Tidak ada Allah yang
kepadanya mereka bertanggung jawab. Mereka merupakan ateis
praktis sejauh itu berkaitan dengan perhatian dan minat religius
mereka.
Ateisme dogmatis secara terang-terangan mengakui berpandang
an ateis. Kebanyakan orang tidak secara terang-terangan
memamerkan ateisme mereka di hadapan orang lain karena sikap
seperti itu dicela; namun ada juga beberapa orang yang tidak
sungkan-sungkan menyatakan bahwa mereka itu ateis. Dalam tahun-
tahun belakangan ini bentuk ateisme semacam ini telah dihidupkan
kembali. Komunisme secara terbuka menyatakan pandangannya
yang ateistis dan menyatakan bahwa agama yaitu racun
masyarakat.
Ateisme mumi merupakan bentuk ateisme yang menganut prin
sip-prinsip yang tidak sesuai dengan kepercayaan akan Allah atau
yang mendefinisikan Allah dengan memakai istilah-istilah yang
melanggar pemakaian bahasa pada umumnya. Kebanyakan penga
nut paham naturalisme termasuk golongan ateis mumi yang per
tama. Mereka yang mendefinisikan Allah dengan memakai ga
gasan-gagasan yang abstrak, misalnya, sebagai "prinsip aktif yang
bekerja dalam alam," atau "kesadaran sosial," atau "yang tidak dapat
dikenal," atau "personifikasi kenyataan," atau "energi" merupakan
ateis mumi jenis kedua. Pandangan ini sebenarnya melanggar
makna istilah "Allah" yang sudah diterima. Teisme memiliki istilah-
istilah yang sudah tetap, sehingga tidak dapat dipakai dengan se
Beberapa Pandangan Dunia Non-Kristen 51
enaknya sendiri.
Pandangan ateistis sangat tidak memuaskan, tidak tetap, dan ang
kuh. Pandangan ini tidak memuaskan karena semua ateis tidak
memiliki kepastian bahwa dosa-dosa mereka sudah diampuni; kehi
dupan mereka dingin dan hampa; dan mereka tidak tahu apa-apa
tentang damai dan persekutuan dengan Allah. Pandangan ateistis
tidak tetap karena bertolak belakang dengan keyakinan-keyakinan
terdalam manusia. Baik Alkitab maupun sejarah menunjukkan bah
wa manusia secara universal perlu mengakui adanya Tuhan. Se
orang ateis mumi sebenarnya mengakui kenyataan ini juga yaitu
dengan menerima gagasan yang abstrak untuk menjelaskan dunia
ini dan kehidupan ini. Pandangan ini dikatakan angkuh karena
menganggap dirinya mahatahu. Pengetahuan yang terbatas dapat
menduga adanya Allah, namun dengan sombongnya pandangan
ateistis mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap tentang se
gala sesuatu, semua pengetahuan, serta segenap kurun waktu diper
lukan untuk menyatakan secara dogmatis bahwa Allah tidak ada.
Seorang ateis dogmatis dapat dikatakan tidak normal. Sebagaimana
halnya sebuah bandulan jam kuno dapat dipindahkan dari pusatnya
oleh kekuatan di dalam atau di luar jam ini , demikianlah pe
mikiran manusia dapat digeserkan dari kedudukannya yang normal
oleh sebuah filsafat palsu. Pada saat kekuatan yang memindahkan
ini ditiadakan, baik bandulan maupun pikiran manusia akan
kembali kepada kedudukannya yang normal.
II. PANDANGAN AGNOSTIS
Istilah "agnostis" kadang-kadang dipakai untuk menamakan setiap
ajaran yang menegaskan bahwa pengetahuan yang benar tidak
mungkin diperoleh dan bahwa semua pengetahuan yang ada bersifat
relatif sehingga dengan demikian tidak pasti. Dalam arti ini golong
an Sofis dan Skeptis Yunani maupun semua penganut empirisme
sejak Aristoteles sampai ke Hume yaitu agnostis. Namun dalam
teologi, istilah ini terbatas pada pandangan yang menegaskan bahwa
baik adanya Allah maupun sifat asli Allah maupun sifat asli alam
semesta tidak diketahui dan tidak dapat diketahui.
Positivisme dalam ilmu pengetahuan dan pragmatisme dalam fil
safat dan teologi merupakan bentuk-bentuk agnostisisme yang ter
52 Teisme
kenal. Auguste Comte (1798-1859), pendiri mazhab positivisme,
memutuskan untuk tidak menerima sesuatu sebagai benar di luar
detail-detail dari fakta-fakta yang dapat diamati; dan karena
gagasan akan adanya Allah tidak dapat diperiksa seperti itu, maka
Comte mengabaikan gagasan ini serta sepenuhnya meneliti
gejala-gejala yang nampak. Akan namun , teori relativitas Einstein
telah menunjukkan bahwa kita harus memperhatikan juga faktor-
faktor yang tidak langsung nyata dalam pengamatan, misalnya wak
tu dan ruang, saat meneliti dunia lahiriah sekalipun. Teori
Einstein telah merobohkan positivisme dengan telak.
Pragmatisme dalam filsafat dan teologi, seperti halnya positivis
me dalam ilmu pengetahuan, menolak penyataan khusus serta ke
mampuan akal manusia dalam meneliti realitas terakhir. Pragma
tisme malah beranggapan bahwa karena penangguhan keputusan
akhir tidak saja menyakitkan, namun sering kali merugikan dan bah
kan mustahil, maka kita hams menganut pandangan yang mem
berikan hasil terbanyak. Seiring dengan itu, Albrecht Ritschl dan
William James menerima Allah yang mereka setujui bersama me
lalui perumusan sebuah dalil pragmatis dari adanya Allah untuk
memperoleh hasil-hasil yang diinginkan. John Dewey cukup puas
dengan merumuskan beberapa gagasan abstrak yang tidak jelas.
Pandangan agnostis juga sangat tidak memuaskan dan sangat
tidak tetap, dan sering kali menunjukkan kerendahan hati yang
palsu. Pandangan agnostis tidak memuaskan karena menderita ke
miskinan rohani yang sama dengan pandangan ateistis, dan pan
dangan ini juga tidak memuaskan dari sudut intelektual. Agnos-
tisisme menunjukkan kenyataan ini saat menerima berbagai pan
dangan yang bersifat sementara sebagai hipotesis yang memadai.
Pandangan agnostis tidak tetap karena mengakui sendiri tidak per
nah mencapai kepastian sepenuhnya. Ritschl dan James menyatakan
bahwa mereka sudah agak mantap dalam kepercayaan mereka, na
mun Dewey beranggapan bahwa kepercayaannya bersifat sangat se
mentara. Dan agnostisisme menunjukkan kerendahan hati yang
palsu karena menyatakan bahwa pengetahuannya begitu sedikit. Be
berapa agnostik menuduh bahwa orang lain dengan sombong dan
angkuh mengakui memiliki pengetahuan yang lebih tinggi, namun
kami para agnostik secara jujur mengakui keterbatasan pengetahuan
manusia. Dari sudut pandangan Kristen, sikap ini merupakan kese
Beberapa Pandangan Dunia Non-Kristen 53
derhanaan yang palsu, karena orang Kristen menganggap bahwa
bukti-bukti adanya Allah yang berkepribadian, adikodrati, maha
kuasa, dan kudus itu cukup banyak untuk mencapai kepastian.
III. PANDANGAN PANTEISTIS
Panteisme ialah teori yang mengatakan bahwa segala hal yang ter
batas merupakan sekadar aspek, modifikasi, atau bagian dari satu
pribadi yang kekal dan yang ada dengan sendirinya. Panteisme me
nyamakan Allah dengan alam semesta. Allah itu segalanya; dan
segalanya itu Allah. Dewasa ini panteisme memiliki berbagai ben
tuk, beberapa di antaranya memiliki unsur-unsur ateisme, politeis
me, dan teisme. Para penganut panteisme umumnya memandang
kepercayaan mereka sebagai agama sehingga mereka tunduk dan
menghormati ajarannya. Oleh karena itu, kekurangan-kekurangan
yang ada dalam panteisme perlu dipahami dengan lebih jelas.
Kami akan menyajikan pembahasan yang sesingkat mungkin ten
tang bentuk-bentuk utama panteisme dan kemudian mengemukakan
mengapa kepercayaan Kristen menolaknya.
