Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 9

 


Tentu saja, bahwa pahlawan-pahlawan muslim ini me-

miliki kehidupan alam baka yang menyenangkan dalam bayangan

warga  umum.

Kisah tentang Perang Salib memang tersembunyi dalam ba-

yang-bayang beberapa literatur umum dari Abad Pertengahan ini.

lftonologi, seperti disebutkan di atas, memiliki sedikit atau tidak

memiliki arti penting dalam rangkaian peristiwa seperti diungkap-

kan dalam epik-epik rakyat-seseorang mungkin dibunuh di satu

bagian cerita tertentu, tapi kemudian ia muncul dan hidup

kembali di bagian lain kisah ini . Karakter-karakter dari abad


ketu.iuh hingga kesepuluh berdampingan dengan tokoh-tokoh yang

dengan jelas memiliki nama yang umum digunakan oleh kaum

Frank, seperti Bohemond. Sebuah kisah di dalam epik rakyat

populer berjudul Sirat Dzlt al-Himmah menceritakan raja kaum

Frank bernama Malis, putra dari Bulus (Paulus). Yesus datang

padanya dalam sebuah mimpi dan memerintahkannya untuk pergi

ke timur melalui Bizantium "untuk membebaskan [Gereja] Sampah

(al-Qumhmah) [yaitu Gereja Makam Suci] dan Yerusalem dari

tangan kaum muslim".r6 Sementara beberapa segi berkaitan dengan


memori sejarah dapat dilihat dalam kisah ini, kisah ini 

menunjukkan bentuk sebuah legenda Islam, sebab  Malis, sesudah 

menyeru semua negara kaum Frank dan mengumpulkan pasukan

secara besar-besaran, melewati Konstantinopel dalam perjalanannya

ke Suriah dan dia dikalahkan serta dibunuh oleh pahlawan wanita

epik ini , Dzat al-Himmah, "ibu para pejuang agama dan

pembela agama Muhammad". Selanjutnya, Dzit al-Himmah dipuji

sebab  telah menyelamatkan Yerusalem dari ancaman orang kafir.

Dia sama sekali bukan satu-satunya contoh ksatria wanita legen-

daris dalam tradisi warga  muslim yang menunjukkan prestasi

mengagumkan.rT

Seperti halnya dalam opera sabun modern, orang-orang dalam

epik-epik populer Islam bisa dibangkitkan di dalam cerita tanpa

perlu justifikasi. sebab  itu, sulit untuk menilai bahan sePerti itu

dalam terminologi sejarah. Namun yang jelas, literatur ini me-

rupakan sumber yang luas dan belum tergali yang menuturkan

perilaku, kepercayaan, dan kisah-kisah populer yang membantu

menciptakan stereotip kaum muslim tentang kaum Frank. Referensi

khusus tentang bahan ini akan ditunjukkan sesekali dalam uraian-

uraian selanjutnya di bab ini.

STEREOTIP KAUM MUSLIM TERHADAP KAUM FRANK:

GAMBAMN SEBELUM PEMNG SALIB

Eropa barat tidak terlalu menarik bagi kaum muslim Abad

Pertengahan. Dari perspektif mereka, budaya mereka sendiri jelas-

jelas lebih maju dan unggul. Kaum muslim Abad Pertengahan

merasa unggul dan merendahkan kaum Kristen. Bagi mereka,

tidak terbantahkan lagi bila Kristen, wahyu yang belum lengkap

dan tidak sempurna' telah digantikan dan disempurnakan oleh

Islam, \{ahyu terakhir, dan Nabi Muhammad yaitu  PenutuP

para nabi. Keyakinan yang sangat tinggi dalam nilai-nilai yang

berdasarkan pada \7ahyu ini tidak mendorong keingintahuan

intelektual pada para penganut agama lain yang diyakini tidak

lengkap atau salah. Kaum muslim tidak terlalu tertarik pada

lftisten, baik itu lGisten Latin dari bangsa barbar Eropa barat,

Kristen Timur dari musuh besar dan tetangga mereka, Bizantium,

atau komunitas Kristen Timur yang telah tinggal di bawah ke-

kuasaan kaum muslim sejak berbagai penaklukan oleh bangsa

fuab pada abad ketujuh. Kaum .muslim sedikit saja tahu dan

kurang peduli tenrang Eropa. Bangsa ini tidak banyak memenga-

ruhi pandangan dunia mereka. Mereka tahu sedikit rentang Fkisten

dari komunitas kaum Kristen di Timur Tengah. Namun, bahkan

pada kelompok-kelompok yang dekat ini, mereka hanya sedikit

menaruh perhatian.

Sebelum kedatangan Perang Salib Pertama di akhir abad

kesebelas, kaum muslim telah mendengar rentang kaum Frank

dan telah membentuk opini tentang mereka. Opini-opini ini

bersumber dari laporan-laporan perjalanan,rs keterangan-keterangan

dari para tawanan perang,re jamaah-jamaah haji, para pedagang

dan diplomat, karya-karya Beografis dan kisah-kisah PoPuler.

Opini-opini ini semakin dipertajam oleh kecenderungan alami

dari orang-orang yang berasal dari satu ras atau agama untuk

membentuk gambaran klise tentang "yang lain".

Banyak persepsi kaum muslim paling awal tentang geografi

Eropa barat dan penduduknya bersumber pada tulisan ilmuwan

Yunani abad kedua dari Aleksandria, Ptolemeus, yang hadir dalam

dunia Islam lewat karya ilmuwan muslim abad kesepuluh, al-

Khawirazmi, dan ilmuwan-ilmuwan lainnya. Memang, warisan

Ptolemeus tetap utuh selama beberapa abad sejarah Islam, dengan

sedikit tambahan gagasan-gagasan baru dari pengarang-Pengarang

muslim.

sebab  itu, ahli-ahli ilmu bumi dari kalangan kaum muslim

Abad Pertengahan membagi dunia ke dalam tujuh zona garis

lintang atau "iklini'. Posisi sebuah ras yang telah ditetapkan pada

iklim tertentu berpengaruh terhadap karakteristik-karakteristik

tertentu yang mereka miliki. Keserasian dan keseimbangan terbesar

di iklim keenam. Seperti juga bangsa Slavia dan Tirrki yang sama-

sama mendiami zona ini, kaum Frank melanjutkan seni berperang

dan berburu, yang merupakan temperamen melankolis dan cen-

derung kejam. Mereka juga kotor dan licik.

Penulis Abbasiyah terkemuka, al-Mas'0di (w. 345 H.1956

M.) memiliki pandangan yang sangat luas dalam konteks Islam.

Dalam dua karyanya al-Mas'fidi memuat daftar raja-raja kaum

Frank mulai dari Clovis hingga Louis IV.20 Daftar ini, menurut

pengakuannya sendiri, bersumber pada sebuah buku yang ditulis

pada 328 H.1939 M. oleh seorang uskup kaum Frank untuk

penguasa masa depan Spanyol Bani Umayyah, al-Ilakam. Menurut

al-Mas'0di, kaum Frank merupakan keturunan dari Yafet (putra

Nuh). Mereka itu "banyak jumlahnya, berani, teratur dengan baik,

dan sangat disiplin, dengan kerajaan yang luas dan menyatu".2'

Al-Mas'Crdi melanjutkan penjelasannya tentang wilayah kaum

Frank sebagai berikut:

Mengenai orang-orang dari kuadran utara, bagi mereka mata-

hari jauh dari zenit, orang-orang yang menyebar ke lJtara, seperti

orang-orang Slavia, kaum Frank dan bangsa-bangsa tetangga mereka.

