Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 13

 


pula, orang percaya sedang diubah untuk menjadi serupa dengan 

gambar Tuhan kita dengan cara "mencerminkan kemuliaan Tuhan" 

(II Korintus 3:18).

G. UNTUK MEMPERSIAPKAN KEDATANGANNYA YANG 

KEDUA

Alkitab mengatakan, "Demikian pula Kristus hanya satu kali saja 

mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. 

Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa 

menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada 

mereka yang menantikan Dia" (Ibrani 9:28). Keselamatan terdiri 

atas dua bagian, yaitu penyediaannya dan penerapannya; dan 

penyediaan keselamatan itu harus terjadi dahulu sebelum 

penerapannya.

Kini secara nyata sebagian besar dari keselamatan yang telah 

disediakan Kristus sedang diterapkan. Orang-orang percaya disela­

matkan dari hukuman dan kesalahan dosa pada saat mereka meneri­

ma Kristus; mereka diselamatkan dari kuasa dosa oleh karena Kris­

tus mendoakan mereka dan karena mereka menyerahkan diri sepe­

nuhnya kepada Dia; namun orang percaya belum selamat dari keha­

diran dosa sampai mereka tinggal bersama-sama dengan Kristus. 

Selanjutnya, masih ada penebusan tubuh. saat  Kristus mati di 

salib, Ia mati untuk manusia seutuhnya. Namun kesembuhan tubuh 

belum dapat dinikmati semua orang sekarang ini, dan kekekalan 

tubuh baru akan kita terima pada masa yang akan datang. Demikian 

pulalah halnya dengan penebusan seluruh alam. Di salib, Kristus 

memperoleh seluruh alam semesta, namun  Ia masih menunda pembe­

basan alam semesta yang sesungguhnya sampai tiba saatnya anak- 

anak Allah dinyatakan (Roma 8:18-25). Sebagai "Anak Domba 

yang telah disembelih" (Wahyu 5:6), Kristus akan membuka 

meterai-meterai gulungan kitab, yang merupakan surat bukti hak 

milik atas semua milik yang telah diperoleh-Nya. Kedatangan-Nya 

yang pertama diperlukan sebagai persiapan untuk kedatangan-Nya 

yang kedua.

328 Soteriologi

II. SIFAT PENJELMAAN KRISTUS

Ada beberapa ayat yang baik sekali mengenai pokok ini. Dalam 

Filipi 2:6 dijelaskan bahwa perendahan diri Kristus dimulai dalam 

sikap pikiran-Nya; Ia menganggap bahwa kesetaraan-Nya dengan 

Allah bukanlah sesuatu yang harus dipegang erat-erat atau diper­

tahankan secara paksa. Menjadi manusia tidaklah merupakan an­

caman bagi diri-Nya. Ini merupakan sikap rendah hati, karena orang 

yang angkuh bukan saja ingin mempertahankan segala sesuatu yang 

mereka miliki, namun  mereka juga ingin mendapatkan segala sesuatu 

yang belum mereka miliki. Dua hal utama tercakup dalam penjel­

maan Kristus: Kristus mengosongkan diri-Nya dan Ia dijadikan 

sama dengan manusia.

A. KRISTUS MENGOSONGKAN DIRINYA

Pertama-tama dikatakan bahwa Kristus "mengosongkan diri-Nya" 

(Filipi 2:7). Kata Yunaninya yaitu  kenosis yang terbit dari akar 

kata kenoo. Patut disayangkan bahwa banyak orang telah menyalah- 

tafsirkan tindakan mengosongkan diri itu. Mereka mengatakan bah­

wa Kristus mengosongkan diri-Nya dari sifat-sifat yang relatif—ke- 

mahatahuan-Nya, kemahakuasaan-Nya, dan kemahahadiran-Nya— 

sekalipun tetap mempertahankan sifat-sifat yang imanen—kekudus- 

an-Nya, kasih-Nya, dan kebenaran-Nya. Diajarkan bahwa Kristus 

memiliki pengetahuan yang dalam, namun  bukan pengetahuan yang 

sempurna; bahwa Ia berkuasa namun tidak mahakuasa.

Pandangan ini tidak dapat dibenarkan. Kristus berkali-kali 

menyatakan pengetahuan ilahi-Nya. Kita membaca dalam Alkitab 

bahwa "Ia mengenal mereka semua," bahwa Ia "tahu apa yang ada 

di dalam hati manusia" (Yohanes 2:24-25), dan bahwa Ia mengeta­

hui "semua yang akan menimpa diri-Nya" (Yohanes 18:4). Menge­

nai kuasa yang dimiliki-Nya, kita tidak hanya membaca dalam 

Alkitab bahwa Ia meredakan badai, secara ajaib memberi makan 

orang yang lapar, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan 

membangkitkan orang mati, namun  bahwa Ia sering kali menghim­

bau orang-orang untuk percaya kepada-Nya karena perbuatan-per- 

buatan-Nya, bila mereka tidak mau percaya apa yang dikatakan-Nya 

(Yohanes 6:36; 10:25, 37-38; 14:11; 15:24). Yohanes mencatat 

Pribadi Kristus: Kristus Merendahkan Diri-Nya 329

beberapa mukjizat yang terpilih dari pelayanan Kristus supaya para 

pembacanya boleh "percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, 

dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama- 

Nya" (Yohanes 20:31). Sesungguhnya, mukjizat-mukjizat yang 

dilakukan oleh Elia dan Elisa tidak menunjukkan bahwa mereka 

yaitu  Allah yang menjelma, karena mukjizat-mukjizat mereka 

dilakukan melalui kuasa Roh Kudus yang menguasai mereka; 

namun kita diminta untuk percaya bahwa Kristus yaitu  Allah 

karena hal-hal luar biasa yang dilakukan-Nya. Hal ini hanya dapat 

terjadi bila hal-hal luar biasa ini  dilakukan-Nya dengan kuasa 

ilahi-Nya sendiri. Kristus mengadakan mukjizat dengan kuasa-Nya 

sendiri (Matius 9:28), sedangkan para rasul melakukan mukjizat- 

mukjizat dalam nama Kristus. Kadang-kadang Kristus melakukan 

mukjizat dengan kuasa Roh Kudus, bukan dengan kuasa-Nya sen­

diri (Matius 12:28).

Beberapa hal terjadi saat  Kristus merendahkan diri. Dalam satu 

atau lain cara kemuliaan ilahi-Nya terselubung, namun  tidak dilepas­

kan (Yohanes 1:14; 2:11; 17:5). Dengan rela Kristus meninggalkan 

segenap kekayaan sorgawi untuk menerima kemelaratan manusia 

(II Korintus 8:9). Ia mengambil daging manusia yang tidak mulia 

karena penuh kelemahan, kesakitan, pencobaan, dan keterbatasan. 

Kristus dengan rela memutuskan untuk tidak memakai hak-hak isti­

mewa yang ilahi, seperti kemahakuasaan-Nya, kemahahadiran-Nya, 

dan kemahatahuan-Nya untuk menjadikan hidup-Nya lebih ringan 

di bumi. Ia tahu merasa letih, Ia berjalan dari satu tempat ke tempat 

yang lain, Ia bertambah dalam kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya. 

Jadi, sekalipun Ia tidak melepaskan sifat-sifat ilahi-Nya, dengan rela 

Ia tidak memakai  beberapa sifat ilahi-Nya agar dapat menjadi 

sama dengan manusia. Sebagaimana ditulis oleh Walvoord, "Tin­

dakan kenosis . . . dapat . . . dengan tepat diartikan bahwa Kristus 

tidak melepaskan satu pun sifat ilahi-Nya, namun  bahwa Ia dengan 

rela membatasi penggunaan bebas sifat ilahi ini  sesuai dengan 

tujuan-Nya untuk hidup di antara manusia dengan segenap keter­

batasan mereka."110

110 Walvoord, Jesus Christ Our Lord, hal. 144.

Jelaslah, secara keseluruhan Alkitab mengajarkan bahwa Kristus 

hanya melepaskan penggunaan bebas beberapa sifat khas ilahi-Nya 

yang relatif. Ia samasekali tidak melepaskan sifat-sifat khas ilahi 

330 Soteriologi

yang mutlak; Ia senantiasa benar-benar kudus, adil, murah hati, 

jujur, dan setia. Ia selalu mengasihi dengan segenap jiwa raga-Nya. 

Akan namun , Ia mengosongkan diri-Nya dengan melepaskan 

penggunaan bebas sifat-sifat ilahi-Nya yang relatif. Jadi, Ia tetap 

mahatahu, mahakuasa, dan mahahadir sejauh hal itu diizinkan oleh 

Bapa-Nya di sorga. Ini berarti bahwa Ia menyerahkan kemuliaan 

yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia dijadikan (Yohanes 

17:5), lalu mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:6). Jelaslah 

bahwa pandangan ini benar karena Yesus berbicara tentang hal-hal 

yang ditunjukkan (Yohanes 5:20; 8:38), diajarkan (Yohanes 8:28), 

dan ditugaskan (Yohanes 5:36) kepada-Nya oleh Bapa di sorga. 

