Kata 'teologi' berasal dari bahasa Yunani koine, namun lambat laun memeroleh makna
yang baru saat kata itu diambil dalam bentuk Yunani maupun Latinnya oleh para penulis
Kristen. sebab itu, pemakaian kata ini, khususnya di Barat, memiliki latar belakang
Kristen. Namun, pada masa kini istilah ini dapat digunakan untuk wacana yang
berdasar nalar di lingkungan ataupun tentang berbagai agama. Di lingkungan agama
Kristen sendiri, disiplin 'teologi' melahirkan banyak sekali sub-divisinya.
Dalam gereja Kristen, teologi mula-mula hanya membahas ajaran mengenai Allah,
kemudian artinya menjadi lebih luas, yaitu membahas keseluruhan ajaran dan praktik
Kristen. Dalam upaya merumuskan apa itu ilmu teologi, maka ada beberapa unsur yang
perlu diperhatikan, yaitu tidak akan ada teologi Kristen tanpa keyakinan bahwa Allah
bertindak atau berfirman secara khusus dalam Yesus Kristus yang menggenapi perjanjian
dengan umat Israel.1 Pada Abad Pertengahan, teologi merupakan subyek utama di sekolah-
sekolah universitas dan biasa disebut sebagai "The Queen of the Sciences". Dalam hal ini
ilmu filsafat merupakan dasar yang membantu pemikiran dalam teologi.
Sistem Teologi bukan eksklusif milik orang Kristen, namun semua agama. Pada
umumnya, dunia sekuler, berdasar definisi filsafat Aristoteles, menyebut disipilin
Teologi sebagai Filsafat Teologi atau Metafisika. Bagi gereja, Teologia memiliki dua
pengertian, yaitu (1). Pengajaran tentang Allah dan (2). Pengetahuan tentang Allah.
Sumber utama Teologi Kristen yaitu Alkitab. Teologia Kristen yaitu upaya logis untuk
mempelajari tentang Allah dengan sumber utama yaitu Alkitab. Sedangkan tradisi dan
tulisan-tulisan bapak-bapak gereja dan teolog-teolog klasik lainnya yaitu sebagai
pembantu-panduan pengembangan Teologi selanjutnya.
Arti etimologis (asal kata) Istilah "Teologia" berasal dari 2 kata Yunani, yaitu: θεορ
(theos) artinya "Allah"; dan λογια (logia) artinya "perkataan, uraian, pikiran, ilmu". Jadi
teologi berarti ‗uraian atau buah pikiran tentang Allah‗.
Defenisi istilah ―teologia‖ bisa sempit dan bisa luas. Secara sempit teologi berarti
‗ajaran tentang Allah‗; sedangkan secara luas, teologi berarti ‗keseluruhan ajaran Kristen‗.
Defenisi umum: Teologia ialah ‗pengetahuan yang rasional tentang Allah dan
hubungannya dengan karya/ciptaan-Nya seperti yang dipaparkan oleh Alkitab‗. Pengertian
Teologia sebagai Ilmu Teologia meskipun tidak memiliki fakta-fakta yang dapat diukur
secara empiris (seperti ilmu-ilmu modern sekarang ini) tetap dapat disebut sebagai ilmu
sebab sesuai dengan salah satu definisi "ilmu", teologia yaitu suatu usaha untuk
memberikan penjelasan tentang Allah, yang diperoleh dari Alkitab (sebagai penyataan
Allah yang tidak berubah), dengan cara yang sistematis. Oleh A. H. Strong Teologia
didefenisikan secara sederhana sebagai "ilmu tentang Allah dan hubungan-hubungan antara
Allah dan alam semesta." sebab Teologia itu merujuk kepada Allah, maka, Thomas
Aquinas, mendefinisikannya secara spesifik, sebagai "pikiran Allah, ajaran Allah dan
memimpin kepada Allah.
Dengan demikian Teologia Kristen memenuhi unsur-unsur ilmu:
1. Dapat dimengerti oleh pikiran manusia dengan cara teratur dan rasional.
2. Menuntut adanya penjelasan secara metodologis
3. Menyajikan kebenaran
4. memiliki nilai yang universal
5. Memiliki objek yang diteliti
Teologi merupakan penemuan, penyusunan, dan penyajian kebenaran-kebenaran
tentang Allah. Teologi Kristen berarti suatu interpretasi yang rasional mengenai iman
Kristen. Teologi Kristen merupakan suatu studi yang berdasar Alkitab
Teologi dapat didaftarkan menurut berbagai macam cara.
1. berdasar era; antara lain teologi patristik para bapak gereja, teologi abad
pertengahan, teologi reformasi, teologi modern.
2. berdasar sudut pandangan; antara lain teologi Arminian, teologi Calvinis, teologi
Katolik, teologi Barth, teologi Pembebasan, dsb.
3. berdasar fokus; antara lain teologi historis, teologi Alkitab, teologi sistematika,
teologi apologetis, teologi eksegetis, dan lain sebagainya.
Sedangkan Bancroft menyatakan bahwa teologi yaitu pengetahuan tentang Allah dan
tentang hubungan antara Allah dan semesta. berdasar sumbernya, teologi dibedakan
menjadi:
1. Teologi Alam, bahwa semesta ini merupakan sumber teologi. Alkitab menyatakan
bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam alam (Maz.119:1-6; Kis. 14:17; Rom.
1:20)
2. Teologi Alkitab, bahwa pewahyuan Kristen merupakan sumber utama teologi. Alkitab
dengan jelas menyatakan bahwa pewahyuan Allah dalam alam tidak menyediakan
segala pengetahuan yang diperlukan oleh orang berdosa (Kis. 17:23; Ef. 3:9)
Menurut Ichwei G. Indra, definisi teologi yaitu bahasa gereja untuk menguji dan
mencapai kesetiaan kepada Firman Allah di tengah-tengah bahasa, pikiran, dan konteks
budaya yang berubah.6 Ichwei membagi Teologi Kristen menurut berbagai macam cara:
1. Menurut metode wahyu: teologi natural dan supernatural.
2. Menurut tujuan: teologi sistematis, polemik atau kontroversial, dan praktis.
3. Menurut pokok utama kepercayaan: teologi panteistis, deistis, dan rasionalistis.
4. Menurut nama pendiri dan sudut pandang: teologi Arminian, Calvinis, Katolik, Barth,
Pembebasan, dll.
5. Menurut sumber yang dipakai: teologi Alkitabiah, dogmatis dan ekklesiastis.
6. Menurut era: teologi Partristik, abad pertengahan, reformasi dan modern.
7. Menurut bidang kajian:
a. Teologi Eksegetis: berurusan dengan penelaahan naskah Alkitab dn pokok-pokok
bahasan yang berkaitan. Teologi eksegetis meliputi penelaahan bahasa, arkeologi,
isagogic, hermeneutik, dan teologi alkitabiah.
b. Teologi Historis: mempelajari sejarah umat Allah dalam Alkitab dan gereja sejak
zaman Kristus. Teologi historis membahas asal mula perkembangan dan penyebaran
agama Kristen dan semua doktrin, organisasi serta tradisi gereja.
c. Teologi Sistematis: mempergunakan bahan-bahan yang disajikan oleh teologi
eksegetis dan historis lalu ditata menurut suatu tatanan yang logis sesuai dengan
pokok-pokok besar dalam penelitian teologis. Teologi sistematis meliputi
apologetik, polemik dan etika Kristen.
d. Teologi Praktis: membahas penerapan teologi terhadap pembaharuan, pengudusan,
pembinaan, pendidikan dan pelayanan manusia. Teologi ini meliputi homiletika,
organisasi, dan administrasi gereja, tata ibadah, pendidikan agama Kristen dan
penginjilan (missiologi).
Berbeda dengan Erickson yang mendefinisikan teologi sebagai bidang studi yang
berusaha untuk menyampaikan suatu pernyataan yang berhubungan secara logis tentang
doktrin-doktrin iman Kristen, yang terutama berdasar Alkitab
B. Istilah Teologi Sistematika
Kata ―sistematika‖ berasal dari kata kerja Yunani ―sunistano‖, yang berarti ―berdiri
bersama‖ atau ―mengorganisir‖, sebab itu, Teologi Sistematika menekankan
sistimatisasi/pengaturan teologi.
Chafer menyediakan sebuah definisi yang tepat tentang teologi sistematika. “Teologi
Sistematika dapat ditegaskan sebagai pengumpulan, penyusunan secara ilmiah,
membandingkan, memperlihatkan, dan mempertahankan semua fakta dari mana pun dan
setiap sumber berkenaan dengan Allah dan pekerjaan-Nya
Teologi Sistematika menghubungkan data tentang penyataan Alkitab secara menyeluruh
untuk menunjukkan gambaran total mengenai penyataan diri Allah secara sistematis.
