Tentu saja, bahwa pahlawan-pahlawan muslim ini me-
miliki kehidupan alam baka yang menyenangkan dalam bayangan
warga umum.
Kisah tentang Perang Salib memang tersembunyi dalam ba-
yang-bayang beberapa literatur umum dari Abad Pertengahan ini.
lftonologi, seperti disebutkan di atas, memiliki sedikit atau tidak
memiliki arti penting dalam rangkaian peristiwa seperti diungkap-
kan dalam epik-epik rakyat-seseorang mungkin dibunuh di satu
bagian cerita tertentu, tapi kemudian ia muncul dan hidup
kembali di bagian lain kisah ini . Karakter-karakter dari abad
ketu.iuh hingga kesepuluh berdampingan dengan tokoh-tokoh yang
dengan jelas memiliki nama yang umum digunakan oleh kaum
Frank, seperti Bohemond. Sebuah kisah di dalam epik rakyat
populer berjudul Sirat Dzlt al-Himmah menceritakan raja kaum
Frank bernama Malis, putra dari Bulus (Paulus). Yesus datang
padanya dalam sebuah mimpi dan memerintahkannya untuk pergi
ke timur melalui Bizantium "untuk membebaskan [Gereja] Sampah
(al-Qumhmah) [yaitu Gereja Makam Suci] dan Yerusalem dari
tangan kaum muslim".r6 Sementara beberapa segi berkaitan dengan
memori sejarah dapat dilihat dalam kisah ini, kisah ini
menunjukkan bentuk sebuah legenda Islam, sebab Malis, sesudah
menyeru semua negara kaum Frank dan mengumpulkan pasukan
secara besar-besaran, melewati Konstantinopel dalam perjalanannya
ke Suriah dan dia dikalahkan serta dibunuh oleh pahlawan wanita
epik ini , Dzat al-Himmah, "ibu para pejuang agama dan
pembela agama Muhammad". Selanjutnya, Dzit al-Himmah dipuji
sebab telah menyelamatkan Yerusalem dari ancaman orang kafir.
Dia sama sekali bukan satu-satunya contoh ksatria wanita legen-
daris dalam tradisi warga muslim yang menunjukkan prestasi
mengagumkan.rT
Seperti halnya dalam opera sabun modern, orang-orang dalam
epik-epik populer Islam bisa dibangkitkan di dalam cerita tanpa
perlu justifikasi. sebab itu, sulit untuk menilai bahan sePerti itu
dalam terminologi sejarah. Namun yang jelas, literatur ini me-
rupakan sumber yang luas dan belum tergali yang menuturkan
perilaku, kepercayaan, dan kisah-kisah populer yang membantu
menciptakan stereotip kaum muslim tentang kaum Frank. Referensi
khusus tentang bahan ini akan ditunjukkan sesekali dalam uraian-
uraian selanjutnya di bab ini.
STEREOTIP KAUM MUSLIM TERHADAP KAUM FRANK:
GAMBAMN SEBELUM PEMNG SALIB
Eropa barat tidak terlalu menarik bagi kaum muslim Abad
Pertengahan. Dari perspektif mereka, budaya mereka sendiri jelas-
jelas lebih maju dan unggul. Kaum muslim Abad Pertengahan
merasa unggul dan merendahkan kaum Kristen. Bagi mereka,
tidak terbantahkan lagi bila Kristen, wahyu yang belum lengkap
dan tidak sempurna' telah digantikan dan disempurnakan oleh
Islam, \{ahyu terakhir, dan Nabi Muhammad yaitu PenutuP
para nabi. Keyakinan yang sangat tinggi dalam nilai-nilai yang
berdasarkan pada \7ahyu ini tidak mendorong keingintahuan
intelektual pada para penganut agama lain yang diyakini tidak
lengkap atau salah. Kaum muslim tidak terlalu tertarik pada
lftisten, baik itu lGisten Latin dari bangsa barbar Eropa barat,
Kristen Timur dari musuh besar dan tetangga mereka, Bizantium,
atau komunitas Kristen Timur yang telah tinggal di bawah ke-
kuasaan kaum muslim sejak berbagai penaklukan oleh bangsa
fuab pada abad ketujuh. Kaum .muslim sedikit saja tahu dan
kurang peduli tenrang Eropa. Bangsa ini tidak banyak memenga-
ruhi pandangan dunia mereka. Mereka tahu sedikit rentang Fkisten
dari komunitas kaum Kristen di Timur Tengah. Namun, bahkan
pada kelompok-kelompok yang dekat ini, mereka hanya sedikit
menaruh perhatian.
Sebelum kedatangan Perang Salib Pertama di akhir abad
kesebelas, kaum muslim telah mendengar rentang kaum Frank
dan telah membentuk opini tentang mereka. Opini-opini ini
bersumber dari laporan-laporan perjalanan,rs keterangan-keterangan
dari para tawanan perang,re jamaah-jamaah haji, para pedagang
dan diplomat, karya-karya Beografis dan kisah-kisah PoPuler.
Opini-opini ini semakin dipertajam oleh kecenderungan alami
dari orang-orang yang berasal dari satu ras atau agama untuk
membentuk gambaran klise tentang "yang lain".
Banyak persepsi kaum muslim paling awal tentang geografi
Eropa barat dan penduduknya bersumber pada tulisan ilmuwan
Yunani abad kedua dari Aleksandria, Ptolemeus, yang hadir dalam
dunia Islam lewat karya ilmuwan muslim abad kesepuluh, al-
Khawirazmi, dan ilmuwan-ilmuwan lainnya. Memang, warisan
Ptolemeus tetap utuh selama beberapa abad sejarah Islam, dengan
sedikit tambahan gagasan-gagasan baru dari pengarang-Pengarang
muslim.
sebab itu, ahli-ahli ilmu bumi dari kalangan kaum muslim
Abad Pertengahan membagi dunia ke dalam tujuh zona garis
lintang atau "iklini'. Posisi sebuah ras yang telah ditetapkan pada
iklim tertentu berpengaruh terhadap karakteristik-karakteristik
tertentu yang mereka miliki. Keserasian dan keseimbangan terbesar
di iklim keenam. Seperti juga bangsa Slavia dan Tirrki yang sama-
sama mendiami zona ini, kaum Frank melanjutkan seni berperang
dan berburu, yang merupakan temperamen melankolis dan cen-
derung kejam. Mereka juga kotor dan licik.
Penulis Abbasiyah terkemuka, al-Mas'0di (w. 345 H.1956
M.) memiliki pandangan yang sangat luas dalam konteks Islam.
Dalam dua karyanya al-Mas'fidi memuat daftar raja-raja kaum
Frank mulai dari Clovis hingga Louis IV.20 Daftar ini, menurut
pengakuannya sendiri, bersumber pada sebuah buku yang ditulis
pada 328 H.1939 M. oleh seorang uskup kaum Frank untuk
penguasa masa depan Spanyol Bani Umayyah, al-Ilakam. Menurut
al-Mas'0di, kaum Frank merupakan keturunan dari Yafet (putra
Nuh). Mereka itu "banyak jumlahnya, berani, teratur dengan baik,
dan sangat disiplin, dengan kerajaan yang luas dan menyatu".2'
Al-Mas'Crdi melanjutkan penjelasannya tentang wilayah kaum
Frank sebagai berikut:
Mengenai orang-orang dari kuadran utara, bagi mereka mata-
hari jauh dari zenit, orang-orang yang menyebar ke lJtara, seperti
orang-orang Slavia, kaum Frank dan bangsa-bangsa tetangga mereka.
