Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 2

 


an kepada 

mitologi, penyembahan berhala, dan politeisme. Mereka "memuja 

dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya" (Roma 

1:25). Penyataan yang lebih lengkap tentang Allah sangat diper­

lukan. Ini tidak berarti bahwa penyataan melalui alam tidak mem­

berikan kepada manusia sedikit pengertian tentang kebaikan dan 

kebesaran Allah, namun  manusia yang telah jatuh ke dalam dosa 

24 Kemungkinan dan Pembagian Teologi

tidak dapat menanggapi penyataan yang demikian.

Demikian pula, tambahan penyataan Allah yang khusus melalui 

mukjizat, nubuat, dan teofani tidak sanggup menuntun Israel kepada 

pengetahuan yang benar akan watak dan kehendak Allah. Israel 

memang percaya akan adanya Allah yang benar dan hidup, namun  

pengertian mereka tentang Dia itu tidak sempurna dan cenderung 

kurang benar. Mereka terutama memandang Allah sebagai pemberi 

hukum dan hakim yang agung, yang sangat menekankan ketaatan 

yang terinci dan teliti terhadap hukum Taurat, namun  tidak terlalu 

memperhatikan keadaan hati manusia dan hal melakukan keadilan, 

kemurahan, dan iman (Matius 23:23-28). Mereka menganggap bah­

wa kemarahan Allah dapat diredakan melalui persembahan korban 

dan dibujuk untuk memberkati mereka melalui korban bakaran, 

namun  Ia tidak memerlukan pengorbanan yang sangat besar dan se­

benarnya tidak terlalu membenci dosa (Yesaya 1:11-15; Matius 

9:13; 12:7; 15:7-9). Mereka menganggap bahwa Allah telah men­

jadikan keturunan lahiriah dari Abraham sebagai satu-satunya syarat 

untuk memperoleh kemurahan dan berkat-Nya serta memandang 

orang-orang bukan Yahudi lebih rendah daripada keturunan 

Abraham (Matius 3:8-12; 12:17-21; Markus 11:17). Perjanjian 

Lama penuh dengan kasih, kemurahan, dan kesetiaan Allah, namun  

Israel dengan cepat berbalik ke legalisme (ajaran keselamatan me­

lalui perbuatan baik). Israel juga memerlukan penyataan yang lebih 

lengkap tentang Allah. Penyataan ini  kita dapatkan di dalam 

diri dan pelayanan Yesus Kristus.

Kristus merupakan pusat penyataan Allah dan sejarah umat ma­

nusia. Penulis surat Ibrani mengatakan, "Setelah pada zaman da­

hulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada 

nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman 

akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak- 

Nya" (Ibrani 1:1, 2); penulis Ibrani kemudian memperkenalkan 

Kristus sebagai "cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah" 

(ayat 3). Paulus menyebut Kristus sebagai "gambar Allah yang tidak 

kelihatan" (Kolose 1:15), dan mengatakan bahwa "dalam Dialah 

berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan" (Kolose 

2:9). Yohanes mengatakan, 'Tidak seorang pun yang pernah melihat 

Allah; namun  Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dia­

Kemungkinan dan Pembagian Teologi 25

lah yang menyatakan-Nya" (Yohanes 1:18). Yesus sendiri menga­

takan, 'Tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak 

seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya 

Anak itu berkenan menyatakannya" (Matius 11:27), dan bahwa "Ba­

rangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9). 

Oleh karena itu, gereja sejak dahulu telah melihat di dalam Kristus 

penyataan yang sempurna dari Allah Bapa.

Di dalam Kristus kita memiliki penyataan Allah yang lipat tiga: 

penyataan tentang keberadaan, sifat, dan kehendak-Nya. Kristus 

merupakan bukti yang terkuat tentang keberadaan Allah, karena Ia 

menjalani kehidupan Allah di antara manusia. Ia bukan saja sangat 

sadar akan kehadiran Allah Bapa dalam kehidupan-Nya dan senan­

tiasa berhubungan dengan Dia (Yohanes 8:18, 28, 29; 11:41; 12:28), 

namun  Kristus juga menunjukkan melalui pernyataan-Nya tentang 

diri-Nya (Yohanes 8:58; 17:5), kehidupan-Nya yang tak bercacat 

cela (Yohanes 8:46), pengajaran-Nya (Matius 7:28, 29; Yohanes 

6:46), pekerjaan-Nya (Yohanes 5:36; 10:37, 38; 15:24), berbagai 

jabatan dan hak istimewa-Nya (Matius 9:2, 6; Yohanes 5:22, 25, 

28), serta hubungan-Nya dengan Allah Bapa (Matius 28:19; Yo­

hanes 10:38) bahwa Ia sendiri yaitu  Allah. Yesus Kristus me­

nyingkapkan kekudusan Allah yang mutlak (Yohanes 17:11, 25), 

kasih Allah yang dalam (Yohanes 3:14-16), bahwa Allah yaitu  

Bapa, bukan dari semua orang, namun  dari setiap orang percaya yang 

sejati (Matius 6:32; 7:11; Yohanes 8:41-44; 16:27), dan bahwa 

Allah yaitu  Roh (Yohanes 4:19-26). Kristus juga mengungkapkan 

kehendak Allah agar semua orang bertobat (Lukas 13:1-5), percaya 

kepada-Nya (Yohanes 6:28, 29), menjadi sempurna seperti Bapa di 

sorga sempurna adanya (Matius 5:48), dan supaya setiap orang per­

caya mengabarkan Injil ke seluruh pelosok dunia (Matius 28:19, 

20).

Penyataan Allah di dalam Kristus merupakan fakta yang paling 

besar di dalam sejarah sehingga perlu diperhatikan dengan sangat 

cermat. Namun karena kita nanti akan membahas pribadi dan karya 

Kristus dalam beberapa pasal maka hal ini tidak akan kita bahas 

lebih lanjut sekarang ini.

Selain itu ada juga penyataan Allah di dalam Alkitab. Setiap 

orang percaya yang benar senantiasa mengatakan bahwa di dalam 

Alkitab kita memiliki penyataan dari Allah, yang terjelas dan yang 

26 Kemungkinan dan Pembagian Teologi

tidak mungkin salah. Akan namun , Alkitab hendaknya jangan dipan­

dang sebagai suatu penyataan yang sederajat dengan penyataan- 

penyataan yang sudah kita bahas, namun lebih tepat sebagai per­

wujudan dari semua penyataan ini . Misalnya, Alkitab mencatat 

pengetahuan akan Allah serta tindakan-tindakan-Nya terhadap 

makhluk ciptaan yang telah dikumpulkan oleh orang zaman dahulu 

dari alam, sejarah, dan hati nurani manusia, dan juga dari mukjizat, 

nubuat, Tuhan Yesus Kristus, dan pengalaman batin serta penga­

rahan ilahi. Karena itu, orang Kristen kembali ke Alkitab sebagai 

satu-satunya sumber tertinggi yang tidak mungkin salah bila hendak 

menyusun teologinya. Namun, karena kita akan membahas pokok 

ini secara lebih lengkap saat  membahas sifat Alkitab, kita tidak 

akan memperdalam pembahasan kita saat ini.

Dan akhirnya, Allah menyatakan diri-Nya dalam pengalaman pri­

badi. Tokoh-tokoh sepanjang segala zaman telah mengakui memi­

liki persekutuan dengan Allah sendiri. Mereka menyatakan bahwa 

mereka mengenal Dia, bukan hanya melalui alam, sejarah, dan hati 

nurani, juga bukan sekadar melalui mukjizat dan nubuat, namun  juga 

melalui pengalaman pribadi. Demikianlah halnya pada zaman Per­

janjian Lama. Henokh dan Nuh hidup bergaul dengan Tuhan (Ke­

jadian 5:24; 6:9); Allah berbicara kepada Nuh (Kejadian 6:13; 7:1; 

9:1), kepada Abraham (Kejadian 12:1), kepada Ishak (Kejadian 

26:24), kepada Yakub (Kejadian 28:13; 35:1), kepada Musa (Ke­

luaran 3:4), kepada Yosua (Yosua 1:1), kepada Gideon (Hakim- 

Hakim 6:25), kepada Samuel (I Samuel 3:4), kepada Daud (I Sa­

muel 23:9-12), kepada Elia (I Raja-Raja 17:2-4), dan kepada Yesaya 

(Yesaya 6:8). Demikian pula dalam Perjanjian Baru, Allah berbicara 

dengan Yesus (Matius 3:16, 17; Yohanes 12:27, 28), kepada Petrus, 

Yakobus, dan Yohanes (Markus 9:7), kepada Filipus (Kisah 8:29), 

kepada Paulus (Kisah 9:4-6), dan kepada Ananias (Kisah 9:10).

