a!
Palang (shalib) telah dipasang di mihrab.
Darah babi patut untuknya.
Alquran dibakar dengan kedok pedupaan.Te
Ada pandangan yang jelas dalam baris-baris yang mengisahkan
tentang kesadaran ruang kaum muslim ini. Thmpak jelas bahwa
ruang suci itu telah diserang dan dikotori. Serangan ini terjadi
baik pada level fisik maupun psikologis. Tentara Salib digambarkan
372 \ Cerole Hillenbrand
sebagai pencemar, penyerbu, dan pelahap daging kotor, dan
penyair ini menekankan pada permainan kata antara salib
('barang rampasan') dan shalib ('kayu salib').
Penyair Ibn al-Khayyith menceritakan dengan sangat ielas
tentang teror terhadap kaum muslimah-padahal biasanya mereka
dilindungi dengan dinding-dinding harim:
Betapa banyak gadis-gadis muda yang mulai bunuh diri sebab
takut pada mereka [kaum Frank]?
Betapa banyak anak dara yang tidak mengenal panasnya [siang
hari] ataupun merasakan dinginnya malam [hingga kini]?
Mereka hampir merana sebab takut dan sekarat sebab derita dan
gejolak.so
Perumpamaan perkosaan ini digunakan saat Perang Salib
Pertama: Tentara Salib membahayakan tiang warga Islam yang
paling suci, dan kesucian kaum wanita.
PEMBERSIHAN RUANG ISIAM
Dengan penekanan yang sangat besar pada kekotoran kaum Frank,
tidaklah terlalu mengejutkan bila kemenangan kaum muslim
digambarkan dengan simbol perlawanan dari sisi kebersihan. saat
menceritakan tentang takluknya Damietta kepada kaum muslim
pada 648 H.ll25O M., Ibn \Tishil menyatakan: "Allah mem-
bersihkan Mesir dari mereka [kaum Frank]".8r Penaklukan Acre
pada 690 H.llz9l M. diceritakan oleh Abul Fida dengan menS-
gunakan keterangan serupa: "Maka, seluruh Suriah dan wilayah
pesisir dibersihkan dari kaum Frank."82
Namun, tekanan utama mengenai kebersihan dalam sumber-
sumber Islam diberikan-tidak mengejutkan-bagi Kota Suci itu
sendiri, Yerusalem, dan dua simbol kembarnya, yaitu Masjid AqshA
dan Kubah Batu. Pencemaran terhadap kedua monumen ini
memberikan kesempatan yang sangat ideal untuk menggambarkan
kesejajaran penting antara Islam dan lGisten, untuk menumpahkan
kemarahan yang lama terpendam dan untuk mengklaim kembali
secara terbuka dan bersama-sama temPat-tempat suci yang menjadi
milik Islam ini.
Kesaksian 'Imiduddin alJshfahinit lang hadir saat penaklukan
Yerusalem, sangat penting, dan dia memuji Peran sentral yang
dimainkan penguasanya, Saladin, dalam re-Islamisasi kota itu.
sesudah kota itu berhasil direbut, tugas paling penting yaitu
mengembalikan Masjid Aqshi dan Kubah Batu ke keadaan yang
sesuai untuk digunakan dalam praktik ibadah Islam. Tindakan-
tindakan yang dilakukan Saladin dan para pengikutnya bukan
semata-semata perayaan penyesuaian kembali bangunan-bangunan
keagamaan kaum muslim: pusat kesucian Islam ini harus di-
bersihkan dan disucikan dari kotoran kaum Frank. Kejadian
ini dicatat di Kubah Batu itu sendiri. saat Frederick II
dari Sisilia memasuki Yerusalem dan mengunjungi Kubah Batu,
dia melihat sebuah inskripsi telah terukir di Kubah Baru ini .
Inskripsi itu berbunyi: "saladin telah membersihkan rumah suci
ini dari orang-orang muqrrik."
Sepupu Saladin, Thqiyuddin '(Jmar, diserahi tanggung jawab
atas proses pembersihan ini . Air mawar disiramkan ke dinding
dan lantai kedua bangunan ini , disusul dengan pemberian
pedupaan agar wangi. Sebelum ibadah Islam yang sah bisa di-
lakukan, Kubah Batu harus dibersihkan dari semua hiasan-hiasan
Kristen yang dipasang di sana selama dikuasai oleh para Tentara
Salib.
Ibn al-Atsir dengan bijaksana menyatakan sesudah Yerusalem
direbut dan orang-orang Kafir telah diusir, Saladin "memerintahkan
agar dilakukan pembersihan (tathhtr) Masjid [fusha] dan [Kubah]
Batu dari kotoran-kotoran (aqdzl.r) dan najis-najis (anja) dan itu
semua telah dilakukan".sa
'Imlduddin memberikan komentar yang lebih berlebihan.
sesudah re-Islamisasi bangunan ini , Kubah Batu menjelma
seperti "seorang mempelai wanita muda".85 Kiasan ini sering kali
diberikan pada Kakbah dalam puisi Islam Abad Pertengahan, dan
kiasan itu tidak akan hilang dalam ingatan para pembacanya.
Penyamaan Kubah Batu dengan Kakbah itu sendiri -menjadi
ukuran kesucian bagi monumen Yerusalem ini . Keterangan
'Imnduddin menunjukkan dengan tepat bentuk-bentuk yang men-
jijikkan dalam monumen suci ini, dalam tanah haram mereka
ini: gambar-gambar, patung-patung, pendeta-pendeta-ini semua
membentuk simbol keunggulan }Gisten dalam imajinasi kebanyak-
an kaum muslim.
Perubahan-perubahan serupa dibutuhkan di dalam Masjid
Aqshi (foto 5.5-5.6). Relung masjid (mihrab) harus dibuka lagi
sebab telah ditutup dengan sebuah dinding yang dibangun oleh
para lGatria Kuil, yang telah mengubah bangunan itu menjadi
sebuah gudang, atau, menurut 'ImAduddin, menjadi kakus. Dia
menceritakan keadaan Masjid Aqshi yang kotor:
Masjid AqshA, khususnya mihrabnya, dipenuhi dengan babi
dan bahasa kotor, penuh dengan kotoran-kotoran yang telah mereka
jatuhkan di dalam gedung ini ,s6 didiami oleh orang-orang
yang rerang-terangan mengaku tak beriman, salah dan rersesar,
berbuat tidak benar dan melakukan pelanggaran-pelanggaran, ber-
limpah dengan najis. Menunda-nunda dalam membersihkannya
yaitu terlarang bagi kami.
Sekali lagi, orang bisa merasakan bagaimana pena 'Imiduddin
mulai tak dapat dikendalikan oleh nalar jernihnya, dan sekali
lagi akan sulit dipercaya bahwa "Masjid AqshA, terurama mihrab-
nya, penuh dengan babi ... dan kotorari'. Namun, tuduhan ini,
yang merupakan sejenis seni pertunjukan, berhasil mencapai
tujuannya, yaitu memelihara semangat kebencian akibat pen-
cemaran spiritual kaum }ftisten.
'Imiduddin menceritakan rentang "pengusiran (iqshfl orang-
orang yang diusir Allah (aqshA) dengan kutukan-Nya dari AqshA".Ss
Lonceng-lonceng gereja telah dibungkam dengan panggilan salat
dan agama telah dibersihkan dari "kotoran (anja) ras-ras tersebur
(ajnas) dan kotoran-kotoran orang-orang terendah (adnas adnl
al-nl,)".et
'Imiduddin memakai keterampilan dan pengetahuan
verbal yang luar biasa untuk mengungkapkan kemurkaan yang
telah lama terpendam atas pendudukan monumen-monumen
Islam, Kubah Batu dan Masjid AqshX, oleh pasukan kafir kaum
Frank. Kekristenan kaum Frank dikenali dengan lonceng-lonceng
376 \ Crrol e Hillenbrand
di menara-menara gereia yang dibenci dan semakin dalam dikutuk
sesudah mereka menyerang ruang suci Islam yang telah tercemar
oleh najis dan kotoran mereka. Penaklukan Yerusalem dianggap
sebagai kemenangan Islam atas lGisten.
