dan ay. 8
berbicara tentang kebangunan rohani secara perseorangan.
5) Penerapan firman yang berupa tuntutan sehari-hari (Maz. 143:8) dan ajaran
untuk meniru teladan Allah (Maz. 119:64, 124) yaitu bersumber dari sifat
Allah ini.
6) Khesed yaitu landasan yang dimiliki Allah untuk memberi pengampunan
dosa. Hal ini dapat dilihat dari doa-doa Musa, Samuel (Bil. 14:29; Dan.
9:4,15,18) dan Daud (Maz. 51:3).
7) Pengharapan orang-orang Israel yang saleh yaitu berdasar pada anugerah,
kemurahan dan kasih setia Allah (Luk. 2:25,).
8) Pujian sering ditujukan kepada Allah sebab anugerahNya (2.Taw.5:3;
Maz.3:11).
9) Pemeliharaan dunia tidak dapat dipisahkan dari khesed Allah (Maz. 93:19;
42:9; 94, 18; 119:76-77; Ayub 37:10-13; Dan. 1:9; Ester 2:9,17; Rat. 3:22).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep ―khesed‖ atau anugerah
Allah dalam Perjanjian Lama yaitu sbb:
1) Ada ayat-ayat dalam Perjanjian Lama yang menunjukkan bahwa anugerah
Allah yaitu karakter Allah yang hakiki dan yang juga ditanamkan dalam
karakter manusia.
2) Khen yaitu satu sikap tanpa pamrih dari sang Superior (Allah) kepada yang
inferior, yaitu manusia. Terutama dalam hal yang berhubungan dengan berkat-
berkat pembebasan secara jasmaniah maupun rohaniah dan kesulitan-kesulitan
hidup.
3) Khesed yaitu kasih setia yang teguh antara dua kelompok yang memiliki
hubungan kekeluargaan, khususnya dalam perjanjian-perjanjian di mana Allah
terlibat dengan umatNya dan khesed-Nya yaitu merupakan jaminan yang
kuat.
Selain itu Perjanjian Lama menunjukkan bahwa anugerah Allah dinyatakan
kepada orang-orang beriman. Iman merupakan modal dari pihak manusia yang
menjadi landasan pemberian anugerah itu dari pihak Allah.
Misalnya:
1) Kepada Nuh (―khen‖ – Kej. 6:8), Abraham (―khen‖ – Kej. 18:1-10),
Yakub (―khesed‖ – Kej. 32:10), Yusuf (―khesed‖ – Kej. 39:21; 43:29),
Israel sebgai umat (―khesed‖ – Kel. 15:13) dan Musa (―khesed‖ – Kel. 33:11-
17).
2) Peranan iman: Dalam rangka keselamatan Perjanjian Lama menunjukkan
bahwa anugerah Allah diberikan sebagai tanggapan Allah terhadap iman.
Dalam setiap periode ternyata ditunjukkan bahwa manusia tidak berdaya untuk
memperoleh keselamatan. Dalam hal ini keselamatan semata-mata tergantung
kepada anugerah Allah. Tapi iman dari pihak manusia merupakan keharusan
(Kej. 15:6; Maz. 26:1; 4:6; 78:7).
3) Allah sebagai sasaran iman (Bil. 7:11; 20:12; Ul. 1:32; 2 Raja 17:14; 2 Taw.
20:20). Dalam ayat-ayat ini landasan iman ialah perjanjian yang telah
diberikan oleh Allah (Elohim). Lihat juga Maz. 78:22 dan Yunus 3:5.
4) Allah sebagai Juruselamat sebagai sasaran iman. Dalam hal ini orang beriman
telah mengetahui bahwa Allah yaitu Juruselamat. (2 Sam. 22:3; 1 Sam. 2:1;
Maz. 119:123) Dalam Yunus 2:9 dan 1 Sam. 14:39 dikatakan bahwa Allah
yaitu sumber keselamatan satu-satunya. Formula yang dipakai ialah
―sumah‖.
14
Kesimpulan yang dapat diambil dari hal-hal di atas ialah:
1) Melalui pengalaman bapak-bapak beriman dalam Perjanjian Lama Allah
menunjukkan bahwa Allah memberi janji keselamatan kepada orang-orang
beriman. Hal ini menunjukkan bahwa Allah setia kepada apa yang telah
dijanjikanNya. Dari pihak manusia dibutuhkan keyakinan iman untuk
memegang janji Allah.
2) Allah memberikan janjiNya kepada manusia agar Allah tetap memiliki
persekutuan yang akrab dengan manusia. Hal ini yaitu anugerah. Dengan
penggenapan janji Allah, Allah berkehendak untuk tetap memiliki
hubungan dengan umatNya.
3) Allah memberi sarana untuk keselamatan yang kekal bagi manusia. Sarana itu
telah dinyatakanNya dengan mengutus Tuhan Yesus Kristus untuk
menyelamatkan manusia dari dosa.
4) Allah juga memberi anugerahnya yang sifatnya temporal. Dalam masa-masa
tertentu, misalnya dalam kesulitan yang dialami manusia Allah memberi
kelepasan.
5) Namun demikian Perjanjian Lama menunjukkan bahwa wujud pemberian
anugerah tsb masih samar-samar, seperti dalam negatif film dan belum sejelas
dan segamblang yang ditunjukkan dalam Perjanjian Baru melalui potret
kehadiran Tuhan Yesus Kristus.
2. Arti Anugerah dalam Literatur Yunani
Berbicara tentang literatur Yunani berarti berbicara tentang tulisan dalam era
perjanjian Baru. Di samping buku-buku yang terdapat di dalam Alkitab Perjanjian Baru
banyak hasil karya sastra yang dihasilkan oleh para Penulis yang besar dan kenamaan
pada masa ini. sebab bahasa Yunani dipakai dalam dunia pendidikan dan perkantoran
pada masa ini dan sebab orang Yunani terkenal dengan keinginan mereka memiliki
ilmu pengetahuan dan filsafat yang tinggi maka banyak hasil karya para sastrawan dan
filsuf yang dihargai bahkan sampai sekarang. Rasul Paulus memiliki satu pengalaman
yang sangat mengesankan bertemu dengan orang-orang Yunani saat ia mengunjungi
Athena (Kis. 17:16-34).
Dengan demikian Penulis merasa bahwa baik sekali diperhatikan bagaimana para
Penulis ini memakai kata ―anugerah‖ dalam tulisan-tulisan mereka
sebagai perbandingan dengan pemakaian istilah itu dalam Alkitab, khususnya dalam
Perjanjian Baru. Dalam literatur Yunani istilah yang digunakan ialah ―kharis‖ yang
berarti ―sesuatu yang mendatangkan kepuasan dan menjamin sukacita‖. Lingkup
pemakaian nya sangat luas namun pada umumnya yang berkenaan dengan hal-hal yang
bersifat jasmani, misalnya keindahan fisik (Hesiod, Work and Days, 5) dan keindahan
karya seni (Aeschylus Agememnon, 405-406); kata-kata yang indah (Homer, Oddysey
VIII: 175); keindahan lagu (Pindar Olympia, 1:17,30-32); kesedapan hidup (Euripides
Medea, 227); kemuliaan kemenangan (Pindar Olympia VIII: 77-80); kemuliaan satu
kematian yang bernilai (Aeschylus Agemennon, 1304); keindahan rupa dan karakter
(Aristhophanes Vespae, 1278). Dalam literatur berikut istilah ―kharis‖ mengandung
pengertian sukacita dan kepuasan di dalamnya, misalnya dalam tulisan Plato (Plato
Gorgias 462C; Sophisi 222E). Istilah ―kharis‖ juga mengandung pengertian akan
perbuatan yang baik yang merupakan hadiah dan bahkan ucapan syukur terhadap
pemberian itu (Sophocles, Oedipus Coloneus, 635-637). Sasaran ―kharis‖ juga
sering digunakan untuk memperoleh anugerah itu (Pindar Olympia 1:75-78).
Meskipun arti ―kharis‖ mendekati pengertian dalam Perjanjian Baru namun
ada perbedaan yang kontras sebab dalam literatur ini anugerah harus dicari oleh
14
manusia. Hal ini menunjukkan konsep yang non-Alkitabiah sebab dalam Perjanjian
Baru ―anugerah‖ yaitu merupakan pemberian Tuhan semata-mata (Rom.