Cahaya matahari bersinar lemah di antara mereka sebab  mereka

jauh darinya: dingin dan lembab senantiasa menyelimuti wilayah-

wilayah mereka. Salju dan es saling mengikuti tiada hend. Humor

yang hangat tidak ada di antara mereka. Tirbuh mereka besar-

besar, sifat mereka kasar, kelakuan mereka buruk, pemahaman

mereka lemah dan lidah mereka berat. Kulit mereka sangat putih

sehingga kulit mereka berubah dari putih menjadi biru' Kulit

mereka tipis dan daging mereka tebal. Mata mereka juga biru,

sesuai dengan bentuk warna mereka. Rambut mereka tipis dan

kemerah-merahan sebab  kabut lembab yang tiada henti. sebab 

sifat mereka yang dingin dan tidak adanya kehangatan, mereka

tidak memiliki kepercayaan agama yang kuat.22

Laporan di atas menegaskan iklim yang sangat dingin dan

lembab di wilayah asal kaum Frank yaitu  karakteristik iklim

inilah yang membuat para penduduknya tumpul pemahamannya,

kasar sikapnya, lamban sebab  tubuhnya tinggi, dan kasar perilaku-

nya. Kualitas-kualitas negatif ini menjadi berakar di dalam pikiran

kaum muslim berkaitan dengan kaum Frank. Pandangan semacam

ini sebenarnya muncul kembali, misalnya, dalam karya mengenai

golongan bangsa-bangsa, yang dirulis pada 1068 oleh seorang

hakim muslim di Toledo, Sa'id ibn Ahmad. Dalam karya itu, dia

menjelaskan tentang kaum barbar yang tinggal di utara (yaitu,

Eropa) sebagai lebih mirip dengan binatang buas daripada ma-

nusia. Dan dia melanjutkan penjelasannya dalam keterangan

berikutnya: "sebab  itu, temperamen mereka kaku, humor mereka

kasar, perut mereka besar, warna mereka pucat, rambut mereka

panjang dan lemah. sebab  itu, mereka tidak memiliki pemaham-

an dan kejernihan pikiran dan takluk pada kebodohan dan sikap

apatis, kurang cerdas, dan bodoh."23

Para penulis muslim Spanyol lainnya menggambarkan Eropa

barat sebagai wilayah yang luas, subur, dan dingin. Mereka sekali

lagi menegaskan bahwa kaum Frank yaitu  perarung-perarung

yang berani namun  tidak memiliki kebiasaan yang sehat.2a

Ilmuwan Belanda, Remke lGuk, baru-baru ini meneliti karya

Ibn Abi'l-Asy'ats, ahli fisika Persia yang tinggal di Mosul dan

wafat sekitar tahun 350 H.1970 M.25 Dalam Kithb al-Hayauthn

(Buku tentang Hewan), Ibn Abi'l-Asy'ats memberikan suryei

sistematis tentang makhluk hidup, termasuk manusia.26 Mengenai

orang-orang yang menetap di zona sulit di dunia itu, Ibn Abi'l-

Asy'ats menulis bahwa mereka tidak memiliki kebijaksanaan

Qihmah).2? sebab  mereka hanya punya karakter seperti ini,

mereka menjadi seperti binatang dalam hal bahwa mereka hanya

memiliki karakteristik umum dam tidak memiliki kepribadian.2s

Ia dengan meyakinkan mengatakan bahwa para penduduk wilayah-

wilayah yang sangat dingin itu memotong rambut mereka setahun

sekali seperti yang dilakukan pada hewan.2e

PANDANGAN-PANDANGAN ABAD PERTENGAHAN TENTANG

KAUM FMNK DAIAM LITERAIUR KOSMOGMFIS DAN GEOGMFIS

Selama Perang Salib berlangsung, seorang penulis muslim, al-

Idrisi (wafat sekitar 560 H.ll165 M.), yang hidup di bawah

penguasa lkisten Norman di Sisilia, menyusun sebuah karya

geografi yang dikenal dengan judulnya yang pendek, Booh of

Rager pada 1154. Dalam menyusun karyanya ini, al-Idrisi meng-

andalkan sumber-sumber Eropa barat serta penulis-penulis geografi

terdahulu pada umumnya. Dia juga memiliki pandangan yang

sangat luas dan informasi yang beragam.

Penjelasannya tentang Prancis yang berada di zona keenam

cukup tepat dalam hal keterangan tentang nama-nama tempat

dan jarak. Namun, penjelasannya itu mengekalkan citra kegelapan

yang mengitari wilayah-wilayah utara dunia. Saat membicarakan

tentang Laut Kegelapan, al-Idrisi menulis: "Perairan laut ini sangat

dalam dan gelap. Gelombang-gelombang naik secara menakutkan:

kedalamannya luar biasa. Kegelapan selalu ada di sana."3o

Inggris di zona ketujuh memiliki keadaan yang sedikit lebih

baik Inggris digambarkan sebagai sebuah pulau besar berbentuk

seperti kepala burung unta: "Penduduknya berani, kuat dan giat,

namun di sana musim dingin berlangsung sepanjang tahun."3'

Sebuah sumber penting tentang pandangan kaum muslim

terhadap kaum Frank yaitu  karya ahli ilmu falak dan ilmu

bumi, al-Qazwini (w. 682 H.ll283 M.) (bandingkan, foto warna

6). Dalam karya ilmu buminya yang berjudul Atsir al-Bilhd wa

Akhbhr al-'Ibhd (Jejak Negeri-Negeri dan Sejarah Para Penduduk-

nya), al-Qazwini banyak meminjam sumber-sumber sebelumnya.32

Memang, karya al-Qazwini ini jauh untuk disebut sebagai salah

satu karya yang orisinal. Namun karya ini merupakan kompilasi

yang sangat lengkap dan merupakan sintesis dari pengetahuan

yang telah ada. Ia menceritakan, misalnya, tentang geografi al-

'udzri, karya-karya al-Mas'0di, serta laporan Ibn FadhlAn tentang

perjalanannya ke Rusia selatan pada 920-an. Selanjutnya, dengan

bersumber pada kumpulan "informasi" itu, al-Qazwini memberikan

uraian tentang Eropa barat sebagaimana yang telah dikenal di

dunia Islam selama berabad-abad. Ada sedikit yang baru dalam

keterangannya tentang kaum Frank dan laporannya-yang me-

rupakan perpaduan biasa dari segi eksotis, yang nyata dan yang

imajiner-dimaksudkan, seperti halnya karya-karya literatur me-

ngagumkan ('ajA'ib) lainnya, untuk merangsang dan menghibur

pembacanya. Al-Qazwini menggambarkan kaum Frank dan negeri-

nya sebagai berikut:

lVilayah kaum Frank, wilayah yang luas dan kerajaan yang

besar dalam wilayah umar Kristen. Udaranya sangat dingin, dan

berkabut sebab  sangar dingin. Vilayah itu penuh dengan hal-hal

baik, buah-buahan dan panenan, kaya dengan sungai-sungai, hasil

bumi melimpah, memiliki pertanian dan peternakan, pohon-pohon

dan madu. Di sana sangar banyak binatang buruan dan juga

tambang-tambang perak. Mereka membuat pedang yang sangar

tajam di sana, dan pedang-pedang dari wilayah kaum Frank lebih

tajam dibanding pedang-pedang India.

Penduduknya beragama Kristen. Mereka memiliki raja yang

berani, besar, dan punya kekuasaan untuk memerintah. Dia me-

miliki dua arau tiga kota di pesisir di sisi ini, di tengah-tengah

wilayah-wilayah Islam, dan dia melindungi wilayah itu dari sisinya.

saat  umat Islam mengirim pasukan untuk merebutnya, dia

mengirimkan pasukannya untuk mempertahankannya. prajurit-

prajuritnya sangat berani, dan dalam pertempuran bahkan tidak

berpikir untuk melarikan diri, malah lebih menghendaki kematian.

Namun, Anda tidak melihat seorang pun yang lebih jorok dari

mereka. Mereka orang-orang dengan karakter tidak jujur dan

dengki. Mereka tidak mandi dan hanya membersihkan badan tidak

lebih dari saru atau dua kali dalam setahun, dan kemudian dalam

air dingin. Dan mereka tidak mencuci baju-baju mereka dari

pertama kali mereka pakai sampai baju itu hancur. Mereka men-

cukur janggut mereka, dan sesudah  mencukurnya, mereka me-

numbuhkan pangkal janggut yang menjijikkan. Salah seorang dari

mereka ditanya tenrang mencukur janggut, dan dia mengatakan.

"Rambut jumlahnya sangar banyak. Anda membersihkannya dari

bagian-bagian pribadi Anda. Jadi mengapa kami harus meninggal-

kannya di wajah kami?"33

Di sini ditegaskan tentang iklim di wilayah kaum Frank yang

sangat dingin. Namun, hanya ada sedikit informasi konkret dan

tidak ada keterangan pelengkap yang. mungkin telah menyebar

melalui pengarang ini  dalam bentuk yang jelas yang diperoleh

tentang kaum Frank selama kehadiran mereka di wilayah kaum

muslim selama dua abad. Namun, penring untuk ditegaskan bahwa

al-Qazwini sekali lagi menceritakan tenrang moral rendah dan

gaya hidup tidak sehat dari setiap pasukan kaum Frank. Seperti

yang telah kita lihat, karakteristik ini tak lepas dari posisi geografis

mereka di dunia. Seperti pada laporan sebelumnya, kaum Frank

dipuji atas keberanian mereka dalam medan perang.