Dalam khotbah yang disampaikan usai penaklukan kembali
Yerusalem, Ibn Zaki menegaskan tema kesucian secara terus
menerus: "Saya memuji-Nya ... yang telah membersihkan Rumah
Suci-Nya dari najis orang-orang musyrik dan kotoran-kotoran-
nya."'o Dia juga membicarakan tentang "wewangian penyucian
dan puji-pujian' di dalam masjid ini dan menyerukan orang-
orang beriman untuk "membersihkan seluruh tanah itu dari najis
yang telah membangkitkan murka Allah dan Rasul-Nyd'.er
Dalam sepucuk suratnya kepada khalifah, 'ImAduddin meng-
gunakan perangkat kesusastraan dengan menggantikan air mawar
dengan air mata orang-orang beriman: "Batu itu telah dibersihkan
dari kotoran-kotoran orang kafir dengan air mata orang-orang
saleh".e2
TANAH SUCI
Sumber-sumber muslim biasanya menyebut Yerusalem sebagai "al-
Quds", "Baytul Muqaddas", atau "Baytul Maqdis". Semua nama
ini menegaskan kesucian (q-d-s dalam bahasa Arab berarti 'suci')
kota ini . Mereka juga menyebu al'ardh al-muqaddasah
(Thnah suci), untuk menunjuk wilayah yang lebih luas di sekeliling
Yerusalem yang dipenuhi dengan temPat-temPat suci dan ke-
nangan-kenangan tentang para nabi dan orang-orang suci. Dengan
penaklukan Yerusalem oleh Saladin, sumber-sumber muslim mem-
perluas gambaran-gambaran kesucian dengan menyertakan Thnah
Suci itu sendiri dan mereka memakai persamaan antara nama-
nama al-Quds dan al-muqaddas.
Tema ini disoroti oleh Ibn Jubayr yang menulis syair ke-
menangan dalam nada berikut untuk Saladin:
Anda telah menaklukkan bagian suci (al-muqadda) bumi-Nya'
Tanah itu telah suci (ththir) kembali.e3
Bukan hanya Yerusalem, namun
nabi dan orang-orang mulia, juga
Alquran menyatakan:
wilayah sucinya, rumah Para
telah menjadi suci kembali.
Mereka bertanya padamu tentang haid. Katakanlah, "Haid itu
yaitu kotoran." Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan
diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati
mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah
mereka itu.ea
Larangan yang telah berurat akar itu dikutip dalam bahasa
yang sangat berpengaruh oleh penulis Saladin, al-Qadhi al-Fadhil,
dalam surat pujian kemenangan yang dikirimkan kepada khalifah
di Baghdad yang mengumumkan telah ditaklukkannya Yerusalem
oleh Saladin: "Yerusalem telah menjadi ranah yang bersih dan
suci, saat suatu kedka kora itu pernah menjadi kora yang kotor
(thamitsa)." Bukan hanya Yerusalem, namun juga Thnah Suci iru
sendiri disertakan di sini.e5
GAMBARAN "YANG I,AIN,': APA ARTI SEBUAH NAMA?
Kebudayaan menuniukkan tidk perbedaannya dengan kebudayaan
yang lain melalui berbagai kriteria yang saling berhubungan.
Terminologi yang mereka gunakan untuk membedakan kelompok
atau individu juga bermacam-macam.
saat tiba di Timur Dekat, Tentara Salib telah mulai disebut
Ifanj atau Firanj oleh kaum muslim Abad Pertengahan. Pada
mulanya, istilah ini mungkin memiliki arti para penduduk ke-
kaisaran Charlemagne, namun arti istilah itu kemudian meluas
mencakup orang-orang dari Eropa barat secara umum. Negeri
kaum Frank, yaitu wilayah-wilayah lftisten Eropa yang terletak
melampaui Pyrenees, dikenal sebagai lfn"jo oleh bangsa Arab
dan Firanjistan oleh bangsa Persia dan Tirrki.e6 Secara kebetulan,
dalam bahasa Arab modern kata tafarnaja, yang kata dasarnya
Ifnoj, berarti "menjadi ter-Eropanisasi", sementara istilah al-ifanji
telah digunakan sebagai salah satu kata yang merujuk pada
penyakit sifilis. Seperti juga istilah-istilah ini, Tentara Salib dikenal
dengan berbagai julukan khas yang kasar dan merendahkan: setan,
anjing, babi, dan hewan buas lainnya.
Perbedaan agama mendapat sorotan khusus dalam beberapa
sebutan yang ditujukan kepada kaum Frank. Para penulis muslim
sejak lama telah terbiasa mencap orang-orang kafir dengan julukan
"terkutuk" (k'in). Kelompok Ismailiyah, khususnya, dulunya diberi
julukan semacam itu,e7 dan tidak sulit untuk memberikan julukan
untuk kaum Frank.e8 Sulit ditunjukkan sejak kapan tepatnya para
penulis sejarah muslim mulai memakai julukan seperti itu
saat menulis tentang kaum Frank. Ini sebab , khususnya, seperti
yang disebutkan sebelumnya, sumber-sumber paling awal yang
masih ada hanyalah yang berasal dari pertengahan abad kedua
belas. Barangkali sebab mengalami langsung serangan kaum Frank
di kampung halamannya di Damaskus dan suasana jihad yang
memuncak selama Nirruddin berkuasa di Suriah, Ibn al-Qalinisi
untuk pertama kalinya menambahkan sebutan "Semoga Allah
mengucilkan mereka" untuk menunjuk pada kaum Frank dalam
laporannya pada 553 H./1158-1159 M.ee Selanjutnya, kebiasaan
itu menjadi standar para penulis sejarah.
Menurut Lewis, istilah "inf.del" &Afii yaitu istilah puncak
pengusiran dari komunitas Islam, yang menentukan perbedaan
antara kaum muslim dan dunia lainnya. Yang pasti, istilah hlfr
(dengan bentuk jamak h"ffir) sering digunakan untuk merujuk
pada kaum Frank. Dalam sumber-sumber itu, istilah ini
disertai dengan ungkapan makian standar yang dialamatkan kepada
suatu kelompok atau individu, seperti "semoga Allah mengutuk
mereka", "Semoga Allah menjebloskan mereka ke neraka". Sulit
untuk dijelaskan apakah kutukan-kutukan semacam itu dimaksud-
kan benar-benar atau asal saja. Namun, pada momen-momen
penting, saat terjadi intensitas semangat keagamaan dan perayaan
politik, kutukan semacam itu benar-benar berarti. Seperti pada
kelompok-kelompok Kristen lainnya, kaum Frank disebut, "orang-
orang musyrik" (musyrihttn) dan "musuh-musuh Allah'. Sibth ibn
al-Jawzi menjuluki mereka sebagai "orang-orang keras kepala",
sementara Ibn al-Diwadiri mengejek mereka sebagai "para pe-
nyembah salib".rm Mereka juga disebut sebagai "pemeluk tinitas"
(ah l al-tats lit), r0r "pelayan-pelayan Al-Masiti', 102 dan "anjing-anjing
musyrik".t03
SIMBOL SATIB KRISTEN
Tidak diragukan lagi bahwa bagi kaum muslim simbol salib
melambangkan agama lGisten. Dalam pandangan kaum muslim
secara umum, lSisten jelas identik dengan salib. Seorang ra1a
FGisten di dalam salah satu cerita ralryat diberi nama panggilan
Abd al-Shalib (budak salib),ro4 sebuah nama dengan mengambil
model nama-nama orang Islam yang banyak melibatkan peng-
gunaan nama 'Abd yang digabungkan dengan salah satu dari 99
nama indah Allah (seperti Abd al-\Tahhab). Namun, dalam
konteks Kristen, nama ini memiliki arti yang merendahkan.
Sementara kaum muslim telah lama terbiasa dengan ke-
beradaan kaum Kristen Timur di Timur Dekat, kedatangan kaum
Frank memberikan pengalaman baru, sebab salib memainkan
peranan yang jauh lebih penting dibandingkan sebelumnya. Yang
jelas, ada perbedaan yang tegas antara salib sebagai simbol agama
Kristen Timur asli yang merupakan minoritas yang tak terganggu
di bawah kekuasaan mayoritas Islam dan salib sebagai simbol
penaklukan dan pendudukan penyerbu bangsa asing, kaum Frank.
