Kamis, 16 Juli 2026

sultan salahuddin al-ayyubi :


 

BIOGRAFI SULTAN SALAHUDDIN AL-AYYUBI : 


Memerintah 1174 M – 4 Maret 1193 M 

Dinobatkan 1174 M 

Nama lengkap Salahuddin Yusuf al-Ayyubi 

Lahir 1138 M di Tikrit, Iraq 

Meninggal 4 Maret 1193 M di Damaskus, Syria 

Dimakamkan di Masjid Umayyah, Damaskus, Syria 

Pendahulu Nurussin Zengi 

Pengganti al-Aziz 

Ayah Najmuddin Ayyub 

Paman Asaduddin Syirkuh 

 

Dinasti Ayyubiyah 

Sultan Nuruddin meninggal tahun 659 H/1174 M, Damaskus diserahkan kepada purtanya 

yang masih kecil Sultan Salih Ismail didampingi oleh para wali. Di bawah para Wali terjadi 

perebutan kekuasaan di antara putra-putra Nuruddin dan wilayah kekuasaan Nuruddin 

menjadi terpecah-pecah. Salahuddin al-Ayyubi pergi ke Damaskus untuk membereskan 

keadaan, tetapi ia mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin yang tidak menginginkan 

persatuan. Akhirnya Salahuddin melawannya dan menyatakan diri sebagai Raja untuk 

wilayah Mesir dan Syan pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya 

hingga Mousul, Iraq. 

Salahuddin al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi. Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya 

Asaduddin Syirkuh hijrah (migrasi) meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan 

dan pindah ke daerah Tikrit (Iraq). Salahuddin lahir di benteng Tikrit, Iraq tahun 532 H/1137 

M, ketika ayahnya menjadi penguasa Saljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya 

mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Saljuk untuk kota Mousul, Iraq. Ketika 

Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub 

(ayah Salahuddin) di angkat menjadi Gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja 

Suriah Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Salahuddin mengisi masa mudanya 

dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Salahuddin melanjutkan 

pendidikannya ke Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama 10 tahun, dalam 

lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169 M, Salahuddin diangkat menjadi seorang Wazir 

(konselor). 

Parjalan Hidup Salahuddin al-Ayyubi 

Sultan Salahuddin al-Ayyubi, namanya telah terpateri di hati sanubari pejuang muslim yang 

memiliki jiwa patriotik dan heroik, telah terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan umat 

islam karena mampu menyapu bersih, menghancur leburkan tentara salib yang merupakan 

tentara gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa. Jarang sekali dunia menyaksikan sikap 

patriotik dan heroik bergabung menyatu dengan sifat perikemanusiaan seperti yang terdapat 

dalam diri pejuang besar itu. Rasa tanggung jawab terhadap agama (islam) telah ia baktikan 

dan buktikan dalam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama 20 tahun, dan 

akhirnya dengan kegigihan, keampuhan dan kemampuannya dapat memukul mundur Eropa di 

bawah pimpinan Richard Lionheart dari Inggris. Hendaklah diingat, bahwa Perang Salib 

adalah peperangan yang paling panjang dan dahsyat penuh kekejaman dan kebuasan dalam 

sejara umat manusia, memakan korban ribuan jiwa, di mana topan kefanatikan membabi buta 

dari Kristen Eropa menyerbu secara menggebu-gebu ke daerah Asia Barat yang Islam. 

Dalam menumbuhkan wilayah kekuasaannya Salahuddin selalu berhasil mengalahkan 

serbuan para Crusader Eropa, terkecuali 1 hal yang tercatat adalah Salahuddin sempat mundur 

dari peperangan Battle of Montgisard melawan Kingdom of Jerussalem (kerajaan singkat di 

Jerussalem pada saat perang salib). Namun, mundurnya Salahuddin tersebut mengakibatkan 

Raynald of Chatillon pimpinan perang dari The Holy Land Jerussalem memprovokasi muslim 

dengan mengganggu perdagangan dan jalur Laut Merah yang digunakan sebagai jalur Jamaah 

Haji ke Makkah dan Madinah. Lebih buruk lagi Raynald mengancan menyerang 2 kota suci 

tersebut, hingga akhirnya Salahuddin kembali menyerang Kingdom of Jerussalem pada tahun 

1187 M dalam perang Battle of Hittin, sekaligus mengeksekusi hukuman mati pada Raynald 

dan menangkap Rajanya, Guy of Lusignan. 

