Kitab suci merupakan kebutuhan pokok tiap-tiap umat beragama dan
sudah menjadi kepastian bahwa setiap agama mempunyai kitab suci yang
diyakini oleh penganutnya bahwa dalam kitab suci tersebut terkandung
wahyu sebagai ajaran dari Tuhan yang tidak ada keraguan di dalamnya.1
Umat Islam menyakini keempat kitab suci yang telah Allah wahyukan
kepada utusan-Nya yaitu Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur‟an.
Al-Qur‟an sebagai kitab yang rahmah li al-‟Alamin, selain memuat
sesuatu yang berkaitan dengan sifat dan perilaku manusia seperti sabar,
taqwa, amanah maupun sesuatu yang yang menjadi kebutuhan akan
keberlangsungan hidup umat manusia seperti harta dan lain sebagainya, alQur‟an juga memuat intisari kitab-kitab suci terdahulu yang telah Allah
turunkan kepada nabi dan utusan sebelum Muhammad saw seperti kitab
Taurat, Zabur dan Injil.
Dalam konteks Islam, kitab yang diturunkan belakangan menjadi
penyempurna bagi kitab yang diturunkan lebih dulu. Beberapa ayat alQur‟an menjelaskan tentang penyempurnaannya terhadap kitab
sebelumnya di antaranya yaitu QS. Āli „Imrān [3]: 3-4, QS. al-Mā‟idah
[5]: 48, QS. Yūnus [10]: 37, QS. al-An‟ām [6]: 92 dan QS. al-Bayyinah
[98]: 1-5.2
Kitab-kitab yang disempurnakan al-Qur‟an yaitu Taurat, Zabur dan
Injil. Al-Qur‟an menyebut kitab sebelumnya, adakalanya menggunakannama kitabnya secara langsung (misal; taurat, zabur, injil) dan adakalanya
pula tidak menyebutkan nama kitabnya secara langsung akan tetapi,
menggunakan sebutan lainnya seperti kata al-Kitab (yang maknanya tidak
hanya untuk satu kitab saja akan tetapi maknanya mencakup kitab Taurat,
Zabur, Injil dan al-Qur‟an). Firman Allah swt QS. Maryam [19]: 30:
َ َال
ََق
ّن ِ
ِ
ََإ
د
ْ
ب
َ
ََع
َ ََاّللِ
َ
ِان
َ
ابََآت
َ َ
ت
ِن ِ
ََالْك لَ
َ
ع
َ
َج
ًّاَو
ي
ِ
ب
َ
ن
“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan
Dia menjadikan aku seorang Nabi”.
3
Kata
َ
ِن
ٰ
ى
َ
ت
َ
ا ٱلْ
َ
تَٰب
ِك pada ayat di atas, maknanya bukan Isa diberi al-Kitab
sebelum diciptakan atau ketika masih dalam kandungan ibunya melainkan
Allah telah menetapkan bahwa Isa akan diberi al-Kitab.4 Riwayat dari
Ikrimah menjelaskan bahwa maksud kata
َ
ِن
ٰ
ى
َ
ت
َ
ا ٱلْ
َ
تَٰب
ِك adalah ketetapan
Allah. Konteks ayat di atas, menunjukkan bahwa al-Kitab yang dimaksud
adalah Injil,5
sesuai dengan ketetapan Allah sejak azal dan juga yang
mengajarkan kepada Isa tentang kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat.6
Kata injil berasal dari bahasa Yunani yaitu euangelion yang berarti
“kabar gembira”. Kemudian kata tersebut lewat bahasa Ethiopia
disebutkan wāngel, lalu masuk ke dalam bahasa Arab yaitu injil.7
Umat
Islam menyakini bahwa Injil adalah kitab suci yang Allah turunkan kepada
Nabi Isa as. Pengikut nabi Isa dalam al-Qur‟an disebut sebagai umat Nasrani.8
Dalam keyakinan umat Nasrani, kitab suci yang mereka gunakan
sebagai pedoman menimbulkan perbedaan menyangkut kesucian kitab
sucinya, misal tentang nama yaitu; Alkitab, Injil dan Bibel.9
Selain sebagai sumber ajaran dan pedoman umat Nasrani, oleh umat
Islam Injil juga digunakan sebagai salah satu sumber penafsiran terhadap
ayat- ayat al-Qur‟an. Sejak zaman nabi, tidak sedikit dari para sahabat
yang menggunakan kisah-kisah israiliyyat untuk menafsirkan ayat-ayat alQur‟an, terlebih mengenai ayat-ayat tentang kisah-kisah umat terdahulu.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, pertama adanya kesesuaian
antara al-Qur‟an dengan Taurat dan Injil di dalam beberapa permasalahan
seperti dalam penjelasan kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu. Kedua,
metode yang digunakan al-Qur‟an dalam mengemukakan kisah di
dalamnya secara global dan ringkas, sedangkan Taurat dan Injil
mengemukakannya secara terperinci, sehingga para sahabat menganggap
perlu untuk bertanya kepada para ahl al- Kitab.10
Penggunaan Injil sebagai salah satu sumber penafsiran tidak hanya
terdapat dalam kitab-kitab tafsir klasik saja, seperti kitab tafsirnya Ibnu
Kaṡir, kitab tafsirnya al-Bagawi, kitab tafsirnya al-Qurṭubi dan lain
sebagainya. Namun, dalam kitab tafsir modern juga ada yang
menggunakan Injil sebagai salah satu sumber penafsiran. Husni
Fithriyawan dalam skripsinya memaparkan bahwa di dalam Kitāb Tafsir
al-Jawahir fi Tafsir al-Qur‟an karya Tantawi Jawhari dan Kitab Tafsir alManar Karya Muhammad Rasyid, terdapat ayat-ayat al-Qur‟an yang ditafsirkan dengan mengutip kata atau pasal dari Injil baik secara literal
maupun maknawi.11
Selain sebagai salah satu sumber penafsiran, Injil juga sebagai kitab
yang membenarkan kitab sebelumnya yaitu Taurat. Salah satu ayat yang
menjelaskannya yaitu aṣ-Ṣaff [61]: 6. Al-Qurṭubi dalam tafsirnya
memaparkan bahwa nabi Isa as. adalah hamba Allah yang diutus kepada
Bani Israil dengan membawa Injil dan membenarkan kitab yang
diturunkan sebelumnya.12
Dari pemaparan di atas penulis tertarik untuk menguraikan Injil dalam
pandangan al-Qur‟an, bagaimana al-Qur‟an mengemukakan kitab suci
lainnya (Injil) dan hal apa saja yang dibahas al-Qur‟an terkait dengan Injil.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode tematik
ayat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka fokus permasalahan dan
penelitian yang akan dikaji lebih lanjut adalah sebagai berikut:
1. Apa saja yang dibahas mufasir tentang Injil?
2. Bagaimana konsep Injil menurut mufasir?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah
dipaparkan di atas, maka tujuan dari penelitian yang hendak dicapai
adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui hal-hal apa saja yang disinggung mufasir tentang Injil. 2. Mengetahui konsep Injil menurut mufasir.
Adapun kegunaan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman secara
totalitas dan komprehensif terhadap al-Qur‟an menyangkut tema Injil, bagi
peneliti khususnya dan khalayak pada umumnya.
2. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan konstribusi dan
memperkaya khazanah keilmuan studi pemikiran islam, khususnya studi
Ilmu al-Qur‟an dan Tafsir tentang Injil.
D. Kajian Pustaka
Kajian terhadap Injil bukanlah hal yang baru dan sudah banyak
dilakukan oleh banyak orang, baik berupa skripsi maupun buku-buku yang
telah diterbitkan. Melalui kajian pustaka ini, peneliti ingin mengemukakan
beberapa hasil penelitian sebelumnya terkait dengan Injil dalam al-Qur‟an.
