an kepada
mitologi, penyembahan berhala, dan politeisme. Mereka "memuja
dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya" (Roma
1:25). Penyataan yang lebih lengkap tentang Allah sangat diper
lukan. Ini tidak berarti bahwa penyataan melalui alam tidak mem
berikan kepada manusia sedikit pengertian tentang kebaikan dan
kebesaran Allah, namun manusia yang telah jatuh ke dalam dosa
24 Kemungkinan dan Pembagian Teologi
tidak dapat menanggapi penyataan yang demikian.
Demikian pula, tambahan penyataan Allah yang khusus melalui
mukjizat, nubuat, dan teofani tidak sanggup menuntun Israel kepada
pengetahuan yang benar akan watak dan kehendak Allah. Israel
memang percaya akan adanya Allah yang benar dan hidup, namun
pengertian mereka tentang Dia itu tidak sempurna dan cenderung
kurang benar. Mereka terutama memandang Allah sebagai pemberi
hukum dan hakim yang agung, yang sangat menekankan ketaatan
yang terinci dan teliti terhadap hukum Taurat, namun tidak terlalu
memperhatikan keadaan hati manusia dan hal melakukan keadilan,
kemurahan, dan iman (Matius 23:23-28). Mereka menganggap bah
wa kemarahan Allah dapat diredakan melalui persembahan korban
dan dibujuk untuk memberkati mereka melalui korban bakaran,
namun Ia tidak memerlukan pengorbanan yang sangat besar dan se
benarnya tidak terlalu membenci dosa (Yesaya 1:11-15; Matius
9:13; 12:7; 15:7-9). Mereka menganggap bahwa Allah telah men
jadikan keturunan lahiriah dari Abraham sebagai satu-satunya syarat
untuk memperoleh kemurahan dan berkat-Nya serta memandang
orang-orang bukan Yahudi lebih rendah daripada keturunan
Abraham (Matius 3:8-12; 12:17-21; Markus 11:17). Perjanjian
Lama penuh dengan kasih, kemurahan, dan kesetiaan Allah, namun
Israel dengan cepat berbalik ke legalisme (ajaran keselamatan me
lalui perbuatan baik). Israel juga memerlukan penyataan yang lebih
lengkap tentang Allah. Penyataan ini kita dapatkan di dalam
diri dan pelayanan Yesus Kristus.
Kristus merupakan pusat penyataan Allah dan sejarah umat ma
nusia. Penulis surat Ibrani mengatakan, "Setelah pada zaman da
hulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada
nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman
akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-
Nya" (Ibrani 1:1, 2); penulis Ibrani kemudian memperkenalkan
Kristus sebagai "cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah"
(ayat 3). Paulus menyebut Kristus sebagai "gambar Allah yang tidak
kelihatan" (Kolose 1:15), dan mengatakan bahwa "dalam Dialah
berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan" (Kolose
2:9). Yohanes mengatakan, 'Tidak seorang pun yang pernah melihat
Allah; namun Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dia
Kemungkinan dan Pembagian Teologi 25
lah yang menyatakan-Nya" (Yohanes 1:18). Yesus sendiri menga
takan, 'Tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak
seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya
Anak itu berkenan menyatakannya" (Matius 11:27), dan bahwa "Ba
rangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9).
Oleh karena itu, gereja sejak dahulu telah melihat di dalam Kristus
penyataan yang sempurna dari Allah Bapa.
Di dalam Kristus kita memiliki penyataan Allah yang lipat tiga:
penyataan tentang keberadaan, sifat, dan kehendak-Nya. Kristus
merupakan bukti yang terkuat tentang keberadaan Allah, karena Ia
menjalani kehidupan Allah di antara manusia. Ia bukan saja sangat
sadar akan kehadiran Allah Bapa dalam kehidupan-Nya dan senan
tiasa berhubungan dengan Dia (Yohanes 8:18, 28, 29; 11:41; 12:28),
namun Kristus juga menunjukkan melalui pernyataan-Nya tentang
diri-Nya (Yohanes 8:58; 17:5), kehidupan-Nya yang tak bercacat
cela (Yohanes 8:46), pengajaran-Nya (Matius 7:28, 29; Yohanes
6:46), pekerjaan-Nya (Yohanes 5:36; 10:37, 38; 15:24), berbagai
jabatan dan hak istimewa-Nya (Matius 9:2, 6; Yohanes 5:22, 25,
28), serta hubungan-Nya dengan Allah Bapa (Matius 28:19; Yo
hanes 10:38) bahwa Ia sendiri yaitu Allah. Yesus Kristus me
nyingkapkan kekudusan Allah yang mutlak (Yohanes 17:11, 25),
kasih Allah yang dalam (Yohanes 3:14-16), bahwa Allah yaitu
Bapa, bukan dari semua orang, namun dari setiap orang percaya yang
sejati (Matius 6:32; 7:11; Yohanes 8:41-44; 16:27), dan bahwa
Allah yaitu Roh (Yohanes 4:19-26). Kristus juga mengungkapkan
kehendak Allah agar semua orang bertobat (Lukas 13:1-5), percaya
kepada-Nya (Yohanes 6:28, 29), menjadi sempurna seperti Bapa di
sorga sempurna adanya (Matius 5:48), dan supaya setiap orang per
caya mengabarkan Injil ke seluruh pelosok dunia (Matius 28:19,
20).
Penyataan Allah di dalam Kristus merupakan fakta yang paling
besar di dalam sejarah sehingga perlu diperhatikan dengan sangat
cermat. Namun karena kita nanti akan membahas pribadi dan karya
Kristus dalam beberapa pasal maka hal ini tidak akan kita bahas
lebih lanjut sekarang ini.
Selain itu ada juga penyataan Allah di dalam Alkitab. Setiap
orang percaya yang benar senantiasa mengatakan bahwa di dalam
Alkitab kita memiliki penyataan dari Allah, yang terjelas dan yang
26 Kemungkinan dan Pembagian Teologi
tidak mungkin salah. Akan namun , Alkitab hendaknya jangan dipan
dang sebagai suatu penyataan yang sederajat dengan penyataan-
penyataan yang sudah kita bahas, namun lebih tepat sebagai per
wujudan dari semua penyataan ini . Misalnya, Alkitab mencatat
pengetahuan akan Allah serta tindakan-tindakan-Nya terhadap
makhluk ciptaan yang telah dikumpulkan oleh orang zaman dahulu
dari alam, sejarah, dan hati nurani manusia, dan juga dari mukjizat,
nubuat, Tuhan Yesus Kristus, dan pengalaman batin serta penga
rahan ilahi. Karena itu, orang Kristen kembali ke Alkitab sebagai
satu-satunya sumber tertinggi yang tidak mungkin salah bila hendak
menyusun teologinya. Namun, karena kita akan membahas pokok
ini secara lebih lengkap saat membahas sifat Alkitab, kita tidak
akan memperdalam pembahasan kita saat ini.
Dan akhirnya, Allah menyatakan diri-Nya dalam pengalaman pri
badi. Tokoh-tokoh sepanjang segala zaman telah mengakui memi
liki persekutuan dengan Allah sendiri. Mereka menyatakan bahwa
mereka mengenal Dia, bukan hanya melalui alam, sejarah, dan hati
nurani, juga bukan sekadar melalui mukjizat dan nubuat, namun juga
melalui pengalaman pribadi. Demikianlah halnya pada zaman Per
janjian Lama. Henokh dan Nuh hidup bergaul dengan Tuhan (Ke
jadian 5:24; 6:9); Allah berbicara kepada Nuh (Kejadian 6:13; 7:1;
9:1), kepada Abraham (Kejadian 12:1), kepada Ishak (Kejadian
26:24), kepada Yakub (Kejadian 28:13; 35:1), kepada Musa (Ke
luaran 3:4), kepada Yosua (Yosua 1:1), kepada Gideon (Hakim-
Hakim 6:25), kepada Samuel (I Samuel 3:4), kepada Daud (I Sa
muel 23:9-12), kepada Elia (I Raja-Raja 17:2-4), dan kepada Yesaya
(Yesaya 6:8). Demikian pula dalam Perjanjian Baru, Allah berbicara
dengan Yesus (Matius 3:16, 17; Yohanes 12:27, 28), kepada Petrus,
Yakobus, dan Yohanes (Markus 9:7), kepada Filipus (Kisah 8:29),
kepada Paulus (Kisah 9:4-6), dan kepada Ananias (Kisah 9:10).