A. BENTUK-BENTUK UTAMA PANTEISME
Berikut ini diketengahkan bentuk-bentuk utama panteisme.
1. Panteisme materialistis. Bentuk panteisme ini beranggapan
bahwa zat merupakan penyebab pikiran dan segala sesuatu yang
hidup. David Strauss percaya bahwa zat yaitu kekal serta hidup
diturunkan secara spontan. Strauss beranggapan bahwa alam se
mesta, yaitu keseluruhan keberadaan yang kita sebut dengan alam,
merupakan satu-satunya Allah yang dapat disetujui untuk dipuja
dan dipuji oleh manusia modem yang telah mengalami pencerahan
ilmu pengetahuan modem. Bagaimanapun juga, kepercayaan akan
kekekalan zat merupakan sebuah pengandaian yang tidak masuk
akal, dan ajaran bahwa hidup diturunkan secara spontan juga telah
ditolak mentah-mentah oleh para ilmuwan yang ternama.
2. Hilozoisme dan Panpsikisme. Kedua nama ini merupakan
nama dari satu teori yang sama. Sekalipun demikian teori ini
memiliki dua bentuk. Yang pertama beranggapan bahwa setiap par-
54 Teisme
tikel zat memiliki suatu prinsip hidup di samping sifat-sifat fisiknya.
Bentuk awal teori ini menekankan sifat-sifat fisiknya sehingga dapat
dikatakan merupakan semacam materialisme. Bentuk modem dapat
ditelusuri sampai kepada G. W. Leibniz yang menekankan sifat-sifat
psikisnya juga. Leibniz beranggapan bahwa kesatuan-kesatuan po
kok bukanlah atom, namun monad-monad, jiwa-jiwa kecil, yang
mampu memahami dan menginginkan. Teori jenis kedua berang
gapan bahwa akal dan zat itu berbeda, namun terpadu secara erat
sekali dan tidak terpisahkan. Menurut teori kedua ini, Allah yaitu
jiwa dunia ini. Kaum Stoa menganut hilozoisme jenis ini.
3. Netralisme. Netralisme merupakan semacam monisme yang
beranggapan bahwa realitas terakhir bukanlah akal dan bukan pula
zat, namun suatu bahan netral. Akal dan zat hanya merupakan wujud
atau aspek dari bahan netral itu. Baruch Spinoza merupakan peng
anut yang dapat dijadikan contoh dari pandangan ini. Spinoza ber
anggapan bahwa yang ada hanya satu substansi dengan dua sifat,
pikiran dan ekstensi, atau akal dan zat, keseluruhannya dinamakan
Tuhan.
4. Idealisme. Bentuk panteisme ini beranggapan bahwa realitas
terakhir yaitu akal dan bahwa dunia ini merupakan hasil akal, baik
hasil akal individual maupun hasil akal yang tak terbatas. George
Berkeley beranggapan bahwa objek-objek yang dilihat seseorang
merupakan cerapan orang itu saja dan bukan objek itu sendiri. Mak
sudnya, segala sesuatu yang ada hanya ada di dalam pikiran.
Kita menjawab bahwa bila segala sesuatu hanya ada di dalam
pikiran maka Tuhan dan sesama manusia pun hanya ada di dalam
pikiran. Jadi, secara logis orang yang menganut idealisme harus
menyimpulkan bahwa hanya dirinya sendiri yang memang ada, dan
dengan demikian teori idealisme ini menjadi sesuatu yang tak masuk
akal. Idealisme subjektif mengatakan bahwa dunia yaitu gagasan
saya; idealisme objektif mengatakan dunia yaitu gagasan.
ada dua bentuk utama idealisme mutlak atau idealisme ob
jektif. Absolutisme impersonal beranggapan bahwa realitas terakhir
merupakan satu akal tunggal atau satu sistem tunggal yang terpadu;
anggapan ini menolak bahwa akal atau sistem tunggal ini berke
pribadian. Absolutisme personal beranggapan bahwa yang mutlak
itu berkepribadian. Dan yang berkepribadian itu meliputi di dalam
Beberapa Pandangan Dunia Non-Kristen 55
dirinya segenap kesatuan-aku yang terbatas serta ikut mem
bagi pengalaman kesatuan-aku yang terbatas itu karena secara jum
lah semua kesatuan-aku itu merupakan bagian darinya, walaupun
pada saat yang sama yang berkepribadian ini juga memiliki pikiran
yang lain daripada pikiran semua kesatuan-aku itu.
5. Mistisisme Filosofis. Mistisisme filosofis merupakan bentuk
monisme yang paling mutlak yang diketahui. Seorang idealis masih
tetap membuat garis pemisah antara dirinya sendiri dengan dunia
di luar dirinya, antara kesatuan-aku yang agung dan semua kesatu
an-aku yang terbatas; namun bagi seorang mistik filosofis, kesadaran
akan yang lain samasekali tiada lagi dan si pengenal kemudian men
jadi sadar bahwa dirinya identik dengan batin subjeknya. Realitas
terakhir merupakan suatu kesatuan utuh yang tidak dapat dijelaskan;
diri manusia bukanlah sekadar mirip realitas terakhir itu, namun iden
tik dengannya; dan persekutuan dengan yang absolut ini terjadi me
lalui usaha moral dan bukan melalui gagasan abstrak yang teoretis.
Dalam menutup survei tentang pandangan-pandangan panteistis
ini, kami mengulangi kembali pernyataan di depan bahwa beberapa
panteis juga memiliki unsur-unsur ateistis, politeistis, atau teistis
dalam teori mereka. Kelima bentuk di atas ini dibahas sebagai pan
dangan panteistis karena demikianlah sifat utamanya atau sifat se
sungguhnya. Sekarang, kekeliruan dan sifatnya yang merusak perlu
dijelaskan.
B. PENOLAKAN TEORI-TEORI PANTEISTIS
Pikiran manusia sangat tertarik kepada pandangan-dunia yang mo-
nistis. Pikiran manusia sangat senang untuk berpikir bahwa segala
sesuatu yang ada memiliki prinsip atau penyebab awal yang sama.
Para filsuf beranggapan bahwa penyebab atau prinsip ini sepenuh
nya ada di dalam dunia. Orang Kristen juga percaya akan
adanya satu penyebab awal yang sama, namun mereka beranggapan
bahwa penyebab ini berada di luar dunia ini maupun di dalam
nya. Pandangan pertama tadi dikenal sebagai monisme, pandangan
yang kemudian dikenal sebagai monoteisme. Karena ada dampak
religius yang sangat luas dan serius berkaitan dengan pandangan
panteistis ini, kami merasa perlu untuk mengetengahkan suatu pe-
56 Teisme
nolakan yang terinci terhadap pandangan ini. Teori-teori panteistis
harus ditolak karena alasan-alasan berikut ini:
1. Teori-teori ini bertolak dari sistem filsafat yang menya
takan bahwa kehendak bebas itu khayalan. Segala kebebasan dari
penyebab-penyebab kedua ditolak; segala sesuatu bertindak dan ber
ada karena memang mutlak perlu. Panteisme materialistis berpikir
dari segi kebutuhan yang dinamis, sedang idealisme absolut berpikir
dari segi kebutuhan yang logis. Terhadap semua pendapat ini kami
mengatakan dengan tegas bahwa kita memiliki kesadaran bahwa
kita ini yaitu pelaku-pelaku yang bebas dan bahwa kita bertang
gung jawab atas kelakuan kita. Karena keyakinan inilah kita men
dirikan pemerintahan serta menghukum para penjahat berdasarkan
kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan.
