an Yahwis, Elohis,
Deuteronomis, dan Keimaman, dengan banyak penulis.17 Dalam ke
sempatan ini, kita hanya dapat menunjukkan bukti-bukti kepenu-
lisan Musa secara singkat. Pertama, diketahui secara umum bahwa
sejumlah besar orang yang hidup pada zaman Hamurabi dapat mem
baca dan menulis; bahwa silsilah sudah dikenal di Babilonia bebe
rapa abad sebelum masa hidup Abraham; bahwa Abraham mungkin
saja membawa lembaran-lembaran tulisan kuno yang berisi silsilah
semacam itu saat pindah dari Haran ke Kanaan; dan bahwa de
ngan cara demikian dapat saja Musa memiliki suatu silsilah tertentu.
Apakah Musa memang mempunyai silsilah semacam itu atau tidak,
ataukah karena Musa hanya memiliki tradisi lisan saja, ataukah
Musa hanya memperoleh penyataan langsung dari Allah, atau kom
binasi dari semua faktor ini , sarjana-sarjana teologi yang kon
servatif senantiasa berkeyakinan bahwa Musalah yang menulis kitab
Kejadian.
17 Untuk pernyataan rangkuman, evaluasi, serta penolakan pendapat ini, lihat Allis,
The Five Books of Moses; Archer, A Survey of Old Testament Introduction, hal.
73-154; dan Harrison, Introduction to the Old Testament, hal. 495-541.
Selanjutnya, dalam keempat kitab Pentateukh yang lain, Musa
berkali-kali disebut sebagai penulis isi kitab-kitab itu. Ia ditugaskan
untuk menulis (Keluaran 17:14; 34:27), dan tercatat bahwa Musa
memang menuliskannya (Keluaran 24:4; 34:28; Bilangan 33:2;
Ulangan 31:9, 24). Apa yang ditulis Musa dianggap sebagai "per
kataan hukum Taurat yang tertulis dalam kitab ini" (Ulangan 28:58),
Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 79
"kitab Taurat ini" (Ulangan 28:61; 30.T0; 31:26), "kitab ini" (Ulang
an 29:20, 27), "kitab hukum Taurat ini" (Ulangan 29:21), dan "per
kataan hukum Taurat" (Ulangan 31:24). Tambahan pula, tiga belas
kali di dalam kitab-kitab lainnya di Perjanjian Lama Musa disebut
sebagai penulis sebuah kitab. Kitab itu disebut "kitab hukum Musa"
atau "kitab Taurat Musa" (Yosua 8:31; 23:6; II Raja-Raja 14:6),
"hukum Musa" atau 'Taurat Musa" (I Raja-Raja 2:3; II Tawarikh
23:18; Daniel 9:11), dan "kitab Musa" (Nehemia 13:1).
Dalam Perjanjian baru Tuhan Yesus Kristus sering kali berbicara
tentang "Musa" sebagai sebuah kitab (Lukas 16:29; 24:27, banding
kan dengan Yohanes 7:19). Tuhan Yesus juga menyebutkan ber
bagai ajaran dalam Pentateukh sebagai berasal dari Musa (Matius
8:4; 19:7-8; Markus 7:10; 12:26; Yohanes 7:22, 23). Pernah Yesus
berbicara tentang tulisan-tulisan Musa (Yohanes 5:47). Berbagai
penulis Perjanjian Baru berbicara juga tentang Musa sebagai sebuah
kitab (Kisah 15:21; II Korintus 3:15) dan sebagai "hukum Musa"
(Kisah 13:39; I Korintus 9:9; Ibrani 10:28; bandingkan dengan
Yohanes 1:45). Para penulis Perjanjian Baru juga mengatakan bah
wa beberapa ajaran ini dalam Pentateukh berasal dari Musa
(Kisah 3:22; Roma 9:15; Ibrani 8:5; 9:19).
Beberapa bukti internal lainnya tentang kepenulisan Musa dapat
juga dikemukakan dalam kesempatan ini. Penulis Pentateukh jelas
merupakan seorang saksi mata peristiwa keluarnya bani Israel dari
Mesir; ia menunjukkan bahwa ia mengenal negeri Mesir, geografi
nya, flora dan faunanya; ia juga memakai beberapa istilah Mesir;
dan ia menyebutkan kebiasaan-kebiasaan yang dapat dirunut
ke tahun 2000 Sebelum Masehi. Harrison menyimpulkan:
Pentateukh merupakan komposisi homogen yang terdiri atas lima jilid, dan
bukan kumpulan acak-acakan dari berbagai karya yang terpisah dan
mungkin bahkan hanya sedikit sekali hubungannya. Pentateukh dengan ber
latarkan sejarah yang jelas, memerikan cara yang dipakai Allah untuk
menyatakan diri-Nya sendiri kepada manusia dan memilih bangsa Israel
untuk suatu pelayanan dan kesaksian yang khusus dalam dunia dan dalam
arus sejarah umat manusia. Peranan Musa sangat menonjol dalam muncul
nya karya akbar ini, dan bukan tanpa alasan yang kuat Musa memperoleh
tempat penghormatan yang tinggi dalam perkembangan sejarah bangsa
Israel, dan dijunjung tinggi oleh orang-orang Yahudi maupun orang-orang
Kristen sebagai perantara hukum yang lama.18
18 Harrison, Introduction to the Old Testament, hal. 541.
80 Bibliologi
2. Keaslian kitab-kitab para nabi. Orang Ibrani mengenal nabi-
nabi yang terdahulu dan nabi-nabi yang kemudian. Dalam golongan
yang pertama ada kitab Yosua, Hakim-Hakim, I dan II Samuel,
I dan II Raja-Raja; sedangkan yang termasuk kitab-kitab para nabi
yang kemudian ialah Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Nabi-nabi
Kecil. Pertama, bila kita melihat golongan kitab nabi-nabi yang ter
dahulu, maka tidak ada alasan untuk menolak pandangan
tradisional bahwa Yosua menulis kitab yang berjudul Yosua, dan
Samuel menulis kitab Hakim-Hakim. Jelas bahwa kitab Hakim-
Hakim ditulis setelah kerajaan Israel berdiri (19:1; 21:25) dan sebe
lum Daud naik takhta (1:21, bandingkan II Samuel 5:6-8). Dalam
I Tawarikh 29:29 membaca tentang hal-hal yang "tertulis dalam
riwayat Samuel, pelihat itu, dan dalam riwayat Nabi Natan, dan
dalam riwayat Gad, pelihat itu." Oleh karena itu, tradisi merasa sah
beranggapan bahwa I Samuel 1-24 ditulis oleh Samuel dan
I Samuel 25—II Samuel 24 ditulis oleh Natan dan Gad. Umumnya
Yeremia dianggap sebagai penulis kitab I dan II Raja-Raja; setidak-
tidaknya penulis kedua kitab ini merupakan orang yang hidup
sezaman dengan Yeremia. Kitab Raja-Raja berbicara soal kitab
riwayat Salomo (I Raja-Raja 11:41), kitab sejarah raja-raja Israel (I
Raja-Raja 14:19), dan kitab sejarah raja-raja Yehuda (I Raja-Raja
14:29); dan sering kali ada sisipan laporan saksi mata dalam
bagian-bagian yang menulis tentang Elia, Elisa, dan Mikha, di mana
materi yang lebih tua telah dipakai.
Kedua, kitab nabi-nabi yang kemudian juga asli.19 Perbuatan
dan tindakan Raja Hizkia dikatakan "tertulis dalam penglihatan
Nabi Yesaya bin Amos" (II Tawarikh 32:32). Yesaya juga dikatakan
telah menulis "riwayat Uzia dari awal sampai akhir" (II Ta
warikh 26:22). Kitab nubuat Yesaya dihubungkan dengan dia (1:1).
Yesus dan para rasul-Nya berbicara tentang tulisan-tulisan Yesaya,
dan bahkan menyebutkan dia sebagai penulis bagian-bagian yang
dewasa ini masih merupakan persoalan yang hangat (Matius 8:17,
bandingkan dengan Yesaya 53:4; Lukas 4:17-18, bandingkan de
ngan Yesaya 61:1; Yohanes 12:38-41, bandingkan dengan Yesaya
53:1 dan 6:10). Yeremia mendapatkan perintah, 'Tuliskanlah segala
perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu dalam suatu kitab"
(Yeremia 30:2), dan kita diberi tahu bahwa Yeremia, "menuliskan
19 Untuk pengantar yang bagus kepada kitab para nabi Perjanjian Lama, lihat
Freeman, An Introduction to the Old Testament Prophets.
Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 81
dalam sebuah kitab segenap malapetaka yang akan menimpa Babel"
(Yeremia 51:60). Sudah pasti, Barukh menjadi jurutulis Yeremia
dalam penulisan sebagian besar kitab Nabi Yeremia (Yeremia 36,
bandingkan 45:1). Yehezkiel juga diperintahkan untuk menulis
(24:2; 43:11), seperti juga halnya Habakuk (2:2). Pada umumnya
para sarjana Alkitab konservatif menganggap bahwa nama yang ter
cantum pada awal setiap kitab nubuat dimaksudkan sebagai nama
dari penulis kitab ini . Bahkan Maleakhi nampaknya dimaksud
kan untuk menunjukkan nama pengarang maupun nama kitab itu
sendiri, dan bukan merupakan rujukan dari pasal 3:1.
3. Keaslian Kethubhim atau kitab-kitab puisi. Kitab-kitab yang
masih tersisa dibagi lagi menjadi tiga kelompok, yaitu: kelompok
kitab-kitab puisi yang terdiri atas Mazmur, Amsal, dan Ayub;
Megiloth yang terdiri atas Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhot
bah, dan Ester; dan kitab-kitab sejarah yang tidak mengandung
nubuat, misalnya Daniel, Ezra, Nehemia, dan kitab-kitab Tawarikh.
Beberapa hal dapat dicamkan dalam rangka pembahasan kita saat
ini. Mengenai kitab Mazmur dan karya-karya Salomo, kita mem
baca dalam Alkitab tentang adanya tulisan Daud dan tulisan
Salomo, anaknya (II Tawarikh 35:4). Sekalipun catatan-catatan
yang mengawali mazmur-mazmur tidak termasuk naskah asli, na
mun catatan-catatan ini biasanya dianggap benar. Dari seratus
lima puluh mazmur, seratus di antaranya memiliki penulis yang
jelas: 73 ditulis oleh Daud, 11 oleh bani Korah, 12 oleh Asaf, 2
oleh Salomo, 1 oleh Etan, dan 1 oleh Musa. Lima puluh mazmur
lainnya tidak diketahui siapa penulisnya. Menurut pembukaan kitab
Amsal, Salomo menulis pasal 1-24. Salomo juga menulis pasal 25-
29 walaupun di dalam kenyataan pasal-pasal ini disalin dari tulisan
nya oleh orang-orang pada zaman Raja Hizkia. Pasal 30 menurut
catatan ditulis oleh Agur bin Yake dan pasal 31 ditulis oleh Raja
Lemuel. Kitab Ayub tidak memberi tahu nama penulisnya, namun
tidaklah mustahil bahwa Ayub sendirilah yang menulis kitab itu.
Kita menganggap bahwa kitab itu secara benar dan saksama men
catat pengalaman Ayub yang hidup pada zaman leluhur Israel, dan
bahwa kitab Ayub bukan sekadar karya sastera yang akbar saja.
Siapa lagi selain Ayub sendiri yang dapat mengisahkan dengan tepat
dan terinci pengalaman-pengalaman serta percakapan-percakapan-
nya dan juga ucapan Elifas, Bildad, Zofar, Elihu, dan Allah?
82 Bibliologi
Kitab Kidung Agung tercatat juga ditulis oleh Salomo (1:1), dan
tidak ada alasan untuk meragukan kebenaran ayat ini . Archer
menulis, "Merupakan tradisi gereja Kristen untuk beranggapan de
ngan teguh sampai masa modem saat ini bahwa Kidung Agung
merupakan karya asli Salomo."20 Kitab Rut sering kali dikaitkan
dengan kitab Hakim-Hakim dan mungkin ditulis oleh orang yang
sama, yaitu mungkin Samuel. Sekalipun diakui oleh Davis,
"Kenyataan ini tidak dapat dibuktikan."21 Kenyataan bahwa nama
Daud disebut di dalam kitab ini (Rut 4:22) dan bukan nama Salomo
mendukung pendapat bahwa kitab ini ditulis tidak lebih kemudian
daripada zaman Daud.
20 Archer, A Survey of Old Testament Introduction, hal. 472, 473.
21 Davis, Conquest and Crisis, hal. 156.
22 Whitcomb, "Esther," The Wycliffe Bible Commentary, hal. 447.
Kitab Ratapan dipertalikan dengan Yeremia oleh Alkitab kita,
dan tradisi gereja selama ini beranggapan bahwa Yeremialah penulis
kitab ini . Cara pengungkapan dan garis pembahasan yang di
telusuri memiliki banyak persamaan dengan kitab Yeremia sehingga
kita dengan cukup meyakinkan dapat mengatakan bahwa Yeremia
yaitu penulis kitab ini. Dikatakan bahwa kitab Pengkhotbah yaitu
"perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem" (1:1), dan
ungkapan ini umumnya ditafsirkan sebagai menunjuk kepada
Salomo. Hikmat penulis yang tidak ada bandingannya disebut (1:16)
dan karya-karya akbar yang dihasilkannya (2:4-11). Sampai zaman
Reformasi, kitab ini dianggap ditulis oleh Salomo baik oleh kaum
cendekiawan Yahudi dan Kristen, dan sebagian besar sarjana
Alkitab konservatif masih berpendapat demikian, meskipun ter
dapat sedikit bukti linguistik bahwa kitab ini boleh jadi ditulis oleh
orang lain.
Kitab Ester kemungkinan besar ditulis oleh si Yahudi Mordekhai,
yang sangat paham akan peristiwa yang tercatat dalam kitab ini,
namun pasal 10:2-3 nampaknya tidak mendukung pendapat ini.
Whitcomb berkesimpulan, 'Penulis kitab ini pastilah seorang Ya
hudi yang hidup di Persia pada saat peristiwa-peristiwa ini terjadi
dan yang bisa mendapatkan masukan dari naskah-naskah kerajaan
Media dan Persia (2:23; 9:20; 10:2)."22 Para kritikus umumnya se
tuju bahwa kitab ini ditulis oleh seorang Yahudi Persia karena tidak
ada tanda-tanda kitab ini ditulis di Palestina. Diakui bahwa gaya
Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 83
penulisannya dari masa sesudah masa Ester, yaitu kira-kira ber
samaan dengan kitab Ezra, Nehemia, dan Tawarikh.
Kitab Daniel sudah pasti ditulis oleh negarawan yang menyan
dang nama ini . Penulis kitab ini memperkenalkan dirinya
sebagai Daniel dan menulis dengan memakai kata ganti orang per
tama (7:2; 8:1, 15; 9:2; 10:2). Selanjutnya, Daniel memperoleh tu
gas untuk memelihara kitab ini (12:4). Jelas sekali ada kesa
tuan dalam gaya penulisan kitab ini, dengan berkali-kali disebut
kannya nama Daniel. Yesus menyatakan bahwa kitab ini ditulis oleh
Daniel (Matius 24:15). Para sarjana konservatif menetapkan tanggal
penulisan kitab ini sekitar abad ke-6 SM. Akan namun , karena
menolak kemungkinan terjadinya nubuat yang menubuatkan masa
depan, para kritikus modem pada umumnya beranggapan bahwa
kitab ini ditulis pada masa Makabe yaitu sekitar 168-165 SM.
Kitab Ezra pastilah ditulis oleh Ezra sang ahli Taurat. Karena
sebagian kitab ini memakai kata ganti orang pertama tunggal dan
ditulis oleh seorang yang disebutkan sebagai Ezra (7:28, bandingkan
7:1), dan karena kitab ini menunjukkan kesatuan gaya penu
lisan, "nampaknya tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa
bagian sisa kitab ini juga ditulis oleh Ezra."23
23 Young, An Introduction to the Old Testament, hal. 370.
Kitab Nehemia pasti juga ditulis oleh Nehemia, juruminuman
raja Persia. Kenyataan ini jelas dari kata-kata pembukaan kitab ini,
"Riwayat Nehemia bin Hakhalya" (1:1), serta kenyataan bahwa ber
kali-kali penulis memakai kata ganti orang pertama. Kitab ini ditulis
pada zaman Nabi Maleakhi, sekitar 424-395 SM. Para kritikus me
nempatkan kitab-kitab Tawarikh pada tingkatan yang jauh lebih ren
dah daripada kedua kitab Raja-Raja. Alasan sikap ini nam
paknya karena kitab Raja-Raja membahas aspek-aspek nubuat dari
sejarah, sedangkan kitab Tawarikh lebih mengutamakan aspek-
aspek keimaman. Tradisi mengatakan bahwa kitab Tawarikh ditulis
oleh Ezra. Kedudukan kedua kitab Tawarikh ini dalam kanon Alki
tab, yaitu berakhirnya sejarahnya dengan peristiwa yang sama yang
memulai kitab Ezra, serta kesamaan gaya penulisan menjadikan
anggapan tradisional ini sebagai sangat berkemungkinan. Nampak
nya kedua kitab Tawarikh ini ditulis sekitar 450-425 SM sebelum
kitab Ezra.