Cahaya matahari bersinar lemah di antara mereka sebab mereka
jauh darinya: dingin dan lembab senantiasa menyelimuti wilayah-
wilayah mereka. Salju dan es saling mengikuti tiada hend. Humor
yang hangat tidak ada di antara mereka. Tirbuh mereka besar-
besar, sifat mereka kasar, kelakuan mereka buruk, pemahaman
mereka lemah dan lidah mereka berat. Kulit mereka sangat putih
sehingga kulit mereka berubah dari putih menjadi biru' Kulit
mereka tipis dan daging mereka tebal. Mata mereka juga biru,
sesuai dengan bentuk warna mereka. Rambut mereka tipis dan
kemerah-merahan sebab kabut lembab yang tiada henti. sebab
sifat mereka yang dingin dan tidak adanya kehangatan, mereka
tidak memiliki kepercayaan agama yang kuat.22
Laporan di atas menegaskan iklim yang sangat dingin dan
lembab di wilayah asal kaum Frank yaitu karakteristik iklim
inilah yang membuat para penduduknya tumpul pemahamannya,
kasar sikapnya, lamban sebab tubuhnya tinggi, dan kasar perilaku-
nya. Kualitas-kualitas negatif ini menjadi berakar di dalam pikiran
kaum muslim berkaitan dengan kaum Frank. Pandangan semacam
ini sebenarnya muncul kembali, misalnya, dalam karya mengenai
golongan bangsa-bangsa, yang dirulis pada 1068 oleh seorang
hakim muslim di Toledo, Sa'id ibn Ahmad. Dalam karya itu, dia
menjelaskan tentang kaum barbar yang tinggal di utara (yaitu,
Eropa) sebagai lebih mirip dengan binatang buas daripada ma-
nusia. Dan dia melanjutkan penjelasannya dalam keterangan
berikutnya: "sebab itu, temperamen mereka kaku, humor mereka
kasar, perut mereka besar, warna mereka pucat, rambut mereka
panjang dan lemah. sebab itu, mereka tidak memiliki pemaham-
an dan kejernihan pikiran dan takluk pada kebodohan dan sikap
apatis, kurang cerdas, dan bodoh."23
Para penulis muslim Spanyol lainnya menggambarkan Eropa
barat sebagai wilayah yang luas, subur, dan dingin. Mereka sekali
lagi menegaskan bahwa kaum Frank yaitu perarung-perarung
yang berani namun tidak memiliki kebiasaan yang sehat.2a
Ilmuwan Belanda, Remke lGuk, baru-baru ini meneliti karya
Ibn Abi'l-Asy'ats, ahli fisika Persia yang tinggal di Mosul dan
wafat sekitar tahun 350 H.1970 M.25 Dalam Kithb al-Hayauthn
(Buku tentang Hewan), Ibn Abi'l-Asy'ats memberikan suryei
sistematis tentang makhluk hidup, termasuk manusia.26 Mengenai
orang-orang yang menetap di zona sulit di dunia itu, Ibn Abi'l-
Asy'ats menulis bahwa mereka tidak memiliki kebijaksanaan
Qihmah).2? sebab mereka hanya punya karakter seperti ini,
mereka menjadi seperti binatang dalam hal bahwa mereka hanya
memiliki karakteristik umum dam tidak memiliki kepribadian.2s
Ia dengan meyakinkan mengatakan bahwa para penduduk wilayah-
wilayah yang sangat dingin itu memotong rambut mereka setahun
sekali seperti yang dilakukan pada hewan.2e
PANDANGAN-PANDANGAN ABAD PERTENGAHAN TENTANG
KAUM FMNK DAIAM LITERAIUR KOSMOGMFIS DAN GEOGMFIS
Selama Perang Salib berlangsung, seorang penulis muslim, al-
Idrisi (wafat sekitar 560 H.ll165 M.), yang hidup di bawah
penguasa lkisten Norman di Sisilia, menyusun sebuah karya
geografi yang dikenal dengan judulnya yang pendek, Booh of
Rager pada 1154. Dalam menyusun karyanya ini, al-Idrisi meng-
andalkan sumber-sumber Eropa barat serta penulis-penulis geografi
terdahulu pada umumnya. Dia juga memiliki pandangan yang
sangat luas dan informasi yang beragam.
Penjelasannya tentang Prancis yang berada di zona keenam
cukup tepat dalam hal keterangan tentang nama-nama tempat
dan jarak. Namun, penjelasannya itu mengekalkan citra kegelapan
yang mengitari wilayah-wilayah utara dunia. Saat membicarakan
tentang Laut Kegelapan, al-Idrisi menulis: "Perairan laut ini sangat
dalam dan gelap. Gelombang-gelombang naik secara menakutkan:
kedalamannya luar biasa. Kegelapan selalu ada di sana."3o
Inggris di zona ketujuh memiliki keadaan yang sedikit lebih
baik Inggris digambarkan sebagai sebuah pulau besar berbentuk
seperti kepala burung unta: "Penduduknya berani, kuat dan giat,
namun di sana musim dingin berlangsung sepanjang tahun."3'
Sebuah sumber penting tentang pandangan kaum muslim
terhadap kaum Frank yaitu karya ahli ilmu falak dan ilmu
bumi, al-Qazwini (w. 682 H.ll283 M.) (bandingkan, foto warna
6). Dalam karya ilmu buminya yang berjudul Atsir al-Bilhd wa
Akhbhr al-'Ibhd (Jejak Negeri-Negeri dan Sejarah Para Penduduk-
nya), al-Qazwini banyak meminjam sumber-sumber sebelumnya.32
Memang, karya al-Qazwini ini jauh untuk disebut sebagai salah
satu karya yang orisinal. Namun karya ini merupakan kompilasi
yang sangat lengkap dan merupakan sintesis dari pengetahuan
yang telah ada. Ia menceritakan, misalnya, tentang geografi al-
'udzri, karya-karya al-Mas'0di, serta laporan Ibn FadhlAn tentang
perjalanannya ke Rusia selatan pada 920-an. Selanjutnya, dengan
bersumber pada kumpulan "informasi" itu, al-Qazwini memberikan
uraian tentang Eropa barat sebagaimana yang telah dikenal di
dunia Islam selama berabad-abad. Ada sedikit yang baru dalam
keterangannya tentang kaum Frank dan laporannya-yang me-
rupakan perpaduan biasa dari segi eksotis, yang nyata dan yang
imajiner-dimaksudkan, seperti halnya karya-karya literatur me-
ngagumkan ('ajA'ib) lainnya, untuk merangsang dan menghibur
pembacanya. Al-Qazwini menggambarkan kaum Frank dan negeri-
nya sebagai berikut:
lVilayah kaum Frank, wilayah yang luas dan kerajaan yang
besar dalam wilayah umar Kristen. Udaranya sangat dingin, dan
berkabut sebab sangar dingin. Vilayah itu penuh dengan hal-hal
baik, buah-buahan dan panenan, kaya dengan sungai-sungai, hasil
bumi melimpah, memiliki pertanian dan peternakan, pohon-pohon
dan madu. Di sana sangar banyak binatang buruan dan juga
tambang-tambang perak. Mereka membuat pedang yang sangar
tajam di sana, dan pedang-pedang dari wilayah kaum Frank lebih
tajam dibanding pedang-pedang India.
Penduduknya beragama Kristen. Mereka memiliki raja yang
berani, besar, dan punya kekuasaan untuk memerintah. Dia me-
miliki dua arau tiga kota di pesisir di sisi ini, di tengah-tengah
wilayah-wilayah Islam, dan dia melindungi wilayah itu dari sisinya.
saat umat Islam mengirim pasukan untuk merebutnya, dia
mengirimkan pasukannya untuk mempertahankannya. prajurit-
prajuritnya sangat berani, dan dalam pertempuran bahkan tidak
berpikir untuk melarikan diri, malah lebih menghendaki kematian.
Namun, Anda tidak melihat seorang pun yang lebih jorok dari
mereka. Mereka orang-orang dengan karakter tidak jujur dan
dengki. Mereka tidak mandi dan hanya membersihkan badan tidak
lebih dari saru atau dua kali dalam setahun, dan kemudian dalam
air dingin. Dan mereka tidak mencuci baju-baju mereka dari
pertama kali mereka pakai sampai baju itu hancur. Mereka men-
cukur janggut mereka, dan sesudah mencukurnya, mereka me-
numbuhkan pangkal janggut yang menjijikkan. Salah seorang dari
mereka ditanya tenrang mencukur janggut, dan dia mengatakan.
"Rambut jumlahnya sangar banyak. Anda membersihkannya dari
bagian-bagian pribadi Anda. Jadi mengapa kami harus meninggal-
kannya di wajah kami?"33
Di sini ditegaskan tentang iklim di wilayah kaum Frank yang
sangat dingin. Namun, hanya ada sedikit informasi konkret dan
tidak ada keterangan pelengkap yang. mungkin telah menyebar
melalui pengarang ini dalam bentuk yang jelas yang diperoleh
tentang kaum Frank selama kehadiran mereka di wilayah kaum
muslim selama dua abad. Namun, penring untuk ditegaskan bahwa
al-Qazwini sekali lagi menceritakan tenrang moral rendah dan
gaya hidup tidak sehat dari setiap pasukan kaum Frank. Seperti
yang telah kita lihat, karakteristik ini tak lepas dari posisi geografis
mereka di dunia. Seperti pada laporan sebelumnya, kaum Frank
dipuji atas keberanian mereka dalam medan perang.