Adanya kajian pustaka, diharapkan peneliti mampu mengemukakan
perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan hasil penelitian
sebelumnya terkait tema Injil dalam al-Qur‟an.
Di antara tema yang membahas Injil yaitu, buku Jibril dalam Tiga
Kitab Suci (Taurat-Injil-al-Qur‟an) karya Manshur Abdul hakim. Buku ini
menguraikan tentang profil malaikat yang mulia secara umum dan
difokuskan pada malaikat Jibril. Dalam memaparkan, penulis buku ini
menggunakan tiga kitab yaitu Taurat, Injil dan al-Qur‟an. Adapun langkah
yang digunakan yaitu menelusuri dalil-dalil yang terdapat dalam alQur‟an, hadis-hadis shahih dan akidah ahl al-sunnah wa al-jama‟ah. Selain
itu, juga menelusuri dalil-dalil yang terdapat dalam kitab-kitab salaf
(terdahulu) dan juga kitab ahl al-Kitab yaitu Taurat dan Injil sebagai
perbandingan. Penelitian dalam buku ini belum menekankan pada Injilnya akan tetapi lebih menekankan pada term malaikat yakni malaikat
Jibril.13 Sedangkan skripsi ini lebih fokus pada Injil berdasarkan ayat-ayat
al-Qur‟an.
Buku Injilku yang Ternoda karya Yusuf Ismail Alhadid.14 Buku ini
berisi kritik dan komentar beliau terhadap Injilnya umat Nasrani. Beliau
memberikan kritik bahwa Injil yang ada di tangan umat Nasrani sekarang
telah mengalami banyak perubahan. Buku ini berusaha membandingkan
isi Injil dengan teologi-teologi Nasrani dan beberapa pernyataan tokoh
serta ilmuan Nasrani. Buku ini sama sekali tidak membahas ayat-ayat alQur‟an melainkan hanya terfokus pada Injilnya orang Nasrani.15
Buku Nabi Isa dalam al-Qur’an: Sebuah Interpretasi Outsider atas alQur’an karya Karel Steenbrink. Penulis berusaha mengungkapkan
berbagai aspek tentang nabi Isa as melalui ayat-ayat al-Qur‟an yang
terbagi ke dalam 18 surat. Cara pemaparannya berdasarkan urutan surat
dalam mushaf al-Qur‟an. Meskipun penulis menafsirkan ayat al-Qur‟an
dengan ayat-ayat lain yang relevan, akan tetapi masih sedikit tafsirannya
tentang Injil yang diturunkan kepada nabi Isa as.16
Husni Fithriyawan menulis skripsi dengan judul Injil dalam Kitab
Tafsir al-Qur’an Moderen (Studi Komparatif Kitāb Tafsīr al-Jawāhir fi
Tafsīr al-Qur’ān karya Tantawi Jawhari dan al-Manar Karya Muhammad
Rasyid Rida). Skripsi tersebut memaparkan injil sebagai salah satu sumber
penafsiran yang digunakan dalam kitab tafsir al-Jawahir fi Tafsir alQur’an karya Tantawi Jawhari dan kitab tafsir al-Manar Karya Muhammad Rasyid Rida, baik pengutipan secara literal maupun maknawi
sebagai alternatif karena dianggap sesuai dengan al-Qur‟an.17 Skripsi
tersebut belum memaparkan Injil dalam pandangan al-Qur‟an.
Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an karya M.
Quraish Shihab. Kitab tafsir ini merupakan kategori tafsir tahlili yakni
menafsirkan semua ayat-ayat al-Qur‟an dari awal surat hingga akhir surat.
Adapun pembahasan mengenai Injil, dalam kitab ini belum terfokus pada
pembahasan Injil saja, akan tetapi masih mencakup keseluruhan poin-poin
yang termuat dalam ayat yang sedang ditafsirkannya meski terkadang juga
menampilkan ayat lain yang sesuai dengan ayat sedang ditafsirkan.18
Tafsir al-Qurṭubi karya Imam al-Qurṭubi. Kitab tafsir ini merupakan
kategori tafsir bi ra‟yi dengan corak fiqih. Ketika memaparkan
penjelasannya, beliau menggunakan beberapa contoh serta pandangan
imam madzhab fiqih, terutama ketika sedang menafsirkan ayat-ayat
hukum. Adapun pembahasan injil dalam kitab tafsir ini masih bersifat
global.19
Tafsir al-Ṭabarī karya Abu Ja‟far Muhammad bin Jarīr al-Ṭabarī.
Dalam menafsirkan ayat beliau menggunakan riwayat atau hadis-hadis
yang sesuai dengan ayat. Ketika menafsirkan ayat-ayat tentang Injil,
beliau belum menafsirkan secara khusus pembahasan injil dalam alQur‟an melainkan memaparkan hadis-hadis yang berkaitan dengan isi ayat
secara keseluruhan.Tafsir al-Wasiṭ karya Wahbah al-Zuhaili. Meskipun dalam menafsirkan
ayat-ayat al-Qur‟an sudah dikelompokkan berdasarkan tema-tema yang
terkandung dalam sebuah surat al-Qur‟an, namun beliau belum
menafsirkan ayat-ayat tentang Injil secara khusus dan terperinci. Misalnya
ketika menafsirkan QS. Āli „Imrān [3]: 48, beliau mengelompokkannya
dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya dalam tema kisah Isa as.
Sedangkan pembahasannya tentang Injil hanya sebatas penjelasan bahwa
Injil adalah kitab yang Allah wahyukan kepada Isa as.
Berdasarkan uraian di atas, penulis belum menemukan karya ataupun
penelitian yang secara khusus membahas injil dalam al-Qur‟an secara
tematik. Dalam penelitian ini, peneliti akan mencoba memaparkan injil
dalam pandangan al-Qur‟an dengan menggunakan metode tematik.
Sehingga penelitian ini lebih fokus dan mampu mengupas aspek-aspek alQur‟an tentang Injil melalui ayat-ayatnya. Sumber data dalam penelitian ini ada dua yaitu sumber data primer dan
sumber data sekunder. Sumber primer dalam penelitian ini yaitu al-Qur‟an
dan terjemahnya serta tafsirnya, terkhusus pada ayat- ayat yang membahas
Injil. Adapun kitab tafsir yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu
Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‟an karya M.
Quraish Shihab, Tafsīr Al-Qur‟an al- „Aẓim karya Ibnu Kaṣir, Tafsīr alṬabari Jamiʻ al-Bayan fī Ta‟wīl al- Qur‟ān karya Ibnu Jarir al-Ṭabari dan
Tafsīr fī Ẓilāl al-Qur‟ān karya Sayyid Quṭb, Tafsir al-Azhar karya Hamka,
Tafsir al-Qur‟an al-Aisar karya Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Tafsir al-Wasiṭ
karya Wahbah al- Zuhaili, Tafsir al-Muyassar karya Hikmat Basyir.
Sedangkan sumber sekunder yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
karya tulis lain seperti; buku, kitab, skripsi, majalah, artikel yang sesuai
dan mendukung penelitian ini. Sumber sekunder yang digunakan dalam
penelitian ini di antaranya yaitu buku Isa di dalam al-Qur‟an karya Karel
Steenbrink, kitab Al-Muʻjam al- Mufaḥras li Alfāẓ al-Qur‟ān al-Karīm
karya Muhammad Fu‟ad Abd al-Baqiy, kitab Asbab al-Nuzul al-Qur‟an
karya Imam Abi Hasan „Ali bin Ahmad al-Wahidi dan sebab Turunnya
Ayat al-Qur‟an karya Jalaluddin al-Syuyuṭi, juga Lubabun Nuqul fi Asbab
al-Nuzul karya Jalaluddin al-Syuyuṭi serta beberapa literatur lainnya yang
mendukung penelitian ini. Selain itu, penulis juga menggunakan
Perjanjian Baru yang membicarakan nabi Isa as sebagai sumber
pendukung dalam penelitian ini.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan ayat-ayat tentang Injil, peneliti membatasi pada
ayat-ayat yang memuat kata injīl. Kata yang dijadikan term pokok dalam
penelitian ini yaitu kata injīl. Sedangkan kata al-kitab maupun hal-hal lain
yang berkaitan dengan Injil penulis jadikan sebagai term pendukung
dalam skripsi ini. Kitab yang digunakan untuk menelusuri kata tersebut
adalah kitab al-Muʻjam al-Mufaḥras li Alfāẓ al-Qur’ān al-Karīm karya
Muhammad Fuad Abdu al-Baqiy.23 Melalui kitab tersebut, penulis
mendapatkan data mengenai penggunaan dan pengulangan kata Injīl
dalam al-Qur‟an.