Selain itu, Allah Bapa memberikan kekuasaan tertentu kepada-Nya 

(Yohanes 10:18), "mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat 

kuasa" (Kisah 10:38), dan beberapa kali Ia mengusir setan oleh 

kuasa Roh Kudus (Matius 12:28), oleh Roh Kudus Ia memberi 

perintah kepada para rasul (Kisah 1:2), dan Ia mempersembahkan 

diri-Nya kepada Allah oleh Roh yang kekal (Ibrani 9:14). 

Sebagaimana yang dikatakan oleh Muller:

Dengan mengambil rupa seorang hamba, Kristus mengosongkan diri-Nya. 

Tidak disebutkan samasekali bahwa Ia meninggalkan atau membuang sifat- 

sifat khas ilahi, kodrat ilahi atau rupa Allah, namun  yang dikatakan di sini 

hanyalah suatu paradoks ilahi: Ia mengosongkan diri-Nya dengan mengam­

bil sesuatu untuk diri-Nya, yaitu suatu cara keberadaan yang baru, sifat atau 

rupa seorang hamba atau budak. Pada saat penjelmaan-Nya, Ia tetap ’dalam 

rupa Allah’ dan dengan demikian Ia tetap Tuhan dan Penguasa alam semes­

ta, namun Ia juga menerima sifat seorang hamba seperti sebagian dari 

kemanusiaan-Nya.111

111 Muller, The Epistles of Paul to the Philippians and to Philemon, hal. 82.

B. IA MENJADI SAMA DENGAN MANUSIA

Sekalipun Ia tetap dalam rupa Allah, Ia kini menjadi sama dengan 

manusia (Filipi 2:7). Ia yang yaitu  Allah, menjadi manusia. 

Yohanes mengatakan bahwa "Firman itu telah menjadi manusia" 

(Yohanes 1:14; lihat juga I Yohanes 4:2, 3; II Yohanes 7). Kepada 

Kristus diberikan tubuh manusiawi (Ibrani 10:5) sehingga Allah 

dapat tinggal di antara kita (Yohanes 1:14). Di dalam Kristus "ber­

diam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan" (Kolose 2:9). 

Bahwa Kristus mengambil tubuh jasmaniah tidak berarti bahwa Ia

Pribadi Kristus: Kristus Merendahkan Diri-Nya 331 

memiliki keadaan tubuh yang berdosa. Paulus menandaskan bahwa 

Allah mengutus "Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa de­

ngan daging yang dikuasai dosa" (Roma 8:3).

Murray menjelaskan perkataan "daging yang dikuasai dosa" se­

bagai berikut. 'Paulus memakai kata ’serupa’ bukan dengan tujuan 

mengatakan bahwa keadaan daging yang ada pada Kristus itu bukan 

yang sungguh-sungguh daging. Pengertian semacam itu berlawanan 

dengan penjelasan Paulus di bagian lain dari surat Roma dan surat- 

suratnya yang lain. Paulus terpaksa memakai kata ini karena ia me­

makai istilah ’daging yang dikuasai dosa’ dan ia tidak dapat menga­

takan bahwa Kristus diutus dalam ’daging yang dikuasai dosa’. Per­

nyataan yang demikian akan menyangkal sifat tidak berdosa yang 

dimiliki Yesus yang diajarkan di seluruh Perjanjian Baru."112

112 Murray, The Epistle to the Romans, I, hal. 280.

113 Hendriksen, Exposition of Philippians, hal. 109.

Ayat-ayat lain yang membahas penjelmaan Kristus ialah Roma 

1:3; Galatia 4:4; I Timotius 3:16, dan Ibrani 2:14. Bukan saja Kris­

tus telah menjadi manusia, namun  sekalipun Ia tetap Allah, Ia telah 

mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:7). Hendriksen 

menerangkan, "Ayat ini tidak mungkin berarti bahwa ’Kristus 

menukarkan rupa Allah dengan rupa seorang hamba’, sebagaimana 

yang begitu sering dikatakan. Kristus mengambil rupa seorang 

hamba walaupun Ia tetap mempertahankan rupa Allah! Justru itulah 

yang memungkinkan dan menghasilkan keselamatan kita."113


XXIV 

Pribadi Kristus: Dua Sifat dan 

Watak Kristus

Pembahasan tentang tujuan dan sifat penjelmaan Kristus dengan 

mudah menuntun kita untuk menguraikan dua sifat yang dimiliki 

Kristus: sifat manusia dan sifat Allah. Orang yang bagaimanakah 

Yesus Kristus dari Nazaret itu?

I. KEMANUSIAAN KRISTUS

Kemanusiaan Kristus jarang dipersoalkan. Memang ada ajaran- 

ajaran sesat, misalnya, Gnostisisme yang menyangkal realitas tubuh 

Kristus, dan ajaran Eutikhes yang menjadikan tubuh Kristus itu 

tubuh yang ilahi. Akan namun , bagian terbesar dari gereja mula-mula 

menerima ajaran bahwa Kristus yaitu  manusia dan Allah. Penyim­

pangan dari doktrin Alkitab lebih banyak terjadi karena menolak 

sifat ilahi Kristus dan bukan menolak sifat manusia-Nya. Karena 

Kristus harus menjadi manusia sesungguhnya jika Ia hendak 

menebus manusia dari dosa, maka soal kemanusiaan Kristus bukan 

hanya merupakan soal yang akademis, namun  soal yang sangat prak­

tis. Apa saja yang menjadi bukti bahwa Yesus yaitu  manusia 

sesungguhnya?

A. YESUS LAHIR SEPERTI MANUSIA LAINNYA

Yesus lahir dari seorang wanita (Galatia 4:4). Kenyataan ini dikuat­

kan oleh kisah-kisah kelahiran-Nya dari seorang anak dara (Matius

333

334 Soteriologi

1:18-2:11; Lukas 1:30-38; 2:1-20). Karena hal ini, Yesus disebut 

"anak Daud, anak Abraham" (Matius 1:1) dan dikatakan bahwa Ia 

"menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud" (Roma 1:3). 

Karena alasan yang sama, Lukas merunut asal usul Yesus sampai 

kepada Adam (Lukas 3:23-38). Peristiwa ini merupakan 

penggenapan janji kepada Hawa (Kejadian 3:15) dan kepada Ahas 

(Yesaya 7:14). Pada beberapa kesempatan Yesus disebutkan sebagai 

anak Yusuf, namun kita akan melihat bahwa setiap kali hal ini ter­

jadi, orang yang melakukannya itu bukanlah sahabat Yesus atau 

mereka kurang mengenal Dia (Lukas 4:22; Yohanes 1:45; 6:42; 

bandingkan dengan Matius 13:55). Bila ada bahaya bahwa pembaca 

kitab Injil akan menganggap penulis Injil ini  bermaksud untuk 

menyatakan bahwa Yesus betul-betul anak Yusuf, maka penulis 

menambahkan sedikit penjelasan untuk menunjukkan bahwa 

anggapan semacam itu tidak benar. Oleh karena itu dalam Lukas 

23:23 kita membaca bahwa Yesus yaitu  anak Yusuf "menurut 

anggapan orang" dan di dalam Roma 9:5 dinyatakan bahwa Kristus 

berasal dari Israel dalam "keadaan-Nya sebagai manusia."

Dalam kaitan ini telah diajukan satu pertanyaan penting: Bila 

Kristus itu lahir dari seorang perawan, apakah Ia juga mewarisi 

sifat yang berdosa dari ibu-Nya? Alkitab dengan jelas menunjukkan 

bahwa Yesus tidak berhubungan dengan dosa. Alkitab menandaskan 

bahwa Yesus "tidak mengenal dosa" (II Korintus 5:21); dan bahwa 

Ia yaitu  "yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari 

orang-orang berdosa" (Ibrani 7:26); dan bahwa "di dalam Dia tidak 

ada dosa" (I Yohanes 3:5). Pada saat memberitahukan bahwa Maria 

akan melahirkan Anak Allah, Gabriel menyebutkan Yesus sebagai 

"kudus" (Lukas 1:35). Iblis tidak berkuasa apa-apa atas diri Yesus 

(Yohanes 14:30); ia tak ada hak apa pun atas Anak Allah yang 

tidak berdosa itu. "Dosalah yang membuat Iblis berkuasa atas 

manusia, namun  di dalam Yesus tidak ada dosa."114 Melalui naungan 

ajaib Roh Kudus, Yesus lahir sebagai manusia yang tidak berdosa.