Kita sekarang juga mungkin takjub bagaimana masa lalu bisa melahirkan orang sebaik itu. 

Terutama ketika orang hanya mencoba menghidpkan kembali apa yang gagah berani dari 

abad ke-12 tapi meredam apa yang sabar dan damai dari sebuah zaman yang penuh 

peperangan. Bahkan ketika Salahuddin al-Ayyubi wafat dan rakyat membuka peti hartanya 

ternyata hartanya tak cukup untuk biaya pemakamannya, karena hartanya banyak ia berikan 

kepada rakyatnya yang membutuhkan. 

“Ada orang yang baginya uang dan debu sama saja” 

Itulah kata-kata sebagai bukti kezuhudan dan kesahajaan dari seorang Salahuddin Yusuf al-

Ayyubi. Munkin kata-kata mutiara inilah yang harus dipegang oleh para penguasa sekarang 

ini dan kepemimpinan seperti Salahuddin al-Ayyubi yang kita harapkan muncul di zaman 

milenium yang serba amburadul seperti ini, walaupun itu sebuah pengharapan yang hampir 

mustahil terwujud, tapi kita berharap saja ada Salahuddin-Salahuddin baru yang akan 

memimpin dengan kebijaksanaan yang luar biasa. Kisah kepemimpinan dan Suri Tauladannya 

masih tetap dikenang banyak orang tak terkecuali orang-orang barat baik itu melalui puisi, 

novel dan sebuah saksi sejarah. 

Saat Salahuddin menjadi Sultan, kondisi umat islam dalam kondisi yang mngenaskan secara 

rukhyah. Penyakit Wahn (cinta dunia dan takut mati). Penyakit hati ini menyebar dan tumbuh 

di dalam hati sebagian besar kaum muslimin sehingga api jihad benar-benar padam. 

Sebagaimana kita tahu bahwa semangat jihad adalah modal yang tidak dimiliki oleh ummat 

lain. Sejarah membuktikan bahwa semangat jihad inilah yang manurunkan keridhaan Allah 

atas setiap kemenangan umat islam. Seperti Kemenangan Perang Badr, Kemenangan perang 

Yarmuk, Kemenangan perang Khandak, dan Kemenangan perang lainnya. Di sisi lain 

ukhuwah umat muslim sangatlah hancur. Secara politik umat islam terpecah-pecah dalam 

beberapa kerajaan dan kesultana walaupun masih dalam satu kekhalifahan Abbasyah yang 

berpusat di Baghdad. 

Melihat kondisi seperti itu, Salahuddin berpikir bahwa untuk melawan Pasukan Salib tidak 

hanya membutuhkan pasukan dalam jumlah besar, melainkan juga api jihad yang berkobar-

kobar dalam setiap jiwa kaum muslimin. Salahuddin ingin membangkitkan semangat jihad 

dengan menghadirkan kembali semangat juang dan kepahlawanan Rasulullah Muhammad 

SAW. Kemudian Salahuddin menggagas sebuah festival yang dinamai dengan Maulid Nabi 

Muhammad SAW. Tujuan dari festival ini adalah untuk mengembalikan semangat juang 

Rasulullah dengan mempelajari sirah-sirahnya. Di festival ini, dikaji habis-habisan sirah 

nabawiyah (sejarah Nabi) dan Atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan 

nilai-nilai perjuangan (jihad). 

