Konflik Israel dan Palestina
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Artikel ini membutuhkan lebih banyak catatan
kaki untuk pemastian.
Silakan bantu memperbaiki artikel ini dengan menambahkan catatan kaki
dari sumber yang terpercaya.
Konflik Israel dan Palestina
Bagian dari Konflik Arab-Israel
Pusat Israel sebelah Tepi Barat dan Jalur Gaza, 2007
Tanggal Awal abad 20 - hari ini
Lokasi Israel, wilayah Palestina
Hasil terus
Pihak yang terlibat
Palestinians Israelis
Proses Perdamaian
Perjanjian Perdamaian Camp David · Madrid
Konferensi
Persetujuan Oslo / Oslo II · Hebron Protokol
Wye Sungai / Sharm el-Sheikh Memorandum
2000 Camp David kemuncak · Taba kemuncak
Road Map · Konferensi Annapolis
Konflik Israel-Palestina, bagian dari konflik Arab-Israel yang lebih luas,
adalah konflik yang berlanjut antara bangsa Israel dan bangsa Palestina.
Konflik Israel-Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-
olah seluruh bangsa Israel (atau bahkan seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan
Israel) memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina
memiliki pandangan yang sebaliknya. Di kedua komunitas terdapat orang-orang dan
kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran teritorial total dari komunitas
yang lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lagi
menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara sekular yang mencakup wilayah
Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Sejarah
o 1.1 Akhir abad ke-19 - 1920: Asal konflik
o 1.2 1920-1948: Mandat Britania atas Palestina
o 1.3 1948-1967
o 1.4 1967-1993
o 1.5 1993-2000: Proses perdamaian Oslo
o 1.6 2000-sekarang: Intifada al-Aqsa
2 Situasi saat ini
3 Korban
4 Lihat pula
o 4.1 Etnisitas
o 4.2 Agama
o 4.3 Geografi
o 4.4 Tempat-tempat penting
o 4.5 Ideologi dan gagasan
o 4.6 Laporan media
o 4.7 Organisasi dan angkatan bersenjata
o 4.8 Tokoh
o 4.9 Konflik-konflik terkait
5 Referensi
6 Bacaan lebih lanjut
7 Pranala luar
Sejarah[sunting | sunting sumber]
Akhir abad ke-19 - 1920: Asal konflik[sunting | sunting sumber]
Tahun 1897, Kongres Zionis Pertama diselenggarakan.
Deklarasi Balfour 1917
2 November 1917. Inggris mencanangkan Deklarasi Balfour, yang dipandang pihak
Yahudi dan Arab sebagai janji untuk mendirikan ”tanah air” bagi kaum Yahudi di
Palestina.
1920-1948: Mandat Britania atas Palestina[sunting | sunting sumber]
Teks 1922: Mandat Palestina Liga Bangsa-bangsa
Mandat Britania atas Palestina
Revolusi Arab 1936-1939.
Revolusi Arab dipimpin Amin Al-Husseini. Tak kurang dari 5.000 warga Arab terbunuh.
Sebagian besar oleh Inggris. Ratusan orang Yahudi juga tewas. Husseini terbang ke
Irak, kemudian ke wilayah Jerman, yang ketika itu dalam pemerintahan Nazi.
Rencana Pembagian Wilayah oleh PBB 1947
Deklarasi Pembentukan Negara Israel, 14 Mei 1948 .
Secara sepihak Israel mengumumkan diri sebagai negara Yahudi. Inggris hengkang
dari Palestina. Mesir, Suriah, Irak, Libanon, Yordania, dan Arab Saudi menabuh
genderang perang melawan Israel.
1948-1967[sunting | sunting sumber]
Perang Arab-Israel 1948
Persetujuan Gencatan Senjata 1949
3 April 1949. Israel dan Arab bersepakat melakukan gencatan senjata. Israel mendapat
kelebihan wilayah 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan dalam Rencana
Pemisahan PBB.
Exodus bangsa Palestina
Perang Suez 1956
Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) resmi berdiri
pada Mei 1964.
Perang Enam Hari 1967
Resolusi Khartoum
Pendudukan Jalur Gaza oleh Mesir
Pendudukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur oleh Yordan
1967-1993[sunting | sunting sumber]
Perjanjian Nasional Palestina dibuat pada 1968, Palestina
secara resmi menuntut pembekuan Israel.
1970 War of Attrition
Perang Yom Kippur 1973
Kesepakatan Damai Mesir-Israel di Camp David 1978
Perang Lebanon 1982
Intifada pertama (1987 - 1991)
Perang Teluk 1990/1
1993-2000: Proses perdamaian Oslo[sunting | sunting sumber]
Yitzhak Rabin dan Yasser Arafatberjabat tangan ,dipantau oleh Bill Clinton, pada
penandatangananPersetujuan Oslo pada 13 September 1993
Kesepakatan Damai Oslo antara Palestina dan Israel 1993
13 September 1993. Israel dan PLO bersepakat untuk saling mengakui kedaulatan
masing-masing. Pada Agustus 1993, Arafat duduk semeja dengan Perdana Menteri
Israel Yitzhak Rabin. Hasilnya adalah Kesepakatan Oslo. Rabin bersedia menarik
pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberi Arafat kesempatan
menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa "memerintah" di kedua wilayah
itu. Arafat "mengakui hak Negara Israel untuk eksis secara aman dan damai".
28 September 1995. Implementasi Perjanjian Oslo. Otoritas Palestina segera berdiri.
Kerusuhan terowongan Al-Aqsa
September 1996. Kerusuhan terowongan Al-Aqsa. Israel sengaja membuka
terowongan menuju Masjidil Aqsa untuk memikat para turis, yang justru
membahayakan fondasi masjid bersejarah itu. Pertempuran berlangsung beberapa hari
dan menelan korban jiwa.
18 Januari 1997 Israel bersedia menarik pasukannya dari
Hebron, Tepi Barat.
Perjanjian Wye River Oktober 1998 berisi penarikan Israel
dan dilepaskannya tahanan politik dan kesediaan Palestina
untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo, termasuk
soal penjualan senjata ilegal.
19 Mei 1999, Pemimpin partai Buruh Ehud Barak terpilih
sebagai perdana menteri. Ia berjanji mempercepat proses
perdamaian.
2000-sekarang: Intifada al-Aqsa[sunting | sunting sumber]
Peta wilayah Tembok Pemisah Israel.
Intifada al-Aqsa (2000-sekarang)
Maret 2000, Kunjungan pemimpin oposisi Israel Ariel Sharon ke Masjidil Aqsa memicu
kerusuhan. Masjidil Aqsa dianggap sebagai salah satu tempat suci umat Islam.
