hadapan Allah, Tuhan Penguasa alam
semesta, meskipun hamba itu yaitu seorang Nabi.
Terjemahan bahasa Indonesia untuk qalb atau qulub sebagai “hati”
memang masih ada yang menganggap belum tepat benar, tapi itu pun
sudah cukup memadai. Tentu saja hati yang dimaksud di sini bukanlah
dalam pengertian organ tubuh, melainkan sesuatu yang lebih bersifat
ruhaniyah dan transenden. Banyak ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi
Saw yang membicarakan tentang kalbu, dan semuanya tidak dalam
arti organ tubuh. Misalnya ayat berikut ini:
“Maka apakah mereka tidak ber jalan di muka bumi, lalu mereka
memiliki hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mereka
memiliki telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? sebab
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta yaitu
hati yang berada di dalam dada.” (QS. Al-Hajj {22}: 46).
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam
kebanyakan dari (bangsa) jin dan manusia. mereka memiliki hati,
tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka
memiliki mata, tapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-
tanda Kekuasaan Allah). Mereka memiliki telinga, tapi tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seper ti
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-
orang yang lalai.” (QS. Al-A’Raaf {7}: 179).
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa fungsi hati antara lain untuk
memahami sesuatu, utamanya memahami ayat-ayat Allah yang tertulis
maupun yang tersebar di alam raya. Kalau hati itu tidak bisa digunakan
untuk memahami sesuatu, maka itulah hati yang lalai atau buta. Manusia
yang hatinya buta yaitu manusia yang paling sial. sebab ternyata
buta mata bukanlah persoalan besar, tapi lain halnya kalau yang buta
yaitu hati yang berada di dalam dada. Dan kita harus ingat, orang
yang matanya buta tidak akan dimintai tanggungjawab atas kebutaannya
kalau itu bawaan sejak lahir. Tapi orang yang buta hatinya, dialah orang
yang paling celaka. sebab , “Allah tidak memandang kepada jasad dan
rupamu, tetapi (Allah) memandang hati dan perbuatanmu” (HR. Muslim).
Ar tinya yang dimintai tanggungjawab yaitu perbuatan hati.
Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadits yang sangat masyhur,
yang saya kutip secara bebas: “Di dalam dirimu ada segumpal daging,
yang kalau dia baik maka baiklah seluruh fisik dan aktivitasmu. Tapi
kalau dia rusak, maka rusak pula seluruh fisik dan aktivitasmu. Ketahuilah
segumpal daging itu yaitu hati.”
Hadits di atas mengindikasikan bahwa hati memegang peranan
sangat penting bagi kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang.
Psikologi modern mengakui bahwa penyakit-penyakit jasad bisa bermula
dari kotor dan keruhnya hati, di samping sebab pikiran. Oleh sebab
itu, agar kita terhindar dari psikosomatis, maka kebersihan hati harus
selalu dijaga. “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati
yang bersih….”(QS. Asy-Syu’araa {26}: 89).
Mereka yang menghadap Allah dengan hati yang bersih yaitu
orang-orang yang beruntung. Hatinya bersih bukan hanya dari semua
jenis penyakit hati, seper ti iri, dengki, nifaq, dendam, sombong, ujub
(bangga diri), dan sebagainya. Tapi lebih dari itu, hatinya bersih dari
ilah yang selain Allah. Bagi mereka telah Allah sediakan surga yang
lebih luas dari langit dan bumi, negeri kedamaian yang penuh dengan
kenikmatan dan tidak ada lagi kesengsaraan. Surga yang para
penghuninya yaitu hamba-hamba yang dianugerahi rahmat dan kasih
sayang oleh Allah Azza wa Jalla.
Semoga kita bisa selalu menjaga kesucian dan kebersihan hati,
tidak berburuk sangka kepada Allah dan kepada manusia, sehingga
kita termasuk ke dalam golongan mereka yang beruntung.
Nafs atau Jiwa
Menurut Dr. Quraish Shihab, kata nafs dalam Al-Qur’an memiliki
bermacam-macam makna. Bisa berar ti totalitas manusia (fisik dan
psikisnya), bisa juga berarti sisi dalam manusia yang memiliki potensi
berbuat buruk dan baik. Tapi untuk mudahnya, saya mengartikan nafs
secara umum saja, yakni jiwa. “Dan (demi) jiwa dan penyempurnaannya.
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan
jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS.
Asy-Syams {91}: 7-10).
Jiwa yaitu salah satu motor penggerak manusia. Sebagian orang
ada yang menyamakan jiwa dengan ruh. Penyakit jiwa, menurut mereka,
sama dengan penyakit ruhani. Di atas saya katakan bahwa ruh yaitu
potensi aktif yang senantiasa mengajak manusia pada kebaikan dan
cenderung selalu ingin mematuhi perintah Tuhan. Tanpa bermaksud
menafsirkan ayat di atas, sebab saya memang tidak memiliki
kapasitas untuk itu, mungkin saja ruh tidak pernah melakukan keburukan
atau bermaksiat kepada Allah, seperti halnya malaikat. Dia selalu ingin
dekat kepada Penciptanya, selalu ingin meraih rahmat dan kasih sayang-
Nya.
Lalu timbul per tanyaan, bila manusia mati, apa yang hilang dari
jasadnya atau raganya? Jiwa, nyawa atau ruhnya? Ketiganya sangat
abstrak, ghaib. Sedangkan secara biologis kita tahu, orang yang mati
jantungnya sudah tidak berfungsi sama sekali, atau otaknya yang
berhenti bekerja secara total. Itulah rahasia Allah. Tidak perlu kita
mengungkap sesuatu yang ghaib, yang menjadi urusan Allah, kalau
pada akhirnya tidak membuat kita semakin taat kepada Allah.
Lain halnya dengan jiwa. Jiwa memiliki dua kecenderungan yang
bertolak belakang secara diametral, yakni kecenderungan berbuat buruk
dan berbuat baik. Artinya jiwa bisa taat, bisa juga durhaka kepada Allah.
Jiwa laksana medan per tempuran abadi antara idea, gagasan, dan
keinginan-keinganan untuk melakukan kebaikan atau keburukan. Tapi
sesungguhnya kecenderungan jiwa untuk berbuat kebajikan dan
kebaikan lebih besar daripada kecenderungannya melakukan keburukan.
Hanya saja, masih menurut Dr. Quraish Shihab, daya tarik keburukan
lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Mungkin itu sebabnya Al-Qur’an
menyatakan, merugilah orang yang mengotori jiwa itu. (Dalam kosa
kata bahasa Indonesia, kata “nafs” diartikan sebagai nafsu, yaitu potensi
destruktif yang sangat dominan yang menguasai hati manusia).
Sekarang tinggal bagaimana kita, manusia, mengelola jiwa dan
menundukkan pontensi destruktifnya agar tidak merugikan kita di kelak
kemudian hari.
Orang yang selalu menjaga kesucian jiwanya termasuk dalam
kelompok mereka yang beruntung. Oleh sebab itu, yang dipanggil
oleh Allah untuk memasuki surga-Nya yaitu jiwa yang tenang. Mengapa
dia tenang? sebab dia telah menunaikan kewajibannya sebagai hamba
Allah dan memberikan Hak-Hak Allah sebagai Al-Khaliq, Pencipta.
Jelasnya, jiwa yang tenang yaitu jiwa yang senantiasa tunduk patuh
kepada Allah dan ridha dengan segala ketentuan Allah yang berlaku
atas dirinya. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan
hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah
hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS. Al-Fajr {89}:
27-30).
Tentu saja ini masih bisa diperdebatkan. Wallahu a’lam bishshawab.
Aql atau Akal
Satu lagi keunikan manusia yaitu sebab dia memiliki aql atau
akal. Para ulama berselisih tentang masalah ini, di mana sesungguhnya
akal dibenamkan oleh Allah. Apakah di dalam organ tubuhnya yang
bernama otak, di dalam hati (kalbunya), di dalam jiwa (nafs-nya) atau
bersemayam dalam ruhnya? Ilmu pengetahuan modern menyatakan
bahwa berpikir masuk dalam wilayah jobdisc otak. Tapi sebagian ulama
mempercayai bahwa akal timbul sebab interaksi kejiwaan, sebab tidak
jarang manusia dengan kepandaian akalnya melakukan perbuatan tidak
terpuji, misalnya menipu. Bukankah tidak mungkin ruh melakukan
sesuatu yang buruk dan ber tentangan dengan fitrahnya yang selalu
ingin mendekat kepada Allah? Tapi sebagian ulama lain mengatakan
bahwa ruh-lah yang memberi daya hidup kepada akal. Wallahu a’lam….
