Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 11

 


Masalah-Masalahnya 269

kehendak Dia yang mengutus Aku" (Yohanes 5:30). Paulus meng­

anggap kasih sebagai "kegenapan hukum Taurat" (Roma 13:10). 

Paulus mengatakan bahwa Kristus "telah mati untuk semua orang, 

supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, 

namun  untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk me­

reka" (II Korintus 5:15). Ia juga mengatakan bahwa pada hari-hari 

terakhir orang-orang akan "mencintai dirinya sendiri" (II Timotius 

3:2). Ayat-ayat ini dan ayat-ayat Alkitab lainnya menunjukkan 

bahwa sifat mementingkan diri yaitu  hakikat dosa dan merupakan 

prinsip tempat asalnya semua hal lain.

II. MASALAH-MASALAH YANG BERHUBUNGAN 

DENGAN KEJATUHAN MANUSIA

Tidak dapat disangkal bahwa ada beberapa kesulitan yang ber­

hubungan dengan kejatuhan manusia. Kita akan membahas tiga 

masalah yang utama.

A. BAGAIMANA MUNGKIN MAKHLUK YANG KUDUS JATUH 

DALAM DOSA?

Sekalipun jawaban untuk pertanyaan ini mungkin melampaui 

pengertian manusia dan tidak akan pernah dapat dijawab oleh ma­

nusia, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan. (1) Adam dan 

Hawa diciptakan sebagai makhluk-makhluk yang bebas secara mo­

ral, serta tanpa dosa, dengan kemampuan untuk berbuat dosa atau 

tidak berbuat dosa. (2) Pencobaan yang dialami pasangan pertama 

ini berbeda dari pencobaan yang dialami Iblis, karena pencobaan 

manusia datang dari luar diri mereka; Iblis yang menggoda mereka 

untuk berbuat dosa. (3) Sekalipun godaan itu datang dari luar diri­

nya, Adam sendiri telah mengambil keputusan untuk tidak menaati 

Allah dan ia dianggap bertanggung jawab atas dosanya (I Timotius 

2:14). (4) Bagaimana suatu dorongan yang berdosa dapat terbit di 

dalam jiwa makhluk kudus yang tak berdosa merupakan masalah 

yang melampaui pengertian kita. Satu-satunya penjelasan yang 

memuaskan ialah bahwa manusia jatuh karena atas kemauannya 

sendiri ia memutuskan untuk memberontak terhadap Allah. Iblis 

Antropologi270

mempengaruhi keinginan yang diberikan oleh Allah kepada 

manusia, yaitu keinginan akan keindahan, pengetahuan, dan 

makanan (Kejadian 3:6). Keinginan-keinginan itu sendiri baik dan 

tidak jahat bila diarahkan secara benar (I Timotius 4:4, 5; lihat juga 

I Yohanes 2:16). Iblis menantang manusia untuk menyalahgunakan 

keinginan-keinginan itu dengan cara tidak menaati larangan Allah 

untuk makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang 

jahat. Manusia, atas kemauannya sendiri, memilih untuk tidak 

menaati Allah serta menaati tipuan si jahat. Keinginan yang 

diberikan Allah akan keindahan, pengetahuan, dan makanan itu kini 

menjadi alat yang digunakan Iblis untuk menyebabkan manusia 

memberontak kepada Allah. Yang mendasari tindakan manusia ini 

yaitu  keinginannya untuk memperluas kedaulatannya yang nisbi 

untuk menjadi setara dengan Allah serta tidak tunduk kepada 

kedaulatan mutlak yang dimiliki Allah.

B. BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG ADIL DAPAT BER­

TINDAK SECARA ADIL saat  MEMBIARKAN MANUSIA 

DICOBAI?

Jawaban kami terhadap persoalan ini ialah bahwa kasus mengizin­

kan manusia dicobai itu bukanlah merupakan suatu tindakan yang 

menyangkut keadilan, melainkan yang menyangkut kemurahan hati. 

Hal ini kami lakukan berdasarkan beberapa alasan.

7. Perlunya suatu masa percobaan. Allah telah memberikan 

kepada manusia kemampuan untuk memilih yang memungkinkan 

manusia mengadakan pilihan yang bertolak belakang dengan kehen­

dak Allah yang sudah diketahuinya. Kemampuan untuk memilih 

inilah yang nampaknya merupakan syarat yang dibutuhkan untuk 

masa percobaan dan perkembangan moral. Manusia tidak diciptakan 

sebagai sebuah mesin yang akan hidup untuk memuliakan Allah 

tanpa ada kebebasan untuk memilih apakah ia mau berbuat 

demikian atau tidak. Memang, manusia diciptakan dengan 

kecenderungan untuk tunduk kepada Allah. Namun, karena ia 

memiliki kemampuan untuk memilih yang sebaliknya, maka 

kecenderungannya ini akan diperkuat jika  ia dengan tegas 

memilih untuk patuh kepada Aliah, sedangkan ia mempunyai 

kesempatan untuk memilih yang sebaliknya. "Sebuah periode per- 

Kejatuhan Manusia: Latar Belakang dan Masalah-Masalahnya 271 

cobaan perlu sekali agar dapat menguji kesetiaan mereka kepada 

Allah melalui ketaatan atau ketidaktaatan kepada perintah-Nya."96 

Masa percobaan itu perlu, sekalipun Allah telah mengetahui 

sebelumnya bahwa manusia akan jatuh. Masa percobaan itu juga 

menyingkap kemurahan-Nya saat  Allah langsung menjanjikan 

penebusan setelah terjadi kejatuhan itu.

96 Bancroft, Systematic Theology, hal. 149.

2. Perlu adanya seorang penggoda. Iblis jatuh tanpa ada godaan 

dari luar. Iblis berbuat dosa dengan sengaja, didorong oleh ambisi 

yang tidak sehat, dan sebagai akibatnya ia menjadi Iblis. Seandainya 

manusia jatuh dalam dosa tanpa ada yang menggodanya, maka itu 

berarti manusia menciptakan dosanya sendiri, sehingga manusia 

menjadi Iblis. Peristiwa ini  menyingkap kemurahan Allah 

karena Ia tetap memungkinkan penebusan manusia.

3. Kemungkinan menolak godaan. Di dalam pencobaan itu sen­

diri samasekali tidak ada kekuatan yang dapat memaksa manusia 

berbuat dosa. Kemampuan manusia untuk memilih taat kepada 

Allah yaitu  sebesar kemampuannya untuk memilih agar tidak taat. 

Adanya kemungkinan untuk berbuat dosa saja tidak pernah mem­

buat orang menjadi berdosa. Pastilah, penolakan yang tegas akan 

membuat Iblis pergi pada waktu itu seperti halnya sekarang ini 

(Yakobus 4:7). Kemungkinan inilah yang menunjukkan kemurahan 

Allah. Dengan melawan godaan, sifat kudus manusia akan diperkuat 

menjadi watak yang kudus; penolakan terhadap godaan akan meng­

hasilkan manusia yang penuh kebajikan.

C. BAGAIMANA MUNGKIN HUKUMAN YANG BEGITU BERAT 

DIJATUHKAN ATAS KETIDAKTAATAN KEPADA PERINTAH 

YANG BEGITU SEPELE?

Beberapa hal dapat dikatakan. Tidaklah diperlukan suatu tindakan 

yang hebat untuk membuktikan atau menyangkal kesetiaan seseo­

rang. Suatu perintah yang ringan yang meliputi perbuatan yang kecil 

dan tidak berarti merupakan ujian yang terbaik untuk mengetahui 

adanya ketaatan atau tidak. Bila seorang anak telah menaati ibunya 

dalam banyak hal, namun kemudian terus tidak menaati dalam satu 

272 Antropologi

hal lain, besar atau kecil, anak itu sekadar menunjukkan sikapnya 

yang sesungguhnya melalui ketidaktaatan itu. Lagi pula, perintah 

lahiriah itu bukanlah tidak penting. Perintah ini  menunjukkan 

hak Allah sebagai penguasa yang tertinggi. Dengan memakai pohon 

yang terlarang itu, Allah mengajar Adam bahwa Ia berhak menuntut 

sesuatu dari dirinya serta mengharapkan akan ditaati. Ketaatan 

manusia diuji dalam hal hak milik, yang merupakan tanda yang 

nampak dan masuk akal dari sikap hati yang benar terhadap Allah. 