Pengalaman akan hubungan erat dengan Tuhan ini memiliki dam­

pak yang mengubah kehidupan orang-orang yang mengalaminya 

(Mazmur 34:6; bandingkan dengan Keluaran 34:29-35). Mereka 

makin menyerupai Tuhan yang dengan-Nya mereka berhubungan 

erat (Kisah 6:15; bandingkan dengan II Korintus 3:18). Persekutuan 

dengan Tuhan juga disertai penyataan kebenaran-kebenaran yang 

lebih dalam lagi tentang Tuhan. Penyataan Allah dalam pengalaman 

pribadi merupakan sumber utama yang digunakan Roh Kudus saat  

Kemungkinan dan Pembagian Teologi 27

mengilhami orang percaya (Yohanes 16:13-15; II Timotius 3:16; II 

Petrus 1:21; bandingkan dengan I Korintus 2:10-13). Namun dalam 

arti yang lebih lengkap dapat dikatakan bahwa Roh Kudus telah 

memilih dari berbagai bentuk penyataan Allah, yang masih dialami 

manusia, dan mencatatnya dengan sempurna melalui ilham ilahi 

dalam Kitab Suci. Dengan demikian, di dalam penyataan-penyataan 

Allah, yang khususnya tersurat di dalam Alkitab, kita memperoleh 

materi untuk teologi dan kemungkinan dikerjakannya teologi.

B. BAKAT-BAKAT MANUSIA

Setelah berasumsi bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya maka 

kemudian kita bertanya, bagaimana manusia bisa memperoleh pe­

nyataan itu? Jawaban kami ialah bahwa dunia luar dan dunia batin 

manusia tidak akan mengungkapkan apa-apa tentang Tuhan tanpa 

kemampuan bakat-bakat unik yang ada pada manusia. Manusia 

mempunyai dua macam bakat: yang mental dan yang rohani.

1. Bakat-bakat mental. Orang yang menolak gagasan penyataan 

tentang dan dari Allah berbalik kepada akal untuk menyelesaikan 

masalah-masalah yang dihadapinya. Sepanjang kurun sejarah telah 

muncul tiga jenis rasionalisme: rasionalisme yang ateistis, yang pan- 

teistis, dan yang teistis. Rasionalisme ateistis muncul pertama kali 

di dalam diri tokoh-tokoh filsafat Yunani yang mula-mula: Thales, 

Anaximander, Anaximenes, Empedocles, Heraclitus, Leucippus, 

dan Democritus. Rasionalisme panteistis diwakili oleh Anaxagoras 

dan kaum Stoa, sedangkan rasionalisme teistis muncul pertama kali 

dalam mazhab Deisme Inggris dan Jerman pada abad kedelapan 

belas. Meskipun semua bentuk rasionalisme ini memberikan kekua­

saan yang berlebihan kepada akal manusia dalam hal-hal keaga­

maan, orang percaya yang sejati cenderung memberikan peranan 

yang terlalu kecil kepada akal. Dengan "akal", kita maksudkan 

bukan sekadar daya manusia untuk berpikir logis atau kemampuan­

nya untuk bernalar, namun  daya pengenalannya, kemampuannya un­

tuk memahami, membandingkan, menilai, dan menata. Tuhan telah 

memberikan akal kepada manusia, namun yang salah bukan peng­

gunaan akal itu, melainkan penyalahgunaannya. Tidaklah mungkin 

membahas di sini semua bentuk penyalahgunaan akal, bahkan di 

28 Kemungkinan dan Pembagian Teologi

kalangan orang yang mengaku dirinya teis, namun  empat penggunaan 

yang baik dari akal yang Allah anugerahkan kepada manusia akan 

kami sebutkan sekarang ini. Pertama, akal yaitu  organ atau ke­

mampuan untuk mengenal kebenaran. Akal yang intuitif memberi 

kepada kita pengenalan pertama akan adanya ruang, waktu, sebab, 

substansi, pola, kebenaran, dan Tuhan, yang merupakan awal bagi 

semua pengetahuan. Akal yang aprehensif atau tanggap mencerap 

fakta-fakta yang disajikan kepadanya untuk diketahui. namun  harus 

diingat bahwa ada perbedaan antara pengetahuan dan pengertian. 

Kita tahu bahwa tanaman tumbuh, bahwa kehendak mengatur 

gerakan otot, bahwa Yesus Kristus yaitu  Allah-Insan, namun  kita 

tidak mengerti banyak tentang bagaimana semua itu dapat terjadi.

Yang kedua, akal harus menilai kredibilitas sebuah uraian. Yang 

kami maksudkan dengan "kredibilitas" ialah perihal dapat diper­

caya. Ada hal-hal yang jelas sekali tidak dapat dipercayai, misalnya 

seekor lembu yang melompati bulan atau dongeng-dongeng lain se­

macam itu, dan tugas akal ialah menyatakan apakah suatu penyajian 

atau uraian dapat dipercayai atau tidak. Hanya hal-hal yang mustahil 

saja yang tidak dapat dipercayai. Ada hal yang mungkin terasa aneh, 

sulit diterangkan, dan sulit dipahami, namun dapat dipercayai. Ke­

cuali seseorang bersedia untuk mempercayai hal-hal yang tidak da­

pat dipahami, orang ini  tidak bisa percaya apa-apa. Hal yang 

mustahil yaitu  hal yang merupakan kontradiksi; yang tidak sesuai 

dengan sifat Allah yang kita ketahui; yang bertentangan dengan hu­

kum-hukum kepercayaan yang telah diberikan Tuhan kepada kita; 

dan yang bertentangan dengan kebenaran lain yang sudah jelas ter­

bukti. Selanjutnya, akal harus menilai bukti-bukti yang diajukan 

oleh sebuah uraian atau penyajian. Karena iman meliputi persetuju­

an, dan persetujuan merupakan keyakinan yang dihasilkan oleh 

bukti, maka dengan sendirinya iman tanpa bukti yaitu  tidak masuk 

akal atau mustahil. Jadi, akal harus memeriksa bukti-bukti dari 

berita-berita yang dinyatakan sebagai penyataan dari Allah. Demi­

kian pula, akal harus memeriksa bukti dari berbagai dokumen yang 

dinyatakan telah mencatat penyataan dari Allah. Akal harus ber­

tanya, apakah catatan-catatan ini  asli atau palsu; murni atau 

campuran; lengkap atau tidak lengkap? Bukti itu harus selaras de­

ngan sifat kebenaran yang sedang dibahas. Kebenaran sejarah me­

nuntut bukti sejarah; kebenaran empiris membutuhkan kesaksian 

Kemungkinan dan Pembagian Teologi 29

pengalaman; kebenaran matematika membutuhkan bukti mate­

matika; kebenaran moral membutuhkan bukti moral; dan hal-hal 

yang dari Roh membutuhkan pembuktian oleh Roh (I Korintus 

2:14-16). Dalam banyak hal, berbagai jenis bukti berpadu untuk 

mendukung satu kebenaran, seperti halnya kepercayaan akan 

keilahian Kristus. Selanjutnya, bukti itu tidak hanya harus selaras, 

namun  juga harus memadai, sehingga dapat disetujui oleh akal yang 

sudah terlatih yang kepadanya kebenaran beserta bukti-bukti ter­

sebut disajikan.

Akhirnya, akal juga harus menata fakta-fakta yang disajikan itu 

menjadi sebuah sistem. Sebagaimana setumpuk batu bata tidak 

dapat menjadi rumah dengan sendirinya, demikian pula fakta-fakta 

suatu penyataan belumlah merupakan sebuah sistem yang berguna. 

Akal harus menemukan faktor pemadu dan mengumpulkan semua 

fakta yang relevan di sekitar faktor pemadu ini , yaitu dengan 

memberikan kepada setiap bagian tempatnya yang tepat di dalam 

suatu sistem yang sudah teratur dan tertata dengan rapi. Inilah ke­

mampuan menata dari akal, yaitu dorongan naluriah akal. Jadi, 

jelaslah bahwa akal menduduki tempat yang sangat penting dalam 

teologi.