84 Bibliologi
B. KEASLIAN KITAB-KITAB PERJANJIAN BARU
Mengenai pokok bahasan ini sidang pembaca kembali kami saran
kan untuk membaca karya-karya tentang Pengantar Perjanjian Baru,
khususnya karya-karya dalam bahasa Inggris,24 namun dalam ke
sempatan ini ada beberapa hal yang dapat diperhatikan secara ring
kas. Kritisisme modern makin lama makin mendekati pandangan
tradisional tentang tanggal dan penulis beberapa kitab Perjanjian
Baru. Ada alasan yang cukup kuat bahwa Injil-Injil Sinoptis ditulis
menurut urutan Matius-Lukas-Markus. Origenes sering kali me
ngutip kitab-kitab Injil ini berdasarkan urutan itu, sedangkan Kle-
mens dari Aleksandria yang hidup sebelum Origenes mendahu
lukan Injil-Injil yang berisi silsilah sebelum Injil yang tidak ada
silsilah karena Klemens mengikuti tradisi para penatua sebelum
dia.25 Pandangan ini didukung oleh pertimbangan bahwa Injil-Injil
ditulis karena situasi dan kondisi masa itu. Tradisi menyatakan bah
wa Matius berkhotbah di daerah Palestina selama lima belas tahun
dan bahwa setelah itu ia memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa
lain. Berdasarkan pernyataan Papias yang terkenal bahwa "Matius
menyusun Logia (Injil) dalam bahasa Ibrani atau Aram," maka kita
harus berkesimpulan bahwa sangat masuk akal sekali Matius me
ninggalkan kitab ini saat meninggalkan Palestina sekitar ta
hun 45 Masehi, dan bahwa tidak lama kemudian ia menulis Injil
dalam bahasa Yunani yang sampai kepada kita, bagi para pendengar
barunya yaitu sekitar tahun 50 Masehi. Juga ada persetujuan
umum bahwa Injil yang kedua ditulis oleh Yohanes Markus. Ber
dasarkan keterangan mengenai situasi saat itu dan beberapa bukti
internal dari naskah itu sendiri dapat diduga bahwa Injil Markus
ditulis sekitar tahun 67 atau 68 Masehi. Juga ada kesepakatan
umum bahwa Lukas menulis Injil yang ketiga. Nampaknya kitab
ini ditulis sekitar tahun 58 Masehi.
24 Lihat Hiebert, An Introduction to the New Testament, 3 jilid; dan Guthrie, New
Testament Introduction.
25 Eusebius, Ecclesiastical History, VI:xiv.
Injil Yohanes ditolak oleh beberapa pihak karena Injil ini me
nekankan keilahian Kristus. Dikatakan bahwa Injil-Injil Sinoptis ti
dak pernah menganut pandangan semacam itu tentang Kristus se
lama abad yang pertama. Namun anggapan ini tidak benar karena
dalam Injil-Injil Sinoptis keilahian Kristus juga cukup ditonjolkan.
Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 85
Penemuan Papirus 52, yang berisi 5 ayat dari Yohanes pasal 18
dan bertanggalkan belahan pertama abad kedua telah banyak
berjasa dalam menetapkan tanggal penulisan Injil Yohanes. Metzger
menulis, "Seandainya fragmen kecil ini sudah diketahui orang pada
pertengahan pertama abad yang lampau, maka kelompok kri
tik Perjanjian Baru yang dijiwai oleh mahaguru yang kenamaan dari
Tubingen, Ferdinand Christian Baur, tidak akan dapat mengemuka
kan bahwa Injil keempat baru ditulis pada tahun 160 Masehi."26
26 Metzger, The Text of the New Testament, hal. 39.
Kitab Kisah Para Rasul dewasa ini umumnya dianggap telah di
tulis oleh Lukas, tokoh yang sama yang menulis Injil yang ketiga.
Sepuluh surat kiriman yang dikenal dengan sebutan Surat-surat
Paulus dewasa ini diakui sebagai berasal dari Rasul Paulus sendiri.
Berdasarkan gaya penulisan yang berlainan masih ada keragu-ragu
an apakah Surat-surat Penggembalaan itu ditulis oleh Rasul Paulus.
Namun perubahan gaya penulisan dapat juga disebabkan oleh per
gantian pokok bahasan dan usia penulisnya.
Surat Ibrani tidak memberi tahu nama penulisnya dan tidak ada
yang mengetahui siapa yang telah menulis surat ini . Sudah
pasti, surat ini ditulis oleh seorang Kristen yang berpengetahuan
tinggi sekitar tahun 67 dan 69 Masehi. Surat Yakobus dan Yudas
pasti ditulis oleh dua orang saudara sekandung Yesus Kristus. Per
tama dan Kedua Petrus ditulis oleh Rasul Petrus. Beberapa orang
meragukan bahwa Surat Petrus yang Kedua ditulis oleh Petrus ka
rena ada perbedaan gaya penulisan dengan surat yang pertama. Na
mun tidaklah mustahil bahwa dalam menulis surat yang pertama
Petrus didampingi oleh Silwanus sebagai sekretarisnya (I Petrus
5:12) sehingga gaya penulisan Silwanus sedikit banyak juga mem
pengaruhi bentuk surat ini , sedangkan pada waktu menulis
surat yang kedua Petrus tidak dibantu oleh Silwanus.
Ketiga Surat Yohanes beserta kitab Wahyu ditulis oleh Rasul
Yohanes. Perbedaan gaya penulisan dalam kitab Wahyu dengan
gaya penulisan ketiga surat itu dapat dijelaskan dengan cara yang
sama sebagaimana kita menjelaskan perbedaan gaya penulisan surat
I dan II Petrus. Maksudnya, Yohanes mungkin memperoleh bantuan
saat menulis surat-suratnya sedangkan kitab Wahyu ditulisnya
sendiri. Lagi pula, pokok yang dibahas dalam kitab Wahyu itu de
ngan sendirinya menyebabkan perubahan dalam gaya penulisan.
86 Bibliologi
Pandangan semacam ini samasekali tidak mempengaruhi masalah
pengilhaman karena kami menganut pengilhaman hasil penulisan
dan bukan pengilhaman penulisnya.
II. KREDIBILITAS KITAB-KITAB DALAM
ALKITAB
Sebuah kitab dinyatakan dapat dipercaya bila mengulas masalah
yang dibahasnya dengan benar, sesuai kenyataan. Sebuah kitab di
katakan tidak dapat dipercaya bila naskah yang ada sekarang ini
tidak sama dengan naskah aslinya. Dengan demikian kredibilitas
meliputi baik kebenaran apa yang dicatat maupun kemurnian nas
kah. Berikut secara singkat akan dibahas masalah kredibilitas Per
janjian Lama dan Perjanjian Baru.
A. KREDIBILITAS KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA
Kredibilitas kitab-kitab Perjanjian Lama ditetapkan oleh kedua ke
nyataan yang besar:
1. Bukti berdasarkan pengakuan Kristus terhadap Perjanjian
Lama. Kristus menerima Perjanjian Lama sebagai naskah yang se
cara benar mencatat peristiwa-peristiwa dan ajaran-ajaran yang ter
cantum di dalamnya (Matius 5:17-18; Lukas 24:27, 44-45; Yohanes
10:34-36). Dengan tegas sekali Yesus menerima berbagai ajaran
Perjanjian Lama sebagai benar, misalnya, penciptaan alam semesta
oleh Allah (Markus 13:19), penciptaan manusia secara langsung
(Matius 19:4-5), kepribadian Iblis serta perangainya yang sangat
jahat (Yohanes 8:44), pembinasaan dunia dengan air bah pada
zaman Nuh (Lukas 17:26-27), penghancuran Sodom dan Gomora
serta pelepasan keluarga Lot (Lukas 17:28-30), penyataan Allah
kepada Musa (Markus 12:26), Musa sebagai penulis Pentateukh
(Lukas 24:27), pemberian manna di padang gurun (Yohanes 6:32),
adanya Kemah Suci (Lukas 6:3-4), pengalaman Yunus di dalam
perut ikan (Matius 12:39-40), kesatuan amanat kitab Yesaya
(Matius 8:17; Lukas 4:17-18). Jika Yesus itu Allah yang dinyatakan
dalam keadaan manusia, maka pastilah Ia mengetahui semua fakta
dalam sejarah Perjanjian Lama, dan karena Ia mengetahuinya, Ia
tidak akan menyesuaikan diri dengan pandangan-pandangan salah
Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 87
pada zaman itu apalagi dalam hal pokok-pokok ajaran yang sepen
ting itu. Dengan demikian, kesaksian-Nya harus diterima sebagai
benar atau kita tidak menerima Dia sebagai guru bila kita tidak
menerima kesaksian-Nya sebagai benar.