Intifadah gelombang kedua pun dimulai.
KTT Camp David 2000 antara Palestina dan Israel
Maret-April 2002 Israel membangun Tembok Pertahanan di
Tepi Barat dan diiringi rangkaian serangan bunuh diri
Palestina.
Juli 2004 Mahkamah Internasional menetapkan
pembangunan batas pertahanan menyalahi hukum
internasional dan Israel harus merobohkannya.
9 Januari 2005 Mahmud Abbas, dari Fatah, terpilih sebagai
Presiden Otoritas Palestina. Ia menggantikan Yasser
Arafat yang wafat pada 11 November 2004
Peta menuju perdamaian
Juni 2005 Mahmud Abbas dan Ariel Sharon bertemu di
Yerusalem. Abbas mengulur jadwal pemilu karena khawatir
Hamas akan menang.
Agustus 2005 Israel hengkang dari permukiman Gaza dan
empat wilayah permukiman di Tepi Barat.
Januari 2006 Hamas memenangkan kursi Dewan
Legislatif, menyudahi dominasi Fatah selama 40 tahun.
Januari-Juli 2008 Ketegangan meningkat di Gaza. Israel
memutus suplai listrik dan gas. Dunia menuding Hamas tak
berhasil mengendalikan tindak kekerasan. PM Palestina
Ismail Haniyeh berkeras pihaknya tak akan tunduk.
November 2008 Hamas batal ikut serta dalam pertemuan
unifikasi Palestina yang diadakan di Kairo, Mesir. Serangan
roket kecil berjatuhan di wilayah Israel.
Serangan Israel ke Gaza dimulai 26 Desember 2008. Israel
melancarkan Operasi Oferet Yetsuka, yang dilanjutkan
dengan serangan udara ke pusat-pusat operasi Hamas.
Korban dari warga sipil berjatuhan. [1]
Mei 2010 Israel mem-blokede seluruh jalur bantuan menuju
palestina
30 Mei 2010 Tentara Israel Menembaki kapal
bantuan Mavi Marmara yang membawa
ratusan Relawan dan belasan ton bantuan untuk palestina
Klip video dari sebuah serangan roket di Israel Selatan, March
2009.
Sebuah roket Qassam ditembakkan dari sebuah daerah sipil di
Gaza ke Israel selatan, Januari 2009.
Ledakan disebabkan oleh airstrike Israel di Gaza selama 2008-2009
Konflik Israel-Gaza, Januari 2009.
Situasi saat ini[sunting | sunting sumber]
Artikel atau bagian dari artikel ini diterjemahkan dari Konflik Israel dan
Palestina di en.wikipedia.org. Isinya mungkin memiliki ketidakakuratan.
Selain itu beberapa bagian yang diterjemahkan kemungkinan masih
memerlukan penyempurnaan. Pengguna yang mahir dengan bahasa yang
bersangkutan dipersilakan untuk menelusuri referensinya dan
menyempurnakan terjemahan ini.
(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat)
Sejak Persetujuan Oslo, Pemerintah Israel dan Otoritas Nasional Palestina secara
resmi telah bertekad untuk akhirnya tiba pada solusi dua negara. Masalah-masalah
utama yang tidak terpecahkan di antara kedua pemerintah ini adalah:
Status dan masa depan Tepi Barat, Jalur Gaza,
dan Yerusalem Timur yang mencakup wilayah-wilayah
dari Negara Palestina yang diusulkan.
Keamanan Israel.
Keamanan Palestina.
Hakikat masa depan negara Palestina.
Nasib para pengungsi Palestina.
Kebijakan-kebijakan pemukiman pemerintah Israel, dan
nasib para penduduk pemukiman itu.
Kedaulatan terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem,
termasuk Bukit Bait Suci dan kompleks Tembok (Ratapan)
Barat.
Masalah pengungsi muncul sebagai akibat dari perang Arab-Israel 1948. Masalah Tepi
Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur muncul sebagai akibat dari Perang Enam
Hari pada 1967.
Selama ini telah terjadi konflik yang penuh kekerasan, dengan berbagai tingkat
intensitasnya dan konflik gagasan, tujuan, dan prinsip-prinsip yang berada di balik
semuanya. Pada kedua belah pihak, pada berbagai kesempatan, telah muncul
kelompok-kelompok yang berbeda pendapat dalam berbagai tingkatannya tentang
penganjuran atau penggunaan taktik-taktik kekerasan, anti kekerasan yang aktif, dll.
Ada pula orang-orang yang bersimpati dengan tujuan-tujuan dari pihak yang satu atau
yang lainnya, walaupun itu tidak berarti mereka merangkul taktik-taktik yang telah
digunakan demi tujuan-tujuan itu. Lebih jauh, ada pula orang-orang yang merangkul
sekurang-kurangnya sebagian dari tujuan-tujuan dari kedua belah pihak. Dan
menyebutkan "kedua belah" pihak itu sendiri adalah suatu penyederhanaan: Al-
Fatah dan Hamas saling berbeda pendapat tentang tujuan-tujuan bagi bangsa
Palestina. Hal yang sama dapat digunakan tentang berbagai partai politik Israel,
meskipun misalnya pembicaraannya dibatasi pada partai-partai Yahudi Israel.
Mengingat pembatasan-pembatasan di atas, setiap gambaran ringkas mengenai sifat
konflik ini pasti akan sangat sepihak. Itu berarti, mereka yang menganjurkan
perlawanan Palestina dengan kekerasan biasanya membenarkannya sebagai
perlawanan yang sah terhadap pendudukan militer oleh bangsa Israel yang tidak sah
atas Palestina, yang didukung oleh bantuan militer dan diplomatik oleh A.S. Banyak
yang cenderung memandang perlawanan bersenjata Palestina di lingkungan Tepi Barat
dan Jalur Gaza sebagai hak yang diberikan oleh persetujuan Jenewa dan Piagam PBB.
Sebagian memperluas pandangan ini untuk membenarkan serangan-serangan, yang
seringkali dilakukan terhadap warga sipil, di wilayah Israel itu sendiri.
Demikian pula, mereka yang
bersimpati dengan aksi militer Israel
dan langkah-langkah Israel lainnya
dalam menghadapi bangsa Palestina
PLO Al-Fatah Hamas JIP
Lambang-lambang dari organisasi-organisasi utama Palestina
termasuk peta wilayah Israel sekarang, Tepi Barat dan Jalur
Gaza. (Sejumlah besar penduduk Palestina maupun Israel
sama-sama mengklaim hak atas seluruh wilayah ini).
cenderung memandang tindakan-tindakan ini sebagai pembelaan diri yang sah oleh
bangsa Israsel dalam melawan kampanye terorisme yang dilakukan oleh kelompok-
kelompok Palestina sepertiHamas, Jihad Islami, Al Fatah dan lain-lainnya, dan
didukung oleh negara-negara lain di wilayah itu dan oleh kebanyakan bangsa Palestina,
sekurang-kurangnya oleh warga Palestina yang bukan merupakan warga negara Israel.
