Kamis, 16 Juli 2026

teori gereja 1



Kata 'teologi' berasal dari bahasa Yunani koine, namun  lambat laun memeroleh makna

yang baru saat  kata itu diambil dalam bentuk Yunani maupun Latinnya oleh para penulis

Kristen. sebab  itu, pemakaian  kata ini, khususnya di Barat, memiliki  latar belakang

Kristen. Namun, pada masa kini istilah ini  dapat digunakan untuk wacana yang

berdasar  nalar di lingkungan ataupun tentang berbagai agama. Di lingkungan agama

Kristen sendiri, disiplin 'teologi' melahirkan banyak sekali sub-divisinya.

Dalam gereja Kristen, teologi mula-mula hanya membahas ajaran mengenai Allah,

kemudian artinya menjadi lebih luas, yaitu membahas keseluruhan ajaran dan praktik

Kristen. Dalam upaya merumuskan apa itu ilmu teologi, maka ada beberapa unsur yang

perlu  diperhatikan, yaitu  tidak  akan ada teologi  Kristen  tanpa keyakinan  bahwa  Allah

bertindak atau berfirman secara khusus dalam Yesus Kristus yang menggenapi perjanjian

dengan umat Israel.1 Pada Abad Pertengahan, teologi merupakan subyek utama di sekolah-

sekolah universitas dan biasa disebut sebagai "The Queen of the Sciences". Dalam hal ini

ilmu filsafat merupakan dasar yang membantu pemikiran dalam teologi.

Sistem Teologi bukan eksklusif milik orang Kristen, namun  semua agama. Pada

umumnya, dunia sekuler, berdasar  definisi filsafat Aristoteles, menyebut disipilin

Teologi sebagai Filsafat Teologi atau Metafisika. Bagi gereja, Teologia memiliki dua

pengertian, yaitu (1). Pengajaran tentang Allah dan (2). Pengetahuan tentang Allah.

Sumber utama Teologi Kristen yaitu  Alkitab. Teologia Kristen yaitu  upaya logis untuk

mempelajari  tentang Allah dengan sumber utama yaitu  Alkitab.  Sedangkan tradisi  dan

tulisan-tulisan bapak-bapak gereja dan teolog-teolog klasik lainnya yaitu  sebagai

pembantu-panduan pengembangan Teologi selanjutnya.

Arti  etimologis  (asal kata) Istilah "Teologia"  berasal  dari  2 kata  Yunani,  yaitu:  θεορ

(theos) artinya "Allah"; dan λογια (logia) artinya "perkataan,  uraian, pikiran, ilmu". Jadi

teologi berarti ‗uraian atau buah pikiran tentang Allah‗.

Defenisi istilah ―teologia‖ bisa sempit dan bisa luas. Secara sempit teologi berarti

‗ajaran tentang Allah‗; sedangkan secara luas, teologi berarti ‗keseluruhan ajaran Kristen‗. 

Defenisi umum:   Teologia   ialah ‗pengetahuan yang rasional tentang Allah dan

hubungannya dengan karya/ciptaan-Nya seperti yang dipaparkan oleh Alkitab‗. Pengertian

Teologia sebagai Ilmu Teologia meskipun tidak memiliki fakta-fakta yang dapat diukur 

secara empiris (seperti ilmu-ilmu modern sekarang ini) tetap dapat disebut sebagai ilmu

sebab  sesuai dengan salah satu definisi "ilmu", teologia yaitu  suatu usaha untuk 

memberikan penjelasan tentang Allah, yang diperoleh dari Alkitab (sebagai  penyataan 

Allah yang tidak berubah), dengan cara yang sistematis. Oleh A. H. Strong Teologia 

didefenisikan secara sederhana sebagai "ilmu tentang Allah dan hubungan-hubungan antara

Allah dan alam semesta." sebab  Teologia itu merujuk kepada Allah, maka, Thomas 

Aquinas, mendefinisikannya secara spesifik, sebagai "pikiran Allah, ajaran Allah dan 

memimpin kepada Allah.

Dengan demikian Teologia Kristen memenuhi unsur-unsur ilmu:

1. Dapat dimengerti oleh pikiran manusia dengan cara teratur dan rasional.

2. Menuntut adanya penjelasan secara metodologis

3. Menyajikan kebenaran

4. memiliki  nilai yang universal

5. Memiliki objek yang diteliti

Teologi merupakan penemuan, penyusunan, dan penyajian kebenaran-kebenaran

tentang Allah. Teologi Kristen berarti suatu interpretasi yang rasional mengenai iman

Kristen. Teologi Kristen merupakan suatu studi yang berdasar  Alkitab

Teologi dapat didaftarkan menurut berbagai macam cara.

1. berdasar  era; antara lain teologi patristik para bapak gereja, teologi abad 

pertengahan, teologi reformasi, teologi modern.

2. berdasar  sudut pandangan; antara lain teologi Arminian, teologi Calvinis, teologi

Katolik, teologi Barth, teologi Pembebasan, dsb.

3. berdasar  fokus; antara lain teologi historis, teologi Alkitab, teologi sistematika,

teologi apologetis, teologi eksegetis, dan lain sebagainya.

Sedangkan Bancroft menyatakan bahwa teologi yaitu  pengetahuan tentang Allah dan

tentang  hubungan antara  Allah  dan  semesta.  berdasar   sumbernya,  teologi  dibedakan

menjadi:

1. Teologi Alam, bahwa semesta ini merupakan sumber teologi. Alkitab menyatakan

bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam alam (Maz.119:1-6; Kis. 14:17; Rom.

1:20)

2. Teologi Alkitab, bahwa pewahyuan Kristen merupakan sumber utama teologi. Alkitab

dengan jelas menyatakan bahwa pewahyuan Allah dalam alam tidak menyediakan

segala pengetahuan yang diperlukan oleh orang berdosa (Kis. 17:23; Ef. 3:9)

Menurut Ichwei G. Indra, definisi teologi yaitu  bahasa gereja untuk menguji dan

mencapai  kesetiaan  kepada Firman Allah di  tengah-tengah bahasa,  pikiran,  dan konteks

budaya yang berubah.6 Ichwei membagi Teologi Kristen menurut berbagai macam cara:

1. Menurut metode wahyu: teologi natural dan supernatural.

2. Menurut tujuan: teologi sistematis, polemik atau kontroversial, dan praktis.

3. Menurut pokok utama kepercayaan: teologi panteistis, deistis, dan rasionalistis.

4. Menurut nama pendiri dan sudut pandang: teologi Arminian, Calvinis, Katolik, Barth,

Pembebasan, dll.

5. Menurut sumber yang dipakai: teologi Alkitabiah, dogmatis dan ekklesiastis.

6. Menurut era: teologi Partristik, abad pertengahan, reformasi dan modern.

7. Menurut bidang kajian:

a. Teologi  Eksegetis:  berurusan dengan penelaahan naskah Alkitab dn pokok-pokok

bahasan yang berkaitan.  Teologi  eksegetis  meliputi  penelaahan bahasa,  arkeologi,

isagogic, hermeneutik, dan teologi alkitabiah.

b. Teologi Historis: mempelajari  sejarah umat Allah dalam Alkitab dan gereja sejak

zaman Kristus. Teologi historis membahas asal mula perkembangan dan penyebaran

agama Kristen dan semua doktrin, organisasi serta tradisi gereja.

c. Teologi Sistematis: mempergunakan bahan-bahan yang disajikan oleh teologi

eksegetis  dan historis  lalu  ditata  menurut  suatu  tatanan yang logis  sesuai  dengan

pokok-pokok besar dalam penelitian teologis. Teologi sistematis meliputi

apologetik, polemik dan etika Kristen.

d. Teologi Praktis: membahas penerapan teologi terhadap pembaharuan, pengudusan,

pembinaan, pendidikan dan pelayanan manusia. Teologi ini meliputi homiletika,

organisasi, dan administrasi gereja, tata ibadah, pendidikan agama Kristen dan

penginjilan (missiologi).

Berbeda dengan Erickson yang mendefinisikan teologi  sebagai  bidang studi yang

berusaha untuk menyampaikan suatu pernyataan yang berhubungan secara logis tentang

doktrin-doktrin iman Kristen, yang terutama berdasar  Alkitab

B. Istilah Teologi Sistematika

Kata ―sistematika‖ berasal dari kata kerja Yunani ―sunistano‖, yang berarti ―berdiri

bersama‖ atau ―mengorganisir‖, sebab  itu, Teologi Sistematika menekankan

sistimatisasi/pengaturan teologi.

Chafer menyediakan sebuah definisi yang tepat tentang teologi sistematika. “Teologi

Sistematika dapat ditegaskan sebagai pengumpulan, penyusunan secara ilmiah,

membandingkan, memperlihatkan, dan mempertahankan semua fakta dari mana pun dan

setiap sumber berkenaan dengan Allah dan pekerjaan-Nya

Teologi Sistematika menghubungkan data tentang penyataan Alkitab secara menyeluruh

untuk menunjukkan gambaran total mengenai penyataan diri Allah secara sistematis.