2:8-9). Dalam hal ini tidak ada sumbangan usaha manusia untuk memerolehnya. Jadi
sebagai kesimpulan, pemakaian istilah ―kharis‖ dalam literatur Yunani yaitu sebagai
berikut:
a. Pemakaian istilah ―kharis‖ dalam literatur Yunani yaitu untuk menyatakan
suatu keindahan dalam bentuk lahiriah (obyek)
b. Secara subjektif istilah ini berarti sikap batin yang dirasakan terhadap seseorang.
c. Pemakaian istilah ini juga berhubungan dengan perasaan timbal-balik dari penerima,
yaitu pernyataan atau ucapan rasa syukur kepada pemberi.
d. Syukur dalam bentuk kata kerja pembantu artinya ―bagi kepentingan
memperoleh sesuatu‖ seperti ungkapan Yunani ―kharistinos‖.67
3. Arti Anugerah dalam Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Baru istilah ―kharis‖ dipakai 155 kali. Di antaranya
Paulus memakai kira-kira 10 kali. Dari penyelidikan sebelumnya ditemukan bahwa
istilah ini memiliki ari yang kaya sekali. Inilah harta kekristenan yang istimewa.
Yohanes membuka Injilnya dengan mengidentifikasikan Yesus sebagai pembawa
anugerah. Ia mengatakan bahwa kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus
(Yoh. 1:17). Beberapa pemakaian istilah ―kharis‖ dalam Perjanjian Baru di antaranya
ialah:
a. Arti ―kharis‖ berhubungan dengan sukacita, kepuasan serta keindahan. Hal
ini ditemukan dalam 2 bagian Perjanjian Baru. Pertama dalan Injil Lukas, yaitu Luk.
4:22 di mana istilah yang dipakai ialah ―charitos‖ dan oleh Paulus dipakai
istilah
―kharis‖ dalam Ef. 4:29).
b. Dalam hal ini istilah ini memiliki hubungan arti dengan perbuatan baik, kasih,
karunia dan simpati. Istilah ini terdapat dalam Luk. 1:3 dan Luk.2:52 yang memakai
kata ―khariste‖ dan dalam Kis. 7:10,46 dan Kis. 11:23 istilah yang dipakai
ialah
―kharitie paratheo‖
c. Dalam bagian ini kata ini memiliki arti yang berhubungan dengan Allah
menyatakan kasihNya tanpa disebabkan kebaikan manusia, yang terdapat dalam Kis.
11:23; Rom. 11:6; 2 Kor. 4:15; 2 Kor. 6:1 dan 2 Tes. 1:2. Menurut Thayer ini yaitu
perbuatan Allah yang berhubungan dengan hal-hal rohani yang menurunkan
pengaruh kekudusannNya kepada jiwa-jiwa, membolehkan mereka percaya kepada
Kristus, memelihara, mengingatkan dan menumbuhkan mereka dalam iman,
pengetahuan dan kasih serta menggalakkan mereka untuk berlatih dalam buah-buah
rohani.68 pemakaian nya berhubungan dengan ucapan syukur seperti dalam 1 Tim.
1: 12; 2 Tim. 1: 3; 1 Kor. 10: 3.
d. Arti yang berhubungan dengan berkat-berkat yang bersumber dari anugerah
keselamatan yang dari Kristus. Berkat-berkat ini meliputi:
Anugerah keselamatan oleh Yesus: 1 Petr. 1:10; 2 Kor. 8:9.
Pribadi Kristus sebagai wujud anugerah kebenaran: Yoh. 1:18; 1 Kor. 15:8-10.
Seluruh kondisi keselamatan seseorang: Rom. 5:2; 1 Petr. 5:12.
Berkat-berkat sementara di dunia ini: 2 Kor. 5:8; 2 Kor. 9:8.
Ada beberapa istilah lain bersumber dari dan yang dipakai untuk kata ―kharis‖.
Istilah ini ialah:
a. ―charito‖, artinya memberikan anugerah kepada seseorang: Luk. 1:28.
b. ―charisma‖, artinya pemberian anugerah kasih karunia: Roma 12; 1 Kor. 12; Ef.
14
4. Dari penjelasan di atas kita dapat melihat bahwa dalam Perjanjian Baru
istilah
―kharis‖ atau ―anugerah‖ memiliki pengertian yang jauh lebih dalam
dan komprehensif dibanding dengan pemakaian istilah itu dalam literatur Yunani. Di
dalam Perjanjian Baru sangat jelas dinyatakan bahwa sumber anugerah hanya satu, yaitu
Allah.
14
Allah memberi anugerahNya berdasar kasih dan hikmadNya. Dia yang Maha Tinggi
harus merendahkan diri untuk memberi anugerah itu kepada manusia, mahluk yang
lebih rendah dan yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Namun Allah yang yaitu
kasih dan setia kepada janjiNya memberi anugerah maha besar kepada manusia. Allah
melihat bukan hanya pada kesejahteraan fisik manusia namun lebih dalam lagi, yaitu
kesejahteraan jiwa dan roh setiap orang.
D. Pemilihan
1. Beberapa Pertanyaan yang diperdebatkan
Konsep ―pilihan‖ yaitu konsep yang paling sulit dijelaskan. Hal ini bahkan
telah menjadi perdebatan para ahli teologia selama berabad-abad. Banyak masalah yang
menjadi bahan perdebatan, misalnya mengenai keadilan dan kasih Allah kepada
manusia. Apakah Allah dalam pilihanNya pilih kasih? Apakah kasih Allah tidak sama
kepada semua manusia di dunia? Kalau kasihNya sama, mengapa ada orang yang dipilih
dan ada yang tidak termasuk golongan yang dipilih? Kalau demikian keadaannya
apakah Allah itu benar-benar adil ?
Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas menjadi bahan perdebatan kalau konsep
pemilihan Allah dibahas. Namun Alkitab menunjukkan bahwa ada orang yang dipilih
Allah dan ada yang ditolakNya, dan semua dilakukan Allah berdasar kedaulatanNya.
Sebagai Allah yang berdaulat dan yang mahatahu Ia memiliki kebebasan untuk
menentukan apa yang akan dilakukan dan bagaimana Ia melakukannya. Semua hal itu
sudah ada dalam rancanganNya yang sempurna.
2. Lingkup Pembahasan mengenai Pilihan
Di dalam pembahasan mengenai konsep pemilihan yang akan dibicarakan bukan
hanya mengenai pemilihan Allah akan manusia: siapa yang akan diselamatkan dan
masuk surga dan siapa yang tidak. Memang kalau dihubungkan dengan doktrin
―keselamatan‖ pokok pikiran yang harus dibicarakan ialah mengenai hal ini ,
yaitu siapa yang akan masuk surga dan siapa yang tidak. Dengan demikian seorang
pemercaya akan memiliki keyakinan dan kepastian yang jelas bahwa ia termasuk ke
dalam kelompok orang yang dipilih. namun dalam pokok bahasan tentang
―pemilihan‖ ada hal-hal yang lain yang perlu dibicarakan yang juga merupakan lingkup
pemilihan yang dilakukan oleh Allah. Misalnya, urutan tentang apa yang dilakukan
Allah pada proses penciptaan selama enam hari. Mengapa Allah memilih untuk
menciptakan hal- hal tertentu pada hari pertama, kedua dan seterusnya. Mengapa
manusia dicipta pada hari keenam dan merupakan ciptaan yang terakhir pada hal
mereka yang diberi kuasa sebagai wakil Allah untuk menguasai semua ciptaan lain. Hal-
hal ini juga merupakan contoh tentang kebebasan Allah untuk memilih dan
menentukan apa yang harus dilakukanNya. Di samping pemilihan tentang urutan
penciptaan segala sesuatu dalam alam semesta, contoh-contoh lain juga dapat dilihat
seperti dalam pemilihan Nuh dan keluarganya untuk diselamatkan dari air bah (Kej.