114 Morris, The Gospel According to John, hal. 660.

B. YESUS TUMBUH DAN BERKEMBANG SEPERTI MANUSIA 

NORMAL

Yesus berkembang secara normal sebagaimana halnya manusia. 

Oleh karena itu dikatakan dalam Alkitab bahwa Ia "bertambah besar

Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 335 

dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada- 

Nya" (Lukas 2:40), dan bahwa Ia "makin bertambah besar dan ber­

tambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" 

(Lukas 2:52). Perkembangan fisik dan mental Kristus ini tidak dise­

babkan karena sifat ilahi yang dimiliki-Nya, namun  diakibatkan oleh 

hukum-hukum pertumbuhan manusia yang normal. Bagaimanapun 

juga, kenyataan bahwa Kristus tidak mempunyai tabiat duniawi dan 

bahwa Ia menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang berdosa, 

sudah pasti turut mempengaruhi perkembangan mental dan fisik- 

Nya. Perkembangan mental Yesus bukanlah semata-mata hasil 

pelajaran di sekolah-sekolah pada zaman itu (Yohanes 7:15), namun  

harus dianggap sebagai hasil pendidikan-Nya dalam keluarga yang 

saleh, kebiasaan-Nya untuk selalu hadir dalam rumah ibadah (Lukas 

4:16), kunjungan-Nya ke Bait Allah (Lukas 2:41, 46), penelaahan 

Alkitab yang dilakukan-Nya (Lukas 4:17), dan juga karena Ia 

memakai  ayat-ayat Alkitab saat  menghadapi pencobaan, dan 

karena persekutuan-Nya dengan Allah Bapa (Markus 1:35; Yohanes 

4:32-34).

C. IA MEMILIKI UNSUR-UNSUR HAKIKI SIFAT MANUSIA

Bahwa Kristus memiliki tubuh jasmaniah jelas dari ayat-ayat yang 

berbunyi, "mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku" (Matius 26:12); 

"yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah yaitu  tubuh-Nya sen­

diri" (Yohanes 2:21); "Ia juga menjadi sama dengan mereka dan 

mendapatkan bagian dalam keadaan mereka [darah dan daging]" 

(Ibrani 2:14); "namun  Engkau telah menyediakan tubuh bagi-Ku"- 

(Ibrani 10:5); "kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya 

oleh persembahan tubuh Yesus Kristus" (Ibrani 10:10). Bahkan 

setelah Ia dibangkitkan Ia mengatakan, "Rabalah Aku dan lihatlah, 

karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu 

lihat ada pada-Ku" (Lukas 24:39).

Bukan saja Kristus memiliki tubuh manusiawi yang fisik, Ia juga 

memiliki unsur-unsur sifat manusiawi lainnya, seperti kecerdasan 

dan sifat sukarela. Ia mampu berpikir dengan logis. Alkitab ber­

bicara tentang Dia sebagai memiliki jiwa dan/atau roh (Matius 

26:38; bandingkan dengan Markus 8:12; Yohanes 12:27; 13:21; 

Markus 2:8; Lukas 23:46; dalam Alkitab bahasa Indonesia sering 

diterjemahkan sebagai hati dan nyawa). saat  mengatakan bahwa 

336 Soteriologi

Ia mengambil sifat seperti kita, kita selalu harus membedakan antara 

sifat manusiawi dan sifat yang berdosa; Yesus memiliki sifat 

manusiawi, namun  Ia tidak memiliki sifat yang berdosa.

D. IA MEMPUNYAI NAMA-NAMA MANUSIA

Ia memiliki banyak nama manusia. Nama "Yesus", yang berarti 

"Juruselamat" (Matius 1:21), yaitu  kata Yunani untuk nama 

"Yosua" di Perjanjian Lama (bandingkan Kisah 7:45; Ibrani 4:8). 

Ia disebut "anak Abraham" (Matius 1:1) dan "anak Daud". Nama 

"anak Daud" sering kali muncul dalam Injil Matius (1:1; 9:27; 

12:23; 15:22; 20:30, 31; 21:9, 15). Nama "Anak Manusia" ada  

lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru. Nama ini berkali-kali 

dipakai untuk Nabi Yehezkiel (2:1; 3:1; 4:1, dan seterusnya), dan 

sekali untuk Daniel (8:17). Nama ini dipakai saat  bernubuat ten­

tang Kristus dalam Daniel 7:13 (bandingkan Matius 16:28). Nama 

ini dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai mengacu kepada 

Mesias. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa imam besar merobek 

jubahnya saat  Kristus menerapkan nubuat Daniel ini kepada diri- 

Nya sendiri (Lukas 26:64, 65). Orang-orang Yahudi memahami 

bahwa istilah ini menunjuk kepada Mesias (Yohanes 12:34), dan 

menyebut Kristus itu Anak Manusia yaitu  sama dengan menyebut 

Dia Anak Allah (Lukas 22:69,70). Ungkapan ini bukan saja menun­

jukkan bahwa Ia yaitu  benar-benar manusia, namun  bahwa Ia juga 

yaitu  wakil seluruh umat manusia (bandingkan Ibrani 2:6-9).

E. IA MEMILIKI BERBAGAI KELEMAHAN YANG TAK BER­

DOSA DARI SIFAT MANUSIAWI

Oleh karena itu, Yesus pernah lelah (Yohanes 4:6), lapar (Matius 

4:2; 21:18), haus (Yohanes 19:28); Ia pernah tidur (Matius 8:24; 

bandingkan Mazmur 121:4); Ia dicobai (Ibrani 2:18; 4:15; banding­

kan Yakobus 1:13); Ia mengharapkan kekuatan dari Bapa-Nya yang 

di sorga (Markus 1:35; Yohanes 6:15; Ibrani 5:7); Ia mengadakan 

mukjizat (Matius 12:28), mengajar (Kisah 1:2), dan mempersem­

bahkan diri-Nya kepada Allah oleh Roh Kudus (Kisah 10:38; Ibrani 

9:14). "Orang-orang Kristen memiliki seorang imam besar di sorga 

dengan kemampuan yang tiada terhingga untuk merasa belas 

kasihan terhadap mereka dalam semua bahaya, dukacita, dan pen- 

Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 337

cobaan yang mereka alami dalam kehidupan, karena Ia sendiri 

mengalami semuanya itu, karena Ia menjadi sama dengan 

manusia."115 Kembali harus ditekankan bahwa menyebutkan 

kelemahan-kelemahan dalam sifat Kristus tidaklah berarti 

kelemahan-kelemahan yang berdosa.

115 Bruce, The Epistle to the Hebrews, hal. 85.

F. BERKALI-KALI IA DISEBUT SEBAGAI MANUSIA

Yesus menganggap diri-Nya sendiri manusia (Yohanes 8:40). 

Yohanes Pembaptis (Yohanes 1:30), Petrus (Kisah 2:22), dan 

Paulus (I Korintus 15:21, 47; Filipi 2:8; bandingkan Kisah 13:38) 

menyebut-Nya manusia. Kristus benar-benar diakui sebagai 

manusia (Yohanes 7:27; 9:29; 10:33), sehingga Ia dikenal sebagai 

orang Yahudi (Yohanes 4:9); Ia dikira lebih tua dari usia sebenarnya 

(Yohanes 8:57); dan Ia dituduh telah menghujat Allah karena berani 

menyatakan bahwa diri-Nya lebih tinggi daripada manusia 

(Yohanes 10:33). Bahkan setelah bangkit, Kristus nampak sebagai 

manusia (Yohanes 20:15; 21:4,5). Lagi pula, sekarang ini Ia berada 

di sorga sebagai manusia (I Timotius 2:5), akan datang kembali 

(Matius 16:27, 28; 25:31; 26:64, 65), serta menghakimi dunia ini 

dengan adil sebagai manusia (Kisah 17:31).

II. KEILAHIAN KRISTUS

Ayat-ayat Alkitab dan alasan-alasan yang telah kami kemukakan 

saat  membicarakan perihal Trinitas untuk membuktikan kesamaan 

antara Kristus dengan Bapa, juga membuktikan kenyataan sifat 

keilahian yang dimiliki Kristus setelah Ia menjelma menjadi 

manusia.

Kristus memiliki sifat-sifat khas Allah; berbagai jabatan dan hak 

istimewa ilahi dimiliki-Nya; hal-hal yang dikatakan dalam Perjan­

jian Lama tentang Yehova telah dikatakan dalam Perjanjian Baru 

mengenai Kristus; nama-nama ilahi diberikan kepada-Nya; Kristus 

memelihara hubungan-hubungan tertentu dengan Allah yang mem­

buktikan keilahian-Nya; Ia disembah sebagai Allah dan Ia tidak 

338 Soteriologi

menolak pemujaan itu selama Ia hidup di muka bumi ini; Kristus 

menyadari bahwa Ia yaitu  Allah yang telah menjelma. Semuanya 

ini merupakan rangkuman dari apa yang telah kita bahas dan 

pelajari sebelumnya saat  membicarakan Tritunggal.

