a sama untuk
menyerang kaum muslim. Pandangan ini telah memperkuat tekad
Mamluk untuk berdndak tegas terhadap mereka. Jatuhnya kaum
muslim Asia Gngah, Iran dan Irak, dengan cepat dan berturut-
turut, yang mencapai puncaknya dengan dihancurkannya Baghdad
pada 1258, telah menimbulkan rangkaian bencana tidak terduga
bagi dunia muslim secara keseluruhan di tangan bangsa Mongol-
memang, bila dilakukan bersama-sama, penghancuran ini me-
rupakan bencana paling buruk yang pernah dialami kaum muslim.
Penghancuran Baghdad, singgasana kuno khalifah, dengan segera
menempatkan kepemimpinan wilayah-wilayah Islam pusat di pundak
sultan-sultan Mamluk. Merekalah yang telah memukul mundur
gerombolan Mongol yang sebelumnya sangat kuat dalam per-
tempuran Sumur Daud (Ayn Jilfrt) pada 1260. Meningkatnya
moral kaum muslim sungguh luar biasa, dan dalam masa sekitar
satu generasi atau lebih tntara Salib telah memperoleh hasil
yang lebih pahit dari kemenangan ini .
Sumber-sumber muslim kelihatannya tidak terkejut saat men-
dapati kaum Frank terbukti sangat tangguh, sekalipun sejak
kejatuhan Edessa pada I 144 keum Frank terkurung antara Laut
Mediterania dan gurun di Suriah. Sumber-sumber muslim, tentu
saja, tidak memuji keberhasilan kaum Frank untuk bertahan dalam
jangka waktu yang sangat lama di seluruh wilayah di kawasan
Mediterania timur dengan segala cara, dengan sumber-sumber daya
yang semakin berkurang, meskipun keberhasilan mereka itu me-
rupakan bukti nyata keahlian militer yang sangat tinggi. Bagai-
manapun juga, sekalipun di setiap referensi di dalam sumber-
sumber muslim selalu disertai dengan kutukan-kutukan, kaum
Frank dianggap sebagai musuh yang sangat menakutkan yang
sangat cerdas dan ahli dalam berperang.[J
l
Epilog: \Tarisan Perang Salib
Dengan htar peradaban gemikng dan prestasi militer seperti itu, bangsa
Arab tidah bisa berbenti mengingat perbandingan masa hini dan masa
hlu mereha. Sejarah itu terus menerus digangu oleh honflih dengan Eropa,
yng membuat mereka seklu rneniki, memerihsa, dan membandinghan.l
(Kishtainy)
PENDAHULUAN
Buku ini menyoroti beberapa perspektif Islam tentang fenomena
yang di Barat dikenal sebagai Perang Salib dan berusaha me-
nunjukkan bagaimana kaum muslim Abad Pertengahan dipe-
ngaruhi oleh invasi tak terduga dari kaum Kristen Eropa ini.
Memang benar bahwa fenomena Perang Sdib tidak 1langsung
berhend dengan jatuhnya Acre pada 1291. Serangan-serangan yang
dilancarkan oleh kedua pihak, Eropa dan kaum muslim, rerus
menerus berlangsung silih berganti pada abad-abad berikutnya.
Serangan-serangan ini bisa, dan sering, disebut sebagai Perang
Salib atau jihad dan digelar dengan semangar yang sama seperti
serangan-serangan yang berlangsung pada abad kedua belas dan
ketiga belas. Jadi, tidak ada akhir yang tiba-tiba dan pasti dari
Perang Salib. Dampaknya tetap bergema lama sesudah militer Eropa
ditarik dari kawasan Mediterania timur.
Kisah konfrontasi dunia muslim dengan Tentara Salib yang
berlangsung di Mediterania sesudah tahun 1291 di luar pembahasan
buku ini.2 Buku ini juga tidak dimaksudkan unruk membahas
serangan-serangan Tirrki 'Utsmani di Eropa yang oleh banyak
orang dipandang sebagai pembalasan Islam atas Perang Salib.3
namun buku ini akan membahas luka-luka psikologis yang di-
tinggalkan oleh Perang Salib di dunia Islam dan bagaimana
pengalaman Perang Salib ini membentuk karakter bersama
kaum muslim. Faktor-faktor ini memiliki relevansi yang bersifat
langsung bagi pemahaman kita yang lebih jelas tentang pandangan
kaum muslim yang terus bertahan lama mengenai Perang Salib
dan juga menjelaskan hubungan antara dunia Islam dan Barat di
abad kedua puluh.
Topik yang sangat luas seperti pandangan Islam di zaman
modern tentang Perang Salib dibahas di buku-buku lainnya.
sebab itu, bagian ini hanya akan menawarkan beberapa pemikiran
umum dan pandangan singkat tentang suatu fenomena yang luas
dan rumit. "Gagasan" tentang Perang Salib secara perlahan me-
masuki aspek-aspek kehidupan modern di dunia Arab dan dunia
Islam yang lebih luas. Bagi sebagian orang, konsep Perang Salib
dipandang sebagai manifestasi pertarungan abadi antara Islam dan
trGisten, yang di anrara reaksi berantainya dimulai dengan pe-
naklukan-penaklukan Islam, yang menghasilkan respons sikap anti-
IGisten dalam Perang Salib iru sendiri, pembalasan Dinasti 'LJtsmani
terutama pada abad kelima belas dan keenam belas, dan serangan
kolonialisasi Barat pada dua ratus tahun terakhir. Yang lainnya
memandang Perang Salib sebagai panggung utama kolonialisme
Eropa (istimtr mubakhar-"imperialisme prematur") atau sebagai
suatu kombinasi dari pengaruh semangat agama dan intervensi
politik. Apa pun interpretasi mereka renrang fenomena Perang
Salib, tidak diragukan lagi bahwa Perang Salib telah memengaruhi
718 \ _______________
retorika politik, literatur jihad dan, yang lebih menyebar namun
tak terlihat, cara pandang kebanyakan kaum muslim terhadap
Eropa barat, dan yang lebih luas lagi, Amerika Serikat. sebab nya,
tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pemahaman yang lebih
baik mengenai masalah ini akan sangat bermanfaat bagi pe-
mahaman yang berwawasan internasional dan berperspektif per-
damaian dunia.
Sebagaimana dikatakan Akbar Ahmed, penulis muslim ter-
kemuka yang menetap di Barat:
Memori Perang Salib terus bertahan di Timur Tengah dan
mewarnai persepsi kaum muslim renrang Eropa. Memori ini
yaitu tentang Eropa yang agresifi, terbelakang, dan sangat fanatik
pada agama. Memori sejarah ini semakin menguar pada abad
kesembilan belas dan kedua puluh, saat bangsa-bangsa Eropa
penjajah sekali lagi tiba untuk mengalahkan dan menjajah wilayah-
wilayah di Timur Tengah. Sayangnya, warisan kebencian ini diabai-
kan oleh sebagian besar bangsa Eropa saat memandang Perang
Salib.a
PERKEMBANGAN KETERTARIKAN KAUM MUSLIM
DATAM FENOMENA PEMNG SATIB
Sulit untuk menilai keabsahan dari suatu pandangan yang melihat
adanya paralelitas antara masa lalu dan masa kini. Tentu saja,
masa lalu sering kali merupakan masalah yang tetap hidup. Pada
setiap 10 Muharam, kaum muslim Syiah dengan sangat emosional
memperingati pertempuran Karbala pada 680 dan gugurnya cucu
Nabi Muhammad saw., al-Husayn, di pertempuran itu. Masa lalu
bisa bertahan dengan cara-cara yang berbeda. Masa lalu bisa
menjadi sumber kebanggaan-rakyat Palestina mengulang-ulang
tiga kemenangan militer gemilang di Yarmuk, Qadisiyyah, dan
Hattin, dan mereka terus berharap bisa meraih kemenangan atas
Israel. Sebaliknya, masa lalu bisa juga memalukan. Sungguh suatu
ironi yang aneh bila kaum Eropa barat yang mengalami kekalahan
militer dalam Perang Salib kemudian "memenangkan dunia".
Sementara kaum muslim menang dalam Perang Salib, retapi terus
menerus memandang diri mereka terjebak di posisi inferior, seperri
ditulis oleh cendekiawan Tirnisia, al-Matwi: "Semua keunrungan
(ghunm) perang-perang ini banyak jatuh ke Tentara Salib,
semua kerusakan (ghurm) menjadi bagian kaum muslim."5
Dunia Islam lambat dalam mengambil pelajaran dari Perang
Salib-intervensi kaum Eropa yang pertama kali mereka alami.
