkan Kristus perjanjian yang baru (Ibrani 8:6). Harun dipanggil untuk

mempersembahkan korban setiap hari sedangkan Kristus mempersembahkan

diriNya sendiri sekali untuk selamanya (Ibrani 7:27). Type Harun ini menyatakan

Kristus di dalam kemanusiaanNya yang sejati dan di dalam pekerjaanNya sebagai

Imam. Sebagaimana Harun tetap merupakan bagian dari Israel, bahkan saat  ia

sedang melayani sebagai pengantara, demikian pula Kristus tetap manusia sejati,

sewaktu di  bumi Ia  mengenal  kelemahan,  batas-batas tertentu,  penderitaan  dan

pergumulan, dan bahkan sesudah naik ke sorga Ia terus di dalam kemanusianNya

yang  sebenarnya.  Walaupun  kitab  Ibrani  menyatakan  kontras  antara Harun  dan

Kristus, namun  jelas terdapat bayang-bayang yang menggambarkan Kristus di

dalam keimaman Harun sebagai manusia.  Harun sebagai imam yaitu  gambaran

Kristus sebagai Imam.

b. Habel, Dalam tipe ini kita melihat Kristus disajikan sebagai Gembala yang sejati

yang mempersembahkan korban berdarah yang diterima oleh Allah sebagai

ketaatan  terhadap  perintah  Allah.  Sebagaimana  Habel  dibunuh  oleh  Kain,  yang

melambangkan dunia, demikian pula Kristus dibunuh. Sebagaimana persembahan

Habel diterima oleh Allah, demikian pula persembahan Kristus diterima.

Kenyataan bahwa persembahan Habel diterima sebab  dipersembahkan dengan

iman (Ibrani 11 :4) tidaklah membuang sifatnya yang penting. sebab  Hab