2. Bukti berdasarkan sejarah dan arkeologi. Sejarah memberikan
banyak bukti bahwa gambaran Alkitab tentang kehidupan di Mesir,
Asyur, Babilonia, Media-Persia, dan lain-lain itu sesuai dengan
kenyataan. Beberapa raja dari berbagai bangsa ini disebutkan dalam
Alkitab, dan tak seorang pun yang ditampilkan secara tidak sesuai
dengan fakta sejarah yang diketahui tentang raja ini . Kabarnya,
Salmaneser IV telah mengepung kota Samaria, namun dikatakan
bahwa raja Asyur, yang saat ini dikenal sebagai Raja Sargon II,
telah membawa penduduk Samaria ke Asyur (II Raja-Raja 17:3-6).
Sejarah menunjukkan bahwa Sargon II memerintah dari 722-705
SM. Nama Sargon II disebut hanya sekali dalam Alkitab (Yesaya
20:1). Belsyazar (Daniel 5:1-30) maupun Darius orang Media
(Daniel 5:30-6:28) sekarang tidak lagi dianggap sebagai tokoh-
tokoh isapan jempol belaka.
Arkeologi juga menyajikan banyak bukti yang menguatkan
catatan Alkitab. "Epik Penciptaan" dari Babilonia, sekalipun tidak
secara langsung menguatkan kisah penciptaan alam semesta me
nurut kitab Kejadian, namun sanggup menunjukkan bahwa gagasan
penciptaan khusus bukanlah gagasan yang asing pada waktu itu.
Hal yang sama dapat dikatakan mengenai legenda-legenda
Babilonia tentang peristiwa kejatuhan dalam dosa. Yang lebih pen
ting ialah lembaran tanah liat yang ditemukan di Babilonia dan
berisi kisah air bah yang mengandung banyak sekali kemiripan de
ngan kisah Alkitab. Pertempuran para raja (Kejadian 14) kini tidak
lagi dipandang dengan rasa curiga karena tulisan yang ditemukan
di Lembah Efrat menunjukkan bahwa keempat raja yang menurut
Alkitab ikut dalam ekspedisi itu disebutkan sebagai tokoh-tokoh
yang memang betul-betul ada. Lembaran-lembaran Nuzi menjelas
kan tindakan Sara dan Rakhel memberikan hamba perempuan
mereka kepada suami masing-masing. Tulisan dan abjad Mesir kuno
menunjukkan bahwa orang sudah bisa menulis lebih dari seribu
tahun sebelum masa hidup Abraham. Arkeologi juga menguatkan
bahwa bani Israel tinggal di Mesir, bahwa mereka diperbudak di
sana, dan bahwa akhirnya mereka meninggalkan Mesir. Bangsa Het,
88 Bibliologi
yang dahulu diragukan, terbukti merupakan bangsa yang sangat ber
pengaruh di kawasan Asia Kecil dan Palestina pada waktu yang
disebut dalam Alkitab. Lembaran-lembaran Tel el-Amama mem
buktikan bahwa kitab Hakim-Hakim dapat dipercayai. Dan seiring
dengan bertambah majunya arkeologi, tidak dapat disangkal lagi
bahwa makin banyak informasi akan diketahui yang akan mendu
kung kecermatan hal-hal yang tersurat dalam Alkitab.
B. KREDIBILITAS KITAB-KITAB PERJANJIAN BARU
Kredibilitas kitab-kitab Perjanjian Baru dapat ditetapkan oleh empat
fakta yang besar.
1. Para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru yaitu orang-orang
yang mengetahui betul apa yang ditulisnya. Mereka berkualifikasi
untuk memberi kesaksian serta mengajarkan kebenaran ilahi.
Matius, Yohanes, dan Petrus merupakan murid-murid Kristus dan
saksi mata atas setiap perbuatan dan ajaran-Nya (II Petrus 1:18;
I Yohanes 1:1-3). Markus, menurut catatan Papias, yaitu penafsir
Petrus dan ia telah menulis secara teliti apa yang diingatnya dari
ajaran Petrus. Lukas merupakan rekan seperjalanan Paulus dan,
menurut catatan Ireneus, ia mencatat dalam sebuah kitab Injil yang
diberitakan oleh Paulus. Paulus jelas sekali telah dipanggil dan
ditugaskan oleh Kristus dan ia sendiri mengakui bahwa ia menerima
Injil dari Kristus sendiri (Galatia 1:11-17). Yakobus dan Yudas
yaitu saudara sekandung Yesus Kristus, dan amanat mereka sam
pai kepada kita dengan berlatarbelakangkan kenyataan ini. Mereka
semua telah diurapi Roh Kudus sehingga dengan demikian mereka
menulis bukan sekadar berdasarkan ingatan mereka sendiri, hal-hal
yang disampaikan secara lisan maupun tertulis, serta pemahaman
rohani tertentu, namun sebagai orang-orang yang diberi kemampuan
khusus oleh Roh Kudus untuk tugas itu.
2. Para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru yaitu orang-orang
yang jujur. Nada moral dalam tulisan mereka, sikap yang jelas men
junjung tinggi kebenaran, serta sifat teliti dan terinci dari kisah-
kisah yang mereka tulis menunjukkan bahwa mereka bukanlah
penipu, melainkan orang yang jujur. Kejujuran mereka juga nampak
dari kenyataan bahwa kesaksian mereka sebenarnya membahayakan
status sosial, harta kekayaan, dan bahkan nyawa mereka sendiri.
Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 89
Apa gunanya mengarang sebuah cerita yang mengutuk segala ke
munafikan dan yang bahkan bertentangan dengan kepercayaan
tradisional mereka, apalagi dengan risiko kehilangan nyawa?
3. Tulisan-tulisan mereka saling melengkapi. Injil-Injil Sinoptis
tidak memberikan kesaksian yang saling berlawanan namun justru
saling melengkapi. Injil Yohanes dapat juga dianggap sebagai
melengkapi kesaksian Injil-Injil Sinoptis. Kisah Para Rasul menye
diakan latar belakang historis untuk sepuluh Surat Kiriman Rasul
Paulus. Surat-Surat Penggembalaan tidak perlu disesuaikan dengan
sejarah Kisah Para Rasul, karena dalam surat-surat ini tidak
diisyaratkan bahwa mereka termasuk dalam masa yang diliput oleh
kitab Kisah Para Rasul. Surat Ibrani, surat-surat umum lainnya mau
pun kitab Wahyu dapat dengan mudah dimasukkan dalam periode
abad pertama Masehi. Dari segi doktrin, kitab-kitab Perjanjian Baru
ini juga saling melengkapi. Keilahian Kristus disebut dalam Injil-
Injil Sinoptis maupun Injil Yohanes. Paulus dan Yakobus tidak sa
ling bertentangan, namun mereka berdua menyajikan masalah iman
dan perbuatan baik dari sudut pandang yang berbeda. Hal yang
mereka tekankan berbeda, namun pemikiran pokok mereka tidak.
ada perkembangan dalam penyajian doktrin-doktrin dari Injil-
Injil sampai kepada Surat-Surat Kiriman, namun perkembangan itu
tidaklah merupakan kontradiksi. Kedua puluh tujuh kitab Perjanjian
Baru menyajikan suatu gambaran yang sangat harmonis tentang diri
dan karya Yesus Kristus. Kenyataan ini ikut mendukung kredibilitas
kitab-kitab ini .
