Kamis, 16 Juli 2026

teologi sistematik 22

 


rang yang telah ditebus untuk memasuki kerajaan seribu tahun. 

Kelompok ini akan terdiri atas orang Yahudi dan orang bukan 

Yahudi. Pada saat Kristus datang kembali, orang-orang percaya 

akan memasuki kerajaan seribu tahun sedangkan orang-orang yang 

tidak percaya akan diambil untuk dihakimi (Matius 13:37-43, 47-50; 

24:40, 41; 25:1-12). Sebagaimana halnya Tuhan kita dahulu bekerja 

sekitar tiga tahun dengan orang-orang yang akan menjadi kelompok 

inti bagi gereja yang akan datang, demikian pula orang-orang yang 

diselamatkan selama masa kesengsaraan yaitu  kelompok yang 

dipakai Tuhan untuk mendirikan kerajaan-Nya saat  Ia datang. 

Pengumpulan sisa-sisa Israel serta orang-orang yang diselamatkan 

dari antara bangsa-bangsa bukan Yahudi pastilah memakan waktu. 

saat  Kristus datang dalam kemuliaan, amat banyak orang akan 

berbalik kepada Tuhan (Zakharia 12:10-14), sebagaimana halnya 

pada hari Pentakosta saat  Roh Kudus datang dan Petrus berkhot­

bah (Kisah 2:14-41; band. Yoel 2:28-32; Roma 11:25-27).

F. HIMBAUAN UNTUK SENANTIASA MENANTIKAN KEDA­

TANGAN TUHAN

Berkali-kali kita diingatkan untuk senantiasa siap siaga, "Karena itu 

berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu 

datang" (Matius 24:42); "Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu 

tidak tahu akan hari maupun akan saatnya" (Matius 25:13; band. 

Markus 13:35, 36; I Tesalonika 5:6; Wahyu 3:3). Kita juga diminta 

untuk menantikan pengharapan yang penuh bahagia itu (Titus 2:13; 

band. Ibrani 9:28). Bagaimana mungkin kita berjaga-jaga dan me­

nantikan kedatangan Tuhan bila tidak ada satu pun peristiwa yang 

telah dinubuatkan yang mendahului kedatangan ini ? jika  

Saat Kedatangan-Nya: Sebelum Masa Kesengsaraan 583

masa kesengsaraan mendahului kedatangan-Nya yang kedua, maka 

kita mau tidak mau akan menantikan kesengsaraan ini  sebagai 

awal dari kedatangan Kristus yang kedua. Bila kita tidak dapat 

mengharapkan kedatangan Tuhan akan terjadi sewaktu-waktu, maka 

kebenaran kedatangan Tuhan kembali tidak merupakan pendorong 

untuk menjalankan kehidupan yang kudus, pelayanan yang efektif, 

serta kesiap-siagaan seperti yang dikatakan oleh Alkitab. Namun, 

Alkitab mengajarkan bahwa kedatangan Kristus yang kedua kali itu 

sudah dekat.

Orang-orang yang memiliki pandangan yang berbeda tentang 

pokok ini mengakui kekuatan argumen ini. Oleh karena itu mereka 

berusaha untuk menunjukkan bahwa para rasul tidak percaya Kris­

tus akan datang setiap saat. Beberapa hal disebutkan sebagai bukti. 

Sebagian besar bukti ini hanya merupakan rencana-rencana yang 

dapat dibenarkan dari orang-orang yang kuatir mengenai masa 

depan, yang bergantung pada Tuhan yang membuka jalan, seperti 

saat  Paulus memberi tahu rencananya untuk pergi ke Roma dan 

Spanyol (Roma 15:22-25, 30-32). Mereka mengatakan bahwa 

Paulus tidak mungkin membuat rencana ini jika ia mengharapkan 

bahwa Kristus akan datang pada setiap saat. Namun berpendapat 

demikian berarti melupakan bahwa dalam surat yang sama Paulus 

telah menyatakan bahwa kedatangannya tergantung pada kehendak 

Tuhan (Roma 1:10). Hal yang sama dapat dikatakan mengenai 

semua rencana Paulus (I Korintus 4:19; 16:5-8), seperti juga me­

ngenai rencana semua penulis Perjanjian Baru lainnya (Yakobus 

4:13-16; Yohanes 21:18-23). Selanjutnya ditandaskan bahwa per­

umpamaan-perumpamaan dalam Matius 13 menunjukkan adanya 

suatu selang antara yang cukup lama, dan bahwa perumpamaan ten­

tang seorang bangsawan dengan sengaja diajarkan oleh karena para 

pengikut Tuhan "menyangka bahwa kerajaan Allah akan segera 

kelihatan" (Lukas 19:11). Ditandaskan juga bahwa perumpamaan 

talenta mengandung pernyataan serupa, "Lama sesudah itu 

pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan de­

ngan mereka" (Matius 25:19).

Namun kuranglah dapat diterima bahwa para murid Tuhan Yesus 

beranggapan akan memerlukan waktu lama untuk penggenapan 

perumpamaan-perumpamaan dalam Matius 13. Allah memang tahu 

bahwa akan ada selang antara yang cukup lama, namun tidak ada 

584 Eskatologi

tanda-tanda bahwa para murid Tuhan tahu akan hal ini . Dalam 

hal perumpamaan seorang bangsawan, yang penting yaitu  bahwa 

para murid menyangka Kristus akan mendirikan kerajaan-Nya pada 

waktu itu saat  Ia mendekati Yerusalem. Kristus memberi tahu 

bahwa Ia harus kembali ke sorga dulu untuk menerima kerajaan 

itu, namun tidak ada apa-apa yang menunjukkan bahwa menerima 

kerajaan itu akan memerlukan waktu yang lama. Waktu yang lama 

dalam Matius 25:19 tidak perlu berarti bahwa dibutuhkan waktu 

yang lebih lama dari masa hidup satu generasi yang ada saat  tuan 

itu pergi ke luar negeri. Para murid mengharapkan kedatangan 

Tuhan akan terjadi dengan begitu segera sehingga berkali-kali 

Tuhan harus mengingatkan mereka untuk tidak menghentikan 

pekerjaan mereka. Nasihat Yakobus sangat selaras, "Karena itu, 

saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan" 

(5:7). Paulus harus menasihati jemaat di Tesalonika untuk kembali 

kepada tugas mereka sehari-hari, sekalipun pada saat yang sama ia 

mengatakan tentang dirinya sendiri serta orang-orang seangkatannya 

untuk tetap tinggal sampai kedatangan Tuhan (I Tesalonika 4:11, 

12, 15, 16; II Tesalonika 3:10-12).

G. JANJI KEPADA GEREJA DI FILADELFIA

Janji yang ada  di dalam Wahyu 3:10 menunjuk kepada peris­

tiwa Keangkatan Gereja yang terjadi sebelum masa kesengsaraan, 

"Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, 

maka Aku pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang 

akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam 

di bumi." Ada empat hal yang perlu kita perhatikan di ayat ini.

1. Istilah "hari". Istilah ini dipakai untuk menunjuk saat pen­

cobaan yang akan datang dan menyatakan suatu periode. Adanya 

kata sandang di dalam naskah Yunani yang asli sebelum istilah 

"hari" ini menunjukkan bahwa waktu itu khusus. Sebagaimana 

dikatakan oleh Walvoord, "Maksudnya bukan apakah gereja akan 

lolos dari murka Allah, namun  apakah gereja akan lolos dari waktu 

murka Allah."174

174 Walvoord, The Blessed Hope and the Tribulation, hal. 54.

Saat Kedatangan-Nya: Sebelum Masa Kesengsaraan 585

2. Luasnya pencobaan. Jelaslah bahwa kesengsaraan ini tidak 

bersifat lokal, karena hari itu akan datang "atas seluruh 

dunia". Jadi, kesengsaraan ini akan dialami oleh seluruh dunia. 

Mounce mengatakan, "Hari pencobaan itu ialah masa pencobaan 

dan kesengsaraan yang mendahului pendirian kerajaan yang kekal. 

Peristiwa ini disebutkan dalam ayat-ayat seperti Daniel 12:2; 

Markus 13:14, dan II Tesalonika 2:1-12."  175

3. Tujuan hari pencobaan ini. Masa ini ditujukan kepada orang- 

orang yang "diam di bumi". Perlu diperhatikan bahwa kata yang 

dipakai untuk "diam" bukanlah kata yang lazim, oikeo, namun  bentuk 

yang telah diperkuat lagi, katoikeo, yang artinya mereka yang sudah 

menetap di bumi, yang telah menyatukan diri dengannya. Istilah ini 

dipakai sekitar dua belas kali dalam kitab Wahyu, dan se­

lalu mengacu kepada orang-orang yang diam di bumi. Alford me­

nyatakan bahwa dalam ayat-ayat ini  "ungkapan katoikeo 

diterapkan kepada orang-orang yang tidak termasuk gereja Kris­

tus."176 Pencobaan ini bukan untuk gereja karena gereja akan 

lolos darinya.

4. Orang-orang yang akan dilindungi dari hari pencobaan. 

Dikatakan bahwa orang-orang yang setia kepada Tuhan akan ter­

lindung dari masa pencobaan ini. Moffat mengatakan:

175 Mounce, The Book of Revelation, hal. 119.

176 Alford, The Greek New Testament, IV, hal. 586.

177 Moffatt, "The Revelation of St. John the Divine," dalam Expositor’s Greek 

Testament, V, hal. 368.

Mustahillah dari sudut tata bahasa dan sulit dari sudut arti kata untuk menen­

tukan apakah istilah terein ek berarti ketabahan yang berhasil (seperti dalam 

Yohanes 17:15) atau kebebasan mutlak (seperti di II Petrus 2:9), keluar 

dengan aman dari pencobaan ini  atau luput samasekali (karena Tuhan 

sudah datang sebelumnya, ayat 1l).177

Janji dalam Wahyu 3:10 agaknya bukan saja bahwa Allah akan 

melindungi orang-orang yang setia dari pencobaan, seakan-akan 

hendak menjadi perisai mereka, namun  bahwa Ia akan menyelamat­

kan mereka dari hari pencobaan itu. Hal ini nampaknya menunjuk­

kan bahwa orang-orang percaya akan diangkat sebelum masa 

kesengsaraan itu mulai.

586 Eskatologi

H. BEBERAPA PERTIMBANGAN LAINNYA

Ada tiga alasan lainnya yang sering diajukan untuk mendukung pan­

dangan Keangkatan Gereja yang terjadi sebelum masa ke­

sengsaraan. (1) Ada ayat-ayat yang terpencar-pencar di seluruh Per­

janjian Baru yang menunjukkan bahwa gereja tidak akan mengalami 

murka Allah. Paulus menghibur jemaat di Tesalonika. "Karena 

Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, namun  untuk 

beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita" (I Tesalonika 

5:9), dan lagi, "Yesus . . . menyelamatkan kita dari murka yang 

akan datang" (I Tesalonika 1:10). Memang, telah dikatakan bahwa 

gereja akan mengalami penganiayaan dan penderitaan (Yohanes 

16:33; Kisah 5:41; 14:22; II Korintus 1:7; Filipi 1:29; II Timotius 

3:12; I Petrus 4:13), namun penganiayaan ini bukanlah murka Allah 

(Wahyu 6:16, 17; 14:7). Orang percaya sedang menantikan peng­

harapan yang penuh bahagia (Titus 2:13; band. I Tesalonika 1:10; 

4:18; 5:11; I Yohanes 2:28). (2) Gereja tidak disebut dalam Wahyu 

4-19. Istilah "gereja" tidak pernah muncul dalam bagian ini. Hal ini 

perlu diperhatikan karena istilah "gereja" sering muncul dalam 

pasal-pasal sebelumnya dan muncul kembali dalam 22:16. Bila 

gereja masih di atas bumi, maka kita dapat mengharapkan bahwa 

gereja akan sering kali disebutkan. Dan (3) Banyak yang merasa 

bahwa kedua puluh empat tua-tua dalam kitab Wahyu (4:4, 10; 5:5, 

dan seterusnya) menggambarkan gereja di sorga. Sekalipun 

demikian, tidak ada bukti-bukti yang cukup untuk menguatkan pen­

dapat ini. Nampaknya juga tepat untuk menafsirkan bahwa dua 

puluh empat tua-tua ini  yaitu  semacam makhluk-makhluk 

sorgawi seperti serafim (Yesaya 6:2), kerub atau kerubion (Yehez­

kiel 10:8) atau makhluk-makhluk hidup (Wahyu 4:6), atau sejenis 

malaikat tertentu yang tinggal di sekitar takhta Allah.

