Kamis, 16 Juli 2026

teori gereja 8

 


dan ay. 8

berbicara tentang kebangunan rohani secara perseorangan.

5) Penerapan firman yang berupa tuntutan sehari-hari  (Maz. 143:8) dan ajaran

untuk meniru teladan Allah (Maz. 119:64, 124) yaitu  bersumber dari  sifat

Allah ini.

6) Khesed yaitu   landasan yang  dimiliki Allah untuk memberi  pengampunan

dosa. Hal ini dapat dilihat dari doa-doa Musa, Samuel (Bil. 14:29; Dan.

9:4,15,18) dan Daud (Maz. 51:3).

7) Pengharapan  orang-orang Israel  yang saleh  yaitu   berdasar  pada  anugerah,

kemurahan dan kasih setia Allah (Luk. 2:25,).

8) Pujian sering ditujukan kepada Allah sebab  anugerahNya (2.Taw.5:3;

Maz.3:11).

9) Pemeliharaan  dunia  tidak  dapat  dipisahkan dari  khesed Allah  (Maz.  93:19;

42:9; 94, 18; 119:76-77; Ayub 37:10-13; Dan. 1:9; Ester 2:9,17; Rat. 3:22).

Dari uraian   di atas dapat disimpulkan bahwa konsep ―khesed‖ atau anugerah

Allah dalam Perjanjian Lama yaitu  sbb:

1) Ada ayat-ayat dalam Perjanjian Lama yang menunjukkan bahwa anugerah

Allah  yaitu   karakter Allah yang  hakiki  dan yang  juga ditanamkan dalam

karakter manusia.

2) Khen yaitu  satu sikap tanpa pamrih dari sang Superior (Allah) kepada yang

inferior, yaitu manusia. Terutama dalam hal yang berhubungan dengan berkat-

berkat pembebasan secara jasmaniah maupun rohaniah dan kesulitan-kesulitan

hidup.

3) Khesed yaitu  kasih setia yang teguh antara dua kelompok yang memiliki 

hubungan kekeluargaan, khususnya dalam perjanjian-perjanjian di mana Allah

terlibat  dengan  umatNya  dan  khesed-Nya yaitu   merupakan  jaminan  yang

kuat.

Selain itu Perjanjian Lama menunjukkan bahwa anugerah Allah dinyatakan

kepada orang-orang beriman.  Iman merupakan modal  dari  pihak manusia  yang

menjadi landasan pemberian anugerah itu dari pihak Allah.

Misalnya:

1) Kepada  Nuh  (―khen‖  –   Kej.  6:8),   Abraham  (―khen‖  –   Kej.  18:1-10),

Yakub (―khesed‖  –  Kej.  32:10),  Yusuf  (―khesed‖  –  Kej.  39:21;  43:29),

Israel sebgai umat (―khesed‖ – Kel. 15:13)  dan Musa (―khesed‖  – Kel. 33:11-

17).

2) Peranan iman: Dalam rangka keselamatan Perjanjian Lama menunjukkan

bahwa anugerah Allah diberikan sebagai tanggapan Allah terhadap iman.

Dalam setiap periode ternyata ditunjukkan bahwa manusia tidak berdaya untuk

memperoleh keselamatan. Dalam hal ini keselamatan semata-mata tergantung

kepada anugerah Allah. Tapi iman dari pihak manusia merupakan keharusan

(Kej. 15:6; Maz. 26:1; 4:6; 78:7).

3) Allah sebagai sasaran iman (Bil. 7:11; 20:12; Ul. 1:32; 2 Raja 17:14; 2 Taw.

20:20). Dalam ayat-ayat ini landasan iman ialah perjanjian yang telah

diberikan oleh Allah (Elohim). Lihat juga Maz. 78:22 dan Yunus 3:5.

4) Allah sebagai Juruselamat sebagai sasaran iman. Dalam hal ini orang beriman

telah mengetahui bahwa Allah yaitu  Juruselamat. (2 Sam. 22:3; 1 Sam. 2:1;

Maz. 119:123) Dalam Yunus 2:9 dan 1 Sam. 14:39 dikatakan bahwa Allah

yaitu  sumber keselamatan satu-satunya. Formula yang dipakai ialah

―sumah‖.

14

Kesimpulan yang dapat diambil dari hal-hal di atas ialah:

1) Melalui pengalaman bapak-bapak beriman dalam Perjanjian Lama Allah

menunjukkan bahwa Allah memberi janji keselamatan kepada orang-orang

beriman. Hal ini menunjukkan bahwa Allah setia kepada apa yang telah

dijanjikanNya. Dari pihak manusia dibutuhkan keyakinan iman untuk

memegang janji Allah.

2) Allah memberikan janjiNya kepada manusia agar Allah tetap memiliki

persekutuan yang  akrab  dengan  manusia.  Hal  ini  yaitu   anugerah.  Dengan

penggenapan janji Allah, Allah berkehendak untuk tetap memiliki 

hubungan dengan umatNya.

3) Allah memberi sarana untuk keselamatan yang kekal bagi manusia. Sarana itu

telah dinyatakanNya dengan mengutus Tuhan Yesus Kristus untuk

menyelamatkan manusia dari dosa.

4) Allah juga memberi anugerahnya yang sifatnya temporal.  Dalam masa-masa

tertentu, misalnya dalam kesulitan yang dialami manusia Allah memberi

kelepasan.

5) Namun demikian Perjanjian Lama menunjukkan bahwa wujud pemberian

anugerah tsb masih samar-samar, seperti dalam negatif film dan belum sejelas

dan segamblang yang ditunjukkan dalam Perjanjian Baru melalui potret

kehadiran Tuhan Yesus Kristus.

2. Arti Anugerah dalam Literatur Yunani

Berbicara tentang literatur Yunani berarti berbicara tentang tulisan dalam era

perjanjian Baru. Di samping buku-buku yang terdapat di dalam Alkitab Perjanjian Baru

banyak hasil karya sastra yang dihasilkan oleh para Penulis yang besar dan kenamaan

pada masa ini. sebab  bahasa Yunani dipakai dalam dunia pendidikan dan perkantoran

pada masa ini dan sebab  orang Yunani terkenal dengan keinginan mereka memiliki

ilmu pengetahuan dan filsafat yang tinggi maka banyak hasil karya para sastrawan dan

filsuf yang dihargai bahkan sampai sekarang. Rasul Paulus memiliki  satu pengalaman

yang sangat mengesankan bertemu dengan orang-orang Yunani saat  ia mengunjungi

Athena (Kis. 17:16-34).

Dengan demikian  Penulis  merasa  bahwa baik  sekali  diperhatikan  bagaimana  para

Penulis     ini    memakai    kata    ―anugerah‖    dalam    tulisan-tulisan    mereka

sebagai perbandingan dengan pemakaian  istilah itu dalam Alkitab, khususnya dalam

Perjanjian Baru.  Dalam literatur  Yunani istilah  yang digunakan  ialah  ―kharis‖  yang

berarti ―sesuatu  yang  mendatangkan  kepuasan  dan  menjamin  sukacita‖.  Lingkup

pemakaian nya sangat luas namun  pada umumnya yang berkenaan dengan hal-hal yang

bersifat jasmani, misalnya keindahan fisik (Hesiod, Work and Days, 5) dan keindahan

karya seni (Aeschylus Agememnon, 405-406); kata-kata yang indah (Homer, Oddysey

VIII: 175); keindahan lagu (Pindar Olympia, 1:17,30-32); kesedapan hidup (Euripides

Medea,  227); kemuliaan  kemenangan  (Pindar  Olympia  VIII:  77-80);  kemuliaan  satu

kematian  yang bernilai  (Aeschylus  Agemennon,  1304);  keindahan  rupa  dan  karakter

(Aristhophanes Vespae,  1278).  Dalam  literatur  berikut  istilah  ―kharis‖  mengandung

pengertian   sukacita  dan kepuasan di  dalamnya,  misalnya  dalam tulisan  Plato  (Plato

Gorgias 462C; Sophisi 222E).   Istilah  ―kharis‖   juga   mengandung  pengertian  akan

perbuatan   yang   baik   yang merupakan hadiah dan bahkan ucapan syukur terhadap

pemberian itu (Sophocles, Oedipus    Coloneus,    635-637).    Sasaran    ―kharis‖    juga

sering    digunakan    untuk memperoleh anugerah itu (Pindar Olympia 1:75-78).

Meskipun   arti  ―kharis‖   mendekati  pengertian   dalam   Perjanjian   Baru  namun

ada perbedaan yang kontras sebab  dalam literatur ini  anugerah  harus dicari oleh

14

manusia.  Hal  ini  menunjukkan konsep yang non-Alkitabiah  sebab  dalam Perjanjian

Baru   ―anugerah‖   yaitu    merupakan   pemberian   Tuhan   semata-mata   (Rom.

