Kamis, 16 Juli 2026

Allah sang tabib 2

 


hadapan Allah, Tuhan Penguasa alam

semesta, meskipun hamba itu yaitu  seorang Nabi.

Terjemahan bahasa Indonesia untuk qalb atau qulub sebagai “hati”

memang masih ada yang menganggap belum tepat benar, tapi itu pun

sudah cukup memadai. Tentu saja hati yang dimaksud di sini bukanlah

dalam pengertian organ tubuh, melainkan sesuatu yang lebih bersifat

ruhaniyah dan transenden. Banyak ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi

Saw yang membicarakan tentang kalbu, dan semuanya tidak dalam

arti organ tubuh. Misalnya ayat berikut ini:

“Maka apakah mereka tidak ber jalan di muka bumi, lalu mereka

memiliki  hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mereka

memiliki  telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? sebab 

sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta yaitu 

hati yang berada di dalam dada.” (QS. Al-Hajj {22}: 46).

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam

kebanyakan dari (bangsa) jin dan manusia. mereka memiliki  hati,

tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka

memiliki  mata, tapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-

tanda Kekuasaan Allah). Mereka memiliki  telinga, tapi tidak

dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seper ti

binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-

orang yang lalai.” (QS. Al-A’Raaf  {7}: 179).

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa fungsi hati antara lain untuk

memahami sesuatu, utamanya memahami ayat-ayat Allah yang tertulis

maupun yang tersebar di alam raya. Kalau hati itu tidak bisa digunakan

untuk memahami sesuatu, maka itulah hati yang lalai atau buta. Manusia



yang hatinya buta yaitu  manusia yang paling sial. sebab  ternyata

buta mata bukanlah persoalan besar, tapi lain halnya kalau yang buta

yaitu  hati yang berada di dalam dada. Dan kita harus ingat, orang

yang matanya buta tidak akan dimintai tanggungjawab atas kebutaannya

kalau itu bawaan sejak lahir. Tapi orang yang buta hatinya, dialah orang

yang paling celaka. sebab , “Allah tidak memandang kepada jasad dan

rupamu, tetapi (Allah) memandang hati dan perbuatanmu” (HR. Muslim).

Ar tinya yang dimintai tanggungjawab yaitu  perbuatan hati.

Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadits yang sangat masyhur,

yang saya kutip secara bebas: “Di dalam dirimu ada segumpal daging,

yang kalau dia baik maka baiklah seluruh fisik dan aktivitasmu. Tapi

kalau dia rusak, maka rusak pula seluruh fisik dan aktivitasmu. Ketahuilah

segumpal daging itu yaitu  hati.”

Hadits di atas mengindikasikan bahwa hati memegang peranan

sangat penting bagi kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang.

Psikologi modern mengakui bahwa penyakit-penyakit jasad bisa bermula

dari kotor dan keruhnya hati, di samping sebab  pikiran. Oleh sebab 

itu, agar kita terhindar dari psikosomatis, maka kebersihan hati harus

selalu dijaga. “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati

yang bersih….”(QS. Asy-Syu’araa {26}: 89).

Mereka yang menghadap Allah dengan hati yang bersih yaitu 

orang-orang yang beruntung. Hatinya bersih bukan hanya dari semua

jenis penyakit hati, seper ti iri, dengki, nifaq, dendam, sombong, ujub

(bangga diri), dan sebagainya. Tapi lebih dari itu, hatinya bersih dari

ilah yang selain Allah. Bagi mereka telah Allah sediakan surga yang

lebih luas dari langit dan bumi, negeri kedamaian yang penuh dengan

kenikmatan dan tidak ada lagi kesengsaraan. Surga yang para

penghuninya yaitu  hamba-hamba yang dianugerahi rahmat dan kasih

sayang oleh Allah Azza wa Jalla.

Semoga kita bisa selalu menjaga kesucian dan kebersihan hati,

tidak berburuk sangka kepada Allah dan kepada manusia, sehingga

kita termasuk ke dalam golongan mereka yang beruntung.



Nafs atau Jiwa

Menurut Dr. Quraish Shihab, kata nafs dalam Al-Qur’an memiliki 

bermacam-macam makna. Bisa berar ti totalitas manusia (fisik dan

psikisnya), bisa juga berarti sisi dalam manusia yang memiliki  potensi

berbuat buruk dan baik. Tapi untuk mudahnya, saya mengartikan nafs

secara umum saja, yakni jiwa. “Dan (demi) jiwa dan penyempurnaannya.

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan

ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan

jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS.

Asy-Syams {91}: 7-10).

Jiwa yaitu  salah satu motor penggerak manusia. Sebagian orang

ada yang menyamakan jiwa dengan ruh. Penyakit jiwa, menurut mereka,

sama dengan penyakit ruhani. Di atas saya katakan bahwa ruh yaitu 

potensi aktif yang senantiasa mengajak manusia pada kebaikan dan

cenderung selalu ingin mematuhi perintah Tuhan. Tanpa bermaksud

menafsirkan ayat di atas, sebab  saya memang tidak memiliki 

kapasitas untuk itu, mungkin saja ruh tidak pernah melakukan keburukan

atau bermaksiat kepada Allah, seperti halnya malaikat. Dia selalu ingin

dekat kepada Penciptanya, selalu ingin meraih rahmat dan kasih sayang-

Nya.

Lalu timbul per tanyaan, bila manusia mati, apa yang hilang dari

jasadnya atau raganya? Jiwa, nyawa atau ruhnya? Ketiganya sangat

abstrak, ghaib. Sedangkan secara biologis kita tahu, orang yang mati

jantungnya sudah tidak berfungsi sama sekali, atau otaknya yang

berhenti bekerja secara total. Itulah rahasia Allah. Tidak perlu kita

mengungkap sesuatu yang ghaib, yang menjadi urusan Allah, kalau

pada akhirnya tidak membuat kita semakin taat kepada Allah.

Lain halnya dengan jiwa. Jiwa memiliki  dua kecenderungan yang

bertolak belakang secara diametral, yakni kecenderungan berbuat buruk

dan berbuat baik. Artinya jiwa bisa taat, bisa juga durhaka kepada Allah.

Jiwa laksana medan per tempuran abadi antara idea, gagasan, dan

keinginan-keinganan untuk melakukan kebaikan atau keburukan. Tapi



sesungguhnya kecenderungan jiwa untuk berbuat kebajikan dan

kebaikan lebih besar daripada kecenderungannya melakukan keburukan.

Hanya saja, masih menurut  Dr. Quraish Shihab, daya tarik keburukan

lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Mungkin itu sebabnya Al-Qur’an

menyatakan, merugilah orang yang mengotori jiwa itu. (Dalam kosa

kata bahasa Indonesia, kata “nafs” diartikan sebagai nafsu, yaitu potensi

destruktif  yang sangat dominan yang menguasai hati manusia).

Sekarang tinggal bagaimana kita, manusia, mengelola jiwa dan

menundukkan pontensi destruktifnya agar tidak merugikan kita di kelak

kemudian hari.

Orang yang selalu menjaga kesucian jiwanya termasuk dalam

kelompok mereka yang beruntung.  Oleh sebab  itu, yang dipanggil

oleh Allah untuk memasuki surga-Nya yaitu  jiwa yang tenang. Mengapa

dia tenang? sebab  dia telah menunaikan kewajibannya sebagai hamba

Allah dan memberikan Hak-Hak Allah sebagai Al-Khaliq, Pencipta.

Jelasnya, jiwa yang tenang yaitu  jiwa  yang senantiasa tunduk patuh

kepada Allah dan ridha dengan segala ketentuan Allah yang berlaku

atas dirinya. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan

hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah

hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS. Al-Fajr {89}:

27-30).

Tentu saja ini masih bisa diperdebatkan. Wallahu a’lam bishshawab.

Aql atau Akal

Satu lagi keunikan manusia yaitu  sebab  dia memiliki  aql atau

akal. Para ulama berselisih tentang masalah ini, di mana sesungguhnya

akal dibenamkan oleh Allah. Apakah di dalam organ tubuhnya yang

bernama otak,  di dalam hati (kalbunya), di dalam jiwa (nafs-nya) atau

bersemayam dalam ruhnya? Ilmu pengetahuan modern menyatakan

bahwa berpikir masuk dalam wilayah jobdisc otak. Tapi sebagian ulama

mempercayai bahwa akal timbul sebab  interaksi kejiwaan, sebab  tidak

jarang manusia dengan kepandaian akalnya melakukan perbuatan tidak



terpuji, misalnya menipu. Bukankah tidak mungkin ruh melakukan

sesuatu yang buruk dan ber tentangan dengan fitrahnya yang selalu

ingin mendekat kepada Allah? Tapi sebagian ulama lain mengatakan

bahwa ruh-lah yang memberi daya hidup kepada akal. Wallahu a’lam….