Sebagai kesimpulan, kami mengajak Anda memperhatikan suatu 

kesulitan yang telah diketengahkan terhadap pandangan ini. Paulus 

menulis, "Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: 

kita tidak akan mati semuanya, namun  kita semuanya akan diubah, 

dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab 

nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam 

keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah" (I 

Korintus 15:51, 52). Pada umumnya disetujui bahwa nafiri terakhir 

dalam I Korintus 15 ini sama dengan sangkakala dalam I Tesalonika 

Saat Kedatangan-Nya: Sebelum Masa Kesengsaraan 587

4:16. Beberapa pihak juga berusaha untuk menyamakan nafiri ini 

dengan sangkakala ke-7 dari Wahyu 11:15. Pandangan ini dianut 

oleh golongan tengah masa kesengsaraan. Namun kedua nafiri ini 

tidak boleh disamakan. Kata "terakhir" dapat berarti yang terakhir 

dalam suatu rangkaian, namun  dapat juga berarti yang terakhir dalam 

arti ditiup pada akhir zaman. Dalam Perjanjian Lama, sangkakala 

dan nafiri dipakai untuk beberapa tujuan dan pada bermacam- 

macam waktu (Imamat 23:24; Bilangan 10:1-10), dan bisa saja ada 

berbagai nafiri yang "terakhir". Dengan demikian, tidak perlu kita 

menyamakan nafiri dari I Korintus 15:52 dengan sangkakala 

di I Tesalonika 4:16. Nafiri yang disebut di kedua ayat itu pasti 

tidak sama dengan sangkakala ke-7 dalam kitab Wahyu, bila kita 

ingat seluruh lingkup ajaran mengenai kedatangan Kristus yang 

kedua kali.


PASAL XLIV 

Kebangkitan

Terjadinya banyak tumpang-tindih dalam pembahasan doktrin es- 

katologi memang tak terelakkan. Banyak yang sudah dikatakan ten­

tang kebangkitan akan terulang kembali dalam pasal ini, agar pokok 

ini dapat diuraikan sedalam-dalamnya. Sungguh beralasan untuk 

menyelidiki Alkitab dengan lebih cermat, karena sejak dahulu kala 

manusia telah bertanya, "Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup 

lagi?" (Ayub 14:14). Senantiasa ada orang yang mengingkari 

kebangkitan (Matius 22:23; Kisah 23:8; I Korintus 15:12). Nam­

paknya juga senantiasa ada orang yang mengaku percaya kepada 

kebangkitan, namun mengingkari kebangkitan fisik. Jadi, sangatlah 

penting untuk menyelidiki Alkitab agar dapat memastikan apa yang 

diajarkan olehnya tentang kebangkitan.

I. KEPASTIAN KEBANGKITAN

Apakah sebagai soal pengharapan ataukah soal ketakutan dan ke- 

gentaran, manusia pada umumnya merasa bahwa ada hidup setelah 

kematian. Orang-orang Mesir kuno menunjukkan keyakinan ini da­

lam perawatan mereka terhadap orang mati; orang-orang Babilonia 

menunjukkannya lewat ketakutan mereka akan suatu keberadaan 

yang muram dan sedih setelah kematian. Sokrates beranggapan 

bahwa hidup akan berlanjut terus setelah kematian; orang- 

orang Indian dari Amerika menantikan padang perburuan abadi. 

Brahmanisme, Hinduisme, Budhisme, Konfusianisme, dan agama 

Islam, semua percaya bahwa manusia tetap ada setelah kematian. 

Dari manakah kepercayaan universal ini? Adakah pertanda fun-

589

590 Eskatologi

damental mengenai sifat manusia ini suatu kebohongan? Tidak. 

Kenyataan bahwa pikiran kita tidak dapat tenang menghadapi 

prospek kepunahan merupakan landasan bagi pengharapan adanya 

hidup setelah kematian. Namun, yang hendak diuraikan dalam pasal 

ini bukan sekadar hidup setelah kematian; kita ingin tahu apakah 

hidup setelah kematian itu yaitu  hidup secara sadar dan apakah 

akan ada kebangkitan fisik juga.

A. KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN

Ilmu pengetahuan mempunyai keyakinan bahwa zat tidak dapat 

dihancurkan dan energi harus dikonservasi. Karena itu, ilmu penge­

tahuan tidak dapat mengatakan bahwa kepercayaan kristiani akan 

hidup setelah kematian tidak masuk akal. Filsafat yang mengakui 

adanya ketidakadilan dalam hidup, tidak dapat mengelak 

kemungkinan adanya kehidupan setelah kematian, saat  semua 

kesalahan dalam hidup ini akan dibetulkan. Kemungkinan dan ke­

perluan ini telah menjadi kepastian dalam Alkitab. Perjanjian Lama 

mengajarkan bahwa kehidupan setelah kematian itu ada. Dikata­

kannya bahwa semua orang akan turun ke Syeol, dunia orang mati 

(Hades dalam Perjanjian Baru). Orang fasik, tentu saja, pergi ke 

situ (Mazmur 9:18; 31:18; 49:15; Yesaya 5:14). Dikatakan bahwa 

Korah, Datan, dan Abiram telah hidup-hidup ke Syeol (Bilangan 

16:33). Akan namun , orang-orang yang benar juga pergi ke situ 

(Ayub 14:13; 17:16; Mazmur 6:6; 16:10; 88:4). Yakub menantikan 

saatnya dia bisa pergi ke anaknya Yusuf di Syeol (Kejadian 37:35; 

band. 42:38; 44:29). Raja Hizkia memandang kematian sebagai 

memasuki "pintu gerbang dunia orang mati [Syeol]" (Yesaya 

38:10). Pikiran pergi ke Syeol nampaknya juga ada  di dalam 

ungkapan yang sering dipakai, yaitu "dikumpulkan kepada kaum 

leluhurnya" (Kejadian 25:8, 17; 35:29; 49:33; Bilangan 20:24; 

27:13; Ulangan 32:50; Hakim-Hakim 2:10).

Juga dalam Perjanjian Baru, orang fasik dengan orang benar 

digambarkan sebagai turun ke Hades sebelum peristiwa kebangkitan 

Tuhan Yesus. Orang kaya dalam perumpamaan Lazarus dikatakan 

pergi ke Hades (alam maut). Di Hades ia dan Lazarus dapat ber­

bicara satu dengan yang lain (Lukas 16:19-31). Yesus sendiri turun 

ke Hades (Kisah 2:27, 31). Kristus kini memiliki kunci maut dan

Kebangkitan 591

kerajaan maut (Hades) (Wahyu 1:18), dan pada suatu saat kelak 

keduanya akan menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalam­

nya (Wahyu 20:13, 14). Istilah "Hades" (dunia orang mati, alam 

maut, kerajaan maut) dipakai sebanyak sepuluh kali dalam Perjan­

jian Baru (Matius 11:23; 16:18; Lukas 10:15; 16:23; Kisah 2:27, 

31; Wahyu 1:18; 6:8; 20:13, 14). Kedua kata ini, Syeol dalam Per­

janjian Lama dan Hades dalam Perjanjian Baru, diakui oleh semua 

sarjana sebagai kata-kata yang tepat sama artinya.

Jadi, kalau Alkitab mengajarkan bahwa ada kehidupan setelah 

kematian, apakah itu kehidupan secara sadar? Perjanjian Lama tidak 

jelas mengenai hal ini. Berkumpul dengan kaum leluhur, turun 

mengapatkan anaknya, serta ungkapan-ungkapan lain semacam itu, 

menyiratkan adanya kehidupan yang sadar, sekalipun hal itu tidak 

dinyatakan dengan gamblang. Pengkhotbah 9:5, 6, 10 nampaknya 

menolak bahwa kehidupan setelah kematian merupakan kehidupan 

secara sadar, karena ditegaskan di situ bahwa "tak ada pekerjaan, 

pertimbangan, pengetahuan, dan hikmat dalam dunia orang mati, 

ke mana engkau akan pergi." Namun, kita harus ingat bahwa kitab 

ini ditulis dari sudut pandangan pengetahuan di bawah matahari, 

maksudnya, dari sudut pandangan manusia duniawi. Hanya penya­

taan ilahi yang dapat menerangkan sifat yang sesungguhnya dari 

kehidupan setelah kematian. Yesaya 14:9-11, 15-17 dengan jelas 

sekali mengajarkan bahwa kehidupan setelah kematian yaitu  ke­

hidupan yang sadar. Dan apa yang tersirat dalam Perjanjian Lama 

diajarkan dengan jelas dalam Perjanjian Baru. Yesus mengajarkan 

hal itu dalam Matius 22:31, 32, dan dalam kisah orang kaya dan 

Lazarus (Lukas 16:19-31). Orang kaya dan Lazarus dapat berbicara, 

berpikir, mengingat, merasa, dan mempedulikan orang lain. Hal 

yang sama tersirat dalam pernyataan Yesus kepada penjahat yang 

bertobat bahwa pada hari itu juga ia berada di Firdaus bersama 

dengan Kristus (Lukas 23:43). Secara tidak langsung, Perjanjian 

Baru nampaknya mengajarkan adanya dua ruangan di Hades, satu 

ruangan untuk orang-orang benar dan satu ruangan untuk orang- 

orang fasik. Ruangan untuk orang-orang benar dinamakan Firdaus; 

sedangkan ruangan untuk orang-orang fasik tidak bernama, namun  

digambarkan sebagai tempat penyiksaan. Jadi, jelaslah bahwa istilah 

"tidur" kalau digunakan untuk kematian, hanya merujuk kepada 

tubuh (Matius 27:52; Yohanes 11:11-13; I Korintus 11:30; 15:20,

592 Eskatologi

51; I Tesalonika 4:14; 5:10).

Setelah kebangkitan Kristus nampaknya telah terjadi sedikit 

perubahan. Sejak saat itu, Alkitab menggambarkan orang-orang per­

caya langsung menghadap ke hadirat Kristus saat  meninggal 

dunia. Karena itulah Paulus menyebutkan keadaan saat  masih 

mendiami tubuhnya ini sebagai "masih jauh dari Tuhan", sedangkan 

keadaan saat  sudah beralih dari tubuh ini atau sudah meninggal 

dunia sebagai "menetap pada Tuhan" (II Korintus 5:6-9). Paulus 

mengungkap keinginannya untuk "pergi dan diam bersama-sama de­

ngan Kristus--itu memang jauh lebih baik" (Filipi 1:23). Kita juga 

melihat "jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh" berada di bawah 

mezbah dan dalam keadaan sadar (Wahyu 6:9-11). Mereka akan 

pergi ke Firdaus, namun  Firdaus itu kini berada di atas (II Korintus 

12:2-4). Ada kemungkinan bahwa saat  Kristus bangkit, Ia tidak 

hanya membawa bersama Dia buah sulung manusia yang dibangkit- 

kan-Nya secara jasmaniah (Matius 27:52, 53), namun juga jiwa se­

mua orang benar yang berada di Hades. Kini semua orang percaya 

menghadap ke hadirat Kristus waktu meninggal dunia, sedangkan 

orang-orang yang tidak percaya tetap pergi ke Hades, seperti dalam 

zaman Perjanjian Lama.

B. AJARAN PERJANJIAN LAMA TENTANG KEBANGKITAN 

FISIK

Pertama-tama, Perjanjian Lama mencatat paling sedikit tiga orang 

yang dibangkitkan: putra seorang janda (I Raja-Raja 17:21, 22), 

putra perempuan Sunem (II Raja-Raja 4:32-36), dan orang yang 

dibangkitkan saat  mayatnya kena kepada tulang-tulang Elisa (II 

Raja-Raja 13:21). Sejak saat itu, setidak-tidaknya, Israel memiliki 

bukti tentang kemungkinan adanya kebangkitan tubuh. Namun ke­

percayaan akan kebangkitan tubuh dapat dirunut ke waktu yang 

lebih awal lagi. Abraham mengharapkan bahwa di Gunung Moria 

itu Allah akan membangkitkan Ishak dari kematian (Kejadian 22:5; 

Ibrani 11:19).

Pemazmur yakin bahwa ia tidak akan ditinggalkan di Syeol 

(Mazmur 16:10; band. 17:15). Bahwa Mazmur ini ternyata bernu­

buat mengenai kebangkitan Kristus samasekali tidak melemahkan 

argumen kita (Kisah 2:24-28). Selanjutnya, kita memperhatikan 

Kebangkitan 593

pengharapan Yesaya akan suatu kebangkitan fisik (Yesaya 26:19), 

janji Allah kepada Hosea (13:14), janji-Nya kepada Daniel (12:1-3, 

13). Memang ayat-ayat ini tidak banyak, namun kepercayaan akan 

kebangkitan fisik sudah mulai pada zaman Abraham dan berlanjut 

terus hingga kepulangan orang Yahudi dai Babel. Nampaknya jelas 

dan memadai untuk mengatakan bahwa doktrin ini telah diajarkan 

dan dipercayai sepanjang periode Perjanjian Lama.