2:8-9). Dalam hal ini tidak ada sumbangan usaha manusia untuk memerolehnya. Jadi

sebagai kesimpulan,  pemakaian istilah  ―kharis‖  dalam literatur  Yunani yaitu  sebagai

berikut:

a. Pemakaian  istilah  ―kharis‖  dalam  literatur  Yunani   yaitu   untuk  menyatakan

suatu keindahan dalam bentuk lahiriah (obyek)

b. Secara subjektif istilah ini berarti sikap batin yang dirasakan terhadap seseorang.

c. Pemakaian istilah ini juga berhubungan dengan perasaan timbal-balik dari penerima,

yaitu pernyataan atau ucapan rasa syukur kepada pemberi.

d. Syukur   dalam   bentuk   kata   kerja   pembantu   artinya   ―bagi   kepentingan

memperoleh sesuatu‖ seperti ungkapan Yunani ―kharistinos‖.67

3. Arti Anugerah dalam Perjanjian Baru

Dalam   Perjanjian   Baru   istilah   ―kharis‖   dipakai   155   kali.   Di   antaranya

Paulus  memakai  kira-kira  10  kali.  Dari  penyelidikan  sebelumnya  ditemukan  bahwa

istilah  ini memiliki ari yang kaya sekali. Inilah harta kekristenan yang istimewa.

Yohanes membuka  Injilnya  dengan  mengidentifikasikan  Yesus  sebagai  pembawa

anugerah. Ia mengatakan bahwa kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus

(Yoh. 1:17). Beberapa pemakaian  istilah  ―kharis‖  dalam Perjanjian  Baru di antaranya

ialah:

a. Arti   ―kharis‖   berhubungan   dengan   sukacita,  kepuasan   serta   keindahan.   Hal

ini ditemukan dalam 2 bagian Perjanjian Baru. Pertama dalan Injil Lukas, yaitu Luk.

4:22  di  mana  istilah  yang  dipakai  ialah  ―charitos‖  dan  oleh  Paulus  dipakai

istilah

―kharis‖  dalam Ef. 4:29).

b. Dalam hal ini istilah ini  memiliki hubungan arti dengan perbuatan baik, kasih,

karunia dan simpati. Istilah ini terdapat dalam Luk. 1:3 dan Luk.2:52 yang memakai

kata   ―khariste‖  dan  dalam  Kis.  7:10,46  dan  Kis.  11:23  istilah  yang  dipakai

ialah

―kharitie  paratheo‖

c. Dalam bagian ini kata ini  memiliki arti yang berhubungan dengan Allah

menyatakan kasihNya tanpa disebabkan kebaikan manusia, yang terdapat dalam Kis.

11:23; Rom. 11:6; 2 Kor. 4:15; 2 Kor. 6:1 dan 2 Tes. 1:2. Menurut Thayer ini yaitu 

perbuatan Allah yang berhubungan dengan hal-hal rohani yang menurunkan

pengaruh kekudusannNya kepada jiwa-jiwa, membolehkan mereka percaya kepada

Kristus, memelihara, mengingatkan dan menumbuhkan mereka dalam iman,

pengetahuan dan kasih serta menggalakkan mereka untuk berlatih dalam buah-buah

rohani.68 pemakaian nya berhubungan dengan ucapan syukur seperti dalam 1 Tim.

1: 12; 2 Tim. 1: 3; 1 Kor. 10: 3.

d. Arti yang berhubungan dengan berkat-berkat yang bersumber dari anugerah

keselamatan yang dari Kristus. Berkat-berkat ini  meliputi:

   Anugerah keselamatan oleh Yesus: 1 Petr. 1:10; 2 Kor. 8:9.

   Pribadi Kristus sebagai wujud anugerah kebenaran: Yoh. 1:18; 1 Kor. 15:8-10.

   Seluruh kondisi keselamatan seseorang: Rom. 5:2; 1 Petr. 5:12.

   Berkat-berkat sementara di dunia ini: 2 Kor. 5:8; 2 Kor. 9:8.

Ada  beberapa  istilah  lain  bersumber  dari  dan  yang  dipakai  untuk  kata  ―kharis‖.

Istilah ini  ialah:

a. ―charito‖, artinya  memberikan  anugerah kepada seseorang: Luk. 1:28.

b. ―charisma‖, artinya pemberian anugerah kasih karunia: Roma 12; 1 Kor. 12; Ef.

14

4. Dari penjelasan di atas kita dapat melihat bahwa dalam Perjanjian Baru 

istilah

―kharis‖    atau    ―anugerah‖    memiliki     pengertian    yang    jauh    lebih    dalam

dan komprehensif  dibanding dengan pemakaian istilah itu dalam literatur Yunani. Di

dalam Perjanjian Baru sangat jelas dinyatakan bahwa sumber anugerah hanya satu, yaitu

Allah.

14

Allah memberi anugerahNya berdasar  kasih dan hikmadNya. Dia yang Maha Tinggi

harus merendahkan diri  untuk memberi  anugerah itu  kepada manusia,  mahluk yang

lebih rendah dan yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Namun Allah yang yaitu 

kasih dan setia kepada janjiNya memberi anugerah maha besar kepada manusia. Allah

melihat  bukan hanya pada  kesejahteraan  fisik  manusia  namun   lebih  dalam lagi,  yaitu

kesejahteraan jiwa dan roh setiap orang.

D. Pemilihan

1. Beberapa Pertanyaan yang diperdebatkan

Konsep  ―pilihan‖  yaitu   konsep  yang  paling  sulit  dijelaskan.  Hal  ini  bahkan

telah menjadi perdebatan para ahli teologia selama berabad-abad. Banyak masalah yang

menjadi bahan perdebatan, misalnya mengenai keadilan dan kasih Allah kepada

manusia. Apakah Allah dalam pilihanNya pilih kasih? Apakah kasih Allah tidak sama

kepada semua manusia di dunia? Kalau kasihNya sama, mengapa ada orang yang dipilih

dan ada yang tidak termasuk golongan yang dipilih? Kalau demikian keadaannya

apakah Allah itu benar-benar adil ?

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas menjadi bahan perdebatan kalau konsep

pemilihan Allah dibahas. Namun Alkitab menunjukkan bahwa ada orang yang dipilih

Allah dan ada yang ditolakNya, dan semua dilakukan Allah berdasar  kedaulatanNya.

Sebagai Allah yang berdaulat dan yang mahatahu Ia memiliki kebebasan untuk

menentukan apa yang akan dilakukan dan bagaimana Ia melakukannya. Semua hal itu

sudah ada dalam rancanganNya yang sempurna.

2. Lingkup Pembahasan mengenai Pilihan

Di  dalam pembahasan  mengenai  konsep pemilihan  yang akan dibicarakan  bukan

hanya mengenai pemilihan Allah akan manusia: siapa yang  akan diselamatkan dan

masuk surga dan siapa yang tidak. Memang kalau dihubungkan dengan doktrin

―keselamatan‖  pokok  pikiran  yang  harus  dibicarakan  ialah  mengenai  hal ini ,

yaitu siapa yang akan masuk surga dan siapa yang tidak. Dengan demikian seorang

pemercaya  akan memiliki  keyakinan dan kepastian  yang jelas  bahwa ia  termasuk ke

dalam  kelompok   orang   yang   dipilih.   namun    dalam  pokok   bahasan   tentang

―pemilihan‖ ada hal-hal yang lain yang perlu dibicarakan yang juga merupakan lingkup

pemilihan yang  dilakukan  oleh  Allah.  Misalnya,  urutan  tentang  apa  yang  dilakukan

Allah  pada proses  penciptaan  selama enam  hari.  Mengapa  Allah  memilih  untuk

menciptakan  hal- hal tertentu pada hari pertama, kedua dan seterusnya. Mengapa

manusia dicipta pada hari  keenam  dan  merupakan  ciptaan  yang  terakhir  pada  hal

mereka yang diberi kuasa sebagai wakil Allah untuk menguasai semua ciptaan lain. Hal-

hal ini  juga merupakan  contoh  tentang  kebebasan  Allah  untuk  memilih  dan

menentukan  apa  yang harus  dilakukanNya.  Di  samping  pemilihan  tentang  urutan

penciptaan  segala  sesuatu dalam alam semesta,  contoh-contoh lain juga  dapat  dilihat

seperti dalam pemilihan Nuh dan keluarganya untuk diselamatkan dari air bah (Kej.