6:12-14), pemilihan Abraham dari antara anggota masyarakat yang tinggal di
Mesopotamia (Kej. 12:1-3), pemilihan para nabi dan banyak contoh-contoh lain
sebagaimana dipaparkan dalam Alkitab. Contoh-contoh ini menunjukkan tentang
kedaulatan dan kemerdekaan Allah di dalam menentukan pilihanNya. Namun kedaulatan
dan kemerdekaan Allah untuk menentukan pilihanNya bukan tidak berdasar pada alasan
tertentu. Kalau diteliti dengan cermat Alkitab dapat menunjukkan alasan-alasan Allah
untuk menetapkan pilihanNya. Namun ada hal-hal yang tidak dapat diselami pikiran
manusia. Kecuali Allah tidak ada yang lain yang dapat mengetahui. Namun semuanya
dilakukan berdasar rencanaNya yang sudah ditetapkan sebelum alam semesta
14
diciptakan. Dalam contoh-contoh seperti ini
14
tidak ada sedikitpun campur tangan manusia dalam penetapan pilihan ini . Semua
hal itu menunjukkan otoritas Allah yang mutlak.
3. Beberapa Contoh Tetang Pilihan
Berikut ini Penulis mengambil beberapa contoh dari apa yang dicantumkan dalam
Alkitab untuk memberi lukisan-lukisan tentang apa yang dilakukan Allah di dalam
kedaulatanNya untuk mengadakan pilihan tanpa ada yang harus menjadi penasihat
bagiNya. Misalnya dalam hal:
a. Pemilihan Individu. Misalnya pemilihan terhadap Abraham (Kej. 12:1-3). Dalam hal
ini Abraham tidak pernah berdoa untuk memohon agar ia dijadikan Allah sebagai
leluhur bangsa Israel. namun Allah di dalam kedaulatanNya memilih dia dan
menyuruhnya untuk pindah ke tanah Kanaan yaitu tanah yang akan diberikan Allah
kepadanya dan kepada keturunannya. Menarik sekali sebab pemilihan Allah itu
dinyatakan kepadanya dalam situasi dimana ia dan isterinya tidak mungkin lagi akan
memiliki anak sebab Sarai sudah tua dan mandul. Namun Allah mengatakan
bahwa Kanaan akan diberikan kepadanya dan kepada keturunannya sebagai warisan
turun temurun. Dalam kemustahilan ini rencana dan pemilihan Allah tidak pernah
salah. Contoh pemilihan individu yang lain ialah pemilihan Yakub dan bukan Esau
menjadi nenek moyang bangsa Israel.
b. Pemilihan Ras atau Kelompok (Ul. 4:37). Pilihan terhadap Israel sebagai umat
pilihan Allah terdiri dari mereka yang sudah lahir baru maupun tidak. Dalam bagian
ini Allah memberikan pemilihanNya kepada bangsa Israel untuk menjadi umatNya
yang akan menduduki dan mewarisi tanah Kanaan sesuai dengan apa yang telah
dijanjikanNya kepada Abraham. Untuk menduduki tanah itu Allah tidak
menetapkan bahwa hak itu hanya bagi orang yang percaya dan lahir baru, namun
kepada semua keturunan Abraham dan Sarai secara fisik. Nats di atas berbunyi:
sebab Ia mengasihi nenek moyangmu dan memilih keturunan mereka, maka Ia
sendiri telah membawa engkau keluar dari Mesir dengan kekuatanNya yang besar.
c. Pilihan terhadap Raja Kores (Yes. 45:1-4). Dalam hal ini Yesaya menubuatkan
bahwa kembalinya bangsa Israel dari pembuangan akan terjadi pada masa
pemerintahan Raja Kores. Memang banyak perdebatan mengaenai hal ini terutama
bertautan dengan waktu Penulisan kitab Yesaya. Banyak perbedaan pendapat
mengenai hal ini. Beberapa komentator mengatakan bahwa bab ini yang termasuk ke
dalam Deutro Yesaya tidak ditulis oleh Yesaya namun oleh orang lain dan ditulis
setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan. namun sebagian mempertahankan
kesatuan kitab Yesaya sebagai wahyu Allah yang diberikan kepada nabi Yesaya
untuk ditulis. Dan kalau konsep ini diterima maka pemilihan raja Kores yaitu
merupakan nubuatan Allah yang disampaikan kepada nabi Yesaya. Pemilihan ini
bukan untuk tujuan penyelamatan (election for salvation) sebab Raja Kores
bukanlah orang yang beriman kepada Allah. Pemilihan akan dia hanyalah
merupakan alat yang dalam momentum yang dimiliki oleh Allah sudah waktunya
bagi Dia untuk mengadakan pembebasan bagi bangsa Israel dari pembuangan.
d. Pemilihan Kristus sebagai Juruselamat dunia sebelum penjelmaanNya menjadi
manusia (Yes. 42:1-5). Ditinjau dari segi waktu penggenapan nubuatan ini masih
jauh lebih jauh dibanding dengan pemilihan raja Kores untuk membebaskan bangsa
Israel. namun Allah di dalam kuasa dan kedaulatanNya tidak memiliki masalah
tentang jarak waktu. Segala sesuatu sedang seperti ada dan terjadi di hadapanNya. Ia
menubuatkan pilihanNya bahwa Kristuslah yang menjadi Juruselamat. Dalam ayat 1
Allah mengatakan bahwa Juruselamat itu ialah Hamba PilihanNya dan berkenan
kepadaNya. Bahkan dalam Yesaya 49:1, lebih jelas dikatakan bahwa pemilihan itu
14
sudah terjadi saat Juruselamat itu masih ada dalam kandungan ibuNya. Menurut
Ef. 1:4, istilah ―sebelum dunia dijadikan‖ dan ―dari semula (ay. 5) merujuk
kepada titik waktu yang sama yaitu zaman kekakalan masa lampau (eternal past)
yaitu masa sebelum proses penciptaan dilaksanakan. Di dalam hal ini Allah memiliki
potensi untuk mengetahui dan melihat sesuatu sebelum sesuatu terjadi
(foreknowledge atau forescience). Dalam bahasa Ibrani istilah ―yada‖ dan bahasa
Yunani ―proginoskein‖ dan ―prognosis‖ artinya ―having knowledge of making
one the object of loving care or elective love‖69 Dalam hal ini Allah menentukan
bahwa tujuan akhir manusia beriman ialah untuk diselamatkan. Ketetapan ini
dilakukanNya di dalam kasih. Paulus menulis:
Di dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh esus Kristus untuk
menjadi anak-anakNya sesuai dengan kerelaan kehendakNya. (Ef. 1: 5)
Untuk tujuan itu Allah menetapkan Kristus sebagai subyek penyelamtan dan
pribadiNya serta karyaNya merupakan obyek iman bagi seseorang untuk termasuk
menjadi orang pilihan yang akan diselamatkan. Tujuan penyelamatan itu ialah agar
nama Tuhan dimuliakan (Ef. 1:6).
berdasar penjelasan di atas jelas bahwa orang percaya masa kinipun yaitu
orang yang sudah di pilih Allah untuk memeroleh keselamatan. Pilihan untuk
memperpendek masa triblasi demi kepentingan umat Allah (Mat. 24:22,24,31) juga
merupakan bagian pemilihan Allah. Masa Tribulasi atau masa Penderitaan Besar
yaitu masa dimana Iblis memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang
dikehendakinya untuk menyiksa gereja Tuhan. Namun Allah telah menetapkan
untuk memperpendek masa itu demi orang-orang pilihan Allah tidak terlalu lama
menderita penganiayaan.
Contoh-contoh di atas memberikan gambaran bahwa yang dimaksud dengan konsep
pilihan dalam bagian ini ialah perbuatan-perbuatan Allah yang didalam
kedaulatanNya memiliki kebebasan untuk menentukan apa yang dikehendakiNya.
Dalam hal ini termasuk untuk memilih mereka yang akan diselamatkan menjadi
anggota tubuh Kristus. Dasar pilihan ini ialah karakter Allah sendiri. Namun Ia tidak
melakukan pilihan itu dengan sembarangan. Allah yaitu Allah yang sempurna.
Semua yang dilakukannya baik dan sempurna adanya (Yes. 42:19; Ezr. 28:15; Mat.
5:48). Artinya ada harmonisasi antara kebebasan menetapkan pilihan dengan sifat-
sifat Allah itu sendiri, misalnya:
1) Kasih, seperti yang dinyatakan dalam Ef. 1:4-5. Bagian terakhir dari ayat 4 dapat
juga sebagai pembukaan ayat 5 sehingga nats itu berbunyi: Dalam kasih Ia telah
menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya
sesuai dengan kerelaan kehendakNya.