Kaum muslim juga terlambat dalam menghadang potensi propaganda
Perang Salib. Terkadang, dalam konteks kekalahan militer Tirrki
di tangan Rusia atau Ausrria, penulis sejarah kekaisaran 'lJrsmani,
Na'ima (w. 1716), menunjukkan adanya kesejajaran antara masa
lalu dan masa yang dihadapinya, antara Perang Salib dan masanya.
Seperti dikatakan oleh Bernard Lewis,6 Na'ima bukan sekadar
seorang penulis sejarah. Dia juga masuk ke wilayah filsafat sejarah.
Na'ima menggambarkan bagaimana Tentara Salib membentuk
koloni mereka di sepanjang pantai Suriah dan Palestina. Mereka
bertahan sampai Saladin menghentikan kekuasaan mereka dan
penerusnya kemudian mengusir mereka. Na'ima menyatakan bahwa
para pemimpin di masanya harus menampilkan diri mereka
dengan mengambil model sultan-sultan Aynrbiyah dan Mamluk.
saat kalah, para penguasa muslim pada masa Perang Salib
melihat adanya manfaat jika mereka membuar perjanjian damai
dengan Tentara Salib-pada akhirya, salah satu suhan rersebut
bahkan menandatangani perjanjian penyerahan Yerusalem kepada
Tentara Salib. Maka, Na'ima berpendapat, sulran-sultan 'lJtsmani
yang telah kalah total harus siap untuk membuat perjan.iian damai
untuk membangun kekuatan mereka sampai akhirnya meraih
kemenangan.T
Kaum muslim menunjukkan sedikit rasa ketertarikan terhadap
Perang Salib sebagai suatu kenyataan yang berbeda, sebagai suatu
bagian dari sejarah dunia. Istilah-istilah Arab seperti al-hurtrb al-
shalibiyyah ala,r harb al-shalib, yang digunakan sekarang ini unruk
menunjukkan Perang Salib, diperkenalkan pada pertengahan abad
720 \ Ca-role Hillenbrand
kesembilan belas. Penting untuk ditegaskan bahwa istilah-istilah
ini meminjam dari Eropa, sekalipun telah diterima dengan baik
dalam budaya Arab dan kaum muslim modern dan sungguh
telah memperoleh kekuatan emosinya sendiri dalam bahasa Arab
di tahun-tahun belakangan ini. Timur Tengah belajar memakai
istilah-istilah ini serelah pengarang-pengarang Arab lkisten mulai
menerjemahkan sejarah Perang Salib dari sumber-sumber Eropa.
Ironisnya, ini kemudian menjadi jalan memutar bagi kaum muslim
untuk mempelajari masa lalu mereka sendiri.
Sejarah Perang Salib hadir dalam bahasa fuab di yerusalem
pada 1865, dengan judul History of the Holy lVars in the East,
Called tlte Wars of the Crasr (Sejarah Perang Suci di Timur yang
Disebut Perang Salib). Karya ini yaitu karya terjemahan oleh
Muhammad Mazlum dari karya ilmuwan Prancis, Monrond, namun
karya itu telah mendapat persetujuan dari Keuskupan Yerusalem
sendiri.s Karya perrama kaum muslim tentang fenomena perang
Salib, yang disusun pada 1899, yaitu al-Ahbar al-Saniyyah fi'l-
Hurub al-Shaltbiyyah (Catatan Menarik tentang Perang Salib) karya
ilmuwan Mesir, Sayyid Ali al-Hariri.e Karya ini merupakan karya
pelopor dalam penulisan sejarah Islam sebab banyak meng-
gunakan sumber-sumber Islam Abad Pertengahan yang cukup
lengkap dikutip. Bahkan, pada bagian-bagian awal, al-llariri sangat
memahami relevansi Perang Salib dengan zamannya sendiri. Pada
bagian pendahuluan karya ini, al-llariri menulis: "sultan kami
yang paling jaya, Abdulhamid II telah menyatakan dengan tegas
bahwa Eropa kini melancarkan Perang Salib terhadap kita dalam
bentuk kampanye politik."ro Sayangnya, buku al-Hariri tidak
banyak diikuti oleh buku-buku lain yang sejenis.'r
EVOLUSI MITOS SAIADIN
Kelihatannya memang mengherankan, Saladin, yang dipuji-puji
di Eropa Abad Pertengahan beberapa abad usai Perang Salib dan
kemudian digambarkan sebagai seorang pahlawan era Pencerahan
Eropa-seperti digambarkan oleh G.E. Lessing arau Sir \7'alter
Scottr2-diabaikan di Timur Tengah selama berabad-abad. Thk
lama sesudah Perang Salib, ada dua penguasa muslim lainnya yang
secara lebih terang-terangan menyatakan diri kepada rakyatnya
sebagai musuh Tentara Salib. N0ruddin mendapat penghargaan
di kalangan kelompok keagamaan muslim sebagai model muiahid,
yang memadukan kesalehan dengan pengabdian kepada rakyat
demi Islam. Sementara Baybars menjadi pahlawan yang gagah
berani dalam cerira ralryat Arab.
Biografi pertama Saladin yang ditulis pada masa relatif modern
oleh seorang muslim yaitu biografi karya Namik Kemal, yang
diterbitkan pada L872. Kemal yaitu salah seorang intelektual
dari gerakan 'LJtsmani Muda.r3 Kemal terdorong menulis sebuah
karya yang dengan tegas bersumber pada sumber-sumber muslim
yang sezaman dengan Saladin sebagai respons atas hadirnya sebuah
karya tentang Perang Salib di Eropa yang menururnya sangar
salah kaprah dan ssndsn5ius- Histoire des Croisadel yang disusun
oleh Michaud dan diterbitkan di Paris antara l8l2 dan L822.
Karya ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Turki. Pada
dasarnya Kemal menempatkan karyanya tentang Saladin itu dalam
jilid yang sama seperti biografi dua pahlawan besar dalam sejarah
'LJtsmani, Mehmet si Penakluk dan Selim si Pemberani.ra
Secara bertahap, pandangan tentang adanya persamaan ke-
bijakan-kebijakan Eropa masa lalu dan kini telah menglaistal di
dalam pemahaman kaum muslim. Persamaan ini muncul dengan
sangat cepat, seiring berlalunya abad kesembilan belas dan gelom-
bang imperialisme Eropa melanda Timur Tengah. Seruan utama
datang dari Sultan 'LJtsmani, Abdulhamid II (yang memerintah
prda 1876-1909). Berulangkali beliau menyatakan bahwa Eropa
722 \ Ca,role Hillenbrand
tengah melancarkan "Perang Salib" terhadap kekaisaran '(Jtsmani.
Gagasannya itu diterima dan disebarkan oleh pers pan-Islam. 'Ali
al-Hariri mengacu pada kata-kata Abdulhamid II, seperti relah
disebutkan, pada kata penganrar bukunya mengenai Perang Salib.r5
Kemasyhuran Saladin semakin meluas sesudah berita-berita
tentangnya yang gemilang di Eropa sampai ke Timur Tengah.
Kaisar \filhelm II, yang bersusah payah mengunjungi makam
Saladin di Damaskus pada 1898, dengan rerang-terangan meng-
umumkan stasus kepahlawanan Saladin di Eropa. \Tilhelm II
memujinya sebagai "seorang ksatria ranpa rasa takut atau salah,
yang sering harus mengajarkan musuh-musuhnya renrang cara
yang benar untuk bertindak ksatria".r6 Pada tahun berikutnya,
penyair terkemuka Mesir, Ahmad Syawqi, merespons dengan
sebuah ode (qasidah) yang memuji keberhasilan-keberhasilan Saladin. tT
Dalam sebuah artikel di jurnal pan-Islam yang ditulis pada saat
bersamaan, Syawqi menyarakan bahwa dari semua tokoh muslim
dari masa lalu, tidak satu pun, sesudah empar khalifah pertama
yang dikenal dengan Khulzfh'al-Rlqidin, yang lebih mulia dibanding
Saladin dan Mehmet si Penakluk. Syawqi kemudian mengajukan
sebuah pertanyaan retorik: bagaimana mungkin para penulis
muslim sangat ketinggalan untuk membangkirkan memori tentang
dua pahlawan besar Islam ini?r8
Seperti telah disebutkan, Saladin berasal dari etnik Kurdi
dan dibesarkan di lingkungan militer Tirrki, dan dia memerintah
wilayah-wilayah tradisional Arab, seperri Suriah, Palestina, dan
Mesir. Sebagai seorang pemimpin dari kelompok elite militer
muslim non-Arab, Saladin juga menjadi sosok yang terdepan
dalam gerakan pembaharuan jihad yang mempersatukan dunia
muslim Sunni di Timur Dekat di bawah kekuasaannya. sebab
itu, Saladin ditempatkan sebagai seorang pahlawan oleh berbagai
kelompok yang berbeda di Timur Tengah pada zaman modern.