Teologi sistematika bisa meliputi berbagai latarbelakang historis, apologetik dan
pembelaan, serta karya eksegetis. namun fokusnya terletak pada struktur total doktrin
tentang Alkitab. Teologi sistematika memuat 10 pokok kepercayaan Kristen yang meliputi
:
1. Teologi Proper, yaitu doktrin Kristen mengenai Allah
2. Bibliologi, yaitu doktrin Kristen mengenai Alkitab
3. Kristologi, yaitu doktrin Kristen mengenai Yesus Kristus.
4. Angelologi, yaitu doktrin Kristen mengenai malaikat, termasuk tentang iblis dan setan.
5. Anthropologi, yaitu doktrin Kristen mengenai manusia.
6. Hamartiologi, yaitu doktrin Kristen mengenai dosa.
7. Soteriologi, yaitu doktrin Kristen mengenai keselamatan.
8. Pneumatologi, yaitu doktrin Kristen mengenai Roh Kudus.
9. Eklesiologi, yaitu doktrin Kristen mengenai gereja.
10. Eskatologi, yaitu doktrin Kristen mengenai perkara-perkara akhir.
II. Pentingnya belajar Teologi Sistematika
1. Manusia sebagai mahluk ciptaan yang berasio. Manusia memiliki kecenderungan
untuk berpikir dan mempelajari sesuatu secara sistematis.
2. Sifat Alkitab sendiri yang menuntut untuk disusun secara sistematis. Kebenaran
tersebar secara acak di seluruh bagian Alkitab, sehingga perlu disusun secara
sistematis.
3. Bahaya pengajaran sesat. Untuk memberikan jawaban akan iman kepercayaannya dan
sekaligus melawan setiap tantangan dari pengajaran palsu. 1Pet 3:15, Efe 4:14
4. Alkitab yaitu sumber doktrin Kristen. Tugas orang Kristen yaitu untuk menjelaskan
doktrin-doktrin itu dalam sistematika yang baik dan di dalam konteks yang tepat
sehingga dapat menjawab pertanyaan, "Apa yang diajarkan oleh Alkitab kepada kita
untuk jaman ini?"
5. Alkitab yaitu pedoman hidup Kristen. Mengerti Teologia bukan hanya sekedar sebagai
pengetahuan teoritis, tapi juga sebagai gaya hidup yang berintegritas. 2 Tim 2:24-25;
2Tim 3:15-16
III. Sumber-Sumber dalam Berteologi
A. Alkitab.
Alkitab sebagai wahyu Allah merupakan sumber primer pertama dan yang paling utama
dalam berteologi. Sebagai sumber yang paling utama yang menjadi otoritas tertinggi dan
mutlak bagi iman dan kehidupan Kristen. Jika kita ingin berteologi, maka kita tidak dapat
melepaskan dari teks Alkitab. Alkitab yaitu firman Allah yang diwahyukan untuk
menyatakan kebenaran kepada manusia. Alkitab merupakan standar, pegangan, dan dasar
dalam membangun sebuah teologi sebab melalui Alkitab, kebenaran Allah dinyatakan
kepada manusia. Alkitab merupakan dasar atau sumber berteologi sebab kita memiliki
keyakinan bahwa Alkitab merupakan pernyataan Wahyu Allah untuk kehidupan manusia
(2 Tim 3:16).
B. Alam semesta.
Alam semesta merupakan ciptaan Allah menyimpan rahasia ilahi dan mengungkapkan
sifat-sifat ilahi. Alkitab menyatakan bahwa alam semesta merupakan karya-Nya, sehingga
hal ini dapat dipakai sebagai referensi dalam berteologi. Seperti yang dikatakan oleh
pemazmur ―Langit menceritakan kemuliaan Allah‖ dan ―cakrawala
memberitakan pekerjaan TanganNya‖ (Mazmur 19:2).
C. Pengakuan doctrinal
Pengakuan doctrinal yang dihasilkan melalui Konsili-konsili dapat menjadi referensi
sekunder dalam berteologi. Pengakuan iman ini terlahir melalui pergumulan gereja
yang panjang yang dilakukan oleh Bapa-bapa gereja saat gereja menghadapi berbagai
tantangan zaman. Pengakuan Iman Nicea, Pengakuan Iman Nicea-Kontanstinopel,
pengakuan Westminster misalnya, termasuk pemikiran teologi yang terlahir melalui proses
pergumulan yang mendalam.
D. Tradisi gereja
Khususnya dari Bapak-bapak Gereja, dan perkembangan pengajaran di gereja dari
jaman ke jaman, yaitu tentang apa yang diterima/ditolak oleh gereja sepanjang sejarah
tradisi gereja dapat juga menjadi referensi sukender ke dua dalam berteologi. Tradisi gereja
dapat dipertahankan dan dijadikan sebagai dasar berteologi sebatas tradisi ini tidak
bertentangan dengan Alkitab. Tradisi dapat mengekspresikan dan menginsyaratkan simbol
dan lambang sebagai pemaknaan kebenaran.
IV. Rumpun Teologi
V. Hubungan Teologia Sistematika Dengan Disiplin Ilmu Lain
jika teologia harus menjadi sarana komunikasi kepada Allah atau harus menjawab
kebutuhan kehidupan setiap zaman, maka pertanyaan yang langsung timbul yaitu : bagaimana
hubungan antara teologia dengan disiplin ilmu pengetahuan lainnya? Apakah teologia dapat
membangun hubungan atau memiliki kaitan dengan sosiologi misalnya? Bagaimana pula
dengan kedokteran, psikologi, filsafat, musik, atau bahkan ilmu pengetahuan alam? Mengenai
hubungan teologia dengan disiplin lainnya sudah kerap kali timbul di dalam sejarah teologia.
Yang paling dominan dibicarakan yaitu hubungan antara teologia dengan filsafat. Namun
sayangnya tidak semua teolog melihat disiplin lain (terutama filsafat) dengan positif.
Dalam sejarah gereja, Tertullian (160-220) pernah mempertanyakan hubungan antara iman
dan rasioIa memakai istilah ―Yerusalem‖ untuk menggambarkan iman dan ―Athena‖ untuk
rasio, sebab pada waktu Kekristenan muncul, Yerusalem yaitu pusat iman dan Athena
merupakan pusat kekuatan filsafat Yunani pada zaman itu. Intinya, Tertullian menolak rasio
dihubungkan atau dikawinkan dengan iman Kristen.
Mirip dengan pendapat di atas yaitu apa yang pernah dilontarkan oleh M. Luther, sang
Reformator pada abad ke-16. Menurutnya, rasio yaitu pelacurnya Iblis. Oleh sebab rasio
lebih sering mempertanyakan dan meragukan firman Allah, maka rasio menurut Luther harus
diragukan kesetiaannya bagaikan pelacur yang selalu berganti-ganti pasangan dengan berbagai
pihak. Lalu, apakah filsafat harus ditabukan sama sekali dalam agenda berteologia?
A. Hubungan Teologi dengan Etika
Ilmu jiwa (Psikologi) berhubungan dengan kelakuan (behavior) manusia. Etika menjelaskan
masalah-masalah tatanan hidup yang terdiri dari Etika Filsafat dan Etika Kristen. Psikologi
menguraikan bagaimana dan mengapa dari manusia. Etika bisa di diskripsikan mengkaji
pegangan hidup manusia dalam standard manusia baik atau jahat. Etika filsafat melibatkan
doktrin tentang manusia, penebusan, lahir baru dan pendiaman ilahi dalam mencapai tujuannya.
Etika Kristen berbeda dengan filsafat etika sekuler. Perbedaanya dalam hal motivasi dan tugas.
Motif etika sekuler yaitu Humanisme, Hedonisme, Utilaterialisme, dan perpecsionisme. Etika
Kristen yaitu kerinduan untuk taat kepada Allah. Teologia memiliki lebih dari yang dimiliki
etika. Teologi mengulas doktrin seperti, Trinitas, ciptaan, Kejatuhan kedalam dosa, Inkarnasi,
penebusan dan sebagainya dimana hal ini tidak dipelajari dalam etika.
B. Hubungan Teologi dengan filsafat
Pada dasarnya teologia dan filsafat memiliki tujuan yang sama namun berbeda dalam dalam
approach dan metode mencapai tujuan. Keduannya mencari sikap dan pandangan hidup yang
konfrehensif. Teologi mulai dengan keyakinan eksistensi Allah dengan gagasan bahwa ialah
sumber dan pemicu segala sesuatu. Filsafat mulai dengan materi yang lain diberikan dengan
gagasan bahwa itu cukup menerangkan bahwa semua eksistensi dari materi-materi yang lain.