2. Bakat-bakat rohani. Kami menolak mentah-mentah pandang­

an filosofis orang mistik yang beranggapan bahwa dengan jalan 

disiplin dan kontemplasi yang ketat dan keras, semua manusia dapat 

berjumpa langsung dengan realitas terakhir, yaitu sebutan mereka 

untuk Allah, terpisah dari pertobatan dan iman kepada Yesus Kris­

tus. Kepercayaan ini yaitu  kepercayaan kafir dan merupakan bagi­

an dari sebuah pandangan dunia yang sangat panteistik. Pengalam­

an religius bagaimanapun yang dimiliki seorang mistik semacam 

itu, bukanlah pengalaman persekutuan seorang Kristen dengan 

Allah yang benar dengan perantaraan Yesus Kristus dan Roh Ku­

dus. Bentuk-bentuk ekstrem dari Pietisme, Quakerisme, dan 

Quietisme yang muncul di Eropa di belahan terakhir abad ketujuh 

belas harus kita tolak juga. Bentuk-bentuk ekstrem dari Pietisme 

percaya akan kemungkinan adanya sebuah persekutuan mutlak de­

ngan Allah, suatu kecocokan dengan Dia yang samasekali tidak di­

ajarkan oleh Alkitab. Bentuk-bentuk ekstrem dari Quakerisme ber­

anggapan bahwa semua manusia memiliki terang batin yang, sama- 

30 Kemungkinan dan Pembagian Teologi

sekali terlepas dari Alkitab, dapat menuntun mereka kepada kehi­

dupan yang saleh. Bentuk-bentuk ekstrem dari Quietisme 

beranggapan bahwa kita harus mencari persekutuan yang 

sedemikian rupa dengan Tuhan, mencari keadaan ketenangan sem­

purna di mana semua pikiran, dan semua kegiatan terhenti dan jiwa 

kita tenggelam di dalam Allah. Celakanya, apa yang mulanya 

merupakan hak istimewa khusus bagi orang percaya kini dalam 

banyak hal dilebih-lebihkan, sebagaimana dalam beberapa bentuk 

Quakerisme, bahkan dikatakan dapat dimiliki seorang yang belum 

diselamatkan.

Namun, setelah memberi kelonggaran bagi beberapa pandangan 

nonalkitabiah yang baru saja kita sebutkan, tetap harus ditandaskan 

bahwa manusia memiliki pengetahuan intuitif tentang Allah. Alkitab 

mengajarkan bahwa "apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah 

nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada 

mereka. Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu 

kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada 

pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka 

tidak dapat berdalih" (Roma 1:19, 20).

Secara lebih khusus lagi, ada kemampuan rohani di dalam diri 

orang percaya dan dengan kemampuan itu ia dapat memasuki per­

sekutuan yang sangat nyata dan indah dengan Tuhan (Roma 8:15, 

16; I Korintus 1:9; Galatia 4:6; I Yohanes 1:3). Mistisisme Kristen 

itu memang ada, yaitu suatu hubungan langsung antara jiwa dengan 

Allah, suatu pengalaman Kristen penting yang hampir tidak 

mungkin disangkal oleh seseorang yang telah mengalaminya. Na­

mun, selain dari pengalaman semacam itu, penerangan oleh Roh 

Kudus juga tersedia bagi setiap orang percaya. Yesus mengatakan, 

"Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, namun  

sekarang kamu belum dapat menanggungnya. namun  jika  Ia 

datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam 

seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya 

sendiri, namun  segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan 

dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang 

akan datang" (Yohanes 16:12, 13). Dan Paulus menulis, "Kita tidak 

menerima roh dunia, namun  roh yang berasal dari Allah, supaya kita 

tahu apa yang dikaruniakan Allah kepada kita" (I Korintus 2:12). 

Maksudnya, Roh Kudus membuat kita mampu memahami penya­

Kemungkinan dan Pembagian Teologi 31

taan Allah yang telah ada, khususnya penyataan tentang diri-Nya 

yang ada  dalam Alkitab. Jadi, bagi setiap pencari kebenaran 

telah tersedia, bukan hanya akalnya sendiri, namun juga bantuan 

Roh Kudus. Tentu saja, bantuan Roh Kudus itu hanya tersedia bagi 

orang yang benar-benar anak Allah. Yohanes menulis, "Sebab di 

dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari- 

pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Te­

tapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala 

sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan 

sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendak­

nya kamu tetap tinggal di dalam Dia" (I Yohanes 2:27; bandingkan 

dengan 2:20).

II. PEMBAGIAN TEOLOGI

Bidang kajian teologi yang sangat luas umumnya terbagi menjadi 

empat bagian: teologi eksegetis, teologi historis, teologi sistematika, 

dan teologi praktis.

a. Teologi Eksegetis

Teologi eksegetis langsung berurusan dengan penelaahan naskah 

alkitabiah dan pokok-pokok bahasan yang berkaitan, seperti usaha- 

usaha untuk pemugaran, orientasi, memberi ilustrasi, dan penafsiran 

naskah ini . Teologi eksegetis meliputi penelaahan bahasa- 

bahasa, arkeologi, pengantar, hermeneutika, dan teologi alkitabiah.

b. Teologi Historis

Teologi historis merunut sejarah umat Allah dalam Alkitab dan 

gereja sejak zaman Kristus. Teologi historis membahas awal mula, 

perkembangan, dan penyebaran agama yang sejati dan juga semua 

doktrin, organisasi, dan kebiasaannya. Di dalamnya termasuk juga 

sejarah Alkitab, sejarah gereja, sejarah pekabaran Injil, sejarah ajar­

an, dan sejarah pengakuan iman.

c. Teologi Sistematika

Teologi sistematika mempergunakan bahan-bahan yang disajikan 

oleh teologi eksegetis dan teologi historis lalu menatanya menurut 

suatu tatanan yang logis sesuai dengan tokoh-tokoh besar dalam

32 Kemungkinan dan Pembagian Teologi

penelitian teologis. namun  sumbangan yang diberikan oleh kedua 

bagian teologi ini harus dipisahkan dengan saksama. Teologi ek- 

segetis merupakan satu-satunya sumber teologi yang nyata dan tidak 

mungkin salah; sedangkan teologi historis, dalam menguraikan per­

kembangan pemahaman gereja tentang ajaran-ajaran iman yang 

akbar, sering menyumbangkan pemahaman tentang penyataan alki­

tabiah. Teologi dogmatis, sesungguhnya, merupakan penataan dan 

pembelaan ajaran-ajaran yang terungkap dalam simbol-simbol 

gereja, sekalipun teologi dogmatis sering kali dianggap sama dengan 

teologi sistematika. Teologi sistematika membahas apologetika, 

polemik, dan etika alkitabiah.

d. Teologi Praktis

Teologi praktis membahas penerapan teologi terhadap pemba­

haruan, pengudusan, pembinaan, pendidikan, dan pelayanan manu­

sia. Teologi praktis berusaha menerapkan pokok-pokok yang di­

sumbangkan oleh ketiga bagian teologi lainnya kepada kehidupan 

praktis. Teologi praktis meliputi pokok-pokok seperti homiletika, 

organisasi dan administrasi gereja, ibadat, pendidikan agama Kris­

ten, dan penginjilan.

BAGIAN I 

TEISME

Istilah "teisme" dipakai menurut empat arti yang berbeda. Sekalipun 

hanya arti yang keempat saja yang memuaskan, ada baiknya pula 

bila mengetahui setiap arti lainnya.

1. Kepercayaan akan adanya satu atau lebih kekuatan adikodrati, 

satu atau lebih perantara rohani, satu atau lebih dewa. Pandangan 

ini mencakup semua bentuk kepercayaan kepada satu atau lebih 

dewa, berapa pun jenis dan jumlahnya, dan hanya menentang 

ateisme.

2. Kepercayaan akan adanya satu Allah saja, entah Ia berke­

pribadian atau tidak berkepribadian, entah Ia saat ini giat berkarya 

di dalam alam semesta atau diam saja. Pandangan ini mencakup 

monoteisme, panteisme, dan deisme, dan bertolak belakang dengan 

ateisme, politeisme, dan henoteisme.