Teologi sistematika bisa meliputi berbagai latarbelakang historis, apologetik dan

pembelaan, serta karya eksegetis. namun  fokusnya terletak pada struktur total doktrin

tentang Alkitab. Teologi sistematika memuat 10 pokok kepercayaan Kristen yang meliputi

:

1. Teologi Proper, yaitu doktrin Kristen mengenai Allah

2. Bibliologi, yaitu doktrin Kristen mengenai Alkitab

3. Kristologi, yaitu doktrin Kristen mengenai Yesus Kristus.

4. Angelologi, yaitu doktrin Kristen mengenai malaikat, termasuk tentang iblis dan setan.

5. Anthropologi, yaitu doktrin Kristen mengenai manusia.

6. Hamartiologi, yaitu doktrin Kristen mengenai dosa.

7. Soteriologi, yaitu doktrin Kristen mengenai keselamatan.

8. Pneumatologi, yaitu doktrin Kristen mengenai Roh Kudus.

9. Eklesiologi, yaitu doktrin Kristen mengenai gereja.

10. Eskatologi, yaitu doktrin Kristen mengenai perkara-perkara akhir.

II. Pentingnya belajar Teologi Sistematika

1. Manusia  sebagai  mahluk ciptaan yang  berasio. Manusia memiliki   kecenderungan

untuk berpikir dan mempelajari sesuatu secara sistematis.

2. Sifat Alkitab sendiri yang menuntut untuk disusun secara sistematis. Kebenaran

tersebar secara acak di seluruh bagian Alkitab, sehingga perlu disusun secara

sistematis.

3. Bahaya pengajaran sesat. Untuk memberikan jawaban akan iman kepercayaannya dan

sekaligus melawan setiap tantangan dari pengajaran palsu. 1Pet 3:15, Efe 4:14

4. Alkitab yaitu  sumber doktrin Kristen. Tugas orang Kristen yaitu  untuk menjelaskan

doktrin-doktrin itu dalam sistematika yang baik dan di dalam konteks yang tepat

sehingga dapat menjawab pertanyaan, "Apa yang diajarkan oleh Alkitab kepada kita

untuk jaman ini?"

5. Alkitab yaitu  pedoman hidup Kristen. Mengerti Teologia bukan hanya sekedar sebagai

pengetahuan teoritis, tapi juga sebagai gaya hidup yang berintegritas. 2 Tim 2:24-25;

2Tim 3:15-16

III. Sumber-Sumber dalam Berteologi

A. Alkitab.

Alkitab sebagai wahyu Allah merupakan sumber primer pertama dan yang paling utama

dalam berteologi. Sebagai sumber yang paling utama yang menjadi otoritas tertinggi dan

mutlak bagi iman dan kehidupan Kristen. Jika kita ingin berteologi, maka kita tidak dapat

melepaskan dari teks Alkitab. Alkitab yaitu  firman Allah yang diwahyukan untuk

menyatakan kebenaran kepada manusia. Alkitab merupakan standar, pegangan, dan dasar

dalam membangun sebuah teologi sebab  melalui Alkitab, kebenaran Allah dinyatakan

kepada manusia.  Alkitab merupakan dasar  atau sumber berteologi  sebab  kita  memiliki

keyakinan bahwa Alkitab   merupakan pernyataan Wahyu Allah untuk kehidupan manusia

(2 Tim 3:16).

B. Alam semesta.

Alam semesta merupakan ciptaan Allah menyimpan rahasia ilahi dan mengungkapkan

sifat-sifat ilahi. Alkitab menyatakan bahwa alam semesta merupakan karya-Nya, sehingga

hal ini  dapat dipakai sebagai referensi dalam berteologi. Seperti yang dikatakan oleh

pemazmur    ―Langit     menceritakan       kemuliaan   Allah‖    dan   ―cakrawala

memberitakan pekerjaan TanganNya‖ (Mazmur 19:2).

C. Pengakuan doctrinal

Pengakuan  doctrinal  yang  dihasilkan  melalui  Konsili-konsili  dapat  menjadi  referensi

sekunder  dalam berteologi.  Pengakuan iman ini   terlahir  melalui  pergumulan gereja

yang panjang yang dilakukan oleh Bapa-bapa gereja  saat   gereja  menghadapi  berbagai

tantangan zaman. Pengakuan Iman Nicea, Pengakuan Iman Nicea-Kontanstinopel,

pengakuan Westminster misalnya, termasuk pemikiran teologi yang terlahir melalui proses

pergumulan yang mendalam.

D. Tradisi gereja

Khususnya dari Bapak-bapak Gereja, dan perkembangan pengajaran di gereja dari

jaman  ke  jaman,  yaitu  tentang  apa  yang  diterima/ditolak  oleh  gereja  sepanjang sejarah

tradisi gereja dapat juga menjadi referensi sukender ke dua dalam berteologi. Tradisi gereja

dapat  dipertahankan dan dijadikan sebagai  dasar berteologi  sebatas  tradisi  ini   tidak

bertentangan dengan Alkitab. Tradisi dapat mengekspresikan dan menginsyaratkan simbol

dan lambang sebagai pemaknaan kebenaran.

IV. Rumpun Teologi

V. Hubungan Teologia Sistematika Dengan Disiplin Ilmu Lain

jika  teologia harus menjadi sarana komunikasi kepada Allah atau harus menjawab

kebutuhan kehidupan setiap zaman, maka pertanyaan yang langsung timbul yaitu : bagaimana

hubungan antara teologia  dengan disiplin  ilmu pengetahuan lainnya?  Apakah teologia  dapat

membangun  hubungan  atau  memiliki   kaitan  dengan  sosiologi  misalnya?  Bagaimana  pula

dengan kedokteran, psikologi, filsafat, musik, atau bahkan ilmu pengetahuan alam? Mengenai

hubungan teologia dengan disiplin lainnya sudah kerap kali timbul di dalam sejarah teologia.

Yang  paling  dominan  dibicarakan  yaitu   hubungan  antara teologia  dengan  filsafat.  Namun

sayangnya tidak semua teolog melihat disiplin lain (terutama filsafat) dengan positif.

Dalam sejarah gereja, Tertullian (160-220) pernah mempertanyakan hubungan antara iman

dan rasioIa memakai istilah ―Yerusalem‖ untuk menggambarkan iman dan ―Athena‖ untuk

rasio, sebab  pada waktu Kekristenan muncul, Yerusalem yaitu  pusat iman dan Athena

merupakan pusat kekuatan filsafat  Yunani pada zaman itu. Intinya,  Tertullian menolak rasio

dihubungkan atau dikawinkan dengan iman Kristen.

Mirip dengan pendapat di atas yaitu  apa yang pernah dilontarkan oleh M. Luther, sang

Reformator pada abad ke-16. Menurutnya, rasio yaitu  pelacurnya Iblis.  Oleh sebab  rasio

lebih sering mempertanyakan dan meragukan firman Allah, maka rasio menurut Luther harus

diragukan kesetiaannya bagaikan pelacur yang selalu berganti-ganti pasangan dengan berbagai

pihak. Lalu, apakah filsafat harus ditabukan sama sekali dalam agenda berteologia?

A. Hubungan Teologi dengan Etika

Ilmu jiwa (Psikologi) berhubungan dengan kelakuan (behavior) manusia. Etika menjelaskan

masalah-masalah  tatanan  hidup yang terdiri  dari  Etika  Filsafat  dan  Etika  Kristen.  Psikologi

menguraikan bagaimana dan mengapa dari manusia. Etika bisa di diskripsikan mengkaji

pegangan  hidup manusia  dalam standard  manusia  baik  atau  jahat.  Etika  filsafat  melibatkan

doktrin tentang manusia, penebusan, lahir baru dan pendiaman ilahi dalam mencapai tujuannya.

Etika Kristen berbeda dengan filsafat etika sekuler. Perbedaanya dalam hal motivasi dan tugas.

Motif etika sekuler yaitu  Humanisme, Hedonisme, Utilaterialisme, dan perpecsionisme. Etika

Kristen yaitu  kerinduan untuk taat kepada Allah. Teologia memiliki lebih dari yang dimiliki

etika. Teologi mengulas doktrin seperti, Trinitas, ciptaan, Kejatuhan kedalam dosa, Inkarnasi,

penebusan dan sebagainya dimana hal ini  tidak dipelajari dalam etika.

B. Hubungan Teologi dengan filsafat

Pada dasarnya teologia dan filsafat memiliki tujuan yang sama namun berbeda dalam dalam

approach dan metode mencapai tujuan. Keduannya mencari sikap dan pandangan hidup yang

konfrehensif.  Teologi  mulai  dengan keyakinan eksistensi Allah dengan gagasan bahwa ialah

sumber dan pemicu  segala sesuatu. Filsafat mulai dengan materi yang lain diberikan dengan

gagasan bahwa itu cukup menerangkan bahwa semua eksistensi dari materi-materi yang lain.