Akal yaitu  anugerah terbesar sesudah  iman yang Allah berikan

kepada manusia. Oleh sebab  itu, Allah selalu mendorong manusia

memakai  akalnya untuk kebaikan dirinya. Dengan akalnya manusia

bisa mengeksplorasi dan memanfaatkan kekayaan alam untuk

kemaslahatan hidup sesamanya. Dan dengan akalnya pula manusia

seharusnya berkontemplasi memikirkan dan tunduk pada Kebesaran

Allah. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih

bergantinya malam dan siang, ada  tanda-tanda bagi orang-orang

yang berakal (ulul albab). (Yaitu) orang-orang  yang mengingat Allah

sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka

memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi….” (QS. Al-Imran {3}:

190-191).

Sayyid  Quthb dalam terjemahan tafsir Fi Zhilalil Qur’an, terbitan

Gema Insani Press, menjelaskan dengan sangat indah ulul albab ini.

Menurut beliau ulul albab yaitu  orang-orang yang memiliki pemikiran

dan pemahaman  yang benar. Mereka membuka pandangan untuk

menerima ayat-ayat Allah pada alam semesta, tidak memasang

penghalang-penghalang, dan tidak menutup jendela-jendela antara

mereka dengan ayat-ayat ini. Mereka menghadap kepada Allah dengan

sepenuh hati sambil berdiri, duduk, dan berbaring. Maka terbukalah

mata (pandangan) mereka, menjadi lembutlah pengetahuan mereka,

berhubungan dengan hakekat alam semesta yang dititipkan Allah

kepadanya, dan menger ti tujuan keberadaannya, alasan

ditumbuhkannya, dan unsur-unsur yang menegakkan fitrahnya –dengan

ilham yang menghubungkan antara hati manusia dan undang-undang

alam ini. Begitu penjelasan Sayyid Quthb (semoga Allah merahmatinya).

Jagad raya ini yaitu  konstanta-konstanta atau isyarat-isyarat yang

terbuka, seper ti sebuah buku, yang menunjukkan “adanya” Sang

Pencipta. Causa Prima Yang Maha Hidup, yang tidak berawal tapi Dia



yang mengawali seluruh kehidupan. Akal manusia dituntut untuk

menemukan Sang Pencipta itu. Kegelisahan berpikirnya diarahkan untuk

mengukuhkan keyakinannya akan Kebesaran Allah. Seluruh hasil

observasi, analisis, dan kajian manusia tentang segala hal di luar dan

di dalam dirinya, selayaknya mengantarkan manusia pada iman akan

keesaan Tuhan. Bukan pada kekufuran dan kesombongan.

Salah satu keagungan Islam yaitu  dia memuliakan akal dan pikiran.

Sekian banyak ayat Al-Qur’an memerintahkan agar manusia mau

memakai  akalnya. Islam memberi peluang kepada para

penganutnya untuk bertanya, berdiskusi atau bahkan berdebat tentang

suatu persoalan agama, sehingga mereka tidak taklid buta, manut saja

pada dogma dan doktrin agama meskipun dogma dan doktrin itu tidak

masuk akal, apalagi diterima akal.  Rasulullah Saw. berulang kali

menegaskan bahwa segala amal perbuatan kita haruslah dilandasi

dengan ilmu, yakni pengetahuan hasil olah akal pikiran.

Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa

Allah Azza wa Jalla tidak menciptakan sesuatu yang lebih baik daripada

akal. Sedangkan Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib ra. pernah

mengatakan bahwa dunia ini gelap dan ilmu yaitu  cahayanya. Tapi

ilmu tanpa kepercayaan (kepada Allah) hanyalah bayangan belaka. Jadi,

iman kepada Allah-lah yang membuat ilmu (cahaya dunia itu) menjadi

berarti. Dan iman bisa diperoleh oleh manusia kalau dia memakai 

seluruh potensi akalnya, menjaga kebersihan fitrah insaniyahnya, seraya

menghilangkan semua prasangka buruk di dalam hatinya. “Ingatlah,

hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Orang-orang

yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat

kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d  {13}: 28-29).

Kisah Hikmah

Pandu tahu betul kalau usianya mungkin tidak akan panjang. sebab 

penyakit yang dideritanya, leukemia,  dianggap penyakit yang mematikan.

Papa dan Mamanya sangat sabar dan pasrah kalau akhirnya nanti dia



harus mati muda. Kendati begitu, mereka terus mengupayakan

kesembuhan bagi Pandu dengan membawa dia berobat ke luar negeri.

Hasilnya tidak juga memuaskan.

Suatu sore, saat  Pandu dirawat di sebuah rumah sakit besar di

Jakarta, teman-teman Papanya datang menjenguk. Waktu itu dia hanya

ditemani oleh Mamanya. Teman-teman Papanya datang dengan wajah

riang, tidak tampak kesedihan di mata mereka melihat kondisinya.

Mereka justru banyak cerita hal-hal yang lucu. Tapi menjelang pulang,

seorang teman Papanya mengingatkan Mamanya, agar tidak

memutuskan “komunikasi” dengan Allah.  “Allah yang menurunkan

penyakit, tidak mungkin Dia tidak menyediakan juga obat atau

penyembuhnya. Mintalah pada Allah kesembuhan bagi Pandu, sebab 

doa Ibu sangat luar biasa, lebih mujarab dari segala obat….” Kata

teman Papanya.

Entah mengapa Pandu maupun Mamanya menganggap kata-kata

teman Papanya itu bukan kalimat hiburan belaka. Tapi merupakan

sugesti yang menerbitkan harapan. Apalagi saat  mereka hendak pamit

pulang, salah seorang dari mereka memimpin doa bagi kesembuhannya.

Tiba-tiba di hati Pandu hanya ada harapan kepada Allah. Tidak kepada

yang lain. Tidak kepada keahlian dokter, kecanggihan alat atau

kemanjuran obat. Allah… hanya Allah yang sanggup menyembuhkannya!

Ternyata Mamanya juga memiliki  pikiran yang sama dengan

Pandu. Pandu minta agar di rumahnya diadakan pengajian. Mamanya

setuju dan saat itu juga, Mamanya memerintahkan Pak Min, pembantu

di rumahnya, untuk mengadakan pengajian di rumahnya dengan

mengundang jamaah mushalla dekat rumah, selesai Isya. Dan pengajian

ini rutin diadakan setiap malam. Pengajian “tradisional” saja, yakni

Yasinan. Membaca Surat Yasin dan memohon doa agar Allah memberikan

yang terbaik bagi Pandu.

Mama Pandu juga terus mengasah ketajaman spiritualnya.

Bermunajat kepada Allah, agar Pandu diberikan yang terbaik menurut

Allah. Bukan menurut manusia. Kalau Allah berkenan menyembuhkan,



dia sangat senang dan bersyukur. Tapi kalau Allah memanggilnya

“pulang”, dia pasrah. sebab  Pandu hanya titipan saja, Allah Pemilik

yang sebenarnya. Perlahan tapi pasti, keikhlasan muncul di hati Mama

Pandu. Dia tidak memiliki  beban lagi.

Maha Suci Allah…. Keyakinan, kepasrahan dan keikhlasan menerima

ketentuan dari Allah yang dibarengi upaya-upaya manusiawi, ternyata

menghasilkan hal yang luar biasa. Pandu dinyatakan sembuh oleh dokter

dari kanker darah yang mematikan itu….



Sejak dahulu kala, manusia memang menyadari pentingnya memiliki 

tubuh yang sehat. Itulah sebabnya mereka senantiasa mencari makanan

yang bisa membuat tubuh mereka selalu sehat. Bila  merasa sakit,

atau salah satu tubuh mereka mengalami gangguan fungsi atau terluka,

mereka berusaha mencari cara bagaimana penyembuhannya. Sehingga

ada di antara mereka yang peduli kemudian mengamati penyebab

datangnya penyakit. Mereka inilah cikal bakal tabib atau dokter.

