a diragukan lagi, akan terlihat lebih agung dan men-
jadi sosok yang jauh lebih baik daripada raja yang memiliki ke-
kuatan untuk menjadikan dirinya kengerian bagi rakyatnya. Oleh
sebab itu, diputuskan bahwa Daud harus dibawa kembali ke
Yerusalem kotanya sendiri, dan ke istananya di sana, dengan
suatu upacara khusus. Dan di sini kita mendapati bahwa perkara
itu disepakati bersama.
I. Orang-orang Israel, yaitu sepuluh suku, yaitu yang pertama
membicarakan hal itu (ay. 9-10). Rakyat sedang berselisih tentang
hal ini . Hal itu menjadi pokok bahasan dan perdebatan yang
besar di seluruh negeri. Sebagian orang mungkin menentangnya:
“Biarkanlah dia kembali sendiri atau tinggal di tempat dia berada
sekarang.” Sebagian yang lain tampak bersemangat untuk mem-
bawa raja pulang, dan memberikan alasan sebagai berikut, untuk
melanjutkan rencana itu,
1. Bahwa Daud sebelumnya telah menolong mereka, telah ber-
tempur untuk mereka, mengalahkan musuh-musuh mereka,
dan banyak melakukan kebaikan untuk mereka. Oleh sebab
itu, sungguh memalukan jika dia harus terus terbuang dari
negeri mereka, sementara ia sudah begitu berjasa terhadap
negeri itu. Perhatikanlah, pengabdian yang baik untuk orang
banyak, meskipun bisa saja dilupakan untuk sementara
waktu, akan diingat kembali saat orang sudah bisa berpikir
dengan benar.
2. Bahwa Absalom sekarang telah mengecewakan mereka. “Kita
dengan bodoh telah muak terhadap pohon aras, dan memilih
ranting untuk memerintah atas kita. namun cukuplah sudah.
Absalom telah binasa, dan kita dengan susah payah telah
luput dari kebinasaan bersamanya. Oleh sebab itu, marilah
kita kembali setia kepada pemimpin kita yang dulu, dan ber
usaha untuk membawa sang raja kembali.” Mungkin ini saja-
lah perselisihan di antara mereka, bukan perdebatan apakah
raja harus dibawa kembali atau tidak sebab semuanya setuju
hal itu harus dilakukan, melainkan kesalahan siapakah se-
hingga hal ini tidak dilakukan. Seperti yang biasa terjadi
dalam perkara-perkara seperti itu, setiap orang membenarkan
diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Rakyat menimpakan
kesalahan kepada para tua-tua, dan para tua-tua kepada rak-
yat, dan satu suku kepada suku yang lain. Saling menyema-
ngati untuk melakukan pekerjaan baik yaitu hal yang terpuji,
namun bukan saling menuduh sebab pekerjaan itu tidak dila-
kukan. Sebab biasanya jika pekerjaan yang menyangkut
kepentingan orang banyak diabaikan, semua pihak harus ikut
menanggung kesalahan. Setiap orang bisa berbuat lebih dari-
pada yang biasa ia lakukan dalam hal-hal seperti memperbaiki
tingkah laku, mengatasi perpecahan, dan sejenisnya.
II. Orang-orang Yehuda, melalui rancangan Daud, menjadi yang
pertama melakukannya. Sungguh aneh bahwa mereka, sebagai
suku asal Daud, tidak begitu tergerak untuk melakukannya se-
perti suku-suku yang lain. Daud mendapat kabar tentang maksud
baik dari semua suku lain terhadap dia, namun tidak mendengar
apa-apa dari suku Yehuda, meskipun dia selalu memberi perhati-
an khusus kepada mereka. namun kita tidak selalu mendapat ke-
baikan terbesar dari orang-orang yang, dengan alasan kuat, kita
harap memberi kita kebaikan itu. Namun demikian, Daud tidak
mau kembali sebelum dia mengetahui perasaan dari sukunya
sendiri. Yehuda ialah pemberi hukum baginya (Mzm. 60:9, KJV).
Agar perjalanannya pulang menjadi lebih terang,
1. Daud menyuruh Zadok and Abyatar, dua imam kepala itu,
untuk berbicara kepada tua-tua Yehuda, dan untuk mendo-
rong mereka supaya mengundang raja untuk kembali ke
rumahnya, yaitu ke istananya, yang merupakan kemuliaan
dari suku mereka (ay. 11-12). Tidak ada orang lain yang lebih
tepat untuk merundingkan perkara ini daripada kedua orang
imam itu, yang tetap setia kepada kepentingan Daud, yang
merupakan orang-orang bijaksana, dan mempunyai pengaruh
besar terhadap umat. Mungkin orang-orang Yehuda itu lalai
dan abai, dan tidak melakukannya, sebab tak ada seorang
pun yang mendesak mereka untuk melakukannya. Dengan
demikian, memang sudah sepantasnyalah mereka digerakkan
untuk melakukannya. Banyak orang mau ikut dalam suatu
pekerjaan baik, namun mereka tidak mau memimpin di da-
lamnya. Sungguh disayangkan bahwa orang-orang Yehuda
terus diam saja sebab tidak disuruh. Atau mungkin mereka
begitu sadar akan tindakan mereka yang sangat menyulut
amarah Daud, dengan bergabung bersama Absalom, sehingga
mereka takut untuk membawanya kembali, sebab sudah
hilang harapan akan mendapat perkenanannya. Itulah sebab-
nya Daud menyuruh para utusannya untuk meyakinkan me-
reka akan perkenanannya, dengan alasan ini: “Kamulah sau-
dara-saudaraku, kamulah darah dagingku, dan sebab itu aku
tidak dapat berlaku keras terhadap kamu.” Anak Daud dengan
senang hati menyebut kita saudara, darah daging-Nya, yang
membesarkan hati kita untuk berharap bahwa kita akan men-
dapat perkenanan-Nya. Atau mungkin mereka hendak melihat
apa yang akan dilakukan oleh suku-suku yang lain sebelum
mereka bergerak, dan sebab itulah mereka di sini ditegur:
“Perkataan seluruh Israel telah sampai kepada raja untuk
mengundangnya kembali. Akankah Yehuda menjadi yang ter-
akhir, padahal seharusnya menjadi yang pertama? Di mana-
kah sekarang keberanian yang termasyhur dari suku kerajaan
itu? Di manakah kesetiaannya?” Perhatikanlah, kita harus ter-
gerak untuk melakukan apa yang besar dan baik oleh ketela-
danan dari para leluhur kita maupun dari sesama kita, dan
dengan mempertimbangkan kedudukan kita. Janganlah kira-
nya yang pertama dalam martabat menjadi yang terakhir
dalam menjalankan kewajiban.
2. Daud secara khusus membujuk Amasa, yang sebelumnya
telah menjadi kepala pasukan Absalom, untuk mendukung ke-
pentingannya. Amasa ini yaitu keponakannya sendiri seperti
halnya dengan Yoab (ay. 13). Daud mengakui Amasa sebagai
kerabatnya, dan menjanjikan dia bahwa, jika dia mau datang
menghadap kepadanya sekarang, Daud akan menjadikannya
panglima dari semua pasukannya sebagai ganti Yoab. Daud
tidak hanya akan memaafkannya, yang kemungkinan dikha-
watirkan oleh Amasa, namun juga akan memberinya jabatan
yang lebih tinggi. Kadang-kadang tidak ada ruginya menjadi-
kan seseorang sebagai teman, sekalipun dulu pernah menjadi
musuh. Keberpihakan Amasa bisa jadi membawa kebaikan
bagi Daud pada saat seperti ini. Namun demikian, walaupun
Daud bertindak dengan bijaksana bagi dirinya sendiri dalam
menetapkan jabatan ini untuk Amasa sebab Yoab sekarang
telah menjadi angkuh tak tertahankan, dia tidak berbuat baik
bagi Amasa dengan membiarkan rancangannya diketahui,
sebab rancangan itu memicu kematian Amasa di tangan
Yoab (20:10).
3. Dengan bujukan ini, tujuan Daud pun tercapai. Ia membelok-
kan hati orang-orang Yehuda untuk memberikan sua-
ra, nemine contradicente – secara bulat, untuk memanggil kem-
bali sang raja (ay. 14). Penyelenggaraan Allah, melalui bujukan
para imam dan keberpihakan Amasa, telah membawa mereka
pada keputusan ini. Daud tidak bergerak sebelum dia mene-
rima undangan ini, dan sesudah menerima undangan itu dia
datang sampai sejauh Yordan, yang di tepi sungainya mereka
harus menemuinya (ay. 15). Yesus Tuhan kita akan memerin-
tah atas orang-orang yang mengundang-Nya untuk bertakhta
dalam hati mereka, dan tidak sebelum Ia diundang. Ia per-
tama-tama membelokkan hati, dan membuatnya merelakan
diri untuk maju pada hari kemenangan-Nya, lalu barulah Ia
memerintah di antara musuh-Nya (Mzm. 110:2-3).
Daud Mengampuni Simei
(19:16-23)
16 Juga Simei bin Gera, orang Benyamin yang dari Bahurim itu, cepat-cepat
datang bersama-sama dengan orang-orang Yehuda untuk menyongsong raja
Daud. 17 Juga ada seribu orang dari daerah Benyamin bersama-sama dengan
dia. Dan Ziba, hamba keluarga Saul, dan kelima belas anaknya laki-laki dan
kedua puluh hambanya bersama-sama dengan dia datang tergesa-gesa ke
sungai Yordan mendahului raja, 18 lalu menyeberang dari tempat penyebe-
rangan untuk menyeberangkan keluarga raja dan untuk melakukan apa
yang dipandangnya baik. Maka Simei bin Gera sujud di depan raja, saat
raja hendak menyeberangi sungai Yordan, 19 dan berkata kepada raja:
“Janganlah kiranya tuanku tetap memandang aku bersalah, dan janganlah
kiranya tuanku mengingat kesalahan yang dilakukan hambamu ini pada hari
tuanku raja keluar dari Yerusalem; janganlah kiranya raja memperhatikan-
nya lagi. 20 Sebab hambamu ini tahu bahwa hamba telah berbuat dosa; dan
lihatlah, pada hari ini akulah yang pertama-tama datang dari seluruh ketu-
runan Yusuf untuk menyongsong tuanku raja.” 21 Lalu berbicaralah Abisai,
anak Zeruya, katanya: “Bukankah Simei patut dihukum mati sebab ia telah
mengutuki orang yang diurapi TUHAN?” 22 namun Daud berkata: “Apakah
urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya, sehingga kamu pada hari ini
menjadi lawanku? Masakan pada hari ini seorang dihukum mati di Israel!
Sebab bukankah aku tahu, bahwa aku pada hari ini yaitu raja atas Israel?”
23 Kemudian berkatalah raja kepada Simei: “Engkau tidak akan mati.” Lalu
raja bersumpah kepadanya.