Menurut ahli pikir Gerika bahwa sesuatu (materi) yang diberikan apakah air, udara, api, atom

yaitu  ide. Bagi orang modern, pikiran, kepribadisan, kehidupan atau sesuatu yang lain.

Teologi tidak hanya dimulai dari kepercayaan tentang adanya Allah, namun  juga percaya bahwa

Ia telah menyerahkan diriNya sendiri. Filsafat menolak kedua gagasa ini  diatas. Dari ide

tentang Allah dan studi tentang pernyataan ilahi ahli-ahli teologi mengembangkan sikap dan

pandangan hidup dan beradasarkan sesuatu diberikan dan anggapan khusus didalamnya.

Filsafat mengembangkan sikap hidup mereka. Teologi berdasar kepada objektivitas yang kokoh

sedangkan filsafat berdasar  kepada anggapan (assuption) dan spekulasi dari ahli-ahli pikir.

Namun demikian filsafat memiliki nilai tertentu bagi teologi, dengan menggabungkan konklusi

filsafat untuk menjelaskan posisi Alkitab.

VI. BIBLIOLOGI : Pengajaran Tentang Alkitab

A. Pentingnya Mempelajari Alkitab

Sekilas lintas nampaknya tidak ada manfaatnya jika  kita memperbincangkan sebab-

sebab mengapa kita harus mempelajari Firman Allah. Orang-orang percaya, baik yang baru

masuk  iman  maupun yang  sudah  lama harus  mendapat bimbingan Firman  Allah  terus-

menerus sepanjang hidup mereka,  agar mereka dapat mengenal  Kristus lebih mendalam.

namun  kini kenyataannya tidak demikian. Pengamatan membuktikan bahwa sebagian besar

orang Kristen memiliki pengetahuan Firman Allah terlalu minim.

B. Mengapa Kita harus Mempelajari Alkitab

1. Sebab Alkitab yaitu  Allah Sendiri Pengarangnya

Berulang-ulang Allah mengatakan bahwa Dialah Tuhan, Pencipta, Juruselamat,

Gembala, Hakim, dan lain-lain. Peran dan kehendak Allah dinyatakan dalam buku

ini. Kebanggaan bagi setiap pengarang jika  kita mengatakan saya telah membaca

buku Bapak. Hal yang sama seharusnya saudara katakan ―Yesus, saya sudah

membaca, dan akan terus membaca bukuMu.‖

2. Sebab Berulang-ulang Allah Memperintahkan

a. Janganlah  engkau lupa memperkatakan  kitab  Taurat…renungkanlah  itu  siang

dan malam…‖ (Yos. 1:8)

b. bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci…‖ (I Tim. 4:13)

c. manusia tidak dapat hidup dari roti saja, namun  juga dari perkataan yang

diucapkan oleh Allah‖ (Mat. 4:4)

3. Sebab Alkitab yaitu  Tuntunan Bagi Kehendak-Nya yang Mulia

a. Orang berdosa menerima keselamatan lewat berita Firman Allah

   yang berseru  kepada nama Tuhan, akan diselamatkan…namun  bagaimana

mereka dapat berseru…percaya…mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang

memberitakannya?‖ (Rm. 10:13-17)

   saat  mendengar hal itu heti mereka sangat terharu…‖ (Kis. 2:37)

   saat   orang banyak itu  mendengar  pemberitaan  Filipus  …mereka semua

dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu…‖ (Kis 8:4-8)

b. Orang percaya disucikan oleh Firman Allah

   Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, FirmanMu yaitu  kebenaran‖ (Yoh.

17:17)

   Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir…selalu ingin akan susu yang murni

dan yang rohani…‖ (I Pet. 2:2)

   Firman kasih karunia-Nya yang berkuasa membangun kamu…‖ (Kis. 20:32)

c. Firman Allah mengubah kehidupan kita yang lama menjadi manusia baru di

dalam Dia (Mzm. 3:16-17)

4. Sebab Musuh Kita (setan) Sudah Membacanya

Di dalam Matius 4, Kristus dicobai sebanyak 3 kali oleh iblis. Di dalam setiap kasus,

Yesus selalu menjawab: ―Ada tertulis‖. Di dalam pencobaan yang kedua, setan

menghendaki  Yesus  terjun  dari  bumbungan  bait  Allah  (Mat.  4:5-6).  Setan  mengutip

Mazmur 91:11 dan 12.

5. Sebab Alkitab yaitu  Jawaban yang Sempurna

Sering dipertanyakan manusia dari generasi ke generasi.

a. Dari mana asal-muasal manusia

   Allah berkata: Berfirmanlah Allah: „Baiklah Kita menjadikan manusia

menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di

laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan

atas segala binatang melata yang merayap di bumi.‟. Maka Allah

menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah

diciptakan-Nya dia;  laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka‖  (Kej.

1:26-27)

   Ketahuilah bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita…‖ (Mzm.

100:3)

b. Mengapa saya diciptakan

   Pengkhotbah 12:13; Wahyu 4:11

c. Kemana kesudahan saya nanti

   Yohanes 3:16-18; Mazmur 23:1,6; Wahyu 20:15

C. Pengertian

1. Arti  etimologis  (asal  kata)  Istilah  "Bibliologi"  berasal  dari  2  kata  Yunani,  yaitu:

biblion atau biblia (jamak) artinya "buku-(buku)"; dan logos artinya "perkataan,

uraian, pikiran, ilmu" "Buku-(buku)" (atau "tulisan-tulisan") yang dimaksud yaitu 

Alkitab (Firman Allah).

2. Definisi Bibliologi yaitu  ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk sekitar

penulisan (Buku) Alkitab, dan peran Alkitab dalam iman kepercayaan Kristen.

Alkitab sendiri didefinisikan sebagai kumpulan Kitab-kitab yang diakui sebagai

"kanonik", dan diterima seluruhnya sebagai Firman Allah oleh gereja Kristen.

3. Tempat Bibliologi dalam Teologi Sistematika Dengan pra-anggapan: a. bahwa

manusia tidak mungkin tahu apapun tentang Allah kecuali Allah sendiri yang

menyatakan diri kepada manusia,  b. dan bahwa Allah telah berkenan menyatakan

Diri-Nya melalui  Alkitab untuk dikenal  oleh manusia,  maka,  kita  percaya  bahwa

Alkitab memiliki  peranan yang menentukan sebagai pemegang otoritas tertinggi

dan menjadi sumber utama untuk mempelajari Teologi Sistematika; yaitu termasuk

di dalamnya semua doktrin iman kepercayaan Kristen.

D. Penyataan Allah/Wahyu Allah

1. Defenisi

Istilah penyataan yaitu  terjemahan dari kata kerja Latin revelare dan kata bendanya

revelation. Dalam bahasa Ibrani istilah penyataan berasal dari kata kerja Ibrani gala

yang artinya ―telanjang‖. Dalam bahasa Yunani penyataan yaitu  apokalupsis (dari

apokalypto) yang artinya ‗menyingkapkan, menanggalkan, membuka selubung,

menunjukkan yang tersembunyi, memberitahukan yang tidak dikenal‗. Jadi

penyataan Allah  secara umum yaitu : Suatu tindakan Allah (baik itu perbuatan

maupun  kata-kata) yang  yaitu   inisiatif  Allah  sendiri  untuk  membuka Diri  agar

manusia yang yaitu  ciptaan itu dapat mengenal Allah Penciptanya (1Kor 2:11; Ul.

29:29). Pengertian lain dari Wahyu/penyataan Allah seperti disebutkan oleh W.Gary

Crampton yaitu : yang menghilangkan semua keragu-raguan, dan meeteraikan

semua jawaban ke dalam kepastian.68 Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia

melalui: (1) penyataan umum dan (2) penyataan khusus. Keduanya yaitu  penyataan

dari Tuhan. Melalui ―wahyu‖ Allah menyingkapkan diri-Nya sendiri, dan dengan

demikian Ia memberikan kepastian-Nya yang unik.

2. Pentingnya Penyataan

a. Hakekat manusia memerlukan penyataan ilahi

b. Hakekat Allah Tritunggal menghendaki penyataan diri-Nya

3. Penyataan Umum dan Penyataan Khusus

a. Penyataan Umum

1) Definisi : Penyataan Allah mengenai diriNya sendiri yang diberikan kepada

semua orang melalui alam semesta, 2. Sumber : Allah

2) Jangkauan : umum, semua orang. Ref. Mat 5:45, Kis 14:17; Maz 19:2

3) Sarana : memakai  cara-cara universal, yaitu melalui alam, sejarah dan

hati nurani manusia. Ref. Maz 19:4-7; Rom 2:14-15.

