Kamis, 16 Juli 2026

teori gereja 6


 harus

diharmoniskan.

{Band. Kej 5:1,3; 9:6; 1Kor 11:7; Kol 3:10; Yak 3:9}

Dari arti diatas hal ini menjelaskan bahwa manusia diciptakan berdasar , menurut

‖gambar‖  atau ―rupa‖ yang sudah ada yaitu Allah. ‖Pengertiannya yaitu  bahwa melalui 

penciptaan apa yang semula merupakan bentuk awal yang ada pada Allah kemudian

‖dicetakkan‖ pada manusia. Allah yaitu  yang aslinya dan manusia yaitu  salinannya.

b. Arti Teologis

Manusia pertama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berarti adanya aspek-aspek 

10

tertentu yang Allah ciptakan di dalam diri manusia yang memicu  manusia itu

10

seperti Allah untuk tujuan agar manusia dapat menjadi wakil Allah. sebab nya manusia

menjadi makhuk yang paling mulia melebihi ciptaan Allah yang lain. Namun demikian,

perlu diingat bahwa terdapat perbedaan kualitas antara ciptaan dan Penciptanya.

Manusia yaitu  seperti Allah, tapi manusia bukan Allah.

Jika demikian apa makna dan pengertian-pengertian yang terkandung dalam kata

‖gambar dan rupa Allah‖ sebelum manusia jatuh dalam dosa

1) Gambar dan rupa Allah, terkandung didalamnya bahwa manusia memiliki apa yang

disebut dengan ‖kebenaran asali‖.  Hal ini  mencakup hal pengetahuan yang benar,

kebenaran dan kesucian. Manusia memiliki  pengetahuan akan yang benar,

kebenaran dan kesucian didalam dirinya.

2) Gambar dan rupa Allah mengacu pada elemen-elemen yang menjadi natur

konstitusional manusia seperti kekuatan intelektual, perasaan natural dan kebebasan

moral.

3) Gambar dan rupa Allah  mengacu pada kerohanian  manusia.  Manusia  bukan saja

terdiri dari tubuh jasmani akan namun  juga memiliki kerohanian yang memungkinkan

manusia berhubungan dengan Allah.

4) Gambar dan rupa Allah memberi arti bahwa manusia memiliki  nilai kekal dalam

kehidupannya. Kekekalan ini tidak berada didalam dirinya sendiri sebab manusia itu

diciptakan. Nilai kekal itu merupakan pemberian Allah dalam penciptaan manusia.

Berkhof membedakan kekekalan Allah dan kekekalan manusia ini sebagai berikut :

―…hanya   Allah   sajalah   yang  memiliki  kekekalan  sebagai  kualitas   esensial,

yang memilikinya di dalam dan hanya dari diri-Nya sendiri, sedangkan kekekalan

manusia yaitu  pemberian yang diperoleh dari Allah. (Berkhof : 52). Demikian juga

Stephen  Tong  yang  membedakan  arti   kata  ―eternal‖  dan  kata  ―immortal‖  :

„Kata eternal  ―eternal‖   itu  berarti  kekal,  sedangkan  kata   ―immortal‖   lebih

berarti   tidak  rusak.   Hanya   Allah-lah   satu-satunya   ―Ada‖  yang   tak   akan

mengalami   kerusakan. Ketidakrusakan Allah ini diberikan kepada manusia dalam

bentuk sifat kekal‟.(Majalah   ―MOMENTUM‖   No.   8   Bulan   Juni,   1990:   5)

Sebagai   akibat manusia diciptakan segambar dan serupa dengan dan oleh Allah

maka ada beberapa implikasinya, antara lain:

a. Allah yaitu  Tuan. Manusia dicipta oleh Tuhan Allah ini berarti bahwa manusia

milik Tuhan, Tuhan yang empunya manusia. Oleh sebab  itu maka hidup

manusia hanya diperuntukkan kepada Tuhan saja, tidak kepada yang lain.

Hanya kepada Tuhan saja menusia mengabdi dan menyembah. Manusia tunduk

hanya kepada Tuhan Allah.

b. Manusia merupakan gambar dan rupa Allah, ini berarti bahwa manusia dalam

hidupnya harus mencerminkan, menggambarkan Allah dalam kehidupannya.

Perkataan  dan perbuatan  manusia  harus  mencerminkan  kemuliaan  peciptanya

yaitu Allah.

c. Manusia diciptakan oleh Allah dalam gambar dan rupanNya, ini berarti bahwa

kemauan, kehendak dan hidup manusia harus bersesuaian dengan tujuan Allah

menciptakan manusia. Bahwa Allah menjadikan manusia untuk kemuliaan-Nya

(Yesaya 43:7).

Aspek-Aspek Manusia yang memiliki gambar dan rupa Allah

Aspek-aspek berikut ini yaitu  aspek-aspek yang  menunjukkan  bahwa manusia

memiliki keserupaan dan kesegambaran dengan Allah, dan yang membedakannya

dengan mahluk ciptaan lain:

a. Aspek Moral.  Secara moral manusia bertanggung jawab kepada Allah,  sebab 

Allah telah memberikan hati nurani di dalam hati manusia untuk mengetahui

10

apa yang benar dan salah. Atas dasar kemampuan membedakan yang baik dan

yang jahat  inilah manusia  selalu  diperhadapkan dengan pilihan  moral  antara

yang baik dan yang jahat. Sifat moral ini yaitu  refleksi dari kesucian Allah.

Atau dengan kata lain sifat kesucian Allah ini ditransferkan dalam diri manusia

berupa atau sebagai sifat moral. saat  manusia menjalankan hidup sesuai

dengan standard moral Allah maka manusia mencerminkan keserupaannya

dengan Allah.

b. Aspek Rohani. Selain tubuh jasmani, manusia juga diberikan tubuh rohani oleh

Allah yang bersifat kekal. Dengan tubuh rohani inilah manusia dimungkinkan

untuk berhubungan dengan Allah. saat  manusia jatuh dalam dosa dan tidak

taat  kepada Allah maka hubungan terpisah dan putus dari  Allah.  Sifat  rohani

dalam diri  manusia  ini nampak  dari  adanya jiwa  atau  roh yang  sebenarnya

yaitu  refleksi dari keberadaan Allah yang yaitu  Roh. Aspek rohani ini hanya

ada pada manusia saja, sebab hanya manusia sajalah yang diciptakan menurut

―gambar‖  -  ―rupa‖  Allah.  Berkhof  berkata  : ―Allah yaitu  Roh, maka wajar

jika kita beranggapan bahwa elemen kerohanian ada juga di dalam diri manusia

sebagai gambar dan rupa Allah‖. (Berkhof : 51).

c. Aspek Mental. Allah yaitu  kebenaran. Kebenaran Allah ini terefleksi dalam diri

manusia  berupa  aspek mental.  Sifat  inilah yang  membuat  manusia  memiliki

kemampuan  mental  untuk  berpikir,  berlogika,  berkreasi  dan  berbahasa yang

terus berkembang sejauh manusia memiliki kehidupan. Melalui kemampuan

mental  ini  manusia  sanggup  memikirkan  masa depan  dan  kehidupan  setelah

kematian. Kemampuan manusia untuk menelusuri emosinya yang sangat

kompleks merupakan cermin akan kesegambarannya dengan Allah.

d. Aspek Relasi/Hubungan. Setelah menciptakan Adam maka Allah melihat

bahwa―tidak    baik    kalau    manusia    itu    seorang    diri‖    itulah    sebabnya

Ia menciptakan Hawa sebagai sahabat manusia itu (Adam) sehingga Adam dapat

berhubungan, berkomunikasi, berbicara dan berinteraksi dengan Hawa,

demikian pula sebaliknya.  Manusia tidak dibiarkan sendiri dan kesepian.  Jadi

manusia diciptakan sebagai suatu makhluk sosial. Manusia  diciptakan untuk

hidup bersama.  Manusia  yang diciptakan dengan keinginan untuk melakukan

hubungan antar pribadi yang sedemikian unik (dan juga dengan mahluk lain)

merupakan cermin  akan  natur Allah  Tritunggal,  dimana ada  hubungan yang

saling  mengasihi  dan  mempedulikan.  Allah  bukanlah  Allah  yang  ―seorang

diri‖ atau sendirian dan kesepian. Kenyataan ketritunggalan Allah mengajarkan

kepada kita bahwa pribadi-pribadi itu (Bapa, Anak dan Roh Kudus) saling

berhubungan, berkomunikasi, berbicara satu sama lain-Nya pada masa pra

created (sebelum penciptaan). Allah kita yaitu  Allah sosial. Sifat sosial Allah

inilah  yang  ditularkan  kepada  manusia.  Itulah  ―gambar  dan  ―rupa‖  Allah

dalam diri  manusia.  Selain  6  hal  di  atas,  masih  juga  ada sifat  yang lain  di

antaranya sifat relasi, sifat persekutuan, sifat kesempurnaan, sifat pengharapan,

dll.  (Baca lengkap sifat-sifat ini dalam buku Stephen Tong; Peta dan Teladan

Allah; 1990: 55-57).