Akal yaitu anugerah terbesar sesudah iman yang Allah berikan
kepada manusia. Oleh sebab itu, Allah selalu mendorong manusia
memakai akalnya untuk kebaikan dirinya. Dengan akalnya manusia
bisa mengeksplorasi dan memanfaatkan kekayaan alam untuk
kemaslahatan hidup sesamanya. Dan dengan akalnya pula manusia
seharusnya berkontemplasi memikirkan dan tunduk pada Kebesaran
Allah. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih
bergantinya malam dan siang, ada tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal (ulul albab). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah
sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi….” (QS. Al-Imran {3}:
190-191).
Sayyid Quthb dalam terjemahan tafsir Fi Zhilalil Qur’an, terbitan
Gema Insani Press, menjelaskan dengan sangat indah ulul albab ini.
Menurut beliau ulul albab yaitu orang-orang yang memiliki pemikiran
dan pemahaman yang benar. Mereka membuka pandangan untuk
menerima ayat-ayat Allah pada alam semesta, tidak memasang
penghalang-penghalang, dan tidak menutup jendela-jendela antara
mereka dengan ayat-ayat ini. Mereka menghadap kepada Allah dengan
sepenuh hati sambil berdiri, duduk, dan berbaring. Maka terbukalah
mata (pandangan) mereka, menjadi lembutlah pengetahuan mereka,
berhubungan dengan hakekat alam semesta yang dititipkan Allah
kepadanya, dan menger ti tujuan keberadaannya, alasan
ditumbuhkannya, dan unsur-unsur yang menegakkan fitrahnya –dengan
ilham yang menghubungkan antara hati manusia dan undang-undang
alam ini. Begitu penjelasan Sayyid Quthb (semoga Allah merahmatinya).
Jagad raya ini yaitu konstanta-konstanta atau isyarat-isyarat yang
terbuka, seper ti sebuah buku, yang menunjukkan “adanya” Sang
Pencipta. Causa Prima Yang Maha Hidup, yang tidak berawal tapi Dia
yang mengawali seluruh kehidupan. Akal manusia dituntut untuk
menemukan Sang Pencipta itu. Kegelisahan berpikirnya diarahkan untuk
mengukuhkan keyakinannya akan Kebesaran Allah. Seluruh hasil
observasi, analisis, dan kajian manusia tentang segala hal di luar dan
di dalam dirinya, selayaknya mengantarkan manusia pada iman akan
keesaan Tuhan. Bukan pada kekufuran dan kesombongan.
Salah satu keagungan Islam yaitu dia memuliakan akal dan pikiran.
Sekian banyak ayat Al-Qur’an memerintahkan agar manusia mau
memakai akalnya. Islam memberi peluang kepada para
penganutnya untuk bertanya, berdiskusi atau bahkan berdebat tentang
suatu persoalan agama, sehingga mereka tidak taklid buta, manut saja
pada dogma dan doktrin agama meskipun dogma dan doktrin itu tidak
masuk akal, apalagi diterima akal. Rasulullah Saw. berulang kali
menegaskan bahwa segala amal perbuatan kita haruslah dilandasi
dengan ilmu, yakni pengetahuan hasil olah akal pikiran.
Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa
Allah Azza wa Jalla tidak menciptakan sesuatu yang lebih baik daripada
akal. Sedangkan Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib ra. pernah
mengatakan bahwa dunia ini gelap dan ilmu yaitu cahayanya. Tapi
ilmu tanpa kepercayaan (kepada Allah) hanyalah bayangan belaka. Jadi,
iman kepada Allah-lah yang membuat ilmu (cahaya dunia itu) menjadi
berarti. Dan iman bisa diperoleh oleh manusia kalau dia memakai
seluruh potensi akalnya, menjaga kebersihan fitrah insaniyahnya, seraya
menghilangkan semua prasangka buruk di dalam hatinya. “Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Orang-orang
yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat
kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d {13}: 28-29).
Kisah Hikmah
Pandu tahu betul kalau usianya mungkin tidak akan panjang. sebab
penyakit yang dideritanya, leukemia, dianggap penyakit yang mematikan.
Papa dan Mamanya sangat sabar dan pasrah kalau akhirnya nanti dia
harus mati muda. Kendati begitu, mereka terus mengupayakan
kesembuhan bagi Pandu dengan membawa dia berobat ke luar negeri.
Hasilnya tidak juga memuaskan.
Suatu sore, saat Pandu dirawat di sebuah rumah sakit besar di
Jakarta, teman-teman Papanya datang menjenguk. Waktu itu dia hanya
ditemani oleh Mamanya. Teman-teman Papanya datang dengan wajah
riang, tidak tampak kesedihan di mata mereka melihat kondisinya.
Mereka justru banyak cerita hal-hal yang lucu. Tapi menjelang pulang,
seorang teman Papanya mengingatkan Mamanya, agar tidak
memutuskan “komunikasi” dengan Allah. “Allah yang menurunkan
penyakit, tidak mungkin Dia tidak menyediakan juga obat atau
penyembuhnya. Mintalah pada Allah kesembuhan bagi Pandu, sebab
doa Ibu sangat luar biasa, lebih mujarab dari segala obat….” Kata
teman Papanya.
Entah mengapa Pandu maupun Mamanya menganggap kata-kata
teman Papanya itu bukan kalimat hiburan belaka. Tapi merupakan
sugesti yang menerbitkan harapan. Apalagi saat mereka hendak pamit
pulang, salah seorang dari mereka memimpin doa bagi kesembuhannya.
Tiba-tiba di hati Pandu hanya ada harapan kepada Allah. Tidak kepada
yang lain. Tidak kepada keahlian dokter, kecanggihan alat atau
kemanjuran obat. Allah… hanya Allah yang sanggup menyembuhkannya!
Ternyata Mamanya juga memiliki pikiran yang sama dengan
Pandu. Pandu minta agar di rumahnya diadakan pengajian. Mamanya
setuju dan saat itu juga, Mamanya memerintahkan Pak Min, pembantu
di rumahnya, untuk mengadakan pengajian di rumahnya dengan
mengundang jamaah mushalla dekat rumah, selesai Isya. Dan pengajian
ini rutin diadakan setiap malam. Pengajian “tradisional” saja, yakni
Yasinan. Membaca Surat Yasin dan memohon doa agar Allah memberikan
yang terbaik bagi Pandu.
Mama Pandu juga terus mengasah ketajaman spiritualnya.
Bermunajat kepada Allah, agar Pandu diberikan yang terbaik menurut
Allah. Bukan menurut manusia. Kalau Allah berkenan menyembuhkan,
dia sangat senang dan bersyukur. Tapi kalau Allah memanggilnya
“pulang”, dia pasrah. sebab Pandu hanya titipan saja, Allah Pemilik
yang sebenarnya. Perlahan tapi pasti, keikhlasan muncul di hati Mama
Pandu. Dia tidak memiliki beban lagi.
Maha Suci Allah…. Keyakinan, kepasrahan dan keikhlasan menerima
ketentuan dari Allah yang dibarengi upaya-upaya manusiawi, ternyata
menghasilkan hal yang luar biasa. Pandu dinyatakan sembuh oleh dokter
dari kanker darah yang mematikan itu….
Sejak dahulu kala, manusia memang menyadari pentingnya memiliki
tubuh yang sehat. Itulah sebabnya mereka senantiasa mencari makanan
yang bisa membuat tubuh mereka selalu sehat. Bila merasa sakit,
atau salah satu tubuh mereka mengalami gangguan fungsi atau terluka,
mereka berusaha mencari cara bagaimana penyembuhannya. Sehingga
ada di antara mereka yang peduli kemudian mengamati penyebab
datangnya penyakit. Mereka inilah cikal bakal tabib atau dokter.