2. Teori-teori ini menghancurkan semua landasan moral.
Bila segala sesuatu terjadi karena sangat diperlukan, maka kesalah
an dan dosa juga ada karena sangat diperlukan. Akan namun , bila
kita menerima pendapat ini, maka tiga hal akan menyusul pendapat
ini: (1) Dosa bukanlah sesuatu yang samasekali tidak boleh ada,
sesuatu yang perlu dihukum. Akibatnya, panteisme berbicara me
ngenai dosa sebagai kelemahan yang tak dapat dielakkan, sebuah
tahap dalam perkembangan kita. Namun kita berkeyakinan bahwa
kita semua berada di bawah penghukuman dan murka Allah yang
kudus. (2) Kita tidak memiliki tolok ukur untuk membedakan mana
yang betul dan mana yang salah. Jika kita melakukan segala sesuatu
karena mutlak perlu, bagaimana kita dapat mengetahui apakah per
buatan kita betul atau salah? Para panteis menganggap kemanfaatan
sebagai patokan moral. Dan (3) Allah sendiri akhirnya berdosa, ka
rena jika segala sesuatu diharuskan oleh-Nya, maka sesungguhnya
Allah itu atau kurang pengetahuan atau jahat. Bila Allah itu kurang
pengetahuan, lalu bagaimana Ia bisa merupakan terang yang sem
purna dan menjadi sumber segala kebenaran? Bila Tuhan itu jahat,
bagaimana pula kiranya Ia dapat menghukum dosa? Di dalam ke
hidupan masyarakat kafir, khususnya yang telah menjadikan pan
dangan panteisme ini semacam ajaran religius, gagasan ini telah
membuat para penganutnya mendewakan kejahatan serta menghor
mati dan memuja dewa-dewa yang mewakili segala jenis kejahatan.
Jadi jelaslah, panteisme menghancurkan semua landasan moral.
Beberapa Pandangan Dunia Non-Kristen 57
3. Teori-teori ini menjadikan semua agama rasional mustahil.
Beberapa pihak mungkin tidak menganggap alasan ini sebagai
penolakan terhadap panteisme, namun dari sudut filsafat agama hal
ini sangat penting. Dalam menekankan kesatuan metafisis antara
yang manusiawi dengan yang ilahi, pandangan-pandangan panteistis
cenderung menghancurkan kepribadian manusia. Hal ini terjadi
khususnya dalam idealisme absolut dan mistisisme. namun agama
yang benar hanya mungkin ada kalau setiap pribadi yang terlibat
dapat memelihara terus ciri-ciri khas masing-masing, karena agama
yang benar yaitu pelayanan dan penyembahan manusia kepada
yang ilahi. Pada saat garis pemisah antara yang manusia dengan
yang ilahi hilang maka agama yang sejati tidak dimungkinkan lagi.
Yang masih disebut agama oleh sementara orang hanya merupakan
pemujaan diri sendiri.
4. Teori-teori ini menolak imortalitas pribadi dan yang sadar.
Jika manusia hanya merupakan sebagian dari Allah yang tak ter
batas maka pastilah ia merupakan hanya sekejap dalam kehidupan
Allah, sebuah riak pada permukaan laut; pada saat tubuh ini mati,
kepribadiannya berakhir dan permukaan laut tadi kembali tenang.
Jadi, tidak ada lagi hidup secara sadar bagi manusia setelah ke-
matian. Satu-satunya imortalitas yang diharapkan oleh kaum pan-
teis ialah bahwa mereka akan tetap dikenang orang lain serta diserap
ke dalam realitas terakhir yang mahabesar. Akan namun , kita sadar
bahwa kita berdiri sebagai pribadi yang bertanggung jawab kepada
Tuhan dan bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban atas tin
dakan-tindakan yang kita lakukan dalam hidup ini, baik ataupun
jahat (II Korintus 5:10). Kita tahu bahwa setelah kematian, seba
gaimana halnya dalam kehidupan kita saat ini, akan ada garis pe
misah antara yang baik dan yang jahat dan bahwa identitas dan
kepribadian kita tetap terpelihara.
5. Teori-teori ini menyetarakan manusia dengan Tuhan saat
menjadikannya bagian dari Tuhan. Panteisme menyanjung manusia
serta mendorong timbulnya kesombongan manusiawi. Bila segala
sesuatu yang ada ini merupakan suatu manifestasi dari Allah, dan
bila Allah tidak pernah memasuki kesadaran kecuali di dalam diri
manusia, maka manusia merupakan wujud Allah yang tertinggi di
atas muka bumi ini. Sesungguhnya, kita dapat mengetahui kebe-
58 Teisme
saran rohani seseorang dengan melihat sampai sejauh mana dia me
nyadari persamaannya dengan Tuhan. Para panteis menyatakan bah
wa Yesus Kristus yaitu orang pertama yang secara sempurna me
nyadari bahwa manusia merupakan wujud Allah yang tertinggi di
atas muka bumi ini saat mengatakan, "Aku dan Bapa yaitu satu"
(Yohanes 10:30). Orang Hindu pun berpikir demikian bila ia ber
kata, "Aku manunggal dengan Brahma." namun kita tidak dapat
mengatakan apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus, karena kita
yaitu sekadar makhluk ciptaan yang penuh dengan dosa sedangkan
Yesus Kristus yaitu Anak Allah yang kekal. Kekristenan mem
berikan tempat yang sangat tinggi kepada manusia, namun kekris
tenan tidak pernah menjadikan manusia bagian dari Allah.
6. Teori-teori ini tidak dapat menjelaskan realitas yang kongkret.
Panteisme materialistis mengelak realitas kongkret dengan menga
takan bahwa zat yang bergerak selalu sudah ada, namun itu me
rupakan pernyataan dan bukan bukti. Alam semesta ini tidak dapat
memelihara diri sendiri; dan bila alam semesta tidak dapat
memelihara diri sendiri maka pastilah alam semesta memiliki awal.
Panteisme materialistis juga tidak bisa menerangkan pikiran, karena
zat yang mati tidak mungkin dapat menghasilkan hidup ataupun
pikiran. Dan panteisme idealistis lupa bahwa pikiran tanpa pemikir
merupakan suatu abstraksi belaka. Realitas itu senantiasa bersifat
substantif, realitas yaitu pelaku. Tanpa pelaku tidak ada kegiatan,
baik itu kegiatan mental maupun kegiatan jasmaniah. Demikian pula
wujud yang individual mustahil dihasilkan oleh konsep universal
yang abstrak. Jadi, jelas panteisme tidak dapat menjelaskan realitas
kongkret.
IV. PANDANGAN POLITEISTIS
Kami dengan tegas mengatakan bahwa monoteisme merupakan
agama semula umat manusia. Nampaknya pergerakan meninggal
kan monoteisme yang pertama yaitu pergerakan menuju pemujaan
alam. Matahari, bulan, dan bintang-bintang sebagai wakil alam di
angkasa serta api, air, dan udara sebagai wakil bumi, menjadi objek-
objek pemujaan yang tersebar luas. Pada mulanya benda-benda ini
sekadar dipersonifikasikan; kemudian manusia menjadi percaya
Beberapa Pandangan Dunia Non-Kristen 59
bahwa makhluk-makhluk yang berkepribadian tinggal di dalam
benda-benda ini . Politeisme memiliki daya tarik yang kuat bagi
umat manusia yang telah jatuh di dalam dosa. Manusia yang ber
dosa senang untuk bersekutu dengan berhala-berhala (Hosea 4:17)
dan sangat sukar baginya untuk melepaskan diri dari berhala-ber
hala ini . Pemujaan berhala bukan saja membiarkan hati tetap
hampa, namun juga merendahkan derajat pikiran. Paulus menyatakan
bagaimana manusia "berbuat seolah-olah . . . penuh hikmat, namun
telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang
tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana,
burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau bina
tang-binatang yang menjalar" (Roma 1:22-23). Anggota-anggota
jemaat di Tesalonika digambarkan sebagai "berbalik dari berhala-
berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang
benar" (I Tesalonika 1:9). Yohanes menasihatkan, "Waspyaitu ter
hadap segala berhala" (I Yohanes 5:21).
Dalam Alkitab berhala-berhala bangsa kafir kadang-kadang di
nyatakan sebagai tidak berarti dan sia-sia (Yesaya 41:24; 44:9-20),
dan kadang-kadang sebagai wakil atau perwujudan setan-setan
(I Korintus 10:20). Nampaknya pemujaan berhala berarti pemujaan
setan.
V. PANDANGAN DUALISTIS
Teori ini beranggapan bahwa realitas terdiri atas dua substansi atau
dua prinsip yang berbeda dan tak bisa diuraikan lagi. Dalam epis
temologi dua prinsip ini yaitu gagasan dan objek; dalam metafisika
disebut pikiran dan zat; dalam etika, disebut baik dan jahat; dalam
agama dikenal sebagai yang baik atau Tuhan, dan yang jahat atau
Iblis. Namun, orang Kristen tidak dapat menerima bahwa Iblis itu
sama-kekal dengan Tuhan. Iblis bagi orang Kristen hanyalah ciptaan
Allah yang harus tunduk kepada-Nya.