e. Aspek Fisik.  Walaupun Allah yaitu  Roh, sebab nya aspek keserupaan Allah

dengan manusia tidak dapat dilihat secara jasmani, namun demikian

kemampuan yang dimiliki oleh tubuh manusia untuk melihat, mendengar,

merasakan, mencium dan bertindak merupakan cermin akan kemampuan

kualitas yang dilakukan oleh Allah. Allah memberikan tubuh kepada manusia

10

agar manusia  dapat melakukan apa yang juga Allah lakukan sekalipun Allah

melakukannya tanpa memerlukan tubuh jasmani.

f. Aspek Kreatif.  Sifat  kreatif  (daya cipta) ini  diperoleh dari  Allah yang yaitu 

Sang Pencipta (Creator). Sewaktu Sang Pencipta mencipta manusia, ia

memasukkan ke dalam diri manusia itu sifat yang sama yang ada pada diri-Nya

dalam kualitas yang lebih rendah sehingga manusia itu memiliki  daya cipta

dan   akhirnya   menjadi  ―pencipta-pencipta‖   kecil  yang  yaitu   gambaran

Sang Pencipta sendiri. Allah yaitu  pencipta awal (dari ketiadaan menjadi ada)

atau pemicu  awal (Causa Prima). Manusia yaitu  ciptaan yang memiliki 

kemampuan   untuk   ―mencipta‖  (sebab    diberi   daya   cipta).   Jadi   dapat

dikatakan  bahwa manusia yaitu  pemicu  kedua (Causa Sekundar). Sang

Pencipta menciptakan kita sebagai ciptaan dengan daya cipta sehingga kita juga

dapat menjadi  ―pencipta‖  dari apa yang kita  ―ciptakan‖.

Tanggung Jawab manusia sebagai penyandang gambar-rupa Allah

1) Wakil Allah di dalam dunia ciptaan

2) Wakil Allah untuk menyatakan kemuliaan Allah di dalam dunia ciptaan

3) Wakil Allah di dalam menjalankan pemerintahan Allah di dalam dunia ciptaan

4) Bersekutu dengan Allah

Tugas yang berat itu  tidak akan mungkin dilakukan tanpa sesuatu dari  Allah.

Itulah   sebabnya    manusia    diciptakan   menurut   ―gambar‖    dan   ―rupa‖

Allah.

―Gambar‖  dan  ―rupa‖  Allah  inilah  yang  merupakan  potensi,   kekuatan  dan

modal bagi manusia  untuk melaksanakan tugasnya  itu.  Charles  Hodge  berkata

:―Manusia yaitu  gambar Allah, sehingga membawa dan mencerminkan kesamaan

ilahi di antara penghuni-penghuni lain di bumi, sebab  manusia itu roh, unsur yang

cerdas dan berkehendak bebas; dan oleh sebab  itu sudah sepantasnya manusia

ditetapkan untuk menguasai bumi‟. (Systematic Theology : 99).

Dampak Kejatuhan Terhadap gambar dan Rupa Allah dalam diri manusia.

Dosa tidak memicu  manusia kehilangan gambar-rupa Allah, namun

mempengaruhi semua aspek gambar-rupa Allah. Segala pengetahuan, kekudusan,

kebenaran mengalami kerusakan atau menyimpang (distorsi) sehingga kadang

kemuliaan Allah tak nampak/terpencar dari kehidupan manusia, malah sebaliknya

manusia melawan dan menentang Allah. Karunia-karunia, anugerah dan kapasitas

yang  ada  pada  manusia  mulai  dipakai  oleh  manusia  dengan  cara  bertentangan

dengan kehendak Allah.  Dengan kata  lain  apa  yang berubah bukanlah  struktur

manusia, melainkan caranya berfungsi dan arah yang ditujunya, yang dahulu

melakukan kehendak Allah sekarang memuaskan hasrat kedagingannya. Rasio

yang  sebelumnya  dipakai  untuk  memuji  Allah  sekarang  dipakai  untuk  memuji

dirinya atau prestasi-prestasi manusia. Pengertian moralnya juga turut

menyimpang, yang salah dikatakn benar, dan yang benar dinyakatakn salah.

Manusia tidak taat lagi terhadap Allah malah melakukan pemberontakan

menentang Allah.

Dalam relasinya juga dengan sesama manusia, yang seharusnya dapat bersekutu

bersama namun sekarang memanipulasi  sesamanya sebagai alat untuk mencapai

tujuan yang egois dan menghancurkan sesamanya. Juga dengan relasinya terhadap

alam, manusia memakai bumi dan sumber daya alamnya juga untuk memenuhi

nafsu dan tujuannya yang egois padahal seharusnya memerintah bumi dalam

ketaatan kepada Allah.

10

Dapat  dikatakan  bahwa gambar  Allah  dalam diri  manusia  telah  diselewengkan

setelah kejatuhan. Gambar Allah sekarang mengalami malfungsi, namun  tetap ada.

Hilangnya gambar Allah dalam pengertian fungsional mempresaposisikan

bertahannya gambar Allah dalam pengertian struktural. Untuk bisa menjadi orang

berdosa,  sesorang  harus menyandang  gambar  Allah.  Kedasyatan  dosa  manusia

justru  merupakan  fakta  bahwa ia  masih  merupakan penyandang  gambar  Allah.

Yang membuat dosa begitu jahat yaitu  bahwa manusia melacurkan karunia-

karunia yang begitu menakjubkan ini. Corruptio optimi pessima: perusakan

terhadap yang terbaik merupakan hal yang terburuk. (Hoekema: 2003 : 109).

Namun   sekalipun   demikian,   kita   patut   bersyukur   sebab  ―gambar‖   dan

―rupa‖ Allah dalam diri manusia itu telah diperbaharui di dalam manusia Yesus

Kristus. Ia  yaitu   manusia  pertama  pasca  kejatuhan  yang  memiliki  ―gambar‖

dan   ―rupa‖  Allah yang sempurna (tidak distortif) dalam diri-Nya, dan melalui

hidup-Nya selama di  dunia  kemuliaan  Allah  dinyatakan  dan terpencar dengan

sempurna. Itulah sebabnya  Ia  dapat  berkata  ―Barangsiapa  telah melihat  Aku,

ia  telah melihat Bapa-Ku‖.

H. Natur Manusia

Pada umumnya dikenal tiga teori pembagian natur manusia dalam teologia, yaitu

Trikotomi, Dikotomi dan Monisme.

1. Trikotomi

Trikotomi yaitu  pandangan yang percaya bahwa natur manusia terdiri dari tiga bagian,

yaitu tubuh, jiwa dan roh. Menurut teori ini saat  Allah menciptakan manusia, Allah

memberikan tiga unsur utama di dalam diri manusia yaitu tubuh, jiwa dan roh. Tubuh

yaitu  unsur lahiriah manusia yang dapat dilihat yang melaluinya manusia dapat

melihat,  mendengar,  menyentuh dan sebagainya.  Jiwa yaitu  unsur  batiniah  manusia

yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia terdiri dari tiga unsur utama yaitu pikiran, emosi

(perasaaan) dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir, dengan

perasaannya manusia dapat mengasihi dan dengan kehendaknya, manusia dapat

bertindak. Roh yaitu  unsur yang paling dalam dari manusia yang memungkinkannya

untuk bersekutu dengan Tuhan. Kebanyakan para penganut teori ini mendasarkan

pandangannya pada 1 Tes.5:23 dan Ibr.4:12, yang secara jelas menyebutkan tiga unsur

ini :

"Semoga Allah dami sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa

dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus,

Tuhan kita.". 1 Tes.5:23

"Sebab firman  Allah  hidup  dan  kuat dan lebih tajam  daripada  pedang  bermata  dua

manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan

sumsum,; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.." Ibr.4:12

2. Dikotomi

Dikotomi yaitu  pandangan yang percaya bahwa natur manusia hanya terdiri dari tubuh

dan roh (jiwa termasuk di dalamnya); dua unsur yang berbeda (dualitas) namun bukan

dua bagian yang dipisahkan (dualisme). Kebanyakan para penganut teori ini

mendasarkan pandangannya pada argumentasi berikut ini:

a. saat  Allah menciptakan manusia, Allah menghembuskan nafas-Nya ke dalam

tubuh manusia, sehingga hanya ada dua bagian saja, yaitu tubuh dan jiwa/ napas

yang hidup. Kej 2:7

b. Para penganut dikotomi memandang istilah jiwa dan roh di dalam Alkitab bukan

sebagai dua substansi yang berbeda, namun  merupakan istilah yang sering dipakai

11

secara bergantian/bisa dipertukarkan oleh penulis Alkitab, misalnya dalam Mat 6:25;