Banyak yang cenderung percaya bahwa Israel perlu menguasai sebagian atau seluruh
wilayah ini demi keamanannya sendiri. Pandangan-pandangan yang sangat berbeda
mengenai keabsahan dari tindakan-tindakan dari masing-masing pihak di dalam konflik
ini telah menjadi penghalang utama bagi pemecahannya.
Sebuah poster gerakan perdamaian: Bendera Israel danbendera Palestina dan kata-
kataSalaam dalam bahasa Arab danShalom dalam bahasa Ibrani. Gambar-gambar serupa telah
digunakan oleh sejumlah kelompok yang menganjurkan solusi dua negara dalam konflik ini.
Sebuah usul perdamaian saat ini adalah peta menuju perdamaian yang diajukan oleh
Empat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan Amerika Serikatpada 17 September 2002.
Israel juga telah menerima peta itu namun dengan 14 "reservasi". Pada saat ini Israel
sedang menerapkan sebuah rencana pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan
oleh Perdana Menteri Ariel Sharon. Menurut rencana yang diajukan kepada AS, Israel
menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh "kehadiran sipil dan militer... yang
permanen" di Jalur Gaza (yaitu 21 pemukiman Yahudi di sana, dan 4 pemumikan di
Tepi Barat), namun akan "mengawasi dan mengawal kantong-kantong eksternal di
darat, akan mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus
melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza." Pemerintah Israel
berpendapat bahwa "akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur
Gaza adalah wilayah pendudukan," sementara yang lainnya berpendapat bahwa,
apabila pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa Israel "akan diizinkan
untuk menyelesaikan tembok [artinya, Penghalang Tepi Barat Israel] dan
mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti adanya sekarang ini" [1] [2].
Dengan rencana pemisahan diri sepihak, pemerintah Israel menyatakan bahwa
rencananya adalah mengizinkan bangsa Palestina untuk membangun sebuah tanah air
dengan campur tangan Israel yang minimal, sementara menarik Israel dari situasi yang
diyakininya terlalu mahal dan secara strategis tidak layak dipertahankan dalam jangka
panjang. Banyak orang Israel, termasuk sejumlah besar anggota partai Likud -- hingga
beberapa minggu sebelum 2005 berakhir merupakan partai Sharon -- kuatir bahwa
kurangnya kehadiran militer di Jalur Gaza akan mengakibatkan meningkatnya kegiatan
penembakan roket ke kota-kota Israel di sekitar Gaza. Secara khusus muncul
keprihatinan terhadap kelompok-kelompok militan Palestina seperti Hamas, Jihad Islami
atau Front Rakyat Pembebasan Palestina akan muncul dari kevakuman kekuasaan
apabila Israel memisahkan diri dari Gaza.
Korban[sunting | sunting sumber]
Korban sipil yang tewas akibat konflik Israel-Palestina, data berasal dari B'tselem dan Kementerian Luar Negeri Israel antara tahun 1987
hingga 2011[2][3][4][5]
(angka dalam tanda kurung merupakan korban yang berusia di bawah 18 tahun)
Tahun
Kematian
Palestina Israel
2011 118 (13) 11 (5)
2010 81 (9) 8 (0)
2009 1034 (314) 9 (1)
2008 887 (128) 35 (4)
2007 385 (52) 13 (0)
2006 665 (140) 23 (1)
2005 190 (49) 51 (6)
2004 832 (181) 108 (8)
2003 588 (119) 185 (21)
2002 1032 (160) 419 (47)
2001 469 (80) 192 (36)
2000 282 (86) 41 (0)
1999 9 (0) 4 (0)
1998 28 (3) 12 (0)
1997 21 (5) 29 (3)
1996 74 (11) 75 (8)
1995 45 (5) 46 (0)
1994 152 (24) 74 (2)
1993 180 (41) 61 (0)
1992 138 (23) 34 (1)
1991 104 (27) 19 (0)
1990 145 (25) 22 (0)
1989 305 (83) 31 (1)
1988 310 (50) 12 (3)
1987 22 (5) 0 (0)
Total 7978 (1620) 1503 (142)
Lihat pula[sunting | sunting sumber]
Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza berada di pusat konflik Israel-Palestina.
Etnisitas[sunting | sunting sumber]
Arab -- Yahudi -- Palestina
Agama[sunting | sunting sumber]
Islam -- Yudaisme -- Kristen
Geografi[sunting | sunting sumber]
Palestina (Tanah Israel)
Geografi Israel
Tepi Barat (Yudea dan Samaria)
Jalur Gaza
Tempat-tempat penting[sunting | sunting sumber]
Yerusalem -- Ma'alot -- Hebron -- Betlehem -- Gereja
Kelahiran -- Kota Gaza -- Jenin -- Yerikho
Ideologi dan gagasan[sunting | sunting sumber]
Zionisme
Pan-Arabisme
Negara Yahudi
Usul-usul pembentukan negara Palestina
Laporan media[sunting | sunting sumber]
New Historians
Promises , sebuah film dokumenter yang dinominasi untuk
Oscar
Laporan media tentang konflik Israel-Palestina
Charles Enderlin
Muhammed al-Dura
Organisasi dan angkatan bersenjata[sunting | sunting sumber]
Angkatan Pertahanan Israel
Gerakan anti Israel
Al-Fatah
Hamas
Hizbullah
Front Rakyat Pembebasan Palestina (FRPP)
Yayasan Bantuan dan Pembangunan Tanah Suci
Otoritas Palestina
Organisasi Pembebasan Palestina (PLO)
Jihad Islami Palestina
Tokoh[sunting | sunting sumber]
Israel
David Ben-Gurion -- Menachem Begin -- Shimon
Peres -- Yitzhak Rabin -- Ariel Sharon -- Chaim Weizmann
Palestina
Mahmud Abbas -- Hanan Ashrawi -- Yasser
Arafat -- Marwan Barghouti -- Haj Amin Al-Husseini -- Dalal
Mughrabi -- Nabil Shaath -- Ahmed Shukairy -- Syekh
Ahmed Yassin -- Ahmed Qurei
Lainnya
Raja Hussein -- Anwar Sadat -- Colin Powell -- Anthony
Zinni -- Raja Abdullah
Konflik-konflik terkait[sunting | sunting sumber]
Konflik Arab-Israel
Konflik Timur Tengah
Perang Lebanon 2006
Referensi[sunting | sunting sumber]
1. ̂ Tahun-tahun Bersimbah Darah, Tempo
2. ̂ Data tabulated from "B'Tselem – Statistics – Fatalities in
the first Intifada." B'Tselem.