4) Tujuan : untuk menyatakan: kemuliaan Allah, kuasaNya dalam alam

semesta, keunggulanNya, keahlianNya, penentuanNya dalam mengendalikan

alam semesta; kebaikanNya, kecerdasanNya dan keberadaanNya yang hidup.

Maz 19:2; Rom 1:20; Kis 14:17; 17:29; Mat 5:45

5) Keterbatasan : membuat  manusia  menyadari  akan keberadaan Allah,  namun 

tidak  cukup membawa manusia  kepada pengenalan  yang benar  dan penuh

tentang Allah,  membawa manusia  untuk berseru dan memuji  Allah,  namun 

tidak cukup untuk membawa mereka kepada keselamatan dan memberikan

pengetahuan tentang sifat-sifat Allah, namun  tidak memberikan pengetahuan

bahwa Kristus yaitu  satu-satunya jalan keselamatan yang disediakan Allah.

6) Hasil :  menyatakan  anugerah  umum dan  mempersiapkan  manusia  kepada

anugerah-anugerah  khusus,  melawan  isme-isme yang  menolak  keberadaan

Allah, membatasi dosa manusia - hukum moral dan menghukum secara adil

untuk mereka yang berdalih.

b. Penyataan Khusus

1) Definisi : Penyataan yang diberikan Allah melalui karya penebusan Yesus

Kristus, yang juga dituliskan dalam Alkitab.

2) 2Sumber : Allah.

3) Jangkauan : orang-orang pilihanNya yang percaya.

4) Sarana : melalui Yesus Kristus dan firmanNya yang tertulis dalam Alkitab,

yang diberikan melalui saluran-saluran:

   undi (Ams 16:33; Kis 1:21-26).

   urim dan Tumim (Kel 28:30; Bil 27:21)

   mimpi (Kej 20:3, 31:24)

   penglihatan (Yes 1:1; 6:1; Yeh 1:3)

   Teofani (penempatan Allah dalam wujud manusia)Kej 16:7-14

   malaikat (Dan 9:20-21; Luk 2:10-1 l; Wah 1:1)

   nabi-nabi (2Sa 23:2)

   peristiwa-peristiwa (Yeh 25:7; Yoh 1:14)

   mujizat-mujizat (Yes 9:5; Wah 21:5)

5) Tujuannya : Allah menyatakan kehendakNya, dan perjanjian

keselamatanNya dalam Yesus Kristus, dengan demikian mendamaikan

kembali hubungan antara manusia dan Allah.

6) Hasilnya :

   menjadi jalan satu-satunya untuk manusia bisa mengerti tindakan, tujuan

dan kehendak Allah dengan benar.

   menjadi   jalan satu-satunya untuk manusia bisa menerima kabar 

keselamatan Yesus Kristus.

   memungkinkan   manusia mendapatkan kesempatan untuk kembali

bersekutu dengan Allah selamanya.

E. Pengilhaman (Inspirasi)

1. Pentingnya Pengilhaman

Pengilhaman dibutuhkan untuk meneguhkan penyataan Allah. Jika Allah telah

menyatakan Diri-Nya namun   rekaman penyataan tidak dilakukan dengan akurat,

maka penyataan Allah akan terus dipertanyakan. Jadi, pengilhaman menjamin

keakuratan penyataan.

2. Defenisi

a. Arti  epistemologi  Istilah "inspirasi/ilham" berasal  dari  Vulgata  Latin divinitus

inspirata (inspirare/ inspiro). namun  kata ini sebenarnya tidak memberikan arti

yang tepat. Kata Yunaninya, yang dipakai dalam 2 Tim 3:16, yaitu theopneustos

lebih tepat digunakan. theopneustos yaitu  kata majemuk (pneo + theos) yang

berarti "dihembuskan, dimasuki angin atau nafas (oleh) Allah." Dalam kata ini

jelas  terlihat  adanya penekanan pada faktor  Allah dalam pekerjaan  penulisan

ini . Dalam 2 Tim 3:16, Perjanjian baru berbicara tentang Perjanjian Lama,

mencatat bahwa segala tulisan ... diilhamkan Allah.‖ Frasa Inggris ―is inspired

by‖ (RSV,= diilhami oleh)  atau ―is given by inspiration of‖  (KJV=diberikan

dengan pengilhaman dari). Jadi dari kata ini Paulus menegaskan sekuat

mungkin bahwa Alkitab yaitu  produk dari karya Ilahi yang khusus.

b. Phero yang berarti dorongan, dibawah pengaruh yang menggerakkan, dan

terbawa (2 Petrus 1:21). Untuk memiliki suatu pengertian yang tepat dan benar

mengenai pengilhaman Alkitab. Ada empat penegasan penting yang terkandung

dalam penyataan ayat ini yaitu:

1) Setiap bagian Alkitab yaitu  setingkat dalam pengilhamannya

2) Keluruh isi Alkitab dinafaskan Allah

3) sebab  di ilhamkan, Alkitab bermanfaat bagi iman dan praktek

4) Alkitab yaitu  firman Allah yang bersifat benar.

Jadi  pengilhaman   dapat   didefinisikan   sebagai   ―pembimbingan   Roh

Kudus  terhadap para penulis sehingga sekalipun mereka menulis dengan gaya dan

kepribadian  mereka  masing-masing,  hasilnya  yaitu   Firman Allah yang tertulis  -

otoritatif, layak dipercaya, dan bebas dari salah dalam naskah aslinya.‖ Berikut ini

yaitu  definisi yang dikemukakan oleh para teolog:

a. B.B. Warfield  -  ―Pengilhaman yaitu  suatu pengaruh supranatural  oleh Roh

Allah terhadap penulis Kitab Suci, dengan maksud agar tulisan mereka

merupakan hal yang dapat dipercaya yang diberikan oleh Allah.‖

b. E.J. Young - ―Pengilhaman yaitu  bimbingan Roh Kudus Allah terhadap para

penulis Kitab Suci, sehingga Kitab Suci memiliki otoritas dan kelayakan Ilahi

dan, dengan demikian, bebas dari salah‖.

c. C.H.  Ryrie  -  ―Pengilhaman  yaitu   ……. bimbingan  Allah  terhadap  penulis

manusia,  sehingga  dengan memakai   kepribadian  mereka  sendiri,  mereka

menulis dan merekam tanpa salah pewahyuan-Nya kepada manusia dalam kata-

kata di naskah aslinya.

Ada beberapa hal penting dalam pengilhaman dari berbagai definisi di atas :

a. unsur ilahi - Allah Roh Kudus membimbing para penulis, untuk menjamin 

keakuratan penulisan;

b. unsur manusia - penulis manusia menulis menurut gaya dan kepribadian mereka

sendiri;

c. hasil kepengarangan ilahi-manusia ini merupakan rekaman kebenaran Allah

tanpa salah;

d. pengilhaman berkembang kepada pemilihan kata-kata oleh para penulis;

e. pengilhaman berkaitan dengan naskah asli.

3. Bukti-bukti Inspirasi

a. Adanya   Penyataan-penyataan yang di luar kemampuan berpikir manusia. 

Misalnya tentang dosa, manusia, keselamatan, Allah Tritunggal, dll.

b. Adanya Penyataan-penyataan yang bersifat nubuatan, dan yang sekarang 

sebagian sudah terjadi, yang tidak mungkin muncul dari pikiran manusia.

c. Adanya Penyataan-penyataan yang bersifat sejarah yang jauh   di luar

pengetahuan manusia, misalnya tentang kejadian penciptaan dll.

d. Adanya Penyataan-penyataan yang memiliki  kuasa yang mengubahkan hidup

manusia, dari jaman ke jaman.

e. Adanya Penyataan-penyataan yang berisi ajaran moral yang sangat tinggi, yang

juga diakui oleh agama-agama yang lain.

f. Adanya  kesatuan tema dan isi dari seluruh Alkitab, meskipun ditulis oleh

penulis-penulis yang memiliki  latar belakang berbeda dan hidup pada jaman

yang sangat berbeda.

g. Bukti kelanggengan Alkitab, meskipun sudah dilakukan usaha berkali-kali untuk

memusnahkannya.