Pentingnya perintah itu dari segi pandangan Allah telah nampak 

dari hebatnya hukuman atas ketidaktaatan kepada perintah itu. Tak 

mungkin Adam memberikan penjelasan lain untuk pernyataan Allah 

bahwa ia pasti mati kalau makan buah terlarang itu. Dan akhirnya, 

Adam telah diberi tahu mengenai pentingnya hal itu. saat  mem­

beri tahu hukuman itu, Allah menjelaskan bahwa ketaatan merupa­

kan soal hidup atau mati. Ketidaktaatan akan senantiasa dianggap 

sebagai dosa yang mematikan. Manusia harus memilih antara hidup 

dan mati, atau antara Allah dan dirinya.

XVIII 

Kejatuhan Manusia: Kenyataan 

Serta Dampak-Dampak Langsung

Sekalipun akal manusia mau tidak mau harus mengakui adanya 

dosa, akal manusia samasekali tidak mampu menjelaskan asal usul 

serta kehadirannya di dalam diri manusia. Alkitab menyatakan 

bahwa manusia jatuh ke dalam dosa melalui pelanggaran Adam. 

Maka kita bertanya, bagaimana hal itu terjadi dan apa yang 

merupakan akibat-akibat langsung dari kejatuhan ini  bagi 

nenek moyang pertama kita?

I. ASAL USUL DOSA DALAM TINDAKAN PRIBADI 

ADAM

Dosa merupakan suatu fakta; namun bagaimana dosa itu mula-mula 

terjadi di antara manusia? ada  berbagai jawaban. Berbagai 

pandangan yang tidak benar haruslah dievaluasi, barulah keadaan 

yang sebenarnya dapat disajikan.

A. DOSA TIDAKLAH KEKAL

Dualisme kosmis beranggapan bahwa ada dua prinsip yang ada de­

ngan sendirinya dan bersifat kekal, yaitu baik dan buruk. Spekulasi 

para cendekiawan Persia memandang kedua prinsip ini sebagai 

terang dan gelap. Benda dianggap mengandung kejahatan. Kaum 

Gnostik dan golongan Manikheisme menerima ajaran ini. Menurut 

pandangan ini, dosa itu selamanya sudah ada. Kebaikan dan 

kejahatan telah bertentangan sejak dahulu kala, dan akan terus ber-

273

274 Antropologi

tentangan. Keduanya saling membatasi dan tidak akan ada yang 

betul-betul menang. Pandangan ini telah timbul dari kesulitan untuk 

menjelaskan asal usul kejahatan dan pada saat yang sama tetap 

memelihara kepercayaan akan Allah yang mahakuasa dan kudus.

Namun, pandangan ini menjadikan Allah suatu oknum yang ter­

batas dan bergantung. Tidak mungkin ada dua oknum yang tak ter­

batas yang termasuk satu kategori. Tidak mungkin Allah itu ber­

daulat lalu dibatasi oleh sesuatu yang tidak diciptakan-Nya dan tidak 

dapat dicegah oleh-Nya. Pandangan ini juga menghancurkan gam­

baran tentang dosa sebagai suatu kejahatan moral. Bila dosa 

merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari diri kita, dosa 

bukanlah kejahatan moral. Pandangan ini kemudian menghancurkan 

tanggung jawab manusia. Bila dosa itu diperlukan secara mutlak 

oleh manusia karena ia diciptakan demikian, maka manusia tidak 

dapat dituntut untuk bertanggung jawab atas keadaannya yang ber­

dosa. Sesungguhnya, justru dengan menganggap dosa sebagai suatu 

substansi, pandangan ini menghancurkan sifatnya sebagai dosa. Kita 

tidak dapat mempertahankan ajaran tanggung jawab moral manusia 

kecuali kita dapat menunjukkan bahwa dosa manusia menimbulkan 

rasa bersalah.

B. DOSA TIDAK BERSUMBER PADA KETERBATASAN 

MANUSIA

Leibniz dan Spinoza beranggapan bahwa dosa bersumber pada 

keterbatasan manusia. Dosa hanya merupakan akibat yang dengan 

sendirinya timbul karena manusia itu terbatas. Allah sebagai hakikat 

yang mutlak itu semata-mata baik; namun  bila hams ada hal-hal lain 

di samping Allah, maka dengan sendirinya hams ada suatu kadar 

minimum kejahatan di dalam hal-hal lain itu, bila mereka bersifat 

terbatas. Maksudnya Allah sendiri, Allah yang panteistis itu, tidak 

dapat menciptakan sesuatu yang tanpa batas. Hal ini terlihat dalam 

keterbatasan jasmaniah manusia; dan kita dapat juga mengharapkan 

bahwa sifat moralnya akan terbatas. Beberapa pengarang 

beranggapan bahwa kejahatan moral itu merupakan latar belakang 

syarat yang perlu untuk kebaikan moral. Kita tidak bisa mengetahui 

mana yang baik secara moral bila tidak ada yang jahat secara moral. 

Kejahatan moral merupakan unsur dalam pendidikan umat manusia 

serta suatu sarana untuk mendapatkan kemajuan.

Kejatuhan Manusia: Kenyataan Serta Dampak... 275

Akan namun , teori ini jelas mengabaikan adanya perbedaan antara 

yang jasmani dengan yang moral. Walaupun manusia diciptakan 

dengan berbagai kelemahan dan keterbatasan jasmani serta dalam 

keadaan jasmani tidak bisa keluar dari hal-hal yang membeleng­

gunya, namun hal itu tidak perlu berarti bahwa manusia diciptakan 

dengan kelemahan dan keterbatasan moral juga. Jikalau ia mau, 

manusia mampu untuk menaati Allah secara sempurna. Manusia 

secara fisik hanya bertanggung jawab sebatas kemampuannya; 

namun dalam bidang moral manusia tidak terbatas dan oleh karena 

itu mampu menaati Allah dengan sempurna. Dengan kata lain, dosa 

manusia tidak bersumber pada sifat moral yang tidak sempurna. 

Lagi pula, pandangan ini menerima pandangan panteistis tentang 

alam semesta. Dengan beranggapan bahwa Allah merupakan satu- 

satunya hakikat yang ada, maka kejahatan menjadi bagian dari Allah 

seperti halnya juga kebaikan. Namun, keyakinan batin kita serta 

ajaran Alkitab menegaskan bahwa Allah yang berkepribadian itu 

ada dan bahwa manusialah yang merupakan pencipta dosanya. 

Kemudian, kejahatan moral tidak diperlukan untuk adanya kebaikan 

moral. Strong mengatakan, "Apa yang perlu untuk kebaikan bukan­

lah kenyataan kejahatan, namun  hanya kemungkinan kejahatan."97

C. DOSA TIDAK BERSUMBER PADA PANCAINDERA

Schleiermacher beranggapan bahwa dosa bersumber pada sifat yang 

berhubungan dengan pancaindera kita, sehingga dengan demikian 

berarti bahwa pancaindera itu sendiri jahat. Beberapa pengarang 

yang mutakhir merunut kejahatan moral manusia sampai kepada 

sisa-sisa sifat hewani yang manusia warisi dalam proses evolusi; 

sedangkan para teolog yang terdahulu melihat dosa sebagai akibat 

hubungan antara jiwa dengan organisme jasmaniah.

Akan namun , pancaindera itu sendiri tidak merupakan sumber 

dosa, sekalipun sering kali diperalat oleh perangai duniawi untuk 

berbuat dosa. Lagi pula, ajaran semacam ini menuntun orang kepada 

berbagai tindakan yang tak masuk akal, misalnya askese, yaitu 

kegiatan yang hendak melemahkan kemampuan indera manusia. 

Teori ini bukannya menerangkan asal mula dosa, melainkan 

sebenarnya menyangkal adanya dosa; karena jika  dosa bersum­

97 Strong, Systematic Theology, hal. 565.

276 Antropologi

ber pada susunan sifat manusia yang asli, kita dapat menganggapnya 

sebagai suatu kemalangan, namun kita tidak dapat menganggapnya 

sebagai kesalahan. Dan akhirnya, Alkitab mengajarkan bahwa dosa 

tidak ada  dalam keadaan mula-mula manusia, namun  dosa timbul 

karena pilihan yang tegas dan tak dipaksa yang ditentukan oleh 

manusia sendiri.