Saladin mungkin pura Kurdi yang paling terkenal sepanjang
masa. Sekalipun mereka tidak memiliki ranah air, kini suku Kurdi
menempati wilayah-wilayah yang luas di Iran, Irak, dan Tirrki,
dan memelihara ambisi nasionalis yang sangat kuat. Mereka sangat
paham prestasi Saladin dan sangat bangga sebab dia berasal dari
suku mereka. Penyair Kurdi Syeikh Ridha Thalabini (w. 1910)
mengenang masa-masa kemerdekaan Kurdi pada masa lalu yang
berlangsung singkat, dan khususnya dinasti Kurdi Baban yang
berkembang di lereng barat pegunungan Zagros pada akhir abad
kedelapan belas. Syeikh Ridha Thalabini menulis: "Bangsa Arab!
Saya tidak membantah keunggulan Anda. Andalah yang paling
unggul. namun Saladin yang merebut dunia yaitu kerurunan
Kurdi Baban."re
namun , anggapan bahwa Saladin melancarkan perjuangan
monumental melawan Tentara Salib Eropa bukan hanya berlaku
bagi "rakyatnya" sendiri, bangsa Kurdi. Saladin juga dengan
antusias diterima sebagai sebuah model utama oleh bangsa fuab,
dan juga bangsa Tirrki, dalam perjuangan kebangsaan mereka dan
dalam pembebasan diri mereka dari penjajahan Eropa. Sekalipun
berasal dari suku Kurdi, Saladin dipandang sebagai pelopor jihad
bangsa Arab dan contoh yang harus diikuti oleh semua muslim.
Sekalipun Saladin berasal dari suku Kurdi, banyak dikatakan
bahwa Saladin larut dalam budaya Arab dan merupakan per-
wujudan dari keksatriaan fuab.2o
Bahkan, sebelum Perang Dunia Pertama, seorang pengarang
Arab memakai nama samaran Shalihuddin (Saladin) dan
memperingatkan tentang ancaman kaum Zionis di Palestina.2t
Sebuah universitas baru yang diberi nama Shalihuddin al-AyyCrbi
dibuka di Yerusalem pada 1915. Selama masa koloni Inggris usai
Perang Dunia Pertama, kemenangan Sdadin aras Tentara Salib di
Hattin menjadi tema utama dalam periuangan politik rakyat
Palestina melawan kaum Zionis.22
Sepanjang abad kedua puluh, nilai yang membawa pesan
dari pengalaman Perang Salib sepenuhnya diakui di dunia Arab,
khususnya sesudah pembentukan negara Israel. Secara umum,
Saladinlah yang menerima perhatian paling banyak sebagai sosok
pahlawan, pejuang politik dan agama yang sesungguhnya dalam
melawan penindasan bangsa asing, dan bukan Nirruddin atau
Baybars, yang seperti Salahuddin, sama-sama punya kontribusi
besar dalam diraihnya kemenangan kaum muslim atas Tentara
Salib. Kekaguman dan kecintaan khusus kaum muslim terhadap
Saladin sebab Saladin-lah yang merebut Yerusalem pada 1187.
Kemaqyhurannya di Eropa pada Abad Pertengahan sebagai lambang
keksatriaan dan kemudian sebagai model bagi nilai pencerahan
juga membanru.
Di dunia Arab, pandangan umum tenrang Saladin sekarang
ini yaitu bahwa ia seorang pejuang besar Islam dalam melawan
agresi luar yang datang dari Barar, dan para pemimpin polidk
Arab berlomba-lomba untuk menjadi "saladin Kedua". Contoh
yang paling jelas yaitu pemimpin terguling Irak, Saddam Hussein,
yang, seperti juga Saladin, berasal dari Tikrit (foto 9.1). saat
kisah tentang Saladin dan Perang Salib diceritakan di sekolah-
sekolah Arab, kisah itu ditekankan pada kepahlawanan dan ke-
beranian, tanpa ragu-raga.23 Ada sedikit penuturan tentang realitas
pragmatis sejarah Tentara Salib seperti aliansi-aliansi anrara kaum
muslim dan para Tentara Salib yang terbentuk pada periode 1099-
1291, tentang masa-masa perdamaian dan gencatan senjata yang
berlangsung lama, rentang jalur perdagangan antara Timur dan
Barat, dan tentang ambisi pribadi dan keluarga Saladin. Tidaklah
mengejutkan, Perang Salib dilihat lewat sudut pandang anri-
imperialis dan respons Islam pada abad kedua belas dan ketiga
belas dipandang sebagai cetak biru bagi perjuangan Arab dan
Islam modern untuk melepaskan diri dari agresi kaum kolonial
Barat, terutama sekali dari Israel dan Amerika Serikat.
Memori abadi Perang Salib pada masa kini menemukan
ungkapan visual yang mencolok dalam sekumpulan patung yang
ukurannya sangat besar dan ambisius yang didirikan di Damaskus
dengan biaya pemerintah pada 1992 (foto 9.2). Memori itu juga
tampil mencolok dalam rancangan uang kertas senilai 200 dirham
di suriah. Semenrara parung-parung para pemimpin politik modern
banyak ada di negara-negara Islam-dan rerutama di Suriah,
yang penuh dengan patung-parung Presiden HafezAsad-tak ada
tradisi yang membumi dalam hal pembuaran patung-parung yang
berkaitan dengan peristiwa sejarah. sebab alasan inilah, parung
yang ada di Damaskus itu layak untuk dicatat.
namun yang sangat luar biasa di sini yaitu pilihan dan
perlakuan dalam hal pembuatan patung ini . Fokus utama
sekumpulan patung itu yaitu sosok Saladin yang tengah me-
nunggang kuda. Dengan diiringi oleh seorang sufi berpakaian
sederhana (foto 9.3) di satu sisi dan seorang prajurit infantri
yang membawa tombak di sisi lainnya, Saladin menghela kudanya
agar berlari. Di belakang kuda itu, dua Tentara Salib jatuh tak
berdaya di sebuah batu (foto 9.4). Prajurit, yang memegang
kantung uang yang berisi ransumnya, yaitu Raja Guy dari
Yerusalem. Yang satunye l:€i., dengan mara menatap ke tanah,
dan tubuh membungkuk, mungkin untuk meyakinkan diri bahwa
dia tidak akan ditombak, yaitu Reynald dari Chatillon. Kaum
muslim semuanya menarap ke depan. Umar }Gisten berpaling ke
arah berlawanan. Yang cukup penring, paung-patung ini
didirikan tepat di depan Benteng Damaskus, suatu lingkungan
militer yang menyuarakan pesannya untuk melindungi Islam dari
orang kafir. Pembuat patung rersebur, hbdallah al-Sayed (foto
9.5), menjelaskan bahwa gugus patung iru menunjukkan bahwa
Saladin bukan hanya seorang panglima perang, namun juga seorang
pemimpin yang mewujudkan gelombang kehendak ralcyat untuk
melawan kaum Frank.2a Dihadirkannya seorang sufi dan prajurit
pejalan kaki dalam gugus patung ini juga menggambarkan bentuk
keberagamaan yang membumi seperti yang dianut kebanyakan
orang. Dalam jarak tidak lebih dari serarus merer, di gerbang
benteng Abad Pertengahan ini digantungkan sebuah posrer
raksasa Presiden Suriah, Hafez Asad (foto warna l5). Kesamaan
antara pembela Islam kuno dan modern dan wilayah-wilayahnya
untuk melawan serangan orang-orang kafir tampak jelas terlihat.
Takluknya kaum Frank di tangan Saladin yang digambarkan di
sini merupakan simbol yang sangat kuat, yang mudah dipahami
oleh orang yang ada di jalan-Israel yaitu negara baru Tentara
Salib di Timur Tengah, yang akan ditundukkan dengan cara yang
sama seperti kerajaan kaum Frank Abad Pertengahan di Yerusalem.
MANIFESTASI PEMNG SALIB DI ZAMAN MODERN:
BEBEMPA STUDI KASUS
Pembahasan berikut ini dengan sengaja memakai terminologi
pinjaman-perlawanan dalam Perang Salih-sebab pembahasan
ini berusaha membatasi diri pada retorika politik, ideologi, dan
gerakan modern, dengan sasaran Barat, dan yang di dunia muslim
dipandang sebagai perluasan langsung dari fenomena Perang Salib
itu sendiri. Sekalipun banyak dari upaya yang disebut jihad
memang benar-benar ditujukan untuk melawan Barat, dan tentu
saja bisa dipandang sebagai kelanjutan dari reaksi Islam terhadap
Perang Salib, harus ditegaskan bahwa istilah jihad bagi kaum
muslim punya kaitan yang lebih mendalam dan tajam daripada
sekadar gerakan militer atau propaganda yang ditujukan terhadap
Eropa dan Amerika.