Kant, Sidgwick, para filsuf personalisme modem, orang-orang
Kristen, serta semua orang lain menganut dualisme epistemologis.
Bagi mereka, pikiran dan benda merupakan dua wujud yang ber
beda. Para filsuf awal Yunani, seperti Thales, Empedocles, Anaxa
goras, dan Pythagoras, umumnya disebut sebagai golongan monis,
namun mereka dalam kenyataannya merupakan penganut dualisme
60 Teisme
metafisis. Mereka membedakan antara dua prinsip yaitu pikiran dan
benda. Plato sekalipun, dalam membuat pembedaan yang tajam an
tara ide dengan dunia inderawi, akhirnya juga merupakan seorang
dualis. Semua moralis Inggris dan Kant yang beranggapan bahwa
kehidupan dibagi atas hal yang mutlak benar dan hal yang mutlak
salah merupakan penganut dualisme etis. Jadi, mereka menegakkan
tolok ukur kebenaran yang absolut. Yang jauh lebih penting dari
sudut pandangan Kristen ialah dualisme religius.
Bermula umumnya dengan Zoroastrianisme Persia, Gnostisisme
dan Manikheisme timbul untuk mengganggu gereja yang mula-
mula. Kaum Gnostik nampaknya tumbuh di bagian terakhir abad
pertama. Mereka berusaha menyelesaikan masalah kejahatan de
ngan menciptakan dua dewa, yaitu Allah yang mahatinggi dan
demiurg. Allah Perjanjian Lama bukanlah Allah yang mahatinggi,
karena Allah yang mahatinggi yaitu baik sepenuhnya; Allah Per
janjian Lama yaitu sang demiurg yang menciptakan alam semesta
ini. ada pertikaian yang terus-menerus antara dua allah ini,
suatu pertikaian antara yang baik dengan yang jahat. Manes, yang
rupanya dibesarkan dalam suatu sekte Babilonia kuno, merupakan
pendiri dari gerakan Manikheisme. saat menjumpai kekristenan,
Manes memperoleh gagasan untuk membaurkan dualisme Timur
dengan kekristenan menjadi satu kesatuan harmonis. Manes meng
anggap dirinya sendiri sebagai rasul Kristus dan Parakletos yang
dijanjikan. Ia berusaha keras meniadakan semua unsur Yahudi dari
kekristenan dan menggantikannya dengan Zoroastrianisme.
Pada abad yang lalu, persoalan asal-usul serta kehadiran keja
hatan di atas muka bumi ini kembali telah menduduki tempat ter
atas. Keadaan ini telah membuat beberapa pihak mundur kembali
kepada bentuk dualisme yang kuno. Allah dan zat, atau seperti di
katakan beberapa orang Allah dan Iblis, keduanya kekal. Allah ter
batas kuasa-Nya dan mungkin juga pengetahuan-Nya, namun bukan
sifat-Nya, Allah sedang berusaha sekuat-kuatnya untuk memper
baiki dunia yang keras kepala dan akhirnya Ia akan memperoleh
kemenangan sepenuhnya di atas dunia. Manusia seharusnya mem
bantu Allah dalam perjuangan ini sehingga dengan demikian mem
percepat kalahnya kejahatan. Allah dianggap sebagai sedang ber
kembang dan terbatas.
Adanya kejahatan memang merupakan masalah yang teramat su-
Beberapa Pandangan Dunia Non-Kristen 61
lit bagi setiap pemikir, namun dualisme bukanlah jawaban yang
memuaskan. Allah yang terbatas seperti di atas tidak dapat me
muaskan hati manusia, karena Allah yang seperti tak dapat men
jamin bahwa yang baik akhirnya akan menang. Sesuatu yang tidak
diduga mungkin saja terjadi untuk menggagalkan semua maksud
baik Allah; bagaimana kira-kira orang percaya dapat berdoa dengan
penuh iman kepada Allah yang mungkin saja kalah oleh kuasa ke
jahatan Iblis? Selanjutnya, keterbatasan Allah juga tidak membebas
kan Allah dari tanggung jawab atas adanya kejahatan seperti pan
dangan tradisional. Sebagian besar penganut teori ini mengajarkan
bahwa Allah entah bagaimana menciptakan sesuatu yang tidak sem
purna, sehingga proses penyempurnaan itu berlangsung terus sam
pai kekal. Karena mereka percaya bahwa menciptakan alam semes
ta memerlukan adanya kejahatan, maka menurut pandangan mereka
dunia yang dikuasai kejahatan ini yaitu ciptaan Tuhan. Tambahan
pula, ajaran ini meliputi kepercayaan akan Allah yang bertumbuh
dan berkembang terus; yaitu Allah yang makin hari makin berhasil
dan mungkin bahkan makin hari makin baik. namun jelaslah pan
dangan ini samasekali mengabaikan petunjuk-petunjuk Alkitab yang
mengatakan bahwa Allah itu sempurna dan tak berubah dalam hik
mat, kuasa, keadilan, kebaikan, dan kebenaran-Nya sehingga tidak
cocok dengan pikiran kita tentang Allah. Akhirnya, pandangan ini
menolak adanya Iblis, musuh bebuyutan Allah, yang dalam Alkitab
digambarkan sebagai penyebab semua kejahatan yang ada.
VI. PANDANGAN DEISTIS
Bila pandangan panteis memegang imanensi Allah sampai meniada
kan transendensi-Nya, maka deisme memegang transendensi Allah
sampai meniadakan imanensi-Nya. Bagi deisme, Allah hanya hadir
dengan kuasa-Nya saat menciptakan alam semesta. Allah telah
membekali ciptaan-Nya dengan hukum-hukum yang tidak mungkin
berubah atas mana Allah melakukan pengawasan ala kadarnya; Ia
telah memberikan makhluk ciptaan-Nya kemampuan-kemampuan
tertentu, menempatkan mereka di bawah hukum-hukum-Nya yang
tak mungkin berubah, lalu membiarkan mereka berusaha untuk me
nentukan nasibnya sendiri. Deisme tidak percaya akan adanya pe
nyataan khusus, mukjizat, dan pemeliharaan ilahi. Deisme menan-
Teisme62
daskan bahwa semua kebenaran tentang Allah dapat
ditemukan oleh akal dan bahwa Alkitab hanyalah kitab yang berisi
prinsip-prinsip agama alami yang dapat diketahui dari alam.
Orang Kristen menolak deisme karena ia percaya bahwa kita me
miliki penyataan khusus tentang Allah di dalam Alkitab; bahwa
Allah hadir di alam semesta ini dalam pribadi maupun kuasa-Nya;
bahwa Allah secara terus-menerus mengatur pemeliharaan seluruh
hasil karya ciptaan-Nya; bahwa Allah menjawab doa; dan bahwa
kaum deis memperoleh sebagian besar dogma religius mereka dari
Alkitab dan bukan dari alam dan akal semata. Orang Kristen ber
anggapan bahwa Allah deistis yang absen tidaklah lebih baik dari
pada tidak ada Allah samasekali.
BAGIAN II
BIBLIOLOGI
(AJARAN TENTANG ALKITAB)
Setelah menunjukkan bahwa Tuhan telah menyatakan diri-Nya dan
setelah membuktikan bahwa Dia itu memang ada berdasarkan
banyak bukti yang telah diajukan, maka kita kini ingin mengetahui
bagaimana dan di mana kita bisa mendapatkan lebih banyak kete
rangan tentang Dia. Dengan kata lain, kita ingin mengetahui sum
ber-sumber teologi, informasi yang akurat dan tidak-mungkin-salah
tentang Dia serta hubungan-Nya dengan alam semesta ini. Ada
empat arah yang telah dipakai manusia dalam rangka mencari sum
ber-sumber teologi ini : akal, wawasan mistis, Alkitab, dan
gereja. Dalam pasal-pasal terdahulu telah kami tunjukkan tempat
yang sah beserta segenap keterbatasan dari akal dan
wawasan mistis. Kini kita tinggal melihat apakah Tuhan telah mem
berikan wewenang kepada gereja atau kepada Alkitab sebagai sum
ber teologi yang benar.