D. DOSA BERSUMBER PADA TINDAKAN ADAM YANG 

SUKARELA

Bila dosa tidak bersifat kekal, tidak pula disebabkan oleh keter­

batasan manusia atau hal-hal yang berhubungan dengan pancaindera 

manusia, bagaimanakah dosa itu mulai timbul? Kenyataan bahwa 

dosa ada pada setiap manusia di mana-mana menuntut kita untuk 

mencari penjelasannya kepada manusia yang pertama. Alkitab 

mengajarkan bahwa karena satu perbuatan dosa dari satu orang, 

dosa telah memasuki dunia, dan bersamaan dengan itu semua akibat 

dosa yang terasa di mana-mana (Roma 5:12-19; I Korintus 15:21, 

22). Satu orang ini ialah Adam dan satu dosa ini  ialah 

memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang 

jahat (Kejadian 3:1-7; I Timotius 2:13, 14).

Bahwa kisah kejatuhan manusia dalam Kejadian 3:1-7 yaitu  

suatu peristiwa sejarah jelas dari kenyataan bahwa peristiwa itu di­

sampaikan sebagai sejarah, berada dalam konteks fakta-fakta 

sejarah, dan oleh penulis-penulis lainnya di Alkitab dianggap 

sebagai peristiwa sejarah. Dalam tulisan-tulisan alegoris tokoh- 

tokoh cerita tidak mempunyai nama atau nama mereka bersifat sim­

bolik. Adam dan Hawa merupakan nama orang dan bukan simbolik. 

Kisah penciptaan itu jelas dan sederhana. Taman, sungai-sungai, 

pohon-pohon, dan hewan yang disebut dalam kisah itu dengan nyata 

merupakan fakta-fakta sejarah yang benar-benar ada; bagaimana 

mungkin kisah yang berada di tengah-tengah konteks seperti itu 

dapat dianggap sebagai kisah yang alegoris? Kristus dan para rasul 

menganggap kisah ini  bersifat historis (Yohanes 8:44; II 

Korintus 11:3; Wahyu 12:9). Selanjutnya, ular bukanlah nama sim­

bolik untuk Iblis, itu juga bukan Iblis dalam bentuk ular. Ular yang 

betul itu yaitu  perantara dalam tangan Iblis. Hal ini jelas dari pen­

jelasan tentang binatang melata ini dalam Kejadian 3:1 dan kutuk 

yang dijatuhkan padanya dalam Kejadian 3:14.

Kejatuhan Manusia: Kenyataan Serta Dampak... 277

Ujian itu terdiri atas dilarangnya Adam dan Hawa makan buah 

pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Nampaknya, seakan- 

akan ada unsur yang memelihara hidup di dalam buah pohon 

kehidupan, karena saat  Allah mengusir Adam dan Hawa keluar 

dari taman Eden, Allah melakukannya supaya "jangan sampai ia 

mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon 

kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama- 

lamanya" (Kejadian 3:22). Mungkin, pohon pengetahuan tentang 

yang baik dan yang jahat memiliki sifat misterius yang akan meng­

hasilkan pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat seperti yang 

disebut namanya.98 Akan namun , nampaknya lebih masuk akal 

bahwa pohon ini diciptakan hanya untuk menguji manusia, karena 

setelah memakannya Adam tetap tidak mampu mengetahui mana 

yang baik dan mana yang jahat. Adam tetap harus mencari keterang­

an dari Firman Allah untuk mengetahui jawabannya. Adam me­

ngetahui bahwa tidak taat itu salah dan bahwa taat itu betul, namun 

ia tidak mengetahui hal ini melalui pengalamannya. Ketiadaan pe­

ngetahuan tentang yang baik dan yang jahat disebut sebagai ketidak- 

dewasaan (Yesaya 7:15, 16), dan pengetahuan yang baik dan yang 

jahat merupakan kedewasaan moral (II Samuel 14:17-20). Pohon 

pengetahuan itu sendiri sebenarnya baik, dan buahnya itu pun baik, 

karena Tuhan yang menjadikannya; bukan pohonnya namun  ketidak­

taatan itulah yang mengandung kematian. Dengan kata lain, Allah 

menghadapkan kepada manusia dua hal yang baik: pohon kehi­

dupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat; 

Ia tidak memberikan satu pohon yang baik dan satu pohon yang 

jelek. Ia melarang manusia memakan buah dari pohon pengetahuan 

bukan karena pohon itu jelek, melainkan karena Ia ingin menguji 

ketaatan manusia kepada kehendak-Nya.

98 Untuk pembahasan yang lebih lengkap dari seorang yang menyetujui pandangan 

ini, lihat Custance, The Nature of the Forbidden Fruit.

Tidak ada apa-apa dalam larangan ini yang menunjukkan bahwa 

Allah merencanakan kehancuran manusia. Larangan ini  

merupakan tuntutan yang wajar dan sederhana dari sang Pencipta. 

Bahkan, ada banyak hal yang menunjukkan bahwa Allah telah 

membuat ketaatan sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan. Ia men­

ciptakan manusia tanpa ada sifat dosa, menempatkannya dalam 

lingkungan yang sempurna, menyediakan segala sesuatu yang diper­

278 Antropologi

lukan manusia, melengkapinya dengan berbagai kemampuan mental 

yang hebat, menyuruh manusia bekerja agar memakai  tangan 

dan akalnya, menyediakan seorang teman hidup baginya, meng­

ingatkan dia akan akibat-akibat ketidaktaatan, serta mengadakan 

hubungan pribadi dengannya. Jelaslah, Allah tidak dapat disalahkan 

atas kejatuhan manusia.

Dapat diringkaskan bahwa godaan Iblis sangat menawan hati 

manusia secara berikut: godaan itu membuat manusia ingin 

memperoleh sesuatu yang dilarang oleh Allah, mengetahui sesuatu 

yang tidak dinyatakan oleh Allah, dan menjadi sesuatu yang tidak 

direncanakan oleh Allah baginya. Iblis mula-mula berusaha untuk 

membuat Hawa meragukan kebaikan Allah. Iblis berkata, 'Tentulah 

Allah berfirman: semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan 

buahnya, bukan?" (Kejadian 3:1). saat  Hawa menjawab bahwa 

Allah mengizinkan mereka memakan semua buah dalam taman itu 

kecuali buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, Iblis 

menolak kebenaran pernyataan Allah bahwa ketidaktaatan akan 

menghasilkan kematian. "Sekali-kali kamu tidak akan mati, namun  

Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu 

akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang 

yang baik dan yang jahat" (ayat 4, 5). Rupanya Hawa mulai percaya 

apa yang dikatakan oleh Iblis, sehingga dengan cepat mengambil 

langkah-langkah yang masih diperlukan untuk melakukan perbuatan 

dosa yang nyata. Kita membaca bahwa saat  "perempuan itu 

melihat bahwa pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatan­

nya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. 

Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya 

juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suami­

nya pun memakannya" (ayat 6). Maksudnya, melalui "keinginan 

daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup" (I Yohanes 

2:16), Hawa jatuh. Untuk meringkaskannya, wanita jatuh karena 

penipuan; laki-laki jatuh karena kasih sayang (Kejadian 3:13, 17; 

I Timotius 2:14). Harus diperhatikan bahwa Alkitab menganggap 

dosa itu masuk melalui Adam dan bukan melalui Hawa (Roma 5:12, 

14; I Korintus 15:22). Kristus, yaitu Adam yang kedua, menghadapi 

pencobaan-pencobaan yang sama, namun  Ia berhasil keluar sebagai 

pemenang (Matius 4:1-11; Lukas 4:1-13).

Perkembangan yang akhirnya membawa kepada dosa yang per­

tama nampaknya yaitu  sebagai berikut: Hawa meragukan kebaikan 

Kejatuhan Manusia: Kenyataan Serta Dampak... 279

Allah; ia percaya dusta Iblis; ia menyerah pada keinginan daging; 

ia menyerah pada keinginan yang berlebihan akan keindahan; dan 

ia mendambakan kebijaksanaan yang tidak dimaksudkan baginya. 

Nampaknya, Adam berbuat dosa karena kasihnya kepada Hawa dan 

itu dilakukannya dengan menyadari sepenuhnya akan peringatan 

Allah. Namun semua ini belum merunut dosa sampai ke akar-akar­

nya. Dosa yang pertama yaitu  keinginan dalam hati, tindakan me­

milih kepentingan pribadi di atas kepentingan Allah, mengutamakan 

diri sendiri dan bukan Allah, menjadikan diri tujuan yang utama 

dan bukan Allah. Tindakan mengambil buah terlarang sekadar 

mengungkap dosa yang telah diperbuat di dalam hati (Matius 5:21, 

22, 27, 28).