Dunia kedokteran memang mencatat sejarah yang sangat
fenomenal. Terbentang dari Barat sampai Timur, tercatat sejak masa
Hippocrates, dokter Yunani kuno, sampai masa kita sekarang ini, dunia
kedokteran telah mengalami lompatan yang sangat jauh. Kemajuan
teknologi membuat sarana dan alat-alat kedokteran juga mengalami
kemajuan yang demikian pesat. Hampir setiap hari ada saja penelitian
dan penemuan ilmiah yang dilakukan para dokter untuk membantu
manusia mendapatkan kesehatan dan kesempurnaan hidup.
Tapi seiring dengan itu pula hubungan humanis pasien dengan
dokter mengalami degradasi. Interaksi dokter-pasien yang dahulunya
yaitu interaksi kemanusian yang hangat dan kekeluargaan, kini
berubah menjadi transaksi bisnis. Dokter yaitu penjual jasa
penyembuhan, sedang pasien yaitu orang yang membutuhkan jasa
dokter untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Perkembangan
teknologi kedokteran membuat jasa dokter menjadi demikian mahal.
Kondisi seperti melahirkan kenyataan, hanya orang-orang kaya yang
mampu berobat dan memakai jasa dokter. Tidak heran di
masyarakat ada joke nakal berbunyi: “Orang miskin dan melarat dilarang
sakit!”
Seorang sineas kelas dunia, Michael Moore, yang di Indonesia
dikenal dengan film Fahrenheit 9/11, dalam film semi dokumenter
“Sicko”, membuat perbandingan pelayanan tenaga medis dan rumah
sakit beberapa negara; Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Prancis.
Dalam sebuah scene, dia memberi gambaran sarkastis terhadap biaya
dokter dan rumah sakit di Amerika Serikat dengan sebuah narasi yang
memiriskan hati di film itu: “Jangan sakit di Amerika, sebab setiap
bagian dari tubuh kita ada bandrolnya.”
Lalu Moore membandingkan dengan perlakuan terhadap pasien
miskin di Inggris. Di bawah “pengawasan” kamera, seorang laki-laki
dengan payah datang ke sebuah rumah sakit dan langsung ditangani
oleh dokter dan tenaga medis lainnya. Dia hanya ditanyai nama untuk
registrasi, sesudah itu langsung dibawa ke ruang tindakan. sesudah
ditangani, si pasien disarankan untuk dirawat. Si pasien miskin itu setuju.
Beberapa hari kemudian, pasien miskin itu keluar dari rumah sakit dan
disuruh ke kasir rumah sakit. Di sini penonton agak tegang dan khawatir
pada “nasib” si pasien…. Oleh kasir si pasien ditanya, apakah dia pulang
dijemput atau tidak. Si pasien menjawab, “Tidak”, sedang lokasi rumahnya
berada jauh dari rumah sakit di mana dia dirawat. Tiba-tiba si kasir
memberinya uang untuk naik taksi si pasien! Sungguh, sebuah surprise
bagi penonton.
Sebenarnya Islam tidak melarang dokter memungut biaya dari
pasien, sebab memang itu sudah menjadi haknya. “Membayar” dokter
yaitu bentuk apresiasi pasien akan jerih payah dan upaya dokter.
Rasulullah Saw sendiri pernah membayar “jasa” Abdullah Ibnu Abbas
ra. yang telah membekam beliau. Hanya saja Islam mengatur hal
tersebut sedemikian rupa agar tidak melampaui batas-batas kewajaran,
proporsional, dan profesional.
Di sisi lain, dengan ditunjang oleh kemajuan teknologi, kecanggihan
alat-alat medis dan sebagainya, dokter mulai dihinggapi perasaan
jumawa. Merasa diri sebagai manusia super, yang bisa menyembuhkan
berbagai macam penyakit. Seolah-olah kesembuhan seorang pasien
ada di tangannya. Perasaan ini pada gilirannya bermuara pada
kesimpulan yang sangat berbahaya, bahwa yang menghidupkan dan
mematikan pasien sebenarnya yaitu dokter!
Sedang dari sisi pasien juga ada yang salah kaprah, yang tidak
kalah berbahayanya. Seseorang yang sering berobat kepada Dokter A
dan ternyata selalu sembuh, maka timbul keyakinan kalau Dokter A-lah
yang menyembuhkan sakitnya. Lebih lanjut dia berpikir “Kalau saya
sakit dan belum berobat ke Dokter A, pasti sakit saya tidak akan sembuh,
meskipun saya sudah berobat ke dokter lain.”
Kata “pasti” dan “tidak akan sembuh” menjadi sugesti bagi jiwanya,
dan menjadi afirmasi yang terhujam dalam benaknya. Maka itulah yang
akan dia rasakan. Dia memang tidak akan sembuh, tapi bukan sebab
belum berobat kepada Dokter A, melainkan sebab tidak ada kesiapan
sembuh dalam dirinya. Lebih jauh lagi dia menafikan bisa sembuh dari
sakit…. Pasien yang lain mengatakan terus terang, “Aduuuh… Dokter,
sakit saya langsung sembuh deh setiap kali ketemu Dokter. Padahal
belum diapa-apain lho…”. “Dok…, kayaknya baru niat mau ketemu
Dokter, saya sudah merasa sehat!”
Keyakinan pasien yang begitu besar pada dokter bisa sangat
berbahaya. Bukan hanya bagi si pasien, tapi juga bagi si dokter. Diam-
diam, perlahan tapi pasti, pasien telah memasukkan bibit-bibit penyakit
ke dalam hati dokter. Lama-lama dokter merasa, memang dia hebat.
Lalu dari merasa hebat, naik lagi ke tingkat yang lebih berbahaya, dia
jadi sombong. Apalagi dengan pengetahuan dan pengalamannya,
ditunjang dengan teknologi canggih, dokter bisa “menentukan” berapa
lama lagi si pasien akan hidup. Dokter biasa sekali mengatakan, “Hm…
umurnya hanya tinggal 3 bulan lagi!”
Vonis dokter terasa lebih menyakitkan bagi keluarga pasien
daripada vonis seorang hakim terhadap pesakitan yang dihukum seumur
hidup. sebab orang yang divonis penjara seumur hidup kemungkinan
besar masih bisa ditemui keluarganya. Tapi orang yang divonis mati….
Kalau ternyata dia benar-benar mati, selesai sudah hubungan dengan
keluarganya.
Dan dari sisi pasien, juga tidak kurang bahayanya. Keyakinan dan
kepercayaan yang berlebihan seorang pasien kepada dokter, bisa
berubah menjadi penyakit bagi dirinya sendiri. Bukan menjadi sugesti.
Pasien yang biasa ditangani Dokter Fulan, saat tidak bertemu dengan
Dokter Fulan bisa saja kondisi fisiknya langsung menurun drastis.
Keadaan itu bukan sebab penyakitnya yang makin parah, tapi bisa
sebab kondisi psikisnya yang tidak bisa menerima ketiadaan Dokter
Fulan. Harapannya bertemu Dokter Fulan pupus sudah, dan tiba-tiba
dia merasa tidak akan sembuh. Maka kondisinya semakin drop.
Dalam keadaan seperti itu, baik dokter maupun pasien, sengaja
atau tidak sengaja telah menafikan atau menghilangkan “peran” Tuhan
dalam proses penyembuhan. Padahal Allah mengajarkan umat manusia
melalui lisan Khalilullah, Nabi Ibrahim as.: “Dan Tuhanku, yang memberi
makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia (Allah) yang
menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku kemudian
menghidupkan aku (kembali).” (QS. Asy-Syu’araa {26}: 80).
Bahwa yang menyembuhkan penyakit yaitu Allah Azza wa Jalla.
Dokter, tabib, dukun atau obat hanyalah upaya saja. Bagian dari ikhtiar,
bukan penyembuh. Menyandarkan kesembuhan kepada dokter atau obat
bisa masuk ke wilayah syirik, yakni meyakini ada kekuatan lain selain
Kekuatan Allah. Dan Allah masih bisa mentoleransi dosa-dosa manusia
walaupun memenuhi langit dan bumi, kecuali dosa sebab syirik, tidak
ada ampun bagi pelakunya! “Allah tidak mengampuni siapa yang
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, dan dapat mengampuni (dosa)
selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisaa’ {4}: 48).