3. Kepercayaan akan adanya satu Allah yang berkepribadian 

yang transenden dan imanen serta keberadaannya terwujud dalam 

satu oknum saja. Pandangan inilah pandangan Yahudi, Islam, dan 

kaum Unitarian tentang Allah, serta bertolak belakang dengan 

ateisme, politeisme, panteisme, dan deisme.

4. Kepercayaan akan adanya satu Allah yang berkepribadian, 

yang transenden maupun imanen. Allah ini dikenal sebagai Bapa, 

Anak, dan Roh Kudus. Pandangan ini merupakan pandangan teisme 

Kristen, dan bertolak belakang dengan semua pandangan yang telah 

disebutkan tadi. Pandangan ini merupakan monoteisme yang ber­

sifat trinitarian dan bukan unitarian. Orang Kristen beranggapan 

bahwa semua pandangan yang telah disebutkan tadi merupakan 

pemahaman yang salah tentang Allah, maka pandangan ini 

merupakan satu-satunya teisme yang benar. Penafsiran inilah yang 

diterima dalam buku ini.

33

34 Teisme

Telah kita tunjukkan dalam pasal sebelum ini bahwa Tuhan telah 

menyatakan diri-Nya dan bahwa manusia mampu memahami 

penyataan ini. Dua fakta ini merupakan landasan dari studi teologis. 

Dua pasal berikut ini merupakan penjelasan dan penetapan selan­

jutnya dari pandangan dunia yang teistis.

III

Definisi dan Adanya Allah

Dalam pasal ini kita akan berusaha untuk memformulisasikan 

sebuah definisi tentang Allah serta menyajikan argumen-argumen 

penting dalam rangka membuktikan bahwa Allah itu ada. Kedua 

pokok bahasan ini layak dipelajari secara mendalam dan luas karena 

merupakan landasan bagi semua studi teologis lainnya. Namun, 

dalam kesempatan ini kita hanya dapat menyentuh sekilas saja 

pemahaman-pemahaman tentang Allah yang penting serta aspek- 

aspek utama dari bukti-bukti tentang adanya Dia.

I. DEFINISI TENTANG ALLAH

Bahasa juga memiliki hak-haknya sendiri sehingga istilah-istilah 

yang sudah sejak lama memiliki arti tertentu tidak dapat dengan 

seenaknya dipakai untuk mengungkapkan arti yang samasekali ber­

beda. Sekalipun demikian, hal ini telah sering kali dilakukan dalam 

diskusi-diskusi teologis. Istilah "Allah" akhir-akhir ini telah disalah­

gunakan sedemikian rupa sehingga kita perlu mengembalikannya 

kepada arti awalnya dalam sistem Kristen. Marilah kita lihat sekilas 

beberapa penyalahgunaan ini , mendaftarkan beberapa nama 

Allah dalam Alkitab, dan kemudian mengajukan formulasi teologis 

dari pemahaman Kristen tentang Allah.

A. PEMAKAIAN ISTILAH "ALLAH" SECARA SALAH

Baik penulis-penulis teologi maupun penulis-penulis filsafat ber­

salah dalam hal ini. Bagi Plato, Allah merupakan akal abadi, sebab 

dari semua kebaikan di alam semesta. Aristoteles beranggapan

35

36 Teisme

bahwa Allah yaitu  "sumber segala keberadaan." Spinoza mende­

finisikan Allah sebagai "Substansi yang mutlak dan universal, 

Penyebab sejati dari segala sesuatu dan segala yang ada; dan bukan 

saja sekadar Penyebab segala keberadaan, namun  Allah sendiri me­

rupakan segala keberadaan sehingga setiap benda yang ada merupa­

kan modifikasi Allah saja." Leibniz mengatakan bahwa akibat ter­

akhir dari segala sesuatu yaitu  Allah. Kant mendefinisikan Allah 

sebagai Dia yang, lewat pemahaman dan kehendak-Nya, telah 

mengadakan alam semesta; Dia yang memiliki semua hak tanpa 

memiliki kewajiban; pencipta yang sesungguhnya dari seluruh 

dunia. Bagi Fichte, Allah merupakan tatanan moral alam semesta, 

yang benar-benar bekerja dalam kehidupan. Hegel beranggapan 

bahwa Tuhan yaitu  sepenuhnya roh, namun juga roh yang tanpa 

kesadaran sampai roh ini  menjadi sadar dalam akal dan 

pemikiran manusia. Strauss menyamakan Allah dengan Universum;

 Comte dengan kemanusiaan; dan Matthew Arnold dengan "Arus 

Kecenderungan yang Menghasilkan Kebenaran."

Mari kita memperhatikan juga beberapa penyalahgunaan yang 

baru-baru. Kirthly F. Mather, seorang geolog, mengatakan bahwa 

Tuhan yaitu  kuasa rohani, imanen di dalam alam semesta, yang 

terlibat dalam risiko ciptaan-Nya. Henry Sloane Coffin mengatakan, 

"Allah bagiku yaitu  Kuasa pencipta, di balik dan di dalam alam 

semesta, yang menyatakan diri sebagai energi, kehidupan, tatanan, 

keindahan, pemikiran, suara hati, kasih." Coffin lebih senang ber­

bicara tentang Allah yang memiliki hubungan pribadi dengan kita 

daripada mengatakan bahwa Allah berkepribadian. Bagi Edward 

Ames, Allah yaitu  "gagasan realitas yang dianggap seperti me­

miliki kepribadian serta dipuja." Ames berpikir bahwa Allah itu 

berkembang dan terbatas. Sampai sejauh inilah pemahaman-pema­

haman tentang Allah yang nonalkitabiah; kini kita harus memper­

hatikan pemahaman yang benar tentang Allah.

B. NAMA-NAMA ALKITABIAH UNTUK ALLAH

Nama-nama orang dan tempat dalam Alkitab sering kali memiliki 

makna yang penting. Demikianlah halnya dengan nama-nama Allah. 

Istilah yang paling sering dipakai untuk yang ilahi ialah El. 

Dari istilah ini dibentuk kata Elim, Elohim, dan Eloah. Istilah ini 

Definisi dan Adanya Allah 37

sepadan dengan theos dalam bahasa Yunani, Deus dalam bahasa 

Latin, dan God dalam bahasa Inggris. Istilah ini merupakan istilah 

yang umum bagi yang ilahi, dan dipakai untuk meliput semua ang­

gota golongan yang ilahi. Istilah Elohim yang jamak biasanya di­

pakai oleh para penulis di Perjanjian Lama dengan memakai kata 

kerja dan kata sifat tunggal untuk menunjuk satu gagasan tunggal. 

Walaupun istilah ini biasanya mengacu kepada Allah, ia juga dapat 

dipakai untuk dewa-dewa kafir. Kata majemuk El-Elyon menunjuk 

kepada Allah sebagai Yang Mahatinggi (Mazmur 78:35), dan El- 

Shaddai menunjuk kepada Allah sebagai Yang Mahakuasa (Keja­

dian 17:1).

Yehova atau Yahweh merupakan nama pribadi yang paling baik 

dari Allah Israel. Istilah ini dikaitkan dengan kata kerja Ibrani "ada", 

dan berarti "dia yang ada dengan sendirinya," atau "dia yang men­

jadikan ada" (Keluaran 6:2 dst.; bandingkan 3:13-16). Nama ini 

sering kali diterjemahkan dengan istilah 'Tuhan" yang kerap dicetak 

dengan memakai huruf besar. Nama ini dipakai dalam berbagai 

kombinasi penting: Yehova-Yireh, Tuhan akan menyediakan (Keja­

dian 22:14); Yehova-Rapha, Tuhan yang menyembuhkan (Keluaran 

15:26); Yehova-Nissi, Tuhan panji-panjiku (Keluaran 17:15); 

Yehova-Shalom, Tuhan itu keselamatan (Hakim-Hakim 6:24); 

Yehova-Raah, Tuhan yaitu  gembalaku (Mazmur 23:1); Yehova- 

Tsidkenu, Tuhan keadilan kita (Yeremia 23:6); dan Yehova-Sham- 

mah, Tuhan hadir (Yehezkiel 48:35).