Mungkin sungai Yordan tidak pernah dilewati dengan suasana yang
begitu khidmat, atau dengan begitu banyak kejadian yang luar biasa
seperti sekarang ini, sejak bangsa Israel menyeberanginya di bawah
kepemimpinan Yosua. Daud, dalam pelariannya yang penuh penderi-
taan, teringat kepada Allah secara khusus dari tanah sungai Yordan
(Mzm. 42:7). Dan sekarang tanah ini , lebih daripada tanah yang
lain, dibuat semarak oleh kemuliaan-kemuliaan yang mengiringi
kepulangannya. Para tentara Daud melengkapi diri dengan berbagai
angkutan untuk perjalanan mereka melewati sungai Yordan ini,
namun , untuk keluarga Daud sendiri, sebuah perahu tambang dikirim
untuk tujuan itu (ay. 18, KJV). Sebuah armada kapal, menurut seba-
gian penafsir. Sebuah tempat penyeberangan dibuat, menurut sebagi-
an yang lain. Angkutan terbaik disediakan oleh mereka untuk mela-
yani Daud. Dua orang yang menarik perhatian menemuinya di tepi
sungai Yordan, keduanya telah melecehkan Daud dengan hina saat
dia sedang dalam pelariannya.
I. Ziba, yang telah melecehkan dirinya dengan mulut manisnya, dan
dengan tuduhan palsu terhadap tuannya, telah memperoleh dari
sang raja suatu hibah dari harta benda tuannya (16:4). Tidak ada
pelecehan yang lebih besar yang dapat dilakukan Ziba terhadap
Daud, yaitu bahwa dengan memanfaatkan sikap Daud yang mu-
dah percaya, Ziba menyeretnya untuk melakukan sesuatu yang
begitu tidak baik terhadap putra dari Yonatan, sahabat Daud.
Sekarang Ziba datang, dengan serombongan anak dan hambanya,
untuk menemui sang raja (ay. 17), supaya dia dapat beroleh per-
kenanan raja, dan dengan begitu terbebas dari kesulitan jika
Mefiboset menyadarkan sang raja tidak lama lagi, dan supaya dia
dapat membersihkan namanya sendiri (ay. 26).
II. Simei, yang telah melecehkannya dengan mulut busuknya, men-
cercanya, dan mengutukinya (16:5). Seandainya Daud kalah,
tidak diragukan lagi dia akan terus menginjak-injak Daud, dan
bermegah atas apa yang telah dilakukannya. namun sebab seka-
rang dia melihat Daud pulang dengan kemenangan, dan kembali
ke takhtanya, maka dia berpikir bahwa demi kebaikannya sendiri,
ia harus berdamai dengan Daud. Orang-orang yang sekarang
merendahkan dan melecehkan Anak Daud akan dengan senang
hati mau berdamai pula dengan-Nya saat Ia datang dalam ke-
muliaan-Nya. Namun kelak hal itu sudah sangat terlambat. Simei,
untuk mendapatkan kesan baik dari sang raja,
1. Datang dengan rombongan yang baik, dengan orang-orang
Yehuda, sebagai orang yang mendukung kepentingan mereka.
2. Simei membawa sebuah pasukan dari suku Benyamin, dengan
jumlah seribu orang, yang mungkin dikepalainya, atau ia men-
jadi panglima besar atas pasukan itu, dengan menawarkan
dirinya dan diri mereka untuk melayani sang raja. Atau mung-
kin mereka yaitu para relawan, yang oleh kepentingannya
telah dikumpulkannya bersama-sama untuk menemui raja.
Hal ini semakin menyenangkan hati, sebab dari semua suku
Israel tidak ada satu pun, kecuali mereka ini dan suku Yehuda,
yang datang untuk menyambut sang raja dengan hormat.
3. Simei bergegas melakukan apa yang hendak dilakukannya. Se-
geralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-
sama dengan dia di tengah jalan. Di sini kita mendapati,
(1) Sikap tunduk si penjahat itu (ay. 18-20): Ia sujud di depan
raja, sebagai orang yang bertobat, sebagai seorang pemo-
hon. Dan, agar dia dapat terlihat tulus, dia melakukannya
secara terbuka di hadapan semua hamba Daud, dan te-
man-temannya orang Yehuda, bahkan, di hadapan ribuan
orangnya. Pelanggaran Simei dilakukan di hadapan banyak
orang, oleh sebab itu sikap tunduknya harus dilakukan
demikian juga. Ia mengakui kejahatannya: Hambamu ini
tahu bahwa hamba telah berbuat dosa. Ia memperberat
dosa itu: Aku melakukannya dengan jahat sekali (KJV). Ia
memohon pengampunan sang raja: Janganlah kiranya
tuanku tetap memandang aku bersalah, yaitu, menghukum-
ku setimpal dengan perbuatanku. Ia menyiratkan bahwa
jiwa raja yang besar dan lapang tidak akan sudi memper-
hatikan kesalahannya lagi. Dan Simei menyerukan betapa
cepat ia kembali setia kepada sang raja, bahwa dialah yang
pertama-tama datang dari seluruh keturunan Yusuf, yaitu
dari seluruh Israel yang pada awal pemerintahan Daud
telah membedakan diri mereka dari suku Yehuda melalui
dukungan mereka kepada Isyboset, 2:10), yang datang un-
tuk menyongsong tuan raja. Simei datang pertama, sehingga
melalui teladannya dalam menjalankan kewajiban, yang lain
akan tergerak untuk melakukannya, dan melalui pengalam-
annya mendapat pengampunan sang raja, yang lain dapat
terdorong untuk mengikutinya.
(2) Sebuah usulan dibuat untuk menghukum Simei (ay. 21): “Bu-
kankah Simei patut dihukum mati sebagai pengkhianat? Biar-
lah dia, dari antara semua orang, dijadikan contoh bagi
yang lain.” Usulan ini dibuat oleh Abisai, yang hendak
mempertaruhkan nyawanya untuk membunuh Simei keti-
ka Simei mengutuki sang raja (16:9). Daud tidak berpikir
bahwa hal itu pantas dilakukan pada saat itu, sebab ke-
kuasaannya untuk mengadili diambil darinya. Akan namun ,
sebab sekarang kekuasaan ini telah dipulihkan,
mengapa hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya?
Abisai dalam hal ini mempertimbangkan apa yang diang-
gapnya menjadi perasaan Daud lebih daripada kepentingan
Daud yang sesungguhnya. Para penguasa perlu memper-
senjatai diri terhadap godaan untuk melakukan kekerasan.
(3) Ditepiskannya perkataan Abisai oleh perintah raja (ay. 22-
23). Daud menolak usulan Abisai dengan rasa tidak senang:
“Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya?
Semakin sedikit kita berurusan dengan orang-orang yang
berjiwa pemarah dan ingin balas dendam, dan yang mendo-
rong kita untuk berbuat apa yang kasar dan keras, sema-
kin baiklah itu. Daud memandang orang-orang yang meng-
ajukan tuntutan ini sebagai lawannya, sekalipun mereka
mengaku-aku bersahabat dan bersemangat membela kehor-
matannya. Orang-orang yang menasihati kita untuk berbuat
salah sesungguhnya yaitu Iblis, musuh kita.
[1] Mereka yaitu musuh bagi kecenderungan hatinya,
yaitu memberikan pengampunan. Daud tahu bahwa ia
pada hari ini yaitu raja atas Israel, yang dipulihkan
pada kerajaannya dan ditegakkan kembali di dalamnya,
dan sebab itu kehormatannya mencondongkan hatinya
untuk mengampuni. Kemuliaan raja-rajalah untuk meng-
ampuni orang-orang yang merendahkan diri dan menye-
rahkan diri: Satis est prostrasse leoni – singa sudah mera-
sa puas jika ia sudah membuat korbannya tidak ber-
daya. Sukacita Daud mencondongkan hatinya untuk
mengampuni. Kegembiraan jiwanya pada kesempatan
yang besar ini mencegah masuknya hal apa saja yang
dapat membuat suasana menjadi suram dan memanas.
Hari-hari sukacita haruslah menjadi hari-hari pengam-
punan. Namun ini belum semuanya. Pengalamannya
akan belas kasihan Allah dalam mengembalikan dia
kepada kerajaannya, dan pembuangannya yang dipan-
dangnya sebagai akibat dari dosanya, mencondongkan
hatinya untuk menunjukkan belas kasihan kepada
Simei. Orang-orang yang diampuni haruslah mengam-
puni. Daud telah membalaskan dengan keras peleceh-
an-pelecehan yang telah dilakukan kepada para utusan-
nya oleh orang-orang Amon (12:31), namun ia dengan
mudah mengabaikan pelecehan yang telah dilakukan
terhadap dirinya sendiri oleh seorang Israel. Pelecehan
oleh orang Amon itu merupakan suatu penghinaan ter-
hadap Israel secara umum, dan mengusik kehormatan
dari mahkota dan kerajaan Daud. Sementara penghina-
an oleh orang Israel ini murni urusan pribadi, dan kare-
nanya sesuai dengan kecenderungan hati orang-orang
baik pada umumnya, maka Daud dapat mengampuni-
nya dengan lebih mudah.
[2] Orang-orang yang mengajukan tuntutan itu yaitu mu-
suh bagi kepentingan Daud. Seandainya ia harus meng-
hukum mati Simei, yang telah mengutuknya, maka
orang-orang yang telah mengangkat senjata dan sung-
guh-sungguh menyatakan perang melawannya harus
bersiap-siap mengalami nasib yang sama. Hal ini akan
menjauhkan mereka dari dia, padahal dia sedang ber-
usaha untuk menarik mereka kepadanya. Tindak keke-
rasan jarang merupakan tindakan yang bijaksana.
Takhta ditegakkan dalam kasih setia. Simei, sesudah itu,
mendapat pengampunan Daud yang telah disahkan dan
dimeteraikan dengan sumpah. Namun, tidak diragukan
lagi, ia harus berperilaku baik, dan dapat dikenakan
hukuman jika dia sesudahnya berperilaku jahat. Dengan
demikian pada waktunya nanti, dia dijadikan sebagai
tanda peringatan akan keadilan pemerintah, sebagai-
mana sekarang ia menjadi tanda peringatan akan peng-
ampunannya, dan dalam kedua-duanya ia menjadi tanda
peringatan akan kebijaksanaannya.
Mefiboset Bertemu Daud
(19:24-30)
24 Juga Mefiboset bin Saul menyongsong raja. Ia tidak membersihkan kaki-
nya dan tidak memelihara janggutnya dan pakaiannya tidak dicucinya sejak
raja pergi sampai hari ia pulang dengan selamat. 25 saat ia dari Yerusalem
menyongsong raja, bertanyalah raja kepadanya: “Mengapa engkau tidak pergi
bersama-sama dengan aku, Mefiboset?” 26 Jawabnya: “Ya tuanku raja, aku
ditipu hambaku. Sebab hambamu ini berkata kepadanya: Pelanailah keledai
bagiku, supaya aku menungganginya dan pergi bersama-sama dengan raja! –
sebab hambamu ini timpang. 27 Ia telah memfitnahkan hambamu ini kepada
tuanku raja. namun tuanku raja yaitu seperti malaikat Allah; sebab itu
perbuatlah apa yang tuanku pandang baik. 28 Walaupun seluruh kaum
keluargaku tidak lain dari orang-orang yang patut dihukum mati oleh tuanku
raja, tuanku telah mengangkat hambamu ini di antara orang-orang yang
menerima rezeki dari istanamu. Apakah hakku lagi dan untuk apa aku
mengadakan tuntutan lagi kepada raja?” 29 namun raja berkata kepadanya:
“Apa gunanya engkau berkata-kata lagi tentang halmu? Aku telah memutus-
kan: Engkau dan Ziba harus berbagi ladang itu.” 30 Lalu berkatalah Mefiboset
kepada raja: “Biarlah ia mengambil semuanya, sebab tuanku raja sudah
pulang dengan selamat.”