Sementara sumber-sumber muslim tidak menyebutkan bahwa
prajurit-prajurit kaum Frank mengenakan salib sebagai bagian dari
380 \ _______________
Gambar 5.30
Gombor yong dipohot di
Perisai untuk menondokon
satuan posukan dori
Yerusalem (sebuoh tonda
silong yong songot kuot di
ontoro empot tondo silong)
pado baskom kuningon yang
dibuot oleh seorong
Pemahat Arab untuk Hugh
de Lusignon, Rajo Yerusolem
don Siprus ( I 324-1 359):
kemungkinon Mesir otou
Surioh.
pakaian militer mereka, dari berbagai referensi tampak jelas bahwa
simbol salib menjadi lebih terlihat sesudah kedatangan Tentara
Salib. Bila sebuah kota telah direbut oleh kaum Frank, kota itu
sering kali mengalami Kristenisasi dengan diubahnya bangunan-
bangunan muslim menjadi bangunan Kristen dan dengan pem-
bangunan gereja-gerqa baru. Ibn al-Qalinisi mengatakan bahwa
sesudah kaum Frank menaklukkan Ma'arrat al-Nu'min pada 492
H./1099 M. "mereka memancangkan salib-salib di seluruh kota
' tu". l 05
Kaum muslim merayakan kemenangan mereka dengan meng-
ambil alih pusat emosi musuh mereka. Contoh khusus mengenai
ini terjadi sesudah kemenangan Mawd0d dan Tirghtein atas kaum
Frank pada 506 H.ll113 M. di dekat jembatan al-Sannabra,
saat kaum muslim secara gemilang berhasil merebut gereja tenda
kaum Frank.r06 Kedua kubu merasakan desakan yang sangat besar
untuk menghancurkan simbol-simbol agama lawannya.r0T Meng-
hancurkan salib merupakan aksi simbolis untuk menunjukkan
kekalahan lGisten dan kemenangan Islam. Saladin dipuji oleh
Ibn Jubayr dalam ode kemenangan dalam karyanya sebab telah
menghancurkan "salib mereka dengan kekuatan militernya" di
Hattin.ros Ibn Abi Thayyi' menceritakan tentang salib yang direbut
di Hattin: "saladin membawa pulang sebuah salib sebagai rampas-
an perang, yang berupa sepotong kayu berlapis emas dan dihiasi
dengan batu-batu berharga, yang menurut mereka telah menjadi
tempat penyaliban Tirhan mereka."roe Salib berlapis emas yang
ada di Kubah Batu tidak diturunkan dengan perlahan. Ibn SyaddXd
menjelaskan bahwa salib itu dilemparkan ke tanah meski ukuran-
nya sangat besar.llo
sesudah merebut Yerusalem, Saladin mengirimkan lambang-
lambang kemenangan besarnya kepada khalifah di Baghdad. Lam-
bang kemenangannya yang paling berharga yaitu salib yang
dipasang di puncak Kubah Batu di Yerusalem: "Salib yang terbuat
dari tembaga dan dilapis dengan emas itu dikubur di bawah
gerbang Nubian [di Baghdad] dan selanjutnya diinjak-injak."rrr
SIMBOL-SIMBOL PERTENTANGAN SALIB DAN ALQURAN
Ibn al-Jawzi (w. 597 H.1L2OO M.) dan cucunya memanfaatkan
suasana yang sangat emosional dalam pengepungan Damaskus
oleh kaum Frank pada 543 H.lll48 M. sebagai peluang untuk
memasukkan nilai-nilai propaganda. Di sini Salib dan Alquran
digunakan sebagai simbol nyara agama yang saling bertentangan.
Kedua sumber ini menyoroti bagaimana simbol agama Islam
yang paling berpengaruh, Alquran, bisa mempertahankan moral
dan membangun keimanan dalam situasi sulit. Ini pasti berhasil.
Pada saat mengepung Damaskus, Alquran 'lJtsmani Suriah-objek
paling penting, dan peninggalan yang sangar sangar berharga-
digunakan sebagai kekuatan penggerak di Masjid Agung. Sebagai-
mana ditulis oleh Ibn al-Jawzi: "Orang-orang berkumpul di dalam
masjid ini , pria, wanita dan pemuda-pemuda, dan mereka
membuka Alquran 'lJtsmani.rr2 Mereka menaburkan abu di kepala
mereka dan meraung dan merendahkan diri mereka sendiri. Allah
menjawab mereka."l13
[Secara kebetulan, Ibn al-DAwad6,ri menceritakan bahwa saat
kaum Frank merebut Ma'arrat al-Nu'mdn pada 492 H./1098 M.,
Kaum muslim membawa Alquran 'lJtsmani sebagai pelindung ke
Damaskusl. Kedua penulis sejarah itu juga menyisipkan kisah
berikut ini segera sesudah nya:
Bersama kaum Frank, ikut serta seorang pendeta jangkung
dengan janggur panjang yang memandu mereka ... Pendeta itu
menunggang keledainya dan menggantungkan sebuah salib di
lehernya dan memegang dua salib di kedua tangannya. Dia juga
menggantungkan sebuah salib di leher keledainya. Di depannya,
dia memasang Injil dan salib-salib Uagil [dan Kitab Suci].
Pendeta itu kemudian berkata [kepada prajurit ini ] "Al-
Masih telah berjanji kepada saya, bahwa saya akan menang hari
ini."
Bisa diperkirakan, tokoh ini, benar-benar kerepotan dengan
salib, dan keledainya (yang |uga mengenakan salib) sangat ke-
sulitan. Ibn al-Jawzi menulis: "saat kaum muslim melihatnya,
mereka mempertontonkan semangat keislaman dan mereka semua
menyerang pendeta itu dan membunuhnya beserta dengan keledai-
nya. Mereka mengambil salib-salib itu dan membakarnfa."rt4
Pesan dalam kisah ini cukup jelas dan kedua anekdot
ini digunakan dengan cukup hati-hati.
Pada kesempatan lain, digunakan pertentangan antara Salib
dan menara. Penyair Ayyubiyah, Ibn al-Nabih, menulis tentang
al-'Adil sebagai berikut: "Lewat perantara dia Allah telah meng-
hancurkan Salib dan para pengikumya. Lewat perantara dia menara
komunitas Islam telah diangkat."r15
SATIB SEBAGAI SIMBOL KEMALANGAN BAGI KAUM MUSLIM
Sebagai simbol yang jelas dan utama bagi umat Kristen, salib
bagi kaum muslim justru membawa kemalangan. Kaum muslim
yang berperang di bawah salib dipastikan akan menemui ke-
kalahan. Para penulis sejarah menyusun cerita hebat tentang hal
ini dalam pertempuran Gaza pede 642 H.ll244 M., saat
pasukan muslim dari Damaskus dan Hims bertempur di bawah
bendera kaum Frank melawan kaum Khawirazmi dan pasukan
Mesir. Seluruh peristiwa ini dengan memilukan dicatat oleh Sibth
ibn al-Jawzi:
Salib-salib berada di atas kepala dan para pendeta di batalion
itu membuat tanda salib pada kaum muslim dan memberikan
sakramen kepada mereka. Di tangan mereka ada piala dan
bejana-bejana minum yang mereka gunakan untuk memberi minum
prajurit muslim itu... Sementara itu, Penguasa Hims ... dia mulai
menangis, sambil berkata "Saya tahu, saat kami berangkat dengan
menjunjung salib-salib kaum Frank, bahwa kami ddak akan ber-
hasil'.
Pada periode Mamluk, serangan laut yang dilakukan Baybars
ke Siprus pada 670 H.ll27l M., yang berakhir dengan kekalahan
Baybars, dilihat oleh para penulis sejarah sebagai hukuman Tirhan
bagi kaum muslim yang memilih memasang salib di bendera
kapal-kapal mereka.rrT
PEMN SENTML SALIB
Lewat penggambaran rentang Raja Yerusalem, al-Qidhi al-Fidhil
menuniukkan peranan salib yang sangat penting, baik bagi Raja
ini maupun para pengikutnya:
Raja mereka ditahan. Di tangannya, ia membawa sebuah benda
yang menjadi simbol kepercayaan, benda yang memberinya ikatan
sangat kuat dengan agamanya, yaitu, palang Penyaliban, yang
digunakan untuk memimpin orang-orang keras kepala untuk ber-
tempur.L8
Al-Qadhi al-Fidhil melanjutkan: "Mereka tidak pernah maju
menerjang bahaya tanpa membawa salib di tengah-tengah mereka.
Mereka akan mengitarinya seperti laron-laron yang mengelilingi
cahaya".ll9
Namun, patut dicatat bahwa di dalam retorika kaum muslim
ini, yang dijadikan pesaing salib IGisten yaitu Alquran atau
menara. Bukan bulan sabit, seperti yang terjadi kemudian. Meski-
pun pada awal abad kesebelas, saat katedral Armenia Ani di
timur Anatolia diubah menjadi sebuah masjid, salib di puncak
kubahnya diturunkan dan diganti dengan bulan sabit perak.r20
PENGGUNMN GAMBAR.GAMBAR DAIAM KRISTEN
Sumber-sumber Islam sering kali menyebutkan gambar-gambar
dan patung-patung IGisten yang digunakan dalam ibadah mereka.
Para penulis muslim umumnya memusuhi gambar-gambar ter-
sebut. Mereka menggambarkan perbedaan antara bagian-bagian
dasar masjid dengan
^pa
y^ng ditemukan di dalam gereja.
Ibn al-Nabih menceritakan tentang pangeran Aynrbiyah, al-
Asyraf:
Anda telah membersihkan mihrab dan mimbar yang agung [di
Damietta] dari kotoran mereka sesudah kal<r lminbar) itu bergetar.