4. Isi kitab-kitab Perjanjian Baru cocok dengan sejarah dan
pengalaman. Dalam Perjanjian Baru ada banyak sekali catatan
tentang sejarah pada zaman itu, misalnya sensus penduduk yang
diselenggarakan sewaktu Kirenius menjadi gubernur di Siria (Lukas
2:2), perbuatan Herodes Agung (Matius 2:16-18), tindakan Herodes
Antipas (Matius 14:1-12), tindakan Herodes Agripa II (Kisah 25:13-
26:32), dan seterusnya, dan sampai sejauh ini tak seorang pun
sanggup menunjukkan bahwa apa yang dikatakan oleh Alkitab ber
tolak belakang dengan kenyataan sejarah yang diperoleh dari nas
kah-naskah lain yang dapat dipercaya. Mengenai pengalaman, su
dah kami katakan bahwa bila kita mempercayai adanya Allah yang
berkepribadian, mahakuasa, dan penuh kasih, maka mukjizat men-
90 Bibliologi
jadi sangat tidak mustahil. Sekarang mukjizat-mukjizat jasmaniah
tidak muncul sesering dahulu karena memang tidak diperlukan
sebagaimana mereka diperlukan saat itu. Mukjizat-mukjizat ter
sebut dimaksudkan untuk memperkuat penyataan Allah saat itu
disampaikan untuk pertama kalinya, namun karena sekarang ke
kristenan sudah diterima, maka mukjizat-mukjizat itu tidak lagi
diperlukan. Akan namun , mukjizat-mukjizat rohaniah masih bermun
culan dengan berkelimpahan. Dengan demikian kita dapat menga
takan bahwa tidak ada sesuatu pun dalam sejarah atau pengalaman
yang bertolak belakang dengan apa yang ada dalam Perjanjian
Baru.
III. KANONITAS KITAB-KITAB DALAM ALKITAB
Kembali pembahasan kita harus bersifat sangat umum. Istilah
"kanon" berasal dari kata Yunani kanon. Artinya, pertama-tama,
sebuah tongkat; kemudian menjadi berarti tongkat pengukur; dan
akhirnya menjadi tolok ukur atau patokan. Kedua, kanon juga ber
arti keputusan berwibawa dari sebuah dewan gereja; dan ketiga,
bila dikaitkan dengan Alkitab, kanon berarti kitab-kitab yang telah
diselidiki, dan dinyatakan memenuhi syarat, serta diakui sebagai
diilhamkan oleh Allah sendiri.
A. KANONITAS KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA
Kembali perlu ditekankan bahwa pembahasan kitab per kitab harus
diserahkan kepada buku Pengantar Alkitab, namun beberapa hal
yang umum kiranya perlu dijelaskan di sini. Pembagian kitab-kitab
Perjanjian Lama menjadi tiga kelompok, Taurat, Nabi-Nabi, dan
Ketubim, bukan berarti bahwa Perjanjian Lama mengalami tiga
tahap kanonisasi. Kitab-kitab Pentateukh dikumpulkan di bagian
permulaan Alkitab karena diyakini bahwa kitab-kitab ini ditulis
oleh Musa. Dalam kelompok kitab para nabi diterima hanya kitab-
kitab yang diyakini telah ditulis oleh orang yang bertugas penuh
sebagai nabi. Daniel, meskipun memiliki karunia untuk bernubuat
namun karena tidak bertugas penuh sebagai nabi, maka kitabnya
dimasukkan dalam kelompok yang ketiga, yaitu Ketubim. Kelom
pok Ketubim ini dibagi kembali menurut isi masing-masing kitab
Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 91
atau tujuan penggunaannya. Mazmur, Amsal, dan Ayub dianggap
sebagai Kitab-Kitab Puisi karena memang bersifat sastera. Kidung
Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, dan Ester disebut Megilot
karena dibacakan pada saat perayaan-perayaan Yahudi seperti Pas
kah dan Pentakosta, saat puasa pada tanggal sembilan bulan Ab,
dan pada saat Hari Raya Pondok Daun dan Hari Raya Purim. Kitab
Daniel, Ezra, Nehemia, dan Tawarikh digolongkan sebagai Kitab-
Kitab Sejarah yang bukan nubuat karena tidak ditulis oleh orang-
orang yang bertugas penuh sebagai nabi. Amos mulanya bukan
seorang nabi, namun Tuhan memanggilnya dari tugasnya sebagai
peternak serta mengutusnya untuk bernubuat kepada bangsanya
(Amos 7:14, 15): maksudnya, Amos bertugas penuh sebagai nabi
sehingga dengan tepat sekali kitabnya digolongkan bersama nabi-
nabi yang kemudian.
Karena kanonitas kitab Pengkhotbah dan Kidung Agung baru
ditetapkan pada Konsili di Yamnia (tahun 90 Masehi)27, maka
beberapa pihak beranggapan bahwa kanon Perjanjian Lama baru
ditutup pada waktu itu, atau karena diskusi mengenainya masih di
teruskan sesudah tahun 90 maka dianggap bahwa kanon Perjanjian
Lama baru selesai sekitar tahun 200 Masehi. Akan namun , bila sifat
serta jumlah kitab yang seharusnya termasuk dalam Alkitab
dianggap belum beres sampai semua pihak setuju, maka kita takkan
pernah memiliki kanon yang absah. Keadaan seperti itu memang
diinginkan pihak-pihak tertentu, karena senantiasa ada saja yang
ingin menambah atau mengurangi kitab-kitab dalam Alkitab. Dalam
kaitan dengan kanon Perjanjian Lama seperti yang ada sekarang
ini, kita dapat menerima pendapat David Kimchi (1160-1232) dan
Elias Levita (1465-1549), dua orang sarjana Yahudi, yang ber
anggapan bahwa pengumpulan terakhir untuk kanon Perjanjian
Lama sudah dilengkapi oleh Ezra serta anggota-anggota Sinagoge
Agung pada abad kelima sebelum Tarikh Masehi. Beberapa hal
dapat diungkapkan sebagai pendukung pendapat ini. Yosefus, seja
rawan Yahudi kenamaan yang menulis sekitar akhir abad pertama
Masehi, mencantumkan tiga bagian yang sama ini seperti halnya
kanon Masoretik.28 Yosefus selanjutnya menunjukkan bahwa kanon
27 Archer, A Survey of Old Testament Introduction, hal. 65.
28 Yosefus berbicara soal dua puluh dua kitab dalam kanon, karena I dan II Samuel
dianggap satu, demikian pula halnya I dan II Raja-Raja, Ezra dan Nehemia, Rut
dan Hakim-Hakim, Yeremia dan Ratapan, serta dua belas kitab Nabi-Nabi Kecil.
92 Bibliologi
sudah selesai pada zaman pemerintahan Artahsasta, yang memerin
tah kira-kira pada zaman Ezra.29 Mungkin sekali Ezralah merupa
kan tokoh yang akhirnya mengumpulkan kitab-kitab kudus yang
menjadi Perjanjian Lama karena ia disebut sebagai "ahli kitab itu"
(Nehemia 8:1; 12:36), "seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat
Musa" (Ezra 7:6), dan "ahli kitab itu, yang ahli dalam perkataan
segala perintah dan ketetapan Tuhan bagi orang Israel" (Ezra 7:11).
Selanjutnya, tidak ada lagi tulisan-tulisan kanonik yang ditulis sejak
zaman Artahsasta tadi sampai zaman Perjanjian Baru. Kitab-kitab
Apokrifa, walaupun dimasukkan dalam Septuaginta, Alkitab Per
janjian Lama berbahasa Yunani, tidak pernah diterima dalam kanon
Ibrani.
29 Yosefus, Against Apion, 1:8.
B. KANONITAS KITAB-KITAB PERJANJIAN BARU
Pembentukan kanon Perjanjian Baru tidak terjadi sebagai hal sebuah
usaha yang terarah, namun lebih tepat kalau dikatakan bahwa kanon
Perjanjian Baru terbentuk sendiri sebagai akibat sifat mumi kitab-
kitab itu. Beberapa prinsip yang bersifat luas dipakai dalam menen
tukan kitab-kitab mana yang diterima. Hal yang dianggap paling
penting ialah kesesuaian dengan ajaran para rasul (apostolicity).
Penulis kitab haruslah seorang rasul Kristus atau harus memiliki
hubungan sedemikian rupa dengan seorang rasul sehingga kitabnya
dapat dianggap setingkat dengan buah pena seorang rasul. Faktor
lainnya dalam menentukan pilihan ialah kecocokan untuk dibaca di
depan umum. Dan faktor yang ketiga ialah keuniversalannya. Ada
kah kitab-kitab ini diterima secara umum oleh masyarakat
Kristen? Lagi pula, isi kitab itu haruslah memiliki sifat rohaniah
sedemikian yang membuatnya dapat diterima dalam kanon. Akhir
nya, kitab itu harus menunjukkan tanda-tanda telah diilhami oleh
Roh Kudus.