II. BERBAGAI DAMPAK LANGSUNG DARI DOSA 

ADAM

Berbagai dampak dosa yang pertama bersifat langsung, luas jang­

kauannya, dan menakutkan. Sulit untuk menahan keinginan untuk 

mengetahui apa yang kira-kira akan terjadi seandainya Adam dan 

Hawa tidak berdosa, namun Alkitab membisu tentang hal ini, dan 

kita tidak boleh menerka-nerka tentang sesuatu yang Allah tidak 

mau ungkapkan. Bagaimanapun juga, kita dapat menduga bahwa 

ketaatan akan mengakibatkan kebaikan sebagaimana ketidaktaatan 

mengakibatkan kehancuran. Kita tidak dibenarkan menafsirkan 

lebih jauh lagi. Namun, kita dapat melihat apa yang terjadi pada 

Adam dan Hawa serta lingkungan mereka sebagai akibat dari dosa 

yang mereka lakukan. Dosa yang pertama mempengaruhi hubungan 

nenek moyang pertama kita dengan Allah, mempengaruhi sifat 

mereka, mempengaruhi tubuh mereka dan alam di sekitar mereka.

A. DAMPAK ATAS HUBUNGAN MEREKA DENGAN TUHAN

Sebelum kejatuhan, Allah dan Adam bersekutu satu sama lain; 

setelah kejatuhan, persekutuan itu putus. Nenek moyang kita yang 

pertama mulai menyadari ketidaksenangan Allah terhadap mereka; 

mereka telah melanggar perintah Allah yang tegas untuk tidak 

makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, 

dan oleh karena itu mereka bersalah. Mereka sadar bahwa mereka

280 Antropologi

telah kehilangan kedudukan mereka di hadapan Allah dan bahwa 

kini mereka berada di bawah penghukuman-Nya. Jadi, mereka 

bukannya mencari persekutuan dengan Dia, namun  malah berusaha 

lari menjauhi Allah. Hati nurani yang merasa tertuduh membuat 

mereka tidak dapat merasa tenang, sehingga mereka mulai berusaha 

mengalihkan tanggung jawab. Adam mengatakan bahwa Hawa, 

perempuan yang diberikan Allah kepadanya, yang menyebabkan dia 

berbuat dosa (Kejadian 3:12); saat  gilirannya tiba, Hawa 

menyalahkan ular (ayat 13). Baik Adam maupun Hawa bersalah, 

namun  keduanya berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab atas 

dosa mereka itu kepada yang lain.

B. DAMPAK ATAS SIFAT MEREKA

saat  Adam dan Hawa baru saja diciptakan, mereka bukan saja 

tidak bersalah, namun  mereka juga kudus. Mereka tidak memiliki 

sifat yang berdosa. Kini mereka merasa malu, hina, dan tercemar. 

Ada sesuatu yang harus mereka sembunyikan. Mereka telanjang dan 

tidak dapat tampil di hadapan Allah dalam keadaan yang telah keji. 

Kesadaran akan ketidaklayakan mereka itulah yang menyebabkan 

mereka membuat pakaian dari daun ara (Kejadian 3:7). Mereka 

tidak hanya malu tampil di hadapan Allah dalam keadaan yang baru 

itu, namun  mereka juga malu untuk berhadapan satu sama lain. 

Secara moral mereka telah hancur. Allah telah berfirman kepada 

Adam mengenai pohon yang terlarang itu, "Pada hari engkau 

memakannya, pastilah engkau mati" (Kejadian 2:17). Kematian ini 

pertama-tama merupakan kematian rohani, yaitu terpisahnya jiwa 

manusia dari Allah. Kematian rohani ini tidak hanya berarti bahwa 

kita tidak mampu menyenangkan hati Allah, namun  juga bahwa sifat 

mereka tercemar. Demikianlah, "dosa telah masuk ke dalam dunia 

oleh satu orang" (Roma 5:12).

Kenyataan bahwa dosa masuk ke dalam dunia melalui Adam 

berarti bahwa dosa mulai hadir di dalam umat manusia dan manusia 

mulai berbuat dosa, perangai manusia menjadi rusak dan manusia 

mulai bersalah. Manusia menjadi orang berdosa (Roma 5:19). 

Pelanggaran yang sesungguhnya bersumber pada sifat manusia yang 

berdosa."

99 Untuk mendapatkan pembahasan yang baik tentang makna Roma 5:12, lihat

Hodge, Commentary on the Epistle to the Romans, hal. 144-155.

Kejatuhan Manusia: Kenyataan Serta Dampak... 281

C. DAMPAK ATAS TUBUH MEREKA

saat  mengatakan bahwa sebagai akibat ketidaktaatan manusia 

"pasti akan mati" (Kejadian 2:17), Allah memaksudkan tubuh 

mereka juga. Allah berfirman kepada Adam, "Sebab engkau debu 

dan engkau akan kembali menjadi debu" (Kejadian 3:19). Kata-kata 

Paulus, "Sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan 

Adam" (I Korintus 15:22), terutama menunjuk kepada kematian jas­

maniah. saat  menulis bahwa "... dosa telah masuk ke dalam dunia 

oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut" (Roma 5:12), Paulus 

mencantumkan konsepsi kematian yang menyeluruh: fisik, rohani, 

dan abadi. Selanjutnya, karena kebangkitan tubuh merupakan 

bagian dari penebusan (Roma 8:23), kita dapat menyimpulkan 

bahwa kematian jasmaniah merupakan akibat dari dosa Adam.

Akan namun , orang-orang yang menolak ajaran dosa asal 

beranggapan bahwa kematian merupakan keburukan yang alami, 

bersumber pada keadaan jasmani manusia yang asli, sehingga bagi 

mereka kematian tidaklah merupakan bukti bahwa semua manusia 

berdosa sama seperti kematian binatang tidak membuktikan bahwa 

semua binatang berdosa. Cukup kiranya bila mengatakan manusia 

bukanlah binatang, dan bahwa Alkitab mengajarkan bahwa 

kematian jasmaniah merupakan bagian dari hukuman dosa 

(Kejadian 3:19; Ayub 5:18, 19; 14:1-4; Roma 5:12; 6:23; I Korintus 

15:21, 22, 56; II Korintus 5:1, 2, 4; II Timotius 1:10).

Bagaimana jika manusia dahulu tidak berbuat dosa? Sudah pasti, 

manusia akan tetap hidup kudus dan bahkan akan diteguhkan dalam 

kekudusan; sifat kudus akan diperkuat menjadi watak yang kudus. 

Namun bagaimana dengan tubuh? Alkitab tidak mengatakan apa- 

apa mengenai hal ini, namun nampaknya bahwa tubuh alami 

(jiwani) akan diubah menjadi tubuh rohani yang mirip dengan 

tubuh-tubuh yang diubah pada saat Kristus kembali untuk kedua 

kalinya (bandingkan Kejadian 2:7 dengan I Korintus 15:44-49).

Penyakit jasmaniah juga merupakan akibat dosa. Pada saat 

manusia mulai makan dari pohon yang terlarang itu, ia menjadi 

makhluk yang akan mati. Pencemaran yang mematikan mulai beker­

ja sesaat  itu juga. Kesakitan yang akan diderita oleh baik laki-laki 

maupun wanita timbul dari pelanggaran mereka. Kenyataan bahwa 

manusia tidak mati sesaat  itu juga disebabkan oleh rencana Allah 

yang rahmani untuk menebus manusia. Dan oleh karena ada ikatan

282 Antropologi

yang erat antara pikiran dengan tubuh, kita dapat menyimpulkan 

bahwa kemampuan mental dan fisik mereka mulai menjadi lemah 

dan rusak. Ini tidak berarti bahwa setiap penyakit merupakan akibat 

langsung perbuatan dosa seseorang (Ayub 1, 2; Yohanes 9:3; 

II Korintus 12:7), namun  yang dimaksud ialah bahwa pada hakikat­

nya, penyakit fisik dan mental merupakan akibat dosa Adam. Unsur 

hukuman atas dosa saja merobohkan argumen teori evolusi. 

Manusia tidak mengembangkan kekuatan jasmaniah dan mental 

yang lebih hebat, namun  telah merosot dari keadaan semula yang 

sempurna kepada keadaan yang lemah dan tidak sempurna saat ini.