Ahli ilmu bumi muslim, al-Dimisyqi (w. 727 H.11327 M.),
juga membahas tentang kaum Frank dalam kompilasi ilmiahnya
yang berjudul Nukhbat al-Dahr fi AjA'ib al-Ban wa'l-Bahr.3a Di
zona keenam ia menempatkan kaum Frank serta bangsa .Ttrrki
dan Khazar: "lZona) yang keenam yaitu yang paling dingin,
membosankan, jauh dari matahari, dan sangar berkabut." Dalam
pandangannya, kaum Frank itu putih dan seperti binatang buas.
Mereka tidak peduli dengan yang lain kecuali perang, bertempur,
dan berburu.3s
GAMBAMN TENTANG KAUM FMNK DAI.AM LITERAIUR
MKYAI POPULER
Di samping gambaran yang ddak jelas dan klise tentang kaum
Frank dan wilayahnya yang bertahan sepanjang abad-abad awal
Islam dalam genre "literatur tinggi" seperti rulisan-tulisan sejarah,
karya-karya ilmu falak, dan berbagai tulisan-tulisan ilmu bumi,
ada dimensi lebih jauh yang patut dipertimbangkan: gambaran
tentang kaum Frank dalam literatur ralcyat populer seperti telah
disebutkan di atas.
Seperti ditunjukkan oleh Lyons, Kruk, dan penulis-penulis
lainnya belakangan ini, kisah-kisah populer juga mengenal wilayah-
wilayah dunia di luar Bizantium, kerajaan-kerajaan dan pulau-
pulau yang ditempati oleh "kaum Frank". Lyons menggambarkan
kaum Frank sebagai "siluet" di horizon sejarah dari literatur jenis
ini.36 Mereka "orang-orang yang sangat besar dengan janggut
tercukur rapi"; "mereka membawa tombak atau lembing yang
terbuat dari baja yang keras dengan kepala besar; para pemanah
mereka tidak pernah meleset, dan senjata mereka mengoyak baju
pelindung. Di dalam pasukan mereka, para pengendara, kuda
dan baju baja, membentuk satu kesatuan".37 Gambaran-gambaran
semacam itu mencerminkan sikap-sikap budaya selama berabad-
abad, namun sering kali terlalu samar-samar untuk dinilai sebagai
bukti-bukti sejarah yang tepat, meskipun di sini kita lagi-lagi
bisa melihat penekanan yang jelas pada keahlian militer kaum
Frank, yang ditegaskan sejak awal masa al-Mas'fidi, serta Pen-
jelasan-penjelasan tentang ukuran tubuh mereka dan rambut
mereka yang tidak terurus.
Literatur populer semacam itu merupakan sumber yang luas
dan sebagian besar belum digali menyangkut sikap-sikap, ke-
perceyaan, dan kisah-kisah populer yang membantu menciptakan
stereotip kaum muslim tentang kaum Frank. Karya-karya semacam
ini membantu menunjukkan perkembangan persepsi kaum muslim
tentang "musuh" dan bagian-bagian pokok persepsi ini -
gambaran tentang kaum Frank yang koror, penipu, dan tidak
memiliki ikatan perkawinan, dan gambaran tenrang wanita-wanita
kaum Frank yang longgar dalam masalah seks. Yang jelas, ke-
mudian, anekdot-anekdot dan lelucon-lelucon yang berlebihan
tentang kaum Frank dalam laporanJaporan Us6,mah yang telah
dianggap sebagai "kebenaran sejarah" oleh banyak ilmuwan harus
dilihat sebagai refleksi dari sikap dan prasangka bersama tenrang
kaum Frank yang telah tertanam dalam-dalam pada masa UsAmah
itu sendiri.
SIKAP KAUM MUSLIM TERHADAP KAUM FMNK SEBELUM
492 H.lt099 M.
Pembahasan-pembahasan sebelumnya mengarah pada sikap kaum
muslim yang telah terpatri terhadap kaum Frank. Sikap ini telah
dibentuk lama sebelum kedatangan Perang Salib Pertama. Ke-
sadaran t€ntang adanya sikap-sikap ini penting untuk memahami
penjelasan-penjelasan dan tema-tema yang ada di dalam
tulisan-tulisan kaum muslim tentang kaum Frank pada abad kedua
belas dan ketiga belas di Timur Dekat. Dengan demikian, kita
bisa memahami batas-batas praduga kaum muslim tentang kaum
Frank dan mengetahui bahwa pemahaman yang benar-benar
mendalam mengenai sikap-sikap dan kepercayaan-kepercayaan
kaum Frank mungkin memang tidak terlalu banyak. Informasi
tentang sikap kaum muslim terhadap kaum Frank yang ber-
kembang sebelum tahun 1100 berguna agar kita dapat membuat
sebuah penilaian yang lebih tepat mengenai kesaksian Usimah,
khususnya, dan agar kita bisa membuat penilaian yang lebih akurat
mengenai tema-tema utama yang terus dibahas oleh para penulis
muslim periode Perang Salib berkaitan dengan kaum Frank. Seperti
yang akan segera kita lihat, ada kesepakatan tak tertulis antara
UsAmah dan para pembacanya saat dengan sengaja ia menulis
tentang lelucon-lelucon yang menarik mengenai kaum Frank.
______________. I 327
UsAmah dengan tegas mengeksploitasi berbagai konsepsi awal dan
prasangka tentang kaum Frank, sesudah mengetahui pembacanya
juga memiliki pandangan-pandangan ini dan akan menyukai kisah-
kisah yang menggambarkan tentang mereka. Usimah memulai
pembahasan tentang perilaku aneh dan kebiasaan-kebiasaan kaum
Frank dengan kata-kata indah yang khas:
Sungguh misterius karya-karya Sang Pencipta, pencipta segala
sesuatu! saat seseorang tiba untuk menceritakan tentang kaum
Frank, tak ada yang bisa dilakukannya kecuali mengagungkan Allah
(Mahaagung Dia!) dan menyucikan-Nya, sebab dia melihat mereka
(kaum Frank) bagaikan binatang (bahn'im) yang memiliki nilai-
nilai keberanian dan perjuangan, tiada yang lain; tepat seperri
binatang yang hanya memiliki nilai-nilai kekuatan dan pembawa
beban.38
Seperti yang telah kita lihat, penulis-penulis muslim Abad
Pertengahan lainnya menunjukkan prasangka-prasangka serupa.
sebab itu, pada masa Perang Salib, banyak ada kum-
pulan gambaran stereotip tentang kaum Frank, yang telah lama
tertanam dalam kesadaran kaum muslim, dan diulang-ulang kem-
bali dengan sedikit perubahan pada kosmografi, sejarah, dan genre-
genre sastra lainnya.3e Kaum Frank tidak mengenal perilaku-
perilaku yang beradab. Mereka punya kebiasaan yang jorok, tidak
punya moralitas seksual dan ikatan perkawinan yang benar, namun
berani dan tidak ragu-ragu dalam berperang.
Tirlisan-tulisan etnografi berbahasa fuab yang menjadi bagian
tak terpisahkan dari literatur adab, tulisan sekuler warga urban
bagi kelompok elite yang berpengetahuan, telah membantu per-
kembangan pandangan yang jelas tentang identitas kebudayaan
yang bersifat umum. Di luar identitas ini ada sebentuk
"barbarisme" dalam berbagai wujudnya. Ikatan internal semacam
itu didorong oleh rasa eksklusivitas kaum muslim, "sesudah me-
nyatukan perbedaan-perbedaan mereka dari para orang luar".4o
Pertemanan yang lebih dekat dengan kaum Frank malah akan
memperbesar rasa eksklusivitas semacam itu dan bukannya meng-
ubah struktur kaku dari konsepsi awal dan prasangka-prasangka
serta opini-opini yang tidak jelas.
DUA KARAKTER KLISE KAUM FMNK: JOROK DAN BEBAS
DAIAM SOAL SEKS
Kita telah melihat bagaimana sikap jorok orang-orang Eropa utara
telah menjadi suatu hal yang klise bagi literatur etnografi muslim
jauh sebelum Perang Salib terjadi. Menarik untuk dipertim-
bangkan, sampai sejauh mana kehidupan di Timur Tengah mung-
kin mengubah sikap kaum Frank sendiri untuk hidup sehat dan
mandi, dan pandangan jelek kaum muslim terhadap mereka dalam
soal ini. Perbedaan iklim bisa berpengaruh pada lingkungan
aktivitas manusia, seperti juga pada kebiasaan-kebiasaan kaum
muslim, yang datang ke tempat-tempat pemandian umum secara
teratur dan yang menjadikan praktik penyucian sebagai bagian
tak terpisahkan dari ibadah agama keseharian mereka.