C. AJARAN PERJANJIAN BARU TENTANG KEBANGKITAN 

FISIK

Perjanjian Baru mencatat kebangkitan lima orang: putri Yairus 

(Matius 9:24, 25), pemuda dari Nain (Lukas 7:14, 16), Lazarus 

(Yohanes 11:43, 44), Dorkas (Kisah 9:40, 41), dan Eutikhus (Kisah 

20:9-12). Lagi pula, kita membaca tentang kebangkitan banyak 

orang kudus setelah Kristus bangkit (Matius 27:52, 53). Mengenai 

ajaran tentang kebangkitan yang masih akan datang, hal ini  

diajarkan oleh Kristus (Yohanes 5:28, 29; 6:39, 40, 44, 54; Lukas 

14:14; 20:35, 36) dan para rasul mengajarkan juga (Kisah 

24:15; I Korintus 15; Filipi 3:11; 1 Tesalonika 4:14-16; Wahyu 20:4- 

6, 12, 13). Dan akhirnya, kebangkitan tubuh Kristus sendiri 

merupakan jaminan kebangkitan tubuh kita (Roma 8:11; I Korintus 

6:14; 15:20-22; II Korintus 4:14). Kristus telah "mematahkan kuasa 

maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa" (II Timotius 

1:10). Oleh karena itu jelas bahwa Perjanjian Baru secara cukup 

luas dan memadai mengajarkan adanya kebangkitan tubuh.

II. SIFAT KEBANGKITAN FISIK

'namun  mungkin ada orang yang bertanya, ’Bagaimanakah orang 

mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang 

kembali?’" (I Korintus 15:35). Pertanyaan ini sekarang menjadi 

pokok penelitian kita. Pertama-tama, kita melihat bahwa Alkitab 

berbicara tentang tiga jenis kebangkitan: kebangkitan berdasarkan 

hukum yaitu saat  orang percaya dibangkitkan bersama Kristus 

(Roma 6:4, 5; Efesus 2:5, 6; Kolose 2:12, 13), suatu kebangkitan 

rohani, yang sepadan dengan kelahiran kembali atau pembaharuan 

594 Eskatologi

(Yohanes 5:25,26), serta kebangkitan fisik (Yohanes 5:28,29). Saat 

ini kita hanya akan memperhatikan kebangkitan tubuh.

A. KENYATAAN KEBANGKITAN FISIK

Alkitab memakai paling tidak empat cara untuk menunjukkan 

bahwa tubuh akan dibangkitkan. (1) Dengan pernyataan-pernyata­

an yang gamblang tentang hal itu (Mazmur 16:9, 10; Daniel 12:2; 

Yohanes 5:28, 29). Paulus menulis tentang penguburan dan 

kebangkitan tubuh, "Yang ditaburkan yaitu  tubuh alamiah, yang 

dibangkitkan yaitu  tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka 

ada pula tubuh rohaniah" (I Korintus 15:44). Tubuh alamiah yaitu  

tubuh yang terdiri atas darah dan daging; membutuhkan makanan, 

udara, dan istirahat; tubuh alamiah ini dapat makin merosot 

keadaannya serta mengalami sakit penyakit. Inilah tubuh yang di­

sesuaikan dengan keberadaan di planet ini. Tubuh rohani yaitu  

tubuh yang disesuaikan untuk hidup di sorga, tubuh yang kuat dan 

mulia. Tubuh ini serupa dengan tubuh kebangkitan Tuhan kita. 

Paulus mengatakan selanjutnya bahwa Kristus akan mengubah 

"tubuh kita yang hina ini sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang 

mulia" (Filipi 3:21). (2) Dalam pernyataan bahwa tubuh kita ter­

masuk dalam penebusan kita (Roma 8:23; I Korintus 6:13-15, 19, 

20). saat  Kristus mati bagi kita, Ia mati bagi manusia seutuhnya. 

Keuntungan sepenuhnya dari karya pendamaian Kristus tidak ter­

wujud sebelum tubuh ini mengenakan keadaan yang tidak dapat 

mati, suatu peristiwa yang akan terjadi pada waktu kebangkitan. (3) 

Dalam jenis tubuh yang dimiliki Kristus saat  Ia dibangkitkan. 

Kristus dibangkitkan dalam tubuh fisik (Lukas 24:39; Yohanes 

20:27). Mengingkari kebangkitan fisik berarti mengingkari ke­

bangkitan fisik Kristus (I Korintus 15:13). (4) Dalam kedatangan 

Kristus yang kedua kali serta penghakiman-penghakiman menurut 

arti kata yang sesungguhnya. Manusia Kristus Yesus akan kembali 

untuk menghakimi bukan roh-roh yang tanpa tubuh, melainkan 

orang-orang yang memiliki tubuh (I Tesalonika 4:16, 17; Wahyu 

20:11-13).

B. SIFAT TUBUH KEBANGKITAN

Secara umum dapat dikatakan bahwa tubuh kebangkitan bukanlah 

Kebangkitan 595

ciptaan yang samasekali baru. Bila itu suatu ciptaan yang 

samasekali baru, maka itu bukanlah tubuh kita yang sekarang, namun  

tubuh yang lain. Akan namun , yang dibangkitkan itu yaitu  tubuh 

yang ditaburkan (I Korintus 15:43, 44, 53, 54). Sebaliknya, tubuh 

kebangkitan itu belum tentu terdiri atas unsur-unsur yang persis 

sama dengan tubuh kita sekarang ini (I Korintus 15:37, 38). Alkitab 

hanya mengizinkan kita untuk berkata bahwa hubungan antara 

tubuh kita saat ini dengan tubuh kebangkitan yaitu  sama seperti 

benih gandum yang ditanam serta tanaman gandum yang tumbuh 

dari benih itu. Seorang dewasa memiliki tubuh yang sama yang 

dimilikinya saat  ia dilahirkan, sekalipun tubuh itu telah menga­

lami perubahan terus-menerus dan tidak terdiri atas sel-sel yang 

sama dengan saat  ia lahir. Demikian pula tubuh kebangkitan 

yaitu  tubuh yang sama, sekalipun susunannya akan berubah.

1. Tubuh orang percaya. Beberapa ayat Alkitab menyatakan 

secara jelas atau secara tidak langsung bahwa tubuh kebangkitan 

orang-orang percaya akan sama dengan tubuh Kristus yang telah 

dipermuliakan (I Korintus 15:49; Filipi 3:21; I Yohanes 3:2). 

Beberapa hal dapat dilihat dari I Korintus 15. (1) Tubuh ke­

bangkitan ini tidak akan terdiri atas darah dan daging (ayat 50, 51). 

Kristus saat  lahir memiliki darah dan daging (Ibrani 2:14), namun 

setelah kebangkitan-Nya Ia mengatakan bahwa tubuh-Nya terdiri 

atas daging dan tulang (Lukas 24:39). Jadi, Kristus bukan roh 

melulu, dan kita pun tidak akan menjadi semata-mata roh pada 

waktu kebangkitan. (2) Tubuh kebangkitan kita akan tidak dapat 

binasa dan tidak dapat mati (ayat 42, 53, 54). Karena itu, tubuh 

kebangkitan tidak akan menjadi sakit, rusak, atau mati. Tubuh itu 

abadi. (3) Tubuh kebangkitan itu yaitu  tubuh yang mulia (ayat 

43). Kita dapat memperoleh sedikit pengertian tentang hal ini bila 

mengingat peristiwa pemuliaan Kristus (Matius 17:2), atau 

memikirkan gambaran Kristus yang dipermuliakan di sorga (Wahyu 

1:13-16). (4) Tubuh kebangkitan akan sangat berkuasa (ayat 43). 

Maksudnya, tubuh itu tidak akan lelah, namun  akan mampu 

melakukan hal-hal yang luar biasa saat  melayani Kristus (Wahyu 

22:3-5). (5) Tubuh kebangkitan yaitu  tubuh yang rohani (ayat 44). 

Agaknya, yang dimaksudkan ialah bahwa kehidupan tubuh ke­

bangkitan yaitu  kehidupan roh. Dan akhirnya, (6) tubuh 

596 Eskatologi

kebangkitan itu yaitu  tubuh sorgawi (ayat 47-49). Dalam II Korin­

tus 5:1, 2, Paulus berbicara tentang "tempat kediaman" yang di­

sediakan oleh Allah dan tentang "tempat kediaman sorgawi" yang 

akan kita kenakan. Tubuh kebangkitan kita yaitu  sorgawi jika 

dibandingkan dengan tubuh kita yang sekarang yang berasal dari 

debu tanah. Hal-hal ini mungkin kurang memuaskan rasa ingin tahu 

orang-orang Kristen tentang sifat tubuh kebangkitan, namun semua 

ini menceritakan lebih banyak daripada sekadar dugaan manusia.

2. Tubuh orang yang tidak percaya. Sekalipun Alkitab tidak 

begitu banyak berbicara tentang kebangkitan orang-orang yang 

tidak diselamatkan, bukti-bukti tentang kebangkitan mereka 

samasekali tidak lemah atau tidak memuaskan. Yesus menyatakan 

bahwa akan tiba saatnya saat  semua orang yang berada dalam 

kubur akan bangkit, ada yang bangkit untuk hidup dan ada yang 

bangkit untuk dihukum (Yohanes 5:28, 29). Yesus mengingatkan 

para murid-Nya agar "jangan takut kepada mereka yang dapat mem­

bunuh tubuh, namun  yang tidak berkuasa membunuh jiwa" (Matius 

10:28). Di hadapan Feliks, Paulus menyatakan bahwa orang Israel 

menaruh pengharapan kepada Allah bahwa "akan ada kebangkitan 

semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang- 

orang yang tidak benar" (Kisah 24:15). Daniel 12:2 menyatakan 

bahwa banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam 

debu tanah akan bangun untuk "mengalami kehinaan dan kengerian 

yang kekal." Wahyu 20:12, 13 dengan jelas mengajarkan bahwa 

orang-orang yang tidak diselamatkan akan dibangkitkan, dihakimi, 

serta dicampakkan ke dalam lautan api. Dengan demikian jelaslah 

bahwa orang-orang yang tidak diselamatkan juga akan dibangkitkan 

secara fisik. Sifat ingin tahu tentu saja akan ingin menyelidiki sifat 

tubuh kebangkitan ini, namun  kenyataan bahwa Alkitab tidak men­

ceritakan apa-apa tentang hal ini menunjukkan bahwa kita harus 

puas dengan apa yang telah dinyatakannya.

III. SAAT PERISTIWA-PERISTIWA KEBANGKITAN 

TERJADI

Berbagai hal telah dikemukakan untuk membuktikan bahwa tidak 

ada kebangkitan yang umum di mana semua orang akan bangkit 

Kebangkitan 597

sekaligus. Akan namun , semua keterangan itu perlu dikumpulkan di 

sini agar dapat dijelaskan dengan pasti dan tegas. Pertama 

Tesalonika 4:16 menyatakan bahwa saat  Tuhan kita datang di 

udara, hanya orang-orang yang mati dalam Kristus yang akan 

bangkit. Frase "dalam Kristus" yang dipakai dalam ayat ini memiliki 

arti yang sama seperti pemakaiannya dalam ayat-ayat yang lain. 

Frase ini menunjuk kepada persatuan rohani yang mendasar antara 

orang percaya dengan Kristus, dalam ayat ini antara orang yang 

mati dalam Kristus dengan Kristus. Paulus nampaknya juga mem­

batasi kebangkitan pertama pada orang-orang Kristen saja saat  ia 

mengatakan, "Mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu keda­

tangan-Nya" (I Korintus 15:23). Paulus mempercayai adanya ke­

bangkitan orang yang diselamatkan dan orang yang tidak diselamat­

kan, namun tidak pernah mengajarkan bahwa mereka akan bangkit 

pada saat yang bersamaan. Yohanes 5:28, 29 tidak sekadar menun­

jukkan adanya dua hal yang menyusul kebangkitan, namun  kepada 

dua kebangkitan, yang satu untuk hidup kekal sedangkan yang lain­

nya untuk dihukum. Daniel 12:2 juga mengajarkan adanya dua 

kebangkitan, dan bukan sekadar dua hal yang menyusul satu ke­

bangkitan. Mungkin rujukan yang paling jelas tentang adanya dua 

kebangkitan ada  dalam Wahyu 20:4-6. Lagi pula, Ibrani 11:35 

yang berbicara soal orang-orang yang menolak untuk diselamatkan, 

"supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik," juga menun­

juk adanya pengharapan akan dua kebangkitan.

Ada yang berkeberatan terhadap pandangan adanya dua kebang­

kitan ini berlandaskan beberapa istilah. Salah satu ialah istilah 

"akhir zaman" yang dalam Alkitab bahasa Inggris sering kali diter­

jemahkan dengan istilah on the last day (pada hari terakhir) 

(Yohanes 6:39, 40, 44, 54; 11:24; band. 12:48). Dengan berpegang 

pada terjemahan dalam bahasa Inggris, perlu dicamkan bahwa is­

tilah "hari" sering kali dipakai untuk menunjuk kepada suatu periode 

yang lama. Dikatakan bahwa Abraham bersukacita untuk melihat 

hari Kristus (Yohanes 8:56). Periode Keluaran dikatakan sebagai 

"pada hari tatkala Aku memegang tangannya" (Ibrani 8:9, Terj. 

Lama) dan "pada hari pencobaan di padang belantara" (Ibrani 3:8, 

Terj. Lama). Periode yang lama dari ketidaktaatan Israel disebutkan 

sebagai "sepanjang hari" (Roma 10:21). Yesus meratapi Yerusalem 

karena mereka tidak mengetahui "pada hari ini" apa yang perlu 

598 Eskatologi

untuk damai sejahtera (Lukas 19:42). Paulus mengatakan bahwa 

seluruh zaman ini yaitu  "hari penyelamatan" (II Korintus 6:2). 