D. DAMPAKNYA TERHADAP LINGKUNGAN

Kita membaca dalam Alkitab bahwa ular itu terkutuk "di antara 

segala ternak dan di antara segala binatang di hutan" (Kejadian 

3:14). Jelaslah bahwa semua hewan ikut menderita akibat dosa 

Adam. Di kemudian hari, kutuk ini akan diangkat, dan binatang 

buas yang rakus akan berbaring berdampingan dengan hewan 

piaraan yang jinak (Yesaya 11:6-9; 65:25; Hosea 2:17). Allah ber­

firman, "... Terkutuklah tanah karena engkau; dan dengan ber- 

susah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur 

hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya 

bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makanan­

mu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai 

engkau kembali lagi menjadi tanah" (Kejadian 3:17-19). Bahkan 

alam yang mati pun harus menderita karena kutuk yang dijatuhkan 

atas dosa manusia. Tentang hal ini Alkitab mengatakan di tempat 

lain bahwa akan tiba saatnya saat  "makhluk itu sendiri juga akan 

dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam 

kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu bahwa 

sampai sekarang segala makhluk sama-sama merasa sakit bersalin" 

(Roma 8:21, 22). Yesaya 35 berbicara soal pemulihan alam semesta 

kepada keadaan dan keindahannya yang asli. Adam dan Hawa diusir 

dari taman itu dan dipaksa berusaha sendiri di dalam dunia yang 

terkutuk. Pada mulanya mereka berada dalam lingkungan yang 

paling indah dan sempurna; kini mereka terpaksa hams tinggal di 

dalam lingkungan yang tidak sempurna dan ganas. Lingkungan 

mereka jelas berubah karena dosa.

XIX

Kejatuhan Manusia: Penghitungan 

dan Dampak-Dampak Rasial

Dosa yaitu  tindakan dan prinsip, kesalahan dan pencemaran. Kalau 

kita melihat di sekeliling kita, kita melihat bahwa dosa merupakan 

persoalan yang universal. Sejarah memperlihatkan hal ini dalam 

bentuk kisah-kisah tentang keimaman dan persembahan korban di 

antara aneka kebudayaan di dunia ini. Dan setiap orang tahu bahwa 

ia tidak memenuhi kesempurnaan moral namun  bahwa setiap orang 

lain juga mempunyai kekurangan yang sama. Kata-kata mutiara 

yang terkenal seperti 'Tiada gading yang tak retak" menunjukkan 

keyakinan umat manusia bahwa dosa meliputi semua manusia. 

Pengalaman Kristen secara serempak mengungkap kehadiran dosa 

dalam hati manusia, dan tidak adanya kesadaran akan dosa dalam 

hati orang yang belum diselamatkan berarti bahwa hati orang ter­

sebut telah mengeras.

I. KEUNIVERSALAN DOSA

Alkitab dengan jelas mengajarkan keuniversalan dosa. 'Tidak ada 

manusia yang tidak berdosa" (I Raja-Raja 8:46); "Di antara yang 

hidup tidak seorang pun yang benar di hadapan-Mu" (Mazmur 

143:2); "Siapakah dapat berkata, ’Aku telah membersihkan hatiku, 

aku tahir daripada dosaku?’" (Amsal 20:9); "Sesungguhnya, di bumi 

tidak ada orang yang saleh; yang berbuat baik dan tak pernah ber­

buat dosa" (Pengkhotbah 7:20); "Jika kamu yang jahat" (Lukas 

11:13); 'Tidak ada yang benar, seorang pun tidak . . . tidak ada 

yang berbuat baik, seorang pun tidak" (Roma 3:10, 12); "Supaya

283

284 Antropologi

tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman 

Allah" (Roma 3:19); "Karena semua orang telah berbuat dosa dan 

telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23); "Kitab Suci telah 

mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa" (Galatia 3:22); 

"Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal" (Yakobus 3:2); "Jika 

kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita 

sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita" (I Yohanes 1:8). 

Keuniversalan dosa juga terlihat dari kenyataan bahwa semua orang 

yang belum menerima Kristus berada di bawah hukuman (Yohanes 

3:18, 36; I Yohanes 5:12, 19), dan bahwa pendamaian, kelahiran 

baru, serta pertobatan merupakan kebutuhan-kebutuhan universal 

(Yohanes 3:3, 5, 16; 6:50; 12:47; Kisah 4:12; 17:30). saat  Alkitab 

berbicara soal manusia sebagai baik, maka yang dimaksudkan ialah 

kebaikan yang berpura-pura saja (Matius 9:12, 13), atau kebaikan 

dengan pamrih (Roma 2:14; Filipi 3:15).

Keadaan penuh dosa yang universal ini tidak terbatas pada tin­

dakan-tindakan yang berdosa, namun  meliputi juga pemilikan sifat 

yang berdosa. Alkitab menunjuk bahwa tindakan dan kecenderung­

an untuk berbuat dosa bersumber kepada perangai yang rusak. "Ka­

rena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak 

baik . . . orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari 

perbendaharaannya yang jahat" (Lukas 6:43-45). "Bagaimanakah 

kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sen­

diri jahat?" (Matius 12:34). Semua orang pada dasarnya disebut 

"orang yang harus dimurkai" (Efesus 2:3); dan kematian, hukuman 

atas dosa itu, bahkan menimpa orang-orang yang tidak berbuat dosa 

(Roma 5:12-14). Disimpulkan bahwa memiliki sifat duniawi yaitu  

sifat khas manusia di seluruh dunia.

II. PENGHITUNGAN DOSA

Bila semua orang itu berdosa, bagaimana sampai hal itu terjadi? 

Akibat yang begitu universal pastilah memiliki penyebab yang 

universal pula. Alkitab mengajarkan bahwa dosa Adam dan Hawa 

telah menyebabkan seluruh keturunan mereka berdosa (Roma 5:19). 

Dosa Adam telah dibilang dihitung, dianggap, atau dituduhkan 

kepada setiap anggota umat manusia. Roma 5:19 berbunyi, "Oleh 

ketidaktaatan satu orang semua telah menjadi orang berdosa." Oleh 

Kejatuhan Manusia: Penghitungan dan Dampak... 285

karena dosa Adam itulah kita lahir ke dalam dunia dengan perangai 

yang rusak serta berada di bawah hukuman Allah (Roma 5:12; 

Efesus 2:13). Bagaimana kita bisa bertanggung jawab atas perangai 

yang rusak yang tidak berasal dari diri kita sendiri dan bagaimana 

Allah dapat secara adil menuduh kita ikut melakukan dosa Adam? 

Ada berbagai teori tentang dosa Adam yang dibilang atau dihitung 

kepada keturunannya.

A. TEORI PELAGIANISME

Pelagius yaitu  seorang biarawan Inggris yang lahir sekitar 370 

TM. Ia mengemukakan ajaran-ajarannya di Roma sekitar tahun 409, 

namun semuanya disalahkan oleh Konsili di Kartago pada tahun 

418. Golongan antitrinitarisme (Sosianisme) dan Unitarianisme 

umumnya menerima ajaran Pelagius. Teori ini menyatakan bahwa 

dosa Adam hanya mempengaruhi diri Adam sendiri; bahwa setiap 

jiwa diciptakan secara langsung oleh Allah saat  lahir, diciptakan 

dalam keadaan tidak bersalah, bebas dari berbagai kecenderungan 

yang salah, dan mampu taat kepada Allah sebagaimana Adam mula- 

mula; bahwa Allah hanya menuntut tanggung jawab dari manusia 

atas kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sendiri; dan bahwa 

satu-satunya akibat dosa Adam kepada keturunannya ialah bahwa 

perbuatan Adam itu merupakan teladan yang buruk. Manusia dapat 

diselamatkan baik oleh hukum Taurat maupun oleh Injil. Kematian 

jasmaniah hanya merupakan pelaksanaan hukum yang asli. Ayat 

yang berbunyi, "Maut itu telah menjalar kepada semua orang, 

karena semua orang telah berbuat dosa" (Roma 5:12), ditafsirkan 

sebagai berarti bahwa semua orang mendatangkan kematian kekal 

atas dirinya karena semua berbuat dosa menurut teladan Adam. 

Menurut teori ini, manusia itu tidak bercacat cela sampai pada 

saat  ia sendiri berbuat dosa, maka pada saat itulah ia menjadi 

orang berdosa.