III. KEDUA SIFAT KRISTUS

Pokok ini merupakan rahasia yang sangat dalam. Bagaimana mung­

kin ada dua sifat di dalam satu orang? Sekalipun sulit untuk mema­

hami konsep ini, Alkitab menganjurkan agar kita merenungkan 

rahasia Allah ini, yaitu Kristus (Kolose 2:2, 3). Yesus sendiri 

menyatakan bahwa pengenalan yang benar akan Dia hanya akan 

diperoleh melalui penyataan ilahi (Matius 11:27). Mempelajari 

pribadi Kristus sangatlah sulit karena kepribadian-Nya sangat unik; 

tidak ada oknum lain yang sama dengan Dia sehingga kita tidak 

dapat berargumentasi dari hal-hal yang sudah kita ketahui kepada 

hal-hal yang belum kita ketahui.

A. BUKTI PERPADUAN KEDUA SIFAT ITU

Pertama-tama, kita harus menjelaskan beberapa salah paham. Per­

paduan sifat ilahi dengan sifat manusiawi di dalam Kristus itu tidak 

dapat dibandingkan dengan hubungan pernikahan, karena kedua 

belah pihak dalam pernikahan tetap merupakan dua pribadi yang 

berbeda walaupun sudah menikah. Demikian pula perpaduan kedua 

sifat itu tidak sama seperti perhubungan orang-orang percaya de­

ngan Kristus. Juga tidaklah tepat untuk beranggapan bahwa sifat 

ilahi itu tinggal di dalam Kristus sebagaimana Kristus tinggal di 

dalam orang percaya, karena itu berarti bahwa Yesus hanyalah 

seorang manusia yang didiami oleh Allah dan Ia sendiri bukan 

Allah. Gagasan yang mengatakan bahwa Kristus mempunyai 

kepribadian rangkap tidaklah alkitabiah. Tidak disebutkan dalam 

Alkitab bahwa Logos mengambil tempat pikiran dan roh manusiawi 

di dalam Kristus, karena dalam hal demikian Kristus bersatu dengan 

kemanusiaan yang tidak sempurna. Demikian pula kedua sifat itu 

tidak bersatu untuk membentuk sifat yang ketiga, sebab dalam hal 

itu Kristus bukanlah manusia sejati. Juga tidak dapat dikatakan 

Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 339

bahwa Kristus secara berangsur-angsur menerima sifat ilahi, karena 

dalam hal demikian keilahian-Nya bukanlah suatu kenyataan hakiki 

sebab harus diterima secara sadar oleh kemanusiaan Kristus. Gereja 

pada umumnya dengan tegas menyalahkan pandangan-pandangan 

ini sebagai tidak alkitabiah dan karena itu tidak bisa diterima.

Bila pengertian-pengertian di atas itu salah semua, bagaimanakah 

kita dapat menerangkan perpaduan kedua sifat ini  di dalam 

Kristus sehingga menghasilkan satu pribadi, namun dengan dua 

kesadaran dan dua kehendak? Sekalipun ada dua sifat, namun  ada 

satu pribadi saja. Dan sekalipun ciri-ciri khas dari sifat yang satu 

tidak dapat dikatakan merupakan ciri khas dari sifat lainnya, namun 

kedua sifat itu berada dalam satu Oknum, yaitu Kristus. Tidaklah 

tepat untuk mengatakan bahwa Kristus yaitu  Yang Ilahi yang 

memiliki sifat manusiawi, atau bahwa Ia yaitu  manusia yang 

didiami oleh Yang Ilahi. Dalam hal yang pertama, maka sifat 

manusiawi tidak akan memperoleh tempat dan peranan yang semes­

tinya, dan dalam hal yang kedua sifat ilahi itulah yang tak akan 

memperoleh tempat dan peranan yang semestinya. Oknum kedua 

dari Tritunggal Allah menerima keadaan manusia dengan semua 

ciri khasnya. Dengan demikian kepribadian Kristus berdiam di 

dalam sifat ilahi-Nya, karena Allah Anak tidak bersatu dengan 

seorang manusia namun  dengan sifat manusia. Terpisah dari penjel­

maan sifat manusiawi Kristus tak bersifat pribadi; akan namun  hal 

ini tidak benar tentang sifat ilahi-Nya. Begitu sempurnanya 

penyatuan menjadi satu pribadi ini sehingga, sebagaimana dikatakan 

oleh Walvoord, "Kristus pada saat yang sama memiliki sifat-sifat 

yang nampaknya bertolak belakang. Ia bisa lemah dan mahakuasa, 

bertambah dalam pengetahuan namun mahatahu, terbatas dan tidak 

terbatas,"116 dan kita dapat menambahkan, Ia bisa berada di satu 

tempat namun Ia mahahadir.

116 Walvoord, Jesus Christ Our Lord, hal. 116.

Yesus berbicara tentang diri-Nya sebagai satu pribadi yang utuh 

dan tunggal; Ia samasekali tidak menunjukkan adanya gejala-gejala 

keterbelahan kepribadian. Selanjutnya, orang-orang yang berhu­

bungan dengan Dia menganggap Dia sebagai seorang dengan 

kepribadian yang tunggal dan tidak terbelah. Bagaimana dengan 

kesadaran diri-Nya? Jelaslah bahwa dalam kesadaran diri yang ilahi 

Yesus senantiasa sadar akan keilahian-Nya. Kesadaran diri yang 

340 Soteriologi

ilahi itu senantiasa beroperasi penuh, bahkan pada masa kanak- 

kanak. "Namun ada bukti bahwa dengan berkembangnya sifat 

manusiawi maka kesadaran diri yang manusiawi itu mulai aktif."117 

Kadang-kadang Ia akan bertindak dari kesadaran diri yang 

manusiawi, dan pada saat-saat lain Ia bertindak dari kesadaran diri 

yang ilahi, namun keduanya itu tidak pernah bertentangan.

117 Walvoord, Jesus Christ Our Lord, hal. 118.

Hal yang sama dapat dikatakan mengenai kehendak-Nya. Pasti­

lah, kehendak manusiawi ingin menjauhi salib (Matius 26:39), dan 

kehendak yang ilahi ingin menjauhkan diri dari hal dijadikan dosa 

(II Korintus 5:21). Dalam kehidupan-Nya, Yesus berkehendak un­

tuk melakukan kehendak Bapa-Nya yang di sorga (Ibrani 10:7, 9). 

Hal ini dilaksanakan-Nya sepenuhnya.

B. SIFAT PERPADUAN KEDUA SIFAT ITU

Maka jika kedua sifat Kristus itu terbaur secara sempurna di dalam 

satu pribadi, lalu bagaimanakah sifat pembauran itu? Sebagian besar 

jawaban untuk pertanyaan ini telah disinggung dalam uraian 

sebelumnya. Tidak mungkin kami memberikan analisis kejiwaan 

yang tepat tentang kepribadian unik Kristus sekalipun Alkitab mem­

berikan sedikit petunjuk.

1. Perpaduan itu tidak bersifat teantropik. Diri Kristus yaitu  

teantropik (artinya mempunyai sifat ilahi dan sifat manusiawi), 

namun  sifat-Nya tidak. Maksudnya, seseorang dapat berbicara ten­

tang Allah-manusia bila ingin mengacu kepada diri Kristus; akan 

namun , kita tidak dapat berbicara tentang sifat ilahi-manusiawi, 

melainkan kita harus berbicara tentang adanya sifat ilahi dan sifat 

manusiawi di dalam Kristus. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa 

Kristus memiliki pengertian dan kehendak yang tak terbatas dan 

juga memiliki pengertian dan kehendak yang terbatas; Ia memiliki 

kesadaran ilahi dan kesadaran manusiawi. Kecerdasan ilahi-Nya 

tidak terbatas; kecerdasan manusiawi-Nya makin bertambah. 

Kehendak ilahi-Nya yaitu  mahakuasa; kehendak manusiawi-Nya 

hanya terbatas pada kemampuan manusia yang belum jatuh dalam 

dosa. Dalam kesadaran ilahi-Nya Ia dapat berkata, "Aku dan Bapa 

yaitu  satu" (Yohanes 10:30); dalam kesadaran manusiawi-Nya Ia

Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 341 

dapat berkata, "Aku haus" (Yohanes 19:28). Namun harus ditekan­

kan bahwa Kristus tetap Allah-manusia.

2. Perpaduan itu bersifat pribadi. Perpaduan kedua sifat di dalam 

Kristus disebut perpaduan hipostatis. Maksudnya, kedua sifat atau 

hakikat itu merupakan satu cara berada yang pribadi. Karena Kristus 

tidak bersatu dengan diri manusia, namun  dengan sifat manusia, 

maka kepribadian Kristus bertempat dalam sifat ilahi-Nya.

