Kamis, 16 Juli 2026

Perang salib 19

 


an untuk menyerang pelabuhan-pe-

labuhan itu dari darat, di periode 1100-1160, para pemimpin

muslim itu jelas mampu melakukannya. Namun ternyata mereka

tidak memutuskan demikian.

Fatimiyah dan Armada Laut

sebab  kaum muslim sangat sedikit memiliki kota-kota pesisir

seperti Suriah dan Palestina, maka tidak bisa dihindari lagi bila

mereka mengalami kesulitan dalam membangun armada dan

mengerahkannya ke laur untuk menghadapi kaum Frank di wilayah

Mediterania. Dari semua wilayah-wilayah kaum muslim yang

punya akses mudah ke Mediterania timur sesudah  I I 10, hanya

Dinasti Fatimiyah yang tersisa, yang masih menguasai pelabuhan-

pelabuhan Mesir. Terus ke arah barat, Tirnisia telah menjadi titik

awal bagi penaklukan Sisilia dan bisa digunakan kembali untuk

mendirikan pos-pos perbatasan kaum muslim di berbagai pulau

untuk menghadapi kekuatan Eropa barat yang terus membesar di

Mediterania. namun , sekali lagi, rak satu pun yang menyadari

momen penting ekspansi Tentara Salib. Sulit untuk membantah

penilaian yang menyatakan bahwa kaum muslim membiarkan

Tentara Salib merebut keuntungan yang sangat strategis, dan hal

itu membuat kaum muslim harus berjuang keras selama dua

abad untuk merebut kembali kekalahan awal ini .

Sesekali pada abad kesebelas, kekuaran armada laut Mesir

mengalami kemunduran, dan sejak akhir dekade pertama abad

kedua belas, Dinasti Fatimiyah kelihatannya telah menarik diri

ke markas mereka sesudah  mereka mengalami beberapa  kekalahan

militer melawan kaum Frank. Terlepasnya pangkalan-pangkalan

yang menjadi tempat pasokan, seperti Acre dan Tirus, berakibat

serius bagi armada laut Fatimiyah dan mengganggu sisrem per-

ingatan maritim yang melindungi keamanan pantai Mesir.

Armada Fatimiyah dilaporkan melakukan beberapa kali aktivitas

sporadis pada 496 H./1103 M.,''u dan sekali lagi pada 516 H.l

ll22 M. Pada aktivitas yang kedua ini , iring-iringan empat

puluh kapal dayung yang dibuat di pangkalan militer di Kairo

bergerak menuju Jaffa untuk menjawab seruan permintaan bantuan

dari kaum muslim Suriah, dan dalam perjalanan pulang mereka

dihancurkan oleh kaum Frank.2r7 Sejarawan Mesir, Ibn Muyassar,

menyebutkan bahwa armada-armada Fatimiyah terus beroperasi

pada pertengahan abad kedua belas. Sebuah ekspedisi maritim

diluncurkan pada 546 H./1151 M. oleh wazir Fatimiyah, al-'Adil

ibn al-Sallaa ke pelabuhan-pelabuhan kawasan Mediterania timur,

yang rupanya dimaksudkan sebagai balasan atas penghancuran al-

Farama oleh kaum Frank setahun sebelumnya."t Thpi aksi ini 

merupakan contoh yang jarang terjadi tentang keberhasilan armada

laut Fatimiyah. Penulis sejarah di zaman itu, Ibn al-Qalinisi,

menggambarkan armada ini  'tangat kuat dan sangat banyak

jumlahnya dan peralatannya". Armada itu terdiri dari tujuh puluh

kapal perang dan "armada yang sangat besar yang tidak pernah

ada di tahun-tahun sebelumnyi'.2r'-) Mereka berhasil merebut

banyak kapal Bizantium dan kaum Frank di Jaffa dan melakukan

penghancuran di Acre, Tirus, Beirut, dan Thipoli. Namun ke-

mungkinan bahwa kaum muslim menyerang secara bersama-sama

lewat laut dan darat ddak pernah terjadi, sebab  Nfrruddin tidak

menepati janjinya, untuk mengirimkan bantuan.22o Maka, upaya-

upaya ini kelihatannya hanya kecil dampaknya.22l

sesudah  Ascalon, kota pesisir Suriah terakhir yang masih

dikuasai kaum muslim, jatuh ke tangan kaum Frank pada 1153,

Mesir kehilangan bentengnya yang terakhir yang biasa digunakan

untuk memberikan peringatan ke seluruh negeri tentang ke-

datangan kapal-kapal musuh. Terlepasnya Ascalon mengawali

periode saat terjadinya tekanan besar terhadap Mesir oleh Tentara

Salib, yang digambarkan dengan cukup lengkap oleh Ehrenkretttz.zzz

Serangan gabungan lewat laut dan darat kemudian terjadi, yang

mencapai puncaknya pada 1168, saat  Amalric menggemPur

Kairo habis-habisan. Kapal yang dimiliki armada Mesir lebih

sedikit dibandingkan kapal-kapal Tentara Salib (pada ll52 armada

Fatimiyah punya 70 lrcLpal perang), dan bahkan kapal-kapal mereka

ini  dibakar habis pada 1168 dalam penghancuran Fustat,

sebagai upaya untuk menghadang laju Tentara Salib. Dengan

begitu, pada dasarnya Saladin harus memulai dari rerunruhan

saat  mencoba membangun sebuah armada.

Kemungkinan lainnya juga yaitu  armada laur Mesir meng-

alami kemunduran sebab  Fatimiyah kesulitan untuk mendapatkan

bahan baku untuk pembuatan kapal-kapal baru pada abad kedua

belas. Pada akhirnya, kayu dari sumber yang paling murah, yaitu

yang berasal dari negara-negara Eropa di urara, menjadi bagian

dari sumber kekuatan perang sejak awal tntara Salib tiba di

Suriah Fatimiyah. Tak diragukan lagi, perdagangan tidak terhenti

sesudah  perang pecah. Hanya saja, bisa diperkirakan bila suplai

untuk kepentingan militer utama (termasuk kayu-kayu untuk

membuat kapal) kemudian menjadi agak sulit diperoleh dari

sumber-sumber di Eropa. Dukungan semangat dari para pendeta

bagi Perang Salib juga menjadi penghalang urama bagi para

pedagang Kristen Eropa yang berniat menjalin hubungan dagang

dengan para pedagang Fatimiyah.223

Kebijakan-Kebijahan Maritim Para Pemimpin Muslim

pada Periode 1100-1174

Mengapa pasukan muslim Sunni Suriah di bawah pimpinan Zengi

dan N0ruddin tidak berusaha merebut kota-kota pesisir dan

menghadapi kaum Frank di laut? Kelihatannya mereka juga

menghadapi situasi yang sulit, yaitu mereka harus memperkuat

kekuasaan mereka sendiri untuk menghadapi pesaing-pesaing politik

mereka dan mulai mempersatukan negara-negara penerus pasca-

Saljuk, yang muncul akibat pecahnya dan melemahnya Saljuk.

Di samping itu, semua pemimpin muslim yang memimpin dalam

Perang Salib awal-Il-Ghizi, Mawd0d, Ttrghtegin, Zengi, dan

bahkan N0ruddin-secara psikologis terikat pada asal mereka.

Mereka semua berasal dari wilayah-wilayah timur Sungai Eufrat

dan tidak punya cukup mudah untuk berpikir tentang masalah-

masalah kelautan. Kekurangan ini kelihatannya kemudian juga

menimpa Mamluk.

Merebut kembali pelabuhan-pelabuhan Suriah, bagaimanapun

juga, sungguh suatu tugas yang sulit, sebab  memerlukan tekad

dan sumber daya dan, idealnya, serangan yang tiada henti dari

darat dan laut. Kaum Frank biasanya segera memperkuat per-

Jalannya Pepenngan I 691

tahanan kota-kota pesisir begitu mereka berhasil merebutnya di

awal-awal abad kedua belas. sebab  itu, Saladin memandang

penting untuk membangun armada laut kaum muslim begitu dia

memperoleh akses ke laut sesudah  menaklukkan Mesir pada ll7l.

Namun keberhasilan upayanya ini hanya sedikit dan sementara

waktu saja.

