rang yang telah ditebus untuk memasuki kerajaan seribu tahun.
Kelompok ini akan terdiri atas orang Yahudi dan orang bukan
Yahudi. Pada saat Kristus datang kembali, orang-orang percaya
akan memasuki kerajaan seribu tahun sedangkan orang-orang yang
tidak percaya akan diambil untuk dihakimi (Matius 13:37-43, 47-50;
24:40, 41; 25:1-12). Sebagaimana halnya Tuhan kita dahulu bekerja
sekitar tiga tahun dengan orang-orang yang akan menjadi kelompok
inti bagi gereja yang akan datang, demikian pula orang-orang yang
diselamatkan selama masa kesengsaraan yaitu kelompok yang
dipakai Tuhan untuk mendirikan kerajaan-Nya saat Ia datang.
Pengumpulan sisa-sisa Israel serta orang-orang yang diselamatkan
dari antara bangsa-bangsa bukan Yahudi pastilah memakan waktu.
saat Kristus datang dalam kemuliaan, amat banyak orang akan
berbalik kepada Tuhan (Zakharia 12:10-14), sebagaimana halnya
pada hari Pentakosta saat Roh Kudus datang dan Petrus berkhot
bah (Kisah 2:14-41; band. Yoel 2:28-32; Roma 11:25-27).
F. HIMBAUAN UNTUK SENANTIASA MENANTIKAN KEDA
TANGAN TUHAN
Berkali-kali kita diingatkan untuk senantiasa siap siaga, "Karena itu
berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu
datang" (Matius 24:42); "Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu
tidak tahu akan hari maupun akan saatnya" (Matius 25:13; band.
Markus 13:35, 36; I Tesalonika 5:6; Wahyu 3:3). Kita juga diminta
untuk menantikan pengharapan yang penuh bahagia itu (Titus 2:13;
band. Ibrani 9:28). Bagaimana mungkin kita berjaga-jaga dan me
nantikan kedatangan Tuhan bila tidak ada satu pun peristiwa yang
telah dinubuatkan yang mendahului kedatangan ini ? jika
Saat Kedatangan-Nya: Sebelum Masa Kesengsaraan 583
masa kesengsaraan mendahului kedatangan-Nya yang kedua, maka
kita mau tidak mau akan menantikan kesengsaraan ini sebagai
awal dari kedatangan Kristus yang kedua. Bila kita tidak dapat
mengharapkan kedatangan Tuhan akan terjadi sewaktu-waktu, maka
kebenaran kedatangan Tuhan kembali tidak merupakan pendorong
untuk menjalankan kehidupan yang kudus, pelayanan yang efektif,
serta kesiap-siagaan seperti yang dikatakan oleh Alkitab. Namun,
Alkitab mengajarkan bahwa kedatangan Kristus yang kedua kali itu
sudah dekat.
Orang-orang yang memiliki pandangan yang berbeda tentang
pokok ini mengakui kekuatan argumen ini. Oleh karena itu mereka
berusaha untuk menunjukkan bahwa para rasul tidak percaya Kris
tus akan datang setiap saat. Beberapa hal disebutkan sebagai bukti.
Sebagian besar bukti ini hanya merupakan rencana-rencana yang
dapat dibenarkan dari orang-orang yang kuatir mengenai masa
depan, yang bergantung pada Tuhan yang membuka jalan, seperti
saat Paulus memberi tahu rencananya untuk pergi ke Roma dan
Spanyol (Roma 15:22-25, 30-32). Mereka mengatakan bahwa
Paulus tidak mungkin membuat rencana ini jika ia mengharapkan
bahwa Kristus akan datang pada setiap saat. Namun berpendapat
demikian berarti melupakan bahwa dalam surat yang sama Paulus
telah menyatakan bahwa kedatangannya tergantung pada kehendak
Tuhan (Roma 1:10). Hal yang sama dapat dikatakan mengenai
semua rencana Paulus (I Korintus 4:19; 16:5-8), seperti juga me
ngenai rencana semua penulis Perjanjian Baru lainnya (Yakobus
4:13-16; Yohanes 21:18-23). Selanjutnya ditandaskan bahwa per
umpamaan-perumpamaan dalam Matius 13 menunjukkan adanya
suatu selang antara yang cukup lama, dan bahwa perumpamaan ten
tang seorang bangsawan dengan sengaja diajarkan oleh karena para
pengikut Tuhan "menyangka bahwa kerajaan Allah akan segera
kelihatan" (Lukas 19:11). Ditandaskan juga bahwa perumpamaan
talenta mengandung pernyataan serupa, "Lama sesudah itu
pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan de
ngan mereka" (Matius 25:19).
Namun kuranglah dapat diterima bahwa para murid Tuhan Yesus
beranggapan akan memerlukan waktu lama untuk penggenapan
perumpamaan-perumpamaan dalam Matius 13. Allah memang tahu
bahwa akan ada selang antara yang cukup lama, namun tidak ada
584 Eskatologi
tanda-tanda bahwa para murid Tuhan tahu akan hal ini . Dalam
hal perumpamaan seorang bangsawan, yang penting yaitu bahwa
para murid menyangka Kristus akan mendirikan kerajaan-Nya pada
waktu itu saat Ia mendekati Yerusalem. Kristus memberi tahu
bahwa Ia harus kembali ke sorga dulu untuk menerima kerajaan
itu, namun tidak ada apa-apa yang menunjukkan bahwa menerima
kerajaan itu akan memerlukan waktu yang lama. Waktu yang lama
dalam Matius 25:19 tidak perlu berarti bahwa dibutuhkan waktu
yang lebih lama dari masa hidup satu generasi yang ada saat tuan
itu pergi ke luar negeri. Para murid mengharapkan kedatangan
Tuhan akan terjadi dengan begitu segera sehingga berkali-kali
Tuhan harus mengingatkan mereka untuk tidak menghentikan
pekerjaan mereka. Nasihat Yakobus sangat selaras, "Karena itu,
saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan"
(5:7). Paulus harus menasihati jemaat di Tesalonika untuk kembali
kepada tugas mereka sehari-hari, sekalipun pada saat yang sama ia
mengatakan tentang dirinya sendiri serta orang-orang seangkatannya
untuk tetap tinggal sampai kedatangan Tuhan (I Tesalonika 4:11,
12, 15, 16; II Tesalonika 3:10-12).
G. JANJI KEPADA GEREJA DI FILADELFIA
Janji yang ada di dalam Wahyu 3:10 menunjuk kepada peris
tiwa Keangkatan Gereja yang terjadi sebelum masa kesengsaraan,
"Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku,
maka Aku pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang
akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam
di bumi." Ada empat hal yang perlu kita perhatikan di ayat ini.
1. Istilah "hari". Istilah ini dipakai untuk menunjuk saat pen
cobaan yang akan datang dan menyatakan suatu periode. Adanya
kata sandang di dalam naskah Yunani yang asli sebelum istilah
"hari" ini menunjukkan bahwa waktu itu khusus. Sebagaimana
dikatakan oleh Walvoord, "Maksudnya bukan apakah gereja akan
lolos dari murka Allah, namun apakah gereja akan lolos dari waktu
murka Allah."174
174 Walvoord, The Blessed Hope and the Tribulation, hal. 54.
Saat Kedatangan-Nya: Sebelum Masa Kesengsaraan 585
2. Luasnya pencobaan. Jelaslah bahwa kesengsaraan ini tidak
bersifat lokal, karena hari itu akan datang "atas seluruh
dunia". Jadi, kesengsaraan ini akan dialami oleh seluruh dunia.
Mounce mengatakan, "Hari pencobaan itu ialah masa pencobaan
dan kesengsaraan yang mendahului pendirian kerajaan yang kekal.
Peristiwa ini disebutkan dalam ayat-ayat seperti Daniel 12:2;
Markus 13:14, dan II Tesalonika 2:1-12." 175
3. Tujuan hari pencobaan ini. Masa ini ditujukan kepada orang-
orang yang "diam di bumi". Perlu diperhatikan bahwa kata yang
dipakai untuk "diam" bukanlah kata yang lazim, oikeo, namun bentuk
yang telah diperkuat lagi, katoikeo, yang artinya mereka yang sudah
menetap di bumi, yang telah menyatukan diri dengannya. Istilah ini
dipakai sekitar dua belas kali dalam kitab Wahyu, dan se
lalu mengacu kepada orang-orang yang diam di bumi. Alford me
nyatakan bahwa dalam ayat-ayat ini "ungkapan katoikeo
diterapkan kepada orang-orang yang tidak termasuk gereja Kris
tus."176 Pencobaan ini bukan untuk gereja karena gereja akan
lolos darinya.
4. Orang-orang yang akan dilindungi dari hari pencobaan.
Dikatakan bahwa orang-orang yang setia kepada Tuhan akan ter
lindung dari masa pencobaan ini. Moffat mengatakan:
175 Mounce, The Book of Revelation, hal. 119.
176 Alford, The Greek New Testament, IV, hal. 586.
177 Moffatt, "The Revelation of St. John the Divine," dalam Expositor’s Greek
Testament, V, hal. 368.
Mustahillah dari sudut tata bahasa dan sulit dari sudut arti kata untuk menen
tukan apakah istilah terein ek berarti ketabahan yang berhasil (seperti dalam
Yohanes 17:15) atau kebebasan mutlak (seperti di II Petrus 2:9), keluar
dengan aman dari pencobaan ini atau luput samasekali (karena Tuhan
sudah datang sebelumnya, ayat 1l).177
Janji dalam Wahyu 3:10 agaknya bukan saja bahwa Allah akan
melindungi orang-orang yang setia dari pencobaan, seakan-akan
hendak menjadi perisai mereka, namun bahwa Ia akan menyelamat
kan mereka dari hari pencobaan itu. Hal ini nampaknya menunjuk
kan bahwa orang-orang percaya akan diangkat sebelum masa
kesengsaraan itu mulai.
586 Eskatologi
H. BEBERAPA PERTIMBANGAN LAINNYA
Ada tiga alasan lainnya yang sering diajukan untuk mendukung pan
dangan Keangkatan Gereja yang terjadi sebelum masa ke
sengsaraan. (1) Ada ayat-ayat yang terpencar-pencar di seluruh Per
janjian Baru yang menunjukkan bahwa gereja tidak akan mengalami
murka Allah. Paulus menghibur jemaat di Tesalonika. "Karena
Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, namun untuk
beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita" (I Tesalonika
5:9), dan lagi, "Yesus . . . menyelamatkan kita dari murka yang
akan datang" (I Tesalonika 1:10). Memang, telah dikatakan bahwa
gereja akan mengalami penganiayaan dan penderitaan (Yohanes
16:33; Kisah 5:41; 14:22; II Korintus 1:7; Filipi 1:29; II Timotius
3:12; I Petrus 4:13), namun penganiayaan ini bukanlah murka Allah
(Wahyu 6:16, 17; 14:7). Orang percaya sedang menantikan peng
harapan yang penuh bahagia (Titus 2:13; band. I Tesalonika 1:10;
4:18; 5:11; I Yohanes 2:28). (2) Gereja tidak disebut dalam Wahyu
4-19. Istilah "gereja" tidak pernah muncul dalam bagian ini. Hal ini
perlu diperhatikan karena istilah "gereja" sering muncul dalam
pasal-pasal sebelumnya dan muncul kembali dalam 22:16. Bila
gereja masih di atas bumi, maka kita dapat mengharapkan bahwa
gereja akan sering kali disebutkan. Dan (3) Banyak yang merasa
bahwa kedua puluh empat tua-tua dalam kitab Wahyu (4:4, 10; 5:5,
dan seterusnya) menggambarkan gereja di sorga. Sekalipun
demikian, tidak ada bukti-bukti yang cukup untuk menguatkan pen
dapat ini. Nampaknya juga tepat untuk menafsirkan bahwa dua
puluh empat tua-tua ini yaitu semacam makhluk-makhluk
sorgawi seperti serafim (Yesaya 6:2), kerub atau kerubion (Yehez
kiel 10:8) atau makhluk-makhluk hidup (Wahyu 4:6), atau sejenis
malaikat tertentu yang tinggal di sekitar takhta Allah.