Menurut ahli pikir Gerika bahwa sesuatu (materi) yang diberikan apakah air, udara, api, atom
yaitu ide. Bagi orang modern, pikiran, kepribadisan, kehidupan atau sesuatu yang lain.
Teologi tidak hanya dimulai dari kepercayaan tentang adanya Allah, namun juga percaya bahwa
Ia telah menyerahkan diriNya sendiri. Filsafat menolak kedua gagasa ini diatas. Dari ide
tentang Allah dan studi tentang pernyataan ilahi ahli-ahli teologi mengembangkan sikap dan
pandangan hidup dan beradasarkan sesuatu diberikan dan anggapan khusus didalamnya.
Filsafat mengembangkan sikap hidup mereka. Teologi berdasar kepada objektivitas yang kokoh
sedangkan filsafat berdasar kepada anggapan (assuption) dan spekulasi dari ahli-ahli pikir.
Namun demikian filsafat memiliki nilai tertentu bagi teologi, dengan menggabungkan konklusi
filsafat untuk menjelaskan posisi Alkitab.
VI. BIBLIOLOGI : Pengajaran Tentang Alkitab
A. Pentingnya Mempelajari Alkitab
Sekilas lintas nampaknya tidak ada manfaatnya jika kita memperbincangkan sebab-
sebab mengapa kita harus mempelajari Firman Allah. Orang-orang percaya, baik yang baru
masuk iman maupun yang sudah lama harus mendapat bimbingan Firman Allah terus-
menerus sepanjang hidup mereka, agar mereka dapat mengenal Kristus lebih mendalam.
namun kini kenyataannya tidak demikian. Pengamatan membuktikan bahwa sebagian besar
orang Kristen memiliki pengetahuan Firman Allah terlalu minim.
B. Mengapa Kita harus Mempelajari Alkitab
1. Sebab Alkitab yaitu Allah Sendiri Pengarangnya
Berulang-ulang Allah mengatakan bahwa Dialah Tuhan, Pencipta, Juruselamat,
Gembala, Hakim, dan lain-lain. Peran dan kehendak Allah dinyatakan dalam buku
ini. Kebanggaan bagi setiap pengarang jika kita mengatakan saya telah membaca
buku Bapak. Hal yang sama seharusnya saudara katakan ―Yesus, saya sudah
membaca, dan akan terus membaca bukuMu.‖
2. Sebab Berulang-ulang Allah Memperintahkan
a. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat…renungkanlah itu siang
dan malam…‖ (Yos. 1:8)
b. bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci…‖ (I Tim. 4:13)
c. manusia tidak dapat hidup dari roti saja, namun juga dari perkataan yang
diucapkan oleh Allah‖ (Mat. 4:4)
3. Sebab Alkitab yaitu Tuntunan Bagi Kehendak-Nya yang Mulia
a. Orang berdosa menerima keselamatan lewat berita Firman Allah
yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan…namun bagaimana
mereka dapat berseru…percaya…mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang
memberitakannya?‖ (Rm. 10:13-17)
saat mendengar hal itu heti mereka sangat terharu…‖ (Kis. 2:37)
saat orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus …mereka semua
dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu…‖ (Kis 8:4-8)
b. Orang percaya disucikan oleh Firman Allah
Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, FirmanMu yaitu kebenaran‖ (Yoh.
17:17)
Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir…selalu ingin akan susu yang murni
dan yang rohani…‖ (I Pet. 2:2)
Firman kasih karunia-Nya yang berkuasa membangun kamu…‖ (Kis. 20:32)
c. Firman Allah mengubah kehidupan kita yang lama menjadi manusia baru di
dalam Dia (Mzm. 3:16-17)
4. Sebab Musuh Kita (setan) Sudah Membacanya
Di dalam Matius 4, Kristus dicobai sebanyak 3 kali oleh iblis. Di dalam setiap kasus,
Yesus selalu menjawab: ―Ada tertulis‖. Di dalam pencobaan yang kedua, setan
menghendaki Yesus terjun dari bumbungan bait Allah (Mat. 4:5-6). Setan mengutip
Mazmur 91:11 dan 12.
5. Sebab Alkitab yaitu Jawaban yang Sempurna
Sering dipertanyakan manusia dari generasi ke generasi.
a. Dari mana asal-muasal manusia
Allah berkata: Berfirmanlah Allah: „Baiklah Kita menjadikan manusia
menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di
laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan
atas segala binatang melata yang merayap di bumi.‟. Maka Allah
menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka‖ (Kej.
1:26-27)
Ketahuilah bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita…‖ (Mzm.
100:3)
b. Mengapa saya diciptakan
Pengkhotbah 12:13; Wahyu 4:11
c. Kemana kesudahan saya nanti
Yohanes 3:16-18; Mazmur 23:1,6; Wahyu 20:15
C. Pengertian
1. Arti etimologis (asal kata) Istilah "Bibliologi" berasal dari 2 kata Yunani, yaitu:
biblion atau biblia (jamak) artinya "buku-(buku)"; dan logos artinya "perkataan,
uraian, pikiran, ilmu" "Buku-(buku)" (atau "tulisan-tulisan") yang dimaksud yaitu
Alkitab (Firman Allah).
2. Definisi Bibliologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk sekitar
penulisan (Buku) Alkitab, dan peran Alkitab dalam iman kepercayaan Kristen.
Alkitab sendiri didefinisikan sebagai kumpulan Kitab-kitab yang diakui sebagai
"kanonik", dan diterima seluruhnya sebagai Firman Allah oleh gereja Kristen.
3. Tempat Bibliologi dalam Teologi Sistematika Dengan pra-anggapan: a. bahwa
manusia tidak mungkin tahu apapun tentang Allah kecuali Allah sendiri yang
menyatakan diri kepada manusia, b. dan bahwa Allah telah berkenan menyatakan
Diri-Nya melalui Alkitab untuk dikenal oleh manusia, maka, kita percaya bahwa
Alkitab memiliki peranan yang menentukan sebagai pemegang otoritas tertinggi
dan menjadi sumber utama untuk mempelajari Teologi Sistematika; yaitu termasuk
di dalamnya semua doktrin iman kepercayaan Kristen.
D. Penyataan Allah/Wahyu Allah
1. Defenisi
Istilah penyataan yaitu terjemahan dari kata kerja Latin revelare dan kata bendanya
revelation. Dalam bahasa Ibrani istilah penyataan berasal dari kata kerja Ibrani gala
yang artinya ―telanjang‖. Dalam bahasa Yunani penyataan yaitu apokalupsis (dari
apokalypto) yang artinya ‗menyingkapkan, menanggalkan, membuka selubung,
menunjukkan yang tersembunyi, memberitahukan yang tidak dikenal‗. Jadi
penyataan Allah secara umum yaitu : Suatu tindakan Allah (baik itu perbuatan
maupun kata-kata) yang yaitu inisiatif Allah sendiri untuk membuka Diri agar
manusia yang yaitu ciptaan itu dapat mengenal Allah Penciptanya (1Kor 2:11; Ul.
29:29). Pengertian lain dari Wahyu/penyataan Allah seperti disebutkan oleh W.Gary
Crampton yaitu : yang menghilangkan semua keragu-raguan, dan meeteraikan
semua jawaban ke dalam kepastian.68 Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia
melalui: (1) penyataan umum dan (2) penyataan khusus. Keduanya yaitu penyataan
dari Tuhan. Melalui ―wahyu‖ Allah menyingkapkan diri-Nya sendiri, dan dengan
demikian Ia memberikan kepastian-Nya yang unik.
2. Pentingnya Penyataan
a. Hakekat manusia memerlukan penyataan ilahi
b. Hakekat Allah Tritunggal menghendaki penyataan diri-Nya
3. Penyataan Umum dan Penyataan Khusus
a. Penyataan Umum
1) Definisi : Penyataan Allah mengenai diriNya sendiri yang diberikan kepada
semua orang melalui alam semesta, 2. Sumber : Allah
2) Jangkauan : umum, semua orang. Ref. Mat 5:45, Kis 14:17; Maz 19:2
3) Sarana : memakai cara-cara universal, yaitu melalui alam, sejarah dan
hati nurani manusia. Ref. Maz 19:4-7; Rom 2:14-15.
4) Tujuan : untuk menyatakan: kemuliaan Allah, kuasaNya dalam alam
semesta, keunggulanNya, keahlianNya, penentuanNya dalam mengendalikan
alam semesta; kebaikanNya, kecerdasanNya dan keberadaanNya yang hidup.