10:28 (Manusia disebut dengan istilah tubuh dan jiwa) dan Pengk 12:7; 1Kor 5:3,5

(manusia disebut dengan istilah tubuh dan roh). Contoh lainnya yaitu  Kej 41:8;

Maz 42:6; Mat 20:28; 27:50; Yoh 12:27; Ibr 12:23; Wah 6:9.

c. Penyebutan jiwa dan roh secara bersamaan seperti  dalam 1Te 5:23 dan Ibr 4:12,

tidak harus ditafsirkan sebagai adanya dua substansi yang berbeda. Sebab jika

ditafsirkan demikian,  maka manusia tidak hanya dibagi dalam tiga substansi saja,

melainkan lebih,  misalnya  dalam Mat 22:37 menyebutkan secara bersamaan hati,

jiwa dan akal budi (pikiran).

d. Pada umumnya kesadaran manusia hanya menunjukkan adanya dua bagian dalam

diri manusia, yaitu unsur yang badaniah yang dapat dilihat dan unsur rohaniah yang

tidak dapat  dilihat.  Pada waktu  manusia  mati,  maka badan/tubuhnya kembali  ke

tanah sedangkan jiwa/rohnya kembali kepada Allah.

Penting dipahami juga apa yang diajarkan oleh Plato, sebab  Plato juga menganut

paham dualisme natur manusia namun  sesungguhnya memiliki  perbedaan dengan

pengajaran Alkitab. Menurut Plato ada dua hal yang utama dalam diri manusia yaitu

jiwa dan tubuh, keduanya merupakan kenyataan yang harus dibedakan dan dipisahkan.

Jiwa berada sendiri. Jiwa yaitu  sesuatu yang adikodrati, yang berasal dari dunia ide

dan oleh sebab nya bersifat kekal, tidak dapat mati (Hadiwijono: 2005. 43).

Plato juga mengajarkan teori Praeksistensialisme dan transmigrasi jiwa. Teori

praeksistensi   beranggapan   bahwa  ―jiwa-jiwa   manusia   ada   dalam  keadaan   yang

sudah  lebih  dahulu  terbentuk  dan  keadaan  jiwa-jiwa  itu  dalam  keadaan  ini 

mempengaruhi keadaan jiwa ini  pada saat yang kemudian.‖  (Berkhof: 2006, 35).

Hinduisme  juga mengajarkan  tentang  hal  ini  dimana  reinkarnasi  merupakan  sarana

proses membuang dosa sehingga hukuman berlaku.

Dari ajarannya, dapat dilihat bahwa sebenarnya Plato menganut dikotomis dalam

pandangannya tentang elemen natur manusia. Pandangan ini pada dasarnya sama

dengan pandangan Alkitab. Akan namun ,  kesalahan teori Plato yaitu  caranya melihat

dikotomis ini . Plato melihat tubuh dan jiwa secara dualistik, jiwa dan tubuh berupa

kenyataan yang terpisahkan. Jiwa dipenjarakan di dalam tubuh. Oleh sebab  itu, jiwa

perlu dilepaskan dengan mendapatkan pengetahuan tentang  ide. Sedangkan, Alkitab

menjelaskan manusia  memiliki  dua  elemen  dalam  dirinya  namun  tetap menekankan

kesatuan  organis  di  dalam diri  manusia.  Dari  kisah  penciptaan  jelas  bahwa manusia

memang   memiliki   dua   elemen  yang  bersatu.   Dalam  Kejadian  2:7  dikatakan

―saat   itulah  TUHAN  Allah  membentuk  manusia itu  dari  debu  tanah  dan

menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi

makhluk yang hidup.‖ Ayat ini menunjukkan bahwa saat  Allah membentuk tubuh oleh

Rohnya, pada saat itu juga manusia menjadi makhluk yang hidup. Kalimat dalam ayat

ini  tidak menunjukkan urutan penciptaan tubuh dahulu baru jiwa. Akan namun , baik

tubuh maupun  jiwa  dimiliki  oleh  manusia  secara  bersamaan  saat   penciptaan.

berdasar  pandangan Alkitab di atas, berarti bahwa tubuh dan jiwa merupakan elemen

dari manusia yang menyusun keseluruhan diri manusia.

Oleh  sebab   itu,  segala tindakan  manusia  harus  dilihat  sebagai  tindakan  dari

keseluruhan  diri  manusia.  ―Yang berdosa  yaitu   manusianya, bukan jiwanya;  yang

mati yaitu  manusianya, bukan tubuhnya dan juga bukan hanya jiwa saja namun  manusia

itu baik tubuh maupun jiwanya yang ditebus di dalam Kristus.‖ (Berkhof: 2006, 35)

Teori Plato tentang praeksistensialisme jiwa juga tidak sesuai dengan pandangan

Alkitab. Alasan terpentingnya yaitu  sebab  teori ini berdasar pada dualisme, dimana

jiwa yang tadinya tidak memiliki tubuh, kini secara kebetulan dipenjarakan di dalam

11

tubuh.  Dari  sudut  kesadaran,  teori  ini  juga  tidak  dapat  diterima  sebab   kita  sebagai

manusia tidak memiliki kesadaran tentang keadaan jiwa kita saat  masih belum lahir ke

dunia. Teori Plato tentang transmigrasi jiwa jelaslah salah. Dalam Alkitab tidak pernah

dikatakan bahwa jiwa manusia yang telah meninggal akan diturunkan ke dalam tubuh

lain lagi. akan namun , Alkitab menjelaskan bahwa saat  seorang individu meninggal, ia

akan dibangkitkan pada hari penghakiman dengan tubuh yang tidak dapat binasa dan

tidak  dapat  mati.  Disaat  itulah  firman Tuhan digenapkan bahwa maut telah  ditelan

dalam kemenangan dan manusia akan memasuki  hidup kekal bersama dengan Tuhan

pada kekekalan. (Penjelasan tentang teori asal usul jiwa akan dijelaskan dalam bagian

selanjutnya).

3. Monoisme

Monoisme/Monisme atau kadang disebut monokotomi yaitu  pandangan yang percaya

bahwa manusia  merupakan pribadi  yang utuh yang tidak  dipisah-pisahkan.  Manusia

tidak akan bisa ada/hidup tanpa tubuh atau jiwa/rohnya. Tubuh tidak akan bisa hidup

tanpa  jiwa/roh,  demikian  juga  sebaliknya. Menurut teori  ini,  istilah  Alkitab  "jiwa,"

"roh," „tubuh‟, „hati‟, „akal budi‟ dan sebagainya merupakan cara yang berbeda-beda

untuk melihat pribadi seseorang. Keberadaan manusia dalam satu kesatuan yang utuh

yaitu  keadaan manusia yang ideal. Itu sebabnya sesudah kematian Alkitab mengatakan

bahwa untuk sementara manusia akan berpisah dengan tubuh, namun pada kedatangan

Tuhan Yesus yang kedua, manusia yang diselamatkan akan menerima kebangkitan

tubuh; tubuh yang mulia. (Fil 3:21)

Istilah roh dan jiwa

Ada beberapa kata yang perlu diperhatikan dalam bahasa Ibrani dan Yunani:

a. roh (Ibr.: ruakh, Yun.: pneuma)

b. jiwa (Ibr.: nefesy, Yun.: psukhe)

c. tubuh (Yun.: soma)

d. daging (Ibr. Basar, Yun.: sarx)

e. hati (Ibr.: lev, Yun.: kardia)

I. Tubuh dan Jiwa

1. Tubuh

Kata yang biasa dipakai dalam bahasa Ibrani untuk tubuh manusia yaitu  בשר -

basar (harfiah,  daging),  kata Yunani  juga memakai  makna yang sama yaitu

ζαπξ - sarx (harfiah, daging). Sering juga bahasa Yunani memakai  kata ζωμα -

sôma,  tubuh.  Dalam Kej  2:7  Tuhan lebih  dahulu  membentuk  tubuh  ,  setelah  itu

memberi jiwa. Tubuh bukanlah sekedar tambahan atau embel-embel yang tidak

penting! Tubuh bukanlah penjara dari jiwa seperti apa yang dipikirkan Plato. Tubuh

yaitu  sesuatu yang baik! Tubuh bukanlah sumber dosa. Memang tubuh bisa

diperalat oleh dosa, namun  asal usul dosa sebetulnya justru terletak pada jiwa (Kej 3 -

pada  pikiran dari  Hawa).  sebab   itu  hati-hati  dalam menafsirkan kata  „daging‟

dalam Kitab Suci, sebab  kata „daging‟ itu sering digunakan bukan untuk menunjuk

kepada „tubuh‟ namun  kepada „manusia lama‟ misalnya dalam Gal 5:16-21. Tubuh

juga tidak bertentangan dengan jiwa! Secara alamiah, tubuh yaitu  immortal (tidak

bisa binasa). Bahwa tubuh itu harus kembali kepada debu (mati), itu bukan

disebabkan sebab  tubuh berasal dari debu, namun  sebab  adanya dosa (Kej 3:17-19).