Adonai, Tuhanku, merupakan gelar yang sering kali muncul da­

lam kitab para nabi. Istilah ini mengungkapkan ketergantungan dan 

kepatuhan, yaitu sikap seorang hamba terhadap tuannya, atau se­

orang istri terhadap suaminya. Gelar, Tuhan semesta alam, sering 

kali muncul dalam tulisan-tulisan yang bersifat nubuat dan pasca- 

pembuangan (Yesaya 1:9; 6:3). Beberapa sarjana beranggapan bah­

wa istilah ini berbicara tentang kehadiran Allah bersama balatentara 

Israel pada zaman kerajaan (I Samuel 4:4; 17:45; II Samuel 6:2), 

namun arti yang mungkin lebih tepat ialah kehadiran Allah bersama 

balatentara sorga, yaitu para malaikat (Mazmur 89:7-9; bandingkan 

Yakobus 5:4).

Dalam Perjanjian Baru istilah theos menggantikan istilah El, 

Elohim, dan Elyon. Nama Shaddai dan El-Shaddai diterjemahkan 

sebagai pantokrator, yang artinya yang mahakuasa, dan theos pan- 

38 Teisme

tokrator yang berarti Allah yang mahakuasa. Kadang-kadang 

Tuhan disebut sebagai Alfa dan Omega (Wahyu 1:8), yang ada dan 

yang sudah ada dan yang akan datang (Wahyu 1:4), Yang Awal 

dan Yang Akhir (Wahyu 2:8; 21:6).

C. PERUMUSAN TEOLOGIS DARI DEFINISI TENTANG ALLAH

Karena Allah tidak terbatas, maka suatu definisi yang luas dan 

lengkap tentang Allah merupakan suatu kemustahilan. Sekalipun 

demikian, kita dapat membuat suatu definisi sejauh kita mengenal 

Dia dan tahu tentang Dia. Kita pasti dapat menguraikan sifat-sifat 

khas Allah yang telah dinyatakan kepada manusia. Dan selanjutnya, 

kita dapat mengatakan bahwa Dia yaitu  Yang Ada, dan kemudian 

menunjukkan dalam hal apa saja Ia berbeda dengan makhluk- 

makhluk lain yang ada. Bagaimana bunyi beberapa definisi tentang 

Allah?

Buswell menulis, "Ringkasan terbaik dari doktrin tentang Allah 

yang diajarkan oleh Alkitab ada  dalam jawaban untuk pertanya­

an nomor empat dalam Westminster Shorter Catechism, ’Apakah 

Allah? Allah yaitu  roh, tidak terbatas, kekal, tidak berubah dalam

diri-Nya. kebijaksanaanNya, kuasaNya, kekudusan-Nya, keadilan- 

Nya, kemurahan-Nya, dan kebenaran-Nya.’"4 Hoeksema menyata­

kan, "Allah yaitu  Pribadi yang esa, tak terbagi, mutlak, rohani

4 Buswell, A Systematic Theology of the Christian Religion, I, hal. 30.

5 Hoeksema, Reformed Dogmatics, hal. 60.

6 Berkhof, Systematic Theology, hal. 56.

7 Strong, Systematic Theology, hal. 52.

semata-mata, memiliki kesempurnaan yang tak terbatas, sepenuhnya

imanen dalam seluruh dunia, namun pada hakikatnya transenden 

terhadap segala yang ada!"5 Berkhof mendefinisikan Allah sebagai 

berikut, "Allah itu esa, sempurna, tidak berubah, dan tak terbatas

dalam pengetahuan dan kebijaksanaan-Nya, kebaikan dan kasih-

Nya, kasih karunia dan kemurahan-Nya, kebenaran dan kekudusan- 

Nya."6 Suatu definisi yang ringkas dan cukup lengkap tentang 

Allah, nampaknya disajikan oleh Strong, "Allah yaitu  Roh yang

tak terbatas dan sempurna; di dalam Dia segala sesuatu bersumber, 

terpelihara, dan berakhir."7

Definisi dan Adanya Allah

II. ADANYA ALLAH

39

Telah ditunjukkan bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya dan bah­

wa manusia mampu memahami penyataan ini . Kita kini melan­

jutkan pembahasan kita dengan membicarakan argumen-argumen 

yang diajukan sebagai bukti adanya Allah. Argumen-argumen ter­

sebut dapat dibagi dalam tiga kelompok.

A. KEPERCAYAAN AKAN ADANYA ALLAH ITU NALURIAH

Kepercayaan naluriah akan adanya Allah ini merupakan kebenaran 

pertama, dan secara logis timbul sebelum kepercayaan akan Alkitab. 

Sebuah kepercayaan bersifat naluriah bila kepercayaan itu universal 

dan penting. Paulus menulis, "Karena apa yang dapat mereka 

ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah 

menyatakannya kepada mereka" (Roma 1:19). Paulus kemudian 

melanjutkan, "Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu 

kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada 

pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan" (ayat 20). Pemberi­

tahuan ini membuat setiap orang tidak percaya "tidak dapat ber­

dalih" (ayat 20). Bahkan orang yang paling bejat akhlaknya 

sekalipun mengerti bahwa mereka yang hidup dalam dosa "patut 

dihukum mati" (Roma 1:32) dan bahwa "isi hukum Taurat ada ter­

tulis di dalam hati" semua orang (Roma 2:15).

Sejarah menunjukkan bahwa unsur religius dalam sifat kita ter­

dapat dalam semua orang sama dengan unsur rasional dan sosial 

kita. Agama atau sistem kepercayaan tertentu merupakan salah satu 

unsur universal dalam setiap kebudayaan.8 Dalam kepercayaan 

umat manusia di mana-mana ada  berbagai bentuk gejala reli­

gius dan kesadaran akan yang adikodrati. Mungkin itu berupa se­

buah kekuatan adikodrati berbentuk abstrak yang diberi nama 

"mana", maupun suatu kepercayaan yang benar akan adanya Allah 

yang berkepribadian. Sering kali agama manusia telah merosot aki­

bat adanya ketidakpercayaan. Paulus mengatakan bahwa saat  

manusia menolak Allah, "pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati 

mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah me­

reka penuh hikmat, namun  mereka telah menjadi bodoh. Mereka

8 Herskovits, Cultural Anthropology, hal. 117.

40 Teisme

menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran 

yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang- 

binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar" 

(Roma 1:21-23).

Kepercayaan akan adanya Tuhan juga diperlukan. Kepercayaan 

itu perlu karena kita tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa Dia 

itu ada tanpa merusak hukum-hukum sifat dasar diri kita sendiri. 

Bila kita menyangkalnya, maka penyangkalan itu merupakan se­

suatu yang dibuat-buat dan pasti hanya bersifat sementara. Seba­

gaimana halnya bandulan sebuah jam dapat didorong sehingga ber­

pindah dari posisi setimbang oleh tenaga di dalam jam itu sendiri 

atau tenaga dari luar, demikian pula manusia dapat didorong 

sehingga berpindah dari kepercayaan normalnya akan adanya Allah. 

Namun sebagaimana bandulan itu akan kembali lagi kepada ke­

dudukannya yang mula-mula saat  tenaga pendorongnya sudah di­

angkat, demikianlah pula halnya manusia akan kembali lagi kepada 

kepercayaannya yang normal akan adanya Allah, yaitu saat  ia 

tidak secara sadar berada di bawah pengaruh sebuah filsafat yang 

palsu. Hodge mengatakan:

Di bawah penguasaan sebuah teori metafisis tertentu, manusia dapat 

menolak adanya dunia di luar dirinya, atau tanggung jawab terhadap hukum 

moral; dan ketidakpercayaannya itu bisa saja tulus ikhlas, dan bahkan untuk 

sesaat bersifat teguh; namun pada saat alasan-alasan spekulatif bagi ketidak­

percayaannya itu tidak ada dalam pikirannya, maka dengan sendirinya 

pikirannya akan kembali kepada keyakinannya yang mula-mula dan normal. 

Mungkin juga tangan seseorang menjadi begitu kapalan atau terbakar 

sehingga tidak dapat merasakan apa-apa. Akan namun , keadaan ini  

tidaklah dapat dipakai sebagai bukti untuk mengatakan bahwa tangan 

manusia bukanlah alat peraba yang hebat.9

Kepercayaan yang universal dan perlu itu bersifat naluriah. 