Pandangan l{aum Muslim tentdng Armada-Armada Tentara salib

Para penulis sejarah muslim jelas kagum dan terkesan dengan

upaya perang armada laut Tentara Salib. Kekuatan kaum muslim

di darat terus menerus rerancarn oleh kekuatan kaum Frank di

lautJaut lepas. Contoh khusus serangan berani ini ditunjukkan

oleh Reynald dari Chatillon di Laut Merah pada 1191. Memang,

kebencian yang ditunjukkan oleh sumber-sumber muslim dalam

menggambarkan ekspedisi ini-tentu saja sebab  tujuan uramanya

yaitu  menyerang makam-makam suci Islam-juga sebab  berdasar

atas fakta bahwa ekspedisi itu lewat laut dan sama sekali tidak

diduga. Bagi kaum muslim, peristiwa itu seluruhnya bukan hanya

sekadar sebentuk serangan militer tnrara Salib. Peristiwa itu jahat,

kriminal, dan licik.

'Imiduddin menggambarkan dengan lengkap armada Sisilia

yang menyerang Aleksandria pada 569 H.lll74 M.: 'hrmada

pertama tiba pada siang hari dan terus berdatangan dengan sangar

cepae24 sampai malam hari."

Armada ini yaitu  armada kaum Frank yang terkenal yang,

menurut'ImAduddin, telah mengancam pulau-pulau milik Bizantium.

'Imiduddin kemudian mencatat jumlah dan jenis kapal-kapal

ini :

Mereka menurunkan kuda-kuda mereka dari kapal-kapal peng-

angkut dan infantri mereka dari kapal-kapal penumpang. Kuda

mereka berjumlah 1.500 ekor dan para prajuritnya, termasuk

kavaleri dan infantri, berjumlah 30.000 personel. Kapal-kapal

pengangkut yang membawa kuda berjumlah 36 buah. Kapal-kapal

itu membawa serra 200 kapal dayung, yang masing-masing berisi

150 prajurit infantri. Ada enam kapal yang membawa senjata

perang dan penyerang, yang terbuat dari potongan-potongan kayu

besar dan bahan-bahan lainnya. Jumlah kapal yang membawa

perbekalan dan prajurit mencapai 40 kapal, yang di dalamnya

692 \ _______________

berisi pengawal-pengawal kuda kerajaan, para perawat kuda, para

pembuat kapal, menara-menara, mesin-mesin penyerang dan

mangonel, yang jumlahnya mencapai 50.000 orang.22t

Kapal dari berbagai jenis yang terdaftar di dalam armada

Sisilia ini menurut Ab0 Syimah seluruhnya berjumlah 282 kapd,.

Sekalipun angka ini terlalu dibesar-besarkan, bukti-bukti dari

Usimah jelas menunjukkan canggihnya armada ini, besarnya

operasi ini , dan beragam kapal yang digunakan.

Sumber-sumber muslim juga tidak luput mencatat kekalahan

menakutkan kaum muslim di laut sebab  keunggulan keahlian

maritim kaum Frank. Ibn Syaddid menceritakan tenggelamnya

sebuah kapal muslim sesudah  kedatangan Richard dari Inggris pada

587 H.lllgl M. Menurutnya, Richard datang disertai dengan

25 kapal dayung, yang penuh dengan prajurit, senjata, dan

perbekalan. Ibn Syaddid kemudian menjelaskan insiden itu dengan

lengkap, yang di antaranya termasuk perang laut, sekalipun sayang

dia tidak membahas teknik pertempuran sebenarnya yang di-

gunakan di laut. Dalam laporannya, tidak ada penjelasan tentang

praktik perang di laut-bagaimana kapal-kapal ini  sebenarnya

digerakkan dengan layar atau dengan para budak-dan tidak ada

keterangan tentang bagaimana menyerang atau naik ke atas kapal-

kapal musuh dan jalannya pertempuran jarak dekat.

Pada 16 Jumadilawal, sebuah kapal besar (bu*a) tiba dari

Beirut. Kapal itu penuh dengan mesin-mesin perang, senjata,

perbekalan, prajurit pe,ialan kaki dan prajurit-prajurit tempur. Sultan

[Saladin] memerintahkan agar kapal itu dimuati dan dikirim dari

Beirut. Di dalam kapal itu, Saladin telah menempatkan prajurit


dalam jumlah sangar banyak sehingga bisa memasuki ko." rersebut

[Acre] sekalipun ada musuh. Prajurit rempur ini  berjumlah

650 orang. Raja [Inggris] itu mencegarnya dengan beberapa kapal,

yang jumlahnya, menururnya, empat puluh kapal. Mereka me-

ngepung kapal itu dari semua sisi dan menyerang kapal itu dengan

ganas. Angin pun berhenti bertiup. Mereka berrempur sengit dan

banyak musuh yang tewas. L^alu kapal dayung musuh meningkatkan

serangan mereka terhadap orang-orang di kapal ini . pemimpin

mereka [di kapal itu] yaitu  orang yang sangat pintar, berani, dan

berpengalaman dalam perang. Namanya Ya'kub, seorang warga asli

Aleppo. saat  dia melihat tanda-tanda kemenangan [kaum Frank],

dia melubangi kapal dan semua orang yang ada di dalamnya rerserer

arus, bersama dengan semua mesin perang, perbekalan, dan benda-

benda lain, sehingga musuh tidak memperoleh apa-apa.226

Yang menarik untuk dicatat yaitu  sekalipun Ibn Syaddid

mencatat bencana ini dengan cukup lengkap, meski dengan gigi

bergemeretak, dia agak memperlunak pukulan ini  dengan

menyatakan bahwa setidaknya kaum Frank tidak berhasil mem-

peroleh barang-barang rampasan dari kapal itu. Ibn Syaddid

melanjutkan kisahnya dengan menceritakan tenrang dibakarnya

dabbada kaum Frank oleh kaum muslim. Ini menunjukkan bahwa

apa yang bisa dilakukan oleh kaum Frank dengan baik di laut,

juga bisa dilakukan dengan baik oleh kaum muslim di darat.

Sikap ini kemudian benar-benar ditunjukkan oleh Mamluk. Ke-

bangkitan armada kaum Frank yang mengagumkan telah men-

dorong kaum muslim untuk membangun peftahanan guna me-

lindungi wilayah-wilayah kawasan Mediterania timur, sekalipun

keterangan yang tepat jar.aLng ditemukan di dalam sumber-sumber

ini . Pada awal abad ketiga belas, sultan Saljuk, 'Ali'uddin

Kayqubid membangun sebuah instalasi laut untuk membangun

kapal dengan perlindungan benteng-benteng raksasa yang di-

dirikannya di Pelabuhan Alanya di barat daya pantai Tirrki. Pintu

gerbang pelabuhan-pelabuhan penting kaum muslim biasanya

drjaga dengan rantai besi. Pelabuhan Damietta dilindungi dari

serangan laut pada tahun 1 180-an dengan dua menara dan sebuah

rantai (silsikh).227Pada abad keempat belas, al-Dimisyqi menyebut-

kan sebuah rantai besi yang melindungi Ladzaqiyyah, "pelabuhan

yang sangat besar dan luas" dari kapal-kapal musuh.228

Saladin dnn Armada Laut

Pada 7955, Ehrenkeutz menulis sebuah artikel yang sangat lengkap

tentang Saladin dan armada laut. Dalam tulisannya itu, Ehrenkeutz

mencatat tahap -tahap  yang dijalani Saladin untuk menyerang Tentara

Salib di laut. Ehrenkeutz dengan tepat menunjuk peranan Saladin

dalam sejarah armada laut Mesir sebab , pada akhirnya, hampir

seluruh laporan tentang pertempuran yang dia gunakan me-

nekankan pada apa yang dilakukan Saladin di darat.

Perlu ditegaskan bahwa Saladin yaitu  pemimpin muslim

pertama dalam Perang Salib yang berperang di laut. Akan namun ,

sebab  agenda merebut kembali pelabuhan-pelabuhan Suriah pada

periode sekitar tahun 1130-1160 kelihatannya merupakan tugas

yang mustahil akibat perebutan kekuasaan internal di antara

pemimpin muslim di seluruh wilayah, dan mengingat keacuhan

dan ketidakmampuan Fatimiyah, maka hanya dengan keberhasil-

annya merebut Mesir, Saladin telah dinobatkan sebagai pemimpin

muslim pertama dalam Perang Salib yang benar-benar mamPu

menyerang Tentara Salib dari laut. Mesir, seperti telah disebutkan,

merupakan kunci perkembangan armada muslim, mengingat garis

pantai Suriah terus menerus diduduki oleh Tentara Salib.

Pada 1169, saat  Saladin merebut kekuasaan di Mesir'

sumber daya armada laut sangat sedikit. namun  pengalaman se-

Jalannya Pepertngan I 695

belumnya di Mesir telah menunjukkannya bahwa Tentara sarib

harus diatasi di laut serta di darat. Saladin memulai dengan baik.