Pada akhir abad kedua, semua kitab kecuali tujuh yaitu: Ibrani,
II dan III Yohanes, II Petrus, Yudas, Yakobus, dan Wahyu, sudah
diterima dalam kanon Perjanjian Baru, dan pada akhir abad keem
pat, kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru telah diterima semua
nya, khususnya oleh Gereja-gereja Barat. Setelah konsili Damasin
Keaslian, Kredibilitas, dan Kanonitas 93
di Roma (382) serta Konsili Kartago ketiga (397), Gereja Barat
sudah menyelesaikan masalah kanon. Di tahun 500, seluruh gereja
yang berbahasa Yunani nampaknya telah menerima semua kitab
Perjanjian Baru juga. Sejak saat itu juga di Timur masalah kanon
dapat dikatakan sudah selesai. Akan namun , sebagaimana kami kata
kan tadi, nampaknya tidak pernah ada saat semua pihak menerima
keputusan gereja ini. Senantiasa ada orang-orang atau pihak-pihak
tertentu yang mencoba mempertanyakan hak kitab-kitab terten
tu untuk ditempatkan dalam kanon Alkitab.
VII
Pengilhaman Alkitab
Dalam usaha kita mencari kepastian, kita telah diyakinkan bahwa
Alkitab memang merupakan wujud singkapan ilahi. Catatan yang
berisikan singkapan telah terbukti asli, dapat dipercaya, dan sangat
sah sebagai wujud singkapan itu. Namun bila kita berhenti sampai
di situ, maka kita masih saja baru memiliki sebuah karya religius
yang sangat kuno sekalipun dapat dipercaya. Apa yang dapat kita
ketahui lagi dari Alkitab? Adakah naskah-naskah itu juga terilham-
kan secara verbal dan tidak salah di dalam segala hal yang dikata
kannya? Kami percaya bahwa naskah-naskah ini diilhami se
cara verbal dan bahwa naskah-naskah ini tidak salah, sehingga
oleh karena itu saat ini kami mengajak Anda membahas masalah
pengilhaman.
L DEFINISI ILHAM
Untuk menyajikan suatu definisi yang memadai dan jitu tentang
ilham, kita harus mempertimbangkan beberapa konsep teologis,
yang berkaitan dan menolak teori-teori yang salah.
A. ISTILAH-ISTILAH TEOLOGIS YANG BERKAITAN
Istilah-istilah teologis yang berkaitan ialah penyataan, ilham,
wibawa, sifat tidak mungkin bersalah, serta pencerahan.
1. Penyataan. Telah kita bahas di depan bahwa Allah telah me
nyatakan diri-Nya melalui alam, sejarah, dan hati nurani manusia,
la juga telah menyatakan diri di dalam Anak-Nya yang Tunggal
95
96 Bibliologi
dan di dalam Firman-Nya. Dalam kesempatan ini kita akan lebih
memusatkan perhatian pada penyataan langsung bukannya
penyataan tidak langsung, maupun penyataan yang sesaat bukan
nya penyataan yang tidak sesaat . Penyataan itu berkaitan dengan
pengumuman suatu kebenaran yang tak dapat ditemukan dengan
cara lain; ilham berkaitan dengan pencatatan kebenaran yang sudah
dinyatakan. Kita bisa mempunyai penyataan tanpa pengilhaman,
sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan banyak orang saleh di
masa lampau. Hal ini jelas, saat Yohanes mendengar suara yang
diperdengarkan oleh ketujuh guruh, namun tidak diizinkan untuk
menulis apa yang mereka katakan (Wahyu 10:3-4). Kita juga bisa
memiliki pengilhaman tanpa penyataan langsung, sebagaimana hal
nya saat para penulis mencatat apa yang mereka lihat sendiri atau
mereka temukan lewat penyelidikan (Lukas 1:1-4; I Yohanes 1:1-4).
Sebagai seorang sejarawan, Lukas mencari catatan-catatan yang ter
tulis serta menguji tradisi lisan yang ada saat ia menulis Injilnya.
Lukas merupakan saksi mata pada banyak kejadian yang tercantum
dalam Kisah Para Rasul; Yohanes, sebaliknya, menerima sebagian
terbesar dari bahan yang tertulis dalam kitab Wahyu langsung dari
Tuhan sendiri. Kedua penulis ini diilhami saat menulis kitab me
reka, namun bahan untuk ditulis diterima dengan cara yang berbeda.
Tentu saja, dalam arti yang lebih luas kita berbicara tentang seluruh
Alkitab sebagai penyataan diri Allah; namun sebagian penyataan
itu tiba kepada penulisnya secara langsung, sedangkan sebagian da
tang secara tidak langsung melalui tindakan penyelamatan manusia
dalam sejarah oleh Allah sendiri.
2. Ilham. Pengilhaman berkaitan dengan pencatatan kebenaran.
Roh Allah menguasai serta mendorong orang-orang untuk menulis
keenam puluh enam kitab dalam Alkitab (Kisah 1:16; Ibrani 10:15-
17; II Petrus 1:21). Alkitab diilhami secara penuh dan secara verbal;
Alkitab mengandung napas Allah (II Timotius 3:16). Definisi yang
lebih luas tentang pengilhaman akan disajikan di bagian lain dari
pasal ini.
3. Wibawa. Alkitab membawa besertanya kewibawaan ilahi
Allah. Amanat Alkitab mengikat manusia-mengikat pikirannya,
hati nuraninya, kehendaknya, serta hatinya. Manusia, pengakuan
Pengilhaman Alkitab 97
iman, serta gereja semuanya tunduk kepada wibawa Alkitab. Allah
telah bersabda; kita harus menaatinya. "Demikianlah Firman Tuhan"
hendaknya senantiasa merupakan motto kehidupan kita.
4. Sifat tidak mungkin bersalah. Bukan saja Alkitab itu diilhami
dan berwibawa, namun juga tidak mungkin bersalah. Dengan ini
kami maksudkan bahwa naskah asli Alkitab samasekali tidak ada
salahnya. Alkitab samasekali tidak mungkin salah dalam segala hal
yang tercantum di dalamnya, apakah itu sejarah, ilmu pengetahuan,
masalah kesusilaan, dan masalah doktrinal. Sifat tidak mungkin ber
salah ini berlaku untuk seluruh Alkitab dan bukan hanya untuk
beberapa ajaran tertentu.
5. Pencerahan. Ia yang mengilhami orang-orang tertentu saat
menulis Alkitab, juga mencerahkan pikiran orang-orang yang mem
baca apa yang telah diilhamkannya. Karena dosa dan pengertian
yang telah digelapkan akibat dosa, tidak ada yang mampu
memahami Alkitab dengan benar (Roma 1:21; Efesus 4:18). Namun
Roh Kudus dapat mencerahkan pikiran seseorang yang percaya
sehingga ia dapat mengerti Alkitab. Inilah pokok yang dibicarakan
dalam I Korintus 2:6-16 (bandingkan Efesus 1:18); Yohanes juga
membahas hal yang sama dalam I Yohanes 2:20, 27.
B. BERBAGAI TEORI-PENGILHAMAN YANG TIDAK MEMADAI
Sepanjang sejarah telah dikemukakan berbagai teori tentang peng
ilhaman yang sering mengandung sedikit kebenaran, namun tidak
pernah memadai.
7. Pengilhaman alamiah atau teori naluri. Teori ini berpendapat
bahwa pengilhaman merupakan sekadar pengertian yang ulung hasil
menungan manusia alamiah. Ilham merupakan sekadar peningkatan
dan peninggian derajat persepsi-persepsi religius seorang penulis.
Pandangan ini menjadikan beberapa lagu gereja yang terkenal se
tingkat dengan Alkitab. Dalam kenyataannya, pandangan ini me
ngaburkan tindakan pencerahan Roh Kudus dengan karya-Nya yang
khusus dalam pengilhaman. Pencerahan tidak menyangkut pemberi
an kebenaran, namun menyangkut pemahaman kebenaran yang sudah
dinyatakan.
98 Bibliologi
2. Teori pengilhaman-sebagian atau teori dinamis. Teori ini ber
pendapat bahwa Tuhan memberikan kemampuan sehingga para
penulis Alkitab dapat menyampaikan kebenaran sesuai dengan yang
dikehendaki oleh Tuhan, Pandangan ini menjadikan para penulis
Alkitab memang tidak mungkin bersalah dalam soal iman dan per
buatan, namun tidak dalam hal-hal yang tidak secara langsung ber
sifat religius. Dengan demikian penulis itu bisa saja salah saat
menulis tentang sejarah atau ilmu pengetahuan. Masalah yang tim
bul karena pandangan semacam ini sudah jelas. Bagaimana kita
dapat menerima bagian tertentu dari Alkitab serta menolak bagian
lainnya? Selanjutnya, bagaimana kita tahu mana yang benar dan
mana yang salah? Bagaimana kita bisa mengetahui mana ayat-ayat
yang penting untuk iman dan perilaku dan mana pula yang tidak
penting? Alkitab samasekali tidak mengatakan bahwa hanya bagian-
bagian yang berkaitan dengan iman dan perilaku yang diilhami.