Pengalaman akan hubungan erat dengan Tuhan ini memiliki dam
pak yang mengubah kehidupan orang-orang yang mengalaminya
(Mazmur 34:6; bandingkan dengan Keluaran 34:29-35). Mereka
makin menyerupai Tuhan yang dengan-Nya mereka berhubungan
erat (Kisah 6:15; bandingkan dengan II Korintus 3:18). Persekutuan
dengan Tuhan juga disertai penyataan kebenaran-kebenaran yang
lebih dalam lagi tentang Tuhan. Penyataan Allah dalam pengalaman
pribadi merupakan sumber utama yang digunakan Roh Kudus saat
Kemungkinan dan Pembagian Teologi 27
mengilhami orang percaya (Yohanes 16:13-15; II Timotius 3:16; II
Petrus 1:21; bandingkan dengan I Korintus 2:10-13). Namun dalam
arti yang lebih lengkap dapat dikatakan bahwa Roh Kudus telah
memilih dari berbagai bentuk penyataan Allah, yang masih dialami
manusia, dan mencatatnya dengan sempurna melalui ilham ilahi
dalam Kitab Suci. Dengan demikian, di dalam penyataan-penyataan
Allah, yang khususnya tersurat di dalam Alkitab, kita memperoleh
materi untuk teologi dan kemungkinan dikerjakannya teologi.
B. BAKAT-BAKAT MANUSIA
Setelah berasumsi bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya maka
kemudian kita bertanya, bagaimana manusia bisa memperoleh pe
nyataan itu? Jawaban kami ialah bahwa dunia luar dan dunia batin
manusia tidak akan mengungkapkan apa-apa tentang Tuhan tanpa
kemampuan bakat-bakat unik yang ada pada manusia. Manusia
mempunyai dua macam bakat: yang mental dan yang rohani.
1. Bakat-bakat mental. Orang yang menolak gagasan penyataan
tentang dan dari Allah berbalik kepada akal untuk menyelesaikan
masalah-masalah yang dihadapinya. Sepanjang kurun sejarah telah
muncul tiga jenis rasionalisme: rasionalisme yang ateistis, yang pan-
teistis, dan yang teistis. Rasionalisme ateistis muncul pertama kali
di dalam diri tokoh-tokoh filsafat Yunani yang mula-mula: Thales,
Anaximander, Anaximenes, Empedocles, Heraclitus, Leucippus,
dan Democritus. Rasionalisme panteistis diwakili oleh Anaxagoras
dan kaum Stoa, sedangkan rasionalisme teistis muncul pertama kali
dalam mazhab Deisme Inggris dan Jerman pada abad kedelapan
belas. Meskipun semua bentuk rasionalisme ini memberikan kekua
saan yang berlebihan kepada akal manusia dalam hal-hal keaga
maan, orang percaya yang sejati cenderung memberikan peranan
yang terlalu kecil kepada akal. Dengan "akal", kita maksudkan
bukan sekadar daya manusia untuk berpikir logis atau kemampuan
nya untuk bernalar, namun daya pengenalannya, kemampuannya un
tuk memahami, membandingkan, menilai, dan menata. Tuhan telah
memberikan akal kepada manusia, namun yang salah bukan peng
gunaan akal itu, melainkan penyalahgunaannya. Tidaklah mungkin
membahas di sini semua bentuk penyalahgunaan akal, bahkan di
28 Kemungkinan dan Pembagian Teologi
kalangan orang yang mengaku dirinya teis, namun empat penggunaan
yang baik dari akal yang Allah anugerahkan kepada manusia akan
kami sebutkan sekarang ini. Pertama, akal yaitu organ atau ke
mampuan untuk mengenal kebenaran. Akal yang intuitif memberi
kepada kita pengenalan pertama akan adanya ruang, waktu, sebab,
substansi, pola, kebenaran, dan Tuhan, yang merupakan awal bagi
semua pengetahuan. Akal yang aprehensif atau tanggap mencerap
fakta-fakta yang disajikan kepadanya untuk diketahui. namun harus
diingat bahwa ada perbedaan antara pengetahuan dan pengertian.
Kita tahu bahwa tanaman tumbuh, bahwa kehendak mengatur
gerakan otot, bahwa Yesus Kristus yaitu Allah-Insan, namun kita
tidak mengerti banyak tentang bagaimana semua itu dapat terjadi.
Yang kedua, akal harus menilai kredibilitas sebuah uraian. Yang
kami maksudkan dengan "kredibilitas" ialah perihal dapat diper
caya. Ada hal-hal yang jelas sekali tidak dapat dipercayai, misalnya
seekor lembu yang melompati bulan atau dongeng-dongeng lain se
macam itu, dan tugas akal ialah menyatakan apakah suatu penyajian
atau uraian dapat dipercayai atau tidak. Hanya hal-hal yang mustahil
saja yang tidak dapat dipercayai. Ada hal yang mungkin terasa aneh,
sulit diterangkan, dan sulit dipahami, namun dapat dipercayai. Ke
cuali seseorang bersedia untuk mempercayai hal-hal yang tidak da
pat dipahami, orang ini tidak bisa percaya apa-apa. Hal yang
mustahil yaitu hal yang merupakan kontradiksi; yang tidak sesuai
dengan sifat Allah yang kita ketahui; yang bertentangan dengan hu
kum-hukum kepercayaan yang telah diberikan Tuhan kepada kita;
dan yang bertentangan dengan kebenaran lain yang sudah jelas ter
bukti. Selanjutnya, akal harus menilai bukti-bukti yang diajukan
oleh sebuah uraian atau penyajian. Karena iman meliputi persetuju
an, dan persetujuan merupakan keyakinan yang dihasilkan oleh
bukti, maka dengan sendirinya iman tanpa bukti yaitu tidak masuk
akal atau mustahil. Jadi, akal harus memeriksa bukti-bukti dari
berita-berita yang dinyatakan sebagai penyataan dari Allah. Demi
kian pula, akal harus memeriksa bukti dari berbagai dokumen yang
dinyatakan telah mencatat penyataan dari Allah. Akal harus ber
tanya, apakah catatan-catatan ini asli atau palsu; murni atau
campuran; lengkap atau tidak lengkap? Bukti itu harus selaras de
ngan sifat kebenaran yang sedang dibahas. Kebenaran sejarah me
nuntut bukti sejarah; kebenaran empiris membutuhkan kesaksian
Kemungkinan dan Pembagian Teologi 29
pengalaman; kebenaran matematika membutuhkan bukti mate
matika; kebenaran moral membutuhkan bukti moral; dan hal-hal
yang dari Roh membutuhkan pembuktian oleh Roh (I Korintus
2:14-16). Dalam banyak hal, berbagai jenis bukti berpadu untuk
mendukung satu kebenaran, seperti halnya kepercayaan akan
keilahian Kristus. Selanjutnya, bukti itu tidak hanya harus selaras,
namun juga harus memadai, sehingga dapat disetujui oleh akal yang
sudah terlatih yang kepadanya kebenaran beserta bukti-bukti ter
sebut disajikan.
Akhirnya, akal juga harus menata fakta-fakta yang disajikan itu
menjadi sebuah sistem. Sebagaimana setumpuk batu bata tidak
dapat menjadi rumah dengan sendirinya, demikian pula fakta-fakta
suatu penyataan belumlah merupakan sebuah sistem yang berguna.
Akal harus menemukan faktor pemadu dan mengumpulkan semua
fakta yang relevan di sekitar faktor pemadu ini , yaitu dengan
memberikan kepada setiap bagian tempatnya yang tepat di dalam
suatu sistem yang sudah teratur dan tertata dengan rapi. Inilah ke
mampuan menata dari akal, yaitu dorongan naluriah akal. Jadi,
jelaslah bahwa akal menduduki tempat yang sangat penting dalam
teologi.