Dunia kedokteran memang mencatat sejarah yang sangat

fenomenal. Terbentang dari Barat sampai Timur, tercatat sejak masa

Hippocrates, dokter Yunani kuno, sampai masa kita sekarang ini, dunia

kedokteran telah mengalami lompatan yang sangat jauh. Kemajuan

teknologi membuat sarana dan alat-alat kedokteran juga mengalami

kemajuan yang demikian pesat. Hampir setiap hari ada saja penelitian

dan penemuan ilmiah yang dilakukan para dokter untuk membantu

manusia mendapatkan kesehatan dan kesempurnaan hidup.

Tapi seiring dengan itu pula hubungan humanis pasien dengan

dokter mengalami degradasi. Interaksi dokter-pasien yang dahulunya

yaitu  interaksi kemanusian yang hangat dan kekeluargaan, kini

berubah menjadi transaksi bisnis. Dokter yaitu  penjual jasa

penyembuhan, sedang pasien yaitu  orang yang membutuhkan jasa

dokter untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Perkembangan

teknologi kedokteran membuat jasa dokter menjadi demikian mahal.

Kondisi seperti melahirkan kenyataan, hanya orang-orang kaya yang

mampu berobat dan memakai  jasa dokter. Tidak heran di

masyarakat ada joke nakal berbunyi: “Orang miskin dan melarat dilarang

sakit!”

Seorang sineas kelas dunia, Michael Moore, yang di Indonesia

dikenal dengan film Fahrenheit 9/11, dalam film semi dokumenter

“Sicko”, membuat perbandingan pelayanan tenaga medis dan rumah

sakit beberapa negara; Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Prancis.

Dalam sebuah scene, dia memberi  gambaran sarkastis terhadap biaya



dokter dan rumah sakit di Amerika Serikat dengan sebuah narasi yang

memiriskan hati di film itu: “Jangan sakit di Amerika, sebab  setiap

bagian dari tubuh kita ada bandrolnya.”

Lalu Moore membandingkan dengan perlakuan terhadap pasien

miskin di Inggris. Di bawah “pengawasan” kamera, seorang laki-laki

dengan payah datang ke sebuah rumah sakit dan langsung ditangani

oleh dokter dan tenaga medis lainnya. Dia hanya ditanyai nama untuk

registrasi, sesudah  itu langsung dibawa ke ruang tindakan. sesudah 

ditangani, si pasien disarankan untuk dirawat. Si pasien miskin itu setuju.

Beberapa hari kemudian, pasien miskin itu keluar dari rumah sakit dan

disuruh ke kasir rumah sakit. Di sini penonton agak tegang dan khawatir

pada “nasib” si pasien…. Oleh kasir si pasien ditanya, apakah dia pulang

dijemput atau tidak. Si pasien menjawab, “Tidak”, sedang lokasi rumahnya

berada jauh dari rumah sakit di mana dia dirawat. Tiba-tiba si kasir

memberinya uang untuk naik taksi si pasien! Sungguh, sebuah surprise

bagi penonton.

Sebenarnya Islam tidak melarang dokter memungut biaya dari

pasien, sebab  memang itu sudah menjadi haknya. “Membayar” dokter

yaitu  bentuk apresiasi pasien akan jerih payah dan upaya dokter.

Rasulullah Saw sendiri pernah membayar “jasa” Abdullah Ibnu Abbas

ra. yang telah membekam beliau.  Hanya saja Islam mengatur hal

tersebut sedemikian rupa agar tidak melampaui batas-batas kewajaran,

proporsional, dan profesional.

Di sisi lain, dengan ditunjang oleh kemajuan teknologi, kecanggihan

alat-alat medis dan sebagainya, dokter mulai dihinggapi perasaan

jumawa. Merasa diri sebagai manusia super, yang bisa menyembuhkan

berbagai macam penyakit. Seolah-olah kesembuhan seorang pasien

ada di tangannya. Perasaan ini pada gilirannya bermuara pada

kesimpulan yang sangat berbahaya, bahwa yang menghidupkan dan

mematikan pasien sebenarnya yaitu  dokter!

Sedang dari sisi pasien juga ada yang salah kaprah, yang tidak

kalah berbahayanya. Seseorang yang sering berobat kepada Dokter A

dan ternyata selalu sembuh, maka timbul keyakinan kalau Dokter A-lah



yang menyembuhkan sakitnya. Lebih lanjut  dia berpikir “Kalau saya

sakit dan belum berobat ke Dokter A, pasti sakit saya tidak akan sembuh,

meskipun saya sudah berobat ke dokter lain.”

Kata “pasti” dan “tidak akan sembuh” menjadi sugesti bagi jiwanya,

dan menjadi afirmasi yang terhujam dalam benaknya. Maka itulah yang

akan dia rasakan. Dia memang tidak akan sembuh, tapi bukan sebab 

belum berobat kepada Dokter A, melainkan sebab   tidak ada kesiapan

sembuh dalam dirinya. Lebih jauh lagi dia menafikan bisa sembuh dari

sakit…. Pasien yang lain mengatakan terus terang, “Aduuuh… Dokter,

sakit saya langsung sembuh deh setiap kali ketemu Dokter. Padahal

belum diapa-apain lho…”. “Dok…, kayaknya baru niat mau ketemu

Dokter, saya sudah merasa sehat!”

Keyakinan pasien yang begitu besar pada dokter bisa sangat

berbahaya. Bukan hanya bagi si pasien, tapi juga bagi si dokter. Diam-

diam, perlahan tapi pasti, pasien telah memasukkan bibit-bibit penyakit

ke dalam hati dokter. Lama-lama dokter merasa, memang dia hebat.

Lalu dari merasa hebat, naik lagi ke tingkat yang lebih berbahaya, dia

jadi sombong. Apalagi dengan pengetahuan dan pengalamannya,

ditunjang dengan teknologi canggih, dokter bisa “menentukan” berapa

lama lagi si pasien akan hidup. Dokter biasa sekali mengatakan, “Hm…

umurnya hanya tinggal 3 bulan lagi!”

Vonis dokter terasa lebih menyakitkan bagi keluarga pasien

daripada vonis seorang hakim terhadap pesakitan yang dihukum seumur

hidup.  sebab  orang yang divonis penjara seumur hidup kemungkinan

besar masih bisa ditemui keluarganya. Tapi orang yang divonis mati….

Kalau ternyata dia benar-benar mati, selesai sudah hubungan dengan

keluarganya.

Dan dari sisi pasien, juga tidak kurang bahayanya. Keyakinan dan

kepercayaan yang berlebihan seorang pasien kepada dokter, bisa

berubah menjadi penyakit bagi dirinya sendiri. Bukan menjadi sugesti.

Pasien yang biasa ditangani Dokter Fulan, saat  tidak bertemu dengan

Dokter Fulan bisa saja kondisi fisiknya langsung menurun drastis.



Keadaan itu bukan sebab  penyakitnya yang makin parah, tapi bisa

sebab  kondisi psikisnya yang tidak bisa menerima ketiadaan Dokter

Fulan. Harapannya bertemu Dokter Fulan pupus sudah, dan tiba-tiba

dia merasa tidak akan sembuh. Maka kondisinya semakin drop.

Dalam keadaan seperti itu, baik dokter maupun pasien, sengaja

atau tidak sengaja telah menafikan atau menghilangkan “peran” Tuhan

dalam proses penyembuhan. Padahal Allah mengajarkan umat manusia

melalui lisan Khalilullah, Nabi Ibrahim as.: “Dan Tuhanku, yang memberi

makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia (Allah) yang

menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku kemudian

menghidupkan aku (kembali).” (QS. Asy-Syu’araa {26}: 80).

Bahwa yang menyembuhkan penyakit yaitu  Allah Azza wa Jalla.

Dokter, tabib, dukun atau obat hanyalah upaya saja. Bagian dari ikhtiar,

bukan penyembuh. Menyandarkan kesembuhan kepada dokter atau obat

bisa masuk ke wilayah syirik, yakni meyakini ada kekuatan lain selain

Kekuatan Allah. Dan Allah masih bisa mentoleransi dosa-dosa manusia

walaupun memenuhi langit dan bumi, kecuali dosa sebab  syirik, tidak

ada ampun bagi pelakunya! “Allah tidak mengampuni siapa yang

mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, dan dapat mengampuni (dosa)

selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisaa’ {4}: 48).