Petrus menyatakan bahwa Allah menghitung waktu dengan cara 

yang berbeda dengan kita saat  ia menulis, "Di hadapan Tuhan 

satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti 

satu hari” (II Petrus 3:8). Saat yang dimaksudkan dalam Yohanes 

5:25, saat  orang-orang yang mati secara rohani mendengarkan 

suara Kristus dan hidup, telah berlangsung selama 19 abad. Oleh 

karena itu, sangat masuk akal bahwa saat yang disebut dalam 

Yohanes 5:28, saat  semua orang di dalam kuburan mendengar 

suara-Nya dan keluar, dapat berarti suatu periode yang cukup lama 

sehingga memungkinkan terjadinya dua kebangkitan yang berbeda.

Jelaslah bahwa kebangkitan yang pertama akan terjadi saat  

Kristus datang di udara (I Korintus 15:23; I Tesalonika 4:16). 

Semua orang percaya dari zaman ini akan dibangkitkan pada saat 

itu. Orang saleh dari zaman Perjanjian Lama dan orang saleh yang 

dibunuh selama masa kesengsaraan akan dibangkitkan pada saat 

Kristus datang ke bumi (Daniel 12:1, 2; Wahyu 20:4). Dengan 

demikian lengkaplah kebangkitan yang pertama. Kebangkitan yang 

kedua akan terjadi seribu tahun kemudian (Wahyu 20:5, 11-13). 

Nampaknya seakan-akan Tuhan sangat panjang sabar dengan orang 

mati yang belum diselamatkan. Mereka sedang mengalami siksaan 

selama berada dalam fase perantara ini, namun  belum masuk ke tem­

pat hukuman yang kekal. Jadi, kemurahan Allah masih menunda 

saat penghakiman terakhir sampai sesudah kerajaan seribu tahun. 

Namun sekalipun ditunda, saat itu pasti akan tiba. Orang-orang yang 

tidak percaya mungkin sekali ingin tetap berada tanpa tubuh 

kebangkitan, namun  keinginan mereka tidak akan mempengaruhi 

kenyataan. Mereka juga akan keluar dalam tubuh kebangkitan 

mereka serta menderita hukuman Allah yang abadi di dalam tubuh 

mereka.

PASAL XLV 

Penghakiman

Sekalipun kedua peristiwa kebangkitan sebenarnya sudah menun­

jukkan keadaan manusia di kemudian hari, hal itu tidak akan me­

niadakan penghakiman. Seluruh filsafat penghakiman yang akan 

datang itu bertumpu pada hak Allah yang berdaulat untuk meng­

hukum semua ketidaktaatan serta hak pribadi seseorang untuk mem­

bela diri saat  disidangkan. Sekalipun Allah itu berdaulat, sebagai 

hakim seluruh bumi, Ia akan bertindak dengan adil (Kejadian 

18:25). Ia akan melakukan keadilan bukan karena harus tunduk 

kepada suatu hukum yang ada di luar diri-Nya, melainkan sebagai 

ungkapan watak-Nya sendiri. Masing-masing orang akan mendapat 

kesempatan untuk menerangkan mengapa ia bertindak sebagaimana 

yang telah dilakukannya dan untuk mengetahui alasan-alasan 

hukuman yang dijatuhkan padanya. Semua ini merupakan faktor- 

faktor mendasar dari setiap pemerintahan yang benar. Sepanjang 

pemerintahan manusia mengatur negara sesuai dengan tatanan 

semacam itu, pemerintahan ini  meniru metode pemerintahan 

Allah. Kini kita perlu bertanya: apakah yang diajarkan Alkitab ten­

tang penghakiman-penghakiman yang akan datang?

I. KEPASTIAN PENGHAKIMAN

Adanya penghakiman baik bagi orang yang benar maupun bagi 

orang yang tidak beriar telah diberi tahu oleh hati nurani manusia. 

Penulis kitab Pengkhotbah, yang berbicara dari segi pandangan 

manusia duniawi, mendorong setiap pemuda untuk hidup menuruti 

keinginan hatinya, namun menambahkan sebagai peringatan, bahwa 

599

600 Eskatologi

untuk semuanya itu Allah akan menghakimi mereka (11:9). Dalam 

pasal yang berikutnya ia menulis, "Karena Allah akan membawa 

setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu 

yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat" (12:14). Paulus 

berbicara tentang hati nurani manusia sebagai sedang menuduh atau 

membela manusia, mengingat, "hari, bilamana Allah, sesuai dengan 

Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang ter­

sembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus" (Roma 2:16). 

Sedangkan Ibrani 10:27 menyatakan bahwa orang yang berbuat 

dosa dengan sengaja dapat menantikan "kematian yang mengerikan 

akan penghakiman." Mustahil untuk memikirkan betapa dalamnya 

kebejatan moral manusia jika  ia tidak perlu takut akan peng­

hakiman yang kelak terjadi. Dengan kata lain, hati nurani nam­

paknya mengatakan bahwa seandainya tidak akan ada penghakiman, 

maka penghakiman harus diadakan.

Perasaan spontan dari hati manusia ini didukung oleh Alkitab. 

Dalam kitab Kejadian, Abraham mengakui Allah sebagai hakim se­

genap bumi (18:25), dan Hana mengatakan bahwa 'Tuhan menga­

dili bumi sampai ke ujung-ujungnya" (I Samuel 2:10). Daud me­

ngatakan bahwa Tuhan "datang untuk menghakimi bumi" (I Ta­

warikh 16:33; band. Mazmur 96:13; 98:9), dan mengatakan bahwa 

"takhta-Nya didirikan-Nya untuk menjalankan penghakiman" (Maz­

mur 9:8). Dalam Yoel, Allah berfirman, "Baiklah bangsa-bangsa 

bergerak dan maju ke lembah Yosafat, sebab di sana Aku akan 

duduk untuk menghakimi segala bangsa dari segenap penjuru (3:12; 

band. Yesaya 2:4). Kenyataan ini lebih sering ditegaskan dalam Per­

janjian Baru. Yesus bersabda, "Sebab Anak Manusia akan datang 

dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada 

waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya" 

(Matius 16:27). saat  berada di Atena, Paulus mengatakan bahwa 

Allah telah "menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan 

adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan- 

Nya" (Kisah 17:31; band. Roma 2:16; II Tesalonika 1:7-9). Paulus 

selanjutnya menyatakan bahwa "kita semua harus menghadap takhta 

pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut 

diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, 

baik ataupun jahat (II Korintus 5:10; band. Roma 14:10). Penulis 

surat Ibrani mengatakan bahwa setelah kematian datanglah peng-

Penghakiman 601

hakiman (9:27). Rasul Yohaneslah yang "melihat orang-orang mati, 

besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu" untuk dihakimi (Wahyu 

20:12). Allah telah memberikan kepastian tentang adanya peng­

hakiman dengan membangkitkan Kristus, Sang Hakim, dari antara 

orang mati (Kisah 17:31).

II. TUJUAN PENGHAKIMAN

Mengapa perlu bagi Allah untuk melaksanakan penghakiman? 

Strong mengatakan, "Tujuan penghakiman akhir bukanlah untuk 

memastikan, melainkan untuk menyatakan watak serta penetapan 

berbagai keadaan lahiriah yang sesuai dengan watak ini ."178 

Allah sudah mengetahui keadaan semua makhluk moral, sehingga 

akhir zaman hanya akan menyatakan betapa adilnya penghakiman 

yang dilaksanakan oleh Allah. Ingatan, hati nurani, dan watak kita 

merupakan persiapan dan bukti untuk penyingkapan yang terakhir 

itu (Lukas 16:25; Roma 2:15, 16; Efesus 4:19; Ibrani 3:8; 10:27). 

Peristiwa-peristiwa penghakiman ini akan terjadi untuk menunjuk­

kan keadilan Allah dalam berurusan dengan manusia. Di hadapan 

pengadilan Allah semua mulut akan tertutup (band. Roma 3:19). 

Tidak perlu beranggapan bahwa setiap orang akan mengakui bahwa 

ia menerima imbalan yang sesuai dengan perbuatannya, namun ter­

sirat bahwa tidak ada orang yang akan mempunyai alasan yang 

tepat untuk mengeluh, dan karena itu tidak ada yang mengeluh.

178 Strong, Systematic Theology, hal. 1025.

III. SANG HAKIM

Allah yang menghakimi semua orang (Ibrani 12:23), namun Ia akan 

melaksanakan pekerjaan ini melalui Yesus Kristus. "Bapa .. . telah 

menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak" (Yohanes 

5:22) dan telah melakukan hal itu karena "Ia yaitu  Anak Manusia" 

(Yohanes 5:27). "Allah telah . . . memberikan kepada semua orang 

suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara 

orang mati" (Kisah 17:31). Kristus akan menghakimi "orang-orang 

602 Eskatologi

hidup dan orang-orang mati" (Kisah 10:42; II Timotius 4:1). Ia akan 

menghakimi orang-orang percaya berdasarkan perbuatan 

mereka (II Korintus 5:10; band. Roma 14:10); binatang, nabi palsu, 

dengan tentara-tentara mereka (Wahyu 19:19-21); bangsa-bangsa 

yang berkumpul di hadapan-Nya (Matius 25:31, 32); Iblis (Wahyu 

20:1-3, 10; band. Kejadian 3:15; Ibrani 2:14); bangsa-bangsa yang 

hidup pada masa kerajaan seribu tahun (Yesaya 2:4; Yehezkiel 

37:24, 25; Daniel 7:13, 14; Wahyu 11:15); orang-orang mati yang 

tidak mau bertobat (Wahyu 20:11-15). Fungsi ini telah ditugaskan 

kepada-Nya sebagai imbalan karena Ia telah merendahkan diri-Nya 

(Filipi 2:9-11), dan karena Dia sendirilah yang memenuhi syarat 

untuk melakukan tugas ini . Sebagai Allah, Ia memiliki penger­

tian yang dalam untuk menghakimi (Yesaya 11:3) dan wewenang 

untuk menghakimi manusia; sebagai manusia, Ia mengerti dan ikut 

merasa bersama dengan manusia. Di dalam diri-Nya keadilan dan 

kemurahan berbaur menjadi satu sehingga sebagai hakim seluruh 

bumi Ia akan mengambil tindakan yang adil dan benar 

(Kejadian 18:25).

IV. BERBAGAI PENGHAKIMAN

Dalam suatu survei yang lengkap tentang pokok ini kita harus mulai 

dengan apa yang telah terjadi di masa silam. Di dalam Kristus dosa- 

dosa kita telah dihakimi sekali untuk selamanya (Yesaya 53:4-6; 

Yohanes 1:29; II Korintus 5:21; Galatia 3:13; b Ibrani 10:10-14; 

I Petrus 2:24; I Yohanes 2:2). Dengan demikian orang percaya di 

dalam Kristus telah dibebaskan dari kesalahan serta hukuman dosa, 

karena Kristus telah mengambil alih kesalahan ini  dan telah 

menjalani hukuman atas dosa itu baginya. Tidak ada orang percaya 

yang akan dihakimi untuk dosa-dosanya, karena ia telah dihakimi 

untuknya di dalam Kristus (Yohanes 5:24). Sekalipun demikian, ada 

penghakiman untuk orang-orang percaya saat ini, yaitu peng­

hakiman atas dosa mereka pribadi. Paulus menasihatkan orang- 

orang percaya untuk menghakimi diri mereka baik dalam kehidupan 

mereka sendiri (I Korintus 11:31, 32) maupun dalam kehidupan 

jemaat (I Korintus 5:5; I Timotius 1:20; 5:19, 20). Allah mendi­

siplinkan anak-anak-Nya yang tidak taat agar mendorong mereka 

Penghakiman 603

untuk menghakimi diri sendiri serta membuang dosa dari kehidupan 

mereka (II Samuel 7:14, 15; 12:13, 14; Ibrani 12:5-13). Namun 

dalam kesempatan ini kita akan lebih memperhatikan berbagai 

penghakiman yang akan datang. Kami menyebutkan berbagai peng­

hakiman karena tidak ada penghakiman umum sebagaimana tidak 

ada kebangkitan umum. Unsur-unsur waktu, mereka yang dihakimi, 

dan masalah-masalah yang dihakimi, menunjukkan adanya paling 

sedikit tujuh peristiwa penghakiman yang akan datang.