Mengenai perjalanannya melalui Tanah Suci, Ibn Jubayr
menceritakan 'tiadanya kebiasaan hidup bersih' pada kaum Frank.ar
Secara khusus, Ibn Jubayr mengeluarkan kecaman keras dalam
penjelasannya tentang kota Acre yang ditinggali oleh para Tentara
Salib: "Kota itu bau busuk dan kotor, penuh dengan sampah
dan kotoran".a2
Mengenai perjalanannya ke arah timur, Ibn Jubayr menyatakan
tidak terlalu ingin melakukan perjalanan dengan memakai
kapal-kapal yang dikemudikan oleh pelaut-pelaut BGisten. Barang-
kali sebagai akibat dari pengalamannya dengan kaum Frank di
Timur Dekat dan penuturan-penuturan rekannya sesama muslim
selama ia tinggal di sana, Ibn Jubayr, bagaimanapun juga, merasa
senang dalam perjalanan pulangnya dari Acre saat mengetahui
penumpang-penumpang muslim ditempatkan terpisah dari kaum
Frank. Ibn Jubayr berharap dan berdoa agar dua ribu jamaah
Kristen yang ada di kapal itu akan segera pergi.a3 Kedar me-
ngatakan bahwa sikap Ibn Jubayr terhadap Tentara Salib di
kawasan Mediterania timur lebih keras dibandingkan dengan
sikapnya terhadap umat Kristen Sisilia.aa
Kesaksian Usimah kelihatannya menunjukkan bahwa beberapa
orang dari kaum Frank, khususnya kelas-kelas ksatria, secara teratur
mulai mendatangi tempat pemandian umum sesudah mereka tinggal
di Timur Dekat. Namun, perilaku mereka di tempat pemandian
umum memberikan kesempatan yang sangat bagus bagi UsAmah
untuk mengejek mereka. Laporan Usimah yang terkenal mengenai
kunjungan ke sebuah tempat pemandian berulang kali dikutip di
dalam buku-buku tentang Perang Salib. Kisah ini dimulai
lewat mulut seorang pelayan bernama Salim dari kota Ma'arrat
al-Nu'mAn yang saat itu bekerja di salah satu tempat pemandian
milik ayah Usimah:
Saya membuka sebuah tempat pemandian di al-Ma arrat untuk
nafkah saya. Suatu hari datang seorang ksatria kaum Frank ke
tempat pemandian itu. BGatria kaum Frank itu tidak suka jika
seseorang memasang penutup yang mengelilingi pinggang saat
berada di pemandian. Maka ksatria kaum Frank itu mengulurkan
tangannya dan menarik lepas penutup yang ada di pinggang saya
dan melemparkannya jauh-jauh. Dia menatap saya dan melihat
bahwa saya baru saja mencukur bulu kemaluan saya. Kemudian
dia berseru, "Salim!" saat saya mendekatinya dia mengulurkan
tangannya untuk menyentuh bulu kemaluan saya dan berkata,
"Salim, bagus! Demi kebenaran agamaku, lakukan hal yang sama
padaku." Usai berkata, dia bersandar dan saya melihat rambut
kemaluannya sama seperti janggutnya. Saya kemudian mencukurnya.
Lalu dia meraba bagian ini . Begitu mengetahui bahwa bagian
itu telah bersih, dia berkata, "Salim, demi kebenaran agamaku,
lakukan juga pada nyonya (al-dama)" (al-dama dalam bahasa mereka
berarti nyonya), merujuk pada istrinya. IGatria itu kemudian berkata
kepada pelayannya, "Beritahu nyonya agar datang ke sini". Pelayan
itu kemudian pergi. Kemudian si pelayan itu datang dengan si
nyonya dan membawanya masuk ke dalam pemandian. Si nyonya
juga berbaring. IGatria itu mengulangi, "Lakukan seperti yang telah
kau lakukan padaku." Maka saya kemudian mencukur semua
rambut kemaluannya sementara suaminya duduk sambil memerhati-
kan. Akhirnya dia mengucapkan terima kasih dan membayar
pelayanan yang telah saya berikan.
Sekarang, coba perhatikan hal yang tak masuk akal ini! Mereka
tidak memiliki rasa cemburu ataupun semangat, namun mereka
sangat berani, meski keberanian tidak lain hanya hasil dari semangat
dan ambisi untuk bebas dari rasa malu.at
Anekdot tentang kaum Frank ini semakin menebalkan persePsi
kaum muslim tentang stereotip kaum Frank, yaitu kasar, tak
beradab, dan tidak menaruh rasa hormat pada kaum wanita
mereka. IGatria Salib yang tidak diketahui itu menyatakan dengan
rela dan antusias bahwa istrinya sendiri akan bertelanjang di
tempat pemandian umum di depan si pelayan pemandian itu
yang kemudian mencukur rambut kemaluannya. Semua keterangan
kisah ini dipilih dengan teliti untuk merendahkan kaum Frank'
Tindak-tanduk ksatria kaum Frank dengan jelas tidak memiliki
kepatutan dan etiket dari sejak mula dia masuk ke tempat
pemandian itu. Dan Usamah memanfaatkan sebaik-baiknya potensi
lucu dalam situasi ini . Kisah itu menuturkan kepada kita
bahwa untuk menyesuaikan dengan adat Islam, ksatria kaum Frank
itu tidak mengenakan cawat biasa (dari handuk rajut) yang
menutupi sekeliling pinggangnya. Dengan demikian dia me-
nunjukkan bagian-bagian pribadinya untuk dilihat semua orang
pada saat dia tiba. Selanjutnya dia melucuti cawat si penjaga
pemandian dan tampak sangar terkagum-kagum pada rambur
kemaluan Salim yang tercukur rapi, sementara rambut kemaluan-
nya sama panjangnya dengan janggutnya.
UsAmah kemudian melanjutkan ceritanya ke dalam suasana
yang lebih jenaka dengan cerita istri si ksatria yang dibawa ke
tempat pemandian itu untuk kemudian dicukur juga di depan
umum, sementara suaminya menyaksikan dengan tenang. Kisah
ini menunjukkan perbedaan mendasar yang dirasakan kaum muslim
antara kalangan mereka sendiri dan kaum Frank. Di dalam
warga yang kaum prianya melindungi kaum wanita, dan
yang kaum wanitanya dilarang memperlihatkan wajah mereka
tanpa tutup kecuali kepada beberapa kerabat pria tertentu, ke-
lakuan ksatria Salib ini dengan istrinya, seperri digambarkan
dalam anekdot yang berisi petuah moral ini, memperlihatkan
titik kesalahan kebejatan kaum Frank dan tidak adanya rasa
cemburu yang memang "pantas" serta memPerkuat nilai-nilai
warga muslim.
Segi yang semakin memperburuk dalam kisah ini yaitu
kehadiran seorang wanita di pemandian yang jelas-jelas sedang
digunakan oleh para pria. Sudah menjadi adat dalam Islam, pada
saat-saat atau hari-hari tertentu setiap temPat pemandian hanya
dibuka khusus untuk kaum pria atau wanita. Di sini, ksatria
Salib ini juga kemudian melakukan kesalahan besar, yang
telah melecehkan adat kaum muslim, dan kelakuannya itu meng-
gelikan sekaligus mengejutkan. Para Pembaca karya UsAmah ter-
sebut pasti tersenyum membaca contoh kebodohan perilaku ksatria
kaum Frank itu, yang ditambah lagi dengan usahanya untuk
meniru cara-cara umat Islam. Tokoh Tentara Salib dalam kisah
ini berasal dari golongan warga kelas atas yang di akhir
kisah oleh usimah disebut memiliki sifat-sifat ksatria. Namun,
ternyata Tentara Salib itu tidak bisa bersikap dengan benar di
dalam temPat pemandian itu.
Sementara kaum muslim, sePerti praktik yang dilakukan
bangsa Romawi, datang ke pemandian dengan tujuan untuk
b.rs-"ntri sekaligus demi kesehatan, tidak ada petunjuk bahwa si
ksatria Salib ini memiliki tujuan sePerti itu saat datang ke
pemandian itu. Usimah tidak menyebutkan fakta yang menarik
t"h*" kaum Frank mulai sering mengun.iungi tempat pemandian
sejak mereka tiba di kawasan Mediterania limu1-[6lkembangnya
cara hidup yang lebih sehat pada kaum Frank, y^ng berasal dari
belahan bumi zona keenam, kemungkinan sebab mereka tinggal
di iklim yang lebih menyenangkan, dan di situ kebiasaan-kebiasaan
beradab ter.iadi secara alamiah. Seperti dikatakan Usimah pada
kesempatan lain:
Di antara kaum Frank, ada beberaPa orang yang telah menye-
suaikan diri dan telah lama berhubungan dengan kaum muslim.