2) Hikmat Allah, seperti yang dinyatakan dalam Yudas 25, yang berbunyi:
Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia yaitu kemuliaan,
kebesaran, kekuatan, dan kuasa sebelum segala abad dan sampai selama-
lamanya.
3) Kemahatahuan Allah: (Maz. 139) Daud memaparkan dengan panjang lebar
tentang pengertiannya tentang kemahatahuan Allah. BagiNya tidak ada yang
tersembunyi (ay. 15-16). Bahkan dalam akhir ayat 16 dikatakan bahwa
kemahatahuan Allah bukan hanya berkenaan dengan apa yang sudah dicipta.
Kemahatahuan Allah itu juga berkenaan dengan segala sesuatu sebelum satupun
diantaranya tercipta (foreknowledge of God).
4. Waktu Pemilihan
15
Dalam bagian ini dibicarakan tentang waktu kapan Allah mengadakan pilihanNya.
Hal ini juga merupakan konsep yang sukar dijelaskan. sebab kalau berbicara
mengenai ―waktu‖ kita berbicara mengenai ciptaan. Waktu yaitu
merupakan ciptaan Allah yang memiliki awal dan akhir. Namun aktivitas
pemilihan dilakukan Allah sebelum ada penciptaan, yaitu dalam kekekalan. sebab
itu kalau pertanyaan itu diajukan: ―Kapan terjadinya pilihan?‖ Maka jawabnya
ialah: Pilihan terjadi pada kekekalan masa lampau. Paulus mengungkapkannya
kepada jemaat Roma yang berbunyi: Dan mereka yang ditentukan dari semula,
mereka itu juga yang dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilaNya, mereka itu
juga yang dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga yang
dimuliakanNya. (Roma 8: 30)
Konsep pilihan tidak bertentangan dengan hukum alam. Implementasinya sangat
alami dan sesuai dengan proses berpikir manusia. Paulus mengatakan hal ini di
dalam kekagumannya akan karya pemilihan Tuhan itu. Ia seakan-akan dapat
membaca pikiran manusia yang mempertanyakan konsep pemilihan ini ..
Kepada jemaat Roma ia berkata:
namun bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya jika mereka tidak percaya
kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia jika mereka tidak
mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia jika tidak ada
yang memberitakannya? Dan bagaimana mereka memberitakanNya jika mereka
tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‖Betapa indahnya kedatangan mereka yang
membawa kabar baik.‖ (Roma 10:14-15)
Ayat-ayat ini memberikan urutan-urutan tindakan yang dilakukan Allah
walaupun hal itu dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Kalimat pertama merepakan
hasil akhir, yaitu ―orang berseru kepada Tuhan‖. Hasil akhir ini akan
menjadi realita kalau kalimat akhir dari perikop ini terjadi, yaitu ―ada orang
yang diutus oleh Tuhan untuk memberitakanNya.‖
Pilihan ini bertujuan untuk:
a. Untuk keselamatan orang-orang pilihan Allah: Rom. 11:7-11; 2 Tesds. 2:13.
b. Bertujuan untuk memuliakan Allah seperti tertera dalam Ef. 1:6 yang berbunyi:
Supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia, yang dikaruniakanNya kepada
kita di dalam Dia, yang dikasihiNya. (Ef. 1:12,14)
c. Bertujuan agar orang-orang pilihan melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan
Allah sebelumnya (Ef. 2:10; 2 Tim. 2:21) Ada beberapa nats yang penting
sehubungan dengan konsep ―Pilihan‖. Nats-nats ini yaitu Ef. 1:3-
14; Rom. 9:6-28; Yoh. 6:44; 1 Petr. 2:9 dan Wah. 17:8.
d. Ef. 1:3-14 menunjukkan tindakan pemilihan terebut terjadi sebelum dunia
dijadikan dan sudah ditentukan dari sejak semula, ay 4-5. Jadi ―pemilihan‖
lebih dahulu terjadi dari ―penyelamatan‖.
e. Dalam Rom. 9:6-28 ditunjukkan 2 pola pemikiran yang penting dan pola
ini ialah: pilihan berdasar kemurahan (belas kasihan) dan pilihan
berdasar kemahakuasaan Allah.
f. Yoh. 6:44 menunjukkan bahwa hak Allahlah untuk menentukan pilihanNya dan
hak manusia juga untuk menanggapi rancangan keselamatanNya. Allahpun
memiliki hak untuk memilih ataupun membantu orang yang menuruti
nafsunya untuk binasa.
g. Surat 1 Petr. 2:8 menunjukkan bahwa orang-orang kudus sesungguhnya yaitu
bangsa yang terpilih sebelumnya.
15
h. Wahyu 17:8 memperlihatkan bahwa ada orang yang sejak semula tidak ditulis
dalam Kitab Kehidupan yang berarti bahwa mereka tidak masuk dalam program
pilihan Allah.
Pilihan Allah yang direalisasikan dengan cara pemberitaan tentang adanya satu
umat yang ditetapkan menjadi saluran berkat. Kepada Abraham Allah menjanjikan
akan menjadikan dia menjadi bangsa yang besar (Kej. 12:2). Hal ini berbicara
tentang pemilihan Israel, yaitu keturunan Abraham sebagai umat pilihan Allah (Kel.
3:6-7). Kemudian dalam Perjanjian Baru ada satu umat tertentu yang dipilihNya
yaitu ―gereja‖. Dalam Ef. 2:14-15 dikatakan: sebab Dia-lah damai sejahtera
kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok
pemisah yaitu perseteruan. Sebab dengan matinya sebagai manusia, Ia telah
membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya untuk
menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu
mengadakan damai sejahtera. Kehendak Tuhan agar gereja berfungsi untuk
memberitakan keselamatan yang dari Allah kepada dunia. (Bandingkan Yoh. 1:13
dan Rom. 16:13.)
Alkitab menunjukkan bahwa ada beberapa ciri pemilihan Allah:
a. Pemilihan itu yaitu merupakan ekspressi dari kehendak Allah (souvereign will
of God). Dalam hal ini termasuk pemilihan Kristus sebagai
―pengantara‖ (mediator) dari pelaksanaan kehendak Allah itu. Namun kehendak
Allah ini yang juga merupakan pernyataan kasihNya ditetapkan lebih
dahulu dari pemilihan Kristus sebagai Mediator. (Yoh. 3:16; Rom. 5:8; 2 Tim.
1:9)
b. Pemilihan itu tetap. Itulah sebabnya bahwa keselamatan itu yaitu sesuatu yang
pasti bagi orang-orang pilihan. Ia melaksanakan pemilihan itu di dalam Tuhan
Yesus dan pemilihan itu dipelihara di dalam diri orang percaya sampai kepada
akhirnya oleh pekerjaan Roh Kudus yang tinggal di dalam mereka (Rom. 8:29-
30; Rom. 11:29; 2 Tim. 2:19
c. Pemilihan itu adanya dari kekekalan (eternal past), tidak dilakukan dalam kurun
waktu yang ada (eternal present) dan memiliki dampak sampai kepada
kekekalan (eternal future) (Rom. 8:29-30; Ef. 1:4-5)
d. Pemilihan itu tanpa syarat (unconditional). Kelompok Armenian mengatakan
bahwa pemilihan itu berdasar perbuatan baik manusia yang telah dilihat oleh
Allah sebelumnya. namun pendapat ini tidak benar. Pemilihan Allah itu yaitu
berdasar kuasa belas kasihan Allah semata-mata (Rom. 9:11; Kis. 13:48; 2
Tim. 1:9)
e. Pemilihan itu tidak dapat ditolak (irresistable). Allah menolong manusia
sedemikian rupa sehingga secara rohani ia menjadi yakin dan tidak menolak
pemilihan itu: (Maz. 110:3; Fil. 2:13)
f. Pemilihan itu tidak dapat dituduh sebagai sesuatu yang tidak adil. Allah itu maha
adil: (Mat. 20:14-15; Rom. 9:14-15)
Selain melalui pemberitaan ada juga prosedur tertentu yang ditempuh dalam
merealisasikan pemilihan itu. Prosedur ini ialah:
a. Mengutus Juruselamat untuk mati demi keselamatan manusia. Dengan
keselamatan yang dimiliki seseorang, ia akan dapat memahami dan menaati
pemilihan Tuhan.
b. Menjelmanya Sang Penebus, termasuk juga kegiatanNya dalam rangka
pemilihan ini . Sebagai seorang manusia yang pernah hidup di dunia
Juruselamat itu menyatakan pemilihanNya kepada murid-muridNya. Ia
15
menyatakan prinsip-prinsip rohani sehingga orang menyadari akan kasih dan
pemilihan Tuhan bagi seseorang.
c. Proklamasi Injil Kristus pada masa ini yang diperitahkan untuk dilaksanakan.