Maz 19:2; Rom 1:20; Kis 14:17; 17:29; Mat 5:45
5) Keterbatasan : membuat manusia menyadari akan keberadaan Allah, namun
tidak cukup membawa manusia kepada pengenalan yang benar dan penuh
tentang Allah, membawa manusia untuk berseru dan memuji Allah, namun
tidak cukup untuk membawa mereka kepada keselamatan dan memberikan
pengetahuan tentang sifat-sifat Allah, namun tidak memberikan pengetahuan
bahwa Kristus yaitu satu-satunya jalan keselamatan yang disediakan Allah.
6) Hasil : menyatakan anugerah umum dan mempersiapkan manusia kepada
anugerah-anugerah khusus, melawan isme-isme yang menolak keberadaan
Allah, membatasi dosa manusia - hukum moral dan menghukum secara adil
untuk mereka yang berdalih.
b. Penyataan Khusus
1) Definisi : Penyataan yang diberikan Allah melalui karya penebusan Yesus
Kristus, yang juga dituliskan dalam Alkitab.
2) 2Sumber : Allah.
3) Jangkauan : orang-orang pilihanNya yang percaya.
4) Sarana : melalui Yesus Kristus dan firmanNya yang tertulis dalam Alkitab,
yang diberikan melalui saluran-saluran:
undi (Ams 16:33; Kis 1:21-26).
urim dan Tumim (Kel 28:30; Bil 27:21)
mimpi (Kej 20:3, 31:24)
penglihatan (Yes 1:1; 6:1; Yeh 1:3)
Teofani (penempatan Allah dalam wujud manusia)Kej 16:7-14
malaikat (Dan 9:20-21; Luk 2:10-1 l; Wah 1:1)
nabi-nabi (2Sa 23:2)
peristiwa-peristiwa (Yeh 25:7; Yoh 1:14)
mujizat-mujizat (Yes 9:5; Wah 21:5)
5) Tujuannya : Allah menyatakan kehendakNya, dan perjanjian
keselamatanNya dalam Yesus Kristus, dengan demikian mendamaikan
kembali hubungan antara manusia dan Allah.
6) Hasilnya :
menjadi jalan satu-satunya untuk manusia bisa mengerti tindakan, tujuan
dan kehendak Allah dengan benar.
menjadi jalan satu-satunya untuk manusia bisa menerima kabar
keselamatan Yesus Kristus.
memungkinkan manusia mendapatkan kesempatan untuk kembali
bersekutu dengan Allah selamanya.
E. Pengilhaman (Inspirasi)
1. Pentingnya Pengilhaman
Pengilhaman dibutuhkan untuk meneguhkan penyataan Allah. Jika Allah telah
menyatakan Diri-Nya namun rekaman penyataan tidak dilakukan dengan akurat,
maka penyataan Allah akan terus dipertanyakan. Jadi, pengilhaman menjamin
keakuratan penyataan.
2. Defenisi
a. Arti epistemologi Istilah "inspirasi/ilham" berasal dari Vulgata Latin divinitus
inspirata (inspirare/ inspiro). namun kata ini sebenarnya tidak memberikan arti
yang tepat. Kata Yunaninya, yang dipakai dalam 2 Tim 3:16, yaitu theopneustos
lebih tepat digunakan. theopneustos yaitu kata majemuk (pneo + theos) yang
berarti "dihembuskan, dimasuki angin atau nafas (oleh) Allah." Dalam kata ini
jelas terlihat adanya penekanan pada faktor Allah dalam pekerjaan penulisan
ini . Dalam 2 Tim 3:16, Perjanjian baru berbicara tentang Perjanjian Lama,
mencatat bahwa segala tulisan ... diilhamkan Allah.‖ Frasa Inggris ―is inspired
by‖ (RSV,= diilhami oleh) atau ―is given by inspiration of‖ (KJV=diberikan
dengan pengilhaman dari). Jadi dari kata ini Paulus menegaskan sekuat
mungkin bahwa Alkitab yaitu produk dari karya Ilahi yang khusus.
b. Phero yang berarti dorongan, dibawah pengaruh yang menggerakkan, dan
terbawa (2 Petrus 1:21). Untuk memiliki suatu pengertian yang tepat dan benar
mengenai pengilhaman Alkitab. Ada empat penegasan penting yang terkandung
dalam penyataan ayat ini yaitu:
1) Setiap bagian Alkitab yaitu setingkat dalam pengilhamannya
2) Keluruh isi Alkitab dinafaskan Allah
3) sebab di ilhamkan, Alkitab bermanfaat bagi iman dan praktek
4) Alkitab yaitu firman Allah yang bersifat benar.
Jadi pengilhaman dapat didefinisikan sebagai ―pembimbingan Roh
Kudus terhadap para penulis sehingga sekalipun mereka menulis dengan gaya dan
kepribadian mereka masing-masing, hasilnya yaitu Firman Allah yang tertulis -
otoritatif, layak dipercaya, dan bebas dari salah dalam naskah aslinya.‖ Berikut ini
yaitu definisi yang dikemukakan oleh para teolog:
a. B.B. Warfield - ―Pengilhaman yaitu suatu pengaruh supranatural oleh Roh
Allah terhadap penulis Kitab Suci, dengan maksud agar tulisan mereka
merupakan hal yang dapat dipercaya yang diberikan oleh Allah.‖
b. E.J. Young - ―Pengilhaman yaitu bimbingan Roh Kudus Allah terhadap para
penulis Kitab Suci, sehingga Kitab Suci memiliki otoritas dan kelayakan Ilahi
dan, dengan demikian, bebas dari salah‖.
c. C.H. Ryrie - ―Pengilhaman yaitu ……. bimbingan Allah terhadap penulis
manusia, sehingga dengan memakai kepribadian mereka sendiri, mereka
menulis dan merekam tanpa salah pewahyuan-Nya kepada manusia dalam kata-
kata di naskah aslinya.
Ada beberapa hal penting dalam pengilhaman dari berbagai definisi di atas :
a. unsur ilahi - Allah Roh Kudus membimbing para penulis, untuk menjamin
keakuratan penulisan;
b. unsur manusia - penulis manusia menulis menurut gaya dan kepribadian mereka
sendiri;
c. hasil kepengarangan ilahi-manusia ini merupakan rekaman kebenaran Allah
tanpa salah;
d. pengilhaman berkembang kepada pemilihan kata-kata oleh para penulis;
e. pengilhaman berkaitan dengan naskah asli.
3. Bukti-bukti Inspirasi
a. Adanya Penyataan-penyataan yang di luar kemampuan berpikir manusia.
Misalnya tentang dosa, manusia, keselamatan, Allah Tritunggal, dll.
b. Adanya Penyataan-penyataan yang bersifat nubuatan, dan yang sekarang
sebagian sudah terjadi, yang tidak mungkin muncul dari pikiran manusia.
c. Adanya Penyataan-penyataan yang bersifat sejarah yang jauh di luar
pengetahuan manusia, misalnya tentang kejadian penciptaan dll.
d. Adanya Penyataan-penyataan yang memiliki kuasa yang mengubahkan hidup
manusia, dari jaman ke jaman.
e. Adanya Penyataan-penyataan yang berisi ajaran moral yang sangat tinggi, yang
juga diakui oleh agama-agama yang lain.
f. Adanya kesatuan tema dan isi dari seluruh Alkitab, meskipun ditulis oleh
penulis-penulis yang memiliki latar belakang berbeda dan hidup pada jaman
yang sangat berbeda.
g. Bukti kelanggengan Alkitab, meskipun sudah dilakukan usaha berkali-kali untuk
memusnahkannya.