Oleh sebab  itu perlu diluruskan kembali pemahaman tentang

berobat bagi orang yang sakit, juga bagi orang yang membantu

penyembuhan seper ti dokter, tabib dan sebagainya. Bahwa berobat

wajib hukumnya, sebagai upaya manusiawi sepanjang tidak bertentangan

dengan syariat agama. Sedang bagi dokter atau tabib menolong orang

yang sakit atau pasien juga wajib hukumnya, sebagai bentuk tanggung

jawab profesi, tanpa membedakan agama, suku, warna kulit atau status

sosial. Tapi yang menyembuhkan penyakit pada hakekatnya bukan

dokter atau tabib, melainkan Allah azza wa Jalla, Tuhan Semesta Alam.



Kisah Hikmah

Suatu saat  Nabi Musa as. sakit gigi, yang membuat beliau tidak nyaman

melakukan aktivitas. Makan tidak enak, tidurpun  tidak nyenyak, sebab 

harus menahan sakit yang luar biasa. Sudah berbagai upaya dilakukan

untuk menyembuhkan gigi yang sakit itu, tapi hasilnya nihil.

Pada saat Nabi Musa as. sedang galau, Allah mengilhamkan pada

beliau agar mengambil rumput dan meneteskan air yang ada di ujung

dekat akar ke giginya yang sakit. Tanpa membuang waktu, Nabi Musa

as. langsung mencari rumput. sesudah  mendapatkan apa yang dia cari,

segera beliau meneteskan air yang ada di ujung dekat akar ke giginya.

Maka atas ijin Allah, sesaat  sembuhlah sakit gigi Nabi Musa as.

Pada kali lain, seorang pengikut Nabi Musa as. sakit gigi dan

mengadu kepada beliau. Maka dengan enteng, beliau berkata: “Oh…

gampang…. Ambil saja rumput, dan kau teteskan air yang ada di ujung

akar. Pasti sakit gigimu langsung sembuh!” sebab  kata-kata Nabi Musa

as. sangat meyakinkan, pengikutnya itu segera mencari rumput. Tapi

sesudah  melakukan apa yang disarankan Nabi Musa as., sakit giginya

tidak kunjung sembuh. Maka orang itu mendatangi Nabi Musa as. kembali

dan mengajukan complain.  “Ah, masak sih? Belum lama sakit gigiku

sembuh dengan cara itu….”

Saat itulah Allah Azza wa Jalla mengilhamkan kepada Nabi Musa

as., “Hai Musa! Bukan air dari rumput itu yang menyembuhkan sakit

gigimu, tapi Aku!” Nabi Musa as. tersungkur dan memohon ampun

kepada Allah.

Dalam riwayat lain disebutkan Nabi Musa as. kembali sakit gigi.

Wallahu a’lam



Masa Primitif

Allah melebihkan manusia atas makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dalam

tubuh manusia dibenamkan satu elemen yang berbeda dalam hal fungsi.

Dengan otak dan kemampuan berpikirnya manusia bisa membuat

kesimpulan-kesimpulan terhadap kejadian-kejadian yang dialaminya.

Kemampuan berpikir juga yang mendorong manusia melakukan

pengamatan, penelitian, penyelidikan, dan percobaan.

Dahulu kala, sebuah komunitas manusia selalu memiliki  “orang

pintar”, yakni orang-orang yang memiliki ketajaman intuisi sehingga

dianggap sakti. Mereka inilah yang biasanya dimintai tolong saat  ada

anggota komunitasnya yang sakit atau terserang suatu penyakit. Mereka

beranggapan, orang sakit sebab  perbuatan roh jahat atau gangguan

makhluk halus yang merasa terusik kenyamanannya. Oleh sebab  itu,

cara penyembuhan yang mereka lakukan yaitu  dengan menggelar

sebuah upacara ritual. Upacara ritual itu dipimpin oleh “orang pintar”

yang juga bertindak sebagai “dokter”. Dalam upacara itulah roh jahat

yang bersemayam di dalam tubuh orang  yang sakit diusir memakai 

mantra-mantra khusus dengan gerakan-gerakan yang khas, dan

biasanya diiringi tetabuhan atau hanya dengan teriak-teriakan aneh

yang ritmis dan magis.

Pengobatan

yaitu  bagian

upacara

mengusir roh

halus yang

jahat



Kemampuan mengusir roh jahat, yang juga berar ti kemampuan

menyembuhkan penyakit, biasanya dipegang oleh satu keluarga dan

diwariskan secara turun-temurun. Orang-orang atau keluarga yang

memiliki  kemampuan ini sangat dihormati di l ingkungan

komunitasnya. sebab  merekalah yang menjadi penghubung antara

dunia yang tampak dengan alam lain. Hanya mereka yang dapat

berkomunikasi dengan “makhluk dari alam sana”.

Lantas bagaimana praktik pengobatan primitif dengan perantaraan

orang yang dianggap sakti itu bisa diterima oleh nalar modern?

Barangkali kita per lu menengok kembali pada teori dasar ilmu

kedokteran modern, bahwa psikoterapi merupakan 60  % modal

kesembuhan bagi si pasien. Apalagi jika orang yang memberi motivasi

itu dipercaya memiliki  kemampuan yang luar biasa. Islam tidak

membenarkan, bahkan menentang praktik-praktik semacam itu. Islam

mendasarkan segala sesuatu tidak pada hal yang bersifat  tahayul, tapi

pada usaha nyata, upaya-upaya yang masuk akal, selanjutnya hasilnya

dipasrahkan pada Allah melalui doa. Insya Allah di belakang akan saya

paparkan sedikit tentang kekuatan doa yang lebih dahsyat dari sugesti.

Seper ti dicontohkan Nabi Saw di atas, saat  sakit beliau juga

berobat. Padahal Nabi Saw terbiasa berbincang dengan para malaikat,

dan satu-satunya manusia yang pernah berhadapan secara langsung

dan berdialog dengan Allah dalam peristiwa isra-mi’raj. Segala

permintaan Nabi Saw pasti dikabulkan Allah, tapi beliau tidak mau

menjalani pengobatan dengan cara sim-salabim, walaupun beliau juga

mencontohkan alternatif  pengobatan dengan doa.

Begitu pula pada kisah penderitaan Nabi Ayub as. Allah tidak

menyembuhkan Ayub as. dengan cara yang ajaib, lalu penyakit beliau

rontok semua. Tapi Allah tetap menyuruh beliau berikhtiar dengan

memakai  air yang ditunjukkan-Nya. Lalu Nabi Ayub as.

melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Tentu saja hasilnya bisa

diduga, semua penyakit kulit Nabi Ayub as. hilang. Kulitnya menjadi

bersih, bahkan lebih bersih dari sebelumnya.



Praktik pengobatan dengan cara primitif yaitu  wujud kemunduran

peradaban manusia, sebab  manusia tidak diciptakan primitif, tapi cerdas

dan berakal. Tapi kadang-kadang sangat mengherankan, di era yang

sangat modern ini praktik-praktik pengobatan ala primitif  dihidup-

hidupkan kembali oleh sebagian orang. Barangkali ini salah satu bentuk

penyakit juga yang harus diberantas.

Sejarah Singkat Kedokteran Barat

Yunani yaitu  wilayah yang diyakini sebagai tempat per tama

berkembangnya ilmu kedokteran Barat di samping juga ilmu-ilmu lain,

utamanya filsafat dan logika. Sederet ilmuwan dan filosof telah dicatat

namanya dalam sejarah pemikir dunia. Sebut saja Anaximenes,

Anaximander, Anaxagoras, Pythagoras, Socrates, Aristoteles, Plato,

Aristophanes, Ptolomeus, dan sebagainya. Mereka yaitu  pemikir-

pemikir besar yang buah pikiran mereka jauh melampaui jamannya.

Di ranah yang lebih khusus, yaitu ilmu kedokteran, para pemikir

Yunani menghasilkan literatur kedokteran berbahasa Latin yang

kemudian menjadi inspirasi dan rujukan bagi dokter-dokter Muslim dalam

melakukan penelitian dan pengamatan terhadap penyakit dan gejalanya.