Dan Anda telah mulai menghancurkan patung al-Masih di atasnya
sekalipun orang-orang menciuminya seakan-akan paung itu yaitu
seorang dewa.l2l
Dalam sebuah kisah populer, Sirdt alAmirah Dzit al-Himmah,
seorang pahlawan muslim memasuki sebuah gereja yang di dalam-
nya ada sebuah gambar yang meneteskan air mata ke Kitab
Injil.t22
Al-'Umari menceritakan bahwa kekuatan gambar-gambar lGisten
itu yaitu untuk menggerakkan dan memengaruhi. Dia menyebut-
kan bahwa pada 585 H./1189 M. kaum Frank di Tirus telah
meminta tambahan kekuatan ke Eropa: "Mereka telah membuat
sebuah lukisan al-Masih dan seorang Arab yang tengah memukuli
al-Masih hingga membuatnya berdarah. Mereka mengatakan: 'Ini
Nabi orang-orang Arab yang tengah memukuli al-Masih'."r23
Al-'Umari tidak menyebutkan apakah gambar ini dikirimkan
sebagai bagian dari pesan ke Eropa untuk mengumpulkan dukung-
an atau apakah gambar itu untuk konsumsi warga setempat.
Mungkin sama meragukannya dengan kisah ini, gambar itu
menunjukkan pandangan kaum muslim terhadap kekuatan jahat
gambar-gambar visual dan kebodohan umat lftisten yang me-
mercayai kekuatannya.
Pada 665 H.11266-1267 M, Baybars datang ke benteng Safad
untuk salat di sebuah menara. Seperti dikisahkan Ibn al-Furit, di
sana Baybars melihat sebuah boneka besar yang menurut kaum
Frank dapat melindungi benteng ini . Mereka menyebutnya
Abu Jurj (ayah George): "Dia memerintahkan agar patung itu
dihancurkan dan tempat itu dibersihkan darinya, dan tempatnya
diubah menjadi sebuah mihrab."r2a
YANG DIKETAHUI KAUM MUSLIM TENTANG KRISTEN
Sekalipun meyakini bahwa agama mereka merupakan
^gama
yan1
benar, kaum muslim pada masa Perang Salib cukup mengenal
ajaran Kristen dan gereja. Ibn al-Atsir menyebutkan pusat-pusat
agama yang berbeda dalam pandangan kaum Kristen Timur.
saat menceritakan tentang penaklukan Edessa, dia menulis:
Edessa ini yaitu salah satu kota yang paling mulia dan
dikagumi oleh umat Kristen. Kota ini yaitu salah satu kota pusat
pendeta bagi mereka: sebab yang paling mulia bagi mereka yaitu
Yerusalem, lalu Antiokhia, Roma, Konstantinopel, dan Edessa.r25
Al-IIarawi tahu bahwa Bethlehem yaitu tempat kelahiran
Yesus.r26 Ibn \Tishil dalam laporannya tentang kunjungannya
sebagai utusan Baybars untuk Manfred dari Sisilia pada Ramadan
659 H.ll26l M. menunjukkan rasa ketertarikan yang besar dalam
soal Kepausan dan mencoba menjelaskannya kepada pembaca
muslim:
Paus di Roma bagi mereka [kaum Frank] merupakan wakil
dari Kristus, menempad kedudukan Kristus. Dia berhak menyatakan
tentang sesuatu hal yang dilarang dan yang diperbolehkan, men-
cabut dan memisahkan [yaitu kekuasaan untuk mengucilkan se-
seorang]. Dialah yang memasangkan mahkota di kepala seorang
raja, dan dia juga yang menunjuk para raja itu. Hukum-hukum
ditetapkan hanya dengan keputusan Paus. Dia menjalani hidup
selibat dan saat dia meninggal, seseorang akan menggantikan
kedudukanny^ yat:rg nandnya juga akan menjalani hidup selibat.'27
Dalam karyanya yang kurang dikenal, Kithb al-Asht (Buku
tentang Tongkat), yang oleh Irwin digambarkan sebagai sebuah
"antologi rhabdophilisl',r28 Usamah memuji kesalehan para pendeta
lftisten dalam bab tentang St. Yohanes; Usimah melihatnya berdoa
di gereja dekat makam Yohanes Pembaptis di Sebastea di Provinsi
Nablus:
sesudah membaca doa, saya keluar ke alun-alun yang salah
satu sisinya dikelilingi oleh 'lTilayah Suci. Saya menemukan sebuah
gerbang yang setengah tertutup. Saya membukanya dan kemudian
masuk ke sebuah gerEa. Di dalam ada sekitar sepuluh lelaki tua.
Kepala mereka yang gundul seputih katun yang sudah dibersihkan.
Mereka menghadap ke timur dan di bagian dada mereka me-
ngenakan helaian papan yang diikat dengan ban besi yang ujungnya
ada kayu salib bergulung seperti bagian belakang pelana. Mereka
mengambil sumpah dengan tanda salib ini, dan bersikap ramah
kepada orang yang membutuhkannya. Kesalehan mereka menyentuh
hati saya. Tapi pada saat yang sama, saya meniadi kecewa dan
sedih, sebab saya belum pernah melihat semangat dan rasa peng-
abdian seperti itu di kalangan kaum muslim.r2e
Seperti biasa, komentar Usimah tentang "pihak lain' tak
pernah memberikan ungkapan pujian. Dia kemudian melanjutkan
dengan cerita tentang para sufi yang tingkat pengabdiannya jauh
melebihi para pendeta Kristen itu:
Saat itu saya berpikir bahwa tak ada orang di sana. Kemudian
saya melihat sekitar seratus orang sufi di atas sajadahnya masing-
masing. \7ajah mereka kelihatan tenang dan damai, dan badan
mereka tunduk dalam rasa pengabdian' Ini yaitu pemandangan
yang menenteramkan hati, dan saya bersyukur ke hadirat Tuhan
Yang Mahakuasa sebab ternyata di kalangan umat Islam ada
orang-orang yang semangat pengabdiannya melebihi para pendeta
Kristen. Sebelum peristiwa ini saya belum pernah menyaksikan
orang-orang sufi di tempat ibadah mereka, dan saya juga tidak
tahu tentang cara hidup mereka.r30
Sekali lagi, UsAmah tidak bisa melawan godaan untuk me-
nyajikan sebuah perbandingan cerita yang menyudutkan yang
semakin menegaskan keunggulan Islam.