Sekalipun tubuh berasal dari debu tanah namun  tubuh bukanlah sesuatu yang

merendahkan manusia! Ingat bahwa Tuhanlah yang membentuk tubuh itu!

11

2. Jiwa

Jiwa (Ibr:nefesh, Yun:psyche) dapat diterjemahkan sebagai nafas atau hidup. Jiwa

yaitu  suatu indivisible essence / substance (= zat yang tidak bisa dibagi-bagi). Jadi:

Jiwa  yaitu   suatu  zat, bukan  sekedar suatu khayalan  atau  sesuatu yang  abstrak.

Dalam perspektif Ibrani, -nefesy (Jiwa) yaitu  totalitas, kesatuan dari unsur - נפש 

unsur yang saling memiliki ketergantungan ('dependensi' dan 'interdependensi').

Berbeda dengan tubuh, jiwa tidak bisa dibagi-bagi.

nefesy atau kadang ditrasliterasikan dengan nefesh , menurut pola pikir Ibrani - נפש

terdiri atas בשר - basar (daging, tubuh), נשמה - nesyamah (nafas), רוח - ruakh (roh),

.lev (hati, akal budi) - לב

saat  Anda melihat seseorang berkata, Anda mendengar perkataan itu namun  Anda

tidak melihat perkataannya melainkan melihat sosok pribadi orang yang berkata itu.

Demikian pula halnya dengan נפש - nefesy.

Anda melihat "nefesy", seseorang secara keseluruhan padahal yang Anda lihat

yaitu  tubuhnya („basar‟), Anda tidak melihat nafasnya („nesyamah‟), Anda tidak

melihat pikiran,  perasaannya. Tidak dapat dikatakan bahwa Anda tidak melihat

„nefesy‟ sebab  „nefesy‟ (jiwa) merupakan kesatuan yang kompleks, „nefesy‟

berada antara konkrit dan abstrak, antara yang dilihat dengan yang tidak dilihat. Ini

yaitu  pola pikir Ibrani, bukan pola pikir orang Eropa yang memilah-milah sesosok

manusia  menjadi  terbagi  atas tubuh,  jiwa, roh,  dan  seterusnya, bahwa tubuh  itu

kelihatan sedangkan jiwa tidak kelihatan. (http://www.sarapanpagi. org /tubuh-jiwa-

dan-roh-vt794.html)

3. Hubungan Tubuh dan jiwa

Hubungan tubuh dan jiwa  ini merupakan sesuatu yang  misterius dan tidak bisa

dimengerti sepenuhnya. Jiwa dapat mempengaruhi tubuh. sebab  itu ebanyakan

gerakan tubuh tergantung kepada jiwa, seperti berjalan, berolah raga, dsb. namun  ada

juga gerakan tubuh yang tidak tergantung kepada jiwa, seperti denyut jantung,

pencernaan yang dilakukan oleh usus, keluarnya keringat. Kalau jiwa kacau (stress,

depresi),  maka tubuh bisa sakit.  Kalau melihat  orang yang malu,  mukanya jadi

merah dan orang yang merasa sukacita, matanya bisa „berbinar‟.

Sebaliknya, tubuh juga mempengaruhi jiwa. Perhatikanlah orang yang otaknya

rusak,  maka pikirannya/jiwanya juga terganggu. Orang yang sudah tua (otaknya

tua),  maka menjadi  pikun.  Walaupun tidak selalu dapat  juga dilihat  dalam tubuh

sehat, maka jiwanya ikut sehat. Dalam hidup ini jiwa beroperasi melalui tubuh

sebagai instrumen, misalnya:  berpikir  melalui  otak.  namun   setelah mati,  jiwa bisa

beroperasi tanpa tubuh. Dalam Luk 16:19-31 orang kaya itu tetap bisa merasa,

berbicara, melihat, berpikir, dsb.

4. Kesatuan tubuh dan jiwa

Sekalipun  Kitab  Suci  mengajarkan  bahwa manusia  terdiri  dari  dua  elemen  yang

berbeda, yaitu tubuh dan jiwa, namun  Kitab Suci juga menekankan kesatuan yang ada

antara  tubuh dan jiwa  /  kesatuan  dari  seluruh manusia!  Jadi,  manusia  dipandang

sebagai suatu kesatuan!

Jadi pada saat seseorang makan, kita tidak berkata: „tubuhnya makan‟, namun  „orang

itu makan‟. Pada saat kita melihat seseorang berpikir,  kita tidak berkata „jiwanya

berpikir‟, namun  „orang itu berpikir‟.

Konsekwensinya, pada waktu berbuat dosa, maka yang berbuat dosa bukan hanya

jiwa atau  tubuh,  namun   seluruh orangnya.  Yang ditebus  oleh  Kristus,  juga bukan

hanya jiwanya atau hanya tubuhnya, namun  seluruh orangnya!

5. Teori Asal Usul Jiwa Manusia

11

Yang  dibicarakan disini bukanlah asal  usul  dari  jiwanya adam sebagai manusia

pertama,  namun   asal usul jiwa manusia secara umum. Pada saat seorang bayi ada

dalam kandungan, tubuhnya jelas dari orang  tuanya, namun  dari mana jiwanya?

Paling tidak ada tiga pandangan tentang ini yakni:

a. Pandangan Pra-ada (pre-eksistensialisme):  menurut padangan ini  jiwa manusia

sudah ada sebelum ia mulai ada dalam kandungan,namun  sebab  ada dosa yang

dilakukan oleh jiwa itu, yang lalu memicu  jiwa harus berada dalam sebuah

tubuh dan  tinggal  di  dunia (sebagai  hukuman) reinkarnasi merupakan sarana

proses membuang dosa sehingga hukuman berlalu, Hinduisme mengajarkan

paham ini.  (Pandangan Plato  mengenai  hal  ini  sudah dijelaskan sebelumnya).

Pandangan ini tidak memiliki dasar Alkitab sehingga harus ditolak. Plato sendiri

masih membagi jiwa manusia menjadi tiga bagian: rasio (penalaran), emosi, dan

nafsu.  Rasio yaitu   kemampuan  berpikir  manusia  yang mampu memilih  cara

terbaik untuk menghasilkan hal yang terbaik, namun harus tetap disertai dengan

cinta akan kebenaran.

b. Pandangan Traduksianisme: jiwa dilangsungkan bersama badan melalui proses

keturunan  (baik  tubuh  maupun  jiwa  seorang anak  diturunkan  oleh/dari  orang

tuanya.) tiga argumen yang mendukung pendapat ini yaitu , pertama, Kej. 2:1-3

menyatakan Allah beristirahat pada hari ketujuh sebab  pekerjaanNya telah

selesai. Jadi tidak ada indikasi penciptaan jiwa baru setelah Adam. Kedua, Allah

menciptkan jiwa secara sempurna (allah tidak menciptakan seseorang yg

berdosa) lalu masing-masing mengalami kejatuhan pada saat dilahirkan. (dalam

hal ini Kristus merupakan kekecualian). Ketiga, dari  sudut jasmani  manusia

selalu dipandang sebagai satu kesatuan tubuh dan jiwa.

c. Pandangan  Creationisme:  menurut  pandangan  creationisme  (penciptaan)  Allah

menciptakan jiwa pada saat konsepsi (pembuahan) atau kelahiran. Jiwa dengan

segera bersatu dengan tubuh. Jiwa baru berdosa pada saat sentuhan dosa warisan

melalui  tubuh.  Dukungan pandangan ini  yaitu :  Jiwa datang dari  Tuhan (Bil.

16:22 dan Ibr. 12:9). Jiwa bersifat kekal, maka jiwa tak diteruskan lewat

keturunan. Ketidakberdosaan Kristus hanya terjadi bila jiwaNya diciptakan

(tentunya jiwa ini  tidak disatukan dengan tubuh yang berdosa-jadi

manusiaNya tak berdosa).