Ahli ilmu bumi muslim, al-Dimisyqi (w. 727 H.11327 M.),

juga membahas tentang kaum Frank dalam kompilasi ilmiahnya

yang berjudul Nukhbat al-Dahr fi AjA'ib al-Ban wa'l-Bahr.3a Di

zona keenam ia menempatkan kaum Frank serta bangsa .Ttrrki

dan Khazar: "lZona) yang keenam yaitu  yang paling dingin,

membosankan, jauh dari matahari, dan sangar berkabut." Dalam

pandangannya, kaum Frank itu putih dan seperti binatang buas.

Mereka tidak peduli dengan yang lain kecuali perang, bertempur,

dan berburu.3s

GAMBAMN TENTANG KAUM FMNK DAI.AM LITERAIUR

MKYAI POPULER

Di samping gambaran yang ddak jelas dan klise tentang kaum

Frank dan wilayahnya yang bertahan sepanjang abad-abad awal

Islam dalam genre "literatur tinggi" seperti rulisan-tulisan sejarah,

karya-karya ilmu falak, dan berbagai tulisan-tulisan ilmu bumi,

ada dimensi lebih jauh yang patut dipertimbangkan: gambaran

tentang kaum Frank dalam literatur ralcyat populer seperti telah

disebutkan di atas.

Seperti ditunjukkan oleh Lyons, Kruk, dan penulis-penulis

lainnya belakangan ini, kisah-kisah populer juga mengenal wilayah-

wilayah dunia di luar Bizantium, kerajaan-kerajaan dan pulau-

pulau yang ditempati oleh "kaum Frank". Lyons menggambarkan

kaum Frank sebagai "siluet" di horizon sejarah dari literatur jenis

ini.36 Mereka "orang-orang yang sangat besar dengan janggut

tercukur rapi"; "mereka membawa tombak atau lembing yang

terbuat dari baja yang keras dengan kepala besar; para pemanah

mereka tidak pernah meleset, dan senjata mereka mengoyak baju

pelindung. Di dalam pasukan mereka, para pengendara, kuda

dan baju baja, membentuk satu kesatuan".37 Gambaran-gambaran

semacam itu mencerminkan sikap-sikap budaya selama berabad-

abad, namun sering kali terlalu samar-samar untuk dinilai sebagai

bukti-bukti sejarah yang tepat, meskipun di sini kita lagi-lagi

bisa melihat penekanan yang jelas pada keahlian militer kaum

Frank, yang ditegaskan sejak awal masa al-Mas'fidi, serta Pen-

jelasan-penjelasan tentang ukuran tubuh mereka dan rambut

mereka yang tidak terurus.

Literatur populer semacam itu merupakan sumber yang luas

dan sebagian besar belum digali menyangkut sikap-sikap, ke-

perceyaan, dan kisah-kisah populer yang membantu menciptakan

stereotip kaum muslim tentang kaum Frank. Karya-karya semacam

ini membantu menunjukkan perkembangan persepsi kaum muslim

tentang "musuh" dan bagian-bagian pokok persepsi ini -

gambaran tentang kaum Frank yang koror, penipu, dan tidak

memiliki ikatan perkawinan, dan gambaran tenrang wanita-wanita

kaum Frank yang longgar dalam masalah seks. Yang jelas, ke-

mudian, anekdot-anekdot dan lelucon-lelucon yang berlebihan

tentang kaum Frank dalam laporanJaporan Us6,mah yang telah

dianggap sebagai "kebenaran sejarah" oleh banyak ilmuwan harus

dilihat sebagai refleksi dari sikap dan prasangka bersama tenrang

kaum Frank yang telah tertanam dalam-dalam pada masa UsAmah

itu sendiri.

SIKAP KAUM MUSLIM TERHADAP KAUM FMNK SEBELUM

492 H.lt099 M.

Pembahasan-pembahasan sebelumnya mengarah pada sikap kaum

muslim yang telah terpatri terhadap kaum Frank. Sikap ini telah

dibentuk lama sebelum kedatangan Perang Salib Pertama. Ke-

sadaran t€ntang adanya sikap-sikap ini penting untuk memahami

penjelasan-penjelasan dan tema-tema yang ada  di dalam

tulisan-tulisan kaum muslim tentang kaum Frank pada abad kedua

belas dan ketiga belas di Timur Dekat. Dengan demikian, kita

bisa memahami batas-batas praduga kaum muslim tentang kaum

Frank dan mengetahui bahwa pemahaman yang benar-benar

mendalam mengenai sikap-sikap dan kepercayaan-kepercayaan

kaum Frank mungkin memang tidak terlalu banyak. Informasi

tentang sikap kaum muslim terhadap kaum Frank yang ber-

kembang sebelum tahun 1100 berguna agar kita dapat membuat

sebuah penilaian yang lebih tepat mengenai kesaksian Usimah,

khususnya, dan agar kita bisa membuat penilaian yang lebih akurat

mengenai tema-tema utama yang terus dibahas oleh para penulis

muslim periode Perang Salib berkaitan dengan kaum Frank. Seperti

yang akan segera kita lihat, ada kesepakatan tak tertulis antara

UsAmah dan para pembacanya saat  dengan sengaja ia menulis

tentang lelucon-lelucon yang menarik mengenai kaum Frank.

______________. I 327

UsAmah dengan tegas mengeksploitasi berbagai konsepsi awal dan

prasangka tentang kaum Frank, sesudah  mengetahui pembacanya

juga memiliki pandangan-pandangan ini dan akan menyukai kisah-

kisah yang menggambarkan tentang mereka. Usimah memulai

pembahasan tentang perilaku aneh dan kebiasaan-kebiasaan kaum

Frank dengan kata-kata indah yang khas:

Sungguh misterius karya-karya Sang Pencipta, pencipta segala

sesuatu! saat  seseorang tiba untuk menceritakan tentang kaum

Frank, tak ada yang bisa dilakukannya kecuali mengagungkan Allah

(Mahaagung Dia!) dan menyucikan-Nya, sebab  dia melihat mereka

(kaum Frank) bagaikan binatang (bahn'im) yang memiliki nilai-

nilai keberanian dan perjuangan, tiada yang lain; tepat seperri

binatang yang hanya memiliki nilai-nilai kekuatan dan pembawa

beban.38

Seperti yang telah kita lihat, penulis-penulis muslim Abad

Pertengahan lainnya menunjukkan prasangka-prasangka serupa.

sebab  itu, pada masa Perang Salib, banyak ada  kum-

pulan gambaran stereotip tentang kaum Frank, yang telah lama

tertanam dalam kesadaran kaum muslim, dan diulang-ulang kem-

bali dengan sedikit perubahan pada kosmografi, sejarah, dan genre-

genre sastra lainnya.3e Kaum Frank tidak mengenal perilaku-

perilaku yang beradab. Mereka punya kebiasaan yang jorok, tidak

punya moralitas seksual dan ikatan perkawinan yang benar, namun

berani dan tidak ragu-ragu dalam berperang.

Tirlisan-tulisan etnografi berbahasa fuab yang menjadi bagian

tak terpisahkan dari literatur adab, tulisan sekuler warga  urban

bagi kelompok elite yang berpengetahuan, telah membantu per-

kembangan pandangan yang jelas tentang identitas kebudayaan

yang bersifat umum. Di luar identitas ini ada  sebentuk

"barbarisme" dalam berbagai wujudnya. Ikatan internal semacam

itu didorong oleh rasa eksklusivitas kaum muslim, "sesudah  me-

nyatukan perbedaan-perbedaan mereka dari para orang luar".4o

Pertemanan yang lebih dekat dengan kaum Frank malah akan

memperbesar rasa eksklusivitas semacam itu dan bukannya meng-

ubah struktur kaku dari konsepsi awal dan prasangka-prasangka

serta opini-opini yang tidak jelas.

DUA KARAKTER KLISE KAUM FMNK: JOROK DAN BEBAS

DAIAM SOAL SEKS

Kita telah melihat bagaimana sikap jorok orang-orang Eropa utara

telah menjadi suatu hal yang klise bagi literatur etnografi muslim

jauh sebelum Perang Salib terjadi. Menarik untuk dipertim-

bangkan, sampai sejauh mana kehidupan di Timur Tengah mung-

kin mengubah sikap kaum Frank sendiri untuk hidup sehat dan

mandi, dan pandangan jelek kaum muslim terhadap mereka dalam

soal ini. Perbedaan iklim bisa berpengaruh pada lingkungan

aktivitas manusia, seperti juga pada kebiasaan-kebiasaan kaum

muslim, yang datang ke tempat-tempat pemandian umum secara

teratur dan yang menjadikan praktik penyucian sebagai bagian

tak terpisahkan dari ibadah agama keseharian mereka.