3. Perpaduan itu meliputi berbagai sifat dan perbuatan manu­

siawi dan ilahi. Baik sifat dan perbuatan yang manusiawi maupun 

yang ilahi dapat dilakukan oleh Sang Allah-manusia tanpa kecuali. 

Demikianlah berbagai sifat dan ciri khas manusia dihubungkan de­

ngan Kristus di bawah gelar-gelar yang ilahi, "Ia akan menjadi besar 

dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi" (Lukas 1:32); "me­

reka tidak akan menyalibkan Tuhan yang mulia" (I Korintus 2:8); 

"jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri" 

(Kisah 20:28). Dari ayat-ayat ini  kita melihat bahwa Allah 

telah lahir dan Allah telah mati. Ada juga ayat-ayat yang menyebut 

berbagai ciri khas dan sifat ilahi serta menghubungkannya dengan 

Kristus di bawah nama-nama manusiawi-Nya, "Dia yang telah turun 

dari sorga, yaitu Anak Manusia" (Yohanes 3:13); "dan bagaimana­

kah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana 

Ia sebelumnya berada?" (Yohanes 6:62); "Mesias dalam keadaan- 

Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia yaitu  

Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya" (Roma 9:5); Kris­

tus yang mati itu yaitu  Kristus yang "memenuhi semua dan segala 

sesuatu" (Efesus 1:23; bandingkan Matius 28:20); Dialah yang telah 

ditentukan oleh Allah untuk menghakimi dunia (Kisah 17:31; ban­

dingkan Matius 25:31, 32).

4. Perpaduan ini  menjamin kehadiran yang tetap dari 

keilahian dan kemanusiaan Kristus. Kemanusiaan Kristus hadir ber­

sama dengan keilahian-Nya di setiap tempat. Kenyataan ini menam­

bah keindahan kenyataan bahwa Kristus ada di dalam umat-Nya. 

Ia hadir dalam keilahian-Nya, dan melalui perpaduan kemanusiaan- 

Nya dengan keilahian-Nya, maka Ia juga hadir dalam kemanusiaan- 

Nya.

342 Soteriologi

IV. WATAK KRISTUS

Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, salah satu tujuan penjel­

maan ialah agar Kristus menjadi teladan bagi kita (Matius 11:29; 

I Petrus 2:21; I Yohanes 2:6). Oleh karena itu sangat penting untuk 

mempelajari watak Kristus agar dapat mengetahui patokan idaman 

dari kehidupan Kristen. Memandang kepada Oknum yang luar biasa 

ini akan membuat kita berkata seperti Yesaya, "Celakalah aku! Aku 

binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di 

tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat 

Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam" (Yesaya 6:5). Yohanes me­

ngatakan, "Hal ini dikatakan oleh Yesaya, karena ia telah melihat 

kemuliaan-Nya dan telah berkata-kata tentang Dia" (Yohanes 

12:41). Petrus memberikan tanggapan yang mirip dengan Yesaya 

saat  ia mengatakan, 'Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini 

seorang berdosa" (Lukas 5:8). Apakah yang begitu unik pada Kris­

tus sehingga membuat Yesaya dan Petrus bereaksi seperti itu?

A. IA MAHAKUDUS

Kristus yaitu  "anak yang . . . disebut kudus" (Lukas 1:35), "Yang 

Kudus dan Benar" (Kisah 3:14), "Hamba-Mu yang Kudus" (Kisah 

4:27). Sifat-Nya kudus, oleh karena itu penguasa dunia tidak ber­

kuasa sedikit pun atas diri-Nya (Yohanes 14:30), dan Ia "tidak ber­

buat dosa" (Ibrani 4:15). Perilaku-Nya kudus juga karena Ia terpisah 

dari orang-orang berdosa (Ibrani 7:26). Ia selalu melakukan hal-hal 

yang menyenangkan Bapa-Nya yang di sorga (Yohanes 8:29). Ia 

"tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. saat  Ia 

dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; saat  Ia 

menderita, Ia tidak mengancam, namun  Ia menyerahkannya kepada 

Dia yang menghakimi dengan adil" (I Petrus 2:22, 23). Tidak ada 

seorang pun yang menjawab tantangan-Nya saat  Ia mengatakan, 

"Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat 

dosa?" (Yohanes 8:46). Namun "sama dengan kita, Ia telah dicobai" 

(Ibrani 4:15).

Kita harus menjadi kudus karena Dia kudus adanya (I Petrus 

1:16). Walaupun kita telah jatuh dan hidup kita samasekali tidak 

serupa dengan Kristus, tak ada alasan bagi kita untuk memiliki ideal 

yang lebih rendah daripada yang telah ditetapkan oleh Alkitab. Bila 

kita dengan wajah yang tidak berselubung memandang "kemuliaan 

Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 343

Tuhan . . . maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, 

dalam kemuliaan yang semakin besar" (II Korintus 3:18; banding­

kan Mazmur 34:6). Kristus merupakan teladan kesempurnaan yang 

tak berdosa bagi kita, dan kesempurnaan yang dimiliki Kristus itu 

sempurna. Ia telah menunjukkan kepada kita bagaimana hidup 

kudus.

B. KASIHNYA TULUS

Paulus mengatakan bahwa "kasih Kristus . . . melampaui segala 

pengetahuan" (Efesus 3:19). Pertama-tama, kasih Kristus ditujukan 

kepada Bapa-Nya di sorga (Yohanes 14:31). Kasih Kristus juga 

ditujukan kepada Alkitab, dalam hal ini Perjanjian Lama. Kristus 

menerima Perjanjian Lama sebagai catatan yang benar dan jujur 

mengenai berbagai peristiwa dan doktrin yang dibahas di dalamnya 

(Matius 5:17, 18). Ia memakai Alkitab saat  Ia dicobai (Matius 

4:4, 7, 10); Ia menjelaskan beberapa nubuat yang ada  dalam 

Perjanjian Lama sebagai nubuat yang menunjuk kepada diri-Nya 

(Lukas 4:16-21; 24:44,45); dan Ia menyatakan bahwa Alkitab tidak 

dapat dibatalkan (Yohanes 10:35).

Kasih Kristus juga ditujukan kepada manusia, manusia pada 

umumnya. saat  Yesus melihat pemimpin muda yang kaya itu, 

Yesus mengasihinya (Markus 10:21). Kristus juga dituduh sebagai 

"sahabat pemungut cukai dan orang berdosa" (Matius 11:19). Ia 

begitu mengasihi orang-orang yang tersesat sehingga Ia bersedia 

mati karena mereka (Yohanes 10:11; 15:13; Roma 5:8). Secara 

lebih khusus lagi, Kristus mengasihi umat-Nya sendiri. Yohanes 

pernah berkata, "Dia yang mengasihi kita dan yang telah melepas­

kan kita dari dosa kita oleh darah-Nya" (Wahyu 1:5). Ia mengasihi 

murid-murid-Nya sampai pada kesudahannya (Yohanes 13:1); Ia 

sangat mengasihi mereka seperti Allah Bapa sangat mengasihi Dia 

(Yohanes 15:9); Ia mengasihi umat-Nya sedemikian rupa sehingga 

Ia rela mengorbankan nyawa-Nya untuk mereka (Efesus 5:2, 25); 

dan Ia begitu mengasihi mereka sehingga tidak ada sesuatu pun 

yang dapat memisahkan mereka dari kasih-Nya (Roma 8:37-39).

C. IA SUNGGUH-SUNGGUH RENDAH HATI

Hal ini secara khusus dilihat saat  Ia sendiri merendahkan diri. 

Sekalipun setara dengan Allah, dengan rela Ia mengosongkan diri­

344 Soteriologi

Nya, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan ma­

nusia, dan terus merendahkan diri-Nya sampai mati secara hina di 

kayu salib (Filipi 2:5-8). Kerendahan hati-Nya juga nampak dalam 

perilaku-Nya saat  hidup di bumi. Ia yang kaya, demi kita rela 

menjadi miskin (II Korintus 8:9). Ia lahir dalam sebuah kandang, 

karena tidak ada tempat bagi-Nya di rumah penginapan (Lukas 2:7); 

Ia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya saat  Ia 

berkeliling untuk mengajar dan menyembuhkan orang (Lukas 9:58), 

sehingga beberapa wanita yang telah disembuhkan-Nya dari 

kelemahan mereka dan dari kerasukan setan, membantu Dia dengan 

kekayaan mereka (Lukas 8:2, 3); Ia menyuruh Petrus menangkap 

ikan untuk mendapatkan uang yang diperlukan oleh-Nya dan Petrus 

untuk membayar pajak Bait Allah (Matius 17:27); Ia dikubur di 

kuburan pinjaman (Matius 27:59, 60). Lagi pula, Ia bergaul dengan 

orang-orang yang rendah. Ia disebut sahabat pemungut cukai dan 

orang berdosa (Matius 11:19; bandingkan Lukas 15:2). Ia dengan 

senang hati membiarkan diri-Nya diminyaki oleh seorang perem­

puan yang berdosa (Lukas 7:37, 38) dan bahkan mengampuni dosa- 

dosanya (ayat 47, 48). Sesungguhnya, murid-murid-Nya yang per­

tama semuanya berasal dari golongan rendah namun kepada 

merekalah Ia menyatakan rahasia-rahasia kerajaan Allah (Matius 

13:11, 16, 17). Di samping itu, Ia melakukan pekerjaan yang paling 

kasar. Ia "datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani 

dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak 

orang" (Matius 20:28). Ia mencuci kaki para murid (Yohanes 

13:14). Sekalipun Ia yaitu  pemimpin murid-murid-Nya (Matius 

23:10; Yohanes 13:14), Ia sungguh-sungguh ingin dikenal sebagai 

sahabat mereka (Yohanes 15:13-15).