Ajaran Katolik Roma sudah lama beranggapan bahwa Tuhan te
lah memberikan kepada gereja wewenang untuk mengajarkan kebe
naran yang mutlak dan tidak-mungkin-salah. Dikatakan bahwa
Tuhan telah menyampaikan semua penyataan-Nya kepada gereja
ini , penyataan dalam bentuk yang tertulis maupun yang tidak
tertulis, dan bahwa kehadiran serta bimbingan Roh Kudus senan
tiasa menaungi gereja ini sehingga melindunginya dari kesalahan
dalam pengarahan dan pembinaan iman. Sifat tidak-mungkin-salah
ini menjangkau sampai ke masalah-masalah iman dan moral serta
segala hal yang oleh gereja dinyatakan sebagai bagian dari penyata
an Tuhan. Menurut pandangan ini, gereja Katolik Roma merupakan
satu-satunya gereja yang benar. saat para uskup bersidang, maka
secara kolektif mereka itu tidak-mungkin-salah; dan pada saat Sri
63
64 Bibliologi
Paus yang merupakan uskup Roma, berbicara ex cathedra (dalam
fungsinya sebagai wakil Petrus), maka Paus merupakan alat Roh
Kudus dan beliau menyatakan keputusan gereja yang tidak-
mungkin-salah.
Akan namun , Tuhan tidak pernah memberikan wewenang yang
begitu besar kepada organisasi lahiriah mana pun juga. Memang
ada manfaatnya bila dalam memutuskan suatu masalah doktrin yang
pelik kita berkonsultasi dengan umat Allah yang benar, karena ge
reja merupakan "tiang penopang dan dasar kebenaran" (I Timotius
3:15); namun ayat ini menunjuk kepada tubuh Kristus yang tidak
kelihatan, bukan kepada organisasi gereja yang lahiriah. Tuhan tidak
hadir dalam suatu organisasi lahiriah, namun di dalam hati setiap
orang percaya yang sejati. Bimbingan secara bertahap ke dalam ke
benaran yang dijanjikan dalam Yohanes 16:12 dan seterusnya ha
nyalah berlaku bagi orang-orang yang kepadanya bimbingan itu di
janjikan, kecuali untuk memungkinkan orang-orang percaya
mengerti hal-hal yang telah dikaruniakan Tuhan kepada
mereka (I Korintus 2:12), maksudnya, hal-hal yang tercatat dalam
Alkitab. Setiap anak Tuhan sejati memiliki berkat pelayanan pen
cerahan Roh Kudus yang memungkinkan dia memahami Alkitab;
dan karunia ini tidak diberikan kepada organisasi lahiriah mana pun
juga.
Alkitab hendaknya diterima sebagai sumber teologi yang paling
menentukan. Gereja yang benar sepanjang sejarahnya senantiasa
memandang Alkitab sebagai wujud penyataan ilahi dan bahwa pen
catatan penyataan yang ada di dalamnya itu asli, dapat diper
caya, berkenaan dengan kanon, diilhami secara adikodrati. Biblio
logi memeriksa Alkitab untuk melihat apakah kepercayaan ini
benar atau tidak.
V
Alkitab: Perwujudan Penyataan
Ilahi
Kemungkinan dikerjakannya sebuah teologi bertolak dari kenyataan
bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya serta kemampuan alamiah
yang dimiliki oleh manusia. Unsur yang kedua untuk sementara ini
telah dibahas secara cukup meluas dan mendalam, namun unsur yang
pertama perlu diuraikan dengan lebih lengkap. Pendapat orang Kris
ten senantiasa mempertahankan keyakinan bahwa penyataan Allah
memiliki wujud yang tertulis, dan Alkitab merupakan wujud tertulis
penyataan Allah ini . Dengan demikian Alkitab merupakan
sumber terpenting teologi Kristen. Apa bukti-bukti nyata bagi ke
percayaan ini?
I. ALASAN APRIORI
Sesungguhnya, alasan ini yaitu alasan yang bergerak dari sesuatu
yang ada lebih dahulu menuju kepada sesuatu yang ada kemudian.
Bila dikaitkan dengan pembahasan kita saat ini, maka alasan apriori
ini dapat diungkapkan sebagai berikut: manusia sebagaimana ada
nya dan Tuhan sebagaimana adanya memungkinkan kita mengha
rapkan sebuah penyataan dari Allah serta wujud tertulis dari bagian-
bagian penyataan ini yang cukup memadai untuk dijadikan
sumber kebenaran teologi yang dapat dipercaya dan tidak-mungkin-
salah. Bagian-bagian dari alasan ini akan kita selidiki secara lebih
terinci. Manusia bukan saja telah berbuat dosa dan telah dijatuhi
hukuman kematian abadi, namun manusia juga mempunyai kecen
derungan untuk menjauh dari Allah, mengabaikan maksud-maksud
serta cara-cara penyelamatan Tuhan, dan tidak mampu kembali
65
66 Bibliologi
kepada Allah dengan kekuatannya sendiri. Manusia, dengan kata
lain, berada dalam keadaan yang sangat parah yang tidak terlalu
disadarinya. Manusia juga tidak tahu apakah ia dapat diselamatkan
dari keadaan ini , dan bila ia dapat diselamatkan manusia juga
tidak tahu bagaimana caranya ia dapat diselamatkan. Penyataan-
penyataan Allah yang umum maupun khusus yang tidak tertulis
tidaklah menjawab persoalan ini. Dengan demikian jelaslah, manu
sia memerlukan petunjuk-petunjuk yang tidak-mungkin-salah me
ngenai masalah yang paling penting dalam hidup ini, yaitu kesejah
teraan kekal.
Sebagai perbandingan atas kebutuhan manusia yang demikian be
sar, kita mengenal sifat-sifat dan perangai Allah yang memungkin
kan kebutuhan itu dipenuhi. Allah orang Kristen itu mahatahu, ku
dus, penuh kasih dan kemurahan, serta mahakuasa. Karena Allah
orang Kristen itu mahatahu, maka Allah mengetahui segala sesuatu
tentang kebutuhan manusia; karena Ia kudus, maka Ia tidak dapat
memaafkan dosa manusia secara sembarangan saja serta bersekutu
dengan manusia yang berdosa; karena Ia itu pengasih dan pemurah,
maka Ia dapat saja tergerak hati-Nya untuk mencari serta member
lakukan sebuah rencana keselamatan. Karena Allah orang Kristen
itu mahakuasa, maka Ia bukan saja mampu menyatakan diri-Nya,
namun Ia pasti juga mampu menyuruh ditulisnya semua penyataan
diri-Nya yang diperlukan untuk mengalami keselamatan.
Kami mengakui bahwa alasan ini tidak dapat memberikan ke
yakinan yang lebih mendalam selain daripada keyakinan bahwa
mungkin sekali Alkitab merupakan wujud penyataan ilahi. Karena
sekalipun Allah yaitu kasih dan kasih ini digunakan dalam
ke-Allahan, terlepas dari suatu penyataan yang jelas dengan tujuan
itu kita tidak bisa mengetahui apakah Allah yang kasih itu juga
mengasihi orang berdosa. Kita tidak boleh menjadikan kasih Allah
itu sebagai sikap yang tak dapat tidak hams diambil Allah terhadap
orang berdosa, sebab bila demikian maka kasih bukan lagi kasih,
kemurahan bukan lagi kemurahan, dan kasih karunia bukan lagi
kasih karunia. Unsur kesukarelaan hams tetap terpelihara di dalam
ketiganya itu, karena manusia sudah kehilangan semua hak untuk
memperoleh kasih, kemurahan, serta kasih karunia Allah. Namun
alasan ini masih berharga karena dapat membangkitkan harapan
Alkitab: Perwujudan Penyataan Ilahi 67
bahwa Allah berkenan memenuhi kebutuhan manusia yang paling
mendesak dan penting,
II. ALASAN BERDASARKAN ANALOGI
Alasan ini terbit dari persesuaian yang ada antara perbandingan atau
hubungan antara berbagai hal. Alasan ini menguatkan alasan yang
pertama karena lebih menegaskan kemungkinan bahwa Alkitab me
rupakan wujud penyataan Allah yang tertulis. Alasan ini dapat di
ungkapkan dalam dua bagian. Pertama, begitu kita memasuki dunia
di mana komunikasi dibutuhkan antara pribadi-pribadi yang me
miliki inteligensi tertentu, kita pasti menjumpai adanya ungkapan
langsung, semacam "penyataan". Bahkan hewan menunjukkan (me
nyingkapkan) perasaan mereka lewat suara mereka. Dan di setiap
bagian masyarakat ada semacam percakapan. ada komu
nikasi langsung antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain,
ungkapan isi hati dan perasaan yang ada senantiasa, disajikan se
demikian rupa sehingga dapat dipahami dengan jelas. Karena itu,
tidak mungkin dilancarkan keberatan yang kuat terhadap mungkin
nya sebuah penyataan yang jelas dan benar, yang semata-mata ber
tolak dari analogi alam saja. Sekalipun alasan ini tidak dapat mem
buktikan bahwa penyataan Allah itu akan mewujudkan diri dalam
bentuk sebuah kitab, namun alasan ini dapat dipakai sebagai pe
nyumbang bukti ke arah keyakinan semacam itu.