Sebagai kesimpulan, kami mengajak Anda memperhatikan suatu
kesulitan yang telah diketengahkan terhadap pandangan ini. Paulus
menulis, "Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia:
kita tidak akan mati semuanya, namun kita semuanya akan diubah,
dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab
nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam
keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah" (I
Korintus 15:51, 52). Pada umumnya disetujui bahwa nafiri terakhir
dalam I Korintus 15 ini sama dengan sangkakala dalam I Tesalonika
Saat Kedatangan-Nya: Sebelum Masa Kesengsaraan 587
4:16. Beberapa pihak juga berusaha untuk menyamakan nafiri ini
dengan sangkakala ke-7 dari Wahyu 11:15. Pandangan ini dianut
oleh golongan tengah masa kesengsaraan. Namun kedua nafiri ini
tidak boleh disamakan. Kata "terakhir" dapat berarti yang terakhir
dalam suatu rangkaian, namun dapat juga berarti yang terakhir dalam
arti ditiup pada akhir zaman. Dalam Perjanjian Lama, sangkakala
dan nafiri dipakai untuk beberapa tujuan dan pada bermacam-
macam waktu (Imamat 23:24; Bilangan 10:1-10), dan bisa saja ada
berbagai nafiri yang "terakhir". Dengan demikian, tidak perlu kita
menyamakan nafiri dari I Korintus 15:52 dengan sangkakala
di I Tesalonika 4:16. Nafiri yang disebut di kedua ayat itu pasti
tidak sama dengan sangkakala ke-7 dalam kitab Wahyu, bila kita
ingat seluruh lingkup ajaran mengenai kedatangan Kristus yang
kedua kali.
PASAL XLIV
Kebangkitan
Terjadinya banyak tumpang-tindih dalam pembahasan doktrin es-
katologi memang tak terelakkan. Banyak yang sudah dikatakan ten
tang kebangkitan akan terulang kembali dalam pasal ini, agar pokok
ini dapat diuraikan sedalam-dalamnya. Sungguh beralasan untuk
menyelidiki Alkitab dengan lebih cermat, karena sejak dahulu kala
manusia telah bertanya, "Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup
lagi?" (Ayub 14:14). Senantiasa ada orang yang mengingkari
kebangkitan (Matius 22:23; Kisah 23:8; I Korintus 15:12). Nam
paknya juga senantiasa ada orang yang mengaku percaya kepada
kebangkitan, namun mengingkari kebangkitan fisik. Jadi, sangatlah
penting untuk menyelidiki Alkitab agar dapat memastikan apa yang
diajarkan olehnya tentang kebangkitan.
I. KEPASTIAN KEBANGKITAN
Apakah sebagai soal pengharapan ataukah soal ketakutan dan ke-
gentaran, manusia pada umumnya merasa bahwa ada hidup setelah
kematian. Orang-orang Mesir kuno menunjukkan keyakinan ini da
lam perawatan mereka terhadap orang mati; orang-orang Babilonia
menunjukkannya lewat ketakutan mereka akan suatu keberadaan
yang muram dan sedih setelah kematian. Sokrates beranggapan
bahwa hidup akan berlanjut terus setelah kematian; orang-
orang Indian dari Amerika menantikan padang perburuan abadi.
Brahmanisme, Hinduisme, Budhisme, Konfusianisme, dan agama
Islam, semua percaya bahwa manusia tetap ada setelah kematian.
Dari manakah kepercayaan universal ini? Adakah pertanda fun-
589
590 Eskatologi
damental mengenai sifat manusia ini suatu kebohongan? Tidak.
Kenyataan bahwa pikiran kita tidak dapat tenang menghadapi
prospek kepunahan merupakan landasan bagi pengharapan adanya
hidup setelah kematian. Namun, yang hendak diuraikan dalam pasal
ini bukan sekadar hidup setelah kematian; kita ingin tahu apakah
hidup setelah kematian itu yaitu hidup secara sadar dan apakah
akan ada kebangkitan fisik juga.
A. KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN
Ilmu pengetahuan mempunyai keyakinan bahwa zat tidak dapat
dihancurkan dan energi harus dikonservasi. Karena itu, ilmu penge
tahuan tidak dapat mengatakan bahwa kepercayaan kristiani akan
hidup setelah kematian tidak masuk akal. Filsafat yang mengakui
adanya ketidakadilan dalam hidup, tidak dapat mengelak
kemungkinan adanya kehidupan setelah kematian, saat semua
kesalahan dalam hidup ini akan dibetulkan. Kemungkinan dan ke
perluan ini telah menjadi kepastian dalam Alkitab. Perjanjian Lama
mengajarkan bahwa kehidupan setelah kematian itu ada. Dikata
kannya bahwa semua orang akan turun ke Syeol, dunia orang mati
(Hades dalam Perjanjian Baru). Orang fasik, tentu saja, pergi ke
situ (Mazmur 9:18; 31:18; 49:15; Yesaya 5:14). Dikatakan bahwa
Korah, Datan, dan Abiram telah hidup-hidup ke Syeol (Bilangan
16:33). Akan namun , orang-orang yang benar juga pergi ke situ
(Ayub 14:13; 17:16; Mazmur 6:6; 16:10; 88:4). Yakub menantikan
saatnya dia bisa pergi ke anaknya Yusuf di Syeol (Kejadian 37:35;
band. 42:38; 44:29). Raja Hizkia memandang kematian sebagai
memasuki "pintu gerbang dunia orang mati [Syeol]" (Yesaya
38:10). Pikiran pergi ke Syeol nampaknya juga ada di dalam
ungkapan yang sering dipakai, yaitu "dikumpulkan kepada kaum
leluhurnya" (Kejadian 25:8, 17; 35:29; 49:33; Bilangan 20:24;
27:13; Ulangan 32:50; Hakim-Hakim 2:10).
Juga dalam Perjanjian Baru, orang fasik dengan orang benar
digambarkan sebagai turun ke Hades sebelum peristiwa kebangkitan
Tuhan Yesus. Orang kaya dalam perumpamaan Lazarus dikatakan
pergi ke Hades (alam maut). Di Hades ia dan Lazarus dapat ber
bicara satu dengan yang lain (Lukas 16:19-31). Yesus sendiri turun
ke Hades (Kisah 2:27, 31). Kristus kini memiliki kunci maut dan
Kebangkitan 591
kerajaan maut (Hades) (Wahyu 1:18), dan pada suatu saat kelak
keduanya akan menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalam
nya (Wahyu 20:13, 14). Istilah "Hades" (dunia orang mati, alam
maut, kerajaan maut) dipakai sebanyak sepuluh kali dalam Perjan
jian Baru (Matius 11:23; 16:18; Lukas 10:15; 16:23; Kisah 2:27,
31; Wahyu 1:18; 6:8; 20:13, 14). Kedua kata ini, Syeol dalam Per
janjian Lama dan Hades dalam Perjanjian Baru, diakui oleh semua
sarjana sebagai kata-kata yang tepat sama artinya.
Jadi, kalau Alkitab mengajarkan bahwa ada kehidupan setelah
kematian, apakah itu kehidupan secara sadar? Perjanjian Lama tidak
jelas mengenai hal ini. Berkumpul dengan kaum leluhur, turun
mengapatkan anaknya, serta ungkapan-ungkapan lain semacam itu,
menyiratkan adanya kehidupan yang sadar, sekalipun hal itu tidak
dinyatakan dengan gamblang. Pengkhotbah 9:5, 6, 10 nampaknya
menolak bahwa kehidupan setelah kematian merupakan kehidupan
secara sadar, karena ditegaskan di situ bahwa "tak ada pekerjaan,
pertimbangan, pengetahuan, dan hikmat dalam dunia orang mati,
ke mana engkau akan pergi." Namun, kita harus ingat bahwa kitab
ini ditulis dari sudut pandangan pengetahuan di bawah matahari,
maksudnya, dari sudut pandangan manusia duniawi. Hanya penya
taan ilahi yang dapat menerangkan sifat yang sesungguhnya dari
kehidupan setelah kematian. Yesaya 14:9-11, 15-17 dengan jelas
sekali mengajarkan bahwa kehidupan setelah kematian yaitu ke
hidupan yang sadar. Dan apa yang tersirat dalam Perjanjian Lama
diajarkan dengan jelas dalam Perjanjian Baru. Yesus mengajarkan
hal itu dalam Matius 22:31, 32, dan dalam kisah orang kaya dan
Lazarus (Lukas 16:19-31). Orang kaya dan Lazarus dapat berbicara,
berpikir, mengingat, merasa, dan mempedulikan orang lain. Hal
yang sama tersirat dalam pernyataan Yesus kepada penjahat yang
bertobat bahwa pada hari itu juga ia berada di Firdaus bersama
dengan Kristus (Lukas 23:43). Secara tidak langsung, Perjanjian
Baru nampaknya mengajarkan adanya dua ruangan di Hades, satu
ruangan untuk orang-orang benar dan satu ruangan untuk orang-
orang fasik. Ruangan untuk orang-orang benar dinamakan Firdaus;
sedangkan ruangan untuk orang-orang fasik tidak bernama, namun
digambarkan sebagai tempat penyiksaan. Jadi, jelaslah bahwa istilah
"tidur" kalau digunakan untuk kematian, hanya merujuk kepada
tubuh (Matius 27:52; Yohanes 11:11-13; I Korintus 11:30; 15:20,
592 Eskatologi
51; I Tesalonika 4:14; 5:10).
Setelah kebangkitan Kristus nampaknya telah terjadi sedikit
perubahan. Sejak saat itu, Alkitab menggambarkan orang-orang per
caya langsung menghadap ke hadirat Kristus saat meninggal
dunia. Karena itulah Paulus menyebutkan keadaan saat masih
mendiami tubuhnya ini sebagai "masih jauh dari Tuhan", sedangkan
keadaan saat sudah beralih dari tubuh ini atau sudah meninggal
dunia sebagai "menetap pada Tuhan" (II Korintus 5:6-9). Paulus
mengungkap keinginannya untuk "pergi dan diam bersama-sama de
ngan Kristus--itu memang jauh lebih baik" (Filipi 1:23). Kita juga
melihat "jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh" berada di bawah
mezbah dan dalam keadaan sadar (Wahyu 6:9-11). Mereka akan
pergi ke Firdaus, namun Firdaus itu kini berada di atas (II Korintus
12:2-4). Ada kemungkinan bahwa saat Kristus bangkit, Ia tidak
hanya membawa bersama Dia buah sulung manusia yang dibangkit-
kan-Nya secara jasmaniah (Matius 27:52, 53), namun juga jiwa se
mua orang benar yang berada di Hades. Kini semua orang percaya
menghadap ke hadirat Kristus waktu meninggal dunia, sedangkan
orang-orang yang tidak percaya tetap pergi ke Hades, seperti dalam
zaman Perjanjian Lama.
B. AJARAN PERJANJIAN LAMA TENTANG KEBANGKITAN
FISIK
Pertama-tama, Perjanjian Lama mencatat paling sedikit tiga orang
yang dibangkitkan: putra seorang janda (I Raja-Raja 17:21, 22),
putra perempuan Sunem (II Raja-Raja 4:32-36), dan orang yang
dibangkitkan saat mayatnya kena kepada tulang-tulang Elisa (II
Raja-Raja 13:21). Sejak saat itu, setidak-tidaknya, Israel memiliki
bukti tentang kemungkinan adanya kebangkitan tubuh. Namun ke
percayaan akan kebangkitan tubuh dapat dirunut ke waktu yang
lebih awal lagi. Abraham mengharapkan bahwa di Gunung Moria
itu Allah akan membangkitkan Ishak dari kematian (Kejadian 22:5;
Ibrani 11:19).
Pemazmur yakin bahwa ia tidak akan ditinggalkan di Syeol
(Mazmur 16:10; band. 17:15). Bahwa Mazmur ini ternyata bernu
buat mengenai kebangkitan Kristus samasekali tidak melemahkan
argumen kita (Kisah 2:24-28). Selanjutnya, kita memperhatikan
Kebangkitan 593
pengharapan Yesaya akan suatu kebangkitan fisik (Yesaya 26:19),
janji Allah kepada Hosea (13:14), janji-Nya kepada Daniel (12:1-3,
13). Memang ayat-ayat ini tidak banyak, namun kepercayaan akan
kebangkitan fisik sudah mulai pada zaman Abraham dan berlanjut
terus hingga kepulangan orang Yahudi dai Babel. Nampaknya jelas
dan memadai untuk mengatakan bahwa doktrin ini telah diajarkan
dan dipercayai sepanjang periode Perjanjian Lama.