Ayatullah Khomeini menulis secara panjang lebar tentang
jihad, dengan menegaskan bahwa seseorang harus melaksanakan
"jihad yang lebih besar" di dalam dirinya sebelum berperang
melawan ketidakadilan, korupsi, dan tirani di dunia ini.2t
Dalam pernyataan-pernyataan ini, Khomeini menggambarkan
tradisi interpretasi jihad di kalangan ahli hukum Islam yang telah
berumur ratusan tahun. Namun pandangannya diterjemahkan oleh
para penga6xl $21x1-bukan tanpa pembsnilxn-56$agai jihad
melawan peradaban Barat.
Konsep Perang Salib menyebar dan berakar mendalam di
dalam ideologi politik Islam modern.
Tulisan-Tulisan Sayid Quthb
Sayyid Quthb, penulis "fundamentalis" Mesir, juru bicara utama
gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir sesudah pemberangusan
kelompok itu pada 1954, pada akhirnya dieksekusi pada 1966
sebab dianggap telah melakukan pemberontakan. Dalam sebuah
karyanya yang terkenal berjudul Fi ZhilAl al-Qur'ln (Dalam
Bayang-Bayang Alquran), beliau membahas tentang konfrontasi
antara kaum muslim dan kaum musyrik yang telah berlangsung
selama empat belas abad. Di dalam pergulatan ini dia me-
nyebu*an secara khusus dua periode penting, yaitu awal penakluk-
Dalam tulisan-tulisannya Sayyid Quthb mengatakan bahwa
Perang Salib harus diterjemahkan sebagai semua serangan kaum
Kristen terhadap Islam dari periode paling awal. Bahkan perang
Salib termasuk perlawanan militer kaum lGisten terhadap penakluk-
penakluk Islam pertama di Suriah dan Palestina pada abad ke-
tujuh. Perang Salib termasuk juga serangan-serangan umat Krisren
terhadap kaum muslim di Spanyol pada Abad Pertengahan. Dia
juga memasukkan penyiksaan terhadap kaum muslim pada abad
kedua puluh di sebagian wilayah Afrika-Zanzibar, Ethiopia,
Kenya dan Sudan selaran-yang terjadi belakangan ini sebagai
Perang Salib. Peperangan Kristen melawan Islam bisa rerjadi atas
nama "wilayah, ekonomi, politik, pangkalan militer ... apa saja"
namun tujuan rahasianya yaitu berkait dengan soal doktrin-
"zionisme internasional, Perang Salib internasional-di samping
Komunisme internasional".2T
Bagi Ikhwanul Muslimin, sesudah tahun 1947, aktivitas PBB
di Palestina dipandang sebagai "deklarasi baru kaum Zionis yang
melancarkan Perang Salib melawan bangsa Arab dan Islam".
Zionisme sepenuhnya diidentifikasikan dengan imperialime Barat
yang melakukan Perang Salib dan istilah-istilah "Perang Salib
Eropa" (al-shalibiyyah al-U,rtblyah) dan "Perang Salib Yahudi"
digunakan secara bergantian.28 Sayyid Quthb menggambarkan
Perang Salib sebagai serangan terhadap "semangat Islam". perang
Salib berkaitan dengan kemunduran peradaban muslim dalam
menghadapi peradaban Barat. Sayyid Quthb semakin meningkat-
kan serangan anti-Baratnya, dengan menyatakan:
Perang Salib tidak terbatas pada gemerincing senjata, terapi
yaitu -dan ini yang paling penting dari semuanya-permusuhan
intelektual. Kepentingan-kepentingan kerajaan Eropa tidak pernah
lupa bahwa semangar Islam sangat bertentangan dengan semangar
imperialisme ...
Ada juga orang-orang yang mengatakan bahwa yang mengatur
kebijakan Barat yaitu pengaruh kepentingan finansial kaum yahudi
Amerika Serikat dan kaum Yahudi lainnya di wilayah mana saja.
Ada juga orang-orang yang mengarakan bahwa ambisi orang Inggris-
lah dan kelicikan Anglo-Saxon yang bertanggung jawab ... Dan
ada juga orang-orang yang percaya bahwa yang berperan yaitu
antipari antara Timur dan Barat... Semua pendapat ini mengabaikan
satu unsur penting dalam pertanyaan ini ... yaitu semangat
Tentara Salib yang mengalir di dalam darah semua orang Barat.2e
Hizbulhh dan Kehmpoh-hehmpoh Radihal Lainnya
Bagi kelompok yang lebih dikenal di Timur Tengah modern
dengan sebutan Hizbulkh, Perang Salib tidak pernah berakhir.
Khomeini menyatakan pentingnya rerjun dalam perang yang
merupakan 'panggung terakhir dari sejarah Perang Salib".3oLebih
jauh lagi, beberapa kelompok muslim radikal yakin bahwa Perang
Salib juga belum berakhir bagi kaum IGisten. Menurut mereka,
"kekuatan Kristen" Barat tetap bertekad untuk menghancurkan
Islam. Mehmet Ali Agha, orang Tirrki yang mencoba mengakhiri
hidup Paus pada 1981, menulis dalam sepucuk surat: "Saya telah
memutuskan unuk membunuh Paus Yohanes Paulus II, pemimpin
tertinggi Perang Salib."3t Delapan belas tahun kemudian, pada 9
Juni 1997, dua orang membajak pesawat Air Maba Boeing yang
tengah dalam perjalanan menuju ke Istambul dan membelokkan-
nya ke bandar udara Cologne/Bonn. Mereka menunrut agar
Mehmet Agha dibebaskan.
Thhun 1998, muncul organisasi bayangan yang terkenal yang
dipimpin oleh Usimah bin Laden yang di media dunia disebut
sebagai "Orang yang Paling Diburu Amerika"32-organisasi itu
disebut Front Islam Dunia untuk Perang Salib melawan Yahudi
dan Tentara Salib.33
Hamas
Hamas, yang yaitu kependekan dari Harahat al-Muqhraamah al-
Isltmiyyah ("Gerakan Perlawanan Islam") didirikan di wilayah-
wilayah pendudukan Israel pada 1967. Sejak itu, nama gerakan
ini selalu muncul di media. Tujuan pendirian Hamas yaitu
membebaskan Palestina dari pendudukan "kaum Zionis" dan
untuk mendirikan kembali sebuah negara Islam.3a
Menurut ideologi Hamas, Palestina punya rempat khusus
dalam Islam sebab Yerusalem yaitu kiblat (arah salat) pertama
bagi kaum muslim dan Masjid Aqshi dipandang sebagai rempat
paling suci ketiga dalam Islam.35 Mengingat arri penring Palestina
dan Yerusalem bagi Islam, tidaklah mengejutkan bila sepanjang
sejarah musuh selalu berusaha merebut Palestina dari kaum muslim.36
Tentara Salib yang berperang selama dua ratus tahun untuk
merebut Palestina lewat Perang Salib, dan upaya Barat untuk
merebutnya pada Perang Dunia Pertama yaitu contoh lain dari
sejarah panjang serbuan Barat ke Palestina.3T Pertempuran mem-
perebutkan Palestina hanya bisa dimenangkan di bawah bendera
Allah-ini telah dibuktikan sejarah dengan kemenangan kaum
muslim atas Tentara Salib dan Tartar (bangsa Mongol).38
Partai Pembebasan Islam @izb al-Thhrir al-Islimi)
Gagasan dan aktivitas Hizb al-thrir telah dipelajari secara me-
nyeluruh belakangan ini oleh Suha tji-Farouki. Temuan ilmiahnya
sekali lagi mengungkap adanya memori Perang Salib dalam pe-
mikiran politik Islam modern.3e Hizb al-lahrir didirikan di Yerusalem
pada 1952 oleh Syeikh Thqiyuddin al-Nabhani, yang keluar dari
Ikhwanul Muslimin. Kelompok itu menampilkan dirinya sebagai
sebuah partai politik dengan Islam sebagai ideologinya. Tirjuannya
yaitu kebangkitan ummah (ummat) Islam, yang bersih dari
pencemaran kolonialisme.ao Karakter Islam ddam partai ini ditegas-
kan dengan mendirikan markas mereka di Yerusalem.