3. Analisis Data
Setelah pengumpulan data dilakukan, maka selanjutnya adalah
mengolah data tersebut sehingga penelitian dapat terlaksana secara
rasional, sistematis dan terarah. Metode yang digunakan untuk
menganalisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitik. Metode
ini digunakan untuk mendiskripsikan Injil dalam al-Qur‟an, kemudian
mengklarifikasikan secara objektif dan menganalisanya secara teratur
seluruh bahasan Injil.
Untuk memudahkan penulis dalam menganalisis data, maka penulis
menggunakan metode tematik yang ditawarkan oleh Al- Farmawi yaitu
pertama menetapkan masalah yang akan dibahas, kedua menghimpun
ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut, ketiga menyusun ayat
sesuai dengan masa turunnya disertai pengetahuan tentang asbab al-Nuzulnya, keempat memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya
masing-masing, kelima menyusun pembahasan dalam kerangka yang
sempurna (out line), keenam melengkapi pembahasan dalam hadis-hadis
yang relevan dengan pokok bahasan, terakhir mempelajari ayat-ayat
tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayat yang
mempunyai pengertian yang sama atau mengkompromikan antara yang
„am dan yang khas, mutlaq dan muqayyad atau yang lahirnya
bertentangan, sehingga semuanya bertemu dalam satu muara, tanpa ada
perbedaan atau paksaan.24
Kitab dalam pandangan islam
Dalam islam Iman kepada kitab Allah SWT adalah masuk dalam rukun
yang ketiga. Yang dimaksud dengan iman kepada kitab-kitab Allah SWT.
Yaitu meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menurunkan
kitab-kitab-Nya kepada para Nabi dan Rasul yang berisi wahyu Allah SWT
berupa perintah dan larangan untuk disampaikan kepada umat manusia agar
digunakan sebagai pedoman hidup di dunia.
Allah SWT. berfiman pada Q.S al-Baqarah 4 :
ُ َون
ن
ِ
وق
ُ
ي
ۡ
م
ُ
ةِ ه
َ
ر
ٓخِ
ۡ
بِٱۡل
َ
َك و
ِ
ل
ۡ
ب
َ
ِن ق
آ أُ ِ نزَل م
َ
م
َ
َك و
ۡ
لَي
ِ
آ أُ ِ نزَل إ
َ
ِ
ُ َون ِب
ن
ِ
م
ۡ
ؤ
ُ
ي
َ
ين
ِ
ٱلَّذ
َ
و
“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan
kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka
yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”. (QS. al-Baqarah [2]: 4).
Ada dua jenis kitab suci:
1. Kitab suci samawi, yakni kitab suci yang bersumber dari wahyu
Allah SWT. dan biasa disebut Kitabullah (Kitab Allah SWT.). Ada yang
berwujud Kitab dan ada yang berwujud Shahifah atau Shuhuf.
2. Kitab suci ardhi, yakni kitab suci yang tidak bersumber dari wahyu
Allah SWT. melainkan bersumber dari hasil perenungan dan budi daya akal
manusia sendiri.
Adapun pengertian Kitabullah adalah kalam atau firman Allah SWT.
yang diwahyukan melalui malaikat Jibril kepada Nabi dan Rasul-Nya yang
mengandung perintah dan larangan sebagai pedoman hidup bagi ummat
manusia dan jumlah kitabullah ada 144 kitab,dan yang wajib diimani ada 4.
Kitab-kitab yang wajib diimani ada empat (4) yaitu :
a. Kitab Zabur, diturunkan pada Nabi Daud. Juga ada yang menyebut
Mazmur maupun Paska. Diturunkan kepada Nabi Dawud AS (=David) pada
abad ke 10 SM untuk Bani Israil dan berbahasa Qibthi.
َّّن
ِ
إ
ِ
إ
َ
و
َ
يم
ِ
اه
َ
ر
ْ
ِب
ََٰل إ
ِ
ا إ
َ
ن
ْ
ي
َ
ْح
أَو
َ
ِ ۚ و
ه
ِ
ْد
ع
َ
ب
ْ
ن
ِ
َني م
ِ
ي
ِ
النَّب
َ
ٍوح و
ُ
ََٰل ن
ِ
ا إ
َ
ن
ْ
ي
َ
ْح
ا أَو
َ
ْ َك َ كم
لَي
ِ
ا إ
َ
ن
ْ
ي
َ
ْح
أَو
َ
اعِيل
َ
ْْس
َ
ود
ُ
او
َ
ا د
َ
ن
ْ
ي
َ
آت
َ
ان ۚ و
َ
َ
م
ْ
لَي
ُ
س
َ
َون و
ُ
ار
َ
ه
َ
و
َ
ُس
ون
ُ
ي
َ
وب و
َ
ُّ
أَي
َ
و
ٰ
ى
َ
يس
عِ
َ
ِ اط و
َ
ب
ْ
ْاۡلَس
َ
وب و
َ
ُ
ق
ْ
ع
َ
ي
َ
اق و
َ
َ
ْح
ِس
إ
َ
و
ُ
ب
َ
ز ا
ً
ور
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana
Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang
kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim,
Ismail, Ishak, Ya’kub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan
Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. al-Nisā’ [4]: 163).
َ
ين
ِ
لَى الَّذ
َ
ع
َ
ۚ و
َ
ر
َ
ََّّيمٍ أُخ
أَ
ْ
ن
ِ
َّدةٌ م
ِ
َع
ٍر ف
َ
ف
َ
س
ٰ
لَى
َ
ع
ْ
يضا أَو
ً
ِر
َ
م
ْ
ْ ُكم
ن
ِ
ان م
َ ك َ
ْ
ن
َ
َم
ٍ ات ۚ ف
َ
ُود
ْد
ع
َ
ا م
ً
ََّّيم
أَ
ْ
ن
َ
َم
ٍني ۖ ف
كِ
ْ
س
ِ
م
ُ
ام
َ
ٌ طَع
ة
َ
ْدي
ِ
ف
ُ
َه
ُون
طِيق
ُ
ْن ي
ِ
ۖ إ
ْ
لَ ُكم
ٌ
ر
ْ
ي
َ
وا خ
ُ
وم
ُ
َص
ْن ت
أَ
َ
ۚ و
ُ
لَه
ٌ
ر
ْ
ي
َ
خ
َ
و
ُ
َه
ا ف
ً
ر
ْ
ي
َ
خ
َ
َطََّوع
ت
َون
ُ
لَم
ْ
َع
ت
ْ
ُم
ت
ْ
ُكن
“Jika mereka mendustakan kamu,maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum
kamupun telah didustakan, mereka membawa mukjizat-mukjizat yang
nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.(QS. alBaqarah [2]: 184).
َون
ُ
َّ الصاِلِ
َ
ِي
اد
َ
ب
ا عِ
َ
ِرث ُه
َ
ْ َض ي
ْكِر أَ َّن ْ اۡلَر
ِ
الذ
ِ
ْد
ع
َ
ب
ْ
ن
ِ
ِور م
ُ
ِ ا ِف َّ الزب
َ
ن
ْ
ب
َ
َ ْد َ كت
لَق
َ
و
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam)
Laut Mahfuz, bahwasanya bumi dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.