Sedikit diragukan bahwa, setidaknya pada masa Saladin, kaum
muslim mengetahui bahwa kaum Frank sedang melangsungkan
perang keagamaan sebagaimana juga mereka. Seperti ditulis oleh
Ibn Syaddid: "Masing-masing pihak mempersembahkan hidupnya
untuk kebahagiaan di Hari Akhirat, lebih menyukai kehidupan
kekal daripada kehidupan fana di dunia ini.'r3r
Al-Qalqasyandi, dengan mengutiP sepucuk surat yang bertanda
1190, berbicara tentang kaum Frank: "setiap orang menyerukan
tjihad] kepada diri mereka sendiri sebelum mereka diseru."r32
Saat kaum Frank pertama kali tiba di Timur Dekat, sangadah
jelas bahwa kaum muslim tidak cukup tahu mengapa kaum Frank
itu datang. Sebagaimana telah kita ketahui, beberapa elemen visual
yang dapat dengan jelas dikenali yang diasosiasikan dengan kaum
Frank sering kali disebutkan dalam berbagai sumber, seperti salib,
Injil, dan pendeta. Perlahan, pengetahuan kaum muslim tentang
pandangan kaum Frank itu bertambah dan semakin didasarkan
pada informasi yang mendalam. Pada saat Saladin merebut kembali
kota Yerusalem, persepsi kaum Frank tentang konflik itu oleh
para penulis muslim digunakan sebagai panduan dalam ProPa-
ganda mereka pada dekade 1180-an.r33 Sebuah teks yang disebut
sebagai surar dari Richard si Hati Singa untuk saladin dicatat
oleh Ibn Syaddid:
Satu-satunya pokok pembicaraan di sini yaitu tentang
Yerusalem, Salib, dan Tanah Suci. Berkaitan dengan Yerusalem,
kami percaya bahwa kami tidak akan pernah menyerah hingga
titik darah penghabisan.r3a Tentang Tanah Suci, nanti akan di-
kembalikan kepada kami, dari sini hingga ke Yordania. Menyangkut
Salib, menurut Anda itu hanya sePotong kayu tak bernilai' Bagi
kami, itu bermakna penting. sebab itu, biarkan Sultan dengan
elegan mengembalikannya kepada kami dan kami akan merasa tenang
dan akan beristirahat dari kerja keras kami yang tiada henti ini''35
Kaum muslim yang melakukan propaganda menyatakan bah-
wa kaum Frank memiliki semangat keagamaan yang sejati. Pada
585 H.l1189-1190 M., 'Imiduddin mengutip sepucuk surat yang
ditulis untuk membangkitkan semangat jihad kaum muslim. Di
situ ia menulis bahwa semangat keagamaan kaum Frank patut
dicontoh untuk menghidupkan kembali semangat moral umat
Islam. Dia memuji mereka sebab dapat menyadari tujuan-tujuan
mereka, memperlihatkan keberanian yang luar biasa, dan mengor-
bankan harta mereka demi ag ma:
Di negeri dan tanah-tanah mereka masih belum ad,a rqa,
penguasa atau orang mulia. Tapi kerja keras dan upaya mereka
belum bisa dilampaui oleh kelompok-kelompok warga di
sekitar mereka. Mereka tidak memperhitungkan pengorbanan yang
mereka lakukan, baik darah atau hidup mereka, demi melindungi
agama mereka .... Mereka berbuat apa yang mereka perbuat,
mengorbankan apa yang bisa mereka korbankan, benar-benar semata
demi membela sosok yang mereka sembah dan untuk menghormati
kepercayaan mereka.l36
saat kaum muslim berhasil merampas "Salib Sejati" pada
583 H.lll87 M., mereka bisa memahami peran penting salib itu
bagi kaum Frank-setidaknya oleh orang-orang tertentu seperti
al-Qidhi al-FXdhil dan 'Imiduddin. Dengan menyebutnya Salib
Penyaliban jhalib al-shalbut), 'Imlduddin berkata: "Mereka ber-
tempur di bawah Salib itu dengan lebih gigih dan penuh loyalitas
dan mereka melihatnya sebagai sebuah perjanjian yang mereka
pegang teguh dengan penuh keyakinan."r3T
KARYA-KARYA POLEMIS DAN PROPAGANDA KAUM MUSLIM
TENTANG KAUM KRISTEN FMNK
Jauh sebelum kedatangan kaum Frank, telah terbentuk sebuah
tradisi yang kokoh berkaitan dengan debat publik lintas-iman
dan tulisan-tulisan kaum muslim tentang agama Kristen. Tiadisi
semacam ini bahkan dimulai dari masa Dinasti Umayyah. Inslripsi
di Kubah Batu yang bertanda tahun 72 H.l69l M. menyerang
alaran Thinitas dan Inkarnasi dalam agama Kristen. Para penulis
muslim, dengan memakai
^yat-ayat
Alquran, menjadikan tema
segi ketuhanan Yesus dan doktrin tinitas sebagai basis dari karya-
karya polemis mereka.
Sikap para penulis muslim pada periode Perang Salib telah
dibentuk oleh tradisi ini. Namun, penring kiranya untuk diteliti
sampai sejauh mana pandangan-pandangan yang telah ada ini
dan yang dibentuk berdasarkan hubungan yang lama dengan
agama Kristen Timur mengalami perubahan akibat interaksi kaum
muslim dengan Tentara Salib, pendatang baru yang kemudian
terjalin lama.
Sekalipun begitu, tulisan-tulisan polemis Islam terhadap Kristen
tidak boleh dipandang secara terpisah, seakan-akan sebagai inisiatif
propaganda yang terpisah. Pada periode Mamluk, khususnya,
banyak bermunculan risalah yang mengecam pembaharuan-pem-
baharuan dalam keimanan dan praktik-praktik Islam.r3e Ada ke-
prihatinan yang mendalam untuk menegaskan identitas Islam
menjelang invasi bangsa Tirrki dan bangsa Mongol dan kemuncul-
an penguasa Mamluk di Mesir dan Suriah. Risalah-risalah itu
disusun dengan mengecrm praktik agama pada umumnya, sufisme,
filsafat, bidah dan pembaharuan. Ibn Taymiyyth, figur sentral
dalam pembahasan ini, seperti biasanya menyerang ini semua
dengan keras. Terutama sekali, ia yakin bahwa "agama yang benar"
yaitu penting bagi kesejahteraan spiritual dan stabilitas sosial
komunitas Islam. Serangan-serangan terhadap Kristen merupakan
sebagian dari perdebatan berkepanjangan mengenai bentuk Islam
yang benar dan pertahanannya dari semua pendatang. Periode
Mamluk telah menyebabkan terjadinya proses perpindahan a1ema
secara besar-besaran, dari pemeluk Koptik menjadi Islam. Ber-
samaan dengan itu, mereka membawa serta praktik-praktik dan
mode-mode pemikiran lGisten ke dalam kehidupan agama baru
mereka sebagai kaum muslim. Kaum muslim memandang ke-
cenderungan semacam ini sebagai sesuatu yang harus benar-benar
dihindari.'ao
Ibn Thymiyyah menyusun sebuah risalah yang sangat lengkap
tentang Kristen yang berjudul al-Jawdb al-Sabih li-man Baddal
Din al-Masih (Jawaban Yang Benar untuk Orang yang Mengubah
Agama al-Masih). Karya ini bisa dianggap sebagai karya paling
komprehensif dari jenisnya.rar Kerya itu memuat pembelaan yang
lengkap tentang Agama yang Benar. Sepanjang hidupnya, Ibn
Taymiyyah mengalami dua bencana, yaitu Perang Salib dan pem-
bantaian dunia Islam oleh bangsa Mongol. Serangan-serangan Ibn
tymiyyah terhadap alaran maupun praktik agama Kristen sangat
keras. Saat menulis tentang agama Kristen, ia menyatakan:
Mereka terpecah menjadi sekte-sekte dalam membicarakan
persoalan Tiinitas dan penyatuan [ketuhanan dan kemanusiaan
Kristus]; mereka terpecah dalam hal-hal yang memang tak bisa
diterima oleh akal [manusia] dan tidak ada dalam tradisi.ra2
Ibn tymiyyah mengutuk para pendeta dan biarawan, ter-
masuk para patriark, penduduk kota dan uskup, atas kemunafikan
mereka terhadap raja-rtja.ta3 Serangan khususnya diberikan kepada
para biarawan yang dianggap sok tahu dan suka menipu.'aa Suatu
tipuan yang diduga dipraktikkan umat lGisten yaitu dengan
,menaruh kohl (semacam bahan penghitam pelupuk mata) di mata
Maria sehingga mengeluarkan air mata: "Mereka menaruh kohl
di air yang mengalir dengan sangat perlahan. Air itu kemudian
mengalir perlahanJahan sehingga air itu mengalir turun ke gambar
Maria dan selanjutnya keluar dari matanya. Orang-orang mengira
,
Bukti-bukti menarik juga ditemukan dalam sebuah karya yang
berjudul An answer to the Dhimmis and to Those utho Follow
Them (Jawaban untuk Kaum Dzimmi dan Orang yang Mengikuti
Mereka) yang disusun oleh penulis akhir abad ketiga belas atau
awal abad keempat belas, GhAzi ibn al-'!7ishiti.ra6 Dalam dunia
Islam Abad Pertengahan, risalah-risalah polemis sangat banyak
ditemukan. Dalam karya semacam itu, para ilmuwan muslim
atau lkisten Abad Pertengahan saling menyalahkan agama lawan-
nya. Namun, karya al-\flishiti ini bermakna sangat penting sebab
ditulis tidak lama sesudah pengusiran Tentara Salib. Bisa di-
perkirakan bahwa karya itu disusun untuk menunjukkan ke-
unggulan Islam, dan ini dilakukan terutama lewat kisah-kisah
penjelas yang berasal dari periode-periode awal sejarah Islam namun
juga dengan latar zaman pengarang itu sendiri. Karya itu sangat
memusuhi kalangan Gereja Koptik.
Di halaman pertama risalah ini, sang pengarang menyatakan
hubungan yang jelas antara kaum Kristen Timur dan Tentara
Salib. Pengarang ini menyatakan bahwa dia ingin menjelaskan
tentang gangguan yang dilakukan umat Kristen terhadap Islam:
"keinginan untuk membersihkan hari-hari sultan [Mamluk] yang
mulia dari kotoran-kotoran mereka [kaum I(risten], seperti halnya
penghancuran kerajaan mereka yang kuat dan dengan pertahanan
yang baik, serta pertahanan-pertahanan mereka yang tinggi dan
menjulang".laT
Ghizi, yang berkomentar tajam tentang penyebaran Gereja
Koptik ke mana-mana yang bisa dilihat "di dengungan setiaP
lalat",l48 menuduh umat Kristen "menjadi mata-mata bangsa Thrtar
yang tak beralis" (yaitu bangsa Mongol) dan yang membayar
uang tebusan untuk para Tentara Salib yang ditawan-para Pangeran
kerajaan, wanita-wanita kaya dan bangsawan--dari Tiipoli.tae Karya
ini seluruhnya berupa makian kasar dan bernada sangat anti-
lkisten. Berbagai kisah ini menunjukkan kemunafikan dan
kedurhakaan kalangan Gereja Koptik, yang mencapai puncaknya
dengan makian pedas: "Pada kaum musyrik lyaitu umat Kristen]
ada empat ciri: tidak beragama, sering berkhianat, menipu
kaum muslim, dan menjauhkan orang dari keimanan (yang be-
nar)."r50 Namun, polemik anti-Kristen tidak sekadar muncul dalam
karya-karya pembelaan yang ditulis oleh para ahli fikih. Dalam
genre sastra lainnya ada bukti-bukti yang iuga bernilai Penting.