Hari kepulangan Daud yaitu hari untuk mengingat, hari perhitung-
an, yang di dalamnya apa yang sudah terjadi selama pelariannya
diingat kembali. Salah satu di antaranya, sesudah perkara Simei, ada-
lah pemeriksaan terhadap perkara Mefiboset, dan Mefiboset sendiri
yang mengungkitnya.
I. Mefiboset pergi bersama khalayak ramai untuk menyongsong raja
(ay. 24), dan sebagai bukti dari ketulusan sukacitanya atas kepu-
langan sang raja, kita di sini diberi tahu betapa ia sungguh-
sungguh berkabung atas pembuangan sang raja. Selama masa
yang penuh kesedihan ini , saat salah satu kemuliaan ter-
besar dari Israel telah pergi, Mefiboset terus berada dalam keada-
an yang sangat menyedihkan. Ia tidak pernah memelihara jang-
gutnya, atau mengenakan pakaian yang bersih, namun mengabai-
kan dirinya sepenuhnya, sebagai orang yang hanyut dalam kese-
dihan sebab kesusahan sang raja dan penderitaan kerajaan.
Pada waktu terjadi malapetaka yang menimpa semua orang, kita
harus membatasi kegembiraan kita dalam hal-hal yang menyang-
kut kenikmatan indrawi, dengan menyesuaikan diri dengan masa
yang susah itu. Ada kalanya Allah memanggil untuk menangis
dan berkabung, dan kita harus mengikuti panggilan ini .
II. Pada waktu raja tiba di Yerusalem, sebab tidak ada kesempatan
yang lebih awal dari itu, Mefiboset datang menyongsong raja (ay.
25). Dan saat raja bertanya mengapa dia, sebagai salah satu
dari keluarganya, tinggal di tempat, dan tidak menemaninya da-
lam pembuangannya, Mefiboset menjelaskan perkaranya dengan
sepenuhnya kepada raja.
1. Mefiboset mengeluh tentang Ziba, hambanya yang seharusnya
menjadi temannya, namun telah menjadi musuh dalam dua hal.
Sebab, pertama, Ziba telah menghalanginya untuk pergi ber-
sama raja, dengan mengendarai sendiri keledai yang telah
disuruh untuk dipersiapkan bagi tuannya (ay. 26), dengan
mengambil keuntungan secara hina dari ketimpangan tuannya
dan ketidakmampuannya untuk menolong diri sendiri. Dan
kedua, Ziba telah memfitnahnya kepada Daud bahwa tuannya
itu berencana merebut pemerintahan (ay. 27). Betapa besar
celaka yang dapat ditimpakan oleh seorang hamba yang jahat
kepada tuan yang teramat baik!
2. Mefiboset dengan penuh syukur mengakui kebaikan yang
besar dari sang raja kepadanya saat dia dan seisi rumah
ayahnya berada dalam belas kasihan sang raja (ay. 28). saat
dia dapat dengan adil diperlakukan sebagai seorang pem-
berontak, dia justru diperlakukan sebagai seorang teman,
sebagai seorang anak: Tuanku telah mengangkat hambamu ini
di antara orang-orang yang menerima rezeki dari istanamu. Hal
ini menunjukkan bahwa tuduhan Ziba tidak mungkin benar.
Sebab masakan Mefiboset begitu bodoh hingga mengejar kedu-
dukan yang lebih tinggi, padahal dia sudah hidup dengan
begitu nyaman, begitu bahagia? Masakan dia begitu berakal
bulus hingga merencanakan suatu kejahatan terhadap Daud,
padahal ia begitu sadar akan kebaikan Daud yang besar ter-
hadapnya?
3. Mefiboset menyerahkan perkaranya kepada keputusan raja.
Perbuatlah apa yang tuanku pandang baik terhadap hamba
dan semua kepunyaan hamba, dengan bergantung pada hik-
mat sang raja, dan kemampuannya untuk membedakan mana
yang benar dan mana yang salah; Tuanku raja yaitu seperti
malaikat Allah, dan tanpa mengaku-ngaku sama sekali bahwa
dirinya benar: “Begitu banyak kebaikan yang telah hambamu
terima melebihi apa yang pantas bagi hamba. Apakah hakku
lagi dan untuk apa aku mengadakan tuntutan lagi kepada
raja? Mengapakah aku harus menyusahkan raja dengan semua
keluhanku, sementara aku selama ini telah menjadi beban yang
begitu berat bagi sang raja? Mengapakah aku harus mengang-
gap berat apa saja yang ditimpakan kepadaku, sementara se-
jauh ini aku sudah diperlakukan dengan begitu baik?” Kita
semua seperti orang-orang yang patut dihukum mati di hadap-
an Allah. Namun demikian, Allah tidak hanya telah meluput-
kan kita dari hukuman mati itu, namun juga bahkan membawa
kita duduk di meja hidangan-Nya. Dengan demikian, betapa
kita tidak beralasan untuk mengeluhkan persoalan apa saja
yang tengah menimpa kita, dan betapa besar alasan untuk
menganggap baik segala sesuatu yang dilakukan oleh Allah!
III. Daud sesudah itu mengingat kembali penyitaan harta milik Mefi-
boset. sebab sudah tertipu dalam memberikan hibah, Daud
mencabutnya, dan menegaskan kembali ketetapannya sebelum-
nya mengenai hal itu: “Aku telah memutuskan: Engkau dan Ziba
harus berbagi ladang itu (ay. 29), yaitu, hendaklah terjadi seperti
yang pertama kali kuperintahkan (9:10). Ladang itu akan tetap
menjadi milikmu, namun Ziba-lah yang mengerjakannya. Ia masih
harus mengolah tanah, dengan membayar uang sewa kepadamu.”
Demikianlah Mefiboset mendapatkan apa yang semula didapat-
kannya. Tidak ada kerugian yang diderita, hanya saja Ziba ter-
lepas dari hukuman atas keterangan palsu dan keji mengenai
tuannya. Mungkin Daud terlalu takut kepada Ziba, atau terlalu
mengasihinya, untuk dapat mengadilinya menurut hukum yang
tertulis itu (Ul. 19:18-19). Daud sekarang sedang ingin meng-
ampuni dan menetapkan hati untuk memberikan kemudahan
bagi semua orang.
IV. Mefiboset menenggelamkan segala kekhawatirannya tentang la-
dangnya dalam sukacika atas kepulangan sang raja (ay. 30):
“Biarlah ia mengambil semuanya, kehadiran dan perkenanan raja
akan menjadi pengganti semuanya itu bagiku.” Seorang yang baik
dapat menanggung dengan sabar segala kehilangan dan keke-
cewaan yang diterimanya, asalkan dia melihat Israel dalam keada-
an damai, dan takhta Anak Daud ditinggikan dan ditegakkan.
Biarlah Ziba mengambil semuanya, supaya Daud merasa tenang.
Barzilai Bertemu Daud
(19:31-39)
31 Juga Barzilai, orang Gilead itu, telah datang dari Ragelim dan ikut ber-
sama-sama raja ke sungai Yordan untuk mengantarkannya sampai di sana.
32 Barzilai itu sudah sangat tua, delapan puluh tahun umurnya. Ia menyedia-
kan makanan bagi raja selama ia tinggal di Mahanaim, sebab ia seorang yang
sangat kaya. 33 Berkatalah raja kepada Barzilai: “Ikutlah aku, aku akan me-
melihara engkau di tempatku di Yerusalem.” 34 namun Barzilai menjawab raja:
“Berapa tahun lagikah aku hidup, sehingga aku harus pergi bersama-sama
dengan raja ke Yerusalem? 35 Sekarang ini aku telah berumur delapan puluh
tahun; masakan aku masih dapat membedakan antara yang baik dan yang
tidak baik? Atau masih dapatkah hambamu ini merasai apa yang hamba ma-
kan atau apa yang hamba minum? Atau masih dapatkah aku mendengarkan
suara penyanyi laki-laki dan penyanyi wanita ? Apa gunanya hambamu
ini lagi menjadi beban bagi tuanku raja? 36 Sepotong jalan saja hambamu ini
berjalan ke seberang sungai Yordan bersama-sama dengan raja. Mengapa
raja memberikan ganjaran yang sedemikian kepadaku? 37 Biarkanlah hamba-
mu ini pulang, sehingga aku dapat mati di kotaku sendiri, dekat kubur ayah-
ku dan iartikel . namun inilah hambamu Kimham, ia boleh ikut dengan tuanku
raja; perbuatlah kepadanya apa yang tuanku pandang baik.” 38 Lalu berbi-
caralah raja: “Baiklah Kimham ikut dengan aku; aku akan berbuat kepada-
nya apa yang kaupandang baik, dan segala yang kaukehendaki dari padaku
akan kulakukan untukmu.” 39 Kemudian seluruh rakyat menyeberangi
sungai Yordan. Juga raja menyeberang, sesudah berpamitan dengan Barzilai
dengan ciuman. Lalu orang ini pun pulanglah ke tempat kediamannya.
Daud telah menyemarakkan kemenangan dari kepulangannya ke
istana dengan pengampunan yang penuh kemurahan hati atas keja-
hatan-kejahatan yang telah dilakukan kepadanya. Dalam perikop ini
kita mendapati Daud menyemarakkan kemenangan itu dengan upah
yang tidak kalah royalnya atas kebaikan-kebaikan yang telah
ditunjukkan kepadanya. Barzilai, seorang Gilead, yang berkedudukan
tinggi di Ragelim, tidak jauh dari Mahanaim, yaitu seorang yang,
dari semua bangsawan dan kaum terpandang di negeri itu, telah
berlaku teramat baik kepada Daud dalam kesusahannya. Seandainya
Absalom yang menang, ada kemungkinan Barzilai akan menderita
sebab kesetiaannya itu. namun sekarang dia dan segala miliknya
tidak akan mendapat kerugian sebab nya. Dalam perikop ini kita
mendapati,
I. Penghormatan Barzilai yang besar kepada Daud, bukan hanya
sebagai seorang yang baik, melainkan juga sebagai rajanya yang
adil: Ia menyediakan banyak makanan, bagi Daud dan keluarga-
nya, selama ia tinggal di Mahanaim (ay. 32). Allah telah memberi
Barzilai banyak harta benda, sebab ia seorang yang sangat
kaya, dan kelihatannya dia juga memiliki hati yang lapang untuk
berbuat baik dengan segala hartanya itu. Apalagi gunanya harta
yang berlimpah kalau bukan untuk berbuat baik? jika orang
besar menjadi terpuruk, kemurahan hati menuntut kita untuk
berbuat baik kepadanya secara khusus, sebaik-baiknya menurut
kekuatan kita, dan jika orang baik tertindas, kesalehan menu-
ntut kita untuk berbuat serupa. Barzilai, untuk menunjukkan bah-
wa dia tidak lelah melayani Daud, meskipun Daud sudah menjadi
beban yang begitu besar baginya, ikut bersama-sama Daud ke
sungai Yordan, dan mengantarkannya sampai di sana (ay. 31).
Hendaknya dari sini para bawahan belajar untuk memberikan pa-
jak kepada orang yang berhak menerima pajak dan hormat kepada
orang yang berhak menerima hormat (Rm. 13:7).