Dalam kunjungannya ke Aleksandria pada Maret rt77 Saladin

memerintahkan pembangunan sebuah armada. Dia membangun

kembali gudang senjatazze di Aleksandria dan menaikkan gqi para

pelaut sekitar 20 persen, kemungkinan untuk menarik orang agar

memasuki pekerjaan yang tidak populer ini. Menurut Ibn Abi

Thayyr', kondisi kapal-kapal Mesir sangat buruk untuk diperbaiki.

sebab  itu, Saladin mulai mencari bahan-bahan dan tukang-tukang

yang dibutuhkan untuk membangun kembali sebuah armada.2so

Mengingat hal ini, Saladin membuat perjanjian dagang dengan

negara-negara kota maritim Italia dan mereka mulai mengiriminya

kayu, besi, dan lilin. Meskipun sebenarnya kota-kota inilah yang

pertama mengirimkan armada-armada Tenrara Salib untuk me-

nyerang kaum muslim, pedagang-pedagang Italia jelas tidak ter-

pengaruh oleh masalah agama untuk menjual peralatan-peralatan

perang kepada kaum muslim, musuh mereka. Bisnis yaitu  bisnis.

Peranan penting armada laut bagi Saladin ditegaskan oleh

kesaksian sultan Ayyubiyah, al-Malik al-Shilih Ayy.rb, seperti

dicatat oleh al-Nuwayri. Dalam sepucuk surat "yang ditulisnya

sendiri"-keterangan ini berisi nasihat yang sangar serius dan kuat

yang dimuat di dalam surat ini -saladin menganjurkan agar

pqak (khara) al-Fayyum, Samannud, dan Shhil, harus dialokasikan

untuk armada ini : "sebab  armada itu yaitu  salah satu

sayap Islam. sebab  itu para pelaut harus diberi makan dengan

baik.'23r

Lebih jauh surat itu mengatakan bila para pelaut mendapat

gaji tetap secara reratu! orang-orang akan mendaftar. Orang-orang

yang cakap yang bisa menembak dan bertempur akan berdatangan

dari semua tempat. Kesaksian ini dengan jelas menunjukkan bahwa

sebelumnya para pelaur tidak mendapat makanan dan gaji yang

tetap dan hanya prajurir dengan keterampilan rempur biasa saja

yang mendaftar masuk armada laut Mesir, setidaknya pada periode

sebelum Saladin berkuasa.

Pada musim semi 1L79, armada Mesir memiliki delapan

puluh kapal----<nam puluh kapal dayung dan dua puluh kapal

angkut--dan dengan demikian armada laut kembali seperti pada

masa kegemilangan Fatimiyah. Sekalipun demikian, kekuatan

696 \ _______________

armada ini masih kecil bila dibandingkan dengan kekuatan armada

kaum Frank Sisilia seperti yang telah digambarkan. Lima puluh

kapal Saladin digunakan untuk melindungi pantai Mesir dan tiga

puluh sisanya untuk menyerang Tentara Salib. Pada 1179, armada

Mesir ini  menyerang Acre, merebut semua kapal musuh,

dan kaum muslim kelihatannya telah siap untuk menantang

Tentara Salib di laut. Seperti dikatakan oleh Ab0 Syimah: "Armada

kami, yang dulu dihancurkan, kini telah menjadi penghancur

musuh ... Armada kaum muslim sebelumnya tidak pernah meraih

kemenangan seperti ini.Dz3z Pada tahun-tahun berikutnya, pada

1180, Saladin mendirikan dituln al-ustul, sebuah departemen

terpisah untuk membiaya armada laut.

Namun, minimnya pengalaman Saladin dalam menangani

operasi militer di laut terlihat pada 578 H./1182 M., saat 

Saladin gagal menyerang Beirut. Dalam pertempuran ini Saladin

mencoba angkatan laut dalam operasi gabungan darat dan laut

untuk menyerang Beirut. Saladin memblokade pelabuhan ini 

sebulan lamanya, namun saat  33 kapal dayung Tentara Salib

muncul, Saladin menghentikan blokade ini  dan kembali ke

Damaskus. Operasi ini  gagal sebab  Saladin tidak bisa menye-

imbangkan armada lautnya dengan pasukan daratnya. Saladin

bukannya menyerang serentak lewat darat dan laut, namun  malah

mengirim angkatan laut lebih dahulu. namun , yang terutama sekali,

kegagalan operasi ke Beirut ini yaitu  sebab  ketidakmampuan

dan keengganan armada laut Saladin untuk menyerang armada

Tentara Salib. Para panglima armada laut Saladin tidak punya

nyali dan kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan per-

tempuran laut. Bahkan saat  kekuatan kedua armada laut itu

sebenarnya seimbang.233 Barangkali mereka gentar akibat tekanan

psikologis dari Tentara Salib yang selama hampir seabad tiada

tandingannya di laut.

Pada I 187, tahun kegemilangan Saladin, Saladin melancarkan

serangan besar-besaran ke pelabuhan-pelabuhan kawasan Mediterania

timur yang dikuasai kaum Frank. saat  itu kaum Frank me-

nguasai garis pantai sepanjang 350 mil, termasuk Ascalon, Jaffa,

Acre, Tirus, Sidon, Beirut, J,rb"yl, dna Latakia. Usai kemenang-

annya di Hattin pada tahun yang sama, Saladin dan para panglima-

nya merebut kembali banyak pelabuhan, mulai dari fucalon hingga

J"b"yl. Namun pemempurannya di Tirus, pangkalan Tentara Salib

yang paling penting, terbukti menjadi bencana. pada akhir 11g7,

saladin menyerang kota ini  lewat darat dan dia memerintah-

kan armadanya di Acre agar meninggalkan pelabuhan rersebut

dan melakukan blokade armada laut, untuk mencegah Tentara

Salib yang bertahan di Tirus melarikan diri ke laut. Namun

kapal-kapal muslim secara mengejutkan diserang pada 30 Desember

oleh kapal-kapal perang Tentara Salib. Lima kapal direbut. Saladin

segera memerintahkan lima kapal sisanya untuk menghentikan

blokade ini  dan menuju ke Beirut. Nasib buruk terus ber-

lanjut. Beberapa kapal dayung Tentara Salib mengikuti kelima

kapal yang tengah mundur itu. Awak kapal kaum muslim me-

ninggalkan kapal-kapal tesebut dan berenang ke pantai.

Peristiwa ini merupakan kejadian yang memalukan dan men-

jadi pukulan serius bagi citra Saladin. Hilangnya lima kapal

pertama terjadi sebab  tidak adanya keberanian, sementara lima

kapal kedua sebab  sikap pengecut para pelaut. Sebagaimana

dikatakan oleh'Imiduddin:

Insiden ini menunjukkan bahwa armada laut Mesir ... tak

dapat memiliki sumber daya manusia yan1 sesuai. Malahan, mereka

harus memanggil orang-orang bodoh, yang tidak punya keteram-

pilan atau pengalaman, atau rradisi bertempur, sehingga setiap kali

mereka menghadapi bahaya, mereka ketakutan, dan saat  mereka

harus patuh, mereka melanggarnya.23a

Pasukan darat kaum muslim di Tirus hancur total akibat

kekalahan di laut itu, dan pasukan Saladin mundur.

Dengan demikian Saladin kelihatannya tetap memandang

remeh kekuatan armada laut Tentara Salib. Hal ini sangat terlihat

jelas di Acre sepanjang tahun l189-1191 sebelum kota itu jatuh

ke tangan Richard si Hati Singa dan Philip II dari Prancis pada

Juli 1191. Pada saat dimulainya Perang Salib Ketiga, paling sedikit

ada 552 kapal yang memblokade Acre-'Imiduddin menulis

bahwa kapal-kapal itu mengubah pantai rersebut "menjadi hutan

tiang layar".23t Kedatangan Tentara Salib dengan kekuatan seperri

itu menghancurkan ambisi Saladin di laut. Memang, di akhir

Perang Salib Ketiga, kaum Frank telah menegaskan kekuasaan

mereka atas pelabuhan-pelabuhan kawasan Mediterania rimur,

mulai dari Tirus hingga Jaffa.