Mereka-mereka ini jauh lebih baik daripada pendatang-pendatang
baru dari wilayah-wilayah kaum Frank. Namun mereka yaitu
perkecualian dan tidak bisa dijadikan patokan.a6
Yang mendasari pernyataan ini, barangkali, yaitu asumsi
bahwa sekalipun temperamen (mizA) orang-orang dari satu iklim
ditentukan oleh letak posisi geografis mereka di dunia, keseim-
bangan karakterisdk di antara mereka bisa dipengaruhi bila mereka
pindah ke iklim yang lain. Dengan demikian tidaklah mengejutkan
bila kaum Frank yang telah berproses di lingkungan dunia Timur
akan "lebih baik" dibandingkan kaum Frank yang menetap di
Eropa utara, sebab mereka telah menetap cukup lama di wilayah-
wilayah kaum muslim yang berada di iklim yang lebih me-
nyenangkan. Namun, dalam karya Usimah, penjelasan-penjelasan
yang meremehkan dan merendahkan mengenai kaum Frank jauh
lebih banyak dibandingkan dengan penjelasan-penjelasan yang
menyenangkan, dan pesan dari kisah di temPat pemandian ini
yaitu bahwa sekalipun kaum Frank mencoba meniru cara-cara
kehidupan warga di kawasan Mediterania timur, perilaku
mereka seperti orang yang mengalami gegar budaya. Mereka tidak
mampu mengadaptasi dengan benar gaya hidup yang dipraktikkan
kaum muslim. Mereka benar-benar kotor.
PANDANGAN KAUM MUSLIM TENTANG KAUM FMNK:
DIMENSI RELIGIUS
sejauh ini, pembahasan dititikberarkan pada tradisi sekuler literatur
etnografi kaum muslim yang, dengan mengikuti tradisi ptolemeus,
menghasilkan pembagian umar manusia yang bersifar tetap, yang
didasarkan pada iklim geografi. Tiadisi seperri itu, seperti yang
telah kita lihat, telah membangkitkan pandangan klise mengenai
kaum Frank dari Eropa utara yang telah tertanam dalam-dalam.
Namun, peranan agama Islam dalam menetapkan kaum Frank
sebagai "yang lain" juga sangat signifikan, dan memperkuat jurang
pemisah antara kaum muslim dan para pendatang Kristen itu.
Komunitas lGisten dan kaum muslim tetap terpisah oleh sesuatu
yang sangat berbeda yang bukan hanya masalah geografi. Sebagian
merupakan soal rasa identitas masing-masing komunitas dan
sebagian lagi menyangkut tujuan. Kedua hal ini dinyatakan dalam
ungkapan-ungkapan keagamaan.
Buku ini sangat menekankan pada peran penting jihad pada
periode Perang Salib. Namun, ada dimensi-dimensi religius penting
lainnya pada peperangan anrara kaum muslim dan kaum Frank.
Sebuah analisis mengenai dimensi-dimensi ini memberikan wa-
wasan yang sangat menarik mengenai cara kaum muslim me-
mandang kaum Kristen Frank serta bagaimana kaum muslim
menetapkan dan mempertajam persepsi mereka sendiri berkaitan
dengan cara pandang itu.
PENCEMAMN TEMPAT.TEMPAI SUCI ISI-AM OLEH KAUM FMNK
yaitu sukar untuk merekonstruksi perasaan kaum muslim umum-
nya atas kehadiran kaum Frank di wilayah yang telah lama
dimiliki Islam. Yang pasti, bagi kita semua yang tinggal di abad
kedua puluh yang modern dan sekuler ini, konsep-konsep seperri
tabu, kesucian dan pencemaran terlihat aneh dan primitif. Sulit
rasanya menceritakan tentang kepercayaan bahwa melanggar tabu
akan menyebabkan pengaruh buruk mematikan yang pasri akan
membangkitkan kemurkaan Tirhan. Konsep-konsep semacam iru
bisa ditemukan di banyak agama di dunia. Namun, buat orang-
orang yang tidak percaya dengan hal-hal seperti ini, mereka
membutuhkan perjuangan imajinasi yang sangar khusus untuk
memasuki dunia pemikiran khusus semacam ini. Upaya ini
layak untuk dilakukan.
Pandangan-pandangan terhadap kesucian dan pencemaran ini,
selanjutnya, dijalani secara mendalam oleh orang-orang kuno dan
Abad Pertengahan. Seperti diungkapkan dengan sangat gamblang
oleh Mary Douglas: "Dari perspektif agama, pencemaran bukan
semata-mata simbol dari sesuatu, atau bahkan neraca yang diguna-
kan untuk menimbang kebajikan dan dosa, namun merupakan
kondisi dasar dari semua realitas."47 Gagasan Pencemaran ini
bersifat ontologis: ketidakmurnian menunjukkan keterpisahan dari
Tuhan.a8 Hanya ritual-ritual yang diadakan untuk ketuhanan yang
akan melawannya.ae
Kesucian merupakan yang paling utama dalam ibadah Islam.
Maka tanpa kesucian ibadah tidak akan sah. Tindakan-tindakan
pembersihan yang dilakukan dengan benar dan lengkap oleh kaum
muslim sebelum menunaikan salat dan saat menunaikan haii
bukan sekadar latihan nyata dalam kebersihan. Kegiatan itu
merupakan dimensi tak terpisahkan dari keimanan, yang me-
refleksikan kebenaran tak tampak yang berhubungan dengan
hubungan manusia dengan Tirhan. Hadis Rasulullah yang populer,
"Kebersihan yaitu sebagian dari iman," menunjukkan peran
sentral konsep kebersihan dalam Islam. Kebersihan bukan hanya
persiapan dasar untuk ibadah, namun juga bagian tak terpisahkan
dari ibadah itu sendiri. Alquran sendiri memerintahkan bahwa
orang yang akan menghadap Allah harus suci baik badan mauPun
pakaiannya: "Dan Tirhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersih-
kanlah (thuhr), dan perbuatan dosa (rujz) tinggalkanlah'"5o Ke-
sucian badan merupakan Prasyarat bagi kesucian pikiran. Se-
mentara Alquran memerintahkan kesucian kepada orang-orang
beriman, hadis memberikan penjelasan yang sangat lengkap dan
benar mengenai tata cara mencapai kesucian.
Islam juga membahas tentang najdslt (najis-sesuatu yang
pada dasarnya tak bersih) yang termasuk babi, anggur' dan kotoran
badan. Tidak mengejurkan bila "najis" ini menjadi dasar perasaan
anti-lGisten di kalangan umat Islam secara umum dan banyak
disebutkan di tulisan-tulisan rentang kaum Frank. Apa yang
diungkapkan oleh tulisan-tulisan tersebur, seperti yang akan kita
lihat, merupakan kebencian yang telah berakar mendalam terhadap
praktik-praktik Kristen dan juga larangan-larangan lainnya yang
bahkan lebih keras dan jelas.
Dikotomi antara halal dan haram, antara yang diizinkan dan
yang dilarang, merupakan hal yang sangat dasar dalam ibadah
Islam. Di dalam Islam, kata haram menunjuk pada semua per-
buatan yang tidak senonoh atau asusila dan dilarang, dan harim,
tempat khusus yang disediakan untuk wanita, hanya boleh di-
masuki oleh mahram, anggora keluarga pria dalam hubungan
yang telah ditetapkan dengan jelas dan pasti. Menurur Nasr:
"Kaum muslim hidup dalam suaru ruang yang telah ditentukan
oleh suara Alquran."5l
Namun, sekalipun pernyataan ini bersifat universal, ada tem-
pat-tempat perlindungan dan tempat-tempat suci terrentu yang,
seperti ditulis oleh Schimmel, "kelihatannya diberkati dengan
kekuatan berkah khusus dan yang kemudian berfungsi dalam
literatur sebagai simbol pengalaman manusia untuk 'pulang'.'s,
Tempat-tempat seperti itu rermasuk Kubah Batu dan Masjid Aqshi
di Yerusalem.
Perbuatan jahat bisa ditunjukkan dalam banyak bentuk-
pelakunya bisa dianggap sebagai pemerkosa, binatang predator,
setan, dan sebagainya. Semua gambaran ini diberikan kaum
muslim kepada kaum Frank-namun penting untuk ditegaskan
bahwa kaum muslim memandang kaum Frank terurama sebagai
pencemar. Tema yang diangkat para penulis muslim di Abad
Pertengahan mengenai pendudukan yang dilakukan kaum Frank
yaitu pengotoran tempat suci, baik umum maupun pribadi,
meskipun penekanannya dikhususkan pada bangunan-bangunan
keagamaan, khususnya bangunan-bangunan yang ada di Yerusalem.