Partai ini mengklaim aktif di berbagai negara Timur Tengah
serta di wilayah negara-negara Eropa.arMasalah Palestina bukanlah
sesuatu yang pokok bagi gerakan dan upaya-upaya Hizb al-Thhrir,
namun partai ini yang pasti punya pandangan yang kuat mengenai
masalah ini .42Israel dipandang sebagai jembatan kolonial yang
digunakan oleh Amerika Serikat dan Eropa untuk melanjutkan
kontrol dan eksploitasi ekonomi mereka atas dunia Islam. Israel
yaitu "belati beracun yang ditikamkan dalam-dalam ke dadanyi'.a3
Didirikannya negara Israel, menurut pemikiran Hizb al-fhhrir,
diinspirasi oleh Perang Salib. Mereka memandang penaklukan
Yerusalem unruk kaum muslim yang dilakukan oleh Saladin sebagai
pukulan psikologis yang sangat kuat bagi dunia orang-orang kafir.
Bahkan sejak saat itu, Barat terus terobsesi untuk melakukan balas
dendam. Sejarah delapan abad terakhir terdiri dari realai terhadap
pertempuran Hattin dan akibat-akibat langsungnya:
Niat .iahat Tentara Salib terus terrurup rapat di dalam hati
mereka, sampai mereka membukanya pada saat mereka berhasil
mengusir negara Khalifah 'Utsmani dan kemudian mendirikan
negara Yahudi di Palestina. Mereka menganggap berdirinya negara
Yahudi itu sebagai pembalasan dua kali lipat atas kekalahan mereka
di tangan pemimpin Islam yang gagah berani, Saladin.aa
Hubungan antara Perang Salib dan kolonialisme Eropa juga
mendapat sorotan. Kolonialisme dipandang sebagai suatu strategi
untuk mengeksploitasi dunia muslim sebagai pembalasan atas
kegagalan Perang Salib. Menurut perspektif Hizb al-Thhrir, ada
bukti bahwa mentalitas Tentara Salib masih terus tertanam di
kalangan orang-orang Barat. Satu buktinya yaitu pernyataan yang
diduga pertama kali dikeluarkan pada Perang Dunia Pertama oleh
Jenderal Allenby saat dia menduduki Yerusalem pada Desember
1917: "hanya sekarang saatnya Perang Salib berakhir".as
Dalam konteks perang propaganda, tidak penring apakah
Allenby tidak benar-benar mengeluarkan pernyataannya "yang
terkenal" itu. Terlihat jelas bahwa pemerintah Inggris ingin meng-
hormati Islam. Allenby sebenarnya ingin memasuki Yerusalem
dengan cara yang lebih sensitif secara budaya dibandingkan kaisar
Jerman \Tilhelm II, yang dua puluh tahun sebelumnya dba dengan
menunggang kuda dan berpakaian seperti seorang Tentara Salib
Abad Pertengahan.a6 Sekalipun demikian, pernyataan Allenby itu
disebarkan oleh Sayyid Quthb dan penulis-penulis muslim lainnya
dan hal itu menunjukkan bagaimana dunia Islam modern me-
mandang Perang Salib.
Respons terhadap para Tentara Salib baru yaitu jihad sebagai
solusi Islam. Kaum muslim harus berjuang sampai penjajah
terakhir terusir, berapa pun banyaknya syuhada yang gugur, dan
berapa pun lamanya waktu yang dibutuhkan. Sekali lagi, model
Tentara Salib digun2k2n-kxurn muslim diingatkan bahwa para
pendahulu mereka berperang selama hampir dua abad sebelum
kemudian Tentara Salib diusir dan wilayah muslim bisa disatukan
kembali.aT Penghancuran Israel dan pembangunan kembali Palestina
harus dicapai lewat jihad, sebagaimana kaum muslim merebut
kembali Palestina lewat jihad pada masa Perang Salib. Kemenangan
akan datang, bila bukan sekarang, maka di masa yang akan datang:
"Ummah yang berperang melawan Tentara Salib dan Tartar [Mongol]
selama lebih dari dua ratus tahun ... sampai ummah meng-
hancurkan dan mengusir mereka, mampu memerangi dan me-
ngalahkan musuhnya ... bila bukan sekarang, maka nanri."a8
Kesamaan antard Kerajaan Tbntara Salib Yerusalem
dan Negara Israel Modern
Dalam nrlisan-tulisan sejarah kaum muslim ada sebuah karakter
yang mendarah daging, berupa kecenderungan untuk menarik
:
pelajaran moral dari kejadian masa lalu. Nilai pesan peristiwa
Perang Salib telah benar-benar diakui dalam dunia Arab sejak
Perang Dunia Kedua dan pembentukan negara Israel. Pada Oktober
1948, Abd al-Lathif Hamzah menulis: "Perjuangan melawan kaum
Zionis telah membangkitkan kembali memori Perang Salib di
dalam hati kami."ae
Kesamaan antara kebangkitan dan kejatuhan Kerajaan Yerusalem
dan situasi kini di negara Israel banyak ditunjukkan di dalam
media berbahasa fuab, karya-karya sastra, dan buku-buku akademis.5o
Beberapa orang Arab menyatakan pentingnya bersikap sabar.
Tidakkah benar, kata mereka, bahwa Kerajaan Tentara Salib
Yerusalem berlangsung selama 88 tahun (1099-1187) sementara
negara Israel baru muncul se.iak 1948? Fakta bahwa perjuangan
kebangsaan Palestina sangat terfokus pada status Yerusalem dan
bahwa gerakan-gerakan Islam modern juga menegaskan sisi ke-
sucian kota itu sebagai tempat paling suci ketiga Islam, sesudah
Mekah dan Madinah, hanya memperbesar potensi kesamaan
ini .
Media yang sangat berpengaruh yang menunjukkan kerinduan
Arab dan kaum muslim pada Yerusalem yaitu puisi. Seperti
ditulis oleh kritikus Palestina Jabra I. Jabra:
Puisi mungkin dipandang sebagai sebuah mainan yang sangat
lemah untuk melawan senapan, namun sebenarnya puisi sama kuat-
nya dengan dinamit. Puisi memberikan kekuatan kepada seluruh
penderitaan dan kemarahan bangsa. Puisi mengendapkan sikap-
sikap politik dalam baris-baris penceritaan, yanB diingat oleh yang
tua dan muda, memperkokoh perlawanan rakyat dan memberikan
slogan-slogan yang dapat menggerakkan.tr
Contoh yang menarik yaitu karya seorang penyair dan
penulis esai perempuan dari Irak, Nazik al-Malaika. Dalam tulisan-
nya yang dibuat pada tahun 1970-an, Nazik memberikan pan-
dangan religius yang berbeda terhadap perjuangan nasional Arab
dan memfokuskan pada Palestina, khususnya Yerusalem. Sekali
Iagi, simbol-simbol yang dikenal dari puisi dan prosa berbahasa
Arab tentang periode Perang Salib muncul kembali dan diberikan
peran penting dan intensitas baru dalam situasi politik kontemporer.
Kubah Batu (bandingkan foto 9.5) menduduki tempat sentral
sebagai citra politik dan spiritual yang sangat kuat:
[Kau] yaitu sebuah masjid yang haus akan Alquran dan doa-doa
Kala kemenangan diraih, seruan untuk salat akan berkumandang,
Dengan menyerukan berdoa, seruan bagi Perang Suci dan
Dalam puisi yang lain, yang dengan penuh emosi diberi
judul "Hijrah ke Tirhad' (al-hijrah ilA AllAh), Nazik mengungkap-
kan kepiluannya tentang Yerusalem dan kemunduran yang dialami
oleh Mas;'id Aqshi saat tidak lagi memiliki pembela-pembela
sekaliber khalifah Abbasiyah seperti al-Mu'tashim dan Saladin.s3
Demikianlah, sekali lagi, seperti pada periode Perang Salib, dua
monumen suci Islam di Yerusalem yang rengah dikuasai itu,
Kubah Batu dan Masjid AqshA, dipersonifikasikan, haus akan
Alquran dan doa-doa orang beriman, dan menderita (li bawah
belenggu opresi asing.
Kubah Batu secara khusus, dengan bagian luarnya yang rapar
dan segera bisa dikenali, telah menjadi simbol yang sangat ber-
pengaruh, nyaris menjadi sebuah logo, di banyak dunia fuab
(foto 9.7). Gambar-gambar Kubah Batu menghiasi dinding-dinding
luar rumah penduduk untuk mengingatkan bahwa para penjajah
telah datang ke sana. Gambar-gambar ini digunakan di semua
konteks, mulai dari kop surat sampai nampan minum, dan
menjadi media hiasan seni poster dan seni reyolusioner di negara-
negara Islam seperti Iran, selalu dengan pesan identitas Palestina
dan kebangkitan Islam. sebab itu, muncul reaksi keras dan
langsung terhadap setiap aksi, politik maupun yang lainnya, yang
mungkin dianggap mengancam monumen-monumen Haram al-
Syarif;, seperti pembukaan terowongan pada 1996 di sekitar Masjid
Aqshi. Bom berkekuatan besar yang diledakkan oleh seorang
Yahudi Australia di Masjid Aqshi pada 1969-yang menghancur-
kan mimbar kayu Nfrruddin dari abad kedua belas, yang dibuat
sebagai bagian dari rencananya untuk merebut Yerusalem-me-
nunjukkan bila ketakutan seperti itu bukan tanpa dasar.