(QS. al-Anbiyā’[21]: 105)
ا
َ
ن
ْ
ي
َ
آت
َ
ٍض ۖ و
ْ
ع
َ
ب
ٰ
لَى
َ
َني ع
ِ
ي
ِ
ْ َض النَّب
ع
َ
ا ب
َ
َ َّضْلن
َ ْد ف
لَق
َ
ِض ۗ و
ْ
ْاۡلَر
َ
ِ ات و
َ
او
َ
ِ ِف َّ السم
ْ
َن
ِ
ِب
ُ
لَم
ْ
َك أَع
ُّ
ب
َ
ر
َ
و
ا
ً
ور
ُ
ب
َ
ز
َ
ود
ُ
او
َ
د
“Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang yang (ada) di langit dan di
bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas
(yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. al-Isrā’[17]: 55).
b. Kitab Taurat , diturunkan kepada Nabi Musa. Ada yang menyebutnya
Thoret atau Thora. Diturunkan kepada Nabi Musa AS (=Moses) abad ke 15
SM untuk Bani Israil dan berbahasa Ibrani.
ُ َون
َد
ت
ْ
َه
ت
ْ
ُكم
لَّ
َ
ان لَع
َ َ
ق
ْ
ُر
الْف
َ
اب و
َ َ
ت
َى الْكِ
وس
ُ
ا م
َ
ن
ْ
ي
َ
ْذ آت
ِ
إ
َ
و
“Dan (ingatlah) ketika kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) dan
keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu
mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah [2]: 53).
َ
ِيل
ْاْلِْنْ
َ
َ و
اة
َ
ر
ْ
َل َّ الت و
َ
ْز
أَن
َ
ِ و
ه
ْ
ي
َ
د
َ
َْ َني ي
ا ب
َ
م
ِ
ا ل
ً
ق
ِ
َ د
ُص
ِ م
ق
َ
اب ِ ِب ِْل
َ َ
ت
ْ َك الْكِ
لَي
َ
ََّزَل ع
ن
“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya;
membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan
Taurat dan Injil,” (QS. Ali ‘Imrān [3]: 3).
ُّ َون
ي
ِ
ا النَّب
َ
ِبِ
ُ
ُكم
ْ
َ ۚ َي
ٌ
ُور
ن
َ
ًى و
د
ُ
ا ه
َ
ِيه
َ ف
اة
َ
ر
ْ
َّ ا الت و
َ
لْن
َ
ْز
َّّن أَن
ِ
ُّ َون إ
ي
ِ
ََِّّبن
الر
َ
ُوا و
اد
َ
ه
َ
ين
ِ
لَّذ
ِ
وا ل
ُ
لَم
ْ
أَس
َ
ين
ِ
الَّذ
نِ
ْ
ْ َشو
اخ
َ
و
َ
ا النَّاس
ُ
َََل َ َتْ َشو
ۚ ف
َ
اء
َ
د
َ
شه
ُ
ِ
ه
ْ
لَي
َ
ُوا ع
َكان
َ
ِ اب َّ اَّللِ و
َ
ت
كِ
ْ
ن
ِ
ظُوا م
ِ
ف
ْ
ُح
ت
ْ
ا اس
َ
ِ
ِب
ُ
ار
َ
ب
ْ
ْاۡلَح
َ
و
َ
ِ
ِب
ْ
ُكم
ْ
َ َي
ْ
َ َل
ْ
ن
َ
م
َ
ًيَل ۚ و
ِ
ل
َ
ا ق
ً
ِِت َ َثَن
َ
ِ وا ِبَّي
ُ
َر
َ ْشت
ََل ت
َ
و َون
ُ
ر
ِ
الْ َكاف
ُ
م
ُ
َك ه
ِ
ئ
ٰ
أُولَ
َ
ف
ُ
َل َّ اَّلل
َ
ْز
ا أَن
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada)
petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan
perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada
Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka,
disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka
menjadi saksi terhadapnya.Karena itu janganlah kamu takut kepada
manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayatayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan
menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang
yang kafir.” (QS. al-Mā’idah [5]: 44).
ِ
َ د
ُص
م
ََ
َي
ْ
ر
َ
ِن م
ْ
ى اب
َ
يس
ِ
ع
ِ
ب
ْ
م
ِ
ٰ َ آَثِره
لَى
َ
ا ع
َ
ن
ْ
َّفي
َ
ق
َ
و
َ
ِيل
ْ اْلِْنْ
ُ
اه
َ
ن
ْ
ي
َ
آت
َ
ِ ۖ و
اة
َ
ر
ْ
َّ الت و
َ
ن
ِ
ِ م
ه
ْ
ي
َ
د
َ
َْ َني ي
ا ب
َ
م
ِ
ا ل
ً
ق
َني
ِ
تَّق
ُ
ْلم
ِ
ل
ً
ظَة
عِ
ْ
و
َ
م
َ
ًى و
د
ُ
ه
َ
ِ و
اة
َ
ر
ْ
َّ الت و
َ
ن
ِ
ِ م
ه
ْ
ي
َ
د
َ
َْ َني ي
ا ب
َ
م
ِ
ا ل
ً
ق
ِ
َ د
ُص
م
َ
و
ٌ
ُور
ن
َ
ًى و
د
ُ
ِ ه
ِيه
ف
“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera
Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami
telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk
dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang
sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran
untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Mā’idah [5]: 46).
ل
ْاْلِْنْ
َ
َ و
اة
َ
ر
ْ
َّ الت و
َ
و
َ
ة
َ
ْكم
ْ اِلِ
َ
اب و
َ َ
ت
الْكِ
ُ
ه
ُ
م
ِ
ل
َ
ع
ُ
ي
َ
و
“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan
Injil.” (QS. Ali ‘Imrān [3]: 48).
c. Kitab Injil, diturunkan kepada Nabi Isa. Ada yang menamakan Bibel
maupun Alkitab. Diturunkan kepada Nabi Isa AS = Yesus Kristus pada awal
abad ke 1 M untuk Bani Israil dan berbahasa Suryani.
ِ
ه
ْ
ي
َ
د
َ
َْ َني ي
ا ب
َ
م
ِ
ا ل
ً
ق
ِ
َ د
ُص
ِ م
ق
َ
اب ِ ِب ِْل
َ َ
ت
ْ َك الْكِ
لَي
َ
ََّزَل ع
ن
َ
ِيل
ْاْلِْنْ
َ
َ و
اة
َ
ر
ْ
َل َّ الت و
َ
ْز
أَن
َ
و
“Dia menurunkan Al Kitab (al-Quran) kepadamu dengan sebenarnya;
membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan
Taurat dan Injil,” (QS. Ali ‘Imrān [3]: 3).
ى
َ
يس
ِ
ع
ِ
ب
ْ
م
ِ
ٰ َ آَثِره
لَى
َ
ا ع
َ
ن
ْ
َّفي
َ
ق
َ
و
َ
ِيل
ْ اْلِْنْ
ُ
اه
َ
ن
ْ
ي
َ
آت
َ
ِ ۖ و
اة
َ
ر
ْ
َّ الت و
َ
ن
ِ
ِ م
ه
ْ
ي
َ
د
َ
َْ َني ي
ا ب
َ
م
ِ
ا ل
ً
ق
ِ
َ د
ُص
م
ََ
َي
ْ
ر
َ
ِن م
ْ
اب
َني
ِ
تَّق
ُ
ْلم
ِ
ل
ً
ظَة
عِ
ْ
و
َ
م
َ
ًى و
د
ُ
ه
َ
ِ و
اة
َ
ر
ْ
َّ الت و
َ
ن
ِ
ِ م
ه
ْ
ي
َ
د
َ
َْ َني ي
ا ب
َ
م
ِ
ا ل
ً
ق
ِ
َ د
ُص
م
َ
و
ٌ
ُور
ن
َ
ًى و
د
ُ
ِ ه
ِيه
ف
“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera
Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami
telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk
dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang
sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran
untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Mā’idah [5]: 46).