A. PENGHAKIMAN ORANG-ORANG PERCAYA

Sebagaimana sudah kita lihat, saat  Tuhan kembali, Ia akan meng­

hakimi orang-orang percaya berdasarkan perbuatan mereka (Roma 

14:10; I Korintus 3:11-15; 4:5; II Korintus 5:10). Setiap orang akan 

diminta untuk mempertanggungjawabkan pemakaian talentanya 

(Matius 25:14-30), uang mina (Lukas 19:11-27), serta kesempatan 

yang telah diberikan kepadanya (Matius 20:1-16). Hari itu akan 

menyatakan apakah seseorang telah membangun dengan memakai 

kayu, jerami, rumput kering, ataukah emas, perak, dan batu permata 

(I Korintus 3:12). Bila pekerjaannya dibangun dengan kayu dan 

sebagainya itu, maka pekerjaannya itu akan habis terbakar, namun  

ia sendiri akan diselamatkan namun seperti dari dalam api (ayat 

15); bila pekerjaannya dibangun dengan memakai emas dan 

sebagainya itu, maka ia akan menerima upah (ayat 14). Alkitab 

menyebut berbagai jenis mahkota atau trofi: mahkota yang 

abadi (I Korintus 9:25), mahkota kebenaran (II Timotius 4:8), mah­

kota kehidupan (Yakobus 1:12; Wahyu 2:10), mahkota kemuliaan 

(I Petrus 5:4), dan mahkota sukacita atau kemegahan (I Tesalonika 

2:19; band. Filipi 4:1).

B. PENGHAKIMAN ISRAEL

Dalam arti yang unik, masa kesengsaraan itu akan merupakan masa 

kesusahan bagi Yakub, namun kita diberi tahu bahwa "ia akan di­

selamatkan daripadanya" (Yeremia 30:7). Kita melihat pengania­

yaan orang Israel sepanjang masa itu dalam kitab Wahyu (12:6, 

13-17); hanya mereka yang tergolong sisa bangsa Israel yang 

dahinya termeterai akan bebas dari pengalaman ini (Wahyu 7:1-8). 

604 Eskatologi

Namun, nampaknya akan ada penghakiman yang lebih lanjut lagi 

yang berasal dari Allah sendiri dalam kaitan dengan pengumpulan 

kembali orang-orang Israel yang berserakan di mana-mana. Yehez­

kiel, saat  membicarakan penghakiman ini, menggambarkannya 

sebagai proses penyingkiran pemberontak-pemberontak di 

antara Israel saat  sedang menuju ke tanah suci. Mereka akan 

dibawa keluar dari tempat pengembaraan mereka, namun mereka 

akan mati di padang gurun dan tidak akan masuk ke tanah Israel 

(Yehezkiel 20:33-38). Rupanya Maleakhi juga membicarakan 

penghakiman yang sama ini saat  menggambarkan Tuhan sedang 

duduk sebagai tukang pemurni logam, sambil mentahirkan orang- 

orang Lewi (3:2-5). Penghakiman-penghakiman ini terjadi di atas 

bumi dan berkaitan dengan kedatangan Tuhan kembali ke bumi. 

Penghakiman inilah yang menentukan siapa dari orang Israel yang 

akan kembali ke tanah suci serta menjadi anggota Israel pada masa 

yang akan datang.

C. PENGHAKIMAN BABILONIA

Dengan memakai gambaran seorang wanita, kitab Wahyu meng­

gambarkan suatu sistem federasi agama (17:1-19:4). Pada mulanya 

wanita ini mengendarai seekor binatang yang penuh tertulis dengan 

nama-nama hujat. Ini menunjukkan bahwa sistem kepemimpinan 

gereja untuk sementara waktu akan menguasai sistem kepemim­

pinan politik. Namun kesepuluh tanduk (raja) akan berbalik dan 

membenci wanita itu, bahkan merampas segala miliknya, dan meng­

hancurkannya. Kemudian binatang itu akan memajukan dirinya un­

tuk mengambil alih pimpinan keagamaan tertinggi. Nampaknya 

akan ada koalisi yang kuat di antara perserikatan-perserikatan 

keagamaan dan perdagangan. saat  Babilonia sebagai suatu sis­

tem keagamaan dihancurkan, ia akan bangkit kembali sebagai suatu 

organisasi perdagangan dunia. Namun kemakmurannya tak lama 

bertahan. Pada suatu hari Tuhan Allah akan menghakimi dan mem- 

binasakannya samasekali. Para pedagang dunia akan meratapi ke­

hancurannya, namun  para penghuni sorga akan bersorak serta me­

nyanyi "Haleluya!" saat  hal itu terjadi. Penghakimannya akan ter­

jadi sebelum kedatangan Tuhan kembali ke bumi (Wahyu 19:1-4, 

11-21), dan ia akan dijatuhi hukuman kekal (Wahyu 19:19-21).

Penghakiman 605

D. PENGHAKIMAN BINATANG, NABI PALSU, DAN PASUKAN 

MEREKA

Roh-roh jahat yang keluar dari mulut naga, binatang, dan nabi palsu 

menjelang berakhirnya masa kesengsaraan akan pergi ke seluruh 

dunia untuk mengumpulkan bangsa-bangsa guna berperang pada 

hari Tuhan (Wahyu 16:12-16). Nampaknya, mereka berkumpul 

untuk merebut Yerusalem dan menangkap orang-orang Yahudi 

yang ada di Palestina (Zakharia 12:1-9; 13:8-14:2); namun  justru 

pada saat kemenangan mereka sudah pasti, Kristus akan turun dari 

sorga dengan semua pasukan-Nya (Wahyu 19:11-16) serta turun 

tangan membela Israel. Maka bala tentara yang tadinya menyerang 

Yerusalem akan berbalik menyerang Anak Allah, namun pertem­

puran itu akan sangat singkat dan menentukan. Binatang dan nabi 

palsu akan ditangkap dan dicampakkan hidup-hidup ke dalam lautan 

api yang menyala-nyala (Wahyu 19:19,20), dan bala tentara mereka 

akan dibunuh dengan pedang yang keluar dari mulut Kristus 

(II Tesalonika 1:7-10; 2:8; Wahyu 19:21). Jadi, perlawanan politik 

akan dipatahkan dan terbukalah jalan bagi Kristus untuk memulai 

pemerintahan-Nya. Patut dicamkan bahwa penghakiman ini akan 

terjadi saat  Kristus kembali ke bumi. Peristiwa itu akan melibat­

kan pasukan-pasukan dengan pemimpin-pemimpin mereka yang 

telah maju untuk memerangi Kristus. Hasilnya ialah bahwa mereka 

yang melawan Kristus akan dicampakkan ke dalam lautan api dan 

hukuman kekal.

E. PENGHAKIMAN BANGSA-BANGSA

Perikop-perikop seperti Yoel 3:11-17; Matius 25:31-46; dan II Te­

salonika 1:7-10 nampaknya berbicara mengenai penghakiman atas 

bangsa-bangsa. Penghakiman bangsa-bangsa harus dibedakan de­

ngan penghakiman di hadapan takhta putih, karena penghakiman 

bangsa-bangsa mendahului kerajaan seribu tahun. Penghakiman 

bangsa-bangsa juga harus dibedakan dengan penghakiman binatang, 

nabi palsu, beserta bala tentara mereka. Bangsa-bangsa itulah yang 

mengirim bala tentara itu, namun bangsa-bangsa itu berbeda dari­

pada pasukan-pasukan ini . Setelah Kristus selesai menangani 

pasukan-pasukan itu, Ia akan mengumpulkan bangsa-bangsa untuk 

dihakimi pula. Patut diperhatikan bahwa domba akan masuk ke

606 Eskatologi

dalam kerajaan Allah, sedangkan kambing akan masuk hukuman 

kekal. Namun perlu juga diperhatikan bahwa sekalipun perlakuan 

terhadap saudara-saudara Tuhan kita, mungkin Israel, disebut dalam 

hubungan dengan penghakiman ini, alasan-alasan yang lebih dalam 

bagi penghakiman ini ada  dalam kenyataan bahwa golongan 

domba itu memiliki hidup kekal sedangkan golongan kambing tidak 

memilikinya.

F. PENGHAKIMAN IBLIS DAN MALAIKAT-MALAIKATNYA

saat  sedang terjadi masa kesengsaraan, Iblis akan dilempar ke 

bumi (Wahyu 12:7-9, 12). saat  Kristus tiba di bumi, Iblis akan 

diikat dan dimasukkan ke dalam jurang maut selama seribu tahun 

(Wahyu 20:1-3). Setelah seribu tahun, ia akan dilepaskan untuk 

sementara waktu. Selama waktu itu, ia akan menipu bangsa-bangsa 

di bumi sekali lagi dan ia akan berhasil mengumpulkan bala tentara 

yang sangat besar untuk berperang melawan orang-orang saleh dan 

kota yang dikasihi, Yerusalem (Wahyu 20:7-9; band. Yehezkiel 38, 

39). Akan namun , api akan turun dari langit dan menghanguskan 

mereka semua. Tidak perlu diragukan lagi bahwa tidak lama 

kemudian mereka akan berdiri di hadapan takhta putih besar dan 

dilemparkan ke dalam lautan api bersama-sama dengan orang-orang 

lain yang tidak diselamatkan. Setelah itu, Iblis sendiri akan dihakimi 

dan dicampakkan ke dalam lautan api untuk selama-lamanya 

(Wahyu 20:9, 10). Nampaknya, pada saat itu para malaikat yang 

ikut memberontak bersama-sama dengan Iblis juga akan dihakimi 

(II Petrus 2:4; Yudas 6). Kita diberi tahu bahwa api yang kekal itu 

telah dipersiapkan bagi "Iblis dan malaikat-malaikatnya" (Matius 

25:41), dan mungkin inilah saatnya mereka akan menerima hukum­

an mereka (band. Matius 8:29; Lukas 8:31).

G. PENGHAKIMAN ORANG FASIK YANG MATI

Penghakiman ini akan terjadi setelah kerajaan seribu tahun (Wahyu 

20:11-15; 21:8). Pada akhir kerajaan seribu tahun akan terjadi 

kebangkitan yang kedua (Wahyu 20:5); berkat dinyatakan ke atas 

mereka yang ikut serta dalam kebangkitan pertama, namun  tidak atas 

mereka yang baru bangkit pada kebangkitan yang kedua. Secara 

tidak langsung dikatakan bahwa nasib mereka tidak menyenangkan. 

Penghakiman 607

Mereka yaitu  orang-orang yang tidak diselamatkan dari seluruh 

sejarah umat manusia. Mereka bangkit dan menghadap takhta putih 

yang besar. Rombongan ini akan meliputi yang kaya dan yang mis­

kin, orang merdeka dan budak, raja dan rakyatnya, orang terpelajar 

dan yang tidak terpelajar, majikan dan karyawan; semua mereka 

akan berdiri sebagai terdakwa yang bersalah di hadapan Sang 

Hakim.

1. Dasar penghakiman ini. Dua hal dapat dikatakan tentang dasar 

penghakiman ini. (1) Orang-orang ini akan dihakimi "berdasarkan 

apa yang ada tertulis dalam kitab-kitab itu" (Wahyu 20:12). Jelaslah, 

dalam kitab-kitab tercatat nama semua orang yang tidak percaya. 

Akan namun , di samping kitab-kitab itu, ada  juga "kitab yang 

lain, yaitu kitab kehidupan" (Wahyu 20:12). Inilah kitab anugerah 

ilahi di mana tercatat nama orang-orang yang yaitu  ahli waris 

anugerah (Lukas 10:20; Wahyu 3:5; 13:8; 17:8; 20:12, 15; 21:27). 

Selanjutnya, (2) orang-orang ini akan dihakimi menurut perbuatan 

mereka. "Penghakiman akan berlangsung berdasarkan bukti yang 

diberikan dari catatan perbuatan dan dari kitab kehidupan." 

Orang percaya akan diberi pahala sesuai dengan perbuatannya, 

namun  orang yang tidak percaya akan dihakimi sesuai dengan per­

buatannya (band. Roma 2:5-11). Ketidaktahuan akan kehendak 

Tuhan tidak akan meloloskan siapa pun, namun  akan memperbaiki 

hukuman (Lukas 12:47, 48).

2. Lamanya hukuman. Semua yang namanya tidak tercatat dalam 

kitab kehidupan akan dicampakkan ke dalam lautan api (Wahyu 

20:15). Lautan api ini disebutkan sebagai kematian yang kedua 

(Wahyu 21:8). Kenyataan ini mengakibatkan timbulnya pertanyaan, 

apakah hukuman yang akan datang itu bersifat kekal? Memang 

demikian, berdasarkan pernyataan Firman Allah yang jelas dan dah­

syat. Di antara orang kaya dan Lazarus ada  jurang yang lebar, 

sehingga tidak mungkin orang pergi dari tempat yang satu ke tempat 

yang lain (Lukas 16:26). "Ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak 

padam" di Gehenna (Markus 9:48). Nampaknya kata-kata ini di­

kutip dari Yesaya 66:24, dan dalam ayat itu tersirat bahwa se­

nantiasa akan ada makanan untuk ulat-ulat bangkai ini  dan

179 Mounce, The Book of Revelation, hal. 366. 

608 Eskatologi

sesuatu untuk dibakar oleh api. Asap api yang menyiksa para 

pemuja binatang itu akan mengepul "selama-lamanya" (Wahyu 

14:11). Pastilah, mereka tidak dikhususkan dari antara orang-orang 

fasik di dunia untuk menerima hukuman yang lebih berat daripada 

orang-orang lain yang sama fasiknya. Agaknya, binatang dan nabi 

palsu itu masih hidup setelah dihukum seribu tahun di dalam lautan 

api (Wahyu 19:20; 20:10). Semua orang fasik dicampakkan ke 

dalam lautan api yang sama (Wahyu 20:12-15; 21:8). Alangkah 

baiknya bagi Yudas sekiranya ia tidak dilahirkan (Matius 26:24). 