4. Bukti dalam Alkitab
a. Perjanjian Lama
1) Allah sendiri yang memberi perintah untuk menuliskan. Kel 17:14; 34:27;
Bil 33:2; Yes 8:1; 30:8; Yer 25:13; Yeh 24:1 Dan 12:4; Hab 2:2
2) Para penulis secara sadar memberikan otoritas terhadap tulisannya sebagai
Firman Tuhan. "Demikian Firman Tuhan" Yer 36:27, 32; Yeh 26:1-21; 27:1-
36; 31:1-18; 32:1-32; 39:1-29
3) Perjanjian Baru mengakui inspirasi Alkitab Perjanjian Lama - Yesus Kristus:
Mat 4:11; Mat 5:17-20; Yoh 10:33-36 - Rasul Paulus: 2Ti 3:14-16 - Rasul
Petrus: 2Pe 1:19-21 - Penulis Kitab: Ibr 1:5; 3:7; 4:3; 5:6; 7:21
b. Perjanjian Baru
1) Pengakuan dari penulis bahwa mereka menerima Firman dari Tuhan. 1Ko
2:13; 2Ko 13:3; 1Te 2:13
2) Perjanjian baru mengakui Inspirasi Alkitab Perjanjian Baru - Yesus Mat
10:19-20; Yoh 16:7,13; Kis 4:31
5. Teori-Teori Penulisan Alkitab
Di bawah ini yaitu beberapa teori yang muncul dari pikiran manusia tentang
bagaimana kira-kira Alkitab itu ditulis:
a. Teori Dikte (Inspirasi Mekanis) Ini yaitu salah satu teori yang ekstrim, yang
mengatakan bahwa para penulis Alkitab itu hanyalah seperti mesin atau alat
rekam. Mereka mendengar "Penyataan" dari Allah kemudian langsung
menuliskannya kata demi kata persis seperti apa yang Tuhan katakan, sehingga
tidak melibatkan sama sekali baik kepribadian maupun pikiran para penulis itu.
b. Teori Penyesuaian (Inspirasi Dinamis) Allah menyesuaikan diri dengan
keterbatasan para penulis. Itu sebabnya ada dijumpai beberapa
kekilafan/kesalahan.
c. Teori Pengawasan (Inspirasi Organis) Allah berdaulat mengawasi dan mengatur
latar belakang, warisan keturunan dan keadaan sekitar masing-masing
penulisnya. Sehingga pada waktu menulis, mereka sadar memakai kata-
kata mereka sendiri, dan sekaligus yaitu merupakan Firman Allah dan mereka
sudah dibina oleh Allah untuk tujuan itu, sebab orang ini telah
diperbaharui Rohnya dan terhisap dalam hubungan dengan Allah. Jadi walaupun
para penulis yaitu orang berdosa, itu tidak menjadi penghalang sebab mereka
dipimpin oleh Allah, sehingga terjamin bahwa tulisan-tulisan itu tidak mungkin
salah dalam bahasa aslinya. Itu sebabnya masing-masing kitab yang ditulis
masing-masing penulis memiliki gaya bahasa yang berbeda, perbendaharaan
kata yang tertentu, penekanan berita yang tertentu, dan sebagainya. Teori ini
juga disebut Inspirasi Plenari (seluruh bagian Alkitab diilhami) atau Inspirasi
Verbal (setiap kata Alkitab diilhami, namun bukan secara mekanis)
Langkah-langkah Roh Kudus menggerakkan penulis untuk menulis Alkitab:
Allah telah memilih dan menyediakan si penulis jauh sebelum Ia
menggerakkan si penulis untuk menulis Alkitab.
Allah memilih si penulis sebelum ia dilahirkan.
Allah menempatkan mereka pada situasi keadaan sesuai dengan
kedaulatanNya.
Allah kadang memilih orang yang mampunyai pengalaman langsung.
Allah menggerakkan penulis juga untuk menyelidiki fakta-fakta terlebih
dahulu.
d. Menunggu Waktu Allah.
Allah menggerakkan penulis untuk berkhotbah terlebih dahulu lalu
menuliskannya.
Roh Kudus dicurahkan kepada penulis untuk menyatakan firmanNya secara
langsung untuk ditulis.
Roh Kudus dicurahkan kepada penulis untuk menulis hal-hal yang sudah
diketahuinya.
Roh Kudus menggerakkan penulis untuk menulis apa yang dikehendakiNya.
6. Pandangan-Pandangan Keliru Tentang Pengilhaman
a. Pengilhaman Alamiah Para penulis-penulis Alkitab yaitu orang-orang jenius
secara alami. Mereka menuliskan tanpa memerlukan campur tangan Allah atau
kuasa supranatural. Teori ini mengaburkan tentang tindakan penerangan Roh
Kudus, dengan karya-Nya yang kudus dalam pengilhaman
b. Pengilhaman Dinamis atau Mistis Para penulis-penulis Alkitab ini dipenuhi dan
dipimpin oleh Roh Kudus, sama halnya dengan literatur-literatur Kristen yang
lain.
c. Pengilhaman Bertingkat. Para penulis-penulis Alkitab mendapat inspirasi dari
Roh Kudus sehingga menuliskan tulisan-tulisan itu, namun tingkat
penginspirasiannya tidak sama derajatnya. Sehingga ada sebagian tulisan yang
lebih berbobot daripada yang lain.
d. Pengilhaman Sebagian. Para penulis-penulis Alkitab itu mendapat inspirasi,
namun tidak semuanya. Ada kitab-kitab yang sama sekali tidak memerlukan
inspirasi sebab berupa dokumen sejarah. Bagian-bagian yang secara khusus
diilhami (diinspirasikan) yaitu yang mengajarkan tentang keselamatan dan ini
tidak mungkin salah, namun yang lain bisa saja salah sebab tidak diinspirasikan
oleh Allah.
e. Pengilhaman Konsep. Pandangan ini percaya pada doktrin inspirasi, namun bukan
inspirasi harafiah kata per kata. Allah hanya menginspirasikan secara konsepnya
saja. Oleh sebab itu kata-katanya bisa salah, tapi secara konsep tidak.
f. Pengilhaman Barthian. Pusat Penyataan yaitu Yesus Kristus, Alkitab hanya
merupakan "saksi" dari Penyataan Allah. Sedangkan Alkitab sendiri yaitu kata-
kata manusia yang bisa keliru tapi jika ditangkap dengan telinga iman, maka
kata-kata itu baru akan menjadi Firman Allah. Jadi Allah bisa berbicara
melalui Alkitab, namun hanya melalui anugrahlah bagian Alkitab itu dapat
menjadi Firman Allah.
7. Doktrin Alkitabiah Tentang Pengilhaman
Doktrin pengilhaman yaitu ajaran Alkitab sendiri. Perhatikan beberapa ayat di bawah
ini :
a. Timotius 3:16
Kata ‗tulisan‗ dalam bahasa Yunani : (graphe). Kata ini dalam seluruh tercatat
sebanyak 50 kali dan selalu menunjuk kepada bagian Alkitab. Kata ‗tulisan‗
dalam ayat ini menunjuk kepada kanon PL.
Kata ‗diilhamkan‗ dalam bahasa Yunaninya : (theopneutos) yang secara
hurufiah berarti ‗dinafaskan/dihembuskan Allah‗ atau ‗dihembuskan keluar
oleh Allah‗
b. Petrus 1:21
Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa Allah memakai penulis manusia
untuk menghasilkan Alkitab melalui Roh Kudus.
Namun demikian, ini bukan berarti bahwa para penulis itu pasif.
c. Korintus 2:13 Paulus mengatakan bahwa wahyu Allah datang kepada kita dalam
kata-kata. Ini diungkapkan Paulus dalam bantahan terhadap konsep pengilhaman
yang berkatab hawa pengilhaman hanya berhubungan dengan pikiran yang Allah
ingin kita mengetahuinya dan bukan menyangkut kata-kata di mana pikiran itu
dinyatakan.
Macam-Macam Data Data ini menunjukkan berbagai macam bahan tulisan di mana
Allah menggerakkan para penulis untuk menuliskan dalam Alkitab :
a. Bahan yang langsung dari Allah. Contohnya 2 loh batu (Ul 9:10).
b. Bahan hasil penyelidikan. Contohnya Injil Lukas (Luk 1:1-4) :
1) Berkonsultasi dulu dengan beberapa saksi mata peristiwa Kristus
2) Memakai kisah tertulis yang ada mengenai pelayanan Kristus
3) Menyelidiki dengan teliti dan memilihnya dari bahan-bahan itu.
4) Menyusun dengan teratur dan membukukannya
c. Roh Kudus menggerakkan dan memimpinnya dalam penulisan sehingga semua
tulisan itu teliti dan benar.
d. Bahan Nubuat Kira-kira seperempat dari seluruh Alkitab yaitu nubuat saat
dituliskan (saat ini sebagian sudah digenapkan). Nubuat sejati dapat datang hanya
dari Allah yang Mahatahu. Tak satu pun penulis dapat mengarang nubuat yang
100% benar.
e. Bahan Sejarah
1) Ada banyak bagian Alkitab yang mencatat sejarah dengan teliti. Sebagian besar
dari sejarah Alkitab ditulis oleh mereka yang mengalaminya sendiri kisah-kisah
itu. (Cth. Lukas yaitu teman seperjalanan Paulus dalam banyak kisahnya. Kis
16:10-13; 20:5-21:18; 27:1-28:6. Atau Yosua yang mengalami dan kemudian
menuliskan tentang penaklukan Kanaan dalam kitab Yosua).