3. ̂ "Fatal Terrorist Attacks in Israel Since the Declaration of
Principles." Jewish Virtual Library. 31 August 2010.
4. ̂ "Fatal Terrorist Attacks in Israel Since the DOP (Sept
1993)." Israel Ministry of Foreign Affairs. 24 September
2000.
5. ̂ "The Intrafada: Palestinians Killed by Palestinians." Jewish
Virtual Library.
Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]
Bard, Mitchell. The Complete Idiot's Guide to Middle East
Conflict, ISBN 0-02-864410-7
Bickerton, Ian J. and Carla L. Klausner. A Concise History
of the Arab–Israeli Conflict. 4th ed. (Prentice Hall,
2001), ISBN 0-13-090303-5
Chomsky, Noam . The Fateful Triangle: The United States,
Israel and the Palestinians. Rev. ed. (South End Press,
1999), ISBN 0-89608-187-7.
David, Ron. Arabs & Israel for Beginners (Writers and
Readers Publishing, Inc. 1996), ISBN 0-86316-161-8
Dershowitz, Alan . The Case for Israel, ISBN 0-471-67952-6
Enderlin, Charles. Shattered Dreams: The Failure of the
Peace Process in the Middle East, 1995-2002. (Other
Press, 2003), ISBN 1-59051-060-7
Finkelstein, Norman . Image and Reality of the Israel-
Palestine Conflict. 2nd ed. (Verso, 2003), ISBN 1-85984-
442-1 2nd ed. introduction
Fraser, T. G. The Arab–Israeli Conflict. 2nd ed. (Palgrave
Macmillan, 2004), ISBN 1-4039-1338-2
Harms, Gregory with Todd M. Ferry. The Palestine-Israel
Conflict: A Basic Introduction (Pluto Press, 2005), ISBN 0-
7453-2378-2
Hirst, David. The Gun and the Olive Branch. 3rd ed.
(Nation Books, 2003), ISBN 1-56025-483-1
Khouri, Fred J. The Arab–Israeli Dilemma. 3rd ed.
(Syracuse University Press, 1985), ISBN 0-8156-2340-2
Morris, Benny . Righteous Victims: A History of the Zionist–
Arab Conflict, 1881–2001 (Vintage Books, 2001), ISBN 0-
679-74475-4
Pearlman, Wendy. Occupied Voices: Stories of Everyday
Life from the Second Intifada, ISBN 1-56025-530-7.
Reinhart, Tanya. Israel/Palestine: How to End the War of
1948 (Seven Stories Press, 2002), ISBN 1-58322-538-2
Safran, Nadav . The United States and Israel, ISBN 0-674-
92490-8.
Ross, Dennis . "The Missing Peace: The Inside Story of the
fight for Middle East Peace", ISBN 0-374-19973-6
Smith, Charles D. Palestine and the Arab–Israeli Conflict.
5th ed. (Bedford/St. Martin’s, 2004), ISBN 0-312-40408-5
Swisher, Clayton E. The Truth About Camp David (Nation
Books, 2004), ISBN 1-56025-623-0
Sykes, Christopher. Crossroads to Israel (Cleveland: The
World Publishing Company, 1965), [out of print]
Tessler, Mark. A History of the Israeli–Palestinian
Conflict (Indiana University Press, 1994), ISBN 0-253-
20873-4
Thomas, Baylis. How Israel Was Won (Lexington Books,
1999), ISBN 0-7391-0064-5
Pranala luar[sunting | sunting sumber]
(Inggris) Sejarah Israel, Palestina dan konflik Arab-Israel
(Inggris) Garis waktu sejarah dan konflik Israel-Palestina
(Inggris) Sejarah Zionisme dan pembentukan Israel
(Inggris) Reuters: Chronology of events in Israeli-
Palestinian conflict
(Inggris) The Washington Institute for Near East Policy
(Inggris) Status hukum Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem
Timur
(Inggris) Middle East Policy Council - Conflict Statistics
(Inggris) HonestReporting - Site that seeks to point out
perceived anti-Israeli bias
(Inggris) Sharm El-Sheikh Fact-Finding Committee Final
Report (Mitchell Report)
(Inggris) Government of Israel
(Inggris) Palestinian Maps Omitting Israel dan Maps of
"Palestine" as a means to instill fundamentally negative
messages
(Inggris) IndyMedia (Israel)
(Inggris) Palestine Independent Media Center
(Inggris) Electronic Intifada
(Inggris) Palestinian Negotiation Team
(Inggris) "Barak's Generous offer" from Gush Shalom
(Inggris) Israeli settlements in the West Bank and Gaza
(Inggris) Russia as a Bridgehead of HAMAS
(Inggris) Myths and facts online: a guide to the Arab-Israeli
Conflict A pro-Israeli view
(Inggris) meta:Solution of the Israeli-Palestinian conflict
(Inggris) Current breakdown of fatalities in conflict
(Inggris) The Origin of the Palestine - Israel Conflict,
Published by Jews for Justice in the Middle East
(Inggris) Two Peoples, One State The PLO's Michael
Tarazi outlines a proposed solution to the conflict (New
York Times, 4 Oktober 2004)
(Inggris) The Jerusalem Post
(Inggris) Haaretz - edisi bahasa Inggris
(Inggris) "There must be peace between symbols" -
analisis Berpikir timur (terbuka untuk dikomentari)
(Inggris) "Monsters in the shadows of a Palestinian
plebiscite" - Analisis Berpikir timur lagi (terbuka untuk
dikomentari)
(Inggris) Neve Shalom/Wahat al-Salam nama
lainnya Oasis Perdamaian, sebuah desa koperasi
eksperimen Palestina-Israel dekat Yerusalem.