Penihian tentang Strategi Armadn Laut Sakdin

Singkatnya, Saladin telah melakukan usaha yang berani meski

akhirnya gagal untuk memasuki pertempuran maritim melawan

musuh yang jauh lebih berpengdaman. saat  mendapar tekanan

sesungguhnya di Tirus, Saladin menunjukkan kekurangannya

dalam keahlian taktik armada laut. Keberhasilan perrama armada

lautnya yaitu  keberhasilan seorang debutan yang menjanjikan.

namun  dalam tes yang sesungguhnya pada Perang Salib Ketiga,

Saladin tidak bisa mengatasinya. Sekalipun banyak penulis sejarah

muslim yang mencoba menutup-nutupi kegagalan itu dan me-

nunjukkan sisi-sisi yang menyenangkan, keberhasilan yang diraih

kaum muslim itu hanyalah masa-masa singkat saja-berbeda

dengan gambaran tentang keunggulan maritim Tentara Salib.

Upaya Saladin di bidang armada laut mirip dengan upaya

Napoleon yang aktivitasnya di lautan sangat kalah efektif di-

bandingkan di daratan. Saladin sadar akan pentingnya menyerang

para Tentara Salib dari laut dan perlunya merencanakan serangan

serentak lewat laut dan darat. namun  Saladin tidak berpengalaman,

tidak punya penasihat-penasihat armada laut yang cakap, dan

hanya bekerja setengah-setengah dalam masalah ini. Berhadapan

dengan pengetahuan kelautan dan sumber daya negara-negara

maritim Eropa yang semakin meningkat, pasukan armada laut

mereka yang jauh lebih besar jumlahnya, dan sikap mereka yang

lebih berani di laut, Saladin dipastikan akan kalah.

Ibn Khaldtrn sangat menyadari keunggulan armada laut Ten-

tara Salib pada masa Saladin:

saat  ShalAhuddin lSaladin] Yfrsuf ibn Ayyfib, penguasa Mesir

dan Suriah saat ini, memutuskan akan merebut kembali pelabuhan-

pelabuhan Suriah dari bangsa-bangsa Kristen ... armada orang-

orang kafir daang susul-menyusul untuk membantu pelabuhan-

pelabuhan ini , dari seluruh kawasan di sekitar Yerusalem yang

mereka kuasai. Mereka mendukungnya dengan peralatan dan ma-

kanan. fumada Aleksandria tidak bisa berahan menghadapi mereka.


Pernyataan ini menjelaskan bahwa kota-kota Tentara Salib

mempertahankan pasukan armada laut yang mereka gunakan

untuk saling memperkuat bila terjadi krisis. sebab  itu, masalahnya

bukan sekadar kekalahan armada muslim dari pasukan yang jauh

lebih besar dan datang langsung dari Eropa. Direbutnya pe-

labuhan-pelabuhan kawasan Mediterania timur di awal penyerang-

an para Tentara Salib berarti bahwa para pemimpin pasukan

muslim tidak bisa saling memberikan dukungan bersama di laut.

Dengan melihat apa yeng sudah terjadi, orang mungkin

bertanya-tanya apa yang seharusnya dilakukan Saladin untuk

menghadapi Tentara Salib di laut. Yang pasti, untuk kota-kota

pesisir Suriah, yang dibentengi dengan sangat baik oleh Tentara

Salib dari awal abad kedua belas, Saladin akan berhasil bila

menerapkan care yang sama seperti yang dilakukan oleh Mamluk

seratus tahun atau lebih kemudian, dan bila mencoba untuk

menguasai pelabuhan-pelabuhan Suriah saru per satu dan ke-

mudian menghancurkannya hingga rata dengan tanah. Bagaimana-

pun juga, pada masa Saladin, harus dikatakan bahwa kekuatan

Tentara Salib dan kaum muslim sering kali imbang, sebagaimana

ditunjukkan oleh hampir saru-satunya kegagalan Saladin untuk

mengusir Tentara Salib semuanya serelah Hattin. Pada masa

Mamluk, kaum muslim memegang kendali kekuasaan.

Ehrenkreutz menggambarkan Saladin sebagai penguasa Mesir

Abad Pertengahan terakhir yang mencoba membangun kembali

kekuatan armada la:utnya337 Di bawah kepemimpinannya, armada-

armada Mesir melakukan upaya terakhir untuk memperebutkan

dominasi militer mereka di Mediterania timur. Seperti ditulis oleh

al-Maqrizi: "sesudah  meninggalnya Saladin, armada-armada ini 

kurang begitu diperhatikan Menjadi prajurit armada laut

dianggap sebagai sesuatu yang sangat memalukan, sehingga me-

manggil seorang Mesir dengan kata-kata "Hai pelaut" dianggap

sebagai sebuah penghinaan."238

Armada Laut pada Periode Mamluh

Sultan-sultan Mamluk di Mesir tahu pasti cara membuat kapal.

Dan al-Maqrizi menunjuk pada aktivitas di bidang ini yang terus

berlanjut. namun , pengetahuan ini tidak dimanfaatkan dengan

sebaik-baiknya dalam upaya-upaya militer mereka melawan kaum

Frank. Keadaan dan kemampuan armada laut Mamluk sebagai

sebuah kekuatan rempur melemah dengan digunakanny^ pare

budak dan rahanan perang untuk mengemudikan armada ini .

Tidak satu pun kamus biografi Mamluk berisi entri rentang

prajurit armada laut.tse Penulis sejarah Ibn 'Abd al-Zhihir mengecam

Sultan al-Mu'azhzham TirrinsyAh sebab  selama berlangsungnya

krisis yang dipicu oleh operasi militer St. Louis, Tirrinsyih tidak

mengendarai kuda ke medan tempur namun  "naik perahu seperti

seorang penonton".2ao Dalam suatu warga  militer, di mana

kuda memegang peranan sangat penting, barangkali bisa diduga

bila sultan-sultan Mamluk memiliki pandangan yang kurang baik

terhadap lautan.

Baybars dan Armada Laut

Ehrenkreutz kelihatannya telah lalai dengan sama sekali tidak

memasukkan kontribusi Sultan Baybars di laut. Kesimpulan ini

bisa ditarik dari pernyataannya bahwa di bawah kepemimpinan

Saladin, armada-armada Mesir melakukan upaya terakhir untuk

menjadi kekuatan dominan di kawasan Mediterania.2ar Seperti

halnya Mamluk, Baybars juga tidak percaya dan membenci lautan.

namun  Baybars juga seorang ahli strategi yang terlalu lihai untuk

mengabaikan armada laut Mamluk secara keseluruhan. Memang,

pada masa kekuasaannya, armada Mamluk setidaknya disebutkan

memainkan beberapa  peran dalam beberapa peristiwa militer,

sekalipun masih belum jelas sampai seberapa penting sebenarnya

peranan ini . Orang mempertanyakan seberapa besar kekuatan

armada itu sebenarnya, berapa banyak uang yang dihabiskan

Baybars sebenarnya untuk membangun armada ini , dan

bagaimana dia berharap armada ini  beroperasi dengan benar

tanpa prajurit dan pelaut yang terlatih. Kemungkinan, yang

sebenarnya, armada laut tidak berkembang hingga pada zaman

Saladin.

Pada 668 H.ll27O M. Baybars mendengar kabar tentang

para Tentara Salib yang dipimpin oleh Louis IX tengah mendekat,

dan Baybars segera menyiagakan kota-kota pesisir dan armadanya.

Banyak yang melaporkan bahwa Baybars telah memerintahkan

armadanya untuk menyerang Siprus pada 669 H.ll27l M. Me-

nurut sumber-sumber berbahasa Arab, serangan ini merupakan


taktik pengalih perhatian yang dimaksudkan unruk membuar

Hugh dari Lusignan menjauh dari Acre. Untuk menipu musuhnya,

kapal-kapal dayung Mamluk dicat hitam seperri kapal-kapal Ten-

tara Salib dan mengibarkan bendera berlambang Salib. Seluruh

upaya ini  benar-benar menjadi bencana. Sepanjang malam,

sebagian besar kapal Baybars dihempaskan oleh angin yang kuat

ke karang di lepas panrai Limassol dan terdampar. Sekitar 1.800

awak kapal dan prajurir ditahan.2a2

sesudah  armada Baybars ini hancur, Hugh dengan penuh

kemenangan menulis sepucuk surat ejekan kepada sultan untuk

mengabarkan bencana ini . Respons Baybars dicatat oleh al-

Ayni, dengan mengutip Baybars al-Manshriri:

yaitu  sangar luar biasa bila Anda [Hugh] lebih menghargai

untuk merebut besi dan kayu daripada merebut benteng-benteng

pertahanan. Kemenangan yang diberikan oleh angin bukan ke-

menangan yang indah. Hanya kemenangan dengan pedanglah yang

indah. Kami bisa membuat banyak kapal dalam sehari, semenrara

tidak satu pun benteng yang bisa didirikan untuk Anda. Kami

bisa menyiapkan ratusan layar, sementara tidak saru pun benteng

yang bisa disiapkan oleh Anda dalam wakru seratus tahun. Siapapun

yang diberi sebuah dayung maka dia bisa mendayung, terapi tidak

semua orang yang diberi pedang bisa memakai nya dengan

sangat baik untuk memenggal dan menusuk.2a3

Kurang diperhatikannya keahlian membuat kapal, seperti

tergambar dalam kutipan ini, bisa menjadi penyebab tenggelamnya

kapal-kapal Mamluk. Baybars terus membuat perbedaan yang

terkenal antara kekuaran dunia Islam dan kekuatan kaum Frank:

"Bagi Anda, kuda-kuda Anda yaitu  kapal. Bagi kami, kapal-

kapal kami yaitu  kuda.'244

Baybars hidup dalam suatu warga  yang sangat meng-

agungkan keahlian berkuda. Sikap mengejek yang ditunjukkan

Baybars ini, yang diprovokasi oleh Hugh dan oleh keinginan

untuk memberikan pembalasan setimpal dalam perang kata-kata

lewat surat, bagaimanapun juga menunjukkan sikap Baybars dan

juga Mamluk. Di satu sisi, surat iru benar-benar menunjukkan

tidak adanya rasionalitas tentang waktu yang dibutuhkan untuk

membuat kapal-kapal yang kuar dxn 62n-tidak memedulikan

soal pengoperasiannya-serta pandangan negarif yang jelas terhadap

perang maririm, dan soal pertempuran konvensional di darat dan

perebutan benteng-benreng yang ada di darat. Peristiwa di Siprus

juga menunjukkan bahwa Baybars tidak memiliki pakar armada

laut yang bisa diandalkan.

Sumber ini  menceritakan bahwa saat  mendengar kabar

tentang bencana ini , Baybars bersyukur sebab  Allah Swt.


telah memberinya hukuman kecil

akhirnya, dikemudikan hanya oleh

biasa.2a5

seperti itu. Kapal-kapalnya,

para petani dan orang-orang

Serangan Ahhir Mamluh terhadap Tbntara Salib

Bisa diperkirakan, pada akhirnya Mamluk tidak mengusir Tenrara

Salib terakhir di kawasan Mediterania timur dengan memerangi

mereka ls\Mx1 l2us-meski sebagian. Sebaliknya, mereka meng-

hancurkan benteng-benteng Tentara salib di sepanjang garis pantai

suriah dan Palestina. saladin memulai kebijakan ini dengan

menghancurkan Ascalon pada 587 H.lllgl M. Mamluk juga

mengikutinya dengan menghancurkan satu per satu benteng-

benteng dan kubu pertahanan daerah pesisir suriah-palestina. Hasil

penghancuran itu tampak sangat jelas di kawasan anrara Sidon

dan al-'Arisy. selanjutnya, garis pantai Suriah-palestina ditinggalkan.

Kemudian, Mamluk hanya akan berkonsenrrasi untuk mem-

bentengi delta Sungai Nil. Pelabuhan-pelabuhan Mesir dan kubu-

kubu pertahanan pesisir dipertahankan, baik untuk mempertahan-

kan Kairo dengan konsentrasi utama pada pasukan Mamluk dan

juga mendorong kelangsungan aktivitas perdagangan dengan dunia

luar.2a6

Hubungan Armada Laut dan Penyerangan pada periode Mamluk

Dimensi penting dari diabaikannya laut oleh Mamluk yaitu 

dampak akhirnya pada pengepungan yang mereka lakukan. Dari

semua serangan mereka terhadap kaum Frank, tidak satu pun

ada  contoh serangan yang dilakukan serentak lewar darat

dan laut. Seperti dikatakan Ayalon, semua serangan Mamluk di

sepanjang pantai ini  dilakukan "nyaris seakan-akan armada

Mamluk tidak ada sama sekali".z47 Cac t srrategis yang penting

di pihak Mamluk ini berarti bahwa mereka hanya bisa melakukan

investasi sebagian pada benteng-benteng yang menghadap ke laut,

dan-masih lebih buruk lagi-mereka memberi kesempatan kepada

pihak yang dikepung unruk mendapat bantuan dan kemudian

menyelamatkan diri lewat laur. Hal seperti ini terjadi saat pe-

nyerangan Acre pada 690 H.ll291 M., saat  sebuah kapal kaum

Frank yang dibuat khusus anti-api siap menyerang kaum muslim.2as

Bahkan kehadiran kapal perang Mamluk ridak bisa menghentikan

704 \ _______________

kaum Frank untuk mengevakuasi para pengungsi dan membawa

mereka ke pelabuhan-pelabuhan yang masih dalam kekuasaan

kaum Frank dan mengirimkan bantuan kepada pasukan yang

tengah diserang.2ae Armada laut Mamluk, dengan kata lain, benar-

benar tidak cukup kuat untuk mencegah kaum Frank mendarat

hampir di setiap pelabuhan yang mereka kehendaki di pesisir

pantai Suriah-Palestina.

Kaum muslim sangat sulit untuk merebut atau menghancur-

kan benteng-benteng kaum Frank di pantai. Bahkan, lebih sulit

lagi bagi mereka untuk merebut pulau-pulau di lepas garis pantai

Suriah, seperti Arwid, yang telah dibentengi oleh kaum Frank.

Benteng Maraqiyyah yaitu  contoh yang jelas. Benteng yang

berdiri di laut "dengan jarak dua tembakan panah dari pantai"

itu yaitu  benteng dengan perrahanan yang kuar. Menurur penulis

biografinya, Ibn 'Abd al-Zhi.hir, sultan Mamluk Qalaw0n menyata-

kan bahwa mustahil menyerang Maraqiyyah sebab : "Benreng itu

terletak di laut, dan sebab  kaum muslim tidak punya kapal

untuk memutus suplai perbekalan mereka dan menghentikan

kapal-kapal yang akan masuk arau meninggalkan benteng itu.D250

Pulau St. Thomas di seberang tipoli berhasil direbut oleh

Mamluk, bukan sebab  kemampuannya mencapai pulau itu dengan

perahu, namun  sebab  kondisi air laut yang waktu itu sedang

surut sehingga menguntungkan mereka. Menurut Ibn al-Furrat,

itu memang merupakan nasib baik kaum muslim yang akan selalu

didapatkan, sebab  dengan surutnya air laut mereka bisa menye-

berang ke St. Thomas dengan berjalan kaki dan berkuda dan

merebut pemukiman kaum Frank.25r

Contoh khusus tentang lemahnya respons Mamluk rerhadap

laut terjadi pada 702 H.ll302 M. saat  mereka merebut Arwid,

yang, seperti dikatakan Ayalon,252 yaitu  satu-satunya benteng

kaum Frank yang direbut lewat operasi laut, dengan melibatkan

kapal-kapal perang Mesir dan pasukan dari Tiipoli.2t3 Ini terjadi,

tentu saja, sekitar satu dekade sesudah  kejatuhan Acre, saat  moral

Mamluk untuk melawan para Tentara Salib sedang tinggi-tingginya.

Armada Laut l(aum Muslim dahm Dunia Cerita Rakyat

Dalam dunia fantasi yang berkaitan dengan cerita-cerita ralryat,

armada laut kaum muslim mendapat catatan yang menyenangkan.

Dalam kisah-kisah ini, jelas kaum muslim lebih unggul dari orang-

orang Eropa barat dalam masalah kelautan. Di sini, dalam dunia

cerita di pojok jalan atau tempar perkemahan, kaum muslim

unggul baik di darat maupun di laut. Seperti dikatakan oleh

Lyon, kisah-kisah laut dalam dunia cerita rakyat semara-mata

yaitu  penceritaan kembali dalam lingkungan yang berbeda,

dengan taktik yang sarna, seperti taktik yang digunakan di darat.254

Dalam Sirat Baybarr, ada  laporan yang sangar lengkap renrang

perang "darat" yang berlangsung di laut. Baybars dan sekutunya,

'Arnus, berlayar dari Aleksandria untuk memerangi armada Catalan

yang terdiri dari empat ratus kapal.255 Catalan, penring untuk

dicatat, terkejut melihat kapal-kapal muslim yang telah siap dalam

formasi tempur, seperti mereka, sebab  yang mereka ketahui

"mereka [kaum muslim] ddak tahu apa-apa tentang perang laut".