Tokoh sufi dan ahli fikih dari Aleppo pada masa Nfrruddin
itu-dan di kala itu kesadaran jihad semakin meningkat-me-
masukkan pengarang Sea of Precious Virtues (Samudera Kebajikan
yang Mulia) dari Persia, dan dia menyusun karya yang lengkap
yang memberikan pembuktian tentang kesalahan orang-orang
Bizantium dan kaum Frank. Pada bab Pertama dari karya itu,
yang berjudul "Tentang Kelicikan kaum Kristen", pengarang
anonim itu menulis:
Yang paling aneh di dunia yaitu umat Kristen mengatakan
Yesus yaitu memiliki sifat ketuhanan, bahwa Dia yaitu Tuhan,
dan mereka kemudian menyatakan bahwa kaum Yahudi menangkap
dan menyalibnya. Bagaimana Tuhan yang tidak bisa melindungi
dirinya sendiri bisa melindungi yang lain?rtr
Argumentasi seperti ini bukan barang baru dalam polemik
Islam terhadap lGisten. Namun, dimasukkannya argumentasi itu
di dalam sebuah karya tuntunan spiritual untuk Penguasa, genre
"Literatur Istana", yaitu tidak lazim dan kemungkinan besar
merupakan hasil dari konfrontasi langsung dengan kaum Frank,
yang secara khusus disebutkan dan dikelompokkan dengan orang-
orang Bizantium.
Penghancuran doktrin ketuhanan lfuistus bukan sesuatu yang
sarkastik "Tiap-tiap orang y^ng Percaya bahwa Tuhannya keluar
dari kemaluan seorang wanita yaitu cukup gila. Dia seharusnya
tidak dibicarakan, dan dia tidak memiliki akal ataupun agama."
Juga kedengarannya seakan-akan sang Pengarang Pernah me-
ngunjungi sebuah gereia tertentu atau mendengar tentangnya: "Di
dalam sebuah gereja mereka melukis sebuah gambar Yesus tengah
menggantung dari sebuah salib, dan mereka memasang gambar
itu ke dinding penjara, dan mereka juga memasang gambar sejenis
lainnya di dalam gereia yang memiliki banyak gambar di dalam-
nfa."r52
Karya ini berisi tuduhan-tuduhan stereotiP terhadap kehidupan
bebas wanita-wanita lGisten, yang mengingatkan pembacanya pada
karya Usimah. Pengarang menuduh umat lGisten mengizinkan
seorang wanita yang tak bersuami untuk melakukan persetubuhan,
dengan menyatakan bahwa umat Kristen berkata: "seorang wanita
sangat mengetahui hubungan gelapnya sendiri; bagian pribadinya
yaitu miliknya; bila ingin, dia bisa menjaganya, dan bila dia
ingin dia bisa memberikannya."r53
Hakim-hakim Kristen menetapkan biaya persetubuhan dan
berahi sebagai berikur: "empat fil (setara 1/1000 dinar atau l/
100 dirham) untuk setiap perbuatan senggama dan satu fil untuk
setiap ejakulasiD.r54 Pengarang itu juga menuduh wanita-wanita
Kristen bersetubuh dengan para pastor di malam hari dan tidak
menutupi wajah-wajah mereka. Bagian ini mengungkapkan ke-
bencian yang mendalam terhadap IGisten dan ejekan baik terhadap
doktrin mereka yang tidak jelas maupun cara-cara tidak bermoral
yang berasal dari wahyu palsu.
KAUM FMNKYANG MUDAH TERTIPU
Tirlisan-tulisan sejarah itu juga berisi banyak kisah penjelas. Bahkan
kemenangan kaum Frank bisa digunakan untuk meningkatkan
poin-poin propaganda dengan mengingatkan pada kemenyatuan
dan keberhasilan kaum muslim. Kisah terkenal tentang Tombak
Suci pada peristiwa pengepungan Antiokhia pada 491 H./1098
M. dimanfaatkan oleh beberapa sejarawan muslim yang meng-
gunakan legenda rersebur sebagai contoh bahwa betapa mudahnya
umat lftisten ditipu. Tombak, yang menurur sumber-sumber
Tentara Salib berfungsi sebagai fokus emosional yang sangar
berpengaruh bagi kaum Frank yang putus asa sehingga mereka
mencapai kemenangan di Antiokhia, dipertunjukkan oleh Ibn al-
Atsir (w. 630 H.ll233 M.) sebagai tipuan seorang pasror lGisten.
Pastor itu sebelumnya mengubur tombak rersebut di Gereja St.
Petrus di Antiokhia, menjanjikan kemenangan kepada kaum Frank
bila mereka menemukannya, dan selanjutnya membawa mereka
ke tempat tersebur sehingga mereka bisa menemukan tombak
itu.l55
Selanjutnya, Ibn Taghribirdi (w. 874 H.ll47O M.) juga
menuturkan kisah tentang kejadian iru, namun melibatkan pe-
mimpin kaum Frank, St. Gilles, dalam aksi penipuan rersebut:
St. Gilles, pemimpin kaum Frank, licik dan lihai, dan dia
mengatur dpu muslihat dengan seorang pastor, dengan mengatakan:
"Pergi dan kuburlah tombak ini di tempatmu. Lalu sesudah itu
ceritakan: 'Saya telah bermimpi bertemu al-Masih. Dalam mimpi
itu dia berkata 'Di suatu tempat ada sebuah tombak terkubur.
Pergilah dan temukan tombak itu, sebab bila kamu menemukan-
nya, kemenangan akan menjadi milikmu. Itu tombak saya'."'
Mereka kemudian berpuasa selama tiga hari, berdoa dan berderma.
Selanjutnya, dia [pastor itu] menuju ke tempat ini dan kaum
Frank bersamanya. Lalu mereka mencari tombak ini . Tombak
itu ditemukan. Mereka berteriak, berpuasa, berderma, dan pergi
menyongsong umat Islam, dan mereka memeranginya sampai mereka
mengusir umar Islam keluar dari kota itu.rr6
Tidak seperti Ibn al-Atsir, yang tidak berkomentat apa-apa
tentang kemenangan gemilang kaum Frank yang tampaknya ber-
kaitan dengan penipuan rersebut, Ibn tghribirdi berkomentar
dengan lebih jujur:
Yang mengherankan yaitu saat kaum Frank bergerak me-
lawan kaum mtrslim, mereka sangat lemah akibat kelaparan dan
ddak punya makanan sampai mereka memakan bangkai, semenrara
pasukan Islam sangat kuat dan banyak; dan [tapi] mereka me-
ngalahkan kaum muslim.r5T
INTENSIFIKASI PROPAGANDA ANTI.KRISTEN PADA MASA SAI"{DIN
Pertanyaan-pertanyaan menyangkut segi doktrinal semakin tampak
mencolok pada masa Saladin: argumen-argumen seperri biasanya
difokuskan pada dua tema utama, yairu masalah ketuhanan Yesus
dan Tlinitas. Pada khotbah yang perrama kali disampaikan usai
penaklukan Yerusalem, lbn Zalci mengutip ayat-ayat Alquran
terpilih yang menekankan pada Keesaan Allahtss-"Segala puji
bagi Allah, Yang tidak memiliki anak dan tidak memiliki
sekutu dalam Kerajaan-Nya"r5e-dan Surat al-Ikhlish, yang me-
negaskan keesaan Allah itu sendiri dan menjadi inti ajaran Alquran:
Katakanlah, "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa!
Allah yaitu tempat bergantung segala sesuatu!
Dia ddak beranak dan tiada pula diperanakkan.
Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia."t60
Kutipan-kutipan ini sama persis dengan kutipan yang diguna-
kan oleh Khalifah Umayyah untuk menghiasi interior Kubah Batu
pada 72 H.l69l M. Sangat mungkin pidato lbn Zal<3 itu, yang
disampaikan di Masjid AqshA, di dekat Kubah Batu, dengan
sengaja ingin membangkitkan gema-gema ini dan beberapa pen-
dengarnya telah mencatat gema ini .