Hasil olah pikir para intelektual Yunani memang sangat luar biasa. Pikiran

mereka melampaui jamannya, lebih maju sekian abad dari orang awam.

Misalnya karya-karya Hippocrates, dokter Yunani yang sangat disegani

sebab  kemampuannya menangani pasien.

Sejarah singkat Kedokteran Yunani

Seni pengobatan di Yunani kuno berhubungan erat dengan

penyembahan terhadap Dewa Apollo. Menurut legenda, Apollo

mengajarkan ilmu pengobatan kepada Chiron, dan sesudah  lulus dia

mengamalkan ilmunya dengan mengajari Aesculapius, manusia biasa

--yang hidup sekitar tahun 1200 SM.  Dia dipuja dan disembah sebagai

dewa di biara pengobatan itu. Berdasarkan prasasti  di biara yang ada,

tercatat cara mengobati berbagai macam penyakit, penanganan macam-



macam penyakit, cara melakukan diet, istirahat, pelatihan ruhani, sihir,

dan sebagainya.

Salah seorang maestro dunia pengobatan, dan dianggap sebagai

“Bapak Kedokteran” yaitu  Hippocrates. Pada dasarnya, prinsip-prinsip

pengobatan Hippocrates ditekankan pada kecintaan pada kemanusiaan

bukan pada keuntungan pribadi atau memperkaya diri, penyakit bisa

dipelajari lewat pengalaman dan observasi yang terus-menerus, setiap

kasus harus dicatat hati-hati untuk kepentingan kearsipan, penyakit

timbul sebab  pengaruh lingkungan, perubahan cuaca, pekerjaan, juga

diet yang tidak benar, menyarankan diet dengan hati-hati, dan

mengoperasi bila diperlukan atau dalam keadaan terpaksa.

Hippocrates (460-377 SM)  yang dianggap sebagai “Bapak

Kedokteran” berasal dari Yunani.



Salah satu pemikir ulung Yunani yaitu  Aristoteles, murid Plato

dan Guru Aleksander Yang Agung. Aristoteles menulis tentang banyak

hal, yang paling terkenal yaitu  filsafat. Tulisannya mengulas juga

masalah kesehatan. Pada abad ke-4 SM, dia sudah melakukan klasifikasi

terhadap beberapa spesies, mempelajari serangga dan prilaku hewan

dengan sangat baik, juga meletakkan dasar-dasar ilmu tentang embrio.

Kontribusi Aristoteles yaitu  dia meletakkan keyakinan bahwa metode

ilmiah –yang terdiri atas kehati-hatian, pengamatan yang cermat,

penelitian yang akurat, percobaan yang terukur, studi kasus dan dampak

kasus— bisa menghasilkan ilmu pengetahuan yang lebih canggih dan

luar biasa.

Sejarah singkat Kedokteran Romawi

Romawi yaitu  salah satu pusat peradaban dunia. Bersama-sama

Persia, China, India, Mesir dan Yunani, Romawi menjadi tujuan menuntut

ilmu. Pemerintah Romawi kuno sudah sangat memperhatikan masalah

kesehatan masyarakat dan soal kebersihan. Misalnya mereka memiliki

tempat pembuangan sampah, parit-parit, sistem pengairan yang tertata

melampaui yang ada di manapun. Sistem ini diteruskan di dunia Barat

sampai menjelang abad 19. Para mahasiswa kedokteran kuliah dengan

biaya masyarakat. Dan para dokter diwajibkan menolong orang-orang

yang tidak mampu.

Kontribusi terpenting dalam dunia pengobatan di masa Kekaisaran

Romawi yaitu  apa yang dilakukan Aulus Cornelius Celsus dan Galen.

Celsus menulis eksilopedi De Re Medica yang terdiri dari 8 jilid. Sangat

sedikit yang mengetahui buku Celsus pada jamannya, sampai ditemukan

kembali pada abad 15, dan itu berdampak besar bagi perkembangan

ilmu pengetahuan. Enam dari delapan bukunya, Celsus membahas

berbagai macam penyakit, terapi dengan cara diet, obat-obatan dan

penyalahgunaannya. Pada dua bukunya yang terakhir, dia membahas

masalah pembedahan, termasuk operasi gondok, hernia, kencing batu,

dan sebagainya. Juga dia menjelaskan tentang penanganan patah tulang

dan penggunaan gips.



Galen (131-200 M) menulis kurang lebih 500 buku, yang 80 di

antaranya masih bisa diselamatkan dari kepunahan. Dia mengujicobakan

tindakan medis pada manusia berdasarkan anatomi hewan. Walaupun

sering gagal, tapi dia berhasil menetapkan dasar-dasar i lmu

pengetahuan tentang anatomi tubuh manusia untuk para calon dokter.

Dia sangat piawai dalam beberapa hal, misalnya dia bisa menjelaskan

struktur otak walaupun dengan mata telanjang.

Masa Renaisans

Abad Per tengahan disebut  sebagai Abad Kebangkitan, Renaissance,

dimulai  mulai abad 14 sampai akhir abad 16 M. Renaissance yaitu 

kelahiran kembali atau kebangkitan kembali para pemikir Eropa. Saat

itu para ilmuwan Eropa, dimulai dari Italia dan Prancis, mulai memikirkan

bagaimana mengejar ketinggalan dari rekan-rekan mereka, para

ilmuwan Muslim. Mereka bangkit. Mereka menimba ilmu di berbagai

bidang di universitas-universitas yang dikelola oleh kaum Muslimin dan

melepaskan diri dari dominasi gereja. Mereka menggerakkan revolusi

pemikiran yang luar biasa di semua cabang ilmu, terutama  sains dan

kesenian, ke arah yang lebih terbuka dan sekuler. Mereka menginginkan

kebebasan berpikir, berekspresi, dan mengeksplorasi  kemampuan.

Maka lahirlah para pemikir dan seniman, juga filosof  yang kemudian

mencatatkan namanya dalam sejarah peradaban dunia. Seniman besar

Leonardo da Vinci dan Michelangelo yaitu  seniman dari masa ini.

Salah satu bintang cemerlang dunia kedokteran masa Renaisans

yaitu  Andreas Vesalius, lahir di Brussels. Dia seorang Profesor anatomi

di Padua, penulis De Humani Corporis Fabrica (On the Fabric of  the

Human Body, 1543). Buku ini merupakan buku teks anatomi pertama

yang paling akurat dan berisi tentang ilustrasi yang memperbaiki

kesalahan teknik pengobatan Galen. Vesalius boleh dibilang duduk

setingkat di bawah Hippocrates, Galen, Ibnu Sina, dan Ar-Razi.



Andreas Vesalius mengoreksi  susunan anatomi Galen

Di samping itu ada juga seorang dokter hebat, Ambroise Pare (1510

– 1590 M), ahli pengobatan dari Perancis yang mengem-bangkan ilmu

pembedahan. Dia merawat pasiennya dengan sangat baik, dengan

memakai  ligatur (benang penjahit luka) untuk menghentikan

pendarahan dalam pembuluh darah, daripada memakai  minyak

panas atau alat-alat steril yang telah dipanaskan terlebih dahulu.

Seorang ahli pengobatan dari Swiss, Aureolus Paracelsus, menolak cara

pemikiran sekolah kedokteran tradisional. Dia lebih cenderung

memakai  alat-alat kimia seper ti laudanum (penggunaan opium)

dalam mengobati penyakit.

Sejarah singkat Kedokteran Timur

Membincangkan kedokteran atau ilmu pengobatan Timur kita tidak bisa

melupakan negeri Mesir, Timur Tengah, India, dan China. Keempat negeri

ini dikenal sebagai negeri para tabib. Istimewa bagi China, ilmu



kedokteran China masih ber lanjut sampai sekarang, yaitu berupa

pengobatan akupunktur, totok syaraf, herbal, dan lain sebagainya. Bahkan

para dokter Barat juga ikut mempelajari akupunktur dan metode

pengobatan China kuno lainnya untuk menunjang praktik kedokteran

modern.

Kesadaran manusia akan pentingnya kesehatan memang sudah

ter tanam sejak dahulu kala. Setidaknya dalam sebuah komunitas

manusia selalu ada saja orang yang mengerti dan bisa menyembuhkan

penyakit, walaupun dengan cara-cara yang sangat sederhana. Dan lazim

terjadi di hampir seluruh penjuru dunia, penyakit selalu dihubungkan

dengan kekuatan roh halus atau kekuatan jahat yang mengganggu

manusia.