2. Bakat-bakat rohani. Kami menolak mentah-mentah pandang
an filosofis orang mistik yang beranggapan bahwa dengan jalan
disiplin dan kontemplasi yang ketat dan keras, semua manusia dapat
berjumpa langsung dengan realitas terakhir, yaitu sebutan mereka
untuk Allah, terpisah dari pertobatan dan iman kepada Yesus Kris
tus. Kepercayaan ini yaitu kepercayaan kafir dan merupakan bagi
an dari sebuah pandangan dunia yang sangat panteistik. Pengalam
an religius bagaimanapun yang dimiliki seorang mistik semacam
itu, bukanlah pengalaman persekutuan seorang Kristen dengan
Allah yang benar dengan perantaraan Yesus Kristus dan Roh Ku
dus. Bentuk-bentuk ekstrem dari Pietisme, Quakerisme, dan
Quietisme yang muncul di Eropa di belahan terakhir abad ketujuh
belas harus kita tolak juga. Bentuk-bentuk ekstrem dari Pietisme
percaya akan kemungkinan adanya sebuah persekutuan mutlak de
ngan Allah, suatu kecocokan dengan Dia yang samasekali tidak di
ajarkan oleh Alkitab. Bentuk-bentuk ekstrem dari Quakerisme ber
anggapan bahwa semua manusia memiliki terang batin yang, sama-
30 Kemungkinan dan Pembagian Teologi
sekali terlepas dari Alkitab, dapat menuntun mereka kepada kehi
dupan yang saleh. Bentuk-bentuk ekstrem dari Quietisme
beranggapan bahwa kita harus mencari persekutuan yang
sedemikian rupa dengan Tuhan, mencari keadaan ketenangan sem
purna di mana semua pikiran, dan semua kegiatan terhenti dan jiwa
kita tenggelam di dalam Allah. Celakanya, apa yang mulanya
merupakan hak istimewa khusus bagi orang percaya kini dalam
banyak hal dilebih-lebihkan, sebagaimana dalam beberapa bentuk
Quakerisme, bahkan dikatakan dapat dimiliki seorang yang belum
diselamatkan.
Namun, setelah memberi kelonggaran bagi beberapa pandangan
nonalkitabiah yang baru saja kita sebutkan, tetap harus ditandaskan
bahwa manusia memiliki pengetahuan intuitif tentang Allah. Alkitab
mengajarkan bahwa "apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah
nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada
mereka. Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu
kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada
pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka
tidak dapat berdalih" (Roma 1:19, 20).
Secara lebih khusus lagi, ada kemampuan rohani di dalam diri
orang percaya dan dengan kemampuan itu ia dapat memasuki per
sekutuan yang sangat nyata dan indah dengan Tuhan (Roma 8:15,
16; I Korintus 1:9; Galatia 4:6; I Yohanes 1:3). Mistisisme Kristen
itu memang ada, yaitu suatu hubungan langsung antara jiwa dengan
Allah, suatu pengalaman Kristen penting yang hampir tidak
mungkin disangkal oleh seseorang yang telah mengalaminya. Na
mun, selain dari pengalaman semacam itu, penerangan oleh Roh
Kudus juga tersedia bagi setiap orang percaya. Yesus mengatakan,
"Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, namun
sekarang kamu belum dapat menanggungnya. namun jika Ia
datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam
seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya
sendiri, namun segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan
dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang
akan datang" (Yohanes 16:12, 13). Dan Paulus menulis, "Kita tidak
menerima roh dunia, namun roh yang berasal dari Allah, supaya kita
tahu apa yang dikaruniakan Allah kepada kita" (I Korintus 2:12).
Maksudnya, Roh Kudus membuat kita mampu memahami penya
Kemungkinan dan Pembagian Teologi 31
taan Allah yang telah ada, khususnya penyataan tentang diri-Nya
yang ada dalam Alkitab. Jadi, bagi setiap pencari kebenaran
telah tersedia, bukan hanya akalnya sendiri, namun juga bantuan
Roh Kudus. Tentu saja, bantuan Roh Kudus itu hanya tersedia bagi
orang yang benar-benar anak Allah. Yohanes menulis, "Sebab di
dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari-
pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Te
tapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala
sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan
sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendak
nya kamu tetap tinggal di dalam Dia" (I Yohanes 2:27; bandingkan
dengan 2:20).
II. PEMBAGIAN TEOLOGI
Bidang kajian teologi yang sangat luas umumnya terbagi menjadi
empat bagian: teologi eksegetis, teologi historis, teologi sistematika,
dan teologi praktis.
a. Teologi Eksegetis
Teologi eksegetis langsung berurusan dengan penelaahan naskah
alkitabiah dan pokok-pokok bahasan yang berkaitan, seperti usaha-
usaha untuk pemugaran, orientasi, memberi ilustrasi, dan penafsiran
naskah ini . Teologi eksegetis meliputi penelaahan bahasa-
bahasa, arkeologi, pengantar, hermeneutika, dan teologi alkitabiah.
b. Teologi Historis
Teologi historis merunut sejarah umat Allah dalam Alkitab dan
gereja sejak zaman Kristus. Teologi historis membahas awal mula,
perkembangan, dan penyebaran agama yang sejati dan juga semua
doktrin, organisasi, dan kebiasaannya. Di dalamnya termasuk juga
sejarah Alkitab, sejarah gereja, sejarah pekabaran Injil, sejarah ajar
an, dan sejarah pengakuan iman.
c. Teologi Sistematika
Teologi sistematika mempergunakan bahan-bahan yang disajikan
oleh teologi eksegetis dan teologi historis lalu menatanya menurut
suatu tatanan yang logis sesuai dengan tokoh-tokoh besar dalam
32 Kemungkinan dan Pembagian Teologi
penelitian teologis. namun sumbangan yang diberikan oleh kedua
bagian teologi ini harus dipisahkan dengan saksama. Teologi ek-
segetis merupakan satu-satunya sumber teologi yang nyata dan tidak
mungkin salah; sedangkan teologi historis, dalam menguraikan per
kembangan pemahaman gereja tentang ajaran-ajaran iman yang
akbar, sering menyumbangkan pemahaman tentang penyataan alki
tabiah. Teologi dogmatis, sesungguhnya, merupakan penataan dan
pembelaan ajaran-ajaran yang terungkap dalam simbol-simbol
gereja, sekalipun teologi dogmatis sering kali dianggap sama dengan
teologi sistematika. Teologi sistematika membahas apologetika,
polemik, dan etika alkitabiah.
d. Teologi Praktis
Teologi praktis membahas penerapan teologi terhadap pemba
haruan, pengudusan, pembinaan, pendidikan, dan pelayanan manu
sia. Teologi praktis berusaha menerapkan pokok-pokok yang di
sumbangkan oleh ketiga bagian teologi lainnya kepada kehidupan
praktis. Teologi praktis meliputi pokok-pokok seperti homiletika,
organisasi dan administrasi gereja, ibadat, pendidikan agama Kris
ten, dan penginjilan.
BAGIAN I
TEISME
Istilah "teisme" dipakai menurut empat arti yang berbeda. Sekalipun
hanya arti yang keempat saja yang memuaskan, ada baiknya pula
bila mengetahui setiap arti lainnya.
1. Kepercayaan akan adanya satu atau lebih kekuatan adikodrati,
satu atau lebih perantara rohani, satu atau lebih dewa. Pandangan
ini mencakup semua bentuk kepercayaan kepada satu atau lebih
dewa, berapa pun jenis dan jumlahnya, dan hanya menentang
ateisme.
2. Kepercayaan akan adanya satu Allah saja, entah Ia berke
pribadian atau tidak berkepribadian, entah Ia saat ini giat berkarya
di dalam alam semesta atau diam saja. Pandangan ini mencakup
monoteisme, panteisme, dan deisme, dan bertolak belakang dengan
ateisme, politeisme, dan henoteisme.