Dia menghendaki agar pemberitaan Injil itu sampai ke semua bangsa di dunia
(Mat. 28:18-20).
d. Persyaratan pertobatan dari dosa dan beriman kepada Yesus Kristus untuk
diselamatkan.. Kepada kepala penjara di Filipi yang sudah mau bunuh diri
bertanya kepada Paulus dan Silas: Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat
supaya aku selamat? Jawab mereka: ‖Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus
dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.‖ (KPR 16: 29-30)
e. Permintaan Allah agar manusia dari segala tempat datang dan percaya. Hal ini
menunjukkan tanggung jawab dari segi manusia untuk percaya kepada
Juruselamat. Artinya orang harus melangkah untuk datang kepada Tuhan Yesus
untuk diselamatkan (Kis. 17:30-31). Keselamatan bukan satu warisan
f. Penghakiman bagi yang tidak percaya (Ef. 2:8-9). Tak ada keselamatan tanpa
percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan.
Ada satu produksi yang nyata sebagai hasil pemilihan yaitu kehidupan rohani.
Produk ini ialah:
a. Poema, yaitu puisi produksi illahi (Ef. 2:10). Manusia dikembalikan kepada
wujud dan harkat semula, yaitu hasil karya terindah dari Allah (poema atau
puisi).
b. Identitas tertentu sebagai anak-anak Allah (Yoh. 1:12) dan sebagai hasilnya ada
kelihatan dalam karakter anak-anak Tuhan yaitu: belas kasihan, kemurahan,
rendah hati, lemah lembut, dan sabar (Kol. 3:12).
c. Pemujaan yang memuliakan Allah (Rom. 11:33-36). Pemujaan orang beriman
kepada Yesus tidak lagi merupakan rutinitas namun merupakan akspressi
kerinduan untuk bertemu dan bergaul dengan Tuhan.
d. Pemberitaan akan perbuatan-perbuatan besar Allah (1 Petr. 2:9). Orang percaya
selalu merindukan untuk menyaksikan perbuatan besar dari Allah.
Munculnya konsep pemilihan tidak serta merta diterima oleh beberapa kalangan.
Mereka yang tidak menerima konsep ini kemudian mengajukan keberatan-
keberatan dan tangtangan terhadap konsep ―Pilihan‖. Beberapa tantangan
ini yaitu sebagai berikut:
a. Allah tidak adil terhadap mereka yang tidak dipilih.
Jawaban: Kenyataan yang tidak dapat dibantah ialah bahwa sekalian manusia
telah berbuat dosa dan kurang kemuliaan yang dari Alah dan semuanya dibawah
hukum Allah. Kalau ada yang diselamatkan itu semata-mata sebab anugerah
Allah. Mereka yang tidak terlibat bukan sebab tidak dipilih, namun mereka
menerima hukuman yang setimpal dengan dosa-dosa mereka Kalaupun Allah
menyelamatkan sebagian dari mereka hal itu yaitu merupakan anugerah Allah
yang maha besar.
b. Allah pilih kasih atau memandang rupa orang dalam pemilihanNya, sehingga
tidak memilih semua orang.
Jawaban: Tak mungkin demikian sebab tak ada suatupun ang baik dari segi
manusia untuk dipilih Allah. Tidak ada sesuatupun yang dapat diandalkan. Di
segi lain kiranya tidaklah dilupakan bahwa Allah juga bebas merdeka dalam
kehendakNya. Ini juga yaitu karakterNya.
c. Hal ini melemahkan sifat ketaatan orang Kristen (orang beriman) sebab Allah
telah menjalankan semuanya bagi mereka.
15
Jawaban: Keselamatan termasuk juga kelahiran baru dan penyucian secara
progressif menuju ke akhir yang berkemenangan.
d. Hal ini membuat orang sombong sebab merasa sudah dipilih Allah.
Jawaban: Akibat dari kesadaran bahwa keselamatan yaitu hanya sebab
anugerah Allah dan perbuatan Allah, hal inilah menjadi motivasi untuk hidup
dalam kerendahan hati. Orang sesungguhnya akan menjadi tinggi hati jika
merasa bahwa usaha dan kebaikannya yang memicu nya diselamatkan.
e. Hal ini melemahkan desakan/keperluan untuk bertobat bagi semua orang.
(Penginjilan Sedunia) akan terbatas lingkup jangkauannya.
Jawaban: sebab tidak seorangpun yang tahu siapa yang telah ditetapkan dalam
kekekalan masa lampau, yaitu di antara semua orang berdosa yang tidak layak
diterima Allah, ada usaha untuk mengetahui caranya untuk diselamatkan.
Pengertian akanhal ini disamping membuat orang berdosa, waswas dan rendah
hati, juga akanmemicu orang yang baru beriman tertgantung kepada kuasa
Roh Allah untuk penyucian diri.
Setelah manusia jatuh ke dalam dosa Allah yang mahabaik yang tidak
menghendaki kebinasaan manusia dalam dosanya menjanjikan jalan keselamatan. Mulai
dari Kejadian 3:15 dan seluruh kitab dalam Perjanjian Lama Allah berulangkali
menyatakan jalan keselamatan dan hal itu merupakan anugerahNya (the grace of God).
Anugerah itu ialah Yesus Kristus. Dengan kata lain bahwa keselamatan itu yaitu
anugerah Allah semata-mata (Ep. 2:8-9). W.Watson mengatakan bahwa dalam bahasa
Yunani, kata ―keselamatan‖ diterjemahkan dengan kata kerja ―sozo‖ artinya
―menjadi sehat‖, ―menyembuhkan‖, ―mengawetkan‖. Dalam kaitannya dengan
manusia istilah itu berarti ―menyelamatkan dari kematian‖ atau
―mempertahankan hidup‖. Dalam Perjanjian Lama istilah Ibrani ―yasa‖ artinya
―kemerdekaan dari larangan-larangan dan ikatan-ikatan‖, ―melepaskan dari
kehancuran moral dan memberi kemenangan‖. Istilah ini dipakai 278 kali. Istilah
lain ialah ―syaloom‖ yang artinya ―damai‖ dan ―sehat‖ dan dipakai sebanyak 68
kali. Kata ―salem‖ yang berasal dari akar kata yang sama berarti
―persembahan syukur bagi kebebasan yang diperjuangkan‖. Dalam Alkitab
pribadi Allah yaitu sumber anugerah bagi manusia. Alkitab memberi kesaksian tentang
dua jenis anugerah:
a. Anugerah umum (Common Grace):71 Berkat Allah kepada manusia secara umum
(orang percaya atau orang berdosa). Berkat itu dinyatakan dalam keperdulianNya
terhadap manusia secara keseluruhan:
1) Dilakukan melalui karya Roh Kudus: Roh Kudus bekerja kepada semua
manusia untuk menyadarkan mereka akan dosa, kebenaran dan
penghakiman:Yoh. 16:8
2) Berkat umum ini diberikan kepada semua manusia : Mat. 5: 45.
3) Menangguhkan penghukumanNya (Maz. 145; 8-9) dengan tujuan agar
memberi kesempatan bagi manusia untuk sadar dan berbalik dari dosanya
(Rom. 2:4).
4) Kebutuhan rohani (spiritual provisions): 1 Tim. 4: 10.