6:12-14), pemilihan Abraham dari  antara  anggota  masyarakat  yang  tinggal  di

Mesopotamia  (Kej.  12:1-3),  pemilihan para nabi dan banyak contoh-contoh lain

sebagaimana dipaparkan dalam Alkitab. Contoh-contoh  ini  menunjukkan  tentang

kedaulatan dan kemerdekaan Allah di dalam menentukan pilihanNya. Namun kedaulatan

dan kemerdekaan Allah untuk menentukan pilihanNya bukan tidak berdasar pada alasan

tertentu. Kalau diteliti dengan cermat Alkitab dapat menunjukkan alasan-alasan Allah

untuk menetapkan pilihanNya.  Namun ada  hal-hal  yang tidak  dapat  diselami  pikiran

manusia. Kecuali Allah tidak ada yang lain yang dapat mengetahui. Namun semuanya

dilakukan berdasar  rencanaNya yang sudah ditetapkan sebelum alam semesta

14

diciptakan. Dalam contoh-contoh seperti ini

14

tidak ada sedikitpun campur tangan manusia dalam penetapan pilihan ini . Semua

hal itu menunjukkan otoritas Allah yang mutlak.

3. Beberapa Contoh Tetang Pilihan

Berikut ini Penulis mengambil beberapa contoh dari apa yang dicantumkan dalam

Alkitab untuk memberi lukisan-lukisan tentang apa yang dilakukan Allah di dalam

kedaulatanNya untuk mengadakan pilihan tanpa ada yang harus menjadi penasihat

bagiNya. Misalnya dalam hal:

a. Pemilihan Individu. Misalnya pemilihan terhadap Abraham (Kej. 12:1-3). Dalam hal

ini Abraham tidak pernah berdoa untuk memohon agar ia dijadikan Allah sebagai

leluhur bangsa Israel. namun  Allah di dalam kedaulatanNya memilih dia dan

menyuruhnya untuk pindah ke tanah Kanaan yaitu tanah yang akan diberikan Allah

kepadanya  dan  kepada  keturunannya.  Menarik  sekali  sebab  pemilihan  Allah  itu

dinyatakan kepadanya dalam situasi dimana ia dan isterinya tidak mungkin lagi akan

memiliki   anak  sebab   Sarai  sudah tua  dan mandul.  Namun Allah  mengatakan

bahwa Kanaan akan diberikan kepadanya dan kepada keturunannya sebagai warisan

turun temurun. Dalam kemustahilan ini rencana dan pemilihan Allah tidak pernah

salah. Contoh pemilihan individu yang lain ialah pemilihan Yakub dan bukan Esau

menjadi nenek moyang bangsa Israel.

b. Pemilihan Ras atau Kelompok (Ul. 4:37). Pilihan terhadap Israel sebagai umat

pilihan Allah terdiri dari mereka yang sudah lahir baru maupun tidak. Dalam bagian

ini Allah memberikan pemilihanNya kepada bangsa Israel untuk menjadi umatNya

yang akan menduduki  dan  mewarisi  tanah Kanaan sesuai  dengan apa  yang telah

dijanjikanNya kepada Abraham. Untuk menduduki tanah itu Allah tidak

menetapkan bahwa hak itu  hanya bagi  orang yang percaya  dan lahir  baru,  namun 

kepada semua keturunan Abraham dan Sarai  secara  fisik.  Nats  di  atas  berbunyi:

sebab   Ia  mengasihi  nenek moyangmu dan memilih  keturunan mereka,  maka Ia

sendiri telah membawa engkau keluar dari Mesir dengan kekuatanNya yang besar.

c. Pilihan terhadap Raja Kores (Yes. 45:1-4). Dalam hal ini Yesaya menubuatkan

bahwa kembalinya bangsa Israel dari pembuangan akan terjadi pada masa

pemerintahan Raja Kores. Memang banyak perdebatan mengaenai hal ini terutama

bertautan dengan waktu Penulisan kitab Yesaya. Banyak perbedaan pendapat

mengenai hal ini. Beberapa komentator mengatakan bahwa bab ini yang termasuk ke

dalam Deutro Yesaya tidak ditulis  oleh Yesaya namun   oleh orang lain dan ditulis

setelah bangsa Israel kembali  dari  pembuangan. namun  sebagian mempertahankan

kesatuan  kitab  Yesaya  sebagai  wahyu Allah  yang diberikan  kepada  nabi  Yesaya

untuk ditulis. Dan kalau konsep ini diterima maka  pemilihan raja Kores yaitu 

merupakan nubuatan  Allah yang disampaikan kepada nabi  Yesaya.  Pemilihan  ini

bukan untuk tujuan penyelamatan (election for salvation) sebab  Raja Kores

bukanlah orang yang beriman kepada Allah. Pemilihan akan dia hanyalah

merupakan alat  yang dalam momentum yang dimiliki  oleh Allah sudah waktunya

bagi Dia untuk mengadakan pembebasan bagi bangsa Israel dari pembuangan.

d. Pemilihan Kristus sebagai Juruselamat dunia sebelum penjelmaanNya menjadi

manusia (Yes. 42:1-5). Ditinjau dari segi waktu penggenapan nubuatan ini masih

jauh lebih jauh dibanding dengan pemilihan raja Kores untuk membebaskan bangsa

Israel. namun  Allah di dalam kuasa dan kedaulatanNya tidak memiliki  masalah

tentang jarak waktu. Segala sesuatu sedang seperti ada dan terjadi di hadapanNya. Ia

menubuatkan pilihanNya bahwa Kristuslah yang menjadi Juruselamat. Dalam ayat 1

Allah  mengatakan  bahwa Juruselamat  itu  ialah  Hamba  PilihanNya  dan berkenan

kepadaNya. Bahkan dalam Yesaya 49:1, lebih jelas dikatakan bahwa pemilihan itu

14

sudah terjadi saat  Juruselamat itu masih ada dalam kandungan ibuNya. Menurut

Ef.  1:4,  istilah  ―sebelum  dunia  dijadikan‖  dan  ―dari  semula  (ay.  5)  merujuk

kepada titik waktu yang sama yaitu zaman kekakalan masa lampau (eternal  past)

yaitu masa sebelum proses penciptaan dilaksanakan. Di dalam hal ini Allah memiliki

potensi untuk  mengetahui  dan  melihat  sesuatu  sebelum  sesuatu  terjadi

(foreknowledge atau forescience).  Dalam  bahasa  Ibrani istilah  ―yada‖  dan bahasa

Yunani ―proginoskein‖ dan  ―prognosis‖  artinya  ―having knowledge  of   making

one  the  object of loving care or elective love‖69 Dalam hal ini Allah menentukan

bahwa  tujuan  akhir  manusia beriman ialah untuk diselamatkan. Ketetapan ini

dilakukanNya di dalam kasih. Paulus menulis:

Di dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh esus Kristus untuk

menjadi anak-anakNya sesuai dengan kerelaan kehendakNya. (Ef. 1: 5)

Untuk tujuan itu Allah menetapkan Kristus sebagai subyek penyelamtan dan 

pribadiNya serta karyaNya merupakan obyek iman bagi seseorang untuk termasuk 

menjadi orang pilihan yang akan diselamatkan. Tujuan penyelamatan itu ialah agar 

nama Tuhan dimuliakan (Ef. 1:6).

berdasar  penjelasan  di  atas  jelas  bahwa orang percaya masa kinipun yaitu 

orang yang sudah di pilih Allah untuk memeroleh keselamatan. Pilihan untuk

memperpendek masa triblasi demi kepentingan umat Allah (Mat. 24:22,24,31) juga

merupakan bagian  pemilihan  Allah.  Masa Tribulasi  atau  masa  Penderitaan  Besar

yaitu  masa dimana Iblis memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang

dikehendakinya untuk menyiksa gereja Tuhan. Namun Allah telah menetapkan

untuk memperpendek masa itu demi orang-orang pilihan Allah tidak terlalu lama

menderita penganiayaan.

Contoh-contoh di atas memberikan gambaran bahwa yang dimaksud dengan konsep

pilihan dalam bagian ini ialah perbuatan-perbuatan Allah yang didalam

kedaulatanNya memiliki  kebebasan untuk menentukan apa  yang dikehendakiNya.

Dalam hal  ini  termasuk  untuk memilih  mereka yang akan diselamatkan  menjadi

anggota tubuh Kristus. Dasar pilihan ini ialah karakter Allah sendiri. Namun Ia tidak

melakukan pilihan  itu  dengan  sembarangan. Allah  yaitu   Allah yang  sempurna.

Semua yang dilakukannya baik dan sempurna adanya (Yes. 42:19; Ezr. 28:15; Mat.