(Inggris) Open Directory Project - Israel-Palestine Conflict
(Indonesia) Perjuangan Kliping Perjuangan Rakyat
Palestina Menghadapi Zionis Israel, i-library.org
Kategori:
Perang gerilya
Konflik Israel-Palestina
Palestina
Israel
Perang melibatkan Israel
Perang melibatkan Palestina
Menu navigasi
Buat akun baru
Masuk log
Halaman
Pembicaraan
Baca
Sunting
Sunting sumber
Versi terdahulu
Tuju ke
Halaman Utama
Perubahan terbaru
Peristiwa terkini
Halaman baru
Halaman sembarang
Komunitas
Warung Kopi
Portal komunitas
Bantuan
Wikipedia
Tentang Wikipedia
Pancapilar
Kebijakan
Menyumbang
Bak pasir
Bagikan
Google+
Cetak/ekspor
Buat buku
Unduh versi PDF
Versi cetak
Peralatan
Pranala balik
Perubahan terkait
Halaman istimewa
Pranala permanen
Informasi halaman
Item di Wikidata
Kutip halaman ini
Bahasa lain
العربية
ববববব
Čeština
Cymraeg
Dansk
Deutsch
English
Español
Euskara
Suomi
Français
עברית
বববববব
ববব
Latviešu
Malti
Norsk bokmål
Português
Română
සසසසස
Simple English
Slovenčina
Svenska
ববব
Tagalog
বব
粵粵
Sunting interwiki
Halaman ini terakhir diubah pada 13.55, 13 Juli 2014.
Israel-Palestina merupakan dua negara yang sampai saat ini terlibat konflik
peperangan yang belum berakhir. Negara Israel berdiri pada 1948 setelah PBB
menyetujui pendiriannya di tanah Palestina yang awalnya di bawah mandat
Inggris. Sehari setelah pendirian Negara Israel negara-negara Arab yang terdiri
dari Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, dan Irak langsung menyerang Israel. Sejak
saat itu peperangan demi peperangan terus terjadi. Palestina yang mayoritas
penganut agama Islam, mendapat dukungan dari negara-negara Arab dan Muslim
lainnya, sementara Israel didukung negara-negara Barat. Banyak dinamika yang
terjadi dalam konflik yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade ini.
Penelitian ini fokus pada kajian mengenai konflik yang disebabkan klaim
Tanah Suci antara Israel-Palestina. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor
lain selain klaim teologis dalam sebuah konflik yang terjadi dalam rentan waktu
yang cukup lama. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
pendekatan ilmu sosiologi. Sementara teori yang digunakan yaitu teori konflik
sosial oleh Oberschall. Dia berpendapat bahwa konflik sosial meliputi spektrum
yang lebar dengan melibatkan berbagai hal seperti konflik antar kelas (social class
conflict) seperti bangsa Yahudi yang menganggap lebih tinggi kedudukannya
dibanding bangsa Arab, konflik ras (ethnics and racial conflicts) bangsa Yahudi
dan Arab, konflik antar pemeluk agama (religions conflict) Islam dan Yahudi,
konflik antar komunitas (communal conflict) Zionis dan Hamas, dan lain
sebagainya. Dalam penelitian ini sumber yang digunakan yaitu sumber tertulis,
baik buku, jurnal, majalah, skripsi, tesis, maupun artikel dari internet.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu dalam konflik perebutan tanah antara
Israel dengan Palestina permasalahannya tidak hanya memperebutkan tanah untuk
ditempati sebagai sebuah negara, namun banyak faktor lain yang membuat konflik
ini belum juga menemukan titik akhir. Salah satu faktor yang mendasari
terjadinya konflik yaitu faktor teologis, yaitu agama Yahudi dan agama Islam
sama-sama menganggap wilayah yang diperebutkan sebagai Tanah Suci bagi
masing-masing agama. Faktor lainnya yaitu politik. Negara Barat yang menjadi
pendukung Israel memiliki banyak alasan dibalik dukungannya. Israel yang
berada di Timur Tengah dijadikan sebagai alat konstelasi bagi negara Barat
khususnya AS. Ekonomi menjadi faktor penting juga dalam konflik ini, sebab
negara-negara Timur Tengah sangat kaya akan sumber energi, khususnya minyak
dan gas.
Problematika antara Israel-Palestina yaitu sebuah konflik antara orang
Israel dan orang Palestina dalam memperebutkan otoritas tanah yang mana kedua
belah pihak mengklaim memiliki hak yang sama atas tanah ini . Dalam
penelitian ini tanah yang diperebutkan itu disebut Tanah Suci. Konflik perebutan
Tanah Suci ini dimulai pada 1967 saat Israel menyerang Mesir, Yordania, dan
Suriah serta berhasil merebut Sinai, Jalur Gaza, dataran tinggi Golan (Suriah), dan
Yerussalem
Konflik ini kemudian meluas tidak hanya antara Israel dan Palestina, tetapi
juga antara Israel dan bangsa Arab bahkan lebih luas lagi merambah persoalan
agama antara Islam dan Yahudi. Dari kedua kubu ini tidak semua orang Yahudi
menginginkan hal yang sama atas pendirian negara Yahudi dan tidak pula semua
orang Palestina menolaknya. Sulit menemukan solusi yang tepat menghadapi
konflik antara kedua negara ini . Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi
“mandul” dan negara-negara yang mencoba menyelesaikan konflik, seperti
Amerika Serikat dan Rusia juga tidak mampu menjembatani perdamaian.
Salah satu yang menjadi latar belakang konflik yaitu pemahaman atas
agama yang dianut keduanya, yaitu Islam dan Yahudi. Sebagaimana telah
disebutkan di atas bahwa umat Islam dan umat Yahudi sama-sama menganggap
tanah Palestina yaitu hak masing-masing mereka. Bangsa Palestina mengklaim
tanah itu hak mereka, sebab mereka sudah menetap di sana selama beberapa
abad. Sementara bangsa Yahudi sebagai pendatang pada abad kontemporer
menganggap tanah itu telah dijanjikan oleh Tuhan mereka dan mereka pernah
menetap di sana.2
Tanah yang diperebutkan ini disebut Tanah Suci, sebab di atas tanah itu
berdiri Masjid al-Aqsa yang menjadi kiblat pertama umat Islam. Tepat di bawah
masjid itu terdapat Tembok Ratapan yang juga disakralkan oleh umat Yahudi.
Oleh sebab itu, tanah ini mengandung nilai historis dan nilai keagamaan
yang tinggi bagi Agama Islam dan Yahudi.
2 “Israel Palestine Conflict” dalam
memproklamirkan berdirinya
negara Israel. Sehari setelah Zionis memproklamirkan pendirian negara Israel,
negara-negara Arab seperti Suriah, Lebanon, Mesir, Irak, dan Palestina menyerbu
Israel. Inilah perang pertama dalam konflik Israel-Palestina. Perang ini
dimenangkan oleh Israel, sehingga para penduduknya menyebut “Perang
Kemerdekaan” atau “Perang Kebebasan”. Di sisi lain bagi Bangsa Palestina
perang ini yaitu bencana. Kekalahan perang mengakibatkan banyaknya warga
yang tewas. Kemenangan Israel dalam perang ini otomatis memperluas wilayah
kekuasaannya di tanah Palestina, sehingga banyak warga Palestina yang harus
mengungsi sebab tanah tempat tinggalnya diambil paksa oleh bangsa Israel.