J. Kehendak Bebas Manusia

Masalah tentang kehendak bebas manusia merupakan problem yang cukup banyak

didiskusikan.  Kadang diskusi ini  memanas sebab  ambiguitas  dari  berbagai  istilah yang

dipakai.  Istilah-istilah  seperti  bebas  (free),  kebebasan  (freedom),  kemerdekaan  (liberty),

kerelaan (volition), dan kehendak (will) bisa dipakai dengan makna yang begitu beragam

sehingga pihak-pihak yang berdiskusi mungkin berselisih pandang sementara

memakai  kata-kata yang sama. (Hoekema : 2003, 293). Free will / kehendak bebas dan

kejatuhan ke dalam dosa: Sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia bisa memilih antara taat

kepada Tuhan atau tidak. namun  setelah kejatuhan dalam dosa, manusia hanya bisa berbuat

dosa saja. namun  ini tidak berarti bahwa manusia kehilangan free will / kehendak bebas.

Mengapa? 1) sebab  pada waktu manusia berbuat dosa, itu tetap dilakukan sebab 

kehendaknya sendiri. 2) Andaikatapun kita memiliki  keinginan untuk berbuat baik,

namun  kita tidak mampu melaksanakan, itu tidak berarti kita tidak bebas. Tadi telah

dijelaskan bahwa free will / kehendak bebas harus dipisahkan dari kemampuan untuk

melakukan apa yang dikehendaki.  3) Sekalipun hanya bisa berbuat dosa, kita tetap bisa

memilih antara dosa kecil dan dosa besar. Jadi tetap ada free will / kehendak bebas!

11

(http://www. golgothaministry.org/anthropology/anthropology _06.htm)

K. Kejatuhan Manusia dalam Dosa

Seperti yang tertulis dalam Kejadian 3:1-24, bahwa dosa masuk kepada manusia lewat

pelanggaran  yang dilakukan oleh Adam dan Hawa. Sebab, perintah yang Allah berikan

kepada Adam untuk jangan makan "buah pengetahuan yang baik dan yang jahat"  telah

dilanggar oleh Adam dan Hawa. Tidak ada pendapat yang seragam tentang mengapa pohon

itu disebut sebagai "pengetahuan yang baik dan yang jahat." namun ,  secara umum dapat

dikatakan pohon ini  "ada" untuk menguji  ketaatan manusia (Adam). Dengan iman,

manusia mau dan rela untuk taat, dan bukan sebab  paksaan. Kejatuhan manusia dalam

dosa merupakan keberhasilan usaha Setan dalam menaburkan benih ketidaktaatan dalam

hati manusia melalui perantara ular dan Hawa. (Yoh 8:44; Rom 16:20; 2Kor 11:3; Wah

12:9) Ada alasan kuat mengapa Setan memakai Hawa: pertama, sebab  Hawa bukan kepala

perjanjian.  Kedua,  sebab   Hawa tidak  menerima  perintah  langsung dari  Tuhan.  Ketiga,

Hawa menjadi alat efektif  untuk mencapai hati Adam. Kisah kejatuhan manusia dalam

dosa yang diceritakan dalam Kej 3 tidak selalu diterima sebagai  kebenaran historis  dan

harafiah. Beberapa pendapat lain tentang Kisah Kej 3:

a. Dianggap sebagai kisah legenda/mitos yang tidak ada kebenaran historisnya.

b. Dikatakan sebagai kisah figuratif/alegoris tentang bagaimana manusia mengalami

kerusakan dan perubahan secara perlahan-lahan.

Namun seluruh kebenaran  Alkitab  dengan jelas  memaparkan bahwa kisah  Kejadian

bukanlah cerita figuratif. (Yes 43:27; Rom 5:12,18,19; 1Kor 15:21 1Tim 2:14, dll.)

11

XI. Hamartiologi: Pengajaran Tentang Dosa

A. Pengertian Dosa

Dosa yaitu  suatu konsep religius, bukan konsep moral belaka. Suatu dosa yaitu 

tindakan – pikiran,  keinginan, emosi, perkataan,  atau perbuatan apapun – atau kelalaian

untuk melakukan tindakan,  yang tidak  berkenan kepada Allah dan layak dipersalahkan.

sebab  itu, kita akan memakai kata dosa untuk merujuk pada tindakan maupun

kecondongan berdosa. Defenisi yang diberikan bersifat kriteriologis dan bukannya

ontologis.  Defenisi ini  memberitahu kita bagaimana mengetahui  bahwa suatu hal yaitu 

dosa, dan bukannya memberi tahu tentang apakah arti dosa itu sendiri. Dengan kata lain

defenisi ini berbicara tentang apa itu berdosa, bukan apa itu dosa. Hal ini juga berlaku jika

kita  harus  merumuskan sebagai  pelanggaran  hukum Allah.  Dosa merupakan celaan dan

penghinaan secara pribadi kepada pribadi Allah. (Platinga: 2004, : 12-13).

Dosa dapat digambarkan sebagai sebuah anak panah yang dilepaskan dari busurnya dan

meleset dari target yang ditentukan. Tentu saja bukan berarti tidak kena target ini

merupakan hal yang berkaitan dengan hukum moral. namun , definisi sederhana dari dosa di

Alkitab yaitu  "meleset dari sasaran". Di dalam istilah Alkitab, sasaran yang tidak dikenai

itu bukan merupakan sasaran yang penuh dengan lalang; sasaran itu merupakan tanda atau

"norma"  dari  Hukum Allah. Hukum Allah  menyatakan  kebenaran-Nya dan  merupakan

standar  tertinggi  bagi  perilaku kita.  Pada waktu kita  tidak  mencapai  standar  yang telah

ditentukan ini, maka kita berdosa.

Alkitab menjelaskan bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa. Kehendak bebas yang

diberikan Allah, justru menjadi jerat bagi manusia untuk melanggar perintah Tuhan, yaitu

tidak boleh mengambil buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat yang ada di

tengah-tengah taman. Manusia telah gagal dalam memakai  kehendak bebasnya

sehingga merusak gambar dan rupa Allah yang diberikan bagi manusia. Akibatnya,

kegagalan ini  melahirkan sesuatu yang buruk dalam kehidupan manusia, yaitu dosa.

Secara etimologis dosa berasal  dari  bahasa Yunani yaitu dari  kata "hamartia" yang

artinya yaitu  "tidak mencapai target atau sasaran". saat  Allah menciptakan manusia dan

menempatkan mereka di dalam taman Eden, Allah memberikan satu perintah kepada

manusia  untuk tidak memakan buah dari  pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat,

sebab pada hari manusia memakannya, pastilah mereka akan mati. Dituliskan dalam

Kejadian 3, manusia gagal dan tidak menuruti perintah Allah itu. Manusia tergoda dengan

bujuk rayu iblis sehingga mengambil buah dari pohon itu. Kegagalan manusia inilah yang

dinamakan dosa.

Istilah "dosa" muncul sangat banyak dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama

maupun dalam Perjanjian Baru. Berikut ini pemakaian istilah-istilah dosa dalam Perjanjian

Lama dan Perjanjian Baru:

1. Dalam Perjanjian Lama

a. Hatta

Dosa dalam bahasa Ibrani  yaitu   "hatta",  berarti  "tidak  kena  atau  tidak  sampai."

Pengertian ini  dapat dihubungkan dengan anak panah yang "tidak kena"

sasarannya. Dosa menurut istilah ini berarti tidak kena, tidak sampai, atau menyimpang

dari  tujuan dan maksud Allah.  Dosa menurut  istilah ini  bukan hanya mencakup

perbuatan dosa, namun  juga keadaan hati dan maksud hati yang berdosa (Kejadian 4:7;

Keluaran 9:27; Bilangan 6:11; Mazmur 51:4,6; Amsal 8:36).

"Hatta" berarti jauh dan mengurangi standard dari Tuhan yang Mahasuci. Allah telah

menetapkan suatu standard, namun manusia justru jatuh dan turun dari standard yang

telah ditetapkan oleh Allah. Itulah yang disebut dengan "hatta". Alkitab memakai istilah

ini sebanyak 580 kali dalam Perjanjian Lama. Istilah "hatta" menjadi sesuatu yang

11

sangat menyedihkan hati Tuhan, sebab manusia gagal untuk hidup sesuai dengan

standard atau patokan yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

b. Avon

Dalam bahasa Ibrani, kata yang dipakai yaitu  "avon" yang berarti "bengkok atau

diputar". Dalam hal ini berarti hati yang bengkok, yang diputar dari yang benar. Kata

ini  tidak terlalu menjurus kepada perbuatan jahat, melainkan berkenaan dengan

hati dan tabiat yang jahat (Kejadian 15:16; Mazmur 32:5; Yesaya 5:18), yang

memicu  manusia pantas untuk dihukum.