Mengenai perjalanannya melalui Tanah Suci, Ibn Jubayr

menceritakan 'tiadanya kebiasaan hidup bersih' pada kaum Frank.ar

Secara khusus, Ibn Jubayr mengeluarkan kecaman keras dalam

penjelasannya tentang kota Acre yang ditinggali oleh para Tentara

Salib: "Kota itu bau busuk dan kotor, penuh dengan sampah

dan kotoran".a2

Mengenai perjalanannya ke arah timur, Ibn Jubayr menyatakan

tidak terlalu ingin melakukan perjalanan dengan memakai 

kapal-kapal yang dikemudikan oleh pelaut-pelaut BGisten. Barang-

kali sebagai akibat dari pengalamannya dengan kaum Frank di

Timur Dekat dan penuturan-penuturan rekannya sesama muslim

selama ia tinggal di sana, Ibn Jubayr, bagaimanapun juga, merasa

senang dalam perjalanan pulangnya dari Acre saat  mengetahui

penumpang-penumpang muslim ditempatkan terpisah dari kaum

Frank. Ibn Jubayr berharap dan berdoa agar dua ribu jamaah

Kristen yang ada di kapal itu akan segera pergi.a3 Kedar me-

ngatakan bahwa sikap Ibn Jubayr terhadap Tentara Salib di

kawasan Mediterania timur lebih keras dibandingkan dengan

sikapnya terhadap umat Kristen Sisilia.aa

Kesaksian Usimah kelihatannya menunjukkan bahwa beberapa

orang dari kaum Frank, khususnya kelas-kelas ksatria, secara teratur

mulai mendatangi tempat pemandian umum sesudah  mereka tinggal

di Timur Dekat. Namun, perilaku mereka di tempat pemandian

umum memberikan kesempatan yang sangat bagus bagi UsAmah

untuk mengejek mereka. Laporan Usimah yang terkenal mengenai

kunjungan ke sebuah tempat pemandian berulang kali dikutip di

dalam buku-buku tentang Perang Salib. Kisah ini  dimulai

lewat mulut seorang pelayan bernama Salim dari kota Ma'arrat

al-Nu'mAn yang saat itu bekerja di salah satu tempat pemandian

milik ayah Usimah:

Saya membuka sebuah tempat pemandian di al-Ma arrat untuk

nafkah saya. Suatu hari datang seorang ksatria kaum Frank ke

tempat pemandian itu. BGatria kaum Frank itu tidak suka jika

seseorang memasang penutup yang mengelilingi pinggang saat

berada di pemandian. Maka ksatria kaum Frank itu mengulurkan

tangannya dan menarik lepas penutup yang ada di pinggang saya

dan melemparkannya jauh-jauh. Dia menatap saya dan melihat

bahwa saya baru saja mencukur bulu kemaluan saya. Kemudian

dia berseru, "Salim!" saat  saya mendekatinya dia mengulurkan

tangannya untuk menyentuh bulu kemaluan saya dan berkata,

"Salim, bagus! Demi kebenaran agamaku, lakukan hal yang sama

padaku." Usai berkata, dia bersandar dan saya melihat rambut

kemaluannya sama seperti janggutnya. Saya kemudian mencukurnya.

Lalu dia meraba bagian ini . Begitu mengetahui bahwa bagian

itu telah bersih, dia berkata, "Salim, demi kebenaran agamaku,

lakukan juga pada nyonya (al-dama)" (al-dama dalam bahasa mereka


berarti nyonya), merujuk pada istrinya. IGatria itu kemudian berkata

kepada pelayannya, "Beritahu nyonya agar datang ke sini". Pelayan

itu kemudian pergi. Kemudian si pelayan itu datang dengan si

nyonya dan membawanya masuk ke dalam pemandian. Si nyonya

juga berbaring. IGatria itu mengulangi, "Lakukan seperti yang telah

kau lakukan padaku." Maka saya kemudian mencukur semua

rambut kemaluannya sementara suaminya duduk sambil memerhati-

kan. Akhirnya dia mengucapkan terima kasih dan membayar

pelayanan yang telah saya berikan.

Sekarang, coba perhatikan hal yang tak masuk akal ini! Mereka

tidak memiliki rasa cemburu ataupun semangat, namun mereka

sangat berani, meski keberanian tidak lain hanya hasil dari semangat

dan ambisi untuk bebas dari rasa malu.at


Anekdot tentang kaum Frank ini semakin menebalkan persePsi

kaum muslim tentang stereotip kaum Frank, yaitu kasar, tak

beradab, dan tidak menaruh rasa hormat pada kaum wanita

mereka. IGatria Salib yang tidak diketahui itu menyatakan dengan

rela dan antusias bahwa istrinya sendiri akan bertelanjang di

tempat pemandian umum di depan si pelayan pemandian itu

yang kemudian mencukur rambut kemaluannya. Semua keterangan

kisah ini dipilih dengan teliti untuk merendahkan kaum Frank'

Tindak-tanduk ksatria kaum Frank dengan jelas tidak memiliki

kepatutan dan etiket dari sejak mula dia masuk ke tempat

pemandian itu. Dan Usamah memanfaatkan sebaik-baiknya potensi

lucu dalam situasi ini . Kisah itu menuturkan kepada kita


bahwa untuk menyesuaikan dengan adat Islam, ksatria kaum Frank

itu tidak mengenakan cawat biasa (dari handuk rajut) yang

menutupi sekeliling pinggangnya. Dengan demikian dia me-

nunjukkan bagian-bagian pribadinya untuk dilihat semua orang

pada saat dia tiba. Selanjutnya dia melucuti cawat si penjaga

pemandian dan tampak sangar terkagum-kagum pada rambur

kemaluan Salim yang tercukur rapi, sementara rambut kemaluan-

nya sama panjangnya dengan janggutnya.

UsAmah kemudian melanjutkan ceritanya ke dalam suasana

yang lebih jenaka dengan cerita istri si ksatria yang dibawa ke

tempat pemandian itu untuk kemudian dicukur juga di depan

umum, sementara suaminya menyaksikan dengan tenang. Kisah

ini menunjukkan perbedaan mendasar yang dirasakan kaum muslim

antara kalangan mereka sendiri dan kaum Frank. Di dalam

warga  yang kaum prianya melindungi kaum wanita, dan

yang kaum wanitanya dilarang memperlihatkan wajah mereka

tanpa tutup kecuali kepada beberapa  kerabat pria tertentu, ke-

lakuan ksatria Salib ini  dengan istrinya, seperri digambarkan

dalam anekdot yang berisi petuah moral ini, memperlihatkan

titik kesalahan kebejatan kaum Frank dan tidak adanya rasa


cemburu yang memang "pantas" serta memPerkuat nilai-nilai

warga  muslim.

Segi yang semakin memperburuk dalam kisah ini yaitu 

kehadiran seorang wanita di pemandian yang jelas-jelas sedang

digunakan oleh para pria. Sudah menjadi adat dalam Islam, pada

saat-saat atau hari-hari tertentu setiap temPat pemandian hanya

dibuka khusus untuk kaum pria atau wanita. Di sini, ksatria

Salib ini  juga kemudian melakukan kesalahan besar, yang

telah melecehkan adat kaum muslim, dan kelakuannya itu meng-

gelikan sekaligus mengejutkan. Para Pembaca karya UsAmah ter-

sebut pasti tersenyum membaca contoh kebodohan perilaku ksatria

kaum Frank itu, yang ditambah lagi dengan usahanya untuk

meniru cara-cara umat Islam. Tokoh Tentara Salib dalam kisah


ini berasal dari golongan warga  kelas atas yang di akhir

kisah oleh usimah disebut memiliki sifat-sifat ksatria. Namun,

ternyata Tentara Salib itu tidak bisa bersikap dengan benar di

dalam temPat pemandian itu.

Sementara kaum muslim, sePerti praktik yang dilakukan

bangsa Romawi, datang ke pemandian dengan tujuan untuk

b.rs-"ntri sekaligus demi kesehatan, tidak ada petunjuk bahwa si

ksatria Salib ini  memiliki tujuan sePerti itu saat datang ke

pemandian itu. Usimah tidak menyebutkan fakta yang menarik

t"h*" kaum Frank mulai sering mengun.iungi tempat pemandian

sejak mereka tiba di kawasan Mediterania limu1-[6lkembangnya

cara hidup yang lebih sehat pada kaum Frank, y^ng berasal dari

belahan bumi zona keenam, kemungkinan sebab  mereka tinggal

di iklim yang lebih menyenangkan, dan di situ kebiasaan-kebiasaan

beradab ter.iadi secara alamiah. Seperti dikatakan Usimah pada

kesempatan lain:

Di antara kaum Frank, ada beberaPa orang yang telah menye-

suaikan diri dan telah lama berhubungan dengan kaum muslim.