3. Kepercayaan akan adanya satu Allah yang berkepribadian
yang transenden dan imanen serta keberadaannya terwujud dalam
satu oknum saja. Pandangan inilah pandangan Yahudi, Islam, dan
kaum Unitarian tentang Allah, serta bertolak belakang dengan
ateisme, politeisme, panteisme, dan deisme.
4. Kepercayaan akan adanya satu Allah yang berkepribadian,
yang transenden maupun imanen. Allah ini dikenal sebagai Bapa,
Anak, dan Roh Kudus. Pandangan ini merupakan pandangan teisme
Kristen, dan bertolak belakang dengan semua pandangan yang telah
disebutkan tadi. Pandangan ini merupakan monoteisme yang ber
sifat trinitarian dan bukan unitarian. Orang Kristen beranggapan
bahwa semua pandangan yang telah disebutkan tadi merupakan
pemahaman yang salah tentang Allah, maka pandangan ini
merupakan satu-satunya teisme yang benar. Penafsiran inilah yang
diterima dalam buku ini.
33
34 Teisme
Telah kita tunjukkan dalam pasal sebelum ini bahwa Tuhan telah
menyatakan diri-Nya dan bahwa manusia mampu memahami
penyataan ini. Dua fakta ini merupakan landasan dari studi teologis.
Dua pasal berikut ini merupakan penjelasan dan penetapan selan
jutnya dari pandangan dunia yang teistis.
III
Definisi dan Adanya Allah
Dalam pasal ini kita akan berusaha untuk memformulisasikan
sebuah definisi tentang Allah serta menyajikan argumen-argumen
penting dalam rangka membuktikan bahwa Allah itu ada. Kedua
pokok bahasan ini layak dipelajari secara mendalam dan luas karena
merupakan landasan bagi semua studi teologis lainnya. Namun,
dalam kesempatan ini kita hanya dapat menyentuh sekilas saja
pemahaman-pemahaman tentang Allah yang penting serta aspek-
aspek utama dari bukti-bukti tentang adanya Dia.
I. DEFINISI TENTANG ALLAH
Bahasa juga memiliki hak-haknya sendiri sehingga istilah-istilah
yang sudah sejak lama memiliki arti tertentu tidak dapat dengan
seenaknya dipakai untuk mengungkapkan arti yang samasekali ber
beda. Sekalipun demikian, hal ini telah sering kali dilakukan dalam
diskusi-diskusi teologis. Istilah "Allah" akhir-akhir ini telah disalah
gunakan sedemikian rupa sehingga kita perlu mengembalikannya
kepada arti awalnya dalam sistem Kristen. Marilah kita lihat sekilas
beberapa penyalahgunaan ini , mendaftarkan beberapa nama
Allah dalam Alkitab, dan kemudian mengajukan formulasi teologis
dari pemahaman Kristen tentang Allah.
A. PEMAKAIAN ISTILAH "ALLAH" SECARA SALAH
Baik penulis-penulis teologi maupun penulis-penulis filsafat ber
salah dalam hal ini. Bagi Plato, Allah merupakan akal abadi, sebab
dari semua kebaikan di alam semesta. Aristoteles beranggapan
35
36 Teisme
bahwa Allah yaitu "sumber segala keberadaan." Spinoza mende
finisikan Allah sebagai "Substansi yang mutlak dan universal,
Penyebab sejati dari segala sesuatu dan segala yang ada; dan bukan
saja sekadar Penyebab segala keberadaan, namun Allah sendiri me
rupakan segala keberadaan sehingga setiap benda yang ada merupa
kan modifikasi Allah saja." Leibniz mengatakan bahwa akibat ter
akhir dari segala sesuatu yaitu Allah. Kant mendefinisikan Allah
sebagai Dia yang, lewat pemahaman dan kehendak-Nya, telah
mengadakan alam semesta; Dia yang memiliki semua hak tanpa
memiliki kewajiban; pencipta yang sesungguhnya dari seluruh
dunia. Bagi Fichte, Allah merupakan tatanan moral alam semesta,
yang benar-benar bekerja dalam kehidupan. Hegel beranggapan
bahwa Tuhan yaitu sepenuhnya roh, namun juga roh yang tanpa
kesadaran sampai roh ini menjadi sadar dalam akal dan
pemikiran manusia. Strauss menyamakan Allah dengan Universum;
Comte dengan kemanusiaan; dan Matthew Arnold dengan "Arus
Kecenderungan yang Menghasilkan Kebenaran."
Mari kita memperhatikan juga beberapa penyalahgunaan yang
baru-baru. Kirthly F. Mather, seorang geolog, mengatakan bahwa
Tuhan yaitu kuasa rohani, imanen di dalam alam semesta, yang
terlibat dalam risiko ciptaan-Nya. Henry Sloane Coffin mengatakan,
"Allah bagiku yaitu Kuasa pencipta, di balik dan di dalam alam
semesta, yang menyatakan diri sebagai energi, kehidupan, tatanan,
keindahan, pemikiran, suara hati, kasih." Coffin lebih senang ber
bicara tentang Allah yang memiliki hubungan pribadi dengan kita
daripada mengatakan bahwa Allah berkepribadian. Bagi Edward
Ames, Allah yaitu "gagasan realitas yang dianggap seperti me
miliki kepribadian serta dipuja." Ames berpikir bahwa Allah itu
berkembang dan terbatas. Sampai sejauh inilah pemahaman-pema
haman tentang Allah yang nonalkitabiah; kini kita harus memper
hatikan pemahaman yang benar tentang Allah.
B. NAMA-NAMA ALKITABIAH UNTUK ALLAH
Nama-nama orang dan tempat dalam Alkitab sering kali memiliki
makna yang penting. Demikianlah halnya dengan nama-nama Allah.
Istilah yang paling sering dipakai untuk yang ilahi ialah El.
Dari istilah ini dibentuk kata Elim, Elohim, dan Eloah. Istilah ini
Definisi dan Adanya Allah 37
sepadan dengan theos dalam bahasa Yunani, Deus dalam bahasa
Latin, dan God dalam bahasa Inggris. Istilah ini merupakan istilah
yang umum bagi yang ilahi, dan dipakai untuk meliput semua ang
gota golongan yang ilahi. Istilah Elohim yang jamak biasanya di
pakai oleh para penulis di Perjanjian Lama dengan memakai kata
kerja dan kata sifat tunggal untuk menunjuk satu gagasan tunggal.
Walaupun istilah ini biasanya mengacu kepada Allah, ia juga dapat
dipakai untuk dewa-dewa kafir. Kata majemuk El-Elyon menunjuk
kepada Allah sebagai Yang Mahatinggi (Mazmur 78:35), dan El-
Shaddai menunjuk kepada Allah sebagai Yang Mahakuasa (Keja
dian 17:1).
Yehova atau Yahweh merupakan nama pribadi yang paling baik
dari Allah Israel. Istilah ini dikaitkan dengan kata kerja Ibrani "ada",
dan berarti "dia yang ada dengan sendirinya," atau "dia yang men
jadikan ada" (Keluaran 6:2 dst.; bandingkan 3:13-16). Nama ini
sering kali diterjemahkan dengan istilah 'Tuhan" yang kerap dicetak
dengan memakai huruf besar. Nama ini dipakai dalam berbagai
kombinasi penting: Yehova-Yireh, Tuhan akan menyediakan (Keja
dian 22:14); Yehova-Rapha, Tuhan yang menyembuhkan (Keluaran
15:26); Yehova-Nissi, Tuhan panji-panjiku (Keluaran 17:15);
Yehova-Shalom, Tuhan itu keselamatan (Hakim-Hakim 6:24);
Yehova-Raah, Tuhan yaitu gembalaku (Mazmur 23:1); Yehova-
Tsidkenu, Tuhan keadilan kita (Yeremia 23:6); dan Yehova-Sham-
mah, Tuhan hadir (Yehezkiel 48:35).