Jawaban kita ialah, teori ini tidak pernah diakui sebagai 

alkitabiah oleh denominasi apa pun, juga tidak pernah tercantum 

dalam pengakuan iman mana pun. Akan namun , Alkitab meng­

ajarkan bahwa semua manusia telah mewarisi sifat berdosa (Ayub 

14:4; 15:14; Mazmur 51:7; Roma 5:12; Efesus 2:3); bahwa manusia 

pada umumnya menjadi bersalah karena melakukan tindakan-tin­

dakan yang berdosa selekasnya mereka mulai sadar secara moral 

286 Antropologi

(Mazmur 58:4; Yesaya 48:8); bahwa tidak ada orang yang dapat 

diselamatkan dengan berbuat baik (Mazmur 143:2; Kisah 13:29; 

Roma 3:20; Galatia 2:16); dan bahwa Alkitab menggambarkan 

keadaan manusia yang telah jatuh sebagai akibat langsung dosa 

Adam (Roma 5:15-19). Di samping itu, Pelagianisme secara keliru 

menganggap bahwa kehendak itu hanya merupakan suatu kemam­

puan dari kemauan, padahal kehendak itulah yang terutama memilih 

dan menentukan sendiri tujuan hidup manusia; bahwa hukum hanya 

terdiri atas ketaatan yang positif; dan bahwa setiap jiwa diciptakan 

secara langsung oleh Allah dan tidak ada hubungan dengan hukum 

moral kecuali hukum yang bersifat pribadi.

B. TEORI ARMINIANISME

Arminius (1560-1609) yaitu  seorang gurubesar di negeri Belanda. 

Pandangannya disebut Semi-Pelagianisme. Pandangannya dianut 

oleh Gereja Yunani, gereja-gereja Metodis, serta gereja-gereja lain­

nya yang beraliran Arminianisme. Menurut teori ini, manusia itu 

sakit. Sebagai akibat dari pelanggaran Adam, manusia pada dasar­

nya tidak mempunyai kebenaran yang semula dan, tanpa bimbingan 

ilahi, manusia samasekali tidak mampu mencapainya. Karena keti­

dakmampuan ini sifatnya fisik dan intelektual, bukannya sukarela, 

maka saat  seseorang mulai sadar, Allah, sebagai tindakan yang 

adil, memberikan kepadanya pengaruh Roh Kudus yang khusus. 

Pengaruh ini cukup kuat untuk menangkal dampak kerusakan 

akhlak yang mereka warisi sehingga memungkinkan ketaatan bila 

mereka mau bekerja sama dengan Roh Kudus. Mereka akan mampu 

melakukan itu. Kecenderungan buruk di dalam diri manusia dapat 

disebut dosa, namun  tidak menyangkut kesalahan atau hukuman. 

Sesungguhnya, manusia tidak dibilang bersalah karena dosa Adam. 

Hanya bila manusia secara sadar dan sukarela menyerah kepada 

kecenderungan-kecenderungan buruk inilah Allah memper­

hitungkannya kepada mereka sebagai dosa. Pernyataan, "Maut itu 

telah menjalar kepada semua orang karena semua orang telah ber­

buat dosa" (Roma 5:12), ditafsirkan sebagai berarti bahwa semua 

orang menderita akibat dosa Adam dan bahwa semua orang secara 

pribadi menyetujui keadaan berdosa di dalam diri mereka itu dengan 

cara melakukan pelanggaran.

Kejatuhan Manusia: Penghitungan dan Dampak... 287

Jawaban kami ialah bahwa menurut Alkitab, manusia berbuat 

dosa di dalam Adam dan oleh karena itu, manusia sudah dinyatakan 

bersalah sebelum ia sendiri berbuat dosa; bahwa sifat berdosa di 

dalam manusia itu disebabkan oleh dosanya di dalam Adam; bahwa 

Allah tidak berkewajiban memberikan pengaruh khusus dari Roh 

Kudus untuk membantu manusia bekerja sama dalam memperoleh 

keselamatan; bahwa manusia tidak secara sadar menyerah kepada 

kecenderungan untuk berbuat dosa pada waktu ia mulai sadar; 

bahwa kemampuan bukan ukuran bagi kewajiban dan bahwa 

kematian jasmaniah bukanlah soal keputusan yang sewenang- 

wenang, namun  merupakan hukuman yang adil atas dosa. Teori yang 

dikenal dengan nama teori New School, yang telah meninggalkan 

pandangan Puritan yang lama, sangat mirip dengan ajaran Ar- 

minianisme. Pandangan New School ini juga beranggapan bahwa 

manusia hanya bertanggung jawab atas apa yang mereka sendiri 

lakukan; bahwa sekalipun semua orang mewarisi kecenderungan 

untuk berbuat dosa, dan semua orang memang berbuat dosa secepat 

mereka mulai menjadi sadar secara moral. Namun ketidakmampuan 

ini sendiri jelas bukan dosa. Karena pandangan ini begitu mirip 

dengan pandangan Arminianisme, maka argumen kami yang 

menentangnya sama juga.

C. TEORI PENGHITUNGAN TIDAK LANGSUNG

Teori ini mengakui bahwa semua orang secara fisik dan moral 

sudah bejat sejak lahir, dan bahwa kebejatan bawaan ini merupakan 

sumber semua perbuatan dosa, serta kebejatan ini sendiri dosa ada­

nya. Kebejatan fisik telah turun lewat kelahiran alami dari Adam, 

sedangkan jiwa secara langsung diciptakan oleh Allah, namun  jiwa 

yang baru diciptakan ini  langsung tercemar saat  bersatu de­

ngan tubuh. Kebejatan bawaan ini yaitu  satu-satunya hal yang 

diperhitungkan Allah kepada manusia, namun hanya sebagai akibat 

pelanggaran Adam, dan bukan sebagai hukuman. Dengan kata lain, 

dosa Adam diperhitungkan secara tidak langsung dan bukan secara 

langsung. Teori ini menjadikan kebejatan sebagai penyebab peng­

hitungan, dan bukan penghitungan sebagai penyebab kebejatan. 

Maksud Roma 5:12 ialah bahwa semua orang berbuat dosa karena 

memiliki sifat yang berdosa.

288 Antropologi

Beberapa hal perlu dikatakan tentang pandangan ini. Alkitab 

mengajarkan bahwa alasan kebejatan kita yaitu  karena kita ikut 

mengambil bagian di dalam dosa Adam. Kebejatan itu kesalahan 

kita, bukan nasib buruk. Kebejatan merupakan akibat penghukuman 

dari dosa. Selanjutnya, pandangan ini merusak pararelisme antara 

Adam dengan Kristus. Dosa Adam diperhitungkan kepada kita, 

sebagaimana halnya kebenaran Kristus. Pandangan penghitungan 

tidak langsung ini menjadikan keselamatan itu suatu pembenaran 

subjektif dan bukan kebenaran Kristus yang diperhitungkan pada 

kita. Pandangan ini juga meniadakan gagasan perwakilan yaitu 

bahwa seseorang dapat dihukum secara adil untuk kesalahan orang 

lain.

D. TEORI REALISTIS

Menurut pandangan ini umat manusia secara alami dan secara 

hakiki berada di dalam Adam saat  Adam berbuat dosa. Di dalam 

dosa yang pertama ini, manusia menjadi cemar dan bersalah, dan 

keadaan ini diturunkan kepada keturunan Adam. Semua keturunan 

Adam telah mengambil bagian secara tidak bersifat pribadi dan 

tidak sadar saat  Adam pertama kali berbuat dosa. Jadi, karena 

manusia dapat dikatakan tunggal, maka sifat manusia yang umum 

dan belum disebar menjadi individu-individu itulah yang melakukan 

dosa pertama itu. Dengan demikian semua orang yaitu  rekan 

Adam dalam berbuat dosa itu. Dengan demikian secara adil dosa 

dapat diperhitungkan dan manusia dihukum karena ia dahulu ikut 

serta dalam berbuat dosa.

Sekalipun pandangan ini lebih dekat pada ajaran Alkitab menge­

nai penghitungan dosa daripada teori-teori sebelumnya, masih saja 

ada beberapa persoalan yang sulit dijawab. Dapatkah manusia dika­

takan bersalah untuk dosa yang tidak dilakukannya dengan sengaja? 

Dan dapatkah manusia bertindak sebelum ia itu ada? Selanjutnya, 

bila manusia bersalah karena keikutsertaannya dalam dosa pertama 

Adam itu, apakah ia juga ikut bersalah dalam dosa-dosa Adam 

sesudah itu? Adakah Kristus, karena memiliki sifat manusia, juga 

mengambil bagian dalam dosa Adam ini? Selain dari itu, adakah 

pandangan ini mengemukakan pararelisme yang diperlukan antara 

Adam dengan Kristus?