II. Undangan baik yang diberikan Daud kepadanya untuk ikut ke
istana bersamanya (ay. 33): Ikutlah aku. Daud mengundang Bar-
zilai,
1. Agar Daud bisa merasakan sukacita dari penyertaan Barzilai
dan manfaat dari nasihatnya. Sebab kita dapat menduga bah-
wa Barzilai yaitu seorang yang sangat bijak dan baik, selain
juga sangat kaya, sebab jika tidak, dia tidak akan disebut di
sini sebagai seorang yang sangat kaya (KJV: seorang yang
sungguh besar). Sebab jati diri seseorang, lebih daripada apa
yang dimilikinya, yang membuatnya sungguh-sungguh besar.
2. Agar Daud bisa mempunyai kesempatan untuk membalas ke-
baikan Barzilai: “Aku akan memelihara engkau. Engkau akan
berbagi kemewahan denganku, dan ini di Yerusalem, kota
kerajaan dan kota suci.” Daud tidak menganggap kebaikan
Barzilai sebagai utang. Dia bukanlah salah seorang dari raja
raja yang sewenang-wenang, yang berpikir bahwa apa saja
yang dimiliki rakyat mereka yaitu milik mereka sendiri bila-
mana mereka menghendakinya. Sebaliknya, Daud menerima
kebaikan itu dan mengganjarnya sebagai perkenanan. Kita
harus selalu belajar untuk berterima kasih kepada teman-
teman kita, terutama kepada mereka yang telah menolong kita
dalam masa kesukaran.
III. Tanggapan Barzilai atas undangan ini, yang di dalamnya,
1. Barzilai mengagumi kemurahan hati sang raja dalam memberi-
kan tawaran ini, dengan mengecilkan pelayanannya sendiri, dan
mengagung-agungkan balasan raja atas pelayanannya itu:
Mengapa raja memberikan ganjaran yang sedemikian kepadaku?
(ay. 36). Masakan sang tuan berterima kasih kepada hambanya
yang hanya melakukan apa yang menjadi kewajibannya? Bar-
zilai berpikir bahwa raja sudah memberinya kehormatan yang
cukup dengan membiarkannya melakukan pelayanan apa saja
kepada sang raja. Demikian pula halnya, saat orang-orang
kudus dipanggil untuk mewarisi kerajaan berdasar apa
yang telah mereka lakukan bagi Kristus di dunia ini, mereka
akan tercengang melihat ketidakseimbangan antara pelayanan
dan upahnya. Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar
dan kami memberi Engkau makan? (Mat. 25:37).
2. Barzilai menolak undangan itu. Ia memohon maaf kepada sang
raja atas penolakannya terhadap tawaran yang begitu penuh
kemurahan hati. Ia pasti merasa sangat berbahagia untuk
berada dekat dengan sang raja, namun ,
(1) Barzilai sudah tua, dan tidak kuat untuk bepergian sama
sekali, terutama ke istana. Ia sudah tua, dan tidak bugar
untuk melakukan pekerjaan di istana: “Mengapakah aku
harus pergi bersama-sama dengan raja ke Yerusalem? Aku
sama sekali tidak dapat melayani raja di sana, entah itu di
dalam dewan, perkemahan, perbendaharaan, atau badan
pengadilan. Sebab berapa tahun lagikah aku hidup? (ay.
34). Masakan aku berpikir untuk bekerja, sedangkan seka-
rang aku akan meninggalkan dunia ini?” Ia sudah tua dan
tidak cocok untuk hiburan-hiburan di istana, yang akan
percuma diberikan, dan bahkan akan dibuang, kepada
seseorang yang tidak lagi dapat menikmatinya (ay. 35).
Seperti pada zaman Musa, demikian pula pada zaman
Barzilai, dan sekarang pun begitu, bahwa, jika orang bisa
kuat sampai hidup delapan puluh tahun, kebanggaannya
pada waktu itu yaitu kesukaran dan penderitaan (Mzm.
90:10). Tahun-tahun ini pada masa itu, dan juga masih
demikian sekarang ini, yaitu tahun-tahun di mana orang
berkata, tak ada kesenangan bagiku di dalamnya (Pkh.
12:1). Makanan yang sangat lezat menjadi tawar jika tidak
ada lagi nafsu makan, dan nyanyian bagi telinga orang
yang lanjut usia tidak lebih baik daripada nyanyian yang
dinyanyikan untuk hati yang sedih, sangat tidak menye-
nangkan hati. Bagaimana tidak demikian jika semua
penyanyi wanita tunduk? Hendaklah orang-orang tua
belajar dari Barzilai untuk mati rasa terhadap kenikmatan-
kenikmatan inderawi. Hendaklah perkara ilahi menjadi
yang utama dibandingkan perkara duniawi, dan hendaklah
mereka memanfaatkan masa susah dengan sebaik-baiknya.
Bahkan Barzilai, sebab sudah tua, menganggap bahwa
dirinya akan menjadi beban bagi tuan raja, dan bukannya
berguna baginya. Orang yang baik tidak akan pergi ke
mana pun untuk menjadi beban, atau, seandainya dia ha-
rus menjadi beban, ia lebih memilih menjadi beban bagi
keluarganya sendiri daripada bagi keluarga orang lain.
(2) Barzilai sedang menanti ajal, dan harus mulai berpikir
tentang perjalanannya yang jauh, kepergiannya dari dunia
ini (ay. 37). Alangkah baiknya jika kita semua, namun ter-
utama orang yang sudah lanjut usia, berpikir dan berbicara
banyak tentang kematian. “Daripada pergi ke istana,” ujar
Barzilai, “biarkanlah aku pulang dan mati di kotaku sendiri,
tempat kuburan ayahku. Biarkanlah aku mati dekat kubur
ayahku dan iartikel , supaya tulang-tulangku dapat dibawa
dengan tenang ke tempat peristirahatan mereka. Kuburan-
nya telah siap bagiku, biarkanlah aku pergi dan bersiap
untuknya, pergi dan mati di tempat kediamanku.”
3. Barzilai ingin agar sang raja bersikap baik kepada Kimham,
putranya: Ia boleh ikut dengan tuanku raja, dan mendapat
kedudukan di istana. Kebaikan yang diberikan kepada Kim-
ham akan dipandang oleh Barzilai sebagai kebaikan yang
dilakukan kepada dirinya. Orang-orang yang sudah tua tidak
boleh iri hati kepada orang-orang muda atas segala kesenang-
an yang tidak bisa lagi mereka nikmati, namun juga mereka
tidak boleh hanya mengurung diri. Barzilai sendiri akan kem-
bali pulang, namun dia tidak mau membuat Kimham kembali
bersamanya. Meskipun Barzilai bisa saja menahan Kimham
untuk tidak pergi, namun, sebab berpikir bahwa kepergian-
nya akan membuatnya puas dan maju, maka dia bersedia
untuk melepasnya.
IV. Perpisahan Daud dengan Barzilai.
1. Daud melepas Barzilai kembali ke negerinya dengan sebuah
ciuman dan berkat (ay. 39), yang menandakan bahwa sebagai
ucapan terima kasih atas kebaikannya, Daud akan mengasihi-
nya dan berdoa baginya, dan dengan janji bahwa apa pun
permintaan yang akan disampaikannya kepada Daud sewaktu-
waktu, ia akan siap untuk mengabulkannya (ay. 38): Segala
yang kaukehendaki, saat engkau pulang, daripadaku, itu
akan kulakukan untukmu. Apa keutamaan dari kekuasaan
kalau bukan ini, bahwa kekuasaan memberi orang kemampu-
an untuk melakukan kebaikan yang lebih besar.
2. Daud membawa Kimham pergi bersamanya, dan menyerahkan
kepada Barzilai untuk memilihkan kedudukan yang baik
baginya. Aku akan berbuat kepadanya apa yang kaupandang
baik (ay. 38). Dan sepertinya Barzilai, yang telah mengalami
kedamaian dan keamanan dari tempat terpencil, memohon
sebuah tempat kediaman bagi Kimham di dekat Yerusalem,
namun bukan di dalamnya. Sebab, lama sesudahnya, kita
membaca tentang sebuah tempat dekat Betlehem, kota Daud,
yang disebut tempat penginapan milik Kimham. Ada kemung-
kinan bahwa tempat ini diberikan kepada Kimham, bukan dari
tanah negara atau lahan sitaan, melainkan dari lahan warisan
ayah Daud.
Pertengkaran antara Israel dan Yehuda
(19:40-43)
40 Sesudah itu berjalanlah raja terus ke Gilgal, dan Kimham ikut dengan dia.
Seluruh rakyat Yehuda bersama-sama setengah dari rakyat Israel telah
Kitab 2 Samuel 19:40-43
897
mengantarkan raja. 41 namun seluruh orang Israel datang menghadap raja
dan berkata kepada raja: “Mengapa saudara-saudara kami, orang-orang
Yehuda itu, menculik raja dan membawa dia menyeberangi sungai Yordan
dengan keluarganya dan semua orang Daud yang menyertai dia?” 42 Lalu
semua orang Yehuda menjawab orang-orang Israel itu: “Oleh sebab raja
kerabat kami. Mengapa kamu menjadi marah sebab hal ini? Apakah kami
makan apa-apa atas biaya raja? Apakah kami mendapat keuntungan?”
43 namun orang-orang Israel itu menjawab orang-orang Yehuda: “Kami sepu-
luh kali lebih berhak atas raja. Sebagai anak sulung kami melebihi kamu.
Mengapa kamu memandang kami rendah? Bukankah kami yang pertama-
tama harus membawa raja kami kembali?” namun perkataan orang-orang
Yehuda itu lebih pedas dari pada perkataan orang-orang Israel.
Daud menyeberangi sungai Yordan dengan disertai dan didampingi
oleh orang-orang Yehuda saja. Akan namun , saat dia sudah sampai
sejauh Gilgal, daratan pertama di seberang sungai Yordan ini, sete-
ngah dari rakyat Israel, yaitu dari tua-tua dan para pembesar, telah
datang menantikan dia, untuk mencium tangannya, dan mengucap-
kan selamat atas kepulangannya. Namun, mereka mendapati bahwa
mereka sudah sangat terlambat untuk menyaksikan khidmatnya
suasana saat Daud masuk pertama kali. Hal ini membuat mereka
marah, dan menimbulkan suatu pertengkaran antara mereka dan
orang-orang Yehuda, yang merusak sukacita pada hari itu, dan
merupakan permulaan dari malapetaka lebih lanjut. Dalam perikop
ini kita mendapati,
1. Keluhan yang diajukan oleh orang-orang Israel kepada raja
melawan orang-orang Yehuda (ay. 41), bahwa orang-orang Yehuda
telah melakukan upacara untuk membawa sang raja menyebe-
rangi sungai Yordan, namun tidak memberi tahu mereka, supaya
mereka dapat datang untuk ikut serta. Tindakan ini menghina
mereka, seolah-olah mereka tidak begitu senang dengan raja dan
kepulangannya seperti orang-orang Yehuda, padahal raja sendiri
tahu bahwa mereka telah membicarakan perkara itu sebelum
orang-orang Yehuda berpikir untuk melakukannya (ay. 11). Tam-
pak juga seakan-akan orang-orang Yehuda berniat untuk me-
nguasai sendiri perkenanan raja sesudah dia kembali, untuk
dipandang sebagai satu-satunya temannya. Lihatlah kejahatan
apa yang timbul dari kesombongan dan kecemburuan.