Oleh sebab itu perlu diluruskan kembali pemahaman tentang
berobat bagi orang yang sakit, juga bagi orang yang membantu
penyembuhan seper ti dokter, tabib dan sebagainya. Bahwa berobat
wajib hukumnya, sebagai upaya manusiawi sepanjang tidak bertentangan
dengan syariat agama. Sedang bagi dokter atau tabib menolong orang
yang sakit atau pasien juga wajib hukumnya, sebagai bentuk tanggung
jawab profesi, tanpa membedakan agama, suku, warna kulit atau status
sosial. Tapi yang menyembuhkan penyakit pada hakekatnya bukan
dokter atau tabib, melainkan Allah azza wa Jalla, Tuhan Semesta Alam.
Kisah Hikmah
Suatu saat Nabi Musa as. sakit gigi, yang membuat beliau tidak nyaman
melakukan aktivitas. Makan tidak enak, tidurpun tidak nyenyak, sebab
harus menahan sakit yang luar biasa. Sudah berbagai upaya dilakukan
untuk menyembuhkan gigi yang sakit itu, tapi hasilnya nihil.
Pada saat Nabi Musa as. sedang galau, Allah mengilhamkan pada
beliau agar mengambil rumput dan meneteskan air yang ada di ujung
dekat akar ke giginya yang sakit. Tanpa membuang waktu, Nabi Musa
as. langsung mencari rumput. sesudah mendapatkan apa yang dia cari,
segera beliau meneteskan air yang ada di ujung dekat akar ke giginya.
Maka atas ijin Allah, sesaat sembuhlah sakit gigi Nabi Musa as.
Pada kali lain, seorang pengikut Nabi Musa as. sakit gigi dan
mengadu kepada beliau. Maka dengan enteng, beliau berkata: “Oh…
gampang…. Ambil saja rumput, dan kau teteskan air yang ada di ujung
akar. Pasti sakit gigimu langsung sembuh!” sebab kata-kata Nabi Musa
as. sangat meyakinkan, pengikutnya itu segera mencari rumput. Tapi
sesudah melakukan apa yang disarankan Nabi Musa as., sakit giginya
tidak kunjung sembuh. Maka orang itu mendatangi Nabi Musa as. kembali
dan mengajukan complain. “Ah, masak sih? Belum lama sakit gigiku
sembuh dengan cara itu….”
Saat itulah Allah Azza wa Jalla mengilhamkan kepada Nabi Musa
as., “Hai Musa! Bukan air dari rumput itu yang menyembuhkan sakit
gigimu, tapi Aku!” Nabi Musa as. tersungkur dan memohon ampun
kepada Allah.
Dalam riwayat lain disebutkan Nabi Musa as. kembali sakit gigi.
Wallahu a’lam
Masa Primitif
Allah melebihkan manusia atas makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dalam
tubuh manusia dibenamkan satu elemen yang berbeda dalam hal fungsi.
Dengan otak dan kemampuan berpikirnya manusia bisa membuat
kesimpulan-kesimpulan terhadap kejadian-kejadian yang dialaminya.
Kemampuan berpikir juga yang mendorong manusia melakukan
pengamatan, penelitian, penyelidikan, dan percobaan.
Dahulu kala, sebuah komunitas manusia selalu memiliki “orang
pintar”, yakni orang-orang yang memiliki ketajaman intuisi sehingga
dianggap sakti. Mereka inilah yang biasanya dimintai tolong saat ada
anggota komunitasnya yang sakit atau terserang suatu penyakit. Mereka
beranggapan, orang sakit sebab perbuatan roh jahat atau gangguan
makhluk halus yang merasa terusik kenyamanannya. Oleh sebab itu,
cara penyembuhan yang mereka lakukan yaitu dengan menggelar
sebuah upacara ritual. Upacara ritual itu dipimpin oleh “orang pintar”
yang juga bertindak sebagai “dokter”. Dalam upacara itulah roh jahat
yang bersemayam di dalam tubuh orang yang sakit diusir memakai
mantra-mantra khusus dengan gerakan-gerakan yang khas, dan
biasanya diiringi tetabuhan atau hanya dengan teriak-teriakan aneh
yang ritmis dan magis.
Pengobatan
yaitu bagian
upacara
mengusir roh
halus yang
jahat
Kemampuan mengusir roh jahat, yang juga berar ti kemampuan
menyembuhkan penyakit, biasanya dipegang oleh satu keluarga dan
diwariskan secara turun-temurun. Orang-orang atau keluarga yang
memiliki kemampuan ini sangat dihormati di l ingkungan
komunitasnya. sebab merekalah yang menjadi penghubung antara
dunia yang tampak dengan alam lain. Hanya mereka yang dapat
berkomunikasi dengan “makhluk dari alam sana”.
Lantas bagaimana praktik pengobatan primitif dengan perantaraan
orang yang dianggap sakti itu bisa diterima oleh nalar modern?
Barangkali kita per lu menengok kembali pada teori dasar ilmu
kedokteran modern, bahwa psikoterapi merupakan 60 % modal
kesembuhan bagi si pasien. Apalagi jika orang yang memberi motivasi
itu dipercaya memiliki kemampuan yang luar biasa. Islam tidak
membenarkan, bahkan menentang praktik-praktik semacam itu. Islam
mendasarkan segala sesuatu tidak pada hal yang bersifat tahayul, tapi
pada usaha nyata, upaya-upaya yang masuk akal, selanjutnya hasilnya
dipasrahkan pada Allah melalui doa. Insya Allah di belakang akan saya
paparkan sedikit tentang kekuatan doa yang lebih dahsyat dari sugesti.
Seper ti dicontohkan Nabi Saw di atas, saat sakit beliau juga
berobat. Padahal Nabi Saw terbiasa berbincang dengan para malaikat,
dan satu-satunya manusia yang pernah berhadapan secara langsung
dan berdialog dengan Allah dalam peristiwa isra-mi’raj. Segala
permintaan Nabi Saw pasti dikabulkan Allah, tapi beliau tidak mau
menjalani pengobatan dengan cara sim-salabim, walaupun beliau juga
mencontohkan alternatif pengobatan dengan doa.
Begitu pula pada kisah penderitaan Nabi Ayub as. Allah tidak
menyembuhkan Ayub as. dengan cara yang ajaib, lalu penyakit beliau
rontok semua. Tapi Allah tetap menyuruh beliau berikhtiar dengan
memakai air yang ditunjukkan-Nya. Lalu Nabi Ayub as.
melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Tentu saja hasilnya bisa
diduga, semua penyakit kulit Nabi Ayub as. hilang. Kulitnya menjadi
bersih, bahkan lebih bersih dari sebelumnya.
Praktik pengobatan dengan cara primitif yaitu wujud kemunduran
peradaban manusia, sebab manusia tidak diciptakan primitif, tapi cerdas
dan berakal. Tapi kadang-kadang sangat mengherankan, di era yang
sangat modern ini praktik-praktik pengobatan ala primitif dihidup-
hidupkan kembali oleh sebagian orang. Barangkali ini salah satu bentuk
penyakit juga yang harus diberantas.
Sejarah Singkat Kedokteran Barat
Yunani yaitu wilayah yang diyakini sebagai tempat per tama
berkembangnya ilmu kedokteran Barat di samping juga ilmu-ilmu lain,
utamanya filsafat dan logika. Sederet ilmuwan dan filosof telah dicatat
namanya dalam sejarah pemikir dunia. Sebut saja Anaximenes,
Anaximander, Anaxagoras, Pythagoras, Socrates, Aristoteles, Plato,
Aristophanes, Ptolomeus, dan sebagainya. Mereka yaitu pemikir-
pemikir besar yang buah pikiran mereka jauh melampaui jamannya.
Di ranah yang lebih khusus, yaitu ilmu kedokteran, para pemikir
Yunani menghasilkan literatur kedokteran berbahasa Latin yang
kemudian menjadi inspirasi dan rujukan bagi dokter-dokter Muslim dalam
melakukan penelitian dan pengamatan terhadap penyakit dan gejalanya.
Hasil olah pikir para intelektual Yunani memang sangat luar biasa. Pikiran
mereka melampaui jamannya, lebih maju sekian abad dari orang awam.
Misalnya karya-karya Hippocrates, dokter Yunani yang sangat disegani
sebab kemampuannya menangani pasien.