Adonai, Tuhanku, merupakan gelar yang sering kali muncul da
lam kitab para nabi. Istilah ini mengungkapkan ketergantungan dan
kepatuhan, yaitu sikap seorang hamba terhadap tuannya, atau se
orang istri terhadap suaminya. Gelar, Tuhan semesta alam, sering
kali muncul dalam tulisan-tulisan yang bersifat nubuat dan pasca-
pembuangan (Yesaya 1:9; 6:3). Beberapa sarjana beranggapan bah
wa istilah ini berbicara tentang kehadiran Allah bersama balatentara
Israel pada zaman kerajaan (I Samuel 4:4; 17:45; II Samuel 6:2),
namun arti yang mungkin lebih tepat ialah kehadiran Allah bersama
balatentara sorga, yaitu para malaikat (Mazmur 89:7-9; bandingkan
Yakobus 5:4).
Dalam Perjanjian Baru istilah theos menggantikan istilah El,
Elohim, dan Elyon. Nama Shaddai dan El-Shaddai diterjemahkan
sebagai pantokrator, yang artinya yang mahakuasa, dan theos pan-
38 Teisme
tokrator yang berarti Allah yang mahakuasa. Kadang-kadang
Tuhan disebut sebagai Alfa dan Omega (Wahyu 1:8), yang ada dan
yang sudah ada dan yang akan datang (Wahyu 1:4), Yang Awal
dan Yang Akhir (Wahyu 2:8; 21:6).
C. PERUMUSAN TEOLOGIS DARI DEFINISI TENTANG ALLAH
Karena Allah tidak terbatas, maka suatu definisi yang luas dan
lengkap tentang Allah merupakan suatu kemustahilan. Sekalipun
demikian, kita dapat membuat suatu definisi sejauh kita mengenal
Dia dan tahu tentang Dia. Kita pasti dapat menguraikan sifat-sifat
khas Allah yang telah dinyatakan kepada manusia. Dan selanjutnya,
kita dapat mengatakan bahwa Dia yaitu Yang Ada, dan kemudian
menunjukkan dalam hal apa saja Ia berbeda dengan makhluk-
makhluk lain yang ada. Bagaimana bunyi beberapa definisi tentang
Allah?
Buswell menulis, "Ringkasan terbaik dari doktrin tentang Allah
yang diajarkan oleh Alkitab ada dalam jawaban untuk pertanya
an nomor empat dalam Westminster Shorter Catechism, ’Apakah
Allah? Allah yaitu roh, tidak terbatas, kekal, tidak berubah dalam
diri-Nya. kebijaksanaanNya, kuasaNya, kekudusan-Nya, keadilan-
Nya, kemurahan-Nya, dan kebenaran-Nya.’"4 Hoeksema menyata
kan, "Allah yaitu Pribadi yang esa, tak terbagi, mutlak, rohani
4 Buswell, A Systematic Theology of the Christian Religion, I, hal. 30.
5 Hoeksema, Reformed Dogmatics, hal. 60.
6 Berkhof, Systematic Theology, hal. 56.
7 Strong, Systematic Theology, hal. 52.
semata-mata, memiliki kesempurnaan yang tak terbatas, sepenuhnya
imanen dalam seluruh dunia, namun pada hakikatnya transenden
terhadap segala yang ada!"5 Berkhof mendefinisikan Allah sebagai
berikut, "Allah itu esa, sempurna, tidak berubah, dan tak terbatas
dalam pengetahuan dan kebijaksanaan-Nya, kebaikan dan kasih-
Nya, kasih karunia dan kemurahan-Nya, kebenaran dan kekudusan-
Nya."6 Suatu definisi yang ringkas dan cukup lengkap tentang
Allah, nampaknya disajikan oleh Strong, "Allah yaitu Roh yang
tak terbatas dan sempurna; di dalam Dia segala sesuatu bersumber,
terpelihara, dan berakhir."7
Definisi dan Adanya Allah
II. ADANYA ALLAH
39
Telah ditunjukkan bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya dan bah
wa manusia mampu memahami penyataan ini . Kita kini melan
jutkan pembahasan kita dengan membicarakan argumen-argumen
yang diajukan sebagai bukti adanya Allah. Argumen-argumen ter
sebut dapat dibagi dalam tiga kelompok.
A. KEPERCAYAAN AKAN ADANYA ALLAH ITU NALURIAH
Kepercayaan naluriah akan adanya Allah ini merupakan kebenaran
pertama, dan secara logis timbul sebelum kepercayaan akan Alkitab.
Sebuah kepercayaan bersifat naluriah bila kepercayaan itu universal
dan penting. Paulus menulis, "Karena apa yang dapat mereka
ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah
menyatakannya kepada mereka" (Roma 1:19). Paulus kemudian
melanjutkan, "Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu
kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada
pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan" (ayat 20). Pemberi
tahuan ini membuat setiap orang tidak percaya "tidak dapat ber
dalih" (ayat 20). Bahkan orang yang paling bejat akhlaknya
sekalipun mengerti bahwa mereka yang hidup dalam dosa "patut
dihukum mati" (Roma 1:32) dan bahwa "isi hukum Taurat ada ter
tulis di dalam hati" semua orang (Roma 2:15).
Sejarah menunjukkan bahwa unsur religius dalam sifat kita ter
dapat dalam semua orang sama dengan unsur rasional dan sosial
kita. Agama atau sistem kepercayaan tertentu merupakan salah satu
unsur universal dalam setiap kebudayaan.8 Dalam kepercayaan
umat manusia di mana-mana ada berbagai bentuk gejala reli
gius dan kesadaran akan yang adikodrati. Mungkin itu berupa se
buah kekuatan adikodrati berbentuk abstrak yang diberi nama
"mana", maupun suatu kepercayaan yang benar akan adanya Allah
yang berkepribadian. Sering kali agama manusia telah merosot aki
bat adanya ketidakpercayaan. Paulus mengatakan bahwa saat
manusia menolak Allah, "pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati
mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah me
reka penuh hikmat, namun mereka telah menjadi bodoh. Mereka
8 Herskovits, Cultural Anthropology, hal. 117.
40 Teisme
menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran
yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-
binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar"
(Roma 1:21-23).
Kepercayaan akan adanya Tuhan juga diperlukan. Kepercayaan
itu perlu karena kita tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa Dia
itu ada tanpa merusak hukum-hukum sifat dasar diri kita sendiri.
Bila kita menyangkalnya, maka penyangkalan itu merupakan se
suatu yang dibuat-buat dan pasti hanya bersifat sementara. Seba
gaimana halnya bandulan sebuah jam dapat didorong sehingga ber
pindah dari posisi setimbang oleh tenaga di dalam jam itu sendiri
atau tenaga dari luar, demikian pula manusia dapat didorong
sehingga berpindah dari kepercayaan normalnya akan adanya Allah.
Namun sebagaimana bandulan itu akan kembali lagi kepada ke
dudukannya yang mula-mula saat tenaga pendorongnya sudah di
angkat, demikianlah pula halnya manusia akan kembali lagi kepada
kepercayaannya yang normal akan adanya Allah, yaitu saat ia
tidak secara sadar berada di bawah pengaruh sebuah filsafat yang
palsu. Hodge mengatakan:
Di bawah penguasaan sebuah teori metafisis tertentu, manusia dapat
menolak adanya dunia di luar dirinya, atau tanggung jawab terhadap hukum
moral; dan ketidakpercayaannya itu bisa saja tulus ikhlas, dan bahkan untuk
sesaat bersifat teguh; namun pada saat alasan-alasan spekulatif bagi ketidak
percayaannya itu tidak ada dalam pikirannya, maka dengan sendirinya
pikirannya akan kembali kepada keyakinannya yang mula-mula dan normal.
Mungkin juga tangan seseorang menjadi begitu kapalan atau terbakar
sehingga tidak dapat merasakan apa-apa. Akan namun , keadaan ini
tidaklah dapat dipakai sebagai bukti untuk mengatakan bahwa tangan
manusia bukanlah alat peraba yang hebat.9
Kepercayaan yang universal dan perlu itu bersifat naluriah.