2. Alasan yang dibuat oleh orang-orang Yehuda (ay. 42).
(1) Mereka menyerukan hubungan keluarga dengan raja: “Raja
yaitu kerabat kami, dan sebab nya dalam perkara upacara
semata, seperti halnya perkara ini, kami bisa meminta untuk
didahulukan. Ke dalam negeri kamilah ia harus dibawa, dan
sebab itu siapakah yang lebih pantas daripada kami untuk
membawa sang raja?”
(2) Mereka menyangkal tuduhan yang disampaikan secara tidak
langsung bahwa mereka hanya mementingkan diri sendiri
dalam apa yang telah mereka lakukan: “Apakah kami makan
apa-apa atas biaya raja? Tidak, kami semua menanggung bia-
ya kami sendiri. Apakah kami mendapat keuntungan? Tidak,
kami tidak berniat untuk mengeruk keuntungan dari kepu-
langan raja. Kalian datang dan masih cukup mempunyai wak-
tu untuk berbagi di dalam keuntungan itu.” Terlalu banyak
orang yang menyertai para raja berbuat demikian hanya demi
keuntungan yang dapat mereka peroleh.
3. Pembelaan orang-orang Israel terhadap tuduhan orang-orang
Yehuda (ay. 43). Mereka berseru, “Kami sepuluh kali lebih berhak
atas raja,” sebab Yehuda hanya memiliki Simeon, yang milik pusa-
kanya ada di dalam wilayah Yehuda, untuk digabungkan dengan-
nya. “Dan sebab itu suatu penghinaan terhadap kami bahwa
nasihat kami tidak diminta untuk membawa raja kembali.” Lihatlah
betapa tidak menentunya khalayak ramai itu. Belum lama ini
mereka berjuang melawan raja, untuk mengusirnya. Sekarang
mereka berjuang untuk merebut hati raja, siapa yang akan mem-
berikan penghormatan terbesar baginya. Orang yang baik dan
perkara yang baik pasti akan mendapatkan kembali nama baik-
nya dan kepentingannya, meskipun, untuk sementara waktu,
mereka mungkin tampak kehilangan keduanya. Lihatlah apa yang
biasanya menjadi asal-usul dari perselisihan, tidak lain selain
ketidaksabaran dalam menanggung penghinaan atau tindakan
sekecil apa pun yang tampak meremehkan. Orang-orang Yehuda
akan berbuat lebih baik seandainya mereka mau menerima nasi-
hat dan bantuan saudara-saudara mereka. Akan namun , sebab
mereka tidak menerimanya, mengapakah orang-orang Israel ha-
rus merasa begitu tersinggung dan sakit hati? Jika suatu perbuat-
an baik dilakukan, dan dilakukan dengan baik, janganlah kita
merasa tidak senang, atau pekerjaan itu direndahkan, walaupun
kita tidak ikut andil di dalamnya.
4. Kitab Suci memberi perhatian, dengan cara mempersalahkan,
pihak mana dari yang bertikai itu yang menangani perkara ter-
sebut dengan amarah yang paling besar: Perkataan orang-orang
Yehuda itu lebih pedas dari pada perkataan orang-orang Israel.
Walaupun kebenaran dan akal sehat ada di pihak kita, namun,
jika kita mengungkapkan isi hati kita dengan pedas, Allah mem-
perhatikannya dan sangat tidak senang dengannya.
PASAL 20
etapa awan kembali mendung sesudah hujan reda! Begitu satu
masalah Daud dibereskan, muncul pula masalah lain, yang
seakan-akan timbul dari abu masalah sebelumnya. Dalam hal ini di-
genapilah ancaman itu, bahwa pedang tidak akan menyingkir dari
keturunannya.
I. Sebelum Daud sampai di Yerusalem, terjadilah pemberontak-
an baru yang dipimpin Seba (ay. 1-2).
II. Tindakan pertama Daud, sesudah tiba di Yerusalem, yaitu
memenjarakan para gundiknya seumur hidup (ay. 3).
III. Amasa, yang diberinya kepercayaan untuk mengerahkan
pasukan melawan Seba, terlampau lamban bergerak, sehing-
ga membuatnya cemas (ay. 4-6).
IV. Salah seorang panglimanya membunuh panglima lain dengan
biadab, saat mereka sedang berada di medan perang (ay. 7-
13).
V. Seba pada akhirnya terkurung di kota Abel-Bet-Maakha (ay.
14-15), namun penduduk kota itu menyerahkannya kepada
Yoab, dan dengan demikian pemberontakan Seba berhasil di-
tumpas (ay. 16-22). Pasal ini ditutup dengan penjelasan sing-
kat tentang para pemuka istana Daud (ay. 23-26).
Pemberontakan Seba
(20:1-3)
1 Kebetulan ada di sana seorang dursila, bernama Seba bin Bikri, orang
Benyamin. Ia meniup sangkakala serta berkata: “Kita tidak memperoleh bagi-
an dari pada Daud. Kita tidak memperoleh warisan dari anak Isai itu.
Masing-masing ke kemahnya, hai orang Israel!” 2 Lalu semua orang Israel itu
meninggalkan Daud dan mengikuti Seba bin Bikri, sedangkan orang-orang
Yehuda tetap berpaut kepada raja mereka, mengikutinya dari sungai Yordan
sampai Yerusalem. 3 Sampailah Daud ke istananya di Yerusalem, lalu raja
mengambil kesepuluh gundik yang ditinggalkannya untuk menunggui istana,
kemudian dimasukkannya mereka dalam sebuah rumah di bawah penjaga-
an. Ia memelihara mereka, namun tidak dihampirinya. Mereka tetap terasing
seperti janda sampai hari mati mereka.
Di tengah kemenangannya, Daud di sini merasakan penderitaan
dengan melihat kerajaannya diusik dan keluarganya dipermalukan.
I. Rakyatnya memberontak terhadapnya sebab hasutan seorang
dursila, yang mereka ikuti sesudah mereka meninggalkan seorang
yang berkenan di hati Allah. Amatilah,
1. Bahwa hal ini terjadi segera sesudah pemberontakan Absalom
dipatahkan. Selama berada di dunia ini, janganlah kita merasa
heran jika akhir dari satu masalah merupakan awal dari
masalah lain. Adakalanya samudera raya berpanggil-panggil-
an.
2. Bahwa rakyat baru saja kembali setia kepadanya, saat mere-
ka, secara tiba-tiba, mengingkari kesetiaan mereka. jika
perdamaian baru diadakan, haruslah itu dipelihara dengan sa-
ngat lembut dan hati-hati, supaya perdamaian itu tidak kem-
bali runtuh sebelum ditegakkan. Tulang patah yang baru ter-
sambung membutuhkan waktu agar tetap tersambung dengan
kuat.
3. Bahwa dalang pemberontakan ini yaitu Seba, seorang ketu-
runan Benyamin (ay. 1), yang bermukim di pegunungan Ef-
raim (ay. 21). Baik Simei maupun Seba berasal dari suku Saul,
dan kedua-duanya menyimpan dendam kesumat dari keluarga
itu. Dalam keturunan ular, ada permusuhan secara turun-
temurun terhadap kerajaan Mesias, dan upaya-upaya yang
silih berganti untuk menggulingkan kerajaan itu (Mzm. 2:1-2).
Namun, Dia yang bersemayam di sorga menertawakan mereka
semua.
4. Bahwa penyebab dari pemberontakan itu yaitu pertikaian
bodoh yang kita baca di akhir pasal sebelumnya, antara para
tua-tua Israel dan para tua-tua Yehuda, perihal membawa
sang raja kembali. Masalah kehormatanlah yang dipertengkar-
kan di antara mereka, yaitu siapa yang mempunyai kepenting-
an paling besar pada Daud. “Jumlah kami lebih banyak,” kata
para tua-tua Israel. “Kami yaitu kerabat terdekat raja,” kata
para tua-tua Yehuda. Nah, orang tentu akan berpikir bahwa
Daud merasa sangat aman dan senang saat bawahannya
saling bertengkar siapa di antara mereka yang paling menga-
sihinya, dan paling bersemangat menunjukkan rasa hormat
kepadanya. Namun, bahkan pertengkaran itu pun terbukti
menjadi penyebab suatu pemberontakan. Orang-orang Israel
mengeluh kepada Daud atas penghinaan yang telah diberikan
orang-orang Yehuda kepada mereka. Seandainya sekarang
Daud menanggapi keluhan orang-orang Israel, memuji sema-
ngat mereka, dan berterima kasih kepada mereka atas sema-
ngat mereka itu, ia bisa saja meneguhkan mereka untuk ber-
pihak kepadanya. Akan namun , sepertinya ia memihak sukunya
sendiri: Perkataan orang-orang Yehuda itu lebih didengar dari-
pada perkataan orang-orang Israel, demikian sebagian penafsir
membaca kata-kata terakhir dalam pasal sebelumnya. Daud
cenderung membenarkan orang-orang Yehuda, dan, saat
orang-orang Israel menyadari hal ini, mereka pergi berlalu
dengan kemarahan. “Kalau raja mau mencurahkan perhatian-
nya kepada orang-orang Yehuda, biarlah dia dan mereka
berbuat sebaik-baiknya satu terhadap yang lain, dan kita akan
mengangkat raja untuk diri kita sendiri. Kita berpikir bahwa
kita sepuluh kali lebih berhak atas Daud, namun hak seperti
itu tidak akan diberikan kepada kita. Orang-orang Yehuda
memberi tahu kita, pada dasarnya, bahwa kita tidak memper-
oleh bagian dari pada Daud, dan oleh sebab itu kita tidak mau
mendapat bagian sama sekali, tidak pula kita akan melayani
Daud lebih jauh dalam kepulangannya ke Yerusalem, atau
mengakuinya sebagai raja kita.” Hal ini dinyatakan oleh Seba
(ay. 1), yang mungkin merupakan orang terkemuka, dan giat
berperan dalam pemberontakan Absalom. Orang-orang Israel
yang merasa jijik termakan oleh hasutan itu, lalu meninggal-
kan Daud dan mengikuti Seba bin Bikri (ay. 2). Maksudnya,
sebagian besar dari mereka berbuat demikian, hanya orang-
orang Yehudalah yang tetap setia kepada Daud. Dari sini
dapat ditarik pelajaran,
(1) Bahwa sungguh tidak bijaksana jika para raja bersikap
berat sebelah dalam memberikan perhatian kepada rakyat
mereka. Begitu pula dengan para orangtua yang bersikap
seperti itu terhadap anak-anak mereka. Keduanya harus
bertindak dengan adil.
(2 Orang-orang yang meremehkan kasih sayang para bawah-
an mereka, dengan tidak mendukung dan menerimanya,
tidaklah tahu apa yang mereka perbuat. Orang yang kasih
sayangnya tidak dianggap, harus ditakuti kebenciannya.
(3) Memulai pertengkaran yaitu seperti membuka jalan air.
Jadi berhikmatlah kita jika undur sebelum perbantahan
mulai (Ams. 17:14). Betapa besarnya kebakaran yang ditim-
bulkan oleh api yang kecil ini!
(4) Menyelewengkan perkataan berarti merusak perdamaian.
Dan malapetaka yang besar terjadi sebab memaksakan
tafsiran-tafsiran yang menyakitkan hati atas apa yang dika-
takan dan dituliskan, dan mengambil kesimpulan-kesim-
pulan yang tidak pernah diniatkan. Orang-orang Yehuda
berkata, raja yaitu kerabat kami. “Dengan perkataan ini,”
tutur orang-orang Israel, “engkau bermaksud bahwa kami
tidak memperoleh bagian apa pun dari pada Daud,” padahal
orang-orang Yehuda sama sekali tidak bermaksud demi-
kian.