D. IA LEMAH LEMBUT

Ia sendiri mengatakan, "Aku lemah lembut dan rendah hati" (Matius 

11:29). Paulus menasihatkan jemaat di Korintus "demi Kristus yang 

lemah lembut dan ramah" (II Korintus 10:1). Kelemahlembutan- 

Nya nampak saat  Ia tidak memutuskan buluh yang patah terkulai 

dan tidak memadamkan sumbu yang pudar nyalanya (Matius 12:20; 

lihat juga Yesaya 42:3). Contoh-contoh kelemahlembutan-Nya 

dapat dilihat saat  Ia dengan lemah lembut menghadapi orang ber­

dosa yang bertobat (Lukas 7:37-39; 48-50), menyesuaikan diri de­

Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 345

ngan Tomas yang ragu-ragu (Yohanes 20:29), dan sikap-Nya yang 

lemah lembut terhadap Petrus yang telah menyangkal-Nya tiga kali 

(Lukas 22:61; Yohanes 21:15-23). Mungkin kelemahlembutan Kris­

tus terlihat dengan lebih jelas lagi saat  Ia menghadapi Yudas Is­

kariot, pengkhianat itu (Matius 26:50; Yohanes 13:21), dan meng­

hadapi orang-orang yang menyalibkan Dia (Lukas 23:34). Ia tidak 

bertengkar, tidak berteriak, dan juga tidak memperdengarkan suara- 

Nya di jalan (Matius 12:19; lihat Yesaya 42:2). Demikian pula, 

seorang hamba Tuhan "tidak boleh bertengkar, namun  harus ramah 

terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan 

lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan" (II 

Timotius 2:24, 25).

E. IA TENANG DALAM SEGALA KEADAAN

Kristus tenang tanpa menjadi pemurung, penuh sukacita namun 

bukan periang yang berlebihan. Ia menghadapi kehidupan secara 

serius. Yesaya berkata tentang hidup-Nya sebagai berikut, "Ia dihina 

dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang 

biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup 

mukanya terhadap dia, dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. 

namun  sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya dan 

kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena 

tulah, dipukul dan ditindas Allah" (Yesaya 53:3, 4; lihat juga Maz­

mur 69:10; Roma 15:3; Ibrani 2:10). Di samping keadaan yang 

penuh sengsara itu, Yesus penuh sukacita. "Semuanya itu 

Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan 

sukacitamu menjadi penuh" (Yohanes 15:11), dan Aku mengatakan 

semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya 

penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka" (Yohanes 17:13). Kita 

memang tidak pernah membaca bahwa Yesus tertawa, walaupun 

saat  mengajar sesekali Ia menyelipkan juga hal-hal yang lucu dan 

menggelikan (Matius 19:24; 23:24; Lukas 7:31-35). Jelaslah Yesus 

menangis (Lukas 19:41; Yohanes 11:35). Ia merasa sedih karena 

orang-orang yang menolak keselamatan yang diberikan-Nya dengan 

cuma-cuma (Matius 23:37; Yohanes 5:40). Ia menanggung segala 

kesusahan dan penderitaan kita sehingga nampak lebih tua daripada 

umur sesungguh-Nya secara jasmaniah (Yohanes 8:57). Sukacita 

yang dimiliki-Nya lebih banyak merupakan sukacita karena peng-

346 Soteriologi

harapan (Ibrani 12:2; bandingkan dengan Yesaya 53:11), yaitu 

sukacita melihat banyak jiwa diselamatkan dan tinggal bersama- 

sama dengan Dia dalam kemuliaan.

F. IA SELALU BERDOA

Yesus sering kali berdoa. Lukas menyebutkan sebelas peristiwa 

saat  Yesus berdoa. Ia sering kali berdoa di hadapan murid-murid- 

Nya, namun tidak pernah dikatakan bahwa Ia berdoa bersama 

mereka. Ia berdoa berlama-lama, kadang-kadang sepanjang malam 

(Matius 14:23; Lukas 6:12). Kali lain ia bangun pagi-pagi sekali 

dan mencari tempat yang sunyi untuk berdoa (Markus 1:35). Ia 

berdoa sebelum melaksanakan tugas-tugas yang besar: sebelum 

mengadakan perjalanan pelayanan di Galilea (Markus 1:35-38), la 

berdoa sebelum memilih dua belas murid (Lukas 6:12, 13), dan Ia 

berdoa sebelum pergi ke Golgota (Matius 26:38-46). Ia juga berdoa 

setelah mencapai keberhasilan yang besar (Yohanes 6:15). Mes­

kipun Ia berdoa untuk diri-Nya sendiri, Ia tidak pernah lupa berdoa 

juga untuk orang-orang yang dikasihi-Nya (Lukas 22:32; Yohanes 

17). Ia berdoa dengan sungguh-sungguh (Lukas 22:44; Ibrani 5:7), 

dengan sangat tekun (Matius 26:44), dengan iman (Yohanes 11:41, 

42), serta dengan sikap patuh (Matius 26:39). Penulis surat Ibrani 

mengatakan, "Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah memper­

sembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan 

kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan 

karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan" (Ibrani 5:7). Bila Anak 

Allah perlu berdoa, betapa lebih lagi kita perlu menghampiri hadirat 

Allah dalam doa!

G. IA BEKERJA TAK HENTI-HENTINYA

Yesus mengatakan, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku 

pun bekerja juga" (Yohanes 5:17), dan "kita harus mengerjakan 

pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang 

malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja" 

(Yohanes 9:4). Ia mulai pagi-pagi sekali (Markus 1:35; Yohanes 

8:2) dan bekerja terus sampai jauh malam (Matius 8:16; Lukas 6:12; 

Yohanes 3:2). Sangat menarik untuk mengikuti Dia sepanjang hari 

yang biasanya penuh dengan berbagai kesibukan (Matius 12:22- 

Pribadi Kristus: Dua Sifat dan Watak Kristus 347

13:53; Markus 3:20-4:41). Ia sampai lupa makan (Yohanes 4:31- 

34), lupa beristirahat (Markus 6:31) dan bahkan lupa penderitaan- 

Nya sendiri bila ada kesempatan untuk menolong jiwa yang memer­

lukan pertolongan (Lukas 23:41-43). Pekerjaan-Nya terdiri atas 

mengajar, (Matius 5-7), berkhotbah (Markus 1:38, 39), mengusir 

setan (Markus 5:12, 13), menyembuhkan orang sakit (Matius 8, 9), 

menyelamatkan yang hilang (Lukas 7:48; 19:9), membangkitkan 

orang mati (Matius 9:25; Lukas 7:14; Yohanes 11:43), memanggil 

serta melatih pekerja-pekerja (Matius 10; Lukas 10). Sebagai peker­

ja, Ia terkenal karena keberanian-Nya (Yohanes 2:14-17; 3:3; 19:10, 

11), ketelitian-Nya (Matius 14:36; Yohanes 7:23), sifat tidak pilih 

kasih-Nya (Matius 11:19), serta kebijaksanaan-Nya (Markus 12:34; 

Yohanes 4:7-30).


XXV

Karya Kristus: Kematian-Nya

Karya Kristus secara khusus merujuk kepada kematian, kebangkit­

an, kenaikan, dan pemuliaan Kristus. Keempat peristiwa ini akan 

kami bahas berdasarkan urutan kejadiannya. Pertama, kita akan 

membicarakan kematian Tuhan kita. Kematian Kristus dianggap 

sebagai "karya" yang dilakukan-Nya karena kematian itu tidaklah 

menimpa diri-Nya secara tak terelakkan atau tanpa disadari, 

melainkan merupakan akibat suatu keputusan yang tegas, suatu 

pilihan yang diambil-Nya saat  Ia dapat menolaknya. Kematian 

Kristus juga merupakan suatu "karya" karena apa yang dicapai-Nya 

bagi orang-orang yang mendapat keuntungan dari kematian terse­

but. Pemakaian istilah "karya" jelas dapat dibenarkan oleh penger­

tian alkitabiah tentang tujuan dan makna kematian Kristus.