Hal ini tak dapat dikatakan tentang seseorang yang telah bertahun- 

tahun dan bahkan beribu-ribu tahun mengalami siksaan pada akhir­

nya akan dikembalikan kepada hidup yang berbahagia.

Bagaimanapun juga, mungkin yang paling penting ialah arti dari 

kata Yunani aion dan aionios. Istilah yang pertama muncul 120 kali 

dalam Perjanjian Baru dan diterjemahkan sebagai "zaman" (II Ko­

rintus 4:4), "dunia" (I Korintus 1:20), "tidak akan .. . untuk selama- 

lamanya" (Yohanes 4:14), dan "selama-lamanya" (Yohanes 6:51). 

Jika diberi kata depan eis maka kata ini  senantiasa berarti 

jangka waktu yang tak berkesudahan. Kata sifat aionios ada  

sekitar 70 kali dalam Perjanjian Baru. Kata ini dipakai untuk 

menunjuk kepada Allah (Roma 16:26), Kristus (II Timotius 1:9), 

Roh Kudus (Ibrani 9:14), berkat-berkat bagi orang-orang yang per­

caya (II Tesalonika 2:16; Ibrani 9:12), hukuman orang fasik (II Te­

salonika 1:9), dan seterusnya. Kadang-kadang kata ini ada  dua 

kali dalam satu frase "tetap untuk seterusnya dan selamanya" (Ibrani 

1:8). Perhatikan juga rujukan-rujukan macam lain ini: Mazmur 52:7; 

Matius 12:31, 32; Markus 3:29; Ibrani 6:4-6; 10:26-29; II Petrus 

2:17: Yudas 13. Mungkin rujukan yang paling kuat ada  dalam 

Matius 25:46. Ayat itu membandingkan hukuman orang fasik yang 

akan berlangsung selama-lamanya dengan kebahagiaan abadi dari 

orang-orang yang diselamatkan. saat  orang percaya hidup 

selama-lamanya di hadapan Allah, dan menikmati kemurahan-Nya, 

maka orang yang tidak percaya akan selama-lamanya berada jauh 

dari hadirat Allah yang membahagiakan.

3. Keberatan-keberatan terhadap doktrin ini. Beberapa keberatan 

terhadap doktrin ini telah dikemukakan. (1) Orang-orang fasik akan 

dibinasakan (Mazmur 9:6; 92:8; II Tesalonika 1:8,9). Jawaban kami 

ialah bahwa orang-orang pada zaman Nuh juga dibinasakan (Lukas 

Penghakiman

17:27), dan demikian pula penduduk Sodom dan Gomora (Lukas 

17:29), namun mereka harus tampil untuk dihakimi (Matius 11 24). Pembinasaan tidaklah berarti pemusnahan; lebih tepat kalau di- katakan bahwa apa yang telah dibinasakan itu tidak dapat dipakai 

lagi sebagaimana mestinya. (2) Orang-orang fasik akan binasa 

(Mazmur 37:20; Amsal 10:28; Lukas 13:1-3). Akan namun , binasa 

tidak berarti tidak ada lagi. Para murid Tuhan pernah berteriak, 

'Tuhan, tolonglah, kita binasa!" (Matius 8:25), namun  mereka tidak 

bermaksud untuk mengatakan bahwa mereka sedang terancam 

kemusnahan. Imam besar Kayafas mengatakan, "Kamu tidak insaf 

bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa 

kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa" (Yohanes 11:50), namun  

ia hanya bermaksud mengungkap ketakutan kalau-kalau orang 

Romawi akan datang untuk memperketat penjajahan. Paulus 

memakai istilah yang sama saat  berbicara tentang kelemahan jas­

mani pada tubuh kita. Paulus mengatakan, 


"Meskipun keadaan kami 

yang lahir ini dibinasakan, namun  keadaan yang batin kami itu 

dibaharui sehari-hari" (II Korintus 4:16, Terj. Lama). (3) Suatu hari 

yang dahsyat akan tiba bagi orang fasik yang membuat mereka tidak 

berakar dan tidak bercabang (Maleakhi 4:1). Namun harus diketahui 

bahwa ayat ini membahas keadaan tubuh saja, tubuh mereka akan 

terbakar, namun secara rohani mereka akan ada terus (lihat juga 

Amsal 2:22). (4) Dikatakan bahwa orang fasik mati dalam dosa 

mereka (Yehezkiel 18:4; Yohanes 8:21; Roma 6:23). Harus diingat 

bahwa kematian berarti pemisahan, bukan pemusnahan. Lihatlah 

orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31) dan jiwa-jiwa di bawah 

mezbah (Wahyu 6:9-11). Bila kematian pertama tidak berarti pe­

musnahan, bagaimana mungkin kita beranggapan bahwa kematian 

kedua berarti pemusnahan (Wahyu 20:15; 21:8; band. 19:20; 

20:10)? (5) Segala sesuatu akan dipulihkan. Pendapat ini merupakan 

penggalan dari Kisah 3:21; pernyataan sepenuhnya memang dibatasi 

oleh kata-kata "difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi- 

Nya yang kudus di zaman dahulu." Ayat ini berbicara tentang da­

tangnya kerajaan Allah di bumi. (6) Keberatan yang paling kuat 

yang telah dikemukakan ialah bahwa Allah yang kasih adanya tidak 

mungkin menghukum makhluk ciptaan-Nya untuk selama-lamanya. 

Akan namun , pendapat ini lupa bahwa pada saat kematian watak 

seseorang sudah tidak bisa berubah lagi, dan hukum kesesuaian 

610 Eskatologi

menuntut bahwa yang hidup harus dipisahkan dari yang mati. Yang 

dipersoalkan bukanlah kasih Allah, melainkan kehidupan jiwa. 

Namun setelah mengatakan semuanya itu, kami mengatakan satu 

kali lagi bahwa akan ada tingkatan-tingkatan hukuman (Lukas 

12:47, 48; Roma 2:5-8; Wahyu 20:12, 13), menurut keadilan Allah.

PASAL XLVI 

Kerajaan Seribu Tahun

Istilah millenium berasal dari bahasa Latin mille dan annus, yang 

berarti seribu tahun. Doktrin tentang millenium atau kerajaan seribu 

tahun ini sering kali disebut dengan memakai istilah chiliasme atau 

kiliasme (dari akar kata chilioi yang artinya seribu). Doktrin ini 

mengemukakan bahwa Kristus akan memerintah sebuah kerajaan 

di bumi selama seribu tahun. Secara tidak langsung dinyatakan 

bahwa Kristus akan datang kembali sebelum kerajaan seribu tahun 

itu. Pandangan ini dikenal sebagai pandangan pra-milenialisme atau 

pra-kerajaan seribu tahun. Orang-orang yang berpandangan bahwa 

Kristus akan datang kembali sesudah suatu masa kedamaian dan 

kebenaran yang universal, menganut paham pasca-milenialisme atau 

pasca-kerajaan seribu tahun. Orang-orang yang menolak adanya 

kerajaan seribu tahun menganut pandangan amilenialisme atau tidak 

ada kerajaan seribu tahun. Istilah "milenium" atau "kerajaan seribu 

tahun" tidak ada  dalam Alkitab, namun istilah seribu tahun itu 

sendiri disebut sekitar enam kali dalam Wahyu 20:2-7. Kita telah 

menjelaskan sebelumnya bahwa kedatangan Kristus akan bersifat 

pra-milenial atau terjadi sebelum kerajaan seribu tahun; kini kita 

akan mempelajari bersama kerajaan seribu tahun ini , sambil 

meneliti landasan alkitabiahnya serta sifatnya.

I. DASAR ALKITABIAH TENTANG KERAJAAN 

SERIBU TAHUN

Pengharapan manusia hanya memiliki makna bila dilandaskan pada 

Alkitab. Apa dukungan Alkitab terhadap pandangan kerajaan seribu 

tahun?

611

612 Eskatologi

A. HARI TUHAN

Hari Tuhan disebutkan dalam II Tesalonika 2:2 dan dalam banyak 

ayat Perjanjian Lama (Yoel 2:11; Amos 5:18; Zefanya 1:14-16; 

Maleakhi 4:2; band. Yesaya 10:20; 27:1-6). Pada kedatangan-Nya 

yang pertama, Kristus datang sebagai matahari pagi dari tempat 

yang tinggi (sorga) (Lukas 1:78). Selama Ia tinggal di dunia, Ia 

yaitu  terang dunia (Yohanes 9:5). Akan namun , manusia lebih 

menyukai kegelapan daripada terang (Yohanes 3:19), sehingga 

mereka menolak Dia (Yohanes 1:11). Kini gereja yaitu  terang 

dunia (Matius 5:14; Filipi 2:15), sambil memantulkan cahaya 

matahari yang tidak nampak (II Korintus 4:6). Sekarang "hari sudah 

jauh malam, telah hampir siang" (Roma 13:12). Terbitnya bintang 

timur akan menandakan hari baru hampir tiba (Wahyu 2:28; band. 

II Petrus 1:19), dan tidak lama kemudian matahari kebenaran akan 

membawa hari yang baru itu (Maleakhi 4:2). Inilah masa yang telah 

disebut-sebut oleh para nabi, para sasterawan, dan orang-orang 

bijaksana; masa itu yaitu  masa yobel atau sabat yang akan datang 

di bumi.

B. KERAJAAN YANG DIJANJIKAN

Selanjutnya, Allah yang bertakhta di sorga akan mendirikan suatu 

kerajaan yang tidak akan binasa selama-lamanya (Daniel 2:44; 7:13, 

26, 27; Wahyu 11:15). Ini bukanlah kerajaan rohani yang ada saat 

ini, karena kerajaan yang kita maksudkan baru akan didirikan 

setelah federasi sepuluh kerajaan telah muncul dan berlalu. Jelaslah 

bahwa kerajaan ini tidak akan berbaur dengan kerajaan-kerajaan 

yang ada di dunia ini, melainkan menggantikan kerajaan-kerajaan 

dunia ini. Pemusnahan bukanlah berarti pengubahan. Untuk 

memenuhi perjanjian-Nya dengan Daud (II Samuel 7:11-16), yang 

dimeteraikan dengan sumpah (Mazmur 89:4, 5, 21-38), Allah harus 

mendirikan kembali suatu kerajaan di atas bumi. saat  realisasi 

pengharapan ini nampaknya hilang samasekali saat  Yerusalem 

dikuasai oleh Babilonia, Allah meneguhkan kembali janji yang telah 

dibuat-Nya dengan Daud (Yeremia 33:19-22). Malaikat Gabriel 

menyatakan kepada Maria bahwa Tuhan Allah akan memberikan 

kepada Kristus "takhta Daud, bapa leluhur-Nya" (Lukas 1:32). 

Untuk menunjukkan bahwa Ia memenuhi syarat untuk menduduki 

Kerajaan Seribu Tahun 613

takhta Daud, Matius merunut silsilah Yesus dari Abraham melalui 

Daud, sampai kepada Yusuf, ayah angkat-Nya (Matius 1:1-16); dan 

Lukas merunut silsilah Yesus dari Adam melalui Daud sampai ke 

Maria, ibu-Nya (Lukas 3:23-38).

C. MAKSUD YESUS KRISTUS YANG DINYATAKAN

Maksud Yesus Kristus yang dinyatakan saat  kembali ke bumi 

ialah bahwa Ia akan mendirikan kerajaan-Nya (Matius 25:31-46; 

Lukas 19:12-15; Wahyu 19:11-20:6). Yesus telah naik ke sorga dan 

kini Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa di takhta Bapa, namun 

saatnya akan tiba saat  Ia akan bersemayam di takhta-Nya sendiri 

(Matius 19:28; 25:31; Wahyu 3:21). Para murid menanti-nantikan 

berdirinya kerajaan semacam itu. Yesus menolak untuk memberi 

tahu mereka kapan kerajaan itu akan didirikan, namun  Ia tidak pernah 

menegur mereka karena memiliki keyakinan semacam itu (Kisah 

1:6, 7). Kedua putra Zebedeus sangat mementingkan diri sendiri 

saat  memohon agar seorang diizinkan duduk di sebelah kanan 

dan seorang lagi di sebelah kiri Yesus, namun Ia juga tidak menegur 

mereka karena mengharapkan kerajaan seperti itu. Bahkan, Yesus 

menyatakan secara tak langsung bahwa pengharapan mereka cukup 

beralasan saat  Ia mengatakan bahwa tempat-tempat yang mereka 

dambakan itu akan dikaruniakan kepada orang-orang yang telah 

ditetapkan oleh Bapa (Matius 20:20-24). Petrus menunjuk kepada 

hari kelegaan sebagai saat Kristus akan datang kembali (Kisah 3:19- 

21). Paulus pastilah telah mengajarkan di Tesalonika bahwa Kristus 

akan menjadi raja di bumi ini, karena mustahil penduduk akan 

marah mendengar gagasan tentang raja yang memerintah secara 

rohani (Kisah 17:7). Yohanes bernubuat dan menggambarkan 

kedatangan kembali Kristus untuk mendirikan kerajaan-Nya di atas 

muka bumi (Wahyu 19:11-20:6).