Kepercayaan naluriah semacam ini tidak dapat diterangkan sebagai
hasil penalaran deduktif dari akal oleh karena bukti adanya Allah
begitu jelas sehingga pikiran manusia terpaksa menerima kenyataan
ini . Hanya orang yang berpendidikan yang mampu melakukan
penalaran semacam ini, sedangkan baik agnostisisme maupun
ateisme justru lebih sering ditemukan di antara orang-orang yang
dikatakan sudah berpendidikan tinggi dan bukan di antara mereka
yang tidak terdidik, yaitu mereka yang belum pernah dilatih untuk
9 Hodge, Systematic Theology, I, hal. 197, 198.
Definisi dan Adanya Allah 41
bernalar seperti itu. Kepercayaan naluriah ini juga tidak dapat
diterangkan berdasarkan adat-istiadat saja. Kita mengakui bahwa
pernyataan-pernyataan yang terdahulu tentang Allah telah diwariskan
dari keturunan kepada keturunan berikutnya, namun kita tidak per
caya bahwa kenyataan ini merupakan keseluruhan penjelasan bagi
adanya kepercayaan naluriah karena Alkitab sendiri mengatakan
bahwa hukum Allah tertulis di dalam hati manusia (Roma 2:14-16).
Kami juga merasa bahwa teori ini tidak dapat menerangkan
kekuatan kepercayaan naluriah ini di dalam diri manusia.
B. ADANYA ALLAH DIASUMSIKAN OLEH ALKITAB
Telah kami tunjukkan beberapa kali bahwa Alkitab menganggap
semua orang percaya akan adanya Allah. Berdasarkan anggapan ini
Alkitab tidak berusaha untuk membuktikan bahwa Dia ada. Sepan
jang Alkitab adanya Allah sudah dianggap pasti. Alkitab diawali
dengan sebuah pernyataan akbar, "Pada mulanya Allah menciptakan
langit dan bumi" (Kejadian 1:1), dan selanjutnya terus menganggap
pasti Allah itu ada. Ayat-ayat seperti Mazmur 94:9 dan seterusnya
dan Yesaya 40:12-31 bukanlah bukti-bukti akan adanya Tuhan, me
lainkan lebih merupakan laporan yang analitis tentang segala se
suatu yang ikut tersirat dalam pemahaman tentang Allah, dan me
rupakan nasihat untuk mengakui Dia sebagai yang ilahi.
Bukan saja demikian, namun Alkitab juga tidak berusaha mem
buktikan bahwa Allah dapat dikenal, juga tidak mencoba mengira-
ngira bagaimana pengetahuan akan Allah timbul dalam pikiran ma
nusia. Kesadaran manusia mengatakan bahwa Allah itu ada, dan
pikiran para penulis Alkitab penuh dan bersemangat dengan pemi
kiran dan pengetahuan akan Dia. Mereka menulis dengan kepastian
mengenai adanya Allah kepada sidang pembaca yang juga yakin
akan adanya Allah itu.
C. KEPERCAYAAN AKAN ADANYA ALLAH DIDUKUNG OLEH
ALASAN-ALASAN
Dalam mendekati pembahasan mengenai alasan-alasan akan adanya
Allah, hal-hal berikut ini perlu diperhatikan: (1) alasan-alasan ter
sebut bukan merupakan bukti-bukti terpisah akan adanya Allah,
namun lebih tepat dikatakan merupakan dukungan dan penafsiran
42 Teisme
akan keyakinan adanya Allah yang sudah ada di dalam diri kita;
(2) Karena Allah yaitu roh, kita tidak boleh menuntut bukti-bukti
yang sama sebagaimana kita membuktikan benda-benda fisik, namun
hanya bukti-bukti yang cocok untuk objek yang akan dibuktikan;
dan (3) bukti-bukti itu harus merupakan hasil pengumpulan data,
karena satu alasan saja untuk membuktikan adanya Allah tidaklah
cukup, namun beberapa alasan bersama kiranya cukup memadai un
tuk mengikat suara hati dan mendorong kepercayaan. Oleh karena
itu, kami sekarang akan membahas alasan-alasan ini dengan
singkat.
1. Alasan kosmologis. Alasan ini dapat diungkapkan sebagai
berikut, "Segala sesuatu yang dimulai haruslah mempunyai sebab
yang memadai. Alam semesta sudah dimulai; oleh karena itu, alam
semesta haruslah memiliki suatu sebab yang memadai untuk me
nerangkan keberadaannya." Alasan ini tersirat dalam Ibrani 3:4,
"Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, namun
ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah." Alasan ini juga dapat
dikatakan sebagaimana yang diungkapkan oleh Buswell, "Bila se
suatu sekarang ada, maka (1) harus ada sesuatu yang bersifat abadi
kecuali kalau (2) sesuatu itu berasal dari kenihilan."10
10 Buswell, A Systematic Theology of the Christian Religion, I, hal. 82.
Sementara orang beranggapan bahwa alam semesta ini bersifat
kekal atau bahwa alam semesta ini telah diciptakan dalam keke
kalan. Akan namun , astronomi menunjukkan bahwa di angkasa luar
sana telah terjadi perubahan-perubahan besar, dan geologi juga telah
menunjukkan bahwa di bumi ini telah terjadi perubahan-perubahan
besar. Semua ini menunjukkan bahwa keadaan yang sekarang ini
bukan merupakan keadaan yang abadi. Lagi pula, adanya bumi ini
tidak terjadi dengan sendirinya. Setiap bagian dunia bergantung
pada bagian-bagian lain serta berkaitan erat sekali. Sebab meng
hasilkan akibat, namun sebab-sebab itu sendiri merupakan akibat dari
sebab-sebab yang lain, dan seterusnya. Oleh karena itu pastilah
ada satu sebab yang pertama, atau serangkaian sebab yang bersifat
abadi. Akan namun , gagasan serangkaian sebab yang bersifat abadi
itu nampaknya sulit diterima. Hukum termodinamika kedua, atau
hukum entropi, menunjukkan bahwa keadaan alam semesta ini
memburuk. Energi menjadi makin berkurang, dan keteraturan ber
Definisi dan Adanya Altai 43
geser menjadi kekacauan. Bila keadaan alam semesta ini mem
buruk, maka alam semesta itu tidak dapat memelihara dirinya sen
diri; dan kalau alam semesta tidak bisa memelihara dirinya sendiri
maka pastilah alam semesta memiliki awal tertentu.
Apakah yang sebenarnya dibuktikan oleh alasan ini? Bukan se
kadar membuktikan adanya oknum yang perlu, baik oknum itu ber
kepribadian atau tidak berkepribadian, namun bahwa oknum yang
ada ini harus berada di luar alam karena segala sesuatu yang tidak
mungkin ada dengan sendirinya pastilah disebabkan oleh sesuatu
yang di luar dirinya, dan oknum yang ada ini haruslah berakal budi
tinggi karena dunia orang-orang yang akalnya terbatas merupakan
bagian dari alam semesta. Oleh karena itu, kami menyimpulkan
bahwa alasan kosmologis ini membuktikan bahwa alam semesta ini
diciptakan oleh sebuah sebab yang memadai. Alasan ini mempunyai
kelemahan, yaitu bahwa "bila segala sesuatu yang ada memiliki
sebab yang memadai, maka kenyataan ini pasti juga berlaku
bagi Allah."11 Dengan demikian, kita memasuki suatu rantai
penalaran yang tidak ada akhirnya. Sekalipun demikian, alasan ini
menunjuk akan adanya sebab pertama yang berada di luar alam
semesta dan berakal budi tinggi. Akan namun , dua gagasan ini akan
lebih diperkuat lagi oleh alasan-alasan yang diajukan berikutnya.