Kisah itu kemudian menceritakan bentuk pertempuran ma-

nusia unggul Abad Pertengahan: sesudah  pertempuran berjalan

empat puluh hari, 'Arnus menghancurkan separuh armada Catalan

(yaitu, 200 kapal) sendirian. Pemimpin Catalan itu segera menyerang

kaum muslim dalam duel armada laut. Dengan mengenakan

pakaian yang terbuat dari kulit ikan hitam, pemimpin Catalan

itu menempuh gelombang dengan perahu yang terbuat dari "kayu

India, dan dilapisi dengan besi Cina". Dia membawa sebotol nafi

dan ada tiga kanon di dalam perahu itu. Sementara pahlawan

kaum muslim yang pemberani, Abfi Bakr, dia mengenakan kulit

ikan putih dan naik perahu "yang rerbuat dari papan oak, berlapis

kuningan dan dilengkapi dengan sebuah menara".256 AbCr Bakr

menenggelamkan kapal musuh dengan satu kanonnya, membunuh

musuhnya di dalam air, dan kemudian menenggelamkan lima

puluh kapal lagi malam itu dengan melubangi kayu-kayu kapal

itu.257 Dengan demikian, dalam dunia cerita, setidaknya, kaum

muslim memimpikan keberhasilan luar biasa tentang keunggulan

armada laut atas Eropa.

namun , kisah-kisah Abad Pertengahan ini  juga banyak

memuat keterangan-keterangan kecil tentang pelayaran dan kapal-

kapal yang berasal dari kehidupan nyata: penggunaan nafi, pengait-

pengait untuk masuk ke kapal, rantai untuk mencegah kapal

masuk ke dalam pelabuhan, dan kapal-kapal yang saling ber-

benturan.258 Dari kisah-kisah ini, yang dapat digarisbawahi yaitu 

706 \ _______________

bahwa ada  kekurangsukaan terhadap laut. Sebaliknya, para

pencerita tidak sabar untuk segera mengembalikan pahlawan-

pahlawan mereka ke daratan kering secepatnya.25e

Aspeh-Aspek Kelautan dakm Konflih Muslim-Pasuhan Salib:

Tinjauan Umum

Dari perspektif kaum muslim, dimensi maritim dalam sejarah

Perang Salib, sayangnya, diabaikan-meskipun dimensi maritim

mungkin merupakan faktor utarna yang membuat kehadiran kaum

Frank di wilayah muslim berlangsung lama. Jelaslah bahwa sean-

dainya saja kaum muslim menangani masalah tersebur dengan

cepat dan tegas, Perang Salib akan berakhir jauh lebih cepat.

Selama periode Perang Salib, tidak diragukan lagi bila kaum Eropa

Kristen menikmati keunggulan di Mediterania tanpa disaingi,

dengan dampak yang menyedihkan bagi kaum muslim. Mesir,

khususnya, kehilangan kekuatannya di laut.

Telah ditunjukkan bahwa pada periode sebelum Saladin, para

pemimpin muslim di Suriah tidak mengatasi masalah yang sangat

penting, yaitu kedatangan Tentara Salib yang tiada henti dari

Eropa lewat lautan dan hal yang semakin mendesak unruk merebut

kembali pelabuhan-pelabuhan Suriah. Apalagi, Dinasti Fatimiyah,

yang memang punya akses ke laut, tidak memanfaatkan ke-

untungannya ini  untuk menyerang Tentara Salib dengan

armada lautnya. Seperti dikatakan oleh Goitein: "Dengan memiliki

satu pelabuhan laut yang telah dibentengi, kaum Kristen bisa

melancarkan Perang Salib dan kembali menjadi kekuatan yang

harus diperhitungkan di kawasan Mediterania timur.'260

Yang pasti, upaya-upaya Saladin lebih dihargai dibandingkan

Baybars. Dari sumber-sumber ini  terlihat determinasi Saladin

yang sesungguhnya untuk menyerang Tentara Salib lewat laut.

Namun demikian, yang jelas, dia terhalang sebab  tidak memiliki

para prajurit yang terlatih dan ahli strategi dan taktik. Sedangkan

tentang Baybars, di balik retorika dalam sumber-sumber itu,

terlihat bila dia benar-benar memberi perhatian pada masalah

kelautan, sekalipun efeknya sangat kecil. Strategi berbasis darat

untuk menyerang benteng-benteng pesisir hingga rata dengan tanah

jauh lebih cocok bagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan

militernya. namun , meskipun kaum muslim semakin mendominasi

daerah pedalaman, Tentara Salib masih bisa mengirimkan bala-

bantuan kepada pasukan yang tengah terdesak lewat laut, seperti

di fucalon pada 1247 dan Acre pada 1291.261

Saladin dan Baybars berusaha untuk membalas kekalahan

kaum muslim di laut. Namun upaya-upaya mereka tidak konsisten

atau terus menerus dan tidak diteruskan oleh para penerus mereka.

Dengan demikian, ringkasnya, upaya armada laut muslim melawan

Tentara Salib merupakan suatu kegagalan.

Kepada siapa kegagalan ini harus ditimpakan? Yang pasti,

faktor-faktor ekonomi punya peranan penring. Sebelumnya kaum

muslim telah kesulitan dana untuk menggaji pasukan darat. Lalu

bagaimana para pelaut, sumber daya tambahan yang mutunya

rendah, juga harus digaji? Mempertahankan armada laut tetap di

darat sama mahalnya dengan mengoperasikannya di laut. Salah

satu penyebab kemunduran pembangunan kapal-kapal di Timur

Dekat selama abad kedua belas yaitu  sebab  semakin ber-

kurangnya kayu. trlebih lagi, sesudah  kaum muslim kehilangan

pelabuhan-pelabuhan kawasan Mediterania timur, mereka juga

kehilangan fasilitas untuk membangun kapal-kapal di sana.

Prakarsa utama dari pihak kaum muslim berasal dari Mesir.

Mamluk unggul dalam masalah-masalah militer secara umum,

dan mereka menghadapi Tentara Salib yang lebih lemah. namun ,

seperti juga Dinasti Fatimiyah dan Aynrbiyah sebelum mereka,

mereka tidak bisa mengatasi strategi armada laut.

Seperti dengan tegas dinyarakan oleh Marshall: "Armada

muslim biasanya tidak digunakan untuk menyerang sasaran-sasaran

Kristen, baik untuk mengancam rute-rute kapal, atau yang lebih

khusus, mendukung serangan kaum muslim di daratan terhadap

benteng."262

Mamluk tidak punya penghalang geografis yang mencegah

armada-armada mereka yang banyak untuk menyerang kaum

Frank. Mereka mungkin tahu fasilitas-fasilitas dok canggih yang

dibangun oleh Saljuk Rum pada abad kedga belas di Alanya di

pantai selatan Anatolia (gambar 8.32-8.33), sebab  Alanya me-

rupakan pelabuhan persinggahan penting bagi pengiriman budak-

budak dari pasar-pasar Laut Hitam ke Mesir. namun  kelihatannya

mereka tidak membangun fasilitas sejenis untuk mereka sendiri.

Lalu apa alasan mereka? Biasanya dirujukkan pada-dan dengan

sangat meyakinkan oleh Ayalon-perhatian mereka pada keteram-

pilan berkuda dan bertempur di atas kuda yang merupakan

kemampuan tempur berbasis pada daratan. warga  mereka

tetaP semangat berperang, namun -seperti dicatat di atas-gagasan

untuk berperang di laut hanya ditunjukkan secara sporadis dan

dilakukan sesekali. Maka kegagalan Mamluk dalam melawan

keunggulan keahlian Eropa Barat di bidang maridm tidaklah

mengejutkan. Ketidaktahuan dan ketakutan Mamluk pada laur

turut berperan dalam kekalahan mereka secara umum dalam

memerangi musuh-musuh mereka di laut. namun  kenyataan ini

masih belum benar-benar menjelaskan kesenjangan yang bernilai

penting dalam hal persenjataan dan keahlian militer mereka yang

sangat hebat.

sebab  itu, faktor-faktor ekonomi harus dibahas dalam sedap

penelitian tentang kegagalan kaum muslim untuk membangun

sebuah armada laut jika dibandingkan dengan yang telah dilakukan

Tentara Salib. Sementara untuk menggaji pasukan yang berperang

di darat masih terus kesuliran, menyewa orang-orang yang bisa

mengemudikan kapal juga sangar mahal. Pada saat yang sama,

kurangnya persediaan kayu dan keharusan untuk mengimpornya

dari Eropa atau Anatolia (melalui Alanya?) menghambat pem-

bangunan kapal-kapal. Bahkan saat  Mamluk memutuskan untuk

menghadapi pelabuhan-pelabuhan Suriah yang masih dalam geng-

gaman kaum Frank, solusi akhir mereka yaitu  tidak mereburnya,

yang pasti disertai dengan penghancuran benteng-benteng per-

tahanan, untuk membangun kembali dan memakai nya sebagai

bagian dari sistem pertahanan mereka sendiri. Mereka malah

dengan sengaja menghancurkan pelabuhan-pelabuhan di sepanjang

pesisir Suriah dan berkonsentrasi pada pertahanan maririm Mesir

sendiri.