ً
َّجد
ُ
ا س
ً
َّكع
ُ
ر
ْ
م
ُ
اه
َ
َر
ۖ ت
ْ
م
ُ
َه
ن
ْ
ي
َ
ب
ُ
اء
ََحَ
ُ
لَى الْ ُكَّف ِار ر
َ
ع
ُ
َّداء
أَشِ
ُ
ه
َ
ع
َ
م
َ
ين
ِ
الَّذ
َ
ُول َّ اَّللِ ۚ و
ُ
س
َ
َ ُ َون َّمٌد ر
ُُم
غ
َ
ت
ْ
ب
َ
ا ي
َ
َّ اَّللِ و
َ
ن
ِ
َ ْضًَل م
ف ۚ
ِ
اة
َ
ر
ْ
ِ ِف َّ الت و
ْ
م
ُ
لُه
َ
ث
َ
َك م
ِ
ل
ٰ
ِ ۚ ذَ
ود
ُ
ُّ السج
ِر
أَثَ
ْ
ن
ِ
م
ْ
ِهم
ِ
وه
ُ
ُج
ِ ِف و
ْ
م
ُ
اه
َ
يم
ۖ سِ
ً
اّن
َ
ْضو
ِر
ُّ الزَّر
ُ
ْجِب
ع
ُ
ِ ي
ه
ِ
وق
ُ
س
ٰ
لَى
َ
ٰى ع
َ
َو
ت
ْ
اس
َ
لَ َظ ف
ْ
غ
َ
ت
ْ
اس
َ
ف
ُ
ه
َ
َر
َآز
ف
ُ
شطْأَه
َ
َ
َج
ر
ْ
ٍع أَخ
ْ
ر
َ
ِ يل َ كز
ِ
ِ ِف ْ اْلِْنْ
ْ
م
ُ
لُه
َ
ث
َ
م
َ
و
َ
اع
الْ ُكَّف
ُ
م
َ يظ ِبِِ
ِ
غ
َ
ي
ِ
ل ا
ً
يم
َظِ
ا ع
ً
ر
ْ
أَج
َ
ً و
ة
َ
ر
ِ
ْف
غ
َ
م
ْ
م
ُ
ْه
ِن
ِ ات م
َ
لُ َّ وا الصاِلِ
َمِ
ع
َ
ُوا و
ن
َ
آم
َ
ين
ِ
الَّذ
ُ
َ َّ اَّلل
َد
ع
َ
ۗ و
َ
ار
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan
dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan
keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka
dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas
itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus
di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya
karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan
kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan
dan pahala yang besar.” (QS. al-Fatḥ [48]: 29).
َ
ِيل
ْاْلِْنْ
َ
َ و
اة
َ
ر
ْ
َّ الت و
َ
و
َ
ة
َ
ْكم
ْ اِلِ
َ
اب و
َ َ
ت
الْكِ
ُ
ه
ُ
م
ِ
ل
َ
ع
ُ
ي
َ
و
“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan
Injil”. (QS. Ali ‘Imrān [3]: 48).
d. Kitab al-Qur’an, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
َني
ِ
تَّق
ُ
ْلم
ِ
ًى ل
د
ُ
ِ ۛ ه
ِيه
ۛ ف
َ
ْب
ي
َ
اب َ َل ر
ُ َ
ت
َك الْكِ
ِ
ل
ٰ
ذَ
“Kitab (-l-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka
yang bertaqwa”. (QS. al-Baqarah [2]: 2).
لُ َون
ِ
ق
ْ
َع
ت
ْ
ُكم
لَّ
َ
ًّا لَع
ي
بِ
َ
ر
َ
ع
ً
آّن
ْ
ُر
ق
ُ
اه
َ
لْن
َ
ْز
َّّن أَن
ِ
إ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa
Arab, agar kamu memahaminya” (QS. Yūsuf [12]: 2).
ََّزَل
ِي ن
َك الَّذ
َ
ار
َ
ب
َ
ت ا
ً
ير
ِ
َذ
َني ن
الَمِ
َ
ْلع
ِ
ُك َون ل
َ
ي
ِ
ِ ل
ه
ِ
د
ْ
ب
َ
ع
ٰ
لَى
َ
ان ع
َ َ
ق
ْ
ُر
الْف
“Maha suci Allahyang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada
hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”.
(QS. al-Furqān [25]: 1).
و
ُ
َر
َ كف
َ
ين
ِ
الَّذ
ُ
َكاد
َ
ْن ي
ِ
إ
َ
ُ و ٌون
ن
ْ
َج
لَم
ُ
نَّه
ِ
ُولُ َون إ
ق
َ
ي
َ
و
َ
ْكر
ِ
وا الذ
ُ
ع
ا ْسِ
َ
لََّم
ْ
م
ِ
ِاره
َ
ْص
َ َك ِ ِبَب
ُون
ق
ِ
ل
ْ
ز
ُ
ا لَي ا
َ
م
َ
و
َني
الَمِ
َ
ْلع
ِ
ل
ٌ
ْكر
ِ
ََِّل ذ
إ
َ
و
ُ
ه
“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir
menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka
mendengar al-Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad)
benar-benar orang yang gila.” Dan al-Quran itu tidak lain hanyalah
peringatan bagi seluruh umat.” (QS. al-Qalam [68]:51-52).
ِ
ٌد م
ِ
شاه
َ ُ
لُوه
ْ
ت
َ
ي
َ
ِ و
ه
ِ
ب
َ
ر
ْ
ن
ِ
ٍ م
ة
َ
ن
ِ
ي
َ
ب
ٰ
لَى
َ
ان ع
َ ك َ
ْ
ن
َ
َم
أَف ۚ
ً
ة
َْحَ
َ
ر
َ
ا و
ً
ام
َ
م
ِ
إ
ٰ
َى
وس
ُ
اب م
ُ َ
ت
ِ كِ
ه
ِ
ل
ْ
ب
َ
ق
ْ
ن
ِ
م
َ
و
ُ
ْه
ن
ۚ
ُ
ْه
ن
ِ
ٍ م
ة
َ
ي
ْ
ر
ِ
َ ُك ِ ِف م
َََل ت
ۚ ف
ُ
ه
ُ
د
عِ
ْ
و
َ
م
ُ
النَّار
َ
ِ اب ف
َ
ز
ْ
ْ اۡلَح
َ
ن
ِ
ِ م
ه
ِ
ب
ْ
ُر
ْكف
َ
ي
ْ
ن
َ
م
َ
ِ ۚ و
ه
ِ
ُ َون ب
ن
ِ
م
ْ
ؤ
ُ
َك ي
ِ
ئ
ٰ
أُولَ
ُ
نَّه
ِ
إ
ُ
ن
ِ
م
ْ
ؤ
ُ
النَّ ِ اس َ َل ي
َ
َر
ْكث
َّن أَ
كِ
ٰ
لَ
َ
َك و
ِ
ب
َ
ر
ْ
ن
ِ
ق م
ُّ
َ
َون ْ اِل
“Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada
mempunyai bukti yang nyata (al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula
oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum al-Quran itu telah
ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman
kepada al-Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy)
dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Quran, maka nerakalah tempat
yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap
al-Quran itu. Sesungguhnya (al-Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu,
tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Hūd [11]: 17).