4. Bukti dalam Alkitab

a. Perjanjian Lama

1) Allah sendiri yang memberi perintah untuk menuliskan. Kel 17:14; 34:27;

Bil 33:2; Yes 8:1; 30:8; Yer 25:13; Yeh 24:1 Dan 12:4; Hab 2:2

2) Para penulis  secara sadar memberikan otoritas  terhadap tulisannya sebagai

Firman Tuhan. "Demikian Firman Tuhan" Yer 36:27, 32; Yeh 26:1-21; 27:1-

36; 31:1-18; 32:1-32; 39:1-29

3) Perjanjian Baru mengakui inspirasi Alkitab Perjanjian Lama - Yesus Kristus:

Mat 4:11; Mat 5:17-20; Yoh 10:33-36 - Rasul Paulus: 2Ti 3:14-16 - Rasul

Petrus: 2Pe 1:19-21 - Penulis Kitab: Ibr 1:5; 3:7; 4:3; 5:6; 7:21

b. Perjanjian Baru

1) Pengakuan dari  penulis  bahwa mereka menerima Firman dari  Tuhan. 1Ko

2:13; 2Ko 13:3; 1Te 2:13

2) Perjanjian baru mengakui Inspirasi Alkitab Perjanjian Baru - Yesus Mat

10:19-20; Yoh 16:7,13; Kis 4:31

5. Teori-Teori Penulisan Alkitab

Di bawah ini yaitu  beberapa teori yang muncul dari pikiran manusia tentang

bagaimana kira-kira Alkitab itu ditulis:

a. Teori Dikte (Inspirasi Mekanis) Ini yaitu  salah satu teori yang ekstrim, yang

mengatakan  bahwa para  penulis  Alkitab  itu  hanyalah  seperti  mesin  atau  alat

rekam. Mereka mendengar "Penyataan" dari Allah kemudian langsung

menuliskannya kata demi kata persis seperti apa yang Tuhan katakan, sehingga

tidak melibatkan sama sekali baik kepribadian maupun pikiran para penulis itu.

b. Teori Penyesuaian (Inspirasi Dinamis) Allah menyesuaikan diri dengan

keterbatasan para penulis. Itu sebabnya ada dijumpai beberapa

kekilafan/kesalahan.

c. Teori Pengawasan (Inspirasi Organis) Allah berdaulat mengawasi dan mengatur

latar belakang, warisan keturunan dan keadaan sekitar masing-masing

penulisnya.  Sehingga pada waktu menulis,  mereka  sadar  memakai  kata-

kata mereka sendiri, dan sekaligus yaitu  merupakan Firman Allah dan mereka

sudah dibina oleh Allah untuk tujuan itu, sebab  orang ini  telah

diperbaharui Rohnya dan terhisap dalam hubungan dengan Allah. Jadi walaupun

para penulis yaitu  orang berdosa, itu tidak menjadi penghalang sebab  mereka

dipimpin oleh Allah, sehingga terjamin bahwa tulisan-tulisan itu tidak mungkin

salah dalam bahasa aslinya. Itu sebabnya masing-masing kitab yang ditulis

masing-masing penulis memiliki  gaya bahasa yang berbeda, perbendaharaan

kata yang tertentu,  penekanan berita yang tertentu,  dan sebagainya.  Teori  ini

juga disebut Inspirasi  Plenari  (seluruh bagian Alkitab diilhami)  atau Inspirasi

Verbal (setiap kata Alkitab diilhami, namun  bukan secara mekanis)

Langkah-langkah Roh Kudus menggerakkan penulis untuk menulis Alkitab:

   Allah telah memilih dan menyediakan si penulis jauh sebelum Ia

menggerakkan si penulis untuk menulis Alkitab.

   Allah memilih si penulis sebelum ia dilahirkan.

   Allah menempatkan mereka pada situasi keadaan sesuai dengan

kedaulatanNya.

   Allah kadang memilih orang yang mampunyai pengalaman langsung.

   Allah menggerakkan penulis juga untuk menyelidiki fakta-fakta terlebih

dahulu.

d. Menunggu Waktu Allah.

   Allah menggerakkan penulis untuk berkhotbah terlebih dahulu lalu 

menuliskannya.

   Roh Kudus dicurahkan kepada penulis untuk menyatakan firmanNya secara

langsung untuk ditulis.

   Roh Kudus dicurahkan kepada penulis untuk menulis hal-hal yang sudah

diketahuinya.

   Roh Kudus menggerakkan penulis untuk menulis apa yang dikehendakiNya.

6. Pandangan-Pandangan Keliru Tentang Pengilhaman

a. Pengilhaman  Alamiah Para  penulis-penulis  Alkitab  yaitu   orang-orang jenius

secara alami. Mereka menuliskan tanpa memerlukan campur tangan Allah atau

kuasa  supranatural.  Teori  ini  mengaburkan  tentang  tindakan  penerangan Roh

Kudus, dengan karya-Nya yang kudus dalam pengilhaman

b. Pengilhaman Dinamis atau Mistis Para penulis-penulis Alkitab ini dipenuhi dan

dipimpin oleh Roh Kudus, sama halnya dengan literatur-literatur Kristen yang

lain.

c. Pengilhaman  Bertingkat.  Para  penulis-penulis  Alkitab  mendapat  inspirasi  dari

Roh Kudus sehingga menuliskan tulisan-tulisan itu, namun tingkat

penginspirasiannya tidak sama derajatnya. Sehingga ada sebagian tulisan yang

lebih berbobot daripada yang lain.

d. Pengilhaman Sebagian. Para penulis-penulis Alkitab itu mendapat inspirasi,

namun  tidak semuanya. Ada kitab-kitab yang sama sekali tidak memerlukan

inspirasi  sebab   berupa  dokumen  sejarah.  Bagian-bagian  yang  secara  khusus

diilhami (diinspirasikan) yaitu  yang mengajarkan tentang keselamatan dan ini

tidak mungkin salah, namun  yang lain bisa saja salah sebab  tidak diinspirasikan

oleh Allah.

e. Pengilhaman Konsep. Pandangan ini percaya pada doktrin inspirasi, namun  bukan

inspirasi harafiah kata per kata. Allah hanya menginspirasikan secara konsepnya

saja. Oleh sebab  itu kata-katanya bisa salah, tapi secara konsep tidak.

f. Pengilhaman  Barthian.  Pusat  Penyataan  yaitu   Yesus  Kristus,  Alkitab  hanya

merupakan "saksi" dari Penyataan Allah. Sedangkan Alkitab sendiri yaitu  kata-

kata manusia yang bisa keliru tapi jika  ditangkap dengan telinga iman, maka

kata-kata itu baru akan menjadi Firman Allah. Jadi Allah bisa berbicara

melalui Alkitab, namun  hanya melalui anugrahlah bagian Alkitab itu dapat 

menjadi Firman Allah.

7. Doktrin Alkitabiah Tentang Pengilhaman

Doktrin pengilhaman yaitu  ajaran Alkitab sendiri. Perhatikan beberapa ayat di bawah

ini :

a. Timotius 3:16

   Kata ‗tulisan‗ dalam bahasa Yunani : (graphe). Kata ini dalam seluruh tercatat

sebanyak 50 kali dan selalu menunjuk kepada bagian Alkitab.  Kata ‗tulisan‗

dalam ayat ini menunjuk kepada kanon PL.

   Kata ‗diilhamkan‗ dalam bahasa Yunaninya : (theopneutos) yang secara

hurufiah berarti ‗dinafaskan/dihembuskan Allah‗ atau ‗dihembuskan keluar

oleh Allah‗

b. Petrus 1:21

   Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa Allah memakai penulis manusia

untuk menghasilkan Alkitab melalui Roh Kudus.

   Namun demikian, ini bukan berarti bahwa para penulis itu pasif.

c. Korintus  2:13 Paulus  mengatakan  bahwa wahyu Allah datang kepada kita  dalam

kata-kata. Ini  diungkapkan  Paulus  dalam bantahan  terhadap  konsep  pengilhaman

yang berkatab  hawa pengilhaman hanya berhubungan dengan pikiran yang Allah

ingin kita mengetahuinya dan bukan menyangkut kata-kata di mana pikiran itu

dinyatakan.

Macam-Macam Data Data ini menunjukkan berbagai macam bahan tulisan di mana 

Allah menggerakkan para penulis untuk menuliskan dalam Alkitab :

a. Bahan yang langsung dari Allah. Contohnya 2 loh batu (Ul 9:10).

b. Bahan hasil penyelidikan. Contohnya Injil Lukas (Luk 1:1-4) :

1) Berkonsultasi dulu dengan beberapa saksi mata peristiwa Kristus

2) Memakai kisah tertulis yang ada mengenai pelayanan Kristus

3) Menyelidiki dengan teliti dan memilihnya dari bahan-bahan itu.

4) Menyusun dengan teratur dan membukukannya

c. Roh Kudus menggerakkan dan memimpinnya dalam penulisan sehingga semua

tulisan itu teliti dan benar.

d. Bahan Nubuat Kira-kira seperempat dari seluruh Alkitab yaitu  nubuat saat 

dituliskan (saat ini sebagian sudah digenapkan). Nubuat sejati dapat datang hanya

dari  Allah yang Mahatahu.  Tak satu pun penulis  dapat  mengarang nubuat yang

100% benar.

e. Bahan Sejarah

1) Ada banyak bagian Alkitab yang mencatat sejarah dengan teliti. Sebagian besar

dari sejarah Alkitab ditulis oleh mereka yang mengalaminya sendiri kisah-kisah

itu. (Cth. Lukas yaitu  teman seperjalanan Paulus dalam banyak kisahnya. Kis

16:10-13; 20:5-21:18;  27:1-28:6.  Atau Yosua yang mengalami  dan kemudian

menuliskan tentang penaklukan Kanaan dalam kitab Yosua).