Berbagai upaya perdamaian telah dilakukan oleh kedua belah pihak. Salah
satu upaya ini yaitu dipertemukannya kedua pemimpin dari kedua negara
ini . Kesepakatan ini secara resmi ditandatangani pada tanggal 13 September
1993 di Washington di bawah pengawasana Presiden Clinton yang dihadiri oleh
Yaser Arafat dan Yitzhak Rabin. Di pihak Palestina ditandatangani oleh
Mahmud Abbas dan di pihak Israel ditanda tangani oleh Shimon Peres,
sebagaimana ini juga ditanda tangani oleh kedua menteri luar negeri AS dan Rusia
selaku saksi.5
Persoalan Israel-Palestina ini bukan lagi permasalahan lokal kedua negara,
namun telah menjadi pusat perhatian dunia. Sebagaimana penulis uraikan di atas
bahwa konflik ini tidak lagi antara Palestina dan Israel, namun juga Arab-Barat
dan Islam-Yahudi. Oleh sebab itu, kajian mengenai konflik Israel-Palestina ini
menarik dan penting untuk diteliti. Dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa
melihat dengan bijak akar persoalan konflik mengapa bisa sedemikian pelik.
Apakah konflik ini dilandasi oleh faktor agama yang mana baik Islam maupun
Yahudi sama-sama menganggap kesucian tanah ini atau faktor ras antar
bangsa Yahudi dan Arab Palestina.
B. Batasan dan Rumusan Masalah
Dalam melakukan sebuah penelitian, batasan dan rumusan masalah
merupakan hal yang penting. Hal ini erat kaitannya dengan proses pendeskripsian
peristiwa agar lebih terarah. Dalam penelitian ini batasan waktunya yaitu tahun
1920-1993. Pada tahun 1920 mandat dari Inggris diserahkan kepada Palestina,
inilah awal konflik antara Israel dan Palestina itu terjadi. Tahun 1993 dipilih,
sebab pada tahun itu Israel dan Palestina bersepakat untuk saling mengakui
kedaulatan masing-masing yang diwujudkan dalam suatu perjanjian dikenal
dengan Perjanjian Oslo.
Penelitian ini akan menitikberatkan terhadap kasus perebutan tanah dan
pemahaman dari sudut pandang Palestina-Israel terhadap tanah itu. Apakah
sebatas bahwa tanah itu yaitu tempat tinggal mereka selama beberapa abad atau
ada alasan lain sehingga konflik tidak kunjung selesai. Oleh sebab itu, penjabaran
permasalahan ini akan dipandu melalui pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Bagaimana sejarah konflik Israel-Palestina?
2. Apa pandangan Yahudi dan Palestina terhadap Tanah Suci?
3. Bagaimana dinamika konflik Israel-Palestina, dari aktor dan
pendukungnya?
Muslim Palestina menganggap Israel yaitu kafir harbi (kafir musuh yang
bisa diperangi) yang mana Yahudi Israel dianggap merampas tanah hak milik
bangsa Palestina. Oleh sebab itu, dianggap jihad jika mereka mengorbankan
nyawa dan harta untuk membela tanah Palestina. Tidak mengherankan jika
mereka mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua berusaha melawan
penjajahan Israel di atas tanah Palestina.
Bagi kaum Yahudi tanah Palestina memiliki nilai historis yang sangat
penting. Selain memang awalnya mereka pernah menetap di sana hingga adanya
eksodus oleh tentara Romawi, bangsa Yahudi juga memiliki doktrin bahwa
tanah Palestina yaitu tanah yang dijanjikan bagi mereka. Yahudi menganggap
bahwa dirinya yaitu umat Allah atau umat yang terpilih dibandingkan dengan
yang lain. Salah satu kelompok yang memiliki paham ini yaitu kelompok
Haredim. Kelompok ini awalnya hanya berada di wilayah tradisional Jerusalem,
seperti Mea Shearim. Akan tetapi, saat ini kelompok ini telah tersebar di
seluruh Israel dan mereka berpengaruh kuat pada politik Israel
Teori yang digunakan dalam penulisan ini yaitu teori konflik sosial oleh
Oberschall. Dia berpendapat bahwa
F. Metode Penelitian
konflik sosial meliputi spektrum yang lebar
dengan melibatkan berbagai konflik yang membingkainya, seperti konflik antar
kelas (social class conflict), konflik ras (ethnics and racial conflicts) bangsa
Yahudi dan Arab, konflik antar pemeluk agama (religions conflict) Islam dan
Yahudi, konflik antar komunitas (communal conflict) Zionis dan Hamas, dan lain
sebagainya.
Penelitian ini terfokus pada kajian pustaka. Penulis menemukan data
tentang konflik perebutan tanah yang terjadi di Palestina. Pengumpulan data atau
sumber sebagai langkah pertama kali dilangsungkan dengan metode penggunaan
bahan dokumen. Metode ini dapat berlangsung sebab ditemukan sumber tertulis,
baik informasi di seputar objek maupun informasi langsung mengenai konflik
Israel-Palestina.
Penelitian ini bersifat kualitatif yang sepenuhnya bertumpu pada sumber
pustaka, baik berupa buku-buku, skripsi, ensiklopedia, maupun dari situs internet,
koran, dan majalah. Sumber-sumber ini merupakan sumber sekunder yang
penulis dapatkan dari perpustakaan dan koleksi pribadi. Oleh sebab penelitian ini
merupakan penelitian sejarah, maka metode yang digunakan yaitu metode
sejarah, yaitu proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan
peninggalan masa lampau berdasarkan data yang diperoleh.7 Metode sejarah ini
bertumpu pada empat langkah kegiatan yaitu, pengumpualan data (heuristik),
kritik sumber (verifikasi), penafsiran (interpretasi), dan penulisan (historiografi).8
1. Pengumpulan Data (Heuristik)
Adapun keempat langkah ini yang digunakan oleh peneliti untuk
menyelesaikan penelitian dijelaskan sebagai berikut:
Pada langkah ini peneliti mengumpulkan sumber sejarah yang
berhubungan dengan masalah tanah Israel-Palestina9
2. Kritik Sumber (Verifikasi)
. Sumber yang digunakan
berupa buku-buku, ensiklopedia, tulisan-tulisan hasil penelitian, dokumen,
majalah, artikel, koran, dan internet. Mengingat rentang tempat yang cukup jauh,
penulis mengalami kesulitan dalam mendapatkan sumber primer. Oleh sebab itu,
dalam tulisan ini peneliti menggunakan sumber sekunder. Sumber ini didapat
dari perpustakaan-perpustakaan, baik perpustakaan Fakultas Adab, perpustakaan
pusat UIN Sunan Kalijaga, perpustakaan Kolese St. Ignatius, perpustakaan kota,
artikel, maupun internet.