11 Berkhof, Systematic Theology, hal. 26.
2. Alasan teleologis. Alasan teleologis dapat dinyatakan sebagai
berikut, "Tatanan yang teratur dan berdaya-guna di dalam suatu
sistem menyiratkan adanya akal budi tinggi dan maksud di dalam
sebab pengatur. Alam semesta menunjukkan adanya tatanan yang
teratur dan berdaya-guna; oleh karena itu, alam semesta ini memiliki
sebab yang berakal budi tinggi dan bebas." Premis mayor ini di
beritahukan dalam berbagai Mazmur, "Jika aku melihat langit-Mu,
buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan; apa
kah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak
manusia sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4 dst.);
"Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberita
kan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari
dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam" (Maz
mur 19:2 dst.); dan "Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak
mendengar? Dia yang membentuk mata, masakan tidak meman-
44 Teisme
dang?" (Mazmur 94:9). Memang telah diajukan keberatan bahwa
tatanan yang teratur dan berdaya-guna mungkin saja tanpa rencana,
bahwa keadaan teratur dan berdaya-guna itu mungkin disebabkan
karena hukum yang bekerja atau karena kebetulan saja. Akan namun ,
sifat saling bergantung dari hukum-hukum alam meniadakan
gagasan semacam itu. Hukum-hukum alam ini bukan saja tidak ber
asal dengan sendirinya dan ditopang dengan sendirinya; hukum-
hukum itu menunjukkan adanya pemberi hukum serta penopang
hukum. Siapa yang membentuk aneka ragam bentuk daun atau
mengatur musim-musim? Pastilah, semua ini menunjukkan adanya
pribadi yang berakal budi tinggi. Paulus memakai alasan dan kon
sepsi ini untuk membuktikan kesalahan orang fasik (Roma 1:18-23).
Premis minornya dewasa ini jarang dipersoalkan. Susunan dan
penyesuaian yang ada di dalam dunia tanaman dan dunia he
wan, termasuk manusia, menunjukkan adanya keteraturan dan tuju
an. Tanaman, hewan, dan manusia dibuat sedemikian rupa
sehingga dapat memperoleh makanan yang diperlukan, bertumbuh,
dan berkembang biak. Semua planet, asteroid, satelit, komet,
meteor, dan konstelasi bintang tetap berjalan menurut jalurnya sen
diri oleh karena kehebatan kekuatan sentrifugal dan sentripetal yang
ada di alam semesta. Atom menunjukkan susunan berbagai proton,
neutron, deutron, mesotron, elektron, dan lain-lain yang sangat
teratur. Kita dapat melihat adanya hubungan antara dunia benda
hidup dengan dunia benda mati. Cahaya, udara, panas, air, dan tanah
disediakan sehingga kehidupan tanaman dan hewan dapat ter
pelihara. Kita juga dapat melihat keseragaman umum dari hukum-
hukum alam yang membuat manusia bisa bercocok tanam dan me
makai hasil penemuan ilmiahnya untuk meningkatkan kesejahteraan
umat manusia. Paulus menyatakan, "Ia bukan tidak menyatakan diri-
Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan
hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi
kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan"
(Kisah 14:17).
Apa yang dibuktikan oleh alasan ini? Telah diajukan keberatan
bahwa baik manusia maupun hewan memiliki alat tubuh yang tidak
berguna, atau bahwa manusia dan hewan memiliki bagian-bagian
tubuh tertentu yang tidak berkembang dengan sempurna sehingga
dengan demikian alasan teleologis dapat dianggap sebagai tidak sah.
Definisi dan Adanya Allah 45
namun ilmu pengetahuan menemukan berkali-kali bahwa alat-alat
tubuh yang dianggap tidak berguna itu sebenarnya tidak demikian;
dan kita dapat beranggapan bahwa alat-alat tubuh yang manfaatnya
belum diketahui pastilah di kemudian hari akan ditemukan pula
manfaatnya. Alasan teleologis ini tidak hanya menunjukkan bahwa
sebab pertama itu berakal budi tinggi dan bebas, namun juga berada
di luar alam semesta, karena pola yang dilihat jelas tidak hanya
berasal dari dalam alam semesta itu sendiri, namun juga dan terutama
dari luar, lewat penyesuaian hal-hal eksternal terhadap organisme-
organisme dan juga lewat penempatan dan susunan perangkat-
perangkat bendawi yang menunjukkan keteraturan sekalipun ter
pisah sejauh berjuta-juta mil. Oleh karena itu, dapat disimpulkan
bahwa alasan ini membuktikan bahwa penyebab pertama itu berakal
budi tinggi, bebas, berada di luar alam semesta, serta akbar dalam
arti kata yang seluas-luasnya.
Namun harus dikatakan sekali lagi bahwa alasan ini pun terbatas
sifatnya. Alasan ini membuktikan bahwa seorang arsitek yang akbar
dan berakal budi tinggi telah menciptakan bumi, namun tidak mem
buktikan bahwa arsitek ini yaitu Allah. Selanjutnya, adanya
kejahatan serta ketidakteraturan dewasa ini juga ikut membatasi
alasan ini. Bersama dengan alasan-alasan yang lain bagi adanya
Allah, alasan ini menjadi bernilai, namun bila berdiri sendiri maka
nilai ini menjadi sangat terbatas.
3. Alasan ontologis. Sebagaimana biasanya dikatakan, alasan ini
menemukan bukti adanya Tuhan justru dalam gagasan tentang
Allah. Allah ini beranggapan bahwa semua orang secara naluriah
memiliki gagasan tentang Allah, sehingga kemudian berusaha untuk
menemukan bukti adanya Allah di dalam gagasan naluriah ini .
Atau, sebagaimana dikatakan oleh Hoeksema, alasan ini "memper
lihatkan bahwa kita memiliki gagasan tentang Allah. Gagasan ini
sangat jauh lebih besar daripada manusia sendiri. Karena itu,
gagasan ini tidak mungkin berasal dari dalam manusia sendiri,
namun hanya dapat berasal dari Allah sendiri."12
Kita harus berhati-hati dengan alasan ini karena kita tidak bisa
menyimpulkan keadaan kongkret dari pemikiran abstrak; gagasan
tentang Allah itu sendiri tidak dapat dikatakan membuktikan adanya
12 Hoeksema, Reformed Dogmatics, hal. 45.
46 Teisme
Allah. Namun, sekalipun alasan ontologis ini tidak membuktikan
adanya Allah, alasan ini menunjukkan kepada kita bagaimana kira-
kira wujud Allah bila Ia benar-benar ada. Karena alasan-alasan kos
mologis dan teleologis sudah membuktikan adanya satu penyebab
dan perancang berkepribadian yang berada di luar alam semesta ini,
alasan ontologis membuktikan bahwa sebab pertama ini tidak
terbatas dan sempurna, bukan karena sifat-sifat ini jelas sekali di
miliki olehnya, namun karena keadaan mental kita tidak mengizinkan
kita berpikir lain. Sudah jelas dengan sendirinya bahwa setiap ga
gasan dalam kebudayaan umat manusia memiliki sebab tertentu.
Gagasan tentang Allah Alkitab pasti juga mempunyai sebab, dan
sebab ini pastilah Allah sendiri.
4. Alasan moral. Kant mengatakan bahwa bukti-bukti teoretis
tidak bisa memberikan kita pengetahuan akan Allah sebagai pribadi
yang bermoral. Untuk membuktikan ini, kita bergantung pada per
timbangan yang praktis. Kant berpendapat bahwa fakta kewajiban
dan tugas sedikit banyak sama pastinya dengan fakta bahwa sesuatu
itu ada. Berlandaskan suara hati, Kant berusaha membuktikan
adanya kebebasan, keabadian, dan Allah. Bagi Kant suara hati itu
merupakan perintah yang tepat. Alkitab juga memakai alasan moral
sebagai bukti adanya Tuhan (Roma 1:19-32; 2:14-16).