C. AJARAN PERJANJIAN BARU TENTANG KEBANGKITAN
FISIK
Perjanjian Baru mencatat kebangkitan lima orang: putri Yairus
(Matius 9:24, 25), pemuda dari Nain (Lukas 7:14, 16), Lazarus
(Yohanes 11:43, 44), Dorkas (Kisah 9:40, 41), dan Eutikhus (Kisah
20:9-12). Lagi pula, kita membaca tentang kebangkitan banyak
orang kudus setelah Kristus bangkit (Matius 27:52, 53). Mengenai
ajaran tentang kebangkitan yang masih akan datang, hal ini
diajarkan oleh Kristus (Yohanes 5:28, 29; 6:39, 40, 44, 54; Lukas
14:14; 20:35, 36) dan para rasul mengajarkan juga (Kisah
24:15; I Korintus 15; Filipi 3:11; 1 Tesalonika 4:14-16; Wahyu 20:4-
6, 12, 13). Dan akhirnya, kebangkitan tubuh Kristus sendiri
merupakan jaminan kebangkitan tubuh kita (Roma 8:11; I Korintus
6:14; 15:20-22; II Korintus 4:14). Kristus telah "mematahkan kuasa
maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa" (II Timotius
1:10). Oleh karena itu jelas bahwa Perjanjian Baru secara cukup
luas dan memadai mengajarkan adanya kebangkitan tubuh.
II. SIFAT KEBANGKITAN FISIK
'namun mungkin ada orang yang bertanya, ’Bagaimanakah orang
mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang
kembali?’" (I Korintus 15:35). Pertanyaan ini sekarang menjadi
pokok penelitian kita. Pertama-tama, kita melihat bahwa Alkitab
berbicara tentang tiga jenis kebangkitan: kebangkitan berdasarkan
hukum yaitu saat orang percaya dibangkitkan bersama Kristus
(Roma 6:4, 5; Efesus 2:5, 6; Kolose 2:12, 13), suatu kebangkitan
rohani, yang sepadan dengan kelahiran kembali atau pembaharuan
594 Eskatologi
(Yohanes 5:25,26), serta kebangkitan fisik (Yohanes 5:28,29). Saat
ini kita hanya akan memperhatikan kebangkitan tubuh.
A. KENYATAAN KEBANGKITAN FISIK
Alkitab memakai paling tidak empat cara untuk menunjukkan
bahwa tubuh akan dibangkitkan. (1) Dengan pernyataan-pernyata
an yang gamblang tentang hal itu (Mazmur 16:9, 10; Daniel 12:2;
Yohanes 5:28, 29). Paulus menulis tentang penguburan dan
kebangkitan tubuh, "Yang ditaburkan yaitu tubuh alamiah, yang
dibangkitkan yaitu tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka
ada pula tubuh rohaniah" (I Korintus 15:44). Tubuh alamiah yaitu
tubuh yang terdiri atas darah dan daging; membutuhkan makanan,
udara, dan istirahat; tubuh alamiah ini dapat makin merosot
keadaannya serta mengalami sakit penyakit. Inilah tubuh yang di
sesuaikan dengan keberadaan di planet ini. Tubuh rohani yaitu
tubuh yang disesuaikan untuk hidup di sorga, tubuh yang kuat dan
mulia. Tubuh ini serupa dengan tubuh kebangkitan Tuhan kita.
Paulus mengatakan selanjutnya bahwa Kristus akan mengubah
"tubuh kita yang hina ini sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang
mulia" (Filipi 3:21). (2) Dalam pernyataan bahwa tubuh kita ter
masuk dalam penebusan kita (Roma 8:23; I Korintus 6:13-15, 19,
20). saat Kristus mati bagi kita, Ia mati bagi manusia seutuhnya.
Keuntungan sepenuhnya dari karya pendamaian Kristus tidak ter
wujud sebelum tubuh ini mengenakan keadaan yang tidak dapat
mati, suatu peristiwa yang akan terjadi pada waktu kebangkitan. (3)
Dalam jenis tubuh yang dimiliki Kristus saat Ia dibangkitkan.
Kristus dibangkitkan dalam tubuh fisik (Lukas 24:39; Yohanes
20:27). Mengingkari kebangkitan fisik berarti mengingkari ke
bangkitan fisik Kristus (I Korintus 15:13). (4) Dalam kedatangan
Kristus yang kedua kali serta penghakiman-penghakiman menurut
arti kata yang sesungguhnya. Manusia Kristus Yesus akan kembali
untuk menghakimi bukan roh-roh yang tanpa tubuh, melainkan
orang-orang yang memiliki tubuh (I Tesalonika 4:16, 17; Wahyu
20:11-13).
B. SIFAT TUBUH KEBANGKITAN
Secara umum dapat dikatakan bahwa tubuh kebangkitan bukanlah
Kebangkitan 595
ciptaan yang samasekali baru. Bila itu suatu ciptaan yang
samasekali baru, maka itu bukanlah tubuh kita yang sekarang, namun
tubuh yang lain. Akan namun , yang dibangkitkan itu yaitu tubuh
yang ditaburkan (I Korintus 15:43, 44, 53, 54). Sebaliknya, tubuh
kebangkitan itu belum tentu terdiri atas unsur-unsur yang persis
sama dengan tubuh kita sekarang ini (I Korintus 15:37, 38). Alkitab
hanya mengizinkan kita untuk berkata bahwa hubungan antara
tubuh kita saat ini dengan tubuh kebangkitan yaitu sama seperti
benih gandum yang ditanam serta tanaman gandum yang tumbuh
dari benih itu. Seorang dewasa memiliki tubuh yang sama yang
dimilikinya saat ia dilahirkan, sekalipun tubuh itu telah menga
lami perubahan terus-menerus dan tidak terdiri atas sel-sel yang
sama dengan saat ia lahir. Demikian pula tubuh kebangkitan
yaitu tubuh yang sama, sekalipun susunannya akan berubah.
1. Tubuh orang percaya. Beberapa ayat Alkitab menyatakan
secara jelas atau secara tidak langsung bahwa tubuh kebangkitan
orang-orang percaya akan sama dengan tubuh Kristus yang telah
dipermuliakan (I Korintus 15:49; Filipi 3:21; I Yohanes 3:2).
Beberapa hal dapat dilihat dari I Korintus 15. (1) Tubuh ke
bangkitan ini tidak akan terdiri atas darah dan daging (ayat 50, 51).
Kristus saat lahir memiliki darah dan daging (Ibrani 2:14), namun
setelah kebangkitan-Nya Ia mengatakan bahwa tubuh-Nya terdiri
atas daging dan tulang (Lukas 24:39). Jadi, Kristus bukan roh
melulu, dan kita pun tidak akan menjadi semata-mata roh pada
waktu kebangkitan. (2) Tubuh kebangkitan kita akan tidak dapat
binasa dan tidak dapat mati (ayat 42, 53, 54). Karena itu, tubuh
kebangkitan tidak akan menjadi sakit, rusak, atau mati. Tubuh itu
abadi. (3) Tubuh kebangkitan itu yaitu tubuh yang mulia (ayat
43). Kita dapat memperoleh sedikit pengertian tentang hal ini bila
mengingat peristiwa pemuliaan Kristus (Matius 17:2), atau
memikirkan gambaran Kristus yang dipermuliakan di sorga (Wahyu
1:13-16). (4) Tubuh kebangkitan akan sangat berkuasa (ayat 43).
Maksudnya, tubuh itu tidak akan lelah, namun akan mampu
melakukan hal-hal yang luar biasa saat melayani Kristus (Wahyu
22:3-5). (5) Tubuh kebangkitan yaitu tubuh yang rohani (ayat 44).
Agaknya, yang dimaksudkan ialah bahwa kehidupan tubuh ke
bangkitan yaitu kehidupan roh. Dan akhirnya, (6) tubuh
596 Eskatologi
kebangkitan itu yaitu tubuh sorgawi (ayat 47-49). Dalam II Korin
tus 5:1, 2, Paulus berbicara tentang "tempat kediaman" yang di
sediakan oleh Allah dan tentang "tempat kediaman sorgawi" yang
akan kita kenakan. Tubuh kebangkitan kita yaitu sorgawi jika
dibandingkan dengan tubuh kita yang sekarang yang berasal dari
debu tanah. Hal-hal ini mungkin kurang memuaskan rasa ingin tahu
orang-orang Kristen tentang sifat tubuh kebangkitan, namun semua
ini menceritakan lebih banyak daripada sekadar dugaan manusia.
2. Tubuh orang yang tidak percaya. Sekalipun Alkitab tidak
begitu banyak berbicara tentang kebangkitan orang-orang yang
tidak diselamatkan, bukti-bukti tentang kebangkitan mereka
samasekali tidak lemah atau tidak memuaskan. Yesus menyatakan
bahwa akan tiba saatnya saat semua orang yang berada dalam
kubur akan bangkit, ada yang bangkit untuk hidup dan ada yang
bangkit untuk dihukum (Yohanes 5:28, 29). Yesus mengingatkan
para murid-Nya agar "jangan takut kepada mereka yang dapat mem
bunuh tubuh, namun yang tidak berkuasa membunuh jiwa" (Matius
10:28). Di hadapan Feliks, Paulus menyatakan bahwa orang Israel
menaruh pengharapan kepada Allah bahwa "akan ada kebangkitan
semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-
orang yang tidak benar" (Kisah 24:15). Daniel 12:2 menyatakan
bahwa banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam
debu tanah akan bangun untuk "mengalami kehinaan dan kengerian
yang kekal." Wahyu 20:12, 13 dengan jelas mengajarkan bahwa
orang-orang yang tidak diselamatkan akan dibangkitkan, dihakimi,
serta dicampakkan ke dalam lautan api. Dengan demikian jelaslah
bahwa orang-orang yang tidak diselamatkan juga akan dibangkitkan
secara fisik. Sifat ingin tahu tentu saja akan ingin menyelidiki sifat
tubuh kebangkitan ini, namun kenyataan bahwa Alkitab tidak men
ceritakan apa-apa tentang hal ini menunjukkan bahwa kita harus
puas dengan apa yang telah dinyatakannya.
III. SAAT PERISTIWA-PERISTIWA KEBANGKITAN
TERJADI
Berbagai hal telah dikemukakan untuk membuktikan bahwa tidak
ada kebangkitan yang umum di mana semua orang akan bangkit
Kebangkitan 597
sekaligus. Akan namun , semua keterangan itu perlu dikumpulkan di
sini agar dapat dijelaskan dengan pasti dan tegas. Pertama
Tesalonika 4:16 menyatakan bahwa saat Tuhan kita datang di
udara, hanya orang-orang yang mati dalam Kristus yang akan
bangkit. Frase "dalam Kristus" yang dipakai dalam ayat ini memiliki
arti yang sama seperti pemakaiannya dalam ayat-ayat yang lain.
Frase ini menunjuk kepada persatuan rohani yang mendasar antara
orang percaya dengan Kristus, dalam ayat ini antara orang yang
mati dalam Kristus dengan Kristus. Paulus nampaknya juga mem
batasi kebangkitan pertama pada orang-orang Kristen saja saat ia
mengatakan, "Mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu keda
tangan-Nya" (I Korintus 15:23). Paulus mempercayai adanya ke
bangkitan orang yang diselamatkan dan orang yang tidak diselamat
kan, namun tidak pernah mengajarkan bahwa mereka akan bangkit
pada saat yang bersamaan. Yohanes 5:28, 29 tidak sekadar menun
jukkan adanya dua hal yang menyusul kebangkitan, namun kepada
dua kebangkitan, yang satu untuk hidup kekal sedangkan yang lain
nya untuk dihukum. Daniel 12:2 juga mengajarkan adanya dua
kebangkitan, dan bukan sekadar dua hal yang menyusul satu ke
bangkitan. Mungkin rujukan yang paling jelas tentang adanya dua
kebangkitan ada dalam Wahyu 20:4-6. Lagi pula, Ibrani 11:35
yang berbicara soal orang-orang yang menolak untuk diselamatkan,
"supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik," juga menun
juk adanya pengharapan akan dua kebangkitan.
Ada yang berkeberatan terhadap pandangan adanya dua kebang
kitan ini berlandaskan beberapa istilah. Salah satu ialah istilah
"akhir zaman" yang dalam Alkitab bahasa Inggris sering kali diter
jemahkan dengan istilah on the last day (pada hari terakhir)
(Yohanes 6:39, 40, 44, 54; 11:24; band. 12:48). Dengan berpegang
pada terjemahan dalam bahasa Inggris, perlu dicamkan bahwa is
tilah "hari" sering kali dipakai untuk menunjuk kepada suatu periode
yang lama. Dikatakan bahwa Abraham bersukacita untuk melihat
hari Kristus (Yohanes 8:56). Periode Keluaran dikatakan sebagai
"pada hari tatkala Aku memegang tangannya" (Ibrani 8:9, Terj.
Lama) dan "pada hari pencobaan di padang belantara" (Ibrani 3:8,
Terj. Lama). Periode yang lama dari ketidaktaatan Israel disebutkan
sebagai "sepanjang hari" (Roma 10:21). Yesus meratapi Yerusalem
karena mereka tidak mengetahui "pada hari ini" apa yang perlu
598 Eskatologi
untuk damai sejahtera (Lukas 19:42). Paulus mengatakan bahwa
seluruh zaman ini yaitu "hari penyelamatan" (II Korintus 6:2).