Kejatuhan Manusia: Penghitungan dan Dampak... 289

Murray mengatakan tentang pandangan ini, "Bila kita dihukum 

dan menderita kematian karena kita ini bejat dan berpembawaan 

penuh dosa, maka satu-satunya analogi atau persamaan terhadap 

pandangan ini ialah bahwa kita dibenarkan karena kudus sudah 

menjadi pembawaan kita."100 Akan namun , kita dibenarkan oleh 

kebenaran Yesus Kristus.

100 Murray, The Epistle to the Romans, I, hal. 185.

101 Shedd, Dogmatic Theology, II, hal. 60.

E. TEORI FEDERAL

Teori federal atau teologi perjanjian beranggapan bahwa Adam 

yaitu  kepala alami dan federal atas umat manusia. Kepemimpinan 

federal atau kepemimpinan representatif yaitu  dasar khusus bagi 

penghitungan dosa Adam kepada keturunannya. saat  Adam ber­

buat dosa, ia bertindak sebagai wakil umat manusia. Allah memper­

hitungkan kesalahan dosa pertama itu kepada semua orang yang 

diwakili oleh Adam saat  itu, yaitu seluruh umat manusia. 

Sebagaimana dosa diperhitungkan kepada kita karena ketidaktaatan 

Adam, demikianlah kebenaran dapat diperhitungkan kepada kita 

karena ketaatan Kristus (Roma 5:19). Mereka yang menerima pan­

dangan ini menganjurkan bahwa Adam mengadakan perjanjian 

kerja dengan Allah dan bahwa saat  itu Adam berbicara dan ber­

tindak sebagai wakil seluruh umat manusia. Akan namun , dalam 

kitab Kejadian tidak disebutkan perjanjian semacam itu. Menurut 

pandangan federalisme, Adam merupakan kepala perjanjian 

sehingga dosanya diperhitungkan dan dikaitkan pada keturunannya; 

dalam realisme, seluruh umat manusia benar-benar turut berbuat 

dosa di dalam Adam.

Beberapa keberatan telah dikemukakan terhadap pandangan ini. 

Dapatkah manusia dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran 

suatu perjanjian yang tidak ikut disahkannya? Kita memang bisa 

ikut menderita akibat dosa orang lain, namun dapatkah seseorang 

dianggap bersalah karena dosa orang lain? Selanjutnya, analogi di 

antara Adam dengan Kristus tidak paralel secara menyeluruh, 

karena "satu orang bisa saja taat sebagai pengganti orang lain agar 

dapat menyelamatkan mereka; namun  tidak mungkin seseorang ber­

tindak tidak taat sebagai pengganti orang lain agar dapat menghan­

curkan mereka."101 Dengan kata lain, menderita hukuman untuk 

290 Antropologi

orang lain memang dapat dilakukan, namun  berbuat dosa untuk orang 

lain tidak dapat.

Baik teori realistis maupun teori federal tentang penghitungan 

dosa nampaknya menghadapi masalah-masalah yang mustahil 

dipecahkan; namun harus diakui bahwa kedua pandangan ini juga 

menyelesaikan beberapa persoalan. Mungkin ada posisi menengah 

yang mencantumkan baik konsepsi perwakilan maupun hubungan 

alami dengan Adam.

F. TEORI PERSONALITAS BERSAMA

Pandangan ini menekankan hubungan yang erat dari seorang in­

dividu dengan kelompok mana ia menjadi anggota. Setiap individu 

dapat bertindak sebagai wakil kelompok itu. Dalam Perjanjian Lama 

ada contoh-contoh nyata tentang asosiasi dan perwakilan semacam 

ini. Seantero keluarga dapat dibunuh karena dosa salah satu ang­

gotanya (bandingkan Akhan, Yosua 7:24-26). Nama keluarga amat 

penting; seorang anak dapat menghormati atau mencemarkan nama 

orang tua, sehingga nama itu bisa dihapuskan (I Samuel 24:22). 

Bahkan unit keagamaan atau moralitas terutama menyangkut 

seluruh umat manusia, bukan hanya orang seorang. Berlandaskan 

konsepsi personalitas bersama, teori ini mengemukakan bahwa dosa 

diperhitungkan. Dodd mengatakan bahwa "unit moral yaitu  

masyarakat ..., dan bukan orang Seorang."102

102 Dodd, The Epistle of Paul to the Romans, hal. 79.

103 Berkouwer, Sin, hal. 517.

Dalam Roma 5, Paulus tidak berusaha untuk menyelesaikan soal- 

soal filosofis yang timbul dalam teori realistis atau teori federal. Ia 

malah memakai  konsepsi Ibrani yang mendukung solidaritas 

umat manusia. Sebagaimana ditulis oleh Berkouwer, 'Paulus ber­

pikir tentang suatu hubungan yang tidak dapat disangkal serta 

solidaritas dalam kematian dan kesalahan. Pada saat yang sama, ia 

tidak pernah berusaha menerangkan solidaritas ini secara 

teoretis."103 Memang ada beberapa persoalan dengan pandangan ini. 

Teori ini menghadapi persoalan penghitungan secara sembarangan 

sebagaimana halnya teori federal dan teori realistis, juga keikutser­

taan dalam dosa yang terjadi secara tidak sengaja seperti yang 

diketengahkan oleh teori realistis. Sekalipun demikian, teori ini 

Kejatuhan Manusia: Penghitungan dan Dampak... 291

mengandung sedikit unsur realistis, dan bersamaan dengan itu unsur 

perwakilan juga. Untuk mengutip Berkouwer kembali, "Paulus 

memiliki konsep ’kebersamaan’ saat  memandang Adam dan Kris­

tus; pada saat yang sama, justru kebersamaan ini  tidak pernah 

akan memiliki sifat penjelasan."104

Argumen-argumen nampaknya terus terjadi antara teori realistis 

dan teori perwakilan atau suatu teori menengah. Beberapa sarjana 

telah menganjurkan bahwa kesamaan di antara penghitungan dosa 

serta penghitungan kebenaran jangan dianggap serupa. namun  

mereka harus menganggap bahwa penghitungan kebenaran itu ber­

hubungan dengan ketentuan hukum dan peradilan, sedangkan 

ketidaktaatan Adam itu bersifat perorangan dan hakiki. Kenyataan 

bahwa akibat ketidaktaatan Adam kita semua merupakan orang ber­

dosa tetap ada, dan bahwa melalui ketaatan Kristus orang percaya 

dijadikan benar. Alkitab tidak menerangkan secara terinci 

bagaimana hal ini terjadi, namun Alkitab menyatakan demikian.

104 Berkouwer, Sin, hal. 516.


XX 

Kejatuhan Manusia: Sifat Serta 

Akibat-Akibat Dosa

Akibat-Akibat dosa pertama Adam dapat dibahas berdasarkan tiga 

pokok utama: kebejatan, kesalahan, dan hukuman.

I. KEBEJATAN

A. ARTI KEBEJATAN

Kebejatan ialah tidak adanya kebenaran yang semula dan kasih 

sayang yang kudus terhadap Allah, termasuk pencemaran sifat 

moral manusia dan kecenderungan untuk melakukan kejahatan. 

Baik Alkitab maupun pengalaman manusia menegaskan kebejatan 

ini. Ajaran Alkitab bahwa semua orang harus dilahirkan kembali 

menunjukkan bahwa kebejatan ini ada  pada semua orang.

B. LUASNYA KEBEJATAN

Alkitab mengajarkan bahwa sifat manusia telah rusak samasekali. 

Sekalipun demikian, ajaran "kebejatan menyeluruh" mudah sekali 

menimbulkan salah paham dan salah tafsir. Pentinglah untuk me­

ngetahui apa yang tidak dimaksudkan sebagai kebejatan menyeluruh 

dalam Alkitab dan apa yang dimaksudkannya.

Dari sudut negatif, kebejatan menyeluruh tidak berarti bahwa 

setiap orang berdosa samasekali tidak memiliki sifat-sifat yang 

menyenangkan hati manusia; bahwa orang berdosa melakukan, atau

293

294 Antropologi

cenderung melakukan bermacam-macam dosa; atau bahwa orang 

berdosa sangat membenci Allah. Yesus mengenali adanya beberapa 

sifat yang menyenangkan dalam diri beberapa orang (Markus 

10:21); Yesus juga mengatakan bahwa orang Farisi dan ahli Taurat 

melakukan beberapa hal yang diminta oleh Allah (Matius 23:23); 

Paulus menyatakan bahwa beberapa orang bukan Yahudi menaati 

hukum Taurat secara naluriah (Roma 2:14). Allah mengatakan ke­

pada Abraham bahwa kejahatan orang Amori akan menjadi semakin 

hebat (Kejadian 15:16); dan Paulus mengatakan bahwa "orang jahat 

dan penipu akan bertambah jahat" (II Timotius 3:13).