2) Kisah penciptaan tentu saja harus diwahyukan Allah kepada Musa sebab tidak
seorang manusia pun menjadi saksi mata dan juga Musa menuliskannya lama
sesudah peristiwa itu terjadi.
f. Bahan lainnya
1) Alkitab juga mencatat hal-hal yang tidak benar, seperti kebohongan setan dalam
kej 3:3-5, namun Alkitab mencatatnya dengan teliti.
2) Alkitab juga mencatat beberapa kutipan dari tulisan orang-orang yang belum
diselamatkan (Tit 1:12)
3) Ada juga beberapa pasal yang jelas-jelas bersifat pribadi dan emosional (Roma
9:1-3), namun bahan-bahan yang beraneka ragam ini dicatat dengan teliti.
Bahan tulisan yang beraneka ragam ini menunjukkan bahwa Allah kadang-kadang
mewahyukan secara adikodrati dan langsung, adakalanya Ia menginjinkan para penulis
untuk menyusun pesan-Nya dengan memakai kebebasan untuk berekspresi. Namun Allah
meniupkan semua hasil akhir tulisan itu dengan memimpin para penulis itu dengan berbagai
cara untuk menyampaikan pesan-Nya dalam kata-kata dalam Alkitab.
F. Kanon Alkitab
Jika Kitab Suci memang diilhami oleh Allah, muncul suatu pertanyaan penting: Kitab
manakah yang diilhami? Dari sejarah nampaknya penting bagi umat Tuhan untuk
menentukan kitab mana yang telah Allah ilhami dan yang mana yang dipandang berotoritas.
1. Pengertian/Definisi
a. Arti etimologis. "Kanon" berasal dari kata Yunani kanon, artinya "buluh" yang
berasal dari kata Ibrani qaneh. sebab pemakaian "buluh" dalam kehidupan sehari-
hari jaman itu yaitu untuk mengukur, maka kanon juga berarti sebatang
tongkat/kayu pengukur atau penggaris. Yeh 40:3; 42:16, tombak pengukur. Jadi
istilah ―kanon‖ atau ―kanonis‖ berarti menunjukkan suatu standar dengan apa
kitab-kitab itu diukur untuk menentukan apakah kitab-kitab itu diilhami atau tidak.
Perlu dicatat bahwa konsili keagamaan tidak memiliki kuasa untuk memicu
kita-kitab itu diilhami, namun secara sederhana hanya mengenali apa yang Allah
telah ilhami saat kitab-kitab itu ditulis, konsili semata-mata mengesahkan apa
yang sudah merupakan firman Allah
b. Arti metaphor. Seperangkat peraturan/standard norma (kaidah) dalam hal etika,
literatur dsb.
c. Arti teologis. Dalam sejarah gereja abad 1 kata "kanon" dipakai untuk menunjuk
pada peraturan atau pengakuan iman. namun pada pertengahan abad ke 4 (dimulai
oleh Athanasius), kata ini dipakai untuk menunjuk pada Alkitab, dan memiliki 2
arti, yaitu:
1) daftar naskah kitab-kitab, yang berjumlah 66 kitab, yang telah memenuhi
standard peraturan-peraturan tertentu, yang diterima oleh gereja sebagai kitab-
kitab kanonik yang diakui diinspirasikan oleh Allah.
2) kumpulan kitab-kitab, yang berjumlah 66 kitab, yang diterima sebagai Firman
Tuhan yang tertulis, yang berotoritas penuh bagi iman dan kehidupan manusia.
2 Kor 10:13-16 - batas Gal 6:16 – patokan
2. Sejarah pemakaian istilah kanon dalam gereja mula-mula, kata ini dipakai terhadap
Alkitab yang bersifat kanonik.
3. Pertimbangan yang dipakai untuk menerima Kanon
a. Bukti dari Alkitab sendiri. Bahwa tulisan dalam kitab-kitab kanon itu diinspirasikan
oleh Allah (2 Tim 3:16). Dengan demikian jelas kitab-kitab itu tidak hanya ditulis
oleh tangan manusia namun merupakan campur tangan Allah sepenuhnya
(theopeustos). Oleh sebab itu seluruh tulisan Alkitab memiliki otoritas penuh
dari Allah.
b. Ditulis oleh orang-orang yang hidupnya dipimpin oleh Allah, baik para nabi (PL)
maupun rasul (PB) atau orang-orang yang di bawah pengawasan mereka.
c. Ada bukti-bukti dari dalam dan jelas tentang keaslian penulisannya.
d. Ada pengaruh kuasa Allah dalam tulisan-tulisan itu yang sanggup mengubah hidup
manusia.
e. Secara aklamasi diterima oleh umat Allah secara luas sebagai kitab- kitab yang
diinspirasikan oleh Allah. (Gal 6:16, Luk 11:51, Kol 4:16, Wah 22:18)
4. Beberapa pengertian yang salah tentang penerimaan Kitab kanon. Diantara banyak
kitab-kitab kuno yang harus dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam kanon Alkitab,
tidak semuanya diterima sebagai kitab kanon. Pertimbangan-pertimbangan terhadap
kitab-kitab itu:
a. Tidak didasarkan pada tuanya.
b. Bukan sebab ditulis dalam bahasa Ibrani.
c. Bukan sebab setuju dengan Taurat.
d. Bukan sebab memiliki nilai agama.
5. Sejarah Kanon PL.
Kanon PL tidak mengalami banyak kesulitan untuk diterima, sebab pada waktu
kitab-kitab PL itu ditulis, saat itu juga langsung diterima sebagai kitab-kitab yang
diinspirasikan oleh Allah sehingga otoritasnya diakui. Kitab-kitab (yang berupa
gulungan-gulungan) disimpan bersama-sama dengan Tabut Perjanjian yaitu di Kemah
Tabernakel dan juga kemudian di Bait Allah. Para imam memelihara kitab-kitab itu dan
mereka juga yang membuat salinan-salinannya jika diperlukan. Ula 17:18; 31:9, 24-
26 ;1Sa 10:25; 2Ra 22:8; 2Ta 34:14. Teks Masoret PL membagi ke-39 kitab-kitab PL
sbb.:
a. Kitab Hukum (Pentateuch)
b. Kitab Nabi-nabi (Yosua, Hakim-hakim, 1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 raja-raja, nabi besar
dan nabi kecil)
c. Tulisan (disebut juga ―Mazmur‖, termasuk puisi dan kitab-kitab kebijaksanaan -
Mazmur, Amsal, dan Ayub; Gulungan – Kidung Agung, Rut, Ratapan,
Pengkhotbah, dan Ester; dan Kitab Sejarah Daniel, Ezra, Nehemia, dan 1-2
Tawarikh).
Pada waktu bangsa Yahudi dibuang ke tanah Babel, dan Yerusalem dihancurkan
pada tahun 587SM, kitab-kitab itupun juga dibawa ke tanah pembuangan (Dan 9:2).
Pusat ibadah mereka kini bukan lagi Bait Allah di Yerusalem, namun kitab-kitab itu.
Setelah pembangunan kembali Bait Allah, kitab- kitab itupun dipelihara dan
dipindahkan ke sana. (Ezr 7:6; Neh 8:1; Yer 27:21-22)
Penyusunan seluruh kitab-kitab PL selesai pada tahun 430SM, iman Ezra lah yang
memainkan peranan penting dalam proses pengumpulan dan penyusunan kitab-kitab PL
ini. Selain kitab-kitab Pentatuk (Kejadian-Ulangan) yang sangat dihargai, kitab-kitab
para nabi juga biasa dibaca dalam ibadah Yahudi di rumah-rumah ibadah pada waktu
jaman PB (Luk 4:16-19).
Pada tahun 90M para ahli Taurat dan pemimpin bangsa Yahudi melakukan
persidangan di Yamnia. Salah satu keputusan yang diambil dalam persidangan itu
yaitu penerimaan kanon PL, yaitu 39 kitab sebagai kanon Alkitab, seperti yang kita
pakai sekarang. Jadi penetapan itu sebenarnya hanya memberikan pengakuan akan
kitab-kitab yang memang sudah lama dipakai dalam ibadah orang Yahudi.