Mereka-mereka ini jauh lebih baik daripada pendatang-pendatang

baru dari wilayah-wilayah kaum Frank. Namun mereka yaitu 

perkecualian dan tidak bisa dijadikan patokan.a6

Yang mendasari pernyataan ini, barangkali, yaitu  asumsi

bahwa sekalipun temperamen (mizA) orang-orang dari satu iklim

ditentukan oleh letak posisi geografis mereka di dunia, keseim-

bangan karakterisdk di antara mereka bisa dipengaruhi bila mereka

pindah ke iklim yang lain. Dengan demikian tidaklah mengejutkan

bila kaum Frank yang telah berproses di lingkungan dunia Timur

akan "lebih baik" dibandingkan kaum Frank yang menetap di

Eropa utara, sebab  mereka telah menetap cukup lama di wilayah-

wilayah kaum muslim yang berada di iklim yang lebih me-

nyenangkan. Namun, dalam karya Usimah, penjelasan-penjelasan

yang meremehkan dan merendahkan mengenai kaum Frank jauh

lebih banyak dibandingkan dengan penjelasan-penjelasan yang

menyenangkan, dan pesan dari kisah di temPat pemandian ini 

yaitu  bahwa sekalipun kaum Frank mencoba meniru cara-cara

kehidupan warga  di kawasan Mediterania timur, perilaku

mereka seperti orang yang mengalami gegar budaya. Mereka tidak

mampu mengadaptasi dengan benar gaya hidup yang dipraktikkan

kaum muslim. Mereka benar-benar kotor.


PANDANGAN KAUM MUSLIM TENTANG KAUM FMNK:

DIMENSI RELIGIUS

sejauh ini, pembahasan dititikberarkan pada tradisi sekuler literatur

etnografi kaum muslim yang, dengan mengikuti tradisi ptolemeus,

menghasilkan pembagian umar manusia yang bersifar tetap, yang

didasarkan pada iklim geografi. Tiadisi seperri itu, seperti yang

telah kita lihat, telah membangkitkan pandangan klise mengenai

kaum Frank dari Eropa utara yang telah tertanam dalam-dalam.

Namun, peranan agama Islam dalam menetapkan kaum Frank

sebagai "yang lain" juga sangat signifikan, dan memperkuat jurang

pemisah antara kaum muslim dan para pendatang Kristen itu.

Komunitas lGisten dan kaum muslim tetap terpisah oleh sesuatu

yang sangat berbeda yang bukan hanya masalah geografi. Sebagian

merupakan soal rasa identitas masing-masing komunitas dan

sebagian lagi menyangkut tujuan. Kedua hal ini dinyatakan dalam

ungkapan-ungkapan keagamaan.

Buku ini sangat menekankan pada peran penting jihad pada

periode Perang Salib. Namun, ada dimensi-dimensi religius penting

lainnya pada peperangan anrara kaum muslim dan kaum Frank.

Sebuah analisis mengenai dimensi-dimensi ini memberikan wa-

wasan yang sangat menarik mengenai cara kaum muslim me-

mandang kaum Kristen Frank serta bagaimana kaum muslim

menetapkan dan mempertajam persepsi mereka sendiri berkaitan

dengan cara pandang itu.

PENCEMAMN TEMPAT.TEMPAI SUCI ISI-AM OLEH KAUM FMNK

yaitu  sukar untuk merekonstruksi perasaan kaum muslim umum-

nya atas kehadiran kaum Frank di wilayah yang telah lama

dimiliki Islam. Yang pasti, bagi kita semua yang tinggal di abad

kedua puluh yang modern dan sekuler ini, konsep-konsep seperri

tabu, kesucian dan pencemaran terlihat aneh dan primitif. Sulit

rasanya menceritakan tentang kepercayaan bahwa melanggar tabu

akan menyebabkan pengaruh buruk mematikan yang pasri akan

membangkitkan kemurkaan Tirhan. Konsep-konsep semacam iru

bisa ditemukan di banyak agama di dunia. Namun, buat orang-

orang yang tidak percaya dengan hal-hal seperti ini, mereka

membutuhkan perjuangan imajinasi yang sangar khusus untuk

memasuki dunia pemikiran khusus semacam ini. Upaya ini 

layak untuk dilakukan.

Pandangan-pandangan terhadap kesucian dan pencemaran ini,

selanjutnya, dijalani secara mendalam oleh orang-orang kuno dan

Abad Pertengahan. Seperti diungkapkan dengan sangat gamblang

oleh Mary Douglas: "Dari perspektif agama, pencemaran bukan

semata-mata simbol dari sesuatu, atau bahkan neraca yang diguna-

kan untuk menimbang kebajikan dan dosa, namun merupakan

kondisi dasar dari semua realitas."47 Gagasan Pencemaran ini 

bersifat ontologis: ketidakmurnian menunjukkan keterpisahan dari

Tuhan.a8 Hanya ritual-ritual yang diadakan untuk ketuhanan yang

akan melawannya.ae

Kesucian merupakan yang paling utama dalam ibadah Islam.

Maka tanpa kesucian ibadah tidak akan sah. Tindakan-tindakan

pembersihan yang dilakukan dengan benar dan lengkap oleh kaum

muslim sebelum menunaikan salat dan saat  menunaikan haii

bukan sekadar latihan nyata dalam kebersihan. Kegiatan itu

merupakan dimensi tak terpisahkan dari keimanan, yang me-

refleksikan kebenaran tak tampak yang berhubungan dengan

hubungan manusia dengan Tirhan. Hadis Rasulullah yang populer,

"Kebersihan yaitu  sebagian dari iman," menunjukkan peran

sentral konsep kebersihan dalam Islam. Kebersihan bukan hanya

persiapan dasar untuk ibadah, namun  juga bagian tak terpisahkan

dari ibadah itu sendiri. Alquran sendiri memerintahkan bahwa

orang yang akan menghadap Allah harus suci baik badan mauPun

pakaiannya: "Dan Tirhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersih-

kanlah (thuhr), dan perbuatan dosa (rujz) tinggalkanlah'"5o Ke-

sucian badan merupakan Prasyarat bagi kesucian pikiran. Se-

mentara Alquran memerintahkan kesucian kepada orang-orang

beriman, hadis memberikan penjelasan yang sangat lengkap dan

benar mengenai tata cara mencapai kesucian.

Islam juga membahas tentang najdslt (najis-sesuatu yang

pada dasarnya tak bersih) yang termasuk babi, anggur' dan kotoran

badan. Tidak mengejurkan bila "najis" ini menjadi dasar perasaan

anti-lGisten di kalangan umat Islam secara umum dan banyak

disebutkan di tulisan-tulisan rentang kaum Frank. Apa yang

diungkapkan oleh tulisan-tulisan tersebur, seperti yang akan kita

lihat, merupakan kebencian yang telah berakar mendalam terhadap

praktik-praktik Kristen dan juga larangan-larangan lainnya yang

bahkan lebih keras dan jelas.

Dikotomi antara halal dan haram, antara yang diizinkan dan

yang dilarang, merupakan hal yang sangat dasar dalam ibadah

Islam. Di dalam Islam, kata haram menunjuk pada semua per-

buatan yang tidak senonoh atau asusila dan dilarang, dan harim,

tempat khusus yang disediakan untuk wanita, hanya boleh di-

masuki oleh mahram, anggora keluarga pria dalam hubungan

yang telah ditetapkan dengan jelas dan pasti. Menurur Nasr:

"Kaum muslim hidup dalam suaru ruang yang telah ditentukan

oleh suara Alquran."5l

Namun, sekalipun pernyataan ini bersifat universal, ada tem-

pat-tempat perlindungan dan tempat-tempat suci terrentu yang,

seperti ditulis oleh Schimmel, "kelihatannya diberkati dengan

kekuatan berkah khusus dan yang kemudian berfungsi dalam

literatur sebagai simbol pengalaman manusia untuk 'pulang'.'s,

Tempat-tempat seperti itu rermasuk Kubah Batu dan Masjid Aqshi

di Yerusalem.

Perbuatan jahat bisa ditunjukkan dalam banyak bentuk-

pelakunya bisa dianggap sebagai pemerkosa, binatang predator,

setan, dan sebagainya. Semua gambaran ini diberikan kaum

muslim kepada kaum Frank-namun penting untuk ditegaskan

bahwa kaum muslim memandang kaum Frank terurama sebagai

pencemar. Tema yang diangkat para penulis muslim di Abad

Pertengahan mengenai pendudukan yang dilakukan kaum Frank

yaitu  pengotoran tempat suci, baik umum maupun pribadi,

meskipun penekanannya dikhususkan pada bangunan-bangunan

keagamaan, khususnya bangunan-bangunan yang ada di Yerusalem.