Kedua, di alam ini ada tanda-tanda kebaikan yang menyem
buhkan, dan dalam kehidupan setiap pribadi serta bangsa ada
bukti adanya kesabaran dalam urusan-urusan pemeliharaan sehingga
merupakan landasan bagi timbulnya pengharapan. Kita melihat pe
nyembuhan anggota badan, pengobatan penyakit, serta penundaan
penghukuman untuk sementara waktu. Semua ini menyediakan lan
dasan kuat untuk berpikir bahwa Allah alam ini yaitu Allah yang
panjang sabar dan penuh kemurahan (Kisah Para Rasul 14:15-17).
Alasan ini telah membawa kita sedikit lebih jauh daripada alasan
apriori. Alasan yang pertama tadi telah membuat kita sekadar ber
harap bahwa Allah mungkin berkenan menolong manusia yang
telah jatuh di dalam dosa; alasan yang kedua membuktikan bahwa
Allah benar-benar membantu makhluk ciptaan-Nya yang memer
lukan pertolongan. Hal ini dilakukan dengan menunjukkan bahwa
68 Bibliologi
Allah telah menyediakan berbagai sarana untuk menyembuhkan ba
nyak penyakit yang diderita oleh hewan dan tanaman, serta menun
jukkan bahwa Allah pada umumnya bersikap ramah dan panjang
sabar terhadap umat manusia pada umumnya. namun sekali lagi,
hanya secara sangat umum saja kita dapat menarik kesimpulan dari
alasan ini bahwa Ia berkenan mewujudkan rencana serta janji-janji-
Nya secara tertulis.
III. ALASAN BERDASARKAN KENYATAAN
BAHWA ALKITAB
TIDAK BISA DIMUSNAHKAN
Bila kita ingat bahwa hanya sedikit sekali buku yang bertahan lebih
lama dari seperempat abad, bahwa jumlah yang lebih sedikit lagi
bisa bertahan selama satu abad, dan bahwa hanya jumlah yang amat
sangat sedikit bisa bertahan selama seribu tahun, maka kita langsung
sadar bahwa Alkitab merupakan sebuah kitab yang sangat unik. Di
samping itu, bila kita mengingat situasi-situasi di bawah mana
Alkitab telah bertahan selama ini maka kenyataan akan uniknya
Alkitab pastilah sangat mengejutkan. Selanjutnya, "Bukan saja Alki
tab lebih dimuliakan dan dicintai daripada buku lain mana pun juga,
namun Alkitab juga merupakan kitab yang paling banyak menjadi
sasaran penganiayaan dan perlawanan."
Dalam kesempatan ini kita hanya dapat menyebutkan beberapa
usaha yang telah diupayakan untuk menumpas dan membinasakan
Alkitab atau bila usaha ini tidak berhasil, mencomot wibawa
ilahi yang dimiliki Alkitab. Para raja Romawi segera sadar bahwa
orang-orang Kristen melandaskan kepercayaan mereka pada
Alkitab. Oleh karenanya, mereka berusaha untuk menumpas atau
memusnahkan Alkitab. Melalui sebuah dekrit pada tahun 303 TM,
Kaisar Diocletianus menuntut agar setiap jilid Alkitab dibakar. Ia
membunuh begitu banyak orang Kristen dan menghancurkan begitu
banyak Alkitab sehingga ia merasa telah berhasil memusnahkan
Alkitab secara tuntas saat orang-orang Kristen bersembunyi dan
tidak memperlihatkan kegiatan selama beberapa waktu. Diocletia
nus menyuruh membuat sebuah medali yang bertuliskan, "Agama
15 Bancroft, Christian Theology, hal. 360.
Alkitab: Perwujudan Penyataan Ilahi 69
Kristen telah musnah dan penyembahan para dewa telah dipulih
kan." Akan namun , hanya beberapa tahun kemudian Constantinus
naik takhta dan mengumumkan agama Kristen sebagai agama
negara.
Sepanjang Abad Pertengahan, para cendekiawan menempatkan
pengakuan iman di atas Alkitab. Sekalipun sebagian besar di antara
mereka saat itu masih berusaha menopang pengakuan itu dengan
ayat-ayat Alkitab, secara bertahap tradisi menjadi makin kuat.
Gereja-negara mengambil alih kuasa untuk menafsirkan Alkitab, se
hingga penelaahan Alkitab oleh kaum awam dibatasi dan dicurigai,
dan bahkan tidak jarang dilarang pula.
Pada masa Reformasi, yaitu saat Alkitab diterjemahkan ke da
lam bahasa yang dapat dipahami umum, gereja yang resmi mem
batasi secara ketat pembacaan Alkitab dengan alasan bahwa kaum
awam tidak mampu mengartikan isi Alkitab. Orang awam tidak
diizinkan membaca dan menafsirkan isi Alkitab itu sendiri. Banyak
orang yang harus berkorban jiwa karena mereka merupakan peng
ikut Kristus yang percaya pada Alkitab. Bahkan pada masa itu di
buat hukum-hukum tertentu yang melarang penerbitan Alkitab.
Menarik untuk dicamkan bahwa dalam hubungan dengan ini Vol
taire, kafir Perancis yang tersohor itu, meramalkan bahwa dalam
kurun waktu seratus tahun lagi sejak zamannya tidak akan ada ke
kristenan lagi di atas muka bumi ini.
Baik keputusan negara Romawi maupun peraturan-peraturan
kegerejaan tidak pernah berhasil memusnahkan Alkitab. Makin
keras usaha memusnahkan Alkitab makin luas pula Alkitab itu ter
sebar. Usaha terakhir untuk menghilangkan wibawa Alkitab ialah
usaha untuk menurunkan wibawa Alkitab menjadi sejajar dengan
kitab-kitab keagamaan kuno lainnya. Bila Alkitab tetap akan di
sebarkan, maka wibawa adikodratinya harus ditiadakan lebih dulu.
Namun Alkitab tetap saja menunjukkan wibawa adikodratinya, dan
dewasa ini dibaca oleh berjuta-juta orang Kristen di seluruh dunia
serta diterjemahkan ke dalam beratus-ratus bahasa. Kenyataan bah
wa Alkitab tidak dapat dimusnahkan menandaskan bahwa Alkitab
merupakan wujud suatu penyataan ilahi.
70 Bibliologi
IV. ALASAN BERDASARKAN SIFAT ALKITAB
Pada saat kita merenungkan sifat Alkitab, maka mau tidak mau kita
mengakui adanya satu kesimpulan saja: Alkitab merupakan wujud
penyataan ilahi. Pertama-tama, perhatikanlah isi Alkitab. Alkitab
mengakui kepribadian, kesatuan, dan ketritunggalan Allah; Alkitab
mengagungkan kekudusan dan kasih Allah; Alkitab mengisahkan
bahwa manusia yaitu ciptaan Allah, yang diciptakan menurut gam-
bar-Nya. Alkitab menggambarkan kejatuhan manusia sebagai suatu
pemberontakan yang sadar terhadap kehendak Allah yang sudah
dinyatakan kepadanya. Dosa digambarkannya sebagai sesuatu yang
tidak dapat diampuni dan telah dijatuhi hukuman kekal. Alkitab
mengajarkan pemerintahan Allah yang berdaulat penuh atas alam
semesta ini serta menunjukkan secara sangat terinci bagaimana
Allah telah menyediakan keselamatan serta memberi tahu syarat-
syarat untuk memperoleh keselamatan itu. Alkitab menunjukkan
rencana Allah bagi Israel dan gereja; juga menubuatkan masa depan
dunia secara sosial, ekonomi, politik, dan religius. Alkitab meng
gambarkan puncak segala sesuatu dalam kedatangan Kristus yang
kedua kalinya, peristiwa-peristiwa kebangkitan, penghakiman, kera-
jaan seribu tahun, dan masa kekekalan. Pastilah kitab semacam ini
hanya bisa berasal dari Allah yang mahakuasa.