Kata "avon" sangat  sulit  untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,  namun

pada akhirnya istilah ini diterjemahkan sebagai suatu perasaan dalam diri manusia yang

menganggap dirinya cacat atau perasaan di dalam jiwa yang  membuat diri merasa

kurang benar, sehingga perlu untuk menegur diri sendiri.

c. Pesha

Dalam bahasa Ibrani, kata yang dipakai yaitu  "pesha" yang berarti "melawan yang

berhak, melawan perintah Allah, dan melakukan bidat," (Mazmur 51:3; Amsal 28:2).

"Pesha" juga berarti pelanggaran atas suatu batas yang sudah ditetapkan namun  manusia

justru melewati batas itu.

Oleh sebab itu, manusia sudah gagal sebab  telah berjalan melampaui batas yang

sudah ditetapkan oleh Allah. Penyelewengan dari jalan yang telah Tuhan tetapkan ini

disebut dosa.

Masih ada beberapa istilah lain untuk dosa, seperti: Pendurhakaan, kejahatan,

pelanggaran sebab  ketidaktahuan, penyimpangan, kebencian, kenakalan, dll. (Kejadian

41:9; Imamat 4:13; Yehezkiel 34:6; Mazmur 119:21; Imamat 19:17; Mazmur 94:20).

2. Perjanjian Baru

a. Hamartia

Kata "Hamartia" merupakan istilah dosa yang sering muncul dalam Perjanjian Baru,

kata ini dituliskan sebanyak 174 kali dalam Perjanjian Baru, dan 71 kali dalam tulisan-

tulisan Paulus. Kata ini tidak hanya mengenai perbuatan dosa, melainkan juga keadaan

hati dan pikiran yang jahat. Arti dari kata ini  yaitu  "manusia ada dalam keadaan

ditipu" (Roma 3:23).

b. Adikia

Kata "Adikia" memiliki arti "kejahatan". Seperti halnya dalam I Yohanes 1:9, kata

ini  diterjemahkan "kejahatan". Kata ini muncul dalam I Yohanes 5:17 yang juga

diterjemahkan "kejahatan". Istilah ini menunjuk kepada suatu keadaan hati dan pikiran

yang jahat.  Oleh sebab itu Yohanes berkata bahwa dosa-dosa kita diampuni dan kita

disucikan dari kejahatan.

c. Parabasis

Parabasis mengandung  arti  "menyimpang  dari yang  seharusnya."  Kata ini selalu

dipakai dalam hal yang berhubungan dengan pelanggaran terhadap hukum yang pasti

(Roma 4:15). Hukum-hukum Allah menuntut supaya manusia menaatinya, dan

bilamana manusia tidak mau menaatinya, berarti ia yaitu  pelanggar hukum dan

berdosa. Dan tentu saja murka Allah akan jatuh ke atasnya (Roma 4:15).

d. Anomia

Kata "Anomia" sebenarnya tidak mengandung pengertian "melanggar hukum dalam

suatu perbuatan yang pasti", namun kata ini lebih menjurus kepada pengertian "tidak

menurut atau tidak memedulikan hukum." Kata ini  menjelaskan tentang keadaan

hati.

11

e. Asebeia

Kata ini  mengandung arti "keadaan fasik", yaitu tidak ber-Tuhan. Lebih jauh

lagi,  kata  ini   mengandung  arti  bahwa tabiatnya  yang berlawanan  dengan tabiat

Allah (Roma 1:8; Yudas 14:15).

f. Paraptoma

Arti  dari  kata  ini  yaitu  "tidak berdiri  teguh pada saat  harus  teguh",  atau "tidak

sampai pada yang seharusnya" (Matius 6:14,15).

Dalam Perjanjian Baru, masih banyak istilah lain yang dipakai untuk menjelaskan

perbuatan dosa, misalnya: Kefasikan, kelaliman, keinginan jahat, kecemaran, dendam,

kedengkian, pembunuh, perkelahian, tipu daya, khianat, penghasut, pengumpat,

kebencian, kemabukan, takabur, hawa nafsu, zinah, cemburu, menyembah berhala dan

lain-lain.

B. Hakekat Dosa

Didalam menjawab pertanyaan "hakekat dosa", maka pembahasan kita tidak dapat

lepas dari "makna hakekat" dan juga studi tentang "hakekat". Studi mengenai hakekat

dikenal dengan ontologi, yaitu suatu bidang didalam filsafat.

Berikut yaitu  simplifikasi pengertian hakekat:

T: "Mengapa manusia memiliki 2 kaki?"

J: "sebab  'sudah dari sananya' manusia memiliki 2 kaki"

Studi tentang hakekat pada dasarnya yaitu  mempertanyakan permasalah yang

dihadapi secara terus-menerus (ontological question), sampai jawaban akhirnya yaitu 

"sudah  dari  sananya". Kalimat  "Sudah dari  sananya"  dianggap sebagai  hakekat  dari

permasalahan yang dihadapi. (Dalam arti  yang lebih luas, ontological  question tidak

akan berhenti sampai disini saja, segala 'akibat' pasti memiliki 'sebab' dan hal

ini lah yang dipahami sebagai hakekat,  yakni:  Suatu 'sebab'  yang tidak memiliki

'pemicu ')

Kembali pada tujuan menjawab permasalahan "hakekat dosa", maka

pembahasan harus kembali  kepada penciptaan manusia:  Berfirmanlah Allah: "Baiklah

Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,..." - Kejadian 1:26. Dari

kutipan diatas, kita dapat melihat bahwa manusia dicipta menurut gambar  dan rupa

Allah. Pengertian disini bukanlah "benar-benar sama" namun  "menurut...". Manusia

yaitu  turunan (derivasi) dari Yang Sempurna, akan namun  manusia sendiri tidak

sempurna.

saat  itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan

menghembuskan  nafas  hidup ke  dalam hidungnya;  demikianlah  manusia  itu  menjadi

makhluk yang hidup. - Kejadian 2:7. Dari Kejadian 2:7 diatas kita dapat melihat bahwa

manusia dibentuk dari debu tanah yang kemudian Dihembusi-Nya nafas hidup. Hal ini

menjawab mengapa manusia yang dicipta menurut gambar Yang Sempurna tidak

dengan serta-merta  menjadi  sempurna.  Yaitu sebab  manusia  terdiri  atas 2 substansi:

Debu tanah  yang bersifat  fana  dan nafas  hidup ilahi  yang bersifat  kekal.  Akibatnya

manusia memiliki sifat keterbatasan & kesementaraan maupun sifat kemuliaan &

kekekalan (Manusia diciptakan dari material yang sudah ada, yaitu material yang

SUDAH diciptakan-Nya,  yaitu  debu tanah.  Kata  yang digunakan untuk 'membentuk'

yaitu  yang berbeda dengan kata yang digunakan dalam Kej 1:1 {yâtsar, formed} יצר 

untuk 'menciptakan' yaitu ר {bârâ', created}. Penciptaan langit & bumi tidak

memakai  material yang telah ada sebelumnya, creatio ex nihilo. Manusia dicipta

dari 'yang ada' menjadi 'ada')

11

Kembali pada Pasal 1 dalam kitab Kejadian, kita dapat melihat bahwa setelah

Allah menyelesaikan seluruh ciptaan-Nya,  bumi  & seluruh isinya,  Allah menyatakan

bahwa, "segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik": Maka Allah melihat segala

yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari

keenam. - Kejadian 1:31. Dari konfirmasi Allah ini  kita dapat melihat bahwa

seluruh  ciptaan Allah,  termasuk  manusia yaitu ,  "sungguh  amat  baik".  (Allah yang

mengkonfirmasi ciptaan-Nya sebagai, "sungguh amat baik" dan tidak ada dosa yang

baik dihadapan Allah. Sehingga pemahaman yang paling baik didalam hal penciptaan

manusia  ini  yaitu  bahwa manusia pertama,  laki2  & perempuan,  dicipta-Nya tanpa

dosa)

Sebelum kita melanjutkan pembahasan, ada suatu pemahaman yang harus kita

mengerti terlebih dahulu, dan akan menjadi dasar dari uraian diberikut: Walaupun

manusia yang dicipta-Nya memiliki keterbatasan, akan namun  manusia yaitu  makhluk

yang bersifat mulia dan tidak berdosa pada saat dicipta.