5:48). Artinya ada harmonisasi antara kebebasan menetapkan pilihan dengan sifat-

sifat Allah itu sendiri, misalnya:

1) Kasih, seperti yang dinyatakan dalam Ef. 1:4-5. Bagian terakhir dari ayat 4 dapat

juga sebagai pembukaan ayat 5 sehingga nats itu berbunyi: Dalam kasih Ia telah

menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya

sesuai dengan kerelaan kehendakNya.

2) Hikmat Allah, seperti yang dinyatakan dalam Yudas 25, yang berbunyi:

Juruselamat  kita  oleh Yesus  Kristus,  Tuhan kita,  bagi  Dia yaitu   kemuliaan,

kebesaran, kekuatan, dan kuasa sebelum segala abad dan sampai selama-

lamanya.

3) Kemahatahuan Allah: (Maz. 139) Daud memaparkan dengan panjang lebar

tentang  pengertiannya  tentang  kemahatahuan  Allah.  BagiNya  tidak  ada  yang

tersembunyi (ay. 15-16). Bahkan dalam akhir ayat 16 dikatakan bahwa

kemahatahuan Allah bukan hanya berkenaan dengan apa yang sudah dicipta.

Kemahatahuan Allah itu juga berkenaan dengan segala sesuatu sebelum satupun

diantaranya tercipta (foreknowledge of God).

4. Waktu Pemilihan

15

Dalam bagian ini dibicarakan tentang waktu kapan Allah mengadakan pilihanNya.

Hal ini juga merupakan konsep yang sukar dijelaskan. sebab  kalau berbicara

mengenai   ―waktu‖   kita    berbicara   mengenai   ciptaan.    Waktu   yaitu 

merupakan  ciptaan Allah yang memiliki  awal dan akhir. Namun aktivitas

pemilihan dilakukan Allah sebelum ada penciptaan, yaitu dalam kekekalan. sebab 

itu kalau pertanyaan  itu  diajukan:  ―Kapan  terjadinya  pilihan?‖  Maka  jawabnya

ialah:   Pilihan  terjadi pada kekekalan masa lampau. Paulus mengungkapkannya

kepada jemaat Roma yang  berbunyi:  Dan  mereka  yang  ditentukan  dari  semula,

mereka itu juga yang dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilaNya, mereka itu

juga yang dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga yang

dimuliakanNya. (Roma 8: 30)

Konsep  pilihan  tidak  bertentangan  dengan  hukum alam.  Implementasinya sangat

alami  dan sesuai  dengan proses  berpikir  manusia.  Paulus  mengatakan hal  ini  di

dalam kekagumannya akan karya pemilihan Tuhan itu. Ia seakan-akan dapat

membaca pikiran manusia yang mempertanyakan konsep pemilihan ini ..

Kepada jemaat Roma ia berkata:

namun  bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya jika mereka tidak percaya

kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia jika mereka tidak

mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia jika tidak ada

yang memberitakannya? Dan bagaimana mereka memberitakanNya jika mereka

tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‖Betapa indahnya kedatangan mereka yang

membawa kabar baik.‖ (Roma 10:14-15)

Ayat-ayat ini memberikan urutan-urutan tindakan yang dilakukan Allah

walaupun hal itu dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Kalimat pertama merepakan

hasil  akhir, yaitu   ―orang   berseru   kepada   Tuhan‖.   Hasil   akhir   ini   akan

menjadi   realita   kalau  kalimat   akhir   dari perikop ini terjadi, yaitu   ―ada   orang

yang diutus  oleh Tuhan untuk memberitakanNya.‖

Pilihan ini  bertujuan untuk:

a. Untuk keselamatan orang-orang pilihan Allah: Rom. 11:7-11; 2 Tesds. 2:13.

b. Bertujuan untuk memuliakan Allah seperti tertera dalam Ef. 1:6 yang berbunyi:

Supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia, yang dikaruniakanNya kepada

kita di dalam Dia, yang dikasihiNya. (Ef. 1:12,14)

c. Bertujuan agar orang-orang pilihan melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan

Allah sebelumnya (Ef. 2:10; 2 Tim. 2:21) Ada beberapa nats yang penting

sehubungan   dengan   konsep   ―Pilihan‖.   Nats-nats   ini   yaitu   Ef.   1:3-

14; Rom. 9:6-28; Yoh. 6:44; 1 Petr. 2:9 dan Wah. 17:8.

d. Ef. 1:3-14 menunjukkan tindakan pemilihan terebut terjadi sebelum dunia

dijadikan  dan  sudah ditentukan dari sejak semula, ay 4-5.  Jadi ―pemilihan‖

lebih dahulu  terjadi dari ―penyelamatan‖.

e. Dalam Rom. 9:6-28 ditunjukkan 2 pola pemikiran yang penting dan pola

ini  ialah: pilihan berdasar  kemurahan (belas kasihan) dan pilihan

berdasar  kemahakuasaan Allah.

f. Yoh. 6:44 menunjukkan bahwa hak Allahlah untuk menentukan pilihanNya dan

hak manusia juga untuk menanggapi rancangan keselamatanNya. Allahpun

memiliki  hak untuk memilih ataupun membantu orang yang menuruti

nafsunya untuk binasa.

g. Surat 1 Petr. 2:8 menunjukkan bahwa orang-orang kudus sesungguhnya yaitu 

bangsa yang terpilih sebelumnya.

15

h. Wahyu 17:8 memperlihatkan bahwa ada orang yang sejak semula tidak ditulis

dalam Kitab Kehidupan yang berarti bahwa mereka tidak masuk dalam program

pilihan Allah.

Pilihan  Allah  yang direalisasikan  dengan cara pemberitaan  tentang adanya satu

umat yang ditetapkan menjadi saluran berkat. Kepada Abraham Allah menjanjikan

akan menjadikan dia menjadi bangsa yang  besar (Kej. 12:2). Hal ini berbicara

tentang pemilihan Israel, yaitu keturunan Abraham sebagai umat pilihan Allah (Kel.

3:6-7). Kemudian dalam Perjanjian Baru ada satu umat tertentu yang dipilihNya

yaitu  ―gereja‖.  Dalam  Ef.  2:14-15  dikatakan:  sebab   Dia-lah  damai sejahtera

kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok

pemisah yaitu perseteruan. Sebab dengan matinya sebagai manusia, Ia telah

membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya untuk

menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu

mengadakan damai sejahtera. Kehendak Tuhan agar gereja berfungsi untuk

memberitakan keselamatan yang dari Allah kepada dunia. (Bandingkan Yoh. 1:13

dan Rom. 16:13.)

Alkitab menunjukkan bahwa ada beberapa ciri pemilihan Allah:

a. Pemilihan itu yaitu  merupakan ekspressi dari kehendak Allah (souvereign will

of    God).    Dalam   hal    ini    termasuk   pemilihan   Kristus   sebagai

―pengantara‖ (mediator) dari pelaksanaan kehendak Allah itu. Namun kehendak

Allah ini   yang  juga  merupakan  pernyataan  kasihNya  ditetapkan  lebih

dahulu dari pemilihan Kristus sebagai Mediator. (Yoh. 3:16; Rom. 5:8; 2 Tim.

1:9)

b. Pemilihan itu tetap. Itulah sebabnya bahwa keselamatan itu yaitu  sesuatu yang

pasti bagi orang-orang pilihan. Ia melaksanakan pemilihan itu di dalam Tuhan

Yesus dan pemilihan itu dipelihara di dalam diri orang percaya sampai kepada

akhirnya oleh pekerjaan Roh Kudus yang tinggal di dalam mereka (Rom. 8:29-

30; Rom. 11:29; 2 Tim. 2:19

c. Pemilihan itu adanya dari kekekalan (eternal past), tidak dilakukan dalam kurun

waktu yang ada (eternal present) dan memiliki  dampak sampai kepada

kekekalan (eternal future) (Rom. 8:29-30; Ef. 1:4-5)

d. Pemilihan itu  tanpa syarat (unconditional). Kelompok Armenian mengatakan

bahwa pemilihan itu berdasar  perbuatan baik manusia yang telah dilihat oleh

Allah sebelumnya. namun  pendapat ini tidak benar. Pemilihan Allah itu yaitu 

berdasar  kuasa belas kasihan Allah semata-mata (Rom. 9:11; Kis. 13:48; 2

Tim. 1:9)

e. Pemilihan itu tidak dapat ditolak (irresistable). Allah menolong manusia

sedemikian  rupa sehingga secara  rohani  ia  menjadi  yakin dan tidak  menolak

pemilihan itu: (Maz. 110:3; Fil. 2:13)

f. Pemilihan itu tidak dapat dituduh sebagai sesuatu yang tidak adil. Allah itu maha

adil: (Mat. 20:14-15;  Rom. 9:14-15)

Selain melalui pemberitaan ada juga prosedur tertentu yang ditempuh dalam

merealisasikan pemilihan itu. Prosedur ini  ialah:

a. Mengutus Juruselamat untuk mati demi keselamatan manusia. Dengan

keselamatan yang  dimiliki  seseorang,  ia akan  dapat  memahami  dan  menaati

pemilihan Tuhan.

b. Menjelmanya Sang Penebus, termasuk juga kegiatanNya dalam rangka

pemilihan ini . Sebagai seorang manusia yang pernah hidup di dunia

Juruselamat itu menyatakan pemilihanNya kepada murid-muridNya. Ia

15

menyatakan  prinsip-prinsip  rohani  sehingga orang menyadari  akan kasih  dan

pemilihan Tuhan bagi seseorang.

c. Proklamasi Injil Kristus pada masa ini yang diperitahkan untuk dilaksanakan.