Rupanya dari semua keterangan ini jelaslah bahwa Alkitab meng­

ajarkan akan tiba suatu masa saat  kedamaian dan kebenaran akan 

memerintah di bumi ini, dan oleh karena itu pandangan amilenial 

atau ketiadaan kerajaan seribu tahun tidak dapat dipertahankan. Pan­

dangan pasca-kerajaan seribu tahun juga tidak dapat dipertahankan 

karena Kristus benar-benar akan memerintah secara fisik di bumi 

ini. Pandangan bahwa keadaan di bumi makin lama makin baik, 

614 Eskatologi

dan bahwa kebenaran makin meningkat, telah terbukti salah dengan 

terjadinya dua perang dunia, dan semua peristiwa setelah perang 

dunia kedua.

II. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN

Sungguh sulit untuk menyajikan ajaran Alkitab tentang pokok ini 

secara singkat; ada begitu banyak materi pembahasan tentang masa 

depan. Tanpa berusaha untuk menyajikan uraian yang lengkap, kami 

akan berusaha untuk mengumpulkan gagasan-gagasan yang utama 

di bawah tujuh bagian.

A. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE­

NGAN KRISTUS

Kristus sendiri akan hadir di bumi dan bersemayam di atas takhta 

Daud, bapa leluhur-Nya. Ia akan memerintah seluruh bumi (Maz­

mur 72:6-11; Yesaya 2:2-4; 11:1-5; Yeremia 23:5; Zakharia 14:9). 

Dua hal akan menjadi ciri khas kerajaan ini: keadaan damai yang 

meliputi seluruh bumi (Mazmur 72:7; Yesaya 2:4) dan kebenaran 

yang menguasai seluruh bumi pula (Yesaya 11:4, 5; Yeremia 23:5, 

6; band. Ibrani 7:2). Akan namun , sebelum kedamaian yang bersifat 

universal itu akan terjadi, akan ada perang yang meliputi seluruh 

dunia (Yoel 3:9, 10; Wahyu 16:14). Penunggang kuda putih dalam 

Wahyu 6:1-4 tidaklah sama dengan penunggang kuda dalam Wahyu 

19:11. Penunggang kuda putih dalam Wahyu 6 mungkin yaitu  pe­

nguasa Kerajaan Romawi yang bangun kembali, dan masa pemerin­

tahannya akan sangat singkat (I Tesalonika 5:3). Kebenaran akan 

terpelihara karena dosa dengan segera dihukum (Zakharia 14:17- 

19). Yesus akan memerintah dengan tongkat besi (Mazmur 2:8, 9; 

Wahyu 2:27; 19:15). Iblis akan disingkirkan dari bumi dan ia tidak 

akan menyesatkan bangsa-bangsa lagi untuk selama-lamanya 

(Wahyu 20:2, 3).

B. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE­

NGAN GEREJA

Gereja akan memerintah dunia bersama dengan Kristus (Lukas 

19:16-19; I Korintus 6:2; II Timotius 2:12; Wahyu 2:27; 5:9, 10; 

Kerajaan Seribu Tahun 615

20:4-6). Bangsa dengan sistem negara-gereja dari masa awal abad 

pertengahan dan selama abad pertengahan merupakan bentuk-ben­

tuk pradini, namun kelak akan terwujud dengan lebih konkret. 

Orang-orang saleh Perjanjian Lama akan ikut memerintah bersama 

dengan Kristus, dan gereja akan duduk bersama-sama dengan Kris­

tus di atas takhta-Nya (Wahyu 3:21). Nampaknya orang-orang per­

caya akan mempunyai tanggung jawab pribadi dan bukan tanggung 

jawab bersama dalam kerajaan itu (Lukas 19:16-19), namun 

sebagian besar perincian yang berkaitan dengan pemerintahan ber­

sama dengan Kristus itu belum dapat diketahui.

C. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE­

NGAN ISRAEL

Sebagian besar ajaran tentang masa kerajaan seribu tahun dalam 

Alkitab yaitu  mengenai Israel, khususnya dalam Perjanjian Lama. 

Kita dapat mencatat bahwa Israel akan dikumpulkan kembali 

(Yesaya 11:10-13; Yeremia 16:14, 15; 23:5-8; 30:6-11; Yehezkiel 

37:1-4; Matius 24:20-33). Berdirinya negara Israel di Palestina 

merupakan suatu pratanda yang pasti akan terjadinya pengumpulan 

Israel pada hari depan. Banyak sekali orang Yahudi akan kembali 

dari negara yang sekarang mereka diami, namun karena ada roh 

yang membangkang, mereka belum diperkenankan memasuki 

daerah itu (Yehezkiel 20:30-38). Kemudian Israel akan bertobat dan 

mereka akan dibaharui (Yesaya 66:8; Yeremia 31:31-37; Yehezkiel 

36:24-29; 37:1-14; Zakharia 12:10-13:2; Roma 11:25, 26). Akhir­

nya, mereka akan menerima Dia yang dahulu telah datang sebagai 

Juruselamat mereka, dan dengan demikian mereka akan dihidupkan 

dari antara orang mati (Roma 11:15). Berikutnya, kita melihat 

bahwa Efraim dan Yehuda akan dipersatukan kembali (Yesaya 

11:13; Yeremia 3:18; Yehezkiel 37:16-22; Hosea 1:11). Selanjut­

nya, kita melihat bahwa bait suci serta ibadahnya akan dipulihkan 

kembali (Yehezkiel 37:26-28; pasal 40-46; Zakharia 14:16, 17). 

Kalau kita ingat bahwa persembahan korban dapat merupakan suatu 

peringatan dan juga suatu lambang, maka kita tidak melihat alasan 

mengapa nubuat ini juga tidak ditafsirkan secara harfiah. Sekali lagi, 

Palestina akan dibagi di antara suku-suku Israel (Yehezkiel 47, 48) 

dan menjadi milik Israel untuk selamanya (Yehezkiel 34:28; 37:25). 

Selanjutnya, para hakim akan dikembalikan kepada Israel (Yesaya 

616 Eskatologi

1:26; Matius 19:28). Dan akhirnya, Israel akan menginjili bangsa- 

bangsa yang tidak mengenal Allah (Yesaya 66:19; Zakharia 8:13, 

20-23). Tidak dapat diragukan lagi bahwa hal ini menunjuk kepada 

bangsa-bangsa yang akan lahir selama masa kerajaan seribu tahun, 

karena pada permulaan kerajaan ini akan terdiri atas orang-orang 

yang bertobat saja.

D. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE­

NGAN BANGSA-BANGSA

Setelah penghakiman bangsa-bangsa, domba-domba akan 

memasuki kerajaan (Matius 25:34-40). Domba-domba ini akan 

merupakan inti kerajaan seribu tahun ini , bersama-sama de­

ngan Israel yang telah bertobat dan dibaharui. Akan namun , jelas 

bahwa banyak sekali orang yang akan lahir pada masa itu (Yesaya 

65:20; Yeremia 30:20; Mikha 4:1-5; Zakharia 8:4-6), dan mereka 

semua perlu diinjili. Barangkali Israel yang akan menjadi penginjil 

kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah ini (Yesaya 

66:19; Zakharia 8:13, 20-23; Kisah 15:16). Akhirnya, kita melihat 

bahwa semua bangsa akan pergi untuk beribadah di Yerusalem, 

khususnya pada Hari Raya Pondok Daun yang diadakan setiap 

tahun (Yesaya 2:2-4; Zakharia 14:16-19). Pada saat itu akan ada 

umat Allah yang bersatu dan ibadah yang tunggal (Yesaya 19:23- 

25).

E. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE­

NGAN IBLIS

Pada permulaan kerajaan seribu tahun, Iblis akan diikat dan 

dimasukkan ke dalam jurang maut selama seribu tahun (Wahyu 

20:1-3). Sudah pasti, roh-roh jahat juga akan ikut ditawan bersama- 

sama dengan Iblis. Selama seribu tahun ini Iblis tidak akan dapat 

menyesatkan bangsa-bangsa, sebagaimana telah dilakukannya 

selama ini. Ia tidak sekadar dibuat tidak berdaya dengan diikat oleh 

rantai, namun  ia juga akan disingkirkan dari seluruh gelanggang 

kegiatan. Kita hampir-hampir tidak dapat membayangkan betapa 

besarnya perubahan yang terjadi dalam kehidupan umat manusia 

sebagai akibat terkurungnya Iblis. Tentu saja, manusia masih 

memiliki sifat dagingnya, dan bermacam-macam kejahatan masih 

Kerajaan Seribu Tahun 617

saja dapat terjadi karena sifat daging manusia ini. Sekalipun 

demikian, saat  Iblis dikurung dalam jurang maut, pastilah godaan 

untuk berbuat dosa akan sangat berkurang. Perbedaannya akan nam­

pak secara jelas karena dalam masa kesengsaraan yang baru saja 

berlalu ia dapat bertindak sesuka hatinya. Setan-setan pada masa 

Yesus Kristus di bumi telah menyatakan bahwa mereka mengetahui 

mereka kelak akan dibuang ke dalam jurang maut (Matius 8:29; 

Lukas 8:31). Tidak sangsi lagi bahwa Iblis juga tahu ia akan 

dimasukkan ke situ. Beberapa orang berpendapat bahwa malaikat 

yang mengikat Iblis ini ialah Kristus, sedangkan orang lain 

beranggapan bahwa malaikat lain yang akan melakukannya. Kita 

tidak perlu berpikiran bahwa rantai yang membelenggu Iblis 

merupakan rantai yang sungguhan; cukuplah kiranya untuk melihat 

suatu jaminan dalam bahasa yang dipakai bahwa Iblis akan dibuat 

tidak berdaya serta disingkirkan dari atas muka bumi ini.

F. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE­

NGAN ALAM

Yesus menyebutkan masa ini sebagai masa "penciptaan kembali" 

(Matius 19:28). Pada waktu itu seluruh alam akan dibaharui. 

Seluruh alam sekarang ini sedang mengerang dan mengeluh 

kesakitan, namun  ia akan dibebaskan dari perbudakan kebinasaan 

saat  Kristus datang kembali (Roma 8:19-22). Perubahan- 

perubahan topografis yang besar akan terjadi saat  itu (Yesaya 

35:1, 2; 55:13; Zakharia 14:4-10). Sifat binatang-binatang buas juga 

akan berubah (Yesaya 11:6-9; 35:9; 65:25; Yehezkiel 34:25). Hujan 

dan kesuburan tanah akan dipulihkan (Yesaya 35:2, 6, 7; Yehezkiel 

34:6, 7; Yoel 2:22-26); kegagalan panen hanya akan dialami oleh 

orang-orang yang tidak pergi ke Yerusalem untuk beribadah (Za­

kharia 14:17-19). Hidup manusia akan diperpanjang sekalipun ada 

juga kematian-kematian pada saat itu (Yesaya 65:20). Penyakit akan 

berkurang seiring dengan berkurangnya dosa, namun tidak berarti 

bahwa penyakit akan tidak ada samasekali.

G. SIFAT KERAJAAN SERIBU TAHUN DALAM KAITAN DE­

NGAN KEADAAN UMUM

Alkitab menggambarkan masa itu sebagai masa sukacita dan 

618 Eskatologi

kebahagiaan yang luar biasa. Penyembuhan jasmani akan dialami 

oleh banyak orang (Yesaya 35:5, 6); mereka yang ditebus oleh 

Tuhan akan kembali dan dengan bernyanyi mendaki Bukit Sion, 

sukacita abadi senantiasa meliputi mereka; mereka akan 

memperoleh kesenangan dan sukacita, dan segala susah serta keluh 

kesah akan tidak ada lagi (Yesaya 35:10; 51:11). Waktu itu akan 

merupakan masa kemakmuran dan kesejahteraan yang luar biasa 

(Mikha 4:2-5). Seluruh bumi akan "penuh dengan pengenalan akan 

Tuhan seperti air laut yang menutupi dasarnya" (Yesaya 11:9). 

Hubungan persahabatan akan ada, bukan sekadar antara pribadi, 

namun juga antara bangsa-bangsa, dan manusia tidak akan belajar 

berperang lagi (Yesaya 2:4). Kepemimpinan manusia dalam alam, 

yang hilang karena kejatuhannya dalam dosa, dan diperoleh kembali 

lewat kematian Kristus, akan dipulihkan kembali saat  itu 

(Kejadian 1:28; 3:17-19; Ibrani 2:5-10).

PASAL XLVII 

Keadaan Terakhir

Jelaslah bahwa kerajaan seribu tahun bukanlah keadaan yang ter­

akhir, karena istilah "seribu tahun" itu sendiri sudah menunjukkan 

kesementaraannya. Oleh karena itu kita sekarang akan berusaha 

menjawab pertanyaan: apakah yang merupakan peristiwa-peristiwa 

terakhir dari sejarah?