2) Kisah penciptaan tentu saja harus diwahyukan Allah kepada Musa sebab  tidak

seorang manusia pun menjadi saksi mata dan juga Musa menuliskannya lama

sesudah peristiwa itu terjadi.

f. Bahan lainnya

1) Alkitab juga mencatat hal-hal yang tidak benar, seperti kebohongan setan dalam

kej 3:3-5, namun  Alkitab mencatatnya dengan teliti.

2) Alkitab  juga  mencatat  beberapa  kutipan  dari  tulisan  orang-orang yang belum

diselamatkan (Tit 1:12)

3) Ada juga beberapa pasal yang jelas-jelas bersifat pribadi dan emosional (Roma

9:1-3), namun  bahan-bahan yang beraneka ragam ini dicatat dengan teliti.


Bahan tulisan yang beraneka ragam ini menunjukkan bahwa Allah kadang-kadang

mewahyukan  secara  adikodrati  dan  langsung,  adakalanya Ia  menginjinkan  para penulis

untuk menyusun pesan-Nya dengan memakai kebebasan untuk berekspresi. Namun Allah

meniupkan semua hasil akhir tulisan itu dengan memimpin para penulis itu dengan berbagai

cara untuk menyampaikan pesan-Nya dalam kata-kata dalam Alkitab.

F. Kanon Alkitab

Jika Kitab Suci memang diilhami oleh Allah, muncul suatu pertanyaan penting: Kitab

manakah yang diilhami? Dari sejarah nampaknya penting bagi umat Tuhan untuk

menentukan kitab mana yang telah Allah ilhami dan yang mana yang dipandang berotoritas.

1. Pengertian/Definisi

a. Arti etimologis. "Kanon" berasal dari kata Yunani kanon, artinya "buluh" yang

berasal dari kata Ibrani qaneh. sebab  pemakaian "buluh" dalam kehidupan sehari-

hari jaman itu yaitu  untuk mengukur, maka kanon juga berarti sebatang

tongkat/kayu pengukur atau penggaris. Yeh 40:3; 42:16, tombak pengukur. Jadi

istilah ―kanon‖ atau ―kanonis‖ berarti menunjukkan suatu standar dengan apa

kitab-kitab itu diukur untuk menentukan apakah kitab-kitab itu diilhami atau tidak.

Perlu dicatat  bahwa konsili  keagamaan tidak memiliki  kuasa untuk memicu 

kita-kitab itu  diilhami,  namun secara sederhana hanya mengenali  apa yang Allah

telah  ilhami  saat  kitab-kitab  itu  ditulis,  konsili  semata-mata mengesahkan apa

yang sudah merupakan firman Allah

b. Arti metaphor. Seperangkat peraturan/standard norma (kaidah) dalam hal etika,

literatur dsb.

c. Arti teologis. Dalam sejarah gereja abad 1 kata "kanon" dipakai untuk menunjuk

pada peraturan atau pengakuan iman. namun  pada pertengahan abad ke 4 (dimulai

oleh Athanasius), kata ini dipakai untuk menunjuk pada Alkitab, dan memiliki  2

arti, yaitu:

1) daftar naskah kitab-kitab, yang berjumlah 66 kitab, yang telah memenuhi

standard peraturan-peraturan tertentu, yang diterima oleh gereja sebagai kitab-

kitab kanonik yang diakui diinspirasikan oleh Allah.

2) kumpulan kitab-kitab, yang berjumlah 66 kitab,  yang diterima sebagai Firman

Tuhan yang tertulis, yang berotoritas penuh bagi iman dan kehidupan manusia.

2 Kor 10:13-16 - batas Gal 6:16 – patokan

2. Sejarah pemakaian  istilah  kanon dalam gereja  mula-mula,  kata  ini  dipakai  terhadap

Alkitab yang bersifat kanonik.

3. Pertimbangan yang dipakai untuk menerima Kanon

a. Bukti dari Alkitab sendiri. Bahwa tulisan dalam kitab-kitab kanon itu diinspirasikan

oleh Allah (2 Tim 3:16). Dengan demikian jelas kitab-kitab itu tidak hanya ditulis

oleh tangan manusia namun  merupakan campur tangan Allah sepenuhnya

(theopeustos). Oleh sebab  itu seluruh tulisan Alkitab memiliki  otoritas penuh

dari Allah.

b. Ditulis oleh orang-orang yang hidupnya dipimpin oleh Allah, baik para nabi (PL)

maupun rasul (PB) atau orang-orang yang di bawah pengawasan mereka.

c. Ada bukti-bukti dari dalam dan jelas tentang keaslian penulisannya.

d. Ada pengaruh kuasa Allah dalam tulisan-tulisan itu yang sanggup mengubah hidup

manusia.

e. Secara aklamasi diterima oleh umat Allah secara luas sebagai kitab- kitab yang

diinspirasikan oleh Allah. (Gal 6:16, Luk 11:51, Kol 4:16, Wah 22:18)

4. Beberapa pengertian yang salah tentang penerimaan Kitab kanon. Diantara banyak 

kitab-kitab kuno yang harus dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam kanon Alkitab,

tidak semuanya diterima sebagai kitab kanon. Pertimbangan-pertimbangan terhadap 

kitab-kitab itu:

a. Tidak didasarkan pada tuanya.

b. Bukan sebab  ditulis dalam bahasa Ibrani.

c. Bukan sebab  setuju dengan Taurat.

d. Bukan sebab  memiliki  nilai agama.

5. Sejarah Kanon PL.

Kanon PL tidak  mengalami  banyak kesulitan  untuk diterima,  sebab  pada waktu

kitab-kitab PL  itu ditulis, saat itu juga langsung diterima sebagai kitab-kitab yang

diinspirasikan oleh Allah sehingga otoritasnya diakui. Kitab-kitab (yang berupa

gulungan-gulungan) disimpan bersama-sama dengan Tabut Perjanjian yaitu di Kemah

Tabernakel dan juga kemudian di Bait Allah. Para imam memelihara kitab-kitab itu dan

mereka juga yang membuat salinan-salinannya jika  diperlukan. Ula 17:18; 31:9, 24-

26 ;1Sa 10:25; 2Ra 22:8; 2Ta 34:14. Teks Masoret PL membagi ke-39 kitab-kitab PL

sbb.:

a. Kitab Hukum (Pentateuch)

b. Kitab Nabi-nabi (Yosua, Hakim-hakim, 1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 raja-raja, nabi besar

dan nabi kecil)

c. Tulisan (disebut  juga ―Mazmur‖,  termasuk puisi  dan kitab-kitab kebijaksanaan -

Mazmur, Amsal, dan Ayub; Gulungan – Kidung Agung, Rut, Ratapan,

Pengkhotbah, dan Ester; dan Kitab Sejarah Daniel, Ezra, Nehemia, dan 1-2

Tawarikh).

Pada waktu bangsa Yahudi dibuang ke tanah Babel, dan Yerusalem dihancurkan

pada tahun 587SM, kitab-kitab itupun juga dibawa ke tanah pembuangan (Dan 9:2).

Pusat  ibadah mereka  kini  bukan lagi  Bait  Allah di Yerusalem,  namun   kitab-kitab itu.

Setelah pembangunan kembali Bait Allah, kitab- kitab itupun dipelihara dan

dipindahkan ke sana. (Ezr 7:6; Neh 8:1; Yer 27:21-22)

Penyusunan seluruh kitab-kitab PL selesai pada tahun 430SM, iman Ezra lah yang

memainkan peranan penting dalam proses pengumpulan dan penyusunan kitab-kitab PL

ini. Selain kitab-kitab Pentatuk (Kejadian-Ulangan) yang sangat dihargai, kitab-kitab

para nabi juga biasa dibaca dalam ibadah Yahudi di rumah-rumah ibadah pada waktu

jaman PB (Luk 4:16-19).

Pada tahun 90M para ahli Taurat dan pemimpin bangsa Yahudi melakukan

persidangan di Yamnia. Salah satu keputusan yang diambil dalam persidangan itu

yaitu  penerimaan kanon PL, yaitu 39 kitab sebagai kanon Alkitab, seperti yang kita

pakai sekarang. Jadi penetapan itu sebenarnya hanya memberikan pengakuan akan

kitab-kitab yang memang sudah lama dipakai dalam ibadah orang Yahudi.