Dalam pidatonya itu juga lbn Zal<i kemudian menyerang
Kristen. Meski lbn Zalij menggambarkan Yesus sebagai Nabi yang
mulia, dia tegas-tegas menolak bahwa Yesus itu Tirhan: "Mereka
pasd orang-orang kafir yang menyatakan: Bahwasanya Tuhan
yaitu Kristus, putra Maryam.
. Simbol-simbol Islam dan lGisten yang saling bertentangan
digunakan untuk memberi efek yang sangar kuat dalam surat al-
Qedhi al-Fadhil kepada khalifah. Mengenai Saladin, dia menulis:
Dari tempat-tempar ibadah mereka, dia melemparkan salib
ini dan memulai seruan salat. Altar digantikan dengan mimbar,
dan gereja-gereja diubah menjadi masjid; pengikut-pengikut Alquran
unggul atas pengikut-pengikut salib.'62
NILAI PROPAGANDA KELUHURAN BUDI SAIADIN
Kaum muslim memiliki kenangan yang panjang. Peristiwa 1099
terus hidup dalam ingatan mereka delapan puluh delapan tahun
kemudian, saat Saladin memasuki Yerusalem dengan keme-
nangan. Hasrat balas dendam, untuk melenyapkan ingatan ber-
sama-sama tentang horor dan penghinaan akibat penaklukan kaum
Frank, pasdlah sangat kuat. Kaum muslim dga atau empat generasi
berikutnya pasti akan mendengar renrang peristiwa ini, dan arti
pentingnya akan tertanam dalam-dalam di ingatan mereka, bukan
semata-semata sebagai fakta politik dan militer, namun sebagai
suatu penghinaan dan pelecehan terhadap dua tempat paling suci
bagi umat Islam.
Oleh Ibn al-Atsir, Saladin ditampilkan mulanya ingin mem-
balas dendam kepada kaum Frank:
Mereka [kaum Frank] sepakat meminta perjanjian perdamaian
dan menyerahkan Yerusalem kepada Saladin. Maka mereka mengi-
rimkan bangsawan dan pemimpin mereka untuk meminta per-
damaian. saat mereka menyampaikan hal itu kepada Sultan,
beliau tidak segera menyetujuinya dan berkata: "Saya hanya akan
memperlakukan Anda dengan cara seperti Anda memperlakukan
para penduduknya saat Anda menaklukkannya pada 492, yairl
dengan membunuh dan menahan dan pelanggaran-pelanggaran
sejenis lainnya".163
Namun, bagi Ibn al-Atsir dan para penulis sejarah muslim
lainnya yang menulis peristiwa ini, nilai propaganda penaklukan
Yerusalem oleh Saladin yang tanpa pertumpahan darah jauh lebih
berarti dibandingkan dengan dorongan, yang segera teratasi, untuk
melakukan pembalasan. Bagi mereka, penting kiranya menampil-
kan perilaku Saladin secara keseluruhan, bukan sekadar sebagai
sifat pribadinya, namun juga menunjukkan keunggulan perilaku
kaum muslim atas perilaku kaum Iftisten, dan nilai-nilai Islam
atas nilai-nilai Kristen.
Dengan demikian, Saladin ditampilkan telah menghormati
perjanjian jaminan keselamatan untuk kaum Frank dan mem-
perlakukan wanita-wanita bangsawan Tentara salib dengan ter-
hormat. Saladin ditampilkan sebagai contoh orang Islam yang
terhormat dan sopan.rG
saat Uskup Agung kaum Frank pergi dengan hanya Allah
yang tahu aPa yang dibawanya dari gereja-gereja, termasuk Batu
dan Aqshi dan sampah,r65 dan dia [secara peribadi] memiliki uang
yang sangat banyak, Saladin tidak menghalangi perjalanannya' Dia
lsaladin] diminta untuk mengambil barangbarang yang dimilikinya
[uskup ini ] untuk memperkuat kaum muslim dan Saladin
berkata: "Saya tidak akan berlaku jahat padanya"'
ARTI PENTING GEREJA MAKAM SUCI
permainan kata lama untuk nama gereja ini-disebut Gereja
Kebangkitan (hanhat al-qiytmah) dalam bahasa Arab (foto warna
7) ,r"*rrn diplesetkan oleh kaum muslim sejak abad ketujuh
sebagai Gereja Sampah (hantsat al-qumhmah)-dieksploitasi habis-
habisan untuk mengejek kaum Frank pada abad kedua belas dan
ketiga belas.r66
Al-Harawi mengunjungi Yerusalem pada 569 FIJll73 M'
dan menulis tentang gereja ini:
Mengenai temPat-temPat ziarah umat Kristen' yang paling
penting yaitu Gereja Sampah "' Bagi umat Kristen' makam
ini terletak di tempat yang mereka sebut makam Kebangkitan
(qiyhmab) sebab mereka menetapkan temPat ini sebagai temPat
keL"rrgkit"r, al-Masih; pada kenyata nnya temPat ini yaitu
Sampah (qumlmah), temPat sampah, sebab kotoran-kotoran wilayah
itu dib.r"rrg di sana; itu yaitu suatu temPat di luar kota yang
menjadi temPat pemotongan tangan para penjahat dan temPat
para Pencuri disalib: itulah yang dikatakan oleh Kitab Injil' Dan
hanya Allah yang Maha Mengetahui'r67
penasihat Saladin, al-Qadhi al-Fidhil, mengetahui tujuan
religius kedatangan kaum Frank ke Yerusalem' Dalam suratnya
yang terkenal mengenai kemenangan Saladin yang dikirimkan
kepada khalifah, al-Qadhi al-Fadhil menyebutkan tenrang "raja-
raja pemanggul salib, kelompok-kelompok dari seberang lautan,
gerombolan berbagai macam orang kafir". Tirjuan mereka yaitu
untuk "membebaskan Makam rersebut dan mengembalikan [Gereja]
Sampah (qumlmah)".t68
Saladin memutuskan untuk tidak menghancurkan Gereja
Makam Suci pada 583 H.lll87 M. meskipun beberapa kaum
muslim yang lebih bersemangat menekannya untuk melakukan
penghancuran. Dalam prosa bersajaknya, yang seperti biasanya
dilebih-lebihkan,'Im6.duddin al-IshfahAni mencarat:
Dia [Saladin] berembuk dengan orang-orangnya mengenai hal
itu [Gereja Makam Suci]. Beberapa orang di antara mereka meng-
anjurkan agar bangunan gereja itu dihancurkan, bekas-bekasnya
dihilangkan, jalan menuju ke sana dihapuskan, parung-parungnya
dimusnahkan, kandil-kandilnya dipadamkan, Kitab Injil-nya di-
hancurkan, daya tariknya dihancurkan, dan ajaran-ajarannya harus
ditunjukkan sebagai kebohongan.r6e
Para penasihat ini lebih lanjut mengatakan bahwa dengan
memusnahkan bangunannya, maka tempat itu tidak lagi akan
menjadi pusat kuniungan dan ziarah umar IGisten: "Keinginan
kaum Frank untuk berziarah ke sana akan berhenti dan dengan
demikian kita akhirnya akan bisa hidup dengan damai."t7o
Namun, Saladin jelas-jelas terpengaruh oleh merek^ yang
meminta agar gereja ini harus dibiarkan utuh. Mereka ber-
pendapat bahwa tidak mungkin menghentikan kaum Frank me-
ngunjungi Yerusalem "sebab yang mereka puja yaitu kesucian
Yerusalem dengan Gereja Sampah sebagai tempat yang paling
'Imiduddin sangat mengetahui arti penting gereja ini bagi
kaum Frank. Ia mengucapkan kata-kata berikut kepada kaum
Frank yang tengah memPertahankan Gereja Makam Suci: "Mereka
berkata: 'Kami akan mati di bawah makam Tirhan kami dan
kami akan mati tanpa rasa takut bahwa makam ini akan terlepas
dari kami. Kami akan mempertahankannya dan akan terus ber-
juang demi makam ini. Kami tidak punya pilihan lain, kecuali
berjuang'."r72 Selama PertemPuran berlangsung, kaum Frank me-
nunjukkan perasaan yang sama.r7l Gerela itu yaitu simbol yang
sedang mereka perjuangkan:
Kami semua masing-masing berumur dua puluh "' Kami siap
mati untuk mempertahankan [Gereja] Kebangkitan (qiyLmah)'tla
'Imiduddin kemudian melan.iutkan lebih jauh. Pada bagian
khusus yang berjudul "Laporan tentang Gereja Sampah", dia
mengungkapkan pandangannya tentang kekristenan kaum Frank'
'Imiduddin sangat mengetahui bahwa kaum Frank juga siap dan
bersedia mengorbankan diri mereka untuk membela agama mereka
dan monumen suci mereka itu. Dengan demikian, kehormatan
kaum Frank dikaitkan dengan perlindungan terhadap Gereja
Makam Suci. Di dalam gereja itu, menurut 'Imiduddin, ada
tempat Penyaliban. Di dalamnya pula banyak ada gambar-
gambar dan patung-Patung:
Di dalamnya ada gambar-gambar Juru Selamat tengah
berbicara, orang-orang suci tengah memberi kabar, para pastor di
dalam sel-sel mereka, para pendeta dengan jamaahnya, Orang-Orang
Majus dengan tali-talinya,r75 para pendeta dengan aiaran-ilatan
palsunya, gambar Maria dengan Yesus, Kuil dan Tempat Kelahiran'
Meja dan Ikan-ikan... Murid dan Guru, Ayunan dan Anak yang
berbicara, gambar keledai dan domba jantan, Surga dan Neraka'
IoncenSlonceng [gereja] dan undang-undang. Mereka berkata, di
kota itu [Yerusalem], al-Mcih disalib, korban sakramen disembelih,
sifat ketuhanan menitis dan sifat kemanusiaan dipuja''76
Bagi umat IGisten, penjelasan-penielasan tentang agama Kristen
ini akan dianggap sebagai campuran kebenaran, setengah ke-
benaran, dan kekeliruan. Namun sebenarnya penjelasan itu yaitu
gambaran yang sangat bagus tentang kemungkinan pandangan
t",r- -,rrlim abad kedua belas terhadap agama musuh mereka.