Ibn Khaldfrn, dengan pandangannye yang seperri biasanya,

menyatakan: "Orang-orang Bizantium, kaum FGisten Eropa, dan

warga  Jerman kuno menetap di pantai utara Mediterania.

Sebagian besar perang dan perdagangan mereka yaitu  lewat laut.

Mereka terampil dalam hal navigasi dan dalam hal perang laut.

Pandangan para Sejarataan Militer

Menurut sejarawan militer terkenal, Oman, aspek-aspek militer

Perang Salib berisi "persoalan yang cukup luas dan beragam yang

dapat ditulis berjilid-jilid'.264 Pada awal 1848, orientalis prancis,

Reinaud, menyatakan bahwa seni militer kaum muslim pastilah

efektif sehingga mereka bisa mengusir Tenrara Salib keluar dari

Thnah Suci.265 Argumen balik terhadap pernyataan ini yaitu 

pertanyaan: mengapa kaum muslim butuh waktu yang sangat

lama untuk melakukannya? Bagaimanapun juga, Reinaud me-

negaskan bahwa pengalaman taktik militer dari dua kelompok

asing yang menyerang dunia muslim-kaum Frank dan bangsa

Mongol-kemungkinan telah dengan sangat baik meningkatkan

metode tempur kaum muslim dan membanru kaum muslim untuk

mengusir para penyerang yang tidak mereka inginkan.266

Kemudian, Scanlon menyatakan bahwa kedatangan kaum

Frank menegaskan kepada kaum muslim bila mereka sangar

mudah diserang dan keharusan untuk memperbaiki taktik militer

dan persenjataan mereka "unruk menghadapi kavaleri Eropa yang

lebih kuat dan memiliki senjata dan mesin-mesin perang yang

lebih maju'.'u' Lyn, \7.hite sependapat dengan pandangan itu.

Dikatakannya bahwa kaum Frank datang ke Timur Dekat dengan

satu hal yang menguntungkan, bahwa mereka unggul dalam hal

persenjataan. Kaum muslim meniru teknik-teknik militer kaum

Frank. Pada akhirnya teknik itu membantu mereka unruk me-

ngalahkan kaum Frank.268

namun , ilmuwan lainnya yakin bahwa meski kaum muslim

mengadopsi teknik-teknik tempur dan persenjataan individual dari

kaum Frank dan memperbaharui taktik mereka sebagai reaksi

atas teknik perang Frank, dampak metode militer kaum Frank

terhadap kaum muslim tidak boleh terlalu dilebih-lebihkan. Bagai-

manapun juga, kaum muslim punya berbagai macam tradisi militer

sendiri, serta pengalaman menghadapi metode militer bangsa

Mongol yang mematikan dan menakutkan.

Para sejarawan taktik militer seperri Oman, telah meneliti

tentang kejadian yang sesungguhnya di medan tempur. Smail dan

Marshall memakai  pandangan yang lebih luas, dengan meng-

analisis berbagai jenis pertempuran militer yang terjadi selama

Perang Salib. Mereka dengan tegas menyatakan bahwa yaitu 

merebut benteng dan kubu peftahanan, bukan kemenangan dalam

pertempuran, yang terbukti menjadi kunci sejarah militer perang

Salib pada abad kedua belas dan ketiga belas.26e Marshall me-

ngatakan bahwa, sekitar abad ketiga belas, kaum muslim unggul

dalam sebagian besar pertempuran militer.27o

Marshall juga menegaskan bahwa peperangan dengan skala

yang rendah merupakan bentuk perang yang sering terjadi pada

periode Perang Salib. Marshall menekankan pentingnya serangan-

serangan, baik itu bagi mereka sendiri maupun sebagai bagian

yang tidak terpisahkan dari strategi yang lebih luas, misalnya

saat  serangan-serangan itu menjadi awal dari suatu pengepung-

an.27r Serangan-serangan ke Acre yang digelar pada abad ketiga

belas, menurut Marshall, yaitu  bagian dari seluruh strategi militer

kaum muslim. Dalam serangan-serangan itu, kaum muslim me-

ngerahkan sumber daya mereka dengan hati-hati dan secara

perlahan terus memperbesar tekanan mereka terhadap kaum lGisten.

Ttrjuan dari sebagian besar perang pada periode ini yaitu  merebut

atau mempertahankan wilayah dengan mengambil atau mem-

pertahankan benteng.272 Program pembangunan benreng secara

besar-besaran yang dilakukan kaum Frank di kawasan Mediterania

timur pada abad kedua belas kedua belas dianggap punya tujuan

yang sama.

beberapa  sejarawan militer menyatakan bahwa kedua pihak

pada periode Perang Salib, sekalipun keduanyahanya punya sedikit

pasukan yang siap, menghindari pertempuran terarur sampai saat-

saat paling ,khir.273 Seperti diungkapkan oleh Scalon dengan repar:

"Pertempuran, kemudian, merupakan upaya yang paling i]r.lrrir.D274

Keegan menyatakan bahwa kelemahan kaum Frank dalam per-

tempuran yaitu  sebab  mereka sangat mengandalkan serangan

bersenjata saat  musuh mereka, kaum muslim, tidak siap untuk

menghadapi dan menerimanya. Kaum muslim telah lama siap

untuk berperang dan juga untuk mundur guna menghindar dari

serangan yang memb ahayakan.27 5

PANDANGAN TENTANG NIIAI SUMBER-SUMBER ISLAM

MENGENAI JAIANNYA PEPEMNGAN

Analisis dari sumber-sumber Islam, baik ulisan sejarah maupun

manual militer, meninggalkan banyak pertanyaan besar yang belum

*terjawab. Sekalipun ada banyak referensi yang tersebar di dalam

sumber-sumber Islam yang memberi penjelasan tenrang aspek-

aspek perang, referensi-referensi ini  tidak memberikan dasar

yang memadai untuk menyusun hipotesis yang kuat. Ibn al-

QalAnisi, misalnya, membahas tenrang'terangan-serangan [kavaleri]

yang membuat mereka [kaum Frank] termasyhur",276 namun  ada 

sedikit keterangan-keterangan konkret dalam tulisan sejarahnya,

atau yang lainnya, mengenai masalah itu, tentang bentuk dan

rangkaian serangan masing-masing kavaleri dalam pertempuran-

pertempuran penting antara kaum Frank dan kaum muslim.

Pernyataan'Imiduddin yang menggambarkan serangan kavaleri

kaum Frank sebagai "angin-angin gunung yang lewat" yaitu 

sangat kuat namun tidak tepaL277 Sumber-sumber Islam tidak

memberikan gambaran yang jelas tentang pasukan kaum Frank,

tentang cara bertempur mereka, dan sejauh mana, bila ada, mereka

mengadaptasi tantangan-tantangan dan metode militer setempar

seiring berjalannya waktu. Sumber-sumber Islam tidak memberikan

gambaran kepada kita bagaimana kerja pasukan muslim yang

sebenarnya,zTs atart tentang rentetan sebenarnya dari suatu per-

tempuran tertentu atau apakah kaum muslim, sebaliknya, ter-

pengaruh oleh teknologi dan metode militer kaum Frank.

Penggunaan terminologi militer dalam sumber-sumber ini

ddak pasti dan tak terjelaskan. Pernyataan-pernyataan mereka

tentang besarnya pasukan muslim dan kaum Frank tidak bisa

dianggap serius. Yang bisa disimpulkan dari jumlah pasukan

ini  yaitu  tingkatan jumlah yang kurang begitu jelas.27e

Sumber-sumber Islam tidak menegaskan dengan jelas bahwa kaum

muslim mampu menggerakkan sumber daya manusia besar-besaran,

sekalipun itulah fakta yang sebenarnya. Para penguasa muslim

Suriah, seperti N0ruddin dan Saladin, sering meminta bantuan

militer dari pengikut-pengikut mereka di Jazira yang jauh, misal-

nya, dan bantuan yang sangat banyak akan dikirimkan untuk

mereka. Kaum Frank, sebaliknya, sering kali tidak punya pasukan

yang cukup untuk mempertahankan benteng-benteng mereka dan

menangani pasukan di medan tempur, kecuali mereka mendapat

bantuan dalam bentuk Perang Salib baru dari Eropa. Keunggulan

jumlah yang dimiliki kaum muslim jelas menjadi faktor penting

bagi kemenangan mereka (yang tak tertolak).