5) Menyadarkan mereka akan dosa (Yoh. 16: 8-11) dan mengembalikan mereka
kepada Allah dengan cara:
tindakan langsung (direct action): Kej. 31:7
melalui Roh Kudus: Kej. 6:3
dengan memakai para nabi dan hamba Tuhan: Yes. 1:16-20.
dengan memakai pemerintah: Rom. 13:1-4
15
b. Afficatious Grace (special grace)72 :hanya diberikan dan dialami oleh mereka
yang membuka hati untuk percaya kepada Tuhan Yesus.(Rom. 1:1,6-7; 8:28; 1
Kor, 1:1-2,24-26; Ef. 1:18; 4:1+4; 2 tim. 1:9). Berkat khusus ini dilandasi konsep
yang mengatakan bahwa:
1) Tidak semua orang terpanggil. Hal ini ditunjukkkan dengan penolakan manusia
terhadap berita Injil: Rom. 1: 5-6
2) Tidak dapat ditolak (irresistable) : 1 Kor. 1:23-24. Roh Kudus sedemikian rupa
menolong mereka untuk sadar bahwa mereka membutuhkan Tuhan.
3) Tidak bertentangan dengan kemauan manusia : Kis. 16:31, Keselamatan yang
dari Yesus itulah sebenarnya yang dicari manusia.
4) Kuasa Allah terlibat dalam pelaksanaannya: Yoh. 6:44. Tanpa kuasa Allah
manusia tidak dapat datang kepada Tuhan.
5) Roh Kudus meyakinkan orang akan dosanya: Yoh. 16:8-11. Kalau bukan sebab
karya Roh Kudus maka manusia akan selalu membenarkan dirinya.
6) Firman Tuhan terlibat dalam meyakinkan orang: Rom. 10:17; 1 Petr. 1:23.
Firman yang diberitakan dipakai Roh Kudus untuk menyadarkan manusia akan
dosanya. Kesadaran itu menolong dia untuk membuka hati kepada Tuhan.
7) Terjadinya kepada individu-individu: Rom. 9:10-13. Roh Kudus mengenal setiap
pribadi dan mengerti bagaimana menolong mereka di dalam masalah mereka
yang berbeda satu dengan yang lain.
8) Datangnya dari surga dan sifatnya surgawi: Rom 9:11. Hal inilah yang
memicu bahwa keselamatan itu disebut karya surgawi.
E. Panggilan
1. Pengertian Istilah
a. Arti kata dari bahasa Grika
1) Kaleo, artinya memanggil ke dalam kehadiran seseorang, mengundang,
memanggil nama.
2) Kletos, artinya terpanggil, terundang.
3) Klesis, artinya memanggil pada, undangan.
4) Proskaleo, artinya memanggil kepada seseorang, mengundang.
2. Definisi Panggilan yaitu tindakan kasih karunia yang dengannya Ia mengundang
manusia untuk menerima dengan iman keselamatan yang disediakan di dalam
Kristus.
3. Yang terlibat dalam panggilan.
Siapa yang dipanggil ? Ia memanggil ―barangsiapa‖, Ia memanggil semua
manusia kepadaNya (Matius 11:28; Yohanes 3:15,16; Roma 8:30; Wahyu 22:17;
Yesaya
45:22; Matius 28:19,20; Markus 16:15; 1 Timotius 2:4; 2 Petrus 3:9; Matius 22:9).
Allah mau menyelamatkan semua manusia.
4. Mengapa Allah memanggil ?
Ia memanggil supaya manusia dapat datang kepada pengetahuan mengenai Dia
dengan jalan bertobat dan beriman di dalam AnakNya (Matius 3:2; 4:17; Markus
1:15; Kisah 2:38; 17:30; 2 Petrus 3:9; Yohanes 6:29; Kisah 16:31; 19:4; Roma
10:9,10; Yohanes 3:23).
5. Bagaimana Allah memanggil ? Allah memakai berbagai alat untuk memanggil
manusia kepadaNya.
a. Ia memakai Firman Injil (Roma 10:17; 2 Tesalonika 2:14).
15
b. Ia memakai pelayanan Roh Kudus untuk menuduh dan meyakinkan tentang
kebenaran, dosa dan penghukuman (Yohanes 16:7-11; Kejadian 6:3; Ibrani 3:7-
9).
c. Ia memakai pelayanan Injil dan orang-orang kudusNya juga (2 Tawarikh
36:15; Yeremia 25:4; Roma 10:14,15).
d. Ia memakai bagianNya dalam takdir Ilahi memanggil manusia kepadaNya
(Roma 2:4; Yeremia 2:3; Yesaya 26:9; Mazmur 107:6).
6. Penjelasan
Sementara pemilihan oleh Allah terjadi di kekekalan, dengan berdasar
kedaulatan dari Allah, panggilanNya sekarang menggema sepanjang abad dari waktu
ke waktu dan akan terus menerus menggema sampai masa pertobatan manusia
berakhir (Wahyu 2:21).
7. Panggilan Efektif
Panggilan terjadi pada saat Injil diberitakan, baik melalui pengajaran dikelas,
khotbah di mimbar, ataupun melalui interaksi secara pribadi. Suatu panggilan pada
dirinya sendiri tidaklah efektif. Dan panggilan semacam ini seringkali disebut
sebagai panggilan universal dari Injil73 atau panggilan umum. Mengenai panggilan
universal ini di dalam Matius 22:14 dikatakan: ―Sebab banyak yang dipanggil,
namun sedikit yang dipilih."
namun di dalam Perjanjian Baru, istilah ―panggilan‖ saat digunakan
khususnya berkenaan dengan keselamatan, hampir selalu diterapkan secara seragam,
yaitu bukan menunjuk kepada panggilan umum atau panggilan universal dari Injil,
namun kepada panggilan yang membawa manusia masuk ke dalam kondisi
keselamatan, dan dengan bersifat efektif.
Suatu panggilan akan menjadi efektif sebab pekerjaan dari Roh Kudus. Roh Kudus
memanggil seseorang melalui Firman Tuhan, dan Roh Kudus memakai Firman
ini untuk memulai suatu proses keselamatan. Roy Zuck, di dalam bukunya
yang membahas mengenai pekerjaan Roh Kudus di dalam pembelajaran mengatakan
bahwa Roh Allah secara aktif melibatkan diri-Nya di dalam hati mereka yang belajar
melalui tiga cara: menyatakan penghakiman, pengurapan, dan memberi
pencerahan.74 Di dalam Kisah Para Rasul ada diceritakan bagaimana panggilan
efektif dialami Lidia. ―Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama
Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang
beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa
yang dikatakan oleh Paulus.‖ (Kis 16:14) Seseorang yang mendapat panggilan yang
efektif suatu saat pasti diselamatkan. Roh Kudus yang berkerja melalui khotbah
pemberitaan Firman sehingga membuat khotbah ini berkuasa. Dan Roh Kudus
memberi pencerahan kepada orang mendengarkan sehingga ia dapat mendengarkan
Tuhan berbicara melalui khotbah ini
F. Pengganti
1. Pengertian Istilah
Salah satu konsep yang harus dibahas dalam ―karya penyelamatan‖ atau
―atonement‖ ialah konsep pengganti atau substitusi (substitutionary concept).
Holt, dalam kamus bahasa Inggris istilah ―substitute‖ (kb) artinya: person
replacing another; one acting instead of another. Kata benda yang kedua ialah
―substitution‖ artinya ―the putting of a person or thing in the place of another‖76
15
Kata benda yang pertama berbicara tentang orang atau pribadi yang menggantikan
orang lain. Sedang kata yang kedua menekankan tentang tindakan mengganti
sesuatu atau seseorang dengan sesuatu atau orang lain.
Dalam Alkitab istilah ―pengganti‖ atau ―substitusi‖ dihubungkan dengan
konsep tentang kematian Tuhan Yesus Kristus Ia mati untuk tujuan menggantikan
orang berdosa yang harus mengalami kematian sebab dosa mereka. Mereka yang
percaya akan karya penyelamatan ini tidak lagi akan mengalami maut sebagai upah
dosa mereka sebab Kristus sudah menggantikan mereka. Paulus mengatakan kepada
jemaat di Roma: Akan namun Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh sebab
Kristus telah mati untuk kita saat kita masih berdosa. (Roma 5:8) Dengan
demikian tidak ada lagi penghakiman bagi mereka yang ada di dalam Kristus.
(Roma 8:1) Hal itu terjadi sebab mereka telah diperdamaikan dengan Allah oleh
kematianNya (Rom.5:10) dan dibenarkan oleh darahNya (ay. 9) serta oleh hidupNya
mereka beroleh keselamatan (ay. 10).