Petrus menyatakan bahwa Allah menghitung waktu dengan cara
yang berbeda dengan kita saat ia menulis, "Di hadapan Tuhan
satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti
satu hari” (II Petrus 3:8). Saat yang dimaksudkan dalam Yohanes
5:25, saat orang-orang yang mati secara rohani mendengarkan
suara Kristus dan hidup, telah berlangsung selama 19 abad. Oleh
karena itu, sangat masuk akal bahwa saat yang disebut dalam
Yohanes 5:28, saat semua orang di dalam kuburan mendengar
suara-Nya dan keluar, dapat berarti suatu periode yang cukup lama
sehingga memungkinkan terjadinya dua kebangkitan yang berbeda.
Jelaslah bahwa kebangkitan yang pertama akan terjadi saat
Kristus datang di udara (I Korintus 15:23; I Tesalonika 4:16).
Semua orang percaya dari zaman ini akan dibangkitkan pada saat
itu. Orang saleh dari zaman Perjanjian Lama dan orang saleh yang
dibunuh selama masa kesengsaraan akan dibangkitkan pada saat
Kristus datang ke bumi (Daniel 12:1, 2; Wahyu 20:4). Dengan
demikian lengkaplah kebangkitan yang pertama. Kebangkitan yang
kedua akan terjadi seribu tahun kemudian (Wahyu 20:5, 11-13).
Nampaknya seakan-akan Tuhan sangat panjang sabar dengan orang
mati yang belum diselamatkan. Mereka sedang mengalami siksaan
selama berada dalam fase perantara ini, namun belum masuk ke tem
pat hukuman yang kekal. Jadi, kemurahan Allah masih menunda
saat penghakiman terakhir sampai sesudah kerajaan seribu tahun.
Namun sekalipun ditunda, saat itu pasti akan tiba. Orang-orang yang
tidak percaya mungkin sekali ingin tetap berada tanpa tubuh
kebangkitan, namun keinginan mereka tidak akan mempengaruhi
kenyataan. Mereka juga akan keluar dalam tubuh kebangkitan
mereka serta menderita hukuman Allah yang abadi di dalam tubuh
mereka.
PASAL XLV
Penghakiman
Sekalipun kedua peristiwa kebangkitan sebenarnya sudah menun
jukkan keadaan manusia di kemudian hari, hal itu tidak akan me
niadakan penghakiman. Seluruh filsafat penghakiman yang akan
datang itu bertumpu pada hak Allah yang berdaulat untuk meng
hukum semua ketidaktaatan serta hak pribadi seseorang untuk mem
bela diri saat disidangkan. Sekalipun Allah itu berdaulat, sebagai
hakim seluruh bumi, Ia akan bertindak dengan adil (Kejadian
18:25). Ia akan melakukan keadilan bukan karena harus tunduk
kepada suatu hukum yang ada di luar diri-Nya, melainkan sebagai
ungkapan watak-Nya sendiri. Masing-masing orang akan mendapat
kesempatan untuk menerangkan mengapa ia bertindak sebagaimana
yang telah dilakukannya dan untuk mengetahui alasan-alasan
hukuman yang dijatuhkan padanya. Semua ini merupakan faktor-
faktor mendasar dari setiap pemerintahan yang benar. Sepanjang
pemerintahan manusia mengatur negara sesuai dengan tatanan
semacam itu, pemerintahan ini meniru metode pemerintahan
Allah. Kini kita perlu bertanya: apakah yang diajarkan Alkitab ten
tang penghakiman-penghakiman yang akan datang?
I. KEPASTIAN PENGHAKIMAN
Adanya penghakiman baik bagi orang yang benar maupun bagi
orang yang tidak beriar telah diberi tahu oleh hati nurani manusia.
Penulis kitab Pengkhotbah, yang berbicara dari segi pandangan
manusia duniawi, mendorong setiap pemuda untuk hidup menuruti
keinginan hatinya, namun menambahkan sebagai peringatan, bahwa
599
600 Eskatologi
untuk semuanya itu Allah akan menghakimi mereka (11:9). Dalam
pasal yang berikutnya ia menulis, "Karena Allah akan membawa
setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu
yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat" (12:14). Paulus
berbicara tentang hati nurani manusia sebagai sedang menuduh atau
membela manusia, mengingat, "hari, bilamana Allah, sesuai dengan
Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang ter
sembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus" (Roma 2:16).
Sedangkan Ibrani 10:27 menyatakan bahwa orang yang berbuat
dosa dengan sengaja dapat menantikan "kematian yang mengerikan
akan penghakiman." Mustahil untuk memikirkan betapa dalamnya
kebejatan moral manusia jika ia tidak perlu takut akan peng
hakiman yang kelak terjadi. Dengan kata lain, hati nurani nam
paknya mengatakan bahwa seandainya tidak akan ada penghakiman,
maka penghakiman harus diadakan.
Perasaan spontan dari hati manusia ini didukung oleh Alkitab.
Dalam kitab Kejadian, Abraham mengakui Allah sebagai hakim se
genap bumi (18:25), dan Hana mengatakan bahwa 'Tuhan menga
dili bumi sampai ke ujung-ujungnya" (I Samuel 2:10). Daud me
ngatakan bahwa Tuhan "datang untuk menghakimi bumi" (I Ta
warikh 16:33; band. Mazmur 96:13; 98:9), dan mengatakan bahwa
"takhta-Nya didirikan-Nya untuk menjalankan penghakiman" (Maz
mur 9:8). Dalam Yoel, Allah berfirman, "Baiklah bangsa-bangsa
bergerak dan maju ke lembah Yosafat, sebab di sana Aku akan
duduk untuk menghakimi segala bangsa dari segenap penjuru (3:12;
band. Yesaya 2:4). Kenyataan ini lebih sering ditegaskan dalam Per
janjian Baru. Yesus bersabda, "Sebab Anak Manusia akan datang
dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada
waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya"
(Matius 16:27). saat berada di Atena, Paulus mengatakan bahwa
Allah telah "menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan
adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-
Nya" (Kisah 17:31; band. Roma 2:16; II Tesalonika 1:7-9). Paulus
selanjutnya menyatakan bahwa "kita semua harus menghadap takhta
pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut
diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini,
baik ataupun jahat (II Korintus 5:10; band. Roma 14:10). Penulis
surat Ibrani mengatakan bahwa setelah kematian datanglah peng-
Penghakiman 601
hakiman (9:27). Rasul Yohaneslah yang "melihat orang-orang mati,
besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu" untuk dihakimi (Wahyu
20:12). Allah telah memberikan kepastian tentang adanya peng
hakiman dengan membangkitkan Kristus, Sang Hakim, dari antara
orang mati (Kisah 17:31).
II. TUJUAN PENGHAKIMAN
Mengapa perlu bagi Allah untuk melaksanakan penghakiman?
Strong mengatakan, "Tujuan penghakiman akhir bukanlah untuk
memastikan, melainkan untuk menyatakan watak serta penetapan
berbagai keadaan lahiriah yang sesuai dengan watak ini ."178
Allah sudah mengetahui keadaan semua makhluk moral, sehingga
akhir zaman hanya akan menyatakan betapa adilnya penghakiman
yang dilaksanakan oleh Allah. Ingatan, hati nurani, dan watak kita
merupakan persiapan dan bukti untuk penyingkapan yang terakhir
itu (Lukas 16:25; Roma 2:15, 16; Efesus 4:19; Ibrani 3:8; 10:27).
Peristiwa-peristiwa penghakiman ini akan terjadi untuk menunjuk
kan keadilan Allah dalam berurusan dengan manusia. Di hadapan
pengadilan Allah semua mulut akan tertutup (band. Roma 3:19).
Tidak perlu beranggapan bahwa setiap orang akan mengakui bahwa
ia menerima imbalan yang sesuai dengan perbuatannya, namun ter
sirat bahwa tidak ada orang yang akan mempunyai alasan yang
tepat untuk mengeluh, dan karena itu tidak ada yang mengeluh.
178 Strong, Systematic Theology, hal. 1025.
III. SANG HAKIM
Allah yang menghakimi semua orang (Ibrani 12:23), namun Ia akan
melaksanakan pekerjaan ini melalui Yesus Kristus. "Bapa .. . telah
menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak" (Yohanes
5:22) dan telah melakukan hal itu karena "Ia yaitu Anak Manusia"
(Yohanes 5:27). "Allah telah . . . memberikan kepada semua orang
suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara
orang mati" (Kisah 17:31). Kristus akan menghakimi "orang-orang
602 Eskatologi
hidup dan orang-orang mati" (Kisah 10:42; II Timotius 4:1). Ia akan
menghakimi orang-orang percaya berdasarkan perbuatan
mereka (II Korintus 5:10; band. Roma 14:10); binatang, nabi palsu,
dengan tentara-tentara mereka (Wahyu 19:19-21); bangsa-bangsa
yang berkumpul di hadapan-Nya (Matius 25:31, 32); Iblis (Wahyu
20:1-3, 10; band. Kejadian 3:15; Ibrani 2:14); bangsa-bangsa yang
hidup pada masa kerajaan seribu tahun (Yesaya 2:4; Yehezkiel
37:24, 25; Daniel 7:13, 14; Wahyu 11:15); orang-orang mati yang
tidak mau bertobat (Wahyu 20:11-15). Fungsi ini telah ditugaskan
kepada-Nya sebagai imbalan karena Ia telah merendahkan diri-Nya
(Filipi 2:9-11), dan karena Dia sendirilah yang memenuhi syarat
untuk melakukan tugas ini . Sebagai Allah, Ia memiliki penger
tian yang dalam untuk menghakimi (Yesaya 11:3) dan wewenang
untuk menghakimi manusia; sebagai manusia, Ia mengerti dan ikut
merasa bersama dengan manusia. Di dalam diri-Nya keadilan dan
kemurahan berbaur menjadi satu sehingga sebagai hakim seluruh
bumi Ia akan mengambil tindakan yang adil dan benar
(Kejadian 18:25).
IV. BERBAGAI PENGHAKIMAN
Dalam suatu survei yang lengkap tentang pokok ini kita harus mulai
dengan apa yang telah terjadi di masa silam. Di dalam Kristus dosa-
dosa kita telah dihakimi sekali untuk selamanya (Yesaya 53:4-6;
Yohanes 1:29; II Korintus 5:21; Galatia 3:13; b Ibrani 10:10-14;
I Petrus 2:24; I Yohanes 2:2). Dengan demikian orang percaya di
dalam Kristus telah dibebaskan dari kesalahan serta hukuman dosa,
karena Kristus telah mengambil alih kesalahan ini dan telah
menjalani hukuman atas dosa itu baginya. Tidak ada orang percaya
yang akan dihakimi untuk dosa-dosanya, karena ia telah dihakimi
untuknya di dalam Kristus (Yohanes 5:24). Sekalipun demikian, ada
penghakiman untuk orang-orang percaya saat ini, yaitu peng
hakiman atas dosa mereka pribadi. Paulus menasihatkan orang-
orang percaya untuk menghakimi diri mereka baik dalam kehidupan
mereka sendiri (I Korintus 11:31, 32) maupun dalam kehidupan
jemaat (I Korintus 5:5; I Timotius 1:20; 5:19, 20). Allah mendi
siplinkan anak-anak-Nya yang tidak taat agar mendorong mereka
Penghakiman 603
untuk menghakimi diri sendiri serta membuang dosa dari kehidupan
mereka (II Samuel 7:14, 15; 12:13, 14; Ibrani 12:5-13). Namun
dalam kesempatan ini kita akan lebih memperhatikan berbagai
penghakiman yang akan datang. Kami menyebutkan berbagai peng
hakiman karena tidak ada penghakiman umum sebagaimana tidak
ada kebangkitan umum. Unsur-unsur waktu, mereka yang dihakimi,
dan masalah-masalah yang dihakimi, menunjukkan adanya paling
sedikit tujuh peristiwa penghakiman yang akan datang.