Sumber-sumber Islam di satu sisi melewatkan masalah penting,

yaitu kelemahan maritim kaum muslim. Mereka memilih meng-

abaikan fakta ini , yang merupakan faktor sangat penting

atas lamanya kehadiran kaum Frank di wilayah muslim. Seandai-

nya saja kaum muslim unggul di laut sepemi halnya di daratan,

seluruh konflik tersebur bisa-seperti dikatakan di atas-diselesai-

kan jauh lebih cepat.

Apa yang dikatakan sumber-sumber Islam? Sumber-sumber

itu memberikan keterangan yang jelas tenrang jumlah pasti per-

tempuran-pertempuran berskala kecil-serangan, pertempuran,

penyergapan-serta pengepungan singkat dan lama di sepanjang

periode Perang Salib. Sumber-sumber Islam itu juga menunjukkan

bahwa pertempuran-perrempuran yang terorganisasi relatif jarang

terjadi. Yang pasti yaitu  bahwa ddak ada pertempuran laut yang

terjadi secara besar-besaran. Sumber-sumber rersebut dengan jelas

menegaskan bahwa pada akhirnya kaum muslim mengalahkan

kaum Frank lewat operasi militer yang sistematis dan terus

menerus terhadap benteng-benteng dan pelabuhan-pelabuhan Ten-

tara Salib.

Sumber-sumber Islam tidak menyembunyikan fakta bahwa

Tentara Salib dan kaum muslim sering bertempur bersama-sama

melawan gabungan Tentara Salib dan kaum muslim yang lain.

Kejadian-kejadian semacam itu bertentangan dengan konsep Perang

Salib dan jihad yang diusung. Yang jelas, gagasan-gagasan ideal

seperti itu cenderung diabaikan demi kondisi politik yang ada.

Kenyataan seperti itu, yang disoroti sebagaimana kenyataan pada

abad kedua belas dan ketiga belas, menunjukkan bahwa metode-

metode tempur mereka sangat mirip atau setidaknya sama-sama

sejalan.

Jaringan yang luas dan luar biasa dari benteng-benteng dan

menara-menara yang dibangun oleh kaum Frank sangat me-

mengaruhi cara kaum muslim mengusir mereka. Bagaimanapun,

efisiensi pertempuran dan serangan-serangan yang mungkin terjadi

untuk mengusir pasukan dan peralatan kaum Frank dan meruntuh-

kan moral musuh, monumen-monumen kaum Frank-benteng-

benteng dan kubu peftahanan-6asih menjadi penghalang. Pasukan

kaum Frank yang terdesak bisa mundur ke dalamnya, memulihkan

kekuatan mereka, dan menunggu bantuan dari Eropa. Selama

jaringan benteng itu masih dikuasai kaum Frank, mereka selalu

punya kesempatan untuk bangkit dan melakukan serangan balik.

Dengan berdasarkan keadaan inilah maka satu-satunye cara yang

pasti untuk mengalahkan kaum Frank yaitu  dengan melancarkan

beberapa  serangan membabibuta dan dengan merebut serra meng-

hancurkan organ-organ kaum Frank ini satu per satu. Dalam

prosedur ini terletak kunci kemenangan kaum muslim yang jauh

lebih mungkin dibandingkan dalam perrempuran-pertempuran

yang terorganisxi.

Bila saja kaum muslim menerapkan taktik ini lebih cepat,

kaum Frank tidak akan bertahan lama. Fakta bahwa mereka bisa

bertahan lama menunjukkan bahwa kaum muslim tidak punya

keinginan bersama untuk mengusir kaum Frank. Kenyataan itu,

dengan demikian, menunjukkan bahwa kaum muslim, dalam

waktu yang cukup lama, telah terbiasa dengan kehadiran kaum

Frank di Timur Dekat dan memperlakukan mereka hampir sama

seperti kelompok orang-orang "asli" dalam percaturan politik masa

itu. Kata "Perang Salib" menunjuk pada hal khusus pada para

prajurit Barat, namun  tidak membangkitkan jawaban yang men-

dalam dalam laporan-laporan para penulis sejarah muslim Abad

Pertengahan-bagi mereka, kaum Frank ini yaitu  para petualang,

pencemar, dan orang-orang kafir, namun  benar-benar bukan gerakan

ekspansi }ftisten jangka panjang ke kawasan Mediterania rimur.

Pada akhirnya, Mamluklah yang punya keahlian, kekuatan,

dan keinginan untuk melakukan serangan-serangan seperti itu dan

mengusir kaum Frank sampai runtas. Kalau saja kaum muslim

juga mengembangkan armada laut yang lebih efektifi, kalau saja

mereka memblokade dan merebut semua pelabuhan kawasan

Mediterania timur dan sekaligus mencegah kaum Frank untuk

terus mendaratkan pasukan dan perbekalannya, kaum muslim akan

bisa memadamkan kekuatan kaum Frank jauh lebih cepat. Per-

nyataan Sulami sesudah  kedatangan Tentara Salib pertama sangat

meyakinkan, sebab  pada tahap itu Sulami telah meramalkan

bahwa kaum Frank akan merebut pelabuhan-pelabuhan Suriah

bila kaum muslim tidak segera bertindak. Namun, strategi sangat

matang seperti itu akan memerlukan seluruh kepemimpinan militer

kaum muslim yang satu, kuat, dan cerdas, dan terutama sekali,

mengatasi kebencian kaum muslim yang telah mendarah daging

714 \ _______________

terhadap perang laut. sesudah  Hattin, kaum muslim berpeluang

menang, namun  mereka kehilangan keberuntungan mereka, di-

perkirakan sebab  kaum muslim tidak punya cara untuk mengatasi

keunggulan maritim kaum Frank. Pada masa Ayyubiyah dan

Mamluk, kaum muslim tidak punya armada laut yang permanen

dan prajurit laut yang berpengalaman. Armada laut dibangun

sesekali untuk menghadapi agresi eksternal dari kaum Frank.

Namun biasanya armada itu harus dibangun dari awal kembali.

Maka tidak mengejutkan bila kaum Frank menguasai lautan,

menyerang pantai-pantai kawasan Mediterania timur, dan terus

tidak tertandingi di laut, dengan bebas mendaratkan prajurit dan

peralatan mereka untuk membantu rekan seagama mereka yang

tengah diserang di darat.

Seperti telah disebutkan, keliharannya kaum Frank tidak selalu

dipandang sebagai musuh oleh kaum muslim. Mereka mungkin

saja dipandang sebagai gangguan, bahkan ancaman, namun  ddak

sampai pada tingkac yar'g mengharuskan mobilisasi serangan

bersama-sama dan terus menerus terhadap mereka. Kaum Frank

telah menjadi bagian dari warga  kawasan Mediterania timur.

Sumber-sumber itu menunjukkan dengan jelas kemampuan mereka

untuk mengakomodasi gaya hidup yang pada awalnya tidak

dikenal, dan sesekali memberikan keterangan yang tidak benar,

bahwa beberapa kaum Kristen Barat yang fanatik bertekad untuk

menghabisi kaum muslim di Tanah Suci.

Lalu apa yang memotivasi kaum muslim pada akhirnya untuk

melancarkan serangan habis-habisan terhadap kaum Frank pada

periode Mamluk? Sepertinya, faktor utarna yang memperburuk

hubungan kaum muslim dan kaum Frank yaitu  pembantaian

oleh bangsa Mongol. Serangan-serangan terhadap dunia muslim

dari musuh kedua yang jauh lebih mematikan dibandingkan kaum

Frank telah mengeraskan tekad kaum muslim untuk membersihkan

Dlr al-Isldm dari semua orang luar. Rasa takut semakin menguat

saat  dunia muslim diserang dari Timur dan Barat. Kedua musuh

ini, kaum Kristen Barat dan bangsa Mongol penyembah berhala,

harus diusir dari wilayah Islam untuk selama-lamanya. Apalagi,

kaum Eropa dan Mongol dianggap telah bekerj