6. Sejarah Kanon Perjanjian Baru

Pengkanonan PB mengalami lebih banyak pergumulan daripada PL. Baru pada

pertengahan abad 4 Masehi masalah pengkanonan PB dianggap selesai.

a. Latar belakang Kanon PB diawali dengan keadaan dan kebutuhan yang mendesak

yang harus segera ditangani oleh gereja-gereja saat itu, antara lain:

b. Krisis  Otoritas.  Dibutuhkannya  suatu  pedoman  iman  dan  kehidupan  yang  diakui

berotoritas, apalagi setelah Tuhan Yesus dan para Rasul sudah tidak ada lagi

diantara mereka.

c. Krisis Pengajaran. Adanya pengajaran sesat yang mulai menyusup ke dalam gereja-

gereja, sehingga diperlukan adanya satu sumber yang dapat menjadi standard

pengajaran yang benar.

d. Dorongan Misi. Penyebaran pengajaran Injil Yesus Kristus semakin berkembang ke

daerah-daerah  lain,  sehingga  diperlukan  adanya kesepakatan  terhadap kitab-kitab

standard yang harus diterjemahkan.

e. Tekanan  penganiayaan.  Semakin  kuatnya  penganiayaan  yang  dilancarkan  kepada

orang-orang Kristen baru mendorong gereja untuk mempertahankan sumber

pengajaran demi kemurnian iman dan pengajaran yang sehat.

Setelah kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga, pengajaran Injil  diteruskan oleh

para Rasul  Tuhan dengan penuh otoritas  sebab  merekalah  saksi-saksi  mata tentang

keselamatan yang diajarkan oleh Yesus. Tulisan-tulisan tentang pengajaran iman

Kristen oleh para Rasul (antara tahun 50-100M) sangat dibutuhkan mengingat bahwa

merekalah para saksi mata  yang dapat  memberitakan pengajaran Injil  Yesus Kristus

dengan jelas  dan menafsirkannya dengan tepat,  sesuai  dengan pimpinan Roh Kudus

kepada mereka. (Yoh 14:26).

Selama thn. 100-200M, tulisan-tulisan para Rasul itu dipakai dan dikumpulkan oleh

sidang-sidang jemaat (Kol 4:15-16). Pada tahun 200 M sebenarnya kanon utama PB

sudah terbentuk, dan disebut sebagai "Kanon Muratori" yang berisi 21 kitab/buku dan

kemudian 6 kitab lagi  ditambahkan.  Memasuki  abad ke 5 barulah dalam pertemuan

konsili di Hippo dan Kartago tercapai kesepakatan diantara gereja Barat dan Timur dan

menerima 27 kitab sebagai Kanon PB, seperti yang kita pakai sekarang.

7. Kitab-Kitab Apokrifa

Definisi/Pengertian Istilah "apokrifa" berasal dari bahasa Yunani apokrufos, artinya

"tersembunyi". Sekarang Apokrifa dimengerti sebagai sejumlah kitab-kitab yang tidak

dimasukkan ke dalam kanon Alkitab, namun  yang disebutkan dalam Alkitab, yang ditulis

pada waktu yang bersamaan, atau tidak lama sesudah Alkitab ditulis. Pendirian orang

Kristen terhadap kedudukan kitab-kitab Apokrifa sebagai Kanon memang sedikit

terombang-ambing sampai abad ke 16, namun sejak semula sebenarnya mereka sudah

menolak menganggap kitab-kitab itu sebagai kanon.

Macam-macam Apokrifa

a. Apokrifa PL

Kitab-kitab ini  ditulis  antara  tahun 300SM - 100 M. Kebanyakan tidak diketahui

penulisnya. Kitab-kitab ini berjumlah 15 buah dan dimasukkan dalam versi

Septuaginta abad 4. Apokrifa PL dibagi dalam 5 jenis, yaitu:

1) Pengajaran

2) Roman Religius

3) Sejarah

4) Nubuat

5) Dongeng

b. Apokrifa PB Tidak ada daftar yang pasti untuk kitab-kitab Apokrifa PB.

Kebanyakan kitab-kitab  itu  berisi  fiksi  religius,  yaitu  untuk memenuhi  keinginan

mereka mengetahui informasi tentang peristiwa- peristiwa dalam kehidupan Tuhan

Yesus yang tidak tertulis dalam Injil kanon. Juga cerita-cerita tentang akhir

kehidupan para Rasul yang tidak diceritakan dalam kitab kanon PB. Beberapa kitab-

kitab Apokrifa PB:

Kitab

terbatas Yud

1) Shepherd of Hermas

2) Didache, Teaching of the Twelve

3) Epistle of Pseudo Barnabas (Injil Barnabas)

4) Gospel acconding to the Hebrews (Injil 

Ibrani) Alasan menolak kitab-kitab Apokrifa 

PL

1) Kitab-kitab itu tidak dimasukkan dalam PL Ibrani

2) Penulis-penulis PB tidak ada yang mengutipnya, sedangkan kitab-kitab PB lain

biasanya dikutip.

3) Yesus tidak pernah menyebutkan kitab-kitab itu.

4) Tidak ada bukti bahwa Apokrifa dimasukkan dalam Septuaginta abad 2.

5) Konsili-konsili gereja tidak pernah mengakuinya dan Bapak-bapak gereja juga

menolak.

6) Tidak ada klaim "inilah Firman Tuhan" dalam Kitab-kitab tsb.

7) Adanya kesalahan-kesalahan dalam bidang sejarah, kronologi dan peta bumi.

8) Juga kisah-kisahnya bersifat khayal.

9) Ajaran moralnya rendah.

Penerimaan Gereja Roma Katolik, Ada 2 ajaran Gereja katolik yang didukung 

Apokrypha.

1) mendoakan orang mati (surat Makabe).

2) keselamatan melalui perbuatan (Tobit).

Alasan-alasan menolak Apokrifa PB.

1) Hanya dikenal secara lokal.

2) Tidak ada konsili gereja yang mengakui.

3) Hanya dianggap semi kanon.

Namun demikian, ada nilai manfaat yang diakui:

1) Gambaran gereja secara umum setelah jaman para Rasul.

2) Sebagai jembatan bagi tulisan-tulisan PB dengan tulisan dari Bapak- bapak

Gereja abad 3 dan 4.

3) memiliki  nilai sejarah tentang hal-hal praktis dan siasat gereja mula-

mula. Contoh-contoh Buku yang akan diuji untuk dapat diterima ke Dalam Kanon PB, 

digolongkan ke dalam empat kelompok:

1) Homologoumena (yang diterima sebagai kanon-27 Kitab)

2) Antilegomena (yg melewati perdebatan sebelum diterima menjadi kanon-7 kitab)

3) Pseudepigrapha (yg ditolak dan dianggap tidak otentik-lebih dari 280 kitab)

4) Apocrypha (yg hanya diterima sebagian orang sebagai kanon atau semi kanon) 

Ada 7 kitab dalam PB yang sempat diperdebatkan:

G. Komposisi Alkitab

1. Reliabilitas Teks PL

Meskipun kita tidak memiliki lagi naskah asli baik PL maupun PB, teks Alkitab

yang kita miliki sekarang tetap reliable (dapat dipercaya/diandalkan). Sejarah

perkembangan teks PL akan menyatakan hal ini . Pekerjaan menyalin naskah kuno

yaitu  suatu karya yang membosankan, namun  orang-orang Yahudi dikenal ulet dalam

hal  ini.  Ada  aturan yang  menetapkan  jenis  perkamen,  banyaknya garis yang harus

ditulis, warna tinta, dan masalah revisi. saat  perkamen-perkamen itu mulai

ditunjukkan, orang-orang Yahudi itu membakar naskah yang ada. Hasilnya, hingga

penemuan Gulungan Laut Mati di Qumran, naskah yang tertua berasal dari tahun 900

AD.

Di samping itu,  reliabilitas  teks  PL nampak dalam transkrip teks  yang cermat  di

zaman Ezra dan selanjutnya di bawah orang-orang Masoret, yang mengembangkan

tradisi pemeliharaan dan ketepatan penyalinan teks. Mereka menjamin keakuratan

ini  dengan menghitung jumlah huruf dalam kitab itu, dengan mencatat huruf

tengahnya, dan ini pun pekerjaan yang membosankan. Misalnya, mereka mencataat

bahwa huruf Ibrani aleph muncul 42.377 kali dalam PL. Jika hitungan salinan baru tidak

sama dengan hitungan salinan  aslinya,  naskah itu  disalin  ulang.  Jika suatu  kata  atau

kalimat tidak benar muncul dalam teks (disebut kethib) mereka membuat usulan

perbaikannya di sisi kitab (disebut qere). Orang-orang Masoret pulalah yang

membubuhkan bunyi hidup kepada teks, sebab  waktu itu teks Ibrani hanya

memakai  konsonan. Beberapa sumber kuno berikut ini menunjukkan reliabilltas PL

:

a. Gulungan Laut Mati - tidak ada perbedaan antara gulungan Kitab Yesaya di Qumran

(Laut Mati), dengan teks Masoret lbrani yang bertanggal seribu tahun kemudian.

b. Septuaginta - yaitu terjemahan PL Ibrani ke bahasa Yunani yang dilakukan oleh 70

ilmuwan Yahudi, dilakukan di Alexandria, Mesir, tahun 250-150 SM. Penerjemahan

itu  berdasar  teks  Ibrani  yang 1000 tahun lebih  tua  dari  teks  Ibrani  yang ada

sekarang. Dan beberapa penulis PB mengutip dari Septuaginta ini.

c. Pentateuch dari  Samaria - yaitu terjemahan  dari  Kitab  Muds yang  dibuat  untuk

menolong penyembahan orang Samaria di Gunung Gerizim. Terjemahan itu lepas

dari teks Masoret. Teks ini merupakan saksi penting teks PL, meskipun ada sekitar

6000 perbedaan dibandingkan teks Masoret, namun  perbedaan kecil, yang berkaitan

dengan tata bahasa dan pengucapan.

d. Targum-targum Aram - Sesudah orang Israel kembali  dari  pembuangan di Babel,

orang Yahudi umumnya meninggalkan bahasa Ibrani dan beralih ke bahasa Aram.