Mesir

Sejarah kedokteran Mesir dinilai yang paling tua di dunia. Ini dibuktikan

dengan ditemukannya Ebers Papyrus yang diyakini ditulis sekitar 1600

tahun sebelum Masehi. Dan Smith Papyrus kemungkinan merupakan

salinan dari teks tentang pengobatan yang lebih tua lagi, sekitar 2500

tahun sebelum Masehi. Ebers Papyrus yaitu  gabungan dari beberapa

sumber tulisan yang berisi mantra-mantra untuk mengobati penyakit-

penyakit tertentu. Mantra-mantra ini di samping untuk mengusir roh

jahat yang bersemayam dalam tubuh orang yang sakit, juga untuk

mengundang  atau memohon pertolongan dewa-dewa. Sedangkan Smith

Papyrus berisi tentang tata cara pembedahan yang sampai saat ini

masih digunakan dalam penanganan pasien, misalnya pemakaian

kompres untuk menghentikan pendarahan dan membalut organ-organ

luka lainnya.

Timur Tengah

Di Timur Tengah, ilmu pengobatan dan kedokteran berkembang pesat

di Babylonia. Pada 2000 tahun sebelum Masehi, suku Amorit berhasil

menyatukan puak-puak dan suku-suku di sekitar lembah dekat sungai



Tigris dan Euphrat. saat   Hammurabi (1792-1750 SM) berkuasa,

dibangunlah pusat-pusat ilmu pengetahuan, laboratorium, pengadilan,

kantor lembaga-lembaga pemerintah, juga rumah sakit. Raja

Hammurabi membuat undang-undang (Code of Hammurabi) yang

mengatur banyak hal dari aspek kehidupan. Dalam undang-undang yang

berisi 282 pasal itu, diatur tentang hak milik pribadi, perumahan dan

tata kota, perdagangan dan bisnis, gelar-gelar keluarga, perselisihan,

dan sebagainya. Termasuk juga tentang kesehatan. Dalam hal kesehatan,

dibicarakan tentang tata cara merawat dan menangani pasien, sistem

pengupahan bagi tenaga medis, bahkan juga sanksi hukum bila terjadi

malpraktik.

Raja Hammurabi dikenal sebagai pencinta ilmu, administrator yang

baik, pemimpin yang berhasil, dan panglima perang yang handal. Pada

masa kekuasaannya hukum benar-benar ditegakkan. Undang-undang

yang dibuatnya dianggap sebagai penjelmaan hukum dewa-dewa dan

ketentuan negara yang tak boleh dilanggar oleh semua rakyatnya.

India

Charaka, dokter Hindu terbesar yang dikenal sejarah,  memulai praktik

penyembuhan pada tahun 1000 sebelum Masehi. Dia mengabdikan diri

untuk melayani masyarakat dan namanya dikenal luas di seantero India.

Kurang lebih 900 sebelum Masehi, kitab suci Ayur Veda ditulis.  Dalam

kitab ini berisi paparan tentang penyakit, obat-obatan yang berasal

dari tumbuh-tumbuhan dan juga hal-hal yang berkenaan dengan alam

ghaib, magic. Saat itu India sudah membuka hubungan dengan Persia,

Yunani, dan China. Tiga negeri yang dianggap sebagai pengusung

peradaban adiluhung masa itu. Mungkin saja para dokter India membaca

atau mengenal karya dokter-dokter dari negara tetangganya itu. Pada

abad kelima sesudah  Masehi, Susrata, juga seorang dokter India, mencatat

adanya hubungan antara penyakit malaria dengan nyamuk, dan penyakit

pes dengan tikus. Dia juga mengetahui dan mencatat 700 jenis tumbuhan

obat. Bukan itu saja, dia juga memperkenalkan lebih dari 100 alat-alat

medis untuk operasi dan pembedahan. Dia berhasil menangani orang



yang patah tulang, mengangkat tumor dan batu ginjal lewat operasi

dan menolong persalinan dengan operasi cesar.

Ch ina

Selain Mesir dan India, negeri timur yang juga pusat peradaban yaitu 

China. Para penguasa China selalu memperhatikan masalah kesehatan.

Saat itu dikenal buku Nei Jing (Book of  Medicine of  the Yellow Emperor,

Kitab Pengobatan Dinasti Kuning) yang ditulis kira-kira pada abad ketiga

sebelum Masehi. Dalam buku itu dilukiskan anatomi tubuh manusia

lengkap dengan sirkulasi peredaran darah, walaupun masih sangat

sederhana. Dokter China, Hua Tuo, dianggap sebagai pioneer dalam

penggunaan anestesi pada pasien sebelum melakukan pembedahan,

pada 300 SM. Dokter Zhao Xi Men memakai  gelas yang terbuat

dari tembikar dan bambu untuk meringankan sakit kepala dan sakit

perut dengan cara membekam.

Simbol yin dan yang,

sebuah prinsip hidup yang didasarkan pada keseimbangan

Kebanyakan pengobatan para dokter China saat itu didasarkan

pada prinsip nenek moyang yang sarat nilai-nilai filosofis, yin dan yang.

Yaitu sebuah prinsip hidup yang menekankan pada azas keseimbangan,

harmoni yang timbul –justru— dari sesuatu yang saling berlawanan;

laki-perempuan, panas-dingin, gerak-diam, dan seterusnya.



Para dokter China memainkan peranan penting dalam

mengembalikan keseimbangan pada tubuh pasien dengan memakai 

prinsip yin dan yang. Mereka juga mengembangkan sistem pemijatan,

menciptakan teknik-teknik akupunktur, dan melakukan imunisasi kepada

masyarakat luas agar tidak terserang penyakit cacar.

Puncak kejayaan ilmu pengobatan China –dan ilmu pengetahuan

lainnya— terjadi  pada masa Dinasti Qian Long (1711-1799 M), yang

merupakan generasi keempat dari Manchu atau Dinasti Qing. Pada masa

inilah didokumentasikan tata cara pengobatan dan obat-obatan menjadi

semacam ensiklopedi sebanyak 40 buku, di samping buku tentang ilmu

pemerintahan dan sebagainya.

SEJARAH KEDOKTERAN ARAB & ISLAM

Pengantar

Banyak ayat Al-Qur’an yang redaksinya menohok hati nurani manusia.

Ayat-ayat yang mengajak manusia memaksimalkan potensi akalnya

dalam berpikir. Allah Azza wa Jalla acap kali berfirman: “Apakah kamu

tidak berpikir?”  “… pada yang demikian itu ada  tanda-tanda

bagi orang-orang yang berpikir.” “… hanya orang-orang yang berakal

yang dapat mengambil pelajaran.”

Dan masih banyak ayat sejenis yang intinya Allah Azza wa Jalla

memerintahkan manusia agar mempergunakan kemampuan berpikirnya

secara maksimal, konon mencapai jumlah ratusan ayat dalam berbagai

variannya. Inilah yang memotivasi kaum Muslimin –dan juga bangsa

Arab umumnya untuk mengoptimalkan potensi otaknya. Mereka

ber lomba-lomba mengadakan riset dan penyelidikan untuk

pengembangan ilmu pengetahuan. Mereka, para ilmuwan Muslim dan

Arab, juga tidak sungkan-sungkan mengambil ilmu dari peradaban

bangsa lain, yakni bangsa Yunani dan India. Mereka menerjemahkan



buku-buku kedokteran, filsafat, dan sastra ke dalam bahasa Arab. Dan

bukan sekedar mener jemahkan, tapi juga menyempurnakan pikiran

maupun teori para ilmuwan Yunani. Tapi sejauh itu, mereka tetap

mengakui dengan lapang dada bahwa sumber ilmu mereka yaitu  buku-

buku para ilmuwan Yunani dan India. Mereka tidak pernah melupakan

sumber aslinya. Berbeda dengan para ilmuwan Barat. sesudah  mereka

menyerap dan mengambil karya-karya ilmuwan Muslim, mereka serta-

merta mengklaim sebagai karya sendiri. Hanya ada beberapa ilmuwan

yang jujur dan mau mengakui sumber pengetahuan mereka yang

sebenarnya.