Dia menghendaki agar pemberitaan Injil itu sampai ke semua bangsa di dunia

(Mat. 28:18-20).

d. Persyaratan pertobatan dari dosa dan beriman kepada Yesus Kristus untuk

diselamatkan.. Kepada kepala penjara di Filipi yang sudah mau bunuh diri

bertanya kepada Paulus dan Silas:  Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat

supaya aku selamat? Jawab mereka: ‖Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus

dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.‖ (KPR 16: 29-30)

e. Permintaan Allah agar manusia dari segala tempat datang dan percaya. Hal ini

menunjukkan tanggung jawab dari segi manusia untuk percaya kepada

Juruselamat. Artinya orang harus melangkah untuk datang kepada Tuhan Yesus

untuk diselamatkan (Kis. 17:30-31). Keselamatan bukan satu warisan

f. Penghakiman bagi yang tidak percaya (Ef. 2:8-9). Tak ada keselamatan tanpa

percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan.

Ada  satu produksi yang nyata sebagai  hasil  pemilihan  yaitu  kehidupan  rohani.

Produk ini  ialah:

a. Poema, yaitu puisi produksi illahi (Ef. 2:10). Manusia dikembalikan kepada

wujud dan harkat  semula,  yaitu  hasil  karya  terindah  dari  Allah  (poema atau

puisi).

b. Identitas tertentu sebagai anak-anak Allah (Yoh. 1:12) dan sebagai hasilnya ada

kelihatan dalam karakter anak-anak Tuhan yaitu: belas kasihan, kemurahan,

rendah hati, lemah lembut, dan sabar (Kol. 3:12).

c. Pemujaan yang memuliakan Allah (Rom. 11:33-36).  Pemujaan orang beriman

kepada Yesus tidak lagi merupakan rutinitas namun  merupakan akspressi

kerinduan untuk bertemu dan bergaul dengan Tuhan.

d. Pemberitaan akan perbuatan-perbuatan besar Allah (1 Petr. 2:9). Orang percaya

selalu merindukan untuk menyaksikan perbuatan besar dari Allah.

Munculnya konsep pemilihan tidak serta merta  diterima oleh beberapa kalangan.

Mereka yang  tidak  menerima  konsep  ini   kemudian  mengajukan  keberatan-

keberatan   dan   tangtangan   terhadap   konsep   ―Pilihan‖.   Beberapa   tantangan

ini  yaitu  sebagai berikut:

a. Allah tidak adil terhadap mereka yang tidak dipilih.

Jawaban: Kenyataan yang tidak dapat dibantah ialah bahwa sekalian manusia

telah berbuat dosa dan kurang kemuliaan yang dari Alah dan semuanya dibawah

hukum Allah.  Kalau ada yang diselamatkan itu semata-mata sebab  anugerah

Allah. Mereka yang tidak terlibat bukan sebab  tidak dipilih, namun  mereka

menerima hukuman yang setimpal  dengan dosa-dosa mereka Kalaupun Allah

menyelamatkan sebagian dari mereka hal itu yaitu  merupakan anugerah Allah

yang maha besar.

b. Allah pilih  kasih atau memandang rupa orang dalam pemilihanNya,  sehingga

tidak memilih semua orang.

Jawaban: Tak mungkin demikian sebab  tak ada suatupun ang baik dari  segi

manusia untuk dipilih Allah. Tidak ada sesuatupun yang dapat diandalkan. Di

segi  lain kiranya tidaklah  dilupakan bahwa Allah juga bebas  merdeka dalam

kehendakNya. Ini juga yaitu  karakterNya.

c. Hal ini melemahkan sifat ketaatan orang Kristen (orang beriman) sebab  Allah

telah menjalankan semuanya bagi mereka.

15

Jawaban: Keselamatan termasuk juga kelahiran baru dan penyucian secara

progressif menuju ke akhir yang berkemenangan.

d. Hal ini membuat orang sombong sebab  merasa sudah dipilih Allah.

Jawaban: Akibat dari kesadaran bahwa keselamatan yaitu  hanya sebab 

anugerah Allah dan perbuatan Allah, hal inilah menjadi motivasi untuk hidup

dalam kerendahan hati.  Orang sesungguhnya akan menjadi tinggi hati jika 

merasa bahwa usaha dan kebaikannya yang memicu nya diselamatkan.

e. Hal ini melemahkan desakan/keperluan untuk bertobat bagi semua orang.

(Penginjilan Sedunia) akan terbatas lingkup jangkauannya.

Jawaban: sebab  tidak seorangpun yang tahu siapa yang telah ditetapkan dalam

kekekalan masa lampau, yaitu di antara semua orang berdosa yang tidak layak

diterima Allah, ada usaha untuk mengetahui caranya untuk diselamatkan.

Pengertian akanhal ini disamping membuat orang berdosa, waswas dan rendah

hati, juga akanmemicu  orang yang baru beriman tertgantung kepada kuasa

Roh Allah untuk penyucian diri.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa Allah yang mahabaik yang tidak

menghendaki kebinasaan manusia dalam dosanya menjanjikan jalan keselamatan. Mulai

dari Kejadian 3:15 dan seluruh kitab dalam Perjanjian Lama Allah berulangkali

menyatakan jalan keselamatan dan hal itu merupakan anugerahNya (the grace of God).

Anugerah itu ialah Yesus Kristus. Dengan kata lain bahwa keselamatan itu yaitu 

anugerah Allah semata-mata (Ep. 2:8-9). W.Watson mengatakan bahwa dalam bahasa

Yunani,  kata   ―keselamatan‖  diterjemahkan   dengan   kata   kerja   ―sozo‖  artinya

―menjadi  sehat‖,   ―menyembuhkan‖,   ―mengawetkan‖.   Dalam   kaitannya   dengan

manusia   istilah itu  berarti     ―menyelamatkan     dari     kematian‖    atau

―mempertahankan    hidup‖.    Dalam Perjanjian  Lama  istilah  Ibrani  ―yasa‖  artinya

―kemerdekaan   dari larangan-larangan dan  ikatan-ikatan‖,   ―melepaskan   dari

kehancuran  moral  dan  memberi  kemenangan‖.  Istilah ini  dipakai  278  kali.  Istilah

lain  ialah  ―syaloom‖  yang  artinya  ―damai‖  dan  ―sehat‖  dan dipakai  sebanyak  68

kali.  Kata  ―salem‖  yang berasal dari akar  kata  yang sama  berarti

―persembahan   syukur   bagi   kebebasan   yang   diperjuangkan‖.   Dalam   Alkitab

pribadi Allah yaitu  sumber anugerah bagi manusia. Alkitab memberi kesaksian tentang

dua jenis anugerah:

a. Anugerah umum (Common Grace):71 Berkat Allah kepada manusia secara umum

(orang percaya atau orang berdosa). Berkat itu dinyatakan dalam keperdulianNya

terhadap manusia secara keseluruhan:

1) Dilakukan melalui karya Roh Kudus: Roh Kudus bekerja kepada semua

manusia untuk menyadarkan mereka akan dosa, kebenaran dan

penghakiman:Yoh. 16:8

2) Berkat umum ini diberikan kepada semua manusia : Mat. 5: 45.

3) Menangguhkan penghukumanNya (Maz. 145; 8-9) dengan tujuan agar

memberi kesempatan bagi manusia untuk sadar dan berbalik dari dosanya

(Rom. 2:4).

4) Kebutuhan rohani (spiritual provisions): 1 Tim. 4: 10.