6. Sejarah Kanon Perjanjian Baru
Pengkanonan PB mengalami lebih banyak pergumulan daripada PL. Baru pada
pertengahan abad 4 Masehi masalah pengkanonan PB dianggap selesai.
a. Latar belakang Kanon PB diawali dengan keadaan dan kebutuhan yang mendesak
yang harus segera ditangani oleh gereja-gereja saat itu, antara lain:
b. Krisis Otoritas. Dibutuhkannya suatu pedoman iman dan kehidupan yang diakui
berotoritas, apalagi setelah Tuhan Yesus dan para Rasul sudah tidak ada lagi
diantara mereka.
c. Krisis Pengajaran. Adanya pengajaran sesat yang mulai menyusup ke dalam gereja-
gereja, sehingga diperlukan adanya satu sumber yang dapat menjadi standard
pengajaran yang benar.
d. Dorongan Misi. Penyebaran pengajaran Injil Yesus Kristus semakin berkembang ke
daerah-daerah lain, sehingga diperlukan adanya kesepakatan terhadap kitab-kitab
standard yang harus diterjemahkan.
e. Tekanan penganiayaan. Semakin kuatnya penganiayaan yang dilancarkan kepada
orang-orang Kristen baru mendorong gereja untuk mempertahankan sumber
pengajaran demi kemurnian iman dan pengajaran yang sehat.
Setelah kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga, pengajaran Injil diteruskan oleh
para Rasul Tuhan dengan penuh otoritas sebab merekalah saksi-saksi mata tentang
keselamatan yang diajarkan oleh Yesus. Tulisan-tulisan tentang pengajaran iman
Kristen oleh para Rasul (antara tahun 50-100M) sangat dibutuhkan mengingat bahwa
merekalah para saksi mata yang dapat memberitakan pengajaran Injil Yesus Kristus
dengan jelas dan menafsirkannya dengan tepat, sesuai dengan pimpinan Roh Kudus
kepada mereka. (Yoh 14:26).
Selama thn. 100-200M, tulisan-tulisan para Rasul itu dipakai dan dikumpulkan oleh
sidang-sidang jemaat (Kol 4:15-16). Pada tahun 200 M sebenarnya kanon utama PB
sudah terbentuk, dan disebut sebagai "Kanon Muratori" yang berisi 21 kitab/buku dan
kemudian 6 kitab lagi ditambahkan. Memasuki abad ke 5 barulah dalam pertemuan
konsili di Hippo dan Kartago tercapai kesepakatan diantara gereja Barat dan Timur dan
menerima 27 kitab sebagai Kanon PB, seperti yang kita pakai sekarang.
7. Kitab-Kitab Apokrifa
Definisi/Pengertian Istilah "apokrifa" berasal dari bahasa Yunani apokrufos, artinya
"tersembunyi". Sekarang Apokrifa dimengerti sebagai sejumlah kitab-kitab yang tidak
dimasukkan ke dalam kanon Alkitab, namun yang disebutkan dalam Alkitab, yang ditulis
pada waktu yang bersamaan, atau tidak lama sesudah Alkitab ditulis. Pendirian orang
Kristen terhadap kedudukan kitab-kitab Apokrifa sebagai Kanon memang sedikit
terombang-ambing sampai abad ke 16, namun sejak semula sebenarnya mereka sudah
menolak menganggap kitab-kitab itu sebagai kanon.
Macam-macam Apokrifa
a. Apokrifa PL
Kitab-kitab ini ditulis antara tahun 300SM - 100 M. Kebanyakan tidak diketahui
penulisnya. Kitab-kitab ini berjumlah 15 buah dan dimasukkan dalam versi
Septuaginta abad 4. Apokrifa PL dibagi dalam 5 jenis, yaitu:
1) Pengajaran
2) Roman Religius
3) Sejarah
4) Nubuat
5) Dongeng
b. Apokrifa PB Tidak ada daftar yang pasti untuk kitab-kitab Apokrifa PB.
Kebanyakan kitab-kitab itu berisi fiksi religius, yaitu untuk memenuhi keinginan
mereka mengetahui informasi tentang peristiwa- peristiwa dalam kehidupan Tuhan
Yesus yang tidak tertulis dalam Injil kanon. Juga cerita-cerita tentang akhir
kehidupan para Rasul yang tidak diceritakan dalam kitab kanon PB. Beberapa kitab-
kitab Apokrifa PB:
Kitab
terbatas Yud
1) Shepherd of Hermas
2) Didache, Teaching of the Twelve
3) Epistle of Pseudo Barnabas (Injil Barnabas)
4) Gospel acconding to the Hebrews (Injil
Ibrani) Alasan menolak kitab-kitab Apokrifa
PL
1) Kitab-kitab itu tidak dimasukkan dalam PL Ibrani
2) Penulis-penulis PB tidak ada yang mengutipnya, sedangkan kitab-kitab PB lain
biasanya dikutip.
3) Yesus tidak pernah menyebutkan kitab-kitab itu.
4) Tidak ada bukti bahwa Apokrifa dimasukkan dalam Septuaginta abad 2.
5) Konsili-konsili gereja tidak pernah mengakuinya dan Bapak-bapak gereja juga
menolak.
6) Tidak ada klaim "inilah Firman Tuhan" dalam Kitab-kitab tsb.
7) Adanya kesalahan-kesalahan dalam bidang sejarah, kronologi dan peta bumi.
8) Juga kisah-kisahnya bersifat khayal.
9) Ajaran moralnya rendah.
Penerimaan Gereja Roma Katolik, Ada 2 ajaran Gereja katolik yang didukung
Apokrypha.
1) mendoakan orang mati (surat Makabe).
2) keselamatan melalui perbuatan (Tobit).
Alasan-alasan menolak Apokrifa PB.
1) Hanya dikenal secara lokal.
2) Tidak ada konsili gereja yang mengakui.
3) Hanya dianggap semi kanon.
Namun demikian, ada nilai manfaat yang diakui:
1) Gambaran gereja secara umum setelah jaman para Rasul.
2) Sebagai jembatan bagi tulisan-tulisan PB dengan tulisan dari Bapak- bapak
Gereja abad 3 dan 4.
3) memiliki nilai sejarah tentang hal-hal praktis dan siasat gereja mula-
mula. Contoh-contoh Buku yang akan diuji untuk dapat diterima ke Dalam Kanon PB,
digolongkan ke dalam empat kelompok:
1) Homologoumena (yang diterima sebagai kanon-27 Kitab)
2) Antilegomena (yg melewati perdebatan sebelum diterima menjadi kanon-7 kitab)
3) Pseudepigrapha (yg ditolak dan dianggap tidak otentik-lebih dari 280 kitab)
4) Apocrypha (yg hanya diterima sebagian orang sebagai kanon atau semi kanon)
Ada 7 kitab dalam PB yang sempat diperdebatkan:
G. Komposisi Alkitab
1. Reliabilitas Teks PL
Meskipun kita tidak memiliki lagi naskah asli baik PL maupun PB, teks Alkitab
yang kita miliki sekarang tetap reliable (dapat dipercaya/diandalkan). Sejarah
perkembangan teks PL akan menyatakan hal ini . Pekerjaan menyalin naskah kuno
yaitu suatu karya yang membosankan, namun orang-orang Yahudi dikenal ulet dalam
hal ini. Ada aturan yang menetapkan jenis perkamen, banyaknya garis yang harus
ditulis, warna tinta, dan masalah revisi. saat perkamen-perkamen itu mulai
ditunjukkan, orang-orang Yahudi itu membakar naskah yang ada. Hasilnya, hingga
penemuan Gulungan Laut Mati di Qumran, naskah yang tertua berasal dari tahun 900
AD.
Di samping itu, reliabilitas teks PL nampak dalam transkrip teks yang cermat di
zaman Ezra dan selanjutnya di bawah orang-orang Masoret, yang mengembangkan
tradisi pemeliharaan dan ketepatan penyalinan teks. Mereka menjamin keakuratan
ini dengan menghitung jumlah huruf dalam kitab itu, dengan mencatat huruf
tengahnya, dan ini pun pekerjaan yang membosankan. Misalnya, mereka mencataat
bahwa huruf Ibrani aleph muncul 42.377 kali dalam PL. Jika hitungan salinan baru tidak
sama dengan hitungan salinan aslinya, naskah itu disalin ulang. Jika suatu kata atau
kalimat tidak benar muncul dalam teks (disebut kethib) mereka membuat usulan
perbaikannya di sisi kitab (disebut qere). Orang-orang Masoret pulalah yang
membubuhkan bunyi hidup kepada teks, sebab waktu itu teks Ibrani hanya
memakai konsonan. Beberapa sumber kuno berikut ini menunjukkan reliabilltas PL
:
a. Gulungan Laut Mati - tidak ada perbedaan antara gulungan Kitab Yesaya di Qumran
(Laut Mati), dengan teks Masoret lbrani yang bertanggal seribu tahun kemudian.
b. Septuaginta - yaitu terjemahan PL Ibrani ke bahasa Yunani yang dilakukan oleh 70
ilmuwan Yahudi, dilakukan di Alexandria, Mesir, tahun 250-150 SM. Penerjemahan
itu berdasar teks Ibrani yang 1000 tahun lebih tua dari teks Ibrani yang ada
sekarang. Dan beberapa penulis PB mengutip dari Septuaginta ini.
c. Pentateuch dari Samaria - yaitu terjemahan dari Kitab Muds yang dibuat untuk
menolong penyembahan orang Samaria di Gunung Gerizim. Terjemahan itu lepas
dari teks Masoret. Teks ini merupakan saksi penting teks PL, meskipun ada sekitar
6000 perbedaan dibandingkan teks Masoret, namun perbedaan kecil, yang berkaitan
dengan tata bahasa dan pengucapan.
d. Targum-targum Aram - Sesudah orang Israel kembali dari pembuangan di Babel,
orang Yahudi umumnya meninggalkan bahasa Ibrani dan beralih ke bahasa Aram.