Pada awalnya, gagasan Salahuddin ini ditentang oleh para ulama, karena kegiatan ini adalah 

bid’ah (kegiatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah). Salahuddin menegaskan 

bahwa acara ini bukanlah kegiatan ritual yang merupakan bid’ah yang dilarang, tetapi 

hanyalah kegiatan yang menyemarakkan Syiar. Kemudian Salahuddin meminta persetujuan 

dari Khalifah Abbasiyah, an-Nashir di Baghdad. Dan Khalifah pun menyetujuinya. 

Salahuddin sendiri tidak tinggal di istana megah. Ia justru tinggal di Mesjid kecil bernama al-

Khaganah di Via (jalan Do-lorossa, dekat Gereja makam suci. Kantornya terdiri dari 2 

ruangan berpenerangan minim yang luasnya tak mampu menampung 6 orang yang duduk 

berkeliling. Salahudi sangat menghindari korupsi yang sering menghinggapi para Raja 

pemenang perang). 

Salahuddin meninggal pada tanggal 4 Maret 1193 di Damaskus. Para pengurus jenazahnya 

sempat terperangah karena Salahuddin tidak mempunyai harta. Ia hanya mempunyai selembar 

kain kafan lusuh yang selalu dibawanya dalam setiap perjalanannya dan uang senilai 66 

dirham Nasirian (mata uang Suriah waktu itu) di dalam kotak besinya. Untuk mengurus 

penguburan panglima alim tersebut, mereka harus berhutang terlebih dahulu. 

“Di Eropa, Salahuddin al-Ayyubi atau Saladin telah menyentuh alam khayalan para penyanyi 

maupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri tauladan 

kaum ksatria”, ungkap Hitti. Sifat penyayang dan belas kasihan Salahuddin ketika peperangan 

sangat jauh berbeda dibanding kekejaman Perang Salib. Ahli sejarah Kristian pun mengakui 

mengenai hal itu. Penulis Barat, Lane-Poole mengagumi kebaikan hati Salahuddin yang 

mampu mencegah dan meredam amarah umat islam dari upaya balas dendam. Lane-Poole 

juga melukiskan Salahuddin telah menunjukkan ketinggian akhlaknya ketika orang Kristian 

menyerah kalah. “Tentaranya sangat bertanggung jawab, menjaga peraturan setiap jalan, 

mencegah segala bentuk kekerasan sehingga tidak ada kedengaran orang Kristian dianiaya.” 

Jejak perjuangan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi : 

1138 M : Salahuddin al-Ayyubi lahir di Tikrit 

1152 M : Salahuddin mulai bekerja di bawah pimpinan penguasa Syria Nuruddin. 

1164 M : Mulai menunjukkan kemampuannya dalam strategi militer melawan tentara Perang 

Salib di Palestina. 

1169 M : Salahuddin menjadi wakil komandan militer Syria 

1171 M : Salahuddin menekan penguasa Fatimiyah di Mesir dan menjadi pemimpin Mesir. 

Kemudian dia menggabungkan Mesir dengan khalifah Abbasiyah 

1174 M : Penguasa Syria, Nuruddin meninggal. Salahuddin mengembang Basis. 

1183 M : Penaklukkan kota di utara Suriah, Aleppo 

1186 M : Penaklukkan Mosul di Iraq 

1187 M : Dengan kekuatan baru, menyerang kerajaan latin Jerussalem dengan pertempuran 

sengit selama 3 bulan. 

1189 M : Perang Salib III meluas di Palestina setelah Jerussalem di kontrol Salahuddin 

1192 M : Menandatangani perjanjian dengan King Richard I dari Inggris yang membagi 

wilayah pesisir untuk Kaum Kristen dan Jerussalem untuk kaum muslimin 

1193 M : Meninggal di Damaskus tidak lama detelah jatuh sakit 

 

Profil Kehidupan Salahuddin Al Ayyubi 

Salahudin Al-Ayubi atau tepatnya Sholahuddin Yusuf bin Ayyub, Salah Ad-Din Ibn Ayyub 

atau Saladin/salahadin (menurut lafal orang Barat) adalah salah satu pahlawan besar dalam 

tharikh (sejarah) Islam. Satu konsep dan budaya dari pahlawan perang ini adalah perayaan 

hari lahir Nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan sebutan maulud atau maulid, berasal 

dari kata milad yang artinya tahun, bermakna seperti pada istilah ulang tahun. Berbagai 

perayaan ulang tahun di kalangan/organisasi muslim sering disebut sebagai milad atau 

miladiyah, meskipun maksudnya adalah ulang tahun menurut penanggalan kalender Masehi. 