(5) Orang memang mudah sekali jatuh ke dalam dua sisi yang
berlebihan. Kami sepuluh kali lebih berhak atas raja, kata
orang-orang Israel. Dan, hampir pada tarikan nafas beri-
kutnya mereka berkata, kita tidak memperoleh bagian dari
pada Daud. Hari ini orang berkata hosana, dan besok
mereka berteriak salibkan Dia.
II. Para gundik Daud dipenjarakan seumur hidup, dan Daud sendiri
merasa perlu mengurung mereka, sebab mereka telah dinodai
oleh Absalom (ay. 3). Daud memiliki banyak istri, berlawanan
dengan hukum Taurat, dan mereka terbukti mendatangkan rasa
sedih dan malu atasnya. Mereka yang sebelumnya mendatangkan
kesenangan yang penuh dosa baginya, sekarang,
1. Terpaksa disingkirkannya, sesuai kewajiban, sebab mereka
telah menjadi najis baginya akibat perbuatan kotor yang telah
dilakukan putranya bersama mereka. Orang-orang yang dahu-
lu dicintainya itu sekarang harus dibencinya.
2. Terpaksa dikurung, dalam tindakan yang bijak, agar tidak ter-
lihat oleh orang banyak dan membuat malu. Jika tidak, orang-
orang yang melihat para gundik itu bisa saja membicarakan
hal yang telah diperbuat Absalom terhadap mereka, sesuatu
yang bahkan tidak pantas disebut-sebut (1Kor. 5:1). Dengan
mengurung para gundik itu, diharapkan agar kekejian itu ter-
kubur dan terlupakan.
3. Terpaksa dipenjarakan, demi keadilan, untuk menghukum
mereka sebab sudah begitu mudah tunduk kepada hawa naf-
su Absalom. Mungkin mereka putus asa menanti Daud kem-
bali, dan menyangka bahwa dia sudah tiada. Janganlah orang
berharap bahwa mereka dapat berbuat jahat, namun akan
baik-baik saja.
Kematian Amasa
(20:4-13)
4 Berkatalah raja kepada Amasa: “Kerahkanlah bagiku orang-orang Yehuda
dalam tiga hari, kemudian menghadaplah lagi ke mari!” 5 Lalu pergilah Ama-
sa mengerahkan orang Yehuda, namun ia menunda-nunda tugas itu sampai
melewati waktu yang ditetapkan raja baginya. 6 Lalu berkatalah Daud kepada
Abisai: “Sekarang Seba bin Bikri lebih berbahaya bagi kita dari pada Absa-
lom; jadi engkau, bawalah orang-orang tuanmu ini dan kejarlah dia, supaya
jangan ia mencapai kota yang berkubu, dan dengan demikian ia luput dari
pada kita.” 7 Lalu Yoab, orang Kreti dan orang Pleti dan semua pahlawan
keluar menyusul dia. Mereka keluar dari Yerusalem untuk mengejar Seba bin
Bikri. 8 saat mereka sampai ke batu besar yang di Gibeon, maka Amasa
sudah tiba di sana lebih dahulu dari pada mereka. Adapun Yoab mengena-
kan pakaian perang dan di luarnya ada ikat pinggang dengan pedang bersa-
rung terpaut pada pinggangnya. saat ia tampil ke muka terjatuhlah pedang
itu. 9 Berkatalah Yoab kepada Amasa: “Engkau baik-baik, saudaraku?” Se-
mentara itu tangan kanan Yoab memegang janggut Amasa untuk mencium
dia. 10 Amasa tidak awas terhadap pedang yang ada di tangan Yoab itu; Yoab
menikam pedang itu ke perutnya, sehingga isi perutnya tertumpah ke tanah.
Tidak usah dia ditikamnya dua kali, sebab ia sudah mati. Lalu Yoab dan
Abisai, adiknya, terus mengejar Seba bin Bikri. 11 Dan seorang dari orang-
orang Yoab tinggal berdiri di dekat mayat itu, sambil berkata: “Siapa yang
suka kepada Yoab dan siapa yang memihak kepada Daud, baiklah mengikuti
Yoab!” 12 Dalam pada itu Amasa terguling mati dalam darahnya di tengah-
tengah jalan raya. saat orang itu melihat, bahwa seluruh rakyat berdiri
menonton, maka disingkirkannya mayat Amasa dari jalan raya ke padang,
lalu dihamparkannya kain di atasnya, sebab dilihatnya, bahwa setiap orang
yang datang ke sana berdiri menonton. 13 sesudah dijauhkannya mayat itu
dari jalan raya, maka semua orang itu berjalan terus mengikuti Yoab untuk
mengejar Seba bin Bikri.
Dalam perikop ini kita mendapati tewasnya Amasa tepat saat ia
baru saja naik pangkat. Dia yaitu keponakan Daud (17:25), dan
pernah menjadi panglima Absalom serta kepala pasukan pemberon-
taknya. Akan namun , sebab pemberontakan itu berhasil digagalkan,
ia lalu berpindah memihak Daud, berdasar janji bahwa ia akan
dijadikan panglima pasukannya menggantikan Yoab. Pemberontakan
Seba memberi Daud peluang untuk menepati janjinya secara lebih
cepat daripada yang dapat dikehendakinya. Namun, kedengkian dan
keinginan Yoab untuk melebihi orang lain membuat pemenuhan janji
itu mendatangkan akibat buruk, baik bagi Amasa maupun Daud.
I. Amasa ditugaskan mengerahkan pasukan untuk meredam pem-
berontakan Seba, dan diperintahkan untuk mengerahkannya se-
cepat mungkin (ay. 4). Sepertinya orang-orang Yehuda, meskipun
bersemangat untuk menyertai kemenangan-kemenangan sang
raja, namun cukup lamban untuk bertempur baginya. Sebab jika
tidak, saat mereka semua bersama-sama dalam satu kumpulan
menyertai Daud ke Yerusalem, mereka bisa saja langsung menge-
jar Seba, dan meremukkan si ular itu sewaktu masih di dalam
telur. Akan namun , kebanyakan orang memang menyukai kesetia-
an, dan juga agama, yang murah dan mudah. Banyak orang
memegahkan kekerabatan mereka dengan Kristus, namun sangat
enggan bertaruh nyawa bagi-Nya. Amasa diutus untuk menghim-
pun orang-orang Yehuda dalam tiga hari. Namun, ia mendapati
mereka ini begitu lamban dan tidak siap, hingga ia tidak dapat
melaksanakan tugasnya dalam waktu yang telah ditentukan (ay.
5). Padahal, kenaikan pangkat Amasa, yang pernah menjadi pang-
lima mereka di bawah Absalom, sangatlah menyukakan hati
mereka, dan merupakan bukti dari belas kasihan yang ditunjuk-
kan oleh pemerintahan Daud.
II. Akibat kelambatan Amasa, saudara Yoab yang bernama Abisai
diperintahkan untuk membawa para pengawal dan pasukan te-
tapnya, dan bersama mereka pergi mengejar Seba (ay. 6-7), sebab
tidak ada yang bisa menimbulkan akibat lebih berbahaya dari-
pada memberi Seba waktu. Daud memberikan perintah ini kepada
Abisai, sebab ia bertekad untuk mempermalukan Yoab, dan
merendahkan dia, namun saya khawatir bukan sebab darah
Abner, yang telah ditumpahkannya dengan hina, melainkan ter-
lebih sebab darah Absalom, yang telah ditumpahkannya dengan
adil dan terhormat. “Sekarang (menurut Uskup Hall), Yoab men-
derita akibat ketidaktaatan terhadap raja, yang justru diperbuat-
nya sebab kesetiaan terhadap raja. Betapa cepat bergesernya
kedudukan dalam kehormatan-kehormatan duniawi, dan betapa
mudah berubah-ubah! Berbahagialah orang-orang yang diperke-
nan oleh Dia yang di dalam-Nya tidak ada bayangan perubahan.”
Meskipun dipermalukan dan tidak diperintahkan, Yoab pergi
menyertai saudaranya, sebab tahu bahwa ia bisa saja berguna
bagi orang banyak, atau mungkin sekarang ia sedang memikirkan
cara untuk menyingkirkan saingannya.
III. Di dekat Gibeon, Yoab bertemu dengan Amasa, kemudian mem-
bunuhnya dengan biadab (ay. 8-10). Sepertinya batu besar di
Gibeon ditetapkan sebagai tempat pertemuan untuk semua orang.
Di sanalah kedua pesaing itu bertemu. Amasa, dengan mengan-
dalkan tugas pengutusannya, pergi terlebih dahulu, sebagai pang-
lima baik dari pasukan yang baru saja dikerahkan dan dihimpun-
nya, maupun dari pasukan berpengalaman yang telah dibawa
Abisai. Namun, di situ Yoab memanfaatkan kesempatan untuk
membunuh Amasa dengan tangannya sendiri. Dan,
1. Yoab melakukannya dengan tidak kentara, dan dengan teren-
cana, dan bukan sebab terpancing amarah secara tiba-tiba.
Ia mengenakan jubah perang dengan ikat pinggang, supaya
pakaiannya tidak menghalangi jalannya, dan supaya pedang-
nya lebih mudah digunakan. Selain itu, ia juga memasukkan
pedangnya ke dalam sarung yang terlampau longgar, supaya
bila ia mau, pedang itu bisa jatuh sebab sedikit gerakan,
seakan-akan jatuh dengan tidak sengaja. Dengan demikian, ia
dapat memungut pedang itu tanpa dicurigai, seakan-akan ia
hendak menyarungkannya kembali, padahal ia berencana un-
tuk menghunjamkannya ke perut Amasa. Semakin dosa diren-
canakan, semakin buruk pula dosa itu.
2. Yoab melakukannya dengan berkhianat, dan pura-pura bersi-
kap bersahabat, supaya Amasa lengah. Ia menyebut Amasa
saudaraku, sebab keduanya memang saudara sepupu. Ia juga
menanyakan kesehatan sepupunya itu, Engkau baik-baik?.
Kemudian memegang janggutnya, sebagai orang yang akrab
dengannya, untuk mencium dia. Sementara itu, dengan pe-
dang yang terhunus di tangan yang lain, ia mengarahkannya
ke jantung Amasa. Inikah tindakan orang terhormat, seorang
prajurit, seorang panglima? Tidak. Sebaliknya, itu perbuatan
seorang penjahat, seorang pengecut yang hina. Dengan cara
yang persis seperti itu jugalah ia membunuh Abner, dan lolos
dari hukuman, sehingga mendorongnya berbuat hal serupa
lagi.
3. Yoab melakukannya dengan kurang ajar. Bukan di tempat ter-
sembunyi, melainkan di depan pasukannya, dan dengan dili-
hat oleh mereka, sebagai orang yang tidak malu ataupun takut
melakukannya. Hatinya sudah begitu keras dan terbiasa meli-
hat darah dan pembunuhan, sehingga wajahnya tidak menjadi
merah padam atau tangannya menjadi gemetar lagi.