5) Menyadarkan mereka akan dosa (Yoh. 16: 8-11) dan mengembalikan mereka

kepada Allah dengan cara:

   tindakan langsung (direct action): Kej. 31:7

   melalui Roh Kudus: Kej. 6:3

   dengan memakai para nabi dan hamba Tuhan: Yes. 1:16-20.

   dengan memakai pemerintah: Rom. 13:1-4

15

b. Afficatious  Grace (special  grace)72 :hanya diberikan dan dialami  oleh  mereka

yang membuka hati untuk percaya kepada Tuhan Yesus.(Rom. 1:1,6-7; 8:28; 1

Kor, 1:1-2,24-26; Ef. 1:18; 4:1+4; 2 tim. 1:9). Berkat khusus ini dilandasi konsep

yang mengatakan bahwa:

1) Tidak semua orang terpanggil. Hal ini ditunjukkkan dengan penolakan manusia

terhadap berita Injil: Rom. 1: 5-6

2) Tidak dapat ditolak (irresistable) : 1 Kor. 1:23-24. Roh Kudus sedemikian rupa

menolong mereka untuk sadar bahwa mereka membutuhkan Tuhan.

3) Tidak bertentangan dengan kemauan manusia : Kis. 16:31, Keselamatan yang

dari Yesus itulah sebenarnya yang dicari manusia.

4) Kuasa Allah terlibat dalam pelaksanaannya: Yoh. 6:44. Tanpa kuasa Allah

manusia tidak dapat datang kepada Tuhan.

5) Roh Kudus meyakinkan orang akan dosanya: Yoh. 16:8-11. Kalau bukan sebab 

karya Roh Kudus maka manusia akan selalu membenarkan dirinya.

6) Firman Tuhan terlibat dalam meyakinkan orang: Rom. 10:17; 1 Petr. 1:23.

Firman yang diberitakan dipakai Roh Kudus untuk menyadarkan manusia akan

dosanya. Kesadaran itu menolong dia untuk membuka hati kepada Tuhan.

7) Terjadinya kepada individu-individu: Rom. 9:10-13. Roh Kudus mengenal setiap

pribadi dan mengerti  bagaimana menolong mereka di dalam masalah mereka

yang berbeda satu dengan yang lain.

8) Datangnya dari surga dan sifatnya surgawi: Rom 9:11. Hal inilah yang

memicu  bahwa keselamatan itu disebut karya surgawi.

E. Panggilan

1. Pengertian Istilah

a. Arti kata dari bahasa Grika

1) Kaleo, artinya memanggil ke dalam kehadiran seseorang, mengundang, 

memanggil nama.

2) Kletos, artinya terpanggil, terundang.

3) Klesis, artinya memanggil pada, undangan.

4) Proskaleo, artinya memanggil kepada seseorang, mengundang.

2. Definisi Panggilan yaitu  tindakan kasih karunia yang dengannya Ia mengundang

manusia untuk menerima dengan iman keselamatan yang disediakan di dalam

Kristus.

3. Yang terlibat dalam panggilan.

Siapa   yang  dipanggil   ?   Ia   memanggil   ―barangsiapa‖,   Ia   memanggil   semua

manusia kepadaNya (Matius 11:28; Yohanes 3:15,16; Roma 8:30; Wahyu 22:17;

Yesaya

45:22; Matius 28:19,20; Markus 16:15; 1 Timotius 2:4; 2 Petrus 3:9; Matius 22:9).

Allah mau menyelamatkan semua manusia.

4. Mengapa Allah memanggil ?

Ia memanggil supaya manusia dapat datang kepada pengetahuan mengenai Dia

dengan jalan bertobat dan beriman di dalam AnakNya (Matius 3:2; 4:17; Markus

1:15; Kisah 2:38; 17:30; 2 Petrus 3:9; Yohanes 6:29; Kisah 16:31; 19:4; Roma

10:9,10; Yohanes 3:23).

5. Bagaimana Allah memanggil ? Allah memakai  berbagai alat untuk memanggil

manusia kepadaNya.

a. Ia memakai  Firman Injil (Roma 10:17; 2 Tesalonika 2:14).

15

b. Ia memakai  pelayanan Roh Kudus untuk menuduh dan meyakinkan tentang

kebenaran, dosa dan penghukuman (Yohanes 16:7-11; Kejadian 6:3; Ibrani 3:7-

9).

c. Ia memakai  pelayanan Injil  dan orang-orang kudusNya juga (2 Tawarikh

36:15; Yeremia 25:4; Roma 10:14,15).

d. Ia memakai  bagianNya dalam takdir Ilahi memanggil manusia kepadaNya

(Roma 2:4; Yeremia 2:3; Yesaya 26:9; Mazmur 107:6).

6. Penjelasan

Sementara pemilihan oleh Allah terjadi di kekekalan, dengan berdasar 

kedaulatan dari Allah, panggilanNya sekarang menggema sepanjang abad dari waktu

ke waktu dan akan terus menerus menggema sampai masa pertobatan manusia

berakhir (Wahyu 2:21).

7. Panggilan Efektif

Panggilan terjadi pada saat Injil diberitakan, baik melalui pengajaran dikelas,

khotbah di mimbar, ataupun melalui interaksi secara pribadi. Suatu panggilan pada

dirinya sendiri tidaklah efektif. Dan panggilan semacam ini seringkali disebut

sebagai panggilan universal dari Injil73 atau panggilan umum. Mengenai panggilan

universal  ini  di  dalam  Matius  22:14  dikatakan:  ―Sebab banyak  yang dipanggil,

namun  sedikit yang dipilih."

namun    di   dalam   Perjanjian   Baru,   istilah   ―panggilan‖   saat    digunakan

khususnya berkenaan dengan keselamatan, hampir selalu diterapkan secara seragam,

yaitu bukan menunjuk kepada panggilan umum atau panggilan universal dari Injil,

namun  kepada panggilan yang  membawa  manusia  masuk  ke  dalam  kondisi

keselamatan, dan dengan bersifat efektif.

Suatu panggilan akan menjadi efektif sebab  pekerjaan dari Roh Kudus. Roh Kudus

memanggil seseorang melalui Firman Tuhan, dan Roh Kudus memakai Firman

ini  untuk memulai  suatu proses keselamatan. Roy Zuck, di  dalam bukunya

yang membahas mengenai pekerjaan Roh Kudus di dalam pembelajaran mengatakan

bahwa Roh Allah secara aktif melibatkan diri-Nya di dalam hati mereka yang belajar

melalui tiga cara: menyatakan penghakiman, pengurapan, dan memberi

pencerahan.74 Di dalam Kisah Para Rasul ada  diceritakan bagaimana panggilan

efektif  dialami  Lidia.  ―Seorang  dari  perempuan-perempuan  itu  yang  bernama

Lidia  turut  mendengarkan.  Ia  seorang  penjual  kain  ungu  dari  kota  Tiatira,  yang

beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa

yang dikatakan oleh Paulus.‖ (Kis 16:14) Seseorang yang mendapat panggilan yang

efektif  suatu  saat  pasti  diselamatkan.  Roh  Kudus yang  berkerja  melalui  khotbah

pemberitaan Firman sehingga membuat khotbah ini  berkuasa. Dan Roh Kudus

memberi pencerahan kepada orang mendengarkan sehingga ia dapat mendengarkan

Tuhan berbicara melalui khotbah ini 

F. Pengganti

1. Pengertian Istilah

Salah    satu    konsep    yang    harus    dibahas    dalam   ―karya    penyelamatan‖    atau

―atonement‖  ialah  konsep  pengganti   atau  substitusi   (substitutionary  concept).

Holt, dalam   kamus   bahasa   Inggris   istilah   ―substitute‖   (kb)   artinya:  person

replacing another;  one  acting  instead  of  another.  Kata  benda  yang kedua  ialah

―substitution‖ artinya ―the putting  of a person or thing  in the place of another‖76

15

Kata benda yang pertama berbicara tentang orang atau pribadi yang menggantikan

orang lain. Sedang kata yang kedua menekankan tentang tindakan mengganti

sesuatu atau seseorang dengan sesuatu atau orang lain.

Dalam   Alkitab   istilah   ―pengganti‖   atau   ―substitusi‖   dihubungkan   dengan

konsep tentang kematian Tuhan Yesus Kristus Ia mati untuk tujuan menggantikan

orang berdosa yang harus mengalami kematian sebab  dosa mereka. Mereka yang

percaya akan karya penyelamatan ini tidak lagi akan mengalami maut sebagai upah

dosa mereka sebab  Kristus sudah menggantikan mereka. Paulus mengatakan kepada

jemaat di Roma: Akan namun  Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh sebab 

Kristus telah mati untuk kita saat  kita masih berdosa. (Roma 5:8) Dengan

demikian  tidak  ada  lagi penghakiman bagi mereka yang  ada di  dalam Kristus.

(Roma 8:1) Hal itu terjadi sebab  mereka telah diperdamaikan dengan Allah oleh

kematianNya (Rom.5:10) dan dibenarkan oleh darahNya (ay. 9) serta oleh hidupNya

mereka beroleh keselamatan (ay. 10).