Meski ada pengaruh agenda politik modern dan emosi yang
ditimbulkan oleh Kota Suci Yerusalem, bagaimanapun juga, yaitu
tidak bijak untuk mempersamakan Kerajaan Salib Yerusalem
dengan negara modern Israel. Memang benar bahwa kepala-kepala
negara muslim modern melihat semua bahaya ini terlalu jelas.
namun , selama Israel, negara yang berorientasi Barat dan sebuah
warga militer, terus menduduki wilayah geografis yang sama
seperti yang dilakukan Kerajaan Salib Yerusalem pada abad kedua
belas dan ketiga belas, semuanya akan sangat mudah untuk
membuat persarnaan-persamaan semacam itu.
Memang, bisa juga membuat persamaan yang agak berbeda
dari bukti-bukti sejarah. Orang misalnya, bisa membandingkan,
penguasa Aynrbiyah al-Kimil, yang tunduk pada desakan politik
dan menyerahkan kembali Yerusalem kepada tntara Salib, dengan
pemimpin-pemimpin fuab modern yang telah membuat perjanjian
dengan Israel. Negata-neger^ Salib, seperti telah ditunjukkan di
dalam buku ini maupun buku-buku lainnya, dapat bertahan lama
(selama hampir dua abad) sebab keahlian militer mereka dalam
bertahan, bantuan-bantuan reguler dari Barat, dan kemampuan
mereka membuat aliansi dengan negara-negara muslim sekitarnya.
fungkasnya, seperti telah dibahas di dalam buku ini, untuk
sementara waktu-setidaknya pada abad ketiga belas-para Tentara
Salib hampir menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan
politik Timur Tengah, sebelum Mamluk memPersatukan Mesir
dan Suriah dan mengangkat bendera jihad, dan kaum muslim
sekali lagi merasakan adanya keharusan yang sangat kuat untuk
mengusir Tentara Salib dari wilayah Islam. Masih harus dilihat
skenario mana yang bertahan di dalam konteks saat ini' namun ,
yang tidak boleh dilupakan yaitu bahwa akan selalu ada kesen-
jangan yang besar antara retorika dan kenyataan, antara tampilan
di depan publik dan perundingan-perundingan rahasia.
Propaganda Libya ldng Anti-Bdrat
Selain membuar persamaan politik dan militer antara perang salib
Abad Pertengahan dan situasi saat ini di Timur Tengah, para
pemikir dan pemimpin muslim kontemporer menggambarkan
pandangan-pandangan yang telah rerranam dalam tentang ke-
kotoran Tentara Salib/Barat dan pencemaran rempat suci Islam
oleh mereka.
Rezim Kolonel Qaddafi di Libya secara resmi dilantik pada
1 September 1969. saat sikap permusuhan Barat terhadap
pemerintahannya tengah panas-panasnya pada awal 1980-an, pamflet-
pamflet pembelaan diproduksi secara besar-besaran di Libya. Isi
pamflet ini dengan regas menunjukkan sikap anti-imperialis,
anti-Kristen dan anti-Barat. Gambaran dan retorika ini sangar
mirip dengan respons kaum muslim pada masa Perang Salib.
Kuatnya emosi terlihat pada judul salah satu buku berwarna hijau
yang berjudul Nationalists Documents to Confont the Crusader
Anach on the Arab Homeland (Dokumen-Dokumen Kaum Nasionalis
untuk Menghadapi Serangan Tentara Salib terhadap Thnah Air
Arab).54 Musuh mereka berbeda dari Tentara Salib abad kedua
belas dan ketiga belas yang berasal dari Eropa barat. Amerika
Serikat kini dipandang sebagai mantel Tentara Salib (penulis
naskah itu membicarakan tentang "kotoran lftisten Amerika"),55
dan kaum Yahudi-lah yang menduduki Yerusalem. Namun, sekali-
pun begitu, nada dan isinya sangat dikenal:
Kemarin kami menyeru kaum muslim agar melakukan gerakan
suci besar-besaran guna membebaskan Yerusalem, kiblat perrama
dari dua kiblat. namun sekarang kami terkejut, ternyara, sesudah
Yahudi menduduki Yerusalem, kaum lGisten telah menduduki langit
[wilayah udara] Mekah, Madinah, dan Bukit Arafah.,6
Tirgas para penulis selebaran Qaddafi semakin mudah sebab
mereka bisa mengipasi api kebencian yang telah mendalam di
kalangan kaum muslim: kaum lkisten yaitu "najis" dan mereka
mengotori lingkungan kaum muslim.
Orang-orang kafir Barat dianggap telah mengotori tempat-
t€mpat Islam yang paling suci dan gambaran yang digunakan
tentang "babi-babi Amerika yang kotor ini" mengingatkan pada
salah satu kesan Ibn Jubayr tentang Tentara Salib Acre yang
dicatatnya pada tahun 1184.57 Selebaran itu menyatakan: "Di saat
ratusan ribu kaum muslim dari berbagai warna, bahasa, dan ras,
tengah berdiri di atas Bukit Arafah, kaum lGisten Tentara Salib
Amerika melemparkan sampah dan kotoran mereka dari pesawat-
pesawat mereka ke atas Bukit fuafah."58
Jalur pertempuran digambarkan antara "Islam dan Kristen,
antara Timur dan Barat", dan antara "bangsa Arab, bangsa Islam"
di satu pihak dan "orang-orang asing" (fir") di pihak lain.ie
Bangsa Amerika dianggap telah melancarkan "serangan salib
terhadap Islam". Mereka yaitu "para pemimpin serangan Tentara
Salib modern".6o
Kolonel Qaddafi, pemimpin rakyat Libya, yang seorang tokoh
militer seperti pahlawan-pahlawan muslim pada perlaw".rr., d"l"-
Perang Salib, digambarkan dengan gelar-gelar yang tinggi seperti
berikut ini: "Dialah yang telah membuka kedok para konspirator,
menunjukkan para penguasa reaksionis fasis, dan yang benar-
benar menyeru untuk melakukan jihad suci."6r pesan selebaran
ini tidak mengenal kompromi dan sangat jelas, dan sangat meng_
ingatkan pada semangat Perang Salib dalam kesadaran Arab
modern.
Analogi dengan masa Tentara Salib yang dibuat di dalam
pamflet-pamflet ini sangar mengejutkan. para ahli propaganda di
sini memakai tema yang sama seperri yang digunakan Ikhwanul
Muslimin, dan mereka menghubungkan "kaum }Gisten,, Amerika
di satu pihak dan Israel zionis di pihak lain. Retorika ini
sangat penting sebab konflik tersebur terpolarisasi sebagai konflik
politik dan militer antara Timur dan Barat, sebab sekali lagi
Barat berusaha masuk dalam hubungan dan interaksi di rimur
Tengah-seperti pada masa Perang Salib.
BEBEMPA REFLEKSI UMUM
Membahas pendapat kaum muslim modern rentang perang Salib
yaitu mgas yang sulit. Sekilas akan terlihat alasan bahwa kaum
muslim modern punya dasar untuk merasa bangga dan menang.
Pada akhirnya, Islamlah yang menang, baik secara politik maupun
budaya. Tentara Salib angkar kaki sesudah selama dua abad mereka
menjajah dan melancarkan kolonialisme awal. Namun, kontak
dengan Tentara Salib dengan sangat jelas menunjukkan bahwa
budaya dunia Islam pada saat itu telah unggul dari Eropa barat.
Seluruh peristiwa menyangkut hubungan panjang antara Islam
dan l(risten ini tertanam dalam-dalam di pengetahuan Islam
modern, dan Perang Salib lebih sering dipandang oleh kaum
muslim telah menyebarkan pengaruh negadf dan merusak di dunia
Islam. Perang Salib dipandang sebagai suatu gerakan imperialisme,
gerakan pertama dalam rangkaian perampasan wilayah negara-
negara muslim yang berlangsung lama.