4. Yoab melakukannya dengan satu pukulan, memberikan han-
taman yang mematikan dengan kesungguhan hati, sebagai-
mana kita biasa berkata, sehingga ia tidak perlu menikam
Amasa untuk kedua kali. Dengan tangan yang begitu kuat dan
mantap, ia memberikan satu pukulan yang mematikan ini.
5. Yoab melakukannya dengan sikap menghina dan menantang
Daud, serta penugasan yang telah diberikannya kepada Ama-
sa. Sebab penugasan itu merupakan satu-satunya alasan dari
pertikaian Yoab dengan Amasa, sehingga Daud juga ditikam
melalui Amasa, dan pada dasarnya diberi tahu secara terang-
terangan bahwa Yoablah yang akan menjadi panglima, meski-
pun Amasa yang ditunjuk.
6. Yoab melakukannya dengan sangat tidak pada tempatnya, ke-
tika mereka sedang mengejar musuh yang sama dan ber-
kepentingan untuk sehati dan sepikiran. Pertengkaran pada
waktu yang tidak tepat ini bisa saja mencerai-beraikan pasuk-
an mereka, atau membuat mereka saling menyerang, sehingga
mereka semua bisa menjadi mangsa yang empuk bagi Seba.
Betapa Yoab dapat mengorbankan kepentingan raja dan kera-
jaan dengan senang hati demi balas dendam pribadinya.
IV. Yoab langsung menempati kembali jabatannya sebagai panglima,
dan mengambil tugas memimpin pasukan untuk terus mengejar
Seba, supaya, sekiranya mungkin, ia dapat mencegah terjadinya
suatu kerugian terhadap kepentingan bersama sebab apa yang
telah diperbuatnya.
1. Yoab meninggalkan salah satu orangnya untuk mengumum-
kan kepada pasukan yang datang, bahwa mereka masih ber-
juang demi kepentingan Daud, namun di bawah pimpinan
Yoab (ay. 11). Ia tahu betapa besar pengaruh yang dimilikinya
atas para prajurit, dan betapa banyak orang yang lebih me-
nyukai dia dibanding Amasa, yang pernah berkhianat, seka-
rang berubah haluan, dan tidak pernah berhasil dengan gemi-
lang. Yoab mengandalkan hal ini dengan berani, dan mengajak
mereka semua untuk mengikutinya. Siapa pula orang Yehuda
yang tidak akan berpihak kepada rajanya yang dulu dan
panglimanya yang dulu? namun orang akan bertanya-tanya,
bagaimana seorang pembunuh bisa mempunyai muka untuk
mengejar seorang pengkhianat? Dan bagaimana, di bawah be-
ban kesalahan yang seberat itu, ia masih berani menghadapi
bahaya? Hati nuraninya pasti sudah terbakar besi panas.
2. Perhatian diberikan untuk menyingkirkan mayat Amasa dari
tengah jalan, sebab di tempat itu orang-orang berdiri sambil
menonton (2:23), lalu menutupinya dengan kain (ay. 12-13).
Orang-orang fasik menyangka diri mereka aman dalam
kefasikan mereka asal saja mereka bisa menyembunyikannya
dari pandangan dunia. Jika kefasikan itu disembunyikan,
maka bagi mereka kefasikan itu seolah-olah tidak pernah dila-
kukan. namun menutupi darah dengan kain tidak dapat me-
nyumbat teriakan darah untuk menuntut balas di telinga
Allah, atau mengecilkan suara teriakan itu. Bagaimanapun,
sebab ini bukan saatnya untuk menyalahkan Yoab atas apa
yang telah diperbuatnya, dan keselamatan bersama menuntut
supaya tugas itu segera dilaksanakan, maka bijaklah untuk
menyingkirkan apa yang menghambat gerak maju pasukan.
Kemudian mereka semua pun pergi mengejar Yoab. Sementara
itu Daud, yang pasti sudah menerima berita tentang peristiwa
yang menyedihkan ini, tidak bisa tidak pasti merenunginya
dengan rasa menyesal bahwa ia tidak terlebih dahulu meng-
adili Yoab atas kematian Abner, dan bahwa sekarang ia telah
memperhadapkan Amasa pada bahaya dengan mengangkatnya
sebagai panglima. Dan mungkin hati nurani Daud mengingat-
kan dia bagaimana ia telah melibatkan Yoab dalam pembu-
nuhan terhadap Uria, yang turut mengeraskan hati Yoab
dalam bertindak kejam.
Seba Dikejar
(20:14-22)
14 Seba telah melintasi daerah semua suku Israel menuju Abel-Bet-Maakha.
Dan semua orang Bikri telah berkumpul dan mengikuti dia. 15 namun
sampailah orang-orang Yoab, lalu mengepung dia di Abel-Bet-Maakha; mere-
ka menimbun tanah menjadi tembok terhadap kota ini dan tembok ini
merapat sampai ke tembok luar sedang seluruh rakyat yang bersama-sama
dengan Yoab menggali tembok kota itu untuk meruntuhkannya. 16 Lalu
berserulah seorang wanita bijaksana dari kota itu: “Dengar! Dengar!
Katakanlah kepada Yoab: Mendekatlah ke mari, supaya aku berbicara de-
ngan engkau.” 17 Maka mendekatlah Yoab kepada wanita itu. Bertanya-
lah wanita itu: “Engkaukah Yoab?” Jawabnya: “Benar!” Lalu berkatalah
wanita itu kepadanya: “Dengarkanlah perkataan hambamu ini!” Jawab-
nya: “Baik!” 18 Kemudian berkatalah wanita itu: “Dahulu biasa orang
berkata begini: Baiklah orang minta petunjuk di Abel dan di Dan, apakah
sudah dihapuskan 19 apa yang telah ditetapkan oleh orang-orang yang setia
di Israel! namun engkau ini berikhtiar membinasakan suatu kota, apalagi
suatu kota induk di Israel. Mengapa engkau hendak menelan habis milik
pusaka TUHAN?” 20 Lalu Yoab menjawab: “Jauhlah, jauhlah dari padaku un-
tuk menelan dan memusnahkan! 21 Bukanlah begitu halnya. namun seorang
dari pegunungan Efraim, yang bernama Seba bin Bikri, telah menggerakkan
tangannya melawan raja Daud; serahkanlah dia seorang diri, maka aku akan
undur dari kota ini.” Lalu berkatalah wanita itu kepada Yoab: “Baik,
kepalanya akan dilemparkan kepadamu dari belakang tembok ini.” 22 Kemu-
dian masuklah pula wanita itu dan berbicara kepada seluruh rakyat
dengan bijaksana; sesudah itu mereka memenggal kepala Seba bin Bikri dan
melemparkannya kepada Yoab. Yoab meniup sangkakala, lalu berserak-
seraklah mereka meninggalkan kota itu, masing-masing ke tempatnya. Maka
pulanglah Yoab ke Yerusalem kepada raja.
Dalam perikop ini kita mendapati akhir dari upaya Seba.
I. Seba sudah berkeliling ke semua suku Israel, dan mendapati
mereka tidak mau mengikuti dia, sesudah mereka memikirkannya
kembali, dan tidak seperti sebelumnya saat mereka dihasut
untuk meninggalkan Daud, yaitu dengan hanya berhasil mem-
bawa sedikit orang yang sependapat dan berpihak kepadanya.
Sekarang si pemberontak itu pada akhirnya tiba di Abel-Bet-
Maakha, sebuah kota yang kuat di utara, yang berada di daerah
Naftali, di mana kita mendapati kota itu ditempatkan (2Raj.
15:29). Di kota inilah ia mencari perlindungan, tidak disebutkan
apakah dengan paksa atau atas persetujuan penduduk setempat.
namun kebanyakan pengikutnya yaitu orang Bikri, yaitu orang
Beerot dari suku Benyamin (ay. 14). Satu orang jahat akan mene-
mukan orang jahat lain, atau membuat lebih banyak orang
menjadi jahat.
II. Yoab mengerahkan seluruh pasukannya menyerang kota itu,
mengepungnya, mendobrak temboknya, dan hampir siap meng-
gempurnya (ay. 15). Sudah sepantasnya kota yang berani melin-
dungi pengkhianat itu diserang habis-habisan seperti ini. Begitu
pula hati yang menuruti hawa nafsu yang memberontak itu, yang
tidak mau Kristus memerintah atas mereka, tidak akan bernasib
lebih baik.
III. Seorang wanita yang bijaksana dan baik dari kota Abel me-
nyelesaikan masalah ini dengan baik, melalui caranya yang bijak,
sehingga dapat memuaskan Yoab namun juga menyelamatkan
kota itu. Di sini kita mendapati,
1. Perjanjiannya dengan Yoab, dan perundingan yang dibuatnya
dengan Yoab, yang melaluinya Yoab dibuat menghentikan
pengepungan itu, dengan syarat bahwa Seba diserahkan. Tam-
paknya tidak seorang pun dari seluruh penduduk Abel, dari
para tua-tua atau pejabat pemerintahannya, menawarkan per-
janjian dengan Yoab, sekalipun keadaan mereka sudah sangat
terdesak. Mereka bodoh dan tidak peduli dengan keselamatan
bersama, atau mereka gentar terhadap Seba, atau mereka
putus asa untuk mencapai persepakatan yang baik dengan
Yoab, atau mereka tidak cukup pandai untuk mengatur per-
janjian itu. namun satu wanita ini dan hikmatnya telah
menyelamatkan kota itu. Jiwa tidak mengenal jenis kelamin.
Meskipun laki-laki merupakan pemimpin, itu tidak berarti
bahwa ia sajalah yang memiliki kecerdasan. Oleh sebab itu
janganlah ia, berdasar hukum yang sudah usang, hendak
menguasai sendiri hak untuk mengenakan mahkota kerajaan.
Jiwa yang jantan, bahkan lebih daripada jantan, banyak ter-
dapat dalam diri wanita . Tidak pula harta hikmat menjadi
kurang bernilai sebab tersimpan di dalam bejana yang lebih
lemah. Dalam perjanjian antara pahlawan wanita yang
tidak disebutkan namanya ini dengan Yoab,
(1) Ia berhasil didengar dan diperhatikan oleh Yoab (ay. 16-17).
Kita bisa menduga bahwa inilah pertama kalinya Yoab
mengikat perjanjian dengan seorang wanita dalam
urusan perang.
(2) wanita itu berunding dengannya atas nama kotanya,
dan melakukannya dengan sangat cerdik.
[1] Bahwa kota itu terkenal sebab hikmatnya (ay. 18),
sebagaimana kita menerjemahkannya. Ia menegaskan
bahwa kota ini sudah sejak lama termasyhur dengan
penduduknya yang berhikmat, sehingga orang biasa
meminta petunjuk ke sana, dan semua orang setuju
menerima keputusan akhir para tua-tuanya. Putusan
yang mereka berikan bagaikan petunjuk dari Allah.
jika orang meminta pertimbangan dari mereka,
maka masalahnya terselesaikan, dan semua pihak akan
setuju. Nah, apakah kota seperti ini harus dibakar ha-
bis menjadi abu tanpa pernah diminta untuk berun-
ding?
[2] Bahwa penduduk kota itu pada umumnya cinta damai
dan merupakan orang-orang setia di Israel (ay. 19). Pe-
rempuan itu dapat berbicara bukan hanya atas nama-
nya sendiri, melainkan juga atas nama semua orang,
yang untuk mereka ia mengajukan permohonan. Bahwa
mereka bukanlah orang-orang yang rusuh dan pem-
berontak, melainkan orang-orang yang terkenal setia
kepada raja mereka, dan hidup damai dengan sesama.