Konsep ini bermula dari Perjanjian Lama. Pada umumnya pengorbanan domba yang

dilakukan dalam Perjanjian Lama diadakan untuk kepentingan mereka yang

memberi  korban.  Mereka  memberinya sebagai pihak yang  bersalah  agar  mereka

diampuni. Sebenarnya Allah tidak mengutamakan korban sembelihan ini. Yang

dikehendakiNya ialah hati yang hancur luluh tanda pertobatan dan iman dan ini jauh

lebih penting (Maz. 51:18-19). Semua pengorbanan dalam Perjanjian Lama

merupakan tipe atau simbol yang menggambarkan pengorbanan Tuhan Yesus

sebagai  pengganti.  Artinya,  Ia  mengambil  tempat  orang berdosa untuk mati  bagi

mereka.  Kitab  Imamat  mendedikasikan  7  bab  untuk  memberi  penjelasan  tentang

korban-korban ini  (Im. 1:1 – Imm. 7:22).

Ada dua macam pengorbanan yang biasanya dilakukan dalam Perjanjian Lama. 

Persembahan pertama ialah persembahan biasa yang dilakukan dengan membawa

sajian tanpa bau-bauan yang harum. Korban ini  tidak boleh bercela, namun  

dibawa hamba Tuhan yang memang juga memiliki banyak kekurangan. Korban 

yang tidak bercela itu diperkenankan oleh Allah meskipun si pembawa korban itu 

tak berkenan kepadaNya.. Korban ini  mengandung arti pengganti bagi dosa dan

kesalahan sipembawa. Dalam Roma 3:23-26 dikatakan:

sebab  semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dan

oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan Cuma-Cuma sebab  penebusan dalam

Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan oleh Allah menjadi jalan pendamaian

sebab  iman dalam darahNya. Hal ini dibuatNya untuk menunjukkan keadilanNya,

sebab  Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa

kesabaranNya.  MaksudNya ialah  untuk menunjukkan  keadilanNya  pada  masa  ini

supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada

Yesus. Prinsip yang sama dikatakan dalam 1 Petr. 2:24; 3:18 dan Mat. 27:46.

Persembahan kedua ialah  persembahan yang berbau harum yang harus dilakukan

dengan tiga cara yaitu: korban bakaran, persembahan makanan dan korban

pendamaian. Hal ini menggambarkan bahwa Kristus yang  menjadi korban yang

harum sebab  tanpa  dosa dan tubuhNya  sendiri yaitu   korban yang  diserahkan.

Dengan kata lain sipembawa korban dan korbannya sendiri yaitu  tanpa dosa.

Penulis  kepada jemaat  Ibrani  mengatakan:....betapa  lebihnya darah  Kristus,  yang

oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai

persembahan yang tak bercacat,  akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-

perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. (Ibr.

9:14)Prinsip yang sama dikatakannya lagi pada Ibr. 10:5-7. Paulus juga menyatakan

15

hal yang sama kepada jemaat Filipi dalam Fil. 2:8. Di dalam bahasa Yunani konsep

pengganti   atau   substitusi   dijelaskan   dengan   memakai   dua   kata   yaitu   kata

―huper‖ dan  ―anti‖.  Kata  ―huper‖  berarti ―in place of‖ atau ―di tempat‖ seperti

yang terdapat dalam Filemon 13: Sebenarnya aku mau menahan dia disini sebagai

gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan sebab  Injil.

Hal  ini  berarti  bahwa  Kristus  mati ―in place  of‖  atau  ―on behalf  of‖  orang

berdosa seperti  juga dinyatakan dalam 2 Kor.  5:21 dan 1 Petr.  3:18.  Dalam nats

ini  dikatakan bahwa orang benar mati ditempat orang yang tidak benar. Lihat

juga Luk. 22:19-20; Yoh. 10:15; Tit. 2:14.

Kata   yang  kedua   ialah  ―anti‖   yang  berarti  ―for‖   atau  ―untuk‖.   Misalnya

dalam kalimat:   He  died for  me, ―Dia  mati untuk saya‖.  Hal ini berarti bahwa

Kristus  mati  untuk mengganti  orang berdosa agar  mereka  tidak  lagi  mengalami

maut. Dalam bahasa  Inggris  disebut  ―vicarious  death  –  the  death of  one in place

of another‖. Hal  ini  berarti  kesalahan  orang  berdosa  ditimpakan  (imputed)

kepadaNya sehingga Ia mati untuk mewakili semua orang berdosa yang harus mati

sebab  dosa mereka (Ibr. 9:28; Yes. 53:5-6).

2. Teori yang salah tentang kematian Yesus

Kedudukan   ―kematian   Kristus‖   di   dalam   sejarah   penyelamatan   manusia

sangat penting. Tanpa kematian Yesus tidak ada keselamatan. Demikian pentingnya

konsep dan fakta sejarah ini sehingga iblis berusaha untuk mengelirukan,

mengacaukan pengertian  manusia  agar tidak mengimani  dengan iman yang benar

tentang  makna kematian  Yesus  ini .  Sejak  peristiwa  kematian  Tuhan  Yesus

banyak  pendapat yang dinyatakan orang, termasuk mereka yang berkecimpung

dalam pendidikan teologia, tentang arti kematian ini .

Berikut dicantumkan beberapa teori yang salah tentang makna kematian Tuhan

Yesus. Kalau tidak dicermati teori atau pandangan-pandangan ini seakan-akan benar

sehingga banyak orang yang mengadopsinya sebagai kebenaran. Pendapat ini 

ialah:

a. Marturial Theory

Istilah   ini   berasal   dari   bahasa   Yunani   ―marturia‖   artinya   bersaksi.

Bahasa Inggris  ―martyr‖  juga  berasal  dari   kata  Yunani  ini   yang  artinya

―syahid‖.   Jadi  teori  ini  menyatakan  bahwa  kematian  Tuhan  Yesus  yaitu 

merupakan  puncak ajaranNya  dimana  Ia  bersedia  mati  syahid  demi

mempertahankan kebenaran. Kaum Sosians pada abad 16 menyatakan hal yang

demikian. Kelemahan dari konsep ini ialah sebab  teori ini mengajarkan:

1) Bahwa kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini ialah menolong manusia untuk

memiliki peningkatan moral dari yang jelek menjadi benar. Tapi, kekristenan

bukan moralisme semata.  Tuhan Yesus datang untuk melepaskan manusia

dari perbudakan dosa.

2) Kedua, bahwa kematian Kristus yaitu  merupakan paksaan dan bukan

kesukarelaan demi orang berdosa. Tapi, Filipi 2:5-6 mengatakan bahwa

dengan suka rela Ia meninggalkan surga dan tidak menganggap kesetaraan

dengan Bapa itu merupakan hak yang harus dipertahankan. Dia mengambil

rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.

3) Ketiga,  teori  ini  menyatakan bahwa hutang dosa tak perlu dibayar sebab 

dosa tak perlu mendapat  hukuman.  Tapi,  kalau  hutang dosa tidak dibayar

maka tidak ada kelepasan dari dosa ini  dan manusia masih tetap dalam

perhambaan dosa. Yesus telah menebus manusia dan harganya sudah dibayar

dengan lunas (1 Kor. 6:20; 7:23)

15

4) Keempat, Hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara keselamatan

dengan kematian Yesus. KematianNya hanya merupakan contoh  ketaatan

untuk mempertahankan  kebenaran  sampai  kepada kematian  dan hal  inilah

yang harus ditiru manusia agar mereka memperoleh perubahan hidup.

Konsep   ini   kemudian   diadopsi   oleh   kelompok   ―Unitarian‖   yang

hanya  mempertahankan etika yang tinggi. Hal ini bertentangan dengan

firman Tuhan pada Roma 3:24 dan 1 Petr. 2:21 yang mengatakan bahwa oleh

kasih karunia Allah manusia telah dibenarkan dengan cuma-cuma sebab 

penebusan Kristus Yesus.

b. Moral Influence Theory

Doktrin ini disusun oleh Faustus Socianus (1539 – 1604) dan Abelard (1079 –

1142). Konsep ini berpendapat bahwa kematian Kristus bukanlah untuk

membayar  hutang  dosa  manusia  namun   melalui  kematian  Tuhan  Yesus  Allah

Bapa mendemonstrasikan kasihNya kepada manusia. Dengan demikian hati

orang berdosa dilembutkan dan akhirnya bertobat. Kelemahan teori ini ialah:

1) Bahwa kematian Tuhan Yesus hanya untuk mempengaruhi manusia untuk

bertobat  dan  bukan  untuk  regenerasi  (kelahiran  baru).  Dengan  demikian

manusia tidak akan menjadi ahli waris sebagai anak Allah (Roma 8:15-17).