A. PENGHAKIMAN ORANG-ORANG PERCAYA
Sebagaimana sudah kita lihat, saat Tuhan kembali, Ia akan meng
hakimi orang-orang percaya berdasarkan perbuatan mereka (Roma
14:10; I Korintus 3:11-15; 4:5; II Korintus 5:10). Setiap orang akan
diminta untuk mempertanggungjawabkan pemakaian talentanya
(Matius 25:14-30), uang mina (Lukas 19:11-27), serta kesempatan
yang telah diberikan kepadanya (Matius 20:1-16). Hari itu akan
menyatakan apakah seseorang telah membangun dengan memakai
kayu, jerami, rumput kering, ataukah emas, perak, dan batu permata
(I Korintus 3:12). Bila pekerjaannya dibangun dengan kayu dan
sebagainya itu, maka pekerjaannya itu akan habis terbakar, namun
ia sendiri akan diselamatkan namun seperti dari dalam api (ayat
15); bila pekerjaannya dibangun dengan memakai emas dan
sebagainya itu, maka ia akan menerima upah (ayat 14). Alkitab
menyebut berbagai jenis mahkota atau trofi: mahkota yang
abadi (I Korintus 9:25), mahkota kebenaran (II Timotius 4:8), mah
kota kehidupan (Yakobus 1:12; Wahyu 2:10), mahkota kemuliaan
(I Petrus 5:4), dan mahkota sukacita atau kemegahan (I Tesalonika
2:19; band. Filipi 4:1).
B. PENGHAKIMAN ISRAEL
Dalam arti yang unik, masa kesengsaraan itu akan merupakan masa
kesusahan bagi Yakub, namun kita diberi tahu bahwa "ia akan di
selamatkan daripadanya" (Yeremia 30:7). Kita melihat pengania
yaan orang Israel sepanjang masa itu dalam kitab Wahyu (12:6,
13-17); hanya mereka yang tergolong sisa bangsa Israel yang
dahinya termeterai akan bebas dari pengalaman ini (Wahyu 7:1-8).
604 Eskatologi
Namun, nampaknya akan ada penghakiman yang lebih lanjut lagi
yang berasal dari Allah sendiri dalam kaitan dengan pengumpulan
kembali orang-orang Israel yang berserakan di mana-mana. Yehez
kiel, saat membicarakan penghakiman ini, menggambarkannya
sebagai proses penyingkiran pemberontak-pemberontak di
antara Israel saat sedang menuju ke tanah suci. Mereka akan
dibawa keluar dari tempat pengembaraan mereka, namun mereka
akan mati di padang gurun dan tidak akan masuk ke tanah Israel
(Yehezkiel 20:33-38). Rupanya Maleakhi juga membicarakan
penghakiman yang sama ini saat menggambarkan Tuhan sedang
duduk sebagai tukang pemurni logam, sambil mentahirkan orang-
orang Lewi (3:2-5). Penghakiman-penghakiman ini terjadi di atas
bumi dan berkaitan dengan kedatangan Tuhan kembali ke bumi.
Penghakiman inilah yang menentukan siapa dari orang Israel yang
akan kembali ke tanah suci serta menjadi anggota Israel pada masa
yang akan datang.
C. PENGHAKIMAN BABILONIA
Dengan memakai gambaran seorang wanita, kitab Wahyu meng
gambarkan suatu sistem federasi agama (17:1-19:4). Pada mulanya
wanita ini mengendarai seekor binatang yang penuh tertulis dengan
nama-nama hujat. Ini menunjukkan bahwa sistem kepemimpinan
gereja untuk sementara waktu akan menguasai sistem kepemim
pinan politik. Namun kesepuluh tanduk (raja) akan berbalik dan
membenci wanita itu, bahkan merampas segala miliknya, dan meng
hancurkannya. Kemudian binatang itu akan memajukan dirinya un
tuk mengambil alih pimpinan keagamaan tertinggi. Nampaknya
akan ada koalisi yang kuat di antara perserikatan-perserikatan
keagamaan dan perdagangan. saat Babilonia sebagai suatu sis
tem keagamaan dihancurkan, ia akan bangkit kembali sebagai suatu
organisasi perdagangan dunia. Namun kemakmurannya tak lama
bertahan. Pada suatu hari Tuhan Allah akan menghakimi dan mem-
binasakannya samasekali. Para pedagang dunia akan meratapi ke
hancurannya, namun para penghuni sorga akan bersorak serta me
nyanyi "Haleluya!" saat hal itu terjadi. Penghakimannya akan ter
jadi sebelum kedatangan Tuhan kembali ke bumi (Wahyu 19:1-4,
11-21), dan ia akan dijatuhi hukuman kekal (Wahyu 19:19-21).
Penghakiman 605
D. PENGHAKIMAN BINATANG, NABI PALSU, DAN PASUKAN
MEREKA
Roh-roh jahat yang keluar dari mulut naga, binatang, dan nabi palsu
menjelang berakhirnya masa kesengsaraan akan pergi ke seluruh
dunia untuk mengumpulkan bangsa-bangsa guna berperang pada
hari Tuhan (Wahyu 16:12-16). Nampaknya, mereka berkumpul
untuk merebut Yerusalem dan menangkap orang-orang Yahudi
yang ada di Palestina (Zakharia 12:1-9; 13:8-14:2); namun justru
pada saat kemenangan mereka sudah pasti, Kristus akan turun dari
sorga dengan semua pasukan-Nya (Wahyu 19:11-16) serta turun
tangan membela Israel. Maka bala tentara yang tadinya menyerang
Yerusalem akan berbalik menyerang Anak Allah, namun pertem
puran itu akan sangat singkat dan menentukan. Binatang dan nabi
palsu akan ditangkap dan dicampakkan hidup-hidup ke dalam lautan
api yang menyala-nyala (Wahyu 19:19,20), dan bala tentara mereka
akan dibunuh dengan pedang yang keluar dari mulut Kristus
(II Tesalonika 1:7-10; 2:8; Wahyu 19:21). Jadi, perlawanan politik
akan dipatahkan dan terbukalah jalan bagi Kristus untuk memulai
pemerintahan-Nya. Patut dicamkan bahwa penghakiman ini akan
terjadi saat Kristus kembali ke bumi. Peristiwa itu akan melibat
kan pasukan-pasukan dengan pemimpin-pemimpin mereka yang
telah maju untuk memerangi Kristus. Hasilnya ialah bahwa mereka
yang melawan Kristus akan dicampakkan ke dalam lautan api dan
hukuman kekal.
E. PENGHAKIMAN BANGSA-BANGSA
Perikop-perikop seperti Yoel 3:11-17; Matius 25:31-46; dan II Te
salonika 1:7-10 nampaknya berbicara mengenai penghakiman atas
bangsa-bangsa. Penghakiman bangsa-bangsa harus dibedakan de
ngan penghakiman di hadapan takhta putih, karena penghakiman
bangsa-bangsa mendahului kerajaan seribu tahun. Penghakiman
bangsa-bangsa juga harus dibedakan dengan penghakiman binatang,
nabi palsu, beserta bala tentara mereka. Bangsa-bangsa itulah yang
mengirim bala tentara itu, namun bangsa-bangsa itu berbeda dari
pada pasukan-pasukan ini . Setelah Kristus selesai menangani
pasukan-pasukan itu, Ia akan mengumpulkan bangsa-bangsa untuk
dihakimi pula. Patut diperhatikan bahwa domba akan masuk ke
606 Eskatologi
dalam kerajaan Allah, sedangkan kambing akan masuk hukuman
kekal. Namun perlu juga diperhatikan bahwa sekalipun perlakuan
terhadap saudara-saudara Tuhan kita, mungkin Israel, disebut dalam
hubungan dengan penghakiman ini, alasan-alasan yang lebih dalam
bagi penghakiman ini ada dalam kenyataan bahwa golongan
domba itu memiliki hidup kekal sedangkan golongan kambing tidak
memilikinya.
F. PENGHAKIMAN IBLIS DAN MALAIKAT-MALAIKATNYA
saat sedang terjadi masa kesengsaraan, Iblis akan dilempar ke
bumi (Wahyu 12:7-9, 12). saat Kristus tiba di bumi, Iblis akan
diikat dan dimasukkan ke dalam jurang maut selama seribu tahun
(Wahyu 20:1-3). Setelah seribu tahun, ia akan dilepaskan untuk
sementara waktu. Selama waktu itu, ia akan menipu bangsa-bangsa
di bumi sekali lagi dan ia akan berhasil mengumpulkan bala tentara
yang sangat besar untuk berperang melawan orang-orang saleh dan
kota yang dikasihi, Yerusalem (Wahyu 20:7-9; band. Yehezkiel 38,
39). Akan namun , api akan turun dari langit dan menghanguskan
mereka semua. Tidak perlu diragukan lagi bahwa tidak lama
kemudian mereka akan berdiri di hadapan takhta putih besar dan
dilemparkan ke dalam lautan api bersama-sama dengan orang-orang
lain yang tidak diselamatkan. Setelah itu, Iblis sendiri akan dihakimi
dan dicampakkan ke dalam lautan api untuk selama-lamanya
(Wahyu 20:9, 10). Nampaknya, pada saat itu para malaikat yang
ikut memberontak bersama-sama dengan Iblis juga akan dihakimi
(II Petrus 2:4; Yudas 6). Kita diberi tahu bahwa api yang kekal itu
telah dipersiapkan bagi "Iblis dan malaikat-malaikatnya" (Matius
25:41), dan mungkin inilah saatnya mereka akan menerima hukum
an mereka (band. Matius 8:29; Lukas 8:31).
G. PENGHAKIMAN ORANG FASIK YANG MATI
Penghakiman ini akan terjadi setelah kerajaan seribu tahun (Wahyu
20:11-15; 21:8). Pada akhir kerajaan seribu tahun akan terjadi
kebangkitan yang kedua (Wahyu 20:5); berkat dinyatakan ke atas
mereka yang ikut serta dalam kebangkitan pertama, namun tidak atas
mereka yang baru bangkit pada kebangkitan yang kedua. Secara
tidak langsung dikatakan bahwa nasib mereka tidak menyenangkan.
Penghakiman 607
Mereka yaitu orang-orang yang tidak diselamatkan dari seluruh
sejarah umat manusia. Mereka bangkit dan menghadap takhta putih
yang besar. Rombongan ini akan meliputi yang kaya dan yang mis
kin, orang merdeka dan budak, raja dan rakyatnya, orang terpelajar
dan yang tidak terpelajar, majikan dan karyawan; semua mereka
akan berdiri sebagai terdakwa yang bersalah di hadapan Sang
Hakim.
1. Dasar penghakiman ini. Dua hal dapat dikatakan tentang dasar
penghakiman ini. (1) Orang-orang ini akan dihakimi "berdasarkan
apa yang ada tertulis dalam kitab-kitab itu" (Wahyu 20:12). Jelaslah,
dalam kitab-kitab tercatat nama semua orang yang tidak percaya.
Akan namun , di samping kitab-kitab itu, ada juga "kitab yang
lain, yaitu kitab kehidupan" (Wahyu 20:12). Inilah kitab anugerah
ilahi di mana tercatat nama orang-orang yang yaitu ahli waris
anugerah (Lukas 10:20; Wahyu 3:5; 13:8; 17:8; 20:12, 15; 21:27).
Selanjutnya, (2) orang-orang ini akan dihakimi menurut perbuatan
mereka. "Penghakiman akan berlangsung berdasarkan bukti yang
diberikan dari catatan perbuatan dan dari kitab kehidupan."
Orang percaya akan diberi pahala sesuai dengan perbuatannya,
namun orang yang tidak percaya akan dihakimi sesuai dengan per
buatannya (band. Roma 2:5-11). Ketidaktahuan akan kehendak
Tuhan tidak akan meloloskan siapa pun, namun akan memperbaiki
hukuman (Lukas 12:47, 48).
2. Lamanya hukuman. Semua yang namanya tidak tercatat dalam
kitab kehidupan akan dicampakkan ke dalam lautan api (Wahyu
20:15). Lautan api ini disebutkan sebagai kematian yang kedua
(Wahyu 21:8). Kenyataan ini mengakibatkan timbulnya pertanyaan,
apakah hukuman yang akan datang itu bersifat kekal? Memang
demikian, berdasarkan pernyataan Firman Allah yang jelas dan dah
syat. Di antara orang kaya dan Lazarus ada jurang yang lebar,
sehingga tidak mungkin orang pergi dari tempat yang satu ke tempat
yang lain (Lukas 16:26). "Ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak
padam" di Gehenna (Markus 9:48). Nampaknya kata-kata ini di
kutip dari Yesaya 66:24, dan dalam ayat itu tersirat bahwa se
nantiasa akan ada makanan untuk ulat-ulat bangkai ini dan
179 Mounce, The Book of Revelation, hal. 366.
608 Eskatologi
sesuatu untuk dibakar oleh api. Asap api yang menyiksa para
pemuja binatang itu akan mengepul "selama-lamanya" (Wahyu
14:11). Pastilah, mereka tidak dikhususkan dari antara orang-orang
fasik di dunia untuk menerima hukuman yang lebih berat daripada
orang-orang lain yang sama fasiknya. Agaknya, binatang dan nabi
palsu itu masih hidup setelah dihukum seribu tahun di dalam lautan
api (Wahyu 19:20; 20:10). Semua orang fasik dicampakkan ke
dalam lautan api yang sama (Wahyu 20:12-15; 21:8). Alangkah
baiknya bagi Yudas sekiranya ia tidak dilahirkan (Matius 26:24).