Yang pasti, tidak diragukan lagi bahwa sejak Perang Salib,
hegemoni politik dan budaya dan presrise dunia muslim telah
pudar, seiring dengan meningkatnya kekuatan dan imperialisme
politik dan budaya Barat. Saat membahas tentang merosotnya
citra kaum muslim sendiri, ilmuwan Amerika, Hodgson, menulis
dengan tepat:
Bukan kaum muslim, namun kaum Kristen yang dibenci-
yang berasal dari timur laut yang jauh, yang sejak lama tidak
dianggap sebab terlalu dingin dan terhalang kabut untuk meng-
hasilkan sesuatu yang lebih cerdas dibandingkan Tentara Salib yang
tak berbudaya yang telah datang dari sana-yang kini tiba-tiba
punya kekuatan dalam persoalan-persoalan di dunia.62
sesudah Tentara Salib terusir, dunia muslim berpaling kepada
diri sendiri, dengan meneruskan sikap bertahan, merasa tersisihkan
dan memandang perkemb*gr teknologi modern sebagai manifestasi
"pihak lain".63 Modernisme sinonim dengan Barat, tempat perang
Salib berasal. Kemudian, sesudah perang Salib, dunia muslim yang
telah berhasil mengalahkan Eropa barat menghadapi kebenaran
yang tak terbantahkan dan sulit, bahwa musuh yang mereka
kalahkan itu menikmati pertumbuhan ekonomi, teknologi, dan
budaya yang sebenarnya dan telah menguasai dunia.
Tentu saja, kemunduran besar-besaran peradaban Islam Abad
Pertengahan tidak bisa ditimpakan seluruhnya pada perang Salib.
Namun, Islam tidak bisa dan tidak akan melupakan perang salib,
khususnya sebab wilayah mereka rerus menerus menjadi sasaran
serangan Barat, dan bangsa Arab, terutama palestina, wajib berealsi
terhadap keberadaan negara Israel. Kaum muslim kini berusaha
memeluk ideologi yang benar bagi citra mereka sendiri dan tidak
terkontaminasi oleh imperidisme dan sekulerisme Barat. yaitu
fakta yang tak terbantahkan bahwa, sebagaimana banyak prasangka
Barat yang telah tertanam dalam rentang kaum muslim dapat
ditelusuri kembali lewat sikap yang terbentuk pada periode perang
Salib, begitu juga pendapat kaum muslim tentang Barat sangat
dipengaruhi oleh peperangan Islam dengan Eropa barat pada abad
kedua belas dan ketiga belas itu. Di tahun-tahun akhir abad
kedua puluh, para pemimpin politik dunia muslim terbiasa ber-
bicara tentang saladin, dan memandang Israel sebagai negara Salib
masa kini. Kenyataan bahwa referensi persamaan yang mengacu
ke dunia Barat tidaklah paralel, dengan budaya tradisional Barat
yang bersumber pada Kristen dan bukan Yudaisme, menjadi tidak
penting.
MAHMUD DARMSH: MEMORY FOR FORGETFULNESS
salah satu karya besar .erbaru dalam kesusastraan Arab yaitu
sebuah karya yang hidup dan membangkitkan kenangan masa
lalu, ditulis oleh Mahmud Darwish, rentang serangan Israel ke
Lebanon. Karya berjudul Memory for Forge{ulness (Kenanean bagi
Yang Terlupakan)64 itu merupakan elegi yang panjang tenrang
kejadian yang sangat tragis ini. Dalam karya ini penulis
menceritakan dengan sangat lancar bencana masa kini dan masa
lalu, kota Beirut yang dibom dan pendudukan Tentara Salib atas
Thnah Suci. Dalam renungan yang puitis rentang air, Darwish
menyatakan: "Persediaan air kami telah diputus oleh orang-orang
yang bertindak atas nama sisa-sisa Tentara Salib, namun Saladin
biasa mengirimkan es dan buah-buahan kepada musuh dengan
harapan agar 'hati mereka akan mencair', seperti yang biasa
dikatakannya."65
Yerusalem dulu dan kini yaitu pusat perharian semua mata,
objek kecintaan semua hati: "Saya mencintai Yerusalem. Israel
mencintai Yerusalem dan bernyanyi untuknya. Anda mencintai
Yerusalem. Feiruz bernyanyi unruk Yerusalem. Dan Richard si
Hati Singa mencintai Yerusalem."66 Seraya menghiasi refleksinya
sendiri mengenai tragedi saar ini dengan kutipan-kutipan langsung
dari catatan sejarah Usimah dan tulisan sejarah Ibn Katsir (w.
1373), Darwish menulis dengan tidak memberi penjelasan men-
detail sambil menyampaikan pesan tertenru. Hanya dengan men-
jajarkan kutipan-kutipan dari Abad Pertengahan dengan suara
zamannya sendiri, itu sudah bermakna cukup penring dan ber-
pengaruh. Seluruh karya ini dijejali dengan memori rentang Perang
Salib. Istilah "kaum Frank" bisa dilihat sebagai perluasan metafora
bagi pendudukan wilayah-wilayah Arab oleh bangsa-bangsa asing.
'W'arisan sejarah Islam terus menyediakan lambang-lambang yang
sangat kuat bagi situasi kontemporer.
KATA PENUTUP
Buku ini dengan hati-hati telah menghadirkan pandangan rentang
Perang Salib dari satu pihak, pandangan yang hanya berasal dari
kaum muslim. Yang jelas, pandangan seperti itu sama bias dan
sama tidak lengkapnya dengan pendekatan yang mempelajari
Perang Salib hanya dari sudut pandang Eropa. Namun, harus
dikatakan bahwa tulisan-tulisan sejarah Perang Salib dan ke-
susastraan sekunder sepanjang abad terakhir yang pengaruhnya
sangat kuat cenderung memakai pendekatan terakhir, dengan
rujukan sekadarnya pada sumber-sumber muslim. tmpaknya,
sudah wakrunya untuk membuat sedikit perimbangan. Ttrgas para
sejarawan Perang Salib modern, tentu saja, yaitu menyeimbangkan
buki-bulai dari semua pihak-kaum Eropa barat, Bizantium, Yahudi,
IGisten Timur dan Islam-sehingga bisa diperoleh pandangan yang
lebih menyeluruh tentang Perang Salib, yaitu saat kaum muslim
dan kaum Kristen Eropa terlibat konflik dan juga hidup ber-
dampingan pada abad kedua belas dan ketiga belas, yang meski
berlangsung singkat namun bermakna penting. Mungkin bila
dilihat dari sisi kronologis yang seben arlya, periode itu berlang-
sung singkat. Namun, dampaknya, sebaliknya, terus berlangsung
dan telah menimbulkan beberapa kesalahpahaman dan permusuhan
yang terus berlangsung anrara Timur dan Barat. Pelajaran-pelajaran
yang berasal dari analisis mengenai Perang Salib dari perspektif
Islam akan membanm untuk memberikan pemahaman yang lebih
baik antara Barat dan wilayah-wilayah yang masih menjadikan
Islam sebagai suatu seruan politik dan ideologi agama yang
dominan. Pada 1999, pada peringatan 900 tahun direbutnya
Yerusalem oleh Tentara Salib dan mendekatnya milenium lGisten
baru, upaya-upaya menuju perdamaian abadi, yang dipusatkan di
Kota Suci, harus dilanjutkan. Sebagaimana dituliskan dengan
sangat tegas oleh \falid Khalidi: "solusi yang mungkin bagi
Yerusalem yaitu harus lebih dulu melakukan sesuatu seperti apa
yang dilakukan oleh orang-orang yang menyeru untuk kembali
ke tanah air yang kini dikuasai orang lain--dari Perang Salib
dan penguasa Perang Salib, dari jihad dan perang dalam me-
negakkan jihad."et
Meski ada banyak interpretasi tentang fenomena Perang Salib,
yang mencerminkan sikap Kristen Abad Pertengahan maupun
Barat modern, buku ini berusaha menunjukkan bagaimana pan-
dangan haum muslim mengenai Perang Salib. Keliharannya ddak
bisa dibantah lagi bahwa Perang Salib membawa sedikit manfaat
bagi dunia Islam. Sebaliknya, di lingkungan religius dan semua
yang berkaitan dengannya, Perang Salib menimbulkan kemarahan
besar kaum muslim dan menimbulkan luka psikologis yang sangat
dalam dan kronis. Menurut pandangan saya, pandangan Barat
modern tentang Perang Salib sangat sedikit mempertimbangkan
hal ini. Orang-orangyeng saat ini mendukung untuk memandang
Islam sebagai "setan" di media-media Barat dengan demikian akan
benar-benar mengingat sejarah luka psikologis dan penghinaan
agama ini. Banyak kaum muslim saat ini yang masih mengingat
dengan perasaan pilu-meskipun telah berjalan berabad-abad
kemudian-apa yang telah terjadi atas nama Salib. Sebagaimana
yang sangat sering terjadi di dunia Islam, peristiwa-peristiwa yang
jauh di masa silam memiliki relevansi yang sangat erat dengan
saat ini.