Sejarah singkat Kedokteran Yunani
Seni pengobatan di Yunani kuno berhubungan erat dengan
penyembahan terhadap Dewa Apollo. Menurut legenda, Apollo
mengajarkan ilmu pengobatan kepada Chiron, dan sesudah lulus dia
mengamalkan ilmunya dengan mengajari Aesculapius, manusia biasa
--yang hidup sekitar tahun 1200 SM. Dia dipuja dan disembah sebagai
dewa di biara pengobatan itu. Berdasarkan prasasti di biara yang ada,
tercatat cara mengobati berbagai macam penyakit, penanganan macam-
macam penyakit, cara melakukan diet, istirahat, pelatihan ruhani, sihir,
dan sebagainya.
Salah seorang maestro dunia pengobatan, dan dianggap sebagai
“Bapak Kedokteran” yaitu Hippocrates. Pada dasarnya, prinsip-prinsip
pengobatan Hippocrates ditekankan pada kecintaan pada kemanusiaan
bukan pada keuntungan pribadi atau memperkaya diri, penyakit bisa
dipelajari lewat pengalaman dan observasi yang terus-menerus, setiap
kasus harus dicatat hati-hati untuk kepentingan kearsipan, penyakit
timbul sebab pengaruh lingkungan, perubahan cuaca, pekerjaan, juga
diet yang tidak benar, menyarankan diet dengan hati-hati, dan
mengoperasi bila diperlukan atau dalam keadaan terpaksa.
Hippocrates (460-377 SM) yang dianggap sebagai “Bapak
Kedokteran” berasal dari Yunani.
Salah satu pemikir ulung Yunani yaitu Aristoteles, murid Plato
dan Guru Aleksander Yang Agung. Aristoteles menulis tentang banyak
hal, yang paling terkenal yaitu filsafat. Tulisannya mengulas juga
masalah kesehatan. Pada abad ke-4 SM, dia sudah melakukan klasifikasi
terhadap beberapa spesies, mempelajari serangga dan prilaku hewan
dengan sangat baik, juga meletakkan dasar-dasar ilmu tentang embrio.
Kontribusi Aristoteles yaitu dia meletakkan keyakinan bahwa metode
ilmiah –yang terdiri atas kehati-hatian, pengamatan yang cermat,
penelitian yang akurat, percobaan yang terukur, studi kasus dan dampak
kasus— bisa menghasilkan ilmu pengetahuan yang lebih canggih dan
luar biasa.
Sejarah singkat Kedokteran Romawi
Romawi yaitu salah satu pusat peradaban dunia. Bersama-sama
Persia, China, India, Mesir dan Yunani, Romawi menjadi tujuan menuntut
ilmu. Pemerintah Romawi kuno sudah sangat memperhatikan masalah
kesehatan masyarakat dan soal kebersihan. Misalnya mereka memiliki
tempat pembuangan sampah, parit-parit, sistem pengairan yang tertata
melampaui yang ada di manapun. Sistem ini diteruskan di dunia Barat
sampai menjelang abad 19. Para mahasiswa kedokteran kuliah dengan
biaya masyarakat. Dan para dokter diwajibkan menolong orang-orang
yang tidak mampu.
Kontribusi terpenting dalam dunia pengobatan di masa Kekaisaran
Romawi yaitu apa yang dilakukan Aulus Cornelius Celsus dan Galen.
Celsus menulis eksilopedi De Re Medica yang terdiri dari 8 jilid. Sangat
sedikit yang mengetahui buku Celsus pada jamannya, sampai ditemukan
kembali pada abad 15, dan itu berdampak besar bagi perkembangan
ilmu pengetahuan. Enam dari delapan bukunya, Celsus membahas
berbagai macam penyakit, terapi dengan cara diet, obat-obatan dan
penyalahgunaannya. Pada dua bukunya yang terakhir, dia membahas
masalah pembedahan, termasuk operasi gondok, hernia, kencing batu,
dan sebagainya. Juga dia menjelaskan tentang penanganan patah tulang
dan penggunaan gips.
Galen (131-200 M) menulis kurang lebih 500 buku, yang 80 di
antaranya masih bisa diselamatkan dari kepunahan. Dia mengujicobakan
tindakan medis pada manusia berdasarkan anatomi hewan. Walaupun
sering gagal, tapi dia berhasil menetapkan dasar-dasar i lmu
pengetahuan tentang anatomi tubuh manusia untuk para calon dokter.
Dia sangat piawai dalam beberapa hal, misalnya dia bisa menjelaskan
struktur otak walaupun dengan mata telanjang.
Masa Renaisans
Abad Per tengahan disebut sebagai Abad Kebangkitan, Renaissance,
dimulai mulai abad 14 sampai akhir abad 16 M. Renaissance yaitu
kelahiran kembali atau kebangkitan kembali para pemikir Eropa. Saat
itu para ilmuwan Eropa, dimulai dari Italia dan Prancis, mulai memikirkan
bagaimana mengejar ketinggalan dari rekan-rekan mereka, para
ilmuwan Muslim. Mereka bangkit. Mereka menimba ilmu di berbagai
bidang di universitas-universitas yang dikelola oleh kaum Muslimin dan
melepaskan diri dari dominasi gereja. Mereka menggerakkan revolusi
pemikiran yang luar biasa di semua cabang ilmu, terutama sains dan
kesenian, ke arah yang lebih terbuka dan sekuler. Mereka menginginkan
kebebasan berpikir, berekspresi, dan mengeksplorasi kemampuan.
Maka lahirlah para pemikir dan seniman, juga filosof yang kemudian
mencatatkan namanya dalam sejarah peradaban dunia. Seniman besar
Leonardo da Vinci dan Michelangelo yaitu seniman dari masa ini.
Salah satu bintang cemerlang dunia kedokteran masa Renaisans
yaitu Andreas Vesalius, lahir di Brussels. Dia seorang Profesor anatomi
di Padua, penulis De Humani Corporis Fabrica (On the Fabric of the
Human Body, 1543). Buku ini merupakan buku teks anatomi pertama
yang paling akurat dan berisi tentang ilustrasi yang memperbaiki
kesalahan teknik pengobatan Galen. Vesalius boleh dibilang duduk
setingkat di bawah Hippocrates, Galen, Ibnu Sina, dan Ar-Razi.
Andreas Vesalius mengoreksi susunan anatomi Galen
Di samping itu ada juga seorang dokter hebat, Ambroise Pare (1510
– 1590 M), ahli pengobatan dari Perancis yang mengem-bangkan ilmu
pembedahan. Dia merawat pasiennya dengan sangat baik, dengan
memakai ligatur (benang penjahit luka) untuk menghentikan
pendarahan dalam pembuluh darah, daripada memakai minyak
panas atau alat-alat steril yang telah dipanaskan terlebih dahulu.
Seorang ahli pengobatan dari Swiss, Aureolus Paracelsus, menolak cara
pemikiran sekolah kedokteran tradisional. Dia lebih cenderung
memakai alat-alat kimia seper ti laudanum (penggunaan opium)
dalam mengobati penyakit.
Sejarah singkat Kedokteran Timur
Membincangkan kedokteran atau ilmu pengobatan Timur kita tidak bisa
melupakan negeri Mesir, Timur Tengah, India, dan China. Keempat negeri
ini dikenal sebagai negeri para tabib. Istimewa bagi China, ilmu
kedokteran China masih ber lanjut sampai sekarang, yaitu berupa
pengobatan akupunktur, totok syaraf, herbal, dan lain sebagainya. Bahkan
para dokter Barat juga ikut mempelajari akupunktur dan metode
pengobatan China kuno lainnya untuk menunjang praktik kedokteran
modern.
Kesadaran manusia akan pentingnya kesehatan memang sudah
ter tanam sejak dahulu kala. Setidaknya dalam sebuah komunitas
manusia selalu ada saja orang yang mengerti dan bisa menyembuhkan
penyakit, walaupun dengan cara-cara yang sangat sederhana. Dan lazim
terjadi di hampir seluruh penjuru dunia, penyakit selalu dihubungkan
dengan kekuatan roh halus atau kekuatan jahat yang mengganggu
manusia.