Targum yaitu  terjemahan dari teks Ibrani ke bahasa Aram, dan merupakan bukti

yang baik untuk mempelajari PB di samping menjadi saksi teks PL.

e. Pembagian Kitab dalam Kanonisasi Alkitab Perjanjian Lama

1) Taurat, yang terdiri dari 5 kitab (disebut Pentateuch) yang ditulis oleh Musa,

yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan.

2) Sejarah, yang terdiri dari 12 kitab : Yosua, Hakim-hakim, Ruth, 1-2 Samuel, 1-2

Raja-raja, 1-2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, dan Ester.

3) Nyanyian, yang terdiri dari 5 kitab : Ayub, Mazmur (disebut juga Kitab Puisi),

Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung.

4) Nubuatan, yang terdiri dari 5 kitab nabi besar : Yesaya, Yeremia, Ratapan,

Yehezkiel dan Daniel ; serta 12 kitab nabi kecil : Hosea, Yoel, Obaja, Yunus,

Mikha,  Nahum,  Habakuk,  Zefanya,  Hagai,  Zakaria  dan  Maleakhi  (urutan  ini

tidak disusun secara kronologis).

2. Reliabilitas Teks PB

Meskipun kita tidak memiliki  naskah asli PB, namun kitab-kitab yang memberi

kesaksian terhadap teks PB cukup banyak. Ada sekitar 5000 naskah baik yang memuat

PB lengkap atau bagian-bagiannya.

20

a. Naskah-naskah Papirus - Ini merupakan naskah-naskah tua dan saksi penting,

misalnya Chester Beatty Papyrus dari abad III.

b. Naskah-naskah Uncial - terdapat sekitar 240 naskah uncial, yakni yang berhuruf

besar, misalnya:

1) Codex Sinaiticus - seluruh PB bertanggal tahun 331

2) Codex Vaticanus - sebagian besar PB, dari abad IV

3) Codex Alexandrinus - seluruh PB, kecuali sebagian Matius, dan penting untuk

teks Wahyu, dari abad V

4) Codex Ephraemi - dari abad V

5) Codex Bezae - dari abad V-VI

6) Codex Wasahington - dari abad IV-V

c. Naskah-naskah Minuscule - terdapat sekitar 2800 naskah minuscule, yaitu berhuruf

kecil, umumnya tidak setua uncial.

d. Versi-versi Alkitab - Sejumlah versi-versi awal PB juga menolong dalam memahami

teks yang benar. Misalnya:

1) Versi-versi Syria - Diatessaron Tatian (170 AD), Old Syriac (200 AD), Peshitta

(abad V), Palestinian (abad V), Palestinian Syriac (abad V).

2) Versi Vulgata Latin - diterjemahkan oleh Jerome (± 400 AD), mempengaruhi

gereja barat

3) Versi Coptic   - Abad V, termasuk Versi Sahidic dan Versi Bohairic, 

mempengaruhi Mesir.

e. Pembagian Kitab dalam Kanonisasi Alkitab Perjanjian Baru

1) Injil, yang terdiri dari 4 kitab : Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Dengan

kata lain, ―Injil‖ Barnabas, Yudas, dll yaitu  ―injil‖ palsu (Galatia 1:6-10).

2) Sejarah, yang terdiri dari 1 kitab : Kisah Para Rasul yang mencatat

perkembangan keKristenan khususnya yang dikerjakan oleh para rasul Kristus,

seperti Paulus, Petrus, dll setelah kenaikan-Nya.

3) Surat-surat, yang terdiri  dari :  a) 14 kitab surat Paulus :  Roma, 1-2 Korintus,

Galatia,  Efesus, Filipi,  Kolose, 1-2 Tesalonika,  1-2 Timotius, Titus, Filemon

dan Ibrani  ;  b)  7  surat  non-Paulus :  Yakobus,  1-2 Petrus,  1-3 Yohanes  dan

Yudas.

4) Kitab Apokaliptik, yang terdiri dari kitab Wahyu yang mengandung penglihatan,

wahyu tentang akhir zaman dan hal-hal yang akan datang (future).

H. Otoritas Alkitab

1. Kewibawaan (Authority)

a. Pengertian/Definisi.  Seluruh Alkitab yaitu  Firman Allah; tidak mempercayai.

atau mentaati Alkitab berarti tidak percaya atau tidak taat kepada Allah. Dengan

kata lain, Alkitab memegang  otoritas tertinggi dan terakhir  untuk iman dan

kehidupan orang percaya, sebab  Alkitab yaitu  Firman yang datang dari Allah

sendiri.

b. Bukti-bukti Kewibawaan dari dalam Alkitab. Dalam banyak tempat di Alkitab

dikatakan "Demikianlah Firman Tuhan...." Bentuk kalimat ini dalam dunia PL

identik dengan bentuk kalimat "Demikian kata Raja...." yang berarti suatu titah

yang  datang  dari yang  memiliki  kekuasaan/otoritas  tertinggi  (raja)  dan  tidak

dapat diganggu gugat, harus dilakukan dan dilaksanakan. Ms.: Bil 22:38; Ula

18:18-20; Yer 1:9. Dalam PB, ada beberapa ayat yang jelas sekali menunjukkan

bahwa tulisan dalam PL yaitu  Firman Allah,  mis.:  1 Tim 3:16; 2 Pet  1:21.

Dalam PB juga terdapat ayat-ayat yang menunjukkan bahwa tulisan dalam PB

yaitu  Firman Allah. Mis.: 2 Pet 3:16; 1Tim 5:18; 1 Kor 14:37; Yoh 14:26;

16:13

c. Penerimaan akan kewibawaan (otoritas). Alkitab Penerimaan orang percaya

bahwa Alkitab yaitu  Firman Allah yaitu  dari keyakinan yang diberikan oleh

Roh Kudus dalam hati manusia yang sudah diperbaharui. Dengan demikian

penerimaan akan kewibawaan (otoritas) Alkitab dalam kehidupan orang percaya

yaitu  sebab  iman, bukan datang dari manusia sendiri. Ref. 1Kor 2:13-14; Yoh

10:27

2. Inerensi (Inerrancy)

Pemahaman tentang pengilhaman sesuai dengan pandangan orthodoks memuat

istilah-istilah: verbal (menyangkut seluruh kata), plenary (menyangkut seluruh Kitab

Suci),  infallible  (tidak  akan gagal),  inerrant  (tidak  memuat  kesalahan),  unlimited

(tidak terbatas).

a. Pengertian/Definisi.  Secara umum, inerensi diartikan bahwa Alkitab (PL dan

PB) yaitu  seluruhnya Firman Allah yang ditulis tanpa salah pada naskah

aslinya. Istilah "inerrancy" sering kali dibingungkan dengan istilah

"infallability." "Infallability" artinya Alkitab tidak mungkin menyesatkan sebab 

semua ajarannya  yaitu   kebenaran  (tidak  melawan  ajaran  moral).  Sedangkan

penekanan ineransi yaitu  kesalahan tulisan dan data yang ada di dalam

Alkitab. Istilah ―inerensi‖ (ketak-bersalahan) menurut E.J. Young berarti

―Kitab Suci memiliki kebebasan berkualitas dari kesalahan. Tidaklah mungkin

salah, tidak bisa keliru. Dalam seluruh pengajarannya sempurna sesuai dengan

kebenaran. Sedangkan menurut Charles Ryrie dijelaskan dengan silogisme

sebagai berikut: ―Allah yaitu  benar (Roma 3:4); Kitab Suci dihembusi nafas

Allah (2 Tim. 3:16); oleh sebab itu Kitab Suci benar (sebab  berasal dari

hembusan nafas Allah yang benar)‖. Selanjutnya ia menyatakan bahwa ―secara

sederhana Allah  mengatakan  kebenaran.  Kebenaran  dapat  meliputi  perkiraan,

kutipan bebas, bahasa yang digunakan, dan berbagai hal sepanjang t