I. PENTINGNYA KEMATIAN KRISTUS

Berbeda dengan kenyataan yang dialami manusia biasa, maka justru 

kematian Kristus dan bukan kehidupan-Nya yang sangat penting. 

Hal ini jelas berdasarkan banyak pertimbangan.

A. KEMATIAN KRISTUS SUDAH DINUBUATKAN DALAM PER­

JANJIAN LAMA

Kematian Kristus merupakan pokok banyak lambang dan nubuat 

dalam Perjanjian Lama. Kita dapat merunut benang merah sepan­

jang seluruh Alkitab: persembahan Habel (Kejadian 4:4), domba 

349

350 Soteriologi

jantan di Gunung Moria (Kejadian 22:13), kurban yang dipersem­

bahkan oleh para leluhur Israel pada umumnya (Kejadian 8:20; 

12:8; 26:25; 33:20; 35:7), domba Paskah di Mesir (Keluaran 

12:1-28), kurban-kurban dalam sistem Keimaman Lewi (Imamat 

1-7), persembahan Manoah (Hakim-Hakim 13:16-19), persembahan 

tahunan Elkana (I Samuel 1:21), persembahan kurban Samuel 

(I Samuel 7:9, 10; 16:2-5), persembahan kurban Daud (II Samuel 

6:18), persembahan Elia (I Raja-Raja 18:38), persembahan Hizkia 

(II Tawarikh 29:21-24), persembahan-persembahan pada zaman 

Yosua dan Zerubabel (Ezra 3:3-6), dan Nehemia (10:32, 33). Semua 

persembahan ini menunjuk kepada satu persembahan akbar yang 

dipersembahkan oleh Kristus.

Selanjutnya, ada  nubuat-nubuat yang menunjuk ke depan 

kepada kematian Kristus. Kitab Mazmur bernubuat tentang 

pengkhianatan terhadap Kristus (Mazmur 41:10; bandingkan dengan 

Yohanes 13:18; Kisah 1:16) penyaliban dan peristiwa-peristiwa 

yang berkaitan dengannya (Mazmur 22:2, 8, 9; bandingkan dengan 

Matius 27:39-40, 46; Markus 15:34; Yohanes 19:23, 24), serta 

kebangkitan (Mazmur 16:8-11; bandingkan dengan Kisah 2:25-28). 

Yesaya menulis, 'namun  dia tertikam oleh karena pemberontakan 

kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita" (53:5). Daniel 

menunjukkan bahwa setelah enam puluh dua minggu Mesias akan 

disingkirkan dan tidak memiliki apa-apa (9:26). Zakharia menubuat­

kan penjualan Kristus seharga tiga puluh uang perak serta investasi 

uang untuk tanah tukang periuk (11:12, 13; bandingkan Matius 

26:15; 27:9, 10). Zakharia juga menubuatkan pembunuhan gembala 

(13:7) serta terbukanya sumber bagi pembasuhan dosa dan 

kecemaran (13:1). Jadi, jelaslah bahwa kematian Kristus merupakan 

bagian yang penting dari ajaran Perjanjian Lama.

B. KEMATIAN KRISTUS MERUPAKAN AJARAN YANG MENON­

JOL DALAM PERJANJIAN BARU

Masa minggu terakhir sebelum kematian Tuhan kita mengisi seper­

lima bagian dari kisah yang diceritakan dalam keempat Injil. 

Demikian pula Surat-Surat Kiriman penuh dengan peristiwa yang 

bersejarah ini. Jelas sekali, kematian dan kebangkitan Tuhan kita 

dianggap paling penting oleh Roh Kudus, pengarang Alkitab.

Karya Kristus: Kematian-Nya 351

C. KEMATIAN KRISTUS MERUPAKAN TUJUAN UTAMA PEN­

JELMAAN

Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, Kristus tidak datang 

untuk menjadi teladan bagi kita atau untuk mengajar doktrin kepada 

kita, namun  untuk mati bagi kita (Markus 10:45; Ibrani 2:9; 9:26; 

I Yohanes 3:5). Kematian Kristus bukanlah suatu kecelakaan atau 

suatu pikiran yang timbul kemudian, namun  merupakan pelaksanaan 

suatu tujuan tertentu yang berhubungan dengan penjelmaan. Pen­

jelmaan bukanlah merupakan tujuan; penjelmaan merupakan suatu 

sarana untuk mencapai tujuan tertentu, dan tujuan ini  ialah 

penebusan orang yang hilang lewat kematian Tuhan di kayu salib.

D. KEMATIAN KRISTUS MERUPAKAN TEMA POKOK INJIL

Istilah "injil" berarti "kabar baik". Seiring dengan itu, istilah ini 

dipakai dalam berbagai cara. Keempat kisah kehidupan Kristus dise­

but Injil: Semua penyataan Allah kepada makhluk-makhluk ciptaan 

Allah disebut Injil; dan secara lebih sempit lagi istilah "injil" dipakai 

untuk "kabar baik" keselamatan yang tersedia. Paulus mengatakan 

bahwa Injil ialah kematian Kristus karena semua dosa kita, pengu- 

buran-Nya, dan kebangkitan-Nya (I Korintus 15:1-5). Kematian 

Kristus karena dosa umat manusia yaitu  kabar yang baik; secara 

tidak langsung hal ini mengatakan bahwa manusia tidak perlu mati 

karena dosanya. Hukum Taurat Musa, Khotbah di Bukit, ajaran dan 

teladan Kristus, semuanya menunjukkan kepada dosa kita dan 

menyatakan bahwa kita membutuhkan seorang juruselamat, namun 

semuanya tidak dapat menghapus dosa manusia. Penghapus dosa 

itu hanya ditemukan dalam kematian Kristus.

E. KEMATIAN KRISTUS PERLU SEKALI BAGI KEKRISTENAN

Agama-agama lain melandaskan keberadaan mereka sebagai agama 

pada ajaran-ajaran pendiri mereka: Kekristenan berbeda dari 

semuanya itu karena melandaskan keberadaannya pada kematian 

Pendirinya. Meniadakan kematian Kristus sebagaimana itu ditafsir­

kan oleh Alkitab, berarti merendahkan kekristenan ke tingkat 

agama-agama etnis. Sekalipun kita tetap memiliki sistem etika yang 

lebih tinggi, tanpa kematian Kristus di dalam kekristenan juga tidak 

ada keselamatan sebagaimana halnya agama-agama yang lain. 

352 Soteriologi

Singkirkan Salib Kristus, maka hilanglah inti Kekristenan. Pokok 

utama khotbah para rasul ialah Kristus, yaitu Dia yang disalibkan 

(I Korintus 1:18, 23; 2:2; Galatia 6:14).

F. KEMATIAN KRISTUS PERLU SEKALI UNTUK KESELAMAT­

AN KITA

Anak Manusia harus ditinggikan jika  manusia hendak diselamat­

kan (Yohanes 3:14, 15); butir gandum itu harus jatuh ke tanah dan 

mati dahulu sebelum dapat menghasilkan buah yang banyak (Yo­

hanes 12:24). Allah tidak mungkin mengampuni dosa hanya ber­

dasarkan pertobatan manusia. Tindakan semacam itu tidak mungkin 

dilakukan oleh Allah yang benar. Allah hanya dapat mengampuni 

kalau hukumannya telah dijalani. Agar Tuhan dapat mengampuni 

manusia yang berdosa dan pada saat yang sama tetap benar, maka 

Kristus menjalani hukuman orang berdosa (Roma 3:25, 26). Kristus 

berkali-kali mengatakan bahwa Ia harus menanggung banyak pen­

deritaan, dibunuh, dan dibangkitkan kembali pada hari yang ketiga 

(Matius 16:21; Markus 8:31; Lukas 9:22; 17:25; Yohanes 12:32- 

34). Dua orang muda yang berada di dalam kubur Yesus setelah Ia 

bangkit mengingatkan para perempuan yang datang untuk tubuh 

Yesus bahwa Yesus harus disalibkan dan dibangkitkan 

kembali (Lukas 24:7). Paulus berusaha membuktikan kepada jemaat 

di Tesalonika betapa pentingnya kematian Kristus (Kisah 17:3). 

Dari sudut pandangan Allah, kematian Kristus merupakan suatu 

keperluan mutlak jika  manusia hendak diselamatkan.