Mereka tidak suka memberontak ataupun mencari
gara-gara.
[3] Bahwa kota itu merupakan kota induk di Israel, pem-
bimbing dan perawat bagi kota-kota dan desa-desa di
sekitarnya. Dan bahwa kota itu merupakan bagian dari
milik pusaka TUHAN, kota umat Israel, dan bukan kota
orang kafir. Kehancuran kota itu akan mengecilkan dan
melemahkan bangsa yang telah dipilih Allah sebagai
milik-Nya.
[4] Bahwa mereka berharap agar Yoab menawarkan per-
damaian kepada mereka sebelum menyerang mereka,
sesuai hukum tentang perang yang sudah diketahui itu
(Ul. 20:10). Demikianlah yang dibaca dalam tafsiran
yang agak luas (ay. 18): Dahulu orang secara terang-
terangan berkata begini pada permulaan pengepungan:
Baiklah orang minta petunjuk di Abel. Artinya, “Para
pengepung akan menuntut agar si pengkhianat diserah-
kan, dan akan meminta kami untuk menyerahkan
pengkhianat itu. Dan jika mereka menuntutnya, maka
kami akan segera mencapai suatu kesepakatan, dan de-
ngan begitu mengakhiri permasalahan itu.” Demikian-
lah wanita itu secara tidak langsung menegur Yoab
sebab tidak menawarkan perdamaian kepada mereka,
namun juga ia berharap masih belum terlambat untuk
memohonkannya.
(3) Yoab dan pembela kota Abel itu pun segera sepakat bahwa
kepala Seba akan dijadikan tebusan ganti kota itu. Meski-
pun Yoab baru saja terlibat pertengkaran pribadi dan
menghabisi Amasa, namun saat bertindak sebagai pang-
lima, ia sama sekali tidak mau dianggap senang menum-
pahkan darah: “Jauhlah, jauhlah dari padaku untuk senang
menelan dan memusnahkan, atau merencanakannya ke-
cuali itu perlu demi keselamatan bersama (ay. 20). Bukan
demikian perkaranya. Perselisihan kami bukanlah dengan
kotamu. Kami bersedia mempertaruhkan nyawa kami un-
tuk melindunginya. Perselisihan kami hanyalah dengan si
pengkhianat yang berlindung di antara kalian. Serahkanlah
dia, maka urusan kami beres.” Banyak malapetaka akan
dapat dicegah kalau saja pihak-pihak yang bertikai mau
memahami satu sama lain. Kota itu bersikeras untuk ber-
tahan, sebab menyangka bahwa Yoab hendak memusnah-
kannya. Yoab menyerang kota itu dengan gencar, sebab
menyangka bahwa seluruh penduduknya bersekongkol
dengan Seba, padahal kedua belah pihak salah sangka.
Hendaklah kedua belah pihak menyadari kesalahan mere-
ka, maka masalah itu akan segera terselesaikan. Satu-
satunya syarat untuk perdamaian yaitu menyerahkan si
pengkhianat. Demikian pula halnya Allah dalam berurusan
dengan jiwa, saat jiwa itu dikepung oleh kesusahan dan
kesadaran akan kesalahannya. Dosa yaitu si pengkhia-
nat, dan hawa nafsu yang disukai yaitu si pemberontak.
Jauhilah itu, buanglah pelanggaran itu, maka semuanya
akan baik-baik saja. Damai sejahtera tidak akan diperoleh
dengan persyaratan lain. wanita yang bijaksana tadi
langsung menyetujui tawaran itu: Baik, kepalanya akan
segera dilemparkan kepadamu.
2. Perjanjian wanita itu dengan penduduk kota. Ia menda-
tangi mereka dalam hikmatnya. Mungkin ia memerlukan hik-
mat itu dalam berurusan dengan mereka, sama seperti dalam
berurusan dengan Yoab. Lalu ia membujuk mereka untuk
memenggal kepala Seba, mungkin melalui suatu maklumat
dari pemerintah mereka, dan kepala itu pun dilemparkan dari
balik tembok kota kepada Yoab. Yoab sudah mengenal wajah
si pengkhianat, dan oleh sebab itu tidak perlu memeriksanya
lebih lanjut, sebab ia tidak mau satu pun dari para pengikut
Amasa menderita melihatnya. Keselamatan bersama pun ter-
jamin, dan Yoab tidak ingin melampiaskan balas dendam ber-
sama. Maka Yoab pun menghentikan pengepungan, dan kem-
bali ke Yerusalem, dengan terlebih membawa pulang piala
perdamaian daripada piala kemenangan.
Para Pemuka Istana Daud
(20:23-26)
23 Yoab menjadi kepala atas segenap tentara Israel, dan Benaya bin Yoyada
menjadi kepala atas orang Kreti dan orang Pleti. 24 Adoram menjadi kepala
orang rodi dan Yosafat bin Ahilud menjadi bendahara negara. 25 Seya menjadi
panitera negara; Zadok dan Abyatar menjadi imam. 26 Juga Ira, orang Yair itu
menjadi imam pada Daud.
Dalam perikop ini disebutkan susunan para pemuka istana Daud
sesudah ia kembali menjadi raja. Yoab tetap memegang jabatan seba-
gai panglima, sebab ia terlampau hebat untuk digantikan. Benaya,
seperti sebelumnya, menjadi kepala pengawal. Di sini ditetapkan satu
jabatan baru, yang tidak kita dapati sebelumnya (8:16-18), yaitu
jabatan bendahara negara, atau kepala orang rodi, sebab baru
menjelang akhir pemerintahannyalah Daud mulai menarik pajak.
Cukup lama juga Adoram memegang jabatan ini, namun jabatan itu
membuat dia kehilangan nyawanya pada akhirnya (1Raj. 12:18).
PASAL 2 1
aktu terjadinya peristiwa-peristiwa di dalam pasal ini tidaklah
diketahui dengan pasti. Saya cenderung berpikir bahwa peris-
tiwa-peristiwa ini terjadi sesuai dengan letaknya di sini, yakni
sesudah pemberontakan Absalom dan Seba, dan mendekati penghu-
jung pemerintahan Daud. Bahwa peperangan dengan orang Filistin,
yang disebutkan di sini, terjadi lama sesudah mereka ditaklukkan,
tampak dengan membandingkan 1 Tawarikh 18:1 dengan 1 Tawarikh
20:4. Penghitungan orang Israel berlangsung tepat sebelum penetapan
tempat bagi rumah Tuhan (seperti yang tampak pada 1Taw. 22:1), dan
mendekati akhir hidup Daud. Lebih lanjut, tampaknya orang Israel
dihitung tepat sesudah terjadi kelaparan selama tiga tahun oleh sebab
orang Gibeon, sebab apa yang diancamkan sebagai “tiga tahun” kela-
paran (1Taw. 21:12) disebut sebagai “tujuh” tahun kelaparan (2Sam.
24:12-13), dengan tiga tahun lagi, bersama dengan tahun yang sedang
berjalan, ditambahkan kepada tiga tahun sebelumnya. Di dalam pasal
ini kita mendapati,
I. Pembalasan yang dituntut orang Gibeon dipenuhi,
1. Melalui kelaparan yang melanda negeri Israel (ay. 1).
2. Melalui hukuman mati yang dijatuhkan kepada tujuh
orang keturunan Saul (ay. 2-9). Namun demikian, jasad
ketujuh orang itu, serta tulang-tulang Saul, diperlakukan
dengan layak (ay. 10-14).
II. Para raksasa orang Filistin ditewaskan di dalam sejumlah
pertempuran (ay. 15-22).
Kelaparan di Israel; Pembalasan yang
Dituntut Orang Gibeon Dipenuhi
(21:1-9)
1 Dalam zaman Daud terjadilah kelaparan selama tiga tahun berturut-turut,
lalu Daud pergi menanyakan petunjuk TUHAN. Berfirmanlah TUHAN: “Pada
Saul dan keluarganya melekat hutang darah, sebab ia telah membunuh
orang-orang Gibeon.” 2 Lalu raja memanggil orang-orang Gibeon dan berkata
kepada mereka, – orang-orang Gibeon itu tidak termasuk orang Israel, namun
termasuk sisa-sisa orang Amori dan walaupun orang Israel telah bersumpah
kepada mereka, Saul berikhtiar membasmi mereka dalam kegiatannya untuk
kepentingan orang Israel dan Yehuda, – 3 Daud berkata kepada orang-orang
Gibeon itu: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu dan dengan apakah dapat
kuadakan penebusan, supaya kamu memberkati milik pusaka TUHAN?”
4 Lalu berkatalah orang-orang Gibeon itu kepadanya: “Bukanlah perkara
emas dan perak urusan kami dengan Saul serta keluarganya, juga bukanlah
urusan kami untuk membunuh seseorang di antara orang Israel.” namun kata
Daud: “Apakah yang kamu kehendaki akan kuperbuat bagimu?” 5 Sesudah
itu berkatalah mereka kepada raja: “Dari orang yang hendak membinasakan
kami dan yang bermaksud memunahkan kami, sehingga kami tidak menda-
pat tempat di mana pun di daerah Israel, 6 biarlah diserahkan tujuh orang
anaknya laki-laki kepada kami, supaya kami menggantung mereka di ha-
dapan TUHAN di Gibeon, di bukit TUHAN.” Lalu berkatalah raja: “Aku akan
menyerahkan mereka.” 7 namun raja merasa sayang kepada Mefiboset bin
Yonatan bin Saul, sebab sumpah demi TUHAN ada di antara mereka, di
antara Daud dan Yonatan bin Saul. 8 Lalu raja mengambil kedua anak laki-
laki Rizpa binti Aya, yang dilahirkannya bagi Saul, yakni Armoni dan
Mefiboset, dan kelima anak laki-laki Merab binti Saul, yang dilahirkannya
bagi Adriel bin Barzilai, orang Mehola itu, 9 kemudian diserahkannyalah me-
reka ke dalam tangan orang-orang Gibeon itu. Orang-orang ini menggantung
mereka di atas bukit, di hadapan TUHAN. Ketujuh orang itu tewas bersama-
sama. Mereka telah dihukum mati pada awal musim menuai, pada permula-
an musim menuai jelai.
Dalam perikop ini,
I. Kepada kita disampaikan mengenai kejahatan yang dahulu telah
ditimbulkan Saul, jauh sebelum ini, terhadap orang-orang Gibeon.
Penjelasan tentang peristiwa itu tidak tertulis dalam riwayat
pemerintahannya, tidak pula kita akan pernah mendengar ten-
tangnya andai kata sekarang tidak dimintai perhitungan atas
kejadian itu. Orang Gibeon merupakan sisa-sisa orang Amori (ay.
2), yang dengan sebuah siasat telah mengikat perjanjian damai
dengan Israel, dan melalui Yosua telah memperoleh kepercayaan
masyarakat untuk hidup aman. Kita membaca kisahnya dalam
Kitab Yosua 9, dan di sana (Yos. 9:23), telah disepakati bahwa
mereka diperbolehkan hidup, namun negeri serta kemerdekaan me-
reka diambil dari mereka, dan mereka serta kepunyaan mereka
harus menjadi hamba-hamba orang Israel. Tidak tampak bahwa
mereka telah melanggar bagian kovenan mereka, entah itu dengan
menolak untuk bekerja atau dengan ber