2) Hal yang melandasi kematian Kristus ialah kesucianNya dan bukan

kasihNya. Benar bahwa Yesus suci dan tidak berdosa. namun  kasihNyalah

yang mendorong diriNya untuk rela disalibkan. (Yoh. 3:16).

3) Landasan pertobatan manusia ialah emosinya. Sementara Alkitab

mengatakan  bahwa kematian  Kristus  ialah  untuk  menggantikan  manusia

(Mat. 20:28) dan dengan demikian orang berdosa dinyatakan benar di

hadapan tahta pengadilan Allah dan bukan dilandasi oleh emosi yang

menciptakan penyesalan akan rasa bersalah yang dimiliki.

4) Kematian Kristus hanya menggambarkan rasa simpati Allah terhadap orang

berdosa, dan pengorbanan ini  hanya merupakan kematian biasa yang

meninggalkan teladan pada pengikutNya.  Hal  inilah yang memicu 

teori    ini    disebut    ―simpati    ibu‖   atau    ―socianing‖   yang

menggambarkan kesedihan hati seorang ibu melihat bayinya yang sedang

terbaring sakit.

c. The Identification Theory

Kematian  Tuhan Yesus  terjadi  sebab   Ia  menyamakan  diriNya dengan orang

berdosa (Fil. 2:7), sehiangga Ia mampu mewakili orang berdosa ke hadirat Allah

dan mengaku dosa mereka dan bertobat bagi manusia. Teori ini mendekati

konsep Neo-Orthodoxy dan Universalisme. Kelemahan teori ini ialah:

1) Allah seolah-olah dipaksa untuk menerima pertobatan manusia yang

diwakili satu orang. Yang benar ialah bahwa Allah menyediakan

pengampunan bagi setiap orang, yaitu melalui Tuhan Yesus.

2) Pengakuan dosa manusia tidak dilakukan oleh Tuhan Yesus untuk bertobat.

namun  manusia berdosalah yang mengaku dosanya kepada Allah di dalam

Yesus dan kemudian bertobat.

3) Keselamatan memang sudah disediakan oleh Allah lewat kematian dan

kebangkitan Tuhan Yesus namun  hanya mereka yang percaya dan menerima

Yesuslah yang diselamatkan (Yoh. 1:12; 5:24) dan bukan semua orang

seperti konsep Universalisme.

d. The Rectorial or Govermental Theory

Teori ini dipelopori oleh Gratius (1583 – 1645) yang mengakui bahwa kematian

15

Yesus memiliki  nilai obyektif. Namun teori ini mengatakan bahwa sebab 

16

Allah dilukai oleh manusia dan Setan sehingga Ia tidak memiliki ketidak

seimbangan di dalam kepribadianNya dan bereaksi keras kepada Setan dan

manusia dan menimpakan dendam itu kepada Tuhan Yesus dan hal inilah yang

memicu  Ia mati. Kematian Yesus sebagai kepala pemerintahan kerajaan

Allah bertujuan agar dengan kematianNya Ia telah memberikan bayaran yang

seimbang dengan perbuatan Setan dan manusia yang memicu  Allah

marah. Kelemahan teori ini ialah:

1) Allah tidak pernah memiliki kepribadian yang tidak seimbang. Teori ini

mengatakan bahwa Allah seakan-akan yaitu  manusia biasa.

2) Kematian Tuhan Yesus yaitu  tuntutan dan penggenapan hukum Tuhan

dalam Perjanjian Lama. Namun teori di atas sepertinya menyatakan bahwa

Allah tidak konsisten dengan hukumNya, sebab  teori ini menyatakan bahwa

kematian Yesus bukanlah untuk menggenapi  tuntutan hukum Taurat  namun 

yaitu  wujud pelampiasan kemarahan Allah. Dengan kata lain Allah

membatalkan hukumNya untuk menggenapi tuntutan emosiNya. Jadi dalam

hal ini Allah bersalah sebab  Ia mengampuni manusia berdosa tanpa bayaran

atas dosa. Namun Roma 3:24 dan 1 Yoh. 2:2 tidak berbicara demikian.

e. The Ransom to Satan Theory

Konsep ini  menyatakan  bahwa setelah  manusia  jatuh  ke dalam dosa  mereka

diperbudak oleh Setan. Dengan demikian Setanlah yang menjadi penguasa dan

pemilik  manusia. Oleh  sebab  itu  kematian  Tuhan  Yesus yaitu   merupakan

bayaran yang diberikan Allah kepada Setan agar manusia  dimerdekakan oleh

Setan dari perbudakan dosa. Kelemahan teori ini ialah:

1) Waktu manusia pertama kali jatuh ke dalam dosa hati Tuhanlah yang disakiti

sebab  kekudusanNya telah dinodai manusia dengan dosanya. Oleh sebab 

itu bayaran yang harus diberikanNya bukanlah kepada Setan namun  kepada

Allah agar dengan demikian manusia kembali berdamai dengan Allah.

2) Salib Kristus yaitu  merupakan pengadilan kepada kuasa Setan dan bukan

kepada kuasa Allah.

f. Recapitulation Theory

Teori ini dipelopori oleh Ireneus (130-200) yang menyatakan bahwa Yesus

mengalami  semua pengalaman  Adam termasuk  pengalaman  dalam dosa  agar

dengan demikian Ia dapat menunjukkan bahwa Ia menang. Kelemahan teori ini

ialah:

1) Memang  benar  bahwa Yesus  yaitu   Adam kedua  (1  Kor. 15:45)  namun

dalam pengalamanNya sebagai manusia Ia tidak pernah berbuat dosa (1 Yoh.

3:5; Yoh. 8:46).

2) Teori ini kurang memperhatikan konsep penebusan, sebab  kematian

Krstuslah yang mengadakan penebusan (atonement), bukan hidupNya.

g. Commercial Theory

Teori ini menyatakan bahwa melalui dosa kemuliaan Allah dirampok, sementara

Dialah  satu-satuNya yang  berhak  untuk  kemuliaan  ini .  Oleh  sebab   itu

untuk mengembalikan kemuliaan ini  satu tindakan harus dilakukan, apakah

menghukum  orang  berdosa   atau   dengan  jalan   ―pemuasan  (propitiation)‖.

Untuk menyelesaikan  masalah   ini   Allah   telah   memilih   jalan   ―pemuasan‖

dengan  jalan menganugerahkan AnakNya untuk mati di salib. Dengan kematian

Tuhan Yesus kemuliaan Allah dikembalikan kepada Dia dan Yesus kemudian

menerima hadiah (Fil. 2:9) dan hadiah itu kemudian diteruskan kepada manusia.

Anugerah

16

itu ialah pengampunan bagi orang berdosa dan hidup yang kekal bagi mereka

yang hidup menurut Injil. Kelemahan teori ini ialah:

1) Teori  ini  menekankan  tentang  ―belas  kasihan‖  Allah   namun

mengorbankan  karakter   Allah   yang   lain   yaitu   ―keadilan‖  dan

―kesucian‖  Allah.   Kasih dan keadilan Allah tidak pernah terpisah satu

dengan yang lain

2) Merendahkan    konsep    ―ketaatan‖    Kristus.    Pada    hal    firman

Tuhan  mengatakan bahwa di dalam keadaan sebagai manusia Ia

merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu

salib (Fil. 2:8).

3) Mengabaikan   konsep   ―the   vicarious   suffering   of   Christ‖   (Yes.

53:2-7; Roma 5:8-11)

4) Mirip    konsep    Roma    Katolik    tentang    ―penance‖,    bahwa

pemuasan tergantung kepada jumlah dosa.

h. Accident Theory

Teori ini dipelopori oeh Albert Schweitzer (1875 – 1965). Teori ini menyatakan

bahwa kematian Kristus yaitu  merupakan satu kecelakaan. sebab  Kristus

begitu dipenuhi oleh konsep ke-Messias-anNya dan begitu getol untuk

merealisasikannya di dunia ini maka Ia berusaha keras. Namun dalam puncak

usahaNya untuk mempersiapkan kerajaan itu Ia tergilas oleh massa yang

menentangNya dan mati. Kelemahan teori ini ialah:

1) Kematian Kristus seakan-akan tidak memiliki  hubungan apa-apa dengan

keselamatan orang lain. Pada hal Kristus mati untuk menyelamatkan orang

berdosa. KematianNya bukan kecelakaan sebab  dengan sukarela Ia

menyerahkan diriNya kepada mereka yang menangkapNya (Yoh. 18:4-9)

2) Kerajaan yang dibangun oleh Kristus yaitu  kerajaan dunia. Pada hal yang

sebenarnya yang dibangunNya bukanlah kerajaan dunia. Hal ini dengan

gamblang dinyatakan Tuhan Yesus kepada Pilatus saat  Ia d