Mesir
Sejarah kedokteran Mesir dinilai yang paling tua di dunia. Ini dibuktikan
dengan ditemukannya Ebers Papyrus yang diyakini ditulis sekitar 1600
tahun sebelum Masehi. Dan Smith Papyrus kemungkinan merupakan
salinan dari teks tentang pengobatan yang lebih tua lagi, sekitar 2500
tahun sebelum Masehi. Ebers Papyrus yaitu gabungan dari beberapa
sumber tulisan yang berisi mantra-mantra untuk mengobati penyakit-
penyakit tertentu. Mantra-mantra ini di samping untuk mengusir roh
jahat yang bersemayam dalam tubuh orang yang sakit, juga untuk
mengundang atau memohon pertolongan dewa-dewa. Sedangkan Smith
Papyrus berisi tentang tata cara pembedahan yang sampai saat ini
masih digunakan dalam penanganan pasien, misalnya pemakaian
kompres untuk menghentikan pendarahan dan membalut organ-organ
luka lainnya.
Timur Tengah
Di Timur Tengah, ilmu pengobatan dan kedokteran berkembang pesat
di Babylonia. Pada 2000 tahun sebelum Masehi, suku Amorit berhasil
menyatukan puak-puak dan suku-suku di sekitar lembah dekat sungai
Tigris dan Euphrat. saat Hammurabi (1792-1750 SM) berkuasa,
dibangunlah pusat-pusat ilmu pengetahuan, laboratorium, pengadilan,
kantor lembaga-lembaga pemerintah, juga rumah sakit. Raja
Hammurabi membuat undang-undang (Code of Hammurabi) yang
mengatur banyak hal dari aspek kehidupan. Dalam undang-undang yang
berisi 282 pasal itu, diatur tentang hak milik pribadi, perumahan dan
tata kota, perdagangan dan bisnis, gelar-gelar keluarga, perselisihan,
dan sebagainya. Termasuk juga tentang kesehatan. Dalam hal kesehatan,
dibicarakan tentang tata cara merawat dan menangani pasien, sistem
pengupahan bagi tenaga medis, bahkan juga sanksi hukum bila terjadi
malpraktik.
Raja Hammurabi dikenal sebagai pencinta ilmu, administrator yang
baik, pemimpin yang berhasil, dan panglima perang yang handal. Pada
masa kekuasaannya hukum benar-benar ditegakkan. Undang-undang
yang dibuatnya dianggap sebagai penjelmaan hukum dewa-dewa dan
ketentuan negara yang tak boleh dilanggar oleh semua rakyatnya.
India
Charaka, dokter Hindu terbesar yang dikenal sejarah, memulai praktik
penyembuhan pada tahun 1000 sebelum Masehi. Dia mengabdikan diri
untuk melayani masyarakat dan namanya dikenal luas di seantero India.
Kurang lebih 900 sebelum Masehi, kitab suci Ayur Veda ditulis. Dalam
kitab ini berisi paparan tentang penyakit, obat-obatan yang berasal
dari tumbuh-tumbuhan dan juga hal-hal yang berkenaan dengan alam
ghaib, magic. Saat itu India sudah membuka hubungan dengan Persia,
Yunani, dan China. Tiga negeri yang dianggap sebagai pengusung
peradaban adiluhung masa itu. Mungkin saja para dokter India membaca
atau mengenal karya dokter-dokter dari negara tetangganya itu. Pada
abad kelima sesudah Masehi, Susrata, juga seorang dokter India, mencatat
adanya hubungan antara penyakit malaria dengan nyamuk, dan penyakit
pes dengan tikus. Dia juga mengetahui dan mencatat 700 jenis tumbuhan
obat. Bukan itu saja, dia juga memperkenalkan lebih dari 100 alat-alat
medis untuk operasi dan pembedahan. Dia berhasil menangani orang
yang patah tulang, mengangkat tumor dan batu ginjal lewat operasi
dan menolong persalinan dengan operasi cesar.
Ch ina
Selain Mesir dan India, negeri timur yang juga pusat peradaban yaitu
China. Para penguasa China selalu memperhatikan masalah kesehatan.
Saat itu dikenal buku Nei Jing (Book of Medicine of the Yellow Emperor,
Kitab Pengobatan Dinasti Kuning) yang ditulis kira-kira pada abad ketiga
sebelum Masehi. Dalam buku itu dilukiskan anatomi tubuh manusia
lengkap dengan sirkulasi peredaran darah, walaupun masih sangat
sederhana. Dokter China, Hua Tuo, dianggap sebagai pioneer dalam
penggunaan anestesi pada pasien sebelum melakukan pembedahan,
pada 300 SM. Dokter Zhao Xi Men memakai gelas yang terbuat
dari tembikar dan bambu untuk meringankan sakit kepala dan sakit
perut dengan cara membekam.
Simbol yin dan yang,
sebuah prinsip hidup yang didasarkan pada keseimbangan
Kebanyakan pengobatan para dokter China saat itu didasarkan
pada prinsip nenek moyang yang sarat nilai-nilai filosofis, yin dan yang.
Yaitu sebuah prinsip hidup yang menekankan pada azas keseimbangan,
harmoni yang timbul –justru— dari sesuatu yang saling berlawanan;
laki-perempuan, panas-dingin, gerak-diam, dan seterusnya.
Para dokter China memainkan peranan penting dalam
mengembalikan keseimbangan pada tubuh pasien dengan memakai
prinsip yin dan yang. Mereka juga mengembangkan sistem pemijatan,
menciptakan teknik-teknik akupunktur, dan melakukan imunisasi kepada
masyarakat luas agar tidak terserang penyakit cacar.
Puncak kejayaan ilmu pengobatan China –dan ilmu pengetahuan
lainnya— terjadi pada masa Dinasti Qian Long (1711-1799 M), yang
merupakan generasi keempat dari Manchu atau Dinasti Qing. Pada masa
inilah didokumentasikan tata cara pengobatan dan obat-obatan menjadi
semacam ensiklopedi sebanyak 40 buku, di samping buku tentang ilmu
pemerintahan dan sebagainya.
SEJARAH KEDOKTERAN ARAB & ISLAM
Pengantar
Banyak ayat Al-Qur’an yang redaksinya menohok hati nurani manusia.
Ayat-ayat yang mengajak manusia memaksimalkan potensi akalnya
dalam berpikir. Allah Azza wa Jalla acap kali berfirman: “Apakah kamu
tidak berpikir?” “… pada yang demikian itu ada tanda-tanda
bagi orang-orang yang berpikir.” “… hanya orang-orang yang berakal
yang dapat mengambil pelajaran.”
Dan masih banyak ayat sejenis yang intinya Allah Azza wa Jalla
memerintahkan manusia agar mempergunakan kemampuan berpikirnya
secara maksimal, konon mencapai jumlah ratusan ayat dalam berbagai
variannya. Inilah yang memotivasi kaum Muslimin –dan juga bangsa
Arab umumnya untuk mengoptimalkan potensi otaknya. Mereka
ber lomba-lomba mengadakan riset dan penyelidikan untuk
pengembangan ilmu pengetahuan. Mereka, para ilmuwan Muslim dan
Arab, juga tidak sungkan-sungkan mengambil ilmu dari peradaban
bangsa lain, yakni bangsa Yunani dan India. Mereka menerjemahkan
buku-buku kedokteran, filsafat, dan sastra ke dalam bahasa Arab. Dan
bukan sekedar mener jemahkan, tapi juga menyempurnakan pikiran
maupun teori para ilmuwan Yunani. Tapi sejauh itu, mereka tetap
mengakui dengan lapang dada bahwa sumber ilmu mereka yaitu buku-
buku para ilmuwan Yunani dan India. Mereka tidak pernah melupakan
sumber aslinya. Berbeda dengan para ilmuwan Barat. sesudah mereka
menyerap dan mengambil karya-karya ilmuwan Muslim, mereka serta-
merta mengklaim sebagai karya sendiri. Hanya ada beberapa ilmuwan
yang jujur dan mau mengakui sumber pengetahuan mereka yang
sebenarnya.