Para sejarawan'Abbasiyah yang menceritakan kegemilangan

kaum muslim dalam melakukan penaklukan pada abad ketujuh

menegaskan tentang kekotoran musuh. Al-Balidzuri, misalnya,

menjuluki bangsa Persia Sasania sebagai kaum yang "tidak disunat".

Kemudian, sejarawan-sejarawan Abad Pertengahan, seperti Ibn al-

Atsir, dalam tulisan-tulisan mereka tentang bangsa Mongol mem-

fokuskan pada perilaku mereka yang cenderung suka melahap

apa_ saja (terutama bangkai)-sekali lagi, sesuatu yang menegaskan

tentang kekotoran-dan pembantaian terhadap penduduk muslim

tanpa pandang bulu, termasuk wanita dan anak-anak, bahkan

pada janin yang masih dalam kandungan, stereotip yang telah

lama dialamatkan oleh sumber-sumber Islam terhadap "bangsa

barbar", seperti bangsa Tirrki nomaden dan Mongol.

Maka dalam gambaran kaum muslim tentang kaum Frank,

simbol-simbol pencemaran dan kotoran sangat banyak. Simbol-

simbol ini mencerminkan sumber-sumber perubahan keagamaan

yang drastis pada kaum muslim dengan tingkat psikologis yang

dalam, dan berkaitan dengan pendobrakan larangan-larangan dan

ketakutan sejak dulu bahwa mereka akan disiksa oleh Tuhan.

PANDANGAN TENTANG BANGUNAN.BANGUNAN KEAGAMMN

KAUM FMNK DI MLAYAH ISIAM

Gereja-gereja dan katedral-katedral yang dibangun selama pen-

dudukan kaum Frank pasti telah membangkitkan komentar dari

pihak kaum muslim yang sejak lama terbiasa dengan monumen-

monumen keagamaan lGisten Jimul-nxmun sebelumnya mereka

belum pernah melihat bangunan-bangunan sePerti katedral Gotik

di wilayah muslim. Selama berabad-abad, kota di Timur Dekat

telah berkembang dengan bentuk-bentuk tertentu yang terkenal,

yang ditandai dengan simbol-simbol Islam-terutama kehadiran

masjid dengan kubahnya. Sekarang ini, kadang terjadi Penentangan

emosional terhadap masjid-masjid yang ada di kota-kota Eropa

barat. Juga kritikan keras sebab  bangunan-bangunan itu dianggap

"mencemari pemandangan"' Begitu juga, namun lebih keras-

sebab  kaum Frank yaitu  agresor militer yang mencaplok wilayah-

wilayah Islam-kaum muslim Timur Dekat yang hidup di bawah

kekuasaan kaum Frank pasti membenci bangunan-bangunan ke-

agamaan baru milik orang kafir ini, yang dilengkapi dengan

inskripsi-inskripsi dalam tulisan asing, salib-salib, gambar-gambar

pada dinding dan pahatan-pahatan religius yang menghiasi bagian

dalamnya. Juga layak untuk dicatat bahwa Ibn al-Furat, dengan

mengutip sejarah karya Ibn Abi Thayyi' yrtg kini tak ada lagi,

membahas secara khusus tenrang "kejanggalari' agama kaum Frank,

sebuah gerela kaum Frank yang bisa dibawa-bawa yang direbut

sesudah  kegagalan kaum Frank menyerang Damasku s pada 523

H.lll29 M.: "di antara benda-bend^ yang mereka [kaum muslim]

rampas yaitu  gereja surera yang biasa dibawa raja Jerman di

dalam rombongannya. Gereja itu diangkut oleh 200 bagal."53

PENDUDUKAN MASJID AQSHA DAN KUBAH BATU OLEH

KAUM FMNK

Kubah Batu selalu dilihat sebagai simbol kegemilangan dan ke-

besaran agama Islam. Kaum muslim Abad Pertengahan sangar

terpesona oleh keindahannya. Seperti digambarkan oleh al-

Muqaddasi, yang melakukan perjalanan ke seluruh dunia muslim:

Kubah ini , meski sangat besar, dilapisi dengan tembaga

keemasan ... Bila terkena sinar matahari, kubah itu akan berkilau

dan bulatannya berkilau sangat indah... Saya belum pernah melihat

dalam agama Islam sesuatu yang bisa menandingi kubah ini. Saya

juga tidak pernah menemukan ada [sesuatu yang bisa dibandingkan]

di [negeri] orang-orang kafir.5a

Pencaplokan Masjid Aqshi dan Kubah Batu di Yerusalem

oleh kaum Frank di mata kaum muslim merupakan aksi pe-

ngotoran makam (gambar 5.23 dan foro warna l7). Membangun

monumen-monumen baru atas nama agama, pada saat penaklukan

militer dapat mengantarkan kepada pendudukan penuh atas suatu

wilayah, merupakan sebentuk pengulangan sejarah kuno dan Abad

Pertengahan dan selalu sangar menghinakan dan menjadi penga-

laman yang menyakitkan bagi warga  yang ditaklukkan. Pen-

caplokan monumen-monumen suci milik agama lain yang masih

digunakan sehari-hari, dan perubahannya, dengan menampilkan

simbol-simbol agama sendiri, bahkan merupakan penghinaan yang

jauh lebih besar. Pengambilalihan itu bahkan lebih merendahkan

dibandingkan dengan pendudukan militer itu sendiri-tindakan

itu merupakan suatu invasi dan pengotoran kesucian agama, yang

melanggar simbol-simbol monumental suci dari suatu agama. Tak

pelak lagi bahwa kaum Frank, yang masuk ke Yerusalem pada

492 H.ll099 M., sama-sama mengingat penghancuran besar-

besaran salah satu monumen suci mereha, Gereja Makam Suci,

pada 400/1009-1110, atas perintah Khalifah Fatimiyah al-Hikim.


Sungguh suatu anugerah yang sangat besar, sebab  kaum Frank

tidak bertindak lebih jauh dengan menghancurkan Kubah Batu

ataupun Masjid Aqshi sebagai balasan atas tindakan al-llAkim

itu. Meskipun tindakan semacam itu tidak akan pernah termaaf-

kan, pengotoran dan pendudukan monumen-monumen Islam oleh

orang-orang kafir, monumen kedua hanya sesudah  monumen di

Mekah dan Madinah yang dihormati oleh kaum muslim, pasti

sulit untuk diterima. Selama 88 tahun, di bagian kubah yang

berlapis emas pada Kubah Batu terpancanglah sebuah salib. Dan

monumen itu pun menjadi Tbmplum Domini. Masjid Aqshi

diduduki oleh para lGatria Kuil (gambar 5.24).

Monumen-monumen yang sangat dikenal dan dicintai di

Yerusalem ini mengalami banyak perubahan, strukrur maupun

tampilan. Di dalam Masjid Aqshi, para IGatria Kuil menambah

ruang-ruang besar, terutama di bagian depan masjid, dan mereka

merenovasi bagian depan masjid. Di Kubah Batu, kehadiran

lftisten ditunjukkan di bagian luar dengan sebuah salib di puncak-

nla, dan di bagian dalam dengan terali besi (foto 5.3) dan sebuah

altar yang dibangun di atas batu ini .

Kubah Batu, yang dibangun pada 72 H.l69l M. sebagai

lambang kemenangan keunggulan Islam atas agama-agama lain,

khususnya FGisten, menampilkan beberapa  inskripsi Alquran pilih-

an yang merendahkan doktrin Tiinitas dan Inkarnasi. Monoteisme


yang tak kenal kompromi dalam Islam ditegaskan lewat jalinan

inskripsi sepanjang 240 metet. Pesannya begitu jelas: "Tidak ada

tuhan selain Allah dan tidak ada yang setara dengan-Nya"'55

Ejekan atas monurnen besar di jantung Yerusalem ini dengan

sebuah salib di puncaknya tidak terhapuskan di benak kaum

muslim. Memang, menurunkan salib itu merupakan tujuan utama

operasi militer Saladin pada 583 H./1187 M.:

Sebuah salib emas besar berdiri di puncak Kubah Batu. saat 

kaum muslim memasuki kota itu pada hari Jumat, sekelompok

orang naik ke puncak kubah untuk menurunkan salib itu. saat 

mereka telah tiba di puncak kubah, semua orang berteriak bersama-

sama.56

'Imiduddin al-Ishfahini menceritakan

yang dilakukan kaum Frank pada Kubah

lengkap:

perubahan-perubahan

Batu dengan cukup

Mengenai Kubah Batu, kaum Frank telah membangun sebuah

gereja dan altar di sana ... Mereka menghiasinya dengan gambar-

gambar dan patung-patung dan mereka menjadikan bagian dalam-

nya sebagai rempar untuk para pendeta dan tempat untuk Kitab

Injil ... Di dalamnya, di atas tapak [Rasulullah] mereka memasang

sebuah kubah kecil bersepuh emas dengan tiang-tiang marmer dnggi

letaknya dan mereka mengarakan itu yaitu  tempat tapak Yesus...