Perlahan tapi pasti, kaum Muslimin menjadi satu kekuatan yang

sangat disegani pada awal-awal kemunculannya. Bukan saja sebab 

kekuasaan mereka yang sangat besar, tapi sebab  ilmuwan mereka

yaitu  mercusuar bagi sebuah peradaban adiluhung. saat  bangsa-

bangsa lain di semua benua sedang dalam masa-masa kegelapan, para

ilmuwan Muslim menjadi suluh dan pelita yang menerangi langit dunia

ilmu pengetahuan. Mereka mengukir sejarah peradaban manusia dengan

tinta emas. Dan hebatnya, mereka bisa mencapai puncak-puncak ilmu

pengetahuan dengan dorongan kitab suci mereka; Al-Qur’an Al-Karim.

Bayangkanlah! Seorang Nabi, Muhammad Saw, yang tidak mampu

menulis dan membaca “dibebani” sebuah kitab suci yang sangat

revolusioner pada abad ketujuh Masehi, yakni Al-Qur’an. Dikatakan

revolusioner sebab  ayat yang pertama kali turun yaitu  perintah untuk

“membaca”, sedang yang menerima perintah itu tidak bisa tulis-baca!

Subhanallah…. Dengan membaca, maka terbukalah cakrawala dan

dunia. Dengan membaca berkembanglah pemikiran. Dengan

berkembangnya pemikiran, maka ilmu dan pengetahuan semakin maju.

Kemajuan ilmu dan pengetahuan inilah yang membentuk peradaban.

Dan itu dibuktikan oleh kaum Muslimin. Mereka muncul dari wilayah

yang sama sekali tidak pernah diperhitungkan oleh manusia yang

berpikir saat itu, baik di Yunani, Romawi, Persia, China, Mesir dan India,

yang memang saat itu sedang surut pamornya. Wilayah itu yaitu  gurun

gersang, di Semenanjung Arabia.



Kalau kita mau mengakui dengan jujur, kita akan kesulitan mencari

kitab suci suatu agama yang mendorong para pemeluknya untuk

mengejar dan menuntut ilmu, mengadakan riset dan observasi.  Tidak

dihalangi sama sekali para pemeluk Islam untuk menjadi “pintar” dengan

mengembangkan ilmu. sebab  banyak sekali teks-teks kitab suci maupun

hadits Nabi Muhammad Saw yang menganjurkan umat Islam untuk

menuntut ilmu.

Misalnya dalam Al-Qur’an ada  ayat yang sangat “menantang”:

“Hai komunitas jin dan manusia! Jika kalian sanggup menembus

(melintasi) telatah langit dan bumi, maka lintasilah! Kalian tidak dapat

menembusnya melainkan dengan kekuatan (sulthan)….” (Ar-Rahmaan

{55}: 33).

Kata “sulthan”, yang diterjemahkan sebagai “kekuatan”, oleh para

ulama tafsir modern diartikan sebagai “ilmu pengetahuan”. Keterangan

agama menyatakan: “Barangsiapa menghendaki dunia, maka harus

dengan (memakai ) ilmu. Barangsiapa menghendaki akhirat, maka

harus dengan (memakai ) ilmu. Dan barangsiapa menghendaki

keduanya (dunia-akhirat), maka harus dengan (memakai ) ilmu.”

Ilmu yaitu  pelita dunia, dan cahaya di akhirat. Dengan ilmu manusia

bisa mewujudkan impian, khayalan atau rencana-rencananya. Segala

sesuatu yang dahulu tidak mungkin dilakukan, sekarang bisa terjadi.

Ambil contoh teknologi komunikasi. Mungkin pada abad per tengahan

orang tidak bisa membayangkan bahwa sebuah pembicaraan bisa terjadi

antara seseorang yang berada di Pulau Jawa dengan seseorang yang

ada di jazirah Arab, misalnya. Tapi sekarang, dengan pesawat telepon

(bahkan dengan sistem nirkabel), jarak tidak menjadi masalah lagi untuk

berkomunikasi oral.

Allah menyatakan bahwa manusia tidak bisa menjelajah cakrawala,

kecuali dengan kekuatan (sulthan). Frasa “tidak bisa” yang mendapatkan

pengecualian berarti menjadi mungkin terjadi atau pasti --bisa-- terjadi.

Dan ternyata sekarang terbukti, manusia bisa menjelajah angkasa luar

dengan memakai  pesawat berteknologi canggih, seperti Sputnik I,

pesawat ruang angkasa per tama buatan Uni Sovyet (Rusia) yang


mengangkasa tahun 1957.  Amerika Serikat pada tahun 1981

meluncurkan pesawat ulang-alik Space Shuttle, sesudah  meluncurkan

Apollo pada 1968 dan 1969.

Kata “sulthan” itu pula yang menginspirasi para ilmuwan Muslim.

Tidak mengherankan kalau akhirnya mereka, pada masa lalu, tidak

hanya mumpuni dalam satu disiplin ilmu saja, tapi berbagai macam

ilmu. Dan yang sangat mencengangkan, belum pernah ada satu

peradaban yang muncul dan berjaya di muka bumi yang penyebutannya

selalu menyer takan nama “agama” yang menjadi landasan pijaknya,

kecuali “Peradaban Islam”.

Peradaban Yunani, Romawi, Persia, China, Mesir dan India, kepada

agama apakah disangkutkan? Peradaban Barat, yang sekarang

“memimpin” dunia, meskipun sebagian besar dari mereka beragama

Nasrani, tapi tidak pernah kita dengar ada istilah “Peradaban Kristiani”.

Atau mereka menisbatkan peradaban Barat saat ini dengan agama

Nasrani. Sedang orang-orang Barat menyebut peradaban kaum

Muslimin sebagai “The Islamic Civilization”, bukan “The Arabic

Civilization”, walaupun kenyataannya para pelopor peradaban ini

sebagian besar yaitu  orang-orang Arab, baik beragama Islam maupun

Nasrani. Dan sebagian yang lain beragama Islam tapi bukan berbangsa

Arab.

Sejarah memang mencatat, hanya Islam agama yang tidak pernah

berkonfrontasi dengan ilmu pengetahuan. Kitab suci Al-Qur’an bahkan

mendorong –kalau tidak boleh dikatakan “menantang”— umat Islam

dan seluruh manusia untuk meningkatkan kualitas diri lewat ilmu

pengetahuan. Al-Qur’an yaitu  kitab suci yang sejak awal diturunkan

boleh dibaca oleh seluruh pemeluknya. Siapa pun mereka. Apakah para

ulama atau kaum dhuafa, para raja atau rakyat biasa, semua berhak

membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Boleh dibilang, ilmu pengetahuan

dalam Islam mendapat tempat yang tinggi dan sangat terhormat.

Sekiranya dahulu ada penghargaan terhadap ilmuwan seperti Hadiah

Nobel sekarang ini, niscaya ilmuwan Islam dan Arab akan menjadi

pemenangnya setiap tahun.



Seorang pemikir etik dan filosof  Inggris, Bertrand Russel, berkata:

“Penggunaan istilah Abad Kegelapan antara tahun 699 sampai 1000

itu menunjukkan bahwa kita membatasi perhatian kita hanya pada Barat

atau Eropa. Padahal  justru waktu itulah kebudayaan Islam yang

cemerlang sedang menerangi dunia, mulai dari India di Timur sampai

Spanyol di Barat. Apa yang hilang di negeri-negeri Kristen waktu itu

bukanlah hilangnya kebudayaan secara umum, bahkan keadaan sangat

kontras. Buat kita tampak, bahwa kebudayaan Eropa Barat itu memang

suatu kebudayaan, akan tetapi sebenarnya yaitu  suatu pandangan

yang sempit.”

Cukuplah bagi kita untuk mengetahui bagaimana agung dan

cemerlangnya kebudayaan Islam lewat kata-kata Ber trand Russel di

atas. Tulisan ini tidak ingin memilukan hati pembaca dengan romantisme

masa lalu. Juga bukan ingin sekadar bernostalgia membesar-besarkan

hati bahwa kita dahulu “pernah jaya”. Tidak sama sekali! Tulisan ini

justru ingin memotivasi kaum Muslimin, bahwa kitalah sesungguhnya

pemilik peradaban dunia. Dan sekaranglah saatnya kita mengambilalih

tongkat estafeta peradaban yang kini dipegang oleh Barat.