Perlahan tapi pasti, kaum Muslimin menjadi satu kekuatan yang
sangat disegani pada awal-awal kemunculannya. Bukan saja sebab
kekuasaan mereka yang sangat besar, tapi sebab ilmuwan mereka
yaitu mercusuar bagi sebuah peradaban adiluhung. saat bangsa-
bangsa lain di semua benua sedang dalam masa-masa kegelapan, para
ilmuwan Muslim menjadi suluh dan pelita yang menerangi langit dunia
ilmu pengetahuan. Mereka mengukir sejarah peradaban manusia dengan
tinta emas. Dan hebatnya, mereka bisa mencapai puncak-puncak ilmu
pengetahuan dengan dorongan kitab suci mereka; Al-Qur’an Al-Karim.
Bayangkanlah! Seorang Nabi, Muhammad Saw, yang tidak mampu
menulis dan membaca “dibebani” sebuah kitab suci yang sangat
revolusioner pada abad ketujuh Masehi, yakni Al-Qur’an. Dikatakan
revolusioner sebab ayat yang pertama kali turun yaitu perintah untuk
“membaca”, sedang yang menerima perintah itu tidak bisa tulis-baca!
Subhanallah…. Dengan membaca, maka terbukalah cakrawala dan
dunia. Dengan membaca berkembanglah pemikiran. Dengan
berkembangnya pemikiran, maka ilmu dan pengetahuan semakin maju.
Kemajuan ilmu dan pengetahuan inilah yang membentuk peradaban.
Dan itu dibuktikan oleh kaum Muslimin. Mereka muncul dari wilayah
yang sama sekali tidak pernah diperhitungkan oleh manusia yang
berpikir saat itu, baik di Yunani, Romawi, Persia, China, Mesir dan India,
yang memang saat itu sedang surut pamornya. Wilayah itu yaitu gurun
gersang, di Semenanjung Arabia.
Kalau kita mau mengakui dengan jujur, kita akan kesulitan mencari
kitab suci suatu agama yang mendorong para pemeluknya untuk
mengejar dan menuntut ilmu, mengadakan riset dan observasi. Tidak
dihalangi sama sekali para pemeluk Islam untuk menjadi “pintar” dengan
mengembangkan ilmu. sebab banyak sekali teks-teks kitab suci maupun
hadits Nabi Muhammad Saw yang menganjurkan umat Islam untuk
menuntut ilmu.
Misalnya dalam Al-Qur’an ada ayat yang sangat “menantang”:
“Hai komunitas jin dan manusia! Jika kalian sanggup menembus
(melintasi) telatah langit dan bumi, maka lintasilah! Kalian tidak dapat
menembusnya melainkan dengan kekuatan (sulthan)….” (Ar-Rahmaan
{55}: 33).
Kata “sulthan”, yang diterjemahkan sebagai “kekuatan”, oleh para
ulama tafsir modern diartikan sebagai “ilmu pengetahuan”. Keterangan
agama menyatakan: “Barangsiapa menghendaki dunia, maka harus
dengan (memakai ) ilmu. Barangsiapa menghendaki akhirat, maka
harus dengan (memakai ) ilmu. Dan barangsiapa menghendaki
keduanya (dunia-akhirat), maka harus dengan (memakai ) ilmu.”
Ilmu yaitu pelita dunia, dan cahaya di akhirat. Dengan ilmu manusia
bisa mewujudkan impian, khayalan atau rencana-rencananya. Segala
sesuatu yang dahulu tidak mungkin dilakukan, sekarang bisa terjadi.
Ambil contoh teknologi komunikasi. Mungkin pada abad per tengahan
orang tidak bisa membayangkan bahwa sebuah pembicaraan bisa terjadi
antara seseorang yang berada di Pulau Jawa dengan seseorang yang
ada di jazirah Arab, misalnya. Tapi sekarang, dengan pesawat telepon
(bahkan dengan sistem nirkabel), jarak tidak menjadi masalah lagi untuk
berkomunikasi oral.
Allah menyatakan bahwa manusia tidak bisa menjelajah cakrawala,
kecuali dengan kekuatan (sulthan). Frasa “tidak bisa” yang mendapatkan
pengecualian berarti menjadi mungkin terjadi atau pasti --bisa-- terjadi.
Dan ternyata sekarang terbukti, manusia bisa menjelajah angkasa luar
dengan memakai pesawat berteknologi canggih, seperti Sputnik I,
pesawat ruang angkasa per tama buatan Uni Sovyet (Rusia) yang
mengangkasa tahun 1957. Amerika Serikat pada tahun 1981
meluncurkan pesawat ulang-alik Space Shuttle, sesudah meluncurkan
Apollo pada 1968 dan 1969.
Kata “sulthan” itu pula yang menginspirasi para ilmuwan Muslim.
Tidak mengherankan kalau akhirnya mereka, pada masa lalu, tidak
hanya mumpuni dalam satu disiplin ilmu saja, tapi berbagai macam
ilmu. Dan yang sangat mencengangkan, belum pernah ada satu
peradaban yang muncul dan berjaya di muka bumi yang penyebutannya
selalu menyer takan nama “agama” yang menjadi landasan pijaknya,
kecuali “Peradaban Islam”.
Peradaban Yunani, Romawi, Persia, China, Mesir dan India, kepada
agama apakah disangkutkan? Peradaban Barat, yang sekarang
“memimpin” dunia, meskipun sebagian besar dari mereka beragama
Nasrani, tapi tidak pernah kita dengar ada istilah “Peradaban Kristiani”.
Atau mereka menisbatkan peradaban Barat saat ini dengan agama
Nasrani. Sedang orang-orang Barat menyebut peradaban kaum
Muslimin sebagai “The Islamic Civilization”, bukan “The Arabic
Civilization”, walaupun kenyataannya para pelopor peradaban ini
sebagian besar yaitu orang-orang Arab, baik beragama Islam maupun
Nasrani. Dan sebagian yang lain beragama Islam tapi bukan berbangsa
Arab.
Sejarah memang mencatat, hanya Islam agama yang tidak pernah
berkonfrontasi dengan ilmu pengetahuan. Kitab suci Al-Qur’an bahkan
mendorong –kalau tidak boleh dikatakan “menantang”— umat Islam
dan seluruh manusia untuk meningkatkan kualitas diri lewat ilmu
pengetahuan. Al-Qur’an yaitu kitab suci yang sejak awal diturunkan
boleh dibaca oleh seluruh pemeluknya. Siapa pun mereka. Apakah para
ulama atau kaum dhuafa, para raja atau rakyat biasa, semua berhak
membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Boleh dibilang, ilmu pengetahuan
dalam Islam mendapat tempat yang tinggi dan sangat terhormat.
Sekiranya dahulu ada penghargaan terhadap ilmuwan seperti Hadiah
Nobel sekarang ini, niscaya ilmuwan Islam dan Arab akan menjadi
pemenangnya setiap tahun.
Seorang pemikir etik dan filosof Inggris, Bertrand Russel, berkata:
“Penggunaan istilah Abad Kegelapan antara tahun 699 sampai 1000
itu menunjukkan bahwa kita membatasi perhatian kita hanya pada Barat
atau Eropa. Padahal justru waktu itulah kebudayaan Islam yang
cemerlang sedang menerangi dunia, mulai dari India di Timur sampai
Spanyol di Barat. Apa yang hilang di negeri-negeri Kristen waktu itu
bukanlah hilangnya kebudayaan secara umum, bahkan keadaan sangat
kontras. Buat kita tampak, bahwa kebudayaan Eropa Barat itu memang
suatu kebudayaan, akan tetapi sebenarnya yaitu suatu pandangan
yang sempit.”
Cukuplah bagi kita untuk mengetahui bagaimana agung dan
cemerlangnya kebudayaan Islam lewat kata-kata Ber trand Russel di
atas. Tulisan ini tidak ingin memilukan hati pembaca dengan romantisme
masa lalu. Juga bukan ingin sekadar bernostalgia membesar-besarkan
hati bahwa kita dahulu “pernah jaya”. Tidak sama sekali! Tulisan ini
justru ingin memotivasi kaum Muslimin, bahwa kitalah sesungguhnya
pemilik peradaban dunia. Dan sekaranglah saatnya kita mengambilalih
tongkat estafeta peradaban yang kini dipegang oleh Barat.