Di dalamnya ada  gambar-gambar hewan tengah makan rumpur

yang dipahat di marmer dan di antara gambar-gambar ini 

saya melihat gambar-gambar babi.57

Sangat tidak mungkin 'ImAduddin melihat gambar babi di

dalam dekorasi lGisten di Kubah Batu. Mungkin pandangannya

yang cenderung berprasangka terlalu siap untuk menerjemahkan

domba-gambar yang umum ada  dalam ikonografi tentang

surga oleh kaum Kristen-sebagai babi. Ia rentu saja tidak mung-

kin dituntut oleh para pembacanya. Seperti juga pada lJsimah,

pembaca mencurigainya mempermainkan gambar. Tiik-trik ke-

susastraan yang sangat dibuat-buat, seperti aliterasi, rima, paralel-

isme, antitesis dan repetisi, yang sangat disukainya, menuju ke

arah yang sama.

Kubah Batu digambarkan tengah dilukai oleh kaum Frank:

Kaum Frank memotong bagian-bagian dari Batu dan membawa

bagian-bagian itu ke Konstantinopel dan sebagian lagi ke Sisilia.

Dikatakan bahwa mereka menjualnya sebab  batu itu mengandung

emas... Saat [Batu] ini  menjadi semakin kecil, tempatnya [pada

bagian yang dipotongl menjadi terlihat dan hati menjadi teriris

sebab  potongan itu kian tampak jelas.ts

Laporan saksi mata "sufi pengeland' 'Ali ibn Abi Bakr al-

Harawi (w. 611 H.ll2l5 M.)," yang mengunjungi Yerusalem

saat  kota itu masih dikuasai kaum Frank pada 569 H.ll173

M., sangat berharga. Dia memasuki Kubah Batu dan melihat "di


Sebuah penuturan yang ada  dalam memoar UsAmah

mencerirakan kaum Frank mengganrung sebuah lukisan Maria

dan putranya di Kubah Batu:

Saya melihat salah seorang kaum Frank datang kepada al-

Amir Mu'inuddin saat  beliau berada di Kubah Batu,6r dan berkata

padanya, "Maukah kamu melihat Allah saat kecil?" Mu'inuddin

menjawab, "Ya'. Kaum Frank itu berjalan di depan kami sampai

ia menunjukkan pada kami gambar Maria dengan Kristus (salam

sejahtera untuknya!) sebagai bayi yang tengah dalam dekapannya'

Kaum Frank itu kemudian berkata, "Ini dia Allah saat  kecil".


Tapi Allah itu jauh lebih agung dibandingkan dengan ap^ yang

dikatakan orang-orang kafir itu.62

Keterangan Usemah itu menunjukkan kebencian kaum muslim

yang telah berlangsung lama dan berakar terhadap konsep per-

sonifikasi dalam l(risten.

Pada saat kaum Frank kembali menduduki Yerusalem pada

abad ketiga belas, kaum muslim juga amat sangar marah saat

mereka melihat pertunjukkan kekufuran yang rerang-terangan.63

Penulis sejarah Ayyubiyah, Ibn \7Ashil, menceritakan situasi ter-

sebut secara langsung: "Saya memasuki Yerusalem dan saya melihat

para pendeta dan biarawan menguasai Batu Suci ... Saya melihat

di atas batu itu botol-botol anggur untuk upacara misa. Saya

memasuki Masjid Aqshi dan di dalamnya rerganrung sebuah

lonceng."64 Ibn \TAshil selanjutnya merarap sebab  seruan untuk

beribadah di tempat suci itu (al-haram al-syartJ) dilakukan dengan

cara yang tidak benar.

ANCAMAN KAUM FMNK PADA JAMAAH HAJI DAN

KOTA.KOTA SUCI AMB, MEKAH DAN MADINAH

Melaksanakan haji sekali seumur hidup yaitu  salah satu dari

lima Rukun Islam. Bagi kebanyakan kaum muslim Abad Per-

tengahan, kesempatan untuk melaksanakan perintah 

^gama 

yar,g

sangat penting ini menuntut biaya yang sangat besar dan sangat

sulit. Selama berabad-abad, keamanan pada rute yang menuju

Hijaz terancam oleh serangan suku Badui. Mereka tidak segan-

segan merampas barang-barang dari karavan-karavan yang melewati

wilayah mereka. Namun, sejak kedatangan kaum Frank, ancaman

terhadap rute haji yang biasa dilalui semakin meningkat.

Benteng Karak yang terletak di sebelah timur Laut Mati

dibangun pada 1142. Bersama dengan Shawbak, pembangunan

benteng itu dimaksudkan untuk mengancam rute utama dari

Suriah ke Mesir dan terus ke Semenanjung Arabia. Salah satu

tempat berkumpul bagi para haji yaitu  Damaskus. Mereka yang

hendak melewati wilayah yang diawasi oleh benteng ini dan

benteng-benteng Tentara Salib lainnya di kawasan ini  harus

membuat perjanjian dengan kaum Frank. Kalau tidak, kaum

muslim yang berniat melaksanakan haji harus berjalan melalui

rute yang lebih jauh dan berbahaya. Pada 1180-an, Ibn Jubayr

menggambarkan benteng Karak demikian: "terletak membentang

di dua sisi jalan Hijaz dan menghalangi jalur darat kaum muslim".65

Sikap dan tindakan kejam Reynald dari Chatillon, penguasa

benteng Karak, harus dilihat dengan latar belakang ini. Pada 580

H./1184-1185 M., Reynald melanggar perjanjian dan menyerang

sebuah karavan yang penuh dengan muatan (gambar 5.26).

'Imiduddin menyatakan bahwa dia bersekutu dengan "gerombolan

yang berniat jahat" yang ditempatkan di rute perjalanan haji ke

Hijaz, yang menunjukkan bahwa Reynald telah bergabung dengan

beberapa suku Badui setempat.66 Sebelumnya, pada 578 H.lll92-

1183 M., Reyland melakukan penyerangan yang membuatnya


semakin jelek di seluruh dunia Islam. Ia telah merintangi Laur

Merah dengan kapal dan mengancam akan menyerang Kora-Kora

Suci (gambar 5.27).67 Dua insiden ini, yang terjadi di jantung

utama dunia Islam, dipandang sebagai kemarahan mengerikan

terhadap tempat suci umat Islam yang terhormat.6s

TANGGAPAN UMUM KAUM MUSLIM TERHADAP PENCEMAMN DAN

PENGOTOMN OLEH IGUM FRANK

Pandangan bahwa kaum Frank bukan hanya menyerbu namun-

yang jauh lebih buruk-mencemari wilayah kaum muslim telah

menyebar luas. Bukan semata-mata di bidang keagamaan: pan-

dangan itu bukan hanya muncul di lingkungan akademik-mereka

yang terlibat dalam tulisan polemis untuk membuktikan ke-

unggulan Islam dan Kristen. Namun itu telah menjadi keprihatin-

an semua kaum muslim yang di setiap segi kehidupan mereka

sehari-hari berusaha untuk memenuhi ritual kebersihan yang secara

ketat ditetapkan di dalam hukum Islam. Pandangan itu juga

dirasakan sangat mendalam, berbentuk ungkapan klise atau lelucon-

lelucon tentang "yang lairi', yang dibuat dengan lucu dan kasar.

Kita telah melihat penjelasan Ibn Jubayr tentang kora Acre,

kota para Tentara Salib, sebagai sebuah tempar berbau busuk

yang penuh kotoran dan sampah. Persepsi ini diperkuat dalam

sastra populer. The Tak of 'Umar ibn Numan dalam Alf Laylah

uta La/ah berisi kisah-kisah yang mengungkapkan persepsi ter-

sembunyi kaum muslim terhadap trGisten. Kisah ini , seperti

kisah-kisah lainnya dalam kumpulan cerita itu, kelihatannya meng-

gabungkan perjuangan kaum muslim melawan Bizantium pada

abad kesembilan dan kesepuluh dengan jihad melawan kaum

Frank pada abad kedua belas dan ketiga belas.