Selain belajar Islam, Shalahuddin pun mendapat pelajaran kemiliteran dari pamannya Asaddin 

Shirkuh, seorang panglima perang Turki Seljuk. Kekhalifahan. Bersama dengan pamannya 

Shalahuddin menguasai Mesir, dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimid 

(turunan dari Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW). 

Dinobatkannya Shalahuddin menjadi sultan Mesir membuat kejanggalan bagi anaknya 

Nuruddin, Shalih Ismail. Hingga setelah tahun 1174 Nuruddin meninggal dunia, Shalih Ismail 

bersengketa soal garis keturunan terhadap hak kekhalifahan di Mesir. Akhirnya Shalih Ismail 

dan Shalahuddin berperang dan Damaskus berhasil dikuasai Sholahuddin. Shalih Ismail 

terpaksa menyingkir dan terus melawan kekuatan dinasti baru hingga terbunuh pada tahun 

1181. Shalahuddin memimpin Syria sekaligus Mesir serta mengembalikan Islam di Mesir 

kembali kepada jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah. 

 

Menaklukkan Jerusalem 

Dalam menumbuhkan wilayah kekuasaannya Shalahuddin selalu berhasil mengalahkan 

serbuan para Crusader dari Eropa, terkecuali satu hal yang tercatat adalah Shalahuddin sempat 

mundur dari peperangan Battle of Montgisard melawan Kingdom of Jerusalem (kerajaan 

singkat di Jerusalem selama Perang Salib). Namun mundurnya Sholahuddin tersebut 

mengakibatkan Raynald of Châtillon pimpinan perang dari The Holy Land Jerusalem 

memrovokasi muslim dengan mengganggu perdagangan dan jalur Laut Merah yang 

digunakan sebagai jalur jamaah haji ke Makkah dan Madinah. Lebih buruk lagi Raynald 

mengancam menyerang dua kota suci tersebut, hingga akhirnya Shalahuddin menyerang 

kembali Kingdom of Jerusalem di tahun 1187 pada perang Battle of Hattin, sekaligus 

mengeksekusi hukuman mati kepada Raynald dan menangkap rajanya, Guy of Lusignan. 

Akhirnya seluruh Jerusalem kembali ke tangan muslim dan Kingdom of Jerusalem pun 

runtuh. Selain Jerusalem kota-kota lainnya pun ditaklukkan kecuali Tyres/Tyrus. Jatuhnya 

Jerusalem ini menjadi pemicu Kristen Eropa menggerakkan Perang Salib Ketiga atau Third 

Crusade. 

Perang Salib Ketiga ini menurunkan Richard I of England ke medan perang di Battle of 

Arsuf. Shalahuddin pun terpaksa mundur, dan untuk pertama kalinya Crusader merasa bisa 

menjungkalkan invincibilty Sholahuddin. 

Dalam kemiliteran Sholahuddin dikagumi ketika Richard cedera, Shalahuddin menawarkan 

pengobatan di saat perang di mana pada saat itu ilmu kedokteran kaum Muslim sudah maju 

dan dipercaya. 

Pada tahun 1192 Shalahuddin dan Richard sepakat dalam perjanjian Ramla, di mana 

Jerusalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka kepada para peziarah Kristen. Setahun 

berikutnya Shalahuddin meninggal dunia di Damaskus setelah Richard kembali ke Inggris. 

Bahkan ketika rakyat membuka peti hartanya ternyata hartanya tak cukup untuk biaya 

pemakamannya, hartanya banyak dibagikan kepada mereka yang membutuhkannya. 