Konsep ini bermula dari Perjanjian Lama. Pada umumnya pengorbanan domba yang
dilakukan dalam Perjanjian Lama diadakan untuk kepentingan mereka yang
memberi korban. Mereka memberinya sebagai pihak yang bersalah agar mereka
diampuni. Sebenarnya Allah tidak mengutamakan korban sembelihan ini. Yang
dikehendakiNya ialah hati yang hancur luluh tanda pertobatan dan iman dan ini jauh
lebih penting (Maz. 51:18-19). Semua pengorbanan dalam Perjanjian Lama
merupakan tipe atau simbol yang menggambarkan pengorbanan Tuhan Yesus
sebagai pengganti. Artinya, Ia mengambil tempat orang berdosa untuk mati bagi
mereka. Kitab Imamat mendedikasikan 7 bab untuk memberi penjelasan tentang
korban-korban ini (Im. 1:1 – Imm. 7:22).
Ada dua macam pengorbanan yang biasanya dilakukan dalam Perjanjian Lama.
Persembahan pertama ialah persembahan biasa yang dilakukan dengan membawa
sajian tanpa bau-bauan yang harum. Korban ini tidak boleh bercela, namun
dibawa hamba Tuhan yang memang juga memiliki banyak kekurangan. Korban
yang tidak bercela itu diperkenankan oleh Allah meskipun si pembawa korban itu
tak berkenan kepadaNya.. Korban ini mengandung arti pengganti bagi dosa dan
kesalahan sipembawa. Dalam Roma 3:23-26 dikatakan:
sebab semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dan
oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan Cuma-Cuma sebab penebusan dalam
Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan oleh Allah menjadi jalan pendamaian
sebab iman dalam darahNya. Hal ini dibuatNya untuk menunjukkan keadilanNya,
sebab Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa
kesabaranNya. MaksudNya ialah untuk menunjukkan keadilanNya pada masa ini
supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada
Yesus. Prinsip yang sama dikatakan dalam 1 Petr. 2:24; 3:18 dan Mat. 27:46.
Persembahan kedua ialah persembahan yang berbau harum yang harus dilakukan
dengan tiga cara yaitu: korban bakaran, persembahan makanan dan korban
pendamaian. Hal ini menggambarkan bahwa Kristus yang menjadi korban yang
harum sebab tanpa dosa dan tubuhNya sendiri yaitu korban yang diserahkan.
Dengan kata lain sipembawa korban dan korbannya sendiri yaitu tanpa dosa.
Penulis kepada jemaat Ibrani mengatakan:....betapa lebihnya darah Kristus, yang
oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai
persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-
perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. (Ibr.
9:14)Prinsip yang sama dikatakannya lagi pada Ibr. 10:5-7. Paulus juga menyatakan
15
hal yang sama kepada jemaat Filipi dalam Fil. 2:8. Di dalam bahasa Yunani konsep
pengganti atau substitusi dijelaskan dengan memakai dua kata yaitu kata
―huper‖ dan ―anti‖. Kata ―huper‖ berarti ―in place of‖ atau ―di tempat‖ seperti
yang terdapat dalam Filemon 13: Sebenarnya aku mau menahan dia disini sebagai
gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan sebab Injil.
Hal ini berarti bahwa Kristus mati ―in place of‖ atau ―on behalf of‖ orang
berdosa seperti juga dinyatakan dalam 2 Kor. 5:21 dan 1 Petr. 3:18. Dalam nats
ini dikatakan bahwa orang benar mati ditempat orang yang tidak benar. Lihat
juga Luk. 22:19-20; Yoh. 10:15; Tit. 2:14.
Kata yang kedua ialah ―anti‖ yang berarti ―for‖ atau ―untuk‖. Misalnya
dalam kalimat: He died for me, ―Dia mati untuk saya‖. Hal ini berarti bahwa
Kristus mati untuk mengganti orang berdosa agar mereka tidak lagi mengalami
maut. Dalam bahasa Inggris disebut ―vicarious death – the death of one in place
of another‖. Hal ini berarti kesalahan orang berdosa ditimpakan (imputed)
kepadaNya sehingga Ia mati untuk mewakili semua orang berdosa yang harus mati
sebab dosa mereka (Ibr. 9:28; Yes. 53:5-6).
2. Teori yang salah tentang kematian Yesus
Kedudukan ―kematian Kristus‖ di dalam sejarah penyelamatan manusia
sangat penting. Tanpa kematian Yesus tidak ada keselamatan. Demikian pentingnya
konsep dan fakta sejarah ini sehingga iblis berusaha untuk mengelirukan,
mengacaukan pengertian manusia agar tidak mengimani dengan iman yang benar
tentang makna kematian Yesus ini . Sejak peristiwa kematian Tuhan Yesus
banyak pendapat yang dinyatakan orang, termasuk mereka yang berkecimpung
dalam pendidikan teologia, tentang arti kematian ini .
Berikut dicantumkan beberapa teori yang salah tentang makna kematian Tuhan
Yesus. Kalau tidak dicermati teori atau pandangan-pandangan ini seakan-akan benar
sehingga banyak orang yang mengadopsinya sebagai kebenaran. Pendapat ini
ialah:
a. Marturial Theory
Istilah ini berasal dari bahasa Yunani ―marturia‖ artinya bersaksi.
Bahasa Inggris ―martyr‖ juga berasal dari kata Yunani ini yang artinya
―syahid‖. Jadi teori ini menyatakan bahwa kematian Tuhan Yesus yaitu
merupakan puncak ajaranNya dimana Ia bersedia mati syahid demi
mempertahankan kebenaran. Kaum Sosians pada abad 16 menyatakan hal yang
demikian. Kelemahan dari konsep ini ialah sebab teori ini mengajarkan:
1) Bahwa kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini ialah menolong manusia untuk
memiliki peningkatan moral dari yang jelek menjadi benar. Tapi, kekristenan
bukan moralisme semata. Tuhan Yesus datang untuk melepaskan manusia
dari perbudakan dosa.
2) Kedua, bahwa kematian Kristus yaitu merupakan paksaan dan bukan
kesukarelaan demi orang berdosa. Tapi, Filipi 2:5-6 mengatakan bahwa
dengan suka rela Ia meninggalkan surga dan tidak menganggap kesetaraan
dengan Bapa itu merupakan hak yang harus dipertahankan. Dia mengambil
rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.
3) Ketiga, teori ini menyatakan bahwa hutang dosa tak perlu dibayar sebab
dosa tak perlu mendapat hukuman. Tapi, kalau hutang dosa tidak dibayar
maka tidak ada kelepasan dari dosa ini dan manusia masih tetap dalam
perhambaan dosa. Yesus telah menebus manusia dan harganya sudah dibayar
dengan lunas (1 Kor. 6:20; 7:23)
15
4) Keempat, Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara keselamatan
dengan kematian Yesus. KematianNya hanya merupakan contoh ketaatan
untuk mempertahankan kebenaran sampai kepada kematian dan hal inilah
yang harus ditiru manusia agar mereka memperoleh perubahan hidup.
Konsep ini kemudian diadopsi oleh kelompok ―Unitarian‖ yang
hanya mempertahankan etika yang tinggi. Hal ini bertentangan dengan
firman Tuhan pada Roma 3:24 dan 1 Petr. 2:21 yang mengatakan bahwa oleh
kasih karunia Allah manusia telah dibenarkan dengan cuma-cuma sebab
penebusan Kristus Yesus.
b. Moral Influence Theory
Doktrin ini disusun oleh Faustus Socianus (1539 – 1604) dan Abelard (1079 –
1142). Konsep ini berpendapat bahwa kematian Kristus bukanlah untuk
membayar hutang dosa manusia namun melalui kematian Tuhan Yesus Allah
Bapa mendemonstrasikan kasihNya kepada manusia. Dengan demikian hati
orang berdosa dilembutkan dan akhirnya bertobat. Kelemahan teori ini ialah:
1) Bahwa kematian Tuhan Yesus hanya untuk mempengaruhi manusia untuk
bertobat dan bukan untuk regenerasi (kelahiran baru). Dengan demikian
manusia tidak akan menjadi ahli waris sebagai anak Allah (Roma 8:15-17).
2) Hal yang melandasi kematian Kristus ialah kesucianNya dan bukan
kasihNya. Benar bahwa Yesus suci dan tidak berdosa. namun kasihNyalah
yang mendorong diriNya untuk rela disalibkan. (Yoh. 3:16).