I. KEADAAN AKHIR IBLIS

Hal ini sudah diterangkan saat  kita mempelajari tujuan akhir para 

malaikat, namun beberapa hal perlu ditambahkan di sini.

A. IBLIS AKAN DILEPASKAN DARI PENJARANYA

Alkitab mengajarkan bahwa pada akhir kerajaan seribu tahun Iblis 

akan dilepaskan untuk sesaat lamanya (Wahyu 20:3, 7-10). Alasan 

ia dilepaskan tidak disebutkan dalam Alkitab, namun  pastilah suatu 

maksud tertentu dalam rencana ilahi menghendaki hal ini . 

Mungkin sekali Iblis dilepaskan untuk menunjukkan ketidaktulusan 

banyak orang yang bertobat dan ikut Kristus saat  selama kerajaan 

seribu tahun; barangkali juga untuk membuktikan bahwa seribu 

tahun dalam jurang maut tidak berhasil mengubah Iblis. Sementara 

masa kelepasan ini, Iblis akan mengumpulkan bangsa-bangsa, yaitu 

Gog dan Magog, yang jumlahnya seperti pasir di laut. Di bawah 

kepemimpinan Iblis sendiri, pasukan-pasukan ini akan mengepung 

perkemahan orang-orang kudus dan kota yang dikasihi. Pastilah 

kota ini yaitu  Yerusalem. Namun peperangan ini akan berlangsung 

619

620 Eskatologi

singkat sekali dan hasilnya sangat menentukan. Api akan turun dari 

langit serta menghanguskan semua pasukan itu (band. Yehezkiel 

38, 39).

B. IBLIS AKAN DIHAKIMI DAN DIHUKUM UNTUK SELAMA­

NYA

Demikianlah, karier Iblis serta pengikutnya akan berakhir untuk se­

lamanya, namun mereka masih harus menghadap takhta putih besar 

untuk dihakimi bersama dengan semua orang yang terhilang. saat  

itu Iblis akan dihakimi dan diasingkan ke tempat penghukuman 

yang terakhir, yaitu lautan api.

II. PENGHAKIMAN TERAKHIR

Hal berikutnya yang perlu dibahas ialah penghakiman orang-orang 

tidak percaya yang telah bangkit di hadapan takhta putih (Wahyu 

20:11-15; 21:8). Sifat penghakiman ini telah kita pelajari sebelum­

nya; dalam kesempatan ini dapat ditambahkan beberapa hal. Nam­

paknya penghakiman ini akan terjadi pada suatu tempat di angkasa, 

karena kita diberi tahu bahwa, "lenyaplah bumi dan langit dan tidak 

ditemukan lagi tempatnya" (Wahyu 20:11). Bahasa yang dipakai 

membuat kita beranggapan bahwa munculnya takhta putih dengan 

Tuhan yang duduk di atasnya, telah menyebabkan lenyapnya langit 

dan bumi itu. Nampaknya, penghakiman ini hanya akan dialami 

oleh orang-orang yang tidak diselamatkan, sekalipun mungkin 

orang-orang percaya yang mati selama masa kerajaan seribu tahun 

juga dihakimi pada saat itu. Di sini kita melihat kebangkitan yang 

kedua, dan itu terjadi setelah seribu tahun. Menarik untuk mencam­

kan bahwa laut akan menyerahkan orang-orang mati yang ada di 

dalamnya, sebagaimana juga halnya dengan maut dan Hades atau 

kerajaan maut. Setelah semua orang yang namanya tidak tertulis 

dalam buku kehidupan telah dicampakkan ke dalam lautan api untuk 

selama-lamanya, maut dan Hades juga akan dicampakkan ke tempat 

hukuman itu. Penghakiman ini harus dibedakan dengan peng­

hakiman bangsa-bangsa (Matius 25:31-46). Selanjutnya, kematian 

yang kedua bukanlah pemusnahan, melainkan hukuman kekal.

Keadaan Terakhir 621

III. KERAJAAN TERAKHIR

Rupanya pada saat  inilah Kristus akan menyerahkan "Kerajaan 

kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, 

kekuasaan, dan kekuatan" (I Korintus 15:24). Kematian merupakan 

musuh terakhir yang akan dibinasakan, dan nampaknya pada saat 

itu pula Kristus akan menyerahkan kerajaan kepada Allah (I Korin­

tus 15:26). Tidak ada selang waktu antara kerajaan seribu tahun 

serta keadaan kekal, kecuali saat  terjadi penghakiman di depan 

takhta putih besar. Serangan pasukan-pasukan Iblis tidak berhasil; 

sebenarnya, tidak dapat dipastikan apakah mereka betul-betul 

menyerang perkemahan orang-orang saleh serta kota yang dikasihi 

itu atau tidak. Yang mereka lakukan ialah berusaha menyerangnya, 

dan saat  itu pula api dari langit akan menghanguskan mereka. 

Dengan demikian berakhirlah tahap sementara kerajaan Allah, Kris­

tus akan menyerahkannya kepada Allah Bapa. 'namun  kalau segala 

sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai 

Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menak­

lukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua 

di dalam semua" (I Korintus 15:28). Ini mungkin berarti bahwa 

Allah Anak, yang selama kerajaan seribu tahun menjadi penguasa 

tertinggi di bumi, akan kembali kepada kedudukan-Nya yang kekal, 

dan Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus menjadi semua 

di dalam semua. Demikianlah keadaan akhir yang kekal akan 

dimulai.

IV. CIPTAAN BARU

Setelah keadaan kekal dimulai akan ada langit baru, bumi baru, dan 

Yerusalem baru.

A. LANGIT BARU DAN BUMI BARU

Beberapa ayat dalam Alkitab menarik perhatian kepada langit dan 

bumi baru itu (Yesaya 65:17; 66:22; II Petrus 3:10-13; Wahyu 21:1, 

2). Disebut "baru", tidak perlu berarti baru dalam arti mutlak, sebab 

bumi akan seterusnya ada (Mazmur 104:5: 119:90; Pengkhotbah 

1:4). Ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang bumi yang akan ber­

622 Eskatologi

lalu (Matius 5:18; Markus 13:31; Ibrani 1:10-13; Wahyu 21:1) 

tidaklah berarti berlalu menjadi tidak ada, namun  berlalu dalam arti 

berubah. Bumi dan langit tidak akan dimusnahkan. Seperti saat  

masa kerajaan seribu tahun langit dan bumi ini dibaharui (Matius 

19:28), maka dalam ciptaan baru langit dan bumi akan disucikan 

(II Petrus 3:10-13). Mengapa dirasakan aneh bahwa zat tetap ada? 

Bila Allah ingin zat ada terus, maka semua pertimbangan manusia 

yang menolaknya tidak berguna samasekali. Kita memperhatikan 

bahwa saat  kebenaran memerintah bumi saat  berlangsung 

kerajaan seribu tahun, maka demikian pula kebenaran akan men­

diami bumi baru (II Petrus 3:13). Sudah pasti, orang-orang tertebus 

akan tinggal di langit yang baru, namun  mereka yang tinggal di bumi 

baru itu akan senantiasa dapat berhubungan dengan mereka yang 

tinggal di langit baru.

B. YERUSALEM BARU

Pokok terakhir dari nubuat Perjanjian Baru ialah Yerusalem Baru 

(Wahyu 21:2-22:5). Tidak perlu rasanya untuk dikatakan bahwa 

Yerusalem baru harus dibedakan dari langit baru dan bumi baru, 

karena Yerusalem baru dikatakan berasal dari sorga dan dikatakan 

semua raja di bumi mempersembahkan kemuliaan mereka kepada- 

Nya (Wahyu 21:2, 24). Beberapa orang beranggapan bahwa 

Yerusalem baru muncul di bumi pada masa kerajaan seribu tahun 

dan merupakan tempat tinggal orang-orang kudus yang sudah 

berada dengan Kristus. Akan namun , karena munculnya langit baru 

dan bumi baru dalam ayat sebelumnya nampaknya sulit diterima 

bahwa penulis kitab Wahyu dalam ayat 2 ini kembali lagi ke awal 

masa kerajaan seribu tahun. Oleh karena itu, kami beranggapan 

bahwa Yerusalem baru akan muncul setelah langit baru dan bumi 

baru tampak. Mari kita memperhatikan beberapa hal yang disebut 

mengenai kota ini.

1. Sifatnya. Ada banyak sekali alasan untuk menganggap bahwa 

Yerusalem baru yaitu  kota sungguhan. Kota itu mempunyai dasar, 

pintu gerbang, tembok, serta jalan-jalan. Kota ini berbentuk kubus 

(Wahyu 21:16), yang dapat berarti kubus geometris atau sebuah 

piramida. Dasar-dasarnya dihiasi dengan "segala jenis permata" 

(Wahyu 21:19, 20), dan dua belas jenis di antaranya disebutkan. 

Keadaan Terakhir 621

Kota ini memiliki dua belas pintu gerbang yang bertuliskan nama 

kedua belas suku Israel (Wahyu 21:12, 13); sedangkan pada kedua 

belas dasarnya ada  nama kedua belas rasul (Wahyu 21:14). 

Tembok-temboknya terdiri atas permata yaspis dan kota ini  

terbuat dari emas mumi (Wahyu 21:18). Setiap pintu gerbang 

yaitu  sebuah mutiara (Wahyu 21:21), dan pintu-pintunya tidak per­

nah tertutup (Wahyu 21:25) sekalipun dijaga oleh dua belas 

malaikat (Wahyu 21:12). Jalan-jalannya terbuat dari emas mumi 

(Wahyu 21:21), dan di sana ada  sungai kehidupan dan pohon 

kehidupan (Wahyu 22:1, 2). Kota ini tidak memerlukan "matahari 

dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah mene- 

ranginya dan Anak Domba itu yaitu  lampunya" (Wahyu 21:23). 

Betapa sempurna keamanan dan keindahan kota ini!

2. Penduduknya. Yerusalem yang baru disebutkan sebagai pe­

ngantin perempuan, mempelai Anak Domba (Wahyu 21:9,10; band. 

Yohanes 14:2). Sekalipun demikian jelaslah bahwa ini merupakan 

suatu majas atau kiasan, karena ada orang yang tinggal di dalam 

kota itu (Wahyu 21:27; 22:3-5). Babel yang misterius memiliki 

kota; demikianlah gereja yang sejati memiliki kota. Mungkin inilah 

kota yang dinanti-nantikan oleh Abraham (Ibrani 11:10; band. ayat 

15, 16); kota ini yaitu  kota yang dinantikan oleh orang-orang per­

caya sekarang ini (Ibrani 13:14). Kota ini tidak memerlukan bait 

suci sebab "Allah, Tuhan yang Mahakuasa, yaitu  Bait Sucinya, 

demikian juga Anak Domba itu" (Wahyu 21:22). Sekalipun nam­

paknya kota itu yaitu  tempat tinggal orang-orang yang tertebus, 

jelaslah bahwa Allah Bapa dan Allah Anak juga akan tinggal di 

situ. Mungkin saja Allah Bapa dan Allah Anak tidak tinggal di situ 

terus-menerus, karena kediaman Mereka yang tetap yaitu  sorga; 

namun  setidak-tidaknya dapat dipastikan bahwa Mereka akan sering 

kali berkunjung ke situ, bila kita diizinkan memakai bahasa 

demikian untuk Allah yang Mahahadir. namun  pasti Allah akan 

tinggal bersama umat-Nya.

3. Kebahagiaan yang ada  di kota ini. Firman Allah me­

ngatakan bahwa bangsa-bangsa yang diselamatkan berjalan di 

dalam cahaya kota ini (Wahyu 21:24). Apakah ini menunjukkan 

bahwa kota Yerusalem baru ini akan berada di angkasa di atas bumi 

yang baru? Tidak ada malam di kota ini , karena kemuliaan 

624 Eskatologi

Tuhan senantiasa meneranginya (Wahyu 21:23, 25). Raja-raja di 

bumi akan mempersembahkan kemuliaan mereka kepadanya 

(Wahyu 21:24-26); ini berarti pujaan dan ibadah mereka. Rupanya, 

mereka tidak tinggal di kota ini , namun  mengunjunginya. 

Diberitahukan bahwa di sana tidak akan ada kutukan; bahwa takhta 

Allah dan takhta Anak Domba akan berada di situ (Wahyu 22:3; 

band. I Korintus 15:24); bahwa hamba-hamba-Nya akan melayani 

Dia dan di dahi mereka tertulis nama-Nya; bahwa mereka akan 

melihat wajah-Nya; dan bahwa mereka akan memerintah bersama 

dengan Dia selama-lamanya (Wahyu 22:3-5).

Bila kita memikirkan rencana dan pemeliharaan Allah terhadap 

manusia, kita ingin berseru bersama dengan Paulus, "O, alangkah 

dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak 

terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami 

jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33). Kita harus memuji Dia kalau kita 

merenungkan kasih karunia-Nya terhadap kita yang oleh kasih 

karunia itu telah menyelamatkan kita oleh iman (Efesus 2:8). Allah 

telah "membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama- 

sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia 

menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melim­

pah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya kepada kita dalam Kristus 

Yesus" (Efesus 2:6, 7).