Dari sudut positif, kebejatan menyeluruh berarti bahwa setiap 

orang berdosa samasekali tidak mampu mengasihi Allah sebagai­

mana dituntut oleh hukum Taurat (Ulangan 6:4, 5; Matius 22:37); 

bahwa orang berdosa sangat mengutamakan dirinya sendiri dan bu­

kan Allah (II Timotius 3:2-4); bahwa orang berdosa menaruh rasa 

tidak suka terhadap Allah yang kadang-kadang malah menyebabkan 

dia memusuhi Allah (Roma 8:7). Kebejatan menyeluruh juga berarti 

bahwa setiap kemampuan di dalam diri orang berdosa itu menjadi 

kacau dan tercemar (Efesus 4:18); bahwa ia tidak memiliki pikiran, 

perasaan, atau tindakan yang sepenuhnya berkenan kepada Allah 

(Roma 7:18); dan bahwa ia kini menjadi semakin lama semakin 

bejat dan ia tidak dapat berbalik samasekali dengan kekuatannya 

sendiri (Roma 7:18). Kebejatan telah merasuki manusia secara 

menyeluruh, yaitu pikiran, perasaan, dan kehendaknya.

Kebejatan telah menghasilkan ketidakmampuan rohani yang total 

di dalam diri orang berdosa sehingga dengan kemauannya sendiri 

ia tidak dapat mengubah perangai dan kehidupannya agar menjadi­

kannya sesuai dengan hukum Allah. Ia pun tidak dapat mengubah 

kecenderungannya untuk mengutamakan diri sendiri dan dosa lalu 

sangat mengasihi Allah, namun ia tetap memiliki kebebasan yang 

terbatas. Misalnya, ia dapat memilih untuk tidak berbuat dosa 

kepada Roh Kudus, menentukan untuk melakukan dosa yang tidak 

begitu parah dibandingkan dengan dosa yang lebih parah, menolak 

samasekali bentuk-bentuk godaan tertentu, melakukan beberapa tin­

dakan yang secara lahiriah dapat dinilai baik, dan bahkan mencari 

Allah dengan alasan-alasan yang betul-betul mementingkan dirinya 

sendiri. Kebebasan untuk memilih dalam batas-batas ini tidaklah 

berlawanan dengan sepenuhnya memperhambakan kehendak dalam 

hal-hal rohani. Ketidakmampuan ini tidaklah berarti kehilangan 

Kejatuhan Manusia: Sifat Serta Akibat-Akibat Dosa 295

sesuatu kemampuan jiwa atau kehendak yang bebas, karena orang 

berdosa itu masih menentukan tindakan-tindakannya sendiri, bukan 

saja sebagai wujud keengganan terhadap apa yang baik, namun  

karena kekurangan pemahaman rohani, dan karena itu kekurangan 

kasih sayang yang tepat. Dengan kemauannya sendiri ia tidak dapat 

memperbaharui dirinya, atau bertobat, atau memakai  iman 

yang menyelamatkan (Yohanes 1:12,13). Akan namun , kasih karunia 

dan Roh Allah telah siap untuk memungkinkan orang berdosa itu 

bertobat dan percaya sehingga memperoleh keselamatan.

II. KESALAHAN

Kenyataan bahwa kesalahan dibicarakan setelah kebejatan tidak 

berarti bahwa kesalahan baru timbul kemudian. Kedua akibat dosa 

ini timbul serempak di dalam diri manusia sebagai akibat kejatuhan. 

Dalam membicarakan kesalahan manusia, kita perlu membahas arti­

nya serta tingkatan-tingkatan kesalahan.

A. ARTI KESALAHAN

Kesalahan berarti ganjaran hukuman, atau kewajiban untuk 

memuaskan hati Allah. Kekudusan Allah, sebagaimana ditunjukkan 

oleh Alkitab, memberi reaksi terhadap dosa, dan reaksi ini  

ialah "murka Allah" (Roma 1:18). Namun kesalahan itu timbul 

hanya melalui perbuatan pelanggaran yang dipilih sendiri, baik pada 

umat manusia yang diwakili oleh Adam maupun pada setiap pribadi 

sendiri-sendiri. Kesalahan itu datang dari dosa yang melibatkan diri 

kita. Dosa bila dipahami sebagai pencemaran berarti ketidak­

sesuaian dengan sifat Allah, namun  sebagai kesalahan dosa itu 

merupakan permusuhan terhadap kehendak Allah. Kedua unsur ini 

senantiasa ada  di dalam hati nurani orang berdosa. Kesalahan 

juga merupakan akibat yang objektif, karena setiap dosa, apa pun 

sifatnya, merupakan serangan terhadap Allah sehingga layak ditim­

pa murka Allah. Akibat dosa yang objektif ini jangan dicampur 

aduk dengan kesadaran yang subjektif akan akibat dosa. Kesalahan 

terutama merupakan hubungan dengan Allah, dan kedua, hubungan 

dengan hati nurani. Dalam hati nurani itu, penghakiman Allah 

dinyatakan sebagian saja dan sebagai nubuat (I Yohanes 3:20).

296 Antropologi

Ketekunan dan perkembangan dalam dosa ditandai dengan merosot­

nya kepekaan perasaan dan persepsi moral.

B. TINGKATAN-TINGKATAN KESALAHAN

Alkitab mengakui adanya berbagai tingkatan kesalahan yang dise­

babkan oleh berbagai jenis dosa. Prinsip ini diakui dalam Perjanjian 

Lama dengan aneka ragam persembahan korban yang dituntut untuk 

berbagai pelanggaran di bawah hukum Musa (Imamat 4:7). Ke­

nyataan ini juga ditunjukkan dalam berbagai bentuk penghakiman 

dalam Perjanjian Baru (Lukas 12:47, 48); Yohanes 19:11; Roma 

2:6; Ibrani 2:2, 3; 10:28, 29). Akan namun , ada aliran tertentu yang 

telah membangun suatu ajaran yang salah dengan mengadakan 

pemisahan antara dosa yang mematikan dan dosa yang tidak 

mematikan. Dosa yang tidak mematikan yaitu  perbuatan dosa yang 

dapat diampuni, sedangkan dosa yang mematikan yaitu  perbuatan 

dosa yang dilakukan dengan keras kepala dan dengan sengaja 

sehingga mendatangkan kematian kepada jiwa. Terhadap pandangan 

ini, kita dapat mencatat adanya perbedaan dalam kesalahan sebagai 

akibat dari perbedaan dalam dosa yang telah diperbuat. ada  

paling sedikit empat perangkat dosa yang berbeda-beda.

1. Dosa karena sifat yang berdosa, dan pelanggaran pribadi. 

Manusia yaitu  orang berdosa karena sifatnya penuh dosa, namun  

manusia juga menjadi orang berdosa karena ia berbuat dosa. Ter­

dapat kesalahan karena mempunyai pembawaan berdosa sejak lahir 

dan ada kesalahan yang lebih besar lagi saat  sifat yang berdosa 

itu membuat manusia melakukan pelanggaran-pelanggaran pribadi. 

Kata-kata Kristus, "orang-orang yang seperti itulah yang empunya 

Kerajaan Sorga" (Matius 19:14), berbicara soal keadaan tidak ber­

salah yang relatif pada masa kanak-kanak, sedangkan kata-kata-Nya 

yang ditujukan kepada orang Farisi dan ahli Taurat, "penuhilah juga 

takaran nenek moyangmu" (Matius 23:32), menunjuk kepada 

pelanggaran pribadi yang mereka lakukan sebagai tambahan pada 

kebejatan yang mereka warisi dari orang tua mereka.

2. Dosa-dosa yang diperbuat karena ketidaktahuan, dan dosa- 

dosa yang diperbuat dengan pengetahuan. Dalam hal ini kesalahan 

seseorang ditentukan menurut banyaknya pengetahuan yang

Kejatuhan Manusia: Sifat Serta Akibat-Akibat Dosa 297 

dimilikinya. Makin banyak dan luas pengetahuannya, makin besar 

pula kesalahannya (Matius 10:15; Lukas 12:47, 48; 23:34; Roma 

1:32; 2:12; I Timotius 1:13-16).

3. Dosa-dosa karena kelemah