Kedua, perhatikanlah kesatuan amanat Alkitab. Sekalipun Alki
tab ditulis oleh sekitar empat puluh penulis berbeda selama rentang
waktu sekitar 1.600 tahun, amanatnya satu. Alkitab mempunyai satu
sistem doktrinal, satu tolok ukur moral, satu rencana keselamatan,
satu program untuk segala zaman. Kadang-kadang diketengahkan
beberapa kisah tentang satu peristiwa atau ajaran tertentu, namun
kisah-kisah itu tidak saling bertentangan, namun justru saling me
lengkapi. Misalnya, sudahlah pasti bahwa tulisan di atas salib Kris
tus berbunyi sebagai berikut, "Inilah Yesus orang Nazaret Raja
orang Yahudi." Matius menuliskannya sebagai berikut, "Inilah Ye
sus Raja orang Yahudi" (27:37). Markus menulisnya, "Raja orang
Yahudi" (15:26); Lukas, "Inilah raja orang Yahudi" (23:38); se
dangkan Yohanes, "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi"
(19:19). Taurat dan kasih karunia ternyata saling melengkapi bila
sifat dan maksudnya dipahami dengan benar. Kisah orang-orang
dan bangsa-bangsa yang jahat samasekali tidak mengganggu dan
Alkitab: Perwujudan Penyataan Ilahi 71
bahkan berguna jika kita mencamkan bahwa kisah itu dicatat untuk
dikutuk. Ajaran tentang Roh Kudus disajikan secara bertahap ber-
padan dengan penyingkapan kebenaran ini. Alkitab merupakan
suatu kesatuan utuh yang mengagumkan.
Dengan mempertimbangkan isi dan kesatuan Alkitab kita mau
tidak mau harus menyimpulkan bahwa Alkitab merupakan wujud
penyataan ilahi. Siapakah yang sanggup menciptakan pandangan
dunia dan pandangan hidup semacam itu? Penulis siapakah yang
dapat menguraikan pandangan itu dengan demikian konsisten dan
berkesinambungan sepanjang kurun waktu yang demikian lama?
Pache mengatakan, "Hanya Tuhan yang dapat mengerti dalam se
kejap tujuan dan akhir alam semesta karena bagi-Nya waktu tidak
berarti. Dari kekal sampai kekal Dialah Allah (Mazmur 90:2). Boleh
dikatakan bahwa dengan sesaat Allah dapat melihat masa keke
kalan sebelum kita dan masa kekekalan sesudah kita. Hanya Allah,
yaitu Dia yang mengilhami seluruh Alkitab, dapat memberikan ke
satuan pandangan yang dimiliki oleh Alkitab."16
V. ALASAN BERDASARKAN PENGARUH
ALKITAB
Banyak sekali buku-buku terkenal yang telah sangat mempengaruhi
kehidupan di atas muka bumi ini. Akan namun , pengaruh buku-buku
ini sangat berbeda dengan pengaruh yang dimiliki oleh Alkitab.
Buku-buku itu telah menimbulkan pandangan yang rendah
tentang Allah dan dosa, dan bahkan menyebabkan orang tidak
mengakui adanya dosa. Hasilnya yaitu sikap acuh tak acuh ter
hadap kehidupan dan pandangan yang berkaitan dengan akhlak dan
perilaku. Sebaliknya, Alkitab telah mempengaruhi terciptanya
karya-karya yang sangat indah dalam bidang kesenian, arsitektur,
kesusasteraan, dan musik. Pengaruhnya sangat besar dalam pem
buatan undang-undang dasar berbagai negara dan dalam banyak
pembaharuan sosial yang besar. Di mana ada kitab yang mempunyai
pengaruh semacam itu? Jelas, hal ini merupakan bukti bahwa Al
kitab merupakan penyataan Allah kepada umat manusia yang me
merlukan pertolongan. Selain itu, pengaruh Alkitab telah meng
ubah dan membaharui kehidupan berjuta-juta orang. 16
16 Pache, The Inspiration and Authority of Scripture, hal. 112.
72 Bibliologi
VI. ALASAN BERDASARKAN NUBUAT YANG
DIGENAPI
Alasan ini nampaknya dapat dimasukkan dalam alasan yang keem
pat tadi, namun karena memiliki keunikan tersendiri maka alasan ini
dibahas secara tersendiri. Kenyataan nubuat telah kita bahas dalam
Pasal II. Dalam kesempatan kali ini kita menelitinya untuk mem
buktikan bahwa Alkitab yaitu wujud penyataan ilahi. Hanya Allah
yang mampu menyingkapkan masa depan, sedangkan nubuat ten
tang masa depan merupakan mukjizat pengetahuan. Nubuat yang
digenapi menunjukkan bahwa para penulis nubuat-nubuat dalam
Alkitab memiliki sejenis pengetahuan yang bersifat adikodrati.
Rasul Petrus berbicara tentang kenyataan ini saat menyatakan
bahwa nabi-nabi Perjanjian Lama "oleh dorongan Roh Kudus ...
berbicara atas nama Allah" (II Petrus 1:21). Bila kita bisa menun
jukkan bahwa nubuat-nubuat Perjanjian Lama telah digenapi secara
terinci, maka dengan sendirinya kita telah membuktikan peranan
penyataan ilahi. Mari kita melihat beberapa nubuat.
Nubuat-nubuat tentang terseraknya Israel ke berbagai penjuru
bumi telah digenapi seluruhnya (Ulangan 28:15-68; Yeremia 15:4;
16:13; Hosea 3:4). saat nubuat itu digenapi, Samaria akan di
gulingkan, sedangkan Yehuda akan terpelihara (I Raja-Raja 14:15;
Yesaya 7:6-8; Hosea 1:6-7); Yehuda dan Yerusalem, sekalipun di
selamatkan dari bangsa A syur, kemudian akan jatuh ke tangan
orang-orang Babilonia (Yesaya 39:6; Yeremia 25:9-12). Samaria
akan dibinasakan sampai selama-lamanya (Mikha 1:6-9), sedangkan
kehancuran Yerusalem akan diikuti oleh pemugaran (Yeremia
29:10-14). Nama orang yang akan memugar Yehuda disebut dalam
nubuat (Yesaya 44:28; 45:1); orang-orang Media dan Persia akan
mengalahkan Babilonia (Yesaya 21:2; Daniel 5:28); Yerusalem be
serta dengan bait sucinya akan dibangun kembali (Yesaya 44:28).
Demikian pula nubuat-nubuat tentang bangsa-bangsa kafir telah
digenapi. Nubuat tentang Babilonia, Tirus, Mesir, Amon, Moab,
Edom, dan Filistin telah digenapi semuanya (Yesaya 13-23; Yere
mia 46-51). Secara khusus, nubuat-nubuat tentang empat kerajaan
dunia yang besar dalam Daniel 2 dan Daniel 7 telah digenapi. Be
berapa bagian dari nubuat mengenai kerajaan yang keempat jelas
akan digenapi di masa yang akan datang dan membawa kita kepada
Alkitab: Perwujudan Penyataan Ilahi 73
kedatangan Kristus yang kedua kalinya, namun semua bagian lain
tentang keempat kerajaan besar ini telah digenapi. Demikian pula
nubuat tentang perjuangan sengit antara Siria dengan Mesir, yang
timbul setelah wafatnya Aleksander Agung, semuanya telah dige
napi. Demikian terincinya persesuaian antara nubuat dalam Daniel
11 dengan kenyataan sejarah yang diacunya sehingga golongan
yang menentang hal-hal adikodrati dengan tegas mengatakan bahwa
Daniel 11 merupakan sejarah dan bukan nubuat. Atas dasar asumsi
ini mereka menetapkan tanggal penulisan kitab Daniel pada sekitar
168-165 SM. Bagaimanapun juga, mereka yang percaya akan pe
nyataan adikodrati dari Allah masih terus mempertahankan penda
pat bahwa dalam Daniel 11 ini kita memiliki bukti yang sangat kuat
bahwa Alkitab yaitu wujud kemahatahuan ilahi dan bukan catatan
tentang sejarah yang sudah lampau dan dicatat dengan tujuan peni
puan yang bersifat religius.