Sungguh, peradaban manusia saat ini telah hampir mencapai “titik
jenuh”. Wajah peradaban manusia sekarang sangat mengerikan, sebab
tidak didasari oleh nilai-nilai spiritual yang ada dalam agama. sebab
Barat memang menyingkirkan agama sejauh-jauhnya dari ranah ilmu
pengetahuan dan teknologi. Sehingga tidak mengherankan kalau banyak
sekali penyimpangan dan kerusakan moral sebagai dampak langsung
dari tingginya peradaban. Ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai pilar
penopang tegaknya sebuah peradaban, seringkali digunakan untuk
kepentingan keji dan kotor oleh negara-negara maju.
Meg. Grenfield, seorang Jurnalis Amerika, menulis dalam Newsweek:
“Dua hal mestilah diungkapkan mengenai Islam ini. Per tama, yaitu
bahwa tidak ada bagian dari dunia ini yang lebih penting bagi kebaikan
kita sekarang ini, dan agaknya juga bagi kemungkinan dugaan di masa
datang, melebihi dunia Islam. Kedua, yaitu bahwa tidak ada bagian di
dunia ini yang dipahami secara sombong, secara sistematis, sekaligus
secara mengenaskan oleh kita, daripada dunia Islam”.(1
Kedokteran Arab & Islam
Ada garis tegas yang membuat kedokteran Arab dan Islam berbeda
secara diametral dengan kedokteran Barat dan Timur, baik
karakteristiknya maupun landasan operasionalnya. Landasan
operasionalnya yaitu firman suci Tuhan, Allah Azza wa Jalla, dalam Al-
Qur’an. Tentu saja dengan landasan operasional yang demikian agung,
membuat karakteristik kedokteran Islam menjadi sangat khas.
Karakteristik pertama yaitu niatnya ibadah sebab Allah. Niat yaitu
bagian paling sentral dalam perbuatan seseorang. Nabi Muhammad
Saw bersabda: “Sesungguhnya semua perbuatan manusia itu tergantung
pada niatnya.” Kalau niatnya baik, maka jalannya pasti baik, dan insya
Allah hasilnya juga baik.
Karakteristik kedua yaitu tolong-menolong. Allah memerintahkan
umat Islam saling menolong dalam rangka menebar kebajikan kepada
seluruh manusia dalam rangka - untuk - takwa kepada Allah.
“… dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan
janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan
permusuhan.” (QS. Al-Maaidah {5}: 2).
Sedangkan di ayat lain lebih tegas lagi, Allah berfirman:
“Barangsiapa yang menyelamatkan satu jiwa, maka dia seolah-olah
telah menyelamatkan seluruh manusia di planet bumi.” Tidak peduli
siapa dia, bagaimana status sosialnya, apa agama atau sukunya dan
sebagainya. Menolong jiwa atau nyawa manusia harus tidak boleh
dibatasi oleh sekat-sekat primordial seperti itu.
Karakteristik ketiga yaitu goal-nya atau tujuan akhirnya yang
bersifat immaterial dan transenden, yakni mengharap ridha Allah Azza
(1. Dikutip dari Pengantar Prof. Huston Smith untuk Ensiklopedi Islam Ringkas, Cyril Glasse,
terjemahan Ghufron A. Mas’adi. Pen. PT. RajaGrafindo Persada, Jakar ta, Cet. Kedua,
Januari 1999)
wa Jalla. Memang agak naïf juga –apalagi di jaman kita sekarang ini—
kalau ada orang yang masih mengharapkan tujuan akhir dari usaha
dan kerja kerasnya sesuatu yang tidak konkret. “Ridha” Allah yaitu
tujuan yang abstrak dan tidak jelas. Tapi demikianlah umat Islam. Mereka
sejak awal memang diperintahkan untuk mengimani sesuatu yang
“ghaib”, sesuatu yang tidak terindera.
Kemudian karakteristik keempat yaitu sangat rasional. Ar tinya
semua yang dilakukan oleh para dokter Islam yaitu hasil belajar dan
bisa dipelajari juga oleh orang lain. Bukan hasil kontemplasi, menyendiri
di dalam kamar, berdoa dan memohon kepada Allah agar dijadikan
dokter. Ini artinya, kedokteran Islam tidak berkaitan dengan dunia mistik.
Oleh sebab itu, para tokoh kedokteran Islam tidak pernah
menghubungkan penyakit dengan “roh-roh halus”, “kutukan” atau apa
saja yang di luar akal sehat.
Sedangkan karakteristik kelima dari dokter-dokter Islam yaitu
adanya sikap pasrah kepada Allah, sesudah usaha mereka yang maksimal.
Bahwa manusia hanya diwajibkan berusaha, sedangkan hasilnya biarlah
Allah yang menentukan, sebab Dia Yang Maha Mengetahui kemaslahatan
bagi hamba-hamba-Nya. Bisa jadi manusia menganggap sesuatu itu
baik - sebab secara kasat mata memang baik - tapi belum tentu menurut
Allah hal itu baik bagi manusia. Demikian juga sebaliknya. Sesuatu yang
Allah pandang baik, boleh jadi tidak baik dalam penglihatan dan perasaan
manusia. Tapi apa saja yang Allah pilihkan untuk manusia, maka itulah
yang sesungguhnya paling baik bagi manusia. Itulah sikap tawadhu’
para dokter Islam.
Memang belum ada catatan sejarah yang secara tegas menunjuk
dengan pasti siapa pelopor per tama kedokteran Islam, sebab
banyaknya ilmuwan yang muncul hampir bersamaan dan semuanya
memiliki nama besar. Di samping itu, Nabi Muhammad Saw sendiri
juga memakai jasa “dokter” untuk menjaga kesehatan atau
mengobati penyakit beliau dan para Sahabatnya. Tentu saja istilah yang
digunakan saat itu yaitu “tabib”, untuk menunjuk pada profesi dokter.
Tokoh-Tokoh Kedokteran Arab & Islam
Ser ta Kemajuan yang Dicapai
Khazanah kedokteran Islam dan Arab memiliki nama-nama kondang
yang mumpuni laksana bintang-bintang yang menghiasi langit malam.
Mereka bersinar cemerlang dan melesat jauh membuat terobosan-
terobosan di dunia medis lewat eksperimen dan penelitan laboratorium.
Hasil temuan mereka yaitu pondasi bagi ilmu kedokteran modern.
Buku-buku karangan dokter-dokter Islam dan Arab menjadi referensi
mahasiswa-mahasiswa kedokteran dari berbagai belahan dunia,
utamanya Eropa, selama ratusan tahun.
Sebelum dokter-dokter Islam dan Arab tampil, biasanya pasien
diobati berdasarkan penyakit yang tampak saja. Pasien tidak ditanya
riwayat penyakitnya. Tapi saat dokter-dokter Islam dan Arab mulai
memegang peranan dalam dunia pengobatan, mereka melakukan
sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh dokter-dokter dalam
peradaban manapun. Mereka mendiagnosis penyakit pasien, mencatat
dan mengikuti perkembangan pasien selama dalam perawatan.
Kemajuan dunia kedokteran Islam dan Arab terus mendecakkan
kekaguman. Para dokter Islam dan Arab melakukan uji coba medis
terhadap hewan sebelum melakukan pengobatan pada manusia. Mereka
juga yang pertama kali memakai “jarum” suntik dan sistem infus.
Dengan alat-alat kedokteran yang mereka ciptakan, mereka berani
melakukan operasi terhadap pasien yang terlebih dahulu diberi obat
bius. Dan mereka juga yang pertama kali menjahit usus dan kulit manusia
dengan mempergunakan benang yang terbuat dari usus atau selaput
hewan. Bukan itu saja, kondisi psikologis pasien juga menjadi perhatian
mereka.
Penemuan-penemuan para ilmuwan Muslim dan Arab dalam bidang
kedokteran memang sangat luar biasa. Misalnya Ibnu An-Nafis (1210-
1288, ada juga yang mengatakan 1297, wallahu a’lam), yang berhasil
menemukan sistem sirkulasi darah (Pulmonary Circulation). Walaupun
dunia kedokteran mengakui bahwa penemu sirkulasi darah yaitu dokter
Inggris, William Harvey (1578-1657).
Berikut ini yaitu 3 tokoh kedokteran Islam dan Arab yang namanya
cemerlang dalam dunia kedokteran dunia :
Abu Bakar A