Targum yaitu terjemahan dari teks Ibrani ke bahasa Aram, dan merupakan bukti
yang baik untuk mempelajari PB di samping menjadi saksi teks PL.
e. Pembagian Kitab dalam Kanonisasi Alkitab Perjanjian Lama
1) Taurat, yang terdiri dari 5 kitab (disebut Pentateuch) yang ditulis oleh Musa,
yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan.
2) Sejarah, yang terdiri dari 12 kitab : Yosua, Hakim-hakim, Ruth, 1-2 Samuel, 1-2
Raja-raja, 1-2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, dan Ester.
3) Nyanyian, yang terdiri dari 5 kitab : Ayub, Mazmur (disebut juga Kitab Puisi),
Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung.
4) Nubuatan, yang terdiri dari 5 kitab nabi besar : Yesaya, Yeremia, Ratapan,
Yehezkiel dan Daniel ; serta 12 kitab nabi kecil : Hosea, Yoel, Obaja, Yunus,
Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakaria dan Maleakhi (urutan ini
tidak disusun secara kronologis).
2. Reliabilitas Teks PB
Meskipun kita tidak memiliki naskah asli PB, namun kitab-kitab yang memberi
kesaksian terhadap teks PB cukup banyak. Ada sekitar 5000 naskah baik yang memuat
PB lengkap atau bagian-bagiannya.
20
a. Naskah-naskah Papirus - Ini merupakan naskah-naskah tua dan saksi penting,
misalnya Chester Beatty Papyrus dari abad III.
b. Naskah-naskah Uncial - terdapat sekitar 240 naskah uncial, yakni yang berhuruf
besar, misalnya:
1) Codex Sinaiticus - seluruh PB bertanggal tahun 331
2) Codex Vaticanus - sebagian besar PB, dari abad IV
3) Codex Alexandrinus - seluruh PB, kecuali sebagian Matius, dan penting untuk
teks Wahyu, dari abad V
4) Codex Ephraemi - dari abad V
5) Codex Bezae - dari abad V-VI
6) Codex Wasahington - dari abad IV-V
c. Naskah-naskah Minuscule - terdapat sekitar 2800 naskah minuscule, yaitu berhuruf
kecil, umumnya tidak setua uncial.
d. Versi-versi Alkitab - Sejumlah versi-versi awal PB juga menolong dalam memahami
teks yang benar. Misalnya:
1) Versi-versi Syria - Diatessaron Tatian (170 AD), Old Syriac (200 AD), Peshitta
(abad V), Palestinian (abad V), Palestinian Syriac (abad V).
2) Versi Vulgata Latin - diterjemahkan oleh Jerome (± 400 AD), mempengaruhi
gereja barat
3) Versi Coptic - Abad V, termasuk Versi Sahidic dan Versi Bohairic,
mempengaruhi Mesir.
e. Pembagian Kitab dalam Kanonisasi Alkitab Perjanjian Baru
1) Injil, yang terdiri dari 4 kitab : Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Dengan
kata lain, ―Injil‖ Barnabas, Yudas, dll yaitu ―injil‖ palsu (Galatia 1:6-10).
2) Sejarah, yang terdiri dari 1 kitab : Kisah Para Rasul yang mencatat
perkembangan keKristenan khususnya yang dikerjakan oleh para rasul Kristus,
seperti Paulus, Petrus, dll setelah kenaikan-Nya.
3) Surat-surat, yang terdiri dari : a) 14 kitab surat Paulus : Roma, 1-2 Korintus,
Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1-2 Tesalonika, 1-2 Timotius, Titus, Filemon
dan Ibrani ; b) 7 surat non-Paulus : Yakobus, 1-2 Petrus, 1-3 Yohanes dan
Yudas.
4) Kitab Apokaliptik, yang terdiri dari kitab Wahyu yang mengandung penglihatan,
wahyu tentang akhir zaman dan hal-hal yang akan datang (future).
H. Otoritas Alkitab
1. Kewibawaan (Authority)
a. Pengertian/Definisi. Seluruh Alkitab yaitu Firman Allah; tidak mempercayai.
atau mentaati Alkitab berarti tidak percaya atau tidak taat kepada Allah. Dengan
kata lain, Alkitab memegang otoritas tertinggi dan terakhir untuk iman dan
kehidupan orang percaya, sebab Alkitab yaitu Firman yang datang dari Allah
sendiri.
b. Bukti-bukti Kewibawaan dari dalam Alkitab. Dalam banyak tempat di Alkitab
dikatakan "Demikianlah Firman Tuhan...." Bentuk kalimat ini dalam dunia PL
identik dengan bentuk kalimat "Demikian kata Raja...." yang berarti suatu titah
yang datang dari yang memiliki kekuasaan/otoritas tertinggi (raja) dan tidak
dapat diganggu gugat, harus dilakukan dan dilaksanakan. Ms.: Bil 22:38; Ula
18:18-20; Yer 1:9. Dalam PB, ada beberapa ayat yang jelas sekali menunjukkan
bahwa tulisan dalam PL yaitu Firman Allah, mis.: 1 Tim 3:16; 2 Pet 1:21.
Dalam PB juga terdapat ayat-ayat yang menunjukkan bahwa tulisan dalam PB
yaitu Firman Allah. Mis.: 2 Pet 3:16; 1Tim 5:18; 1 Kor 14:37; Yoh 14:26;
16:13
c. Penerimaan akan kewibawaan (otoritas). Alkitab Penerimaan orang percaya
bahwa Alkitab yaitu Firman Allah yaitu dari keyakinan yang diberikan oleh
Roh Kudus dalam hati manusia yang sudah diperbaharui. Dengan demikian
penerimaan akan kewibawaan (otoritas) Alkitab dalam kehidupan orang percaya
yaitu sebab iman, bukan datang dari manusia sendiri. Ref. 1Kor 2:13-14; Yoh
10:27
2. Inerensi (Inerrancy)
Pemahaman tentang pengilhaman sesuai dengan pandangan orthodoks memuat
istilah-istilah: verbal (menyangkut seluruh kata), plenary (menyangkut seluruh Kitab
Suci), infallible (tidak akan gagal), inerrant (tidak memuat kesalahan), unlimited
(tidak terbatas).
a. Pengertian/Definisi. Secara umum, inerensi diartikan bahwa Alkitab (PL dan
PB) yaitu seluruhnya Firman Allah yang ditulis tanpa salah pada naskah
aslinya. Istilah "inerrancy" sering kali dibingungkan dengan istilah
"infallability." "Infallability" artinya Alkitab tidak mungkin menyesatkan sebab
semua ajarannya yaitu kebenaran (tidak melawan ajaran moral). Sedangkan
penekanan ineransi yaitu kesalahan tulisan dan data yang ada di dalam
Alkitab. Istilah ―inerensi‖ (ketak-bersalahan) menurut E.J. Young berarti
―Kitab Suci memiliki kebebasan berkualitas dari kesalahan. Tidaklah mungkin
salah, tidak bisa keliru. Dalam seluruh pengajarannya sempurna sesuai dengan
kebenaran. Sedangkan menurut Charles Ryrie dijelaskan dengan silogisme
sebagai berikut: ―Allah yaitu benar (Roma 3:4); Kitab Suci dihembusi nafas
Allah (2 Tim. 3:16); oleh sebab itu Kitab Suci benar (sebab berasal dari
hembusan nafas Allah yang benar)‖. Selanjutnya ia menyatakan bahwa ―secara
sederhana Allah mengatakan kebenaran. Kebenaran dapat meliputi perkiraan,
kutipan bebas, bahasa yang digunakan, dan berbagai hal sepanjang t