Kepercayaan naluriah semacam ini tidak dapat diterangkan sebagai 

hasil penalaran deduktif dari akal oleh karena bukti adanya Allah 

begitu jelas sehingga pikiran manusia terpaksa menerima kenyataan 

ini . Hanya orang yang berpendidikan yang mampu melakukan 

penalaran semacam ini, sedangkan baik agnostisisme maupun 

ateisme justru lebih sering ditemukan di antara orang-orang yang 

dikatakan sudah berpendidikan tinggi dan bukan di antara mereka 

yang tidak terdidik, yaitu mereka yang belum pernah dilatih untuk 

9 Hodge, Systematic Theology, I, hal. 197, 198.

Definisi dan Adanya Allah 41

bernalar seperti itu. Kepercayaan naluriah ini juga tidak dapat 

diterangkan berdasarkan adat-istiadat saja. Kita mengakui bahwa 

pernyataan-pernyataan yang terdahulu tentang Allah telah diwariskan 

dari keturunan kepada keturunan berikutnya, namun  kita tidak per­

caya bahwa kenyataan ini merupakan keseluruhan penjelasan bagi 

adanya kepercayaan naluriah karena Alkitab sendiri mengatakan 

bahwa hukum Allah tertulis di dalam hati manusia (Roma 2:14-16). 

Kami juga merasa bahwa teori ini tidak dapat menerangkan 

kekuatan kepercayaan naluriah ini  di dalam diri manusia.

B. ADANYA ALLAH DIASUMSIKAN OLEH ALKITAB

Telah kami tunjukkan beberapa kali bahwa Alkitab menganggap 

semua orang percaya akan adanya Allah. Berdasarkan anggapan ini 

Alkitab tidak berusaha untuk membuktikan bahwa Dia ada. Sepan­

jang Alkitab adanya Allah sudah dianggap pasti. Alkitab diawali 

dengan sebuah pernyataan akbar, "Pada mulanya Allah menciptakan 

langit dan bumi" (Kejadian 1:1), dan selanjutnya terus menganggap 

pasti Allah itu ada. Ayat-ayat seperti Mazmur 94:9 dan seterusnya 

dan Yesaya 40:12-31 bukanlah bukti-bukti akan adanya Tuhan, me­

lainkan lebih merupakan laporan yang analitis tentang segala se­

suatu yang ikut tersirat dalam pemahaman tentang Allah, dan me­

rupakan nasihat untuk mengakui Dia sebagai yang ilahi.

Bukan saja demikian, namun  Alkitab juga tidak berusaha mem­

buktikan bahwa Allah dapat dikenal, juga tidak mencoba mengira- 

ngira bagaimana pengetahuan akan Allah timbul dalam pikiran ma­

nusia. Kesadaran manusia mengatakan bahwa Allah itu ada, dan 

pikiran para penulis Alkitab penuh dan bersemangat dengan pemi­

kiran dan pengetahuan akan Dia. Mereka menulis dengan kepastian 

mengenai adanya Allah kepada sidang pembaca yang juga yakin 

akan adanya Allah itu.

C. KEPERCAYAAN AKAN ADANYA ALLAH DIDUKUNG OLEH 

ALASAN-ALASAN

Dalam mendekati pembahasan mengenai alasan-alasan akan adanya 

Allah, hal-hal berikut ini perlu diperhatikan: (1) alasan-alasan ter­

sebut bukan merupakan bukti-bukti terpisah akan adanya Allah, 

namun  lebih tepat dikatakan merupakan dukungan dan penafsiran

42 Teisme

akan keyakinan adanya Allah yang sudah ada di dalam diri kita; 

(2) Karena Allah yaitu  roh, kita tidak boleh menuntut bukti-bukti 

yang sama sebagaimana kita membuktikan benda-benda fisik, namun  

hanya bukti-bukti yang cocok untuk objek yang akan dibuktikan; 

dan (3) bukti-bukti itu harus merupakan hasil pengumpulan data, 

karena satu alasan saja untuk membuktikan adanya Allah tidaklah 

cukup, namun  beberapa alasan bersama kiranya cukup memadai un­

tuk mengikat suara hati dan mendorong kepercayaan. Oleh karena 

itu, kami sekarang akan membahas alasan-alasan ini  dengan 

singkat.

1. Alasan kosmologis. Alasan ini dapat diungkapkan sebagai 

berikut, "Segala sesuatu yang dimulai haruslah mempunyai sebab 

yang memadai. Alam semesta sudah dimulai; oleh karena itu, alam 

semesta haruslah memiliki suatu sebab yang memadai untuk me­

nerangkan keberadaannya." Alasan ini tersirat dalam Ibrani 3:4, 

"Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, namun  

ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah." Alasan ini juga dapat 

dikatakan sebagaimana yang diungkapkan oleh Buswell, "Bila se­

suatu sekarang ada, maka (1) harus ada sesuatu yang bersifat abadi 

kecuali kalau (2) sesuatu itu berasal dari kenihilan."10

10 Buswell, A Systematic Theology of the Christian Religion, I, hal. 82.

Sementara orang beranggapan bahwa alam semesta ini bersifat 

kekal atau bahwa alam semesta ini telah diciptakan dalam keke­

kalan. Akan namun , astronomi menunjukkan bahwa di angkasa luar 

sana telah terjadi perubahan-perubahan besar, dan geologi juga telah 

menunjukkan bahwa di bumi ini telah terjadi perubahan-perubahan 

besar. Semua ini menunjukkan bahwa keadaan yang sekarang ini 

bukan merupakan keadaan yang abadi. Lagi pula, adanya bumi ini 

tidak terjadi dengan sendirinya. Setiap bagian dunia bergantung 

pada bagian-bagian lain serta berkaitan erat sekali. Sebab meng­

hasilkan akibat, namun  sebab-sebab itu sendiri merupakan akibat dari 

sebab-sebab yang lain, dan seterusnya. Oleh karena itu pastilah 

ada satu sebab yang pertama, atau serangkaian sebab yang bersifat 

abadi. Akan namun , gagasan serangkaian sebab yang bersifat abadi 

itu nampaknya sulit diterima. Hukum termodinamika kedua, atau 

hukum entropi, menunjukkan bahwa keadaan alam semesta ini 

memburuk. Energi menjadi makin berkurang, dan keteraturan ber­

Definisi dan Adanya Altai 43

geser menjadi kekacauan. Bila keadaan alam semesta ini mem­

buruk, maka alam semesta itu tidak dapat memelihara dirinya sen­

diri; dan kalau alam semesta tidak bisa memelihara dirinya sendiri 

maka pastilah alam semesta memiliki awal tertentu.

Apakah yang sebenarnya dibuktikan oleh alasan ini? Bukan se­

kadar membuktikan adanya oknum yang perlu, baik oknum itu ber­

kepribadian atau tidak berkepribadian, namun  bahwa oknum yang 

ada ini harus berada di luar alam karena segala sesuatu yang tidak 

mungkin ada dengan sendirinya pastilah disebabkan oleh sesuatu 

yang di luar dirinya, dan oknum yang ada ini haruslah berakal budi 

tinggi karena dunia orang-orang yang akalnya terbatas merupakan 

bagian dari alam semesta. Oleh karena itu, kami menyimpulkan 

bahwa alasan kosmologis ini membuktikan bahwa alam semesta ini 

diciptakan oleh sebuah sebab yang memadai. Alasan ini mempunyai 

kelemahan, yaitu bahwa "bila segala sesuatu yang ada memiliki 

sebab yang memadai, maka kenyataan ini  pasti juga berlaku 

bagi Allah."11 Dengan demikian, kita memasuki suatu rantai 

penalaran yang tidak ada akhirnya. Sekalipun demikian, alasan ini 

menunjuk akan adanya sebab pertama yang berada di luar alam 

semesta dan berakal budi tinggi. Akan namun , dua gagasan ini akan 

lebih diperkuat lagi oleh alasan-alasan yang diajukan berikutnya.