Para sejarawan'Abbasiyah yang menceritakan kegemilangan
kaum muslim dalam melakukan penaklukan pada abad ketujuh
menegaskan tentang kekotoran musuh. Al-Balidzuri, misalnya,
menjuluki bangsa Persia Sasania sebagai kaum yang "tidak disunat".
Kemudian, sejarawan-sejarawan Abad Pertengahan, seperti Ibn al-
Atsir, dalam tulisan-tulisan mereka tentang bangsa Mongol mem-
fokuskan pada perilaku mereka yang cenderung suka melahap
apa_ saja (terutama bangkai)-sekali lagi, sesuatu yang menegaskan
tentang kekotoran-dan pembantaian terhadap penduduk muslim
tanpa pandang bulu, termasuk wanita dan anak-anak, bahkan
pada janin yang masih dalam kandungan, stereotip yang telah
lama dialamatkan oleh sumber-sumber Islam terhadap "bangsa
barbar", seperti bangsa Tirrki nomaden dan Mongol.
Maka dalam gambaran kaum muslim tentang kaum Frank,
simbol-simbol pencemaran dan kotoran sangat banyak. Simbol-
simbol ini mencerminkan sumber-sumber perubahan keagamaan
yang drastis pada kaum muslim dengan tingkat psikologis yang
dalam, dan berkaitan dengan pendobrakan larangan-larangan dan
ketakutan sejak dulu bahwa mereka akan disiksa oleh Tuhan.
PANDANGAN TENTANG BANGUNAN.BANGUNAN KEAGAMMN
KAUM FMNK DI MLAYAH ISIAM
Gereja-gereja dan katedral-katedral yang dibangun selama pen-
dudukan kaum Frank pasti telah membangkitkan komentar dari
pihak kaum muslim yang sejak lama terbiasa dengan monumen-
monumen keagamaan lGisten Jimul-nxmun sebelumnya mereka
belum pernah melihat bangunan-bangunan sePerti katedral Gotik
di wilayah muslim. Selama berabad-abad, kota di Timur Dekat
telah berkembang dengan bentuk-bentuk tertentu yang terkenal,
yang ditandai dengan simbol-simbol Islam-terutama kehadiran
masjid dengan kubahnya. Sekarang ini, kadang terjadi Penentangan
emosional terhadap masjid-masjid yang ada di kota-kota Eropa
barat. Juga kritikan keras sebab bangunan-bangunan itu dianggap
"mencemari pemandangan"' Begitu juga, namun lebih keras-
sebab kaum Frank yaitu agresor militer yang mencaplok wilayah-
wilayah Islam-kaum muslim Timur Dekat yang hidup di bawah
kekuasaan kaum Frank pasti membenci bangunan-bangunan ke-
agamaan baru milik orang kafir ini, yang dilengkapi dengan
inskripsi-inskripsi dalam tulisan asing, salib-salib, gambar-gambar
pada dinding dan pahatan-pahatan religius yang menghiasi bagian
dalamnya. Juga layak untuk dicatat bahwa Ibn al-Furat, dengan
mengutip sejarah karya Ibn Abi Thayyi' yrtg kini tak ada lagi,
membahas secara khusus tenrang "kejanggalari' agama kaum Frank,
sebuah gerela kaum Frank yang bisa dibawa-bawa yang direbut
sesudah kegagalan kaum Frank menyerang Damasku s pada 523
H.lll29 M.: "di antara benda-bend^ yang mereka [kaum muslim]
rampas yaitu gereja surera yang biasa dibawa raja Jerman di
dalam rombongannya. Gereja itu diangkut oleh 200 bagal."53
PENDUDUKAN MASJID AQSHA DAN KUBAH BATU OLEH
KAUM FMNK
Kubah Batu selalu dilihat sebagai simbol kegemilangan dan ke-
besaran agama Islam. Kaum muslim Abad Pertengahan sangar
terpesona oleh keindahannya. Seperti digambarkan oleh al-
Muqaddasi, yang melakukan perjalanan ke seluruh dunia muslim:
Kubah ini , meski sangat besar, dilapisi dengan tembaga
keemasan ... Bila terkena sinar matahari, kubah itu akan berkilau
dan bulatannya berkilau sangat indah... Saya belum pernah melihat
dalam agama Islam sesuatu yang bisa menandingi kubah ini. Saya
juga tidak pernah menemukan ada [sesuatu yang bisa dibandingkan]
di [negeri] orang-orang kafir.5a
Pencaplokan Masjid Aqshi dan Kubah Batu di Yerusalem
oleh kaum Frank di mata kaum muslim merupakan aksi pe-
ngotoran makam (gambar 5.23 dan foro warna l7). Membangun
monumen-monumen baru atas nama agama, pada saat penaklukan
militer dapat mengantarkan kepada pendudukan penuh atas suatu
wilayah, merupakan sebentuk pengulangan sejarah kuno dan Abad
Pertengahan dan selalu sangar menghinakan dan menjadi penga-
laman yang menyakitkan bagi warga yang ditaklukkan. Pen-
caplokan monumen-monumen suci milik agama lain yang masih
digunakan sehari-hari, dan perubahannya, dengan menampilkan
simbol-simbol agama sendiri, bahkan merupakan penghinaan yang
jauh lebih besar. Pengambilalihan itu bahkan lebih merendahkan
dibandingkan dengan pendudukan militer itu sendiri-tindakan
itu merupakan suatu invasi dan pengotoran kesucian agama, yang
melanggar simbol-simbol monumental suci dari suatu agama. Tak
pelak lagi bahwa kaum Frank, yang masuk ke Yerusalem pada
492 H.ll099 M., sama-sama mengingat penghancuran besar-
besaran salah satu monumen suci mereha, Gereja Makam Suci,
pada 400/1009-1110, atas perintah Khalifah Fatimiyah al-Hikim.
Sungguh suatu anugerah yang sangat besar, sebab kaum Frank
tidak bertindak lebih jauh dengan menghancurkan Kubah Batu
ataupun Masjid Aqshi sebagai balasan atas tindakan al-llAkim
itu. Meskipun tindakan semacam itu tidak akan pernah termaaf-
kan, pengotoran dan pendudukan monumen-monumen Islam oleh
orang-orang kafir, monumen kedua hanya sesudah monumen di
Mekah dan Madinah yang dihormati oleh kaum muslim, pasti
sulit untuk diterima. Selama 88 tahun, di bagian kubah yang
berlapis emas pada Kubah Batu terpancanglah sebuah salib. Dan
monumen itu pun menjadi Tbmplum Domini. Masjid Aqshi
diduduki oleh para lGatria Kuil (gambar 5.24).
Monumen-monumen yang sangat dikenal dan dicintai di
Yerusalem ini mengalami banyak perubahan, strukrur maupun
tampilan. Di dalam Masjid Aqshi, para IGatria Kuil menambah
ruang-ruang besar, terutama di bagian depan masjid, dan mereka
merenovasi bagian depan masjid. Di Kubah Batu, kehadiran
lftisten ditunjukkan di bagian luar dengan sebuah salib di puncak-
nla, dan di bagian dalam dengan terali besi (foto 5.3) dan sebuah
altar yang dibangun di atas batu ini .
Kubah Batu, yang dibangun pada 72 H.l69l M. sebagai
lambang kemenangan keunggulan Islam atas agama-agama lain,
khususnya FGisten, menampilkan beberapa inskripsi Alquran pilih-
an yang merendahkan doktrin Tiinitas dan Inkarnasi. Monoteisme
yang tak kenal kompromi dalam Islam ditegaskan lewat jalinan
inskripsi sepanjang 240 metet. Pesannya begitu jelas: "Tidak ada
tuhan selain Allah dan tidak ada yang setara dengan-Nya"'55
Ejekan atas monurnen besar di jantung Yerusalem ini dengan
sebuah salib di puncaknya tidak terhapuskan di benak kaum
muslim. Memang, menurunkan salib itu merupakan tujuan utama
operasi militer Saladin pada 583 H./1187 M.:
Sebuah salib emas besar berdiri di puncak Kubah Batu. saat
kaum muslim memasuki kota itu pada hari Jumat, sekelompok
orang naik ke puncak kubah untuk menurunkan salib itu. saat
mereka telah tiba di puncak kubah, semua orang berteriak bersama-
sama.56
'Imiduddin al-Ishfahini menceritakan
yang dilakukan kaum Frank pada Kubah
lengkap:
perubahan-perubahan
Batu dengan cukup
Mengenai Kubah Batu, kaum Frank telah membangun sebuah
gereja dan altar di sana ... Mereka menghiasinya dengan gambar-
gambar dan patung-patung dan mereka menjadikan bagian dalam-
nya sebagai rempar untuk para pendeta dan tempat untuk Kitab
Injil ... Di dalamnya, di atas tapak [Rasulullah] mereka memasang
sebuah kubah kecil bersepuh emas dengan tiang-tiang marmer dnggi
letaknya dan mereka mengarakan itu yaitu tempat tapak Yesus...