Hal ini tak dapat dikatakan tentang seseorang yang telah bertahun-
tahun dan bahkan beribu-ribu tahun mengalami siksaan pada akhir
nya akan dikembalikan kepada hidup yang berbahagia.
Bagaimanapun juga, mungkin yang paling penting ialah arti dari
kata Yunani aion dan aionios. Istilah yang pertama muncul 120 kali
dalam Perjanjian Baru dan diterjemahkan sebagai "zaman" (II Ko
rintus 4:4), "dunia" (I Korintus 1:20), "tidak akan .. . untuk selama-
lamanya" (Yohanes 4:14), dan "selama-lamanya" (Yohanes 6:51).
Jika diberi kata depan eis maka kata ini senantiasa berarti
jangka waktu yang tak berkesudahan. Kata sifat aionios ada
sekitar 70 kali dalam Perjanjian Baru. Kata ini dipakai untuk
menunjuk kepada Allah (Roma 16:26), Kristus (II Timotius 1:9),
Roh Kudus (Ibrani 9:14), berkat-berkat bagi orang-orang yang per
caya (II Tesalonika 2:16; Ibrani 9:12), hukuman orang fasik (II Te
salonika 1:9), dan seterusnya. Kadang-kadang kata ini ada dua
kali dalam satu frase "tetap untuk seterusnya dan selamanya" (Ibrani
1:8). Perhatikan juga rujukan-rujukan macam lain ini: Mazmur 52:7;
Matius 12:31, 32; Markus 3:29; Ibrani 6:4-6; 10:26-29; II Petrus
2:17: Yudas 13. Mungkin rujukan yang paling kuat ada dalam
Matius 25:46. Ayat itu membandingkan hukuman orang fasik yang
akan berlangsung selama-lamanya dengan kebahagiaan abadi dari
orang-orang yang diselamatkan. saat orang percaya hidup
selama-lamanya di hadapan Allah, dan menikmati kemurahan-Nya,
maka orang yang tidak percaya akan selama-lamanya berada jauh
dari hadirat Allah yang membahagiakan.
3. Keberatan-keberatan terhadap doktrin ini. Beberapa keberatan
terhadap doktrin ini telah dikemukakan. (1) Orang-orang fasik akan
dibinasakan (Mazmur 9:6; 92:8; II Tesalonika 1:8,9). Jawaban kami
ialah bahwa orang-orang pada zaman Nuh juga dibinasakan (Lukas
Penghakiman
17:27), dan demikian pula penduduk Sodom dan Gomora (Lukas
17:29), namun mereka harus tampil untuk dihakimi (Matius 11 24). Pembinasaan tidaklah berarti pemusnahan; lebih tepat kalau di- katakan bahwa apa yang telah dibinasakan itu tidak dapat dipakai
lagi sebagaimana mestinya. (2) Orang-orang fasik akan binasa
(Mazmur 37:20; Amsal 10:28; Lukas 13:1-3). Akan namun , binasa
tidak berarti tidak ada lagi. Para murid Tuhan pernah berteriak,
'Tuhan, tolonglah, kita binasa!" (Matius 8:25), namun mereka tidak
bermaksud untuk mengatakan bahwa mereka sedang terancam
kemusnahan. Imam besar Kayafas mengatakan, "Kamu tidak insaf
bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa
kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa" (Yohanes 11:50), namun
ia hanya bermaksud mengungkap ketakutan kalau-kalau orang
Romawi akan datang untuk memperketat penjajahan. Paulus
memakai istilah yang sama saat berbicara tentang kelemahan jas
mani pada tubuh kita. Paulus mengatakan,
"Meskipun keadaan kami
yang lahir ini dibinasakan, namun keadaan yang batin kami itu
dibaharui sehari-hari" (II Korintus 4:16, Terj. Lama). (3) Suatu hari
yang dahsyat akan tiba bagi orang fasik yang membuat mereka tidak
berakar dan tidak bercabang (Maleakhi 4:1). Namun harus diketahui
bahwa ayat ini membahas keadaan tubuh saja, tubuh mereka akan
terbakar, namun secara rohani mereka akan ada terus (lihat juga
Amsal 2:22). (4) Dikatakan bahwa orang fasik mati dalam dosa
mereka (Yehezkiel 18:4; Yohanes 8:21; Roma 6:23). Harus diingat
bahwa kematian berarti pemisahan, bukan pemusnahan. Lihatlah
orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31) dan jiwa-jiwa di bawah
mezbah (Wahyu 6:9-11). Bila kematian pertama tidak berarti pe
musnahan, bagaimana mungkin kita beranggapan bahwa kematian
kedua berarti pemusnahan (Wahyu 20:15; 21:8; band. 19:20;
20:10)? (5) Segala sesuatu akan dipulihkan. Pendapat ini merupakan
penggalan dari Kisah 3:21; pernyataan sepenuhnya memang dibatasi
oleh kata-kata "difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-
Nya yang kudus di zaman dahulu." Ayat ini berbicara tentang da
tangnya kerajaan Allah di bumi. (6) Keberatan yang paling kuat
yang telah dikemukakan ialah bahwa Allah yang kasih adanya tidak
mungkin menghukum makhluk ciptaan-Nya untuk selama-lamanya.
Akan namun , pendapat ini lupa bahwa pada saat kematian watak
seseorang sudah tidak bisa berubah lagi, dan hukum kesesuaian
610 Eskatologi
menuntut bahwa yang hidup harus dipisahkan dari yang mati. Yang
dipersoalkan bukanlah kasih Allah, melainkan kehidupan jiwa.
Namun setelah mengatakan semuanya itu, kami mengatakan satu
kali lagi bahwa akan ada tingkatan-tingkatan hukuman (Lukas
12:47, 48; Roma 2:5-8; Wahyu 20:12, 13), menurut keadilan Allah.
PASAL XLVI
Kerajaan Seribu Tahun
Istilah millenium berasal dari bahasa Latin mille dan annus, yang
berarti seribu tahun. Doktrin tentang millenium atau kerajaan seribu
tahun ini sering kali disebut dengan memakai istilah chiliasme atau
kiliasme (dari akar kata chilioi yang artinya seribu). Doktrin ini
mengemukakan bahwa Kristus akan memerintah sebuah kerajaan
di bumi selama seribu tahun. Secara tidak langsung dinyatakan
bahwa Kristus akan datang kembali sebelum kerajaan seribu tahun
itu. Pandangan ini dikenal sebagai pandangan pra-milenialisme atau
pra-kerajaan seribu tahun. Orang-orang yang berpandangan bahwa
Kristus akan datang kembali sesudah suatu masa kedamaian dan
kebenaran yang universal, menganut paham pasca-milenialisme atau
pasca-kerajaan seribu tahun. Orang-orang yang menolak adanya
kerajaan seribu tahun menganut pandangan amilenialisme atau tidak
ada kerajaan seribu tahun. Istilah "milenium" atau "kerajaan seribu
tahun" tidak ada dalam Alkitab, namun istilah seribu tahun itu
sendiri disebut sekitar enam kali dalam Wahyu 20:2-7. Kita telah
menjelaskan sebelumnya bahwa kedatangan Kristus akan bersifat
pra-milenial atau terjadi sebelum kerajaan seribu tahun; kini kita
akan mempelajari bersama kerajaan seribu tahun ini , sambil
meneliti landasan alkitabiahnya serta sifatnya.
I. DASAR ALKITABIAH TENTANG KERAJAAN
SERIBU TAHUN
Pengharapan manusia hanya memiliki makna bila dilandaskan pada
Alkitab. Apa dukungan Alkitab terhadap pandangan kerajaan seribu
tahun?
611
612 Eskatologi
A. HARI TUHAN
Hari Tuhan disebutkan dalam II Tesalonika 2:2 dan dalam banyak
ayat Perjanjian Lama (Yoel 2:11; Amos 5:18; Zefanya 1:14-16;
Maleakhi 4:2; band. Yesaya 10:20; 27:1-6). Pada kedatangan-Nya
yang pertama, Kristus datang sebagai matahari pagi dari tempat
yang tinggi (sorga) (Lukas 1:78). Selama Ia tinggal di dunia, Ia
yaitu terang dunia (Yohanes 9:5). Akan namun , manusia lebih
menyukai kegelapan daripada terang (Yohanes 3:19), sehingga
mereka menolak Dia (Yohanes 1:11). Kini gereja yaitu terang
dunia (Matius 5:14; Filipi 2:15), sambil memantulkan cahaya
matahari yang tidak nampak (II Korintus 4:6). Sekarang "hari sudah
jauh malam, telah hampir siang" (Roma 13:12). Terbitnya bintang
timur akan menandakan hari baru hampir tiba (Wahyu 2:28; band.
II Petrus 1:19), dan tidak lama kemudian matahari kebenaran akan
membawa hari yang baru itu (Maleakhi 4:2). Inilah masa yang telah
disebut-sebut oleh para nabi, para sasterawan, dan orang-orang
bijaksana; masa itu yaitu masa yobel atau sabat yang akan datang
di bumi.
B. KERAJAAN YANG DIJANJIKAN
Selanjutnya, Allah yang bertakhta di sorga akan mendirikan suatu
kerajaan yang tidak akan binasa selama-lamanya (Daniel 2:44; 7:13,
26, 27; Wahyu 11:15). Ini bukanlah kerajaan rohani yang ada saat
ini, karena kerajaan yang kita maksudkan baru akan didirikan
setelah federasi sepuluh kerajaan telah muncul dan berlalu. Jelaslah
bahwa kerajaan ini tidak akan berbaur dengan kerajaan-kerajaan
yang ada di dunia ini, melainkan menggantikan kerajaan-kerajaan
dunia ini. Pemusnahan bukanlah berarti pengubahan. Untuk
memenuhi perjanjian-Nya dengan Daud (II Samuel 7:11-16), yang
dimeteraikan dengan sumpah (Mazmur 89:4, 5, 21-38), Allah harus
mendirikan kembali suatu kerajaan di atas bumi. saat realisasi
pengharapan ini nampaknya hilang samasekali saat Yerusalem
dikuasai oleh Babilonia, Allah meneguhkan kembali janji yang telah
dibuat-Nya dengan Daud (Yeremia 33:19-22). Malaikat Gabriel
menyatakan kepada Maria bahwa Tuhan Allah akan memberikan
kepada Kristus "takhta Daud, bapa leluhur-Nya" (Lukas 1:32).
Untuk menunjukkan bahwa Ia memenuhi syarat untuk menduduki
Kerajaan Seribu Tahun 613
takhta Daud, Matius merunut silsilah Yesus dari Abraham melalui
Daud, sampai kepada Yusuf, ayah angkat-Nya (Matius 1:1-16); dan
Lukas merunut silsilah Yesus dari Adam melalui Daud sampai ke
Maria, ibu-Nya (Lukas 3:23-38).
C. MAKSUD YESUS KRISTUS YANG DINYATAKAN
Maksud Yesus Kristus yang dinyatakan saat kembali ke bumi
ialah bahwa Ia akan mendirikan kerajaan-Nya (Matius 25:31-46;
Lukas 19:12-15; Wahyu 19:11-20:6). Yesus telah naik ke sorga dan
kini Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa di takhta Bapa, namun
saatnya akan tiba saat Ia akan bersemayam di takhta-Nya sendiri
(Matius 19:28; 25:31; Wahyu 3:21). Para murid menanti-nantikan
berdirinya kerajaan semacam itu. Yesus menolak untuk memberi
tahu mereka kapan kerajaan itu akan didirikan, namun Ia tidak pernah
menegur mereka karena memiliki keyakinan semacam itu (Kisah
1:6, 7). Kedua putra Zebedeus sangat mementingkan diri sendiri
saat memohon agar seorang diizinkan duduk di sebelah kanan
dan seorang lagi di sebelah kiri Yesus, namun Ia juga tidak menegur
mereka karena mengharapkan kerajaan seperti itu. Bahkan, Yesus
menyatakan secara tak langsung bahwa pengharapan mereka cukup
beralasan saat Ia mengatakan bahwa tempat-tempat yang mereka
dambakan itu akan dikaruniakan kepada orang-orang yang telah
ditetapkan oleh Bapa (Matius 20:20-24). Petrus menunjuk kepada
hari kelegaan sebagai saat Kristus akan datang kembali (Kisah 3:19-
21). Paulus pastilah telah mengajarkan di Tesalonika bahwa Kristus
akan menjadi raja di bumi ini, karena mustahil penduduk akan
marah mendengar gagasan tentang raja yang memerintah secara
rohani (Kisah 17:7). Yohanes bernubuat dan menggambarkan
kedatangan kembali Kristus untuk mendirikan kerajaan-Nya di atas
muka bumi (Wahyu 19:11-20:6).