Sungguh, peradaban manusia saat ini telah hampir mencapai “titik

jenuh”. Wajah peradaban manusia sekarang sangat mengerikan, sebab 

tidak didasari oleh nilai-nilai spiritual yang ada dalam agama. sebab 

Barat memang menyingkirkan agama sejauh-jauhnya dari ranah ilmu

pengetahuan dan teknologi. Sehingga tidak mengherankan kalau banyak

sekali penyimpangan dan kerusakan moral sebagai dampak langsung

dari tingginya peradaban. Ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai pilar

penopang tegaknya sebuah peradaban, seringkali digunakan untuk

kepentingan keji dan kotor oleh negara-negara maju.

Meg. Grenfield, seorang Jurnalis Amerika, menulis dalam Newsweek:

“Dua hal mestilah diungkapkan mengenai Islam ini. Per tama, yaitu 

bahwa tidak ada bagian dari dunia ini yang lebih penting bagi kebaikan

kita sekarang ini, dan agaknya juga bagi kemungkinan dugaan di masa

datang, melebihi dunia Islam. Kedua, yaitu  bahwa tidak ada bagian di



dunia ini yang dipahami secara sombong, secara sistematis, sekaligus

secara mengenaskan oleh kita, daripada dunia Islam”.(1

Kedokteran Arab & Islam

Ada garis tegas yang membuat kedokteran Arab dan Islam berbeda

secara diametral dengan kedokteran Barat dan Timur, baik

karakteristiknya maupun landasan operasionalnya. Landasan

operasionalnya yaitu  firman suci Tuhan, Allah Azza wa Jalla, dalam Al-

Qur’an. Tentu saja dengan landasan operasional yang demikian agung,

membuat karakteristik kedokteran Islam menjadi sangat khas.

Karakteristik pertama yaitu  niatnya ibadah sebab  Allah. Niat yaitu 

bagian paling sentral dalam perbuatan seseorang. Nabi Muhammad

Saw bersabda: “Sesungguhnya semua perbuatan manusia itu tergantung

pada niatnya.” Kalau niatnya baik, maka jalannya pasti baik, dan insya

Allah hasilnya juga baik.

Karakteristik kedua yaitu  tolong-menolong.  Allah memerintahkan

umat Islam saling menolong dalam rangka menebar kebajikan kepada

seluruh manusia dalam rangka - untuk - takwa kepada Allah.

“… dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan

janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan

permusuhan.” (QS. Al-Maaidah {5}: 2).

Sedangkan di ayat lain lebih tegas lagi, Allah berfirman:

“Barangsiapa yang menyelamatkan satu jiwa, maka dia seolah-olah

telah menyelamatkan seluruh manusia di planet bumi.” Tidak peduli

siapa dia, bagaimana status sosialnya, apa agama atau sukunya dan

sebagainya. Menolong jiwa atau nyawa manusia harus tidak boleh

dibatasi oleh sekat-sekat primordial seperti itu.

Karakteristik ketiga yaitu  goal-nya atau tujuan akhirnya yang

bersifat immaterial dan transenden, yakni mengharap ridha Allah Azza

(1. Dikutip dari Pengantar Prof. Huston Smith untuk Ensiklopedi Islam Ringkas, Cyril Glasse,

terjemahan Ghufron A. Mas’adi. Pen. PT. RajaGrafindo Persada, Jakar ta, Cet. Kedua,

Januari 1999)



wa Jalla. Memang agak naïf juga –apalagi di jaman kita sekarang ini—

kalau ada orang yang masih mengharapkan tujuan akhir dari usaha

dan kerja kerasnya sesuatu yang tidak konkret. “Ridha” Allah yaitu 

tujuan yang abstrak dan tidak jelas. Tapi demikianlah umat Islam. Mereka

sejak awal memang diperintahkan untuk mengimani sesuatu yang

“ghaib”, sesuatu yang tidak terindera.

Kemudian karakteristik keempat yaitu  sangat rasional. Ar tinya

semua yang dilakukan oleh para dokter Islam yaitu  hasil belajar dan

bisa dipelajari juga oleh orang lain. Bukan hasil kontemplasi, menyendiri

di dalam kamar, berdoa dan memohon kepada Allah agar dijadikan

dokter.  Ini artinya, kedokteran Islam tidak berkaitan dengan dunia mistik.

Oleh sebab  itu, para tokoh kedokteran Islam tidak pernah

menghubungkan penyakit dengan “roh-roh halus”, “kutukan” atau apa

saja yang di luar akal sehat.

Sedangkan karakteristik kelima dari dokter-dokter Islam yaitu 

adanya sikap pasrah kepada Allah, sesudah  usaha mereka yang maksimal.

Bahwa manusia hanya diwajibkan berusaha, sedangkan hasilnya biarlah

Allah yang menentukan, sebab  Dia Yang Maha Mengetahui kemaslahatan

bagi hamba-hamba-Nya. Bisa jadi manusia menganggap sesuatu itu

baik - sebab  secara kasat mata memang baik - tapi belum tentu menurut

Allah hal itu baik bagi manusia. Demikian juga sebaliknya. Sesuatu yang

Allah pandang baik, boleh jadi tidak baik dalam penglihatan dan perasaan

manusia.  Tapi apa saja yang Allah pilihkan untuk manusia, maka itulah

yang sesungguhnya paling baik bagi manusia. Itulah sikap tawadhu’

para dokter Islam.

Memang belum ada catatan sejarah yang secara tegas menunjuk

dengan pasti siapa pelopor per tama kedokteran Islam, sebab 

banyaknya ilmuwan yang muncul hampir bersamaan dan semuanya

memiliki  nama besar. Di samping itu, Nabi Muhammad Saw sendiri

juga memakai  jasa “dokter” untuk menjaga kesehatan atau

mengobati penyakit beliau dan para Sahabatnya. Tentu saja istilah yang

digunakan saat itu yaitu  “tabib”, untuk menunjuk pada profesi dokter.



Tokoh-Tokoh Kedokteran Arab & Islam

Ser ta Kemajuan yang Dicapai

Khazanah kedokteran Islam dan Arab memiliki  nama-nama kondang

yang mumpuni laksana bintang-bintang yang menghiasi langit malam.

Mereka bersinar cemerlang dan melesat jauh membuat terobosan-

terobosan di dunia medis lewat eksperimen dan penelitan laboratorium.

Hasil temuan mereka yaitu  pondasi bagi ilmu kedokteran modern.

Buku-buku karangan dokter-dokter Islam dan Arab menjadi referensi

mahasiswa-mahasiswa kedokteran dari berbagai belahan dunia,

utamanya Eropa, selama ratusan tahun.

Sebelum dokter-dokter Islam dan Arab tampil, biasanya pasien

diobati berdasarkan penyakit yang tampak saja. Pasien tidak ditanya

riwayat penyakitnya. Tapi saat  dokter-dokter Islam dan Arab mulai

memegang peranan dalam dunia pengobatan, mereka melakukan

sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh dokter-dokter dalam

peradaban manapun. Mereka mendiagnosis penyakit pasien, mencatat

dan mengikuti perkembangan pasien selama dalam perawatan.

Kemajuan dunia kedokteran Islam dan Arab terus mendecakkan

kekaguman. Para dokter Islam dan Arab melakukan uji coba medis

terhadap hewan sebelum melakukan pengobatan pada manusia. Mereka

juga yang pertama kali memakai  “jarum” suntik dan sistem infus.

Dengan alat-alat kedokteran yang mereka ciptakan, mereka berani

melakukan operasi terhadap pasien yang terlebih dahulu diberi obat

bius. Dan mereka juga yang pertama kali menjahit usus dan kulit manusia

dengan mempergunakan benang yang terbuat dari usus atau selaput

hewan. Bukan itu saja, kondisi psikologis pasien juga menjadi perhatian

mereka.

Penemuan-penemuan para ilmuwan Muslim dan Arab dalam bidang

kedokteran memang sangat luar biasa. Misalnya Ibnu An-Nafis (1210-

1288, ada juga yang mengatakan 1297, wallahu a’lam), yang berhasil

menemukan sistem sirkulasi darah (Pulmonary Circulation). Walaupun



dunia kedokteran mengakui bahwa penemu sirkulasi darah yaitu  dokter

Inggris, William Harvey (1578-1657).

Berikut ini yaitu  3 tokoh kedokteran Islam dan Arab yang namanya

cemerlang dalam dunia kedokteran dunia :

Abu Bakar A