G. KEMATIAN KRISTUS SANGAT PENTING DI SORGA

saat  Musa dan Elia menampakkan diri di Gunung Pemuliaan, 

mereka berbicara dengan Kristus "tentang tujuan kepergian-Nya 

yang akan digenapi-Nya di Yerusalem" (Lukas 9:31). Keempat 

makhluk dan kedua puluh empat tua-tua menyanyikan suatu nya­

nyian mengenai penebusan yang dilaksanakan oleh kematian Kris­

tus (Wahyu 5:8-10). Bahkan para malaikat di keliling takhta sorga, 

sekalipun mereka sendiri tidak perlu ditebus, ikut menyanyikan 

nyanyian tentang Anak Domba yang disembelih (Wahyu 5:11, 12). 

Karena mereka yang matanya tidak lagi diselubungi keterbatasan 

manusia dan telah memahami kebenaran-kebenaran yang lebih men- 

Karya Kristus: Kematian-Nya 353

dalam tentang penebusan lewat darah Kristus, memuji kematian 

Kristus di atas segala sesuatu, maka kita yang masih berada di 

dalam daging hendaknya menyelidiki makna yang sesungguhnya 

dari kematian Kristus.

II. BERBAGAI TAFSIRAN SALAH TENTANG 

KEMATIAN KRISTUS

Agar dapat memperoleh pengertian yang lebih jelas mengenai 

ajaran Alkitab tentang kematian Kristus, bermanfaat kiranya bila 

kita meneliti dahulu berbagai pandangan salah yang telah 

dikemukakan tentang kebenaran ini. Sering kali pokok ini telah 

dipelajari dengan prasangka dan sikap filosofis tertentu sehingga 

menghasilkan ajaran yang tidak alkitabiah tentang pendamaian.

A. TEORI KEBETULAN

Pandangan ini tidak melihat ada sesuatu yang istimewa dalam 

kematian Kristus. Kristus dianggap seorang manusia, dan sebagai 

manusia dengan sendirinya Ia harus mati. Prinsip-prinsip dan 

metode yang diajarkan Yesus tidak menarik bagi orang-orang pada 

zaman itu sehingga akhirnya mereka membunuh Dia. Memang patut 

disayangkan bahwa orang yang sebaik Dia harus dibunuh, namun  

bagaimanapun juga kematian-Nya tidak berarti apa-apa bagi orang 

lain. Ini menerima pendekatan yang humanistik yang umum.

Akan namun , kematian Kristus bukan suatu peristiwa kebetulan. 

Kematian Kristus dengan jelas telah dinubuatkan dalam Perjanjian 

Lama (Mazmur 22; Yesaya 53; Zakharia 11). Kristus berkali-kali 

mengatakan bahwa Ia akan mati karena kekerasan (Matius 16:21; 

17:22, 23; 20:18, 19; Markus 9:31; Lukas 9:44; 22:21, 22; Yohanes 

12:32, 33; 15:20). Kristus datang dengan tujuan yang nyata, yaitu 

mati untuk kita, karena itu kematian-Nya bukanlah suatu peristiwa 

kebetulan.

B. TEORI MATI SYAHID

Teori ini, yang juga dikenal sebagai Teori Teladan, beranggapan 

bahwa kematian Kristus merupakan kematian seorang syahid. Ia

354 Soteriologi

telah dibunuh karena Ia setia kepada prinsip-prinsip hidup-Nya dan 

kepada apa yang dianggap-Nya sebagai tugas yang harus dilak­

sanakan. Ia dibunuh oleh orang-orang yang tidak sependapat dengan 

Dia mengenai prinsip-prinsip itu. Dia yaitu  teladan kesetiaan 

kepada kebenaran dan kepada tugas. Teori ini menganggap bahwa 

satu-satunya hal yang perlu untuk menyelamatkan manusia ialah 

mengubah dan memperbaiki manusia itu sendiri. Teladan Kristus 

yaitu  untuk mengajarkan manusia agar bertobat dari dosanya dan 

memperbaiki dirinya.

Namun, teori ini (1) mengabaikan gagasan pokok tentang pen­

damaian yang harus dibuat dengan Allah (Keluaran 12:13, 23; 

Roma 3:24, 25; Ibrani 2:17; 9:11-14; I Yohanes 2:2; 4:10); (2) men­

jadikan teladan Kristus cukup untuk menyelamatkan manusia, 

padahal Kristus hanya menjadi teladan bagi orang-orang yang per­

caya kepada-Nya (Matius 11:29; I Petrus 2:21, 24; I Yohanes 2:6); 

(3) secara logis pandangan ini membelokkan semua ajaran pokok 

dalam Alkitab, seperti pengilhaman Alkitab, dosa, Ketuhanan Kris­

tus, pembenaran, pembaharuan, dan hukuman kekal; dan (4) tidak 

sanggup menerangkan secara memadai apa yang dialami Kristus di 

taman Getsemani dan di salib, yang samasekali tidak sesuai dengan 

sikap seorang syahid (Matius 26:37, 39; 27:46; Yohanes 12:27; ban­

dingkan sikap Paulus saat  menderita, Filipi 1:20-23, dan sikap 

Stefanus, Kisah 7:55-60). Sekalipun anggapan bahwa kematian 

Kristus menjadi teladan bagi kita sanggup membawa perbaikan-per­

baikan moral dalam kehidupan manusia, namun kematian yang 

dianggap teladan itu tidak dapat mengadakan pendamaian untuk 

dosa-dosa yang telah diperbuat seseorang, dan juga tidak bisa 

menyelamatkan seorang yang berdosa (Yohanes 6:53; Kisah 20:28; 

I Korintus 11:25; I Petrus 1:19; Wahyu 7:14).

C. TEORI PENGARUH MORAL

Teori ini, yang juga dikenal dengan nama Teori Kasih Allah, 

beranggapan bahwa kematian Kristus sedikit banyak merupakan 

akibat yang wajar karena Ia telah mengambil rupa manusia, dan 

bahwa Ia sekadar menderita di dalam dan bersama dengan dosa- 

dosa makhluk ciptaan-Nya. Kasih Allah yang terungkap secara 

paling nyata dalam penjelmaan, penderitaan, dan kematian Kristus 

dimaksudkan untuk melunakkan hati manusia dan membuat mereka 

Karya Kristus: Kematian-Nya 355

bertobat. Pendamaian bukanlah dimaksudkan untuk memuaskan 

keadilan ilahi, namun  dimaksudkan untuk menyatakan kasih ilahi.

Pandangan tentang pendamaian semacam ini salah samasekali, 

karena memperlihatkan Kristus sebagai menderita bersama orang 

berdosa dan bukan sebagai pengganti orang berdosa. Tanggapan 

kami terhadap teori ini ialah: (1) sekalipun kematian Kristus meru­

pakan ungkapan kasih Allah (Yohanes 3:16; Roma 5:6-8), manusia 

mengetahui bahwa Allah mengasihi dia jauh sebelum Kristus datang 

(Ulangan 7:7, 8; Yeremia 31:3; bandingkan Maleakhi 3:6); (2) seka­

dar membuat hati merasa terharu tidak akan membawa orang ke­

pada pertobatan; (3) teori ini menyangkal semua keterangan Alkitab 

yang mengatakan bahwa Allah harus didamaikan dahulu sebelum 

Ia dapat mengampuni (Roma 3:25, 26; Ibrani 2:17; 9:14; I Yohanes 

2:2; 4:10); (4) teori ini mendasarkan kematian Kristus pada kasih 

Allah dan bukan pada kekudusan Allah; dan (5) berlandaskan teori 

ini sulit untuk menerangkan bagaimana orang percaya pada zaman 

Perjanjian Lama dapat diselamatkan, karena mereka semua belum 

melihat teladan kasih Allah. Pendamaian janganlah dijadikan sebuah 

drama di mana pemerannya nampaknya tergerak oleh motivasi- 

motivasi yang tulus, bila sebenarnya ia hanya menggelorakan 

perasaan-perasaan orang yang mendengarnya. "Sekalipun manusia 

sangat terpengaruh oleh penyataan kasih Allah di bukit Golgota, 

manusia pun harus menyadari kemurkaan Allah terhadap dosa yang 

telah dinyatakan di Salib."118

118 Purkiser, God, Man, and Salvation, hal. 407-408.

D. TEORI PEMERINTAHAN

Teori ini mirip dengan tiga teori sebelumnya karena juga tidak 

menerima adanya suatu prinsip dalam sifat ilahi yang perlu 

didamaikan dahulu. Sebaliknya, agar dapat menjaga wibawa hukum 

yang telah dibuat-Nya, Allah menjadikan kematian Kristus sebagai 

teladan untuk menunjukkan betapa bencinya Allah akan dosa. 

Dalam kematian Kristus, Allah menunjukkan bahwa Ia samasekali 

tidak menyenangi dosa dan bahwa dosa itu akan dihukum bila orang 

tidak bertobat. Kristus tidak menderita hukuman yang sesungguh­

nya yang dite