Rupanya dari semua keterangan ini jelaslah bahwa Alkitab meng
ajarkan akan tiba suatu masa saat kedamaian dan kebenaran akan
memerintah di bumi ini, dan oleh karena itu pandangan amilenial
atau ketiadaan kerajaan seribu tahun tidak dapat dipertahankan. Pan
dangan pasca-kerajaan seribu tahun juga tidak dapat dipertahankan
karena Kristus benar-benar akan memerintah secara fisik di bumi
ini. Pandangan bahwa keadaan di bumi makin lama makin baik,
614 Eskatologi
dan bahwa kebenaran makin meningkat, telah terbukti salah dengan
terjadinya dua perang dunia, dan semua peristiwa setelah perang
dunia kedua.
II. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN
Sungguh sulit untuk menyajikan ajaran Alkitab tentang pokok ini
secara singkat; ada begitu banyak materi pembahasan tentang masa
depan. Tanpa berusaha untuk menyajikan uraian yang lengkap, kami
akan berusaha untuk mengumpulkan gagasan-gagasan yang utama
di bawah tujuh bagian.
A. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE
NGAN KRISTUS
Kristus sendiri akan hadir di bumi dan bersemayam di atas takhta
Daud, bapa leluhur-Nya. Ia akan memerintah seluruh bumi (Maz
mur 72:6-11; Yesaya 2:2-4; 11:1-5; Yeremia 23:5; Zakharia 14:9).
Dua hal akan menjadi ciri khas kerajaan ini: keadaan damai yang
meliputi seluruh bumi (Mazmur 72:7; Yesaya 2:4) dan kebenaran
yang menguasai seluruh bumi pula (Yesaya 11:4, 5; Yeremia 23:5,
6; band. Ibrani 7:2). Akan namun , sebelum kedamaian yang bersifat
universal itu akan terjadi, akan ada perang yang meliputi seluruh
dunia (Yoel 3:9, 10; Wahyu 16:14). Penunggang kuda putih dalam
Wahyu 6:1-4 tidaklah sama dengan penunggang kuda dalam Wahyu
19:11. Penunggang kuda putih dalam Wahyu 6 mungkin yaitu pe
nguasa Kerajaan Romawi yang bangun kembali, dan masa pemerin
tahannya akan sangat singkat (I Tesalonika 5:3). Kebenaran akan
terpelihara karena dosa dengan segera dihukum (Zakharia 14:17-
19). Yesus akan memerintah dengan tongkat besi (Mazmur 2:8, 9;
Wahyu 2:27; 19:15). Iblis akan disingkirkan dari bumi dan ia tidak
akan menyesatkan bangsa-bangsa lagi untuk selama-lamanya
(Wahyu 20:2, 3).
B. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE
NGAN GEREJA
Gereja akan memerintah dunia bersama dengan Kristus (Lukas
19:16-19; I Korintus 6:2; II Timotius 2:12; Wahyu 2:27; 5:9, 10;
Kerajaan Seribu Tahun 615
20:4-6). Bangsa dengan sistem negara-gereja dari masa awal abad
pertengahan dan selama abad pertengahan merupakan bentuk-ben
tuk pradini, namun kelak akan terwujud dengan lebih konkret.
Orang-orang saleh Perjanjian Lama akan ikut memerintah bersama
dengan Kristus, dan gereja akan duduk bersama-sama dengan Kris
tus di atas takhta-Nya (Wahyu 3:21). Nampaknya orang-orang per
caya akan mempunyai tanggung jawab pribadi dan bukan tanggung
jawab bersama dalam kerajaan itu (Lukas 19:16-19), namun
sebagian besar perincian yang berkaitan dengan pemerintahan ber
sama dengan Kristus itu belum dapat diketahui.
C. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE
NGAN ISRAEL
Sebagian besar ajaran tentang masa kerajaan seribu tahun dalam
Alkitab yaitu mengenai Israel, khususnya dalam Perjanjian Lama.
Kita dapat mencatat bahwa Israel akan dikumpulkan kembali
(Yesaya 11:10-13; Yeremia 16:14, 15; 23:5-8; 30:6-11; Yehezkiel
37:1-4; Matius 24:20-33). Berdirinya negara Israel di Palestina
merupakan suatu pratanda yang pasti akan terjadinya pengumpulan
Israel pada hari depan. Banyak sekali orang Yahudi akan kembali
dari negara yang sekarang mereka diami, namun karena ada roh
yang membangkang, mereka belum diperkenankan memasuki
daerah itu (Yehezkiel 20:30-38). Kemudian Israel akan bertobat dan
mereka akan dibaharui (Yesaya 66:8; Yeremia 31:31-37; Yehezkiel
36:24-29; 37:1-14; Zakharia 12:10-13:2; Roma 11:25, 26). Akhir
nya, mereka akan menerima Dia yang dahulu telah datang sebagai
Juruselamat mereka, dan dengan demikian mereka akan dihidupkan
dari antara orang mati (Roma 11:15). Berikutnya, kita melihat
bahwa Efraim dan Yehuda akan dipersatukan kembali (Yesaya
11:13; Yeremia 3:18; Yehezkiel 37:16-22; Hosea 1:11). Selanjut
nya, kita melihat bahwa bait suci serta ibadahnya akan dipulihkan
kembali (Yehezkiel 37:26-28; pasal 40-46; Zakharia 14:16, 17).
Kalau kita ingat bahwa persembahan korban dapat merupakan suatu
peringatan dan juga suatu lambang, maka kita tidak melihat alasan
mengapa nubuat ini juga tidak ditafsirkan secara harfiah. Sekali lagi,
Palestina akan dibagi di antara suku-suku Israel (Yehezkiel 47, 48)
dan menjadi milik Israel untuk selamanya (Yehezkiel 34:28; 37:25).
Selanjutnya, para hakim akan dikembalikan kepada Israel (Yesaya
616 Eskatologi
1:26; Matius 19:28). Dan akhirnya, Israel akan menginjili bangsa-
bangsa yang tidak mengenal Allah (Yesaya 66:19; Zakharia 8:13,
20-23). Tidak dapat diragukan lagi bahwa hal ini menunjuk kepada
bangsa-bangsa yang akan lahir selama masa kerajaan seribu tahun,
karena pada permulaan kerajaan ini akan terdiri atas orang-orang
yang bertobat saja.
D. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE
NGAN BANGSA-BANGSA
Setelah penghakiman bangsa-bangsa, domba-domba akan
memasuki kerajaan (Matius 25:34-40). Domba-domba ini akan
merupakan inti kerajaan seribu tahun ini , bersama-sama de
ngan Israel yang telah bertobat dan dibaharui. Akan namun , jelas
bahwa banyak sekali orang yang akan lahir pada masa itu (Yesaya
65:20; Yeremia 30:20; Mikha 4:1-5; Zakharia 8:4-6), dan mereka
semua perlu diinjili. Barangkali Israel yang akan menjadi penginjil
kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah ini (Yesaya
66:19; Zakharia 8:13, 20-23; Kisah 15:16). Akhirnya, kita melihat
bahwa semua bangsa akan pergi untuk beribadah di Yerusalem,
khususnya pada Hari Raya Pondok Daun yang diadakan setiap
tahun (Yesaya 2:2-4; Zakharia 14:16-19). Pada saat itu akan ada
umat Allah yang bersatu dan ibadah yang tunggal (Yesaya 19:23-
25).
E. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE
NGAN IBLIS
Pada permulaan kerajaan seribu tahun, Iblis akan diikat dan
dimasukkan ke dalam jurang maut selama seribu tahun (Wahyu
20:1-3). Sudah pasti, roh-roh jahat juga akan ikut ditawan bersama-
sama dengan Iblis. Selama seribu tahun ini Iblis tidak akan dapat
menyesatkan bangsa-bangsa, sebagaimana telah dilakukannya
selama ini. Ia tidak sekadar dibuat tidak berdaya dengan diikat oleh
rantai, namun ia juga akan disingkirkan dari seluruh gelanggang
kegiatan. Kita hampir-hampir tidak dapat membayangkan betapa
besarnya perubahan yang terjadi dalam kehidupan umat manusia
sebagai akibat terkurungnya Iblis. Tentu saja, manusia masih
memiliki sifat dagingnya, dan bermacam-macam kejahatan masih
Kerajaan Seribu Tahun 617
saja dapat terjadi karena sifat daging manusia ini. Sekalipun
demikian, saat Iblis dikurung dalam jurang maut, pastilah godaan
untuk berbuat dosa akan sangat berkurang. Perbedaannya akan nam
pak secara jelas karena dalam masa kesengsaraan yang baru saja
berlalu ia dapat bertindak sesuka hatinya. Setan-setan pada masa
Yesus Kristus di bumi telah menyatakan bahwa mereka mengetahui
mereka kelak akan dibuang ke dalam jurang maut (Matius 8:29;
Lukas 8:31). Tidak sangsi lagi bahwa Iblis juga tahu ia akan
dimasukkan ke situ. Beberapa orang berpendapat bahwa malaikat
yang mengikat Iblis ini ialah Kristus, sedangkan orang lain
beranggapan bahwa malaikat lain yang akan melakukannya. Kita
tidak perlu berpikiran bahwa rantai yang membelenggu Iblis
merupakan rantai yang sungguhan; cukuplah kiranya untuk melihat
suatu jaminan dalam bahasa yang dipakai bahwa Iblis akan dibuat
tidak berdaya serta disingkirkan dari atas muka bumi ini.
F. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE
NGAN ALAM
Yesus menyebutkan masa ini sebagai masa "penciptaan kembali"
(Matius 19:28). Pada waktu itu seluruh alam akan dibaharui.
Seluruh alam sekarang ini sedang mengerang dan mengeluh
kesakitan, namun ia akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan
saat Kristus datang kembali (Roma 8:19-22). Perubahan-
perubahan topografis yang besar akan terjadi saat itu (Yesaya
35:1, 2; 55:13; Zakharia 14:4-10). Sifat binatang-binatang buas juga
akan berubah (Yesaya 11:6-9; 35:9; 65:25; Yehezkiel 34:25). Hujan
dan kesuburan tanah akan dipulihkan (Yesaya 35:2, 6, 7; Yehezkiel
34:6, 7; Yoel 2:22-26); kegagalan panen hanya akan dialami oleh
orang-orang yang tidak pergi ke Yerusalem untuk beribadah (Za
kharia 14:17-19). Hidup manusia akan diperpanjang sekalipun ada
juga kematian-kematian pada saat itu (Yesaya 65:20). Penyakit akan
berkurang seiring dengan berkurangnya dosa, namun tidak berarti
bahwa penyakit akan tidak ada samasekali.
G. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE
NGAN KEADAAN UMUM
Alkitab menggambarkan masa itu sebagai masa sukacita dan
618 Eskatologi
kebahagiaan yang luar biasa. Penyembuhan jasmani akan dialami
oleh banyak orang (Yesaya 35:5, 6); mereka yang ditebus oleh
Tuhan akan kembali dan dengan bernyanyi mendaki Bukit Sion,
sukacita abadi senantiasa meliputi mereka; mereka akan
memperoleh kesenangan dan sukacita, dan segala susah serta keluh
kesah akan tidak ada lagi (Yesaya 35:10; 51:11). Waktu itu akan
merupakan masa kemakmuran dan kesejahteraan yang luar biasa
(Mikha 4:2-5). Seluruh bumi akan "penuh dengan pengenalan akan
Tuhan seperti air laut yang menutupi dasarnya" (Yesaya 11:9).
Hubungan persahabatan akan ada, bukan sekadar antara pribadi,
namun juga antara bangsa-bangsa, dan manusia tidak akan belajar
berperang lagi (Yesaya 2:4). Kepemimpinan manusia dalam alam,
yang hilang karena kejatuhannya dalam dosa, dan diperoleh kembali
lewat kematian Kristus, akan dipulihkan kembali saat itu
(Kejadian 1:28; 3:17-19; Ibrani 2:5-10).
PASAL XLVII
Keadaan Terakhir
Jelaslah bahwa kerajaan seribu tahun bukanlah keadaan yang ter
akhir, karena istilah "seribu tahun" itu sendiri sudah menunjukkan
kesementaraannya. Oleh karena itu kita sekarang akan berusaha
menjawab pertanyaan: apakah yang merupakan peristiwa-peristiwa
terakhir dari sejarah?