Saya ceritakan padamu sesuatu tentang pedupaan agung dari

kotoran uskup. saat  Uskup Agung lGisten di Konstantinapel

memberi isyarat, para pendeta segera mengumpulkannya dalam

sehelai sutera dan menjemurnya. Mereka kemudian mencampur-

kannya dengan minyak misik, damar dan kapur barus, dan, saat 

telah cukup kering, mereka membuatnya menjadi bubuk dan

memasukkannya ke dalam kotak-kotak kecil keemasan. Kotak-kotak

ini kemudian dikirimkan kepada semua raja dan gereja Kristen,

dan bubuk ini  digunakan sebagai pedupaan paling suci untuk

semua penyucian Kristen pada setiap kesempatan yang khidmat,

untuk memberkati mempelai wanita, untuk membuat wangi bayi,

dan untuk memberkati pendeta pada pentahbisan. sebab  kotoran

asli dari Uskup Agung itu hampir tidak mencukupi untuk 10

wilayah, sangat kurang untuk semua wilayah-wilayah Kristen, para

pendeta biasanya memalsukan bubuk ini  dengan mencampur-

kan bahan-bahan yang kurang suci ke dalamnya, kalau bisa dikata-

kan begitu, yaitu kotoran dari uskup yang lebih rendah tingkatan-

nya, bahkan kotoran-kotoran para pendeta itu sendiri. Penipuan

ini sulit diketahui. Orang-orang Yunani menjijikkan ini menghargai

bubuk ini  untuk kebaikan-kebaikan yang lain: mereka meng-

gunakannya sebagai obat sakit mata dan sebagai obat perut dan

usus. Namun, hanya para rala dan ratu dan orang-orang yang

sangat kaya yang mampu memperoleh pengobatan ini, sebab ,

lantaran persediaan bahannya yang sangat terbatas, bubuk seberat

satu dirham biasa dijual seharga seribu dinar emas. Harganya sangat

mahal memang.6e

Kisah ini  kemudian memusatkan fokusnya pada pe-

makaian Salib dan kotoran:

Pada pagi hari, Raja Afridun mengumpulkan para pimpinan

dan perwira pasukannya dan, sesudah  menyuruh mereka mencium

salib kayu yang besar, memberkati mereka dengan pedupaan yang

dijelaskan di atas. Pada kesempatan ini, keaslian bubuk itu pasti

tidak diragukan lagi sebab  baunya sangat tidak enak dan akan

membunuh semua gajah milik pasukan kaum muslim.

Dalam suatu pertempuran selanjutnya, tokoh utama trGisten,

Lfrka ibn Syamlirth, yang dengan nada ejekan digambarkan sebagai

orang dungu, kera dan salib di anrara katak dan ular, "telah

mencuri warna kulitnya dari malam dan nafasnya dari kakus.

Kerena itulah ia dijuluki sebagai Pedang l(ristus".70 Di sini kita

melihat penjelasan-penjelasan yang memang mengibur dan me-

nyenangkan buat para pemirsa umum yang berkumpul di sudut-

sudut jalan atau di perayaan-perayaan ralryat.

Penyakit dan kotoran idendk dengan kaum Frank: Baldwin

IV yang malang, raja Tentara Salib penderira kusta, tidak men-

dapat simpati dalam pidato al-Qadhi al-Fadhil yang menjulukinya

sebagai 'penjahat lepra, berbintik-bintik dan bermata biru"Tr-

selain beberapa julukan lainnya. 'ImAduddin juga menjuluki kaum

Frank sebagai "sekumpulan lalat',72 "belalang tanpa sayap",73 dan

"anjing buas yang melolong". Ibn al-Furit mencatat, bahwa dalam

suatu serangan terhadap kaum Frank pada 530 H.111,36 M. shihna

Aleppo membunuh "babi yang tak terhitung jumlahnyi'.74 Tidak

jelas, apakah pernyataannya ini dalam arti yang sebenarnya atau

hanya kiasan. Ibn Jubayr, sebaliknya, dengan tanpa ragu-ragu

menjuluki Agnes of Courtenay, ibu Baldwin IV sebagai "babi

bedna dengan julukan Ratu yang yaitu  ibu dari babi Penguasa

Ac1g" -25

Mengenai gere,ya tenda jinjing yan1 digunakan kaum Frank,

Usimah mengatakannya dengan pedas:

Patriark menancapkan sebuah renda besar yang digunakannya

sebagai gereja untuk tempat mereka beribadah. Pelayanan gereja

diberikan oleh seorang pelayan renta. Dia menutupi lantai gereja

itu dengan tanaman dan rumput, sehingga menimbulkan wabah

kutu.76

Ibn Jubayr sangat mencemaskan kebersihan ibadah kaum

muslim, terutama orang-orang yang agamanya bisa terkontaminasi

akibat kedekatan mereka dengan kaum Frank. "Tidak ada maaf

di mata Allah bagi kaum muslim yang tinggal di negeri kafir,

yang selamat saat  melewatinya, sementara jalan ke wilayah-

wilayah muslim terhampar jelx."77 Secara khusus, kaum muslim

itu akan menghadapi penderitaan dan teror sebab 

mendengar hal-hal yang menyusahkan hati berupa penghinaan

terhadapnya [Muhammad] y".g ingatannya telah disucikan Allah,

dan dera.jatnya telah Dia tinggikan; juga tidak ada kebersihan,


campuran antara babi-babi dan barang-barang terlarang lainnya yang

terlalu banyak untuk diceritakan atau disebutkan satu persatu.Ts

Dengan dibungkus humor jorok sebagaimana ada  dalam

Tale of 'fJmdr ibn Numan dan penuturan Ibn Jubayr, kebencian

mendalam kaum muslim atas Pencemaran kaum lkisten dilakukan.

Kebencian seperti itu pasti sangat dalam, khususnya berkaitan

dengan kehadiran Tentara Salib di wilayah muslim dan pen-

dudukan monumen-monumen keagamaan kaum muslim, seperti

Kubah Batu dan Masjid Aqshi oleh Tentara Salib. Monumen-

monumen ini, pada akhirnya, bukanlah bangunan-bangunan ke-

agamaan biasa, namun merupakan Permata-Permata di mahkota

Yerusalem, yang merupakan kota suci ketiga dan kiblat Pertama

Islam. Lelucon-lelucon menyerang yang jorok mengenai bajak laut

Tentara Salib yang fanatik, yakni Reynald dari chatillon di Laut

Merah, saat  secara terang-terangan ia mengancam dua kota suci

Mekah dan Madinah, mungkin telah mengirimkan gelombang

guncangan yang sangat kuat ke seluruh dunia muslim sebab 

kesucian Kakbah itu sendiri terancam.

Kaum muslim sejak lama telah terbiasa melihat kaum lGisteir

Timur menjalankan agama mereka di Timur Dekat dan me-

nyaksikan bahwa mereka tidak mengikud persyararan-persyararan

kesucian seperti dalam ajaran Islam. Namun kaum Frank telah

melanggar ruang suci Islam. Penduduk muslim di Suriah dan

Palestina juga sudah sangat terbiasa dengan kerusakan yang di-

sebabkan oleh serangan-serangan bangsa asing-bangsa Tirrki,

Bizantium, dan Persia. Namun, reaksi mereka terhadap pendatang_

pendatang baru, Tentara Salib, yang menghiasi Kubah Batu dengan

salib-salib dan patung-patung, dan terhadap para Ksatria Kuil

yang mendiami Masjid Aqshi, pastilah penuh dengan kebencian.

BUKTI-BUKTI PUISI KAUM MUSLIM DI MASA ITU

Puisi, dalam banyak hal, yang menjadi prestasi kesusasreraan Arab

klasik dan dikenal di tanah-tanah Arab akan kekuatannya untuk

menggerakkan hati pendengarnya, merupakan alat yang sangar

berpengaruh pada periode Perang Salib. Puisi di masa itu penuh

dengan lambang kotoran dan kesucian. Serangan brutal kaum

Frank pada Perang Salib Pertama menjadi fokus utama bagi tema-

tema ini. Seorang penyair tak dikenal pada masa itu menuliskan

kata-kata yang mengharukan ini:

Orang-orang kafir yang tak beriman telah menyatakan boleh

mengganggu Islam,

Yang menyebabkan rarapan berkepanjangan bagi agama itu.

Apa yang benar menjadi tak bernilai dan hampa dan yang dilarang

(kini) menjadi sah.

Pedang terhunus dan darah tumpah.

Sungguh banyak pria muslim telah menjadi barang rampasan (salib)

Dan berapa banyak kesucian wanira muslim yang telah dirampas

(salib)?

Sungguh banyak masjid telah menjelma menjadi gerej