Masih banyak lagi nubuat-nubuat lain dalam Alkitab yang dapat
disebut sebagai bukti dari hal yang sama. Misalnya, nubuat tentang
bertambahnya pengetahuan dan lalu lintas di kemudian hari (Daniel
12:4), lanjutan perang dan berita-berita tentang perang (Matius
24:6-7), meningkatnya kejahatan (II Timotius 3:1-13), dipeliharanya
sisa kaum Israel (Roma 11:1-5, 25-32), dibangkitkannya kembali
tulang-tulang kering ini dan pemulihan hidup nasional dan rohani
(Yehezkiel 37:1-28). Siapa yang mampu meramalkan dan melihat
hal-hal ini jauh sebelum semua peristiwa itu sendiri terjadi? Semua
ini membuktikan lagi bahwa Alkitab yaitu wujud penyataan ilahi.
VII. TUNTUTAN ALKITAB SENDIRI
Alkitab tidak hanya menegaskan bahwa dirinya merupakan penya
taan dari Allah, namun juga bahwa dirinya merupakan rekaman yang
mutlak sempurna dari penyataan ilahi itu. Sifat tidak mungkin salah
dari Alkitab ini akan kita bahas kemudian. Sekarang kita akan
membahas apa yang dikatakan Alkitab sendiri tentang amanatnya
sebagai penyataan Allah. Namun, pada awal pembahasan ini kita
berhadapan dengan keberatan bahwa membuktikan Alkitab sebagai
penyataan Allah tidak mungkin dilakukan dengan cara mengutip
kesaksian dari Alkitab itu sendiri. Akan namun , bila kita dapat mem
buktikan keaslian kitab-kitab dalam Alkitab serta kebenaran dari
74 Bibliologi
apa yang dilaporkannya tentang pokok-pokok lain, maka kita di
benarkan juga saat menerima kesaksian Alkitab tentang dirinya
sendiri. Jika kita telah memeriksa surat kepercayaan seorang duta
besar dan telah yakin bahwa pemberian kekuasaannya itu absah
maka kita dapat menerima juga pernyatannya mengenai sifat ke
kuasaannya dan sumber informasinya.
Dalam Pentateukh kita sering menemukan kalimat yang berbu
nyi, "Berfirmanlah Tuhan kepada Musa, demikian ..." (Keluaran
14:1; Imamat 4:1; Bilangan 4:1; Ulangan 32:48). Tuhan telah
menugaskan Musa untuk menulis apa yang difirmankan Tuhan
kepadanya dalam sebuah kitab (Keluaran 17:14; 34:27), dan tugas
itu pun dilaksanakannya (Keluaran 24:4; 34:28; Bilangan 33:2;
Ulangan 31:9, 22, 24). Para nabi pun mengatakan, "Sebab Tuhan
berfirman ..." (Yesaya 1:2); "Berfirmanlah Tuhan kepada Yesaya"
(Yesaya 7:3); "Beginilah firman Tuhan" (Yesaya 43:1); "Firman
yang datang kepada Yeremia dari Tuhan, bunyinya ..." (Yeremia
11:1); "Datanglah firman Tuhan kepada Yehezkiel" (Yehezkiel 1:3);
"Firman Tuhan yang datang kepada Hosea" (Hosea 1:1); "Firman
Tuhan yang datang kepada Yoel" (Yoel 1:1). Telah ditegaskan
bahwa di dalam Perjanjian Lama ada lebih dari 3.800 kalimat
semacam itu. Jadi, jelaslah Perjanjian Lama menegaskan bahwa
dirinya yaitu penyataan Allah.
Para penulis Perjanjian Baru juga menyatakan bahwa mereka
mengumumkan amanat Tuhan. Paulus menegaskan bahwa apa yang
ditulisnya itu merupakan perintah Tuhan sendiri (I Korintus 14:37);
bahwa apa yang dikhotbahkannya itu hendaknya diterima sebagai
Firman Allah sendiri (I Tesalonika 2:13); bahwa keselamatan ma
nusia tergantung pada iman terhadap ajaran yang diajarkannya (Ga
latia 1:8). Yohanes mengajarkan bahwa kesaksiannya yaitu kesak
sian Allah (I Yohanes 5:10). Peter menghendaki agar para pembaca
suratnya "mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan
oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juru
selamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasul kepadamu" (II Pe
trus 3:2). Sedangkan penulis kitab Ibrani bernubuat bahwa suatu
penghakiman yang lebih hebat akan dialami oleh mereka yang me
nolak firman yang telah disampaikan kepadanya oleh mereka yang
telah mendengar Kristus, lebih hebat daripada hukuman yang me
nimpa mereka yang melanggar hukum Musa (Ibrani 2:1-4).
Alkitab: Perwujudan Penyataan Ilahi 75
Kekuatan bukti-bukti yang telah disajikan ini bersifat kumulatif.
Bila semua alasan ini dilihat secara terpisah, maka mungkin saja
alasan-alasan itu tidak meyakinkan; namun bila kita mengizinkan
setiap alasan itu menyumbangkan sedikit kebenarannya maka pas
tilah kita dipaksa untuk menarik kesimpulan bahwa Alkitab me
rupakan wujud penyataan ilahi. Dan dengan menerima gagasan ini,
kita telah memiliki latar belakang yang perlu untuk memahami po
kok-pokok bahasan Bibliologi selanjutnya.
VI
Keaslian, Kredibilitas, dan
Kanonitas
Kitab-Kitab Dalam Alkitab
Bila kita telah menerima kenyataan bahwa Alkitab kita merupakan
wujud penyataan ilahi, maka dengan segera kita menjadi tertarik
untuk mengetahui sifat dokumen-dokumen yang berisi penyataan
ini . Kita ingin mengetahui apakah berbagai kitab itu asli, dapat
dipercaya, kanonik. Pokok itulah yang akan kita bahas sekarang ini.
L KEASLIAN KITAB-KITAB DALAM ALKITAB
Yang dimaksudkan dengan keaslian dalam hal ini ialah bahwa se
buah kitab memang ditulis oleh penulis atau para penulis yang
namanya dipakai untuk kitab ini . Bila kitab itu sendiri tidak
mencantumkan nama penulisnya, ia ditulis oleh orang atau beberapa
orang yang disebutkan dalam tradisi kuno, atau bila tidak demikian
maka yang diutamakan ialah saat penulisan yang disebutkan oleh
tradisi. Kitab itu dikatakan tidak asli lagi kalau tidak ditulis pada
waktu yang disebutkan atau oleh penulis yang diakui oleh buku itu
sendiri. Sebuah kitab disebut otentik bila mengisahkan fakta-fakta
sesuai dengan apa yang terjadi. Kitab itu dikatakan tidak otentik
lagi bila naskahnya telah mengalami perubahan dalam cara apa pun
juga.
Bahwa kitab-kitab dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
itu otentik dan asli dapat ditunjukkan dengan cara berikut.
77
78 Bibliologi
A. KEASLIAN KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA
Untuk suatu penjelasan yang lengkap tentang bukti-bukti ke
aslian kitab-kitab Perjanjian Lama pembaca kami persilakan
mengacu sendiri pada buku-buku Pengantar Perjanjian Lama khu
susnya buku-buku dalam bahasa Inggris yang sudah merupakan
standar. Dalam kesempatan ini bukti-bukti ini hanya dapat
kami bahas secara umum saja. Kitab-kitab dalam Perjanjian Lama
akan kami bahas menurut tiga kelompok besarnya, yaitu: Taurat,
kitab para Nabi, dan Kethubhim.
1. Keaslian kitab-kitab Taurat. Menurut ilmu kritik sastera mo
dem, penulis kelima kitab Taurat itu bukanlah Musa. Hipotesis ber
bagai dokumen yang dianut banyak sarjana membagi naskah kitab-
kitab Taurat menjadi hasil penulisan kalang