Thbel Kronologi Peristiwa Penting sampai
Penaklukan Acre pada 590 H.ll29l M.
1092 \Wafatnya Maliksyah, Nizhim al-Mulk
1094 'Wafatnya Kha[Ah Fatimiyah al-Mustanshir dan Khaliah Abbasiyah
al-Muqtadhi.
1095 (Maret) Konsili Piacenza.
1096 (27 November) Pengumuman Perang Salib Pertama oleh Paus
Urbanus II di Konsili Clermont.
1096-1102 Perang Salib Pertama.
1096-1097 Para Tentara Salib tiba di Konstantinopel.
1097 (1 Juli) Pertempuran Dorylaeum.
(21 Oktober-3 Juni 1098) Pengepungan Antiokhia.
1098 (10 Maret) Baldwin dari Boulogne merebut Edessa.
(28 Juni) Pertempuran Antiokhia.
1099 (15 Juli) Yerusalem jatuh ke tangan Tentara Salib.
(22 Juli) Godfrey dari Bouillon terpilih sebagai raja pertama kaum
Frank di Yerusalem.
1101 (Agustus-September) Gelombang akhir para Tentara Salib Pertama
ditaklukkan oleh bangsa Tirrki di Asia Kecil.
1109 (12 Juli) Tlipoli direbut oleh pasukan kaum Frank.
1119 (27 Jwl) Pertempuran Ladang Darah.
1124 (7 luli) Tirus direbut pasukan kaum Frank.
ll29
(November) Tentara Salib menyerang Damaskus.
ll44 (24 Desember) Zengi merebut Edessa.
1146 Zengi'Wafat.
1147-1149 Perang Salib Kedua.
1148 (24-28 Juli) Pasukan kaum Frank mundur dari pengepungan
Damaskus.
ll54 (25 April) N0ruddin menduduki Damaskus.
1163-1169 Raja Almaric dari Yerusalem melakukan ekspedisi ke Mesir.
1169 (23 Maret) Saladin, atas nama N0ruddin, berkuasa di Mesir.
ll72 (10 September) Saladin menghancurkan Khalifah Fatimiyah dan
mengembalikan Mesir kepada Islam Sunni.
ll74
(15 Mei) N0ruddin wafat.
(28 Oktober) Saladin merebut Damaskus.
1183 (11 Juni) Saladin merebut Aleppo.
1186 (3 Mare$ Saladin merebur Mosul.
1187 (4 Juli) Perrempuran Hattin.
(2 Oktober) Saladin merebur kembali yerusalem.
(29 oktober) Paus Gregorius vlII mengumandangkan perang salib
Ketiga.
1189-1192 Perang Salib Ketiga
1190 (10 Juni) Kaisar Frederick I di Cilicia tenggelam.
i19l
(12 Juli) Richard dari Inggris dan Philip II dari Prancis menerima
penyerahan Acre.
(7 Sept.) Pemempuran fus0f.
1192 (2 Sept.) Perjanjian Jaffa.
1193 Saladin wafat.
1198 (Agustus) Paus Innocentius III memaklumatkan perang Salib
Keempat.
1202-1204 Perang Salib Keempat.
1204 (12-15 April) Konstantinopel dijarah oleh kaum Frank.
1213 (April) Paus Innocentius III memaklumatkan Perang Salib Kelima.
1217-1229 Perang Salib Kelima.
1218 (27 Mei-5 November l2l9) Penyerangan Damietta.
l22l (30 Agustus) Kaum Frank di Mesir dikalahkan di al-Manshurah.
1228-1229 Perang Salib Kaisar Frederick II dari Sisilia (bagian terakhir Perang
Salib Kelima).
1229 (18 Februari) Yerusalem dikembalikan kepada kaum Frank lewat
perjanjian dengan Ayyubiyah.
1244 (11 Juli-23 Agustus) Kaum Khawi.razmi merebut yerusalem.
(17 Oktober) Pertempuran La Forbie.
1250 (8 Februari) Kaum Frank di Mesir dikalahkan di al-Manshurah.
1250-1254 St. Louis di Thnah Suci.
1258 (19 Februari) Mongol menyerbu Baghdad dan menghancurkan
khalifah Abbasiyah.
1260 (3 September) Pertempuran Ayn Jilcrt-Mamluk mengalahkan pasukan
Mongol yang telah kepayahan.
(23 Oktober) Baybars menjadi sultan Mesir.
1268 (18 Mei) Baybars merebut Jaffa, Belfort, dan Antiokhia.
1270 St. Louis wafat.l27I
1277 Baybars wafat.
1289
l29l
Baybars merebut BGak des Chevaliers dan Montfort.
(26 April) QaliwCrn merebut Thipoli.
(18 Mei) Mamluk di bawah al-fuyraf Khalil merebut Acre.
fluli) Sidon dan Beirut jatuh ke rangan Mamluk.
Thbel Dinasti
Saljuh Agung 431-590 H./104A-1194 M. (Irak dan Persia)
431 H.lr040 M. TLghril
455 H.lr063 M.
465 H.ll072 M.
485 H.ll092 M.
487 H.ll094 M.
Barlcyiruq
498 H.lllO5 M. Muhammad
5ll-522 H./1118-1157M. Sanjar (penguasa di wilayah timur Persia)
sesudah 511 H./1118 M. Sultan tertinggi keluarga Saljuk
Saljuk (harya) di lrah dan hawasan barat Persia
511 H./1118 M. Mahm0d
525 H.ll131 M.
526 H.lrt32 M.
529 H.lll34 M.
547 H.lrt5z M.
548 H.ll153 M.
555 H.ll160 M.
556 H.ll161 M.
Dinasti Fatimiyah (Mesir dan Suriah)
N:Aziz
365 H.t975 M.
386 H.t996 M.
411 H./1021 M.
427 H.tr036 M.
487 H.tr094 M.
495 H.lt101 M.
525 H.lr131 M.
544 H.ltt49 M.
549 H.l1154 M.
555-567 H.lrt60-r171
Dinasti Saljuk
Al-!!ikim
N-Zahir
Al-Mustanshir
Al-Musta'li
Al-Amir
Al-IIifizh
N-Zafir
Al-Fi',iz
M. At-hdid
Alp tuslin
Maliksyah
Mahm0d
DawM
Tirghril II
Mas'td
Malik-Syah III
Muhammad II
SulaymAn Syah
ArslAn
571-590 H.llr76-rr94 M. Tirghril III
Saljuh di Suiah
471 H.lL078 M. Tirtusy
488-507 H./1095-1113 M. Ridhwin (di Aleppo)
488497 H./1095-1104 M. Duqaq (di Damaskus)
Dinasti Zengi $azirah dan Suriah)
521 H.lll27 M.
Zengi
541 H.lll46 M. N0ruddin
(beberapa penerus dari dinasti ini bertahan hingga pertengahan abad ketiga
belas)
Dinasti Aynrbiyah (Mesir, Suriah, Diyirbakr, Yaman)
Ayubiyah di Mesir
564 H.ll169 M.
al-Malik al-Nishir I Shalahuddin (Saladin)
589 H.lll93 M.
al-Malik al-'Aziz'Imiduddin
595 H.ll198 M.
al-Malik al-Mansh0r Nashiruddin
596 H./1200 M.
al-Malik al-'Adil I Sayfuddin
615 H./1218 M.
al-Malik al-Kamil I Nashiruddin
635 H.tl238 M.
al-Malik al-'Adil II Sayfuddtn
637 H.lr24O M.
al-Malik al-Shalih Najmuddin Ayy0b
647 H.ll249 M. al-Malik al-Mu'azhzham Tirran-Syah
648-650 H.ll25O-1252 M. al-Malik al-Asyraf II Muzhaffar al-Din
Ayyubiyah di Damashus
582 H.ll186 M.
al-Malik al-Afdhal N0ruddin 'Ali
592 H.t1196 M.
al-Malik al-'Adil I Sayfuddin
615 H./1218 M.
al-Malik al-Mu'azhzham Syarafuddin
624 H.ll227 M.
al-Malik al-Nishir Shalihuddin Da'ud
626 H.tl229 M.
al-Malik al-tuyraf I Muzhaffar al-Din
634 H.ll237 M.
al-Malik al-Shilih 'Imiduddin (masa
pemerintahan pertama)
al-Malik al-Kimil I Nashiruddin
al-Malik al-Shilih Najmuddin Ayyirb (masa
pemerintahan pertama)
al-Mali