11 Berkhof, Systematic Theology, hal. 26.

2. Alasan teleologis. Alasan teleologis dapat dinyatakan sebagai 

berikut, "Tatanan yang teratur dan berdaya-guna di dalam suatu 

sistem menyiratkan adanya akal budi tinggi dan maksud di dalam 

sebab pengatur. Alam semesta menunjukkan adanya tatanan yang 

teratur dan berdaya-guna; oleh karena itu, alam semesta ini memiliki 

sebab yang berakal budi tinggi dan bebas." Premis mayor ini di­

beritahukan dalam berbagai Mazmur, "Jika aku melihat langit-Mu, 

buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan; apa­

kah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak 

manusia sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4 dst.); 

"Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberita­

kan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari 

dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam" (Maz­

mur 19:2 dst.); dan "Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak 

mendengar? Dia yang membentuk mata, masakan tidak meman- 

44 Teisme

dang?" (Mazmur 94:9). Memang telah diajukan keberatan bahwa 

tatanan yang teratur dan berdaya-guna mungkin saja tanpa rencana, 

bahwa keadaan teratur dan berdaya-guna itu mungkin disebabkan 

karena hukum yang bekerja atau karena kebetulan saja. Akan namun , 

sifat saling bergantung dari hukum-hukum alam meniadakan 

gagasan semacam itu. Hukum-hukum alam ini bukan saja tidak ber­

asal dengan sendirinya dan ditopang dengan sendirinya; hukum- 

hukum itu menunjukkan adanya pemberi hukum serta penopang 

hukum. Siapa yang membentuk aneka ragam bentuk daun atau 

mengatur musim-musim? Pastilah, semua ini menunjukkan adanya 

pribadi yang berakal budi tinggi. Paulus memakai alasan dan kon­

sepsi ini untuk membuktikan kesalahan orang fasik (Roma 1:18-23).

Premis minornya dewasa ini jarang dipersoalkan. Susunan dan 

penyesuaian yang ada  di dalam dunia tanaman dan dunia he­

wan, termasuk manusia, menunjukkan adanya keteraturan dan tuju­

an. Tanaman, hewan, dan manusia dibuat sedemikian rupa 

sehingga dapat memperoleh makanan yang diperlukan, bertumbuh, 

dan berkembang biak. Semua planet, asteroid, satelit, komet, 

meteor, dan konstelasi bintang tetap berjalan menurut jalurnya sen­

diri oleh karena kehebatan kekuatan sentrifugal dan sentripetal yang 

ada di alam semesta. Atom menunjukkan susunan berbagai proton, 

neutron, deutron, mesotron, elektron, dan lain-lain yang sangat 

teratur. Kita dapat melihat adanya hubungan antara dunia benda 

hidup dengan dunia benda mati. Cahaya, udara, panas, air, dan tanah 

disediakan sehingga kehidupan tanaman dan hewan dapat ter­

pelihara. Kita juga dapat melihat keseragaman umum dari hukum- 

hukum alam yang membuat manusia bisa bercocok tanam dan me­

makai hasil penemuan ilmiahnya untuk meningkatkan kesejahteraan 

umat manusia. Paulus menyatakan, "Ia bukan tidak menyatakan diri- 

Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan 

hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi 

kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan" 

(Kisah 14:17).

Apa yang dibuktikan oleh alasan ini? Telah diajukan keberatan 

bahwa baik manusia maupun hewan memiliki alat tubuh yang tidak 

berguna, atau bahwa manusia dan hewan memiliki bagian-bagian 

tubuh tertentu yang tidak berkembang dengan sempurna sehingga 

dengan demikian alasan teleologis dapat dianggap sebagai tidak sah. 

Definisi dan Adanya Allah 45

namun  ilmu pengetahuan menemukan berkali-kali bahwa alat-alat 

tubuh yang dianggap tidak berguna itu sebenarnya tidak demikian; 

dan kita dapat beranggapan bahwa alat-alat tubuh yang manfaatnya 

belum diketahui pastilah di kemudian hari akan ditemukan pula 

manfaatnya. Alasan teleologis ini tidak hanya menunjukkan bahwa 

sebab pertama itu berakal budi tinggi dan bebas, namun  juga berada 

di luar alam semesta, karena pola yang dilihat jelas tidak hanya 

berasal dari dalam alam semesta itu sendiri, namun  juga dan terutama 

dari luar, lewat penyesuaian hal-hal eksternal terhadap organisme- 

organisme dan juga lewat penempatan dan susunan perangkat- 

perangkat bendawi yang menunjukkan keteraturan sekalipun ter­

pisah sejauh berjuta-juta mil. Oleh karena itu, dapat disimpulkan 

bahwa alasan ini membuktikan bahwa penyebab pertama itu berakal 

budi tinggi, bebas, berada di luar alam semesta, serta akbar dalam 

arti kata yang seluas-luasnya.

Namun harus dikatakan sekali lagi bahwa alasan ini pun terbatas 

sifatnya. Alasan ini membuktikan bahwa seorang arsitek yang akbar 

dan berakal budi tinggi telah menciptakan bumi, namun  tidak mem­

buktikan bahwa arsitek ini  yaitu  Allah. Selanjutnya, adanya 

kejahatan serta ketidakteraturan dewasa ini juga ikut membatasi 

alasan ini. Bersama dengan alasan-alasan yang lain bagi adanya 

Allah, alasan ini menjadi bernilai, namun  bila berdiri sendiri maka 

nilai ini  menjadi sangat terbatas.

3. Alasan ontologis. Sebagaimana biasanya dikatakan, alasan ini 

menemukan bukti adanya Tuhan justru dalam gagasan tentang 

Allah. Allah ini beranggapan bahwa semua orang secara naluriah 

memiliki gagasan tentang Allah, sehingga kemudian berusaha untuk 

menemukan bukti adanya Allah di dalam gagasan naluriah ini . 

Atau, sebagaimana dikatakan oleh Hoeksema, alasan ini "memper­

lihatkan bahwa kita memiliki gagasan tentang Allah. Gagasan ini 

sangat jauh lebih besar daripada manusia sendiri. Karena itu, 

gagasan ini  tidak mungkin berasal dari dalam manusia sendiri, 

namun  hanya dapat berasal dari Allah sendiri."12

Kita harus berhati-hati dengan alasan ini karena kita tidak bisa 

menyimpulkan keadaan kongkret dari pemikiran abstrak; gagasan 

tentang Allah itu sendiri tidak dapat dikatakan membuktikan adanya 

12 Hoeksema, Reformed Dogmatics, hal. 45.

46 Teisme

Allah. Namun, sekalipun alasan ontologis ini tidak membuktikan 

adanya Allah, alasan ini menunjukkan kepada kita bagaimana kira- 

kira wujud Allah bila Ia benar-benar ada. Karena alasan-alasan kos­

mologis dan teleologis sudah membuktikan adanya satu penyebab 

dan perancang berkepribadian yang berada di luar alam semesta ini, 

alasan ontologis membuktikan bahwa sebab pertama ini  tidak 

terbatas dan sempurna, bukan karena sifat-sifat ini jelas sekali di­

miliki olehnya, namun  karena keadaan mental kita tidak mengizinkan 

kita berpikir lain. Sudah jelas dengan sendirinya bahwa setiap ga­

gasan dalam kebudayaan umat manusia memiliki sebab tertentu. 

Gagasan tentang Allah Alkitab pasti juga mempunyai sebab, dan 

sebab ini pastilah Allah sendiri.

4. Alasan moral. Kant mengatakan bahwa bukti-bukti teoretis 

tidak bisa memberikan kita pengetahuan akan Allah sebagai pribadi 

yang bermoral. Untuk membuktikan ini, kita bergantung pada per­

timbangan yang praktis. Kant berpendapat bahwa fakta kewajiban 

dan tugas sedikit banyak sama pastinya dengan fakta bahwa sesuatu 

itu ada. Berlandaskan suara hati, Kant berusaha membuktikan 

adanya kebebasan, keabadian, dan Allah. Bagi Kant suara hati itu 

merupakan perintah yang tepat. Alkitab juga memakai alasan moral 

sebagai bukti adanya Tuhan (Roma 1:19-32; 2:14-16).