Menurut Alkitab dalam segala sesuatu yang tertulis di dalamnya
telah dihembuskan napas Allah (II Timotius 3:16).
3. Teori bahwa pikiran saja yang diilhami. Teori ini mengajarkan
bahwa Tuhan yang menganjurkan pikiran-pikiran yang diberikan
melalui penyataan, namun membiarkan sang penulis mengolah sen
diri pikiran-pikiran ini untuk kemudian diungkapkan dengan
memakai perkataannya sendiri. Akan namun , Alkitab berkali-kali
menyatakan bahwa kata-katanya juga diilhami. Paulus mencatat
bahwa ia "berkata-kata ... dengan perkataan yang bukan diajarkan
kepada kami oleh hikmat manusia, namun oleh Roh" (I Korintus
2:13). Selanjutnya, Paulus mengatakan bahwa seluruh Alkitab diil
hamkan (II Timotius 3:16); ini berarti kata-kata yang digunakan.
Selanjutnya, sulit sekali untuk berpikir tentang konsep tertentu ter
lepas dari kata-kata. Sebagaimana dikatakan oleh Pache, "Gagasan
hanya dapat dipahami dan disampaikan dengan memakai kata-
kata." Tidak dapat dibayangkan bagaimana caranya memisahkan
gagasan dari kata-kata yang dipakai untuk menyampaikan gagasan
ini . Saucy menyimpulkan, "Oleh karena itu, tak mungkin ter
jadi pengilhaman pikiran yang pada saat yang sama tidak mengil
hami kata-kata untuk mengungkap pikiran itu." Jelas sekali, kata-
30
31
30 Pache, The Inspiration and Authority of Scripture, hal. 58.
31 Saucy, The Bible: Breathed from God, hal. 48.
Pengilhaman Alkitab 99
kata itu sendiri haruslah diilhamkan, dan bukan sekadar pikiran atau
gagasan saja.
4. Teori bahwa Alkitab mengandung Firman Allah. Menurut
teori ini Alkitab merupakan buku manusia yang dapat dipakai oleh
Tuhan menjadi Firman-Nya pada saat terjadi perjumpamaan antara
Allah dengan manusia. Para penulis Alkitab menulis tentang per
jumpaan mereka dengan Tuhan dengan memakai pola-pola berpikir
zaman mereka. Para penulis ini memakai berbagai mitos adikodrati
dan cerita-cerita ajaib untuk menyampaikan kebenaran rohani.
Maka tugas seorang penafsir ialah melucuti semua embel-embel
mitologis yang ada dan berusaha menemukan kebenaran rohani
yang Tuhan sediakan bagi kita. Jadi, kita harus menanggalkan se
mua mitologi dari Alkitab. Alkitab menjadi Firman Allah bagi kita
saat pada suatu saat tertentu Allah menerobos memasuki keber
adaan kita serta menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya. Kita da
pat mengatakan beberapa hal untuk menentang pandangan ini. Per
tama-tama, ini merupakan pendekatan yang terlalu subjektif untuk
memahami Alkitab. Alkitab dapat mengatakan hal-hal yang berbeda
samasekali kepada orang-orang yang berlainan. Pendapat ini
meniadakan sifat objektif dalam menafsirkan Alkitab. Juga
meniadakan samasekali kebenaran yang sudah pasti. Pache ber
tanya, "Bila banyak sekali bagian dalam Alkitab tidak asli dan ber
sifat mitologis, yang mana lagi yang bisa kita andalkan?" Karena
manusia sepanjang sejarah telah cukup menunjukkan bahwa ia
dapat keliru dan kurang dapat dipercayai saat menafsirkan
sesuatu, tidakkah lebih baik kita menerima Alkitab sebagai wujud
penyataan Allah kepada manusia, diilhamkan oleh Roh Allah sen
diri, dan betul-betul dapat dipercaya serta tidak mungkin bersalah
dalam tiap hal?
32
5. Teori pendiktean. Teori ini berpendapat bahwa para penulis
Alkitab merupakan pena semata-mata, atau sekretaris yang menulis
apa yang didiktekan, dan bukan orang-orang yang kepribadiannya
tetap terpelihara dan bagaimanapun digunakan dalam tindak
an pengilhaman. Menurut pandangan ini Alkitab ditulis dengan
gaya penulisan Roh Kudus sendiri. Beberapa ahli bahkan menge-
32 Pache, The Inspiration and Authority of Scripture, hal. 45.
100 Bibliologi
mukakan bahwa tata bahasanya seharusnya sempurna di seluruh
Alkitab karena Roh Kudus sendiri yang menulisnya. Namun, pan
dangan ini tidak memperhatikan adanya perbedaan yang nyata
dalam gaya penulisan Musa, Daud, Petrus, Yakobus, Yohanes, dan
Paulus, misalnya. Beberapa ahli yang menerima pandangan ini telah
berusaha untuk mengatasi keanekaragaman gaya penulisan itu de
ngan cara beranggapan bahwa Roh Kudus memakai gaya si penulis.
Akan namun , ada cara yang lebih baik lagi untuk menerangkan dan
mempertahankan pengilhaman kata-kata atau pengilhaman verbal.
Kita harus mengakui sifat rangkap dua Alkitab: di satu pihak Alki
tab merupakan kitab yang ke dalamnya dihembuskan napas Allah,
namun di pihak lain Alkitab merupakan hasil karya manusia. Allah
memakai orang-orang yang hidup, dan bukan alat-alat mati. Allah
tidak mengesampingkan kepribadian manusia, melainkan memakai
kepribadian penulis itu saat menulis penyataan yang disampaikan-
Nya.
C. DOKTRIN ALKITAB TENTANG PENGILHAMAN
Roh Kudus menuntun dan mengawasi para penulis Alkitab sede
mikian rupa, sambil memakai keunikan mereka pribadi lepas pri
badi, sehingga mereka itu menulis semua yang Ia ingin mereka tulis,
tanpa tambahan maupun kesalahan. Namun beberapa hal perlu
diperhatikan. (1) Pengilhaman tidak dapat dijelaskan sepenuhnya.
Pengilhaman merupakan karya Roh Kudus, namun kita tidak me
ngetahui dengan tepat bagaimana kuasa Roh Kudus bekerja. (2)
Pengilhaman, dalam arti yang terbatas ini, terbatas pada penulis-
penulis kitab dalam Alkitab saja. Kitab-kitab lainnya tidak diilham
kan dengan begitu. (3) Pengilhaman pada hakikatnya merupakan
tuntunan. Maksudnya, Roh Kudus mengawasi pemilihan bahan
yang dipakai serta kata-kata yang akan digunakan dalam menulis
suatu kitab. (4) Roh Kudus melindungi para penulis dari berbuat
kesalahan serta tidak mencantumkan apa yang harus dicantumkan.
(5) Pengilhaman meliputi juga kata-kata yang dipakai, bukan
sekadar pikiran dan konsepnya saja. Oleh karena itu, kita berbicara
mengenai pengilhaman plenary (menyeluruh) dan pengilhaman ver
bal (kata demi kata); plenary karena pengilhaman itu meliputi
seluruhnya tanpa batas, maksudnya, meliputi keseluruhan Alkitab
(II Timotius 3:16); verbal karena pengilhaman itu meliputi juga
Pengilhaman Alkitab 101
kata-kata yang dipakai (I Korintus 2:13). Dan (6) pengilhaman itu
hanya berlaku bagi naskah aslinya saja, tidak termasuk berbagai
versi penerjemahannya, baik itu terjemahan kuno maupun ter
jemahan modem, bukan pula naskah-naskah Ibrani dan Yunani yang
ada, dan akhirnya bukan pula naskah-naskah yang bersifat
mengritik. Semua naskah ini diketahui mengandung kesalahan atau
setidak-tidaknya tidak bebas dari kesalahan. Dan sekalipun tidak
ada lagi naskah asli Alkitab, namun kata-kata yang dianggap me
ngandung kesalahan itu tidak banyak jumlahnya dan juga tidak
mempengaruhi doktrin.