Bagian ini menunjukkan agama Kristen dan umat Kristen lewat
kacamata keyakinan kaum muslim pada umumnya. Penjelasan-
pen.ielasan tentang agama Kristen yang diberikan dengan menarik
ini, sebagaimana dikatakan Gabrieli, tidak menunjukkan "bahwa
pengarang muslim itu tidak mengetahui informasi yang sebenar-
nyi'.rtt Penjelasan it0 lebih merupakan pandangan tentang agama
liristen yang bersumber pada Alquran (Yesus telah bisa berbicara
sejak bayi, Orang-Orang Majus dengan tali-tali mereka) yang
dibungkus dengan prasangka kaum muslim pada umumnya ter-
hadap praktik-praktik umat Kristen-yang ditunjukkan dengan
gambar-gambar di dalam gereja, biara, dan lonceng-lonceng gereja.
PANDANGAN KAUM MUSLIM TENTANG KEPAUSAN DAN
SUPERIORITAS KHALIFAH
Ibn \Tishil mencatat sebuah percakapan yang diduga berlangsung
antara Frederick II dan seorang bangsawan muslim yang bernama
Fakhruddin ibn al-Syaykh. Ini merupakan kesempatan yang sangat
baik bagi Ibn'Wishil untuk membuat perbandingan yang merugi-
kan antara Paus dan khalifah dan kemudian menyampaikannya
kepada penguasa kaum Frank. Frederick bertanya tentang khalifah
dan Fakhruddin menjawab:
Dia putra paman Rasul kami [selawat dan salam baginya]. Dia
[Khalifah] mewarisi kekhalifahan itu dari ayahnya, dan ayahnya
memperolehnya dari ayahnya, dan kekhalifahan berlanjut hingga
ke lingkaran silsilah Nabi (yaitu, keluarga Rasul), dengan tidak
meninggalkannya.rT8
Frederick memberikan jawaban yang menyerang tradisi Ke-
pausan dan memuji nilai-nilai dalam sistem kekhalifahan:
Kaisarituberkata:..Itulahtkhaliah]yangbaiklNamunorang.
orang picik itu-malaudnya, kaum plxnk-msnunjuk orang dungu
dan bodoh dari kumpulan kotoran-tidak ada hubungan atau
pertalian antara dirinya dengan al-Masih- [dan] mereka men-
jadik"nnya pemimpin bagi mereka, dengan mengambil alih ke-
dudukan al-Masih atas mereka, sementara khalifah Anda yaitu
anak paman Rasul Anda. Dan dia yaitu orang yang paling layak
di kedudukannya."rT'
Bagian ini tidak perlu ditafsirkan sebagai catatan kata-kata
Frederick II yang sebenarnya, dan memang sangat meragukan
bahwa dia akan berkata seperti ini. Ibn al-Furit, dengan meng-
gunakan bukti-bukti Ibn \flishil, iug^ tertarik untuk membahas
peranan Paus:
Ketahuilah bahwa bagi kaum Frank, Paus yaitu wakil al-
Masih, yang menggantikan kedudukan al-Masih' Paus memiliki
kekuasaan untuk menetapkan sahnya suatu hal atau tidak "' Dialah
yang melantik dan menetapkan tala'ra1a, dan' menurut hukum
kaul F.ank, hanya lewat dialah raja'rqa bisa ditunjuk dengan
benar.l80
Nilai dari kutipan ini lebih terletak pada keterangan yang
diberikannya mengenai sikap kaum muslim terhadap Kepausan'
NII.AIPRoPAGANDADAI."AMSURAT.MENYURATDIANTAMPARA
PENGUASA MUSLIM
Kita telah melihat Peran Penting surat-surat resmi yang ditulis
aras nama Saladin dan dikirimkan kepada khalifah, raja-raja kaum
Frank, dan para Penguasa lainnya' Surat-surat seruPa yang sangat
menekankan pada keahlian diplomatik dari periode Mamluk
banyak yang masih bertahan. Baybars khusus membuat surat-
surat ejekan yang dikirimkan kepada lawan-lawannya' Pada 666
H.tir2el M., Baybars menulis surat kePada Bohemond VI untuk
mengutarakan niatnya untuk merebut Antiokhia' Bagian yang
meniperlihatkan ungkapan retoris yang keras yaitu mengenai
hal-hal yang mendasar dalam
^gam
Kristen:
Bila Anda telah melihat gereja-gereja Anda dihancurkan' salib-
salib Anda dipatah-patahkan, halaman-halaman Injil palsu terbuka'
makam-makam para Uskup runtuh, bila Anda telah melihat musuh
Anda, kaum muslim, tengah menginjak-injak tempat suci, dengan
para pastor, pendeta, dan pelayan gereja dikorbankan di atas altar
... Gereja St. Paulus dan St. Petrus dirobohkan dan dihancurkan,
Anda pasti akan mengatakan "Alangkah baiknya sekiranya aku
dahulu yaitu tanahr8r atau alangkah baiknya jika aku tak menerima
surat yang memberitahukan tentang bencana menyedihkan ini.Dr82
TINGKAT KUALITAS PERDEBATAN KAUM MUSLIM TENTANG AGAMA
KAUM KRISTEN FRANK
Sivan sangat memandang jelek atas tingkat kualitas polemik dalam
karya-karya yang dibuat dalam konteks Perang Salib. Dia meng-
kritik pemikir-pemikir muslim zaman itu yang dianggapnya telah
gagal untuk beranjak dari cara penyampaian slogan-slogan yeng
menyederhanakan persoalan dan gagal menunjukkan pertentangan
yang lebih mendasar di antara dua kepercayaan ini . Dalam
pandangannya, tidak ada argumen-argumen baru yang dimuncul-
kan dan tampaknya tidak ada pembahasan sungguh-sungguh yang
mampu memajukan kualitas debat ini .r8s Sebuah karya yang
ditulis untuk Saladin oleh Muhammad ibn Abd al-Rahmin al-
Kitib dari judulnya (al-Durr al-Tlamin fi Manhqib al-Muslimin
wa Matsllib al-Musyrihin, Permata Berharga tentang Keutamaan
Kaum Muslim dan Keburukan Kaum Musyrik) tampaknya me-
rupakan risalah yang memuat pembahasan yang cukup. Namun
karya ini sudah tidak ada lagi.tsa
Sivan menyimpulkan bahwa ketiadaan debat yang benar-benar
bermutu secara intelektual ini terjadi sebab Islam pada saat itu
dalam keadaan "sangat stagnan".r85 Penilaian ini terlalu kasar dan
tidak realistis. Tidak ada jaminan bahwa tingkat pembahasan di
dalam karya yang hilang ini , yang disesalkan oleh Sivan,
akan melebihi level anti-Kristen seperti yang biasa ditunjukkan di
dalam sumber-sumber Islam. Ini berkaitan dengan peningkatan
kampanye-kampanye propaganda pada masa itu dan, sePerti mitra
Kristennya, pemikir-pemikir muslim seperti al-Sulami, al-QAdhi
al-FAdhil, 'ImAduddin dan Ibn Taymiyyah tidak memiliki waktu
atau kecenderungan untuk terlibat menyelidiki kebenaran per-
bedaan-perbedaan