3) Landasan pertobatan manusia ialah emosinya. Sementara Alkitab
mengatakan bahwa kematian Kristus ialah untuk menggantikan manusia
(Mat. 20:28) dan dengan demikian orang berdosa dinyatakan benar di
hadapan tahta pengadilan Allah dan bukan dilandasi oleh emosi yang
menciptakan penyesalan akan rasa bersalah yang dimiliki.
4) Kematian Kristus hanya menggambarkan rasa simpati Allah terhadap orang
berdosa, dan pengorbanan ini hanya merupakan kematian biasa yang
meninggalkan teladan pada pengikutNya. Hal inilah yang memicu
teori ini disebut ―simpati ibu‖ atau ―socianing‖ yang
menggambarkan kesedihan hati seorang ibu melihat bayinya yang sedang
terbaring sakit.
c. The Identification Theory
Kematian Tuhan Yesus terjadi sebab Ia menyamakan diriNya dengan orang
berdosa (Fil. 2:7), sehiangga Ia mampu mewakili orang berdosa ke hadirat Allah
dan mengaku dosa mereka dan bertobat bagi manusia. Teori ini mendekati
konsep Neo-Orthodoxy dan Universalisme. Kelemahan teori ini ialah:
1) Allah seolah-olah dipaksa untuk menerima pertobatan manusia yang
diwakili satu orang. Yang benar ialah bahwa Allah menyediakan
pengampunan bagi setiap orang, yaitu melalui Tuhan Yesus.
2) Pengakuan dosa manusia tidak dilakukan oleh Tuhan Yesus untuk bertobat.
namun manusia berdosalah yang mengaku dosanya kepada Allah di dalam
Yesus dan kemudian bertobat.
3) Keselamatan memang sudah disediakan oleh Allah lewat kematian dan
kebangkitan Tuhan Yesus namun hanya mereka yang percaya dan menerima
Yesuslah yang diselamatkan (Yoh. 1:12; 5:24) dan bukan semua orang
seperti konsep Universalisme.
d. The Rectorial or Govermental Theory
Teori ini dipelopori oleh Gratius (1583 – 1645) yang mengakui bahwa kematian
15
Yesus memiliki nilai obyektif. Namun teori ini mengatakan bahwa sebab
16
Allah dilukai oleh manusia dan Setan sehingga Ia tidak memiliki ketidak
seimbangan di dalam kepribadianNya dan bereaksi keras kepada Setan dan
manusia dan menimpakan dendam itu kepada Tuhan Yesus dan hal inilah yang
memicu Ia mati. Kematian Yesus sebagai kepala pemerintahan kerajaan
Allah bertujuan agar dengan kematianNya Ia telah memberikan bayaran yang
seimbang dengan perbuatan Setan dan manusia yang memicu Allah
marah. Kelemahan teori ini ialah:
1) Allah tidak pernah memiliki kepribadian yang tidak seimbang. Teori ini
mengatakan bahwa Allah seakan-akan yaitu manusia biasa.
2) Kematian Tuhan Yesus yaitu tuntutan dan penggenapan hukum Tuhan
dalam Perjanjian Lama. Namun teori di atas sepertinya menyatakan bahwa
Allah tidak konsisten dengan hukumNya, sebab teori ini menyatakan bahwa
kematian Yesus bukanlah untuk menggenapi tuntutan hukum Taurat namun
yaitu wujud pelampiasan kemarahan Allah. Dengan kata lain Allah
membatalkan hukumNya untuk menggenapi tuntutan emosiNya. Jadi dalam
hal ini Allah bersalah sebab Ia mengampuni manusia berdosa tanpa bayaran
atas dosa. Namun Roma 3:24 dan 1 Yoh. 2:2 tidak berbicara demikian.
e. The Ransom to Satan Theory
Konsep ini menyatakan bahwa setelah manusia jatuh ke dalam dosa mereka
diperbudak oleh Setan. Dengan demikian Setanlah yang menjadi penguasa dan
pemilik manusia. Oleh sebab itu kematian Tuhan Yesus yaitu merupakan
bayaran yang diberikan Allah kepada Setan agar manusia dimerdekakan oleh
Setan dari perbudakan dosa. Kelemahan teori ini ialah:
1) Waktu manusia pertama kali jatuh ke dalam dosa hati Tuhanlah yang disakiti
sebab kekudusanNya telah dinodai manusia dengan dosanya. Oleh sebab
itu bayaran yang harus diberikanNya bukanlah kepada Setan namun kepada
Allah agar dengan demikian manusia kembali berdamai dengan Allah.
2) Salib Kristus yaitu merupakan pengadilan kepada kuasa Setan dan bukan
kepada kuasa Allah.
f. Recapitulation Theory
Teori ini dipelopori oleh Ireneus (130-200) yang menyatakan bahwa Yesus
mengalami semua pengalaman Adam termasuk pengalaman dalam dosa agar
dengan demikian Ia dapat menunjukkan bahwa Ia menang. Kelemahan teori ini
ialah:
1) Memang benar bahwa Yesus yaitu Adam kedua (1 Kor. 15:45) namun
dalam pengalamanNya sebagai manusia Ia tidak pernah berbuat dosa (1 Yoh.
3:5; Yoh. 8:46).
2) Teori ini kurang memperhatikan konsep penebusan, sebab kematian
Krstuslah yang mengadakan penebusan (atonement), bukan hidupNya.
g. Commercial Theory
Teori ini menyatakan bahwa melalui dosa kemuliaan Allah dirampok, sementara
Dialah satu-satuNya yang berhak untuk kemuliaan ini . Oleh sebab itu
untuk mengembalikan kemuliaan ini satu tindakan harus dilakukan, apakah
menghukum orang berdosa atau dengan jalan ―pemuasan (propitiation)‖.
Untuk menyelesaikan masalah ini Allah telah memilih jalan ―pemuasan‖
dengan jalan menganugerahkan AnakNya untuk mati di salib. Dengan kematian
Tuhan Yesus kemuliaan Allah dikembalikan kepada Dia dan Yesus kemudian
menerima hadiah (Fil. 2:9) dan hadiah itu kemudian diteruskan kepada manusia.
Anugerah
16
itu ialah pengampunan bagi orang berdosa dan hidup yang kekal bagi mereka
yang hidup menurut Injil. Kelemahan teori ini ialah:
1) Teori ini menekankan tentang ―belas kasihan‖ Allah namun
mengorbankan karakter Allah yang lain yaitu ―keadilan‖ dan
―kesucian‖ Allah. Kasih dan keadilan Allah tidak pernah terpisah satu
dengan yang lain
2) Merendahkan konsep ―ketaatan‖ Kristus. Pada hal firman
Tuhan mengatakan bahwa di dalam keadaan sebagai manusia Ia
merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu
salib (Fil. 2:8).
3) Mengabaikan konsep ―the vicarious suffering of Christ‖ (Yes.
53:2-7; Roma 5:8-11)
4) Mirip konsep Roma Katolik tentang ―penance‖, bahwa
pemuasan tergantung kepada jumlah dosa.
h. Accident Theory
Teori ini dipelopori oeh Albert Schweitzer (1875 – 1965). Teori ini menyatakan
bahwa kematian Kristus yaitu merupakan satu kecelakaan. sebab Kristus
begitu dipenuhi oleh konsep ke-Messias-anNya dan begitu getol untuk
merealisasikannya di dunia ini maka Ia berusaha keras. Namun dalam puncak
usahaNya untuk mempersiapkan kerajaan itu Ia tergilas oleh massa yang
menentangNya dan mati. Kelemahan teori ini ialah:
1) Kematian Kristus seakan-akan tidak memiliki hubungan apa-apa dengan
keselamatan orang lain. Pada hal Kristus mati untuk menyelamatkan orang
berdosa. KematianNya bukan kecelakaan sebab dengan sukarela Ia
menyerahkan diriNya kepada mereka yang menangkapNya (Yoh. 18:4-9)
2) Kerajaan yang dibangun oleh Kristus yaitu kerajaan dunia. Pada hal yang
sebenarnya yang dibangunNya bukanlah kerajaan dunia. Hal ini dengan
gamblang dinyatakan Tuhan Yesus kepada Pilatus saat Ia d