Di dalamnya ada gambar-gambar hewan tengah makan rumpur
yang dipahat di marmer dan di antara gambar-gambar ini
saya melihat gambar-gambar babi.57
Sangat tidak mungkin 'ImAduddin melihat gambar babi di
dalam dekorasi lGisten di Kubah Batu. Mungkin pandangannya
yang cenderung berprasangka terlalu siap untuk menerjemahkan
domba-gambar yang umum ada dalam ikonografi tentang
surga oleh kaum Kristen-sebagai babi. Ia rentu saja tidak mung-
kin dituntut oleh para pembacanya. Seperti juga pada lJsimah,
pembaca mencurigainya mempermainkan gambar. Tiik-trik ke-
susastraan yang sangat dibuat-buat, seperti aliterasi, rima, paralel-
isme, antitesis dan repetisi, yang sangat disukainya, menuju ke
arah yang sama.
Kubah Batu digambarkan tengah dilukai oleh kaum Frank:
Kaum Frank memotong bagian-bagian dari Batu dan membawa
bagian-bagian itu ke Konstantinopel dan sebagian lagi ke Sisilia.
Dikatakan bahwa mereka menjualnya sebab batu itu mengandung
emas... Saat [Batu] ini menjadi semakin kecil, tempatnya [pada
bagian yang dipotongl menjadi terlihat dan hati menjadi teriris
sebab potongan itu kian tampak jelas.ts
Laporan saksi mata "sufi pengeland' 'Ali ibn Abi Bakr al-
Harawi (w. 611 H.ll2l5 M.)," yang mengunjungi Yerusalem
saat kota itu masih dikuasai kaum Frank pada 569 H.ll173
M., sangat berharga. Dia memasuki Kubah Batu dan melihat "di
Sebuah penuturan yang ada dalam memoar UsAmah
mencerirakan kaum Frank mengganrung sebuah lukisan Maria
dan putranya di Kubah Batu:
Saya melihat salah seorang kaum Frank datang kepada al-
Amir Mu'inuddin saat beliau berada di Kubah Batu,6r dan berkata
padanya, "Maukah kamu melihat Allah saat kecil?" Mu'inuddin
menjawab, "Ya'. Kaum Frank itu berjalan di depan kami sampai
ia menunjukkan pada kami gambar Maria dengan Kristus (salam
sejahtera untuknya!) sebagai bayi yang tengah dalam dekapannya'
Kaum Frank itu kemudian berkata, "Ini dia Allah saat kecil".
Tapi Allah itu jauh lebih agung dibandingkan dengan ap^ yang
dikatakan orang-orang kafir itu.62
Keterangan Usemah itu menunjukkan kebencian kaum muslim
yang telah berlangsung lama dan berakar terhadap konsep per-
sonifikasi dalam l(risten.
Pada saat kaum Frank kembali menduduki Yerusalem pada
abad ketiga belas, kaum muslim juga amat sangar marah saat
mereka melihat pertunjukkan kekufuran yang rerang-terangan.63
Penulis sejarah Ayyubiyah, Ibn \7Ashil, menceritakan situasi ter-
sebut secara langsung: "Saya memasuki Yerusalem dan saya melihat
para pendeta dan biarawan menguasai Batu Suci ... Saya melihat
di atas batu itu botol-botol anggur untuk upacara misa. Saya
memasuki Masjid Aqshi dan di dalamnya rerganrung sebuah
lonceng."64 Ibn \TAshil selanjutnya merarap sebab seruan untuk
beribadah di tempat suci itu (al-haram al-syartJ) dilakukan dengan
cara yang tidak benar.
ANCAMAN KAUM FMNK PADA JAMAAH HAJI DAN
KOTA.KOTA SUCI AMB, MEKAH DAN MADINAH
Melaksanakan haji sekali seumur hidup yaitu salah satu dari
lima Rukun Islam. Bagi kebanyakan kaum muslim Abad Per-
tengahan, kesempatan untuk melaksanakan perintah
^gama
yar,g
sangat penting ini menuntut biaya yang sangat besar dan sangat
sulit. Selama berabad-abad, keamanan pada rute yang menuju
Hijaz terancam oleh serangan suku Badui. Mereka tidak segan-
segan merampas barang-barang dari karavan-karavan yang melewati
wilayah mereka. Namun, sejak kedatangan kaum Frank, ancaman
terhadap rute haji yang biasa dilalui semakin meningkat.
Benteng Karak yang terletak di sebelah timur Laut Mati
dibangun pada 1142. Bersama dengan Shawbak, pembangunan
benteng itu dimaksudkan untuk mengancam rute utama dari
Suriah ke Mesir dan terus ke Semenanjung Arabia. Salah satu
tempat berkumpul bagi para haji yaitu Damaskus. Mereka yang
hendak melewati wilayah yang diawasi oleh benteng ini dan
benteng-benteng Tentara Salib lainnya di kawasan ini harus
membuat perjanjian dengan kaum Frank. Kalau tidak, kaum
muslim yang berniat melaksanakan haji harus berjalan melalui
rute yang lebih jauh dan berbahaya. Pada 1180-an, Ibn Jubayr
menggambarkan benteng Karak demikian: "terletak membentang
di dua sisi jalan Hijaz dan menghalangi jalur darat kaum muslim".65
Sikap dan tindakan kejam Reynald dari Chatillon, penguasa
benteng Karak, harus dilihat dengan latar belakang ini. Pada 580
H./1184-1185 M., Reynald melanggar perjanjian dan menyerang
sebuah karavan yang penuh dengan muatan (gambar 5.26).
'Imiduddin menyatakan bahwa dia bersekutu dengan "gerombolan
yang berniat jahat" yang ditempatkan di rute perjalanan haji ke
Hijaz, yang menunjukkan bahwa Reynald telah bergabung dengan
beberapa suku Badui setempat.66 Sebelumnya, pada 578 H.lll92-
1183 M., Reyland melakukan penyerangan yang membuatnya
semakin jelek di seluruh dunia Islam. Ia telah merintangi Laur
Merah dengan kapal dan mengancam akan menyerang Kora-Kora
Suci (gambar 5.27).67 Dua insiden ini, yang terjadi di jantung
utama dunia Islam, dipandang sebagai kemarahan mengerikan
terhadap tempat suci umat Islam yang terhormat.6s
TANGGAPAN UMUM KAUM MUSLIM TERHADAP PENCEMAMN DAN
PENGOTOMN OLEH IGUM FRANK
Pandangan bahwa kaum Frank bukan hanya menyerbu namun-
yang jauh lebih buruk-mencemari wilayah kaum muslim telah
menyebar luas. Bukan semata-mata di bidang keagamaan: pan-
dangan itu bukan hanya muncul di lingkungan akademik-mereka
yang terlibat dalam tulisan polemis untuk membuktikan ke-
unggulan Islam dan Kristen. Namun itu telah menjadi keprihatin-
an semua kaum muslim yang di setiap segi kehidupan mereka
sehari-hari berusaha untuk memenuhi ritual kebersihan yang secara
ketat ditetapkan di dalam hukum Islam. Pandangan itu juga
dirasakan sangat mendalam, berbentuk ungkapan klise atau lelucon-
lelucon tentang "yang lairi', yang dibuat dengan lucu dan kasar.
Kita telah melihat penjelasan Ibn Jubayr tentang kora Acre,
kota para Tentara Salib, sebagai sebuah tempar berbau busuk
yang penuh kotoran dan sampah. Persepsi ini diperkuat dalam
sastra populer. The Tak of 'Umar ibn Numan dalam Alf Laylah
uta La/ah berisi kisah-kisah yang mengungkapkan persepsi ter-
sembunyi kaum muslim terhadap trGisten. Kisah ini , seperti
kisah-kisah lainnya dalam kumpulan cerita itu, kelihatannya meng-
gabungkan perjuangan kaum muslim melawan Bizantium pada
abad kesembilan dan kesepuluh dengan jihad melawan kaum
Frank pada abad kedua belas dan ketiga belas.