Hoeksema mengemukakan alasan ini sebagai berikut, "Setiap 

orang memiliki kesadaran tentang kewajiban, tentang apa yang 

benar dan apa yang salah, dan bersamaan dengan itu merasakan 

tanggung jawab yang tidak dapat dibantah untuk melakukan hal 

yang benar. Selain itu ia mempunyai perasaan bersalah dan meng­

hakimi diri sendiri bila ia melakukan yang jahat." Hoeksema 

kemudian melanjutkan dengan mengatakan, "Seolah-olah di dalam 

manusia ada  suara yang tidak mau dibungkam yang senantiasa 

berkata kepada hati nurani, ’Kau harus melakukan itu.’ Kenyataan 

ini menunjukkan ada yang berbicara dan selain itu bahwa yang 

berbicara itu yaitu  Tuhan dan Raja."13 Pengetahuan manusia akan 

yang baik dan yang jahat berasal dari Allah, sebagaimana halnya 

pengertiannya akan tanggung jawab. Herskovits mengatakan bahwa 

"konsep-konsep tentang benar dan salah ada  di dalam semua 

sistem kepercayaan yang ada."14 Jadi, kita dapat menyimpulkan 

13 Hoeksema, Reformed Dogmatics, hal. 46.

Definisi dan Adanya Allah 47

bahwa suatu hukum moral yang permanen itu memang ada dan 

bahwa hukum ini  mempunyai kekuasaan tertinggi dan kekal 

atas kita sekalian. Para penganut teori evolusi tidak senang menga­

kui kenyataan ini. Mereka lebih senang untuk beranggapan bahwa 

segala sesuatu senantiasa berubah. Akan namun , bahwa kesadaran 

akan tanggung jawab untuk melakukan yang benar dan bukan yang 

salah ini bukan ciptaan manusia sendiri atau telah berkembang dari 

naluri-naluri primitif kita melalui kehidupan dalam masyarakat, 

nampak jelas dari kenyataan bahwa kesadaran ini hampir tidak ada 

kaitannya dengan kecenderungan hati, kesenangan, ataupun perun­

tungan kita, maupun kelakuan masyarakat, namun  sering bertentang­

an dengan hal-hal ini . Bagaimanapun juga kesadaran akan 

tanggung jawab untuk melakukan yang baik/benar ini tidak mem­

beri tahu apa yang harus kita lakukan; kesadaran ini hanya sekadar 

menandaskan bahwa sebuah hukum moral yang fundamental ada 

di alam semesta ini dan kita wajib untuk menaatinya. Selanjutnya, 

pelanggaran-pelanggaran yang diketahui terhadap hukum moral di­

ikuti oleh perasaan-perasaan kurang sejahtera dan ketakutan akan 

penghakiman. Dalam Alkitab, Daud merupakan contoh yang baik 

sekali mengenai hal ini (Mazmur 32:3 dst.; 38:2-5).

Kita mau tidak mau hams berkesimpulan bahwa karena hukum 

moral ini bukan ciptaan manusia sendiri dan ketakutan akan peng­

hakiman ini tidak menghukum manusia dengan sendirinya, maka 

pasti ada  sebuah kehendak kudus yang membebankan hukum 

moral ini pada kita dan sebuah kuasa penghukum yang akan melak­

sanakan ancaman-ancaman dari sifat moral kita. Hati nurani kita 

berseru, "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. 

Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: ...?" (Mikha 6:8), dan 

"Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku 

atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat" 

(Pengkhotbah 12:14). Dengan kata lain, hati nurani mengakui ada­

nya suatu pemberi hukum yang berdaulat dan bahwa penghukuman 

terhadap semua pelanggaran hukum-Nya pasti akan dilaksanakan.

5. Alasan berdasarkan keselarasan. Alasan ini berlandaskan ke­

percayaan bahwa dalil yang menerangkan dengan paling baik fakta- 

fakta yang sedang dipelajari itu mungkin benar. Bila dikaitkan de-

14 Herskovits, Cultural Anthropology, hal. 230. 

48 Teisme

ngan pembahasan kita saat ini, maka alasan berdasarkan keselarasan 

ini berbunyi sebagai berikut: kepercayaan akan adanya Tuhan me­

rupakan penjelasan yang paling baik tentang kenyataan sifat moral, 

mental, dan religius manusia dan juga kenyataan alam kebendaan; 

dengan demikian dapat dikatakan bahwa Allah memang ada. Alasan 

ini menganggap bahwa tanpa dalil ini  maka fakta-fakta yang 

sedang dipelajari benar-benar tidak dapat diterangkan. Prinsip ini 

dapat diterangkan lewat penelitian teleskopis dan mikroskopis. Par­

tikel-partikel yang membentuk sebuah atom tidak dapat ditemukan 

melalui pengamatan langsung; adanya partikel-partikel ini  di­

duga lewat efek-efek yang dihasilkan serta senyawa-senyawa yang 

dihasilkan olehnya. Jadi, dalam ilmu pengetahuan kita menganggap 

bahwa dalil yang menerangkan serta menyelaraskan fakta-fakta 

yang dipelajari itu merupakan dalil yang benar. Bukankah berlan­

daskan prinsip yang sama kita dapat menyimpulkan bahwa Allah 

itu ada, karena dalil teistis selaras dengan semua fakta tentang sifat 

mental, moral, dan religius manusia maupun fakta-fakta alam ke­

bendaan?

Percaya kepada Allah yang berkepribadian, mampu berdiri sen­

diri, serta menyatakan diri itu selaras dengan sifat moral dan mental 

manusia; sejarah dan hukum alam dapat diterangkan; serta keper­

cayaan universal akan pribadi yang mahatinggi beserta pengalaman- 

pengalaman religiusnya dapat dijelaskan secara memuaskan. 

Ateisme, panteisme, dan agnostisisme tidak memberikan jawaban 

yang memadai untuk memuaskan hati manusia. Kita dapat menyim­

pulkan berdasarkan alasan-alasan ini bahwa Allah yang berkepri­

badian, berada di luar alam semesta, ada dengan sendirinya, ber­

moral, serta menyatakan diri memang ada. Ia tidak dapat dipahami 

(Ayub 11:7; Yesaya 40:18; Roma 11:33), namun  Ia dapat dikenal 

(Yohanes 17:3; I Yohanes 5:20).

IV 

Beberapa Pandangan Dunia Non- 

Kristen

Setiap orang yang mempertimbangkan dengan cermat bukti-bukti 

adanya Allah yang telah diajukan akan menganggap bukti-bukti itu 

sudah amat meyakinkan. Nampaknya tidak ada jalan lain selain 

mengakui, "Pastilah Allah itu ada!" Allah sendiri menganggap 

bukti-bukti itu sudah meyakinkan. Bila Allah tidak beranggapan 

demikian, maka Ia pasti sudah memberikan bukti-bukti yang lebih 

banyak lagi, namun jelas sekali bahwa bukti-bukti yang ada itu 

sudah cukup (Kisah 14:17; 17:23-29; Roma 1:18-20). Alkitab sen­

diri menganggap bahwa Allah itu ada. Oleh karena itu, percaya 

bahwa Allah ada merupakan hal yang wajar dan normal, sedangkan 

agnostisisme dan ateisme merupakan pendapat yang tidak normal 

dan tidak wajar. Memang, sebenarnya agnostisisme dan ateisme ini 

mengatakan bahwa Allah tidak memberikan bukti yang cukup 

memadai tentang keberadaan-Nya. Sikap-sikap semacam itu men­

cela Allah yang kudus dan murah hati sehingga dapat dikatakan 

dosa.

Sekalipun demikian, manusia pada umumnya menolak pengeta­

huan akan Allah ini (Roma 1:28). Dosa telah begitu menggelapkan 

pandangan mereka dan merusak hati mereka sehingga mereka me­

nolak bukti-bukti yang telah ada dan hidup terus seakan-akan tidak 

ada Allah atau membuat dewa-dewa buatan mereka sendiri. Oleh 

karena itu, kita akan membahas bersama sekilas berbagai pandangan 

dunia non-Kristen yang penting serta menanggapinya. Pandangan- 

pandangan ini  tergolong menurut enam golongan besar.

49

50 Teisme

I. PANDANGAN ATEISTIS

Secara umum, istilah "ateisme" menunjuk kepada kegagalan untuk 

mengenali satu-satunya Allah yang benar. Dalam arti yang umum 

ini, dapat dikatakan bahwa istilah ateisme ini dapat dipakai untuk 

semua agama yang non-Kristen. Namun dalam arti yang lebih sem­

pit, istilah "ateisme" menunjuk kepada tiga pandangan yang nyata: 

ateisme praktis, ateisme dogmatis, dan ateisme mumi

Ateisme praktis ditemukan di antara banyak orang. Banyak orang 

yang telah menyatakan bahwa semua agama itu palsu belaka tanpa 

berpikir panjang. Orang seperti ini pada umumnya bukan merupa­

kan ateis yang teguh; mereka hanya bersikap acuh tak acuh terhadap 

Allah. Mereka mungkin mengakui bahwa Allah ada entah di mana, 

namun  mereka hidup dan bertindak seakan-akan t