Keberadaan manusia pada saat penciptaan (creation) yaitu  POSSE-PECARRE

(bisa - berdosa; sebab  belum jatuh kedalam dosa), yaitu manusia dicipta dalam keadaan

NETRAL: Bisa memilih untuk berdosa vs tidak berdosa. Selanjutnya pembahasan ini

akan melihat kembali peristiwa kejatuhan manusia, dimulai dari perintah-Nya dan

kemudian dengan pelanggaran manusia: Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini

kepada  manusia: "Semua  pohon dalam taman  ini  boleh  kaumakan  buahnya dengan

bebas, namun  pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah

kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." -

Kejadian 2:16;17.

Kita dapat melihat bahwa Allah memberi suatu perintah langsung kepada Adam,

didalam Kej 2:16-17 diatas. Dengan suatu konsekuensi yang harus ditanggung jika 

dia melanggar perintah ini . Konsekuensi dari pelanggaran ini  yaitu  sesuatu

hal yang sangat serius yaitu kematian (Kematian memiliki 2 pengertian: Kematian

secara fisik & kematian secara spiritual. Adam & Hawa memang tidak mati secara fisik

pada  saat  mereka  memakan  buah  pengetahuan  ini ,  akan  namun   kematian  secara

spiritual terjadi pada saat mereka memakannya. Mereka hidup terpisah dari Allah dalam

kutukan-Nya.) namun   ular itu berkata kepada perempuan itu:  "Sekali-kali  kamu tidak

akan mati,  namun   Allah mengetahui,  bahwa pada waktu kamu memakannya matamu

akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang

jahat." Perempuan itu melihat,  bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap

kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati sebab  memberi pengertian. Lalu ia

mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang

bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. - Kejadian 3:4-6. Dari

kutipan diatas kita dapat melihat bujukan iblis, yang dapat dibagi sebagai berikut:

1. Tidak akan mati pada saat memakan buah tsb.

2. Akan menjadi sama seperti Allah, tahu yang baik & yang jahat

Dan kita juga dapat melihat respon dari perempuan itu (Hawa): "...menarik hati

sebab  memberi pengertian (yang baik & yang jahat)" Seharusnya pada saat ini kita

telah dapat melihat hakekat dosa, berdasar  kata-kata bujukan iblis  & respon yang

diberikan Hawa (yang juga disetujui oleh Adam): Pertama, manusia melanggar perintah

langsung dari Allah & sekaligus 'mempertanyakan' konsekuensi serius yang harus

mereka  hadapi  pada  saat  melanggar  perintah  Allah  yaitu  kematian. Kedua,  manusia

bertindak seperti hakim, sebagai penentu mana yang benar & salah, menjadi verifikator

dari  pernyataan  Allah.  Allah  menyatakan  "pastilah  engkau  mati"  vs  pernyataan  iblis

"sekali-kali kamu tidak akan mati". jika  pemikiran perempuan ini  dituliskan

11

mungkin yaitu  sbb: "Masa sih mati? Kata ular tidak mati! Bahkan memberi

pengertian". Dan mereka pun memilih untuk melanggar perintah Allah, sambil

mempertanyakan pernyataan Allah, "pastilah engkau mati". Mereka pun mencurigai

motivasi  Allah pada saat Dia memberikan larangan tsb, "Allah melarang sebab  Dia

tidak mau 'disamai' oleh kita manusia ciptaan-Nya". Dari point pertama & kedua diatas,

kita  dapat  melihat  bahwa manusia  pertama menolak  atau dengan kata  lain menindas

kebenaran Allah, yaitu apa yang Allah sendiri nyatakan. Ketiga, manusia ingin menjadi

'seperti' Allah, dengan kata lain ingin melakukan kudeta dan kemudian mengambil alih

apa yang sebenarnya merupakan hak Allah (yaitu kualitas yang dimiliki Allah) dalam

hal  ini,  seturut  bujukan iblis,  yaitu   memiliki  pengetahuan yang baik  & yang jahat.

(sebab  manusia memberontak kepada Allah, INGIN menjadi sama dengan Allah,

sehingga pada saat yang bersamaan manusia HARUS menolak eksistensi Allah sebagai

Yang Berdaulat & Yang Berkehendak.)

Dalam Kejadian 3:14-19 kita dapat melihat kutukan Allah, baik kepada ular sang

Iblis, manusia laki-laki & perempuan, dan juga kepada bumi (lih. Ayat 17). Dan pada

saat  itulah  manusia  terpisah dari  hadapan Allah oleh sebab  dosa yang mereka  pilih

sendiri. Mereka menanggung konsekuensi terusir dari tempat dimana Allah

menempatkan mereka, yaitu Firdaus. (Perhatikan, manusia yang memilih - dengan

kebebasannya - untuk melawan Allah, yaitu berbuat dosa. Bukan Allah yang

menetapkan dosa ataupun menetapkan manusia untuk jatuh kedalam dosa. Akan namun ,

sekalilagi, MANUSIA YANG MEMILIH UNTUK BERDOSA )

Kejatuhan  manusia  itulah  yang  menjadi  awal  masuknya dosa  kedalam dunia

(original sin, dosa asal), yaitu dosa yang diturunkan dari generasi ke generasi (bdk Rm

5:12-15). Setiap manusia memiliki kecendrungan untuk selalu berbuat dosa dengan

kebebasan kehendaknya.

Akibat  kejatuhan  manusia,  keberadaan  manusia yaitu   NON POSSE -  NON

PECARRE (tidak bisa - tidak berdosa = selalu berbuat dosa) yaitu hilangnya netralitas

kehendaknya (bandingkan dengan kondisi manusia pada saat penciptaan yang bersifat

netral).  Manusia  tidak lagi NETRAL: Memilih berdosa vs tidak berdosa,  akan namun 

memiliki  kecendrungan untuk  selalu  berbuat  dosa.1  (Setelah  manusia  jatuh  kedalam

dosa,  'kebebasan kehendak'  manusia  menjadi  hilang,  dalam arti  kehilangan  netralitas

pilihannya. Saat seseorang hanya bisa memilih untuk tidak taat, hanya bisa melakukan

dosa, dirinya tidaklah bebas untuk berkehendak melakukan yang Benar dihadapan

Allah)

Kembali pada hakekat dosa, kita dapat melihat dosa esensial (dosa yang

mendasar) yang dilakukan oleh manusia: Menolak eksistensi Allah & menindas

kebenaran-Nya. jika  terus dipertanyakan 'sebab' dari Adam berdosa, maka jawaban

akhirnya yaitu  sebab  dia ingin memiliki kualitas sebagaimana yang Allah miliki. Dan

satu-satunya cara yaitu  dengan menolak keberadaan/eksistensi Allah sebagai yang

berdaulat  dan menolak kebenaran-Nya yaitu apa yang Allah nyatakan sebagai  yang '

mutlak benar' dan harus ' mutlak ditaati' pula.

C. Pembagian Dosa

Dewasa ini kita mengenal tentang pembagian dosa. Seperti yang diajarkan oleh

Alkitab, dosa dibagi menjadi dua bagian, yaitu dosa asal dan dosa perbuatan.

1. Dosa Asal

Alkitab mengajarkan bahwa dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang, yaitu

Adam. "sebab  sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam,

demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan

12

Kristus." (I Korintus 15:22). Dosa Adam yang terjadi pada awal kehidupan manusia

telah membawa dosa masuk ke dalam dunia. Dan, sejak itu dosa juga masuk ke

dalam kehidupan semua orang. Dosa asal bersifat tunggal. Dosa asal memberi

kekuatan yang  fatal  sehingga memicu   manusia tidak  lagi  dapat melakukan

perbuatan yang benar kepada Allah.  Manusia terus menerus memberontak kepada

Allah sehingga membawa mereka pada penghukuman. Namun, dosa asal telah

ditebus oleh darah Kristus saat  seseorang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus

sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

2. Dosa Perbuatan

saat  kita mencapai suatu tingkat pengetahuan di mana kita bisa mengetahui apa

yang benar dan apa yang salah, maka kita bertanggung jawab akan semua yang kita

lakukan. Melalui Adam, kita telah mewarisi dosa asal. Dosa dalam hidup kita

akhirnya juga menghasilkan perbuatan-perbuatan yang melanggar Allah. Perbuatan-

perbuatan yang kita lakukan, walaupun kita tahu sebelumnya bahwa perbuatan itu

salah dan tidak boleh dilakukan, namun  tetap kita lakukan. Bukan hanya itu,  dosa

perbuatan juga kita lakukan saat  kita gagal melakukan sesuatu untuk Allah setelah

hati nurani kita menyuruh kita melakukannya. Dosa-dosa seperti itulah yang disebut

dengan dosa perbuatan. Dosa perbuatan bersifat jamak, baik yang berupa tindakan

secara langsung maupun yang berupa keinginan dan pikiran. Dosa perbuatan ini juga

diperhitungkan oleh Allah. namun  untuk orang yang percaya kepada Kristus, dosa-

dosa  perbuatan  itu  telah  ditebus  oleh  Kristus dan tidak  diperhitungkan lagi  oleh

Allah sebab  jasa kematian dan penderitaan Tuhan Kristus Yesus.