Setelah sumber yang berhubungan dengan topik ini terkumpul, langkah
peneliti selanjutnya melakukan kritik terhadap sumber ini . Kritik ini
meliputi kritik ekstern dan intern. Kritik ekstern berguna bagi peneliti untuk
menguji keotentikan sumber, sedang kritik intern berguna bagi peneliti untuk
menguji kredibilitas sumber. Hal ini diuji apakah bahan dan data yang
disajikan sesuai atau tidak. Pengujian ini dilakukan dengan cara
membandingkan antara bahan-bahan yang telah dikumpulkan dan dilakukan kritik
terhadap data ini . Khusus sumber yang berasal dari internet hanya digunakan
apabila berasal dari artikel yang menggunakan referensi yang dapat dipertanggung
jawabkan.
3. Penafsiran (Interpretasi)
Dalam tahap ini peneliti memberikan penafsiran atas data yang tersusun
menjadi fakta. Terdapat dua cara dalam menafsirkan data, yaitu dengan analisis
dan sintesis. Analisis berarti menguraikan sumber-sumber yang telah didapat
tentang konflik Israel-Palestina, sedang sintesis menyatukan. Oleh sebab itu,
analisis sejarah bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh
dari sumber-sumber sejarah yang berhubungan dengan topik penelitian.
4. Penulisan Sejarah (Historiografi)
Langkah terakhir ini berisi tentang pemaparan hasil penelitian yang telah
dilakukan. Peneliti memaparkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan
menghubungkan peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya dalam bentuk bab-
bab dan sub bab-bab yang saling berkaitan. Akhirnya penelitian ini menghasilkan
rangkaian tulisan sejarah perebutan tanah Israel-Palestina yang kronologis dan
bermakna.
G. Sistematika Pembahasan
Penyajian sebuah penelitian dalam bentuk tulisan ini terbagi ke dalam tiga
bagian, yaitu pengantar, hasil penelitian, dan kesimpulan. Untuk mempermudah
menyajikannya, maka perlu adanya penyusunan secara sistematis. Sistematika
pembahasan secara garis besar terbagi atas lima bab yang penulis susun. Bab
pertama merupakan pendahuluan, yang di dalamnya diuraikan beberapa hal pokok
mengenai latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan
kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan
sistematika pembahasan. Melalui bab ini diharapkan dapat memberikan gambaran
umum tentang seluruh rangkaian penulisan skripsi sebagai dasar pijakan bagi
pembahasan berikutnya.
Bab dua membahas tentang sejarah Israel dan Palestina. Pembahasan ini
akan spesifik antara tahun 1920-1990, dari perpindahan orang Yahudi ke tanah
Palestina hingga tahun 1990 saat masa damai terjadi. Hal ini berguna untuk
memberikan gambaran awal bagaimana sejarah Israel Palestina dan awal bangsa
Yahudi bermigrasi ke Palestina.
Bab tiga tentang pandangan antara Israel-Palestina terhadap Tanah Suci.
Peneliti tidak hanya mengambil sudut pandang Palestina saja, namun juga dari
sudut pandang bangsa Yahudi atau agama Yahudi. Mengapa tanah ini sangat
penting bagi kedua bangsa ini.
Bab empat akan membahas tentang dinamika yang terjadi antara tahun
1920 sampai tahun 1990. Dari konflik hingga siapa saja yang berperan dalam hal
ini, misalnya Negara-negara Barat, PBB, OKI dan dan Liga Arab.
Bab lima berisi penutup yang meliputi kesimpulan dan saran-saran.
Kesimpulan ini merupakan jawaban singkat terhadap permasalahan yang telah
dirumuskan sebelumnya. Adapun saran bertujuan untuk memberikan masukan
atas penelitian ini.
Dari seluruh penjabaran pada bab-bab sebelumnya tentang konflik Israel-
Palestina, dapat disimpulkan beberapa poin. Pertama, sejarah koflik yang terjadi
antara Israel-Palestina telah berlangsung cukup lama. Konflik ini membuat
banyak perubahan dan menjatuhkan banyak korban baik di kubu Palestina
maupun di pihak Israel. Perubahan pada peta tanah Palestina sangat terlihat
(sebagaimana peta terlampir) dari tahun ke tahun sebab diambil oleh Negara
Israel. Korban yang berjatuhan dari tahun 1987-2011 mencapai angka 7978 untuk
Palestina dan 1503 untuk korban di pihak Israel.
Kedua, faktor yang paling menonjol dalam konflik Israel-Palestina yaitu
faktor teologis (agama) dari kedua belah pihak. Yahudi menganggap mereka
sebagai bangsa pilihan dibandingkan dengan bangsa yang lain. Anggapan ini
kemudian berlanjut bahwa tanah Palestina yang sekarang diduduki Israel itu
yaitu Tanah Suci yang dijanjikan oleh Tuhan kepada bangsa mereka. Dalam
agama Islampun demikian, tanah Palestina bagi mereka sangat suci. Meskipun
mereka tidak mengklaim tanah ini sebagai tanah yang dijanjikan Tuhan
kepada mereka, namun bangsa Palestina memiliki beberapa tempat suci di
Palestina, salah satunya Masjid al-Aqsha, di Yerussalem. Kemudian muslim
percaya bahwa banyak nabi berasal dari Palestina dan mengukir sejarah di tempat
itu.
Ketiga, faktor penting lain yang memicu tidak selesainya konflik
yang terjadi antara Israel-Palestina yaitu politik dan ekonomi (hegemoni Barat).
AS dan sekutunya selalu berada dalam barisan terdepan dalam konflik atau
perdamaian. Hal ini disebab kan secara konstelasi politik, AS harus memiliki
tempat strategis di kawasan Timur Tengah untuk lebih memudahkan pengaruh
mereka di sana. Hal ini juga berujung pada penguasaan ekonomi di kawasan
Timur Tengah yang kaya, khususnya minyak dan gas. Amerika sebagai negara
maju membutuhkan banyak energi guna menjalankan ekonomis negaranya.
Sementara Palestina sendiri mendapat dukungan dari negeri muslim Arab, seperti
Mesir, Iran, Arab Saudi, dan Lebanon. Mereka mendukung Palestina selain
sebagai sesama muslim juga sebab sama-sama bangsa Arab.