Hoeksema mengemukakan alasan ini sebagai berikut, "Setiap
orang memiliki kesadaran tentang kewajiban, tentang apa yang
benar dan apa yang salah, dan bersamaan dengan itu merasakan
tanggung jawab yang tidak dapat dibantah untuk melakukan hal
yang benar. Selain itu ia mempunyai perasaan bersalah dan meng
hakimi diri sendiri bila ia melakukan yang jahat." Hoeksema
kemudian melanjutkan dengan mengatakan, "Seolah-olah di dalam
manusia ada suara yang tidak mau dibungkam yang senantiasa
berkata kepada hati nurani, ’Kau harus melakukan itu.’ Kenyataan
ini menunjukkan ada yang berbicara dan selain itu bahwa yang
berbicara itu yaitu Tuhan dan Raja."13 Pengetahuan manusia akan
yang baik dan yang jahat berasal dari Allah, sebagaimana halnya
pengertiannya akan tanggung jawab. Herskovits mengatakan bahwa
"konsep-konsep tentang benar dan salah ada di dalam semua
sistem kepercayaan yang ada."14 Jadi, kita dapat menyimpulkan
13 Hoeksema, Reformed Dogmatics, hal. 46.
Definisi dan Adanya Allah 47
bahwa suatu hukum moral yang permanen itu memang ada dan
bahwa hukum ini mempunyai kekuasaan tertinggi dan kekal
atas kita sekalian. Para penganut teori evolusi tidak senang menga
kui kenyataan ini. Mereka lebih senang untuk beranggapan bahwa
segala sesuatu senantiasa berubah. Akan namun , bahwa kesadaran
akan tanggung jawab untuk melakukan yang benar dan bukan yang
salah ini bukan ciptaan manusia sendiri atau telah berkembang dari
naluri-naluri primitif kita melalui kehidupan dalam masyarakat,
nampak jelas dari kenyataan bahwa kesadaran ini hampir tidak ada
kaitannya dengan kecenderungan hati, kesenangan, ataupun perun
tungan kita, maupun kelakuan masyarakat, namun sering bertentang
an dengan hal-hal ini . Bagaimanapun juga kesadaran akan
tanggung jawab untuk melakukan yang baik/benar ini tidak mem
beri tahu apa yang harus kita lakukan; kesadaran ini hanya sekadar
menandaskan bahwa sebuah hukum moral yang fundamental ada
di alam semesta ini dan kita wajib untuk menaatinya. Selanjutnya,
pelanggaran-pelanggaran yang diketahui terhadap hukum moral di
ikuti oleh perasaan-perasaan kurang sejahtera dan ketakutan akan
penghakiman. Dalam Alkitab, Daud merupakan contoh yang baik
sekali mengenai hal ini (Mazmur 32:3 dst.; 38:2-5).
Kita mau tidak mau hams berkesimpulan bahwa karena hukum
moral ini bukan ciptaan manusia sendiri dan ketakutan akan peng
hakiman ini tidak menghukum manusia dengan sendirinya, maka
pasti ada sebuah kehendak kudus yang membebankan hukum
moral ini pada kita dan sebuah kuasa penghukum yang akan melak
sanakan ancaman-ancaman dari sifat moral kita. Hati nurani kita
berseru, "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik.
Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: ...?" (Mikha 6:8), dan
"Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku
atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat"
(Pengkhotbah 12:14). Dengan kata lain, hati nurani mengakui ada
nya suatu pemberi hukum yang berdaulat dan bahwa penghukuman
terhadap semua pelanggaran hukum-Nya pasti akan dilaksanakan.
5. Alasan berdasarkan keselarasan. Alasan ini berlandaskan ke
percayaan bahwa dalil yang menerangkan dengan paling baik fakta-
fakta yang sedang dipelajari itu mungkin benar. Bila dikaitkan de-
14 Herskovits, Cultural Anthropology, hal. 230.
48 Teisme
ngan pembahasan kita saat ini, maka alasan berdasarkan keselarasan
ini berbunyi sebagai berikut: kepercayaan akan adanya Tuhan me
rupakan penjelasan yang paling baik tentang kenyataan sifat moral,
mental, dan religius manusia dan juga kenyataan alam kebendaan;
dengan demikian dapat dikatakan bahwa Allah memang ada. Alasan
ini menganggap bahwa tanpa dalil ini maka fakta-fakta yang
sedang dipelajari benar-benar tidak dapat diterangkan. Prinsip ini
dapat diterangkan lewat penelitian teleskopis dan mikroskopis. Par
tikel-partikel yang membentuk sebuah atom tidak dapat ditemukan
melalui pengamatan langsung; adanya partikel-partikel ini di
duga lewat efek-efek yang dihasilkan serta senyawa-senyawa yang
dihasilkan olehnya. Jadi, dalam ilmu pengetahuan kita menganggap
bahwa dalil yang menerangkan serta menyelaraskan fakta-fakta
yang dipelajari itu merupakan dalil yang benar. Bukankah berlan
daskan prinsip yang sama kita dapat menyimpulkan bahwa Allah
itu ada, karena dalil teistis selaras dengan semua fakta tentang sifat
mental, moral, dan religius manusia maupun fakta-fakta alam ke
bendaan?
Percaya kepada Allah yang berkepribadian, mampu berdiri sen
diri, serta menyatakan diri itu selaras dengan sifat moral dan mental
manusia; sejarah dan hukum alam dapat diterangkan; serta keper
cayaan universal akan pribadi yang mahatinggi beserta pengalaman-
pengalaman religiusnya dapat dijelaskan secara memuaskan.
Ateisme, panteisme, dan agnostisisme tidak memberikan jawaban
yang memadai untuk memuaskan hati manusia. Kita dapat menyim
pulkan berdasarkan alasan-alasan ini bahwa Allah yang berkepri
badian, berada di luar alam semesta, ada dengan sendirinya, ber
moral, serta menyatakan diri memang ada. Ia tidak dapat dipahami
(Ayub 11:7; Yesaya 40:18; Roma 11:33), namun Ia dapat dikenal
(Yohanes 17:3; I Yohanes 5:20).
IV
Beberapa Pandangan Dunia Non-
Kristen
Setiap orang yang mempertimbangkan dengan cermat bukti-bukti
adanya Allah yang telah diajukan akan menganggap bukti-bukti itu
sudah amat meyakinkan. Nampaknya tidak ada jalan lain selain
mengakui, "Pastilah Allah itu ada!" Allah sendiri menganggap
bukti-bukti itu sudah meyakinkan. Bila Allah tidak beranggapan
demikian, maka Ia pasti sudah memberikan bukti-bukti yang lebih
banyak lagi, namun jelas sekali bahwa bukti-bukti yang ada itu
sudah cukup (Kisah 14:17; 17:23-29; Roma 1:18-20). Alkitab sen
diri menganggap bahwa Allah itu ada. Oleh karena itu, percaya
bahwa Allah ada merupakan hal yang wajar dan normal, sedangkan
agnostisisme dan ateisme merupakan pendapat yang tidak normal
dan tidak wajar. Memang, sebenarnya agnostisisme dan ateisme ini
mengatakan bahwa Allah tidak memberikan bukti yang cukup
memadai tentang keberadaan-Nya. Sikap-sikap semacam itu men
cela Allah yang kudus dan murah hati sehingga dapat dikatakan
dosa.
Sekalipun demikian, manusia pada umumnya menolak pengeta
huan akan Allah ini (Roma 1:28). Dosa telah begitu menggelapkan
pandangan mereka dan merusak hati mereka sehingga mereka me
nolak bukti-bukti yang telah ada dan hidup terus seakan-akan tidak
ada Allah atau membuat dewa-dewa buatan mereka sendiri. Oleh
karena itu, kita akan membahas bersama sekilas berbagai pandangan
dunia non-Kristen yang penting serta menanggapinya. Pandangan-
pandangan ini tergolong menurut enam golongan besar.
49
50 Teisme
I. PANDANGAN ATEISTIS
Secara umum, istilah "ateisme" menunjuk kepada kegagalan untuk
mengenali satu-satunya Allah yang benar. Dalam arti yang umum
ini, dapat dikatakan bahwa istilah ateisme ini dapat dipakai untuk
semua agama yang non-Kristen. Namun dalam arti yang lebih sem
pit, istilah "ateisme" menunjuk kepada tiga pandangan yang nyata:
ateisme praktis, ateisme dogmatis, dan ateisme mumi
Ateisme praktis ditemukan di antara banyak orang. Banyak orang
yang telah menyatakan bahwa semua agama itu palsu belaka tanpa
berpikir panjang. Orang seperti ini pada umumnya bukan merupa
kan ateis yang teguh; mereka hanya bersikap acuh tak acuh terhadap
Allah. Mereka mungkin mengakui bahwa Allah ada entah di mana,
namun mereka hidup dan bertindak seakan-akan t