َّ اَّللِ
ُونِ
د
ْ
ن
ِ
ٰى م
َ
َر
ت
ْ
ف
ُ
ْن ي
ُ آن أَ
ْ
ُر
َذا الْق
ٰ
َ
ان ه
َ ا ك َ
َ
م
َ
َ و
د
َ
َْ َني ي
ِي ب
الَّذ
َ
ِيق
َ ْصد
ت
ْ
ن
كِ
ٰ
لَ
َ
و
َ
ِصيل
ْ
َف
ت
َ
ِ و
ه
ْ
ي
َ
ْب
ي
َ
ِ اب َ َل ر
َ
ت
َني الْكِ
الَمِ
َ
َ بِ الْع
ر
ْ
ن
ِ
ِ م
ِيه
ف
“Tidaklah mungkin al-Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (alQuran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan
hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya,
(diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (QS. Yūnus [10]: 37).
ََل
ْ
الُوا لَو
َ
ًّا لَق
ي
مِ
َ
ْج
أَع
ً
آّن
ْ
ُر
ق
ُ
اه
َ
ْلن
َ
ع
َ
ج
ْ
لَو
َ
و
ِبٌّ
َ
ر
َ
ع
َ
و
ٌّ
ي
مِ
َ
ْج
ۖ أَأَع
ُ
ُه
ت
َ
ْت آَّي
لَ
ِ
ُص
ف
َ
ين
ِ
لَّذ
ِ
ل
َ
و
ُ
ه
ْ
ُل
ۗ ق
ُ َون ِ ِف
ن
ِ
م
ْ
ؤ
ُ
َ َل ي
َ
ين
ِ
الَّذ
َ
ۖ و
ٌ
اء
َ
ف
شِ
َ
ًى و
د
ُ
ُوا ه
ن
َ
آم آ
ُ
ه
َ
و
ٌ
ْر
ق
َ
و
ْ
م
ذَاِنِِ
ً
َم
ع
ْ
ِهم
ْ
لَي
َ
ع
َ
و َن
ْ
َو
اد
َ
ن
ُ
َك ي
ِ
ئ
ٰ
ى ۚ أُولَ
ٍ
ِيد
ع
َ
َكانٍ ب
َ
م
ْ
ن
ِ
م
“Dan jikalau Kami jadikan al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain
Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayatayatnya?” Apakah (patut al-Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah
orang) Arab? Katakanlah: “al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi
orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga
mereka ada sumbatan, sedang al-Quran itu suatu kegelapan bagi mereka.
Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS.
Fussilat [41]: 44).
B. Diskursus Kitab Suci dalam al-Qur’an
Term kitab suci merupakan kalimat yang terdiri dari dua suku kata.
Kedua kata tersebut penggabungan dua budaya, yaitu arab sangsekerta.
Kitab berasal dari bahasa arab: kitab dan kitab bersal dari bahasa
sangsekerta: Suci.1 Dalam kamus bahasa Indonesia , entri kitab diartikan
dengan: buku dan wahyu Tuhan yang dibukukan (kitab Suci).2 Sedangkan entri kitab suci adalah kata sifat (adjektif), yang memiliki empat makna,3
salah satunya adalah keramat. KBBI tidak mencantumkan satu entri pun
yang langsung menyebut “kitab suci”. Penulis berasumsi hal itu dilakukan
karena sudah terangkum dalam entri ‘kitab’.
Konsep kitab suci oleh orang Indonesia merupakan hasil terjemahan dari
Holy Book dalam bahasa Inggris. Holy Book secara mendasar merupakan
konsep barat tentang Bible (Alkitab). Dari hasil penelusuran sederhana
penulis, buku yang merujuk pada pada kitab suci bahasa Indonesia adalah
Alkitab, yang diberi judul kitab soetji, yang diterbitkan oleh uitgegeven
door het nederlandsch Bijbelgenootschap di Amsterdam tahun 1891.4
Sementara dalam kajian agama-agama, terminologi yang digunakan untuk
mengkaji ‘kitab suci’ adalah scripture, sebagaimana yang dicantumkan
dalam KBBI sebagai wahyu yang tertulis.5
Dalam bahasa arab, term kitab suci/scripture diterjemahkan dengan alkitab al-muqaddas.6 Penelusuran penulis, atas sejumlah tafsir, ditemukan
bahwa ada dua bentuk penggunaan istilah kitab suci, baik dalam bentuk
tunggal yaitu: al-kitab al muqaddas maupun dalam bentuk jamak yaitu
kutub al muqaddasah. Pertama istilah tersebut bermakna al-Qur’an
sebagaimana yang dirtulis dalam kitab tafsir mafatih al ghayb7
atau
menyandikan kitab suci lain sebagaimana al-Qur’an. Seperti yang ditulis oleh al-sabuni dalam safwa al-tafasir.8 Untuk menyebutkan kitab suci
agama nasrani dan kitab suci agama Yahudi, sebgaimana yang ditulis dalam
tafsir Mahasin al-Ta’wil,9
dan al manar.10
Temuan yang menarik dari pelacakan diatas adalah sebaran penggunaan
istilah suci dalam bahasa arab kebanyakan digunkan dalam karya-karya
tafsir yang pengarangnya hidup di abad 14 hijriah hingga sekarang, seperti
al qasimi (w. 1332h), rida (w. 1354 h), al shabuni (1. 1930 M).
C. Sejarah singkat kitab suci
Untuk menerangkan kitab suci, baik secara sosiologis dan antropologi
banyak bersandar pada tulisanya Graham, ia menjelaskan bahwa kata
scripture berasal dari bahasa latin scriptura yang artinya: tulisan. Dalam
bahasa Indo-Eropa, kata tersebut ditulis: schrift dalam bahasa Jerman,
scritura dalam bahasa Itali, dan écriture dalam bahasa Perancis, ke
semuanya bermakna ‘a writing, something written.’ Bahasa Yunani
memaknai kata scriptura dengan graphé. Kata ini memiliki korespondensi
tehadap makna bahasa klasik dan helenis dari bahasa Hebrew, yaitu ketav
bermakna tulisan. Bahkan istilah Bible juga berasal dari bahasa Latin
blibion yang bentuk jamaknya biblia. Atau bahasa Yunaninya biblas, semuanya itu merujuk pada dokumen tertulis dalam bentuk apapun.11 Baik
dokumen tertulis berbentuk buku atau naskah (lawan dari dokumen yang
berbentuk gulungan).
Menurut Graham memahami kitab suci tidak bisa dipahami hanya dalam
konteksnya secara etimologis, sebagai buku atau tulisan. Konsep kitab
suci/’skripture’ harus dilihat dari sudut pandang Sejarah Keagamaan.
Karena tidak ada kitab suci satu pun yang menjadi otoritatif dan sakral
dengan dirinya sendiri. Sehingga akan ada orang-orang atau penaganut
agama yang menjadikannya begitu sakral, bernilai, bermakna, memiliki
kekuatan dan lainya. Teks keagamaan hanya akan menjadi teks biasa, tanpa
itu semua.12
Pada posisi sebagai buku teks keagamaan, kitab suci memiliki fungsi
baik dari sisi material kitabnya, tulisanya, maupun bacaanya. Berikuta
adalah kategorisasinya: pertama, Fungsi Material Kitab Suci: dalam
sejumlah institusi keagamaan kitab suci digunakan sebagai berikut: 1)
sebagai medium ritual keagamaan di muka publik, baik itu pada Qur’an bagi
kaum Muslim, Mantras bagi pemeluk Vedic, Gāthās bagi pemeluk
Zoroaster, Norito bagi pemeluk Shinto, dll.; 2) medium untuk memberikan
kesembuhan, menghilangkan sisi buruk dunia atau mendapatkan
keberkahan. Contohnya menjadikan kitab suci sebagai tasliman/jimat. Juga,
penggunaan kitab suci untuk praktek mencari jawaban atas masalah
Bibliomancy ataupun Bibliotry; 3) medium pengejawantahan yang Kuasa,
ini terlihat pada penggunaan KItab Suci sebagai alat untuk bersumpah baik
pada tradisi Kristen maupun Islam.Kedua, Fungsi tulisan Kitab Suci: Graham menyebutnya 1) sebagai holy
write (tulisan yang Suci). Cenderung terjadi dalam budaya Judeo-Kristiani,
sehingga pengutipanya disampaikan dengan cara “Sebagaimana yang
tertulis dalam..” Berbeda dengan tradisi Islam pengutipan atas kitab suci
disampaikan cenderung menggunakan kalimat “sebagaimana Firman
Allah” atau “Allah berfirman.” Begitu pula terjadi perbedaan dalam
pengutipan Sruti dengan pengutipan “Sebagaimana yang saya dengar.” 2)
magical dan spiritual. Sebagian agama menggunakan tulisan dari kitab suci
sebagai bagian dari mantra, dengan demikian objek yang ada tulisanya
menjadi lebih memiliki kekuatan/ kuasa.14
Ketiga, Fungsi Bacaan Kitab Suci, antara lain sebagai berikut: 1) Spoken
Word. Kebiasaan untuk melafalkan dengan suara nyaring teks kitab suci
merupakan praktik umum yang dilakukan sejumlah penganut agama,
seperti yang dilakukan kaum Muslim, Indonesia, maupun Sikh.