 “….Anakku,” konon begitulah pesan Sultan itu kepada anaknya, az-Zahir, menjelang wafat, 

“…Jangan tumpahkan darah… sebab darah yang terpercik tak akan tertidur.”Selain 

dikagumi Muslim, Shalahuddin atau Saladin/salahadin mendapat reputasi besar di kaum 

Kristen Eropa, kisah perang dan kepemimpinannya banyak ditulis dalam karya puisi dan 

sastra Eropa, salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott. 

Masa lalu memang tidak mudah pergi meskipun kita seperti tak ingin menengoknya. Bahkan 

di salah satu tembok Masjid Umayyah yang dulu adalah Katedral Yahya Pembaptis yang 

dipermak jadi masjid yang indah di tahun 700-an itu, seorang sejarawan masih menemukan 

sisa inskripsi ini: “Kerajaan-Mu, ya, Kristus, adalah kerajaan abadi….” 

Tapi jika masa lalu tak mudah pergi, dari bagian manakah dari Saladin yang akan datang 

kepada kita kini? Dari ruang makamnya yang kusam, mitos apa yang akan kita teruskan? 

Kisah Saladin adalah kisah peperangan. Dari zamannya kita dengar cerita dahsyat bagaimana 

agama-agama telah menunjukkan kemampuannya untuk memberi inspirasi keberanian dan 

ilham pengorbanan – yang kalau perlu dalam bentuk pembunuhan. 

Tapi sebagian besar kisah Saladin – yang tersebar baik di Barat maupun di Timur dari sejarah 

Perang Salib yang panjang di abad ke- 12 itu – adalah juga cerita tentang seorang yang 

pemberani dalam pertempuran, yang sebenarnya tak ingin menumpahkan darah. Saladin 

merebut Jerusalem kembali di musim panas 1187. Tapi menjelang serbuan, ia beri 

kesempatan penguasa Kristen kota itu untuk menyiapkan diri agar mereka bisa melawan 

pasukannya dengan terhormat. Dan ketika pasukan Kristen itu akhirnya kalah juga, yang 

dilakukan Saladin bukanlah menjadikan penduduk Nasrani budak-budak. Saladin malah 

membebaskan sebagian besar mereka, tanpa dendam, meskipun dulu, di tahun 1099, ketika 

pasukan Perang Salib dari Eropa merebut Jerusalem, 70 ribu orang muslim kota itu dibantai 

dan sisa-sisa orang Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar. 

Dalam hidupnya yang cuma 55 tahun, ikhtiar itulah yang tampaknya dilakukan Saladin. 

Meskipun tak selamanya ia tanpa cacat, meskipun ia tak jarang memerintahkan pembunuhan, 

kita toh tahu, bagaimana pemimpin pasukan Islam itu bersikap baik kepada Raja Richard 

Berhati Singa yang datang dari Inggris untuk mengalahkannya. Ketika Richard sakit dalam 

pertempuran, Saladin mengiriminya buah pir yang segar dingin dalam salju, dan juga seorang 

dokter. Lalu perdamaian pun ditandatangani, 1 September 1192, dan pesta diadakan dengan 

pelbagai pertandingan, dan orang Eropa takjub bagaimana agama Islam bisa melahirkan orang 

sebaik itu. 

Kita sekarang juga mungkin takjub bagaimana masa lalu bisa melahirkan orang sebaik itu. 

Terutama ketika orang hanya mencoba menghidupkan kembali apa yang gagah berani dari 

abad ke- 12 tapi meredam apa yang sabar dan damai dari sebuah zaman yang penuh 

peperangan. Tapi pentingkah sebenarnya masa silam? 

Dari makam telantar orang Kurdi yang besar itu, suatu hari di tahun 1970-an, saya kembali ke 

pusat Damaskus, lewat lorong bazar yang sibuk di depan Masjid Umayyah. Kota itu riuh, 

keriuhan yang mungkin tanpa sejarah.