Saya ceritakan padamu sesuatu tentang pedupaan agung dari
kotoran uskup. saat Uskup Agung lGisten di Konstantinapel
memberi isyarat, para pendeta segera mengumpulkannya dalam
sehelai sutera dan menjemurnya. Mereka kemudian mencampur-
kannya dengan minyak misik, damar dan kapur barus, dan, saat
telah cukup kering, mereka membuatnya menjadi bubuk dan
memasukkannya ke dalam kotak-kotak kecil keemasan. Kotak-kotak
ini kemudian dikirimkan kepada semua raja dan gereja Kristen,
dan bubuk ini digunakan sebagai pedupaan paling suci untuk
semua penyucian Kristen pada setiap kesempatan yang khidmat,
untuk memberkati mempelai wanita, untuk membuat wangi bayi,
dan untuk memberkati pendeta pada pentahbisan. sebab kotoran
asli dari Uskup Agung itu hampir tidak mencukupi untuk 10
wilayah, sangat kurang untuk semua wilayah-wilayah Kristen, para
pendeta biasanya memalsukan bubuk ini dengan mencampur-
kan bahan-bahan yang kurang suci ke dalamnya, kalau bisa dikata-
kan begitu, yaitu kotoran dari uskup yang lebih rendah tingkatan-
nya, bahkan kotoran-kotoran para pendeta itu sendiri. Penipuan
ini sulit diketahui. Orang-orang Yunani menjijikkan ini menghargai
bubuk ini untuk kebaikan-kebaikan yang lain: mereka meng-
gunakannya sebagai obat sakit mata dan sebagai obat perut dan
usus. Namun, hanya para rala dan ratu dan orang-orang yang
sangat kaya yang mampu memperoleh pengobatan ini, sebab ,
lantaran persediaan bahannya yang sangat terbatas, bubuk seberat
satu dirham biasa dijual seharga seribu dinar emas. Harganya sangat
mahal memang.6e
Kisah ini kemudian memusatkan fokusnya pada pe-
makaian Salib dan kotoran:
Pada pagi hari, Raja Afridun mengumpulkan para pimpinan
dan perwira pasukannya dan, sesudah menyuruh mereka mencium
salib kayu yang besar, memberkati mereka dengan pedupaan yang
dijelaskan di atas. Pada kesempatan ini, keaslian bubuk itu pasti
tidak diragukan lagi sebab baunya sangat tidak enak dan akan
membunuh semua gajah milik pasukan kaum muslim.
Dalam suatu pertempuran selanjutnya, tokoh utama trGisten,
Lfrka ibn Syamlirth, yang dengan nada ejekan digambarkan sebagai
orang dungu, kera dan salib di anrara katak dan ular, "telah
mencuri warna kulitnya dari malam dan nafasnya dari kakus.
Kerena itulah ia dijuluki sebagai Pedang l(ristus".70 Di sini kita
melihat penjelasan-penjelasan yang memang mengibur dan me-
nyenangkan buat para pemirsa umum yang berkumpul di sudut-
sudut jalan atau di perayaan-perayaan ralryat.
Penyakit dan kotoran idendk dengan kaum Frank: Baldwin
IV yang malang, raja Tentara Salib penderira kusta, tidak men-
dapat simpati dalam pidato al-Qadhi al-Fadhil yang menjulukinya
sebagai 'penjahat lepra, berbintik-bintik dan bermata biru"Tr-
selain beberapa julukan lainnya. 'ImAduddin juga menjuluki kaum
Frank sebagai "sekumpulan lalat',72 "belalang tanpa sayap",73 dan
"anjing buas yang melolong". Ibn al-Furit mencatat, bahwa dalam
suatu serangan terhadap kaum Frank pada 530 H.111,36 M. shihna
Aleppo membunuh "babi yang tak terhitung jumlahnyi'.74 Tidak
jelas, apakah pernyataannya ini dalam arti yang sebenarnya atau
hanya kiasan. Ibn Jubayr, sebaliknya, dengan tanpa ragu-ragu
menjuluki Agnes of Courtenay, ibu Baldwin IV sebagai "babi
bedna dengan julukan Ratu yang yaitu ibu dari babi Penguasa
Ac1g" -25
Mengenai gere,ya tenda jinjing yan1 digunakan kaum Frank,
Usimah mengatakannya dengan pedas:
Patriark menancapkan sebuah renda besar yang digunakannya
sebagai gereja untuk tempat mereka beribadah. Pelayanan gereja
diberikan oleh seorang pelayan renta. Dia menutupi lantai gereja
itu dengan tanaman dan rumput, sehingga menimbulkan wabah
kutu.76
Ibn Jubayr sangat mencemaskan kebersihan ibadah kaum
muslim, terutama orang-orang yang agamanya bisa terkontaminasi
akibat kedekatan mereka dengan kaum Frank. "Tidak ada maaf
di mata Allah bagi kaum muslim yang tinggal di negeri kafir,
yang selamat saat melewatinya, sementara jalan ke wilayah-
wilayah muslim terhampar jelx."77 Secara khusus, kaum muslim
itu akan menghadapi penderitaan dan teror sebab
mendengar hal-hal yang menyusahkan hati berupa penghinaan
terhadapnya [Muhammad] y".g ingatannya telah disucikan Allah,
dan dera.jatnya telah Dia tinggikan; juga tidak ada kebersihan,
campuran antara babi-babi dan barang-barang terlarang lainnya yang
terlalu banyak untuk diceritakan atau disebutkan satu persatu.Ts
Dengan dibungkus humor jorok sebagaimana ada dalam
Tale of 'fJmdr ibn Numan dan penuturan Ibn Jubayr, kebencian
mendalam kaum muslim atas Pencemaran kaum lkisten dilakukan.
Kebencian seperti itu pasti sangat dalam, khususnya berkaitan
dengan kehadiran Tentara Salib di wilayah muslim dan pen-
dudukan monumen-monumen keagamaan kaum muslim, seperti
Kubah Batu dan Masjid Aqshi oleh Tentara Salib. Monumen-
monumen ini, pada akhirnya, bukanlah bangunan-bangunan ke-
agamaan biasa, namun merupakan Permata-Permata di mahkota
Yerusalem, yang merupakan kota suci ketiga dan kiblat Pertama
Islam. Lelucon-lelucon menyerang yang jorok mengenai bajak laut
Tentara Salib yang fanatik, yakni Reynald dari chatillon di Laut
Merah, saat secara terang-terangan ia mengancam dua kota suci
Mekah dan Madinah, mungkin telah mengirimkan gelombang
guncangan yang sangat kuat ke seluruh dunia muslim sebab
kesucian Kakbah itu sendiri terancam.
Kaum muslim sejak lama telah terbiasa melihat kaum lGisteir
Timur menjalankan agama mereka di Timur Dekat dan me-
nyaksikan bahwa mereka tidak mengikud persyararan-persyararan
kesucian seperti dalam ajaran Islam. Namun kaum Frank telah
melanggar ruang suci Islam. Penduduk muslim di Suriah dan
Palestina juga sudah sangat terbiasa dengan kerusakan yang di-
sebabkan oleh serangan-serangan bangsa asing-bangsa Tirrki,
Bizantium, dan Persia. Namun, reaksi mereka terhadap pendatang_
pendatang baru, Tentara Salib, yang menghiasi Kubah Batu dengan
salib-salib dan patung-patung, dan terhadap para Ksatria Kuil
yang mendiami Masjid Aqshi, pastilah penuh dengan kebencian.
BUKTI-BUKTI PUISI KAUM MUSLIM DI MASA ITU
Puisi, dalam banyak hal, yang menjadi prestasi kesusasreraan Arab
klasik dan dikenal di tanah-tanah Arab akan kekuatannya untuk
menggerakkan hati pendengarnya, merupakan alat yang sangar
berpengaruh pada periode Perang Salib. Puisi di masa itu penuh
dengan lambang kotoran dan kesucian. Serangan brutal kaum
Frank pada Perang Salib Pertama menjadi fokus utama bagi tema-
tema ini. Seorang penyair tak dikenal pada masa itu menuliskan
kata-kata yang mengharukan ini:
Orang-orang kafir yang tak beriman telah menyatakan boleh
mengganggu Islam,
Yang menyebabkan rarapan berkepanjangan bagi agama itu.
Apa yang benar menjadi tak bernilai dan hampa dan yang dilarang
(kini) menjadi sah.
Pedang terhunus dan darah tumpah.
Sungguh banyak pria muslim telah menjadi barang rampasan (salib)
Dan berapa banyak kesucian wanira muslim yang telah dirampas
(salib)?
Sungguh banyak masjid telah menjelma menjadi gerej