D. Asal Mula Dosa

Manusia  pertama yang diciptakan  Allah  di  dunia  yaitu   Adam.  Allah  menempatkan

manusia pertama ini di taman Eden. Allah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan

manusia dalam taman ini . Selain itu, Allah juga memberikan kehendak bebas kepada

manusia untuk bertindak. Namun, pada kehendak bebas Allah berikan itu ternyata gagal

untuk dipertanggungjawabkan oleh manusia. Manusia tidak menaati peraturan yang

ditetapkan oleh Allah dan manusia lebih mendengarkan perkataan iblis dan mengabaikan

perintah Allah sehingga manusia jatuh ke dalam dosa.

Perdebatan mengenai asal mula kejahatan di dunia seringkali diperdebatkan baik dalam

ranah teologi maupun filsafat. Darimana kejahatan berasal, dan mengapa bisa terjadi,

menjadi suatu masalah yang paling tidak mudah dimengerti, sehingga manusia sangat

tertarik untuk menganalisanya.

Sering kali orang bertanya, "Dari manakah dosa berasal?" Mengenai asal dosa, Alkitab

memang tidak memberikan keterangan yang jelas. Namun, Alkitab cukup jelas

memberitahukan kepada kita bahwa dosa bukan dari Allah dan tidak diciptakan oleh Allah.

Sebab, dalam Alkitab dikatakan dengan jelas bahwa Allah yaitu  suci dan segala sesuatu

yang Tuhan ciptakan yaitu  baik dan sempurna adanya (Kejadian 1:31).

Jadi, dari manakah dosa berasal? Dosa berasal dari hati Lucifer. Lucifer yaitu  seorang

malaikat Tuhan yang  diciptakan oleh Tuhan. Namun, sebab  berbagai kelebihan yang

dimilikinya, ia menjadi sombong dan mulai melawan Tuhan (Yehezkiel 28:15-17; Yesaya

14:13-14). Malaikat yang telah jatuh itulah yang dinamakan Iblis atau Lucifer. Melalui dia

segala jenis dosa dan kejahatan ada di dunia ini.

Iblis yaitu  makhluk yang pertama kali memberontak terhadap Allah. Kemudian ia juga

mengajak manusia ciptaan Allah untuk ikut memberontak terhadap Allah. Sehingga seperti

yang kita ketahui saat ini,  manusia yang memiliki pengetahuan dari Allah telah berdosa

sebab  menentang Allah, sehingga membuat semua orang berdosa dan mereka harus

12

bertanggung jawab atas dosa mereka. Dalam Roma 5:6, 8, 10 dijelaskan tentang

keberadaan dosa dalam diri manusia dengan menunjukkan tiga fakta utama tentang

manusia, yaitu:

1. Ketidakmampuan manusia untuk tunduk dan menaati hukum Allah (Ayat 6)

2. Kesengajaan manusia untuk melanggar batas larangan yang ditentukan Tuhan (Ayat 8)

3. Keputusan moral manusia berdasar  akal budinya untuk melakukan apa yang manusia

tahu tidak seharusnya ia lakukan (Ayat 10)

Alkitab memandang dosa sebagai sesuatu yang serius dan berat, dosa bukan hanya sekadar

kelemahan.  Dosa  sekecil  dan sesedikit  apa  pun merupakan  pelanggaran  yang membuat

manusia menjadi seteru Allah. Pelanggaran terhadap satu hukum Allah merupakan

pelanggaran terhadap semua hukum. Alkitab juga menyebutkan adanya perbedaan kualitas

dosa dan kuantitas dosa.

E. Natur Dosa

Dosa yang diperbuat  Adam telah memicu  adanya perubahan status/kedudukan

manusia,  dari yang "tidak  berdosa"  menjadi "berdosa". Sejak  jatuh  dalam dosa,  status

manusia telah bergeser jauh dari yang ditetapkan oleh Allah. Pergeseran inilah yang

kemudian menjadi sumber dari segala macam dosa. Sejak saat itu, manusia tidak dapat lari

dari kenyataan tentang adanya dosa. Dosa telah masuk dalam seluruh kehidupan manusia

dan memberikan dampak yang buruk dalam keseluruhan aktivitas manusia.

1. Pandangan Umum tentang Dosa

a. Teori Dualistis. Ini yaitu  teori Gnostisisme yang menganggap kebaikan dan dosa

yaitu  dua eksistensi yang berjalan paralel yang bersifat kekal. Jadi, para penganut

teori ini pada dasarnya meyakini bahwa dunia ini diperintah oleh dua kekuatan, yaitu

roh dan materi;  baik  dan buruk;  terang dan gelap,  dan keduanya terus-menerus

saling berperang.

b. Teori yang mengatakan bahwa dosa yaitu  kurangnya hal-hal penting dalam hidup.

Dosa yaitu  eksistensi yang tidak dapat dihindari, sebab  manusia pasti punya

keterbatasan, kelemahan dan ketidak-sempurnaan. Jadi dosa yaitu  akibat dari

keterbatasan manusia.

c. Teori yang mengatakan bahwa dosa yaitu  ilusi. Dosa yaitu  ketidakcukupan

pengetahuan manusia, khususnya yang didapat manusia melalui panca indra. Oleh

sebab  itu, panca indra menjadi alat dosa.

d. Teori  bahwa dosa yaitu   kesadaran  kebutuhan akan Allah.  Bahwa di  dalam diri

manusia ada suatu tempat yang kosong dan hanya Allah yang bisa mengisinya. Jika

manusia tidak menyadari akan kebutuhannya ini , maka ia akan merasa bersalah

dan berdosa.

e. Teori bahwa dosa hanyalah mencakup tindakan saja. Pada umumnya manusia

melihat perbuatan salah sebagai apa yang dilakukan atau tidak dilakukan saja, namun 

tidak sebagai apa yang dipikirkan seseorang.

f. Teori bahwa dosa yaitu  ketamakan. Bahwa pada dasarnya semua dosa dipicu oleh

nafsu ketamakan atau keserakahan manusia untuk memiliki lebih dari apa yang ia

miliki.

g. Teori bahwa dosa yaitu  kecenderungan natur manusia yang lebih rendah menuju

pada kesadaran moral yang lebih tinggi (pengaruh Teori Evolusi).

2. Pandangan Alkitab tentang Sifat-Sifat Dosa

a. Dosa tidak memiliki eksistensi yang independen. Dosa bukanlah suatu esensi atau

substansi diri manusia (tidak tercipta bersama penciptaan manusia), tapi suatu

"kejadian kecelakaan" yang memicu  kecacatan dalam diri manusia yang

12

mulanya baik. Agustinus menyebutnya sebagai "Privatio Boni" (hilangnya

kebaikan). Dosa tidak mengubah esensi tapi mengubah arah hidup manusia. Struktur

gambar Allah (esensi  yang Allah karuniakan kepada manusia)  masih ada,  namun 

tidak  lagi  memberikan  fungsi  yang seharusnya,  bahkan menyimpang  dari  fungsi

yang telah ditentukan Allah, sehingga berbalik dipakai untuk menentang Allah.

b. Dosa yaitu  jenis kejahatan yang sangat spesifik. Dosa yaitu  kejahatan moral yang

aktif  sebab   manusia  yaitu   makhluk  berakal,  sehingga  dosa  yang  dilakukannya

merupakan pilihan manusia sendiri (sengaja). Oleh sebab  itu, dosa menghasilkan

permusuhan aktif dengan Allah.

c. Dosa memiliki sifat mutlak. Tidak ada keadaan yang netral antara baik dan jahat.

Jika seseorang tidak dalam status yang benar,  ia  pasti  ada di  posisi yang salah,

sebab  tidak ada pilihan lain di antaranya. Oleh sebab  itu, Alkitab selalu mengajak

orang berdosa berbalik dari statusnya yang berdosa. Artinya, posisi manusia yang

berdosa harus diubah secara total.

d. Dosa selalu memiliki hubungan dengan pelanggaran akan kehendak Allah. Bahkan

untuk orang yang belum mengenal Allah, dosa merupakan pelanggaran akan norma