Kemampuan semacam menjadikan strata sosial tertentu dalam masyarakat
keagamaan. Contoh dalam Islam kelompok penghafal yang mendapat gelar
al-ḥāfiẓ, yaitu mereka yang mampu melafalkan seluruh isi al-Qur’an. 2)
devotional dan spiritual life. Bacaan dari kitab suci menjadi medium
seseorang penganut agama lebih dekat dengan yang Kuasa dengan cara
meditasi, focus, mindfulness membacanya dengan penuh kesadaran dan
kehati-hatian, atau menjadikanya sebagai alat berzikir dalam Islam.
Sehingga ada tata car khusus dalam melanggamkan, menyanyikan kitab
suci dalam sejumlah agama. Sebagaimana dalam Islam melafalkan bagian
dari Qur’an dalam shalat merupakan salah satu rukun yang harus dilakukan
dalam shalat.
Bila ditanyakan apa yang memungkinkan fungsi-fungsi kitab suci di atas
bisa dipraktikkan dalam tradisi keagaamaan dan kepercayaan? Jawaban itu
dapat dilihat dari atribut yang menempel pada kitab suci itu sendiri. Graham
menyebutkan, ada empat atribut kitab suci, yaitu: kuasa (power), Otoritatif
dan sakral, kebersatuan (unicity), dan inspirational and enternaliti/
antiquity. Dan atribut yang dimiliki paling banyak adalah Otoritas dan
Sakralitas Kitab Suci. Hal ini muncul karena penganut agama mempercayai
bahwa dalam kitab suci terdapat Kuasa/Power yang berasal dari atau
dihasilkan MahaKuasa.16
Voorst mengungkapkan:“Scipture is writing that is accepted and used
in a religious community as especially sacred and authoritative.17 Seabagai
bagian dari pandangan yang dijelaskan Graham, bahwa atribut yang
melekat pada kitab suci adalah sakralitas dan otoritatif.
Voorts menjelaskan sejarah singkat bagaimana kajian atas kitab suci
dilakukan selama lebih dari 150 tahun. Ia membaginya 3 tahapan kajiaj
akaademik dalam term kitab suci. Pertama: para sarjana Eropa memulai
untuk menerjemahkan bagian kecil dari kitab suci, seperti yang dianggapa
sakral di Asia, Islam dan Zoroaster. Penerjemahan dilakukan untuk
menggali data tentang doktrin dan sejarah pada agama-agama tersebut.
Adapun terkait bagaimana fungsi kitab suci dalam masyarkat agamanya
belum banyak diperhatikan. Hal ini terjadi pada pertengahan abad 19.
Kedua: Saat bermunculan “mazhab Sejarah agama-agama,” pada masa ini,
seakan-akan kajian mengenai kitab suci diabaikan. Mereka yang bergelut di
mazhab ini, lebih fokus pada telaah ritual, mitos, symbol, dan elemen lain
non teks dari agama. Jaorchin Wach dan Mircea Eliade, adalah dua di antara
yang mengkaji permasalahan ini. Telaah lain atas agama pada tahap ini
adalah mulai maraknya penggunaan metodologi ilmu-ilmu sosial untuk
mengkaji agama.18 Ketiga adalah masa di mana para pengkaji pada periode
ini memandang apa yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya atas
pengabaian kajian kitab suci harus dikoreksi. Kitab Suci harus dimaknai dan
dikaji tidak hanya sebagai teks saja, akan tetapi dilihat juga dari bagaimana
teks tersebut muncul dan hidup dalam totalitas masyarakat agama.19
Pada uraian entri “scripture and Qur’an “ karya Graham. Secara generic
mengenai pembahasan kitab suci dari sisi sejarah dan fenomenologi, baru
dimulai beberapa dekade belakang, anatara lain: Wilfred C. Smith, William
A Graham, Levering, Leipoldt anad Morend. Bagi Graham, yang menjadi
pembahasan saat ini adalah bagaimana ‘scripture’ yang awalnya
disandarkan pada Agama Kristen dan Yahudi, menjadi dokumen yang
sakral yang ada pada setiap komunitas keagamaan.
A. Biografi Singkat Beberapa Mufasir dan Tafsirnya
1. Muḥammad bin Jarīr al-Ṭabarī (225 H-310 H/839 M-923 M)
Nama lengkap ia adalah Abū Ja’far Muḥammad bin Jarīr bin Yazīd bin
Kaṡīr bin Khālid al-Ṭabarī, ada pula yang mengatakan Abū Ja’far
Muḥammad bin Jarīr bin Yazīd bin Kaṡīr bin Ghalīb al-Ṭabarī.1
Ia
dilahirkan di Amil, Ibu kota Tabaristan 224 H.2
Ia merupakan salah seorang
ilmuwan yang sangat mengagumkan dalam kemampuannya mencapai
tingkat tertinggi dalam berbagai disiplin ilmu, antara lain fiqh (hukum
Islam) sehingga pendapat-pendapatnya yang terhimpun dinamai Mażhab alJarīriyah.3 Hidup di lingkungan yang mendukung penuh karir intelektual alṬabarī, tidak heran jika di waktu usia 7 tahun sudah hafal al-Qur’an. Hal
tersebut pernah diungkapkan oleh al-Ṭabarī ‘Aku telah menghafal alQur’an ketika berusia tujuh tahun dan menjadi imm shalat ketika aku
berusia delapan tahun serta mulai menulis hadis-hadis nabi pada usia
sembilan tahun’.