Setelah menyelesaikan penelitian ini penulis dapat menyimpulkan bahwa
dalam konflik ini ada ketidakseimbangan pada pihak Arab Palestina, artinya ada
salah satu pihak yang dirugikan selama ini. Israel tidak hanya melancarkan
agresinya dengan alasan melindungi diri akan tetapi dari tahun ke tahun pihak
Israel juga melakukan pelebaran pemukiman hingga melebihi ketentuan yang
telah ditetapkan oleh PBB. Negara-negara Barat yang menjadi pendukung utama
atas berdirinya negeri Israel ini seakan tidak ada “taringnya” saat penduduk
Palestina ditindas, sementara berbanding terbalik jika ada serangan roket dari
kelompok Israel maka negara Barat seperti Amerika akan langsung mengecam
Palestina.
Setelah melakukan penelitian ini dan membaca dari berbagai sumber,
banyak hal baru yang saya temukan yang kebanyakan tidak saya temukan hal
ini di bangku perkuliahan. Ada dua saran yang ingin saya sampaikan.
Pertama, tambahkan koleksi buku yang berkenaan dengan sejarah Islam. Saya
melihat di laboratorium SKI belum banyak ditemukan buku tentang sejarah Islam,
selain itu laboratoriumnya belum sepenuhnya berjalan sesuai fungsinya.
Kedua, mata kuliah harus difokuskan pada sejarah. Saya merasa banyak
sekali mata kuliah yang tidak begitu dibutuhkan dalam sejarah Islam, namun
diajarkan, misalnya bahasa sumber (bahasa Belanda) kurang relevan terhadap
studi sejarah Islam. Bahasa sumber itu yaitu untuk mengkaji sejarah nasional
yang memang banyak dari bahasa Belanda, sebab kita pernah dijajah oleh
Belanda. Namun bagi sejarawan muslim, kenapa harus belajar bahasa Belanda?
Bukankah yang lebh relevan yaitu bahasa Arab? Jika kita mau berkaca pada
pendidikan di negara maju seperti Amerika dan Eropa, maka dapat disimpulkan
bahwa perbedaan kita yaitu : kita belajar sedikit hal dari banyak hal, namun
negara maju belajar banyak hal dari sedikit hal.
Kronologi dan Anatomi singkat Konflik Israel-Palestina:
1917 Deklarasi Balfour. 2 November 1917 Inggris memenangkan Deklarasi Balfour yang
dipandang pihak Yahudi dan Arab sebagai janji untuk mendirikan tanah air bagi kaum Yahudi di
Palestina.
1922 Mandat Palestina. 1936-1939 Revolusi Arab. Pimpinan Amin al Husein yang
memicu tidak kurang 5000 warga Arab terbunuh.
1947 Rencana pembagian wilayah oleh PBB 29 November 1947. Perserikatan Bangsa-
Bangsa menyetujui untuk mengakhiri Mandat Britania untuk Palestina dari tanggal 1 Agustus
1948 dengan pemecahan wilayah mandat
1948 Deklarasi Negara Israel. Israel diproklamirkan pada tanggal 14 Mei 1948, sehari
kemudian langsung diserang oleh tentara dari Libanon, Yordania, Mesir, Irak, dan negara Arab
lainnya. Israel berhasil memenangkan peperangan dan merebut + 70% dari luas total wilayah
mandat PBB Britania Raya.
1949 Perseteujuan Gencatan Senjata. 3 April 1949, Israel dan Arab sepakat untuk melakukan
gencatan senjata. Israel mendapat kelebihan 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan
rencana pemisahan PBB
1956 Perang Suez. 29 Oktober 1965, Krisis Suez, sebuah serangan meliter terhadap Mesir
dilakukan oleh Britania Raya, Perancis dan Israel.
1964 Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) berdiri. Mei 1964, Organisasi Pembebasan
Palestina (PLO) resmi berdiri, tujuannya untuk menghancurkan Israel.
1967 Perang Enam Hari. Dikenal dengan perang Arab-Israel 1967, merupakan peperangan
antara Israel menghadapi gabungan tiga negara Arab: Mesir, Yordania dan Suriah, yang
mendapatkan bantuan aktif dari Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan dan Aljazair. Perang ini
berlangsung selama 132 jam 30 menit.
Resolusi Khartoum. Sebuah pertemuan 8 pemimpin negara Arab pada tanggal 1 September
1967 sebab terjadinya perang enam hari. Resolusi ini berlanjut ke perang Yom Kippur tahun
1973.
1968 Palestina menuntut pembekuan Israel. Perjanjian Nasional Palestina dibuat, dan secara
resmi Palestina menuntut pembekuan Israel.
1970 War of Attrition. Setelah perang enam hari (5-10 Juni 1967), terjadi insiden serius di
Terusan Suez. Tembakan pertama dilepaskan 1 Juli 1967, saat pasukan Mesir menyerang
patroli Israel, dan ini merupakan awal dari perang War of Attrition.
1973 Perang Yom Kippur. Dikenal juga dengan Perang Ramadhan pada tanggal 6-26 Oktober
1973 sebab bertepatan dengan bulan ramadhan. Perang ini merupakan perang antara pasukan
Israel melawan koalisi negara-negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah, terjadi pada
hari raya Yom Kipur, hari raya yang paling besar dalam tradisi orang-orang Yahudi.
1978 Kesepakatan Camp David. Ditandatangani pada tanggal 17 September 1978 di Gedung
Putih yang diselenggarakan untuk perdamaian di Tmur Tengah. Jimmy Carter (Presiden Amerika
Serikat) memimpin perundingan rahasia yang berlangsung selama 12 hari antara Presiden Mesir,
Anwar Sadat, dan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin.
1982 Perang Libanon. Perang antara Israel dan Libanon yang terjadi pada tanggal 6 Juni 1982
saat angkatan bersenjata Israel menyerang Libanon Selatan.
1990-1991 Perang Teluk. 1993 Kesepakatan damai antara Palestina dan Israel 13 September
1993, Israel dan PLO sepakat untuk saling mengakui kedaulatan masing-masing. Pertemuan
Yaser Arafat dan Israel Yitzhak Rabin berhasil melahirkan kesepakatan OSLO. Rabin bersedia
menarik pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberi Arafat kesempatan
menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa memerintah di kedua wilayah. Arafat
mengakui hak negara Israel untuk eksis secara aman dan damai.1
Data berikut ini diambil dari forum kaskus.com. Menurut sumber ini data berikut diambil
dari B’tselem dan Kementerian Luar Negeri Israel antara tahun 1987 hingga 2011 (angka dalam
tanda kurung merupakan korban yang berusia di bawah 18 tahun