Sepatah kata perlu diutarakan mengenai masalah pengilhaman
dan wibawa. Umumnya, kedua istilah ini dianggap identik, sehingga
yang terilhamkan juga berwibawa untuk pengajaran dan kelakuan;
namun kadang-kadang keduanya berbeda juga. Misalnya, pernya
taan Iblis kepada Hawa ditulis akibat pengilhaman, namun pernya
taan itu tidak berwibawa karena tidak mengandung kebenaran
(Kejadian 3:4-5). Hal yang sama dapat dikatakan mengenai nasihat
Petrus kepada Kristus (Matius 16:22) serta pernyataan Gamaliel
kepada dewan (Kisah 5:38-39). Karena pernyataan-pernyataan ter
sebut tidak mengungkapkan pikiran Tuhan, maka sifatnya tidak ber
wibawa, sekalipun ada dalam Alkitab. Hal yang sama dapat
dikatakan tentang ayat-ayat yang dicabut keluar dari konteksnya
serta diberi makna yang samasekali berbeda. Kata-katanya tetap saja
terilhami, namun makna hasil tafsiran itu tidak terilhami. Kita harus
menerima setiap pernyataan sebagai terilhami dan berwibawa ke
cuali ada petunjuk dalam konteks bahwa pernyataan tertentu tidak
bersifat demikian.
II. BUKTI-BUKTI PENGILHAMAN
Ada dua hal fundamental yang harus kita jadikan landasan teori
pengilhaman yang verbal dan plenary, watak Allah serta sifat dan
tuntutan Alkitab sendiri.
A. WATAK ALLAH
Adanya Allah terbukti dari kenyataan bahwa Ia telah menyatakan
diri-Nya, juga lewat berbagai bukti tentang adanya Dia. saat me-
102 Bibliologi
nelaah penyataan serta bukti-bukti ini , kita sudah menemukan
beberapa ciri khas watak Allah. Kita masih akan membahas be
berapa sifat Allah, namun kita sudah melihat bahwa Ia berkepribadi
an, mahakuasa, kudus, serta penuh kasih.
Bila Allah memang sesuai dengan semuanya itu, maka kita dapat
mengharapkan bahwa Ia menaruh perhatian yang penuh kasih ter
hadap makhluk-makhluk ciptaan-Nya dan turun tangan menolong
mereka. Bahwa Ia memang mempedulikan dan membantu mereka
dapat terlihat dari persediaan yang Ia buat bagi semua kebutuhan
manusia, baik yang pokok maupun yang sementara. Ia telah
menyimpan dalam perut bumi ini bermacam-macam mineral dan
bahan bakar; Ia telah membuatkan atmosfer yang memungkinkan
manusia hidup di dalamnya; Ia telah membuat tanah yang subur,
menyediakan sinar matahari, hujan, dan salju; dan Ia telah mem
berikan kepada manusia pengertian dan kemampuan untuk meng
gunakan semuanya ini agar dapat memenuhi kebutuhannya. Akan
namun , manusia juga memiliki kebutuhan rohani dan abadi. Manusia
memiliki masalah dosa. Tidak ada sesuatu pun di alam maupun hati
nurani yang memberi tahu kepada manusia standar etis yang benar
untuk hidup ini, juga tidak ada yang memberi tahu bagaimana ia
bisa berbaik kembali dengan Tuhan. Manusia sadar bahwa dirinya
itu tidak fana dan bertanya-tanya dalam hatinya apa yang dilakukan
sebagai persiapan untuk hidup dalam kekekalan. Tidakkah Allah,
yang telah membuat persediaan yang begitu melimpah bagi kebu
tuhan-kebutuhan manusia yang "lebih rendah", juga dapat menye
diakan bagi kebutuhannya yang lebih tinggi? Nampaknya jawaban
nya yaitu "ya" yang tegas. Allah yang demikian, serta manusia
dengan kebutuhan seperti itu, pastilah dapat diharapkan bahwa
Allah akan memberitahukan norma-norma dan rencana keselamat-
an-Nya. Dan bila Ia memberitahukan semua itu, apakah Ia akan
mengungkapkannya dalam cara yang tidak pasti dan dengan ke
salahan? Memang benar bahwa Allah memakai orang-orang yang
telah tertebus, namun bisa berbuat salah, untuk melaksanakan pela
yanan pendamaian (II Korintus 5:18-20). Namun kita, yang telah
diselamatkan sekalipun berdosa, membutuhkan Firman yang tanpa
kesalahan untuk kita beritakan. Allah sumber segala kebenaran te
lah memberikan kepada kita Firman yang berwibawa dan tidak
mungkin salah untuk kita percayai dan beritakan. Shedd menulis:
Pengilhaman Alkitab 103
Tidaklah mungkin bahwa Tuhan akan menyatakan sebuah kenyataan atau
ajaran bagi manusia, lalu samasekali tidak berusaha agar kenyataan atau
ajaran ini disampaikan dengan benar. Apalagi bila ajaran itu merupa
kan salah satu rahasia agama. Kebenaran-kebenaran besar seperti tritunggal,
penjelmaan, pendamaian yang dilakukan demi orang lain, dan lain-lain me
nuntut pengawasan serta tuntunan Roh yang tidak mungkin salah sehingga
hasil pencatatannya tidak menyesatkan. Jadi, jauh lebih dapat diterima untuk
beranggapan bahwa seorang nabi atau rasul yang telah menerima secara
langsung dari Tuhan suatu kebenaran yang luhur serta tidak mungkin
ditemukan dengan kecerdasan manusia, tidak akan dibiarkan sendirian tanpa
pengawasan dan tuntunan saat ia menuliskan apa yang telah diterimanya.
Khususnya sangatlah mustahil rasanya bahwa penyampaian amanat dari
Allah akan diselubungi dengan khayalan yang berlebihan.33
B. SIFAT DAN TUNTUTAN ALKITAB SENDIRI
Alkitab memiliki keunggulan yang sulit dipersoalkan. Alkitab
menetapkan norma-norma etika yang tertinggi, menuntut ketaatan
sepenuhnya, mengutuk setiap bentuk dosa, namun pada saat yang
sama menerangkan kepada orang berdosa bagaimana ia bisa berbaik
kembali dengan Tuhan. Bagaimana mungkin kitab semacam itu
ditulis oleh orang-orang yang tidak diilhami? Alkitab menunjukkan
kesatuan yang luar biasa. Sekalipun ditulis oleh sekitar empat puluh
orang sepanjang sekitar 1.600 tahun yang menghasilkan 66 kitab,
Alkitab tetap merupakan satu kitab. Alkitab memiliki satu pandang
an doktrinal, satu standar moral, satu rencana keselamatan, satu pro
gram untuk sepanjang waktu, dan satu pandangan dunia. Kekhusus
an sistem Manusia jelas nampak dalam kurun perkembangan per
nyataan. Taurat dan kasih karunia serta doktrin tentang Roh Kudus
terjalin dengan rencana dispensasional Allah. Pengaturan unsur-
unsur politik dan agama yang bersatu secara erat dalam bentuk pe
merintahan Yahudi hanya bersifat sementara dan tidak dimaksudkan
untuk masa kini. Dalam kesemuanya ini nampak adanya satu ren
cana dan satu program.
Alkitab menyatakan bahwa ialah Firman Allah. Bila seseorang
atau sebuah kitab mengatakan yang benar tentang segala yang di
bahasnya, maka kita sebaiknya membiarkannya berbicara untuk
dirinya sendiri. Alkitab mengatakan yang benar tentang hal-hal
lain, dan membuat beberapa tuntutan tentang dirinya. Tuntutan-
33 Shedd, Dogmatic Theology, I, hal. 76.
104 Bibliologi
tuntutan ini muncul dengan berbagai cara. (1) Lebih dari 3.800 kali
para penulis Perjanjian Lama memakai istilah "beginilah firman
Tuhan," "datanglah firman Tuhan kepada" si anu, 'Tuhan telah ber
firman," atau istilah lain yang sama dengan itu. (2) Para penulis
Perjanjian Baru memakai ungkapan seperti "memberitakan seluruh
maksud Allah kepadamu," "dengan kata-kata ... menurut ajaran
Roh," dan sebagainya. (3) Berbagai penulis menuntut kesempurnaan
serta wibawa mutlak bagi hukum Taurat serta kesaksian yang ada
(Ulangan 27:26; II Raja-Raja 17:13; Mazmur 19:8; 33:4; 119:89;
Yesaya 8:20; Galatia 3:10). (4) Satu kitab mengakui kitab lainnya
sebagai berbicara dengan penuh kepastian (Yosua 1:7-8; 8:31-3