4
Abū Ja’far al-Ṭabarī (Sebutan Abū Ja’far) adalah panggilan kehormatan
bagi al-Ṭabarī karena kebesaran dan kemuliaannya. Kota Baghdad, menjadi
persinggahan terakhir al-Ṭabarī, sejumlah karya telah berhasil ia salurkan
dan akhirnya wafat pada Senin, 27 Syawwal 310 H bertepatan dengan
Februari 923M.5
Ia wafat pada usia 86 tahun.6 Kitab tafsir karya al-Ṭabarī
adalah Jamī’ al-Bayān fī Tafsīr al-Qurān adalah nama yang lebih masyhur,
sedangkan nama yang diberikan oleh al-Ṭabarī adalah Jamī’ al-Bayān ‘anTa’wīl ay al-Qurān, ditulis pada akhir kurun yang ketiga dan mulai
mengajarkan kitab karangannya ini kepada para muridnya dari tahun 283
H-290 H.7 Kitab Tafsir ini tidak ada tandingannya, seperti yang telah
dikatakan oleh al-Nawāwī dalam Tahżībnya.8
Tafsir ini terdiri dari 30 juz yang masing-masing berjilid tebal dan besar,
Kitab karya al-Ṭabarī ini kemudian dicetak untuk pertama kalinya ketika ia
berusia 60 tahun (284 H/899 M).9 Dengan terbitnya tafsir al-Ṭabarī ini
terbukalah khazanah ilmu tafsir.10 Syekh al-Islām Taqiy al-Dīn Ahmad bin
Taimiyah pernah ditanya tentang tafsir yang manakah yang lebih dekat
dengan al-Qur’an dan Sunnah? Ia menjawab bahwa di antara semua tafsir
yang ada pada kita, tafsir yang paling otentik adalah Jamī’ al-Bayān fī Tafsīr
al-Qurān karya Muḥammad bin Jarīr al-Ṭabarī.11
Tafsir al-Ṭabarī dikenal sebagai tafsir bil ma’tsur, yang mendasarkan
penafsirannya pada riwayat-riwayat yang bersumber dari Nabi saw, para
sahabatnya, tabi’in, dan tabi’ al-tabi’in. Ia juga mengemukakan berbagai
pendapat dan mentarjihkan sebagian atas yang lain.12 Adapun metode yang
dipakai oleh al-Ṭabarī untuk menyusun tafsirnya adalah dengan metode
tahlili.13 Al-Ṭabarī tidak menunjukkan sikap fanatisme mazhab atau
alirannya.14 Dari sisi linguistik (lugah), Ibn Jarīr al-Ṭabarī sangat
memperhatikan penggunaan bahasa Arab sebagai pegangan dengan
bertumpu pada syair-syair Arab kuno dalam menjelaskan makna kosa kata,
acuh terhadap aliran-aliran ilmu gramatika bahasa nahwu, dan penggunaan
Bahasa Arab yang telah dikenal secara luas di kalangan masyarakat.15
2. Ismā‘īl Ibn Kaṡīr (700 H-774 H/1300 M-1373 M)
Nama lengkap Ibn Kaṡīr adalah al-Dīn Abū al-Fida Ismā‘īl Ibn Amar Ibn
Kaṡīr Ibn Zara’ al-Buṣrā al-Dimasqī.16 Ia lahir di Desa Mijdal dalam
wilayah Bushra (Basrah) pada tahun 700 H/1301 M. Oleh karena itu, ia
mendapat predikat al-Buṣrawi (orang Basrah).17 Ibn Kaṡīr adalah anak dari
Shihāb al-Dīn Abū Hafṣ Amar Ibn Kaṡīr Ibn Dhaw Ibn Zara’ al-Quraisyī,
yang merupakan seorang ulama terkemuka pada masanya. Ayahnya
bermazhab Syafi’i dan pernah mendalami mazhab Hanafi.18 Menginjak
masa kanak- kanak, ayahnya sudah meninggal dunia. Kemudian Ibn Kaṡīr
tinggal bersama kakaknya (Kamal al-Dīn Abd Wahhāb) dari desanya ke
Damaskus. Di kota inilah Ibn Kaṡīr tinggal hingga akhir hayatnya.19
Mannā’ khalīl al-Qaṭṭān dalam Mabāhiṡ fī ‘Ulūm al-Qurān, berpendapat
tentang Ibn Kaṡīr sebagai berikut: “Ibn Kaṡīr merupakan pakar fiqh yang
dapat dipercaya, pakar hadis yang cerdas, sejarawan ulung, dan pakar tafsir
yang paripurna”.20 Setelah menjalani kehidupan yang panjang, Ibn Hajar alAṡqalānī berkata: “Ia kehilangan penglihatan di akhir hayatnya dan wafat
di Damaskus Suriah pada tanggal 26 Sya’ban 774 H bertepatan dengan
bulan Februari 1373 M pada hari Kamis.21
Kitab ia dalam bidang Tafsir yaitu Tafsīr al-Qurān al-‘Aẓīm menjadi
kitab tafsir terbesar dan tershahih hingga saat ini. Dalam tafsir Ibn Kaṡīr
terdapat beberapa corak tafsir. Hal ini dipengaruhi dari beberapa bidang
kedisiplinan ilmu yang dimilikinya. Adapun corak-corak tafsir yang
ditemukan dalam tafsir Ibn Kaṡīr yaitu (1) corak fiqh, (2) corak ra’y, (3)
corak qira’at.22
Tafsir al-Qurān al-Aẓīm, atau yang lebih dikenal dengan nama Tafsir Ibn
Kaṡīr. Diterbitkan pertama kali dalam 10 Jilid, pada tahun 1342 H/1923 M
di Kairo.23 Tafsir ini di tulis dalam gaya yang sama dengan tafsir Ibn Jarīr
al-Ṭabarī. Tafsir Ibn Kaṡīr ini termasuk tafsir bil ma’tsur, dan juga
merupakan sebaik- baiknya tafsir bil ma’tsur yang menghimpun al-Qur’an dengan al-Qur’an, hadis dengan hadis yang ada kodifikasi beserta
sanadnya.24
Sistematika yang ditempuh Ibn Kaṡīr dalam tafsirnya menafsirkan
seluruh ayat-ayat al-Qur’an sesuai susunannya dalam mushaf al-Qur’an,
ayat demi ayat dan surah demi surah, dimulai dengan surah al-Fātiḥah
diakhiri dengan surah al- Nās, maka secara sistematika tafsir ini menempuh
tartib mushaf.25 Ibn Kaṡīr menggunakan metode tahlili. Dalam tafsir Ibn
Kaṡīr aspek kosakata dan penjelasan arti global, tidak selalu dijelaskan.
Tetapi, kedua aspek tersebut dijelaskan dianggap perlu. kadang pada suatu
ayat, suatu lafal dijelaskan arti kosakata, serta lafal yang lain dijelaskan
secara terperinci dengan memperlihatkan penggunaan istilah itu pada ayatayat lainnya.26
3. Jamaluddin al-Qasimi
Nama lengkap beliau adalah Jamal ad-Din bin asy-Syaikh Muhammad
Sa’id ad-Dimasyqi bin asy-Syaikh Muhammad Qasim al-Hallaq asy-Syafi’i
al- Atsari1. Ada juga menyebutnya dengan Jamal ad-Din bin Muhammad
Sa’id bin Qasimi al-Hallaq al-Qasimi.2 Jamaluddin al-Qasimi lahir pada
waktu dhuha, hari senin 8 jumadal ula tahun 1283H /1866 M disebuah desa
kecil, Qasimi, Syam(Suriah).3 Beliau meninggal pada sore hari sabtu
jumadil ula tahun 1332 H/18 april 1914 M dalam usia 48 tahun. Al-Qasimi
dilahirkan dan wafat di Damaskus.27
4. Muhammad Abduh
Lahir dengan nama lengkap Muhammad Ibnu Abduh Ibn Hasan
Khairullah, yang lebih dikenal dengan sapaan Muhammad Abduh. Lahir di
desa Mahallah Nash provinsi al-Buhairoh, Mesir tahun 1849.28 Terlahir
dengan situasi dan kondisi sosial, politik, dan budaya yang sangat
memprihatinkan , tidak hanya di Mesir tapi hampir seluruh negara Arab.
Kemajuan ilmu dan pengetahuan dan teknologi di Barat mendorong mereka
menjajah dan menduduki negara-negara Arab, sehingga pada akhir abad 19
sampai awal abad ke 20 atau setelah perang Dunia ke II, Kamal al-Tatruk
menghapus ke khalifahan Usmani dan hampir semua Negara Arab berstatus
sebagai negara jajahan.29 Di sisi lain muncul berbagai aliran yang
nasionalisme, sosialisme kapitalisme dan sebagainya yang menjauhkan
kaum muslimin dari ajaran agama mereka.
Sementara di lain pihak, politik pemerintahan dalam sector pertanian
memberlakukan sistem iqtha’ yaitu sistem kepemilikan tanah yang dikuasai
kerajaan memeluk Usmani, para penguasa menjadi tuan tanah, sedangkan
rakyat hanya menjadi penggarap semata. Hal ini tentu