I. KEADAAN AKHIR IBLIS
Hal ini sudah diterangkan saat kita mempelajari tujuan akhir para
malaikat, namun beberapa hal perlu ditambahkan di sini.
A. IBLIS AKAN DILEPASKAN DARI PENJARANYA
Alkitab mengajarkan bahwa pada akhir kerajaan seribu tahun Iblis
akan dilepaskan untuk sesaat lamanya (Wahyu 20:3, 7-10). Alasan
ia dilepaskan tidak disebutkan dalam Alkitab, namun pastilah suatu
maksud tertentu dalam rencana ilahi menghendaki hal ini .
Mungkin sekali Iblis dilepaskan untuk menunjukkan ketidaktulusan
banyak orang yang bertobat dan ikut Kristus saat selama kerajaan
seribu tahun; barangkali juga untuk membuktikan bahwa seribu
tahun dalam jurang maut tidak berhasil mengubah Iblis. Sementara
masa kelepasan ini, Iblis akan mengumpulkan bangsa-bangsa, yaitu
Gog dan Magog, yang jumlahnya seperti pasir di laut. Di bawah
kepemimpinan Iblis sendiri, pasukan-pasukan ini akan mengepung
perkemahan orang-orang kudus dan kota yang dikasihi. Pastilah
kota ini yaitu Yerusalem. Namun peperangan ini akan berlangsung
619
620 Eskatologi
singkat sekali dan hasilnya sangat menentukan. Api akan turun dari
langit serta menghanguskan semua pasukan itu (band. Yehezkiel
38, 39).
B. IBLIS AKAN DIHAKIMI DAN DIHUKUM UNTUK SELAMA
NYA
Demikianlah, karier Iblis serta pengikutnya akan berakhir untuk se
lamanya, namun mereka masih harus menghadap takhta putih besar
untuk dihakimi bersama dengan semua orang yang terhilang. saat
itu Iblis akan dihakimi dan diasingkan ke tempat penghukuman
yang terakhir, yaitu lautan api.
II. PENGHAKIMAN TERAKHIR
Hal berikutnya yang perlu dibahas ialah penghakiman orang-orang
tidak percaya yang telah bangkit di hadapan takhta putih (Wahyu
20:11-15; 21:8). Sifat penghakiman ini telah kita pelajari sebelum
nya; dalam kesempatan ini dapat ditambahkan beberapa hal. Nam
paknya penghakiman ini akan terjadi pada suatu tempat di angkasa,
karena kita diberi tahu bahwa, "lenyaplah bumi dan langit dan tidak
ditemukan lagi tempatnya" (Wahyu 20:11). Bahasa yang dipakai
membuat kita beranggapan bahwa munculnya takhta putih dengan
Tuhan yang duduk di atasnya, telah menyebabkan lenyapnya langit
dan bumi itu. Nampaknya, penghakiman ini hanya akan dialami
oleh orang-orang yang tidak diselamatkan, sekalipun mungkin
orang-orang percaya yang mati selama masa kerajaan seribu tahun
juga dihakimi pada saat itu. Di sini kita melihat kebangkitan yang
kedua, dan itu terjadi setelah seribu tahun. Menarik untuk mencam
kan bahwa laut akan menyerahkan orang-orang mati yang ada di
dalamnya, sebagaimana juga halnya dengan maut dan Hades atau
kerajaan maut. Setelah semua orang yang namanya tidak tertulis
dalam buku kehidupan telah dicampakkan ke dalam lautan api untuk
selama-lamanya, maut dan Hades juga akan dicampakkan ke tempat
hukuman itu. Penghakiman ini harus dibedakan dengan peng
hakiman bangsa-bangsa (Matius 25:31-46). Selanjutnya, kematian
yang kedua bukanlah pemusnahan, melainkan hukuman kekal.
Keadaan Terakhir 621
III. KERAJAAN TERAKHIR
Rupanya pada saat inilah Kristus akan menyerahkan "Kerajaan
kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan,
kekuasaan, dan kekuatan" (I Korintus 15:24). Kematian merupakan
musuh terakhir yang akan dibinasakan, dan nampaknya pada saat
itu pula Kristus akan menyerahkan kerajaan kepada Allah (I Korin
tus 15:26). Tidak ada selang waktu antara kerajaan seribu tahun
serta keadaan kekal, kecuali saat terjadi penghakiman di depan
takhta putih besar. Serangan pasukan-pasukan Iblis tidak berhasil;
sebenarnya, tidak dapat dipastikan apakah mereka betul-betul
menyerang perkemahan orang-orang saleh serta kota yang dikasihi
itu atau tidak. Yang mereka lakukan ialah berusaha menyerangnya,
dan saat itu pula api dari langit akan menghanguskan mereka.
Dengan demikian berakhirlah tahap sementara kerajaan Allah, Kris
tus akan menyerahkannya kepada Allah Bapa. 'namun kalau segala
sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai
Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menak
lukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua
di dalam semua" (I Korintus 15:28). Ini mungkin berarti bahwa
Allah Anak, yang selama kerajaan seribu tahun menjadi penguasa
tertinggi di bumi, akan kembali kepada kedudukan-Nya yang kekal,
dan Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus menjadi semua
di dalam semua. Demikianlah keadaan akhir yang kekal akan
dimulai.
IV. CIPTAAN BARU
Setelah keadaan kekal dimulai akan ada langit baru, bumi baru, dan
Yerusalem baru.
A. LANGIT BARU DAN BUMI BARU
Beberapa ayat dalam Alkitab menarik perhatian kepada langit dan
bumi baru itu (Yesaya 65:17; 66:22; II Petrus 3:10-13; Wahyu 21:1,
2). Disebut "baru", tidak perlu berarti baru dalam arti mutlak, sebab
bumi akan seterusnya ada (Mazmur 104:5: 119:90; Pengkhotbah
1:4). Ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang bumi yang akan ber
622 Eskatologi
lalu (Matius 5:18; Markus 13:31; Ibrani 1:10-13; Wahyu 21:1)
tidaklah berarti berlalu menjadi tidak ada, namun berlalu dalam arti
berubah. Bumi dan langit tidak akan dimusnahkan. Seperti saat
masa kerajaan seribu tahun langit dan bumi ini dibaharui (Matius
19:28), maka dalam ciptaan baru langit dan bumi akan disucikan
(II Petrus 3:10-13). Mengapa dirasakan aneh bahwa zat tetap ada?
Bila Allah ingin zat ada terus, maka semua pertimbangan manusia
yang menolaknya tidak berguna samasekali. Kita memperhatikan
bahwa saat kebenaran memerintah bumi saat berlangsung
kerajaan seribu tahun, maka demikian pula kebenaran akan men
diami bumi baru (II Petrus 3:13). Sudah pasti, orang-orang tertebus
akan tinggal di langit yang baru, namun mereka yang tinggal di bumi
baru itu akan senantiasa dapat berhubungan dengan mereka yang
tinggal di langit baru.
B. YERUSALEM BARU
Pokok terakhir dari nubuat Perjanjian Baru ialah Yerusalem Baru
(Wahyu 21:2-22:5). Tidak perlu rasanya untuk dikatakan bahwa
Yerusalem baru harus dibedakan dari langit baru dan bumi baru,
karena Yerusalem baru dikatakan berasal dari sorga dan dikatakan
semua raja di bumi mempersembahkan kemuliaan mereka kepada-
Nya (Wahyu 21:2, 24). Beberapa orang beranggapan bahwa
Yerusalem baru muncul di bumi pada masa kerajaan seribu tahun
dan merupakan tempat tinggal orang-orang kudus yang sudah
berada dengan Kristus. Akan namun , karena munculnya langit baru
dan bumi baru dalam ayat sebelumnya nampaknya sulit diterima
bahwa penulis kitab Wahyu dalam ayat 2 ini kembali lagi ke awal
masa kerajaan seribu tahun. Oleh karena itu, kami beranggapan
bahwa Yerusalem baru akan muncul setelah langit baru dan bumi
baru tampak. Mari kita memperhatikan beberapa hal yang disebut
mengenai kota ini.
1. Sifatnya. Ada banyak sekali alasan untuk menganggap bahwa
Yerusalem baru yaitu kota sungguhan. Kota itu mempunyai dasar,
pintu gerbang, tembok, serta jalan-jalan. Kota ini berbentuk kubus
(Wahyu 21:16), yang dapat berarti kubus geometris atau sebuah
piramida. Dasar-dasarnya dihiasi dengan "segala jenis permata"
(Wahyu 21:19, 20), dan dua belas jenis di antaranya disebutkan.
Keadaan Terakhir 621
Kota ini memiliki dua belas pintu gerbang yang bertuliskan nama
kedua belas suku Israel (Wahyu 21:12, 13); sedangkan pada kedua
belas dasarnya ada nama kedua belas rasul (Wahyu 21:14).
Tembok-temboknya terdiri atas permata yaspis dan kota ini
terbuat dari emas mumi (Wahyu 21:18). Setiap pintu gerbang
yaitu sebuah mutiara (Wahyu 21:21), dan pintu-pintunya tidak per
nah tertutup (Wahyu 21:25) sekalipun dijaga oleh dua belas
malaikat (Wahyu 21:12). Jalan-jalannya terbuat dari emas mumi
(Wahyu 21:21), dan di sana ada sungai kehidupan dan pohon
kehidupan (Wahyu 22:1, 2). Kota ini tidak memerlukan "matahari
dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah mene-
ranginya dan Anak Domba itu yaitu lampunya" (Wahyu 21:23).
Betapa sempurna keamanan dan keindahan kota ini!
2. Penduduknya. Yerusalem yang baru disebutkan sebagai pe
ngantin perempuan, mempelai Anak Domba (Wahyu 21:9,10; band.
Yohanes 14:2). Sekalipun demikian jelaslah bahwa ini merupakan
suatu majas atau kiasan, karena ada orang yang tinggal di dalam
kota itu (Wahyu 21:27; 22:3-5). Babel yang misterius memiliki
kota; demikianlah gereja yang sejati memiliki kota. Mungkin inilah
kota yang dinanti-nantikan oleh Abraham (Ibrani 11:10; band. ayat
15, 16); kota ini yaitu kota yang dinantikan oleh orang-orang per
caya sekarang ini (Ibrani 13:14). Kota ini tidak memerlukan bait
suci sebab "Allah, Tuhan yang Mahakuasa, yaitu Bait Sucinya,
demikian juga Anak Domba itu" (Wahyu 21:22). Sekalipun nam
paknya kota itu yaitu tempat tinggal orang-orang yang tertebus,
jelaslah bahwa Allah Bapa dan Allah Anak juga akan tinggal di
situ. Mungkin saja Allah Bapa dan Allah Anak tidak tinggal di situ
terus-menerus, karena kediaman Mereka yang tetap yaitu sorga;
namun setidak-tidaknya dapat dipastikan bahwa Mereka akan sering
kali berkunjung ke situ, bila kita diizinkan memakai bahasa
demikian untuk Allah yang Mahahadir. namun pasti Allah akan
tinggal bersama umat-Nya.
3. Kebahagiaan yang ada di kota ini. Firman Allah me
ngatakan bahwa bangsa-bangsa yang diselamatkan berjalan di
dalam cahaya kota ini (Wahyu 21:24). Apakah ini menunjukkan
bahwa kota Yerusalem baru ini akan berada di angkasa di atas bumi
yang baru? Tidak ada malam di kota ini , karena kemuliaan
624 Eskatologi
Tuhan senantiasa meneranginya (Wahyu 21:23, 25). Raja-raja di
bumi akan mempersembahkan kemuliaan mereka kepadanya
(Wahyu 21:24-26); ini berarti pujaan dan ibadah mereka. Rupanya,
mereka tidak tinggal di kota ini , namun mengunjunginya.
Diberitahukan bahwa di sana tidak akan ada kutukan; bahwa takhta
Allah dan takhta Anak Domba akan berada di situ (Wahyu 22:3;
band. I Korintus 15:24); bahwa hamba-hamba-Nya akan melayani
Dia dan di dahi mereka tertulis nama-Nya; bahwa mereka akan
melihat wajah-Nya; dan bahwa mereka akan memerintah bersama
dengan Dia selama-lamanya (Wahyu 22:3-5).
Bila kita memikirkan rencana dan pemeliharaan Allah terhadap
manusia, kita ingin berseru bersama dengan Paulus, "O, alangkah
dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak
terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami
jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33). Kita harus memuji Dia kalau kita
merenungkan kasih karunia-Nya terhadap kita yang oleh kasih
karunia itu telah menyelamatkan kita oleh iman (Efesus 2:8). Allah
telah "membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-
sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia
menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melim
pah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya kepada kita dalam Kristus
Yesus" (Efesus 2:6, 7).







